Jauhi Sumber Kesalahan

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah)

Allah l menciptakan makhluk-Nya untuk selalu taat kepada-Nya, dalam keadaan Dia tidak butuh kepada apa pun dan siapa pun1, baik itu makhluk yang disebut malaikat, jin, maupun manusia.2
Dari tiga jenis makhluk yang disebutkan ini, jenis malaikat tidaklah diberi bagian untuk durhaka kepada-Nya, karena malaikat adalah makhluk yang diciptakan untuk senantiasa taat, tunduk, patuh, dan selalu beribadah kepada-Nya, sebagaimana Allah l sifatkan mereka dalam al-Qur’an,
“Mereka tidak pernah bermaksiat kepada Allah dalam apa yang Allah perintahkan kepada mereka dan mereka selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (at-Tahrim: 6)
Tertinggal dua jenis makhluk yang dari keduanyalah terjadi kedurhakaan dan kemaksiatan kepada Rabbul Alamin, manusia dan jin. Memang kepada keduanyalah dibebankan taklif, beban-beban syariat, yang bila keduanya mau menjalankannya dengan baik selama hidup di dunia, kelak akan beroleh kenikmatan abadi yang tiada tara. Sebaliknya, apabila keduanya enggan, kesengsaraan dan derita tiada terperi telah menanti.
Manusia dan jin, Allah l ciptakan secara syar’i untuk beribadah kepada-Nya, sebagaimana dalam Tanzil-Nya yang agung,
“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (adz-Dzariyat: 56)
Di antara manusia dan jin ada yang menjadi hamba Allah l yang taat, namun lebih banyak lagi yang durhaka dengan kehendak dan hikmah Allah l yang agung serta keadilan-Nya.
Kedurhakaan dan kemaksiatan yang diperbuat dua makhluk yang diistilahkan tsaqalain (dua yang berat) ini terus saja terjadi di muka bumi. Banyak dan tiada terhitung pelanggaran yang mereka lakukan. Namun disebutkan pokok atau awal dari kesalahan makhluk itu ada tiga: ambisi, hasad/iri dengki, dan kibr/sombong3.

1. Ambisi
Merasa tidak puas dengan apa yang telah diperoleh dan terus ingin menambah dan menambah.
Karena sifat inilah, dengan kehendak Allah l dan hikmah-Nya, bapak kita Adam q dikeluarkan dari jannah (surga) untuk kemudian turun ke bumi sebagai negeri yang memang telah dipersiapkan untuk dihuni bangsa manusia4.
Iblis yang menyimpan dendam kesumat kepada Adam q berusaha menggelincirkan Adam dan Hawa dengan tipu muslihatnya, tatkala ia melihat ambisi Adam untuk tetap abadi di surga guna terus merasakan kenikmatan tiada tara. Sebelumnya Allah l telah bertitah kepada Adam q,
Dan Kami berfirman, “Wahai Adam, tinggallah kamu dan istrimu di surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kalian berdua sukai, namun janganlah kalian berdua mendekati pohon ini, yang menyebabkan kalian berdua termasuk orang-orang yang zalim.” (al-Baqarah: 35)
Maka Kami berkata, “Wahai Adam, sesungguhnya Iblis ini adalah musuh bagimu dan bagi istrimu, maka sekali-kali janganlah sampai ia mengeluarkan kalian berdua dari surga, yang menyebabkan kamu celaka. Sungguh di dalam surga ini kamu tidak akan kelaparan dan tidak akan telanjang.” (Thaha: 117—118)
Iblis, nenek moyang para setan, pun melancarkan makar busuknya terhadap kedua bapak dan ibunya manusia ini.
Maka setan membisikkan pikiran jelek kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu aurat keduanya. Setan berkata, “Rabb kalian berdua tidaklah melarang kalian dari mendekati pohon ini, melainkan supaya kalian berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal di dalam surga. “ (al-A’raf: 20)
Kemudian setan membisikkan pikiran jelek kepada Adam, dengan berkata, “Wahai Adam, maukah aku tunjukkan kepadamu pohon khuldi5 (pohon kekekalan) dan kerajaan yang tidak akan binasa?” (Thaha: 120)
Pada akhirnya, karena ambisi ingin kekal di dalam surga jatuhlah Adam dalam tipu daya setan.
Maka setan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah merasai buah dari pohon terlarang itu, tampaklah bagi keduanya aurat keduanya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian Rabb keduanya menyeru, “Bukankah Aku telah melarang kalian berdua dari pohon itu dan Aku katakan kepada kalian berdua, ‘Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi kalian berdua?’.” (al-A’raf: 22)
Karena kesalahan tersebut, Adam dan Hawa akhirnya diturunkan ke bumi, tidak lagi menghuni surga nan bergelimang kenikmatan, setelah Allah l menerima taubat keduanya.

2. Hasad atau Dengki
Hasad adalah tidak suka terhadap nikmat yang Allah l berikan kepada orang lain, sama saja apakah disertai keinginan hilangnya nikmat tersebut dari orang yang didengki ataupun tidak, demikian disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t.
Karena sifat buruk ini, terjadilah permusuhan di antara dua putra Adam. Tatkala keduanya mempersembahkan kurban sebagai amalan taqarrub kepada Rabbul Alamin, hanya kurban salah satunya yang diterima, sementara itu yang satu lagi ditolak. Irilah anak Adam yang ditolak kurbannya terhadap saudaranya sehingga akhirnya ia tega membunuhnya. Terjadilah pembunuhan pertama di muka bumi. Akibat sifat apa? Ya, iri dengki atau hasad.
Allah l mengabadikan kisah pembunuhan tersebut dalam Tanzil-Nya,
Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang mereka dan tidak diterima dari yang lain. Yang tidak diterima berkata, “Aku pasti akan membunuhmu!” Berkata yang diterima kurbannya, “Sungguh Allah hanya menerima kurban dari orang-orang yang bertakwa. Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb semesta alam. Sungguh aku ingin agar kamu kembali dengan membawa dosa membunuhku dan dosamu sendiri, maka kamu akan menjadi penghuni neraka, dan yang demikian itulah pembalasan bagi orang-orang yang zalim.” Maka hawa nafsu yang tidak diterima kurbannya menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah saudaranya maka jadilah dia seorang di antara orang-orang yang merugi. (al-Maidah: 27—30)
Hasad juga merupakan perangai musuh kita al-maghdhubi ‘alaihim, yaitu orang-orang Yahudi, yang dalam shalat saat membaca al-Fatihah kita selalu berlindung dari mengikuti jalan mereka. Allah l berfirman tentang Yahudi,
“Apakah mereka hasad terhadap manusia atas nikmat keutamaan yang Allah berikan kepadanya?” (an-Nisa: 54)
Ketika kita dapati perasaan hasad ini dalam hati kita maka tahanlah lisan dan perbuatan kita, jangan kita munculkan apa yang tersimpan dalam dada. Berusahalah menghilangkan rasa tidak suka tersebut. Berdoalah agar Allah menambahkan keutamaan-Nya kepadanya (orang yang didengki) dan Dia memberimu sesuatu yang lebih utama darinya.

3. Sombong
Rasulullah n menerangkan tentang kibr atau sombong dengan sabdanya,
الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
“Sombong adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia.” (HR. Muslim)
Karena kesombongan, Iblis jatuh dalam kekafiran. Kisahnya, tatkala Allah l memerintahkan para malaikat dan ikut bergabung bersama mereka si Iblis6, untuk sujud penghormatan kepada Adam, maka seluruh malaikat sujud sebagai kepatuhan terhadap perintah Allah l. Namun Iblis enggan, dengan congkaknya ia menolak, beralasan ia lebih baik daripada Adam karena ia diciptakan dari api sedangkan Adam dari tanah. Murkalah Rabbul Alamin kepadanya dan diusirlah dia dari surga.
Allah l berfirman menceritakan kesombongan Iblis,
Dan ingatlah ketika Kami berkata kepada para malaikat, “Sujudlah kalian sebagai penghormatan kepada Adam!” Maka mereka semua sujud, kecuali Iblis, dia enggan dan sombong, dan jadilah dia termasuk orang-orang kafir. (al-Baqarah: 34)
Al-Hafizh Ibnu Katsir t mengatakan bahwa Iblis musuh Allah l hasad kepada Adam q dengan kemuliaan yang Allah l berikan kepada Adam. Ia mengatakan dirinya dari api lebih baik daripada Adam yang diciptakan dari tanah. Jadilah kesombongan sebagai awal dosa yang diperbuat oleh makhluk.
Rasulullah n telah mengancam orang yang sombong dalam sabdanya:
لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ
“Tidak akan masuk surga orang yang di hatinya ada kesombongan walau seberat semut yang kecil.” (HR. Muslim)
Maka hendaklah kita membuang rasa sombong ini dari hati kita dengan cepat menerima kebenaran, sesuai ataupun tidak dengan hawa nafsu kita, dan hargailah hamba-hamba Allah l, jangan mengangkat diri di hadapan mereka, namun tawadhu’lah.
Demikianlah keburukan sifat terlalu ambisi, hasad, dan sombong. Semuanya akan menjerumuskan pemiliknya ke dalam jurang kesengsaraan, maka berhati-hatilah darinya!
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Referensi
• al-Qur’anul Karim
• al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim, al-Imam an-Nawawi, cet. Darul Ma’rifah, Bairut.
• at-Ta’shil fi Thalabil ‘Ilm, asy-Syaikh Muhammad ibn Umar ibn Salim Bazmul, cet. Dar al-Imam Ahmad, Kairo.
• Fathul Majid Syarhu Kitabit Tauhid, asy-Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alusy Syaikh, cet. Dar ‘Alamil Kutub, Riyadh.
• Kitabul ‘Ilm, Fadhilatusy Syaikh Ibnu Utsaimin, cet. Dar ats-Tsurayya lin Nasyr, Riyadh.
• Syarhus Sunnah lil Muzani, Fadhilatusy Syaikh Ahmad bin Yahya an-Najmi, cet. Darul Minhaj, Kairo.
• Tafsir al-Qur’anil azhim, al-Hafizh Ibnu Katsir, cet. al-Maktabah at-Tauqifiyyah, Kairo.

 

 

Kapan Wanita Boleh Shalat?

Kapan seorang wanita mengerjakan shalat fardhu di rumahnya, apakah setelah azan ataukah setelah iqamah?
Jawab:
Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah menjawab, “Bila telah masuk waktu shalat, maka para wanita yang berada di rumah-rumah bisa mengerjakan shalat tanpa menanti iqamah. Begitu terdengar adzan muadzin yang memang menyerukan adzannya saat telah masuk waktu shalat maka para wanita bisa langsung shalat dan boleh juga mereka menunda dari awal waktunya, wallahu a’lam. (al-Muntaqa, 3/181)

Istri Mengimami Suami

Bolehkah saya mengimami suami saya dalam shalat karena saya lebih paham agama dan berpendidikan dengan mengenyam bangku pendidikan di Fakultas Syari’ah sedangkan suami saya setengah buta huruf?

Jawab:
Fadhilatusy Syaikh Ibnu Utsaimin t menjawab, “Tidak boleh wanita mengimami laki-laki, baik lelaki itu suaminya, putranya, maupun ayahnya. Karena memang wanita tidak mungkin menjadi imam bagi kaum lelaki dan itulah sebabnya Nabi n bersabda,
لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمْ امْرَأَةٌ
“Tidak akan beruntung suatu kaum bila wanita yang mengurusi perkara mereka4.”
Bahkan, sampaipun si wanita lebih ahli membaca al-Qur’an daripada si lelaki, tetap saja si wanita tidak boleh mengimami lelaki tersebut. Nabi n bersabda,
يَؤُمُّ الْقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللهِ ….
“Yang mengimami suatu kaum adalah yang paling banyak hafalannya terhadap Kitabullah5….”
Sekalipun wanita berada bersama lelaki tetaplah tidak termasuk dalam sasaran pembicaraan hadits di atas (karena yang dituju oleh hadits adalah lelaki dengan lelaki saja6).
Buktinya bisa kita baca dari firman Allah l,
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, karena bisa jadi yang diolok-olok lebih baik daripada yang mengolok-olok7. Tidak boleh pula wanita mengolok-olok wanita yang lain, karena bisa jadi yang diolok-olok lebih baik daripada yang mengolok-olok.” (al-Hujurat: 11)
Dalam ayat di atas, Allah l membagi manusia menjadi dua golongan, yaitu kaum lelaki dan kaum wanita8. Dengan demikian wanita tidak masuk dalam keumuman sabda Rasulullah n,
يَؤُمُّ الْقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللهِ ….
“Yang mengimami suatu kaum adalah yang paling banyak hafalannya terhadap Kitabullah….”
(Fatawa, 1/382)

Catatan Kaki:

4 HR. al-Bukhari dalam Shahih-nya
5 HR. Muslim no. 1530
6 Adapun wanita tidak menjadi sasaran pembicaraan hadits di atas bila shalat bersama lelaki, sehingga sekalipun di antara jamaah wanita ada yang lebih paham dan lebih banyak hafalan al-Qur’annya daripada seluruh jamaah laki-laki, tetap saja si wanita tidak bisa dikedepankan sebagai imam.
7 Yang dimaksud kaum di sini adalah khusus kaum lelaki, karena untuk wanita disebutkan dalam kelanjutan ayat.
8 Seandainya kata “kaum” sudah mencakup wanita niscaya tidak perlu lagi disebutkan kelanjutan ayat di atas, “Tidak boleh pula wanita mengolok-olok wanita yang lain, karena bisa jadi yang diolok-olok lebih baik daripada yang mengolok-olok.”

Waswas ketika Shalat

Saya seorang wanita yang mengerjakan ibadah yang diwajibkan Allah subhanahu wa ta’ala kepada saya, hanya saja di saat mengerjakan shalat saya banyak lupa di mana saya shalat sedangkan pikiran saya bisa melayang-layang mengingat beberapa kejadian pada hari tersebut.

Padahal sebelumnya pikiran itu tidak terlintas di benak saya melainkan setelah saya mulai melakukan shalat. Saya tidak mampu lepas dari hal ini kecuali ketika membaca bacaan shalat dengan keras. Lalu apa yang Anda nasihatkan kepada saya?

Jawab:
“Masalah yang Anda keluhkan ini banyak pula dikeluhkan oleh orang yang shalat, ketika setan membuka pintu waswas baginya di tengah shalat. Terkadang ada orang selesai dari mengerjakan shalatnya dalam keadaan ia tidak tahu apa yang tadi diucapkan/dibacanya saat shalat. Akan tetapi penyakit yang demikian telah diberikan bimbingan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengatasinya yaitu dengan meniup (meludah kecil) ke arah kiri tiga kali dan mengucapkan ‘audzu billahi minasy syaithani rajim. Bila ia lakukan hal ini, akan hilanglah darinya apa yang didapatinya dengan izin Allah subhanahu wa ta’ala.

Bagi orang yang masuk dalam amalan shalat hendaknya meyakini ia sedang berada di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala, sedang bermunajat dengan Allah subhanahu wa ta’ala, bertaqarrub/mendekat kepada-Nya dengan membesarkan dan mengagungkan-Nya serta membaca kalam-Nya, disertai doa yang dipanjatkan pada tempat-tempat yang memang disyariatkan untuk berdoa dalam shalat.

Apabila seseorang bisa merasakan perasaan seperti ini dalam shalat maka ia bisa masuk menghadap Rabbnya dengan khusyuk, penuh pengagungan, mencintai kebaikan yang ada di sisi-Nya, serta takut akan hukuman-Nya apabila ia sampai tidak serius menunaikan kewajiban yang Allah subhanahu wa ta’ala tetapkan atasnya,” demikian jawaban dari Fadhilatusy Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah. (Fatawa al-Mar’ah, 1/32—33)

 

Shalat Menggendong Anak

Apakah seorang ibu boleh shalat sambil menggendong anaknya?

Jawab:

Fadhilatusy Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah menjawab, “Shalat wanita sambil menggendong anaknya tidak apa-apa bila anaknya dalam keadaan suci dan memang butuh digendong karena mungkin anaknya menangis dan bisa menyibukkan si ibu apabila tidak menggendongnya.

Telah pasti kabar yang datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyebutkan beliau pernah shalat sambil menggendong cucu beliau Umamah bintu Zainab bintu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat mengimami orang-orang dalam keadaan Umamah dalam gendongan beliau. Bila berdiri, beliau menggendong Umamah dan di saat sujud beliau meletakkannya3.

Apabila seorang ibu melakukan hal tersebut maka tidak apa-apa, tetapi yang lebih utama tidak melakukannya melainkan jika ada kebutuhan.” (Nurun ‘alad Darb, hlm. 17)

Shalat Gerhana di Rumah

Bolehkah wanita shalat gerhana (shalat kusuf) sendirian di rumahnya? Apa yang lebih utama baginya?

Jawab:
Fadhilatusy Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah menjawab, “Tidak apa-apa wanita shalat kusuf di rumahnya karena perintah dalam hal ini bersifat umum. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan,

فَصَلُّوا وَادْعُوا حَتَّى يَنْكَشِفَ مَا بِكُمْ

“Shalatlah kalian dan berdoalah sampai tersingkap/hilang apa yang menimpa kalian.”[1]

Namun, kalau si wanita keluar ke masjid sebagaimana yang dilakukan oleh para wanita dari kalangan sahabat[2] dan ikut shalat bersama orang-orang, tentu ini adalah kebaikan. (Majmu’ Fatawa wa Rasail Ibni Utsaimin, 16/310)

3 Catatan kaki seluruhnya dari penerjemah. HR. al-Bukhari no. 5996 dan Muslim no. 1212.

[1] Gerhana bulan atau matahari berakhir dengan bulan kembali bercahaya dan matahari kembali bersinar.

[2]  Seperti yang dilakukan oleh Aisyah dan Asma binti Abi Bakr g dalam hadits yang diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari dan Muslim.

 

Agar Wanita Tidak Diperdaya

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu ‘Ishaq al-Atsariyah)

Wanita ikutan jadi kontestan pemilukada? Kampanye keliling ke mana-mana, tanpa malu-malu tampil di depan para lelaki dan posternya dipasang di mana-mana. Ah… sudah biasa, tidak aneh di zaman modern ini? Jangankan jadi kepala daerah, bupati, atau gubernur, jabatan presiden juga pernah diduduki oleh seorang wanita.
Wanita keluar rumah tanpa menutup aurat, bercampur baur dengan para lelaki, kerja bersisian, tidak jarang berduaan. Apa yang diherankan…? Semuanya sudah dianggap lazim sebagai tuntutan zaman “kemajuan”.
Belum lagi kontes ratu-ratuan yang menjadikan wanita sebagai objek pemuas mata lelaki, tidak terhitung macam ragamnya, mulai tingkat daerah, nasional, hingga internasional. Berlomba-lomba putri-putri kita (baca: muslimah) yang jelita untuk ikut dalam ajang pamer kebagusan wanita tersebut. Kok ribut…? Itu kan biasa.
Lalu, banggakah kita dengan pencapaian yang diperoleh wanita?
Terkagum-kagumkah kita dengan “kesuksesan” yang diraih kaum wanita?
Kemajuankah ini atau malah keterpurukan dan kehinaan?
Pernahkah kita menyadari bahwa segala upaya mengeluarkan wanita dari “istana”nya, dari hijab yang syar’i dan dari rasa malu adalah bagian dari makar jahat yang terselubung dari orang-orang kafir, dalam hal ini Yahudi dan Nasrani? Makar busuk terhadap Islam dan pemeluknya. Bagaimana bisa demikian? Allah l telah memperingatkan,
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan ridha/senang kepadamu hingga kamu mengikuti agama mereka.” (al-Baqarah: 120)
Mahabenar Allah l dengan firman-Nya. Betapa Yahudi dan Nasrani terus melancarkan permusuhannya kepada kaum muslimin dan berusaha menarik kaum muslimin sekuat-kuatnya agar mengikuti agama mereka.
Dilancarkanlah gerakan pemurtadan, mulai dari cara yang paling kasar sampai cara yang halus. Bila usaha permurtadan tidak berhasil, mereka tidak berputus asa.
Ditempuhlah upaya-upaya pendangkalan akidah dan akhlak generasi muslim.
Dilancarkan ghazwul fikri, perang pemikiran, di tengah kaum muslimin, bahwa mengikuti orang kafir adalah kemajuan, sementara tetap bertahan dengan aturan agama adalah kemunduran, kolot, dan terbelakang. Bila upaya-upaya “kriminal” yang mereka lakukan ini berhasil maka tidak perlu kaum muslimin keluar dari Islam lalu beragama dengan agama mereka. Cukuplah prestasi gemilang mereka raih manakala bermunculan individu-individu kaum muslimin yang kosong dari ruh Islam, tidak tersisa Islam kecuali sekadar nama, simbol, dan pengakuan. Hanya Allah l saja yang dimintai pertolongan-Nya dalam menghadapi seluruh makar musuh-musuh-Nya….
Apabila sudah demikian keadaan kaum muslimin, maka ujung-ujungnya bisa saja terjadi tragedi seperti di Bosnia, pembantaian kaum muslimin yang sudah minder dengan agamanya. Ya Allah, kami mohon keselamatan dari kejahatan musuh agama-Mu!
Demikianlah ahlul batil dari kalangan orang-orang kafir ataupun orang-orang yang membebek kepada mereka, ingin selalu menyesatkan manusia dan memalingkan mereka dari agama Allah l. Bagi yang mau memerhatikan dan merenungkan keadaan kebanyakan kaum muslimin pada hari ini, maka ia akan melihat betapa mereka telah banyak berpaling dari aturan agama dan mengikuti yang selainnya.
Sungguh benar Rasulullah n tatkala mengabarkan,
لَتَتَّبِعَنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ، حَتَّى لَوْ سَلَكُوْا جُحْرَ ضَبٍّ لَسَلَكْتُمُوْهُ. قُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، الْيَهُوْدُ وَالنَّصَارَى؟ قَالَ: فَمَنْ؟
Sungguh, kalian akan mengikuti jalan-jalan orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sampai-sampai andai orang sebelum kalian masuk ke lubang dhabb1 niscaya kalian akan ikut masuk. Kami bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah umat terdahulu itu Yahudi dan Nasrani? Rasul menjawab, “Siapa lagi kalau bukan mereka?” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Samahatusy Syaikh Ibnu Baz t berkata, “Sungguh Yahudi terus-menerus melakukan upaya untuk merusak kaum muslimin dalam hal akhlak dan akidah mereka. Orang-orang Yahudi punya ambisi terhadap negeri-negeri kaum muslimin dan selain mereka. Mereka mempunyai beragam makar yang sebagiannya sudah mereka capai dan terus-menerus mereka melakukan upaya dengan getol untuk mewujudkan rencana yang tersisa. Sebagaimana mereka memerangi kaum muslimin dengan kekuatan dan senjata serta menguasai sebagian tanah kaum muslimin, maka mereka juga memerangi kaum muslimin dalam pemikiran dan keyakinan. Karena itulah, mereka menyebarkan di tengah kaum muslimin kepercayaan, mazhab, dan aliran-aliran yang batil.” (Majalah al-Jami’ah al-Islamiyah, 59/1403 H)
Musuh-musuh Islam mencari cara untuk menyebarkan kerusakan di tengah masyarakat kaum muslimin, maka mereka dapati wanita sebagai alat paling ampuh untuk mendukung rencana pengrusakan mereka. Mereka mendapati; baiknya wanita merupakan kebaikan bagi masyarakatnya, dan sebaliknya rusaknya wanita berarti rusaknya masyarakat. (al-Mar’ah Baina Takrimil Islam wad Da’awat Tahrir, hlm. 18, al-’Uraini)
Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Abdil Aziz bin Muhammad alusy Syaikh hafizhahullah, Menteri Urusan Keislaman, Wakaf, Dakwah, dan Bimbingan Kerajaan Saudi Arabia, mengatakan, “Allah l memuliakan Bani Adam dengan beragam pemuliaan. Di antaranya yang paling agung adalah apa yang disyariatkan-Nya untuk mereka berupa permasalahan akidah/keyakinan dan hukum-hukum yang akan memperbaiki keadaan mereka, serta meluruskan mereka dalam kehidupan di dunia dan di akhirat.
Di antara sejumlah pemuliaan tersebut adalah perkara yang berkaitan dengan wanita, yang syariat datang memberitahukan kadarnya, berlaku adil kepadanya, serta menjelaskan hak, kewajiban, dan tugas-tugasnya. Dan perkara ini telah sempurna lagi mencapai puncaknya dalam ajaran yang dibawa oleh manusia utusan Allah l, nabi dan kekasih-Nya Muhammad n.
Agama Islam telah demikian sempurna memberikan pemuliaan kepada wanita, menjelaskan hak-haknya dalam masalah harta, dan apa saja yang harus dilakukan agar wanita terjaga. Islam datang membawa syariat yang sesuai bagi masing-masing jenis (lelaki dan wanita) dan menyamakan antara keduanya dalam perkara yang memang harus sama sembari tetap memerhatikan perbedaan yang ada sesuai dengan hikmah yang dikandunginya.
Namun, ada saja orang-orang yang punya tujuan dan keinginan macam-macam. Mereka enggan kecuali keluar dari manhaj yang syar’i dan bersikap tidak peduli dengan adanya perbedaan antara lelaki dan wanita. Mereka ingin menceburkan wanita ke tempat kebinasaan dan berakibat buruk di dunia dan di akhirat.
Ajakan kepada wanita untuk menerjuni tempat-tempat tersebut dilakukan dengan propaganda yang lahiriahnya rahmat, kasih sayang, dan semangat untuk memberikan kebaikan kepada wanita dan terpenuhinya hak-hak mereka, di bawah tema/isu yang dapat menipu orang yang tidak memiliki pandangan lurus dan akal yang kokoh. Propaganda tersebut mencampuradukkan al-haq dengan al-batil, dan merupakan penyesatan terhadap umat. Sekali waktu dia datang atas nama “kebebasan wanita”, di waktu lain dengan bertajuk “keadilan terhadap wanita”. Kadang dimunculkan dengan slogan mengoptimalkan potensi wanita, demikian seterusnya.
Propaganda yang beragam dengan isu yang berbeda namun terangkum dalam satu tujuan, yaitu mengeluarkan wanita dari manhaj yang syar’i serta memperhadapkan wanita kepada kerendahan, kehinaan, dan fitnah.
Propaganda yang buruk ini telah sukses dijalankan di pelbagai belahan bumi, dan tidaklah asing bila propaganda semacam ini laris di masyarakat nonmuslim yang memang kaum wanita terinjak kehormatannya dan tidak beroleh banyak haknya2.
Yang aneh justru bila sebagian muslimah yang dibacakan kepada mereka ayat-ayat Allah l dan hikmah yang dibawa Rasulullah Muhammad n, dan mereka bisa menikmati terpenuhinya hak-hak mereka serta keistimewaan lain yang dibawa oleh Islam sedangkan wanita-wanita lain di luar Islam tidak merasakan seperti yang dirasakannya, namun justru mereka ikut termakan dengan propaganda yang sepertinya manis namun merupakan racun tersebut, tanpa berpikir panjang akan munculnya kerusakan dan bahaya bila mereka memenuhi ajakan dusta itu.
Termasuk yang harus selalu ditekankan dan bersesuaian dengan pengalaman yang ada dalam sejarah kaum muslimin bahwa berpegang teguhnya wanita dengan syariat Allah l, adab-adab Islam dan akhlak adalah jalan yang paling utama dan perantara yang paling sukses untuk memberikan faedah bagi wanita dalam membangun umat, memperbaikinya dan menguatkan peradabannya.
Di antara buktinya adalah apa yang direalisasikan oleh wanita yang berpegang dengan aturan agama di negeri Mamlakah al-Arabiyah as-Su’udiyah (KSA) berupa keberhasilan di bidang yang memang cocok dengan tabiatnya berupa pendidikan untuk anak-anaknya, mengurusi rumah suaminya, mengajari anak-anak perempuan, dan mengobati sesama perempuan. Hijab yang dikenakannya tidaklah mencegahnya dan menjadi penghalang untuk meraih kesuksesan tersebut, bahkan hijab tersebut justru menjadi sebab terjaga dan terpeliharanya dirinya.
Adapun fitnah wanita yang terjadi di masyarakat kaum muslimin maka semua itu disebabkan sebagian wanita mereka dari tidak berpegang dengan apa yang disyariatkan oleh Islam serta akhlak dan adab wanita yang tercakup.
Saya berdoa untuk kaum muslimin dan muslimah agar mereka berpegang secara sempurna dengan agama Islam dalam seluruh sisinya dan mengambil pelajaran dari apa yang didapatkan oleh masyarakat-masyarakat yang menganggap lazim budaya tabarruj dan membuka wajah, serta memberikan keleluasan bagi wanita untuk terjun di lapangan-lapangan pekerjaan yang tidak cocok bagi dirinya dan tidak sesuai dengan tabiatnya.
Saya doakan pula agar kaum muslimin tidak tertipu dengan propaganda buruk yang disuarakan oleh para penyeru atas nama kebebasan kaum wanita. Saya pun mendoakan para penyeru itu agar mengoreksi diri mereka dan berhati-hati sehingga tidak menjadi sebab menyimpangnya umat, bahkan membantu musuh-musuh mereka untuk menghancurkan umat.
Saya doakan mereka agar mengingat hari perhitungan amalan di hadapan Allah l yang menciptakan mereka. Saya mohon kepada Allah l agar mencegah kejelekan dan fitnah yang menyesatkan dari kaum muslimin, dan agar Allah l memenangkan agama-Nya, meninggikan kalimat-Nya, dan agar Allah l memberi taufik kepada para pemimpin kaum muslimin untuk berhukum dengan syariat-Nya serta berpegang teguh dengan agama-Nya.
Semoga Allah l memberikan balasan kebaikan kepada pemerintah kita, agar menambahkan petunjuk, iman, dan taufik kepada mereka, dan semoga Allah l menolong agama-Nya dengan mereka.” (Mukadimah kitab al-Mar’ah Baina Takrimil Islam wad Da’awat Tahrir, hlm. 5—11, al-‘Uraini, secara ringkas)
Ada ucapan dan peringatan yang sangat bagus al-Faruq Umar ibnul Khaththab z yang diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah t dalam Mushannafnya (7/113). Umar z berkata,
إِناَّ قَوْمٌ أَعَزَّنَا اللهُ بِالإِسْلَامِ، فَلَنْ نَبْتَغِيَ الْعِزَّ بِغَيْرِهِ
“Kita adalah orang-orang yang dimuliakan oleh Allah l dengan Islam, maka janganlah kita mencari kemuliaan dengan selainnya.”
Oleh karena itu, apabila kaum wanita ingin beroleh kemuliaan, berpeganglah dengan Islam. Jangan menoleh sedikit pun pada seruan-seruan yang menyimpang dari aturan agama kita. Sebab, semua itu akan berakhir dengan kesengsaraan di dunia lebih-lebih lagi di akhirat kelak.
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

 

Fathimah Bintu Al-Aswad

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu ‘Abdirrahman bintu ‘Imran)

Seorang sahabiyah yang mulia. Namun, keadaannya sebagai seorang manusia biasa tak lepas dari kesalahan dan kekeliruan. Walau begitu, kemuliaannya yang besar sebagai seorang sahabiyah menelan habis sedikit kesalahan yang pernah dia lakukan. Terlebih, kesalahan itu membuahkan hikmah yang amat besar.
Satu per satu manusia menerima seruan Rasulullah n untuk beriman kepada Allah l. Mereka berbai’at, berjanji setia untuk mendengar dan taat kepada Rasulullah n.
Di antara mereka ada seorang wanita Quraisy dari Bani Makhzum, Fathimah bintu al-Aswad bin Abdil Asad bin Hilal bin Abdillah bin Umar bin Makhzum al-Makhzumiyah x. Dia putri saudara laki-laki Abu Salamah z, suami Ummu Salamah x. Dia menyatakan beriman dan berbai’at kepada Rasulullah n.
Suatu hari, Fathimah bintu al-Aswad al-Makhzumiyah x tergelincir dalam kesalahan. Dia mencuri perhiasan suatu kaum. Mereka pun mengadukannya kepada Rasulullah n.
Kejadian ini membuat heboh orang-orang Quraisy. Mereka tahu bahwa Rasulullah n seorang yang adil. Apabila hukum Allah l dilanggar, beliau tidak segan menegakkan hukumannya pada siapa pun, dari kalangan mana pun. Mereka galau. Mereka khawatir Rasulullah n juga akan memotong tangan Fathimah bintu al-Aswad x sebagai hukum had atas pencurian yang dilakukannya. Sementara itu, Fathimah adalah seorang wanita Quraisy, kabilah terpandang di kalangan Arab.
Orang-orang Quraisy mulai membicarakan masalah ini. Akhirnya, bersepakatlah mereka pada satu keputusan. Mereka akan meminta Usamah bin Zaid c, kesayangan Rasulullah n, untuk mencoba berbicara dengan beliau. Mereka berharap akan ada keringanan dari beliau hingga Fathimah terbebas dari hukum had yang hendak ditegakkan.
Usamah bin Zaid c datang menghadap Rasulullah n, menyampaikan keinginan Quraisy.
Akan tetapi, beliau n menyatakan dengan tegas, “Apakah kalian ingin meminta syafaat dalam penegakan hukum Allah l?!”
Setelah itu beliau bergegas berdiri di atas mimbar dan berkhutbah di hadapan para sahabat, “Wahai manusia! Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian tersesat karena dahulu ketika ada orang yang mulia mencuri mereka tidak menghukumnya, sedangkan itu apabila orang rendahan yang mencuri mereka tegakkan hukum had atasnya. Demi Allah! Seandainya Fathimah putri Muhammad mencuri, sungguh Muhammad akan memotong tangannya!”

Demikianlah. Akhirnya ditegakkan hukum Allah l atas Fathimah bintu al-Aswad x. Tangannya dipotong, sebagaimana perintah Rasulullah n.
Fathimah bintu al-Aswad, semoga Allah l meridhainya….
Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.

Sumber Bacaan
al-Isti’ab, al-Hafizh Ibnu Abdil Barr (8/269—270)
ath-Thabaqatul Kubra, al-Imam Ibnu Sa’d (10/250—251)

Ummi, Adik Bersin ….

(dituli soleh: Al-Ustadzah Ummu ‘Abdirrahman bintu ‘Imran)

“Haa…cih!” terdengar suara bersin. “Alhamdulillah…!” disambung suara khas gadis kecil berusia dua tahun yang baru saja bersin itu. Belum fasih dia mengucapkannya, namun cukup menyentuh hati yang mendengarnya. Betapa beruntungnya anak sekecil ini telah mengenal sunnah Nabinya n. Sembari mengucap rasa syukur melihat pemandangan indah itu, terucap jawaban, “Yarhamukillaah….”
Memang, memuji Allah l tatkala bersin adalah salah satu adab mulia yang diajarkan oleh Rasulullah n. Begitu pula mendoakan orang yang bersin. Demikian beliau sabdakan, sebagaimana dinukilkan oleh Abu Hurairah z,
إِذَا عَطَسَ أَحَدُكُمْ فَلْيَقُل: الْحَمْدُ لِلهِ؛ وَلْيَقُلْ لَهُ أَخُوْهُ أَوْ صَاحِبُهُ: يَرْحَمُكَ اللهُ؛ فَإِذَا قَالَ لَهُ: يَرْحَمُكَ اللهُ؛ فَلْيَقُلْ: يَهْدِيْكُمُ اللهُ وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ
“Jika salah seorang di antara kalian bersin, hendaknya mengucapkan ‘alhamdulillah’ (segala pujian hanyalah milik Allah). Jika dia mengucapkan ‘alhamdulillah’, hendaknya saudaranya atau temannya mendoakan, ‘yarhamukallah (semoga Allah mengasihimu)’. Jika temannya mengatakan kepadanya, ‘yarhamukallah’, hendaknya dia menjawab ‘yahdiikumullah wa yushlihu baalakum (semoga Allah l memberimu petunjuk dan memperbaiki keadaanmu)’.” (HR. al-Bukhari no. 6224)
Bahkan, kata Rasulullah n, doa bagi seseorang yang bersin lalu mengucap hamdalah termasuk salah satu hak seorang muslim yang harus ditunaikan muslim yang lain. Hal ini disampaikan oleh Abdullah bin Mas’ud z, bahwa Rasulullah n pernah bersabda,
لِلْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِم أَرْبَعُ خِلاَلٍ: يُشَمِّتُهُ إِذَا عَطَسَ، وَيُجِيْبُهُ إِذَا دَعَاهُ، وَيَشْهَدُهُ إِذَا مَاتَ، وَيَعُوْدُهُ إِذَا مَرِضَ
“Ada empat hak seorang muslim yang harus ditunaikan oleh muslim yang lain: mengunjunginya ketika sakit, menyaksikan jenazahnya ketika dia meninggal, menjawabnya jika dia mengundang, dan mendoakannya jika dia bersin.” (HR. Ibnu Majah no. 1434, dinyatakan sahih oleh al-Imam al-Albani t dalam Shahih Sunan Ibni Majah)
Selain memuji Allah l ketika bersin, Rasulullah n mengajarkan pula adab ketika bersin, yaitu dengan menutup mulut dengan tangan atau baju, serta merendahkan suara bersinnya. Dikatakan oleh Abu Hurairah z,
كَانَ رَسُولُ اللهِ n إِذَا عَطَسَ غَطَّى وَجْهَهُ بِيَدِهِ أَوْ بِثَوْبِهِ عَلَى فِيْهِ وَغَضَّ بِهَا صَوْتَهُ
“Biasanya Rasulullah n jika bersin menutup wajah beliau dengan tangan atau baju dan merendahkan suara bersinnya.” (HR. at-Tirmidzi no. 2745, dinyatakan sahih oleh al-Imam al-Albani t dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi)
Suatu adab mulia yang mudah diamalkan sebenarnya. Oleh karena itu, sudah semestinya adab yang mudah diamalkan seperti ini diajarkan kepada anak-anak. Tidak sepantasnya kita biarkan si anak bersin begitu saja tanpa bimbingan, padahal telah datang bimbingan itu dari Rasulullah n.
Ketika si anak tampak hendak bersin, kita ajari dia untuk menutup mulut dengan tangan atau bajunya. Setelah bersin, seketika itu juga kita bimbing mereka untuk memuji Allah l dengan mengucap hamdalah. Ketika mereka bersin dan memuji Allah l, kita doakan mereka dengan mengucapkan yarhamukallah. Jika yang seperti ini kita lakukan berulang-ulang, lambat laun si anak pun akan terbiasa. Akhirnya, sunnah yang mulia ini pun melekat pada kehidupannya. Adapun jika si anak tidak mengucap hamdalah, maka kita tidak mendoakannya. Kita jelaskan pada mereka bahwa kita tidak mendoakannya karena dia tidak mengucap hamdalah setelah bersin. Lalu kita ajari dia untuk mengucapkan hamdalah agar dia mendapatkan doa kebaikan.
Begitu pun ketika anak mendengar orang bersin dan mengucap hamdalah. Kita ajak dia untuk mendoakan orang yang bersin itu dengan doa yang telah diajarkan oleh Rasulullah n. Namun jika orang yang bersin itu tidak mengucap hamdalah, kita terangkan bahwa orang yang tidak mengucap hamdalah ketika bersin tidak berhak mendapatkan doa.
Dikisahkan oleh Anas bin Malik z,
عَطَسَ رَجُلاَنِ عِنْدَ النَّبِيِّ n فَشَمَّتَ أَحَدَهُمَا وَلَمْ يُشَمِّتِ الْآخَرُ، فَقَالَ الرَّجُلُ: يَا رَسُولَ اللهِ، شَمَّتَّ هَذَا وَلَمْ تُشَمِّتْنِي؟ قَالَ: إِنَّ هَذَا حَمِدَ اللهَ، وَلَمْ تَحْمَدِ اللهَ
Pernah ada dua orang yang bersin di hadapan Nabi n. Beliau mendoakan salah seorang dari mereka dan tidak mendoakan yang lainnya. Orang yang tidak didoakan ini pun mengatakan, “Wahai Rasulullah, engkau mendoakan orang itu, namun tidak mendoakan saya?” Beliau pun menjawab, “Dia memuji Allah, sementara itu engkau tidak memuji-Nya.” (HR. al-Bukhari no. 6225)
Perlu juga si anak mengetahui bahwa orang yang bersin berkali-kali karena sakit tidak kita berikan doa seperti itu, karena demikianlah yang dilakukan oleh Rasulullah n. Diceritakan oleh Salamah ibnul Akwa’ z,
أَنَّ رَجُلاً عَطَسَ عِنْدَ رَسُولِ الله n وَأَنَا شَاهِدٌ، فَقَالَ لَهُ رَسُولُ الله n: يَرْحَمُكَ الله. ثُمَّ عَطَسَ الثَّانِيَةَ وَالثَّالِثَةَ. فَقَالَ رَسُولُ الله n: هَذَا رَجُلٌ مَزْكُوْمٌ
Pernah ada seseorang bersin di dekat Rasulullah n dan saat itu aku menyaksikannya, Rasulullah pun mendoakan, “Yarhamukallah!” Kemudian dia bersin kedua dan ketiga kalinya, maka Rasulullah n mengatakan, “Orang ini terserang pilek.” (HR. at-Tirmidzi no. 2743, dinyatakan sahih oleh al-Imam al-Albani t dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi)
Diriwayatkan pula bahwa Abu Hurairah z pernah mengatakan,
شَمِّتْ أَخَاكَ وَثَلاَثًا، فَمَا زَادَ فَهُوَ زُكَامٌ
“Doakan saudaramu (yang bersin dan mengucap hamdalah, –pen.) tiga kali. Adapun selebihnya, itu adalah sakit pilek.” (HR. Abu Dawud no. 5034, dinyatakan hasan oleh al-Imam al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud)
Di samping harus mengetahui adab ketika bersin, anak harus pula mengetahui adab ketika menguap, karena hal ini pun disampaikan oleh Rasulullah n. Beliau n menyatakan sebagaimana disampaikan oleh sahabat yang mulia, Abu Hurairah z,
إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْعُطَاسَ وَيَكْرَهُ التَّثَاؤُبَ، فَإِذَا عَطَسَ أَحَدُكُمْ وَحَمِدَ اللهَ كَانَ حَقًّا عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ سَمِعَهُ أَنْ يَقُوْلَ لَهُ: يَرْحَمُكَ اللهُ؛ وَأَمَّا التَّثَاؤُبُ فَإِنَّمَا هُوَ مِنَ الشَّيْطَان، فَإِذَا تَثَاءَبَ أَحَدُكُمْ فَليَرُدَّهُ مَا اسْتَطَاعَ، فَإِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا تَثَاءَبَ ضَحِكَ مِنْهُ الشَّيْطَانُ
“Sesungguhnya Allah mencintai bersin dan membenci kuap. Jika seseorang bersin lalu memuji Allah, maka kewajiban atas setiap muslim yang mendengarnya untuk mendoakannya. Adapun kuap, maka itu dari setan. Jika salah seorang dari kalian menguap, hendaknya dia tahan sejauh kemampuannya. Sesungguhnya jika seseorang menguap, setan pun tertawa karenanya.” (HR. al-Bukhari no. 6226)
Dijelaskan oleh para ulama bahwa bersin itu menunjukkan semangat dan ringannya badan. Berbeda dengan kuap yang biasanya disebabkan oleh beratnya badan, kekenyangan, kelambanan, dan kecenderungannya untuk bermalas-malasan. Disandarkannya kuap pada setan, karena setan inilah mengajak kepada syahwat. Yang diinginkan dalam hadits ini adalah peringatan agar berhati-hati dari berbagai sebab yang dapat menimbulkan kuap, yaitu banyak makanan dan sering makan. (al-Minhaj, 18/121)
Dalam sabda Rasulullah n yang lain yang diriwayatkan oleh Abu Sa’id al-Khudri z, beliau menjelaskan bahwa menahan kuap itu dengan meletakkan tangan menutupi mulut. Beliau n bersabda,
إِذَا تَثَاءَبَ أَحَدُكُمْ فَلْيُمْسِكْ بِيَدِهِ عَلَى فَمِهِ، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَدْخُلُ
“Jika salah seorang di antara kalian menguap, hendaknya dia tahan dengan tangannya di mulutnya, karena sesungguhnya setan akan masuk.” (HR. Muslim no. 7417)
Para ulama mengatakan bahwa Rasulullah n memerintahkan untuk menahan kuap dan menutupkan tangan ke mulut agar setan tidak dapat mencapai keinginannya untuk membuat jelek wajah dan masuk ke dalam mulut serta tertawanya karena kuap ini. (al-Minhaj 18/122)
Sungguh, ini adalah pengajaran yang sempurna dari Rasulullah n yang tidak pernah ada dalam ajaran agama mana pun. Yang harus kita ingat, melaksanakan sunnah yang diajarkan oleh Rasulullah n akan membuahkan kebaikan dan kemuliaan. Tidak sepantasnya kita tinggalkan sunnah yang telah jelas benderang di hadapan mata. Tinggal kewajiban kita untuk melaksanakannya, kemudian mengajarkannya kepada anak-anak kita.
Wallahu a’lamu bish-shawab.

Agar Bahtera Selamat Sampai Tujuan (bagian ke 2)

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu ‘Ishaq al-Atsariyah)

Istri hendaklah menjadi penolong suami dalam hal menjaga iffah (kehormatan diri) dan menghalanginya dari godaan. Oleh karena itu, ia tidak boleh meninggalkan tempat tidur suaminya dan “menghalangi dirinya” dari suaminya. Rasulullah n bersabda,
إِذَا دَعَى الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهِ فَلَمْ تَأْتِهِ فَبَاتَ غَضْبَانَ عَلَيْهَا لَعَنَتْهَا الْمَلَائِكَةُ حَتَّى تُصْبِحَ
“Apabila seorang suami memanggil istrinya ke tempat tidurnya, namun si istri tidak mendatangi suaminya, lalu si suami bermalam dalam keadaan marah kepadanya, niscaya para malaikat akan melaknat si istri sampai pagi hari.” (HR. al-Bukhari no. 5193 dan Muslim no. 3526)
Hendaklah istri berteman dengan suaminya di dunia dengan cara yang ma’ruf. Hendaknya ia melakukan apa yang dicintai oleh suaminya walaupun ia sendiri tidak menyukainya. Hendaknya ia juga menjauhi segala sesuatu yang tidak disukai oleh suaminya walaupun ia sendiri sebenarnya menyenanginya, demi mengharapkan pahala dari Allah l dan menghadirkan rasa bahwa suaminya adalah tamu di sisinya yang hampir-hampir pergi meninggalkannya, sehingga ia tidak mau menyakitinya dengan ucapan atau perbuatan.
Nabi n bersabda,
لاَ تُؤْذِي امْرَأَةٌ زَوْجَهَا فِي الدُّنْيَا إِلاَّ قَالَتْ زَوْجُهَا مِنَ الْحُوْرِ الْعِيْنِ: لاَ تُؤْذِيْهِ، قَتَلَكِ اللهُ! فَإِنَّمَا هُوَ عِنْدَكِ دَخِيْلٌ يُوْشِكُ أَنْ يُفَارِقَكِ إِلَيْنَا
Tidaklah seorang istri menyakiti suaminya di dunia melainkan istri suaminya dari kalangan hurun ‘in1 akan mengatakan, “Jangan engkau sakiti dirinya, qatalakillah!2 Karena dia hanya tamu di sisimu dan sekadar singgah. Hampir-hampir ia akan berpisah denganmu untuk bertemu kami.” (HR. at-Tirmidzi no. 1174 dan Ibnu Majah no. 204, dinyatakan sahih dalam Shahih at-Tirmidzi)
Hendaklah seorang wanita mengetahui bahwa istri yang paling utama adalah yang selalu menganggap besar apa yang dilakukan oleh suaminya kepadanya walaupun sebenarnya kecil. Ia menyebut-nyebut suaminya di hadapan banyak orang dengan kebaikan walaupun sebenarnya suaminya kurang memenuhi haknya. Hendaknya ia yakin bahwa dengan berbuat demikian, kesudahan yang baik akan kembali kepadanya.
Istri harus bersih hatinya terhadap suaminya, walaupun mungkin suami kurang memenuhi haknya. Kalaupun suatu saat ia bermaksud menyampaikan kekurangan tersebut, maka dilakukannya dengan perlahan dan santun tanpa menyakiti suaminya, dengan mencari waktu yang tepat, di saat kosong pikiran dan dada lapang. Karena maksudnya menyampaikan bukanlah untuk mendebat suami atau menjadikannya lawan, tapi maksudnya adalah terlaksananya tujuan dan berbuah apa yang diinginkan.
Adapun suami, ia harus menjadi seorang yang penuh kasih sayang kepada istrinya. Ia syukuri apa yang dilakukan oleh istrinya untuknya, berupa melayaninya di rumah, menjaga anak-anaknya, serta menyimpan rahasianya. Hendaklah ia membantu istrinya dalam melakukan tugas-tugas tersebut dan membesarkannya di hadapan anak-anak, memujinya dengan kebaikan, memberikan nafkah kepadanya dengan nafkah yang membuatnya tidak lagi meminta kepada yang lain, apabila memang suami memiliki kelapangan. Ia tidak mencela istrinya dengan celaan yang melukai rasa malunya dan perasaannya sebagai perempuan, atau menyifatinya dengan sifat yang buruk.
Nabi n pernah ditanya,
يَا رَسُوْلَ اللهِ، مَا حَقُّ زَوْجَةِ أَحَدِنَا عَلَيْهِ؟ قَالَ: أَنْ تُطْعِمَهَا إِذَا طَعِمْتَ وَتَكْسُوَهَا إِذَا اكْتَسَيْتَ، وَلاَ تَضْرِبِ الْوَجْهَ وَلاَ تُقَبِّح ْوَلاَ تَهْجُرْ إِلاَّ فِي الْبَيْتِ
“Wahai Rasulullah, apakah hak istri salah seorang dari kami dari suaminya?” Rasulullah n menjawab, “Engkau beri makan istrimu jika engkau makan dan engkau beri pakaian jika engkau berpakaian. Jangan engkau pukul wajahnya, jangan engkau menjelekkannya3, dan jangan menghajr/memboikotnya kecuali dalam rumah4.” (HR. Abu Dawud no. 2142, dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh Muqbil t dalam al-Jami’ush Shahih, 3/86)
Suami hendaknya menyadari bahwa kemuliaan istri adalah kemuliaannya juga, maka alangkah anehnya jika dia justru menghina istrinya?
Wajib bagi suami membaguskan pergaulannya dengan istrinya. Ia menegakkan istrinya di atas ketaatan kepada Allah l, mencegah dari istrinya seluruh ucapan dan perbuatan yang bisa mencacati rasa malunya, baik ucapan/perbuatan yang didengar maupun yang dilihat, karena istrinya akan menjadi pendidik bagi anak-anaknya, akan menjadi contoh bagi putri-putrinya, dan sebagai pembimbing bagi anak-anaknya di saat suami tidak ada. Istrilah yang paling sering bergaul dengan anak-anak karena suami tersibukkan dengan mencari penghidupan.
Seharusnya, suami memuliakan istrinya di hadapan anak-anaknya sehingga mereka segan kepada ibunya dan menghormatinya. Apabila sampai ia “menjatuhkan” ibunya di depan mereka, mereka akan mendurhakai ibunya. Apabila hal itu terjadi, anak-anak akan bertindak-tanduk yang buruk, saat ayahnya tidak di rumah, karena tidak ada orang yang mereka takuti.
Suami harus berlaku lembut dalam memberikan pengajaran dan pengarahan kepada istrinya, tidak keras dan kaku, atau dengan marah, atau dengan penghinaan. Nabi n bersabda,
أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ
“Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling bagus akhlaknya. Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istri-istrinya.”5 (HR. at-Tirmidzi no. 1172, dinyatakan hasan dalam ash-Shahihul Musnad 2/336—337)
Beliau juga berkata tentang diri beliau sebagai teladan bagi para suami,
وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِيْ
“Aku adalah orang yang paling baik di antara kalian terhadap istri-istriku.” (HR. at-Tirmidzi, dinyatakan sahih dalam ash-Shahihah no. 285)
Tidaklah yang kita maksudkan dengan mencintai istri adalah membiasakan istri hidup sebagai “nyonya besar” yang hanya bisa memerintah dan bermalas-malasan. Wanita yang menghabiskan siangnya dengan tidur dan di malam hari begadang, pindah dari satu restoran ke restoran lain, nongkrong di kafe, melancong dari satu tempat ke tempat lain, shopping atau sekadar jalan-jalan di mal, tidak pernah masak, tidak pernah membersihkan rumah, tidak ada perhatian terhadap suami dan anak-anak, serta tidak peduli dengan keadaan rumah. Kalau seperti ini keadaan seorang istri, lalu untuk apa seseorang menikah? Apa sekadar simbol saja bahwa ia sudah berstatus menikah?
Suami memikul tanggung jawab yang besar apabila membiasakan atau membiarkan istrinya berada di atas jalan yang jelek tersebut, kelak ia akan ditanya dan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah l. Maka dari itu, sebelum semuanya terlambat hendaknya ia “membenahi” istrinya.
Jadi, cinta tidak berarti memanjakan istri dengan dunia dan mempersilakannya berbuat semaunya. Tetapi cinta adalah membimbing tangannya dan mengarahkannya kepada kebaikan dengan penuh kelembutan.
Suami tidak boleh menganggap enteng apabila istrinya berbuat dosa atau melakukan sesuatu yang tercela dalam kebiasaan manusia. Jangan ia berdalih dengan kata “kasihan” untuk memperingatkan istrinya dari perbuatan salah atau menyimpang. Bahkan, apabila perlu, ia memberikan hukuman yang mendidik.
Suami harus punya rasa cemburu terhadap istrinya sehingga tidak membiarkan istrinya tabarruj (bersolek)dan bercampur baur dengan lelaki ajnabi atau membiarkan istrinya keluyuran, keluar masuk rumah semaunya. Suami yang tidak cemburu kepada istrinya dan membiarkan istrinya bermaksiat kepada Allah l adalah dayyuts.
Suami harus menyadari, segigih apa pun upayanya untuk memperbaiki istrinya, tetaplah pada diri sang istri ada kekurangan dan cacat. Hanya saja, selama cacat itu bukan dalam hal agama dan akhlak, hendaklah suaminya bersabar menghadapinya, karena memang mustahil ia bisa mendapatkan wanita yang sempurna, sama sekali tidak memiliki kekurangan dari satu sisi pun. Nabi n bersabda,
وَاسْتَوْصُوْا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا، فَإِنَّهُنَّ خُلِقْنَ مِنْ ضِلْعٍ، وَإِنَّ أَعْوَجَ شَيْءٍ فِي الضِّلْعِ أَعْلاَهُ، فَإنْ ذَهَبْتَ تُقيْمُهُ كَسَرْتَهُ، وَإنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ أَعْوَجَ، فَاسْتَوْصُوْا بِالنِّسَاء خَيْرًا
“Mintalah wasiat untuk berbuat kebaikan kepada para wanita (istri), karena mereka diciptakan dari tulang rusuk. Sungguh, bagian yang paling bengkok dari tulang rusuk adalah yang paling atasnya. Apabila engkau memaksa untuk meluruskan tulang rusuk itu, niscaya engkau akan mematahkannya. Namun, apabila engkau biarkan, ia akan terus-menerus bengkok. Oleh karena itu, mintalah wasiat kebaikan dalam hal para istri.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Rasulullah n juga bersabda,
الْمَرْأَةُ كَالضِلْعِ، إِنْ أَقَمْتَهُ كَسَرْتَهُ وَإِنِ اسْتَمْتَعْتَ بِهَا اسْتَمْتَعْتَ بِهَا وَفِيْهَا عِوَجٌ
“Wanita itu seperti tulang rusuk. Jika engkau meluruskannya, engkau akan mematahkannya. Jika engkau ingin bersenang-senang dengannya, engkau bisa bersenang-senang dengannya, hanya saja padanya ada kebengkokan.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Dalam sebuah riwayat al-Imam Muslim t disebutkan dengan lafadz,
إِنَّ الْمَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلَعٍ، لَنْ تَسْتَقِيْمَ لَكَ عَلَى طَرِيْقٍ، فَإِنِ اسْتَمْتَعْتَ بِهَا اسْتَمْتَعْتَ بِهَا وَبِهَا عِوَجٌ، وَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيْمُهَا كَسَرْتَهَا وَكَسْرُهَا طَلاَقُهَا
“Sesungguhnya wanita itu diciptakan dari tulang rusuk sehingga ia tidak akan terus-menerus lurus untukmu di atas satu jalan. Jika engkau bernikmat-nikmat dengannya, engkau bisa melakukannya, namun padanya ada kebengkokan. Jika engkau memaksa meluruskannya, engkau akan mematahkannya. Patahnya adalah talaknya.”6
Rasulullah n juga pernah bersabda,
إِنَّمَا النَّاسُ كَإِبِلٍ مِائَةً لاَ تَكَادُ تَجِدُ فِيْهَا رَاحِلَةً
“Manusia itu hanyalah seperti seratus ekor unta, hampir-hampir dari seratus ekor tersebut engkau tidak dapatkan seekor pun yang bagus untuk ditunggangi.” (HR. al-Bukhari no. 6498 dan Muslim no. 2547)
Maksud hadits di atas, kata al-Imam al-Khaththabi t, “Mayoritas manusia itu memiliki kekurangan. Adapun orang yang punya keutamaan dan kelebihan jumlahnya sedikit sekali. Oleh karena itu, mereka yang sedikit itu seperti keberadaan unta yang bagus untuk ditunggangi dari sekian unta pengangkut beban.” (Fathul Bari, 11/343)
Al-Imam an-Nawawi t menyatakan, “Orang yang diridhai keadaannya dari kalangan manusia, yang sempurna sifat-sifatnya, indah dipandang mata, kuat menanggung beban (itu sedikit jumlahnya).” (Syarhu Shahih Muslim, 16/101)
Ibnu Baththal t juga menyatakan hal serupa tentang makna hadits di atas, “Manusia itu jumlahnya banyak, namun yang disenangi dari mereka jumlahnya sedikit.” (Fathul Bari, 11/343)
Demikianlah… Sebagai akhir, hendaknya diketahui bahwa siapa yang telah menikah berarti ia telah menjaga dirinya. Maka dari itu, hendaknya ia bertakwa kepada Allah l sebagai Rabbnya, dengan tidak berbuat yang diharamkan. Hendaknya ia menjadi seorang ‘afif, yang membatasi pandangan matanya hanya kepada pasangannya yang sah. Karena di dalam pernikahan ada ketenangan bagi jiwa, dapat meredam syahwat yang menyimpang dan menjauhkan dari yang haram, bersama seseorang yang merupakan miliknya sendiri, yang telah diizinkan oleh Dzat Yang Maha Penyayang, Yang Mahatahu apa yang tersembunyi dalam dada. Hendaknya ia bersyukur kepada Allah l atas nikmat-Nya yang tiada terhitung, Dia telah memberikan sesuatu yang halal kepadanya dan menjaganya dari yang haram.
Rasulullah n bersabda,
إِذَا تَزَوَّجَ الْعَبْدُ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ نِصْفَ الدَّيْنِ، فَلْيَتَّقِ اللهَ فِيْمَا بَقِيَ
“Apabila seorang hamba telah menikah, sungguh ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Maka dari itu, hendaklah ia bertakwa kepada Allah l dalam separuh yang tersisa.” (HR. ath-Thabarani dalam al-Ausath [1/162/1], hadits ini hasan sebagaimana keterangan asy-Syaikh al-Albani dalam ash-Shahihah no. 625)
Kita memohon kepada Allah l agar menegakkan rumah tangga kita di atas kebahagiaan, penuh sakinah, mawaddah dan rahmah, serta menjadikan kita sebagai orang-orang yang terbimbing. Amin ya Mujibas Sa’ilin.
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.
(Disusun dari tulisan di internet berjudul Walyasa’ki Baituki min Ajli Hayah Zaujiyah Hani’ah dan dari beberapa sumber/rujukan yang lain)

Catatan Kaki:

1 Al-hur jamak dari al-haur, yaitu wanita-wanita penduduk surga yang lebar matanya, bagian yang putih dari matanya sangat putih dan bola matanya sangat hitam. (Tuhfatul Ahwadzi, 4/283—284)
2 Artinya secara harfiah, “Semoga Allah l membunuhmu, melaknat, atau memusuhimu.” Namun, maknanya untuk menyatakan keheranan dan tidak dimaksudkan agar hal tersebut terjadi.

3 Maksudnya, mengucapkan ucapan yang buruk kepada istri, mencaci makinya atau mengatakan kepadanya, “Semoga Allah menjelekkanmu”, atau ucapan semisalnya. (Aunul Ma’bud, Kitab an-Nikah, bab “Fi Haqqil Mar’ah ‘ala Zaujiha”)
4 Memboikot istri dilakukan ketika istri tidak mempan dinasihati dalam hal kemaksiatan yang dilakukannya sebagaimana ditunjukkan dalam ayat,
“Istri-istri yang kalian khawatirkan nusyuznya maka berilah mau’izhah kepada mereka, boikotlah mereka di tempat tidur….” (an-Nisa: 34)
Pemboikotan ini bisa dilakukan di dalam atau di luar rumah, seperti yang ditunjukkan oleh hadits Anas bin Malik z tentang Rasulullah n yang meng’ila istrinya (bersumpah untuk tidak mendatangi istri-istrinya) selama sebulan dan selama itu beliau tinggal di masyrabahnya (loteng). (HR. al-Bukhari)
Hal ini tentu melihat keadaan. Apabila memang diperlukan boikot di luar rumah, hal itu dilakukan. Namun, apabila tidak diperlukan, cukup di dalam rumah. Bisa jadi, boikot di dalam rumah lebih mengena dan lebih menyiksa perasaan si istri daripada boikot di luar rumah. Namun, bisa juga sebaliknya. Akan tetapi, yang dominan, boikot di luar rumah lebih menyiksa jiwa, terkhusus jika yang menghadapinya kaum wanita karena lemahnya jiwa mereka. (Fathul Bari, 9/374)
Al-Imam an-Nawawi t berkata terkait dengan kisah Rasulullah n meng-ila’ istri-istrinya, “Suami berhak menghajr istrinya dan memisahkan diri dari istrinya ke rumah lain apabila ada sebab yang bersumber dari sang istri.” (al-Minhaj, 10/334)

5 Nabi n menyatakan, “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istri-istrinya”, karena para wanita/istri adalah makhluk Allah l yang lemah sehingga sepantasnya menjadi tempat curahan kasih sayang. (Tuhfatul Ahwadzi, 4/273)

6 Hadits-hadits ini menunjukkan keharusan berlaku lembut kepada para wanita/istri, berbuat baik kepada mereka, bersabar atas kebengkokan akhlak mereka, menanggung kelemahan akal mereka dengan sabar, tidak disenanginya menalak mereka tanpa ada sebab, dan tidak boleh berambisi meluruskan mereka dengan paksa. (al-Minhaj Syarh Shahih Muslim, 10/42