Surat Pembaca edisi 32

Ana Marlina Susanti dari STEI TAZKIA Bogor. Ana mau nanya, kalau ana mau ngirim artikel ke majalah Asy-Syariah caranya bagaimana? Terus syaratnya apa aja? Terima kasih.

Marlina Susanti

[email protected]

 

Redaksi minta maaf kepada seluruh pembaca yang mengirim pertanyaan serupa. Sekali lagi, dengan pertimbangan misi ilmiah yang kami emban, redaksi hanya menerima artikel untuk rubrik Info Praktis dan Surat Pembaca. Itu pun, dalam beberapa edisi terakhir tidak bisa tampil karena lebih memprioritaskan artikel-artikel utama. Di meja redaksi sendiri telah menumpuk artikel-artikel Info Praktis yang masuk dalam ‘daftar tunggu’. Jadi kami harap pembaca bisa memakluminya. Jazakumullahu khairan.

 

Minta Penjelasan

Pada edisi 31 pada hal. 57 kolom kanan paragraf ke-2, ana menemukan kalimat: … mencukur kumis sampai habis adalah perbuatan mencincang…dst. Ana merasa kalimat tersebut sangat janggal. Mohon penjelasan dari redaksi.

Ahmad

0815786xxxxx

 

Memang nampaknya dalam teks yang tertulis kurang sebuah kata yang menjelaskan maksudnya. Seharusnya ‘mencincang rambut’. Kami menggunakan istilah demikian karena dalam sebagian riwayat hadits -walaupun dari sisi sanadnya ada kelemahan- ada istilah مُثْلَةُ الشَّعْرِ (mutslah terhadap rambut). Istilah ini ada kesamaan dengan mutslah bil hayawan (mutslah terhadap hewan) atau mutslah bil qatil (mutslah terhadap mayat), yang berarti mencincang hewan atau mayat. Sehingga mutslah terhadap rambut kami terjemahkan dengan ‘mencincang rambut’.

Jawaban dari surat pembaca ini sekaligus merupakan koreksi. Jazakumullah khairan.

 

Salafy=Agen Yahudi?

Pada sebuah majalah -ana tidak perlu sebut namanya karena terlalu rendah jika disebutkan di majalah yang sarat ilmu ini-, ada tuduhan bahwa Salafy adalah agen Yahudi. Bagaimana tanggapan redaksi mengenai hal ini?

Abu Salma

Purworejo

 

Salaf adalah sebutan bagi generasi pendahulu Islam yakni generasi sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in, serta para imam yang mengikuti jejak dan pemahaman mereka dengan baik. Mereka adalah generasi terbaik yang paling mengerti ajaran-ajaran Islam serta paling bersih dari intepretasi atau tafsir menyimpang yang muncul belakangan.

Maka sepatutnya kita dituntut menjadi salafi, yakni muslim yang menisbatkan dirinya pada metodologi mereka dalam segala ucapan, amalan, maupun pemahaman. Dengan catatan, kita dalam taraf berupaya karena kita tidak akan mampu menyamai keimanan para sahabat dan generasi salaf lainnya. Jadi yang perlu digarisbawahi di sini, kita berbuat tidak sekedar dibakar api semangat namun kosong ilmu. Seperti mengebom sana mengebom sini tapi nyatanya yang disasar bukan orang kafir karena yang jadi korban juga kaum muslimin sendiri.

Jawaban redaksi tentang pertanyaan di atas singkat saja. Silakan pembaca merenungi tema majalah edisi kali ini. Pembaca bisa menilai sendiri benarkah tuduhan itu dan sedangkal apakah mereka yang melontarkan tuduhan tersebut?

Apalagi sumbernya bukan dari orang yang adil/ tsiqah, tetapi justru dari orang fasiq (pezina). Sebagai tambahan, silakan mendengarkan rekaman ceramah Al-Ustadz Abu Karimah Askari yang telah membahasnya di Masjid Ibnu Taimiyyah, Cemani, Solo.