لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، حَوْلَ وَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ، إِلَهَ إِ اللهُ، وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ، لَهُ النِّعْمَةُ وَلَهُ الْفَضْلُ وَلَهُ الثَّنَاءُ الْحَسَنُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

 

“Tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah satu-satu-Nya, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya segala kekuasaan dan segala pujian, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah. Tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah dan kami tidak beribadah kecuali hanya kepada-Nya. Milik-Nya segala kenikmatan dan keutamaan serta sanjungan yang baik. Tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah, kami memurnikan seluruh peribadatan ini hanya untuk-Nya meskipun orang-orang kafir tidak menyukai.”

(HR. Muslim no. 1342 dari Ibnu Zubair radhiallahu ‘anhu)