(bagian ke-2)

 Siapakah Setan Itu?

Syaitan (setan, Ind.) dalam bahasa Arab adalah pecahan dari kata; شَطَن (jauh), karena (tabiatnya) jauh dari tabiat manusia dan jauh pula dari semua kebaikan, karena kefasikannya.

Ada juga yang berpendapat bahwa syaitan dari kata شَاطَ, karena diciptakan dari api.

Al-Imam Sibawaih menukil bahwa orang Arab mengatakan, تَشَيْطَنَ فُلَانٌ (Si Fulan kesetanan) jika dia melakukan perbuatan syaitan (kejahatan).

Karena itulah, orang-orang Arab menamakan semua yang jahat—baik manusia, jin, maupun binatang—adalah syaitan.

Iblis juga makhluk ciptaan Allah ‘azza wa jalla dan termasuk kalangan jin; bahkan dia adalah nenek moyang para jin.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَإِذۡ قُلۡنَا لِلۡمَلَٰٓئِكَةِ ٱسۡجُدُواْ لِأٓدَمَ فَسَجَدُوٓاْ إِلَّآ إِبۡلِيسَ كَانَ مِنَ ٱلۡجِنِّ فَفَسَقَ عَنۡ أَمۡرِ رَبِّهِۦٓۗ أَفَتَتَّخِذُونَهُۥ وَذُرِّيَّتَهُۥٓ أَوۡلِيَآءَ مِن دُونِي وَهُمۡ لَكُمۡ عَدُوُّۢۚ بِئۡسَ لِلظَّٰلِمِينَ بَدَلٗا ٥٠

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para Malaikat, “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Rabbnya. Patutkah kamu mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (dari Allah) bagi orang-orang yang zalim. (al-Kahfi: 50)

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَكَذَٰلِكَ جَعَلۡنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوّٗا شَيَٰطِينَ ٱلۡإِنسِ وَٱلۡجِنِّ يُوحِي بَعۡضُهُمۡ إِلَىٰ بَعۡضٖ زُخۡرُفَ ٱلۡقَوۡلِ غُرُورٗاۚ

“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia).” (alAn’am: 112)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَا أَبَا ذَرٍّ، تَعَوَّذْ بِاللهِ مِن شَيَاطِيْنِ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ، فَقُلْتُ: أَوَ لِلْإنْسِ شَيَاطِيْنُ؟ قَالَ: نَعَمْ.

“Hai Abu Dzar, berlindunglah kepada Allah dari syaitan manusia dan jin.”

Aku bertanya, “Apakah pada manusia ada syaitannya?”

“Ya,” kata beliau.

Dalam Shahih Muslim, dari Abu Dzar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَقْطَعُ الصَّلَاةَ الْمَرْأَةُ، وَالْحِمَارُ، وَالْكَلْبُ الْأَسْوَدُ. فَقُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، مَا بَالُ الْكَلْبِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْأَحْمَرِ وَالْأَصْفَرِ؟ فَقَالَ: الْكَلْبُ الْأَسْوَدُ شَيْطَانٌ.

“(Yang dapat) memutuskan shalat (ialah) wanita, keledai, dan anjing hitam.”

Aku bertanya, “Ya Rasulullah, apa urusannya anjing hitam dibandingkan yang merah dan kuning?”

Kata beliau, “Anjing hitam itu setan.” (HR. Muslim no. 510)

Syaitan adalah musuh pertama, paling utama, dan paling hebat. Paling hebat di sini, bukan karena dia tidak terkalahkan dan selalu menang, melainkan paling hebat makar, kelicikannya, dan usahanya mencelakakan manusia. Dia dan tentaranya selalu mengintai dari arah yang tidak bisa dilihat oleh manusia.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

يَٰبَنِيٓ ءَادَمَ لَا يَفۡتِنَنَّكُمُ ٱلشَّيۡطَٰنُ كَمَآ أَخۡرَجَ أَبَوَيۡكُم مِّنَ ٱلۡجَنَّةِ يَنزِعُ عَنۡهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوۡءَٰتِهِمَآۚ إِنَّهُۥ يَرَىٰكُمۡ هُوَ وَقَبِيلُهُۥ مِنۡ حَيۡثُ لَا تَرَوۡنَهُمۡۗ إِنَّا جَعَلۡنَا ٱلشَّيَٰطِينَ أَوۡلِيَآءَ لِلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ ٢٧

“Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga. Ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman.” (al-A’raf: 27)

Syaitan selalu menyertai manusia, karena berjalan pada diri manusia, di jalan darah mereka. Ketika manusia lalai, syaitan akan menyerang hatinya dan mulai meniupkan was-was untuk menyesatkan manusia tersebut.

Demikianlah yang diterangkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya,

إنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنَ ابْنِ آدَمَ مَجْرَى الدَّمِ

“Sungguh, setan itu berjalan pada anak Adam (manusia) di jalan darahnya.” (HR. al-Bukhari [2035] dan Muslim [2175] [24] dari Ummul Mukminin Shafiyyah bintu Huyai radhiallahu ‘anha)

 

Awal Permusuhan

Ketetapan Allah ‘azza wa jalla berlaku bahwasanya manusia (Adam) dipilih oleh Allah ‘azza wa jalla sebagai khalifah di muka bumi. Setelah dia tercipta sempurna sebagai manusia, Allah ‘azza wa jalla memerintahkan para malaikat sujud kepada Adam.

Para malaikat itu semuanya sujud. Mereka tahu bahwa sujud kepada sesuatu selain Allah ‘azza wa jalla adalah dosa dan pelanggaran besar. Akan tetapi, mereka pun menyadari bahwa sujud kepada Adam adalah bukti ketaatan mereka kepada Rabb yang menciptakan mereka, yaitu Allah ‘azza wa jalla.

Tidak ada yang tersisa kecuali satu makhluk. Dengan angkuhnya dia tetap tegak berdiri. Dia enggan merendahkan kepalanya sujud kepada Adam, yang sesungguhnya sujud itu adalah tanda atau bukti dia taat kepada Allah ‘azza wa jalla yang telah menciptakannya.

Allah ‘azza wa jalla berfirman menerangkan kejadian ini sekaligus mengingatkan manusia betapa besar perhatian Allah ‘azza wa jalla kepada mereka agar mereka menyadari bahwa Allah ‘azza wa jalla sesungguhnya memuliakan mereka,

وَإِذۡ قَالَ رَبُّكَ لِلۡمَلَٰٓئِكَةِ إِنِّي جَاعِلٞ فِي ٱلۡأَرۡضِ خَلِيفَةٗۖ قَالُوٓاْ أَتَجۡعَلُ فِيهَا مَن يُفۡسِدُ فِيهَا وَيَسۡفِكُ ٱلدِّمَآءَ وَنَحۡنُ نُسَبِّحُ بِحَمۡدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَۖ قَالَ إِنِّيٓ أَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُونَ ٣٠ وَعَلَّمَ ءَادَمَ ٱلۡأَسۡمَآءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمۡ عَلَى ٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ فَقَالَ أَنۢبِ‍ُٔونِي بِأَسۡمَآءِ هَٰٓؤُلَآءِ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ ٣١ قَالُواْ سُبۡحَٰنَكَ لَا عِلۡمَ لَنَآ إِلَّا مَا عَلَّمۡتَنَآۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡعَلِيمُ ٱلۡحَكِيمُ ٣٢ قَالَ يَٰٓـَٔادَمُ أَنۢبِئۡهُم بِأَسۡمَآئِهِمۡۖ فَلَمَّآ أَنۢبَأَهُم بِأَسۡمَآئِهِمۡ قَالَ أَلَمۡ أَقُل لَّكُمۡ إِنِّيٓ أَعۡلَمُ غَيۡبَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَأَعۡلَمُ مَا تُبۡدُونَ وَمَا كُنتُمۡ تَكۡتُمُونَ ٣٣ وَإِذۡ قُلۡنَا لِلۡمَلَٰٓئِكَةِ ٱسۡجُدُواْ لِأٓدَمَ فَسَجَدُوٓاْ إِلَّآ إِبۡلِيسَ أَبَىٰ وَٱسۡتَكۡبَرَ وَكَانَ مِنَ ٱلۡكَٰفِرِينَ ٣٤

Ingatlah ketika Rabbmu berfirman kepada para malaikat, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.”

Mereka berkata, “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?”

Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman, “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!”

Mereka menjawab, “Mahasuci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.”

Allah berfirman, “Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini.”

Setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman, “Bukankah sudah Kukatakan kepadamu bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?”

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir. (al-Baqarah: 30—34)

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

قَالَ يَٰٓإِبۡلِيسُ مَا لَكَ أَلَّا تَكُونَ مَعَ ٱلسَّٰجِدِينَ ٣٢

Allah berfirman, “Hai Iblis, apa sebabnya kamu tidak (ikut sujud) bersama mereka yang sujud itu?” (al-Hijr: 32)

Dalam ayat lain, Allah ‘azza wa jalla berfirman,

قَالَ يَٰٓإِبۡلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَن تَسۡجُدَ لِمَا خَلَقۡتُ بِيَدَيَّۖ أَسۡتَكۡبَرۡتَ أَمۡ كُنتَ مِنَ ٱلۡعَالِينَ ٧٥

Allah berfirman, “Hai Iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Kuciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?” (Shad: 75)

Padahal, sujud kepada Adam ‘alaihissalam adalah perintah Allah ‘azza wa jalla,

قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسۡجُدَ إِذۡ أَمَرۡتُكَۖ قَالَ أَنَا۠ خَيۡرٞ مِّنۡهُ خَلَقۡتَنِي مِن نَّارٖ وَخَلَقۡتَهُۥ مِن طِينٖ ١٢

 Allah berfirman, “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu aku menyuruhmu?” (al-A’raf: 12)

Demikianlah, dan dengarlah ketika dia dengan angkuh dan keras kepala memberi jawaban kepada Maharaja yang Telah Menciptakannya dari tidak ada menjadi ada; Yang Telah Memberinya Kehidupan dan Kekuatan; dia justru berkata,

قَالَ أَنَا۠ خَيۡرٞ مِّنۡهُ خَلَقۡتَنِي مِن نَّارٖ وَخَلَقۡتَهُۥ مِن طِينٖ ١٢

Iblis menjawab, “Aku lebih baik daripadanya; Engkau menciptakanku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.” (al-A’raf: 12)

Dalam ayat lain, Allah ‘azza wa jalla menyebutkan perkataan Iblis,

قَالَ لَمۡ أَكُن لِّأَسۡجُدَ لِبَشَرٍ خَلَقۡتَهُۥ مِن صَلۡصَٰلٖ مِّنۡ حَمَإٖ مَّسۡنُونٖ ٣٣

Iblis berkata, “Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah ciptakan dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk.” (al-Hijr: 33)

Inilah awal kebenciannya kepada Adam ‘alaihissalam. Dia merasa telah melakukan pekerjaan besar, memimpin para Malaikat langit dunia untuk memerangi makhluk-makhluk yang berbuat kerusakan di muka bumi.

Ketika Adam ‘alaihissalam masih berupa tanah liat kering seperti tembikar dan terbujur di dekat pintu surga, Iblis mendekati dan menendangnya hingga sosok Adam berbunyi, “Makhluk apakah ini?”

“Kalau kamu diberi kekuasaan terhadap diriku, aku akan menentangmu. Kalau aku yang diberi kekuasaan terhadap kamu, pasti aku menindasmu,” itulah yang terbetik dalam hatinya. Demikianlah yang disebutkan dalam riwayat yang dinukil dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Setelah Adam ‘alaihissalam sempurna sebagai manusia, dia diajari oleh Allah ‘azza wa jalla nama-nama segala sesuatu. Kemudian Allah ‘azza wa jalla memerintah para malaikat untuk bersujud sebagai penghormatan kepada Adam. Namun, Iblis menolak dan enggan untuk sujud. Dia tidak rela menghinakan diri dengan menghormati manusia yang diciptakan sesudah dia dan mendapat kedudukan demikian mulia.

Akibat penolakannya, dia dikutuk dan diusir dari barisan malaikat dan dihinakan sebagaimana dalam ayat-ayat di atas. Allah ‘azza wa jalla melaknatnya dan mengusirnya dari surga, mengubah tampilan lahiriahnya menjadi sosok yang paling buruk dan mengerikan. Begitu pula batinnya, menjadi simpanan semua kekejian, kejahatan, dan keingkaran.

 

Awal Mula Kias

Akhirnya, dendam dan permusuhan Iblis terhadap manusia tidak pernah berhenti. Dia berusaha dengan semua yang ada padanya untuk menghancurkan manusia yang menjadi sebab dia terusir dan terlaknat. Padahal, semua itu adalah kesalahannya sendiri.

Dialah pangkal semua kejahatan yang ada di dunia ini. Dia sangat pandai memanfaatkan kelemahan manusia untuk menghancurkan dan menyeret mereka ke neraka.

Makhluk yang Allah ‘azza wa jalla ciptakan dengan kun ini merasa lebih baik dan lebih mulia dari manusia yang telah diciptakan oleh Allah ‘azza wa jalla dengan kedua Tangan-Nya yang Mahamulia lagi Mahasempurna.

Itulah kesombongan, kekibiran, tidak mau mengakui kebenaran yang sudah nyata. Dia mencoba membuat analogi tetapi salah. Di mana kesalahannya?

Para ulama muslimin menguraikan kekeliruan anggapan iblis bahwa dia lebih baik dari manusia, melalui kiasnya bahwa api lebih baik daripada tanah. Kias yang dilakukan iblis ini adalah sebuah kebodohan dan kezaliman. Kesalahan kias ini dapat dilihat dari beberapa sisi, di antaranya sebagai berikut.

  1. Kias yang diutarakannya menyelisihi nash, yaitu perintah Allah ‘azza wa jalla. Sebab, Allah ‘azza wa jalla berfirman,

ٱسۡجُدُواْ لِأٓدَمَ

“Sujudlah kamu kepada Adam,” dan semua kias yang menyalahi perintah Allah ‘azza wa jalla yang sudah jelas adalah kias yang batil.

  1. Dia salah besar karena mengakuaku bahwa api lebih baik dari tanah.

Sebab, tanah itu memiliki ketenangan, keteguhan, sifat memperbaiki, menyatukan, dan sejenisnya. Engkau letakkan padanya sebutir biji gandum, maka dia akan memberimu satu bulir gandum. Engkau letakkan sebutir biji kurma, dia akan memberimu satu pokok kurma.

Adapun api, dia bersifat gegabah, ringan, memisahkan, dan merusak. Setiap Engkau letakkan padanya sesuatu, pasti dia memisahkan dan merusaknya. Dengan sifatnya yang ringan dan gegabah, beterbanganlah berbagai kejahatan dari api itu lalu membakar semua yang di dekatnya, lalu terbang ke tempat lain membakar semua yang ada di balik itu.

Dengan demikian, tanah jauh lebih baik daripada api. Sebab itu pula, tabiat yang ada dalam api ini ikut membentuk watak iblis sehingga durhaka dan membangkang perintah Rabbnya. Sebaliknya, tabiat yang ada pada tanah, membentuk pula watak Adam sehingga meskipun mudah terjatuh dalam kekeliruan, dia segera kembali dan memohon ampunan kepada Rabbnya.

  1. Seandainya api itu lebih baik dari tanah, maka belum tentu unsur asal yang membentuk sesuatu lebih utama dari wujud yang dihasilkannya.

Kenyataannya, sangat banyak benda yang rendah nilainya berasal dari unsur asal yang lebih utama atau sebaliknya. Bukan suatu keharusan bahwa benda yang tercipta dari sesuatu yang lebih baik akan lebih baik juga. Sebab, turunannya bisa jadi memiliki kekhususan dengan sesuatu yang tidak ada pada unsur asalnya.

  1. Meski manusia itu tercipta dari tanah, dia telah menerima tiupan ruh suci yang membuatnya menjadi mulia.
  2. Manusia diciptakan oleh Allah ‘azza wa jalla dengan kedua Tangan-Nya yang mulia, sebagaimana firman-Nya,

مَا مَنَعَكَ أَن تَسۡجُدَ لِمَا خَلَقۡتُ بِيَدَيَّۖ

“Apakah yang menghalangimu sujud kepada yang telah Kuciptakan dengan kedua tangan-Ku.”

Kenyataan ini saja sudah menunjukkan kelebihan Adam dari seluruh makhluk yang ada sebelumnya.

  1. Andaikata pernyataan Iblis itu diterima, maka dapat dikatakan, “Penghormatan dari pihak yang lebih utama kepada yang kurang utama bukanlah sesuatu yang harus diingkari.”[1]

Akan tetapi, seperti disebutkan dalam sebuah ungkapan bahwa tidak ada yang mengetahui nilai sebuah keutamaan selain orang-orang yang memiliki keutamaan.

Penilaian Iblis terhadap dirinya sebagai sosok yang lebih baik dan mulia berganti menjadi kehinaan. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

قَالَ فَٱخۡرُجۡ مِنۡهَا فَإِنَّكَ رَجِيمٞ ٣٤ وَإِنَّ عَلَيۡكَ ٱللَّعۡنَةَ إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلدِّينِ ٣٥

Allah berfirman, “Keluarlah dari surga, karena sesungguhnya kamu terkutuk. Dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu sampai hari kiamat.” (al-Hijr: 34-35)

Karena pembangkangan dan sikapnya yang pongah serta merasa besar, Allah ‘azza wa jalla melaknat dan mengusirnya. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

قَالَ فَٱهۡبِطۡ مِنۡهَا فَمَا يَكُونُ لَكَ أَن تَتَكَبَّرَ فِيهَا فَٱخۡرُجۡ إِنَّكَ مِنَ ٱلصَّٰغِرِينَ ١٣

Allah berfirman, “Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah. Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina.” (al-A’raf: 13)

Apakah Iblis menerima begitu saja? Tidak. Dengan menantang dia berkata sebagaimana firman Allah ‘azza wa jalla,

قَالَ أَنظِرۡنِيٓ إِلَىٰ يَوۡمِ يُبۡعَثُونَ ١٤ قَالَ إِنَّكَ مِنَ ٱلۡمُنظَرِينَ ١٥ قَالَ فَبِمَآ أَغۡوَيۡتَنِي لَأَقۡعُدَنَّ لَهُمۡ صِرَٰطَكَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ ١٦ ثُمَّ لَأٓتِيَنَّهُم مِّنۢ بَيۡنِ أَيۡدِيهِمۡ وَمِنۡ خَلۡفِهِمۡ وَعَنۡ أَيۡمَٰنِهِمۡ وَعَن شَمَآئِلِهِمۡۖ وَلَا تَجِدُ أَكۡثَرَهُمۡ شَٰكِرِينَ ١٧

Iblis menjawab, “Berikan tangguhan bagiku sampai waktu mereka dibangkitkan.”

Allah berfirman, “Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguhan.”

Iblis menjawab, “Karena Engkau telah menghukumku tersesat. Aku benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan-Mu yang lurus. Kemudian aku akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” (al-A’raf: 14-17)

Mulanya, pernyataan iblis bahwa banyak di antara manusia yang tidak bersyukur hanya sebatas dugaan (meskipun diperkuatnya dengan sumpah, sebagai sikap optimisnya). Akan tetapi, setelah berlalu masa yang panjang, sumpah itu terbukti, sebagaimana firman Allah ‘azza wa jalla,

وَلَقَدۡ صَدَّقَ عَلَيۡهِمۡ إِبۡلِيسُ ظَنَّهُۥ فَٱتَّبَعُوهُ إِلَّا فَرِيقٗا مِّنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ٢٠

“Dan sesungguhnya iblis telah dapat membuktikan kebenaran sangkaannya terhadap mereka lalu mereka mengikutinya, kecuali sebagian orang-orang yang beriman.” (Saba’: 20)

 

Beberapa Faedah

Di dalam kisah ini ada beberapa faedah, di antaranya sebagai berikut.

  1. Pelajaran berharga tentang buruknya sifat sombong, merasa besar, dan hebat dari orang lain.

Bahkan, dalam sebuah riwayat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan,

لاَ يَدْخُلُ الجَنَّةَ مَنْ كَانَ في قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّة مِنْ كِبْرٍ. فَقَالَ رَجُلٌ: إنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَناً، ونَعْلُهُ حَسَنَةً؟ قَالَ: إنَّ اللهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الجَمَالَ، الكِبْرُ: بَطَرُ الحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“Tidak akan masuk surga orang yang di hatinya masih ada sifat kibir seberat biji sawi.”

Lalu seorang sahabat berkata, “Sesungguhnya orang itu senang pakaiannya dan sandalnya bagus?”

Kata beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya Allah itu Mahaindah. Dia menyukai keindahan. Kibir ialah menolak kebenaran dan menghinakan manusia.” (HR. Muslim [no. 91 dan 147] dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu)

Ketika Iblis merasa besar dan sombong, dia menentang perintah Allah Yang telah Menciptakannya. Allah ‘azza wa jalla memberinya ganjaran berupa kehinaan, mengusirnya dari surga, dan menjauhkannya dari rahmat-Nya.

 

  1. Melalui kisah ini, tampak jelas besarnya dendam dan permusuhan Iblis terhadap manusia.

Allah ‘azza wa jalla menerangkan pula bahwa Iblis tidak serta merta menjerumuskan manusia begitu saja, tetapi dengan cara halus seakan-akan datang sebagai sosok pemberi nasihat.

Permusuhan dan dendam Iblis tidak berhenti dengan keluarnya Adam ‘alaihissalam dan istrinya dari surga, bahkan diturunkan ke dunia, tetapi berlanjut sampai hari kiamat. Demikianlah pertarungan antara yang haq dan yang batil, tidak akan berhenti sampai kiamat.

 

  1. Iblis dan para syaitan keturunannya adalah musuh manusia yang selalu berusaha mengokohkan dorongan buruk yang ada dalam diri manusia.

(Insya Allah bersambung)

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Harits


[1] Secara ringkas dari Mudzakkirah asy-Syaikh asy-Syinqithi (hlm. 269—271) dan Majmu’ Fatawa Ibni Taimiyah (15/5).