Keutamaan Berdzikir

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah)

 

Telah sama kita ketahui bahwa berzikir merupakan amalan yang mulia dan bernilai tinggi di sisi Rabbul ‘Izzah. Dengan berzikir, seorang hamba akan beroleh banyak keutamaan. Untuk menghasung kita agar memperbanyak zikir, berikut ini akan disebutkan beberapa keutamaan berzikir:

1.Berzikir akan mengusir setan, menundukkannya, dan membentengi diri darinya. Allah k berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari setan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.” (Al-A’raf: 201)

Adapun orang yang enggan berzikir, Allah l nyatakan dalam firman-Nya:

“Siapa yang berpaling dari berzikir kepada Allah Yang Maha Penyayang, Kami adakan baginya setan yang menyesatkannya maka setan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.” (Az-Zukhruf: 36)

Al-Harits Al-Asy’ari z menyebutkan dari Nabi n bahwa beliau bersabda: “Sungguh Allah l memerintahkan lima perkara kepada Nabi Yahya bin Zakariyya q agar beliau mengamalkannya dan menyuruh Bani Israil untuk mengamalkannya pula. Namun hampir-hampir Yahya terlambat menyampaikannya kepada Bani Israil. Maka Nabi ‘Isa q berkata kepadanya, ‘Sungguh Allah l telah memerintahkan lima perkara kepadamu agar engkau mengamalkannya dan menyuruh Bani Israil untuk mengamalkannya pula. Namun sampai sekarang engkau belum menyampaikannya. Karenanya, engkau suruh mereka sekarang, atau aku yang akan menyuruh mereka!’ Yahya berkata, ‘Aku khawatir bila engkau mendahuluiku untuk menyampaikannya, aku akan ditenggelamkan ke dalam bumi atau aku akan diazab.’ Yahya pun mengumpulkan orang-orang di Baitul Maqdis hingga masjid tersebut penuh. Mereka duduk di atas balkon. Yahya berkata, ‘Sungguh Allah l memerintahkan lima perkara kepadaku agar aku mengamalkannya dan menyuruh kalian untuk mengamalkannya pula…’.”

Yahya pun menyebutkan kelima perkara tersebut, yaitu tauhid, shalat, puasa, sedekah, dan yang kelima, kata Yahya:

وَآمُرُكُمْ أَنْ تَذْكُرُوا اللهَ، فَإِنَّ مَثَلَ ذَلِكَ كَمَثَلِ رَجُلٍ خَرَجَ الْعَدُوُّ فِي أَثَرِهِ سِرَاعًا حَتَّى إِذَا أَتَى عَلَى حِصْنٍ حَصِيْنٍ فَأَحْرَزَ نَفْسَهُ مِنْهُمْ، كَذَلِكَ الْعَبْدُ لاَ يُحْرِزُ نَفْسَهُ مِنَ الشَّيْطَانِ إِلاَّ بِذِكْرِ اللهِ تَعَالَى…

Dan aku memerintahkan kalian untuk berzikir kepada Allah karena permisalan orang yang berzikir seperti orang yang dikejar oleh musuh dengan cepat hingga ketika ia mendatangi sebuah benteng yang kokoh ia berlindung di dalamnya dari kejaran musuh. Demikian pula seorang hamba, ia tidak dapat melindungi dirinya dari setan kecuali dengan berzikir kepada Allah l… (HR. Ahmad 4/202, At-Tirmidzi no. 2863, dishahihkan Al-Imam Al-Albani t dalam Shahihul Jami’ no. 1724)

Al-’Allamah Ibnul Qayyim t menyatakan bahwa hadits ini sangat agung kedudukannya, sehingga pantas bagi setiap muslim untuk menghafalkan dan memahaminya. (Al-Wabilush Shayyib, hal. 31)

Beliau t juga mengatakan, “Seandainya tidak ada lagi keutamaan zikir selain satu keutamaan yang disebutkan dalam hadits ini, niscaya patut bagi seorang hamba untuk tidak berhenti lisannya dari zikrullah, dan terus menerus menekuninya. Karena sungguh ia tidak dapat melindungi dirinya dari musuhnya kecuali dengan zikir. Tidaklah musuh itu dapat masuk menyergapnya kecuali dari pintu kelalaian (lupa dari berzikir). Musuh itu selalu mengintainya. Bila ia lalai, musuh itu menyergap dan menerkamnya. Bila ia berzikir kepada Allah l, mengerutlah musuh Allah l tersebut, menjadi kecil dan patah sampai-sampai menjadi sekecil lalat. Karena itulah ia dinamakan Al-Waswasul Khannas. Maknanya, ia memberi was-was di dalam dada, namun bila si hamba berzikir kepada Allah l ia mengerut. Ibnu Abbas c berkata, “Setan itu mendekam di atas hati anak Adam. Bila si anak Adam lupa diri dan lalai dari berzikir, setan memberikan was-was/bisikan-bisikan. Namun jika ia berzikir kepada Allah l, setan mengerut.” (Al-Wabilush Shayyib, hal. 72)

 

2. Berzikir akan memberikan kebahagiaan dan ketenangan bagi hati seorang hamba, sebagaimana Allah l berfirman:

“Orang-orang yang beriman dan menjadi tenang hati-hati mereka dengan berzikir kepada Allah, ketahuilah dengan berzikir kepada Allah hati akan tenang.” (Ar-Rad: 28)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t berkata, “Permisalan zikir bagi hati adalah seperti air bagi ikan. Apa jadinya keadaan ikan yang berpisah dengan air?” (Al-Wabilush Shayyib, hal. 85)

 

3. Zikir adalah amalan yang ringan dan mudah untuk dilakukan, namun besar pahala dan ganjarannya. Hal ini tampak dalam beberapa hadits berikut ini:

Abu Hurairah z berkata: Rasulullah n bersabda, “Siapa yang mengucapkan:

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

dalam sehari sebanyak seratus kali, maka ganjaran baginya seperti membebaskan sepuluh budak, dicatat untuknya seratus kebaikan, dihapus darinya seratus kesalahan dan ia mendapatkan perlindungan dari setan pada hari tersebut hingga sore hari. Tidak ada seorang pun yang melakukan amalan yang lebih afdhal darinya terkecuali bila ada orang yang mengamalkan lebih banyak dari apa yang diamalkannya.” (HR. Al-Bukhari no. 3293, 6403 dan Muslim no. 6783)

Dalam hadits yang sama juga, Nabi n bersabda, “Siapa yang mengucapkan:

سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ

dalam sehari sebanyak seratus kali maka dihapus kesalahan-kesalahannya walaupun sebanyak buih di lautan.”

Dalam riwayat Muslim (no. 6784) disebutkan, “Siapa yang mengucapkan:

سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ

ketika pagi dan petang sebanyak seratus kali, maka pada hari kiamat nanti tidak ada seorangpun datang membawa amalan yang lebih afdhal darinya kecuali orang yang mengucapkan zikir yang sama dengan yang diucapkannya atau lebih dari yang diucapkannya.”

Masih dari Abu Hurairah z, beliau mengabarkan dari Nabi n:

كَلِمَتَانِ خَفِيْفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ، ثَقِيْلَتَانِ فِي الْمِيْزَانِ، حَبِيْبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ: سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ، سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيْمِ

“Ada dua kalimat yang ringan diucapkan lisan tapi berat dalam timbangan dan dicintai oleh Allah yang Maha Rahman, yaitu subhanallah wa bihamdihi dan subhanallahil azhim.” (HR. Al-Bukhari no. 6406 dan Muslim no. 6786)

 

4. Banyak berzikir kepada Allah k merupakan jaminan keamanan dari kemunafikan, karena orang-orang munafik sedikit sekali zikirnya kepada Allah k sebagaimana firman-Nya tentang munafikin:

“Mereka tidak mengingat Allah kecuali sedikit.” (An-Nisa: 142)

 

5. Zikir merupakan tanaman surga.

Abdullah bin Mas’ud z berkata: Rasulullah n bersabda:

“Pada malam aku diisra’kan, aku berjumpa dengan Nabi Ibrahim Al-Khalil q. Ia berkata, ‘Wahai Muhammad, sampaikan salamku kepada umatmu dan beritahu mereka bahwa surga itu bagus tanahnya, segar airnya (tidak asin), dan di surga tersedia tanah yang kosong tanpa pepohonan, dan yang akan ditanam untuk menutupi tanah kosong tersebut adalah ucapan:

سُبْحَانَ اللهِ، وَالْحَمْدُ لِلهِ، وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ للهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ

(HR. At-Tirmidzi no. 3462, dihasankan Al-Imam Al-Albani t dalam Ash-Shahihah no. 105)

 

6. Orang yang berzikir kepada Allah  l akan mendapatkan shalawat Allah k dan para malaikat-Nya. Tentunya dengan itu ia mendapat keberuntungan yang besar. Allah l berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, berzikirlah kepada Allah dengan sebanyak-banyaknya dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang. Dialah yang memberikan shalawat atas kalian dan juga para malaikat, yang dengan sebab itu Dia mengeluarkan kalian dari kegelapan kepada cahaya yang terang-benderang. Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.” (Al-Ahzab: 41-43)

Adapun shalawat Allah k atas hamba-Nya maknanya adalah pujian Allah l kepada si hamba di hadapan para malaikat. Ada juga yang memaknakannya dengan rahmat Allah l untuk si hamba. Sementara shalawat malaikat bermakna permintaan doa dan ampunan untuk si hamba, sebagaimana penjelasan Al-Hafizh Ibnu Katsir t dalam tafsirnya. (Tafsir Al-Qur’anil ‘Azhim, 6/265-266)

Demikian keutamaan zikir yang dapat kami sebutkan dan masih banyak keutamaan yang lain…

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Sabar Terhadap Gangguan Tetangga

Tetangga saya peminum khamr dan suka mengganggu saya dengan ucapannya. Terkadang dia sangat baik terhadap saya, namun di waktu yang sama pula dia mengajak saya bertengkar. Lalu apa yang harus saya perbuat dengan tetangga yang seperti itu? Berilah kami fatwa, jazakumullah kulla khairin.
Jawab:
Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah menjawab, “Tidak diragukan bahwa tetangga punya hak di dalam Islam dan Allah k telah mewasiatkan untuk berbuat baik kepada tetangga. Allah l berfirman:
“Beribadahlah kalian kepada Allah dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orangtua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahaya kalian…” (An-Nisa’: 36)
Nabi n bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلاَ يُؤْذِي جَارَهُ
“Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka janganlah ia mengganggu tetangganya.”1
Atau sebagaimana disabdakan beliau n.
Dengan demikian jelaslah bahwa tetangga punya hak untuk mendapatkan kebaikan.
Adapun penyampaian anda bahwa tetangga anda suka berbuat dosa besar, ia minum khamr, maka kewajiban anda adalah menasihatinya, mengingkari perbuatannya tersebut, serta menakut-nakutinya dengan Allah k. Juga mengabarkan kepadanya, selama ia beriman kepada Allah l dan hari akhir, maka dia wajib bertaubat kepada Allah l dari maksiat, perkara yang membinasakan dan merupakan dosa besar tersebut. Wajib bagi kalian menasihati dan mengingatkannya. Semoga Allah l memberikan hidayah kepadanya dengan sebab kalian. Ia punya hak terhadap kalian. Terlebih lagi keberadaannya sebagai tetangga kalian. Namun bila ia tetap melakukan dosa setelah dinasihati dan tidak mau bertaubat maka engkau boleh memboikotnya karena Allah l, dengan tidak mengajaknya bicara dan tidak duduk bersamanya, sampai ia mau bertaubat kepada Allah l.
Bila ia mengganggu dan menyakitimu, engkau wajib bersabar dan membalasnya dengan perbuatan baik. Karena membalas kejelekan dengan kebaikan termasuk sifat orang yang beriman, dan termasuk perkara yang Allah l perintahkan2. Namun disertai dengan apa yang telah kami sebutkan yaitu tetap memberikan nasihat dan peringatan. Bila memang dibutuhkan untuk memboikotnya, maka diboikot dengan tidak diajak bicara dan tidak duduk-duduk bersamanya, semoga dengan itu ia sadar dan menjadi sebab taubatnya.” Wallahu a’lam bish-shawab.
(Majmu’ Fatawa Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan, 2/710-711)
DONOR DARAH
Boleh atau tidak saudara laki-laki saya menyumbangkan darahnya untuk istri saya?
Jawab:
Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan hafizhahullah menjawab, “Tidak ada larangan dalam hal ini bila memang keadaannya darurat untuk memberikan transfusi darah kepada istrimu. Boleh donor darahnya dari saudara laki-lakimu ataupun dari selainnya. Tidak ada larangan dalam hal ini, insya Allah.”
(Majmu’ Fatawa Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan, 2/712)
KEMATIAN ANAK

Saya memiliki adik lelaki yang masih kecil, usianya sekitar setahun. Namun ia telah meninggal dunia setelah meneguk sedikit racun cair yang diletakkan oleh saudara perempuannya di depan pintu tanpa sepengetahuan ibu kami. Adik kecil saya itu mengambil wadah yang berisi racun tersebut, lalu meminumnya hingga ia meninggal dunia. Karena ibu saya sangat sedih dengan kematian adik saya itu, beliaupun meneguk bekas cairan yang diminum oleh adik saya untuk mengetes apakah racun tersebut berpengaruh pada dirinya sebagaimana berpengaruh pada anaknya ataukah tidak. Lantas apakah ibu saya berdosa meminum racun tersebut? Ada atau tidak kafarah baginya dikarenakan anaknya telah meminum racun tersebut?

Jawab:
Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah menjawab, “Yang pertama dari arahan kami adalah anak-anak sepantasnya mendapatkan penjagaan, pemeliharaan, dan dijauhkan dari segala hal yang dapat membahayakan mereka. Mereka tidak boleh ditinggalkan di hadapan atau di sisi sesuatu yang bisa membahayakan mereka.
Tentang diletakkannya wadah yang berisi racun dan diminum si anak yang kemudian membawa pada kematiannya, apakah ada tuntutan terhadap ibu si anak? Bila si ibu bermudah-mudah/bersikap tidak peduli, ia membiarkan anak kecilnya berada di samping cairan yang berbahaya sehingga ia akan meminumnya, maka si ibu wajib membayar kafarah dengan memerdekakan seorang budak bila memungkinkan. Bila tidak, ia berpuasa dua bulan berturut-turut sebagai kafarah kelalaiannya terhadap si anak. Adapun bila si ibu tidak bersifat demikian, ia tinggalkan anaknya di tempat yang jauh dari barang berbahaya namun si anak mendatangi sendiri tempat barang berbahaya tersebut dan meneguknya maka si ibu tidak menanggung kewajiban membayar kafarah.
Mengenai pertanyaan, si ibu ikut meneguk racun yang membawa kematian putranya tersebut untuk mengetes apakah memang cairan itu dapat membunuh jiwa atau tidak, maka ini tidaklah dibolehkan. Karena tidak boleh seseorang meminum sesuatu yang bermudarat dalam rangka percobaan. Saya meyakini si ibu melakukan hal tersebut karena rasa kasih dan sayangnya kepada si anak. Ia ingin merasakan apa yang dirasakan putranya dari cairan tersebut. Ia pun ingin meringankan penyesalan jiwanya dan ia ingin melihat apakah cairan tersebut berbahaya atau tidak. Akan tetapi ia tetap salah berbuat demikian, karena ia menghadapkan dirinya pada bahaya. Sementara Allah l berfirman:
“Janganlah kalian menjatuhkan diri kalian kepada kebinasaan.” (Al-Baqarah: 195)
Takdir pun terlaksana, walhamdulillah (tidak membawa kepada kebinasaan jiwanya sebagaimana anaknya), maka wajib baginya bersabar dan mengharapkan pahala atas kematian anaknya. Bila ia seorang yang bermudah-mudah dan suka lalai memerhatikan si anak, wajib baginya membayar kafarah.” Wallahu a’lam bish-shawab. (Majmu’ Fatawa Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan, 2/596-597)

1 Diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya no. 6018 dan Muslim no. 172, dari hadits Abu Hurairah z. –pent.
2  Allah l berfirman:
“Dan tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah kejahatan itu dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan, seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (Fushshilat: 34) -pent.

Raihanah Bintu Zaid

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu ‘Abdirrahman bintu ‘Imran)

 

Peperangan Ahzab telah usai. Pasukan musuh yang berlipat ganda dilumpuhkan dengan pertolongan dari sisi Allah l, berupa angin yang kencang berembus memorakporandakan perkemahan musuh, membuat ciut nyali mereka. Ditambah lagi dengan turunnya pasukan malaikat utusan Allah l dari langit. Bani Quraizhah, Yahudi sekutu musyrikin Arab, dalam peperangan ini pun harus menanggung akibat pelanggaran perjanjian mereka dengan kaum muslimin. Allah l telah menghinakan mereka melalui tangan tentara-tentara-Nya. Kini, tinggallah para tawanan yang sedang menunggu keputusan Rasulullah n tentang diri mereka…

Para wanita Bani Quraizhah dijadikan hamba sahaya, sementara para laki-laki dibunuh. Para tawanan wanita itu diperlihatkan di hadapan Rasulullah n. Di antara mereka ada seorang wanita bernama Raihanah bintu Zaid bin ‘Amr bin Khunafah bin Syam’un bin Zaid, dari Bani Nadhir. Suaminya yang sangat mencintainya, Al-Hakam dari Bani Quraizhah, mati terbunuh.
Ketika melihatnya, Rasulullah n memilihnya untuk diri beliau. Beliau pun memerintahkan untuk memisahkan Raihanah. Raihanah dibawa ke rumah Ummul Mundzir Salma bintu Qais An-Najjariyyah, dan tinggal di sana sampai urusan tawanan Bani Quraizhah selesai.
Setelah semua selesai, Rasulullah n datang menemui Raihanah di kediaman Ummul Mundzir. Melihat Rasulullah n masuk, Raihanah merasa amat malu. Rasulullah n pun memanggilnya dan mengajaknya duduk di hadapan beliau. Beliau menawarkan Raihanah agar masuk Islam. “Kalau engkau memilih Allah l dan Rasul-Nya, Rasulullah akan memilihmu untuk dirinya,” kata beliau. Raihanah pun memilih Allah l dan Rasul-Nya n.
Rasulullah n memerdekakan Raihanah dan menikahinya dengan mahar 12,5 uqiyah, seperti mahar beliau kepada istri-istri yang lain. Beliau bertemu Raihanah pada bulan Muharram tahun 6 H di rumah Ummul Mundzir, setelah Raihanah suci dari haidnya. “Wahai Rasulullah,” ucap Raihanah, “Bila aku tetap menjadi sahayamu, itu lebih ringan bagiku dan bagimu.” Rasulullah memenuhi permintaan Raihanah, sehingga Raihanah tetap sebagai sahaya.
Rasulullah n sangat menyayanginya, beliau selalu memberikan apa yang diinginkan olehnya. Sampai-sampai ada yang mengatakan, “Seandainya saat itu kau minta pada Rasulullah agar Bani Quraizhah dibebaskan!”
“Beliau tidak pernah berduaan denganku sampai seluruh tawanan Bani Quraizhah selesai dibagikan,” jawab Raihanah.
Raihanah amat sangat cemburu kepada Rasulullah n, sehingga beliau pun sempat menceraikannya. Perceraian ini sangat berat dirasa Raihanah. Hari-hari dilaluinya dengan terus menangis, hingga Rasulullah n pun merujuknya kembali.
Sepulang Rasulullah n dari menunaikan haji wada’, Raihanah kembali ke hadapan Rabbnya. Dia dimakamkan di pekuburan Baqi’.
Raihanah bintu Zaid x, semoga Allah l meridhainya….
Sumber Bacaan:
– Al-Ishabah, Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani (8/146-147)
– Ath-Thabaqatul Kubra, Al-Imam Ibnu Sa’d (10/125-127)
– Azwajun Nabi, Al-Imam Muhammad bin Yusuf Ash-Shalihi Ad-Dimasyqi (hal. 231-233)

Berdzikir dan Berdoa

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Abdirrahman bintu ‘Imran)

 

Anak-anak di usia keemasannya memiliki kesempatan yang besar untuk mempelajari hal-hal yang penting dalam agama. Dimulai dari sesuatu yang mudah dan sederhana tentunya, sesuai kemampuan yang ada pada anak. Di antaranya dengan menghafal zikir dan doa yang diajarkan oleh Rasulullah.

Zikir dan doa adalah salah satu bagian penting dalam kehidupan seorang muslim. Bahkan seseorang yang banyak berzikir dan berdoa mendapatkan pujian dan balasan yang besar di sisi Allah k. Seperti dalam firman Allah k:

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang berislam, laki-laki dan perempuan yang beriman, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatan, laki-laki dan perempuan yang benar keimanannya, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang menjaga kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak berzikir kepada Allah, maka Allah sediakan bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Al-Ahzab: 35)
Allah l memberikan kepada orang yang memiliki sifat-sifat seperti ini ampunan bagi dosa-dosa mereka. Karena kebaikan itu dapat menghilangkan kejelekan, serta pahala yang besar, yang tak dapat diukur oleh siapa pun kecuali Dzat yang memberikannya, berupa segala sesuatu yang (keindahannya, pent.) tak ada mata yang pernah melihatnya, tak ada telinga yang pernah mendengarnya, dan tak pernah terbersit dalam qalbu manusia. Kita memohon kepada Allah l agar Dia jadikan kita termasuk golongan mereka. (Taisirul Karimir Rahman, hal. 665)
Ini jelas merupakan hasungan yang menyemangati hamba-hamba Allah l untuk melakukan amalan-amalan seperti ini, termasuk di antaranya banyak berzikir kepada Allah l.
Selain ayat di atas, banyak pula ayat-ayat dalam Kitabullah yang menghasung untuk banyak berzikir, dengan menyebutkan keutamaan dan balasannya. Di antaranya firman Allah l:
“Maka berzikirlah kalian kepada-Ku, niscaya Aku akan mengingat kalian.” (Al-Baqarah: 152)
Dalam ayat ini Allah l memerintahkan untuk berzikir kepada-Nya dan menjanjikan balasan yang paling utama, yaitu Allah l akan mengingat hamba-Nya yang berzikir kepada-Nya. (Taisirul Karimir Rahman, hal. 74)
Di ayat yang lain, Allah l juga berfirman:
“Dan  banyak berzikirlah kalian kepada Allah, semoga dengan itu kalian menjadi orang-orang yang beruntung.” (Al-Jumu’ah: 10)
Zikir kepada Allah l merupakan salah satu sebab diraihnya pahala dan keberuntungan. Sementara kataالفلاح  (keberuntungan) memiliki cakupan makna yang luas, yang berarti diperolehnya segala keinginan dan selamat dari segala yang dihindari. (Syarh Riyadhish Shalihin, 3/544)
Masih banyak lagi ayat dalam Kitabullah yang menyebutkan tentang keutamaan dan hasungan untuk berzikir kepada Allah l.
Melalui lisannya yang mulia, Rasulullah n pun banyak menyebutkan keutamaan berzikir kepada Allah l. Di antaranya seperti dalam hadits qudsi yang dinukilkan oleh Abu Hurairah z bahwa Rasulullah n bersabda:
يَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى: أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي، فَإِذَا ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي، وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ
“Allah l berfirman, ‘Aku sebagaimana prasangka hamba-Ku terhadap-Ku, dan Aku bersamanya bila dia berzikir pada-Ku. Apabila dia mengingat-Ku dalam dirinya, maka Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Dan apabila dia mengingat-Ku di tengah kumpulan banyak orang, maka Aku akan mengingatnya di hadapan kumpulan yang lebih baik daripada mereka.” (HR. Al-Bukhari no. 325 dan Muslim no. 2675)
Begitu pula dalam sabda beliau yang lain yang diriwayatkan pula oleh Abu Hurairah z:
سَبَقَ الْمُفَرِّدُوْنَ. قَالُوا: وَمَا الْمُفَرِّدُوْنَ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: الذَّاكِرُوْنَ اللهَ كَثِيْرًا وَالذَّاكِرَاتُ
“Telah mendahului al-mufarridun.” Para sahabat pun bertanya, “Apa al-mufarridun itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Laki-laki dan perempuan yang banyak berzikir kepada Allah.” (HR. Muslim no. 2676)
Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Abud Darda’ z, Rasulullah n mengatakan kepada para sahabat g:
أَلاَ أُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرِ أَعْمَالِكُمْ وَأَزْكَاهَا عِنْدَ مَلِيْكِكُمْ وَأَرْفَعِهَا فِي دَرَجَاتِكُمْ وَخَيْرٍ لَكُمْ مِنْ إِنْفَاقِ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَخَيْرٍ لَكُمْ مِنْ أَنْ تَلْقَوْا عَدُوَّكُمْ فَتَضْرِبُوا أَعْنَاقَهُمْ وَيَضْرِبُوا أَعْنَاقَكُمْ؟ قَالُوا: بَلَى. قَالَ: ذِكْرُ اللهِ تَعَالَى
“Maukah kalian aku beritakan tentang sebaik-baik amalan kalian, paling suci di sisi Pemilik kalian, paling tinggi dalam mengangkat derajat kalian dan lebih baik bagi kalian daripada menginfakkan emas dan perak, serta lebih baik bagi kalian daripada kalian bertemu dengan musuh kalian lalu kalian memukul/memenggal leher-leher mereka dan mereka memukul leher-leher kalian?” Para sahabat menjawab: “Tentu, wahai Rasulullah!” Beliau berkata, “(Amalan itu adalah) zikrullah.” (HR. At-Tirmidzi no. 3377, Ibnu Majah no. 3790, dishahihkan Al-Imam Al-Albani t dalam Shahihul Jami’ no. 2629)
Tak hanya hasungan yang datang dari beliau. Bahkan dalam keseharian, Rasulullah n memberikan contoh bagi umat beliau. Beliau senantiasa berzikir, mengingat Allah l dalam segala keadaan dan setiap waktu. Dikatakan oleh istri beliau, ‘Aisyah Ummul Mukminin x:
كَانَ رَسُوْلُ اللهِ n يَذْكُرُ اللهَ تَعَالَى عَلَى كُلِّ أَحْيَانِهِ
“Rasulullah n biasa berzikir kepada Allah l dalam setiap waktunya.” (HR. Muslim no. 373)
Melihat hasungan yang sedemikian rupa, tentunya kita ingin dapat meneladani dan mendapatkan keutamaan seperti itu. Tak hanya diri kita sendiri yang kita inginkan mendapat kebaikan, namun juga tentunya anak-anak kita, agar mereka memperoleh keutamaan di dunia dan di akhirat.
Mengajarkan zikir dan doa kepada anak-anak tentu tak hanya sebatas menyuruh mereka menghafal lafadz demi lafadz zikir dan doa. Yang lebih mereka butuhkan adalah bimbingan kita untuk membiasakan mereka mengamalkan zikir dan doa itu dalam kehidupan sehari-hari, menerapkannya sesuai keadaan dan tempatnya. Di samping itu, disertai pula dengan contoh nyata yang mereka lihat dari kehidupan kita, orangtua. Dari mulai bangun tidur di pagi hari hingga tidur kembali di malam hari, mestinya kehidupan seorang muslim tidak terlepas dari zikir kepada Allah l. Zikir di pagi dan sore hari pun semestinya mulai kita ajarkan pada anak-anak agar mereka mendapatkan perlindungan dari berbagai hal yang memudaratkan. Betapa semua ini adalah nikmat yang Allah l berikan bagi siapapun yang mau mengamalkannya.
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin t mengatakan, “Di antara nikmat Allah l yang diberikan bagi kita, Allah l menerangkan pada kita tentang zikir-zikir ketika hendak tidur, bangun tidur, makan dan minum, memulai dan menyudahi sesuatu, sampai-sampai ketika hendak masuk kamar kecil maupun mengenakan pakaian. Semua ini agar seluruh waktu kita dimakmurkan dengan zikir kepada Allah k. Seandainya Allah l tidak menerangkan hal ini kepada kita, tentu saja ini adalah perkara bid’ah. Namun Allah l telah menerangkan semua ini kepada kita agar bertambah kenikmatan-Nya bagi kita dengan melaksanakan ketaatan ini.” (Syarh Riyadhish Shalihin, 3/574)
Bila demikian, tak pantas kita meremehkan dan mengesampingkan pembiasaan zikir ini dalam kehidupan anak-anak kita. Kesabaran, ketelatenan, dan keteladanan kita –orangtua– amat mereka butuhkan agar mereka memperoleh keutamaan yang besar ini.
Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kemarahan yang Membawa Petaka

(ditulis leh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah)

 

Sebagai manusia, wanita memang bisa kesal dan marah, baik itu disebabkan suami ataupun hal-hal lainnya. Namun sebagai istri, wanita juga dituntut untuk menjaga sikap di hadapan suaminya. Ia harus mengontrol emosinya agar tidak tumpah. Namun alih-alih meredam emosinya, tak sedikit istri yang justru menjadikan suami sebagai pelampiasan kemarahan, bahkan sampai pada taraf mencacinya.

Seorang suami adalah sayyid atau tuan bagi istrinya, sebagaimana tersebut dalam firman Allah k:
“Dan keduanya (Yusuf dan istri Al Aziz) mendapati sayyid (tuan/suami) si wanita di depan pintu…” (Yusuf: 25)
Karena suami sebagai tuan maka kedudukannya demikian agung bagi istrinya sebagaimana agungnya sang tuan bagi budak sahayanya. Tidak heran bila Rasul n yang mulia n sampai bertitah:
لاَ يَصْلُحُ لِبَشَرٍ أَنْ يَسْجُدَ لِبَشَرٍ، وَلَوْ صَلَحَ لِبَشَرٍ أَنْ يَسْجُدَ لِبَشَرٍ لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا مِنْ عَظَمِ حَقِّهِ عَلَيْهَا، وَالَّذِي نَفْسِيْ بِيَدِهِ لَوْ كَانَ مِنْ قَدَمِهِ إِلَى مَفْرَقِ رَأْسِهِ قَرْحَةٌ تَجْرِي بِالْقَيْحِ وَالصَّدِيْدِ، ثُمَّ اسْتَقْبَلَتْهُ فَلَحِسَتْهُ مَا أَدَّّتْ حَقَّهُ
“Tidaklah pantas bagi seorang manusia untuk sujud kepada manusia yang lain. Seandainya pantas/boleh bagi seseorang untuk sujud kepada seorang yang lain niscaya aku perintahkan istri untuk sujud kepada suaminya dikarenakan besarnya hak suaminya terhadapnya. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya pada telapak kaki sampai belahan rambut suaminya ada luka/borok yang mengucurkan nanah bercampur darah, kemudian si istri menghadap suaminya lalu menjilati luka/borok tersebut niscaya ia belum purna menunaikan hak suaminya.” (HR. Ahmad 3/159 dari Anas bin Malik z, dishahihkan Al-Haitsami 4/9, Al-Mundziri 3/55, dan Abu Nu’aim dalam Ad-Dala’il, 137. Lihat catatan kaki Musnad Al-Imam Ahmad 10/513, Darul Hadits, Al-Qahirah)
Suami harus ditaati dalam kebaikan dan dicari keridhaannya. Sehingga tidak sepantasnya seorang istri membuat marah suaminya dengan tidak menuruti apa yang diinginkan suaminya selama hal itu bukan perbuatan dosa/maksiat1, atau ia melanggar ketetapan suaminya.
Seorang istri yang shalihah tentu tahu hak suaminya terhadapnya dan apa yang harus dilakukannya sebagai seorang istri. Yang susah adalah bila seorang lelaki memperistri wanita yang jahil. Istri seperti ini tidak merasa berat mendurhakai suaminya, tidak menuruti apa yang dimaukan suaminya dari dirinya. Dia bahkan menentang perintahnya sampaipun suaminya menyuruhnya melakukan ketaatan, seperti mendirikan shalat, menutup aurat, atau mengajaknya berhijrah di jalan Allah k dengan meninggalkan kejahiliahan serta menyambut hidayah Allah l. Tak segan ia mengancam suaminya, mengucapkan sumpah serapah dan mencacinya. Wanita seperti ini tidak tahu akibat yang diperolehnya dengan kedurhakaannya dan kemurkaan suami terhadapnya. Sampaipun ia mengerjakan ibadah shalat misalnya2, niscaya tidak akan diterima ibadah tersebut di sisi Allah k.
Abu Umamah z menyampaikan hadits Rasulullah n:
ثَلاَثَةٌ لاَ تُجَاوِزُ صَلاَتُهُمْ آذَانَهُمْ: الْعَبْدُ الْآبِقُ حَتىَّ يَرْجِعَ وَامْرَأَةٌ بَاتَتْ وَزَوْجُهَا عَلَيْهَا سَاخِطٌ، وَإِمَامُ قَوْمٍ وَهُمْ لَهُ كَارِهُوْنَ
“Ada tiga golongan yang shalat mereka tidak melewati telinga-telinga mereka3, yaitu budak yang melarikan diri dari tuannya sampai ia kembali kepada tuannya, istri yang bermalam dalam keadaan suaminya marah terhadapnya, dan seseorang yang mengimami suatu kaum dalam keadaan mereka tidak suka kepadanya.” (HR. At-Tirmidzi no. 360, dihasankan Al-Imam Al-Albani t dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi, Al-Misykat no. 1122, Shahihul Jami’ no. 3057)
Ibnu Umar c berkata dari Nabi n:
اثْنَانِ لاَ تُجَاوِزُ صَلاَتُهُمَا رُؤُوْسَهُمَا: عَبْدٌ آبِقٌ مِنْ مَوَالِيْهِ حَتىَّ يَرْجِعَ، وَامْرَأَة ٌعَصَتْ زَوْجَهَا حَتَّى تَرْجِعَ
“Ada dua golongan yang shalat mereka tidak melewati kepala-kepala mereka, yaitu budak yang melarikan diri dari tuannya sampai ia kembali kepada tuannya dan istri yang durhaka kepada suaminya hingga ia kembali taat.” (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak 4/191, Ath-Thabarani dalam Al-Ausath no. 3628 dan Ash-Shaghir no. 478, dishahihkan Al-Imam Al-Albani t dalam Shahihul Jami’ no. 136 dan Ash-Shahihah no. 288 )
Doa kejelekan berupa laknat para malaikat yang doa mereka mustajab pun dapat dituai seorang istri yang membuat marah suaminya, sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Hurairah z dari Rasulullah n:
إِذَا دَعَا الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهِ فَأَبَتْ أَنْ تَجِيْئَ، فَبَاتَ غَضْبَان عَلَيْهَا لَعَنَتْهَا الْمَلاَئِكَةُ حَتَّى تُصْبِحَ
“Apabila seorang suami memanggil istrinya ke tempat tidurnya, namun si istri menolak untuk datang. Lantas si suami bermalam dalam keadaan marah kepada istrinya tersebut, niscaya para malaikat melaknat si istri sampai ia berada di pagi hari.” (HR. Al-Bukhari no. 5193)
Karenanya, janganlah para istri suka membuat marah suaminya. Tetapi carilah keridhaannya dalam kebaikan. Karena seperti kata Rasulullah n:
فَانْظُرِيْ أَيْنَ أَنْتِ مِنْهُ، فَإنَّمَا هُوَ جَنَّتُكِ وَنارُكِ
“Lihatlah di mana keberadaanmu dalam pergaulanmu dengan suamimu, karena dia adalah surga dan nerakamu.”4
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

1 Karena tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Al-Khaliq, sebagaimana sabda Rasulullah n:
إِنَّهُ لاَ طَاعَةَ لِمَخْلُوْقٍ فِي مَعْصِيَةِ الْخَالِقِ
“Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Khaliq.” (HR. Ahmad 1/131. Kata Asy-Syaikh Ahmad Syakir t dalam ta’liqnya terhadap Musnad Al-Imam Ahmad, “Isnadnya sahih.”)
2  Dalam posisi shalat merupakan amalan yang paling utama dan paling dahulu dihisab di hari kiamat nanti. Bila baik shalatnya maka baik seluruh amalannya dan sebaliknya jika jelek shalatnya maka jeleklah seluruh amalannya.
3  Al-Mubarakfuri t berkata menjelaskan makna kalimat ini, “Maksudnya shalat mereka tidak diterima dengan penerimaan yang sempurna, atau tidak diangkat kepada Allah l sebagaimana diangkatnya amal shalih.”
Dikhususkan penyebutan telinga (dalam lafadz: tidak melewati telinga-telinga mereka) karena di dalam shalat ada tilawah dan doa, yang semestinya didengar. Namun tilawah dan doa ini tidak sampai kepada Allah l dari sisi penerimaan dan pengabulan.
As-Suyuthi t berkata dalam Qut Al-Mughtadzi, “Maksudnya shalat mereka tidak diangkat ke langit, sebagaimana dalam hadits Ibnu Abbas c yang diriwayatkan Ibnu Majah t:
لاَ نَرْفَعُ صَلاَتَهُمْ فَوْقَ رُؤُوْسِهِمْ شِبْراً
“Kami tidak mengangkat shalat-shalat mereka di atas kepala mereka walau satu jengkal.”
Ini merupakan ungkapan tentang tidak diterimanya shalat mereka, sebagaimana dalam hadits Ibnu Abbas c yang diriwayatkan Ath-Thabarani t:
لاَ يَقْبَلُ اللهُ لَهُمْ صَلاَةً
“Allah tidak menerima shalat mereka.” (Lihat Tuhfatul Ahwadzi, kitab Ash-Shalah, bab Ma Ja’a fi Man Amma Qauman waa Hum Lahu Karihun)
4  HR. Ibnu Abi Syaibah (7/47/1), Ibnu Sa’d (8/459), An-Nasa’i dalam Isyratun Nisa, Ahmad (4/341), Ath-Thabarani dalam Al-Ausath (170/1) dari Zawa’idnya, Al-Hakim (2/189), Al-Baihaqi (7/291), Al-Wahidi dalam Al-Wasith (1/161/2), Ibnu ‘Asakir (16/31/1), sanadnya shahih sebagaimana kata Al-Hakim dan disepakati Adz-Dzahabi. Al-Mundziri berkata (3/74), “Diriwayatkan hadits ini oleh Ahmad dan An-Nasa’i dengan dua sanadnya yang jayyid.”

Jangan Gampang Memvonis Mati Syahid

(ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc)

 

Pelaksanaan eksekusi pada hari Ahad dini hari tanggal 9 November 2008 M atas tiga aktor bom Bali I, Imam Samudra, Amrozi dan Mukhlas, mengundang perhatian banyak kalangan dari seluruh lapisan masyarakat, bukan hanya nasional bahkan internasional. Hal inilah yang mengundang mereka berkomentar, baik atas pelaksanaan eksekusi maupun atas kematian mereka dengan eksekusi itu.

Kontroversi pun terjadi, sebagian pihak menyanjung mereka, sebagian pihak membenarkan hukuman eksekusi tersebut, sementara yang lain menentangnya. Kontroversi semacam ini terjadi karena masing-masing menilai dari sudut pandang yang berbeda, masing-masing menilai sesuai dengan ra’yu dan logikanya. Sehingga wajar jika mereka bersilang pendapat, karena dasar berpendapatnya saja berbeda.

Namun yang disayangkan, tak sedikit dari umat Islam dengan status sosial yang beragam, ikut-ikutan berkomentar dalam peristiwa ini. Mereka tidak memandangnya dari sudut pandang ajaran Islam yang murni. Bahkan cenderung menggunakan perasaan, baik perasaan kasihan, atau sebaliknya semata-mata dengan perasaan benci dan marah, sehingga muncullah hasil yang berbeda karena berlandaskan perasaan yang berbeda. Sebagian lagi membumbui penilaiannya dengan pengetahuan tentang ajaran Islam yang minim dan sudah tercampur dengan gaya berpikir para terpidana mati. Sehingga tak segan-segan memastikan mereka sebagai syahid, pahlawan, pasti senang di surga, di surga dibawa oleh burung hijau, disambut para bidadari, atau pujian-pujian semacam itu.

Tak pelak lagi, kejadian-kejadian pascapelaksanaan sampai pada penguburan pun dikait-kaitan dengan vonis ‘kebahagiaan’ di atas. Ada yang bilang bahwa jenazahnya wangi, mukanya tersenyum, cuaca mendadak menjadi mendung, disambut burung belibis hitam –yang diartikan bidadari menjelang penguburan pertanda jenazah mereka diterima Allah– dan hal-hal semacam itu. Bahkan lebih parah lagi, sebelum pelaksanaan eksekusi pun sudah dikomentari bahwa mereka bakal mendapat bidadari. Subhanallah…

Sekilas saya membaca komentar-komentar semacam itu, membuat saya terpanggil untuk menulis makalah ini. Tak lain tujuannya adalah berupaya meluruskan cara berpikir kaum muslimin sehingga tidak bermudah-mudah dalam menjatuhkan vonis, positif atau negatif. Terlebih dalam urusan semacam ini, yang lebih sarat dengan urusan ghaib, urusan akhirat yang hanya di sisi Allah l sajalah ilmunya.

Ya, tak sedikit mereka yang telah menjadi korban ‘komentar tanpa ilmu’ di mana sikap seperti ini jangan sampai dianggap angin lalu. Karena kita dilarang Allah untuk berkata atau bersikap tentang sesuatu yang kita tidak punya landasan ilmunya.

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (Al-Isra’: 36)

Semua ucapan yang kita ucapkan dicatat oleh para malaikat dan menjadi dokumen pribadi kita, untuk kemudian akan kita pertanggungjawabkan di sisi Allah l kelak.

“Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (Qaf:18)

Perlu dicamkan, bahwa urusan nasib seseorang di akhirat bukanlah urusan kita. Bahkan itu urusan ghaib yang Allah Yang Maha Tahu saja yang memiliki pengetahuan tentangnya. Sehingga seseorang yang mengatakan bahwa mereka itu syahid, berarti ia –tanpa dasar ilmu– telah menvonisnya pasti masuk ke dalam surga. Ya, pasti tanpa ilmu, karena hanya Allah l sajalah yang mengetahui nasib mereka di akhirat kelak.

Janganlah karena dorongan emosional, lalu kita berbicara tanpa ilmu yang berakibat mencelakakan kita sendiri.

Dahulu di zaman Nabi n sempat muncul beberapa kejadian yang membuat sebagian sahabat memuji dan memastikan bahwa si fulan dari kalangan sahabat akan mendapatkan kebahagiaan di akhirat. Namun dengan segera Rasulullah n menampik persaksian mereka itu, karena hal ghaib semacam ini tidak ada seorang pun yang tahu selain Allah, termasuk Rasulullah n sendiri. Kecuali dalam beberapa hal yang memang diwahyukan dari langit. Sebagaimana firman Allah:

“(Dia adalah Dzat) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya.” (Al-Jin: 26-27)

Suatu ketika, seorang sahabat mulia, ‘Utsman bin Mazh’un z meninggal dunia. Spontan seorang wanita mempersaksikan baginya untuk meraih kemuliaan di akhirat. Namun dengan segera Rasulullah n menukas persaksiannya. Kisah berharga tersebut termaktub dalam kitab Shahih Al-Bukhari:

أَنَّ أُمَّ الْعَلاَءِ -امْرَأَةً مِنَ الْأَنْصَارِ- بَايَعَتِ النَّبِىَّ n أَخْبَرَتْهُ أَنَّهُ اقْتُسِمَ الْمُهَاجِرُونَ قُرْعَةً فَطَارَ لَنَا عُثْمَانُ بْنُ مَظْعُونٍ، فَأَنْزَلْنَاهُ فِى أَبْيَاتِنَا، فَوَجِعَ وَجَعَهُ الَّذِى تُوُفِّىَ فِيهِ، فَلَمَّا تُوُفِّيَ وَغُسِّلَ وَكُفِّنَ فِى أَثْوَابِهِ، دَخَلَ رَسُولُ اللهِ n فَقُلْتُ: رَحْمَةُ اللهِ عَلَيْكَ أَبَا السَّائِبِ، فَشَهَادَتِي عَلَيْكَ لَقَدْ أَكْرَمَكَ اللهُ. فَقَالَ النَّبِىُّ n: وَمَا يُدْرِيكِ أَنَّ اللهَ قَدْ أَكْرَمَهُ؟ فَقُلْتُ: بِأَبِي أَنْتَ يَا رَسُولَ اللهِ، فَمَنْ يُكْرِمُهُ اللهُ؟ فَقَالَ: أَمَّا هُوَ فَقَدْ جَاءَهُ الْيَقِينُ، وَاللهِ إِنِّي لَأَرْجُو لَهُ الْخَيْرَ، وَاللهِ مَا أَدْرِى -وَأَنَا رَسُولُ اللهِ- مَا يُفْعَلُ بِي. قَالَتْ: فَوَاللهِ لاَ أُزَكِّي أَحَدًا بَعْدَهُ أَبَدًا

Bahwa seorang wanita bernama Ummul ’Ala, wanita Anshar yang pernah berbaiat kepada Rasulullah n, ia berkisah bahwa saat itu dibagikan undian orang-orang Muhajirin, maka kami mendapatkan bagian ‘Utsman bin Mazh’un sehingga kami menempatkannya di rumah kami, tapi ia menderita sakit yang menyebabkan kematiannya. Maka ketika beliau wafat dan dimandikan lalu dikafani dengan kain kafannya, Rasulullah n masuk, aku pun mengatakan: “Rahmat Allah atas dirimu wahai Abu Saib (‘Utsman bin Mazh’un), persaksianku terhadap dirimu bahwa Allah telah memuliakan dirimu.”

Serta merta Rasulullah n bersabda: “Darimana kamu tahu bahwa Allah telah memuliakannya?” Akupun mengatakan, “Ayahku sebagai taruhan atas kebenaran ucapanku, ya Rasulullah. Lalu siapa yang Allah muliakan?”

Rasulullah n menjawab: “Adapun dia maka telah datang kematiannya. Demi Allah aku benar-benar berharap untuknya kebaikan. Demi Allah aku sendiri tidak tahu –padahal aku ini adalah utusan Allah– apa yang nantinya akan diperlakukan terhadap diriku.”

Ummul ‘Ala mengatakan: “Demi Allah aku tidak lagi memberikan tazkiyah (persaksian baik) setelah itu selama-lamanya.” (HR. Al-Bukhari 1243)

Coba renungi kisah ini. Siapakah Rasulullah n? Siapakah ‘Utsman bin Mazh’un? Dan siapakah Ummul ‘Ala? Rasulullah n tentunya sudah jelas bagi kita siapa beliau. Adapun ‘Utsman bin Mazh’un, beliau termasuk dari kalangan orang-orang yang pertama masuk Islam (as-sabiqunal awwalun) dan tergolong dari kalangan al-muhajirin. Dengan itu insya Allah beliau termasuk dalam firman Allah:

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (At-Taubah: 100)

Al-Imam Ibnu Ishaq t dalam buku Sirah karyanya menyebutkan bahwa beliau adalah orang ke-14 yang masuk Islam. Beliau ikut hijrah ke Habasyah (Ethiopia) bersama putranya. Bahkan beliau juga turut andil dalam perang Badr. Sehingga dengan itu beliau termasuk dalam hadits Rasulullah n, bahwa Allah berfirman tentang para sahabat yang ikut perang Badr:

اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ، فَقَدْ غَفَرْتُ لَكُمْ

“Lakukan apa yang kalian mau, sungguh Aku telah mengampuni untuk kalian.” (HR. Al-Bukhari no. 3007, 3081, 3983, 4274, 4890, 6259, 6939; Muslim no. 2494)

Beliau adalah orang pertama dari kalangan Muhajirin yang wafat di negeri Madinah, pascaperang Badr. Setelah jenazahnya selesai dimandikan dan dikafani, Rasulullah n mencium antara kedua matanya. Ketika jenazahnya dimakamkan, Rasulullah n berkata:

نِعْمَ السَّلَفُ هُوَ لَنَا عُثْمَانُ بْنُ مَظْعُونٍ

“Sebaik-baik pendahulu bagi kita adalah ‘Utsman bin Mazh’un.”

Biografi beliau bisa dilihat dalam kitab Al-Ishabah karya Al-Hafizh Ibnu Hajar t dan kitab Al-Isti’ab karya Ibnu Abdil Bar.

Ummul ‘Ala sendiri adalah sahabiyyah (sahabat wanita) yang mulia, periwayat hadits Nabi, dan salah seorang wanita yang berbai’at kepada Nabi. Siap untuk tunduk patuh kepada titah beliau dengan berjanji bahwa dirinya tidak akan pernah memberikan tazkiyah kepada siapapun setelah itu.

Marilah kita renungkan, seorang wanita mulia bersaksi atas kebahagiaan seorang lelaki yang hidupnya penuh dengan perjuangan besar. Namun Rasulullah n menghentikan persaksiannya. Lebih dari itu, beliau tegaskan bahwa beliau sendiri sebagai seorang rasul tidak mengetahui nasib dirinya sendiri.

Sementara di waktu lain, Aisyah x juga pernah bersaksi atas kebahagiaan di akhirat untuk seorang anak kecil yang meninggal dunia. Diriwayatkan:

دُعِيَ رَسُولُ اللهِ n إِلَى جَنَازَة صَبِيٍّ مِنَ الْأَنْصَارِ فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، طُوبَى لِهَذَا عُصْفُورٌ مِنْ عَصَافِيرِ الْجَنَّةِ لَمْ يَعْمَلِ السُّوءَ وَلَمْ يُدْرِكْهُ. قَالَ: أَوْ غَيْرَ ذَلِكَ يَا عَائِشَةُ، إِنَّ اللهَ خَلَقَ لِلْجَنَّةِ أَهْلًا خَلَقَهُمْ لَهَا وَهُمْ فِي أَصْلاَبِ آبَائِهِمْ وَخَلَقَ لِلنَّارِ أَهْلًا خَلَقَهُمْ لَهَا وَهُمْ فِي أَصْلاَبِ آبَائِهِمْ

Dari Aisyah Ummul Mukminin, ia berkata bahwa Rasulullah pernah diminta untuk menshalati jenazah seorang anak dari kaum Anshar. Maka aku katakan: “Wahai Rasulullah beruntunglah anak ini. (Ia akan menjadi seekor) burung ‘ushfur dari burung-burung ‘ushfur di dalam surga. Ia belum berbuat kejelekan sama sekali dan belum menjumpai masa terkenai dosa (karena belum baligh).”

Nabi menjawab: “Atau (bahkan) selain itu, wahai Aisyah, sesungguhnya Allah menciptakan untuk surga penghuninya. Allah ciptakan mereka untuk surga sejak mereka berada pada tulang sulbi ayah-ayah mereka. Dan Allah menciptakan untuk neraka penghuninya Allah menciptakan mereka sejak mereka dalam tulang sulbi ayah-ayah mereka.” (HR. Muslim no. 2662)

Ya, seorang bocah yang masih suci belum melakukan kejelekan dan belum menjumpai masa terkenai dosa (karena belum baligh), sebagaimana tutur Aisyah, dan ia adalah seorang anak sahabat Anshar sehingga ‘Aisyah-pun bersaksi atas kebahagiaannya. Ternyata Nabi n tetap menegur ‘Aisyah atas persaksiannya. Mengapa? Sebagian ulama mengatakan bahwa Nabi n sendiri waktu itu belum tahu tentang nasib anak-anak muslim itu. Ulama yang lain mengatakan –atas dasar bahwa anak muslim nantinya bakal di surga dan itu telah disepakati ulama– bahwa Nabi n ingin melarang ‘Aisyah untuk terburu-buru memastikan sesuatu tanpa ada dalil yang pasti. Karena ini adalah urusan ghaib, urusan akhirat yang hanya di Tangan Allah dan manusia tidak tahu-menahu tentangnya.

Bahkan dalam kejadian lain, di sebuah perjalanan peperangan Nabi n, beberapa sahabat sempat memastikan surga bagi seseorang yang mati di sela-sela perjalanan itu. Diriwayatkan dari Abu Hurairah z, ia berkata:

خَرَجْنَا مَعَ النَّبِىِّ n إِلَى خَيْبَرَ فَفَتَحَ اللهُ عَلَيْنَا فَلَمْ نَغْنَمْ ذَهَبًا وَلاَ وَرِقًا، غَنِمْنَا الْمَتَاعَ وَالطَّعَامَ وَالثِّيَابَ ثُمَّ انْطَلَقْنَا إِلَى الْوَادِي وَمَعَ رَسُولِ اللهِ n عَبْدٌ لَهُ وَهَبَهُ لَهُ رَجُلٌ مِنْ جُذَامٍ يُدْعَى رِفَاعَةَ بْنَ زَيْدٍ مِنْ بَنِي الضُّبَيْبِ فَلَمَّا نَزَلْنَا الْوَادِىَ قَامَ عَبْدُ رَسُولِ اللهِ n يَحُلُّ رَحْلَهُ فَرُمِيَ بِسَهْمٍ فَكَانَ فِيهِ حَتْفُهُ فَقُلْنَا: هَنِيئًا لَهُ الشَّهَادَةُ، يَا رَسُولَ اللهِ. قَالَ رَسُولُ اللهِ n: كَلاَّ، وَالَّذِى نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، إِنَّ الشَّمْلَةَ لَتَلْتَهِبُ عَلَيْهِ نَارًا أَخَذَهَا مِنَ الْغَنَائِمِ يَوْمَ خَيْبَرَ لَمْ تُصِبْهَا الْمَقَاسِمُ. قَالَ: فَفَزِعَ النَّاسُ، فَجَاءَ رَجُلٌ بِشِرَاكٍ أَوْ شِرَاكَيْنِ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ أَصَبْتُ يَوْمَ خَيْبَرَ. فَقَالَ رَسُولُ اللهِ n: شِرَاكٌ مِنْ نَارٍ أَوْ شِرَاكَانِ مِنْ نَارٍ.

Kami keluar bersama Nabi menuju ke perang Khaibar, maka Allah memenangkan kami. Kami tidak mendapat rampasan perang berupa emas ataupun perak, tapi kami mendapatkan rampasan berupa barang-barang, makanan, dan pakaian. Lalu kami beranjak ke sebuah lembah, dan bersama Rasulullah n ketika itu seorang budak yang merupakan hadiah dari seorang berasal dari bani Judzam bernama Rifa’ah bin Zaid dari bani Adh-Dhubaib. Ketika kami singgah di lembah itu, budak tersebut bangkit untuk melepaskan bawaan tunggangannya. Ternyata dia dipanah (oleh musuh) sehingga menjadi sebab kematiannya. Serta merta kami mengatakan: “Berbahagialah dia dengan pahala syahid, wahai Rasulullah.” Kemudian dengan tegas Rasulullah n mengatakan: “Sekali-kali tidak! Demi yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sesungguhnya sehelai kain yang ia ambil dari rampasan perang yang belum dibagi pada perang Khaibar akan menyalakan api padanya.”

Kemudian Abu Hurairah z berkata: “Maka para sahabat sangat ketakutan, sehingga ada seorang yang menyerahkan satu atau dua tali sandal seraya mengatakan, ‘Wahai Rasulullah, kami mendapatkannya pada perang Khaibar’.” Maka Rasulullah n bersabda: “Ketahuilah sesungguhnya itu adalah satu atau dua tali sandal dari api neraka.” (HR. Muslim no. 115)

Para sahabat mempersaksikan kesyahidan untuk budak tersebut. Budak yang membantu Nabi, berjuang dan berjihad bersama beliau, meninggal dalam perjalanan perang memperjuangkan agama Allah, di bawah pimpinan seorang nabi yang mulia, yang tentu semuanya itu sebenarnya adalah jihad fi sabilillah. Namun dengan tegas Nabi n membantah persaksian mereka, bahkan diiringi sumpah dengan nama Allah, dan bahwa pelanggarannya berupa mencuri selembar kain dari hasil rampasan perang Khaibar yang belum dibagikan, menghalanginya untuk mendapatkan kemuliaan syahid. Ya, hanya karena selembar kain yang dia curi… .

Lalu bagaimana dengan kondisi orang-orang yang dinyatakan sebagai mujahidin di masa ini? Yang tentunya tindakan-tindakan yang mereka lakukan tidak bisa disamakan dengan perjuangan Rasulullah n bersama para sahabatnya, langsung di bawah pimpinan manusia terbaik tersebut. Apalagi pergerakan yang mereka lakukan adalah pergerakan yang tidak jelas kepemimpinan dan pimpinannya. Tercerai-berai dalam berbagai kelompok dan organisasi, serta tindakan yang tidak terkontrol di bawah kontrol syariat Islam. Sehingga nyawa sebagian saudara kita sesama muslim menjadi korban, darahnya tertumpah, dan jiwanya pun terenggut.

Yang lebih membuat tercengang para sahabat adalah peristiwa lain, di mana Nabi n mempersaksikan kepastian masuk neraka terhadap seseorang yang berjuang keras dalam berjihad. Al-Imam Al-Bukhari t meriwayatkan:

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ السَّاعِدِي z أَنَّ رَسُولَ اللهِ n الْتَقَى هُوَ وَالْمُشْرِكُونَ فَاقْتَتَلُوا، فَلَمَّا مَالَ رَسُولُ اللهِ n إِلَى عَسْكَرِهِ، وَمَالَ الْآخَرُونَ إِلَى عَسْكَرِهِمْ، وَفِي أَصْحَابِ رَسُولِ اللهِ n رَجُلٌ لاَ يَدَعُ لَهُمْ شَاذَّةً وَلاَ فَاذَّةً إِلاَّ اتَّبَعَهَا يَضْرِبُهَا بِسَيْفِهِ، فَقَالَ: مَا أَجْزَأَ مِنَّا الْيَوْمَ أَحَدٌ كَمَا أَجْزَأَ فُلاَنٌ. فَقَالَ رَسُولُ اللهِ n: أَمَا إِنَّهُ مِنْ أَهْلِ النَّارِ. –وَفِي رِوَايَةٍ: فَقَالُوا أَيُّنَا مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ إِنْ كَانَ هَذَا مِنْ أَهْلِ النَّارِ- فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ الْقَوْمِ: أَنَا صَاحِبُهُ. قَالَ: فَخَرَجَ مَعَهُ كُلَّمَا وَقَفَ وَقَفَ مَعَهُ، وَإِذَا أَسْرَعَ أَسْرَعَ مَعَهُ. قَالَ: فَجُرِحَ الرَّجُلُ جُرْحًا شَدِيدًا، فَاسْتَعْجَلَ الْمَوْتَ، فَوَضَعَ نَصْلَ سَيْفِهِ بِالْأَرْضِ وَذُبَابَهُ بَيْنَ ثَدْيَيْهِ، ثُمَّ تَحَامَلَ عَلَى سَيْفِهِ، فَقَتَلَ نَفْسَهُ، فَخَرَجَ الرَّجُلُ إِلَى رَسُولِ اللهِ n فَقَالَ: أَشْهَدُ أَنَّكَ رَسُولُ اللهِ. قَالَ: وَمَا ذَاكَ؟ قَالَ: الرَّجُلُ الَّذِى ذَكَرْتَ آنِفًا أَنَّهُ مِنْ أَهْلِ النَّارِ، فَأَعْظَمَ النَّاسُ ذَلِكَ، فَقُلْتُ: أَنَا لَكُمْ بِهِ؛ فَخَرَجْتُ فِي طَلَبِهِ، ثُمَّ جُرِحَ جَرْحًا شَدِيدًا، فَاسْتَعْجَلَ الْمَوْتَ، فَوَضَعَ نَصْلَ سَيْفِهِ فِي الْأَرْضِ وَذُبَابَهُ بَيْنَ ثَدْيَيْهِ، ثُمَّ تَحَامَلَ عَلَيْهِ، فَقَتَلَ نَفْسَهُ. فَقَالَ رَسُولُ اللهِ n عِنْدَ ذَلِكَ: إِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ عَمَلَ أَهْلِ الْجَنَّةِ فِيمَا يَبْدُو لِلنَّاسِ، وَهْوَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ عَمَلَ أَهْلِ النَّارِ فِيمَا يَبْدُو لِلنَّاسِ، وَهْوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ.

Dari Sahl bin Sa’d z, ia mengatakan: Adalah Rasulullah berperang menghadapi orang-orang musyrik sehingga mereka saling menyerang. Tatkala Rasulullah n menuju kampnya, dan yang lain juga menuju kamp mereka, sementara di antara para sahabat Nabi ada seseorang (yang gagah berani) tidak membiarkan seorang pun (dari musyrikin, pen.) yang lepas dari regunya kecuali dia kejar dan dia tebas dengan pedangnya. Akhirnya para sahabat mengatakan: “Tidaklah seorangpun dari kita pada hari ini melakukan kehebatan seperti yang dilakukan oleh si fulan itu.” Maka Rasulullah n mengatakan: “Sesungguhnya dia termasuk penduduk neraka” –(dalam sebuah riwayat): Para sahabat mengatakan: “Siapa di antara kita yang bisa menjadi penghuni al-jannah, bila orang sehebat dia saja masih termasuk penghuni an-nar?”– Maka seseorang di antara mereka mengatakan: “Aku akan menguntitnya terus.” Ia pun keluar bersamanya, setiap kali orang itu berhenti ia ikut berhenti, dan jika dia bergerak cepat ia pun ikut bergerak cepat. Ia berkisah: Lalu pria (pemberani) tersebut itu terluka dengan luka yang parah, maka ia ingin segera mati sehingga ia letakkan (gagang) pedangnya di bumi dan menusukkan mata pedangnya pada ulu hatinya kemudian dia menekankan badannya di atas pedang tersebut, sehingga ia pun membunuh dirinya.

Lalu sahabat yang menguntitnya itu datang menemui Rasulullah n seraya mengatakan: “Sungguh aku bersaksi bahwa engkau adalah Rasulullah.” Beliau mengatakan: “Kenapa?” Ia menjawab: “Orang yang engkau sebutkan tadi bahwa dia termasuk penghuni neraka.” Lalu para sahabat tercengang dengan peristiwa tersebut. Maka aku katakan: “Aku (akan membuktikan) untuk kalian tentangnya. Maka aku keluar menguntitnya sampai ia terluka dengan luka yang parah maka ia ingin cepat mati, akhirnya ia letakkan gagang pedangnya di bumi dan mata pedangnya pada ulu hatinya, lalu ia tekankan badannya di atas pedangnya tersebut sehingga ia pun membunuh dirinya.”

Maka Rasulullah n bersabda: “Sesungguhnya seseorang benar-benar beramal dengan amalan penghuni al-jannah –yang tampak bagi manusia– sementara sebenarnya dia termasuk penghuni neraka. Dan sungguh seseorang beramal dengan amalan penghuni neraka –yang tampak bagi manusia– sementara sebenarnya dia termasuk penghuni Al-Jannah.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 4202 dan Muslim)

Perhatikanlah kisah di atas. Sungguh benar-benar mencengangkan. Perjuangan yang begitu gigih dalam jihad di jalan Allah dan membuat kocar-kacir musuh, ternyata menjadi kurang berarti manakala ia melanggar agama, yaitu bunuh diri. Rasulullah n menepis kekaguman mereka terhadap sebuah amalan yang secara zhahir (sepintas) adalah amalan yang mulia. Hal itu tak lain karena kita sebagai manusia sangat terbatas dan banyak hal yang terluputkan dari kita. Kita tidak mengetahui hal yang tersembunyi, hanyalah Allah yang tahu akhir nasib seseorang dan hanya Allah lah yang tahu hakikat amalan seseorang.

Kiranya kejadian-kejadian di atas menjadi pelajaran penting bagi kita semuanya. Para sahabat Nabi yang mulia dengan keilmuan dan keimanan mereka bersaksi atas para sahabat yang lain yang memenuhi hari-hari mereka dengan perjuangan dan pengorbanan, namun Nabi n selalu mencegah mereka dari persaksian-persaksian tersebut. Kenapa? Sekali lagi karena ini urusan ghaib yang hanya diketahui oleh Allah k sebagai Dzat Yang Maha Tahu segala urusan.

Atas dasar itu, maka sudah menjadi keyakinan dan aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang mereka saling mewarisi dan mewariskan dari sejak zaman Nabi n hingga kini, bahwa kita tidak bisa dan tidak boleh memastikan seorangpun secara tertentu dari muslimin bahwa dia akan masuk surga karena sebuah amalan yang dilakukannya. Tentu saja, kepastian atas mereka yang kita peroleh informasinya dari wahyu ilahi, seperti Al-’Asyarah Al-Mubasysyaruna bil Jannah (sepuluh sahabat yang diberi kabar gembira masuk surga), di antaranya khalifah yang empat.

Ibnu Katsir t mengatakan: “Pada hadits ini (kisah Utsman bin Mazh’un) dan yang semisalnya, ada dalil bahwa tidak boleh dipastikan untuk orang tertentu bahwa ia masuk surga kecuali yang telah disebutkan demikian oleh Peletak Syariat, sepuluh orang (Al-‘Asyarah), Ibnu Salam, Al-Ghumaisha’, Bilal, Suraqah, Abdullah bin Amr bin Haram ayah Jabir, tujuhpuluh pembaca Al-Qur’an yang terbunuh di daerah sumur Ma’unah, Zaid bin Haritsah, Ja’far, Ibnu Rawahah, dan yang semisal mereka.” (Tafsir Ibnu Katsir surat Al-Ahqaf: 13-14)

Al-Imam Ahmad bin Hanbal t yang digelari Imam Ahlus Sunnah, karena kegigihannya dalam memperjuangkan aqidah, mengatakan:

وَلاَ نَشْهَدُ عَلَى أَهْلِ الْقِبْلَةِ بِعَمَلٍ يَعْمَلُهُ بِجَنَّةٍ وَلاَ نَارٍ نَرْجُو لِلصَّالِحِ وَنَخَافُ عَلَيْهِ وَنَخَافُ عَلَى الْمُسِيءِ الْمُذْنِبِ وَنَرْجُو لَهُ رَحْمَةَ اللهِ

Dan kami tidak memberikan persaksian atas ahlul qiblah (yakni muslimin) bahwa ia pasti masuk surga atau neraka karena sebuah amalan yang dia amalkan. Kami berharap kebaikan bagi seorang yang shalih tapi kami tetap khawatir terhadapnya. Kami juga khawatir terhadap seorang yang berbuat jelek dan dosa, tapi kami tetap mengharap rahmat Allah untuknya. (Ushulus Sunnah)

Al-Imam Ahmad t yang merasakan pahit getirnya kejahatan penguasa saat itu, penyiksaan, penjara, intimidasi dalam waktu kurang lebih 3 masa khalifah yaitu Al-Makmun, Al-Mu’tashim, dan Al-Watsiq, itu semua karena memperjuangkan aqidah, hampir-hampir nyawa melayang karenanya.

Bahkan sudah melayang nyawa sekian ulama yang mendahului beliau saat itu. Namun itu semua tidak membuat beliau larut dalam perasaan yang membawa kepada persaksian yang tidak benar atas para ulama yang telah wafat mendahului beliau karena dibunuh oleh penguasa, walaupun kesedihan terasa begitu mendalam dalam sanubari. Tidak kemudian Al-Imam Ahmad mengatakan Asy-Syahid Fulan, si Fulan telah syahid, atau dieksekusi dalam eksekusi syahid, atau yang semakna dengan itu.

Tidak ketinggalan, Al-Imam Al-Bukhari t dalam kitabnya yang monumental, yaitu kitab Shahih Al-Bukhari, yang sebagian ulama menyebutnya sebagai kitab yang paling shahih setelah Kitabullah, yang umat Islam menyambutnya dengan lapang dada, beliau meletakkan sebuah bab berjudul:

بَابٌ: لاَ يَقُولُ فُلاَنٌ شَهِيدٌ

“Tidak boleh seseorang mengatakan bahwa si fulan syahid.”

Lalu beliau menyebutkan riwayat hadits:

قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ n: اللهُ أَعْلَمُ بِمَنْ يُجَاهِدُ فِي سَبِيلِهِ، اللهُ أَعْلَمُ بِمَنْ يُكْلَمُ فِى سَبِيلِهِ

Abu Hurairah z berkata dari Nabi n: “Allah lebih tahu siapakah yang (benar-benar) berjihad di jalan-Nya, Allah lebih tahu siapakah yang (benar-benar) terluka di jalan-Nya.”

Ibnu Hajar t menerangkan: “(Tidak boleh seseorang mengatakan bahwa si Fulan Syahid) yakni dengan memastikan hal itu, kecuali jika berdasarkan (berita) dari wahyu. Seolah-olah beliau (Al-Bukhari) mengisyaratkan kepada hadits ‘Umar (bin Al-Kaththab) bahwa beliau berkhutbah lalu mengatakan: ‘Kalian katakan dalam peperangan-peperangan kalian bahwa ‘si fulan syahid’ dan ‘si fulan mati syahid’. Barangkali dia telah memberatkan kendaraannya. Ketahuilah janganlah kalian mengatakan semacam itu, akan tetapi katakanlah seperti yang dikatakan Rasulullah: “Barangsiapa yang meninggal atau terbunuh di jalan Allah maka dia syahid.” Hadits ini adalah hadits yang hasan, diriwayatkan oleh Ahmad dan Sa’id bin Manshur serta selain keduanya.

Aqidah inipun ditegaskan oleh Ath-Thahawi dalam kitab aqidah karyanya:

وَنَرْجُو لِلْمُحْسِنِينَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْ يَعْفُوَ عَنْهُمْ وَيُدْخِلَهُمُ الْجَنَّةَ بِرَحْمَتِهِ، وَلاَ نَأْمَنُ عَلَيْهِمْ، وَلاَ نَشْهَدُ لَهُمْ بِالْجَنَّةِ. وَنَسْتَغْفِرُ لِمُسِيئِهِمْ، وَنَخَافُ عَلَيهِمْ، وَلاَ نَقْنَطُهُمْ.

Kami berharap untuk orang-orang yang berbuat baik dari mukminin semoga Allah mengampuni mereka dan memasukkan mereka ke dalam Al-Jannah dengan rahmat-Nya. Kami tidak merasa aman atas mereka (dari azab Allah) serta kami tidak mempersaksikan bahwa mereka pasti masuk al-jannah. Kami juga memintakan ampun untuk orang-orang yang berbuat dosa (dari kalangan mukmimin) dan kami khawatir (azab Allah) atas mereka tapi kami tidak putus asa (akan datangnya rahmat Allah) untuk mereka.

Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin t setelah membawakan keterangan Ibnu Hajar di atas mengatakan:

“…Kemudian, ucapan kita bahwa yang terbunuh itu syahid, tidaklah berfaidah apa-apa. Karena bila dia memang syahid di sisi Allah maka dia memang syahid, baik kita katakan ataupun tidak. Bila dia bukan syahid, maka ucapan kita bahwa dia syahid tidaklah bermanfaat baginya. Namun barangsiapa yang terbunuh dari kalangan muslimin di medan perang, dia diperlakukan secara zhahir sebagaimana perlakuan orang-orang yang syahid, sebagaimana yang diketahui secara zhahir. Karena kita di dunia memperlakukan manusia sesuai zhahirnya. Sedangkan di akhirat, seseorang akan diperlakukan sesuai isi hatinya. Dia diberi hukum syahid dalam pelaksanaan hukum-hukum (yang zhahir), namun kita tidak boleh mempersaksikannya (bahwa dia syahid).

Sekarang, bukankah kita menyalati jenazah? Sekarang kita menyalatinya karena dia muslim. Kita juga memperlakukannya sebagaimana perlakuan terhadap seorang muslim. Seorang muslim tempat kembalinya adalah jannah (surga). Apakah kita akan mempersaksikan terhadap jenazah ini bahwa dia tergolong penduduk jannah? Tentu tidak. Perlakuan berbeda dengan masalah persaksian.” (Liqa`at Bab Al-Maftuh, 65/14)

Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin t juga mengatakan: “… Adapun kata asy-syahid merupakan penetapan hukum kesyahidan bagi si mayit. Ini tidak diperbolehkan, karena persaksian bahwa seseorang itu syahid adalah penetapan hukum kesyahidan baginya bahwa dia termasuk penduduk jannah. Sebagaimana firman Allah l:

“Orang-orang yang syahid di sisi Rabb mereka, bagi mereka pahala dan cahaya mereka.” (Al-Hadid: 19)

Allah l berfirman:

“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Rabbnya dengan mendapat rizki.” (Ali ‘Imran: 169)

Yang seperti ini tidak boleh dipastikan terhadap seseorang, kecuali dengan nash (dalil) atau ijma’ kaum muslimin. Al-Imam Al-Bukhari telah membuat bab tentang masalah ini: Bab La Yuqalu Fulan Syahid.

Bila seseorang meninggal dengan cara yang dihukumi oleh Pembuat syariat bahwa yang mati dengan cara itu adalah syahid, maka dinyatakan secara umum bahwa orang yang mati dengan cara ini maka dia syahid, dan diharapkan orang ini termasuk salah satu syuhada, dalam bentuk harapan.” (Fatawa Islamiyyah, 4/331)

Begitulah sifat seorang mukmin yang mengerti syariat Islam dan beraqidah dengan aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Ia tidak akan pernah merasa aman dan tentram dari azab Allah semata-mata karena amalannya secara zhahir. Tidak akan pernah pula ia meyakini amalan saudaranya pasti diterima. Bahkan ia selalu merasa khawatir terhadap dirinya dan saudaranya dari kemungkinan adzab, serta takut amalannya tidak diterima.

Aisyah x bertanya kepada Rasulullah n:

يَا رَسُولَ اللهِ، { ﭑ ﭒ ﭓ ﭔ ﭕ ﭖ ﭗ ﭘ ﭙ ﭚ} هُمُ الَّذِينَ يَشْرَبُونَ الْخَمْرَ وَيَسْرِقُونَ؟ قَالَ: لاَ يَا بِنْتَ الصِّدِّيقِ، وَلَكِنَّهُمُ الَّذِينَ يَصُومُونَ وَيُصَلُّونَ وَيَتَصَدَّقُونَ وَهُمْ يَخَافُونَ أَنْ لاَ يُقْبَلَ مِنْهُم، أُولَئِكَ الَّذِينَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ.

Wahai Rasulullah, ayat: “Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan (yakni dari shadaqah atau yang mereka amalkan dari amal shalih), dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabb mereka.” (Al-Mukminun: 60)

“Apakah maksudnya adalah seorang yang berzina dan meminum khamr serta mencuri?” Rasulullah menjawab: “Tidak wahai putri Ash-Shiddiq, akan tetapi itu adalah seseorang yang berpuasa, shalat, bersedekah dalam keadaan ia khawatir amalannya tidak diterima. Merekalah orang-orang yang bersegera dalam kebaikan.” (HR. At-Tirmidzi 3175, Ibnu Majah 4198, dan Ahmad 6/159, 205, dan ini adalah lafadz beliau. Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi. Lihat pula Ash-Shahihah no. 162)

Al-Hasan Al-Bashri t mengatakan: “Demi Allah, mereka mengamalkan ketaatan serta bersungguh-sungguh di dalamnya, namun mereka takut kalau amalnya ditolak. Sesungguhnya seorang mukmin menyertakan antara perbuatan baik dan rasa khawatir, sementara seorang munafik menggabungkan antara perbuatan jelek dan perasaan tenang.” (Lihat Syarh At-Thahawiyah)

Para pembaca yang saya hormati. Jujur saja, apakah yang dilakukan Imam Samudra cs suatu amal kebaikan? Apakah yang mereka lakukan tergolong jihad yang dibenarkan secara syar’i dan telah memenuhi syarat-syaratnya?

Seandainya pun itu suatu amal kebaikan dan merupakan jihad yang syar’i, maka itupun tetap tidak membolehkan kita untuk memastikan bahwa itu diterima, bahkan hanya bisa mengharap. Lebih-lebih memastikan syahid, mendapat surga ataupun bidadarinya. Hal itu sebagaimana penjelasan Allah l, Rasul dan para ulama. Inilah hukum Islam, jika kita mau menegakkan hukum Islam. Tapi kalau ternyata apa yang dilakukannya adalah suatu amal kejelekan, maka ini dari jenis yang kita khawatirkan, bahkan kekhawatiran besar.

Apa sebenarnya yang mereka lakukan? Mari kita melihat sejenak.

Mereka telah menyebabkan hilangnya nyawa sejumlah kaum muslimin. Mereka telah membunuh dan melukai ratusan orang kafir musta’man. Mereka telah menghancurkan bangunan. Mereka telah menentang pemerintah muslimin yang sah, mengangkat senjata. Mereka membuat gambaran/citra Islam semakin buruk. Umat Islam pun menerima getahnya dengan dihujani tuduhan serupa, serta menimbulkan rasa takut di masyarakat, dan beberapa hal lain Alasannya adalah jihad.

Saya tidak ingin membahas semuanya. Namun saya hanya akan menyoroti beberapa hal, itupun dengan singkat agar tidak keluar dari maksud tulisan ini.

Pertama: Menyebabkan lenyapnya nyawa sebagian saudara kita muslimin. Nyawa muslim walaupun hanya satu orang apalagi lebih, sangatlah berharga di sisi Allah l. Tidak boleh melakukan tindak kejahatan terhadap jiwa muslim apalagi membunuhnya tanpa alasan dan cara yang benar secara syar’i. Barangsiapa melakukan hal itu berarti telah melakukan salah satu dosa besar dari dosa-dosa besar. Allah l berfirman:

“Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, ia kekal di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.” (An-Nisa’: 93)

Dan Allah berfirman:

“Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi bani Israil, bahwa barangsiapa membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak di antara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan di muka bumi.” (Al-Ma’idah: 32)

Al-Imam Mujahid (seorang tabi’in, ahli tafsir) mengatakan: “(Seperti membunuh manusia secara menyeluruh) yakni dalam hal dosanya.” Ini menunjukkan besarnya dosa membunuh jiwa seseorang tanpa cara dan alasan yang dibenarkan secara syar’i.

Nabi n bersabda:

لاَ يَحِلُّ دَمُ امْرِئٍ مُسْلِمٍ يَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنِّي رَسُولُ اللهِ إِلاَّ بِإِحْدَى ثَلاَثٍ: الثَّيِّبُ الزَّانِي، وَالنَّفْسُ بِالنَّفْسِ، وَالتَّارِكُ لِدِينِهِ الْمُفَارِقُ لِلْجَمَاعَةِ

“Tidak halal darah seorang muslim yang bersaksi bahwa tiada ilah yang benar selain Allah dan bahwa aku adalah utusan Allah, kecuali dengan salah satu dari tiga sebab: Seorang yang berzina padahal telah menikah, seorang yang membunuh maka dibalas dengan dibunuh pula, dan orang yang keluar dari agama meninggalkan jamaah kaum muslimin (dengan kemurtadannya).” (Al-Bukhari no. 6878, Muslim no. 1676 dari Ibnu Mas’ud z)

Nabi n bersabda:

أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ، وَيُقِيمُوا الصَّلاَةَ، وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ، فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلاَّ بِحَقِّ الْإِسْلاَمِ، وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللهِ

“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tiada ilah yang benar melainkan Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat. Bila mereka melakukan hal itu, maka mereka telah melindungi darah dan hartanya dariku kecuali dengan hak Islam dan perhitungannya nanti diserahkan kepada Allah.” (Muttafaqun’alaih dari hadits Ibnu Umar c)

Dalam Sunan An-Nasa’i dari hadits ‘Abdullah bin ‘Amr z dari Nabi n, beliau bersabda:

لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللهِ مِنْ قَتْلِ رَجُلٍ مُسْلِمٍ

“Sungguh lenyapnya dunia bagi Allah lebih ringan dari terbunuhnya seorang muslim.” (Shahih, HR At-Tirmidzi no. 1395, An-Nasa’i no. 3897, Ibnu Majah no. 2619, dan yang lain, lihat Shahih At-Targhib karya Asy-Syaikh Al-Albani t no. 2439)

‘Abdullah Ibnu ‘Umar c suatu hari memandangi Ka’bah seraya mengatakan:

مَا أَعْظَمَكِ وَأَعْظَمَ حُرْمَتَكِ، وَالْمُؤْمِنُ أَعْظَمُ حُرْمَةً عِنْدَ اللهِ مِنْكِ

“Betapa agungnya engkau dan betapa agungnya kehormatan engkau, tetapi seorang mukmin lebih besar kehormatannya di sisi Allah daripada engkau (Ka’bah).” (Shahih lighairihi, HR. At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban, lihat Shahih At-Targhib karya Asy-Syaikh Al-Albani t no. 2441)

Kedua, membunuh jiwa mu’ahad atau musta’man (orang-orang kafir yang memiliki perjanjian damai atau mendapatkan jaminan keamanan dari pemerintah muslimin), di antara mereka adalah para wisatawan asing tersebut.

Dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-Ash c dari Nabi n ia bersabda:

مَنْ قَتَلَ مُعَاهَدًا لَمْ يَرَحْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ، وَإِنَّ رِيْحَهَا تُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ أَرْبَعِينَ عَامًا

“Barangsiapa yang membunuh mu’ahad maka ia tidak bisa mencium aroma surga padahal baunya dapat dicium dari jarak perjalanan 40 tahun.” (HR. Al-Bukhari no. 3166 dan Ibnu Majah no. 2686)

Siapa saja yang diizinkan masuk oleh penguasa muslim dengan perjanjian jaminan keamanan selama berada di negara muslimin, maka jiwa dan hartanya juga terlindungi, tidak boleh menyentuhnya. Barangsiapa membunuhnya maka dia seperti yang disabdakan Nabi n…”tidak akan mencium aroma surga”. Ini adalah ancaman yang keras bagi orang yang mencoba membunuh seorang kafir yang berada dalam ikatan perjanjian dan jaminan keamanan.

Maksudnya, siapa saja yang masuk dengan perjanjian dan jaminan keamanan dari penguasa untuk kepentingan dan maslahat tertentu yang dipandang oleh penguasa tersebut, maka tidak boleh kita mengganggunya atau bertindak jahat terhadapnya, baik terhadap jiwa maupun hartanya.

Ketiga, melakukan kerusakan di muka bumi dengan menimbulkan ketakutan melalui aksi terornya. Allah l berfirman:

“Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka di dunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar.” (Al-Maidah: 33)

Ibnu Katsir t mengatakan: “Kata muharabah (memerangi) artinya melawan dan menyelisihi. Kata ini tepat diberikan kepada kekafiran atau qath’u thariq (penyamun jalanan) serta yang menakut-nakuti manusia dengan kejahatannya di jalanan. Demikian pula kata ‘merusak di bumi’ diberikan kepada berbagai macam kejahatan dan kejelekan.” (Tafsir Al-Quran Al-’Azhim, 2/50)

Demikian pula kesimpulan Asy-Syaukani t tentang makna ‘kerusakan di muka bumi’: “Telah diperselisihkan tentang makna kerusakan di muka bumi dalam ayat ini, apakah itu? Dikatakan dalam sebuah pendapat bahwa itu adalah ‘syirik’. Dikatakan dalam pendapat lain bahwa itu ‘merampok atau mengganggu dengan kejahatan di jalan’. Yang tampak dari susunan kalimat Al-Qur’an bahwa kata itu tepat untuk semua yang dapat disebut sebagai kerusakan di bumi. Sehingga syirik adalah kerusakan di bumi, melakukan kejahatan di jalan juga kerusakan di bumi, menumpahkan darah, merenggut kehormatan, dan merampok harta juga kerusakan di muka bumi. Serta berbuat jahat terhadap hamba Allah tanpa alasan yang benar juga kerusakan di bumi, menghancurkan bangunan, menebang pepohonan dan juga mengeringkan sungai juga kerusakan di bumi. Dengan ini engkau tahu dengan tepat untuk menyebut ini semua sebagai kerusakan di bumi….” (Tafsir Fathul Qadir)

Maka dari itu, siapapun yang melakukan kejahatan sebagaimana kriteria di atas, ia berhak mendapatkan hukuman yang Allah sebutkan dalam ayat, yaitu dibunuh, disalib, atau dipotong tangan dan kakinya secara menyilang atau diasingkan. Hal itu disesuaikan dengan besar kecilnya kejahatan yang dia lakukan setelah dipelajari dan terbukti kejahatannya. Hukuman tersebut ditetapkan karena besarnya kejahatan yang dilakukan, sehingga Allah menyebutnya sebagai peperangan terhadap Allah l dan Rasul-Nya n, terutama bila di antara korbannya adalah muslimin.

Dilihat dari tiga masalah ini saja, maka tampak bahwa apa yang mereka (trio bomber dkk, red.) lakukan bukanlah masalah sepele. Bahkan merupakan ‘kejahatan kriminal yang amat besar’. Maka hukuman hirabah-lah yang pantas bagi mereka menurut hukum Islam, seperti yang tersebut dalam surat Al-Maidah di atas. Bila mereka konsekuen dengan tuntutan syariat Islam, maka inilah syariat Islam bagi para pelaku kejahatan semacam ini.

Dari pemaparan secara singkat di atas, maka sangat keliru, bahkan salah besar, ketika seseorang berani memvonis surga atau syahid untuk mereka dengan amalan tersebut. Kesalahan vonis ini bukan hanya untuk mereka, bahkan untuk siapapun, kecuali bila ada wahyu ilahi yang menerangkan kepada kita bahwa seseorang syahid atau pasti masuk surga.

Maka berhati-hatilah, wahai kaum muslimin, untuk bicara tanpa ilmu!

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.


1 Tulisan ini pernah dimuat di www.darussalaf.or.id. Kami tampilkan lagi dengan beberapa penambahan.

Al-Haafidz dan Al-Hafidz

(ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar Suaidi)

 

Di antara Al-Asma’ul Husna adalah Al-Hafiizh (الْحَفِيظُ) dan Al-Haafizh (الْحَافِطُ), sebagaimana dalam firman-Nya:

“Sesungguhnya Rabbku adalah Maha Pemelihara segala sesuatu.” (Hud: 57)

“Maka Allah adalah sebaik-baik Penjaga dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang.” (Yusuf: 64)

Adapun maknanya sebagaimana dijelaskan oleh Asy-Syaikh Muhammad Khalil Al-Harras dalam Syarh Nuniyyah Ibnul Qayyim t:

Di antara nama-nama Allah l adalah Al-Hafiizh. Nama ini memiliki dua makna:

Salah satunya, bahwa Dia menjaga/memelihara apa yang dilakukan oleh hamba-Nya berupa amal baik atau amal buruk, yang ma’ruf atau yang mungkar, taat atau maksiat. Tidak ada yang terlewatkan sedikitpun dari-Nya walaupun seberat semut kecil. Pemeliharaan Allah l terhadap amal mereka ini bermakna menghitungnya dengan tepat. Berarti ilmu Allah l meliputi segala amal mereka, lahir maupun batin, dan Allah  l telah menulisnya dalam Lauhul Mahfuzh, sebelum menciptakannya, bahkan sebelum menciptakan langit-langit dan bumi. Allah  l juga telah menugaskan para malaikat penjaga untuk mengurusinya, para malaikat mulia yang menulis dan mengetahui apa yang mereka lakukan. Allah l berfirman:

“Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (Yasin: 12)

dan berfirman:

“Pada hari ketika mereka dibangkitkan Allah semuanya, lalu diberitakan-Nya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Allah mengumpulkan (mencatat) amal perbuatan itu, padahal mereka telah melupakannya. Dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu.” (Al-Mujadalah: 6)

Allah l juga berfirman:

“Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang yang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Rabbmu tidak menganiaya seorang juapun’.”  (Al-Kahfi: 49)

“Dan segala sesuatu yang telah mereka perbuat tercatat dalam buku-buku catatan. Dan segala (urusan) yang kecil maupun yang besar adalah tertulis.” (Al-Qamar: 52, 53)

Makna penjagaan Allah l yang seperti ini berkonsekuensi bahwa ilmu Allah l meliputi segala keadaan hamba-hamba-Nya lahir maupun batin, dan bahwa itu telah tertulis di Lauhul Mahfuzh juga pada lembaran-lembaran yang berada pada tangan para malaikat. Sebagaimana ini juga berarti bahwa Allah l mengetahui ukuran amal mereka sempurna atau kurangnya, serta ukuran balasannya baik pahala atau hukuman, lalu Allah l akan membalasi mereka dengan keutamaan dan keadilan-Nya.

Makna yang kedua, bahwa Allah l adalah Al-Haafizh, yakni Yang menjaga hamba-hamba-Nya dari segala hal yang tidak mereka sukai. Ibnul Qayyim t mengisyaratkan makna ini dengan ucapannya, ‘Dan Dialah yang menjamin untuk menjaga mereka dari segala hal yang memberatkan dan tidak disukai.’

Penjagaan Allah l dalam hal ini ada dua macam, bersifat umum dan bersifat khusus. Yang bersifat umum adalah penjagaan-Nya terhadap seluruh makhluk, yaitu Allah l mudahkan makhluk untuk mendapatkan sesuatu yang melindunginya dan menjaga tubuhnya, serta memberikan ilham kepadanya untuk segala urusannya serta berusaha untuk memperbaikinya masing-masing sesuai dengan kondisi fisiknya, seperti dalam firman-Nya:

“Musa berkata: ‘Rabb kami ialah Dzat yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk’.” (Thaha: 50)

Yakni memberikan petunjuk kepada seluruh makhluk untuk menuju kepada apa yang telah ditentukan atasnya berupa kebutuhan yang pokok atau kebutuhan penunjangnya. Allah l juga memberikan kepadanya sarana dan alat yang dengannya ia mampu untuk mendapatkan makan dan minumnya serta kebutuhan nikahnya. Juga kemampuan untuk berusaha menuju kepadanya. Tanpa diragukan, hal ini berlaku atas orang yang baik maupun yang jelek, bahkan juga hewan dan yang lainnya. Dialah yang menahan langit-langit dan bumi agar tidak bergeser. Dia pula yang menjaga seluruh makhluk dengan nikmat-nikmat-Nya. Dia pula yang menugaskan para malaikat penjaga –yang menjaga baik dari depan maupun dari belakang– untuk menjaga anak Adam. Semuanya itu dengan perintah Allah l. Maksudnya malaikat tersebut menjaga manusia dari hal yang mencelakakannya, dan gangguan-gangguan yang tidak Allah l takdirkan menimpanya, yang semestinya akan mengenainya kalaulah bukan karena penjagaan Allah l.

Macam kedua, penjagaan Allah l yang khusus untuk para wali-Nya. Penjagaan yang lebih dari apa yang telah disebutkan. Yaitu, Allah l menjaga mereka dari sesuatu yang mencelakakan keimanan mereka atau menggoyahkan keyakinan mereka, berupa berbagai godaan dan syubhat ataupun syahwat. Sehingga Allah l selamatkan mereka darinya dan Allah l keluarkan dari semuanya itu dengan terjaga dan sejahtera. Juga Allah l menjaga mereka dari musuh-musuh mereka dari kalangan jin maupun manusia, sehingga Allah l menangkan mereka atas musuh-musuh, serta Allah l selamatkan dari tipu daya mereka. Allah l berfirman:

“Maka dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.” (Al-Hajj: 78)

Ini berlaku umum dalam hal menjaga dari segala yang akan mencelakakan mereka baik dalam urusan dunia maupun agama.

Maka sebanding dengan keimanan yang dimiliki seorang hamba, Allah l akan memberikan penjagaan-Nya terhadapnya dengan kelembutan-Nya, sebagaimana disebutkan dalam kitab Shahih dari hadits Ibnu Abbas c:

احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ

“Jagalah (hukum-hukum) Allah niscaya akan menjagamu, jagalah (hukum-hukum) Allah niscaya kamu akan mendapati-Nya di hadapanmu.” (Syarh Al-Qashidah An-Nuniyyah, 2/90-91)

 

Buah Mengimani Nama Al-Hafiizh dan Al-Haafizh

Dengan mengimaninya, seseorang akan mengetahui keluasan ilmu Allah l dan ketelitian-Nya. Tidak ada satu perbuatanpun yang luput dari ilmu Allah l. Semuanya tertulis dan terjaga, untuk dipertanggungjawabkan oleh manusia kelak di hadapan-Nya. Atas dasar itu maka setiap insan harus berhati-hati dalam berbuat dan bertutur kata, tak ada yang luput dari catatan-Nya.

Sebagaimana dengan mengimani nama tersebut kita mengetahui karunia Allah l yang begitu besar kepada seluruh makhluk-Nya, di mana Allah l menjaga mereka dari segala marabahaya. Kalaulah bukan karena penjagaan-Nya tentu berbagai macam malapetaka akan menimpa, kecuali bila takdir telah datang maka malaikat pun menyingkir tidak menjaga dari musibahnya.

Juga terkhusus karunia Allah l kepada orang yang beriman dan bertakwa, lebih besar dari makhluk lain pada umumnya. Karena bukan hanya urusan dunia yang Allah l jaga namun juga mencakup agama dan keimanannya. Tentu ini menuntut kita untuk bersyukur kepada-Nya, Al-Hafiizh l.

Wallahu a’lam.

Adzan dan Iqomah (bagian satu)

(dituis oleh: Al-Ustadz Abu Ishaq Muslim Al-Atsari)

 

 

Makna dan Tujuan Adzan

Secara bahasa, adzan bermakna i’lam yaitu pengumuman, pemberitahuan atau pemakluman, sebagaimana disebutkan dalam Mukhtarush Shihhah (hal. 16), At-Ta’rifat oleh Al-Jurjani (hal. 23), dan selainnya. Allah k berfirman:

”Dan inilah suatu pemakluman dari Allah dan Rasul-Nya kepada umat manusia pada hari haji akbar…” (At-Taubah: 3)

Adapun secara syariat, adzan adalah pemberitahuan datangnya waktu shalat dengan menyebutkan lafadz-lafadz yang khusus. (Fathul Bari 2/102, Al-Mughni Kitabush Shalah, bab Al-Adzan)

Abul Hasan Al-Mawardi t menerangkan, asal adzan ini adalah firman Allah k:

”Wahai orang-orang yang beriman, apabila kalian diseru untuk mengerjakan shalat pada hari Jum’at maka bersegeralah kalian kepada mengingat Allah…” (Al-Jumu’ah: 9)

Dan firman-Nya:

“Dan apabila kalian menyeru mereka untuk mengerjakan shalat, mereka menjadikannya buah ejekan dan permainan…” (Al-Maidah: 58) [Al-Hawil Kabir, 2/40]

Ibnu Mulaqqin t berkata, “Ulama menyebutkan empat hikmah adzan:

1. Menampakkan syiar Islam

2. Kalimat tauhid

3. Pemberitahuan telah masuknya waktu shalat dan pemberitahuan tempat pelaksanaan shalat.

4. Ajakan untuk menunaikan shalat berjamaah.” (dinukil dari Taudhihul Ahkam min Bulughil Maram, 1/513 )

 

Keutamaan Adzan dan Muadzin

Banyak hadits yang datang menyebutkan keutamaan adzan dan orang yang menyerukan adzan (muadzin). Di antaranya berikut ini:

Abu Hurairah z mengatakan, Rasulullah n bersabda:

إِذَا نُوْدِيَ لِلصَّلاَةِ أَدْبَرَ الشَّيْطَانُ وَلَهُ ضُرَاطٌ، حَتَّى لاَ يَسْمَعَ التَّأْذِيْنَ، فَإِذَا قَضَى النِّدَاءَ أَقْبَلَ حَتَّى إِذَا ثَوَّبَ بِالصَّلاَةِ أَدْبَرَ….

”Apabila diserukan adzan untuk shalat, syaitan pergi berlalu dalam keadaan ia kentut hingga tidak mendengar adzan. Bila muadzin selesai mengumandangkan adzan, ia datang hingga ketika diserukan iqamat ia berlalu lagi…” (HR. Al-Bukhari no. 608 dan Muslim no. 1267)

Dari Abu Hurairah z juga, ia mengabarkan sabda Rasulullah n:

لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِي النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الْأَوَّلِ ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِِلَّا أَنْ يَسْتَهِمُوْا عَلَيْهِ لاَسْتَهَمُوْا….

”Seandainya orang-orang mengetahui besarnya pahala yang didapatkan dalam adzan dan shaf yang awal kemudian mereka tidak dapat memperolehnya kecuali dengan berundi niscaya mereka rela berundi untuk mendapatkannya…” (HR. Al-Bukhari no. 615 dan Muslim no. 980)

Muawiyah z berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah n bersabda:

الْمؤَذِّنُوْنَ أَطْوَلُ النَّاسِ أَعْنَاقًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ

”Para muadzin adalah orang yang paling panjang lehernya1 pada hari kiamat.” (HR. Muslim no. 850)

Abu Sa’id Al-Khudri z mengabarkan dari Rasulullah n:

لاَ يَسْمَعُ مَدَى صَوْتِ الْمُؤَذِّنِ جِنٌّ وَلاَ إِنْسٌ وَلاَ شَيْءٌ إِلاَّ شَهِدَ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

”Tidaklah jin dan manusia serta tidak ada sesuatupun yang mendengar suara lantunan adzan dari seorang muadzin melainkan akan menjadi saksi kebaikan bagi si muadzin pada hari kiamat.” (HR. Al-Bukhari no. 609)

Ibnu ’Umar c berkata: Rasulullah n bersabda:

يُغْفَرُ لِلْمْؤَذِّنِ مُنْتَهَى أََذَانِهِ وَيَسْتَغْفِرُ لَهُ كُلُّ رَطْبٍ وَيَابِسٍ سَمِعَهُ

”Diampuni bagi muadzin pada akhir adzannya. Dan setiap yang basah ataupun yang kering yang mendengar adzannya akan memintakan ampun untuknya.” (HR. Ahmad 2/136. Asy-Syaikh Ahmad Syakir t berkata: “Sanad hadits ini shahih.”)

Ibnu Mas’ud z berkata: Ketika kami bersama Rasulullah n dalam satu safar, kami mendengar seseorang menyerukan, ”Allahu Akbar, Allahu Akbar.” Nabiyullah n bersabda, ”Dia di atas fithrah.” Terdengar lagi seruannya, ”Asyhadu an laa ilaaha illallah.” ”Ia keluar dari api neraka,” kata Rasulullah n. Kami pun bersegera ke arah suara seruan tersebut. Ternyata orang itu adalah pemilik ternak yang mendapati waktu shalat ketika sedang menggembalakan hewannya, lalu ia menyerukan adzan. (HR. Ahmad 1/407-408. Guru kami Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i t berkata, ”Hadits ini shahih di atas syarat Syaikhain.” Lihat Al-Jami’ Ash-Shahih Mimma Laisa fish Shahihain, 2/56, 57)

Rasulullah n mendoakan para imam dan muadzin:

اللَّهُمَّ أَرْشِدِ الْأَئِمّةَ وَاغْفِرْ لِلَمْؤَذِّنِيْنَ

”Ya Allah berikan kelurusan2 bagi para imam dan ampunilah para muadzin.” (HR. Abu Dawud no. 517 dan At-Tirmidzi no. 207, dishahihkan Al-Imam Al-Albani t dalam Al-Irwa’ no. 217, Al-Misykat no. 663)

Aisyah x berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah n bersabda:

الْإِمَامُ ضَامِنٌ وَالْمُؤَذِّنُ مُؤْتَمَنٌ، فَأَرْشَدَ اللهُ الْأَئِمّةَ وَعَفَا عَنِ المْؤَذِّنِيْنَ

“Imam adalah penjamin sedangkan muadzin adalah orang yang diamanahi, maka semoga Allah memberikan kelurusan kepada para imam dan memaafkan para muadzin.” (HR. Ibnu Hibban dalam Shahih-nya no.1669, dan hadits ini dishahihkan oleh Al-Imam Al-Albani t dalam Shahih At-Targhib wat Tarhib no. 239)

 

Awal Pensyariatan Adzan

Ibnu Umar c berkata, “Ketika awal kedatangan kaum muslimin di Madinah, mereka datang untuk mengerjakan shalat dengan memperkirakan waktu berkumpulnya mereka, karena tidak ada orang yang khusus bertugas menyeru mereka berkumpul untuk shalat. Suatu hari mereka mempercakapkan hal ini. Sebagian mereka berkata, ‘Kita akan menggunakan lonceng seperti loncengnya Nasrani untuk memanggil orang-orang agar berkumpul untuk mengerjakan shalat.’ Sebagian lain mengatakan, ‘Kita pakai terompet seperti terompetnya Yahudi.’  Namun Umar mengusulkan, ‘Tidakkah sebaiknya kalian mengutus seseorang untuk menyerukan panggilan shalat?’ Nabi n pun bersabda:

يَا بِلاَلُ، قُمْ فَنَادِ بِالصَّلاَةِ

“Bangkitlah wahai Bilal, kumandangkanlah seruan untuk shalat.” (HR. Al-Bukhari no. 604 dan Muslim no. 835)

Dalam hadits Anas bin Malik z yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari t (no. 603) juga disebutkan ada yang mengusulkan untuk menyalakan api sebagai tanda ajakan shalat.

Namun semua usulan ditolak oleh Rasululllah n karena ada unsur penyerupaan dengan orang-orang kafir. Sementara kita dilarang tasyabbuh (menyerupai) dengan ashabul jahim (para penghuni neraka) ini.

Dari hadits Ibnu Umar c di atas, tampak bagi kita beberapa perkara:

1. Seruan untuk berkumpul mengerjakan shalat baru disyariatkan di Madinah setelah kedatangan Rasulullah n. Adapun riwayat yang menyebutkan bahwa adzan telah disyariatkan di Makkah atau pada malam Isra’, tidak ada satu pun yang shahih sebagaimana dinyatakan oleh Al-Hafizh t dalam Fathul Bari (2/104).

2. Seruan untuk shalat yang diperintahkan Rasulullah n kepada Bilal z bukanlah lafadz-lafadz adzan yang kita kenal, karena lafadz-lafadz tersebut baru dikumandangkan Bilal setelah Abdullah bin Zaid z bermimpi mendengar lafadz-lafadz adzan.

Al-Qadhi Iyadh t berkata, “Disebutkan dalam hadits bahwa Umar mengisyaratkan kepada mereka untuk mengumandangkan seruan. Ia berkata, ‘Tidakkah sebaiknya kalian mengutus seseorang untuk menyerukan panggilan shalat?’ Zahir dari ucapan ini bahwa seruan tersebut berupa pemberitahuan semata, bukan adzan yang khusus sebagaimana yang disyariatkan. Tetapi berupa pemberitahuan untuk shalat, bagaimana pun caranya.” (Al-Ikmal, 2/237)

Tentang awal pensyariatan adzan ini juga disebutkan dalam hadits berikut ini:

Abu Umair bin Anas mengabarkan dari pamannya seorang dari kalangan Anshar: Nabi n memikirkan bagaimana cara mengumpulkan orang-orang untuk mengerjakan shalat berjamaah. Ada yang mengusulkan pada beliau, ”Pancangkan bendera ketika telah tiba waktu shalat, sehingga bila orang-orang melihatnya, mereka akan saling memanggil untuk menghadiri shalat.” Namun usulan tersebut tidak berkenan di hati Rasulullah n.

Ada yang mengusulkan terompet, namun Rasulullah n juga tidak berkenan menerimanya, bahkan beliau mengatakan, ”Itu perbuatan Yahudi.”

Ada yang usul lonceng, beliau bersabda, ”Itu urusan Nasrani.”

Pulanglah Abdullah bin Zaid bin Abdi Rabbihi z dalam keadaan hatinya dipenuhi pikiran tentang kegelisahan Rasulullah n. Ketika tidur, ia bermimpi mendengar adzan3.

Di pagi harinya ia menemui Rasulullah n untuk memberitakan mimpi tersebut, ”Wahai Rasulullah, aku berada di antara tidur dan jaga ketika datang kepadaku seseorang lalu ia menunjukkan adzan kepadaku.” Sebelumnya Umar ibnul Khaththab z telah bermimpi tentang adzan namun ia menyembunyikannya (tidak memberitahukan tentang mimpinya) selama 20 hari. Setelahnya barulah Umar memberitakan mimpinya kepada Nabi n4. ”Apa yang menghalangimu untuk memberitahukan mimpimu kepadaku?” tanya Rasulullah n kepada Umar z. Kata Umar, ”Abdullah bin Zaid telah mendahului saya, saya pun malu.” Rasulullah n bersabda, ”Wahai Bilal, bangkitlah, perhatikan apa yang diajarkan Abdullah bin Zaid lalu ucapkanlah.” Bilal pun mengumandangkan adzan. (HR. Abu Dawud no. 498, kata Al-Hafizh Ibnu Hajar t dalam Fathul Bari 2/107, ”Sanadnya shahih.” Hadits ini dihasankan dalam Shahih Sunan Abi Dawud dan Al-Jami’ush Shahih 2/62)

Dengan demikian, seruan untuk shalat telah melewati tiga tahapan:

Pertama: Ketika awal diwajibkan shalat di Makkah (tiga tahun sebelum hijrah), belum ada seruan untuk shalat sama sekali. Hal ini terus berlangsung sampai Nabi n hijrah ke Madinah. Pada masa itu, untuk berkumpul kaum muslimin hanya memperkirakan waktunya.

Kedua: Ada seruan umum yang dikumandangkan Bilal untuk berkumpul guna mengerjakan shalat setelah terjadi musyawarah Rasulullah n dan para sahabatnya, atas usulan Umar ibnul Khaththab z.

Ketiga: Dikumandangkannya adzan yang syar’i setelah Abdullah bin Zaid z mendengarnya dalam mimpinya.

 

Hukum Adzan

Al-Imam An-Nawawi t berkata tentang pendapat ulama dalam masalah hukum adzan berikut iqamat, “Mazhab kami (Syafi’iyyah) yang masyhur menetapkan hukum keduanya sunnah bagi setiap shalat, baik yang mukim ataupun safar, baik shalat jamaah ataupun shalat sendiri. Keduanya tidaklah wajib. Bila ditinggalkan, sah shalat orang yang sendirian atau berjamaah. Demikian pula pendapat Abu Hanifah t dan murid-muridnya, serta pendapat Ishaq bin Rahawaih t. As-Sarkhasi t menukilkannya dari jumhur ulama. Ibnul Mundzir t berkata, “Adzan dan iqamat wajib hukumnya dalam shalat berjamaah baik di waktu mukim ataupun safar.” Al-Imam Malik menyatakan, “Wajib dikumandangkan di masjid yang ditegakkan shalat berjamaah di dalamnya.”

Atha dan Al-Auza’i rahimahumallah berkata, “Bila lupa iqamat, shalat harus diulangi.” Dalam satu riwayat dari Al-Auza’i t, “Orang itu mengulangi shalatnya selama waktu shalat masih ada.”

Al-‘Abdari t berkata, “Hukum keduanya sunnah menurut Al-Imam Malik t, dan fardhu kifayah menurut Al-Imam Ahmad t.”

Dawud t mengatakan, “Keduanya wajib bagi shalat berjamaah, namun bukan syarat sahnya.”

Mujahid berpendapat, “Bila lupa iqamat dalam shalat ketika safar, ia harus mengulangi shalatnya.”

Al-Muhamili t mengatakan, “Ahlu zahir berkata bahwa adzan dan iqamat wajib bagi seluruh shalat, namun mereka berbeda pendapat tentang keberadaannya apakah sebagai syarat sahnya shalat ataukah tidak.” (Al-Majmu’, 3/90)

Di antara pendapat yang ada, maka yang kuat dalam pandangan penulis adalah pendapat yang menyatakan wajib/fardhu kifayah, dengan dalil-dalil berikut ini:

1. Hadits Malik ibnul Huwairits z, ia berkata: Kami mendatangi Nabi n di Madinah dalam keadaan kami adalah anak-anak muda yang sebaya. Kami tinggal di sisi beliau selama 20 hari 20 malam. Adalah Rasulullah n seorang yang pengasih lagi penyayang. Ketika beliau yakin kami telah merindukan keluarga kami, beliau menanyakan tentang keluarga yang kami tinggalkan, maka kami pun menyampaikannya. Beliau bersabda:

ارْجِعُوْا إِلَى أَهْلِيْكُمْ، فَأَقِيْمُوا فِيْهِمْ وَعَلِّمُوْهُمْ وَمُرُوْهُمْ– وَذَكَرَ أَشْيَاءَ أَحْفَظُهَا أَوْ لاَ أَحْفَظُهَا –وَصَلُّوْا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِي أُصَلِّي، فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلاَةُ فَلْيُؤَذِّنْ لَكُمْ أَحَدُكُمْ وَلْيَؤُمَّكُمْ أَكْبَرُكُمْ

“Kembalilah kalian menemui keluarga kalian, tinggallah bersama mereka, ajari dan perintahkan mereka –beliau lalu menyebut beberapa perkara ada yang aku ingat dan ada yang tidak–. Shalatlah kalian sebagaimana cara shalatku yang kalian lihat. Bila telah datang waktu shalat, hendaklah salah seorang dari kalian mengumandangkan adzan dan hendaknya yang paling besar/tua dari kalian menjadi imam.” (HR. Al-Bukhari no. 628, 7246 dan Muslim no. 1533)

2. Hadits Amr bin Salamah, di dalamnya disebutkan sabda Rasulullah n:

صَلُّوا صَلاَةَ كَذَا فِي حِيْنِ كَذَا، وَصَلُّوا كَذَا فِي حِيْنِ كَذَا، فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلاَةُ فَلْيُؤَذِّنْ أَحَدُكُمْ وَلْيَؤُمَّكُمْ أَكْثَرُكُمْ قُرْآنًا

“Kerjakanlah oleh kalian shalat ini di waktu ini dan shalat itu di waktu itu. Bila telah datang waktu shalat, hendaklah salah seorang dari kalian mengumandangkan adzan dan hendaknya yang mengimami kalian adalah orang yang paling banyak hafalan Qur’annya.” (HR. Al-Bukhari no. 4302)

Ibnu Hazm t berkata, “Dengan dua hadits ini pastilah kebenaran pendapat yang mengatakan adzan itu wajib secara umum bagi setiap shalat, dan bahwa adzan baru diserukan setelah masuknya waktu shalat. Iqamat juga masuk dalam perkara ini.” (Al-Muhalla, 2/165)

Beliau juga berkata, “Di antara yang berpendapat wajibnya adzan adalah Abu Sulaiman dan murid-muridnya. Kami tidak mengetahui adanya hujjah sama sekali bagi yang berpendapat adzan itu tidak wajib. Seandainya tidak ada dalil yang menunjukkan wajibnya adzan kecuali penghalalan Rasulullah n terhadap darah orang-orang yang tinggal di sebuah negeri karena tidak terdengar adzan diserukan di negeri tersebut, dihalalkan harta mereka dan menawan mereka, niscaya ini sudah cukup untuk menyatakan wajibnya. Pendapat ini merupakan kesepakatan yang diyakini oleh seluruh sahabat g tanpa diragukan, maka ini merupakan ijma’ yang dipastikan kebenarannya.” (Al-Muhalla, 2/166)

Ibnul Mundzir t dalam Al-Ausath (3/24) berkata, “Adzan dan iqamat adalah dua kewajiban bagi setiap (shalat) berjamaah, baik dalam keadaan mukim (tidak bepergian/safar) maupun sedang safar. Karena Nabi n memerintahkan agar adzan diserukan. Perintah beliau menunjukkan wajib. Nabi n pernah memerintahkan Abu Mahdzurah agar menyerukan adzan di Makkah dan beliau juga pernah menyuruh Bilal adzan. Semua ini menunjukkan wajibnya adzan.”

Al-Imam Al-Albani t berkata, “Secara mutlak, tidak diragukan lagi batilnya pendapat yang mengatakan adzan hukumnya mustahab. Bagaimana bisa dihukumi mustahab, sementara adzan termasuk syiar Islam yang terbesar, yang mana dahulu Nabi n bila tidak mendengar seruan adzan di daerah suatu kaum, beliau mendatangi mereka untuk memerangi mereka dan melakukan penyerangan terhadap mereka. Sebaliknya bila mendengar adzan diserukan di tengah mereka, beliau menahan diri dari memerangi mereka sebagaimana disebutkan haditsnya dalam Shahihain dan selainnya. Telah pasti pula adanya hadits shahih dari selain Shahihain yang berisi perintah untuk mengumandangkan adzan. Yang namanya kewajiban bisa ditetapkan dengan yang lebih sedikit dari apa yang telah disebutkan. Maka pendapat yang benar adalah adzan hukumnya fardhu kifayah. Pendapat inilah yang dishahihkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t dalam Al-Fatawa (1/67-68 dan 4/20). Bahkan adzan diwajibkan walaupun seseorang shalat sendirian sebagaimana akan disebutkan dalilnya.” (Tamamul Minnah, hal. 144)

Di antaranya riwayat yang dikeluarkan oleh Abu Dawud (no.1203), An-Nasa’i (no. 666), dan Ahmad (4/157) dari hadits Uqbah bin Amir z secara marfu’:

يَعْجَبُ رَبُّكُمْ مِنْ رَاعِي غَنَمٍ فِي رَأْسِ شَظِيةٍ بِجَبَلٍ، يُؤَذِّنُ بِالصَّلاَةِ وَيُصَلِّي، فَيَقُوْلُ اللهُ k: انْظُرُوْا إِلَى عَبْدِيْ هَذَا، يُؤَذِّنُ وَيُقِيْمُ الصَّلاَةَ، يَخَافُ مِنِّي، فَقَدْ غَفَرْتُ لِعَبْدِي وَأَدْخَلْتُهُ الْجَنَّةَ

Rabb kalian kagum dengan seorang penggembala kambing di puncak gunung yang mengumandangkan adzan untuk shalat dan setelahnya ia menunaikan shalat. Allah k berfirman, “Lihatlah oleh kalian hamba-Ku ini, ia adzan dan menegakkan shalat dalam keadaan takut kepada-Ku, maka Aku ampuni hamba-Ku ini dan Aku masukkan ia ke dalam surga.” (Al-Imam Al-Albani t berkata dalam Ash-Shahihah no. 41, “Hadits ini shahih.”)
Adapun iqamat, menurut Al-Imam Malik, Asy-Syafi’i, dan seluruh fuqaha rahimahumullah, hukumnya sunnah muakkadah, dan orang yang meninggalkannya tidak perlu mengulang shalatnya.
Sedangkan menurut Al-Auza’i, Atha’, Mujahid, dan Ibnu Abi Laila, iqamat ini wajib, dan yang meninggalkannya harus mengulangi shalatnya. Demikian pula pendapat ahlu zahir. Wallahu a’lam. (Al-Ikmal, 2/232-234)
Yang rajih adalah pendapat yang menyatakan iqamat hukumnya fardhu kifayah dalam shalat berjamaah, baik dalam shalat mukim ataupun safar dengan dalil hadits Malik ibnul Huwairits z. Adapun bagi orang yang shalat sendirian (munfarid) hukumnya mustahab, tidak wajib. Dalilnya adalah hadits Salman z:
إِذَا كَانَ الرَّجُلُ بِأَرْضِ قِيّ، فَحَانَتِ الصَّلاَةُ فَلْيَتَوَضَّأْ، فَإِنْ لَمْ يَجِدْ مَاءً فَلْيَتَيَمَّمْ، فَإِنْ أَقَامَ صَلَّى مَعَهُ مَلَكَاهُ، وَإِنْ أَذَّنَ وَأَقَامَ صَلَّى خَلْفَهُ مِنْ جُنُوْدِ اللهِ مَا لاَ يُرَى طَرْفَاهُ
“Apabila seseorang berada di padang tandus, lalu datang waktu shalat hendaklah ia berwudhu. Bila ia tidak mendapati air hendaklah ia bertayammum. Bila ia bangkit mengerjakan shalat, ikut shalat bersamanya dua malaikat. Jika ia adzan dan shalat maka turut shalat di belakangnya para tentara Allah yang tidak terhitung jumlahnya.” (HR. Abdurrazzaq no. 1955. Al-Imam Al-Albani t mengatakan,”Sanad hadits ini shahih sesuai syarat para imam yang enam.”; Ats-Tsamar, 1/145)
(bersambung, insya Allah)

1 Ahlul ilmi berselisih pendapat dalam memaknakan lafadz ini. Ada yang mengatakan, maknanya adalah orang yang paling banyak melihat pahala. An-Nadhr ibnu Syumail t berkata, “Apabila manusia pada hari kiamat nanti dikekang dengan keringat mereka, menjadi panjanglah leher para muadzin agar mereka tidak mendapatkan bencana tersebut dan tidak ditenggelamkan oleh keringat.”
Adapula yang memaknakannya dengan tokoh, karena orang Arab menyifatkan tokoh/pimpinan dengan leher panjang.
Adapula yang memaknakan banyak pengikutnya. Ibnul Arabi mengatakan, “Orang yang paling banyak amalnya.”
Al-Qadhi Iyadh t dan selainnya berkata, “Sebagian ulama ada yang meriwayatkan lafadz ini dengan mengkasrah hamzah, sehingga dibaca i’naqan yang bermakna paling cepat menuju ke surga.”
Ibnu Abi Dawud berkata: Aku mendengar ayahku berkata tentang maknanya, “Manusia pada hari kiamat nanti akan kehausan. Bila seseorang haus terlipatlah lehernya sedangkan para muadzin tidak merasakan haus, maka leher-leher mereka tetap tegak.” (Nailul Authar, 1/485-486)
2 Mengetahui al-haq dan mau mengikutinya.
3 Mimpinya terjadi pada tahun pertama hijriyah setelah selesai pembangunan masjid Nabawi.
4 Yaitu setelah Umar z mendengar adzan itu dikumandangkan oleh Bilal z sebagaimana ditunjukkan dalam hadits Abdullah bin Zaid z.

Sebab Hilangnya Nikmat

(ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar Suaidi)

 

Ibnul Qayyim t menjelaskan:

Di antara malapetaka yang tersembunyi namun banyak menyebar adalah keberadaan seorang hamba pada sebuah kenikmatan yang Allah l karuniakan kepadanya dan Allah l pilihkan untuknya, lalu hamba tersebut merasa bosan dengannya dan meminta untuk beranjak menuju nikmat lain yang dia anggap lebih baik berdasarkan penilaiannya yang bodoh. Namun Allah l dengan kasih sayang-Nya tetap belum mengeluarkannya dari nikmat tersebut dan masih memaafkannya atas kebodohannya serta kejelekan pilihannya untuk dirinya sendiri.

Sampai nanti ketika dadanya terasa sesak terhadap nikmat tersebut, merasa marah dan resah dengannya, sehingga rasa bosan semakin menguat pada dirinya, Allah l pun akan mencabut nikmat tersebut dari dirinya. Maka ketika dia berpindah kepada apa yang dicari dan melihat perbedaan antara nikmat yang ia berpindah darinya dengan apa yang sekarang ia ada padanya, maka ia semakin gundah gulana, menyesal dan berharap untuk kembali kepada nikmat yang ia ada padanya dahulu.

Bila Allah l menghendaki kebaikan dan kelurusan bagi hamba-Nya, Allah l akan mempersaksikan kepadanya bahwa apa yang ia sedang berada padanya merupakan salah satu nikmat Allah l dan merupakan keridhaan Allah l padanya, sehingga Allah  l akan mengilhamkan dia untuk bersyukur. Oleh karena itu, manakala dia ingin berpindah darinya, iapun ber-istikharah kepada-Nya (minta dipilihkan oleh Allah l), dengan perasaan bahwa ia tidak mengetahui maslahat untuk dirinya, merasa lemah terhadapnya, dan menyerahkan urusannya kepada Allah  l serta meminta-Nya pilihan yang terbaik.

Tidak ada bagi hamba sesuatu yang lebih mencelakakan daripada rasa bosannya terhadap nikmat Allah l. Karena, dengan begitu ia tidak melihatnya sebagai suatu nikmat dan ia pun juga tidak akan mensyukurinya. Ia juga tidak akan merasa senang dengannya, sehingga ia akan membencinya, mengeluhkannya dan menganggapnya sebagai musibah. Padahal itu sesungguhnya termasuk nikmat Allah l yang terbesar baginya.

Jadi, mayoritas manusia itu adalah musuh-musuh bagi nikmat yang Allah l bukakan untuk mereka. Mereka tidak merasakan dibukanya nikmat Allah l untuk mereka. Justru mereka berusaha menolaknya karena kebodohan dan sifat zalim mereka. Betapa sering sebuah nikmat berjalan menuju kepadanya sementara ia berupaya untuk menolaknya dengan kesungguhannya. Betapa banyak pula nikmat yang telah sampai kepadanya namun dia masih juga berusaha untuk menolaknya atau menghilangkannya karena kebodohan dan kezalimannya. Allah l berfirman:

“Yang demikian (siksaan) itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan mengubah suatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al-Anfal: 53)

Allah l berfirman juga:
“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (Ar-Ra’d: 11)
Sehingga, tidak ada yang lebih memusuhi nikmat daripada jiwa hamba itu sendiri. Dia bersama musuh dirinya yang sebenarnya telah membantu untuk melawan dirinya sendiri. (Ibarat) musuhnya melempar api terhadap nikmat, sementara dia yang meniup-niup api tersebut. Dia membantu musuhnya untuk melempar api kepadanya kemudian dia membantunya dengan meniupnya. Bilamana api semakin besar nyalanya, barulah ia meminta-minta bantuan untuk melawan api tersebut. Ujungnya adalah tidak ikhlas dalam menerima takdir.
Dan orang yang lemah akalnya akan menyia-nyiakan kesempatannya
Sehingga bila kehilangan sesuatu, ia akan mencela takdir (Al-Fawa’id hal. 201)
As-Sa’di t mengatakan: “Sesungguhnya Allah l tidak akan mengubah suatu nikmat yang Allah k berikan kepada suatu kaum, baik nikmat agama maupun nikmat duniawi. Bahkan Allah l akan menetapkannya dan menambahnya bila ia menambah rasa syukurnya.  (Sehingga merekalah yang mengubah apa yang ada pada diri mereka) dari ketaatan kepada maksiat, sehingga mereka mengkufuri nikmat Allah dan menggantinya dengan ingkar. Allah l pun mencabut nikmat tersebut dan mengubahnya sebagaimana mereka mengubahnya pada diri mereka. Hal itu mengandung hikmah dan keadilan Allah l serta kebaikan-Nya kepada hamba-Nya, di mana Allah l tidak menghukum mereka melainkan karena kezaliman mereka sendiri.” (Tafsir As-Sa’di, Surat Al-Anfal: 53)

Perang Dzatus Salasil

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Harits)

 

Peristiwa ini terjadi pada tahun kedelapan hijriah, di bulan Jumadil Akhirah, beberapa hari sesudah meletusnya perang Mu’tah, di balik lembah Wadil Qura yang berjarak sepuluh hari dari Madinah.

Sebuah berita sampai kepada Rasulullah n bahwa sepasukan orang dari Qudha’ah1 telah berkomplot untuk mendekati ujung kota Madinah. Rasulullah n pun memanggil ‘Amr bin Al-’Ash z.
‘Amr bin Al-’Ash z menceritakan:
قَالَ لِي رَسُولُ اللهِn : يَا عَمْرُو، اشْدُدْ عَلَيْكَ سِلَاحَكَ وَثِيَابَكَ وَأْتِنِي. فَفَعَلْتُ فَجِئْتُهُ وَهُوَ يَتَوَضَّأُ فَصَعَّدَ فِيَّ الْبَصَرَ وَصَوَّبَهُ وَقَالَ: يَا عَمْرُو، إِنِّي أُرِيدُ أَنْ أَبْعَثَكَ وَجْهًا فَيُسَلِّمَكَ اللهُ وَيُغْنِمَكَ وَأَرْغَبُ لَكَ مِنَ الْمَالِ رَغْبَةً صَالِحَةً. قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنِّي لَمْ أُسْلِمْ رَغْبَةً فِي الْمَالِ إِنَّمَا أَسْلَمْتُ رَغْبَةً فِي الْجِهَادِ وَالْكَيْنُونَةِ مَعَكَ. قَالَ: يَا عَمْرُو، نَعِمَّا بِالْمَالِ الصَّالِحِ لِلرَّجُلِ الصَّالِحِ
Rasulullah n berkata kepadaku: “Hai ‘Amr. Ketatkan pakaian dan senjatamu, dan menghadaplah kepadaku.”
Akupun melakukannya lalu mendatangi beliau yang sedang berwudhu. Kemudian beliau mengangkat pandangannya ke arahku, memerhatikanku seraya berkata: “Hai ‘Amr, sungguh aku ingin mengirimmu ke satu tujuan, lalu Allah menyelamatkanmu dan memberimu ghanimah. Aku pun harapkan untukmu harta itu, harapan yang baik.”
Kata ‘Amr: Aku pun berkata: “Wahai Rasulullah, sungguh, saya masuk Islam bukan karena menginginkan harta, tapi saya masuk Islam karena memang ingin berjihad dan tetap bersama anda.”
Beliaupun berkata: “Wahai ‘Amr, harta yang baik itu adalah untuk orang yang baik pula.” (HR. Al-Imam Ahmad dalam Musnad Syamiyyin)
Sikap ini menunjukkan betapa kuat iman, kejujuran, dan keikhlasan ‘Amr dalam ber-Islam, juga semangatnya untuk selalu menyertai Rasulullah n. Hal inipun diakui oleh Rasulullah n sebagaimana dalam sebuah hadits yang disahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani t (Ash-Shahihah 1/154 no. 155), beliau bersabda (yang artinya): “Orang-orang sudah masuk Islam, sedangkan ‘Amr telah beriman.”
Asy-Syaikh Al-Albani t menerangkan: “Dalam hadits ini tersirat keutamaan ‘Amr bin Al-’Ash karena dipersaksikan oleh Rasulullah n keimanannya. Persaksian ini menunjukkan berita tentang surga bagi beliau. Karena dalam sebuah hadits (Muttafaq ‘alaihi), Rasulullah n bersabda:
لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ إلاَّ نَفْسٌ مُؤْمِنَةٌ
“Tidak akan masuk surga kecuali jiwa yang beriman.”
Kemudian Rasulullah n membelitkan bendera putih dan menyerahkan bendera hitam kepadanya. Setelah itu beliau melepas ‘Amr bersama 300 orang Muhajirin dan Anshar. Di antaranya 30 orang pasukan berkuda.
Pasukan muslimin mulai bergerak keluar kota Madinah. Di siang hari pasukan berhenti, istirahat. Malamnya, mereka kembali melanjutkan perjalanan. Ini adalah salah satu bukti kecerdikan dan keahlian ‘Amr bin Al-’Ash dalam berperang. Taktik ini sangat menguntungkan pasukan muslimin karena:
– menjaga agar stamina pasukan tetap segar, tidak dilemahkan oleh rasa haus dan panasnya matahari
– menyembunyikan gerak pasukan di malam hari dari intaian musuh
Setibanya di sana, ‘Amr mendengar banyaknya jumlah musuh. Ia pun mengirim surat kepada Rasulullah n meminta bala bantuan. Kemudian Rasulullah n mengirimkan bantuan 200 orang Muhajirin, termasuk di dalamnya Abu Bakr dan ‘Umar serta mengangkat Abu ‘Ubaidah Ibnul Jarrah g, sebagai komandan mereka.
Berselisih adalah Kelemahan
Musa bin ‘Uqbah menceritakan dalam Sirah-nya:
Setelah bertemu ‘Amr, Abu ‘Ubaidah hendak maju mengimami pasukan, tetapi ditahan oleh ‘Amr, dia berkata: “Kalian datang kepada saya adalah sebagai bala bantuan. Saya panglima (di sini).”
Orang-orang Muhajirin berkata: “Engkau adalah komandan pasukanmu ini, sedangkan Abu ‘Ubaidah komandan orang-orang Muhajirin.”
‘Amr membantah: “Tapi kalian adalah bala bantuan yang saya minta.”
Melihat keadaan ini, Abu ‘Ubaidah yang wataknya lembut, berkata: “Engkau tahu wahai ‘Amr, terakhir yang ditetapkan Rasulullah n ialah: ‘Jika engkau sampai kepada teman-temanmu, maka hendaklah kalian saling menurut (kerja sama)’, dan engkau, kalau engkau tidak menaatiku, pasti aku tetap menaatimu.”
Maka Abu ‘Ubaidah pun menyerahkan kepemimpinan kepada ‘Amr bin Al-’Ash, g. Sejak itu, ‘Amr pun menjadi imam bagi pasukan tersebut.
Alangkah indahnya, kehidupan mereka. Serba mudah dalam urusan dunia, jauh dari ambisi kepemimpinan.
Alangkah tanggap Abu ‘Ubaidah melihat kenyataan ini. Sekecil apapun perselisihan di dalam tubuh pasukan muslimin dalam perang Dzatu Salasil ini, pasti akan membuahkan kelemahan dan kekalahan. Sebab itulah dengan segera beliau memadamkan api perselisihan itu dengan menyerahkan kepemimpinan kepada ‘Amr.
Malam harinya, pasukan muslimin beristirahat. Sebagian mereka ingin menyalakan api unggun untuk menghangatkan badan. Tetapi ‘Amr sang panglima melarang mereka. Bahkan mengancam: “Siapa yang berani menyalakan api unggun, akan saya lemparkan dia ke dalamnya.”
Sikap tegas ini menyusahkan pasukan tersebut, apalagi rasa dingin yang sangat menusuk. Beberapa tokoh Muhajirin membujuk ‘Amr, tapi ditanggapi dengan pedas oleh ‘Amr. Bahkan kata ‘Amr: “Kalian diperintah untuk mendengar dan taat kepada saya?”
Sahabat itu berkata: “Benar.”
“Kalau begitu, kerjakan!” kata ‘Amr.
Berita ini terdengar juga oleh ‘Umar dan membuatnya berang hingga berniat ingin mendatangi ‘Amr. Tapi kemudian, dia ditahan oleh Abu Bakr Ash-Shiddiq z. Kata beliau: “Sesungguhnya Rasulullah n tidak mengangkatnya menjadi panglima melainkan karena keahliannya dalam berperang.”
Seketika ‘Umar pun terdiam.
Semoga Allah l meridhai Abu Bakr Ash-Shiddiq dan seluruh sahabat Rasulullah n. Betapa dalamnya pengetahuan Abu Bakr Ash-Shiddiq z tentang Rasulullah n, yang sudah tentu dalam hal-hal penting seperti ini, tidak mungkin bertindak sia-sia.
Malam semakin dingin, tidak ada api yang menghangatkan. Namun ketaatan mereka kepada pemimpin luar biasa. Suka atau tidak, kesulitan seperti itu harus mereka tanggung.
Di malam yang dingin itu, ‘Amr junub. Dia bertanya kepada sahabat-sahabatnya: “Bagaimana pendapat kalian? Demi Allah, saya junub. Kalau saya mandi, saya tentu mati.”
Lalu diapun meminta dibawakan air. Kemudian dia membasuh kemaluannya dan tayammum. Setelah itu dia shalat mengimami pasukan tersebut.
Kemudian, mereka mulai menyergap musuh yang lengah. Setelah bertempur kira-kira satu jam, musuh merasakan kekuatan pasukan ‘Amr bin Al-’Ash. Akhirnya mereka pun lari bercerai berai. Kaum muslimin ingin mengejar mereka, namun dilarang oleh ‘Amr bin Al-’Ash.
Setelah perang usai, dan pasukan bersiap-siap kembali ke Madinah, sang panglima mengutus ‘Auf bin Malik Al-Asyja’i menemui Rasulullah n untuk menyampaikan berita tentang keadaan pasukan dan kejadian yang ada selama di sana.
Setibanya di Madinah, ‘Auf z menceritakan bagaimana Abu ‘Ubaidah menuruti ‘Amr, hingga akhirnya ‘Amr mengimami pasukan dan tetap menjadi panglima mereka. Diceritakannya pula bagaimana ‘Amr melarang pasukan muslimin menyalakan api unggun di tengah malam yang sangat dingin itu, dan mencegah mereka mengikuti musuh mereka, serta shalat bersama pasukan dalam keadaan junub.
Setelah ‘Amr dan pasukannya tiba di Madinah, Rasulullah n mengajaknya bicara dan menanyakan apa-apa yang disampaikan oleh ‘Auf z. ‘Amr bin Al-’Ash z menjelaskan kepada beliau tentang larangannya kepada mereka mengikuti jejak musuh dan menyalakan api, dia berkata: “Saya tidak suka mereka menyalakan api, karena bisa jadi musuh akan melihat betapa sedikitnya jumlah mereka (kaum muslimin). Saya melarang mereka mengejar, karena khawatir musuh mempunyai bala bantuan yang bersembunyi di balik bukit itu, sehingga kemudian berbalik menyerang pasukan muslimin.”
Dikisahkan, setelah mendengar penjelasan tersebut, Rasulullah n pun memuji Allah k atas tindakan ‘Amr ini. Kemudian beliau bertanya pula:
يَا عَمْرُو، صَلَّيْتَ بِأَصْحَابِكَ وَأَنْتَ جُنُبٌ؟
“Hai ‘Amr, engkau shalat bersama pasukanmu dalam keadaan engkau sedang junub?”
Kata ‘Amr: Aku pun menerangkan kepada beliau n apa yang menghalangiku untuk mandi. Aku katakan: “Sesungguhnya saya mendengar Allah l berfirman:
‘Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah Maha Penyayang terhadap kalian’.” (An-Nisa’: 29)
Mendengar keterangan ‘Amr, Rasulullah n tertawa dan tidak mengomentarinya.
Dari kisah ini diambillah beberapa kesimpulan, antara lain:
a. Membuktikan kefakihan ‘Amr bin Al-’Ash z padahal dia baru beberapa bulan masuk Islam.
b. Boleh berijtihad di masa Rasulullah n. Di sini terdapat pula persetujuan (taqrir) Rasulullah n terhadap ijtihad ‘Amr.
c. Bolehnya tayammum walaupun ada air, karena alasan (udzur) yang dibolehkan syariat, seperti dingin yang sangat berat.
d. Bolehnya imam yang tayammum mengimami makmum yang berwudhu.
Dengan berhasilnya pasukan ini memukul mundur musuh, menjadi amanlah kedaulatan Islam terutama dari serangan musuh yang ada di sebelah utara (Syam). Islam pun semakin menyebarkan dakwahnya ke beberapa wilayah Arab lainnya. Terlebih dengan terikatnya Quraisy serta para sekutunya dengan perjanjian Hudaibiyah, kaum muslimin  pun aman dari gangguan dan tekanan mereka dalam berdakwah dan beribadah. Walaupun itu hanya sementara, karena beberapa waktu kemudian, pihak Quraisy menodai kesepakatan yang mereka buat sendiri dengan Rasulullah n, hingga meletuslah peristiwa Fathu Makkah.
(bersambung, insya Allah)

1 Bani Qudha’ah termasuk kerabat ‘Amr.  Rasulullah n mengirimnya ke daerah ini untuk melunakkan mereka.