Islam Diantara Hantaman Badai Peradaban Kuffar

Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

        لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ، حَتَّى لَوْ سَلَكُوْا جُحْرَ ضَبٍّ لَسَلَكْتُمُوْهُ. قُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، الْيَهُوْدَ وَالنَّصَارَى؟ قَالَ: فَمَنْ؟

Kalian sungguh-sungguh akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sampai seandainya mereka masuk ke lubang dhabb (binatang sejenis biawak), niscaya kalian akan masuk pula ke dalamnya.

Kami tanyakan, “Wahai Rasulullah, apakah mereka yang dimaksud itu adalah Yahudi dan Nasrani?”

Beliau berkata, “Siapa lagi kalau bukan mereka?”

Hadits yang mulia di atas diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya, kitab Ahaditsul Anbiya, bab “Ma Dzukira ‘an Bani Israil” (no. 3456) dan Kitab al-I‘tisham bil Kitab was-Sunnah, bab “Qaulin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ‘Latattabi‘unna sanana man kana qablakum’.” (no. 7320) dan al-Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab al-‘Ilmi (no. 2669) dan diberi judul bab oleh al-Imam an-Nawawi dalam kitab syarahnya terhadap Shahih Muslim, bab “Ittiba‘u Sananil Yahudi

wan Nasrani”.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda yang senada dengan hadits di atas dalam hadits yang dibawakan oleh Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu,

لاَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتَّى تَأْخُذَ أُمَّتِي بِأَخْذِ الْقُرُوْنِ قَبْلَهَا شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ. فَقِيْلَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ كَفَارِسَ وَالرُّوْمِ؟ فَقَالَ: وَمَنِ النَّاسِ إِلاَّ أُولَئِكَ؟

“Tidak akan tegak hari kiamat sampai umatku mengambil jalan hidup umat sebelumnya sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta.”

Ditanyakan kepada beliau, “Wahai Rasulullah, seperti Persia dan Romawi?[1]

Beliau menjawab, “Siapa lagi dari manusia kalau bukan mereka?” (HR. al-Bukhari no. 7319)

Pengabaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam dua hadits yang mulia di atas merupakan tanda dan bukti tentang kebenaran nubuwwah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta merupakan mukjizat beliau yang dzahir karena telah tampak dan telah terjadi apa yang beliau beritakan tersebut. (Syarah Shahih Muslim, 16/219, Kitabut Tauhid, hlm. 26, asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab)

Lebih khusus lagi bila kita menyaksikan keadaan kaum muslimin di zaman kita ini, kebiasaan menyerupai dan meniru orang Barat yang notabene mereka itu adalah orang-orang kafir dari kalangan Yahudi dan Nasrani, merupakan fenomena yang biasa namun menyakitkan dan menyedihkan. Dengan budaya penjajah ini, kalangan muda maupun orang-orang tua dari kaum muslimin seakan merasa minder dan rendah derajatnya bila tidak sama dengan gaya hidup, model, dan budaya orang-orang kafir (peradaban kuffar). Sebaliknya, mereka merasa bangga dan sangat percaya diri bila mana mereka dapat “tampil sama” atau paling tidak sekedar mirip dengan orang-orang kafir.

Budaya “yang penting dari Barat” dan “asal sama dengan Barat” ini telah mencengkeram kehidupan kaum muslimin dari kalangan orang-orang metropolitan, merambah sampai ke pedesaan dan pedusunan yang terpencil bagaikan sebuah revolusi peradaban yang telah disiapkan oleh orang-orang kafir sehingga semua yang datang dari Barat mereka anggap baik dan diterima dengan penuh ketundukan. Ibaratnya mereka berkata sami’na wa atha’na (kami mendengar dan kami taat), baik itu cara berpakaian, cara bergaul, cara makan, cara berbicara, gaya hidup, dan sebagainya.

Budaya-budaya impor yang diobral orang-orang Barat lewat media massa baik di televisi yang merupakan da’i yang paling berhasil di sisi mereka ataupun lewat ekspos kehidupan artis-artis mereka yang laku keras diterima oleh kaum muslimin yang maghru (tertipu) dan buta mata hatinya dari semua lapisan. Jangankan mereka yang dikatakan bodoh terhadap agamanya, orang yang dianggap tahu agama pun ikut jadi korban.

Sufyan Ibnu ‘Uyainah rahimahullah dan yang lainnya dari kalangan salaf berkata, “Sungguh orang yang rusak dari kalangan ulama kita, karena penyerupaannya dengan Yahudi. Orang yang rusak dari kalangan ahli ibadah kita, karena penyerupaannya dengan Nasrani.” (Iqtidha’ ash-Shirathil Mustaqim, hlm. 23—23)

Gelombang badai yang besar ini menghantam segala apa yang ada di hadapannya dan membawa korban yang besar. Wallahu al-Musta‘an wa ilallahi al-Musytaka (Hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala kita meminta tolong dan mengadu).

Sungguh benar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menyatakan umat beliau akan meniru dan menyerupai umat terdahulu, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Karena saking ingin sama dan serupanya dengan peradaban kafirin, bila diibaratkan umat terdahulu masuk ke lubang dhabb yang sedemikian sempit, maka umat ini pun akan masuk pula ke dalamnya. Nas’alullah as-Salamah wal ‘Afiyah (hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala kita memohon keselamatan).

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah menyatakan, “Dalam hadits di atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhususkan penyebutan lubang dhabb karena lubangnya sangat sempit. Namun bersamaan dengan itu umat beliau akan mengambil jejak umat terdahulu dan mengikuti jalan mereka, walaupun seandainya mereka masuk ke lubang yang sesempit itu niscaya umat ini akan tetap mengikutinya.” (Fathul Bari, 6/602)

Yang dimaksud dengan sejengkal, sehasta dan penyebutan lubang dhabb dalam hadits ini adalah untuk menggambarkan betapa semangatnya umat ini mencocoki umat terdahulu dalam penyelisihan dan maksiat, mencontoh mereka dalam segala sesuatu yang dilarang dan dicela oleh syariat. (Syarah Shahih Muslim, 16/219, Fathul Bari, 13/313)

Ibnu Baththal rahimahullah berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitahukan bahwa umat beliau akan mengikuti perkara-perkara baru (yang diada-adakan), bid’ah, dan hawa nafsu, sebagaimana terjadi pada umat-umat sebelum mereka. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan hal ini dalam hadits yang banyak bahwasanya di akhir zaman akan ada kejelekan. Hari kiamat tidak akan datang kecuali pada sejelek-sejelek manusia dan agama ini hanya tetap tegak di sisi orang-orang yang khusus.”[2] (Fathul Bari, 13/314)

Dalam hadits Abu Said al-Khudri radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut Yahudi dan Nasrani, sedangkan dalam hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut Persia dan Romawi. Karena memang Romawi identik dengan Nasrani, sementara di kalangan bangsa Persia ada orang Yahudi. Namun dimungkinkan pula Rasulullah memberikan jawaban sesuai dengan tempatnya, yakni dalam perkara yang berkaitan dengan hukum di antara manusia dan politik kemasyarakatan, umat ini akan mengikuti Persia dan Romawi. Dalam perkara yang berkaitan dengan agama yang pokok maupun yang cabangnya, umat ini akan mencontoh Yahudi dan Nasrani. (Fathul Bari, 13/314)

Keharusan Menyelisihi Kuffar dan Tercelanya Tasyabbuh

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam nyatakan dalam sabda beliau,

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ

“Kalian sungguh-sungguh akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian.”

Tidaklah dimaksudkan beliau memberikan pengesahan dan penetapan tentang bolehnya hal tersebut, namun justru yang beliau inginkan adalah memberi tahdzir (peringatan) dari mengikuti orang kafir dalam perkara kesesatan dan penyimpangan. (al- Qaulul Mufid, 1/202, I’anatul Mustafid, 1/224)

Ketika para sahabat radhiallahu ‘anhum yang baru masuk Islam ketika Fathu Makkah ingin ber-tabarruk (mencari berkah) dengan pohon, beliau mengingkari dengan keras dan menyatakan bahwa ucapan mereka menyerupai dan persis dengan ucapan bani Israil yang minta sesembahan (ilaah) kepada Nabi Musa ‘alaihissalam. Setelah itu, beliau mengabarkan bahwa umat beliau akan mengikuti jalannya umat terdahulu.

Abu Waqid al-Laitsi radhiallahu ‘anhu berkata, “Kami keluar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menuju Hunain sementara kami ketika itu baru saja meninggalkan kekufuran—mereka baru berislam ketika Fathu Makkah.”

Abu Waqid berkata setelah itu, “Lalu kami melewati sebuah pohon, kami pun berkata, ‘Wahai Rasulullah, buatkanlah untuk kami Dzatu Anwath[3] sebagaimana mereka (orang-orang kafir musyrikin) memiliki Dzatu Anwath yang berupa sebuah pohon, tempat mereka beri’tikaf (berdiam) di sekitarnya dan menggantungkan senjata-senjata mereka pada pohon tersebut.’ Mendengar permintaan kami seperti itu, bersabdalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

اللهُ أَكْبَرُ وَقُلْتُمْ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِكَمَا قَالَتْ بَنُو إِسْرَائِيْلَ لِمُوْسَى: اِجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُم آلِهَةٌ. قَالَ: إِنَّكُم قَوْمٌ تَجْهَلُوْنَ لَتَرْكَبُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ

‘Allah Mahabesar![4] Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kalian telah berucap sebagaimana ucapan bani Israil kepada Musa: (‘Buatkanlah untuk kami ilaah sebagaimana mereka memiliki ilaah-ilaah.’ Musa pun berkata, ‘Sesungguhnya kalian ini adalah orang-orang yang bodoh.’)[5]. Sungguh-sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian.’ (HR. Ahmad dalam Musnad-nya, 5/218, at-Tirmidzi, 6/343, Ibnu Abi ‘Ashim dalam as- Sunnah, no. 76, berkata asy-Syaikh al-Albani dalam Zhilalul Jannah fi Takhrijis Sunnah, “Isnadnya hasan.”)

Dalam kisah di atas jelas sekali bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan demikian dalam rangka peringatan dan pengingkaran beliau bila umat beliau mengikuti umat terdahulu. Asy-Syaikh Sulaiman bin Abdillah rahimahullah berkata, “Di sini ada larangan dari perbuatan tasyabbuh dengan orang-orang jahiliah dari kalangan ahlul kitab dan musyrikin.” (Taisir al-‘Azizil Hamid, hlm. 143)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “(Hadits) ini merupakan pengabaran tentang akan terjadinya perkara tersebut dan celaan bagi orang yang melakukannya. Hal ini seperti pengabaran beliau tentang apa yang akan dilakukan manusia menjelang datangnya hari kiamat sebagai tanda-tanda kiamat dan perbuatan-perbuatan mereka nantinya berupa perkara-perkara yang diharamkan.

Dengan demikian diketahui, penyerupaan (tasyabbuh) umat ini dengan Yahudi dan Nasrani serta Persia dan Romawi termasuk perkara yang dicela oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya.” (Iqtidha’ Ash-Shirathil Mustaqim, hlm. 77)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah bersabda sebagai peringatan dari menyerupai suatu kaum,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Siapa yang tasyabbuh (menyerupai) suatu kaum maka ia termasuk dari kaum tersebut.” (HR. Abu Dawud no. 3012, dinyatakan hasan oleh asy-Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Hijabul Mar’ah hlm. 104 dan al-Irwa no. 1269)

Al-Qari rahimahullah berkata, “Siapa yang menyerupai orang-orang kafir, fasik, fajir (jahat), pengikut tashawwuf, atau menyerupai orang yang berbuat kebaikan semisal dalam berpakaian dan selainnya, (maka ia termasuk mereka) yakni dalam dosa ataupun dalam kebaikan.” (‘Aunul Ma’bud, 11/51)

Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Apa yang menimpa sebagian kaum muslimin berupa perkara-perkara yang jelek lagi mengerikan, mayoritas terjadi dikarenakan tasyabbuh dengan kuffar. Semisal kesyirikan yang terjadi di Makkah, awalnya disebabkan karena tasyabbuh dengan kuffar.” (I’anatul Mustafid, 1/220)

Merupakan sifat beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengubah kemungkaran apabila beliau melihatnya dan menyerukan kepada yang ma‘ruf dan menganjurkannya apabila beliau mengetahuinya. Ketika ada perkara mungkar baik itu maksiat, kesyirikan, ataupun kekufuran, beliau pasti mengingkarinya. Di antara pengingkaran itu adalah, beliau paling tidak suka bila ada satu perkara yang dilakukan oleh kaum muslimin menyepakati atau menyerupai orang-orang kafir. Hal tersebut salah satunya bisa kita lihat dalam peristiwa disyariatkannya adzan.

Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma berkata, “Kaum muslimin ketika telah menetap di Madinah, mereka berkumpul dan memperkirakan datangnya waktu shalat dan ketika itu belum ada seruan untuk shalat (belum ada azan). Suatu hari mereka membicarakan hal tersebut. Sebagian mereka berkata, ‘Ambillah lonceng (dibunyikan sebagai tanda seruan untuk shalat) seperti loncengnya Nasrani.’ Yang lain berkata, ‘Gunakan terompet seperti terompetnya Yahudi.’

‘Umar berkata, ‘Apakah tidak sebaiknya kalian mengutus seseorang untuk memanggil manusia agar berkumpul untuk shalat?’

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Wahai Bilal, bangkitlah, serukan azan untuk shalat’.” (HR. al-Bukhari no. 604 dan Muslim no. 277)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyukai terompet Yahudi yang ditiup dengan mulut dan lonceng Nasrani yang dipukul dengan tangan, karena meniup terompet dan membunyikan lonceng itu merupakan perbuatan orang Yahudi dan Nasrani. Hal ini menunjukkan larangan beliau dari seluruh perkara yang merupakan kebiasaan Yahudi dan Nasrani. (Iqtidha ash-Shirathil Mustaqim, hlm. 189)

 

Faedah

Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Adapun dalam perkara-perkara yang mubah maka tidak masalah mengambilnya (dari selain muslimin). Kita boleh mengambil pengetahuan-pengetahuan yang bermanfaat dari musyrikin. Demikian juga barang-barang dagangan dan persenjataan. Perkara-perkara ini sebetulnya asalnya untuk kita. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

قُلۡ مَنۡ حَرَّمَ زِينَةَ ٱللَّهِ ٱلَّتِيٓ أَخۡرَجَ لِعِبَادِهِۦ وَٱلطَّيِّبَٰتِ مِنَ ٱلرِّزۡقِۚ قُلۡ هِيَ لِلَّذِينَ ءَامَنُواْ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا خَالِصَةٗ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِۗ

Katakanlah, ‘Siapakah yang mengharamkan perhiasan Allah yang Dia keluarkan untuk hamba-hamba-Nya dan (siapakah yang mengharamkan) yang baik-baik dari rezeki?’ Katakanlah, ‘Perhiasan dan yang baik-baik dari rezeki ini diperuntukkan bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan khusus bagi mereka nantinya pada hari kiamat.’ (al-A’raf: 32)

Perkara-perkara yang bermanfaat asalnya diperuntukkan bagi kaum muslimin. Namun ketika kaum muslimin bermalas-malasan dan bermusuh-musuhan, mereka pun mengambil bagiannya. Dengan begitu tidak ada penghalang bagi kaum muslimin untuk mengambil perkara-perkara yang bermanfaat tersebut, dan ini bukanlah termasuk tasyabbuh. Karena yang dinamakan tasyabbuh hanyalah mengikuti mereka dalam perkara-perkara yang tidak ada faedahnya dan tidak ada nilainya, atau mengikuti mereka dalam perkara-perkara yang termasuk dalam ibadah, akidah, dan agama.” (I‘anatul Mustafid, 1/224)

 

Kekokohan Islam

Islam bagaikan mercusuar yang menerangi dan memberi petunjuk kepada kapal-kapal di tengah samudra di malam yang kelam dan pekat sehingga kapal-kapal tersebut bisa terarahkan dan terbimbing di dalam pelayarannya. Kapal yang mau mengambil penerangan dan petunjuknya, akan selamat berlayar di tengah lautan. Namun bagi yang enggan akan memperoleh hasil kebinasaannya.

Walaupun dengan keberadaannya di tengah samudra, mercusuar tidak luput dari hantaman badai dan gelombang samudra yang begitu keras dan dasyhat, namun ia tetap kokoh berdiri, memberikan cahayanya untuk kemanfaatan. Demikian juga gambaran Islam, walaupun ia terus dihantam badai dan gelombang yang dahsyat dari musuh-musuhnya dengan segala makar yang ditujukan untuk meruntuhkannya, namun ia tetap kokoh berdiri dengan sinarnya yang tetap menerangi. Hal ini tentunya karena Allah subhanahu wa ta’ala lah yang menyempurnakan cahaya Islam tersebut.

        يُرِيدُونَ لِيُطۡفِ‍ُٔواْ نُورَ ٱللَّهِ بِأَفۡوَٰهِهِمۡ وَٱللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِۦ وَلَوۡ كَرِهَ ٱلۡكَٰفِرُونَ ٨

“Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut-mulut mereka namun Allah terus menyempurnakan cahaya-Nya walaupun orang-orang kafir itu benci (tidak menyukainya).” (ash-Shaff: 8)

Sungguh, siapa yang mengambil petunjuk Islam, ia akan selamat. Sebaliknya, siapa yang meninggalkan dan tidak memerhatikan Islam, ia akan celaka dan binasa. Namun, mengambil petunjuk Islam itu haruslah secara keseluruhan, tidak hanya mengambil sebagian dan meninggalkan sebagian yang lain. Hal ini tidak akan menyelamatkan. Oleh karena itu, Allah subhanahu wa ta’ala menyatakan,

ٱدۡخُلُواْ فِي ٱلسِّلۡمِ كَآفَّةٗ

“Masukkanlah kalian ke dalam Islam secara kaffah (keseluruhan).” (al-Baqarah: 208)

Islam pun tetap akan berdiri kokoh selamanya hingga akhir zaman, tidak akan runtuh dengan perjalanan waktu, yang demikian ini karena Allah subhanahu wa ta’ala yang memberikan jaminan terhadap penjagaannya yang sejalan dengan penjagaan Allah subhanahu wa ta’ala terhadap kitab suci agama ini (al-Qur’an) sebagaimana firman-Nya:

إِنَّا نَحۡنُ نَزَّلۡنَا ٱلذِّكۡرَ وَإِنَّا لَهُۥ لَحَٰفِظُونَ ٩

“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan adz-Dzikra dan Kami pula yang akan menjaganya.” (al-Hijr: 9)

Demikian pula Allah subhanahu wa ta’ala memberikan jaminan terhadapnya dengan mendatangkan dan memilih para penjaga agama-Nya dari kalangan hamba-hamba- Nya yang saleh yang selalu membela agama-Nya, sebagaimana Dia Yang Mahasuci berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَن يَرۡتَدَّ مِنكُمۡ عَن دِينِهِۦ فَسَوۡفَ يَأۡتِي ٱللَّهُ بِقَوۡمٖ يُحِبُّهُمۡ وَيُحِبُّونَهُۥٓ أَذِلَّةٍ عَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى ٱلۡكَٰفِرِينَ يُجَٰهِدُونَ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوۡمَةَ لَآئِمٖۚ

“Wahai orang-orang yang beriman, siapa yang murtad dari agamanya di antara kalian, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Dia cintai dan mereka pun mencintai-Nya. Mereka itu merendahkan diri dan lemah lembut terhadap kaum mukminin dan bersikap keras terhadap orang-orang kafir. Mereka berjihad di jalan Allah dan tidak takut celaan si pencela.” (al-Maidah: 54)

Demikian pula Rasul-Nya yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan dalam sabdanya.

لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي عَلَى الْحَقِّ ظَاهِرِيْنَ لا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالىَ وَهُمْ كذَلِكَ

“Akan terus-menerus ada sekelompok dari umatku yang mendzahirkan (menampakkan) alhaq, tidak bermudarat bagi mereka orang yang menyelisihi mereka hingga datang perkara Allah tabaraka wa ta’ala sementara mereka dalam keadaan demikian.” (HR. al-Bukhari no. 7459 dan Muslim no. 1920)

Syaikhuna Muqbil bin Hadi al-Wadi‘i rahimahullah berkata, “Thaifah (kelompok) yang ditolong ini dikatakan oleh al-Imam al-Bukhari rahimahullah bahwasanya mereka adalah ahlul ilmi. Sementara itu, al-Imam Ahmad rahimahullah menyatakan, ‘Bila mereka itu bukan ahlul hadits maka aku tidak tahu lagi siapa yang dimaksud dengan mereka.’ Hadits ini walaupun tidak secara lafadz menunjukkan terhadap perkataan al-Imam al-Bukhari dan al-Imam Ahmad rahimahumallah, namun sesungguhnya Ahlul Hadits-lah yang seharusnya dimasukkan paling awal dalam thaifah ini karena kekokohan mereka di atas al-haq, pengabdian mereka dan pembelaan mereka terhadap Islam. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala membalas mereka dengan kebaikan yang banyak atas apa yang mereka sumbangkan terhadap Islam dan muslimin.” (al- Jami‘us Shahih, 1/11)

Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah berkata, “Yang diinginkan al-Imam Ahmad rahimahullah (dengan thaifah ini) adalah Ahlus Sunnah wal Jamaah dan orang yang meyakini mazhab ahlul hadits.” Al-Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “Dimungkinkan kelompok ini tersebar di berbagai kalangan kaum muslimin. Sehingga ada di antara mereka orang-orang pemberani yang berperang (di jalan Allah subhanahu wa ta’ala), ada fuqaha (ahli fiqih/orang yang faqih), ada muhadditsun (ahlul hadits), ada orang-orang yang zuhud, ada orang-orang yang memerintahkan kepada yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar dan dari kalangan orang-orang yang berbuat kebaikan yang lainnya. Tidak mesti terkumpul/ terkonsentrasi (di suatu tempat/negara), bahkan yang terjadi, mereka terkadang terpencar dan tersebar di berbagai penjuru bumi.

Hadits ini merupakan mukjizat yang jelas (dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) karena thaifah yang bersifat seperti ini terus-menerus ada, alhamdulillah, sejak zaman beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai sekarang. Terus-menerus mereka ada sampai datang perkara Allah subhanahu wa ta’ala yang disebutkan dalam hadits.” (Syarah Shahih Muslim, 13/67)

Mudah-mudahan Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan kita dari kalangan mereka. Taqabbal da’wana ya Mujibas sailin.

Wallahu ta‘ala a’lam bish-shawab.

 

Ditulis oleh al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Al-Atsari


[1] Persia dengan raja mereka Kisra, dan Romawi dengan raja mereka Qaishar, merupakan dua bangsa yang terkenal (adi daya) di waktu itu. Dua negeri ini merupakan kerajaan terbesar di muka bumi, paling banyak penduduknya dan paling luas wilayahnya. (Fathul Bari, 13/313)

[2] Mereka inilah yang dinyatakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau,

لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي عَلَى الْحَقِّ ظَاهِرِيْنَ لا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالىَ وَهُمْ كذَلِكَ

“Akan terus menerus ada sekelompok dari umatku yang mendzahirkan al-haq, tidak bermudharat bagi mereka orang yang menyelisihi mereka hingga datang perkara Allah tabaraka wa ta’ala, sementara mereka dalam keadaan demikian.” (HR. al-Bukhari no.7459 dan Muslim no.1920)-pen.

[3] Mereka ingin menggantungkan senjata-senjata mereka pada pohon tersebut karena mengharapkan barakah dari pohon tersebut. (al-Qaulul Mufid, 1/201)

[4] Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertakbir karena menganggap besar permintaan tersebut dan merasa heran, bukan bertakbir karena senang. Beliau heran, bagaimana bisa mereka mengatakan ucapan seperti itu dalam keadaan mereka beriman bahwasanya tiada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah saja. (al-Qaulul Mufid, 1/201)

[5] Surat al-A‘raf ayat 138.

Membungkam Lolongan Para Thaghut Penyeru Pluralisme dan Inkluvisme

MEMBUNGKAM LOLONGAN PARA THAGHUT PENYERU PLURALISME DAN INKLUSIVISME[1]

Abu Hurairah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwasanya beliau bersabda,

وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لاَ يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الأُمَّةِ يَهُوْدِيٌّ وَلاَ نَصْرَانِيٌّ، ثُمَّ يَمُوْتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ إِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

“Demi Dzat yang jiwa Muhammad di tangan-Nya! Tidaklah mendengar dariku seseorang dari umat ini[2] baik orang Yahudi maupun orang Nasrani, kemudian ia mati dalam keadaan ia tidak beriman dengan risalah yang aku bawa, kecuali ia menjadi penghuni neraka.”

Lanjutkan membaca Membungkam Lolongan Para Thaghut Penyeru Pluralisme dan Inkluvisme

Hukum Meminta Jabatan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menasihatkan kepada Abdurrahman bin Samurah radhiallahu ‘anhu:

يَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ سَمُرَةَ، لاَ تَسْأَلُ الْإِمَارَةَ، فَإِنَّكَ إِنْ أُعْطِيْتَهَا عَنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ أُعِنْتَ عَلَيْهَا وَإِنْ أُعْطِيْتَهَا عَنْ مَسْأَلَةٍ وُكِلْتَ إِلَيْهَا

“Wahai Abdurrahman bin Samurah, janganlah engkau meminta kepemimpinan. Karena jika engkau diberi tanpa memintanya niscaya engkau akan ditolong (oleh Allah subhanahu wa ta’ala dengan diberi taufik kepada kebenaran). Namun jika diserahkan kepadamu karena permintaanmu niscaya akan dibebankan kepadamu (tidak akan ditolong).”

Lanjutkan membaca Hukum Meminta Jabatan

Pengadilan Terbuka Bagi Penghujat Allah dan RasulNya

Ali radhiallahu ‘anhu berkata,

لَوْ كَانَ الدِّيْنُ بِالرَّأْيِ لَكَانَ أَسْفَلُ الْخُفِّ أَوْلَى بِالْمَسْحِ مِنْ أَعْلاَهُ وَقَدْ رَأَيْتُ رَسُوْلَ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ يَمْسَحُ عَلَى ظَاهِرِ خُفَّيْهِ

“Seandainya yang menjadi tolok ukur di dalam agama ini adalah akal pikiran, niscaya bagian bawah khuf lebih pantas untuk diusap daripada bagian atasnya. Sungguh aku pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusap bagian atas dua khufnya.”

  Lanjutkan membaca Pengadilan Terbuka Bagi Penghujat Allah dan RasulNya

Bila Pengkafiran Menjadi Sebuah Fenomena

Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَيُّمَا رَجُلٍ قَالَ لِأَخِيْهِ: يَا كَافِرُ، فَقَدْ بَاءَ بِهَا أَحَدُهُمَا، فَإِنْ كَانَ كَمَا قَالَ وَإِلاَّ رَجَعَتْ عَلَيْهِ

“Apabila seseorang menyeru kepada saudaranya, ‘Wahai orang kafir,’ maka sungguh akan kembali sebutan kekafiran tersebut kepada salah seorang dari keduanya. Bila orang yang disebut kafir itu memang kafir, maka sebutan itu pantas untuknya. Bila tidak, maka sebutan kafir itu kembali kepada yang mengucapkan.” (Sahih, HR. al-Bukhari no. 6104 dan Muslim no. 60)

Lanjutkan membaca Bila Pengkafiran Menjadi Sebuah Fenomena

Perjalanan Ini Belum Berakhir

Suatu ketika Rasul yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang pundak Abdullah bin ‘Umar radhiallahu ‘anhuma seraya berpesan dengan pesannya yang agung,

كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيْلٍ

“Jadilah engkau di dunia ini seakan-akan orang asing atau orang yang sekadar melewati jalan (musafir).”

Mendapat titah yang mulia seperti ini, Abdullah bin ‘Umar radhiallahu ‘anhuma pun menasihati saudaranya seagama,

إِذَا أَمْسَيْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ، وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ، وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ.

“Apabila engkau berada di sore hari, janganlah engkau menanti datangnya pagi. Sebaliknya, apabila engkau berada di pagi hari, janganlah engkau menanti datangnya sore. Ambillah (manfaatkanlah) waktu sehatmu sebelum engkau terbaring sakit, dan gunakanlah masa hidupmu untuk beramal sebelum datang kematianmu.”

Hadits ini diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari rahimahullah dalam Shahih-nya (no. 6416) dari guru besar beliau, ‘Ali ibnul Madini, dari Muhammad bin Abdurrahman, dari al-A’masy, dari Mujahid, dari Ibnu ‘Umar, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

Kedudukan Hadits

Hadits ini adalah landasan pokok untuk membatasi angan-angan terhadap kehidupan dunia. Tidak pantas bagi seorang mukmin untuk menjadikan dunia ini sebagai negeri dan tempat tinggalnya yang abadi, yang dengannya ia merasa tenang. Justru sebaliknya, ia harus memosisikan diri terhadap kehidupan dunia ini sebagai seorang yang berjalan (musafir) yang dia hanya sekadar mempersiapkan perbekalannya guna melanjutkan perjalanan. (Jami‘ul ‘Ulum, 2/377)

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah berkata, “Hadits ini adalah asas yang menekankan kepada seorang hamba untuk mengosongkan hatinya terhadap dunia, zuhud terhadapnya, menghinakannya, merendahkannya, dan qana’ah (merasa cukup) dari dunia dengan bekal yang sekadarnya dalam menjalani hidupnya.” (Fathul Bari, 11/238)

Hadits ini juga menjadi kehidupan bagi hati para hamba, karena apabila kandungannya diamalkan, hati akan menjauh dari tipuan dunia, baik dengan masa mudanya, kesehatannya, umurnya, maupun apa yang ada di sekelilingnya. (kaset Durus al-Arba‘in, asy-Syaikh Shalih Alusy Syaikh)

 

Hakikat Dunia dan Gemerlapnya

Allah subhanahu wa ta’ala dalam banyak ayat dari kitab-Nya yang mulia menyebutkan permisalan dunia yang semuanya menunjukkan bahwa dunia itu nilainya sangat rendah dan hina, sedangkan itu kehidupan dan kesenangannya hanya bersifat fana. Allah Yang Mahasuci berfirman,

ٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّمَا ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَا لَعِبٞ وَلَهۡوٞ وَزِينَةٞ وَتَفَاخُرُۢ بَيۡنَكُمۡ وَتَكَاثُرٞ فِي ٱلۡأَمۡوَٰلِ وَٱلۡأَوۡلَٰدِۖ كَمَثَلِ غَيۡثٍ أَعۡجَبَ ٱلۡكُفَّارَ نَبَاتُهُۥ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَىٰهُ مُصۡفَرّٗا ثُمَّ يَكُونُ حُطَٰمٗاۖ وَفِي ٱلۡأٓخِرَةِ عَذَابٞ شَدِيدٞ وَمَغۡفِرَةٞ مِّنَ ٱللَّهِ وَرِضۡوَٰنٞۚ وَمَا ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَآ إِلَّا مَتَٰعُ ٱلۡغُرُورِ ٢٠

“Ketahuilah oleh kalian, kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan, perhiasan, serta tempat kalian bermegah-megah dan berbangga-bangga akan banyaknya harta dan anak. Permisalannya seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya menguning kemudian hancur. Dan di akhirat kelak ada azab yang pedih dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (al-Hadid: 20)

Dalam ayat lain, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَٱضۡرِبۡ لَهُم مَّثَلَ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا كَمَآءٍ أَنزَلۡنَٰهُ مِنَ ٱلسَّمَآءِ فَٱخۡتَلَطَ بِهِۦ نَبَاتُ ٱلۡأَرۡضِ فَأَصۡبَحَ هَشِيمٗا تَذۡرُوهُ ٱلرِّيَٰحُۗ وَكَانَ ٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ مُّقۡتَدِرًا ٤٥

“Dan berikanlah kepada mereka permisalan tentang kehidupan dunia, yaitu seperti air yang Kami turunkan dari langit. Maka karenanya menjadi subur tumbuhan-tumbuhan di muka bumi. Kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (al-Kahfi: 45)

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّ وَعۡدَ ٱللَّهِ حَقّٞۖ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُم بِٱللَّهِ ٱلۡغَرُورُ ٥

“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya janji Allah itu benar. Maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia itu memerdaya kalian dan janganlah sekali-kali orang yang pandai menipu memerdaya kalian tentang Allah.” (Fathir: 5)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Dunia adalah perhiasan yang akan binasa dan merupakan tipuan bagi orang yang cenderung kepadanya. Dia tertipu dengan dunia dan menjadi terlena karenanya, sehingga meyakini bahwa dunia adalah negeri yang tidak ada negeri selainnya dan kehidupan yang tidak ada lagi kehidupan setelahnya. Padahal dunia ini sangat rendah dan hina, teramat kecil bila dibandingkan dengan kehidupan akhirat.” (Tafsir Ibnu Katsir, 4/335)

Demikianlah hakikat dunia, ia adalah permainan, sesuatu yang melalaikan diri dan hati. Ini terlihat pada orang-orang yang menghamba dunia yang cenderung menghabiskan umurnya dengan segala hal yang melalaikan hati dan melupakan dari berzikir kepada Allah subhanahu wa ta’ala, lalai akan janji dan ancaman-Nya. Malah, mereka menjadikan agama sebagai ajang olok-olokan dan gurauan. Berbeda keadaannya dengan orang-orang yang hidup hatinya dengan zikir kepada Allah subhanahu wa ta’ala, mengenal dan mencintai-Nya, sehingga mereka pun memburu akhirat sebagai negeri yang kekal nan abadi. (Taisir al-Karimirir Rahman, hlm. 840—841)

Sahabat yang mulia, Jabir radhiallahu ‘anhu, mengabarkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah lewat di sebuah pasar dengan dikelilingi orang-orang. Lalu beliau melewati bangkai anak kambing yang cacat telinganya. Beliau mengambilnya dan memegang telinganya seraya bersabda, “Siapa di antara kalian yang mau memiliki anak kambing ini dengan harga satu dirham?”

Para sahabat menjawab, “Kami tidak mau anak kambing itu menjadi milik kami walau dengan harga murah. Lagi pula apa yang dapat kami perbuat dengan bangkai ini?”

Kemudian beliau berkata lagi, “Apakah kalian suka anak kambing ini menjadi milik kalian?”

Mereka menjawab, “Demi Allah, seandainya pun anak kambing ini hidup, dia cacat telinganya, apalagi dia dalam keadaan mati?”

Mendengar pernyataan mereka, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَوَ اللهِ، لَلدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللهِ مِنْ هَذَا عَلَيْكُمْ

“Demi Allah, sungguh dunia ini lebih rendah dan hina bagi Allah subhanahu wa ta’ala daripada bangkai anak kambing ini bagi kalian (dalam penilaian kalian).” (HR. Muslim no. 2957)

Apabila hakikat dunia adalah sebagaimana digambarkan oleh al-Qur’an dan as-Sunnah di atas, lalu masih tersisakah cinta yang berlebihan kepadanya?

 

Dunia Itu Fana

Dunia dengan sifat yang telah disebutkan adalah fana. Demikian yang Allah subhanahu wa ta’ala sebutkan dalam banyak ayat al-Qur’an, di antaranya,

كُلُّ مَنۡ عَلَيۡهَا فَانٖ ٢٦

“Setiap yang ada di atas bumi ini fana (tidak kekal).” (ar-Rahman: 26)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman menghikayatkan ucapan seseorang yang beriman dari kalangan keluarga Fir‘aun,

يَٰقَوۡمِ إِنَّمَا هَٰذِهِ ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَا مَتَٰعٞ وَإِنَّ ٱلۡأٓخِرَةَ هِيَ دَارُ ٱلۡقَرَارِ ٣٩

“Wahai kaumku, kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan sementara, dan sesungguhnya negeri akhirat itulah negeri yang kekal.” (Ghafir: 39)

Di sisi lain, kematian adalah suatu kepastian, dan setiap yang hidup pasti akan mengalaminya.

كُلُّ نَفۡسٖ ذَآئِقَةُ ٱلۡمَوۡتِۗ

“Setiap jiwa pasti akan merasakan kematian.” (Ali ‘Imran: 185)

Dengan demikian, perpisahan dengan dunia adalah suatu kemestian, lalu apa yang sepantasnya dilakukan seorang hamba dengan sepenggal kisah hidupnya di dunia yang fana ini? Pikirkan dan renungkanlah, wahai saudaraku!

 

Hamba yang Cerdas dengan Kehidupan Dunianya

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menasihatkan,

كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيْلٍ

“Jadilah engkau di dunia ini seakan-akan orang asing atau orang yang sekadar melewati jalan (musafir).”

Ath-Thibi rahimahullah berkata, “Kata أَوْ (atau) dalam hadits ini tidak menunjukkan keraguan (mana yang benar di antara keduanya), tetapi menunjukkan pilihan dan kebolehan (yakni seseorang boleh memilih untuk menjadi orang asing atau musafir, keduanya dibolehkan). Hanya saja, yang paling baik adalah apabila kata ini dimaknakan dengan ‘bahkan’[1].” (Fathul Bari, 11/238)

Ketika menjelaskan hadits ini, para ulama berkata, “Makna ucapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas adalah janganlah engkau condong kepada dunia dan janganlah engkau menjadikannya sebagai negeri tempat tinggal. Jangan terbetik di hatimu untuk bermukim lama di dalamnya dan jangan terlalu bergelut dengannya.

Jangan terikat dengannya kecuali sekadar terikatnya orang yang asing di negeri yang asing (persinggahannya). Jangan pula menyibukkan diri dengannya sebagaimana orang asing yang tidak menyibukkan dirinya ketika dia ingin pulang untuk menjumpai keluarganya.” (Riyadhus Shalihin, al-Imam an-Nawawi, hlm. 187, Fathul Bari, 11/238)

Orang asing dan musafir tidak menjadikan negeri yang asing atau negeri persinggahannya sebagai tempat menetap. (at-Ta‘liqat ‘ala al-Arba‘in an-Nawawiyyah, asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, hlm. 107)

Apabila dunia bagi seorang mukmin bukan negeri tempat menetap dan bukan pula tanah airnya, maka sepantasnya seorang mukmin di dunia ini berada di atas salah satu dari dua keadaan yang ada, sebagaimana wasiat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Ibnu ‘Umar agar ia berada di dunia di atas salah satu dari dua keadaan tersebut.

Pertama: Seorang mukmin menempatkan dirinya seakan-akan ia orang asing di dunia. Ia menetap di dunia, namun dunia sebagai negeri yang asing baginya. Maka dari itu, hatinya tidak terpaut dengan negeri yang asing ini, tetapi hanya terpaut dengan tanah airnya yang ia akan kembali padanya. Dia berdiam di dunia sekadar mengumpulkan bekal untuk kembali ke negeri asalnya.

Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata, “Seorang mukmin di dunia ini merasa sedih (dengan keberadaannya yang belum sampai ke negeri asalnya), keinginannya hanyalah mempersiapkan bekalnya menuju negeri tersebut.”

Kedua: Seorang mukmin menempatkan dirinya seakan-akan sebagai musafir yang tidak pernah bermukim sama sekali, namun ia terusmenerus berjalan sampai akhir hidupnya yakni saat kematian menjemput. (Jami‘ul Ulum, 2/378—382)

“Ukurlah dan dudukkan dirimu sebagaimana orang asing atau seorang musafir. Bahkan, jadilah engkau di dunia ini sebagai seorang musafir karena orang asing terkadang menjadikan negeri tersebut sebagai tempat kediamannya. Berbeda halnya dengan musafir, ia akan terus berjalan menempuh jarak yang ada sampai ke tujuannya, dan tujuannya adalah kembali kepada Allah subhanahu wa ta’ala, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala,

وَأَنَّ إِلَىٰ رَبِّكَ ٱلۡمُنتَهَىٰ ٤٢

“Dan sesungguhnya hanya kepada Rabbmulah akhir/kesudahan segala sesuatu”. (an-Najm: 42)

Demikian secara makna dari ucapan al-Imam ash-Shan‘ani rahimahullah dalam Subulus Salam (2/266).

Wasiat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma ini adalah wasiat agung yang sesuai dengan kenyataan seandainya manusia memahaminya. Manusia mengawali kehidupannya di jannah (surga) dan ia turun ke bumi sebagai ujian sehingga dia adalah orang asing atau musafir di muka bumi ini. Sebab, tempatnya yang hakiki, apabila ia memiliki iman, ketakwaan, dan mentauhidkan Allah subhanahu wa ta’ala serta ikhlas padanya, adalah jannah.

Hal ini harus ditanamkan oleh seorang muslim dalam hatinya karena ia tidak menjadikan dunia sebagai negerinya. Adapun ia bermukim di dunia hanyalah menjalani ujian. (kaset Durus al-Arba’in)

 

Nasihat Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma

Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma menasihatkan, “Apabila engkau berada di sore hari, janganlah engkau menanti datangnya pagi. Sebaliknya, apabila engkau berada di pagi hari, janganlah engkau menanti datangnya sore. Ambillah (manfaatkanlah) waktu sehatmu sebelum engkau terbaring sakit, dan gunakanlah masa hidupmu untuk beramal sebelum datang kematianmu.”

Dari nasihat yang sangat berharga di atas dipahami bahwa seseorang hendaknya bersegera mengambil kesempatan untuk beramal saleh hingga tiada lagi kesempatan. Sementara itu, umur yang ada tidak lepas dari masa sehat dan masa sakit. Dengan demikian, bersegeralah beramal ketika sehat sebelum datang sakit, karena ketika sehat mudah baginya untuk beramal dan lapang jiwanya, sedangkan orang yang sakit dan sempit dadanya, lemah dan tidak mudah untuk beramal.

Kesehatan adalah nikmat dari Allah subhanahu wa ta’ala yang banyak dilupakan oleh manusia, sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

نِعْمَتَانِ مَغْبُوْنٌ فِيْهِمَا كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

“Ada dua kenikmatan yang manusia banyak tertipu padanya: kesehatan dan waktu luang.” (Sahih, HR. al-Bukhari no. 6412)

Bersegeralah pula beramal ketika masih hidup, mengumpulkan bekal sebanyak-banyaknya sebelum kematian menjemput.

وَلۡتَنظُرۡ نَفۡسٞ مَّا قَدَّمَتۡ لِغَد

“Hendaklah setiap jiwa memerhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).” (al-Hasyr: 18)

Sebab, apabila kematian telah datang, terputuslah amalan, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِذَا مَاتَ ا نِْإلْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُوْ لَهُ

“Apabila seseorang meninggal, terputuslah amalannya selain tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.” (Sahih, HR. Muslim no. 1631)

Ketika kematian datang menjemput, ia tidak dapat kembali ke dunia untuk beramal, sebagaimana penyesalan orang yang berkata,

حَتَّىٰٓ إِذَا جَآءَ أَحَدَهُمُ ٱلۡمَوۡتُ قَالَ رَبِّ ٱرۡجِعُونِ ٩٩ لَعَلِّيٓ أَعۡمَلُ صَٰلِحٗا فِيمَا تَرَكۡتُۚ

“Hingga tatkala kematian telah menghampiri salah seorang dari mereka, ia pun berkata, ‘Wahai Rabbku, kembalikanlah aku ke dunia agar aku dapat beramal saleh yang dahulunya aku tinggalkan’.” (al-Mu’minun: 99—100)

Dengan demikian, seorang mukmin harus selalu bersiap menjemput kematian yang mungkin datang secara tiba-tiba dan kematian itu dipersiapkan dengan amalan saleh. Ulama kita yang terdahulu selalu bersiap untuk menjemput kematian dengan memperbanyak amalan. Sampai-sampai apabila dikatakan kepadanya, “Engkau akan meninggal malam ini,” niscaya ia tidak sanggup lagi menambah amalannya karena ia senantiasa menunaikan hak Allah subhanahu wa ta’ala. (at-Ta’liqat ‘ala al-Arba’in an-Nawawiyah, hlm. 107—108, Syarhul Arba’in an-Nawawiyyah, hlm. 106, Syarhul Arba’in Haditsan an-Nawawiyyah, hlm. 106, Fathul Bari, 11/238, kaset Durus al-Arba’in)

 

Selamat Tinggal Duniaku, Selamat Datang Akhiratku

‘Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu berkata, “Sesungguhnya dunia telah berlalu jauh ke belakang, sedangkan akhirat datang menjelang. Masing-masing memiliki anak (yakni hamba dunia dan hamba akhirat). Jadilah kalian anak-anak akhirat dan jangan menjadi anak-anak dunia. Sebab, hari ini yang ada hanyalah amal dan belum ada hisab (perhitungan amal), sementara itu esok (hari akhir) yang ada hanyalah hisab dan bukan saat beramal.” (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2/378, Fathul Bari, 11/239)

Di mana penduduk negeri kaum Nuh?

Kemudian di mana kaum ‘Ad dan kaum Tsamud setelahnya?

Tatkala sedang bersenang-senang

Di atas bantal-bantal dan sutra

Tiba-tiba mereka diantarkan ke dalam tanah

Berapa banyak orang yang sehat menjenguk orang yang sakit

Ternyata orang yang sehat itu lebih dekat kepada kematian

Daripada orang yang dijenguknya

Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah pernah berkata kepada seseorang, “Berapa usia yang telah mendatangimu?”

Orang itu menjawab, “60 tahun.”

Al-Fudhail berkata, “Berarti sejak 60 tahun engkau berjalan menuju Rabbmu dan hampir-hampir engkau akan sampai kepada-Nya.”

Mendengar hal itu, orang tersebut berkata, “Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.”

Al-Fudhail rahimahullah berkata lagi, “Tahukah engkau tafsir dari kalimat yang engkau ucapkan? Engkau katakan bahwa aku adalah hamba Allah subhanahu wa ta’ala dan akan kembali kepada-Nya. Siapa yang mengetahui bahwa dia adalah hamba Allah subhanahu wa ta’ala dan dia akan kembali kepada-Nya, hendaklah ia mengetahui bahwa ia akan dibangkitkan di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala kelak. Siapa yang tahu bahwa ia akan dibangkitkan, hendaklah ia mengetahui bahwa ia akan ditanya. Siapa yang tahu bahwa ia akan ditanya, hendaklah ia mempersiapkan jawaban.”

Orang itu bertanya, “Lalu apa jalan keluarnya?”

Al-Fudhail rahimahullah menjawab, “Mudah.”

“Apa itu?” tanya laki-laki tersebut.

Al-Fudhail rahimahullah berkata, “Engkau berbuat baik pada umurmu yang tersisa, niscaya akan diampuni bagimu apa yang telah lewat. Sebab, apabila engkau berbuat jelek pada umurmu yang tersisa, engkau akan disiksa karena kejelekan yang telah lalu dan yang akan engkau perbuat dalam sisa umurmu.” (Jami’ul Ulum, 2/383)

Ketika kusadari dunia itu fana sementara negeri akhirat itu kekal

maka segera ku berucap selamat tinggal kefanaan

dan selamat datang negeri keabadian

Teladan kita yang mulia, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat mengutamakan kehidupan akhirat sehingga bersahaja kehidupannya di dunia, padahal beliau adalah kekasih Allah subhanahu wa ta’ala, makhluk-Nya yang paling mulia, dan pemimpin anak Adam.

Sahabat yang mulia, ‘Umar radhiallahu ‘anhu, pernah mengatakan, “Aku pernah masuk ke rumah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan aku dapati beliau sedang berbaring di atas tikar tipis yang dianyam tanpa beralaskan kasur hingga tampak berbekas pada punggung beliau yang mulia. Beliau bertelekan pada bantal kulit yang diisi dengan sabut. Melihat hal itu, aku pun menangis.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, ‘Apa yang membuatmu menangis, wahai Umar?

‘Umar menjawab, “Demi Allah, wahai Rasulullah, tidak ada yang membuatku menangis selain karena aku mengetahui bahwa engkau lebih mulia di sisi Allah daripada Kisra (penguasa Persia) dan Kaisar (penguasa Romawi). Keduanya hidup bergelimang kemewahan dan gemerlapnya dunia, sedangkan engkau, wahai Rasulullah, berada pada tempat yang seperti aku lihat saat ini!’

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Tidakkah engkau ridha wahai ‘Umar, mereka mendapatkan dunia dan kita mendapatkan negeri akhirat?

Aku menjawab, ‘Tentu, wahai Rasulullah.’

        Beliau mengatakan, ‘Demikianlah keadaannya, wahai Umar’.” (Sahih, HR.  al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad. Asy-Syaikh al-Albani berkata dalam Shahih al-Adabul Mufrad no. 1163, “Hasan sahih.”)

Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Apabila demikian halnya, menjadi jelaslah bagi seorang mukmin untuk menggunakan sisa umurnya guna mengumpulkan amalan kebajikan. Benarlah orang yang berkata, ‘Sisa umur seorang mukmin tidaklah ternilai harganya’.” (Jami’ul Ulum, 2/391)

Hamba-hamba Allah subhanahu wa ta’ala yang cendekia

Mereka menceraikan dunia dan takut akan fitnahnya

Ketika dunia mereka amati

Ternyata dunia bukanlah tempat tinggal untuk orang yang hidup

Jadilah dunia sebagai samudra mereka

Dan amal saleh sebagai bahteranya

 

Faedah Hadits

  1. Bolehnya seorang guru menyentuh orang yang diajarinya (yang sesama jenis, ) ketika menyampaikan ilmu dan nasihat untuk menunjukkan kasih sayang terhadapnya serta mengharapkan perhatiannya terhadap apa yang akan disampaikan. Demikianlah sepantasnya seorang guru melakukan sebab-sebab yang dapat membangkitkan perhatian muridnya.
  2. Keutamaan Abdullah bin ‘Umar radhiallahu ‘anhuma yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyempatkan diri untuk memberikan nasihat ini kepadanya.
  3. Semangat dan kesungguhan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menyampaikan kebaikan kepada umatnya.
  4. Penekanan untuk zuhud terhadap dunia dan mencukupkan dengan apa yang ada tanpa berlebihan, sebagaimana musafir yang hanya membawa bekal seperlunya, serta meninggalkan bawaan dan beban yang akan memberatkan serta menyulitkan perjalanannya sampai ke tujuan.
  5. Seorang mukmin adalah orang asing di dunia karena surga adalah negeri asalnya, sementara itu Adam, bapak manusia, keluar darinya karena makar setan musuhnya.
  6. Bersegera beramal tanpa menundanya.
  7. Anjuran untuk menggunakan kesempatan yang ada guna menambah amalan ketaatan.
  8. Kesehatan dan kehidupan adalah kesempatan bagi seorang mukmin sehingga ia harus memanfaatkannya untuk amalan kebajikan. Tidak sepantasnya ia sia-siakan untuk perkara yang tidak memberi manfaat bagi akhiratnya.
  9. Dalam hadits ini ada dalil untuk membatasi angan-angan, segera bertobat, dan bersiap menjemput kematian.

Seandainya pun ia berangan-angan, hendaknya ia mengatakan ‘insya Allah’, karena Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلَا تَقُولَنَّ لِشَاْيۡءٍ إِنِّي فَاعِلٞ ذَٰلِكَ غَدًا ٢٣ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُۚ

“Janganlah sekali-kali engkau mengatakan terhadap sesuatu, aku akan melakukannya besok, kecuali engkau katakan, ‘insya Allah’ (apabila Allah menghendaki).” (al-Kahfi: 23—24)

  1. Penekanan untuk mempersedikit bergaul dengan manusia selain dalam urusan yang mendatangkan kebaikan dan tidak menyibukkan diri mengumpulkan harta.

Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.

 

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Ishaq Muslim al-Atsari


[1] Jadi, artinya, “Jadilah engkau di dunia ini seakan-akan orang asing, bahkan jadilah engkau orang yang sekadar melewati jalan (musafir).”

Prinsip Yang Tak Pernah Sirna; bagian 2

بُنِيَ الْإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ، شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ، وَحَجِّ الْبَيْتِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ

“Islam itu dibangun di atas lima (tiang ataupun rukun): (yaitu) syahadat laa ilaaha illallah (tidak ada sesembahan yang berhak untuk disembah kecuali hanya Allah subhanahu wa ta’ala) serta Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya, menegakkan shalat, menunaikan zakat, haji ke Baitullah, serta puasa Ramadhan.”

Shalat

Shalat secara bahasa maknanya adalah doa. Adapun ditinjau dari pandangan syariat, shalat adalah suatu peribadatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala yang terdiri dari ucapan dan perbuatan tertentu, diawali dengan takbir, diakhiri dengan salam, dan disertai dengan niat. (asy-Syarhul Mumti’ 2/5, Taisirul ‘Allam 1/109)

Serambi-Masjid-Kraton-Kartasura

Kewajiban shalat ini demikian jelasnya ditunjukkan dalam Al-Qur’an, As-Sunnah, dan ijma’ (kesepakatan) kaum muslimin. Dalam hadits di atas disebutkan bahwasanya shalat merupakan asas bangunan Islam sebagaimana ia juga merupakan tiang agama. Seperti disabdakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam haditsnya yang mulia:

رَأْسُ الْأَمْرِ الْإِسْلاَمُ وَعَمُوْدُهُ الصَّلاَةُ

“Pokok dari perkara ini adalah Islam dan tiangnya adalah shalat…” (HR. Ahmad, 5/231, 237 dan selainnya, disahihkan oleh asy-Syaikh Ibnu Baz[1])

Oleh karenanya, apabila roboh tiang ini maka bangunan Islam tidak akan bisa berdiri tegak.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima perintah shalat langsung dari Allah subhanahu wa ta’ala saat beliau di-mi’raj-kan ke langit sebelum hijrah ke Madinah. (Fathul Bari, 1/576, Syarah Shahih Muslim, 2/210)

Siapa yang menunaikan amalan agung ini sesuai petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam disertai kekhusyukan hati dan anggota badannya, niscaya akan mendapatkan keberuntungan yang dijanjikan dalam ayat Allah subhanahu wa ta’ala:

قَدۡ أَفۡلَحَ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ١ ٱلَّذِينَ هُمۡ فِي صَلَاتِهِمۡ خَٰشِعُونَ ٢

“Sungguh beruntunglah orang-orang beriman, yaitu mereka yang khusyu’ dalam shalatnya.” (al-Mu’minun: 1—2)

Sampai pada firman-Nya:

أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡوَٰرِثُونَ ١٠ ٱلَّذِينَ يَرِثُونَ ٱلۡفِرۡدَوۡسَ هُمۡ فِيهَا خَٰلِدُونَ ١١

“Mereka itulah orang-orang yang mewarisi, yaitu orang-orang yang berhak untuk menempati surga Firdaus dan mereka kekal di dalamnya.” (al-Mu’minun: 10—11)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

خَمْسُ صَلَوَاتٍ افْتَرَضَهُنَّ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ، مَنْ أَحْسَنَ وُضُوءَهُنَّ، وَصَلاَّهُنَّ لِوَقْتِهِنَّ، وَأَتَمَّ رُكُوْعَهُنَّ وَسُجُوْدَهُنَّ وَخُشُوْعَهُنَّ، كَانَ لَهُ عَلَى اللهِ عَهْدٌ أَنْ يَغْفِرَ لَهُ، وَمَنْ لَمْ يَفْعَلْ فَلَيْسَ لَهُ عَلَى اللهِ عَهْدٌ، إِنْ شَاءَ غَفَرَ لَهُ، وَإِنْ شَاءَ عَذَّبَهُ

“Shalat lima waktu diwajibkan oleh Allah ‘azza wa jalla. Siapa yang membaguskan wudhunya guna melaksanakan shalat yang lima ini dan melaksanakannya pada waktunya, dia sempurnakan ruku’, sujud, dan khusyuknya, maka orang yang seperti ini akan mendapatkan janji dari Allah subhanahu wa ta’ala untuk mendapatkan ampunan-Nya. Namun siapa yang tidak melaksanakan seperti ketentuan tersebut, dia tidak mendapatkan janji dari Allah subhanahu wa ta’ala. Bila Allah subhanahu wa ta’ala berkehendak, maka Allah subhanahu wa ta’ala akan mengampuninya dan bila Allah subhanahu wa ta’ala berkehendak, maka Allah subhanahu wa ta’ala akan mengazabnya.” (HR. Abu Dawud no. 361, disahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam mukadimah Shifat Shalatin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, hlm. 36)

Al-Imam Al-Baihaqi rahimahullah berkata, “Tidak ada satu ibadah pun dari ibadah-ibadah yang ada setelah iman kepada Allah subhanahu wa ta’ala yang Allah subhanahu wa ta’ala namakan dengan istilah iman[2] dan dinamakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi orang yang meninggalkannya dengan kufur[3] selain ibadah shalat.” (Mukhtashar Syu’abil Iman, hlm. 52)

Zakat

Secara etimologis, makna zakat adalah tumbuh berkembang dan penyucian. Makna zakat secara bahasa ini juga menjadi makna secara syar‘i, karena mengeluarkan zakat merupakan sebab berkembangnya (bertambahnya) harta, menyucikan jiwa dari kerendahan sifat bakhil, dan membersihkan diri dari dosa (Fathul Bari, 3/319).

Dinar

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

خُذۡ مِنۡ أَمۡوَٰلِهِمۡ صَدَقَةٗ تُطَهِّرُهُمۡ وَتُزَكِّيهِم بِهَا

“Ambillah zakat dari harta mereka untuk membersihkan diri mereka dan menyucikan mereka dengan zakat tersebut.” (at-Taubah: 103)

Dalam ayat yang mulia di atas, Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan tujuan dikeluarkannya zakat antara lain untuk membersihkan dan menyucikan jiwa pemilik harta dari sifat bakhil, sekaligus membersihkan harta yang dimiliki dari kotoran yang menodainya. Ketika ada seseorang berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, apa pendapatmu apabila seseorang menunaikan zakat dari hartanya?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda:

مَنْ أَدَّى زَكَاةَ مَالِهِ فَقَدْ ذَهَبَ عَنْهُ شَرُّهُ

“Siapa yang menunaikan zakat dari hartanya maka sungguh telah hilang kejelekan harta tersebut.” (HR. ath-Thabarani dan Ibnu Khuzaimah, dihasankan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam at-Targhib, no. 743)

Selain itu, zakat akan mengokohkan rasa cinta dan kasih sayang antara orang kaya dengan fakir miskin. Karena jiwa ini memiliki kecenderungan untuk mencintai orang yang berbuat baik kepadanya. (Risalatani Mujazatani fiz Zakat wash Shiyam, asy-Syaikh Ibnu Baz, hlm. 6)

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus sahabatnya Mu’adz bin Jabal radhiallahu ‘anhu untuk berdakwah di negeri Yaman, beliau berpesan kepadanya, “Engkau akan mendatangi suatu kaum dari kalangan ahlul kitab (Yahudi). Maka bila engkau telah tiba di tempat mereka, awal pertama yang engkau dakwahkan adalah agar mereka mau bersaksi Laa Ilaaha illallah dan Muhammad Rasulullah. Bila mereka menaatimu (mau mengikutimu) dalam perkara ini, beritahukanlah kepada mereka bahwasanya Allah subhanahu wa ta’ala mewajibkan kepada mereka shalat lima waktu setiap malam dan siang hari. Bila mereka menaatimu dalam perkara ini, kabarkanlah bahwasanya Allah subhanahu wa ta’ala mewajibkan zakat kepada mereka yang diambil dari orang-orang kaya mereka lalu diserahkan kepada fakir miskin mereka….” (Sahih, HR. al-Bukhari no. 1395, 1496, 4347 dan Muslim no. 19)

Dalam hadits ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menekankan kita semua untuk mengeluarkan zakat, bahkan diwajibkan. Namun tentunya zakat ini dikeluarkan oleh seorang muslim yang mampu dan memiliki harta yang mencukupi kadar yang telah ditentukan dikeluarkannya zakat baik berupa hasil bumi, hewan peliharaan, maupun emas dan perak, serta genap setahun dalam pemilikan.

Haji ke Baitullah

Haji adalah bersengaja menuju ke Baitullah untuk mengerjakan amalan-amalan yang khusus/tertentu. (Fathul Bari, 3/461)

kabah

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَلِلَّهِ عَلَى ٱلنَّاسِ حِجُّ ٱلۡبَيۡتِ مَنِ ٱسۡتَطَاعَ إِلَيۡهِ سَبِيلٗاۚ

“Wajib bagi manusia untuk menunaikan haji karena Allah bagi siapa yang memiliki kemampuan untuk menempuh jalan ke sana.” (Ali ‘Imran: 97)

Haji ini hukumnya fardhu ‘ain bagi setiap muslim yang mukallaf (baligh dan berakal) dan dia seorang yang merdeka (bukan budak) serta memiliki kemampuan (Syarah Shahih Muslim, 8/72). Kewajiban ini harus segera ditunaikan tanpa ditunda oleh seorang hamba yang memiliki kemampuan. Ini merupakan pendapat jumhur ulama seperti al-Imam Ahmad, murid-murid Abu Hanifah, al-Muzani, dan pendapat yang kuat dari al-Imam Malik. (Nailul Authar, 4/362, al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah, 17/24)

Yang dimaksud mampu di sini adalah memiliki bekal, kendaraan untuk pulang pergi (kalaupun tidak memiliki kendaraan namun ia mampu dan memungkinkan untuk berjalan kaki karena jaraknya yang dekat, maka dia termasuk kategori orang yang mampu), adanya jaminan bagi orang yang ditinggalkan (yang berada di bawah tanggungan/tanggung jawabnya), dan aman jiwa beserta hartanya dalam perjalanan. (Thariqul Wushul, hlm. 154, 167—168)

Kita tahu bahwa masalah kemampuan ini merupakan syarat dalam seluruh ibadah, berdasarkan firman Allah subhanahu wa ta’ala:

فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ مَا ٱسۡتَطَعۡتُمۡ

“Bertakwalah kalian kepada Allah semampu kalian.” (at-Taghabun: 16)

Lalu mengapa dikhususkan penyebutannya dalam permasalahan haji?
Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Dalam hal ini dikhususkan haji karena umumnya dalam pelaksanaan haji itu adalah kesulitan dan kepayahan serta ketidakmampuan.” (kaset Durus al-Arba’in an-Nawawiyyah, asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin)

Adapun keutamaan haji disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya:

الْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا، وَالْحَجُّ الْمَبْرُوْرُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ

“Umrah yang satu ke umrah berikutnya merupakan penghapus dosa antara keduanya, sedangkan haji mabrur tidak ada balasan yang pantas baginya kecuali surga.” (HR. al-Bukhari no. 1773 dan Muslim no. 1349)

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “Makna haji mabrur yang benar dan masyhur adalah haji yang dilakukan tidak bercampur dengan dosa.”

Beliau melanjutkan, “Adapun makna لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ (tidak ada balasan yang pantas baginya kecuali surga) maksudnya balasan bagi yang mengerjakan haji mabrur, tidak dibatasi dengan pengampunan sebagian dosanya, bahkan pasti ia akan masuk surga. Wallahu a’lam.” (Syarah Shahih Muslim, 9/119)

Puasa Ramadhan

Puasa secara bahasa adalah menahan diri. Sedangkan dalam pandangan syariat, puasa adalah menahan diri dari makan, minum, jima’, dan selainnya pada siang hari menurut cara yang disyariatkan. Konsekuensi dari menahan diri tersebut adalah juga menahan diri dari perkara laghwi (sia-sia), dari perkataan keji, serta ucapan yang diharamkan dan dibenci selain keduanya. (Subulus Salam, 2/239)

Ramadhan

Sementara perkara-perkara yang membatalkan puasa seperti makan, minum, dan jima’, tidaklah membatalkan puasa seseorang kecuali bila terkumpul padanya tiga syarat:

  1. Orang itu mengetahui bahwa perkara tersebut merupakan pembatal puasa
  2. Dia ingat ketika melakukannya (tidak dalam keadaan lupa)
  3. Dia berkeinginan sendiri ketika melakukannya bukan karena dipaksa… (kaset Durus al-Arba’in an-Nawawiyyah, asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin)

Tidak kita ragukan lagi bahwasanya puasa ini merupakan satu kewajiban agama, sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُتِبَ عَلَيۡكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ ١٨٣

“Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kalian puasa sebagaimana diwajibkan terhadap orang-orang sebelum kalian, mudah-mudahan kalian mau bertakwa.” (al-Baqarah: 183)

Dari ayat di atas dapat diambil beberapa faedah, di antaranya:

Pertama: Kedudukan puasa sangatlah penting yang Allah ‘azza wa jalla juga mewajibkannya kepada umat sebelum kita dan ini menunjukkan kecintaan Allah subhanahu wa ta’ala terhadap amalan ini.

Kedua: Keringanan terhadap umat ini yang kewajiban puasa tidak hanya dibebankan kepada mereka tetapi juga terhadap umat sebelum mereka.

Ketiga: Dalam ayat ini, Allah subhanahu wa ta’ala mengisyaratkan bahwasanya Dia memberikan kesempurnaan kepada umat ini dalam perkara agama mereka karena Allah subhanahu wa ta’ala menyempurnakan bagi mereka keutamaan-keutamaan yang pernah dimiliki oleh umat sebelum mereka.

Keempat: Hikmah puasa mengantarkan pelakunya untuk bertakwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala. (Syarhu Tsalatsatil Ushul, asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, hlm. 74)

Banyak sekali yang kita dapatkan dari keutamaan puasa ini. Di antaranya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Siapa yang berpuasa Ramadhan dengan iman dan mengharapkan pahala Allah maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Sahih, HR. al-Bukhari no. 1901)

Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata, “Telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Allah berfirman, ‘Seluruh amalan anak Adam untuknya kecuali puasa, maka dia untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya. Puasa adalah tameng. Apabila salah seorang dari kalian berpuasa, janganlah ia berkata kotor dan berucap keras (tanpa keperluan). Jika ada seseorang mencelanya atau memeranginya, hendaklah ia mengatakan, ‘Aku sedang puasa’. Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, bau mulut orang yang puasa lebih wangi di sisi Allah daripada wangi misik. Bagi orang yang berpuasa mendapatkan dua kegembiraan: apabila berbuka ia bergembira dan apabila bertemu kelak dengan Tuhannya dia bergembira dengan puasanya (ketika di dunia).” (Sahih, HR. al-Bukhari no. 1904 dan Muslim no. 1151)

Dalam riwayat al-Bukhari (no. 1894) disebutkan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Ia meninggalkan makan, minum, dan syahwatnya karena-Ku. Puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya, sedangkan satu kebaikan itu dilipatgandakan pahalanya menjadi sepuluh kali lipat.”

Pilar SZM

Faedah Hadits

  1. Islam diibaratkan sebuah bangunan yang tidak akan tegak tanpa tiang-tiangnya.
  2. Syahadatain, shalat, zakat, puasa, dan haji merupakan pilar-pilar Islam, adapun kewajiban lain merupakan penyempurna bangunan Islam.
  3. Cabang-cabang iman itu banyak, dalam hadits ini hanya dibatasi lima perkara karena kelima perkara ini merupakan pokok, asas, dan fondasi bangunan Islam.
  4. Islam itu adalah akidah/keyakinan dan amalan. Maka tidak bermanfaat amal tanpa iman sebagaimana tidak ada wujudnya iman tanpa amal.
  5. Tidaklah dimaksudkan dari ibadah dalam Islam sekadar model dan bentuknya saja namun yang dimaksudkan adalah tujuannya dan maknanya disertai pengamalannya.

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Ishaq Muslim al-Atsari


[1] Sebagaimana dalam ta’liq Syarhu Tsalatsatil Ushul, hlm. 83.

[2] Yang dimaksud al-Baihaqi adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala:

وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَٰنَكُمۡۚ

“Dan Allah tidaklah menyia-nyiakan keimanan kalian.” (al-Baqarah: 143)

Yang dimaksud dengan “keimanan kalian” dalam ayat di atas adalah shalat kalian. (Tafsir Ibnu Katsir, 1/197)

[3] Yaitu hadits Jabir radhiallahu ‘anhu dalam Shahih Muslim (no. 82) :

إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكَ الصَّلاَةِ

“Sesungguhnya antara seseorang dengan kesyirikan dan kekufuran, adalah meninggalkan shalat.”

Prinsip Yang Tak Pernah Sirna (bagian 1)

Abdullah bin ‘Umar radhiallahu ‘anhuma, ipar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia dan putra dari sahabat yang mulia ‘Umar ibnul Khaththab radhiallahu ‘anhu, menyampaikan kepada kita apa yang dia dengar dari ilmu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang agung, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Lanjutkan membaca Prinsip Yang Tak Pernah Sirna (bagian 1)

Mahalnya Nilai Kehalalan

Abu Hurairah radhiallahu ‘anha berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا، وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِيْنَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِيْنَ، فَقَالَ }يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوْا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَ اعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُوْنَ عَلِيْمٌ{ وَقاَلَ: }يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا كُلُوْا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ{ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيْلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ، يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ: يَا رَبِّ، يَا رَبِّ! وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ، فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ

“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu Mahabaik, Dia tidak menerima kecuali yang baik. Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan kepada kaum mukminin sebagaimana yang Dia perintahkan kepada para rasul. Dia berfirman, ‘Wahai para rasul, makanlah makanan yang baik (halal) dan beramal salehlah kalian.’ (al-Mu’minun: 51)

Dan Dia berfirman, ‘Wahai orang-orang yang beriman, makanlah makanan yang baik (halal) dari apa yang telah Kami rezekikan kepada kalian’.” (al-Baqarah: 172)

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan tentang seorang laki-laki yang telah menempuh perjalanan (safar) yang panjang hingga rambutnya kusut masai lagi berdebu. Orang itu berdoa dengan menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berseru, ‘Wahai Rabbku, wahai Rabbku.’ Sementara makanan, minuman, dan pakaiannya haram serta dia diberi makan dengan yang haram[1], maka bagaimana doanya akan dikabulkan?”

  Lanjutkan membaca Mahalnya Nilai Kehalalan

Tinggalkanlah Segala Kebimbanganmu

Rasul shallallahu alaihi wa sallam yang mulia bersabda,

دَعْ مَا يَرِيْبُكَ إِلَى مَا لاَ يَرِيْبُكَ، فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِيْنَةٌ وَإِنَّ الْكَذِبَ رِيْبَةٌ

“Tinggalkan perkara yang meragukanmu menuju kepada perkara yang tidak meragukanmu. Karena kejujuran itu adalah ketenangan di hati sedangkan kedustaan itu adalah keraguan.”

Lanjutkan membaca Tinggalkanlah Segala Kebimbanganmu