Bunga-bunga Tidur

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah)

Mimpi biasa disebut bunga-bunga tidur. Akan tetapi, mimpi itu ada yang menyenangkan dan yang tidak. Mimpi yang menyenangkan menyebabkan kita berbahagia. Saat terjaga, serasa hati berbunga dan tak jarang mata ingin dipejamkan kembali guna melanjutkan mimpi indah yang terputus. Sebaliknya, mimpi yang jelek lagi menakutkan membuat resah dan sedih. Anda mungkin termasuk orang yang sering bermimpi di saat tidur. Mimpi manakah yang sering Anda alami?
Perlu diketahui mimpi itu terbagi tiga1:
1. Mimpi yang kosong (adhghatsul ahlam)
Mimpi ini dilihat oleh seseorang dalam tidurnya sebagai cermin dari keinginannya atau apa yang terjadi pada dirinya dalam hidupnya. Kebanyakan orang bermimpi sesuatu yang menjadi bisikan hatinya, yang memenuhi pikirannya ketika terjaga, dan sesuatu yang berlangsung pada dirinya saat terjaga. Mimpi yang seperti ini tidak ada hukumnya.

2. Mimpi dari setan (al-hulm)
Setan mendatangi seseorang di dalam mimpi lalu mengatakan ini dan itu, atau menampakkan ini dan itu. Setan bermaksud menakut-nakuti seseorang dengan mimipi ini. Setan dapat menggambarkan dalam tidur seseorang tentang urusan yang menakutkannya, baik yang berkaitan dengan diri, harta, keluarga, maupun masyarakatnya. Mimpi seperti ini biasanya dialami oleh seseorang yang tidur tanpa mengucapkan wirid-wirid yang diajarkan Rasulullah n. Ia tidak membaca Ayat Kursi saat hendak tidur. Tidak pula ia membaca surah al-Ikhlash dan al-Mu’awwidzatain (al-Falaq serta an-Nas). Setan pun datang dalam mimpinya.
Demikianlah perbuatan setan yang gemar membuat sedih orang-orang yang beriman, sebagaimana firman Allah l:
“Sesungguhnya pembicaraan rahasia itu dari setan, dengan tujuan agar orang-orang beriman itu bersedih hati….” (al-Mujadilah: 10)

3. Mimpi yang benar (ar-ru’ya ash-shalihah)
Mimpi ini dijalankan melalui tangan malaikat. Dalam mimpi ini tidak ada penyesatan, hanya kebaikan. Mimpi inilah yang dikatakan dalam hadits Rasulullah n:
رُؤْيَا الْمُؤْمِنِ جُزْءٌ مِنْ سِتَّةٍ وَأَرْبَعِيْنَ جُزْءًا مِنَ النُّبُوَّةِ
“Mimpi seorang mukmin merupakan satu bagian dari 46 bagian nubuwwah/kenabian.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Mimpi ini termasuk kabar gembira dan biasanya hanya dialami oleh orang-orang yang beriman, walaupun kadang terjadi pada orang kafir karena suatu hikmah yang Allah l kehendaki, seperti mimpi raja dalam kisah Nabi Yusuf q2. Raja tersebut kafir, namun ia bermimpi dengan mimpi yang benar. Hikmahnya adalah untuk mengangkat kedudukan Nabi Yusuf q. Allah l hendak memuliakan beliau dengan menakwil mimpi sang raja dan menampakkan keilmuan serta keutamaannya, hingga akhirnya beliau dikeluarkan dari penjara dan menjadi petinggi negeri (pejabat negara). (Majmu’ Fatawa wa Rasail Fadhilatusy Syaikh Ibnu Utsaimin 1/327—330, I’anatul Mustafid bi Syarhi Kitabit Tauhid, 1/348—349)
Abu Qatadah z berkata, “Rasulullah n bersabda:
الرُؤْيَا الصَّالِحَةُ مِنَ اللهِ وَالْحُلْمُ مِنَ الشَّيْطَانِ، فَإِذَا رَأَى أَحَدُكُمْ مَا يُحِبُّ فَلاَ يُحَدِّثْ بِهِ إِلاَّ مَنْ يُحِبُّ، وَإِذَا رَأَى مَا يَكْرَهُ فَلْيَتَعَوَّذْ بِاللهِ مِنْ شَرِّهَا وَمِنْ شَرِّ الشَّيْطَانِ وَلْيَتْفُلْ ثَلاَثًا، وَلاَ يُحَدِّثْ بِهَا أَحَدًا، فَإِنَّهَا لَنْ تَضُرَّهُ
“Mimpi yang baik dari Allah, sedangkan al-hulm (mimpi yang buruk) dari setan. Maka apabila salah seorang dari kalian melihat dalam mimpinya apa yang dia sukai, janganlah ia ceritakan tentang mimpi tersebut kecuali kepada orang yang dicintainya. Sebaliknya bila ia melihat dalam mimpinya apa yang tidak disukainya, hendaklah ia berlindung kepada Allah l dari kejelekan mimpi tersebut dan dari kejelekan setan3. Dan hendaklah ia meludah kecil tiga kali4, jangan pula ia ceritakan mimpi tersebut kepada seorang pun, maka mimpi itu tidak akan memudaratkannya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Dalam hadits di atas, Rasulullah n mengabarkan bahwa mimpi yang selamat dari percampuran setan dan kekacauannya adalah mimpi dari Allah l. Malaikat Allah l yang menjalankan mimpi tersebut padanya, sehingga dengan mimpi itu ia mungkin mendapat peringatan. Terkadang, tampak jelas baginya beberapa hal yang semula tidak jelas atau tidak diketahui, atau ia mengingat hal yang semula ia lupa. Mungkin pula ia beroleh peringatan kepada hal-hal yang bermanfaat untuk diketahuinya atau dikerjakannya. Bisa jadi pula ia beroleh peringatan dari perkara yang bermudarat bagi agama atau dunianya yang semula tidak terlintas di benaknya. Bisa pula ia beroleh nasihat, dorongan, dan peringatan dari amalan-amalan yang rancu baginya atau yang ingin ia kerjakan.
Semua ini merupakan tanda mimpi yang baik, yang dikatakan sebagai satu dari 46 bagian nubuwwah. Sesuatu yang merupakan bagian dari nubuwwah bukan kedustaan. Demikian penjelasan al-Allamah asy-Syaikh Abdurrahman ibnu Nashir as-Sa’di t dalam kitabnya Bahjatu Qulubil Abrar wa Qurratu ‘Uyunil Akhyar fi Syarhi Jawam’il Akhbar (hadits no. 65, hlm. 157).
Maksud dari hadits:
رُؤْيَا الْمُؤْمِنِ جُزْءٌ مِنْ سِتَّةٍ وَأَرْبَعِيْنَ جُزْءًا مِنَ النُّبُوَّةِ
“Mimpi seorang mukmin merupakan satu bagian dari 46 bagian nubuwwah/kenabian.”
adalah bahwa apa yang dimimpikan seorang mukmin akan terjadi dengan benar, karena mimpi tersebut merupakan permisalan yang dibuat bagi orang yang bermimpi. Terkadang mimpi itu adalah berita tentang sesuatu yang sedang atau akan terjadi. Kemudian sesuatu itu benar terjadi persis seperti yang dimimpikan. Dengan demikian, mimpi tersebut diibaratkan seperti nubuwwah dari sisi kebenaran yang ditunjukkannya, walaupun mimpi berbeda dengan nubuwwah. (al-Minhaj, Fathul Bari)
Adapun penyebutan bilangan 46 (bukan bilangan lainnya) karena urusannya tauqifiyyah (semata dari wahyu, demikianlah adanya, tidak ada andil bagi akal), kata Fadhilatusy Syaikh Ibnu Utsaimin t. Tidak ada yang mengetahui hikmahnya kecuali Allah l sebagaimana jumlah rakaat di dalam shalat. (Majmu’ Fatawa wa Rasail Fadhilatusy Syaikh Ibnu Utsaimin 1/327)
Lihatlah mimpi Nabi n yang disebutkan oleh Allah l dalam firman-Nya:
“(Yaitu) ketika Allah menampakkan mereka kepadamu dalam mimpimu berjumlah sedikit. Dan sekiranya Allah memperlihatkan mereka kepadamu berjumlah banyak tentu saja kalian menjadi gentar dan kalian akan berbantah-bantahan dalam urusan itu, akan tetapi Allah telah menyelamatkan kalian.” (al-Anfal: 43)
Dengan mimpi ini tercegahlah kemudaratan yang bisa terjadi.
Demikian pula mimpi Nabi n dalam firman Allah l:
“Sesungguhnya Allah membuktikan kepada Rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya yaitu sesungguhnya kalian pasti akan memasuki Masjidil Haram, insya Allah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala kalian dan mengguntingnya sedangkan kalian tidak merasa takut. Allah mengetahui apa yang tidak kalian ketahui dan Dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat.” (al-Fath: 27)
Allah l mewujudkan mimpi Rasul-Nya di alam nyata. Beliau n dan para sahabatnya dapat masuk ke kota Makkah untuk melaksanakan ibadah kepada-Nya dengan aman tanpa perasaan takut.
Perhatikan pula mimpi adzan dan iqamah dari dua sahabat Rasulullah n, Abdullah ibnu Zaid z dan Umar ibnul Khaththab z. Mimpi ini menjadi sebab disyariatkannya adzan, yang merupakan salah satu syiar agama yang paling besar.
Mimpi (yang benar) dari para nabi, para wali, dan orang-orang shalih, bahkan kaum mukminin secara umum, mengandung manfaat dan buah yang baik. Ini termasuk nikmat Allah l kepada hamba-hamba-Nya, kabar gembira bagi kaum mukminin, peringatan bagi orang-orang yang lalai, mengingatkan orang-orang yang berpaling, dan penegakan hujjah bagi orang-orang yang menentang.
Seseorang yang bermimpi yang baik hendaknya memuji Allah l dan memohon perealisasiannya. Ia menceritakan mimpinya hanya kepada orang yang dicintainya dan mencintainya, sehingga orang itu turut berbahagia dengan kebahagiaannya dan mendoakan agar mimpi tersebut menjadi kenyataan. Ia tidak boleh menceritakan mimpinya kepada orang yang tidak menyukainya, agar orang yang tidak suka tersebut tidak menakwilnya dengan penakwilan yang mencocoki hawa nafsunya, atau berupaya menghilangkan kenikmatan tersebut karena hasad. Oleh karena itu, ketika Nabi Yusuf q bermimpi melihat matahari, bulan, dan sebelas bintang bersujud kepadanya, lalu ia menyampaikan mimpinya kepada sang ayah, ayahnya berpesan:
Ayahnya berkata, “Wahai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu ini kepada saudara-saudaramu, sehingga mereka nantinya akan membuat makar untuk membinasakanmu. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.” (Yusuf: 5)
Oleh karena itu, menyembunyikan kenikmatan dari musuh bila memungkinkan adalah lebih utama daripada menampakkannya, melainkan bila ada maslahat yang lebih kuat.
Terkadang mimpi yang benar dilihat oleh hamba sama dengan yang terjadi di alam nyata, sebagaimana mimpi tentang adzan. Terkadang mimpi itu berupa permisalan yang kemudian ditakwil dengan hal-hal yang bisa dinalar yang terjadi di alam nyata. Contohnya seperti mimpi Nabi n beberapa waktu sebelum terjadi perang Uhud. Beliau bermimpi di pedang beliau ada rekahan/retak dan melihat seekor sapi betina disembelih. Ternyata retak pada pedang beliau tersebut maksudnya adalah paman beliau, Hamzah bin Abdil Muththalib z, akan gugur sebagai syahid. Kabilah (kerabat/keluarga) seseorang kedudukannya seperti pedangnya dalam pembelaan, dukungan dan pertolongan yang mereka berikan. Adapun sapi betina yang disembelih maksudnya adalah beberapa sahabat beliau akan gugur sebagai syuhada. Sapi betina memiliki banyak kebaikan, demikian pula keberadaan para sahabat g. Mereka adalah orang-orang yang berilmu, memberi manfaat bagi para hamba dan memiliki amal-amal saleh. (al-Minhaj)
Mimpi-mimpi yang dilihat ini berbeda-beda sesuai dengan perbedaan orang yang bermimpi, perbedaan waktu, kebiasaan dan beragamnya keadaan. (Bahjatu Qulubil Abrar hlm. 159, Majmu’ Fatawa wa Rasail Fadhilatusy Syaikh Ibnu Utsaimin)
Adapun hulm merupakan mimpi yang kacau sebagai upaya setan untuk menakut-nakuti manusia, sehingga berbuah kesedihan dan gundah gulana. Ketika seseorang bermimpi seperti ini, Nabi n memerintahkannya untuk menempuh sebab-sebab yang bisa menolak kejelekan mimpi tersebut. Caranya adalah sebagai berikut.
1. Meludah sedikit ke arah kirinya, tiga kali
2. Beristi’adzah (meminta perlindungan) kepada Allah l dari setan, tiga kali
3. Berlindung kepada Allah l dari kejelekan yang dilihatnya dalam mimpi.
4. Memalingkan lambung/rusuknya ke arah yang berlainan dari arah/posisi semula5.
5. Tidak menceritakannya kepada seorang pun.
6. Hendaknya dia bangkit dari tempat tidurnya untuk berwudhu lalu mengerjakan shalat, sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Hurairah z, Rasulullah n bersabda:
فَإِنْ رَأَى أَحَدُكُمْ مَا يَكْرَهُ فَلْيَقُمْ فَلْيُصَلِّ
“Bila salah seorang kalian melihat sesuatu yang dibencinya dalam mimpi, hendaklah ia bangkit dari tempat tidurnya (untuk berwudhu) lalu mengerjakan shalat.” (HR. Muslim)
Setelah itu, hendaklah ia menenangkan hatinya bahwa mimpi itu tidak akan memudaratkannya, sesuai dengan keyakinan akan benarnya sabda Rasulullah n.
Wallahu a’lam bish-shawab.

Catatan Kaki:

1 Sebagaimana dalam hadits Abu Hurairah z yang diriwayatkan oleh al-Imam Muslim dalam Shahih-nya, Rasulullah n bersabda:
وَالرُّؤْيَا ثَلاَثَةٌ: فَرُؤْيَا الصَّالِحَةُ بُشْرَى مِنَ اللهِ، وَرُؤْيَا تَحْزِيْنٌ مِنَ الشَّيطَانِ، وَرُؤْيَا مِمَّا يُحَدِّثُ الْمَرْءُ نَفْسَهُ
“Mimpi itu ada tiga: (1) mimpi yang baik sebagai kabar gembira dari Allah, (2) mimpi untuk menyedihkan anak Adam yang dilakukan setan, dan (3) mimpi yang terjadi karena betikan jiwa seseorang.”

2 Silakan Anda baca kisahnya dalam surah Yusuf.
3 Ia mengucapkan isti’adzah sebanyak tiga kali, sebagaimana ditunjukkan dalam hadits Jabir z yang diriwayatkan oleh al-Imam Muslim.
4 Ke arah kirinya, sebagaimana dalam hadits Jabir z pula, Rasulullah n bersabda:
… فَلْيَبْصُقْ عَنْ يَسَارِهِ ثَلاَثًا …
“…Hendaklah ia meludah ke arah kirinya tiga kali….” (HR. Muslim)

5 Sebagaimana dalam hadits Jabir z:
وَلْيَتَحَوَّلْ عَنْ جَنْبِهِ الَّذِيْ كَانَ عَلَيْهِِ
“Hendaklah ia memalingkan lambung/rusuknya ke arah yang berbeda.”

Fatawa Al-Mar’ah Al-muslimah

Al-Lajnah ad-Daimah lil Buhuts al-Ilmiyyah wal Ifta’ yang saat itu diketuai oleh Samahatul Walid asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz t, menjawab beberapa pertanyaan seputar hubungan yang terjalin karena pernikahan sebagaimana berikut.

JABAT TANGAN DENGAN IBU MANTAN ISTRI
Saya menikahi seorang wanita kemudian menceraikannya. Apakah pascaperceraian tersebut saya masih dibolehkan berjabat tangan dengan ibunya (mantan ibu mertua)?
Jawab:
Seorang lelaki yang menikahi seorang wanita kemudian menalaknya, boleh berjabat tangan dengan ibu mantan istri. Dengan akad yang pernah dilangsungkannya dengan si wanita, ibu dan nenek-nenek si wanita menjadi haram baginya dengan pengharaman mu’abbad (selama-lamanya, yakni ia tidak boleh menikahi ibu atau nenek istrinya walaupun ia telah menceraikan sang istri). Mereka yang disebutkan adalah mahram si lelaki sehingga tidak perlu berhijab darinya. Ia pun dibolehkan berjabat tangan dengan mereka.
(Fatwa no. 16790. Anggota Lajnah: asy-Syaikh Abdullah bin Ghudayyan, asy-Syaikh Shalih al-Fauzan, dan asy-Syaikh Bakr Abu Zaid)

RABIBAH (ANAK TIRI PEREMPUAN)
Seorang lelaki menikah dengan seorang wanita dan keduanya dikaruniai beberapa anak perempuan, kemudian terjadi perceraian. Wanita itu menikah lagi dengan lelaki lain dan melahirkan beberapa anak perempuan. Apakah anak-anak perempuan dari suami yang kedua ini harus berhijab dari mantan suami ibunya (suami pertama)? Bila ternyata harus berhijab, apakah suami pertama itu boleh menikah dengan salah seorang dari anak-anak perempuan mantan istrinya?

Jawab:
Apabila seorang lelaki menikah dengan seorang wanita dan telah dukhul1dengannya maka haram–dengan tahrim mu’abbad2–dia menikahi salah seorang putri istrinya, cucu perempuan istrinya dari anak lelakinya, dan terus ke bawah. Sama saja, baik anak-anak perempuan itu dari suami yang terdahulu (sebelum menikah dengan si lelaki) maupun suami yang belakangan (setelah bercerai dengan si lelaki). Ini berdasarkan firman Allah l:
“Diharamkan atas kalian menikahi ibu-ibu kalian…”
Sampai pada firman-Nya:
“…dan rabibah yang ada dalam asuhan kalian dari istri-istri kalian yang kalian telah dukhul dengan mereka.” (an-Nisa: 23)
Rabibah adalah anak perempuan istri.
Berdasarkan hal ini si mantan suami teranggap sebagai mahram bagi anak-anak perempuan dari suami kedua yang menikahi si mantan istri dan telah dukhul dengannya. Dengan demikian boleh bagi anak-anak perempuan tersebut untuk tidak berhijab dari si mantan suami.
(Fatwa no. 2012. Wakil Lajnah: asy-Syaikh Abdurrazzaq Afifi. Anggota: asy-Syaikh Abdullah bin Qu’ud)
RABIB (ANAK LELAKI ISTRI)
BUKAN MAHRAM BAGI ISTRI-ISTRI YANG LAIN

Saya memiliki seorang istri yang punya seorang anak lelaki yatim dari suaminya terdahulu yang telah meninggal dunia. Anak itu sekarang berumur lebih dari 15 tahun. Saat saya menikahi ibunya, usianya kurang dari tiga tahun. Sementara saya juga memiliki istri-istri yang lain, saudara-saudara perempuan, dan seorang anak perempuan. Apakah istri-istri saya yang lain, saudara-saudara perempuan saya, dan putri saya harus berhijab dari anak lelaki tersebut? Padahal kami semua menyebut dia dengan ‘anak lelaki kami’. Orang-orang juga mengatakan tentangnya ‘anak lelaki kalian.’ Kami berharap jawaban akan hal ini, semoga Allah l menjaga Anda.
Jawab:
Anak lelaki yang disebutkan berarti rabib Anda, namun ia bukanlah mahram bagi istri-istri Anda yang lain, saudara-saudara perempuan Anda, serta anak-anak perempuan Anda yang bukan berasal dari ibu si rabib (tapi dari istri-istri yang lain). Anak lelaki tersebut berstatus sebagai ajnabi, sehingga para wanita yang telah disebutkan itu wajib berhijab darinya. Anak lelaki itu juga tidak boleh berkhalwat (berduaan saja) dengan mereka.
(Fatwa no. 10256. Wakil Lajnah: asy-Syaikh Abdurrazzaq Afifi. Anggota: asy-Syaikh Abdullah bin Ghudayyan)
IBU MERTUA AYAH
Ayah saya menikah lagi dengan istri keduanya yang bukan ibu saya. Bolehkah saya bersalaman dengan ibu dari istri ayah saya?

Jawab:
Anda tidaklah termasuk mahram bagi ibu dari istri ayah Anda, karena Anda ajnabi baginya.
(Fatwa no. 21041. Anggota Lajnah: asy-Syaikh Abdullah bin Ghudayyan, asy-Syaikh Shalih al-Fauzan, dan asy-Syaikh Bakr Abu Zaid)

Kakek Suami

Saya seorang wanita yang menikah dengan seorang lelaki yang tidak memiliki hubungan kekerabatan dengan saya. Apakah boleh bagi saya membuka wajah di hadapan kakek suami saya dari pihak ibunya? Saya menganggap ia termasuk mahram saya, namun suami saya tidak menganggap demikian.
Jawab:
Kakek suami—baik dari pihak ayah maupun pihak ibu—teranggap sebagai mahram bagi istri cucu lelaki dari anak lelaki atau dari anak perempuannya. Ini berdasarkan firman Allah l ketika menyebutkan mahram-mahram (yang boleh melihat perhiasan seorang wanita):
“Atau ayah-ayah dari suami-suami mereka.”3
Kakek dari pihak ayah ataupun ibu teranggap sebagai ayah.
Wallahu a’lam. Wa billahi at-taufiq. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa alihi wa shahbihi wa sallam.
(Fatwa no. 18022. Anggota Lajnah: Asy-Syaikh Abdullah bin Ghudayyan, Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan, Asy-Syaikh Abdul Aziz Alusy Syaikh, dan Syaikh Bakr Abu Zaid)

Catatan Kaki:

1 Si suami sudah masuk menemui si istri dan berjima’ dengannya.
2 Haram selama-lamanya. Sebaliknya, tahrim muaqqat berarti pengharaman yang terbatasi waktu tertentu.

3 Awal firman Allah l tersebut adalah:
Katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangan mata mereka dan memelihara kemaluan mereka serta janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka, kecuali yang biasa tampak darinya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dada mereka dan janganlah menampakkan perhiasan mereka kecuali kepada suami mereka, atau ayah-ayah mereka, atau ayah-ayah dari suami mereka …..” (an-Nur: 31)

 

Haid dan Talak

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyyah)

Bila kebersamaan dalam ikatan pernikahan tidak mungkin lagi dipertahankan, dipilihlah jalan perpisahan yang disebut perceraian. Namun, perceraian atau talak hendaknya menjadi solusi terakhir, setelah solusi yang lain tidak membawa hasil, karena bagaimana pun perceraian itu pahit! Adapun hadits yang disandarkan kepada Rasulullah n:
أَبْغَضُ الْحَلاَلِ إِلَى اللهِ الطَّلاَقُ
“Perkara halal yang paling dibenci oleh Allah adalah talak.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Al-Hakim dari Ibnu Umar c)
adalah hadits yang mursal. Oleh karena itu, hadits ini dilemahkan oleh al-Imam al-Albani t dalam Dha’iful Jami’ (no. 44) dan Irwa’ul Ghalil (no. 2040).
Maksud kami di sini tidaklah membahas masalah talak secara umum, namun hanya membicarakan talak terkaitan dengan haid. Mungkin Anda bertanya, apa hubungannya talak dengan haid? Pembicaraan berikut ini akan memperjelasnya.

Talak yang Dijatuhkan dalam Masa Haid
Karena ketidaktahuan tentang hukum syariat, ada suami yang menjatuhkan talak kepada istrinya dalam keadaan istrinya tidak bisa menghadapi iddahnya secara wajar akibat sedang haid, atau dalam keadaan suci namun sudah pernah dicampuri suaminya dalam masa suci tersebut, sehingga masih menjadi tanda tanya apakah ia hamil atau tidak. Menjatuhkan talak dalam dua keadaan ini disebut talak bid’ah karena menyelisihi sunnah. Atau, disebut pula talak yang diharamkan, dan ini lebih sesuai dengan istilah fuqaha.
Sebenarnya bagaimana hukum menjatuhkan talak dalam masa haid? Untuk mendapatkan kejelasannya kita melihat perincian berikut ini.

1. Talak Dijatuhkan Sebelum Dukhul1
Seorang suami menjatuhkan talak atas istrinya dalam keadaan ia belum pernah bercampur dengan si istri. Bahkan, sekadar berkhalwat (berduaan) sekali pun belum pernah ia lakukan, padahal istri tersebut dalam keadaan haid.
Dalam kasus ini ahlul ilmi terbagi dalam dua pendapat:
Pertama: Suami boleh menjatuhkan talak bila belum dukhul dengan istri yang dinikahi, karena tidak ada talak sunnah dan talak bid’ah dalam keadaan ini. Ini pendapat mayoritas ulama.
Mereka berdalil dengan:
1. Firman Allah l:
“Tidak ada kewajiban membayar mahar atas kalian, jika kalian menceraikan istri-istri kalian sebelum kalian bercampur dengan mereka dan sebelum kalian menentukan maharnya.” (al-Baqarah: 236)
2. Firman Allah l:
“Wahai orang-orang yang beriman, apabila kalian menikahi wanita-wanita yang beriman, kemudian kalian menceraikan mereka sebelum kalian mencampurinya maka sekali-kali tidak ada kewajiban beriddah atas mereka yang kalian minta untuk disempurnakan.” (al-Ahzab: 49)
Dalam dua ayat di atas, Allah l membolehkan suami menalak istri yang belum dicampurinya tanpa memberikan ketentuan waktu dijatuhkannya talak. (al-Muhalla, 9/366)
Allah l juga menerangkan bahwa istri yang ditalak sebelum dukhul tidak menjalani iddah, padahal sebab dilarangnya menalak istri yang sudah dukhul di masa haidnya berarti akan memperpanjang masa iddahnya. Adapun bila istri yang belum dukhul dicerai, tidak ada masa iddahnya2. (al-Mughni, kitab ath-Thalaq, Mas’alah: Qala: Walau Qala laha wa Hiya Haidh wa lam Yadkhul biha ….)
Kedua: Haram menjatuhkan talak. Ini adalah pendapat Zufar3 dari ulama Hanafiah dan Asyhab4 dari Malikiah.
Argumen keduanya adalah dilarangnya menalak istri yang sedang haid, baik sudah dukhul maupun belum. (al-Hidayah wa Fathul Qadir 3/474, al-Muntaqa 3/96)
Yang rajih/kuat dari dua pendapat yang ada adalah pendapat jumhur karena kuatnya dalil mereka.

2. Talak Dijatuhkan Setelah Dukhul
Ahlul ilmi bersepakat bahwa seorang suami diharamkan menjatuhkan talak dalam masa haid kepada istrinya yang telah dukhul. Kesepakatan akan haramnya hal ini dinyatakan oleh Ibnu Qudamah t dalam kitabnya al-Mughni (kitab ath-Thalaq, Fashl: Ath Thalaq ‘ala Khamsati Adhrub).
Sebab pengharamannya adalah sebagai berikut.
1. Suami tersebut telah menyelisihi perintah Allah l dalam firman-Nya:
“Wahai Nabi, apabila kalian menceraikan istri-istri kalian maka hendaklah kalian ceraikan mereka pada waktu mereka dapat menghadapi iddahnya yang wajar.” (ath-Thalaq: 1)
Perintah “hendaklah kalian ceraikan mereka pada waktu mereka dapat menghadapi iddahnya vang wajar” dalam ayat di atas menunjukkan wajib. Terlebih lagi, Allah l teruskan ayat tersebut dengan menyatakan:
“Dan hendaklah kalian menghitung iddah tersebut dan bertakwalah kalian kepada Allah Rabb kalian.” (ath-Thalaq: 1)
Allah l juga berfirman:
“Itu adalah batasan/hukum-hukum Allah, maka siapa yang melampaui/melanggar hukum-hukum Allah, sungguh ia telah menzalimi dirinya sendiri.” (ath-Thalaq: 1)
Semua ini menekankan bahwa perintah Allah l agar suami menalak istrinya dalam keadaan ia bisa menghadapi iddahnya dengan wajar merupakan perintah yang wajib. Barang siapa yang melanggar kewajiban berarti ia jatuh dalam keharaman.
Suami tersebut juga telah melanggar sunnah Rasulullah n. Ketika sampai berita kepada Rasulullah n bahwa Ibnu Umar c menalak istrinya dalam keadaan haid, beliau n marah. Beliau n bersabda kepada Umar ibnul Khaththab z, sang ayah, yang menanyakan perihal putranya:
وَإِنْ شَاءَ طَلَّقَ قَبْلَ أَنْ يَمُسَّ فَتِلْكَ الْعِدَّةُ الَّتِي أَمَرَ اللهُ k أَنْ يُطَلَّقَ لَهَا النِّسَاءُ
“Jika ia mau, ia talak istrinya sebelum ia gauli (di masa sucinya), dan itulah iddah yang Allah l perintahkan untuk menalak istri-istri di masa tersebut (bagi yang ingin menalak).” (HR. al-Bukhari no. 5251 dan Muslim no. 3637)
2. Talak suami atas istrinya dalam masa haid akan memperpanjang iddah si istri, karena haid yang sedang dialaminya tidak terhitung dalam iddahnya. (Mughnil Muhtaj, 4/525)
Menurut Fadhilatusy Syaikh Muhammad ibnu Shalih al-Utsaimin t, ada dua hikmah pengharaman talak dalam masa haid.
Pertama: Biasanya, bila istri sedang haid dan si suami terhalangi menggaulinya maka di hati si suami tidak ada rasa cinta kepada si istri dan tidak ada kecenderungan kepadanya. Terlebih lagi bila si istri termasuk wanita yang tidak suka mubasyarah5 ketika haid, karena memang ada wanita yang merasa sempit dadanya/gerah apabila sedang haid hingga membenci suaminya dan tidak suka bila suaminya mendekatinya. Apabila si suami menalak istrinya dalam keadaan seperti ini berarti ia menalaknya dalam keadaan tidak suka kepada si istri. Bila si istri dalam keadaan suci sehingga ia bisa istimta’6 dengannya, bisa jadi ia mencintai si istri dan tidak ingin menalaknya. Oleh karena itulah, sangat tepat bila suami tidak menjatuhkan talak saat istrinya haid. Hendaknya si suami membiarkannya atau menangguhkannya hingga ia suci.
Kedua: Apabila suami menalak istri ketika haid, maka haid yang sedang dialaminya tersebut tidak terhitung sebagai iddah. Akibatnya, ia harus menanti tiga kali haid yang sempurna guna menjalani iddahnya. Hal itu tentu akan memudaratkan si istri karena panjangnya iddah yang harus dijalaninya. (asy-Syarhul Mumti’, 13/46)

Sahkah Talak ketika Istri Haid?
Masalah ini diperselisihkan oleh ulama. Ada yang berpendapat jatuh talak sebagaimana pendapat jumhur ulama, dan ada yang berpendapat talak tidak jatuh, bahkan si wanita tetap statusnya sebagai istri. Demikian pendapat sekelompok fuqaha (ahli fiqih) salaf, di antaranya Thawus7, Ikrimah8, dan Hajjaj bin Arthah9. Pendapat ini yang dipilih Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah10 dan muridnya, Ibnul Qayyim11, rahimahumullah.
Fadhilatusy Syaikh Muhammad ibnu Shalih al-Utsaimin t berkata, “Talak yang dijatuhkan pada istri ketika sedang haid diperselisihkan oleh ulama (sah atau tidak). Perdebatan dalam masalah ini cukup panjang: apakah talak yang seperti ini teranggap talak madhi (talak yang dijalankan/diberlakukan), ataukah talak laghwi (talak yang tidak teranggap).
Jumhur ulama berpandangan, talak ini adalah talak madhi dan terhitung bagi yang melakukannya sebagai satu talak. Akan tetapi, si suami diperintahkan kembali kepada istrinya (rujuk) dan membiarkan istrinya sampai ia suci dari haid tersebut, kemudian menanti haidnya yang kedua sampai ia suci kembali (dari haid yang kedua). Setelah itu, jika si suami mau, ia tetap menahan istrinya dalam ikatan pernikahan dengannya, dan kalau ia mau bisa menceraikannya. Ini pendapat yang dipegang jumhur ulama, di antaranya adalah imam yang empat: al-Imam Ahmad, asy-Syafi’i, Malik, dan Abu Hanifah.
Akan tetapi, pendapat yang rajih/kuat menurut kami adalah pendapat yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t, yaitu talak yang dijatuhkan dalam keadaan si istri haid tidak sah dan tidak diberlakukan, karena menyelisihi perintah Allah l dan Rasul-Nya n. Rasulullah n bersabda:
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
“Siapa yang mengamalkan suatu amalan tidak di atas perintah kami maka amalan itu tertolak.” (HR. Muslim no. 4468)
Dalil pendapat ini adalah hadits Abdullah ibnu Umar c ketika ia menalak istrinya dalam keadaan haid, lalu hal tersebut disampaikan kepada Nabi n. Beliau n pun bersabda kepada Umar ibnul Khaththab z yang menanyakan perihal putranya:
مُرْهُ فَلْيُرَاجِعْهُا، ثُمَّ لْيَتْرُكْهَا حَتَّى تَطْهُرَ ثُمَّ تَحِيْضَ ثُمَّ تَطْهُرَ، ثُمَّ إِنْ شَاءَ أَمْسَكَ بَعْدُ وَإِنْ شَاءَ طَلَّقَ قَبْلَ أَنْ يَمُسَّ
“Perintahkan dia agar kembali kepada istrinya kemudian ia biarkan sampai istrinya suci kemudian datang haid berikutnya lalu suci lagi, setelah itu jika ia mau ia tetap tahan istrinya dalam pernikahan dan jika mau maka ia ceraikan.” (HR. al-Bukhari no. 5251 dan Muslim no. 3637)
Nabi n bersabda menutup hadits di atas:
فَتِلْكَ الْعِدَّةُ الَّتِي أَمَرَ اللهُ k أَنْ يُطَلَّقَ لَهَا النِّسَاءُ
“Itulah iddah yang Allah perintahkan untuk menalak istri di masa tersebut (bagi yang ingin menalak).”
Iddah yang Allah l perintahkan bila suami ingin menalak istrinya adalah si suami menjatuhkan talak dalam keadaan si istri suci dan belum pernah digauli dalam masa suci tersebut. Berdasarkan hal ini, jika si suami menalak istrinya dalam keadaan haid berarti si suami tidak menalaknya di atas perintah Allah l. Oleh karena itu, apa yang dilakukannya tersebut tertolak. Dengan demikian, talak yang dijatuhkan atas istri tersebut kami pandang tidaklah sebagai talak yang dijalankan (yakni tidak sah)12 sehingga si istri tetap dalam ikatan pernikahan dengan suaminya. Tahu atau tidaknya si suami tentang keadaan istri yang ditalaknya sedang suci ataukah tidak, sama sekali tidaklah teranggap (hukumnya sama saja). Akan tetapi, bila ia tahu istrinya sedang tidak suci namun ia tetap menalaknya, ia berdosa dan talaknya tidaklah jatuh. Apabila ia tidak tahu, talak yang dijatuhkannya tidak terjadi dan tidak ada dosa bagi si suami.” (Fatawa asy-Syaikh Muhammad ibn Shalih al-Utsaimin, 2/794—795)
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Catatan Kaki:

1 Si suami belum sempat berdua-duaan dengan istri yang dinikahinya, apalagi menggaulinya.
2 Karena tidak ada masa iddah, suami tidak bisa rujuk begitu saja. Akan tetapi, dia harus memperbarui pernikahan, sebagaimana kata Ibnul Mundzir t, “Ahlul ilmi bersepakat, siapa yang menalak istrinya dengan talak satu sebelum ia dukhul dengannya berarti si istri pisah darinya (seperti talak ba’in) dan tidak halal kembali dengannya kecuali dengan nikah yang baru.” (al-Isyraf, 5/187)

3 Zufar ibnul Hudzail bin Qais al-Anbari, seorang ahli fiqih, murid besar Abu Hanifah. Tadinya ia ahlul hadits, namun kemudian terpengaruh ra’yu/akal. Ia menjabat sebagai qadhi (hakim) di negeri Bashrah dan wafat tahun 158 H.
4 Asyhab bin Abdil Aziz bin Dawud bin Ibrahim. Asyhab adalah gelarnya, sedangkan namanya adalah Miskin. Beliau adalah puncak pimpinan fatwa dan fiqih di Mesir setelah Ibnul Qasim. Al-Imam asy-Syafi’i mengatakan, “Aku belum pernah melihat orang yang lebih faqih daripada Asyhab.” Beliau wafat tahun 204 H.

5 Bermesraan dengan suami selain jima’ pada kemaluan.

6 Bernikmat-nikmat dengan istri.
7 Thawus bin Kisan al-Khaulani al-Yamani, seorang imam, alim yang masyhur, dan salah seorang fuqaha tabi’in. Beliau wafat di Makkah tahun 106 H.
8 Ikrimah bin Abdillah, maula Ibnu Abbas, salah seorang fuqaha tabi’in dan fuqaha negeri Makkah. Asalnya adalah penduduk Barbar. Beliau wafat tahun 107 H.
9 Hajjaj bin Arthah bin Tsaurah bin Hubairah bin Syarahil an-Nakha’i al-Kufi al-Qadhi, seorang yang faqih dan salah seorang mufti Kufah, wafat tahun 145 H.
10 Majmu’ Fatawa, Ibnu Taimiyah, 33/7, 22, 81, 98.
11 Zadul Ma’ad, 3/44—51.

12 Di antara argumen mereka yang berpendapat bahwa talak tidak jatuh adalah perintah Rasulullah n kepada Ibnu Umar c untuk kembali kepada istrinya. Kalau kita katakan terjadi talak dalam masa haid tersebut dan terhitung satu talak, rujuk keduanya tidak akan menghilangkan mafsadat bahkan menambahnya. Rujuk tersebut teranggap sesuatu yang memperbanyak talak, karena bila si suami kembali kepada istrinya setelah ia talak dalam masa haid sementara ia tidak memiliki keinginan lagi kepada si istri (tidak suka), lalu ia ingin menalaknya kelak setelah masa suci, berarti ia telah menjatuhkan dua talak (sementara talak yang bisa dirujuk atau talak raj’i hanya dua, bila sampai talak dijatuhkan yang ketiga kalinya niscaya si suami tidak bisa kembali lagi pada istrinya).
Syariat menyukai agar jumlah talak itu dikurangi bukan ditambah. Oleh karena itu, syariat mengharamkan seorang suami menjatuhkan talak tiga sekaligus atas istrinya. (asy-Syarhul Mumti’, 13 /49)

 

 

AsySyaima’ Bintu al-Harits

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Abdirrahman bintu Imran)

Alangkah sukacita hati Abdul Muththalib tatkala sang cucu telah lahir. Segera dibawanya bayi itu ke Ka’bah. Di sana dia panjatkan rasa syukur kepada Allah l, seraya memberinya nama Muhammad.
Sebagaimana kebiasaan masa itu, setiap bayi yang baru lahir selalu dicarikan ibu susuan. Saat itu, serombongan wanita Bani Sa’d bin Bakr dari suku Hawazin datang ke Makkah untuk mencari bayi-bayi yang hendak mereka susui dengan mengharap upah dari ayah sang bayi. Selang beberapa waktu, para wanita itu telah memperoleh anak susuan masing-masing.
Tinggallah Halimah bintu al-Harits yang belum mendapatkan bayi. Tinggallah pula seorang bayi yatim bernama Muhammad. Wanita lain tak berminat memungutnya sebagai anak susuan. Mereka berpikir, apa yang bisa diharapkan dari ibu si bayi, sementara ayahnya telah tiada? Begitu pulalah yang ada dalam pikiran Halimah.
Namun apa boleh buat, tak ada lagi bayi yang tersisa kecuali Muhammad kecil, sementara rombongan sudah siap bertolak pulang. Halimah pun tak ingin pulang dengan tangan kosong. Berarti tak ada pilihan lain selain membawa bayi yatim itu kembali ke perkampungannya.
“Tidak mengapa kaulakukan,” ujar al-Harits, suaminya, “Mudah-mudahan Allah jadikan berkah pada dirinya untuk kita!”
Dibawalah bayi Muhammad di atas tunggangan menuju perkampungan Bani Sa’d bin Bakr.
Semenjak Muhammad kecil berada di tangannya, keluarga Halimah senantiasa mendapat curahan berkah. Bahkan nanti di kemudian hari, setelah Muhammad n menjadi seorang rasul, berkah itu merambah seluruh suku Hawazin, hingga mereka dilepaskan dari tawanan pasukan muslimin karena hubungan susuan ini.
Di sana, di perkampungan Bani Sa’d bin Bakr di tengah suku Hawazin, Rasulullah n melalui masa kecilnya dalam asuhan ibu susuan dan saudara perempuan sesusuannya yang turut mengasuhnya, asy-Syaima’ bintu al-Harits bin Abdil ‘Uzza bin Rifa’ah.
Saat mengasuh Rasulullah n, asy-Syaima’ pernah melantunkan syair:
Duhai, Rabb kami tetapkanlah Muhammad bersama kami
hingga kulihat dia sebagai pemuda yang tumbuh dewasa
lalu kulihat dia menjadi pemimpin yang begitu mulia.
kalahkanlah musuh-musuh dan orang yang dengki kepadanya
serta limpahkan kemuliaan yang kekal selamanya.
Asy-Syaima’ biasa menggendong Rasulullah n. Suatu ketika, Muhammad kecil menggigit punggung asy-Syaima’ hingga meninggalkan bekas.
Waktu berlalu, masa berganti. Tahun ke-8 Hijriyah, sebulan setelah Fathu Makkah, pasukan kaum muslimin berhadapan dengan Hawazin dalam pertempuran Hunain. Dengan pertolongan Allah l, pasukan Rasulullah n berhasil melumpuhkan pasukan Hawazin.
Sebagaimana para wanita Hawazin lain yang jatuh sebagai tawanan pasukan muslimin, asy-Syaima’ pun ikut tertawan.
Kepada para sahabat, asy-Syaima’ mengaku, “Aku ini saudara perempuan teman kalian (Rasulullah n, pen.).”
Mendengar pengakuan itu, mereka pun membawa asy-Syaima’ ke hadapan Rasulullah n.
“Wahai Muhammad,” ujar asy-Syaima’ setiba di hadapan beliau, “Aku ini saudara perempuanmu sesusuan.”
“Apa tandanya?” tanya beliau.
“Ada bekas gigitanmu di punggungku ketika dulu aku menggendongmu,” tutur asy-Syaima’.
Rasulullah n pun mengenali tanda itu. Segera beliau membentangkan selendangnya dan mempersilakan asy-Syaima’ duduk di situ, lalu melayaninya dengan baik.
“Kalau kau mau, tinggallah bersamaku dalam keadaan dicintai dan dimuliakan. Akan tetapi, kalau kau ingin aku memberimu pemberian, kembalilah ke tengah kaummu,” Rasulullah n memberi tawaran.
“Aku memilih kembali ke kaumku,” jawab asy-Syaima’.
Saat itulah asy-Syaima’ masuk Islam. Rasulullah n pun memberinya sepasang budak yang akhirnya dinikahkan.
Doa yang tersirat dalam bait syair asy-Syaima’ kini telah Allah l kabulkan.
Asy-Syaima’ bintu al-Harits, semoga Allah l meridhainya.

Sumber bacaan:
• al-Bidayah wan Nihayah, al-Hafizh Ibnu Katsir (2/269,278—279)
• al-Ishabah, al-Hafizh Ibnu Hajar al-’Asqalani (8/205—206)
• al-Isti’ab, al-Imam Ibnu ‘Abdil Barr (2/538)
• Shahihus Sirah An-Nabawiyyah, al-Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani (hlm. 19)

Menyelesaikan Perselisihan Keluarga

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyyah)

Dalam edisi yang lalu kita telah membahas keberadaan keluarga suami dan keluarga istri dalam kehidupan sepasang insan, serta apa yang semestinya dilakukan oleh masing-masing pada keluarganya maupun pada keluarga pasangannya. Bagaimana bila terjadi perselisihan antara suami dengan keluarganya, antara istri dengan keluarganya, antara suami dengan keluarga istri, atau antara istri dengan keluarga suami? Yang sering terjadi adalah pertikaian dengan keluarga pasangan hidup, seperti suami berselisih dengan ayah mertuanya atau dengan ibu mertuanya, ataupun istri yang bermasalah dengan ayah atau ibu suaminya.

Antara Suami dengan Keluarga Istri
Bila seorang istri menghadapi pertikaian antara suami dan keluarganya, dalam hal ini ayahnya, di pihak siapakah istri harus berada?
Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah menerangkan, “Tidak diragukan bahwa seorang anak wajib memenuhi hak ayah, sebagai hak yang ditekankan. Dalam banyak ayat, Allah l memerintahkan anak untuk menaati ayah dalam hal yang ma’ruf dan berbuat baik kepadanya. Demikian pula, hak suami merupakan hak yang wajib dan ditekankan untuk dipenuhi oleh istri. Dari sini, ayah Anda punya hak terhadap Anda, demikian pula suami Anda punya hak terhadap Anda. Anda wajib memberikan hak kepada setiap yang memiliki hak.
Bila menghadapi pertikaian antara keduanya (ayah dan suami) sebagaimana Anda sebutkan dan Anda tidak tahu harus di pihak mana Anda berada, Anda wajib berpihak pada kebenaran. Apabila suami Anda berada di pihak yang benar dan ayah Anda salah, maka Anda wajib berpihak kepada suami Anda dan menasihati ayah Anda. Sebaliknya, bila ayah Andalah yang benar sedangkan suami Anda di pihak yang salah maka Anda wajib berpihak pada ayah Anda serta berupaya menasihati suami Anda. Dengan demikian, kewajiban Anda adalah berpihak kepada kebenaran dan menasihati yang salah di antara keduanya.
Demikianlah posisi Anda yang semestinya dalam menghadapi pertikaian antara suami dan ayah Anda. Upayakanlah untuk memperbaiki hubungan keduanya dan menyelesaikan permasalahan di antara keduanya semampu Anda. Jadilah Anda sebagai kunci kebaikan dan penghilang perpecahan serta kerusakan yang ada. Dengan begitu, Anda akan beroleh pahala karena memperbaiki hubungan sesama manusia, terlebih lagi hubungan karib kerabat. Hal ini termasuk amalan ketaatan yang paling besar.
Allah l berfirman:
“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan mereka kecuali bisikan orang yang memerintahkan untuk bersedekah, memerintahkan kepada yang ma’ruf, atau untuk memperbaiki hubungan di antara manusia.” (An-Nisa’: 114)
Nasihat yang hendak kami sampaikan kepada kedua belah pihak (yaitu ayah mertua dan anak menantu) adalah hendaknya keduanya bertakwa kepada Allah l dan bermuamalah dengan ukhuwah Islamiah, serta dengan hak kekerabatan dan hubungan mertua-menantu yang terjalin di antara keduanya. Hendaknya keduanya melupakan pertikaian yang terjadi, saling memaafkan satu dengan lainnya, karena demikianlah seharusnya sifat kaum muslimin. Hendaknya keduanya tidak menuruti hawa nafsu atau mengikuti setan. Bahkan, hendaknya mereka memohon perlindungan kepada Allah l dari bisikan setan yang hendak menyimpangkan manusia.” (al-Muntaqa min Fatawa asy-Syaikh al-Fauzan, 3/68)

Antara Ibu dan Istri
Misalnya, seorang suami memiliki ibu yang selalu bermasalah dengan istrinya. Ishlah antara keduanya sudah diusahakan, namun tidak membuahkan hasil. Sampai-sampai si istri memberi pilihan apakah memilih dia ataukah sang ibu. Si suami tidak bisa menentukan salah satunya. Tidak mungkin ia menceraikan istrinya karena ada anak-anak yang akan menjadi korban. Tidak mungkin pula ia menjauhkan sang ibu walau sempat ada usulan untuk memasukkan ibunya ke rumah jompo. Bagaimana jalan keluar dari permasalahan ini?
Samahatusy Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alusy Syaikh t menjawab, “Istri punya hak, ibu pun punya hak. Hak ibu adalah si anak berbakti dan berbuat baik kepadanya, memuliakan dan melayaninya, serta menunaikan seluruh haknya sebagai balasan atas segala yang dilakukan dan kebaikannya. Allah l telah menekankan hak kedua orang tua dan menggandengkan hak keduanya dengan hak-Nya. Tidaklah Allah l memerintahkan hamba-Nya untuk beribadah kepada-Nya melainkan Allah l gandengkan dengan perintah berbuat baik kepada kedua orang tua. Allah l berfirman:
Dan Rabbmu telah memerintahkan agar kalian jangan beribadah selain kepada-Nya dan hendaklah kalian berbuat baik kepada kedua orang tua dengan sebaik-baiknya. Apabila salah seorang dari keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka jangan sekali-kali kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah”, dan janganlah kamu membentak keduanya dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, “Wahai Rabbku, kasihilah mereka berdua, sebagaimana mereka berdua telah mendidikku waktu kecil.” (al-Isra: 23—24)
Berbuat baik kepada ibu merupakan sebab lembutnya hati, kuatnya iman, berkah pada rezeki dan umur, baiknya akibat yang diperoleh, dan menjadi sebab anak yang dimilikinya menjadi anak yang berbakti kepada ayah dan ibunya.
Demikian pula istri. Ia punya hak untuk Anda pergauli dengan baik, Anda memberinya nafkah berupa pakaian dan tempat tinggal, di samping Anda menunaikan haknya yang disyariatkan. Ini berdasarkan firman Allah l:
“Dan para istri memiliki hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf.” (al-Baqarah: 228)
Akan tetapi, seseorang terkadang ditimpa ujian dengan terjadinya perselisihan antara ibunya dan istrinya. Si anak (suami) harus bertakwa kepada Allah l, ia tidak boleh menzalimi ibunya untuk kemaslahatan istrinya. Sebaliknya, ia juga tidak boleh menzalimi istrinya untuk kemaslahatan ibunya. Seharusnya dia bersikap adil. Apabila ia jujur kepada Allah l dalam pergaulannya kepada kedua pihak ini, Allah l akan menolongnya. Jika istri memusuhi sang ibu, berbuat jelek dan menzaliminya, ia harus mencegah istrinya dari kezaliman tersebut. Ia harus menghalangi agar istrinya tidak berbuat zalim kepada Ibunya. Ia perlu menerangkan kepada si istri bahwa ibunya memiliki keutamaan yang besar dan bahwa beliau dikedepankan dalam segala sesuatu. Sebaliknya, bila ia melihat kesalahan ada pada ibunya dengan berbuat buruk kepada istrinya, ia menasihati ibunya dengan penuh adab, penghormatan, dan kelembutan. Ia mengingatkan sang ibu, “Dia adalah istri saya dan ibu dari anak-anak saya. Hendaknya ibu memperlakukannya dengan baik.” Seorang yang berakal tentu bisa bersikap adil, melihat siapa yang salah dan yang benar, di antara ibu dan istrinya.
Adapun mengambil jalan keluar dari masalah ini dengan menitipkan ibunya ke panti jompo demi mencari keridhaan istri, ini adalah perbuatan yang amat jelek dan akhlak yang tercela. Perbaiki diri Anda, wahai penanya, jika Anda memiliki sifat tersebut! Bahkan, yang semestinya dilakukan adalah berbakti kepada ibu (bukan membuangnya ke panti jompo). Ketika ia butuh pelayanan, Anda seharusnya melayaninya. Jangan Anda bebankan pelayanan Anda terhadap ibu Anda kepada istri Anda. Bila istri Anda melihat bakti Anda kepada ibu Anda, diharapkan ia terdorong untuk berbuat baik kepadanya. Anda, wahai saudaraku, wajib bertakwa kepada Allah l dalam urusan ibu Anda dan tidak boleh melupakan kebaikannya.” (Fatawa wa Rasail Samahatusy Syaikh Muhammad ibnu Ibrahim, 10/190)

Bila yang Salah adalah Pihak Istri
Pernah pula muncul permasalahan lain terkait perselisihan istri dengan ibu mertuanya. Si suami berkata, “Istri saya kerap bertikai dengan ibu saya, sampai-sampai ibu saya menghendaki saya menceraikannya. Saya berada dalam kebimbangan antara memenuhi keinginan ibu saya ataukah keadaan anak-anak saya kelak bila sampai saya bercerai dengan ibu mereka (istri saya). Saya sendiri, alhamdulilah, adalah pemuda yang berpegang dengan agama. Saya tidak ingin membuat Allah l murka dengan menceraikan istri saya, ataupun membuat marah ibu saya yang Allah l telah memerintahkan saya untuk menaatinya. Saya pernah membaca sebuah hadits dari Abdullah ibnu Umar c yang maknanya, ‘Ibnu Umar memiliki seorang istri yang dicintainya namun ibunya menginginkan agar dia menceraikan istrinya. Ibnu Umar pun pergi menemui Rasulullah n, maka beliau memerintahkannya agar menceraikan istrinya.’ Oleh karena itu, kami mengharapkan jawaban atas permasalahan ini. Semoga Allah l memberi balasan kepada Anda.”
Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah menjawab sebagai berikut.
1. Kejadian Ibnu Umar c itu bukan bersama ibunya, tetapi dengan ayahnya, Umar ibnul Khaththab z.
Masalah yang Anda sebutkan tentang keadaan istri Anda bersama ibu Anda, yaitu istri Anda sering bertikai dengan ibu Anda dan ibu Anda menuntut Anda agar menceraikannya, yang tampak dari pernyataan Anda bahwa istri Andalah yang menyakiti ibu Anda. Kalau seperti itu, tentunya tidak boleh Anda membiarkan istri Anda melakukannya. Apabila Anda bisa menasihatinya dan mencegahnya dari memusuhi ibu Anda, serta memperbaiki hubungan ibu Anda dan istri Anda, itulah yang semestinya Anda lakukan. Jangan terburu-buru memutuskan untuk bercerai. Atau, bila mungkin Anda menempatkan istri Anda di rumah yang berbeda dengan ibu Anda, ini juga jalan keluar yang lain. Akan tetapi, bila semua saran yang disebutkan di sini tidak dapat Anda lakukan, sedangkan istri Anda tetap berlaku buruk terhadap ibu Anda dan membencinya, tidak ada jalan untuk melepaskan diri dari perceraian dalam rangka menaati ibu Anda dan menghilangkan kemudaratan darinya. Siapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah l, niscaya akan Allah l menggantinya dengan yang lebih baik.
Bagaimana pun keadaannya, upayakanlah untuk menyelesaikan masalah-masalah yang ada semampu Anda. Mudah-mudahan Allah l memperbaiki urusan Anda. Jangan Anda jadikan talak sebagai jalan keluar, melainkan alternatif terakhir jika Anda sudah tidak mampu mencari penyelesaian yang lain. (al-Muntaqa min Fatawa asy-Syaikh al-Fauzan, 3/67)

Ibu Suami Ingin Memisahkan Sang Istri dari Suaminya
Seorang istri pernah mengeluh, tadinya ia hidup berbahagia dengan suaminya selama 2,5 tahun pernikahan mereka. Keadaan kemudian tiba-tiba berubah tanpa ia mengerti sebabnya. Akhirnya, ia mengetahui bahwa ternyata ibu mertuanya menjelek-jelekkannya di hadapan suaminya dan menuntut suaminya meninggalkan dirinya. Suaminya ternyata terpengaruh ucapan ibunya, sampai-sampai ketika si suami ini bepergian ke negeri lain, ia hanya menghubungi keluarganya. Ia sama sekali tidak mau menghubungi (berbicara via telepon dengan) istrinya. Si istri merasa amat tersakiti sampai hingga ia terus-menerus menangis. Jiwanya merasa sempit. Akhirnya, ia tidak menemukan jalan selain mengabari keluarganya tentang apa yang telah menimpa dirinya. Apa jalan keluar masalah ini?
Fadhilatusy Syaikh Muhammad ibnu Shalih al-Utsaimin t menjawab, “Sungguh banyak masalah yang muncul di antara suami-istri di masa ini, karena masing-masing pihak tidak berpegang dengan perintah Allah l, yaitu bergaul dengan baik. Satu pihak berbuat jelek kepada pasangannya, dan berikutnya terjadilah problem dan musibah.
Terkadang, pemicu masalah datang dari pihak selain suami-istri. Semua ini disebabkan kelemahan iman kepada Allah l dan tidak adanya rasa takut kepada-Nya. Apabila setiap insan berhenti di atas batasannya, berpegang dengan hukum-hukum Allah l, menunaikan kewajibannya, serta tidak melampaui batas terhadap orang lain, niscaya problem itu tidak akan terjadi.
Berkaitan dengan masalah yang ditanyakan, nasihat yang pertama kali kami tujukan kepada ibu si suami. Kami nasihatkan agar ia bertakwa kepada Allah k dan takut kepada-Nya, serta takut akan adanya hari penghisaban. Perbuatannya yang melampaui batas terhadap menantunya dengan menjelek-jelekkannya di hadapan suaminya—bila memang benar yang diadukan oleh si penanya—merupakan hal yang diharamkan. Perbuatan ini termasuk namimah (mengadu domba) yang dicela oleh Allah l dalam firman-Nya:
“Janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kian kemari menghambur fitnah.” (al-Qalam: 10—12)
Nabi n bersabda tentang pelaku namimah:
لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَتَّاتٌ
“Qattat tidak akan masuk surga.”
Qattat adalah pelaku namimah.
Dalam ash-Shahihain disebutkan bahwasanya Rasulullah n melewati dua kuburan yang penghuninya sedang diazab. Beliau n lalu bersabda:
أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لاَ يَسْتَبْرِئُ مِنَ الْبَوْلِ، وَأَمَّا الْآخَرُ فَكَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيْمَةِ
“Adapun salah satunya, ia tidak membersihkan diri dari kencing, sedangkan yang lainnya berjalan menyebarkan namimah.”
Ini menunjukkan bahwa namimah merupakan sebab azab kubur dan terhalangnya seseorang masuk surga. Terlebih lagi dalam keadaan seperti ini, yang mengakibatkan terpisahnya suami dengan istrinya. Hendaklah si ibu bertakwa kepada Allah l dalam urusan putranya dan istri putranya.
Sebab perkara dominan yang mendorong wanita (dalam hal ini ibu) berbuat demikian adalah rasa cemburu. Bila ia melihat putranya mencintai istrinya, ia pun cemburu dengan istri putranya. Seakan-akan menantunya tersebut adalah madunya yang menjadi tandingannya dalam menarik hati putranya. Tentu hal ini merupakan kesalahan dan kebodohan.
Kepada si suami kami nasihatkan agar ia melihat masalah yang terjadi. Bila istrinya terlepas dari tuduhan yang dilemparkan ibunya, hendaknya ia meninggalkan dan tidak menganggap ucapan ibunya. Hendaklah ia tetap hidup berbahagia dengan istrinya. Walaupun ia harus tinggal bersama istrinya di rumah tersendiri yang terpisah dari sang ibu, dia boleh melakukannya, karena bila seperti yang digambarkan oleh penanya, berarti ibunya telah berlaku zalim dan melampaui batas.” (Fatawa Manarul Islam, 3/33)

Bolehkah Tidak Mengunjungi Rumah Keluarga karena Mereka Sering Memicu Masalah?
Bila pihak keluarga sering menjadi sebab terjadinya masalah antara seorang suami dan istrinya, serta sering ikut campur dalam urusan keduanya, tidak apa-apa keduanya tidak mengunjungi rumah kerabat tersebut. Misalnya, kerabat istri sering memengaruhi si istri saat ia berkunjung ke rumah mereka agar dia menuntut macam-macam kepada suaminya. Atau, kerabat istri tersebut mencari-cari kesalahan si suami lalu menjelek-jelekkannya di hadapan si istri. Bila seperti ini, sang suami berhak melarang istrinya mengunjungi keluarganya dalam rangka menutup jalan menuju kerusakan. Adapun untuk menyambung silaturahim, si istri bisa melakukannya tanpa mendatangi mereka. Bisa dengan menulis surat atau telepon, jika cara ini tidak berdampak negatif. Allah l berfirman:
“Bertakwalah kalian kepada Allah semampu kalian.” (at-Taghabun: 16)
Ada hadits yang berisi ancaman keras bagi orang yang merusak hubungan seorang istri dengan suaminya. Abu Hurairah z menyampaikan sabda Rasulullah n:
لَيْسَ مِنَّا مَنْ خَبَّبَ امْرَأَةً عَلَى زَوْجِهَا
“Bukan termasuk golongan kami, orang yang merusak akhlak istri terhadap suaminya dan menjadi sebab nusyuz si istri.” (HR. Abu Dawud no. 2175, disahihkan dalam Shahih Abi Dawud)
Dalam Aunul Ma’bud dijelaskan bahwa bukan termasuk pengikut Rasulullah n, orang yang merusak pikiran seorang istri dengan menghias-hiasi sikap permusuhan kepada suaminya. Misalnya, menceritakan kejelekan si suami di hadapan istrinya, atau menyebutkan kebaikan/memuji-muji lelaki lain di depan si istri. (Kitab ath-Thalaq, bab Fi Man Khabbaba Imra’atan ‘ala Zaujiha)
Tidak mengunjungi keluarga yang suka merusak hubungan istri dengan suaminya atau sebaliknya ini, tidak berarti memutus hubungan dengan mereka sama sekali, atau tidak mau tahu keadaan mereka sebagai kerabat. Ketika bertemu semestinya tetap diucapkan salam kepada mereka, hak mereka dipenuhi dan hubungan tetap dijalin selain dengan berkunjung, hingga mereka berhenti dari perbuatan mereka yang buruk.
Ketika Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah ditanya tentang hukum melarang istri bersilaturahim kepada keluarganya, beliau memberikan arahan, “Silaturahim itu wajib, sehingga seorang suami tidak boleh melarang istrinya menyambung hubungan rahimnya. Memutus silaturahim termasuk dosa besar. Seorang istri tidak boleh menaati suaminya dalam hal seperti ini, karena tidak boleh taat kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Al-Khaliq. Si istri hendaknya tetap menyambung rahimnya dengan hartanya sendiri, atau mengirim surat kepada keluarganya dan mengunjungi mereka, kecuali bila kunjungan itu berakibat buruk kepada hak suami. Misalnya, suami mengkhawatirkan kerabat istrinya akan merusak hubungan istrinya dengannya. Bila seperti ini, ia berhak melarang istrinya mengunjungi keluarganya. Akan tetapi, si istri tetap menyambung hubungan dengan keluarganya tanpa mengunjungi mereka, dalam hal-hal yang tidak mengandung mafsadah. Wallahu a’lam.” (al-Muntaqa, 3/180)
Demikianlah bimbingan ulama seputar hubungan suami istri dengan karib kerabat mereka dan solusi atas problem yang mungkin terjadi.
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

ADAKAH SHALAT HAJAT DAN SHALAT TAUBAT?

Adakah shalat hajat dan shalat taubat dalam syariat?
Muhammad-085242xxxxxx
Dijawab oleh al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc:
Tentang shalat taubat, para ulama menyebutkan adanya shalat tersebut, walaupun penamaannya dengan “taubat” tidak langsung dari Nabi n. Dalil yang menunjukkan adanya shalat yang dimaksud adalah hadits dari Abu Bakar ash-Shiddiq z berikut ini:
Aku mendengar Rasulullah bersabda, “Tidak ada seorang muslim pun yang berbuat dosa lalu bangkit dan bersuci kemudian melakukan shalat lantas meminta ampun kepada Allah l melainkan Allah l akan mengampuninya.” Lalu beliau membaca ayat ini, “Dan orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah l? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedangkan mereka mengetahui.” (Ali Imran: 135) [Sahih, HR. Abu Dawud, kitab al-Witr bab fil Istighfar no. 1523, at-Tirmidzi, kitab ash-Shalat bab Fish shalah ‘inda Taubah no. 408, an-Nasa’i dalam kitab ‘Amalul Yaum wal Lailah, Ibnu Majah kitab Iqamatu ash-Shalah was Sunnah bab Ma Ja’a anna ash-Shalah Kaffarah no. 1459, dan Ahmad, disahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud]
Al-Mubarakfuri dalam Syarah Sunan at-Tirmidzi menerangkan, bahwa makna sabda Nabi n, “…lalu melakukan shalat…” yakni dua rakaat, sebagaimana dalam riwayat Ibnu as-Sunni, Ibnu Hibban, dan al-Baihaqi.
Adapun sabda beliau “…kemudian meminta ampun kepada Allah…” yakni dari dosa tersebut, sebagaimana dalam riwayat Ibnu as-Sunni. Yang dimaksud dengan meminta ampun adalah bertaubat, dengan menyesali dan mencabut diri (dari dosa tersebut), serta bertekad untuk tidak kembali mengulanginya selama-lamanya, juga mengembalikan hak-hak (orang lain) bila ada. (Tuhfatul Ahwadzi)
Ibnu Katsir t mengatakan, “Ditekankan untuk berwudhu dan shalat dua rakaat saat bertaubat, berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh al-Imam Ahmad bin Hanbal t.” Beliau kemudian menyebutkan hadits di atas. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir surah Ali Imran: 135 )
Ibnu Khuzaimah t dalam kitab Shahih-nya juga menyebutkan sebuah bab, “Disunnahkannya shalat setelah berbuat dosa agar shalat tersebut menjadi penghapus dosa yang dilakukannya.”
Dari keterangan di atas, shalat taubat itu ada dan disunnahkan.
Namun, perlu diingat bahwa seseorang tidak boleh meremehkan dosa lantaran punya keyakinan bahwa shalat taubat akan menghapus setiap dosa yang dilakukannya. Terampuninya dosa bukan karena semata-mata shalat tersebut, yang kondisi shalat itu sendiri terkadang khusyu’ terkadang tidak. Niatnya pun terkadang benar dan terkadang tidak, sehingga seseorang tidak tahu apakah shalatnya diterima atau tidak. Bila demikian keadaannya, bagaimana mungkin ia memastikan bahwa dosanya terampuni dengan sekadar shalatnya?
Perlu dicermati juga dari hadits di atas, shalat taubat tersebut adalah betul-betul sebagai ungkapan taubatnya. Oleh karena itu, Nabi n mengatakan, “…lalu dia meminta ampun kepada Allah l”, yakni bertaubat dengan syarat-syarat taubat yang telah diterangkan ulama, yaitu:
1. Menyesali perbuatan dosanya
2. Meninggalkannya
3. Bertekad untuk tidak melakukannya lagi selama-lamanya
4. Bila terkait dengan hak orang, dia mengembalikannya kepada orang yang dizalimi.

Perhatian
Ada shalat taubat yang tidak sesuai dengan tata cara di atas, sehingga termasuk bid’ah. Caranya, seseorang mandi pada malam Senin setelah witir kemudian shalat 12 rakaat. Pada setiap rakaat dia membaca al-Fatihah, al-Kafirun 1 kali, dan al-Ikhlas 10 kali… dan seterusnya, dengan cara-cara yang tidak diajarkan Nabi n. (Lihat Mu’jamul Bida’ hlm. 343)

Shalat Hajat
Adapun shalat hajat, dalam hal ini perlu didudukkan terlebih dahulu apa yang dimaksud hajat. Dari sini, kita akan mengetahui apakah shalat tersebut disyariatkan atau tidak.
Hal itu karena saya dapati sebagian ulama menetapkan adanya shalat hajat, sedangkan yang lain meniadakannya bahkan menganggapnya bid’ah. Selain itu, di kalangan sebagian ulama yang menetapkan atau yang membid’ahkan, maksud masing-masing mereka terhadap shalat tersebut berbeda.
Penamaan shalat hajat itu sendiri bukan dari Nabi n, tetapi dari para ulama. Sebagian mereka melihat sebuah hadits sahih yang memuat anjuran untuk melakukan shalat terkait dengan suatu kebutuhan atau hajat, mereka lalu menetapkan adanya shalat itu dan menyebutnya shalat hajat. Adapun ulama lain melihat hadits lemah yang menganjurkan untuk shalat terkait dengan sebuah hajat, mereka pun menyimpulkan shalat hajat tidak ada karena haditsnya lemah. Oleh karena itu, di sini kami akan menyebutkan kedua-duanya.
Ulama yang menetapkan adanya shalat hajat di antaranya al-Mundziri dalam kitab beliau at-Targhib wat Tarhib. Lalu beliau menyebutkan hadits Utsman bin Hanif z sebagai berikut.
أَنَّ رَجُلاً ضَرِيرَ الْبَصَرِ أَتَى النَّبِيَّ n فَقَالَ: ادْعُ اللهَ لِي أَنْ يُعَافِيَنِي. فَقَالَ: إِنْ شِئْتَ أَخَّرْتُ لَكَ وَهُوَ خَيْرٌ وَإِنْ شِئْتَ دَعَوْتُ. فَقَالَ: ادْعُهْ. فَأَمَرَهُ أَنْ يَتَوَضَّأَ فَيُحْسِنَ وُضُوءَهُ وَيُصَلِّىَ رَكْعَتَيْنِ وَيَدْعُوَ بِهَذَا الدُّعَاءِ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ وَأَتَوَجَّهُ إِلَيْكَ بِمُحَمَّدٍ نَبِيِّ الرَّحْمَةِ. يَا مُحَمَّدُ، إِنِّي قَدْ تَوَجَّهْتُ بِكَ إِلَى رَبِّي فِي حَاجَتِي هَذِهِ لِتُقْضَى. اللَّهُمَّ فَشَفِّعْهُ فِيَّ
Seorang buta datang kepada Nabi lalu mengatakan, “Berdoalah engkau kepada Allah untukku agar menyembuhkanku.” Beliau n mengatakan, “Apabila kamu mau, aku akan menundanya untukmu (di akhirat) dan itu lebih baik. Namun, apabila engkau mau, aku akan mendoakanmu.” Orang itu pun mengatakan, “Doakanlah.” Nabi n lalu menyuruhnya untuk berwudhu dan memperbagus wudhunya serta shalat dua rakaat kemudian berdoa dengan doa ini, ‘Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dan menghadap kepada-Mu dengan Muhammad Nabiyyurrahmah.Wahai Muhammad, sesungguhnya aku menghadap kepada Rabbku denganmu dalam kebutuhanku ini agar ditunaikan. Ya Allah, terimalah syafaatnya untukku’.” (Sahih, HR. at-Tirmidzi dalam kitab ad-Da’awat dan beliau mengatakan hadits hasan shahih gharib, Ibnu Majah dalam kitab ash-Shalah, dan beliau memberikan judul Shalat Hajat untuk hadits ini, serta an-Nasa’i dalam ‘Amalul Yaum Wal Lailah. Disahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani)
Sebagian ulama lagi menetapkan adanya shalat hajat, tetapi maksudnya adalah shalat istikharah. Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz t mengatakan, “Hadits shalat istikharah, disebut juga shalat hajat, karena istikharah adalah dalam hal kebutuhan yang sedang dialami seseorang, sehingga disyariatkan bagi seseorang untuk melakukan shalat dua rakaat dan memanjatkan doa istikharah dalam hal itu.”
Beliau t juga menyebut shalat taubat dengan shalat hajat. (Majmu’ Fatawa Ibni Baz, 25/165)
Adapun ulama yang meniadakan shalat hajat, mereka memaksudkan seperti yang terdapat dalam hadits dhaif berikut ini. Dari Abdullah bin Abi Aufa c, ia berkata, “Rasulullah n bersabda:
مَنْ كَانَتْ لَهُ إِلَى اللهِ حَاجَةٌ أَوْ إِلَى أَحَدٍ مِنْ بَنِي آدَمَ فَلْيَتَوَضَّأْ وَلْيُحْسِنِ الْوُضُوءَ ثُمَّ لْيُصَلِّ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ لْيُثْنِ عَلَى اللهِ وَلْيُصَلِّ عَلَى النَّبِيِّ n ثُمَّ لْيَقُلْ: لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ الْحَلِيمُ الْكَرِيمُ، سُبْحَانَ اللهِ رَبِّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ، الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، أَسْأَلُكَ مُوجِبَاتِ رَحْمَتِكَ وَعَزَائِمَ مَغْفِرَتِكَ وَالْغَنِيمَةَ مِنْ كُلِّ بِرٍّ وَالسَّلاَمَةَ مِنْ كُلِّ إِثْمٍ، لاَ تَدَعْ لِي ذَنْبًا إِلاَّ غَفَرْتَهُ وَلاَ هَمًّا إِلاَّ فَرَّجْتَهُ وَلاَ حَاجَةً هِيَ لَكَ رِضًا إِلاَّ قَضَيْتَهَا، يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ
“Barang siapa yang mempunyai kebutuhan kepada Allah atau kepada seseorang dari bani Adam, maka berwudhulah dan perbaikilah wudhunya kemudian shalatlah dua rakaat. Lalu hendaklah ia memuji Allah l dan bershalawat kepada Nabi n, dan mengucapkan (doa di atas), ‘Tidak ada sesembahan yang benar melainkan Allah yang Maha Penyantun dan Mahamulia, Mahasuci Allah Rabb Arsy yang agung, segala puji millik Allah Rabb sekalian alam, aku memohon kepada-Mu hal-hal yang menyebabkan datangnya rahmat-Mu, dan yang menyebabkan ampunan-Mu serta keuntungan dari tiap kebaikan dan keselamatan dari segala dosa. Janganlah Engkau tinggalkan pada diriku dosa kecuali Engkau ampuni, kegundahan melainkan Engkau berikan jalan keluarnya, tidak pula suatu kebutuhan yang Engkau ridhai melainkan Engkau penuhi, wahai Yang Maha Penyayang di antara penyayang’.” (HR. at-Tirmidzi no. 479, Ibnu Majah no. 1384, dan yang lainnya)
Hadits ini tidak bisa dijadikan hujjah. At-Tirmidzi sendiri mengatakan setelah meriwayatkan hadits ini, “Hadits ini gharib1. Dalam sanadnya ada pembicaraan, dan Faid bin Abdurrahman dilemahkan dalam hadits.”
Para ulama pun mencela perawi tersebut (Faid bin Abdurrahman).
Al-Imam al-Bukhari mengatakan, “Mungkarul hadits (haditsnya mungkar).”
Al-Imam Ahmad mengatakan, “Matrukul hadits (haditsnya ditinggalkan).”
Adz-Dzahabi mengatakan, “Tarakuhu (Para ulama meninggalkannya).”
Adapun Ibnu Hajar mengatakan, “Martrukun ittahamuhu (Dia ditinggalkan haditsnya, para ulama menuduhnya sebagai pendusta).”
Atas dasar itu, asy-Syaikh al-Albani mengatakan bahwa derajat hadits ini dhaifun jiddan (lemah sekali).
Dari kelemahan hadits itulah sebagian ulama meniadakan shalat hajat, yakni yang dilakukan dengan cara semacam itu. Wallahu a’lam.
Dewan Fatwa Saudi Arabia atau al-Lajnah ad-Daimah menyebutkan, “Adapun yang disebut shalat hajat, telah datang hadits yang dhaif dan mungkar—sebatas pengetahuan kami—, tidak bisa dijadikan hujjah dan tidak bisa dibangun amalan di atas hadits-hadits tersebut.” (Ditandatangani oleh Ketua: Abdul Aziz bin Baz, Wakil: Abdurrazzaq Afifi, Anggota: Abdullah bin Qu’ud dan al-Ghudayyan, 1/161)
Demikian pula asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin mengatakan, “Shalat hajat tidak ada dalilnya yang sahih dari Nabi n. Akan tetapi, diriwayatkan bahwa apabila Nabi n menghadapi suatu masalah yang menyulitkannya, beliau n segera menuju shalat, karena Allah berfirman:
“Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu.” (al-Baqarah: 45) [Fatawa Nurun ‘ala ad-Darb]
Demikian juga hadits:
كَانَ النَّبِيُّ n إِذَا حَزَبَهُ أَمْرٌ صَلَّى
“Apabila Nabi n menghadapi suatu masalah yang menyulitkan beliau, beliau melakukan shalat.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud. Asy-Syaikh al-Albani mengatakan, “Hasan.”)
Perhatian
Dalam buku-buku mazhab terdahulu juga dibahas shalat hajat, dengan tata cara pelaksanaan yang bermacam-macam terutama jumlah rakaatnya. Akan tetapi, semuanya tidak didasari oleh hadits-hadits yang sahih. Wallahu a’lam.

Catatan Kaki:

1 Dalam beberapa cetakan Sunan at-Tirmidzi disebutkan, “Hasan gharib.” Namun, Ahmad Syakir menyalahkan penyebutan ‘hasan’ tersebut, karena pada semua manuskrip lama tidak terdapat kata tersebut, kecuali hanya satu manuskrip.

Sifat Shalat Nabi (8)

(ditulis oleh: Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Al-Atsari)

Membaca al-Fatihah ayat demi ayat
Setelah membaca basmalah, mulailah Rasulullah n membaca surah al-Fatihah yang beliau baca ayat demi ayat. Beliau n berhenti setiap satu ayat, sebagaimana diriwayatkan dari Ummu Salamah x ketika ditanya tentang bacaan Rasulullah n. Ummu Salamah x menjawab, “Adalah beliau memotong bacaan ayat demi ayat ….” (HR. Ahmad 6/302, hadits ini shahih bi dzatihi bila tidak ada ‘an’anah1 Ibnu Juraij, namun hadits ini memiliki mutaba’ah)
Terkadang Rasulullah n membaca:
dengan memendekkan lafadz ﭞ (dibaca مَلِكِ) dan pada kesempatan lain beliau n memanjangkannya (dibaca مَالِكِ).
Dua bacaan ini, kata al-Hafizh Ibnu Katsir t, shahih mutawatir dalam qira’ah sab’ah. (Tafsir Al-Qur’anil ‘Azhim, 1/32)

Membaca al-Fatihah Merupakan Rukun shalat
Rasulullah n bersabda:
لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ
“Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca Fatihatul Kitab.” (HR. al-Bukhari no. 756 dan Muslim no. 872)
Hadits ini menunjukkan tidak teranggapnya shalat orang yang tidak membaca surah Al-Fatihah, sehingga membacanya dalam shalat merupakan amalan rukun2. Yang berpendapat seperti ini adalah jumhur ulama dari kalangan sahabat, tabi’in, dan yang setelah mereka. Ibnul Mundzir menghikayatkan pendapat ini dari Umar ibnul Khaththab, Utsman ibnu Abil Ash, Ibnu Abbas, Abu Hurairah, Abu Sa’id al-Khudri, Khawwat ibnu Jubair, az-Zuhri, Ibnu ‘Aun, al-Auza’i, Malik, Ibnul Mubarak, Ahmad, Ishaq, dan Abu Tsaur. Dihiyakatkan pula pendapat ini dari ats-Tsauri dan Dawud. Mereka berdalil dengan hadits di atas dan hadits-hadits lain yang sahih.
Adapun Abu Hanifah berpendapat membaca al-Fatihah tidak wajib, tetapi sunnah saja. Di riwayat lain, beliau menyatakan bahwa membaca al-Fatihah wajib namun bukan syarat. Seandainya seseorang membaca selain al-Fatihah niscaya sudah mencukupi. Adapun hadits yang dijadikan argumen oleh jumhur yang mengatakan rukun, mereka menjawab bahwa yang ditiadakan adalah kesempurnaan shalat. Jadi, maksudnya adalah orang yang tidak membaca al-Fatihah tidak shalat dengan sempurna.
Akan tetapi, makna ini menyelisihi hakikat, zahir, yang langsung dipahami oleh benak. Oleh karena itu, yang kuat menurut penulis, al-Fatihah ini harus dibaca dalam setiap rakaat shalat, sebagaimana pendapat jumhur ulama dari kalangan salaf dan khalaf (ulama belakangan, red.). (al-Majmu’ 3/283—284, al-Minhaj 4/323)
Sebagian ulama berpendapat bahwa al-Fatihah hanya wajib dibaca dalam dua rakaat yang awal dan tidak wajib pada rakaat berikutnya. Namun, sebagaimana disebutkan di atas, yang benar al-Fatihah wajib dibaca pada seluruh rakaat. Yang menunjukkan hal ini adalah sabda Rasulullah n kepada orang yang keliru shalatnya, setelah mengajarinya shalat yang benar. Di antara yang diajarkan adalah membaca al-Fatihah. Beliau n bersabda:
ثُمَّ افْعَلْ ذَلِكَ فِي صَلاَتِكَ كُلّهَا
“Kemudian lakukanlah hal tersebut dalam shalatmu seluruhnya.”

Keutamaan al-Fatihah
Dalam sebuah hadits disebutkan:
قَالَ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: قَسَمْتُ الصَّلاَةَ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ؛ فَنِصْفُهَا لِي وَنِصْفُهَا لِعَبْدِي، وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ. وَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ n: اقْرَؤُوْا: يَقُوْلُ الْعَبْدُ: { ﭖ ﭗ ﭘ ﭙ} يَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى: حَمَّدَنِي عَبْدِي. وَيَقولُ الْعَبْدُ: { ﭛ ﭜ}. يَقُولُ اللهُ تَعَالَى: أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي. وَيَقُولُ الْعَبْدُ: { ﭞ ﭟ ﭠ}. يَقُولُ اللهُ تَعَالَى: مَجَّدَنِي عَبْدِي. وَيَقُولُ الْعَبْدُ: { ﭢ ﭣ ﭤ ﭥ} قَالَ: فَهذِهِ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ. وَيَقُولُ الْعَبْدُ: {ﭧ ﭨ ﭩ ﭪ ﭫ ﭬ ﭭ ﭮ ﭯ ﭰ ﭱ ﭲ ﭳ} قَالَ: فَهَؤُلاَءِ لِعَبْدِي، وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ
Allah tabaraka wa ta’ala berfirman, “Aku membagi3 shalat4 antara Aku dan hamba-Ku menjadi dua. Separuh untuk-Ku dan separuh lagi untuk hamba-Ku, dan untuk hamba-Ku apa yang dimintanya.” Rasulullah n bersabda, “Bacalah oleh kalian!” Si hamba berkata, “Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.” Allah l berfirman, “Hamba-Ku memuji-Ku.” Hamba berkata, “Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” Allah l berkata, “Hamba-Ku menyanjung-Ku.” Si hamba berkata, “Yang menguasai hari pembalasan.” Allah l berfirman, “Hamba-Ku mengagungkan Aku.” Si hamba berkata, “Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.” Allah berfirman, “Ini antara Aku dan hamba-Ku, dan untuk hamba-Ku apa yang ia minta.” Si hamba berkata, “Berilah kami petunjuk kepada jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang Engkau berikan nikmat kepada mereka, bukan jalan orang-orang yang Engkau murkai dan bukan pula jalan orang-orang yang sesat.” Allah l berfirman, “Ini untuk hamba-Ku, dan hamba-Ku mendapatkan apa yang ia minta.” (HR. Muslim no. 876)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t berkata, “Sungguh Abdullah bin Ziyad bin Sulaiman, seorang pendusta, meriwayatkan dengan tambahan pada awal hadits “Apabila hamba itu membaca ‘Bismillahir rahmanir rahim,’ Allah l berfirman, “Hamba-Ku telah mengingat-Ku.” Karena itu, ulama bersepakat mendustakan tambahan ini.” (Majmu’ Fatawa, 22/423)
Rasulullah n bersabda tentang al-Fatihah ini:
مَا أَنْزَلَ اللهُ k فِي التَّوْرَاةِ وَلاَ فِي الْإِنْجِيْلِ مِثْلَ أُمِّ الْقُرْآنِ وَهِيَ السَّبْعُ الْمَثَانِي…
“Allah tidak menurunkan dalam Taurat dan tidak pula dalam Injil yang semisal Ummul Qur’an, dan dia adalah tujuh ayat yang berulang-ulang4 ….” (HR. an-Nasa’i no. 914, at-Tirmidzi no. 3125, dan Ahmad 5/114, dari Abu Hurairah z, disahihkan dalam Shahih Sunan an-Nasa’i dan Shahih Sunan at-Tirmidzi)
Orang yang belum bisa menghafalnya harus mempelajari dan terus berupaya menghafalkannya. Bila waktu telah mendesak, misalnya waktu shalat hampir habis, sementara ia belum juga dapat menghafalkan al-Fatihah, ia membaca apa yang dihafalnya dari Al-Qur’an. Ini berdasarkan keumuman sabda Rasulullah n:
اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنَ الْقُرْآنِ
“Bacalah apa yang mudah bagimu dari Al-Qur’an (yang telah kau hafal).” (HR. al-Bukhari no. 757 dan Muslim no. 883)
Bila ia sama sekali tidak memiliki hafalan Al-Qur’an, ia mengucapkan:
سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ
“Mahasuci Allah, segala puji bagi Allah, tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah, Allah Mahabesar, tidak ada daya dan kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah Yang Mahatinggi lagi Mahaagung.” (HR. Ahmad 4/353, 356, 382, Abu Dawud no. 832, dihasankan dalam Shahih Sunan Abi Dawud)
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.
(Insya Allah bersambung)

Catatan Kaki:

1 Periwayatan dengan menggunakan kata ‘an (dari) sehingga tidak jelas apakah perawi mendengar langsung atau tidak, sedangkan Ibnu Juraij seorang mudallis ( perawi yang suka menggelapkan hadits).
2 Rukun merupakan amalan shalat yang bila ditinggalkan karena sengaja ataupun tidak, shalat tersebut batal, tidak sah.

3 Maksudnya, membagi dari sisi makna. Bagian pertama adalah pujian kepada Allah l, pemuliaan, sanjungan, dan penyerahan urusan kepada-Nya. Bagian kedua adalah permohonan, ketundukan, dan perasaan butuh.
4 Yang dimaksud adalah al-Fatihah. Al-Fatihah dinamakan shalat, karena shalat tidak sah kecuali dengan membaca al-Fatihah.
4 Berulang-ulang dibaca setiap shalat.

 

Arrazaq

(ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc)

Salah satu Al-Asma’ul Husna adalah Ar-Razzaq (الرَّزَّاقُ), juga Ar-Raziq (الرَّازِقُ). Nama Allah k itu disebutkan dalam ayat-Nya:
“Sesungguhnya Allah, Dialah Maha Pemberi Rezeki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.” (Adz-Dzariyat: 58)
Demikian juga dalam hadits Rasul-Nya n yang diriwayatkan dari Anas z, ia berkata, “Orang-orang mengatakan:
يَا رَسُولَ اللهِ غَلاَ السِّعْرُ فَسَعِّرْ لَنَا. فَقَالَ رَسُولُ اللهِ n: إِنَّ اللهَ هُوَ الْمُسَعِّرُ الْقَابِضُ الْبَاسِطُ الرَّازِقُ، وَإِنِّي لَأَرْجُو أَنْ أَلْقَى اللهَ وَلَيْسَ أَحَدٌ مِنْكُمْ يُطَالِبُنِى بِمَظْلَمَةٍ فِى دَمٍ وَلاَ مَالٍ
“Wahai Rasulullah, harga-harga naik. Kami mohon Anda menetapkan harga.” Beliau menjawab, “Allah l-lah yang menentukan harga, yang menahan dan yang membentangkan, serta yang memberi rezeki. Aku berharap agar berjumpa dengan Allah l dalam keadaan tidak ada seorang pun dari kalian menuntutku karena sebuah kezaliman dalam urusan darah atau harta.” (Sahih, HR. Abu Dawud. Disahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani)
As-Sa’di t menerangkan makna nama Allah l tersebut, “Maha Pemberi Rezeki terhadap seluruh makhluk, sehingga tidaklah ada sesuatu yang ada di alam angkasa ataupun alam bumi kecuali menikmati rezeki-Nya dan dilingkupi oleh kedermawanan-Nya.”
Muhammad Khalil al-Harras berkata, “Salah satu nama Allah l adalah اَلرَّزَّاقُ (Ar-Razzaq), yang merupakan bentuk mubalaghah1 dari kata اَلرَّازِقُ (Ar-Raziq). Perubahan bentuk kata tersebut menunjukkan sesuatu yang banyak, diambil dari kata اَلرَّزْقُ (ar-razq) yang bermakna pemberian rezeki, yang merupakan bentuk mashdar (kata dasar). Adapun اَلرِّزْقُ (ar-rizq) adalah nama bagi sesuatu yang Allah l rezekikan kepada seorang hamba (kata benda). Jadi, makna Ar-Razzaq adalah Dzat yang banyak memberi rezeki kepada hamba-hamba-Nya, yang bantuan dan keutamaan-Nya bagi mereka tidak terputus walau sekejap mata.
Adapun kata Ar-Razq sama dengan kata Al-Khalq (penciptaan), yaitu sebagai salah satu sifat perbuatan, yakni salah satu sifat-Nya sebagai Rabb (Rububiyyah). Kata Ar-Razq tidak boleh disandarkan kepada yang selain-Nya, sehingga yang selain-Nya tidak boleh disebut Raziq (pemberi rezeki) sebagaimana tidak boleh disebut Khaliq (pencipta). Allah l berfirman:
“Allah-lah yang menciptakan kamu, kemudian memberimu rezki, kemudian mematikanmu, kemudian menghidupkanmu (kembali). Adakah di antara yang kamu sekutukan dengan Allah itu yang dapat berbuat sesuatu dari yang demikian itu? Mahasuci Dia dan Mahatinggi dari apa yang mereka persekutukan.” (ar-Rum: 40)
Jadi, semua rezeki itu di tangan Allah l saja. Dialah pencipta rezeki dan pencipta makhluk yang memanfaatkan rezeki tersebut. Dialah yang menyampaikan rezeki tersebut kepada mereka. Dia juga merupakan Pencipta sebab-sebab menikmatinya. Oleh karena itu, yang wajib dilakukan adalah menyandarkan rezeki tersebut hanya kepada Allah l satu-satu-Nya dan mensyukuri-Nya.
Rezeki Allah l kepada hamba-hamba-Nya ada dua macam, yaitu yang umum dan yang khusus. Rezeki yang umum adalah Allah l menyampaikan segala kebutuhan hidup mereka dan menjaga kelangsungan mereka. Oleh karena itu, Allah l memudahkan jalan-jalan rezeki bagi mereka. Allah l pun mengaturnya dalam jasad mereka, lalu menyampaikan makanan yang dibutuhkan jasad ke anggota-anggota tubuh yang kecil maupun yang besar. Rezeki yang umum ini mencakup orang yang baik maupun yang jahat, muslim maupun kafir, bahkan juga meliputi manusia, jin, dan hewan. Allah l berfirman:
“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya.” (Hud: 6)
Rezeki ini mungkin berupa sesuatu yang halal, yang tidak mengandung dosa bagi hamba. Akan tetapi, mungkin pula berupa sesuatu yang haram namun tetap disebut sebagai rezeki dari sisi ini2, yaitu disalurkannya kepada anggota badan dan dijadikannya badan tersebut dapat mengambil manfaat darinya, sehingga hal ini tetap bisa disebut rezeki dari Allah l. Sama saja, baik dia mengambilnya dari yang halal maupun dari yang haram. Yang seperti ini sekadar disebut rezeki (muthlaqur rizq).
Adapun yang kedua, (rezeki yang khusus) adalah rezeki yang mutlak (yang sempurna), atau rezeki yang bermanfaat di dunia maupun di akhirat. Rezeki ini diperoleh melalui Rasulullah n dan terbagi menjadi dua.
1. Rezeki bagi kalbu, berupa ilmu dan iman serta hakikat keduanya, karena kalbu sangat membutuhkan pengetahuan akan kebenaran dan berkeinginan terhadapnya, serta ingin menghamba kepada Allah l. Dengan rezeki ini akan tercukupi dan hilang rasa butuhnya (karena kalbu tidak akan membaik, beruntung, dan merasa kenyang hingga mendapatkan ilmu tentang hakikat yang bermanfaat dan aqidah yang benar, akhlak yang mulia, serta bersih dari akhlak yang hina. Apa yang dibawa Rasul n menjamin dua hal tersebut sesempurna-sempurnanya, dan tidak ada jalan menuju kepadanya melainkan melalui jalan beliau n).
2. Rezeki bagi badan, berupa rezeki halal yang tidak mengandung dosa. Allah l mencukupi hamba-Nya dengan rezeki yang halal sehingga tidak membutuhkan yang haram. Allah l juga mencukupi hamba-Nya dengan keutamaan-Nya sehingga tidak membutuhkan selain keutamaan-Nya.
Rezeki yang khusus untuk mukminin dan yang mereka minta dari-Nya adalah kedua macam rezeki tersebut.
Yang pertama adalah tujuan terbesar, sedangkan yang kedua adalah sarana menuju kepadanya dan yang membantu dalam mewujudkannya. Bila Allah l memberikan rezeki kepada seorang hamba berupa ilmu yang bermanfaat, iman yang benar, rezeki yang halal, serta sifat qana’ah (merasa cukup) dengan apa yang Allah l rezekikan, berarti segala urusannya telah sempurna dan keadaannya telah lurus, baik sisi agama maupun jasmaninya. Rezeki semacam inilah yang dipuji dalam nash-nash (teks-teks) nabawi dan tercakup dalam doa-doa yang bermanfaat.
Oleh karena itu, bila berdoa kepada Rabbnya, seorang hamba semestinya mengingat dalam kalbunya dua hal ini, sehingga bila dia mengatakan, ‘Ya Allah, berikan kepadaku rezeki’, yang dia maksud adalah sesuatu yang membuat kalbunya semakin baik, yaitu ilmu dan petunjuk, serta pengetahuan dan iman; juga yang menjadikan jasmaninya baik, yaitu rezeki yang halal, yang nikmat, yang tidak sulit, dan tidak mengandung dosa. (Syarh Nuniyyah karya al-Harras, 2/110—111 dengan beberapa tambahan dari Syarh al-Asma’ wash Shifat, kumpulan penjelasan as-Sa’di)

Buah Mengimani Nama Allah Ar-Razzaq
Dengan mengimani nama Allah l tersebut, kita mengetahui betapa besarnya karunia Allah l dan betapa luasnya rezeki-Nya. Semua makhluk-Nya: manusia, jin, dan hewan, Allah k berikan rezeki-Nya kepada mereka tanpa kecuali. Lebih dari itu, Allah l mengkhususkan rezeki yang besar di dunia dan akhirat untuk hamba-Nya yang bertakwa.
Tentu semua itu menuntut kita untuk selalu bersyukur atas semuanya—rezeki iman dan amal, serta rezeki kebutuhan kita sehari-hari—, tunduk kepada-Nya, memohon kepada-Nya, karena Dialah yang Mahakaya dan Mahamampu, serta tidak memohon rezeki kepada selain Allah l, siapa pun dia karena pada hakikatnya semuanya tidak memiliki apa pun. Justru mereka juga mendapatkan rezeki dari Allah Yang Maha Pemberi Rezeki, Ar-Razzaq.
Wallahu a’lam.

Catatan kaki:

1 Bentuk mubalaghah adalah bentuk kata yang menunjukkan makna yang lebih.

2 Kelompok Mu’tazilah tidak menyebut yang haram sebagai rezeki. Pendapat mereka salah. Bahkan, yang haram juga bisa disebut rezeki dari sisi yang disebutkan ini.

 

Menepis Syubhat dan Syahwat

(Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah)

Allah l berfirman:
“(Keadaan kamu hai orang-orang munafik dan musyrikin adalah) seperti keadaan orang-orang yang sebelum kamu, mereka lebih kuat daripada kamu, dan lebih banyak harta benda dan anak-anaknya daripada kamu. Maka mereka telah menikmati bagian mereka, dan kamu telah menikmati bagianmu sebagaimana orang-orang yang sebelummu menikmati bagiannya.” (at-Taubah: 69)
Yaitu, mereka menikmati bagian mereka berupa dunia dan segala syahwatnya. Makna khalaaq dalam ayat adalah bagian yang tertentu. Lalu Allah l berfirman:
“Dan kamu mempercakapkan (hal yang batil) sebagaimana mereka mempercakapkannya.” (at-Taubah: 69)
Maka al-khaudh bil bathil (mempercakapkan yang batil) adalah syubhat.
Allah l mengisyaratkan dalam ayat ini kepada sesuatu yang akan merusak qalbu dan agama, yaitu bersenang-senang dengan bagian dunia serta larut dalam kebatilan. Karena, rusaknya agama bisa jadi dengan sebab keyakinan yang batil dan mengungkapkannya, atau dengan sebab melakukan sesuatu yang bertentangan dengan ilmu yang benar. Yang pertama itu adalah bid’ah dan yang terkait dengannya, sedangkan yang kedua adalah amalan kefasikan. Yang pertama adalah kerusakan dari sisi syubhat (kerancuan pemahaman dan pemikiran) sedangkan yang kedua adalah kerusakan dari sisi syahwat (hawa nafsu).
Oleh karena itu, dahulu ulama salaf mengatakan:
احْذَرُوا مِنَ النَّاسِ صِنْفَيْنِ: صَاحِبَ هَوًى قَدْ فَتَنَهُ هَوَاهُ، وَصَاحِبَ دُنْيَا أَعْمَتْهُ دُنْيَاهُ
“Hati-hatilah dari dua golongan manusia: pengekor hawa nafsu yang telah tergoda oleh nafsunya dan pengekor dunia yang telah terbutakan oleh dunianya.”
Dahulu mereka juga mengatakan:
احْذَرُوا فِتْنَةَ الْعَالِمِ الْفَاجِرِ وَالْعَابِدِ الْجَاهِلِ فَإِنَّ فِتْنَتَهُمَا فِتْنَةٌ لِكُلِّ مَفْتُونٍ
“Hati-hatilah dari godaan ulama yang jahat dan ahli ibadah yang bodoh, karena godaan keduanya benar-benar mengecoh setiap orang yang tergoda.”
Asal-usul setiap godaan bermula dari mengedepankan pendapat akal daripada syariat, dan mendahulukan hawa nafsu daripada akal sehat. Yang pertama adalah asal-usul godaan syubhat, sedangkan yang kedua adalah asal-usul godaan syahwat.
Godaan syubhat bisa ditolak dengan keyakinan (dalam memegangi kebenaran), sedangkan godaan syahwat bisa ditolak dengan kesabaran (dalam ketaatan). Oleh karena itulah, Allah l menjadikan kepemimpinan dalam agama tergantung pada dua hal ini. Allah l berfirman:
“Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.” (as-Sajdah: 24)
Ini menunjukkan bahwa dengan kesabaran dan keyakinan akan diperoleh kepemimpinan dalam agama.
Allah l juga memadukan keduanya dalam firman-Nya:
“Dan mereka saling mewasiatkan dalam kebenaran dan mewasiatkan dalam kesabaran.” (al-‘Ashr: 2)
Mereka saling mewasiati dengan kebenaran yang dapat mengusir syubhat dan mewasiati dengan kesabaran yang dapat menahan dari syahwat.
Sebagaimana Allah l memadukan keduanya pula dalam ayat-Nya:
“Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq, dan Ya’qub yang mempunyai al-aidi dan al-abshar.” (Shad: 45)
Al-aidi artinya kekuatan dan tekad di jalan Allah l, sedangkan al-abshar adalah pandangan dalam urusan agama Allah l. Ungkapan salaf berkisar dalam dua hal ini.
Ibnu Abbas c berkata:
أُولِي الْقُوَّةِ فِي طَاعَةِ اللهِ وَالْمَعْرِفَةِ بِاللهِ
“Yakni yang memiliki kekuatan dalam ketaatan kepada Allah l dan mengenal Allah l.”
Al-Kalbi t berkata, “Yakni yang memiliki kekuatan dalam ibadah dan pandangan ilmu di dalamnya.”
Mujahid t berkata:
الْأَيْدِي: الْقُوّةُ فِي طَاعَةِ اللهِ، وَالْأَبْصَارُ: الْبَصَرُ فِي الْحَقِّ
“Al-aidi adalah kekuatan dalam ketaatan kepada Allah l. Sedang al-abshar adalah ilmu dalam kebenaran.”
Sa’id bin Jubair t mengatakan, “Al-aidi adalah kekuatan dalam beramal, sedangkan al-abshar adalah pandangan ilmu dalam urusan agama yang mereka ada padanya.”
Dalam hadits yang mursal disebutkan:
إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْبَصَرَ النَّافِذَ عِنْدَ وُرُودِ الشُّبُهَاتِ وَيُحِبُّ الْعَقْلَ الْكَامِلَ عِنْدَ حُلُولِ الشَّهَوَاتِ
“Sesungguhnya Allah l menyukai pandangan yang tajam saat datangnya syubhat dan akal yang sempurna di saat datangnya syahwat.”
Kesempurnaan akal dan kesabaran akan menepis godaan syahwat, sedangkan kesempurnaan ilmu dan keyakinan menepis godaan syubhat.
Allah l sajalah yang dimintai pertolongan.
(diterjemahkan oleh Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc.)

Buah Kedermawanan

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Harits)

Al-Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah z, bahwasanya Rasulullah n bersabda:
بَيْنَا رَجُلٌ بِفَلاَةٍ مِنَ اْلأَرْضِ فَسَمِعَ صَوْتًا فِي سَحَابَةٍ: اسْقِ حَدِيقَةَ فُلاَنٍ. فَتَنَحَّى ذَلِكَ السَّحَابُ فَأَفْرَغَ مَاءَهُ فِي حَرَّةٍ فَإِذَا شَرْجَةٌ مِنْ تِلْكَ الشِّرَاجِ قَدِ اسْتَوْعَبَتْ ذَلِكَ الْمَاءَ كُلَّهُ فَتَتَبَّعَ الْمَاءَ فَإِذَا رَجُلٌ قَائِمٌ فِي حَدِيقَتِهِ يُحَوِّلُ الْمَاءَ بِمِسْحَاتِهِ، فَقَالَ لَهُ: يَا عَبْدَ اللهِ، مَا اسْمُكَ؟ قَالَ: فُلاَنٌ -لِلْاِسْمِ الَّذِي سَمِعَ فِي السَّحَابَةِ-. فَقَالَ لَهُ: يَا عَبْدَ اللهِ، لِمَ تَسْأَلُنِي عَنِ اسْمِي؟ فَقَالَ: إِنِّي سَمِعْتُ صَوْتًا فِي السَّحَابِ الَّذِي هَذَا مَاؤُهُ يَقُولُ: اسْقِ حَدِيقَةَ فُلاَنٍ لِاسْمِكَ، فَمَا تَصْنَعُ فِيهَا؟ قَالَ: أَمَّا إِذْ قُلْتَ هَذَا فَإِنِّي أَنْظُرُ إِلَى مَا يَخْرُجُ مِنْهَا فَأَتَصَدَّقُ بِثُلُثِهِ وَآكُلُ أَنَا وَعِيَالِي ثُلُثًا وَأَرُدُّ فِيهَا ثُلُثَهُ
Ketika seorang laki-laki berada di sebuah tanah lapang yang sunyi, dia mendengar sebuah suara di angkasa, “Berilah air pada kebun si Fulan!” Awan itu pun bergerak lalu mencurahkan airnya di satu bidang tanah yang berbatu hitam. Ternyata saluran air dari beberapa buah jalan air yang ada telah menampung air tersebut seluruhnya. Dia pun mengikuti air itu. Ternyata dia sampai kepada seorang pria yang berdiri di kebunnya sedang mengubah aliran air dengan cangkulnya.
Laki-laki tadi berkata kepadanya, “Wahai hamba Allah, siapa namamu?”
Petani itu menjawab, “Nama saya Fulan.” Dia menyebutkan nama yang tadi didengar oleh lelaki pertama dari angkasa.
Si petani bertanya kepadanya, “Wahai hamba Allah, mengapa Anda menanyakan nama saya?”
Kata lelaki itu, “Sebetulnya, saya tadi mendengar sebuah suara di awan yang airnya baru saja turun dan mengatakan, ‘Berilah air pada kebun si Fulan!’ menyebut nama Anda. Apakah yang Anda perbuat dengan kebun ini?”
Petani itu berkata, “Baiklah, kalau Anda mengatakan demikian. Sebetulnya, saya selalu memerhatikan apa yang keluar dari kebun ini, lalu saya menyedekahkan sepertiganya, sepertiga berikutnya saya makan bersama keluarga saya, dan sepertiga lagi saya kembalikan (untuk modal cocok tanam)….”
Dengan sanad hadits ini juga, dari Wahb bin Kaisan sampai kepada Abu Hurairah z, tetapi (dalam riwayat ini) petani itu berkata, “Saya mengalokasikan sepertiganya untuk orang miskin, peminta-minta, dan para perantau (ibnu sabil).”1
Perhatikanlah bagaimana Allah l menggiring rezeki untuk manusia, binatang ternak, burung-burung, tanah, dan gunung-gunung, kemudian rezeki itu sampai kepadanya karena besarnya kebutuhan mereka, pada waktu-waktu yang telah ditentukan.
Perhatikanlah bagaimana Allah l menundukkan angin agar menggiring awan sampai turun hujan.
Di dalam hadits ini dijelaskan keutamaan sedekah dan berbuat baik kepada orang miskin dan ibnu sabil. Dijelaskan pula keutamaan seseorang makan dan memberi nafkah kepada keluarga dari hasil usahanya sendiri. Di sini, petani itu memisahkan sepertiga hartanya untuk keluarga, sepertiga yang kedua untuk sedekah, dan sepertiga berikutnya untuk modal menanam lagi.

Hakikat Dunia
Pembaca, beriman bahwa dunia ini begitu rendahnya, bahkan terkutuk, bukan berarti tidak boleh berusaha (mencari ma’isyah/penghidupan). Demikian pula perintah zuhud terhadap dunia, bukan artinya tidak perlu bekerja dan berusaha. Akan tetapi, maksudnya ialah tidak bergantung pada dunia. Dengan kata lain, hati kita jangan berambisi dan sepenuhnya mengejar dunia, meninggalkan urusan akhirat, gelisah jika hartanya berkurang, gembira bila hartanya bertambah, lalu melampaui batas ketika melihat dirinya telah merasa kaya.
Mungkin akan muncul pertanyaan, kapan seseorang dikatakan zuhud, padahal dia mempunyai uang seratus juta rupiah?
Al-Imam Ahmad pernah ditanya tentang hal yang semacam ini. Beliau menjawab, “Ya. Dia dikatakan zuhud, walaupun mempunyai uang seratus ribu (dinar), dengan syarat, dia tidak merasa gembira ketika uang itu bertambah, dan tidak bersedih hati ketika uang itu berkurang.”
Akan tetapi, siapakah yang mampu bersikap demikian?
Kita semua mampu melakukannya, insya Allah, apabila harta itu kita jadikan laksana toilet dalam pandangan kita, yang tentu saja hanya didatangi ketika kita ingin buang hajat, dalam keadaan di hati kita tidak mungkin ada cinta dan terpaut kepada tempat najis tersebut.
Karena itu, ketika hati merdeka untuk Allah l, bukan berstatus sebagai budak dinar dan dirham, serta harta dunia lainnya, saat itulah usaha menambah harta tidak akan memudaratkannya. Allah l berfirman:
“Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan shalat.” (an-Nur: 37)
Dari Ibnu Mas’ud z, dia melihat sebagian pedagang di pasar, ketika dipanggil untuk shalat wajib, segera meninggalkan dagangan mereka dan bangkit. Melihat hal itu, berkatalah Abdullah, “Mereka inilah orang-orang yang sebutkan dalam Kitab-Nya:
“Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual-beli dari mengingati Allah l.” Seperti itu pula yang dikatakan oleh Ibnu ‘Umar ketika berada di pasar, kemudian diserukan iqamah, mereka menutup kedai-kedai mereka lalu memasuki masjid. Kata beliau, “Tentang merekalah ayat ini turun.”

Penjelasan Hadits
Sesungguhnya wali-wali Allah k mengenal hak Allah k yang wajib atas mereka, lalu menunaikannya lebih dari apa yang Allah l tuntut dari mereka. Mereka akan berlomba-lomba dalam kebaikan dan mendekatkan diri kepada Allah k. Sebab itulah, mereka berhak menjadi wali-wali Allah l dan meraih karamah ilahiyah, sebagai balasan atas amalan mereka yang baik.
Di dalam hadits ini diceritakan, ketika seseorang sedang berjalan di sebuah tempat sepi, dia mendengar suara di awan, mungkin suara malaikat Allah k, “Berilah air pada kebun si Fulan!” yang memerintahkan awan untuk bergerak. Kemudian, awan tersebut bergeser ke sebidang tanah berbatu hitam. Setelah berada di atasnya, awan itu mencurahkan airnya, hingga semua saluran dan parit-paritnya penuh air. Dalam keadaan takjub, lelaki itu mencoba menelusuri ke arah mana air itu mengalir.
Ternyata, air itu mengalir ke sebuah kebun. Di kebun itu sudah ada seorang petani sedang mengayunkan cangkulnya mengatur jalan air tersebut. Akhirnya, lelaki yang mendengar suara dari langit itu mendekati si petani dan berkata kepadanya, “Wahai hamba Allah.” Ini adalah sebuah panggilan umum, biasanya ditujukan kepada orang yang belum dikenal namanya. Jadi, dia tidak langsung menyebut nama si petani untuk memastikan.
“Siapa nama Anda?” tanya lelaki itu. Petani itu menoleh dan menjawab, “Fulan,” dan nama itulah yang didengar laki-laki itu dari suara yang muncul di awan, “Berilah air pada kebun si Fulan!”
Pemilik kebun itu merasa heran ada orang yang baru datang menanyakan namanya. Akhirnya, dia pun bertanya kepada lelaki tersebut, “Mengapa Anda menanyakan nama saya?”
Lelaki itu pun menceritakan, “Saya mendengar sebuah suara dari awan yang airnya turun di kebun Anda, mengatakan, ‘Berilah air pada kebun si Fulan!’ dia menyebut nama Anda, apakah yang Anda perbuat terhadap kebun ini?”
Artinya, lelaki itu menanyakan mengapa air hujan dari awan yang ada di atas tanah berbatu hitam itu semuanya tumpah ke salah satu saluran air yang mengalir ke kebun petani itu saja. Apakah sebetulnya yang diperbuat oleh petani itu terhadap kebunnya?
Petani itu pun menerangkan, “Kalau itu yang Anda katakan, sebetulnya saya selalu memerhatikan apa saja hasil panen yang keluar dari kebun ini. Kemudian, saya menyedekahkan sepertiganya, memakan sepertiganya bersama keluarga, sedangkan sepertiga lagi saya kembalikan sebagai modal untuk menanam.”
Dalam versi lain, disebutkan bahwa lelaki itu menemui si petani dan langsung memanggilnya dengan menyebut nama petani itu. Si petani menoleh kepada orang yang memanggilnya. Dia terkejut dan heran.
Petani itu pun bertanya, “Siapakah Anda, dan dari mana Anda mengetahui nama saya?”
“Sebelum saya jawab, terangkan dahulu apakah yang sudah Anda lakukan dengan kebun ini?” balas orang tersebut.
Petani itu kembali bertanya, “Untuk apakah Anda menanyakannya?”
“Saya mendengar suara dari awan menyebut nama Anda,” kata lelaki itu, dan dia pun menceritakan apa yang terjadi. “Akhirnya, saya pun mengejar awan itu hingga sampai ke tempat Anda.”
“Baiklah, kalau itu yang Anda katakan. Sebenarnya saya membagi hasil panen ini menjadi tiga, sepertiga untuk modal menanam kembali, sepertiga lagi untuk saya dan keluarga, serta sepertiga berikutnya untuk sedekah,” kata si Petani.
Orang itu mengatakan, “Jadi, itulah sebabnya tanaman Anda diberi air dari awan tersebut.”

Beberapa Hikmah
1. Allah l menundukkan malaikat dan hujan untuk orang-orang yang bersedekah dan menunaikan hak fakir miskin dari harta mereka.
2. Bersedekah kepada fakir miskin menyebabkan rezeki bertambah. Allah l berfirman:
ﭰ ﭱ ﭲﭳ
“Bila kalian bersyukur tentu akan Aku tambah untuk kalian.” (Ibrahim: 7)
Rasulullah n bersabda:
احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تِجَاهَكَ، تَعَرَّفْ إِلَى اللهِ فِي الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِي الشِّدَّةِ
“Jagalah Allah, tentu Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, tentu akan dapati Dia di hadapanmu. Kenalilah Allah ketika dalam keadaan lapang, tentu Dia akan mengenalimu ketika engkau dalam keadaan sulit.”
3. Seorang mukmin yang memiliki akidah tentu akan menjaga hak fakir miskin, keluarga, dan hartanya.
4. Adanya karamah para wali Allah l, karena Allah l mengirimkan awan untuk memberi minum kebunnya. Hal itu karena kebaikan pemilik kebun dan nafkah yang dikeluarkannya di jalan Allah l.
5. Allah l mengganti nafkah yang dikeluarkan di jalan Allah l serta tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik di dunia dan di akhirat. Sebab itulah, Allah l memberi minum kebun petani itu tanpa dia harus bersusah-payah menggali sumur untuk mendapatkan air. Semua itu karena Allah l hendak memuliakan hamba-Nya tersebut.
6. Menurut syariat, mungkin saja seseorang dapat mendengar suara malaikat seperti dalam kisah ini dan kisah seseorang yang hendak mengunjungi saudaranya di daerah lain, karena Allah l. Juga seperti ‘Imran bin Hushain z yang mendengar salam malaikat kepadanya.
7. Pentingnya pengelolaan harta benda secara cermat. Petani ini membagi hartanya (hasil panen) menjadi tiga bagian, sepertiga untuk infak di jalan Allah l, sepertiga untuk dia dan keluarganya, serta sepertiga untuk modal menanam. Inilah di antara hikmah larangan Allah l:
ﯔ ﯕ ﯖ ﯗ
“Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta mereka yang ada dalam kekuasaanmu.” (An-Nisa’: 5)
Orang-orang yang belum sempurna akalnya (sufaha’) tidak mampu mengelola hartanya dengan baik. Sebab itu pula, harta mereka diserahkan pengelolaannya kepada wali mereka menurut ketetapan syariat.
8. Hendaknya seseorang menyembunyikan amalan salehnya dan jangan menjadikannya sebagai sasaran riya’ dan sum’ah.
Wallahu a’lam.

Catatan Kaki:

1 HR. Ahmad (2/296 no. 7928) dan Muslim (8/222, 223)