Al-Maula dan Al-Waliy

Al-Maula adalah salah satu dari asmaullah, nama-nama Allah ‘azza wa jalla yang mulia. Semakna dengan nama itu adalah nama Allah ‘azza wa jalla, al-Waliy. Kedua nama tersebut terdapat dalam ayat dan hadits sebagaimana akan disebutkan.

Allah ‘azza wa jalla adalah al-Maula bagi kaum mukminin. Maknanya ‘Dzat yang menolong hamba-hamba-Nya yang beriman, menyampaikan maslahat-maslahat kepada mereka, dan memudahkan untuk mereka berbagai manfaat ukhrawi dan duniawi’.

Allah adalah sebaik-baik al-Maula, yakni bagi siapa yang ditolong dan dicintai oleh Allah ‘azza wa jalla, sehingga dia akan memperoleh apa yang diinginkan.

Makna al-Waliy secara garis besar sama dengan al-Maula.

Asy-Syaikh as-Sa’di rahimahullah mengatakan bahwa (Allah) al-Waliy adalah Dzat yang hamba-Nya mencintai-Nya dengan mengibadahi-Nya dan menaati-Nya, serta mendekatkan diri kepada-Nya dengan segala yang dia mampu dari berbagai bentuk taqarrub (mendekatkan diri).

Allah ‘azza wa jalla membantu hamba-Nya secara umum (yakni baik yang beriman maupun tidak), dengan mengaturnya dan memberlakukan takdir-Nya kepada mereka. Demikian pula Allah ‘azza wa jalla menolong hamba-Nya yang beriman secara khusus dengan mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya, mengatur dan menjaga mereka dengan kelembutan-Nya, serta membantu mereka dalam segala urusan mereka. (Tafsir as-Sa’di)

Dalam bahasa Arab, huruf waulamya ( ولي ) memiliki beberapa arti, di antaranya: kedekatan, kecintaan, pertolongan, mengikuti, pengaturan, dan pengurusan. (Tahdzib al-Lughah, karya al-Azhari bab “Wau-lam-ya”. Lihat juga kitab Mu’jam Maqayis al-Lughah)

Berdasarkan makna secara bahasa dan keterangan asy-Syaikh Abdur Rahman as-Sa’di di atas, Allah ‘azza wa jalla menjadi al-Maula dan al-Waliy bagi hamba-Nya, maknanya mencakup hamba yang beriman dan hamba yang tidak beriman.

Allah ‘azza wa jalla sebagai al-Maula dan al-Waliy bagi hamba yang beriman berarti Allah ‘azza wa jalla mengatur, mengurusi, mencintai, dekat dengan mereka, dan menolong mereka.

Ketika menafsirkan firman-Nya,

ٱللَّهُ وَلِيُّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ

        “Allah Wali bagi orang-orang yang beriman.” (al-Baqarah: 257)

Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullah berpendapat, “Maksudnya, pembela mereka dan penolong mereka, membantu mereka dengan pertolongan dan taufik-Nya. Dari sini Allah ‘azza wa jalla berfirman,

ذَٰلِكَ بِأَنَّ ٱللَّهَ مَوۡلَى ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَأَنَّ ٱلۡكَٰفِرِينَ لَا مَوۡلَىٰ لَهُمۡ ١١

        “Hal itu karena sesungguhnya Allah adalah al-Maula bagi orang-orang yang beriman dan karena sesungguhnya orang-orang kafir itu tidak mempunyai al-Maula.” (Muhammad: 11)

 

Ketika Perang Uhud, Abu Sufyan sebagai pimpinan musyrikin berkata kepada muslimin, “Kami memiliki Uzza, sementara kalian tidak memiliki Uzza.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada para sahabatnya, “Tidakkah kalian jawab?”

“Wahai Rasulullah, apa yang mesti kami katakan?” sahut para sahabat radhiallahu ‘anhum.

        “Katakanlah, ‘Allah Maula kami dan kalian tidak punya Maula’.”

 

Adapun Allah ‘azza wa jalla sebagai al-Maula dan al-Waliy bagi orang yang tidak beriman, maknanya Allah ‘azza wa jalla mengurusi mereka dan mengatur mereka dengan takdir dan ketetapan-Nya. Inilah makna pengaturan dan ketetapan yang bersifat umum, mencakup semua makhluk-Nya, yang mukmin dan yang kafir.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

أَمِ ٱتَّخَذُواْ مِن دُونِهِۦٓ أَوۡلِيَآءَۖ فَٱللَّهُ هُوَ ٱلۡوَلِيُّ وَهُوَ يُحۡيِ ٱلۡمَوۡتَىٰ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ ٩

        “Atau patutkah mereka mengambil maula-maula selain Allah? Allah, Dialah al-Wali, pelindung (yang sebenarnya) dan Dia menghidupkan orang-orang yang mati, dan Dia adalah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (asy-Syura: 9)

 

Buah Mengimani Nama Allah al-Maula dan al-Wali

Mengimani kedua nama Allah di atas dan mengetahui maknanya dengan yakin, akan menumbuhkan rasa tawakal yang tinggi pada diri seorang hamba. Sebab, dia tahu bahwa sembahannya, Allah ‘azza wa jalla, adalah sebaik-baik Dzat yang mengurusi dan melindunginya. Barang siapa bertawakal penuh kepada Allah ‘azza wa jalla, Allah ‘azza wa jalla akan mencukupinya.

Lihatlah ketika keyakinan ini menghunjam dalam dada sahabat az-Zubair radhiallahu ‘anhu. Az-Zubair radhiallahu ‘anhu berkata kepada anaknya, saat terjadi Perang Jamal yang kemudian dia gugur saat itu,

        قَالَ الزُّبَيْرُ لِابْنِهِ عَبْدِ اللهِ يَوْمَ الْجَمَلِ: يَا بُنَيَّ، إِنْ عَجِزْتُ عَنْ شَيْءٍ مِنْهُ )يَعْنِي : دَيْنَهُ(؛ فَاسْتَعِنْ عَلَيْهِ بِمَوْلَايَ. قَالَ: فَوَاللهِ، مَا دَرَيْتُ مَا أَرَادَ حَتَّى قُلْتُ: يَا أَبَتِ، مَنْ مَوْلَاكَ؟ قَالَ: اللهُ. قَالَ: فَوَاللهِ، مَا وَقَعْتُ فِي كُرْبَةٍ مِنْ دَيْنِهِ إِلاَّ قُلْتُ: يَا مَوْلَى الزُّبَيْرِ، اقْضِ عَنْهُ دَيْنَهُ فَيَقْضِيهِ

“Wahai anakku, bila aku tidak mampu membayar sebagian utangku, mintalah tolong kepada Maulaku.”

Sang anak berkata, “Demi Allah, aku tidak tahu apa yang dia maksudkan sampai akhirnya aku bertanya kepada beliau, ‘Wahai ayah siapakah Maulamu?’

‘Allah,’ jawab az-Zubair.

“Demi Allah, tidaklah aku mengalami kesusahan ketika membayarkan utangnya kecuali aku berdoa, ‘Wahai, Maula Zubair, bayarkanlah utangnya,’ kecuali Allah ‘azza wa jalla berikan jalan untuk membayarkan utangnya. (HR. al-Bukhari, sahih)

Wallahul Muwaffiq.

 Ditulis oleh al-Ustadz Qomar Suaidi

Al-Malik

Di antara nama Allah adalah al-Malik ( الْمَلِكُ ) dan al-Maliik ( الْمَلِيكُ ), berdasarkan firman Allah,

          هُوَ ٱللَّهُ ٱلَّذِي لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلۡمَلِكُ ٱلۡقُدُّوسُ ٱلسَّلَٰمُ ٱلۡمُؤۡمِنُ ٱلۡمُهَيۡمِنُ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡجَبَّارُ ٱلۡمُتَكَبِّرُۚ سُبۡحَٰنَ ٱللَّهِ عَمَّا يُشۡرِكُونَ ٢٣

        “Dia-lah Allah Yang tiada Rabb (yang berhak disembah) selain Dia, Raja, Yang Mahasuci, Yang Mahasejahtera, Yang Mengaruniakan keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Mahaperkasa, Yang Mahakuasa, Yang Memiliki segala keagungan. Mahasuci, Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (al-Hasyr: 23)

 

فِي مَقۡعَدِ صِدۡقٍ عِندَ مَلِيكٖ مُّقۡتَدِرِۢ ٥٥

        “Di tempat yang disenangi di sisi Rabb Yang Maha Berkuasa.” (al-Qamar: 55)

 

Dalam hadits disebutkan,

        يَقْبِضُ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى الْأَرْضَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَيَطْوِي السَّمَاءَ بِيَمِينِهِ، ثُمَّ يَقُولُ: أَنَا الْمَلِكُ، أَيْنَ مُلُوكُ الْأَرْضِ؟

Pada hari kiamat, Allah subhanahu wa ta’ala akan menggenggam bumi dan melipat langit dengan tangan kanan-Nya. Lalu Allah berfirman, “Akulah Maharaja, di manakah raja-raja bumi?” (HR. al-Bukhari dan Muslim, hadits sahih)

 

Asy-Syaikh Abdurahman as-Sa’di rahimahullah berpendapat bahwa al-Malik dan al-Maalik berarti Yang milik-Nyalah kerajaan. Dia subhanahu wa ta’ala disifati dengan kerajaan, yang bermakna memiliki sifat-sifat kebesaran, kesombongan, pemaksaan, dan pengaturan; Yang Memiliki pengaturan yang mutlak dalam hal penciptaan, perintah, dan pembalasan.

Milik-Nyalah seluruh alam semesta bagian atas dan bawahnya. Semuanya adalah hamba dan budak-Nya. Semuanya membutuhkan bantuan-Nya.

 

As-Sa’di rahimahullah juga berpendapat bahwa Allah subhanahu wa ta’ala mengabarkan bahwa Dia subhanahu wa ta’ala adalah pemilik seluruh yang ada di langit dan di bumi, sehingga semuanya adalah hamba Allah dan budak-Nya. Tidak seorang pun keluar dari lingkup ini.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          إِن كُلُّ مَن فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ إِلَّآ ءَاتِي ٱلرَّحۡمَٰنِ عَبۡدٗا ٩٣

        “Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Rabb Yang Maha Pemurah sebagai seorang hamba.” (Maryam: 93)

Allah-lah Yang Maha Memiliki seluruh hamba; Dia Yang Memiliki sifat kepemilikan, mengatur, menguasai, dan kesombongan.

Di antara kesempurnaan kerajaan-Nya, tidak ada siapa pun yang bisa memberi syafaat di hadapannya kecuali dengan izin-Nya. Semua makhluk yang berkedudukan dan semua pemberi syafaat adalah budak dan hamba bagi Allah. Mereka tidak mampu memberi syafaat sampai Allah subhanahu wa ta’ala memberikan izin kepada mereka.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

قُل لِّلَّهِ ٱلشَّفَٰعَةُ جَمِيعٗاۖ

“Katakanlah bahwa syafaat seluruhnya hanya milik Allah.” (az-Zumar: 44)

 

Allah subhanahu wa ta’ala tidak akan memberi izin kepada siapa pun untuk memberi syafaat kecuali kepada yang Dia subhanahu wa ta’ala ridhai. Sementara itu, Allah subhanahu wa ta’ala tidak meridhai syafaat kecuali kepada hamba yang mentauhidkan-Nya dan mengikuti Rasul-Nya. Barang siapa tidak memiliki sifat tersebut, dia tidak akan mendapatkan syafaat.

 

Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa hakikat sebuah kerajaan akan sempurna dengan kemampuan memberi, menghalangi, memuliakan, menghinakan, memberi pahala, memberi sanksi, murka, ridha, memberi kekuasaan, mencopot kekuasaan, memuliakan yang pantas dimuliakan, dan merendahkan yang pantas direndahkan.

 

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

قُلِ ٱللَّهُمَّ مَٰلِكَ ٱلۡمُلۡكِ تُؤۡتِي ٱلۡمُلۡكَ مَن تَشَآءُ وَتَنزِعُ ٱلۡمُلۡكَ مِمَّن تَشَآءُ وَتُعِزُّ مَن تَشَآءُ وَتُذِلُّ مَن تَشَآءُۖ بِيَدِكَ ٱلۡخَيۡرُۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ ٢٦

تُولِجُ ٱلَّيۡلَ فِي ٱلنَّهَارِ وَتُولِجُ ٱلنَّهَارَ فِي ٱلَّيۡلِۖ وَتُخۡرِجُ ٱلۡحَيَّ مِنَ ٱلۡمَيِّتِ وَتُخۡرِجُ ٱلۡمَيِّتَ مِنَ ٱلۡحَيِّۖ وَتَرۡزُقُ مَن تَشَآءُ بِغَيۡرِ حِسَابٖ ٢٧

Katakanlah, “Wahai Rabb Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.

Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rezeki kepada siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas).” (Ali Imran: 26—27)

 

          يَسۡ‍َٔلُهُۥ مَن فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۚ كُلَّ يَوۡمٍ هُوَ فِي شَأۡنٖ ٢٩

        “Semua yang ada di langit dan bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan.” (ar-Rahman: 29)

 

Mengampuni dosa, memberi jalan keluar bagi yang kesusahan, menghilangkan kesedihan, menolong yang terzalimi, mencegah yang berbuat zalim, melepaskan kesulitan, membuat kaya yang miskin, menghibur yang sedih, menyembuhkan yang sakit, menutup aurat, memuliakan yang hina, menghinakan yang mulia, memberi yang meminta, menciptakan sebuah negara dan melenyapkan yang lain, membuat hari silih berganti di antara manusia, mengangkat derajat sebagian kaum dan merendahkan kaum lain, menjalankan takdir yang Dia tetapkan lima puluh ribu tahun sebelum terciptanya langit dan bumi kepada waktu-waktunya tanpa bergeser sedikitpun waktunya; semuanya seperti yang Allah subhanahu wa ta’ala tetapkan, seperti yang ditulis oleh pena takdir, dan seperti yang Allah subhanahu wa ta’ala tetapkan, seperti yang Allah subhanahu wa ta’ala ketahui.

Dialah sendiri yang mengatur segala yang ada dalam kerajaan-Nya seluruhnya; pengaturan Maharaja yang Mahamampu, Mahamemaksa, Mahaadil, Maha Pengasih Penyayang, yang sempurna kerajaan-Nya. Tidak ada sesuatupun yang melawan-Nya dalam kerajaan-Nya. Tidak ada sesuatupun yang menentang-Nya. Pengaturan-Nya dalam kerajaan-Nya berjalan antara keadilan dan kebaikan, hikmah, maslahat, kasih sayang, dan perbuatan-Nya tidak keluar dari itu. (Thariqul Hijratain)

 

Buah Mengimani Nama Allah al-Malik

Di antara buah mengimani nama Allah al-Malik adalah merasakan betapa kecil dan betapa lemahnya kita sebagai hamba Allah di hadapan Allah, Maharaja bagi semua raja; Yang Menciptakan, memiliki, menguasai, dan mengatur langit, bumi, dunia, dan akhirat.

Kita juga merasa bangga dengan keyakinan kita di mana kita adalah hamba Dzat Yang Mahaperkasa. Kita tidak salah menghambakan diri kepada-Nya. Tidak seperti orang-orang yang menghambakan diri kepada patung, pohon, jin, setan, binatang, dan lainnya; yang tidak lain adalah sesama makhluk.

Walhamdulillah atas kenikmatan Islam.

 

Ditulis oleh al-Ustadz Qomar Suaidi

Al-Muqit

Di antara asmaul husna adalah al-Muqit. Allah subhanahu wa ta’ala telah menyebutkan nama ini pada satu ayat dalam al-Qur’an,

مَّن يَشۡفَعۡ شَفَٰعَةً حَسَنَةٗ يَكُن لَّهُۥ نَصِيبٞ مِّنۡهَاۖ وَمَن يَشۡفَعۡ شَفَٰعَةٗ سَيِّئَةٗ يَكُن لَّهُۥ كِفۡلٞ مِّنۡهَاۗ وَكَانَ ٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ مُّقِيتٗا ٨٥

        “Barang siapa memberikan syafaat yang baik, niscaya ia akan memperoleh bahagian (pahala) darinya. Dan barang siapa memberi syafaat yang buruk, niscaya ia akan memikul bagian (dosa) darinya. Allah adalah Muqit atas segala sesuatu.” (an-Nisa’: 85)

Para ulama menyebutkan beberapa makna nama Allah subhanahu wa ta’ala al-Muqit sebagaimana berikut.

  1. Yang Mahamampu, al-Muqtadir. Makna ini disebutkan oleh Ibnu Abbas, Ibnu Jarir, Abu Ubaid, dll.
  2. Yang Maha Menjaga, yakni yang memberikan penjagaan terhadap sesuatu sesuai dengan kebutuhannya, al-Hafizh. Hal ini disebutkan oleh Ibnu Abbas, Qatadah, dan yang lain.
  3. Yang Maha Menyaksikan, asy-Syahid. Ini dinyatakan oleh Mujahid.
  4. Al-Hasib, Yang Maha Mencukupi. Ini diriwayatkan dari Mujahid.
  5. Yang Maha Mengawasi. Makna ini diriwayatkan dari Atha’.
  6. Yang Mahakekal. Makna ini diriwayatkan oleh Ibnu Juraij dari Abdullah bin Katsir.
  7. Yang Maha Memberi makanan pokok. Ini diriwayatkan dari Muqatil bin Sulaiman dan al-Khaththabi.

Itulah beberapa makna al-Muqit sebagaimana disebutkan oleh para ulama. Pembaca bisa melihat dalam buku-buku tafsir, seperti Zadul Masir karya Ibnul Jauzi rahimahullah, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir al-Baghawi, dan lain-lain. Tafsiran-tafsiran tersebut tidaklah saling bertentangan.

 

Buah Mengimani Nama Allah, al-Muqit

Seperti disebutkan oleh para ulama, al-Muqit memiliki beberapa makna. Mengimani dan mengetahui maknanya akan membuahkan banyak hal dalam perilaku kita.

  1. Kita akan mengagungkan-Nya karena Dia Mahamampu.
  2. Kita akan bersyukur kepada-Nya, karena Dia Maha Menjaga dan Maha Memberi Rezeki kepada kita serta mencukupi kita.
  3. Kita akan berhati-hati dalam berbuat, karena Dia Maha Menyaksikan dan Maha Mengawasi.

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa merahmati kita.

Ditulis oleh al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc.

Al-Muqaddim & Al-Muakhkhir

Dua nama dari asmaul husna, dalam hadits disebutkan,

أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Engkaulah, al-Muqaddim dan Engkaulah, al-Muakhkhir. Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.” (Muttafaqun alaih)

Asy-Syaikh Muhammad Khalil Harras menerangkan, “Di antara nama Allah subhanahu wa ta’ala adalah al-Muqaddim dan al-Muakhkhir. Keduanya termasuk nama yang saling berpasangan, tidak boleh salah satunya dipisahkan dari yang lain. Jadi, Allah subhanahu wa ta’ala adalah al-Muqaddim yakni yang mendahulukan sebagian sesuatu atas sebagian yang lain, baik pendahuluan dalam penciptaan, seperti pendahuluan sebagian makhluk atas yang lain dalam menciptakannya, maupun dalam hal mendahulukan sebab atas akibatnya, syarat atas yang dipersyaratkan; atau pendahuluan dalam hal maknawi atau dalam hal syariat, seperti diutamakannya sebagian nabi atas seluruh manusia yang lain, diutamakannya nabi atas sebagian nabi yang lain, dan diutamakan sebagian hamba atas hamba yang lain.

Allah subhanahu wa ta’ala juga al-Muakhkhir, yang mengakhirkan sebagian dari sebagian yang lain, baik dalam sisi waktunya maupun dalam sisi syariat. Dua sifat Allah subhanahu wa ta’ala (yang terkandung dalam dua nama ini) termasuk yang disebut dengan sifat fi’il (sifat perbuatan) yang mengikuti kehendak Allah subhanahu wa ta’ala dan hikmah-Nya, (yakni kapan Allah subhanahu wa ta’ala menghendaki, Allah subhanahu wa ta’ala akan melakukannya sesuai dengan hikmah-Nya, pen.). Keduanya juga termasuk yang disebut dengan sifat zat. Keduanya berada pada sebuah zat (yakni tidak berdiri sendiri, pen.).

Demikianlah semua sifat fi’il dari sudut pandang ini termasuk sifat zat. Zat (Allah subhanahu wa ta’ala) bersifat dengannya dan dari sisi keterkaitan sifat itu dengan sumber munculnya, baik berupa perkataan maupun perbuatan yang disebut sifat fi’il.” (Syarah Qashidah Nuniyah, 2/120)

 

Buah Mengimani Nama Allah subhanahu wa ta’ala, al-Muqaddim dan al-Muakhkhir

Dengan mengimani dua nama Allah subhanahu wa ta’ala tersebut, akan bertambah kepasrahan seorang hamba kepada Allah subhanahu wa ta’ala dalam hal kemajuannya atau kemundurannya, keutamaannya atauberkurangnya keutamaan itu. Semuanya Allah subhanahu wa ta’ala yang menentukan.

Meski demikian, maju atau mundur, utama atau tidak, semuanya ada sebabnya yang Allah subhanahu wa ta’ala kaitkan dengannya. Kita mesti melakukan segala sebab keutamaan dan kemajuan serta menghindari sebab kemunduran. Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala -lah yang memutuskan hasilnya.

Sebagai contoh, dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat para sahabatnya lambat dalam maju ke shaf depan. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تَقَدَّمُوا فَأَتِمُّوا بِي، وَلْيَأْتَمَّ بِكُمْ مَنْ بَعْدَكُمْ، لَا يَزَالُ قَوْمٌ يَتَأَخَّرُونَ حَتَّى يُؤَخِّرُهُمُ اللهُ

“Majulah dan ikuti aku. Yang di belakang kalian akan mengikuti kalian. Akan tetap ada orang-orang yang memilih berada di belakang hingga Allah subhanahu wa ta’ala mengakhirkan mereka.” (Sahih, HR. Muslim dari Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhu)

Wallahul Muwaffiq.

Ditulis oleh al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc.

Al-Mushawwir

Al-Mushawwir adalah salah satu dari al-Asma’ul Husna. Nama ini tersebut dalam ayat al-Qur’an.

هُوَ ٱللَّهُ ٱلۡخَٰلِقُ ٱلۡبَارِئُ ٱلۡمُصَوِّرُۖ لَهُ ٱلۡأَسۡمَآءُ ٱلۡحُسۡنَىٰۚ يُسَبِّحُ لَهُۥ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۖ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ ٢٤

“Dia-lah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Nama-Nama Yang Paling baik. Bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (al-Hasyr: 24)

Lanjutkan membaca Al-Mushawwir

Al-Muhith

Al-Muhith adalah salah satu asmaul husna. Allah ‘azza wa jalla telah menyebutkan nama tersebut dalam sebagian ayat-Nya, di antaranya dalam firman-Nya,

إِن تَمۡسَسۡكُمۡ حَسَنَةٞ تَسُؤۡهُمۡ وَإِن تُصِبۡكُمۡ سَيِّئَةٞ يَفۡرَحُواْ بِهَاۖ وَإِن تَصۡبِرُواْ وَتَتَّقُواْ لَا يَضُرُّكُمۡ كَيۡدُهُمۡ شَيۡ‍ًٔاۗ إِنَّ ٱللَّهَ بِمَا يَعۡمَلُونَ مُحِيطٞ ١٢٠

“Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikit pun tidak mendatangkan kemudaratan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.” (Ali ‘Imran: 120)

وَلَا تَكُونُواْ كَٱلَّذِينَ خَرَجُواْ مِن دِيَٰرِهِم بَطَرٗا وَرِئَآءَ ٱلنَّاسِ وَيَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِۚ وَٱللَّهُ بِمَا يَعۡمَلُونَ مُحِيطٞ ٤٧

“Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud ria kepada manusia serta menghalangi (orang) dari jalan Allah. Dan (ilmu) Allah meliputi apa yang mereka kerjakan.” (al-Anfal: 47)

Adapun makna al-Muhith yang telah dijelaskan oleh beberapa ulama di antaranya sebagai berikut.

Qiwamus Sunnah al-Ashfahani mengatakan dalam kitab al-Hujjah, “Al- Muhith artinya adalah yang Kemampuan-Nya meliputi segala makhluk-Nya, yang Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu, dan menghitung segala sesuatu.”

Al-Baihaqi mengatakan dalam kitab al-I’tiqad, “Al-Muhith artinya Yang Kemampuan-Nya meliputi segala sesuatu, Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu. Kemampuan adalah sifat yang selalu lekat pada Dzat-Nya, demikian pula ilmu adalah sifat yang selalu lekat pada Dzat-Nya.”

As-Sa’di rahimahullah berkata, “Al-Muhith, Yang Meliputi Segala Sesuatu dengan Ilmu-Nya, Kemampuan-Nya, Kasih Sayang-Nya, dan Pemaksaan-Nya.”

 

Buah Mengimani Nama Allah Al-Muhith

Dengan mengimani nama Allah al-Muhith, seorang hamba mengetahui keluasan ilmu Allah ‘azza wa jalla, kemampuan-Nya, dan rahmat-Nya. Tidak ada sesuatupun kecuali Allah ‘azza wa jalla mengetahuinya. Tidak ada sesuatupun kecuali dia merasakan kasih sayang Allah, dan tidak ada sesuatupun melainkan berada dalam kekuasaan-Nya. Mahabesar Allah.

Dengan demikian, semestinya kita senantiasa berhati-hati saat berbuat, karena perbuatan kita apapun dan di manapun selalu dalam liputan ilmu Allah. Firman-Nya,

          قَالَ يَٰقَوۡمِ أَرَهۡطِيٓ أَعَزُّ عَلَيۡكُم مِّنَ ٱللَّهِ وَٱتَّخَذۡتُمُوهُ وَرَآءَكُمۡ ظِهۡرِيًّاۖ إِنَّ رَبِّي بِمَا تَعۡمَلُونَ مُحِيطٞ ٩٢

Syuaib menjawab, “Hai kaumku, apakah keluargaku lebih terhormat menurut pandanganmu daripada Allah, sedang Allah kamu jadikan sesuatu yang terbuang di belakangmu? Sesungguhnya (pengetahuan) Rabbku meliputi apa yang kamu kerjakan.” (Hud: 92)

 

ditulis oleh Al-Ustadz Qomar Suaidi

Al-Mujib

Al-Mujib adalah salah satu nama Allah al-Husna yang Mahaindah. Nama ini terdapat dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala,

وَإِلَىٰ ثَمُودَ أَخَاهُمۡ صَٰلِحٗاۚ قَالَ يَٰقَوۡمِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَٰهٍ غَيۡرُهُۥۖ هُوَ أَنشَأَكُم مِّنَ ٱلۡأَرۡضِ وَٱسۡتَعۡمَرَكُمۡ فِيهَا فَٱسۡتَغۡفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوٓاْ إِلَيۡهِۚ إِنَّ رَبِّي قَرِيبٞ مُّجِيبٞ ٦١

Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Saleh. Saleh berkata, “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Rabb selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Rabbku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya).” (Hud: 61)

Al-Mujib bermakna yang menjawab, yang mengabulkan, atau yang mengijabahi doa hamba yang berdoa kepada-Nya.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Dialahal-Mujib. Dia mengatakan, ‘Siapa yang berdoa,’ ‘Akulah yang menjawab setiap orang yang memanggil-Ku.’ Dialah yang mengabulkan doa orang yang terhimpit ketika memohon kepada-Nya, dalam keadaan tersembunyi atau terang terangan.”

As-Sa’di rahimahullah berkata, “Dialah yang mengabulkan secara umum terhadap doa orang yang berdoa, bagaimanapun keadaan mereka dan dalam kondisi apapun, sebagaimana janji-Nya secara mutlak. Dialah pula yang mengabulkan secara khusus bagi orang-orang yang menyambut seruan Allah subhanahu wa ta’ala dan tunduk kepada syariat-Nya. Dia jugalah yang mengijabahi doa orang yang terhimpit dan telah putus harapan mereka dari makhluk, lantas menguatlah ketergantungan mereka kepada Allah dengan penuh harapan dan rasa takut kepada-Nya.”

Asy-Syaikh Muhammad Khalil Harras berkata, “Di antara nama Allah adalah al-Mujib. Kata ini adalah bentuk isim fail dari kata masdar ‘ijabah’ (bermakna mengabulkan atau menjawab). Pengabulan Allah subhanahu wa ta’ala ada dua macam.

 

  1. Pengabulan secara umum bagi tiap yang berdoa kepada-Nya dengan doa ibadah atau doa mas’alah.

Doa ibadah adalah suatu ucapan yang bertujuan memuji Allah subhanahu wa ta’ala dengan menyebut nama-nama-Nya yang Mahaindah dan sifat-sifat-Nya yang Mahatinggi tanpa diiringi oleh permintaan keperluan tertentu.

Adapun doa mas’alah adalah seorang hamba berkata, ‘Ya Allah, berikan kepadaku sesuatu, atau hindarkan dariku sesuatu.’ Hal ini dilakukan oleh manusia yang baik maupun yang jahat.

Allah subhanahu wa ta’ala akan mengabulkan bagi siapa yang Allah subhanahu wa ta’ala kehendaki dari hamba yang berdoa kepada-Nya sesuai dengan hikmah-Nya. Pengabulan doa tidak khusus bagi orang yang ikhlas dan bertakwa, karena kebaikan Allah subhanahu wa ta’ala mencakup orang yang baik dan orang yang jahat sekalipun, sedangkan rahmat-Nya meliputi segala sesuatu.

Oleh karena itu, pengabulan doa semacam ini tidak menunjukkan baiknya keadaan orang yang berdoa dan terkabul doanya selama tidak ada padanya tanda kejujuran dan kebenaran, seperti doa para Nabi, doa mereka untuk kebaikan kaumnya, atau doa untuk kecelakaan kaum yang membangkang terhadap mereka, lantas Allah mengabulkan doanya. Ketika itu, pengabulan doa Allah subhanahu wa ta’ala terhadap mereka menunjukkan kejujuran mereka dalam hal berita yang sampaikan dan kemuliaan mereka di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala.

 

  1. Pengabulan doa secara khusus

Jenis pengabulan doa yang ini memiliki sebab yang banyak. Di antaranya, seseorang telah berada pada keadaan yang sangat sempit dan terjatuh pada kesulitan yang sangat dahsyat, lalu dia berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Allah mengabulkan doanya dan menghilangkan kesulitannya sebagaimana firman-Nya,

وَإِذَا مَسَّكُمُ ٱلضُّرُّ فِي ٱلۡبَحۡرِ ضَلَّ مَن تَدۡعُونَ إِلَّآ إِيَّاهُۖ فَلَمَّا نَجَّىٰكُمۡ إِلَى ٱلۡبَرِّ أَعۡرَضۡتُمۡۚ وَكَانَ ٱلۡإِنسَٰنُ كَفُورًا ٦٧

“Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah siapa yang kamu seru kecuali Dia. Maka tatkala Dia menyelamatkan Kamu ke daratan, kamu berpaling. Dan manusia adalah selalu tidak berterima kasih.” (al-Isra’: 67)

أَمَّن يُجِيبُ ٱلۡمُضۡطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكۡشِفُ ٱلسُّوٓءَ وَيَجۡعَلُكُمۡ خُلَفَآءَ ٱلۡأَرۡضِۗ أَءِلَٰهٞ مَّعَ ٱللَّهِۚ قَلِيلٗا مَّا تَذَكَّرُونَ ٦٢

“Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati (Nya).” (an-Naml: 62)

Hal itu karena dia merasa sangat membutuhkan pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala dan merasa sangat hancur kalbunya di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala serta terlepas ketergantungannya dari makhluk.

Di antara sebab terkabulnya doa pula adalah panjangnya perjalanan safar, mencari perantara dengan perantara yang paling Allah subhanahu wa ta’ala cintai dengan menyebut asma Allah saat berdoa, doa orang sakit, terzalimi, dan yang berpuasa.

Demikian pula pada waktu dan keadaan yang mulia, seperti pada akhir tiap shalat, waktu akhir malam, saat azan, saat turun hujan, saat gentingnya peperangan, dan kesempatan lain sebagaimana yang terdapat dalam hadits.” (Syarah Nuniyyah, 2/94—95 dengan sedikit diringkas)

 

Buah Mengimani Nama Allah Al-Mujib

Tentu saja, hamba yang beriman dengan nama Allah al-Mujib tidak akan merasa rugi, apalagi resah. Mengapa? Karena dia punya harapan besar dari Rabbnya yang Maha mengabulkan permintaan.

Apa saja yang dia minta dari kebaikan dunia dan akhirat akan Allah subhanahu wa ta’ala kabulkan. Betul-betul kalbu ini merasa lega, tenang, dan senantiasa optimis menghadapi kehidupan ini; apapun keadaannya. Saya yakin, setiap kita telah benar-benar merasakan berbagai doa yang diijabahi oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan berbagai permintaan yang dikabulkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Allah subhanahu wa ta’ala pasti mengabulkan doa kita selama tidak ada penghalang terkabulnya doa. Hanya saja yang perlu kita pahami, terkadang terkabulnya doa itu dalam bentuk langsung terkait dengan apa yang kita minta, atau dalam bentuk tabungan bagi kita di akhirat, atau dalam bentuk diselamatkan dari kejelekan yang senilai dengan doa yang diminta.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ أَحَدٍ يَدْعُو بِدُعَاءٍ إِلاَّ آتَاهُ اللهُ مَا سَأَلَ أَوْ كَفَّ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهُ مَا لَمْ يَدْعُ بِإِثْمٍ أَوْ قَطِيعَةِ رَحِمٍ.

“Tidaklah seseorang yang berdoa dengan sebuah doa kecuali Allah akan berikan apa yang dia minta, atau Allah hindarkan dia dari keburukan yang senilai dengannya, selama dia tidak meminta sesuatu yang mengandung dosa atau pemutusan silaturahmi.” (HR. at-Tirmidzi, dinyatakan hasan oleh asy-Syaikh al-Albani)

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ لَهُ فِيهَا إِثْمٌ أَوْ قَطِيعَةُ رَحِمٍ إِلاَّ أَعْطَاهُ اللهُ بِهَا إِحْدَى ثَلاَثٍ: إِمَّا أنْ يُعجِّلَ لَهُ دَعْوَتَهُ، وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ، وَإِمَّا أَنْ يَكْشِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا. قَالُوا: إِذاً نُكْثِرُ؟ قَالَ: اللهُ أَكْثَرُ

“Tidaklah seorang muslim berdoa dengan sebuah doa yang tidak mengandung dosa atau pemutusan silaturahmi kecuali Allah akan kabulkan dengan salah satu dari tiga hal: Allah akan segerakan pengabulan doanya, Allah akan tabung untuknya di akhirat, atau Allah akan hindarkan dia dari kejelekan yang senilai dengannya.”

Para sahabat lantas berkata, “Wahai Rasulullah, kalau begitu kita memperbanyak doa?!”

Beliau menjawab, “Allah akan lebih banyak.” (HR. at-Tirmidzi, dinyatakan hasan oleh al-Albani dalam Shahih at-Targhib)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

أَمَّن يُجِيبُ ٱلۡمُضۡطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكۡشِفُ ٱلسُّوٓءَ وَيَجۡعَلُكُمۡ خُلَفَآءَ ٱلۡأَرۡضِۗ أَءِلَٰهٞ مَّعَ ٱللَّهِۚ قَلِيلٗا مَّا تَذَكَّرُونَ ٦٢

        “Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati (Nya).” (an-Naml: 62)

وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدۡعُونِيٓ أَسۡتَجِبۡ لَكُمۡۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسۡتَكۡبِرُونَ عَنۡ عِبَادَتِي سَيَدۡخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ ٦٠

Dan Rabbmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.” (Ghafir: 60)

Ibnu Katsir rahimahullah menceritakan bahwa Ibnu Asakir menyebutkan dalam kitab beliau tentang biografi seseorang yang menceritakan kisahnya tentang pengabulan doanya.

“Aku menyewakan seekor baghal (hewan hasil persilangan antara kuda dan keledai) untuk perjalanan dari Damaskus ke negeri Zabadani. Suatu saat seseorang menaikinya bersamaku sehingga kami melewati jalan yang tidak pernah dilalui.

Dia berkata, ‘Lewatlah jalan ini, karena jalan ini lebih dekat.’

Aku menjawab, ‘Aku tidak punya pengalaman melalui jalan itu.’

‘Itu lebih dekat,’ jawabnya.

Kami kemudian melaluinya. Sampailah kami pada suatu tempat berlumpur dan lembah dalam yang terdapat banyak mayat. Dia berkata, ‘Tahanlah baghal ini, biarkan aku turun.’

Dia turun dan menyingsingkan bajunya lalu mencabut pisau dan pergi menuju diriku. Aku lari dari hadapannya, namun dia mengejarku. Aku ingatkan dia terhadap Allah dan kukatakan, ‘Ambillah baghal itu dengan semua yang ada padanya.’

Dia menjawab, ‘Ya, itu untukku, tetapi aku juga ingin membunuhmu.’

Akupun mengingatkan dia agar takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan mengingatkan hukuman dari-Nya. Namun, dia tidak menerimanya. Akhirnya, aku pasrah di hadapannya dan aku katakan, ‘Kalau boleh, biarkan aku shalat dua rakaat terlebih dahulu.’

Dia berkata, ‘Shalatlah, dan cepat!’

Aku pun shalat dengan sangat gemetar ketika hendak membaca al-Qur’an sehingga tidak ingat satu huruf pun. Aku hanya berdiri bingung.

Dia berkata, ‘Ayo cepat selesaikan!’

Lalu Allah subhanahu wa ta’ala mengalirkan pada lisanku bacaan ayat,

أَمَّن يُجِيبُ ٱلۡمُضۡطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكۡشِفُ ٱلسُّوٓءَ

“Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan….” (an-Naml: 62)

Tiba-tiba, aku melihat seorang penunggang kuda datang dari ujung lembah, membawa sebuah tombak. Lantas dia lemparkan tombak itu ke tubuh si perampok dan tidak meleset sedikit pun dari jantungnya. Tumbanglah ia, tersungkur.

Segeralah aku memegangi penunggang kuda itu dan kukatakan, ‘Demi Allah, siapa engkau?’

Ia menjawab, ‘Aku adalah utusan Allah yang mengabulkan permintaan hamba-Nya yang sedang terjepit apabila dia berdoa. Dialah yang menghilangkan keburukan.’

Aku kemudian mengambil kembali baghal itu dan bawaannya. Akhirnya, aku kembali dengan selamat.”

Ditulis oleh Al-Ustadz Qomar Suaidi doa

Al-Matin

Al-Matin adalah salah satu nama Allah al-Husna. Nama ini disebutkan di salah satu ayat pada surat adz-Dzariyat.

 إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلرَّزَّاقُ ذُو ٱلۡقُوَّةِ ٱلۡمَتِينُ ٥٨

“Sesungguhnya Allah, Dialah Maha Pemberi Rezeki, Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.” (adz-Dzariyat: 58)

Al-Matin dalam bahasa bermakna syiddah wal quwwah (kekuatan yang sangat dahsyat). Disebutkan oleh Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma sebagaimana dalam riwayat ath-Thabari dalam tafsirnya bahwa al-Matin bermakna asy-Syadid, yakni Yang Sangat Kuat.

Al-Azhari dalam kitabnya, Tahdzibul Lughah, ketika menafsirkan firman Allah di atas, Dzul Quwwah bermakna Yang Memiliki Kemampuan yang Sangat Kuat. Al-Matin yang merupakan sifat Allah bermakna al-Qawi (Yang Mahakuat).

Semakna dengan itu disebutkan oleh Ibnu Manzhur dalam Lisanul Arab.

 al-matin

Buah Mengimani Nama Allah Al-Matin

Dengan mengimani nama Allah ‘azza wa jalla, al-Matin, kita akan sangat tunduk kepada Allah ‘azza wa jalla, karena mengimani betapa besar kekuatan Allah ‘azza wa jalla dan betapa lemahnya seluruh makhluk, termasuk kita semua. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَخُلِقَ ٱلۡإِنسَٰنُ ضَعِيفٗا ٢٨

“Dan manusia itu diciptakan dalam keadaan lemah.” (an-Nisa: 28)

Lihatlah bagaimana kekuatan Allah yang sedikit digambarkan. Dia-lah yang menahan langit-langit dan bumi sehingga keduanya tidak hancur dan bergeser. Allah berfirman,

إِنَّ ٱللَّهَ يُمۡسِكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ أَن تَزُولَاۚ وَلَئِن زَالَتَآ إِنۡ أَمۡسَكَهُمَا مِنۡ أَحَدٖ مِّنۢ بَعۡدِهِۦٓۚ إِنَّهُۥ كَانَ حَلِيمًا غَفُورٗا ٤١

“Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap; dan sungguh jika keduanya akan lenyap tidak ada seorang pun yang dapat menahan keduanya selain Allah. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (Fathir: 41)

Allah ‘azza wa jalla pula yang menciptakan langit dan bumi. Sungguh, penciptaan keduanya merupakan penciptaan yang luar biasa dengan bukti yang dapat kita lihat, langit yang begitu luas lagi kokoh, bahkan terdapat tujuh lapis. Begitu pula bumi yang kita pijak, yang terhampar luas dengan berbagai kandungan yang ada di dalamnya. Ini semua menunjukkan kebesaran dan kekuatan Penciptanya.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ بِغَيۡرِ عَمَدٖ تَرَوۡنَهَاۖ وَأَلۡقَىٰ فِي ٱلۡأَرۡضِ رَوَٰسِيَ أَن تَمِيدَ بِكُمۡ وَبَثَّ فِيهَا مِن كُلِّ دَآبَّةٖۚ وَأَنزَلۡنَا مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءٗ فَأَنۢبَتۡنَا فِيهَا مِن كُلِّ زَوۡجٖ كَرِيمٍ ١٠

هَٰذَا خَلۡقُ ٱللَّهِ فَأَرُونِي مَاذَا خَلَقَ ٱلَّذِينَ مِن دُونِهِۦۚ بَلِ ٱلظَّٰلِمُونَ فِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٖ ١١

“Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya dan Dia meletakkan gunung-gunung (di permukaan) bumi supaya bumi itu tidak menggoyangkan kamu; dan memperkembangbiakkan padanya segala macam jenis binatang. Dan Kami turunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan padanya segala macam tumbuh-tumbuhan yang baik.

Inilah ciptaan Allah, maka perlihatkanlah olehmu kepadaku apa yang telah diciptakan oleh sembahan-sembahan (mu) selain Allah, sebenarnya orang-orang yang lalim itu berada di dalam kesesatan yang nyata.” (Luqman: 10-11)

لَخَلۡقُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ أَكۡبَرُ مِنۡ خَلۡقِ ٱلنَّاسِ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ ٥٧

“Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada penciptaan manusia, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Ghafir: 57)

Namun, disayangkan, manusia tidak mengagungkan Allah ‘azza wa jalla dengan pengagungan yang sebenar-benarnya. Banyak manusia yang secara tidak langsung—dengan perbuatannya—seolah-olah menganggap ketidakmampuan Allah ‘azza wa jalla. Dia banyak bermaksiat dan menganggap seolah-olah Allah ‘azza wa jalla tidak mampu mengazabnya. Berbagai maksiat mereka lakukan, sampai mereka melakukan kemaksiatan terbesar, syirik kepada Allah dan berbagai jenis kekafiran. Tidak sedikit di antara mereka yang menantang kekuatan Allah ‘azza wa jalla.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَمَا قَدَرُواْ ٱللَّهَ حَقَّ قَدۡرِهِۦ وَٱلۡأَرۡضُ جَمِيعٗا قَبۡضَتُهُۥ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ وَٱلسَّمَٰوَٰتُ مَطۡوِيَّٰتُۢ بِيَمِينِهِۦۚ سُبۡحَٰنَهُۥ وَتَعَٰلَىٰ عَمَّا يُشۡرِكُونَ ٦٧

“Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Mahasuci Rabb dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.” (az-Zumar: 67)

Terkait dengan ayat ini, tersebut pula dalam hadits yang menggambarkan kekuatan Allah ‘azza wa jalla, dalam riwayat al-Bukhari hadits ke-4437 Program Maktabah Syamilah. Dari Abdullah radhiallahu ‘anhu,

جَاءَ حَبْرٌ إِلَى رَسُولِ اللهِ فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ،  إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَجْعَلُ السَّمَوَاتِ عَلَى إِصْبَعٍ، وَالْأَرْضِينَ عَلَى إِصْبَعٍ، وَالْجِبَالَ وَالشَّجَرَ عَلَى إِصْبَعٍ، وَالْمَاءَ وَالثَّرَى عَلَى إِصْبَعٍ، وَسَائِرَ الْخَلْقِ عَلَى إِصْبَعٍ، ثُمَّ يَهُزُّهُنَّ فَيَقُولُ: أَنَا الْمَلِكُ. قَالَ: فَضَحِكَ رَسُولُ اللهِ حَتَّى بَدَتْ نَوَاجِذُهُ تَصْدِيقًا لِقَوْلِ الْحَبْرِ.

Seorang ulama Yahudi datang kepada Rasulullah dan berkata, “Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah k pada hari kiamat menjadikan langit-langit pada satu jari-Nya; bumi-bumi pada satu jari-Nya; gunung dan pohon pada satu jari-Nya; air dan tanah pada satu jari-Nya; serta seluruh makhluk pada satu jari-Nya, lalu Dia menggoyangkan mereka semua. Lalu Allah ‘azza wa jalla berkata, ‘Akulah Sang Raja’.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tertawa hingga terlihat gigi geraham beliau dalam rangka membenarkan ucapan ulama Yahudi tersebut.

Beliau lalu membacakan ayat di atas.

Wallahu a’lam.

Ditulis Oleh: Al-Ustadz Qomar Suaidi

Al-Muhyi

Al-Ustadz Qomar Suaidi

Al-Muhyi

Al-Muhyi adalah salah satu nama Allah subhanahu wa ta’ala. Nama ini berarti Yang Maha Menghidupkan. Allah subhanahu wa ta’ala telah menyebutkan nama ini dalam surat Fushilat ayat 39.

“Dan sebagian dari tanda-tanda (kekuasaan)-Nya bahwa kamu melihat bumi itu kering tandus. Apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak dan subur. Sesungguhnya Rabb Yang Menghidupkannya tentu dapat menghidupkan yang mati; sesungguhnya Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.”

Tentang al-Muhyi (Yang Maha Menghidupkan) dan al-Mumit (Yang Maha Mematikan), terjadi perselisihan di kalangan ulama tentang kedudukannya sebagai nama dan sifat Allah. Sebagian ulama memasukkan keduanya sebagai Asmaul Husna. Di antara mereka ialah al-Qurthubi, Ibul Arabi, dan az-Zajjaj. Adapun dari kalangan ulama masa kini ialah asy-Syaikh Zaid al-Madkhali.

Al-Baihaqi mengatakan dalam kitab al-I’tiqad bahwa al-Muhyi adalah Yang menghidupkan mani yang mati lalu menjadikannya makhluk hidup; Yang menghidupkan jasmani yang sudah hancur dengan mengembalikan ruh padanya saat terjadinya kebangkitan; Yang menghidupkan kalbu dengan cahaya ilmu; Yang menghidupkan bumi setelah kematiannya dengan menurunkan hujan padanya, serta menurunkan rejeki. Dia subhanahu wa ta’ala mematikan, yakni mematikan makhluk yang hidup; dan dengan kematian itu Dia melemahkan makhluk yang kuat.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Mahakuasa.” (ar-Rum: 54)

“Mengapa kamu kafir kepada Allah? Padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu. Kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali. Kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.” (al-Baqarah: 28)

“Dialah Allah yang telah menghidupkan kamu, kemudian mematikan kamu, kemudian menghidupkan kamu (lagi). Sesungguhnya manusia itu benar-benar sangat mengingkari nikmat.” (al-Hajj: 66)

 

Buah Mengimani Nama Allah al-Muhyi

Dengan mengimani bahwa Allahlah yang Maha Menghidupkan, kita mengetahui betapa besarnya kemampuan Allah karena Dialah yang menghidupkan segala sesuatu. Dengan air, Dia jadikan segala sesuatu yang hidup. Firman Allah,

“Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tidak juga beriman?” (al-Anbiya’: 30)

Maksudnya, asal-usul segala sesuatu yang hidup adalah air; demikian dikatakan oleh Ibnu Katsir rahimahullah.

Lihatlah sebagai contoh, bagaimana Allah subhanahu wa ta’ala menghidupkan sebuah padang yang tandus, dengan Allah turunkan hujan padanya lantas tumbuhlah rerumputan dan pepohonan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Apakah kamu tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah menurunkan air dari langit, maka diaturnya menjadi sumber-sumber air di bumi kemudian ditumbuhkan-Nya dengan air itu tanam-tanaman yang bermacam-macam warnanya. Lalu ia menjadi kering lalu kamu melihatnya kekuning-kuningan. Kemudian dijadikan-Nya hancur berderai-derai. Sesungguhnya pada hal tersebut benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.” (az-Zumar: 21)

Lihatlah pula bagaimana Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan semua yang melata di atas bumi dari air,

“Dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air. Sebagian dari hewan itu ada yang berjalan di atas perutnya dan sebagian berjalan dengan dua kaki, sedang sebagian (yang lain) berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya, sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (an-Nur: 45)

Lihatlah bagaimana Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan manusia,

“Bukankah Kami menciptakanmu dari air yang hina? Kemudian Kami letakkan dia dalam tempat yang kokoh (rahim), sampai waktu yang ditentukan. Lalu Kami tentukan (bentuknya), maka Kami-lah sebaik-baik yang menentukan.” (al-Mursalat: 20—23)

“Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan. Di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Kamu lihat bumi ini kering. Kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai tumbuh-tumbuhan yang indah.” (al-Hajj: 5)

Pada ayat itu pula, Allah subhanahu wa ta’ala mengingatkan bagaimana Dia menghidupkan kembali orang yang telah mati. Tak lain, hal itu semacam Allah menciptakannya dari ketiadaan menjadi seorang sosok manusia. Oleh karena itu, untuk menghidupkannya kembali, amatlah mudah bagi Allah subhanahu wa ta’ala.

“Dan Dialah yang menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikan (menghidupkan) nya kembali, dan menghidupkan kembali itu adalah lebih mudah bagi-Nya. Dan bagi-Nya lah sifat yang Mahatinggi di langit dan di bumi; dan Dialah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (ar-Rum: 27)

Hal itu juga sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala menghidupkan padang yang tandus, menjadi subur dengan diturunkannya hujan padanya. Apabila segala kehidupan makhluk yang hidup adalah pemberian- Nya, maka Dialah yang Mahahidup dan tidak akan mati. Bertawakallah pada-Nya,

“Dan bertawakkallah kepada Allah Yang Mahahidup (Kekal) Yang Tidak Mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya. Dan cukuplah Dia Maha Mengetahui dosa-dosa para hamba-Nya.” (al-Furqan: 58)

Bersyukurlah kepada Allah subhanahu wa ta’ala yang menghidupkan kita setelah kematian kita; hanya kepada-Nyalah kita kembali.

Wallahul Muwaffiq.

Al-Majid

Al-Majid

Al-Ustadz Qomar Suaidi

Al-Majid adalah salah satu nama dari nama-nama Allah, asma’ul husna. Nama ini disebutkan dalam beberapa ayat dan hadits. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Yang mempunyai Arsy lagi Mahamulia.” (al-Buruj: 15)

Para malaikat itu berkata, “Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai ahlulbait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah.” (Hud: 73)

Dalam bacaan tasyahud, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan,

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ،

 وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.

“Ya Allah, berikan shalawat-Mu kepada Muhammad, dan keluarga Muhammad sebagaimana engkau berikan shalawat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya engkau Mahaterpuji, Mahaagung dan Mulia.

Berkahilah Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana engkau Berkahi Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungghnya Engkau Mahaterpuji, Mahaagung dan Mulia.” (HR. Ahmad, Nasa’i, dan Abu Ya’la. Lihat Sifat Shalat Nabi karya asy-Syaikh al-Albani)

 

Makna al-Majid

Al-Majid” adalah yang memiliki sifat “al-Majd”. Kata ini berkonsekuensi makna kebesaran, kelapangan, dan keagungan. Sebagaimana kandungan maknanya dari sisi bahasa. Nama ini menunjukan adanya sifat-sifat kebesaran dan keagungan (bagi Allah ‘azza wa jalla).

Al-hamdu” (yang sering beriringan dengan sifat al-Majd, -ed.) menunjukkan sifat kemuliaan, sedangkan Allah ‘azza wa jalla memiliki keagungan dan kemuliaan. Inilah makna ucapan seorang hamba,

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ

“Tiada sesembahan yang benar selain Allah dan Allah Mahabesar.”

Kalimat “Tiada sesembahan yang benar selain Allah” menunjukkan ketuhanan-Nya dan kesendirian-Nya dalam sifat ketuhanan tersebut. Ketuhanan-Nya mengharuskan kecintaan terhadap-Nya secara sempurna. Kalimat “Allah Mahabesar” menunjukkan keagungannya. (Jala’ul Afham, karya Ibnul Qayyim)

Dengan demikian, makna al-Majid adalah Zat yang memiliki banyak sifat yang agung lagi mulia. Nama ini maknanya kembali kepada kebesaran sifat-sifat-Nya, banyaknya, serta luasnya sifat tersebut, keagungan kerajaan-Nya dan kekuasaan-Nya, keesaan-Nya dalam kesempurnaan yang mutlak, keagungan yang mutlak, dan keindahan yang mutlak; di mana tidak mungkin bagi hamba-hambanya untuk meliputi walau sedikit saja darinya. Dia lebih besar dari segala sesuatu, lebih agung dari segala sesuatu, lebih mulia, dan lebih tinggi. (Fiqhul Asma’ al-Husna, 202)

 

Buah Mengimani Nama Allah ‘azza wa jalla, al-Majid

Dengan mengimani nama Allah, al-Majid, kita mengetahui keagungan Allah ‘azza wa jalla dan kemuliaan-Nya, karena Dialah pemilik sifat yang banyak nan mulia dan agung.

Itulah Rabb kita, Sesembahan kita, kepada-Nya kita tunduk. Kepada-Nya kita bungkukkan tubuh kita dalam rukuk, kepada-Nya kita letakkan dahi kita dalam sujud. Kepada-Nya kita tengadahkan dua telapak tangan kita dalam doa, memohon segala hajat kita dan mengadukan segala urusan kita.

Demi-Nya kita jalankan syariat ini dengan selalu merasa diawasi oleh-Nya. Demi-Nya kita tinggalkan segala maksiat dengan selalu merasa diawasi oleh-Nya. Dia Mahaagung lagi Mulia. Semua yang kita lakukan karena-Nya takkan sia-sia.

Sungguh, mereka yang enggan untuk tunduk, rukuk, dan sujud kepada-Nya, enggan untuk taat kepada-Nya, dan tetap bermaksiat kepadanya; mereka tidak menghormati Allah ‘azza wa jalla dengan semestinya.

“Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya, padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Mahasuci Rabb dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.” (az-Zumar: 67)

Al-Mutakabbir

Al-Ustadz Qomar Suaidi

 al-mutakabbir

Al-Mutakabbir adalah salah satu nama Allah ‘azza wa jalla yang agung dan mulia. Al-Mutakabbir artinya yang memiliki sifat kibriya’. Sifat kibriya’ biasa diterjemahkan dengan kesombongan sehingga mungkin ketika terdengar, pertama kali ada kesan tidak baik, karena sombong diharamkan oleh Allah ‘azza wa jalla sendiri.

Akan tetapi, pada hakikatnya terjemahan sombong terhadap kata kibriya’ belum mewakili makna kibriya’.  Hanya saja, keterbatasan bahasa kita menyebabkan kita menerjemahkan dengan sebagian maknanya. Padahal apabila merujuk kepada penjelasan ulama, kita akan dapati bahwa makna kibriya’ mengandung makna-makna lain yang sangat mulia dan agung, sebagaimana nanti kami akan sebutkan insya Allah.

Di samping itu, apabila sifat sombong disandarkan pada Allah ‘azza wa jalla, sama sekali tidak mengandung sifat negatif karena Allah Mahabaik, Mahamulia, Mahabijaksana.

Pantaslah bagi Allah ‘azza wa jalla untuk sombong, karena Allah ‘azza wa jalla Mahakuasa tak tertandingi, Mahabesar, Maha memiliki, Mahakaya, Pencipta alam semesta, Pemilik dan Pengaturnya. Segala urusan ada di tangan-Nya dan akan kembali kepada-Nya. Demikian pula berbagai sifat kebesaran dan keagungan yang lain yang dimilikinya, membuat sifat kesombongan yang dimiliki-Nya pada tempatnya.

Adapun makhluk, tidak pantas baginya untuk memiliki sifat sombong. Dia hendak sombong dengan apa? Dengan harta kekayaan yang dimilikinya? Dengan pangkat dan jabatan yang disandangnya? Dengan nasab nenek moyangnya? Dengan kekuatan yang dia miliki? Dengan banyaknya pengikut yang menuruti titahnya?

Semua itu hanyalah pemberian Allah ‘azza wa jalla kepadanya. Jadi, pantaskah dia sombong dengan sesuatu yang hakikatnya tidak dia miliki?! Sepantasnya seorang hamba justru merendahkan diri dan tawadhu’.

Lagipula kesombongan pada makhluk identik dengan sifat-sifat negatif lainnya. Seringkali kesombongan manusia mengantaran kepada kediktatoran, kezaliman, merendahkan orang lain, tidak mensyukuri nikmat Allah ‘azza wa jalla, menggunakan apa yang Allah ‘azza wa jalla berikan pada sesuatu yang bukan pada tempatnya, lupa diri, dan berbagai sifat negatif lain.

Beda halnya dengan kesombongan Allah ‘azza wa jalla, kesombongan yang beriring dengan sifat bijaksana-Nya, keadilan-Nya, syukur-Nya kepada hamba-Nya, menerima taubat mereka, pemuliaannya terhadap hamba-Nya, kasih sayang-Nya, kelembutan-Nya, dan berbagai sifat mulia yang lain.

Lebih dari itu, ternyata al-Mutakkabir bukan hanya bermakna sombong.

Ibnul Jauzi rahimahullah mengatakan bahwa tentang makna nama Allah ‘azza wa jalla, al-Mutakabbir, di dalamnya ada lima pendapat:

  1. Yang Mahatinggi dari segala yang jelek. Ini penafsiran Qatadah.
  2. Yang Mahatinggi untuk berbuat zalim terhadap hamba-Nya. Ini penafsiran az-Zajjaj.
  3. Yang memiliki sifat kibriya’ yang berarti kerajaan. Ini penafsiran Ibnul Anbari.
  4. Yang Mahatinggi untuk menyerupai sifat-sifat makhluk.
  5. Yang Mahasombong terhadap hamba-Nya yang membangkang.

Demikian penafsiran para ulama. Semuanya adalah makna yang baik dan mulia.

Allah ‘azza wa jalla telah menyebutkan nama ini dalam beberapa ayat, di antaranya,

Dia-lah Allah Yang tiada Rabb (yang berhak disembah) selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Mahaperkasa, Yang Mahakuasa, Yang Memiliki segala keagungan, Mahasuci, Allah dari apa yang mereka persekutukan. (al-Hasyr: 23)

Dan bagi-Nya lah keagungan di langit dan di bumi, Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (al-Jatsiyah: 37)

Dalam hadits dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قَالَ اللهُ  :الْكِبْرِيَاءُ رِدَائِي وَالْعَظَمَةُ إِزَارِي، فَمَنْ نَازَعَنِي وَاحِدًا مِنْهُمَا قَذَفْتُهُ فِي النَّارِ

“Allah ‘azza wa jalla berfirman, ‘Al-Kibriya’ adalah selendang-Ku dan keagungan adalah sarung-Ku. Barang siapa merebut salah satunya dari-Ku, maka Aku akan melemparkannya dalam neraka.” (Sahih, HR. Abu Dawud, diriwayatkan juga oleh Muslim dengan lafadz yang semakna)

 

Buah Mengimani Nama Allah ‘azza wa jalla, al-Mutakabbir

Dengan mengimani nama Allah ‘azza wa jalla tersebut, kita semakin mengetahui kelemahan kita selaku makhluk, sehingga tidak pantas bagi kita untuk bersikap sombong. Akan tetapi, justru sikap merendahkan diri dan tawadhu’ itulah yang pantas bagi kita.

Kita juga mengetahui kebesaran Allah ‘azza wa jalla dengan segala sifat mulia-Nya. Dialah ‘azza wa jalla yang berhak memiliki sifat sombong dengan makna yang positif sebagaimana dijelaskan di atas.

Wallahu a’lam.

Al-Mukmin

Al-Ustadz Qomar Suaidi

Al-Mukmin ( الْمُؤْمِنُ ) adalah salah satu dari asmaul husna. Allah ‘azza wa jalla menyebutkan nama ini dalam satu ayat dalam al- Qur’an, yaitu firman-Nya,

“Dia-lah Allah Yang tiada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia, Raja, Yang Mahasuci, Yang Mahasejahtera, Yang Mengaruniakan keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Mahaperkasa, Yang Mahakuasa, Yang Memiliki segala keagungan, Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (al-Hasyr: 23)

Az-Zajjaji mengatakan bahwa al-Mukmin dalam sifat Allah ada dua macam:

  1. Diambil dari kata al-aman (keamanan)

Dengan demikian, maknanya ialah mengamankan hamba-hamba-Nya yang beriman dari siksa-Nya sehingga mereka merasa aman darinya. Hal ini seperti dikatakan (dalam bahasa Arab),

آمَنَ فُلَانٌ فُلَاناً

Artinya, Fulan mengamankan Fulan, yakni memberikan kepadanya pengamanan sehingga dia merasa tenteram dan merasa aman.

Demikian juga dikatakan bahwa Allah adalah al-Mukmin (Allah yang Maha Mengamankan), yakni memberikan pengamanan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman. Maka dari itu, tidak ada yang aman selain yang diberi pengamanan oleh-Nya.

  1. Diambil dari kata al-iman yang berarti pembenaran.

Berdasarkan kata ini, al-Mukmin mempunyai dua pengertian:

  1. Allah adalah al-Mukmin, yakni Maha Membenarkan hamba-hamba-Nya yang beriman. Maksudnya, Allah ‘azza wa jalla membenarkan/ memercayai keimanan mereka. Jadi, pembenaran Allah terhadap mereka adalah penerimaan kejujuran mereka dan keimanan mereka serta pemberianpahala atas hal itu.
  2. Allah adalah al-Mukmin, yakni membenarkan atau membuktikan kebenaran apa yang telah Dia janjikan kepada para hamba-Nya.

Hal ini seperti ungkapan bahasa Arab,

صَدَقَ فُلانٌ فِي قَوْلِهِ وَصَدَّقَ

“Fulan jujur dalam ucapannya dan membuktikan kejujurannya.”

Kalimat di atas diungkapkan apabila dia mengulang-ulang ucapannya dan menekankannya…. Jadi, berdasarkan pengertian kedua ini, Allah ‘azza wa jalla membenarkan apa yang Dia janjikan kepada hamba-hamba-Nya dan membuktikannya.

Tiga makna al-Mukmin di atas boleh disandarkan kepada Allah ‘azza wa jalla.

Ibnu Qutaibah mengatakan, “Di antara sifat Allah adalah al-Mukmin, (dari kata al-iman, -red.). Asal makna iman adalah pembenaran. Jadi, seorang hamba yang mukmin ialah yang membenarkan dan membuktikan (keimanannya). Adapun Allah al-Mukmin artinya membenarkan apa yang Dia janjikan dan membuktikannya atau Allah menerima keimanannya. Bisa jadi pula, al-Mukmin diambil dari kata alaman, yakni tidak ada yang aman selain yang diamankan oleh Allah.”

Ibnu Manzhur mengatakan bahwa al-Mukmin adalah salah satu nama Allah ‘azza wa jalla, Dzat yang mengesakan diri-Nya dengan firman-Nya,

“Dan Ilah kalian adalah Ilah Yang Esa.” (al-Baqarah: 163)

dan firman-Nya,

“Allah bersaksi bahwa tiada Ilah yang benar selain Dia.” (Ali Imran: 18)

Dikatakan pula bahwa maknanya ialah yang memberi keamanan kepada para wali-Nya dari siksa-Nya.

Ada pula yang mengatakan, bahwa al-Mukmin dalam sifat Allah artinya yang makhluk merasa aman dari kezaliman-Nya.

Dikatakan pula bahwa maknanya ialah yang membuktikan janji-Nya kepada para hamba-Nya.

Semua hal di atas termasuk sifat-sifat Allah ‘azza wa jalla. Sebab, Allah ‘azza wa jalla telah membenarkan dengan firman-Nya dakwah tauhid yang diserukan oleh hamba-hamba-Nya, seolah-olah Dia mengamankan makhluk dari kezaliman-Nya. Demikian pula apa yang Allah ‘azza wa jalla janjikan, berupa kebangkitan, surga bagi yang beriman kepada-Nya, serta ancaman neraka bagi yang kafir terhadap-Nya, maka Allah ‘azza wa jalla pasti akan membuktikannya. Tiada serikat bagi Allah ‘azza wa jalla. (dikutip dari kitab Shifatullah al-Waridah fil Kitab was Sunnah)

Adapun Ibnul Qayyim menjelaskan nama Allah al-Mukmin sebagai berikut. Di antara nama-Nya adalah al-Mukmin. Nama itu, menurut salah satu dari dua penafsirannya, bermakna Yang Membenarkan. Dia mendukung kebenaran orang-orang yang jujur dengan bukti-bukti yang Dia tegakkan guna mendukung kejujuran mereka. Allah ‘azza wa jalla pula yang mendukung kebenaran para rasul dan nabi-Nya dalam hal apa yang mereka sampaikan dari-Nya. Allah ‘azza wa jalla pun bersaksi bahwa mereka adalah orang-orang yang jujur.(Allah ‘azza wa jalla membuktikannya) dengan berbagai mukjizat yang menunjukkan kejujuran mereka, baik dengan takdir- Nya maupun dengan ciptaan-Nya.

Sebab, sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla mengabarkan—dan kabar-Nya adalah benar, ucapan-Nya pun benar—bahwa manusia mesti melihat tanda-tanda al-ufuqiyah (kauniyah) dan an-nafsiyah (yang ada pada jiwa manusia), yang menerangkan kepada mereka bahwa wahyu yang disampaikan oleh para rasul mereka adalah benar. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa al-Quran itu adalah benar.” (Fushshilat: 53)

Maksudnya, kebenaran al-Qur’an, karena al-Qur’anlah yang disebutkan terlebih dahulu dalam firmannya,

Katakanlah, “Bagaimana pendapatmu jika (al-Qur’an) itu datang dari sisi Allah, kemudian kamu mengingkarinya?” (Fushshilat: 51)

Lantas Dia mengatakan,

“Tidakkah cukup bahwa sesungguhnya Rabbmu menjadi saksi atas segala sesuatu?” (Fushshilat: 53)

Maka dari itu, Allah ‘azza wa jalla bersaksi untuk rasul-Nya dengan firman-Nya bahwa yang dibawa oleh rasul adalah benar. Allah ‘azza wa jalla menjanjikan pula bahwa Dia akan memperlihatkan kepada manusia sebagian ayat-ayat-Nya, baik yang fi’liyah maupun khalqiyah, yang mendukung hal tersebut…. (Madarijus Salikin, 3/466)

 

Buah Mengimani Nama Allah al-Mukmin

Berdasarkan makna yang pertama bahwa Allah yang memberikan keamanan, mengimani nama ini membuat seseorang tidak putus asa dari rahmat Allah. Ia sadar, begitu pemurahnya Allah dan begitu sayang-Nya terhadap hamba-Nya. Jiwa pun menjadi tenteram saat dekat dengan-Nya. Ia yakin bahwa Allah akan melindunginya dari kedahysatan azab-Nya, mengamankan dirinya darinya, dan menenteramkannya. Semua itu dengan mudah didapatkan oleh seorang hamba dari-Nya, hanya dengan beriman secara benar dia akan memperoleh pengamanan itu.

Berdasarkan makna kedua bahwa Allah membenarkan hamba-Nya, baik hamba-Nya yang berkedudukan tinggi—yaitu para rasul dan nabi—dengan memberikan mukjizat atau bukti yang lain sebagai bukti kebenaran, maupun hamba-Nya yang kedudukannya lebih rendah dengan Allah menerima pernyataan iman mereka lantas membalasi mereka atas pernyataan iman mereka tersebut.

Jadi, mengimani nama tersebut membuahkan suatu keyakinan bahwa Allah ‘azza wa jalla tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya atau menelantarkan mereka. Allah ‘azza wa jalla pasti membantu dan mendukung mereka serta memberikan bukti kebenaran mereka yang beriman.

Adapun menurut makna yang ketiga bahwa Allah akan membuktikan kebenaran janji-janji-Nya, mengimani hal ini akan memberi kita harapan yang besar kepada janji-janji Allah. Kita juga yakin bahwa Allah tidak akan menyelisihi janji-Nya. Mahabenar Allah ‘azza wa jalla atas apa yang Dia janjikan dan Mahapemurah Allah dengan karunia yang Dia berikan.

Hanya saja, harapan berbeda dengan angan-angan. Harapan harus disertai oleh usaha untuk mendapatkan apa yang diharapkan. Kalau sekadar mengharap tanpa berbuat, itu hanyalah angan-angan.

Wallahu a’lam.

Al-Lathif

Mahalembut terhadap hamba-Nya, Maha Mengetahui hal-hal yang lembut, itulah al-Lathif, salah satu asma’ul husna yang Dia subhanahu wa ta’ala sebutkan dalam firman-Nya,

“Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedangkan Dia dapat melihat segala penglihatan itu dan Dialah Yang Mahalembut lagi Maha Mengetahui.” (al-An’am: 103)

“Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan dan rahasiakan); sedangkan Dia Mahalembut lagi Maha Mengetahui?” (al-Mulk: 14)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah menyebutkan nama Allah al-Lathif dalam sebuah hadits,

“Wahai Aisyah, ada apa denganmu? Nafasmu tampak terengah-engah.”

Aisyah menjawab, “Tidak.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Engkau harus mengabarkan kepadaku atau Allah akan mengabariku, Yang Maha Mengetahui hal-hal yang lembut dan Maha Berilmu.” (Sahih, HR. an-Nasa’i dan yang lain, dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani)

Penulis kitab an-Nihayah berkata, “Pada nama Allah اللَّطِيفُ ( al-Lathif) terkumpul makna kelembutan dalam bab perbuatan, dan dalam bab ilmu terhadap maslahat-maslahat yang lembut, serta menyampaikannya kepada makhluk-Nya yang Allah takdirkan untuk memperolehnya.

Ungkapan,

لَطَفَ بِهِ وَلَهُ

Maknanya ialah berbuat lembut padanya.

Adapun ungkapan لَطُفَ dengan harokat dhammah pada huruf tha’ maknanya kecil atau lembut.”

Ar-Raghib rahimahullah berkata, “(Dalam bahasa Arab) sesuatu yang tidak dapat ditangkap dengan indra terkadang diungkapkan dengan kata al-Latha’if. Bisa jadi, dari sisi inilah Allah subhanahu wa ta’ala disifati dengan nama al-Lathif, yakni bermakna bahwa Allah subhanahu wa ta’ala Maha Mengetahui hal-hal yang lembut. Bisa jadi pula, maknanya ialah Allah Mahalembut terhadap hamba-hamba-Nya dalam hal memberikan hidayah kepada mereka.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Allah Mahalembut terhadap hamba-hamba-Nya.” (asy-Syura: 19)

“Sesungguhnya Rabbku Mahalembut terhadap apa yang Dia kehendaki.” (Yusuf: 100)

Dengan demikian, Allah Mahalembut terhadap hamba-Nya dalam urusanurusan yang ada dalam diri hamba tersebut, yakni yang terkait langsung dengan dirinya, dan lembut terhadapnya pada urusan-urusan yang di luar dirinya. Karena itu, Allah subhanahu wa ta’ala menggiring hamba- Nya kepada apa yang menjadi maslahat baginya, dari arah yang hamba itu sendiri tidak merasa. Ini adalah buah dari pengetahuan Allah, rahmat-Nya dan kemurahan-Nya.”

Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan bahwa nama ini memiliki dua makna.

  1. Bermakna al-Khabir, yang berarti ilmu-Nya meliputi hal-hal yang rahasia, yang tersembunyi, yang tersimpan dalam dada, dan segala sesuatu yang lembut. Allah subhanahu wa ta’ala mengetahui segala sesuatu yang mungkin bagi-Nya, tidak ada sesuatu pun yang terlewat dari ilmu Allah subhanahu wa ta’ala dan pengetahuan-Nya.
  2. Kelembutan-Nya terhadap hamba-Nya dan wali-Nya yang ingin Dia beri karunia, meliputinya dengan kelembutan-Nya dan kemurahan-Nya, mengangkatnya ke derajat yang tinggi, memberikan kemudahan untuknya, dan menjauhkan-Nya dari kesulitan.

Karena itu, mengalirlah pada dirinya berbagai ujian dan berbagai ragam cobaan—yang Allah subhanahu wa ta’ala ketahui mengandung maslahat, kebahagiaan, dan akibat yang baik baginya, di dunia dan akhirat. Misalnya, Allah subhanahu wa ta’ala menguji para nabi dengan gangguan dari kaumnya kepada mereka dan dengan jihad di jalan-Nya. Allah menguji para walinya dengan sesuatu yang mereka benci agar Dia memberi mereka apa yang mereka sukai.

Inilah makna ucapan Ibnul Qayyim, “Maka dari itu, Allah memperlihatkan kepadamu kemuliaan-Nya,” yakni dengan mengujimu melalui sesuatu yang tidak engkau sukai; serta “Dia tampakkan kelembutan-Nya,” yakni pada akibat yang terpuji dan akhir yang membahagiakan.

Asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah berkata, “Betapa banyak hamba yang memperoleh berbagai keinginan dunia yang dia cari, baik berupa wilayah, kepemimpinan, atau suatu sebab yang disukai, lalu Allah subhanahu wa ta’ala memalingkannya dari hal tersebut karena kasih sayang-Nya kepadanya, agar hal tersebut tidak membahayakan urusan agamanya.

(Ketika itu) seorang hamba akan bersedih karena ketidaktahuannya dan karena tidak mengenal Rabbnya. Padahal apabila dia tahu apa yang disembunyikan untuknya di alam gaib dan apa yang dikehendaki sebagai kebaikan untuknya, tentu dia akan memuji Allah dan mensyukuri-Nya karena itu. Sebab, Allah subhanahu wa ta’ala Maha Pengasih dan Maha Penyayang terhadap hamba-Nya serta Mahalembut terhadap para wali-Nya.” (Dinukil dari Syarah Nuniyyah karya Muhammad Khalil Harras)

 

Buah Mengimani Nama Allah al-Lathif

Dengan mengimani nama Allah al-Lathif, seseorang akan memahami betapa besar kelembutan-Nya terhadap dirinya, berbagai kenikmatan Allah berikan dari arah yang dia ketahui maupun yang tidak. Ketika seseorang mengimani nama Allah al-Lathif, dia akan lebih merasaskan betapa besarnya kelembutan Allah terhadapnya. Berbeda halnya ketika seseorang belum mengetahui nama Allah al-Lathif, barangkali ia tak begitu berpikir tentang berbagai kelembutan Allah subhanahu wa ta’ala tersebut pada dirinya.

Di samping itu, keimanan terhadap nama Allah al-Lathif ini akan membuahkan kehati-hatian seseorang ketika bertindak dengan lahiriah dan batiniahnya. Sebab, semuanya diketahui oleh Allah. Selembut apa pun, Allah mengetahuinya. Mahabesar Allah dan Mahaluas ilmu-Nya.

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa memberikan taufik-Nya kepada kita agar selalu melakukan hal-hal yang diridhai-Nya.

Ditulis oleh Al-Ustadz Qomar ZA, Lc.

Al-Qayyum

 

Al Qayyum

 

Al-Qayyum adalah salah satu dari al-Asma’ul Husna. Bahkan nama ini adalah salah satu Asma’ul Husna yang teragung dari nama-nama-Nya, yaitu ketika nama ini bergabung dengan nama Allah al-Hayyu. As-Sa’di rahimahullah menerangkan, “Sebagian ulama peneliti menerangkan bahwa sesungguhnya keduanya adalah al-ismul a’zham yang bila Allah ‘azza wa jalla diseru dengan menyebutnya Dia akan mengijabahi, bila dimohon dengan menyebut nama itu, maka Ia akan memberi.”

Allah ‘azza wa jalla telah menyebut nama-Nya ini dalam tiga ayat dalam al-Qur’an, ketiganya bergandengan dengan nama Allah al-Hayyu. Nama tersebut juga ada dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana akan kami sebutkan.

Asy-Syaikh al-Harras menjelaskan bahwa di antara al-Asma’ul Husna itu adalah al-Qayyum, itu adalah bentuk mubalaghah dari kata Qa’im (bentuk kata yang memberi arti yang lebih dalam sifat tersebut). Al-Qayyum memiliki dua makna:

Pertama, Dia yang berdiri sendiri dan tidak membutuhkan seluruh makhluk, sehingga tidak butuh sesuatu pun, baik dalam hal adanya maupun dalam hal eksistensinya. Demikian pula dalam sifat kesempurnaan-Nya dan perbuatan yang muncul dari-Nya. Karena ketidakbutuhan-Nya bersifat dzati (terkait langsung dengan Dzat Allah ‘azza wa jalla) sebagaimana kami telah terangkan, maka Dia tidak akan ditimpa kekurangan ataupun rasa butuh.

Kedua, Dialah yang selalu mengatur mahluk-Nya. Seluruh yang ada di alam ini membutuhkan-Nya, dengan rasa butuh yang dzati (terkait langsung dengan dzat makhluk tersebut), tidak mungkin tidak, walau sesaat saja.

Maka dari itu, makhluk butuh kepada-Nya dalam hal keberadaannya, Allah ‘azza wa jalla lah yang memberikan kepadanya sebab-sebab eksistensinya tidak ada sesuatu pun dalam alam ini seluruhnya kecuali dalam bantuan-Nya.

Dengan demikian, Dia selalu mengatur dan memerhatikan urusan makhluk-Nya, tidak mungkin Dia lalai sesaat pun dari mengawasi mereka, kalau tidak demikian maka akan kacau aturan alam dan akan hancur tonggak-tonggaknya.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

Katakanlah, “Siapakah yang dapat memelihara kamu di waktu malam dan siang hari selain (Allah) Yang Maha Pemurah?” Sebenarnya mereka adalah orang-orang yang berpaling dari mengingati Rabb mereka. (al-Anbiya:42)

kemudian berfirman,

Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap; dan sungguh jika keduanya akan lenyap tidak ada seorang pun yang dapat menahan keduanya selain Allah. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (Fathir: 41)

Jadi sifat Allah ‘azza wa jalla yang satu ini, di antara sifat-sifat-Nya yang lain yaitu sebagai al-Qayyum, memiliki urusan yang besar sebagaimana besar-Nya Pemilik sifat ini, yang sifat ini dengan maknanya yang pertama mengandung kesempurnaan ketidakbutuhan-Nya dan kebesaran-Nya. Dengan makna yang kedua, mengandung seluruh sifat kesempurnaan dalam perbuatan-Nya yang tidak ada kesempurnaan bagi-Nya kecuali dengan sifat Al-Qayyum.

Di antara asma-Nya yang Mahaindah juga adalah al-Hayyu, Yang Mahahidup, dan nama al-Hayyu telah beriringan dengan nama-Nya al-Qayyum di tiga tempat dalam al-Qur’an:

  1. Ayat kursi dalam surat al-Baqarah ayat 255,

“Allah, tidak ada Rabb (yang berhak disembah) kecuali Dia Yang Hidup kekal lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya).”

  1. Awal surat Ali Imran ayat 1-2,

“Alif lam mim. Allah, tidak ada Rabb (yang berhak disembah) kecuali Dia. Yang hidup kekal lagi terus-menerus mengurus makhluk-Nya.”

  1. Surat Thaha ayat 111,

“Dan tunduklah semua muka (dengan berendah diri) kepada Rabb yang hidup kekal lagi senantiasa mengurus (makhluk-Nya). Dan sesungguhnya telah merugilah orang yang melakukan kezaliman.”

Makna al-Hayyu adalah yang memiliki kehidupan yang sempurna, yang kekal abadi, yang tidak mengenai-Nya kematian ataupun fana, karena ini adalah sifat yang terkait dengan Dzat-Nya Yang Mahasuci. Sebagaimana sifat qayyum-Nya berkonsekuensi kesempurnaan seluruh perbuatan-Nya. Demikian pula sifat kehidupan-Nya yang sempurna berkonsekuensi seluruh sifat dzat-Nya yang sempurna, baik ilmu, kamampuan, kemauan, pendengaran, penglihatan, kemuliaan, kesombongan, kebesaran, dan sebagainya.

Sifat al-Hayyu dan al-Qayyum mengandung sifat kesempurnaan seluruhnya. Keduanya ibarat dua kutub bagi seluruh langit sifat-sifat-Nya, sehingga tidak ada satu sifat pun yang keluar dari kedua sifat itu sama sekali.

Oleh karena itu, telah terdapat sebuah riwayat bahwa keduanya merupakan al-ismul a’zham, yaitu nama Allah Yang Mahaagung, yang apabila diminta dengan menyebut nama-Nya tersebut, Allah ‘azza wa jalla akan memberi; apabila dimohon dengan menyebut nama-Nya, Ia akan mengijabahi.

Kedua nama yang agung ini mengandung seluruh sifat kesempurnaan karena kehidupan merupakan syarat untuk memiliki segala kesempurnaan dalam Dzat-Nya baik itu ilmu, kemampuan, kemauan, pendengaran, penglihatan, kalam, dan seterusnya. Karena selain yang hidup tidak memiliki sifat-sifat; siapa saja yang sempurna kehidupannya, maka dia akan lebih sempurna pada tiap sifat yang kehidupan merupakan syarat bagi sifat tersebut. Adapun al-Qayyum, yang salah satu maknanya adalah yang banyak mengatur urusan makhluk-Nya yang tidak lalai dari mereka walaupun sesaat, hal itu berkonsekuensi kesempurnaan dan kelanggengan seluruh perbuatan-Nya. (Syarh Nuniyyah, 1/111—113)

Ar-Rabi rahimahullah mengatakan, “Al-Qayyum artinya Yang mengatur segala sesuatu, menjaganya, dan memberinya rezeki.”

Mujahid rahimahullah menafsirkannya dengan tafsir yang semakna.

Ibnu Jarir rahimahullah mengatakan, “Al-Qayyum adalah Yang melakukan penjagaan terhadap segala sesuatu, pemberian rezeki, pengaturannya, pada apa yang dia kehendaki dan Dia sukai, baik perubahan, penggantian, penambahan, maupun pengurangan.” (Tafsir ath-Thabari)

Telah disebutkan bahwa kedua nama Allah, yaitu al-Hayyu dan al-Qayyum merupakan al-ismul a’zham, nama Allah ‘azza wa jalla yang teragung. Hal itu sebagaimana terdapat dalam sebuah riwayat dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu. Dikisahkan bahwa dahulu dia duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan ada seseorang yang shalat lalu berdoa,

Ya Allah, aku memohon kepada-Mu dengan mengimani bahwa milik-Mu segala pujian tiada sesembahan yang benar selain engkau al-Mannan, pencipta langit dan bumi, wahai yang memiliki keagungan dan kemurahan, wahai al-Hayyu, wahai al-Qayyum.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Sungguh dia telah berdoa kepada Allah ‘azza wa jalla dengan menyebut nama-Nya yang terbesar yang bila diminta dengannya, Dia akan mengijabahi; dan bila dimohon dengannya, Dia akan memberi.” (Sahih, HR. Abu Dawud dinyatakan sahih oleh al-Albani)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengajari putrinya untuk berdoa dengan menyebut nama itu. Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Fathimah,

Apa yang menghalangimu untuk mendengar apa yang kuwasiatkan kepadamu? Hendaknya kamu ucapkan bila masuk waktu pagi dan masuk waktu sore, ‘Wahai al-Hayyu, wahai al-Qayyum, dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan, perbaikilah seluruh urusanku … Janganlah Engkau serahkan diriku padaku walaupun sekejap mata selamanya’.” (Hasan, HR. Ibnu Sunni dalam kitab Amal Yaum wal lailah dan al-Baihaqi dalam Asma’ wash-Shifat. Lihat ash-Shahihah no. 227 dan Shahihul Jami’ no. 10759)

Bahkan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri mempraktikkannya sebagaimana diceritakan oleh Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu juga,

Apabila tertimpa suatu urusan yang sulit, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa, “Wahai al-Hayyu dan al-Qayyum, dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan.” (Hasan, HR. at-Tirmidzi dan Ibnu Sunni lihat Shahilul Jami’ no. 8908 dan ash-Shahihah no. 3182)

Buah Mengimani Nama Allah Al-Qayyum

Di antara buah mengimani nama Allah al-Qayyum adalah mengetahui kebesaran Allah ‘azza wa jalla dan keagungan-Nya, segala perbuatan-Nya dalam puncak kesempurnaan, segala sifat-Nya dalam puncak keindahan dan ketinggian. Allah ‘azza wa jalla tak penah lemah, tak pernah letih, tak pernah butuh, tak pernah istirahat, tak pernah lalai walau sesaat, tak penah kantuk, dan tak pernah tidur.

Allah, tidak ada Rabb (yang berhak disembah) melainkan Dia yang hidup kekal lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi.” (al-Baqarah: 255)

Dan sesungguhnya telah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, dan Kami sedikit pun tidak ditimpa keletihan.” (Qaf: 38)

Semua yang ada di langit dan bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan.” (ar-Rahman: 29)

Dia Maha Mencipta, Maha Memiliki, Maha Mengatur, Mahatahu, Mahamampu atas segala sesuatu, Mahaperkasa, Maha Mengawasi, Maha Memberi, dan sifat kesempurnaan lainnya.

Takkan rugi dan takkan tersia-siakan siapa pun yang Rabbnya adalah Dia, yang selalu ia puja, ibadahi, mohon, tauhidkan, dan pasrahi segala urusannya.

Ditulis oleh Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc.

Al-Qawi

Al-Qawi, Yang Mahakuat, adalah salah satu nama Allah Yang Agung. Allah Subhanahu wata’ala menyebutkan nama ini dalam beberapa ayat-Nya.

إِنَّ رَبَّكَ هُوَ الْقَوِيُّ الْعَزِيزُ

“Sesungguhnya Rabbmu Dia-lah Yang Mahakuat lagi Mahaperkasa.” (Hud: 66)

اللَّهُ لَطِيفٌ بِعِبَادِهِ يَرْزُقُ مَن يَشَاءُ ۖ وَهُوَ الْقَوِيُّ الْعَزِيزُ

“Allah Mahalembut terhadap para hamba-Nya, Dia memberi reaeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Dialah Yang Mahakuat dan Mahaperkasa.” (asy-Syura: 19)

إِنَّهُ قَوِيٌّ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Sesungguhnya Dia Mahakuat lagi Mahakeras hukuman-Nya.” (Ghafir: 22)

Asy-Syaikh Muhammad Khalil al-Harras mengatakan, “Asma Allah al-Qawi bermakna yang memiliki kekuatan. Kekuatan Allah Subhanahu wata’ala tidak akan tertimpa oleh kelemahan, kejenuhan, dan kehilangan yang menimpa kekuatan para makhluk. Allah Subhanahu wata’ala tidak akan merasa lemah karena menciptakan sesuatu, keletihan juga tidak akan menimpa-Nya.”

Sementara itu, semua kekuatan makhluk pada hakikatnya adalah milik- Nya. Dialah yang menyimpan kekuatankekuatan pada makhluk-makhluk itu. Apabila Allah Subhanahu wata’ala berkehendak mencabutnya, tentu Dia mampu. Telah disebutkan dalam hadits bahwa kalimat berikut ini,

لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ؛ كَنْزٌ مِنْ كُنُوزِ الْجَنَّةِ

“Tiada kemampuan untuk mengubah suatu keadaan dan tiada pula kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah l,” adalah salah satu simpanan dari simpanan-simpanan dalam surga. (Sahih, HR . al-Bukhari dan yang lain)

Dalam kisah pemilik dua kebun yang disebutkan dalam surat al-Kahfi, seseorang menasihati saudaranya,

وَلَوْلَا إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ ۚ إِن تَرَنِ أَنَا أَقَلَّ مِنكَ مَالًا وَوَلَدًا

“Mengapa kamu tidak mengucapkan tatkala kamu memasuki kebunmu, ‘Masya Allah, laa quwwata illa billah (Sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah).’ Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan. (al-Kahfi: 39)

Demikian pula dalam surat al- Baqarah,

وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ

“Seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).” (al-Baqarah: 165)

Buah Mengimani Nama Allah al-Qawi

Allah Subhanahu wata’ala sesembahan kita Mahakuat. Kekuatan kita berasal dari-Nya. Oleh karena itu, kita senantiasa memohon kekuatan dari-Nya dan mensyukuri pemberian-Nya. Tanpa bantuan-Nya, kita adalah makhluk yang sangat lemah. Kita juga harus menyadari bahwa selaku makhluk Allah Subhanahu wata’ala, kita tidak boleh merasa sombong dengan kekuatan yang dimiliki. Sebesar apa pun kekuatan kita, toh itu adalah pemberian Allah Subhanahu wata’ala. Suatu saat nanti, Allah Subhanahu wata’ala akan mencabutnya dari kita.

Lihatlah nasib raja-raja yang sombong di muka bumi ini, Fir’aun, Namrud, dan yang lainnya. Lihatlah nasib para diktator di muka bumi ini. Di manakah mereka sekarang? Menjadi apa mereka sekarang? Itulah kekuatan manusia. Oleh karena itu, janganlah seseorang semena-mena dengan kekuatan yang dia miliki lantas menindas orang-orang yang lemah dan menzalimi sesama manusia.

Hanya Allah Subhanahu wata’ala lah yang memiliki kekuatan yang mutlak, Dialah sembahan kita. Adapun sembahan selain Allah Subhanahu wata’ala, dia lemah, tidak memliki kekuatan yang hakiki. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٌ فَاسْتَمِعُوا لَهُ ۚ إِنَّ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِن دُونِ اللَّهِ لَن يَخْلُقُوا ذُبَابًا وَلَوِ اجْتَمَعُوا لَهُ ۖ وَإِن يَسْلُبْهُمُ الذُّبَابُ شَيْئًا لَّا يَسْتَنقِذُوهُ مِنْهُ ۚ ضَعُفَ الطَّالِبُ وَالْمَطْلُوبُ () مَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ

“Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekalikali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu.Amat lemahlah yang menyembah danamat lemah (pulalah) yang disembah. Mereka tidak mengenal Allah dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Mahakuat lagi Mahaperkasa.” (al-Hajj: 73—74)

Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc.

Al-Qahir

Di antara al-Asma’ul Husna adalah al-Qahir ( الْقَاهِرُ ) dan al-Qahhar ( الْقَهّ) ).Nama Allah Subhanahu wata’ala al-Qahir tersebut dalam firman-Nya,

وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ ۚ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْخَبِيرُ

“Dan Dialah yang berkuasa atas sekalian hamba-hamba-Nya. Dan Dialah Yang Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui.” (al-An’am: 18)

وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ ۖ وَيُرْسِلُ عَلَيْكُمْ حَفَظَةً حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ تَوَفَّتْهُ رُسُلُنَا وَهُمْ لَا يُفَرِّطُونَ

“Dan Dialah yang mempunyai kekuasaan tertinggi di atas semua hamba- Nya, dan diutus-Nya kepadamu malaikatmalaikat penjaga, sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh malaikatmalaikat Kami, dan malaikat-malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajibannya.” (al-An’am: 61)

Adapun al-Qahhar disebutkan pada enam tempat di dalam al-Qur’anul Karim, di antaranya,

قُلْ مَن رَّبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ قُلِ اللَّهُ ۚ قُلْ أَفَاتَّخَذْتُم مِّن دُونِهِ أَوْلِيَاءَ لَا يَمْلِكُونَ لِأَنفُسِهِمْ نَفْعًا وَلَا ضَرًّا ۚ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الْأَعْمَىٰ وَالْبَصِيرُ أَمْ هَلْ تَسْتَوِي الظُّلُمَاتُ وَالنُّورُ ۗ أَمْ جَعَلُوا لِلَّهِ شُرَكَاءَ خَلَقُوا كَخَلْقِهِ فَتَشَابَهَ الْخَلْقُ عَلَيْهِمْ ۚ قُلِ اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ

Katakanlah, “Siapakah Rabb langit dan bumi?” Jawabnya, “Allah.” Katakanlah, “Maka patutkah kamu mengambil pelindung-pelindungmu dari selain Allah, padahal mereka tidak menguasai kemanfaatan dan tidak (pula) kemudaratan atas diri mereka sendiri?” Katakanlah, “Adakah sama orang buta dan yang dapat melihat, atau samakah gelap gulita dan terang benderang; apakah mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah yang dapat menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka?” Katakanlah, “Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia-lah Rabb Yang Maha Esa lagi Mahaperkasa.” (ar-Ra’d: 16)

Jadi, Allah Subhanahu wata’ala memiliki sifat al- Qahr yang berarti menundukkan, mengalahkan, dan punya makna mengazab dari atas. Ibnu Jarir rahimahullah mengatakan, “Hanyalah Allah Subhanahu wata’ala mengatakan dalam ayat ( فَوْقَ عِبَادِهِ ) ‘di atas hamba-hamba- Nya’ karena Allah Subhanahu wata’ala menyifati diri-Nya bahwa Ia menundukkan mereka. Di antara sifat sesuatu yang menundukkan yang lain adalah dia berada di atasnya. Karena itu, makna firman-Nya adalah ‘Dan Allah-lah yang mengalahkan hamba-hamba-Nya dan menundukkan mereka’.”

Adapun al – Qahhar adalah bentuk mubalaghah dari kata al-Qahir, bentuk kata yang memberi arti yang lebih dalam pada sifat tersebut. As-Sa’di t menjelaskan, “Al-mQahhar, Yang Maha Menundukkan seluruh alam semesta baik yang atas maupun yang bawah, yang menundukkan segala sesuatu, yang tunduk kepada- Nya seluruh makhluk. Hal itu karena keperkasaan-Nya dan kesempurnaan kemampuan-Nya. Tidaklah sesuatu terjadi, dan tidaklah msesuatu tergerak selain dengan seizin- Nya. Apa yang Dia kehendaki pasti terjadi dan yang tidak Dia kehendaki maka tidak terjadi. Semua makhluk membutuhkan-Nya. Semuanya lemah, tidak memiliki kekuasaan untuk memberi dirinya manfaat ataupun mudharat, kebaikan ataupun kejelekan.

Sifat qahr pada-Nya menunjukkan bahwa Allah Subhanahu wata’ala memiliki sifat hidup, perkasa, dan mampu. Tidak sempurna penundukan-Nya terhadap semua makhluk, kecuali dengan kesempurnaan sifat hidup-Nya, keperkasaan-Nya, dan kemampuan-Nya.” Nama Allah Subhanahu wata’ala al-Qahhar yang terdapat dalam al-Qur’an selalu beriringan dengan nama Allah al-Wahid, Yang Maha Esa. As-Sa’di rahimahullah menjelaskan mhikmahnya, “Sesungguhnya tidak terdapat keesaan bersama dengan sifat menundukkan kecuali hanya milik Allah Subhanahu wata’ala satu-satu-Nya. Sebab, setiap makhluk pasti di atasnya ada makhluk lain yang menundukkannya. Di atas makhluk yang menundukkan itu ada makhluk lain lagi yang menundukkannya dan lebih tinggi darinya.

Penundukan itu berakhir pada Yang Maha Esa lagi Maha Menundukkan. Maha Menundukkan dan Maha Esa adalah dua sifat yang saling terkait dan mesti ada pada Allah Subhanahu wata’ala satu-satu-Nya. Jelaslah dengan dalil aqli bahwa semua yang disembah selain Allah Subhanahu wata’ala tidak punya kemampuan untuk menciptakan makhluk sedikit pun. Karena itu, tidak benar dia diibadahi. (Tafsir Surat ar-Ra’d: 16)

Ibnul Qayyim t juga mengatakan, Al-Qahhar tidak mungkin melainkan hanya satu. Sebab, apabila Dia memiliki tandingan yang sepadan lantas tidak mampu menundukkannya, dia tidak disebut Qahhar (yang menundukkan) secara mutlak. Apabila Dia bisa menundukkannya, tidak ada yang sepadan dengan-Nya, berarti al-Qahhar tidak lain kecuali hanya satu.” (ash-Shawa’iq al-Mursalah, 3/1032 dinukil dari Fiqh al-Asma’ul Husna)

Buah Mengimani Nama al-Qahir dan al-Qahhar

Di antara buahnya adalah ketundukan kita kepada Allah Subhanahu wata’ala. Kita harus menyadari kelemahan kita di hadapan- Nya. Hilangkan kesombongan, sifat congkak, dan takabbur, yang akan membuahkan penentangan terhadap syariat Allah Subhanahu wata’ala dan menolak aturan agama-Nya. Sadari kekurangan dan keterbatasan kemampuan kita, lalu tundukkan diri kita di hadapan-Nya dengan mematuhi segala aturan-Nya. Haturkan penghambaan diri kita kepada-Nya penuh ketundukan dengan menjalankan syariat-Nya. Sifat ini juga menunjukkan bahwa segala sembahan selain Allah Subhanahu wata’ala tidak berhak diibadahi. Sebab, semuanya tunduk di hadapan Allah Yang Mahaperkasa, Yang Mahamulia, dan Yang Maha Menundukkan. Mahatinggi Allah, al- Qahhar.

Ditulis oleh Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc

Al-Fattah

Allah Subhanahu wata’ala adalah al-Fattah. Allah Subhanahu wata’ala menyebutnya sebagai salah satu dari nama-Nya yang agung dalam ayat-Nya,

قُلْ يَجْمَعُ بَيْنَنَا رَبُّنَا ثُمَّ يَفْتَحُ بَيْنَنَا بِالْحَقِّ وَهُوَ الْفَتَّاحُ الْعَلِيمُ

Katakanlah, “Rabb kita akan mengumpulkan kita semua, kemudian Dia memberi keputusan antara kita dengan benar. Dan Dialah Maha Pemberi keputusan lagi Maha Mengetahui.” (Saba’: 26)

Sebenarnya dengan nama-Nya Al- Fattah, berarti Allah Subhanahu wata’ala memiliki sifat al-fath. Kata al-fath itu sendiri memiliki beberapa makna, di antaranya:

1. Membuka, lawan dari menutup, seperti dalam firman-Nya,

حَتَّىٰ إِذَا فَتَحْنَا عَلَيْهِم بَابًا ذَا عَذَابٍ شَدِيدٍ إِذَا هُمْ فِيهِ مُبْلِسُونَ

“Hingga apabila Kami bukakan untuk mereka suatu pintu yang ada azab yang amat sangat (di waktu itulah) tiba-tiba mereka menjadi putus asa.” (al-Mu’minun: 77)

2. Memutuskan, seperti dalam firman-Nya,

رَبَّنَا افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا بِالْحَقِّ وَأَنتَ خَيْرُ الْفَاتِحِينَ

“Ya Rabb kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil), dan Engkaulah Pemberi keputusan yang sebaik-baiknya.” (al-A’raf: 89)

3. Mengirim, seperti dalam firman- Nya,

مَّا يَفْتَحِ اللَّهُ لِلنَّاسِ مِن رَّحْمَةٍ فَلَا مُمْسِكَ لَهَا ۖ وَمَا يُمْسِكْ فَلَا مُرْسِلَ لَهُ مِن بَعْدِهِ ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Apa saja yang Allah kirimkan kepada manusia berupa rahmat, tidak ada seorang pun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorang pun yang sanggup untuk melepaskannya sesudah itu. Dan Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (Fathir: 2)

4. Memenangkan, seperti dalam firman-Nya,

وَأُخْرَىٰ تُحِبُّونَهَا ۖ نَصْرٌ مِّنَ اللَّهِ وَفَتْحٌ قَرِيبٌ ۗ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ

“Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai, (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman.” (ash-Shaf: 13)

Demikian pula firman-Nya,

إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ

“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan.” (an-Nashr: 1) (Lihat Nuzhatul ‘Aun an-Nawadzir)

As-Sa’di dan al-Harras menjelaskan, Al-Fattah adalah yang menghukumi antara para hamba-Nya dengan hukum- Nya yang syar’i, hukum takdir-Nya, dan hukum pembalasan-Nya. Dengan kelembutan-Nya, Dia membuka penglihatan orang-orang yang jujur serta membuka kalbu mereka untuk mengenal-Nya, mencintai-Nya, dan kembali kepada-Nya. Ia membuka bagi hamba-Nya pintu-pintu rahmat, pintupintu rezeki yang bermacam-macam, serta menetapkan untuk mereka sebab yang mengantarkan mereka memperoleh kebaikan dunia dan akhirat. Pembukaan Allah Subhanahu wata’ala sendiri ada dua macam:

1. Pembukaan dengan hukum agama-Nya dan hukum balasan-Nya.

2. Pembukaan dengan hukum takdir-Nya.

Pembukaan dengan hukum agama- Nya adalah dengan hidayah-Nya kepada para hamba-Nya dan pemberian syariat kepada mereka melalui lisan para rasul- Nya dalam segala hal yang berkaitan dengan kebutuhan mereka, yang dengannya mereka dapat istiqamah di atas jalan-Nya yang lurus. Adapun pembukaan dengan hukum balasannya ialah keputusan-Nya dan pemenangan-Nya untuk para nabi- Nya dan pengikut mereka, dengan memuliakan dan menyelamatkan mereka, serta penghinaan dan hukuman yang ditimpakan atas musuh-musuh mereka. Termasuk dalam hal ini adalah keputusan- Nya di antara para hamba-Nya pada hari kiamat, saat setiap insan memperoleh balasan dari amalannya, baik berupa kebaikan maupun keburukan. Adapun pembukaan-Nya dengan hukum takdir-Nya adalah apa yang Ia takdirkan atas hamba-hamba-Nya, baik berupa kebaikan maupun keburukan, manfaat maupun mudarat, pemberian maupun penghalangan. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

مَّا يَفْتَحِ اللَّهُ لِلنَّاسِ مِن رَّحْمَةٍ فَلَا مُمْسِكَ لَهَا ۖ وَمَا يُمْسِكْ فَلَا مُرْسِلَ لَهُ مِن بَعْدِهِ ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Apa saja yang Allah kirimkan kepada manusia berupa rahmat, tidak ada seorang pun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorang pun yang sanggup untuk melepaskannya sesudah itu. Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (Fathir: 2)

Maka dari itu, Allah-lah Al-Fattah. Dengan inayah-Nya, terbuka seluruh yang tertutup. Dengan hidayah-Nya, tersingkap seluruh yang musykil. Seluruh kunci urusan gaib dan rezeki berada di tangan-Nya. Dia pula yang membuka perbendaharaan kedermawanan-Nya untuk para hamba-Nya yang taat. Dia juga yang membuka hal yang sebaliknya untuk musuh-musuh-Nya, dengan keutamaan dan keadilan-Nya. (Lihat Tafsir Asma’illahil Husna dan Syarh Nuniyah)

Buah Mengimani Nama Allah al-Fattah

Dengan mengimani nama Allah Al-Fattah, kita semakin mengetahui kekuasaan Allah Subhanahu wata’ala dan kebesaran-Nya. Hanya di tangan-Nyalah kemenangan. Oleh karena itu, kepada-Nya juga kita berdoa untuk mendapatkan kemenangan. Hanya kepada-Nya juga kita bertawakal untuk memperoleh kemenangan, tidak pada hasil usaha kita, banyaknya jumlah kita, atau kecanggihan teknologi kita. Dalam urusan rezeki pun demikian, hanya kepada-Nya kita mengharap. Di tangan-Nyalah perbendaharaan langit dan bumi, dan Dialah yang mengaturnya; membuka atau menutupnya. Maka dari itu, jangan sekali-kali seseorang mencari pesugihan dari para makhluk, sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian orang dengan mengunjungi tempattempat tertentu dan melakukan ritual khusus demi mendapatkan kekayaan. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

إِنَّمَا تَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ أَوْثَانًا وَتَخْلُقُونَ إِفْكًا ۚ إِنَّ الَّذِينَ تَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ لَا يَمْلِكُونَ لَكُمْ رِزْقًا فَابْتَغُوا عِندَ اللَّهِ الرِّزْقَ وَاعْبُدُوهُ وَاشْكُرُوا لَهُ ۖ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

“Sesungguhnya apa yang kalian sembah selain Allah itu adalah berhala, dan kalian membuat dusta. Sesungguhnya yang kalian sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rezeki kepada kalian, maka mintalah rezeki itu di sisi Allah. Sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada- Nya. Hanya kepada-Nya lah kalian akan dikembalikan.” (al-Ankabut: 17)

Dalam urusan nasib, mintalah hanya kepada Allah Subhanahu wata’ala akan kebaikan nasib kita di dunia dan akhirat, karena di tangan-Nyalah segala keputusan. Wallahu a’lam.

Ditulis oleh Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc.

Al-Ghani

Al-Ghani adalah salah satu dari al-Asma’ul Husna. Sebuah nama yang menunjukkan kesempurnaan-Nya dan keagungan- Nya. Dialah al-Ghani, Yang Mahakaya, Maha cukup, dan tidak membutuhkan siapa pun dan apa pun. Nama ini tercantum dalam beberapa ayat al-Qur’an dan hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ {} إِن يَشَأْ يُذْهِبْكُمْ وَيَأْتِ بِخَلْقٍ جَدِيدٍ {} وَمَا ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ بِعَزِيزٍ

“Hai manusia, kamulah yang membutuhkan kepada Allah dan Allah Dialah Yang Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji. Jika Dia menghendaki, niscaya Dia memusnahkan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru (untuk menggantikan kamu). Dan yang demikian itu sekali-kali tidak sulit bagi Allah.” (Fathir: 15—17)

لَّهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ وَإِنَّ اللَّهَ لَهُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ

“Kepunyaan Allah-lah segala yang ada di langit dan segala yang ada di bumi. Dan sesungguhnya Allah benar benar Mahakaya lagi Maha Terpuji.” (al-Hajj: 64)

قَالُوا اتَّخَذَ اللَّهُ وَلَدًا ۗ سُبْحَانَهُ ۖ هُوَ الْغَنِيُّ ۖ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ

Mereka (orang-orang Yahudi dan Nasrani) berkata, “Allah mempuyai anak.” Mahasuci Allah. Dia-lah Yang Mahakaya; kepunyaan-Nya apa yang ada di langit dan apa yang di bumi. (Yunus: 68)

Di antara doa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam istisqa’ (meminta hujan) adalah,

اللَّهُمَّ أَنْتَ اللهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ الْغَنِيُّ وَنَحْنُ الْفُقَرَاءُ، أَنْزِلْ عَلَيْنَا الْغَيْثَ

“Ya Allah, Engkaulah Allah, tiada sesembahan yang benar selain Engkau, Engkaulah yang Mahakaya sedangkan kami orang-orang miskin yang membutuhkan. Turunkanlah kepada kami hujan….” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Hibban)

Asy-Syaikh Muhammad Khalil Harras menerangkan, “Di antara nama-nama Allah Subhanahu wata’ala adalah al-Ghani. Maknanya, Allah Subhanahu wata’ala memiliki kecukupan yang sempurna dan mutlak dari segala

sisinya. Kecukupan-Nya sama sekali tidak ternodai oleh sifat miskin dan membutuhkan. Sifat kecukupan dan kekayaan-Nya tidak mungkin lepas dari- Nya, karena sifat ini adalah konsekuensi dari Dzat-Nya, dan sifat yang terkait dengan Dzat-Nya tidak mungkin hilang.

Maka dari itu, tidak mungkin bagi Allah Subhanahu wata’ala kecuali sebagai Dzat Yang Mahacukup dan Mahakaya. Demikian pula, tidak mungkin bagi-Nya kecuali bersifat Dermawan, Pengasih, Baik, Penyayang, dan Pemurah. Sebagaimana kekayaan Allah Subhanahu wata’ala itu tidak terlepas dari Dzat-Nya, tidak mungkin pula menimpa-Nya sesuatu yang berlawanan dengannya baik kehinaan maupun rasa membutuhkan. Demikian pula kebutuhan para makhluk kepada-Nya, itu adalah kebutuhan yang bersifat dzati yang tidak mungkin sifat kebutuhannya hilang darinya walaupun sesaat saja. Makhluk senantiasa butuh kepada-Nya dalam hal keberadaan dan

eksistensinya, juga dalam segala hal kebutuhannya. Di antara luasnya kekayaan-Nya, bahwa perbendaharaan langit dan bumi semuanya berada di tangan-Nya, Allah Subhanahu wata’ala salurkan darinya sekehendak-Nya dan bahwa pemberian nikmat-Nya senantiasa berkesinambungan terus mengalir, tidak terputus walau sesaat sebagaimana tersebut dalam sebuah hadits,

يَمِينُ اللهِ مَلْأَى لاَ يَغِيضُهَا نَفَقَةٌ سَحَّاءُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ، أَرَأَيْتُمْ مَا أَنْفَقَ مُنْذُ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ فَإِنَّهُ لَمْ يَنْقُصْ مَا فِي يَمِينِهِ

“Sesungguhnya tangan kanan Allah Subhanahu wata’ala penuh, selalu memberi, malam dan siang, tidak menguranginya pemberian apa pun. Tidakkah engkau mengetahui apa yang Allah Subhanahu wata’ala berikan sejak Dia ciptakan langit-langit dan bumi? Sungguh, itu tidak mengurangi sedikit pun apa yang ada di tangan-Nya.” (Sahih, HR. al-Bukhari dan Muslim)

Di antara kesempurnaan kekayaan dan kemurahan-Nya, Allah Subhanahu wata’ala bentangkan tangan-Nya untuk mengijabahi doadoa bagi mereka yang berdoa, Allah Subhanahu wata’ala penuhi kebutuhannya, Allah Subhanahu wata’ala angkat kesulitannya, tidak pernah kesal dengan rengekan makhluk-makhluk yang meminta. Bahkan, Allah Subhanahu wata’ala murka kepada siapa yang tidak meminta kepada- Nya. Dia berikan kepada hamba-Nya apa yang mereka minta dan yang tidak mereka minta. Dalam hadits qudsi, Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ قَامُوا فِي صَعِيدٍ وَاحِدٍ فَسَأَلُونِي فَأَعْطَيْتُ كُلَّ إِنْسَانٍ مَسْأَلَتَهُ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِي إِلاَّ كَمَا يَنْقُصُ الْمِخْيَطُ إِذَا أُدْخِلَ الْبَحْرَ

“Wahai hamba-Ku, andai yang pertama hingga yang terakhir di antara kalian, bangsa manusia dan bangsa jin dari kalian, mereka berdiri pada satu hamparan lalu semuanya berdoa dan meminta kepada-Ku lalu Ku-kabulkan permintaan masing-masing, hal itu tidak mengurangi dari apa yang di sisi-Ku kecuali seperti jarum yang dicelupkan ke dalam lautan.” (Sahih, HR. Muslim)

Di antara kecukupan-Nya sehingga tidak membutuhkan kepada makhluk-Nya, bahwa Allah Subhanahu wata’ala tidak menjadikan bagi diri-Nya istri ataupun anak. Tiada serikat bagi-Nya dalam kerajaan-Nya, tidak pula memerlukan penolong karena terhina, karena Dia Mahakaya, Mahacukup, Maha Tidak Membutuhkan, yang telah sempurna segala sifat-sifat-Nya. Bahkan Dia pula yang mencukupi segala makhluk-Nya. (Syarah Nuniyyah) Di antara kesempurnaan kekayaan- Nya, serta keluasan pemberian-Nya adalah apa yang Ia hamparkan untuk penghuni rumah kemuliaan-Nya (surga), berupa kenikmatan, kelezatan yang terus-menerus, kebaikan yang berkesinambungan, serta nikmat-nikmat yang tidak pernah terlihat oleh mata, tak pernah terdengar oleh telinga, dan tidak pernah tebersit dalam kalbu seseorang. (as-Sa’di, Tafsir Aasma’illah Al-Husna)

Al-Halimi rahimahullah juga menjelaskan, “Dialah Yang Mahasempurna dengan apa yang dimiliki-Nya dan yang ada pada-Nya, dengan itu ia tidak butuh kepada yang lain. Allah Rabb kita yang Mahaagung pujian-Nya dengan sifat-Nya yang seperti ini, karena sifat ‘memerlukan’ merupakan suatu kekurangan, dan sesuatu yang membutuhkan berarti lemah disebabkan apa yang dia butuhkan sampai ia mendapatkan apa yang dibutuhkan. Sementara itu, sesuatu yang dibutuhkan memiliki jasa baginya dengan adanya sesuatu yang tidak dimiliki oleh yang membutuhkan. Kekurangan semacam ini tidak ada pada-Nya Yang Maha Terdahulu dalam keadaan bagaimana pun, kelemahan juga tidak mungkin ada pada-Nya.

Tidak mungkin juga bagi siapa pun akan memiliki jasa terhadap-Nya, karena semua selain-Nya adalah makhluk-Nya, ciptaan yang Ia ciptakan, tidak memiliki urusan Allah rahimahullah sedikit pun. Bahkan, makhluk-Nyalah yang tercipta seperti kehendak-Nya. Dia yang mengaturnya. Dengan demikian, tidak terbayang bahwa makhluk-Nya akan memiliki jasa terhadap-Nya.” (al-Baihaqi, dalam kitab al-Asma’ was Shifat)

Buah Mengimani Nama Allah al-Ghani

Betapa bahagianya kita, saat Allah Subhanahu wata’ala memberikan kepada kita taufik-Nya untuk hanya beribadah kepada-Nya, karena sesembahan kita Mahakaya, takkan merugi seseorang yang Tuhannya Maha kaya. Hal ini membuat kita sebagai hamba-Nya tidak berputus asa dalam meminta dan berdoa. Allah Subhanahu wata’ala bahkan memerintahkan kita untuk meminta-Nya dan menjanjikan untuk mengijabahinya, baik permintaan duniawi maupun ukhrawi. Saat kita bersalah lalu meminta ampunan-Nya, dengan kemurahan-Nya, Dia akan memberikan maaf-Nya. Saat kita terdesak kebutuhan, Dialah tujuan kita dalam meminta, niscaya Dia akan berikan. Dia tidak meminta sesuatu kepada kita berupa imbalan apa pun, hanya saja merupakan kewajiban kita untuk menunaikan hak-Nya, dengan beribadah hanya kepada-Nya. Namun, perlu diingat, tentu tidak semua doa akan dikabulkan oleh Allah Subhanahu wata’ala. Hanya doa-doa yang baik dan terpenuhi syaratnya serta selamat dari segala penghalang terkabulnya. Terkadang Allah Subhanahu wata’ala mengabulkannya nanti di akhirat, atau dengan menghindarkan kejelekan yang senilai dengan apa yang dia minta. Dengan mengimani nama ini, kita juga menyadari kelemahan sesembahansesembahan selain Allah Subhanahu wata’ala yang tidak memiliki apa pun. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

يُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَيُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي لِأَجَلٍ مُّسَمًّى ۚ ذَٰلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ لَهُ الْمُلْكُ ۚ وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِن دُونِهِ مَا يَمْلِكُونَ مِن قِطْمِيرٍ {} إِن تَدْعُوهُمْ لَا يَسْمَعُوا دُعَاءَكُمْ وَلَوْ سَمِعُوا مَا اسْتَجَابُوا لَكُمْ ۖ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُونَ بِشِرْكِكُمْ ۚ وَلَا يُنَبِّئُكَ مِثْلُ خَبِيرٍ {} يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ

“Yang (berbuat) demikian itulah Allah Rabbmu, kepunyaan-Nyalah kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari pada biji kurma. Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu; dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. Dan di hari kiamat mereka akan mengingkari kesyirikanmu dan tidak ada yang dapat memberi keterangan kepadamu sebagai yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui. Hai manusia, kamulah yang butuh kepada Allah; dan Allah Dialah Yang Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.” (Fathir: 13—15)

Jika demikian keadaan sesembahan selain Allah Subhanahu wata’ala, lantas atas dasar apa mereka diibadahi? Ia tidak memiliki apaapa, maka tidak berhak diibadahi sama sekali. Sungguh merugi seseorang yang tuhannya semacam ini. Ya, rugi dunia akhirat dan itulah kerugian yang nyata.

Ditulis oleh Al-Ustadz Qomar Suaidi

Al-Azhim

Al-Azhim adalah salah satu asma Allah subhanahu wa ta’ala yang agung. Al-Azhim, Yang Mahaagung, berulang kali Allah Subhanahu wata’ala menyebutkan nama ini dalambeberapa ayat, di antaranya,

اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ۚ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ ۚ لَّهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِندَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ ۚ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ ۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ ۖ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

“Allah, tidak ada Rabb (yang berhak disembah) kecuali Dia Yang Mahahidup lagi terus-menerus mengurus (makhluk- Nya), tidak mengantuk, dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi, dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Mahatinggi lagi Mahabesar.” (al-Baqarah: 255)

فَسَبِّحْ بِاسْمِ رَبِّكَ الْعَظِيمِ

“Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang Mahabesar.” (al-Waqi’ah: 96)

إِنَّهُ كَانَ لَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ الْعَظِيمِ

“Sesungguhnya dia dahulu tidak beriman kepada Allah Yang Mahabesar.” (al-Haqqah: 33)

Demikian pula Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menyebut nama itu dalam doanya di saat datang kesusahan, Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan,

كَانَ يَقُولُ عِنْدَ الْكَرْبِ: لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ الْعَظِيمُ الْحَلِيمُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ ا رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ ا رَبُّ السَّمَوَاتِ وَرَبُّ الأَرْضِ
الْكَرِيمِ وَرَبُّ الْعَرْشِ

“Dahulu Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa saat ditimpa kesusahan, (artinya), ‘Tiada sesembahan yang benar selain Allah Yang Mahaagung,Yang Maha Penyabar, tiada sesembahan yang benar selain Allah Rabb Arsy yang agung, tiada sesembahan yang benar selain Allah, Rabb langit-langit dan Rabb bumi, dan Rabb Arsy yang mulia’.” (Sahih, HR . al-Bukhari dan Muslim)

Al-Azhim, Allah Mahaagung. Dia memiliki tiap sifat yang mengharuskan untuk diagungkan. Tidak ada satupun makhluk yang mampu menyanjung- Nya sebagaimana mestinya. Bahkan, Allah Subhanahu wata’ala adalah seperti yang Ia sifati diri-Nya dengannya dan di atas segala pujian hamba-Nya.

Perlu diketahui bahwa makna Al-Ustadz Qomar Suaidi keagungan AllahSubhanahu wata’ala  yang hanya merupakan hak-Nya adalah dua macam.

1. Allah l disifati dengan segala sifat kesempurnaan, dan kesempurnaan yang Allah Subhanahu wata’ala miliki adalah kesempurnaan yang paling puncak, paling agung, dan paling luas. Milik-Nyalah ilmu yang meliputi segala sesuatu, kemampuan yang tidak bisa dihalangi, kesombongan dan keagungan.

Di antara keagungan Allah Subhanahu wata’ala adalah bahwa langit-langit dan bumi di tangan Allah Subhanahu wata’ala lebih kecil daripada biji sawi, sebagaimana diucapkan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma dan yang lainnya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ ۚ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ

 “Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Mahasuci dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.” (az-Zumar: 67)

إِنَّ اللَّهَ يُمْسِكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ أَن تَزُولَا ۚ وَلَئِن زَالَتَا إِنْ أَمْسَكَهُمَا مِنْ أَحَدٍ مِّن بَعْدِهِ ۚ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا

 “Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya tidak lenyap, dan sungguh jika keduanya akan lenyap, tidak ada seorang pun yang dapat menahan keduanya selain Allah. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (Fathir: 41)

Dia Mahatinggi lagi Mahaagung,

لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۖ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

“Kepunyaan-Nya lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan Dialah Yang Mahatinggi lagi Mahaagung.” (asy-Syura: 4)

Dalam kitab Shahih disebutkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ اللهَ يَقُولُ: الْكِبْرِياَءُ رِدَائِي وَالْعَظَمَةُ إِزَارِي، فَمَنْ نَازَعَنِي وَاحِداً مِنْهُمَا عَذَّبْتُهُ

“Allah berfirman, ‘Kesombongan adalah selendang-Ku dan keagungan adalah sarung-Ku. Orang yang merebut dari-Ku salah satunya, maka Aku akan meyiksanya’.”

2. Allah Subhanahu wata’alal lah yang berhak terhadap segala macam pengagungan yang dengannya seorang hamba mengagungkan dan tidak seorang pun dari mahluk berhak untuk diagungkan sebagaimana Allah Subhanahu wata’alal diagungkan. Allah Subhanahu wata’ala berhak atas hamba-Nya untuk mereka agungkan, dengan kalbu, lisan, dan anggota badan mereka. Hal itu diwujudkan dengan cara mengerahkan segala kemampuan untuk mengenal-Nya, mencintai-Nya, dan menghinakan diri di hadapan-Nya.

Inkisar (luluh, remuk redam) di hadapan-Nya, tunduk di hadapan kesombongan-Nya, takut kepada-Nya, menggunakan lisan untuk memuji-Nya, menggunakan anggota badan untuk mensyukuri-Nya dan melaksanakan peribadatan kepada-Nya. Di antara bentuk pengagungan kepada-Nya adalah dengan bertakwa kepada-Nya, sehingga Dia ditaati tidak dimaksiati, diingat tidak dilupakan, disyukuri tidak dikufuri. Di antara bentuk pengagungan kepada-Nya adalah mengagungkan apa yang disyariatkan-Nya dan apa yang diharamkan-Nya baik berupa waktu, tempat, maupun perbuatan. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

ذَٰلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى الْقُلُوبِ

 “Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (al-Hajj: 32)

ذَٰلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ حُرُمَاتِ اللَّهِ فَهُوَ خَيْرٌ لَّهُ عِندَ رَبِّهِ ۗ

 “Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Rabbnya.” (al-Hajj: 30)

Di antara bentuk pengagungan kepada-Nya adalah tidak menentang apa yang disyariatkan-Nya dan apa yang diciptakan-Nya. (Penjelasan as-Sa’di dan Muhammad Khalil Harras, Tafsir Asmaillah dan Syarah Nuniyyah)

Buah Mengimani Nama Allah Subhanahu wata’ala al-Azhim

Buahnya, kita lebih mengenal keagungan dan kebesaran-Nya, serta menyadari segala kekurangan kita. Kita hanyalah hamba Allah Subhanahu wata’ala yang kecil, yang hina, yang lemah, dan yang serbaterbatas dari segala sisinya. Ini menuntut kita untuk lebih banyak mengagungkan-Nya dengan berbagai ucapan, amalan, dan keyakinan.

Menuntut kita untuk menjauhi sifat sombong, takabur, bangga diri, serta lupa akan pertolongan Allah Subhanahu wata’ala dan keagungan-Nya. Sebanyak apa pun yang kita miliki berupa harta, kedudukan, kehormatan, pangkat, atau kekuasaan, itu tidak berarti apa-apa di hadapan keagungan-Nya.

Di samping itu, mengimaninya juga membuahkan pengetahuan lebih dalam tentang batilnya segala sesembahan selain Allah Subhanahu wata’ala. Ternyata, apa pun sesembahan itu, tidak berarti apa-apa di hadapan keagungan-Nya. Lantas atas dasar apa tuhan-tuhan palsu itu disembah?

Manfaat apa yang diperoleh darinya? Apa yang dijanjikan oleh tuhan-tuhan palsu tersebut? Bahkan, semua itu hanya kepalsuan dan penipuan setan. Karena itu, setan ‘menertawakan’ para penyembah selain Allah Subhanahu wata’ala tersebut. Kelak, setan pun akan cuci tangan dari perbuatan mereka itu.

Ditulis oleh Al Ustadz Qomar Suadi

Al-Aliim

Al-‘Alim الْعَلِيمُadalah salah satu al-Asmaul Husna. Nama yang mulia ini tersebut dalam banyak ayat dan hadits, di antaranya adalah firman Allah Subhanahu wata’ala,

ذَٰلِكَ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَأَنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“(Allah menjadikan hal) itu agar kamu tahu, sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, dan sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (al-Maidah: 97)

إِذْ قَالَتِ امْرَأَتُ عِمْرَانَ رَبِّ إِنِّي نَذَرْتُ لَكَ مَا فِي بَطْنِي مُحَرَّرًا فَتَقَبَّلْ مِنِّي ۖ إِنَّكَ أَنتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“(Ingatlah), ketika istri ‘Imran berkata, “Ya Rabbku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di BaitulMaqdis). Oleh karena itu, terimalah (nazar) itu dariku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Ali Imran: 35)

Adapun dalam hadits, di antaranya dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata,

كَانَ النَّبِىُّ صل الله عليه وسلم يَقُولُ عِنْدَ الْكَرْبِ: لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ الْعَلِيمُ الْحَلِيمُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيم

“Di saat kesusahan, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mengucapkan (yang artinya),“Tiada sesembahan yang benar selain Allah Yang Maha Berilmu, Yang Maha Penyabar, tiada sesembahan yang benar selain Allah, Rabb Arsy yang agung, tiada sesembahan yang benar selain Allah, Rabb langit-langit, Rabb bumi, dan Rabb Arsy yang mulia.” (Sahih, HR. al-Bukhari)

Ibnul Qayyim t berkata,

Dialah Yang Maha Berilmu, ilmu-Nya meliputi segala yang berada di alam baik yang tersembunyi maupun yang tampak

Dalam segala sesuatu ada ilmu-Nya, Yang Maha suci

Dialah yang meliputi segala sesuatu dan tidak memiliki sifat lupa

Dan Dia mengetahui apa yang akan terjadi besok, dan apa yang telah terjadi

Serta yang sedang terjadi pada waktu ini.

Juga, Ia mengetahui urusan yang belum terjadi

Seandainya terjadi, bagaimana terjadinya sesuatu yang mungkin tersebut.

Asy-Syaikh Muhammad Khalil Harras menerangkan ucapan Ibnul Qayyim di atas, “Ini adalah penjelasan yang paling bagus dan paling lengkap tentang asma Allah al-‘Alim. Beliau menyebutkan cakupan ilmu Allah Subhanahu wata’ala atas segala hal yang dapat diketahui, baik yang wajib (harus ada), yang mumtani’ (tidak mungkin ada/terjadi), atau yang mumkinat (mungkin ada).

Adapun yang wajib ada, sesungguhnya Ia mengetahui diri Dzat-Nya yang mulia, sifat-sifat-Nya yang suci, yang menurutakal tidak mungkin tidak ada pada Zat Allah Subhanahu wata’ala, bahkan wajib ada dan tetap pada-Nya.

Adapun yang mumtani’ (tidak mungkin ada/terjadi), maka Allah Subhanahu wata’ala Maha Mengetahui saat tidak terjadinya. Allah Subhanahu wa ta’ala juga mengetahui akibat dari adanya atau terjadinya seandainya hal itu terjadi. Contohnya, Allah Subhanahuwata’ala mengabarkan akibat dari adanya tuhan-tuhan yang lain bersama-Nya dalam firman-Nya,

لَوْ كَانَ فِيهِمَا آلِهَةٌ إِلَّا اللَّهُ لَفَسَدَتَا ۚ فَسُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ الْعَرْشِ عَمَّا يَصِفُونَ

“Sekiranya ada di langit dan di bumi sesembahan-sesembahan selain Alah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha suci Allah yang mempunyai ‘Arsy dari apa yang mereka sifatkan.” (al-Anbiya: 22)

Ini adalah kerusakan yang tidak terjadi. Sebab, hal itu adalah akibat dari sesuatu yang mustahil, yaitu adanya sesembahan lain bersama Allah Subhanahu wata’ala. Apabila hal yang mustahil ini terjadi, akan terjadi pula kerusakan tersebut, seperti firman Allah Subhanahu wata’ala yang lain,

مَا اتَّخَذَ اللَّهُ مِن وَلَدٍ وَمَا كَانَ مَعَهُ مِنْ إِلَٰهٍ ۚ إِذًا لَّذَهَبَ كُلُّ إِلَٰهٍ بِمَا خَلَقَ وَلَعَلَا بَعْضُهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۚ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يَصِفُونَ

“Allah sekali-kali tidak mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada tuhan (yang lain) beserta-Nya, kalau ada tuhan beserta-Nya, setiap tuhan itu akan membawa makhluk yang diciptakannya, dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain. Maha suci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu.” (al-Mu’minun: 91)

Perginya setiap tuhan dengan ciptaannya dan sebagian tuhan-tuhan itu akan mengalahkan yang lain adalah akibat adanya sesembahan yang lain bersama Allah Subhanahu wata’ala. Dan ini adalah sebuah hal yang mustahil. Apabila hal ini terjadi, tentu akibatnya juga akan terjadi.

Ini adalah pemberitaan dari-Nya -dalam bentuk pengandaian- tentang sesuatu yang muncul akibat dari adanya sesembahan-sesembahan selain Allah Subhanahu wata’ala, seandainya hal itu terjadi.

Adapun hal-hal yang mungkin terjadi (mumkinat), yaitu yang mungkin menurut akal terjadinya atau tidak terjadinya, Allah Subhanahu wata’ala mengetahui apa yang ada dan apa yang tidak ada, yang terjadi dan yang tidak, dari hal-hal yang hikmah Allah Subhanahu wata’ala menuntut tidak terjadinya. Ilmu-Nya mencakup seluruh alam semesta, yang atas dan yang bawah. Tiada suatu tempat atau waktu pun yang lepas dari ilmu Allah Subhanahu wata’ala. Ia mengetahui yang gaib dan yang tampak, yang lahir dan yang batin, serta yang jelas dan yang tersembunyi.

Ilmu-Nya tidak ditimpa oleh kelalaian atau kelupaan, sebagaimana firman-Nya yang menceritakan ucapan Musa ‘alaihis salam,

قَالَ عِلْمُهَا عِندَ رَبِّي فِي كِتَابٍ ۖ لَّا يَضِلُّ رَبِّي وَلَا يَنسَى

“Musa menjawab, “Pengetahuan tentang itu ada di sisi Rabbku, di dalam sebuah kitab, Rabb kami tidak akan salah dan tidak (pula) lupa.” (Thaha: 52)

Demikian pula, ilmu-Nya meliputi seluruh alam semesta yang atas dan yang bawahnya berikut segala makhluk yang ada beserta zatnya, sifatnya, perbuatannya, serta seluruh urusannya. Allah Subhanahu wata’ala juga tahu apa yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi, yang tiada ujungnya. Allah Subhanahu wata’ala mengetahui apa yang tidak terjadi, pun seandainya terjadi -yakni apabila hal itu ditakdirkan terjadi- Ia tahu bagaimana cara terjadinya.

Allah Subhanahu wata’ala juga tahu keadaan para mukallaf sejak Dia menciptakan mereka, setelah mewafatkan mereka, dan setelah menghidupkan mereka kembali. Ilmu-Nya telah mencakup perbuatan mereka seluruhnya, yang baik dan yang buruk, serta balasan atas amal-amal tersebut beserta perincian hal tersebut di negeri kekal abadi.

Adapun dalil aqli atas ilmu Allah Subhanahu wata’ala ada beberapa hal.

1. Adalah mustahil untuk mengadakan/menciptakan sesuatu tanpa ilmu. Sebab, Allah Subhanahu wata’ala menciptakan sesuatu dengan kehendak-Nya, dan kehendak-Nya terhadap sesuatu mengandung pengetahuan terhadap apa yang dikehendaki-Nya, seperti firman Allah Subhanahu wata’ala,

أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ

 “Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui; dan Dia Maha halus lagi Maha Mengetahui?” (al-Mulk: 14)

2. Kekokohan, kedetailan, keajaiban ciptaan, dan kecermatan dalam penciptaan yang ada pada makhluk-makhluk, ini menjadi bukti bahwa Penciptanya sangat berilmu, karena secara kebiasaan tidak mungkin itu semua terjadi dari selain Dzat yang tidak berilmu.

3. Di antara makhluk ada yang berilmu, dan ilmu adalah sifat kesempurnaan. Seandainya Allah Subhanahu wata’ala tidak berilmu, berarti ada di antara makhluk ada yang lebih sempurna dari-Nya.

4. Ilmu yang ada pada makhluk sesungguhnya berasal dari Penciptanya. Dengan demikian, Pemberi kesempurnaan itu lebih berhak menyandang kesempurnaan tersebut, karena sesuatu yang tidak memiliki tidak mungkin bisa memberi. (Syarah Nuniyyah, 2/73-75)

Buah Mengimani Nama Allah al-Aliim

Di antara buahnya adalah mengetahui keagungan Allah Subhanahu wata’ala, Dia mengetahui  segala sesuatu sampai hal-hal yang terkecil, baik yang di dasar lautan maupun yang di dalam bumi, juga yang ada dalam lubuk hati. Bagaimanapun amal dan ucapan kita, Allah Maha Mengetahuinya. Tentu hal ini menuntut kita semua untuk takut kepada-Nya dalam segala keadaan dan di setiap tempat. Walaupun kita melakukannya di malam hari, di tempat yang gelap dan sepi, Allah Subhanahu wata’ala sangat mengetahuinya.

Ingatlah bahwa balasan Allah Subhanahu wata’ala sudah menanti. Rahmat Allah Subhanahu wata’ala dan taufik-Nya selalu kita harapkan agar Dia selalu membimbing kita ke jalan yang lurus. Wallahul muwaffiq.

Oleh : al Ustadz Qomar Suadi, Lc.