Akibat Mencela Ulama

وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُّبِينًا

Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.(al-Ahzab: 58)

Sebab Turunnya Ayat

Sebagian ulama tafsir, seperti al- Baghawi, al-Alusi, al-Baidhawi, dan yang lain, menyebutkan dalam kitab tafsirnya, beberapa pendapat terkait dengan sebab turunnya ayat ini. Ada yang menyatakan bahwa ayat ini turun sehubungan dengan tindakan kaum munafikin terhadap sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, seperti pada riwayat Muqatil. Pendapat lain menyatakan, ayat ini turun kepada Abdullah bin Ubay dan orang-orang yang bersamanya yang mereka melontarkan tuduhan palsu terhadap Aisyah x, seperti pada riwayat adh-Dhahhak. (al-Maktabah asy-Syamilah)

Makna Ayat

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ

 “Dan orang-orang yang menyakiti.”

Al-Baghawi rahimahullah mengatakan bahwa makna al-adza adalah menyelisihi perintah Allah Subhanahu wata’ala dan berbuat maksiat kepada-Nya. Lalu beliau menukil ucapan Mujahid rahimahullah, menyakiti bermakna mereka yang mencela, memfitnah, dan menuduh kaum mukminin tanpa dosa dan kesalahan. Adapun ath-Thabari rahimahullah menyatakan, makna ucapan Mujahid rahimahullah dengan tafsir seperti ini adalah orangorang yang mencela kaum mukminin dan mukminat, serta menjelek-jelekkannya, dengan harapan kejelekan dan keburukan itu ada pada mereka (kaum mukminin).

Al-Alusi rahimahullah berkata bahwa maknanya adalah mereka yang melakukan tindakan yang menyakiti kaum mukminin, baik dengan ucapan maupun perbuatan. Ibnu Katsir rahimahullah (3/496) menjelaskan, maknanya adalah mereka yang menisbatkan (menuduh) kaum mukminin suatu perkara, yang kaum mukminin sendiri berlepas diri darinya, yaitu perkara yang tidak mereka lakukan dan tidak mereka perbuat.

بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا

“Tanpa kesalahan yang mereka perbuat.”

Artinya, tanpa dosa dan kesalahan yang mengharuskan mereka (kaum mukminin) disakiti. Mujahid rahimahullah berkata, Dengan perkara yang tidak mereka lakukan.

فَقَدِ احْتَمَلُوا

“Maka sesungguhnya mereka telah memikul.”

Maksudnya, di atas punggungpunggung mereka.

بُهْتَانًا

“Kebohongan dan dosa yang nyata.”

Al-Alusi rahimahullah menerangkan, kata buhtan bermakna perbuatan jelek, keji. Ada pula yang memaknai dengan kebohongan, berupa kebohongan yang sangat jelek. Ath-Thabari rahimahullah menjelaskan, maknanya adalah kebohongan, kedustaan, fitnah, laporan yang jahat, dan keji (palsu). “Buhtan” adalah kebohongan yang paling buruk, keji, dan jelek. (asy- Syamilah) Disebutkan oleh asy-Syaukani rahimahullah dalam tafsirnya, Fathul Qadir (1/814), al-buhtan diambil dari kata al-buht. Artinya, kebohongan yang dituduhkan kepada orang yang bersih (dari tuduhan) dengan sesuatu yang diada-adakan. Dikatakan, bahata buhtan wa buhtaanan, jika seseorang mengatakan terhadap orang lain yang tidak ia ucapkan (yang tidak ada padanya). Kata buhita bisa dibaca dengan mengkasrah ha’ atau mendhammahnya, bahuta, bermakna tercengang, heran, diam dalam kebingungan. Contohnya adalah firman Allah Subhanahu wata’ala,

فَبُهِتَ الَّذِي كَفَرَ

Lalu heran terdiamlah orang kafir itu.(al-Baqarah: 258)

وَإِثْمًا مُّبِينًا

Dosa yang nyata,” yaitu yang tampak dan jelas.

Tafsir Ayat

Ibnul Jauzi t dalam kitabnya Zadul Masir berkata, “Ulama tafsir sepakat bahwa makna ayat ini adalah menjelaskan adanya orang-orang yang menuduh kaum mukminin dan mukminat dengan perkara yang tidak ada pada mereka.” Ibnu Katsir rahimahullah (3/496—497) berkata, “Kebohongan terbesar adalah menceritakan dan menukil dari orangorang mukmin laki-laki ataupun perempuan, perkara yang tidak mereka perbuat, dengan tujuan mengaibkan, mencemarkan, dan mencela mereka. Kebanyakan orang yang masuk dalam ancaman ayat ini adalah orang yang kufur kepada Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul- Nya.

Kemudian kaum Rafidhah, yang mencela dan menjelek-jelekkan para sahabat dengan perkara yang Allah Subhanahu wata’ala telah menyucikan mereka darinya. Mereka (Rafidhah) juga menyifati para sahabat dengan hal-hal yang bertentangan dengan yang Allah Subhanahu wata’ala beritakan tentang mereka. Sebab, Allah Subhanahu wata’ala telah memberitakan bahwa Ia telah ridha kepada kaum Muhajirin dan Anshar serta memuji mereka. Adapun mereka adalah orang-orang yang bodoh dan dungu, yang selalu mencaci maki dan mencela para sahabat, selalu menyebutkan perkara yang tidak ada pada mereka dan yang sama sekali tidak mereka lakukan. Maka dari itu, mereka (kaum Rafidhah) pada hakikatnya adalah orangorang yang terbalik hatinya karena mencela orang-orang yang terpuji dan memuji orang-orang yang tercela.” Kemudian beliau memaparkan riwayat dengan sanadnya dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ditanyakan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,

“Wahai Rasulullah, apa itu ghibah?” Beliau menjawab, “Ghibah adalah engkau menyebut saudaramu dengan sesuatu yang tidak ia sukai.” Lalu beliau ditanya, “Bagaimana pendapatmu jika apa yang aku sebut itu memang ada pada saudaraku?” Beliau menjawab, “Jika yang engkau sebut itu ada pada dirinya, engkau telah mengghibah dia. Namun, jika yang engkau sebut itu tidak ada padanya, engkau telah berbuat buhtan (berdusta) terhadap dia.” (HR. at-Tirmidzi)

Beliau juga memaparkan riwayat yang dikeluarkan Ibnu Abi Hatim rahimahullah dari Aisyah radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada para sahabatnya,

“Apakah perkara riba yang paling jelek di sisi Allah Subhanahu wata’ala?” Mereka menjawab, “Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Beliau bersabda, “Perkara riba yang paling jelek di sisi Allah Subhanahu wata’alaadalah orang yang menghalalkan kehormatan/harga diri seorang muslim.” Kemudian beliau membaca ayat,

وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُّبِينًا

Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.(al- Ahzab: 58)

As-Sa’di rahimahullah menjelaskan, “Oleh karena itu, mencela atau memaki salah seorang dari kaum mukminin mengharuskan dia diberi hukuman, sebatas keadaan dan kedudukan orang yang dicelanya. Jadi, hukuman bagi orang yang mencela sahabat lebih berat. Hukuman bagi orang yang mencela para ulama dan orang-orang yang beragama Islam dengan baik, lebih besar daripada yang selain mereka.” Ulama yang sesungguhnya adalah mereka yang disifati oleh Allah Subhanahu wata’ala sebagaimana tersebut dalam ayat,

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ۗ

Sesungguhnya yang takut kepada Allah Subhanahu wata’ala di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” (Fathir: 28)

Asy-Syaikh bin Baz pernah ditanya tentang tafsir ayat ini, (Majmu’ Fatawa, 24/268—270). Beliau menjawab, “Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa ulama itu adalah orang yang tahu tentang Allah Subhanahu wata’ala, agama, kitab (al-Qur’an) yang agung, dan sunnah Rasul-Nya yang mulia. Mereka adalah manusia yang sempurna takutnya kepada Allah Subhanahu wata’ala, sempurna takwanya kepada Allah Subhanahu wata’ala, dan sempurna ketaatannya kepada-Nya. Yang terdepan dari mereka adalah para rasul dan nabi.” Maka dari itu, yang dimaksud dengan “sesungguhnya yang takut kepada Allah” adalah rasa takut yang sempurna dari hamba-Nya, yaitu para ulama. Mereka adalah orang-orang yang mengenal Rabbnya dengan nama dan sifat-Nya serta keagungan hak-Nya. Mereka memahami syariat-Nya, mengimani apa yang ada di sisi-Nya, yaitu kenikmatan bagi yang bertakwa kepada-Nya serta azab bagi yang durhaka dan menyelisihi perintah-Nya.

Karena kesempurnaan ilmu tentang Allah Subhanahu wata’ala dan kesempurnaan pemahaman tentang kebenaran, mereka menjadi manusia yang paling takut kepada Allah Subhanahu wata’ala. Manusia yang banyak rasa takutnya dan pengagungannya kepada Allah Subhanahu wata’ala. Ayat ini tidaklah bermakna bahwa tidak ada yang takut kepada Allah Subhanahu wata’ala selain para ulama. Sebab, setiap muslim laki-laki dan perempuan serta setiap mukmin laki-laki dan perempuan memiliki rasa takut kepada Allah Subhanahu wata’ala. Namun, rasa takut tersebut berbeda, tidak sama. Setiap orang mukmin yang lebih mengenal Allah Subhanahu wata’ala, lebih paham terhadap agama, tentu ia akan memiliki lebih banyak rasa takut dan lebih sempurna khasyahnya.

Demikian pula halnya dengan seorang wanita yang beriman, jika keadaannya seperti itu. Setiap orang yang berkurang ilmu dan bashirahnya, akan berkurang pula rasa takut dan khasyahnya kepada Allah Subhanahu wata’ala. Manusia tidak sama dalam hal ini. Bahkan, keadaan para ulama pun demikian. Setiap alim yang lebih mengenal Allah Subhanahu wata’ala, lebih menjalankan hak dan agama-Nya, lebih berilmu tentang nama dan sifat-Nya, rasa takutnya kepada Allah l tentu lebih sempurna daripada alim yang lain. Semakin sedikit ilmunya, semakin sedikit pula rasa takutnya. Namun, setiap mukmin laki-laki dan perempuan memiliki rasa takut kepada Allah l, sebatas ilmu dan derajat mereka dalam hal iman. Oleh karena itu, Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَٰئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ {} جَزَاؤُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۖ رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ۚ ذَٰلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهُ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Rabb mereka ialah surga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepada- Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Rabbnya. (al-Bayyinah: 7—8)

إِنَّ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُم بِالْغَيْبِ لَهُم مَّغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌ

Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Rabbnya yang tidak tampak oleh mereka, mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar.(al- Mulk: 12)

وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ جَنَّتَانِ

Dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Rabbnya ada dua surga. (ar-Rahman: 46)

Jadi, mereka adalah orang-orang yang mendapatkan balasan sebatas rasa takut mereka kepada Allah Subhanahu wata’ala, meskipun mereka bukan para ulama, melainkan kalangan orang biasa. Akan tetapi, kesempurnaan rasa takut hanya ada pada ulama karena kesempurnaan pengetahuan dan ilmu mereka terhadap Allah Subhanahu wata’ala. Dengan demikian, rasa takut mereka kepada Allah Subhanahu wata’ala lebih agung.

Wallahu waliyyu at-taufiq.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Ubaidah Syafrudin

Pembelaan Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz Terhadap Hadits-Hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam

Pada tahun 1420 H, umat kehilangan dua alim rabbani: asy- Syaikh al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin al-Albani dan asy-Syaikh al-Walid Abdul Aziz bin Baz. Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, nama yang tidak asing di tengah kaum muslimin. Harum nama beliau. Dunia Islam menyaksikan perjuangan beliau dalam membela Islam dan kaum muslimin. Adapun celaan yang tertuju kepada beliau hanyalah riak-riak di tengah luasnya samudra. Cukuplah biografi beliau dan sanjungan alam Islam sebagai bantahan bagi mereka yang dengan lancang mencela orang yang telah menghabiskan waktunya untuk membela Islam.

Meninggal pada usia 90 tahun, pada hari Kamis, Muharram 1420 H. Seusai shalat Jum’at, jenazah dishalati di Masjidil Haram bersama duka yang mendalam dan awan kelabu yang menyelimuti kalbu kaum muslimin. Shalat gaib juga ditegakkan di Masjid Nabawi dan masjid-masjid jami’ di Kerajaan Arab Saudi, hari itu. Umat kehilangan lagi sosok ulama mujaddid. Demikianlah zaman berlalu. Satu demi satu ulama meninggalkan dunia hingga kejahilan semakin merebak. Manusia pun akan menjadikan pemimpinpemimpin dan tokoh-tokoh mereka dari kalangan orang-orang yang jahil sebagaimana disabdakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sebuah hadits,

إِنَّ اللهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ صُدُورِ الرِّجَالِ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِمَوْتِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يَبْقَ عَالِمٌ، اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالاً، فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا

“Sesungguhnya Allah Subhanahu wata’ala tidak mencabut ilmu dengan serta-merta dari dada-dada manusia, namun Allah Subhanahu wata’ala mencabut ilmu dengan wafatnya ulama. Karena itu, ketika tidak ada lagi seorang yang ‘alim, manusia lantas mengangkat pemimpin mereka dari kalangan orang-orang jahil, mereka ditanya dan memberikan fatwa (di atas kejahilan), mereka pun sesat dan menyesatkan.”

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah termasuk pemuka ulama yang sangat gigih menyebarkan akidah Islam dan membela dakwah Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hal ini tampak dalam amaliah beliau, ceramah-ceramah dan fatwa fatwa beliau, serta kitab-kitab yang beliau tinggalkan. Beliau gigih membela tauhid dan memerangi syirik. Hidup beliau penuh dengan pembelaan kepada Allah l dan Rasul-Nya, Islam, sahabat, dan pembelaan terhadap akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Asy-Syaikh Ibnu Baz dan Ilmu Hadits

Keilmuan beliau sangat mendalam. Hafal al-Qur’an sebelum baligh, kemudian beliau tekun duduk di hadapan para pembesar ulama di zaman itu. Kebutaan total yang menimpa di usia 20 tahun tidak membuatnya surut dalam menimba ilmu, bahkan mendorong beliau untuk menambah semangat. Allah Subhanahu wata’ala membukakan pintu-pintu ilmu untuknya. Jadilah beliau—dengan izin Allah Subhanahu wata’ala—seorang ulama. Semua menyaksikan keluasan ilmu asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz. Di samping ilmu akidah, tafsir, fikih, dan cabang-cabang lain, perhatian beliau kepada hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam demikian kuat. Disebutkan dalam biografinya, beliau menghafal haditshadits Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim. Semangat beliau dalam menyebarkan hadits Nabi n dan bertafaqquh dalam cabang ilmu ini juga tampak kental dalam banyak pelajaran yang beliau sampaikan kepada para penuntut ilmu. Beliau mengajarkan Kutubus Sittah (Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abi Dawud, Sunan at-Tirmidzi, Sunan an-Nasai, dan Sunan Ibnu Majah).

Beliau juga mengajarkan Musnad al- Imam Ahmad, Muwaththa’ al-Imam Malik, Sunan ad-Darimi, Shahih Ibnu Hibban, as-Sunan al-Kubra lin Nasai, Bulughul Maram, Muntaqal Akhbar, bersama dengan pelajaran-pelajaran lain yang tekun beliau ajarkan kepada para penuntut ilmu dalam akidah, tafsir, faraidh (ilmu waris), fikih, dan cabang ilmu lainnya. Semua orang yang adil dalam menilai akan berdecak kagum mengucapkan masya Allah la quwwata illa billah, ketika melihat bagaimana ketajaman beliau menjelaskan makna hadits-hadits sahih sesuai dengan pemahaman salafush saleh, dengan ungkapan yang mudah, ringkas, dan padat.

At-Tuhfatul Karimah fi Bayani Ba’dhil Ahadits al-Maudhu’ah was Saqimah

Di samping bersemangat menyebarkan hadits Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam yang sahih dengan pemahaman salaful ummah, perhatian beliau juga tertuju kepada hadits-hadits dha’if dan maudhu’ (palsu) yang banyak tersebar di tengah muslimin. Beliau tidak tinggal diam. Lengan baju beliau singsingkan untuk menjelaskan kepada umat apa yang tidak sahih dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam atau bahkan dipalsukan atas nama beliau. Di antara karya beliau yang menunjukkan semangat mengikuti jejak salaful ummah dan imam-imam Ahlus Sunnah dalam membersihkan haditshadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dari kedustaan kaum pendusta dan tercampurnya sabda-sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan riwayat-riwayat yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, adalah risalah berjudul at-Tuhfatul Karimah fi Bayan Ba’dhil Ahadits al-Maudhu’ah was Saqimah2 berisi kumpulan hadits maudhu’ (palsu) dan lemah. Di awal risalah, beliau berkata, “Segala puji bagi Allah, Dzat yang telah memuliakan kita dengan agama Islam, Dzat yang telah menjadikan Islam sebagai agama yang paling sempurna, Dzat yang telah menjaga kitab-Nya yang mulia,

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (Hijr: 9)

Allah Subhanahu wata’ala memudahkan untuk agama ini keberadaan ulama yang kokoh dalam ilmu, para pembela yang membersihkan agama ini dari penyimpangan orang yang melampaui batas, takwil orang-orang jahil, dan makar orang-orang yang berpenyakit lagi memiliki permusuhan. Allah Subhanahu wata’ala menjaga pula sunnah Nabi kita Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan kegigihan ahlul ilmi dan iman, orang-orang yang jujur lagi tepercaya. Mereka jelaskan kepada umat mana hadits-hadits yang sahih dan cacat, mana pula hadits-hadits yang hasan dan lemah.

Mereka terjun dalam medan (jihad ini), meneliti keadaan para perawi yang menukil hadits. Tampaklah mana perawi yang tsiqah (tepercaya), jujur, memiliki hafalan, amanah, dan bagus dalam periwayatan serta kuat dalam pemahaman. Tampak pula siapakah perawi yang muttaham (tertuduh berdusta) atau memang pendusta, yang jelek hafalannya, atau sangat banyak salahnya karena hafalannya yang menjadi kacau, atau sebab lainnya. Itu semua mereka jelaskan sebagai bentuk nasihat kepada umat….

Inilah sebuah risalah sederhana, berisi keterangan sebagian haditshadits maudhu’ dan dha’if, sengaja saya kumpulkan agar saya benar-benar berada di atas ilmu tentang hadits-hadits tersebut. Saya bisa mengambil manfaatnya pertama kali, dan semoga saudara saya juga dapat mengambil manfaatnya.” (Majmu’ Fatawa) Asy-Syaikh kemudian mulai menyebutkan hadits-hadits lemah dan palsu yang beliau urutkan sesuai huruf hijaiyah untuk memudahkan para pencari hadits mengambil manfaatnya.

Beberapa Hadits Dha’if & Maudhu’ yang Diterangkan asy-Syaikh Abdul Aziz Bin Baz

Untuk menyempurnakan faedah, berikut ini dua buah hadits, maudhu’ dan dha’if beserta keterangan asy- Syaikh Ibnu Baz dari risalah at-Tuhfatul Karimah dan fatwa beliau.

1. Hadits maudhu’ tentang anjuran berdoa kepada penghuni kubur.

Diriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِذَا تَحَيَّرْتُمْ فِي الْأُمُورِ فَاسْتَعِينُوا بِأَهْلِ الْقُبُورِ

“Jika kalian mendapat kesusahan dalam urusan-urusan kalian, mintalah pertolongan kepada penghuni-penghuni kubur.”

Riwayat ini adalah salah satu syubhat kaum sufi quburi (pengagung kuburan). Mereka gembar-gemborkan hadits ini untuk melegalisasi praktik-praktik kesyirikan yang sering mereka lakukan di kuburan-kuburan yang mereka anggap mulia.3 Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz  pernah ditanya, “(Wahai Syaikh) sebagian manusia berkata, memohon kepada mayit di kubur mereka adalah perkara yang boleh dengan dalil hadits, ‘Jika kalian mendapat kesusahan dalam perkaraperkara kalian, mintalah pertolongan kepada penghuni-penghuni kubur.’ Sahihkah hadits ini atau tidak?” Beliau menjawab bahwa hadits ini termasuk hadits-hadits yang dipalsukan atas nama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana diperingatkan oleh banyak ulama, di antaranya adalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah.

Beliau berkata dalam Majmu’ Fatawa (1/356), setelah menyebutkan hadits ini, “Hadits ini dusta, dibuat-buat atas nama Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Ini adalah kesepakatan ulama yang mengerti hadits-hadits beliau. Tidak ada seorang ulama pun meriwayatkan hadits ini, bahkan hadits ini tidak ada dalam kitab-kitab hadits yang dijadikan sandaran.”

Hadits yang dipalsukan atas nama Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam ini bertentangan dengan kandungan al-Kitab dan as-Sunnah tentang kewajiban memurnikan ibadah hanya untuk Allah Subhanahu wata’ala dan diharamkannya mempersekutukan Allah Subhanahu wata’ala. Tidaklah diragukan bahwasanya berdoa (memohon) kepada orang-orang yang telah mati, beristighatsah (memohon pertolongan di kala kesempitan) kepada mereka, serta berbondong mengharap kepada mereka dalam kesempitan dan kesusahan termasuk kesyirikan terbesar, sebagaimana berdoa kepada mereka di masa lapang juga termasuk kesyirikan.4

Di saat tertimpa kesempitan, kaum musyrikin terdahulu mengikhlaskan doa untuk Allah Subhanahu wata’ala (mereka lupa ilah-ilah yang lain, seperti al-Latt, al-‘Uzza, dst, mereka hanya ingat kepada Allah Subhanahu wata’ala, -pen.). Namun, ketika kesempitan itu telah tersingkap, mereka kembali lagi melakukan kesyirikan, sebagaimana dalam firman-Nya,

فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ

“Apabila mereka naik kapal, mereka mendoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya; tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah).” (al-Ankabut: 65)

Ayat-ayat al-Qur’an yang semisal dengan ini sangatlah banyak. (Semuanya menunjukkan bahwa kaum musyrikin terdahulu memurnikan doa kepada Allah Subhanahu wata’ala di saat kesempitan, setelah mendapatkan kelapangan mereka kembali kepada ilah selain Allah Subhanahu wata’ala, -pen.) Adapun kaum musyrikin saat ini (seperti mereka yang mendatangi makam-makam para wali, memohon kepadanya, atau menjadikannya sebagai perantara -pen.), kesyirikan mereka tidak kenal waktu, baik di masa lapang maupun di masa sempit. Bahkan, di masa sempit, kesyirikan itu semakin bertambah (yakni ketergantungan mereka kepada para penghuni kubur menjadi berlipat, -pen.). Kita berlindung kepada Allah Subhanahu wata’ala. …

(Mereka berdoa kepada selain Allah Subhanahu wata’ala, padahal doa hanyalah hak Allah Subhanahu wata’ala, -pen.) Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus….” (al-Bayyinah: 5)

Allah Subhanahu wata’ala juga berfirman,

فَادْعُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

“Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ibadah kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai(nya).” (al-Mukmin: 14)

Dalam ayat lain, Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِن دُونِهِ مَا يَمْلِكُونَ مِن قِطْمِيرٍ {} إِن تَدْعُوهُمْ لَا يَسْمَعُوا دُعَاءَكُمْ وَلَوْ سَمِعُوا مَا اسْتَجَابُوا لَكُمْ ۖ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُونَ بِشِرْكِكُمْ ۚ وَلَا يُنَبِّئُكَ مِثْلُ خَبِيرٍ

“… Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari. Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu; dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. Dan di hari kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikanmu dan tidak ada yang dapat memberikan keterangan kepadamu sebagaimana yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui.” (Fathir: 13—14)

Ayat ini sifatnya umum, mencakup semua yang diibadahi selain Allah Subhanahu wata’ala, baik para nabi, orang-orang saleh, maupun yang lainnya. Allah l telah menjelaskan bahwa doa kaum musyrikin yang ditujukan kepada mereka (orang-orang yang telah mati) adalah kesyirikan. Allah l juga menjelaskan bahwa perbuatan tersebut adalah kekufuran. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَمَن يَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ لَا بُرْهَانَ لَهُ بِهِ فَإِنَّمَا حِسَابُهُ عِندَ رَبِّهِ ۚ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ

“Dan barang siapa berdoa (menyembah ilah yang lain) di samping Allah, padahal tidak ada suatu dalil pun baginya tentang itu, maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Rabbnya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada beruntung.” (al-Mukminun: 117)

Ayat-ayat yang menunjukkan wajibnya mengikhlaskan ibadah hanya untuk Allah Subhanahu wata’ala semata, kewajiban mengarahkan doa hanya kepada-Nya dan bukan pada yang lainnya, sangatlah banyak dan pasti diketahui oleh orangorang yang mentadabburi al-Qur’an dan membacanya untuk mencari petunjuk. Demikian pula ayat yang menunjukkan diharamkannya beribadah kepada selain Allah Subhanahu wata’ala berupa orang yang sudah mati, patung-patung, berhala, pepohonan, bebatuan, dan lainnya. Hanya kepada Allah Subhanahu wata’ala lah tempat memohon pertolongan, la haula wa la quwwata illa billah. (Majmu’ Fatawa asy-Syaikh bin Baz dan Fatawa Nurun ‘Ala ad-Darb)

2. Hadits dhaif tentang tidak diterimanya shalat orang yang pakaiannya musbil.

وَإِنَّ اللهَ تَعَالَى لاَ يَقْبَلُ صَلَاةَ رَجُلِ مُسْبِلٍ إِزَارَهُ

“Dan Allah tidak akan menerima shalat seseorang yang musbil (menjulurkan kainnya di bawah mata kaki).” Menjulurkan kain di bawah mata kaki bagi kaum lelaki adalah hal yang dilarang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Hadits-hadits dengan tegas melarangnya secara umum, baik menjulurkan karena sombong maupun tidak. Bahkan, al-Imam adz-Dzahabi asy- Syafi’i rahimahullah memasukkannya dalam kitab al-Kabair (dosa-dosa besar). Di kalangan ulama terja i perbincangan tentang hukum shalat orang yang memakai kain di bawah mata kaki, apakah sah shalatnya? Asy-Syaikh Ibnu Baz t berkata, “Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 638 (1/172) dan no. 4086 (4/ 57) dari Musa bin Ismail, dari Aban, dari Yahya, dari Abu Ja’far, dari ‘Atha’, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

“Suatu saat ada orang shalat dalam keadaan musbil (menjulurkan sirwalnya di bawah mata kaki). Ketika itu Rasul n berkata, ‘Pergilah engkau, ulangi wudhumu!’ Ia pergi lalu datang kembali. Rasul mengulangi lagi sabdanya, ‘Pergilah engkau, ulangi wudhumu!’ Bertanyalah seseorang, ‘Wahai Rasulullah mengapa engkau perintahkan dia berwudhu kemudian engkau diam?’ Rasul n pun bersabda,

إِنَّهُ كَانَ يُصَلِّي وَهُوَ مُسْبِلٌ إِزَارَهُ ، وَإِنَّ اللهَ تَعَالَى لاَ يَقْبَلُ صَلَاةَ رَجُلٍ مُسْبِلٍ إِزَارَهُ

‘Sungguh, ia tadi shalat dalam keadaan musbil, dan Allah Subhanahu wata’alatidak akan menerima shalat seseorang yang menjulurkan kainnya di bawah mata kaki.’ Tentang hadits ini, al-Imam an- Nawawi rahimahullah dalam Riyadhus Shalihin berkata, ‘Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud sesuai dengan syarat al- Imam Muslim’.” Saya (asy-Syaikh Ibnu Baz) katakan, “Ini adalah wahm (kekeliruan) al-Imam an-Nawawi rahimahullah. Sanad ini sebenarnya tidak sesuai dengan syarat al-Imam Muslim. Sanad ini justru dha’if (lemah) karena ada dua illat (cacat) di dalamnya.

1. Hadits ini datang dari riwayat Abu Ja’far—tanpa menyebut nasabnya—dan ia majhul (tidak dikenal).

2. Hadits ini adalah riwayat Yahya bin Abi Katsir dari Abu Ja’far dengan ‘an’anah, padahal Yahya adalah seorang yang mudallis, dan jika seorang mudallis tidak terang-terangan mendengar haditsnya (dari sang guru), haditsnya tidak bisa dijadikan hujah, kecuali jika

berada dalam Shahihain. Seandainya hadits ini sahih, makna yang terkandung adalah ancaman keras agar seorang tidak lagi melakukan isbal. Adapun shalatnya tetaplah sah karena Rasul n tidak memerintahkannya mengulangi shalat. Yang beliau perintahkan adalah mengulangi wudhunya. Tidak diterimanya shalat dalam hadits, tidak mesti berkonsekuensi batalnya shalat. Contohnya adalah sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,

مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً

“Barang siapa mendatangi dukun lalu ia bertanya kepadanya tentang sesuatu, sungguh tidak akan diterima shalatnya selama empat puluh hari.” (HR . Muslim dalam Shahih-nya)

(Dalam hadits ini, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menafikan diterimanya shalat orang yang datang kepada dukun dan bertanya walaupun tidak memercayainya). Tentang hadits ini, al-Imam an-Nawawi rahimahullah menukilkan adanya ijma’ (kesepakatan ulama) bahwa dia tidak diperintahkan mengulangi shalatnya, namun pahalanya hilang (yakni shalat yang dilakukan tidak berpahala selama 40 hari). Ini sebagai hukuman sekaligus peringatan. Yang serupa dengan ini ada dalam banyak hadits. Ini semua menunjukkan bahwa tidak diterimanya shalat orang yang musbil maksudnya adalah (hilang pahalanya) dan tidak mengharuskan batalnya shalat, karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak memerintahnya untuk mengulangi shalat. Demikian pula dalam hadits Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak memerintahnya mengulangi (shalat). Yang beliau perintahkan untuk diulangi adalah wudhunya…

Bisa jadi, wudhu itu akan meringankan dosa. Semua makna ini tentu saja jika hadits di atas sahih. Bisa jadi, hadits di atas dijadikan dalil tidak sahnya shalat (orang yang musbil) karena tidak adanya perkara yang memalingkan makna ini, seperti sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam,

يَقْبَلُ اللهُ صَلَاهَ أَحَدِكُمْ إِذَا أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ

“Allah tidak menerima shalat di antara kalian jika berhadats hingga dia berwudhu.” (Muttafaq ‘alaihi)

Hadits Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu yang kita isyaratkan sebelum ini dikeluarkan oleh Abu Dawud dengan no. 637 (1/172) dengan sanad yang sahih. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ أَسْبَلَ إِزَارَهُ فِي صَلَاتِهِ خُيَلَاءَ فَلَيْسَ مِنَ اللهِ فِي حِلٍّ وَلاَ حَرَامٍ

‘Barang siapa menjulurkan kainnya (di bawah mata kaki) karena sombong, Allah Subhanahu wata’ala tidak mengurusinya baik di tanah halal atau haram.

Setelah meriwayatkan hadits ini, Abu Dawud rahimahullah mengatakan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh al-Jama’ah secara mauquf dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. Asy-Syaikh Ibnu Baz mengatakan,

Mauquf yang seperti ini memiliki hukum marfu’ karena kandungannya adalah perkara yang tidak mungkin berasal dari ra’yu (pendapat seseorang), sebagaimana diketahui dari perkataan ulama ushul fiqih dan musthalah hadits. Wa billahit taufiq.” (Majmu’ Fatawa Syaikh Bin Baz)

Khatimah

Pembaca rahimakumullah, demikian sepenggal penjelasan asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz di antara peninggalanpeninggalan beliau yang sangat banyak. Selebihnya, pembaca dipersilakan merujuk kepada risalah at-Tuhfatul Karimah fi Baya ba’dhil Ahadits al-Maudhu’ah was Saqimah, dan karya beliau lainnya. Apa yang sedikit ini semoga memberikan manfaat kepada kita, dan mengingatkan kepada para pencela asy- Syaikh Abdul Aziz yang telah beruban dalam membela Islam dan akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah. Semoga Allah Subhanahu wata’ala merahmati dan mengampuni kita semua dan beliau, kemudian mengumpulkan kita semua di dalam jannah-Nya.

Amin.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar Ibnu Rifai

Fatawa Akidah Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah adalah seorang alim Ahlus Sunnah yang tidak asing bagi kaum muslimin. Beliau adalah seorang alim yang sangat menginginkan kebaikan bagi kaum muslimin. Di antara buktinya adalah surat-surat yang beliau kirim kepada tokoh-tokoh penguasa di pelbagai negeri, sebagaimana bisa kita lihat di dalam MajmuFatawa beliau. Di antara yang menunjukkan semangat beliau untuk kebaikan muslimin adalah nasihat, arahan, dan fatwa-fatwa beliau dalam menjawab pertanyaan kaum muslimin dari berbagai penjuru dunia.

Dalam tulisan ini, kami ingin membawakan beberapa fatwa beliau yang terkait dengan akidah. Semoga bisa menjadi jawaban pertanyaan kita selama ini dan membimbing kita beramal.

Syarat Islam

Pertanyaan: Apakah syarat Islam?

Jawaban: Syarat Islam ada dua. Syarat yang pertama: Ikhlas. Anda meniatkan keislaman Anda dan semua amal Anda untuk mengharapkan wajah Allah Subhanahu wata’ala semata. Ini syarat yang harus ada. Sebab, semua amalan yang Anda lakukan bukan demi wajah Allah Subhanahu wata’ala, baik shalat, sedekah, puasa, maupun yang lainnya, tidak akan bermanfaat dan tidak diterima. Sampaipun dua kalimat syahadat, jika Anda melakukannya karena riya (ingin dilihat) dan kemunafikan, tidak akan bermanfaat dan tidak diterima, bahkan Anda termasuk kaum munafik. Ucapan dua kalimat syahadat yang Anda lafalkan, haruslah jujur dari kalbu Anda. Anda beriman kepada Allah Subhanahu wata’ala saja, Dia adalah sesembahan yang haq, bahwa Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah benar serta diutus kepada seluruh jin dan manusia, sebagai penutup para nabi. Jika syahadat Anda dilakukan dengan jujur dan ikhlas, niscaya bermanfaat bagi Anda.

Demikian juga shalat Anda. Anda hanya beribadah kepada Allah Subhanahu wata’ala dalam shalat Anda. Pun sedekah, bacaan al- Qur’an, ucapan tahlil (La ilaha illallah), puasa, dan ibadah haji Anda, semuanya untuk Allah Subhanahu wata’ala semata. Syarat kedua: Sesuai dengan syariat. Amalan-amalan haruslah sesuai dengan syariat, bukan dari hasil pikiran dan ijtihad Anda. Anda harus berusaha mencocoki syariat dalam beramal. Anda melakukan shalat sebagaimana yang Allah Subhanahu wata’ala  syariatkan, Anda puasa sebagaimana yang Allah Subhanahu wata’ala syariatkan, Anda berzakat juga harus sebagaimana tuntunan syariat Allah Subhanahu wata’ala. (Nurun ‘ala Darb)

 

Banyaknya Kelompok yang Mengaku sebagai Thaifah Manshurah

Pertanyaan: Banyak golongan dan kelompok yang mengaku sebagai aththaifah al-manshurah sehingga masalah ini menjadi samar bagi manusia. Apa yang mesti kami lakukan, terkhusus di sana ada banyak kelompok Islam, seperti Sufi, salafiyah, dan kelompok lainnya, bagaimana kami membedakannya?

Jawaban: Telah ada hadits dari Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau berkata, “Yahudi terpecah menjadi 71 golongan, semuanya masuk neraka kecuali kelompok yang mengikuti Nabi Musa ‘Alahissalam. Nasrani juga terpecah menjadi 72 golongan, semuanya masuk neraka kecuali satu, yaitu mereka yang mengikuti Nabi Isa ‘Alaihissalam. Umat ini akan terpecah menjadi 73 golongan, semuanya di neraka kecuali satu.” Ditanyakan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, “Siapakah firqatun najiyah (golongan yang selamat)?” Beliau menjawab, “Al-Jamaah.” Dalam lafadz lain, “Orang-orang yang menempuh jalanku dan jalan para sahabatku.” Inilah al-firqah an-najiyah, golongan yang selamat. Mereka adalah orang orang yang bersatu di atas kebenaran yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka istiqamah di atasnya, berjalan mengikuti manhaj Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam dan sahabatnya. Mereka adalah Ahlus Sunnah wal Jamaah, ahlul hadits yang mulia, salafiyun yang mengikuti salafus shalih serta berjalan dengan beramal berdasarkan al-Qur’an dan as-Sunnah. Semua kelompok yang menyelisihi mereka diancam dengan neraka.

Maka dari itu, wajib atas Anda—wahai penanya— untuk meneliti setiap kelompok yang mengaku sebagai al-firqah an-najiyah. Anda lihat amalannya, kalau sesuai dengan syariat, merekalah kelompok yang selamat. Maksudnya, yang dijadikan mizan (timbangan/tolok ukur) untuk menilai setiap kelompok adalah al-Qur’anul ‘Azhim dan as-Sunnah yang suci. Barang siapa amalannya di atas kitabullah dan sunnah Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam, dia termasuk alfirqah an-najiyah. Barang siapa tidak demikian, seperti Jahmiyah, Mu’tazilah, Rafidhah, Murjiah, dan selainnya, juga mayoritas kelompok sufi—yang mengadaadakan dalam agama sesuatu yang tidak diizinkan Allah Subhanahu wata’ala—semua termasuk dalam kelompok yang diancam oleh Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan neraka, sampai mereka bertobat dari penyelisihan terhadap syariat. Semua kelompok yang terjatuh pada penyelisihan syariat yang suci wajib bertobat dari penyelisihannya dan kembali kepada kebenaran yang dibawa oleh Nabi kita Muhammad  Shallallahu ‘alaihi wasallam. Dengan demikian, dia selamat dari ancaman.

Adapun jika mereka terus berada dalam kebid’ahan dalam agama yang mereka ada-adakan dan tidak istiqamah di atas jalan Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam, dia termasuk dalam kelompok yang diancam dengan neraka. Tidak semuanya kafir, namun semua terancam dengan neraka. Ada yang kafir karena melakukan satu kekufuran. Ada juga yang tidak kafir, namun terancam neraka karena perbuatan bid’ahnya dalam agama dan menetapkan sesuatu yang tidak diizinkan Allah Subhanahu wata’ala dalam syariat. (Nurun ‘ala Darb)

Penjelasan tentang Kesesatan Syiah

Dari Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz, kepada saudara yang mulia…. Mudah – mudahan Allah Subhanahu wata’ala memberikan taufik kepada semua kebaikan. Saya telah menerima surat Anda dan memahami kandungan surat tersebut. Saya akan memberikan faedah untuk Anda bahwa Syiah itu banyak sektenya. Setiap sekte ada kebid’ahannya. Sekte Syiah yang paling berbahaya adalah Syiah Rafidhah Khumainiyah Itsna Atsariyah, karena mereka melakukan kesyirikan berupa syirik besar; seperti istighatsah kepada ahlul bait, meyakini bahwa ahlul bait mengetahui ilmu gaib, terkhusus dua belas imam yang mereka yakini. Mereka juga mengafirkan dan mencela mayoritas sahabat, seperti Abu Bakr dan Umar radhiyallahu ‘anhu.

Mudah mudahan Allah Subhanahu wata’ala menyelamatkan kita dari kesesatan yang ada pada mereka. Namun, hal ini tidak menghalangi kita untuk mendakwahi dan membimbing mereka ke jalan yang benar serta memperingatkan mereka dari kesesatan mereka. Tentu saja semua itu dilakukan sesuai dengan tuntunan al-Qur’an dan as-Sunnah. Saya memohon kepada Allah Subhanahu wata’ala untuk Anda dan teman Anda tambahan taufik kepada yang diridhai-Nya dan dorongan kepada semua kebaikan. Saya wasiatkan kepada Anda untuk ikhlas, jujur, sabar, dan tatsabut dalam seluruh urusan, serta memerhatikan hikmah dan metode yang baik di medan dakwah, memperbanyak membaca al- Qur’an dan mentadaburi maknanya, mempelajari serta merujuk kepada kitab tafsir para ulama dalam ayat-ayat yang sulit Anda pahami, seperti kitab Tafsir Ibnu Jarir, Ibnu Katsir, dan al-Baghawi.

Saya juga mewasiatkan untuk menghafal yang mudah dari hadits Rasulullah n, seperti kitab Bulughul Maram karya Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah dan Umdatul Ahkam karya asy- Syaikh Abdul Ghani rahimahullah. Seseorang wajib bertanya masalah agama yang sulit baginya, sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala,

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Tanyalah oleh kalian ahlu dzikr apabila kalian tidak mengetahui.” (an- Nahl: 43)

Bersama surat ini, saya kirimkan pula beberapa kitab. Mudah-mudahan Allah Subhanahu wata’ala memberi manfaat dengan kitab tersebut dan memberi manfaat kepada temanteman kalian. Saya juga meminta kepada Allah Subhanahu wata’ala untuk saya dan kalian kekokohan di atas al-haq, serta menjadikan kita sebagai pembela agama-Nya, penjaga syariat-Nya, yang berdakwah kepada- Nya di atas bashirah. Allah Mahakuasa atas itu semua. Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh. Jawaban dikeluarkan dari ruang kerja beliau pada 22/1/1409 dengan no. 1/136.

Hukum Zikir dengan Membaca هو هو atau الله الله

Pertanyaan: Di tempat kami ada orang-orang tarekat Tijaniyah. Mereka berkumpul setiap Jumat dan Senin dengan berzikir. Mereka berkata di akhir zikir, الله الله dengan suara yang keras. Apa hukum syariat terhadap amalan mereka?

Jawaban: Tarekat tijaniyah adalah tarekat yang bid’ah dan tarekat yang batil. Pada tarekat tersebut banyak kekufuran yang tidak boleh diikuti, bahkan wajib ditinggalkan. Kami wasiatkan kepada para pengikut tarekat ini untuk meninggalkannya dan mengikuti jalan Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu jalan yang telah dilalui oleh para sahabat Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam dan yang mereka terima dari Nabi Muhammad  Shallallahu ‘alaihi wasallam; kemudian diterima dari para sahabat oleh imam imam agama ini, seperti al-Imam Malik, al-Imam Syafi’i, Abu Hanifah, Ahmad, Auza’i, Ishaq bin Rahawaih, ats-Tsauri, dan ulama selain mereka rahimahumullah. Mereka menerimanya dan berjalan di atasnya, dan Ahlus Sunnah berjalan di atasnya pula; yaitu mentauhidkan Allah Subhanahu wata’ala dalam ibadah kepada-Nya, menegakkan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan, haji ke baitullah, serta menaati perintah-perintah Nabi  Shallallahu ‘alaihi wasallam dan meninggalkan larangannya. Inilah jalan yang dibawa oleh Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam. Adapun tarekat sufi, wajib untuk ditinggalkan…. (Nurun ‘Ala Darb)

Apakah Nabi n Diciptakan dari Cahaya?

Pertanyaan: Kami mendengar pada sebuah khutbah di tempat kami bahwa Rasulullah n diciptakan dari nur, bukan dari tanah seperti manusia yang lain. Kami bertanya tentang kebenaran ucapan ini.

Jawaban: Ini adalah ucapan yang batil, tidak ada asalnya. Allah Subhanahu wata’ala menciptakan Nabi-Nya  Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana halnya seperti menciptakan manusia yang lain, dari air yang hina, dari air bapaknya, Abdullah, dan ibundanya, Aminah. Hal ini sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala,

ثُمَّ جَعَلَ نَسْلَهُ مِن سُلَالَةٍ مِّن مَّاءٍ مَّهِينٍ

“Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina.” (as-Sajdah: 8)

Nabi Muhammad  Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah keturunan Nabi Adam’Alaihisslam, dan seluruh keturunan Adam diciptakan dari air yang hina. Adapun hadits yang diriwayatkan bahwa beliau diciptakan dari nur, tidak ada asalnya. Itu adalah hadits maudhu’ (palsu), dusta, batil, dan tidak ada asalnya. Sebagian orang menyatakan bahwa hadits ini diriwayatkan dalam Musnad Ahmad, padahal tidak ada. Sebagian lagi menyatakan ada dalam Mushanaf Abdurrazaq, padahal juga tidak ada. Maksudnya, itu adalah hadits batil, tidak ada asalnya dari Nabi  Shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau diciptakan seperti halnya anak keturunan Adam lainnya. Seluruh nabi pun diciptakan darinya, yaitu air pria dan wanita. Ini adalah hal yang diketahui. Apa yang disangka oleh sebagian sufi ekstrem dan sebagian orang bodoh bahwa beliau diciptakan dari cahaya adalah sangkaan yang batil, tidak ada asalnya dalam syariat. Memang, beliau adalah cahaya. Allah Subhanahu wata’ala menjadikannya sebagai cahaya bagi manusia dengan petunjuk yang Allah Subhanahu wata’ala wahyukan kepadanya berupa al- Qur’an dan as-Sunnah, sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala,

قَدْ جَاءَكُم مِّنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُّبِينٌ

“Telah datang kepada kalian cahaya dan kitab yang jelas.”(al-Maidah:15)

Nur (cahaya) yang dimaksud dalam ayat ini adalah Nabi Muhammad  Shallallahu ‘alaihi wasallam, karena nur yang Allah Subhanahu wata’ala wahyukan kepadanya. Allah Subhanahu wata’ala menamakannya nur karena beliau menjadi cahaya dengan sebab cahaya yang Allah Subhanahu wata’ala wahyukan kepadanya, sebagaimana dalam ayat lain,

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا {} وَدَاعِيًا إِلَى اللَّهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُّنِيرًا

“Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi, pembawa kabar gembira, dan pemberi peringatan. Dan untuk jadi penyeru kepada agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi.” (al-Ahzab: 45—46)

Beliau adalah cahaya yang menerangi. Beliau menjadi nur karena wahyu agung yang Allah Subhanahu wata’ala berikan kepadanya, yaitu al-Qur’an dan as-Sunnah. Allah Subhanahu wata’ala menerangi jalan dengan keduanya, menjelaskan ash-shirath al-mustaqim dengan keduanya, memberikan hidayah kepada umat manusia dengan keduanya. Oleh karena itu, Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah nur, namun bukan maknanya beliau diciptakan dari cahaya, melainkan beliau adalah nur karena hidayah yang Allah Subhanahu wata’ala berikan kepadanya dan ilmu yang Allah Subhanahu wata’ala berikan yang kemudian beliau ajarkan kepada manusia. Dengan demikian, para rasul adalah nur, para ulama juga adalah nur, yakni ulama al-haq yang Allah l beri hidayah. Mereka adalah cahaya bagi alam semesta dengan sebab apa yang mereka ambil dari wahyu yang dibawa oleh para rasul alaihum ash-shalatu was salam. (Nur ‘ala Darb)

Peringatan untuk Menjauhi Buku- Buku Sihir dan Perdukunan

Pertanyaan: Saya berharap Anda menjelaskan tentang haramnya menggunakan dan membaca buku-buku sihir dan ilmu nujum, karena buku-buku seperti ini banyak. Sebagian teman saya ingin membelinya. Mereka berkata, “Jika tidak digunakan untuk yang bermudarat, tidaklah diharamkan.” Kami berharap faedah dari Anda.

Jawaban:

Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillah washalatu wasalamu ala rasulillah waala alihi waashabihi waman walah; amma ba’du: Apa yang disampaikan penanya adalah kebenaran. Kaum muslimin wajib menjauhi buku-buku sihir dan ilmu nujum. Orang yang menemukannya wajib memusnahkannya. Sebab, bukubuku seperti itu bermudarat bagi seorang muslim dan menjatuhkannya kepada kesyirikan. Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata,

مَنْ اقْتَبَسَ عِلْمًا مِنَ النُّجُومِ اقْتَبَسَ شُعْبَةً مِنَ السِّحْرِ زَادَ مَا زَادَ

“Barang siapa mengambil satu cabang ilmu nujum berarti telah mengambil satu cabang ilmu sihir. Semakin dia menambah ilmu nujum berarti semakin menambah ilmu sihir.” (HR . Abu Dawud)

Allah Subhanahu wata’ala berfirman tentang dua malaikat,

وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّىٰ يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ

“Tidaklah keduanya mengajari sihir kepada seseorang kecuali keduanya berkata, ‘Kami adalah ujian, janganlah Anda kafir!’.” (al-Baqarah: 102)

Ini menunjukkan bahwa belajar dan melakukan sihir adalah kekafiran. Kaum muslimin wajib memerangi buku-buku yang mengajarkan sihir dan ilmu nujum serta memusnahkannya, di mana pun ditemukan; dan ini hukumnya wajib. Seorang penuntut ilmu atau bukan, tidak boleh membaca atau mempelajari buku-buku seperti itu, karena buku-buku tersebut menggiring kepada kekufuran. Ia wajib memusnahkannya. Demikian juga halnya dengan buku-buku yang mengagung-agungkan sihir dan ilmu nujum, wajib dimusnahkan. (Nurun ‘ala Darb)

Ditulis oleh Al-Ustadz Abdurrahman Mubarak

Akhlak Orang Berilmu

Para ulama adalah orang-orang yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu wata’ala karena ilmu mereka, yaitu ilmu tentang kitabullah dan sunnah Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah Subhanahu wata’ala memuliakan mereka di kehidupan dunia yang fana ini dan kelak di akhirat. Mereka adalah orang-orang yang paling beruntung karena menjadi pewaris para nabi. Hal ini sebagaimana yang diberitakan oleh Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam,

إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِيْنَارًا وَلاَ دِرْهَمًا وَإِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

“Sesungguhnya para ulama itu pewaris para nabi. Para nabi tidaklah mewariskan dinar dan dirham (harta), tetapi mewariskan ilmu. Barang siapa berhasil mengambilnya berarti dia telah berhasil mendapatkan keuntungan yang banyak.” (HR . Abu Dawud dan at- Tirmidzi dari Abu ad-Darda radhiyallahu ‘anhu)

Sebagaimana telah diketahui, Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam tidaklah mewariskan selain apa yang telah beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam ajarkan kepada umatnya selama hidupnya, yaitu kitabullah al-Qur’an al-Karim dan sunnah-Nya yang suci. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا مِن قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ

“Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang rasul di antara mereka, yang membacakan ayatayat- Nya kepada mereka, menyucikan mereka, serta mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (as-Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (al-Jumu’ah: 2)

Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ مَا إِنْ تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا لَنْ تَضِلُّوا بَعْدِي: كِتَابَ اللهِ وَسُنَّتِي

“ Aku telah meninggalkan (mewariskan) dua hal bagi kalian. Apabila berpegang teguh dengan keduanya, niscaya kalian tidak akan tersesat selamalamanya sepeninggalku. (Dua hal itu) adalah kitabullah dan sunnahku.”

Di antara hal-hal termulia yang diwariskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kepada para ulama adalah akhlak dan kepribadian yang terpuji. Allah Subhanahu wata’ala memuji Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam karena sifat tersebut dalam firman-Nya,

ن ۚ وَالْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُونَ {} مَا أَنتَ بِنِعْمَةِ رَبِّكَ بِمَجْنُونٍ {} وَإِنَّ لَكَ لَأَجْرًا غَيْرَ مَمْنُونٍ {} وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Dan sesungguhnya kamu benarbenar berbudi pekerti yang agung.” (al-Qalam: 1—4)

Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha menjelaskan bahwa akhlak Rasulullah adalah al-Qur’an, sebagaimana disebutkan oleh sebuah hadits sahih yang diriwayatkan oleh al-Imam Muslim rahimahullah di dalam Shahih-nya. Al-Imam al-‘Allamah asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjelaskan,

“Apa yang dikatakan oleh Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha ini adalah sebuah kalimat yang agung. Beliau membimbing kita untuk berakhlak seperti akhlak beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu mengikuti al-Qur’an, istiqamah di atas (ajaran) al-Qur’an pada seluruh urusan yang diperintahkan dan yang dilarang. Di samping itu, menjauhi seluruh akhlak jelek yang dicela oleh al-Qur’an dan dicela pula pemiliknya. Ini adalah akhlak yang dipuji dan disanjung oleh al-Qur’an. Orang-orang berilmu, seperti para dai, pendidik, dan penuntut ilmu, seyogianya benar-benar memerhatikan kitabullah dan menerimanya dengan sepenuh hati. Dengan demikian, mereka akan berhasil mengambil akhlak-akhlak yang dicintai oleh Allah l dari al-Qur’an itu. Setelah itu, mereka beristiqamah di atasnya. Akhirnya, mereka menjadi orang-orang yang memiliki akhlak dan manhaj (metodologi) di atasnya (al- Qur’an) di mana pun berada.” (Akhlaqu Ahlil ‘Ilmi, hlm. 1)

Melalui rubrik “Akhlak” edisi kali ini, penulis ingin menukilkan sebagian persaksian seorang ulama besar, asy-Syaikh Abdul Muhsin al-‘Abbad hafizhahullah, tentang akhlak al-Mujaddid al-‘Allamah asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz. Pemaparan beliau ini disampaikan dalam ceramah pada malam Jumat, 6 Safar 1420 H, di masjid Universitas Islam di Madinah. Diharapkan penjelasan ini bisa menjadi pelajaran dan teladan yang baik bagi kita semua. Inti pembahasan yang beliau sampaikan pada kesempatan tersebut adalah sebagai berikut.

Kesabaran dan Kesungguh-Sungguhan dalam Menuntut Ilmu

Asy-Syaikh Abdul Mushin al-‘Abbad berkata, “Beliau, asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah, dilahirkan di kota Riyadh pada 12 Dzulhijjah1330 H. Beliau dibesarkan di dalam lingkungan keluarga yang mulia. Di dalamnya ada orang-orang yang berilmu dan mulia. Sejak kecil beliau memiliki cita-cita yang tinggi, rajin, dan bersemangat mendapatkan ilmu. Bahkan, beliau telah hafal al-Qur’an sebelum baligh. Beliau dahulu memiliki penglihatan yang sempurna. Sakit yang beliau derita pada umur 16 tahun mengakibatkan penglihatan beliau melemah. Indra penglihatan beliau bertambah lemah sampai tidak mampu melihat sama sekali pada umur 20 tahun. Akan tetapi, Allah Subhanahu wata’ala mengaruniai beliau pandangan, cahaya, dan iman di dalam hatinya sehingga beliau tumbuh di atas ilmu, keutamaan, semangat, dan kesungguhsungguhan untuk mencari ilmu.

Mengamalkan Ilmu

Asy-Syaikh Abdul Muhsin al-‘Abbad melanjutkan, “Beliau adalah alim yang besar. Hal ini diketahui oleh orang-orang khusus dan orang-orang umum. Beliau adalah seorang yang alim lagi pendidik. Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menulis di dalam kitabnya, Fathul Bari, dari Ibnu A’rabi rahimahullah bahwa dia berkata, ‘Seorang alim tidak disebut sebagai rabbani (pendidik) hingga dia mengamalkan ilmunya dan mengajarkannya.’ Sungguh, asy-Syaikh Abdul Aziz adalah orang yang seperti itu. Beliau berilmu, beramal, dan mengajarkan ilmunya sekaligus mengajak kepada mentauhidkan Allah Subhanahu wata’ala dengan bashirah (ilmu dan keyakinan).

Khasyah (Rasa Takut) dan Ibadah

Asy-Syaikh Abdul Muhsin berkata, “Asy-Syaikh Ibnu Baz adalah seorang yang senantiasa mengamalkan ilmunya karena buah ilmu adalah amal. Beliau sering berzikir, berdoa, dan senantiasa berusaha untuk menunaikan ibadah haji hingga 47 kali. Saya (asy-Syaikh Abdul Muhsin al-‘Abbad) mengetahui hal itu tatkala beliau berkunjung ke daerah al-Bahah pada Sya’ban 1400 H. Ketika itu beliau ditanya tentang hal tersebut. Di antara jawabannya, beliau menyebutkan bahwa umurnya saat itu 70 tahun dan telah menunaikan haji 28 kali. Salah seorang hadirin mengabarkan hal itu kepada saya.

Setelah itu beliau setiap tahun menunaikan ibadah haji hingga terhenti pada 1418 H. Jadi, beliau berhaji 28 kali ditambah 19 kali, jumlahnya 47 kali. Termasuk bukti perhatian beliau yang sangat besar terhadap ibadah dan menyibukkan diri dengannya adalah sebuah peristiwa pada 1397 H akhir bulan Dzul Qa’dah. Ketika itu, saya pergi dari Madinah ke Makkah karena sebuah urusan yang terkait dengan pekerjaan saya. Saat itu saya menjadi wakil beliau (beliau menjabat rektor, -red.) di Universitas Islam Madinah. Saya bermalam di rumah beliau. Di rumah beliau ada sebuah tempat yang luas. Di tempat itu beliau berjamjam mondar-mandir sambil membaca al-Qur’an. Beliau ingin menggerakkan badan (sambil membaca al-Qur’an).

Saya juga mengingat sebuah kejadian pada saat beliau masih memimpin Universitas Islam Madinah. Saya bersama beliau masuk ke Masjid Nabawi setelah azan zuhur. Saya berada di samping beliau. Beliau lantas shalat empat rakaat, sedangkan saya shalat dua rakaat. Sudah dimaklumi jumlah shalat rawatib ada 10 rakaat menurut sebuah riwayat, dan menurut riwayat lainnya 12 rakaat. Namun, yang lebih utama dan sempurna adalah 12 rakaat. Tatkala selesai shalat, beliau menoleh kepada saya sambil berkata, ‘Engkau tidak shalat selain dua rakaat saja.’ Saya menjawab, ‘Ya.’ Beliau berkata, ‘Sesungguhnya yang dua belas rakaat itu lebih utama dan lebih sempurna.’ Beliau senantiasa memilih yang lebih utama dan lebih sempurna. Beliau senantiasa memberi peringatan, bimbingan, dan arahan untuk meraih yang paling mulia dan paling sempurna.”

Ketegaran dan Keberanian Berdakwah

Beliau senantiasa berusaha memberi manfaat kepada umat baik dengan ilmu maupun nasihatnya, baik dengan amar ma’ruf maupun nahi munkar, dengan ajakan maupun dakwah ke jalan yang baik, serta membantu mereka dengan harta dan kedudukan beliau. Beliau berdakwah dengan hikmah dan nasihat yang baik, melalui ceramah, nasihat, dan tulisan. Ketika beliau mendapatkan kesalahan-kesalahan yang terdapat di koran atau majalah, beliau akan memperingatkannya. Peringatan beliau itu disebarkan melalui koran-koran ataupun risalah-risalah yang ditulis dan dicetak oleh beliau sendiri.

Ketawadhuan dan Kepedulian

Rumah beliau senantiasa didatangi oleh orang-orang fakir dan orang-orang yang punya berbagai keperluan. Ada yang datang meminta fatwa, ada pula yang meminta bantuan. Mereka semua makan siang atau makan malam bersama beliau. Beliau telah menyiapkan makanan setiap hari dengan jumlah yang cukup bagi tamunya. Musim haji tahun 1419 H. Beliau berhalangan menunaikan ibadah haji karena sakit yang menyebabkan beliau meninggal. Para dokter menyarankan beliau untuk tidak pergi haji. Karena itu, beliau menugaskan beberapa orang untuk membuka pintu rumahnya di Makkah dan tempat kemahnya di Mina. Beliau perintahkan pula untuk membuatkan jamuan guna diberikan kepada orang-orang yang biasa datang untuk mendapatkan faedah dari ilmu beliau dan makan bersama beliau. Beliau pun senantiasa menelepon orang-orang yang diberi tugas tersebut supaya tenang.

Beliau sangat bersemangat membantu orang-orang yang membutuhkan dan membangun masjid-masjid, baik di dalam maupun di luar negeri. Di atas meja khusus beliau di rumahnya, tertumpuk daftar orang-orang dan proposalproposal yang mengharapkan bantuan, baik orang-orang yang fakir maupun para dai, baik dari dalam maupun dari luar negeri. Bukan hanya ini usaha beliau untuk memberi manfaat kepada umat dan semangat beliau membantu mereka. Beliau menulis surat kepada seorang syaikh besar pada tanggal 8-3-1418 H. Beliau tuliskan di dalam surat itu, “Saya senang memberi kabar kepadamu yang sudah sekian tahun saya berusaha banyak membantu orang-orang berhajat, baik di dalam maupun di luar Kerajaan Saudi, membangun masjid-masjid baik di dalam maupun di luar Kerajaan Saudi, menunjuk para dai di luar Kerajaan Saudi, yang itu semua dengan biaya Raja Saudi, para pembantunya, beberapa pejabat, orang-orang yang dermawan, dan pengusaha.” Beliau lalu berkata, “Kekekalan itu hanya milik Allah Subhanahu wata’ala…. Jika saya meninggal, saya berharap engkaulah yang akan menggantikan saya mengurusi tugas-tugas ini dan hendaknya engkau mengharap pahalanya di sisi Allah Subhanahu wata’ala.”

Kasih Sayang terhadap Umat

Beliau sangat penyayang, dermawan, dan menghormati tamu. Tatkala datang kepada beliau tamu yang berasal dari berbagai daerah atau negara, beliau segera mengundangnya untuk makan siang atau makan malam. Beliau juga akan bertanya tentang kabarnya dan kabar ayah ibunya, bertanya tentang sebagian kerabatnya, serta tentang orang-orang yang dikenal sebagai ulama di negeri asal sang tamu. Asy-Syaikh Abdul Muhsin al-‘Abbad hafizhahullah mengisahkan kunjungannya kepada gurunya, asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baaz rahimahullah, “Pada tahun terakhir sebelum beliau meninggal, saya pergi ke Makkah, dua hari sebelum pergi ke Thaif bertepatan dengan hari Kamis, 29 Dzulhijah. Saya dan beberapa anak saya pergi untuk mengunjungi beliau secara khusus. Tatkala kami sampai dan mengucapkan salam, sebagaimana biasanya beliau rahimahullah segera bertanya kepada kami tentang kabar kami dan kabar kedua orang tua kami, sekaligus mengundang makan siang. Saya katakan kepada beliau, ‘Sesungguhnya kami datang dari Madinah dengan tujuan khusus untuk mengunjungi Anda dan makan siang bersama Anda. Setelah itu, kami kembali ke Madinah.” Beliau menjawab, ‘Allah Subhanahu wata’ala berfirman dalam hadits qudsi,

وَجَبَتْ مَحَبَّتِي لِلْمُتَحَابِيْنَ وَالْمُتَزَاوِرِينَ فِيَّ

‘Kecintaan-Ku wajib didapatkan oleh orang-orang yang saling mencintai dan mengunjungi karena Aku’.

Adab Terhadap Para Ulama

“Beliau rahimahullah sangat memerhatikan permasalahan fikih. Beliau sendiri adalah rujukan dalam hal fatwa, baik di dalam maupun di luar Kerajaan Saudi. Beliau adalah seorang mufti (ahli fatwa) dunia. Sebagaimana yang telah saya sebutkan, umat manusia atau kaum muslimin bahkan merujuk kepada beliau dalam berbagai masalah yang diperselisihkan. Beliau rahimahullah sangat teliti menyebutkan sebuah pendapat atau hukum dengan disertai dalilnya dan menjelaskan sisi pendalilannya, baik dalil-dalil wahyu maupun dalil secara logika. Ketika mengkritisi sebuah pendapat yang menurut keyakinan beliau menyelisihi kebenaran, beliau sangat beradab terhadap para ulama rahimahumullah. Beliau berkata, ‘Pendapat ini perlu diteliti, dan yang benar adalah demikian dan demikian.’ Barang siapa menelaah catatan kaki beliau dalam kitab Fathul Bari jilid ketiga, niscaya dia akan mendapatkan hal itu dengan jelas dan terang.

Tatkala beliau mengkritisi al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah atau para ulama yang beliau nukil pendapatnya, beliau mengawali kritikannya dengan ucapan, ‘Pendapat ini butuh diteliti, dan yang benar adalah demikian dan demikian,’ sambil menyebutkan dalilnya. Adapun pendapat yang jelas-jelas salah atau batil yang menyelisihi alhaq dan dalil, beliau akan berkata, ‘Pendapat ini sangat jelas kebatilannya’, ‘Pendapat ini tidak benar’, atau ‘Ini adalah pendapat yang batil’, atau ungkapan yang semisalnya.” Demikianlah sedikit gambaran yang menakjubkan tentang akhlak dan kepribadian sebuah pribadi yang menjadi suri teladan. Mudah-mudahan Allah Subhanahu wata’ala senantiasa melimpahkan hidayah dan taufik kepada kita semua untuk terus-menerus berusaha memperbaiki akhlak dan kepribadian kita sehingga termasuk golongan para hamba-Nya yang beruntung dengan mendapatkan bagian warisan dari Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam. Amin ya Rabbal-alamin.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan

Wasiat Khalifah Ash-Shiddiq radhiyallahu‘anhu

Penulis Kanzul ‘Ummal menukil dari Abu Bakr bin Salim bin ‘Abdullah bin ‘Umar, yang meriwayatkan bahwa menjelang wafatnya, Abu Bakr menulis wasiat yang isinya antara lain. Bismillahirrahmanirrahim, Ini adalah keputusan Abu Bakr saat terakhirnya di dunia dan akan meninggalkannya, serta awal perjalanannya menuju akhirat dan memasukinya. Saat saat ketika orang yang kafir beriman, orang yang jahat pun bertakwa, dan pendusta berbuat jujur. Sungguh, saya telah menunjuk ‘Umar bin al-Khaththab (radhiyallahu ‘anhu) sebagai pengganti saya. Kalau dia berbuat adil, itulah yang saya yakini tentang dia. Kalau dia berbuat zalim dan mengubah (aturan), perkara baiklah yang saya harapkan dan saya tidak mengetahui perkara gaib. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَسَيَعْلَمُ الَّذِينَ ظَلَمُوا أَيَّ مُنقَلَبٍ يَنقَلِبُونَ

“Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali.” (asy-Syu’ara: 227)

Setelah itu, beliau menujukan wasiatnya kepada ‘Umar radhiyallahu ‘anhu, sebagaimana dinukil Ibnu Qudamah rahimahullah dalam Mukhtashar Minhajul Qashidin. “Sungguh, saya menyampaikan satu wasiat kepadamu, kalau kamu mau menerimanya. Sesungguhnya Allah Subhanahu wata’ala mempunyai hak di malam hari yang tidak diterima- Nya kalau ditunaikan pada siang hari. Allah Subhanahu wata’ala juga mempunyai hak di siang hari, yang tidak diterima-Nya jika ditunaikan pada malam hari.

Sesungguhnya Allah Subhanahu wata’ala tidak menerima amalan sunnah sampai yang wajib ditunaikan lebih dahulu. Sesungguhnya, beratnya timbangan amalan orang-orang yang berat timbangannya di akhirat adalah karena sikap ittiba’ (meneladani) mereka terhadap al-haq selama di dunia, sehingga hal itu berat atas mereka. Sangatlah pantas timbangan itu diletakkan padanya alhaq lalu menjadi berat. Ringannya timbangan mereka yang ringan timbangannya di akhirat adalah karena mereka mengikuti yang batil, dan diringankan (dimudahkan kebatilan itu) atas mereka di dunia. Pantaslah timbangan yang diletakkan di dalamnya kebatilan itu menjadi ringan.

Tidakkah kamu melihat bahwa Allah Subhanahu wata’ala menurunkan ayat tentang raja’ (harapan) bersama ayat tentang syiddah (kesulitan, kekerasan), dan menurunkan ayat tentang syiddah bersama ayat tentang raja’. Hal itu agar manusia tetap dalam keadaan berharap dan cemas, tidak sampai melemparkan mereka ke jurang kebinasaan dan mengangankan terhadap Allah Subhanahu wata’ala sesuatu yang tidak benar. Kalau kamu telah mengingat wasiatku ini, tidak ada lagi perkara gaib yang lebih kamu cintai melebihi kematian, padahal itu mesti kamu hadapi. Dan kalau kalian menyia-nyiakan wasiatku ini, tidak ada sesuatu yang lebih kamu benci melebihi kematian, padahal kamu mesti merasakannya dan tidak mampu menolaknya.” Di saat terakhir, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha melihat ayahandanya sedang menanti ajal, beliau radhiyallahu ‘anhu berkata, Demi Allah, tiadalah guna kekayaan bagi pemuda Jika napasnya tersengal menjemput ajal dan dada terasa sesak Tiba-tiba Abu Bakr menyingkap kain dari mukanya dan berkata, “Bukan begitu, tetapi bacalah,

وَجَاءَتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ بِالْحَقِّ ۖ ذَٰلِكَ مَا كُنتَ مِنْهُ تَحِيدُ

Dan datanglah sakratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari darinya.’ (Qaf: 19)

Perhatikan dua pakaianku ini, basuhlah keduanya dan jadikan sebagai kafanku, karena orang yang masih hidup lebih pantas mengenakan yang baru daripada orang mati.” Kemudian, beliau berwasiat agar yang memandikan jenazahnya adalah istrinya, Asma’ bintu ‘Umais radhiyallahu ‘anha.

Madinah Kembali Duka

Sa’id bin Manshur meriwayatkan dari Sa’id bin al-Musayyab rahimahullah, beliau berkata bahwa Aisyah pernah bermimpi seolaholah ada tiga buah bulan yang jatuh di rumahnya. Beliau pun menceritakannya kepada Abu Bakr yang memang dikenal pandai menakwilkan mimpi. Kata Abu Bakr, “Kalau benar mimpimu, pasti akan dikebumikan di dalam rumahmu tiga manusia terbaik di muka bumi.” Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam wafat dan dimakamkan di situ, Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu berkata, “Hai ‘Aisyah, inilah salah satu bulanmu yang terbaik itu.”1

Keadaan Abu Bakr bertambah berat. Putrinya, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, merawatnya dengan telaten. Saat-saat terakhir itu, Abu Bakr berpesan lagi, “Periksalah berapa sisa hartaku sejak aku jadi khalifah dan serahkanlah kepada khalifah sesudahku.” Sepeninggal beliau, mereka menghitungnya. Ternyata yang ada hanya seorang budak dan seekor unta untuk menyirami kebun. Harta itu kemudian diserahkan kepada ‘Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Melihat hal ini, ‘Umar menangis dan berkata, “Semoga Allah Subhanahu wata’ala merahmati Abu Bakr. Sungguh, beliau membuat payah orang yang sesudahnya (untuk bisa berbuat hal yang sama).” Senin malam, 22 Jumadil Akhir 13 H, atau 22 Agustus 634 M, dalam usia 63 tahun, seusia Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ketika wafat, berangkatlah jiwa yang tenang itu ke hadirat Allah Subhanahu wata’ala, terdengar bisikannya yang terakhir dengan suara yang lirih membaca,

تَوَفَّنِي مُسْلِمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ

“Wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh.” (Yusuf: 101)

Madinah kembali diguncang oleh tangis dan kesedihan. Sekali lagi kaum muslimin kehilangan pemimpin yang mereka cintai dan hormati, manusia terbaik setelah Nabi mereka Shallallahu ‘alaihi wasallam. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dan beberapa wanita yang ada di dalamnya menangis, tetapi mereka segera dilarang oleh ‘Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu dengan memerintahkan Hisyam bin al-Walid radhiyallahu ‘anhu mengeluarkan mereka. Jenazah Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu dibawa ke Masjid Nabawi dan dishalati di antara mimbar dan makam Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Kemudian, beliau dibawa ke rumah ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dan dikuburkan di sebelah makam Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, dengan posisi kepala di dekat pundak Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Ketika masih hidup mereka bersahabat dekat, setelah wafat kubur mereka berdampingan, dan di akhirat— sebagaimana diriwayatkan—mereka juga berdekatan. Inilah bulan kedua yang jatuh dalam rumah ‘Aisyah sebagaimana mimpi beliau yang ditakwil oleh ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu.

Setelah beliau wafat, datanglah ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu sambil menangis dan mengucapkan Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Beliau segera menuju rumah duka dan berkata, “Semoga Allah Subhanahu wata’ala merahmatimu, wahai Abu Bakr. Demi Allah, engkau adalah yang orang pertama masuk Islam, paling dalam imannya, paling kuat keyakinannya, paling besar kekayaannya, paling menjaga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, paling cemburu terhadap Islam dan sangat membela pemeluknya, serta paling mirip dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hal akhlak, keutamaan, bimbingan, dan kepribadian. Semoga Allah Subhanahu wata’ala memberimu balasan yang baik atas jasamu terhadap Islam, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, dan kaum muslimin. Engkau membenarkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam di saat manusia mendustakan beliau, menyantuni beliau ketika mereka kikir terhadap beliau, engkau berdiri bersama beliau ketika mereka duduk, dan Allah Subhanahu wata’ala menamakanmu Shiddiq di dalam Kitab-Nya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَالَّذِي جَاءَ بِالصِّدْقِ وَصَدَّقَ بِهِ ۙ

Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya.’ (az-Zumar: 33)

yang dimaksud adalah Muhammad (Shallallahu ‘alaihi wasallam) dan dirimu. Engkau, demi Allah, benar-benar benteng bagi kaum muslimin dan bencana bagi orang-orang yang kafir. Argumenmu tidak salah, bashirah (mata hatimu) tidak lemah, dan jiwamu tidak pernah gentar, seperti gunung yang tidak bergerak diterpa oleh angin kencang dan tidak runtuh dihantam oleh badai. Engkau seperti yang dikatakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, lemah fisikmu, tetapi kuat agamamu. Rendah hatimu, agung jiwamu di sisi Allah Subhanahu wata’ala, mulia di muka bumi, besar di kalangan orang-orang yang beriman.

Tidak ada seorang pun mempunyai ambisi dan hawa nafsu di hadapanmu. Yang lemah bagimu adalah kuat, dan yang kuat itu lemah, sampai engkau mengambil hak orang lemah dari yang kuat lalu dikembalikan kepada si lemah. Semoga Allah Subhanahu wata’ala tidak mengharamkan kami memperoleh pahalamu, dan tidak menyesatkan kami sepeninggal engkau.” Inilah salah satu pujian ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu terhadap Abu Bakr ash- Shiddiq. Adapun orang-orang yang sesat dari kalangan Syiah Rafidhah selalu menyimpan dendam dan kebencian terhadap beliau radhiyallahu ‘anhu. Wallahu a’lam. (Selanjutnya insya Allah: Amirul Mukminin ‘Umar al-Faruq radhiallahu ‘anhu)

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Harits

Kisah Sapi Betina (2)

Bani Israil telah merasakan kepahitan akibat banyak bertanya dan menyalahi perintah nabi mereka yang mulia, Musa ‘alaihissalam. Setelah bersusah payah mencarinya, mereka menemukan juga sapi yang mereka ‘inginkan’. Tetapi, apa yang terjadi setelah kasus itu terbongkar?

Akhir Peristiwa

Allah  Subhanahu wata’ala berfirman,

وَإِذْ قَتَلْتُمْ نَفْسًا فَادَّارَأْتُمْ فِيهَا ۖ وَاللَّهُ مُخْرِجٌ مَّا كُنتُمْ تَكْتُمُونَ

“Dan (ingatlah), ketika kamu membunuh seorang manusia lalu kamu saling menuduh tentang itu. Allah hendak menyingkapkan apa yang selama ini kamu sembunyikan.” (al-Baqarah: 72)

Ayat ini, meskipun dibaca pada bagian akhir kisah, sebetulnya secara makna lebih dahulu dari semua yang telah lalu tentang urusan sapi betina ini. Sebab, perintah menyembelih sapi ini adalah karena adanya pembunuhan.1 Sebagian ahli tafsir menerangkan bahwa firman Allah  Subhanahu wata’ala وَاللَّهُ مُخْرِجٌ (Dan Allah hendak menyingkapkan) adalah jumlah i’tiradhiyah, faedahnya ialah menekankan bahwa pertikaian bani Israil tentang pembunuhan itu tidak ada gunanya. Sama saja bagi mereka, apakah akan menutup-nutupi atau menyembunyikannya dan saling menuduh satu sama lain, karena Allah  Subhanahu wata’ala akan menampakkannya.2 Kemudian Allah  Subhanahu wata’ala berfirman,

فَقُلْنَا اضْرِبُوهُ بِبَعْضِهَا ۚ كَذَٰلِكَ يُحْيِي اللَّهُ الْمَوْتَىٰ وَيُرِيكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

Lalu Kami berfirman, “Pukullah mayat itu dengan sebagian anggota sapi betina itu!” Demikianlah Allah menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati, dan memperlihatkan kepadamu tanda-tanda kekuasaan-Nya agar kamu mengerti.” (al-Baqarah: 73)

Bagian mana saja yang dipukulkan ke mayat itu, maka keajaiban atau mukjizat pasti terjadi. Seandainya ada manfaatnya bagi dunia dan akhirat kita dengan menyebutkan bagian yang mana dari tubuh sapi itu yang dipukulkan ke mayat tersebut, Allah  Subhanahu wata’ala tentu menerangkannya kepada kita di dalam al-Qur’an atau sunnah yang sahih dari Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam. Setelah sapi itu disembelih, salah satu bagian tubuhnya dipukulkan ke mayat itu. Dengan izin Allah Subhanahu wata’ala, orang itu hidup kembali,

كَذَٰلِكَ يُحْيِي اللَّهُ الْمَوْتَىٰ وَيُرِيكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

“Demikianlah Allah menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati, dan memperlihatkan kepadamu tanda-tanda kekuasaan-Nya agar kamu mengerti.”

Kembali Allah  Subhanahu wata’ala menampakkan kekuasaan-Nya kepada bani Israil secara khusus, dan kepada seluruh manusia. Sebagaimana Dia telah menghidupkan kembali orang yang mati itu, Dia juga akan menghidupkan kembali semua yang telah diwafatkan-Nya. Semua itu adalah perkara yang sangat mudah bagi Allah Subhanahu wata’ala. Bahkan, Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

مَّا خَلْقُكُمْ وَلَا بَعْثُكُمْ إِلَّا كَنَفْسٍ وَاحِدَةٍ ۗ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ

“Tidaklah Allah menciptakan dan membangkitkan kamu (dari dalam kubur) itu melainkan hanyalah seperti (menciptakan dan membangkitkan) satu jiwa saja. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Luqman: 28)

Diceritakan oleh ulama bahwa Nabi Musa ‘Alaihissalam menanyai orang tersebut, “Siapa yang telah membunuhmu?” “Kerabatku,” katanya, kemudian orang itu kembali menjadi mayat. Bani Israil kaget. Ternyata orangorang yang menuduh serta ingin menuntut balas dan diyat atas kematian saudara mereka, ternyata adalah orang-orang yang membunuhnya. Tetapi, sekali lagi mereka bertikai. Orang-orang yang tertuduh itu mengingkari perbuatan mereka. Allah  Subhanahu wata’ala berfirman,

ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُم مِّن بَعْدِ ذَٰلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً ۚ وَإِنَّ مِنَ الْحِجَارَةِ لَمَا يَتَفَجَّرُ مِنْهُ الْأَنْهَارُ ۚ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَشَّقَّقُ فَيَخْرُجُ مِنْهُ الْمَاءُ ۚ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَهْبِطُ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

“Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal di antara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungaisungai darinya, dan di antaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air darinya, dan di antaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan.” (al-Baqarah: 74)

Setelah melihat kejadian yang luar biasa itu, orang yang terbunuh hidup kembali dan menerangkan siapa yang membunuhnya, semestinya hati mereka menjadi lembut dan semakin takut kepada Allah Subhanahu wata’ala, tunduk serta menerima keputusan-Nya. Tetapi, tidak demikian halnya dengan mereka. Bani Israil bukannya semakin bertambah rasa takut di hati mereka, bahkan hati itu menjadi kaku dan keras. Sudah jelas siapa yang melakukan kejahatan tersebut, tetapi mereka menyangkal, bahkan bersumpah bahwa mereka tidak membunuhnya.

Wallahu a’lam. Dalam ayat di atas, Allah  Subhanahu wata’ala menerangkan tingkat kekerasan hati mereka yang jauh lebih keras dari sebuah batu. Tetapi, Allah  Subhanahu wata’ala menyucikan batu itu dari sifat dan watak bani Israil. Di antara batu itu ada yang memancarkan air, ada yang terbelah sehingga dilewati oleh air, dan ada yang jatuh karena takut kepada Allah Subhanahu wata’ala. Bahkan, Allah  Subhanahu wata’ala berfirman,

لَوْ أَنزَلْنَا هَٰذَا الْقُرْآنَ عَلَىٰ جَبَلٍ لَّرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُّتَصَدِّعًا مِّنْ خَشْيَةِ اللَّهِ ۚ وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

“Kalau sekiranya Kami menurunkan al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berpikir.” (al-Hasyr: 21)

Oleh sebab itu, alangkah celakanya hati yang kaku dan keras, bahkan melebihi batu. Padahal, sebuah gunung yang besar dan tinggi menjulang, akan lebur apabila al-Qur’an ini diturunkan kepadanya. Sebab, hati yang qasi (kaku, keras, dan beku) tidak akan mau menerima kebenaran, meskipun banyak bukti dan dalilnya. Inilah keadaan mereka, setelah melihat bukti nyata di depan mata, mereka tetap mengingkari, membantah, dan tidak mau tunduk. Sampai saat ini, sejak di masa wahyu ini turun, mereka selalu mengingkari kebenaran, padahal sudah jelas di depan mata mereka. Menurut az-Zajaj, kata “qasat” sama dengan “ghalizha” (kasar), “yabisat” (kering), dan “asiyat” (kaku, keras, beku).

Jadi, qasawatul qalbi artinya ialah hati yang telah kehilangan kelembutan, kasih sayang, dan ketundukan. Sifat keras ini bukanlah sifat keras yang terpuji, karena hati itu seharusnya adalah kuat tetapi bukan kasar, lembut tetapi bukan lemah. Seperti tangan yang memiliki kekuatan sekaligus kelembutan,bukan seperti tumit yang kering, tidak ada kelembutannya, meskipun memiliki kekuatan. Demikian menurut Ibnu Qutaibah rahimahullah yang dinukil oleh Syaikhul Islam rahimahullah dalam Majmu’ Fatawa (7/28—30). Ini adalah musibah yang sangat  besar yang menimpa seorang manusia, sebagaimana kata Malik bin Dinar rahimahullah, “Tidak ada hukuman paling berat yang menimpa seseorang daripada qasawah (kaku, keras, kasar, dan beku) hatinya.” Bahkan, Allah  Subhanahu wata’ala mengancam orangorang yang qasi hatinya, sebagaimana firman-Nya,

فَوَيْلٌ لِّلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُم مِّن ذِكْرِ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ فِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ

‘Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.’ (az-Zumar: 22)

Orang yang celaka ini adalah orangorang yang tidak menjadi lembut hatinya karena mengingat Allah Subhanahu wata’ala, tidak pula tunduk, menjaga dan memahami. Tidak pula mau mengingat ayat-ayat-Nya, dan tidak merasa tenang mengingat-Nya. Bahkan, berpaling kepada yang lain, dan memilih yang lain.”

 

Beberapa Faedah dan Hikmah

Di dalam kisah ini terkandung banyak pelajaran yang berharga bagi orangorang yang beriman. Merekalah Ulul Albab yang dapat memetik hikmah dan pelajaran yang terdapat dalam ayat-ayat Allah Subhanahu wata’ala, baik yang ada di alam semesta dan diri mereka sendiri, maupun ayatayat yang terdapat dalam Kitab-Nya yang mulia, al-Qur’anul Karim. Allah  Subhanahu wata’ala berfirman,

لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِّأُولِي الْأَلْبَابِ

“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.” (Yusuf: 111)

Kisah yang — sepertinya — menampakkan kejelekan orang-orang yang menyertai Nabi Musa ‘Alaihissalam ini, adalah tamparan keras bagi orangorang Yahudi yang hidup di zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan yang bersama kita saat ini. Orang-orang Yahudi yang sangat membanggakan nenek moyang mereka serta ingin mengembalikan kemegahan dan kejayaan mereka, hendaklah bercermin dengan sejarah masa lalu mereka. Seandainya dikatakan bahwa mereka yang bersama Nabi Musa ‘Alaihissalam sudah bertobat dan dimaafkan oleh Allah Subhanahu wata’ala, maka itulah kemuliaan dan kelebihan mereka. Tetapi, tidak demikian halnya anak cucu mereka yang kufur kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam pada masa turunnya wahyu, lebih-lebih Yahudi di zaman ini. Wallahul musta’an. Di antara pelajaran berharga dari kisah ini ialah sebagai berikut.

1. Mukjizat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sekaligus bukti kenabian beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam, dengan menerangkan berita yang benar dan pasti tentang bani Israil.

2. Tidak boleh menyikapi perintah Allah  Subhanahu wata’ala dengan cara banyak tanya, tetapi hendaklah segera melaksanakannya sebisa dan sesegera mungkin.

3. Orang yang zalim dan jahat itu dibalas dengan menerima kebalikan dari apa yang diinginkannya. Seperti pelaku pembunuhan ini, dia terhalang dari warisan yang diperolehnya, malahan dihukum karena perbuatannya. Wallahu a’lam.

4. Kisah ini menunjukkan kepada kita bahwa kita pasti dibangkitkan, bahkan inilah yang disepakati oleh para nabi dan rasul ‘alaihimushshalatu wassalam.

5 . Suka meremehkan dan mempermainkan orang lain adalah sikap dan perbuatan orang-orang yang jahil, bahkan hendaknya kita berlindung dari kebodohan tersebut.

6. Tidak adanya adab bani Israil terhadap para nabi Allah, ‘alaihimush shalatu wassalam, bahkan tidak pula kepada Allah Subhanahu wata’ala.

7. Allah Maha Mengetahui apa yang ditampakkan dan disembunyikan oleh siapa pun, baik perkara yang umum maupun hal-hal yang sekecil apa pun.

8. Akal manusia, secerdas apa pun tidak berhak mengoreksi wahyu yang datang dari langit (termasuk di sini al-Qur’an dan as-Sunnah yang sahih). Lebih-lebih lagi jika pemikiran itu bersumber dari orang-orang yang ingkar kepada Allah  Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam.

9. Seorang muslim wajib menghadapi ketetapan syariat itu dengan sikap menerima dan berserah diri serta tunduk kepada Allah Subhanahu wata’ala dengan sukarela. Inilah tanda dan bukti keimanan.

10. Keutamaan umat (para sahabat) Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam yang tidak bersikap lancang dan ingkar sebagaimana sikap bani Israil terhadap para nabi mereka.

11. Tidak boleh bersikap tasyaddud karena akan menyusahkan diri mereka sendiri. Renungkan kembali kisah di atas, dan lihatlah bagaimana bani Israil dipersulit akibat bersikap memberatberatkan diri dan banyak bertanya.

12. Agama ini mudah, siapa mempersulit dirinya, pasti kalah.

13. Semua yang diperintahkan Allah  Subhanahu wata’ala kepada kita pasti mengandung kebaikan, baik kita mengetahui hikmahnya maupun tidak.

14. Melaksanakan perintah sejak pertama kali dikeluarkan adalah perbuatan yang terpuji. Hal inilah yang pernah ditanyakan oleh sahabat kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, “Amalan apakah yang paling utama?” Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

الصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا

“Shalat pada waktunya.”

15. Banyak tanya dan menyelisihi aturan para nabi Allah ‘alaihimush shalatu wassalam adalah sebagian sebab kebinasaan umat-umat terdahulu. Kebinasaan itu bisa terjadi berupa ditindas oleh musuh, kesempitan hidup, atau mendapat murka dan hukuman Allah Subhanahu wata’ala. Oleh sebab itu, kaum muslimin janganlah tertipu oleh keadaan lahiriah musuh-musuh Allah Subhanahu wata’ala, baik Yahudi, Nasrani, maupun orang-orang musyrik. Kemewahan, kesehatan, dan kekuatan mereka bukanlah bukti bahwa mereka dicintai oleh Allah Subhanahu wata’ala.

16. Bani Israil diuji oleh Allah  Subhanahu wata’ala dengan sapi dua kali. Yang pertama ketika mereka diuji sehingga menyembah patung anak sapi; dan kedua, diuji dengan perintah untuk menyembelihnya. Sapi sendiri dikenal sebagai salah satu di antara hewan-hewan yang sangat bodoh, sehingga sering menjadi tamsil. Kisah ini, menurut Ibnul Qayyim rahimahullah, terjadi setelah peristiwa patung anak sapi. Seakan-akan, perintah menyembelih sapi ini menyadarkan mereka bahwa makhluk yang bodoh ini tidak layak menjadi sesuatu yang disembah (diibadahi) bersama Allah Subhanahu wata’ala. Seekor sapi hanya pantas untuk membajak tanah. Faedah lainnya dari rangkaian kisah ini, menerangkan kepada kita betapa buruknya akhlak orang-orang Yahudi. Mereka mempunyai watak selalu berbuat curang, melanggar janji, dan khianat. Mereka juga selalu mendurhakai para nabi dan rasul yang diutus kepada mereka, tidak menghargai para rasul tersebut. Sebab itulah, Allah  Subhanahu wata’ala murka kepada mereka.

Penutup

Untuk kaum muslimin yang terpesona dengan gelar akademik yang diperolehnya dalam mempelajari Islam di negeri kafir, apakah orang-orang sejenis ini yang pantas diikuti dan dijadikan acuan untuk mengoreksi al-Qur’anul Karim dan ajaran Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam? Semoga Allah Subhanahu wata’ala memberi hidayah dan taufik kepada mereka. Karena itu pula, tidak selayaknya kaum muslimin menaruh kepercayaan kepada mereka, lebih-lebih dalam urusan agama, seperti yang dilakukan sebagian anak-anak kaum muslimin yang mempelajari agama Islam dari orangorang Yahudi dan Nasrani. Wallahul musta’an.

Apa yang menjadi sandaran mereka mempelajari Islam? Kitab yang ada di tangan mereka? Atau al-Qur’anul Karim yang ada di tangan kaum muslimin? Kalau al-Qur’anul Karim yang menjadi pegangan mereka dalam mempelajari Islam, apakah mereka lebih mengerti isi al-Qur’an daripada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang menerima langsung al-Qur’an sebagai wahyu Allah Subhanahu wata’ala? Atau apakah mereka lebih mengenal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam daripada para sahabat yang melihat langsung bagaimana Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam mempraktikkan isi al- Qur’an dalam kehidupan sehari-hari?

Asy-Syaikh Rahmatullah al-Hindi rahimahullah dalam Izh-harul Haq (1/61) menyebutkan bahwa ahli kitab (Yahudi dan Nasrani) tidak mempunyai sanad yang bersambung untuk Kitab Perjanjian Lama ataupun Baru yang ada pada mereka. Beliau melanjutkan, sebuah kitab samawi wajib diterima apabila lebih dahulu jelas pasti keasliannya dengan bukti yang sempurna dan lengkap bahwa kitab ini memang ditulis oleh seorang nabi tertentu, kemudian sampai ke tangan kita dengan sanad bersambung, tanpa perubahan apa pun. Penyandaran kepada sosok yang diberi ilham sematamata berdasarkan dugaan, tidak cukup memastikan bahwa kitab tersebut ditulis oleh nabi itu. Demikian pula sekadar pengakuan satu golongan tertentu bahwa itu ditulis oleh nabi tersebut, tidak dapat dijadikan dasar memastikan bahwa itu adalah kitab samawi. Beliau menyebutkan beberapa contoh kitab yang dinisbatkan kepada Nabi Musa, ‘Isa, Sulaiman, Ezra, dan lain-lain, yang justru diperselisihkan oleh golongan Katolik dan Protestan keabsahannya. Wallahu a’lam.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Harits

Buah keimanan (7)

Iman adalah sandaran kaum mukminin di setiap keadaan mereka, baik suka maupun duka, takut maupun aman, ketika mengerjakan ketaatan maupun jatuh ke dalam kemaksiatan, dan setiap urusan yang dilalui oleh setiap manusia. Saat mendapat kebahagiaan dan kesenangan, mereka bersandar kepada keimanan sehingga mereka memuji Allah Subhanahu wata’ala, menyanjung-Nya, dan menggunakan kenikmatan tersebut dalam hal yang dicintai oleh Dzat yang memberikannya.

Saat ditimpa kesusahan dan kesedihan, mereka bersandar kepada keimanan dari berbagai sisi. Mereka menghibur diri dengan iman dan kemanisannya. Mereka menghibur diri dengan mengharap pahala yang akan diperoleh dari musibah itu. Mereka menghadapi kesedihan dan kegoncangan dengan hati yang lapang. Kehidupan bahagia pun menjadi penangkal segala kesedihan dan duka. Ketika datang rasa takut, mereka bersandar pada keimanan sehingga merasa tenang dengannya. Saat datang rasa takut, justru bertambah keimanan, kekokohan, kekuatan, dan keberanian mereka. Sirnalah ketakutan yang menimpa. Hal ini sebagaimana firman Allah  Subhanahu wata’ala tentang para manusia pilihan, yaitu para sahabat radhiyallahu ‘anhuma,

الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ {}فَانقَلَبُوا بِنِعْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ وَفَضْلٍ لَّمْ يَمْسَسْهُمْ سُوءٌ وَاتَّبَعُوا رِضْوَانَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ ذُو فَضْلٍ عَظِيمٍ

“(Yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan, ‘Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kalian, karena itu takutlah kepada mereka.’ Perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, ‘Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.’ Mereka pun kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah. Mereka tidak mendapat bencana apaapa, mereka mengikuti keridhaan Allah. Allah mempunyai karunia yang besar.” (Ali ‘Imran: 173—174)

Telah sirna rasa takut dari hati orang-orang pilihan itu. Kekuatan dan kemanisan iman, kuatnya tawakal, serta keyakinan terhadap janji-Nya telah menggantikan rasa takut yang hinggap di hati mereka. Ketika mendapat rasa aman, mereka kembali kepada keimanan sehingga rasa aman tersebut tidak membuat mereka angkuh dan sombong. Mereka justru bertawadhu’, bersikap rendah hati. Mereka menyadari bahwa rasa aman itu adalah pemberian Allah Subhanahu wata’ala, karunia dan kemudahan dari-Nya. Mereka bersyukur kepada Dzat yang telah memberi kenikmatan kepada mereka berupa keamanan dan sebab-sebabnya. Mereka sadar, apabila mereka mampu mengalahkan musuh-musuh, itu hanyalah daya, upaya, dan karunia dari Allah  Subhanahu wata’ala semata, bukan daya dan upaya mereka. Ketika mendapatkan taufik untuk berbuat ketaatan dan mengerjakan amalan saleh, mereka bersandar kepada keimanan. Mereka menyadari bahwa amalan saleh tersebut adalah nikmat Allah  Subhanahu wata’ala atas mereka.

Mereka meyakini bahwa nikmat berupa amal saleh itu lebih besar daripada nikmat yang berupa rezeki dan kesehatan. Demikian pula, mereka bersemangat untuk menyempurnakan amalan dan menjalani segala sebab agar amalan diterima, tidak tertolak, dan tidak terdapat kekurangan di dalamnya. Mereka memohon kepada Dzat yang telah mengaruniakan taufik kepada mereka agar menyempurnakan nikmat tersebut dengan menerima amalan mereka. Mereka memohon kepada Dzat yang telah mengaruniakan taufik kepada mereka untuk menjalankan pokok sebuah amalan agar menyempurnakan berbagai kekurangan amalan mereka. Mereka bersandar kepada keimanan saat mereka tertimpa musibah, terjatuh dalam perbuatan maksiat. Mereka bersegera bertobat darinya, sekaligus berjuang sekuat tenaga menjalankan amalan kebaikan untuk menutupi segala kekurangan yang disebabkan oleh kemaksiatannya. Allah  Subhanahu wata’ala berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَوْا إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِّنَ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُوا فَإِذَا هُم مُّبْصِرُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa waswas dari setan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.” ( al-A’raf: 201)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَثَلُ الْمُؤْمِنِ وَمَثَلُ الْإِيمَانِ كَمَثَلِ الْفَرَسِ الْمَرْبُوطِ فِي آخِيَتِهِ، يَجُولُ مَا يَجُولُ ثُمَّ يَرْجِعُ إِلَى آخِيَتِهِ

“Permisalan mukmin dan permisalan iman bagaikan kuda yang terikat di tali pancangnya. Ia pergi ke mana ia pergi, kemudian kembali ke tali pancangnya.” (HR. Ahmad, Ibnul Mubarak dalam az-Zuhd, Abu Nu’aim dalam al-Hilyah, dll, dinyatakan dhaif oleh al-Albani dalam Silsilah adh-Dha’ifah no. 6637)

Demikianlah keadaan orang yang beriman. Ia pergi sekehendaknya dalam kelalaian dan kelancangan, mengerjakan sebagian dosa, kemudian segera kembali dengan cepat menuju keimanan yang seluruh urusannya dibangun di atasnya. Seorang mukmin hendaknya senantiasa bersandar kepada iman dalam kondisi apa pun. Keinginan mereka hanyalah merealisasikan iman dan menolak segala hal yang bertentangan dengan keimanan. Itulah keutamaan dan karunia dari Allah Subhanahu wata’ala untuk mereka. (Diambil dari at-Taudhih wal Bayan li Syajaratil Iman karya asy-Syaikh as- Sa’di, hlm. 57-59)

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Abdul Jabbar

Al-Ghani

Al-Ghani adalah salah satu dari al-Asma’ul Husna. Sebuah nama yang menunjukkan kesempurnaan-Nya dan keagungan- Nya. Dialah al-Ghani, Yang Mahakaya, Maha cukup, dan tidak membutuhkan siapa pun dan apa pun. Nama ini tercantum dalam beberapa ayat al-Qur’an dan hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ {} إِن يَشَأْ يُذْهِبْكُمْ وَيَأْتِ بِخَلْقٍ جَدِيدٍ {} وَمَا ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ بِعَزِيزٍ

“Hai manusia, kamulah yang membutuhkan kepada Allah dan Allah Dialah Yang Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji. Jika Dia menghendaki, niscaya Dia memusnahkan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru (untuk menggantikan kamu). Dan yang demikian itu sekali-kali tidak sulit bagi Allah.” (Fathir: 15—17)

لَّهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ وَإِنَّ اللَّهَ لَهُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ

“Kepunyaan Allah-lah segala yang ada di langit dan segala yang ada di bumi. Dan sesungguhnya Allah benar benar Mahakaya lagi Maha Terpuji.” (al-Hajj: 64)

قَالُوا اتَّخَذَ اللَّهُ وَلَدًا ۗ سُبْحَانَهُ ۖ هُوَ الْغَنِيُّ ۖ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ

Mereka (orang-orang Yahudi dan Nasrani) berkata, “Allah mempuyai anak.” Mahasuci Allah. Dia-lah Yang Mahakaya; kepunyaan-Nya apa yang ada di langit dan apa yang di bumi. (Yunus: 68)

Di antara doa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam istisqa’ (meminta hujan) adalah,

اللَّهُمَّ أَنْتَ اللهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ الْغَنِيُّ وَنَحْنُ الْفُقَرَاءُ، أَنْزِلْ عَلَيْنَا الْغَيْثَ

“Ya Allah, Engkaulah Allah, tiada sesembahan yang benar selain Engkau, Engkaulah yang Mahakaya sedangkan kami orang-orang miskin yang membutuhkan. Turunkanlah kepada kami hujan….” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Hibban)

Asy-Syaikh Muhammad Khalil Harras menerangkan, “Di antara nama-nama Allah Subhanahu wata’ala adalah al-Ghani. Maknanya, Allah Subhanahu wata’ala memiliki kecukupan yang sempurna dan mutlak dari segala

sisinya. Kecukupan-Nya sama sekali tidak ternodai oleh sifat miskin dan membutuhkan. Sifat kecukupan dan kekayaan-Nya tidak mungkin lepas dari- Nya, karena sifat ini adalah konsekuensi dari Dzat-Nya, dan sifat yang terkait dengan Dzat-Nya tidak mungkin hilang.

Maka dari itu, tidak mungkin bagi Allah Subhanahu wata’ala kecuali sebagai Dzat Yang Mahacukup dan Mahakaya. Demikian pula, tidak mungkin bagi-Nya kecuali bersifat Dermawan, Pengasih, Baik, Penyayang, dan Pemurah. Sebagaimana kekayaan Allah Subhanahu wata’ala itu tidak terlepas dari Dzat-Nya, tidak mungkin pula menimpa-Nya sesuatu yang berlawanan dengannya baik kehinaan maupun rasa membutuhkan. Demikian pula kebutuhan para makhluk kepada-Nya, itu adalah kebutuhan yang bersifat dzati yang tidak mungkin sifat kebutuhannya hilang darinya walaupun sesaat saja. Makhluk senantiasa butuh kepada-Nya dalam hal keberadaan dan

eksistensinya, juga dalam segala hal kebutuhannya. Di antara luasnya kekayaan-Nya, bahwa perbendaharaan langit dan bumi semuanya berada di tangan-Nya, Allah Subhanahu wata’ala salurkan darinya sekehendak-Nya dan bahwa pemberian nikmat-Nya senantiasa berkesinambungan terus mengalir, tidak terputus walau sesaat sebagaimana tersebut dalam sebuah hadits,

يَمِينُ اللهِ مَلْأَى لاَ يَغِيضُهَا نَفَقَةٌ سَحَّاءُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ، أَرَأَيْتُمْ مَا أَنْفَقَ مُنْذُ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ فَإِنَّهُ لَمْ يَنْقُصْ مَا فِي يَمِينِهِ

“Sesungguhnya tangan kanan Allah Subhanahu wata’ala penuh, selalu memberi, malam dan siang, tidak menguranginya pemberian apa pun. Tidakkah engkau mengetahui apa yang Allah Subhanahu wata’ala berikan sejak Dia ciptakan langit-langit dan bumi? Sungguh, itu tidak mengurangi sedikit pun apa yang ada di tangan-Nya.” (Sahih, HR. al-Bukhari dan Muslim)

Di antara kesempurnaan kekayaan dan kemurahan-Nya, Allah Subhanahu wata’ala bentangkan tangan-Nya untuk mengijabahi doadoa bagi mereka yang berdoa, Allah Subhanahu wata’ala penuhi kebutuhannya, Allah Subhanahu wata’ala angkat kesulitannya, tidak pernah kesal dengan rengekan makhluk-makhluk yang meminta. Bahkan, Allah Subhanahu wata’ala murka kepada siapa yang tidak meminta kepada- Nya. Dia berikan kepada hamba-Nya apa yang mereka minta dan yang tidak mereka minta. Dalam hadits qudsi, Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ قَامُوا فِي صَعِيدٍ وَاحِدٍ فَسَأَلُونِي فَأَعْطَيْتُ كُلَّ إِنْسَانٍ مَسْأَلَتَهُ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِي إِلاَّ كَمَا يَنْقُصُ الْمِخْيَطُ إِذَا أُدْخِلَ الْبَحْرَ

“Wahai hamba-Ku, andai yang pertama hingga yang terakhir di antara kalian, bangsa manusia dan bangsa jin dari kalian, mereka berdiri pada satu hamparan lalu semuanya berdoa dan meminta kepada-Ku lalu Ku-kabulkan permintaan masing-masing, hal itu tidak mengurangi dari apa yang di sisi-Ku kecuali seperti jarum yang dicelupkan ke dalam lautan.” (Sahih, HR. Muslim)

Di antara kecukupan-Nya sehingga tidak membutuhkan kepada makhluk-Nya, bahwa Allah Subhanahu wata’ala tidak menjadikan bagi diri-Nya istri ataupun anak. Tiada serikat bagi-Nya dalam kerajaan-Nya, tidak pula memerlukan penolong karena terhina, karena Dia Mahakaya, Mahacukup, Maha Tidak Membutuhkan, yang telah sempurna segala sifat-sifat-Nya. Bahkan Dia pula yang mencukupi segala makhluk-Nya. (Syarah Nuniyyah) Di antara kesempurnaan kekayaan- Nya, serta keluasan pemberian-Nya adalah apa yang Ia hamparkan untuk penghuni rumah kemuliaan-Nya (surga), berupa kenikmatan, kelezatan yang terus-menerus, kebaikan yang berkesinambungan, serta nikmat-nikmat yang tidak pernah terlihat oleh mata, tak pernah terdengar oleh telinga, dan tidak pernah tebersit dalam kalbu seseorang. (as-Sa’di, Tafsir Aasma’illah Al-Husna)

Al-Halimi rahimahullah juga menjelaskan, “Dialah Yang Mahasempurna dengan apa yang dimiliki-Nya dan yang ada pada-Nya, dengan itu ia tidak butuh kepada yang lain. Allah Rabb kita yang Mahaagung pujian-Nya dengan sifat-Nya yang seperti ini, karena sifat ‘memerlukan’ merupakan suatu kekurangan, dan sesuatu yang membutuhkan berarti lemah disebabkan apa yang dia butuhkan sampai ia mendapatkan apa yang dibutuhkan. Sementara itu, sesuatu yang dibutuhkan memiliki jasa baginya dengan adanya sesuatu yang tidak dimiliki oleh yang membutuhkan. Kekurangan semacam ini tidak ada pada-Nya Yang Maha Terdahulu dalam keadaan bagaimana pun, kelemahan juga tidak mungkin ada pada-Nya.

Tidak mungkin juga bagi siapa pun akan memiliki jasa terhadap-Nya, karena semua selain-Nya adalah makhluk-Nya, ciptaan yang Ia ciptakan, tidak memiliki urusan Allah rahimahullah sedikit pun. Bahkan, makhluk-Nyalah yang tercipta seperti kehendak-Nya. Dia yang mengaturnya. Dengan demikian, tidak terbayang bahwa makhluk-Nya akan memiliki jasa terhadap-Nya.” (al-Baihaqi, dalam kitab al-Asma’ was Shifat)

Buah Mengimani Nama Allah al-Ghani

Betapa bahagianya kita, saat Allah Subhanahu wata’ala memberikan kepada kita taufik-Nya untuk hanya beribadah kepada-Nya, karena sesembahan kita Mahakaya, takkan merugi seseorang yang Tuhannya Maha kaya. Hal ini membuat kita sebagai hamba-Nya tidak berputus asa dalam meminta dan berdoa. Allah Subhanahu wata’ala bahkan memerintahkan kita untuk meminta-Nya dan menjanjikan untuk mengijabahinya, baik permintaan duniawi maupun ukhrawi. Saat kita bersalah lalu meminta ampunan-Nya, dengan kemurahan-Nya, Dia akan memberikan maaf-Nya. Saat kita terdesak kebutuhan, Dialah tujuan kita dalam meminta, niscaya Dia akan berikan. Dia tidak meminta sesuatu kepada kita berupa imbalan apa pun, hanya saja merupakan kewajiban kita untuk menunaikan hak-Nya, dengan beribadah hanya kepada-Nya. Namun, perlu diingat, tentu tidak semua doa akan dikabulkan oleh Allah Subhanahu wata’ala. Hanya doa-doa yang baik dan terpenuhi syaratnya serta selamat dari segala penghalang terkabulnya. Terkadang Allah Subhanahu wata’ala mengabulkannya nanti di akhirat, atau dengan menghindarkan kejelekan yang senilai dengan apa yang dia minta. Dengan mengimani nama ini, kita juga menyadari kelemahan sesembahansesembahan selain Allah Subhanahu wata’ala yang tidak memiliki apa pun. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

يُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَيُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي لِأَجَلٍ مُّسَمًّى ۚ ذَٰلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ لَهُ الْمُلْكُ ۚ وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِن دُونِهِ مَا يَمْلِكُونَ مِن قِطْمِيرٍ {} إِن تَدْعُوهُمْ لَا يَسْمَعُوا دُعَاءَكُمْ وَلَوْ سَمِعُوا مَا اسْتَجَابُوا لَكُمْ ۖ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُونَ بِشِرْكِكُمْ ۚ وَلَا يُنَبِّئُكَ مِثْلُ خَبِيرٍ {} يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ

“Yang (berbuat) demikian itulah Allah Rabbmu, kepunyaan-Nyalah kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari pada biji kurma. Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu; dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. Dan di hari kiamat mereka akan mengingkari kesyirikanmu dan tidak ada yang dapat memberi keterangan kepadamu sebagai yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui. Hai manusia, kamulah yang butuh kepada Allah; dan Allah Dialah Yang Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.” (Fathir: 13—15)

Jika demikian keadaan sesembahan selain Allah Subhanahu wata’ala, lantas atas dasar apa mereka diibadahi? Ia tidak memiliki apaapa, maka tidak berhak diibadahi sama sekali. Sungguh merugi seseorang yang tuhannya semacam ini. Ya, rugi dunia akhirat dan itulah kerugian yang nyata.

Ditulis oleh Al-Ustadz Qomar Suaidi

Hukum Qunut Subuh

Apa hukumnya qunut subuh?

Syukran. j_syarif@….com

Dijawab oleh al-Ustadz Qomar Suaidi

Pembahasan qunut subuh yang dimaksud di sini adalah yang dilakukan secara terus-menerus, dengan doa yang khusus, seperti ( اللَّهُمَّ اهْدِنِي فِيمَنْ هَدَيْتَ )… dst.

Terjadi perbedaan pendapat para ulama dalam hal ini. Sebagian ulama mazhab Syafi’i dan Maliki berpendapat disyariatkannya qunut subuh. Sementara itu, ulama dari mazhab yang lain berpendapat bahwa qunut tersebut tidak disyariatkan. Mereka yang berpendapat disyariatkannya qunut tersebut berdalil dengan beberapa riwayat, yang paling inti adalah hadits berikut ini.

مَا زَالَ رَسُولُ اللهِ يَقْنَتُ فِي الْفَجْرِ حَتَّى   فَارَقَ الدُّنْيَا

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tetap melakukan qunut pada shalat subuh sampai berpisah dengan dunia.”

Untuk mengetahui manakah pendapat yang terkuat dalam hal ini, tentu kita harus mempelajari derajat hadits ini, apakah sahih atau dha’if. Beberapa ulama, seperti az-Zaila’i, Ibnu Hajar, dan asy-Syaikh al-Albani telah membahas hadits tersebut dalam buku-buku takhrij mereka. Demikian pula Ibnul Qayyim dalam kitab Zadul Ma’ad. Berikut ini rangkuman pembahasan mereka. Hadits ini diriwayatkan melalui jalan Abu Ja’far ar-Razi, dari Rabi’ bin Anas, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu. Rabi’ rahimahullah bercerita, “Aku duduk di sisi Anas bin Malik. Ada yang mengatakan kepada beliau, ‘Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan qunut selama satu bulan.’ Beliau pun mengatakan seperti yang tersebut di atas.”

Mari kita pelajari sanad hadits ini.
1. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu
Beliau adalah seorang sahabat yang terkenal, termasuk salah seorang sahabat yang meriwayatkan banyak hadits.

2. Rabi’ bin Anas rahimahullah
Beliau adalah seorang tabi’in. Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan dalam kitabnya, Taqribut Tahdzib, “Shaduq lahu auham (Jujur namun memiliki kekeliruankekeliruan).” Adz-Dzahabi rahimahullah dalam kitabnya, al-Kasyif, menukil ucapan Abu Hatim tentangnya, “Shaduq.”

3. Abu Ja’far ar-Razi
Namanya ialah Isa bin Abi Isa Abdullah bin Mahan. Ibnu Hajar t menilainya, “Shaduq sayyi’ul hifzh (jujur tetapi hafalannya lemah), terkhusus kalau meriwayatkan dari Mughirah.” (Taqrib at-Tahdzib 8077)

Adz-Dzahabi rahimahullah menukilkan penilaian Abu Zur’ah rahimahullah terhadapnya, “Yahimu katsiran (sering keliru).” Adapun penilaian an-Nasa’i terhadapnya, “Laisa bil qawi (tidak kuat betul).” Sementara itu, Abu Hatim rahimahullah menganggapnya tsiqah (tepercaya). (al-Kasyif 6563)

Alhasil, para ulama hadits dalam bidang jarh wa ta’dil berbeda pendapat tentang keadaannya. Nukilan penilaian para ulama terhadapnya bisa dilihat dalam kitab Tahdzibut Tahdzib pada biografi beliau. Bisa disimpulkan bahwa di antara mereka ada yang menyebutnya sebagai tsiqah, shaduq, ada kelemahan, melakukan kekeliruan, jelek hafalannya, tidak kuat, dan seputar itu. Maknanya, ada sisi kebaikan pada kepribadian dan keagamaannya, serta punya kemampuan dalam hal hafalan, namun bukan pada derajat orang-orang yang tsiqah atau shaduq secara mutlak. Ini terbukti dengan adanya kekeliruan-kekeliruannya ketika meriwayatkan. Kesimpulan rawi yang seperti ini adalah apabila meriwayatkan sesuatu tanpa ada dukungan, riwayatnya tertolak. Hal ini seperti yang dikatakan oleh Ibnu Hibban Shallallahu ‘alaihi wasallam, “Dia bersendiri dalam meriwayatkan dari orang orang yang terkenal dengan sesuatu yang diingkari oleh para ulama. Tidak mengagumkan saya untuk berhujah dengan haditsnya kecuali apabila sesuai dengan hadits orang-orang yang tsiqah. Riwayatnya tidak boleh dianggap kecuali yang tidak menyelisihi para perawi yang tsiqah.” (al-Majruhin 2/120)

Dengan demikian, kita tidak boleh menyatakan haditsnya sahih kecuali apabila sesuai dengan riwayat perawi lain yang tsiqah, atau didukung oleh para perawi lain yang tsiqah. Dan dalam hal ini, keduanya tidak ada. Dukungan dari perawi lain, yang diistilahkan dengan mutaba’ah dan syawahid, tidak terwujud sebagaimana telah dikaji oleh Ibnu Hajar Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam kitabnya, at-Talkhishul Habir, dan asy- Syaikh al-Albani Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam Silsilah adh- Dha’ifah.

Demikian pula kesesuaiannya dengan hadits tsiqah yang lain juga tidak terwujud, justru yang terjadi adalah bertentangan dengan hadits yang lain, di antaranya:
Pertama, hadits dari sahabat Anas radhiyallahu ‘anhu sendiri.

قَنَتَ رَسُولُ اللهِ شَهْرًا بَعْدَ الرُّكُوعِ يَدْعُو  عَلَى أَحْيَاءٍ مِنَ الْعَرَبِ

“Selama satu bulan, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan qunut setelah ruku’, mendoakan kecelakaan terhadap beberapa kabilah Arab.” (Muttafaqun alaihi)

Dalam riwayat Muslim rahimahullah terdapat tambahan, “Lalu beliau tidak melakukannya lagi.”

أَنَّ النَّبِيَّ كَانَ يَقْنُتُ إلّاَ إذَا دَعَى لِقَوْمٍ  أَوْ دَعَى عَلَى قَوْمٍ

“Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak melakukan qunut kecuali ketika mendoakan kebaikan atau kejelekan atas suatu kaum.” (HR. al-Khathib al-Baghdadi)

Kedua, hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.

كَانَ رَسُولُ اللهِ لَا يَقْنَتُ فِي صَ ةَالِ الصُّبْحِ إِلّاَ أَنْ يَدْعُوَ لِقَوْمٍ أَوْ عَلَى قَوْمٍ

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak melakukan qunut pada shalat subuh kecuali ketika mendoakan kebaikan atau kejelekan atas suatu kaum.” (HR. Ibnu Hibban)

Sanad kedua hadits tersebut dinyatakan sahih oleh Ibnu Hajar al- Asqalani rahimahullah dan penulis kitab at- Tanqih, Ibnu Abdil Hadi rahimahullah. Dengan demikian, hadits yang kita bahas di atas memiliki sisi kelemahan dan bertentangan dengan kandungan hadits yang sahih. Dalam ilmu mushthalah hadits, hadits yang semacam ini disebut sebagai hadits mungkar. Di antara ulama yang menghukumi lemahnya hadits ini adalah Ibnu Hajar al- Asqalani rahimahullah. Beliau adalah salah seorang ahli hadits dari kalangan mazhab Syafi’i. Beliau mengatakan dalam kitabnya, at-Talkhishul Habir (hadits no. 370),

“Riwayat-riwayat hadits berbeda-beda dalam periwayatannya dari sahabat Anas radhiyallahu ‘anhu dan telah goncang. Maka dari itu, hujah tidak tegak dengan hadits yang semacam ini.” Sebelumnya, Ibnul Jauzi rahimahullah juga melemahkannya dalam kitab at-Tahqiq dan al-‘Ilal al-Mutanahiyah. Demikian pula asy-Syaikh al-Albani rahimahullah menyatakan hadits ini mungkar dalam kitab Silsilah al-Ahadits adh- Dha’ifah (no. 1238).

Setelah kita mengetahui kedudukan hadits di atas, kita bahkan mendapati adanya pengingkaran dari sebagian sahabat terhadap qunut subuh. Dalam kitab Bulughul Maram, Ibnu Hajar al- Asqalani t menyampaikan hadits berikut.

عَنْ سَعْدِ بْنِ طَارِقٍ قَالَ: قُلْتُ لِأَبِي: يَا أَبَتِ،  إِنَّكَ قَدْ صَلَّيْتَ خَلْفَ رَسُولِ اللهِ وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ فَكَانُوا يَقْنُتُونَ فِى الْفَجْرِ؟ فَقَالَ: أَيْ بُنَيَّ، مُحْدَثٌ.

Dari Sa’d bin Thariq al-Asyja’i, ia mengatakan, “Aku bertanya kepada ayahku, ‘Wahai ayahku, sesungguhnya engkau telah shalat di belakang Rasulullah n, Abu Bakr, Umar, Utsman, dan Ali g. Apakah mereka melakukan qunut pada shalat subuh?’ Ia menjawab, “Wahai anakku, itu sesuatu yang baru.” (HR. al-Khamsah selain Abu Dawud dan dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani) Dalam kitab Ithaful Kiram (hlm. 90), sebuah syarah ringkas terhadap Bulughul Maram, disebutkan, “Maksudnya adalah bid’ah, sesuatu yang diada-adakan, dan tidak ada di zaman mereka. Yang ada adalah qunut nazilah yang terkadang dilakukan dan tidak terus-menerus.”

Tinjauan Makna Qunut
Apabila ditinjau dari sisi makna, hadits Anas radhiyallahu ‘anhu tentang qunut subuh di atas juga tidak secara tegas menunjukkan disyariatkannya pelaksanaan qunut subuh dengan doa seperti yang lazim dilakukan sekarang oleh orang-orang. Sebab, dalam riwayat tersebut tidak disebutkan demikian, bahkan dalam riwayat itu disebutkan, “Beliau tetap melakukan qunut pada shalat fajar….”

Di manakah keterangan bahwa maksud dari qunut tersebut adalah doa seperti yang dilakukan oleh orangorang? Doa yang biasa dibaca tersebut justru merupakan doa qunut witir yang diajarkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam kepada cucunya, al-Hasan radhiyallahu ‘anhu, bukan doa qunut subuh. Riwayat berikut ini menjelaskannya.

قَالَ الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ عَلَّمَنِي رَسُولُ اللهِ :كَلِمَاتٍ أَقُولُهُنَّ فِي الْوِتْرِ-قَالَ ابْنُ  جَوَّاسٍ: فِى قُنُوتِ الْوِتْرِ-: اللَّهُمَّ اهْدِنِي فِيمَنْ
هَدَيْتَ، وَعَافِنِي فِيمَنْ عَافَيْتَ، وَتَوَلَّنِى فِيمَنْ تَوَلَّيْتَ، وَبَارِكْ لِي فِيمَا أَعْطَيْتَ، وَقِنِي شَرَّ مَا قَضَيْتَ، إِنَّكَ تَقْضِي وَلاَ يُقْضَى عَلَيْكَ، وَإِنَّهُ لاَ يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ، وَلاَ يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ، تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ

Al-Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhuma mengatakan, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengajariku beberapa kalimat yang aku baca dalam shalat witir,—Ibnu Jawwas mengatakan, “Dalam qunut witir”—, ‘Allahummah-dina fiman hadait…’.” dst. (Sahih, HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, Ibnu Majah, Ahmad, ad-Darimi, dan Ibnu Hibban, dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al- Albani)

Demikian pula kata qunut dalam ungkapan ayat ataupun hadits, terkadang memiliki makna lain selain bacaan doa, yaitu taat, berdiri, khusyuk, diam, selalu dalam ibadah, dan tasbih. Makna-makna tersebut bisa dikaji dalam ayat-ayat berikut ini, ar-Rum: 26, az-Zumar: 9, at-Tahrim: 12, al- Baqarah: 328, an-Nahl: 16, al-Ahzab: 31, dan Ali Imran: 43. Selain itu makna tersebut juga terdapat dalam hadits,

أَفْضَلُ الصَّلاَةِ طُولُ الْقُنُوتِ

“Sebaik-baik shalat adalah yang qunutnya panjang.” (Sahih, HR. Muslim)
Maksudnya, yang lama berdirinya. Inilah maknanya berdasarkan kesepakatan ulama, sebagaimana kata an-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim. (lihat Nashbur Rayah, 2/132, dan Zadul Ma’ad, 1/267—268)

Dengan demikian, bisa jadi makna hadits di atas—apabila dikatakan sahih— ialah bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tetap melakukan qunut, yakni berdiri lama, dalam shalat subuh sampai beliau meninggal dunia. Sebab, memang shalat subuh yang beliau lakukan selalu panjang/lama. Ayat yang beliau baca sekitar 60—100 ayat. Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan (Zadul Ma’ad, 1/262),“Di antara hal yang sangat diketahui, seandainya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan qunut setiap subuh dan berdoa dengan doa ini (Allahummah-dina fiman hadait) serta para sahabat mengaminkannya, tentu penukilan umat semuanya pada perbuatan tersebut sama dengan penukilan mereka dalam hal mengeraskan bacaan dalam shalat.”

Beliau juga mengatakan, “Selalu melakukan qunut pada shalat subuh bukan petunjuk beliau n. Termasuk hal yang mustahil apabila setiap subuh, setelah i’tidal dari ruku Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam membaca, ‘Allahummah-dina… dst.’, dan mengeraskan suaranya lantas para sahabat selalu mengaminkannya sampai beliau meninggal, kemudian hal tersebut kurang diketahui oleh umat, lalu mayoritas umatnya tidak melakukannya, demikian pula mayoritas para sahabatnya, bahkan semuanya. Justru sebagian sahabat menyebutnya sebagai bid’ah, seperti yang dikatakan oleh Sa’ad bin Thariq al-Asyja’i (dari ayahnya).” (Zadul Ma’ad, 1/262— 263, bisa dilihat pembahasannya secara luas pada kitab tersebut)

Telah difatwakan pula oleh al-Lajnah ad-Daimah dan Ibnu Utsaimin bahwa hal itu termasuk bid’ah. Semoga Allah Subhanahu wata’ala memberikan taufik-Nya kepada kita semua dan kaum muslimin untuk semakin menyesuaikan cara ibadah kita dengan cara ibadah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Allahu a’lam.