Bahaya Majalah Tidak Bermoral

(Sebuah Fatwa dari al-Lajnah ad-Daimah lil Buhuts al-Ilmiyah wal Ifta)

Di masa ini kaum muslimin ditimpa oleh ujian yang besar dan godaan syahwat mengepung mereka dari segala sisi, dalam keadaan banyak orang Islam jatuh ke dalamnya. Kemungkaran tampak di mana-mana. Manusia pun terang-terangan berbuat maksiat kepada Allah l tanpa rasa takut dan malu. Apakah gerangan yang menjadi penyebab semua itu? Ya, menganggap enteng agama Allah l, tidak mengagungkan batasan dan syariat-Nya, di samping karena kelalaian para mushlihin; orang-orang yang membuat perbaikan, dalam hal menegakkan syariat Allah l, lalai beramar ma’ruf dan nahi mungkar.
Sungguh, tidak ada jalan keluar bagi kaum muslimin dan mereka tidak akan selamat dari musibah dan fitnah ini selain dengan tobat yang benar kepada Allah l, mengagungkan perintah-perintah-Nya dan larangan-larangan-Nya, mengambil tangan orang-orang yang bodoh serta menuntun mereka kepada al-haq (kebenaran) dengan sungguh-sungguh.
Termasuk ujian paling besar yang tampak di masa kita ini adalah apa yang dilakukan oleh para pengusaha media yang rusak dan makelar yang rendah, para pecinta tersebarnya perbuatan keji di tengah kaum mukminin, yang menerbitkan majalah-majalah yang buruk, yang memerangi perintah dan larangan Allah l dan Rasul-Nya. Di antara lembaran majalah tersebut dimuat berbagai gambar telanjang, paras-paras yang membuat fitnah, yang membangkitkan syahwat orang yang memandangnya, dan yang mengajak kepada kerusakan.
Telah dipastikan dari hasil pemeriksaan dan penelitian yang dilakukan, majalah-majalah ini berisi beragam cara yang mengajak dan mempropagandakan kefasikan dan kefajiran, menggelorakan syahwat dan mengumbarnya dalam hal yang diharamkan oleh Allah l dan Rasul-Nya. Di antara isi majalah tersebut adalah:
1. Gambar-gambar yang menggoda syahwat, baik di sampulnya maupun di bagian dalamnya.
2. Para wanita yang ditampilkan dengan perhiasan lengkap yang pasti akan menggelorakan syahwat dan memerdaya lelaki hingga tergoda.
3. Ucapan-ucapan yang rendah dan gila-gilaan, kata-kata asmara gombal yang disusun dan bersajak, jauh dari rasa malu dan keutamaan, yang menghancurkan akhlak lagi merusak umat.
4. Kisah-kisah cinta yang hina, berita para selebritas, aktor dan aktris, para penari yang fasik, lelaki dan perempuan.
5. Ajakan yang terang-terangan kepada tabarruj (mempertontonkan perhiasan di hadapan lelaki bukan mahram) dan pamer wajah, ikhtilath (campur baur tanpa hijab/penghalang) antara lawan jenis dan mencampakkan hijab.
6. Menawarkan dan memamerkan “pakaian-pakaian yang menimbulkan godaan” kepada wanita mukminah. Pemakainya berpakaian, tetapi hakikatnya telanjang. Tujuannya, mendorong mereka untuk tampil telanjang, meniru para pelacur dan wanita tak bermoral.
7. Gambar lelaki dan perempuan yang berpelukan, berangkulan, dan berciuman.
8. Ucapan-ucapan yang menggelora dan dapat menyulut birahi terpendam dalam jiwa para pemuda dan pemudi. Ucapan tersebut akan mendorong mereka untuk menempuh jalan orang yang sesat dan menyimpang, serta jatuh dalam kekejian, dosa-dosa, mabuk asmara, dan cinta.
Betapa banyak pemuda dan pemudi yang terhasut oleh majalah ini. Mereka pun binasa karenanya dan keluar dari batasan fitrah serta agama.
Majalah-majalah ini berupaya mengubah banyak hukum syariat dalam pikiran kebanyakan orang. Demikian pula, ia berusaha mengubah asas fitrah yang bersih dengan ucapan dan lontaran yang disebarluaskannya.
Kini, banyak manusia menganggap nikmat perbuatan maksiat dan keji serta melampaui batasan-batasan Allah l karena perasaan mereka condong kepada majalah ini serta tertanamnya majalah tersebut dalam akal dan pikiran mereka.
Kesimpulannya, majalah-majalah ini intinya adalah eksploitasi tubuh/fisik wanita, yang dibantu oleh setan dan para makelar fitnah dengan seluruh cara yang memikat, untuk menyebarkan ibahiyah (paham serba boleh, manusia bebas tidak boleh diikat dengan aturan agama), terkoyaknya kehormatan, rusaknya para wanita mukminin, dan beralihnya masyarakat Islami menjadi gerombolan hewan ternak yang tidak tahu mana yang ma’ruf dan tidak mengingkari kemungkaran, tidak pula menegakkan syariat Allah l yang suci sebagai timbangan, tidak mau ambil peduli dengannya, sebagaimana halnya kebanyakan masyarakat manusia. Bahkan, sampai pada taraf sebagian orang mencari kenikmatan seksual dengan cara telanjang bulat dalam arena yang mereka namai klub/arena nudist. Kita berlindung kepada Allah l dari terbaliknya fitrah dan terjatuh dalam hal-hal yang diharamkan oleh Allah l dan Rasul-Nya.
Berdasarkan realitas yang ada pada majalah-majalah tersebut dan melihat pengaruh serta tujuannya yang buruk—di samping banyak keluhan yang datang ke al-Lajnah dari ulama yang memiliki ghirah (kecemburuan terhadap agama) dan para penuntut ilmu serta kebanyakan kaum muslimin tentang tersebarnya penawaran majalah-majalah seperti ini di kantor-kantor, toko-toko kelontong, dan pusat-pusat perbelanjaan—maka al-Lajnah ad-Daimah lil Buhuts al-Ilmiyah wal Ifta’ berpandangan sebagai berikut.
1. Haram hukumnya menerbitkan semisal majalah-majalah yang rendahan tersebut, baik majalah untuk umum maupun majalah khusus mode pakaian wanita.
Siapa yang melakukannya, ia akan beroleh bagian dari firman Allah l,
“Sesungguhnya orang-orang yang senang berita perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat.” (an-Nur: 19)

2. Haram hukumnya bekerja di majalah yang demikian, bagaimana pun bentuknya, baik bekerja di kantornya, penerbitannya, percetakannya, maupun bagian distribusinya, karena semua itu termasuk saling menolong dalam hal dosa, kebatilan, dan kerusakan.
Allah l berfirman,
“Dan janganlah kalian tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan.” (al-Maidah: 2)

3. Haram hukumnya mempromosikan majalah seperti ini dan melariskannya dengan cara apa pun karena hal itu termasuk perbuatan menunjukkan kepada kejelekan dan ajakan kepada keburukan.
Sementara itu, telah pasti sabda Nabi n,
مَنْ دَعَا إِلَى ضَلاَلَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الْإِثْمِ مِثْلِ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا
“Siapa yang mengajak kepada kesesatan maka dia akan menanggung dosa semisal dosa-dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sedikit pun.” (HR. Muslim dalam Shahihnya)

4. Haram hukumnya menjual majalah ini.
Penghasilan yang didapatkan dari usaha yang berhubungan dengan majalah ini adalah penghasilan yang haram. Siapa yang terkait dengannya, wajib bertobat kepada Allah l dan melepaskan diri dari penghasilan yang buruk tersebut.

5. Haram hukumnya seorang muslim membeli majalah tersebut dan menyimpannya karena di dalamnya terdapat fitnah dan kemungkaran.
Dengan membelinya, seseorang berarti ikut memperkuat pengaruh pemilik majalah itu, memperkaya mereka, serta menyemangati mereka untuk terus berproduksi dan mengedarkannya. Seorang muslim juga harus berhati-hati agar majalah tersebut tidak dilihat, dibaca, atau dimiliki oleh keluarganya, baik laki-laki maupun perempuan, dalam rangka menjaga mereka dari fitnah dan teperdaya dengan majalah tersebut. Hendaklah seorang muslim mengetahui bahwa ia adalah pemimpin/penanggung jawab dan akan dimintai pertanggungjawabannya tentang yang dipimpinnya kelak pada hari kiamat.

6. Seorang muslim wajib menundukkan pandangannya dari melihat majalah yang rusak seperti itu, dalam rangka taat kepada Allah l dan Rasul-Nya, agar terjauh dari fitnah dan tidak jatuh ke dalamnya.
Seorang muslim tidak boleh mengklaim bahwa dirinya tidak mungkin jatuh ke dalam dosa (tidak mungkin tergoda dengan majalah tersebut) karena Nabi n telah memberitakan bahwa setan berjalan dalam diri Bani Adam sebagaimana mengalirnya darah. Al-Imam Ahmad t berkata, “Betapa banyak pandangan yang melemparkan musibah ke dalam kalbu pemiliknya.”
Siapa yang terpaut dengan gambar-gambar dan selainnya yang terdapat di dalam majalah tersebut niscaya akan rusak kalbu dan hidupnya. Itu semua akan memalingkannya kepada urusan yang tidak memberi manfaat bagi dunia dan akhiratnya. Baik dan hidupnya kalbu terwujud hanya dengan bergantung kepada Allah l, beribadah kepada-Nya, dan bermunajat dengan-Nya, serta ikhlas untuk-Nya dan memenuhi kalbu dengan kecintaan kepada-Nya.

7. Pihak yang diberi kekuasaan oleh Allah l terhadap suatu negeri Islam (penguasa) wajib memberi nasihat kepada kaum muslimin, menjauhkan mereka dari kerusakan dan pelakunya.
Penguasa wajib menjauhkan mereka dari seluruh perkara yang bisa memudaratkan agama dan dunia mereka. Di antara upaya tersebut adalah melarang distribusi majalah yang rusak tersebut dan meredam kejelekan majalah tersebut terhadap mereka. Upaya seperti ini termasuk bentuk menolong Allah l dan agama-Nya, serta termasuk sebab keberuntungan, kesuksesan, dan berkuasanya (umat Islam) di bumi, sebagaimana firman Allah l,
“Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Mahakuat lagi Mahaperkasa, (yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, beramar ma’ruf nahi mungkar, dan hanya kepada Allahlah kembali segala urusan.” (al-Hajj: 40—41)
Demikianlah, segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Shalawat dan salam untuk Nabi kita, Muhammad, beserta keluarga, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya dengan kebaikan sampai hari kebangkitan.
(Ketua Lajnah: asy-Syaikh Abdul Aziz ibnu Abdillah Alusy Syaikh. Anggota: asy-Syaikh Abdullah ibn Ghudayyan dan asy-Syaikh Shalih al-Fauzan, diambil dari kitab Fatawa al-Lajnah ad-Daimah, 17/117—122, fatwa no. 21298)

Mahramkah Anak Pungut?

Secara tidak sengaja kami menemukan bayi perempuan yang baru saja dilahirkan (anak buangan). Kami mengasuh dan memelihara bayi tersebut. Sekarang usianya mencapai sekitar lima tahun. Akta kelahirannya memuat nama ayah dan ibu yang memungutnya. Anak itu sekarang tinggal bersama kami. Saya sendiri memiliki tiga saudara laki-laki. Kami harapkan kesediaan Anda memberikan penjelasan tentang cara mendidik anak tersebut dengan tarbiyah Islamiyah. Apakah saudara-saudara lelaki saya menjadi mahram baginya sehingga mereka tidak boleh menikahinya?
Jawab:
Anak pungut/anak angkat tidak boleh dinasabkan kepada orang yang mengasuhnya3. Ayah angkatnya bukan mahramnya, kecuali apabila si anak pernah menyusu kepada istri ayah angkatnya atau wanita-wanita yang haram dinikahi oleh ayah angkatnya secara nasab atau sebab lain yang mubah, seperti ibunya, saudara perempuannya, istri ayahnya (ibu tiri) dan semisalnya, dengan lima kali penyusuan atau lebih, pada usia (di bawah) dua tahun.
Tidak disangsikan bahwa perbuatan mengasuh anak pungut dan berbuat baik kepadanya akan mendapat pahala yang besar di sisi Allah l, apabila orang yang melakukannya benar niatnya. Akan tetapi, sekali lagi, orang yang memungutnya bukan mahram bagi si anak pungut, melainkan apabila terpenuhi syarat yang telah kami sebutkan.
(Fatwa no. 17455, Fatawa al-Lajnah ad-Daimah, 17/394—395)4

 

Catatan Kaki:

3 Misalnya, ayah yang memungutnya bernama Abdullah. Si anak tidak boleh disebut Fulanah bintu Abdullah karena Abdullah bukan ayah kandungnya. Seseorang hanya boleh bernasab kepada orang tua kandungnya, sebagaimana firman Allah l,
“Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan memakai nama ayah-ayah mereka, itulah yang lebih adil di sisi Allah. Jika kalian tidak mengetahui ayah-ayah mereka, maka panggillah mereka sebagai saudara-saudara kalian seagama dan maula-maula kalian.” (al-Ahzab: 5)
4 Ketua: Samahatusy Syaikh Abdul Aziz Ibnu Baz. Wakil ketua: asy-Syaikh Abdurrazzaq Afifi. Anggota: asy-Syaikh Abdullah bin Ghudayyan, asy-Syaikh Shalih al-Fauzan, asy-Syaikh Abdul Aziz Alusy Syaikh, asy-Syaikh Bakr Abu Zaid.

TIDUR BERSAMA IBU

Apakah anak laki-laki yang telah baligh boleh tidur bersama ibunya atau saudara perempuannya?
Jawab:
Anak-anak laki-laki yang telah baligh atau telah mencapai usia sepuluh tahun, tidak boleh lagi tidur bersama ibu atau saudara perempuan mereka di kamar tidur atau di kasur mereka. Hal ini demi menjaga kemaluan dan menjauhkan dari kobaran fitnah serta menutup celah yang mengantarkan kepada kejelekan.
Nabi n telah memerintah umatnya untuk memisah tempat tidur anak-anak mereka apabila usia mereka telah genap sepuluh tahun. Beliau n bersabda,
مُرُوا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِيْنَ وَاضْرِبُوْهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْر سِنِيْنَ وَفَرِّقُوْا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ
“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk mengerjakan shalat ketika usia mereka tujuh tahun, dan pukullah mereka bila enggan mengerjakannya pada usia sepuluh tahun. Dan pisahkanlah di antara mereka pada tempat tidurnya.”2
Dalam al-Qur’an, Allah l memerintahkan agar anak-anak yang belum baligh meminta izin ketika masuk rumah/kamar pada tiga waktu yang aurat biasanya tersingkap dan tampak. Allah l menekankan hal tersebut dengan menamakan tiga waktu itu adalah aurat.
Allah l berfirman,
“Wahai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak yang kalian miliki dan anak-anak yang belum baligh di antara kalian, meminta izin kepada kalian (bila hendak masuk ke tempat kalian) tiga kali (dalam satu hari), yaitu sebelum shalat subuh, ketika kalian menanggalkan pakaian luar kalian di tengah hari dan setelah shalat Isya. Itulah tiga aurat bagi kalian.” (an-Nur: 58)
Anak yang telah baligh diperintah oleh Allah l untuk meminta izin setiap akan masuk rumah/kamar. Allah l berfirman,
“Apabila anak-anak kalian telah sampai usia baligh, hendaklah mereka meminta izin (di setiap waktu ketika hendak masuk ke tempat kalian) seperti orang-orang yang sebelum mereka meminta izin.” (an-Nur: 59)
Semua itu dimaksudkan untuk mecegah gangguan/godaan, menjaga kehormatan, dan menutup celah yang mengantarkan kepada kejelekan.
Adapun anak laki-laki yang berusia di bawah sepuluh tahun masih boleh tidur bersama ibu atau saudara perempuannya di tempat tidurnya, karena adanya kebutuhan untuk menjaganya dan mencegah bahaya darinya bersamaan dengan aman dari fitnah. Ketika aman dari fitnah, mereka boleh tidur sama-sama di satu tempat/kamar walaupun sudah mencapai usia baligh, hanya saja masing-masing tidur di kasurnya sendiri. Wa billahi at-taufiq.
(Fatwa al-Lajnah ad-Daimah lil Buhuts al-Ilmiyyah wal Ifta. Ketua: Samahatusy Syaikh Abdul Aziz ibnu Baz. Wakil ketua: asy-Syaikh Abdurrazzaq Afifi. Anggota: asy-Syaikh Abdullah ibn Ghudayyan, asy-Syaikh Abdullah ibn Qu’ud, no. 1600, Fatawa al-Lajnah ad-Daimah, 17/408—409)

Catatan kaki:

2 HR. Abu Dawud no. 495, dinyatakan hasan dalam Shahih Sunan Abi Dawud.

MELEPAS PAKAIAN LUAR, DI SELAIN RUMAH SUAMI

Disebutkan dalam hadits, adanya larangan bagi wanita melepas pakaiannya di selain rumah suaminya. Apa maksudnya? Apakah boleh ia melepas pakaiannya di rumah keluarganya atau kerabatnya?

Jawab:
Hadits tersebut diriwayatkan oleh al-Imam Ahmad, Ibnu Majah, dan al-Hakim, dari Ummul Mukminin Aisyah x dengan lafadz,
أَيُّمَا امْرَأَةٍ وَضَعَتْ ثِيَابَهَا فِي غَيْرِ بَيْتِ زَوْجِهَا فَقَدْ هَتَكَتْ سِتْرَ مَا بَيْنَها وَ بَيْنَ اللهِ
“Wanita mana saja yang meletakkan (melepas) pakaiannya di selain rumah suaminya maka sungguh ia telah merobek penutup antara dia dan Allah.”1
Diriwayatkan juga oleh al-Imam Ahmad, ath-Thabarani, al-Hakim, dan al-Baihaqi dari Abu Umamah z dengan lafadz,
أَيُّمَا امْرَأَةٍ نَزَعَتْ ثِيَابَهَا فِي غَيْرِ بَيْتِها خَرَقَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَنْهَا سِتْرَهَ
“Wanita mana saja yang menanggalkan pakaiannya di selain rumahnya maka Allah l akan merobek darinya penutup-Nya.”
Yang dimaksud oleh Nabi n, wallahu a’lam, adalah melarang wanita dari sikap bermudah-mudah membuka/menyingkap pakaiannya di tempat yang bukan rumah suaminya sehingga terlihatlah auratnya. Apalagi jika maksudnya adalah untuk melakukan perbuatan yang keji dan semisalnya.
Adapun melepas pakaian di tempat yang aman, seperti rumah keluarganya dan rumah mahramnya, untuk mengganti pakaian tadi atau untuk tujuan lain yang mubah dan jauh dari gangguan/godaan, seperti berangin-angin dan semisalnya, maka tidak mengapa.

(Fatwa no. 10896, kitab Fatawa al-Lajnah ad-Daimah, 17/224—225, Ketua: Abdul Aziz ibn Abdillah ibn Baz. Wakil Ketua: Abdurrazzaq Afifi. Anggota: Abdullah bin Ghudayyan)

Catatan Kaki:

1 Apakah mungkin ada penutup yang menutupi si wanita dari pandangan Allah l? Menurut al-Imam Abul Hasan al-Hanafi t, yang lebih dikenal dengan sebutan al-Imam as-Sindi, dalam syarahnya terhadap hadits di atas pada kitab Sunan Ibnu Majah, bisa jadi yang dimaksudkan adalah rasa malu, karena Allah l malu  untuk mencabut sifat malu dari seorang hamba dan menghukumnya akibat dosa-dosanya. Jadi, rasa malu tersebut kedudukannya seperti hijab dan penutup antara si hamba dan Allah l dari dosa-dosa si hamba. Allah l tidak mendebatnya dalam hal dosa-dosanya tersebut, bahkan memaafkannya. Namun, apabila seorang wanita sengaja membuka pakaiannya padahal ia tidak berada di rumah suaminya, sama artinya ia merobek penutup berupa rasa malu tersebut. Wallahu a’lam.

Aturan yang Ingin Dilanggar

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu ‘Ishaq al-Atsariyah)

Allah l memerintah kita untuk menjaga kehormatan, keturunan, dan nasab. Karena misi itu, Islam yang Dia l turunkan dan ridhai sebagai agama para hamba memberikan aturan yang paling adil terhadap wanita dan hubungannya dengan lelaki. Apabila wanita tidak dijaga dan hubungan dengan lawan jenis tidak diatur, niscaya akan rusak masyarakat manusia. Karena rusaknya kehormatan, tercampurnya keturunan, dan tidak jelasnya nasab, sudah tentu terjadi kejahatan, kerusakan akhlak, dan kebobrokan moral.
Sebagai misal, kita bayangkan apa kiranya yang akan terjadi apabila wanita tidak diperintah untuk berhijab dan justru dibiarkan menampakkan auratnya di hadapan lelaki yang tidak halal melihatnya. Tentu akan marak pelecehan terhadap wanita, tindakan pemerkosaan, perzinaan, na’udzubillah. Ini sebagaimana yang kita ketahui di sekitar kita dan seperti yang telah terjadi di negara-negara yang mencampakkan hijab dan paling nyata lagi di negara-negara kafir.
Apabila aturan Islam tidak dijadikan pedoman untuk membatasi pergaulan pria dan wanita yang bukan mahram, niscaya khalwat (bersepi-sepi dengan lawan jenis), ikhtilath (campur baur tanpa hijab/penghalang antara pria dan wanita bukan mahram) bersentuhan dengan lawan jenis—minimalnya lewat jabat tangan—, hubungan di luar nikah dengan istilah pacaran atau pertunangan, dan semisalnya, tidak dianggap terlarang.
Hal-hal di atas akan menjadi sesuatu yang dianggap wajar oleh masyarakat yang tidak tahu, atau tidak mau tahu, atau berpaling dari aturan Islam. Tidak usah jauh-jauh melihat masyarakat negeri orang. Tengoklah masyarakat negeri kita sendiri yang merupakan negara berpenduduk muslim terbanyak dan Islam menjadi agama mayoritas anak negeri. Lihatlah pergaulan laki-laki dan perempuannya. Saksikan gaya hidup anak mudanya. Amat jauh dari rambu-rambu syariat. Akibatnya tentu tidak terbayang ngerinya. Terjadi perzinaan dan perselingkuhan yang menyebabkan kehancuran rumah tangga, hancurnya generasi baru, lahirnya anak-anak yang tidak diketahui siapa ayahnya sehingga tidak tahu nasabnya, rusaknya moral masyarakat, dan seterusnya. Wallahul musta’an, Allah l sajalah yang dimintai pertolongan-Nya.
Dalam Tanzil-Nya, Allah l telah memperingatkan,
“Janganlah kalian mendekati zina, karena zina itu adalah perbuatan keji (dosa yang besar) dan sejelek-jelek jalan.” (al-Isra: 32)
Menurut al-Hafizh Ibnu Katsir t, dalam ayat di atas, Allah l melarang para hamba-Nya berbuat zina, mendekati zina, dan bersentuhan langsung dengan sebab-sebab dan perkara-perkara yang mengajak kepada zina. (Tafsir Ibni Katsir, 5/56)
Dengan demikian, segala perbuatan yang dapat menjatuhkan pelakunya ke dalam zina dilarang oleh Allah l, baik khalwat, ikhtilath, berjabat tangan dengan lawan jenis yang bukan mahram, wanita bertabarruj (menampakkan keindahan dan perhiasannya di hadapan lelaki yang bukan mahram), maupun mengumbar pandangan untuk melihat lawan jenis yang sebenarnya tidak halal untuk dilihat, dan sebagainya.
Kembali kepada aturan Islam yang murni, adalah jalan keluar terbaik dan satu-satunya untuk memperbaiki kehidupan kita. Namun, karena setan tidak pernah berdiam diri dan tidak mau putus asa untuk mewujudkan tekadnya mengantarkan sebanyak-banyaknya anak manusia ke dalam neraka untuk menemaninya di sana, selalu saja ada anak buah suruhannya yang memusuhi aturan Islam. Mereka secara lantang memprotesnya, merendahkannya tanpa takut, dan mengajak manusia untuk mencampakkannya, baik mereka dari kalangan orang-orang kafir yang memang nyata sebagai musuh Allah l yang menunjukkan kebencian dan dendam kesumatnya, maupun orang yang mengaku beragama Islam tetapi sering risih dengan aturan yang dibawa Rasul umat Islam, Muhammad n.
Diembuskanlah omongan-omongan yang lahiriahnya semanis madu padahal batinnya adalah racun yang mematikan. Ucapan yang dianggap embusan angin surga padahal hakikatnya kobaran api yang membakar habis. Diselipkanlah syubhat-syubhat di tengah-tengah umat Islam guna membenarkan tindakan penyelisihan terhadap aturan syariat atau minimalnya agar kaum muslimin bersikap longgar dalam memegang aturan agamanya.
Terkait dengan wanita, diembuskanlah syubhat agar wanita tidak terlalu ketat dengan hijabnya, agar bebas berinteraksi dengan lelaki, kerja bersisian dengan mereka, serta tidak malu-malu berkumpul dan berbincang serta tertawa ria dengan lelaki yang bukan mahramnya. Bahkan, penebar syubhat ini membawakan dalil dari al-Qur’an ataupun as-Sunnah yang menurut mereka mendukung kemauan mereka dan meninggalkan dalil-dalil lain yang nyata-nyata menolak kemauan mereka tersebut.
Di antara syubhat mereka yang bisa kita bawakan di sini adalah sebagai berikut.
1. Tidak apa-apa seorang istri menemani suaminya untuk menemui tamu laki-laki.
Ia keluar menghidangkan teh dan lainnya untuk tamu-tamu tersebut, kemudian ikut duduk berbincang bersama mereka.
Dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan al-Imam al-Bukhari t dalam Shahihnya (no. 5182) dari Sahl ibn Sa’d z, ia berkata,
لَـمَّا عَرَّسَ أَبُوْ أُسَيْدٍ السَّاعِدِيُّ دَعَا النَّبِيَّ n وَأَصْحَابَهُ، فَمَا صَنَعَ لَهُمْ طَعَامًا وَلاَ قَرَّبَهُ إِلَيْهِمْ إِلاَّ امْرَأَتُهُ أُمُّ أُسَيْدٍ، بَلَّتْ تَمْرَاتٍ فِي تَوْرٍ مِنْ حِجَارَةٍ مِنَ اللَّيْلِ. فَلَمَّا فَرَغَ النَّبِيُّ n مِنَ الطَّعاَمِ أَمَاثَتْهُ لَهُ فَسَقَتْهُ تَتْحِفُهُ بِذلِكَ.
Ketika Abu Usaid z menyelenggarakan walimah pernikahannya, ia mengundang Nabi n dan para sahabat beliau. Tidak ada yang membuat makanan untuk tamu-tamu yang hadir dan menghidangkannya kepada mereka selain istrinya, Ummu Usaid1. Ia merendam beberapa butir kurma di dalam sebuah bejana yang terbuat dari batu pada malam hari (untuk dibuat minuman). Ketika Nabi n dan para sahabatnya selesai menyantap hidangan, Ummu Usaid mencampurkan minuman dari air kurma tersebut lalu secara khusus diberikan kepada Nabi n.
Dalam hadits berikutnya (no. 5183) disebutkan bahwa Abu Usaid z mengundang Nabi n untuk menghadiri pernikahannya. Ketika itu, yang melayani tamu-tamu undangan adalah pengantin wanita, istri Abu Usaid.
Al-Imam al-Bukhari t membawakan hadits di atas dalam bab yang beliau beri judul Qiyamul Mar’ah ‘alar Rajul fil ‘Arus wa Khidmatuhum bin Nafs. Artinya, bab tentang wanita mengurusi sendiri tamu-tamu lelaki dalam acara pernikahan dan melayani mereka (menghidangkan makan dan minumnya)2.
Ketika al-Imam Malik t ditanya tentang masalah ini, beliau membolehkannya, sebagaimana dalam al-Muwaththa’.
Hadits dalam Shahih Muslim ada yang menunjukkan kebolehan khalwat dengan wanita, menurut anggapan mereka. Berduaan dengan seorang lelaki saja boleh, apalagi kumpul rame-rame, dibarengi oleh suami pula.
Anas bin Malik z menceritakan, pernah ada seorang wanita berkata kepada Rasulullah n,
يَا رَسُوْلَ اللهِ، إِنَّ لِي إِلَيْكَ حَاجَةً. فَقَالَ: يَا أُمَّ فُلاَنٍ، انْظُرِيْ أَيَّ السِّكَكِ شِئْتِ، حَتَّى أَقْضِيَ لَكِ حَاجَتَكِ. فَخَلَا مَعَهَا فِي بَعْضِ الطُّرُقِ حَتَّى فَرَغَتْ مِنْ حَاجَتِهَا.
“Wahai Rasulullah, saya ada keperluan denganmu.” Rasulullah n pun bersabda, “Wahai Ummu Fulan, lihatlah di jalan mana yang Anda inginkan (untuk menyampaikan keperluan Anda) hingga saya bisa menunaikan keperluan tersebut.” Rasulullah n pun menyepi dengan wanita tersebut di suatu jalan hingga ia selesai dari keperluannya. (HR. Muslim no. 5998)

2. Seorang istri tidak terlarang sama sekali menyambut tamu laki-laki suaminya walaupun suaminya tidak ada.
Mereka berargumen hadits riwayat al-Imam Muslim t dalam Shahihnya (no. 5641), bahwasanya Rasulullah n bersabda,
لاَ يَدْخُلَنَّ رَجُلٌ بَعْدَ يَوْمِي هَذَا عَلَى مُغِيْبَةٍ إِلاَّ وَمَعَهُ رَجُلٌ أَوِ اثْنَانِ
“Sekali-kali tidak boleh setelah hariku ini seorang lelaki masuk menemui wanita yang sedang ditinggal pergi oleh suaminya3, kecuali jika bersamanya ada satu atau dua orang lelaki lagi4.”
3. Tidak ada larangan bagi wanita untuk bekerja di kantor yang di situ ada seorang pegawai lelaki atau lebih. Demikian pula hadir dalam majelis ilmu dan zikir yang ikhtilath bersama para lelaki, selama si wanita berhijab. Argumen yang dipakai ada beberapa perkara, di antaranya: para sahabiyat dahulu ikut serta berjihad dengan kaum muslimin dan Aisyah x memberikan pengajaran kepada para sahabat yang masih tersisa dan memberi fatwa kepada mereka.
Demikian di antara syubhat yang diembuskan di tengah-tengah kaum muslimin yang berusaha kaffah dalam hal beragama. Lalu, bagaimana menjawab syubhat-syubhat di atas?
Berikut ini kita nukilkan fatwa dari al-Lajnah ad-Daimah lil Buhuts al-Ilmiyyah wal Ifta’ yang membantahnya.
1. Apabila membahas hukum sebuah masalah Islami, seorang muslim wajib melihat dalil-dalil dari al-Kitab dan as-Sunnah yang berkaitan dengan masalah tersebut. Demikian pula dalil-dalil syar’i yang mengikutinya.
Ini adalah jalan yang paling lurus dan terbimbing untuk menepati al-haq. Saat membahasnya, seseorang tidak cukup hanya memandang satu sisi dari dalil yang ada tanpa melihat sisi yang lain. Apabila seperti ini, pandangannya kurang. Ia serupa dengan orang yang menyimpang dan pengikut hawa nafsu yang suka mengikuti nash-nash yang mutasyabih (yang menurut mereka bisa ditarik-tarik menuruti selera hawa nafsu mereka) demi mencari fitnah dan ingin menakwilnya (menafsirkannya dengan menyimpang/batil) sesuai dengan kemauan hawa nafsu mereka5.
Dalam masalah semisal ini, kita wajib melihat dalil-dalil al-Kitab dan as-Sunnah tentang:
• Wajibnya seorang wanita menutup auratnya6
• Haramnya pandangan mata yang khianat7
• Tujuan syariat memerintahkan menjaga kehormatan dan nasab/ keturunan, haramnya melanggar dan melampaui batasannya, haramnya segala sarana yang mengantarkan kepada hal-hal tersebut berupa:
– khalwat seorang wanita dengan lelaki yang bukan suaminya dan bukan mahramnya8.
– wanita membuka aurat dan wajahnya di hadapan lelaki bukan mahram.
– campur baur lelaki dan perempuan (ikhtilath) yang bisa mengundang tuduhan macam-macam.
– lelaki tidur satu selimut dengan lelaki lain, demikian pula wanita dengan wanita9.
Begitu pula hal-hal semisalnya yang terkadang berakhir dan berujung dengan dilakukannya kejahatan/dosa yang keji.
Apabila kita memandang seluruh hal yang disebutkan di atas, sudah menjadi kemestian bahwa apa yang disebutkan dalam hadits Sahl z tentang istri Abu Usaid z yang menyiapkan makanan minuman untuk tamu-tamu suaminya dan ia menghidangkan sendiri ke hadapan mereka, dibawa kepada pemahaman bahwa Ummu Usaid x saat itu dalam keadaan menutup auratnya, keadaannya aman dari gangguan/godaan, serta tidak terjadi khalwat dan ikhtilath. Ummu Usaid x sekadar membuat dan menyiapkan minuman untuk tamu-tamu suaminya tanpa ikut duduk-duduk bersama mereka, karena tidak ada dalam hadits yang menunjukkan Ummu Usaid duduk bersama tamu-tamu suaminya sebagaimana yang disebutkan dalam syubhat di atas.
2. Berdasarkan pernyataan dalam jawaban pertama, dikatakan juga dalam hadits,
لاَ يَدْخُلَنَّ رَجُلٌ بَعْدَ يَوْمِي هَذَا عَلَى مُغِيْبَةٍ إِلاَّ وَ مَعَهُ رَجُلٌ أَوِ اثْنَانِ
“Sekali-kali tidak boleh setelah hariku ini seorang lelaki masuk menemui wanita yang sedang ditinggal pergi suaminya, melainkan bersamanya ada seorang atau dua orang lelaki lain.”
bahwa hadits ini dibawa kepada pemahaman apabila memang terpaksa atau ada kebutuhan untuk masuk menemui wanita yang suami atau mahramnya sedang tidak berada di tempat; serta aman dari fitnah dan jauhnya mereka dari ingin berbuat yang keji. Dengan demikian, pembolehan tersebut tidak berlaku mutlak.
Apa yang disebutkan ini bukanlah penakwilan dalil dengan ra’yu/akal. Penjelasan ini justru dibangun di atas tujuan syar’i yang dipahami dari sekumpulan dalil yang menyebutkan tentang penjagaan kemaluan dan nasab, haramnya melanggar kehormatan, dan dilarangnya segala sarana yang menyampaikan ke arah sana.
Di antaranya adalah hadits yang disebutkan di sini, Nabi n mempersyaratkan bolehnya laki-laki masuk menemui wanita yang suaminya sedang tidak ada apabila ada orang lain bersamanya sehingga hilanglah khalwat yang dilarang, dalam rangka menjauhkan diri dari tuduhan berbuat yang tidak senonoh dan merealisasikan keadaan aman dari fitnah.

3. Secara syar’i tidak ada larangan bagi wanita untuk memberikan pengajaran, nasihat, dan fatwa (apabila memang dia ahlinya), tetapi dengan tetap memerhatikan hijab yang syar’i, aman dari gangguan, dan tidak ikhtilath, sebagaimana ketentuan ini ada pada Aisyah x, ummahatul mukminin yang lain, dan para sahabiyah selain mereka—semoga Allah l meridhai mereka semuanya.
Hal ini berdasarkan firman Allah l tentang ummahatul mukminin,
“Dan ingatlah10 apa yang dibacakan di rumah-rumah kalian dari ayat-ayat Allah dan hikmah (sunnah Nabi).” (al-Ahzab: 31)
Seorang wanita boleh keluar bersama mujahidin (orang-orang yang berjihad) untuk membantu mereka menyiapkan air minum, memberikan pertolongan kepada orang-orang yang terluka, merawat orang yang tertimpa musibah, dan semisalnya. Akan tetapi, mereka keluar disertai suami atau mahram mereka, demi mewujudkan kemaslahatan dan menjaga kehormatan mereka. Demikianlah yang terjadi di zaman Nabi n.
Berbeda halnya yang diperbuat negeri-negeri kafir. Para wanita mereka keluar menyertai pasukan yang diterjunkan ke medan tempur, tanpa ada suami dan tanpa mahram yang menemani mereka, dengan tujuan menjadi wanita-wanita penghibur pasukan atau menyebarkan perbuatan keji di tengah orang-orang yang diperangi. Mereka juga menjadikan para wanita sebagai tentara untuk keperluan itu atau untuk terjun langsung di medan tempur, padahal tidak ada kewajiban angkat senjata bagi wanita. Wa billahi at-taufiq11.
Terkait dengan hadits Sahl ibnu Sa’d z di atas yang dijadikan dalil untuk mendukung syubhat yang kekuatannya hanya seperti sarang laba-laba, al-Hafizh Ibnu Hajar t menyebutkan beberapa faedahnya. Berikut ini petikannya.
• Seorang istri dibolehkan melayani makan dan minum suaminya beserta orang-orang yang diundang suaminya, apabila aman dari gangguan/godaan dan memerhatikan pakaian penutup yang wajib dikenakan oleh seorang wanita ketika berhadapan dengan laki-laki yang bukan suami/mahramnya.
• Dalam acara pernikahan seperti itu, suami diperbolehkan menyuruh istrinya melayani/menyiapkan makan dan minum untuk tamu-tamu.
• Boleh meminum minuman yang tidak memabukkan dalam walimah12 (resepsi pernikahan) dan boleh mengutamakan pemuka suatu kaum dengan sajian khusus yang tidak diberikan kepada selainnya dalam acara tersebut. (Fathul Bari, 9/312)
Keterangan al-Hafizh di atas cukup jelas bagi kita bahwa apa yang dilakukan Ummu Usaid x dengan keluar melayani tamu-tamu laki-laki dikarenakan aman dari fitnah dan ia sendiri memakai hijab. Sehingga tidak bisa menjadi dalil untuk membenarkan perbuatan seorang wanita yang keluar ikut menemui tamu lelaki dan duduk-duduk berbincang dengannya, walau ada suaminya bersamanya.
Adapun hadits Anas bin Malik z tentang seorang wanita berbincang berduaan dengan Rasulullah n diterangkan oleh al-Imam an-Nawawi t sebagai berikut.
Rasulullah n berdiri bersama wanita itu di sebuah jalan yang biasa dilewati orang-orang guna memenuhi keperluan si wanita (karena beliau sebagai pemimpin umat). Rasulullah n memberi fatwa kepadanya dalam keadaan berdua saja. Namun, apa yang terjadi tersebut bukanlah khalwat dengan wanita ajnabiyah karena Rasulullah n berduaan dengan si wanita di jalan umum, tempat lalu lalang manusia. Mereka bisa melihat beliau dan melihat si wanita. Hanya saja mereka tidak bisa mendengar ucapan si wanita karena masalahnya tidak diperdengarkan oleh Rasulullah n kepada orang lain (urusan rahasia yang hanya diketahui oleh Rasulullah n). (al-Minhaj, 15/86)
Adapun hadits,
لاَ يَدْخُلَنَّ رَجُلٌ بَعْدَ يَوْمِي هَذَا عَلَى مُغِيْبَةٍ إِلاَّ وَ مَعَهُ رَجُلٌ أَوِ اثْنَانِ
“Sekali-kali tidak boleh setelah hariku ini seorang lelaki masuk menemui wanita yang sedang ditinggal pergi suaminya, kecuali bersamanya ada seorang atau dua orang lelaki lain.”

Yang tampak dari hadits ini, kata al-Imam an-Nawawi t, menunjukkan bolehnya dua atau tiga orang lelaki berkhalwat dengan seorang wanita. Namun, yang masyhur menurut ulama mazhab kami (yakni mazhab Syafi’iyah), khalwat yang seperti itu tetap haram. Adapun hadits di atas ditafsirkan bahwa hal itu dibolehkan hanya pada orang-orang yang amat jauh kemungkinannya terjatuh dalam perbuatan fahisyah/keji karena kesalehan mereka, muru’ah (penjagaan kewibawaan) mereka, atau hal lainnya. Al-Qadhi t mengisyaratkan semisal penafsiran ini. (al-Minhaj, 14/379)
Sebelum menutup pembicaraan ini, kita bawakan satu hadits yang mungkin dianggap mendukung syubhat mereka di atas tentang kebolehan istri menerima tamu suaminya saat suami tidak di rumah.
Abu Hurairah z, ia berkata bahwa suatu hari atau suatu malam, Rasulullah n keluar dari rumahnya. Ternyata di jalan beliau berjumpa dengan Abu Bakr ash-Shiddiq z dan Umar ibnul Khaththab z.
“Apa yang membuat kalian berdua keluar dari rumah kalian di waktu seperti ini?” tanya Rasulullah n kepada keduanya.
“Rasa lapar, wahai Rasulullah,” jawab keduanya.
Rasulullah n bersabda, “Aku, demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, juga dikeluarkan oleh rasa yang mengeluarkan kalian. Ayo kalian ikut aku!”
Mereka pun berjalan bersama beliau hingga mendatangi rumah seorang lelaki dari kalangan Anshar. Namun, ternyata ia sedang tidak berada di rumahnya. Tatkala istri orang Anshar itu melihat Rasulullah n, ia menegur dengan berkata, “Marhaban, ahlan.”
Rasulullah n bertanya kepada istri orang Anshar tersebut, “Di mana Fulan (menyebut nama si lelaki Anshar)?”
Istrinya menjawab, “Dia pergi mencari air tawar untuk kami.”
Tiba-tiba lelaki Anshar itu datang. Dia melihat keberadaan Rasulullah dan dua sahabatnya. “Alhamdulillah, tidak ada seorang pun pada hari beroleh tamu yang lebih mulia daripadaku,” ucapnya girang.
Dia lalu pergi mengambil jamuan, kemudian datang kembali dengan membawa setandan kurma. Pada tandan tersebut ada kurma yang masih muda, kurma yang basah (ruthab), dan kurma yang sudah kering (tamr).
“Silakan makan,” tuturnya. Setelahnya, ia mengambil pisau besar untuk menyembelih hewan. Melihat hal itu, Rasulullah n sempat berpesan, “Jangan engkau sembelih hewan yang masih menyusui anaknya.”
Lelaki Anshar itu lalu menyembelih seekor kambing untuk tamu-tamunya yang mulia. Mereka lalu makan dari hidangan yang diberikan. Selain itu, mereka juga makan dari setandan kurma dan meminum minuman. Ketika merasa kenyang dan puas merasakan minum, Rasulullah n mengingatkan kepada Abu Bakr dan Umar, “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, kalian sungguh-sungguh akan ditanya tentang kenikmatan ini pada hari kiamat. Rasa lapar mengeluarkan kalian dari rumah kalian. Kemudian kalian tidak kembali sampai kalian beroleh nikmat ini.” (HR. Muslim)
Ada beberapa faedah yang bisa dipetik dari hadits ini, kata al-Imam an-Nawawi t. Di antaranya, boleh mendengar ucapan wanita ajnabiyah dan menjawab/membalas ucapannya karena suatu kebutuhan. Boleh pula bagi seorang istri mengizinkan seseorang masuk ke rumah suaminya dengan ketentuan si istri yakin suaminya tidak membencinya. Hanya saja, si tamu tidak boleh berkhalwat dengan si istri dengan khawat yang diharamkan.
Keterangan al-Imam an-Nawawi t di atas cukuplah memberikan ketenangan kepada kita bahwa apa yang dimaukan oleh hadits tersebut tidaklah seperti yang mereka maukan. Hadits tersebut sama sekali tidak menyebutkan terjadinya khalwat yang diharamkan. Selain itu, pembolehan yang ada dalam hadits tersebut tidaklah berlaku mutlak, tetapi ada syarat dan ketentuannya seperti keterangan di atas.
Demikianlah sedikit penjelasan yang dapat diberikan kepada pihak yang mencoba menggugat aturan syariat dengan melemparkan syubhat di tengah-tengah umat yang berusaha berpegang dengan agama, terkait dengan masalah hubungan lelaki dan wanita yang bukan mahram.
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Catatan Kaki:

1 Kata al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani t, namanya Salamah bintu Wuhaib (Fathul Bari, 9/312).
2 Ini adalah fikih/pemahaman al-Imam al-Bukhari terhadap hadits tersebut. Artinya, beliau memandang bolehnya wanita melayani tamu-tamu suaminya. Masalah ini akan diterangkan kemudian, insya Allah.

3 Sama saja apakah suaminya sedang bepergian keluar kota atau hanya sekadar keluar rumah untuk sebuah keperluan. (al-Minhaj, 14/379)
4 Hadits ini berkaitan dengan kisah Asma’ bintu Umais x. Disebutkan oleh Abdullah ibnu ‘Amr ibnul Ash c bahwa ada beberapa orang lelaki dari Bani Hasyim masuk ke rumahnya Asma bintu Umais yang saat itu statusnya adalah istri Abu Bakr ash-Shiddiq z. Lalu masuk pula Abu Bakr ash-Shiddiq z. Abu Bakr
melihat mereka, ia pun tidak suka dengan masuknya mereka ke rumahnya dalam keadaan tadi ia tidak berada di rumah. Ia ceritakan hal tersebut kepada Rasulullah n dan mengatakan, “Aku sebenarnya tidak melihatnya selain kebaikan.”
Rasulullah n bersabda, “Sungguh Allah telah menyucikannya dari hal itu.”
Setelah itu, Rasulullah n naik ke atas mimbar dan mengatakan hadits di atas.
5 Allah l berfirman,
“Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah.” (Ali Imran: 7)
6 Allah l berfirman,

Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin, “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Hal itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal (sebagai perempuan baik-baik) hingga mereka tidak diganggu. (al-Ahzab: 59)
Jilbab adalah pakaian yang menutup dari atas kepala terus sampai ke kaki. Kalau hanya menutupi kepala sampai dada, namanya khimar atau kerudung dalam bahasa kita.
Allah l juga berfirman,
“Hendaklah mereka menutupkan khimar/kain kerudung ke dada mereka dan janganlah menampakkan perhiasan mereka selain kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka,atau wanita-wanita mereka, atau budak-budak laki-laki yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (syahwat terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita.” (an-Nur: 31)
7 Allah l berfirman,
Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, “Hendaklah mereka menahan sebagian pandangan mereka dan memelihara kemaluan mereka, hal itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (an-Nur: 30)
Dia Yang Mahasuci juga memperingatkan,
“Dia mengetahui mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh dada-dada.” (Ghafir: 19)
Mata yang khianat maksudnya mata yang mencuri pandang kepada sesuatu yang haram dilihat dalam keadaan si pelaku tidak ingin ada seorang pun mengetahui apa yang dilakukannya.
Ayat ini adalah ancaman dari Allah l bagi yang melakukannya.
8 Nabi n pernah memperingatkan tentang khalwat seorang wanita dengan kerabat laki-laki dari pihak suaminya (ipar dan semisalnya),
إِيَّاكُمْ وَالدُّخُوْلَ عَلَى النِّسَاءِ. فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ الْأَنْصَارِ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، أَفَرَأَيْتَ الْحَمْوَ؟ قَالَ: اَلْحَمْوُ الْمَوْتُ
“Hati-hati kalian dari masuk ke tempat para wanita.” Ada seseorang dari kalangan Anshar berkata, “Wahai Rasulullah, apa pendapatmu dengan hamwu/ipar?” “Al-Hamwu adalah maut,” jawab Nabi. (HR. al-Bukhari)
Ada pula hadits Rasulullah n yang berbunyi,
لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلاَّ مَعَ ذِيْ مَحْرَمٍ
“Janganlah sekali-kali seorang lelaki berkhalwat dengan seorang wanita kecuali bersama mahram si wanita.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

9 Abu Sa’id al-Khudri z mengabarkan bahwa Rasulullah n bersabda,
لاَ يَنْظُرُ الرَّجُلُ إِلَى عَوْرَةِ الرَّجُلِ وَلاَ الْمَرْأَةُ إِلَى عَوْرَةِ الْمَرْأَةِ، وَلاَ يُفْضِي الرَّجُلُ إِلَى الرَّجُلِ فِي ثَوْبٍ وَاحِدٍ، وَلاَ تُفْضِي الْمَرْأَةُ إِلَى الْمَرْأَةِ فِي الثَّوْبِ الْوَاحِدِ.
“Seorang laki-laki tidak boleh melihat aurat laki-laki yang lain. Demikian pula, seorang wanita tidak boleh melihat aurat wanita yang lain. Seorang lelaki tidak boleh berkumpul/bersentuhan langsung dengan lelaki lain dalam satu pakaian/kain. Demikian pula seorang wanita tidak boleh berkumpul/bersentuhan langsung dalam satu pakaian/kain dengan wanita lain.” (HR. Muslim no. 766)
Larangan satu pakaian/kain atau selimut ini apabila di antara keduanya tidak ada penghalang, misalnya keduanya berbaring dalam keadaan tidak berbusana di bawah satu selimut/kain. Demikian keterangan al-Imam an-Nawawi t dalam penjelasannya terhadap hadits di atas.
Beliau juga mengatakan haramnya menyentuh aurat orang lain di tempat mana saja dari tubuhnya. Ini adalah masalah yang disepakati.
Namun, pada praktiknya banyak orang bermudah-mudah dalam masalah ini. Di antara yang dianggap biasa adalah orang-orang berkumpul di tempat pemandian umum, seperti kolam renang yang ada sekarang, dengan saling melihat aurat dan bersentuhan satu dengan lainnya.

Pengharaman saling melihat aurat dan berkumpul tanpa penghalang di bawah satu kain/selimut ini berlaku bagi selain suami istri. Adapun suami istri dihalalkan saling melihat aurat pasangannya walaupun ada perselisihan pendapat dalam hal melihat kemaluan. (al-Minhaj, 3/253—254)
10 Mengingat untuk diri sendiri dan mengingatnya dengan menyampaikan/mengajarkannya kepada yang lain.
11 Fatwa no. 5082, kitab Fatawa al-Lajnah ad-Daimah lil Buhuts al-Ilmiyyah wal Ifta’, 17/81—85.
Ketua: Asy- Syaikh Ibnu Baz. Wakil: Asy-Syaikh Abdurrazzaq Afifi. Anggota: Asy-Syaikh Abdullah ibnu Qu’ud.
12 Kurma yang lama direndam bisa menjadi khamr, minuman yang memabukkan. Adapun Ummu Usaid merendam kurma tersebut dalam waktu yang singkat, sejak tengah malam dan diminum saat tengah hari sehingga belum berubah menjadi khamr. Apabila belum menjadi khamr berarti tidak memabukkan. (Fathul Bari, 9/313)

Habibah Bintu Sahl Al-Anshariyah

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu ‘Abdirrahman bintu ‘Imran)

Wanita yang beriman dan berbai’at kepada Rasulullah n bersama kaumnya di Madinah. Habibah bintu Sahl bin Tsa’labah bin al-Harits bin Zaid bin Tsa’labah bin Ghanm bin Malik bin an-Najjar al-Anshariyah x. Ibunya bernama ‘Amrah bintu Mas’ud bin Qais bin ‘Amr bin Zaid Manat dari Bani Malik bin an-Najjar.
Suatu ketika, tebersit dalam hati Rasulullah n untuk menikahi wanita mulia ini, namun urung.
“Aku ingat kecemburuan Anshar. Aku tidak ingin ada sesuatu antara aku dan mereka,” kata beliau.
Allah l telah menetapkan Habibah bintu Sahl x disunting oleh seorang sahabat yang mulia, Tsabit bin Qais bin Syammas bin Malik bin Imri’il Qais bin Malik bin Tsa’labah dari Bani al-Harits bin al-Khazraj z.
Tsabit adalah seorang yang berwatak keras, sedangkan Habibah adalah wanita yang masih sangat belia. Dalam perjalanan rumah tangganya, Tsabit bin Qais pernah memukul istrinya. Habibah tak sanggup menanggung kekerasan Tsabit. Hingga suatu saat, di kegelapan subuh dia keluar rumah. Dia berdiri di ambang pintu Rasulullah n, berniat mengadukan keadaan dirinya.
Saat Rasulullah n keluar, beliau melihat hitam-hitam bayangan orang dalam kegelapan.
“Siapa itu?” tanya beliau.
“Saya Habibah bintu Sahl!”
“Ada apa denganmu?” tanya beliau lagi.
“Tidak ada apa-apa lagi antara aku dan Tsabit!” ujar Habibah.
Ketika itu Tsabit mendatangi beliau pula. Beliau pun menanyakan perihal istrinya.
“Ini Habibah bintu Sahl,” kata beliau, “dia telah menceritakan kepadaku apa yang dikehendaki oleh Allah untuk dia ceritakan.”
Rasulullah n memberikan keputusan antara mereka berdua. “Ambillah kembali harta yang pernah kauberikan kepadanya dan lepaskanlah dia!” kata Rasulullah n kepada Tsabit.
“Wahai Rasulullah,” ujar Habibah, “semua harta yang pernah dia berikan masih ada padaku.”
Hati yang tunduk kepada Allah l dan Rasul-Nya. Tsabit bin Qais z menaati perintah Rasulullah n. Dia pun mengambil harta yang pernah dia berikan kepada Habibah bintu Sahl. Berpisahlah dua insan yang pernah terikat dalam pernikahan.
Habibah bintu Sahl kembali ke tengah keluarganya. Kisahnya menjadi sebuah catatan, khulu’ yang pertama kali terjadi dalam Islam.
Selepas itu, Habibah bintu Sahl menikah dengan Ubai bin Ka’b z.
Habibah bintu Sahl, semoga Allah l meridhainya….
Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.
Sumber Bacaan
al-Ishabah, al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani (8/81—82)
al-Isti’ab, al-Imam Ibnu ‘Abdil Barr (2/500)
ath-Thabaqatul Kubra, al-Imam Ibnu Sa’d (10/414—415)
Tahdzibul Kamal, al-Imam al-Mizzi (35/145—146)

Ketika Badai Menerpa

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu ‘Ishaq al-Atsariyah)

Kehidupan sepasang insan yang selalu berbahagia, tiada masalah, jauh dari perselisihan, tanpa pertengkaran, selalu seia-sekata, tanpa pernah saling menyakiti, yang ada hanya cinta yang tidak pernah layu dan kemesraan yang tidak pernah usang dimakan waktu, tentu hanya ada di surga. Adapun biduk rumah tangga di dunia, jangan pernah dibayangkan tidak akan berembus angin masalah atau diterpa badai problem.
Namun, ini tidak berarti kita tidak perlu menempuh perkara-perkara yang dapat mencegah timbulnya masalah. Kita percaya, setiap jalan yang dilalui memang ada penghalang dan rintangannya. Agar bisa melewatinya dengan selamat, tentu kita harus tahu bentuk penghalang tersebut.
Sebagian orang mengatakan, “Masalah rumah tangga ibarat garam kehidupan suami istri karena setelah masalah berlalu akan berganti dengan kedekatan dan cinta.” Persis seperti masakan, setelah digarami rasanya lebih enak.
Kalau kita anggap ucapan tersebut benar, garam itu tentu tidak melebihi kadarnya. Ibarat masakan kalau tanpa garam tidak enak, namun sebaliknya apabila kelebihan garam rasanya pun tidak karuan. Apabila problem dalam sebuah rumah tangga sampai berlebihan niscaya akan muncul kebencian, yang setelahnya dapat mengantarkan kepada kebinasaan.
Namun, hendaknya ucapan di atas tidak sampai mendorong kita untuk membuat-buat perselisihan yang justru akan mengeruhkan kebersamaan kita dengan pasangan hidup. Bisa jadi, problem adalah bumbu atau garam dalam berumah tangga bagi orang yang mendapatkan hasil yang baik setelah hilangnya problem tersebut. Adapun bagi yang menuai akibat buruk atau kehancuran keluarga, tentu tidak tergambar di pikiran kita bahwa dia akan menganggap manis masalah yang pernah lewat dalam kehidupannya.
Seorang yang berakal adalah yang berupaya semampunya menjauhi hal-hal yang dapat memicu timbulnya masalah. Tentu tidak yang lebih bodoh daripada orang yang mampu meraih faktor-faktor kebahagiaan dalam hidupnya, namun ia meninggalkannya dan justru mencari-cari jalan kesengsaraan lalu ditempuhnya.
Seorang istri hendaklah pandai bercermin diri, jangan sampai ia menjadi sebab kesengsaraan dan pemicu masalah dalam rumah tangganya. Hendaknya ia berusaha “sesuai” dengan suaminya, tidak menyelisihinya.
Hindari menjadi istri yang sifatnya seperti yang digambarkan oleh seorang badui ketika ditanya, “Sebutkan pada kami sifat wanita yang paling jelek.”
Ia menjawab, “Tubuhnya kurus tidak berdaging. Lisannya seakan-akan tombak. Ia menangis tanpa sebab. Ia tertawa pun bukan karena sesuatu yang patut ditertawakan. Ucapannya adalah ancaman. Suaranya keras. Ia mengubur kebaikan dan justru menyebarkan kejelekan… Jika suaminya masuk, ia keluar. Apabila suaminya keluar, ia masuk. Jika suaminya tertawa, ia malah menangis. Jika suaminya menangis, ia justru tertawa….”
Istri yang baik adalah istri yang melakukan apa yang disukai oleh suaminya dan menjauhi hal-hal yang dibencinya. Hal-hal semacam ini harus dijaga oleh seorang istri dan ia tidak butuh berulang-ulang diingatkan oleh suaminya di setiap waktu.
Di sisi lain, ada suami yang menjadi sumber masalah. Ada istri yang diselimuti ketakutan hidup bersama suami yang tidak dikenalinya selain dengan teriakannya. Si suami tidak bergaul dengannya melainkan dengan liar dan buas. Ia menjadikan ketenangan dan ketenteraman yang harusnya terwujud dalam pernikahan menjadi keinginan untuk lari melepaskan diri. Apabila si suami datang, ia tidak merasakan gembira karenanya. Apabila suami pergi, istri dan anak-anaknya sampai berharap ia tidak kembali. Rasanya tidak ada sesal apabila berpisah dengannya, sebagaimana sirna rasa bahagianya apabila bertemu dengannya.
Yang lebih menjadi musibah, suami tega menghina, memukul, dan menyiksa istrinya, padahal seorang istri salehah lebih mahal nilainya daripada sebuah permata yang paling mahal sekalipun. Bisa jadi, di sekitar kita tidak hanya satu atau dua orang istri yang bernasib seperti ini. Ibaratnya, istri ini hidup dengan makhluk liar dalam jasad seorang insan yang telah tercabut rahmah (kasih sayang) dari hati mereka. Terhadap orang lain, mereka punya perasaan, tetapi tidak terhadap istri dan anak-anak mereka.
Seorang wanita pernah menulis surat untuk meminta nasihat terkait dengan problemnya bersama suaminya. Kita bawakan di sini agar bisa diambil ibrahnya. Si wanita berkata, “Sebenarnya saya tidak tahu dari mana saya harus memulai dan bagaimana cara memulainya. Sementara itu, hati saya bercucuran dengan kesedihan, dan tubuh saya mengeluh kesakitan….”
Ia melanjutkan, “Saya hidup dalam keadaan seperti ini dengan seseorang yang seharusnya menjadi orang yang paling dekat dengan saya. Bukankah seorang istri menjadi tempat ketenangan bagi suaminya? Suami juga menjadi ketenangan bagi istrinya?1
Kesedihan saya hidup bersama suami telah saya rasakan sejak masa awal pernikahan kami, bahkan sejak malam pertama. Ia menanamkan rasa sakit dan rasa takut dalam jiwa saya. Saya berusaha memupus rasa tersebut dengan belajar mencintai dan memahaminya. Akan tetapi, yang saya dapati adalah wajah yang senantiasa masam, pergaulan kaku yang dikuatkan dengan pelecehan dan penghinaan. Demikianlah bekal harian saya.
Saya sendiri belum berusia tua, usia saya baru 22 tahun, sedangkan suami saya 30 tahun. Tadinya, saya menyangka kematangan berpikir dan akal yang kuat akan menyertai tindak tanduknya. Ternyata, saya diperlakukannya seperti pekerja, atau lebih tepatnya budak. Saya harus menunaikan seluruh kewajiban saya yang dimulai dengan memakaikan baju dan sepatunya. Hal ini tidak berakhir dengan menyiapkan hidangan yang dimakannya sendiri. Rasa tinggi hati dan gengsi sebagai lelaki atau seorang yang jantan menghalanginya untuk makan bersama saya dalam satu meja hidangan. Hal itu terjadi, baik sebelum saya punya anak maupun setelahnya. Saya dan anak-anak tidak berani menyentuh makanan sebelum ia makan. Ini satu sisi. Adapun sisi lain amat banyak.
Sering kali ia pulang tengah malam, namun sama sekali saya tidak berani bertanya, mengapa ia baru pulang selarut itu? Tidak pula saya berani menanyakan, di mana ia menghabiskan malamnya (begadang)? Bersama siapa? Saya juga tidak berani bertanya tentang bau tidak sedap yang kudapatkan darinya seperti bau minuman yang tidak halal. Yang wajib saya lakukan hanyalah melepas sepatu dan pakaiannya, menyiapkan makanannya, dan berdiri di dekatnya sampai ia selesai menyantap makanannya. Yang wajib saya lakukan adalah bangun dini hari untuk membangunkannya. Ia pun bangun setelah memaki dan mencerca saya, bahkan terkadang meludahi wajah saya.
Saya tidak berlebih-lebihan dalam keluhan saya ini. Kelemahan saya dalam bertutur dan rasa malu menahan saya untuk banyak bicara. Saya, alhamdulilah, seorang wanita yang bagus lahiriahnya, bersih, dan bermartabat. Akan tetapi, semua itu tidak menghalanginya untuk melemparkan kata-kata yang menyakitkan saya di setiap kesempatan. Setiap kali saya berusaha menjawab atau meminta agar ia menceraikan saya, saya tidak dapatkan selain tamparan dan tendangan. Yang dijadikan pembenaran terhadap perbuatannya adalah harga diri seorang lelaki dan kejantanan, bukan pergaulan dan muamalah yang baik.
Bayangkan, ia tidak pernah bermain-main dan bersenda gurau dengan anak-anaknya, tiga putri yang cantik. Terkadang ia mencela saya dengan keberadaan tiga putri tersebut dengan mengatakan, “Mereka (tiga putri itu) tidak bisa menyamai kuku satu anak laki-laki.”
Putri-putri kami patah hati dan selalu dalam kesedihan, walaupun saya telah berupaya mengasuh mereka dengan sebaik-baiknya dan meringankan beban yang mereka rasakan. Saya dan putri-putri saya memang hidup dalam ketakutan. Seluruh aktivitas di dalam rumah tidak pernah dilakukan dengan tenang dan lembut, bahkan selalu dengan kekerasan. Setiap kali ia menginginkan sesuatu, ia tidak pernah memanggil saya. Yang dilakukannya adalah melempari saya dengan sesuatu yang ada di dekatnya hingga saya bangkit memenuhi apa yang diinginkannya, membanting pintu dengan keras, atau bertepuk tangan seakan-akan saya seorang pembantu. Setiap kali ia datang ke rumah membawa teman-temannya, saya harus selalu siap berdiri dekat pintu guna memenuhi permintaannya.
Adapun ‘hak saya sebagai istri’, saya tidak pernah menuntutnya. Sementara itu, dia mengambil haknya dan berlalu, membiarkan saya hanya berhadapan dengan tembok. Terkadang anak-anak berteriak, namun ia tidak menaruh perhatian dan tidak punya perasaan. Saya mencoba menyimpan masalah ini dalam hati saya dan bersabar menanggungnya, semoga ia mau berubah. Akan tetapi, ternyata tidak ada faedahnya.
Bisa jadi, Anda bertanya, mengapa saya tidak meminta perlindungan kepada keluarga saya atau menuntut cerai darinya? Saya jawab, hal itu sudah terjadi berulang-ulang. Keluarga saya selalu meminta saya untuk kembali kepadanya. Terkadang, dia sendiri yang datang selang beberapa waktu, lalu mengajak bicara keluarga saya, tanpa mengajak bicara diri saya. Akhirnya, ayah saya memerintahkan saya pulang bersama suami saya, sedangkan saya tidak sanggup berbicara sepatah kata pun karena segan dan hormat kepada beliau.
Demikianlah hidup saya yang dipenuhi teror dan ketakutan di dalam rumah saya sendiri yang seharusnya menjadi tempat yang aman bagi saya, bersama seorang suami yang seharusnya memberikan rasa aman untuk saya dan anak-anak saya. Sungguh, saya hidup dalam sebuah penjara yang saya tidak sanggup keluar darinya. Apabila saya harus merinci penderitaan saya, mungkin akan membutuhkan berlembar kertas. Saya tulis kisah ini dengan harapan semoga dia membacanya atau para wanita yang mungkin bernasib hampir sama seperti saya membacanya, hingga mereka bisa mengukur sejauh mana kesusahan saya dengan kesusahan mereka2.”
Apa yang bisa kita komentari dari pengaduan atau kisah wanita di atas? Tidak lain kita katakan bahwa rasa kasih sayang memang telah tercabut dari hati sebagian manusia, tidak ada lagi belas kasih dalam dadanya. Sebagian orang bergaul dengan pasangannya seakan-akan hubungan pernikahan adalah sebuah serikat dagang yang suatu hari akan berakhir dengan keuntungan atau kerugian di pihaknya. Akibatnya, dia berusaha meraup keuntungan untuk dirinya. Padahal, tinjauan seperti ini justru menjadi jalan yang mengantarkan banyak orang ke arah kehancuran.
Masalah paling buruk yang bisa menghantam kehidupan berkeluarga adalah sikap kaku, tidak ambil peduli, dan masa bodoh. Apabila semua ini berlanjut, akan mengantarkan kepada hilangnya keutuhan keluarga, tercerai-berainya kebersamaan, dan padamnya cahaya cinta. Pasangan yang cerdas adalah yang berusaha mengubah kejenuhan yang mungkin muncul dalam kebersamaan yang telah dijalin dan mengupayakan kembalinya cinta ke dalam rumahnya. Sungguh, canda tawa dan kelembutan di antara suami istri berperan besar melipatgandakan kebahagiaan dalam rumah tangga. Perhatikanlah hadits berikut ini.
Aisyah x memberitakan,
كُنْتُ أَشْرَبُ وَأَنَا حَائِضٌ ثُمَّ أُنَاوِلُهُ النَّبِيَّ n فَيَضَعُ فَاهُ عَلَى مَوْضِعِ فِيَّ فَيَشْرَب، وَأَتَعَرَّقُ الْعَرقَ وَأَنَا حَائِضٌ ثُمَّ أُنَاوِلُهُ النَّبِيَّ n فَيَضَعُ فَاهُ عَلَى مَوْضِعِ فِيَّ
“Aku pernah minum dari sebuah gelas ketika aku sedang haid. Kemudian kuberikan gelas tersebut kepada Nabi n. Beliau lalu meletakkan mulutnya di bekas tempat mulutku dan beliau minum darinya. Pernah pula di saat haid, saya menggigit daging yang menempel pada tulang, kemudian kuberikan kepada Nabi n, lalu beliau meletakkan mulutnya di bekas tempat mulutku.” (HR. Muslim)
Rasulullah n pernah meletakkan kepala beliau yang mulia di pangkuan Aisyah x, dalam keadaan Aisyah haid, lalu beliau membaca al-Qur’an. (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Ummu Salamah x, salah seorang istri Rasulullah n menceritakan,
بَيْنَا أَنَا مَعَ النَّبِيِّ n مُضْطَجِعَةً فِي خَمِيْصَةٍ إِذْ حِضْتُ فَانْسَلَلْتُ فَأَخَذْتُ ثِيَابَ حَيْضَتِي، قَالَ: أَنُفِسْتِ؟ قُلْتُ: نَعَمْ. فَدَعَانِي فَاضْطَجَعْتُ مَعَهُ فِي الْخَمِيْلَةِ
Tatkala aku sedang berbaring bersama Nabi n dalam satu kain/selimut, tiba-tiba aku haid. Aku pun diam-diam meninggalkan tempat tidur, lalu memakai pakaian haidku. Nabi yang menyadari hal tersebut bertanya, “Apakah kamu haid?” “Ya,” jawabku. Beliau lalu memanggilku untuk mendekat, kemudian aku kembali berbaring bersama beliau dalam satu selimut. (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Kira-kira, cinta apa lagi setelah cinta yang ditunjukkan oleh Rasul n yang mulia ini? Kasih sayang apa lagi setelah kasih sayang ini?
Aisyah x bertutur tentang kasih dan cinta itu. Berikut ini kisahnya.
Rasulullah n memanggilku tatkala orang-orang Habasyah sedang bermain-main dengan tombak pendek mereka pada hari Id. Beliau berkata kepadaku, “Wahai Humaira, apakah kamu ingin melihat permainan mereka?”
“Ya,” jawabku.
Beliau pun memberdirikan aku di belakang beliau lalu menundukkan kedua pundak beliau untukku agar aku bisa melihat permainan orang-orang Habasyah tersebut. Aku pun meletakkan daguku di atas pundak beliau dan menyandarkan wajahku ke pipi beliau. Aku melihat permainan mereka dari atas kedua pundak beliau. Beliau berkata, “Wahai Aisyah, kamu belum puas melihat permainan mereka?”
“Belum,” jawabku.
Dalam satu riwayat: Hingga ketika saya telah bosan, beliau berkata, “Cukup?”
“Iya,” jawabku.
“Kalau begitu pergilah,” kata beliau.
Aisyah x mengabarkan, “Sebenarnya aku tidaklah senang melihat permainan mereka. Hanya saja, aku ingin agar tersampaikan kepada para wanita tentang keberadaan beliau terhadapku dan kedudukanku di sisi beliau dalam keadaan aku wanita yang masih muda. Jadi, kalian hargailah kedudukan seorang wanita yang masih muda usia dan masih senang dengan permainan3.” (HR. al-Bukhari, Muslim dan an-Nasa’i dalam ‘Isyratun Nisa’ no. 65)
Sejak awal kita mengakui bahwa tidak ada rumah tangga yang lepas sama sekali dari permasalahan atau problem, namun tentunya harus diketahui bagaimana penyelesaian problem tersebut sehingga berujung dengan kebaikan. Tidak benar anggapan sebagian orang bahwa satu-satunya jalan keluar dari permasalahan rumah tangga adalah mengurai ikatan pernikahan dengan talak (cerai).
Di antara hal yang bisa membantu menyelesaikan perselisihan suami istri adalah kelembutan, tidak tergesa-gesa mengambil keputusan, dan berhias dengan kesabaran. Kelembutan dan ketenangan adalah kunci bagi segala kebaikan dan pemimpin dari segala keutamaan. Rasulullah n bersabda,
إِنَّ الرِِّفْقَ لاَ يَكُوْنُ فِي شَيْءٍ إِلاَّ زَانَهُ وَلاَ يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلاَّ شَانَهُ
“Tidaklah kelembutan ada pada sesuatu melainkan dia akan menghiasi sesuatu tersebut. Dan tidaklah dicabut kelembutan dari sesuatu melainkan akan memperburuknya.” (HR. Muslim)
Dengan demikian, kelembutan dan tidak terburu-buru mengambil keputusan adalah sesuatu yang dituntut dalam seluruh urusan kehidupan. Dengannya, seseorang bisa mengumpulkan pikirannya yang tercerai-berai, menghadirkan akalnya, serta tidak melangkah dan bertindak serampangan yang akan menghancurkan kehidupannya dalam waktu yang terbilang singkat.
Renungkan kisah di bawah ini untuk kita ambil pelajaran darinya.
Seorang istri sepakat dengan suaminya untuk bercerai. Si suami berkata, “Rumah ini menjadi milikmu karena engkau tidak memiliki ayah dan ibu lagi. Saudara-saudara lelakimu sudah berkeluarga, dan engkau akan beroleh kesulitan hidup bersama mereka. Karena itu, rumah ini untukmu saja. Aku nanti akan tinggal bersama saudara laki-lakiku.”
Si istri menjawab, “Tidak. Rumah ini tetap milikmu karena engkau yang banyak berkorban untuk membangunnya. Aku sendiri akan mencoba menyesuaikan diri dengan istri saudara lelakiku agar bisa tinggal bersamanya.”
Si suami menanggapi, “Kalau begitu, kamu ambil saja perabotan dalam rumah ini.”
“Tidak, engkau lebih membutuhkannya daripada diriku. Rumah saudara lelakiku lengkap perabotannya. Semuanya ada,” jawab si istri.
“Kalau demikian, terimalah dariku sejumlah uang ini,” kata si suami.
“Jangan, aku kan punya penghasilan. Aku tidak butuh materi, engkau lebih membutuhkannya daripadaku,” jawab si istri.
Tatkala si istri sedang menyiapkan tasnya untuk meninggalkan rumah yang sekian lama menaungi keduanya, tiba-tiba si suami berseru dengan penuh sesal dan bertanya kepada si istri, “Kalau begitu, mengapa kita harus bercerai?! Karena tidak ada kecocokan? Karena aku tidak bisa memahamimu dan engkau tidak bisa memahamiku? Ucapan apa ini?! Tidakkah cukup bagi sepasang suami istri bahwa masing-masing bersemangat memberikan kebaikan bagi yang lain? Apakah di antara keduanya disyaratkan harus ada cinta yang membara atau kesesuaian yang sempurna? Apakah sebagian perselisihan kita berarti harus memutuskan hubungan kita? Bagaimana kita harus putus, padahal masing-masing merasa nikmat apabila bisa menghormati dan menghargai serikat hidupnya serta mengutamakannya daripada dirinya sendiri?! Bukankah saling menghormati lebih penting daripada cinta yang membara?”
Si istri diam tidak bersuara.
Akhirnya, tidak terjadi perceraian. Sampai saat ini keduanya masih tetap menjadi sepasang suami istri.
Kisah di atas hendak menjelaskan sejauh mana sikap tidak terburu-buru, tenang, dan berhati-hati/tidak gegabah dalam bertindak adalah sebab tetap langgengnya ikatan pernikahan di antara suami istri. Kisah ini menggambarkan bahwa masing-masing pihak memiliki pikiran dan perasaan yang jauh tentang pasangannya. Tatkala salah satunya membuka hatinya untuk pasangannya, pasangannya pun memenuhi hatinya. Hilanglah penghalang yang tadinya ada di antara dia dan pasangannya. Ternyata, didapatinya pasangannya sangat dekat dengannya.
Maka dari itu, marilah kita saling bertanya, adakah kita telah mengambil cara-cara seperti ini sebagai pegangan dalam kehidupan berkeluarga: sikap tidak terburu-buru dan gegabah ketika terjadi masalah, membuka hati, dan melapangkan dada untuk menyelesaikan masalah? Seandainya hal ini kita lakukan, niscaya akan terselesaikan banyak masalah. Setelah itu, ditutupi dengan kedekatan dan kebahagiaan.
Yang penting dicamkan saat terjadi masalah di antara suami istri adalah melihat sisi-sisi kebaikan dari pasangan, tidak semata-mata melihat kesalahan. Akan tetapi, lihatlah berapa banyak kebaikan yang melekat pada dirinya. Ada suami yang berkata, “Istriku punya kekurangan pada sebagian sisi. Aku pandang hal itu sebagai sisi keburukannya. Akan tetapi, pada dirinya ada kebaikan yang banyak. Ia lembut hatinya, punya kasih sayang terhadap ayahku dan anak-anakku, dermawan suka memberi. Karena itu, aku bergaul dengannya dari sisi kebaikannya, bukan dengan melihat sisi buruknya. Karena itulah, kehidupanku berjalan di atas apa yang diinginkan.”
Apabila hal seperti ini diterapkan dalam kehidupan suami istri, niscaya ketenangan bisa terwujud. Lebih-lebih lagi, memang harus disadari bahwa jarang sekali seorang hamba bisa menikmati kehidupan yang sempurna tanpa dihampiri oleh kekurangan sedikit pun.
Dalam menjalani kebersamaan hidup dengan pasangan, seorang istri harus lebih banyak bersabar dan lapang dada menghadapi suami. Lelaki sebagai suami harus bergelut dengan kehidupan di luar rumah yang ia temui. Bisa jadi, banyak hal yang mengeruhkan hatinya. Bisa jadi, hal itu tampak pada wajahnya saat ia kembali ke dalam rumahnya. Apabila seorang istri tidak menghadapinya dengan pikiran jernih, tenang, lapang, dan memaklumi, niscaya akan rusak kehidupan.
Tidaklah pantas seorang istri tertawa di hadapan suaminya dalam keadaan si suami sedang marah. Sebagaimana tidak pantas pula saat suaminya marah, seorang istri meninggalkan begitu saja tanpa ambil peduli dengan kemarahannya. Sungguh, sikap seperti ini justru akan menambah kemarahannya. Berapa banyak wanita yang bisa menempati ruang-ruang hati suaminya dengan sebab pandai menampakkan cintanya kepada si suami dan membuatnya ridha. Nabi n yang mulia pernah bersabda,
أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِنِسَائِكُمْ فِي الْجَنَّةِ؟ كُلُّ وَدُوْدٍ وَلُوْدٍ، إِذَا غَضِبَتْ أَوْ أُسِيْءَ إِلَيْهَا أَوْ غَضِبَ زَوْجُهَا، قَالَتْ: هَذِهِ يَدِيْ فِي يَدِكَ، لاَ أَكْتَحِلُ بِغَمْضٍ حَتَّى تَرْضَى
Maukah saya beritakan kepada kalian tentang istri-istri kalian di surga? Yaitu (wanita) yang penuh cinta lagi banyak anaknya (subur rahimnya). Apabila ia marah atau diperbuat keburukan kepadanya, atau suaminya marah, ia berkata, “Ini tanganku berada di tanganmu. Aku tidak bisa memejamkan mataku hingga kamu ridha.” (HR. ath-Thabarani dalam al-Ausath dan ash-Shaghir. Lihat ash-Shahihah hadits no. 3380)
Abud Darda z, seorang sahabat Rasul yang mulia, pernah berkata kepada istrinya, Ummud Darda x,
“Apabila engkau melihatku marah, buatlah aku ridha. Apabila aku melihatmu marah, aku pun akan membuatmu ridha. Jika tidak demikian, kita tidak bisa berteman.
Maafkanlah aku, niscaya cintaku kepadamu akan kekal.
Janganlah engkau berbicara menyelaku di saat aku sedang marah.
Jangan pula engkau banyak mengeluh karena keluhan akan menghilangkan kekuatan dan hatiku akan menolakmu padahal hati itu memang dibolak-balikkan.
Aku memandang, apabila cinta di dalam hati menyatu dengan perbuatan yang menyakiti, niscaya tak berapa lama cinta akan pergi.”
(Disusun kembali dengan beberapa perubahan dari tulisan asy-Syaikh Salim al-‘Ajmi hafizhahullah yang dimuat di Muntadayat al-Ukht as-Salafiyyah dengan judul Walyasa’ki Baituki min Ajli Hayah Zaujiyah Hani’ah disertai tambahan dari sumber/rujukan yang lain)

Hukum Memanfaatkan Alkohol

Bagaimana hukum memakai alkohol 70% untuk membersihkan darah yang keluar saat berbekam? (Ummu Mu’awiyah)
Apakah ada alkohol tetapi halal? Ada buku yang membahas bahwa dalam buah-buahan ada alkohol dan guna kepentingan medis. Mohon dibahas!
(08xxxxxxx)

Dijawab oleh al-Ustadz Muhammad as-Sarbini
Terdapat perbedaan ijtihad di antara ulama-ulama besar abad ini dalam masalah ini.

1. Pendapat yang membolehkan
Ibnu ‘Utsaimin berfatwa dalam Majmu’ al-Fatawa wa ar-Rasa’il (11/256—257), “Pemanfaatan alkohol untuk membersihkan luka tidak mengapa, karena adanya tuntutan hajat (keperluan) untuk itu. Ada yang mengatakan bahwa alkohol menghilangkan akal tanpa efek memabukkan. Jika hal ini benar, berarti alkohol bukan khamr. Jika hal itu tidak benar dan alkohol memabukkan, berarti alkohol adalah khamr. Khamr haram diminum berdasarkan nash (al-Qur’an dan as-Sunnah) dan ijma’.
Adapun pemanfaatannya selain meminumnya, hal itu perlu ditinjau. Kita melihat firman Allah l,
“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya khamr, judi, patung-patung yang disembah, dan azlam1 hanyalah rijs (najis), merupakan amalan setan. Maka dari itu, jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kalian mendapat keberuntungan.” (al-Ma’idah: 90)
Jika kita meninjau ayat ini, kita akan mengatakan bahwa pemanfaatannya selain meminumnya adalah haram berdasarkan keumuman makna,
“Maka dari itu, jauhilah perbuatan-perbuatan itu!”
Kita melihat firman Allah l pada ayat setelahnya,
“Sesungguhnya setan itu bermaksud menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kalian lantaran (meminum) khamr dan berjudi, serta menghalangi kalian dari mengingat Allah dan shalat. Maka dari itu, berhentilah kalian (dari mengerjakan hal itu).” (al-Ma’idah: 91)
Jika kita meninjau ayat ini, kita akan mengatakan bahwa pemanfaatannya selain meminumnya boleh, karena faktor dilarangnya minum khamr tidak terealisasi pada pemanfaatan khamr dalam bentuk selain meminumnya.
Kami berpendapat bahwa yang lebih hati-hati adalah tidak menggunakannya pada parfum (minyak wangi).
Adapun pemanfaatannya untuk membersihkan luka dari kuman, hal itu tidak mengapa, karena adanya tuntutan hajat akan hal itu dan tidak adanya dalil yang jelas-jelas melarangnya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t dalam kitab Majmu’ al-Fatawa (24/270) mengatakan, ‘Berobat dengan makan lemak babi tidak boleh. Adapun berobat dengan cara mengoleskannya (obat luar)kemudian membersihkannya setelah itu, hal tersebut berdasarkan boleh tidaknya bersentuhan dengan benda najis di luar shalat dan masalah ini diperselisihkan. Yang benar, boleh jika ada tuntutan hajat. Sesuatu yang dibolehkan karena hajat, boleh berobat dengannya.’
Syaikhul Islam t membedakan antara memakan najis dan pemanfaatannya dengan selain itu. Kalau begitu, alkohol yang bukan najis lebih boleh lagi. Sebab, jika ternyata alkohol bukan khamr, tampak jelas sucinya. Jika ternyata alkohol adalah khamr, yang benar khamr tidak najis.”2

2. Pendapat yang mengharamkan
Al-Lajnah ad-Da’imah yang diketuai oleh asy-Syaikh Ibnu Baz t dalam Fatawa al-Lajnah (22/106) berfatwa, “Sesuatu yang banyaknya memabukkan jika diminum adalah khamr, sedikitnya atau banyaknya sama saja. Tidak ada bedanya dinamakan alkohol atau dinamakan dengan nama lain. Khamr wajib dibuang dan haram disimpan untuk difungsikan sebagai zat pembersih kotoran, zat pembasmi kuman (desinfektan), bahan bakar, pembuatan parfum, untuk diproses menjadi cuka, atau fungsi-fungsi lainnya. Adapun sesuatu yang banyaknya tidak memabukkan bukanlah khamr, boleh dimanfaatkan untuk pembuatan parfum, pengobatan, pembersihan luka dari kuman, dan semisalnya.”
Al-Lajnah ad-Da’imah juga berfatwa dalam Fatawa al-Lajnah (22/91—92), “Khamr tidak sama hukumnya dengan air comberan/selokan yang ternajisi yang boleh disimpan dan dimanfaatkan apa adanya atau dimanfaatkan setelah disaring dan dipisahkan dari zat-zat yang menajisinya. Sebab, khamr wajib dibuang karena efek memabukkan yang dikandungnya, bukan karena kenajisannya.
Hal itu berdasarkan perintah Rasulullah n untuk menumpahkannya/membuangnya ketika turunnya dua ayat yang mengharamkan khamr. Khamr haram untuk dimanfaatkan apa adanya, atau direkayasa dengan proses pengalihan dari khamr menjadi cuka, atau dengan mengurai unsur-unsurnya dan memisahnya dari unsur alkohol.3
Begitu pula, haram mencampur khamr dengan zat lainnya yang ingin dimanfaatkan. Semua itu berdasarkan larangan Nabi n terhadap proses pengalihan khamr menjadi cuka demi menutup jalan yang akan mengantar kepada pemanfaatan khamr serta demi menutup jalan yang bisa ditempuh dalam upaya memprosesnya kembali menjadi khamr dan memanfaatkannya.
Berbeda halnya dengan air yang ternajisi. Sesungguhnya, aibnya terletak pada keternajisannya semata. Oleh karena itu, air tersebut boleh dimanfaatkan apa adanya untuk mengairi/menyirami tanaman kebun/sawah, pepohonan, dan lainnya. Demikian pula, air tersebut boleh disaring dan dibebaskan dari zat-zat yang menajisinya agar unsur-unsurnya bisa dimanfaatkan untuk memupuk tanah, menyiraminya, air minum, atau manfaat lainnya.

Khamr tidak sama dengan air kencing dalam hal kenajisan zatnya. Khamr lebih dari itu, karena khamr yang disimpan dikhawatirkan akan diminum. Adapun air kencing yang disimpan tidak dikhawatirkan demikian, sehingga boleh disimpan untuk dimanfaatkan memupuk tanaman.”
Alhasil, dalam hal pemanfaatan alkohol untuk medis (pembersihan luka), kami memandang bahwa fatwa al-Lajnah ad-Da’imah lebih hati-hati. Jadi, hati-hatinya adalah secara pribadi menghindari menyimpan, membawa, dan memanfaatkan alkohol dalam bentuk apa pun, termasuk untuk keperluan medis (pembersihan luka). Wallahu a’lam.
Adapun jika alkohol telah tercampur dengan zat lain yang suci, hal itu seperti fatwa al-Lajnah ad-Da’imah pada Fatawa al-Lajnah (22/92), “Telah lewat pada jawaban sebelumnya bahwa khamr tidak boleh disimpan, dipisahkan, dan diurai menjadi unsur-unsurnya, serta dicampur dengan zat lain untuk dimanfaatkan. Namun, apabila pemilik khamr melanggar hukum tersebut dan mencampurnya dengan cat atau zat-zat lainnya yang hendak dimanfaatkan:
• Jika efek alkohol tampak pada warna zat yang dicampurinya, rasa, atau baunya, haram memanfaatkannya untuk mengecat masjid dan selainnya serta wajib dibuang.
• Jika efek alkohol tidak tampak pada zat yang dicampurinya, boleh dimanfaatkan. Namun, yang lebih hati-hati adalah meninggalkannya.”
Demikianlah hukum obat, parfum, dan lainnya yang beredar yang mengandung alkohol dengan persentase atau kadar tertentu.
Lebih lengkapnya simak penjelasan ulama-ulama lainnya pada jawaban “Problema Anda” yang berjudul Hukum Alkohol Dalam Obat dan Parfum edisi 19.

Catatan Kaki:

1 Azlam adalah tiga batang anak panah yang tidak berbulu, tertulis pada salah satunya “Lakukan”, yang kedua “Jangan lakukan”, dan yang ketiga kosong tanpa tulisan. Digunakan untuk mengundi nasib, berbuat sesuai dengan anak panah yang terambil. -pen.

2 Ada khilaf di kalangan ulama tentang kenajisan khamr (alkohol). Yang rajih menurut kami, khamr (alkohol) adalah substansi yang suci. Lihat jawaban kami yang khusus mengulas masalah ini pada “Problema Anda” dengan judul Najiskah Alkohol edisi 20. -pen.
3 Alkohol adalah inti dari khamr. -pen.

Ash Shamad

(ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc.)

Ash-Shamad adalah salah satu nama Allah l yang sangat agung. Kita akan mengetahui keagungan nama ini apabila kita mengetahui penjelasan para ulama tentang nama tersebut.
Asma Allah ash-Shamad terdapat dalam al-Qur’an, hanya dalam surat al-Ikhlas. Firman-Nya,
Katakanlah, “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Dzat yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.”
Dalam sebuah hadits, Nabi n pernah bersabda,
قَالَ اللهُ كَذَّبَنِي ابْنُ آدَمَ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ ذَلِكَ، وَشَتَمَنِى وَلَمْ يَكُنْ لَهُ ذَلِكَ، فَأَمَّا تَكْذِيبُهُ إِيَّايَ فَقَوْلُهُ: لَنْ يُعِيدَنِي كَمَا بَدَأَنِي؛ وَلَيْسَ أَوَّلُ الْخَلْقِ بِأَهْوَنَ عَلَيَّ مِنْ إِعَادَتِهِ، وَأَمَّا شَتْمُهُ إِيَّاىَ فَقَوْلُهُ: اتَّخَذَ اللهُ وَلَدًا، وَأَنَا الْأَحَدُ الصَّمَدُ، لَمْ أَلِدْ وَلَمْ أُولَدْ، وَلَمْ يَكُنْ لِي كُفْأً أَحَدٌ
Allah berfirman, “Anak Adam telah berdusta terhadapku, padahal tidak boleh baginya berbuat seperti itu. Ia juga mencerca-Ku, padahal tidak boleh baginya berbuat seperti itu. Adapun kedustaannya terhadap Aku adalah ucapannya, ‘Allah tidak akan menghidupkan aku kembali seperti saat Dia mengawali kehidupanku,’ padahal awal penciptaan tidaklah lebih mudah daripada membangkitkannya kembali. Adapun cercaannya terhadap-Ku adalah ucapannya, ‘Allah telah menjadikan putra bagi diri-Nya,’ padahal Akulah yang Maha Esa, tempat bergantungnya para makhluk, Aku tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan Aku tidak memiliki tandingan sesuatu pun.” (HR. al-Bukhari dari sahabat Abu Hurairah z)

Penjelasan Ulama tentang Makna ash-Shamad
Ibnu Abbas c mengatakan, “Ash-Shamad adalah Dzat yang menuju (atau bergantung) kepada-Nya segala kebutuhan dan permohonan seluruh makhluk.”
Beliau c juga menjelaskan, ash-Shamad adalah Yang Mahasempurna keunggulan-Nya, Yang Mahamulia yang sempurna kemuliaan-Nya, Yang Mahaagung yang sempurna keagungan-Nya, Yang Maha Penyantun yang sempurna kesantunan-Nya, Yang Maha Berilmu yang sempurna keilmuan-Nya, Yang Mahabijaksana yang sempurna kebijaksanaan-Nya. Dialah yang Mahasempurna dalam segala kemuliaan dan keunggulan-Nya. Dialah Allah yang Mahasuci. Inilah sifat-sifat-Nya. Sifat ini tidak pantas selain bagi-Nya, tiada tandingan bagi-Nya, tiada sesuatu pun yang seperti-Nya. Mahasuci Allah yang Maha Esa dan Maha Mengalahkan.
Ada beberapa penafsiran yang lain dari para ulama. Penafsiran tersebut dinukil dalam Tafsir ath-Thabari dan Tafsir Ibnu Katsir, di antaranya:
1. Yang Mahaunggul dan mencapai puncak keunggulan.
2. Yang Mahakekal setelah makhluk-Nya.
3. Yang tidak keluar dari-Nya sesuatu pun dan tidak makan.
4. Yang tidak memiliki rongga.
5. Yang tidak memakan makanan dan tidak meminum minuman.

Ath-Thabarani t mengatakan, “Semua penafsiran ini adalah benar. Itu semua adalah sifat Rabb kita k. Dialah yang dituju dalam segala kebutuhan. Dialah yang telah mencapai puncak keunggulan-Nya, yang tidak berongga, tidak makan, dan tidak minum. Dialah yang kekal setelah makhluk-Nya.”
Kalimat yang semakna dikatakan pula oleh al-Baihaqi t dan disetujui oleh Ibnu Katsir t.
As-Sa’di t juga menjelaskan, “Ash-Shamad adalah Rabb Yang Mahasempurna yang Mahaunggul dan Mahaagung. Tiada sebuah sifat kesempurnaan pun melainkan Dia memiliki sifat tersebut dalam bentuk yang paling tinggi karena sempurnanya. Maka dari itu, para makhluk-Nya tidak dapat meliputi atau menjangkau sifat-sifat tersebut dengan kalbu mereka walaupun sebagiannya saja. Lisan mereka pun tidak dapat mengungkapkannya. Dialah yang menjadi tujuan segala kebutuhan.
“Semua yang ada di langit dan bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan.” (ar-Rahman: 29)
Dialah yang Mahakaya dengan sendirinya, sedangkan seluruh makhluk membutuhkan-Nya, baik dalam hal adanya mereka, proses terwujudnya, maupun bantuan bagi mereka dengan segala sesuatu yang mereka butuhkan. Tidak ada seorang pun yang tidak membutuhkan-Nya, walaupun dalam perkara yang seberat semut kecil, dalam setiap keadaan. Seluruh makhluk membutuhkan-Nya karena Dia memiliki segala kesempurnaan yang mutlak dalam Dzat-Nya, sifat-Nya, nama-nama-Nya, dan perbuatan-Nya….” (Tafsir al-Asma` al-Husna)
Dengan demikian, apabila diringkas, makna ash-Shamad adalah Yang Mahasempurna dalam segala sifat-Nya, yang semua makhluk-Nya membutuhkan-Nya sehingga semua makhluk-Nya menuju dan bergantung kepada-Nya. (Kutub wa Rasail Ibn Utsaimin)

Buah Mengimani Nama Allah ash-Shamad
Dengan mengimani nama tersebut, kita semakin mengetahui kebesaran Allah l. Dia benar-benar berhak untuk diibadahi dan Dialah satu-satu-Nya yang berhak diibadahi.
Adapun seluruh sesembahan selain-Nya tidak memiliki sedikit pun dari apa yang dimiliki oleh Allah l. Lantas, atas dasar apa mereka disembah?

Pelajaran Penting untuk Para Hartawan (Bagian 2)

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Harits Abrar Thalib)

Setelah menerangkan jawaban Qarun kepada orang-orang yang menasihatinya, Allahlmenjelaskan bahwa pemberian-Nya itu bukanlah tanda baiknya keadaan orang yang menerima. Bahkan, Allahlberfirman,
“Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta?”
sehingga tidak ada halangan untuk menghancurkan Qarun, padahal sudah menjadi sunnatullah bahwa Dia telah membinasakan orang-orang yang lebih kuat dan lebih banyak mengumpulkan harta daripada Qarun.
Allahlmelanjutkan,
“Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka.”
Allahlmenyiksa mereka sesuai dengan apa yang Dialketahui tentang mereka. Mereka yang dibinasakan itu, meskipun menyatakan baiknya keadaan mereka, bahkan memastikan keselamatan mereka, tidak diterima pengakuan mereka. Bahkan, semua itu tidak dapat menyelamatkan mereka dari azab Allah l.
Akan tetapi, Qarun tidak mau berhenti. Ia justru terus-menerus dalam pembangkangan dan kejahatannya. Dia tenggelam dalam rasa bangga dan sikap takabur dengan hartanya yang berlimpah.
Tidak cukup sampai di situ, pada suatu hari dia pun keluar dengan membawa semua perhiasan dan kekayaan serta kemegahannya. Dia keluar membawa seluruh budaknya, yang masing-masing lengkap dengan pakaian dan perhiasan yang gemerlap, laki-laki dan perempuan.
Kunci-kunci gudang hartanya yang demikian banyak, dipikul oleh beberapa orang laki-laki yang kekar.
Dengan angkuh, Qarun berjalan diiringi para pengikutnya. Ratusan mata terbelalak melihat kemegahan Qarun, mulut mereka berdecak kagum.
Allahlberfirman,
“Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia,” yaitu orang-orang yang puncak harapan dan cita-cita mereka adalah kehidupan dunia semata, tidak ada lagi yang lain selain itu,
“Kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun,” yaitu dunia berikut perhiasan dan kesenangannya.
“Sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar.”
Hal itu karena cara pandang dan cita-cita serta pengetahuan mereka hanya sebatas dunia, sama sekali tidak ada keinginan lain selain dunia dan perhiasannya.
Itulah bukti kedangkalan ilmu mereka, karena maklumat yang mereka ketahui, yaitu dunia dan semua kesenangannya adalah sesuatu yang rendah. Tidaklah semua ini dinamakan dunia melainkan karena kerendahannya, karena ad-dunya (ﭺ) dalam bahasa Arab berarti yang rendah.
Orang-orang yang lemah iman seperti ini selalu berharap mereka sama seperti Qarun atau yang semodel Qarun dalam hal kekayaan. Lebih parah lagi, mereka menganggap itulah salah satu hakikat keberuntungan di sisi Allah l. Menurut sangkaan mereka, keberuntungan yang dirasakan oleh Qarun itu tidak lain karena dia sudah beruntung di sisi Allah l, yakni diridhai-Nya.
Melihat keadaan orang-orang yang lemah iman dan akalnya ini, beberapa orang ulama di kalangan Bani Israil kembali menyampaikan nasihat mereka. Allah l berfirman,
Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu, “Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, serta tidak diperoleh pahala itu, melainkan oleh orang-orang yang sabar.”
Orang-orang yang berilmu ini mengingatkan saudara-saudara mereka agar mengharapkan apa yang ada di sisi Allah l, merasa mulia dengan pahala-Nya. Bahkan, pahala yang disegerakan, berupa kenikmatan beribadah kepada Allah l, senantiasa kembali kepada-Nya, demikian pula pahala yang disediakan di akhirat, jauh lebih baik daripada yang mereka mimpikan, yaitu dunia dan kesenangannya. Akan tetapi, tidak semua yang mengerti mana yang lebih baik mau mendahulukannya dari sesuatu yang lebih rendah. Semua itu hanya dapat dilaksanakan oleh orang-orang yang mendapat taufik, yaitu orang-orang yang sabar. Sabar di atas ketaatan kepada Allah l, sabar (menahan diri) dari kemaksiatan, dan sabar menghadapi takdir yang menyakitkan.
Setelah kejahatan dan sikap melampaui batas Qarun sampai pada puncaknya, bahkan nasihat dan peringatan tidak lagi berguna, dunia pun semakin indah berhias untuknya, rasa bangga semakin membuatnya besar kepala, datanglah azab Allah l menimpanya.

Allah l berfirman,
“Maka Kami benamkanlah Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golongan pun yang menolongnya dari azab Allah. Dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya).”
Inilah balasan yang setimpal baginya. Ketika dia mengangkat dirinya di atas orang lain tanpa alasan yang haq, Allah l merendahkannya serendah-rendahnya. Bahkan, beserta semua yang menjadi sarana kebanggaan dan kesombongannya, yaitu harta dan pengikutnya.
Tidak ada pelayan, kelompok, atau golongan yang menolong dan membelanya ketika azab itu menimpanya. Dia sendiri pun tidak mampu membela dan menyelamatkan dirinya. (insya Allah bersambung)