Dunia Akan Berlalu Akherat Akan Menyongsong

Umar bin Abdul Aziz rahimahullah berkata dalam salah satu khutbahnya,

“Sesungguhnya, dunia bukanlah negeri keabadian kalian. Allah Subhanahuwata’ala telah menetapkan kefanaannya. Dia l juga menetapkan bahwa penghuninya akan meninggalkannya. Betapa banyak tempat yang makmur dan dicatat oleh sejarah, hancur dalam waktu sekejap. Betapa banyak orang yang tinggal dalam keadaan senang, tiba-tiba harus beranjak pergi. Karena itu, siapkanlah sarana terbaik yang ada pada kalian sekarang—semoga Allah Subhanahuwata’alamerahmati kalian—untuk menempuh perjalanan (kelak). Siapkanlah bekal, dan bekal terbaik adalah takwa.”

Sebagian ahli hikmah mengatakan, “Aku heran terhadap manusia yang akan ditinggalkan oleh dunia dan akan disongsong oleh akhirat—, ia justru sibuk dengan hal yang akan meninggalkannya dan lalai dari sesuatu yang akan menyongsongnya.”

(Jami’ul ‘Ulum wal Hikam hlm. 516)

Islam Itu Kejam

السلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Qishash atas pembunuh, adalah salah satu syariat Islam yang terus saja direcoki oleh para pegiat HAM. Hukuman mati, oleh mereka, dianggap kejam, tidak sesuai dengan standar HAM. Dari sini, kerancuan para “intelektual” itu dimulai. Mereka demikian getol membela “HAM” pembunuh, tetapi justru melupakan hak-hak hidup manusia yang telah dibunuh. Lebih-lebih jika vonis hukuman yang dijatuhkan sangat ringan, tentu sangat melukai keluarga korban.

Bagaimana pula dengan hak-hak keluarga korban, jika yang terbunuh adalah tulang punggung keluarga? Bagaimana pula jika pelaku adalah pembunuh (bayaran) yang tak kunjung jera, berapa banyak nyawa manusia terancam dengan keberadaannya?

Dari sisi pelaku kejahatan, bisa jadi syariat Islam sangat menakutkan mereka. Namun, sejatinya syariat Islam sangat mengayomi dan memberi rasa adil kepada manusia yang lain. Bahkan, syariat Islam dengan ketegasannya terhadap pelaku kejahatan—mencegah terjadinya kejahatankejahatan lain karena hukum Islam mampu memberi efek jera bagi pelaku dan “caloncalon” pelaku.

Alhasil, syariat Islam mampu melakukan pencegahan kolektif dengan memberikan rasa aman terhadap masyarakat luas sebagai potensi korban. Di sisi lain, Islam juga amat ketat dalam menerapkan hukuman. Misalnya, potong tangan atas pencuri, dibutuhkan kesaksian yang meyakinkan dengan mempersyaratkan nilai nominal tertentu. Tidak bisa hanya mencuri beberapa ribu rupiah misalnya atau dilatarbelakangi rasa lapar, seorang pencuri lantas dipotong tangan.

Demikian juga dengan pelaku zina, hukum rajam hanya diterapkan kepada pelaku zina yang sudah menikah, itu pun jika bisa menghadirkan empat saksi. Dalam hal vonis atas pembunuh, Islam juga memberi opsi lain, yakni diyat (tebusan) atau memaafkan—jika disetujui oleh salah satu keluarga korban. Demikian juga pihak eksekutor, bukanlah individu, melainkan pemerintah atau lembaga berwenang yang mewakili negara.

Jelaslah, betapa minimnya yang akan terkena hukum ini. Betapa indahnya hukum Islam, hukum yang ditetapkan oleh Allah yang menciptakan manusia itu sendiri. Hukum yang mengandung keadilan. Tidak seperti hukum buatan manusia yang bisa dibeli dengan harga yang sangat murah. Tak hanya itu, Islam bahkan menjadi rahmat bagi pelaku, karena hukuman di dunia itu bisa menggugurkan dosanya di akhirat nanti.
Selain ranah pidana, dalam literatur sejarah, Islam juga menjadi bulan-bulanan penyesatan opini. Berbagai referensi sejarah mengisahkan perang demi perang dalam Islam secara tidak berimbang. Apa penyulutnya, pengkhianatan, dan pembatalan perjanjian damai oleh musuh, diabaikan begitu saja.

Padahal perang dalam Islam juga tidak membela suku atau bangsa tertentu, bukan soal perebutan takhta, wanita, pengaruh, atau sekadar minyak bumi, melainkan demi membela agama Allah l. Juga bukan perang barbar layaknya suku-suku primitif, melainkan dipenuhi kasih sayang karena dipagari oleh banyak aturan, seperti larangan membunuh wanita dan anak-anak, larangan membunuh pendeta yang sedang beribadah di tempat ibadahnya, tidak memaksa tawanan untuk masuk Islam, tidak pula memaksauntuk membayar jizyah yang tinggi, dsb.

Bandingkan ketika Eropa di bawah cengkeraman Kepausan yang Katholik, betapa banyak penyesat (Protestan), yang dibantai oleh Katholik yang konon katanya sangat mencintai kasih dan perdamaian? Protestan pun setali tiga uang. Negara-negara Protestan seperti Belanda dan Inggris berlomba dengan Katholik (Spanyol dan Portugis) menyulut peperangan di seluruh dunia dengan menjajah negara-negara lain. Berapa juta nyawa rakyat pribumi yang dibantai mereka?

Negara-negara kafir, yang dipuja-puji setinggi langit oleh para pegiat HAM, nyatanya juga menerapkan hukuman mati,bahkan itu bukan sesuatu yang baru. Berabad abad silam di Eropa, orang sudah mengenal beragam hukuman mati melalui pelbagai alat penyiksaan yang sangat sadis. Sementara itu, cara hukuman mati dalam Islam, yakni pancung (penggal kepala), justru jauh dari sifat menyiksa. Pertanyaannya sekarang, agama mana yang penuh kasih dan sayang?

Oleh karena itu, mari kita pelajari Islam lebih dalam, agar kita tidak menjadi corong propaganda nonmuslim, yang dengan gegabah memvonis Islam itu kejam.

والسلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Surat Pembaca Edisi 83

Bahas Tuntas tentang Masjid

Saya mau usul, kalau bisa edisi Asy- Syariah yang akan datang membahas tentang masjid: Bagaimana bentuk masjid yang syar’i dan apa yang tidak boleh dilakukan di masjid.

Sekarang ini masjid, seperti masjid kampus sudah jadi tempat main internet, pacaran, tempat memutar film—misalnya masalah Palestina, campur baur lelaki dan perempuan saat mentoring mata kuliah agama Islam.

Bahkan, sering masjid tertentu dijadikan tempat kenduri orang meninggal dan peringatan-peringatan yang tidak syar’i. Ada masjid yang dihiasi kaligrafi, dibuat mihrab padanya, terkadang sampai tiga, mimbar dibuat sampai dua lantai yang tinggi. Jadi, ana usul dibahas tuntas pada edisi mendatang. 081328xxxxxx

Jazakumullahu khairan atas masukannya, akankamipertimbangkan.

Bahas Kriteria Suami Idaman

Bismillah. Afwan, bagaimana kalau Asy-Syariah juga membahas tentang sikap/kriteria suami yang saleh yang seorang istri mendambakannya. 08789xxxxxx

Kapan Buat Jaket/Kaos?

Kapan majalah Asy-Syariah mengeluarkan kaos/jaket? Jangan kalah sama majalah-majalah yang lain, supaya majalah kita dikenal. 08179xxxxxx

Jazakumullahu khairan atas masukannya, akan kami pertimbangkan.

Pembahasan tentang Mahram

Saya mau tanya tentang dien Islam. Siapa saja mahram dan yang bukan termasuk mahram? Maaf, pertanyaan agak terlalu panjang. 085326xxxxxx

Pembahasan tentang mahram telah kamiangkat pada rubrik Problema Anda, AsySyariahNo. 08, dan rubrik Wanita dalam Sorotan,Asy Syariah No. 09—12. Silakan dilihat kembali.

Di Balik Keindahan Islam Manhaji

 

Islam, Cahaya Bagi Kehidupan

Sebelum Islam datang, kehidupan umat manusia berlumur kenistaan. Norma-norma agama tidak dihiraukan. Akhlak mulia diabaikan. Kesyirikan—dosa besar yang paling besar—menjadi ikon peradaban. Pembunuhan, kezaliman, perzinaan, dan beragam kemaksiatan lainnya menyatu dalam kehidupan. Sementara itu, cahaya iman dan ramburambu tauhid padam, seiring dengan berputarnya roda zaman. Masa itu pun kemudian dikenal dalam sejarah dengan masa jahiliah (kebodohan).

Kala umat manusia berada dalam jurang kejahiliahan itu, Allah Yang Maha rahman mengutus Rasul-Nya yang terbaik, Nabi Besar Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagai pemberi peringatan, membawa petunjuk ilahi, agama Islam yang benar dan Kitab Suci al-Qur’an.

Dengan itulah, Allah l menunjuki umat manusia kepada jalan keselamatan dan mengentaskan mereka dari jurang kejahiliahan menuju kehidupan Islam yang terang benderang. Allah Subhanahuwata’ala  berfirman,

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ

“Dialah (Allah Subhanahuwata’ala) yang telah mengutusR asul-Nyad engan(m embawa) petunjukd ana gamay angb enar,a gar Allahmemenangkanagamatersebut atassemuaagamayangada, walaupun orang-orangm usyrikti dakm enyukainya.” (ash-Shaff: 9)

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ قَدْ جَاءَكُمْ رَسُولُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ كَثِيرًا مِّمَّا كُنتُمْ تُخْفُونَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ ۚ قَدْ جَاءَكُم مِّنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُّبِينٌ () يَهْدِي بِهِ اللَّهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهُ سُبُلَ السَّلَامِ وَيُخْرِجُهُم مِّنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِهِ وَيَهْدِيهِمْ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ

“Hai Ahli kitab,telah datang kepada kalian Rasul kami, menjelaskan kepada kalian banyak dari al-Kitab yang kalian sembunyikan dan banyak pula yang dibiarkannya. Sungguh, telah datang kepada kalian cahaya dari Allah dan kitab yang menerangkan (al-Qur’an). Dengan kitab itulah, Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya kepada jalan keselamatan. Dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari kegelapan menuju cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka kejalan yang lurus.” (al-Maidah: 15—16)

Islam Rahmatan Lil Alamin

Islam yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah rahmatan lil alamin (rahmat bagi semesta alam). Agama yang diliputi kesempurnaan dan keindahan. Syariatnya yang senantiasa relevan sepanjang masa benar-benar menyinari segala sudut kehidupan. Tak hanya wacana keilmuan yang dihadirkan, misi tazkiyatun nufus (penyucian jiwa) dari berbagai akhlak tercela (amoral) pun selalu ditekankan, seiring dengan misi keilmuan tersebut yang mengawal umat manusia menuju puncak kemuliaan. Allah Subhanahuwata’ala berfirman,

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (al-Anbiya’: 107)

Syariatnya senantiasa memerhatikan hubungan antara hamba dan Penciptanya (Allah Subhanahuwata’ala), dengan memurnikan ibadah hanya untuk-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun, tunduk dan patuh kepada-Nya, berserah diri kepada-Nya, memosisikan-Nya sebagai tumpuan hidup, serta berlepas diri dari orang-orang yang menyekutukan- Nya.

Demikian pula, Islam memerhatikan hubungan antara hamba dan sesamanya, yaitu dengan cara menyayangi yang lebih muda dan menghormati yang lebih tua, menyantuni yang lemah, membantu yang sedang kesulitan, menyambung tali silaturahmi, menjaga hubungan baik dengan tetangga, memuliakan tamu, bagus dalam bermuamalah (berinteraksi), jujur dalam bertransaksi, dan sebagainya.

Syariat Islam adil dan tepat, tidak  berlebihan dan tidak bermudah-mudahan dalam segala aspeknya. Itulah di antara kesempurnaan Islam. Allah Subhanahuwata’ala berfirman,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Padahari ini telah Ku-sempurnakan untuk kalian agama kalian, telah Ku cukupkan untuk kalian nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhaI islam itu sebagai agama bagi kalian.” (al-Maidah: 3)

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahumullah dalam ceramah agama yangbertajuk asy-Syari’ahal-Islamiyyah wa Mahasinuha wa Dharuratual-Basyar Ilaiha mengatakan, “Syariat ini dipenuhi kemudahan, toleransi, kasih sayang, dan kebaikan. Syariat ini dipenuhi oleh kemaslahatan yang tinggi dan senantiasa memerhatikan berbagai sisi yang dapat mengantarkan para hamba menuju kebahagiaan dan kehidupan mulia, di dunia dan di akhirat.”

Islam, Nikmat yang Amat Mulia

Di antara kenikmatan yang teramat mulia bagi seseorang adalah nikmat Islam. Orang-orang yang hidup di bawah bimbingan Islam tidak sama dengan orang-orang yang hidup berkesumat benci terhadapnya. Allah Subhanahuwata’ala berfirman,

أَفَمَن شَرَحَ اللَّهُ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ فَهُوَ عَلَىٰ نُورٍ مِّن رَّبِّهِ ۚ فَوَيْلٌ لِّلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُم مِّن ذِكْرِ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ فِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ

“Apakah orang-orang yang Allah lapangkan dadanya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Rabbnya (sama dengan orang yang  membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah  membatu hatinya untuk mengingat Alah, mereka itu dalam kesesatan yang nyata.” (az-Zumar: 22)

Asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahumullah berkata, “Apakah orang yang dilapangkan dadanya oleh Allah Subhanahuwata’ala untuk (menyambut) agama Islam, siap menerima dan menjalankan segala hukum (syariat) yang dikandungnya dengan penuh kelapangan, bertebar sahaja, dan di atas kejelasan ilmu (inilah makna firman Allah Subhanahuwata’ala, ‘ia mendapat cahaya dariRabbnya’), sama dengan selainnya? Yaitu, orang-orang yang membatu hatinya terhadap Kitabullah, enggan mengingat ayat-ayat Allah Subhanahuwata’alal, dan berat hatinya menyebut (nama) Allah Subhanahuwata’ala. Dia justru selalu berpaling dari (ibadah kepada) Rabbnya dan mempersembahkan (ibadah tersebut) kepada selain Allah Subhanahuwata’ala. Merekalah orang-orang yang ditimpa kecelakaan dan kejelekan yang besar.” (Taisir al-Karimirrahman, hlm. 668)

Tak heran apabila Allah Subhanahuwata’ala mewasiatkan kepada para hamba-Nya agar masuk ke dalam agama Islam itu secara total (kaffah), sebagaimana firman-Nya,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara total, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi kalian.” (al-Baqarah: 208)

Menilik Dasar Hukum Islam

Dasar hukum Islam yang paling utama adalah al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kesempurnaan dan keindahan Islam tak bisa dipisahkan dari keduanya. Sejak dini Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan keduanya kepada umat, dengan membacakannya dan menjelaskan segala kandungannya. Itulah di antara misi utama diutusnya beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada seluruh umat manusia. Allah Subhanahuwata’ala berfirman,

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا مِن قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ () وَآخَرِينَ مِنْهُمْ لَمَّا يَلْحَقُوا بِهِمْ ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ ()

“Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang rasul diantara mereka, yang membacakan ayat-ayat- Nya kepada mereka, menyucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab (al-Qur’an) dan al-Hikmah (as-Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata, dan (juga) kepada kaum yang lain dari mereka yang belum berhubungan dengan Mereka Dia-lah Yang Maha perkasa lagi Maha bijaksana.” (al-Jumu’ah: 2—3)

Kedudukan keduanya sebagai dasar hukum semakin nyata manakala Allah Subhanahuwata’ala memerintahkan orang-orang yang beriman agar kembali kepada keduanya saat terjadi perbedaan pendapat di antara mereka. Allah Subhanahuwata’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ ۖ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri diantara kalian.Kemudian jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, kembalikanlah ia kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika Kalian benar-benar beriman kepada Allah Dan harikemudian. Hal itu lebih utama (bagi kalian) dan lebih baik akibatnya.” (an-Nisa’: 59)

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahumullah berkata, “Ini adalah perintah Allah Subhanahuwata’ala agar segala yang diperselisihkan oleh manusia, baik dalam masalah pokok agama maupun cabangnya, dikembalikan kepada al- Qur’an dan as-Sunnah, sebagaimana firman-Nya ,

وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِن شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللَّهِ ۚ ذَٰلِكُمُ اللَّهُ رَبِّي عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ

‘Tentang apa pun yang kalian perselisihkan, maka putusannya (terserah) kepada Allah. (Yang mempunyai sifat sifat demikian) itulah Allah Rabbku. Hanya kepada-Nyalah aku bertawakal dan hanya kepada-Nya pula aku kembali.’ (asy-Syura: 10)

Oleh karena itu, apa yang diputuskan dan dinyatakan benar oleh Kitabullah (al-Qur’an) dan Sunnah Rasul-Nya maka itulah yang benar, sedangkan yang selainnya adalah kesesatan.” (Tafsir Ibnu Katsir 2/345)

Dengan mengikuti keduanya, akan diraih keberuntungan di dunia dan di akhirat. Allah Subhanahuwata’ala berfirman,

الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِندَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنجِيلِ يَأْمُرُهُم بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالْأَغْلَالَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ ۚ فَالَّذِينَ آمَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنزِلَ مَعَهُ ۙ أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“(Yaitu) orang-orang yang mengikuti Rasul, nabi yang ummi, yang (namanya) mereka dapati tertulis didalam Taurat dan Injil yang ada disisi mereka, menyuruh merekamengerjakanyangma’ruf (baik) dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar (buruk); menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk; serta membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya, dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (al-Qur’an), mereka itulah orang-orang yangberuntung.” (al-A’raf: 157)

Demikianlah al-Qur’an dan as- Sunnah. Keduanya adalah peninggalan berharga yang diwariskan oleh Rasulullah n kepada umatnya. Barang siapa berpegang teguh dengan keduanya, niscaya tak akan sesat selama-lamanya. Rasulullah n bersabda,

تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا: كِتَابَ اللهِ وَسُنَّةَ رَسُولِهِ

“Aku wariskan untuk kalian dua hal, jika kalian berpegang teguh dengan keduanya tak akan sesat selama-lamanya: Kitabullah(al-Qur’an) dan Sunnah Rasul-Nya.” (HR. Malik dalam al- Muwaththa’, dinyatakan hasan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Misykatul Mashabih 1/66)

Satu hal penting yang harus diperhatikan oleh setiap muslim dan muslimah bahwa berpegang teguh dengan al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam itu dengan cara seseorang memahaminya secara benar sesuai dengan pemahaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya (as-salafushshalih)

Tidak berdasarkan logika atau hawa nafsu. Di samping itu, dia menjadikan al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai pedoman hidup, dan kembali kepada keduanya saat terjadi perbedaan pendapat.

Islam di Antara Makar Musuh- Musuhnya

Kesempurnaan dan keindahanIslam amat dibenci oleh musuh-musuhnya. Sebab itu, sejak awal masa keislaman, mereka tak pernah tinggal diam. Berbagai makar dan permusuhan mereka lakukan. Terkadang dengan kontak fisik yang terwujud dalam berbagai episode peperangan. Terkadang pula dengan  perang pemikiran (ghazwul fikri). Perang jenis kedua inilah yang terus mereka gencarkan hingga hari ini. Karena di mata mereka, hal ini sangat strategis demi pendangkalan keimanan dan emosional keislaman (ghirah) kaum muslimin.

Tak pelak, kerancuan berpikir (syubhat) mereka tebar di tengahtengah kaum muslimin, terutama yang berkaitan dengan al-Qur’an dan as- Sunnah. Targetnya, menjauhkan kaum muslimin dari al-Qur’an dan as-Sunnah serta mengikis kepercayaan mereka terhadap kedua peninggalan berharga yang diwariskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam itu. Mereka yakin, selama kaum muslimin berpegang teguh dengan al-Qur’an dan as-Sunnah, niscaya kehidupan mereka terbimbing dan sulit dikalahkan. Terkait dengan al-Qur’an, mereka tebar beragam kerancuan berpikir (syubhat) atau hujatan. Di antaranya adalah:

1. Al-Qur’an adalah buatan Muhammad, bukan wahyu dari Allah Subhanahuwata’ala. Allah Subhanahuwata’ala membantah tuduhan semacam ini dalam firman-Nya,

وَإِنَّكَ لَتُلَقَّى الْقُرْآنَ مِن لَّدُنْ حَكِيمٍ عَلِيمٍ

“Sesungguhnya kamu benar-benar diberial-Qur’andarisisi(Allah) yang Maha bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (an-Naml: 6)

قُلْ نَزَّلَهُ رُوحُ الْقُدُسِ مِن رَّبِّكَ بِالْحَقِّ لِيُثَبِّتَ الَّذِينَ آمَنُوا وَهُدًى وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ () وَلَقَدْ نَعْلَمُ أَنَّهُمْ يَقُولُونَ إِنَّمَا يُعَلِّمُهُ بَشَرٌ ۗ لِّسَانُ الَّذِي يُلْحِدُونَ إِلَيْهِ أَعْجَمِيٌّ وَهَٰذَا لِسَانٌ عَرَبِيٌّ مُّبِينٌ ()

“Katakanlah,‘ Ruhul Qudus( Jibril) menurunkan al-Qur’an itu dari Rabbm dengan benar, untuk meneguhkan ( hati) orang-orang yang telah beriman,serta menjadi petunjuk dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Alah).’ Sesungguhnya Kami mengetahui bahwa mereka berkata‘, Sesungguhnya al-Qur’an itu diajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad).’ Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa) Muhammad belajar kepadanya adalah bahasa‘ajam (selain bahasa Arab), sedangkanal-Qur’an adalah dalam bahasa Arab yang terang.” (an-Nahl: 102—103)

2.A l-Qur’an adalah dongengan orang-orang dahulu.

Allah Subhanahuwata’ala berfirman,

وَمِنْهُم مَّن يَسْتَمِعُ إِلَيْكَ ۖ وَجَعَلْنَا عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ أَكِنَّةً أَن يَفْقَهُوهُ وَفِي آذَانِهِمْ وَقْرًا ۚ وَإِن يَرَوْا كُلَّ آيَةٍ لَّا يُؤْمِنُوا بِهَا ۚ حَتَّىٰ إِذَا جَاءُوكَ يُجَادِلُونَكَ يَقُولُ الَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ هَٰذَا إِلَّا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ

“Diantara mereka adaorang yang mendengarkan (bacaan)mu, padahal Kami telah meletakkan tutupan di  atas hati mereka (sehingga mereka tidak) memahaminya dan( Kamil etakkan) sumbatan di telinga mereka. Jika pun Mereka melihat segala tanda( kebenaran), mereka tetap tidak mau beriman kepadanya. Sampai apabila mereka Datang kepadamu untuk membantahmu, orang-orang kafir itu berkata, ‘Al-Qur’an ini tidak lain hanyalah dongengan orang- orang dahulu’.” (al-An’am: 25)

3. Al-Qur’an adalah kumpulan syair yang digubah oleh Muhammad. Allah Subhanahuwata’ala membantah mereka dalam firman-Nya,

وَمَا عَلَّمْنَاهُ الشِّعْرَ وَمَا يَنبَغِي لَهُ ۚ إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ وَقُرْآنٌ مُّبِينٌ

“Kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Muhammad) dan bersyair Itu tidaklah layak baginya. Al-Qur’an itu tidak lain hanyalah pelajaran dan kitab Yang memberi penerangan.”( Yasin:6 9)

4. Al-Qur’an adalah kitab suci palsu, mengalami perubahan, atau tidak lengkap, sebagaimana hujatan kaum Syi’ah. Allah Subhanahuwata’ala membantah tuduhan semacam ini dalam firman-Nya,

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

“Sesungguhnya Kamilah yang Menurunkan al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.”3 (al-Hijr: 9)

5. Ayat-ayat al-Qur’an saling bertentangan. Allah Subhanahuwata’ala membantahnya dalam firman-Nya,

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنزَلَ عَلَىٰ عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَل لَّهُ عِوَجًا ۜ () قَيِّمًا لِّيُنذِرَ بَأْسًا شَدِيدًا مِّن لَّدُنْهُ وَيُبَشِّرَ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا حَسَنًا ()

“Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya al-Kitab (al-Qur’an) dan dia tidak Mengadakan kebengkokan di dalamnya. Sebagai bimbingan yang lurus, untuk memperingatkan siksaan yang sangat pedih dari sisi Allahdan memberi berita gembira kepada orang-orang Yang beriman, yang mengerjakan amal saleh, bahwa mereka akan mendapat Pembalasan yang baik.” (al-Kahfi: 1—2)

Demikianlah Kitab Suci al-Qur’an. Betapapun banyaknya makar yang ditujukan kepadanya, kesucian dan kemurniannya akan senantiasa terjaga, sebagaimana yang ditegaskan oleh Allah Subhanahuwata’ala dalam surat al-Hijr ayat 9 di atas.

Adapun makar dan hujatan musuhmusuh Islam terhadap Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam beragam pula bentuknya. Target utamanya adalah agar Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam itu ditolak oleh umat, baik secara  total maupun sebagiannya. Terkait hal ini, Allah Subhanahuwata’ala berfirman,

وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ () إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ ()

“Tiadalah yang diucapkann yaitu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (an-Najm: 3—4)

وَأَنزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan Kami turunkan kepadamu al-Qur’an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.” (an-Nahl: 44)

مَّا أَفَاءَ اللَّهُ عَلَىٰ رَسُولِهِ مِنْ أَهْلِ الْقُرَىٰ فَلِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ كَيْ لَا يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ الْأَغْنِيَاءِ مِنكُمْ ۚ وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Apa yang diberitakan Rasul kepada  kalian maka terimalah dia, dan apa yang dilarangnya maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah . Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya.” (al-Hasyr: 7)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Ingatlah, sungguh aku telah diberi (olehAllah Subhanahuwata’ala, -pen.) al-Kitab dan yang semisal dengannya (as-Sunnah, -pen.) secara bersamaan. Ingatlah, sungguh akan ada seorang laki-laki yang kenyang perutnya sambil bertelekan diatas sofanya mengatakan, ‘Wajib bagi kalian berpegang teguh dengan al-Qur’an ini, apa yang kalian dapati padanya dari sesuatu yang halal maka halalkanlah, dan apa yang kalian dapati padanya dari sesuatu yang haram maka haramkanlah.’ ( Kemudian beliau bersabda ),‘Dan ( ingatlah ), sesungguhnya apa yang diharamkan oleh Rasulullah n itu seperti yang diharamkan oleh Allah Subhanahuwata’ala….’.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah dari sahabat al-Miqdam bin Ma’dikarib radhiyallahu anhu, dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Misykatul Mashabih no. 163)

Demikianlah selayang pandang tentang Islam dan keindahannya, semoga dapat memberikan pencerahan bagi kehidupan kita. Dengan satu harapan, semoga kita semakin giat mempelajari Islam dan semakin sabar mengamalkannya di setiap sendi kehidupan kita. Wallahua’lambish-shawab.

Ditulis oleh Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi, Lc.

Mengapa Mereka Ragukan Keindahan Islam?

Islam seluruhnya indah. Akidahnya adalah akidah yang paling benar, paling lurus, dan menyucikan jiwa. Adab adab yang diajarkannya paling terpuji. Demikian pula amalan-amalan dan  hukum-hukumnya adalah amalan dan hukum yang paling baik dan paling adil. Islam adalah agama kebahagiaan, ketenteraman, serta kemenangan di dunia dan akhirat.

Islam tidak membiarkan manusia dalam kesendiriannya, atau bersama keluarga, sanak saudara, tetangga, atau bersama saudara-saudara seagamanya, bahkan bersama manusia lainnya, tetapi Islam mengajarkan adab-adabnya secara rinci, serta menunjukkan cara-cara bergaul yang membuat kehidupannya damai dan penuh kebahagiaan.

Ketika seseorang mau menatap dan mentadabburi mahasin (keindahan) Islam, sungguh Allah subhanahu wata’ala akan meresapkan keimanan dan kelezatan iman ke dalam kalbunya. Allah subhanahu wata’alaberfirman,

وَلَٰكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ

“Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan, menjadikan iman itu indah dalam kalbumu, serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang orang yang mengikuti jalan yang lurus.” (al-Hujurat: 7)

Keindahan yang Tidak Terlukiskan Ibnul Qayyim rahimahumullah berkata, “Jika Anda perhatikan hikmah yang sangat agung pada agama yang lurus, syariat yang dibawa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan segala kesempurnaannya, niscaya keindahan syariat ini tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata, tidak kuasa untuk disifatkan, serta tidak dapat digambarkan oleh orang-orang yang akalnya cemerlang sekalipun. Mereka tidak bisa melakukannya meskipun mereka berkumpul untuk memikirkannya, meskipun mereka semua memiliki akal yang paling sempurna—menurut ukuran akal yang paling cemerlang untuk mengenali keindahan Islam dan menyaksikan keutamaannya.

Sungguh, di alam semesta ini tidak pernah ada syariat yang lebih sempurna, lebih mulia, dan lebih agung darinya. Syariat Islam itu sendirilah yang menjadi saksi dan yang disaksikan, menjadi hujah dan yang didukung oleh hujah, tentang keagungan dan keindahannya. Bahkan seandainya Rasul tidak datang membawa bukti keterangan niscaya sudah cukup syariat ini menjadi bukti dan saksi bahwa ia diturunkan dari sisi Allah subhanahu wata’ala.” ( Miftah Dar as-Sa’adah)

Syariat Islam sangat agung dan penuh keindahan. Cahaya keindahannya telah menyinari semesta dan setiap orang mampu menatapnya. Akan tetapi, bersama dengan terangnya cahaya kebenaran tersebut, tetap saja kebanyakan manusia lebih suka memilih jalan-jalan setan.

لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ ۖ قَد تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ

“Tidak ada paksaan untuk ( memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat.” (al-Baqarah: 256)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat dalam keadaan ajaran Islam mencapai puncak-puncak keindahan, kesempurnaan, dan keadilan karena yang mensyariatkan adalah Allah subhanahu wata’ala, Dzat yang Mahaindah, Mahasempurna, dan Maha adil. Untuk memeluk agama Islam yang penuh dengan keindahan inilah, seluruh manusia diseru agar tunduk berserah diri beribadah kepada Allah subhanahu wata’ala.

فَإِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ فَلَهُ أَسْلِمُوا ۗ وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِينَ

“Ilah (sesembahan) kalian semua ialah Ilah Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh ( kepada Alah).” (al-Hajj: 34)

Sebenarnya Mereka Tahu

Musuh-musuh Allah subhanahu wata’ala sebenarnya sadar bahwa Islam adalah agama yang mulia, agama yang penuh dengan keindahan. Bahkan, kekaguman itu terucap dari lisan sebagian mereka atau telah masuk dalam relung hati mereka. Akan tetapi, kedengkian dan hasad menghalangi mereka dari hidayah. Kejahilan dan hawa nafsu membuatnhati mereka terbalik, seperti kekufuran Fir’aun dan kaumnya.

فَلَمَّا جَاءَتْهُمْ آيَاتُنَا مُبْصِرَةً قَالُوا هَٰذَا سِحْرٌ مُّبِينٌ () وَجَحَدُوا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَا أَنفُسُهُمْ ظُلْمًا وَعُلُوًّا ۚ فَانظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُفْسِدِينَ

“Tatkala mukjizat-mukjizat Kami yang jelas itu sampai kepada mereka, berkatalah mereka‘Ini adalah sihir yang nyata.’ Mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan (mereka) padahal hati mereka meyakini (kebenaran)-nya. Maka dari itu, perhatikanlah betapa kesudahan orang-orang yang berbuat kebinasaan.” (an-Naml: 13—14)

Demikian pula ahlul kitab yang di atas ilmu. Mereka berpaling dari hidayah dalam keadaan mengenal kebenaran Islam dan Nabi Muhammad, serta lebih memilih jahannam. Allah subhanahu wata’ala berfirman,

الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءَهُمْ ۖ وَإِنَّ فَرِيقًا مِّنْهُمْ لَيَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

“Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri al-Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mengenal anak-anak mereka sendiri. Sungguh, sebagian diantara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.” (al-Baqarah: 146)

Dalam ayat lain, Allah subhanahu wata’ala berfirman tentang ahlul kitab,

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ أُوتُوا نَصِيبًا مِّنَ الْكِتَابِ يُؤْمِنُونَ بِالْجِبْتِ وَالطَّاغُوتِ وَيَقُولُونَ لِلَّذِينَ كَفَرُوا هَٰؤُلَاءِ أَهْدَىٰ مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا سَبِيلًا

“Apakah kamu tidak memerhatikan orang-orang yang diberi bagian dari al-Kitab? Mereka percaya kepada jibt dan thaghut, serta mengatakan kepada orang-orang kafir (musyrik Makkah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya daripada orang-orang yang beriman.” (an-Nisa: 51)

Ayat ini turun berkenaan dengan dua tokoh ahlul kitab, Huyai bin Akhthab dan Ka’b al-Asyraf. Keduanya mengerti betul kerasulan Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Keduanya juga sangat yakin akan kebenaran Islam.

Namun, ketika musyrikin Makkah bertanya kepada keduanya saat datang ke Makkah, “Kalian adalah ahlul kitab. Kabarkanlah kepada kami siapa yang lebih mendapat petunjuk, kami atau Muhammad dan pengikutnya?” Keduanya menjawab dengan jawaban yang disebutkan oleh Allah Subhanahu wata’ala dalam ayat di atas, “Kalian (musyrikin Makkah) lebih baik dan lebih lurus jalannya daripada Muhammad dan sahabatnya.”

Demikian pula munafikin, mereka tahu kebenaran Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan keindahan Islam, namun kebencian dan hasad membutakan hati mereka. Di zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. sekawanan munafikin mengolok-olok beliau dan para sahabat, menjadikan beliau sebagai bahan ejekan dan senda gurau. Ketika Perang Tabuk, di antara mereka memberikan komentar tentang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya dengan ucapan kekafiran,

“Belum pernah kita melihat semisal mereka para pembaca al-Qur’an (yakni Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sahabat), yang paling rakus makannya, paling dusta ucapannya, dan paling penakut kala berhadapan dengan musuh.”

Allahu Akbar, sungguh mereka telah mengucapkan sebuah perkataan yang bertolak belakang dengan yang mereka ketahui. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bukanlah orang yang rakus atau banyak makan, sebaliknya beliau bersabar dengan kelaparan yang beliau derita. Beliau pernah mengganjal perut dengan bebatuan. Beliau bukan pula pendusta, bahkan manusia menjulukinya sebagai al-Amin sebelum kerasulan beliau.

Tidak sekalipun beliau berdusta. Demikian pula dalam perang, tidak ada seorang pun yang lebih pemberani daripada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semua tuduhan munafikin dan orang kafir kepada Islam dan Nabi Islam adalah dusta. Sepanjang sejarah, iblis dan bala tentaranya berusaha memalingkan manusia dari Islam dengan menyematkan tuduhan-tuduhan keji terhadap Islam.

Padahal Islam diliputi dengan keindahan. Enam tahun silam misalnya, sebagian orang menyebarkan gambar karikatur Nabi bersorbankan rudal, menggambarkan kekejaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan syariat Islam yang beliau bawa. Padahal semua tahu, sejarah manusia menyaksikan, dunia pun menjadi saksi bisu bahwa orang-orang kafirlah yang justru telahmembuat kerusakan di muka bumi.

Merekalah yang telah menumpahkan darah-darah manusia. Merekalah yang menebarkan kekejaman dan kekejian. Terkait kejadian ini, asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah berkata, “Media massa, baik surat kabar maupun yang lainnya, telah menyebarkan berita-berita menyedihkan dan melukai (umat), yang bersumber dari musuhmusuh Islam yang dengki dan terputus dari kebaikan, yang menyudutkan agama dan nabi Islam. (Di antaranya) perbuatan yang mengandung celaan terhadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menjelek-jelekkan risalahnya, baik yang muncul dari individu maupun organisasi Nasrani yang menyimpan kedengkian.

Juga dari sebagian penulis yang dengki dan orang yang tidak peduli, seperti para karikaturis sebuah surat kabar Denmark, Jylland Posten, yang menghina sebaik-baik manusia dan rasul paling sempurna, yaitu Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Padahal, bumi tidak pernah mengetahui ada orang yang lebih cerdas dan lebih mulia daripada beliau dalam hal akhlak, keadilan, dan kasih sayang. Tidak pernah diketahui ada satu risalah pun yang lebih sempurna, lebih menyeluruh, lebih adil, dan lebih kasih sayang daripada risalah beliau.

Risalah ini mengandung keimanan terhadap seluruh nabi dan rasul, menghormati mereka dan menjaga mereka dari tikaman dan penghinaan, serta menjaga sejarah mereka. Di antara para rasul tersebut adalah ‘Isa dan Musa ‘alaihisslam. Barang siapa kafir terhadap Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menghinanya, berarti dia telah kafir terhadap para rasul dan menghina mereka semuanya.

Sungguh, orang-orang rendahan dan buas itu telah mengolok-olok beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka telah membuat beragam karikatur, berjumlah dua belas karikatur yang sangat menghina. Salah satunya menampilkan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mengenakan sorban yang menyerupai bom di atas kepalanya.”

Pembaca, demikianlah musuh-musuh Islam mengolok-olok dan menuduh Islam sebagai agama kejam, keji, dan agama yang menyebarkan teror. Tidak tanggungtanggung, mereka merobek kehormatan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan disebarkan ke seluruh penjuru dunia, padahal sesungguhnya mereka mengetahui kemuliaan Islam dan kebobrokan diri mereka sendiri….

Asy-Syaikh Rabi’ berkata selanjutnya, “Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, para khalifahnya yang terbimbing, dan para sahabatnya yang mulia, tidak pernah membuat pabrik-pabrik senjata, meski persenjataan kuno sekalipun, baik pedang maupun tombak, lebih-lebih bom atom dan rudal antarbenua, serta semua jenis senjata pemusnah massal. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membuat satu pun pabrik senjata karena beliau diutus sebagai rahmat bagi alam semesta….

Adapun kalian, wahai orangorang Barat yang sok mengaku modern, kami nyatakan kepada kalian bahwa sesungguhnya kalian memiliki aturan dan perundang-undangan yang menghancurkan akhlak dan membolehkan berbagai perkara yang haram. Di antaranya adalah zina dan penyimpangan seksual. Di antaranya juga adalah riba yang menghancurkan ekonomi umat. Kalian menghalalkan bangkai dan daging babi yang mengakibatkan sifat dayyuts sehingga seorang laki-laki tidak merasa cemburu terhadap istrinya, saudara wanitanya, dan anak perempuannya. Kemudian wanita-wanita itu berzina dan mencari pasangan kumpul kebo semaunya. Ini adalah sarana-sarana penghancur yang diharamkan oleh risalah semua rasul.

Adapun bom dan seluruh senjata pemusnah serta sarana-sarananya, baik  pesawat tempur, tank, maupun rudal jelajah, sesungguhnya kalianlah para insinyur dan produsennya. Semua itu dengan akal setan kalian yang tidak berpikir selain demi permusuhan, kezaliman, kekerasan, melampaui batas, ketamakan menguasai seluruh jenis manusia serta memperbudak mereka, menumpahkan darah dan merampok kekayaan mereka… Semua itu dipoles dengan nama kemajuan, membela hak asasi manusia, kebebasan, dan keadilan….”1

Wahai orang-orang yang tertipu, siapakah yang berbuat kerusakan di muka bumi? Para nabi dan Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam atau mereka para kafir durjana?

Faedah Mempelajari Keindahan Islam

Di tengah-tengah badai fitnah dan perang pemikiran, serta semakin jauhnya sebagian kaum muslimin dari mengenal keindahan agamanya, pembahasan mengenai mahasin dinul Islam menjadi perkara yang sangat penting karena:

1. Mentadabburi dalil-dalil al-Kitab dan as-Sunnah tentang keindahan Islam termasuk amalan yang termulia. Allah subhanahu wata’ala berfirman,

كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memerhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” (Shad: 29)

2. Mempelajari dan mentadabburi keindahan Islam adalah salah satu bentuk syukur terhadap nikmat Islam yang dianugerahkan oleh Allah subhanahu wata’ala. Allah subhanahu wata’ala berfirman,

وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ

“Dan terhadap nikmat Rabbmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur).” (adh-Dhuha: 11)

3. Merenungkan keindahan Islam dan kesempurnaan syariat Allah subhanahu wata’ala adalah salah satu sebab bertambahnya keimanan, hingga ia merasakan kelezatan iman. Semakin kuat perhatian seorang muslim terhadap keindahan agama ini, semakin kokoh tapak kakinya dalam mengenal agama ini, mengenal keindahan dan kesempurnaannya, serta keburukan apa pun yang menyelisihinya. Ia pun menjadi orang yang kuat keimanannya.

Barang siapa mengenal Islam di atas ilmu, dia akan ridha Allah subhanahu wata’ala sebagai Rabbnya, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai nabinya, dan Islam sebagai agamanya, serta tidak pernah terbetik dalam kalbunya untuk mencari ganti selain Islam.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Tiga sifat yang jika itu ada pada diri seseorang, ia akan mendapatkan manisnya iman: (Pertama) Allah subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari selain keduanya (Kedua) ia mencintai seseorang, tidaklah mencintainya melainkan karena Allah Subhanahu wata’ala (Ketiga) ia membenci untuk kembali kepada kekafira setelah Allah menyelamatkannya darinya  sebagaimana ia benci untuk dilempar dalam api.”

4. Mempelajari dan menyebarkan mahasin Islam termasuk sebesar-besar dakwah kepada orang kafir untuk masuk ke dalam agama Islam.

5. Mempelajari dan menyebarkan mahasin Islam termasuk sebesar-besar dakwah (ajakan) kepada kaum muslimin untuk lebih bertamassuk (berpegang teguh) dengan Islam.

6. Pembahasan mahasinul Islam juga sebagai bantahan bagi musuh-musuh Allah Subhanahu wata’ala yang selalu memutarbalikkan fakta, dan menyematkan tuduhan-tuduhan keji terhadap Islam yang dibawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Demi Allah, pembahasan mahasinul Islam, seperti diungkapkan oleh Ibnul Qayyim rahimahumullah, tidak mungkin kita ibaratkan dengan kata-kata. Seandainya seluruh orang cerdas mendiskusikannya tidaklah mungkin mereka mampu menunaikan hak-haknya.

Apa yang kita lakukan hanyalah upaya kecil untuk menyadarkan diri kita dari kelalaian, dan usaha untuk mensyukuri nikmat Islam yang Allah Subhanahuwata’ala anugerahkan kepada kita. Di samping itu, kita berusaha memberikan peringatan kepada musuh-musuh Allah Subhanahu wata’ala yang berupaya mengolok-olok Islam bahwa makar busuk mereka tidak pernah akan berhasil.

Sebab, Allah Subhanahu wata’ala lah yang menyempurnakan cahaya agama-Nya, kemudian di hadapan mereka sungguh ada azab yang pedih.

يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

“Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci.” (ash-Shaff: 8)

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc.

Menyelami Samudra Keindahan Islam

Islam adalah Agama Seluruh Nabi dan Rasul Islam adalah agama yang memiliki fadhilah (keutamaan) yang tidak terhingga. Siapa pun yang menyelaminya, dia akan mendapatkan betapa luas dan dalamnya keindahan itu. Di antara keutamaannya, Islam adalah agama seluruh nabi dan rasul. Islam secara syariat adalah:

الْاِسْتِسْ مَالُ لِلهِ بِالتَّوْحِيدِ وَالْاِنْقِيَادُ لَهُ بِالطَّاعَةِ وَالْبَرَاءَةُ مِنَ الشِّرْكِ وَأهَْلِهِ

“Menyerahkan diri kepada Allah Subhanahuwata’ala denganmentauhidkan-Nya, tunduk kepada Allah Subhanahuwata’ala dengan ketaatan kepada-Nya, serta berlepas diri dari kesyirikan dan pelakunya.”

Agama Islam inilah yang didakwahkan oleh seluruh nabi dan rasul kepada umatnya, dari rasul yang pertama hingga diutusnya penutup para nabi, Muhammad bin Abdillah radhiyallahu anhu.  Perbedaan yang ada dari risalah nabi dan rasul hanya pada ahkam (hukum hukum tata cara ibadah) yang memang Allah Subhanahuwata’ala menetapkannya berbeda sesuai dengan zaman dan keadaan setiap umat.

Sebagai contoh, dalam syariat terdahulu, tanah tidak dijadikan sebagai alat bersuci. Adapun dalam syariat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tanah menjadi pengganti air untuk bersuci, yakni dengan bertayammum. Dengan diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, terhapuslah semua hukum nabi nabi terdahulu. Dalam sebuah hadits, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَالْأَنْبِيَاءُ إِخْوَةٌ لِعَ تَّالٍ، أُمَّهَاتُهُمْ شَتَّى وَدِينُهُمْ وَاحِدٌ

“Para nabi adalah saudara dengan ibu-ibu yang berbeda, namun agamanya satu.” (HR. al-Bukhari no. 3187)

Makna hadits ini, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa semua nabi dan rasul berada pada satu pokok agama, yaitu Islam dengan maknanya secara syar’i: Menyerahkan diri kepada Allah dengan mentauhidkan-Nya tunduk kepada Alah  dengan ketaatan kepada-Nya, serta berlepas diri dari kesyirikan dan pelaku syirik.

Adapun dalam ahkam (tata cara ibadahnya) terdapat beberapa perbedaan. Sungguh, ini adalah keindahan Islam. Sebuah kebahagiaan ketika seorang memeluk agama Islam, agama yang dipeluk dan diserukan oleh seluruh nabi dan rasul. Alangkah bahagianya ketika kita masuk ke dalam jannah—insya Allah—bersama dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta seluruh nabi dan rasul.

Perhatikanlah, Saudaraku. Ketika kaum Yahudi dan Nasrani, mengklaim bahwa Nabi Ibrahim Alaihisslam adalah Yahudi atau Nasrani, Allah Subhanahuwata’ala membantah persangkaan mereka. Allah Subhanahuwata’ala berfirman,

مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلَا نَصْرَانِيًّا وَلَٰكِن كَانَ حَنِيفًا مُّسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus (berpaling dari kesyirikan) lagi muslim (berserahdirikepada Allah). Sekali-kali dia bukanlah termasuk golongan orang – orang musyrik.” (Ali Imran: 67)

Demikian pula Isa bin Maryam ‘Alaihissalam, Demi Allah, beliau bukanlah Nasrani. Beliau tidak mengajari umatnya untuk menyembah dirinya. Beliau tidak pula mengajari manusia untuk menyembah ibunya, Maryam. Yang beliau dakwahkan adalah Islam, memerintahkan manusia untuk beribadah hanya kepada Allah Subhanahuwata’ala dan meninggalkan peribadahan kepada selain-Nya. Nabi Isa ‘Alaihissalam berlepas diri dari ucapan dan keyakinan kaum Nasrani. Allah Subhanahuwata’ala berfirman,

وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَٰهَيْنِ مِن دُونِ اللَّهِ ۖ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ ۚ إِن كُنتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ ۚ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلَا أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ ۚ إِنَّكَ أَنتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ () مَا قُلْتُ لَهُمْ إِلَّا مَا أَمَرْتَنِي بِهِ أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ ۚ وَكُنتُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا مَّا دُمْتُ فِيهِمْ ۖ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي كُنتَ أَنتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ ۚ وَأَنتَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ ()

Dan (ingatlah) ketika Allah Subhanahuwata’ala berfirman“ ,Hai  isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia ‘Jadikanlah aku dan ibuku dua orang ilah (sesembahan) selain Allah?’ Isa menjawab, ‘Maha suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku ( mengatakannya).Jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak  mengetahui apa yang ada pada diri-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang gaib. Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan) nya yaitu: Sembahlah Allah, Rabbku dan Rabb kalian, dan aku menjadi saksi terhadap mereka selama aku berada diantara mereka. Maka setelah Engkau angkat aku, Engkaulah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu’.” (al-Maidah: 116—117)

Nabi Isa ‘Alaihissalam, yang kini masih hidup di langit. Di akhir zaman, beliau akan turun ke muka bumi menegakkan syariat Islam beserta hukum-hukum yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan dengan tawadhu’ beliau shalat di belakang Imam Mahdi.

… فَبَيْنَمَا إِمَامُهُمْ قَدْ تَقَدَّمَ يُصَلِّي بِهِمُ الصُّبْحَ إِذْ نَزَلَ عَلَيْهِمْ عِيْسَى بْنُ مَرْيَمَ الصُّبْحَ فَرَجَعَ ذَلِكَ الْإِمَامُ يَنْكُصُ يَمْشِي الْقَهْقَرِي لِيَتَقَدَّمَ عِيْسَى يُصَلِّي بِالنَّاسِ فَيَضَعُ عِيْسَى يَدَهُ بَيْنَ كَتِفَيْهِ ثُمَّ يَقُولُ لَهُ: تَقَدَّمْ فَصَلِّ، فَإِنَّهَا لَكَ أُقِيمَتْ. فَيُصَلِّي بِهِمْ إِمَامُهُم

“… Tatkala imam mereka (al-Mahdi) maju untuk mengimami shalat subuh, tiba tiba turun kepada mereka‘Isa bin Maryam ‘Alaihissalam. Bergegas mundurlah Imam Mahdi kebelakang agar Nabi ‘Isa ‘Alaihissalam mengimami manusia. Nabi‘Isa pun meletakkan tangan beliau diantara pundak al-Mahdi seraya berkata, ‘Maju dan shalatlah, karena untukmu shalat ini ditegakkan’. Akhirnya Imam Mahdi maju mengimami shalat.”

Nabi Musa ‘Alaihissalam, salah seorang nabi termulia dari bani Israil, termasuk ulul ‘azmi, agama yang beliau serukan kepada Fir’aun dan pengikutnya juga Islam. Namun, mereka menolaknya. Di saat yang Allah Subhanahuwata’ala tidak menerima lagi tobat, barulah Fir’aun bertobat dan menyatakan keislaman. Perhatikan firman Allah Subhanahuwata’ala berikut.

وَجَاوَزْنَا بِبَنِي إِسْرَائِيلَ الْبَحْرَ فَأَتْبَعَهُمْ فِرْعَوْنُ وَجُنُودُهُ بَغْيًا وَعَدْوًا ۖ حَتَّىٰ إِذَا أَدْرَكَهُ الْغَرَقُ قَالَ آمَنتُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا الَّذِي آمَنَتْ بِهِ بَنُو إِسْرَائِيلَ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Dan Kami memungkinkan bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir’aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir’aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia, “Saya beriman bahwa tidak ada ilah selain ilah yang diimani oleh bani Israil, dan saya termasuk kaum muslimin (orang – orang yang berserah diri kepada Allah).” (Yunus: 90)

Perhatikan ucapan Fir’aun di saat ajalnya. Ia menyatakan dirinya seorang muslim, beriman kepada Musa Alaihissalam. Namun, ia menyatakannya saat Allah Subhanahuwata’ala tidak lagi menerima keislaman seseorang. Allah Subhanahuwata’ala berfirman,

آلْآنَ وَقَدْ عَصَيْتَ قَبْلُ وَكُنتَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ

“Apakah sekarang (barukamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Yunus: 91)

Inilah salah satu keindahan Islam, semua nabi dan rasul menyerukan Islam, memerintahkan umatnya mengesakan Allah l dalam beribadah dan meninggalkan thaghut, sesembahan selain Allah l.

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ ۖ فَمِنْهُم مَّنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُم مَّنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلَالَةُ ۚ فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ

Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan),“Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut itu.” Lantas diantara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang – orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka dar itu, berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang orang yang mendustakan (rasul rasul). (an-Nahl: 36)

Dalam ayat yang lain, Allah Subhanahuwata’ala berfirman,

وَقَالُوا كُونُوا هُودًا أَوْ نَصَارَىٰ تَهْتَدُوا ۗ قُلْ بَلْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا ۖ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ () قُولُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنزِلَ إِلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطِ وَمَا أُوتِيَ مُوسَىٰ وَعِيسَىٰ وَمَا أُوتِيَ النَّبِيُّونَ مِن رَّبِّهِمْ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّنْهُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ ()

Mereka berkata,“Hendaklah kamu menjadi penganut agama Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk.” Katakanlah,“Tidak, bahkan (kami mengikuti) agamaIbrahim yang lurus. Dan bukanlah dia(Ibrahim) dari golongan orang musyrik.” Katakanlah (hai orang-orang mukmin), Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepadak ami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’kub, dan anak cucunya, sertaapa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Rabb mereka. Kami tidakmembeda-bedakan seorang pun diantara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.” (al- Baqarah: 135-136)

Islam, Agama yang Diridhai oleh Allah Subhanahuwata’ala

Di antara keindahan Islam yang sangat mendasar, Islam adalah satusatunya agama yang diridhai oleh Allah Subhanahuwata’ala. Allah Subhanahuwata’ala tidak menerima dari seorang hamba selain Islam. Allah Subhanahuwata’ala berfirman,

وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Barang siapa mencari agama selain agamaIslam, sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Ali Imran: 85)

As-Sa’di t berkata, “Barang siapa beribadah kepada Allah Subhanahuwata’ala dengan selain agama Islam yang Allah Subhanahuwata’ala meridhainya untuk hamba-Nya, sungguh amalannya tertolak, tidak diterima. Sebab, agama Islam sajalah yang mengandung ketundukan kepada Allah l, ketulusan (dalam beribadah kepada-Nya), dan ketaatan kepada para rasul-Nya. Siapa pun yang tidak membawa Islam berarti ia tidak menempuh sebab keselamatan dari azab Allah l dan keberuntungan dengan pahala-Nya. Semua agama selain Islam adalah batil.” (Tafsir as-Sa’di)

Dalam ayat lain, Allah Subhanahuwata’ala berfirman,

إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

“Sesungguhnya agama(yang diridhai) dissi Allah hanyalah Islam.” (Ali Imran: 19)

Satu kemuliaan ini saja sebenarnya sudah cukup bagi seseorang untuk memeluk agama yang mulia ini, agar dirinya dirahmati oleh Allah l dan memperoleh keberuntungan di dunia dan akhirat, serta selamat dari azab-Nya Subhanahuwata’ala.

Saudaraku, di Padang Mahsyar kelak, kaum musyrikin mengikuti sesembahansesembahan mereka masuk ke dalam neraka. Demikian pula Yahudi dan Nasrani masuk ke dalam neraka sebelum jembatan dipancangkan. Yang tersisa hanya kaum muslimin, yaitu seluruh nabi dan rasul serta orang-orang yang beriman kepada mereka. Termasuk yang masih berdiri bersama kaum muslimin adalah orang-orang yang menampakkan dirinya Islam padahal ia kafir (munafik).

Al-Imam Muslim rahimahumullah meriwayatkan sebuah hadits yang sangat panjang dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu anhu no. 269, di antara teksnya adalah:

إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ أَذَّنَ مُؤَذِّنٌ: لِيَتَّبِعْ كُلُّ أُمَّةٍ مَا كَانَتْ تَعْبُدُ؛ فَ يَبْقَى أَحَدٌ كَانَ يَعْبُدُ غَيْرَ اللهِ سُبْحَانَهُ مِنَ الْأَصْنَامِ وَالْأَنْصَابِ إِلَّا يَتَسَاقَطُونَ فِي النَّارِ حَتَّى إِذَا لَمْ يَبْقَ إِلَّا مَنْ كَانَ يَعْبُدُ اللهَ مِنْ بَرٍّ وَفَاجِرٍ وَغُبَّرِ أَهْلِ الْكِتَابِ، فَيُدْعَى الْيَهُودُ فَيُقَالُ لَهُمْ : مَا كُنْتُمْ تَعْبُدُونَ؟ قَالُوا: كُنَّا نَعْبُدُ عُزَيْرَ ابْنَ اللهِ. فَيُقَالُ: كَذَبْتُمْ، مَا اتَّخَذَ اللهُ مِنْ صَاحِبَةٍ وَلَا وَلَدٍ، فَمَاذَا تَبْغُونَ؟ قَالُوا: عَطِشْنَا، يَا رَبَّنَا فَاسْقِنَا. فَيُشَارُ إِلَيْهِمْ: أَلَا تَرِدُونَ؟ فَيُحْشَرُونَ إِلَى النَّارِ كَأَنَّهَا سَرَابٌ يَحْطِمُ بَعْضُهَا بَعْضًا فَيَتَسَاقَطُونَ فِي النَّارِ؛ ثُمَّ يُدْعَى النَّصَارَى فَيُقَالُ لَهُمْ: مَا كُنْتُمْ تَعْبُدُونَ ؟ قَالُوا : كُنَّا نَعْبُدُ الْمَسِيحَ ابْنَ اللهِ. فَيُقَالُ لَهُمْ: كَذَبْتُمْ، مَا اتَّخَذَ اللهُ مِنْ صَاحِبَةٍ وَلَا وَلَدٍ . فَيُقَالُ لَهُمْ : مَاذَ ا تَبْغُونَ ؟ فَيَقُولُونَ عَطِشْنَا، يَا رَبَّنَا فَاسْقِنَا. قَالَ: فَيُشَارُ إِلَيْهِمْ: أَلَا تَرِدُونَ؟ فَيُحْشَرُونَ إِلَى جَهَنَّمَ كَأَنَّهَا سَرَابٌ يَحْطِمُ بَعْضُهَا بَعْضًا فَيَتَسَاقَطُونَ فِي النَّارِ؛ حَتَّى إِذَا لَمْ يَبْقَ إِلَّا مَنْ كَانَ يَعْبُدُ اللهَ تَعَالَى مِنْ بَرٍّ وَفَاجِرٍ أَتَاهُمْ رَبُّ الْعَالَمِينَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى …

Ketika hari kiamat terjadi, ada penyeru yang mengumumkan,“Setiap umat hendaklah mengikuti apa yang dahulu disembah.”Tidak tersisa orang orang yang dahulu menyembah selain Allah Subhanahuwata’ala ,yakni berhala, selain berjatuhan ke dalam neraka. Hingga yang tinggal hanya orang-orang yang menyembah Allah l, ada yang baik dan ada yang jahat serta sisa-sisa Ahli Kitab.

Dipanggillah orang-orang Yahudi. Mereka ditanya,“Apa yang dahulu kalian sembah?” Mereka menjawab, “Kami menyembah Uzair, anak Allah.” Dikatakan,“Kalian dusta! Allah tidak menjadikan seorang pun sebagai istri atau anak. Lalu apa yang kalian inginkan?” Mereka menjawab,“Kami haus, wahai Rabb kami, berilah kami minum!” Lalu ditunjukkan kepada mereka,“Kenapa kalian tidakdatang kesana?” Mereka digiring ke neraka, seolah-olah neraka itu fatamorgana yang saling menghancurkan. Mereka pun berjatuhan ke dalam neraka.

Kemudian orang-orang Nasrani dipanggil. Mereka ditanya, “Apa yang dahulu kalian sembah?” Mereka menjawab,“Kami menyembah Isa al- Masih anak Allah.” Dikatakan kepada mereka, “Kalian dusta! Allah tidak menjadikan seorang pun sebagai istri atau anak. Apa yang kalian inginkan?”Mereka menjawab,“Kami haus, wahai Rabb, berilah kami minum.” Lalu ditunjukkan kepada mereka, “Kenapa kalian tidak datang kesana?” Mereka digiring ke neraka Jahanam, seolah-olah neraka itu fatamorgana yang saling menghancurkan. Mereka pun berguguran kedalam neraka. Ketika yang tinggal hanya orang orang yang dahulu menyembah Allah Subhanahuwata’ala (yang baik dan yang jahat),Allah Subhanahuwata’ala datang kepada mereka…

Islam Mengeluarkan Manusia dari Kegelapan Menuju Cahaya

Keindahan Islam ini disaksikan oleh semua mata manusia, dan dibuktikan oleh sejarah kehidupan manusia. Islam mengeluarkan manusia dari kegelapan syirik menuju cahaya tauhid, mengeluarkan manusia dari kegelapan kemaksiatan menuju cahaya ketaatan, kegelapan dan kebodohan menuju cahaya ilmu. Allah Subhanahuwata’ala berfirman,

اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُوا يُخْرِجُهُم مِّنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ ۖ وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُم مِّنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ ۗ أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

“Allah Pelindung orang-orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah setan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan ( kekafiran) . Mereka itu adalah penghuni neraka;  mereka kekal di dalamnya.” (al-Baqarah: 257)

Dahulu manusia berada di atas Islam, mentauhidkan Allah l dalam beribadah kepada-Nya. Kemudian muncullah awal kesyirikan di masa Nabi Nuh ‘Alaihisslam. Sekelompok manusia ketika itu menjadikan Wadd, Suwa’, Yaghuts, dan Nasr sebagai sesembahan selain Allah Subhanahuwata’ala. Allah Subhanahuwata’ala pun mengutus Nuh ‘Alaihissalam menyeru manusia mengajak mereka keluar dari kegelapan syirik menuju cahaya tauhid.

Demikian seterusnya, Allah Subhanahuwata’ala mengutus para rasul-Nya silih berganti. Hingga Allah Subhanahuwata’ala mengutus Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada manusia seluruhnya, di saat kegelapan jahiliah meliputi kehidupan anak manusia. Allah Subhanahuwata’ala berfirman,

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا مِن قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ

“Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang rasul diantara mereka ,yang membacakan ayat ayat-Nya kepada mereka, menyucikan merekadan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah  (as-Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar benar dalam kesesatan yang nyata.” (al-Jumu’ah: 2)

Sebelum diutusnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, umat manusia secara menyeluruh berada pada masa kejahiliahan. Mereka diperbudak oleh kesyirikan. Dunia juga gelap dipenuhi kezaliman dan kerusakan di muka bumi.

Sebagai contoh, kaum wanita benarbenar dijatuhkan kedudukannya. Wanita adalah barang dagangan dan warisan, tidak ada nilainya sedikit pun. Bahkan, manusia merasa malu dengan karunia Allah Subhanahuwata’ala berupa anak perempuan, hingga mereka tega menguburkan anak perempuannya hidup-hidup menjemput kematian dengan sangat tragis.

وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُم بِالْأُنثَىٰ ظَلَّ وَجْهُهُ مُسْوَدًّا وَهُوَ كَظِيمٌ () يَتَوَارَىٰ مِنَ الْقَوْمِ مِن سُوءِ مَا بُشِّرَ بِهِ ۚ أَيُمْسِكُهُ عَلَىٰ هُونٍ أَمْ يَدُسُّهُ فِي التُّرَابِ ۗ أَلَا سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ ()

“Apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah ) mukanya, dan dia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, karena buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.” (an-Nahl: 58—59)

Demikianlah kejahiliahan melingkupi, hingga datang cahaya Islam mengeluarkan manusia dari kegelapan masa jahiliah menuju cahaya hidayah. Manusia lepas dari belenggu kesyirikan, hak-hak manusia terjaga, termasuk kaum wanita, diangkat dan dihormati hak-hak mereka. Manusia pun bersatu dalam ikatan Islam, dan berusaha menjauhkan diri dari kezaliman. Allah Subhanahuwata’ala berfirman mengingatkan nikmat ukhuwah,

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

“Berpeganglah kalian semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai-berai. Ingatlah akan nikmat Allah kepada kalian ketika kalian dahulu (masa jahiliah) bermusuh-musuhan, kemudian Allah mempersatukan hati kalian, lalu menjadilah kalian karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara. Kalian telah berada ditepi jurang neraka ,lalu Allah menyelamatkan kalian darinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kalian, agar kalian mendapat petunjuk.” (Ali Imran: 103)

Islam, Fitrah yang Seluruh Manusia Terlahir di Atasnya

Di antara keindahan Islam, Islam adalah agama yang manusia dilahirkan di atasnya. Inilah fitrah yang Allah Subhanahuwata’ala tetapkan atas seluruh manusia. Oleh karena itu, seluruh syariat Islam diterima oleh akal sehat dan fitrah yang selamat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ، كَمَثَلِ الْبَهِيمَةِ تُنْتَجُ الْبَهِيمَةَ، هَلْ تَرَى فِيهَا جَدْعَاءَ

“Semua bayit erlahir di atas fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menyebabkannya menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi. Seperti halnya hewan ternak yang dilahirkan, apakah engkau dapatkan lahir dalam keadaan terpotong (dicacati)?” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu)

Fitrah yang dimaksud dalam hadits ini adalah Islam, sebagaimana diterangkan oleh riwayat lain dari sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demikianlah, manusia diciptakan di atas Islam, di atas tauhid, meyakini Allah Subhanahuwata’ala sebagai Rabbul ‘alamin, meyakini bahwa Dia adalah satu-satunya yang berhak diibadahi.

Allah Subhanahuwata’ala  mengabarkan, manusia seluruhnya telah diambil persaksiannya di hadapan Allah Subhanahuwata’ala  bahwa mereka adalah para hamba-Nya.

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِن بَنِي آدَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَا ۛ أَن تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَافِلِينَ () أَوْ تَقُولُوا إِنَّمَا أَشْرَكَ آبَاؤُنَا مِن قَبْلُ وَكُنَّا ذُرِّيَّةً مِّن بَعْدِهِمْ ۖ أَفَتُهْلِكُنَا بِمَا فَعَلَ الْمُبْطِلُونَ ()

“ Dan (ingatlah), ketika Rabbmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman),“Bukankah Aku ini Rabb kalian?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau adalah Rabb kami), kami menjadi saksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang  lengah terhadap ini ( keesaan Rabb)”, atau agar kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Rabb sejak dahulu,sedangkan kami ini adalah anak anak keturunan yang ( datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu?” (al-A’raf: 172—173)

Karena Islam adalah fitrah yang manusia terlahir di atasnya, semua ajaran Islam adalah ajaran yang diterima oleh fitrah manusia, menyucikan jiwa mereka, dan tidak memberatkan.

Islam adalah Agama yang Mudah

Di antara keindahan Islam, ia adalah agama yang mudah, tidak memberatkan sama sekali. Bahkan, siapa yang berpegang dengannya, ia dapatkan semuanya dimudahkan oleh Allah Subhanahuwata’ala. Akidah Islam adalah akidah yang mudah, karena ia sesuai dengan fitrah penciptaan manusia.

Demikian pula ibadah, muamalah, dan akhlak yang diajarkan Islam, semuanya mudah dan mendatangkan maslahat (kebaikan kebaikan) dunia dan akhirat. Keindahan Islam berupa kemudahan ini ditunjukkan oleh dalil-dalil dari al- Kitab dan as-Sunnah. Allah Subhanahuwata’ala berfirman,

مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُم مِّنْ حَرَجٍ وَلَٰكِن يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“… Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat- Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.” (al-Maidah: 6)

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

“Alah menghendaki kemudahan bagi kalian dan tidak menghendaki kesukaran bagi kalian.” (al-Baqarah: 185)

Dalam sebuah hadits, Rasulullah n bersabda menegaskan pokok yang agung ini,

إِنَّ هَذَا الدِّينَ يُسْرٌ وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌإِلَّا غَلَبَهُ

“Sesungguhnya agama Islam ini mudah, dan tidak ada seorang pun memperberat agama ini melainkan ia akan dikalahkan.” (HR. al-Bukhari dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu)

Shalat lima waktu, misalnya, Allah Subhanahuwata’ala mewajibkannya pada waktu-waktu yang sesuai, tidak mengganggu keseimbangan kehidupan seseorang di dunia ini. Bahkan, dengan shalat, seseorang senantiasa memperoleh dua kebaikan sekaligus, kebaikan dunia dan akhirat. Shalat subuh misalnya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَلَّى الصُّبْحَ فَهُوَ فِي ذِمَّةِ اللهِ

“Barang siapa shalat subuh, dia dalam jaminan Allah Subhanahuwata’ala.” (HR. Muslim dari sahabat Jundab bin Abdillah al- Qasri radhiyallahu anhu)

Belum lagi faedah-faedah lain yang bersifat duniawi dan ukhrawi dari ibadah shalat; menggugurkan dosa-dosa, mencegah perbuatan keji dan mungkar, shalat berjamaah mempererat ukhuwah, tidak lupa pula keutamaan kalimat “Amin” dalam sabda-sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan kalimat inilah yang menyebabkan orangorang Yahudi sangat iri kepada kaum muslimin. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ماَ حَسَدَكُمُ الْيَهُودُ عَلَى شَيْءٍ مَا حَسَدُوكُمْ عَلَى السَّ مَالِ وَالتَّأْمِينِ

“Yahu ditidaklah hasad terhadap sesuatu yang ada pada kalian sebagaimana hasad mereka terhadap kalian dalam hal ucapan salam dan amin.” (HR. al-Bukhari dalam al-Adabal Mufrad, dan dinyatakan sahih oleh al-Albani)

Semua keutamaan shalat semakin memperingan ibadah yang agung ini. Demikianlah semua syariat Islam, mudah dan dimudahkan oleh Allah Subhanahuwata’ala.

Islam adalah Agama yang Diperkokoh

dengan Bukti yang Kuat Islam adalah agama yang diperkuat oleh mukjizat, bukti-bukti yang nyata, dan dalil-dalil yang terang. Setiap mata yang menyaksikannya akan yakin bahwa Islam adalah syariat yang datang dari Allah Subhanahuwata’ala.

Dalam mendakwahkan Islam, seluruh nabi dan rasul diperkuat oleh Allah Subhanahuwata’ala dengan bukti kebenaran dakwah mereka. Tentang Nabi Isa ‘Alaihissalam, Allah Subhanahuwata’ala berfirman,

وَرَسُولًا إِلَىٰ بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنِّي قَدْ جِئْتُكُم بِآيَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ ۖ أَنِّي أَخْلُقُ لَكُم مِّنَ الطِّينِ كَهَيْئَةِ الطَّيْرِ فَأَنفُخُ فِيهِ فَيَكُونُ طَيْرًا بِإِذْنِ اللَّهِ ۖ وَأُبْرِئُ الْأَكْمَهَ وَالْأَبْرَصَ وَأُحْيِي الْمَوْتَىٰ بِإِذْنِ اللَّهِ ۖ وَأُنَبِّئُكُم بِمَا تَأْكُلُونَ وَمَا تَدَّخِرُونَ فِي بُيُوتِكُمْ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً لَّكُمْ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

“Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa sesuatu tanda(mukjizat) dariRabb-mu, yaitu aku membuat untuk kamu dari tanah berbentuk burung; kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah; dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak; dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah; dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan dirumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu adalah suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu sungguh-sungguh beriman.” (Ali Imran: 49)

Dalam sebuah hadits, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنَ الْأَنْبِيَاءِ مِنْ نَبِيٍّ إِلاَّ قَدْ أُعْطِيَ مِنَ

“Tidak ada seorang nabi pun, kecuali diberi mukjizat yang dengan semisal itu manusia beriman, dan (di antara) mukjizat yang dianugerahkan kepadaku adalah wahyu yang Allah Subhanahuwata’ala wahyukan kepadaku, dan aku berharap menjadi nabi yang terbanyak pengikutnya di hari kiamat.” (ShahihMuslim no. 152 dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu anhu)

Sebagai rasul terakhir, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam diberi oleh Allah Subhanahuwata’ala mukjizat yang sangat banyak dan beragam. Ulama menyebutkan bahwa mukjizat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mencapai ribuan, bahkan ada yang mengatakan lebih dari 60.000 mukjizat. Subhanallah!

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahumullah, beliau berkata, “Perjalanan hidup Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sungguh termasuk ayat-ayat (mukjizat), demikian pula akhlaknya, sabda-sabdanya, perbuatan-perbuatannya, syariatnya, umatnya, dan karamah-karamah orang orang saleh dari umat beliau, semua itu termasuk ayat (mukjizat-mukjizat) beliau.”

Mukjizat-mukjizat Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang banyak dan beragam itu bisa dibagi menjadi dua kelompok:

1. Mukjizat-mukjizat yang terjadi di masa hidup Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berakhir dengan wafatnya beliau. Misalnya, makanan dan minuman yang sedikit menjadi banyak dengan berkah Allah Subhanahuwata’ala, demikian pula keluarnya air yang melimpah dari jari-jemari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semua mukjizat itu berakhir dengan wafatnya beliau.

2. Mukjizat yang terus berlangsung sesudah wafatnya hingga hari kiamat. Contohnya, al-Qur’an dan beritaberita gaib yang beliau kabarkan dalam sabda-sabdanya yang mulia lantas terjadi sebagaimana yang beliau kabarkan, seperti tanda-tanda hari kiamat.

Wahai segenap manusia, sejenak kita lihat sebagian kecil dari mukjizat al- Qur’an, yaitu penjagaan yang dijanjikan oleh Allah Subhanahuwata’ala dalam firman-Nya,

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkanal-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (al- Hijr: 9)

Di antara yang Allah Subhanahuwata’ala jaga adalah lafadznya. Tidakkah kita renungkan, sejak empat belas abad silam al-Qur’an diturunkan, selama itu pula manusia dan jin seluruhnya ditantang untuk membuat satu surat saja yang terpendek yang semisal dengan al-Qur’an. Adakah orang yang mampu membuatkannya? Mana ahli bahasa? Mana ahli sastra Arab? Adakah al- Qur’an berubah lafadznya, hurufnya?

Wahai musuh-musuh Allah Subhanahuwata’ala, wahai semua orang kafir dan munafik dari kalangan jin dan manusia, berkumpullah kalian untuk mengubah satu saja ayat al-Qur’an. Bukankah kalian paling bersemangat untuk menghancurkan Islam? Jika kalian tidak mampu… dan sungguh empat belas abad telah berlalu, kalian semua lemah. Bersegeralah kalian bertobat. Peluklah agama Islam ini sebelum datangnya azab Allah Subhanahuwata’ala atas kalian.

Islam adalah Agama yang Dijaga dari Tabdil (Perubahan)

Di antara keindahan Islam, agama Islam adalah agama yang senantiasa dijaga oleh Allah Subhanahuwata’ala hingga hari kiamat. Penjagaan itu meliputi penjagaan sumber hukum Islam yaitu al-Qur’an dan hadits. Allah Subhanahuwata’ala juga terus menjaga keberadaan generasi yang senantiasa mengikuti jejak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Dalil yang menunjukkan bahwa Allah Subhanahuwata’ala menjaga al-Qur’an dan as-Sunnah adalah firman Allah Subhanahuwata’ala,

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (al-Hijr: 9)

Adapun penjagaan al-Qur’an yang dijanjikan oleh Allah Subhanahuwata’ala adalah pemeliharaan lafadz (huruf-huruf) nya. Semua ayat al-Qur’an diriwayatkan secara mutawatir. Tidak ada satu lafadz pun dari al-Qur’an yang dapat diubah oleh manusia (dan jin) sebagaimana telah disinggung di atas.

Allah Subhanahuwata’ala menjaga pula pemahaman al-Qur’an dari penyimpangan, yaitu dengan Allah Subhanahuwata’ala jaga hadits-hadits Rasulullah n yang berfungsi sebagai penjelas al-Qur’an atau sebagai penafsir al-Qur’an.

Di antara bentuk penjagaan Allah Subhanahuwata’ala terhadap hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Allah Subhanahuwata’ala  menyiapkan generasi ahlul hadits yang gigih menjaga kemurnian hadits, sejak zaman sahabat, tabi’in, atba’ut tabi’in, hingga generasi berikutnya, semisal al-Imam Malik, al-Imam asy- Syafi’i, al-Imam Ahmad bin Hanbal, al-Bukhari, Muslim, dan ribuan ulama ahlul hadits dari setiap generasi.

Dengan demikian, terjagalah kemurnian hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, terpisahkanlah mana yang dusta dari sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mana yang sahih penyandarannya kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Islam adalah Agama yang Sempurna, Syamil

Seseorang yang melihat Islam akan menyaksikan bahwa segala yang dibutuhkan oleh manusia ada di dalamnya. Tidak ada satu perkara pun yang dibutuhkan oleh manusia selain hal itu ada dalam al-Qur’an dan as-Sunnah.Allah Subhanahuwata’ala berfirman,

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِّكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ

“Dan Kami turunkan kepadamu al-Kitab (al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (an-Nahl: 89)

Diriwayatkan dalam sebuah hadits,

عَنْ سَلْمَانَ قَالَ قِيلَ لَهُ لَقَدْ عَلَّمَكُمْ نَبِيُّكُمْ كُلَّ شَيْءٍ حَتَّى الْخِرَاءَةَ قَالَ أَجَلْ لَقَدْ نَهَانَا أَنْ نَسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةَ بِغَائِطٍ أَوْ بَوْلٍ وَأَنْ لَا  نَسْتَنْجِيَ بِالْيَمِينِ وَأَنْ لَا يَسْتَنْجِيَ أَحَدُنَا بِأَقَلَّ  مِنْ ثثَالَةِ أحَْجَارٍ أَوْ نَسْتَنْجِيَ بِرَجِيعٍ أَوْ عَظْمٍ

Dikatakan kepada Salmanal- Farisi radhiyallahu anhu,“Sungguh, Nabi kalian telah mengajari kalian segala sesuatu, sampai pun masalah adab membuanghajat.” Salman menjawab,“ Benar. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kami untuk menghadap kiblat ketika buang air besar atau kencing. Beliau melarang pula kami beristinja’ dengan tangan kanan dan beristinja dengan batu kurang dari tiga atau beristinja dengan tulang.” (HR. Abu Dawud no. 6)

Tidak hanya mengatur muamalah antara manusia dan Allah Subhanahuwata’ala, atau antarmanusia, tetapi Islam juga menerangkan muamalah manusia dengan binatang atau jin. Dari Abu Ya’la Syaddad bin Aus radhiyallahu anhu , dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

إِنَّ اللهَ كَتَبَ الْإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذِّبْحَةَ وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ وَلْيُرِحْ ذَبِيْحَتَهُ

“ Sesungguhnya Allah mewajibkan untuk berlaku baik terhadap segala sesuatu. Apabila kalian membunuh, berlaku baiklah dalam membunuh. Apabila kalian menyembelih, berlaku baiklah dalam menyembelih. Dan hendaklah salah seorang diantara kalian menajamkan pisaunya dan membuat nyaman hewan sembelihannya.”

Adakah syariat yang sempurna seperti syariat Islam yang dibawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam? Pembaca, semoga Allah Subhanahuwata’ala merahmati kita semua, masih banyak keutamaan agama Islam di antaranya Islam adalah agama yang kekal hingga akhir zaman, seperti sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي يُقَاتِلُونَ عَلَى الْحَقِّ ظَاهِرِينَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

“Akan selalu ada sekelompok umatku berperang di atas al-haq, mendapat kemenangan sampai hari kiamat.” (HR. Muslim no. 3547 dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu anhu)

Islam adalah agama yang universal bukan hanya untuk kalangan Arab, namun juga non-Arab, bahkan untuk kalangan jin, seperti firman Allah Subhanahuwata’ala,

قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا

Katakanlah,“Hai manusia sesungguhnyaa kua dalahu utusan Allah kepada kalian semua.” (al-A’raf: 158)

Islam adalah agama yang mengajari umatnya berbuat baik (ihsan). Bahkan, semua syariat Islam adalah ihsan. Islam adalah rahmat bagi seluruh alam. Islam adalah agama yang dimenangkan oleh Allah Subhanahuwata’ala.

Masih banyak keutamaan-keutamaan lain yang terkandung dalam dua wahyu, al-Kitab dan as-Sunnah. Waktu dan ruang tidak memungkinkan bagi kita menyelami lebih dalam samudra keindahan dan keutamaan Islam. Bahkan, seumur hidup kita sekalipun tidak mampu mengibaratkan keindahan dan keutamaan Islam.

Ya Allah, jadikanlah hati-hati kami mencintai-Mu, nabi dan para rasul-Mu, serta agama Islam yang Engkau ridhai. Lebih dari itu, wahai Rabb kami, cintailah kami, ampunilah dosa-dosa kami, dosa kedua orang tua kami, dan dosa seluruh kaum mukminin.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc.

Sejenak Bersama Beberapa Syariat Islam

Keindahan Islam bersifat menyeluruh, meliputi setiap perkara agama beserta dalil-dalilnya, mencakup pokok-pokok agama yang diajarkan dan hukumhukumnya. Termasuk semua hal yang ditunjukkan oleh nash-nash al-Qur’an dan as-Sunnah, baik berupa ilmu ilmu syariat, ilmu-ilmu alam semesta, maupun ilmu sosial kemasyarakatan, semuanya menunjukkan keindahan dan kesempurnaan syariat Islam yang agung.

Perlu diingat, membicarakan satu per satu syariat Islam yang penuh dengan keindahan sangatlah besar. Mustahil seseorang menguasai dan meliputi semua keindahan itu serta menyingkap segala hikmah yang terkandung dalam setiap bagian syariat.

Sudah kita lalui pembahasan keindahan Islam dari sisi keutamaan dan kekhususan Islam, tiba saatnya kita melihat beberapa contoh hukum-hukum agama yang mulia ini, yang seluruhnya adalah bukti keindahan Islam sekaligus bukti bahwa agama ini dari Allah Subhanahuwata’ala, tentu saja dengan memohon kepada Allah Subhanahuwata’ala, semoga Dia memberikan taufik kepada kita semua untuk menyaksikan keindahan-keindahan tersebut.

Pokok-Pokok Keimanan

Ini adalah ajaran yang paling agung dan paling mendatangkan kebaikan dalam syariat Islam. Pokok-pokok keimanan dalam syariat Islam yang dibawa oleh seluruh nabi dan rasul dibangun di atas iman kepada Allah Subhanahuwata’ala, iman kepada para malaikat-Nya, iman kepada kitab kitab- Nya, iman kepada para rasul- Nya, iman kepada hari akhir, dan iman kepada takdir. Seseorang yang berpegang dengan pokok-pokok keimanan ini dengan penuh keikhlasan dan sesuai dengan bimbingan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pasti akan merasakan ketenangan jiwa, ketenteraman, dan kebahagiaan yang tidak terlukiskan.

Kalbu dipenuhi oleh kecintaan kepada Allah Rabbul ’Alamin, terbebas dari perbudakan dan penghambaan kepada makhluk. Perhatikanlah para penyembah makhluk. Betapa buruknya mereka, bergantung kepada sesuatu yang tidak memiliki kekuasaan sedikit pun. Betapa bodohnya mereka yang bergantung dengan matahari, bulan, pohon, batu, jin, bahkan malaikat dan nabi sekalipun. Lihatlah tuhan-tuhan kaum musyrikin yang dihancurkan Ibrahim. Pantaskah seseorang bergantung dengan makhluk lemah seperti itu?

قَالَ بَل رَّبُّكُمْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الَّذِي فَطَرَهُنَّ وَأَنَا عَلَىٰ ذَٰلِكُم مِّنَ الشَّاهِدِينَ () وَتَاللَّهِ لَأَكِيدَنَّ أَصْنَامَكُم بَعْدَ أَن تُوَلُّوا مُدْبِرِينَ () فَجَعَلَهُمْ جُذَاذًا إِلَّا كَبِيرًا لَّهُمْ لَعَلَّهُمْ إِلَيْهِ يَرْجِعُونَ () قَالُوا مَن فَعَلَ هَٰذَا بِآلِهَتِنَا إِنَّهُ لَمِنَ الظَّالِمِينَ () قَالُوا سَمِعْنَا فَتًى يَذْكُرُهُمْ يُقَالُ لَهُ إِبْرَاهِيمُ () قَالُوا فَأْتُوا بِهِ عَلَىٰ أَعْيُنِ النَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَشْهَدُونَ () قَالُوا أَأَنتَ فَعَلْتَ هَٰذَا بِآلِهَتِنَا يَا إِبْرَاهِيمُ () قَالَ بَلْ فَعَلَهُ كَبِيرُهُمْ هَٰذَا فَاسْأَلُوهُمْ إِن كَانُوا يَنطِقُونَ () فَرَجَعُوا إِلَىٰ أَنفُسِهِمْ فَقَالُوا إِنَّكُمْ أَنتُمُ الظَّالِمُونَ () ثُمَّ نُكِسُوا عَلَىٰ رُءُوسِهِمْ لَقَدْ عَلِمْتَ مَا هَٰؤُلَاءِ يَنطِقُونَ () قَالَ أَفَتَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنفَعُكُمْ شَيْئًا وَلَا يَضُرُّكُمْ () أُفٍّ لَّكُمْ وَلِمَا تَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ ۖ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

Maka Ibrahim membuat berhala berhala itu hancur berkeping- keping, kecuali yang terbesar (induk) dari patung patung yang lain; agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya. Mereka berkata, “Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami? Sesungguhnya dia termasuk orang-orangyangzalim.” Mereka berkata, “Kami mendengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini, namanya Ibrahim.”

Mereka berkata, “(Kalau demikian) bawalah dia dengan cara yang dapat dilihat orang banyak, agar mereka menyaksikan.” Mereka bertanya, “Apakah kamu, yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?”Ibrahim menjawab, “Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara.”

Ketika mereka telah kembali kepada kesadaran mereka, (Ibrahim) lalu berkata,“Sesungguhnya kalian semua adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri),” kemudian kepala mereka tertunduk (laluberkata),“Sesungguhnya kamu (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara.” Ibrahim berkata, “Maka mengapakah kalian menyembah selain Allah,sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun dan tidak (pula) memberi mudarat kepada kalian? Ah (celakalah) kalian dan apa yang kalian sembah selain Allah. Maka apakah kalian tidak memahami?” (al-Anbiya: 58—67)

Pokok-Pokok Jual Beli, Sewa- Menyewa, dan Serikat

Manusia membutuhkan sesamanya. Di antara kebutuhan itu adalah kebutuhan untuk tukar-menukar apa yang mereka miliki dalam bentuk jual beli, sewa menyewa, atau berserikat dalam usaha. Islam datang menghalalkan jual beli, sewa-menyewa, dan serikat dengan beragam jenisnya. Allah Subhanahuwata’ala berfirman,

وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

“Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (al-Baqarah: 275)

Kebolehan tersebut tentu tidak dilepas begitu saja oleh syariat, namun Islam memberikan aturan-aturan yang demikian indah dalam setiap jenis muamalah tersebut, hingga terlindungilah semua pihak dari kezaliman dan terwujudlah berkah Allah Subhanahuwata’ala atas jual beli, sewa menyewa, dan serikat tersebut.

Kalau kita melihat hukum jual beli, dalil-dalil menunjukkan bahwa Islam menetapkan syarat-syarat sahnya jual beli. Dengan itu, jual beli akan terhindar dari kezaliman di antaranya: mempersyaratkan keridhaan dua belah pihak, baik penjual maupun pembeli; yang melakukan jual beli adalah orang-orang yang memang diperbolehkan syariat melakukan jual beli, seperti orang berakal (tidak gila);

barang yang diperjualbelikan haruslah halal dan memiliki kemanfaatan yang mubah; barang yang diperjualbelikan dapat diserahterimakan; barang yang diperjualbelikan harus jelas sifatnya, ukurannya, atau jumlahnya, bukan barang yang majhul (tidak diketahui).

Dari nash-nash al-Kitab dan as-Sunnah, tampak bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala menetapkan syarat-syarat yang menjamin keberkahan, di antaranya adalah adanya keridhaan. Dengan aturan-aturan tersebut, jadilah jual beli mendapatkan berkah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْبَيِّعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا، فَإِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَا بُورِكَ لَهُمَا فِي بَيْعِهِمَا، وَإِنْ كَذَبَا وَكَتَمَا مُحِقَ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا

 “Pembeli dan penjual diberi pilihan selama keduanya belum berpisah. Kalaukeduanya jujur dan menjelaskan (keadaan barang/harga), jual belinya diberkahi. Kalau keduanya berdusta dan menyembunyikan cacat barang, niscaya dihapus berkah jual belinya.”

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati tumpukan makanan lalu memasukkan tangan ke dalamnya. Tiba tiba jari beliau merasakan basah. Kata beliau, “Hai penjual makanan, apa ini?” “Kena hujan, wahai Rasulullah,” jawabnya. “Mengapa tidak engkau letakkan di atas makanan agar terlihat oleh orang?” Kemudian beliau berkata,

مَنْ غَشَّ فَلَيْسَ مِنَّا

“Barangsiapa menipu kami, dia bukan golongan kami.”

Demikianlah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajari umat ini semua jalan kebaikan dan menutup setiap celah kejelekan, termasuk dalam hal jual beli, sebagaimana ini tampak dalam kisah ini.

Penetapan dan Pengokohan Hak-Hak Antarmakhluk

Di antara keindahan yang dapat disaksikan oleh semua manusia adalah Islam mengatur hubungan antara manusia dengan berbagai keberagaman mereka. Adab dan etika pergaulan diajarkan dalam syariat yang agung ini dengan sangat rinci.

Islam mengokohkan hak-hak antarmanusia, di samping menjelaskan kewajiban-kewajiban mereka. Islam menjawab dengan tuntas bagaimana manusia bergaul dengan kedua orang tuanya, suami atau istrinya, anakanak dan karib kerabatnya, bagaimana bertetangga, bagaimana bergaul dengan manusia dengan berbagai tingkat akal dan status sosialnya, bagaimana bermuamalah dengan orang-orang kafir, bahkan dengan makhluk lain: malaikat, jin, dan hewan.  Islam menjawabnya dengan rinci tanpa menyisakan kekurangan sedikit pun. Allahu Akbar!

Di antara ayat dan hadits yang banyak yang menetapkan dan mengatur seluruh hak, kewajiban, dan etika pergaulan adalah firman Allah Subhanahuwata’ala,

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَن كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا

 “Sembahlah Allah danjanganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada keduaorangtua, karib kerabat, anak anak yatim, orang-orang miskin,tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat , ibnu sabil, dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.” (an- Nisa: 36)

Dengan ditetapkannya etika-etika pergaulan serta pengokohan hak dan kewajiban antarmanusia, terwujudlah keseimbangan, kedamaian, dan keselarasan hidup.

Hukum Waris

Harta termasuk masalah yang sangat sensitif, lebih-lebih ketika seseorang meninggal dunia. Kasus rebutan warisan tidak jarang kita jumpai dalam kehidupan masyarakat. Kita acap mendengar pertikaian di antara anggota keluarga karena ahli waris berebut harta. Kakak memusuhi adiknya, paman membenci kemenakannya, bahkan lebih dari itu banyak kasus pembunuhan dan kezaliman yang sebabnya adalah harta warisan ini.

Pemandangan yang menyedihkan ini sebenarnya tidak akan terjadi seandainya mereka mengetahui kesempurnaan agama Islam dan berpegang dengannya. Islam telah mengatur segala aspek kehidupan manusia dengan sempurna tanpa ada kekurangan sedikit pun, karena syariat Islam adalah syariat Allah Subhanahuwata’ala, Dzat yang Mahaadil dan Maha Mengetahui akan maslahat hamba-hamba-Nya.

Dialah yang berhak memerintah, dan Dia pula yang berhak mengatur. Termasuk dalam hal waris, Allah Subhanahuwata’ala telah menetapkan hukum-Nya yang sempurna dan tidak ada sedikit pun kezaliman di dalamnya. Manusia tidak dibiarkan mengurusi masalah yang sangat sensitif ini, karena tabiat mereka yang rakus terhadap harta.

Jika telah memiliki satu gunung emas, mereka menginginkan gunung berikutnya, di samping tabiat mereka adalah kejahilan dan kezaliman. Allah Yang Maha adil, menetapkan pembagian waris dari atas langit. Perhatikan kisah berikut, menceritakan sebuah kasus kematian dan pembagian waris pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu anhu, ia berkata,

جَاءَتْ امْرَأَةُ سَعْدِ بْنِ الرَّبِيعِ بِابْنَتَيْهَا مِنْ سَعْدٍ

Istri Sa’d bin Rabi’ radhiyallahu anhu mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membawa kedua anak perempuan dari Sa’d radhiyallahu anhu, dia berkata, “Wahai Rasulullah , kedua anak perempuan ini adalah anak Sa’d bin Rabi’ yang terbunuh syahid ketika Perang Uhud bersama engkau, dan paman keduanya (yakni saudara laki-laki Sa’d bin Rabi’ -pen) mengambil harta keduanya dan tidak meninggalkan sisa harta untuk keduanya, dan keduanya tidak bisa dinikahkan selain jika memiliki harta. (Mendengar pengaduan ini) Rasululah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah akan memutuskan urusan ini.” Kemudian turunlah ayat ayat tentang waris, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus kepada paman kedua anak ini dan memerintahkan agar memberi kedua anak perempuan Sa’db in Rab di ua pertiga, dan memberi ibunya seperdelapan dan apa yang tersisa adalah untukmu.

Beberapa contoh syariat Islam di atas dengan pembahasan yang sangat ringkas, sungguh tidaklah mampu menunaikan hak untuk menggambarkan keindahan syariat yang agung dan mulia ini.Namun, kita berharap mudah mudahan dengan contoh yang sedikit di atas, kita semakin bersyukur atas nikmat Islam yang dianugerahkan oleh Allah Subhanahuwata’ala kepada kita yang fakir dan penuh dosa.Hanyalah doa yang kita panjatkan,

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

 “Wahai Rabb kami, ampunilah dosa dosa kami dan tindakan- tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami, tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami atas kaum yang kafir.” (Ali Imran: 147)

Al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc.

Indahnya Hukum Qishash

Semua syariat Allah Subhanahuwata’ala, termasuk di dalamnya qishash, hudud, dan jihad fi sabilillah adalah keindahan dan bukti kebesaran Allah Subhanahuwata’ala sebagai Dzat Yang Mahasempurna. Dari sisi mana pun syariat Islam ditinjau, orang yang berakal pasti akan bersimpuh menyaksikan cahaya keindahannya, sebagaimana ia akan bersimpuh mengagumi kesempurnaan dan keindahan penciptaan semesta. Allah Subhanahuwata’ala berfirman,

تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ () الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ () الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ طِبَاقًا ۖ مَّا تَرَىٰ فِي خَلْقِ الرَّحْمَٰنِ مِن تَفَاوُتٍ ۖ فَارْجِعِ الْبَصَرَ هَلْ تَرَىٰ مِن فُطُورٍ () ثُمَّ ارْجِعِ الْبَصَرَ كَرَّتَيْنِ يَنقَلِبْ إِلَيْكَ الْبَصَرُ خَاسِئًا وَهُوَ حَسِيرٌ

“Maha suci Allah yang di tangan- Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha kuasa atas segala sesuatu, yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik a malnya. Dan Dia Maha perkasa lagi Maha Pengampun. Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Rabb Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian pandanglah sekali lagi, niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itu pun dalam keadaan payah.” (al-Mulk:1—4)

Hanya orang-orang yang tidak berakal lagi angkuh sajalah yang memandang syariat Allah Subhanahuwata’ala dengan pandangan sinis sembari membusungkan dadanya, bahkan mencoba-coba menjelekkan Islam dengan hawa nafsunya.

Sungguh, mereka terancam tidak akan masuk jannah karena takabur yang ada pada mereka, berupa penolakan terhadap al-haq. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu

,

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ. قَالَ رَجُلٌ: إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً. قَالَ: إِنَّ اللهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ، الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

Tidak akan masuk jannah orang yang dalam kalbunya ada seberat dzarrah kesombongan. Seseorang bertanya, “Bagaimana dengan orang yang suka memakai baju yang bagus dan alas kaki yang bagus (apakah ini termasuk kesombongan)?” Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Sesungguhnya Allah Maha indah dan menyukai keindahan ,kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim)

Qishash dalam Sorotan Musuh Allah Subhanahuwata’ala

Qishash, hukum hadd dan jihad fi sabilillah, seringkali dipakai kaum zindiq, munafik, dan musuh-musuh Allah Subhanahuwata’ala untuk menyudutkan Islam. Dengan syariat ini, mereka menggambarkan Islam sebagai agama yang sadis, kasar, atau tidak berperikemanusiaan.

Propaganda-propaganda tersebut membuat orang-orang yang dungu atau lemah iman mengatakan bahwa Islam adalah agama yang kejam, atau setidaknya mengatakan bahwa hukum qishash dan hukum had tidak lagi relevan di masa masa ini, serta lebih pas jika qishash dan hudud lalu diganti dengan hukuman lain, seperti denda atau kurungan.

Wahai orang yang masih sedikit memiliki akal, jawablah dengan jujur, “Seorang pembunuh yang ditegakkan qishash atasnya, yang dengan itu dirinya diampuni oleh Allah Subhanahuwata’ala, dan dengan itu keluarga korban terobati dari kezaliman, dengan itu pula terhalangi pembunuhan berikutnya, yang seperti ini lebih baik; ataukah vonis bagi pembunuh  dengan kurungan sekian tahun yang kemudian bisa diganti dengan denda, kemudian dia beraksi kembali melakukan pembunuhan, keluarga korban juga tidak terobati dari kezalimantersebut. Jawablah dengan sisa akalmu, manakah yang lebih baik?

Sebagai jawaban, cukup kita bacakan ayat Allah Subhanahuwata’ala yang menunjukkan keindahan qishash,

وَلَكُمْ فِي الْقِصَاصِ حَيَاةٌ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Dan dalam qishash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, wahai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa.” (al-Baqarah: 179)

Bagi yang beriman dengan firman Rabbul ‘Alamin ini, ia akan mendapatkan kemuliaan. Namun, siapa yang mencoba-coba menyimpangkan ayat atau mengingkarinya, bersiaplah menikmati azab Allah Subhanahuwata’ala. Berilah kabar gembira kepadanya berupa jahannam, wal ‘iyadzubillah.

Pengertian Qishash dan Dalil Pensyariatan

Secara bahasa, “qishash” ( (قِصَاصٌ berasal dari bahasa Arab yang berarti “mencari jejak”, seperti “al-qashash”. Adapun secara istilah, qishash adalah: Membalaspelakukejahatanseperti perbuatannya,a pabilai am embunuh maka dibunuh dan bila ia memotong anggota tubuh maka anggota tubuhnya juga dipotong. Hal ini ditunjukkan oleh firman Allah Subhanahuwata’ala,

وَكَتَبْنَا عَلَيْهِمْ فِيهَا أَنَّ النَّفْسَ بِالنَّفْسِ وَالْعَيْنَ بِالْعَيْنِ وَالْأَنفَ بِالْأَنفِ وَالْأُذُنَ بِالْأُذُنِ وَالسِّنَّ بِالسِّنِّ وَالْجُرُوحَ قِصَاصٌ ۚ فَمَن تَصَدَّقَ بِهِ فَهُوَ كَفَّارَةٌ لَّهُ ۚ وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

“Dan Kami telah tetapkan terhadap mereka didalamnya (Taurat) bahwasanya jiwa( dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka-luka (pun) ada qishashnya.” (al- Maidah: 45)

Qishash disyariatkan dalam al- Qur’an dan as-Sunnah, serta ijma’. Di antara dalil dari al-Qur’an adalah firman Allah Subhanahuwata’ala,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِصَاصُ فِي الْقَتْلَى ۖ الْحُرُّ بِالْحُرِّ وَالْعَبْدُ بِالْعَبْدِ وَالْأُنثَىٰ بِالْأُنثَىٰ ۚ فَمَنْ عُفِيَ لَهُ مِنْ أَخِيهِ شَيْءٌ فَاتِّبَاعٌ بِالْمَعْرُوفِ وَأَدَاءٌ إِلَيْهِ بِإِحْسَانٍ ۗ ذَٰلِكَ تَخْفِيفٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَرَحْمَةٌ ۗ فَمَنِ اعْتَدَىٰ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَلَهُ عَذَابٌ أَلِيمٌ () وَلَكُمْ فِي الْقِصَاصِ حَيَاةٌ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, qishash diwajibkan atasmu berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh. Orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita. Maka, barang siapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik,dan hendaklah ( yang diberimaaf) membayar (diyat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Rabbmu dan suatu rahmat. Barang siapa yang melampaui batas sesudah itu, baginyasiksa yang sangat pedih. Dan dalam qishash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, wahai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa.” (al-Baqarah: 178—179)

Demikian pula firman Allah Subhanahuwata’ala pada surat al-Maidah ayat 45 di atas. Adapun dalil dari as-Sunnah, Abu Hurairah  radhiyallahu anhu meriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda,

مَنْ قُتِلَ لَهُ قَتِيلٌ فَهُوَ بِخَيْرِ النَّظَرَيْنِ إِمَّا أَنْ يُفْدَى وَإِمَّا أنَْ يَقْتُلَ

“Siapa menjadi keluarga korban terbunuh maka ia memiliki dua pilihan: bisa memilih diyat, dan bisa juga membunuh (memintaqishash).” (HR.al-Jama’ah)

At-Tirmidzi rahimahumullah meriwayatkan dengan lafadz,

لَمَّا فَتَحَ اللهُ عَلَى رَسُولِهِ مَكَّةَ قَامَ فِي النَّاسِ فَحَمِدَ اللهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ ثُمَّ قَالَ: وَمَنْ قُتِلَ لَهُ قَتِيلٌ فَهُوَ بِخَيْرِ النَّظَرَيْنِ إِمَّا أَنْ يَعْفُوَ وَإِمَّا أَنْ يَقْتُلَ

Ketika Allah Subhanahuwata’ala membukakan kemenangan untuk Rasul-Nya atas kota Makkah, beliau berdiri memuji Allah Subhanahuwata’ala dan menyanjungnya lalu bersabda,“Siapa menjadi keluarga korban terbunuh maka ia diberi dua pilihan:memaafkannya atau membunuhnya.” (HR. at-Tirmidzi, no. 1409)

Betapa Indahnya Qishash

Di antara nama-nama Allah Yang Mahaindah(al-Asmaul Husna) adalah al-Hakim. Nama ini menunjukkan bahwa Dialah Dzat yang memiliki hukum, Dialah yang menetapkan dan memutuskan, serta Dialah yang menetapkan segala sesuatu dengan sempurna dan penuh hikmah.

Di antara bukti keimanan kita terhadap nama Allah al-Hakim, kita meyakini bahwa semua hukum yang ditetapkan-Nya penuh dengan maslahat, kebaikan-kebaikan di dunia dan akhirat, dan diliputi hikmah yang sangat sempurna. Termasuk qishash, syariat ini penuh dengan hikmah, sebagian kecilnya diketahui oleh manusia dan banyak yang menjadi rahasia Allah Subhanahuwata’ala. Di antara hikmah-hikmah qishash adalah:

1. Dengan ditegakkannya qishash, masyarakat akan terjaga dari kejahatan. Sebab, hukuman ini mencegah setiap orang yang akan berbuat zalim dan menumpahkan darah orang lain. Dengan demikian, terjagalah kehidupan manusia dari pembunuhan. Allah Subhanahuwata’ala menyebutkan hikmah ini dalam firman-Nya,

وَلَكُمْ فِي الْقِصَاصِ حَيَاةٌ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Dan dalam qishash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, wahai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa.” (al-Baqarah: 179)

2. Dengan qishash tegaklah keadilan, dan tertolonglah orang yang dizalimi, dengan memberikan kemudahan bagi wali korban untuk membalas kepada pelaku sebagaimana yang diperlakukan terhadap korban. Allah Subhanahuwata’ala berfirman,

وَمَن قُتِلَ مَظْلُومًا فَقَدْ جَعَلْنَا لِوَلِيِّهِ سُلْطَانًا فَلَا يُسْرِف فِّي الْقَتْلِ ۖ إِنَّهُ كَانَ مَنصُورًا

“Dan barang siapa dibunuh secara zalim, sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepada ahli warisnya, tetapi janganlah ahli waris itu melampaui batas dalam  embunuh. Sesungguhnya ia  adalah orang yang mendapat pertolongan.” (al-Isra’: 33)

3. Qishash adalah kebaikan bagi pelaku kejahatan yang dengan ditegakkannya qishash atas dirinya, Allah Subhanahuwata’ala menjadikan hukuman tersebut sebagai kafarat (penghapus dosa) sehingga di akhirat tidak lagi dituntut, tentu saja jika dia seorang muslim.

Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahumullah menerangkan, “Barang siapa berjumpa dengan Allah Subhanahuwata’ala dalam keadaan telah ditegakkan had di dunia atas dosa yang ia lakukan, had tersebut adalah kafarat (penebus dosanya), sebagaimana telah sahih berita dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Ushulus Sunnah)

Di antara hadits yang dimaksud oleh al-Imam Ahmad rahimahumullahadalah hadits Ubadah bin ash-Shamit radhiyallahu anhu , beliau berkata,

فِي مَجْلِسٍ فَقَالَ:  كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللهِ تُبَايِعُونِي عَلَى أَنْ لَا تُشْرِكُوا بِاللهِ شَيْئًا وَلَا تَزْنُوا وَلَا تَسْرِقُوا وَلَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللهُ إِلَّا بِالْحَقِّ، فَمَنْ وَفَّى مِنْكُمْ فَأَجْرُهُ عَلَى اللهِ وَمَنْ أَصَابَ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ فَعُوقِبَ بِهِ فَهُوَ كَفَّارَةٌ لَهُ، وَمَنْ أَصَابَ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ فَسَتَرَهُ اللهُ عَلَيْهِ فَأَمْرُهُ إِلَى اللهِ إِنْ شَاءَ عَفَا
عَنْهُ وَإِنْ شَاءَ عَذَّبَهُ

“Suatu hari kami bersama dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam disebuah majelis. Beliau  bersabda,‘Berbaiatlah kalian kepadaku untuk tidak menyekutukan Allah Subhanahuwata’ala dengan sesuatu pun, tidak berzina, tidak mencuri, dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah l selain dengan haq. Barang siapa di antara kalian yang menunaikannya, pahalanya ada pada Allah Subhanahuwata’ala, dan barangsiapa melanggar sebagiannya lalu dihukum (seperti qishash, potong tangan –pen)  maka hukuman itu sebagai penghapus dosa baginya. (Adapun) barang siapa melanggarnya lalu Allah Subhanahuwata’ala menutupinya maka urusannya diserahkan kepada Allah .Jika Dia berkehendak, Dia mengampuninya, dan apabila Dia menghendaki,Dia akan mengazabnya’.” (Muttafaqun ‘alaihi dan ini lafadz al-Imam Muslim Subhanahuwata’ala)

Demikian pula hadits Khuzaimah bin Tsabitbradhiyallahu anhu , Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَصَابَ ذَنْبًا أُقِيمَ عَلَيْهِ حَدُّ ذَلِكَ الذَّنْبِ فَهُوَ كَفَّارَتُهُ

“Barang siapa melakukan dosa yang telah ditegakkan had atas dosa tersebut, itu menjadi penebus baginya.” (HR. al-Imam Ahmad [5/214—215]

4. Terwujudnya kemakmuran dan berkah bagi negeri yang menegakkan qishash atau had. Hal ini ditunjukkan oleh hadits Abu Hurairah rahimahumullah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

حَدٌّ يُعْمَلُ بِهِ فِي الْأَرْضِ خَيْرٌ لِأَهْلِ الْأَرْضِ مِنْ أنَْ يُمْطَرُوا أَرْبَعِينَ صَبَاحًا

“Satu hukuman had yang ditegakkan dimuka bumi lebih baik bagi penduduk bum itu daripada hujan yang menimpa mereka empat puluh hari.” (HR. Ibnu Majah, 2/111, dinyatakan sahih oleh al-Albani dengan syawahidnya dalam ash-Shahihah, 1/461 no. 231)

Qishash Ada Aturannya

Di samping keindahan qishash yang tampak dalam hikmah-hikmahnya, syariat ini juga indah dari sisi aturan-aturannya. Qishash tidak sembarang diterapkan sebagaimana gambaran atau tuduhan orang-orang yang jahil. Qishash tidak sembrono tanpa aturan, tetapi ia adalah hukum Allah l yang mempunyai tatanan yang indah dan penuh kesempurnaan. Di antara aturannya, qishash tidak ditegakkan kecuali jika terpenuhi syaratsyaratnya. Syarat-syarat tersebut adalah:

1. Semua wali korban yang berhak menuntut qishash adalah mukallaf. Jika ada di antara mereka anak kecil atau orang gila, hak penuntutan qishash tidak bisa diwakilkan kepada walinya, karena qishash mengandung tujuan memuaskan/melegakan (keluarga korban) dengan pembalasan.

Dalam keadaan ini, pelaksanaan qishash wajib ditangguhkan dengan cara memenjarakan pelaku pembunuhan hingga anak kecil tersebut baligh atau orang gila tersebut sadar, untuk kemudian meminta pertimbangan mereka apakah qishash akan ditegakkan atau dimaafkan. Hal ini dilakukan oleh Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu anhu yang memenjarakan Hudbah bin Khasyram dalam qishash, hingga anak korban baligh.

إِنَّ مُعَاوِيَةَ حَبَسَ هُدْبَةَ بْنَ خَشْرَمٍ فِي قِصَاصٍ حَتَّى بَلَغَ ابْنُ الْقَتِيلِ

“Sesungguhnya Mu’awiyah memenjarakan Hudbah bin Khasyram dalam kasus qishash hingga anak korban mencapai umur baligh.” (Dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam Irwaul Ghalil, 7/276)

Amalan Mu’awiyah bin Abi Sufyan c ini dilakukan di zaman para sahabat dan tidak ada seorang pun yang mengingkarinya, sehingga seakan-akan menjadi ijma’ di masa beliau. Apabila anak kecil atau orang gila keduanya membutuhkan nafkah dari para walinya, hanya wali orang gila saja yang boleh memberi pengampunan qishash kepada pembunuh dengan meminta diyat, karena orang gila tidak jelas kapan sembuhnya, berbeda dengan anak kecil.(al-Mulakhash al-Fiqh, 2/476)

2. Adanya kesepakatan dari para wali korban untuk ditegakkannya qishash dan tidak dimaafkan. Apabila sebagian mereka—walaupun hanya seorang—memaafkan si pembunuh dari qishash, gugurlah qishash tersebut. (asy-Syarhul Mumti’, 14/38)

Dari Zaid bin Wahb al-Juhani,

(DimasaUmar) seseorang membunuh istrinya. Umar memanggil tiga saudara wanita tersebut. Lalu salah seorang dari ketiganya memaafkan. Umar pun mengatakan, “Ambillah oleh kalian berdua 2/3 diyat, karena sungguh tidak ada lagi jalan untuk membunuhnya.” (Diriwayatkan al-Baihaqi dalam as- Sunan al-Kubra [8/60] dengansanad yang sahih)

3. Pelaksanaan qishash aman dari perilaku melampaui batas kepada selain pelaku pembunuhan, dengan dasar firman Allah Subhanahuwata’ala,

وَلَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ ۗ وَمَن قُتِلَ مَظْلُومًا فَقَدْ جَعَلْنَا لِوَلِيِّهِ سُلْطَانًا فَلَا يُسْرِف فِّي الْقَتْلِ ۖ إِنَّهُ كَانَ مَنصُورًا

“Janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah (membunuhnya), selain dengan suatu (alasan) yang benar. Barangsiapa dibunuh secara zalim, sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepada ahli warisnya, tetapi janganlah ahliwaris itu melampaui batas dalam membunuh. Sesungguhnya ia adalah orang yang mendapat pertolongan.” (al-Isra’: 33)

Apabila qishash menyebabkan sikap melampaui batas, hal tersebut terlarang, sebagaimana dijelaskan dalam ayat di atas. Dengan demikian, apabila ada kasus wanita hamil akan diqishash misalnya, qishash tidak ditegakkan hingga ia melahirkan anaknya. Sebab, membunuh wanita tersebut dalam keadaan hamil akan menyebabkan kematian janinnya padahal janin tersebut tidak berdosa. Allah Subhanahuwata’ala berfirman,

وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ

“Dan seseorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain.” (al- An’am: 164)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menunda ditegakkannya rajam atas wanita al-Ghamidiyah karena ia dalam keadaan hamil. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintah wanita ini menanti kelahiran anaknya dan menyusuinya hingga sang anak tidak lagi tergantung dengan susu ibunya.

فَجَاءَتْ الْغَامِدِيَّةُ فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنِّي قَدْ زَنَيْتُ فَطَهِّرْنِي. وَإِنَّهُ رَدَّهَا فَلَمَّا كَانَ الْغَدُ قَالَتْ: يَا رَسُولَ اللهِ ، لِمَ تَرُدُّنِي؟ لَعَلَّكَ أَنْ تَرُدَّنِي كَمَا رَدَدْتَ مَاعِزًا، فَوَاللَهِ إِنِّي لَحُبْلَى. قَالَ: إِمَّا لَا، فَاذْهَبِي حَتَّى تَلِدِي. فَلَمَّا وَلَدَتْ أَتَتْهُ بِالصَّبِيِّ فِي خِرْقَةٍ، قَالَتْ: هَذَا قَدْ وَلَدْتُهُ. قَالَ: اذْهَبِي فَأَرْضِعِيهِ حَتَّى تَفْطِمِيهِ. فَلَمَّا فَطَمَتْهُ أَتَتْهُ بِالصَّبِيِّ فِي يَدِهِ كِسْرَةُ خُبْزٍ، فَقَالَتْ: هَذَا يَا نَبِيَّ اللهِ، قَدْ فَطَمْتُهُ وَقَدْ أَكَلَ الطَّعَامَ. فَدَفَعَ الصَّبِيَّ إِلَى رَجُلٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ ثُمَّ أَمَرَ بِهَا فَحُفِرَ لَهَا إِلَى صَدْرِهَا وَأَمَرَ النَّاسَ فَرَجَمُوهَا فَيُقْبِلُ خَالِدُ بْنُ الْوَلِيدِ بِحَجَرٍ فَرَمَى رَأْسَهَا فَتَنَضَّحَ الدَّمُ عَلَى وَجْهِ خَالِدٍ فَسَبَّهَا فَسَمِعَ
سَبَّهُ إِيَّاهَا فَقَالَ، مَهْ يَا خَالِدُ،  نَبِيُّ اللهِ فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَقَدْ تَابَتْ تَوْبَةً لَوْ تَابَهَا صَاحِبُ مَكْسٍ لَغُفِرَ لَهُ. ثُمَّ أَمَرَ بِهَا فَصَلَّى
عَلَيْهَا وَدُفِنَتْ

Seorang wanita dari kabilah Ghamidiyah datang kepada Rasululah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,ia b erkata,“ WahaRi asulullah,s ungguh aku telah berzina maka (tegakkan rajam) untuk menyucikanku.” Namun, Rasul berpaling darinya (tidak membalas permohonannya), hingga keesokan hari ia berkata,“Wahai Rasulullah, kenapa engkau tolak aku , apakah engkau menolak aku sebagaimana engkau tolak Ma’iz? Demi Allah,aku telah hamil (yakni benar benar berzina).”Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaksekarang, pergilah engkau hingga engkau melahirkan (kandunganmu).” Setelah melahirkan, datang sangwanita membawa bayi pada sebuah kain (yang digendongnya), ia berkata,“Ini anakku, aku telah melahirkannya.” Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pergilah, susui anakmu hingga engkau sapih.” Setelah menyapihnya, ia datang membawa anaknya yang sedang memegang sepotong roti.

Ia berkata, “Wahai Nabi Allah, aku telah menyapihnya dan ia sudah bisa memakan makanan.” Nabi lalu menyerahkan si anak kepada salah seorang muslimin. Setelah itu,beliau memerintahkan penggalian tanah dan memendam si wanita hingga dadanya, lantas memerintahkan manusia merajamnya.

Khalid bin Walid radhiyallahu anhu datang dan melempari kepala wanita itu dengan sebuah batu. Memancarlah darah ke wajah Khalid sehingga Khalidmencelanya. Nabi n mendengar celaan Khalid terhadap wanita tersebut. Beliau bersabda, “Tunggu, hai Khalid. Demi Dzat yang jiwaku ada di Tangan-Nya, sungguh dia telah bertobat dengan sebuah tobat yang apabila dilakukan olepemungut pajak, tentu akan diampuni dosanya.” Selanjutnya, Nabi memerintahkann manusia menyalati dan menguburkan.(Shahih Muslim, bab “Orang yang Mengaku Berbuat Zina”, no. 3208)

Kisah yang sangat mengagumkan. Kesungguhan tobat seorang wanita, kesungguhan rasa takut kepada Allah Subhanahuwata’ala. Di sisi lain, kita saksikan kasih sayang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan keindahan syariat Islam. Tidak sia-sia sang wanita menundukkan dirinya di hadapan syariat Allah Subhanahuwata’ala, Allah Subhanahuwata’la telah menerima tobatnya.

Hukum Islam Tidak Memandang Status Sosial

Hukum qishash dan hadd yang sangat indah dan dipenuhi maslahat, semakin tampak keindahannya dengan keadilan hukum Islam. Islam tidak membedakan penegakan hukum ini apakah diterapkan pada bangsawan atau orang biasa, hukuman Allah Subhanahuwata’ala berlaku atas seluruh umat.

Tidak seperti umat-umat terdahulu, hukum hanya diberlakukan bagi kaum lemah, adapun kaum bangsawan mereka kebal hukum. Hadits berikut menggambarkan dengan jelas betapa indah dan adilnya hukum Islam. Dari Urwah dari Aisyah radhiyallahu anha,

أَنَّ قُرَيْشًا أَهَمَّهُمْ شَأْنُ الْمَرْأَةِ الْمَخْزُومِيَّةِ الَّتِي سَرَقَتْ فَقَالُوا: وَمَنْ يُكَلِّمُ فِيهَا رَسُولَ اللَّهِ فَقَالُوا: وَمَنْ يَجْتَرِئُ عَلَيْهِ إِلَّا أُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ، حِبُّ رَسُولِ اللهِ ؟ فَكَلَّمَهُ أُسَامَةُ فَقَالَ . رَسُولِ اللهِ: أَتَشْفَعُ فِي حَدٍّ مِنْ حُدُودِ اللهِ؟ : ثُمَّ قَامَ فَاخْتَطَبَ ثُمَّ قَالَ: إِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِينَ فِيهِمُ الشَّرِيفُ  قَبْلَكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَ َ فِيهِمُ ا  تَرَكُوهُ وَإِذَا سَرَ َ لضَّعِيفُ أَقَامُوا عَلَيْهِ الْحَدَّ، وَايْمُ اللهِ، لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا

Kabilah Quraisy merasa sedih dengan perkara wanita Makhzumiyah yang terbukti telah mencuri (dan telah sampai urusannya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ),mereka berkata, “Siapa kiranya yang menyampaikan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang wanita ini (agar mendapat keringanan dan tidak dipotong tangannya)?” Diantara mereka ada yang berkata, “Tidak ada yang berani selain Usamah bin Zaid, kesayangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Usamah lalu menyampaikannya kepada beliau. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Apakah engkau hendak memberi syafaat pada salah satu hukum had A lah?”Beliau kemudian berdiri berpidato, “Sesungguhnyayang membinasakan umat sebelumkalian adalah apabila ada diantara orang-orang mulia mereka melakukan pencurian, mereka membiarkannya; dan apabila yang mencuri dari kalangan lemah, merekam enegakkanh ukumh ada tasnya.Demi Allah, seandainya Fathimah bintu Muhammad mencuri, sungguh aku akan potong tangannya.”

Inilah Amerika Serikat (AS), Sang Pembela HAM

Yahudi, dengan AS sebagai keledai tunggangannya, adalah kaum yang paling getol mencela qishash dan hukum Islam lainnya. Tidak ketinggalan pula seluruh orang kafir, munafikin, dan orang-orang yang berpenyakit hati ikut berbaris membawa misi yang sama. Sebagai penutup pembahasan kita, marilah kita lihat bagaimana keadaan negara pembela HAM, apakah mereka mendapatkan ketenteraman dengan menyelisihi hukum Allah Subhanahuwata’ala?

Dalam sebuah berita dilaporkan bahwa di Amerika Serikat, setiap tahunnya terjadi 20 juta kasus kejahatan, dan itu yang tercatat. Juru bicara kantor pendataan di Kementerian Kehakiman AS mengatakan bahwa berdasarkan data yang tercatat, pada 2009 angka kejahatan yang meliputi pencurian dan pembunuhan meningkat tajam.

Dari keseluruhan angka tersebut 4.300.000 kasus lebih terkait dengan aksi pemerkosaan, perampokan, dan penganiayaan. Ditambahkannya, kasus pencurian rumah dan pencurian mobil tercatat sebanyak 15,6 juta kasus. Sementara itu, situs penerangan Kepolisian Federal AS dalam laporannya menyebutkan bahwa pada 2009 terjadi setidaknya 16.000 kasus pembunuhan yang dilaporkan secara resmi ke kepolisian.

Di sejumlah kota, khususnya Detroit, di negara bagian Michigan, tingkat kejahatan sedemikian tinggi sehingga disamakan oleh sebagian kalangan dengan kawasan perang. Dinyatakan pula bahwa setiap tahunnya tercatat ratusan ribu kasus pemerkosaan, dengan 90% pelaku pemerkosaan tidak pernah ditahan.

Inilah Amerika yang dielukan. Inikah para pembela HAM? Dengan dalih membela HAM, mereka campakkan hukum Allah Subhanahuwata’ala. Mereka akan menuai hasilnya di dunia dan akhirat. Demi Allah, sebentar lagi mereka akan tumbang, negeri mereka akan hancur, sebagaimana halnya Allah Subhanahuwata’ala menumbangkan benteng-benteng kokoh Yahudi di zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

هُوَ الَّذِي أَخْرَجَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ مِن دِيَارِهِمْ لِأَوَّلِ الْحَشْرِ ۚ مَا ظَنَنتُمْ أَن يَخْرُجُوا ۖ وَظَنُّوا أَنَّهُم مَّانِعَتُهُمْ حُصُونُهُم مِّنَ اللَّهِ فَأَتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ حَيْثُ لَمْ يَحْتَسِبُوا ۖ وَقَذَفَ فِي قُلُوبِهِمُ الرُّعْبَ ۚ يُخْرِبُونَ بُيُوتَهُم بِأَيْدِيهِمْ وَأَيْدِي الْمُؤْمِنِينَ فَاعْتَبِرُوا يَا أُولِي الْأَبْصَارِ

“Dia-lah yang mengeluarkan orang orang kafir diantara Ahli Kitab dari kampung-kampung mereka pada saat pengusiran kali yang pertama. Kamu tiada menyangka bahwa mereka akan keluar. dan  pun yakin bahwa benteng-benteng mereka akan dapat mempertahankan mereka dari (siksaan) Allah ; maka Allah mendatangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. Allah mencampakkanketakutankedalam hati mereka; mereka memusnahkan rumah rumah mereka dengan tangan mereka  sendiri dan tangan orang-orang yang beriman. Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orangorang yang mempunyai pandangan.” (al-Hasyr: 59)

Al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc.

Al Quran Petunjuk Ke Jalan Yang Benar

إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ

“Sesungguhnya al-Qur’anini memberikan petunjuk kepada yang lebih lurus.” (al-Isra’: 9)

Penjelasan Mufradat Ayat

يَهْدِ

“memberikan petunjuk….”
Menurut al-Alusi rahimahumullah, yaitu memberikan petunjuk bagi manusia semuanya, bukan hanya kelompok tertentu.

لِلَّتِي

“kepada yang….”

Kata ini berkedudukan sebagai sifat/na’at terhadap suatu kata yang tersembunyi, yang bila ditunjukkan berarti jalan, sehingga maknanya: “kepada (jalan) yang….” Sebagian ahli bahasa berpendapat, ia berkedudukan sebagai hal (menerangkan keadaan). Artinya,“kepada keadaan yang lebih lurus”, yaitu mentauhidkan Allah Subhanahuwata’ala dan beriman kepada para rasul-Nya.

أَقْوَمُ

“Lebih lurus.”
Maknanya, yang lebih benar dan lebih adil, yaitu Islam dan kalimat syahadat. Banyak ulama tafsir memaknainya dengan mengesakan Allah Subhanahuwata’ala, beriman kepada- Nya dan kepada para rasul-Nya, serta beramal dengan menaati-Nya.

Tafsir Ayat

Asy-Syaikh as-Sa’di rahimahumullah dalam tafsirnya menyatakan, pada ayat ini Allah Subhanahuwata’ala memberitakan tentang kemuliaan dan keagungan al-Qur’an, yaitu ia memberikan petunjuk kepada jalan yang lebih lurus. Maksudnya, yang lebih adil dan lebih tinggi (mulia), berupa keyakinan, amal kebaikan, dan akhlak (yang mulia). Barang siapa memperoleh petunjuk dengan perkara yang diseru oleh al-Qur’an, tentu ia akan menjadi manusia yang paling sempurna, paling lurus, dan paling benar pada seluruh urusannya.

Ibnu Katsir rahimahumullah menjelaskan dalam tafsirnya, Allah Subhanahuwata’ala memuji kitab-Nya yang mulia, yang Ia turunkan kepada Rasul-Nya, Muhammad, yaitu al-Qur’an. Ia (al-Qur’an) memberi petunjuk kepada jalan yang lebih lurus dan lebih jelas/terang. Diterangkan oleh Ibnu Jarir ath- Thabari t dalam tafsirnya, Allah l menyebutkan dalam ayat ini, al Qur’an yang telah Dia turunkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan bimbingan dan petunjuk bagi orang mukmin kepada jalan yang lebih lurus, yaitu jalan yang lebih lurus daripada jalan lainnya. Itulah agama Allah Subhanahuwata’ala, agama yang Allah Subhanahuwata’ala mengutus dengannya para nabi-Nya, yaitu agama Islam.

Beliau juga menyebutkan sebuah riwayat dari jalan Yunus, dari Ibnu Wahb, dari Ibnu Zaid—seputar tafsir ayat ini— beliau berkata, “Maksudnya, al-Qur’an memberikan petunjuk kepada jalan yang lebih benar. Ia (al-Qur’an) itu yang benar dan yang haq, lawannya adalah yang batil/salah. Lalu beliau membaca,

“Di dalamnya terdapat (isi) kitabkitab yang lurus.”

Artinya, berisikan kebenaran dan tidak ada kebengkokan di dalamnya, sebagaimana halnya firman Allah Subhanahuwata’ala ,

وَلَمْ يَجْعَل لَّهُ عِوَجًا ۜ  قَيِّمًا

“Dia tidak mengadakan kebengkokan didalamnya; sebagai bimbingan yang lurus.” (al-Kahfi: 1)

Asy-Syaukani rahimahumullah dalam tafsirnya, Fathul Qadir, menyebutkan sebuah riwayat yang dikeluarkan oleh al-Hakim t, dari Ibnu Mas’ud z, bahwasanya beliau sering membaca ayat ini. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim t dalam tafsirnya dari Qatadah t yang berkata, “Maknanya, al-Qur’an memberikan petunjuk kepada kalian tentang penyakit dan obatnya. Penyakit yang dimaksud adalah dosa-dosa dan kesalahan. Adapun obatnya adalah dengan istighfar (memohon ampun kepada-Nya).”

Al-Qur’an, Petunjuk ke Jalan yang Benar.

Asy-Syinqithi rahimahumullah menerangkan dalam tafsirnya, pada ayat ini Allah Subhanahuwata’ala menyebutkan bahwa al-Qur’an adalah kitab yang paling agung dibandingkan dengan kitab-kitab samawi yang lain. Terkumpul padanya seluruh ilmu. Ia adalah kitab terakhir yang turun. Ia memberikan petunjuk kepada jalan yang lebih lurus, yaitu jalan yang lebih adil, benar, dan mulia.

Pada ayat ini pula, Allah Subhanahuwata’ala mengumpulkan dan menyebutkan secara umum (tidak terperinci) semua yang ada pada al-Qur’an, yaitu petunjuk kepada jalan yang paling baik, adil, dan benar. Seandainya kita menyelidiki rincian ayat ini dalam bentuk yang sempurna, pasti kita akan mendapatkan semua itu pada al-Qur’an yang agung ini.

Sebab, seluruh urusan terkandung pada ayat ini. Ayat ini mengandung petunjuk kepada kebaikan dunia dan akhirat. Berikut akan kami sebutkan beberapa masalah yang penting dan diingkari oleh orang-orang kafir. Mereka mencela Islam karenanya, akibat ketidak mampuan mereka memahami hikmah yang sangat mulia dalam al-Qur’an. Inilah jalan yang lurus yang ditunjukkan oleh al-Qur’an, di antaranya:

1. Tauhidullah (keesaan Allah Subhanahuwata’ala ) Al-Qur’an telah memberikan petunjuk kepada jalan yang lebih lurus dan adil, yaitu keesaan-Nya dalam hal rububiyah-Nya, peribadahan kepada- Nya, nama-nama, dan sifat-sifat-Nya. Berdasarkan hasil penelitian/kajian terhadap al-Qur’an bahwa tauhidullah terbagi menjadi tiga macam:

a. Tauhidullah dalam hal rububiyah- mengatur segala urusan, menghidupkan, mematikan, dan sebagainya. Di antara ayat yang menunjukkan hal ini adalah:

وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ

Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka,”Siapakah yang menciptakan mereka?” Niscaya mereka menjawab,“Allah.” (az-Zukhruf: 87)

Jenis tauhid ini telah terbentuk dan diakui oleh fitrah orang-orang yang berakal. Namun, pengakuan ini tidak bermanfaat kecuali dengan mengikhlaskan (memurnikan) ibadah hanya untuk Allah Subhanahuwata’la .

b. Tauhidullah dalam hal peribadahan Kaidahnya adalah perwujudan makna kalimat La ilaha illallah. Kalimat ini tersusun dari dua makna: peniadaan dan penetapan.
Makna peniadaan adalah melepaskan segala jenis yang diibadahi selain Allah Subhanahuwata’la, apa pun dan siapa pun dia, pada semua jenis peribadahan. Adapun makna penetapan adalah mengesakan Allah Subhanahuwata’la semata pada seluruh jenis ibadah dengan ikhlas dalam bentuk yang sesuai dengan ajaran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kebanyakan ayat yang ada pada al-Qur’an menerangkan masalah ini. Misalnya firman Allah Subhanahuwata’la,

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ

“Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya tidak ada sesembahan (yang hak untuk diibadahi) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu.” (Muhammad: 19)

c. Tauhidullah dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Ada dua prinsip yang mendasari masalah ini: Pertama, menyucikan-Nya dari penyerupaan dengan sifat-sifat para makhluk, sebagaimana firman Allah Subhanahuwata’la,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْه [حديث حسن رواه الترمذي وغيره هكذا]

“Tidakadasesuatupunyangserupa dengan Dia.” (asy-Syura: 11)

Kedua, mengimani sifat-sifat- Nya yang disebutkan oleh Allah Subhanahuwata’la atau yang disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam bentuk yang sesuai dengan kesempurnaan dan kemuliaan-Nya, seperti firman Allah Subhanahuwata’la,

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Tidak ada sesuatu pun yangserupa dengan Dia, dan Dialah YangMaha Mengetahui lagi Maha Melihat.” (asy- Syura: 11)

2. Allah Subhanahuwata’la menjadikan talak (menceraikan istri) berada ditangan laki-laki (para suami) Firman Allah Subhanahuwata’la,

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ

“Hai Nabi, apabila kamu menceraikan istri-istrimu….” (ath-Thalaq: 1)

Sebab, wanita (para istri) diperumpamakan seperti sawah ladang (tempat bercocok tanam), ditaburkan padanya air laki-laki, sebagaimana ditaburkannya benih/biji-bijian pada bumi (sawah ladang). Allah Subhanahuwata’la berfirman,

نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَّكُمْ

“Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam.” (al- Baqarah: 223)

Seorang petani tidak akan memaksa diri untuk menabur benih pada ladang yang tidak ia sukai untuk tempat bercocok tanam. Bisa jadi, menurutnya, tempat itu tidak layak baginya. Adapun bukti pasti yang dapat dinalar bahwa suami itu ibarat petani dan istri ibarat sawah ladang; alat bertanam ada pada suami. Kalau sang istri berkehendak untuk berhubungan dengan suami, dalam keadaan sang suami tidak berkenan dan tidak menyukai, sang istri tidak akan mampu berbuat apa-apa. Sebaliknya, jika sang suami berkenan dan memaksa sang istri, dalam keadaan ia (istri) tidak menyukai, akan terjadi kehamilan dan kelahiran.

Maka dari itu, tabiat dan fitrah menunjukkan bahwa suami itu sebagai pelaku (subjek) dan istri sebagai objek. Dengan demikian, orang-orang berakal sepakat bahwa penisbahan anak itu kepada suami, bukan kepada istri. Disamakannya wanita (istri) dan laki laki (suami) dalam hal ini diingkari oleh nalar, dan masalahnya cukup jelas.

3. Dibolehkan bagi laki-laki untuk berpoligami

Di antara bentuk al-Qur’an memberikan petunjuk kepada jalan yang benar adalah dibolehkannya seorang laki-laki menikahi wanita lebih dari satu (sampai memiliki empat istri). Jika seorang khawatir tidak dapat berbuat adil, cukup baginya seorang istri atau budak yang ia miliki.

وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَىٰ فَانكِحُوا مَا طَابَ لَكُم مِّنَ النِّسَاءِ مَثْنَىٰ وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ ۖ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ

“Jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bila mana kamu mengawininya), kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat.Kemudian jika kamu taku tidak akan berlaku adil,(kawinilah) seorang saja atau budak-budak yang kamu miliki.” (an-Nisa: 3)

4. Dalam warisan, bagian laki laki lebih banyak daripadawanita

Di antara bukti yang menunjukkan bahwa al-Qur’an memberikan petunjuk kepada jalan yang lurus, laki-laki mendapatkan bagian yang lebih besar daripada wanita. Allah l berfirman,

وَإِن كَانُوا إِخْوَةً رِّجَالًا وَنِسَاءً فَلِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الْأُنثَيَيْنِ ۗ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ أَن تَضِلُّوا ۗ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara-saudara laki dan perempuan, maka bagian seorang saudara laki-laki sebanyak bagian dua orang saudara perempuan. Allah menerangkan hukum ini kepadamu, supaya kamu tidak sesat dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (an-Nisa: 176)

Di antara alasannya, laki-laki memiliki keutamaan dari sisi penciptaan (tabiat asal), kekuatan, kemuliaan, dan keelokan. Sebaliknya, wanita diciptakan Allah Subhanahuwata’la dalam kondisi kurang akal, lemah. Wanita yang pertama kali ada diciptakan oleh Allah Subhanahuwata’la dari bagian tubuh laki-laki (tulang rusuk). Allah Subhanahuwata’la berfirman,

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ

“Kaum laki-laki tu adalah pemimpin bagi kaum wanita, karena Allah telah Melebihkan sebagian mereka(laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita).” (an- Nisa: 34)

وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ

“Akan tetapi, para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada istrinya.” (al-Baqarah: 228)

Dengan demikian, laki-laki tidak sama dengan wanita. Allah Subhanahuwata’la berfirman,

وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالْأُنثَىٰ

“Dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan.” (AliImran: 36)

Barang siapa mengatakan perempuan sama dengan laki-laki, ia telah merelakan dirinya untuk menjadi manusia yang terlaknat. Dalam sebuah hadits disebutkan,

لَعَنَ رَسُولُ اللهِ الْمُتَشَبِّهَاتِ بِالرِّجَالِ مِنْ  النِّسَاءِ وَالْمُتَشَبِّهِينَ بِالنِّسَاءِ مِنَ الرِّجَالِ

“Rasulullah n melaknat wanita yang menyerupai laki-laki dan laki-laki yang menyerupai wanita.” (HR. at- Tirmidzi, beliau menyatakan hadits ini hasan sahih)

5. Mengamalkan sunnah Di antara bukti bahwa al-Qur’an memberikan petunjuk kepada jalan yang benar ialah iamemerintahkan manusia untuk memahami serta mengamalkan isi dan kandungannya dengan mengamalkan sunnah Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Subhanahuwata’ala berfirman,

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُو

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia! Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah!” (al Hasyr: 7)
Wallahuta’ala a’lam bish-shawab.

Al-Ustadz Abu Ubaidah Syafruddin

Tanya Jawab Ringkas Edisi 83

Jin Mendapat Syariat?
Apakah jin mendapatkan syariat seperti kita (shalat, puasa, dsb.)? Apakah mereka juga bisa membaca mushaf al- Qur’an dan hafalan?

081391XXXXXX

Ya, kehidupan jin seperti manusia, hanya beda alam. Lihat surat adz- Dzariyat ayat 56.
al-Ustadz Muhammad Afifuddin

Takbir Ied bagi Wanita
Bolehkah wanita takbir pada ied? Apa syarat-syaratnya?

081391XXXXXX

Wanita diperbolehkan takbir ied sebagaimana laki-laki. Namun, tidak boleh mengeraskan suaranya sampai terdengar oleh laki-laki yang bukan mahram, juga tanpa ikhtilath. Cukup sendiri atau di tengah-tengah wanita atau mahramnya.

al-Ustadz Muhammad Afifuddin

Jumlah Lafadz Takbir Ied
Berapa kali lafadz takbir ied?

081391XXXXXX

Semuanya boleh, karena lafadz takbir datangnya dari perbuatan salaf, tidak adariwayat dalam sunnah. Bahkan, semata-mata mengulang lafadz takbir juga boleh. Namun, yang afdal adalah bertakbir sesuai dengan contoh salaf.

al-Ustadz Muhammad Afifuddin

Keputihan Membatalkan Wudhu?
Bismillah. Apakah keputihan itu dapat membatalkan wudhu dan shalat? Apakah keputihan itu najis? Jazakumullah khairan.

085647XXXXXX

Pendapat yang rajih, hukum asal sesuatu adalah suci dan tidak membatalkan wudhu sampai ada nash dalil yang menjelaskannya.Tidak ada nash yang menjelaskan najisnya keputihan atau termasuk pembatal wudhu.
Adapun lafadz“ yangk eluard ari dua jalan qubul dan dubur” bukan lafadz hadits, melainkan pernyataan jumhur ulama; itu pun tidak baku untuk semua permasalahan. Wallahul muwaffiq.

al-Ustadz Muhammad Afifuddin

Zakat dari Jualan Sabu-Sabu
Bismillah. Apakah boleh seseorang mengeluarkan zakat harta dari hasil yang haram, misal dari hasil jual sabu-sabu. Bagaimana orang yang menerimanya? Jazakallahu khairan.

085260XXXXXX

Allah Subhanahuawata’ala tidak menerima selain yang baik. Orang yang mempunyai harta haramatau dari hasil yang haram,tidak boleh memakainya kecuali apabila dia mendapatkannya sebelum mengetahui ilmunya, maka apa yang telah berlalu, halal baginya.
Adapun setelah mempunyai ilmu, dia harus alokasikan untuk kepentingan umum. Sebagian ulama berpen dapat boleh bagi pihak lain untuk menerimanya, tetapi yang wara’ adalah tidak menerimanya; karena termasuk syubhat.

al-Ustadz Muhammad Afifuddin

Wakaf Bersyarat
Bismillah. Bagaimana status tanah orang yang mengatakan, “Saya wakafkan tanah ini kalau untuk dibangun masjid.” Apakah masih sebagai tanah wakaf ketika diketahui hampir tidak mungkin membangun masjid di tanah tersebut?

085221XXXXXX

Wakaf itu tergantung niat dan lafadz siwaqif. Sementara itu, nazir hanya menjalankan amanat wakaf tersebut selama tidak melanggar syar’i. Wakaf di atas diistilahkan wakaf mu’allaqbi syarthi (wakaf yang terikat dengans yarat). Apabila sesuai dengan syarat, statusnya wakaf. Jika tidak,tidak dianggap wakaf kecuali apabila waqif mempunyai lafadzlain.

al-Ustadz Muhammad Afifuddin

Contoh Jual Beli Istishna’ & Salam
Seseorang menjual tanah dan rumah yang baru dibangun setelah akad jual beli dan membayar DP 50%. Apakah yang demikian termasuk jual beli yang terlarang karena belum ada barang (rumah)? Pertanyaan yang sama, seseorang membeli baju, namun stoknya habis, jadi barang baru diberikan setelah datang. Jazakumullahu khairan. 081254XXXXXX

Kasus pertama disebut istishna’; boleh menurut pendapat yang rajih, dengan syarat rumah itu sesuai dengan kriteria yang disepakati. Waktu pelunasannya adalah pada waktu penyerahan rumah atau sebelumnya.
Kasuske-2 menggunakan sistem salam; yaitu uang kontan dimuka untu kbarang yang disepakati dengan sifat, timbangan, ukuran, dan waktu penyerahan yang disepakati. al-Ustadz Muhammad Afifuddin

Memukul Anak Agar Jera
Bismillah. Bolehkah menghukum anak dengan memukulnya agar jera sehingga menjadi pelajaran baginya dan bagi teman-temannya? 08179XXXXXX

Pendidikan Islam dibangun di atas rahmah dan kelembutan, khususnya tarbiyahanak-anak. Kekerasan dan kekasaran dalam pendidikan tidak dibenarkan dalam syariat. Yang ada adalah ketegasan dan ke disiplinan dengan rambu-rambunya.
Apabila ada anak yang salah melanggar, hukumannya disesuaikan dengan kadar dan jenis kesalahan, juga kondisi setiap anak. Bisa jadi diberi peringatan, hukuman ringan, sedang, ataumungkinberat, asalkan tidak membahayakan.
Hukuman tidak dilihat dari usia, karena hadits tentang pembeda antar umur tujuh dan sepuluh tahun hanya dalam urusan shalat dan tempat tidur. Apabila terpaksa menghukum dengan pukulan, tidak boleh memukul wajah atau bagian tubuh yang rawan d an tidakbolehmelukai. Wallahulmuwaffiq.

al-Ustadz Muhammad Afifuddin

Bayar Pajak karena Terpaksa
Bagaimana hukum orang yang membayar pajak karena terpaksa? Sebab, kita akan diberi sanksi kalau tidak membayar. 085867XXXXXX

Dengan kondisi seperti di negara kita, mau tidak mau kita harus membayar pajak. Oleh karena itu, lakukan demi meredam fitnah; sedangkan dosanya ditanggung oleh pihak yang mewajibkan.

al-Ustadz Muhammad Afifuddin

Haramnya Bekerja di Kantor Pajak
Apa penyebab haramnya bekerja di kantor pajak? 082173XXXXXX

Pajak dihukumi haram, karena:
1. Memakan harta sesama muslim dengan cara yang batil.
2. Tidakberdasarkan al-Qur’an, as-Sunnah, danpemahamansalaf.
3. Tasyabbuh perbuatan orangorangkafirdanpemerintahzalim.
4. Pajak dizaman salaf diterapkan terhadap orang kafir, bukan terhadap muslim. Selainitu, terdapat hadits yang menunjukkan bahwa pajak termasuk dosa besar. Lihat halaman 41 majalah edisi ini pada akhir hadits yang menyebutkan kisah wanita Ghamidiyah yang meminta agar dirinya dirajam karena telah berzina.
Ada kitab khusus yang membahas tentang pajak, ditulis oleh Fahd Nahsyali al-‘Adani, dan diberi pendahuluan oleh asy-SyaikhMuhammadal-Imam.
al-Ustadz Muhammad Afifuddin
al-Ustadz Qomar Suaidi

Contoh Kasus Waris
Seorang kakek mempunyai 4 putra, 7 putri, dan 1 putri angkat. Ayah saya adalah salah seorang putra kakek tersebut. Kami tiga bersaudara, putra semua. Ayah saya lebih dahulu meninggal dari kakek atau nenek. Ketika kakek meninggal dengan meninggalkan sejumlah harta, harta tersebut tidak segera dibagi. Ketika nenek meninggal, baru dilakukan pembagian warisan.
Bagaimana pembagian harta waris tersebut? Apakah kami mendapatkan warisanjuga? Jazakumullahukhairan.081370XXXXXX

Anda semua tidak mendapatkan warisan, karena orang tua meninggal sebelum kakek-nenek yang memiliki harta.Dalam ilmu waris, Anda semua gugur karena masih ada anak-anak dari kakek-nenek tersebut.

al-Ustadz Muhammad Afifuddin

Sudah Tidak Bekerja, Masih Digaji
Seseorang yang sudah tidak bekerja lagi mendapatkan gaji tiap bulan sampai bulan keempat. Bolehkah ia mempergunakan uang gaji tersebut?085275XXXXX

Jika dari pemerintah atau perusahaan sebagai subsidi, diperbolehkan. Namun, apabila bukan subsidi, tetapi gaji bulanan atas pekerjaan kita (yang ternyata kita sudah tidak bekerja), tidak boleh diambil. Jika dari asuransi,dirinci lagi. JikaDari uang gaji kita yang dipotong tiap bulan, boleh diambil sejumlah nominal gaji saja; tetapi jika dari selain itu, lebih baik tidak diambil karena bukan hak kita.

al-Ustadz Muhammad Afifuddin

Anak Menghajikan Orang Tua
Apa hukumnya seorang anak yang menghajikan bapak dan ibunya yang sudah meninggal? 08156XXXXXX

Jika orang tua pada masa hidupnya termasuk mampu haji, tetapi tidak ada kesempatan berangkat hingga wafat, anak boleh menghajikannya dengan syarat yang menjadi wakil sudah pernah haji sebelumnya. Begitu pula apabila orang tua berwasiat dan tidak lebih dari1/3 harta, maka ditunaikan wasiatnya.

al-Ustadz Muhammad Afifuddin