Pelajaran dari Sepenggal Kisah Istri-istri Shalihah

Menghidupkan kembali karakter para wanita mulia dari kalangan sahabiyah di masa kini barangkali merupakan upaya yang sulit dilakukan, kalau tidak bisa dikatakan tidak mungkin. Segala sesuatunya memang telah demikian jauh berbeda. Namun tak ada salahnya kita senantiasa melakukan upaya perbaikan diri, di antaranya dengan mengetahui kemuliaan mereka dan sebisa mungkin kita mencontohnya. Mudahmudahan ini menjadi sebuah upaya positif di tengah kuatnya arus perusakan yang datang dari berbagai arah. Lanjutkan membaca Pelajaran dari Sepenggal Kisah Istri-istri Shalihah

Istri Shalihah, Keutamaan dan Sifat-sifatnya

Apa yang sering diangankan oleh kebanyakan laki-laki tentang wanita yang bakal menjadi pendamping hidupnya? Cantik, kaya, punya kedudukan, karir bagus, dan baik pada suami. Inilah keinginan yang banyak muncul. Sebuah keinginan yang lebih tepat disebut angan-angan, karena jarang ada wanita yang memiliki sifat demikian. Kebanyakan laki-laki lebih memerhatikan penampilan lahir, sementara unsur akhlak dari wanita tersebut kurang diperhatikan. Padahal akhlak dari pasangan hidupnya itulah yang akan banyak berpengaruh terhadap kebahagiaan rumah tangganya.

Lanjutkan membaca Istri Shalihah, Keutamaan dan Sifat-sifatnya

Jangan Terlalu Membenci Istri

Suami yang bijak adalah orang yang mau menerima segala kekurangan yang ada pada istrinya. Ia menyadari bahwa tidak ada wanita yang sempurna, yang bisa memenuhi semua harapannya. Inilah salah satu kunci terciptanya keharmonisan rumah tangga, yang selayaknya dimiliki oleh setiap suami.

Lanjutkan membaca Jangan Terlalu Membenci Istri

Saat Cemburu Menyapa; Bagian ke-2

Suatu ketika, di malam giliran ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan selendangnya, melepas kedua sandalnya, serta meletakkannya di sisi kedua kakinya. Lalu beliau membentangkan ujung sarungnya di atas tempat tidurnya, setelah itu beliau pun berbaring. Tak berapa lama, beliau bangkit lalu mengambil selendangnya dengan perlahan dan mengenakan sandalnya dengan perlahan agar tidak mengusik tidur ‘Aisyah, kemudian membuka pintu dan keluar dari kamar ‘Aisyah. Setelahnya, pintu ditutup kembali dengan perlahan. ‘Aisyah yang ketika itu disangka telah lelap dalam tidurnya, ternyata melihat apa yang diperbuat suaminya. Ia pun bangkit mengenakan pakaian dan kerudungnya.


Selanjutnya, kita dengar penuturan ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, “Kemudian aku mengikuti beliau, hingga beliau sampai di pekuburan Baqi’. Beliau berdiri lama lalu mengangkat kedua tangannya sebanyak tiga kali. Kemudian beliau berbalik dan aku pun berbalik. Beliau bersegera, aku pun bersegera. Beliau berlari kecil, aku pun berlari kecil. Beliau berlari lebih cepat, aku pun melakukan yang sama, hingga aku dapat mendahului beliau lalu segera masuk ke dalam rumah. Belum lama aku membaringkan tubuhku, beliau masuk.

Melihat keadaanku beliau pun berkata, “Ada apa dengan dirimu wahai ‘Aisyah, kulihat napasmu memburu?”

Aku menjawab, “Tidak ada apa-apa.”

Beliau berkata, “Beritahu aku atau Allah subhanahu wa ta’ala yang akan mengabarkan kepadaku.”

Aku pun menceritakan apa yang baru berlangsung. Mendengar ceritaku beliau berkata, “Berarti engkau adalah sosok yang aku lihat di hadapanku tadi?”

Aku menjawab, “Iya.” Beliau mendorong dadaku dengan kuat hingga membuatku kesakitan. Kemudian beliau bersabda, “Apakah engkau menyangka Allah dan Rasul-Nya akan berbuat tidak adil terhadapmu[1]?”

Aisyah berkata, “Bagaimana pun manusia menyembunyikannya, niscaya Allah mengetahuinya, memang semula aku menyangka demikian.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan, “Jibril datang menemuiku saat itu. Dia memanggilku, maka aku pun menyembunyikannya darimu. Aku penuhi panggilannya. Jibril tidak mungkin masuk ke kamar ini sementara engkau telah membuka pakaianmu. Tadi aku menyangka engkau sudah tidur maka aku tidak ingin membangunkan tidurmu, karena aku khawatir engkau akan merasa sendirian (dalam sepi) dalam kegelapan malam. Jibril berkata kepadaku saat itu, ‘Sesungguhnya Rabbmu memerintahkanmu untuk mendatangi pekuburan Baqi’ guna memintakan ampun bagi penghuninya’…” (Sahih, HR. Muslim no. 974)

Masih kisah malam-malam ‘Aisyah. Ia pernah merasa kehilangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ia pun meraba-raba mencari beliau. Ia menyangka beliau pergi ke rumah istri yang lain. Ternyata ‘Aisyah mendapatkan beliau sedang ruku’ atau sujud seraya berdoa:

سُبْحَانَكَ وَبِحَمْدِكَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ

“Mahasuci Engkau dan segala puji bagi-Mu, tidak ada sesembahan yang benar kecuali Engkau.”

‘Aisyah pun berkata, “Sungguh, aku berada dalam satu keadaan, sementara engkau berada dalam keadaan yang lain.” (Sahih, HR. Muslim no. 485)

‘Aisyah juga menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah keluar dari rumahnya pada suatu malam, maka kata ‘Aisyah, “Aku pun cemburu.”

Lalu beliau datang melihat apa yang kuperbuat. Beliau bertanya, “Ada apa denganmu, wahai ‘Aisyah, apakah engkau cemburu?”

Aku menjawab, “Bagaimana orang sepertiku tidak cemburu dengan orang yang semisalmu?”

Beliau berkata, “Sungguh setanmu telah mendatangimu.[2] (Sahih, HR. Muslim no. 2815)

Kebiasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bila hendak bepergian (safar) beliau mengundi di antara istri-istrinya siapa yang diajak dalam safar tersebut. Suatu ketika jatuhlah undian kepada ‘Aisyah dan Hafshah, maka keduanya pun keluar bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam safar tersebut, bila malam telah menjelang, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berjalan bersisian dengan unta yang ditunggangi ‘Aisyah (yang berada di dalam sekedup/semacam tandu yang diletakkan di atas unta, sehingga tidak terlihat orang-orang di sekitarnya) dan beliau berbincang bersamanya. Suatu ketika Hafshah berkata kepada ‘Aisyah, “Tidakkah engkau mau menaiki untaku malam ini dan aku menaiki untamu, hingga engkau bisa melihat dan aku bisa melihat?” ‘Aisyah menjawab, “Iya.”[3]

Lalu ia pun menaiki unta Hafshah sementara Hafshah menaiki untanya. Datanglah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menuju unta yang biasa dinaiki ‘Aisyah tanpa mengetahui bahwa di dalam sekedupnya adalah Hafshah, bukan ‘Aisyah. Beliau mengucapkan salam kemudian berjalan bersisian dengan unta tersebut hingga mereka singgah di suatu tempat. ‘Aisyah merasa kehilangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada malam itu. Ia pun cemburu, hingga ketika mereka berhenti dan singgah di suatu tempat, ‘Aisyah memasukkan kakinya ke dalam rumput-rumputan seraya berkata, “Ya Rabbku, biarkanlah seekor kalajengking atau seekor ular menyengatku. Aku tidak sanggup berkata apa-apa kepada Rasul-Mu.” (Sahih, HR. al-Bukhari no. 5211 dan Muslim no. 2445)

Para istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri ‘terbagi’ dalam dua kelompok, satu kelompok terdiri dari ‘Aisyah, Hafshah, Shafiyyah, dan Saudah. Sedangkan kelompok lain terdiri dari Ummu Salamah, Zainab bintu Jahsyin, Ummu Habibah, Juwairiyah, dan Maimunah[4]. Kaum muslimin mengetahui bagaimana kecintaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap ‘Aisyah. Maka bila mereka ingin memberikan hadiah kepada beliau, mereka menanti saat beliau berada di rumah ‘Aisyah. Mengetahui hal tersebut, berkatalah kelompok Ummu Salamah kepada Ummu Salamah, “Bicaralah kepada Rasulullah agar beliau menyampaikan kepada manusia, ‘Siapa yang ingin memberikan suatu hadiah kepada Rasulullah maka hendaklah dia menyerahkan hadiah tersebut kepada beliau di mana saja beliau berada dari rumah istri-istrinya (jangan hanya di rumah ‘Aisyah)’.”

Ummu Salamah radhiallahu ‘anha pun menyampaikan hal tersebut kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau hanya diam, tidak mengatakan sesuatu. Ketika Ummu Salamah ditanyai oleh kelompoknya, ia katakan, “Beliau tidak berkata apa-apa kepadaku.” Mereka berkata, “Sampaikan lagi kepada beliau.”

Ummu Salamah radhiallahu ‘anha pun menyampaikan kembali keinginan mereka saat gilirannya, namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap diam. Pada kali yang ketiga, Ummu Salamah kembali diminta untuk menyampaikan keinginan kelompoknya. Ketika itu berkatalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jangan engkau menyakiti aku dalam perkara ‘Aisyah, karena sesungguhnya wahyu tidak pernah diturunkan kepadaku saat aku berada dalam selimut seorang istriku kecuali dalam selimut ‘Aisyah.”

Mendengar pernyataan demikian, Ummu Salamah berkata, “Aku bertaubat kepada Allah dari menyakitimu, wahai Rasulullah.” (Sahih, HR. al-Bukhari no. 2581)

Mereka pun pernah mengutus Fathimah bintu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menemui ayahnya guna meminta keadilan beliau dalam permasalahan ‘Aisyah, karena mereka mengetahui besarnya kedudukan ‘Aisyah di hati beliau dan besarnya cinta beliau kepadanya[5]. Fathimah pun minta izin masuk menemui ayahnya yang ketika itu sedang berbaring bersama ‘Aisyah di dalam selimutnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengizinkan. Fathimah radhiallahu ‘anha berkata, “Wahai Rasulullah, istri-istrimu mengutusku untuk menemuimu guna meminta keadilan kepadamu dalam permasalahan putri Abu Quhafah (maksudnya putri Abu Bakr, yakni ‘Aisyah).”[6]

‘Aisyah terdiam mendengar hal tersebut. Sedangkan Rasulullah berucap, “Wahai putriku! Bukankah engkau mencintai apa yang aku cintai?”

Fathimah menjawab, “Ya.”

Rasulullah berkata, “Kalau begitu cintailah ‘Aisyah.”

Mendengar hal tersebut, Fathimah pun bangkit, pamit kepada ayahnya dan berlalu untuk mengabarkan hal itu kepada istri-istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lain. Mereka pun berkata kepada Fathimah, “Kami memandangmu sedikit pun belum mencukupi apa yang kami inginkan. Kembalilah kepada Rasulullah dan sampaikan lagi kehendak kami agar beliau berlaku adil dalam permasalahan putri Abu Quhafah.”

Fathimah berkata, “Demi Allah! Aku tidak akan berbicara lagi tentang permasalahan ini kepada beliau.”

Maka istri-istri Nabi pun mengutus Zainab bintu Jahsyin. Kata ‘Aisyah, “Zainab inilah yang menyamaiku dan menyaingiku di antara mereka dalam kedudukan di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku belum pernah melihat seorang wanita pun yang paling baik agamanya daripada Zainab. Dia seorang yang bertakwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala, paling jujur dalam ucapan, paling menyambung hubungan silaturahmi, paling banyak bersedekah, paling banyak mencurahkan kemampuannya untuk bekerja lalu hasilnya ia sedekahkan serta untuk mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Kecuali satu kekurangannya, ia cepat marah (emosional) namun ia cepat pula menyadari kemarahannya tersebut dan tidak terus-menerus dalam emosinya.”

Zainab pun meminta izin masuk menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ketika itu berada dalam selimut bersama ‘Aisyah sebagaimana keadaan beliau ketika Fathimah menemuinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengizinkan. Zainab lalu mengutarakan maksud kedatangannya. Setelah itu ia mencela ‘Aisyah habis-habisan. ‘Aisyah berkata, “Aku mengamat-amati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mencari tahu apakah beliau mengizinkan aku untuk membalas. Terus-menerus Zainab melemparkan kemarahannya terhadapku hingga aku tahu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mempermasalahkan bila aku membela diri.”

Maka ‘Aisyah pun membalas perbuatan Zainab tersebut, hingga ia dapat mematahkan ucapan Zainab dan mengalahkannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun tersenyum seraya berkata, “Inilah dia putri Abu Bakr.” (Sahih, HR. al-Bukhari no. 2581 dan Muslim no. 2442, lafadz di atas adalah menurut riwayat Muslim)

Kecemburuan ini juga ada di kalangan para shahabiyyah. Al-Imam an-Nasa’i meriwayatkan dari Anas bin Malik  bahwasanya para sahabat berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, mengapa engkau tidak menikahi wanita Anshar?” Beliau menjawab,

إِنَّ فِيْهِمْ لَغِيْرَةً شَدِيْدَةً

“Pada diri mereka ada kecemburuan yang sangat.” (HR. an-Nasa’i, 6/69. Asy-Syaikh Muqbil berkata dalam ash-Shahihul Musnad [1/82], “Hadits sahih di atas syarat Muslim.”)

Cemburu Tidak Membutakan Mereka

Kisah-kisah cemburu di atas kita bawakan bukan untuk mencela istri-istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan kita katakan mereka adalah wanita-wanita yang paling mulia. Cukuplah bagi mereka kemuliaan dengan Allah subhanahu wa ta’ala memilih mereka menjadi pendamping hidup Rasul-Nya yang mulia. Seandainya ulama kita tidak membawakan kisah cemburu mereka dalam kitab-kitab yang kita warisi sampai hari ini niscaya kita pun tidak akan menyinggungnya. Namun karena pada kisah mereka ada pelajaran dan ilmu maka disampaikanlah kepada umat. Sekali lagi bukan dengan tujuan melekatkan aib pada mereka.

Jangan pula kisah mereka dijadikan dalil oleh wanita-wanita sekarang untuk membenarkan tindakan salah mereka dengan dalih cemburu. Jangan pula wanita-wanita itu menolak ucapan baik dari suami mereka yang menasihati mereka dalam masalah cemburu dengan mengatakan, “Istri-istri Rasulullah juga cemburu dan berbuat ini dan itu karena dorongan cemburunya.” Memang benar, mereka (istri-istri Rasul) cemburu dan engkau pun cemburu, namun kebaikan yang ada pada diri mereka tidak didapatkan pada dirimu….

Ketahuilah, bagaimanapun cemburu yang ada di tengah mereka, tidaklah membuat mereka menutup mata dari kebaikan yang ada pada madu mereka. Tidak pula mengantarkan mereka untuk membuat kedustaan guna menjatuhkan madu mereka.

Satu contoh, ketika peristiwa Ifk[7], Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta pendapat Zainab bintu Jahsyin radhiallahu ‘anha, salah seorang istri beliau, tentang diri ‘Aisyah radhiallahu ‘anha. Beliau berkata kepada Zainab:

مَاذَا عَلِمْتِ أَوْ رَأَيْتِ؟ فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَحْمِي سَمْعِي وَبَصَرِي، وَاللهِ مَا عَلِمْتُ إِلاَّ خَيْرًا

“Apa yang engkau ketahui tentang Aisyah dan apa pendapatmu?” Zainab menjawab, “Wahai Rasulullah, aku menjaga pendengaran dan penglihatanku, demi Allah aku tidak mengetahui darinya kecuali kebaikan.” (Sahih, HR. al-Bukhari no. 4141)

Lihatlah bagaimana kejujuran Zainab. Cemburunya kepada ‘Aisyah tidak membuatnya lupa akan kebaikan dan keutamaan ‘Aisyah. Demikian pula sebaliknya pada diri ‘Aisyah, ia pernah memuji Zainab, “Aku belum pernah melihat seorang wanita pun yang paling baik agamanya daripada Zainab. Dia seorang yang bertakwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala, paling jujur dalam ucapan, paling menyambung hubungan silaturahmi, paling banyak bersedekah, paling banyak mencurahkan kemampuannya untuk bekerja lalu hasilnya ia sedekahkan dan untuk mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala.” Padahal Zainab inilah yang menyamainya dalam kedudukan di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana yang telah disinggung di atas.

Dengarkan pula pujian ‘Aisyah terhadap Juwairiyah radhiallahu ‘anha, salah seorang Ummahatul Mukminin, “Kami tidak pernah mengetahui ada seorang wanita yang lebih besar berkahnya terhadap kaumnya daripada Juwairiyah.” (al-Istiab, 4/1805)

Pujian ini dilontarkan ‘Aisyah ketika Bani Mushthaliq, kaum Juwairiyah, dibebaskan oleh kaum muslimin dari penawanan karena pernikahan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Juwairiyah. Pujian ini dengan jujur diucapkan ‘Aisyah padahal sebelumnya ‘Aisyah cemburu kepada Juwairiyah. ‘Aisyah mengatakan, “Juwairiyah adalah wanita yang berparas elok dan manis. Setiap orang yang memandangnya pasti akan terpikat. Aku melihatnya dari balik pintu saat menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meminta tolong dalam perkara pembebasan dirinya dari status tawanan perang. Ketika itu aku tidak menyukainya karena aku tahu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan melihat keelokannya sebagaimana yang aku lihat.” (al-Isti’ab, 4/1804)

Demikian sedikit contoh dari kejadian yang ada yang menunjukkan bahwa kecemburuan tidaklah membutakan mereka dari kebenaran dan dari melihat kenyataan.

Bandingkan dengan apa yang ada pada diri wanita-wanita yang cemburu pada hari ini… Sungguh cemburu membuat mereka buta. Mereka jatuhkan kehormatan wanita yang mereka cemburui di hadapan suami mereka dan di hadapan orang lain. Bahkan mereka menempuh cara-cara yang dilarang oleh agama ini guna “menyingkirkan” wanita yang membuat panas hatinya dengan luapan api cemburu. Wallahu al-musta’an (Allah subhanahu wa ta’ala sajalah yang dimintai pertolongan).

Meredam Cemburu

Kita pasti memiliki cemburu seperti halnya istri-istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia. Namun seharusnyalah kita bersabar dengan kecemburuan yang ada pada diri kita dan berupaya meredamnya dengan kesabaran yang indah ini. (Nashihati lin Nisa’, hlm. 161).

Ketahuilah kesabaran itu termasuk buah iman kepada takdir Allah subhanahu wa ta’ala. (al-Jami’ush Shahih fil Qadar, asy-Syaikh Muqbil, hlm. 11)

Apa pun yang menimpa dan terjadi pada diri kita, semuanya tidak lepas dari ketetapan Allah subhanahu wa ta’ala dan takdir-Nya. Hendaknya kita sadari bahwasanya semua ketetapan Allah subhanahu wa ta’ala itu memiliki hikmah, dan hikmah itu terkadang bisa kita ketahui dan pada waktu lain tidak kita ketahui. Allah subhanahu wa ta’ala sekali-kali tidak berbuat zalim kepada hamba-hamba-Nya. Dia Mahatahu apa yang pantas dan baik bagi mereka, sedangkan mereka tidak mengetahui apa yang sebenarnya baik bagi diri mereka, di dunia mereka dan di akhirat mereka kelak.

Wallahu ta‘ala a‘lam bish-shawab.

Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyyah


[1] Dengan pergi ke tempat istri yang lain sementara malam ini adalah malam giliranmu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah mungkin melakukan hal tersebut tanpa izin dari Allah subhanahu wa ta’ala. (Hasyiyah al-Imam as-Sindi terhadap Sunan an-Nasa’i, 4/75)

[2] Dengan engkau menyangka bahwa aku pergi ke rumah istriku yang lain, karena itu engkau menyelidikiku. (Hasyiyah al-Imam as-Sindi terhadap Sunan an-Nasa’i, 4/72)

[3] ‘Aisyah memenuhi permintaan Hafshah karena ia sangat berkeinginan untuk melihat apa yang belum pernah ia lihat. Hal ini menunjukkan ketika dalam perjalanan, unta keduanya tidaklah berdekatan. (Fathul Bari, 9/375)

[4] Sedangkan istri beliau yang bernama Zainab bintu Khuzaimah Ummul Masakin radhiallahu ‘anha telah meninggal sebelum beliau menikah dengan Ummu Salamah radhiallahu ‘anha, demikian disebutkan Ibnu Sa’d dalam ath-Thabaqat.

[5] Namun sebenarnya dalam permasalahan cinta ini, seorang suami tidaklah dituntut untuk berlaku adil terhadap semua istrinya. Ia diperkenankan untuk mencintai salah seorang istrinya melebihi yang lain.

Ibnu Qudamah rahimahullah berkata, “Kami tidak mengetahui adanya perselisihan pendapat di kalangan ulama bahwasanya tidak wajib bagi seorang suami untuk menyamakan di antara istri-istrinya dalam masalah jima’ (senggama). Ini merupakan pendapat al-Imam Malik dan asy-Syafi’i rahimahumallah. Hal ini karena terjadinya jima’ berawal dari dorongan syahwat dan adanya kecondongan hati, serta tidak akan bisa seorang suami bersikap sama di antara istri-istrinya dalam hal ini, karena hatinya kadang lebih condong kepada salah seorang istrinya lebih dari yang lain. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَلَن تَسۡتَطِيعُوٓاْ أَن تَعۡدِلُواْ بَيۡنَ ٱلنِّسَآءِ وَلَوۡ حَرَصۡتُمۡۖ

“Kalian tidak akan mampu untuk berbuat adil di antara para istri walaupun kalian sangat ingin untuk berlaku adil.” (an-Nisa’: 129)

‘Abidah as-Silmani berkata, “Yakni kalian tidak bisa berlaku adil dalam masalah cinta dan jima’.” Namun bila seorang suami memungkinkan baginya berlaku adil dalam perkara jima’, maka itu lebih baik dan lebih utama. Adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membagi giliran di antara istri-istri beliau dan beliau berlaku adil terhadap mereka. Beliau pernah berkata, “Ya Allah, inilah pembagianku dalam apa yang aku mampu. Maka janganlah Engkau mencelaku dalam perkara yang aku tidak mampu.” (al-Mughni, 7/35)

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Tidak boleh seorang suami melebihkan salah seorang istrinya dalam pembagian. Akan tetapi bila ia mencintai salah seorang istrinya lebih dari yang lain, begitu pula ia menjima’inya lebih dari yang lain, maka tidak ada dosa atasnya dalam hal ini.” (al-Fatawa, 32/269)

[6] Mereka meminta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyamakan di antara mereka dalam masalah cinta. (Syarh Shahih Muslim, 15/205)

[7] Dalam peristiwa itu, ‘Aisyah radhiallahu ‘anha dituduh berzina dengan Shafwan ibnul Mu’aththal radhiallahu ‘anhu sekembalinya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya dari perang Bani Mushthaliq. (Mukhtashar Siratir Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, hlm. 125)

Sedekah yang Paling Utama

Sering kita mendengar, seorang wanita yang mengadu nasib ke negeri orang pulang dalam keadaan tinggal jasad, pulang dalam keadaan tubuh penuh luka karena disiksa majikannya, dan berbagai kisah pilu lainnya yang entah kapan berakhir. Kepergian para wanita itu adalah untuk mencari nafkah bagi keluarganya. Lantas di manakah suaminya? Haruskah seorang wanita menempuh risiko demikian besar untuk mencari nafkah? Tulisan berikut mencoba menguraikan bagaimana Islam mengatur permasalahan nafkah dalam keluarga.

Lanjutkan membaca Sedekah yang Paling Utama

Kekufuran Istri Berbuah Petaka

Panas setahun dihapus hujan sehari. Ungkapan ini terasa pas untuk menggambarkan bagaimana sikap kebanyakan istri terhadap suaminya. Kebaikan suami yang demikian banyak, berubah menjadi tak bernilai ketika suami berbuat salah. Sikap enggan untuk mensyukuri kebaikan suami ini termasuk penyebab mayoritas penghuni neraka adalah wanita.

  Lanjutkan membaca Kekufuran Istri Berbuah Petaka

Dalam Labuhan Lembutnya Kasihmu

Seorang suami dituntut untuk dapat bersikap lembut terhadap istrinya. Sebab, sebagaimana telah dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, istri (wanita) diibaratkan seperti tulang rusuk. Jika diluruskan dengan paksa, tulang itu akan patah. Sebaliknya, jika dibiarkan akan tetap bengkok.

Lanjutkan membaca Dalam Labuhan Lembutnya Kasihmu

Padamnya Rasa Cemburu

Cemburu, asal tidak berlebihan, merupakan salah satu sifat terpuji yang harus dimiliki pasangan suami-istri. Sayangnya, kerusakan moral atas nama modernitas telah mengikis rasa cemburu itu. Walhasil, pintu perselingkuhan pun terbuka lebar hingga berujung pada runtuhnya bangunan rumah tangga.


ghirah

Banyak kita jumpai fenomena di mana seorang suami tidak lagi merasa berat hati bila melihat istrinya keluar rumah berdandan lengkap dengan beraneka polesan make-up di wajah. Sang istri datang ke pesta, ke pusat perbelanjaan, ataupun ke tempat kerja hanya dengan pakaian ‘sekadarnya’ yang menampakkan auratnya. Tak cuma itu, keluarnya istri dari rumah pun seringkali hanya ditemani sopir pribadinya.

Hati suami seakan tak tergerak. Darahnya pun seolah tidak mendidih melihat semua itu. Justru terselip rasa bangga bila istrinya dapat tampil cantik di hadapan banyak orang. Parahnya lagi, dia tetap merasa tenang ketika ada lelaki lain yang mendekati istrinya dan berbicara dengan nada akrab. Bahkan sekali lagi dia merasa bangga bila lelaki lain itu mengagumi kecantikan istrinya.

Yang ironis, sang suami dengan semua itu, kemudian memandang dirinya sebagai seorang yang berpikiran maju, moderat, penuh pengertian, dan mengikuti perkembangan zaman. Innalillahi wa inna ilaihi raji‘un.

Kebobrokan akhlak yang sangat parah pun menimpa, tatkala ghirah itu hilang… tatkala bara cemburu itu padam… Seorang suami tidak lagi memiliki ghirah terhadap istrinya. Tidak ada rasa cemburu yang membuat dia menjaga istri dengan baik. Menyimpannya dalam istana yang mulia agar tidak terjamah tatapan mata dan sentuhan tangan yang tidak halal… Tidak ada lagi rasa cemburu di hatinya yang dapat mendorongnya untuk menjaga istrinya agar tidak melakukan hal-hal yang dilarang Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, agar tidak melakukan pelanggaran akhlak dan moral. Bahkan, dia sendiri terjerembab, jatuh dalam jurang kenistaan.

Ghirah yang Hilang

Bila kita bandingkan kenyataan yang kita dapati pada hari ini dan kisah masa lalu, maka yang terucap hanyalah kata rindu. Rindu kepada masa lalu. Betapa orang-orang dahulu begitu menjaga wanita mereka. Tidak mereka biarkan wanita mereka terlihat oleh mata-mata yang tidak halal, apalagi terkena sentuhan. Merupakan suatu aib bagi mereka bila wanita keluar rumah tanpa memakai kain penutup seluruh tubuhnya. Suatu cela bagi mereka bila ada lelaki lain berbicara dengan wanita mereka.

Mereka lazimkan wanita untuk mengenakan perhiasan rasa malu dan ‘iffah (menjaga kehormatan dan harga diri). Perbuatan seperti itu bukan sekadar tradisi dan budaya suatu masyarakat atau bangsa tertentu. Namun demikianlah yang diinginkan dalam syariat agama yang mulia ini. Dengan ghirah ini kemuliaan mereka pun tetap terjaga dan akhlak mereka terpelihara. Namun ketika ghirah ditanggalkan dan wanita dibiarkan keluar dari rumahnya tanpa rasa malu, terjadilah apa yang terjadi. Fitnah dan kerusakan moral yang tak terkira. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam jauh sebelumnya telah memperingatkan:

إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ، وَإِنَّ اللهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيْهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُوْنَ، فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ، فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيْلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ

“Sesungguhnya dunia ini manis dan hijau. Dan Allah menjadikan kalian sebagai pengatur di dalamnya dengan turun-temurun, lalu Dia melihat bagaimana kalian berbuat. Maka hati-hatilah kalian dari dunia dan hati-hatilah kalian dari wanita karena awal fitnah yang menimpa Bani Israil adalah pada wanitanya.” (Sahih, HR. Muslim no. 2742)

daun hiaju

Zaman memang telah berubah. Mayoritas manusia semakin jauh dari akhlak yang lurus. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يَأْتِي عَلَيْكُمْ زَمَانٌ إِلاَّ وَالَّذِي بَعْدَهُ شَرٌّ مِنْهُ حَتَّى تَلْقَوْا رَبَّكُمْ

“Tidak datang kepada kalian suatu zaman kecuali zaman setelahnya lebih jelek darinya (yakni dari zaman sebelumnya) hingga kalian bertemu dengan Rabb kalian.” (Sahih, HR. al-Bukhari no. 7068)

Ghirah Seorang Suami Menurut Tuntunan Islam

Di dalam agama yang mulia ini, seorang suami dituntut untuk memiliki ghirah atau rasa cemburu kepada istrinya, sehingga ia tidak menghadapkan istrinya kepada perkara yang mengikis rasa malu dan mengeluarkannya dari kemuliaan.

Sa’d bin ‘Ubadah radhiallahu ‘anhu pernah berkata dalam mengungkapkan kecemburuan terhadap istrinya:

لَوْ رَأَيْتُ رَجُلاً مَعَ امْرَأَتِي لَضَرَبْتُهُ بِالسَّيْفِ غَيْرَ مُصْفِحٍ

“Seandainya aku melihat seorang laki-laki bersama istriku niscaya aku akan memukul laki-laki itu dengan pedang (yang dimaksud bagian yang tajam, red.)…”

Mendengar penuturan Sa‘d yang sedemikian itu, tidaklah membuat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencelanya. Bahkan beliau bersabda:

أَتَعْجَبُوْنَ مِنْ غَيْرَةِ سَعْدٍ؟ لَأَنَا أَغْيَرُ مِنْهُ، وَاللهُ أَغْيَرُ مِنِّي

“Apakah kalian merasa heran dengan cemburunya Sa’d? Sungguh aku lebih cemburu daripada Sa’d, dan Allah lebih cemburu dariku.” (Sahih, HR. al-Bukhari, dalam “Kitab an-Nikah, bab al-Ghairah” dan Muslim no. 1499)

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani  rahimahullah berkata, “Dalam hadits Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma yang diriwayatkan oleh al-Imam Ahmad, Abu Dawud, dan al-Hakim disebutkan bahwa tatkala turun ayat:

وَٱلَّذِينَ يَرۡمُونَ ٱلۡمُحۡصَنَٰتِ ثُمَّ لَمۡ يَأۡتُواْ بِأَرۡبَعَةِ شُهَدَآءَ فَٱجۡلِدُوهُمۡ ثَمَٰنِينَ جَلۡدَةٗ وَلَا تَقۡبَلُواْ لَهُمۡ شَهَٰدَةً أَبَدٗاۚ

“Dan orang-orang yang menuduh wanita baik-baik berzina kemudian mereka tidak dapat menghadirkan empat saksi maka hendaklah kalian mencambuk mereka sebanyak delapan puluh cambukan dan jangan kalian terima persaksian mereka selama-lamanya.” (an-Nur: 4)

Sa‘d bin ‘Ubadah mengatakan, “Apakah demikian ayat yang turun? Seandainya aku dapatkan seorang laki-laki berada di paha istriku, apakah aku tidak boleh mengusiknya sampai aku mendatangkan empat saksi? Demi Allah, aku tidak akan mendatangkan empat saksi sementara laki-laki itu telah puas menunaikan hajatnya.”

Mendengar ucapan Sa‘d, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai sekalian orang-orang Anshar, tidakkah kalian mendengar apa yang diucapkan oleh pemimpin kalian?”

Orang-orang Anshar pun menjawab, “Wahai Rasulullah, janganlah engkau mencelanya karena dia seorang yang sangat pencemburu. Demi Allah, dia tidak ingin menikah dengan seorang wanita pun kecuali bila wanita itu masih gadis. Dan bila dia menceraikan seorang istrinya, tidak ada seorang laki-laki pun yang berani untuk menikahi bekas istrinya tersebut karena cemburunya yang sangat.”

Sa’d berkata, “Demi Allah, sungguh aku tahu, wahai Rasulullah, bahwa ayat ini benar dan datang dari sisi Allah, akan tetapi aku cuma heran.” (Fathul Bari, 9/385)

Asma’ bintu Abi Bakr ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhuma bertutur tentang dirinya dan kecemburuan suaminya,

“Az-Zubair menikahiku dalam keadaan ia tidak memiliki harta dan tidak memiliki budak. Ia tidak memiliki apa-apa kecuali hanya seekor unta dan seekor kuda. Akulah yang memberi makan dan minum kudanya. Aku yang menimbakan air untuknya dan mengadon tepung untuk membuat kue. Karena aku tidak pandai membuat kue maka tetangga-tetanggaku dari kalangan Anshar-lah yang membuatkannya. Mereka adalah wanita-wanita yang jujur. Aku yang memikul biji-bijian di atas kepalaku dari tanah milik az-Zubair yang diserahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai bagiannya. Jarak tempat tinggalku dengan tanah tersebut 2/3 farsakh[1].

Suatu hari aku datang dari tanah az-Zubair dengan memikul biji-bijian di atas kepalaku, maka aku bertemu dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta sekelompok orang dari kalangan Anshar. Beliau memanggilku, kemudian menderumkan untanya untuk memboncengkan aku di belakangnya[2].
Namun aku malu untuk berjalan bersama para lelaki dan aku teringat dengan az-Zubair dan kecemburuannya, sementara dia adalah orang yang sangat pencemburu
.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengetahui bahwa aku malu maka beliau pun berlalu. Aku kembali berjalan hingga menemui az-Zubair. Lalu kuceritakan kepadanya, ‘Tadi aku berjumpa dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan aku sedang memikul biji-bijian di atas kepalaku, ketika itu beliau disertai oleh beberapa orang sahabatnya. Beliau menderumkan untanya agar aku dapat menaikinya, namun aku malu dan aku tahu kecemburuanmu’.” (Sahih, HR. al-Bukhari no. 5224 dan Muslim no. 2182)

neraca-timpang

Bukanlah makna ghirah atau cemburu itu dengan selalu berprasangka buruk kepada istri sehingga selalu mengintainya siang dan malam guna mencari-cari kesalahannya. Allah ‘azza wa jalla berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱجۡتَنِبُواْ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعۡضَ ٱلظَّنِّ إِثۡمٞۖ

“Jauhilah oleh kalian kebanyakan dari prasangka karena sebagian prasangka itu dosa….” (al-Hujurat: 12)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيْثِ

“Hati-hati kalian dari prasangka[3] karena prasangka itu adalah pembicaraan yang paling dusta.” (Sahih, HR. al-Bukhari no. 6064 dan Muslim no. 2563)

Ghirah Menyaring Kejelekan

Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah berkata, bara dan panasnya ghirah ini akan menyaring kejelekan dan sifat tercela, sebagaimana emas dan perak dibersihkan dari kotoran yang mencampurinya. Orang-orang mulia dan tinggi harga dirinya pasti memiliki ghirah yang besar terhadap dirinya dan orang-orang yang dekat dengannya, juga terhadap orang lain secara umum. Karena itulah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling memiliki ghirah terhadap umatnya. Dan ghirah Allah ‘azza wa jalla lebih dibanding beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. (ad-Da’u wad Dawa, hlm. 106)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ أَحَدَ أَغْيَرَ مِنَ اللهِ، وَلِذَلِكَ حَرَّمَ الْفَوَاحِشَ ما ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ

“Tidak ada satu pun yang lebih ghirah daripada Allah. Karena ghirah-Nya inilah Dia mengharamkan perbuatan keji baik yang tampak maupun yang tersembunyi.” (Sahih, HR. al-Bukhari no. 5220 dan Muslim no. 2760)

Ibnul Qayyim rahimahullah juga mengatakan, “Pokok dari agama ini adalah ghirah, maka siapa yang tidak memiliki ghirah berarti ia tidak memiliki agama. Ghirah ini akan melindungi hati sehingga terlindung pula anggota badan lainnya. Tertolaklah dengannya segala perbuatan jelek dan keji. Sementara tidak adanya ghirah menyebabkan matinya hati hingga anggota badan lainnya pun ikut mati, akibatnya tidak ada penolakan terhadap perbuatan jelek dan keji.” (ad-Da’u wad Dawa, hlm. 109—110)

Awal Runtuhnya Ghirah

Hilangnya ghirah dari lubuk hati seorang insan disebabkan oleh banyak hal. Di antara sebab terbesar yang bisa kita saksikan adalah:

  1. Kebanyakan mereka berpaling dari mempelajari agama yang agung ini, yang dengannya Allah ‘azza wa jalla memuliakan kita setelah sebelumnya kita hina. Namun ketika nikmat yang agung ini disia-siakan dan manusia enggan mengikuti petunjuk Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyampaikan agama ini, mereka kembali terpuruk hina-dina di hadapan umat lainnya. Sehingga mereka merasa minder bila tidak mengikuti orang-orang kafir.

Sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, mereka terus mengikuti jejak orang-orang kafir tersebut. Dalam keadaan mereka menyangka bahwa itu adalah peradaban dan kemajuan, padahal sebenarnya hal itu adalah kehinaan dan kehancuran. Kenyataan yang demikian ini telah disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jauh sebelumnya, beliau bersabda:

لَتَتَّبِعُنَّ سُنَنَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ، شِبْرًا بِشِبْرٍ، وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ، حَتَّى لَوْ دَخَلُوْا فِي جُحْرِ ضَبٍّ لَدَخَلْتُمُوْهُ. قُلْنا: يَا رَسُوْلَ اللهُ، الْيَهُوْدُ وَالنَّصَارَى؟ قَالَ: فَمَنْ؟

“Sungguh-sungguh kalian akan mengikuti sunnah (cara hidup) orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, hingga seandainya mereka masuk ke dalam lubang dhabb (sejenis biawak), kalian pun akan memasukinya.”

Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah mereka itu orang-orang Yahudi dan Nasrani?”

Beliau menjawab, “Siapa lagi (kalau bukan mereka)?” (Sahih, HR. al-Bukhari no. 3456 dan Muslim no. 2669)

  1. Termasuk perkara yang menyebabkan hilangnya ghirah dalam dada kaum muslimin adalah banyaknya fitnah dan perubahan yang mereka terima, lalu ditelan mentah-mentah oleh hati-hati mereka sehingga menjadi bagian darinya. Akibatnya terbaliklah fitrah mereka. Dalam pandangan mereka, yang mungkar adalah ma‘ruf dan yang ma‘ruf adalah mungkar. Bila ada yang membawakan kebenaran kepada mereka sementara kebenaran itu menyelisihi kebiasaan mereka, maka mereka menganggap hal itu jumud, terbelakang, dan menghambat kemajuan. Membebaskan wanita keluar dari rumahnya dengan segenap keindahannya adalah termasuk kemajuan dalam pikiran kotor mereka.
  2. Hal lain yang membuat seorang suami menanggalkan ghirah-nya adalah persangkaannya yang keliru. Dia menyangka bahwa rasa malu dan menutup tubuh (berhijab) bagi wanita adalah bagian dari masa lalu, sehingga ketinggalan zaman bila tetap diterapkan di masa modern ini. Ia tidak ingin mengekang istrinya dengan kebiasaan yang sudah usang dimakan zaman. Bahkan ia ingin menunjukkan kepada istrinya dan kepada orang lain bahwa ia adalah seorang laki-laki yang moderat dan selalu mengikuti kemajuan.
  3. Tenggelam dalam lumpur dosa termasuk salah satu sebab padamnya api ghirah di dalam hati. Hal ini merupakan hukuman atas dosa yang diperbuat. (Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, ad-Da’u wad Dawa, hlm. 106)

Dari penjelasan yang kita dapatkan di atas, pahamlah kita bahwa ghirah dalam batasan yang diperkenankan syariat merupakan sifat yang terpuji. Dengan ghirah ini, seorang laki-laki dapat menjaga istrinya dan mahramnya yang lain dari perbuatan yang melanggar syariat Allah ‘azza wa jalla. Sebaliknya tidak adanya ghirah menyebabkan seorang suami membiarkan istrinya jatuh ke dalam lumpur noda dan dosa. Akibatnya kejelekan dan fitnah pun tersebar…

korek-api-padam

Betapa butuhnya kita untuk kembali kepada aturan syariat yang mulia ini. Betapa perlunya kita kembali menengok ke masa lalu yang sangat menjaga ghirah, masa lalu yang sarat dengan penerapan ajaran agama yang mulia ini. Dan sungguh ini adalah senandung kerinduan kepada masa lalu….

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyyah


[1] Satu farsakh kurang lebih 8 km atau 3,5 mil.

[2] Asma’ memahami demikian dari keadaan yang ditunjukkan pada waktu itu. Namun dimungkinkan pula Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin agar Asma’ naik ke unta beliau beserta bawaannya sementara beliau akan menaiki unta yang lain. (Fathul Bari, 9/390)

[3] Yang dimaksud dengan prasangka di sini, kata al-Imam an-Nawawi, adalah prasangka yang jelek. (Syarah Shahih Muslim, 16/118)