Debat dalam Urusan Agama, Jaring dan Perangkap Setan

Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman

 jaring

Renungan

Tidak henti-hentinya musibah itu datang menimpa kaum muslimin. Satu musibah disusul dengan musibah yang lain. Namun, musibah yang paling mengerikan dan yang paling menakutkan adalah musibah yang menimpa agama dan keyakinan mereka. Sebab, musibah tersebut di dunia akan mengakibatkan orang tersesat, dan kelak di akhirat mendapatkan azab dan murka Allah subhanahu wa ta’ala.

Musibah seperti tanah longsor, gunung meletus, tsunami, dan sebagainya, akan berakibat hancurnya tatanan kehidupan, rusaknya lahan, dan sandang pangan; hancurnya negeri dan hilangnya tempat tinggal, bahkan berakibat hilangnya nyawa, dan sebagainya.

Berbeda halnya apabila musibah itu menimpa agama dan keyakinan. Tidak hanya berakibat rusaknya dunia semata, tetapi juga akan merusak masa depan kita dalam kehidupan yang abadi dan kekal di akhirat.

Coba bandingkan antara dua jenis musibah tersebut mana yang lebih besar? Orang yang telah merasakan sedikit manisnya ilmu sunnah tentu akan menjawab musibah yang menimpa agamalah yang lebih besar.

Saudaraku… Betapa sering kita menemukan seseoang hidup dengan jasad yang sehat, tegar, segar, dan bugar. Namun, kenyataannya dia tidak berdaya dan tidak memiliki kemampuan untuk menggunakannya pada ketaatan di dalam hidupnya. Justru seseorang itu tampil melakukan perusakan di muka bumi dengan berbagai jenis kemaksiatan. Itulah musibah bila menimpa agama dan keyakinan.

Banyaknya tempat yang dikeramatkan, kuburan yang dianggap berkah tempat mengadukan segala urusan hidup, dan para dukun tempat mengundi nasib menjadi pusat keramaian. Itulah bila musibah menimpa agama dan keyakinan. Tersebarnya perjudian, perampokan, pembunuhan, penjarahan, perzinaan, kezaliman, pemerasan, penipuan, dan berbagai bentuk kejahatan lainnya; juga karena musibah yang menimpa agama dan keyakinan.

Kesimpulannya, segala bentuk kerusakan di daratan dan di lautan itu semua akibat musibah yang menimpa agama dan keyakinan. Sekali lagi, coba bandingkan antara dua jenis musibah tersebut dan bandingkan pula mana kerusakan yang lebih menakutkan dan mengerikan? Tentu kita akan menjawab, musibah yang menimpa agama dan keyakinan.

Yang lebih menyedihkan, pada saat musibah ini melanda kaum muslimin kita menemukan tidak adanya lagi semangat dari kaum muslimin untuk mau belajar tentang agamanya yang haq.

Banyak orang tua yang sudah tidak memiliki ghirah kepada agama untuk mencari solusi dalam semua musibah sehingga anak keturunannyalah yang harus menelan pahit akibat ulah kedua orang tuanya. Di sisi lain, seruan menuju kekufuran, penyimpangan dalam agama, dan kesesatan sangat gencar.

Melihat fenomena seperti ini, kita hanya bisa berucap, “Allahul musta’an wa ilaihil musytaka (kepada Allah subhanahu wa ta’ala kita meminta bantuan dan kepaada-Nya pula kita mengeluhkan),” sambil kita berusaha melakukan yang terbaik di dalam hidup yaitu melindungi diri dan keluarga kita sebagaimana pesan Allah subhanahu wa ta’ala di dalam al-Qur’an,

“Hai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka.” (at-Tahrim: 6)

As-Sa’di rahimahullah mengatakan di dalam tafsir beliau, “Wahai segenap orang yang telah dianugerahi Allah subhanahu wa ta’ala keimanan, bangkitlah kalian untuk melaksanakan konsekuensi dan syarat-syarat iman tersebut, menjaga diri dengan melaksanakan petuah-petuah Allah subhanahu wa ta’ala dengan mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, bertobat dari segala yang menyebabkan murka Allah subhanahu wa ta’ala dan azab-Nya; melindungi keluarga dengan cara membimbing adab mereka, mengajari dan mendidik mereka agar mau melaksanakan perintah Allah subhanahu wa ta’ala.

Seorang hamba tidaklah akan selamat kecuali dengan melaksanakan segala apa yang diperintahkan Allah subhanahu wa ta’ala atas dirinya dan pada siapa pun yang masuk dalam tanggungan hidupnya seperti istri, anak-anak, dan selain mereka.”

 

Seruan Kebatilan Sangat Gencar

Kita semua mengetahui pelopor kesesatan dan penyesatan hamba Allah subhanahu wa ta’ala, itulah iblis la’natullah yang tidak akan berhenti mengajak dan menarik hamba-hamba Allah subhanahu wa ta’ala menuju langkah dan jalannya.

“Sesungguhnya setan itu musuh kalian, maka jadikanlah mereka musuh dan setan itu menyeru pengikutnya agar menjadi penduduk neraka Sa’ir.” (Fathir: 6)

Dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu, ia berkata,

خَطَّ لَنَا رَسُولُ اللهِ خَطًّا وَقَالَ: هَذَا سَبِيلُ اللهِ. ثُمَّ خَطَّ خُطُوطًا عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ يَسَارِهِ وَقَالَ: هَذِهِ سُبُلٌ عَلَى كُلِّ سَبِيلٍ شَيْطَانٌ يَدْعُو إِلَيْهِ

“Rasululah telah menggaris satu garisan lalu berkata, ‘Ini adalah jalan Allah subhanahu wa ta’ala.’ Lalu beliau membuat garis yang banyak dari kanan dan kiri lalu berkata, ‘Ini adalah jalan-jalan, yang setiap dari jalan tersebut setan menyeru kepadanya’.” ( HR. Ahmad 3928, dan dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh Albani dalam takhrij beliau terhadap kitab Syarah al-‘Aqidah ath-Thahawiyah karya Ibnu Abil ‘Izzi)

وَإِنِّي خَلَقْتُ عِبَادِي حُنَفَاءَ كُلَّهُمْ وَإِنَّهُمْ أَتَتْهُمْ الشَّيَاطِينُ فَاجْتَالَتْهُمْ عَنْ دِينِهِمْ وَحَرَّمَتْ عَلَيْهِمْ مَا أَحْلَلْتُ لَهُمْ وَأَمَرَتْهُمْ أَنْ يُشْرِكُوا بِي مَا لَمْ أُنْزِلْ بِهِ سُلْطَانًا.

“Sesungguhnya Aku telah menciptakan para hamba-Ku dalam keadaan lurus semua, lalu setan mendatangi mereka dan setelah itu memalingkan mereka dari agama mereka. Mengharamkan bagi mereka apa yang aku telah halalkan dan memerintahkan mereka untuk menyekutukan-Ku yang Aku tidak pernah menurunkan bukti (pembenaran)nya.” (HR. Muslim no. 5109)

Dengan ajakan dan seruan ini, tidak sedikit hamba Allah subhanahu wa ta’ala memenuhinya, bahkan mayoritas mereka menyambutnya, berjalan di atas langkah-langkahnya sekaligus menjadi penyeru dan pelaris dagangan iblis di tengah umat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri telah menyinyalir hal ini dan menjelaskannya melalui sabda beliau sebagaimana dalam hadits iftiraqul ummah,

أَلَا إِنَّ مَنْ قَبْلَكُمْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ افْتَرَقُوا عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً وَإِنَّ هَذِهِ الْمِلَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ، ثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ، وَهِيَ الْجَمَاعَةُ

 وَإِنَّهُ سَيَخْرُجُ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ تَجَارَى بِهِمْ تِلْكَ الْأَهْوَاءُ كَمَا يَتَجَارَى الْكَلبُ لِصَاحِبِهِ لَا يَبْقَى مِنْهُ عِرْقٌ وَلَا مَفْصَلٌ إِلاَّ دَخَلَهُ

“Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kalian dari ahli kitab telah terpecah menjadi 72 sekte. Umat ini akan terpecah menjadi 73 aliran, 72 golongan berada di dalam neraka dan satu di dalam surga. Itulah al-jama’ah.

Sesungguhnya akan keluar dari umatku kaum yang penyakit hawa nafsu telah berjangkit pada diri mereka sebagaimana penyakit rabies menjangkiti seseorang sehingga tidak tersisa satu urat dan persendian pun melainkan akan dimasukinya.” (Shahihul Jami’ no. 2641 dari Mu’awiyah radhiallahu ‘anhu)

Saudaraku…

  1. Coba bandingkan antara 72 golongan yang tersesat dan 1 yang selamat, berarti mayoritas umat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berada dalam kesesatan.
  2. Setiap muncul seruan kebatilan dan kesesatan bahkan seruan kekafiran, selalu membawa para pengikut dan anak buah.
  3. Para penyeru dan para pecundang kebatilan itu dalam setiap masa selalu berada pada label yang paling tinggi dan dalam papan teratas.
  4. Kendatipun demikian akan tetap ada para pejuang kebenaran serta orang-orang yang menolak ajakan dan seruan iblis dan balatentaranya, dan jumlah mereka sangatlah sedikit.
  5. Mahalnya keselamatan dari musibah yang menimpa agama dan keyakinan, karena itu dengan hidayah dan taufik dari Allah subhanahu wa ta’ala. Tanpa itu, seseorang tidak akan bisa menyelamatkan dirinya dari banyaknya seruan kesesatan dan kekufuran, serta tidak mungkin akan bisa melepaskan diri bila telah terjaring dalam perangkap kebatilan.
  6. Musuh kebenaran sepanjang masa sangatlah banyak, sehingga ahlul haq dituntut untuk selalu menenteng “senjata” dalam hidup, dan tidak ada senjata yang paling ampuh sesungguhnya melainkan ilmu agama.

Gencarnya seruan menuju kebatilan dan kekufuran, serta lemahnya pertahanan kaum muslimin untuk menangkal ajakan mereka, mendorong kita untuk berusaha mencari jalan keselamatan dan berusaha menggabungkan diri dalam satu golongan yang selamat sebagaimana dalam hadits di atas.

Golongan yang selamat itu adalah golongan yang meniti jejak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan jalan para sahabat beliau dalam beragama—mengilmui dan mengamalkannya.

 

Perangkap-Perangkap Kebatilan

Saudaraku, kebatilan itu sangat bertentangan dengan fitrah manusia yang suci dan lurus sebagaimana sebelumnya bertentangan dengan kitab suci al-Qur’an dan as-Sunnah yang sahihah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu kenapa kebatilan tersebut mudah dan gampang diterima oleh kaum muslimin? Ada beberapa sisi yang perlu dikoreksi dalam hal ini.

Kemungkinan orang tersebut jahil, tidak mengetahui tentang kebenaran agamanya, sehingga dengan mudah dan gampang terbelenggu oleh jejaring kesesatan tersebut.

Sangat licinnya pelaris kesesatan tersebut sehingga gampang dan mudah kaum muslimin terpeleset dan terjebak di dalam pusarannya.

Kamuflase para penyeru kesesatan tersebut di hadapan kaum muslimin dengan penampilan yang sangat heroik, sehingga banyak kaum muslimin teperdaya padahal mereka itu tak ubahnya singa yang siap menerkam mangsanya.

Mereka membalik kenyataan sesungguhnya, sehingga tidak mengherankan jika kebenaran berubah menjadi kebatilan dan kebatilan menjadi kebenaran. Mereka mencitrakan ahlul haq seolah-olah tidak bisa diterima oleh fitrah banyak orang, bertentangan dengan adat-istiadat yang berlaku, tidak bisa diterima oleh akal, serta dianggap asing dari masyarakat.

Berbicara tentang perangkap kesesatan, sesungguhnya ahlul batil memiliki perangkap yang banyak, jitu dan bagus, karena mereka memiliki ilmu tentang hal itu. Mereka terdidik dalam madrasah yang sangat istimewa, yaitu madrasah kedustaan, penipuan, pengaburan, dan pemutarbalikan fakta.

Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah menjelaskan, “Hizbiyah ini dibangun dan didirikan di atas kedustaan, penipuan, pengaburan, dan pemutarbalikan fakta. Ahli ilmu wajib membongkar kedok mereka dan memperingatkan kaum muslimin darinya. Sungguh, hizbiyah itu telah merusak pemuda kaum muslimin dan menyia-nyiakan umur mereka, mencabik-cabik persatuan mereka sehingga menjadi bersekte-sekte dan berkelompok-kelompok. Hizbiyah telah menyibukkan mereka dari menghadapi lawan mereka.” (Risalah an-Nushhul Amin, hlm. 19)

Berdasarkan ucapan beliau, jelas bahwa ahli kebatilan memiliki ranjau yang mematikan dan perangkap yang jitu serta penjaring yang kuat dan berbahaya. Ada empat perangkap untuk mengelabui mangsa lalu menjebaknya dalam kail maut mereka. Mereka siap berdusta kendati berdusta itu hukumnya haram dalam agama. Mereka menempuh jalan berdusta untuk melariskan kesesatan mereka.

Padahal kita tidak mengetahui agama membolehkan dusta kecuali pada tiga kondisi:

  1. Saat ingin mendamaikan dua orang yang berselisih;
  2. Ucapan seorang suami kepada istrinya atau sebaliknya untuk menumbuhkan keridhaannya;
  3. Ketika dalam peperangan; sebagaimana dijelaskan oleh riwayat al-Imam al-Bukhari dan Muslim serta selain keduanya.

Ringkasnya, mereka menempuh segala cara untuk menebar kesesatan kendati harus menempuh langkah-langkah kaum Yahudi dan Nasrani yang sudah jelas diharamkan di dalam agama atau menempuh langkah-langkah iblis la’natullah ‘alaih.

 

Menempuh Langkah Jidal (Debat)

Perdebatan dalam agama ada dua macam:

 

  1. Yang dibolehkan, bahkan disyariatkan.

Hal ini apabila debat tersebut dilakukan dengan niat untuk mencari kebenaran, dan tentang hal-hal yang bisa diketahui kebenarannya melalui perdebatan.

Jadi, perdebatan tersebut bukan tentang hal-hal gaib yang seseorang tidak mengetahuinya selain dengan menerima berita dari wahyu, bukan pula tentang hal-hal yang tidak perlu diperdebatkan.

Selain itu, perdebatan tersebut harus dilakukan dengan adab yang baik.

 

  1. Yang dilarang.

Debat yang dilarang ialah yang tidak memenuhi syarat-syarat di atas. Contohnya, berdebat hanya untuk mempertahankan pendapat, mencari kemenangan, membuat keraguan, atau dalam urusan gaib yang tidak bisa diketahui kebenarannya melalui perdebatan.

Salah satu langkah yang ditempuh oleh para pengusung kesesatan guna memperkenalkan dan melariskan kesesatannya adalah melakukan perdebatan jenis yang kedua.

Mereka tidak segan mendatangi ahlul haq untuk mendebatnya dengan cara yang sangat licin dan licik. Mereka melakukannya untuk menebar bara kerusakan di tengah kaum muslimin dan memancing orang yang lemah hatinya terseret pada kesesatan mereka.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ أَبْغَضَ الرِّجَالِ إِلَى اللهِ الْأَلَدُّ الْخَصِمُ

“Orang yang paling sangat dibenci oleh Allah subhanahu wa ta’ala adalah seseorang yang sangat keras membantah (berdebat).” (HR. al-Bukhari no. 2277 dan Muslim no. 4821 dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha)

مَا ضَلَّ قَوْمٌ بَعْدَ هُدًى كَانُوا عَلَيْهِ إِلَّا أُوتُوا الْجَدَلَ ثُمَّ تَلَا هَذِهِ الْآيَةَ: بَلْ هُمْ قَوْمٌ خَصِمُونَ.

“Tidaklah satu kaum itu tersesat setelah mereka mendapatkan hidayah kecuali mereka diberikan ilmu debat. Kemudian beliau membacakan ayat, ‘Namun mereka adalah kaum yang suka mendebat’.” (HR. Ibnu Majah no. 47 dari Abu Umamah radhiallahu ‘anhu)

Abu Bakr Muhammad bin Husain al-Ajurri rahimahullah menjelaskan, “Saat ahli ilmu dari kalangan tabi’in dan para imam muslimin setelahnya mendengar (nash yang menjelaskan tentang haramnya berdebat), mereka tidak melakukan hal itu dalam agama. Bahkan, mereka tidak mau berdialog dalam hal agama. Mereka memperingatkan kaum muslimin dari berdebat dan berdialog, serta memerintahkan mereka agar berpegang dengan sunnah dan apa yang telah ditempuh oleh para sahabat g. Inilah langkah ahlul haq, yaitu orang yang telah mendapatkan taufik Allah subhanahu wa ta’ala.” (asy-Syari’ah, hlm. 61)

Muslim bin Yasar rahimahullah berkata, “Hati-hati kalian dari berdebat. Sebab, hal itu adalah waktu kejahilan seorang alim, dan dengan cara ini setan mencari ketergelincirannya.”

Abu Qilabah rahimahullah berkata, “Jangan kalian duduk bersama ahlul ahwa’ (pengekor hawa nafsu) dan jangan berdialog bersama mereka. Sebab, saya tidak merasa aman mereka mencampakkan kalian dalam kesesatan atau mengaburkan kepada kalian urusan agama kalian yang telah menimpa mereka.”

Mu’awaiyah bin Qurrah rahimahullah berkata, “Berdebat dalam urusan agama akan membatalkan amalan-amalan.”

Sallam bin Abi Muthi’ rahimahullah bercerita, “Seorang pengikut hawa nafsu berkata kepada Ayyub as-Sikhtiyani, ‘Wahai Abu Bakr (kuniah Ayyub), saya mau bertanya kepadamu tentang satu kalimat.’ Ayyub berpaling dan hanya mengisyaratkan dengan tangannya, (tidak berbicara sedikit pun) walaupun setengah kalimat.”

Yahya bin Sa’id berkata, “Umar bin Abdul ‘Aziz berucap, ‘Barang siapa menjadikan agamanya sebagai ajang perdebatan, dia akan sering berpindah (keyakinan)’.”

Hisyam bin Hassan berkata, “Seseorang mendatangi al-Hasan lalu berkata, ‘Wahai Abu Sa’id, kemarilah, saya mau mendebatmu dalam urusan agama.’ Al-Hasan berkata, ‘Adapun saya telah berilmu tentang agamaku. Jika kamu tersesat, carilah agamamu’.”

Isma’il bin Kharijah bercerita, “Dua orang dari kalangan pengikut hawa nafsu menemui Muhammad bin Sirin, lalu berkata, ‘Wahai Abu Bakr, kami akan menyampaikan kepadamu satu hadits.’ Beliau menjawab, ‘Tidak.’ ‘Kalau begitu kami bacakan kepada Anda satu ayat dari kitabullah?’ Beliau tetap menjawab, ‘Tidak. Menyingkirlah kalian dariku atau aku yang akan pergi’.”

Sufyan bin ‘Amr bin Qais berkata, “Saya berkata kepada al-Hakam, ‘Dengan apa seseorang itu cepat terjatuh dalam kubangan hawa nafsu?’ Beliau menjawab, ‘Berdebat’.” (Lihat asy-Syari’ah karya al-Imam Ajurri bab “Dzammul Jidal Wal Khushumat Fiddin”)

Saudaraku, apabila kita nukilkan ucapan salafus shalih tentang peringatan keras mereka dari berdebat dalam urusan agama, niscaya tidak akan cukup ruangan ini,

مَا لَا يُدْرَكُ كُلُّهُ لاَ يُتْرَكُ جُلُّهُ

“Apa yang tidak bisa diraih semuanya, tidak ditinggal mayoritasnya.”

Alhamdulillah, ahlul haq sepanjang masa tidak berhenti memperingatkan umat tentang bahaya sebuah kesesatan dan para pengusungnya.

Mereka adalah bala tentara yang dipersiapkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala untuk menjaga dan melindungi agama-Nya.

Mereka tetap menyuarakan kebenaran di mana pun mereka berada, dan mengingkari kebatilan bagaimanapun risikonya.

Mereka tidak gentar dan takut terhadap caci makian orang. Tidak pula mereka mundur karena banyaknya orang yang memusuhi dan menyelisihi mereka.

لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِينَ عَلَى الْحَقِّ لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللهِ وَهُمْ كَذَلِكَ.

“Akan terus ada sekelompok kecil dari umatku memperjuangkan alhaq, yang tidak akan membahayakan mereka siapa pun yang menghinakan dan menyelisihi mereka sampai datang keputusan Allah subhanahu wa ta’ala dan mereka tetap berada di atas kondisi itu.”

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan kita termasuk barisan pembela agama-Nya yang diliputi oleh berkah dan membangkitkan kita dalam barisan mereka yang mendapatkan jaminan ridha Allah subhanahu wa ta’ala dan surganya. Amin.