Godaan Dunia dan Wanita

Abu Sa’id al-Khudri z, seorang sahabat yang mulia, berkata:
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ n: إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةُ وَإِنَّ اللهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيْهَا لِيَنْظُرَ كَيْفَ تَعْمَلُوْنَ، فَاتَّقُوْا الدُّنْيَا وَاتَّقُوْا النِّسَاءَ، فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ
Rasulullah n bersabda, “Sungguh dunia itu manis lagi hijau, dan sungguh Allah menjadikan kalian sebagai khalifah di dalamnya, maka Dia akan melihat bagaimana yang kalian amalkan (apa perbuatan kalian). Berhati-hatilah kalian dari dunia dan berhati-hatilah dari para wanita karena ujian pertama yang menimpa Bani Israil adalah pada kaum wanitanya.” (HR. Muslim)
Dalam hadits di atas, Rasulullah n mengabarkan keadaan dunia dan sifatnya yang meluluhkan hati orang-orang yang memandang dan merasakannya. Kemudian Rasulullah n mengabarkan bahwa Allah l menjadikan dunia sebagai fitnah (ujian dan cobaan) bagi para hamba. Setelahnya, beliau n menyuruh kita menempuh sebab-sebab yang akan menjaga dan melindungi kita dari terjerumus ke dalam fitnahnya.
Pengabaran Rasulullah n bahwa dunia itu manis lagi hijau mencakup seluruh sifat dunia beserta apa yang ada di atasnya. Maka dari itu, dunia itu manis dalam hal rasanya, kelezatan, dan kesenangannya. Dunia itu hijau dalam hal keindahan dan kebagusannya yang tampak. Hal ini sebagaimana firman Allah l:
“Dijadikan indah bagi manusia kecintaan kepada syahwat/kesenangan-kesenangan dunia berupa wanita, anak-anak, harta yang banyak berupa emas dan perak, demikian juga kuda-kuda yang ditambatkan, hewan-hewan ternak, dan sawah ladang….” (Ali Imran: 14)
“Sesungguhnya Kami menjadikan apa yang ada di atas bumi sebagai perhiasan bagi bumi untuk Kami menguji mereka; siapakah di antara mereka yang paling baik amalannya.” (al-Kahfi: 7)
Kelezatan yang beraneka ragam dan warna ada di dunia. Demikian pula pemandangan yang memesona. Allah l menjadikan semua itu sebagai ujian dan cobaan dari-Nya. Dia l juga menjadikan para hamba turun-temurun menguasainya, generasi demi generasi, agar Dia melihat apa yang mereka lakukan di atasnya.
Siapa yang mengambil perhiasan dunia dan meletakkannya sesuai dengan hak atau tempat yang semestinya, serta menjadikan perhiasan itu sebagai pembantu untuk menunaikan ubudiyah (peribadatan kepada Allah l) sebagai tujuan penciptaannya, niscaya perhiasan dunia tersebut menjadi bekal baginya. Perhiasan dunia akan menjadi tunggangan menuju negeri yang lebih mulia dan lebih kekal daripada dunia. Dengan begitu, sempurnalah baginya kebahagiaan duniawi dan ukhrawi.
Namun, siapa yang menjadikan dunia sebagai cita-citanya yang paling besar dan puncak ilmu serta keinginannya, padahal dia tidak akan diberi dari dunia ini selain sebatas apa yang telah ditetapkan baginya1, niscaya akhir kesudahannya adalah kesengsaraan. Dia tidak bisa menikmati kelezatan dan syahwat (kesenangan) dunia selain hanya dalam waktu yang singkat, karena dunia itu memang kelezatannya sedikit sedangkan kesedihannya panjang.
Segala macam kelezatan dunia adalah fitnah (godaan) dan ujian. Namun, fitnah (ujian) dunia yang paling besar dan paling dahsyat adalah wanita. Fitnah wanita sangatlah besar. Terjatuh ke dalam fitnah wanita sangatlah genting dan amat besar bahayanya karena wanita adalah umpan dan jeratan setan. Betapa banyak orang yang baik, sehat, dan merdeka yang diberi umpan para wanita oleh setan. Orang itu pun menjadi tawanan dan budak syahwatnya. Dia tergadai oleh dosanya (menjadi jaminan bagi dosanya). Sungguh sulit baginya untuk lepas dari fitnah tersebut. Dosanya itu adalah dosa akibat ulahnya sendiri karena tidak berhati-hati dan tidak menjaga diri dari bala tersebut. Jika dia menjaga dirinya dan berhati-hati dari fitnah wanita, tidak mencoba-coba masuk ke tempat-tempat masuknya tuduhan/prasangka, tidak menantang fitnah, disertai meminta pertolongan dengan berpegang teguh kepada Allah l, niscaya dia akan selamat dari fitnah ini dan terbebas dari ujian ini.
Karena demikian besarnya fitnah wanita, dalam hadits ini Nabi n sampai memberikan peringatan dengan secara khusus menyebutkan wanita dari sekian banyak fitnah dunia. Beliau n memberitakan apa yang terjadi pada umat sebelum kita (yang rusak karena wanita –pent.) karena hal itu mengandung pelajaran bagi orang-orang yang mau mengambil pelajaran dan nasihat bagi orang-orang yang bertakwa. Wallahu a’lam.
(Diterjemahkan oleh Ummu Ishaq al-Atsariyah dari kitab Bahjatu Qulubil Abrar wa Qurratu ‘Uyunil Akhyar fi Syarhi Jawami’il Akhbar, karya al-Allamah asy-Syaikh Abdurrahman ibnu Nashir as-Sa’di t, hlm. 187—188, hadits ke-78)

Catatan Kaki:

1 Sebagaimana disebutkan oleh hadits Anas z, Rasulullah n bersabda:
مَنْ كاَنَتِ الْأَخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللهُ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ، وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ؛ وَمَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ، جَعَلَ اللهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ، وَفَرَّقَ عَلَيْهِ شَمْلَهُ، وَلَمْ يأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ مَا قُدِّرَ لَهُ
“Siapa yang menjadikan akhirat sebagai maksud dan tujuannya, niscaya Allah l akan menjadikan kekayaannya dalam hatinya dan Allah akan mengumpulkan urusannya yang tercerai-berai, bersamaan dengan itu dunia datang kepadanya dalam keadaan hina dan rendah. Sebaliknya, siapa yang menjadikan dunia sebagai maksud dan tujuannya, niscaya Allah l akan menjadikan kefakirannya di hadapan kedua matanya, dan Allah l akan mencerai-beraikan urusannya yang semula terkumpul, sementara dunia tidak datang kepadanya selain sebatas apa yang telah ditetapkan untuknya.” (HR. at-Tirmidzi, dihasankan dalam ash-Shahihah no. 949)

 

 

MAKNA MENYAMBUNG SILATURAHIM AKAN MEMANJANGKAN UMUR

Apa makna sabda Nabi n:
مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
“Siapa yang suka dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung hubungan rahimnya.” (Muttafaqun ‘alaih dari Anas z)
Apakah maknanya seseorang mempunyai umur tertentu jika ia menyambung rahimnya dan umur yang lain lagi jika ia tidak menyambung rahimnya?
Jawab:
Kata asy-Syaikh Ibnu Utsaimin t, “Hadits ini tidaklah bermakna bahwa seseorang memiliki dua umur yang berbeda; umur jika ia menyambung rahimnya dan umur jika ia tidak menyambung rahimnya. Setiap orang hanya memiliki satu umur dan yang ditetapkan baginya juga hanya satu. Seseorang yang ditakdirkan oleh Allah l akan menyambung rahimnya, ia pasti akan menyambung rahimnya. Adapun orang yang ditakdirkan oleh Allah l memutus hubungan rahimnya, pasti dan mesti, tidak mungkin tidak, ia akan memutus rahimnya. Akan tetapi, Rasulullah n ingin mendorong umat beliau untuk melakukan amalan yang mengandung kebaikan. Sebagaimana kita katakan, ‘Siapa yang ingin punya anak, hendaklah ia menikah.’ Urusan menikah sudah ditetapkan, demikian pula anak. Jika Allah l menghendaki engkau memiliki anak niscaya Dia menginginkan engkau menikah, bersamaan dengan itu menikah dan memiliki anak masing-masingnya telah ditetapkan.
Demikian pula tentang rezeki yang telah dicatat dan ditetapkan dari asalnya. Telah pula ditetapkan bahwa engkau akan menyambung rahimmu. Akan tetapi, engkau tidak tahu tentang hal ini. Maka dari itu, Nabi n mendorong dan menerangkan kepadamu bahwa jika engkau menyambung rahimmu, Allah l akan membentangkan rezekimu dan memanjangkan umurmu. Walaupun segala sesuatu telah ditetapkan, namun karena silaturahim adalah hal yang semestinya ditunaikan oleh setiap insan, Nabi n memberi dorongan untuk melakukannya, dengan pernyataan beliau bahwa jika seseorang ingin rezekinya dilapangkan dan umurnya dipanjangkan, hendaknya ia menyambung rahimnya. Di sisi lain, perbuatan orang yang menyambung hubungan rahim telah ditetapkan dan telah pula ditetapkan umurnya sampai batas yang dikehendaki oleh Allah l.
Kemudian, ketahuilah bahwa panjangnya umur dan lapangnya rezeki adalah urusan yang nisbi (relatif). Oleh karena itu, kita mendapati sebagian orang yang menyambung rahimnya rezekinya lapang pada beberapa urusan, namun umurnya pendek. Ini adalah kenyataan yang benar-benar terjadi. Kita katakan bahwa umurnya pendek padahal dia telah menyambung hubungan rahim. Seandainya dia tidak menyambung rahimnya, niscaya umurnya lebih pendek lagi. Akan tetapi, Allah l telah menetapkan sejak zaman azali bahwa orang ini akan menyambung rahimnya dan telah menetapkan akhir umurnya sampai waktu tertentu.”
(Majmu’ Fatawa wa Rasail, 2/111—112, fatwa no. 210)

WAS-WAS RIYA’ DALAM BERAMAL

Ketika seseorang berkeinginan untuk beramal kebaikan, setan datang memberikan was-was kepadanya dengan mengatakan, “Engkau melakukan itu karena riya dan sum’ah.” Karena omongan ini, akhirnya ia urung melakukan amalan kebaikan. Bagaimanakah cara menjauhi was-was semacam ini?
Jawab:
“Caranya adalah memohon perlindungan kepada Allah l dari setan yang terkutuk dan terus melanjutkan beramal kebaikan, tanpa menoleh kepada was-was yang menghalangi/mencegahnya dari berbuat kebaikan tersebut. Jika ia berpaling dan tidak memedulikan omongan itu, serta berlindung kepada Allah l dari setan yang terkutuk, niscaya akan hilang darinya was-was tersebut dengan izin Allah l.”
Demikian bimbingan Fadhilatusy Syaikh ibnu al-Utsaimin t (2/209, fatwa no. 277).

SIHIR UNTUK MERUKUNKAN SUAMI-ISTRI

Apa hukumnya merukunkan suami istri menggunakan sihir?

Jawab:
Fadhilatusy Syaikh Muhammad ibnu Shalih Al-Utsaimin t menjawab, “Hal tersebut diharamkan dan tidaklah diperbolehkan. Sihir yang bertujuan demikian dinamakan ‘athf. Adapun sihir yang bisa memisahkan antara suami dan istri (atau dua orang yang saling mencintai), yang dinamakan sharf, juga diharamkan. Bahkan, hukumnya bisa kafir dan syirik. Allah l berfirman:
“Tidaklah mereka berdua mengajarkan sesuatu kepada seorang pun sebelum mengatakan, ‘Sesungguhnya kami hanya cobaan bagimu maka janganlah engkau kafir.’ Maka mereka mempelajari dari keduanya itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang suami dengan istrinya. Dan mereka (tukang sihir itu) tidak dapat memberi mudarat dengan sihirnya kepada seorang pun selain dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang dapat memberi mudarat kepada mereka dan tidak memberi manfaat. Dan sungguh mereka telah meyakini bahwa barangsiapa menukar Kitabullah dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat….” (al-Baqarah: 102) (Majmu’ Fatawa wa Rasail Fadhilatusy Syaikh Muhammad ibnu Shalih al-Utsaimin, 2/177—178, fatwa no. 254)
Beliau t juga ditanya tentang macam-macam sihir. Beliau t menjawab, “Sihir terbagi dua.
1. Sihir yang berupa ikatan dan jampi-jampi
Sihir ini adalah bacaan dan mantra-mantra yang diucapkan oleh tukang sihir untuk menyenangkan setan dan meminta bantuan kepadanya dengan tujuan menimpakan bahaya/kejelekan kepada orang yang hendak disihir. Allah l berfirman:
“Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya setan-setan itulah yang kafir, mereka mengajarkan sihir kepada manusia….” (al-Baqarah: 102)
2. Obat-obatan dan ramuan-ramuan yang dapat memberi pengaruh kepada orang yang disihir, memengaruhi akalnya, keinginan, dan kecondongannya.
Inilah yang dinamakan ‘athf dan sharf. Tukang sihir ini menjadikan seseorang mencintai istrinya atau wanita lain hingga ia seperti binatang ternak yang bisa digiring oleh si wanita sekehendaknya. Adapun sharf adalah sebaliknya, membuat seseorang membenci istrinya. Obat-obatan tersebut memberi pengaruh pada tubuh orang yang disihir dengan melemahkannya sedikit demi sedikit hingga ia binasa. Sihir ini juga memengaruhi pandangannya. Dikhayalkan pada dirinya urusan-urusan yang menyelisihi hakikatnya.”
(Majmu’ Fatawa wa Rasail, 2/178, fatwa no. 255)

Qutailah bintu Shaifi

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Abdirrahman)

Di antara sekian banyak sosok shahabiyat, dia mungkin tak banyak dikenal. Namun, bagi orang yang menelaah kitab hadits, dia akan menjumpai nama wanita mulia ini. Dia, Qutailah bintu Shaifi al-Juhaniyah x. Dia termasuk para wanita yang berhijrah ke Negeri Habasyah pada hijrah yang pertama.
Tercatat satu hadits yang dia riwayatkan dari Rasulullah n. Qutailah menuturkan, pernah datang seorang pendeta Yahudi kepada Rasulullah n.
“Hai Muhammad!” ujar pendeta itu, “Kalian ini kaum yang paling baik seandainya kalian tidak berbuat syirik.”
“Bagaimana itu?” tanya Rasulullah n.
“Salah seorang di antara kalian bila bersumpah mengatakan ‘Demi Ka’bah’.” kata si pendeta.
Rasulullah n diam sejenak. Lalu beliau menyatakan, “Barang siapa bersumpah, hendaknya bersumpah dengan nama Rabb Ka’bah!”
“Hai Muhammad!” ujar pendeta itu lagi, “Kalian adalah umat terbaik seandainya kalian tidak menjadikan tandingan bagi Allah.”
“Bagaimana itu?” tanya Rasulullah n.
“Kalian mengatakan ‘Atas kehendak Allah dan kehendakmu’.” kata si pendeta.
Rasulullah n kembali diam sejenak. Setelah itu beliau menyatakan, “Barang siapa ingin mengatakan ucapan itu, hendaknya mengatakan ‘Atas kehendak Allah kemudian kehendakmu’.”1

Sumber bacaan:
– Al-Ishabah, al-Hafizh Ibnu Hajar al-’Asqalani (8/284)
– Ath-Thabaqatul Kubra, al-Imam Ibnu ‘Abdil Barr (10/292)
– Tahdzibul Kamal, al-Imam al-Mizzi (35/270—272)

Catatan Kaki:

1 Hadits ini diriwayatkan oleh al-Imam an-Nasa’i dalam al-Mujtaba (7/6) dan ‘Amalul Yaum wal Lailah no. 986, al-Imam Ahmad dalam Musnad-nya (6/371 & 372), al-Imam ath-Thahawi dalam Musykilul Atsar (1/91 & 357), al-Imam al-Hakim dalam al-Mustadrak (4/297), beliau mensahihkannya dan disepakati oleh al-Imam adz-Dzahabi. Al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan dalam al-Ishabah (8/284), “Hadits sahih.”

Faktor Pendukung Pendidikan Anak (bagian ke 3)

40. Menjadi pendengar yang baik dan membuat anak merasa diperhatikan ucapannya

Orang tua seperti ini lebih baik daripada orang tua yang sibuk dan tidak memerhatikan anaknya, selalu membuang muka dan enggan mendengarkan pembicaraan si anak. Karena itu, sudah semestinya orang tua mendengarkan baik-baik bila anak sedang berbicara—terutama anak-anak yang masih kecil—dan menunjukkan perhatian kepada pembicaraan itu. Misalnya menunjukkan ekspresi terkejut, bersuara, atau memperlihatkan gerakan yang menunjukkan bahwa kita mendengarkan, memerhatikan, dan merasa takjub. Seperti mengatakan, “Bagus!” atau “Benar!”, atau berdiri spontan, atau menganggukkan kepala tanda membenarkan, atau menjawab segala pertanyaan anak, dan sebagainya.
Tindakan-tindakan semacam ini memiliki banyak dampak positif. Di antaranya adalah:
a. Mengajari anak untuk mengungkapkan pembicaraan dengan baik.
b. Membantu anak untuk berpikir sistematis.
c. Melatih anak untuk mau mendengarkan dan memahami apa yang didengarnya dari orang lain.
d. Menumbuhkan dan mengasah pribadi anak.
e. Memperkuat daya ingat dan membantu anak mengingat kembali peristiwa yang telah lampau.
f. Menambah kedekatan anak dengan orang tuanya.

41. Mencari tahu dan mengawasi keadaan anak dari jauh
Ada beberapa hal yang harus dilakukan:
a. Mengawasi penunaian ibadah si anak, seperti shalat, wudhu, dan sebagainya
b. Mengawasi penggunaan pesawat telepon rumah.
c. Melihat isi kantong dan laci tanpa sepengetahuan mereka, seperti ketika mereka pergi ke sekolah atau tidur, kemudian mengambil tindakan yang sesuai dengan apa yang dilihat.
d. Menanyakan keadaan teman-temannya.
e. Mengawasi berbagai bacaan anak, melarangnya membaca buku-buku yang dapat merusak agama dan akhlak, sekaligus membimbingnya untuk membaca buku-buku yang bermanfaat.

42. Menghargai persahabatan anak dengan teman-teman yang baik
Hal ini dilakukan dengan mendorong anak untuk terus berteman dengan mereka, menyambut mereka saat datang mengunjungi si anak, bahkan meminta mereka untuk datang. Juga mempersiapkan kedatangan mereka dengan berbagai sambutan yang baik, seperti memuliakan mereka dengan segala sesuatu yang layak untuk mereka dapatkan, menyambut mereka dengan senang disertai ucapan selamat datang, membuat mereka merasa dihargai, menjawab ucapan mereka dengan kata-kata yang baik, serta menanyakan keadaan orang tua dan keluarga mereka.
Sikap-sikap seperti ini akan membuat teman-teman si anak merasa seperti di rumah sendiri. Si anak pun akan merasa dihargai dan dianggap. Selanjutnya, anak akan terdorong untuk menaati dan menghormati orang tuanya, sebagaimana dia pun terdorong untuk terus membina persahabatan dengan mereka dan menjauhi teman-teman yang jelek.

43. Bersikap hikmah saat menjauhkan anak dari teman-teman yang jelek
Tidak sepantasnya orang tua terburu-buru menggunakan kekerasan dalam hal ini. Hendaknya orang tua tidak terburu-buru menjelekkan teman-teman itu di hadapan anak atau segera mengusir begitu mereka datang, karena si anak merasa dekat dan senang berteman dengan mereka.
Sepatutnya orang tua mengambil langkah bertahap. Pertama kali, berbicara kepada si anak tentang jeleknya dan bahayanya persahabatan itu bagi dirinya. Setelah itu barulah memberikan ancaman serta menyadarkan si anak bahwa orang tuanya berusaha untuk menjauhkan dirinya dari teman-temannya, dan nanti akan mendatangi orang tua teman-temannya itu agar menjauhkan anak-anak mereka darinya. Jika orang tua telah memperingatkan si anak dan bertindak sejauh kemampuannya, bahkan segala upaya telah ditempuh, dan orang tua melihat persahabatan anaknya dengan teman-temannya itu benar-benar membahayakan, maka orang tua bisa menjauhkan si anak dari mereka dengan tindakan yang sesuai dengan kondisi yang ada.

44. Berpura-pura tidak melihat—namun tidak mengabaikan—kelalaian atau kesalahan anak
Ini termasuk salah satu metode pendidikan. Inilah pula sikap awal yang diambil oleh orang yang berakal dalam bergaul dengan anak-anak ataupun orang lain pada umumnya. Seorang yang berakal tentu tidak senantiasa menginterogasi dan membuat bawahan atau orang-orang yang bergaul dengannya merasa bahwa dia harus mengetahui keadaan mereka sekecil apa pun. Kalau seperti itu sikapnya, tentu akan hilang kewibawaannya dari lubuk hati mereka.
Tidaklah pantas orang bodoh menjadi orang yang memimpin kaumnya,
tetapi orang yang memimpin kaumnya adalah orang yang pura-pura bodoh.
Selanjutnya, sikap ini dijadikan sebagai acuan untuk memberikan nasihat, namun tidak langsung diberikan saat terjadi kesalahan.

45. Tidak memperbesar kesalahan
Yang seharusnya dilakukan orang tua adalah menindak kesalahan, bukan memperbesar kesalahan. Orang tua harus meletakkan kesalahan itu pada tempatnya dan memahami bahwa tidak ada seorang pun bisa luput dari kesalahan. Kesalahan pasti ada dalam rumah tangga manapun. Hanya saja, ada yang sedikit dan ada yang banyak. Memecahkan kaca atau perabotan, atau menelantarkan beberapa barang tidaklah menimbulkan kerusakan besar. Ini bisa terjadi pada setiap orang.
46. Bersikap mengalah
Jika ibu sedang bersikap keras terhadap anak maka ayah bersikap lunak. Begitu pula jika ayah sedang bersikap keras maka ibu bersikap lembut. Misalnya si anak berbuat kesalahan, lalu sang ayah memarahinya sehingga membuat si anak lari bersembunyi karena takut dihukum. Dalam keadaan seperti ini, hendaknya sang ibu datang menenangkan hati si anak dan menjelaskan kesalahannya dengan lembut. Seketika anak akan merasa bahwa orang tuanya benar dan bisa menerima kemarahan ayahnya serta menjaga kebaikan ibunya. Dia pun akan menjauhi kesalahan itu pada kesempatan yang lain.

47. Mendidik dengan hukuman
Asalnya, mendidik anak dilakukan dengan kelemahlembutan. Namun, terkadang hukuman diperlukan dengan syarat tidak dilandasi kebodohan atau emosi. Juga tidak dilakukan selain dalam keadaan yang mendesak, tidak menghukum anak atas kesalahan yang pertama kali dilakukannya, tidak menghukumnya atas kesalahan yang mengakibatkan si anak sakit, dan tidak dilakukan di depan orang lain.
Di antara bentuk hukuman adalah hukuman yang bersifat psikis, seperti tidak memberikan pujian pada anak, membuat si anak merasa bahwa orang tuanya tidak ridha, mencelanya, dan sebagainya. Ada pula hukuman fisik yang tidak menyakitkan dan tidak membahayakannya.

48. Memberi kesempatan kepada anak untuk memperbaiki kesalahan
Satu hal yang pantas untuk diperhatikan dalam mendidik anak adalah memberinya kesempatan untuk memperbaiki kesalahan. Dengan demikian, anak akan bisa menjadi lebih baik dan menjadikan kesalahan sebagai jalan untuk mendapatkan kebenaran. Terlebih lagi, anak kecil mudah dibimbing dan mudah patuh, sebagaimana kata Zuhair bin Abi Salma:
Jika orang tua berbuat salah, maka setelah itu baginya tiada kemurahan hati
namun seorang pemuda, setelah kesalahannya masih ada kemurahan hati

49. Berupaya untuk saling memahami antara kedua orang tua
Ayah dan ibu harus sama-sama mengupayakan dan menempuh segala cara untuk bisa saling memahami. Mereka harus sama-sama menghindari berbagai hal yang menggiring kepada percekcokan, tidak saling menyalahkan di depan anak, sehingga tercipta ketenangan dan kerukunan dalam rumah tangga. Anak pun akan menemukan kenyamanan, kedamaian, keakraban, dan kesenangan di dalam rumah sehingga lebih betah di rumah daripada berkeliaran di jalan.

50. Bertakwa kepada Allah l kala terjadi perceraian
Apabila kedua orang tua tidak harmonis dan terjadi perceraian dengan takdir Allah l, hendaknya masing-masing bertakwa kepada Allah l. Jangan sampai anak terimbas dengan perceraian yang terjadi. Masing-masing pihak tidak boleh menghasut si anak untuk membenci pihak yang lain. Bahkan, seharusnya ayah dan ibu membantu anak-anak mereka untuk tetap mendapatkan yang terbaik dan selalu menasihati anak untuk tetap berbakti pada ayah dan ibunya.
Tidak boleh mereka menghasut dan menyalakan dendam di hati anak, saling menuduh dan mengajari anak untuk bermusuhan. Kalau ini semua dilakukan, akibat yang sering terjadi justru anak akan durhaka kepada ayah dan ibunya. Penyebabnya adalah kedua orang tua sendiri. Kalau sudah begini, jangan masing-masing mencela selain dirinya sendiri.

51. Memilihkan sekolah yang sesuai bagi anak dan berupaya memberikan pengawasan terhadap anak di sekolah
Orang tua harus berusaha memilihkan tempat belajar yang sesuai bagi anak, baik dari sisi murid-murid, lembaga, pengajar, maupun metodenya. Orang tua hendaknya memilih sekolah yang memerhatikan keistiqamahan, akhlak, dan kepribadian murid-muridnya, baik dalam ucapan maupun perbuatan. Hal ini karena umumnya anak akan memilih teman sekelasnya di sekolah yang memiliki pembawaan dan tabiat yang mirip dengan dirinya.
Di samping itu, orang tua tetap harus terus-menerus mengawasi anak di sekolahnya sampai yakin benar bahwa keadaan si anak baik dan istiqamah. Ini perlu dilakukan agar orang tua tidak dikejutkan tiba-tiba oleh keadaan si anak yang jauh dari harapan dan dambaan orang tua. Juga agar si anak memahami bahwa tanpa sepengetahuannya, orang tua akan selalu menanyakan tentang dirinya dan mengawasinya.

52. Mengadakan halaqah ilmu di rumah
Ini dilakukan dengan mengadakan halaqah yang terjadwal. Di situ dibacakan buku-buku yang sesuai untuk anak-anak, belajar membaca Al-Qur’an, juga belajar mendengarkan dengan baik dan berdialog dengan penuh adab.

53. Mengadakan lomba pengetahuan berhadiah
Hal ini akan menambah semangat anak-anak, melatih daya ingat, juga melatih mereka untuk membahas dan memahami kitab-kitab para ulama, serta membantu kemajuan mereka.

54. Membuat perpustakaan sederhana di rumah
Perpustakaan ini berisi buku-buku maupun kaset-kaset yang sesuai dengan tingkatan usia dan pemahaman anak. Perpustakaan adalah sarana terbesar untuk mengembangkan wawasan pengetahuan.

55. Mengakrabkan anak dengan majelis zikir
Yang dimaksud majelis zikir adalah ceramah, pertemuan yang diadakan di masjid, dan sebagainya. Ini akan memperkaya pengetahuan anak, mendatangkan kebaikan dan membantu anak lebih siap menghadapi kehidupan, serta memberikan jawaban terhadap berbagai pertanyaan yang bermunculan dalam benaknya. Seiring dengan itu, hal ini juga menanamkan dan mengikatkan keimanan dalam hati anak, serta mendidiknya agar mengerti adab mendengarkan pembicaraan.

56. Bepergian bersama anak
Misalnya ke kota Makkah al-Mukarramah, Madinah an-Nabawiyah, atau kota-kota lain yang boleh dikunjungi. Dalam perjalanan ini, orang tua akan bisa mengenalkan banyak hal kepada si anak. Di samping itu, mereka akan terhibur dan senang, mendapatkan berbagai hal baru, dan masih banyak lagi faedahnya.
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.
(insya Allah bersambung)

(Diterjemahkan oleh Ummu ‘Abdirrahman bintu ‘Imran dari Arba’atu Akhtha’ fi Tarbiyatil Abna’ karya Muhammad bin Ibrahim al-Hamd dengan sedikit perubahan)

Kesalahan yang Harus Diperbaiki

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyyah)

Merinci pembicaraan kita dalam edisi yang lalu, berikut ini kita mencoba menyebutkan beberapa kesalahan yang ada pada suami.

1. Tidak memedulikan pengajaran diniyah (agama) untuk istri
Mendidik istri adalah tanggung jawab suami, sebagai perwujudan firman Allah l:
“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri-diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu….” (at-Tahrim: 6)
Termasuk bentuk menjaga keluarga dari api neraka adalah menjaga istri dengan memberikan pengajaran agama kepadanya. Seperti kata Ali ibnu Abi Thalib z, “Didik dan ajarilah mereka.” Ibnu Abbas c berkata, “Amalkanlah ketaatan kepada Allah l, takutlah berbuat maksiat kepada Allah l, dan perintahkanlah keluarga kalian untuk berzikir, niscaya Allah l akan menyelamatkan kalian dari api neraka.” Qatadah mengatakan, “Engkau memerintahkan mereka agar taat kepada Allah l dan melarang mereka bermaksiat. Engkau menegakkan mereka dengan perintah Allah l. Engkau menyuruh dan membantu mereka mengerjakan perintah Allah l. Apabila melihat mereka berbuat maksiat, hendaknya engkau melarang dan memperingatkan mereka.” (Tafsir al-Qur’anil ‘Azhim, 8/133)
Karena suami yang bersikap ‘masa bodo’ atau pura-pura bodoh ini, dijumpai adanya istri yang tidak mengetahui cara shalat yang benar. Ada yang tidak mengerti hukum haid dan nifas. Bahkan, ada yang tidak mengetahui cara bergaul dengan suaminya yang sesuai dengan syariat. Demikian pula bagaimana cara yang baik dan Islami dalam mendidik anak-anaknya, dan seterusnya. Yang lebih parah, ada istri yang terjatuh dalam kesyirikan tanpa mereka sadari, seperti mendatangi dukun dan tukang sihir, memercayai khurafat, takhayul, jimat-jimat, dan sebagainya.
Untuk urusan masak-memasak, istri sampai mencurahkan waktu dan perhatiannya untuk belajar masakan Eropa, Jepang, atau lainnya karena suami menuntutnya harus pandai dari sisi ini. Namun, bagaimana cara shalat yang benar, yang didahului oleh wudhu yang sempurna, suaminya tidak peduli. Suami yang seperti ini jelas tidak bertanggung jawab, padahal di hari akhir nanti setiap orang akan dimintai pertanggungjawabannya. Rasulullah n bersabda:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ … وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya tentang apa yang dipimpinnya … Dan suami adalah pemimpin atas keluarganya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat an-Nasa’i disebutkan bahwa Rasulullah n bersabda:
إِنَّ اللهَ تَعَالَى سَائِلٌ كُلَّ رَاعٍ عَمَّا اسْتَرْعاَهُ، أََحَفِظَ ذَلِكَ أَمْ ضَيَّعَ، حَتَّى يَسْأَلَ الرَّجُلَ عَنْ أَهْلِ بَيْتِهِ
“Sesungguhnya Allah akan menanyai setiap pemimpin tentang apa yang dipimpinnya, apakah dia menjaganya ataukah menyia-nyiakannya, hingga seorang suami akan ditanyai tentang keluarganya.” (Disahihkan oleh al-Imam al-Albani t dalam ash-Shahihah no. 1636)
Rasulullah n sendiri mementingkan pengajaran ilmu kepada wanita sehingga menyempatkan waktu beliau n yang diberkahi untuk mengajari wanita sebagaimana ditunjukkan dalam hadits berikut.
Abu Sa’id al-Khudri z berkata, “Seorang wanita datang kepada Rasulullah n, lalu berkata:
يَا رَسُوْلَ اللهِ، ذَهَبَ الرِّجَالُ بِحَدِيْثِكَ، فَاجْعَلْ لَنَا مِنْ نَفْسِكَ يَوْمًا نَأْتِكَ فِيْهِ تُعَلِّمُنَا مِمَّا عَلَّمَكَ اللهُ. فَقَالَ: اجْتَمِعْنَ فِي يَوْمِ كَذَا وَكَذا، فِي مَكَانِ كَذَا. فاَجْتَمَعْنَ فَأَتَاهُنَّ فَعَلَّمَهُنَّ مِمَّا عَلَّمَهُ اللهُ
“Wahai Rasulullah! Kaum lelaki telah pergi membawa haditsmu. Maka dari itu, berikanlah untuk kami satu hari khusus yang kami dapat mendatangimu untuk belajar kepadamu dari ilmu yang telah diajarkan oleh Allah kepadamu.”
Beliau pun bersabda, “Berkumpullah kalian pada hari ini dan itu, di tempat ini (beliau menyebutkan waktu dan tempat tertentu).”
Mereka pun berkumpul pada hari dan tempat yang telah dijanjikan. Rasulullah mendatangi mereka dan mengajarkan kepada mereka dari ilmu yang diajarkan oleh Allah kepada beliau. (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Beliau n juga tidak mengecilkan pengajaran ilmu syar’i terhadap para istri. Oleh karena itu, pernah beliau n menikahkan seorang wanita dengan seorang pria dengan mahar berupa ayat Al-Qur’an, sementara Al-Qur’an adalah sumber ilmu.
Dikisahkan dalam hadits Sahl ibnu Sa’id z bahwa ada seorang wanita yang menghibahkan dirinya1 kepada Rasulullah n, namun beliau n tidak menginginkan wanita tersebut. Akhirnya, salah seorang yang hadir di tempat itu meminta agar beliau n menikahkannya dengan wanita tersebut. Rasulullah n lalu bertanya, “Apakah engkau punya sesuatu untuk dijadikan mahar?”
“Tidak, demi Allah, wahai Rasulullah,” jawabnya.
“Pergilah kepada keluargamu dan lihatlah. Mungkin engkau mendapatkan sesuatu,” kata Rasulullah n.
Laki-laki itu pun pergi. Tidak berapa lama ia kembali dan mengatakan, “Demi Allah, saya tidak mendapatkan sesuatu pun,” ujarnya.
Rasulullah n bersabda, “Lihatlah lagi dan carilah, walaupun hanya cincin dari besi.”
Laki-laki itu pergi lagi. Tidak berapa lama ia kembali. Ia mengatakan, “Demi Allah, wahai Rasulullah! Saya tidak mendapatkan meskipun hanya cincin dari besi. Tetapi, ini ada izar (sarung) saya. Setengahnya untuknya (sebagai mahar).”
Kata Rasulullah n, “Apa yang dapat engkau perbuat dengan izarmu? Jika engkau memakainya, tidak ada sama sekali izar ini pada istrimu. Jika ia memakainya, berarti engkau tidak memakainya sama sekali.”
Laki-laki itu pun duduk hingga berlalu waktu yang lama, lalu ia bangkit. Rasulullah n melihatnya berbalik pergi. Beliau n lalu menyuruh seseorang memanggilnya. Ketika telah berada di hadapan Rasulullah n, beliau bertanya, “Ada yang engkau hafal dari Al-Qur’an?”
“Saya hafal surah ini dan surah itu,” jawabnya.
“Benar-benar engkau menghafalnya di dalam hatimu?” tegas Rasulullah n.
“Iya,” jawabnya.
“Jika demikian, pergilah, sungguh aku telah menikahkan engkau dengan wanita ini dengan mahar berupa surah-surah Al-Qur’an yang engkau hafal,” kata Rasulullah n. (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Apabila suami tidak bisa memberikan pengajaran agama secara langsung kepada istrinya karena keterbatasan yang ada, dia bisa menempuh cara lain agar tertunaikan kewajiban yang satu ini. Di antaranya, membawa istrinya ke majelis-majelis ilmu yang mungkin diadakan di masjid, atau di rumah, ataupun di tempat lain. Dia bisa memberikan dorongan kepada istrinya agar mencintai ilmu dan majelis ilmu. Dia menyiapkan buku-buku agama yang bisa dibaca oleh istrinya atau kaset-kaset ceramah, CD ilmiah, dan semisalnya sesuai dengan kemampuan yang ada.

2. Mencari-cari kesalahan dan menyelidik aib/cacat istri
Rasulullah n melarang seorang suami yang sekian lama meninggalkan istrinya (bepergian keluar kota) untuk kembali ke rumah dan keluarganya secara tiba-tiba tanpa memberi kabar terlebih dahulu. Apatah lagi jika pulangnya malam hari. Jabir bin Abdillah c berkata:
نَهَى رَسُوْلُ اللهِ n أَنْ يَطْرُقَ الرُّجُلُ أَهْلَهُ لَيْلاً
“Rasulullah n melarang seorang suami yang bepergian meninggalkan keluarganya untuk kembali mendatangi keluarganya pada malam hari.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Mengapa demikian aturannya? Karena, jika suami pulang pada malam hari tanpa memberi kabar sebelumnya, dikhawatirkan ia akan mendapatkan aib keluarganya. Mungkin istrinya dilihatnya berpenampilan yang tidak sedap dipandang mata karena belum mandi dan tidak berpakaian rapi. Bisa jadi, berpakaian ala kadarnya sebagaimana keadaan istri ketika suami tidak berada bersamanya di rumahnya. Mungkin, rumahnya kotor dan berantakan karena belum sempat dibersihkan dan dirapikan, atau keadaan-keadaan lainnya yang tidak disukainya.
Apalagi jika suami melakukannya bertujuan agar bisa menangkap basah istrinya, mengetahui aib, cacat, cela, dan kekurangannya. Padahal Rasulullah n menyatakan siapa yang mencari-cari aurat/keburukan saudaranya sesama muslim, niscaya Allah l akan mencari-cari aibnya. Barang siapa yang dicari-cari auratnya oleh Allah l niscaya Allah l akan membukanya walaupun ia berada di tengah-tengah rumahnya. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits Ibnu Umar c, ia berkata, “Rasulullah n naik mimbar lalu berseru dengan suara yang tinggi. Beliau n bersabda:
ياَ مَعْشَرَ مَنْ أَسْلَمَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يُفْضِ الْإِيْمَانُ إِلَى قَلْبِهِ، لاَ تُؤْذُوا الْمُسْلِمِيْنَ وَلاَ تُعَيِّرُوْهُمْ وَلاَ تَتَّبِعُوْا عَوْرَاتِهِمْ، فَإِنَّهُ مَنْ تَتَّبَعَ عَوْرَةَ أَخِيْهِ الْمُسْلِمِ تَتَّبَعَ اللهُ عَوْرَتَهُ، وَمَنْ تَتَّبَعَ اللهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ وَلَوْ فِي جَوْفِ رَحْلِهِ
“Wahai sekalian orang-orang yang berislam dengan lisannya namun iman belum menembus ke dalam hatinya, janganlah kalian menyakiti kaum muslimin. Janganlah menjelekkan dan mencari-cari cela mereka. Barang siapa mencari-cari cela saudaranya sesama muslim, niscaya Allah akan mencari-cari celanya. Barang siapa yang dicari-cari celanya oleh Allah, niscaya Allah akan membeberkannya walaupun ia berada di tengah-tengah tempat tinggalnya.” (HR. at-Tirmidzi, dihasankan dalam al-Misykat no. 5044 dan Shahih Sunan at-Tirmidzi)

3. Menzalimi istri dengan menjatuhkan hukuman yang tidak semestinya
Di antara bentuk hukuman yang tidak semestinya adalah sebagai berikut.
a. Memukul istri padahal belum ditempuh jalan nasihat dan hajr (boikot).
Allah l berfirman:
“Wanita-wanita yang kalian khawatirkan nusyuznya, nasihatilah mereka dan tinggalkanlah mereka di tempat tidur, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka menaati kalian, maka janganlah kalian mencari-cari jalan untuk menyusahkan mereka.” (an-Nisa: 34)
Ayat di atas menunjukkan bahwa jika seorang istri berbuat nusyuz kepada suaminya, seperti tidak mau taat dalam urusan kebaikan yang diperintahkan oleh suami, hendaknya yang pertama kali dilakukan oleh suami adalah menasihati istri. Jangan langsung memukulnya. Jika nasihat tidak mempan, suami naik ke tahap berikutnya, yaitu mendiamkan si istri dan memunggunginya di tempat tidur.
Aturan ini juga dinyatakan oleh Rasulullah n dalam hadits berikut:
أَلاَ وَاسْتَوْصُوْا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا، فَإِنَّمَا هُنَّ عَوَانٌ عِنْدَكُْمْ، لَيْسَ تَمْلِكُوْنَ مِنْهُنََّ شَيْئًا غَيْرَ ذَلِكَ إِلاَّ أَنْ يَأْتِيْنَ بِفَاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ، فَإِنْ فَعَلْنَ فَاهْجُرُوْهُنَّ فيِ الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوْهُنَّ ضَرْبًا غَيْرَ مُبَرِّحٍ
“Ketahuilah, berpesan-pesan baiklah kalian kepada para wanita (istri)2, karena mereka hanyalah tawanan di sisi kalian. Tidaklah kalian menguasai dari mereka sedikitpun selain itu3, melainkan jika mereka melakukan perbuatan keji yang nyata4. Jika mereka melakukannya, jauhilah mereka di tempat tidurnya, dan pukullah mereka dengan pukulan yang tidak keras.” (HR. at-Tirmidzi dan Ibnu Majah, dihasankan dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi)
b. Menampar wajah istri, mencerca, dan menjelekkannya.
Mu’awiyah bin Haidah z berkata, “Aku pernah bertanya:
يَا رَسُوْلَ اللهِ، مَا حَقُّ زَوْجَةِ أَحَدِنَا عَلَيْهِ؟ قَالَ: أَنْ تُطْعِمَهَا إِذَا طَعِمْتَ وَتَكْسُوْهَا إِذَا اكْتَسَيْتَ، وَلاَ تَضْرِبِ الْوَجْهَ وَلاَ تُقَبِّح وَلاَ تَهْجُرْ إِلاَّ فِي الْبَيْتِ
“Wahai Rasulullah, apakah hak istri salah seorang dari kami terhadap suaminya?” Rasulullah n menjawab, “Engkau memberi makan istrimu jika engkau makan, dan engkau memberi pakaian jika engkau berpakaian. Jangan engkau memukul wajahnya, jangan engkau menjelekkannya5, dan jangan menghajr/memboikotnya selain di dalam rumah6.” (HR. Abu Dawud, disahihkan asy-Syaikh Muqbil t dalam al-Jami’ush Shahih, 3/86)

4. Mengurangi nafkah istri
Nafkah yang diberikan oleh seorang suami kepada istrinya adalah suatu kewajiban yang tersebut dalam Al-Qur’an, sunnah serta ijma’/kesepakatan ulama. Allah l berfirman:
“Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma’ruf.” (al-Baqarah: 233)
Pengertian ma’ruf adalah yang dianggap baik menurut syariat, tidak berlebih-lebihan, dan tidak pula kikir, namun sesuai dengan kebiasaan yang berlangsung dan apa yang biasa diterima oleh wanita semisalnya. Tentunya hal ini sesuai dengan kemampuan suami dalam keluasan dan kesempitannya. (Tafsir Ibni Katsir, 1/371)
Jika seorang istri diuji dengan mendapatkan suami kikir yang menahan haknya dalam nafkah tanpa kebolehan syar’i, ia diperkenankan mengambil harta suaminya sekadar yang mencukupinya dengan ma’ruf, meskipun suami tidak tahu. Hindun x, seorang sahabiyah yang mulia, pernah mengadu kepada Rasulullah n:
ياَ رَسُوْلَ اللهِ، إِنَّ أَبَا سُفْيَانَ رَجُلٌ شَحِيْحٌ وَلَيْسَ يُعْطِيْنِي مَا يَكْفِيْنِي وَوَلَدِيْ إِلاَّ مَا أَخَذْتُ مِنْهُ وَهُوَ لاَ يَعْلَمُ. فَقَالَ: خُذِيْ مَا يَكْفِيْكِ وَوَلَدَكِ بِالْمَعْرُوْفِ
“Wahai Rasulullah, sungguh Abu Sufyan (suaminya, -red.) adalah seorang yang kikir7. Ia tidak memberiku nafkah yang mencukupiku dan anakku, melainkan jika aku mengambil uangnya tanpa sepengetahuannya8.” Rasulullah n bersabda, “Ambillah apa yang mencukupimu dan anakmu dengan cara yang baik.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Hadits di atas, kata al-Imam an-Nawawi t, memberi faedah wajibnya menafkahi istri. (al-Minhaj, 11/234)
Andai para suami menyadari bahwa nafkah yang diberikannya kepada istri dan anak-anaknya adalah sedekah, karena Rasulullah n bersabda:
إِذَا أَنْفَقَ الرَّجُلُ عَلَى أَهْلِهِ نَفَقَةً يَحْتَسِبُهَا فَهِيَ لَهُ صَدَقَةٌ
“Apabila seseorang menafkahi keluarganya dengan mengharapkan pahala, itu adalah sedekah baginya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Dalam hadits lain, Rasulullah n bersabda:
أَفْضَلُ دِيْنَارٍ دِيْنَارٌ يُنْفِقُهُ الرَّجُلُِ عَلَى عِيَالِهِ
“Seutama-utama dinar adalah dinar yang diinfakkan (dibelanjakan) oleh seseorang untuk keluarganya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Lebih rincinya, Rasulullah n menyatakan:
دِيْناَرًا أَنْفَقْتَهُ فِي سَبِيْلِ اللهِ، وَدِيْناَرًا أَنْفَقْتَهُ فِي رَقَبَةٍ، وَدِيْنَارًا تَصَدَّقْتَ بِهِ عَلَى مِسْكِيْنٍ، وَدِيْنَارًا أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ، أَعْظَمُهَا أَجْرًا الَّذِي أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ
“Satu dinar yang engkau nafkahkan di jalan Allah, satu dinar yang engkau nafkahkan untuk memerdekakan budak, satu dinar yang engkau sedekahkan kepada seorang miskin, dan satu dinar yang engkau nafkahkan untuk istri/keluargamu, yang paling besar pahalanya adalah dinar yang engkau nafkahkan untuk istri/keluargamu.” (HR. Muslim no. 995)

5. Bersikap keras, kaku, dan tidak lembut kepada istri.
Rasulullah n bersabda:
أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ
“Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling bagus akhlaknya. Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istri-istrinya9.” (HR. at-Tirmidzi, dihasankan oleh asy-Syaikh al-Albani t dalam ash-Shahihah no. 284 dan asy-Syaikh Muqbil t dalam ash-Shahihul Musnad, 2/336—337)
Di antara bentuk sikap lembut seorang suami terhadap istrinya adalah memberikan kegembiraan kepadanya dengan permainan dan hiburan yang diperbolehkan syariat. Nabi n bersabda:
كُلُّ شَيْءٍ لَيْسَ مِنْ ذِكْرِ اللهِ لَهْوٌ أَوْ سَهْوٌ إِلاَّ أَنْ يَكُوْنَ أَرْبَعُ خِصَالٍ … –مِنْهَا: مُلَاعَبَةُ الرَّجُلِ أَهْلَهُ
“Segala sesuatu yang tidak termasuk zikrullah adalah sia-sia atau melalaikan, selain empat hal… —di antaranya, permainan/senda gurau suami dengan istrinya.” (HR. an-Nasa’i dalam Isyratun Nisa’, ath-Thabarani dalam al-Kabir, sanadnya sahih sebagaimana dalam ash-Shahihah no. 315)
Untuk menunjukkan kelembutan dan cintanya kepada Aisyah x, Rasulullah n pernah mengajak Aisyah adu cepat dalam berlari. Kata beliau kepada sang istri:
تَعَالَيْ حَتَّى أُسَابِقَكِ. قُلْتُ: فَسَابَقَنِيْ فَسَبَقْتُهُ
“Marilah, aku akan berlomba (lari) denganmu.” Aisyah berkata, “Lalu beliau berlomba denganku. Aku pun dapat mendahului beliau.” (HR. Abu Dawud, Ahmad, dan selainnya. Disahihkan dalam Irwa’ul Ghalil no. 1502)
Memanggil istri dengan nama atau sebutan yang menyenangkan hatinya termasuk bentuk kelemahlembutan terhadapnya. Rasulullah n, sang suami teladan, telah mencontohkannya. Suatu ketika, beliau memanggil Aisyah x dengan sebutannya:
ياَ حُمَيْرَاءُ، أَتُحِبِّيْنَ أَنْ تَنْظُرِيْ إِلَيْهِمْ؟
“Wahai Humaira’10 (wanita yang putih kemerah-merahan), apakah engkau suka melihat mereka?” (HR. an-Nasa’i dalam Isyratun Nisa’, disahihkan dalam Adabuz Zafaf hlm. 272)
Pernah pula Rasulullah n memanggil sang istri dengan menyingkat namanya:
يَا عَائِشُ، هَذَا جِبْرِيْلُ يُقْرِئُكِ السَّلاَمَ
“Wahai Aisy, ini Jibril datang menyampaikan salam untukmu.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
(Insya Allah bersambung)

Catatan Kami:

1 Ini adalah kekhususan bagi Nabi n.

2 Maknanya, Nabi n menyatakan, “Aku wasiatkan kalian untuk berbuat kebaikan kepada para istri. Maka dari itu, terimalah wasiatku ini.” Demikian dijelaskan dalam Tuhfatul Ahwadzi.
3 Maksudnya selain istimta’ (bersenang-senang), menjaga diri untuk suaminya, menjaga harta suami dan anaknya, serta menunaikan kebutuhan suami dan melayaninya. (Bahjatun Nazhirin, 1/361)
4 Seperti berbuat nusyuz (tidak taat kepada suami), buruk pergaulannya dengan suami, dan tidak menjaga kehormatan dirinya. (Tuhfatul Ahwadzi)
5 Maksudnya, mengucapkan ucapan yang buruk kepada istri, mencaci-makinya, atau mengatakan kepadanya, “Semoga Allah menjelekkanmu,” atau ucapan semisalnya. (Aunul Ma’bud, “Kitab an-Nikah, bab Fi Haqqil Mar’ah ‘ala Zaujiha”)
6 Memboikot istri dilakukan ketika istri tidak mempan dinasihati atas kemaksiatan yang dilakukannya. Hal ini sebagaimana ditunjukkan oleh ayat berikut.
“Dan istri-istri yang kalian khawatirkan nusyuznya maka berilah nasihat kepada mereka, hajr/boikotlah mereka di tempat tidur….” (an-Nisa: 34)
Pemboikotan ini bisa dilakukan di dalam atau di luar rumah, seperti yang ditunjukkan oleh hadits Anas bin Malik z tentang kisah Rasulullah n meng-ila’ istrinya (bersumpah untuk tidak ‘mendatangi’ istri-istrinya) selama sebulan dan selama itu beliau n tinggal di masyrabahnya (kamar yang tinggi; untuk menaikinya perlu tangga). (HR. al-Bukhari)
Penerapan hal ini tentunya melihat keadaan. Jika memang diperlukan boikot di luar rumah maka dilakukan. Namun, jika tidak, cukup di dalam rumah. Bisa jadi, boikot dalam rumah lebih mengena dan lebih menyiksa

perasaan si istri daripada boikot di luar rumah. Bisa juga sebaliknya. Akan tetapi, yang dominan adalah boikot di luar rumah lebih menyiksa jiwa, khususnya jika yang menghadapinya adalah kaum wanita karena lemahnya jiwa mereka. (Fathul Bari, 9/374)
Al-Imam an-Nawawi t berkata berkenaan dengan kisah Rasulullah n meng-ila’ istri-istrinya, “Suami berhak memboikot istrinya dan memisahkan diri dari istrinya ke rumah lain apabila ada sebab yang bersumber dari si istri.” (al-Minhaj, 10/334)
7 Hindun x tidaklah menyatakan bahwa suaminya bersifat pelit dalam seluruh keadaan. Dia hanya sebatas menyebutkan keadaannya bersama suaminya bahwa suaminya sangat menyempitkan nafkah untuknya dan anaknya. Dengan demikian, tidak berarti bahwa Abu Sufyan memiliki sifat pelit secara mutlak. Betapa banyak tokoh pemuka masyarakat yang melakukan hal tersebut kepada istri/keluarganya dan lebih mementingkan (baca: dermawan kepada) orang lain. Demikian disebutkan dalam Fathul Bari (9/630).
8 Dalam riwayat Muslim, Hindun x bertanya, “Apakah aku berdosa jika melakukan hal tersebut?”

9 Nabi n menyatakan, “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istri-istrinya,” karena para wanita/istri adalah makhluk Allah l yang lemah sehingga sepantasnya menjadi tempat curahan kasih sayang. (Tuhfatul Ahwadzi, 4/273)
10 Humaira adalah bentuk tashghir dari hamra’ yang bermakna wanita yang putih kemerah-merahan.

AIR HUJAN BERASAL DARI UAP AIR LAUT?

Apakah benar teori yang mengatakan bahwa air hujan berasal dari uap air yang menguap dari air laut?
Dijawab oleh al-Ustadz Abu ‘Abdillah Muhammad as-Sarbini al-Makassari
Alhamdulillah, masalah ini telah diterangkan oleh para ulama dengan dalil-dalilnya. Di antaranya adalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, al-Imam Ibnul Qayyim, dan al-Imam Ibnu Baz t.
Ibnu Taimiyah berkata dalam Majmu’ al-Fatawa (24/262), “Hujan yang turun diciptakan oleh Allah l di angkasa dari awan. Dari awan itulah hujan tercurah, sebagaimana firman Allah l:
“Maka terangkanlah kepadaku tentang air yang kalian minum. Kaliankah yang menurunkannya dari awan atau Kamikah yang menurunkannya?” (al-Waqi’ah: 68—69)
Begitu pula firman Allah l:
“Dan Kami turunkan dari awan air yang banyak tercurah.” (an-Naba’: 14)
Demikian pula firman Allah l:
“Maka engkau pun melihat hujan keluar dari celah-celahnya.” (an-Nur: 43)
Yakni dari celah-celah awan.
Firman Allah l pada beberapa ayat lainnya: ﭬ ﭭ , artinya dari atas. Kata as-sama’ adalah isim jenis1 untuk sesuatu yang tinggi (di atas). Boleh jadi maknanya adalah untuk di atas ‘Arsy2, atau bermakna benda-benda angkasa, atau atap rumah. Hal itu tergantung perangkat bahasa yang bergandeng dengan kata tersebut. Substansi (zat) asal air hujan terkadang diciptakan dari udara yang ada di angkasa dan terkadang diciptakan dari uap air yang menguap dari bumi. Inilah yang disebutkan oleh ulama muslimin dan ahli filsafat3 pun sependapat dengan ini.”
Asy-Syaikh Ibnu Baz t berkata dalam Majmu’ al-Fatawa (13/87), “Ulama menyebutkan (penciptaan air hujan) bahwasanya uap air yang menguap dari lautan bisa jadi terkumpul darinya air di awan dan Allah l mengubah rasanya yang asin menjadi tawar. Bisa jadi pula, Allah l menciptakan air di angkasa (awan), kemudian tercurah sebagai air hujan yang menyirami manusia dengan perintah Allah l. Dialah yang Mahakuasa atas segala sesuatu sebagaimana firman-Nya:
“Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya, ‘Jadilah!’ Maka terjadilah ia.” (Yasin: 82)
Makna ini disebutkan oleh Ibnul Qayyim dalam kitab Miftah Dar as-Sa’adah, dan disebutkan pula oleh selainnya. Telah tsabit (tetap) dalam hadits-hadits sahih bahwa air memancar keluar dari sela-sela jari-jemari Nabi n di Madinah dan di luar Madinah, lalu orang-orang minum dan berwudhu darinya. Hal itu termasuk dari ayat-ayat (tanda-tanda kekuasaan) Allah l yang besar, yang menunjukkan kemahasempurnaan kekuasaan Allah l, ilmu, rahmat, dan karunia-Nya, serta kebenaran Rasul-Nya n.”
FUNGSI PETIR MENURUT SYARIAT
Petir itu menurut syariat fungsinya apa? Melempar setan?
Via sms
Yang berfungsi untuk melempar setan adalah bintang yang dijatuhkan oleh Allah l. Ini adalah salah satu fungsi diciptakannya bintang-bintang di langit, sebagaimana dikabarkan oleh Allah l dalam Al-Qur’an.
Adapun fungsi petir dan kilat, sebagai jawabannya kami nukilkan keterangan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ al-Fatawa (24/263—264), “Adapun petir dan kilat, terdapat keterangan pada hadits marfu’ (disandarkan sebagai sabda Nabi n) yang diriwayatkan dalam kitab Sunan at-Tirmidzi dan lainnya, Rasulullah n ditanya tentang ar-ra’d (petir). Beliau n menjawab:
مَلَكٌ مِنَ الْمَلَائِكَةِ مُوَكَّلٌ بِالسَّحَابِ، مَعَهُ مَخَارِيقُ مِنْ ناَرٍ يَسُوقُهَا بِهَا حَيْثُ شَاءَ اللهُ
“Malaikat dari malaikat-malaikat Allah yang ditugasi mengatur urusan awan di tangannya ada alat (cambuk)4dari api untuk mengarak awan menurut kehendak Allah.”5
Pada kitab Makarim al-Akhlaq karya al-Kharaithi, terdapat atsar dari Ali z:
أَنَّهُ سُئِلَ عَنِ الرَّعْدِ، فَقَالَ: مَلَكٌ. وَسُئِلَ عَنِ الْبَرْقِ، فَقَالَ: مَخَارِيْقُ بِأَيْدِي الْمَلاَئِكَةِ. وَفِيْ رِوَايَةٍ عَنْهُ: مَخَارِيْقُ مِنْ حَدِيْدٍ بِيَدِهِ.
Beliau ditanya tentang petir, maka beliau menjawab, “Malaikat.” Beliau ditanya lagi tentang kilat, beliau menjawab, “Cambuk-cambuk di tangan para malaikat.” Pada riwayat lain beliau berkata, “Cambuk-cambuk dari besi di tangan malaikat.”
Telah diriwayatkan pula atsar-atsar yang semakna dengan ini.
Begitu pula telah diriwayatkan keterangan lain dari beberapa salaf yang tidak menyelisihi keterangan di atas, seperti ucapan sebagian mereka, “Sesungguhnya petir itu adalah (suara) benturan subtansi-subtansi (zat-zat) awan akibat adanya tekanan udara dalam awan.” Keterangan ini tidaklah kontradiksi dengan keterangan di atas karena ar-ra’d (petir/guruh) adalah mashdar dari رَعَدَ (ra’ada artinya telah berguruh), يَرْعُدُ (yar’udu artinya sedang/akan berguruh), رَعْدًا (ra’dan artinya guruh/petir).
Demikian pula الرَّاعِدُ (ar-ra’id artinya yang berguruh) dinamakan (رَعْدًا) ra’dan (petir/guruh), seperti halnya الْعَادِلُ (al-‘adil artinya yang adil) dinamakan عَدْلاًً (‘adlan artinya adil).
Gerakan yang ada mengharuskan keluarnya suara, sementara para malaikatlah yang menggerakkan (mengarak) awan. Mereka memindahkannya dari satu tempat ke tempat lainnya. Seluruh gerakan yang terjadi di alam atas dan alam bawah, yang mengaturnya adalah para malaikat. Suara manusia pun bersumber dari benturan anggota-angota tubuhnya, yaitu kedua bibirnya, lidahnya, gigi-giginya, anak lidah (anak tekak), dan tenggorokan. Bersama dengan itu, manusia disifati bahwa dia bertasbih kepada Rabbnya, memerintahkan kepada yang kebaikan dan melarang dari kemungkaran. Jika begitu, petir adalah suara menghardik awan.6
Begitu pula halnya dengan kilat. Telah dikatakan, “(Kilat itu) kilauan air atau kilauan api.” Hal ini pun tidak menafikan (menampik) bahwa kilat itu adalah cambuk yang ada di tangan malaikat, karena api yang berkilau di tangan malaikat seperti cambuk, seperti penggiring hujan. Malaikat menggiring (mengarak) awan seperti halnya penunggang menggiring binatang tunggangannya.”

Catatan Kaki:

1 Istilah dalam ilmu nahwu.
2 Yaitu tempat Allah l berada.
3 Ibnu Taimiyah t menyebutkan pendapat ahli filsafat di sini bukan dalam rangka mengangkat kedudukan mereka, karena ilmu filsafat dan ilmu kalam tidak berasal dari Islam tetapi dari Yunani yang menyusup ke dalam tubuh kaum muslimin. Ilmu filsafat dan ilmu kalam tercela dan haram. Kata Abu Yusuf al-Qadhi, “Barang siapa menuntut agama (syariat) ini dengan ilmu kalam (filsafat), dia akan menjadi zindiq (munafik).”

4 Lihat penjelasan makna makhariq (alat semacam cambuk) dalam an-Nihayah fi Gharib al-Atsar karya Ibnul Atsir.
5 Setelah itu beliau ditanya lagi tentang suara petir yang terdengar itu. Beliau n menjawab:
زَجْرُهُ بِالسَّحَابِ إِذَا زَجَرَهُ حَتَّى يَنْتَهِيَ إِلَى حَيْثُ أُمِرَ
“Hardikannya terhadap awan jika ia menghardiknya (untuk mengaraknya) hingga berhenti di tempat yang diperintahkannya.”

Ini adalah hadits Ibnu ‘Abbas c dengan riwayat at-Tirmidzi (pada Kitab Tafsir al-Qur’an, Bab Wa min Surah ar-Ra’d no. 3117) tentang kedatangan sekelompok Yahudi menemui Rasulullah n dan bertanya tentang petir. Hadits ini diriwayatkan pula oleh Ahmad, ath-Thabarani, adh-Dhiya’ al-Maqdisi, dan lainnya dengan lafadz:
أَقْبَلَتْ يَهُودُ إِلَى النَّبِيِّ n فَقَالُوا: يَا أَبَا الْقَاسِمِ، نَسْأَلُكَ عَنْ أَشْيَاءَ إِنْ أَجَبْتَنَا فِيْهَا اتَّبَعْنَاكَ وَصَدَّقْنَاكَ وَآمَنَّا بِكَ … فَأَخْبِرْنَا عَنِ الرَّعْدِ مَا هُوَ؟ قَالَ: الرَّعْدُ مَلَكٌ مِنَ الْمَلاَئِكَةِ مُوَكَّلٌ بِالسَّحَابِ (بِيَدَيْهِ -أَوْ فِيْ يَدِهِ- مِخْرَاقٌ مِنْ نَارٍ يَزْجُرُ بِهِ السَّحَابَ) وَالصَّوْتُ الَّذِيْ يُسْمَعُ مِنْهُ زَجْرُهُ السَّحَابَ إِذَا زَجَرَهُ حَتَّى يَنْتَهِيَ إِلَى حَيْثُ أَمَرَهُ
Sekelompok orang Yahudi menemui Nabi n dan berkata, “Wahai Abul Qasim, kami akan bertanya kepadamu tentang beberapa hal. Jika engkau menjawabnya, kami akan mengikutimu, membenarkanmu dan beriman kepadamu … Kabarkan kepada kami tentang petir, apakah itu?'”
Nabi n bersabda, “Petir adalah salah satu malaikat Allah yang ditugasi mengurus awan, (di kedua tangannya—atau di tangannya—ada cambuk dari api untuk menghardik awan), dan suara yang terdengar darinya adalah hardikannya terhadap awan jika ia menghardiknya hingga berhenti di tempat yang diperintahkannya.”
Yang dalam kurung adalah tambahan lafadz dari adh-Dhiya’ pada salah satu riwayatnya. Dinyatakan berderajat sahih oleh al-Albani. Lihat ash-Shahihah (no. 1872).
6 Ini sesuai dengan sabda Rasul n pada kelanjutan hadits Ibnu ‘Abbas c di atas.

 

Sifat Shalat Nabi (bagian 12)

(ditulis oleh: Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq al-Atsari)

Surah dan Ayat yang Pernah Dibaca oleh Rasulullah n dalam Shalat Lima Waktu
Surah dan ayat-ayat yang dibaca oleh Rasulullah n dalam shalat lima waktu ketika mengimami manusia berbeda-beda. Terkadang bacaannya panjang, terkadang pendek. Ahlu ilmi berkata, “Perbedaan kadar bacaan dalam hadits-hadits tersebut sesuai dengan keadaan. Adalah Nabi n mengetahui keadaan makmum. Ketika mereka mengutamakan shalat yang panjang, beliau n pun memanjangkan bacaannya. Namun, kala mereka tidak menginginkan shalat yang panjang karena satu uzur dan yang semisalnya, beliau pun meringankan bacaannya.” (al-Majmu’, 3/348)
Dalam shalat berjamaah seorang imam harus pandai melihat keadaan makmumnya. Petunjuk Rasulullah n dalam hal ini adalah hendaknya imam tidak memberatkan makmumnya, namun justru meringankan mereka. Karenanya, beliau n bersabda:
إِذَا أَمَّ أَحَدُكُمُ النَّاسَ فَلْيُخَفِّفْ، فَإِنَّ فِيْهِمُ الصَّغِيْرَ وَالْكَبِيْرَ وَالضَّعِيْفَ وَالْمَرِيْضَ، فَإِذَا صَلَّى وَحْدَهُ فَلْيُصَلِّ كَيْفَ شَاءَ
“Apabila salah seorang dari kalian mengimami manusia, hendaknya ia meringankan shalat tersebut, karena di antara makmum ada anak kecil, orang lanjut usia, orang yang lemah, dan orang sakit. Kalau ia shalat sendirian, silakan ia shalat sekehendaknya (dipanjangkan atau dipendekkan)1.” (HR. al-Bukhari no. 703 dan Muslim no. 1046)
Namun, yang perlu menjadi catatan adalah bahwa ringan di sini adalah sesuatu yang nisbi. Artinya, batasan ringan itu kembali kepada apa yang dilakukan Nabi n dan yang menjadi kebiasaan beliau, bukan dikembalikan kepada selera makmum. Hal ini karena beliau n tidak pernah memerintahkan satu urusan kepada umatnya lalu beliau n menyelisihinya. Beliau n pasti melakukan apa yang beliau n perintahkan. Ketika mengimami manusia, beliau n mengetahui bahwa di antara makmum ada orang lanjut usia, ada orang yang lemah, dan orang yang memiliki hajat. Apa yang beliau n lakukan itulah batasan ringan yang beliau n perintahkan, meskipun menurut perasaan orang, shalat yang beliau n lakukan itu panjang. Hal ini seperti yang ditunjukkan dalam hadits Ibnu Umar c, ia berkata:
كَانَ رَسُوْلُ اللهِ n يَأْمُرُنَا بِالتَّخْفِيْفِ وَيَؤُمُّنَا بِالصَّافّاَتِ
“Adalah Rasulullah n memerintahkan kami meringankan bacaan dalam shalat (ketika mengimami manusia) dan beliau n mengimami kami dengan membaca surah ash-Shaffat.” (HR. an-Nasa’i no. 826, disahihkan dalam Shahih Sunan an-Nasa’i)
Membaca surah ash-Shaffat—yang terdiri dari 182 ayat—ketika mengimami manusia, berarti termasuk bacaan ringan yang beliau n perintahkan.2
Walaupun tidak ada keharusan membaca surah tertentu dalam shalat fardhu seperti yang telah disebutkan di atas, namun kita perlu mengetahui surah apa saja yang pernah dibaca Rasulullah n dalam shalatnya, sebagaimana yang dikabarkan oleh para sahabat beliau n yang mulia. Berikut ini kita memulai penyebutannya.

1. Shalat Fajar/Subuh
Rasulullah n biasa membaca surah mufashshal yang panjang sebagaimana ditunjukkan oleh hadits Abu Hurairah z. Ia berkata, “Aku tidak pernah melihat seseorang yang shalatnya paling mirip (dengan shalat Rasulullah n, pen.) daripada si Fulan—seorang imam yang ada di Madinah—.” Sulaiman bin Yasar t yang mendengar ucapan Abu Hurairah z ini mengatakan, “Aku pun shalat di belakang imam yang disebut oleh Abu Hurairah z. Ia memanjangkan bacaannya pada dua rakaat yang awal dari shalat zhuhur dan meringankan dalam dua rakaat yang terakhir. Ia meringankan shalat ashar (lebih pendek dari shalat zhuhur, pen.). Dalam dua rakaat shalat maghrib, ia membaca surah mufashshal yang pendek-pendek. Ia juga membaca surah mufashshal yang pertengahan (tidak panjang dan tidak juga pendek, pen.) dalam dua rakaat yang awal dari shalat isya. Adapun dalam shalat subuh, ia membaca surah mufashshal yang panjang.”
Adh-Dhahhak t mengatakan, “Orang yang mendengar dari Anas bin Malik z menyampaikan kepadaku ucapan Anas, ‘Aku tidak pernah melihat seseorang yang shalatnya paling mirip dengan Rasulullah n daripada anak muda ini—yang dimaksudkan adalah Umar ibnu Abdil Aziz’.” Adh-Dhahhak t mengatakan, “Aku pun shalat di belakang Umar ibnu Abdil Aziz. Ternyata dia melakukan sebagaimana yang dikatakan oleh Sulaiman bin Yasar.” (HR. an-Nasa’i no. 982, 983 dan Ahmad 2/300, 329—330. Al-Hafizh Ibnu Hajar t berkata dalam Bulughul Maram hadits no. 309, “Sanadnya sahih.”)
Surah-surah lain yang pernah dibaca oleh Rasulullah n dalam shalat subuh bisa dirinci sebagai berikut:
1. Surah al-Waqi’ah dan semisalnya
Hal ini tersebut dalam hadits Jabir bin Samurah z yang diriwayatkan oleh al-Hakim (1/240) dan Ahmad (5/104). Al-Hakim t berkata, “Sahih menurut syarat Muslim,” dan disepakati oleh adz-Dzahabi. Al-Imam al-Albani t mengatakan dalam al-Ashlu (2/431) bahwa keadaan hadits ini adalah sebagaimana yang dikatakan oleh keduanya.
2. Ketika menunaikan haji Wada’, Rasulullah n membaca surah ath-Thur
Ini seperti dikabarkan oleh Ummu Salamah x, yang dibawakan oleh al-Imam al-Bukhari t dalam Shahih-nya secara mu’allaq, ”Bab al-Jahru bi Qira’ati Shalatil Fajr”. Ummu Salamah x mengatakan, “Aku thawaf di belakang orang-orang dan Nabi n sedang mengerjakan shalat dengan membaca ath-Thur.”3
3. Surah Qaf dan semisalnya pada rakaat pertama
Ini disebutkan oleh hadits Jabir ibnu Samurah z yang diriwayatkan oleh al-Imam Muslim (no. 1027 dan 1028).
4. Surah-surah mufashshal yang pendek semacam at-Takwir
Ini disebutkan oleh riwayat ‘Amr ibnu Huraits z yang diriwayatkan oleh al-Imam Muslim (no. 1023).
5. Sekali waktu Rasulullah n membaca surah al-Zalzalah dalam dua rakaat (dibaca dalam rakaat pertama dan dibaca lagi dalam rakaat kedua)
Sampai-sampai perawi yang membawakan riwayat ini mengatakan, “Aku tidak tahu, apakah Nabi n lupa atau beliau mengulang bacaannya dengan sengaja4.” (HR. Abu Dawud no. 816, disahihkan sanadnya oleh al-Imam an-Nawawi t dalam al-Majmu’. Kata al-Imam Albani t, “Semua perawinya adalah perawi Syaikhani, selain Mua’dz ibnu Abdillah al-Juhani. Dia tsiqah, menurut pendapat Ibnu Ma’in, Abu Dawud, dan selainnya. al-Ashlu, 2/435)
6. Dalam suatu safar, Rasulullah n membaca al-Mu’awwidzatain (surah al-Falaq dan an-Naas)
Ini sebagaimana disebutkan oleh hadits ‘Uqbah ibnu ‘Amir z. (HR. Abu Dawud no. 1462 dengan sanad yang hasan, al-Ashlu, 2/437)
7. Terkadang Rasulullah n membaca surah yang lebih panjang sejumlah 60—100 ayat
Ini seperti tersebut dalam hadits Abu Barzah al-Aslami z yang dikeluarkan al-Imam Muslim (no. 1031 dan 1032).
8. Surah ar-Rum
Ini disebutkan dalam hadits al-Aghra al-Muzani z yang diriwayatkan oleh al-Bazzar. Haditsnya hasan dengan syahid (pendukung) yang diriwayatkan oleh an-Nasa’i (no. 947) dari seorang sahabat Rasulullah n dan sanadnya hasan (al-Misykat, 295).
9. Sekali waktu saat Rasulullah n mengerjakan shalat subuh di Makkah, beliau membaca surah al-Mu’minun. Ketika sampai pada ayat yang menyebutkan Musa dan Harun5 atau Isa6—ada keraguan pada perawi—Rasulullah n batuk, beliau pun ruku’.
Ini disebutkan oleh hadits Abdullah ibnus Sa’ib z yang diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari secara mu’allaq dalam Shahih-nya, “Kitabul Adzan, Bab al-Jam’u bainas Suratain fir Rak’ah” dan Muslim (no. 1022).
10. Surah ash-Shaffat
Ini seperti disebutkan oleh hadits Ibnu Umar c yang diriwayatkan oleh al-Imam Ahmad (2/40) dengan sanad yang hasan (al-Ashlu, 2/443).
11. Di waktu fajar hari Jum’at, pada rakaat pertama Rasulullah n membaca surah as-Sajdah dan rakaat kedua membaca al-Insan.
Ini sebagaimana tersebut dalam banyak hadits, di antaranya hadits Abu Hurairah z yang diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 891) dan Muslim (no. 2031)7.

2. Shalat Zhuhur
Dalam shalat zhuhur, Rasulullah n memanjangkan rakaat yang pertama lebih dari rakaat yang kedua. Ini sebagaimana yang ditunjukkan oleh hadits Abu Qatadah z:
كَانَ النَّبِيُّ n يَقْرَأُ فِي الرَّكْعَتَيْنِ الْأُوْلَيَيْنِ مِنَ الصَّلاَةِ الظُّهْرِ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَسُوْرَتَيْنِ، يَطُوْلُ فِي الْأُوْلى وَيُقَصِّرُ فِي الثَّانِيَةِ وَيُسْمِعُ الْآيَةَ أَحْيَانًا …
“Adalah Nabi n dalam dua rakaat yang awal dari shalat zhuhur membaca Ummul Kitab (al-Fatihah) dan dua surah. Beliau memanjangkan qiraah dalam rakaat yang pertama dan memendekkannya dalam rakaat kedua. Terkadang beliau memperdengarkan kepada kami ayat yang beliau baca ….” (HR. al-Bukhari no. 759 dan Muslim no. 1012)
Terkadang beliau n sangat memanjangkan bacaan dalam rakaat pertama. Sampai-sampai ada seseorang yang pergi ke Baqi’ saat diserukan iqamah shalat zhuhur guna menunaikan hajatnya, lalu ia pulang ke rumahnya, berwudhu, dan datang ke masjid lagi dalam keadaan Rasulullah n masih di rakaat pertama. (HR. Muslim no. 1020 dari Abu Sa’id al-Khudri z)
Menurut dugaan para sahabat g, Rasulullah n memanjangkan demikian agar orang-orang yang belum datang bergabung dalam jamaah sempat mendapati rakaat pertama. Demikian yang ditunjukkan oleh hadits Abu Qatadah z yang diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 800) dan hadits ini sahih sebagaimana dalam Shahih Sunan Abi Dawud.
Diperkirakan bacaan Rasulullah n pada rakaat pertama dan kedua sekitar 30 ayat seperti membaca surah as-Sajdah. Hal ini dikabarkan oleh Abu Said al-Khudri z. Beliau z berkata, “Kami memperkirakan berdirinya Rasulullah n dalam shalat zhuhur dan ashar. Dalam dua rakaat pertama shalat zhuhur, kami perkirakan Rasulullah n berdiri sekadar bacaan 30 ayat, seperti kadar membaca surat Tanzil as-Sajdah. Adapun berdirinya beliau dalam dua rakaat yang akhir kami perkirakan separuh dari itu (kira-kira bacaan 15 ayat). Kami memperkirakan berdirinya Rasulullah n pada dua rakaat yang awal dari shalat ashar sekitar setengah dari itu8. Kami perkirakan berdirinya beliau dalam dua rakaat yang akhir sekitar separuh dari dua rakaat yang pertama.” (HR. Ahmad 3/2 dan ini adalah lafadz beliau, Muslim [no. 1014] dan al-Bukhari dalam Juz Qira’ah-nya hlm. 25)
Para sahabat g sayup-sayup pernah mendengar Rasulullah n membaca surah al-A’la dan al-Ghasyiyah, sebagaimana tersebut dalam hadits Anas bin Malik z yang diriwayatkan oleh adh-Dhiya’ al-Maqdisi dalam al-Mukhtarah. (Sanadnya sahih menurut syarat Muslim, al-Ashlu, 2/462)
Pernah pula Rasulullah n membaca surah al-Buruj dan ath-Thariq, serta surah semisal keduanya. (HR. al-Bukhari dalam Juz Qira’ah hlm. 21, Abu Dawud no. 805, dan selainnya, dari Jabir bin Samurah z. Haditsnya hasan sahih, lihat Shahih Sunan Abi Dawud)
Demikian pula, beliau n pernah membaca surah al-Lail dan semisalnya. (HR. Abu Dawud no. 806 dari Jabir bin Samurah z, dan haditsnya sahih)

Dua Rakaat yang Akhir
Sebagaimana telah disebutkan di atas bahwa pada dua rakaat yang akhir dari shalat zhuhur, Rasulullah n menjadikannya lebih pendek dari dua rakaat yang pertama sekitar separuhnya, yaitu sekadar membaca lima belas ayat.
Di sini, disenangi membaca surah selain al-Fatihah dalam dua rakaat yang akhir. Namun surah yang dibaca lebih ringan atau lebih pendek daripada dua rakaat yang pertama. Boleh juga mencukupkan dengan membaca al-Fatihah saja.
Dalam masalah ini ada perbedaan pendapat di kalangan ulama. Apakah mustahab membacanya dalam dua rakaat yang akhir dari shalat ruba’iyah (empat rakaat) dan rakaat yang ketiga dari shalat tsulatsiyah (tiga rakaat/ maghrib), atau tidak. Para sahabat pun berbeda pendapat dalam hal ini. Sebagian mereka membacanya, seperti Abu Bakr ash-Shiddiq z, sebagaimana tersebut dalam al-Muwaththa’ (1/177) dengan sanad yang sahih. Di sana disebutkan bahwa pada rakaat ketiga dari shalat maghrib, setelah membaca al-Fatihah, Abu Bakr z membaca ayat:
(Mereka berdoa), “Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia).” (Ali Imran: 8)
Al-Baihaqi t dalam satu riwayatnya tentang perbuatan Abu Bakr z ini menambahkan: Sufyan ibnu Uyainah t mengatakan, “Tatkala Umar ibnu Abdil Aziz t mendengar hal ini dari Abu Bakr z, ia berkata, ‘Semula aku tidak mengamalkan yang seperti ini. Ketika aku mendengar bahwa ini (dilakukan oleh Abu Bakr z), aku pun mengambil pendapat ini’.” (2/64 dan 391)
Al-Imam al-Albani t menyatakan bahwa Abul Hasanat al-Laknawi mengambil pendapat ini. Beliau juga mengatakan keganjilan pendapat sebagian orang yang menghukumi wajibnya sujud sahwi jika membaca surah dalam dua rakaat yang akhir. Ini telah dibantah oleh Ibrahim al-Halabi, Ibnu Amir Hajj al-Halabi, dan selain keduanya dengan bantahan yang sangat bagus. Dengan demikian, tidak diragukan bahwa orang yang berpendapat demikian belumlah sampai kepadanya hadits yang menyebutkan bolehnya membaca surah dalam dua rakaat yang akhir tersebut. Seandainya sampai kepada mereka, niscaya mereka tidak berfatwa yang menyelisihinya. (al-Ashlu, 2/468—469)

Sebagian sahabat tidak membaca surah setelah al-Fatihah dalam dua rakaat yang akhir (atau rakaat setelah tasyahud pertama), sebagaimana dinukilkan oleh al-Imam ath Thahawi t dalam Syarhu Ma’anil Atsar (1/267 & 271—272) dari Ali bin Abi Thalib, Ibnu Umar, Zaid bin Tsabit, Jabir bin Abdillah, dan Abud Darda’ g.

3. Shalat Ashar
Pembicaraan qiraah dalam shalat ashar ini sama dengan shalat zhuhur. Dalam dua rakaat yang awal, Rasulullah n membaca surah al-Fatihah dan dua surah yang lain (satu surah pada masing-masing rakaat) seperti dalam hadits Abu Qatadah z:
وَكَانَ يَقْرَأُ فِي الْعَصرِ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَسُوْرَتَيْنِ …
“Adalah Nabi n dalam dua rakaat yang awal dari shalat ashar membaca Ummul Kitab (al-Fatihah) dan dua surah ….” (HR. al-Bukhari no. 759 dan Muslim no. 1012)
Kadar bacaan Rasulullah n dalam masing-masing dari dua rakaat tersebut sekitar lima belas ayat, yaitu separuh dari bacaan beliau dalam dua rakaat yang awal dari shalat zhuhur. Untuk dua rakaat yang akhir, bacaannya separuh dari dua rakaat yang awal, sebagaimana hal ini disebutkan oleh hadits Abu Sa’id al-Khudri z yang telah lewat penyebutannya dalam pembahasan qiraah shalat zhuhur.
Terkadang Rasulullah n memperdengarkan bacaan beliau kepada para sahabatnya. Adapun ayat/surah-surah yang dibaca oleh beliau n sama dengan yang disebutkan dalam shalat zhuhur.
Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.

 

Catatan Kaki:

1 Dalam riwayat al-Bukhari disebutkan:
وَإِِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ لِنَفْسِهِ فَلْيُطَوِّلْ مَا شَاءَ
“Apabila salah seorang dari kalian shalat sendirian, silakan ia panjangkan shalat semaunya.”

2 Sebagaimana beliau n juga pernah menganjurkan membaca surat-surat yang lebih pendek, seperti Sabbihisma Rabbikal a’la (surah al-A’la).

3 Di tempat lain dalam Shahih-nya, riwayat ini dibawakan oleh al-Bukhari secara maushul (dengan sanad yang bersambung). Demikian pula al-Imam Muslim dalam Shahih-nya. Disebutkan, Ummu Salamah x mengadu kepada Rasulullah n bahwa ia sedang sakit, sementara ia belum thawaf di Baitullah. Rasulullah n memberikan arahan, “Thawaflah engkau di belakang orang-orang dalam keadaan engkau berada di atas tunggangan.” Ummu Salamah x berkata, “Aku pun thawaf dengan menaiki untaku dan ketika itu Rasulullah n sedang shalat di sisi Baitullah membaca surah ath-Thur.”
Namun riwayat yang maushul ini tidak menyebutkan shalat fajar. Yang menyebutkannya adalah riwayat lain yang juga diriwayatkan oleh al-Bukhari dari Ummu Salamah x, ia mengabarkan bahwa Rasulullah n saat di Makkah dan ingin keluar meninggalkan Makkah (untuk kembali ke Madinah), Ummu Salamah x juga ingin keluar meninggalkan Makkah namun ia belum thawaf di Baitullah. Rasulullah n bersabda kepadanya, “Apabila telah ditegakkan shalat subuh, thawaflah di atas untamu sementara manusia mengerjakan shalat.”
4 Namun yang tampak, Rasulullah n melakukannya dengan sengaja sebagai tasyri’ (penetapan syariat) bolehnya hal tersebut. (al-Ashlu, 2/435)
5 Yaitu ayat yang berbunyi:
“Kemudian Kami utus Musa dan saudaranya Harun dengan membawa tanda-tanda (kebesaran) Kami, dan bukti yang nyata.” (al-Mu’minun: 45)
6 Yaitu ayat yang berbunyi:

“Dan telah Kami jadikan (Isa) putra Maryam beserta ibunya suatu bukti yang nyata bagi (kekuasaan Kami), dan Kami melindungi mereka di suatu tanah tinggi yang datar yang banyak terdapat padang-padang rumput dan sumber-sumber air bersih yang mengalir.” (al-Mu’minun: 50)
7 Rasulullah n membaca dua surah ini karena keduanya memuat penyebutan tentang awal penciptaan makhluk dan tempat kembalinya, penciptaan Adam dan penyebutan tentang masuk surga dan neraka. Itu semua telah dan akan terjadi pada hari Jum’at. Rasulullah n membacanya pada subuh hari Jum’at untuk mengingatkan umatnya akan kejadian tersebut.

8 Yaitu setengah dari lama berdirinya beliau dalam dua rakaat yang awal dari shalat zhuhur.

 

Jika Ilmu Menyentuh Kalbu

(ditulis oleh: Ibnul Qayyim)

Allah l berfirman:
“Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya. Arus itu membawa buih yang mengambang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang batil. Adapun buih itu akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya. Adapun yang memberi manfaat kepada manusia, ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan.” (ar-Ra’du: 17)
Allah l menyerupakan ilmu yang Dia turunkan kepada Rasul-Nya dengan air yang Dia turunkan dari langit karena keduanya menghasilkan sebuah kehidupan dan kebaikan bagi manusia dalam maisyah mereka dan kembalinya mereka nanti. Allah l menurunkan wahyu demi kehidupan kalbu, pendengaran, dan penglihatan. Di sisi lain, Allah l menurunkan air demi hidupnya bumi dengan tumbuhan. Lalu Allah l menyerupakan kalbu dengan lembah. Kalbu yang besar akan menampung ilmu yang banyak, ibarat lembah yang luas menampung air yang banyak. Sebaliknya, kalbu yang kecil hanya menampung ilmu yang sedikit. Ibarat lembah yang sempit, hanya menampung air yang sedikit pula. Allah l menjelaskan:
“Maka lembah-lembah itu mengalirkan sesuai ukurannya. Arus itu pun membawa buih yang mengambang.” (ar-Ra’du: 17)
Perumpamaan ini diberikan oleh Allah l untuk ilmu saat menyentuh kalbu yang lapang sehingga kalbu itu membawa ilmu dan petunjuk sesuai dengan ukurannya. Maka dari itu, sebagaimana arus air ketika menyapu bumi dan melewatinya akan membawa kotoran serta buih, demikian pula petunjuk dan ilmu ketika bersentuhan dengan kalbu. Ilmu akan merangsang kalbu untuk mengeluarkan syubhat dan syahwat yang ada padanya, kemudian mencabut dan melenyapkannya. Ibarat obat saat diserap oleh tubuh, ia merangsangnya untuk mengeluarkan kotoran-kotorannya, sehingga peminumnya merasa pening. Padahal, itu adalah kesempurnaan manfaat pengaruh obat yang nanti (kotoran itu) akan dibuang oleh obat tersebut karena keduanya (obat dan penyakit) tidak akan bersatu. Demikianlah perumpaan kebenaran dan kebatilan. Ilmu akan melenyapkan buih-buih syubhat kebatilan dari kalbu sehingga syubhat itu hanya mengambang di permukaannya, sebagaimana arus air menyapu lembah tersebut sehingga muncul buih yang mengambang di atas air. Allah l mengabarkan bahwa buih itu hanya mengambang di atas air, tidak menetap di tanah lembah itu. Seperti itu jugalah syubhat-syubhat yang batil bila telah disapu oleh ilmu. Ia hanya mengambang di permukaan kalbu, tidak akan menetap padanya. Bahkan, syubhat-syubhat itu akhirnya terlempar sirna sehingga yang tinggal dalam kalbu hanyalah yang bermanfaat baginya dan bagi manusia, berupa hidayah dan agama yang benar, layaknya air yang menetap di lembah tersebut dalam keadaan jernih dan telah sirna buihnya. Dengan demikian, orang-orang dapat mengambil air minum, bercocok tanam, dan memberi minum ternak mereka darinya.
Tidak ada seorang pun yang memahami perumpamaan yang diberikan oleh Allah l selain orang-orang yang berilmu.
Allah l lalu memberikan perumpamaan yang lain bagi (manfaat ilmu). Allah l berfirman:
“Dan dari apa yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu.” (ar-Ra’du: 17)
Maksudnya, sesuatu yang dilebur oleh Bani Adam baik berupa emas, perak, tembaga maupun besi, akan keluar kotoran darinya. Kotoran itu adalah buih yang dibuang oleh api dan dikeluarkan oleh api itu dari perhiasan tersebut saat bercampur dengan api itu. Jadi, yang tertinggal hanyalah hiasan yang murni. Demikianlah, iman yang murni dan bersih—yang bermanfaat bagi pemiliknya dan orang lain pun bisa memanfaatkannya1—akan menetap dalam kalbu.
Allah l membuat perumpamaan dengan air karena air mengandung kehidupan, kesejukan, dan manfaat. Di sisi ain, Allah l membuat perumpamaan dengan api karena api mengandung cahaya, sinar, dan sifat membakar. Ayat-ayat Al-Qur’an menghidupkan kalbu seperti hidupnya bumi dengan sebab air. Di sisi lain, ayat-ayat Al-Qur’an membakar kejelekan kalbu, syubhat, syahwat, dan kotoran hitamnya seperti api membakar sesuatu yang dilemparkan ke dalamnya sehingga memisahkan yang baik dari kotorannya, memisahkan emas, perak, dan tembaga dari kotorannya.
Inilah beberapa pelajaran dan ilmu yang terkandung dalam perumpamaan yang agung ini. Allah l berfirman:
“Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buatkan untuk manusia; dan tiada yang memahaminya selain orang-orang yang berilmu.” (al-Ankabut: 43)
Wallahu a’lam.
(Diterjemahkan dan disusun oleh Qomar Suaidi dari at-Tafsirul Qayyim dan I’lamul Muwaqqi’in karya Ibnul Qayyim)

Catatan Kaki:

1 As-Sa’di t mengatakan, “Demikian juga syubhat dan syahwat. Kalbu akan terus membenci dan melawannya dengan keterangan-keterangan yang benar dan tekad yang kuat sehingga syubhat dan syahwat itu pun sirna.

Kalbu pun menjadi bersih dan murni. Tidak ada di dalamnya selain apa yang bermanfaat bagi manusia, yaitu ilmu tentang kebenaran, dan mendahulukan serta mencintainya. Yang batil akan sirna dan dilenyapkan oleh kebenaran.
“Sesungguhnya kebatilan itu akan sirna.” (al-Isra: 81)
Allah l berfirman:
“Demikianlah Allah memberikan perumpamaan-perumpamaan,” agar tampak kebenaran dari kebatilan dan menjadi jelas petunjuk dari kesesatan.