Mengakikahi Anak yang Sudah Meninggal

Allah ‘azza wa jalla memberi saya rezeki berupa tiga anak perempuan. Hanya saja, mereka meninggal dunia dalam keadaan masih kecil, sementara saya belum sempat mengakikahi mereka. Padahal saya pernah mendengar bahwa syafaat anak-anak kecil[1] dikaitkan dengan akikah[2]. Maka dari itu, apakah sah saya mengakikahi mereka setelah meninggalnya? Apakah saya gabungkan akikah mereka dalam satu sembelihan atau masing-masing disembelihkan sembelihan tersendiri?

 

Jawab:

Berikut ini jawaban Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah.

Akikah untuk anak yang baru lahir hukumnya sunnah muakkadah (sunnah yang ditekankan), menurut pendapat jumhur (mayoritas) ahlul ilmi (ulama). Akan tetapi, hukum ini berlaku untuk anak-anak yang masih hidup, tanpa ada keraguan di dalamnya, karena hal ini adalah sunnah yang pasti dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Adapun akikah untuk anak-anak yang sudah meninggal (yang belum diakikahi saat hidupnya), tidak tampak disyariatkan bagi Anda. Sebab, akikah itu disembelih hanya sebagai tebusan bagi anak yang lahir, untuk tafaul (berharap/optimis) akan keselamatannya, dan untuk mengusir setan dari si anak, sebagaimana hal ini ditetapkan oleh al-Allamah Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitabnya, Tuhfah al-Maudud fi Ahkam al-Maulud. Tujuan-tujuan ini tidak ada pada anak-anak yang sudah meninggal.

Adapun hal yang diisyaratkan oleh penanya bahwa akikah masuk dalam (syarat) syafaat anak yang lahir bagi ayahnya apabila ayah mengakikahinya, hal ini tidaklah benar dan telah didhaifkan (dilemahkan) oleh Ibnul Qayyim rahimahullah. Beliau menyebutkan bahwa rahasia dalam akikah itu adalah:

  1. Akikah menghidupkan sunnah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam tatkala beliau menebus putranya, Ismail ‘alaihissalam.
  2. Akikah bertujuan untuk mengusir setan dari anak yang lahir, sementara makna hadits,

كُل غُلاَمٍ رَهيْنَةٌ بعَقيْقَتِهِ

“Setiap anak tergadai dengan akikahnya.” (HR Ahmad (5/12), Abu Dawud no. 2837, at-Tirmidzi no. 1522, dll.; dinyatakan sahih dalam Shahih al-Jami’ no. 4541.)

Maknanya, si anak tergadai pembebasannya dari setan dengan akikahnya.

Apabila si anak tidak diakikahi, niscaya dia tetap sebagai tawanan bagi setan. Jika diakikahi dengan akikah yang syar’i, dengan izin Allah ‘azza wa jalla hal itu akan menjadi sebab terbebasnya dia dari tawanan setan. Demikian makna yang dihikayatkan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah.

Bagaimana pun, apabila si penanya ingin mengakikahi anak-anak perempuannya yang sudah meninggal dan menganggap baik hal tersebut, silakan dia lakukan. Akan tetapi, yang rajih/kuat menurut saya, hal tersebut tidaklah disyariatkan.

Kapan waktu yang afdal/lebih utama untuk mengakikahi anak yang lahir dan hidup?

Yang afdal adalah hari ketujuhnya. Inilah waktu yang paling utama. Sebagaimana disebutkan dalam nash/dalil. Namun, seandainya ditunda dari hari ke tujuh, tidaklah apa-apa. Tidak ada batasan untuk akhir waktunya. Hanya saja sebagian ahlul ilmi memandang apabila anak telah dewasa, berarti waktu akikah telah gugur. Oleh karena itu, mereka berpendapat bahwa tidak ada akikah untuk orang yang sudah dewasa. Sementara itu, jumhur ulama berpandangan tidak ada larangan untuk hal tersebut meskipun yang diakikahi sudah dewasa.”

(Majmu’ Fatawa Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan, 2/573—574)


[1] Anak-anak kecil yang meninggal sebelum baligh, bisa memberikan syafaat kepada kedua orang tuanya dengan izin Allah ‘azza wa jalla.

[2] Bisa memberi syafaat kepada orang tuanya asalkan si anak sudah diakikahi.

Wanita Menikah Tanpa Izin Wali

Seorang pemuda yang taat beragama sekaligus memiliki sifat-sifat yang terpuji melamar saya. Akan tetapi, ayah saya menolak lamarannya dengan alasan tidak sekufu dengan saya dari sisi kedudukan dan nasab. Ayah menginginkan saya menikah dengan seorang pemuda dari keluarga ningrat yang kaya dan punya martabat/kedudukan.

Sementara itu, saya telah ridha dengan pemuda yang melamar saya dan tidak menginginkan yang selainnya. Apakah dibolehkan bagi saya menikah dengannya tanpa sepersetujuan wali saya? Saya pernah membaca dalam Fiqh as-Sunnah, bahwa Abu Hanifah membolehkan pernikahan yang demikian.

Sungguh Allah ‘azza wa jalla menyerahkan urusan seorang hamba kepada dirinya sendiri, termasuk di antaranya urusan pernikahan. Apabila ayah saya menghalangi saya untuk menikah dengan lelaki yang sesuai bagi saya, seorang lelaki yang begitu bersungguh-sungguh ingin menjaga kemuliaan saya, menjaga kehormatan saya, dan dia sendiri seorang yang berpegang teguh dengan agama, namun ayah saya justru ingin saya menikah dengan lelaki yang tidak memiliki sifat-sifat yang saya sebutkan; bukankah berarti saya berhak untuk tidak meminta izinnya dalam urusan pernikahan saya dengan seorang yang salih tersebut?

Saya urusi sendiri pernikahan saya di hadapan qadhi (hakim) atau saya meminta izin kepada salah seorang kerabat saya yang lain yang mau menerima pandangan saya dan menjadi wali dalam urusan pernikahan saya?

Jawab:

Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah berfatwa sebagai berikut.

Seorang wanita tidak boleh menikahkan dirinya sendiri. Siapa pun yang melakukannya, pernikahan tersebut batil, menurut mayoritas ulama, baik yang terdahulu maupun yang belakangannya. Sebab, dalam urusan pernikahan, Allah ‘azza wa jalla menujukan pembicaraan kepada para wali yang mengurusi para wanita (bukan wanita yang diajak bicara).

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَأَنكِحُواْ ٱلۡأَيَٰمَىٰ مِنكُمۡ وَٱلصَّٰلِحِينَ مِنۡ عِبَادِكُمۡ وَإِمَآئِكُمۡۚ

“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendiri (belum punya pasangan) di antara kalian dan orang-orang salih dari kalangan budak-budak kalian.” (an-Nur: 32)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إذَا أَتَاكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ ديْنَهُ وَحُلُقَهُ فَزَوِّجُوْهُ

“Apabila datang kepada kalian (untuk melamar wanita kalian) seseorang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya, nikahkanlah dia (dengan wanita yang berada di bawah perwalian kalian).”[1]

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

لاَ نكَاحَ إِلاَّ بِوَلِيٍّ وَشَاهِدَيْ عَدْلٍ

“Tidak ada pernikahan kecuali dengan wali dan dua saksi yang adil.”[2]

Adapun pendapat yang Anda baca dalam sebagian kitab fiqih bahwa wanita boleh menikahkan dirinya sendiri, itu adalah pendapat yang dhaif/lemah dan marjuh (tidak kuat, lawan dari rajih). Pendapat yang benar, yang tegak di atas dalil, adalah pendapat yang menyelisihinya, sehingga pendapat yang lemah tersebut tidak boleh diamalkan.

Penanya mengajukan pertanyaan terkait dengan adanya perselisihan pendapat antara dia dan ayahnya. Ayahnya menginginkannya bersuamikan seseorang yang punya martabat, dari keturunan yang sekufu dengan dirinya, sementara si wanita sendiri tidak memandang demikian. Dia hanyalah condong untuk menikah dengan seorang lelaki yang dipandangnya memiliki agama, walaupun tidak memiliki kedudukan dan tidak bernasab tinggi.

Dalam hal ini, kebenaran bersama ayahnya karena ayahnya lebih jauh pandangannya daripada dirinya. Terkadang dibayangkan oleh si wanita bahwa lelaki yang datang melamarnya tersebut sesuai untuknya padahal sebenarnya tidak sesuai.[3] Oleh karena itu, tidak sepantasnya dia menentang ayahnya selama si ayah menginginkan kemaslahatan putrinya.

Namun, jika ternyata dipastikan lelaki yang datang melamar si wanita itu memang sesuai, pantas dan cocok dengannya, sekufu dalam hal kedudukan, martabat, dan agamanya, sementara si ayah enggan menikahkan putrinya dengan lelaki yang demikian, si ayah menjadi ‘adhil.[4] Jika demikian, perwalian dalam pernikahan berpindah kepada wali yang berikutnya setelah sang ayah.

Akan tetapi, urusan ini harus dengan pertimbangan qadhi/hakim yang nantinya memindahkan perwalian dari ayah yang berbuat ‘adhal kepada wali yang setelahnya dari kalangan para lelaki yang berhak menjadi wali si wanita.

Dalam hal ini, si wanita tidak boleh mengurusi sendiri urusan seperti ini. Tidak boleh pula salah seorang wali mengurusinya tanpa ada keridhaan dari ayahnya. Jadi, dalam urusan ini harus kembali kepada qadhi yang syar’i. Hakim yang akan melihat permasalahan dan menilai fakta yang ada. Apabila dia memandang bolehnya perpindahan wali kepada yang lain, dipindahkan sesuai kemaslahatan. Oleh karena itu, dalam hal pernikahan ini harus dipastikan perkaranya.

Para wanita tidak boleh mengurus sendiri urusan pernikahannya. Urusan ini harus ditangani dengan semestinya oleh walinya yang berhak. Sebab, wanita itu pandangannya terbatas/dangkal, tidak jauh ke depan. Para wali dari kalangan lelaki yang mengurus wanita tentu harus memiliki semangat untuk memberikan penjagaan kepada wanita yang di bawah perwaliannya dan punya kecemburuan terhadap mereka. Semua ini tentu tidak dimiliki oleh para wanita. Oleh karena itu, sepantasnya hal ini menjadi perhatian.”

(Majmu’ Fatawa Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan, 2/536—537)


[1] HR at-Tirmidzi (no. 1085), Ibnu Majah (no. 1968), dinyatakan sahih dalam Shahih al-Jami no. 270.

[2] HR ad-Daraquthni dalam as-Sunan (3/226), Ibnu Hibban (no. 1247) dinyatakan sahih dalam Shahih al-Jami’ (no. 7557).

[3] Sebab, wanita lebih sering menilai dengan perasaannya, tanpa pertimbangan yang matang dan jauh ke depan sebagaimana halnya kaum lelaki.

[4] Lafadz ‘adhal, yang pelakunya disebut ‘adhil, terambil dari ayat,

فَلَا تَعۡضُلُوهُنَّ أَن يَنكِحۡنَ أَزۡوَٰجَهُنَّ

“… maka janganlah kalian (para wali) berbuat ‘adhal/mencegah atau menghalangi mereka (wanita yang di bawah perwalian kalian) untuk menikah kembali dengan (mantan) suami-suami mereka.” (al-Baqarah: 232)

Makna ‘adhal sama dengan mana’a, yaitu menahan, mencegah, atau menghalangi.

Apabila seorang ayah mencegah, melarang, atau tidak menerima pinangan seorang lelaki terhadap putrinya dan enggan menikahkannya, padahal si lelaki sekufu dengan putrinya dalam hal agama, akhlak, atau harta, dalam keadaan putrinya sendiri ridha/suka dengan si lelaki, perwalian ayah bisa dipindahkan kepada wali berikutnya. Misalnya, saudara laki-laki si wanita, paman (dari pihak ayah/saudara lelaki ayah), atau keponakan lelaki dari saudara lelakinya. Sebab, tidak ada hak bagi si ayah untuk menolak pinangan lelaki baik-baik tersebut. Sebagai wali, seharusnya dia melakukan apa yang paling bermaslahat atau yang terbaik untuk putrinya. Apabila si ayah tidak mau melakukannya, hak perwaliannya berpindah kepada selainnya. Demikian keterangan dalam asy-Syarhu al-Mumti’ (12/86).

Ternyata Istri Sudah Tidak Perawan

Seorang lelaki menikahi seorang gadis. Ketika berhubungan intim si lelaki mendapati istrinya tersebut tidak perawan lagi. Apa yang harus dilakukannya?

Jawab:

Kehilangan keperawanan bisa karena beberapa sebab selain zina. Yang wajib bagi si lelaki untuk berbaik sangka apabila secara zahir si istri adalah perempuan baik-baik dan istiqamah. Sekali lagi wajib husnuzhan dalam hal ini.

Memang dahulu si perempuan telah melakukan perbuatan zina kemudian dia bertobat dan menyesal. Keperawanan juga bisa hilang karena mengalami haid yang deras. Hal ini disebutkan oleh ulama. Bisa pula keperawanan hilang karena melompat dari satu tempat ke tempat yang lain, atau si perempuan jatuh dari tempat yang tinggi. Tidak mesti keperawanan hilang karena perbuatan zina.

Jika si perempuan mengaku keperawanannya hilang karena selain perbuatan zina, tidak ada permasalahan bagi si lelaki. Bisa jadi, dia mengaku hilang karena zina, tetapi dia diperkosa ketika itu, hal ini juga tidak bermudarat, apabila telah berlalu pada si perempuan satu kali haid setelah kejadian tersebut.[1]

Bisa jadi pula dia melakukannya dahulu saat dia masih lugu dan bodoh, namun sekarang dia telah bertobat dan menyesali perbuatannya. Hal ini pun tidak memudaratkan si lelaki (suaminya). Tidak sepantasnya si lelaki menyebarkan hal tersebut, justru seharusnya ditutupi/dirahasiakan. Apabila besar prasangkanya bahwa si perempuan itu jujur dan istiqamah, hendaklah tetap dia pertahankan sebagai istri. Jika tidak, dia bisa menceraikannya dengan baik-baik dengan menutupi keadaannya dan tidak membongkar rahasianya yang akan menjadi sebab fitnah dan kejelekan.

(Majmu’ Fatawa asy-Syaikh Ibni Baz, pertanyaan no. 152, 20/286—287)


[1] Istibra’ rahim: tidak ada janin yang tumbuh dalam rahimnya dengan dia mengalami satu kali haid.

Tarbiyah yang Baik Adalah Perhatian dan Pengawasan

“Apabila anak dan ayah masuk surga, sedangkan kedudukan ayah lebih tinggi dari si anak, Allah ‘azza wa jalla akan mengangkat derajat anak tersebut menjadi sama dengan ayahnya agar ayah merasa tenteram dan sejuk matanya. Dengan demikian, anak akan menjadi penyejuk mata bagi orang tuanya, di dunia dan di akhirat.”

Ketahuilah, (kedudukan) anak-anak itu seperti harta. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

إِنَّمَآ أَمۡوَٰلُكُمۡ وَأَوۡلَٰدُكُمۡ فِتۡنَةٞۚ وَٱللَّهُ عِندَهُۥٓ أَجۡرٌ عَظِيمٞ ١٥

“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu): di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (at-Taghabun: 15)

Oleh karena itu, sebagaimana halnya diuji dengan harta, manusia juga diuji dengan anak-anak. Firman Allah ‘azza wa jalla,

وَنَبۡلُوكُم بِٱلشَّرِّ وَٱلۡخَيۡرِ فِتۡنَةٗۖ وَإِلَيۡنَا تُرۡجَعُونَ ٣٥

“Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami lah kamu dikembalikan.” (al-Anbiya: 35)

Jadi, Allah ‘azza wa jalla akan menguji kedua orang tua dengan anak-anak. Apakah mereka berdua berusaha memperbaiki dan mendidiknya di atas kebaikan, ataukah justru menelantarkannya dan bermudah-mudah tentang urusannya? Kedua sikap tersebut memiliki akibat yang berbeda, bisa jadi baik atau buruk.

Anak adalah tanggung jawab ayah. Dia akan diuji dengan anak, apakah dia peduli ataukah acuh tak acuh? Jika orang tua peduli dengan anak, anak akan menjadi penyejuk matanya di dunia dan di akhirat. Jika dia membiarkannya, anak akan menjadi penyesalan bagi dirinya. Firman Allah ‘azza wa jalla,

وَلَا تُعۡجِبۡكَ أَمۡوَٰلُهُمۡ وَأَوۡلَٰدُهُمۡۚ إِنَّمَا يُرِيدُ ٱللَّهُ أَن يُعَذِّبَهُم بِهَا فِي ٱلدُّنۡيَا وَتَزۡهَقَ أَنفُسُهُمۡ وَهُمۡ كَٰفِرُونَ ٨٥

        “Dan janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki akan mengazab mereka di dunia dengan harta dan anak-anak itu dan agar melayang nyawa mereka dalam keadaan kafir.” (at-Taubah: 85)

Kebaikan dan kerusakan anak, masing-masing ada sebabnya. Benar bahwa baik atau rusaknya anak telah ditakdirkan oleh Allah k, tetapi takdir tersebut memiliki sebab-sebab dari sisi hamba itu sendiri.

Apabila orang tua berusaha mentarbiyah anak-anaknya di atas kebaikan sejak kecil, mereka akan menjadi anak-anak yang saleh—dengan izin Allah ‘azza wa jalla. Sebab, orang tua mereka telah berusaha menempuh sebabnya, dan Allah ‘azza wa jalla akan menolongnya untuk mewujudkannya.

Adapun jika orang tua membiarkan anaknya, tidak pernah bertanya tentang keadaan mereka, anak-anak akan tumbuh di atas pembiaran. Ketika itu, orang tua akan sulit mengembalikan mereka pada kebaikan.

Oleh karena itu, bersegeralah kalian mendidik anak kalian dengan baik—semoga Allah ‘azza wa jalla memberi taufik kepada kalian—dan jangan membiarkan mereka. Sebab, kalian berada pada sebuah zaman yang dipenuhi keburukan, syahwat, dan syubhat. Selain itu, banyak pula penyeru kesesatan dan kejelekan berikut tokoh-tokoh dan sarana yang mereka sebarkan.

Bertakwalah kalian dalam hal anak-anak kalian. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

“Setiap anak dilahirkan di atas fitrah. Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”

Jadi, asal mula keadaan seorang anak adalah di atas fitrah, yaitu agama Islam. Firman Allah ‘azza wa jalla,

فَأَقِمۡ وَجۡهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفٗاۚ فِطۡرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِي فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيۡهَاۚ لَا تَبۡدِيلَ لِخَلۡقِ ٱللَّهِۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلۡقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ ٣٠

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (ar-Rum: 30)

Apabila orang tua menjaga dan mengembangkan fitrah anaknya di atas kebaikan, dia akan memasuki masa muda, masa dewasa, dan seterusnya, di atas fitrah tersebut—dengan izin Allah ‘azza wa jalla.

Akan tetapi, apabila orang tua merusak fitrah tersebut, akan rusaklah fitrah ini. Permisalannya seperti tanah yang bagus yang menumbuhkan kebaikan dan produktif, ketika dirusak, tanah tersebut tidak lagi produktif. Demikian pula halnya fitrah. Fitrah siap menerima kebaikan, arahkanlah menuju perbaikan dan kebaikan. Akan tetapi, jika ada gangguan yang merusaknya, fitrah pun akan rusak. Sebab yang merusaknya ialah orang tua.

Oleh karena itu, jagalah fitrah anak-anak kalian. Kembangkanlah fitrah tersebut di atas kebaikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مُرُوا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ لسَبْعِ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا لعَشْرِ، وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ

“Perintahlah anak-anak kalian melakukan shalat ketika berumur tujuh tahun, dan pukullah dia (jika tidak mau melaksanakannya) ketika berumur sepuluh tahun. Pisahkanlah tempat tidur mereka.”

Pengembangan fitrah anak ini dilakukan bertahap sejak usia tamyiz. Ketika berusia 7 tahun, anak diperintah untuk menunaikan shalat. Hal ini juga berkonsekuensi bahwa anak dibiasakan dan diajari berwudhu dan bersuci, tata cara shalat, hal-hal yang wajib dan yang sunnah dalam shalat, hingga terbiasa dan tumbuh di atasnya.

Setelah mencapai usia 10 tahun, bisa jadi anak mengalami ihtilam (mimpi basah) atau telah memasuki masa baligh, tarbiyah anak berpindah ke tahapan kedua,

وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا لعَشْرِ

“Dan pukullah dia (jika tidak mau melaksanakannya) ketika berumur sepuluh tahun.”

Apabila si anak meremehkan urusan shalat, dia dipukul sehingga merasakan sakitnya hukuman. Dengan demikian, si anak akan menjaga urusan shalat dan senantiasa begitu. Demikian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membimbing kita dalam hal mendidik anak, yakni kita bertahap sesuai dengan umur mereka.

Adapun opini yang tersebar sekarang bahwa mendidik anak, memukulnya[1], dan mengajarinya adab teranggap sebagai tindakan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT); ini adalah pemikiran yang datang dari musuh kita dari kalangan Barat, para perusak.

Mereka ingin merusak diri kita, istri-istri, dan anak-anak kita. Mereka sebut tarbiyah ini sebagai KDRT. Justru inilah tarbiyah Islam yang telah menghasilkan sekian generasi yang baik dan mengadakan perbaikan. KDRT yang sesungguhnya ialah menelantarkan dan menyia-nyiakan anak dan istri. Inilah hakikat KDRT. Mengupayakan kebaikan bagi mereka, inilah kebaikan dan perbaikan sejati yang dibawa oleh agama kita.

Hak anak yang wajib ditunaikan oleh orang tua, sudah ada terlebih dahulu dan melekat pada diri orang tua. Sebagian orang mengatakan, “Saya memiliki hak yang harus ditunaikan oleh anak saya.”

Ya, benar bahwa Anda memiliki hak. Akan tetapi, anak Anda juga memiliki hak yang harus Anda tunaikan terlebih dahulu sebelum dia menunaikan hak Anda. Hak anak itu adalah Anda mendidiknya.

Oleh karena itu, ketika anak telah baligh dan menjadi orang yang saleh dengan sebab tarbiyah yang baik, sedangkan sang orang tua memasuki usia senja dan membutuhkan bakti dari anak, Allah ‘azza wa jalla pun memerintah si anak untuk mengatakan (sebagaimana firman-Nya),

وَٱخۡفِضۡ لَهُمَا جَنَاحَ ٱلذُّلِّ مِنَ ٱلرَّحۡمَةِ وَقُل رَّبِّ ٱرۡحَمۡهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرٗا ٢٤

“Wahai Rabbku, kasihilah mereka berdua sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku sewaktu kecil.” (al-Isra: 24)

Bagaimana halnya jika orang tua tidak mendidik anaknya sewaktu kecil? Pantaskah dia mengharap bakti dari anaknya? Tidak. Sekali-kali tidak. Bahkan, seribu kali tidak.

Anak yang saleh menjadi penyejuk mata orang tuanya semasa hidup dan setelah matinya. Ketika orang tua masih hidup, si anak menunaikan bakti kepada orang tua, melayaninya, dan melakukan berbagai urusan demi kemaslahatannya, terkhusus apabila orang tua sudah lanjut usia.

Adapun setelah kematian orang tua, sang anak mendoakan orang tua, melaksanakan berbagai wasiat dan wakafnya. Anak yang saleh juga akan memikul berbagai urusan orang tua setelah kematiannya, menggantikan kedudukannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا مَاتَ الِإنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ: إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Apabila seseorang meninggal, akan terputus amalannya kecuali dari tiga hal: (1) sedekah jariyah, (2) ilmu yang diambil manfaatnya, dan (3) anak saleh yang mendoakannya.”

Akan tetapi, jika anaknya rusak, tidak saleh, dia justru mendoakan kejelekan bagi orang tuanya, bukan kebaikan. Ternyata, sebabnya ialah orang tua telah menelantarkan (membiarkan, tidak mendidik) anaknya sewaktu kecil. Akhirnya, sang anak pun durhaka ketika orang tua berusia lanjut, baik semasa hidup maupun setelah kematiannya.

Karena itu, bertakwalah kalian dalam urusan anak-anak kalian. Jangan kalian menelantarkan mereka. Ada orang yang menyangka bahwa mendidik anak ialah dengan cara memberinya harta, membelikan mobil, dan memenuhi segala keinginannya. Setelah itu dia berkata, “Demi Allah, aku tidak menyian-yiakan anakku.”

Ya, Anda tidak menyia-nyiakannya kecuali dalam hal ini. Justru inilah bentuk menyia-nyiakan dan menelantarkan. Harta yang Anda berikan kepadanya, mobil yang Anda belikan untuknya, inilah penyia-nyiaan terhadap anak.

إنَّ الشَّبَابَ وَالْفَرَاغَ وَالِجدَه

مَفْسَدَةٌ لِلْمَرْءِ أَيُّ مَفسَدَة        

Sungguh, masa muda, waktu luang, dan serba ada

         adalah kerusakan bagi seorang manusia, serusak-rusaknya

Anda telah memberinya sarana kerusakan. Anda penuhi sakunya dengan harta. Anda beri dia mobil yang akan membawanya kemana pun dia kehendaki. Jadi, hakikatnya justru Anda yang menjerumuskan anak pada kerusakan.

Ya, kita katakan, “Berilah anakmu (harta), nafkahilah dia, belikanlah dia mobil. Akan tetapi, awasi dan perhatikan perilakunya. Jangan sampai Anda lalai mengawasinya. Jangan sampai Anda lalai terhadap anak hingga mereka dewasa dan bisa mengurus dirinya sendiri. Selama anak belum baligh, dia menjadi tanggung jawab Anda. Anda akan ditanya tentangnya di hadapan Rabb Anda, tentang kerusakan dia yang disebabkan oleh Anda dan pembiaran yang Anda lakukan terhadapnya.”

Bertakwalah kepada Allah ‘azza wa jalla dalam urusan anak-anak. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

يُوصِيكُمُ ٱللَّهُ فِيٓ أَوۡلَٰدِكُمۡۖ

“Allah mewasiatkan kepada kalian tentang anak-anak kalian.” (an-Nisa:  11)

Jadi, anak adalah beban yang dipikulkan oleh Allah ‘azza wa jalla kepada orang tua. Maka dari itu, orang tua hendaknya bertakwa kepada Allah ‘azza wa jalla. Anak adalah amanat yang dititipkan kepada orang tua. Karena itu, hendaknya orang tua bertakwa kepada Allah ‘azza wa jalla dalam hal amanat tersebut.

Tidak diragukan lagi, (merawat dan mendidik) anak mendatangkan rasa lelah, membutuhkan kesabaran. Orang yang tidak memiliki kesabaran dan tidak sabar menghadapi rasa lelah saat merawat anaknya, dia akan menelantarkan anaknya.

Ada orang yang berkata, “Aku tidak mampu. Hidayah di tangan Allah ‘azza wa jalla.”

Anda tidak bisa berkata seperti itu sementara Anda sendiri tidak berusaha sedikit pun. Apabila Anda menjadi sebab anak mencari hidayah, sungguh Allah Mahadekat dan Maha Mengabulkan. Akan tetapi, jika Anda tidak mengusahakan sebab-sebab hidayah, tentu saja Anda tidak akan mendapat hidayah. Anda justru mendapatkan yang sebaliknya.

Sebelum sebab-sebab yang lain, hendaknya orang tua menjadi teladan yang baik bagi anak. Orang tua sendiri yang menjadi teladan. Bagaimana halnya apabila orang tua sendiri yang rusak dan biasa melakukan kerusakan? Menyia-nyiakan shalat; tertidur ketika waktu shalat tiba; tidak pulang ke rumah selain untuk makan dan minum…. Dia tidak pernah menanyakan keadaan anak-anaknya. Ini adalah orang tua yang seperti hewan, bukan orang tua yang bertanggung jawab di hadapan Allah ‘azza wa jalla….

        Selain itu, doakanlah anak-anak. Nabi Ibrahim ‘alaihissalam berkata (sebagaimana firman Allah),

وَٱجۡنُبۡنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعۡبُدَ ٱلۡأَصۡنَامَ ٣٥

        “Dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala.” (Ibrahim: 35)

Beliau juga menyertakan anak keturunan beliau dalam doa beliau,

رَبِّ ٱجۡعَلۡنِي مُقِيمَ ٱلصَّلَوٰةِ وَمِن ذُرِّيَّتِيۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلۡ دُعَآءِ ٤٠

        “Ya Rabbku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat. Ya Rabb kami, perkenankanlah doaku.” (Ibrahim: 40)

Doakanlah anak-anak kalian disertai dengan menempuh sebab-sebab kebaikannya, yakni dengan mendidiknya. Berdoalah agar Allah ‘azza wa jalla membantu Anda dan memperbaiki anak-anak Anda. Bersihkan rumah Anda dari berbagai sarana kerusakan dan media yang merusak, berupa lagu-lagu, alat-alat musik, dan gambar-gambar wanita telanjang. Jika tidak demikian, rumah Anda akan menjadi sarang kerusakan.

Jadikan rumah Anda bersih, sebagai tempat beribadah dan berzikir kepada Allah ‘azza wa jalla. Tidak didengar di dalamnya selain zikir, bacaan al-Qur’an, ucapan yang baik, bagus, dan bersih. Ajari anak Anda sedikit dari al-Qur’an atau suruhlah dia menghafalnya sesuatu dari al-Qur’an.

Pilihkanlah untuknya tempat belajar yang baik berikut kepala sekolah, para pengajar, dan murid-muridnya. Pilihkanlah sekolah yang baik, lalu ikuti perkembangan belajarnya. Tanyakanlah (kepada sekolah) tentang keadaan anaknya. Bantulah dia belajar dan berilah motivasi.

Jika Anda memberi sesuatu kepada salah satu anak, berilah anak-anak Anda yang lain sesuatu semisalnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اتَّقُوا اللهَ وَاعْدِلُوا بَيْنَ أَوْلاَدِكُمْ

“Bertakwalah kalian kepada Allah, dan berlaku adillah terhadap anak-anak kalian.”

Kisahnya, seorang sahabat memberikan sesuatu kepada anaknya. Ibunya berkata, “Hingga engkau persaksikan (pemberian ini) kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Sahabat tersebut menemui Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mempersaksikan pemberian terhadap anaknya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Apakah semua anakmu engkau beri semisal ini?”

Dia menjawab, “Tidak.”

Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Carilah orang lain untuk mempersaksikan pemberian ini. Sungguh, aku tidak bersaksi atas sebuah kezaliman.”

Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apakah engkau senang apabila bakti anak-anakmu kepadamu sama?”

Dia menjawab, “Ya.”

Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika demikian, jangan.”

Maksudnya, jangan engkau beri sebagian anakmu dan tidak memberi yang lain.

Sampai pun dalam hal berbicara,Anda tidak boleh berbicara, tertawa, dan memuji hanya salah seorang anak. Perhatikan pula anak-anak Anda yang lain. Anda ajak bicara semuanya. Anda beri motivasi semua anak Anda. Doakan semua anak Anda, meskipun mereka tidak sebaik anak yang Anda kagumi. Bagaimanapun, mereka semua adalah anak Anda. Mereka semua memiliki hak yang harus Anda tunaikan. Perhatikanlah anak-anak Anda.

Akan tetapi, apa yang bisa kita katakan sekarang ketika ayah tidak lagi mengenali anak-anaknya? Bisa jadi karena sibuk mencari materi dan berbisnis, bisa jadi pula karena dia berada di tempat permainan, kelalaian, begadang di tempat hiburan atau tempat lain di luar rumah. Dia tidak pernah bertanya tentang keadaan anak-anaknya.

Demikian pula ibu yang keadaannya seperti sang ayah. Dia tidak berdiam di rumah, tetapi keluar untuk bekerja, kuliah, atau bertemu teman-temannya. Dia tinggalkan anak-anak di rumah.

Lantas di mana anak-anak? Di tempat penitipan anak. Mereka dididik oleh orang yang tidak menyayangi dan tidak berlemah lembut terhadap mereka. Mereka diasuh oleh orang yang tidak akan dimintai tanggung jawabnya tentang mereka. Mereka hanyalah orang-orang yang dibayar. Ini serupa dengan orang yang menggembalakan sekumpulan domba untuk mendapatkan upah.

Mereka tidak perhatian terhadap akhlak dan agama anak-anak, itu adalah urusan orang tua. Yang bukan orang tuanya tidak akan peduli tentang baik atau rusaknya anak. Mereka hanyalah orang yang dibayar layaknya penggembala domba yang tugasnya hanya menjaga agar domba-domba itu tidak hilang….

Salah satu pengaruh tarbiyah yang buruk dan menelantarkan anak ialah berbagai perilaku buruk yang dilakukan oleh para pemuda yang kalian saksikan sekarang. Yang mereka pikirkan hanyalah bagaimana menggeber mobil di jalanan, meski membahayakan diri dan orang lain. Berapa banyak kematian terjadi akibat kebut-kebutan? Berapa banyak harta yang terbuang sia-sia dan mobil yang hancur? Apa hasilnya?

Jika anak ingin sesuatu, dia akan melakukannya. Sebab, dia tidak disibukkan dengan kegiatan yang baik dan bermanfaat. Dia hanya diberi sarana kerusakan lantas dibiarkan begitu saja…

Akhirnya, orang-orang mendoakan kejelekan bagi orang tua si anak, bahkan sampai-sampai ada yang mendoakan laknat. Melaknat orang tua yang membiarkan anaknya mengganggu dan membahayakan orang lain.

Perhatikanlah tembok rumah-rumah. Lihatlah bagaimana para pelajar membuat tulisan-tulisan jelek di sana. Tulisan yang menggambarkan bahwa jiwa penulisnya menyimpan kerusakan, yang lantas dituangkan ke tembok.

Semua tindak kriminalitas di atas dengan jelas menunjukkan pengaruh tarbiyah yang buruk. Pengaruh tersebut terlihat dengan jelas di masyarakat.

Lihatlah, orang-orang kafir pun mendidik anak mereka di rumah, meski dalam bentuk pendidikan duniawi. Anda tidak melihat mereka membiarkan anak mereka berkeliaran di jalanan membawa mobil, padahal mereka orang kafir. Bagaimana bisa kaum muslimin justru dalam keadaan yang buruk seperti ini?

Sekali lagi, perhatikan dan awasi anak-anak kalian. Sadarilah bahwa anak-anak adalah ujian bagi kalian, apakah kalian memperbaiki ataukah merusak mereka. Kalian akan ditanya di hadapan Allah ‘azza wa jalla tentang mereka.

Apabila menjadi anak saleh, mereka akan menjadi penyejuk mata bagi kedua orang tua, sampai pun di surga kelak. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَٱتَّبَعَتۡهُمۡ ذُرِّيَّتُهُم بِإِيمَٰنٍ أَلۡحَقۡنَا بِهِمۡ ذُرِّيَّتَهُمۡ وَمَآ أَلَتۡنَٰهُم مِّنۡ عَمَلِهِم مِّن شَيۡءٖۚ كُلُّ ٱمۡرِيِٕۢ بِمَا كَسَبَ رَهِينٞ ٢١

        “Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (ath-Thur: 21)

Para ahli tafsir berkata, “Apabila anak dan ayah masuk surga, sedangkan kedudukan ayah lebih tinggi dari si anak, Allah ‘azza wa jalla akan mengangkat derajat anak tersebut menjadi sama dengan ayahnya agar ayah merasa tenteram dan sejuk matanya. Dengan demikian, anak akan menjadi penyejuk mata bagi orang tuanya, di dunia dan di akhirat.

 

Buah karya asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan

(diterjemahkan dan diringkas dari http://www.alfawzan.af.org.sa/ node/14450)


[1] Perlu diingat bahwa dalam hal memukul anak, Islam memiliki aturan, sehingga tidak dibolehkan sembarangan memukul. Di antara aturannya ialah pukulan tersebut tidak keras. (-ed)

Meniru yang Terlarang

Lelaki meniru atau menyerupakan diri dengan wanita dalam hal yang khusus atau sebaliknya wanita menyerupai lelaki dalam sesuatu yang menjadi kekhususan laki-laki adalah perilaku yang terlarang. Dalilnya telah kita baca pada edisi sebelum ini. Berikut ini kita akan melihat sisi-sisi penyerupaan yang dilarang tersebut.

Tasyabbuh (Penyerupaan) dalam Berbusana

Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata,

لَعَنَ رَسُوْلُ الله الرجُلَ يَلْبَسُ لبْسَةَ الْمَرْأَة وَ الْمَرْأَةَ تَلْبَسُ لبْسَةَ الرجُل.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat lelaki yang mengenakan pakaian wanita dan melaknat wanita yang mengenakan pakaian lelaki.” (HR. Abu Dawud no. 4098, dinyatakan sahih dalam Shahih Abi Dawud)

Larangan menyerupai pakaian lawan jenis ini mencakup macam atau jenis pakaiannya, tata cara, dan modelnya. Bahan sutra, misalnya, tidak boleh dipakai lelaki karena sutra adalah jenis pakaian khusus wanita. Abu Musa al-Asy’ari radhiallahu ‘anhu menyampaikan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

حُرِّمَ لِبَاسُ الْحَريْرِ وَالذَّهَبِ عَلَى ذُكُوْرِ أُمَّتِي وَأُحِلَّ لِإنَاثِهِمْ

“Diharamkan pakaian sutra dan emas bagi lelaki dari kalangan umatku dan dihalalkan untuk kaum wanita mereka.” (HR. at-Tirmidzi no. 1720, an-Nasa’i no. 5148, dinyatakan sahih dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi)

Jenis pakaian yang dicelup dengan ushfur (mu’ashfar) tidak boleh dipakai oleh lelaki karena merupakan pakaian khas wanita. Abdullah ibnu ‘Amr ibnul Ash radhiallahu ‘anhuma berkata,

رَأَى النَّبِيُّ عَلَيَّ ثَوْبَينِ مُعَصْفَرَيْنِ فَقَالَ  :أَأُمُّكَ أَمَرَتْكَ بِهَذَا؟ قُلْتُ: أَغْسِلُهُمَا؟ قَالَ: بَلْ أَحْرِقْهُمَا

        Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihatku mengenakan dua pakaian mu’ashfar[1]. Beliau pun bersabda, “Apakah ibumu yang menyuruhmu untuk memakainya?”

Aku menjawab, “Apakah saya cuci saja dua pakaian ini[2]?”

Beliau bersabda, “Bahkan bakarlah dua pakaian tersebut!”[3] (HR. Muslim no. 5401)

Dalam satu riwayat Abu Dawud disebutkan oleh Abdullah radhiallahu ‘anhuma,

هَبَطْنَا مَعَ رَسُوْلِ الله مِنْ ثَنِيَّةٍ فَالْتَفَتَ إلَيَّ وَعَلَيَّ رَيْطَةٌ مُضَرَّجَةٌ بالْعُصْفُورِ، فَقَالَ: مَا هَذِهِ الرَّيْطَةُ عَلَيْكَ؟ فَعَرَفْتُ مَا كَرِهَ فَأَتَيْتُ أَهْلِي وَهُمْ يَسْجُرُونَ تَنُّورًا لَهُمْ فَقَذَفْتُهَا فِيهِ ثُمَّ أَتَيْتُهُ مِنَ الْغَدِ فَقاَلَ: يَا عَبْدَ اللهِ، مَا فَعَلَتِ الرَّيْطَةُ؟ فَأَخْبَرْتُهُ فَقَال: أَلاَ كَسَوْتَهَا بَعْضَ أَهْلِكَ، فَإنَّهُ لاَ بَأْسَ بِهِ لِلنِّسَاءِ

Kami turun bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Tsaniyah (dataran tinggi), beliau lalu menoleh kepadaku sementara aku mengenakan pakaian yang dicelup dengan ushfur. Beliau pun bersabda, “Pakaian apa yang kamu kenakan ini?”

Aku melihat ketidaksukaan beliau, aku pun mendatangi keluargaku yang saat itu tengah menyalakan tungku api mereka. Pakaian yang dicelup ushfur itu pun (setelah kutanggalkan) aku lemparkan ke dalam tungku api. Keesokan harinya aku mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Beliau bersabda, “Wahai Abdullah, apa yang diperbuat pakaianmu (yang kemarin)[4]?”

Aku pun memberitahukan kepada beliau apa yang telah kuperbuat terhadap pakaian tersebut.

Setelah mendengar penuturanku beliau bersabda, “Mengapa tidak kau pakaikan saja kepada istrimu, karena pakaian demikian tidak apa-apa dipakai oleh kaum wanita.” (HR. Abu Dawud no. 4066, dinyatakan hasan dalam Shahih Abi Dawud)

Kaum wanita ketika keluar rumah atau di hadapan lelaki ajnabi dilarang memakai pakaian yang menampakkan wajah[5], kepala, atau lehernya, atau menampakkan bagian tubuhnya yang diperintahkan untuk ditutup di hadapan nonmahram. Selain karena semua itu merupakan aurat bagi kaum wanita, juga agar mereka berbeda dengan lelaki.

Kalaupun ada model pakaian yang menutup tubuh tetapi model yang khusus bagi lelaki, si wanita tetap tidak boleh memakainya.

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah berkata menukilkan ucapan al-Imam ath-Thabari rahimahullah, “Maknanya, tidak boleh kaum lelaki bertasyabbuh dengan kaum wanita dalam hal pakaian dan perhiasan yang merupakan kekhususan wanita. Demikian pula sebaliknya.”

Al-Hafizh rahimahullah menambahkan, “Demikian pula dalam cara berbicara dan cara berjalan. Adapun model pakaian maka berbeda-beda sesuai dengan kebiasaan setiap negeri. Bisa jadi, ada kaum (di satu negeri) tidak membedakan pakaian khas wanita dari pakaian khas lelaki. Akan tetapi, untuk wanita ditambah dengan hijab dan menutup tubuh.” (Fathul Bari, 10/409)

 

Tasyabbuh dalam Cara Berjalan

Abdullah ibnu ‘Amr ibnul Ash radhiallahu ‘anhuma pernah melihat Ummu Said putri Abu Jahl berselempang busur dan berjalan seperti cara berjalan kaum lelaki. Berkatalah Abdullah, “Siapa perempuan ini?”

Dijawab, “Ini Ummu Said bintu Abi Jahl.”

Abdullah berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَشَبَّهَ بِالرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ وَلاَ مَنْ تَشَبَّهَ بِالنِّسَاءِ مِنَ الرِّجَالِ

        ‘Bukan termasuk golongan kami wanita yang menyerupai lelaki dan lelaki yang menyerupai wanita’.” (HR. Ahmad 2/199—200, lihat penjelasan panjang lebar tentang hadits ini dalam catatan kaki kitab Jilbab al-Mar’ah al-Muslimah, karya al-Imam al-Albani, hlm. 142—144)

Ini adalah peringatan keras dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan bahwa pelaku tasyabbuh dengan lawan jenis tersebut ‘bukan termasuk golongan kami’, yakni bukan orang yang mengikuti sunnah kami atau bukan orang yang berjalan di atas jalan kami, jalan Islam.

Tasyabbuh dalam Suara

Di antara wanita ada yang memberat-beratkan suaranya meniru suara lelaki sebagaimana ada lelaki yang melembut-lembutkan suaranya, dibuat mendayu-dayu meniru suara wanita. Keinginan agar seperti lawan jenis ini menunjukkan terbaliknya fitrah mereka dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri telah melaknat lelaki yang menyerupai wanita ataupun sebaliknya.

        Bagaimana bila ada wanita yang memang dari asalnya bersuara berat, bukan karena dibuat-buat, apalagi bermaksud meniru lelaki?

        Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah memberikan pencerahan terhadap pertanyaan semisal ini. Kata al-Hafizh, “Celaan tasyabbuh (dengan lawan jenis) dalam hal ucapan dan cara jalan dikhususkan bagi orang yang bersengaja melakukannya. Adapun seseorang yang asal tabiatnya memang demikian, maka dia diperintah untuk memaksakan dirinya meninggalkan kelainan perilaku tersebut dan terus berupaya meninggalkannya walau secara bertahap. Apabila tidak melakukannya dan terus ‘memelihara kelainan’ tersebut, dia pun masuk dalam celaan. Lebih-lebih lagi apabila tampak darinya hal-hal yang menunjukkan dia senang dengan kelainan yang ada padanya.” (Fathul Bari, 10/409)

Tasyabbuh dalam Berhias

Contohnya memakai hena/pacar di tangan dan kaki, yang merupakan cara berhias kaum wanita. Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu memberitakan, pernah didatangkan ke hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seorang banci yang mewarnai kedua tangan dan kedua kakinya dengan hena/daun pacar. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya,

        مَا بَالُ هَذَا؟ قَالُوا: يَتَشَبَّهُ بِالنِّسَاءِ. فَأُمِرَ بِهِ فَنُقِّيَ إِلَى النَّقِيعِ. فَقِيلَ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَ نَقْتُلُهُ؟ فَقَالَ: إِنِّي نُهِيتُ عَنْ قَتْلِ الْمُصَلِّيْنَ

“Ada apa dengan orang ini?”

Dijawab, “Wahai Rasulullah, orang ini menyerupai wanita.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memerintahkan orang tersebut diasingkan ke an-Naqi’.

Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, tidakkah kita membunuhnya saja?”

“Aku dilarang membunuh orang__ orang yang shalat,” jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

(HR. Abu Dawud no. kitab al-Adab, dinyatakan sahih oleh al-Imam al-Albani dalam al-Misykat no. 4481)

Dari hadits di atas dipahami bahwa mewarnai tangan dan kaki merupakan kekhususan kaum wanita, tidak boleh dilakukan kaum lelaki. Buktinya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menghukum lelaki banci yang melakukannya.

Adapun mewarnai rambut dengan hena untuk mengubah uban boleh dilakukan, bahkan disyariatkan bagi wanita dan lelaki, sebagaimana hal ini ditunjukkan oleh as-Sunnah.

Diperkenankan pula menggunakan hena untuk pengobatan. Abu ‘Amr ibnu Shalah rahimahullah mengatakan, “Memacari jenggot guna mengubah uban dibolehkan dan merupakan ajaran sunnah. Adapun menggunakan hena bagi lelaki untuk selain mengubah uban rambut/jenggot, maka dilihat. Kalau si lelaki memakainya untuk pengobatan, hukumnya boleh. Jika maksudnya untuk berhias dan semisal dengan maksud wanita memakainya, hukumnya tidak boleh.” (Adab al-Mufti wa al-Mustafti, 2/502)

Penyembuhan dan Hukuman bagi Pelaku

Telah dijelaskan di atas bahwa seseorang yang terkena penyakit penyimpangan perilaku dengan menyerupai lawan jenis, dia harus berusaha “sembuh” dari kelainan tersebut, bila tidak maka dia akan jatuh ke dalam laknat. Lalu bagaimana bila kelainan tersebut bawaan sejak lahir?

Menurut an-Naawi rahimahullah, mukhannats khalqi (seseorang yang terlahir banci) tidaklah ditujukan kepadanya celaan (karena di luar kuasanya, alias bukan kesengajaan)[6].

Akan tetapi, kata al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah, apa yang dinyatakan oleh an-Nawawi dan yang sependapat dengannya di atas berlaku ketika seorang banci tersebut sama sekali tidak mampu lagi meninggalkan sifat keperempuan-perempuanannya, sulit meninggalkan gemulainya saat berjalan dan berbicara, setelah dia melakukan upaya penyembuhan untuk bisa meninggalkan kelainan tersebut. Sebab, hal itu masih mungkin dihilangkan walaupun dengan bertahap, dia harus mengupayakannya. Jika dia tidak berupaya menghilangkannya tanpa ada uzur padahal dia bisa sembuh, dia pun terkena celaan. (Fathul Bari, 10/409)

Al-Imam adz-Dzahabi rahimahullah dalam kitabnya, al-Kabair, menyebutkan dosa tasyabbuh dengan lawan jenis ini sebagai salah satu dari dosa besar. Beliau menyatakan bahwa apabila wanita memakai pakaian khusus lelaki, berarti si wanita telah menyerupai lelaki dalam hal pakaian, sehingga dia masuk dalam laknat Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya.

Suami si wanita menanggung pula dosanya apabila si suami memberi kelapangan bagi istrinya untuk melakukannya atau dia menyenanginya dan tidak melarangnya. Suami turut menanggung dosanya karena dia diperintah untuk meluruskan istrinya di atas ketaatan kepada Allah ‘azza wa jalla dan melarangnya berbuat maksiat. Hal ini berdasar firman Allah ‘azza wa jalla,

قُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ وَأَهۡلِيكُمۡ نَارٗا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُ

“Jagalah diri-diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (at-Tahrim: 6)

Dan berdasar sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، الرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَمَسْؤُولٌ عَنْهُمْ يَوْمَ الْقيَامَةِ

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya tentang rakyatnya (yang dipimpinnya). Seorang lelaki adalah pemimpin di keluarganya dan dia akan ditanya/dimintai pertanggungjawaban tentang mereka pada hari kiamat.” (Muttafaqun ‘alaihi) (al-Kabair, hlm. 129)

Al-Imam al-Haitsami rahimahullah dalam az-Zawajir (1/126) berkata, “Perbuatan tasyabbuh dengan lawan jenis terhitung dalam dosa besar adalah merupakan hal yang jelas berdasarkan hadits-hadits yang Anda ketahui dan ancaman keras yang di dalamnya.

Yang aku lihat dalam tasyabbuh ini, para imam (ulama) kita memiliki dua pendapat: satu pendapat mengatakan haram. Pendapat ini yang dinyatakan sahih oleh an-Nawawi, bahkan beliau benarkan. Pendapat kedua mengatakan makruh dan ini dinyatakan sahih oleh ar-Rafi’i dalam satu tempat.

Namun, yang sahih, bahkan yang benar, adalah pendapat yang dinyatakan oleh an-Nawawi bahwa hal tersebut haram, bahkan termasuk dosa besar—sebagaimana telah aku kemukakan.

Aku juga melihat sebagian orang yang membahas tentang dosa-dosa besar menggolongkan tasyabbuh dengan lawan jenis sebagai dosa besar, dan inilah pendapat yang zahir.” (Sebagaimana dinukil dalam Jilbab al-Mar’ah al-Muslimah, hlm. 148—149)

Ibnu at-Tin rahimahullah berkata, “Pihak yang mendapat laknat dalam hadits ini adalah para lelaki yang bertasyabbuh dengan para wanita atau para wanita bertasyabbuh dengan para lelaki dalam hal pakaian khusus (masing-masing).

Adapun para lelaki yang perbuatan tasyabbuhnya dengan para wanita (si lelaki telah menjelmakan dirinya atau memosisikan dirinya sebagai wanita) sampai pada taraf berhubungan badan dengan sesama lelaki pada duburnya (melakukan liwath/sodomi sebagaimana perbuatan kaum Luth ‘alaihissalam), atau tasyabbuh para wanita dengan lelaki (si wanita telah menjelma menjadi lelaki) sampai pada taraf dia “mendatangi” sesama wanita dengan melakukan sahq (dimaklumi dari perbuatan para lesbian), na’udzubillah, kedua macam penyimpangan moral ini sangat pantas beroleh celaan dan hukuman lebih keras[7] daripada pelaku yang belum sampai pada taraf demikian.” (Fathul Bari, 10/409)

Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menitahkan (dalam urusan orang banci dan lesbian),

أَخْرِجُوْهُمْ مِنْ بُيُوْتِكُمْ

“Keluarkan (usirlah) mereka dari rumah-rumah kalian.” (HR. al-Bukhari no. 5886)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusir Fulan (seorang banci) dan Umar ibnul Khaththab radhiallahu ‘anhu mengusir Fulanah (seorang wanita yang menyerupai lelaki).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan mengusir mukhannats (banci) dan mutarajjilah (lesbian) dengan maksud agar tasyabbuh yang mereka lakukan dengan lawan jenis tidak sampai pada taraf melakukan perbuatan mungkar di atas (melakuan liwath dan sahq). (Fathul Bari, 10/409)

Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saja mengusir mereka dan memerintahkan mengusir mereka, mengapa ada orang-orang yang sok berteriak-teriak agar para banci dan para lesbian ini diberi tempat dan diakui keberadaannya, lalu menganggap sah-sah saja adanya transgender? Wallahul musta’an.

Sebagai penutup, kita bawakan sebuah hadits yang apabila dibaca oleh orang-orang yang berperilaku menyimpang tersebut, semoga mereka mau segera bertobat dan memaksimalkan pengobatan penyakit ‘kelainan’nya. Mereka yang belum terkena, jangan coba-coba mendekati penyakit tersebut.

Abdullah ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلاَثٌ لاَ يَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَنْظُرُ اللهُ إلَيْهِمْ يَوْمَ الْقْيَامَةِ: الْعَاقُّ وَالِدَيْهِ، وَالْمَرْأَةُ الْمُتَرَجِّلَةُ الْمُتَشَبِّهَةُ بِالرِّجَالِ، وَالدَّيُّوثُ

“Ada tiga golongan yang tidak akan masuk surga dan Allah ‘azza wa jalla tidak akan melihat mereka pada hari kiamat kelak,

  • anak yang durhaka kepada kedua orang tuanya,
  • wanita mutarajjilah (kelelaki-lelakian) yang menyerupai kaum lelaki, dan
  • dayyuts.”[8]

(HR. an-Nasa’i, kata al-Imam al-Hakim rahimahullah, “Shahihul isnad,” dan disepakati oleh adz-Dzahabi rahimahullah. Kata al-Imam al-Albani rahimahullah, “Hadits ini sebagaimana yang dikatakan keduanya, insya Allah.” Catatan kaki Jilbab al-Mar’ah al-Muslimah, hlm. 145)

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah


[1] Pakaian yang dicelup dengan ‘ushfur, sejenis tumbuhan yang tumbuh di Jazirah Arab, sehingga warna pakaian yang dicelup tersebut berubah menjadi kuning atau merah yang khas.

[2] Sehingga warna celupannya luntur.

[3] Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan demikian sebagai peringatan keras bagi lelaki yang memakai pakaian mu’ashfar.

[4] Yakni bagaimana kabarnya.

[5] Menurut pendapat yang mewajibkan menutup wajah bagi wanita. Dalam masalah ini ada perbedaan pendapat.

[6] Al-Imam ath-Thabari rahimahullah berdalil untuk pendapat ini dengan perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tidak melarang seorang banci masuk ke tempat para wanita sampai beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar si banci tersebut menyebutkan secara rinci sifat seorang wanita. Ketika itu barulah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang si banci masuk ke tempat para wanita. Dikabarkan oleh Ummu Salamah radhiallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berada di sisinya saat di rumahnya ada seorang banci. Si banci berkata kepada Abdullah saudara lelaki Ummu Salamah, “Wahai Abdullah, apabila besok Allah ‘azza wa jalla memberikan kemenangan kepada kalian atas negeri Thaif, aku akan menunjukkan kepadamu putri Ghailan, karena dia menghadap dengan empat dan membelakang dengan delapan.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jangan sekali-kali mereka ini masuk ke tempat kalian.”

Hal ini menunjukkan tidak ada celaan bagi seorang banci yang memang asal penciptaannya demikian. (Fathul Bari, 10/409)

[7] Ada sebuah hadits yang menyebutkan tentang hukuman bagi pelaku liwath/sodomi, disampaikan oleh Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ وَجَدْتُمُوْهُ يَعْمَلُ عَمَلَ قَوْمِ لُوْطٍ فَاقْتُلُوْا الْفَاعِلَ وَالْمَفْعُوْلَ بِهِ

“Siapa yang kalian dapati melakukan perbuatan kaum Luth, maka bunuhlah (pelaku) dan yang menjadi obyek).”

(HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, dll. Al-Imam Ahmad berargumen dengan hadits ini. Sanad haditsnya menurut syarat al-Bukhari, kata al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam ad-Da’u wa ad-Dawa’ [hlm. 262—263]. Beliau juga menyatakannya sahih dalam Zadul Ma’ad.)

[8] Suami/kepala keluarga yang tidak memiliki kecemburuan terhadap keluarganya dengan membiarkan kemungkaran di tengah-tengah mereka.

Engkau Istimewa Karena Takwa

        Pernikahan insan selalu saja menjadi saat yang berharga dan spesial dalam hidupnya. Siapa gerangan yang tidak berbahagia menghadapinya, kecuali mungkin mereka yang “kawin paksa”, dan kejadian yang seperti itu sedikit.

Sebelum ke jenjang pernikahan, orang biasa pilah pilih, siapa yang bakal menjadi teman hidupnya. Si lelaki memilih, si perempuan pun memilih. Karena perempuan berhak memilih, dia boleh menolak pinangan lelaki yang datang apabila memang dia tak suka.

Perempuan biasa dipilih karena empat hal, sebagaimana yang disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ، لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَلِجَمَالِهَا وَلِدِيْنِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّيْنِ تَرِبَتْ يَدَاكَ

“Perempuan dinikahi karena empat hal; karena hartanya, karena nasabnya (keturunannya), karena kecantikannya, dan karena agamanya. Utamakanlah oleh kalian perempuan yang baik agamanya, taribat yadak.” (HR. Muslim no. 3620)

Perhatikan hadits di atas! Memang, ketaatan beragama selalu saja menjadi prioritas terdepan dalam urusan pernikahan. Siapa pun dia dan dari mana pun dia. Jadi, apabila seorang perempuan cantik jelita, kaya raya, memiliki kedudukan dan martabat tinggi di tengah-tengah manusia, dari keturunan bangsawan pula, namun agamanya ‘hampa’, dia bukan perempuan salihah. Adakah kebaikan yang diharapkan darinya, padahal kebaikan yang hakiki adalah kebaikan agama?

Apabila perempuan dituntut kesalihannya, demikian pula lelaki. Karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertitah kepada para wali perempuan yang didatangi oleh lelaki saleh yang ingin melamar putri atau saudari mereka,

إِذَا خَطَبَ إِلَيْكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِيْنَهُ وَخُلُقَهُ، فَزَوِّجُوْهُ، إِلاَّ تَفْعَلُوْا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ عَرِيْضٌ

“Jika melamar kepada kalian, seseorang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya, nikahkanlah perempuan kalian dengannya. Jika tidak kalian lakukan, niscaya akan terjadi fitnah (bencana) di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (HR. at-Tirmidzi, hadits hasan sahih, lihat Shahih at-Tirmidzi no. 1084, al-Irwa no. 1868, ash-Shahihah no. 1022)

Dalam Tuhfatul Ahwadzi dijelaskan makna hadits di atas sebagai berikut. Jika seseorang yang kalian anggap baik agama dan pergaulannya meminta kalian untuk menikahkannya dengan seorang perempuan dari kalangan anak-anak atau karib kerabat kalian, nikahkanlah perempuan kalian dengannya. Apabila tidak kalian lakukan, padahal agama dan perangai si lelaki bagus, karena kalian hanya menginginkan seseorang yang terpandang nasabnya, bagus fisiknya (tampan rupawan), atau hartanya, niscaya akan terjadi fitnah (bencana) dan kerusakan yang besar.

Sebab, kalau kalian tidak mau menikahkan perempuan kalian kecuali dengan lelaki yang berharta atau berkedudukan, bisa jadi banyak perempuan kalian yang hidup tanpa memiliki suami. Akan banyak pula lelaki kalian yang tidak memiliki istri. Akhirnya. merebaklah bencana dengan terjadinya perbuatan zina. Bisa jadi, para wali perempuan mendapatkan cela hingga bergejolaklah bencana demi bencana dan kerusakan, dan berdampak terputusnya nasab, sedikitnya kesalihan dan sedikitnya iffah ( kehormatan diri). (Kitab an-Nikah, bab “Ma Ja’a, Idza Ja’akum man Tardhauna Dinahu Fa Zawwijuhu”)

Demikianlah bimbingan agama yang mulia bagi para pendamba kemuliaan. Akan tetapi, banyak manusia berpaling darinya, sadar ataupun tidak. Tidak murni salah memang apabila seseorang memilih pasangan karena kebagusan fisiknya. Tidak pula disalahkan seseorang yang mengutamakan nasab tertentu atau memilih yang sesuku. Ingin yang bangsawan dan orang terpandang, ingin yang berharta… dst.

Semuanya keinginan yang manusiawi, boleh-boleh saja. Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menasihati dan memberikan arahan kepada Fathimah bintu Qais radhiallahu ‘anha agar tidak menerima lamaran Muawiyah bin Abi Sufyan radhiallahu ‘anhuma, karena Muawiyah seorang yang fakir, tidak berharta?[1]

Sebelum jauh mengurus proses pernikahan, bukankah disyariatkan nazhar (melihat calon pasangan) terlebih dahulu? Kira-kira apa fungsinya? Melihat fisik, bukan?

Yang dicela hanyalah apabila sisi agama diabaikan dan tidak dijadikan prioritas. Maka dari itu, janganlah manusia hanya dinilai dari kedudukan, keturunan, dan kekayaannya. Yang keturunan bangsawan enggan menikah dengan yang bukan bangsawan. Kabilah yang dianggap mulia hanya mau menikah dengan yang sederajat. Keturunan Arab berpikir seribu kali untuk menikah dengan orang ajam (non-Arab).

Apabila ada yang beralasan bahwa menikah haruslah dengan yang sekufu, perlu dipahami terlebih dahulu apa maksud sekufu tersebut. Makna sekufu, kata al-Imam ash-Shan’ani rahimahullah, adalah sama dan semisal. Sekufu yang teranggap adalah sekufu dalam hal agama. (Subulus Salam, 6/57)

Jadi, si lelaki dan si perempuan seagama[2], dan keduanya adalah orang baik-baik. Sebab, Allah ‘azza wa jalla mengingatkan dalam Tanzil-Nya,

ٱلۡخَبِيثَٰتُ لِلۡخَبِيثِينَ وَٱلۡخَبِيثُونَ لِلۡخَبِيثَٰتِۖ وَٱلطَّيِّبَٰتُ لِلطَّيِّبِينَ وَٱلطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَٰتِ

“Perempuan-perempuan yang keji adalah untuk laki-laki yang keji. Dan lakilaki yang keji adalah untuk perempuan-perempuan yang keji pula. Perempuan-perempuan yang baik adalah untuk laki-laki yang baik. Dan laki-laki yang baik adalah untuk perempuan-perempuan yang baik pula.” (an-Nur: 26)

Al-Imam Malik rahimahullah termasuk yang berpendapat bahwa kafa’ah (sekufu) yang teranggap hanyalah dalam masalah agama, bukan yang lain. (al-Mughni, Kitab an-Nikah, Mas’alah Wal Kuf’u Dzud Din wa al-Manshib)

Dinukilkan pula pendapat seperti ini dari Umar ibnul Khaththab radhiallahu ‘anhu dan Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu. Demikian pula Ibnu Sirin rahimahullah dan Umar bin Abdil Aziz rahimahullah dari kalangan tabi’in. (Fathul Bari, 9/165—166)[3]

Dalilnya, kata al-Imam ash-Shan’ani rahimahullah, ialah ayat 13 dari surah al-Hujurat dan hadits,

النَّاسُ كُلُّهُمْ وَلَدُ آدَمَ

“Manusia semuanya adalah anak Adam.” (HR. Ibnu Sa’d dalam ath-Thabaqat 1/25. Diriwayatkan pula oleh Abu Dawud dalam Sunannya dengan sedikit perbedaan lafadz no. 5116 dan at-Tirmidzi no. 3955; dinyatakan hasan dalam Shahih Abi Dawud dan Shahih at-Tirmidzi) (Subulus Salam, 6/57)

Al-Imam al-Bukhari rahimahullah mengisyaratkan dukungan terhadap pendapat ini. Dalam Kitab an-Nikah dalam Shahih-nya, beliau membuat judul bab: al-Ikfa’ fid Din (bab “Sekufu Itu dalam Agama”). Kemudian beliau membawakan firman Allah ‘azza wa jalla,

وَهُوَ ٱلَّذِي خَلَقَ مِنَ ٱلۡمَآءِ بَشَرٗا فَجَعَلَهُۥ نَسَبٗا وَصِهۡرٗاۗ وَكَانَ رَبُّكَ قَدِيرٗا ٥٤

“Dan Dia pula yang menciptakan manusia dari air, lalu Dia jadikan manusia itu berketurunan dan bermushaharah (hubungan yang terjalin karena pernikahan)….” (al-Furqan: 54)

Beliau bawakan pula beberapa hadits, di antaranya hadits Aisyah Ummul Mukminin radhiallahu ‘anha tentang Abu Hudzaifah bin Utbah bin Rabi’ah radhiallahu ‘anhu yang memiliki anak angkat bernama Salim, seorang maula (bekas budak), dan dinikahkannya dengan keponakannya, Hindun bintu al-Walid bin Utbah bin Rabi’ah. (Hadits no. 5088)

Dengan demikian, apabila engkau, wahai lelaki, ingin menikah dengan perempuan yang mulia, carilah perempuan yang bertakwa. Sebab, kemuliaan ada pada takwa, bukan yang lain. Setelah itu, baru engkau memperhitungkan paras si perempuan, nasabnya, dan seterusnya. Demikian pula dirimu, wahai perempuan, pilihlah seorang yang bertakwa sebagai suamimu, setelah itu baru engkau melihat sisi yang lain.

Jadi, tidak masalah engkau yang bangsawan menikah dengan yang bukan bangsawan, asal saling ridha. Tidak masalah engkau yang kaya menikah dengan yang miskin. Sebab, semua itu bukan standar kemuliaan. Kemuliaan, sekali lagi, hanya ada pada takwa.

Samahatusy Syaikh Ibnu Baz rahimahullah berkata, “Ulama Islam sepakat tentang bolehnya seorang lelaki menikahi perempuan yang bukan dari kabilahnya, apabila agama mereka sama. Ulama pun sepakat tentang bolehnya seorang muslim menikahi perempuan ahlul kitab yang menjaga kehormatan dirinya, walaupun si perempuan bukan dari kalangan bangsa Arab. Dalil tentang hal ini banyak didapatkan dari al-Quran, as-Sunnah, dan amalan salaf. Di antaranya,

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

إِنَّ أَكۡرَمَكُمۡ عِندَ ٱللَّهِ أَتۡقَىٰكُمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٞ ١٣

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian adalah yang paling bertakwa.” (al-Hujurat: 13)

Dalam ayat yang mulia di atas, Allah ‘azza wa jalla menjelaskan kepada para hamba-Nya, tidak ada kelebihan atau keistimewaan seseorang terhadap orang lain di sisi Allah ‘azza wa jalla selain dengan takwa. Maka dari itu, orang yang paling mulia di sisi Allah ‘azza wa jalla adalah yang paling bertakwa di antara mereka.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang orang yang paling mulia. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Yang paling bertakwa di antara manusia.”

Ayat dan hadits yang disebutkan di atas menunjukkan bahwa kabilahkabilah yang ada di tengah-tengah masyarakat manusia adalah sekufu, sama, dan sederajat. Oleh karena itu, seorang lelaki dari kabilah Quraisy (Qurasyi) dan dari Bani Hasyim (Hasyimi) boleh menikah dengan seorang perempuan dari Bani Tamim dan Qahthan, atau selain keduanya. Demikian pula sebaliknya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri, yang merupakan seorang dari Bani Hasyim yang paling mulia, menikah dengan Zainab bintu Jahsyin dari Bani Asad bin Khuzaimah. Zainab bukanlah dari suku Quraisy. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menikah dengan Ummu Habibah bintu Abi Sufyan, Hafshah bintu Umar, Juwairiyah bintu al-Harits, Saudah bintu Zam’ah, Ummu Salamah dan Aisyah, semoga Allah ‘azza wa jalla meridhai mereka, semuanya bukan dari kalangan Bani Hasyim. Bahkan, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menikahi Shafiyah bintu Huyai, seorang keturunan Bani Israil.

Umar ibnu al-Khaththab radhiallahu ‘anhu menikahi Ummu Kultsum bintu Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, padahal Umar dari Bani ‘Adi sedangkan Ummu Kultsum dari Bani Hasyim.

Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu menikah dengan dua putri Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam , secara berurutan yang satu setelah meninggal yang lain, yaitu Ruqayyah dan Ummu Kultsum. Utsman dari Bani Umayyah sementara dua putri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jelas dari Bani Hasyim.

Kenyataan seperti ini banyak sekali (menikah dengan kabilah yang berbeda). Semua ini menunjukkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat beliau g adalah orang-orang yang tidak lagi memedulikan urusan nasab ketika urusan agama telah lurus.

Termasuk bukti yang menunjukkan akan hal ini adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahkan Usamah bintu Zaid radhiallahu ‘anhu dengan Fathimah bintu Qais, seorang perempuan dari suku Quraisy. Padahal, Usamah adalah seorang bekas budak dari Bani Kalb.

Abu Hudzaifah bin Utbah bin Rabi’ah bin Abdi Syams radhiallahu ‘anhu menikahkan putri saudara lelakinya (keponakannya) dengan bekas budaknya yang bernama Salim, padahal keponakannya dari suku Quraisy, sedangkan Salim seorang mantan budak.

Abu Bakr ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu menikahkan saudara perempuannya dengan al-Asy’ats bin Qais. Abu Bakr dari Bani Tamim dari suku Quraisy, sedangkan al-Asy’ats dari Bani Kindah (al-Kindi).

Abdur rahman ibnu Auf radhiallahu ‘anhu menikahkan saudara perempuannya dengan Bilal bin Rabah, sang muazin, padahal saudarinya adalah Zuhriyah Quraisyiyah sedangkan Bilal seorang Habasyi (dari Afrika).

Semua ini menunjukkan kepada pencari ilmu tentang bolehnya pernikahan dengan selain kabilahnya jika memang urusan agama sudah lurus. Dalil dan kenyataan yang disebutkan di atas kiranya mencukupi, insya Allah.” (Fatwa ini disampaikan Samahatusy Syaikh tatkala beliau masih menjabat sebagai Wakil Rektor Universitas Islam Madinah. Dikutip dari Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, hlm. 401—403)

Seseorang hanyalah istimewa dengan takwa. Maka dari itu,ketika memilih pasangan ataupun memilihkan pasangan untuk orang lain, utamakan takwa, setelahnya baru mempertimbangkan hal lain. Tidak boleh menganggap remeh urusan agama si calon. Periksalah, apakah dia seorang yang senantiasa menegakkan shalat dan menjalankan rukun-rukun Islam yang lain? Apakah dia seorang yang selalu berupaya meninggalkan kemaksiatan? Apakah dia seorang yang berbakti kepada kedua orang tuanya, suka beramar ma’ruf nahi mungkar, dan berbagai kebaikan lainnya?

Seseorang yang mengesampingkan perkara agama dalam urusan ini menunjukkan bahwa dia seorang yang lemah agamanya, lemah keimanannya, dan sedikit takwanya.

Para wali yang mengurusi perempuan mereka, baik putri, saudara perempuan, maupun keponakan perempuan, hendaknya mengedepankan kesalihan seorang lelaki yang meminang perempuan mereka.

Apabila si perempuan ridha terhadap lelaki yang datang, tanpa ada cela pada agama dan akhlak si lelaki, wali wajib menikahkannya, walaupun si lelaki bukan dari kasta atau “kelas” yang sama dengan mereka. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas,

إِذَا خَطَبَ إِلَيْكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِيْنَهُ وَخُلُقَهُ، فَزَوِّجوْهُ، إِلاَّ تَفْعَلُوْا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ عَرِيْضٌ

“Jika melamar kepada kalian, seseorang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya, nikahkanlah perempuan kalian dengannya. Jika tidak kalian lakukan, niscaya akan terjadi fitnah (bencana) di muka bumi dan kerusakan yang besar.”

Wali tidak boleh memaksa seorang perempuan untuk menikah dengan lelaki pilihan walinya, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تُنْكَحُ الْبِكْرُ حَتَّى تُسْتَأْذَنَ

“Anak gadis tidak boleh dinikahkan sampai dimintai izinnya.” (HR. al- Bukhari dan Muslim)

Dengan demikian, tidak ada kehinaan bagi seorang bangsawan menikah dengan bukan bangsawan. Tidak ada kerendahan bagi seorang Arab ketika menikah dengan non-Arab. Tidak ada cela satu suku menikah dengan suku yang berbeda. Manusia semuanya sama, anak keturunan Adam q. Yang membuatmu istimewa hanyalah karena takwa. Karena takwa pula engkau pantas diutamakan.

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah


[1] Ketika Fathimah bintu Qais radhiallahu ‘anha selesai dari iddahnya, datanglah Muawiyah bin Abi Sufyan dan Abu Jahm melamarnya. Fathimah menyampaikan perihal lamaran tersebut kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam guna meminta bimbingan beliau. Beliau menasihatkan, “Adapun Abu Jahm, dia tidak pernah meletakkan tongkatnya dari pundaknya. Sementara itu, Muawiyah seorang yang fakir, tidak memiliki harta. Menikahlah dengan Usamah bin Zaid….” (HR. Muslim)

[2] Walaupun ada kebolehan bagi lelaki untuk menikah dengan perempuan dari kalangan ahlul kitab.

[3] Adapun jumhur ulama memandang bahwa selain agama maka nasab juga termasuk dalam kafa’ah. (Fathul Bari, 9/166)

Tiga Hal yang Diridhai dan Tiga Hal yang Dimurkai Allah

KHUTBAH PERTAMA:

 

الْحَمْدَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ ١٠٢

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُواْ رَبَّكُمُ ٱلَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفۡسٖ وَٰحِدَةٖ وَخَلَقَ مِنۡهَا زَوۡجَهَا وَبَثَّ مِنۡهُمَا رِجَالٗا كَثِيرٗا وَنِسَآءٗۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ ٱلَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِۦ وَٱلۡأَرۡحَامَۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَيۡكُمۡ رَقِيبٗا ١

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَقُولُواْ قَوۡلٗا سَدِيدٗا ٧٠ يُصۡلِحۡ لَكُمۡ أَعۡمَٰلَكُمۡ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡۗ وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدۡ فَازَ فَوۡزًا عَظِيمًا ٧١

أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كَلَامُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ وَشَرَّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ. أَمَّا بَعْدُ؛

Hadirin rahimakumullah,

Allah ‘azza wa jalla telah berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ ١٠٢

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. (Ali Imran: 102)

Tidak bosan-bosannya para khatib dan penceramah mengajak kaum muslimin agar bertakwa kepada Allah, yaitu dengan menjalankan perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya. Sebab, itulah pangkal kesejahteraan.

 

Hadirin rahimakumullah,

Di antara bentuk ketakwaan kepada Allah ‘azza wa jalla adalah mencari keridhaan-Nya serta menjauhi kemurkaan-Nya. Allah ‘azza wa jalla berfirman di dalam al-Qur’anul karim,

          أَفَمَنِ ٱتَّبَعَ رِضۡوَٰنَ ٱللَّهِ كَمَنۢ بَآءَ بِسَخَطٖ مِّنَ ٱللَّهِ وَمَأۡوَىٰهُ جَهَنَّمُۖ وَبِئۡسَ ٱلۡمَصِيرُ ١٦٢

Apakah orang yang mengikuti keridaan Allah sama dengan orang yang kembali membawa kemurkaan (yang besar) dari Allah dan tempatnya adalah Jahanam? Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali. (Ali Imran: 162)

 

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Dalam khutbah kali ini, kami akan menyebutkan beberapa hal yang diridhai dan yang dimurkai oleh Allah ‘azza wa jalla. Beberapa hal tersebut disebutkan oleh hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللهَ يَرْضَى لَكُمْ ثَ ثَالًا وَيَكْرَهُ لَكُمْ ثَ ثَالًا، فَيَرْضَى لَكُمْ أَنْ تَعْبُدُوهُ وَ تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا، وَأَنْ تَعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُوا، وَأَنْ تُنَاصِحُوا مَن وَ هَّالُ اللهُ أَمْرَكُمْ، وَيَكْرَهُ لَكُمْ قِيلَ وَقَالَ، وَكَثْرَةَ السُّؤَالَ، وَإِضَاعَةَ الْمَالِ

“Sesungguhnya Allah ridha terhadap kalian pada tiga hal dan memurkai kalian karena tiga hal. Allah meridhai kalian jika,

  • Kalian beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan sesuatu pun dengan-Nya
  • Kalian semua berpegang teguh dengan tali Allah serta tidak berpecah belah
  • Kalian saling memberi nasihat dengan orang yang Allah kuasakan padanya urusan kalian,

Allah ‘azza wa jalla akan memurkai kalian pada tiga hal,

  • Berkata-kata dengan berprasangka
  • Banyak meminta-minta atau banyak bertanya-tanya
  • Membuang-buang harta.”

(HR . Muslim)

 

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah!

Hadits tersebut menunjukkan bahwa perkara pertama yang diridhai oleh Allah adalah tauhid, yaitu mengesakan Allah ‘azza wa jalla dalam hal beribadah dan tidak menyekutukan sesuatupun dengan-Nya. Hal ini sebagaimana firman-Nya,

وَٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ وَلَا تُشۡرِكُواْ بِهِۦ شَيۡ‍ٔٗاۖ

“Sembahlah Allah dan janganlah menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.” (an-Nisa’: 36)

Allah menciptakan jin dan manusia untuk beribadah kepada-Nya, sebagaimana firman-Nya,

وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ ٥٦

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (adz-Dzariyat: 56)

Tauhid adalah modal utama untuk seseorang masuk surga dan selamat dari neraka sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ لَقِيَ اللهَ يُشْرِكُ بِهِ شَيْئاً دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Barang siapa berjumpa dengan Allah dengan tidak menyekutukan apapun dengan-Nya, niscaya akan masuk surga.” (HR . al-Bukhari dari Muadz bin Jabal radhiallahu ‘anhu)

Dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَإِنَّ اللهَ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ يَبْتَغِي بِذَلِكَ وَجْهَ اللهِ

“Sesungguhnya Allah telah mengharamkan atas neraka bagi orang70 orang yang berkata, ‘La ilaha ilallah,’ (Tidak ada sesembahan yang hak selain Allah ‘azza wa jalla) dengan ikhlas sepenuh hati mengharap wajah Allah.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Utbah radhiallahu ‘anhu)

Kesyirikan adalah penyebab utama masuk dan kekalnya seseorang dalam neraka serta terhalangnya dari masuk surga. Firman Allah ‘azza wa jalla,

لَقَدۡ كَفَرَ ٱلَّذِينَ قَالُوٓاْ إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡمَسِيحُ ٱبۡنُ مَرۡيَمَۖ وَقَالَ ٱلۡمَسِيحُ يَٰبَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمۡۖ إِنَّهُۥ مَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدۡ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِ ٱلۡجَنَّةَ وَمَأۡوَىٰهُ ٱلنَّارُۖ وَمَا لِلظَّٰلِمِينَ مِنۡ أَنصَارٖ ٧٢

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata, “Sesungguhnya Allah adalah al-Masih putra Maryam.”

Padahal al-Masih (sendiri) berkata, “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Rabbku dan Rabbmu.”

Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka. Tidaklah ada bagi orang-orang lalim itu seorang penolong pun. (al-Maidah: 72)

 

Hadirin rahimakumullah!

Perkara kedua yang diridhai oleh Allah ‘azza wa jalla yang disebutkan dalam hadits di atas, “Berpegang teguhlah dengan tali Allah ‘azza wa jalla dan jangan berpecah belah.”

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَٱعۡتَصِمُواْ بِحَبۡلِ ٱللَّهِ جَمِيعٗا وَلَا تَفَرَّقُواْۚ

“Dan berpegang teguhlah dengan tali Allah dan janganlah kalian bercerai berai.” (Ali Imran:103)

Maksudnya adalah berpegang teguh dan berpedoman dengan al-Qur’an dan as-Sunnah dalam segala aspek kehidupan beragama (ibadah, akhlak, akidah, maupun muamalah) serta mengedepankan ajaran al-Qur’an dan as-Sunnah daripada ajaran lain apa pun bentuk ajarannya.

Larangan bercerai berai dari ayat dan hadits tadi menuntut kita untuk bersatu dan bersepakat di atas al-haq, al-Qur’an, dan as-Sunnah sebagaimana yang ditegakkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya.

Ini tidak akan terealisasi kecuali dengan mengembalikan segala perselisihan kepada al-Qur’an dan as-Sunnah dengan pemahaman para sahabat dan orang yang mengikuti jejak mereka.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُواْ ٱلرَّسُولَ وَأُوْلِي ٱلۡأَمۡرِ مِنكُمۡۖ فَإِن تَنَٰزَعۡتُمۡ فِي شَيۡءٖ فَرُدُّوهُ إِلَى ٱللَّهِ وَٱلرَّسُولِ إِن كُنتُمۡ تُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِۚ ذَٰلِكَ خَيۡرٞ وَأَحۡسَنُ تَأۡوِيلًا ٥٩

        “Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah, taatilah Rasul, dan ulil amri (pemegang kekuasaan dan alim ulama) di antara kalian. Jika kalian berbeda pendapat, maka kembalikanlah kepada Allah (al-Qur’an) dan rasul (as-Sunnah) jika kalian beriman kepada Allah dan hari kemudian. Hal itu lebih utama dan lebih baik akibatnya.” (an-Nisa’: 59)

Rasulullah bersabda,

سَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي إِلَى ثَ ثَالٍ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً، كُلُّهَا فِي النَّارِ إِلاَّ وَاحِدَةً. قَالُوا: مَنْ هُمْ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: هُمْ مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي

“Umat ini akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan. Semuanya berada di neraka kecuali satu. (Para sahabat) bertanya, ‘Siapa mereka yang selamat wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Mereka adalah yang seperti aku dan para sahabatku sekarang ini’.” (HR . at-Tirmidzi dari Abdullah bin Amr radhiallahu ‘anhuma dan dinyatakan hasan oleh asy-Syaikh al-Albani)

 

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Hal ketiga yang diridhai Allah ‘azza wa jalla dalam hadits di atas adalah saling menasihati dan bekerja sama dengan pemegang kekuasaan pemerintahan negeri kaum muslimin. Keputusan dan peraturan penguasa kaum muslimin temasuk pihak yang diperintahkan oleh Allah ‘azza wa jalla untuk kita taati dan patuhi, dalam hal yang baik.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُواْ ٱلرَّسُولَ وَأُوْلِي ٱلۡأَمۡرِ مِنكُمۡۖ فَإِن تَنَٰزَعۡتُمۡ فِي شَيۡءٖ فَرُدُّوهُ إِلَى ٱللَّهِ وَٱلرَّسُولِ إِن كُنتُمۡ تُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِۚ ذَٰلِكَ خَيۡرٞ وَأَحۡسَنُ تَأۡوِيلًا ٥٩

“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah, taatilah Rasul, dan ulil amri (pemegang kekuasaan dan alim ulama) di antara kalian. Jika kalian berbeda pendapat, maka kembalikanlah kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul (as-Sunnah) jika kalian beriman kepada Allah dan hari kemudian. Hal itu lebih utama dan lebih baik akibatnya.” (an-Nisa’: 59)

Kita juga berhak memberi usulan, masukan, dan untaian nasihat secara sopan, diam-diam, tidak terang-terangan. Kita dituntut untuk bersabar menghadapi berbagai hal atau sikap penguasa yang menurut kita tidak cocok, baik terhadap kita pribadi atau masyarakat umum. Di antara nasihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ رَأَى مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا يَكْرَهُهُ فَلْيَصْبِرْ فَإِنَّهُ لَيْسَ أَحَدٌ يُفَارِقُ الْجَمَاعَةَ شِبْرَا فَيَمُوتُ إِ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً

“Barang siapa melihat dari tindakan pemimpinnya kurang berkenan di hatinya, hendaknya dia bersabar. Karena tidaklah seseorang yang menyelisihi jamaah walaupun hanya sejengkal, kemudian dia mati, melainkan dia mati jahiliah.” (HR . al-Bukhari dan Muslim, dari Ibnu Abbas)

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرآنِ الْكَرِيم،ِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتَ وَالذِّكْرِ الْحَكِيم. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمِ.


KHUTBAH KEDUA

 

الْحَمْدُ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وِدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَكَفَى بِاللهِ شَهِيدًا، وَأَشْهَدُ أَنْ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ شَرِيكَ لَهُ إِقْرَارًا بِهِ وَتَوْحِيدًا، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُه، صَلَّى اللهِ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا مَزِيدًا. أَمَّا بَعْدُ

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Adapun tiga hal yang dimurkai oleh Allah ‘azza wa jalla yang disebutkan dalam hadits di atas;

Pertama, suka membicarakan berita-berita yang tidak jelas kebenarannya. Allah ‘azza wa jalla telah berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱجۡتَنِبُواْ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلظَّنِّ

“Wahai orang-orang yang beriman, hindarilah dari banyak berprasangka.” (al-Hujurat: 12)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ

“Tinggalkanlah berprasangka, karena berprasangka adalah sedusta-dustanya pembicaraan.” (HR . Muslim, dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Bahkan Islam melarang seseorang memberitakan setiap apa yang dia dengar dan setiap apa yang dia lihat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,

كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

“Cukuplah seseorang dianggap dusta dengan dia membicarakan setiap apa yang dia dengar.” (HR . Muslim, dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Terlebih lagi kalau sampai berdusta, padahal Allah ‘azza wa jalla telah berfirman,

وَٱجۡتَنِبُواْ قَوۡلَ ٱلزُّورِ ٣٠

“Jauhilah perkataan dusta.” (al-Hajj: 30)

Di dalam sebuah hadits, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

        إِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كَذَّابًا

“Jauhilah dusta, karena berdusta akan mengantarkan kepada keburukan, sedangkan keburukan akan mengantarkan ke neraka. Jika seseorang selalu berdusta dan menekuninya, niscaya akan ditulis di sisi Allah ‘azza wa jalla sebagai pendusta.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu)

 

Hal kedua yang dimurkai oleh Allah ‘azza wa jalla adalah banyak meminta-minta apa yang dimiliki oleh orang lain serta senang mengajukan kebutuhannya kepada orang lain. Tidaklah sepantasnya seorang muslim yang sehat menghinakan dirinya dengan cara meminta-minta.

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,

لاَ تَزَالُ الْمَسْأَلَةَ بِأَحَدِكُمْ حَتَّى يَلْقَى اللهَ وَلَيْسَ فِي وَجْهِهِ مَزْعَةُ لَحْمٍ

“Tidaklah perbuatan meminta-minta ditekuni oleh seseorang kecuali dia akan berjumpa dengan Allah dalam keadaan tidak ada sekerat daging pun di wajahnya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma)

Pada hadits lain, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Perbuatan meminta-minta adalah penggaruk yang mengoyak wajah seseorang. Kecuali jika seseorang meminta kepada penguasa atau dalam urusan yang mengharuskannya meminta.” (HR . at-Tirmidzi, dari Samurah bin Jundub radhiallahu ‘anhu)

 

Hal ketiga yang dimurkai oleh Allah dalam hadits di atas adalah perbuatan menyia-nyiakan harta. Sebab, harta adalah karunia dan kenikmatan dari Allah ‘azza wa jalla yang wajib disyukuri. Allah ‘azza wa jalla telah berfirman,

وَٱشۡكُرُواْ نِعۡمَتَ ٱللَّهِ إِن كُنتُمۡ إِيَّاهُ تَعۡبُدُونَ ١١٤

“Syukurilah kenikmatan Allah atas kalian jika kalian hanya beribadah kepadanya.” (an-Nahl: 114)

اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

“Ya Allah, mudahkanlah kami dalam berzikir, bersyukur, dan beribadah kepada-Mu dengan baik.”

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ، وَالْحَمْدُ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Shaf Shalat Jenazah Jika Makmum Satu Orang

Bagaimana posisi imam dan makmum dalam shalat jenazah yang menyalatkan hanya dua orang? Jazakumullahu khairan.

 

Dijawab oleh al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad as-Sarbini

Sebagian ulama berpendapat, jika yang berjamaah menyalati jenazah adalah dua orang lelaki, keduanya berjamaah dengan dua shaf; imam berdiri sendiri di depan dan makmum berdiri sendiri di belakangnya, bukan satu shaf dengan berdiri sejajar seperti halnya pada shalat-shalat lainnya. Ini pendapat yang dipilih oleh al-Albani dalam kitab Ahkamul Jana’iz (hlm. 128).

Pendapat ini berdalil dengan hadits ‘Abdullah bin Abi Thalhah radhiallahu ‘anhuma,

أَنَّ أَبَا طَلْحَةَ دَعَا رَسُوْلَ اللهِ إِلَى عُمَيْرِ بْنِ أَبِيْ طَلْحَةَ حِيْنَ تُوُفِّيَ، فَأَتَاهُ رَسُوْلُ اللهِ فَصَلَّى عَلَيْهِ فِيْ مَنْزِلِهِمْ، فَتَقَدَّمَ رَسُوْلُ اللهِ وَكَانَ أَبُوْ طَلْحَةَ وَرَاءَهُ وَأُمُّ سُلَيْمٍ وَرَاءَ أَبِيْ طَلْحَةَ، وَلَمْ يَكُنْ مَعَهُمْ غَيْرُهُمْ

“Sesungguhnya Abu Thalhah mengundang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menyalati jenazah ‘Umair bin Abi Thalhah ketika wafatnya, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatanginya dan menyalatinya di rumah mereka, lantas beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam maju ke depan, sedangkan Abu Thalhah di belakangnya dan Ummu Sulaim di belakang Abu Thalhah, tidak ada orang lain selain mereka.” (HR . al-Hakim, al-Baihaqi, dan ath-Thabarani)

Hadits ini dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam Ahkam al-Jana’iz (hlm. 126).

Al-Albani semakin memperkuatnya dengan hadits Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu yang dikeluarkan oleh Ahmad yang semakna dengannya.

Sebagian fuqaha Hanabilah menjadikan hadits ini sebagai dalil untuk berpendapat disyariatkan bagi makmum bershaf seorang diri untuk merealisasikan tiga shaf saat menyalati jenazah.

Maksudnya, jika yang hadir Cuma tiga orang, lebih utama bershaf sendiri-sendiri; shaf imam, satu makmum di belakang imam, dan satu makmum di belakang makmum tersebut.

Ibnu Rajab al-Hanbali menukilnya sebagai pendapat al-Qadhi Abu Ya’la dan Ibnu ‘Aqil. Begitu pula al-Mardawi dalam kitab al-Inshaf menukil hal yang sama dari sebagian fuqaha Hanabilah tersebut.

Adapun mazhab Hanbali yang merupakan pendapat jumhur fuqaha Hanabilah—sebagaimana ditegaskan dalam kitab al-Inshaf—menyatakan tidak boleh dan tidak sah seorang makmum bershaf seorang diri secara mutlak, yakni baik pada shalat fardhu, shalat sunnah, maupun shalat jenazah. Walau dengan alasan ingin merealisasikan tercapainya tiga shaf dalam pelaksanaan shalat jenazah—yang menurut mazhab Hanbali disunnahkan berjamaah tiga shaf pada shalat jenazah—tetapi jika tiga shaf itu hanya dapat direalisasikan dengan bershaf sendiri-sendiri, hal itu tidak sah.

Pendapat ini yang benar, insya Allah, kendati tidak ada nash (dalil langsung dalam masalah ini) yang tsabit (tetap) dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Adapun hadits yang diriwayatkan sebagai nash dalam masalah ini adalah hadits yang keliru. Dalam kitab Fathul Bari, syarah hadits Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma bahwa dia pernah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati sebuah kuburan, lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyalati jenazah yang sudah terkubur itu dari atas kuburannya dan para sahabat bershaf di belakangnya, Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah berkata, “Hadits ini telah dikeluarkan pula oleh ad-Daraquthni dari jalan riwayat Syarik dari asy-Syaibani dengan sanad tersebut. Dia mengatakan pada haditsnya,

.فَقَامَ فَصَلَّى عَلَيْهِ، فَقُمْتُ عَنْ يَسَارِهِ، فَجَعَلَنِيْ عَنْ يَمِيْنِهِ

“Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri dan menyalatinya, kemudian aku berdiri (sejajar) di sebelah kirinya. Beliau lalu memindahkanku ke sebelah kanannya (sejajar dengannya).”

Ini adalah lafadz tambahan yang ganjil/keliru. Aku tidak mengetahui rawi lain yang menyebutkannya selain Syarik padahal dia bukan hafizh (penghafal hadits). Seandainya riwayat ini benar, tentulah akan dijadikan dalil bahwa sifat susunan shaf pada shalat jenazah sama dengan sifat susunan shaf pada shalat-shalat lainnya. Dalam masalah ini, sahabat-sahabat kami (fuqaha Hanabilah –pen.) telah berbeda pendapat.”

Kemudian Ibnu Rajab menukil pendapat sebagian fuqaha Hanabilah yang menyatakan sama dengan sifat shaf pada shalat fardhu dan itu adalah lahiriah ucapan al-Imam Ahmad rahimahullah. Ini yang telah kami sampaikan di atas sebagai mazhab Hanbali.

Ibnu Rajab juga menukil pendapat sebagian fuqaha Hanabilah lainnya yang telah kami sampaikan pula di atas.[1] Jadi, yang menjadi dalil dalam masalah ini adalah keumuman makna hadits-hadits yang sahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai sifat susunan shaf dalam shalat berjamaah.

Hadits-hadits itu menunjukkan bahwa jika shalat berjamaah didirikan oleh dua orang lelaki saja, imam dan makmum berdiri sejajar dalam satu shaf; imam di sebelah kiri dan makmum di sebelah kanannya.

Hadits-hadits tersebut adalah:

  1. Hadits Jabir radhiallahu ‘anhu yang meriwayatkan safarnya bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pada safar itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan shalat, Jabir radhiallahu ‘anhu meriwayatkan,

ثُمَّ جِئْتُ حَتَّى قُمْتُ عَنْ يَسَارِ رَسُوْلِ اللهِ فَأَخَذَ بِيَدِيْ فَأَدَارَنِيْ حَتَّى أَقَامَنِي عَنْ يَمِيْنِهِ، ثُمَّ جَاءَ جَبَّارُ بْنُ صَخْرٍ فَتَوَضَّأَ، ثُمَّ جَاءَ فَقَامَ عَنْ يَسَارِ رَسُوْلِ اللهِ، فَأَخَذَ رَسُوْلُ اللهِ  بِيَدِنَا جَمِيْعًا فَدَفَعَنَا حَتَّى أَقَامَنَا خَلْفَهُ

“Lalu aku datang hingga berdiri di sebelah kiri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (sejajar dengannya), lantas beliau memegang tanganku dan menggeserku ke sebelah kanannya (sejajar dengannya). Selanjutnya datang Jabbar bin Shakhr, lalu dia berwudhu, kemudian datang dan berdiri di sebelah kiri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (sejajar dengannya), lantas Rasulullah memegang tangan kami berdua dan mendorong kami (ke belakang) hingga beliau memosisikan kami di belakangnya.” (HR. Muslim)[2]

  1. Hadits Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma bahwa ia pernah bermalam di rumah khalahnya (bibinya), Maimunah radhiallahu ‘anha yang merupakan salah satu istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bangun melaksanakan shalat malam.

Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata,

.فَجِئْتُ فَقُمْتُ عَنْ يَسَارِهِ، فَجَعَلَنِيْ عَنْ يَمِينِهِ

“Kemudian aku datang dan berdiri di sebelah kirinya (sejajar dengannya), lantas beliau menggeserku ke sebelah kanannya (sejajar dengannya).” (Muttafaq ‘alaih)

Kaidah syariat menyatakan bahwa hukum yang berlaku pada shalat wajib berlaku pula pada shalat sunnah, kecuali ada dalil yang membedakan. Begitu pula sebaliknya, hukum yang berlaku pada shalat sunnah berlaku pula pada shalat wajib, kecuali ada dalil yang membedakan.

Artinya, keumuman makna hadits-hadits ini menunjukkan hukum yang sama untuk sifat susunan shaf dalam shalat berjamaah pada seluruh jenis shalat; shalat wajib, shalat sunnah, dan shalat jenazah.

Pendalilan dengan keumuman makna hadits-hadits ini lebih kuat—insya Allah—daripada pendalilan pendapat pertama dengan hadits ‘Abdullah bin Abi Thalhah radhiallahu ‘anhuma dan hadits Anas radhiallahu ‘anhu yang keduanya memiliki kelemahan dari segi riwayat.

Benar, hadits ‘Abdullah bin Abi Thalhah radhiallahu ‘anhuma telah dinyatakan sahih oleh sebagian ahli hadits. Al-Hakim menyatakannya sahih menurut syarat al-Bukhari dan Muslim, dibenarkan oleh adz-Dzahabi. Al-Muhaddits al-Albani dalam Ahkam al-Jana’iz meluruskan bahwa hadits ini sahih menurut syarat Muslim saja[3].

Namun, guru besar kami al-Muhaddits Muqbil Al-Wadi’i menyatakan hadits ini dha’if (lemah) dalam Tatabbu’ Auham al-Hakim[4] dengan alasan sanadnya mursal[5], karena ‘Abdullah bin Abi Thalhah radhiallahu ‘anhuma adalah sahabat kecil. Ummu Sulaim radhiallahu ‘anha mengandungnya ketika Perang Hunain, sebagaimana dalam Tahdzib at-Tahdzib.

Artinya, dia belum mumayyiz (berakal) pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga belum paham dengan apa yang terjadi pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Jadi, dia memiliki kemuliaan persahabatan dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi riwayatnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terputus (mursal) dan hukumnya seperti mursal tabi’i (murid sahabat).

Adapun hadits Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu sanadnya dha’if (lemah), karena pada sanadnya ada periwayat lemah bernama ‘Abdullah bin ‘Umar al-’Umari[6] dan periwayat majhulah (tidak dikenal) bernama Ummu Yahya[7].

Kesimpulannya, pendapat yang benar adalah pendapat yang mengatakan sifat susunan shaf pada shalat jenazah sama dengan shalat-shalat lainnya. Jika shalat berjamaah didirikan oleh dua orang lelaki saja, imam dan makmum berdiri sejajar dalam satu shaf; imam di sebelah kiri dan makmum di sebelah kanannya.

Wallahu a’lam.


[1] Lihat kitab Fathul Bari, syarah kitab al-Adzan, Bab “Wudhu’i ash-Shibyan” (8/24—25) karya Ibnu Rajab dan al-Inshaf karya al-Mardawi (2/289—290) dan (2/515).

[2] Adapun amalan Jabbar bin Shakhr radhiallahu ‘anhu pada hadits ini, hal itu karena pada mulanya disyariatkan bagi imam yang berjamaah dengan dua orang atau lebih agar berdiri satu shaf. Namun, hukum tersebut mansukh (dihapus) dengan hukum baru yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hadits ini, yaitu imam berdiri sendiri di depan dan para makmum (minimal dua lelaki) bershaf di belakangnya.

[3] Karena al-Bukhari tidak mengeluarkan hadits ‘Imarah bin Ghuzayyah kecuali dalam bentuk ta’liq, yaitu dengan membuang sanadnya sehingga tidak termasuk hadits musnad yang sesuai dengan syarat al-Bukhari dalam kitab Shahih-nya.

[4] Lihat kitab Tatabbu’ Auham al-Hakim al-Lati Sakata ‘Alaiha adz-Dzahabi fi al-Mustadrak (1/513—514).

[5] Sanad yang mursal adalah sanad yang terputus antara periwayat tabi’i (murid sahabat) dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena tabi’i tidak mendapati zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

[6] Lihat kitab Taqrib at-Tahdzib, dan ini salah satu dari faedah yang kami dapatkan dari guru besar kami al-Muhaddits al-Imam Muqbil bin Hadi al-Wadi’i rahimahullah bahwa ‘Abdullah bin ‘Umar al-’Umari berderajat dha’if. Walhamdulillah.

[7] Al-Haitsami berkata dalam Majma’ az-Zawa’id (3/52, no. 4168, Maktabah Syamilah), “Diriwayatkan oleh Ahmad. Pada sanadnya ada Ummu Yahya dan aku tidak menemukan seorang pun yang menyebutkan biografinya.”

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-’Asqalani berkata dalam Ta’jil al-Manfa’ah bi Zawa’id Rijal al-Aimmah al-Arba’ah (1/564, Maktabah Syamilah), “Ummu Yahya tidak dikenal dan yang meriwayatkan darinya adalah ‘Abdullah bin ‘Umar al-’Umari.”

Merasa Nyaman dengan Hukuman

Hukuman terberat adalah ketika seorang yang dihukum tidak merasakan hukuman tersebut. Parahnya lagi ketika ia justru senang dengan hukuman itu. Ini seperti seorang yang bahagia dengan harta yang haram dan merasa nyaman dengan dosanya. Orang yang semacam ini tidak akan beruntung.

Sungguh, saya perhatikan keadaan kebanyakan ulama dan ahli zuhud, saya memandang mereka berada dalam suatu hukuman tetapi mereka tidak merasakannya. Kebanyakannya karena mereka punya orientasi mencari kepemimpinan.

Seorang yang berilmu dari mereka marah ketika kesalahannya dibantah. Seorang penceramah membuat-buat keindahan dalam ceramahnya. Seorang yang ahli zuhud, ternyata munafik dan mengharap pujian.

Awal hukuman bagi mereka adalah berpalingnya mereka dari kebenaran karena sibuk mencari perhatian makhluk. Barang siapa yang hukumannya tidak tampak, ia akan kehilangan manisnya bermunajat dengan Allah ‘azza wa jalla, dan kehilangan kelezatan ibadah.

Kecuali orang-orang yang beriman, baik laki-laki maupun perempuan, Allah ‘azza wa jalla menjaga bumi dengan mereka. Batin mereka sama dengan lahiriah mereka. Bahkan, batin mereka lebih tampak. Yang tersembunyi sama dengan yang tampak, bahkan lebih jelas. Cita-cita mereka setinggi bintang kejora, bahkan lebih tinggi lagi.

Apabila dikenal. mereka justru tidak suka. Jika Anda lihat karamah (hal keluarbiasaan) pada mereka, mereka merasa tidak punya karamah.

Manusia tidak sadar dengan keberadaan mereka, sementara mereka sudah jauh melintasi padang sahara.

Mereka dicintai belahan bumi dan para malaikat di langit berbangga dengan mereka.

Kami memohon kepada Allah taufik-Nya untuk bisa mengikuti jejak mereka dan menjadikan kita termasuk pengikut mereka. (Ibnul Jauzi, kitab ash-Shaid)

ditulis oleh Al-Ustadz Qomar Suaidi

Al-Muhith

Al-Muhith adalah salah satu asmaul husna. Allah ‘azza wa jalla telah menyebutkan nama tersebut dalam sebagian ayat-Nya, di antaranya dalam firman-Nya,

إِن تَمۡسَسۡكُمۡ حَسَنَةٞ تَسُؤۡهُمۡ وَإِن تُصِبۡكُمۡ سَيِّئَةٞ يَفۡرَحُواْ بِهَاۖ وَإِن تَصۡبِرُواْ وَتَتَّقُواْ لَا يَضُرُّكُمۡ كَيۡدُهُمۡ شَيۡ‍ًٔاۗ إِنَّ ٱللَّهَ بِمَا يَعۡمَلُونَ مُحِيطٞ ١٢٠

“Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikit pun tidak mendatangkan kemudaratan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.” (Ali ‘Imran: 120)

وَلَا تَكُونُواْ كَٱلَّذِينَ خَرَجُواْ مِن دِيَٰرِهِم بَطَرٗا وَرِئَآءَ ٱلنَّاسِ وَيَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِۚ وَٱللَّهُ بِمَا يَعۡمَلُونَ مُحِيطٞ ٤٧

“Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud ria kepada manusia serta menghalangi (orang) dari jalan Allah. Dan (ilmu) Allah meliputi apa yang mereka kerjakan.” (al-Anfal: 47)

Adapun makna al-Muhith yang telah dijelaskan oleh beberapa ulama di antaranya sebagai berikut.

Qiwamus Sunnah al-Ashfahani mengatakan dalam kitab al-Hujjah, “Al- Muhith artinya adalah yang Kemampuan-Nya meliputi segala makhluk-Nya, yang Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu, dan menghitung segala sesuatu.”

Al-Baihaqi mengatakan dalam kitab al-I’tiqad, “Al-Muhith artinya Yang Kemampuan-Nya meliputi segala sesuatu, Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu. Kemampuan adalah sifat yang selalu lekat pada Dzat-Nya, demikian pula ilmu adalah sifat yang selalu lekat pada Dzat-Nya.”

As-Sa’di rahimahullah berkata, “Al-Muhith, Yang Meliputi Segala Sesuatu dengan Ilmu-Nya, Kemampuan-Nya, Kasih Sayang-Nya, dan Pemaksaan-Nya.”

 

Buah Mengimani Nama Allah Al-Muhith

Dengan mengimani nama Allah al-Muhith, seorang hamba mengetahui keluasan ilmu Allah ‘azza wa jalla, kemampuan-Nya, dan rahmat-Nya. Tidak ada sesuatupun kecuali Allah ‘azza wa jalla mengetahuinya. Tidak ada sesuatupun kecuali dia merasakan kasih sayang Allah, dan tidak ada sesuatupun melainkan berada dalam kekuasaan-Nya. Mahabesar Allah.

Dengan demikian, semestinya kita senantiasa berhati-hati saat berbuat, karena perbuatan kita apapun dan di manapun selalu dalam liputan ilmu Allah. Firman-Nya,

          قَالَ يَٰقَوۡمِ أَرَهۡطِيٓ أَعَزُّ عَلَيۡكُم مِّنَ ٱللَّهِ وَٱتَّخَذۡتُمُوهُ وَرَآءَكُمۡ ظِهۡرِيًّاۖ إِنَّ رَبِّي بِمَا تَعۡمَلُونَ مُحِيطٞ ٩٢

Syuaib menjawab, “Hai kaumku, apakah keluargaku lebih terhormat menurut pandanganmu daripada Allah, sedang Allah kamu jadikan sesuatu yang terbuang di belakangmu? Sesungguhnya (pengetahuan) Rabbku meliputi apa yang kamu kerjakan.” (Hud: 92)

 

ditulis oleh Al-Ustadz Qomar Suaidi

Manusia vs Iblis; bagian ke-1

Setiap kenikmatan yang dirasakan oleh manusia, pasti ada yang berusaha merampas atau melenyapkannya. Demikian pula dalam perjalanannya di dunia yang tidak ringan ini, banyak musuh yang mengintai kelengahan seorang manusia, lebih-lebih seorang mukmin.

Ada musuh yang membisikkan di dalam dirinya dan mendorongnya ke jalan yang salah. Ada musuh yang tegak berdiri di hadapannya, merintangi langkahnya, atau membelokkannya ke arah yang salah. Kadang mereka bersatu padu untuk menjauhkan manusia dari tujuannya. Kadang mereka bekerja sendiri-sendiri dalam upaya untuk menggelincirkan manusia itu.

Kadang mereka menghiasi berbagai kejelekan agar terlihat indah lalu manusia tertarik untuk melakukannya. Atau, sebaliknya, membuat yang baik seakan-akan sebuah keburukan yang harus dijauhi dan dimusuhi.

Banyak hal yang merintangi manusia dalam menjalankan tugasnya sebagai hamba Allah ‘azza wa jalla. Ada dunia yang berhias secantik-cantiknya sehingga manusia terlena dan berjuang mengejarnya. Ada nafsu yang selalu mendorongnya dan tidak pernah merasa terpuaskan. Ada pula setan yang menipunya dengan janji-janji palsu, sehingga dia mengikuti bujukannya.

Yahya bin Mu’adz ar-Razi rahimahullah menyebutkan, “Musuh manusia itu ada tiga; dunia, setan, dan nafsunya. Bentengilah diri dari dunia dengan zuhud terhadap dunia, dari setan dengan menyelisihi perintahnya, dan dari nafsu dengan meninggalkan syahwatnya.”[1]

Secara bahasa, musuh (‘aduw) adalah lawan dari teman, pelindung, penolong (waliy), dan bentuk jamak dari ‘aduw ialah a’da`.

Di antara musuh-musuh yang dihadapi oleh manusia, ada yang kita memang diperintahkan untuk memusuhinya, bahkan memeranginya, sebagaimana yang diisyaratkan dalam firman Allah ‘azza wa jalla,

فَإِن كَانَ مِن قَوۡمٍ عَدُوّٖ لَّكُمۡ

“Maka jika ia (si terbunuh) dari kaum (kafir) yang menjadi musuh bagi kamu….” (an-Nisa: 92)

Ada pula golongan yang memusuhi mereka bukan sebagai tujuan utama (harus dimusuhi). Akan tetapi, kadang-kadang seseorang terpaksa harus menghadapi sikap permusuhan (gangguan –red.) dari golongan ini, sebagaimana dalam firman Allah ‘azza wa jalla,

إِنَّ مِنۡ أَزۡوَٰجِكُمۡ وَأَوۡلَٰدِكُمۡ عَدُوّٗا لَّكُمۡ

“Sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu.” (at-Taghabun: 14)[2]

Mereka (istri dan anak-anak) pada dasarnya bukanlah musuh, tetapi digolongkan sebagai musuh, karena mendorong seorang suami atau ayah melakukan pelanggaran untuk menuruti kemauan istrinya; Atau menyebabkan seorang ayah bermaksiat demi menyenangkan anak-anaknya, hingga menjerumuskannya ke dalam kebinasaan abadi.

Hanya karena permintaan istri yang ingin memiliki rumah dan perabotan mewah, kendaraan yang bagus, atau perhiasan yang mahal, seorang suami tergerak melakukan penipuan, pencurian, penggelapan, pengkhianatan, bahkan pembunuhan. Hanya karena memenuhi keinginan anak kesayangannya yang ingin tampil di hadapan teman sebayanya, sang ayah rela merampok dan membunuh.

Akhirnya dia harus menjalani hukuman had, kisas, atau penjara. Itu baru di dunia, belum lagi di akhirat.

Lebih buruk lagi—dan ini terjadi—demi meraih impian duniawinya, seorang ayah atau suami ‘terpaksa’ menjual manhajnya, merendahkan dirinya, dan menghinakan ilmu yang dibawanya, hingga dia terlepas dari lingkup pergaulannya dengan Ahlus Sunnah. Bahkan, ia ikut menyebarkan fitnah dan syubhat di kalangan Ahlus Sunnah serta orang-orang awam. Wal ‘iyadzu billahi.

Menurut istilah, al-‘aduw (musuh) adalah siapa saja yang berusaha mencelakakan orang lain dan melawannya hingga menjerumuskan lawannya ke dalam kerugian.[3]

Bisa juga dikatakan bahwa musuh seseorang adalah siapa saja yang merasa senang melihat kesengsaraannya dan tidak senang dengan keberhasilannya. Sebagaimana salah satu sifat orang-orang munafik yang disebutkan oleh Allah ‘azza wa jalla dalam firman-Nya,

إِن تَمۡسَسۡكُمۡ حَسَنَةٞ تَسُؤۡهُمۡ وَإِن تُصِبۡكُمۡ سَيِّئَةٞ يَفۡرَحُواْ بِهَاۖ وَإِن تَصۡبِرُواْ وَتَتَّقُواْ لَا يَضُرُّكُمۡ كَيۡدُهُمۡ شَيۡ‍ًٔاۗ إِنَّ ٱللَّهَ بِمَا يَعۡمَلُونَ مُحِيطٞ ١٢٠

“Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudaratan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.” (Ali ‘Imran: 120)

Setelah menerangkan sifat-sifat orang munafik, yaitu mereka yang menampakkan keimanan dan kasih sayang kepada orang-orang beriman, padahal hati mereka bertolak belakang dengan apa yang mereka tampakkan, Allah ‘azza wa jalla menjelaskan pula betapa besarnya permusuhan dan kebencian mereka terhadap orang-orang mukmin.

Apabila kaum mukminin mendapatkan kesuburan, dukungan, dan pertolongan, serta bertambah banyak jumlah mereka, hal itu sangat menyusahkan dan merisaukan hati orang-orang munafik ini. Sebaliknya, jika kaum mukminin ditimpa paceklik (kekeringan, kemarau), atau dikalahkan oleh musuh, orang-orang munafik itu bergembira dan merasa senang.

Allah ‘azza wa jalla berfirman mengingatkan bahwa orang-orang munafik adalah musuh yang sesungguhnya bagi kaum mukminin,

وَإِذَا رَأَيۡتَهُمۡ تُعۡجِبُكَ أَجۡسَامُهُمۡۖ وَإِن يَقُولُواْ تَسۡمَعۡ لِقَوۡلِهِمۡۖ كَأَنَّهُمۡ خُشُبٞ مُّسَنَّدَةٞۖ يَحۡسَبُونَ كُلَّ صَيۡحَةٍ عَلَيۡهِمۡۚ هُمُ ٱلۡعَدُوُّ فَٱحۡذَرۡهُمۡۚ قَٰتَلَهُمُ ٱللَّهُۖ أَنَّىٰ يُؤۡفَكُونَ ٤

“Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar. Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya) maka waspadalah terhadap mereka; semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran)?” (al-Munafiqun: 4)

Demikianlah kehidupan manusia, orang-orang beriman khususnya, dalam perjalanannya menuju Allah ‘azza wa jalla, senantiasa menghadapi musuh yang beragam. Permusuhan sampai kepada peperangan yang terjadi, akan senantiasa berlanjut hingga hari ketika Allah ‘azza wa jalla mewarisi alam semesta dan isinya.

Yang akan kita bahas pada kesempatan ini adalah permusuhan antara syaitan dan manusia. Apa sebabnya dan bagaimana bentuk permusuhan tersebut serta dari mana awalnya.

Semoga menjadi pelajaran berharga bagi orang-orang yang beriman sekaligus bekal agar selamat dari tipu daya musuh mereka, dengan izin Allah ‘azza wa jalla.

Wallahul Muwaffiq.

 

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Harits

(Insya Allah edisi berikutnya: Apa dan Siapa Setan itu?)

[1] Ihya ‘Ulumiddin (3/71).

[2] al-Mufradat (226—227).

[3] adz-Dzari’ah (259).

Globalisasi Menghancurkan Generasi

Karena seringnya membaca, melihat, dan mendengar hal-hal yang haram melalui berbagai media, rasa malu pun akan terkikis dari hati, bahkan bisa jadi hilang sama sekali. Padahal rasa malu adalah unsur pokok yang menghidupkan hati.

Islam datang membawa syariat yang mulia lagi sempurna. Allah ‘azza wa jalla berfirman dalam kitab-Nya,

ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَٰمَ دِينٗاۚ

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (al-Maidah: 3)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memberitakan tentang misi beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus oleh Allah ‘azza wa jalla,

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ

“Hanyalah aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”

(HR. Ahmad, Malik, dan al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad, dan dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam ash-Shahihah (1/75)

Akan tetapi, kemuliaan dan kesempurnaan syariat Islam tidak akan disadari dan diyakini selain oleh orang-orang yang diberi hidayah taufik dari Allah ‘azza wa jalla.

Apalagi di zaman sekarang, yang disebut era globalisasi dan teknologi informasi. Cepat dan dahsyatnya informasi ternyata tidak identik dengan kemajuan pada bidang yang lain. Terkhusus bidang agama, moral dan spiritual kaum muslimin secara umum dan generasi mudanya secara khusus telah dirusak oleh berbagai asupan yang bersumber dari media massa, baik elektronik maupun cetak.

Media massa yang ada saat ini umumnya dimiliki oleh Yahudi dan Nasrani. Kalaupun ada yang dimiliki oleh kaum muslimin, tetap tidak terlepas dari berbagai hal mungkar yang terjadi di dalamnya. Karena itu, berbagai bentuk media penyaji informasi tersebut dimanfaatkan untuk menghancurkan moral dan agama bangsa ini, terkhusus generasi muda kaum muslimin. Perhatikanlah acara-acara televisi, terkhusus film, sinetron, hiburan, iklan, dan bahkan berita yang disajikan pun mengandung kemungkaran.

Hal ini diperparah oleh ketersediaan layanan internet yang mudah, murah, dan cepat; yang bisa diakses melalui ponsel pintar yang tergenggam di tangan generasi muda muslimin. Belum lagi kalau kita mengengok media cetak, seperti majalah, koran, dan tabloid, yang dipenuhi gambar-gambar tidak pantas yang membangkitkan nafsu syahwat. Akibatnya, tidak ada yang selamat dari kerusakan yang ditimbulkan oleh media massa selain orang-orang yang dijaga oleh Allah ‘azza wa jalla.

Di antara bentuk kerusakan moral terbesar yang ditimbulkan oleh media massa adalah sebagai berikut.

 

Hilangnya Rasa Malu

Karena seringnya membaca, melihat, dan mendengar hal-hal yang haram melalui berbagai media, rasa malu pun akan terkikis dari hati, bahkan bisa jadi hilang sama sekali. Padahal rasa malu adalah unsur pokok yang menghidupkan hati. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْإِيمَانِ

“Rasa malu adalah salah satu cabang keimanan.” (Muttafaqun alaih dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menjelaskan keutamaan rasa malu melalui sabdanya,

الْحَيَاءُ لاَ يَأْتِي إِلاَّ بِخَيْرٍ

“Rasa malu tidaklah mendatangkan selain kebaikan.” ( Muttafaqun alaih dari Imran bin Hushain radhiallahu ‘anhu)

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan, “Di antara hukuman akibat perbuatan dosa adalah hilangnya rasa malu yang merupakan unsur pokok yang menentukan hidupnya hati. Rasa malu adalah dasar seluruh kebaikan. Maka dari itu, hilangnya rasa malu akan menyebabkan sirnanya seluruh kebaikan.” (ad-Da’ wad-Dawa’ hlm. 105)

Berdasarkan penjelasan di atas, barang siapa yang sudah tidak memiliki rasa malu disebabkan oleh kemaksiatannya, dia akan melakukan berbagai kemaksiatan yang lain tanpa rasa malu pula. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلَامِ النُّبُوَّةِ إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ

“Sesungguhnya, di antara perkataan nubuwah terdahulu yang masih didapatkan oleh manusia ialah apabila engkau tidak malu, berbuatlah sesukamu.” (HR. al-Bukhari dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu)

Al-Hafizh Ibnu Rajab rahimahullah menjelaskan, “Perintah dalam hadits ini (‘berbuatlah sesukamu’) bermakna berita. Artinya, barang siapa tidak memiliki rasa malu, dia akan berbuat semaunya. Sebab, yang menghalangi seseorang berbuat jelek adalah rasa malu. Jadi, ketika seseorang tidak memiliki rasa malu, niscaya dia akan bersemangat melakukan seluruh perbuatan keji dan mungkar.” (Jami’ al-‘Ulum wal Hikam 1/498)

Di antara akibat buruk yang ditimbulkan oleh hilangnya rasa malu dalam kehidupan masyarakat ialah sebagai berikut.

 

  1. Campur baur lelaki dan perempuan yang bukan mahram (ikhtilath)

Hal ini terjadi di sekolah, perguruan tinggi, kantor, dan tempat lainnya. Mereka bercampur baur dengan berbagai bentuk penampilan, dandanan, dan wewangian, meniru apa yang dilihat di televisi.

Hal ini tentu akan menimbulkan berbagai keburukan dan godaan terhadap lawan jenis. Padahal Allah ‘azza wa jalla berfirman kepada Nabi-Nya dan istri-istri beliau—yang menjadi teladan bagi kaum muslimah,

وَقَرۡنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجۡنَ تَبَرُّجَ ٱلۡجَٰهِلِيَّةِ ٱلۡأُولَىٰۖ

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliah yang dahulu.” (al-Ahzab: 33)

Asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini dalam tafsirnya, “Tetaplah kalian tinggal di rumah-rumah kalian, karena hal itu lebih selamat dan lebih menjaga kehormatan. Janganlah kalian sering keluar rumah dalam keadaan bersolek dan memakai wewangian sebagaimana halnya kebiasaan orang-orang jahiliah sebelum kedatangan Islam yang tidak memiliki ilmu dan agama. Sebab, semua hal itu akan menyeret ke dalam berbagai kejelekan dan sebabnya.”

 

  1. Pacaran telah menjadi hal yang biasa

Di antara fitnah yang terjadi karena ikhtilath ialah khalwat (pacaran), terkhusus di tempat-tempat hiburan/wisata. Ini pun mereka lakukan karena meniru apa yang mereka dapatkan dari berbagai media.

Perlu diketahui, ikhtilath dan khalwat akan menyeret kepada perbuatan keji yang lain, seperti onani, zina, dan pemerkosaan. Oleh karena itu, Allah ‘azza wa jalla melarang berbagai hal yang menyeret manusia menuju zina.

وَلَا تَقۡرَبُواْ ٱلزِّنَىٰٓۖ إِنَّهُۥ كَانَ فَٰحِشَةٗ وَسَآءَ سَبِيلٗا ٣٢

        Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk. (al-Isra: 32)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga melarang umatnya melakukan khalwat,

لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلَّا وَمَعَهَا ذُو مَحْرَمٍ

“Janganlah salah seorang di antara kalian berkhalwat dengan seorang wanita kecuali bersama mahramnya.” (Muttafaqun alaih dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma)

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan hadits di atas, “Yang dimaksud adalah wanita yang bukan mahramnya, seperti anak perempuan bibi atau paman, atau yang tidak memiliki hubungan kekerabatan yang dekat dengan Anda. Jadi, berdua-duaan dengan wanita yang seperti ini hukumnya haram. Tidaklah seseorang lelaki berkhalwat dengan perempuan kecuali setan akan menjadi pihak yang ketiga. Bagaimana menurut Anda tentang orang yang berkhalwat (berpacaran) yang disertai oleh setan? Sungguh, kita yakin keduanya akan menceburkan diri ke dalam kejelekan. Kita memohon perlindungan kepada Allah ‘azza wa jalla.” (Syarh Riyadhish Shalihin, 4/167)

Karena itu, benarlah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنْ الزِّنَا مُدْرِكٌ ذَلِكَ لَا مَحَالَةَ فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالْأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الِاسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلَامُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ

“Ditetapkan bagian dari perbuatan zina bagi anak Adam, dia pasti akan mendapatkannya, tidak mungkin selamat.

Dua mata zinanya dengan melihat (halhal yang haram dilihat), dua telinga zinanya dengan mendengarkan (hal-hal yang haram didengar). Lisan zinanya dengan mengucapkan (hal-hal yang keji). Tangan zinanya dengan menyentuh/meraba. Adapun kalbu menginginkan dan berangan-angan (melakukan zina). Yang akan membenarkan atau mendustakannya adalah kemaluan.” (Muttafaqun alaih dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

 

  1. Perzinaan dan pemerkosaan

Ikhtilath dan khalwat yang terjadi di tengah-tengah masyarakat sudah menjadi adat kebiasaan. Bahkan, sebagian orang tua mengkhawatirkan anak mereka yang sudah menginjak dewasa namun belum punya pacar. Mereka khawatir, jangan-jangan anaknya memiliki kelainan. Na’udzu billah min dzalik.

Kerusakan yang ditimbulkan oleh pergaulan bebas dan pacaran ialah merebaknya perzinaan. Padahal, Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang semua itu sebagai bentuk kasih sayang kepada para hamba. Allah ‘azza wa jalla menyebutkan salah satu sifat calon penghuni surga Firdaus,

وَٱلَّذِينَ هُمۡ لِفُرُوجِهِمۡ حَٰفِظُونَ ٥ إِلَّا عَلَىٰٓ أَزۡوَٰجِهِمۡ أَوۡ مَا مَلَكَتۡ أَيۡمَٰنُهُمۡ فَإِنَّهُمۡ غَيۡرُ مَلُومِينَ ٦ فَمَنِ ٱبۡتَغَىٰ وَرَآءَ ذَٰلِكَ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡعَادُونَ ٧

Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barang siapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. (al-Mukminun: 5—7)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَكْثَرُ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ الْفَمُ وَالْفَرَجُ

“Yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam neraka adalah mulut dan kemaluan.” (HR. ar-Tirmidzi)

Ketika menerangkan hadits,

لَا يَحِلُّ دَمُ امْرِئٍ مُسْلِمٍ يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَنِّي رَسُولُ اللهِ إِلَّا بِإِحْدَى ثَلَاثٍ الثَّيِّبُ الزَّانِي وَالنَّفْسُ بِالنَّفْسِ وَالتَّارِكُ لِدِينِهِ الْمُفَارِقُ لِلْجَمَاعَةِ

“Tidak halal darah seorang muslim, yang bersaksi bahwa tidak ada sembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah dan bahwa aku adalah Rasulullah, ditumpahkan kecuali dengan tiga sebab, zina muhshan, membunuh jiwa (qishash), dan yang meninggalkan agamanya, memisahkan diri dari jamaah.” (HR. Muslim)

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Hadits ini menyebutkan perbuatan zina beriringan dengan kekafiran dan membunuh jiwa, sebagaimana surat al-Furqan ayat 68. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai dengan menyebutkan dosa yang paling banyak dilakukan, kemudian yang berikutnya. Jadi, zina adalah perbuatan dosa yang paling sering dilakukan dibandingkan dengan membunuh jiwa. Membunuh jiwa lebih sering dilakukan dibandingkan dengan kemurtadan.

Penyebutan perbuatan dosa dalam hadits ini dimulai dari yang besar menuju yang lebih besar lagi. Kerusakan yang ditimbulkan oleh perbuatan zina bertentangan dengan kepentingan umat manusia. Ketika berbuat zina, seorang wanita telah memasukkan aib yang memalukan dalam keluarga, suami, dan kerabatnya. Dia menyebabkan kepala mereka tertunduk malu di hadapan masyarakatnya. Terlebih lagi apabila sampai hamil karena zina, lalu dia membunuh bayinya. Dia telah mengumpulkan dua macam dosa, yaitu zina dan membunuh jiwa.

Apabila dia mengaku-aku bahwa hamilnya adalah karena suami, berarti dia menyisipkan anak hasil zina tersebut ke dalam keluarga suaminya, padahal anak tersebut bukan bagian dari mereka. Selanjutnya, anak tersebut akan mendapat warisan dari mereka padahal dia tidak berhak. Selain itu, anak tersebut akan melihat, bercampur, dan dinasabkan kepada keluarga suaminya, padahal sama sekali bukan bagian dari mereka. Masih banyak lagi kerusakan lain yang disebabkan oleh perbuatan zina seorang wanita.

Jika lelaki yang berbuat zina, akan mengakibatkan tercampurnya nasab, merusak wanita yang sudah bersuami, dan menyebabkan kerusakan serta kebinasaan wanita yang dizinainya. Jadi, perbuatan dosa besar yang satu ini akan menghancurkan urusan dunia dan agama.” (ad-Da’ wad-Dawa’, hlm. 232)

 

Tasyabbuh

Di antara kerusakan yang timbul karena gencarnya media massa baik elektronik maupun cetak adalah kekaguman mayoritas kaum muslimin terkhusus generasi muda terhadap tokoh yang sering ditampilkan di media massa, baik bintang iklan, bintang sinetron/film, bintang sepak bola, maupun lainnya.

Mereka mengagumi cara berpakaian, penampilan, gaya hidup, gaya bicara, dll. Bahkan, tidak sedikit pula kaum muslimin yang kagum dengan gaya hidup orang kafir atau fasik di suatu negara/wilayah sehingga mayoritas kaum muslimin terkena penyakit “tasyabuh” (penyerupaan yang diharamkan dalam agama).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barang siapa menyerupai suatu kaum, ia termasuk golongan mereka.” (HR. Abu Dawud, dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam Shahih al-Jami’ no. 6149)

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan kepada umat tentang akan terjadinya wabah tasyabuh ini dalam hadits Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhu,

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ حَذْوَ الْقُذَّةِ بِالْقُذَّةِ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا جُحْرَ ضَبٍّ لَدَخَلْتُمُوهُ. قاَلُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى؟ قَالَ: فَمَنْ؟

“Sungguh, akan ada di antara kalian orang-orang yang mengikuti cara/adat orang-orang sebelum kalian sebagaimana bulu anak panah terhadap yang lainnya. Sampai-sampai jika mereka masuk ke dalam liang kadal padang pasir, sungguh kalian akan ikut memasukinya.” Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah maksudnya orang Yahudi dan Nasrani?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Siapa lagi?” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Jenis tasyabuh yang diharamkan ialah sebagai berikut.

  1. Tasyabuh laki-laki terhadap perempuan dan sebaliknya, baik dalam hal pakaian, gerakan, maupun penampilan.

لَعَنَ رَسُولُ اللهِ الْمُتَشَبِّهِينَ مِنَ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ وَالْمُتَشَبِّهَاتِ مِنَ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat para laki-laki yang menyerupai perempuan dan para perempuan yang menyerupai laki-laki.” (HR. al-Bukhari no. 5885 dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma)

Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata,

لَعَنَ رَسُولُ اللهِ الرَّجُلَ يَلْبَسُ لِبْسَةَ الْمَرْأَةِ وَالْمَرْأَةَ تَلْبَسُ لِبْسَةَ الرَّجُلِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang memakai pakaian perempuan dan perempuan yang memakai pakaian laki-laki.” (HR. Abu Dawud, dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam Shahih Abi Dawud no. 3454)

Jika kita perhatikan kehidupan masyarakat, betapa banyak orang yang berhak mendapat laknat Rasulullah dengan sebab ini. Laki-laki berpenampilan seperti perempuan, baik berambut panjang, memakai perhiasan wanita, dsb. Wanita menyerupai laki-laki dalam hal potongan rambut, bahkan sampai botak, demikian pula cara berpakaian dan berpenampilan. Semua hal tersebut terjadi salah satu sebabnya adalah pengaruh media massa.

  1. Tasyabuh dengan orang fasik.

Di antara dampak negatif media massa, terkhusus televisi, ialah menyebabkan kaum muslimin tasyabuh dengan orang-orang fasik. Misalnya, bermudah-mudahan dalam kawin-cerai sebagaimana yang dilakukan oleh para selebritis dalam kehidupan rumah tangga mereka. Jika salah satu pasangan tidak cocok atau salah paham, ujungnya adalah perceraian. Dampaknya, sebagian kaum muslimin meniru mereka ketika menghadapi problem rumah tangga.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan nasihat,

لَا يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ

        “Janganlah seorang suami membenci istrinya (secara total). Apabila dia membenci salah satu perangai istrinya, dia akan senang terhadap perangai yang lainnya.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِكُمْ

“Orang-orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling bagus akhlaknya. Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya.” (HR. at-Tirmidzi, dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Contoh lain, seorang istri berani membentak suaminya, bahkan memukulnya lantaran istri sering menonton sinetron. Padahal Allah ‘azza wa jalla berfirman,

          ٱلرِّجَالُ قَوَّٰمُونَ عَلَى ٱلنِّسَآءِ بِمَا فَضَّلَ ٱللَّهُ بَعۡضَهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖ

        “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (lakilaki) atas sebagian yang lain (wanita).” (an-Nisa’: 34)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Tidaklah seorang istri menyakiti suaminya di dunia kecuali calon istrinya dari bidadari-bidadari akan berkata, ‘Jangan engkau sakiti dia, mudah-mudahan Allah ‘azza wa jalla memerangimu,’ hanya saja dia (suamimu) itu ibarat tamu di sisimu yang hampir-hampir akan berpisah denganmu menuju kami.” (HR. at-Tirmidzi)

radhiallahu ‘anhuma. Tasyabuh dengan orang kafir dan setan

Melalui media massa inilah ditanamkan simpati, kecintaan, dan pembelaan terhadap orang-orang kafir. Dengan gencar dipropagandakan bahwa peradaban modern adalah peradaban Barat. Tidak jarang kita dapatkan sikap dan perbuatan yang menyerupai orang kafir Barat.

Allah ‘azza wa jalla telah memperingatkan,

وَلَن تَرۡضَىٰ عَنكَ ٱلۡيَهُودُ وَلَا ٱلنَّصَٰرَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمۡۗ قُلۡ إِنَّ هُدَى ٱللَّهِ هُوَ ٱلۡهُدَىٰۗ وَلَئِنِ ٱتَّبَعۡتَ أَهۡوَآءَهُم بَعۡدَ ٱلَّذِي جَآءَكَ مِنَ ٱلۡعِلۡمِ مَا لَكَ مِنَ ٱللَّهِ مِن وَلِيّٖ وَلَا نَصِيرٍ ١٢٠

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah, “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar).” Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. (al-Baqarah: 120)

Asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah menjelaskan, “Firman Allah ‘azza wa jalla ini memuat larangan keras mengikuti hawa nafsu orang Yahudi dan Nasrani. Selain itu, terkandung pula larangan menyerupai mereka, terkhusus dalam hal agama. Walaupun ditujukan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, larangan ini juga tertuju kepada kaum muslimin. Sebab, pelajaran itu diambil dengan sebab keumuman makna, bukan karena kekhususan yang diajak bicara. Hal ini sebagaimana pelajaran itu diambil dengan sebab keumuman lafal, bukan kekhususan sebab.” (Tafsir as-Sa’di, hlm. 65)

Tasyabuh yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin terhadap Barat terjadi dalam banyak hal. Sampai-sampai dalam urusan pakaian dan rambut pun meniru mereka, misalnya gaya berpakaian dan rambut punk. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarangnya,

نَهَى رَسُولُ اللهِ عَنِ الْقَزَعِ

        “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari al-qaza’.” (Muttafaqun alaih)

Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan, “Al-Qaza’ bermakna mencukur sebagian rambut kepala dan membiarkan sebagian yang lainnya. Sama saja apakah pada satu sisi kepala atau seluruh sisi, baik dari sebelah atas, sebelah kanan, maupun sebelah kiri; sisi belakang ataupun depan. Yang jelas, mencukur sebagian rambut kepala dan membiarkan sebagian yang lain, itulah qaza’ yang dilarang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Syarh Riyadhus Shalihin, 4/174)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang tasyabuh terhadap setan,

لاَ تَأْكُلُوا بِالشِّمَالِ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَأْكُلُ وَيَشْرَبُ بِشِمَالِهِ

“Jangan kalian makan dengan tangan kiri, karena setan makan dan minum dengan tangan kiri.” (HR. Muslim)

Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Sungguh, engkau heran terhadap suatu kaum pada masa kini yang membaur dengan orang kafir dan menyaksikan kehidupan mereka (lewat media massa), lantas meniru pimpinan mereka, yaitu setan, dalam hal makan dan minum dengan tangan kiri. Engkau heran terhadap sekelompok muslimin yang makan dan minum dengan tangan kiri, padahal mereka mendakwahkan petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akan tetapi, mereka justru menyerupai setan dan orang kafir. Mereka tidak mencontoh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, justru menyelisihi petunjuk dan sunnah beliau.” (Syarh Riyadhus Shalihin, 4/172)

Tulisan ini hanyalah contoh kecil kerusakan yang ditimbulkan oleh media

massa. Mudah-mudahan Allah ‘azza wa jalla akan senantiasa menjaga kita, keluarga, dan anak-anak kita secara khusus dan kaum muslimin secara umum dari berbagai hal yang menghancurkan moral dan agama.

Amin.

 

Ditulis oleh Al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan

Pengaruh Media Massa Terhadap Akidah Umat

Allah ‘azza wa jalla menciptakan manusia di atas fitrah. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

فَأَقِمۡ وَجۡهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفٗاۚ فِطۡرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِي فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيۡهَاۚ لَا تَبۡدِيلَ لِخَلۡقِ ٱللَّهِۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلۡقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ ٣٠

        “Hadapkanlah wajahmu kepada agama yang lurus, (tetaplah di atas) fitrah dari Allah yang menfitrahkan manusia di atasnya, tiada yang akan bisa merubah ciptaan Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan orang tidak mengetahuinya.” (ar-Rum: 30)

Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizahullah berkata, “Fitrah adalah agama Islam sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

.كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِه

“Setiap anak yang lahir, dilahirkan di atas fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang akan menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. al-Bukhari dan Muslim) (Syarah Fadhlul Islam, hlm. 111)

 

Perusak Fitrah

Fitrah yang suci ini tentu harus dipupuk dengan ilmu, iman, dan dijaga dari berbagai hal yang akan merusaknya. Fitrah manusia yang suci ini dirusak oleh berbagai hal yang dilakukan setan baik dari kalangan jin maupun manusia.

Dalam hadits qudsi, Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَإِنِّي خَلَقْتُ عِبَادِي حُنَفَاءَ كُلَّهُمْ وَإِنَّهُمْ أَتَتْهُمُ الشَّيَاطِينُ فَاجْتَالَتْهُمْ عَنْ دِينِهِمْ

“Sungguh, Aku menciptakan hamba-Ku hunafa (lurus di atas tauhid) seluruhnya. Lalu setan mendatangi mereka dan menggelincirkan mereka dari agamanya.” (HR. Muslim no. 2865)

Setan ada dari kalangan jin dan manusia. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

ٱلَّذِي يُوَسۡوِسُ فِي صُدُورِ ٱلنَّاسِ ٥ مِنَ ٱلۡجِنَّةِ وَٱلنَّاسِ ٦

“Yang melontarkan bisikan-bisikan jelek kepada manusia.dari kalangan jin dan manusia.” (an-Nas: 5—6)

 

Tarbiyah Orang Tua Memiliki Andil Besar dalam Lurusnya Akidah Anak

Selain setan, tarbiyah orang tua juga memiliki andil besar dalam lurusnya akidah seorang anak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِه

“Setiap anak yang lahir, dilahirkan di atas fitrah. Kedua orang tuanyalah yang akan menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan menerangkan, “Ini menunjukkan, pada asalnya fitrah manusia adalah di atas Islam. Seandainya dia selamat dari tarbiyah yang jelek dan dua orang tua yang kafir, niscaya dia akan mengarah kepada agama Islam dan mengikuti para rasul. Akan tetapi, seseorang bisa sesat/menyimpang adalah karena dai-dai (yang menyeru) kepada kesesatan.” (Syarah Fadhlul Islam, hlm. 111)

Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafidzhullah juga berkata, “Seandainya manusia selamat dari penyeru-penyeru kepada kesesatan, niscaya fitrah akan menerima al-haq dan mereka akan mengikuti para rasul….”

 

Media Massa Sebagai Sarana Perusak Akidah

Dari ucapan asy-Syaikh Shalih al-Fauzan di atas, kita mendapat kesimpulan bahwasanya di antara yang menyebabkan rusaknya fitrah, menyimpangnya seseorang dari tauhid dan akidah yang benar adalah bermunculannya dai-dai yang menyeru kepada kesesatan.

Kemajuan teknologi di zaman sekarang ini juga dimanfaatkan para penyeru kepada kesesatan untuk melakukan propaganda dan mempromosikan kesesatan mereka. Di antara sarana yang dimanfaatkan adalah media massa.

Kalau dahulu mereka menyebarkan kesesatan mereka di mimbar dan majelis, dalam jumlah pendengar yang terbatas, kini mereka tampil menyebarkannya di berbagai media kepada jumlah orang yang tak terbatas.

Media massa adalah sebuah istilah yang digunakan untuk mengistilahkan jenis media yang secara khusus didesain untuk menjangkau masyarakat yang sangat luas.

Media massa ada yang berupa media cetak, seperti koran, tabloid, majalah, buletin, dan lainnya. Media massa juga ada yang berupa media elektronik, seperti televisi dan radio. Media massa yang lain di zaman kita ini ialah media maya (online) yang terwujud dalam bentuk internet.

Ketahuilah, ketiga bentuk media massa di atas memiliki pengaruh besar dalam merusak fitrah seorang muslim.

 

Kemungkaran dalam Media Massa

Berbagai ragam kemungkaran yang ada dalam media massa sangatlah berpengaruh pada akidah seorang yang membaca dan melihatnya. Pengaruh tersebut selanjutnya akan menyebabkan rusaknya akidah.

Di antara kemungkaran yang ada dalam media massa yang merusak akidah umat adalah:

 

  1. Kesyirikan

Banyak media yang menyuguhkan tayangan syirik dan tulisan berbau syirik, bahkan ada majalah dan tabloid khusus “menjajakan” kesyirikan, ini sebagian bukti media massa dijadikan sarana menjajakan kesyirikan.

  1. Promosi Perdukunan

Perdukunan adalah satu praktik kesyirikan yang banyak digandrungi masyarakat. Di antara media yang mengandung kesyirikan adalah buku primbon dan buku mujarabat.

Dahulu dukun-dukun tidak ada yang berpromosi. Namun, kini mereka melakukan promosi di surat kabar, bahkan tanpa malu berpromosi di televisi. Para dukun yang dahulunya bersembunyi, kini tampil bak selebritis di televisi dan media lainnya. Tokoh-tokoh seperti Ki Joko Bodo, Mbah Maridjan, Mama Lauren dikenal layaknya selebritas. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.

Dahulu seorang yang mau berdukun harus bersusah payah datang ke tempat si dukun, namun kini mereka bisa berdukun via SMS.

Bahkan, praktik perdukunan bisa meraup ratusan juta rupiah dari “program layanan perdukunan via SMS”. Tampil seorang dukun dalam satu tayangan dan berkata, “Jika Anda ingin tahu keberuntungan Anda di masa depan, ketik REG (spasi) xxxx kirim.”

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.

Kaum muslimin seakan-akan sudah lupa tentang ancaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap orang yang mendatangi dukun, atau bertanya kepada mereka, memercayai mereka.

Mungkin masih terlintas di ingatan kita, bagaimana media massa mempopulerkan Ponari yang mereka anggap tahu yang gaib dan diberi julukan “dukun cilik”.

  1. Siaran Ritual Syirik

        Kesyirikan yang seharusnya diingkari dan dihilangkan justru menjadi satu ritual budaya yang disiarkan berbagai media. Akhirnya, tidak ada lagi kebencian kepada syirik sebagaimana yang diajarkan oleh agama. Generasi muda dan anak-anak tumbuh dalam keadaan demikian.

Media-media saat ini banyak mempertontonkan acara yang akan merusak akidah muslim: pocong, penampakan, sihir, dan semisalnya. Media mempertontonkan bahwa tokoh politik A sowan ke Mbah B, selebritis C sering datang ke penasihat spiritualnya, Eyang D, yang notabene adalah dukun dan tukang ramal.

Disiarkan dan ditayangkan pula praktik pengobatan alternatif yang mengandung kesyirikan, seperti memindahkan penyakit ke hewan dan lainnya.

Demikianlah berbagai praktik, acara, dan ritual syirik disuguhkan kepada masyarakat, yang bisa menjerumuskan mereka ke dalam kubang kesyirikan.

Hampir semua media cetak menampilkan zodiak; meramal rezeki seseorang, jodoh, dan peruntungan lainnya. Ini adalah satu perkara yang sangat batil karena sudah melanggar perkara iman kepada yang gaib. Masalah rezeki dan jodoh adalah urusan gaib, tidak boleh seseorang meramal atau mengaku-aku tahu urusannya.

  1. Promosi Paham Sesat

Banyak paham sesat yang tumbuh berkembang melalui media massa. Bahkan, hampir setiap kelompok sesat memiliki media untuk menyebarkan paham mereka baik dalam bentuk televisi, radio, atau minimalnya website. Mereka pun menerbitkan buku-buku untuk menyebarkan kesesatan mereka.

Media massa adalah sarana yang paling ideal bagi kaum liberal untuk menjajakan paham liberal. Kita telah mendengar bagaimana JIL (Jaringan Islam Liberal) dengan bebasnya memaparkan paham mereka di hadapan umat, dalam dialog, ceramah dan tulisan di surat kabar.

  1. Mengikis Prinsip al-Wala wal Bara

Prinsip al-wala wal-bara adalah satu prinsip yang agung dalam agama Islam. Namun, media massa telah banyak memberi andil dalam mengikis prinsip ini. Umat digiring untuk menerima propaganda bahwa semua agama itu sama.

Lebih-lebih saat ini, umat digiring untuk berbasa-basi dengan Nasrani, mengucapkan selamat kepada mereka, mengadiri acara Natal, bahkan membantu perayaan hari raya mereka. Padahal Allah ‘azza wa jalla berfirman, menjelaskan ciri-ciri hamba yang beriman,

وَٱلَّذِينَ لَا يَشۡهَدُونَ ٱلزُّورَ

        “Mereka adalah orang-orang yang tidak menghadiri zur.” (al-Furqan: 72)

Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata bahwa maksudnya ialah tidak menghadiri hari raya mereka.

Para ulama pun telah menegaskan haramnya memberikan ucapan selamat kepada orang-orang kafir dalam perayaan hari besar mereka.

Demikianlah kenyataan yang ada di sekitar kita.

Oleh karena itu, kita harus terus bersemangat belajar tauhid dan bersemangat mendakwahi umat tentang pentingnya tauhid dan bahaya syirik. Kita harus tahu bahwa setan akan terus berusaha merusak akidah dengan menjajakan kesyirikan dan kesesatan di tengah-tengah umat.

Kita juga sangat berharap kepada instansi terkait agar melarang tayangan, acara, promo, dan tulisan yang mengandung kesyirikan dan penyimpangan.

Seorang muslim hendaknya berusaha kuat menjaga kesucian akidahnya. Di antara wujud penjagaan tersebut adalah selektif mencari bahan bacaan dan informasi yang masuk, serta menjauhi media massa yang menyuguhkan berbagai kesesatan yang akan merusak akidahnya.

Kata para ulama kita,

الْقُلُوبُ ضَعِيفَةٌ وَالشُّبُهَاتُ خَطَّافَةٌ

Kalbu itu lemah, sedangkat syubahat gampang menyambar (menyesatkan).

Mudah-mudahan Allah ‘azza wa jalla terus memberikan hidayah dan keistiqamahan kepada kita semua.

Amin ya Rabbal alamin.

 

Ditulis oleh Al-Ustadz Abdur Rahman Mubarak

Tanya Jawab Ringkas Edisi 105

Berikut ini kami muat beberapa jawaban dari al-Ustadz Muhammad Afifuddin.

 

Ralat Jawaban tentang Cadar Butterfly

Pada Rubrik Tanya Jawab Ringkas edisi sebelumnya pernah dibahas tentang cadar butterfly, disebutkan bahwa hukumnya adalah boleh karena tertutup. Pada kesempatan kali ini, saya ingin menyampaikan:

  1. Penjelasan tersebut berdasarkan maklumat yang sampai kepada saya.
  2. Setelah masuk maklumat lain tentang cadar model tersebut, maka saya menyatakan:
    1. Cadar tersebut sudah keluar dari hakikat hijab syar’i bagi wanita yang bertujuan untuk sitr (menutup aurat dan menutup keindahan mereka) dengan alasan berikut.
  • Cadar tersebut lebih banyak sisi tazayyun, yakni digunakan untuk keindahan. Padahal di antara syarat hijab syar’i adalah bukan sebagai keindahan pada zatnya, seperti yang disebutkan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Jilbab Mar’ah Muslimah.
  • Cadar tersebut memiliki banyak variasi yang semakin menunjukkannya sebagai perhiasan keindahan.
  • Mayoritas penggunanya adalah gadis muda, dan umumnya mereka gunakan karena cadar model tersebut dianggap modis.
  • Orang yang memandang muslimah bercadar butterfly akan terpesona dan umumnya tergoda.
    1. Dengan ini saya rujuk dari keterangan sebelumnya dan menegaskan bahwa para muslimah tidak boleh mengenakan cadar butterfly untuk keluar rumah atau di hadapan yang bukan mahram dengan alasan di atas.

Semoga Allah ‘azza wa jalla senantiasa memberikan taufik dan hidayah-Nya kepada kita semua.

 

Beli Saham dari Uang Riba

Bagaimana jika saya bermaksud membeli saham perusahaan tertentu dengan menggunakan uang hasil riba? 

  • Jawaban:

Terlepas dari masalah saham, tidak diperbolehkan bagi seseorang membeli sesuatu dengan uang riba atau modal dagang dari uang riba. Bahkan, dilarang membayar pajak dengan uang riba.

 

Dititipi Beli Barang, Ambil Untung

Jika kita dititipi seseorang untuk membelikan barang dan ketika kita membeli barang tersebut kita mendapatkan potongan harga karena kita biasa menjual barang tersebut jika ada pesanan. Bolehkah kita mengambil untung dan memberi harga kepada si penitip dengan harga jual di pasaran? 

  • Jawaban:

Jika posisi kita adalah wakil (hanya diminta untuk membelikan), tidak boleh mengambil keuntungan dan diskon harus kembali kepada yang meminta tolong. Jika kita adalah pedagang, tidak masalah mencari untung atau diberi harga pasar dan diskon untuk kita.

Jika kita adalah seorang makelar, tergantung kesepakatan dengan yg meminta tolong. Bisa jadi, kita hanya diberi upah atas jasa kita, maka harga sesuai pasaran dan diskon kembali kepada dia; Atau kita diberi keleluasaan untuk mencari untung, maka kita bisa mencari barang dengan harga di bawah pasar plus diskon untuk kita. Wallahu a’lam.

 

Hukum Menjual Tas Bermerk

Bagaimana hukum menjual tas bermerk, padahal tas termasuk perhiasan? 

  • Jawaban:

Menjual tas bermerk tidak mengapa asal sesuai dengan harga pasaran dan selama harga jual tidak terlalu tinggi di luar batas normal, seperti tas dibanderol 500 juta, sebab hal itu temasuk tabdzir dan menyia-nyiakan harta.

Tas pada dasarnya digunakan untuk tempat sebuah barang, bukan untuk kecantikan (tazayyun). Namun jika sudah menjurus ke arah itu sehingga lelaki terfitnah dengan penampilan muslimah yang memakai tas bermerk, jelas tidak boleh memakai tas tersebut keluar rumah dan ditampakkan dengan niatan tersebut. Wallahu a’lam.

 

Jual Beli Motor

Dua orang melakukan jual-beli secara kredit. Pembeli mencari motor yang dia pilih sesuai selera dalam keadaan pemegang uang (penjual) tidak memiliki motor tersebut. Setelah pembeli mendapat motor yang dia inginkan, pemegang uang memberi uang untuk membayar motor tersebut.

Terjadilah akad jual-beli dengan kesepakatan, pembeli harus kredit motor tersebut sebesar lima juta, sedangkan motor tersebut dibeli dengan harga 4,2 juta. Perlu diketahui pemegang uang/penjual tidak pernah memegang motor tersebut sejak dibeli sampai terjadinya akad. Apakah yang seperti itu termasuk riba? 

  • Jawaban:

Ya, termasuk riba karena hakikatnya adalah pinjam 4,2 juta, kemudian membayar 5 juta dengan diangsur, sementara motor hanya kamuflase saja.

 

Teman Pengikut Hajuri

Bagaimanakah menyikapi teman yang terlibat fitnah al-Hajuri? 

  • Jawaban:

Al-Hajuri sudah divonis ulama kibar sebagai mubtadi’ sesat. Wajib dijauhi dan tidak boleh diambil ilmu darinya dan anak buahnya. Jika ada seseorang yang terfitnah atau terlibat dalam pemahamannya, dia ditegur, dinasihati, dan disampaikan penjelasan ulama kepadanya. Jika dia menerima, itu yang diharapkan. Namun, jika dia menolak dan menunjukkan pembelaan, disikapi sama dengan gurunya.

 

Mendapat Kepala Hewan Kurban, Dijual

Bagaimana hukumnya seseorang yang mendapat bagian kepala sapi/kambing kurban, lalu dijual? 

  • Jawaban:

Yang dia dapatkan dari kaum muslimin berupa daging kurban, kulit, atau kepalanya boleh bagi dia untuk memakannya, menyimpannya walau lebih dari tiga hari, dan menjualnya.

Larangan menjual kulit atau bagian lain hewan kurban hanya ditujukan kepada pihak yang berkurban atau yang ditunjuk sebagai wakil, seperti panitia kurban.

 

Mengaminkan Doa Sendiri

Apakah disyariatkan mengucapkan, “Amin,” pada akhir doa ketika sendirian? 

  • Jawaban:

Ya, karena makna “amin” adalah, “Ya Allah, kabulkanlah doaku.”

 

Wanita Memotong Rambut Kurang dari Bahu

Apakah perempuan dilarang memotong rambut kurang dari bahu? 

  • Jawaban:

Wanita dilarang menggundul rambutnya dengan nash hadits. Adapun memangkas rambut, diperbolehkan dengan syarat tidak menyerupai orang kafir, fasik, dan kaum lelaki.

 

Baiat Pemimpin di Indonesia

Bagaimana cara Ahlus Sunnah membaiat pemimpin kaum muslimin pada zaman sekarang, terutama di Indonesia? 

  • Jawaban:

Dengan cara ikrar, yaitu meyakini bahwa presiden saat ini adalah penguasa muslimin yang didengar, ditaati dalam hal makruf, kemudian menunaikan haknya sebagai penguasa, dan rakyat menunaikan kewajibannya sebagai warga. Semua ayat dan hadits tentang umara berlaku untuk presiden.

 

Bagaimana sikap bagi warga yang gubernurnya nonmuslim? 

  • Jawaban:

Kondisi muslimin di Indonesia tidak mungkin melengserkannya, maka wajib ditaati dalam hal umum untuk kemaslahatan bersama. Yang terpenting adalah presidennya.

 

 


 

Berikut ini kami muat beberapa jawaban dari al-Ustadz Muhammad as-Sarbini.

 

 

Memakai Cincin Perak bagi Lelaki

Apakah hukum memakai cincin perak bagi laki-laki dengan dihiasi batu bernilai tinggi tanpa ada keyakinan bahwa cincin tersebut mendatangkan manfaat atau mudharat? 

  • Jawaban:

Jika Anda menyukainya, tidak mengapa insya Allah; asalkan tidak berlebihan dengan harga yang di luar kewajaran, karena khawatir tergolong israf (pemborosan).

 

Menikahkan Anak Saat Hamil

        Saya mempunyai anak lelaki yang sedang berpacaran. Ternyata, pacar anak saya sudah hamil satu bulan. Kemudian mereka saya nikahkan. Apakah nikahnya sah? Apakah anaknya kelak bisa jadi ahli waris anak saya? 

  • Jawaban:

Tidak sah, keduanya harus berpisah saat ilmu ini sampai kepada keduanya hingga anak hasil perzinaan itu lahir, kemudian menikah ulang.

Status anak itu adalah anak zina. Dinasabkan kepada ibunya, tidak punya bapak. Anak itu tidak punya hubungan waris mewarisi dengan pria yang menghamilinya ibunya. Jika anak itu perempuan, tidak punya hubungan perwalian, walinya adalah hakim (penghulu KUA).

 

Penamaan Anak

Bolehkan memberi nama anak laki-laki dengan nama Afif Abdurrahman Al-Fauzi? 

  • Jawaban:

Cukup dengan satu nama saja. Pilih nama Abdurrahman atau Fauzi, misalkan. Fauzi artinya kemenanganku. Wallahu a’lam.

 

Tobat dari Zina

Karena kebodohan kami dulu sebelum menikah, kami pernah berzina. Sekarang apa yang harus kami lakukan untuk menebus dosa atas kebodohan kami. 

  • Jawaban:

Bertobatlah kepada Allah antara kalian dengan Allah. Disunnahkan shalat tobat dua rakaat. Selain itu, perbanyak beramal saleh untuk mengimbangi kesalahan-kesalahan kalian. Semoga Allah mengampuni kalian.

 

Memanfaatkan Uang Temuan

Bolehkah memanfaatkan uang yang ditemukan di jalan yang sekiranya uang itu tidak mungkin dicari? Misalkan seribu, dua ribu, atau lima ribu rupiah? 

  • Jawaban:

Boleh langsung dimanfaatkan.

 

Shalat Sebelum Masuk Waktu

Apa yang dilakukan ketika kita telah melaksanakan shalat sedangkan belum masuk waktunya? 

  • Jawaban:

Wajib diulang, karena yang sebelumnya tidak sah.

 

Hukum BPJS yang Didaftarkan dan Diangsurkan oleh Orang Lain

Apa hukum seseorang yang memanfaatkan bpjs yang dibuatkan oleh orang lain dan diangsurkan oleh orang lain? 

  • Jawaban:

Haram, walau dibayarkan orang lain, karena tetap hakikatnya Anda yang masuk dalam akad asuransi tersebut. Padahal itu adalah akad judi.

 

Qadha Shalat

Setelah shalat saya baru mengetahui ada bekas air mani di dalam celana dalam. Apakah saya wajib qadha mengqadha shalat? 

  • Jawaban:

Jika celana dalam itu Anda pakai tidur sebelumnya, berarti Anda mimpi basah. Anda wajib mandi suci dan mengulang shalat.

 

Operasi Rahang=Kufur Nikmat?

Ada orang yang operasi rahang karena mirip gorila. Kemudian dia meninggal. Apakah meninggal dalam keadaan kufur nikmat? 

  • Jawaban:

Jika dia operasi untuk menghilangkan cacat fisik, insya Allah tidak demikian. Jika memang rahangnya cacat (tidak sewajarnya) sehingga tampak sangat jelek seperti gorila, tidak mengapa insya Allah. Wallahu a’lam.

 

Bayar Utang Puasa Tujuh Tahun yang Lalu

Apa yang harus dilakukan jika utang puasa 7 tahun yang lalu belum dibayar karena haid dan lupa jumlahnya? 

  • Jawaban:

Dia wajib berijtihad untuk mengingat-ingat kembali semaksimal mungkin jumlah utang puasa tersebut. Kemudian dia mengqadha sejumlah yang diperkirakan itu.

 

Memandikan Jenazah Suami/Istri

Apabila seorang suami/istri meninggal, bolehkah ia dimandikan oleh pasangan bersama anaknya baik laki-laki maupun perempuan karena khawatir jika diurusi kerabat lain/tetangga yang tidak tahu syariat sehingga terlihat auratnya di depan orang banyak? 

  • Jawaban:

Suami boleh dimandikan jenazahnya oleh istrinya dan anak-anaknya yang laki-laki. Tidak boleh bagi anak perempuan. Begitu pula sebaliknya, istri boleh dimandikan jenazahnya oleh suaminya dan anak-anaknya yang perempuan, tidak boleh yang laki-laki.

 

Masa Nifas

Saya adalah seorang ibu dalam masa nifas yang belum genap 40 hari, tepatnya 21 hari. Dua hari ini darah nifas/kotoran tidak keluar. Apakah saya harus mandi janabah lalu shalat dan mengganti shalat dua hari yang tidak tertunaikan? 

  • Jawaban:

Jika terdapat tanda suci, berarti Anda telah suci. Tanda suci itu adalah cairan putih. Jika cairan itu tidak keluar (sebagian wanita tidak mengeluarkan cairan putih), periksa dengan memasukkan kapas ke dalam kemaluan. Jika warna kapas tidak berubah, berarti sudah suci. Segera mandi dan shalat. Adapun yang telah lewat dimaafkan, insya Allah.

 

Rujuk Setelah Masa Iddah

Jika orang yang sudah cerai talak satu dan sudah lewat masa iddah kemudian kembali rujuk, apakah nikahnya harus dengan mahar lagi? 

  • Jawaban:

Ya. Itu adalah pernikahan baru, lengkap dengan syarat-syaratnya, termasuk mahar.

 

Sudah Menikah, Pacaran via FB

Apakah hukuman, celaan, nasihat bagi dua orang yang sudah mengaji dan menikah, tetapi menjalin hubungan (pacaran) lewat media sosial elektronik? Bahkan, si pria berjanji menikahi si wanita jika sudah menjanda, sedangkan si wanita tidak pernah menolak dan selalu melayani permintaan si pria seakan-akan seperti suami sendiri dengan alasan cinta. 

  • Jawaban:

Hal itu haram dan permainan setan. Segeralah bertobat kepada Allah dan memperbaiki jalan hidup. Tinggalkan hal itu sebelum semuanya terlambat. Wallahul musta’an.

 

Jamak Shalat Subuh ketika Safar

Bagaimana cara shalat subuh ketika dalam safar dan kendaraan tidak berhenti ketika waktu subuh telah tiba? 

  • Jawaban:

Tidak boleh dijamak. Jika demikian, shalat subuh di atas kendaraan sesuai kondisi yang ada.

 

Khulu’

Beberapa hari yang lalu, saya telah meminta khuluk kepada suami, karena saya sudah tidak mencintainya dan khawatir akan datang azab dari Allah disebabkan kufur akan kebaikan suami. Suami sampai saat ini belum mengiyakan permintaan khulu’ saya. Sekarang saya ingin pulang ke orang tua, sedangkan suami enggan mengantarkan. Mohon nasihatnya berkenaan masalah yang saya hadapi. 

  • Jawaban:

Jika demikian, tidak mengapa minta khulu’ dengan syarat membayar tebusanberupa mengembalikan mahar atau semisalnya. Khulu’ jatuh jika suami mengabulkan pemintaan khulu’ itu. Jika dia diam saja, belum jatuh. Selesaikan dengan baik dan syar’i. Jika secara kekeluargaan tidak selesai, selesaikan di pengadilan agama.

 

Sekarang, suami saya telah mengiyakan khulu’, apakah mantan suami masih berkewajiban untuk memberikan nafkah lahir kepada saya dalam kondisi masa iddah?

Lalu bagaimana jika suami tidak menunaikan kewajibannya tersebut? 

  • Jawaban:

Jika suami mengabulkan permintaan khulu’ Anda dengan syarat Anda membayar tebusan kepadanya berupa pengembalian mahar atau semisalnya, sah dan khulu’ telah jatuh. Khulu’ adalah fasakh (pembatalan akad), bukan talak. Jadi, dengan khulu’ berarti Anda bukan lagi suami-istri, sehingga harus pisah rumah dan tidak ada lagi nafkah untuk Anda.

 

“Cinta Bukan Kuasa Kita”

Pada edisi lalu, dibahas masalah “Cinta Bukan Kuasa Kita”. Apabila dalam pernikahan, istri tidak bisa mencintai suami dan masih mencintai seseorang pada masa lalu, padahal pernikahan sudah berlangsung enam tahun, apa yang harus dilakukan. Padahal jelas, cinta datang dari Allah tanpa kita bisa menguasainya. 

  • Jawaban:

Jika teringat kenangan lama dengan pacarnya, itu adalah tipu daya setan untuk merusak rumah tangganya. Dia harus mengobati dirinya dengan ilmu dan amal saleh yang menguatkan imannya, menghilangkan kenangan masa lalu itu, dan mencoba mencintai suaminya. Jika kenangan itu dengan suami sebelumnya, hal itu mungkin karena suami barunya tidak mampu mengganti posisi suaminya yang lama. Bersabarlah semampu Anda. Jika sudah tidak bisa bersabar dan sampai tahap khawatir akan durhaka kepada suami karena tersiksa bersamanya tanpa cinta, boleh minta khulu’ (lepas darinya) dengan membayar tebusan berupa mengembalikan mahar atau semisalnya.

 

Kirim SMS/WA Pertanyaan ke Redaksi 081328078414 atau via email ke tanyajawabringkas@gmail.com
Jika pertanyaan Anda cukup dijawab secara ringkas, akan kami muat di rubrik ini. Namun, jika membutuhkan jawaban yang panjang lebar, akan kami muat di rubrik Problema Anda, insya Allah.
Seluruh materi rubrik Tanya Jawab Ringkas (Asy-Syariah) dapat di akses di www.tanyajawab.asysyariah.com

Berita di Sekitar Kita

…عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ حِينَ قَالَ لَهَا أَهْلُ الإِفْكِ مَا قَالُوا، فَبَرَّأَهَا اللهُ مِنْهُ

“Dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, istri terkasih Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tentang isu yang disebarkan oleh ahlul ifki (para penyebar dusta) mengenai kehormatan beliau. Isu yang kemudian Allah menyucikan diri beliau darinya

 

Takhrij Haditsul Ifki

Kisah yang disebut dengan haditsul ifki ini secara lengkap diriwayatkan oleh al-Bukhari di dalam Shahihnya (no. 4750) dan beberapa tempat lain.

Al-Imam Muslim juga meriwayatkan kisah ini di dalam Shahih-nya (17/102).

Selain beliau berdua, yang meriwayatkan kisah ini adalah at-Tirmidzi (4/155), Ahmad (6/59), Abdur Razzaq (5/410) Ibnu Jarir (18/90) dan lainnya.

Hadits di atas sering dipilih oleh ahli hadits sebagai bukti kejelian, puncak kemampuan, dan kekuatan ilmu al-Imam az-Zuhri rahimahullah. Betapa tidak? Beliau memperoleh alur kisah di atas dari empat orang guru, yaitu Urwah bin Zubair, Said bin al-Musayyab, ‘Alqamah bin Waqqash dan Ubaidullah bin Abdillah. Apa yang telah dilakukan?

Az-Zuhri mengulang kembali haditsul ifki dalam satu alur saja. Sebuah kisah yang tersaji dengan menghimpun seluruh alur cerita yang disampaikan oleh guru-gurunya.

Al-Jam’u baina asy-syuyukh (menghimpun beberapa riwayat lantas disampaikan dalam satu alur) yang dilakukan oleh az-Zuhri bisa diterima oleh ulama. Sebab, beliau adalah seorang perawi yang hafizh lagi mutqin. Selain itu, az-Zuhri menguasai betul letak persamaan dan titik perbedaan riwayat-riwayat tersebut.

Perawi yang tingkatannya tidak seperti az-Zuhri, jika melakukan al-jam’u baina asy-syuyukh, tidak dapat diterima. Oleh sebab itu, ulama mengingkari riwayat semacam ini dari al-Waqidi, Atha’ bin as-Sa’ib, Jabir al-Ju’fi, ‘Auf al-A’rabi, dan lainnya. Sebab, mereka semua tidak memenuhi kriteria untuk melakukannya. (Syarh ‘Ilal at-Tirmidzi, 2/672—677)

 

Berita Dusta

Ada sekian berita dusta yang pernah tercatat dalam sejarah Islam. Isu-isu tidak berdasar, tuduhan keji, kabar palsu, dan informasi bohong, menjadi pilihan utama untuk memerangi Islam dan kaum muslimin. Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diisukan sebagai seorang dukun, tukang sihir, dan penyair? Bahkan, beliau dikatakan sebagai orang gila. Subhanallah!

Masihkah kita akan terseret dalam arus kesedihan? Apakah kita terus terjebak pada belenggu kecewa? Sedih dan kecewa dengan kadar sewajarnya masihlah disebut manusiawi. Ya, menghadapi atau mendengar isu dusta dan berita bohong memang amat mengganggu. Apalagi kita yang menjadi obyeknya. Masya Allah!

Jangan terjebak dalam belenggu kecewa! Tak usahlah terseret dalam arus kesedihan! Saat isu dusta diembuskan walau perlahan, ketika berita bohong disebarkan meski terang-terangan, marilah kita mengingat kembali sepotong cerita tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan rumah tangganya. Cerita yang amat menyayat hati. Cerita yang menyadarkan bahwa kita bukanlah apa-apa.

 

Ujian di Bulan Sya’ban

Tahun tersebut menjadi tahun kelima Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di bumi Madinah. Kisahnya bermula dari kebiasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan undian untuk memilih, siapakah di antara istri-istri beliau yang akan menemani, melayani, dan berkhidmat selama perjalanan ke luar kota. Ibunda Aisyah radhiallahu ‘anha menjadi nama yang terpilih saat itu.

Dalam perjalanan pulang, rombongan berkemah untuk beristirahat di malam hari. Walaupun telah memberi izin, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta Ibunda Aisyah radhiallahu ‘anha untuk menunaikan hajat di penghujung malam saja. Benar saja, Ibunda Aisyah pun mencari lokasi sepi, meninggalkan letak perkemahan, sendirian dan di akhir malam.

Hampir bersamaan, Rasulullah radhiallahu ‘anha mengeluarkan perintah kepada rombongan untuk berangkat melanjutkan perjalanan.

Khusus untuk kaum wanita, ketika dalam perjalanan dibuatkan rumah-rumahan kecil semacam tandu untuk kemudian dipanggul. Tak terkecuali Ibunda Aisyah radhiallahu ‘anha saat itu. Rombongan berangkat. Mereka yang bertugas untuk mengangkat tandu, tidak merasa apabila Ibunda Aisyah tidak berada di dalamnya. Ringannya badan Ibunda Aisyah radhiallahu ‘anha ketika itu membuat mereka tidak dapat membedakan antara ada dan tidak adanya beliau di atas tandu. Mereka mengira, Ibunda Aisyah radhiallahu ‘anha ada di dalamnya. Perjalanan terus dilanjutkan.

Sungguh! Semua urusan di atas muka bumi ini telah diatur sedemikian sempurna. Ada Dzat yang Mahasempurna di atas sana. Dialah yang menentukan, memastikan, dan berkuasa atas seluruh peristiwa. Kita yakin ada sejuta hikmah di balik satu kisah atau sepotong musibah. Terutama untuk menyadarkan bahwa kita hanyalah makhluk yang lemah sehingga harus selalu berpulang, pasrah, dan menyerahkan segala-galanya kepada Allah ‘azza wa jalla.

Sekembalinya ke lokasi perkemahan, Ibunda Aisyah radhiallahu ‘anha terkejut karena tempat telah kosong dan sepi. Berbekal kecerdasan dan ketenangan, beliau memutuskan untuk menunggu di tempat itu saja, tanpa harus panik atau bingung. Katanya, “Tentu mereka akan merasa kehilangan dan akan kembali ke tempatku ini.”

Cukup lama Ibunda Aisyah radhiallahu ‘anha menunggu sampai akhirnya beliau tertidur. Ibunda Aisyah radhiallahu ‘anha terbangun saat mendengar istirja’ sahabat Shafwan bin Mu’aththal radhiallahu ‘anhu, “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.”

Ternyata Shafwan yang berkemah di bagian belakang rombongan pun tertidur pulas sehingga tertinggal. Shafwan yang melihat sosok seseorang lalu mendekati. Segera Shafwan mengenalinya sebagai Ibunda Aisyah radhiallahu ‘anha, apalagi dia pernah melihatnya sebelum ayat hijab diturunkan. Langsung saja Shafwan radhiallahu ‘anhu mengucapkan istirja’, memanggil dan menderumkan untanya, lalu mendekatkannya ke arah Ibunda Aisyah radhiallahu ‘anha.

Tidak ada satu patah kata pun yang terucap dari Shafwan radhiallahu ‘anhu. Jangankan satu patah kata, satu huruf pun tidak. Shafwan radhiallahu ‘anhu sangat mengerti adab dan etika. Tidak mungkin dia berbicara kepada keluarga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sementara beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak ada di sana. Shafwan radhiallahu ‘anhu begitu besar sikap hormatnya kepada Aisyah radhiallahu ‘anha, istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semoga Allah ‘azza wa jalla meridhainya.

Pun demikian Aisyah radhiallahu ‘anha. Tidak ada satu huruf pun yang terucap, apalagi sampai satu kata. Beliau adalah wanita suci lagi disucikan. Beliau adalah istri seorang hamba yang suci. Tidak mungkin Allah ‘azza wa jalla memilihkan seorang pendamping hidup untuk Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam kecuali wanita yang terbaik. Itu pasti! Semoga Allah ‘azza wa jalla meridhainya.

Ibunda Aisyah radhiallahu ‘anha kemudian naik ke atas unta karena memahami maksud dari Shafwan radhiallahu ‘anhu. Mereka berjalan mengejar rombongan. Shafwan radhiallahu ‘anhu berjalan di depan unta dan menggiringnya, tanpa pernah sekali pun memandang atau menoleh ke belakang. Akhirnya mereka berhasil menyusul saat matahari beranjak naik, di waktu dhuha.

 

Kacamata Berita

Kesempatan. Ya, peristiwa itu digunakan oleh orang-orang munafik untuk menyebarkan isu, berita bohong, dan kabar palsu. Mereka menyebarkan bahwa seorang sahabat Nabi telah berselingkuh dengan salah seorang istri beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Digembar-gemborkan, digemparkan, dan di-blow-up sedemikian rupa.

Lihatlah! Jangankan berita yang murni bohong, jelas-jelas palsu, kaum munafikin juga memelintir, merekayasa, dan memotong-motong sebuah cerita sehingga tersebar tidak seperti aslinya. Peristiwa yang sebenarnya terjadi sebagaimana dipaparkan di atas, bukan semacam yang disebarluaskan oleh kaum munafikin!

Seperti itulah liciknya musuh-musuh Islam. Maka dari itu, janganlah heran atau terkejut apabila ada sekian banyak isu-isu murahan atau berita dusta yang disematkan pada Islam, dakwah tauhid, dakwah sunnah, terlebih lagi pada pribadi para pengampunya. Bukankah dakwah salaf sering dituduh sebagai dakwah keras, takfiri, teroris, jumud, tertutup, merasa benar sendiri, dan seabreg tuduhan lainnya?

Ada duka di kota Madinah. Orang-orang sama bertanya, “Ada apa ini? Mengapa bisa terjadi?

Ketika kaum munafikin gembira dan tertawa, kaum mukminin bersedih. Mereka bersedih karena ikut merasakan kesedihan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pada saat yang sama, kaum mukminin sangatlah yakin bahwa kabar itu adalah dusta semata. Mereka menyatakan dengan penuh keyakinan,

مَّا يَكُونُ لَنَآ أَن نَّتَكَلَّمَ بِهَٰذَا سُبۡحَٰنَكَ هَٰذَا بُهۡتَٰنٌ عَظِيمٞ ١٦

Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita untuk memperbincangkan hal ini. Mahasuci Engkau (wahai Rabb kami),ini adalah dusta yang besar.” (al-Nur: 16)

Di sinilah terletak pelajaran penting dalam hal menyikapi berita di seputar kita. Contohlah kaum mukminin di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berusaha untuk tidak terlarut dalam isu-isu yang diembuskan. Apalagi terkait dengan kemaslahatan Islam dan kaum muslimin. Bersikaplah teliti, bekali diri dengan filter untuk menyaring, dan bertanyalah kepada orang-orang tepercaya dalam hal menanggapi berita.

Orang mukmin tidaklah mudah menerima isu atau kabar burung. Berita yang tidak jelas sumbernya, referensinya entah dari mana, janganlah langsung diterima. Apalagi terkait dengan harga diri, kehormatan, dan nama baik seorang muslim. Haruslah lebih berhati-hati!

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits Sa’id bin Zaid radhiallahu ‘anhu,

إِنَّ مِنْ أَرْبَى الرِّبَا الْاِسْتِطَالَةُ فِيْ عِرْضِ الْمُسْلِم بغَيْرِ حَقٍّ

“Sungguh, perbuatan riba yang paling besar adalah berbicara tentang kehormatan seorang muslim secara tidak benar.” (HR. Abu Dawud dan dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh Muqbil dalam ash-Shahihul Musnad 1/313)

Pada saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berisra’ dan mi’raj, diperlihatkan kepada beliau orang-orang yang berada di dalam neraka. Mereka memiliki kuku-kuku panjang terbuat dari tembaga. Mereka mencakar-cakar wajahnya sendiri. Saat ditanyakan, Malaikat Jibril menjawab,

هَؤُلاَءِ الَّذِيْنَ يَأْكُلُوْنَ لُحُوْمَ النَّاسِ وَيَقَعُوْنَ فِيْ أَعْرَاضِهِمْ

        “Mereka adalah orang-orang yang memakan daging orang lain (berbuat ghibah) dan menjatuhkan kehormatan orang lain.” (HR. Abu Dawud dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh Muqbil dalam ash-Shahihul Musnad 1/508)

Demikianlah ajaran Islam! Berhati-hati dalam berbicara, bersikap teliti saat menukil berita.

 

Menjadi Obyek Berita?

Apabila menjadi obyek sebuah isu, apa yang harus dilakukan? Contohlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam! Tirulah Ibunda Aisyah radhiallahu ‘anha! Hayatilah secara saksama sikap-sikap beliau saat menghadapi gencarnya isu sesat yang disebarkan oleh kaum munafikin. Beliau berdua tidak terburu-buru, tidak pula tergesa-gesa.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam , hamba yang memperoleh petunjuk ilahi dari atas langit ketujuh, tidaklah mengambil keputusan sendiri. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diam dan tidak berbicara. Yang beliau lakukan adalah menunggu dan menanti turunnya wahyu dari Allah ‘azza wa jalla. Biarlah Allah ‘azza wa jalla yang memutuskan.

Nah, inilah yang mesti kita lakukan saat menjadi obyek isu. Kembalilah kepada Allah dengan memperbanyak tobat, istighfar, dan zikir. Mengeluh dan mengadulah kepada-Nya. Mohonlah petunjuk dan kesabaran dari-Nya. Bacalah kalam Allah ‘azza wa jalla agar hati menjadi sejuk, jiwa bertambah tenang. Seperti itu pula yang dilakukan oleh Ibunda Aisyah radhiallahu ‘anha.

Dalam salah satu perbincangan kecil dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Ibunda Aisyah radhiallahu ‘anha mengakui dirinya adalah seorang perempuan muda yang tidak banyak menghafal al-Qur’an. Akan tetapi, beliau menyatakan, “Demi Allah! Tidak ada permisalan yang dapat aku sampaikan kepada kalian kecuali ucapan ayah Nabi Yusuf,

فَصَبۡرٞ جَمِيلٞۖ وَٱللَّهُ ٱلۡمُسۡتَعَانُ عَلَىٰ مَا تَصِفُونَ ١٨

“Maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan.” (Yusuf: 18)

Begitulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Ibunda Aisyah radhiallahu ‘anha! Kembali kepada Allah ‘azza wa jalla saat isu dan berita dusta tiba menyapa. Berikutnya adalah memohon masukan dan saran dari orang-orang dekat dan dapat dipercaya.

Selama masa penantian wahyu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bermusyawarah dengan Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu dan Usamah bin Zaid radhiallahu ‘anhu. Subhaanallah! Kepada yang jauh lebih muda, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta saran. Berapakah usia Usamah saat itu? Masih sangat belia, muda sekali. Hanya beberapa belas tahun umurnya. Bayangkan, tentang urusan rumah tangga yang bersifat privasi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap meminta saran dari orang lain.

Lantas bagaimana halnya dengan kita? Mestinya tidak perlu sungkan atau malu hati untuk meminta saran dan masukan dari orang lain saat menghadapi isu atau berita tidak mengenakkan. Asalkan orang itu dapat dipercaya dan bersifat amanah. Tirulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam!

Seperti itu juga yang dilakukan oleh Ibunda Aisyah radhiallahu ‘anha. Saat pertama kali mendengar berita dusta tersebut, Ibunda Aisyah meminta izin kepada Rasulullah radhiallahu ‘anha agar diperbolehkan menemui kedua orangtuanya.Kepada kedua orangtuanya, Abu Bakr ash-Shiddiq dan Ummu Ruman istrinya, Aisyah radhiallahu ‘anha meminta masukan. Sang ibu menyatakan, “Wahai putriku, anggap ringan saja masalah ini bagimu!”

Ingat-ingatlah pula bahwa tentu ada yang terpengaruh akibat isu atau berita dusta yang beredar. Jika sungguh-sungguh bertobat dan meminta maaf, berikanlah maaf untuknya. Hal ini seperti yang dilakukan oleh Abu Bakr ash-Shiddiq yang memaafkan Misthah radhiallahu ‘anhu, padahal ia pun terlibat dalam berita dusta yang disebarkan oleh kaum munafikin.

Ringkasnya, hidup di dunia ini tentu tidak akan lepas dan terbebas dari isu miring atau berita dusta. Alhamdulillah, Islam telah mengatur dan membimbing langkah terbaik untuk menghadapinya.

Dengan membaca kisah haditsul ifki, semoga Allah ‘azza wa jalla meringankan beban pikiran kita. Amin.

Wallahul Muwaffiq.

 

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar

Jangan Gampang Menggosip!

إِنَّ ٱلَّذِينَ يُحِبُّونَ أَن تَشِيعَ ٱلۡفَٰحِشَةُ فِي ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٞ فِي ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةِۚ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ وَأَنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ ١٩

Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.(an-Nur: 19)

 

Penjelasan Mufradat Ayat

        أَن تَشِيعَ

Bermakna muncul, tampak, tersiar, tersebar.

ٱلۡفَٰحِشَةُ

Bermakna perbuatan jelek, keji, perkara besar; seperti zina atau perkataan buruk.

        لَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٞ فِي ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةِۚ

Bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat.

Azab di dunia, yaitu azab yang menyakitkan berupa hukuman dera (cambukan) sebanyak delapan puluh kali bagi yang menuduh wanita dan laki-laki yang baik berbuat zina.

Azab di akhirat, yaitu azab jahannam bagi yang meninggal dalam keadaan meneruskan perbuatan tersebut dan tidak bertobat darinya.

 

Penjelasan Makna Ayat

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Ayat ini merupakan pendidikan dan hukuman bagi siapa saja yang mendengar berita buruk, lantas timbul pikiran untuk membicarakan dan menyiarkannya; serta memilih tersiarnya pembicaraan yang keji pada kaum mukminin. Oleh karena itu, kembalikanlah urusan tersebut kepada Allah, pasti kalian akan mendapatkan bimbingan.”

Beliau rahimahullah menyebutkan hadits yang diriwayatkan oleh al-Imam Ahmad dari Tsauban radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian menyakiti hamba-hamba Allah, jangan kalian menjelek-jelekkannya, jangan pula kalian mencari-cari aib mereka. Barang siapa mencari-cari aib saudaranya yang muslim, Allah akan menemukan aib (mereka) hingga memperlihatkan kejelekan dia di rumahnya.”

Dalam Zadul Masir, karya Ibnul Jauzi rahimahullah, setelah mencantumkan ayat,

إِنَّ ٱلَّذِينَ جَآءُو بِٱلۡإِفۡكِ

Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong.(an-Nur: 11)

disebutkan, “Para ulama ahli tafsir sepakat bahwa ayat ini dan setelahnya yang ada hubungannya turun berkaitan dengan kisah Aisyah radhiallahu ‘anha atas berita bohong yang dituduhkan kepadanya.

Ketika memaknai ayat, ‘Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar berita perbuatan yang amat keji itu tersiar,’ Mujahid rahimahullah berkata, “Maksudnya (keinginan untuk) mengumumkan dan menceritakan tentang urusan Aisyah.”

Al-Imam ath-Thabari rahimahullah berkata, “Dalam ayat ini Allah ‘azza wa jalla befirman, ‘Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar berita perbuatan itu tersiar/tersebar di kalangan orang-orang yang membenarkan (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, dan mengumumkannya di tengah-tengah mereka bagi mereka azab yang pedih di dunia,’ maknanya adalah azab yang menyakitkan di dunia dengan cara didera. Hukuman ini Allah ‘azza wa jalla timpakan kepada orang yang menuduh wanita dan laki-laki yang baik-baik berbuat zina tanpa mendatangkan empat orang saksi.

Dalam ayat lain Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَٱلَّذِينَ يَرۡمُونَ ٱلۡمُحۡصَنَٰتِ ثُمَّ لَمۡ يَأۡتُواْ بِأَرۡبَعَةِ شُهَدَآءَ فَٱجۡلِدُوهُمۡ ثَمَٰنِينَ جَلۡدَةٗ وَلَا تَقۡبَلُواْ لَهُمۡ شَهَٰدَةً أَبَدٗاۚ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡفَٰسِقُونَ ٤

        “Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik berbuat zina dan mereka tidak medatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik.(an-Nur: 4)

As-Sa’di rahimahullah berkata, “Yaitu (menuduh) wanita-wanita merdeka yang menjaga kehormatan dirinya. Demikian pula laki-laki (yang menjaga kehormatan dirinya), tidak ada perbedaan antara dua hal ini. Ketika mereka (yang menuduh) tidak medatangkan empat orang saksi laki-laki yang baik agamanya (‘udul), deralah mereka 80 kali dera dengan cambuk/cemeti berukuran sedang, yang menyakitkan dan terasa pedih. Tidak boleh mendera secara melampaui batas dan mengakibatkan kematian. Sebab, tujuan utamanya adalah hukuman dera, bukan merusak (membinasakan).

Inilah ketetapan hukum bagi seorang yang melakukan tuduhan zina, dengan syarat bahwa yang dituduh adalah orang baik-baik lagi beriman, sebagaimana firman Allah ‘azza wa jalla di atas.

        وَلَا تَقۡبَلُواْ لَهُمۡ شَهَٰدَةً أَبَدٗاۚ

Dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya,

Mereka mendapatkan hukuman yang lain, yaitu persaksian mereka tidak diterima meskipun hukuman tersebut telah diterapkan terhadapnya hingga ia bertobat, sebagaimana yang akan datang penjelasannya.

        وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡفَٰسِقُونَ

Dan mereka itulah orang-orang yang fasik,” yaitu keluar dari ketaatan

kepada Allah ‘azza wa jalla dan terlalu banyak kejelekannya. Sebab, ia telah melanggar apa yang Allah ‘azza wa jalla haramkan dan merusak kehormatan saudaranya. Selain itu, ia telah memengaruhi manusia dengan tuduhan yang ia ucapkan. Ia telah merusak tali persaudaraan yang Allah ‘azza wa jalla ikat (tetapkan) di antara ahlul iman. Dia justru ingin agar berita perbuatan keji itu tersiar di kalangan orang yang beriman.

Ini semua menjadi bukti bahwa menuduh orang baik-baik berbuat keji merupakan dosa besar.

Kecuali orang-orang yang bertobat sesudah itu dan memperbaiki (dirinya), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Tobat dalam hal ini adalah dengan cara mendustakan dirinya sendiri. Maksudnya, ia menyatakan bahwa apa yang telah ia ucapkan adalah kedustaan. Dia wajib menyatakan bahwa dirinya berdusta walaupun yakin bahwa hal (yang dituduhkan) betul-betul terjadi, karena ia tidak dapat mendatangkan empat orang saksi.

Jika dia bertobat dan memperbaiki amal perbuatannya, mengganti keburukan dengan kebaikan, dia terbersihkan dari kefasikan. Demikian pula kesaksiannya akan diterima, menurut pendapat yang benar (dalam masalah ini). Sebab, Allah ‘azza wa jalla Dzat Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang; mengampuni seluruh dosa hamba yang mau bertobat dan kembali kepada-Nya.

Hukum dera ini berlaku apabila tuduhan tersebut muncul dari selain suami dan tidak mendatangkan empat orang saksi. Jika tuduhan tersebut datang dari suami, Allah ‘azza wa jalla telah menyebutkan urusannya dalam firman-Nya,

وَٱلَّذِينَ يَرۡمُونَ أَزۡوَٰجَهُمۡ وَلَمۡ يَكُن لَّهُمۡ شُهَدَآءُ إِلَّآ أَنفُسُهُمۡ فَشَهَٰدَةُ أَحَدِهِمۡ أَرۡبَعُ شَهَٰدَٰتِۢ بِٱللَّهِ إِنَّهُۥ لَمِنَ ٱلصَّٰدِقِينَ ٦ وَٱلۡخَٰمِسَةُ أَنَّ لَعۡنَتَ ٱللَّهِ عَلَيۡهِ إِن كَانَ مِنَ ٱلۡكَٰذِبِينَ ٧ وَيَدۡرَؤُاْ عَنۡهَا ٱلۡعَذَابَ أَن تَشۡهَدَ أَرۡبَعَ شَهَٰدَٰتِۢ بِٱللَّهِ إِنَّهُۥ لَمِنَ ٱلۡكَٰذِبِينَ ٨ وَٱلۡخَٰمِسَةَ أَنَّ غَضَبَ ٱللَّهِ عَلَيۡهَآ إِن كَانَ مِنَ ٱلصَّٰدِقِينَ ٩

Dan orang-orang yang menuduh istrinya (berzina), padahal mereka tidak ada mempunyai saksi-saksi selain diri mereka sendiri; maka persaksian orang itu ialah empat kali bersumpah dengan nama Allah, (bahwa) sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang benar. Dan (sumpah) yang kelima: bahwa laknat Allah atasnya jika dia termasuk orang-orang yang berdusta.

Istrinya dihindarkan dari hukuman oleh sumpahnya empat kali atas nama Allah (bahwa) sesungguhnya suaminya itu benar-benar termasuk orang-orang yang dusta; dan (sumpah) yang kelima bahwa kemarahan Allah atasnya jika suami itu termasuk orang-orang yang benar.(an-Nur: 6—9)

Sumpah ini diucapkan sebagai pengganti kedudukan saksi. Para ulama menyebut masalah ini dalam kitab fikih dengan nama li’an; yaitu persaksian yang dikuatkan dengan sumpah disertai dengan laknat dan ghadhab (kemarahan) Allah ‘azza wa jalla.

Disebut dengan li’an, karena ketika seorang suami menuduh istrinya berzina, ada dua tuntutan baginya.

  1. Mendatangkan bukti (saksi) atas tuduhannya.
  2. Jika tidak dapat mendatangkan saksi, dia dijatuhi hukuman dera sebanyak 80 kali.

Sebab, hukum asal seorang yang menuduh zina orang yang baik-baik dan tidak mendatangkan empat orang saksi adalah didera 80 kali. Hukuman ini tidak gugur, kecuali apabila dia bersaksi untuk dirinya sendiri dengan empat kali bersumpah dengan nama Allah bahwa sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang benar. Sumpah kelima adalah laknat Allah ‘azza wa jalla atasnya jika dia berdusta. Jika hal ini dia lakukan, gugurlah hukum dera tersebut.

Adapun seorang istri yang dituduh oleh suaminya berzina, tidak lepas dari dua hal: membenarkan tuduhan tersebut atau mendustakannya.

  1. Jika membenarkan, dia terkena hukum rajam.
  2. Jika istri mendustakan tuduhan tersebut dan suami tidak mempunyai saksi selain dirinya sendiri dengan lima kali bersumpah, sang istri terhindar dari hukuman apabila dia bersumpah empat kali atas nama Allah ‘azza wa jalla, sesungguhnya suaminya benar-benar berdusta. Sumpah kelima adalah kemarahan Allah ‘azza wa jalla atasnya jika suaminya termasuk orang-orang yang benar (jujur, ed.).

Mengapa ucapan sumpah yang kelima antara suami dan istri lafalnya berbeda?

Kata la’nat (laknat) mengandung makna seseorang dijauhkan dari rahmat Allah ‘azza wa jalla tanpa disertai kemarahan (kemurkaan) Allah ‘azza wa jalla padanya. Adapun ghadhab, mengandung makna laknat disertai kemarahan Allah ‘azza wa jalla.

Oleh sebab itu, seorang istri diharuskan bersumpah dengan sumpah yang lebih kuat bahwa kemarahan Allah atasnya… dst.

Alasannya, suami lebih dekat kepada kejujuran dan istri mengetahui kenyataan yang terjadi apabila dia benar-benar berzina. Apabila hal ini diingkari oleh istri, ia berhak dan pantas mendapatkan kemarahan Allah ‘azza wa jalla. Sebab, dia mengingkari sebuah kebenaran (kenyatan yang sesungguhnya) padahal mengetahuinya. Karena itu, dia mendapatkan kemarahan Allah. Oleh sebab itu, orang Yahudi dimurkai karena mengetahui kebenaran namun menentangnya.

Dari sisi inilah, istri berhak mendapat ghadhab (kemurkaan) Allah. Adapun suami haknya adalah laknat-Nya. Tuduhan suami mengharuskan manusia menjauhi wanita ini, meninggalkannya, dan mendoakan laknat baginya.

Berikut ini beberapa persyaratan sah pelaksanaan li’an.

  • Terjadi antara suami dengan istri, baik terlaksana sebelum atau sesudah bercampur dengannya.
  • Pengucapannya harus dengan bahasa Arab, karena lafalnya (lafadz, Arab) sebagaimana yang termuat dalam al-Qur’an. Menggunakan selain bahasa Arab dikhawatirkan tidak mencakup makna yang dikehendaki dalam bentuk yang sempurna. Barang siapa mampu berbahasa Arab, tidak sah melakukan li’an menggunakan bahasa lain.

Contoh lafal li’an bagi suami,

أَشْهَدُ بِاللهِ إِنِّي لَمِنَ الصَّادِقِينَ فِيمَا رَمَيْتُهَا بِهِ (x4)

“Aku bersumpah dengan nama Allah bahwa sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang benar terhadap apa yang aku tuduhkan kepadanya.” (sebanyak 4 kali)

Li’an kelima dengan ditambah lafal,

أَنَّ لَعْنَةَ اللهِ عَلَيْهِ إِنْ كُنْتَ مِنَ الْكَاذِبِينَ

“dan laknat Allah atas diriku jika aku termasuk orang-orang yang berdusta.”

Demikian pula istri yang dituduh, bersumpah dengan mengatakan,

أَشْهَدُ بِاللهِ أَنَّهُ لَمِنَ الْكَاذِبِينَ (x4)

“Aku bersumpah dengan nama Allah bahwa sesungguhnya suamiku itu benar-benar termasuk orang-orang yang berdusta.” (sebanyak 4 kali)

Li’an kelima bagi istri ditambah lafal,

غَضَبَ اللهُ عَلَيْهَا إِنْ كَانَ مِنَ الصَّادِقِينَ

“(Sumpah kelima), bahwa kemurkaan Allah atasku jika suamiku itu termasuk orang-orang yang benar.”

  • Harus sesuai dengan urutan, yaitu pengucapan sumpah tidak terbolak-balik. Suami yang memulai terlebih dahulu baru disusul oleh sang istri.
  • Tidak boleh ada kekurangan sedikitpun dari kalimat sumpah sebagaimana yang tersebut dalam al-Qur’an.
  • Tidak boleh ada sesuatupun yang diganti, seperti asyhadu diganti dengan aqsamu, bersumpah tetapi tidak menggunakan nama Allah, ghadhab diganti dengan sukhth.
  • Perkara li’an berlaku khusus bagi suami yang menuduh istrinya berbuat zina dan tidak berlaku sebaliknya.

Apabila suami-istri telah menyatakan hal di atas (terjadi li’an), seketika itu pula keduanya harus pisah (cerai) selama-lamanya, dan tidak boleh menikah kembali walaupun istri pernah dinikahi oleh orang lain setelahnya.

Dalam sebuah hadits dari Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma, beliau berkata, Fulan (seseorang) telah bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu jika salah seorang di antara kami mendapati istrinya melakukan perbuatan yang amat keji (zina), apa yang harus ia lakukan? Jika dia ceritakan, niscaya ia telah bercerita tentang perkara yang agung (besar). Jika diam, niscaya dia diam dari (perkara besar) seperti itu.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (diam) tidak menjawabnya. Sesudah itu, dia datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu berkata, “Sesungguhnya urusan yang pernah aku tanyakan kepadamu telah menimpa saya.”

Kemudian turun ayat-ayat yang terdapat dalam surat an-Nur. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan kepadanya, menasihati, dan mengingatkannya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sampaikan bahwa azab dunia itu lebih ringan daripada azab akhirat.

Orang itu berkata, “Tidak! Demi Dzat yang mengutusmu dengan (membawa) kebenaran, saya tidak berdusta terhadapnya.”

Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil dia (istrinya), dinasihatinya pula. Dia menjawab, “Tidak! Demi Dzat yang mengutusmu dengan (membawa) kebenaran. Sesungguhnya dia benar-benar berdusta.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian memerintahkan orang itu memulai (bersumpah). Ia bersumpah empat kali dengan nama Allah, lalu diikuti oleh istrinya. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memisahkan keduanya (diceraikan). (HR. Muslim)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Ayat di ini (yaitu an-Nur: 19) menjelaskan tentang hukum dera bagi orang yang menuduh wanita yang merdeka, baligh, dan menjaga kehormatan diri. Demikian pula jika yang dituduh adalah seorang laki-laki; hukumannya sama, dicambuk. Dalam hal ini, tidak ada perbedaan pendapat di antara para ulama. Apabila yang menuduh dapat membuktikan dengan sebuah alasan yang menunjukkan benarnya apa yang dia ucapakan, ia dihindarkan dari hukuman tersebut.”

As-Sa’di rahimahullah berkata, “Apabila ancaman berupa azab yang pedih di dunia dan akhirat, karena sekadar keinginan agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar dan membuat senang hati, bagaimana halnya dengan yang lebih besar dari itu, dengan cara mengumumkan, memunculkan, dan menyampaikannya?! Terlepas dari berita itu benar atau tidak.”

Semua ini adalah bentuk kasih sayang Allah ‘azza wa jalla kepada para hamba-Nya yang mukmin dan perlindungan terhadap kehormatan mereka, sebagaimana dilindunginya darah dan hartanya.

Allah ‘azza wa jalla perintah mereka melakukan sesuatu yang menunjukkan kemurnian persahabatan, yaitu mencintai sesuatu untuk saudaranya sebagaimana ia mencintainya untuk dirinya sendiri; dan membenci sesuatu terjadi pada saudaranya sebagaimana ia membenci hal itu terjadi pada dirinya sendiri.

        وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ وَأَنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ

Dan Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.

Ath-Thabari rahimahullah berkata, “Allah ‘azza wa jalla mengetahui kedustaan orang yang membawa berita bohong dan siapa yang jujur di antara mereka. Adapun kalian wahai manusia, tidak mengetahui hal itu. Sebab, kalian tidak mengetahui perkara yang gaib. Dzat Yang Maha Mengetahui hal yang gaib (Allah ‘azza wa jalla) sajalah yang tahu. Janganlah kalian menceritakan hal yang tidak kalian ketahui, yaitu berita bohong, kepada orang yang beriman kepada Allah; terlebih terhadap para istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dapat membuat kalian binasa.

Oleh sebab itu, Allah ‘azza wa jalla mengajarkan dan menjelaskan kepada kalian urusan yang kalian belum ketahui.

Wallahu a’lam bish-shawab.

 

Maraji:

Maktabah Syamilah—Kutub at-Tafsir

Asy-Syarhul Mumti

Tashilul Ilmam

 

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Ubaidah Syafruddin

Ghuluw dalam Fiqhul Waqi’

Ghuluw ( غُلُوٌّ ) artinya melampaui batas atau berlebih-lebihan. Adapun fiqhul waqi’ ( الْوَاقِعِ فِقْهُ ) artinya memahami kondisi kekinian atau realita yang ada. Yang dimaksud dengan fiqhul waqi’ di sini adalah menyibukkan diri dengan urusan-urusan politik dan mengikuti secara mendalam peristiwa-peristiwa kekinian.

Yang tercela dalam masalah fiqhul waqi’ ada beberapa hal:

 

  1. Tenggelam dalam mengikuti peristiwa politik dan beragam peristiwa yang terjadi sehingga melalaikan diri dari yang terpenting yaitu mempelajari sumber agama, yaitu al-Kitab dan as-Sunnah.

Sebagian mereka berkata, “Apa nilainya orang yang berilmu bila tidak menjelaskan kepada manusia problema politik yang mereka hadapi, yang itu adalah masalah terpenting yang mereka butuhkan.” (al-Ajwibah al-Mufidah, 141)

Karena menyibukkan diri dengan perkara yang umumnya bukan tugasnya untuk mendalaminya, akhirnya mereka tidak mengamalkan al-Kitab dan as-Sunnah. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَمَنۡ أَعۡرَضَ عَن ذِكۡرِي فَإِنَّ لَهُۥ مَعِيشَةٗ ضَنكٗا وَنَحۡشُرُهُۥ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ أَعۡمَىٰ ١٢٤

“Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku (kitab-Ku), maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (Thaha: 124)

Saat sebagian orang mempelajari agama Allah ‘azza wa jalla, ternyata orang-orang yang ghuluw dalam fiqhul waqi’ sibuk menyimak dan mengikuti berita televisi, radio, membaca koran, dan yang semisal. Karena yang digeluti seperti ini, akhirnya yang mereka bicarakan adalah masalah perpolitikan. Seolah-olah mereka ingin mengatakan di majelis bahwa nash-nash syariat Islam tidak mampu menjawab tantangan zaman. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Aku tinggalkan di tengah-tengah kalian dua hal, yang kalian tidak akan tersesat setelah (berpegang teguh dengan) nya, yaitu kitab Allah (al-Qur’an) dan sunnahku.” ( HR. al-Hakim dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dan dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahih al-Jami’)

 

  1. Percaya dengan berita yang sumbernya dari orang kafir dan fasik.

Karena pijakan bersikapnya pada sesuatu yang tidak jelas ini, penilaian dan statement yang dikeluarkan tidak tepat. Bagaimana mungkin bayangan sebuah benda akan lurus kalau aslinya saja bengkok? Padahal Allah ‘azza wa jalla sudah mengingatkan kita dari menerima berita orang fasik secara serampangan. Lantas bagaimana kiranya kalau itu berita dari orang kafir?

 

  1. Menganggap kitab karya ulama sebagai sesuatu yang kering, tidak menarik, dan tidak bisa menjawab tantangan zaman.

Inilah pencetus firqah as-Sururiyyah, Muhammad Surur Zainal Abidin mengatakan dalam kitabnya (Manhajul Anbiya 1/18), “Aku memerhatikan kitab-kitab akidah; aku lihat ia ditulis bukan untuk zaman kita. Kitab-kitab itu untuk menjawab perkara dan problem yang pada masanya, sedangkan untuk zaman kita ada problem yang membutuhkan solusi baru. Oleh karena itu, metode penyampaian kitab akidah kebanyakannya kering, karena hanya berupa nash (dalil) dan hukum. Oleh karena itu, sebagian besar para pemuda berpaling dari kitab-kitab itu dan tidak suka.”

Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah mengomentari ucapan Muhammad Surur, “Orang ini dengan ucapannya telah menyesatkan para pemuda dan memalingkan mereka dari kitab-kitab akidah yang benar, kitab-kitab salaf. Ia mengarahkan para pemuda kepada pemikiran yang baru dan buku baru yang membawa pemikiran yang campur aduk. Kejelekan kitab akidah menurut Muhammad Surur karena ia hanya memuat nash (dalil-dalil) dan hukum, padanya disebutkan firman Allah ‘azza wa jalla dan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yang diinginkan oleh Muhammad Surur adalah pemikiran fulan dan fulan, tidak ingin dalil dan hukum. Oleh karena itu, hendaklah kalian waspada dari pernyataan yang batil ini yang dimaukan darinya adalah memalingkan pemuda kita dari kitab-kitab salaf.” (al-Ajwibah al-Mufidah, Jamal al-Haritsi hlm. 52—56)

 

Apabila telah hilang sikap percaya kepada para ulama, kepada siapa lagi kaum muslimin akan merujuk untuk menjawab problem mereka dan menjelaskan hukum-hukum syariat?

 

  1. Meremehkan para ulama.

Karena merasa lebih banyak mengetahui perkara kekinian dan peristiwa yang ada di jagat ini melalui media massa, mereka menganggap para ulama adalah orang yang tidak mengenal realita. Para ulama dianggap cocok hidup di abad pertengahan yang tidak mampu menjawab problem kekinian.

Di antara tokoh yang tidak malu-malu merendahkan para ulama dan meghukumi mereka sebagai orang-orang kolot dan kuno adalah Abdurrahman Abdul Khaliq, salah satu sesepuh Jum’iyyah Ihya at-Turats al-Islami yang diagung-agungkan oleh para pengikutnya. Demikian pula Salman al-Audah, Safar Hawali, Nashir al-Umar, Muhammad Surur, dan lainnya yang satu pemikiran. Mereka adalah para pengusung fiqhul waqi’ yang sebagian mereka merendahkan ulama.

Inilah di antara ucapan Abdurrahman Abdul Khaliq, “Para ulama kita yang mulia tidak mengerti sedikit pun tentang organisasi rahasia yang dimiliki oleh musuh. Mereka tidak tahu banyak tentang perencanaan musuh dan tidak mempelajari syubhat para musuh dan tipu muslihat mereka. Para ulama tidak pantas sama sekali untuk membantah tipu daya musuh dan tidak mampu\ menyelamatkan para pemuda Islam dari cengkraman kekufuran yang tercela ini.” (Khuthuth Raisiyyah Liba’tsi al Ummah al-Islamiyah 101—103 melalui kitab Jama’ah Wahidah la Jama’at karya asy-Syaikh Rabi, 44).

Perkataan kotor Abdurrahman Abdul Khaliq ini menunjukkan bahwa dia tidak paham fiqhul waqi’. Bagaimana tidak, ulama telah membeberkan kepada umat tentang makar musuh Islam. Para ulama menyampaikan hal ini melalui ceramah atau tulisan.

Abdurrahman Abdul Khaliq juga berkata, “Apa nilainya seorang alim tentang syariat seandainya diseru kepada jihad dan menenteng senjata kemudian dia berkata, ‘Ini bukan urusan para ahli syariat, kita hanya bisa berfatwa tentang halal dan haram, tentang haid, nifas, dan talak?!’ Kita menginginkan para ulama yang sebanding dengan zaman yang ada dari sisi ilmu, wawasan, adab, akhlak, keberanian, berani maju, dan memahami trik makar (para musuh) terhadap Islam. Kita tidak ingin deretan ulama kolot yang tubuh mereka hidup di zaman kita, namun akal dan fatwa mereka hidup di selain masa kita.” (Jama’atun Wahidah La Jama’at, hlm. 40)

Dahulu, Abdurrahman Abdul Khaliq ini merendahkan gurunya sendiri yang telah banyak berjasa kepadanya, yaitu asy-Syaikh Muhammad al-Amin asy-Syinqithi, dengan mengatakan bahwa beliau seperti perpustakaan keliling, tetapi cetakan lama yang butuh untuk direvisi. (Jama’ah Wahidah hlm. 42)

Ini tentu suatu contoh kedurhakaan seorang murid yang durhaka kepada Syaikhnya yang salafi yang telah mengajarinya agama Allah ‘azza wa jalla.

Dahulu ketika ulama berfatwa tentang bolehnya meminta bantuan kepada Amerika Serikat dan sekutunya dalam peristiwa Perang Teluk di mana Saddam Husain Presiden Irak kala itu menyerang Kuwait dan Saudi Arabia dengan senjata canggihnya (tentunya setelah para ulama mempelajari secara saksama kondisi yang ada dan meneliti dalil syariat tentang meminta bantuan keamanan kepada orang kafir, dengan syarat yang tidak melanggar aturan agama); muncullah komentar miring dari para pengusung fiqhul waqi’ terhadap para ulama.

Inilah Muhammad Surur pentolan kelompok Sururiyyah dalam majalah as-Sunnah (edisi 23 Dzulhijjah 1412 H hlm. 29—30) mencela para ulama dengan memberi julukan jelek bahwa ulama adalah para budak, intel-intel dakwah, dan munafik.

Dia juga mengatakan, “Wahai saudara-saudaraku, janganlah kalian tertipu dengan penampilan. Ketokohan seorang sebagai syaikh itu hanya buatan orang-orang zalim dan tugas dari syaikh yang mulia tidak beda dengan tugas petinggi kepolisian.”

Belum lagi ucapan Salman ‘Audah yang mencela para ulama bahwa mereka tugasnya hanya mengumumkan masuk dan keluarnya bulan Ramadhan. Ketika mengomentari peristiwa Perang Teluk ia mengatakan bahwa peristiwa ini menyingkap tentang tidak adanya rujukan ilmiah yang benar dan tepercaya bagi kaum muslimin. (al-Quthbiyyah Hiya al-Fitnah fa’rifuha, hlm. 79—80)

Hal seperti ini memang di antara ciri-ciri ahli bid’ah, yaitu mencela ahlul atsar, orang yang berjalan di atas bimbingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

  1. Penggiringan opini bahwa merekalah yang berhak ditimba ilmunya dan diikuti sarannya.

Saat mereka merendahkan ulama, tersirat dari situ bahwa merekalah orang yang paling paham tentang kondisi sehingga tertipulah sebagian pemuda yang lugu yang tidak tahu hakikat mereka.

Para pemuda digiring untuk melakukan demonstrasi dengan alasan bahwa hak rakyat tidak akan diberikan oleh penguasa kecuali dengan cara menekan mereka. Para pengusung “fiqhul waqi’” berlagak sok lebih alim, lebih bijak, dan lebih segala-galanya di atas ulama syariat. Akan tetapi, dengan berlalunya waktu, topeng jahat mereka tersingkap.

 

Kedudukan Ulama di Hadapan Syariat

Banyak sekali dalil syariat yang menyebutkan keutamaan ilmu dan para ulama. Suatu hal yang mengharuskan kita untuk mengerti posisi para ulama. Yang dimaksud dengan ulama di sini adalah ulama yang mengerti tentang syariat Allah ‘azza wa jalla. Para ulama syariat adalah orang yang paling paham tentang kondisi masyarakat dan apa yang dibutuhkan oleh mereka serta solusi dari problem yang dihadapi.

Adapun orang yang tahunya hanya permasalahan politik dan yang kekinian tanpa mempelajari lebih dalam tentang syariat Allah ‘azza wa jalla bukanlah yang dimaksud sebagai ulama.

Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan, “Menghormati ulama muslimin adalah wajib, karena mereka pewaris para nabi. Merendahkan mereka adalah bentuk meremehkan kedudukan mereka dan kedudukannya sebagai pewaris Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meremehkan ilmu yang mereka bawa para ulama harus dihormati karena ilmu dan kedudukan mereka di tengah umat dan karena tugas yang mereka emban untuk kemaslahatan Islam dan kaum muslimin.

Apabila seseorang tidak percaya kepada ulama, lalu kepada siapa lagi dia akan percaya?

Apabila telah hilang sikap percaya kepada para ulama, kepada siapa lagi kaum muslimin akan merujuk untuk menjawab problem mereka dan menjelaskan hukum-hukum syariat?

Ketika kondisi seperti ini, umat akan tersia-siakan dan kekacauan tersebar. Tiada seorang pun yang merendahkan ulama kecuali ia telah menghadapkan dirinya kepada hukuman Allah ‘azza wa jalla. Sejarah menjadi saksi yang terbaik tentang dihukumnya mereka baik dahulu maupun sekarang.( al-Ajwibah al-Mufidah, 140)

Wallahu a’lam bish-shawab.

 

Ditulis oleh Al-Ustadz Abdul Mu’thi Sutarman

Efek Negatif Media Massa

Disadari atau tidak, pola pikir dan perilaku masyarakat saat ini kebanyakan terpengaruh oleh kultur media massa. Bermunculannya media informasi yang sangat pesat bak jamur tumbuh di musim hujan disambut layaknya makanan lezat oleh orang yang lapar atau air yang sejuk oleh orang yang haus.

Mirisnya, kebanyakan media massa tersebut berada di genggaman musuh-musuh Islam. Melalui media-media tersebut, mereka tebarkan virus yang bisa membunuh agama seseorang. Media dijadikan alat propaganda untuk memberi gambaran buruk tentang Islam dan kaum muslimin. Islam diopinikan sebagai batu ganjalan tercapainya kemodernan. Di sisi lain, mereka mengemas kekafiran dan kemaksiatan sebagai sesuatu yang lumrah dan hak setiap individu.

Memang, sebagian media massa ada yang dimiliki oleh orang-orang Islam. Akan tetapi, kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik dan tidak paham tentang agama. Di samping itu, yang dikejar hanyalah profit. Bahkan, karena ketidakpahaman tentang agama, sebagian media massa yang bernapaskan keislaman terkadang menyuguhkan info dan menyajikan tayangan yang berbau syirik, bid’ah, dan khurafat. Sangat minim media massa-media massa yang mengusung risalah Islam yang sesungguhnya. Karena itu, mengetahui hakikat media massa menjadi sesuatu yang urgen agar seorang tidak salah menerima informasi.

 

Dampak Negatif Media Massa

Kajian-kajian tentang dampak buruk media massa akan terus menjadi topik yang menarik mengingat ketergantungan manusia saat ini kepada media informasi sangat besar.

Ketika mengemukakan dampak buruk media massa, tidak berarti kita menolak teknologi informasi yang mutakhir dan menutup mata dari pengaruh positifnya. Akan tetapi, kita semestinya mengambil langkah waspada akan dampak buruknya, karena kebanyakan pemilik media massa adalah orang-orang sekuler yang menghalalkan segala cara dan orang-orang fasik yang tujuannya hanya dunia. Sementara itu, dampak negatif media massa sangat jelas dirasakan. Berikut beberapa dampak negatif media massa secara umum.

  1. Menjadi sarana musuh-musuh Islam untuk merealisasikan tujuan-tujuan mereka menguasai umat Islam dan melontarkan keraguan seputar syariat Islam.
  2. Melemahkan akidah umat dengan ditampilkannya syiar-syiar kekufuran dan gambar-gambar orang kafir. Karena sering ditampilkan, kaum muslimin akhirnya menganggap hal-hal semacam ini sebagai suatu yang lumrah. Hilanglah sikap bara’ah (berlepas diri) dari orang-orang kafir dan perbuatan mereka.
  3. Umat diajak untuk meniru orang-orang kafir dan fasik dalam hal akhlak, pemikiran, adat istiadat, gaya berpakaian, potongan rambut, dan semisalnya.
  4. Orang menjadi tidak menyukai kebaikan karena digambarkan sebagai kemunduran. Sebaliknya, media massa mendorong orang untuk melakukan kejelekan.
  5. Menjadikan orang terbiasa melihat dan mendengar kemungkaran tanpa ada pengingkaran.
  6. Penghakiman sepihak kepada suatu kelompok masyarakat tanpa ditelusuri lebih dalam pangkal masalahnya.

Adapun dampak buruk media massa secara khusus ialah sebagai berikut:

 

  1. Dampak negatif terhadap pribadi
  • Menelan mentah-mentah info-info miring seputar Islam dan kaum muslimin yang ditebarkan media-media kufur tanpa bisa menyaringnya.
  • Hal ini akan melemahkan keyakinannya terhadap agamanya. Satu dampak negatif ini saja sudah cukup untuk meruntuhkan masa depan seseorang.
  • Masuknya pemahaman-pemahaman yang menyimpang ke dalam hati seorang muslim karena tidak selektif dalam mencari informasi dari sumber yang tepercaya. Ia terpengaruh dengan pemahaman yang menyimpang tanpa disadari bahwa itu suatu penyimpangan.
  • Terjadinya tindak asusila karena seringnya menonton tayangan-tayangan yang membangkitkan nafsu seks yang diharamkan. Hal ini kerap terjadi, bahkan yang parah dilakukan oleh anak di bawah umur.
  • Teknologi informasi digunakan untuk melakukan tindak kejahatan, seperti penipuan dan pemerasan. Sebagai misal, seseorang memiliki gambar seseorang atau rekaman video yang bersifat pribadi, lalu gambar atau rekaman tersebut digunakan untuk memeras pemilik gambar itu jika tidak ingin disebarluaskan.
  • Kepekaan terhadap masyarakat dan lingkungan sekitar menjadi luntur karena asyik menggunakan teknologi informasi yang modern dan sibuk mengikuti program-program tayangan.
  • Banyak waktu yang terbuang secara sia-sia.
  • Penggunaan teknologi informasi yang berlebihan dan tidak pada tempatnya menjadi faktor terbengkalainya tugas, timbulnya kecelakaan lalu lintas, dan lelahnya tubuh yang bisa menyebabkan sakit.

 

  1. Dampak negatif terhadap kehidupan rumah tangga.
  • Banyaknya terjadi kasus perceraian, kekerasan dalam rumah tangga, dan pengabaian hak dari dua belah pihak.
  • Seorang suami lalai melaksanakan tugasnya untuk mencarikan nafkah bagi anak dan istrinya karena asyik mengikuti tayangan-tayangan yang melalaikan.
  • Menjalin pertemanan melalui media sosial dengan wanita lain yang mengarah kepada perselingkuhan.

Di sisi lain, seorang istri terkadang sibuk mengikuti acara-acara televisi sehingga tugasnya di rumah untuk mendidik anak dan melayani suami diabaikan. Seorang istri terkadang menjalin pertemanan dengan pria lain melalui media sosial hingga terjadi perselingkuhan.

  • Seorang istri gemar mengoleksi dan membaca majalah-majalah model untuk meniru gaya berpakaian dan potongan rambut wanita-wanita kafir dan fasik. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَمِنْهُمْ

“Barang siapa menyerupai suatu kaum, dia termasuk golongan kaum tersebut.” ( HR. Ahmad dan Abu Dawud)

 

  1. Dampak negatif media massa antarelemen masyarakat
  • Di antaranya, terjadinya persaingan yang tidak sehat antartetangga dalam memiliki perangkat informasi dan saling memamerkan perangkat informasi yang mahal serta canggih untuk unjuk status sosial.
  • Selain itu, media massa juga dijadikan alat untuk menebarkan gosip, fitnah, dan provokasi, hingga timbul kebencian antarelemen masyarakat.

 

  1. Dampak negatif media massa dalam hubungan antara rakyat dan penguasa

Apabila ditelusuri, betapa banyak media massa yang suka membeberkan aib penguasa atau senantiasa menjelek-jelekkan pemerintah, sehingga muncul kebencian dari rakyat kepada penguasanya. Situs-situs jejaring sosial juga terkadang dimanfaatkan untuk menghasut masyarakat agar melakukan aksi demontrasi dan menolak program-program pemerintah yang baik.

Seharusnya, media massa memosisikan diri sebagai sarana penghubung dan pendukung agar pemerintah dihormati dan didukung program-programnya yang baik sehingga hak rakyat akan tertunaikan dengan baik. Hubungan antara rakyat dengan penguasanya juga terjalin dengan baik. Dengan demikian, setiap pihak mengetahui hak dan kewajibannya.

 

  1. Media massa bisa berperan sebagai perusak negara

Dalam beberapa tahun terakhir ini, dunia menyaksikan kekacauan di beberapa negara bagian utara benua Afrika dan Timur Tengah berupa penggulingan kekuasaan. Peran media massa dalam hal ini sangat besar. Media massa mampu menggiring opini publik yang umumnya mendukung aksi demonstrasi.

Situs-situs jejaring sosial digunakan oleh demonstran untuk menggalang kekuatan guna menumbangkan kekuasaan yang sah. Dalam kenyataannya, media massa menjadi alat yang mengerikan yang kadang sulit dilawan dengan senjata tempur sekalipun.

Sebagai contoh, belum lama ini tersebar isu yang santer tentang rencana pemerintah Arab Saudi untuk memindahkan jasad Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia ke kuburan Baqi. Sontak, kabar seperti ini menimbulkan komentar berupa kecaman terhadap pemerintah Arab Saudi dan para ulamanya. Isu tentang pemindahan kuburan Nabi itu bermula dari pemberitaan surat kabar Inggris The Independent.

Adalah wartawan The Independent, Andrew Johnson, yang menyebutkan bahwa pemberitaan bersumber dari seorang akademisi di Arab Saudi, Dr. Irfan al-‘Alawi. Dia seorang doktor dalam teologi dan tasawuf Islam, yang menjadi dosen terbang di London University di Inggris, California University di AS, dan Research Fellow di Leiden Belanda.

Dr. Irfan telah membaca langsung makalah karya Dr. Ali bin Abdul Aziz asy-Syibl yang (konon) berisikan usulan pemindahan makam (kuburan) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ke Baqi. Tulisan itu baru merupakan dokumen konsultasi yang diajukan oleh Dr. Ali asy-Syibl. Dokumen itu sejatinya membahas tentang isolasi, pembatasan kuburan Nabi agar tidak menjadi tempat orang-orang berbuat syirik, bukan pemindahan kuburan beliau (Sumber Mi’raj News.Com).

Dr. Ali asy-Syibl sendiri membantah surat kabar tersebut dengan ucapannya bahwa isi berita tersebut mengandung hasutan, tidak benar, dan dusta. Pemerintah Arab Saudi juga membantah isu tersebut.

 

  1. Dampak negatif media massa untuk kaum muslimin

Di antaranya, masyarakat mudah berkomentar dan bersikap tanpa ilmu. Misalnya, ketika terjadi penangkapan terduga teroris oleh Densus 88, diberitakan oleh media bahwa sang teroris berjenggot dan istrinya memakai cadar. Titik tekan pemberitaan lebih pada ciri-ciri fisik sang teroris sehingga imagi yang akan muncul di tengah masyarakat bahwa ciri-ciri teroris itu berjenggot dan istrinya bercadar.

Pemberitaan yang seperti itu akan menyebabkan masyarakat awam menilai bahwa semua yang berjenggot dan yang istrinya bercadar adalah teroris. Di sini, disadari atau tidak, media massa menjadi sumber keretakan hubungan di tengah-tengah masyarakat dan penghakiman sepihak kepada personal tanpa landasan yang bisa dipertanggungjawabkan.

Media massa sekuler memang tak henti-hentinya menampilkan Islam dengan wajah yang menyeramkan. Media massa yang seharusnya menjadi sarana mencerdaskan masyarakat ternyata terkadang dijadikan sarana untuk menebarkan bibit-bibit permusuhan di tengah masyarakat. Hal ini tentu sebuah pengkhianatan dan pembodohan publik.

 

Peran Pemerintah dan Ulama

Setelah pemaparan tentang dampak buruk media massa terhadap individu dan masyarakat, bahkan terhadap negara, sudah semestinya pemerintah bergerak cepat memantau pemberitaan dan tayangan yang ada.

Tentu saja tidak hanya memantau, tetapi melakukan tindakan yang semestinya terhadap media massa yang menyuguhkan pemberitaan yang membahayakan urusan dunia atau agama. Hal ini sudah menjadi kewajiban pemerintah yang kelak akan dimintai pertanggungjawabannya di hadapan Allah ‘azza wa jalla.

Para ulama dan da’i juga berkewajiban memberi peringatan kepada masyarakat tentang dampak buruk media massa. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَامِنْ قَوْمٍ يٌعْمَلُ فِيْهِمْ بِالْمَعَاصِي هُمْ أَعَزُّ وَأَكْثَرُ مِمَّنْ يَعْمَلُهُ ثُمَّ لَمْ يُغَيِّرُوْهُ إِلَّا عَمَّهُمُ اللهُ مِنْهُ بِعِقَابٍ

“Tiada suatu kaum yang kemaksiatan dilakukan di tengah-tengah mereka, yang kaum tersebut lebih mulia dan lebih banyak daripada orang yang berbuat maksiat, tetapi mereka tidak mau mengubahnya, kecuali Allah ‘azza wa jalla akan ratakan azab kepada mereka.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah dari Jarir radhiallahu ‘anhu. Lihat Shahih al-Jami’ 5749)

Sesungguhnya pembangunan di segala bidang tidak akan banyak memberi manfaat apabila moralitas masyarakat rusak. Nilai-nilai kebaikan yang ditanamkan di rumah-rumah, masjid-masjid, dan sekolah-sekolah, akan sedikit artinya ketika kejahatan media dibiarkan merajalela.

Seandainya di sana ada seribu tukang bangunan bersatu padu membangun sebuah gedung yang tinggi nan kokoh, namun di belakang mereka ada satu orang yang siap meruntuhkannya, tentu bangunan itu terancam runtuh. Lantas bagaimana kiranya apabila yang membangun gedung tersebut hanya satu orang, sementara di belakang dia ada seribu orang yang siap meruntuhkannya?!

Wallahu a’lam bish-shawab.

 

Ditulis oleh Al-Ustadz Abdul Mu’thi Sutarman

Etika Pemberitaan dalam Islam

Beragam media massa yang sulit dihitung karena saking banyaknya dewasa ini merupakan bukti nyata pesatnya teknologi informasi. Era globalisasi telah menyuguhkan kemudahan akses informasi yang dibutuhkan dalam hitungan detik dengan biaya yang relatif murah. Sekian banyak peristiwa yang ada di jagat raya ini dengan cepatnya diberitakan. Bumi yang luas terbentang ini ibarat sebuah desa yang kecil yang mudah dikenali dari ujung hingga ke ujung.

Memang kenyataannya media massa tidak hanya menyuguhkan berita tentang suatu peristiwa. Media massa juga sebagai sarana hiburan, ajang promosi berbagai produk, dan kepentingan yang lain. Akan tetapi, pemberitaan masih merupakan salah satu menu pokok yang disajikan oleh media massa, baik cetak maupun elektronik.

Satu hal yang tidak bisa dimungkiri, pemberitaan memegang peranan penting dalam mewarnai pola hidup dan pola pikir masyarakat. Pemberitaan yang positif, akurat, dan bermanfaat bisa menjadi titik tolak perubahan mental ke arah yang positif serta menjadi sarana terpenuhinya kebutuhan masyarakat, baik yang bersifat spiritual maupun material. Akan tetapi, pemberitaan bisa juga dijadikan sebagai sarana untuk meruntuhkan pokok-pokok agama dan menjadi alat untuk meretakkan sendi-sendi pergaulan di tengah-tengah masyarakat apabila yang disuguhkan adalah info yang tidak akurat, penuh kedustaan, dan penyimpangan.

Karena pemberitaan yang tidak benar bisa menimbulkan efek negatif yang sangat serius, maka Allah ‘azza wa jalla mengingatkan kita tentang bahaya ucapan yang dusta. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَٱجۡتَنِبُواْ قَوۡلَ ٱلزُّورِ ٣٠

“Dan jauhilah perkataan-perkataan dusta.” (al-Hajj: 30)

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengingatkan umatnya dari bahaya ucapan dusta dan persaksian palsu dengan memasukkan perkara tersebut dalam rentetan dosa besar yang paling besar, seperti tersebut dalam hadits riwayat al-Bukhari dan Muslim dari Abu Bakrah radhiallahu ‘anhu.

Allah ‘azza wa jalla juga memerintahkan kita untuk bersikap hati-hati dari berita orang yang fasik (yaitu pelaku dosa besar atau orang yang terus-terusan melakukan dosa kecil). Allah ‘azza wa jalla berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِن جَآءَكُمۡ فَاسِقُۢ بِنَبَإٖ فَتَبَيَّنُوٓاْ أَن تُصِيبُواْ قَوۡمَۢا بِجَهَٰلَةٖ فَتُصۡبِحُواْ عَلَىٰ مَا فَعَلۡتُمۡ نَٰدِمِينَ ٦

“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesali perbuatanmu itu.” (al-Hujurat: 6)

Ayat yang mulia ini turun berkaitan dengan (kisah) al-Walid bin ‘Uqbah bin Abi Mu’ith, yang ia diutus oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Bani al-Musthaliq dari (kabilah) al-Khuza’ah untuk mengambil zakat harta mereka. Ketika Bani al-Musthaliq mendengar (kedatangannya), mereka menyambutnya dengan senang. (Akan tetapi), al-Walid justru takut kepada mereka dan menyangka mereka akan membunuhnya. Al-Walid pulang menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan melaporkan kepada beliau bahwa Bani al-Musthaliq menolak memberikan zakat dan (justru) ingin membunuhnya. (Setelah itu) datanglah utusan dari Bani al-Musthaliq menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengabarkan kepada beliau tentang kedustaan al-Walid. (Adhwaul Bayan, 7/626)

 

Menyikapi Berita Orang Fasik

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan bahwa di dalam ayat ini Allah ‘azza wa jalla tidak memerintahkan untuk menolak berita orang yang fasik dan mendustakan info dan persaksiannya secara mutlak. Hanyalah yang diperintahkan oleh Allah ‘azza wa jalla adalah mengecek kebenarannya.

Jadi, apabila ada indikasi dan bukti-bukti dari luar yang menunjukkan kebenaran berita tersebut, maka ia dipercaya karena ada bukti pembenarannya, seperti apa pun orang yang memberitakan. (at-Tafsir al-Qayyim, 441)

Demikian pula, tidak mengapa berita yang datang dari orang yang bisa dipercaya dilakukan penelitian, karena bisa saja orang yang dapat dipercaya terjadi darinya kekeliruan. Karena berita yang tersebar ada yang bisa dipertanggungjawabkan keotentikannya dan ada yang justru sebaliknya. Perlu kiranya kita mengetahui etika-etika pemberitaan yang sesuai dengan ajaran Islam. Lebih-lebih pemberitaan bisa memengaruhi kondisi suatu masyarakat, baik dari sisi agama maupun sisi dunianya.

Berikut etika pemberitaan ditinjau dari berbagai sisinya.

 

Pembawa Berita

Orang yang menyampaikan suatu berita adalah orang yang paham terhadap berita yang disampaikan dan mengetahui kebenaran info yang hendak disajikan, terlebih apabila yang diberitakan berkaitan dengan masalah agama.

Sebab, semua ucapan dan perbuatan hamba akan dimintai pertanggungjawabannya di sisi Allah ‘azza wa jalla, sebagaimana firman-Nya,

وَلَا تَقۡفُ مَا لَيۡسَ لَكَ بِهِۦ عِلۡمٌۚ إِنَّ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡبَصَرَ وَٱلۡفُؤَادَ كُلُّ أُوْلَٰٓئِكَ كَانَ عَنۡهُ مَسۡ‍ُٔولٗا ٣٦

“Dan janganlah kamu mengikuti (mengatakan) apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawabannya.” (al-Isra’: 36)

Al-Imam Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullah mengatakan sesuatu yang tidak diketahui oleh yang mengatakannya masuk di dalamnya: persaksian palsu, menuduh orang dengan tuduhan yang tidak benar, mengaku mendengar sesuatu yang dia tidak mendengarnya, dan mengakungaku melihat sesuatu (padahal) ia tidak melihatnya. (Tafsir ath-Thabari, 15/86)

Ketidakakuratan dalam menyampaikan permasalahan agama bisa berdampak luas seperti dihukuminya sesuatu yang halal menjadi sesuatu yang haram, demikian pula sebaliknya. Pembawa berita juga harus menjunjung tinggi amanat ilmiah, menetapi kejujuran, serta memiliki integritas yang tinggi sehingga ia tidak akan memotong berita untuk menimbulkan kekacauan di tengahtengah masyarakat atau memberikan informasi yang bertentangan dengan realita hanya ingin meraup keuntungan duniawiah.

Pembawa berita sebisa mungkin menggali berita dari sumber yang tepercaya dan dapat dipertanggungjawabkan di hadapan Allah ‘azza wa jalla kemudian di hadapan hukum yang adil yang berlaku. Adapun hanya sekadar sangkaan dan terkaan, maka hal ini berbahaya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Hati-hatilah kamu dari prasangka, karena prasangka adalah berita yang paling dusta.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

 

Memerhatikan Isi Berita

Tentu tidak semua info yang didengar oleh seseorang itu diberitakan karena belum tentu semuanya benar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

“Cukup seseorang dikatakan berdusta bila ia menceritakan semua apa yang ia dengar.” ( HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Yang diberitakan adalah sesuatu yang jelas kebenarannya serta membawa maslahat bagi manusia baik untuk urusan agama maupun urusan dunianya. Pada dasarnya, masyarakat membutuhkan informasi yang benar sehingga mereka akan memiliki sikap yang benar berdasarkan informasi yang telah mereka serap.

 

Menyikapi Berita

Berita ditinjau dari sumbernya, terbagi menjadi dua macam.

  1. Berita yang bersumber dari Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya, yang tertera dalam ayat-ayat suci al-Qur’an atau tersebut dalam hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia.

Berita-berita yang sumbernya adalah wahyu semacam ini harus kita yakini kebenarannya. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَمَنۡ أَصۡدَقُ مِنَ ٱللَّهِ حَدِيثٗا ٨٧

“Dan siapakah orang yang lebih benar perkataan(nya) daripada Allah?” (an-Nisa’: 87)

Cerita-cerita yang ada dalam al- Qur’an dan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang kuat tentang peristiwa di masa lalu bukanlah dongeng yang hampa dari makna. Di dalamnya terkandung pelajaran bagi orang-orang yang datang setelahnya. Demikian pula berita tentang beberapa hal yang akan terjadi nanti, sesuatu yang nyata terjadinya yang mempunyai maksud di antaranya sebagai berita gembira bagi orang yang taat kepada Allah ‘azza wa jalla serta ancaman bagi yang bermaksiat dan menentang.

 

  1. Berita-berita yang berasal dari manusia.

Berita yang seperti ini tidak selamanya kita yakini kebenarannya. Sebab, sumber-sumber pemberitaan dan media massa saat ini kebanyakan milik orang-orang kafir, fasik, dan orang-orang yang tidak mengenal agama. Orang-orang kafir tentu tidak suka dengan Islam dan kaum muslimin. Bahkan, mereka siap menggelontorkan dana guna menghalang-halangi manusia dari jalan Allah ‘azza wa jalla. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ يُنفِقُونَ أَمۡوَٰلَهُمۡ لِيَصُدُّواْ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِۚ

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah.” (al-Anfal: 36)

Oleh karena itu, kaum muslimin mesti waspada dari pemberitaan mereka yang berkaitan dengan Islam dan muslimin. Sebab, media massa yang mereka miliki dijadikan sarana untuk membuat kesan negatif seputar masalah keislaman. Belum lagi media-media yang dimiliki oleh orang fasik yang tidak lagi mengindahkan norma agama dan kesopanan. Sebagian mereka tidak peduli dengan keakuratan info yang ditebarkan, karena yang dicari hanyalah sensasi dan keuntungan.

Pendek kata, setiap media massa punya misi yang ingin ditebarkan melalui pemberitaan dan yang semisalnya. Sebagai bukti, ketika mengabarkan satu peristiwa, terkadang pemberitaan media tersebut bertolak belakang. Salah satu media memberikan penilaian positif, sementara media yang lain sebaliknya. Hal ini tentu membingungkan masyarakat. Pada tahap berikutnya, masyarakat menjadi korban pembodohan publik. Oleh karena itu, masyarakat seharusnya tidak mudah percaya dengan berita agar tidak menjadi korban dari pemberitaan yang menyesatkan.

 

Cara Pemberitaan

Beragam informasi tentang kejadian dan peristiwa yang ada di jagat raya ini, bahkan materi ilmiah sekalipun, tersampaikan kepada khalayak dalam beragam bentuk. Ada yang tersajikan dalam kemasan bahasa, mencakup lisan dan tulisan. Ada juga yang tersampaikan melalui bentuk gambar (visual) dan yang semisalnya.

Pembawa berita yang muslim tentu siap tunduk dengan aturan-aturan agama seputar pemberitaan dan yang lainnya. Di samping keakuratan data yang disiarkan, bahasa yang digunakan juga mudah dipahami sehingga tidak menimbulkan salah tafsir.

Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata, “Tidaklah kamu mengajak bicara suatu kaum yang akal/nalar mereka belum sampai kecuali akan timbul fitnah dari sebagian mereka.” (HR. Muslim)

Di antara kemungkaran dalam masalah pemberitaan adalah pemberitaan diiringi dengan alunan musik. Hal ini dilarang agama sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لَيَكُوْنَنَّ مِنْ أُمَّتِى أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّوْنَ الْحِرَ وَالْحَرِيْرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ

“Akan ada dari umatku orang yang menghalalkan perzinaan, sutra, khamr, dan alat-alat musik.” (HR. al-Bukhari secara mu’allaq, Ibnu Hibban, al-Baihaqi, dan lain-lain, lihat ash-Shahihah no. 91)

Hadits ini menunjukkan haramnya alat-alat musik. Adapun sutra, boleh dipakai untuk wanita sedangkan haram untuk kalangan lelaki.

Di antara kemungkaran yang lain berkaitan dengan pemberitaan ialah penyiarnya seorang wanita yang mendayu-dayukan suaranya sehingga menggoda para lelaki sehingga timbul syahwat yang diharamkan. Dalam pemberitaan di televisi dan media semisalnya, para penyiar wanita tampil memperlihatkan bagian tubuh yang tidak boleh dilihat oleh laki-laki yang bukan mahram. Mereka menampakkan perhiasan, dandanan, serta segala yang menimbulkan godaan dan membangkitkan syahwat yang diharamkan.

Asy-Syaikh Ibnu Baz berkata, “Saya tidak memandang bolehnya wanita menyamai lelaki dalam hal penyiaran karena suaranya yang merdu akan menyebabkan orang tergoda dengannya. Selain itu, bisa mengantarkan kepada berbaurnya wanita dengan pria saat perekaman acara dan menyepinya wanita dengan pria. Hal ini akan menyeret kepada maksiat.” (Fatawa Islamiah, 4/ 369)

Adapun pemberitaan dengan menampilkan gambar, perlu dirinci. Jika yang digambar bukan makhluk bernyawa, seperti gambar air, gunung, batu, dan semisalnya, hal ini dibolehkan. Adapun gambar makhluk yang bernyawa, telah datang ancaman yang keras tentang hal ini.

Dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْمُصَوِّرُوْنَ

“Sesungguhnya orang yang paling keras azabnya di hari kiamat adalah para tukang gambar.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata, “Apabila kamu mau tidak mau harus menggambar, buatlah (gambar) pohon dan apa-apa yang tidak ada ruhnya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Hukum larangan menggambar makhluk yang bernyawa ini mencakup menggambar dengan tangan, kamera, dan yang sejenisnya.

Disebutkan dalam Fatawa al-Lajnah ad-Daimah yang diketuai oleh asy-Syaikh bin Baz rahimahullah, “Menggambar makhluk yang bernyawa dengan kamera atau semisalnya hukumnya haram. Karena itu, orang yang melakukannya harus bertobat kepada Allah ‘azza wa jalla, meminta ampun kepada-Nya, menyesali perbuatan yang telah ia lakukan, dan tidak akan mengulanginya.” (1/670—671)

Adapun gambar/foto untuk membuat KTP, paspor, dan semisal, tidak mengapa karena sifatnya terpaksa dan dibutuhkan. Untuk lebih jelasnya, para pembaca yang budiman kami persilakan membaca Fatawa al-Lajnah ad-Daimah (1/660—724) yang membahas masalah gambar.

Dalam menampilkan berita, hendaknya dihindari ilustrasi yang menyesatkan, seperti menggambarkan azab api neraka dengan dibumbui ilustrasi api yang menyala-nyala. Sebab, perkara neraka adalah gaib.

 

Pemberitaan Tentang Situasi Politik

Di antara yang harus diperhatikan bahwa pemberitaan tentang situasi politik suatu negara diserahkan kepada para ulama dan pemerintah negeri setempat. Seseorang tidak boleh mengeluarkan statemen kondisi suatu negara tempat ia tinggal itu aman atau mencekam. Kita tahu bahwa hati manusia itu lemah dan mudah terpengaruh dengan pemberitaan yang menebar meskipun belum tentu kebenarannya.

Karena itu, pemberitaan tentang situasi politik suatu negara sangat berbahaya bila tidak diserahkan kepada yang berkompeten, yaitu para alim ulama dan pemerintah. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَإِذَا جَآءَهُمۡ أَمۡرٞ مِّنَ ٱلۡأَمۡنِ أَوِ ٱلۡخَوۡفِ أَذَاعُواْ بِهِۦۖ وَلَوۡ رَدُّوهُ إِلَى ٱلرَّسُولِ وَإِلَىٰٓ أُوْلِي ٱلۡأَمۡرِ مِنۡهُمۡ لَعَلِمَهُ ٱلَّذِينَ يَسۡتَنۢبِطُونَهُۥ مِنۡهُمۡۗ وَلَوۡلَا فَضۡلُ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ وَرَحۡمَتُهُۥ لَٱتَّبَعۡتُمُ ٱلشَّيۡطَٰنَ إِلَّا قَلِيلٗا ٨٣

“Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada rasul dan ulil amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (rasul dan ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah ‘azza wa jalla kepada kamu, tentulah kamu mengikut setan, kecuali sebagian kecil saja (di antaramu).” (an-Nisa’: 83)

Asy-Syaikh as-Sa’di berkata, “Ini adalah pengajaran (teguran) dari Allah ‘azza wa jalla untuk para hamba-Nya terhadap perbuatan mereka yang tidak pantas, yaitu bahwa yang seyogianya mereka lakukan bila datang kepada mereka suatu perkara (berita) yang penting dan maslahat umum terkait dengan kondisi aman dan menyenangkan kaum mukminin atau kondisi takut yang padanya ada musibah.

Hendaknya mereka mengecek terlebih dahulu kebenarannya dan tidak terburu-buru menyebarkan berita tersebut. Mereka seharusnya mengembalikan berita itu kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang-orang yang memegang kendali perkara/para penguasa, orang-orang yang jauh pandangannya, ahli pikir, berilmu, tulus, berakal, dan pandai; yang mengetahui masalah serta maslahat dan mudaratnya.

Apabila orang-orang tersebut memandang disebarkannya berita tersebut ada maslahatnya untuk menyemangati kaum mukminin, menyenangkan mereka, dan terjaganya mereka dari musuh; merekalah yang akan menyiarkannya.

Sebaliknya, jika mereka memandang penyebaran berita itu tidak ada maslahat atau ada maslahatnya namun mudaratnya lebih banyak, mereka tidak akan menyiarkannya.

Oleh karena itu Allah ‘azza wa jalla mengatakan,

لَعَلِمَهُ ٱلَّذِينَ يَسۡتَنۢبِطُونَهُۥ مِنۡهُمۡۗ

“Tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (rasul dan ulil Amri).” (an-Nisa: 83)

Maksudnya, mereka (para penguasa, ulama, dan pakar di bidangnya) bisa mengeluarkan pernyataan dengan pikiran dan pandangan mereka yang tepat serta dengan pengetahuan yang benar.

Di sini ada dalil tentang sebuah prinsip dalam masalah etika, yaitu apabila terjadi pembahasan tentang suatu perkara, sepantasnya diserahkan kepada yang berkompeten dan yang ahli serta tidak mendahului mereka. Sikap yang seperti ini lebih dekat kepada kebenaran dan lebih bisa selamat dari kekeliruan.

Padanya (juga) ada larangan dari sikap terburu-buru untuk menebarkan perkara di saat mendengarnya.

Padanya ada perintah untuk meneliti sebelum berbicara dan menimbang apakah padanya ada maslahat sehingga seorang akan melakukannya atau memandang tidak ada maslahatnya lalu ia menahan diri darinya?” (Tafsir as-Sa’di surat an-Nisa ayat 83)

 

Berhati-hati Menyebarkan Berita Kriminalitas

Sangat disayangkan, media massa saat ini umumnya menyuguhkan berita kriminal, kekejian, dan asusila secara vulgar. Berita kriminal memang banyak diminati oleh pembaca dan pemirsa. Akan tetapi, dampak buruk dari pemberitaan seperti ini sangat jauh. Di antaranya:

  1. Masyarakat akan menyikapi kriminalitas sebagai hal yang biasa karena seringnya berita seperti ini disuguhkan. Bahkan, berita seperti ini akan mendorong sebagian orang untuk melakukan kriminalitas karena memandang banyaknya orang yang melakukannya dan ringannya hukuman atas pelaku kejahatan yang terkadang diberikan.

Peran media semestinya tidak hanya sebatas menyiarkan berita, tetapi berusaha mencarikan solusi agar kriminalitas bisa diberantas habis atau setidaknya bisa ditekan. Adapun menyajikan berita kriminalitas hanya sebagai info yang menghibur, sungguh sangat bertentangan dengan norma agama.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

إِنَّ ٱلَّذِينَ يُحِبُّونَ أَن تَشِيعَ ٱلۡفَٰحِشَةُ فِي ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٞ فِي ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةِۚ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ وَأَنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ ١٩

        “Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (an-Nur: 19)

Al-Baghawi rahimahullah berkata, “Maksudnya adalah menampakkan dan menyiarkan perzinaan.” (Ma’alimut Tanzil, 3/333)

Kalau seperti ini hukuman orang yang ingin/suka untuk tersebarnya kekejian, lalu bagaimana kiranya orang yang menebarkannya?!

Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu berkata, “Orang yang (pertama) mengucapkan kekejian dan yang menebarkannya dosanya sama.” (Shahih al-Adab al-Mufrad no. 247)

Bahkan, ‘Atha rahimahullah berpendapat bahwa orang yang menebarkan berita perzinaan diberi hukuman sebagai pelajaran bagi yang lain. (Shahih al-Adab al-Mufrad no. 249)

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin ditanya, “Apa hukum orang yang menyiarkan berita yang menebar (isu) di antara manusia?”

Beliau menjawab, “Berita yang menebar itu ada dua macam: berita kebaikan dan berita kejelekan. Orang yang menebarkan sesuatu yang mengandung kebaikan di tengah manusia, seperti memberitakan kebid’ahan ahli bid’ah, ucapan seorang atheis, atau yang serupa agar diwaspadai, dia telah melakukan tindakan terpuji. Sebab, hal ini akan menjaga manusia dari kemungkaran tersebut.

Adapun orang yang menebarkan kejelekan agar kekejian tersebar di tengah kaum mukminin, yang seperti ini haram atasnya dan tidak halal, dikarenakan akan timbul kemudaratan yang bersifat khusus dan bersifat umum.

Seseorang seharusnya menyikapi/mempergauli manusia dengan sesuatu yang ia suka jika mereka mempergaulinya dengannya. Hendaknya seorang mencintai bagi mereka apa yang ia cintai untuk dirinya. Jika seseorang tidak suka cacatnya tersebar di tengah manusia, sebagai sikap yang adil ia juga tidak menebarkan cacat orang lain.” (Fatawa Ulama al-Balad al-Haram, hlm. 946)

Seperti diketahui bahwa yang namanya manusia itu tidak luput dari cacat dan kekurangan. Oleh karenanya, sudah menjadi kewajiban atas seorang muslim terhadap saudaranya se-Islam untuk menutupi cacatnya dan tidak menebarkannya kecuali dalam kondisi yang terpaksa.

Suka tersebarnya kekejian di tengah orang yang beriman memiliki dua makna.

  1. Suka tersebarnya kekejian di tengah masyarakat muslim. Misalnya, orang yang menayangkan film cabul dan menebarkan majalah/surat kabar yang porno dan buruk yang mendorong kepada pelacuran. Mereka ingin menggoda agama seorang muslim dengan tayangan tersebut. Berapa banyak kriminalitas terjadi di tengah masyarakat karena tayangan seperti ini.
  2. Suka tersebarnya kekejian pada seorang muslim secara khusus, bukan ditebarkan di tengah masyarakat secara umum.

Orang seperti ini juga diancam dengan azab yang pedih. (Diringkas dari penjelasan asy-Syaikh Ibnu Utsaimin dalam syarh Riyadhush Shalihin bab “Satru ‘Auratil Muslim”)

 

Berita Provokatif

Di antara macam pemberitaan yang menimbulkan dampak buruk yang sangat serius adalah pemberitaan yang mengangkat kejelekan pemerintah yang pembawa berita ada di negeri tersebut atau tidak.

Berita provokatif bisa menjadi pemicu munculnya gelombang perlawanan dan pemberontakan terhadap penguasa yang sah seperti yang terjadi akhir-akhir ini di beberapa negara di belahan bumi.

Akibat dari munculnya aksi perlawanan kepada pemerintah adalah hilangnya ketenteraman yang sebelumnya dirasakan segenap lapisan masyarakat. Rakyat saling curiga dengan penguasa yang bisa berujung saling menumpahkan darah.

Sangat disayangkan bahwa kebebasan berpendapat dijadikan tameng untuk tersebarnya berita provokatif ini. Padahal, sejatinya hal ini telah menabrak rambu-rambu agama dan bentuk kebebasan yang keterlaluan.

Semua kita tahu bahwa penguasa itu adalah manusia yang tidak luput dari kekeliruan dan kealpaan, sehingga mereka membutuhkan bimbingan dan nasihat. Akan tetapi, agama telah menjelaskan cara menasihati para penguasa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَرَادَأَنْ يَنْصَحَ لِذِى سُلْطَانٍ فَلَا يُبْدِهِ عَلَانِيَةً وَلَكِنْ يَأْخُذُ بِيَدِهِ فَيَخْلُوْبِهِ فَإِنْ قُبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ وَإِلَّاكَانَ قَدْأَدَّى الَّذِى عَلَيْهِ

“Barang siapa ingin menasihati penguasa, maka janganlah ia menampakkan secara terang-terangan. Akan tetapi, ia memegang tangannya lalu menyepi bersamanya. Bila nasihatnya diterima, maka itu yang diharapkan. Jika tidak, maka dia telah menunaikan yang menjadi kewajibannya.” (HR. Ibnu abi ‘Ashim dari ‘Iyadh bin Ghunmin radhiallahu ‘anhu. Asy-Syaikh al-Albani menyatakan hadits sahih dalam Zhilalul Jannah)

Dalam hadits ini disebutkan cara menasihati penguasa yaitu dengan sembunyi-sembunyi dan tidak terang-terangan di hadapan khalayak. Cara seperti ini tentu akan lebih bisa diterima daripada nasihat yang disampaikan dari atas mimbar, podium, atau surat terbuka untuk penguasa yang bisa diketahui khalayak.

Asy-Syaikh Ibnu Baz berkata, “Membeberkan kejelekan penguasa dan menyebutkannya di atas mimbar bukan cara salaf (pendahulu umat Islam yang baik). Sebab, cara yang seperti ini bisa mengarah kepada penggulingan kekuasaan, tidak didengar dan tidak ditaatinya penguasa dalam kebaikan dan akan menyeret kepada pemberontakan yang menimbulkan mudarat dan tidak mendatangkan kebaikan.

Akan tetapi, cara yang dilakukan oleh salaf adalah penyampaian nasihat antara ia dengan penguasa (secara sembunyi-sembunyi) dan menulis (nasihat) kepadanya atau menghubungi ulama mengenal baik penguasa agar ulama tersebut mengarahkan penguasa tersebut kepada kebaikan. (Mu’amalatul Hukkam hlm. 43, karya Abdus Salam Barjas)

 

Nasihat Bagi Wartawan

Seperti yang telah diketahui bersama bahwa pemberitaan disamping memberikan info yang mungkin dibutuhkan oleh masyarakat ia juga merupakan cara yang efektif untuk memengaruhi pandangan umum masyarakat dan sarana penggiringan opini.

Karena dampak yang luas dari pemberitaan, tentu para pewarta harus berhati-hati dalam memberikan info. Seorang wartawan muslim tentu memiliki jati diri yang berbeda dengan para wartawan yang nonmuslim. Wartawan muslim akan menjadikan tugas yang diembannya untuk membela Islam dan mengangkat kaum muslimin dari keterpurukan. Keimanannya kepada Allah ‘azza wa jalla dan hari pembalasan menjadikannya berhati-hati dalam berbuat dan berucap.

Berikut beberapa nasihat untuk para wartawan.

  1. Hendaknya yang mereka suguhkan adalah sesuatu yang bermanfaat baik dalam perkara dunia dan agama.
  2. Mengambil berita dari sumber yang tepercaya, bukan dari sumber yang tidak jelas kejujurannya apalagi hanya sekadar mendengar atau melihat tanpa melakukan penelitian lebih dalam.
  3. Menghindari pemberitaan yang sifatnya gosip dan kabar burung karena bisa mencemarkan nama baik seseorang tanpa ada bukti yang jelas. Perlu diketahui bahwa kehormatan pribadi seorang muslim itu dijaga oleh agama dan haram untuk dibicarakan tanpa ada alasan yang dibenarkan oleh agama.
  4. Mengemas berita dengan bahasa yang santun dan mudah dipahami. Yang terpenting menghindari kata atau kalimatyang bertentangan dengan agama. Hal ini bisa tercapai bila para wartawan mereka membekali diri mereka dengan ilmu agama. Jangan sampai karena sibuk dengan profesinya, mereka lupa dari menimba ilmu agama dan menjalankan ketaatan kepada Allah ‘azza wa jalla. Ingat, semua kita akan berpulang menghadap Allah ‘azza wa jalla dan akan meninggalkan dunia yang fana ini beserta kegemerlapannya.
  5. Waspada dari memberitakan sesuatu yang kontroversial, semata-mata hanya ingin mendapatkan keuntungan duniawi yang semu lagi menipu.

Jangan karena ingin menaikkan oplah atau mengangkat rating sehingga menabrak aturan agama dan tidak memedulikan kehormatan orang. Ingatlah, semua aktivitas kita akan dimintai pertanggungjawabannya di sisi Allah ‘azza wa jalla.

  1. Jangan tergesa-gesa menyiarkan berita karena kejar tayang atau ingin menampilkan yang unik sebelum segala sesuatunya diteliti dan dipikirkan lebih jauh.
  2. Di antara yang harus diwaspadai oleh wartawan adalah upaya pemerasan melalui pemberitaan seperti meminta sejumlah uang dari orang yang diketahui bahwa orang tersebut tersandung kasus.

Bila tidak ingin diberitakan kasusnya dan dibeberkan aibnya, dia harus memberikan sejumlah uang yang dimintai oleh wartawan. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَلَا تَأۡكُلُوٓاْ أَمۡوَٰلَكُم بَيۡنَكُم بِٱلۡبَٰطِلِ وَتُدۡلُواْ بِهَآ إِلَى ٱلۡحُكَّامِ لِتَأۡكُلُواْ فَرِيقٗا مِّنۡ أَمۡوَٰلِ ٱلنَّاسِ بِٱلۡإِثۡمِ وَأَنتُمۡ تَعۡلَمُونَ ١٨٨

“Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.” (al-Baqarah: 188)

Demikian pula seorang wartawan muslim tidak boleh menutup-nutupi hakikat berita yang harus disampaikan karena adanya iming-iming harta benda atau ditakut-takuti oleh sebagian pihak. Independensi wartawan muslim dan integritasnya diuji oleh hal seperti ini.

  1. Jadilah wartawan yang mampu menyuguhkan yang terbaik untuk manusia dan memberi kontribusi bagi umatnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ للِنَّاسِ

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bisa memberi manfaat bagi orang lain.” (Hadits hasan riwayat al-Qudha’i dari Jabir radhiallahu ‘anhu seperti yang disebutkan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahih al-Jami’)

  1. Berusahalah menjadi orang yang bisa membuka pintu harapan dan kebaikan dan mewaspadai menjadi sebab dibukanya pintu kejelekan melalui Anda.

Nabi bersabda, “Sesungguhnya di antara manusia ada orang yang menjadi pembuka kebaikan dan penutup kejelekan. Ada pula manusia orang yang menjadi pembuka kejelekan dan penutup kebaikan. Beruntunglah orang yang Allah ‘azza wa jalla jadikan kunci kebaikan melalui tangannya dan celakalah orang yang Allah ‘azza wa jalla jadikan kunci kejelekan melalui tangannya.” (HR. Ibnu Majah dari sahabat Jabir radhiallahu ‘anhu. Asy-Syaikh al-Albani menyatakan hasan dalam Shahih al-Jami’)

Berusahalah menjadi teladan dalam kebaikan sehingga pahala akan Anda dapat dari upaya Anda dan orang yang mengikuti Anda dalam kebaikan.

Wallahu alam.

 

Ditulis oleh Al-Ustadz Abdul Mu’thi Sutarman

Makar Orang Kafir Melalui Media Massa

Freedom of the Press. Ya, kebebasan pers. Bebas tanpa batas. Kalau pun ada batas, maka batas itu pun masih ditafsir bebas tiada berbatas.

Freedom of the Press. Deret kalimat ampuh untuk memayungi keberadaan media massa di tengah masyarakat dan di hadapan penguasa. Dengan slogan ‘Kebebasan Pers’ media massa bebas melakukan pemberitaan sesuai misinya. Ungkapan ‘Kebebasan Pers’ sendiri bila ditelisik bukan asli karya anak bangsa Indonesia. Ungkapan itu muncul bersumber dari Amandemen Pertama Konstitusi Amerika Serikat: “Congress shall make no law… abridging the freedom of speech, or of the press.” (Kongres dilarang membuat hukum… yang membatasi kebebasan berbicara atau pers).

Karena itu, tak aneh bila ‘Kebebasan Pers’ sangat kental beraroma Amerika. Lebih-lebih, lahirnya Undang-undang Pers No. 40/1999 di Indonesia tak lepas dari keterlibatan ahli hukum Article 19, Toby Mendel. Sisi lain, UU Pers No. 40/1999 melandasi dengan Pasal 19 UU HAM: “Setiap orang berhak atas kebebasan mempunyai dan mengeluarkan pendapat; dalam hal ini termasuk kebebasan mempunyai pendapat-pendapat dengan tidak mendapat gangguan, dan untuk mencari, menerima, dan menyampaikan keterangan-keterangan dan pendapat-pendapat dengan cara apa pun juga dengan tidak memandang batas-batas.” (Lihat Membincang Pers, Kepala Negara, dan Etika Media, Sirikat Syah, hlm. 3—4)

Lengkaplah sudah arti sebuah kebebasan. Bebas menerabas kultur masyarakat Indonesia yang banyak diwarnai norma agamis. Bebas tidak memandang batas-batas. Jadi, media massa pun bebas menyiarkan berita selama ada fakta. Tak memedulikan dampak berita itu di tengah masyarakat. Juga tak memedulikan asas kepatutan dan moral. Sebut saja, siaran televisi berisi talk show yang mengadu domba, sinetron yang menyesatkan dan membodohkan, atau sebuah acara yang menayangkan naluri dan perilaku rendah manusia digali dan diekspos (Lihat Membincang Pers, hlm.194), infotainment yang banyak membongkar aib, serta berita yang dikemas sesuai misi meraup dunia dan kekuasaan. Bahkan, tak sedikit yang terang-terangan menyajikan menu yang mengundang syahwat selera rendah.

Media massa telah menjadi alat untuk menyuarakan kebebasan yang tiada kendali. Walau dengan kebebasan itu bakal menimbulkan berbagai kerusakan di tengah masyarakat. Media massa semakin jauh dari kesantunan. Media massa menjadi pupuk penyubur para kapitalis tak berhati lurus.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

إِنَّ ٱلَّذِينَ يُحِبُّونَ أَن تَشِيعَ ٱلۡفَٰحِشَةُ فِي ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٞ فِي ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةِۚ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ وَأَنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ ١٩

“Sesungguhnya orang-orang yang menginginkan agar (berita) perbuatan yang keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (an-Nur: 19)

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah memberi penjelasan terkait ayat di atas bahwa yang dimaksud “menyukai penyebaran perbuatan keji (al-fahisyah) di kalangan orang-orang beriman” meliputi dua makna:

  1. Menyukai al-fahisyah tersebar di tengah kaum muslimin.

Terkait hal ini, menyebarkan beragam film cabul dan surat kabar (atau media lainnya –red.) yang jelek, jahat dan porno. Media-media semacam ini, tak diragukan lagi, merupakan media yang menyukai penyebaran al-fahisyah di tengah masyarakat muslimin. Mereka menghendaki timbulnya kerusakan agama pada diri seorang muslim. Tentunya, kerusakan itu timbul melalui sebab perbuatan mereka (yang menyebarkan al-fahisyah) melalui beragam majalah, surat kabar, dan media lainnya. Barang siapa menyukai al-fahisyah itu tersebar di tengah kaum muslimin, dia berhak untuk mendapatkan azab nan pedih di dunia dan akhirat.

  1. Menyukai al-fahisyah tersebar pada kalangan tertentu, bukan lingkup masyarakat Islam secara menyeluruh.

Balasan bagi yang berbuat demikian ialah diazab di dunia dan akhirat. (Syarhu Riyadhi ash-Shalihin, I/598)

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin menyebutkan pula bahwa musuh-musuh Islam dari kalangan Yahudi, Nasrani, musyrikin, komunis, dan para kaki tangannya sangat bersemangat menebarkan godaan wanita di tengah kaum muslimin. Mereka menyerukan tabarruj, mendedahkan aurat wanita, menghasung ikhtilat, mengajak pada kerusakan akhlak. Mereka dengan gencar menyuarakan semua itu melalui media yang mereka miliki, baik secara lisan maupun tulisan. Mereka mengetahui, ini merupakan godaan terbesar yang akan menjadikan manusia lupa kepada Rabb dan agamanya. Semua itu bisa terjadi melalui pintu godaan wanita. (Syarhu Riyadhi ash-Shalihin, 1/48)

Membincang fitnah wanita, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan perihal itu, sebagaimana diungkap hadits Usamah bin Zaid radhiallahu ‘anhu,

مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً هِيَ أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

Tiada fitnah sepeninggalku kelak yang lebih membahayakan (selain godaan) wanita terhadap laki-laki.” ( HR. al-Bukhari no. 5096, Muslim, no. 97)

Apa yang terjadi kini? Makar orang kafir untuk menghancurkan kaum muslimin di antaranya dengan memperalat kaum wanita. Lebih memprihatinkan lagi, banyak kaum muslimah tidak menyadari bahwa dirinya diperalat untuk kepentingan busuk orang-orang kafir. Hingga kaum muslimah berbondongbondong menjajakan diri, memamerkan kecantikan dan kemolekannya, guna dipasarkan oleh kaum kafir melalui media mereka. Nas’alullaha as-salaamah.

“Hendaknya, kita jangan tertipu oleh seruan orang-orang yang berbuat kejelekan dan kerusakan dari kalangan yang membebek orang-orang kafir. Mereka mengajak untuk berikhtilath (membaurkan antara wanita dan laki-laki). Sebab, sungguh itu ajakan setan. Wal ‘iyadzu billah,” demikian penjelasan asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al- ’Utsaimin rahimahullah.

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memerintahkan kaum wanita untuk menghadiri Shalat ‘Id di lapangan. Namun, tidak menyatukan (membaurkan) antara kaum wanita dan laki-laki. Para wanita dikumpulkan secara khusus di satu tempat yang terpisah dari kaum laki-laki,” kata beliau rahimahullah lebih jelas. (Syarhu Riyadhi ash-Shalihin, 1/674—675)

 

Propaganda ala Yahudi

Dalam lintasan sejarah terpatri nama Abdullah bin Saba. Sosok pria keturunan Yahudi kelahiran Kota Shan’a, Yaman. Hidupnya menampakkan seorang muslim, namun yang terpendam dalam hatinya; permusuhan dan kebencian nan sengit kepada Islam dan kaum muslimin. Hidupnya nomaden, selalu berpindah dari satu wilayah ke wilayah lainnya. Di setiap wilayah yang disinggahinya senantiasa menebarkan pemahaman sesatnya.

Abdullah bin Saba memompa masyarakat dengan propaganda licik. Menyemai permusuhan dalam tubuh umat agar membenci penguasa muslim, yaitu Khalifah Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu. Upaya menghasut kaum muslimin yang dilakukan Yahudi satu ini, digalang di beberapa daerah. Bashrah, Kufah, Syam, Hijaz, dan Mesir adalah lahan garap untuk menumbuhsuburkan kebencian umat kepada pemerintahan kaum muslimin.

Saat pergerakannya tidak menampakkan hasil yang memuaskan, sang Yahudi ini beralih menuju Mesir. Di tempat ini ia melancarkan makarnya. Penduduk Mesir dihasut. Ia tebar beragam informasi menyesatkan. Dalam tempo yang dirasa tepat, penduduk Mesir itu pun digerakkan menuju Kota Madinah.

Aksi provokasi Yahudi telah memerdaya umat. Kebencian, permusuhan, dan kemarahan telah menyelimuti. Mereka tiada segan untuk menekan dan melawan Amirul mukminin, sahabat mulia, menantu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang merupakan khalifah, Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu. Mata hati mereka telah terkunci. Hawa nafsu mencengkram kukuh, menggelapkan pandangan akal mereka. Terjadilah apa yang terjadi. Para demonstran mengepung kediaman Khalifah Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu. Suplai makanan dan minuman dihentikan. Khalifah beserta keluarga dikungkung.

Akhir dari konspirasi jahat ini, terbunuhlah Khalifah Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu. Tikaman pedang mengoyak tubuh sahabat mulia ini. Tetesan darah seorang syahid membasahi mushaf al-Qur’an. Tindak angkara murka telah menodai sejarah umat Islam. Melalui beragam media yang dikuasai, Abdullah bin Saba’ berhasil merekrut para pengikutnya untuk berbuat anarkis. Sebuah tindak zalim menjijikkan. Persekongkolan jahat telah membuahkan malapetaka. Kekacauan melingkupi umat. Semua tercatat dalam lembaran hitam kelam sejarah umat. Ingat, Yahudi di balik semua peristiwa bersimbah darah ini. (Lihat Mukhtashar Sirah ar-Rasul, asy-Syaikh Muhammad bin Abdilwahhab, hlm. 218)

Begitulah watak Yahudi. Lihai melakukan beragam hilah (tipu muslihat). Dahulu, kaum Yahudi melakukan hilah sebagai upaya menolak kebenaran. Mereka tak segan melakukan tipu muslihat dalam rangka menjaga kekufuran dan kesesatan yang diyakininya. Mereka lakukan tipu muslihat lantaran tak mampu secara kesatria dan terang-terangan menunjukkan hujahnya. Karena itu, seringkali mereka berbuat makar secara sembunyi-sembunyi.

Ketika Perang Badr usai, manusia berbondong-bondong memeluk Islam. Orang-orang Yahudi pun tak kuasa menghalanginya. Lalu, orang-orang Yahudi di Madinah membuat makar. Mereka ucapkan, “Masuklah Islam saat awal siang. Jika telah akhir siang, murtadlah kalian dari Islam. Katakan, ‘Kami tak memperoleh kebaikan dalam agama Muhammad.’ Niscaya orang akan mengikuti jejak kalian karena kalian ahli kitab.”

Makar Yahudi ini dibongkar Allah ‘azza wa jalla dalam firman-Nya,

وَقَالَت طَّآئِفَةٞ مِّنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِ ءَامِنُواْ بِٱلَّذِيٓ أُنزِلَ عَلَى ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَجۡهَ ٱلنَّهَارِ وَٱكۡفُرُوٓاْ ءَاخِرَهُۥ لَعَلَّهُمۡ يَرۡجِعُونَ ٧٢

“Sekelompok ahli kitab (kepada sesamanya) berkata, ‘Perlihatkanlah (seolah-olah) kalian beriman pada apa yang diturunkan kepada orang-orang yang beriman (sahabat-sahabat Rasul) pada permulaan siang dan ingkarilah ia pada akhirnya, supaya mereka (orang-orang mukmin) kembali (kepada kekafiran).” (Ali Imran: 72)

 

Makar Yahudi Kini

Yahudi kerap kali memanfaatkan media guna menyusupkan pemahamannya. Melalui media, disusupkanlah pemahaman-pemahaman yang mengagungkan kaum kafir. Diopinikan, seakan persenjataan dan kelengkapan militer orang-orang kafir itu canggih dan tak ada yang mampu menandinginya.

Propaganda melalui tayangan telivisi, misalnya, bisa berakibat menumbuhkan jiwa inferior (minder, merasa kecil dan tak berdaya) pada sebagian kaum muslimin di hadapan kaum kafir. Seakan-akan orang-orang kafir itu hebat, sedangkan kaum muslimin lemah. Seakan-akan kaum kafir itu unggul, sedangkan kaum muslimin tersisih.

Secara perlahan namun pasti, nilai-nilai itu tertanam dalam benak sebagian kaum muslimin. Mereka mengelu-elukan kehidupan orang-orang kafir, bahkan meniru gaya hidup mereka dan membuang ajaran Islam. Begitu dahsyat pengaruh media massa.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ لَوْ دَخُلُوا حُجْرَ ضَبٍّ لَدَخَلْتُمُوهُ. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى؟ قَالَ: فَمَنْ؟

Sungguh kalian akan mengikuti jejak orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Andai mereka masuk ke lubang dhab (binatang sejenis reptil), niscaya kalian akan mengikutinya. Ditanyakan, ‘Wahai Rasulullah, Yahudi dan Nasranikah?’ Jawabnya, ‘Siapa lagi?’” ( HR. al-Bukhari dan Muslim dari Abi Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhu)

Dunia film, sinetron, drama dengan segala bentuk aktingnya menjadi daya tarik. Sebagian kaum muslimin bahkan tergiur dengan pertunjukan akting tersebut. Lebih tragis, ada sekelompok aktivis dakwah yang melabelkan diri dengan sebutan “salaf” pun turut berakting. Melalui sarana televisi yang dikelolanya, mereka tayangkan bentuk-bentuk drama berdurasi pendek. Setapak demi setapak program siaran televisi yang dikelolanya telah membuka celah untuk mengikuti jejak Yahudi dan Nasrani.

Melalui tayangan televisi yang dikelola mereka terkuak pintu petaka. Di antara pemirsa yang sebagiannya para ibu, mulai tergoda. Para ibu muda belia yang masih bersuami ini mulai berceloteh tentang sang ustadz, tentang baju yang dikenakan sang ustadz, tentang sesuatu yang membangkitkan daya tarik.

Siapa yang bisa menjamin hati bisa tetap selamat? Siapa pula yang bisa menjamin bulir-bulir syahwat tak akan bersemi di lubuk hati terdalam?

Kala pintu fitnah itu dikuak semakin terbuka, saat itu rindu dan cinta membara. Syahwat pun menggelora. Nafsu bergejolak. Telah tiadakah kecemburuan di relung hati sang suami kala celoteh sang istri berucap tentang pria lain? Melalui televisi yang dikelolanya, mereka tengah menabur badai. Nas’alullaha as-salamah.

 

Propaganda ala Munafikin

Peristiwa itu terjadi setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pulang dari peperangan Bani Musthaliq. Adapun Bani Musthaliq itu sendiri merupakan salah satu nama kabilah dari rumpun kabilah Khuza’ah. Bani Musthaliq menetap di wilayah Qudaid, berdekatan dengan mata air al-Muraisi.

Setelah kaum muslimin berhasil menaklukan pasukan Bani Musthaliq, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta pasukan kaum muslimin pulang ke Madinah. Saat tiba di satu daerah dekat Madinah, beliau beserta pasukannya beristirahat. Turut dalam rombongan pasukan istri beliau, Aisyah radhiallahu ‘anha. Kala malam tiba, beliau dan pasukannya bergerak meninggalkan tempat itu menuju Madinah.

Namun, saat pasukan itu bergerak. Aisyah radhiallahu ‘anha tidak bersama mereka. Aisyah radhiallahu ‘anha tertinggal. Itu terjadi tatkala Aisyah radhiallahu ‘anha telah menunaikan keperluannya, lalu terasa kalungnya terjatuh. Maka, ia pun segera kembali ke tempat tadi untuk mencari kalungnya. Akhirnya, setelah dicari, kalung itu pun ditemukannya. Ia pun bergegas kembali ke rombongan pasukan. Namun, ternyata rombongan pasukan telah berangkat menuju Madinah. Aisyah radhiallahu ‘anha tertinggal.

Lantas Aisyah radhiallahu ‘anha berdiam diri di tempatnya semula. Harapannya, rombongan pasukan yang bersamanya mengetahui kalau dirinya tertinggal lalu kembali ke tempat itu. Saat menunggu, Aisyah radhiallahu ‘anha tertidur.

Dalam waktu bersamaan, ada juga seorang sahabat bernama Shafwan bin al-Mu’aththal as-Sulami radhiallahu ‘anhu tertinggal dari pasukannya. Ia tertinggal lantaran tertidur dan tidak diketahui oleh anggota pasukan lainnya. Maka, ketika ia bergerak mengejar rombongan pasukan, Shafwan radhiallahu ‘anhu melihat sesuatu. Ia dekati. Ternyata, yang ada di hadapannya adalah Aisyah radhiallahu ‘anha.

Saat itu perintah berhijab belum turun sehingga Shafwan radhiallahu ‘anhu mengenali bahwa itu adalah Aisyah radhiallahu ‘anha. “Inna lillaahi wa inna ilaihi raji’uun, seorang istri Rasulullah?” Kata-kata itu terucap olehnya.

Aisyah radhiallahu ‘anha pun terbangun lalu menutupkan jilbab ke wajahnya.

Shafwan pun mendekatkan untanya. Setelah Shafwan dudukkan binatang tunggangannya, Aisyah radhiallahu ‘anha pun menaikinya. Shafwan berjalan di depan binatang tunggangannya seraya memegang tali kendali. Ia berjalan cepat tanpa berkata sepatah kata pun. Hingga kemudian dirinya berhasil mengejar rombongan pasukan di satu daerah bernama Nahru azh-Zhahirah.

Abdullah bin Ubay, sang munafik, melihat hal itu. Akal busuknya langsung bergerak. Kebenciannya nan memuncak mendapat angin untuk dimuntahkan. Ia langsung mencari informasi. Menampung beragam berita. Menyebarkannya. Dengan gencar provokasi dilancarkan. Tuduhan keji pun dilontarkan. Aisyah radhiallahu ‘anha dituduh melakukan maksiat. Masyarakat pun goncang. Bara telah menyala.

Keadaan runyam di tengah kaum muslimin tentu menyenangkan orang-orang munafik di Madinah. Kesempatan untuk menggunjing rumah tangga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertambah menguat. Fitnah berkecamuk.

Namun, makar orang-orang munafik itu hancur berserak setelah wahyu turun. Aisyah radhiallahu ‘anha dinyatakan suci bersih. Tuduhan keji tiada terbukti. Bahkan, Allah ‘azza wa jalla mengancam para penyebar berita dusta nan keji dengan ancaman mengerikan. Firman-Nya,

إِنَّ ٱلَّذِينَ جَآءُو بِٱلۡإِفۡكِ عُصۡبَةٞ مِّنكُمۡۚ لَا تَحۡسَبُوهُ شَرّٗا لَّكُمۖ بَلۡ هُوَ خَيۡرٞ لَّكُمۡۚ لِكُلِّ ٱمۡرِيٕٖ مِّنۡهُم مَّا ٱكۡتَسَبَ مِنَ ٱلۡإِثۡمِۚ وَٱلَّذِي تَوَلَّىٰ كِبۡرَهُۥ مِنۡهُمۡ لَهُۥ عَذَابٌ عَظِيمٞ ١١

“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kalian juga. Janganlah kalian kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kalian, bahkan itu ada baiknya (hikmahnya) bagi kalian. Tiap-tiap seorang dari mereka mendapatkan balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian terbesar dalam menyiarkan berita bohong itu, maka baginya siksa yang besar.” (an-Nur: 11)

 

Upaya Menghancurkan Agama Allah ‘azza wa jalla

Orang-orang kafir dan munafik tiada henti untuk menghancurkan agama Allah ‘azza wa jalla. Semenjak dahulu hingga sekarang makar itu terus berlangsung. Mereka hendak memadamkan cahaya Islam melalui beragam media yang dimilikinya. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

يُرِيدُونَ لِيُطۡفِ‍ُٔواْ نُورَ ٱللَّهِ بِأَفۡوَٰهِهِمۡ وَٱللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِۦ وَلَوۡ كَرِهَ ٱلۡكَٰفِرُونَ ٨

“Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut-mulut (ucapan-ucapan) mereka, tetapi Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir membencinya.” (ash-Shaf: 8)

Untuk menghancurkan akhlak kaum muslimin, orang-orang kafir, dan munafik merancang strategi dengan menerbitkan majalah, tabloid, surat kabar, dan media audio-visual, seperti televisi, yang menyuguhkan kisah-kisah berselera rendah. Menampilkan gambar-gambar seronok. Menyajikan informasi yang membangkitkan birahi.

Sementara itu, dalam dunia sosial politik ditebar beragam berita yang merendahkan penguasa, bahkan mencela dan mencacatnya. Walau pun mereka membungkusnya dengan kemasan kata “mengkritisi” atau dengan bahasa “pers sebagai alat kontrol sosial”.

Dampak dari media semacam ini, masyarakat terdidik untuk suka mencela pemerintah. Padahal tindakan demikian bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

مَنْ أَهَانَ سُلْطَانَ اللهِ فِي الْأَرْضِ أَهَانَهُ اللهُ

Barang siapa yang merendahkan (menghina, mencela) penguasa Allah ‘azza wa jalla di muka bumi, Allah ‘azza wa jalla akan merendahkan (menghinakan)nya.” (HR. at-Tirmidzi, no. 2224, dinyatakan hasan oleh asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam ash-Shahihah, no. 2296)

Demikian pula sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحُ لِسُلْطَانٍ بِأَمْرٍ فَلاَ يُبْدِ لَهُ عَلَانِيَةً وَلَكِنْ لِيَأْخُذْ بِيَدِهِ فَيَخْلُوَ بِهِ، فَإِنْ قُبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ وَإِلاَّ كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ

Barang siapa ingin menasihati penguasa karena satu perkara, hendaknya jangan melakukannya di hadapan publik (secara terbuka). Akan tetapi, lakukanlah dengan cara mengambil tangannya lantas (menasihatinya) di tempat tersembunyi bersamanya (tidak dipublikasikan). Jika ia menerima (nasihat)nya, itulah (yang diharap). Jika tidak menerima nasihatnya, sungguh nasihat itu telah sampai kepadanya.” (HR. Ahmad dari Syuraih bin Ubaid radhiallahu ‘anhu)

Adapun untuk menebar kerancuan memahami Islam, sejumlah media telah getol menyuguhkannya. Pemahaman Islam Liberal, Syiah, Mu’tazilah dijajakan dalam beragam bentuk, baik secara terang-terangan maupun melalui cara halus tersembunyi. Bahkan, ada sebuah terbitan yang menyediakan halaman khusus.

Selain itu, media pun kerapkali menggiring masyarakat untuk membenci dan tak menyukai orang-orang yang menampakkan syiar-syiar keislaman. Peristiwa terorisme dijadikan kuda tunggangan untuk menghantam orang-orang yang berpegang teguh kepada Islam yang benar. Tak sedikit media yang tak mampu membedakan siapa teroris dan siapa yang benar-benar mengamalkan Islam secara baik dan benar. Satu contoh, tuduhan Wahabi identik terorisme seringkali dilontarkan media. Padahal, bila ditelisik, pengelola media itu sendiri tidak memahami sejatinya apa dan bagaimana Wahabi itu. Tragis!

Kini, tampak di hadapan kita betapa banyak anggota masyarakat yang tak mengindahkan bimbingan Islam yang mulia ini. Senyatanya, inilah yang dikehendaki orang-orang kafir dan munafik. Mereka menghendaki agar ajaran Islam ditinggalkan oleh umatnya. Dengan begitu Islam tiada menyinari kehidupan manusia. Begitulah makar orang-orang kafir dan munafik. Wal ‘iyadzu billah.

Namun, yang menjaga Islam adalah Allah ‘azza wa jalla. Kesucian dan keberadaannya dipelihara Allah ‘azza wa jalla. Betapa pun busuk makar orang-orang kafir dan munafik, Allah ‘azza wa jalla tetap akan menampakkan yang benar itu benar dan yang salah itu salah. Kebenaran akan tetap tampak walau orang-orang kafir, munafik, musyrik membencinya.

هُوَ ٱلَّذِيٓ أَرۡسَلَ رَسُولَهُۥ بِٱلۡهُدَىٰ وَدِينِ ٱلۡحَقِّ لِيُظۡهِرَهُۥ عَلَى ٱلدِّينِ كُلِّهِۦ وَلَوۡ كَرِهَ ٱلۡمُشۡرِكُونَ ٩

“Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar, untuk memenangkannya di atas segala agama meskipun orang-orang musyrik membencinya.” (ash-Shaf: 9)

Hati-hati memilih media. Sebab, hal ini menyangkut keselamatan agama yang ada pada kita.

Allahu a’lam.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abul Faruq Ayip Syafruddin