Sekelumit Akhlak Kaum Liberal

Adab dan akhlak mulia merupakan salah satu pilar utama untuk tegaknya suatu bangsa. Ia pula yang menjadi perekat hubungan dalam kehidupan bermasyarakat. Bilamana pilar utama ini tidak lagi dijunjung tinggi oleh suatu bangsa, dengan sendirinya bangsa itu akan lenyap. Hubungan di tengah-tengah masyarakat menjadi retak. Kedamaian yang sebelumnya dirasakan oleh segala lapisan masyarakat menjadi sirna.

Sebagai contoh dan perbandingan adalah apa yang dialami oleh Kisra, Raja Persia, dan Kaisar Romawi (Heraklius). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirim surat kepada keduanya mengajak mereka masuk Islam. Keduanya menolak masuk Islam. Bedanya, Kaisar Heraklius memuliakan surat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan utusannya, sedangkan Kisra sebaliknya. Ia merobek-robek surat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menghinakan utusannya. Tidak berselang lama setelah perbuatan Kisra ini, Allah ‘azza wa jalla menghinakannya dan mencabik-cabik kerajaannya hingga lenyap kekuasaannya. (ash-Sharimul Maslul hlm. 164)

Berbicara tentang adab tidak hanya yang berkaitan dengan interaksi antarsesama manusia, tetapi juga adab terhadap Allah ‘azza wa jalla Sang Pengatur jagat raya. Bahkan, adab terhadap Allah ‘azza wa jalla adalah seutama-utama adab. Manakala ini dilanggar, ancamannya adalah azab yang pedih.

Adab terhadap Allah ‘azza wa jalla terkumpul dalam memercayai seluruh berita yang datangnya dari Allah ‘azza wa jalla, melaksanakan perintah, dan menjauhi larangan-Nya.

Allah ‘azza wa jalla berfirman menyebutkan ucapan Nabi Musa dan Harun ‘alaihimassalam di hadapan Fir’aun,

إِنَّا قَدۡ أُوحِيَ إِلَيۡنَآ أَنَّ ٱلۡعَذَابَ عَلَىٰ مَن كَذَّبَ وَتَوَلَّىٰ ٤٨

“Sesungguhnya telah diwahyukan kepada kami bahwa siksa itu( ditimpakan) atas orang-orang yang mendustakan dan berpaling.” (Thaha: 48)

Maksudnya, azab semata-mata diperuntukkan bagi orang yang mendustakan ayat-ayat Allah ‘azza wa jalla dan berpaling dari menaati-Nya.

Fir’aun dan kaumnya tetap keras kepala dan menentang kebenaran yang dibawa oleh Nabi Musa dan Harun ‘alaihimassalam, padahal beragam mukjizat telah dipaparkan. Akibatnya, mereka ditenggelamkan di Laut Merah sebagai azab.

Beragam hukuman yang Allah ‘azza wa jalla timpakan kepada penentang kebenaran yang datang dari Allah ‘azza wa jalla, semestinya menjadi pelajaran. Sebab, siapa pun yang menentang kebenaran, dia akan mengalami nasib yang serupa.

Penentangan orang kafir terhadap kebijakan Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya bisa dikatakan hal yang ‘lumrah’ karena mereka tidak beriman kepada Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya. Namun, akan sangat ironis bila penentangan itu muncul dari orang yang masih mengaku sebagai muslim. Muslim tetapi bergabung dalam barisan kaum liberalis.

Sungguh, fenomena munculnya kaum liberalis di tengah umat tak bisa dipandang sebelah mata. Sebab, mereka sangat berani mengkritisi kebijakan Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya serta merendahkan nilai-nilai syariat Islam.

 

Modus Lama

Munculnya Jaringan Islam Liberal (JIL)—yang sejatinya adalah para pemuja akal, bahkan tak mustahil sekaligus menjadi jongos bayaran orang kafir—di tengah-tengah umat Islam sesungguhnya tidak mengherankan.

Dahulu juga sudah muncul kelompok yang disebut Mu’tazilah. Kelompok ini mempunyai beberapa pandangan yang sesat. Di antaranya, apabila dalil-dalil syariat (al-Qur’an dan Hadits) bertolak belakang dengan akal, mereka akan menolaknya atau berusaha menafsirkan dengan penafsiran yang sangat jauh dari kebenaran.

Dari sisi ini, orang-orang JIL ada kemiripan dengan orang-orang Mu’tazilah, bahkan lebih sesat, karena kaum JIL sudah terang-terangan melecehkan Islam dan menerjang syariat. Mereka juga menganggap seluruh agama itu sama. Hal ini memperkuat anggapan bahwa mereka adalah corong-corong orang kafir untuk mengobok-obok Islam dan muslimin.

Ya, mereka tercatat dalam sejarah sebagai pengkhianat umat. Mereka seperti kaum munafik di zaman Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjadi duri dalam daging.

 

Tidak Beda dengan Teroris

Keberadaan dan bahaya kaum JIL di tengah-tengah umat bak kaum teroris semisal ISIS. Apabila para teroris dengan aksi-aksi konyolnya telah mencoreng citra Islam dan muslimin, demikian pula orang-orang JIL dengan statemen miring mereka—berupa pelecehan terhadap syariat Islam yang membuat umat bingung. Akibat ulah para teroris dan pernyataan kaum liberal, umat berpecah-belah dan mengarah kepada konflik yang mengancam stabilitas umat dan bangsa.

Kemunculan mereka tidak memberi kontribusi apa pun bagi umat selain memunculkan sikap ragu tentang kebenaran Islam. Apabila umat telah terkotak-kotak menyikapi keberadaan mereka, jangan ditanya lagi tentang orang kafir; seperti apa kebencian mereka terhadap Islam dan muslimin. Alih-alih masuk Islam, mereka tidak memberikan statemen miring terhadap Islam itu sudah ‘mending’.

Oleh karena itu, umat Islam harus waspada dengan kaum JIL. Meski tidak frontal dengan aksi terornya seperti ISIS, namun mereka frontal dengan berbagai pernyataannya yang meneror akidah umat. Lagi pula, mereka bisa menyusup di tengah-tengah ormas, partai politik, bahkan masuk dalam lingkaran kekuasaan.

Umat tidak boleh tertipu dengan gaya intelektual dan ilmiah mereka serta gelar yang disandangnya. Sebab, sesungguhnya kebodohan mereka amat jelas bagi orang yang sedikit saja telah menimba khazanah keilmuan Islam.

 

Bodoh, Tetapi Lancang

Kaum JIL berbicara tentang Islam, namun tidak mau kembali kepada pemahaman sahabat dan pemahaman ulama Islam yang alim dan saleh. Mereka hanya menggunakan tinjauan-tinjauan akal yang dangkal. Mungkin saja mereka memosisikan akal mereka sejajar dengan wahyu syariat (al-Qur’an dan hadits), atau bahkan lebih tinggi, sehingga mereka bebas menggugat dan merendahkan wahyu.

Lihatlah bagaimana seorang dosen universitas kenamaan, UI, dengan lancangnya mengatakan bahwa hadits-hadits (Sunnah) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu menggelikan. Ia mencontohkan tentang hadits anjuran makan dan minum dengan tangan kanan. Dia berkata, “Apa salahnya makan dengan tangan kiri, dan masak sih hanya setan yang makan dengan tangan kiri?”

Ada juga di antara mereka yang mengelu-elukan komunis sebagai ideologi yang bagus. Umat tidak boleh lengah tentang bahaya mereka karena sebagian mereka adalah tokoh sentral dalam ormas keagamaan, dosen di perguruan tinggi (Islam), tokoh masyarakat, bahkan pejabat di pemerintahan.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ مِمَّا أَتَخَوَّفُ مِنْهُ عَلَى أُمَّتِي أَئِمَّةً مُضِلِّينَ

        “Sesungguhnya di antara yang saya khawatirkan atas umatku adalah para pemimpin yang menyesatkan.” (Shahih Sunan Ibnu Majah no. 3207)

Membentengi umat dari bahaya mereka lebih penting daripada berperang melawan orang kafir. Sebab, hal ini merupakan upaya untuk menjaga modal, yaitu menjaga umat Islam agar tetap kokoh di atas Islamnya dan tidak ragu tentang agamanya.

Al-Imam Yahya an-Naisaburi rahimahullah berkata, “Membela Sunnah (agama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) lebih utama dari jihad.”  (Manhaju Ahlis Sunnah fi Naqdi ar-Rijal hlm. 191)

 

Media Sekuler Mendukung JIL

Pemikiran liberal dan pemahaman sesat lainnya tidak hanya dimonopoli oleh para pengusung dan pengikutnya, tetapi mereka jajakan di tengah-tengah manusia. Mereka pun berusaha mencari mangsa.

Berangkat dari sini, umat Islam sudah semestinya memproteksi diri dengan meningkatkan kualitas ilmu dan amalannya. Kaum liberal sangat aktif menebarkan kesesatannya dengan beragam media. Bahkan, tidak sedikit media masa sekuler secara massif menampilkan dan menayangkan pemahaman-pemahaman kaum liberal.

Ada apa dengan media-media tersebut sehingga gencar menampilkan pemikiran-pemikiran liberal?

Ya, karena pernyataan JIL sangat menguntungkan orang-orang kafir dari sisi bisa melanggengkan kekufuran dan pelecehan mereka terhadap Islam yang mereka anggap sebagai musuh dan benalu.

 

Sekelumit Adab Pengusung JIL

Apabila kalbu sudah menjadi sarang pemahaman yang menyimpang dari syariat Islam, jangan Anda tanya tentang apa yang akan mencuat dari kalbu yang busuk tersebut.

Akibat ulah JIL, umat berpecah-belah, syariat dan ketentuan agama dilecehkan, dan sebagian umat Islam menjadi ragu dengan agamanya sendiri sedangkan orang kafir tetap di atas kekafirannya. Bahkan, seolah mereka menemukan jalan untuk mengolok-olok Islam dan muslimin. Ini minimalnya dampak negatif dari pemahaman liberal yang terasa di tengah-tengah umat.

Apabila demikian, lalu apa kontribusi kaum JIL untuk umat? Bisa jadi, kaum tersebut akan menjawab bahwa dengan pemahaman ini, keragaman di masyarakat akan terjaga.

Kita katakan bahwa tidak sedikit pernyataan mereka justru menimbulkan polemik di tengah-tengah umat dan mengotak-kotakkan mereka. Bahkan, kalangan nonmuslim seolah-olah menemukan alat dan mendapat energi untuk menghujat Islam serta muslimin.

Kaum JIL berlagak ingin menampilkan Islam moderat yang menurut mereka akan dihargai dan dihormati. Padahal apabila tidak buta sejarah, kita akan menemukan bahwa indahnya Islam betul-betul terwujud di tengah-tengah masyarakat yang dipimpin oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan generasi awal umat Islam yang saleh. Kala itu Islam dan muslimin betul-betul mulia dan berwibawa.

Kaum JIL mencontohkan bentuk sikap moderat mereka dengan meminta kaum muslimin untuk menghargai hak-hak nonmuslim. Di sisi lain, mereka membisu saat hak-hak muslimin dipasung oleh kalangan nonmuslim. Mereka seakanakan buta tentang Islam yang telah menjaga hak-hak binatang lebih-lebih hak manusia, tentu saja hak-hak yang tidak bertentangan dengan ketentuan agama dan aturan pemerintah yang baik.

Saat pemerintah suatu daerah yang penduduknya mayoritas muslimin menerbitkan Perda tentang larangan buka rumah makan siang hari Ramadhan untuk menghormati kaum muslimin yang sedang berpuasa, kaum JIL tanpa malu-malu meminta untuk mencabut Perda tersebut dengan dalih menjaga keragaman. Sikap moderat ala JIL ini akan berbeda bila kondisi muslimin menjadi minoritas dan hak-hak mereka dipasung oleh mayoritas yang nonmuslim.

 

Berikut ini beberapa akhlak kaum JIL selain yang telah disinggung di atas.

 

  1. Mengkritisi Kebijakan Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya

Prinsip “bebas berpikir, berpendapat, dan berekspresi” yang dianut oleh JIL telah merusak tatanan hidup beragama dan bermasyarakat. Dengan prinsip tersebut, seseorang bisa saja menuduh Allah ‘azza wa jalla tidak adil atau ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah tidak lagi relevan.

Dengan prinsip ini, orang bisa saja menabrak norma-norma kesopanan masyarakat. Akhirnya seseorang menjadi tidak tahu kadar dirinya dan sombong. Dia lupa bahwa dirinya adalah makhluk yang diatur, sedangkan Allah ‘azza wa jalla adalah Dzat Yang Maha mengatur.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

          وَمَا كَانَ لِمُؤۡمِنٖ وَلَا مُؤۡمِنَةٍ إِذَا قَضَى ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥٓ أَمۡرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ ٱلۡخِيَرَةُ مِنۡ أَمۡرِهِمۡۗ وَمَن يَعۡصِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدۡ ضَلَّ ضَلَٰلٗا مُّبِينٗا ٣٦

        “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin ,apabila Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan ,akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Barang siapa mendurhakai Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya, sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (al-Ahzab: 36)

 

Di antara hasil produk prinsip di atas, website Islam liberal memuat ucapan Moeslim Abdurrahman yang mengatakan, “Kalau syariat Islam diterapkan, maka yang jadi korban pertama adalah perempuan.”

Ucapan ini tentu mengandung konsekuensi bahwa Allah ‘azza wa jalla itu zalim, padahal Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَلَا يَظۡلِمُ رَبُّكَ أَحَدٗا ٤٩

“Dan Rabbmu tidak menganiaya seorang pun.” (al-Kahfi: 49)

Ada pula tokoh JIL perempuan yang mengatakan bahwa poligami tidak sah, waris laki-laki dan perempuan sama. Kaum JIL tidak tahu atau pura-pura tidak tahu bahwa Allah ‘azza wa jalla Dzat Yang Maha Penyayang terhadap hamba-Nya.

Tidaklah Allah ‘azza wa jalla menentukan sesuatu kecuali karena sifat adil dan bijak yang ada pada-Nya. Allah ‘azza wa jalla lebih tahu kemaslahatan hamba daripada diri hamba sendiri. Mereka tidak tahu bahwa Islamlah yang mengangkat harkat dan martabat wanita yang sebelumnya dipasung oleh adat istiadat jahiliah.

Ketika umat dibuat heboh dengan munculnya karikatur Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memakai serban dengan bom di tangan, kaum JIL berpandangan bahwa karikatur seperti itu adalah lumrah, karena itu adalah karya seni. Padahal masalahnya bukan hanya haramnya menggambar makhluk bernyawa, lebih dari itu adanya pesan yang terkandung bahwa Islam datang membawa teror dan Nabi Islam sang penebar teror.

Apabila kaum JIL beralasan bahwa karikatur tersebut sebagai reaksi balik atas banyaknya aksi-aksi teror kaum teroris, hal itu juga tidak bisa diterima. Sebab, aksi kaum teroris tidaklah mewakili ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi justru bertentangan.

 

  1. Menghalalkan yang Haram

Ini tentu saja sebuah bentuk kekufuran, apa pun alasannya. Lebih-lebih apabila yang haram itu justru dikampanyekan sebagai sesuatu yang lumrah. Misalnya, mereka memandang bolehnya homoseks, lesbi, dan kawin sesama jenis.

Dalam sebuah diskusi, tokoh perempuan JIL, Siti Musdah Mulia, mengeluarkan pernyataan, “Homoseksual dan homoseksualitas adalah kelaziman dan dibuat oleh Tuhan, dengan begitu diizinkan juga dalam agama Islam.”

Begitu jauh melencengnya kaum tersebut, tidak cukup menisbatkan halalnya homoseks kepada pendapat mereka, tetapi menisbatkannya kepada Islam!

Datangkan dalil dari al-Qur’an dan hadits tentang bolehnya homoseks, wahai kaum JIL!

Dalam al-Kabair (hlm. 90) al-Imam adz-Dzahabi rahimahullah berkata, “Allah ‘azza wa jalla telah menceritakan kepada kita kisah kaum Luth (kaum yang kebiasaannya melakukan homoseks) pada banyak ayat al-Qur’an dan bahwa Dia ‘azza wa jalla membinasakan mereka karena perbuatan mereka yang jelek.”

Kaum muslimin dari seluruh golongan telah sepakat bahwa homoseks termasuk dosa besar.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

          أَتَأۡتُونَ ٱلذُّكۡرَانَ مِنَ ٱلۡعَٰلَمِينَ ١٦٥ وَتَذَرُونَ مَا خَلَقَ لَكُمۡ رَبُّكُم مِّنۡ أَزۡوَٰجِكُمۚ بَلۡ أَنتُمۡ قَوۡمٌ عَادُونَ ١٦٦

        “Mengapa kamu mendatangi jenis lelaki di antara manusia dan kamu tinggalkan istri-istri yang dijadikan oleh Rabbmu untukmu? Bahkan, kalian adalah orang-orang yang melampaui batas.” (asy-Syu’ara: 165—166)

Jangan disangka bahwa kaum Luth diazab karena kekafirannya saja. Karena di samping mereka kafir mereka melakukan perbuatan yang sangat keji ini sehingga azab yang ditimpakan kepada mereka sangat mengerikan. Jangan pula ada yang menyangka bahwa itu hanya dilarang di zaman Nabi Luth saja, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اقْتُلُوا الْفَاعِلَ وَالْمَفْعُولَ بِهِ

“Bunuhlah pelaku (homoseks) dan objeknya.” ( HR . Abu Dawud, at- Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

Kalau kaum JIL mengatakan bahwa efek homoseks tidak seperti zina, dari sisi hamil di luar nikah dan perasaan malu di tengah masyarakat, sehingga dibolehkan; kita katakan, cara pandang yang seperti itu sangat keliru. Sebab, apa pun yang diharamkan agama tetap haram dan homoseks merupakan seks yang menyimpang yang menyelisihi kodrat yang akan memunculkan banyak kemudaratan.

Kalau mereka mengatakan bahwa itu adalah anugerah Tuhan, kita katakan bahwa Allah ‘azza wa jalla tidak meridhai kemaksiatan. Benar bahwa Allah ‘azza wa jalla yang mencipta kebaikan dan kejelekan, namun Allah ‘azza wa jalla juga memberi kemampuan kepada manusia untuk memilih jalan kebaikan atau keburukan. Kalau dalih mereka dibenarkan, siapa pun yang berbuat maksiat seperti mencuri, korupsi, dsb., bisa berdalih bahwa ini adalah anugerah Tuhan. Akal sehat mana yang bisa menerima?

 

  1. Mengolok-Olok Orang yang Mengamalkan Agama

Termasuk ciri-ciri munafik adalah menggembosi orang-orang yang beramal kebaikan. Tidak mendukung kebaikan, tetapi malah mencela. Tidak menambal yang bolong, tetapi justru merusak.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

          وَمِنۡهُم مَّن يَلۡمِزُكَ فِي ٱلصَّدَقَٰتِ

        “Dan di antara mereka ada orang yang mencelamu tentang (distribusi) zakat.” (at-Taubah: 58)

Muhammad Guntur Romli berkata, “Pramugari Garuda kan gak pake jilbab, kok rajin shalat ya? Kan jadi aneh ya, gak jilbab juga shalihah? Gak jilbab juga banyak rajin shalat.”

Dia juga berkata, “Lucu juga orang kota, liat pramugari pesawat Garuda shalat di pesawat jd berita berhari2.”

Kita katakan, apakah kalau orang tidak berjilbab harus tidak shalat, padahal dua-duanya adalah kewajiban agama? Wanita yang keluar rumah dan tidak berjilbab/berhijab, dia telah meninggalkan satu kewajiban. Tentu lebih jelek lagi apabila dia juga tidak shalat tanpa ada alasan.

 

  1. Ingin Mengubah-Ubah Ketentuan Allah

Sebagian kaum JIL mengusulkan agar pelaksanaan ibadah haji bisa diselesaikan pada salah satu dari tiga bulan-bulan haji, yaitu Syawal, Dzulqa’dah, dan Dzulhijjah, bukan hanya 8—13 Dzulhijjah saja. Hal ini adalah bentuk mengubah waktu-waktu haji yang telah ditentukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sekiranya mereka beralasan bahwa itu untuk menghindari jatuhnya korban berdesak-desakan di Mina (jamarat), kita katakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih sayang kepada umatnya daripada mereka. Ibadah haji sudah ada ketentuannya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga tidak perlu diubah-ubah.

Seharusnya, yang dipikirkan adalah teknik agar jamaah haji terhindar dari berdesak-desakan yang membahayakan; bukan mengubah-ubah syariat yang sudah ada ketentuannya dalam agama.

 

Demikian sekelumit sikap mereka yang nyeleneh. Apabila disimpulkan, prinsip bebas berpendapat dijadikan alat untuk menumbangkan sendi-sendi akidah dan moralitas.

Hal ini jauh berbeda dengan muslim yang taat kepada Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya; mereka siap menjalankan perintah agama, meninggalkan larangan-Nya, dan memercayai berita-berita syariat.

Seorang muslim mengetahui kadar dirinya sebagai hamba yang diatur, sedangkan Allah ‘azza wa jalla adalahg Dzat Yang Mengatur. Seorang muslim tidak akan protes dan menentang kebijakan Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya.

Wallahu a’lam bish-shawab.

 Ditulis oleh al-Ustadz Abdul Mu’thi Sutarman, Lc

Prinsip Agung Antiliberalisme

Berikut ini beberapa prinsip agung dalam agama ini. Kami sebutkan dengan ringkas guna membentengi muslimin dari pengaruh paham liberalisme.

 

  1. Kebenaran Berasal dari Allah ‘azza wa jalla

Salah satu prinsip yang sangat agung adalah bahwa kebenaran itu datang dari Allah ‘azza wa jalla . Allah ‘azza wa jalla berfirman,

ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكَ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡمُمۡتَرِينَ ١٤٧

“Kebenaran itu adalah dari Rabbmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.” (al-Baqarah: 147)

وَقُلِ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكُمۡۖ

Dan katakanlah, “Kebenaran itu datangnya dari Rabbmu.” (al-Kahfi: 29)

 

Ibnu Katsir rahimahullah menerangkan bahwa Allah ‘azza wa jalla berfirman kepada Rasul-Nya, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Dan katakan, wahai Muhammad, kepada manusia,‘Inilah yang aku bawa dari Rabb kalian, itulah yang benar yaitu yang tiada keraguan padanya…’.” ( Tafsir al-Qur’anil al-Azhim, 3/86)

Salah satu asmaul husna adalah al-Haq (Yang Mahabenar), maka ucapannya benar, perbuatan-Nya benar, perjumpaan dengan-Nya benar, para rasul-Nya benar, kitab-kitab-Nya benar, agama-Nyalah yang benar, ibadah kepada-Nya satu-satu-Nya tiada sekutu bagi-Nya itulah yang benar, dan segala sesuatu yang dinisbatkan kepada-Nya itu benar.” (Tafsir as-Sa’di hlm. 949 bagian “Ushul wa Kulliyat”)

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya, Allah Mahabenar, Kajian ucapan-Nya benar, agama-Nya benar, kebenaran adalah sifat-Nya, kebenaran dari-Nya dan untuk-Nya.” (Madarijus Salikin 2/333)

 

Jadi, dari Allah ‘azza wa jalla-lah kebenaran. Kebenaran bukan sesuatu yang nisbi atau relatif hingga setiap orang bisa mengklaimnya, seperti yang dikatakan oleh JIL dan para pengagumnya.

Kebenaran bukan pula diambil dari kitab ‘tidak suci’ atau ajaran-ajaran selain Islam yang Allah ‘azza wa jalla turunkan.

Bukan pula Islam sebagai “nilai generis” yang bisa ada di Kristen, Hindu, Konghucu, Yahudi, Taoisme, agama dan kepercayaan lokal, bahkan bisa ada dalam filsafat Marxisme, seperti kata Cak Nur dan orang sejenisnya, seperti Ulil Abshar Abdalla.

 

  1. Jalan Kebenaran Hanya Satu

Jalan kebenaran yang akan menyampaikan kepada Allah ‘azza wa jalla hakikatnya hanya satu. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَأَنَّ هَٰذَا صِرَٰطِي مُسۡتَقِيمٗا فَٱتَّبِعُوهُۖ وَلَا تَتَّبِعُواْ ٱلسُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمۡ عَن سَبِيلِهِۦۚ ذَٰلِكُمۡ وَصَّىٰكُم بِهِۦ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ ١٥٣

        “Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia. Janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah ‘azza wa jalla kepadamu agar kamu bertakwa.” (al-An’am: 153)

 

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Allah ‘azza wa jalla menyebutkan kata sabil (jalan-Nya) dengan bentuk tunggal karena kebenaran hanya satu. Oleh karena itu, Allah ‘azza wa jalla menyebut jalan lain dengan bentuk jamak (jalan-jalan) karena bercabang-cabang dan berpencar-pencar.”

 

Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata,

خَطَّ رَسُولُ اللهِ خَطًّا بِيَدِهِ ثُمَّ قَالَ: هَذَا سَبِيلُ اللهِ مُسْتَقِيمًا. قَالَ: ثُمَّ خَطَّ خُطُوطًا عَنْ يَمِينِهِ وَشِمَالِهِ ثُمَّ قَالَ: هَذِهِ السُّبُلُ لَيْسَ مِنْهَا سَبِيلٌ إِلاَّ عَلَيْهِ شَيْطَانٌ يَدْعُو إِلَيْهِ؛ ثُمَّ قَرَأَ:

وَأَنَّ هَٰذَا صِرَٰطِي مُسۡتَقِيمٗا فَٱتَّبِعُوهُۖ وَلَا تَتَّبِعُواْ ٱلسُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمۡ عَن سَبِيلِهِۦۚ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggariskan sebuah garis untuk kami lalu mengatakan, ‘Ini adalah jalan Allah ‘azza wa jalla.’

Beliau membuat garis-garis di kanan-kirinya kemudian berkata, ‘Ini adalah jalan-jalan (lain) yang disetiap jalan ada setan yang menyeru kepadanya.’ Lalu beliau membaca ayat, ‘Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain).’ (al-An’am: 153).” (Sahih, HR. Ahmad dan yang lain, dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam kitab Zhilalul Jannah no.16 & 17 hlm. 13)

 

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Sebab, jalan yang menyampaikan kepada Allah ‘azza wa jalla hanya satu,yaitu ajaran yang Allah ‘azza wa jalla utus dengannya para Rasul-Nya dan Allah ‘azza wa jalla turunkan dengan-Nya kitab-kitab-Nya. Maka dari itu, tidak ada seorang pun akan sampai kepada-Nya kecuali melalui jalan ini.

Seandainya semua manusia datang dari segala jalan dan minta dibukakan pada setiap pintu, semua jalan itu tertutup dan semua pintu itu terkunci kecuali jalan ini. Sesungguhnya jalan itu berhubungan dengan Allah ‘azza wa jalla dan akan menyampaikan kepada-Nya.”(at-Tafsirul Qayyim hlm. 14—15 dinukil dari Sittu Durar hlm. 53)

 

Allah ‘azza wa jalla juga berfirman,

فَذَٰلِكُمُ ٱللَّهُ رَبُّكُمُ ٱلۡحَقُّۖ فَمَاذَا بَعۡدَ ٱلۡحَقِّ إِلَّا ٱلضَّلَٰلُۖ فَأَنَّىٰ تُصۡرَفُونَ ٣٢

“Maka (Dzat yang demikian) itulah Allah Rabbmu Yang Benar. Tidak ada sesudah kebenaran itu kecuali kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran)?” (Yunus: 32)

 

Al-Qurthubi rahimahullah berkata, “Ulama kami berkata, ‘Ayat ini menghukumi bahwa antara kebenaran dan kebatilan tidak ada pilihan ketiga dalam masalah ini, yaitu masalah tauhid. Demikian pula dalam masalah-masalah yang serupa yaitu masalah prinsip yang kebenaran itu hanya ada pada satu pihak.” (al-Jami’ li Ahkamil Qur’an 8/336)

 

Dengan demikian, prinsip ini membabat habis teologi pluralis dan gagasan bahwa kebenaran itu nisbi, seperti yang dikatakan JIL dan para pengikutnya. Sebab, konsekuensi dari pendapat mereka, al-haq/kebenaran bukan hanya satu, dan bahwa perpecahan tidak salah atau tercela, bahkan benar dan terpuji. Ini artinya menggugurkan prinsip amar ma’ruf dan nahi mungkar.

Sungguh, pendapat ini menyelisihi kesepakatan orang-orang yang berakal waras/sehat, lebih-lebih orang yang berilmu. Selain itu, pendapat ini juga menyelisihi dalil.

 

  1. Agama Islam Telah Sempurna

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

        ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَٰمَ دِينٗاۚ

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (al-Maidah: 3)

 

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Ini adalah nikmat Allah ‘azza wa jalla yang terbesar terhadap umat ini yang Allah ‘azza wa jalla menyempurnakan agama mereka. Dengan demikian, mereka tidak membutuhkan agama dan nabi selain Nabi mereka shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, Allah ‘azza wa jalla menjadikan beliau sebagai penutup para nabi. Allah ‘azza wa jalla mengutusnya kepada jin dan manusia.

Maka dari itu, tidak ada yang halal kecuali yang Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam halalkan, tidak ada yang haram kecuali yang Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam haramkan, tidak ada agama kecuali yang Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam syariatkan; segala sesuatu yang beliau kabarkan adalah benar dan jujur, tiada mengandung kedustaan dan penyelewengan….”

Ibnu Katsir lalu menyebutkan riwayat dari Ali bin Abu Thalhah dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma bahwa beliau menafsiri ayat ini, katanya, “Yaitu Islam. Allah ‘azza wa jalla mengabarkan kepada Nabi-Nya dan kaum mukminin bahwa Dia ‘azza wa jalla telah melengkapi Islam untuk mereka sehingga mereka tidak butuh tambahan selama-lamanya.

Allah ‘azza wa jalla juga telah menyempurnakannya maka Dia ‘azza wa jalla tidak akan menguranginya selama-lamanya. Allah ‘azza wa jalla juga telah meridhainya sehingga tidak akan marah kepadanya selama-lamanya.” (Tafsir al-Qur’anul ‘Azhim 2/14)

 

Jadi, agama Islam ini telah sempurna, tidak membutuhkan tambahan, pengurangan, atau perubahan dari siapapun. Barang siapa menganggapnya perlu ditambah, berarti ia menganggapnya belum sempurna. Barang siapa menganggapnya perlu dikurangi, itu adalah upaya meruntuhkan kesempurnaan Islam. Barang siapa ingin mengubahnya, itu adalah bentuk ketidakpercayaan terhadap Islam.

Betapa berbahaya upaya orang-orang JIL dan ahli bid’ah seluruhnya ketika mengurangi sekian banyak hukum Islam. Di sisi lain, mereka menambah dengan yang baru dan mengubah-ubah hukum Islam. Allah ‘azza wa jalla sajalah tempat mengadu.

 

  1. Halal Adalah Apa yang Dihalalkan Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya; Haram Adalah yang Diharamkan Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

          وَلَا تَقُولُواْ لِمَا تَصِفُ أَلۡسِنَتُكُمُ ٱلۡكَذِبَ هَٰذَا حَلَٰلٞ وَهَٰذَا حَرَامٞ لِّتَفۡتَرُواْ عَلَى ٱللَّهِ ٱلۡكَذِبَۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَفۡتَرُونَ عَلَى ٱللَّهِ ٱلۡكَذِبَ لَا يُفۡلِحُونَ ١١٦

        Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta, “Ini halal dan ini haram,” untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah ‘azza wa jalla. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah ‘azza wa jalla tiadalah beruntung. (an-Nahl: 116)

 

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Allah ‘azza wa jalla melarang untuk mengikuti jejak orang musyrikin yang menghalalkan dan mengharamkan sekadar dengan keputusan mereka berdasarkan rasio mereka…

Termasuk dalam ayat ini adalah setiap orang yang membuat bid’ah yang tidak ada sandaran syariatnya, atau menghalalkan sesuatu yang Allah ‘azza wa jalla haramkan dan mengharamkan sesuatu yang Allah ‘azza wa jalla halalkan sekadar dengan pendapat akal dan hawa nafsunya.” (Tafsir al-Qur’an al-Azhim: 2/611)

 

Penentuan hukum halal dan haram sedemikian berat. Berdasarkan hal itu, kita mengetahui betapa jauhnya kesesatan siapa pun yang berani menghukumi ini dan itu halal atau haram tanpa ilmu, seperti orang-orang JIL. Di antara mereka ada yang menghalalkan nikah dan waris beda agama, menganggap vodka bisa jadi halal di Rusia, menggagas untuk mengubah aturan haji, dan berbagai kelancangan lainnya.

Mereka yang mengharamkan apa yang Allah ‘azza wa jalla halalkan dan sebaliknya, dalam keadaan tahu bahwa dengan begitu ia menyelisihi hukum Allah ‘azza wa jalla, berarti telah menempatkan dirinya pada posisi Rabb yang memiliki hak membuat syariat. Tentu saja, ini adalah kesyirikan.

 

  1. Seluruh Syariat Allah ‘azza wa jalla Mengandung Keadilan, Maslahat, dan Hikmah

Sebab, Allah Mahahakim. Salah satu asmaul husna adalah الْحَكِيمُ al- Hakim. Artinya, Dzat Yang memiliki hikmah yang tinggi dalam penciptaan-Nya dan perintah-perintah-Nya, Yang memperbagus seluruh makhluk-Nya,

أَفَحُكۡمَ ٱلۡجَٰهِلِيَّةِ يَبۡغُونَۚ وَمَنۡ أَحۡسَنُ مِنَ ٱللَّهِ حُكۡمٗا لِّقَوۡمٖ يُوقِنُونَ ٥٠

“Dan siapakah yang lebih baik hukumnya daripada Allah ‘azza wa jalla bagi kaum yang yakin?” (al-Maidah: 50)

 

Allah ‘azza wa jalla tidak menciptakan sesuatu yang sia-sia. Dia ‘azza wa jalla juga tidak akan mensyariatkan sesuatu yang tiada manfaatnya.

Di antara hikmah syariat Islam— di samping sebagai maslahat terbesar bagi hati, akhlak, amal, serta istiqamah dalam jalan yang lurus—adalah juga maslahat terbesar bagi (urusan) dunia. Urusan dunia tidak akan menjadi baik secara hakiki kecuali dengan agama yang haq, yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ini bisa dirasakan dan disaksikan oleh setiap orang yang berakal. Sesungguhnya, ketika umat Muhammad menegakkan agama ini, pokok dan cabangnya, seluruh petunjuk dan bimbingannya, keadaan mereka akan sangat baik dan mapan.

Namun, ketika mereka melenceng darinya, sering meninggalkan petunjuknya, dan tidak mengikuti bimbingannya yang luhur, urusan dunia mereka kacau sebagaimana kacaunya agama mereka.”(diringkas dari penjelasan ahli tafsir, asy-Syaikh as-Sa’di)

 

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

          وَتَمَّتۡ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدۡقٗا وَعَدۡلٗاۚ لَّا مُبَدِّلَ لِكَلِمَٰتِهِۦۚ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡعَلِيمُ ١١٥

“Telah sempurnalah kalimat Rabbmu (al-Qur’an), sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat mengubah-ubah kalimat-kalimat-Nya, dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (al-An’am: 115)

 

Qatadah rahimahullah berkata, “(Yakni) benar dan jujur pada apa yang Dia katakan, adil pada hukum-Nya. Dia katakan dengan jujur dan benar pada berita-berita-Nya, adil dalam tuntutan/perintah-Nya.

Jadi, semua berita-Nya pasti benar, tiada keraguan padanya. Setiap perintah-Nya pasti adil, tiada keadilan selainnya. Setiap larangan-Nya pasti batil karena tidaklah Ia melarang kecuali karena mafsadatnya.” (Tafsir Ibnu Katsir 2/173, lihat pula Tafsir as-Sa’di hlm. 270 dan Zubdatut Tafsir hlm. 181)

 

Barang siapa mengubah sebagian syariat Allah ‘azza wa jalla, seperti yang dilakukan oleh JIL, dengan alasan apapun—walaupun alasan maslahat—sungguh, sebenarnya ia sedang mengarah dan mengarahkan manusia kepada kerusakan dan bahaya.

Sungguh, si pelaku sebenarnya tidak tahu alias jahil terhadap hikmah Allah ‘azza wa jalla dalam syariat-Nya. Akan tetapi, dirinya merasa lebih mengerti daripada Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya. Bagaikan katak dalam tempurung.

Tidak benar pula bila dikatakan bahwa sebagian syariat Islam perlu dikaji ulang atau direvisi, bahkan diamandemen, dengan alasan tidak lagi relevan dengan abad ini atau dengan perkembangan zaman.

Ditulis oleh al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc

Pengaruh Liberalisme dalam Akhlak

Liberalisme tidak tumbuh dengan bimbingan agama, tetapi tumbuh untuk menentang dan bebas dari keterikatan agama. Sudah tentu pemahaman ini berkembang menuju kebebasan berekspresi.

Termasuk pula dampak terhadap akhlak manusia, pemahaman liberal tidak mau terikat dengan ikatan-ikatan dalam berperilaku. Pemahaman ini tidak menilai baik-buruknya sebuah perilaku dengan standar umum, apalagi dengan standar agama.

Prinsip kebebasan akan membuatnya lepas dari semua ikatan tersebut. Individualisme akan menumbuhkan sikap egoisme dan menang sendiri, lebih mementingkan kepentingan sendiri, dan memunculkan sikap pelit. Dari individualisme pula akan muncul sikap kurang peduli terhadap kaum duafa di sekitarnya, membuahkan sistem kapitalis, hanya berpikir untuk keuntungan pribadi dengan segala cara seperti riba.

Itu semua karena ia merasa bebas dalam menggunakan cara apapun. Tak ayal akan bermunculan kezaliman, mengikuti hawa nafsu, sombong, dan berbagai akhlak buruk yang lain.

Lihat keterpurukan akidah (keyakinan) dan akhlak liberalis. Ulil Abshar membela kaum LGBT dengan mengatakan, “Lihat saja apakah ada azab untuk negeri2 yg menolerir LGBT? Mereka malah pada makmur semua.”

Di antara mereka ada yang mendukung perkawinan sejenis dan menulis buku berjudul Indahnya Kawin Sesama Jenis.

Ulil Abshar pun membela Syiah dalam cuitannya (27/6/2015), “Ciri Islam Nusantara: tidak memusuhi Syiah. Dan menganggap mereka bagian sah dari umat Islam. Beda dengan Islam Wahabi atau simpatisannya.”

Ulil Abshar juga membela Ahmadiyah melalui cuitannya (14/10/2014), “Jawaban saya atas tuduhan ngawur Dubes Malaysia itu: Saya bukan orang Ahmadiyah. Tetapi saya membela hak Ahmadiyah ada di Indonesia.”

Mereka juga merendahkan orang yang mengikuti sunnah dalam berpakaian muslimah. Melalui akun twitternya (3/8/2014), Ulil mengomentari sebuah foto seorang ibu dan putri muslimah bercadar beserta dua kantong plastik besar berwarna hitam berisi sampah, “Take care of your trashes. Cleanliness is part of faith. Wait, which one is the trash?

Artinya, “Urus sampahmu. Kebersihan sebagian dari iman. Tunggu, yang mana sampahnya?”

Kita berlindung kepada Allah dari segala kesesatan.

Ditulis oleh al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc

Bahaya Liberalisme dari Sudut Pandang Akidah

Seseorang yang memerhatikan paham liberalisme akan tahu bahwa paham ini hakikatnya adalah anti ajaran agama. Sebab, ia sejak awal tumbuh dalam cuaca penentangan terhadap ajaran agama. Tiga prinsip utamanya: kebebasan, individualisme, dan rasionalisme. Semuanya menunjukkan ketidaksiapan untuk terikat dengan ajaran agama, bahkan menentang ajaran agama.

Oleh karena itu, kita akan mendapati seorang penganut sejati liberalisme akan terjatuh pada sekian banyak perkara kekafiran.

Seorang liberalis murni yang sejak awal antiagama tidak termasuk dalam pembahasan kita. Akan tetapi, jika ada seorang muslim yang berjalan menuju gerbang liberal, maka perhatikanlah ke mana Anda melangkah!

Seorang muslim yang nekat memasuki gerbang liberalisme berarti sedang mempertaruhkan agamanya. Kasihilah diri kalian, selamatkan diri kalian dari murka Allah ‘azza wa jalla, lalu dari siksa-Nya. Masalah ini amat berbahaya bagi agama seseorang.

Berikut ini beberapa pokok pembatal keislaman yang akan menjerumuskan seorang liberalis sejati pada kesalahan tersebut.

 

  1. Menghalalkan sesuatu yang diharamkan Allah ‘azza wa jalla

Keyakinan bahwa suatu hal itu halal atau boleh-boleh saja, sedangkan hal tersebut telah diharamkan oleh Allah ‘azza wa jalla dan keharamannya disepakati ulama, maka ini berarti kemurtadan.

Al-Qadhi Iyadh rahimahullah berkata dalam kitab asy-Syifa, “Kaum muslimin sepakat tentang kafirnya orang yang menghalalkan pembunuhan, minuman keras, atau perbuatan zina; karena itu semua telah diharamkan oleh Allah ‘azza wa jalla. (Dia divonis kafir) setelah dia tahu bahwa hal tersebut haram….”

Dalam kitab Kifayatul Akhyar, kitab fikih bermazhab Syafi’i, disebutkan bahwa seseorang yang menghalalkan sesuatu yang haram dan disepakati keharamannya disebut kafir.

Dalam kitab lain dalam mazhab Syafi’i yang berjudul Asna al-Mathalib, karya asy-Syaikh Zakariya al-Anshari, beliau mengutip ucapan al-Bulqini, “Hal ini berkonsekuensi bahwa jika ada seseorang yang menghalalkan sesuatu yang memabukkan, maka dia kafir. Sebab, tidak ada perbedaan pendapat di antara ulama dalam hal haramnya sesuatu yang memabukkan.”

Seorang liberalis sejati akan membolehkan atau menghalalkan siapapun untuk berkeyakinan apapun,[1] beragama apapun. Semuanya dianggap sah berdasarkan asas kebebasan yang mereka anut. Menurut mereka, hal itu adalah hak asasi masing-masing, hak individual.

Dalam keyakinan liberal, secara rasional seseorang boleh memandang agama tertentu sebagai agama yang saat ini pantas baginya. Sebagaimana dibenarkan juga pada waktu lain, liberalis memandang agama lain yang lebih pantas baginya dan iapun berpindah kepadanya.

Sebab, kebenaran adalah sesuatu yang relatif menurut mereka. Lebih parah lagi ketika mereka mengatakan bahwa semua agama sama, pluralisme.

Dalam kasus lain, bisa saja seorang liberalis mengatakan bahwa minuman keras hukumnya halal di suatu daerah tertentu, berdasarkan tinjauan rasional. Siapa pun berhak berpendapat demikian demi kebebasan berpendapat sebagai refleksi atas hak asasi manusia. Padahal khamr, minuman keras, apapun sebutannya dan apa pun merknya pada masa ini, hukumnya dalam agama adalah haram sebagaimana disepakati ulama.

Sebagai contoh, Ulil Abshar Abdalla, tokoh liberal, pernah mengatakan bahwa vodka (sejenis minuman keras) bisa dihalalkan di Rusia karena daerahnya sangat dingin.

Al-Imam asy-Syaukani rahimahullah menyatakan bahwa konsensus (kesepakatan) telah tegak bahwa minuman keras sedikit ataupun banyak adalah haram. Telah sahih sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Semua yang memabukkan adalah haram.” Barang siapa menghalalkan sesuatu yang disepakati haram, maka dia kafir. (Kitab Nailul Authar)

Penghalalan terhadap apa yang Allah ‘azza wa jalla haramkan, mengandung takdzib dan juhud. Takdzib artinya ketidakpercayaan atau pendustaan. Juhud artinya ingkar setelah mengetahui.

Dengan menghalalkan sesuatu yang Allah ‘azza wa jalla haramkan, berarti dia tidak memercayai kebenaran itu berada pada hukum yang Allah ‘azza wa jalla tetapkan. Ketika dia tahu bahwa suatu hukum merupakan ketetapan Islam lantas dia ingkari, maka dia terjatuh dalam sikap juhud.

Takdzib dan juhud merupakan kekafiran besar. Takdzib adalah sikap kafirnya orang-orang musyrik yang sejak awal tidak mengimani kebenaran yang datang. Adapun juhud adalah sikap kafirnya Fir’aun yang mengetahui kebenaran Nabi Musa ‘alaihissalam namun mengingkarinya. Demikian pula sikap kafirnya orang Yahudi yang mengetahui kebenaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam namun mengingkarinya. Seperti itu pula sikap kafirnya sebagian orang musyrik yang sebenarnya mengetahui kebenaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sebagai contoh antipengharaman secara syar’i, John Mill berkata, “Sesungguhnya pengharaman itu menyentuh kebebasan pribadi karena pengharaman berarti menganggap seseorang tidak tahu maslahat pribadinya.” (Hakikat Libraliyyah, hlm. 139)

 

  1. Keraguan

Yang dimaksud di sini adalah keraguan terhadap kebenaran sebuah hukum yang telah ditetapkan dengan tegas berdasarkan dalil yang sahih, al-Qur’an atau hadits yang sahih, merupakan kekafiran. Sebab, keraguan semacam ini adalah lawan dari iman, yang artinya membenarkan dengan yakin. Keraguan merupakan sikap kafir sebagian orang-orang munafik.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

إِنَّمَا يَسۡتَ‍ٔۡذِنُكَ ٱلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ وَٱرۡتَابَتۡ قُلُوبُهُمۡ فَهُمۡ فِي رَيۡبِهِمۡ يَتَرَدَّدُونَ ٤٥

“Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan hati mereka ragu-ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keragu-raguannya.” (at-Taubah: 45)

Oleh karena itu, iman tidak akan benar selama masih ada keraguan. Di sisi lain, keyakinan merupakan syarat sahnya iman. Dalam ayat disebutkan,

إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ ثُمَّ لَمۡ يَرۡتَابُواْ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu.” (al-Hujurat: 15)

 

Demikian pula sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu,

فَمَنْ لَقِيتَ مِنْ وَرَاءِ هَذَا الْحَائِطِ يَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ مُسْتَيْقِنًا بِهَا قَلْبُهُ فَبَشِّرْهُ بِالْجَنَّةِ

“Barang siapa yang kamu jumpai di belakang kebun ini bersaksi bahwa tiada sesembahan yang benar kecuali Allah ‘azza wa jalla dengan kalbunya yakin dengan kalimat itu, maka berikan kabar gembira kepadanya bahwa ia akan masuk surga.” (HR. Muslim)

 

Seorang liberalis sejati dengan prinsip kebebasan berpendapat tidak akan sampai pada keyakinan yang mantap bahwa yang dia yakini adalah benar dan yang diyakini orang lain adalah salah, termasuk dalam hal keagamaan seseorang. Dia akan menganggap apa yang diyakini orang lain bisa saja benar dan dia tidak boleh memastikan bahwa orang lain salah, sebagaimana dia tidak boleh meyakini bahwa yang benar hanya yang dia yakini.

Ini jelas merupakan keraguan yang berlawanan dengan keyakinan dan percaya penuh, yang merupakan syarat sahnya iman.

Mungkin juga seorang liberalis akan terjatuh pada sikap kontraproduktif. Dia meyakini bahwa yang dia yakini adalah benar dan yang diyakini orang lain juga benar. Padahal keduanya merupakan keyakinan yang bertolak belakang. Ini tampak jelas pada pluralisme yang mereka yakini.

Al-Qadhi Iyadh berkata, “Siapa yang menyatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdusta dalam hal yang beliau sampaikan dan beritakan, atau ragu akan kejujuran beliau, maka dia kafir menurut kesepakatan (ulama).”

 

  1. Kekafiran penolakan beserta kesombongan

Maknanya, menolak untuk tunduk kepada syariat dikarenakan sombong.

Ini adalah kekafiran iblis terlaknat. Karena kesombongannya terhadap Nabi Adam ‘alaihissalam, dia menolak tunduk pada perintah Allah ‘azza wa jalla untuk sujud kepada Adam.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَإِذۡ قُلۡنَا لِلۡمَلَٰٓئِكَةِ ٱسۡجُدُواْ لِأٓدَمَ فَسَجَدُوٓاْ إِلَّآ إِبۡلِيسَ أَبَىٰ وَٱسۡتَكۡبَرَ وَكَانَ مِنَ ٱلۡكَٰفِرِينَ ٣٤

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir. (al-Baqarah: 34)

 

Syaikhul Islam berkata, “… Seseorang tidak menentang kewajibannya tetapi tidak mau melakukannya karena sombong, iri, atau benci kepada Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya. Dia berkata, ‘Saya tahu bahwa Allah ‘azza wa jalla mewajibkannya atas muslimin, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam jujur saat menyampaikan al-Qur’an.’

Akan tetapi, orang ini tidak mau melakukannya karena sombong, iri terhadap Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, fanatik terhadap keyakinannya, atau benci terhadap ajaran yang dibawa oleh beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia juga kafir menurut kesepakatan ulama.

Sebab, sesungguhnya ketika tidak mau sujud sebagaimana yang diperintahkan, Iblis tidak mengingkari kewajibannya karena Allah ‘azza wa jalla langsung bicara dengannya. Akan tetapi, dia menolak dan sombong. Jadilah dia tergolong makhluk yang kafir.”(Kutub wa Rasail wa Fatawa, Ahmad bin Abdul Halim)

Seorang liberalis sangat rawanterjatuh pada kekafiran semacam ini. Dengan prinsip rasionalnya, dia mengultuskan akal. Akhirnya, kebaikan dan kebenaran adalah yang sesuai dengan akalnya, dan yang salah adalah yang tidak sesuai dengan akalnya. Akan sangat mungkin seorang liberalis merendahkan pihak lain. Sangat mungkin pula dia menolak mengikuti syariat Islam dalam hal tertentu karena unsur kesombongan.

Tidak jarang kita dapati orang-orang liberal mengejek, menghina, dan mengolok-olok pihak lain yang sedang melaksanakan syariat Islam. Ini merupakan sikap sombong. Kemudian di atas kesombongannya tersebut, dia tidak mau tunduk kepada syariat, sama dengan sikap Iblis.

Ditulis oleh al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc

[1] Membolehkan di sini bermakna ‘menghalalkan’, lawan dari ‘mengharamkan’. Berbeda hukumnya saat seseorang yang hidup dalam sebuah negara berkata, ‘Di sini boleh saja seorang beragama Nasrani.’ Maksudnya, dia menceritakan bahwa aturan dalam negara tersebut membolehkan seseorang untuk beragama selain Islam, tidak berarti dia berkeyakinan boleh dan halalnya seseorang beragama dengan selain Islam.

Seorang muslim, secara keyakinan agamanya tetap meyakini setiap orang di mana pun berada wajib beragama Islam, dan bahwa yang tidak beragama Islam berarti dia kafir.

Sebagai contoh, di negeri muslimin, seorang Nasrani tetap boleh hidup berdamai dengan muslimin. Dia berstatus sebagai kafir dzimmi, tetap dalam agamanya dan dijaga serta dilindungi oleh pemerintah Islam dengan dia membayar jizyah. Namun, seorang muslim secara agama tetap berkeyakinan bahwa Nasrani tersebut salah dalam beragama dan melanggar hukum Allah ‘azza wa jalla dalam hal kewajiban untuk beragama Islam.

Liberalisme Memasuki Berbagai Lini

Paham liberalisme tumbuh di tengah manusia yang bermasyarakat, hingga masuk ke berbagai lini kehidupan. Liberalisme masuk ke ranah politik, ekonomi, bahkan akhirnya masuk pula ke ranah agama. Paham ini lantas memengaruhi sebuah masyarakat, baik yang beragama maupun tidak.

 

  1. Liberalisme dalam ranah politik

Liberalisme masuk ke ranah politik, sehingga kehidupan politik dan tata negara tidak boleh bertentangan dengan asas liberalisme itu sendiri, yaitu kebebasan.

Dalam kacamata liberalis, negara hanya sebuah alat untuk melindungi hak asasi manusia yang merupakan hukum abadi, yang seluruh peraturan atau hukum yang dibuat oleh pemerintah adalah untuk melindungi dan mempertahankannya.

Pemerintah harus mendapat persetujuan dari yang diperintah. Pemerintah tidak boleh bertindak menurut kehendaknya sendiri, tetapi harus bertindak menurut kehendak rakyat. Kebijakan rakyat adalah kebijakan publik. Lahirlah darinya demokrasi.

Dengan asas kebebasan, sistem ini mempersilakan siapapun untuk berpendapat, memilih, dan mengkritik; sehingga ahli maksiat sekalipun memiliki hak untuk memasuki arena perpolitikan.

Repotnya, ketika para ahli maksiat itu menjadi jumlah terbesar, kebijakan mereka akan menjadi kebijakan publik yang akan dimenangkan, sehingga suara orang saleh akan tenggelam dan tak terdengar sekalipun sesaleh para wali, karena kesalihan agama tak punya nilai lebih dalam kancah perpolitikan kaum liberal.

Ayat Allah,

أَفَنَجۡعَلُ ٱلۡمُسۡلِمِينَ كَٱلۡمُجۡرِمِينَ ٣٥

“Maka apakah patut Kami menjadikan orang-orang Islam itu sama dengan orang-orang yang berdosa (orang kafir)?” (al-Qalam: 35)

tak mendapat tempat.

Karena asas kebebasan yang dianut, tak jarang dalam kancah perpolitikan liberal terjadi berbagai persaingan yang tak sehat. Sebab, liberalisme jauh dari norma-norma agama, tidak terikat dengan bimbingan agama. Bahkan, liberalisme menganggap agama tempatnya hanya di masjid, bukan dalam ranah ketatanegaraan. Urusan antara negara dan agama dipisah, sekuler.

Panggung kritik terbuka lebar dalam arena pergulatan politik liberal. Persaingan politik yang bernapaskan ambisi kekuasaan pun menjamur. Mereka saling mengkritik, menjatuhkan, dan membuka aib di arena terbuka. Semua itu sah-sah saja, sekalipun dilakukan kepada pemimpin muslim yang sedang berkuasa.

Dalam konteks politik liberalis, tak berlaku hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang agung,

مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِذِي سُلْطَانٍ فَلَا يُبْدِهِ عَلَانِيَةً وَلَكِنْ يَأْخُذُ بِيَدِهِ فَيَخْلُوا بِهِ، فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ وَإِلاَّ كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِي عَلَيهِ

“Barang siapa hendak menasihati seorang penguasa, maka janganlah dia menampakkannya secara terang-terangan. Akan tetapi, hendaknya dia memegang tangannya dan menyendiri dengannya. Bila dia menerimanya, maka itu yang diharapkan. Kalaupun tidak, maka dia telah menunaikan kewajibannya.” (Sahih, HR. Ibnu Abi Ashim, dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani rahimahullah)

 

Bisa kita bayangkan, bahkan kita rasakan, ketika politik ala liberal itu diberlakukan; yaitu kegaduhan politik yang mengganggu stabilitas keamanan. Sebab, penguasa lagi tidak mempunyai wibawa di mata rakyatnya, seorang rakyat bisa dengan semena-mena berbicara mengkritisi penguasanya bagaimanapun statusnya.

Entah sejauh mana jangkauan pandangnya, seluas apa wawasannya, ‘sebagus’ apa adabnya dalam menyampaikan kritik, sehingga orang semacamnya dibenarkan dan dibiarkan bebas menyampaikan pendapatnya.

 

Dalam bingkai politik liberal, ucapan sahabat mulia, Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, tidak berlaku.

  نَهَانَا كُبَرَاؤُنَا مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللهِ :لاَ تَسُبُّوا أُمَرَاءَكُمْ وَلَا تَغُشُّوهُمْ وَلَا تَبْغَضُوهُمْ وَاتَّقُوا اللهَ وَاصْبِرُوا فَإِنَّ الْأَمْرَ قَرِيبٌ

Para pembesar kami dari para sahabat melarang kami, “Janganlah kalian mencela penguasa penguasa kalian, jangan curang terhadap mereka, jangan membenci mereka. Bertakwalah kalian kepada Allah, dan sabarlah, urusan ini telah dekat.” (Riwayat Ibnu Abi Ashim dalam kitab as-Sunnah: asy-Syaikh al-Albani berkata, “Sanadnya bagus.”)

 

  1. Liberalisme dalam ranah ekonomi

Perkembangan liberalisme sangat terkait dengan kaum borjuis. John Locke, salah satu tokoh liberal, menyebutkan bahwa kepemilikan pribadi termasuk yang terpenting dari hak asasi manusia. Asas kebebasan harus dimanfaatkan untuk menjaga bahkan mengembangkan kepemilikan pribadi tersebut.

Kebebasan tatanan ekonomi memainkan peranan dalam memajukan masyarakat yang bebas. Kebebasan dalam tatanan ekonomi itu sendiri merupakan komponen dari kebebasan dalam arti luas. Jadi, kebebasan di bidang ekonomi itu sendiri menjadi tujuan.

Di sisi lain, kebebasan di bidang ekonomi adalah cara yang sangat diperlukan untuk mencapai kebebasan politik. Selama kebebasan untuk mengadakan sistem transaksi dipertahankan secara efektif, maka ciri pokok dari usaha untuk mengatur aktivitas ekonomi melalui sistem pasar adalah bahwa ia mencegah campur tangan seseorang terhadap orang lain.

Jadi, terbukti bahwa kapitalisme adalah salah satu perwujudan dari kerangka pemikiran liberal. Sebab, kapitalisme adalah sebuah sistem perekonomian yang memberikan kebebasan secara penuh kepada setiap orang untuk melaksanakan perekonomian, seperti: memproduksi, menjual, dan menyalurkan barang.

 

Dalam perekonomian kapitalis, setiap warga dapat mengatur nasibnya sendiri sesuai dengan kemampuannya. Semua orang bebas bersaing dalam bisnis untuk memperoleh laba sebesar-besarnya.

Berbagai sistem ekonomi akan digali dan dicari tanpa mengacu kepada hukum agama dan norma masyarakat yang mulia. Istilah lintah darat tidak berlaku dalam sistem perekonomian liberal. Lintah itu telah berdasi, berada dalam ruangan AC duduk di kursi, sehingga tidak seram lagi. Tidak berlaku dalam sistem ekonomi liberal.

Firman Allah,

ٱلَّذِينَ يَأۡكُلُونَ ٱلرِّبَوٰاْ لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ ٱلَّذِي يَتَخَبَّطُهُ ٱلشَّيۡطَٰنُ مِنَ ٱلۡمَسِّۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمۡ قَالُوٓاْ إِنَّمَا ٱلۡبَيۡعُ مِثۡلُ ٱلرِّبَوٰاْۗ وَأَحَلَّ ٱللَّهُ ٱلۡبَيۡعَ وَحَرَّمَ ٱلرِّبَوٰاْۚ

“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (al-Baqarah: 275)

 

Liberalisme di Kalangan Muslimin

Barat sangat berkepentingan untuk memberikan tafsir terhadap Islam dengan tafsiran ala liberal sejak dini. Sebab, hal tersebut mewujudkan berbagai kepentingan untuk menguasai negeri muslimin. Mereka sangat paham bahwa melenyapkan Islam dari negeri muslimin adalah sesuatu yang mustahil.

Mereka mengetahui bahwa penyelewengan dari ajaran Islam merupakan cara yang manjur untuk menghilangkan pengaruh Islam pada kaum muslimin. Demikian pula, penafsiran Islam dengan tafsir liberal akan menguatkan hubungan negeri kaum muslimin dengan tradisi Barat yang akan semakin memperkuat cengkraman Barat terhadap muslimin.

Segala kepentingan mereka akan bisa mereka lakukan, baik politik maupun ekonomi. Lebih dari itu, mereka bisa mengubah keyakinan (akidah) dengan menanamkan sekularisme dan pluralisme di tengah muslimin.

Ketika liberalisme masuk ke ranah agama Islam, pastilah akan merusak ajaran Islam baik dari sisi akidah, ibadah, maupun akhlak. Ini sudah terbukti.

Tafsir liberalis terhadap Islam sangat bertentangan dengan ajaran Islam itu sendiri. Parahnya, mereka tetap saja menyematkan nama Islam pada pemikirannya “Islam liberal”, padahal ajaran mereka itu anti-Islam.

Lihat saja dalam hal akidah. Mereka mengusung paham pluralisme yang meyakini semua agama sama dan benar sehingga menyerukan penyatuan agama. Paling tidak, mereka menanamkan keyakinan bahwa seseorang boleh memeluk agama selain Islam. Setiap orang berhak—menurut hak asasi manusia—untuk memilih agamanya, tidak meyakini bahwa Allah ‘azza wa jalla mewajibkan Islam atas mereka.

Tentu hal ini sangat bertolak belakang dengan ajaran Islam yang mewajibkan semua manusia untuk berislam. Firman Allah,

إِنَّ ٱلدِّينَ عِندَ ٱللَّهِ ٱلۡإِسۡلَٰمُۗ

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (Ali Imran: 19)

Dalam hal ibadah, kita dapati mereka dengan gegabah seenak selera mereka mengotak-atik ibadah dengan tafsir liberal, sampai-sampai waktu musim haji pun ingin mereka ubah.

Ibadah yang sifatnya sakral berani mereka politisir semau mereka. Bagaimana halnya dengan ibadah yang lain? Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌ.

“Barang siapa yang melakukan suatu amalan yang tidak atas dasar perintah kami, maka itu tertolak.” (Sahih, HR. Muslim)

Dalam hal akhlak, kaum liberal merupakan kaum yang ingin berakhlak semau mereka sendiri dengan sikap mendukung LGBT (lesbi, gay, biseksual, dan transgender), merendahkan orang yang taat beragama, bahkan tidak lagi beradab terhadap Allah ‘azza wa jalla. Bagaimana akhlak mereka terhadap Nabinya dan terhadap sesama manusia?

Dalam hal politik bernegara, pastilah mereka akan memisahkan antara agama dengan negara, sekularisme. Mereka tidak mau terikat dengan aturan yang mengikat mereka. Negara justru harus mendukung kebebasan dengan makna yang luas.

Dalam hal ekonomi, prinsip mereka adalah bagaimana bisa menjaga kepemilikan pribadi dan menguntungkan pribadi tanpa perhatian dengan ajaran agama, sehingga terciptalah paham kapitalisme dalam bidang ekonomi.

Ditulis oleh al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc

Liberalisme Mengancam

Liberalisme menjadi alat perusak. Liberalisme menjadi tunggangan berbagai kepentingan. Liberalisme jahat.

Apa itu liberalisme?

Liberalisme mengandung makna ‘kebebasan’, kata serapan yang berasal dari bahasa Inggris, liberalism.

Liberalisme adalah sebuah paham yang mengusung kebebasan pribadi dan berpandangan wajibnya menghormati kemerdekaan pribadi. Asal katanya adalah kata liberty (Inggris) dan liberte (Prancis), yang inti maknanya adalah ‘kebebasan’.

Menurut kaum liberal, tugas inti negara adalah melindungi kebebasan penduduknya, seperti: kebebasan berpikir, kebebasan berpendapat, kepemilikan pribadi, dan kebebasan pribadi.

Liberalisme bisa dimaknai sebagai suatu paham filsafat politik yang berkeyakinan bahwa kesatuan agama bukanlah sesuatu yang pasti dalam mengatur suatu masyarakat yang baik; bahkan undang-undang harus menjamin kebebasan pendapat dan keyakinan.

 

Prinsip Liberalisme

  1. Kebebasan

Kebebasan yang dimaksud adalah bebas dalam berperilaku, merdeka dalam perbuatan, tanpa ada campurtangan negara atau siapapun. Tugas negara adalah melindungi kebebasan tersebut.

Namun, bagaimanapun kebebasan tersebut tetap terikat dengan undang-undang, karena undang-undang merupakan suatu keharusan dalam sebuah kehidupan bermasyarakat. Hanya saja, undang-undang bagi mereka bukan sesuatu yang bersifat memaksa dan membatasi kebebasan; karena menurut mereka, kebebasan merupakan hak asasi manusia.

 

  1. Individual

Individual sangat erat dengan kebebasan, sehingga individualisme bertujuan pada kemerdekaan pribadi dan kebebasannya. Di masyarakat Barat, egoisme menjadi sifat yang mendominasi pada masa kebebasan mereka dari tekanan ajaran gereja sampai abad ke-20. Inilah yang kemudian diikuti oleh para penganut ajaran liberalisme.

 

  1. Rasional

Yang dimaksud dengan prinsip rasional adalah kemerdekaan akal dalam mengetahui maslahat dan manfaat tanpa membutuhkan kekuatan dari luar.

Ketergantungan mereka terhadap akal kian menguat setelah masa kemerdekaan mereka dari pengaruh tekanan gereja. Puncaknya adalah abad ke-19 sebagai puncak kejayaan kaum liberal.

Di antara aplikasi mereka dalam hal rasionalisasi adalah negara berlepas dari keagamaan penduduknya, karena kebebasan memiliki konsekeunsi tidak adanya kepastian. Sebab, tidak mungkin sesuatu sampai kepada hakikatnya kecuali melalui penalaran akal dan percobaan. Sebelum menjalani percobaan, seorang manusia berada dalam kebodohan terhadap hal-hal yang sifatnya universal.

Inilah sebabnya mereka tidak pernah sampai kepada sesuatu yang pasti, ini yang kemudian disebut dengan prinsip toleransi. Hakikatnya adalah berlepas dari keterikatan dengan ajaran agama. Prinsip ini memberi manusia hak untuk meyakini apa saja yang dia maukan serta mengumumkannya, dan negara wajib memberikan jaminan hak ini kepada penduduknya.

Dengan demikian, kebertumpuan kepada akal serta keterlepasan dari nilai-nilai agama dan akhlak yang mulia menjadi ciri khas paham liberalisme. Sebab, akal liberalis adalah akal yang tidak beriman melainkan kepada sesuatu yang tampak saja, bukan yang gaib.

Ditulis oleh al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc

Yang Tercecer dari IAIN (2) – Pluralisme Agama

Pluralisme agama adalah suatu paham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama dan karenanya kebenaran setiap agama adalah relatif. Oleh sebab itu, setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim bahwa hanya agamanya saja yang benar sedangkan agama yang lain salah. Pluralisme agama juga mengajarkan bahwa semua pemeluk agama akan masuk dan hidup berdampingan di surga…. (Fatwa MUI No. 7/MUNAS VII/MUI/II/2005 tentang Pluralisme, Liberalisme dan Sekularisme Agama) Lanjutkan membaca Yang Tercecer dari IAIN (2) – Pluralisme Agama

Merenungi Rentetan Peristiwa di IAIN

Sungguh memilukan, hati terasa tersayat-sayat, kalbu serasa berontak, dan emosi meluap, saat mendengar, membaca, bahkan melihat berbagai kejadian yang amat memukul, terjadi di berbagai instansi berlabel Islam, entah itu institut, sekolah tinggi, atau universitas Islam.Tercatat sebuah perubahan besar dalam sejarah IAIN[1], dengan munculnya Harun Nasution[2] yang menawarkan berbagai perubahan dengan mengusung slogan “Islam Rasional”. Bukunya yang kontroversial, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, dikukuhkan oleh Departemen Agama RI—berdasarkan rapat rektor IAIN se-Indonesia pada bulan Agustus 1973 di Ciumbuleuit Bandung—sebagai buku wajib bagi setiap mahasiswa IAIN, apa pun fakultas dan jurusannya. Kala itu, buku ini mendapat tantangan dan reaksi yang sangat keras dan tajam dari Prof. Dr. H.M. Rasjidi—Menteri Agama RI pertama—. Beliau khawatir akan pengaruh buku tersebut bagi angkatan muda Islam, karena menurutnya: Lanjutkan membaca Merenungi Rentetan Peristiwa di IAIN

Benang Kusut Madzhab IAIN

Sudah menjadi sunnatullah bahwa musuh-musuh Islam akan senantiasa menyalakan kebencian terhadap agama ini. Berbagai cara akan ditempuh hingga kaum muslimin mau meninggalkan agamanya. Minimalnya, membuat ragu terhadap agamanya sendiri. Tanpa disadari oleh umat, proyek pendangkalan Islam ini tengah gencar digarap musuh-musuh Islam melalui Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI), seperti STAIN, IAIN, UIN, Fakultas Agama Islam di perguruan tinggi umum, atau di PTAI swasta. Lanjutkan membaca Benang Kusut Madzhab IAIN