Al Faruq ‘Umar bin al-Khaththab (10)

 

Penyebaran Islam
III: Penyebaran Islam di Masa Khalifah Umar bin al-Khaththab

 

Futuhat Islamiyah Di Masa ‘Umar

Bermula dari sumpah setia para sahabat Anshar di bukit ‘Aqabah, dekat kota Makkah. Beberapa bulan sebelum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diperintah hijrah ke Madinah. Selesai menunaikan ibadah haji, orang-orang Anshar membuat kesepakatan untuk bertemu dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di bukit ‘Aqabah.

Dalam pertemuan itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menetapkan, “Aku membai’at kalian semua untuk membelaku seperti kalian membela anak istri kalian.”

Barra’ bin Ma’rur segera menggenggam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Siap. Demi Yang mengutus Anda membawa yang haq, pasti kami betul-betul membela Anda seperti kami membela keluarga kami. Bai’atlah kami, ya Rasulullah. Kami ahli perang dan ahli pertahanan yang kami warisi turun-temurun….”

Tiba-tiba Abul Haitsam bin at-Taihan memotong sambil bertanya, “Sebetulnya, antara kami dan mereka (Yahudi) ada ikatan perjanjian dan kami akan memutuskannya. Apakah kalau kami melakukannya, kemudian Allah ‘azza wa jalla memenangkan Anda, lalu Anda akan kembali kepada kerabat Anda dan meninggalkan kami?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tersenyum dan berkata, “Bahkan, darah darah (sama-sama luka), hancur hancur (sama-sama binasa). Aku bagian dari kalian dan kalian bagian dariku. Aku memerangi siapa saja yang kalian perangi dan berdamai dengan siapa saja kalian berdamai.”

Setelah itu beliau meminta dua belas orang ditunjuk sebagai pemuka bagi dua masyarakat Anshar. Mereka menunjuk tiga dari Aus dan sembilan dari Khazraj.

Inilah peristiwa bersejarah yang dianggap sebagai mata rantai pertama dari Futuhat Islamiyah hingga terjadinya peristiwa Badr, sampai jatuhnya kota Makkah ke dalam pangkuan Islam. Dan kemenangan itu tidak berhenti hanya sampai di situ….

Abu Bakr ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu mengirim Pedang Allah ‘azza wa jalla menembus batas negeri Irak, setelah menundukkan orang-orang yang murtad. Kemudian, beliau mengarahkannya ke Syam untuk menghadang ambisi Romawi.

Kemudian, diteruskan oleh al-Faruq radhiallahu ‘anhu.

Sesungguhnya, Futuhat yang terjadi di beberapa wilayah yang berdekatan dengan negara Islam, ataupun yang lebih jauh, tidak lain adalah gerakan hidayah kepada manusia yang terbesar dalam sejarah peradaban manusia. Gerakan besar untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan kesyirikan, kekafiran, kebodohan, dan kamaksiatan menuju cahaya tauhid, keimanan, ilmu, dan ketaatan.

Kaum muslimin yang meninggalkan kampung halaman mereka, menembus padang sahara adalah untuk meninggikan Kalam Allah, menyampaikan berita gembira kepada manusia dengan agama-Nya, serta rela mengorbankan jiwa raga dan harta mereka, bukan untuk berbuat kerusakan di muka bumi.

Tujuan utama mereka adalah agar manusia terangkat derajatnya sebagai manusia, beribadah hanya kepada Rabb yang telah menciptakan manusia dan memberi mereka rezeki, bukan kepada sesama makhluk yang sarat dengan kekurangan.

Ketika negeri yang mereka datangi menolak semua pilihan yang ditawarkan, mereka mulai menyerang. Itu pun tanpa melakukan penganiayaan atau penyiksaan terhadap yang luka, dan tidak mengganggu wanita dan anak-anak serta orang-orang yang sudah renta. Tidak pula menghancurkan rumah ibadah penduduk setempat, apalagi membakar rumah penduduk.

Bukan harta rampasan yang mereka cari, bukan pula kemuliaan, ketenaran sebagai penakluk. Mereka lakukan semua hanya untuk Allah ‘azza wa jalla, meninggikan Kalimat-Nya (al-Islam). Senantiasa terbayang di depan mata mereka ketika seorang laki-laki datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Seseorang berperang demi memperoleh rampasan perang, seseorang berperang agar dikenang (sebagai pahlawan) dan seseorang berperang agar diketahui kedudukannya, maka siapakah yang dikatakan (berperang) di jalan Allah ‘azza wa jalla?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قَاتَلَ لِتَكُونَ كَلِمَةُ اللهِ هِيَ الْعُلْيَا فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللهِ

“Siapa yang berperang agar Kalimat Allah itulah yang tinggi, dialah yang (dikatakan) berperang di jalan Allah.” (HR. al-Bukhari (2810) dan Muslim (1904) dari Abu Musa al-Asy’ari radhiallahu ‘anhu)

Itulah tujuan utama mereka. Kekayaan negeri yang mereka taklukan, tidak menyilaukan mata mereka, hingga melalaikan mereka dari tujuan tersebut. Secantik apa pun wanita yang ada di negeri itu, tidak pula memabukkan mereka sehingga lupa dengan tujuan mulia ini.

Setelah mengalahkan semua prajurit lawan dan menembus ibu kota mereka, pasukan muslimin tidak menjadi sombong dan merendahkan orang-orang yang telah mereka taklukkan. Lebih-lebih lagi, ketika di antara penduduk pribumi ada yang menerima Islam. Kaum muslimin menyambutnya gembira, menjadikannya salah seorang saudara mereka, dengan hak dan kewajiban yang sama.

Memang, pasukan muslimin di negeri taklukan tidak hanya menampakkan Islam dari ritual ibadah, tetapi juga dari akhlak dan kepribadian mereka. Karena itulah, dengan mudah penduduk setempat menerima Islam.

Itu pula sebabnya, Futuhat Islamiyah menjadi monumen abadi dalam sejarah peradaban manusia. Sudah seharusnya dunia berterima kasih kepada Islam dan kaum muslimin yang melebarkan sayapnya sampai ke negeri-negeri yang jauh, mulai dari Granada, Spanyol, Belanda, terus ke Rusia, atau ke pedalaman Afrika dan ujung timur India.

Akan tetapi, kebanyakan manusia itu ingkar kepada kebaikan. Yang mereka tonjolkan adalah dendam jahiliah. Tidak menerima kenyataan bahwa mereka dikalahkan oleh orang-orang yang menurut mereka selama ini bukan apa-apa.

Bandingkan dengan penaklukan yang dilakukan imperium Romawi dan Persia. Demikian pula yang dilakukan oleh negeri-negeri kafir ke mana saja mereka meluaskan wilayah. Apa yang terjadi di negeri taklukan?

Para pemimpin negeri-negeri yang mereka taklukan menjadi tawanan, atau budak-budak hina yang melayani dan memuaskan hawa nafsu dan keserakahan mereka. Tanah yang subur dan kaya dengan sumber alamnya, mereka kuras lalu dibawa ke negeri mereka, bukan untuk memakmurkan penduduk yang mereka taklukan.

Belum lagi perilaku dan kepribadian penduduk yang mereka datangi. Mereka merusaknya dengan akhlak dan akidah mereka yang sudah rusak. Semua itu adalah bukti yang tidak mungkin terbantah oleh mereka yang masih hidup hatinya dan sehat akalnya.

Kemenangan demi kemenangan diraih kaum muslimin, hingga akhir tiga generasi terbaik umat ini. Dan sudah menjadi sunnah (ketetapan) Allah ‘azza wa jalla, bahwa setiap kenikmatan tentu ada yang dengki terhadap mereka yang merasakannya. Begitulah sampai semesta ini diwarisi oleh Allah ‘azza wa jalla.

Orang-orang yang menekuni sejarah dari kalangan Nasrani dan orientalis berusaha menampilkan kemenangan Islam ini dengan rupa yang sangat buruk. Mereka menuduh bahwa kemenangan (Futuhat) Islam tidak lain adalah perang agama, yang kaum muslimin memaksakan Islam kepada penduduk wilayah yang mereka taklukkan. Mereka gambarkan seakan-akan, di tangan kanannya seorang muslim memegang Kitab Suci al-Quran, sedang yang lain menggenggam senjata.

Mereka menutup mata dengan kenyataan yang menjadi sebab mereka ditaklukkan oleh tentara Allah ‘azza wa jalla.

Mereka lupa, kekalahan mereka yang sangat tragis sekalipun tidak lain adalah karena dosa yang mereka lakukan. Kedurhakaan mereka kepada Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya adalah sumber kelemahan dan kemunduran serta kehancuran mereka. Ditambah pula kezaliman penguasa mereka terhadap rakyat, mempercepat jatuhnya kekuasaan raja-raja mereka.

Lagi pula, dengan persenjataan dan perbekalan yang serba lengkap dan terlatih, jumlah prajurit yang jauh lebih banyak daripada tentara muslimin, bagaimana mereka bisa dihancurkan? Dari mana kekalahan itu?

Alhasil, jelas tidak sama antara Futuhat dan penjajahan. Itulah realita yang ditorehkan sejarah dengan tinta emas, walaupun orangorang yang buta hatinya tidak menyukai.

Namun, di balik itu semua, kita juga tidak boleh lupa siapa tokoh yang berperan dalam berbagai Futuhat tersebut. Mulai dari panglimanya, hingga pucuk pimpinan tertinggi yang mengirim mereka ke wilayah-wilayah tersebut.

Tentu, setelah Abu Bakr ash-Shiddiq, tidak ada nama lain yang kedua kecuali ‘Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu.

Meski tidak pernah mengenyam pendidikan olah keprajuritan seperti yang dilakukan di negara maju, Byzantium dan Persia, pasukan yang beliau kirim mampu meruntuhkan kesombongan kedua kekaisaran besar dunia saat itu.

Sebagaimana ketatnya sikap ‘Umar dalam memilih gubernur wilayah yang dikuasai kaum muslimin, begitu pula dalam memilih panglima perang untuk memimpin pasukan muslimin.

Panglima harus dari kalangan sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seandainya beliau terpaksa mengangkat seseorang yang bukan sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau menekankan agar panglima tidak bertindak sebelum bermusyawarah dengan sahabat.

Di antara mereka, yang didahulukan oleh ‘Umar adalah para sahabat yang terdahulu dan mula-mula masuk Islam, kecuali jika dia kurang mampu dalam bidangnya.

Bagi ‘Umar, seorang panglima adalah orang yang tenang dan tidak ceroboh, sehingga mampu memanfaatkan setiap peluang, kapan dia menyerang, kapan pula dia berhenti menyerang.

Seorang panglima harus memiliki kekuatan dan pengaruh, juga harus memiliki keberanian dan ahli tempur, apakah memanah, melempar tombak, bermain pedang atau senjata lainnya.

Adalah ‘Umar, jika pasukan sudah berkumpul, beliau mengangkat seorang amir yang memiliki ilmu dan ahli fikih.

Ringkasnya, seorang panglima perang dalam kriteria ‘Umar adalah laki-laki yang ahli dalam bertempur, besar khidmatnya terhadap Islam, tenang dan cermat, memiliki kepribadian yang berpengaruh, dan pemberani.

 (insya Allah bersambung)

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Harits

Amirul Mukminin Umar bin al-Khaththab (9)

 

Traditional-Arabic-Chair

Memberhentikan Pejabat

Di antara bukti kezuhudan para pejabat yang sangat diperhatikan oleh beliau radhiallahu ‘anhu ketika menugaskannya adalah sikap zuhud mereka terhadap jabatan itu sendiri. ‘Umar radhiallahu ‘anhu menganggap orang-orang yang memiliki keinginan terhadap jabatan tertentu adalah orang-orang yang tidak mampu menjalankan tugas, apalagi ikhlas dalam melaksanakannya.

Dalam beberapa kesempatan, ‘Umar radhiallahu ‘anhu menegaskan, “Siapa saja yang berambisi terhadap kepemimpinan, niscaya dia tidak akan bisa berlaku adil di dalamnya.”

Dalam benaknya, urusan kaum muslimin adalah persoalan yang sangat penting dan berat. Beliau radhiallahu ‘anhu pernah berandai-andai, jika saja tokoh utama di antara para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ada di tengah-tengah mereka, tentu merekalah yang akan ditugaskan memimpin kaum muslimin di daerah mereka.

“Berangan-anganlah kalian,” katanya suatu ketika kepada para sahabat dekatnya.

“Aku ingin, seandainya rumah ini penuh dengan emas, lalu aku infakkan di jalan Allah ‘azza wa jalla dan aku sedekahkan,” kata sebagian mereka.

“Aku ingin, seandainya rumah ini penuh dengan intan permata, lalu aku infakkan dan sedekahkan di jalan Allah ‘azza wa jalla,” kata yang lain.

“Berangan-anganlah kalian,” lanjut ‘Umar radhiallahu ‘anhu.

“Kami tidak mengerti, wahai Amirul Mukminin,” sahut mereka.

“Aku ingin, seandainya negeri ini dipenuhi oleh orang-orang yang keadaannya seperti Abu ‘Ubaidah ibnul Jarrah, Mu’adz bin Jabal, Salim maula Abu Hudzaifah, dan Hudzaifah ibnul Yaman radhiallahu ‘anhum, lalu aku angkat mereka menjadi pejabat di atas ketaatan kepada Allah ‘azza wa jalla.”

Nama-nama sahabat g yang disebutkan oleh ‘Umar radhiallahu ‘anhu ini adalah orang-orang yang utama di kalangan sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka adalah orang yang mula-mula masuk Islam, dikenal takwa, wara’, zuhud, berilmu, ahli fikih, pemberani, dan sifat terpuji lainnya.

Karena itulah, dalam menjalankan tugasnya sebagai pelayan kaum muslimin, ‘Umar radhiallahu ‘anhu benar-benar meneliti secara cermat orang-orang yang akan ditugaskannya di sebagian wilayah Islam. Sudah tentu, ketika melihat sebagian pejabatnya ternyata kurang baik menjalankan tugasnya, ‘Umar radhiallahu ‘anhu segera menggantinya dengan yang lain.

Dari sejarah hidup beliau radhiallahu ‘anhu, disimpulkan oleh sebagian ulama bahwa ada beberapa alasan beliau radhiallahu ‘anhu mencopot pejabat yang pernah ditunjuknya. Hal ini memberikan gambaran bahwa ‘Umar betul-betul cermat dalam memilih dan menggeser kedudukan seseorang, bukan karena sentimen pribadi.

Beberapa alasan itu antara lain sebagai berikut.

  1. Ketidakmampuan pejabat itu dalam bertugas atau kurang sempurna dalam menjalankannya.

Siapapun tidak meragukan keutamaan ‘Ammar bin Yasir radhiallahu ‘anhu, sahabat yang diberitakan diselamatkan oleh Allah ‘azza wa jalla dari neraka. Akan tetapi, ketika sebagian sahabat lain menjadi saksi akan kelemahannya dalam sebagian kewajibannya, ‘Umar radhiallahu ‘anhu mencopot ‘Ammar radhiallahu ‘anhu dari kedudukannya sebagai pemimpin.

Demikian pula yang dialami oleh Syurahbil bin Hasanah radhiallahu ‘anhu. Panglima ini dicopot oleh ‘Umar dan digantikan dengan orang yang lebih ahli daripadanya.

  1. Adanya pengaduan rakyat tentang pejabat tersebut

Sa’ad bin Abi Waqqash radhiallahu ‘anhu adalah salah seorang sahabat yang dijamin oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk surga. Beliau radhiallahu ‘anhu pernah diberi tugas sebagai gubernur di Kufah. Akan tetapi, sebagian penduduk Kufah mencelanya dan menuduh bahwa Sa’ad radhiallahu ‘anhu tidak shalat dengan benar ketika mengimami mereka. Sa’ad radhiallahu ‘anhu juga dituduh tidak membagi dengan adil.

Meskipun yakin bahwa tuduhan itu tidak benar, ‘Umar radhiallahu ‘anhu tetap mencopot Sa’ad radhiallahu ‘anhu dari kedudukannya sebagai gubernur. Semua itu beliau radhiallahu ‘anhu lakukan untuk menutup celah timbulnya kejelekan, yaitu tidak senangnya rakyat kepada penguasa mereka lalu tidak mau menaatinya dalam kebaikan.

Dalam sebagian kesempatan, beliau radhiallahu ‘anhu menjelaskan bahwa Sa’ad radhiallahu ‘anhu dicopot bukan karena dia khianat atau ketidakmampuannya menjalankan tugas.

radhiallahu ‘anhuma. Pejabat melakukan perbuatan yang tidak disukai oleh ‘Umar radhiallahu ‘anhu

Seperti yang beliau radhiallahu ‘anhu lakukan terhadap Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu yang pulang membawa harta yang cukup banyak dari Bahrain. Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu ditanya dari mana kekayaan tersebut. Abu Hurairah menjelaskan dengan jujur. Akan tetapi, tabiat ‘Umar yang tidak ingin pejabatnya dicurigai oleh rakyatnya menggunakan jabatannya untuk memperkaya diri, mencopot Abu Hurairah dari jabatannya. Setelah diteliti dengan saksama, ternyata harta itu memang sebagaimana yang diterangkan oleh Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu. ‘Umar radhiallahu ‘anhu memanggilnya untuk ditugaskan kembali.

Akan tetapi, Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu menolak, karena khawatir kehormatannya rusak dan punggungnya dicambuk, apabila salah melangkah.

Bahkan, seringan apapun kesalahan seorang pejabatnya, tetapi tidak layak dilakukannya karena dia adalah orang yang menjadi ikutan, beliau radhiallahu ‘anhu tidak segan-segan mencopotnya dari kedudukannya. Seperti yang beliau radhiallahu ‘anhu lakukan terhadap seorang sahabat yang menyenandungkan syair berisi pujian terhadap khamr. Meskipun hanya sekadar bersyair dan alasan itu diterima oleh ‘Umar radhiallahu ‘anhu, namun ‘Umar tetap menurunkan sahabat tersebut dari jabatannya.

  1. Pejabat mengajukan uzur syar’i untuk menolak tugas.

Seperti yang terjadi pada Nu’man bin Muqarrin radhiallahu ‘anhu.

Wallahu a’lam.

 

Penyayang terhadap Rakyatnya

Kita mengenang kembali ‘Umar radhiallahu ‘anhu sebelum masuk Islam. Betapa ganas dan tanpa belas kasihan dia menyiksa seorang budak wanita yang beriman. Siksaan itu berhenti setelah ‘Umar radhiallahu ‘anhu kepayahan, sedangkan budak itu tetap tegar dalam keimanannya.

Hampir tidak kita dapati dalam riwayat bahwa ‘Umar radhiallahu ‘anhu pernah merasa iba melihat penderitaan orang lain, lebih-lebih kaum muslimin. Kecuali saat itu, ketika dia melihat Ummu ‘Abdillah bintu Abi Hatsmah radhiallahu ‘anha yang menyiapkan bekal untuk hijrah ke Habasyah. Ummu ‘Abdillah radhiallahu ‘anha melihat seolah-olah ‘Umar radhiallahu ‘anhu merasa kasihan kepada mereka. Akan tetapi, ‘Amir radhiallahu ‘anhu sang suami mengingkari, “Dia tidak akan masuk Islam sampai keledai al-Khahthab masuk Islam.” Abu ‘Abdillah radhiallahu ‘anhu merasa putus asa melihat kekejaman dan kekasaran ‘Umar radhiallahu ‘anhu terhadap kaum muslimin.

Itulah ‘Umar radhiallahu ‘anhu sebelum masuk Islam.

Setelah masuk Islam, hampir sepanjang kehidupannya yang sampai kepada kita, banyak menceritakan betapa pilu hatinya ketika mengetahui kesengsaraan dan kepedihan yang dirasakan oleh sebagian kaum muslimin.

Beliau radhiallahu ‘anhu juga tidak rela apabila kesulitan yang dirasakan oleh rakyat itu diperparah oleh kelakuan sebagian pejabat yang ditugaskannya.

Diceritakan bahwa ‘Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu selalu meminta para pejabatnya bertemu dengannya di setiap musim haji. Di situ, Amirul Mukminin radhiallahu ‘anhu selalu mengingatkan mereka, “Hai kaum muslimin, saya tidak mengangkat petugas kalian atau pejabatku itu untuk memukul kalian atau merampas harta kalian. Tidak pula meruntuhkan kehormatan kalian. Akan tetapi, saya mengangkat seorang pejabat untuk menjadi pelindung kalian dan membagi ghanimah di antara kalian. Karena itu, siapa saja di antara kalian yang terzalimi oleh mereka, hendaklah dia berdiri.”

Namun, tidak ada yang berdiri kecuali seorang laki-laki yang berkata, “Wahai Amirul Mukminin, seorang petugasmu memukulku seratus kali cambukan.”

Kata beliau radhiallahu ‘anhu, “Bangkitlah dan balaslah.”

Tiba-tiba ‘Amr bin ‘Ash radhiallahu ‘anhu berdiri dan berkata, “Wahai Amirul Mukminin, seandainya Anda membuka masalah ini terhadap para pejabatmu, tentu akan menjadi sunnah yang tetap diberlakukan oleh orang-orang yang datang sesudahmu.”

Beliaupun berkata, “Saya tidak mengkisasnya, tetapi saya melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyerahkan dirinya untuk dikisas.”

Kata ‘Amr radhiallahu ‘anhu, “Biarkan kami meminta kerelaannya.”

“Buatlah dia rela,” kata ‘Umar radhiallahu ‘anhu.

Akhirnya, mereka membuat orang itu rela dengan menerima tebusan sebanyak duaratus dinar. Setiap cambukan dihargai dua dinar.[1]

Itulah ‘Umar al-Faruq putra al-Khaththab radhiallahu ‘anhu. Dia juga tidak senang keluarganya menerima fasilitas negara karena hubungan mereka dengan pribadinya. Oleh sebab itu, ketika dibuat sensus penduduk untuk menerima jatah subsidi dari pemerintah, ada beberapa orang menyarankan agar memasukkan keluarga ‘Umar (Bani ‘Adi) di deretan atas. Akan tetapi, dengan tegas beliau menolak dan justru menempatkannya di bagian paling akhir.

“Jangan sampai orang mengatakan bahwa mereka menerima fasilitas atau jatah itu karena keluarga Amirul Mukminin.”

Pernah diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam Sunannya, al-Kubra, dari Salim, bahwa ayahnya, ‘Abdullah bin ‘Umar bercerita,

Dahulu kami pernah tinggal di Mesir, pada masa ‘Amr bin ‘Ash radhiallahu ‘anhu menjadi gubernur. Saudaraku, ‘Abdurrahman bin ‘Umar dan Abu Sirwa’ah ‘Uqbah bin al-Harits radhiallahu ‘anhuma minum khamr sampai mabuk. Setelah keduanya sadar, mereka menemui ‘Amr bin ‘Ash radhiallahu ‘anhu dan berkata, “Sucikan kami, karena kami mabuk oleh minuman yang kami minum.”

Kata ‘Abdullah, “Saya tidak tahu kalau mereka ternyata sudah menemui ‘Amr bin ‘Ash.”

Saudaraku itu mengatakan bahwa dia mabuk.

Kata ‘Abdullah radhiallahu ‘anhu, “Masuklah ke rumah, aku akan menghukummu.”

Dia mengatakan bahwa dia telah menyampaikan kepada gubernur.

Kata ‘Abdullah radhiallahu ‘anhu, “Demi Allah, kamu tidak akan dicukur di hadapan orang banyak. Masuklah, aku akan mencukur kepalamu.”

Dahulu, mereka mencukur rambut orang yang mabuk ditambah dengan hukuman had (cambukan). Diapun masuk bersamaku, lalu aku mencukur saudaraku dengan tanganku sendiri, kemudian dicambuk oleh ‘Amr bin ‘Ash radhiallahu ‘anhu.

Ternyata, peristiwa ini didengar oleh ‘Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu, maka beliau radhiallahu ‘anhu menulis surat memerintahkan ‘Amr radhiallahu ‘anhu mengirim ‘Abdurrahman radhiallahu ‘anhu pulang ke Madinah.

Setelah sampai di Madinah, ‘Umar zmencambuk putranya dan menghukumnya karena kedudukannya sebagai putra Amirul Mukminin. Setelah itu, beliau melepaskan putranya. Beberapa bulan kemudian, dalam keadaan sudah sehat, takdir Allah ‘azza wa jalla harus dijalaninya, ‘Abdurrahman radhiallahu ‘anhu meninggal dunia. Orang banyak mengira dia meninggal karena dicambuk oleh ayahnya, Amirul Mukminin ‘Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu, padahal tidak demikian.

Sesungguhnya demikianlah, ‘Abdurrahman radhiallahu ‘anhu dicambuk oleh ayahnya sendiri bukan sebagai hukuman had, melainkan ta’zir (hukuman ringan), karena hukuman had itu tidak diulangjika sudah dijatuhkan.

Wallahu a’lam.

 (insya Allah bersambung)

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Harits


[1] Diriwayatkan oleh al-Baihaqi (al-Kubra) secara maushul dan mursal.

Amirul Mukminin Umar bin al-Khaththab (8)

 minbar 1

Memilih Para Pejabat

Kita masih ingat dengan khutbah pertama beliau dibai’at menjadi khalifah. Selama ini, di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Umar merasa dirinya adalah sebilah pedang tajam yang setiap saat dapat dihunus atau disimpan dalam sarungnya. Di masa itu, juga pada masa khalifah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Umar hanya menjalankan perintah, memberi saran yang dipandangnya bermanfaat.

Kini, setelah menjadi khalifah, dia merasakan betapa berat sebenarnya beban yang dipikulnya. Betapa besar tanggung jawabnya di hadapan umat dan di hadapan Allah ‘azza wa jalla kelak. Tanggung jawab yang tidak terbayangkan oleh para pemegang kekuasaan sesudah beliau, kecuali yang dirahmati Allah ‘azza wa jalla.

Karena itulah, beliau mulai memikirkan untuk menunjuk para pejabat yang mewakilinya mengurus kepentingan kaum muslimin di wilayah muslimin, yang jauh dari Madinah. Beliau tidak rela bila ada sebagian petugasnya yang menyimpang dari keadilan yang telah diajarkan oleh Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau sering mengingatkan bahwa beliau menugaskan para pejabat itu, bukan untuk menzalimi rakyatnya, melainkan mengajari mereka agama dan mengurus kepentingan mereka.

Bahkan, beberapa tokoh yang dianggap sebagai anutan umat, yaitu sahabat-sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, semoga Allah ‘azza wa jalla meridhai mereka, menerima perhatian yang sangat ketat dari beliau.

Pernah dikisahkan, dalam sebuah perjalanan haji, Umar melihat pakaian Thalhah bin ‘Ubaidillah ada bekas za’faran, padahal sedang ihram. Amirul mukminin segera mendekati dan bertanya,mengapa ada bekas za’faran di pakaian beliau. Thalhah menerangkan bahwa itu tidak sengaja terkena, belum bisa hilang. Namun, Amirul Mukminin Umar mengingatkan Thalhah.

“Wahai Thalhah, Anda adalah salah seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang senior. Anda adalah salah seorang tokoh anutan kaum muslimin. Yang hadir di sini tidak semuanya berpikiran panjang, bisa jadi ada orang yang kurang paham, melihat bahwa salah seorang sahabat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenakan pakaian yang terkena za’faran, lalu mengira, berarti boleh memakainya ketika ihram. Oleh karena itu, hendaklah Anda melepasnya dan mengganti dengan yang lain.”

Karena itu pula, beliau tidak segan-segan memberikan teguran keras atau mencopot mereka yang tidak bertugas sebagaimana yang diinginkan beliau.

Sebagian penulis sejarah, khususnya tentang pribadi sahabat jenius ini, menerangkan bahwa dalam memilih pejabat di wilayah yang jauh tersebut, Umar mempunyai kriteria tersendiri, di antaranya;

  • Yang menjadi pucuk pimpinan di sana harus sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik lebih dahulu masuk Islam, maupun tidak setelah Hudaibiyah, atau Fath Makkah.

Beliau menyebutkan, “Sungguh demi Allah, aku tahu kapan bangsa Arab itu binasa. (Yaitu) apabila mereka dipimpin oleh orang-orang yang bukan sahabat Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak pernah menangani atau merasakan jahiliah.”[1]

  • Yang menjadi pucuk pimpinan tidak boleh dari kerabat beliau (dari Bani ‘Adi, kabilah Umar bin al-Khaththab). Bahkan, meskipun beberapa sahabat mencalonkan putranya, ‘Abdullah yang dikenal hampir menyerupai bapaknya. Akan tetapi, Umar menolaknya.

Menjelang wafatnya, Amirul Mukminin juga berwasiat agar tidak menempatkan kerabatnya dalam pemerintahan, sebagai apa pun. Itu juga yang dipesankan oleh beliau kepada ahli syura yang beliau tunjuk untuk memilih khalifah sepeninggal beliau.

  • Beliau menetapkan bahwa pejabatnya haruslah orang yang istiqamah di atas kebenaran dan kesalehan.

Beliau berpandangan baiknya penguasa akan mendorong baiknya rakyat yang dipimpinnya, “Manusia akan selalu dalam kebaikan selama para pemimpin dan pembimbing mereka lurus di atas al-haq.”

Kata beliau pula, “Orang fajir itu tidak mengangkat pekerja kecuali orang yang fajir (jahat) juga. Kalau ada orang yang memanfaatkan orang fajir dalam keadaan dia tahu pegawainya fajir, dia adalah fajir seperti pegawainya.”

  • Pejabat yang ditunjuk adalah orang yang ahli dalam memimpin dan mengatur urusan orang banyak.

Oleh sebab itulah, tidak semua sahabat Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau tunjuk sebagai pejabat di beberapa wilayah.

Bahkan, beliau juga mencopot sebagian mereka bila ada pengaduan dari rakyat di mana mereka tinggal sebagai pejabat, atau karena alasan tertentu. Beliau mencopot jabatan Khalid sebagai panglima demi menghindari mafsadah yang lebih besar, sebagaimana telah diceritakan.

Seperti itu juga yang pernah diperbuat oleh junjungan kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau tidak mengangkat orang yang meminta jabatan, tetapi menunjuk orang-orang yang beliau pandang ahli dalam bidang tersebut.

Abu Dzar pernah memintanya, tetapi dinasihati oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau pun menerima.

Umar juga pernah mencopot ‘Ammar bin Yasir dan menggantinya dengan al-Mughirah bin Syu’bah radhiallahu ‘anhum.

  • Pejabat yang ditunjuk adalah orang yang cerdik dan pintar.

Suatu ketika, beliau pernah bertemu satu rombongan yang sedang menuju Baitul Haram. Beliau pun bertanya, “Siapa kalian?”

Orang termuda di kalangan mereka berkata, “Kami hamba-hamba Allah, muslimin.”

“Dari mana kalian?”

“Dari pelosok yang jauh.”

“Hendak ke mana kalian?” tanya beliau.

“Baitil ‘Atiq (Ka’bah),” jawab pemuda itu.

“Takwilkanlah, demi Allah,” kata beliau, lalu melanjutkan, “Siapa amir (pemimpin) kalian?”

Dia memberi isyarat kepada seorang syaikh (yang sudah tua) di antara mereka, maka Umar berkata, “Yang benar, kamulah amir mereka,” sambil menunjuk pemuda yang menjawab dengan baik itu.

  • Pejabat itu memiliki perasaan penyayang dan belas kasih, sebab akan membuat hubungannya dengan rakyat menjadi baik, sehingga mereka mudah menyampaikan keluhan mereka kepada penguasa mereka.
  • Zuhud dan tidak berambisi terhadap kekuasaan.

Penguasa atau pemimpin yang memiliki sifat ini akan lebih ikhlas dalam bekerja, dan lebih jauh dari ambisi terhadap dunia.

Malik ad-Dar rahimahullah bercerita, “Suatu hari Umar mengambil 400 dinar dan membungkusnya lalu berkata kepada seorang pelayan, ‘Pergilah, antarkan kepada Abu ‘Ubaidah Ibnul Jarrah. Kemudian, tunggulah di rumah itu dan lihat apa yang dilakukannya.’

Pelayan itu segera berangkat dan setelah bertemu, dia berkata, ‘Amirul Mukminin menitip salam untukmu dan memerintahkan agar ini digunakan untuk sebagian keperluanmu.’

‘Semoga Allah menyambung dan merahmati beliau,’ kata Abu ‘Ubaidah, lalu, ‘Hai jariyah, kemarilah. Bawa 7 dinar ini untuk si Fulan, 5 dinar untuk si Fulan lainnya,’ sampai habis.

Pelayan itu pulang menemui Umar dan menceritakan kejadian yang dilihatnya. Ternyata Umar telah menyiapkan yang serupa untuk dibawa kepada Mu’adz bin Jabal radhiallahu ‘anhu. ‘Bawakan ini untuk Mu’adz dan tunggulah apa yang dilakukannya.’

Pelayan itu segera berangkat dan berkata, ‘Amirul Mukminin menyuruh agar menggunakan harta ini untuk keperluanmu.’

‘Semoga Allah menyambung dan merahmati beliau,’ kata Mu’adz, lalu, ‘Hai jariyah, pergilah. Bawakan untuk si Fulan sekian, rumah si Fulan lain sekian, dan rumah lainnya sekian.”

Tiba-tiba istri Mu’adz melihat dan berkata, ‘Demi Allah, kita juga miskin. berilah kami.’ Tidak ada yang tersisa kecuali dua dinar, lalu beliau memberikannya kepada sang istri.

Pelayan itu segera pulang dan bercerita. Betapa senangnya Umar, maka beliau berkata, ‘Sungguh, mereka benar-benar bersaudara. Yang satu adalah bagian dari yang lainnya’.”[2]

Semua itu tidak berarti beliau menghalangi mereka dari hal-hal yang mubah, tetapi tidak senang jika mereka terjerumus dalam sikap berlebihan atau boros.

Oleh sebab itulah, para pejabat yang ditunjuk oleh Umar selama kekhalifahannya adalah teladan mulia dalam takwa, kesalehan, dan kezuhudan serta pelaksanaan tugas-tugas pemerintahan. Wallahu a’lam.

 (insya Allah bersambung)

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Harits


[1] Atsar sahih, dikeluarkan oleh Ibnu Sa’d (Thabaqat 6/129).

[2] Az-Zuhd karya Ibnul Mubarak (178).

Amirul Mukminin Umar bin al-Khaththab (7) : Tindakan Pertama

Tindakan Pertama

Khalifah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ash- Shiddiq radhiallahu ‘anhu telah berangkat menyusul kekasihnya yang sangat dicintainya, Abul Qasim Muhammad bin ‘Abdullah bin ‘Abdul Muththalib shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tak lama setelah itu, ‘Umar bin al-Khaththab dibai’at sebagai pengganti beliau.

Nun di seberang sahara yang membara, di balik bukit-bukit cadas dan lembah berbatu, pasukan muslimin yang dipimpin Khalid bin al-Walid, Si Pedang Allah itu sedang menyabung nyawa menyebarkan dan membela agama Allah. Satu demi satu tanah Arab yang menjadi jajahan Romawi telah dibebaskan. Sampai akhirnya mereka berhasil dengan gemilang meluluhlantakkan pasukan salibis di Yarmuk.

Yarmuk, menjadi saksi bisu sejarah kepahlawanan orang-orang yang jujur dalam ber-Islam. Meskipun mereka baru saja meninggalkan kejahiliahan, ternyata tidak rela tertinggal menuju surga.

Salah seorang dari mereka berkata,

“Di dunia kita dikalahkan oleh mereka (yang terlebih dahulu masuk Islam, –ed.). Di akhirat kita berdesakan dengan mereka di surga.”

Allahu Akbar.

Dan itu, telah mereka buktikan. Inilah murid-murid sejati Muhammad bin ‘Abdullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Manusia Agung yang mengemban risalah Pencipta dan Penguasa langit dan bumi untuk seluruh manusia dan jin.

Hampir dua ratus ribu tentara salibis yang terkenal dengan keahlian mereka dalam berperang, bertubuh tegap dan lengkap dengan persenjataan serta perbekalannya, tanpa ampun harus merasakan sakitnya dicabik-cabik pedang-pedang tentara Allah subhanahu wa ta’ala. Kekalahan tragis itu hanya menyisakan dendam berkarat di dada anak cucu Nasrani, kecuali yang dirahmati Allah subhanahu wa ta’ala.

Tidak ada gunanya latihan militer yang mereka jalankan selama ini. Semua tumpul di hadapan hati-hati yang membaja dengan keimanan sempurna kepada Penguasa langit dan bumi.

Mari, kita kenang kembali, bagaimana pemuda Bani Makhzum yang belum lama masuk Islam. Dahulu, di masa remajanya, dia beranjak dewasa bahu membahu bersama bapaknya menjadi petaka bagi kaum muslimin. Penentang nomor satu dakwah yang disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan, bapaknya harus puas menerima gelar Fir’aun umat ini.

Betul, dia adalah ‘Ikrimah bin Abi Jahl ‘Amr bin Hisyam al-Makhzumi radhiallahu ‘anhu. Di tengah-tengah berkecamuknya pertempuran yang tidak sebanding jumlah kedua kubu yang berhadapan itu, ‘Ikrimah menarik kekang kudanya ke depan dan berseru, “Siapa yang mau berbai’at untuk mati syahid, hari ini?!!”

Dua ratus lebih prajurit muslim yang meyakini angin surga sedang bertiup di bumi Yarmuk menyambut tantangan satria tersebut.

Derap ratusan kuda yang dipimpin ‘Ikrimah menerjang ke tengah musuh yang berjumlah dua ratus ribuan orang itu. Pekik Allahu Akbar menggema diiringi ringkik kuda dan dentingan pedang yang beradu.

Satu demi satu mereka jatuh ke bumi, setelah membuat pasukan musuh benar-benar harus menelan pil pahit di hari itu.

Yarmouk

Nun, di kota suci, Khalifah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat setelah mengukuhkan ‘Umar sebagai penggantinya. ‘Umar tidak menunda-nunda menjalankan tugasnya. Setelah menjadi khalifah, yang pertama dikerjakan beliau adalah memberhentikan Khalid bin al-Walid radhiallahu ‘anhu dari jabatan panglima kaum muslimin dan mengangkat Abu ‘Ubaidah bin al-Jarrah radhiallahu ‘anhu sebagai penggantinya.

Ada yang berpendapat bahwa langkah ini sangat tepat. Alasan mereka, ‘Umar dan Khalid sama-sama memiliki sifat keras dan tegas, sedangkan Abu ‘Ubaidah berwatak lembut dan mudah. Karena itu, ‘Umar melihat, watak kerasnya harus ada yang mengimbangi dan menahannya. Beliau melihat Abu ‘Ubaidah radhiallahu ‘anhu adalah yang tepat untuk itu.

Ada pula yang menceritakan bahwa pemecatan Khalid dari kedudukannya sebagai panglima adalah upaya Amirul Mukmin memangkas akar-akar fanatisme jahiliah di hati kaum muslimin. Beliau khawatir, kaum muslimin terfitnah karena mereka selalu berhasil mengalahkan musuh jika dipimpin oleh Khalid. Oleh karena itu, demi menjaga keutuhan tauhid dan tawakal mereka kepada Allah, Amirul Mukminin memecat Khalid untuk menanamkan keyakinan kepada kaum muslimin, bahwa Allah subhanahu wa ta’ala lah yang memberi kemenangan itu, sama sekali bukan karena kelihaian dan kejeniusan Khalid dalam menjalankan taktik perang.

Diriwayatkan bahwa Amirul Mukminin menegaskan, “Aku memecat Khalid bukan karena dia lemah atau khianat, melainkan karena khawatir kaum muslimin terfitnah. Karena itu, aku ingin mereka menyadari bahwa semua (kemenangan) ini adalah Allah yang mengaturnya.”

Ada beberapa versi yang menerangkan peristiwa tersebut. Sebagian ahli sejarah menyebutkan bahwa kurir dari Madinah menyerahkan surat Amirul Mukminin langsung kepada Abu ‘Ubaidah, tetapi oleh Abu ‘Ubaidah dia disuruh diam dan menunggu sampai keadaan tenang. Setelah keadaan agak tenang, pasukan beristirahat, Abu ‘Ubaidah menemui kurir tersebut dan membaca surat yang dibawanya.

Abu ‘Ubaidah meminta kepada kurir itu agar tidak menceritakan isi surat tersebut kepada siapapun sampai keadaan benar-benar tenang, agar pencopotan Khalid tidak membuat goyah semangat tempur kaum muslimin.

Yang lain berpendapat bahwa surat itu sampai ke tangan Khalid, kemudian beliau mendoakan kebaikan untuk Amirul Mukminin. Kata Khalid, “Aku tidak berperang karena ‘Umar, tetapi karena Allah.” Kemudian, dia menemui Abu ‘Ubaidah untuk menyerahkan surat tersebut.

Begitu bertemu, beliau langsung memberi salam penghormatan sebagai prajurit biasa kepada panglima. Abu ‘Ubaidah tentu saja kaget menerima penghormatan itu, kemudian dia membaca surat yang diserahkan oleh Khalid.

Keadaan tetap tenang, seakan-akan tidak ada kejadian apapun dalam barisan kaum muslimin.

Khalid tetap bertempur dengan penuh semangat untuk mencari syahid. Dia merasa yakin, apapun kedudukannya, di manapun posisinya dia adalah tentara Allah. Sebelum itu, dia sebagai panglima, tetapi juga prajurit, bertempur sengit menerjang musuh untuk meraih syahid. Adapun sekarang, dia adalah prajurit biasa tetapi juga panglima.

Ya, dia panglima meskipun statusnya adalah prajurit biasa, karena dia tetap memimpin pasukan muslimin dengan memberikan saran dan arahan serta taktik yang jitu kepada panglima baru. Bahkan, diriwayatkan bahwa beliau berkata, “Segala puji milik Allah yang menetapkan aku mencintai Amirul Mukminin.”

Ketika dalam keadaan terbaring menjemput maut, Khalid ditanya, “Siapa yang engkau wasiatkan mengurusi anak-anakmu?”

“Amirul Mukminin ‘Umar bin al- Khathathab,” jawab beliau. Wallahu a’lam.

(insya Allah bersambung)

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Harits

Amirul Mukminin Umar bin al-Khaththab (6)

Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu mengatakan, “Islamnya ‘Umar adalah pembukaan, hijrahnya adalah kemenangan, dan kepemimpinannya adalah rahmat.” Pada edisi yang lalu telah dinukil sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mengisyaratkan bahwa ‘Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu tidaklah meninggal dunia kecuali setelah dia meletakkan segala sesuatunya pada tempatnya. Pada edisi ini, kita akan menelusuri sebagian liku-liku kehidupan beliau yang sarat dengan keteladanan, terkhusus bagi para penguasa sepeninggal beliau.

Sungguh, apabila dikenang sikap tegas dalam memegang kebenaran, ‘Umar pasti disebut-sebut. Jika diingat keadilan dalam memutuskan dan bersikap, nama ‘Umar pasti diingat. Setiap kali kita menyebut kasih sayang kepada orangorang yang lemah dan miskin, beliaulah contoh nyata dalam tindakan. Kalau kita bangga dengan berbagai penaklukan dan pembebasan, beliaulah pahlawan.

Semua kebaikan ada padanya. Pria yang tidak pernah duduk di madrasah atau kursus ilmu-ilmu sosial, politik, dan pemerintahan ini, ternyata mampu menjadi penguasa sepertiga belahan dunia. Sepuluh tahun memegang kendali urusan kaum muslimin, baik bangsa Arab maupun ajamnya, tidak menyisakan celah untuk menjadi sasaran cemoohan dan kritikan.

Jenius yang sangat berhati-hati memegang amanah yang dipikulkan di pundaknya. Sampai-sampai sebagian sahabat besar berkata, “Demi Allah, hai Amirul Mukminin, Anda memberi beban berat kepada khalifah sepeninggal Anda.”

Benar. Mereka yang melihat kesungguhan ‘Umar mengurusi kepentingan kaum muslimin secara khusus atau rakyat secara umum, akan merasa takut dan enggan untuk memikul amanah ini. Betapa tidak, hampir tidak ada dalam benak beliau mengambil keuntungan dunia ketika menjalankan pemerintahannya, mengurusi kepentingan rakyat, khususnya kaum muslimin. Bahkan, beliau tidak rela keluarga beliau menanggung beban seperti yang dirasakannya. Cukup satu ‘Umar memikulnya. Pernah suatu ketika, beliau terlihat mengantuk. Sebagian sahabatnya menegur beliau agar menjaga istirahat yang cukup. Apa jawab pria jenius berhati lembut ini?

“Kalau malam hari aku tidur, pasti aku kehilangan bagianku dari Rabbku. Dan kalau aku tidur di siang hari, pasti aku tidak bisa menjalankan tugasku mengurusi kepentingan orang banyak.”

Subhanallah. Adakah penguasa atau pemimpin yang memikirkan ucapan ini? Semoga Allah memberi hidayah dan taufik kepada mereka yang mengurusi kepentingan kaum muslimin serta memperbaiki kekeliruan mereka.

Wallahul Muwaffiq.

Kekuasaan yang Membawa Rahmat

Setelah selesai dibai’at, ‘Umar duduk di mimbar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di Masjid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kaum muslimin duduk rapi di hadapan beliau. Beliaupun berdiri, membuka dengan pujian dan sanjungan kepada Allah ‘azza wa jalla, shalawat dan salam untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bertasyahud (mengucapkan syahadat).

Ternyata, yang pertama diucapkan oleh beliau adalah doa, “Ya Allah, sesungguhnya aku orang yang keras, maka lembutkanlah aku. Aku lemah, maka kuatkanlah aku. Aku kikir, maka jadikanlah aku dermawan.”1[1]

Melalui jalur asy-Sya’bi, disebutkan bahwa setelah dibai’at sebagai khalifah, ‘Umar naik mimbar, lalu berkata, “Jangan sampai Allah melihatku merasa pantas menempati posisi Abu Bakr.” Lalu dia turun satu tingkat dari tempat yang biasa diduduki oleh Abu Bakr.

Setelah memuji Allah dan menyanjung-Nya, beliau berpidato,

“Bacalah al-Quran, niscaya kalian dikenal dengannya. Amalkanlah al-Qur’an, niscaya kalian menjadi ahlinya. Timbanglah diri-diri kalian sebelum kalian ditimbang. Berhiaslah menghadapi hari

‘ardhul akbar (kiamat), ketika kalian dihadapkan kepada Allah, tidak ada satupun yang tersembunyi dari kalian sedikit pun. Sungguh, tidak akan sampai hak orang-orang yang mempunyai hak, untuk ditaati dalam bermaksiat kepada Allah. Ketahuilah, sesungguhnya aku menempatkan diriku dalam urusan harta Allah ini seperti wali anak yatim. Kalau aku merasa cukup, aku menahan diri, dan kalau aku mempunyai keperluan, aku memakannya dengan cara yang baik.”2[2]

Pernyataan sederhana tetapi tegas, dan beliau telah menepati kata-katanya, hingga akhir hayatnya. Semoga Allahmeridhai beliau.

Sebagian ahli sejarah menerangkan bahwa perbedaan isi khutbah beliau adalah karena beberapa kemungkinan, di antaranya adalah perbedaan dalam penyampaian dari sebagian orang yang meriwayatkannya, sesuai dengan yang diingat oleh mereka.

Wallahu a’lam.

Ada pula yang menyebutkan bahwa banyak kaum muslimin merasa khawatir dengan ketegasan dan kekerasan watak ‘Umar, sebagaimana yang diungkapkan oleh Thalhah bin ‘Ubaidillah kepada Khalifah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, jika riwayat itu sahih. Ketika sampai berita ini kepada ‘Umar, beliau segera berpidato menyampaikan keadaan dirinya, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Abu Bakr radhiallahu ‘anhu meninggalkan dunia dalam keadaan ridha kepadanya.

Kemudian beliau mengatakan, “Sikap tegas dan keras itu hanya tertuju kepada mereka yang zalim dan melanggar hak orang lain. Aku tidak akan membiarkan siapapun menzalimi orang lain, atau melanggar haknya sampai aku letakkan pipinya di tanah dan menginjaknya sampai dia tunduk kepada yang hak. Dengan kekerasanku itu, aku akan menyerahkan pipiku kepada mereka yang menjaga kehormatan dan menahan dirinya. Kalian semua punya hak yang harus aku tunaikan; pertama, aku tidak akan menyembunyikan hak kalian sedikitpun, begitu pula rampasan perang yang diberikan oleh Allah untuk kalian, tidak aku tahan. Aku akan mengeluarkannya dengan cara yang benar, dan andaikata jatuh ke tanganku, niscaya aku salurkan pada haknya. Aku juga akan menambah jatah pemberian untuk kalian insya Allah dan menutupi kebutuhan kalian. Hak kalian yang harus aku tunaikan juga ialah bahwa aku tidak akan menggiring kalian kepada kebinasaan.

Kalau kalian tidak ada di tempat, akulah yang menjaga keluarga kalian sampai kalian kembali kepada mereka. Maka dari itu, bertakwalah wahai hambahamba Allah, dan bantulah aku menahan diri kalian terhadapku. Bantulah aku menghadapi diriku dengan amar ma’ruf nahi mungkar, memberikan nasihat dalam urusan yang Allah tugaskan aku mengatur urusan kalian.

Aku ucapkan perkataan ini dan aku mohon ampunan kepada Allah untukku dan untuk kamu sekalian.”

Melalui khutbah ini, beliau menyadarkan kita bahwa kekuasaan yang diberikan kepadanya adalah amanat yang berat dan beliau merasa yakin pasti akan dimintai pertanggungjawabannya. Beliau merasa yakin pula bahwa ini semua adalah ujian, bukan sebuah kehormatan dan kemuliaan.

Kerendahan hati beliau terlihat dengan merelakan diri melayani dan memuliakan orang-orang yang menahan diri dan memelihara kehormatan mereka. Akan tetapi, terhadap orang-orang yang zalim dan melanggar hak orang lain, beliau tidak akan memberikan apapun selain hukuman.

Melalui khutbah ini pula beliau mengisyaratkan dan memperingatkan para pejabatnya bahwa dia akan selalu mengawasi mereka dalam menjalankan tugas, meskipun jauh dari pandangan mata beliau. Dalam khutbah ini pula beliau menuntut kepada rakyatnya, agar tidak segan-segan menyampaikan nasihat dan meluruskan beliau jika terlihat menyimpang dari tugasnya. Beliau juga menuntut mereka agar menahan diri dari kekurangan yang mungkin muncul dari beliau, dengan tetap mendengar dan taat kepada beliau.

(insya Allah bersambung)

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Harits


[1] Al-Muhib ath-Thabari dalam Riyadhun Nadhrah (1/190).

[2] Al-Muhib ath-Thabari dalam Riyadhun Nadhrah (1/190).

Al-Faruq Umar bin al-Khaththab (5) : Menjadi Amirul Mukminin

Kembali kaum muslimin dirundung oleh kesedihan. Seorang bapak, teman, dan teladan telah memenuhi janjinya, menemui Allah Subhanahu wata’ala. Pengganti/Khalifah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, ash- Shiddiq, sahabat yang paling dicintai oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam itu telah wafat. Saat merasakan bahwa ajalnya sudah dekat, Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu bermusyawarah dengan beberapa sahabat lainnya tentang siapa yang menggantikannya mengatur urusan kaum muslimin. Kata beliau, “Telah datang kepada saya apa yang kamu lihat, dan saya yakin sebentar lagi saya akan dipanggil, maka angkatlah seorang amir yang kamu cintai. Kalau kamu mengangkatnya saat saya masih hidup, tentu kamu tidak akan berselisih sepeninggalku.”

Beberapa sahabat yang diundang untuk bermusyawarah meninggalkan Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu dan berdiskusi sesama mereka. Setelah itu, mereka datang kembali dan meminta beliau saja yang menunjuk satu calon. Melihat keadaan mereka, Abu Bakr mengira mereka berselisih, kata beliau, “Apakah ada perselisihan di antara kamu dalam masalah ini?” “Tidak,” kata mereka. “Kalau begitu, demi Allah, kamu siap untuk ridha dengan pilihanku?”

“Ya,” kata mereka.

“Beri saya kesempatan agar bisa melihat mana yang terbaik untuk Allah, agama-Nya, dan hamba-hamba-Nya.”

Setelah itu, beliau mengundang ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu dan berbincang. ‘Utsman mencalonkan ‘Umar bin al- Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Abu Bakr setuju dan memerintahkan menulis sebuah surat penetapannya sebagai Khalifah. Diriwayatkan pula ketika terdengar nama ‘Umar disebut sebagai calon khalifah sesudah Abu Bakr, Thalhah radhiyallahu ‘anhu datang menemui Khalifah yang terbaring lemah. Katanya, “Apakah benar ‘Umar yang dicalonkan sebagai khalifah? Anda sudah mengetahui apa yang diterima kaum muslimin darinya, padahal Anda ada bersama dia. Bagaimana keadaan mereka seandainya hanya dia yang di hadapan mereka? Dan Anda akan bertemu dengan Rabb Anda lalu menanyai Anda tentang rakyat Anda?”

Abu Bakr marah mendengar ucapan Thalhah, “Dudukkan saya. Apakah kamu mau menakut-nakuti saya dengan Allah? Kalau saya bertemu Allah Subhanahu wata’ala dan ditanya tentang urusan ini, saya akan mengatakan, ‘Saya telah mengangkat untuk golongan-Mu orang terbaik dari golongan-Mu’.”

Lepas dari itu semua, yang masyhur adalah Abu Bakr sendiri yang menetapkan pilihannya. Bisa jadi, alasannya adalah seperti yang dikemukakan dalam riwayat Thalhah di atas. Bisa jadi pula ada alasan lainnya, sebagaimana ditunjukkan dalam hadits-hadits yang menyebutkan kelayakan ‘Umar menjadi khalifah. Memang ada beberapa hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang mengisyaratkan kekhalifahan Abu Bakr ash-Shiddiq dan ‘Umar bin al-Khaththab sesudahnya.

Bahkan, hadits-hadits itu menegaskan bahwa keduanya berhak menjadi khalifah sepeninggal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Akan tetapi, hadits-hadits tersebut tidak secara tegas menetapkan keduanya sebagai khalifah sesudah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Beberapa hadits itu, antara lain sebagai berikut. Dari Ibnu ‘Abbas Shallallahu ‘alaihi wasallam, dia berkata,

أَنَّ رَجُلًا أَتَى رَسُولَ اللهِ فَقَالَ: إِنِّي رَأَيْتُ اللَّيْلَةَ فِي الْمَنَامِ ظُلَّةً تَنْطُفُ السَّمْنَ وَالْعَسَلَ فَأَرَ ى النَّاسَ يَتَكَفَّفُونَ مِنْهَا فَالْمُسْتَكْثِرُ وَالْمُسْتَقِلُّ وَإِذَا سَبَبٌ وَاصِلٌ مِنَ الْأَرْضِ إِلَى السَّمَاءِ فَأَرَاكَ أَخَذْتَ بِهِ فَعَلَوْتَ ثُمَّ أَخَذَ بِهِ رَجُلٌ آخَرُ فَعَلَا بِهِ ثُمَّ أَخَذَ بِهِ رَجُلٌ آخَرُ فَعَلَا بِهِ ثُمَّ أَخَذَ بِهِ رَجُلٌ آخَرُ فَانْقَطَعَ ثُمَّ وُصِلَ. فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ: يَا رَسُولَ اللهِ، بِأَبِي أَنْتَ، وَاللهِ لَتَدَعَنِّي فَأَعْبُرَهَا. فَقَالَ النَّبِيُّ اعْبُرْهَا. قَالَ: أَمَّا الظُّلَّةُ فَالْإِسْلَامُ وَأَمَّا الَّذِي يَنْطُفُ مِنَ الْعَسَلِ وَالسَّمْنِ فَالْقُرْآنُ حَلَاوَتُهُ تَنْطُفُ فَالْمُسْتَكْثِرُ مِنَ الْقُرْآنِ وَالْمُسْتَقِلُّ وَأَمَّا السَّبَبُ الْوَاصِلُ مِنَ السَّمَاءِ إِلَى الْأَرْضِ فَالْحَقُّ الَّذِي أَنْتَ عَلَيْهِ تَأْخُذُ بِهِ فَيُعْلِيكَ اللهُ ثُمَّ يَأْخُذُ بِهِ رَجُلٌ مِنْ بَعْدِكَ فَيَعْلُو بِهِ ثُمَّ يَأْخُذُ بِهِ رَجُلٌ آخَرُ فَيَعْلُو بِهِ ثُمَّ يَأْخُذُهُ رَجُلٌ آخَرُ فَيَنْقَطِعُ بِهِ ثُمَّ يُوَصَّلُ لَهُ فَيَعْلُو بِهِ، فَأَخْبِرْنِي يَا رَسُولَ اللهِ، بِأَبِي أَنْتَ، أَصَبْتُ أَمْ أَخْطَأْتُ؟قَالَ النَّبِيُّ أَصَبْتَ بَعْضًا وَأَخْطَأْتَ بَعْضًا. : قَالَ: فَوَا ،َهللِ يَا رَسُولَ اللهِ، لَتُحَدِّثَنِّي بِالَّذِي أَخْطَأْتُ. قَالَ لَا تُقْسِمْ

Ada seseorang menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, “Saya tadi malam melihat dalam mimpi, sebuah awan yang menaungi, mencucurkan minyak samin dan madu. Saya melihat manusia menampungnya dengan tangan mereka,ada yang banyak dan ada yang sedikit. Tiba-tiba ada tali yang menjulur dari bumi ke langit dan saya melihat Anda memegangnya lalu naik. Kemudian ada orang lain yang memegangnya lalu naik, dan ada seorang lagi memegangnya tetapi putus kemudian disambungkan.”

Kata Abu Bakr, “Ya Rasulullah, ibu bapakku jadi tebusanmu, demi Allah, biarkanlah saya menakwilkannya.” Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Takwilkanlah!” “Adapun awan, artinya Islam, dan yang mencucurkan samin dan madu artinya adalah al-Qur’an dan  kelezatannya, maka ada yang banyak menerima al-Qur’an dan ada yang sedikit.

Adapun tali dari langit ke bumi ialah al-haq yang engkau berjalan di atasnya lalu engkau memegangnya dan Allah Subhanahu wata’ala meninggikan engkau dengannya. Kemudian ada yang memegangnya sesudah engkau lalu naik dengannya. Kemudian ada lagi yang memegangnya dan naik dengannya, lalu ada pula yang memegangnya tetapi putus kemudian disambungkan untuknya dan naik dengannya. Terangkanlah kepadaku wahai Rasulullah, bapak dan ibuku tebusanmu, apakah saya benar ataukah salah?”

Kata Nabi n, “Kamu benar sebagian dan salah pada bagian lain.” Kata Abu Bakr, “Demi Allah, wahai Rasulullah, terangkanlah kepadaku mana yang salah.” Kata beliau,”Jangan bersumpah.”

Kata Ibnu Hajar rahimahumallah, “Yang memegang tali itu satu demi satu adalah ketiga khalifah sesudah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.”

Kemudian hadits Abu Dzar al- Ghifari radhiyallahu ‘anhu,

إِنِّي لَشَاهِدٌ عِنْدَ رَسُوْلُ اللهِ فِي حَلَقَةٍ، وَفِي   يَدِهِ حَصًى، فَسَبَّحْنَ فِي يَدِهِ، وَفِينَا أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ وَعُثْمَانُ وَعِلِيٌّ، فَسَمِعَ تَسْبِيحَهُنَّ مَنْ فِي الْحَلَقَةِ، ثُمَّ دَفَعَهُنَّ النَّبِيُّ,إِلَى أَبِي بَكْرٍ فَسَبَّحْنَ مَعَ أَبِي بَكْرٍ، سَمِعَ تَسْبِيحَهُنَّ مَنْ فِي الْحَلَقَةِ، ثُمَّ دَفَعَهُنَّ إِلَى النَّبِيِّ فَسَبَّحْنَ فِي يَدِهِ،  ثُمَّ دَفَعَهُنَّ النَّبِيُّ إِلَى عُمَرَ فَسَبَّحْنَ فِي يَدِهِ سَمِعَ تَسْبِيحَهُنَّ مَنْ   فِي الْحَلَقَةِ، ثُمَّ دَفَعَهُنَّ النَّبِيُّ إِلَى عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ فَسَبَّحْنَ فِي يَدِهِ، ثُمَّ دَفَعَهُنَّ إِلَيْنَا فَلَمْ يُسَبِحْنَ مَعَ أَحَدٍ مِنَّا

“Sungguh, aku benar-benar saksi di sisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sebuah halaqah dan di tangan beliau ada beberapa kerikil. Lalu kerikil-kerikil itu bertasbih di tangan beliau, sementara di antara kami ada Abu Bakr, ‘Umar, ‘Utsman, dan ‘Ali.

Semua yang di dalam halaqah itu mendengar tasbih tersebut. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menyerahkannya kepada Abu Bakr lalu kerikil-kerikil itu bertasbih bersama Abu Bakr, semua yang di dalam halaqah itu mendengar tasbih kerikil itu.

Kemudian dia menyerahkannya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan masih bertasbih di tangan beliau. Lalu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menyerahkannya kepada ‘Umar dan bertasbih di tangannya, semua yang di dalam halaqah itu mendengar tasbih kerikil tersebut.

Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menyerahkannya kepada ‘Utsman bin ‘Affan dan bertasbih di tangannya, lalu beliau menyerahkannya kepada kami, tetapi tidak bertasbih bersama siapa pun di antara kami.”

Ibnu Abi ‘Ashim berdalil dengan hadits ini tentang kekhalifahan ketiga sahabat yang mulia tersebut. Akan tetapi, tidak secara tegas menunjukkan beliau menetapkan kedua sahabat yang mulia ini sebagai khalifah sesudah beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam. Dinukil pula dari ‘Umar bin al- Khaththab radhiyallahu ‘anhu sendiri bahwa beliau mengatakan, “Andaikata saya mau menunjuk pengganti, maka orang yang lebih baik dari saya telah melakukannya, yaitu Abu Bakr. Tetapi, kalau saya tidak menetapkan pengganti, maka orang yang lebih baik dari saya telah melakukannya, yaitu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.”

Demikianlah. Sebelum wafat, Khalifah Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu telah menetapkan ‘Umar sebagai penggantinya untuk melanjutkan tugas mengurusi kepentingan kaum muslimin.

Bismillahirrahmanirrahim,Ini adalah keputusan Abu Bakr saat-saat terakhirnya di dunia dan akan meninggalkannya, serta awal perjalanannya menuju akhirat dan memasukinya. Saat-saat ketika orangyang kafir beriman, orang yang jahat pun bertakwa, dan pendusta berbuat jujur. Sungguh, saya telah menunjuk ‘Umar bin al-Khaththab sebagai pengganti saya. Kalau dia berbuat adil, itulah yang saya yakini tentang dia. Kalau dia berbuat zalim dan mengubah (aturan), yang baiklah yang saya harapkan dan saya mengetahui perkara gaib. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَسَيَعْلَمُ الَّذِينَ ظَلَمُوا أَيَّ مُنقَلَبٍ يَنقَلِبُونَ

“Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali.” (asy-Syu’ara’: 227)

Kemudian, secara khusus pula beliau mengingatkan ‘Umar radhiyallahu ‘anhu dalam sebuah wasiat;

Wahai ‘Umar. Saya menyampaikan satu wasiat kepadamu, kalau kamu mau menerimanya. Sesungguhnya, ada hak Allah Subhanahu wata’ala di malam hari yang tidak Allah Subhanahu wata’ala terima kalau ditunaikan pada siang hari. Dan ada pula hak-Nya di siang hari, yang tidak Allah Subhanahu wata’ala terima, apabila ditunaikan pada malam hari.

Sungguh, Allah Subhanahu wata’ala tidak akan menerima amalan sunnah sampai yang wajib dikerjakan lebih dahulu. Beratnya timbangan amalan orangorang yang berat timbangannya di akhirat adalah karena sikap ittiba’ (mengikuti) mereka terhadap al-haq selama di dunia, sehingga hal itu terasa berat atas mereka.

Sangatlah pantas timbangan itu diletakkan padanya al-haq lalu menjadi berat. Ringannya timbangan mereka yang ringan timbangannya di akhirat adalah karena mereka mengikuti yang batil, dan diringankan (dimudahkan kebatilan itu) atas mereka di dunia.

Pantaslah timbangan yang diletakkan di dalamnya kebatilan itu menjadi ringan. Tidakkah kamu melihat bahwa Allah Subhanahu wata’alaersama ayat tentang raja’. Hal itu adalah agar manusia tetap dalam keadaan berharap dan cemas, tidak sampai melemparkan mereka ke jurang kebinasaan dan mengangankan terhadap Allah Subhanahu wata’ala sesuatu yang tidak haq.

Kalau kamu menghafal wasiatku ini, tidak ada lagi perkara gaib yang lebih kamu cintai melebihi kematian, padahal dia mesti kamu hadapi. Dan kalau kamu menyia-nyiakan wasiatku ini, tidak ada sesuatu yang lebih kamu benci melebihi kematian, padahal kamu mesti merasakannya dan tidak mampu menolaknya.”

Setelah itu, pengangkatan tersebut diumumkan di Masjid Nabawi, lalu kaum muslimin satu demi satu menyatakan bai’at kepada al-Faruq radhiyallahu ‘anhu.

Kedudukan Kekhalifahan ‘Umar

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Sungguh, islamnya ‘Umar adalah kemuliaan, hijrahnya adalah kemenangan dan pertolongan , sedangkan kepemimpinannya adalah rahmat.”

Dari uraian Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu ini dan kenyataan sejarah tentang kepemimpinan ‘Umar dapat dikatakan bahwa kekhalifahan beliau adalah simbol keamanan dan kekuatan sebuah negara yang berdaulat serta kemuliaan umat Islam. Hal ini telah dipersaksikan oleh Rasulullah n sendiri, demikian pula para sahabat lainnya.

Suatu hari, ‘Umar berkata kepada para sahabatnya, “Siapa di antara kamu yang menghafal sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tentang fitnah?”

“Saya menghafalnya sebagaimana diucapkan beliau (Shallallahu ‘alaihi wasallam),” kata Hudzaifah Ibnul Yaman radhiyallahu ‘anhu.

“Bacakan, sungguh kamu sangat berani,” kata ‘Umar radhiyallahu ‘anhu.Kata Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu ,

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

فِتْنَةُ الرَّجُلِ فِي أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَجَارِهِ تُكَفِّرُهَا الصَّلَاةُ وَالصَّدَقَةُ وَالْأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيُ عَنْ الْمُنْكَرِ

Kekeliruan seseorang dalam urusan keluarga, harta dan tetangganya, dihapus oleh shalat, sedekah, amar ma’ruf nahi munkar’.”

Kata ‘ Umar , “ Saya tidak memaksudkan ini, tetapi fitnah yang bergelombang seperti ombak di lautan.” Hudzaifah berkata, “Hai Amirul Mukminin, tidak ada kejelekan atasmu dari fitnah itu, karena sesungguhnya antara engkau dan fitnah itu ada pintu yang terkunci.”

“Apakah pintu itu dibuka atau dihancurkan?” tanya ‘Umar.

“Dihancurkan,” kata Hudaaifah.

“Kalau begitu, pintu itu tidak akan tertutup lagi selama-lamanya,” kata ‘Umar. Kami berkata kepada Hudzaifah, “Apakah ‘Umar mengetahui ihwal pintu tersebut?”

“Ya, sebagaimana dia tahu setelah siang adalah malam.”

“Sungguh aku telah menyampaikan kepadanya hadits yang tidak mengadaada, maka kami segan menanyakannya. Lalu kami memerintahkan Masruq agar menanyakan kepadanya siapa pintu itu.” Kata beliau, “Pintu itu adalah ‘Umar.” Di dalam hadits ini diberitakan tidak terjadinya fitnah di masa ‘Umar radhiyallahu ‘anhu.

Bahkan, perumpamaan beliau adalah seperti pintu yang menghalangi masuknya fitnah menerpa umat Muhammad n. Kematian beliau z yang digambarkan dengan pecahnya pintu tersebut, sehingga tidak mungkin akan tertutup selamanya. Semua itu adalah isyarat bahwa kekacauan itu seperti gelombang yang menerjang umat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan gugurnya ‘Umar sebagai syahid. Ujian pertama yang terjadi setelah kekhalifahannya adalah terbunuhnya Dzun Nurain Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu. Kemudian bermunculan hawa nafsu dan kebid’ahan melanda kaum muslimin. Wallahul Musta’an.

Dalam sebuah riwayat disebutkan pula bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

رَأَيْتُ النَّاسَ مُجْتَمِعِينَ فِي صَعِيدٍ فَقَامَ أَبُو بَكْرٍ فَنَزَعَ ذَنُوبًا أَوْ ذَنُوبَيْنِ وَفِي بَعْضِ نَزْعِهِ ضَعْفٌ وَا يَغْفِرُ لَهُ ثُمَّ أَخَذَهَا عُمَرُ فَاسْتَحَالَتْ بِيَدِهِ غَرْبًا فَلَمْ أَرَ عَبْقَرِيًّا فِي النَّاسِ يَفْرِي فَرِيَّهُ حَتَّى ضَرَبَ النَّاسُ بِعَطَنٍ

“Saya melihat manusia berkumpul di satu tanah lapang, lalu berdirilah Abu Bakr menimba satu atau dua timba, dan pada sebagian tarikannya ada kelemahan, semoga Allah Subhanahu wata’ala mengampuninya. Kemudian timba itu diambil oleh ‘Umar dan berubah menjadi timba yang sangat besar. Saya belum pernah melihat orang yang sangat kuat menarik timbanya, hingga manusia menggiring unta mereka ke tempat istirahatnya (negara bertambah luas, –red.).”8

Dalam riwayat lain disebutkan, hingga dia menguasai telaga sampai memancarkan air. Kata Ibnu Rajab, “Ini adalah isyarat bahwa ‘Umar tidak mati kecuali setelah dia meletakkan segala sesuatunya pada tempatnya dan urusan agama ini kokoh. Semua itu karena panjangnya masa pemerintahan beliau radhiyallahu ‘anhu dan kesungguhan beliau dalam menanganinya. Berita nubuwah itu telah menjadi kenyataan. Di zaman beliau dua kerajaan besar dihancurkan, yaitu Romawi dan Persia, hingga menimbulkan dendam berkarat di dalam dada anak cucu mereka sampai saat ini. Kekuasaan Islam semakin meluas, hingga meliputi sepertiga belahan dunia.

Beberapa sahabat juga mengakui keutamaan masa kekhalifahan beliau, seperti ungkapan Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu di atas. Hudzaifah mengatakan, “Islam di masa ‘Umar seperti orang yang sedang mendekat, semakin lama semakin dekat. Tetapi, setelah beliau terbunuh, Islam seperti orang yang pergi, semakin lama semakin jauh.” Setelah ‘Umar gugur sebagai syahid, Ummu Aiman radhiyallahu ‘anha menyatakan, “Hari ini Islam menjadi lemah.” Wallahul muwaffiq.

(Insya Allah bersambung)

Al-Ustadz Abu Muhammad Harits

Al-Faruq Umar bin al-Khaththab (4) : Menjadi Penasehat Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu

Mendampingi Abu Bakr

Berita wafatnya Rasulullah n benarbenar menggoncang Madinah. Kota itu seakan berubah demikian gelap kehilangan cahayanya. Rintihan pilu terdengar dari setiap rumah kaum muslimin. Mereka benar-benar kehilangan seorang ayah, pemimpin, guru, sekaligus sahabat dan saudara yang lebih mereka cintai daripada jiwa raga mereka. Kaum muslimin seakan tidak percaya menerima kenyataan itu. Bahkan, salah seorang dari mereka yang dikenal tegar dan tegas serta berani, yaitu ‘Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu, juga terpukul akibat rasa kehilangan ini. Dengan pedang terhunus, ‘Umar memasuki Masjid Nabawi, berdiri di sisi mimbar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan berseru lantang, “Beberapa orang munafik mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah wafat.

Beliau tidak mati, tetapi menemui Rabbnya seperti Nabi Musa, yang meninggalkan kaumnya empat puluh malam lalu kembali kepada mereka. Demi Allah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pasti kembali sebagaimana Nabi Musa kembali dan pasti akan memotongmotong tangan dan kaki mereka yang mengatakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah meninggal dunia.” Itulah yang sempat dicatat sebagian ahli sejarah. Tiba-tiba, Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu memasuki masjid. Di wajahnya yang keriput tetapi bercahaya, masih tersisa tetes air mata.

Abu Bakr memang baru saja dari rumah putrinya, ‘Aisyah, tempat jasad suci manusia agung Shallallahu ‘alaihi wasallam terbaring. Dia masih sempat mencium Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang telah diselimuti sehelai kain. “Alangkah harumnya engkau ketika hidup dan setelah meninggal dunia,” katanya. “Bapak ibuku tebusanmu. Demi Allah, Allah tidak mengumpulkan untukmu dua kematian. Adapun kematian yang sudah ditetapkan bagimu telah engkau alami.” Setelah itu, Abu Bakr keluar rumah dan berjalan mendekati ‘Umar lalu menegurnya, “Duduklah, hai ‘Umar.” ‘Umar seperti tuli.

Dia enggan duduk dan masih mengangkat pedangnya di hadapan para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Melihat sikap ‘Umar, Abu Bakr tidak memaksanya lebih lanjut, tetapi terus melangkah menaiki mimbar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Melihat Abu Bakr berdiri di atas mimbar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, kaum muslimin segera meninggalkan ‘Umar yang tetap berdiri gagah. Abu Bakr memulai pujian dan sanjungan kepada Allah Subhanahu wata’ala dan berpidato, yang di antara ucapannya yang terkenal ialah, “Siapa yang menyembah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, maka sesungguhnya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam sudah wafat. Akan tetapi, siapa yang menyembah Rabb (Yang Mencipta, Menguasai, Memberi Rezeki dan Mengatur) Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, maka sesungguhnya Allah Mahahidup dan tidak akan mati. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِهِ الرُّسُلُ ۚ أَفَإِن مَّاتَ أَوْ قُتِلَ انقَلَبْتُمْ عَلَىٰ أَعْقَابِكُمْ ۚ وَمَن يَنقَلِبْ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ فَلَن يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا ۗ وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ

‘Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika Dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa berbalik ke belakang, ia tidak dapat mendatangkan mudarat kepada Allah sedikit pun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.’1 (Ali ‘Imran: 144)

Begitu mendengar Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu membacakan ayat tersebut, pedang di tangan ‘Umar terlepas dan dia pun jatuh terduduk. Seketika itu juga terdengarlah isak tangis para sahabat yang ada di masjid. Mereka benar-benar yakin bahwa Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam sang junjungan telah pergi mendahului mereka menemui Rabbnya. Mereka pun kembali ke rumah masingmasing sambil tetap menangis, lebih dari sekadar kehilangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Yang mereka sedihkan adalah terhentinya wahyu dari langit. Kesedihan itu tidak berlangsung lama. Para sahabat Anshar mulai membicarakan siapa yang akan memegang kendali urusan Islam dan kaum muslimin sepeninggal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Mereka berkumpul di Saqifah bani Sa’idah. ‘Umar segera mengajak Abu Bakr agar segera menemui sahabat-sahabat Anshar di Saqifah tersebut. Ternyata beberapa Muhajirin juga sudah ada di sana, tetapi majelis itu didominasi oleh Aus dan Khazraj. Terjadi dialog yang cukup seru, setiap pihak mengemukakan pendapatnya. Ada yang berpendapat bahwa kendali urusan ini dipegang oleh Anshar karena Madinah adalah tanah air mereka. Yang lain mengusulkan agar Muhajirinlah yang menjadi pemimpin. Keributan sempat terjadi di antara mereka, namun setelah Abu Bakr menyebutkan hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa pemimpin itu dari Quraisy, para sahabat lain menerimanya.

Setelah mereka menerima, Abu Bakr menggenggam tangan ‘Umar mencalonkannya sebagai pengganti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, tetapi dengan sigap ‘Umar membalikkan tangan dan berkata, “Demi Allah, andaikata leherku dipenggal tanpa dosa, lebih aku sukai daripada menjadi pemimpin rakyat yang di situ ada Abu Bakr.” Kemudian, ‘Umar meminta Abu Bakr membentangkan tangannya. Tanpa curiga Abu Bakr membentangkan tangannya. Dengan segera ‘Umar menggenggam tangan itu lalu membaiatnya. Orang-orang Muhajirin yang ada segera mengikuti ‘Umar, demikian pula orang-orang Anshar.

Semoga Allah Subhanahu wata’ala meridhai mereka. Sejak saat itu, Abu Bakr telah resmi menjadi khalifah menggantikan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memimpin kaum muslimin. Beliau lebih suka dipanggil sebagai Khalifah Rasulullah n. Selama kepemimpinan Abu Bakr, ‘Umar adalah penasihat andalannya di samping beberapa sahabat senior lainnya, seperti ‘Utsman, ‘Ali, ‘Abdurrahman bin ‘Auf, dan Abu ‘Ubaidah . Pada awal kepemimpinannya, kaum muslimin disentakkan oleh berita murtadnya sebagian saudara mereka di beberapa tempat di Jazirah Arab. Beberapa kabilah dengan lantang menyatakan lepas dari Madinah. Mereka menolak zakat yang dahulu pernah mereka serahkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Menurut mereka, setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, tidak ada yang berhak menarik zakat dari mereka. Lebih mengerikan lagi, orangorang bani Hanifah dengan berani mengangkat Musailamah al-Kadzdzab sebagai nabi sepeninggal Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Sementara itu, beberapa kabilah di sekeliling Madinah, juga sudah mulai bergabung dengan Musailamah al- Kadzdzab. Jauh di sana, di sebelah utara Jazirah Arab, imperium Romawi dan beberapa jajahannya yang ada di wilayah Syam, seperti raja-raja Ghassan telah pula merencanakan serangan besar-besaran untuk memadamkan cahaya Allah Subhanahu wata’ala.

Menurut mereka, pemimpin kaum muslimin sudah meninggal dunia, tentu mereka masih dalam keadaan lemah dan belum memikirkan siapa yang diangkat sebagai pengganti. Kalaupun ada, belum tentu seperti nabi mereka Shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka melakukan tipu daya, tetapi Allah Subhanahu wata’ala sebaik-baik yang membalas tipu daya. Iman yang ada di hati orang-orang yang ditinggalkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam keadaan beliau ridha, bukan iman yang mentah, karena ikut-ikutan atau karena terpaksa. Iman mereka adalah iman yang telah matang dengan berbagai ujian dan tempaan. Seperti kata pepatah Arab yang menyebutkan bahwa ujian itu menampakkan kecemerlangan seseorang. Ibarat emas, yang semakin berkilau dengan ditempa. Iman mereka lebih tegar dari sebuah gunung batu yang tinggi menjulang. Iman, yang bagi sebagian mereka, memindahkan sebuah gunung dari tempatnya lebih mudah daripada mengerjakan sesuatu yang tidak pernah diperintahkan atau dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Subhanallah. Ya Allah, hati seperti apa yang Engkau letakkan di dadadada mereka sehingga mereka memiliki keyakinan demikian kuat. Iman seperti apa yang Engkau tanamkan di hatihati mereka hingga ketika mereka tidak mempunyai perahu menyeberangi sebuah sungai, mereka shalat dan berdoa kepada Allah l, kemudian mereka bawa untaunta dan kuda-kuda perang mereka menyeberangi sungai yang dalam itu. Ternyata kaki-kaki kuda mereka tidak basah, bahkan tidak tenggelam. Ya Allah, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dalam beriman. Janganlah Engkau letakkan dendam dan kedengkian di dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Sesungguhnya Engkau Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Sebelum Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam wafat, beliau menyiapkan sebuah pasukan di bawah pemuda yang disayang oleh beliau, putra orang yang disayang oleh beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam. Belum ada 20 tahun usia anak muda itu. Kulitnya hitam, mungkin karena ibunya berkulit hitam. Dia adalah putra maula Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, Zaid bin Haritsah dari istrinya yang pernah menjadi inang pengasuh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, Ummu Aiman . Pemuda gagah berkulit hitam itu adalah Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma. Sama seperti ketika ayahnya diangkat sebagai panglima kaum muslimin, mengundang tanda tanya dari beberapa sahabat, mengapa bukan dari Quraisy atau yang sederajat? Kepemimpinan Usamah juga demikian.

Akan tetapi, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam hanya mengatakan bahwa Usamah sangat layak menjadi panglima, sebagaimana ayahnya juga layak menjadi panglima. Jawaban ini sudah cukup menenteramkan hati para sahabat. Tepat di hari-hari menjelang sakit beliau n, pasukan Usamah sudah siap meninggalkan Madinah. Di dalam pasukan tersebut terdapat sejumlah sahabat senior dari Muhajirin dan Anshar. Berbaris pula di dalamnya para tokoh pemuka masyarakat sejumlah kabilah di Tanah Arab. Itulah mungkin yang jadi tanda tanya para sahabat. Akan tetapi, iman yang ada di dalam hati mereka yang jujur dan lurus, langsung berhadapan dengan jawaban Rasulullah n yang tidak mungkin mengucapkan sesuatu yang batil.

Mendengar jawaban Rasulullah n, keraguan dalam hati mereka segera lenyap bagai debu yang menempel di batu cadas yang licin lalu disiram oleh hujan yang deras. Mereka yakin, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mungkin salah pilih, lebih-lebih dalam keadaan seperti ini. Mereka pun berangkat. Tepat ketika sakit Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bertambah parah, pasukan ini sudah berada di perbatasan Madinah. Begitu mendengar keadaan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam cukup parah, pasukan itu berhenti dan berkemah sambil menunggu perkembangan. Setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berangkat menemui Allah Subhanahu wata’ala, pasukan itu tidak jadi berangkat, bahkan kembali ke Madinah. Kini, kekhalifahan ada di tangan Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu. Kaum muslimin telah sepakat menerima dan mengakui kekhalifahannya.

Begitu pula keluarga bani Hasyim yang sempat tertunda memberikan baiat. Abu Bakr bukan tidak mendengar berita tentang kabilah Arab yang murtad di sekeliling Madinah. Abu Bakr bukan tidak mengerti bahwa pihak Romawi tidak akan tinggal diam dan pasti mengambil kesempatan seperti keadaan genting saat ini. Beberapa sahabat dimintai pendapat, termasuk ‘Umar al-Faruq. Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu sudah bertekad tetap akan melepas pasukan Usamah menghadapi Romawi di tempat gugurnya Zaid bin Haritsah ayah Usamah. Tetapi, para sahabat lain memberi pertimbangan lain. “Lebih baik pasukan Usamah tetap di Madinah,” kata sebagian di antara mereka. Mungkin mereka bermaksud agar pasukan itu dapat dimanfaatkan untuk menjaga stabilitas keamanan di kota Madinah. Yang lain ada yang memberi saran, jangan Usamah yang dijadikan panglima.

Hampir semua sahabat yang dimintai pendapat berusaha menahan tekad kuat sang Khalifah radhiyallahu ‘anhu. Pertimbangan yang mereka ajukan sangat manusiawi dan masuk akal. Tetapi, tidak demikian menurut Abu Bakr yang pandangannya sering bersesuaian dengan pandangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Ketajaman firasat beliau yang sering menerima taufik dari Allah Subhanahu wata’ala mementahkan semua pendapat yang disodorkan kepadanya. Dengan tegas Abu Bakr menyatakan, “Demi Yang jiwaku di tangan-Nya (Allah), seandainya aku yakin bahwa binatang buas pasti menyergapku, niscaya aku tetap akan melepaskan pasukan Usamah, sebagaimana yang diperintahkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Seandainya tidak ada yang tersisa di negeri ini selainku, maka pasti aku tetap melepasnya.” Usamah sendiri pernah meminta ‘Umar agar memintakan izin kepada Khalifah agar dia kembali ke Madinah.

Akan tetapi, Abu Bakr berkata, “Seandainya anjing-anjing dan serigala menerkamku, aku tidak akan membantah keputusan yang telah dibuat oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.” ‘Umar juga pernah diminta oleh sebagian pemuka Anshar agar memberi pertimbangan kepada Khalifah tentang kepemimpinan Usamah. Kata beliau, “Beberapa tokoh Anshar memintaku menyampaikan bahwa mereka meminta Anda mengangkat panglima yang lebih senior daripada Usamah.” Abu Bakr yang sedang duduk segera melompat ke arah ‘Umar dan menarik janggutnya, “Sedihnya ibumu, hai putra al-Khaththab. Usamah itu diangkat oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, sementara engkau menyuruhku mencopotnya?” Setelah mendengar ketegasan Abu Bakr, ‘Umar menemui orang-orang yang mengutusnya. Kata mereka, “Apa yang engkau lakukan?” “Sedihnya ibu kalian, pergilah.

Disebabkan oleh kalian, aku tidak menerima sesuatu yang baik dari Khalifah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.” Pasukan Usamah mulai berangkat diiringi oleh Khalifah yang berjalan kaki mengantar ke gerbang kota. Sebelum berpisah, Khalifah meminta izin Panglima muda itu agar ‘Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu tinggal di Madinah menemaninya. Panglima muda Usamah memberi izin. Akhirnya, ‘Umar tidak jadi berangkat dan tetap di Madinah sebagai pembantu dan teman diskusi Khalifah Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu. Ketajaman berpikir ‘Umar telah terlihat sejak beliau diminta mendampingi Khalifah. Suatu ketika, datang dua orang dari sebuah desa, mengadu kepada Khalifah bahwa di desa mereka ada sebidang tanah yang berair, tidak ada rumput dan manfaatnya.

Mereka ingin Khalifah memberi mereka tanah itu untuk ditanami dan diolah, dengan harapan semoga sesudah hari itu Allah Subhanahu wata’ala memberikan keuntungan dengan tanah itu. Abu Bakr meminta pendapat sahabat yang ada ketika itu, sementara ‘Umar sedang mengurus untanya. Para sahabat menyarankan agar tanah itu diserahkan kepada mereka dengan harapan Allah Subhanahu wata’ala memberi mereka manfaat sesudah itu. Abu Bakr menerima saran mereka dan menuliskan sebuah surat lalu menyuruh mereka menemui ‘Umar untuk menjadi saksi. Kedua orang itu segera menemui ‘Umar dan membacakan isi surat tersebut.

Setelah selesai dibacakan, ‘Umar meminta surat itu lalu menghapus isinya dan mengembalikannya kepada mereka. Kedua orang itu segera kembali sambil menahan jengkel. Begitu berhadapan dengan Khalifah, mereka berkata, “Yang jadi Khalifah itu Anda atau ‘Umar?” “Sebetulnya dia, kalau dia mau.” ‘Umar datang sambil menahan marah lalu berdiri di depan Khalifah, “Terangkan kepadaku tentang tanah yang Anda serahkan kepada dua orang ini, apakah tanah itu milik Anda sendiri, ataukah milik seluruh kaum muslimin?” “Milik kaum muslimin.” ‘Umar mencecar, “Apa yang mendorong Anda mengistimewakan dua orang ini di luar kaum muslimin lain?” “Saya sudah meminta pendapat mereka yang ada di sini dan mereka menyarankan hal itu kepada saya.” “Kalau Anda sudah bermusyawarah dengan mereka yang ada di sekeliling Anda ini, maka seluruh kaum muslimin harus menerima dan meridhainya.”

Kata ‘Abu Bakr, “Saya sudah pernah mengatakan bahwa dalam urusan ini engkau lebih kuat/pantas daripada saya, tetapi engkau mengalahkan saya.” Terakhir, tentu kita masih ingat saat terjadinya Perang Yamamah. Prajurit muslimin banyak yang gugur, khususnya para penghafal al-Qur’an. ‘Umar melihat keadaan ini membahayakan. Untuk itu, ‘Umar segera menemui Khalifah dan memberi saran agar segera diadakan pengumpulan ayat-ayat suci al-Qur’anul Karim. Jangan sampai kaum muslimin tidak mempunyai pegangan di dalam mempelajari dan mengamalkan agama mereka. Sebab, jika semakin banyak prajurit muslim yang gugur, khususnya para penghafal al-Qur’an, dikhawatirkan al-Qur’an akan ikut lenyap.

Mulanya Khalifah menolak, bahkan mengingkari saran ‘Umar dengan alasan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah berbuat demikian. Namun, Abu Bakr menerima juga saran ‘Umar dan menyerahkan pengerjaan proyek ini kepada Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu. Zaid yang pada awalnya menolak, akhirnya menerima tugas berat tetapi mulia ini. Itulah salah satu jasa besar ‘Umar bagi Islam dan kaum muslimin. Benarlah kata Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, “Islamnya ‘Umar adalah kemuliaan, hijrahnya adalah kemenangan, dan kepemimpinannya adalah rahmat.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Harits

Al-Faruq ‘Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu (3)

Bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam Dalam edisi yang lalu telah diceritakan sebagian sikap tegas ‘Umar terhadap orang-orang yang kafir. Begitu dalam rasa bencinya terhadap kekafiran dan segala bentuknya berikut para pengusungnya, sampaisampai beliau siap menebas leher sebagian kerabatnya sendiri yang masih kafir. Dalam edisi ini akan kami lanjutkan dengan beberapa kejadian yang menunjukkan kedudukan ‘Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu di sisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Semua itu didasari atas keilmuan dan ketakwaannya serta kejujuran iman dan persahabatannya dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Permulaan Azan

Mulailah kehidupan baru masyarakat muslim dengan hijrahnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dari Makkah ke Madinah. Hal pertama yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah membangun masjid yang tidak hanya sebagai tempat untuk mengagungkan Allah Subhanahu wata’ala, tetapi juga sebagai markas pembinaan dan pendidikan masyarakat saat itu. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mempersaudarakan antara Muhajirin dan Anshar, seperti saudara sekandung, saling menyayangi, saling menolong, bahkan saling mewarisi.

Setelah Masjid Nabawi berdiri, setiap waktu shalat tiba, kaum muslimin berkumpul untuk shalat bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Belum ada tanda khusus untuk mengingatkan mereka agar segera mendatangi masjid. Beberapa sahabat berbincang-bincang membahas masalah ini. Akhirnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengajak mereka bermusyawarah apa yang harus mereka lakukan untuk mengingatkan kaum muslimin bahwa waktu shalat sudah tiba.

Di antara sahabat, ada yang mengemukakan pendapat agar menancapkan bendera di puncak masjid setiap waktu shalat tiba, agar apabila bendera itu terlihat, sebagian akan memanggil yang lain untuk segera ke masjid. Akan tetapi, pendapat ini tidak mengagumkan beliau n. Yang lain berpendapat agar menyalakan api setiap waktu shalattiba. Yang lain menyarankan agar menggunakan lonceng seperti perbuatan orang-orang Nasrani, dan yang lain mengusulkan agar menggunakan terompet seperti orang-orang Yahudi. Semua saran tersebut tidak disetujui oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam karena menyerupai kebiasaan khusus orang-orang kafir.

Kata ‘Abdullah bin Zaid al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, “Malam itu saya bermimpi melihat seseorang berpakaian hijau membawa genta, saya pun berkata kepadanya, ‘Hai hamba Allah, juallah genta itu kepadaku.’ Orang itu bertanya, ‘Mau kamu gunakan untuk apa?’ Saya berkata, ‘Agar kami bisa memanggil orang banyak untuk shalat.’ Dia pun berkata, ‘Maukah kamu saya tunjukkan yang lebih baik daripada itu?’ ‘Tentu,’ kata saya, kemudian dia mengajarkan beberapa kalimat azan yang dikenal sekarang ini. Setelah itu dia mundur tidak begitu jauh dan berkata, ‘Kalau hendak iqamat ucapkanlah Allahu Akbar, (dan seterusnya)’.”

“Begitu terjaga dari tidur, aku segera menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan menceritakannya kepada beliau. Beliau pun berkata, ‘Sungguh, itu adalah mimpi yang benar, insya Allah. Ajarkanlah kepada Bilal karena suaranya lebih nyaring daripada kamu’.” Kami pun menuju masjid dan saya mengajarkannya kepada Bilal.

Sementara itu, ‘Umar yang masih di rumahnya tersentak mendengarnazan tersebut. Dengan bergegas sambil menyeret kainnya, dia menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, “Demi yang mengutus Anda membawa yang haq, wahai Rasulullah. Aku bermimpi seperti yang dilihatnya.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam semakin senang dengan keterangan itu dan berkata, “Alhamdulillah.”

Sejak itu , suara Bilal mengumandangkan azan menggema memenuhi angkasa Madinah, lima kali sehari semalam. Bilal tetap sebagai muazin Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sampai beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam wafat. Adapun kalimat yang tertera dalam azan tersebut masih terus berkumandang hingga saat ini.

Kejujuran, Kekuatan Imannya

Adalah ‘Umar termasuk sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang dekat dan dipersaksikan oleh beliau mempunyai berbagai keutamaan dan kemuliaan. Di antara bukti kejujuran dan keimanannya ialah ucapannya ketika menyentuh dan mencium Hajar Aswad, “Demi Allah, aku benar-benar mengetahui bahwa kamu hanya sebuah batu yang tidak bisa memberi manfaat dan mudarat. Seandainya aku tidak pernah melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menciummu, niscaya aku tidak akan menciummu.”

Perkataan ini menegaskan sikap bara’-nya (berlepas diri dan benci serta menjauh) dari meminta berkah kepada sebuah batu, sekaligus menampakkan ketaatannya kepada perintah Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam. ‘Umar juga berada pada barisan depan bersama sahabat-sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang banyak melakukan ketaatan. Beliau banyak berpuasa, berdoa, bersedekah, dan shalat malam yang merupakan sebagian sifat orang-orang yang didekatkan kepada Allah Subhanahu wata’ala.

Suatu ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu, “Kapan engkau mengerjakan witir?” “Saya shalat witir di awal malam,” kata Abu Bakr. Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada ‘Umar, “Kapan engkau mengerjakan witir?” “Saya tidur kemudian witir di akhir malam,” jawab ‘Umar. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata tentang Abu Bakr, “Dia berpegang dengan hazm (kehati-hatian).”

Adapun tentang ‘Umar, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan, “Adapun dia ini, berpegang dengan kekuatan,” karena yakin akan terbangun malam hari menunjukkan kekuatan. Pernah pula Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bermimpi, kata beliau,

بَيْنَا أَنَا نَائِمٌ إِذْ رَأَيْتُ قَدَحًا أُتِيتُ بِهِ فِيهِ لَبَنٌ فَشَرِبْتُ مِنْهُ حَتَّى إِنِّى لأَرَى الرِّىَّ يَجْرِى فِى أَظْفَارِى ثُمَّ أَعْطَيْتُ فَضْلِى عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ قَالُوا : فَمَا أَوَّلْتَ يَا رَسُولَ ا ؟َّهللِ قَالَ: الْعِلْمَ

“Ketika saya sedang tidur, saya melihat sebuah tempat minum diberikan kepada saya, di dalamnya ada susu. Kemudian saya meminumnya sampai saya melihat alirannya mengalir sampai di kuku-kuku saya, lalu saya memberikan sisanya kepada ‘Umar bin al-Khaththab.” Kata para sahabat, “Apa yang Anda takwilkan, ya Rasulullah?” “Ilmu,” kata beliau.

Al-Hafizh rahimahullah menyebutkan bahwa ilmu yang dimaksud adalah ilmu tentang mengatur manusia berdasarkan al-Qur’an dan as-Sunnah. Diistimewakannya ‘Umar dengan keadaan ini karena lamanya masa pemerintahannya dibandingkan dengan Abu Bakr ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu serta kesepakatan kaum muslimin untuk menaatinya.

Bahkan, dalam kesempatan lain Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan, “Allah Subhanahu wata’ala meletakkan al-haq itu di lisan ‘Umar.” Oleh sebab itu, adalah perkara yang sangat jauh kalau yang benar itu ada pada mereka yang menyelisihi perkataan ‘Umar dalam berfatwa, memutuskan hukum, padahal tidak ada satu sahabat pun yang menggugatnya. Pernah pula Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menceritakan mimpinya,

بَيْنَا أَنَا نَائِمٌ رَأَيْتُنِي فِي الْجَنَّةِ فَإِذَا امْرَأَةٌ تَتَوَضَّأُ إِلَى جَانِبِ قَصْرٍ فَقُلْتُ لِمَنْ هَذَا الْقَصْرُ فَقَالُوا لِعُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ فَذَكَرْتُ غَيْرَتَهُ فَوَلَّيْتُ مُدْبِرًا فَبَكَى عُمَرُ وَقَالَ أَعَلَيْكَ أَغَارُ يَا رَسُولَ اَّهللِ

“Ketika saya bermimpi, saya melihat seakan-akan di dalam surga. Tiba-tiba ada seorang wanita sedang berwudhu disamping sebuah istana. Saya bertanya, ‘Milik siapa istana ini?’ Kata mereka, ‘Milik ‘Umar bin al-Khaththab.’ Saya teringat kecemburuannya, maka saya berbalik ke belakang.”

Kata rawi, “‘Umar pun menangis sambil berkata, ‘Apakah terhadap engkau saya cemburu, wahai Rasulullah?’.” Inilah berita gembira buat ‘Umar, berupa istana miliknya yang sudah ada di surga, dan mimpi para nabi adalah wahyu.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda,“Seandainya ada nabi sepeninggalku, maka itu adalah ‘Umar.”

Antara ‘Umar dan Wahyu

Semangatnya beramal dengan didasari keikhlasan dan kejujuran dalam mencintai Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya, serta mencintai semua yang dicintai oleh Allah Subhanahu wata’ala, membenci apa saja yang dibenci oleh Allah Subhanahu wata’ala menempatkannya sebagai sahabat yang dicintai oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Cintanya yang jujur kepada Islam dan kaum muslimin mendorongnya sering memberikan masukan penting kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam untuk kepentingan Islam dan kaum muslimin.

Bahkan banyak persoalan yang beliau sampaikan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam disetujui pula oleh Allah Subhanahu wata’ala dengan menurunkan wahyu menguatkannya. Inilah beberapa hal yang mengusik pikiran ‘Umar kemudian menyampaikannya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan Allah Subhanahu wata’ala pun menurunkan wahyu menyetujuinya.

a. Tentang tawanan Perang Badrdan rampasan perangnya. Peristiwa ini telah diceritakan dalam edisi lalu. Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam lebih memilih saran Abu Bakr ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, yang juga terdorong kasih sayang beliau yang besar kepada sesama, Allah Subhanahu wata’ala menurunkan firman-Nya,

مَا كَانَ لِنَبِيٍّ أَن يَكُونَ لَهُ أَسْرَىٰ حَتَّىٰ يُثْخِنَ فِي الْأَرْضِ ۚ تُرِيدُونَ عَرَضَ الدُّنْيَا وَاللَّهُ يُرِيدُ الْآخِرَةَ ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ () لَّوْلَا كِتَابٌ مِّنَ اللَّهِ سَبَقَ لَمَسَّكُمْ فِيمَا أَخَذْتُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ () فَكُلُوا مِمَّا غَنِمْتُمْ حَلَالًا طَيِّبًا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Tidak patut, bagi seorang nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. Kamu menghendaki harta benda duniawi sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu). Dan Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Kalau sekiranya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Allah, niscaya kamu ditimpa siksaan yang besar karena tebusan yang kamu ambil. Maka makanlah dari sebagian rampasan perang yang telah kamu ambil itu, sebagai makanan yang halal lagi baik, dan bertakwalah kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (al-Anfal: 67—69)

Kisah sebab turunnya ayat ini dinyatakan sahih oleh guru kami asy- Syaikh Muqbil bin Hadi dalam Shahihul Musnad min Asbabin Nuzul.

b. Menjadikan Maqam Ibrahim sebagai tempat shalat. Suatu ketika, ‘Umar pernah berkata kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, “Wahai Rasulullah seandainya Anda menjadikan Maqam Ibrahim sebagai tempat shalat,” maka turunlah firman Allah Subhanahu wata’ala,

وَاتَّخِذُوا مِن مَّقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى

“Dan jadikanlah sebagian maqam Ibrahim tempat shalat.” (al-Baqarah: 125)

c. Turunnya ayat hijab dan kecemburuan beliau terhadap istri-istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. ‘Umar pernah pula menyarankan, “Wahai Rasulullah, seandainya Anda memerintahkan para istri Anda berhijab, karena yang berbicara dengan mereka itu, ada yang baik, ada pula yang jahat.”

Kemudian turunlah ayat hijab. Demikian pula ketika para istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menampakkan kecemburuan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam hingga beliau merasa susah, ‘Umar berkata kepada mereka, “Boleh jadi, kalau beliau menceraikan kalian, pasti Allah Subhanahu wata’ala akan memberinya ganti yang lebih baik daripada kalian,”

maka turunlah ayat 5 surat at-Tahrim.5 Itulah beberapa kejadian di mana wahyu turun menguatkan pendapat ‘Umar. Tentunya ini—setelah taufik dari Allah Subhanahu wata’ala—didorong oleh keimanan dan keikhlasan serta kejujurannya dalam mencintai Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya.

Buah Keikhlasan

Dalam sebagian riwayat, dari ibunda orang-orang yang beriman, ash-Shiddiqah (wanita yang banyak membenarkan) putri ash-Shiddiq, Habibatu (Kekasih) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau bercerita, “Pernah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam duduk-duduk (bersama kami), tiba tiba kami mendengar suara riuh dan suara anak-anak, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri. Ternyata orang-orang Habasyah sedang bersilat ditonton oleh anak-anak di sekeliling mereka. Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, ‘Hai ‘Aisyah, kemarilah dan lihatlah!’ Aku pun mendekat dan meletakkan dagu di pundak Rasulullah n lalu mulai menonton dari dekat kepala beliau.

Kemudian beliau berkata kepadaku, ‘Apakah engkau sudah puas? Apakah engkau sudah puas?’ Aku pun berkata, ‘Belum, karena ingin mengetahui kedudukanku di sisi beliau.’ Tiba-tiba ‘Umar muncul. Orangorang yang ada di situ bubar. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنِّي نَألَْظُرُ إِلَى شَيَاطِينِ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ قَدْ فَرُّوا مِنْ عُمَرَ. قَالَتْ: فَرَجَعْتُ

‘Sungguh, aku benar-benar melihat setan dari kalangan jin dan manusia lari dari ‘Umar.’

Aku pun pulang.”

Di dalam Shahih al-Bukhari, dari Sa’d bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu, dia mengatakan, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berkata kepada ‘Umar,

“Demi yang jiwaku di tangan-Nya, tidaklah setan menjumpaimu ketika menempuh satu jalan, kecuali pasti mengambil jalan lain yang tidak engkau lalui.”

Pernyataan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits ini bukanlah sesuatu yang mustahil. Sebab, apabila hati itu bersih dari semua yang disenangi oleh setan, tentu akan terisi dengan keagungan sifat-sifat ilahiyah, sehingga tidak mungkin unsurunsur syaitani mampu menghadapi apalagi mengalahkannya, yang akhirnya siapa pun yang melihatnya akan merasa takut dan segan. Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, pernah mengatakan, “Tongkat kecil di tangan ‘Umar lebih menakutkan manusia daripada pedang di tangan orang selain beliau. Jika mereka ingin menyampaikan sesuatu kepadanya, mereka menemui putrinya, Hafshah, karena segan kepada beliau.”

Hal ini menegaskan keteguhan ‘Umar di dalam beragama, dan selalu dalam keadaan konsisten, hingga di hadapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, ‘Umar diumpamakan seperti pedang tajam, yang jika diayunkan dia akan membelah apa yang dikenainya, dan jika tidak, dia akan diam. Namun disayangkan, setan dari kalangan manusia, yaitu orang-orang yang beragama Syiah, tidak henti-henti menghujat dan mencaci bahkan melaknat beliau. Itu semua karena watak mereka yang pengecut, selama hidup beliau, mereka tidak mampu berhadap-hadapan, padahal mereka tidak akan memperoleh apa-apa selain kebinasaan. Wallahu a’lam. (insya Allah bersambung)

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Harits

Penguasa 1/3 Belahan Dunia Dari Quraisy Al-Faruq ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu (2)

Gangguan Quraisy Terhadap ‘Umar

Bagaimana pun, beberapa riwayat— meskipun lemah—yang kami nukilkan dalam edisi yang lalu, saling menguatkan bahwa keislaman ‘Umar terjadi karena pengaruh ayat-ayat al-Qur’an yang didengarnya. Yang jelas, keislaman beliau z adalah anugerah Allah Subhanahu wata’ala, bagi beliau sendiri juga kaum muslimin. Setelah masuk Islam, ‘Umar bertanya kepada beberapa orang temannya, “Siapa penduduk Makkah yang paling cepat menyebarkan berita?” “Jumail bin Ma’mar al-Jumahi,” kata mereka. ‘Umar segera mencarinya dan berkata, “Hai Jumail, apakah engkau sudah tahu bahwa aku masuk Islam?” Jumail tidak menjawab sepatah kata pun, tetapi segera mengambil mantelnya dan keluar diikuti oleh ‘Umar radhiyallahu ‘anhu.

Setibanya di Masjdil Haram, dia berteriak sekeras-kerasnya, “Hai orang-orang bagian ke-2 Quraisy, ‘Umar sudah menjadi orang Shabi’!”1 “Dia dusta. Aku sudah masuk Islam. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq selain Allah Subhanahu wata’ala dan Muhammad adalah Rasul Allah.” Mendengar seruan ‘Umar, seluruh musyrikin Quraisy yang ada di sekitar Masjidil Haram segera menyerang ‘Umar. Dengan beringas mereka memukuli ‘Umar. Tetapi ‘Umar adalah ‘Umar, yang sudah bertekad ingin merasakan apa yang dirasakan oleh saudaranya kaum muslimin. Dia juga bertekad, tidak satu pun tempat yang dahulu diisinya dengan kekufuran, kecuali akan diisinya dengan keimanan.‘Umar tidak membiarkan dirinya dipukuli begitu saja, dia pun membalas pukulan mereka. Pukulan dan tendangannya mengenai beberapa orang musyrik. Tetapi, mereka seakan tiada habisnya. Satu roboh, sepuluh maju menyerang.

Sampai matahari di puncak kepala mereka, barulah mereka berhenti memukuli ‘Umar yang juga kelelahan. Melihat ‘Umar kelelahan, mereka pun mengepung ‘Umar, dan ‘Umar berkata, “Lakukanlah apa yang kalian mau!” Orang-orang musyrik itu masih mencoba mengerubuti ‘Umar. Tiba-tiba, datanglah seorang tokoh tua Quraisy dengan pakaian mentereng, berdiri di antara mereka, “Ada apa dengan kalian?” Kata mereka, “Umar ini telah menjadi Shabi’.” “Biarkan saja dia. Orang sudah memilih sesuatu untuk dirinya. Apa yang kalian inginkan? Apa kalian kira banim ‘Adi akan membiarkan anak kabilah mereka kalian perlakukan seperti ini? Tinggalkan dia!” Akhirnya, mereka meninggalkan ‘Umar yang kelelahan. Musyrikin Quraisy semakin beringas dan putus asa melihat keislaman ‘Umar.

Mereka melihat, dengan masuknya Hamzah dan ‘Umar radhiyallahu ‘anhu ke dalam barisan muslimin, berarti kekuatan kaum muslimin semakin bertambah. Kaum muslimin mulai berani menampakkan syiar agama mereka secara terang-terangan. Mereka mulai berani duduk di Masjidil Haram, padahal tidak jauh di situ orang-orang musyrikin juga berkelompok-kelompok. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Kami selalu merasa lebih mulia sejak ‘Umar masuk Islam. Keislaman ‘Umar adalah pembebasan, hijrahnya adalah kemenangan, dan kekhalifahannya adalah rahmat. Kami tidak mampu shalat di dekat Ka’bah kecuali setelah ‘Umar masuk Islam.

Sesudah beliau masuk Islam, beliaulah yang menghadang mereka sampai mereka membiarkan kami shalat.” Ibnu Ishaq rahimahullah mengatakan. “Setelah ‘Umar masuk Islam, para sahabat Rasulullah n merasa mendapat pertolongan. Begitu juga halnya ketika Hamzah masuk Islam.” An-Nawawi rahimahullah menukilkan bahwa Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Setelah ‘Umar masuk Islam, maka Islam itu seperti orang yang datang, semakin lama semakin dekat. Tetapi, setelah dia terbunuh, maka Islam itu seperti seseorang yang pergi, semakin lama semakin jauh.”

Hijrah Ke Madinah
Semakin hari tekanan kaum musyrikin terhadap pribadi Nabi n dan kaum muslimin semakin berat. Akhirnya, Rasulullah n memerintah kaum muslimin hijrah ke Madinah. Kaum muslimin yang masih ada di Makkah mulai bersiap-siap meninggalkan tanah kelahiran mereka. Satu demi satu, rombongan demi rombongan, mulai pergi meninggalkan Makkah dengan diamdiam. Berbeda halnya dengan ‘Umar. Ibnu ‘Asakir rahimahullah menukil dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu yang mengatakan, “Saya tidak mengetahui ada seseorang yang hijrah kecuali sembunyi-sembunyi, selain ‘Umar bin al-Khaththab. Ketika hendak hijrah, ‘Umar menghunus pedangnya, menyandang busur dan anak panahnya, lantas mengunjungi Ka’bah. Sementara itu, beberapa pemuka Quraisy sedang duduk di halaman Ka’bah. Kemudian ‘Umar tawaf tujuh kali dan shalat di belakang Maqam Ibrahim. Setelah itu beliau mendatangi kumpulan musyrikin itu satu demi satu, dan dengan lantang ‘Umar berkata, ‘Wajah-wajah buruk. Siapa yang mau ibunya kehilangan anak, istrinya menjadi janda, dan anak-anaknya menjadi yatim, hadanglah aku di balik lembah ini.’ Ternyata, tidak ada seorang pun yang berani mengejarnya.”

Itulah ‘Umar radhiyallahu ‘anhu, hijrahnya menjadi lambang kepahlawanan. Beliau berangkat hijrah setelah tersebar beritanya di tengah-tengah para pembesar Quraisy, di saat kaum muslimin hijrah dengan sembunyi-sembunyi, beliau justru mengeluarkan tantangan dan berangkat terang-terangan di bawah tatapan hampa para pembesar itu.5 Dalam riwayat lain diceritakan, ‘Umar berangkat hijrah bersama dua puluh orang lainnya. ‘Umar menceritakan, “Sebetulnya kami berjalan sembunyi-sembunyi dan berjanji untuk bertemu di Tanadhub dari Idha’ah bani Ghifar. Siapa yang tidak menepati kesepakatan, hendaknya menyusul pagi hari di Idha’ah. Ternyata, sebagian mendapat halangan (terkena cobaan), sementara saya dan ‘Ayyasy bin Abi Rabi’ah ketika itu meneruskan perjalanan sampai ke Madinah. Setibanya di al-‘Aqiq, kami berbelok ke ‘Ashabah sampai ke Quba lalu berhenti di rumah Rifa’ah bin ‘Abdul Mundzir.

Tidak lama, sampai pula dua saudara seibu ‘Ayyasy, yaitu Abu Jahl dan al- Harits bin Hisyam. Ibu mereka adalah putri Mukharribah dari bani Tamim. Adapun Nabi n masih berada di Makkah. Keduanya berkata kepada ‘Ayyasy, ‘Ibumu telah bernazar bahwa dia tidak akan berteduh dan tidak akan meminyaki kepalanya sampai dia melihatmu.’ Saya berkata kepada ‘Ayyasy, ‘Demi Allah, mereka berdua tidak punya keinginan lain selain mengeluarkan kamu dari agamamu. Hati-hatilah terhadap agamamu. Bawalah untaku, dia sangat cerdik, dan jangan turun dari punggungnya.’ Kata ‘Ayyasy, ‘Saya masih memiliki harta di Makkah, mungkin bisa saya ambil dan menjadi kekuatan bagi kita. Saya ingin meluluskan sumpah ibuku.’

Akhirnya, dia ikut bersama mereka berdua. Setibanya di Badhjanan, dia turun dari kendaraan. Kedua saudaranya itu menyusul dan mengikatnya dengan kuat, lalu membawanya ke Makkah. Sesampainya di Makkah, mereka berseru, ‘Hai penduduk Makkah, seperti inilah yang harus kalian lakukan terhadap orang-orang yang bodoh di antara kalian.’ Lalu mereka memenjarakannya.” Bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam di Madinah Tidak lama setelah ‘Umar tiba di Madinah, rombongan Rasulullah n juga tiba. Beberapa waktu kemudian, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mempersaudarakan antara Muhajirin dan Anshar. Beliau mempersaudarakan mereka di atas al-haq dan saling berbagi, bahkan saling mewarisi.

Namun, yang terakhir dihapus dengan turunnya ayat tentang faraidh (waris). Persaudaraan itu juga dimaksudkan agar hilang rasa asing dari para sahabat dan saling membela satu sama lain. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mempersaudarakan ‘Abdurrahman radhiyallahu ‘anhu dengan ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu, ‘Umar radhiyallahu ‘anhu dipersaudarakan dengan Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu, dan beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri dengan ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Di Madinah, ‘Umar tinggal di perkampungan bani Umayyah bin Zaid bin Malik bin ‘Auf, di dataran tinggi Madinah (4 mil dari Masjid Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam). Beliau bertetangga dengan seorang sahabat Anshar dan bergantian menghadiri majelis Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Demikianlah keadaan ‘Umar di Madinah, selalu menyertai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam setiap kesempatan. Kecerdasan dan kesungguhannya meraih hidayah— setelah taufik Allah Subhanahu wata’ala—menjadikannya sangat dekat dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Tibalah Perang Badr al-Kubra. Gembong-gembong kesyirikan bertekad untuk menumpas kaum muslimin dan memadamkan cahaya Allah Subhanahu wata’ala. Dengan kekuatan 900—1.000 orang, para pemimpin dan tokoh utama mereka keluar dengan angkuh. Perlengkapan dan perbekalan yang lengkap dengan jumlah yang banyak, membuat mereka merasa yakin akan berhasil membunuh Rasulullah n sekaligus memadamkan cahaya Allah Subhanahu wata’ala.

Tetapi, Allah Subhanahu wata’ala tidak menginginkan kecuali memenangkan agama-Nya. Para pemuja berhala itu dihancurkan oleh tentara Allah Subhanahu wata’ala, baik yang berasal dari langit maupun bumi. Dengan kekuatan hanya tiga ratus orang lebih, perlengkapan seadanya, karena semula Rasulullah n dan kaum muslimin tidak berniat untuk berperang, setelah pertolongan Allah Subhanahu wata’ala, mereka berhasil meluluhlantakkan kesombongan para pengusung kesyirikan itu. Tujuh puluh orang berikut para pemimpinnya, seperti Abu Jahl, Walid bin Utbah, dan Umayyah bin Khalaf, tewas dan dilemparkan ke dalam sumur Badr. Tujuh puluh orang lainnya, ditawan oleh kaum muslimin. Perang Badr usai. Kemenangan telak berada pada tentara Allah Subhanahu wata’ala, dan itulah kepastian yang tidak tertolak. Tentara Allah Subhanahu wata’ala pasti menang, meskipun suatu ketika mereka diuji dengan kekalahan. Yang jelas, akhir yang baik dan menyenangkan pasti diraih oleh orang-orang yang bertakwa.

Mulailah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat mengurusi tawanan Perang Badr itu. Namun, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak memutuskan sendiri, apa yang harus diperbuat terhadap mereka. Itulah kebiasaan yang beliau ajarkan kepada umatnya. Abu Bakr ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu memberi saran agar menerima tebusan dari keluarga tawanan untuk memperkuat kaum muslimin, juga dengan harapan suatu saat tawanan itu mendapat hidayah kepada Islam. Tidak demikian halnya dengan ‘Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Kebenciannya kepada kekafiran setelah dia mengenal dan mencintai Islam benar-benar tidak rela menyisakan segala bentuk kekafiran berdiri di hadapannya.

Dengan tegas ‘Umar berkata, “Mereka ini adalah gembong-gembong kesyirikan, wahai Rasulullah. Tebaslah leher mereka. Serahkan bani ‘Adi kepadaku agar kutebas lehernya, serahkan ‘Aqil kepada ‘Ali bin Abi Thalib. Mereka telah menyakiti Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya. Itulah ganjaran yang pantas buat mereka.” Dengan lembut, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang sangat sayang kepada umatnya, yang sangat ingin manusia menerima hidayah dan rahmat dari Allah Subhanahu wata’ala, berkata, “Engkau wahai Abu Bakr, kalau di kalangan malaikat adalah seperti Mikail yang membawa rahmat dan hujan, menumbuhkan tanaman.

Kalau dari kalangan para nabi, engkau seperti Nabi Ibrahim dan ‘Isa e. Adapun engkau, hai ‘Umar, perumpamaanmu di kalangan malaikat adalah seperti Jibril yang membawa azab kepada para pembangkang dan pendurhaka, sedangkan dari kalangan nabi adalah seperti Nabi Nuh dan Musa ‘Alaihissalam.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pun memilih pendapat Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu, menerima tebusan dan membiarkan sebagian tawanan itu kembali ke kampung mereka. Ada juga tawanan yang menebus dirinya dengan mengajari anak-anak kaum muslimin membaca dan menulis.

Bahkan, ada pula yang dibebaskan tanpa membayar tebusan. Tidak lama setelah itu, ‘Umar datang ke tempat Rasulullah n. Dia terkejut melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu duduk sambil menangis tersedusedu. Sambil terheran-heran, ‘Umar bertanya, “Apa yang menyebabkan Anda dan sahabat Anda ini menangis, wahai junjungan? Ceritakanlah, kalau saya bisa menangis, saya akan menangis bersama Anda berdua. Kalau tidak, saya akan menangis karena melihat Anda berdua menangis.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menerangkan,

أَبْكِي لِلَّذِي عَرَضَ عَلَيَّ أَصْحَابُكَ مِنْ أَخْذِهِمُالْفِدَاءَ، لَقَدْ عُرِضَ عَلَيَّ عَذَابُهُمْ أَدْنَى مِنهَذِهِ الشَّجَرَةِ-شَجَرَةٍ قَرِيبَةٍ مِنْ نَبِيِّ اللهِوَأَنْزَلَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ {مَا كَانَ لِنَبِيٍّ أَن يَكُونَ لَهُ أَسْرَىٰ حَتَّىٰ يُثْخِنَ فِي الْأَرْضِ ۚ } إِلَى قَوْلِه: {فَكُلُوا مِمَّا غَنِمْتُمْ حَلَالًا طَيِّبًا ۚ} فَأَحَلَّ اللهُ الْغَنِيمَةَ لَهُمْ.

“Aku menangis karena tawaran sahabat-sahabatmu agar menerima tebusan dari mereka (tawanan itu). Padahal sungguh, azab mereka telah ditampakkan kepadaku lebih dekat dari pohon ini.”—pohon yang dekat dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah Subhanahu wata’ala menurunkan firman-Nya,

مَا كَانَ لِنَبِيٍّ أَن يَكُونَ لَهُ أَسْرَىٰ حَتَّىٰ يُثْخِنَ فِي الْأَرْضِ ۚ

‘Tidak patut bagi seorang nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi.’ (al-Anfal: 67) sampai (ayat 69),

فَكُلُوا مِمَّا غَنِمْتُمْ حَلَالًا طَيِّبًا ۚ

‘Makanlah sebagian rampasan perang yang telah kamu ambil itu, sebagai makanan yang halal lagi baik,’ maka Allah menghalalkan ghanimah itu bagi mereka.”
Itulah salah satu kesesuaian beliau radhiyallahu ‘anhu dengan wahyu Allah Subhanahu wata’ala. Tahun berikutnya, genderang Perang Uhud mulai memanggil para mujahidin. Mereka yang tertinggal, tidak ikut dalam Perang Badr, berlombalomba mendaftarkan diri sebagai prajurit. Tidak ketinggalan Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma yang belum baligh juga mendaftarkan dirinya meskipun tidak diterima karena belum cukup umur. Ibnu ‘Umar dengan lesu kembali sambil tetap berharap suatu saat dapat tampil sebagai prajurit Islam. ‘Amr bin Jumuh radhiyallahu ‘anhu, seorang sahabat yang lain dengan terpincangpincang menghadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengadu, “Wahai junjungan, kata anakanak ini—kemenakannya—saya diberi keringanan untuk tidak ikut serta dalam jihad ini, benarkah demikian?” Dengan lembut Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam membenarkan. ‘Amr tidak mundur, dengan bersungguh-sungguh dia mendesak, “Ya Rasulullah, demi Allah, saya ingin memasuki surga dengan kakiku yang pincang ini.”

Setelah mengucapkan kalimat tersebut, ‘Amr berbalik dan segera menyiapkan perlengkapan perangnya. Tekad dan sumpahnya diluluskan oleh Allah Subhanahu wata’ala, ‘Amr gugur setelah bertempur hebat membela Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya. Setelah pertempuran usai, Abu Sufyan yang menjadi pemimpin Quraisy ketika itu berteriak sampai tiga kali, “Apakah Muhammad (Shallallahu ‘alaihi wasallam) masih hidup?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melarang menjawabnya. Abu Sufyan berteriak lagi sampai tiga kali, “Apakah putra Abu Quhafah (Abu Bakr) masih hidup?” Abu Sufyan berteriak lagi tiga kali, “Apakah Ibnul Khaththab (‘Umar) masih hidup?” Kemudian dia kembali kepada teman-temannya dan berkata, “Agaknya tiga orang ini sudah terbunuh.” ‘Umar tidak dapat menahan kemarahan, lalu membalas, “Kamu dusta, hai musuh Allah. Sesungguhnya yang kamu sebut itu semua masih hidup dan masih tersisa apa yang menyakitkanmu.” Suatu ketika, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mendaki Gunung Uhud bersama Abu Bakr, ‘Umar, dan ‘Utsman , tiba-tiba gunung itu bergetar. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata,

اثْبُتْ أُحُدُ فَإِنَّمَا عَلَيْكَ نَبِيٌّ وَصِدِّيقٌ وَشَهِيدَانِ

“Tenanglah, wahai Uhud, karena sesungguhnya di atasmu ini adalah nabi, shiddiq, dan dua orang syuhada.”
(insya Allah bersambung)

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Harits

Penguasa 1/3 Belahan Dunia Dari Quraisy Al-Faruq ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu (1)

Pengantar Tiga belas tahun setelah hancurnya Tentara Bergajah, bani ‘Adi bin Ka’b, terkhusus keluarga al- Khaththab bin Nufail, kembali merayakan kegembiraan karena telah lahir seorang bayi laki-laki yang sehat. Bayi yang menjadi kebanggaan bagi setiap suku apabila wanita mereka melahirkan anak. Bayi yang akan menguatkan barisan mereka dan menaikkan pamor mereka. Bayi ini tidak hanya menjadi kebanggaan bani ‘Adi saat itu, tetapi juga di masa yang akan datang. Bayi itu kelak akan menjadi saksi bagi para penguasa dan politikus di belahan dunia mana pun. Bayi itu adalah ‘Umar bin al-Khaththab bin Nufail bin ‘Abdil ‘Uzza bin Riyah bin ‘Abdullah bin Qurth bin Razah bin ‘Adi bin Ka’b bin Luai bin Ghalib al-Qurasyi al-‘Adawi.

Nasabnya bertemu dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pada Ka’b bin Luai. Ibunya bernama Hantamah bintu Hasyim bin al-Mughirah al-Makhzumi. Inilah pendapat yang dipilih oleh Ibnu ‘Abdil Barr, Ibnu Sa’d, dan Ibnu Hajar. Kulitnya putih kemerah-merahan, dadanya bidang, tubuhnya tegap, dan tingginya melebihi yang lain, seolaholah kalau berjalan bersama sahabat sahabatnya, dia seperti sedang menaiki kendaraan. Rambutnya terjurai di kedua sisi kepalanya, dan bagian atasnya botak, kumisnya lebat, sedangkan janggutnya diberi warna kuning dan rambutnya dipoles inai. Di masa jahiliah, ‘Umar sering ikut meramaikan pasar ‘Ukkazh dengan kemampuannya bergulat, bahkan sering mengalahkan lawannya. Selalu terlihat berpakaian kasar, dan biasanya dari wol dengan hampir dua puluh tambalan dari kulit. Ini juga yang diikuti oleh semua pejabatnya, yang ada di tempat (Madinah dan sekitarnya) ataupun yang ada di negeri yang jauh. Bahkan, gaya hidup sederhana ‘Umar ditiru oleh mereka, padahal Allah Subhanahu wata’ala telah memberi kemenangan untuk mereka.

 

Di Masa Jahiliah

Hampir separuh usianya beliau habiskan di Makkah, pada zaman jahiliah, tumbuh di lingkungan keluarga besar bani ‘Adi bin Ka’b. Seperti kebanyakan anak-anak Quraisy lainnya, ‘Umar tidak asing dengan pemujaan terhadap berhala-berhala yang ada di sekitar Ka’bah. Bahkan, ia termasuk penganut agama paganis yang sangat fanatik. Begitu pula dengan kebiasaan minum khamr di sebagian kalangan masyarakat Quraisy. Masa kecilnya dihabiskan di tanah suci Makkah, di kaki gunung bernama al-‘Aqir, yang kemudian dinamai gunung ‘Umar. Meskipun langka, ‘Umar termasuk salah seorang yang sempat belajar membaca dan menulis. Bahkan, di masa dewasanya, termasuk orang yang andal dalam hal menilai sebuah tulisan, bermutu ataukah tidak. Ia tumbuh dengan sehat dan cerdas, serta kasar. Sikap kasar dan kaku ini, mungkin karena didikan ayahnya, al-Khaththab, yang memaksa ‘Umar menggembalakan unta-unta ayahnya di Dhajnan.

Selain itu, ‘Umar juga menggembalakan unta-unta milik kerabat ibunya dari bani Makhzum. Sejak kecil, ‘Umar tidak pernah mengenal hidup mewah. Bahkan, beliau sendiri pernah menceritakan kehidupan masa kecilnya yang penuh kesulitan dan kekerasan. Setiap hari dia harus bekerja, tidak kenal istirahat dan santai. Keadaan tersebut mendorongnya untuk sanggup memikul beban di usia yang relatif muda. Beranjak dewasa, sebagaimana pemuda Quraisy lainnya, ‘Umar juga ikut merantau berniaga. Di musim dingin, dia ikut berangkat ke Yaman, dan di musim panas menuju Syam. Keuletannya membuat ‘Umar layak menempati salah satu posisi penting dalam elite masyarakat Makkah, meskipun usianya masih muda. Karena kekayaan, kecerdasan, dan kedudukan nenek moyangnya, ‘Umar diterima dalam majelis para pemuka Quraisy. Itu pula sebabnya tugas sebagai duta diberikan kepadanya dan mereka menyetujui semua tindakannya.

 

Sebab-Sebab Keislaman

Kita kembali mengenang keadaan ketika kaum muslimin bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam di awal Islam. Kaum muslimin mendapat tekanan yang semakin berat dengan ikut sertanya ‘Umar mengganggu dan menyakiti mereka. Tanpa belas kasihan, ‘Umar menyiksa seorang budak wanita bani Muammil, dan baru berhenti menyiksa setelah dia bosan dan kecapaian. Akhirnya, budak itu dibeli dan dibebaskan oleh Abu Bakr ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Semakin hari tekanan Quraisy semakin bertambah. Melihat keadaan kaum muslimin semakin menyedihkan, tidak lagi mampu beribadah kepada Allah Subhanahu wata’ala dengan tenang, Rasulullah memerintahkan mereka hijrah ke Habasyah (Etiopia). Tahun keenam setelah Nabi n diutus, ‘Umar menyerahkan tangannya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyatakan sumpah setia dan keislamannya. Kaum muslimin yang menyaksikan peristiwa itu bertakbir dan memuji Allah Subhanahu wata’ala. Kata Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, “Kami dalam keadaan lebih mulia sejak ‘Umar masuk Islam.

Keislaman ‘Umar adalah kemenangan, hijrahnya adalah pertolongan, dan kekhalifahannya adalah rahmat. Kami tidak mampu shalat di dekat Ka’bah kecuali setelah ‘Umar masuk Islam.” Ada beberapa riwayat yang menerangkan sebab-sebab tumbuhnya Islam di dalam hati ‘Umar. Riwayat Anas radhiyallahu ‘anhu yang dikeluarkan oleh al-Hakim dan al-Baihaqi, menyebutkan: Pada suatu hari ‘Umar keluar dengan menyandang sebilah pedang. Di tengah perjalanan dia bertemu dengan seorang laki-laki dari bani Zuhrah dan dia berkata, “Akan ke mana engkau, hai ‘Umar?” ‘Umar ketika itu menjawab, “Mau membunuh Muhammad.”

Laki-laki itu berkata lagi, “Bagaimana engkau bisa merasa aman dari bani Hasyim dan bani Zuhrah setelah membunuh Muhammad?” ‘Umar berkata pula, “Mungkin engkau sendiri sudah menukar agamamu?” Orang itu mengelak sambil mengatakan, “Maukah aku tunjukkan hal yang lebih mencengangkan? Sesungguhnya, saudarimu dan iparmu sudah memeluk Islam dan meninggalkan agama nenek moyangmu.” Mendengar hal ini, ‘Umar segera berbalik menuju ke rumah saudari dan iparnya. Kebetulan Khabbab sedang berada di sana mengajari mereka al- Qur’an. Ketika mereka mendengar suara ‘Umar, Khabbab segera bersembunyi di dalam salah satu ruangan di rumah itu. ‘Umar pun masuk dan berkata, “Suara apa yang kudengar ini?” Waktu itu mereka sedang membaca surat Thaha. Keduanya berkata, “Tidak ada, kami hanya berbincang-bincang biasa.” Kata ‘Umar, “Jangan-jangan kalian berdua sudah masuk Islam?” Iparnya menjawab, “Hai ‘Umar, bagaimana jika al-haq itu ternyata bukan berada pada agamamu?” Mendengar hal ini ‘Umar melompat kemudian membanting dan menginjaknya dengan keras. Saudarinya segera datang membela suaminya.

Tetapi ‘Umar segera meninjunya hingga darah mengucur dari wajah saudarinya itu. Wanita itu berkata dalam keadaan sangat marah, “Apakah (kau marah) meskipun al-haq bukan berada pada agamamu? Sungguh, aku bersaksi bahwa tidak ada Ilah selain Allah dan Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya.” Mungkin melihat darah di wajah adiknya, ‘Umar merasa menyesal dan kasihan. Dia pun berkata, “Coba berikan apa yang kalian baca tadi, aku mau melihat.” Saudarinya menjawab, “Kamu itu najis. Kitab ini tidak boleh disentuh oleh orang yang najis. Pergilah bersuci!” ‘Umar pun beranjak untuk mandi. Kemudian dia mulai membaca surat Thaha sampai pada ayat,

إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي

“Sesungguhnya Aku adalah Allah yang tidak ada Ilah selain Aku. Maka beribadahlah kepada-Ku dan tegakkanlah shalat untuk mengingat-Ku.” (Thaha: 14)

‘Umar berkata, “Tunjukkanlah kepadaku di mana Muhammad!” Ketika Khabbab mendengar hal ini, dia segera keluar dari tempat persembunyiannya dan berkata, “Gembiralah, hai ‘Umar. Aku berharap engkaulah yang didoakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, ‘Ya Allah, muliakanlah Islam dengan ‘Umar bin al-Khaththab atau ‘Amru bin Hisyam’ (Abu Jahl).” Waktu itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sedang berada di rumah al-Arqam bin Abil Arqam di dekat bukit ash-Shafa. ‘Umar segera berangkat ke sana. Bertepatan pula di rumah itu ada Hamzah, Thalhah, dan beberapa orang lainnya. Hamzah berkata, “Ini ‘Umar datang. Kalau Allah Subhanahu wata’ala menginginkan kebaikan buat dia, maka dia selamat. Kalau tidak, membunuhnya sangat mudah bagi kita.” Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sedang berada di dalam, beliau pun diberi tahu lalu keluar.

Begitu ‘Umar masuk, beliau segera mencengkeram pakaian dan pedang ‘Umar sambil berkata, “Apakah engkau belum juga mau berhenti, hai ‘Umar, sampai Allah Subhanahu wata’ala menurunkan kehinaan bagimu sebagaimana yang dialami oleh al-Walid bin Mughirah?!” ‘Umar segera berkata, “Aku bersaksi tidak ada ilah selain Allah dan engkau (Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam) adalah hamba Allah dan Rasul-Nya.” Dalam riwayat lain, Ibnu Ishaq menyebutkan sebagian sebab ‘Umar masuk Islam, dari ‘Abdullah bin ‘Amir bin Rabi’ah dari ibunya, Laila radhiyallahu ‘anha: ‘Umar adalah salah seorang pemuda Quraisy yang sangat keras memperlakukan kami karena keislaman kami. Ketika kami bersiap-siap hendak hijrah ke Habasyah, ‘Umar mendatangiku yang sudah berada di atas unta, hendak berangkat.

Dia pun berkata, “Hendak ke mana, hai Ummu ‘Abdillah?” “Kalian telah menyakiti kami karena agama kami, maka kami hendak pergi ke bumi Allah Subhanahu wata’ala yang lain. Di sana kami tidak akan disakiti karena beribadah kepada Allah Subhanahu wata’ala.” “Semoga Allah Subhanahu wata’ala menyertai kalian,” katanya lalu dia pergi. Setelah itu, suamiku ‘Amir bin Rabi’ah tiba dari keperluannya. Saya pun menceritakan rasa iba yang kulihat pada ‘Umar tadi, padahal selama ini belum pernah seperti itu. Suamiku berkata, “Apakah engkau mengharapkan dia akan masuk Islam?” “Ya,” jawabku. “Demi Allah, dia tidak akan masuk Islam, kecuali bila keledai al-Khaththab masuk Islam.” Dia merasa putus asa mengharapkan keislaman ‘Umar karena bengisnya terhadap kaum muslimin. Riwayat lainnya, dari ‘Umar sendiri, beliau menceritakan, “Saya pernah keluar untuk menghadang Rasulullah n sebelum masuk Islam.

Ternyata saya dapati beliau telah lebih dahulu masuk ke Masjidil Haram. Diam-diam saya pun berdiri di belakangnya. Beliau mulai membaca surat al-Haqqah. Saya pun merasa takjub dengan susunan al-Qur’an. Dalam hati, saya berkata, ‘Demi Allah, orang ini adalah penyair, seperti kata orangorang Quraisy.’ Tiba-tiba Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam membaca (ayat 40—41),

إِنَّهُ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ () وَمَا هُوَ بِقَوْلِ شَاعِرٍ ۚ قَلِيلًا مَّا تُؤْمِنُونَ

‘Sesungguhnya al-Qur’an itu adalah benar-benar wahyu (Allah yang diturunkan kepada) Rasul yang mulia. Dan al-Qur’an itu bukanlah perkataan seorang penyair, sedikit sekali kamu beriman kepadanya.’ Kemudian saya berkata, ‘(Orang ini) dukun.’ Beliau pun membaca (ayat 42—47),

وَلَا بِقَوْلِ كَاهِنٍ ۚ قَلِيلًا مَّا تَذَكَّرُونَ () تَنزِيلٌ مِّن رَّبِّ الْعَالَمِينَ () وَلَوْ تَقَوَّلَ عَلَيْنَا بَعْضَ الْأَقَاوِيلِ () لَأَخَذْنَا مِنْهُ بِالْيَمِينِ () ثُمَّ لَقَطَعْنَا مِنْهُ الْوَتِينَ () فَمَا مِنكُم مِّنْ أَحَدٍ عَنْهُ حَاجِزِينَ

‘Dan bukan pula perkataan tukang tenung (dukun), sedikit sekali kamu mengambil pelajaran darinya. Ia adalah wahyu yang diturunkan dari Rabb semesta alam. Seandainya dia (Muhammad) mengadakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, niscaya benar-benar Kami pegang dia pada tangan kanannya. Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya. Sekali-kali tidak ada seorang pun dari kalian yang dapat menghalangi (Kami), dari pemotongan urat nadi itu,’ sampai akhir surat ini, hingga masuklah Islam ke dalam hati saya.”

Ada pula riwayat lain dari ‘Umar sendiri, beliau menceritakan: “Dahulu, saya sangat jauh dari Islam. Di zaman jahiliah, saya sangat menyukai minuman keras. Kami mempunyai majelis tempat berkumpul beberapa pemuka Quraisy, di Hazwarah (dekat tempat sa’i, dari arah terbitnya matahari, sekarang bernama Qasysyasyiyah, salah satu pasar Makkah dan telah digusur untuk perluasan Masjidil Haram, -pen.). Suatu malam, saya keluar untuk berkumpul dengan teman-teman di majelis itu. Ternyata, tidak seorang pun yang saya temui di sana. Saya berkata dalam hati, ‘Mungkin di warung tuak si Fulan.’ Saya pun ke sana untuk membeli khamr. Di sana juga tidak ada seorang pun yang saya temui. Saya coba ke Ka’bah lalu thawaf 7 kali atau 70 kali. Sesampainya di Masjidil Haram, ternyata ada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sedang shalat. Beliau menghadap ke arah Baitul Maqdis di Syam dan memosisikan Ka’bah di hadapan beliau.

Beliau berdiri di antara Hajar Aswad dan Yamani. Melihat beliau, saya berkata dalam hati, ‘Demi Allah, seandainya saya bisa mendengarkan apa yang dibacanya malam ini. Coba saya mendekat dari arah Hijr, lalu sembunyi di balik kelambu Ka’bah. Perlahan-lahan saya mulai mendekati beliau yang sedang membaca al-Qur’an. Begitu mendengar beberapa ayatnya, hati saya menjadi lembut, saya pun menangis. Islam mulai menyelinap dalam hati saya. Saya terus berdiri di sana sampai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyelesaikan shalatnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berjalan pulang menuju rumahnya. Diam-diam, saya mengikuti beliau. Tetapi, beliau mendengar suara saya, dan mengira bahwa saya ingin menyakiti beliau, maka beliau membentak saya, “Ada apa denganmu, hai putra al-Khaththab, malam-malam begini?” ‘Saya, datang untuk beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta apa yang datang dari sisi Allah.’ Mendengar ucapan saya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memuji Allah Subhanahu wata’ala dan berkata, “Semoga Allah Subhanahu wata’ala memberimu hidayah, hai ‘Umar.”

Kemudian beliau mengusap dada saya dan mendoakan keteguhan bagi saya. Setelah itu, saya meninggalkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan beliau pun memasuki rumahnya. Bagaimanapun, beberapa riwayat ini saling menguatkan. Yang jelas, keislaman beliau radhiyallahu ‘anhu adalah anugerah Allah Subhanahu wata’ala, bagi beliau sendiri dan juga kaum muslimin. (bersambung, insya Allah)

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Harits