Pelajaran dari Surat Al ‘Ashr

Demi masa.
Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian.
Terkecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, serta nasihat-menasihati agar menaati kebenaran dan nasihat-menasihati agar menetapi kesabaran.
(al-‘Ashr: 1—3)

Terkait dengan surat yang mulia ini, al-Imam asy-Syafi’i t pernah berkata, “Seandainya manusia mentadabburi surat ini niscaya surat ini melapangkan mereka.”
Sebuah surat yang pendek, hanya terdiri dari tiga ayat, namun demikian agung kandungannya. Di dalamnya termuat keterangan tentang sebab kerugian dan keberuntungan. Tentu setiap orang yang berakal menginginkan keberuntungan dan ingin menghindar dari kerugian. Namun, bisa jadi ia tidak mengetahui apa saja yang dapat menjatuhkannya ke dalam kerugian sehingga ia bisa menghindarinya. Ia tidak tahu pula cara-cara yang akan mengantarkannya kepada keberuntungan sehingga ia bisa mengupayakannya.
Allah l memberi anugerah kepada para hamba-Nya dengan menerangkan hal tersebut kepada mereka dalam sebuah surat yang pendek. Surat yang mudah dihafal dan dipahami oleh orang dewasa dan anak kecil, orang awam dan orang yang belajar, agar tegak hujjah-Nya terhadap para hamba-Nya, dan agar orang yang menginginkan keselamatan diri dapat mengamalkannya.
Allah l bersumpah menyebut masa yang manusia ada padanya dalam kehidupan dunia. Demikianlah, Allah l bersumpah dengan apa saja dari makhluk-Nya yang Dia inginkan. Adapun makhluk tidak boleh bersumpah dengan selain nama Allah l, karena bersumpah selain menyebut Allah l adalah perbuatan syirik1.
Tidaklah Allah l bersumpah menyebut makhluk-Nya melainkan di dalamnya ada rahasia yang agung dan hikmah yang tinggi, agar pandangan mengarah kepadanya, baik untuk mengambil pelajaran maupun faedah. Dalam ayat ini, Allah l bersumpah dengan masa, yang merupakan zaman dan waktu tempat manusia hidup dalam kehidupan dunia ini. Perjalanan waktu sarat dengan pelajaran. Waktu dan zaman adalah pergantian malam dan siang, tempat berlangsungnya berbagai kejadian, peristiwa, dan perubahan; di samping ada faedah/manfaat yang agung bagi manusia jika pandai menggunakannya dalam urusan yang bermanfaat.
Allah l bersumpah bahwa seluruh manusia merugi di dunia dan di akhirat. Sama saja, baik ia orang berpunya maupun papa, kaya maupun miskin, pandai maupun bodoh, mulia maupun rendahan, lelaki maupun perempuan, selain orang yang mengisi waktu dengan empat hal: iman, amal saleh, berwasiat dengan kebenaran, dan berwasiat dengan kesabaran.
Iman adalah pembenaran hati yang tidak bermanfaat jika tanpa amal. Seperti kata al-Hasan al-Bashri t, “Iman itu bukan dengan berhias-hias, bukan pula dengan berangan-angan. Akan tetapi, iman adalah apa yang menetap dalam hati dan dibenarkan oleh amalan.”
Tidak semua amalan itu teranggap saleh kecuali jika terkumpul di dalamnya: ikhlas karena Allah l, bersih dari seluruh macam kesyirikan, dan mutaba’ah (mengikuti) Rasulullah n, disertai dengan meninggalkan semua bid’ah.
Ada orang yang berpayah-payah melakukan kebajikan namun hanya kemanfaatan duniawi yang menjadi tujuan. Jelas, hal ini menjauhkan mereka dari Allah l dan dari surga-Nya karena tidak ada pada amalan tersebut salah satu atau kedua syarat: ikhlas dan mutaba’ah.
Allah l berfirman:
“Banyak wajah pada hari itu tunduk terhina, bekerja keras lagi kepayahan, memasuki api yang sangat panas, diberi minum dengan air dari sumber yang sangat panas. Mereka tiada memperoleh makanan selain dari pohon yang berduri, yang tidak menggemukkan dan tidak pula menghilangkan lapar.” (al-Ghasyiyah: 2—7)
Ibnu Abbas c dan Qatadah t menafsirkan bahwa wajah-wajah itu tertunduk dan amalannya tidak bermanfaat. Dalam ayat disebutkan:
“Bekerja keras lagi kepayahan.”
Maksudnya, mereka melakukan amalan yang banyak yang memayahkan mereka. Namun, mereka masuk neraka karena amalan tersebut tidak di atas perkara yang disyariatkan.
Jika seperti ini keadaan orang-orang yang beramal—yakni beramal bukan di atas petunjuk—bagaimana halnya dengan keadaan orang-orang yang tidak beramal sama sekali? Mereka hidup di dunia ini sebagaimana kehidupan binatang ternak. Hidup semata untuk perut dan kemaluan. Tidak mau mengerjakan shalat, enggan berzakat, dan tidak berhati-hati menjaga diri dari yang haram, serta tidak menahan diri dari dosa dan kejahatan. Kita memohon keselamatan dan hidayah kepada Allah l.
Dalam firman Allah l:
Yang dimaksud adalah memerintahkan yang ma’ruf dan melarang yang mungkar, berdakwah kepada Allah l di atas bashirah/ilmu dan dengan hikmah, mengajari orang yang jahil dan mengingatkan orang yang lalai. Dengan demikian, seseorang tidak cukup beramal saleh dan hanya memperbaiki dirinya sendiri. Seharusnya ia juga berupaya memperbaiki orang lain karena seseorang itu tidak menjadi mukmin yang hakiki sampai ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai bagi dirinya2. Seseorang tidak selamat dari kerugian dan tidak beroleh keuntungan melainkan jika ia berupaya memperbaiki dirinya dan orang lain. Ini menunjukkan kewajiban amar ma’ruf nahi mungkar. Hal ini bukan termasuk campur tangan terhadap urusan orang lain, sebagaimana ucapan sebagian orang jahil masa ini. Orang yang beranggapan seperti ini tidak tahu bahwa yang melakukan amar ma’ruf nahi mungkar adalah orang yang menginginkan kebaikan bagi manusia, menginginkan keselamatan mereka dari azab Allah l, dan menyelamatkan mereka dari kebinasaan. Dalam sebuah hadits disebutkan:
إِنَّ النَّاسَ إِذَا رَأَؤُا الْمُنْكَرَ وَلَمْ يُغَيِّرْهُ أَوْشَكَ أَنْ يَعُمَّهُمُ اللهُ بِعَذَابٍ مِنْ عِنْدِهِ
“Sesungguhnya jika manusia melihat kemungkaran dan tidak berusaha mengubahnya, hampir-hampir Allah meratakan azab dari sisi-Nya terhadap mereka.” (HR. Abu Dawud no. 4338 dan at-Tirmidzi no. 2169, disahihkan dalam Shahih Abi Dawud dan Shahih at-Tirmidzi)
Allah l telah melaknat Bani Israil karena mereka tidak saling melarang kemungkaran yang mereka perbuat.3
Sekarang kita membicarakan firman Allah l:
“… dan nasihat-menasihati agar menetapi kesabaran.”
Sabar adalah menahan diri di atas ketaatan kepada Allah l dan menjauhkan diri dari bermaksiat kepada-Nya. Sabar ada tiga macam: sabar di atas ketaatan kepada Allah l, sabar dari hal-hal yang diharamkan oleh Allah l, dan sabar terhadap takdir Allah l yang menyakitkan.
Kesesuaian penyebutan sabar setelah penyebutan berwasiat dengan kebenaran adalah bahwa orang yang beramar ma’ruf dan nahi mungkar akan berhadapan dengan gangguan manusia, baik berbentuk ucapan maupun perbuatan. Maka dari itu, ia wajib bersabar menghadapinya dan terus-menerus beramar ma’ruf nahi mungkar. Ia harus sabar menanggung gangguan yang didapatkannya dari manusia, karena orang yang tidak sabar menghadapi gangguan mereka tidak akan bisa terus-menerus menasihati mereka.
Hamba Allah l yang saleh, Luqman al-Hakim, pernah berkata kepada putranya, sebagaimana yang diabadikan oleh Allah l dalam Al-Qur’an yang mulia:
”Wahai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah manusia mengerjakan yang baik, cegahlah mereka dari perbuatan yang mungkar, dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang diwajibkan oleh Allah.” (Luqman: 17)
Para nabi berkata kepada umat mereka:
”Kami sungguh-sungguh akan bersabar terhadap gangguan-gangguan yang kalian lakukan terhadap kami.” (Ibrahim: 12)
Orang yang tidak memiliki kesabaran tidak pantas menunaikan tugas memperbaiki manusia. Bahkan, ia pun tidak memiliki kekuatan untuk memperbaiki dirinya. Oleh karena itu, Amirul Mukminin Ali ibnu Abi Thalib z berkata, “Kedudukan sabar dalam agama ini sebagaimana keberadaan kepala pada jasad.”
Al-Imam Ahmad t berkata pula, “Kami dapati sebaik-baik urusan kami dengan kesabaran.”
Demikianlah, surat al-Ashr ini adalah surat yang agung. Ia merupakan mukjizat. Ringkas lafadz-lafadznya namun mendalam maknanya. Ia merangkum sebab-sebab kebahagiaan secara keseluruhan dan berisi peringatan akan sebab-sebab kesengsaraan seluruhnya. Seandainya orang yang paling fasih ingin menerangkan seluruh sebab kebahagiaan dan sebab kesengsaraan, niscaya ia membutuhkan buku yang tebalnya berjilid-jilid. Itu pun terkadang tidak sampai pada yang ia inginkan. Akan tetapi, surat al-Ashr memuat semuanya karena dia adalah kalamullah yang tidak bisa dimasuki oleh kebatilan dari depan atau belakangnya. Jin dan manusia tidak mampu mendatangkan surat yang semisalnya.
Sebagai pesan yang tidak patut diluputkan, bertakwalah kalian, wahai kaum muslimin! Jadikanlah surat al-Ashr sebagai pegangan hidup kalian dalam berjalan menuju Allah l. Janganlah kalian menyia-nyiakan pengamalannya hingga menjadi orang-orang yang merugi.
Bertakwalah kalian kepada Allah l! Jagalah waktu kalian agar tidak terbuang percuma sebagaimana kalian harus menjaga amalan kalian jangan sampai rusak. Manfaatkanlah umur kalian dengan ketaatan dan amal saleh sebelum kalian menyesali apa yang luput pada suatu hari kelak di mana tidak bermanfaat lagi penyesalan.
Supaya jangan ada orang yang mengatakan, “Amat besar penyesalanku atas kelalaianku dalam menunaikan kewajiban terhadap Allah, sedang aku sesungguhnya termasuk orang-orang yang memperolok-olokkan agama Allah.” Atau supaya jangan ada yang berkata, “Kalau sekiranya Allah memberi petunjuk kepadaku tentulah aku termasuk orang-orang yang bertakwa.” Atau supaya jangan ada yang berkata ketika ia melihat azab, “Kalau sekiranya aku dapat kembali ke dunia niscaya aku akan termasuk orang-orang yang berbuat baik.” (az-Zumar: 56—58)
Umurmu, wahai insan, adalah kesempatan emas yang dianugerahkan oleh Allah l kepadamu untuk engkau habiskan dalam hal yang dapat memberikan kemanfaatan bagimu. Oleh karena itu, bersemangatlah untuk menjaganya lebih dari semangatmu menjaga hartamu, karena jika harta hilang mungkin beroleh gantinya. Adapun umur, jika hilang tidak mungkin didapatkan penggantinya.
Banyak orang mengeluhkan waktu luang yang dimilikinya. Ia ingin menghabiskan waktunya tersebut walau dalam hal yang sebenarnya bermudarat atau tidak berfaedah. Ia habiskan malamnya bergadang dengan berbuat sia-sia dan bermain-main sehingga ia pun tertidur dari mengerjakan shalat subuh. Ia bepergian untuk bersenang-senang dan menghabiskan liburan musim panas walaupun di tempat yang paling rusak. Ia beri jiwanya apa yang disenanginya walaupun berdampak mudarat dan kesengsaraan bagi jiwanya. Ia tidak menghisab dirinya guna menghadapi hisab hari esok dan masa depannya. Tidak pernah pula ia berpikir tentang mati, kubur, hari dikumpulkannya makhluk, perhitungan amal, dan tempat kembali yang abadi. Ia tak pernah merenungkan isi surat al-Ashr dan apa yang dituntut darinya. Tidak juga pernah terpikirkan olehnya tentang akhir kesudahan yang bakal diperoleh, sebagaimana ia tidak dapat mengambil pelajaran dari orang lain yang mendapat akhir kesudahan yang buruk.
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

(Petikan dari khutbah Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah, dalam kitab al-Khuthab al-Minbariyah fi Munasabat al-’Ashriyah, 4/448—452, Ummu Ishaq al-Atsariyah)

Catatan Kaki:

1 Rasulullah n bersabda:
مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللهِ فَقَدْ أَشْرَكَ
“Siapa yang bersumpah dengan menyebut selain Allah, sungguh ia telah berbuat syirik.” (HR. Abu Dawud no. 1590 dan at-Tirmidzi no. 3251. Disahihkan dalam Shahih Abi Dawud dan Shahih at-Tirmidzi)

 

TINGGAL BERSAMA MANTAN ISTRI

Jawab:
Fadhilatusy Syaikh Shalih ibnu Fauzan al-Fauzan hafizhahullah menjawab, “Tidak boleh si wanita tinggal di rumah lelaki yang telah menceraikannya, dalam keadaan lelaki tersebut atau orang lain yang bukan mahramnya masuk ke rumah itu.
Adapun jika ia dan putra-putranya tinggal di rumah yang terpisah, tidak berhubungan dengan tempat tinggal mantan suaminya, dan si mantan suami juga tidak masuk ke rumah tersebut dan tidak tinggal bersama mereka, ini tidak apa-apa. Jika keadaannya seperti yang ditanyakan—mereka tinggal serumah padahal sudah bercerai, seakan-akan si wanita masih berstatus sebagai istrinya yang mantan suami biasa masuk menemuinya dan semisalnya—tentu hal ini tidak diperbolehkan. Si wanita wajib menjauh dari mantan suaminya1 dan tinggal di rumah yang terpisah, yang aman dari terjadi fitnah (godaan) dan hal lain yang dikhawatirkan.”
Selanjutnya asy-Syaikh hafizhahullah menjelaskan bahwa ketentuan ini berlaku jika talak yang terjadi adalah talak ba’in (talak tiga atau talak yang tidak dapat dirujuk walaupun masih dalam masa ‘iddah). Adapun jika talaknya adalah talak raj’i (talak satu atau dua) dan si wanita masih dalam masa ‘iddah, ia tetap tinggal di rumah suaminya, seatap dengannya.2 Ini berdasarkan firman Allah l:
“Janganlah kalian (para suami yang mentalak) mengeluarkan mereka (para istri yang ditalak) dari rumah mereka (yang ditempati bersama kalian) dan janganlah mereka keluar dari rumah, melainkan jika mereka melakukan perbuatan keji yang nyata.” (ath-Thalaq: 1)
Ketentuan yang disebutkan oleh ayat di atas berlaku untuk istri yang ditalak raj’i, selama dalam masa ‘iddah. Adapun wanita yang ditalak ba’in oleh suaminya, ia tidak berhak beroleh tempat tinggal. Setelah perceraian, ia tidak boleh tinggal serumah dengan mantan suaminya sebagaimana layaknya suami istri. (Majmu’ Fatawa, Shalih bin Fauzan al-Fauzan, 2/650—651)

Catatan Kaki:

1 Karena mantan suaminya bukan lagi mahramnya, sehingga haram baginya ikhtilath dan khalwat dengannya.
2 Karena selama masa ‘iddah statusnya masih sebagai istri. Jjika ‘iddah telah berakhir, ia bukan lagi istri.

PERCERAIAN DAN PEMUTUSAN SILATURAHIM

Saudara perempuan saya menikah dengan anak lelaki bibi saya (sepupu/misan). Suaminya peminum khamr. Jika mabuk, ia tidak ingat apa-apa (berbuat semaunya tanpa sadar). Suatu ketika, di saat mabuknya, ia mencekik istrinya (saudari saya) dan hampir-hampir membunuhnya jika tidak ketahuan keluarga yang lain. Saudari saya tidak sanggup lagi menanggung akibat perbuatan suaminya, ia datang ke tempat kami. Si suami pun memutuskan untuk menceraikannya. Setelah sempurna jatuhnya talak, terputuslah kabar/hubungan antara kami dan keluarga bibi kami. Saya berharap kesediaan Anda memberi jawaban atas pertanyaan berikut: Apakah pemutusan hubungan seperti ini dinamakan memutus silaturahim?
Jawab:
Fadhilatusy Syaikh Shalih ibnu Fauzan al-Fauzan hafizhahullah menjawab, “Perceraian yang terjadi antara lelaki tersebut dan saudari Anda karena si lelaki berakhlak buruk, gemar melakukan keharaman dan peminum khamar, adalah hal yang bagus. Menjauh dari pelaku kejahatan adalah sesuatu yang dituntut dari seorang muslim. Seorang muslim tidak boleh berteman dengan orang fasik, yang bermudah-mudahan/meremehkan urusan agamanya karena hal itu akan berpengaruh pada dirinya, terlebih lagi seorang istri terhadap suaminya. Apabila suami rusak akhlaknya dan menyimpang agamanya, hal ini akan berpengaruh kepada si istri dan anak-anaknya. Selain itu, menjauhkan dan melepaskan si istri dari suami yang demikian merupakan kelapangan bagi si istri. Urusan perceraian tersebut baik baginya, insya Allah. Semoga Allah l menggantikan yang lebih baik untuknya.
Kejadian seperti ini memberi penekanan kepada para wali wanita agar memilihkan suami yang baik dan saleh untuk mereka, serta menjauhkan mereka dari suami yang fasik dan berakhlak buruk. Hal ini karena orang seperti itu akan memberi pengaruh jelek terhadap agama dan kehidupan mereka.
Adapun memutus hubungan rahim sebagai dampak perceraian tersebut adalah hal yang buruk. Semestinya kalian tidak memutus hubungan kekerabatan kalian dan terus menyambungnya. Kalian wajib bersilaturahim dan berlaku baik kepada karib kerabat. Jika lelaki yang diceritakan itu bertaubat kepada Allah l dan meninggalkan kebiasaan minum khamrnya, hendaknya kembali dijalin persahabatan dan persaudaraan dengannya. Akan tetapi, jika terus-menerus dalam penyimpangan dan maksiatnya, serta tidak mau bertaubat, ia dihajr/diboikot karena Allah l, sampai ia mau bertaubat kepada-Nya. Keluarga si lelaki (pihak kerabat yang lain) tidak ada alasan untuk diboikot. Bahkan, mereka tidak boleh diboikot, dengan dalil firman Allah l:
“Seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain.” (al-An’am: 164)
(Majmu’ Fatawa, Shalih Fauzan al-Fauzan, 2/647—648)

 

Ummu Waraqah bintu Naufal

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Abdirrahman bintu Imran)

Sebenarnya dia bernama Ummu Waraqah bintu Abdillah bin al-Harits bin ‘Uwaimir bin Naufal al-Anshariyah. Namun, dia lebih dikenal dengan nama Ummu Waraqah bintu Naufal x, nisbah kepada kakek buyutnya.
Dia seorang wanita yang begitu berharap mendapat kemuliaan di negeri akhirat. Saat kaum muslimin bersiap untuk Perang Badar, Ummu Waraqah memohon izin kepada Rasulullah n untuk turut dalam peperangan. “Wahai Rasulullah, izinkan saya pergi bersama kalian, agar saya bisa merawat orang yang sakit dan mengobati yang terluka. Mudah-mudahan dengan itu Allah l menganugerahiku mati syahid,” pintanya.
“Tinggallah di rumahmu! Sungguh Allah akan menganugerahimu mati syahid di rumahmu,” jawab Rasulullah n.
Ummu Waraqah pun taat dengan titah Rasulullah n.
Waktu terus bergulir. Tiba masa kaum muslimin diperintah oleh Amirul Mukminin, Umar ibnul Khaththab z. Waktu itu, Ummu Waraqah seperti biasa, selalu shalat mengimami anggota keluarganya.
Namun suatu malam, tak terdengar bacaan Qur’annya dalam shalat. Oleh karena itu, paginya Amirul Mukminin berkomentar keheranan, “Demi Allah, semalam aku tak mendengar bacaan bibiku, Ummu Waraqah.”
Amirul Mukminin tak tinggal diam. Beliau z segera mencari tahu keadaan Ummu Waraqah. Dimasukinya rumah Ummu Waraqah, tapi tak seorang pun tampak di situ.
Amirul Mukminin terus melangkah menuju kamar. Di salah satu sisi kamar, jasad Ummu Waraqah terbujur kaku bertutupkan selimutnya. Sementara budak laki-laki dan budak perempuan milik Ummu Waraqah yang tinggal bersama beliau x di rumah tersebut tak lagi tampak batang hidungnya.
Ternyata, malam itu Ummu Waraqah dibunuh oleh sepasang budak miliknya dengan menutupkan kain selimut, hingga Ummu Waraqah mengembuskan napas yang terakhir. Padahal Ummu Waraqah selalu mendidik mereka berdua dan berlaku baik kepada keduanya. Hanya karena tidak sabar ingin segera mereguk napas kebebasan sebagaimana dijanjikan oleh sang tuan jika ia telah meninggal dunia, mereka pun tega berbuat demikian kepada wanita salehah ini. Setelah membunuh Ummu Waraqah, dua budak itu kabur.
Mengetahui kejadian tersebut, Amirul Mukminin mengatakan, “Telah benar Allah dan Rasul-Nya1!”

Beliau segera mengumumkan di hadapan manusia, “Sesungguhnya Ummu Waraqah telah dibunuh oleh dua budaknya. Sekarang mereka berdua kabur. Barang siapa melihat mereka, harus membawa mereka kemari!”
Kedua budak yang berkhianat dan melakukan perusakan di muka bumi dengan membunuh itu berhasil ditangkap. Mereka dihadapkan kepada Amirul Mukminin. Beliau pun menanyai mereka, dan mereka berdua mengakui perbuatannya.
Amirul Mukminin memutuskan agar dua budak ini disalib. Merekalah orang pertama yang disalib di negeri Madinah.
Ummu Waraqah, semoga Allah l meridhainya…

Sumber Bacaan:
– al-Ishabah, al-Hafizh Ibnu Hajar al-’Asqalani (8/489—490)
– al-Isti’ab, al-Imam Ibnu ‘Abdil Barr (2/601—602)

 

Catatan Kaki:

1 Jauh hari sebelumnya, Rasulullah n telah mengabarkan bahwa Ummu Waraqah akan menemui syahid di rumahnya, saat Ummu Waraqah meminta izin untuk turut keluar berperang menyertai para mujahidin.

Menjaga Anak Kita, Nasehat Seorang Alim untuk Orang Tua

Kelalaian demi kelalaian masih saja terjadi pada diri orang tua. Kasus demi kasus masih bergulir dalam cerita kehidupan anak. Terakhir, berita hilangnya beberapa anak gadis karena kabur dengan teman laki-laki yang dikenalnya melalui jejaring sosial bernama Facebook (FB). Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.
Siapa kiranya yang paling bertanggung jawab atas semua ini kalau bukan kita, orang tua. Terkadang justru kita sendirilah yang memfasilitasi kerusakan anak. Wallahul musta’an.
Walau berjuta dalih dilontarkan dan berjuta argumen dinyatakan untuk mengaburkan kesalahan kita, namun di hadapan Allah l kita tidak bisa berkamuflase. Dia Maha Melihat dan Maha Mengetahui.
Oleh karena itu, yang lebih pantas bagi kita adalah berjiwa besar untuk mengakui kesalahan dan berhati lapang untuk memperbaiki keadaan. Sangat layak kita kaji nasihat seorang alim besar yang mengingatkan kita akan kewajiban yang harus kita tunaikan terhadap anak, yang kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Rabb seluruh alam.
Berikut ini petikan nasihat Fadhilatus Syaikh al-‘Allamah Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin dalam salah satu khutbah beliau.
Wahai manusia! Bertakwalah kepada Allah l dan bersyukurlah pada-Nya atas nikmat berupa anak yang telah dianugerahkan-Nya kepada kalian.
Ketahuilah, anak merupakan cobaan dan ujian bagi hamba-hamba-Nya. Di antara mereka ada yang anaknya menjadi penyejuk matanya di dunia dan akhirat karena dia selalu memelihara mereka dan melaksanakan berbagai kewajiban yang harus ditunaikannya terhadap mereka. Dengan demikian, Allah l membaikkan keadaan anak-anaknya.
Allah l berfirman tentang sifat hamba-hamba ar-Rahman:
“Dan mereka adalah orang-orang yang selalu mengatakan, ‘Wahai Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan-pasangan dan anak-anak sebagai penyejuk mata’.” (al-Furqan: 74)
Tidaklah mereka memanjatkan permohonan ini kepada Allah l, melainkan setelah menempuh berbagai sebab dan konsisten dengan usaha mereka itu.
Di sisi lain, ada di antara manusia yang anaknya hanya menjadi penyesalan di dunia dan akhirat karena dia tidak mendidik mereka dan tidak menunaikan kewajiban-kewajibannya terhadap mereka. Dia menyia-nyiakan hak yang telah ditetapkan oleh Allah l untuk anak, sehingga anak-anaknya pun menyia-nyiakan hak yang ditetapkan oleh Allah l untuk orang tuanya. Tidak ada gunanya si anak bagi orang tuanya di dunia maupun di akhirat. Jadilah dia orang yang rugi.
“Katakanlah, ‘Sesungguhnya orang-orang yang rugi adalah orang-orang yang merugikan diri mereka dan keluarga mereka pada hari kiamat. Ketahuilah, itulah kerugian yang nyata’.” (az-Zumar: 15)
Wahai hamba-hamba Allah! Sesungguhnya Allah l telah menitipkan anak dan keluarga kepada kalian. Allah l juga memerintahkan kalian untuk menjaga mereka dari berbagai kerusakan, dan mengarahkan mereka menuju kebaikan. Allah l berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, yang padanya ada para malaikat yang keras lagi kasar yang tak pernah mendurhakai Allah pada segala yang Allah perintahkan pada mereka dan senantiasa melaksanakan apa yang diperintahkan kepada mereka.” (at-Tahrim: 6)
Dalam ayat ini, Allah l memerintahkan kita untuk menjaga diri dan keluarga kita dari neraka yang amat mengerikan ini. Hal ini tidak mungkin dilakukan melainkan dengan menjaga diri dan keluarga dari berbagai kerusakan dan selalu melakukan kebaikan. Namun, sudahkah kita mewujudkan semua ini? Sudahkah kita menjaga, mengarahkan, dan mendidik anak-anak sejauh kemampuan kita? Sudahkah kita tunaikan semua faktor yang mendatangkan kebaikan bagi mereka? Sudahkah kita mengawasi gerak-gerik dan diam mereka? Sudahkah kita memerhatikan seluruh tindak-tanduk, baik ucapan, perbuatan, pulang, maupun pergi mereka? Ataukah kita justru melalaikan semua itu, tenggelam dalam kesibukan mencari serpihan dunia, atau merasa malas mengawasi dan tak pernah memedulikan mereka?
Kalau bukan kita yang mengurusi mereka, siapa lagi yang mau mengurusi mereka? Kalau bukan kita yang mendidik akhlak dan memperbaiki keadaan mereka, siapa lagi yang akan melakukannya? Apakah orang lain yang tidak memiliki hubungan apa pun dengan si anak yang akan melakukan semua itu, padahal orang-orang tersebut berpikiran menyimpang dan berakhlak rusak?
Demi Allah! Tidaklah Allah l menitipkan anak-anak kepada kalian dan memerintahkan kalian untuk menjaga mereka, melainkan Dia menginginkan agar kalian betul-betul memelihara dan senantiasa menjaga mereka serta menunaikan amanat ini. Hal ini karena pada umumnya anak-anak itu lemah, membutuhkan uluran tangan. Mereka belum mampu memberikan kebaikan untuk dirinya sendiri. Adapun kalian adalah orang yang memelihara mereka. Maka dari itu, takutlah kepada Allah l dalam hal anak-anak ini, karena kelak Allah l akan menanyai kalian tentang mereka.
Wahai manusia! Mungkin ada di antara kalian yang mengajukan alasan yang lemah untuk membela dirinya jika dituntut untuk mendidik anak-anaknya. Mungkin dia beralasan bahwa dia tidak mampu mendidik mereka karena mereka durhaka kepada orang tuanya. Padahal, andaikata mau memikirkan hal ini tentu dia akan menemukan kesalahan itu terletak pada dirinya sendiri. Dari awal dia telah melalaikan perintah Allah l yang harus dia laksanakan terhadap anak-anak itu. Akhirnya, mereka pun menjadi anak-anak yang durhaka.
Seandainya dia bertakwa kepada Allah l, tentu Dia akan memberikan jalan keluar dan kemudahan dalam urusan ini. Namun, dia justru melalaikan dan menyia-nyiakan pendidikan mereka semasa kecil sehingga ketika dewasa mereka pun biasa membangkang, meremehkan, dan menyia-nyiakan perintah orang tuanya.
Walaupun demikian keadaannya, orang yang seperti ini hendaknya tidak berputus asa dari kasih sayang Allah l. Dia harus bertaubat kepada Allah l atas tindakannya di masa lalu yang melalaikan pendidikan anak-anaknya. Hendaknya ia memohon pertolongan kepada-Nya agar dapat memperbaiki keadaan mereka di kemudian hari, disertai sering berdoa dan bertindak penuh hikmah. Mudah-mudahan dengan itu, Allah l akan menjadikan anak-anak itu patuh kepadanya dan memperbaiki keadaan mereka.
Wahai manusia! Kalau kita memikirkan keadaan masyarakat kita, kebanyakan orang mempunyai ambisi terhadap harta lebih besar daripada ambisi mereka terhadap keluarganya. Dia menyibukkan badan dan pikiran untuk harta, bagaimana agar dapat menghasilkan harta lebih banyak, mengembangkan, mengelola, dan menjaganya. Adapun keluarga, tidak pernah dia perhatikan. Tidak pernah pula dia tanyakan. Ia tidak pernah juga mencari tahu tentang aktivitas dan teman-teman mereka.
Ini kesalahan besar dan sebuah kebodohan yang nyata! Ambisi untuk memperbaiki keluarga lebih wajib dan lebih pasti. Memerhatikan mereka lebih penting karena kebaikan mereka adalah kebaikan generasi masa depan, sedangkan rusaknya mereka adalah kerusakan generasi mendatang. Apakah kita rela—sementara kita ini adalah kaum muslimin—bahwa nanti akan tumbuh dari kita generasi-generasi yang melalaikan agama dan akhlak mulia?
Kita kelak akan menghadapi liburan musim panas. Selama liburan itu, para remaja akan memiliki kelonggaran aktivitas pikiran dan fisik. Oleh karena itu, kita harus memadati kesempatan seperti ini dengan berbagai aktivitas yang bermanfaat bagi mereka. Bisa dengan membaca buku-buku yang bermanfaat sesuai taraf kemampuan dan pemahaman mereka. Bisa dengan membaca pelajaran-pelajaran yang akan dipelajari tahun depan. Bisa pula dengan pekerjaan-pekerjaan yang bermanfaat seperti berdagang, membantu pekerjaan orang tua, atau aktivitas lain yang dapat mengisi waktu luang dan menyibukkan pikiran.
Setiap orang pasti memiliki aktivitas amalan, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits. Apabila aktivitas ini diisi dengan hal-hal yang bermanfaat, dia akan memperoleh kebaikan. Kalau tidak, aktivitasnya akan menyimpangkannya dari jalan yang lurus, atau mengakibatkan kemalasan, kelemahan, kecemasan, dan kekacauan pikiran.
Maka dari itu—wahai anak-anakku—hendaklah kalian mengisi kesempatan liburan dengan hal-hal yang bermanfaat. Dan kalian—wahai para ayah—hendaknya bersemangat untuk mengawasi dan mendidik anak-anak kalian. Semoga Allah l memberikan taufik kepada kita semua untuk melakukan segala hal yang Dia cintai dan ridhai, serta memberikan kebaikan kepada kita di akhirat.
(Diterjemahkan oleh Ummu Abdirrahman bintu Imran dari khutbah beliau yang berjudul “Ri’ayatul Aulad” yang terhimpun dalam kitab adh-Dhiya’ul Lami’ minal Khuthabil Jawami’ hlm. 98—101)

Beberapa Kekeliruan Suami

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyyah)

Dalam dua edisi yang lalu telah dibawakan beberapa kesalahan yang dilakukan oleh seorang suami dalam bergaul dengan istrinya. Kali ini, kami sedikit menambahkan apa yang tertinggal dari pembahasan yang lalu.

Merendahkan Istri dan Pekerjaannya di dalam Rumah
Ada tipe suami yang cenderung merendahkan istri. Ia memandang istrinya dengan sebelah mata sampai-sampai ia menganggap rendah pekerjaan rumah tangga yang biasa dijalani oleh istri. Ia pun enggan membantu istrinya. Sebagian orang jahil bahkan berpandangan bahwa membantu pekerjaan rumah akan menghilangkan sifat kejantanan. Padahal kalau ia mau menengok kehidupan berumah tangga yang dijalani oleh pemimpin para suami, Rasulullah n, sungguh ia mendapatkan kenyataan yang bertolak belakang dengan apa yang ada di pikirannya. Rasulullah n adalah gambaran seorang suami terbaik terhadap keluarganya, sebagaimana kabar beliau n sendiri:
وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِيْ
“Aku adalah orang yang paling baik di antara kalian terhadap keluargaku.” (HR. at-Tirmidzi, disahihkan dalam ash-Shahihah no. 285)
Al-Aswad t, seorang tabi’in, berkata:
سَأَلْتُ عَائِشَةَ: مَا كَانَ النَّبِيُّ n يَصْنَعُ فِي بَيْتِهِ؟
Aku pernah bertanya kepada Aisyah x, “Apa yang biasa dilakukan Nabi n di dalam rumahnya?”
Istri Rasulullah n, Aisyah x, menjawab:
كَانَ يَكُوْنُ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ –تَعْنِي خِدْمَةَ أَهْلِهِ– فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلاَةُ خَرَجَ إِلَى الصَّلاَةِ
“Beliau biasa membantu pekerjaan keluarganya. Jika datang waktu shalat, beliau keluar untuk melaksanakannya.” (HR. al-Bukhari no. 676)
Dalam kitab asy-Syama’il karya al-Imam at-Tirmidzi t (no. 2491) disebutkan bahwa Aisyah x berkata:
ماَ كَانَ إِلاَّ بَشَرٌ مِنَ الْبَشَرِ يَفْلِي ثَوْبَهُ وَيَحْلُبُ شَاتَهُ وَيَخْدُمُ نَفْسَهُ
“Tidaklah beliau melainkan seorang manusia sebagaimana yang lain. Beliau biasa membersihkan pakaiannya, memerah susu kambingnya, dan melayani keperluannya sendiri.” (Disahihkan al-Imam al-Albani t dalam tahqiq-nya terhadap Mukhtashar asy-Syama’il al-Muhammadiyyah no. 293 dan ash-Shahihah no. 671)
Dalam riwayat Ahmad (6/256) dan Ibnu Hibban yang dibawakan dalam Fathul Bari (2/212) disebutkan:
يَخِيطُ ثَوْبَهُ
“Beliau biasa menjahit pakaiannya.”
Ibnu Hibban menambahkan:
وَيَرْقَعُ دَلْوَهُ
“Dan menambal embernya.”
Kira-kira pandangan dan ucapan miring apa lagi yang bisa dilontarkan seorang suami setelah melihat perbuatan Rasululah n, teladan umat ini?

Menyebarkan Rahasia Istri dan Hubungan Intim Dengannya
Hubungan intim yang dilakukan bersama istri, bagi sebagian orang yang jahil, bukan lagi sesuatu yang harus dijaga, disimpan rapat, dan dirahasiakan. Hal itu justru dibicarakan secara terbuka dengan kawan-kawan mereka di kedai, warung kopi, di jalanan, dan kadang diungkap di media massa, baik sebagai bahan lelucon maupun untuk berbangga. Padahal Rasulullah n telah bersabda:
إِنَّ أَشَرُّ النَّاسِ عِنْدَ اللهِ مَنْزِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ الرَّجُلُ يُفْضِي إِلَى الْمَرْأَةِ وَتُفْضِي إِلَيْهَا ثُمَّ يَنْشُرُ سِرَّهَا
“Manusia yang paling jelek kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat adalah suami yang bercampur dengan istrinya dan istrinya bercampur dengannya, kemudian ia menyebarkan rahasia istrinya.” (HR. Muslim no. 3527)
Hadits ini menunjukkan haramnya seorang suami menyebarkan apa yang berlangsung antara dirinya dan istrinya, yaitu perkara-perkara istimta’ dan merinci hal tersebut. Haram pula membeberkan kepada orang lain apa yang diucapkan dan diperbuat oleh istrinya saat berhubungan dan semisalnya. Jika semata-mata mengatakan ia telah bercampur dengan istrinya alias jima’, sementara tidak ada faedah atau kebutuhan untuk menyebutkan hal tersebut, hukumnya makruh karena menghilangkan muru’ah atau kewibawaan. Bukankah Nabi n telah bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالَيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَصْمُتْ
“Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau ia diam.”
Sekiranya ada kebutuhan untuk menyebutnya atau ada faedah yang ingin diperoleh maka tidaklah makruh, sebagaimana Nabi n mengabarkan “urusan” beliau dan istrinya.
إِنِّي لَأَفْعَلُهُ أَنَا وَهَذِهِ
“Aku dan dia ini (beliau maksudkan salah seorang istri beliau) pernah melakukannya.”
Nabi n juga pernah bertanya kepada Abu Thalhah z:
أَعْرَسْتُمُ اللَّيْلَةَ؟
“Apakah kalian (yakni Abu Thalhah dan istrinya, Ummu Sulaim) ‘pengantinan’ tadi malam?” (al-Minhaj, 10/250)

Tergesa-Gesa dan Bermudah-Mudah Menjatuhkan Talak
Ikatan pernikahan adalah ikatan yang kuat. Allah l sendiri yang menamakannya dengan mitsaqan ghalizha, sebagaimana firman-Nya:
“Dan mereka (para istri) telah mengambil dari kalian perjanjian yang kuat.” (an-Nisa: 21)
Oleh karena itu, tidaklah pantas seorang suami tergesa-gesa dan bermudah-mudah ingin mengurai ikatan ini dengan kalimat talak atau cerai. Sungguh perceraian dalam Islam tidaklah disyariatkan untuk menjadi pedang yang tajam yang diletakkan di leher istri. Perceraian juga tidak ditetapkan untuk menjadi sumpah guna meyakinkan berita atau ucapan layaknya perbuatan sebagian orang-orang bodoh.
Islam tidak melarang perceraian sama sekali, namun ia bukan langkah awal dalam menyelesaikan perselisihan. Islam telah mengajarkan tahapan-tahapan penyelesaian terhadap persoalan dan pertikaian yang muncul di antara suami-istri. Jika sumber permasalahan berasal dari istri, penyelesaiannya sebagaimana yang Allah l firmankan dalam Tanzil-Nya:
“Istri-istri yang kalian khawatirkan nusyuz/pembangkangannya maka nasihatilah mereka, pisahkanlah mereka (boikot) di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka menaati kalian (taubat dan berhenti dari nusyuznya), janganlah sekali-kali kalian mencari-cari jalan untuk menyusahkan mereka.” (an-Nisa: 34)
Jika sumber masalah dari suami, misalnya ia tak menyukai istrinya, daripada bercerai, Islam menawarkan perdamaian dengan cara istri merelakan sebagian haknya tidak dipenuhi. Misalnya, hak beroleh nafkah, pakaian, atau mabit/bermalam, asalkan tetap bersatu dalam ikatan pernikahan (Tafsir Ibnu Katsir, 2/314). Hal ini seperti tersebut dalam firman Allah l:
“Dan jika seorang istri khawatir akan nusyuz atau sikap acuh tak acuh dari suaminya, tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian dengan sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik bagi mereka walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir.” (an-Nisa: 128)
Oleh karena itu, tatkala Saudah bintu Zam’ah x berusia senja dan Rasulullah n berkeinginan untuk menceraikannya, Saudah menempuh ash-shulh ini. Ia merelakan giliran hari dan malamnya tidak dipenuhi, serta dihadiahkannya kepada Aisyah x (sehingga Aisyah x beroleh giliran dua hari dua malam) asalkan Rasulullah n berkenan tetap mempertahankannya sebagai istri beliau n. Rasulullah n pun menerima shulh tersebut.
Jika persoalannya berasal dari kedua belah pihak, keluarga masing-masing didatangkan untuk membantu mencarikan penyelesaian problem keduanya sebagaimana firman-Nya:
“Dan jika kalian mengkhawatirkan persengketaan di antara keduanya, utuslah seorang hakam (juru damai) dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan niscaya Allah akan memberikan taufik kepada suami istri tersebut.” (an-Nisa: 35)
Kalaupun mau tidak mau kalimat talak harus terucap dan jalan perpisahan terpaksa ditempuh, seorang suami harus memerhatikan agar ia tidak menceraikan istrinya dalam keadaan haid, atau dalam keadaan suci tetapi sempat digaulinya dalam masa suci tersebut, sampai tampak jelas atau diperoleh kepastian si istri ini hamil atau tidak dari hasil hubungan tersebut. Semua ini berkaitan dengan ’iddah yang harus dijalani oleh istri pasca-perceraian. Kalau ia ditalak dalam keadaan haid, masa ’iddah yang harus dilaluinya nanti akan panjang karena haid yang sedang dijalani tidak terhitung. Ia harus menunggu tiga haid yang berikutnya. Begitu pula jika si istri ditalak dalam keadaan suci tapi telah digauli, tidak bisa dipastikan bagaimana iddahnya, apakah tiga quru’1 jika ia tidak hamil ataukah dengan melahirkan kandungannya jika ternyata ia hamil2.
Seharusnya, suami menjatuhkan talak di saat istri bisa menghadapi ’iddahnya dengan jelas, yaitu saat suci sebelum digauli, atau saat si istri tengah mengandung. Allah l berfirman:
“Wahai Nabi, apabila kalian menceraikan istri-istri kalian, hendaklah kalian ceraikan mereka pada saat mereka dapat menghadapi iddahnya yang wajar…” (ath-Thalaq: 1)
Tidak diperkenankan pula bagi suami langsung menjatuhkan talak tiga pada istrinya dalam satu kesempatan. Hendaklah talak itu dijatuhkan satu per satu.

Rasa Cemburu yang Lemah
Di masa ini, kecemburuan seorang suami terhadap istrinya telah melemah. Jika ditanya apa buktinya? Kita katakan banyak. Di antaranya, seorang suami membolehkan lelaki lain yang bukan mahram istrinya bersalaman dengan si istri, bertatap muka dengannya, tersenyum, dan berbincang-bincang bersama. Sama saja apakah lelaki yang bukan mahram si istri itu adalah kerabat suami, saudara lelakinya, misannya, atau orang jauh/bukan kerabat suami. Dibiarkannya si istri keluar rumah dengan berdandan ala jahiliah, baik dengan dalih berbelanja, kerja, menghadiri undangan, maupun alasan lain. Termasuk pula bukti kelemahan cemburu suami adalah membiarkan istrinya pergi berduaan dengan sopir pribadi dalam mobil.
Sungguh, betapa banyak problem yang timbul karena sikap meremehkan ini! Betapa banyak keluarga yang hancur akibat kemaksiatan ini. Wallahul musta’an.
Di manakah mata yang mau melihat, telinga yang mau mendengar, dan hati yang mau memahami?
Semoga Allah l memberi hidayah dan taufik-Nya kepada kita semua. Amin.

Catatan Kaki:

1 Tentang maksud quru’, ulama salaf, khalaf, dan para imam, terbagi dalam dua pendapat. Ada yang mengatakan quru’ adalah suci, ada pula yang mengatakan haid. Wallahu a’lam. (Tafsir Ibni Katsir, 2/353—354)
2 Iddah wanita yang hamil disebutkan dalam Al-Qur’an:
“Dan perempuan-perempuan yang hamil, masa iddah mereka adalah sampai mereka melahirkan kandungannya.” (ath-Thalaq: 4)
Adapun wanita yang tidak hamil disebutkan dalam:
“Istri-istri yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) tiga quru’.” (al-Baqarah: 228)

Bantuan Kepedulian dengan Keikhlasan

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan)

Allah l adalah sesembahan kita satu-satunya. Tidak ada sesembahan lain yang berhak kita sembah selain Dia semata. Dialah sesembahan yang memiliki nama-nama yang mulia, yang mengandung sifat-sifat yang sempurna.

Di antara sifat-sifat-Nya yang sempurna adalah al-qudrah (Mahakuasa), al-hikmah (Mahabijaksana), dan adil. Dengan sifat-sifat tersebut, Allah l menakdirkan terjadinya berbagai peristiwa di alam semesta yang fana ini. Termasuk di antaranya adalah musibah-musibah yang menimpa bangsa dan negara Indonesia, seperti tsunami di Aceh, lumpur Lapindo di Sidoarjo, Jawa Timur, gempa bumi di Bantul, banjir di berbagai daerah, erupsi Merapi di Sleman, Magelang, dan sekitarnya, gagal panen di berbagai wilayah, munculnya penyakit yang belum ditemukan obatnya, dan sebagainya.
Allah l senantiasa menghendaki kebaikan bagi hamba-hamba-Nya di dunia dan akhirat. Oleh karena itu, Allah l terus-menerus memperingatkan dengan ayat-ayat kauniah (berupa kejadian di alam sekitar) dan ayat syar’iyah-Nya (Al-Qur’an dan As-Sunnah). Dengan demikian, diharapkan mereka mau menyadari, bersabar, dan kembali ke jalan-Nya yang lurus setelah mereka lupa dan jauh dari Allah l karena kemaksiatan dan kedurhakaan.
Jika kita memerhatikan musibah-musibah tersebut dengan kacamata agama Islam yang sempurna, kita akan mendapatkan berbagai pelajaran yang sangat berharga. Di antaranya adalah:
1. Mengingatkan kita akan kekuasaan-Nya yang sempurna.
Allah l berfirman:
“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (al-Hadid: 22)
2. Mengingatkan kita akan sifat hikmah dan keadilan-Nya yang sempurna pula.
Berbagai macam musibah itu terjadi karena dosa-dosa kita. Allah l telah menegaskan dalam ayat-Nya yang mulia:
“Dan apa pun musibah yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (asy-Syura: 30)
Itu pun Allah l sudah memaafkan banyak dosa kita. Kalau bukan karena ampunan-Nya, tidak akan tersisa seorang pun di antara kita melainkan pasti binasa disebabkan dosa-dosanya. Allah l berfirman:
“Dan sekiranya Allah menyiksa manusia disebabkan usahanya, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi satu makhluk melata pun, akan tetapi Allah menangguhkan (penyiksaan) mereka, sampai waktu yang tertentu. Maka apabila datang ajal mereka, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya.” (Fathir: 45)
Oleh karena itu, alasan apa yang menyebabkan seorang hamba sombong dan angkuh di hadapan Allah l, terus-menerus bergelimang dalam kemaksiatan, kedurhakaan, dan kezaliman?
Allah l menegaskan hal ini dalam firman-Nya:
“Hai manusia, kamulah yang butuh kepada Allah; dan Allah Dia-lah Yang Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji. Jika Dia menghendaki, niscaya Dia memusnahkan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru (untuk menggantikan kamu). Dan yang demikian itu sekali-kali tidaklah sulit bagi Allah.” (Fathir: 15—17)
Dua hikmah yang mulia ini sudah pernah dibahas secara rinci dalam rubrik sebelumnya.
3. Menggugah, membangkitkan, dan menguatkan persaudaraan, kecintaan, dan kepedulian kita terhadap sesama karena Allah k semata, bukan karena organisasi, partai, aliran, marga, atau kepentingan dunia yang lain.
Allah l memberitakan tentang persaudaraan yang hakiki karena keimanan:
“Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara. Oleh karena itu, damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.” (al-Hujurat: 10)
Rasulullah n memerintah kita untuk bersaudara karena Allah l. Beliau n bersabda:
وَكُونُوا عِبَادَ اللهِ إِخْوَانًا الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ
“Hendaklah kalian menjadi hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah z)
Rasulullah n menggambarkan kuatnya ikatan persaudaraan karena Allah l, dalam keadaan suka dan duka, melalui sabda beliau n:
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
“Permisalan orang-orang yang beriman dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi, seperti satu tubuh. Apabila salah satu anggota tubuh merintih atau mengeluh, semua anggota tubuh yang lain akan ikut merasakannya dengan tidak bisa tidur dan demam.” (Muttafaqun alaih dari an-Nu’man bin Basyir c)

Bantuan, Wujud Kecintaan, Persaudaraan, dan Kepedulian
Berbagai musibah yang terjadi menyebabkan hilangnya nyawa; kehancuran, kehilangan, dan kerusakan harta benda; sakit atau luka, ketakutan atau trauma, dan kelaparan. Allah l berfirman:
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (al-Baqarah: 155)
Oleh karena itu, sebagai wujud kecintaan, persaudaraan, dan kepedulian kita kepada saudara-saudara kita yang tertimpa musibah, kita seharusnya membantu dan meringankan beban mereka. Hal ini sebagaimana perintah Allah l:
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa.” (al-Maidah: 2)
Rasulullah n bersabda:
وَاللهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ
“Allah l senantiasa menolong seorang hamba selama hamba itu membantu saudaranya.” (HR. Muslim no. 4867 dari Abu Hurairah z)
Bantuan yang kita berikan kepada mereka bisa berupa materi, seperti uang, bahan makanan, pakaian, obat-obatan, dan lainnya. Allah l berfirman:
“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan. Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. Sesungguhnya kami takut akan (azab) Rabb kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam penuh kesulitan.” (al-Insan: 8—10)
Rasulullah n bersabda:
لَا حَسَدَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ: رَجُلٍ آتَاهُ اللهُ مَالًا فَسَلَّطَهُ عَلَى هَلَكَتِهِ فِي الْحَقِّ، وَرَجُلٍ آتَاهُ اللهُ حِكْمَةً فَهُوَ يَقْضِي بِهَا وَيُعَلِّمُهَا
“Tidak boleh iri selain terhadap dua golongan: (1) orang yang dikaruniai harta yang melimpah oleh Allah l dan dia membelanjakannya di jalan yang haq, (2) orang yang dikaruniai hikmah (ilmu Al-Qur’an dan As-Sunnah), dia menunaikannya (mengamalkannya), serta mengajarkannya.” (Muttafaqun alaih, dari Ibnu Mas’ud z)
Bantuan yang kita berikan kepada saudara-saudara kita yang tertimpa musibah juga bisa dalam bentuk tenaga, seperti evakuasi pengungsi dan korban bencana, membersihkan jalan dari hal-hal yang mengganggu, memperbaiki, dan membenahi sarana umum serta rumah, dan lainnya.
Rasulullah n bersabda:
إِنَّ الْمُؤْمِنَ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا
“Seorang mukmin terhadap mukmin yang lain seperti bangunan, sebagiannya menguatkan yang lain.” (Muttafaqun alaih dari Abu Musa al-Asy’ari z)
Beliau n bersabda juga:
وَتُعِينُ الرَّجُلَ فِي دَابَّتِهِ فَتَحْمِلُهُ عَلَيْهَا أَوْ تَرْفَعُ لَهُ عَلَيْهَا مَتَاعَهُ صَدَقَة
“Engkau membantu seseorang dalam hal kendaraannya hingga menaikkannya di atasnya, atau engkau mengangkat barang-barangnya ke kendaraannya, itu sedekah.” (Muttafaqun alaih dari Abu Hurairah z)
لَقَدْ رَأَيْتُ رَجُلًا يَتَقَلَّبُ فِي الْجَنَّةِ فِي شَجَرَةٍ قَطَعَهَا مِنْ ظَهْرِ الطَّرِيقِ كَانَتْ تُؤْذِي النَّاسَ
“Sungguh, aku melihat seseorang yang mondar-mandir di dalam surga karena sebuah pohon di jalan yang ditebangnya karena mengganggu manusia.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah z)
Rasulullah n juga bersabda tentang cabang-cabang keimanan.
وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنْ الطَّرِيقِ
“… Yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan.” (Muttafaqun alaih dari Abu Hurairah z)
Seorang mukmin juga bisa mewujudkan kecintaan dan kepeduliannya terhadap saudara-saudaranya yang terkena musibah dalam bentuk nasihat, saran yang baik, dan doa. Allah l berfirman:
“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar ….” (at-Taubah: 71)
Rasulullah n bersabda:
الْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ
“Ucapan yang baik itu sedekah.” (HR. al-Bukhari dari Abu Hurairah z)
Dari Jarir bin Abdillah z, ia berkata:
بَايَعْتُ رَسُولَ اللهِ n عَلَى إِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالنُّصْحِ لِكُلِّ مُسْلِم
“Aku membai’at Rasulullah n untuk menegakkan shalat, membayar zakat, dan memberi nasihat kepada setiap muslim.” (Muttafaqun alaih)
Dari Anas bin Malik z, ia berkata:
مَرَّ النَّبِيُّ n بِامْرَأَةٍ عِنْدَ قَبْرٍ وَهِيَ تَبْكِي فَقَالَ: اتَّقِي اللهَ وَاصْبِرِي
“Nabi n melewati seorang wanita yang sedang menangis di samping kuburan (anaknya). Beliau n berkata, ‘Bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah!’.” (Muttafaqun alaih)
Dari Abu ad-Darda z, Rasulullah n bersabda:
دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ، عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لِأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ: آمِينَ، وَلَكَ بِمِثْلٍ
“Doa seorang muslim untuk saudaranya yang tidak ada di hadapannya (tanpa diketahuinya) mustajab (akan dikabulkan). Di samping kepalanya ada malaikat yang bertugas. Ketika dia mendoakan saudaranya dengan kebaikan, malaikat tersebut akan berkata, ‘Amin, mudah-mudahan engkau mendapatkan yang semisalnya’.” (HR. Muslim)
Termasuk salah satu hal yang semakin menyempurnakan kecintaan dan kepedulian seorang muslim terhadap saudaranya yang sedang tertimpa musibah adalah tidak menyakiti mereka dengan ucapan dan perbuatan, seperti komentar-komentar yang menyakitkan dan meresahkan melalui media massa. Demikian pula pencurian dan penjarahan harta benda mereka, penyalahgunaan bantuan yang menjadi hak mereka, dan sebagainya.
Allah l berfirman:
“Dan orang-orang yang menyakiti orang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (al-Ahzab: 58)
Rasulullah n bersabda:
الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
“Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin selamat dari kejahatan lisan dan tangannya.” (Muttafaqun alaih dari Abdullah bin Amr ibnul Ash c)
Allah l berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil.” (an-Nisa: 29)
Rasulullah n bersabda:
مَنِ اقْتَطَعَ حَقَّ امْرِئٍ مُسْلِمٍ بِيَمِينِهِ فَقَدْ أَوْجَبَ اللهُ لَهُ النَّارَ وَحَرَّمَ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ. فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ: وَإِنْ كَانَ شَيْئًا يَسِيرًا، يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: وَإِنْ قَضِيبًا مِنْ أَرَاكٍ
“Barang siapa mengambil hak seorang muslim dengan sumpahnya, sungguh Allah mewajibkan untuknya neraka dan mengharamkan surga.” Ada yang bertanya, “Walaupun sesuatu yang remeh, wahai Rasulullah?” Beliau n menjawab, “Walaupun sebatang ranting pohon siwak.” (HR. Muslim dari Abu Umamah z)

Ancaman untuk Orang yang Tidak Ikhlas Membantu
Bantuan yang kita berikan kepada saudara-saudara kita yang sedang mendapatkan ujian dan cobaan, adalah sebuah bentuk ibadah. Sebuah ibadah tidak akan diterima oleh Allah l melainkan jika seseorang ikhlas mengamalkannya dan mengikuti tuntunan Rasulullah n.
Allah l berfirman:
Katakanlah, “Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama. Dan aku diperintahkan supaya menjadi orang yang pertama-tama berserah diri.” Katakanlah, “Sesungguhnya aku takut akan siksaan hari yang besar jika aku

akan siksaan hari yang besar jika aku durhaka kepada Rabbku.” (az-Zumar: 11—12)
Dapat kita simpulkan, amalan apa pun—termasuk bantuan kepada saudara kita yang menjadi korban bencana, dalam bentuk harta, tenaga, pikiran, dan doa—yang mengandung harapan pujian, sanjungan, dan imbalan dunia serta suara, tidak akan diterima oleh Allah l.
Ada organisasi, partai, dan lembaga yang memberi bantuan sambil memasang spanduk yang memuat kalimat yang mencerminkan ketidakikhlasan. Mungkin kita pernah melihat spanduk dengan tulisan “Peristiwa 27 Juli 1996 adalah bukti kepedulian kami”, atau “Bersih, peduli, dan profesional”, atau kalimat semacamnya.
Mungkin kita pernah pula melihat bantuan-bantuan yang berlabel organisasi atau partai tertentu, sampai pun nasi bungkus dan mi instan. Kita berlindung kepada Allah l dari hal-hal yang seperti itu.
Perhatikanlah bagaimana ancaman Allah l terhadap orang-orang yang tidak ikhlas beramal. Dalam sebuah hadits, Rasulullah n bersabda:
إِنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ … وَرَجُلٌ وَسَّعَ اللهُ عَلَيْهِ وَأَعْطَاهُ مِنْ أَصْنَافِ الْمَالِ كُلِّهِ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: مَا تَرَكْتُ مِنْ سَبِيلٍ تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ فِيهَا إِلَّا أَنْفَقْتُ فِيهَا لَكَ. قَالَ: كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ: هُوَ جَوَادٌ؛ فَقَدْ قِيلَ. ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ ثُمَّ أُلْقِيَ فِي النَّارِ
“Sesungguhnya, golongan pertama yang akan diputuskan perkaranya pada hari kiamat adalah … (di antaranya) orang yang diberikan kelapangan rezeki dan dikaruniai berbagai jenis harta oleh Allah l. Orang tersebut didatangkan dan Allah l mengingatkannya akan berbagai kenikmatan yang Dia limpahkan kepadanya. Dia pun mengingatnya. Lalu Allah l bertanya kepadanya, ‘Untuk apa engkau gunakan berbagai nikmat itu?’ Dia menjawab, ‘Tidaklah aku tinggalkan satu jalan pun yang Engkau cintai untuk berinfak padanya melainkan aku telah berinfak karena-Mu.’ Allah berfirman, ‘Engkau berdusta. Engkau justru melakukannya supaya dikatakan dermawan, dan sungguh engkau telah dijuluki demikian.’ Kemudian ia diperintahkan untuk diseret di atas wajahnya (tertelungkup) hingga dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim no. 1905 dari Abu Hurairah z)
Kita berlindung kepada Allah l dari hal itu.
اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا قَلْبًا خَاشِعًا وَلِسَانًا ذَاكِرًا وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا
“Ya Allah, karuniailah kami hati yang khusyuk, lisan yang senantiasa berzikir, dan amalan yang diterima.”

Perbuatan Syirik Ibarat Sarang Laba-laba

(ditulis oleh: Ibnu Qayyim al-Jauziyah)

“Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui.” (al-Ankabut: 41)
Allah l menyebutkan bahwa para sesembahan itu lemah, dan orang yang menjadikan mereka sebagai para penolong lebih lemah dari mereka. Dalam hal kelemahan, mereka dan apa yang mereka perbuat—menjadikan selain Allah l sebagai para penolong atau penyelamat—bagaikan laba-laba yang membuat sarang. Sarang laba-laba termasuk tempat tinggal yang paling lemah. Permisalan ini mengandung penjelasan bahwa orang-orang musyrik berada dalam keadaan yang paling lemah saat mereka menjadikan selain Allah l sebagai para wali mereka. Mereka tidak mendapatkan manfaat dari para sesembahan yang mereka jadikan sebagai penolong mereka, selain hanya kelemahan. Hal ini sebagaimana firman Allah l:
“Dan mereka telah mengambil sembahan-sembahan selain Allah, agar sembahan-sembahan itu menjadi pelindung bagi mereka. Sekali-kali tidak. Kelak mereka (sembahan-sembahan) itu akan mengingkari penyembahan (pengikut-pengikutnya) terhadapnya, dan mereka (sembahan-sembahan) itu akan menjadi musuh bagi mereka.” (Maryam: 81—82)
Allah l berfirman pula:
“Mereka mengambil sembahan-sembahan selain Allah agar mereka mendapat pertolongan. Berhala-berhala itu tiada dapat menolong mereka, padahal berhala-berhala itu menjadi tentara yang disiapkan untuk menjaga mereka.” (Yasin: 74—75)
Allah l juga berfirman setelah menyebutkan penghancuran terhadap umat-umat yang musyrik:

“Dan Kami tidaklah menganiaya mereka, tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri, karena itu tiadalah bermanfaat sedikit pun kepada mereka sembahan-sembahan yang mereka seru selain Allah, di waktu azab Rabbmu datang. Dan sembahan-sembahan itu tidaklah menambah kepada mereka selain kebinasaan belaka.” (Hud: 101)
Inilah empat tempat dalam Al-Qur’an yang menunjukkan bahwa siapa saja yang menjadikan selain Allah l sebagai penolong atau penyelamat, memperkokoh dan berbangga diri dengannya, serta meminta pertolongan darinya, hakikatnya mereka tidak memperoleh melainkan kebalikannya. Di dalam Al-Qur’an terdapat lebih banyak dari itu.
Ini termasuk permisalan yang sangat bagus dan paling tepat menunjukkan kebatilan perbuatan syirik serta kerugian pelakunya dan perolehan yang berlawanan dengan maksudnya.
Jika dikatakan, “Mereka mengetahui bahwa selemah-lemah tempat tinggal adalah sarang laba-laba. Akan tetapi, mengapa ditiadakan pengetahuan mereka tentang hal itu dengan firman-Nya, ‘Seandainya mereka mengetahui’?”
Jawabnya, Allah l tidak meniadakan pengetahuan mereka tentang lemahnya sarang laba-laba. Yang ditiadakan oleh Allah l adalah pengetahuan mereka bahwa penyembahan mereka terhadap selain Allah l bagaikan laba-laba yang membuat sarangnya. Seandainya mereka mengetahui hal itu, tentu mereka tidak akan melakukannya. Akan tetapi, mereka mengira bahwa perbuatan mereka menjadikan selain Allah l sebagai wali mereka akan berfaedah bagi mereka. Namun, kenyataan yang terjadi bertolak belakang dengan apa yang mereka sangka.
(diterjemahkan dari kitab I’lam al-Muwaqqi’in 1/204—205 oleh Qomar Suaidi)

Haji Wada’ (Haji Perpisahan)

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Harits)

Bulan Dzul Qa’dah sudah di ambang pintu. Kota Madinah masih sibuk sebagaimana biasa. Setelah Makkah berada dalam pangkuan Islam, kabilah-kabilah Arab dan sejumlah raja kecil di sekitar Hijaz mengirimkan utusan mereka. Ada yang menerima dan memeluk Islam, ada pula yang masih tetap dalam keyakinan lamanya, tetapi bersedia menyerahkan jizyah (upeti).
Rasulullah n belum pernah menunaikan ibadah haji (Haji Islam). Ketika muncul keinginan untuk menunaikan haji ini, beliau memberitahukannya kepada seluruh kaum muslimin. Mendengar berita ini, tidak hanya para sahabat yang di Madinah dan sekitarnya yang bersiap-siap, mereka yang di Makkah ikut sibuk menyiapkan segala sesuatunya.
Mereka akan menyambut tamu paling agung yang pernah menziarahi Rumah Suci (Ka’bah) ini, Rasulullah n. Selain itu, teman lama dan kerabat mereka juga akan ikut serta.
Baitullah (Ka’bah) yang telah bersih dari kotoran dan budaya syirik seakan memanggil orang-orang yang dahulu memujanya dengan adat jahiliah, agar memuliakannya dengan tata cara dan tuntunan tauhid. Sahara dan bukit cadas turut merasakan kegembiraan menyambut berita bahwa Rasulullah n akan haji di tahun itu.
Tanggal 25 Dzul Qa’dah 10 H, Rasulullah n dan para sahabat, mulai mengarahkan kendaraan mereka ke Masjidil Haram. Semua istri Rasulullah n ikut serta, tidak ada yang tertinggal.
Seakan, Allah l mengilhamkan kepada beliau bahwa haji ini adalah pertanda akan berakhirnya pengabdian beliau di dunia ini.
Perlahan, rombongan jamaah haji yang mulia ini mulai bertolak meninggalkan gerbang Kota Madinah. Atap-atap rumah dan pucuk-pucuk kurma melambai-lambai seakan mengucapkan, “Selamat jalan, jamaah haji yang mulia….”
Dalam perjalanan, belum lama meninggalkan Kota Madinah, ribuan kaum muslimin dari berbagai pelosok di sekitar Madinah memapak Rasulullah n bersama sahabat. Mereka ingin meraih keutamaan menunaikan haji bersama kekasih mereka, Muhamamd n.
Kata Jabir, “Aku melihat lautan manusia mengelilingi beliau. Ada yang berkendaraan, ada pula yang berjalan kaki, di kanan, kiri, depan, dan di belakang Rasulullah n, sejauh mata memandang.”
Dari mana mereka datang? Hendak ke mana ribuan manusia ini?
Empat tahun lalu, beliau n bersama 1.400 sahabat atau lebih, berangkat untuk mengerjakan umrah. Akan tetapi, kesombongan jahiliah yang masih tertanam di hati bangsa Quraisy, mendorong mereka menolak tamu-tamu agung ini menziarahi Ka’bah.
Penolakan itu bukan sebuah kehinaan, tetapi kemuliaan, kemenangan, bahkan kemenangan yang agung.
Peristiwa Hudaibiyah, tahun 6 H.
Di saat mereka dalam satu tekad membela Allah l dan Rasul-Nya, kemudian menyatakan siap menuntut bela atas tertumpahnya darah ‘Utsman bin ‘Affan, yang diduga terbunuh di tangan Quraisy… Hati mereka menyatu, tak akan mundur setapak pun, walaupun harus berkalang tanah….
Tercetuslah sumpah setia di bawah sebatang pohon (Bai’atur Ridhwan), sebuah kenangan yang tak terlupakan….
Lalu datang Suhail bin ‘Amr sebagai utusan Quraisy, mendesak agar Rasulullah n dan para sahabat kembali ke Madinah, tidak memasuki Makkah pada tahun itu. Rasulullah n menerima kesepakatan itu.
Akan tetapi, para sahabat yang melihat Makkah sudah di depan mata, sempat kecewa, mengapa harus kembali? Namun, mereka tunduk dan menerima keputusan Rasulullah n. Mereka yakin, di balik kejadian ini pasti ada kemenangan.
Memang, bahkan kemenangan yang sangat agung. Akhirnya, Islam tersebar ke seluruh penjuru tanah Arab. Dari berbagai pelosok, mulai rakyat biasa, hingga kepala suku dan raja-raja kecil datang bertanya tentang Islam.
Kemenangan mana lagi yang lebih hebat dari ini?
Setahun kemudian, Rasulullah n kembali mengarahkan kendaraannya bersama para sahabat menuju Masjidil Haram menunaikan umrah yang tertunda.
Umratul Qadha telah menampakkan kewibawaan dan keagungan Islam sekaligus keperkasaan para pembelanya. Nyali Quraisy semakin ciut melihatan kekuatan kaum muslimin. Ternyata, di balik fisik yang terlihat lemah itu, tersimpan kekuatan dahsyat. Kekuatan yang pada saatnya nanti datang kembali sebagai penakluk, pembebas Kota Suci Makkah. Yang akan membersihkan Ka’bah dari berhala dan simbol-simbol kesyirikan.
Itulah kekuatan yang bersumber dari hati yang terisi iman yang murni. Kekuatan itulah yang meluluhlantakkan kesombongan jahiliah di dada masyarakat Quraisy dan orang-orang Arab di sekitar mereka. Kekuatan itu pula yang menaklukkan sepertiga belahan bumi ini….
Sesudah itu, sepuluh ribu orang tentara Allah l datang ke Makkah untuk membersihkan Baitullah dari berhala dan tempat-tempat pemujaan di sekelilingnya.
Fathu Makkah, benar-benar kemenangan yang agung.
Kini, pada tahun kesepuluh, kerikil dan pasir sahara kembali terkesima, menyaksikan ribuan kaki yang melintasi mereka. Ke mana gerangan?
Baitullah, itulah tujuan mereka….
Rumah Suci pertama yang diletakkan Pencipta jagat semesta ini, seolah menanti ucapan salam para pemuja-Nya.
Bait Suci yang telah kembali kesuciannya, seakan mempercantik diri menyambut tamu-tamu yang agung menziarahi.
Tiba-tiba, suara tangis bayi membuyarkan lamunan. Mereka sudah tiba di Dzul Hulaifah. Asma’ bintu ‘Umais, istri Abu Bakr ash-Shiddiq z, melahirkan seorang putra yang diberi nama Muhammad.
Usai melahirkan, Asma’ menemui Rasulullah n dan bertanya, “Apa yang harus saya kerjakan?”
Kata Rasulullah n, “Mandilah dan ketatkan kainmu, kemudian letakkan kain di tempat keluarnya darah dan berihramlah.”
Di situlah, di Dzul Hulaifah, setelah mereka bermalam, Rasulullah n mulai berihram, diikuti seluruh kaum muslimin.
Usai shalat Zhuhur dua rakaat, beliau n bertalbiyah untuk haji dan umrahnya, di tempat beliau shalat. Setelah itu beliau menaiki untanya dan terus bertalbiyah sampai tiba di al-Baida’:
لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لاَ شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ، لاَ شَرِيكَ لَكَ
“Aku penuhi panggilan-Mu, ya Allah, aku penuhi. Aku penuhi panggilan-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu. Sesungguhnya pujian dan kenikmatan itu adalah milik-Mu, (begitu juga) kerajaan, tidak ada sekutu bagi-Mu.”
Di musim haji itulah Rasulullah n memberi pilihan kepada para sahabat dan kaum muslimin seluruhnya sampai hari kiamat dalam mengerjakan manasik haji mereka; tamattu’, qiran, atau ifrad.1
Enam mil dari Makkah, di Sarif, Rasulullah n mengumumkan kepada para sahabatnya, “Siapa yang tidak membawa hadyu (hewan kurban) dan ingin menjadikannya umrah, silakan! Akan tetapi, siapa yang membawa hadyu, jangan lakukan!”
Tepat di hari keempat bulan Dzul Hijjah, jamaah haji agung ini tiba di Makkah. Perlahan mereka mulai mendekati Ka’bah.
Rasulullah n memasuki Kota Makkah dari sebelah atas, Tsaniyatul ‘Ulya, tetapi ketika umrah beliau masuk dari sebelah bawah.
Ath-Thabari menceritakan bahwa Rasulullah n memasuki Masjidil Haram dari pintu Bani Syaibah (sekarang). Beliau langsung mendekati Ka’bah untuk thawaf, tanpa shalat tahiyatul masjid.
Setelah berhadapan dengan Hajar Aswad, beliau menyentuhnya, kemudian berjalan ke kanan, memosisikan Hajar Aswad di sebelah kiri.
Tiga putaran pertama, beliau melakukan ramal (jalan cepat) sambil melakukan idhthiba’ (membuka bahu kanannya); menyelempangkan baju ihramnya ke atas pundak kiri. Tiap kali berhadapan dengan Hajar Aswad, beliau memberi isyarat ke arahnya, menyentuhkan tongkatnya, lalu mencium tongkat tersebut.
Selesai thawaf, Rasulullah n berjalan menuju ke belakang Maqam Ibrahim, sambil membaca:
ﯣ ﯤ ﯥ ﯦ ﯧﯨ
“Dan jadikanlah Maqam Ibrahim sebagai tempat shalat….” (al-Baqarah: 125)
Lalu beliau shalat dua rakaat dengan posisi Maqam berada antara beliau dan Ka’bah. Dalam shalat ini, beliau membaca surat al-Kafirun dan al-Ikhlas sesudah al-Fatihah.
Setelah itu, beliau menuju Hajar Aswad dan menyentuhnya, lalu keluar menuju bukit Shafa dari pintu yang sejajar dengannya. Begitu mendekati pintu, beliau membaca:
ﮅ ﮆ ﮇ ﮈ ﮉ ﮊﮋ
“Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syi’ar Allah.” (al-Baqarah: 158)
Lalu beliau mengatakan,
أَبْدَأُ بِمَا بَدَأَ اللهُ بِهِ
“Aku memulai dengan apa yang Allah l memulai dengannya.”
Maksudnya, beliau memulai dari bukit Shafa sebagaimana lafadz ayat di atas.
Kemudian, beliau menaiki Shafa hingga melihat Ka’bah, lalu menghadap kiblat, mentauhidkan Allah dan bertakbir, serta mengucapkan:
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ، وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ [وَحْدَهُ] أَنْجَزَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ
“Tidak ada sesembahan yang haq selain Allah, satu-satu-Nya, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya-lah kekuasaan (Kerajaan) dan segala pujian, Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Tidak ada sesembahan yang haq selain Allah, satu-satu-Nya, Dia telah memenuhi janji-Nya, menolong hamba-Nya dan mengalahkan pasukan yang bersekutu sendirian.”
Kemudian beliau berdoa di antara bacaan itu dan mengucapkan seperti itu juga tiga kali.
Setelah itu, beliau turun menuju Marwah hingga ketika kedua kaki beliau sudah menginjak perut lembah (sekarang diberi tanda hijau), beliau melakukan sa’i. Ketika sudah naik, beliau berjalan hingga tiba di Marwah, lalu mengerjakan amalan sebagaimana yang beliau lakukan di atas bukit Shafa.
Selesai Sa’i, beliau berkata, “Orang-orang yang tidak membawa hadyu, boleh melepas pakaian ihramnya (tahallul).”
Pada tanggal 8 Dzulhijjah, pada hari Tarwiyah, Rasulullah n dan rombongan menuju Mina. Setibanya di Mina beliau n berdiam kemudian melaksanakan shalat Zhuhur, Ashar, Maghrib, Isya dan Subuh di sana.
Beliau tinggal di Mina sampai terbit matahari, lalu bertolak menuju Arafah.
Di Arafah, beliau mendapati sebuah tenda sudah dibuat untuk beliau di Namirah (sebuah daerah di Arafah). Beliau pun singgah di sana.
Ketika matahari sudah condong (ke barat), beliau minta dibawakan al-Qashwa, unta beliau. Kemudian beliau menuju perut lembah dan berkhutbah di hadapan kaum muslimin.
Ribuan manusia, satu hati, satu tujuan, mengagungkan Pencipta mereka yang Mahatunggal. Semua tunduk melantunkan talbiyah tauhid.
Hilang sudah kesombongan jahiliah….
Di sanalah beliau memulai khutbahnya yang agung.
Pesan-pesan terakhir, seolah-olah mengisyaratkan bahwa itulah penutup rangkaian perjalanan risalah Allah Yang Maha Pengasih lagi Penyayang kepada hamba-Nya, yang beliau emban lebih dari dua puluh tahun.
Setelah memuji Allah l, mengucapkan syahadatain, Rasulullah n menyampaikan pesan-pesannya.
“Amma ba’du;
Wahai sekalian manusia…
Saya tidak tahu apakah akan bertemu kembali dengan kalian sesudah haji tahun ini di tempat ini (ataukah tidak)…”
Hening. Para sahabat terpaku. Di bawah langit biru, di saat mereka merasakan bahagia, Rasulullah n mengisyaratkan perpisahan?
“Wahai sekalian manusia… Hari apakah ini? Bulan apakah ini?”
Setiap kali beliau n bertanya, para sahabat terdiam. Mungkin Rasulullah n ingin memberi nama yang baru.
“Bukankah hari ini adalah hari Haji Akbar?”
“Benar,” sahut para sahabat.
“Bukankah ini bulan haram?”
“Benar,” kembali para sahabat menjawab.
Kemudian beliau bertanya pula, “Negeri apakah ini?”
Para sahabat terdiam, mungkin beliau hendak mengganti namanya.
Rasulullah n berkata pula, “Bukankah ini adalah Tanah Haram (Tanah Suci)?”
“Benar,” sahut para sahabat pula.
Setelah itu beliau berkata, “Sungguh, darah, harta, dan kehormatan kalian adalah haram (suci, tidak boleh dilanggar), seperti sucinya hari kalian ini, di bulan kalian ini, dan di negeri kalian ini.
Janganlah kalian kembali menjadi orang-orang yang kafir (ingkar) sepeninggalku, saling membunuh satu sama lain.
Wahai sekalian manusia…
Sesungguhnya, semua urusan jahiliah berada di bawah telapak kakiku ini. Semua urusan darah (utang nyawa, pembunuhan) ala jahiliah, gugur dan tidak ada nilainya (tidak ada tebusannya).
Adapun urusan darah pertama yang saya gugurkan adalah darah Rabi’ah bin al-Harits, yang menyusu di Bani Sa’d lalu dibunuh oleh orang-orang dari suku Hudzail.
Demikian pula perkara riba jahiliah, saya nyatakan batal. Tidak ada nilainya (tidak perlu ditunaikan). Adapun riba pertama yang saya gugurkan adalah riba (keluarga) kami, riba ‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib.
Wahai manusia, bertakwalah kalian dalam urusan wanita. Sungguh, kamu (wahai kaum pria) telah memiliki mereka dengan amanat dari Allah l. Kalian telah menjadikan kehormatan (kemaluan) mereka halal dengan kalimat Allah l.
Kalian mempunyai hak yang wajib dipenuhi oleh para istri. Di antara hak kalian adalah mereka tidak boleh mengizinkan siapa saja yang tidak kalian senangi menginjakkan kaki di permadani atau lantai rumah kalian.
Kalau mereka melanggarnya, pukullah mereka dengan pukulan yang tidak melukai.
Istri-istri kalian juga mempunyai hak yang wajib kalian penuhi, yaitu menerima pakaian dan rezeki yang pantas.
Wahai manusia…
Telah saya tinggalkan sesuatu pada kalian. Kalian tidak akan tersesat selama kalian berpegang teguh dengannya, yaitu Kitab Allah.
Dan…
Kalian semua akan ditanya tentang saya, maka apa jawab kalian?”
Para sahabat serempak menjawab setelah beberapa saat terpana mendengar khutbah beliau, “Kami bersaksi bahwa Anda telah menyampaikan risalah, menunaikan amanat, dan memberi nasihat.”
Mendengar jawaban mereka, Rasulullah n mengangkat telunjuknya ke langit, lalu menudingkannya ke arah ribuah jamaah haji yang mulia itu sambil berkata, “Ya Allah, saksikanlah,” tiga kali.
Allah Maha Menyaksikan, bahkan membanggakan mereka di hadapan malaikat-Nya.
Setelah itu, Bilal mengumandangkan adzan lalu iqamat dan shalat Zhuhur, iqamat lagi lalu shalat Ashar. Beliau tidak shalat di antara keduanya sama sekali.
Kemudian beliau mendatangi tempat wuquf dan menderumkan untanya, al-Qashwa, hingga duduk di atas sahara, sambil menghadap kiblat. Mulailah beliau berdoa.
Beliau berkata, “Sebaik-baik doa adalah doa pada hari Arafah.”2
Beliau tetap wuquf sampai matahari terbenam dan hilang sedikit cahaya kuningnya sampai betul-betul tenggelam.
Beliau pun bertolak dan mengencangkan tali kekang al-Qashwa menuju Muzdalifah.
Rasulullah n menundukkan kepala hingga menyentuh tempat duduk di kendaraannya, dan berkata dengan (isyarat) tangan kanannya, “Wahai manusia, perlahan-lahanlah, perlahan-lahanlah!”
Sesampainya di Muzdalifah beliau shalat Maghrib dan Isya dengan satu adzan dan dua iqamat, tanpa shalat sunat di antara keduanya.
Kemudian beliau berbaring sampai terbit fajar dan shalat Subuh (fajar) ketika telah jelas waktu subuh, dengan satu adzan dan iqamat.
Setelah itu, beliau berangkat hingga tiba di Masy’aril Haram, kemudian menghadap kiblat, dan berdoa kepada Allah l, bertakbir membesarkan-Nya serta mentauhidkan-Nya.
Beliau tetap berdiri sampai hari betul-betul terang.
Sebelum terbit matahari beliau bergerak hingga tiba di dasar lembah Muhassir. Beliau mempercepat kendaraannya meninggalkan tempat tersebut. Itulah tuntunan beliau bila melewati lokasi atau daerah yang dahulu pernah turun azab Allah l menghancurkan musuh-musuh-Nya.
Di sanalah dahulu Abrahah dan gajahnya dihancurkan oleh Allah Yang Mahaperkasa, sebagaimana diceritakan dalam surat al-Fil.
Seperti itu pula yang dilakukan beliau n ketika melalui perkampungan Hijr (yang dihuni bangsa Tsamud).
Setelah itu, beliau melewati jalan yang tengah dan keluar menuju Jumrah al-Kubra, jumrah yang ada di dekat pohon (batas akhir Mina). Kemudian melemparinya dengan tujuh kerikil, kerikil sebesar satu ruas ujung jari kelingking, sambil bertakbir pada tiap-tiap lemparan.
Selesai melempar jumrah, beliau menuju tempat penyembelihan dan mulai menyembelih 63 ekor unta dengan tangan beliau sendiri. Sisanya, 37 ekor beliau serahkan agar disembelih oleh ‘Ali bin Abi Thalib z. Setelah itu, beliau memerintahkan agar dagingnya disedekahkan kepada orang-orang yang miskin.
Usai menyembelih, beliau memanggil tukang cukurnya, “Hai Ma’mar, Rasulullah n menyerahkan rambut dekat telinganya kepadamu…”
“Wahai Rasulullah, ini adalah karunia besar bagiku,” katanya.
“Betul,” kata Rasulullah n.3
Kemudian Rasulullah n memerintahkannya mencukur dari yang kanan. Setelah itu beliau membagikan rambut tersebut kepada sahabat-sahabat yang ada di dekat beliau.
“Apakah Abu Thalhah ada di sini?” tanya beliau.
Para sahabat menjawab, “Ada.” Rasulullah n pun menyerahkan rambut sebelah kirinya kepada beliau z.
Kemudian Rasulullah n berangkat dan bertolak menuju Ka’bah dan shalat Zhuhur di Makkah.
Beliau menemui Bani ‘Abdul Muththalib yang bertugas memberi minum jamaah haji dengan air Zamzam.
Beliau berkata, “Bagilah, hai Bani ‘Abdul Muththalib! Kalau bukan karena khawatir dianggap manasik, tentu aku akan membagi dan minum bersama kalian.”
Mereka pun memberi beliau secangkir air Zamzam dan meminumnya sambil berdiri.
Ibnul Qayyim t menyebutkan bahwa beliau n berkhutbah dua kali di Mina, pada hari nahar (menyembelih). Yang kedua adalah ketika pada hari tasyriq.
Pada kesempatan itu, beliau n mengingatkan kaum muslimin umumnya, terutama para sahabat yang ada ketika itu.
“Sesungguhnya setan telah putus asa untuk disembah di Jazirah Arab. Akan tetapi, dia sangat berambisi untuk menimbulkan persengketaan di antara kalian.
Zaman telah kembali sebagaimana Allah l menciptakan langit dan bumi. Jumlah bilangan bulan di sisi Allah l ada dua belas. Empat di antaranya adalah bulan-bulan haram: Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah, Muharram, dan Rajab Mudhar, yang terletak antara Jumadi (Tsani) dan Sya’ban.
Wahai manusia…
Rabb kalian adalah satu. Ayah kalian adalah satu, yaitu Adam. Semua kalian berasal dari Adam, dan Adam dari tanah. Yang paling mulia di antara kalian adalah yang paling bertakwa kepada Allah l.
Tidak ada kelebihan orang Arab dari orang ajam (non-Arab), selain dengan ketakwaan.
Sampaikanlah semua ini kepada yang tidak hadir. Bisa jadi, yang disampaikan itu lebih paham daripada yang mendengar….”
Itulah sebagian khutbah beliau.
Seolah-olah memberikan isyarat bahwa usia beliau yang penuh berkah akan segera berakhir. Pertemuan dan kebersamaan akan usai. Beliau pun bersiap-siap menjumpai Kekasihnya, Allah l.
Tuntas sudah. Semua yang terkait dengan ibadah haji, sebagai rukun Islam yang kelima, telah beliau ajarkan, baik melalui ucapan maupun perbuatan.
Tidak hanya itu, seluruh ajaran Islam, mulai akidah (tentang keimanan, kepada Allah l, dan urusan gaib), ibadah, akhlak, dan muamalah, baik terkait dengan individu maupun kenegaraan, telah beliau ajarkan.
Benarlah beliau, dan memang pantas beliau dibenarkan, ketika bersabda:
إنَّهُ لَمْ يَكُنْ نَبِيٌّ قَبْلِي إِلاَّ كَانَ حَقّاً عَلَيْهِ أنْ يَدُلَّ أُمَّتَهُ عَلَى خَيْرِ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ، وَيُنْذِرَهُم شَرَّ مَا يَعْلَمُهُ لَهُم
“Sesungguhnya, tidak ada seorang nabi pun sebelumku, melainkan wajib atas nabi itu menunjukkan umatnya kepada kebaikan yang diketahuinya, dan melarang mereka dari kejahatan yang diketahuinya.”4
Kebaikan yang paling utama yang beliau perintahkan adalah tauhid; menyerahkan seluruh ibadah (berdoa, meminta syafaat, istighatsah, dan sebagainya) hanya kepada Allah l.
Adapun kejahatan yang paling utama yang beliau larang adalah syirik, yaitu menyekutukan Allah l dalam hal-hal yang khusus bagi Allah l, seperti syirik dalam rububiyah; meyakini ada kekuatan selain Allah l yang mengatur alam semesta ini, ada yang memberi rezeki selain Allah l, ada yang menghidupkan dan mematikan, menjadikan seseorang kaya atau miskin selain Allah l, dan sebagainya.
Kemudian syirik dalam uluhiyah; menyerahkan ibadah, yang sebetulnya merupakan hak Allah l yang paling utama, kepada sesuatu selain Dia, apakah kepada nabi yang diutus, malaikat yang didekatkan, atau selain mereka.
Ditegaskan pula oleh Allah l bahwa Rasulullah n sudah menyampaikan risalah-Nya dengan tuntas dan sempurna dengan menurunkan firman-Nya:
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (al-Maidah: 3)
Oleh sebab itu, tidak ada satu pun urusan agama ini yang kurang sehingga harus ditambah, atau berlebih lalu perlu dikurangi.
Ayat ini turun di saat Rasulullah n masih hidup, bahkan belum beranjak meninggalkan Tanah Suci Makkah setelah menunaikan ibadah hajinya.
Artinya, masih ada kemungkinan akan terjadi perubahan dalam syariat Islam yang beliau bawa. Namun, ternyata tidak ada perubahan apa pun, walillahil hamdu.
Ayat ini adalah dalil pertama yang harus dihadapkan kepada ahlul batil, siapa pun dia, di mana saja dan kapan saja.
Oleh sebab itu, apa saja di masa Rasulullah n yang bukan merupakan ajaran Islam, di zaman ini dan seterusnya juga bukan bagian dari Islam.
Siapa yang mengada-adakan perkara baru dalam agama ini, berarti dia menuduh Muhammad n telah mengkhianati risalah yang diberikan oleh Allah l kepadanya.
Agaknya, Rasulullah n pun menyadari ajalnya sudah dekat. Beberapa bulan sebelumnya, ketika mengutus Mu’adz ke Yaman, beliau berpesan, “Hai Mu’adz, mungkin engkau tidak lagi menjumpaiku sesudah ini. Mungkin engkau hanya melewati masjidku ini dan kuburanku.”
Mu’adz menangis tersedu-sedu mendengar pesan sang junjungan. Berat hatinya meninggalkan Madinah. Tetapi, tugas ini dipercayakan oleh Rasulullah n ke pundaknya. Sam’an wa tha’atan, ya habibi (saya mendengar dan taat, duhai kekasihku!).
Pantas dan sangat pantas Mu’adz menangis. Kita pun seharusnya demikian. Tidak ada kesedihan yang lebih berat daripada berpisah dengan Rasulullah n, di dunia, apalagi di akhirat. Na’udzu billah min dzalik!
Setelah menunaikan thawaf wada’, Rasulullah n bersama kaum muslimin bersiap menuju Madinah. Istirahat? Bukan, melainkan melanjutkan jihad di jalan Allah l.
Beberapa hari kemudian, beliau n jatuh sakit.
Semoga shalawat dan salam senantiasa Dia limpahkan atasmu, wahai junjungan.

Catatan Kaki:

1 Haji tamattu’ adalah mengerjakan umrah pada bulan-bulan haji, lalu bertahallul dari umrah itu untuk melaksanakan haji pada tahun itu juga. Haji qiran ialah berihram untuk haji dan umrah secara bersamaan (sekaligus). Adapun haji ifrad adalah berihram hanya untuk haji. Lihat pembahasan haji lebih lengkap pada Asy Syariah Vol. III/No. 27.

2 Penggalan hadits dari Thalhah bin ‘Ubaidillah bin Katsir, diriwayatkan oleh al-Imam Malik dalam al-Muwaththa’ (1/422) dan sanadnya mursal. Namun, ada penguatnya dari jalur ‘Amr bin Syu’aib dari bapaknya, dari kakeknya dalam Sunan at-Tirmidzi (no. 3579).

3 HR. Ahmad (6/187), Abu Dawud (2019), disahihkan oleh al-Hakim (1/467) dan disetujui oleh adz-Dzahabi.

4 HR. Muslim (6/18, 1844) (46).

 

Menjaga Akidah Saat Musibah

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abdurrahman Mubarak)

Dunia ini adalah negeri ujian. Berbagai macam ujian akan dialami oleh seseorang dalam kehidupannya. Baik ujian yang umum, menimpa diri dan masyarakatnya seperti banjir, gunung meletus, gempa, dan lainnya, maupun ujian khusus yang hanya mengenai dirinya, seperti sakit, meninggalnya orang yang dicintai, dan sebagainya. Dengan demikian, seorang muslim harus bisa bersikap arif menghadapi segala bentuk ujian tersebut.
Ketahuilah, ujian dari Allah l kepada hamba-Nya terkadang dalam bentuk kesenangan dan terkadang berupa kesusahan. Allah l berfirman:
ﯺ ﯻ ﯼ ﯽﯾ ﯿ ﰀ ﰁ ﰂﰃ ﰄ ﰅ ﰆ
“Semua yang bernyawa pasti akan mati. Kami akan uji kalian dengan kejelekan dan kebaikan sebagai fitnah, dan kepada kamilah kalian akan dikembalikan.” (al-Anbiya: 35)
Ketahuilah, rahimakallah (semoga Allah l merahmati Anda), Allah l telah menerangkan bagaimana seharusnya sikap seorang muslim ketika mendapat musibah. Allah l berfirman:
ﭠ ﭡ ﭢ ﭣ ﭤ ﭥ ﭦ ﭧ ﭨ ﭩﭪ ﭫ ﭬ ﭭ ﭮ ﭯ ﭰ ﭱ ﭲ ﭳ ﭴ ﭵ ﭶ ﭷ ﭸ ﭹ ﭺ ﭻ ﭼ ﭽ ﭾﭿ ﮀ ﮁ ﮂ ﮃ
“Sungguh Kami akan menguji kalian dengan sedikit rasa takut, kelaparan, berkurangnya harta dan jiwa. Berilah kabar gembira kepada orang-orang sabar! Mereka adalah yang ketika ditimpa musibah mengucapkan, ‘Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un (Sesungguhnya kami adalah milik Allah, dan sungguh kami akan kembali kepada-Nya).’ Merekalah yang akan mendapatkan shalawat dan rahmat dari Rabb mereka, serta mereka adalah orang-orang yang mendapatkan hidayah.” (al-Baqarah: 155—157)
Dua amalan yang disebutkan dalam ayat ini semestinya dilakukan oleh seorang yang mendapat musibah.
1. Bersabar
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin t berkata, “Sabar dalam menghadapi musibah hukumnya wajib.”
2. Istirja’ yakni mengucapkan:
ﭳ ﭴ ﭵ ﭶ ﭷ
Rasulullah n bersabda:
مَا مِنْ عَبْدٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ فَيَقُولُ: { ﭳ ﭴ ﭵ ﭶ ﭷ } اللَّهُمَّ أَجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي وَاخْلُفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا؛ إِلَّا آجَرَهُ اللهُ مِنْ مُصِيبَتِهِ، وَأَخْلَفَ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا. قَالَتْ: فَلَمَّا تُوُفِّيَ أَبُو سَلَمَةَ قُلْتُ كَمَا أَمَرَنِي رَسُولُ اللهِ n، فَأَخْلَفَ اللهُ لِي خَيْرًا مِنْهُ، رَسُولَ اللهِ n
“Tidaklah ada seorang hamba yang tertimpa musibah kemudian berkata,
{ ﭳ ﭴ ﭵ ﭶ ﭷ } اللَّهُمَّ أَجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي وَاخْلُفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا
‘(Sesungguhnya kami ini milik Allah dan hanya kepada-Nyalah kami kembali). Ya Allah, berilah aku pahala karena musibah ini dan gantikanlah untukku yang lebih baik dari musibah ini!’
melainkan Allah l akan memberi balasan kepadanya dan menggantinya dengan yang lebih baik.” Ummu Salamah berkata, “Ketika Abu Salamah meninggal, aku pun mengucapkan doa seperti yang diajarkan oleh Rasulullah n tersebut. Ternyata Allah l menggantinya dengan orang yang lebih baik dari Abu Salamah, yakni Rasulullah n.” (HR. Muslim)
Dalam ayat di atas, Allah l menerangkan tiga janji bagi orang yang sabar dan ber-istirja’ ketika mendapatkan musibah. Ketiga janji tersebut adalah sebagai berikut.
1. Shalawat dari Allah l
Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin t menyatakan bahwa pendapat yang paling sahih adalah Allah l akan menyebut dan memuji orang yang sabar di hadapan para malaikat-Nya.
2. Rahmat Allah l atasnya
Allah l akan merahmati seorang yang sabar dalam menerima musibah.
3. Hidayah
Di antara bentuk hidayah, Allah l memberi taufik kepadanya untuk bersabar.
Ketahuilah, selain kedua hal tersebut, ada hal lain yang perlu ada dalam hati seorang muslim. Bahkan, ini adalah fondasi bagi kedua hal di atas, yaitu meyakini bahwa semua musibah terjadi dengan takdir Allah l.
ﭞ ﭟ ﭠ ﭡ ﭢ ﭣ ﭤﭥ ﭦ ﭧ ﭨ ﭩ ﭪﭫ ﭬ ﭭ ﭮ ﭯ ﭰ
“Tidaklah ada musibah kecuali dengan izin Allah. Barang siapa yang beriman kepada Allah, Ia akan memberi hidayah di hatinya. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (at-Taghabun: 11)
ﮯ ﮰ ﮱ ﯓ ﯔ ﯕ ﯖ ﯗ ﯘ ﯙ ﯚ ﯛ ﯜ ﯝ ﯞ ﯟﯠ ﯡ ﯢ ﯣ ﯤ ﯥ ﯦ
“Tidaklah ada musibah yang menimpa bumi ini dan yang menimpa kalian melainkan telah ada di dalam kitab (Lauhul Mahfudz) sebelum Kami menimpakannya. Sesungguhnya itu sangatlah mudah bagi Allah.” (al-Hadid: 22)
Ketika seseorang beriman kepada takdir, dia pasti meyakini bahwa semua yang terjadi di alam ini adalah ketentuan dari Allah l. Karena dia tahu bahwa itu adalah ketetapan dari Allah l, ia pun bisa bersabar karena menyadari bahwa semua makhluk adalah milik Allah l dan akan kembali kepada-Nya.

Tanda Kebahagiaan Seorang Muslim
Rasulullah n telah memberitakan keadaan dan sikap seorang muslim dalam keadaan senang dan susah. Dari Shuhaib z, Rasulullah n bersabda:
عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَان خَيْرًا لَهُ
“Alangkah menakjubkan keadaan seorang mukmin. Sesungguhnya setiap urusannya merupakan kebaikan dan hal tersebut tidaklah ada selain pada seorang mukmin. Jika dia mendapatkan kesenangan dia pun bersyukur, dan itu adalah kebaikan baginya. Ketika mendapatkan kesulitan, dia pun bersabar dan itu pun kebaikan baginya.” (HR. Muslim no. 2999)
Oleh karena itu, asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab t menyebutkan dua hal tersebut di antara tanda kebahagiaan seseorang. Beliau t berkata, “Saya meminta kepada Allah l, Rabb Arsy yang agung, agar senantiasa mencintai dan memberi taufik kepada Anda di dunia dan akhirat serta menjadikan Anda sebagai orang yang diberkahi di mana pun Anda berada serta menjadikan Anda sebagai orang yang jika diberi nikmat dia bersyukur, jika tertimpa musibah dia bersabar, dan jika terjatuh dalam dosa dia meminta ampunan, karena ketiganya adalah tanda kebahagiaan seseorang.” (Lihat al-Qawaidul Arba’)

Kesalahan-Kesalahan dalam Menyikapi Musibah
Ketahuilah rahimakallah, sabar dalam menerima takdir adalah wajib. Namun, manusia terbagi menjadi empat golongan ketika menghadapi musibah.
1. Sebagian mereka bisa bersabar dalam menerima musibah.
2. Sebagian mereka mendapatkan kedudukan yang lebih tinggi, yaitu ridha terhadap musibah yang menimpanya.
3. Sebagian lagi bersyukur dengan musibah yang datang. Mereka adalah kelompok yang terbaik.
4. Sebagian yang lain terjatuh dalam perbuatan haram, dengan berkeluh kesah dan marah karena tidak terima dengan musibah yang telah ditakdirkan menimpanya. (Tafsir asy-Syaikh Ibnu Utsaimin, 1/180)
Satu kenyataan yang menyedihkan ketika kita memerhatikan perbuatan sebagian manusia, banyaknya musibah yang datang malah semakin menjauhkan mereka dari Allah l. Berbagai penyimpangan agama mereka lakukan justru ketika sedang menghadapi musibah. Oleh karena itu, mereka perlu diingatkan agar sadar dan kembali kepada tuntunan ajaran Islam yang mulia ini.
Di antara bentuk penyimpangan yang harus diingkari tersebut adalah sebagai berikut.

Mengesampingkan Sebab Maknawi
Sebagian orang hanya melihat sebab-sebab lahiriah dari satu musibah, tanpa sedikit pun ingat bahwa sebab terbesar dari musibah adalah amal perbuatan manusia. Allah l berfirman:
ﯽ ﯾ ﯿ ﰀ ﰁ ﰂ ﰃ ﰄ ﰅ ﰆ ﰇ
”Musibah apa pun yang menimpa kalian adalah karena perbuatan tangan-tangan kalian dan Allah memaafkan banyak kesalahan kalian.” (asy-Syura: 30)
Kita, Ahlus Sunnah, meyakini bahwa semua yang terjadi ada sebabnya dan bahwa semua yang ditakdirkan oleh Allah l ada hikmahnya, termasuk musibah-musibah yang terjadi. Namun, hendaknya pembahasan sebab-sebab lahiriah ini tidak menafikan atau menyepelekan sebab maknawiah.
Ketahuilah, sekuat apa pun satu negara di dunia ini niscaya akan hancur dengan azab Allah l ketika mereka tidak mau tunduk kepada-Nya. Kita mengetahui kekuatan kaum ‘Aad, Tsamud, dan lainnya. Akan tetapi, semua kekuatan itu tidak berarti ketika mereka durhaka kepada Allah l. Allah l berfirman:
ﭤ ﭥ ﭦ ﭧ ﭨ ﭩ ﭪ ﭫ ﭬ ﭭ ﭮ ﭯ ﭰ ﭱ ﭲ ﭳ ﭴ ﭵ ﭶ ﭷ ﭸ ﭹ ﭺ ﭻ ﭼ ﭽ ﭾ ﭿ ﮀ ﮁ ﮂ ﮃ ﮄ ﮅ ﮆ ﮇ ﮈ ﮉ ﮊ ﮋ ﮌ ﮍ ﮎ ﮏ ﮐ ﮑ
“Apakah kamu tidak memerhatikan bagaimana Rabbmu berbuat terhadap kaum ‘Ad? (Yaitu) penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi, yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu di negeri-negeri lain; dan kaum Tsamud yang memahat batu-batu besar di lembah; dan kaum Fir’aun yang mempunyai tentara yang banyak, yang berbuat sewenang-wenang dalam negeri, lalu mereka berbuat banyak kerusakan di dalam negeri itu. Oleh karena itu, Rabbmu menimpakan kepada mereka cemeti azab, sesungguhnya Rabbmu benar-benar mengawasi.” (al-Fajr: 6—14)

Mendatangi dan Memercayai Dukun
Musibah di atas musibah. Itulah yang pantas diucapkan terhadap orang yang malah semakin dekat dan percaya kepada dukun ketika tertimpa musibah. Ia memercayai ramalan-ramalan dan klenik para dukun, padahal Rasulullah n berkata:
مَنْ أَتَى عَرَّافًا أَوْ كَاهِنًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ
“Barang siapa mendatangi paranormal atau dukun, kemudian membenarkan apa yang diucapkannya, ia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad n.” (HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan lainnya, disahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahih at-Targhib wat Tarhib)

Mempersembahkan Sembelihan kepada Gunung
Sebagian orang terjatuh dalam kesyirikan ketika terkena musibah. Mereka mempercayai dukun yang penuh kemusyrikan. Akhirnya mereka mempersembahkan sembelihan kepada selain Allah l. Sebagian orang menyembelih hewan yang dipersembahkan untuk gunung yang dikhawatirkan meletus. Sebagian lagi mempersembahkannya untuk laut, sungai, dan tempat-tempat yang dianggap keramat.
Padahal Rasulullah n berkata:
لَعَنَ اللهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللهِ
“Allah l melaknat seorang yang menyembelih untuk selain Allah l.” (HR. Muslim) (Lihat Atsarul Ma’ashi fil Mujtama’)
Menyembelih untuk selain Allah l adalah satu bentuk kesyirikan kepada-Nya. Sembelihan adalah ibadah yang hanya boleh diperuntukkan untuk Allah l. Allah l berfirman:
ﮊ ﮋ ﮌ ﮍ
“Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu dan berkorbanlah!” (al-Kautsar: 2)

Melakukan Haul dan Istighatsah di Kuburan Para Kiai
Ketika terjadi musibah, mereka justru mendatangi kuburan-kuburan untuk melakukan perbuatan-perbuatan syirik dan bid’ah. Di antara kesyirikan dalam haul adalah meminta pertolongan dan perkara lainnya kepada penghuni kubur, dengan membawakan hadits palsu, “Barang siapa yang mendapatkan kesulitan dalam hidupnya hendaknya datang (meminta) kepada penghuni kubur.”
Kita mendengar bagaimana korban Merapi diajak untuk haul di kuburan kiai tertentu. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Mereka yang seharusnya diajak mendekatkan diri kepada Allah l, justru digiring untuk melakukan kesyirikan-kesyirikan dan kebid’ahan di acara-acara haul tersebut.

Menghujat & Mengambinghitamkan Pemerintah
Hal tersebut jelas tidak akan menyelesaikan masalah, justru menyelisihi salah satu prinsip Islam. Rasulullah n bersabda:
مَنْ أَهَانَ سُلْطَانَ اللهِ فِي الْأَرْضِ أَهَانَهُ اللهُ
“Barang siapa yang menghinakan penguasa Allah l di bumi, Allah akan menghinakannya.” (HR. at-Tirmidzi, disahihkan oleh al-Albani)
Ketahuilah, sebab dan tanggung jawab musibah tidak hanya dibebankan kepada penguasa. Seluruh komponen masyarakat ikut andil sebagai faktor penyebab sehingga harus bersama-sama mencari solusi. Allah l berfirman:
ﯽ ﯾ ﯿ ﰀ ﰁ ﰂ ﰃ ﰄ ﰅ ﰆ ﰇ
”Musibah apa pun yang menimpa kalian adalah karena perbuatan tangan-tangan kalian dan Allah memaafkan banyak kesalahan kalian.” (asy-Syura: 30)
Simaklah! Musibah adalah akibat perbuatan maksiat sebagian kita, baik sebagai pemerintah maupun rakyat.
Demikian juga, solusi untuk bisa keluar dari berbagai bencana juga merupakan tanggung jawab semuanya, pemerintah dan rakyatnya. Allah l berfirman:
ﭑ ﭒ ﭓ ﭔ ﭕ ﭖ ﭗ ﭘ ﭙ ﭚ ﭛ ﭜ ﭝ ﭞ ﭟ ﭠ ﭡ ﭢ ﭣ
”Seandainya penduduk satu negeri beriman dan bertakwa, niscaya akan kami bukakan bagi mereka berkah dari langit dan bumi tapi mereka mendustakannya. Kami pun menyiksa mereka karena perbuatan-perbuatan mereka.” (al-A’raf: 96)
Simaklah! Berkah berupa kebaikan dari Allah l akan datang ketika penduduk satu negeri, pemerintah dan rakyatnya, beriman dan bertakwa kepada Allah l dengan sebenar-benar takwa. Sangat tidak adil jika sebagian orang menyalahkan pemerintah dalam keadaan mereka sendiri tidak memperbaiki diri.
Ada tiga hal penting yang harus kita lakukan ketika menghadapi berbagai musibah.
1. Semakin mendekatkan diri kepada Allah l karena Allah l menjanjikan kebaikan yang banyak bagi mereka yang beriman dan bertakwa, sebagaimana dalam surat al-A’raf ayat 96 di atas.
2. Mempelajari ilmu agama, terutama dalam masalah akidah sehingga ketika mendapatkan kesenangan atau musibah, kita tidak terjatuh dalam penyimpangan akidah.
Allah l menjanjikan:
ﭬ ﭭ ﭮ ﭯ ﭰ ﭱ ﭲ ﭳ ﭴ ﭵ ﭶ ﭷ ﭸ ﭹ ﭺ ﭻ ﭼ ﭽ ﭾ ﭿ ﮀ ﮁ ﮂ ﮃ ﮄ ﮅﮆ ﮇ
“Allah berjanji kepada orang-orang beriman di antara kalian dan beramal saleh, Dia akan menjadikan mereka pemimpin di bumi, sebagaimana Allah l telah mengangkat orang-orang sebelum mereka. Kami akan kokohkan bagi mereka agama mereka yang telah diridhai bagi mereka dan akan Kami ganti rasa takut mereka dengan keamanan, mereka beribadah kepada-Ku.” (an-Nur: 55)
3. Melakukan perbaikan sarana dan prasana yang dibutuhkan disertai keyakinan bahwa yang terpenting adalah memperbaiki amal perbuatan kita.

Bimbingan Rasulullah n dalam Menghadapi Musibah
Ibnul Qayyim t menyebutkan beberapa hal yang akan mengobati panasnya musibah dan kesedihan. Di antara yang beliau sebutkan:
1. Sabar dan mengucapkan, “Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.”
2. Menelaah musibah yang menimpanya, bahwa Allah l mempersiapkan baginya sesuatu yang lebih baik dari itu.
3. Memadamkan api musibah dengan ber-uswah (meneladani) orang-orang saleh dahulu yang terkena musibah.
4. Mengetahui bahwa berkeluh kesah tidak akan menghilangkan musibah tetapi justru menambah musibah.
5. Hilangnya hikmah yang akan didapat dengan sebab tidak bersabar dalam musibah, yakni mendapatkan shalawat Allah l, rahmat, dan hidayah yang lebih besar dibandingkan musibah itu sendiri.
6. Dia hendaknya mengetahui bahwa berkeluh kesah akan membuat senang musuhnya, menyebabkan murka Rabbnya, membuat senang setan, menggugurkan pahalanya, dan melemahkan dirinya. Adapun jika dia bersabar dan ber-ihtisab (mengharap dan mencari pahala dengan musibah tersebut), dia akan mengalahkan dan mengusir setannya, menyebabkan keridhaan Rabbnya, membuat senang temannya, dan membuat jengkel musuhnya.
7. Sebesar apa pun keluh kesah dan kekesalannya, akhirnya dia tetap harus bersabar.
8. Obat yang paling bermanfaat adalah mencocoki apa yang dicintai dan diridhai Rabbnya.
9. Hendaknya meyakini bahwa yang menimpakan musibah kepadanya adalah Ahkamul Hakimin dan Arhamur Rahimin. Dia tidak hendak membinasakanmu atau menyiksamu tetapi hendak menguji kesabaran dan keimananmu.
10. Seandainya tidak ada musibah niscaya manusia akan ditimpa oleh kesombongan, keangkuhan, dan menjadi keras hati mereka. (Disadur dari Zadul Ma’ad)

Mewaspadai Makar Orang-Orang Kafir
Sebagai penutup, penulis ingin mengingatkan sebuah masalah yang tidak kalah penting, yaitu bahaya makar orang-orang kafir dalam menyesatkan kaum muslimin ketika terjadi musibah.
Musibah-musibah yang terjadi di berbagai penjuru negeri ini tidak luput dari perhatian orang-orang kafir untuk mempromosikan kekufuran mereka. Berbagai bantuan dan LSM bentukan mereka telah tersebar di berbagai lokasi bencana yang mengancam akidah kita.

Di antara makar misionaris untuk menyesatkan umat adalah membentuk LSM-LSM yang menjadi corong mereka, mengirim bantuan dan tenaga medis ke tempat tertentu untuk melancarkan misi mereka.
Pascatsunami Aceh contohnya. Kita mendengar ada satu lembaga Nasrani yang membawa anak-anak muslimin ke panti-panti asuhan mereka di Jakarta. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un!
Demikianlah, orang-orang kafir senantiasa mengintai dan melakukan berbagai kegiatan untuk memurtadkan muslimin. Ini adalah bukti firman Allah l:
“Mereka akan terus memerangi kalian hingga memurtadkan kalian dari agama kalian jika mereka mampu. Barang siapa yang murtad di antara kalian dari agamanya kemudian mati dalam keadaan kafir, maka mereka adalah orang-orang yang gugur amalan mereka di dunia dan akhirat. Mereka adalah penduduk neraka, dan mereka akan kekal di dalamnya” (al-Baqarah: 217)
Selain kebutuhan materi, saudara-saudara kita juga membutuhkan bantuan maknawi untuk mengokohkan hati mereka di atas Islam. Bantuan maknawi ini bisa dilakukan dengan memberikan pembekalan pengetahuan agama dan penjagaan dari para misionaris yang merongrong akidah mereka.
Mudah-mudahan Allah l memberikan keistiqamahan kepada kita semua dan membimbing orang-orang yang terkena musibah kepada amalan yang disyariatkan-Nya. Amin!