Arti Nama Allah: Al-Khaliq

Salah satu nama Allah adalah al-Khaliq (الْخَالِقُ).

Arti Nama Allah Al-Khaliq

Kata al-Khaliq dalam bahasa Arab memiliki dua makna. Abu Bakr al-Anbari mengatakan (sebagaimana dalam Tahdzibul Lughah karya al-Azhari),

Al-Khalqu (sebagai akar kata al-Khaliq) dalam bahasa Arab memiliki dua makna:

  • Salah satunya adalah menciptakan sesuai dengan contoh yang dia buat dan baru (tidak ada yang sepertinya sebelumnya).
  • Yang kedua adalah taqdir (menetapkan ukuran atau bentuk sesuatu yang akan diciptakan).”

Ungkapan,

خَلَقْتُ الْأَدِيمَ لِلسِّقَاءِ

sama dengan

قَدَّرْتُ الْأَدِيمَ لِلسِّقَاءِ

Artinya, aku menetapkan ukuran kulit dan bentuknya sebelum dipotong-potong untuk kubuat tempat air. (lihat Tahdzibul Lughah, ash-Shihah fil Lughah, dan al-Mishbahul Munir karya al-Fayyumi)

Baca juga: Arti Nama Allah: Al-Bari’

Jadi, kita mendapatkan penjelasan para ulama tentang dua arti atau makna nama Allah al-Khaliq.

  1. Yang menetapkan bentuk atau ukuran sesuatu yang hendak Dia ciptakan.

Hal ini ditegaskan oleh beberapa ulama, di antaranya Ibnu Katsir dalam tafsir surah al-Hasyr dan Syaikh Hafizh al-Hakami dalam bukunya, Ma’arijul Qabul.

Oleh karena itu, di antara makhluk-Nya ada yang kecil, yang besar, yang panjang, yang pendek, manusia, hewan berkaki empat, binatang melata, dan burung. (al-Asma wash Shifat karya al-Baihaqi)

Di antara ayat yang bermakna demikian adalah firman-Nya,

فَتَبَارَكَ ٱللَّهُ أَحۡسَنُ ٱلۡخَٰلِقِينَ

“Maka Mahasuci Allah, Pencipta Yang Paling Baik.” (al-Mu`minun: 14)

Al-Azhari menukilkan dari Abu Bakr al-Anbari bahwa maknanya adalah Ahsanul muqaddirin, yaitu sebaik-baik yang menetapkan bentuk dan ukuran yang hendak diciptakan.

Tampaknya juga, di antara dalil yang menjelaskan makna tersebut adalah hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam,

قَدَّرَ اللهُ الْمَقَادِيرَ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ

 “Allah telah menakdirkan takdir-takdir makhluk, lima puluh ribu tahun sebelum Dia menciptakan langit-langit dan bumi.” (HR. Muslim, at-Tirmidzi, dan Ibnu Hibban; ini adalah lafaz keduanya)

Al-Azhari mengatakan, “Allah yang menetapkan bentuk dan ukuran apa yang akan terjadi. Dia pula yang mewujudkannya sesuai dengan ketentuan-Nya tersebut.” (Tahdzibul Lughah)

  1. Yang menciptakan sesuatu sesuai dengan contoh yang tidak ada yang mendahuluinya.

Jadi, Dialah yang menciptakan segala sesuatu yang sebelumnya tidak ada. Termasuk maknanya juga adalah al-Muqallib, yakni yang mengubah dari satu bentuk ke bentuk yang lain. Hal ini sebagaimana firman-Nya,

خَلَقَكُم مِّن نَّفۡسٍ وَٰحِدَةٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنۡهَا زَوۡجَهَا وَأَنزَلَ لَكُم مِّنَ ٱلۡأَنۡعَٰمِ ثَمَٰنِيَةَ أَزۡوَٰجٍۚ يَخۡلُقُكُمۡ فِي بُطُونِ أُمَّهَٰتِكُمۡ خَلۡقًا مِّنۢ بَعۡدِ خَلۡقٍ فِي ظُلُمَٰتٍ ثَلَٰثٍۚ ذَٰلِكُمُ ٱللَّهُ رَبُّكُمۡ لَهُ ٱلۡمُلۡكُۖ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَۖ فَأَنَّىٰ تُصۡرَفُونَ

“Dia menciptakan kamu dari satu diri, kemudian Dia jadikan darinya istrinya, dan Dia menurunkan untuk kamu delapan ekor yang berpasangan dari binatang ternak. Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan. Yang (berbuat) demikian itu adalah Allah, Rabb kamu, Rabb Yang mempunyai kerajaan. Tidak ada Rabb (yang berhak disembah) selain Dia; maka bagaimana kamu dapat dipalingkan?” (az-Zumar: 6)

Baca juga: Arti Nama Allah: Ar-Razzaq

Semua selain Allah adalah makhluk-Nya yang diatur oleh-Nya. Tiada pencipta selain Dia. Seluruh langit dan bumi, apa yang ada di dalamnya, serta apa yang ada di antara keduanya, berikut gerakan penghuninya, diamnya mereka, rezeki mereka, ajal mereka, ucapan serta perbuatan mereka, adalah makhluk Allah yang baru diadakan setelah ketiadaannya. Allah lah Pencipta itu semuanya. Dialah yang mengadakannya, yang memulai penciptaannya, dan yang mengembalikannya lagi. Jadi, dari-Nyalah permulaannya dan kepada-Nyalah kembalinya. (Ma’arijul Qabul)

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan, “Allah berfirman menerangkan kebatilan sembahan-sembahan orang-orang kafir,

أَفَمَن يَخۡلُقُ كَمَن لَّا يَخۡلُقُۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ

“Maka, apakah (Allah) yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan (apa-apa)? Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (an-Nahl: 17)

Maka dari itu, Dialah Allah, satu-satu-Nya Sang Pencipta. Dialah yang menciptakan segala sesuatu dan menakdirkannya dengan sebenar-benarnya.

Perbuatan Hamba Adalah Ciptaan Allah

Penciptaan-Nya mencakup segala yang diciptakan langsung oleh-Nya dan apa yang diciptakan oleh makhluk-Nya. Oleh karena itu, di antara kesempurnaan iman kepada takdir adalah beriman bahwa Allah juga menciptakan perbuatan-perbuatan hamba. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَٱللَّهُ خَلَقَكُمۡ وَمَا تَعۡمَلُونَ

“Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.” (ash-Shaffat: 96)

Hal itu ditinjau dari sisi bahwa perbuatan hamba itu termasuk dari sifat hamba tersebut. Sementara itu, seorang hamba adalah makhluk Allah, dan pencipta sesuatu adalah pencipta sifat-sifat sesuatu tersebut.

Tinjauan dari sisi yang lain, perbuatan hamba itu terwujud dengan kemauan yang mantap dan dengan kemampuan yang sempurna. Sementara itu, kemauan dan kemampuan adalah ciptaan Allah. Pencipta sebab yang sempurna berarti Dia juga yang menciptakan akibat dari sebab tersebut.

Apabila dikatakan, bagaimana kita mengompromikan antara mengesakan Allah dengan sifat penciptaan-Nya dengan fakta Allah juga menetapkan sifat mencipta bagi selain-Nya (makhluk)? Firman Allah subhanahu wa ta’ala,

فَتَبَارَكَ ٱللَّهُ أَحۡسَنُ ٱلۡخَٰلِقِينَ

“Maka Mahasuci Allah, Pencipta Yang Paling Baik.” (al-Mu`minun: 14)

Demikian pula dalam hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam tentang (hukuman) bagi orang-orang yang menggambar (makhluk bernyawa). Dikatakan kepada mereka,

أَحْيُوْا مَا خَلَقْتُمْ

“Hidupkanlah apa yang kalian ciptakan.”

Baca juga: Hukum Gambar Makhluk Bernyawa (1)

Jawaban pertanyaan di atas adalah sebagai berikut.

Selain Allah subhanahu wa ta’ala tidak menciptakan sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan. Jadi, yang selain Allah tidak mungkin mewujudkan sesuatu yang tidak ada atau menghidupkan sesuatu yang sudah mati. Ciptaan selain Allah hanyalah dengan mengubah atau memindahkan sesuatu dari satu sifat ke sifat yang lain. Sementara itu, sesuatu tersebut adalah ciptaan Allah.

Seorang pelukis, misalnya. Apabila dia membuat sebuah lukisan, sesungguhnya dia tidak membuat sesuatu yang baru sama sekali. Maksimalnya, dia hanyalah mengubah sesuatu kepada bentuk yang lain. Misalnya, mengubah tanah liat menjadi gambar, bentuk burung, atau unta. Demikian juga mengubah pewarnaan kain yang putih menjadi sebuah lukisan yang berwarna-warni. Tintanya sendiri adalah ciptaan Allah. Kertas putih juga makhluk Allah.

Inilah perbedaan sifat penciptaan yang disandarkan kepada Allah dengan sifat penciptaan yang disandarkan kepada makhluk. Dengan demikian, Allah subhanahu wa ta’ala tetap bersendiri dengan sifat penciptaan yang bermakna khusus bagi-Nya.

Buah Mengimani Nama Allah Al-Khaliq

Di antara buah mengimani nama Allah al-Khaliq, kita mengetahui keluasan ilmu Allah subhanahu wa ta’ala. Sebab, Allah subhanahu wa ta’ala tidak begitu saja dan tiba-tiba menciptakan makhluk yang tak terhitung banyaknya dan ragamnya, baik yang di langit, daratan, maupun lautan. Semuanya itu berdasarkan ilmu, perhitungan, perencanaan, dan penentuan. Kemudian, Allah subhanahu wa ta’ala mewujudkan semuanya itu dalam alam nyata dengan wujud yang sesuai dengan apa yang telah Dia tetapkan sebelumnya. Jadi, keberagaman makhluk dan kehebatan makhluk itu menunjukkan keluasan ilmu Penciptanya dan kehebatan kekuasaan-Nya.

Selain itu, dengan mengimani nama Allah al-Khaliq, kita mengetahui kemahakuasaan Allah subhanahu wa ta’ala. Sebab, makhluk yang luar biasa ini takkan tercipta tanpa kekuasaan yang mahahebat. Dengan begitu, kita sebagai manusia pun menyadari bahwa diri kita sangat lemah dan terbatas dalam hal ilmu dan kekuasaan. Maka dari itu, janganlah kita menyombongkan diri dan melupakan Allah Sang Pencipta Yang Mahakuasa. Hendaknya kita bertawadhu dan mengetahui kadar diri kita masing-masing.

Perlu diketahui juga bahwa segala sembahan selain Allah, apa pun dan siapa pun dia, adalah begitu lemah dan tidak memiliki kemampuan apa-apa. Maka dari itu, sembahan-sembahan tersebut tidak boleh diibadahi atau disembah sama sekali. Hanya Allah lah sembahan yang benar. Hanya Dialah yang berhak untuk diibadahi karena kemahakuasaan-Nya dan karena sifat-sifat-Nya yang mulia seluruhnya.

Wallahu a’lam.

(Ustadz Qomar Z.A., Lc.)