Nabi Sulaiman Wafat

(bagian ke-3)

 

Telah dikisahkan tentang keistimewaan Nabi Sulaiman ‘alaihissalam, sebagai seorang hamba Allah subhanahu wa ta’ala, sekaligus Nabi dan Raja Bani Israil. Sebaik-baik hamba dan memiliki kedudukan mulia di sisi Allah subhanahu wa ta’ala.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلِسُلَيۡمَٰنَ ٱلرِّيحَ غُدُوُّهَا شَهۡرٞ وَرَوَاحُهَا شَهۡرٞۖ وَأَسَلۡنَا لَهُۥ عَيۡنَ ٱلۡقِطۡرِۖ وَمِنَ ٱلۡجِنِّ مَن يَعۡمَلُ بَيۡنَ يَدَيۡهِ بِإِذۡنِ رَبِّهِۦۖ وَمَن يَزِغۡ مِنۡهُمۡ عَنۡ أَمۡرِنَا نُذِقۡهُ مِنۡ عَذَابِ ٱلسَّعِيرِ ١٢

يَعۡمَلُونَ لَهُۥ مَا يَشَآءُ مِن مَّحَٰرِيبَ وَتَمَٰثِيلَ وَجِفَانٖ كَٱلۡجَوَابِ وَقُدُورٖ رَّاسِيَٰتٍۚ ٱعۡمَلُوٓاْ ءَالَ دَاوُۥدَ شُكۡرٗاۚ وَقَلِيلٞ مِّنۡ عِبَادِيَ ٱلشَّكُورُ ١٣

فَلَمَّا قَضَيۡنَا عَلَيۡهِ ٱلۡمَوۡتَ مَا دَلَّهُمۡ عَلَىٰ مَوۡتِهِۦٓ إِلَّا دَآبَّةُ ٱلۡأَرۡضِ تَأۡكُلُ مِنسَأَتَهُۥۖ فَلَمَّا خَرَّ تَبَيَّنَتِ ٱلۡجِنُّ أَن لَّوۡ كَانُواْ يَعۡلَمُونَ ٱلۡغَيۡبَ مَا لَبِثُواْ فِي ٱلۡعَذَابِ ٱلۡمُهِينِ ١٤

“Dan Kami (tundukkan) angin bagi Sulaiman, yang perjalanannya di waktu pagi sama dengan perjalanan sebulan dan perjalanannya di waktu sore sama dengan perjalanan sebulan (pula) dan Kami alirkan cairan tembaga baginya. Dan sebagian dari jin ada yang bekerja di hadapannya (di bawah kekuasaannya) dengan izin Rabbnya. Dan siapa yang menyimpang di antara mereka dari perintah Kami, Kami rasakan kepadanya azab neraka yang apinya menyala-nyala.

Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah, hai keluarga Dawud, untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih.

Maka tatkala Kami telah menetapkan kematian Sulaiman, tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka tatkala ia telah tersungkur, tahulah jin itu bahwa kalau sekiranya mereka mengetahui yang gaib tentulah mereka tidak akan tetap dalam siksa yang menghinakan.” (Saba: 12—14)

Asy-Syaikh as-Sa’di rahimahullah menerangkan dalam tafsirnya sebagai berikut.

Setelah menerangkan karunia-Nya kepada Dawud ‘alaihissalam, Allah menerangkan pula karunia-Nya kepada Sulaiman putra Dawud ‘alaihissalam. Bahwa Allah subhanahu wa ta’ala menundukkan angin baginya agar bertiup sesuai dengan perintahnya, agar membawanya dan apa saja yang menyertainya, melintasi jarak yang sangat jauh dalam waktu yang sangat singkat, dalam satu hari menempuh jarak yang seharusnya ditempuh selama satu bulan.

Allah subhanahu wa ta’ala menundukkan pula untuk beliau cairan tembaga dan memudahkan berbagai sarana untuk mengeluarkan apa yang dapat dihasilkan dari tembaga itu, berupa bejana-bejana dan sebagainya.

Allah subhanahu wa ta’ala menundukkan pula para jin dan setan serta Ifrit, yang melakukan pekerjaan besar menurut keinginan beliau. Di antara jin dan setan itu ada yang diperintah oleh beliau agar menyelam dan mengeluarkan berbagai kekayaan alam yang ada di dasar laut, seperti mutiara dan permata berharga lainnya. Ada pula yang melakukan pekerjaan yang lain dan tidak ada satupun yang keluar dari perintah beliau. Siapa saja di antara mereka yang berani melanggar, niscaya terkena azab yang bernyala-nyala dari Allah subhanahu wa ta’ala.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَمَن يَزِغۡ مِنۡهُمۡ عَنۡ أَمۡرِنَا نُذِقۡهُ مِنۡ عَذَابِ ٱلسَّعِيرِ

“Dan siapa yang menyimpang di antara mereka dari perintah Kami, Kami rasakan kepadanya azab neraka yang apinya menyala-nyala.”

Apa saja yang dikehendaki oleh Nabi Sulaiman ‘alaihissalam, pasti mereka kerjakan. Mereka membuat bangunan yang kokoh dan megah, patung-patung dalam berbagai bentuk. Mereka juga membuatkan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk-periuk yang tidak bergeser dari tempatnya, karena sangat besar ukurannya.

Akan tetapi, sebagai sebuah ketetapan Allah subhanahu wa ta’ala yang tidak akan berubah, bahwa segala sesuatu di alam ini adalah fana. Yang kekal hanya Allah Yang Mahamulia.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

           كُلُّ مَنۡ عَلَيۡهَا فَانٖ ٢٦ وَيَبۡقَىٰ وَجۡهُ رَبِّكَ ذُو ٱلۡجَلَٰلِ وَٱلۡإِكۡرَامِ ٢٧

“Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Dzat Rabbmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (ar-Rahman: 26—27)

Dalam ayat lainnya, Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman,

وَمَا جَعَلۡنَا لِبَشَرٖ مِّن قَبۡلِكَ ٱلۡخُلۡدَۖ أَفَإِيْن مِّتَّ فَهُمُ ٱلۡخَٰلِدُونَ ٣٤

“Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu (Muhammad); maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal?” (al-Anbiya: 34)

Demikianlah kematian itu, apabila sudah tiba waktunya tidak mungkin dapat dipercepat ataupun ditunda, meskipun sesaat. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٞۖ فَإِذَا جَآءَ أَجَلُهُمۡ لَا يَسۡتَأۡخِرُونَ سَاعَةٗ وَلَا يَسۡتَقۡدِمُونَ ٣٤

“Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu, maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya.” (al-A’raf: 34)

Akhirnya, setiap orang pasti akan merasakannya, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala,

كُلُّ نَفۡسٖ ذَآئِقَةُ ٱلۡمَوۡتِۗ

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.” (Ali Imran: 185)

Nabi Sulaiman ‘alaihissalam pun wafat.

Dinukil oleh para ulama dari sebagian riwayat Israiliyat bahwa di antara kebiasaan Nabi Sulaiman adalah senang i’tikaf di Baitil Maqdis. Kadang beliau beribadah di dalamnya selama setahun, kadang dua tahun, atau satu sampai dua bulan. Beliau menetap di sana membawa makanan dan minumannya. Seperti biasa, beliau masuk ke dalam masjid pada hari beliau wafat. Adapun sebabnya, setiap pagi selalu tumbuh satu tanaman di mihrab beliau. Kemudian beliau menanyai tanaman itu, “Tanaman apa kamu ini?”

“Aku tanaman anu,” jawab tumbuhan itu.

“Untuk apa kamu diciptakan?” Kalau dia menjawab untuk ditanam (dipanen), beliau memerintahkan dicabut dan ditanam di tempat lain. Kalau untuk obat, beliau menuliskan keterangan untuk apa tanaman tersebut. Akhirnya tumbuh tanaman kharubah.

Beliau menanyai tanaman itu, “Untuk apa kamu tumbuh?”

“Untuk meruntuhkan masjidmu ini.”

Kata Nabi Sulaiman ‘alaihissalam, “Tidak mungkin Allah subhanahu wa ta’ala meruntuhkannya sedangkan aku masih hidup. Engkaulah tanda kematianku dan runtuhnya Baitul Maqdis.”

Kemudian beliau mencabutnya dan menanamnya di salah satu dinding, seraya berdoa, “Ya Allah, butakan mata jin itu tentang kematianku (jangan sampai mereka tahu), sampai manusia menyadari bahwa jin-jin itu sama sekali tidak mengetahui perkara gaib.”

Dahulu, para setan dan jin-jin kafir itu selalu menyebut-nyebut kepada manusia bahwa mereka mengetahui hal-hal yang gaib dan mengerti rahasia alam ini. Mereka sesumbar bahwa mereka tahu apa yang akan terjadi esok hari. Karena itu, Allah subhanahu wa ta’ala ingin menampakkan kebohongan ucapan mereka kepada para hamba-Nya.

Pada hari yang telah ditetapkan, Nabi Sulaiman ‘alaihissalam memasuki mihrabnya. Di depan dan belakang beliau dalam mihrab itu ada semacam ventilasi, sehingga apa yang terjadi dalam mihrab itu jelas dapat dilihat dari luar. Nabi Sulaiman mulai shalat sambil berdiri dengan bertelekan di atas tongkat beliau. Masih sambil berdiri, Malaikat Maut datang mencabut ruh suci beliau, dan beliau pun wafat dalam keadaan masih berdiri.

Di luar mihrab, seperti biasanya, jin-jin itu melaksanakan pekerjaan berat yang diperintahkan oleh Nabi Sulaiman ‘alaihissalam. Sambil bekerja, mereka mengintip ke arah mihrab, ternyata Nabi Sulaiman ‘alaihissalam masih berdiri dalam shalatnya. Sama sekali mereka tidak menyadari bahwa Nabi Sulaiman sudah sejak tadi meninggal. Mereka tidak merasa aneh, karena memang demikian kebiasaan Nabi Sulaiman jika sudah larut dalam shalatnya.

Itu adalah pekerjaan yang menyusahkan mereka. Seandainya mereka mengetahui yang gaib, pasti mereka mengetahui kematian Nabi Sulaiman ‘alaihissalam yang mereka nanti-nantikan, agar terbebas dari keadaan mereka saat itu. Setelah itu, setiap kali melewati beliau yang sedang bertelekan di atas tongkatnya, mereka mengira beliau masih hidup, sehingga mereka merasa takut. Mereka pun tetap melaksanakan tugas mereka seperti biasa. Hal itu berlangsung selama setahun penuh.

Kemudian, Allah subhanahu wa ta’ala mengirimkan rayap memakan tongkat beliau ‘alaihissalam. Akhirnya, tongkat itu rapuh dan jasad Nabi Sulaiman ‘alaihissalam tersungkur. Demi mengetahui hal ini, para setan itu melarikan diri. Barulah mereka menyadari ternyata Nabi Sulaiman ‘alaihissalam telah lama wafat. Para jin itu sangat berterima kasih kepada rayap-rayap tersebut, karena telah memberitahukan mereka kematian Nabi Sulaiman ‘alaihissalam.

Akhirnya jelaslah bagi manusia bahwa jin-jin itu membohongi mereka, dan sebagaimana (firman Allah subhanahu wa ta’ala),

لَّوۡ كَانُواْ يَعۡلَمُونَ ٱلۡغَيۡبَ مَا لَبِثُواْ فِي ٱلۡعَذَابِ ٱلۡمُهِينِ ١٤

“Sekiranya mereka mengetahui yang gaib tentulah mereka tidak akan tetap dalam siksa yang menghinakan.”

Maksudnya, tidak mungkin mereka merasakan kepayahan dan ditundukkan untuk Nabi Sulaiman ‘alaihissalam.

 

Faedah

  1. Nabi Sulaiman ‘alaihissalam, sebagaimana nabi lainnya, adalah manusia biasa yang pasti merasakan kematian.
  2. Yang menundukkan para jin agar bekerja menurut perintah Nabi Sulaiman ‘alaihissalam adalah Allah subhanahu wa ta’ala yang telah menciptakan mereka.

Dinukil dari Ibnu ‘Abbas c, Allah subhanahu wa ta’ala menugaskan malaikat untuk mencambuk mereka dengan pecut api, jika mereka menentang perintah Nabi Sulaiman ‘alaihissalam.

  1. Para jin yang sampai saat ini masih saja ada manusia yang meyakini mereka mengetahui hal yang gaib, sebetulnya tidak mengetahui yang gaib. Mereka juga tidak bisa mendatangkan manfaat dan mudarat untuk diri mereka atau orang lain.
  2. Siapa yang mengaku-aku mengetahui perkara gaib, dia kafir, bahkan termasuk salah satu dari lima pimpinan thaghut. Mengetahui perkara gaib adalah salah satu kekhususan rububiyah Allah subhanahu wa ta’ala. Tidak ada yang mengetahui perkara gaib di langit dan di bumi melainkan Allah subhanahu wa ta’ala.
  3. Tunduknya para jin mematuhi perintah Nabi Sulaiman ‘alaihissalam, menunjukkan bahwa para jin itu adalah makhluk yang lemah sehingga tidak layak seorang manusia—yang lebih mulia daripada jin—meminta perlindungan dan bantuan kepada mereka.

Wallahu a’lam.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Harits

Ujian Nabi Sulaiman, bagian ke-2

bagian ke-2

Al-Ustadz Abu Muhammad Harits

Traditional-Arabic-Chair 

Keistimewaan Nabi Sulaiman

Setelah Allah subhanahu wa ta’ala memuji-muji Nabi Dawud ‘alaihissalam, menerangkan apa yang diterima dan dirasakan oleh beliau, Allah subhanahu wa ta’ala memuji pula putra Nabi Dawud, yaitu Sulaiman ‘alaihissalam. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Dan Kami karuniakan kepada Dawud, Sulaiman.” (Shad: 30)

Maksudnya, Kami memberinya karunia kepda Dawud berupa Sulaiman, dan Kami jadikan pandangan matanya sedap kepada Sulaiman.

Nabi Sulaiman ‘alaihissalam adalah sebaik-baik hamba Allah subhanahu wa ta’ala, karena beliau memiliki sifat yang mengharuskannya dipuji. Beliau adalah hamba yang selalu kembali kepada Allah subhanahu wa ta’ala dalam setiap keadaannya, dengan pengabdian, inabah, cinta, zikir, doa, dan merendahkan diri serta bersungguh-sungguh mencari ridha Allah subhanahu wa ta’ala, bahkan mendahulukannya dari segala sesuatu.

Terkait dengan hal ini, sebagian ulama menafsirkan firman Allah subhanahu wa ta’ala,

“Dan Kami karuniakan kepada Dawud, Sulaiman, dia adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Rabbnya), (Ingatlah) ketika dipertunjukkan kepadanya kuda-kuda yang tenang di waktu berhenti dan cepat waktu berlari pada waktu sore,

Maka ia berkata, ‘Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik (kuda) sehingga aku lalai mengingat Rabbku sampai kuda itu hilang dari pandangan.’

‘Bawalah kuda-kuda itu kembali kepadaku.’ Lalu ia potong kaki dan leher kuda itu. (Shad: 30-33)

Firman Allah subhanahu wa ta’ala, “Dia adalah sebaik-baik hamba” adalah Sulaiman ‘alaihissalam, karena memang memiliki sifat yang mengharuskannya dipuji, bahwa dia,

“Sesungguhnya dia amat taat (kepada Rabbnya),” selalu kembali kepada Allah subhanahu wa ta’ala dalam setiap keadaannya, dengan pengabdian, inabah, cinta, zikir, doa, dan merendahkan diri serta bersungguh-sungguh mencari ridha Allah subhanahu wa ta’ala, bahkan mendahulukannya dari segala sesuatu.

Oleh sebab itulah, ketika diperlihatkan kepadanya kuda-kuda pacuan yang bagus dan tenang, yang selalu mengangkat salah satu kakinya ketika berdiri tegak, sehingga menjadi pemandangan yang menarik, keindahan yang menakjubkan, khususnya bagi mereka yang sangat memerlukannya, seperti para raja. Kuda-kuda itu tidak henti-hentinya diperlihatkan kepada beliau sampai matahari terbenam, hingga beliau lupa shalat dan zikir di sore hari.

Akhirnya, beliau pun berkata dalam keadaan menyesali yang telah lalu, sekaligus mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala, karena apa yang telah melalaikan beliau dari zikir kepada-Nya, serta demi mendahulukan cintanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala daripada cinta kepada yang lain,

“Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik (kuda).”

Kata أَحْبَبَتُ (menyukai) mengandung makna آثَرْتُ (mementingkan). Artinya, aku lebih mementingkan kesenangan الخَيْرِ (terhadap barang yang baik), yang umumnya berupa harta, sedangkan di sini maknanya ialah kuda;

“Sehingga aku lalai mengingat Rabbku sampai kuda itu hilang dari pandangan.”

Firman Allah subhanahu wa ta’ala, “Bawalah kuda-kuda itu kembali kepadaku,” mereka pun membawanya kembali;

فَطَفِقَ  “Lalu,” mulailah

“Ia potong kaki dan leher kuda itu.”

Artinya, beliau mulai menebaskan pedangnya ke kaki dan leher kuda itu. Ibnu Jarir rahimahullah dalam tafsirnya memilih pendapat Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma yang menafsirkan ayat ini dengan mengusap leher dan kaki kuda tersebut. Tidak mungkin beliau ‘alaihissalam akan menyiksa hewan dan membuang harta tanpa alasan selain hanya lalai shalat karena memerhatikan kuda yang tidak berdosa itu.

Akan tetapi, Ibnu Katsir rahimahullah mengomentarinya sebagai berikut.

Pendapat yang dikuatkan oleh Ibnu Jarir ini perlu diteliti kembali, karena bisa jadi dalam syariat mereka boleh berbuat demikian. Apalagi jika dilakukan dengan alasan marah karena Allah subhanahu wa ta’ala, karena membuatnya lalai hingga habis waktu shalat.

Oleh sebab itulah, ketika beliau tinggalkan semua itu karena Allah subhanahu wa ta’ala, Allah subhanahu wa ta’ala menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik, yaitu angin yang bertiup menurut perintahnya ke tempat-tempat yang pulang pergi jauhnya sebulan perjalanan.

Wallahu a’lam.

Telah dipaparkan pada edisi sebelumnya bahwa dunia ini adalah ladang ujian bagi setiap manusia. Adapun yang paling berat ujiannya adalah para nabi, kemudian yang paling mulia sesudah mereka dan berikutnya.

Itulah sunnatullah pada hamba-hamba-Nya. Bahkan, setiap mereka yang telah menyatakan diri beriman, tidak akan lepas dari berbagai ujian, besar ataupun kecil, banyak ataupun sedikit.

Kadang, ada manusia yang lolos menghadapi ujian berupa kesulitan, tetapi gagal menghadapi ujian berupa kesenangan. Begitu pula sebaliknya, dan ada pula yang berhasil menghadapi dua bentuk ujian tersebut.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala pada surat Shad ayat 34,

“Dan sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman,” yakni Kami menimpakan bala dan cobaan kepadanya,

“dan Kami jadikan (dia) tergeletak di atas kursinya sebagai tubuh (yang lemah karena sakit),”

Ahli tahqiq meriwayatkan tentang maksud ayat ini dalam beberapa bentuk, di antaranya;

  1. Nabi Sulaiman ‘alaihissalam baru memiliki seorang putra setelah berkuasa selama dua puluh tahun. Kemudian, para setan berkata, “Kalau anak itu hidup, kita tidak pernah lepas dari petaka dan penindasan, maka kita harus membunuh anak itu.”

Nabi Sulaiman ‘alaihissalam mengetahui rencana mereka, lalu memerintahkan awan untuk menjaganya dari gangguan setan. Tidak lama ternyata anak itu tergeletak di atas kursi beliau dalam keadaan mati. Nabi Sulaiman sadar akan kekeliruannya, yaitu tidak bertawakal kepada Rabbnya menghadapi gangguan setan. Beliau akhirnya meminta ampunan kepada Rabbnya dan bertobat.

  1. Riwayat kedua, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyebutkan bahwa NabiSulaiman ‘alaihissalam berkata, “Malam ini saya akan menggiliri tujuh puluh istri saya—ada yang menyebutkan seratus, ada pula yang mengatakan seribu. Semua akan melahirkan penunggang kuda yang berjihad di jalan Allah subhanahu wa ta’ala,” Beliau lupa mengucapkan, “Insya Allah.”

Mulailah beliau mendatangi istrinya satu per satu malam itu juga. Akan tetapi, tidak ada satu pun yang mengandung, kecuali seorang istri yang melahirkan anak yang cacat.

Kata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Demi Yang jiwaku di Tangan-Nya, andaikata beliau mengatakan ‘Insya Allah’, niscaya benar-benar akan lahir anak-anak yang menjadi mujahid di jalan Allah subhanahu wa ta’ala sebagai ahliahli berkuda, semuanya.”

  1. Ada juga riwayat yang ketiga yang menyebutkan beliau sakit berat hingga terduduk di kursinya tanpa daya.
  2. Yang masyhur di kalangan jumhur ulama adalah kisah Israiliyat yang menyebutkan bahwa Nabi Sulaiman ‘alaihissalam diuji oleh Allah subhanahu wa ta’ala dengan kehilangan kekuasaannya selama empat puluh hari.

Namun, dalam kisah tersebut banyak kejanggalan yang tidak sesuai dengan kedudukan beliau sebagai Nabi Allah subhanahu wa ta’ala.

Kata Ibnu Katsir rahimahullah, “Sanad kisah ini kuat sampai pada Ibnu ‘Abbas, tetapi lahiriahnya dinukil beliau—kalaupun sahih—dari ahli kitab, sedangkan di kalangan ahli kitab itu ada kelompok yang tidak meyakini kenabian Sulaiman ‘alaihissalam. Jadi, yang tampak adalah bahwa mereka berdusta terhadap beliau.

Sebab itulah di dalam riwayat tersebut terdapat berita yang mungkar, bahkan yang paling beratnya adalah cerita tentang istri-istri Nabi Sulaiman yang didatangi oleh setan. Sebab, yang masyhur adalah bahwa jin/setan itu tidak diberi kekuasaan mendekati mereka, bahkan Allah subhanahu wa ta’ala melindungi mereka dari setan tersebut, sebagai kemuliaan dan penghormatan terhadap Nabi-Nya ‘alaihissalam.”[1]

Oleh sebab itu, sebagian ahli tahqiq menguatkan bahwa ujian yang dimaksud adalah apa yang diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya, sebagaimana dalam bentuk kedua di atas.

Kata para ‘ulama, “Asy-Syiqq adalah jasad yang diletakkan di atas kursi Nabi Sulaiman ‘alaihissalam sebagai hukuman atas kelalaian beliau mengucapkan ‘Insya Allah,’ karena sangat antusias dan dikalahkan oleh harapan yang sangat besar.”

 

Beberapa Faedah

Dalam kisah ini ada beberapa faedah, di antaranya sebagai berikut.

  1. Allah ‘azza wa jalla mengisahkan kejadian ini kepada Nabi-Nya, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai hiburan bagi beliau, menguatkan hati beliau, dan menenteramkan jiwa beliau serta menerangkan hebatnya ibadah dan kesabaran mereka dalam ketaatan, hingga mendorong beliau untuk berlomba dengan mereka.
  2. Kembali kepada Allah subhanahu wa ta’ala dalam setiap urusan adalah sifat para nabi dan hamba Allah ‘azza wa jalla yang istimewa. Hendaknya orang yang datang sesudah mereka mengikuti petunjuk dengan apa yang telah mereka peroleh.
  3. Karamah yang Allah subhanahu wa ta’ala berikan kepada Nabi Sulaiman ‘alaihissalam dengan menundukkan para jin untuk bekerja atas perintah beliau dan di bawah pengawasan beliau.
  4. Nikmat paling besar yang diberikan Allah subhanahu wa ta’ala kepada seorang hamba adalah ilmu yang bermanfaat, mengenali hukum, dan kemampuan memutuskan perselisihan di antara manusia.
  5. Perhatian dan kasih sayang Allah subhanahu wa ta’ala kepada para wali dan hamba pilihan-Nya, ketika muncul kekurangan dari mereka dengan memberikan ujian dan petaka yang menghilangkan kejelekan dari mereka, sehingga dengan ujian itu mereka justru kembali kepada keadaan yang lebih sempurna dari sebelumnya.
  6. Para nabi itu maksum (terjaga) dari dosa. Namun, mungkin saja muncul dari mereka dosa, sebagaimana tabiat manusia. Akan tetapi, Allah subhanahu wa ta’ala segera menegur mereka dengan kelembutan-Nya.
  7. Istighfar dan ibadah, terutama shalat, termasuk amalan yang menghapus dosa.
  8. Nabi Sulaiman ‘alaihissalam adalah salah satu tanda kemuliaan Nabi Dawud ‘alaihissalam sekaligus karunia yang Allah subhanahu wa ta’ala berikan kepada beliau. Inilah salah satu karunia Allah subhanahu wa ta’ala yang paling besar kepada seorang hamba, yaitu anak yang saleh.

Inilah yang selalu diharapkan dan senantiasa diminta oleh para nabi dan orang-orang yang saleh yang mengikuti mereka.

  1. Pujian Allah subhanahu wa ta’ala untuk Nabi Sulaiman ‘alaihissalam karena beliau senantiasa kembali kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan ketaatan. Itulah salah satu kebaikan Allah subhanahu wa ta’ala kepada hamba-Nya, Dia memberi mereka taufik untuk beramal saleh dan akhlak yang mulia, kemudian memuji mereka ketika mereka mengerjakannya.
  2. Ditundukkannya setan hanya untuk Nabi Sulaiman ‘alaihissalam, tidak untuk siapa pun sesudah beliau, sebagaimana permintaan beliau kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan berita dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  3. Nabi Sulaiman adalah seorang raja sekaligus nabi, melakukan apa saja yang diinginkannya, tetapi tidak ada yang diinginkan beliau selain berbuat adil. Berbeda halnya dengan nabi yang statusnya hamba Allah subhanahu wa ta’ala biasa, bukan seorang raja, karena dia berbuat menurut perintah Allah subhanahu wa ta’ala, sebagaimana keadaan Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  4. Nabi Sulaiman memiliki kekuasaan yang hebat dan jumlah pasukan yang besar. Akan tetapi, hati beliau selalu terikat kepada akhirat, sebagaimana doa beliau yang disebutkan dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala,

Ia berkata, “Wahai Rabbku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang jua pun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah yang Maha Pemberi.” (Shad: 35)

Ini menunjukkan pula bolehnya meminta kekuasaan dari sisi Allah subhanahu wa ta’ala, tetapi dengan syarat adanya kesiapan dan kekuatan menunaikan haknya.

Wallahu a’lam.


[1] Lihat Tafsir Ibnu Katsir tentang ayat ini.

Ujian Nabi Sulaiman ‘alaihissalam

Al-Ustadz Abu Muhammad Harits

kaki-kuda

Sunnatullah Pada Hamba-Nya

Silih berganti cobaan yang dialami oleh manusia, mukmin atau kafir. Kehidupan mereka bagai putaran roda yang tiada henti. Itulah kehidupan dunia. Cobaan-cobaan itu, bisa jadi dalam bentuk hal-hal yang menyenangkan, tetapi tidak jarang pula yang menyusahkan. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (al-Anbiya’: 35)

Setiap manusia, siapapun adanya dan apapun kedudukannya, pasti diberi bala/ujian. Ujian-ujian itu bisa saja berupa kebaikan untuk mengetahui apakah dia bersyukur ataukah dia mengingkari (kufur terhadap) kebaikan tersebut. Bisa jadi pula bala itu adalah sesuatu yang berwujud kejelekan, untuk menguji apakah dia akan bersabar ataukah berputus asa.

Demikianlah keadaan manusia. Makhluk terakhir yang diciptakan oleh Allah ‘azza wa jalla sesudah langit, bumi dan segala isinya ini adalah makhluk yang paling mulia. Dengan segenap kelemahan dan kekurangannya, ternyata keberadaannya di alam semesta ini bukanlah untuk suatu hal yang sia-sia.

Allah ‘azza wa jalla berfirman, “Apakah manusia mengira bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?” (al-Qiyamah: 36)

Dalam ayat lain, Allah ‘azza wa jalla berfirman, “Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (al-Mukminun: 115)

Subhanallah. Manusia, makhluk yang mulia ini, jelas tidak sama dengan makhluk lain yang telah diciptakan Allah ‘azza wa jalla. Karena itu pula, manusia ada di dunia ini bukan untuk sekadar makan, minum, berketurunan, dan bertempat tinggal, lalu mati dan selesailah semua urusan.

Tidak, manusia terlalu mulia untuk sekadar hidup dengan cara seperti itu.

Alangkah ruginya seorang manusia yang diberi kecerdasan dan kemampuan berpikir. Ditambah pula semua yang ada di alam ini boleh dimanfaatkannya untuk tujuan utama dia diciptakan, yaitu beribadah hanya kepada Allah ‘azza wa jalla. Akan tetapi, hidupnya hanya untuk memuaskan seleranya, makan, minum, berkembang biak dan bertempat tinggal.

Alangkah ruginya, manusia yang dalam pikirannya hanya terisi bagaimana caranya dia makan, minum, bertempat tinggal, dan berketurunan.

Betapa tidak? Hanya untuk meraih tujuan yang ada dalam pikirannya itu, dia harus belajar pagi dan petang, bekerja siang malam, mengumpulkan harta, mengembangkannya, menjaganya lalu membelanjakannya untuk kepentingan seleranya.

Alangkah ruginya dia, karena waktu hidupnya yang berharga habis untuk memuaskan dirinya dengan makan, minum, bertempat tinggal, dan berketurunan.

Tidak sedikit dari mereka yang sudah berusaha dan bekerja siang malam, tetapi hanya mendapatkan sekadar kebutuhan perutnya satu atau dua jam. Tidak jarang pula yang rajin bekerja sekuat tubuhnya dan secerdas akalnya, tetapi tidak sempat merasakan hasilnya, apakah karena hasil itu dirampas, atau ajal menjemputnya.

Subhanallahi.

Alangkah bahagianya seekor ayam. Tanpa harus belajar pagi dan petang, atau bekerja siang malam, ke mana dia melangkah, di situ dia tentu mendapatkan makanannya. Di mana dia tinggal tentu ada pasangannya, anaknya dan tempatnya berteduh. Kemudian, jika dia mati, bangkainya jadi makanan; apabila sempat disembelih, halal bagi manusia, kalau tidak, binatang lain yang menyantapnya. Sesudah itu, selesailah urusannya. Di akhirat, tidak ada surga dan neraka baginya. Tuntas, lalu sirna menjadi debu.

Bagaimana dengan manusia? Apakah sesudah dia mati, terkubur di mana saja di bumi ini, akan selesai begitu saja semua urusannya? Selesaikah urusannya, ketika dia yang berjuang sekuat tenaganya, berusaha mencari pasangan, makanan dan minuman serta tempat tinggal lalu mati dalam keadaan belum merasakan hasil usahanya? Berhentikah langkahnya dengan kematian itu? Atau, selesaikan urusannya dengan kematian itu, setelah dia merasakan semua hasil usahanya di dunia, memanfaatkan fasilitas yang tersedia?

Tidak. Masih ada sekian rute perjalanan sesudah kematian menuju akhirat yang harus dia tempuh, mau atau tidak. Setelah itu, di akhirat dia pasti melihat hanya ada dua pilihan, surga atau neraka. Manakah yang akan dipilihnya?

Sayangnya, pilihan itu bukan saat itu waktunya. Pilihan itu, di sini. Di dunia, negeri ujian. Tempat dia bercocok tanam berupa amalan, yang panennya akan dia petik di akhirat, berupa dua pilihan tersebut, surga atau neraka.

Itulah hikmah Allah ‘azza wa jalla menciptakan manusia dengan kedua Tangan-Nya yang mulia. Menjadikan mereka sebagai khalifah di muka bumi, diizinkan memanfaatkan semua fasilitas yang ada.

Karena itu, keberadaannya di dunia ini dengan semua fasilitas yang tersedia menuntut adanya sebuah tanggung jawab yang harus diembannya.

Seakan-akan ada sebuah ketentuan di balik itu, yang harus diselesaikan oleh setiap manusia. Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda mengingatkan kita:

لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَومَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَ أَفنَاهُ؟ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَ فَعَلَ فِيهِ؟ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ؟ وَفيمَ أَنْفَقَهُ؟ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَ أَبْلَاهُ؟

“Tidak akan bergeser kaki seorang hamba pada hari kiamat, sampai dia ditanya tentang empat perkara;

  • Tentang umurnya (waktunya), untuk apa dia habiskan?
  • Tentang ilmunya, apa yang diperbuatnya dengan ilmu itu?
  • Tentang hartanya, dari mana dia usahakan dan untuk apa dia belanjakan?
  • Tentang tubuh/jasadnya, untuk apa dia gunakan?”

(HR. at-Tirmdizi (no. 2417), dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani rahimahullah)

Sudahkah manusia itu menyiapkan jawaban untuk setiap pertanyaan ini? Hanya Allah ‘azza wa jalla tempat kita meminta pertolongan dan kemudahan. Itulah sebagian ketetapan Allah ‘azza wa jalla yang berlaku bagi hamba-Nya.

Ternyata, ujian itu tidak sama untuk masing-masing manusia. Sebagaimana keadaan mereka yang bertingkat-tingkat, begitu pula ujian yang mereka terima.

Kedudukan yang berbeda-beda ini, bukan diukur berdasarkan penampilan duniawi yang terlihat pada manusia. Tidak.

Kita harus ingat kembali, bahwa tujuan utama manusia itu diciptakan Allah ‘azza wa jalla sebagai makhluk yang terakhir, setelah jagat raya dan seisinya tercipta adalah untuk beribadah hanya kepada Allah ‘azza wa jalla satu-satunya, tidak ada sekutu bagi-Nya.

Inilah yang difirmankan oleh Allah ‘azza wa jalla,  “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (adz-Dzariyat: 56)

Manusia yang paling tinggi kedudukannya—dan itulah sesungguhnya kemuliaan yang sejati—adalah orang yang berhasil merealisasikan hikmah dan tujuan penciptaan ini secara sempurna, dan dialah yang dikatakan sebagai Insan Kamil.

Sebaliknya, orang yang paling hina dan rendah kedudukannya, walaupun dia memiliki harta lebih banyak dari Qarun, atau kekuasaan lebih besar daripada Fir’aun, atau kedudukan yang lebih tinggi dari Haman, adalah mereka yang gagal dalam merealisasikan tujuan tersebut. Kita berlindung kepada Allah ‘azza wa jalla dari kehinaan dan kegagalan ini.

Sudah tentu, para nabi dan rasul berada pada jajaran yang paling tinggi ini. Dengan kata lain, kedudukan mereka yang agung itu mengandung konsekuensi bahwa mereka mau atau tidak mau, harus menerima ujian yang sesuai dengan kemuliaan mereka.

Demikianlah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau ditanya, “Siapakah yang paling berat ujiannya?”

الْأَنْبِيَاءُ، ثُمَّ الْأَمْثَلُ، فَالْأَمْثَلُ، يُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ، وَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِي عَلَى الْأَرْضِ وَمَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ.

“(Yang paling berat ujiannya ialah) para nabi, kemudian yang lebih utama dan yang berikutnya. Seseorang akan diuji sesuai dengan agamanya. Apabila agamanya kokoh, semakin beratlah ujiannya, dan jika dalam agamanya ada kelembekan, dia diuji sesuai dengan agamanya. Tiada henti-hentinya ujian itu menimpa seorang hamba sampai melepaskannya berjalan di muka bumi dalam keadaan tidak ada dosa padanya.” (HR. at-Tirmidzi (no. 2398) dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani rahimahullah.)

 

Bentuk-Bentuk Ujian

Sebagaimana disebutkan dalam surat al-Anbiya’ ayat 35 di atas, manusia itu diuji dengan kebaikan dan keburukan. Yang dimaksud dengan kebaikan di sini ditinjau dari sisi manusianya, yaitu hal-hal yang sesuai dengan nafsunya, menyenangkan dan menggembirakannya. Adapun keburukan adalah semua yang tidak cocok dengan nafsunya, tidak membuatnya gembira dan senang.

Kita katakan ditinjau dari sisi manusia yang menerima ujian tersebut, karena dari sisi yang menurunkan ujian, sudah tentu sesuai dengan keadaan-Nya Yang Mahabaik, sehingga perbuatan-Nya tentu juga pasti baik, tidak ada yang buruk.

Dengan tabiat aslinya yang serba lemah, kurang dan selalu tergesa-gesa, bahkan sangat zalim dan jahil, manusia tidak pernah sepi dari dua keadaan yang merupakan ujian dari Allah ‘azza wa jalla ini.

Di antara mereka, ketika diuji dengan kesenangan atau kebaikan, dia merasa bahwa Allah ‘azza wa jalla sedang memuliakannya. Dia berani berkata, “Semua ini karena kepandaian saya,” “Saya memang berhak memperolehnya,” atau “Semua ini karena kedudukan saya di sisi Allah,” dan sebagainya.

Sebaliknya, ketika dia ditimpa kejelekan atau hal yang tidak disukainya, seperti: sakit, sedikitnya harta, jabatan yang rendah, dan popularitas yang rendah, dia merasa bahwa semua ini karena Allah ‘azza wa jalla menghinakannya atau Allah ‘azza wa jalla tidak suka kepadanya, sampai menuduh bahwa Allah ‘azza wa jalla tidak adil.

Tentu saja, dua gambaran keadaan manusia ini, tidak berlaku mutlak bagi seluruh manusia, tanpa terkecuali. Tidak.

Di tengah-tengah mereka, ada segelintir manusia yang dimuliakan oleh Allah ‘azza wa jalla. Kemuliaan itu, bukan karena dia diberi dunia semata, melainkan karena iman dan cahaya yang Allah ‘azza wa jalla letakkan di dalam hati mereka.

Ujian-ujian itu, apakah berupa kebaikan atau kejelekan, juga menimpa mereka, bahkan lebih berat dari orang biasa. Hal itu tentu saja karena kedudukan istimewa mereka di sisi Allah ‘azza wa jalla.

Di antara mereka yang sedikit ini adalah Raja Besar yang diberi kekuasaan dengan bala tentara paling kuat di dunia. Belum pernah ada di dunia ini, kerajaan yang sehebat kerajaan beliau. Prajuritnya terdiri dari manusia, jin dan binatang. Semua berbaris rapi menerima titah beliau ‘alaihissalam. Semua bekerja sesuai perintah dan menjalankan tugas mereka masing-masing.

Sudah tentu, sebagai hamba Allah ‘azza wa jalla, beliau tidak lepas dari ujian, sama seperti yang lainnya.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

Dan Kami karuniakan kepada Dawud, Sulaiman, dia adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Rabbnya),

(Ingatlah) ketika dipertunjukkan kepadanya kuda-kuda yang tenang di waktu berhenti dan cepat waktu berlari pada waktu sore,

Maka ia berkata, “Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik (kuda) sehingga aku lalai mengingat Rabbku sampai kuda itu hilang dari pandangan,”

“Bawalah kuda-kuda itu kembali kepadaku.” Lalu ia potong kaki dan leher kuda itu.

Dan sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman dan Kami jadikan (dia) tergeletak di atas kursinya sebagai tubuh (yang lemah karena sakit), kemudian ia bertobat.

Ia berkata, “Wahai Rabbku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang juapun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi.”

Kemudian Kami tundukkan kepadanya angin yang berembus dengan baik menurut ke mana saja yang dikehendaki-Nya, Dan (Kami tundukkan pula kepadanya) setan-setan semuanya ahli bangunan dan penyelam,

Dan setan yang lain yang terikat dalam belenggu.

Inilah anugerah Kami; maka berikanlah (kepada orang lain) atau tahanlah (untuk dirimu sendiri) dengan tiada pertanggungan jawab.

Dan sesungguhnya dia mempunyai kedudukan yang dekat pada sisi Kami dan tempat kembali yang baik. (Shad: 30—40)

Demikianlah berita yang diterangkan oleh Allah ‘azza wa jalla kepada Nabi-Nya ‘azza wa jalla dan umatnya.

Lantas, apakah sesungguhnya ujian yang dialami oleh Nabi Sulaiman ‘alaihissalam?

Sebagian ahli tafsir menguraikan kisah seekor jin yang mencuri cincin Nabi Sulaiman ‘alaihissalam lalu menguasai kerajaan beliau selama beberapa waktu. Adapun Nabi Sulaiman ‘alaihissalam sendiri, terusir dari kerajaan dan hidup terlunta-lunta.

Akan tetapi, beberapa kandungan kisahnya banyak yang tidak sesuai dengan status beliau sebagai nabi.

Insya Allah ‘azza wa jalla, ujian beliau akan kami paparkan berdasarkan keterangan ahli tahqiq di kalangan ulama kaum muslimin.

(insya Allah bersambung)

Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman; bagian ke-2

Al-Ustadz Abu Muhammad Harits

Splash Bubble

Beberapa Faedah

Sebelum menguraikan faedah kisah Nabi Dawud yang diceritakan dalam surat Shad, kami uraikan sedikit alur kisah itu menurut sebagian ahli tafsir yang mencantumkannya dalam kitab mereka.

Nabi Dawud ‘alaihissalaam adalah seorang nabi sekaligus raja yang sangat luas kekuasaannya. Diceritakan bahwa beliau membagi waktunya untuk mengurus kerajaan, memutuskan perkara di antara rakyatnya, dan sebagian lagi untuk beribadah, bertasbih memuji Allah ‘azza wa jalla di dalam mihrabnya.

Adalah beliau, apabila sudah berada di dalam mihrab, tidak ada seorang pun yang masuk menemui beliau sampai beliau sendiri yang keluar kepada rakyatnya.

Pada suatu hari, beliau dikagetkan oleh kedatangan dua orang yang memanjat tembok istana dan masuk ke dalam mihrabnya yang terkunci. Beliau sempat merasa takut.

Kedua orang itu berkata, “Jangan takut. Kami adalah dua orang yang sedang berselisih. Sebagian dari kami berbuat zalim, melanggar hak yang lain. Kami datang menemui Anda untuk menyelesaikan perkara ini di hadapan Anda. Kami memohon agar Anda memutuskan persoalan ini dengan benar dan adil, jauh dari kecurangan dan mau menunjuki kami ke jalan yang benar.”

Setelah itu, salah seorang dari mereka mulai menerangkan duduk perkaranya, dia berkata, “Saudaraku ini mempunyai 99 ekor kambing, sedangkan aku mempunyai seekor. Lalu dia memaksaku agar menyerahkan kambing yang satu itu untuk digabungkan dengan kambing-kambingnya. Dia mengalahkan dan menekanku.”

Begitu selesai dia bicara, Nabi Dawud ‘alaihissalaam segera memutuskan, “Dia memang telah menzalimi kamu, dengan memaksamu menyerahkan kambingmu yang hanya seekor agar digabungkan bersama kambing-kambingnya yang banyak. Memang, kebanyakan orang yang bekerja sama itu, suka menzalimi yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh. Tetapi, alangkah sedikitnya mereka ini.”

Itulah sekilas kisah yang disebutkan dalam al-Qur’an. Adapun yang dinukil oleh sebagian ahli tafsir, tidak ada yang sahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan, riwayatnya lemah dan kebanyakannya dusta, serta tidak layak dinisbahkan kepada seorang raja besar apalagi nabi yang maksum.

Kisah yang beredar dalam kitab-kitab yang ada di tangan ahli kitab penuh dengan pelecehan dan penodaan terhadap kemuliaan seorang nabi dan raja. Karena itu, kami tidak menukilkannya dalam ibrah ini.

Adapun faedah yang dapat dipetik dari kisah ini adalah sebagai berikut. Peristiwa yang dialami oleh Nabi Dawud ‘alaihissalaam adalah pelajaran berharga sekaligus peringatan bagi para kepala negara, di mana saja mereka berada dan di zaman apa pun.

Hendaknya mereka memutuskan semua persoalan rakyatnya dengan aturan yang telah diturunkan oleh Allah k yang menciptakan dia dan rakyatnya. Para penguasa hendaknya ingat bahwa mereka pasti akan dimintai pertanggungjawabannya tentang rakyat yang dipimpinnya. Mereka juga akan dihisab, bahkan lebih berat dari yang lain.

Dinukil oleh Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya dari Ibnu Abi Hatim dari Ibrahim Abu Zur’ah yang pernah mempelajari kitab-kitab terdahulu dan mendalami al-Qur’an. Dia ditanya oleh al-Walid bin ‘Abdul Malik, “Apakah para khalifah (penguasa) itu juga akan dihisab? Bukankah engkau telah mempelajari kitab-kitab terdahulu, mendalami pula al-Qur’an dan menjadi fakih?”

Ibrahim berkata, “Wahai Amirul Mukminin, apakah saya harus mengatakannya?”

“Katakanlah, dengan jaminan keamanan dari Allah ‘azza wa jalla.”

“Wahai Amirul Mukminin, siapakah yang lebih mulia di sisi Allah ‘azza wa jalla, Anda ataukah Nabi Allah Dawud ‘alaihissalaam? Sungguh, Allah ‘azza wa jalla telah mengumpulkan untuk beliau kenabian dan kekuasaan, kemudian memperingatkan beliau dalam Kitab-Nya yang mulia.

Allah ‘azza wa jalla berfirman, ‘Hai Dawud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.” (Shad: 26)

Oleh karena itu, apabila seorang nabi yang juga raja dan penguasa besar dihisab bahkan diperingatkan oleh Allah ‘azza wa jalla, sudah tentu yang selain beliau pasti juga dihisab. Kalau Nabi Dawud ‘alaihissalaam sudah jelas perhitungan dan kepastian kedudukan beliau di sisi Allah ‘azza wa jalla, sebagaimana firman Allah ‘azza wa jalla dalam surat Shad ayat 25,

“Dan sesungguhnya dia mempunyai kedudukan dekat pada sisi Kami dan tempat kembali yang baik,” bagaimana dengan orang-orang yang selain beliau yang bukan nabi?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan pula dalam sabdanya,

كُلُّكُمْ رَاعٍ فَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ،

“Masing-masing kamu adalah pemimpin dan akan ditanya tentang rakyatnya. Seorang amir (penguasa) yang berkuasa atas orang banyak adalah pemimpin dan dia akan ditanya tentang mereka.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiallahu ‘anhuma)

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

مَا مِنْ عَبْدٍ اسْتَرْعَاهُ اللهُ رَعِيَةً فَلَمْ يَحُطْهَا بِنَصِيحَةٍ إِلاَّ لَمْ يَجِدْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ

“Tiada seorang pun hamba yang Allah jadikan dia sebagai pemimpin rakyat, lalu tidak menuntun rakyatnya dengan nasihat, melainkan dia tidak akan mendapatkan bau surga.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Ma’qil bin Yasar radhiallahu ‘anhu)

Nasihat untuk mereka adalah dengan menjalankan semua upaya yang mengantarkan mereka kepada kebaikan dunia dan akhirat, menjauhkan mereka dari segala sesuatu yang menjerumuskan mereka ke dalam kerusakan, dunia dan akhirat.

Wallahu a’lam.

Seseorang yang bertaubat dengan taubat yang benar dan jujur (nashuha), keadaannya lebih baik daripada keadaan sebelum dia terjatuh dalam kesalahan yang mendorongnya bertaubat. Sebagaimana keadaan Nabi Dawud ‘alaihissalaam dalam kisah ini.

Karena itu, dikatakan oleh sebagian ulama, taubat itu seperti kir yang membersihkan kotoran emas sehingga emas menjadi lebih murni dan cemerlang. Karena itu pula, orang yang terjatuh ke dalam dosa, janganlah berputus asa, sehingga enggan bertaubat dan memperbaiki dirinya.

Dalam surat Shaad ini, Allah ‘azza wa jalla menyebutkan sifat-sifat terpuji yang dimiliki Nabi Dawud ‘alaihissalaam sebelum menerangkan berita tentang dua orang yang bertikai, sehingga itu saja sudah cukup untuk menepis semua tuduhan yang ditujukan kepada beliau melalui kisah palsu yang dibuat-buat oleh kaum Yahudi.

Watak Yahudi yang suka merendahkan seorang nabi, menurun kepada sebagian kelompok orang yang mengaku muslim. Syi’ah (Rafidhah, Itsna ‘Asyariah), termasuk golongan yang rendah dan menghinakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sekeluarga. Mereka bersembunyi di balik topeng ‘mencintai ahli bait’, padahal mereka sangat dendam kepada ahli bait yang telah meruntuhkan dinasti Sasanid mereka.

Wallahu a’lam.

Mencalonkan Diri Jadi Pemimpin

Al-Ustadz Abu Muawiyah Askari bin Jamal

Yusuf berkata, “Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan.” (Yusuf: 55)

REC_021

 Tafsir Ayat

Ayat ini menerangkan permintaan Yusuf ‘alaihissalaam kepada penguasa di zaman itu untuk mengangkatnya sebagai bendahara yang menjaga gudang perbendaharaan harta negeri, agar keadilan merata dan kezaliman disirnakan. Yusuf ‘alaihissalaam akan menjadikan hal itu sebagai sarana mengajak penduduk negeri tersebut agar beriman kepada Allah ‘azza wa jalla dan meninggalkan penyembahan terhadap berhala-berhala.

Yusuf ‘alaihissalaam berkata, “Jadikanlah aku untuk mengawasi khazainul ardh.”

Ungkapan خَزَائِنُ الْأَرْضِ , kata خَزَائِنُ adalah bentuk jamak dari kata .خَزَانَةٌ Asalnya adalah sebuah tempat yang digunakan untuk menyimpan sesuatu. Yang dimaksud di sini adalah tempattempat yang dijadikan sebagai gudang harta. (Fathul Qadir, asy-Syaukani)

Yusuf ‘alaihissalaam menawarkan hal ini kepada sang raja ketika dia benar-benar telah mengetahui bahwa Yusuf ‘alaihissalaam terbebas dari segala tuduhan yang dialamatkan kepada beliau sehingga masuk penjara karenanya. Sang raja telah mengetahui keutamaan yang dimiliki oleh Yusuf ‘alaihissalaam, yaitu ilmu, kemuliaan akhlak, kepandaian menakwil mimpi, dan keutamaan.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

Dan raja berkata, “Bawalah Yusuf kepadaku, agar aku memilih dia sebagai orang yang rapat kepadaku.” Maka tatkala raja telah bercakap-cakap dengan dia, dia berkata, “Sesungguhnya kamu hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercayai pada sisi kami.” (Yusuf: 54)

Ibnu Abi Hatim rahimahullah meriwayatkan dari Syaibah bin Na’amah, dia mengatakan bahwa kata حَفِيظٌ maknanya ialah menjaga apa yang engkau titipkan untuk disimpan, عَلِيمٌ artinya yang mengetahui akan datangnya tahun-tahun paceklik. (Tafsir Ibnu Katsir, jilid 8, hlm. 51)

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah menerangkan, “Beliau meminta jabatan itu karena tahu kemampuan beliau untuk menunaikan tugas tersebut. Selain itu, beliau juga ingin memberikan kemaslahatan bagi manusia. Beliau hanya meminta untuk menjaga perbendaharaan bumi, berupa piramida-piramida yang menyimpan kumpulan hasil bumi bangsa Mesir, karena mereka akan menyambut tahun-tahun (paceklik) yang diberitakan oleh Yusuf.

Dengan demikian, Yusuf ‘alaihissalaam dapat bertindak dengan cara yang lebih efisien, lebih maslahat, dan lebih terbimbing untuk kepentingan mereka. Maka dari itu, permintaan beliau dikabulkan dengan penuh rasa senang dan pemuliaan terhadap beliau.

Oleh karena itu, Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Dan demikianlah Kami memberi kedudukan kepada Yusuf di negeri Mesir; (dia berkuasa penuh) pergi menuju ke mana saja yang ia kehendaki di bumi Mesir itu. Kami melimpahkan rahmat Kami kepada siapa yang Kami kehendaki dan Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (Yusuf: 56)

Al-Allamah Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah menjelaskan, “Yusuf ‘alaihissalaam berkata demi kemaslahatan umum, ‘Jadikanlah aku sebagai bendaharawan negara’, yaitu sebagai bendaharawan yang menjaga hasil bumi, sebagai perwakilan, penjaga, dan yang mengurusi.

‘Sesungguhnya aku orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan.’ Maksudnya, aku mampu menjaga apa yang ditugaskan kepadaku, sehingga tidak sedikit pun yang telantar bukan pada tempatnya. Aku mampu mengatur dengan baik barang yang masuk dan yang keluar, mengetahui cara mengatur, memberi, mencegah, dan bertindak dengan segala macam cara.

Ini bukanlah sikap ketamakan Yusuf ‘alaihissalaam untuk mendapatkan kepemimpinan, melainkan tekad beliau yang kuat untuk memberi manfaat secara umum. Beliau sendiri tahu bahwa beliau memiliki kecukupan, amanah, dan kepandaian menjaga, yang mereka tidak mengetahui hal itu dari beliau. Oleh karena itu, beliau meminta dari sang raja untuk mengangkatnya sebagai bendaharawan gudang harta negeri itu. Sang raja pun mengangkatnya sebagai bendaharawan negara dan memberi kedudukan itu kepadanya.” (Taisir al-Karim ar-Rahman)

 

Hukum Mencalonkan Diri Menjadi Pemimpin

Ayat ini lahiriahnya menunjukkan diperbolehkannya seseorang menawarkan diri untuk mengambil sebuah kedudukan yang memang dia memiliki keahlian dalam bidang tersebut. Al-Qurthubi rahimahullah menerangkan, “Ayat ini menunjukkan pula tentang bolehnya seseorang melamar sebuah pekerjaan yang dia memiliki keahlian dalam bidang tersebut.” (Tafsir al-Qurthubi, 11/385)

Asy-Syaukani rahimahullah juga menjelaskan, “Di dalamnya terdapat dalil bagi seseorang yang meyakini jika dirinya masuk ke salah satu urusan pemerintahan akan bisa mengangkat cahaya kebenaran dan menghancurkan kebatilan yang mampu dia lakukan, diperbolehkan meminta hal itu untuk dirinya. Di samping itu, dia boleh menyebutkan sifat-sifat (kelebihan) yang dia miliki yang mendukung tercapainya kemauan, mengundang ketertarikan para penguasa yang akan menyerahkan kendali urusan kepadanya, dan menjadikannya sebagai dasar agar lamarannya diterima.” (Fathul Qadir juz 3, hlm. 49)

Akan tetapi, telah diriwayatkan beberapa hadits yang menunjukkan tercelanya seseorang meminta kedudukan untuk menjadi seorang pemimpin.

Di antaranya adalah hadits Abdurrahman bin Samurah radhiallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku,

يَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ سَمُرَةَ، لَا تَسْأَلِ الْإِمَارَةَ، فَإِنَّكَ إنْ أُعْطِيتَهَا عَنْ مَسْأَلَةٍ وُكِلْتَ إِلَيْهَا، وَإِنْ أُعْطِيتَهَا عَنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ أُعِنْتَ عَلَيْهَا

“Wahai Abdurrahman bin Samurah, jangan engkau meminta kepemimpinan. Sebab, jika engkau diberi kepemimpinan karena memintanya, sungguh akan diserahkan kepadamu (yakni Allah ‘azza wa jalla tidak akan menolongmu). Namun, jika engkau diberi bukan karena memintanya, engkau akan ditolong (oleh Allah ‘azza wa jalla) untuk mengembannya.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Diriwayatkan dari Abu Musa al-Asy’ari radhiallahu ‘anhu berkata, “Aku mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama dua orang dari kabilah Asy’ari. Salah satunya di sebelah kananku dan yang lain di sebelah kiriku. Sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang bersiwak, keduanya meminta jabatan.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Wahai Abu Musa,” atau beliau berkata, “Wahai Abdullah bin Qais.” Aku menjawab, “Demi Allah yang mengutusmu dengan kebenaran, keduanya tidak memberitahuku tentang apa yang ada pada dirinya. Aku tidak menyangka kalau keduanya meminta pekerjaan.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَلَا نَسْتَعْمِلُ عَلَى عَمَلِنَا مَنْ أَرَادَهُ

“Kami tidak meyerahkan jabatan kami kepada orang yang memintanya.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Dalam riwayat al-Bukhari rahimahullah, dari Abu Musa al-Asy’ari radhiallahu ‘anhu, “Aku menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama dua orang lelaki dari kaumku, salah satunya berkata, ‘Angkatlah kami menjadi pemimpin, wahai Rasulullah.’ Yang lainnya juga mengucapkan hal yang sama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّا لَا نُوَلِّي هَذَا مَنْ سَأَلَهُ وَلاَ مَنْ حَرَصَ عَلَيْهِ

‘Sesungguhnya kami tidak menyerahkan hal ini kepada orang yang memintanya dan yang sangat berharap mendapatkannya’.” (HR. al-Bukhari, no. 6730)

Diriwayatkan pula oleh al-Imam al-Bukhari rahimahullah, dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّكُمْ سَتَحْرِصُونَ عَلَى الْإِمَارَةِ وَسَتَكُونُ نَدَامَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَنِعْمَ الْمُرْضِعَةُ وَبِئْسَتِ الْفَاطِمَةُ

“Sesungguhnya kalian berkeinginan kuat untuk mendapatkan kepemimpinan, dan akan menjadi penyesalan pada hari kiamat kelak, nikmat di dunia, namun sengsara di akhirat.” (HR. al-Bukhari, no. 6729)

Diriwayatkan oleh al-Imam Muslim rahimahullah dari Abu Dzar al-Ghifari radhiallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, tidakkah engkau memberiku kedudukan?’

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menepuk pundakku dengan tangannya, lalu berkata, ‘Wahai Abu Dzar, sesungguhnya engkau orang yang lemah. Sesungguhnya ini adalah amanat dan sesungguhnya akan menjadi kehinaan dan penyesalan pada hari kiamat, kecuali orang yang mengambilnya dengan menunaikan haknya dan menjalankan apa yang menjadi kewajibannya’.” (HR. Muslim, no. 1825)

Hal ini telah dijawab oleh al-Imam al-Qurthubi rahimahullah dari beberapa sisi.

  1. Yusuf ‘alaihissalaam meminta kedudukan karena beliau mengetahui bahwa tidak seorang pun yang mampu menduduki jabatan tersebut dalam hal keadilan, perbaikan, dan pemberian hak-hak orang miskin.

Jadi, ia melihat bahwa hal itu menjadi fardhu ‘ain baginya karena tidak ada orang lain yang mampu melakukannya. Demikian pula hukumnya sekarang, jika seseorang mengetahui bahwa dia mampu menegakkan kebenaran dalam hal menetapkan hukum dan menegakkan kebenaran, serta tidak ada orang lain yang layak dan bisa mengganti kedudukannya, hal ini menjadi wajib baginya. Dia pun wajib menduduki jabatan itu dan memintanya. Dia juga wajib memberitakan tentang sifat-sifat (kelebihan) yang dimilikinya, berupa ilmu, kemampuan, dan lainnya, yang dengannya dia berhak berada pada posisi tersebut, seperti halnya yang dikatakan oleh Yusuf ‘alaihissalaam.

Adapun jika orang lain yang mampu menegakkan dan memperbaikinya, dan dia mengetahui hal tersebut, sebaiknya dia tidak memintanya. Ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jangan engkau meminta kepemimpinan.”

Jika dia memintanya dan bersemangat untuk mendapatkannya—padahal dia tahu bahwa dirinya memiliki banyak kekurangan dan sulit berlepas diri darinya—ini merupakan tanda bahwa dia meminta jabatan itu untuk dirinya dan kepentingan pribadinya. Barang siapa yang demikian keadaannya, tidak lama kemudian hawa nafsu akan menguasainya sehingga dia binasa. Inilah makna sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Akan diserahkan kepadanya (tidak akan ditolong oleh Allah ‘azza wa jalla, -pen.).

Barang siapa enggan mendapatkan kedudukan itu karena mengetahui kekurangan dirinya dan khawatir tidak mampu menegakkan hak-haknya, atau dia berlari meninggalkannya, kemudian dia diberi ujian untuk menanganinya, diharapkan dia mampu keluar dari berbagai problemnya. Inilah makna sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Dia akan ditolong.’

  1. Beliau mengatakan, “Sesungguhnya aku orang yang mampu menjaga lagi berilmu.”

Jadi, beliau tidak memintanya karena faktor keturunan dan ketampanannya.

  1. Beliau mengucapkan itu saat tidak ada orang yang mengenalnya sehingga merasa perlu untuk memperkenalkan dirinya. Ini adalah pengecualian dari firman Allah ‘azza wa jalla,

“Janganlah kamu mengatakan dirimu suci.” (an-Najm: 32)

  1. Beliau menganggap bahwa hal itu adalah fardhu ‘ain baginya, karena tidak ada orang lain yang mampu. Ini adalah jawaban yang paling tampak kebenarannya.” (Tafsir al-Qurthubi, jilid 11, hlm. 385—386)

 

Kerusakan Pemilu dalam Demokrasi

Ayat yang kita bahas ini bukanlah dalil yang membenarkan seseorang untuk ikut terjun ke dalam pentas politik demokrasi dan mencalonkan diri untuk mendapat bagian dari jabatan tersebut. Hal ini disebabkan banyak faktor, di antaranya:

  1. Pemilu merupakan bagian dari menyekutukan[1] Allah ‘azza wa jalla, sebab pemilu merupakan bagian dari demokrasi, yang aturannya berasal dari musuh-musuh Islam untuk memalingkan kaum muslimin dari agamanya.
  2. Menuhankan suara terbanyak dan menjadikannya sebagai standar kebenaran meskipun Islam menganggapnya sebagai kebatilan; di sisi lain menolak suara minoritas meskipun itu adalah hal yang pasti kebenarannya menurut agama.
  3. Menganggap syariat Islam itu kurang dalam menetapkan peraturan di tengah-tengah manusia, sehingga merasa butuh dengan sistem demokrasi yang jelas-jelas bukan berasal dari Islam.
  4. Menyebabkan pudarnya sikap al-wala wal-bara (loyalitas dan kebencian) berdasarkan Islam.
  5. Tunduk kepada undang-undang sekuler.
  6. Hanya memberi kemaslahatan kepada musuh-musuh Islam dari kalangan Yahudi dan Nasrani.
  7. Menyebabkan semakin terpecah belahnya kaum muslimin dengan terbentuknya partai-partai yang sering kali berupaya saling menjatuhkan.

Masih banyak lagi kerusakan-kerusakan pemilu yang merupakan bagian penting dari sistem demokrasi tersebut.

Al-Allamah Ahmad bin Yahya an-Najmi rahimahullah ditanya, “Apakah mengikuti pemilu/masuk parlemen merupakan wasilah yang disyariatkan untuk menolong agama atau tidak?”

Beliau menjawab, “Tidak.” (al-Fatawa al-Jaliyyah ‘anil Manahij ad-Da’wiyah, hlm. 25)

Selain itu, beliau mengatakan bahwa termasuk di antara bentuk penipuan dengan suara terbanyak adalah yang disebut pemilu, pencalonan diri, atau yang semisalnya. Siapa yang berhasil meraih suara terbanyak, dia yang diutamakan untuk diangkat, meskipun dia termasuk manusia yang paling buruk. Ini adalah metode orang-orang kafir yang mereka gunakan untuk menetapkan pemimpin negara, menteri, atau yang lainnya. (al-Amali an-Najmiyah ‘ala Masail al-Jahiliyah, no. 12)

Wallahul Muwaffiq.


[1] Lihat perincian hal ini pada catatan kaki no. 1 pada artikel Kerusakan-kerusakan Pemilu. (-ed.)H

Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman; bagian ke-1

Al-Ustadz Abu Muhammad Harits

WALL

Pertempuran antara Thalut dan Jalut berakhir dengan kemenangan kaum muslimin yang dipimpin Thalut (Saul). Jalut yang terkenal lalim dan ahli dalam peperangan tewas di tangan seorang prajurit muda, yaitu Dawud.

Sebagian ahli sejarah mengisahkan, ketika menghasung Bani Israil berperang dan menghadapi pasukan Jalut, Raja Thalut menjanjikan, siapa saja yang berhasil membunuh Jalut akan dinikahkannya dengan putrinya dan akan diberi separuh dari kerajaannya. Setelah perang selesai, Raja Thalut menepati janji dan menikahkan Dawud dengan putrinya serta membagi dua kerajaan Bani Israil.

Para ahli sejarah berbeda-beda dalam menguraikan kisah yang terjadi sejak Bani Israil yang dipimpin oleh Thalut menyeberangi sungai sampai berkecamuknya pertempuran hingga terbunuhnya Jalut yang lalim dan berkuasanya Dawud sebagai Raja Bani Israil. Kisah tersebut telah dipaparkan pada beberapa edisi yang lalu.

Yang jelas, Nabi Dawud ‘alaihissalam akhirnya menjadi raja Bani Israil dan memimpin serta membimbing mereka di jalan Allah.

Sebelum menjadi raja, Nabi Dawud ‘alaihissalam hanya seseorang di antara rakyat jelata di kalangan Bani Israil. Di masa kecil dan remajanya, beliau bekerja menggembala kambing, tetapi Allah ‘azza wa jalla menganugerahkan kekuatan yang sangat besar pada tubuh beliau.

Sebagian ahli sejarah menyebutkan nasab beliau adalah Dawud bin Isya bin ‘Uwaid bin ‘Abir bin Salmun bin Nahsyun bin ‘Uwainadib bin Iram bin Hashrun bin Faridh bin Yahuda bin Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim al-Khalil ‘alaihissalam.

Beliau diberi suara yang merdu oleh Allah ‘azza wa jalla, hingga burung-burung berhenti terbang untuk mengiringi beliau bertasbih memuji Allah ‘azza wa jalla. Beliaulah yang pertama kali membuat perisai dan pakaian perang dari besi.

Beliau diberi karunia usia yang panjang, sampai seratus tahun, yang diambil dari usia bapaknya, Adam ‘alaihissalam, sebagaimana diceritakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لَمَّا خَلَقَ اللهُ آدَمَ مَسَحَ ظَهْرَهُ فَسَقَطَ مِنْ ظَهْرِهِ كُلُّ نَسَمَةٍ هُوَ خَالِقُهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، ثُمَّ جَعَلَ بَيْنَ عَيْنَيْ كُلِّ إِنْسَانٍ مِنْهُمْ وَبِيصاً مِنْ نُورٍ ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى آدَمَ فَقَالَ: أَيْ رَبِّ، مَنْ هؤُلاَءِ؟ قالَ: هؤُلاَءِ ذُرِّيَّتُكَ. فَرَأَى رَجُلاً مِنْهُمْ أَعْجَبَهُ نُورُ مَا بَيْنَ عَيْنَيْهِ، فَقَالَ: أَيْ رَبِّ، مَنْ هَذَا؟ قَالَ: رَجُلٌ مِنْ ذُرِّيَّتِكَ فِي آخِرِ الْأُمَمِ يُقَالُ لَهُ دَاوُدُ. قاَلَ: أَيْ رَبِّ، كَمْ عُمْرُهُ؟ قَالَ: سِتُّونَ سَنَةً. قالَ: فَزِدْهُ مِنْ عُمْرِي أَرْبَعِينَ سَنَةً. قَالَ: إِذَنْ يُكْتَبُ وَيُخْتَمُ وَلاَ يُبَدَّلُ. فَلَمَّا انْقَضَى عُمْرُ آدَمَ جَاءَ مَلَكُ الْمَوْتِ فَقَالَ: أَوَلَمْ يَبْقَ مِنْ عُمْرِي أَرْبَعُونَ سَنَةً؟ قَالَ: أَوَلَمْ تُعْطِهَا ابْنَكَ دَاوُدَ؟ فَجَحَدَ فَجَحَدَتْ ذُرِّيَّتُهُ وَنَسِيَ آدَمُ فَنَسِيَتْ ذُرِّيَّتُهُ وَخَطِىءَ آدَمَ فَخَطِئَتْ ذُرِّيَّتُهُ

Setelah Allah menciptakan Adam, Dia mengusap punggung Adam, maka bertaburanlah semua ruh yang Allahlah Yang menciptakannya sampai hari kiamat. Kemudian Dia letakkan di antara kedua mata masing-masing mereka itu seberkas cahaya, lalu Dia tunjukkan kepada Adam.

Adam pun bertanya, “Duhai Rabbku, siapakah mereka ini?”

Kata Allah, “Mereka ini adalah anak cucumu.”

Lalu dia melihat salah seorang dari mereka yang cahaya orang itu menakjubkannya, katanya, “Duhai Rabbku, siapakah dia ini?”

Kata Allah, “Dia salah seorang anak cucumu di kalangan umat belakangan, namanya Dawud.”

“Duhai Rabbku, berapakah panjang umurnya?”

“Enam puluh tahun.”

“Tambahkanlah untuk dia dari umurku sebanyak empat puluh tahun.”

“Kalau begitu, akan ditulis dan ditetapkan serta tidak akan diubah lagi.”

Ketika habis usia Adam, datanglah Malakul Maut. Beliau pun berkata, “Bukankah masih tersisa usiaku ini empat puluh tahun?”

“Bukankah telah engkau berikan untuk putramu Dawud?” jawab Malakul Maut.

Adam mengingkari, anak cucunya juga demikian. Adam lupa, maka lupa pula anak cucunya. Adam bersalah, maka anak cucunya juga bersalah.[1]

Demikianlah, Nabi Dawud ‘alaihissalam hidup di dunia selama seratus tahun. Sebagian besarnya adalah sebagai seorang nabi sekaligus raja Bani Israil dengan kekuasaan yang sangat luas.

Akan tetapi, kehidupan sebagai seorang raja, bahkan nabi sekalipun, tidak membuat beliau berbeda dengan kebanyakan manusia. Beliau tetap sebagai manusia biasa, yang kadang sedih, marah, dan gembira. Beliau juga bisa lupa dan keliru. Begitulah sunnatullah dalam hidup manusia.

Tidak ada satupun yang lolos dari sunnatullah. Itulah kebaikan dan keburukan yang diberikan Allah ‘azza wa jalla kepada hamba-hamba-Nya, sebagai ujian bagi mereka.

Memang demikianlah. Tiada satupun makhluk yang lepas dari ujian. Namun, ujian itu berbeda-beda tingkatannya, sesuai dengan keadaan iman dalam diri masing-masing. Itulah yang diberitakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya, ketika ditanya, “Siapakah yang sangat berat cobaan yang menimpanya?”

الْأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ، يُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلَاؤُهُ، وَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَمَا يَبْرَحُ الْبَلَاءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِي عَلَى الْأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ

“(Yang paling berat ujiannya ialah) para nabi, kemudian yang lebih mulia setelah mereka, lalu yang lebih utama di bawahnya. Seseorang akan diuji sesuai dengan kadar agamanya. Apabila agamanya kokoh, beratlah ujian yang dirasakannya. Kalau dalam agamanya ada kelemahan, dia diuji sesuai dengan kadar agamanya. Tidak henti-hentinya ujian itu menimpa seorang hamba sampai meninggalkannya berjalan di muka bumi dalam keadaan (hamba itu) tidak lagi mempunyai kesalahan.”[2]

Ada beberapa kejadian di masa pemerintahan beliau, seperti kisah petani dan penggembala kambing, juga tentang dua orang wanita yang memperebutkan seorang bayi. Semua ini telah dikisahkan dalam edisi-edisi yang lalu bersama putranya Sulaiman ‘alaihissalam.

Karena itu, dalam edisi kali ini, kami paparkan sebuah kisah yang diabadikan dalam al-Qur’an tentang ujian yang beliau terima.

 

Dua Orang yang Bertikai

Allah ‘azza wa jalla berfirman yang artinya,

Dan adakah sampai kepadamu berita orang-orang yang berperkara ketika mereka memanjat pagar?

Ketika mereka masuk (menemui) Dawud lalu ia terkejut karena kedatangan) mereka. Mereka berkata, “Janganlah kamu merasa takut; (kami) adalah dua orang yang berperkara yang salah seorang dari kami berbuat zalim kepada yang lain; maka berilah keputusan antara kami dengan adil dan janganlah kamu menyimpang dari kebenaran dan tunjukilah kami ke jalan yang lurus.”

“Sesungguhnya saudaraku ini mempunyai sembilan puluh sembilan ekor kambing betina dan aku mempunyai seekor saja. Maka dia berkata, ‘Serahkanlah kambingmu itu kepadaku,’ dan dia mengalahkan aku dalam perdebatan.”

Dawud berkata, “Sesungguhnya dia telah berbuat zalim kepadamu dengan meminta kambingmu itu untuk ditambahkan kepada kambingnya. Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebagian mereka berbuat zalim kepada sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh; dan amat sedikitlah mereka ini.”

Dan Dawud mengetahui bahwa Kami mengujinya; maka ia meminta ampun kepada Rabbnya lalu menyungkur sujud dan bertobat. Maka Kami ampuni baginya kesalahannya itu. Dan sesungguhnya dia mempunyai kedudukan dekat pada sisi Kami dan tempat kembali yang baik.

Hai Dawud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan. (Shad: 21—26)

Demikianlah kisah yang diceritakan oleh Allah ‘azza wa jalla dalam Kitab-Nya. Memang benarlah sebuah berita yang menakjubkan.

Seperti biasa, Nabi Dawud ‘alaihissalam tidak lupa beribadah kepada Rabbnya. Pada waktu itu, tidak ada seorangpun boleh mengganggu. Namun, di luar istana, dua orang dengan tenang memanjat pagar tembok istana tanpa diketahui oleh siapapun. Dengan cepat keduanya menuju ruangan tempat Nabi Dawud ‘alaihissalam biasa beribadah.

Nabi Dawud yang sedang khusyuk beribadah tersentak kaget. Rasa takut mulai merayapi hati beliau, karena tiba-tiba melihat dua orang telah berada di mihrab tempat beliau beribadah.

Melihat kekagetan dan rasa takut Nabi Dawud ‘alaihissalam, dua orang ini berkata, “Jangan takut, kami adalah dua orang yang sedang bertikai. Salah satu dari kami berbuat zalim kepada yang lain, maka berilah keputusan antara kami dengan adil tanpa berpihak kepada salah satu dari kami. Jangan pula menyimpang dan tunjukilah kami kepada jalan yang lurus.”

Mendengar keterangan mereka, bahwa mereka menginginkan kebenaran, Nabi Dawud tidak lagi marah dan takut. Kemudian salah satu dari mereka berkata (sebagaimana dalam ayat),

“Sesungguhnya saudaraku ini,” yang seiman dan satu manhaj, bukan senasab, sehingga apabila muncul sikap bermusuhan dari saudara tentu lebih besar urusannya. Dia melanjutkan (sebagaimana dalam ayat),

“Mempunyai sembilan puluh sembilan ekor kambing betina,” yakni istri, sebagaimana kebiasaan orang Arab. Tentu saja keadaan itu merupakan kebaikan dan mengharuskan dia merasa cukup serta bersyukur dengan apa yang diberikan oleh Allah ‘azza wa jalla kepadanya.

Orang itu melanjutkan, “Sedangkan aku hanya mempunyai seekor kambing betina,” yakni hanya seorang istri.

Lalu dia menginginkannya dan mengatakan, “Serahkanlah kambing itu (istrimu) untukku agar menjadi tanggunganku dan dia mengalahkan alasan-alasanku,” bahkan kalaupun aku memukul, dia lebih keras memukulku sampai dia berhasil memperolehnya.

Sebelum mendengarkan dari pihak yang lain, Nabi Dawud sudah mendahului berkata, “Sungguh, dia telah berbuat zalim kepadamu, ketika memaksa meminta kambingmu untuk menjadi milik dan tanggungannya. Sungguh, kebanyakan orang yang bekerja sama itu sebagin mereka berbuat zalim kepada yang lain. Kecuali, orang-orang yang beriman dan beramal saleh, karena iman dan amal saleh itu akan mencegah mereka berbuat zalim. Akan tetapi, alangkah sedikitnya jumlah mereka di tengah-tengah manusia.”

Namun, seketika itu juga Nabi Dawud memahami, ketika memutuskan perkara di antara kedua orang tersebut, bahwa itu adalah ujian dari Allah. Segera saja, Nabi Dawud meminta ampunan dan tobat dengan sebenar-benarnya kepada Rabbnya dan menyungkur sujud sambil menangis.

Allah ‘azza wa jalla mengampuni dan menerima tobat Nabi Dawud. Sungguh, beliau memiliki kedudukan sangat dekat lagi mulia di sisi Allah ‘azza wa jalla serta tempat kembali yang baik.

Kata asy-Syaikh as-Sa’di rahimahullah dalam tafsirnya, Allah tidak memaparkan dosa apa yang diperbuat oleh Nabi Dawud sehingga mendorong beliau meminta ampun dan bertobat, karena memang tidak ada gunanya diterangkan. Mencoba menguraikan hanya memberat-beratkan diri.

Yang jelas, faedah kisah ini ialah apa yang diterangkan Allah kepada kita ini, yaitu kelembutan-Nya kepada Nabi Dawud, tobat dan inabah (sikap kembali) beliau, serta terangkatnya kedudukan beliau. Bahkan, setelah bertobat, keadaan beliau lebih baik daripada sebelumnya. Kemudian, Allah ‘azza wa jalla mewahyukan kepada beliau,

“Hai Dawud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi,” memberlakukan padanya ketetapan agama dan dunia,

“Maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan haq,” yakni adil. Tentu saja, hal ini tidak mungkin beliau mampu melaksanakannya kecuali dengan mempunyai ilmu yang wajib dan ilmu-ilmu tentang persoalan kekinian (di masa itu), serta kemampuan untuk memberlakukan yang haq;

“Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu.” Janganlah berjalan di belakang hawa nafsu dalam hal memberi keputusan, lalu berpihak kepada salah satu pihak, apakah karena dia kerabat, teman, orang yang dicintai, atau karena membenci pihak lain, karena hal itu akan membuatmu menyimpang dari jalan Allah dan menyebabkanmu tersesat dari jalan yang lurus.

Kemudian Allah ‘azza wa jalla memperingatkan, “Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah,” terutama orang-orang yang sengaja di antara mereka;

“Akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.”

Sebab, andaikata mereka mengingatnya, lalu tumbuh rasa takut dalam hati mereka, niscaya mereka tidak akan menyimpang bersama hawa nafsu yang menyesatkan.

Begitu hebat tobat Nabi Dawud, hingga dalam sebagian riwayat yang sampai kepada Wahb bin Munabbih disebutkan, akibat tangis beliau begitu pilu dan panjangnya sujud beliau sambil menangis, tumbuhlah lumut di tempat sujud itu.

Demikianlah, seorang Nabi dan raja besar, yang tentu saja maksum, merasakan betapa dia memiliki kesalahan yang sangat besar, hingga mendorongnya menjatuhkan diri sujud kepada Rabbnya.

(insya Allah bersambung)


[1] HR. at-Tirmidzi dan dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahihul Jami’ (no. 5208).

[2] HR. Ahmad (no. 1607), at-Tirmidzi (no. 2400) dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahihul Jami’ (no. 992).

Sebuah Asa dari Rasul Pertama

Al-Ustadzah Ummu ‘Abdirrahman bintu ‘Imran

Harapan akan anak yang saleh—yang baik dan selamat dunia akhirat—bukan semata-mata milik kita. Harapan ini bahkan dimiliki oleh para nabi dan rasul yang menjadi teladan kita. Ini menunjukkan bahwa harapan seperti ini adalah harapan yang mulia. Inilah yang kita lihat dalam diri Rasul yang pertama, Nuh ‘alaihissalam.

 Hope

Rentang waktu perjalanan dakwah Nabi Nuh ‘alaihissalam bukanlah waktu yang pendek. Sembilan ratus lima puluh tahun beliau menyeru umat dengan berbagai cara, disertai kesabaran dan ketelatenan, untuk meninggalkan kehinaan paganisme, kembali mulia dengan berpegang teguh kepada tauhidullah. Termasuk pula keluarga beliau yang menjadi sasaran dakwah mulia ini. Akan tetapi, tidak ada yang menerima dakwah beliau selain sedikit.

Allah ‘azza wa jalla mewahyukan kepada beliau bahwa kaumnya yang mendustakan beliau itu akan dibinasakan. Diperintahkanlah Nabi Nuh ‘alaihissalam untuk membuat sebuah bahtera guna menyelamatkan orangorang yang berserah diri kepada Allah ‘azza wa jalla. Beliau pun melaksanakan perintah itu dengan penuh ketundukan dan ketaatan, di tengah-tengah gencarnya olokan, hinaan, cercaan, dan seluruh bentuk pendustaan kaumnya yang durhaka.

Allah ‘azza wa jalla mengabadikan kisah kebinasaan kaum Nuh—termasuk anak beliau sendiri—dalam Kitab-Nya yang mulia,

“Hingga apabila perintah Kami datang dan permukaan bumi telah memancarkan air, Kami berfirman, ‘Muatkanlah ke dalam bahtera itu dari masing-masing binatang sepasang, dan keluargamu kecuali orang yang telah terdahulu ketetapan terhadapnya, dan muatkanlah pula orang-orang yang beriman’. Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit. Dan Nuh berkata, ‘Naiklah kamu sekalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya. Sesungguhnya Rabbku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang’.” (Hud: 40—41)

Berlayarlah bahtera itu mengarungi air bah yang bakal membinasakan orang-orang yang kafir dengan izin Allah. Di tengah terpaan gelombang air bah yang laksana gunung itu, Nabi Nuh ‘alaihissalam melihat anaknya, darah dagingnya, berada di tempat yang jauh dan terpencil, berusaha menyelamatkan diri dari kebinasaan. Nabi Nuh ‘alaihissalam mengetahui, pada hari itu tidak akan ada orang kafir yang selamat dari azab dan kemurkaan Allah ‘azza wa jalla. Begitu pula anak beliau ini. Masih tebersit asa dalam hati Nabi Nuh ‘alaihissalam agar anaknya selamat dari kemurkaan Rabbul ‘alamin yang menimpa orangorang kafir. Beliau memanggil dan menyeru anaknya agar mau mendekat dan turut ke dalam bahtera.

“Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. Dan Nuh memanggil anaknya, sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil, ‘Hai anakku! Naiklah bersama kami, dan janganlah kamu bersama orang-orang yang kafir!’.” (Hud: 42)

Namun, malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih, ternyata anak yang diseru dengan penuh kesabaran ini memilih sebagaimana pilihan kaum yang ingkar. Masih dengan kesombongannya, dia tetap mendustakan seruan sang ayah. Allah ‘azza wa jalla menetapkan anak Nabi yang mulia ini termasuk orang yang celaka.

Dengan pongah dia katakan, dia akan mendaki gunung yang bisa melindunginya dari amukan gelombang pasang yang dahsyat melanda.

Anaknya menjawab, “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat menjagaku dari air bah!” (Hud: 43)

Nabi Nuh ‘alaihissalam masih belum berhenti menyadarkan anaknya yang durhaka ini. Beliau ingatkan, tak ada satu pun—baik gunung maupun selainnya—yang dapat menyelamatkan apabila Allah ‘azza wa jalla telah murka, walaupun segala upaya yang mungkin telah dia lakukan. Dirinya tidak akan selamat jika Allah ‘azza wa jalla tidak menyelamatkannya.

Nuh berkata, “Hari ini tidak ada yang dapat melindungi dari azab Allah, kecuali orang yang dirahmati-Nya.” (Hud: 43)

Namun, ketetapan Allah ‘azza wa jalla tetaplah berlaku.

“Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya, maka jadilah anak itu termasuk orang- orang yang ditenggelamkan.” (Hud: 43)

Menyaksikan anaknya ditelan gelombang air bah, Nabi Nuh ‘alaihissalam merasa sedih. Didorong oleh rasa sayang kepada sang anak, Nabi Nuh ‘alaihissalam memohon kepada Allah ‘azza wa jalla apa yang telah Dia janjikan ketika memerintahkan agar Nabi Nuh ‘alaihissalam mengangkut dalam bahteranya setiap binatang sepasang, serta keluarga beliau. Allah ‘azza wa jalla menjanjikan akan menyelamatkan keluarga beliau.

Dan Nuh menyeru Rabbnya sembari berkata, “Wahai Rabbku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji-Mu itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadiladilnya.” (Hud: 45)

Nabi Nuh ‘alaihissalam menyangka, janji itu berlaku untuk seluruh keluarga beliau. Karena itulah, beliau berdoa kepada Allah ‘azza wa jalla dengan permohonan seperti itu. Namun, di sisi lain, Nabi Nuh ‘alaihissalam tetap mengembalikan urusan ini sepenuhnya kepada hikmah Allah ‘azza wa jalla yang Mahasempurna. Kemudian Allah ‘azza wa jalla menerangkan bahwa anak Nabi Nuh termasuk orang-orang yang ingkar, enggan beriman kepada Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya, sehingga tidak layak untuk diselamatkan. Allah ‘azza wa jalla menegur Nabi Nuh ‘alaihissalam pula agar tidak memohon kepada-Nya sesuatu yang tidak beliau ketahui kesudahannya, apakah kebaikan atau keburukan.

Allah berfirman, “Wahai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan). Sesungguhnya (perbuatannya) perbuatan yang tidak baik. Karena itu, janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (kesudahan)nya. Sesungguhnya Aku memberikan peringatan kepadamu agar kamu tidak termasuk orang-orang yang jahil.” (Hud: 46)

Nabi Nuh ‘alaihissalam amat menyesali perbuatannya itu. Beliau pun memohon ampun kepada Rabbnya.

Nuh berkata, “Wahai Rabbku, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari memohon kepada-Mu sesuatu yang aku tidak mengetahui (kesudahan)nya. Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampunan kepadaku, serta tidak menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi.” (Hud: 47)

Kisah kesabaran beliau yang diabadikan di dalam al-Qur’an ini membuahkan sebuah keteladanan betapa beliau sangat bersemangat memberikan bimbingan dan arahan kepada anaknya. Semoga Allah ‘azza wa jalla mudahkan kita untuk mengambil pelajaran dari ini semua.

Wallahu ta’ala a’lam bishshawab.

 

Sumber Bacaan:

Al-Huda an-Nabawi fi Tarbiyatil Aulad, asy-Syaikh Dr. Sa ’id bin ‘Ali bin Wahf al-Qahthani, hlm. 6—7

Nabi Musa dan Nabi Harun Wafat

Al-Ustadz Abu Muhammad Harits

 Arabian-Desert-1

Di Padang Tih, bertahun-tahun hidup di sana, usia Nabi Musa dan Harun bertambah lanjut. Bani Israil benar-benar dibersihkan dari orang-orang yang fasik, yang disebutkan dalam doa Nabi Musa. Kemudian lahirlah generasi baru yang insya Allah lebih baik dari orang-orang yang fasik tersebut.

Tak berapa lama sampailah ajal Nabi Harun ‘alaihissalam. Bersama Nabi Musa, beliau dipanggil ke Bukit Thursina. Di sanalah Nabi Harun berpulang ke rahmat Allah ‘azza wa jalla.

Sepeninggal saudaranya Harun ‘alaihissalam, Nabi Musa masih melanjutkan tugas membimbing Bani Israil. Beliau dengan penuh semangat tetap mengajari mereka agar taat dan tunduk kepada aturan Allah ‘azza wa jalla Yang telah menyelamatkan dan memuliakan mereka.

Menjelang dekatnya ajal beliau, Allah ‘azza wa jalla mengutus salah seorang hamba-Nya yang mulia di kalangan para malaikat. Seorang malaikat yang menghancurkan semua kelezatan dan memutuskan semua kesenangan hidup, Malaikat Maut. Makhluk suci yang diciptakan Allah ‘azza wa jalla dari cahaya.

Peristiwa ini diceritakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para sahabat (bahkan umatnya),

أُرْسِلَ مَلَكُ الْمَوْتِ إِلَى مُوسَى عَلَيْهِمَا السَّلَام فَلَمَّا جَاءَهُ صَكَّهُ فَرَجَعَ إِلَى رَبِّهِ فَقَالَ: أَرْسَلْتَنِي إِلَى عَبْدٍ لَا يُرِيدُ الْمَوْتَ. فَرَدَّ اللهُ عَلَيْهِ عَيْنَهُ وَقَالَ: ارْجِعْ فَقُلْ لَهُ يَضَعُ يَدَهُ عَلَى مَتْنِ ثَوْرٍ فَلَهُ بِكُلِّ مَا غَطَّتْ بِهِ يَدُهُ بِكُلِّ شَعْرَةٍ سَنَةٌ. قَالَ: أَيْ رَبِّ، ثُمَّ مَاذَا؟ قَالَ: ثُمَّ الْمَوْتُ. قَالَ: فَالْآنَ. فَسَأَلَ اللهَ أَنْ يُدْنِيَهُ مِنَ الْأَرْضِ الْمُقَدَّسَةِ رَمْيَةً بِحَجَرٍ. قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ فَلَوْ كُنْتُ ثَمَّ لَأَرَيْتُكُمْ قَبْرَهُ إِلَى جَانِبِ الطَّرِيقِ عِنْدَ الْكَثِيبِ الْأَحْمَرِ

Malaikat Maut diutus kepada Musa ‘alaihissalam. Ketika dia mendatanginya, beliau menamparnya. Malaikat itu kembali kepada Rabbnya, lalu berkata, Engkau telah mengutusku kepada seorang hamba yang tidak menyukai maut.”

Kemudian, Allah mengembalikan matanya dan berkata, Kembalilah dan katakan kepadanya, supaya meletakkan tangannya di lambung seekor sapi jantan, lalu dia berhak pada setiap bulu yang ditutupi tangannya adalah satu tahun.”

Musa berkata, Wahai Rabbku, kemudian apa lagi?”

Kemudian adalah maut.”

Kata Musa, Maka sekaranglah,” beliau pun memohon kepada Allah agar mendekatkannya ke Tanah Suci sejauh lemparan batu.

Kata rawi, Kata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Seandainya aku di sana, sungguh, pasti akan aku perlihatkan kepada kamu kuburannya di samping jalan dekat bukit merah.’.” (H.R. al-Bukhari no. 1339 dan Muslim no. 2372 dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Begitulah kisahnya. Sebuah berita gaib yang diceritakan oleh ash-Shadiqul Mashduq shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sudah tentu menjadi berita dan kisah yang tidak disangsikan lagi kebenarannya. Orang-orang yang beriman pasti menerima berita ini sebagaimana adanya. Sebab, mereka yakin terhadap apa yang diterangkan oleh Allah ‘azza wa jalla, bahwa Rasul-Nya tidak berbicara dengan hawa nafsu. Apa yang beliau sampaikan tidak lain adalah wahyu yang diturunkan kepadanya.

Dalam riwayat ini disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisahkan kedatangan Malakul Maut kepada Nabi Musa ‘alaihissalam. Akan tetapi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyebutkan secara jelas bahwa malaikat tersebut menemui Nabi Musa dalam wujud aslinya.

Di dalam al-Qur’an, disebutkan pula peristiwa yang tidak jauh berbeda dengan kisah ini. Beberapa malaikat pernah menemui Nabi Ibrahim dan Luth ‘alaihimassalam. Nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang sangat memuliakan tamu, segera menyuguhkan hidangan lezat, daging anak sapi yang sudah matang. Akan tetapi, kemudian, muncul rasa takut beliau tatkala para tamu itu tidak menyentuh daging itu sama sekali.

Begitu pula Nabi Luth ‘alaihissalam. Beliau sangat cemas akan keselamatan tamu-tamunya yang berwujud pemuda gagah dan tampan ini. Beliau khawatir, kaumnya yang terbelenggu oleh nafsu akan menyerbu rumahnya dan menangkap para pemuda ini.

Akan tetapi, setelah para tamu itu menerangkan bahwa mereka adalah utusan Allah ‘azza wa jalla, barulah kedua nabi yang mulia ini tenang. Kemudian, mengalirlah dialog di antara mereka, sebagaimana diceritakan oleh Allah ‘azza wa jalla dalam Kitab-Nya, yang tidak didatangi kebatilan baik dari depan maupun belakang.

Nabi Musa ‘alaihissalam juga demikian. Saat sedang menyendiri, beliau didatangi seseorang yang meminta nyawanya. Tentu saja beliau marah dan menampar orang tersebut. Dengan kekuatan beliau yang luar biasa, pukulan itu menyebabkan mata malaikat yang sedang berwujud manusia itu lepas dari rongganya.

Malaikat itu segera kembali menemui Rabb (Allah ‘azza wa jalla) yang mengutusnya. Allah ‘azza wa jalla mengembalikan mata itu ke tempatnya semula.

Kemudian, malaikat itu kembali lagi menemui Nabi Musa ‘alaihissalam. Kali ini, Nabi Musa ‘alaihissalam mengenalinya. Setelah dialog singkat, malaikat itu menyampaikan perintah Allah ‘azza wa jalla agar Nabi Musa ‘alaihissalam meletakkan tangannya di atas tubuh seekor sapi jantan. Untuk beliau adalah semua yang tertutup tangan beliau dihitung satu tahun.

Nabi Musa ‘alaihissalam bertanya, “Sesudah itu apa lagi, duhai Rabbku?”

“Al-Maut,” kata Allah ‘azza wa jalla.

Nabi Musa ‘alaihissalam langsung menyambut dan memilih bertemu dengan Rabbnya, “Kalau begitu, sekaranglah.”

Beliau pun memohon agar Allah ‘azza wa jalla mendekatkan jasad beliau ke Baitil Maqdis sejauh lemparan batu.

Wallahu a’lam.

 

Beberapa Faedah

Hadits ini termasuk hadits-hadits yang diingkari oleh Jahmiyah dan orang-orang yang sesat lainnya. Menurut mereka, bisa jadi Nabi Musa sudah mengenal Malaikat Maut, bisa jadi pula tidak mengenalnya. Kalau beliau mengenalnya, dengan memukulnya berarti beliau telah menzalimi Malaikat Maut tersebut. Seandainya belum, riwayat yang menyebutkan bahwa Malaikat Maut itu menemui Nabi Musa dalam keadaan terang-terangan tidak ada artinya.

Sanggahan ini tidak lain berasal dari orang-orang yang telah dibutakan oleh Allah ‘azza wa jalla mata hatinya. Pengertian hadits ini sahih, tidak seperti dugaan kaum Jahmiyah. Sebab, Allah ‘azza wa jalla tidak mengutus kepada beliau sosok Malaikat Maut yang ketika itu ingin mencabut ruhnya, tetapi untuk menguji beliau, seperti Allah ‘azza wa jalla memerintahkan Nabi Ibrahim menyembelih Ismail bin Ibrahim ‘alaihissalam. Andaikata Allah ‘azza wa jalla ingin mencabut ruh beliau ketika mengilhamkan Malaikat Maut untuk itu, pastilah terjadi apa yang dikehendaki Allah ‘azza wa jalla.

Mustahil Nabi Musa mengenali Malaikat Maut lalu menamparnya hingga lepas matanya. Nabi Ibrahim ‘alaihissalam juga pernah didatangi para malaikat dalam keadaan beliau tidak mengenali mereka pada awalnya. Seandainya Nabi Ibrahim ‘alaihissalam mengenali mereka, tentu tidak akan menyuguhkan hidangan lezat agar mereka memakannya dan tidak merasa takut ketika mereka tidak menyentuh makanan itu. Lantas, mengapa harus heran kalau Nabi Musa tidak mengenali Malaikat Maut?

Pendapat mereka bahwa Allah ‘azza wa jalla tidak mengkisas Nabi Musa, menunjukkan kebodohan mereka. Siapa yang menerangkan kepada mereka bahwa antara malaikat dan Bani Adam ada hukum kisas? Siapa pula yang mengabarkan kepada mereka bahwa Malaikat Maut menuntut kisas lalu Allah ‘azza wa jalla tidak mengabulkannya? Bahkan, Allah ‘azza wa jalla mengabarkan kepada kita bahwa Nabi Musa ‘alaihissalam pernah memukul seorang Qibti hingga Qibti itu mati tetapi tidak mengkisas beliau.

Alhasil, kisah ini bukanlah dongeng yang dibuat-buat, karena beritanya sahih dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seorang yang sudah mengikrarkan syahadat bahwa tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah ‘azza wa jalla dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hamba Allah ‘azza wa jalla serta utusan (Rasul)-Nya, tidak ada alasan lain kecuali tunduk menerima berita ini. Sebab, ketundukan dan kelapangan hatinya membenarkan dan menerima berita ini adalah salah satu bukti kejujurannya bersyahadat.

Selain itu, berita ini adalah perkara gaib yang disampaikan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga bukan hak kita untuk menanyakan bagaimana dan mengapa-nya? Lebih-lebih lagi, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang jujur lagi dibenarkan. Beliau tidak berbicara kecuali dengan wahyu yang diturunkan kepada beliau. Adakah seorang yang beriman akan mengingkari berita yang sahih dari beliau? Tentu tidak ada.

Faedah lainnya, bahwa syariat para Nabi sebelum kita adalah syariat kita juga, selama tidak ada yang menghapusnya. Nabi Musa meminta didekatkan ke Tanah Suci agar dikuburkan di sana, bahkan membawa serta jasad Nabi Yusuf ketika mereka meninggalkan Mesir. Akan tetapi, semua ini dihapus berdasarkan larangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap keinginan beberapa sahabat yang hendak menguburkan syuhada Uhud di Madinah, wallahu a’lam.

Mengapa makam Nabi Musa berada di luar Baitul Maqdis?

Ibnu Hajar rahimahullah, salah seorang ulama besar mazhab Syafi’i, hakim negeri Mesir, menukilkan pendapat Ibnu Baththal dari ulama sebelumnya, bahwa hikmah makam Nabi Musa ‘alaihissalam tidak berada di dalam Baitul Maqdis adalah agar menyamarkan letaknya, sehingga tidak dijadikan berhala (sesuatu yang disembah dan dipuja-puja selain Allah ‘azza wa jalla) oleh orang-orang yang jahil di kalangan pengikut beliau.

Hadits ini tidak bisa dijadikan dalil bolehnya memindahkan jenazah dari satu daerah ke daerah yang lain. Mengapa?

Ada beberapa alasan. Di antaranya ialah bahwa syariat umat terdahulu adalah syariat kita juga, selama tidak ada yang menghapusnya di dalam syariat kita. Ternyata, hal ini ada penjelasannya dalam syariat kita, yaitu larangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memindahkan syuhada perang Uhud dan memerintahkan para sahabat menguburkan mereka di tempat mereka terbunuh. Jadi, yang sesuai dengan sunnah ialah menguburkan seorang muslim di mana dia meninggal dunia, selama tidak ada penghalang yang syar’i.

Hadits ini dicantumkan dalam masalah akidah karena adanya segolongan ahli bid’ah yang mengingkari berita yang disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ini. Mereka menganggap mustahil. Alasannya, karena tidak mungkin Nabi Musa ‘alaihissalam yang mulia akan menampar seorang malaikat. Bantahan atas keraguan dan pengingkaran mereka, telah disebutkan di atas.

Wallahul Muwaffiq.

Mukjizat sebagai Tanda Kenabian

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِذَا وَقَعَ الذُّبَابُ فِي شَرَابِ أَحَدِكُمْ فَلْيَغْمِسْهُ ثُمَّ لِيَنْزِعْهُ فَإِنَّ فِي إِحْدَى جَنَاحَيْهِ دَاءً وَالْأُخْرَى شِفَاءً

“Apabila lalat hinggap (menjilat) pada minuman salah seorang kalian, tenggelamkanlah lalat itu lantas angkat (buang) lalat tersebut. Sesungguhnya salah satu sayapnya mengandung racun dan sayap lainnya mengandung penawar.” (HR. al-Bukhari, no. 3320, Abu Dawud no. 3844)

Menurut asy-Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah al-Fauzan hafizhahullah, hadits ini menjelaskan tentang salah satu dari sekian banyak mukjizat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Disebutkan sebagai mukjizat dari sisi kabar yang disampaikan beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam perihal keburukan yang telah Allah Subhanahu wata’ala tetapkan pada seekor lalat, dan kebaikan (penawar) yang Allah Subhanahu wata’ala lekatkan pula pada lalat tersebut. Hal ini tidaklah bisa dikabarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kecuali melalui wahyu. Sebab, urusan ini bersifat gaib, tak satu pun makhluk mengetahuinya. Ini termasuk mukjizat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. (Tashil al-Ilmam bi Fiqh lil Ahadits min Bulughil al-Maram, I/63)

Dalam kisah lain, saat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bepergian bersama para sahabat , di tengah-tengah perjalanan mereka kehabisan air. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus Ali dan seorang sahabat lainnya guna mencari air. Ketika mencari air, Ali dan seorang sahabat ini bertemu dengan seorang wanita bersama untanya. Pada unta milik si wanita terdapat dua tempat air yang tergantung. Lantas keduanya bertanya kepada wanita tersebut letak sumber mata air. Keduanya menyangka bahwa sumber mata air dekat. Wanita itu menjelaskan bahwa untuk memperoleh air itu ia harus berjalan sejak kemarin. Ini menunjukkan bahwa lokasi sumber air sangatlah jauh. Wanita itu pun lantas diminta menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Wanita itu pun memenuhi permintaan keduanya dan berangkat menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Setelah berada di hadapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam meminta untuk mengambil tempat air wanita itu yang tinggal sedikit airnya. Kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam memanggil para sahabat seraya bersabda, “Tuangkan, tuangkan!” Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam meletakkan tangan beliau pada air tersebut. Allah Subhanahu wata’ala pun menjadikan air yang sedikit itu menjadi berkah. Seluruh prajurit muslim yang bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mendapatkan air itu dan berwudhu. Tak hanya itu, mereka pun bisa mengambil air itu dan menyimpannya untuk bekal di perjalanan. Inilah mukjizat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Kisah lain terjadi saat Perang Tabuk.

Pasukan kaum muslimin kehabisan perbekalan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam meminta para sahabat untuk menyembelih sebagian unta yang mereka bawa untuk dimakan. Melihat hal itu, Umar bin al- Khaththab radhiyallahu ‘anhu menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, “Wahai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, engkau memperkenankan para sahabat menyembelih untanya. Saya khawatir bakal kehabisan bekal lagi (yaitu, jika unta-unta itu disembelih, mereka hendak berkendara apa, padahal jarak ke tempat yang dituju masih jauh).” Kata Umar, “Saya usul, bagaimana jika engkau meminta para sahabat untuk mengumpulkan perbekalan mereka yang tersisa lalu engkau doakan agar mendapat berkah?” Jawab beliau, “Ya, baik.”

Kemudian diserulah para sahabat agar mengumpulkan bekal yang tersisa. “Barang siapa masih memiliki sedikit bekal, datanglah kemari seraya membawa bekalnya!” seruan itu menggema. Dibentangkanlah permadani. Ada yang menyerahkan sisa kurmanya. Ada pula yang menyerahkan tepung. Terkumpullah segala bentuk bekal yang ada pada mereka. Lantas, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mendatangi tempat dikumpulkannya perbekalan. Beliau pun mendoakan keberkahannya. Setelah itu, para sahabat diperintah untuk mengambilnya. Mereka mengambil dalam keadaan penuh. Mereka membawa bekal yang tak sedikit lagi. Inilah mukjizat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Pernah disajikan susu kepada Rasulullah. Saat itu beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bersama Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu di Madinah. Setelah ada suguhan, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam meminta agar ahlu shuffah dipanggil. Ahlu shuffah adalah orang-orang yang menetap di masjid Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam karena ingin menuntut ilmu. Saat itu jumlah mereka tujuh puluh orang. Ahlu shuffah itu pun berdatangan. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mendoakan susu itu agar diberkahi. Selanjutnya, beliau memerintahkan kepada Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu untuk membagikan susu tersebut. Orang-orang pun lantas meminum susu hingga kenyang. Begitu pun Abu Hurairah z turut meminumnya hingga kenyang pula. Setelah semua orang minum, barulah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam minum. Ini termasuk mukjizat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. (Tashil al-Ilmam, I/81—82)

Beragam mukjizat telah dijelaskan oleh as-Sunnah, di antaranya kisah memancarnya air dari jari-jemari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan sebagainya. Termasuk mukjizat adalah al-Qur’an al-Aziz sendiri, yang merupakan kalamullah.

Ragam Khawariqul ’Adah

Menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Shallallahu ‘alaihi wasallam, mukjizat para nabi adalah tandatanda dan bukti-bukti kenabian mereka. Karena itu, mendasarkan pada beberapa petunjuk, untuk membedakan status kenabian yang melekat pada seseorang di antaranya bisa dilihat dari peristiwaperistiwa di luar kebiasaan yang terjadi padanya. Adapun ragam khawariqul ’adah (hal-hal di luar kebiasaan) di antaranya sebagai berikut.

1. Hal-hal di luar kebiasaan tersebut bisa terjadi lantaran kebaikan dan takwa yang ada pada dirinya. Macam khawariqul ’adah seperti ini melingkupi Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para pengikutnya. Beberapa peristiwa di luar kebiasaan yang terjadi dilatari oleh faktor agama dan kebutuhan kaum muslimin.

2. Hal-hal di luar kebiasaan itu terjadi karena faktor yang bersifat mubah. Misalnya, orang yang dibantu oleh jin untuk menyelesaikan kebutuhankebutuhannya yang bersifat mubah. Khawariqul ’adah semacam ini bersifat pertengahan. Bukan tingkatan yang tinggi atau rendah. Ini serupa dengan bentuk memperkerjakan jin yang dilakukan oleh Nabi Sulaiman ‘Alaihissalam. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

يَعْمَلُونَ لَهُ مَا يَشَاءُ مِن مَّحَارِيبَ وَتَمَاثِيلَ وَجِفَانٍ كَالْجَوَابِ وَقُدُورٍ رَّاسِيَاتٍ ۚ اعْمَلُوا آلَ دَاوُودَ شُكْرًا ۚ وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ

“Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedunggedung yang tinggi, patung-patung, serta piring-piring (yang besar) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungkunya). Bekerjalah wahai keluarga Dawud untuk bersyukur (kepada Allah), dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.” (Saba: 13)

Demikian pula Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah diutus kepada kalangan jin, mendakwahi mereka agar beriman dan beribadah kepada Allah Subhanahu wata’ala sebagaimana beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam diutus kepada kalangan manusia.

3. Hal-hal yang di luar kebiasaan itu disebabkan oleh faktor yang haram, seperti kemaksiatan, kezaliman, dan kesyirikan, atau melalui perkataan batil. Jenis ini merupakan macam khawariqul ’adah para tukang sihir, dukun, kafir, dan para pendurhaka. Contohnya, ahlul bid’ah dari kalangan tarekat (sufi) Rifaiyah dan selainnya. Mereka meminta bantuan melalui cara-cara yang berselubung kesyirikan, membunuh jiwa tanpa hak, dan maksiat. Padahal Allah Subhanahu wata’ala telah mengharamkan tiga macam perbuatan tersebut. Firman-Nya,

وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ ۚ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ يَلْقَ أَثَامًا

“Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan alasan yang benar dan tidak berzina. Barang siapa melakukan hal itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya).” ( al-Furqan: 68) ( an- Nubuwat, hlm. 27—28)

Salah satu tanda kenabian diiringi dengan kejadian di luar kebiasaan. Namun, maknanya bukan hal-hal di luar kebiasaan yang diperuntukkan bagi kalangan manusia biasa. Inilah hakikat mukjizat. Sebab, bisa saja kejadiankejadian yang di luar kebiasaan itu terjadi melalui cara-cara sihir dan perdukunan. Jika khawariqul ’adah itu terjadi melalui cara-cara perdukunan atau sihir, hal seperti itu bukan termasuk khawariqul adah yang menjadi tanda kenabian. Ilustrasi peristiwa ini bisa dicermati dari kisah Nabi Musa ‘Alaihissalam melawan para tukang sihir Fir’aun. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

فَأَجْمِعُوا كَيْدَكُمْ ثُمَّ ائْتُوا صَفًّا ۚ وَقَدْ أَفْلَحَ الْيَوْمَ مَنِ اسْتَعْلَىٰ () قَالُوا يَا مُوسَىٰ إِمَّا أَن تُلْقِيَ وَإِمَّا أَن نَّكُونَ أَوَّلَ مَنْ أَلْقَىٰ () قَالَ بَلْ أَلْقُوا ۖ فَإِذَا حِبَالُهُمْ وَعِصِيُّهُمْ يُخَيَّلُ إِلَيْهِ مِن سِحْرِهِمْ أَنَّهَا تَسْعَىٰ () فَأَوْجَسَ فِي نَفْسِهِ خِيفَةً مُّوسَىٰ () قُلْنَا لَا تَخَفْ إِنَّكَ أَنتَ الْأَعْلَىٰ () وَأَلْقِ مَا فِي يَمِينِكَ تَلْقَفْ مَا صَنَعُوا ۖ إِنَّمَا صَنَعُوا كَيْدُ سَاحِرٍ ۖ وَلَا يُفْلِحُ السَّاحِرُ حَيْثُ أَتَىٰ

Maka himpunkan segala macam daya  (sihir) kamu sekalian, kemudian datanglah dengan berbaris, dan sesungguhnya beruntunglah orang yang menang pada hari ini. (Setelah mereka berkumpul) berkata, “Hai Musa (pilihlah), apakah kamu yang melemparkan (dahulu) atau kamilah orang yang mula-mula melemparkan?” Musa menjawab, “Silakan kamu sekalian melemparkan.” Tiba-tiba tali dan tongkat mereka, terbayang pada Musa seakan-akan merayap cepat lantaran sihir mereka. Musa pun merasa takut dalam hatinya. Kami berkata, “Janganlah kamu merasa takut, sesungguhnya kamulah yang paling unggul (menang)! Lemparkanlah apa yang ada di tangan kananmu, niscaya ia akan menelan apa yang mereka perbuat. Sesungguhnya apa yang mereka perbuat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). Tidak akan menang tukang sihir itu dari mana pun dia datang.” (Thaha: 64—69)

Kisah di atas menggambarkan dua fenomena yang bersifat di luar kebiasaan. Satu dalam bentuk mukjizat, sedangkan yang lain dalam bentuk sihir. Karena itu, segala bentuk keanehan, keluarbiasaan, dan keajaiban yang terjadi lantaran sihir dan perdukunan tidak memiliki kesamaan dengan ma’unah, karamah wali, apalagi mukjizat. Menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Subhanahu wata’ala, hal-hal yang di luar kebiasaan yang ditimbulkan oleh sihir atau perdukunan terjadi melalui bantuan jin. Sebelumnya, kalangan jin membuat kesepakatan dengan para penyihir dan dukun (tukang ramal dan paranormal) dalam halhal yang melanggar syariat, seperti membunuh atau menyakiti orang lain (sebagai tumbal). Kesepakatan (sebagai syarat) itu bisa dalam bentuk kesyirikan dan bid’ah.

Banyak manusia teperdaya dan tertipu lantaran hal ini. Keanehan, keajaiban, dan peristiwa-peristiwa di luar kebiasaan tersebut dikira merupakan karamah. Padahal, itu berasal dari kalangan setan (jin). Kisah-kisah pengultusan terhadap kiai atau rohaniawan yang terbiasa melakukan bid’ah, khurafat, dan maksiat, selalu dibumbui dengan bentuk-bentuk khawariqul ’adah (kejadian-kejadian di luar kebiasaan) ini. Contoh yang masyhur dan klasik yang beredar di masyarakat adalah Kiai Fulan yang tidak menunaikan shalat Jumat di Indonesia, tetapi di Makkah, atau kisah-kisah semisal yang sengaja atau tidak, telah diedarkan di masyarakat. Kisah-kisah itu akan menimbulkan pelabelan sebagai kiai yang memiliki karamah. Dalam bahasa yang dikemas lebih anggun, “kiai karismatik”.

Siapakah Yang Berhak Mendapat Karamah?

Al-Imam al-Allamah Muhammad bin Ali asy-Syaukani rahimahumallah menjelaskan bahwa orang-orang yang tergolong para wali Allah Subhanahu wata’ala adalah mereka yang beriman kepada Allah Subhanahu wata’ala, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, serta beriman kepada takdir-Nya yang baik atau buruk. Mereka harus menegakkan apa yang telah diwajibkan Allah Subhanahu wata’ala atasnya, meninggalkan apa yang telah dilarang oleh Allah Subhanahu wata’ala dan senantiasa memperbanyak ketaatan kepada-Nya. Orang yang seperti inilah yang termasuk para wali Allah Subhanahu wata’ala. Mereka berhak menyandang karamah yang tidak menyelisihi syariat.

Karamah ini adalah karunia dari Allah Subhanahu wata’ala, dan tidak halal bagi seorang muslim mengingkarinya. Barang siapa memiliki sifatsifat yang berlawanan dengan yang disebutkan di atas, dia bukan wali Allah Subhanahu wata’ala melainkan bala tentara setan. Adapun “karamah”nya adalah bentuk kesamaran yang dilemparkan oleh setan terhadap dirinya dan umat manusia. Yang seperti ini bukanlah hal yang aneh dan tak bisa diingkari, karena kebanyakan mereka menjadikan jin sebagai pembantunya. Para setan dari kalangan jin membantunya berbuat kejelekan, bahkan melakukan halhal yang diharamkan. (Qathru al-Wali ‘ala al-Hadits al-Wali, hlm. 64—65)

Kisah Para Wali Allah Subhanahu wata’ala

Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

إِذْ يُغَشِّيكُمُ النُّعَاسَ أَمَنَةً مِّنْهُ وَيُنَزِّلُ عَلَيْكُم مِّنَ السَّمَاءِ مَاءً لِّيُطَهِّرَكُم بِهِ وَيُذْهِبَ عَنكُمْ رِجْزَ الشَّيْطَانِ وَلِيَرْبِطَ عَلَىٰ قُلُوبِكُمْ وَيُثَبِّتَ بِهِ الْأَقْدَامَ

“Ingatlah ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penenteraman dari-Nya, dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk menyucikanmu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu gangguangangguan setan dan untuk menguatkan hatimu dan dan memperteguh denganmu telapak kakimu.” (al-Anfal: 11)

Abu Thalhah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Saya saat itu ditimpa kantuk pada Hari Uhud. Pedang pun jatuh dari tangan saya berkali-kali. Saat jatuh, saya ambil. Jatuh lagi, saya ambil lagi. Saya melihat mereka (para sahabat), mereka pun dalam keadaan terkantuk-kantuk di bawah perisai kulit.” Menurut Ibnu Katsir rahimahumallah , “Kantuk memang menimpa kalangan para sahabat pada Hari (Perang) Uhud. Adapun ayat ini terkait kisah (Perang) Badar. Ini menunjukkan peristiwa yang sama. Saat itu orang-orang beriman mengalami kegoncangan jiwa yang luar biasa. Kejadian (mengantuk) itu menyebabkan hati mereka aman dan tenang dengan pertolongan Allah Subhanahu wata’ala. Ini adalah karunia dan rahmat dari Allah Subhanahu wata’ala serta nikmat atas mereka.” (Mukhtashar Tafsir al- Quran al-Azhim, 2/108)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, Sesungguhnya Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

“Barang siapa memusuhi wali-Ku, sungguh Aku akan umumkan perang terhadapnya. Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada sesuatu yang telah Aku wajibkan kepadanya. Senantiasa hamba- Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan (amalan) sunnah hingga Aku mencintai- Nya. Apabila Aku telah mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang dia mendengar dengannya, penglihatannya yang dengan penglihatan itu dia melihat, Aku menjadi tangannya yang dengan tangan itu dia bertindak, dan menjadi kakinya yang dengan itu dia melangkah. Jika dia meminta, sungguh akan Aku beri. Jika dia minta perlindungan kepada- Ku, niscaya Aku lindungi dia.” ( HR. al-Bukhari, no. 2502)

Mukjizat adalah tanda dan bukti kenabian. Mengimaninya merupakan bentuk keimanan terhadap para rasul Allah Subhanahu wata’ala. Berbeda halnya dengan orang-orang yang mengingkarinya dan menganggapnya bagian dari mimpi. Al-Farabi dan filosof yang semisalnya memiliki anggapan demikian. Tentu saja, ini adalah pemahaman yang salah. Hanya orang-orang berimanlah yang tunduk hatinya kepada apa yang dibawa oleh para rasul Allah Subhanahu wata’ala. Wallahu a’lam.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafruddin

Berita-Berita Mukjizat Nabi dan Rasul

Di antara perkara yang wajib diyakini, setiap nabi dan rasul pasti membawa bukti-bukti kebenaran dakwah mereka, sebagaimana dikabarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya,

مَا مِنَ الْأَنْبِيَاءِ مِنْ نَبِيٍّ إِلاَّ قَدْ أُعْطِيَ مِنَ الْآيَاتِ مَا مِثْلُهُ آمَنَ عَلَيْهِ الْبَشَرُ

“Tidak ada seorang nabi pun, kecuali diberi bukti-bukti (mukjizat) yang dengan semisal itu manusia beriman.” ( HR. Muslim)

Bukti-bukti inilah yang disebut sebagai ayat, bayyinat, atau burhan, yang kemudian lebih masyhur dengan sebutan mukjizat, meskipun kata terakhir ini lebih sempit maknanya. Mukjizat nabi dan rasul, secara global bukanlah pembahasan yang asing bagi kaum muslimin. Namun, sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah sabdakan, Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali menjadi asing, demikian pula pemahaman yang benar tentang mukjizat pada kebanyakan manusia.

Sebagai contoh, sebagian kelompok Islam sempalan tidak meyakini adanya mukjizat, bahkan tidak meyakini keberadaannya. Mereka meniru kaum yang tidak memercayai adanya Rabbul ‘Alamin, yakni kelompok atheis. Sebagian lagi meyakini keberadaan mukjizat namun memandangnya dengan tinjauan yang menyimpang. Di antara mereka melampaui batas dalam menetapkan mukjizat sehingga menetapkan mukjizat-mukjizat yang tidak ditetapkan oleh syariat dan tidak disahkan oleh dalil yang sahih. Mereka menetapkan mukjizat melalui berita-berita maudhu’ (palsu), bahkan bertentangan dengan pokok-pokok Islam. Kaum Sufi ekstrem misalnya. Mereka menetapkan ilmu gaib bagi Rasulullah n. Beliau diyakini mengetahui segala yang ada di Lauhul Mahfuzh.

Padahal hanya di sisi Allah Subhanahu wata’ala sajalah ilmu gaib. Sebagian mereka menetapkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mampu mengatur alam setelah wafatnya. Sungguh, keyakinan ini bertentangan dengan al-Kitab dan as-Sunnah, bahkan termasuk bentuk kekufuran kepada Allah Subhanahu wata’ala.

Sayyid Quthub Bicara Soal Mukjizat

Pemikiran-pemikiran yang salah mengenai mukjizat ternyata memengaruhi sebagian tokoh yang dipuja dan disanjung, semisal Sayyid Quthub. Tokoh Ikhwanul Muslimin ini memiliki cara pandang yang salah terhadap masalah mukjizat para rasul secara umum. Katanya, Sesungguhnya Islam (yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam) tidak menghendaki paksaan dan tekanan sebagai metode agar manusia memeluk Islam, dengan segala bentuknya. Sampai pun bentuk pemaksaan akal dalam kemasan mukjizat juga tidak. (Mukjizat) bukan salah satu dari jalan-jalan keislaman. Berbeda halnya dengan agamaagama sebelumnya (yakni nabi dan rasul sebelum Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam), seperti sembilan ayat (mukjizat) yang dibawa oleh Nabi Musa ‘Alaihissalam, demikian pula mukjizat Nabi Isa q yang bisa berbicara di masa bayinya, menghidupkan orang mati, serta menyembuhkan kebutaan dan peyakit sopak….

Islam menghendaki berkomunikasi dengan kemampuan akal yang dimiliki oleh manusia dan bersandar padanya untuk meyakinkan mereka tentang kebenaran syariat Islam dan akidah (kemudian menerimanya tanpa adanya paksaan), (bukan dengan menampakkan mukjizat yang merupakan bentuk pemaksaan akal, -pen.). Itu semua sesuai dengan landasan umum (Islam) berupa penghormatan dan pemuliaan manusia.” Perhatikan bagaimana Sayyid Qutub memandang mukjizat dengan keliru. Di satu sisi dia menetapkan mukjizat para nabi sebelum Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, namun menganggapnya sebagai bentuk pemaksaan beragama. Alhasil, pokok pemikiran dia dalam masalah mukjizat yang bisa kita pahami dari ucapannya adalah sebagai berikut.

1. Dia menganggap mukjizat adalah cara meyakinkan kebenaran yang mengandung unsur pemaksaan, yaitu pemaksaan akal.

2. Hanya Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam sajalah yang mendakwahkan Islam tanpa paksaan dan tekanan, baik fisik maupun akal.

3. Menurutnya, mukjizat mengandung paksaan terhadap akal sehingga tidak sesuai dengan dasar pijakan Islam berupa penghormatan kepada manusia.

Atas dasar itulah , Sayyid berkesimpulan bahwa mukjizat hanya ada pada nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Seakan-akan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak memiliki mukjizat. Perkataan Sayyid ini sangat berbahaya, di samping pemikiranpemikiran lain yang banyak tertera dalam tulisan-tulisannya yang banyak meracuni kepala para pengagum dan pecintanya, seperti dalam tafsirnya Fi Zhilalil Qur’an.

Dalam salah satu bantahan terhadap pemikiran Sayyid, asy-Syaikh Rabi bin Hadi al-Madkhali menanggapi pemikiran Sayyid dalam hal mukjizat, “Sesungguhnya mukjizat yang Allah Subhanahu wata’ala tampakkan melalui tangan para rasul-Nya sama sekali tidak mengandung bentuk tekanan dan paksaan, tidak pula bertentangan dengan pandangan Islam yang menghormati manusia. Mukjizat justru memuliakan para nabi Allah Subhanahu wata’ala dan rasul-Nya, menguatkan mereka, dan membuktikan kebenaran (dakwah mereka). Mukjizat juga memuliakan pengikut para nabi, di samping mengokohkan dan menguatkan iman mereka. Sungguh, Allah Subhanahu wata’ala telah memuliakan Nabi kita, penutup para nabi, rasul yang paling tinggi derajatnya, dengan mukjizat yang tidak terhitung. Banyak disusun karya-karya ulama secara khusus dalam hal ini. Banyak pula kitab hadits yang menukilkan mukjizat-mukjizat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ini.”

Pengertian Mukjizat

Secara bahasa, mukjizat berasal dari kata ( أَعْجَزَ ) yang berarti melemahkan, dari kata dasar ( عَجَزَ ) yang artinya lemah. Adapun secara istilah, mukjizat dimaknakan sebagai suatu peristiwa atau kejadian menakjubkan yang terjadi di luar kebiasaan. Allah Subhanahu wata’ala menampakkan kejadian tersebut melalui tangan para nabi dan rasul-Nya sebagai bukti kebenaran dakwah mereka. Kejadian itu tidak mungkin dikalahkan. Selain itu, mukjizat selalu diiringi dengan pengakuan kenabian. Diistilahkan dengan mukjizat karena apa yang datang dari Allah Subhanahu wata’ala itu membuat manusia lemah untuk mendatangkan yang semisal, apalagi mengalahkannya.

Berita Mukjizat dalam Al-Qur’an

Dalam al-Qur’an tidak ada penyebutan kalimat mukjizat. Buktibukti kebenaran nabi dan rasul disebutkan dalam al-Qur’an dengan kata-kata yang lebih luas maknanya. Bukti-bukti kenabian disebut dengan al-ayat, al-bayyinah, al-burhan, as-sulthan, dan al-basha’ir. Istilah-istilah dalam al-Qur’an inilah yang semestinya digunakan. Namun, yang masyhur di kalangan kaum muslimin adalah penggunaan kata ‘mukjizat’ untuk menyebut bukti-bukti kenabian dan kerasulan. Pembaca yang budiman… Marilah kita tadabburi beberapa ayat yang berisi mukjizat para nabi dan rasul dengan ungkapan-ungkapan al-Qur’an.

وَقَالَ رَجُلٌ مُّؤْمِنٌ مِّنْ آلِ فِرْعَوْنَ يَكْتُمُ إِيمَانَهُ أَتَقْتُلُونَ رَجُلًا أَن يَقُولَ رَبِّيَ اللَّهُ وَقَدْ جَاءَكُم بِالْبَيِّنَاتِ مِن رَّبِّكُمْ ۖ وَإِن يَكُ كَاذِبًا فَعَلَيْهِ كَذِبُهُ ۖ وَإِن يَكُ صَادِقًا يُصِبْكُم بَعْضُ الَّذِي يَعِدُكُمْ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ مُسْرِفٌ كَذَّابٌ

Seorang laki-laki yang beriman di antara pengikut-pengikut Fir’aun yang menyembunyikan imannya berkata, “Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena dia menyatakan, ‘Rabbku ialah Allah,’ padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa bayyinat (keterangan-keterangan) dari Rabbmu. Jika ia seorang pendusta, dialah yang menanggung (dosa) dustanya itu; dan jika ia seorang yang benar, niscaya sebagian (bencana) yang diancamkannya kepadamu akan menimpamu.” Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta. (al- Mu’min: 28)

وَرَسُولًا إِلَىٰ بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنِّي قَدْ جِئْتُكُم بِآيَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ ۖ أَنِّي أَخْلُقُ لَكُم مِّنَ الطِّينِ كَهَيْئَةِ الطَّيْرِ فَأَنفُخُ فِيهِ فَيَكُونُ طَيْرًا بِإِذْنِ اللَّهِ ۖ وَأُبْرِئُ الْأَكْمَهَ وَالْأَبْرَصَ وَأُحْيِي الْمَوْتَىٰ بِإِذْنِ اللَّهِ ۖ وَأُنَبِّئُكُم بِمَا تَأْكُلُونَ وَمَا تَدَّخِرُونَ فِي بُيُوتِكُمْ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً لَّكُمْ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

Dan (sebagai) rasul kepada bani Israil (yang berkata kepada mereka), “Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa ayat (sesuatu tanda) dari Rabbmu, yaitu aku membuat untuk kamu dari tanah berbentuk burung; kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan izin Allah. Aku juga menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak. Aku juga menghidupkan orang mati dengan izin Allah; dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada hal itu ada suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu sungguh-sungguh beriman.” (Ali ‘Imran: 49)

فَلَمَّا أَتَاهَا نُودِيَ مِن شَاطِئِ الْوَادِ الْأَيْمَنِ فِي الْبُقْعَةِ الْمُبَارَكَةِ مِنَ الشَّجَرَةِ أَن يَا مُوسَىٰ إِنِّي أَنَا اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ () وَأَنْ أَلْقِ عَصَاكَ ۖ فَلَمَّا رَآهَا تَهْتَزُّ كَأَنَّهَا جَانٌّ وَلَّىٰ مُدْبِرًا وَلَمْ يُعَقِّبْ ۚ يَا مُوسَىٰ أَقْبِلْ وَلَا تَخَفْ ۖ إِنَّكَ مِنَ الْآمِنِينَ () اسْلُكْ يَدَكَ فِي جَيْبِكَ تَخْرُجْ بَيْضَاءَ مِنْ غَيْرِ سُوءٍ وَاضْمُمْ إِلَيْكَ جَنَاحَكَ مِنَ الرَّهْبِ ۖ فَذَانِكَ بُرْهَانَانِ مِن رَّبِّكَ إِلَىٰ فِرْعَوْنَ وَمَلَئِهِ ۚ إِنَّهُمْ كَانُوا قَوْمًا فَاسِقِينَ

Maka tatkala Musa sampai ke (tempat) api itu, diserulah dia dari (arah) pinggir lembah yang diberkahi, dari sebatang pohon kayu, yaitu, “Wahai Musa, sesungguhnya Aku adalah Allah, Rabb semesta alam, dan lemparkanlah tongkatmu.” Tatkala (tongkat itu menjadi ular dan) Musa melihatnya bergerakgerak seolah-olah seekor ular yang gesit, larilah ia berbalik ke belakang tanpa menoleh. (Kemudian Musa diseru), “Hai Musa, datanglah kepada-Ku dan janganlah kamu takut. Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang aman. Masukkanlah tanganmu ke leher bajumu, niscaya ia keluar putih tidak bercacat bukan karena penyakit, dan dekapkanlah kedua tanganmu (ke dada) mu bila ketakutan. Itulah dua burhan (mukjizat) dari Rabbmu (yang akan kamu hadapkan) kepada Firaun dan para pembesarnya. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang fasik.” (al- Qashash: 30—32)

وَلَقَدْ آتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ مِن بَعْدِ مَا أَهْلَكْنَا الْقُرُونَ الْأُولَىٰ بَصَائِرَ لِلنَّاسِ وَهُدًى وَرَحْمَةً لَّعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

“Sesungguhnya telah Kami berikan kepada Musa al-Kitab (Taurat) sesudah Kami binasakan generasi-generasi yang terdahulu, untuk menjadi pelita bagi manusia dan petunjuk dan rahmat, agar mereka ingat.” (al-Qashash: 43)

Mukjizat Sesuai dengan Zaman Diturunkannya

Mukjizat sering berisi tantangan terhadap hal-hal yang sedang menjadi kebanggaan kaum kafir pada zaman diturunkannya mukjizat. Hal ini sesungguhnya salah satu bentuk rahmat Allah Subhanahu wata’ala. Tatkala manusia bangga dengan sesuatu yang menyebabkan mereka berpaling dari Allah Subhanahu wata’ala, Allah Subhanahu wata’ala mengutus rasul-Nya dengan mukjizat yang mengalahkan dan mematahkan apa yang mereka banggakan. Dengan demikian, diharapkan mereka lebih memahami mukjizat dan mengakui bahwa mukjizat datang dari sisi Allah Subhanahu wata’ala.

Di zaman Nabi Musa ‘Alaihissalam, sihir menempati kedudukan yang tinggi dalam peradaban Mesir. Allah Subhanahu wata’ala pun mengutus Nabi Musa ‘Alaihissalam dengan mukjizat yang sesuai dengan keadaan kaumnya yang bangga dengan ilmu sihir. Tongkat Nabi Musa ‘Alaihissalam berubah menjadi ular mengalahkan tukang sihirtukang sihir Fir’aun. Saat itu tukangtukang sihir Fir’aun sujud kepada Allah Subhanahu wata’ala karena menyaksikan kebesaran-Nya dan meyakini bahwa apa yang mereka lihat bukanlah sihir.

وَأُلْقِيَ السَّحَرَةُ سَاجِدِينَ () قَالُوا آمَنَّا بِرَبِّ الْعَالَمِينَ () رَبِّ مُوسَىٰ وَهَارُونَ

Ahli-ahli sihir itu serta-merta meniarapkan diri dengan bersujud. Mereka berkata, “Kami beriman kepada Rabb semesta alam, (yaitu) Rabb Musa dan Harun.” (al-A’raf: 120—122)

Lebih dari itu, tongkat Nabi Musa ‘Alaihissalam membelah Laut Merah menjadi jalan-jalan kering bagi bani Israil. Subhanallah, sihir mana yang mampu membelah samudra? Jangankan samudra, membelah air dalam panci pun tak ada seorang pun mampu melakukannya.

فَأَوْحَيْنَا إِلَىٰ مُوسَىٰ أَنِ اضْرِب بِّعَصَاكَ الْبَحْرَ ۖ فَانفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرْقٍ كَالطَّوْدِ الْعَظِيمِ

Lalu Kami wahyukan kepada Musa, “Pukullah lautan itu dengan tongkatmu!” Maka terbelahlah lautan itu dan tiaptiap belahan adalah seperti gunung yang besar. (asy-Syu’ara: 63)

Seharusnya Fir’aun dan bala tentaranya berhenti mengejar Musa dan bersegera beriman ketika menyaksikan tanda yang luar biasa. Namun, hati mereka telah keras sehingga mereka terus memasuki Laut Merah menuju kebinasaan. Ilmu pengobatan. Tabib dan ahli pengobatan mendapatkan kedudukan penting di masa Nabi Isa ‘Alaihissalam. Maka dari itu, di antara mukjizat Isa ‘Alaihissalam adalah menyembuhkan orang buta, menyembuhkan penyakit sopak, bahkan menghidupkan burung dan menghidupkan orang yang sudah mati. Adakah ilmu kedokteran yang mampu menghidupkan orang yang telah mati?

Pada zaman Nabi Shalih ‘Alaihissalam, kaum Tsamud bangga dengan kemampuan mereka menjadikan batu-batu gunung menjadi rumah-rumah tempat tinggal. Allah Subhanahu wata’ala tampakkan mukjizat berupa unta yang keluar dari bebatuan. Allahu Akbar, batu melahirkan unta.

قَالُوا إِنَّمَا أَنتَ مِنَ الْمُسَحَّرِينَ () مَا أَنتَ إِلَّا بَشَرٌ مِّثْلُنَا فَأْتِ بِآيَةٍ إِن كُنتَ مِنَ الصَّادِقِينَ () قَالَ هَٰذِهِ نَاقَةٌ لَّهَا شِرْبٌ وَلَكُمْ شِرْبُ يَوْمٍ مَّعْلُومٍ () وَلَا تَمَسُّوهَا بِسُوءٍ فَيَأْخُذَكُمْ عَذَابُ يَوْمٍ عَظِيمٍ () فَعَقَرُوهَا فَأَصْبَحُوا نَادِمِينَ () فَأَخَذَهُمُ الْعَذَابُ ۗ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً ۖ وَمَا كَانَ أَكْثَرُهُم مُّؤْمِنِينَ

Mereka berkata, “Sesungguhnya kamu adalah salah seorang dari orangorang yang kena sihir. Kamu tidak lain seorang manusia seperti kami; maka datangkanlah sesuatu mukjizat, jika kamu memang termasuk orang-orang yang benar.” Shalih menjawab, “Ini seekor unta betina, ia mempunyai giliran untuk mendapatkan air, dan kamu mempunyai giliran pula untuk mendapatkan air di hari yang tertentu. Janganlah kamu sentuh unta betina itu dengan sesuatu kejahatan, yang menyebabkan kamu akan ditimpa oleh azab hari yang besar.” Kemudian mereka membunuhnya, lalu mereka menjadi menyesal, maka mereka ditimpa azab. Sesungguhnya pada hal itu benar-benar terdapat bukti yang Mukjizat dan Karamah, di Tengah Penyimpangan Akidah nyata. Adalah kebanyakan mereka tidak beriman. (asy-Syu’ara: 153—158)

Demikian pula pada zaman Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Manusia sangat bangga dengan sastra, maka saat itulah diturunkan al-Qur’an sebagai salah satu mukjizat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, bahkan yang terbesar dan kekal, di samping sekian banyak bukti lain yang dibawa oleh beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam. Nabi yang pada saat itu tidak bisa membaca dan menulis bisa menunjukkan al-Qur’an yang diyakini oleh umat muslim memiliki nilai sastra tinggi. Tidak hanya dari cara pemilihan kata-kata, tetapi juga kedalaman makna yang terkandung di dalamnya. Karena itu, al-Qur’an dapat terus digunakan sebagai rujukan hukum yang tertinggi sejak masa hidup Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sampai akhir zaman nanti. Kemukjizatan al-Qur’an akan kita bahas secara khusus, insya Allah.

Karya-Karya Ulama tentang Mukjizat

Meyakini mukjizat nabi dan rasul termasuk bagian iman kepada Allah Subhanahu wata’alal dan iman kepada rasul-rasul-Nya. Mengingat pentingnya masalah ini, ulama Ahlus Sunnah mencurahkan perhatian yang sangat besar untuk menyebarkan berita-berita mukjizat kepada umat. Muncullah karya-karya yang memuat berita-berita tersebut, seperti kitab-kitab sirah, kitab-kitab Syamail, demikian pula kitab-kitab hadits yang banyak menukilkan riwayat-riwayat mengenai mukjizat. Dalam Shahih Muslim misalnya, al-Imam Muslim Subhanahu wata’ala membuat sebuah pembahasan khusus berjudul Kitab Fadhail, yang memuat beberapa pembahasan mukjizat dan keutamaan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Bahkan, secara khusus telah dikumpulkan riwayat-riwayat tentang mukjizat rasul dalam karya-karya ilmiah. Di antara tulisan ulama baik yang terbit atau masih dalam bentuk manuskrip adalah:

Ayatun Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, Ali bin Muhammad al-Madaini (210 H)

Amarat an-Nubuwwah, Ibrahim bin Ya’qub al-Jauzajani (259 H)

Dalail an-Nubuwah, Ubaidullah bin Abdul Karim ar-Razi Abu Zur’ah (264 H)

A’lamun Nubuwwah, al-Imam Abu Dawud Sulaiman bin al-Asy-’ats (275 H)

A’lamur Rasul al-Munazzalah ‘ala Rusulihi, Abdullah bin Muslim bin Qutaibah (276 H)

Dalail an-Nubuwah, Ibrahim bin al-Haitsam al-Baladi (277 H)

Dalail an-Nubuwah, Abdullah bin Muhammad bin Abid Dunya (281 H)

Dalail an-Nubuwah, Ibrahim bin Ishaq al-Harby (285 H)

Dalail an-Nubuwah, Ja’far bin Muhammad bin al-Hasan al-Firyabi (301 H)

Dalail an-Nubuwah, Tsabit bin Hazm as-Sarqasthi (313 H)

Dalail an-Nubuwah, Abu Bakr Muhammad bin al-Hasan an-Naqqasy, al-Muqri (351 H)

Dalail an-Nubuwah, Abu asy- Syaikh Abdullah bin Muhammad bin Hayyan al-Ashbahani (369 H)

Dalail an-Nubuwah, Abu Nu’aim Ahmad bin Abdillah al-Ashbahani (430 H)

Dalail an-Nubuwah, Sulaiman bin Ahmad ath-Thabarani (430 H)

al-Arba’una Haditsan ad-Dalah ‘ala Nubuwatihi ‘Alahissalam, Ali bin al-Hasan bin Hibatullah, Ibnu ‘Asakir (571 H)

Dalail an-Nubuwah, al-Hafizh Ahmad bin al-Husain al-Baihaqi. Masih banyak karya ulama lainnya tentang masalah ini. Wallahu a’lam.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc.