Bergaul dengan Akhlak yang Baik

Mungkin engkau pernah mendengar atau membaca hadits Abu Dzar Al-Ghifari z yang menyebutkan sabda sang Rasul n:

اتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

“Bertakwalah kepada Allah di mana saja engkau berada. Susullah kejelekan dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapuskan kejelekan tersebut, dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Ahmad 5/135, 158, 177, At-Tirmidzi no. 1987, dan selain keduanya. Dihasankan Al-Imam Al-Albani t dalam Shahihul Jami’ no. 97 dan di kitab lainnya)

Hadits ini, kata Asy-Syaikh Al-Allamah Abdurrahman ibnu Nashir As Sa’di t, merupakan hadits yang agung. Di dalamnya, Rasul yang mulia n mengumpulkan hak Allah l dan hak hamba-hamba-Nya. Hak Allah l terhadap hamba-Nya adalah agar mereka bertakwa kepada-Nya dengan sebenar-benar takwa. Mereka berhati-hati dan menjaga diri agar tidak mendapatkan kemurkaan dan azab-Nya, dengan menjauhi perkara-perkara yang dilarang dan menunaikan kewajiban-kewajiban. Wasiat takwa ini merupakan wasiat Allah l kepada orang-orang terdahulu maupun belakangan. Sebagaimana takwa merupakan wasiat setiap rasul kepada kaumnya, di mana sang rasul menyerukan:

“Beribadahlah kalian kepada Allah dan bertakwalah kepada-Nya.” (Nuh: 3)

Tentang perangai orang yang bertakwa ini, Allah l sebutkan antara lain dalam firman-Nya berikut ini:

“Bukanlah menghadapkan wajah kalian ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu adalah beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, ibnu sabil, dan orang-orang yang meminta-minta, dan memerdekakan hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat, dan orang-orang yang menepati janjinya apabila mereka berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang orang yang benar imannya dan mereka itulah orang orang yang bertakwa.” (Al-Baqarah: 177)

“Dan bersegeralah kalian kepada ampunan dari Rabb kalian dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. Yaitu orang-orang yang menafkahkan hartanyà, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Ali ‘Imran: 133-134)

Allah l menyebutkan sifat orang-orang yang bertakwa sebagai orang yang beriman dengan pokok-pokok keimanan (rukun iman), keyakinan-keyakinan, dan amal-amalnya, baik secara zhahir maupun batin, dengan menunaikan ibadah-ibadah badaniyah (yang dilakukan tubuh) dan maliyah (ibadah dengan harta). Orang yang beriman adalah orang yang sabar dalam kesulitan dan kesempitan, memaafkan manusia, menanggung gangguan dari mereka dengan tabah dan justru berbuat baik kepada mereka. Orang-orang yang bertakwa adalah mereka yang bersegera meminta ampun dan taubat manakala mereka terjatuh dalam perbuatan keji atau menzalimi diri mereka sendiri.

Dalam hadits Abu Dzar z di atas, Rasulullah n mewasiatkan agar seorang hamba terus-menerus bertakwa di mana saja dia berada, di setiap waktu dan setiap tempat, serta dalam segala keadaannya. Kenapa demikian? Karena si hamba sangat butuh kepada takwa, tak pernah bisa lepas darinya. Bila sampai lepas, ia akan binasa.

Namun yang namanya manusia mesti ada kekurangannya dalam menjalankan hak-hak dan kewajiban-kewajiban takwa. Maka Rasulullah n memerintahkan untuk melakukan perkara yang dapat membersihkan cacat tersebut dan menghilangkannya. Yaitu, bila sampai si hamba jatuh dalam kejelekan maka ia bersegera menyusulnya dengan hasanah (kebaikan).

Hasanah sendiri adalah nama dari segala perbuatan yang dapat mendekatkan seorang hamba kepada Allah l. Hasanah yang paling agung yang dapat menolak kejelekan adalah taubat nashuha, istighfar, dan inabah (kembali) kepada Allah l dengan mengingat dan mencintai-Nya, takut dan berharap kepada-Nya, serta berambisi untuk meraih keutamaan-Nya pada setiap waktu.

Termasuk hasanah yang dapat menolak kejelekan adalah memaafkan manusia, berbuat baik kepada makhluk Allah l, menolong orang yang sedang ditimpa musibah, memberikan kemudahan bagi orang yang kesulitan, menghilangkan kemadharatan dan kesempitan dari hamba-hamba Allah l. Allah l berfirman:

“Sesungguhnya kebaikan-kebaikan itu akan menghapuskan kesalahan-kesalahan.” (Hud: 114)

Rasulullah n bersabda:

الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ مَا اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِرُ

“Shalat yang lima, Jum’at ke Jum’at, dan Ramadhan ke Ramadhan, merupakan penghapus kesalahan yang dilakukan di antaranya, selama dijauhi dosa-dosa besar.” (HR. Muslim no. 233)

Banyak lagi dalil lain yang menunjukkan diperolehnya ampunan berkat amalan ketaatan.

Musibah yang menimpa seorang hamba juga merupakan penghapus kesalahan. Karena tidaklah seorang mukmin ditimpa kesedihan, gundah gulana, sakit bahkan sekadar tertusuk duri melainkan Allah l akan menghapuskan kesalahan-kesalahannya. Sebagaimana dikabarkan dalam hadits Abu Hurairah z yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari (no. 5641) dan Muslim (no. 2753).

Musibah itu bisa berupa hilangnya sesuatu yang dicintai, atau terkena sesuatu yang dibenci pada tubuh, hati ataupun harta, baik yang sifatnya di dalam ataupun di luar. Musibah ini bukan sengaja dilakukan hamba terhadap dirinya. Karena itulah Rasulullah n memerintahkan seorang yang tertimpa musibah untuk melakukan amalan yang merupakan perbuatannya, dilakukan dengan kesadarannya, yaitu menyusul kejelekan yang terlanjur dilakukan atau kejelekan yang menimpa dirinya dengan kebaikan.

Pada akhirnya Rasulullah n berpesan, “Bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik.”

Akhlak baik terhadap manusia yang pertama adalah menahan diri dari mengganggu mereka dari segala sisi. Memaafkan keburukan mereka dan gangguan mereka terhadapmu, kemudian engkau bermuamalah dengan mereka dengan muamalah yang baik dalam ucapan maupun perbuatan. Termasuk akhlak baik yang paling khusus adalah sabar menghadapi mereka, tidak jenuh dengan mereka, berwajah cerah, berkata lembut, berucap indah yang menyenangkan teman duduk, memberikan kegembiraan pada teman, menghilangkan rasa tidak enak di hati mereka, dan terkadang memberikan gurauan jika memang ada maslahat. Akan tetapi tidak sepantasnya banyak bergurau atau guyonan. Karena bercanda dalam ucapan seperti garam pada makanan. Kalau tidak ada garam, makanan terasa hambar, namun bila terlalu banyak makanan menjadi asin. Dengan demikian, bila bercanda ini tidak ada atau sebaliknya melebihi batasan, maka menjadi tercela.

Termasuk akhlak yang baik adalah bergaul kepada manusia dengan apa yang pantas bagi mereka dan sesuai dengan keadaannya, dengan memandang apakah orang yang diajak bergaul itu masih kecil atau sudah besar, berakal atau terbelakang, seorang alim ataukah orang yang jahil/bodoh.

Sungguh, siapa yang bertakwa kepada Allah l, merealisasikan takwanya dan bergaul baik kepada manusia dengan perbedaan tingkatan mereka berarti ia telah mencapai kebaikan secara keseluruhan, karena ia telah menegakkan hak Allah l dan hak para hamba. Juga karena ia termasuk orang yang berbuat ihsan dalam beribadah kepada Allah l dan berbuat ihsan terhadap hamba-hamba Allah l.

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

(Dinukil Ummu Ishaq Al-Atsariyyah dari kitab Bahjatu Qulubil Abrar wa Qurratu ‘Uyunil Akhyar fi Syarhi Jawami’il Akhbar, karya Al-’Allamah Abdurrahman ibnu Sa’di t, hal. 48-50)

Berhijab Di hadapan Anak Lelaki

Di hadapan anak lelaki usia berapakah seorang wanita ajnabiyyah harus berhijab? Apakah ketika si anak telah mencapai tamyiz ataukah saat ia baligh?
Jawab:
Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin t menjawab: “Allah l berfirman ketika menyebutkan orang-orang yang diperkenankan melihat perhiasan wanita (atau seorang wanita boleh menampakkan perhiasannya di hadapan mereka):
“…Atau anak-anak lelaki yang belum mengerti tentang aurat wanita.” (An-Nur: 31)
Dengan demikian bila seorang anak lelaki telah mengerti aurat wanita, yang membuatnya bisa menilai seorang wanita ketika memandangnya, dan ia banyak berbicara kepada si wanita (atau membicarakan wanita), maka tidak boleh wanita itu membuka perhiasannya di hadapan si anak (ia harus berhijab dari si anak). Adapun batas usianya, maka ini berbeda-beda pada setiap anak, ditinjau dari tabiatnya dan dengan siapa anak itu biasa duduk-duduk (teman duduknya). Karena seorang anak kecil terkadang bisa mengerti perkara wanita bila ia biasa duduk dengan orang-orang yang banyak membicarakan tentang wanita. Seandainya ia tidak duduk atau tidak mendengar dari mereka, niscaya si anak tidak paham dan tidak akan peduli dengan wanita. Yang penting dalam perkara ini Allah l telah memberikan batasan dengan firman-Nya:
“Selama si anak belum mengerti aurat wanita dan tidak ambil peduli dengan perkara wanita maka si wanita boleh tidak berhijab di hadapannya.”
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.
(Fatwa-fatwa di atas diambil dari kitab Majmu’ah As’ilah Tuhimmu Al-Usrah Al-Muslimah, hal. 138-141, 148-149)

Gambar Mahluk Bernyawa


Dalam salah satu kurikulum pelajaran di sekolah-sekolah, anak diminta menggambar makhluk bernyawa atau diberikan gambar ayam betina yang belum lengkap, lalu dikatakan padanya, “Sempurnakanlah gambar ini.” Terkadang si anak diminta menggunting gambar bernyawa lalu menempelkannya di kertas, atau ia diminta mewarnai gambar tersebut. Apa pendapat antum tentang hal ini?

Jawab:
Fadhilatusy Syaikh Muhammad ibnu Shalih Al Utsaimin t berkata, “Saya memandang hal tersebut haram, wajib untuk dilarang. Para penanggung jawab pengajaran harus menunaikan amanah dalam masalah ini dan melarang perkara yang seperti ini. Bila mereka ingin mencari kejelasan tentang kecerdasan seorang murid, mereka bisa mengatakan, ‘Buatlah gambar mobil atau pohon’, atau benda-benda semisalnya yang diketahuinya. Dengan seperti itu dapat diketahui sejauh mana kecerdasan, kecermatan, dan penerapannya terhadap perkara-perkara yang ada.
Apa yang terjadi di sekolah-sekolah tersebut merupakan musibah yang menimpa manusia dengan perantara setan, padahal sebenarnya tidak ada bedanya membuat gambar pohon, gambar mobil, istana, ataupun gambar manusia. Karenanya aku memandang wajib bagi para penanggung jawab untuk melarang hal seperti itu. Bila memang terpaksa menggambar makhluk bernyawa maka hendaknya mereka menggambar hewan tanpa kepala.”

CERITA UNTUK ANAK

Ada sebagian cerita atau kisah yang ditujukan untuk anak, tujuannya untuk memberikan pengajaran ataupun hiburan bagi anak. Yang menjadi tokoh dalam kisah tersebut adalah hewan, di mana digambarkan hewan-hewan tersebut dapat berbicara layaknya manusia (dongeng fabel). Untuk mengajarkan anak akibat jelek dari berdusta misalnya, dikisahkan ada seekor musang berpura-pura jadi dokter hingga ia dapat memperdaya seekor ayam. Kemudian si musang terperosok ke dalam lubang akibat perbuatan dustanya. Apa pendapat antum terhadap kisah seperti ini?
Fadhilatusy Syaikh Muhammad ibnu Shalih Al-’Utsaimin t menjawab, “Tentang permasalahan seperti ini, saya tawaqquf (mendiamkan, belum bisa mengatakan boleh atau tidak). Karena mengisahkan seperti itu berarti mengeluarkan si hewan dari keadaan asal penciptaannya. Dikatakan ia bisa berbicara, bisa mengobati/jadi dokter, dan bisa mendapat hukuman atas perbuatannya. Terkadang mungkin dikatakan bahwa ini hanya permisalan/perumpamaan. Namun wallahu a’lam, saya tawaqquf dalam perkara ini. Saya tidak mengatakan apa pun dalam hal ini.”
Ada bentuk lain dari cerita untuk anak. Seorang ibu terkadang bercerita kepada anaknya untuk memberikan pengajaran pada si anak dengan kisah yang memang mungkin terjadi, walaupun tidak mesti kisah itu telah terjadi. Misalnya si ibu berkata, “Ada seorang anak bernama Hasan. Anak ini suka mengganggu tetangganya. Suatu hari ia memanjat tembok rumah tetangganya. Tiba-tiba ia jatuh dan patah tangannya.” Yang menjadi pertanyaan kami, apa hukumnya cerita seperti ini, di mana memang tidak dapat dipungkiri anak yang mendengarnya terkadang beroleh pelajaran tentang perangai yang mulia lagi terpuji. Apakah cerita seperti ini termasuk dusta yang dilarang?
Jawab:
Fadhilatusy Syaikh Muhammad ibnu Shalih Al-’Utsaimin t kembali menjawab, “Yang zhahir, bila si ibu menceritakannya hanya sebagai perumpamaan dengan misalnya ia mengatakan, “Di sana ada seorang anak….” tanpa menyebut nama tertentu dan kisahnya seakan benar terjadi, maka tidak apa-apa, karena di dalamnya ada faedah dan tidak ada madharat.”

‘Amrah bintu Abdirrahman

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu ‘Abdirrahman bintu ‘Imran)

 

Seorang tabi’iyah di bawah asuhan shahabiyah ‘alimah faqihah. Jadilah dia –dengan inayah Allah l– seorang wanita yang bak lautan ilmu.

‘Aisyah bintu Abi Bakr Ash-Shiddiq x, siapa yang tak pernah mendengar namanya? Siapa yang tak mengenal keutamaannya? Seorang wanita yang banyak mendapatkan pujian karena ilmu yang Allah l anugerahkan kepadanya.

Sebutlah Qubaishah bin Dzu’aib, dia mengatakan, “Aku dan Abu Bakr bin ‘Abdirrahman duduk (untuk mengambil riwayat, pen.) di hadapan Abu Hurairah z. Adapun ‘Urwah bin Az-Zubair mengalahkan kami dengan seringnya masuk menemui ‘Aisyah x, sementara ‘Aisyah adalah seseorang yang paling berilmu. Para tokoh dari kalangan sahabat Rasulullah n bertanya kepadanya.”

Masruq juga mengatakan, “Aku melihat para sesepuh dari kalangan sahabat Muhammad n bertanya kepadanya tentang faraidh (ilmu hukum waris).” Biasanya bila meriwayatkan hadits dari ‘Aisyah x, Masruq mengatakan, “Telah menyampaikan kepadaku Ash-Shiddiqah bintu Ash-Shiddiq, kecintaan seseorang yang dicintai Allah l, yang mendapatkan pembebasan atas berita dusta dari atas tujuh langit.”

Kemenakan ‘Aisyah x yang banyak mengambil ilmu darinya, ‘Urwah bin Az-Zubair, juga memuji bibinya, “Aku tak pernah melihat seorang pun yang lebih mengetahui tentang fikih, maupun syair daripada ‘Aisyah.”

Begitu pula ‘Atha bin Abi Rabah menyatakan, “Aisyah adalah orang yang paling faqih, paling alim, dan paling bagus pandangannya.”

Pujian datang pula dari Az-Zuhri, “Seandainya ilmu Ummul Mukminin ‘Aisyah x hendak dibandingkan dengan ilmu para istri Nabi n yang lain dan ilmu seluruh wanita muslimah, sungguh ilmu ‘Aisyah lebih utama.”

Dengan keutamaan dari Allah l, kemudian melalui bimbingan ‘Aisyah x, banyak orang yang mewarisi ilmunya. Banyak tokoh besar yang lahir melalui kedua tangannya. Di antara mereka ada seorang wanita tabi’iyah yang banyak mendulang ilmu Aisyah.

Dialah ‘Amrah bintu ‘Abdirrahman bin Sa’d bin Zurarah bin ‘Udus Al-Anshariyah An -Najjariyah. Dia murid Ummul Mukminin ‘Aisyah bintu Abi Bakr Ash-Shiddiq x, seorang sahabiyah yang dikenal dengan keluasan ilmunya, hingga jadilah ‘Amrah seorang wanita ‘alimah, faqihah, dan banyak ilmunya.

Selain dari ‘Aisyah, ‘Amrah juga mengambil riwayat dari Ummu Salamah, Rafi’ bin Khadij, serta saudari seibunya, Ummu Hisyam bintu Haritsah radhiallahu ‘anhunna, dan yang lainnya.

Di antara orang-orang yang mengambil riwayat dari ‘Amrah, tercatat putranya sendiri, Abur Rijal Muhammad bin ‘Abdirrahman, kedua putra Abur Rijal, Haritsah dan Malik, kemenakannya, Al-Qadhi Abu Bakr bin Hazm beserta dua putranya, ‘Abdullah dan Muhammad, Az-Zuhri, Yahya bin Sa’id Al-Anshari, dan masih banyak lagi.

Ibnu Syihab Az-Zuhri pernah dinasihati oleh Al-Qasim bin Muhammad, “Wahai anak muda, kulihat kau begitu semangat menuntut ilmu. Maukah kau kutunjukkan pada bejana ilmu?”

“Tentu,” jawabnya.

“Hendaknya engkau mengambil ilmu dari ‘Amrah, karena dia dulu berada dalam bimbingan ‘Aisyah.”

Ibnu Syihab menuruti saran itu. “Ternyata kudapati dia itu bagaikan lautan yang takkan bisa habis dikuras,” katanya kemudian.

‘Amrah bintu ‘Abdirrahman wafat pada tahun 106 Hijriyyah1 dalam usia 77 tahun. Dia meninggalkan jejak yang indah dalam kitab-kitab hadits sepanjang sejarah. ‘Amrah bintu ‘Abdirrahman, semoga Allah l meridhainya….

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

 

Sumber Bacaan:

Siyar A’lamin Nubala’, Al-Imam Adz-Dzahabi (4/507-508)

Tahdzibul Kamal, Al-Imam Al-Mizzi (35/234-235, 241-243)


1 Ada yang mengatakan wafat pada tahun 98 H.

‘Isratun Nisa’

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah)

 

Isyratun nisa’ merupakan tema yang sudah berulang dibicarakan dalam rubrik ini. Namun pertanyaan seputar masalah ini terus saja datang. Karenanya, tidak ada salahnya kita angkat kembali namun dalam kemasan lain. Satu bab dalam Kitabun Nikah dari kitab Al-Mulakhkhsash Al-Fiqhi karya Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan hafizhahullah, ingin kami nukilkan untuk pembaca yang mulia. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat.

Secara bahasa yang dimaksudkan dengan ‘isyrah adalah perkumpulan dan percampuran. Sehingga setiap jamaah atau sekumpulan orang disebut ‘isyrah dan ma’syar.

Yang dimaksudkan dengan kata ‘isyratun nisa’ sebagaimana judul di atas adalah kedekatan yang terjalin di antara suami istri dan pergaulan keduanya, karena masing-masingnya harus bergaul dengan baik kepada pasangannya, tanpa menunda penunaian hak pasangannya, tidak merasa terpaksa memberikan hak pasangannya serta tidak menyertainya dengan gangguan dan mengungkit-ungkit kebaikan yang telah dilakukan kepada pasangannya.

Telah datang perintah Rabbul Izzah agar para suami bergaul dengan ma’ruf kepada istri mereka:

“Dan bergaullah kalian dengan mereka (para istri) secara patut.” (An-Nisa’: 19)

Dalam ayat lain Rabbul Izzah berfirman:

“Para istri memiliki hak yang seimbang dengan kewajiban mereka menurut cara yang ma’ruf.” (Al-Baqarah: 228)

Rasul yang mulia n menegaskan:

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya.” (HR. At-Tirmidzi no. 3895, dishahihkan Al-Imam Al-Albani t dalam Shahih At-Tirmidzi)

Bagaimanakah gambaran pergaulan suami dengan istrinya dalam sebuah rumah tangga? Berikut ini penjelasannya:

• Masing-masing pihak bergaul dengan akhlak yang baik kepada pasangannya, berlaku lembut, dan sabar dengan kekurangannya. Rasulullah n memerintahkan:

اسْتَوْصُوْا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا، فَإِنَّهُنَّ عَوَانٌ عِنْدَكُمْ

“Mintalah wasiat kebaikan dalam perkara istri-istri kalian karena sungguh mereka itu hanyalah tawanan di sisi kalian.” (HR. Ahmad 5/72, At-Tirmidzi no. 1173, Ibnu Majah no. 1851, hadits ini hasan sebagaimana dalam Shahih At-Tirmidzi dan Shahih Ibni Majah)

• Sepantasnya seorang suami tetap menahan istrinya dalam pernikahan, tidak bermudah-mudah dalam mentalak (menceraikan), walaupun ada sesuatu yang tidak disukainya dari si istri. Karena Allah l berfirman:

“Dan bergaullah kalian dengan mereka (para istri) secara patut. Jika kalian tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kalian tidak menyukai sesuatu padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (An-Nisa’: 19)

Ketika memaknai ayat yang mulia di atas, Ibnu Abbas c menyatakan, bisa jadi si suami diberi rezeki berupa anak dari istri tersebut, lalu Allah l jadikan kebaikan yang banyak pada diri si anak. (Tafsir Ibni Katsir, 2/173)

Rasul yang mulia n pernah bersabda:

لاَ يَفْرُكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً، إِنْ سَخِطَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ

“Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah. Jika ia tidak suka satu akhlak dari si mukminah maka (bisa jadi) ia ridha darinya perangai yang lain.” (HR. Muslim no. 1469)

• Diharamkan bagi suami melakukan jima’ dengan istrinya yang sedang haid, karena Allah l berfirman:

“Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah, ‘Haid itu adalah kotoran.’ Oleh karena itulah hendaklah kalian menjauhkan diri dari para istri (tidak menyetubuhi istri) di waktu haid dan janganlah kalian mendekati (menyetubuhi) mereka sampai mereka suci (mandi bersih dari haid). Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka di tempat yang diperintahkan Allah kepada kalian. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan orang-orang yang menyucikan diri.” (Al-Baqarah: 222)

• Suami bisa memaksa istrinya menghilangkan kotoran yang ada pada si istri, menghilangkan sesuatu yang memang jiwa tidak menyukainya, seperti rambut ketiak dan kuku yang panjang. Suami juga berhak melarang istrinya memakan makanan yang memiliki bau tidak sedap, karena hal itu akan membuat si suami “lari” darinya.

• Suami dapat memaksa istrinya untuk membasuh najis yang ada pada tubuh si istri dan memerintahnya menunaikan kewajiban agama seperti shalat lima waktu. Bila si istri enggan, suami harus memaksanya dan memberikan hukuman pendidikan kepadanya. Suami juga harus memaksa istrinya meninggalkan perkara-perkara yang haram. Kenapa semua ini harus dilakukan suami? Karena Allah l berfirman:

“Kaum lelaki adalah pemimpin bagi kaum wanita disebabkan Allah telah melebihkan sebagian kalian (lelaki) di atas sebagian yang lain (wanita).” (An-Nisa’: 34)

“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah/peliharalah diri-diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya para malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (At-Tahrim: 6)

“Perintahkanlah keluargamu untuk mengerjakan shalat dan bersabarlah kalian dalam mengerjakannya.” (Thaha: 132)

Allah l berfirman memuji Nabi-Nya, Ismail q:

“Dan ceritakanlah (wahai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail yang tersebut di dalam Al-Qur’an. Sesungguhnya Ismail adalah seorang yang benar janjinya dan dia adalah seorang rasul dan nabi. Ia memerintahkan keluarganya untuk mendirikan shalat dan membayar zakat.” (Maryam: 54-55)

Seorang suami adalah penanggung jawab terhadap istrinya dan ia adalah pemberi arahan kepada istrinya. Kelak di hari kiamat, ia akan ditanya tentang tanggung jawab ini. Suami harus mendidik istrinya terlebih jika mengingat istri merupakan pendidik anak-anaknya. Tentunya bila rusak akhlaknya dan cacat agamanya niscaya akan merusak anak-anaknya.

• Termasuk pergaulan yang baik kepada istri adalah suami memberikan nafkah batin kepadanya paling tidak empat bulan sekali. Karena Allah l memberi tenggang waktu empat bulan kepada suami yang meng-ilaa’1 istrinya, setelahnya ia harus kembali menggauli istrinya dengan membayar kaffarah sumpah atau mentalaknya2. Waktu empat bulan ini pun diqiyaskan untuk selain kasus ilaa’. Sementara Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t berpandangan kewajiban memberi nafkah batin kepada istri ini tidak ada penetapan waktu berapa lamanya, namun disesuaikan kadar yang dirasa cukup oleh istri selama tidak memadharatkan suami atau menyibukkannya dari mencari penghidupan.

• Bila suami safar (bepergian) meninggalkan istrinya lebih dari setengah tahun sedangkan si istri memintanya pulang, maka suami harus pulang menemui istrinya terkecuali dalam safar haji yang wajib atau peperangan yang wajib, ataupun suami tidak memiliki kemampuan untuk pulang.

• Haram bagi masing-masing pihak untuk menceritakan kepada orang lain tentang hubungan intim yang berlangsung di antara mereka. Karena Nabi n memperingatkan:

شَرُّ النَّاسِ مَنْزِلَةً عِنْدَ اللهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الرَّجُلُ يُفْضِي إِلَى الْمَرْأَةِ وَتُفْضِي إِلَيْهِ ثُمَّ يَنْشُرُ سِرَّهَا

“Manusia yang paling jelek kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat nanti adalah seorang suami berhubungan badan dengan istrinya dan istrinya berhubungan dengannya, kemudian ia menyebarkan rahasia istrinya.” (HR. Muslim no. 1437)

Siapa yang berbuat demikian, ia serupa dengan setan laki dan setan perempuan yang berhubungan di jalanan dan ditonton oleh orang-orang, sebagaimana disebutkan dalam hadits Asma’ bintu Yazid x, “Aku sedang berada di sisi Rasulullah n sementara para lelaki dan wanita tengah duduk-duduk. Beliau pun bersabda:

لَعَلَّ رَجُلاً يَقُوْلُ مَا يَفْعَلُ بِأَهْلِهِ وَلَعَلَّ امْرَأَةً تُخْبِرُ بِمَا فَعَلَتْ مَعَ زَوْجِهَا. فَأَرَمَّ الْقَوْمُ فَقُلْتُ: أَيْ، وَاللهِ يَا رَسُوْلَ اللهِ، إِنَّهُنَّ لَيَفْعَلْنَ وَإِنَّهُمْ ليَفْعَلُوْنَ. قَالَ: فَلاَ تَفْعَلُوا فَإِنَّمَا ذَلِكَ مِثْلُ شَيْطَانٍ لَقِيَ شَيْطَانَةً فِي طَرِيْقٍ فَغَشِيَهَا وَالنَّاسُ يَنْظُرُوْنَ

“Mungkin ada seorang lelaki menceritakan apa yang diperbuatnya dengan istrinya dan mungkin ada seorang wanita mengabarkan apa yang dilakukannya bersama suaminya.” Orang-orang yang hadir terdiam. Maka aku menjawab, “Iya, demi Allah, wahai Rasulullah. Mereka para wanita melakukannya dan para lelaki pun melakukannya.” Rasulullah memberi bimbingan, “Jangan kalian lakukan hal tersebut, karena permisalannya tidak lain seperti setan jantan bertemu setan betina di satu jalan lalu ia menggaulinya sementara orang-orang menontonnya.” (HR. Ahmad 6/456, dan dalam sanadnya ada Syahr ibnu Hausyab dan tentang dirinya ada pembicaraan. Namun hadits ini terangkat menjadi hasan dengan syawahid [penguat]nya)

• Suami berhak melarang istrinya keluar rumahnya tanpa ada kebutuhan darurat. Ia tidak boleh membiarkan istrinya pergi sesukanya. Haram pula bagi istri keluar rumah tanpa izin suaminya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t berkata, “Tidak halal bagi seorang istri keluar dari rumah suaminya kecuali dengan izin suaminya.” Beliau menegaskan, “Bila sampai istri keluar dari rumah suaminya tanpa izin si suami berarti ia telah berbuat nusyuz, bermaksiat kepada Allah l dan Rasul-Nya hingga ia pantas mendapatkan hukuman.” (Majmu’ Al-Fatawa, 32/281)

• Tidak sepantasnya suami melarang mertuanya (ayah dan ibu dari istrinya) untuk menziarahi (mengunjungi) istrinya (putri keduanya) di rumahnya, kecuali bila ia mengkhawatirkan keduanya akan merusak hubungannya dengan istrinya atau meracuni pikiran istrinya.

• Suami berhak melarang istrinya bekerja, karena suamilah yang bertanggung jawab memberikan nafkah kepada istrinya. Disamping itu, bila si istri bekerja akan melalaikannya dari menunaikan sebagian hak suaminya, menelantarkan pendidikan anak-anaknya, memperhadapkan si istri kepada penyimpangan akhlak, khususnya di zaman ini di mana rasa malu semakin sedikit dan penyeru kepada kejelekan semakin banyak. Banyaklah didapati para wanita bercampur baur dengan lelaki di kantor-kantor dan lapangan pekerjaan yang lain. Tidak jarang pula terjadi khalwat (bersepi-sepi/berduaan) yang diharamkan.

• Istri tidak boleh menaati kedua orangtuanya bila keduanya memintanya berpisah dengan suaminya. Tidak boleh pula menuruti permintaan keduanya bila menyuruhnya mengunjungi keduanya sementara suaminya tidak ridha. Bahkan taat kepada suami lebih dikedepankan, karena suami ibaratnya surga dan neraka bagi si istri. Bibi Hushain bin Mihshan z pernah datang kepada Nabi n. Beliau n bertanya:

أَذَاتُ زَوْجٍ أَنْتِ؟ قَالَتْ: نَعَمْ. قاَلَ: كَيْفَ أَنْتِ لَهُ؟ قاَلَتْ: مَا آلُوْهُ إِلاَّ مَا عَجَزْتُ عَنْهُ. قَالَ: فَانْظُرِيْ أَيْنَ أَنْتِ مِنْهُ، فَإِنَّمَا هُوَ جَنَّتُكِ وَنَارُكِ

“Apakah engkau punya suami?” Ia menjawab, “Iya.” Kata Rasulullah n lagi, “Bagaimana yang engkau lakukan terhadap suamimu?” Ia menjawab, “Aku tidak pernah mengurang-ngurangi dalam menaatinya dan berkhidmat padanya, kecuali dalam perkara yang memang aku tidak mampu.” Rasulullah memberi nasihat, “Perhatikanlah di mana keberadaanmu dalam pergaulanmu dengan suamimu, karena dia adalah surgamu dan nerakamu.” (HR. Ahmad 4/341, An-Nasa’i no. 8962, Al-Hakim 2/206, ia berkata, “Sanadnya shahih,” dan disepakati Adz-Dzahabi t. Sanadnya memang shahih, kata Al-Imam Al-Albani t, lihat Adabuz Zifaf, hal. 214 dan Ash-Shahihah no. 2612)

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

(Nukilan dari Al-Mulakhkhash Al-Fiqhi, Kitabun Nikah, bab Fi ‘Isyratun Nisa’, 2/307-312, dengan beberapa perubahan dan tambahan)


1 Suami bersumpah tidak ingin menggauli istrinya selama-lamanya atau lebih dari empat bulan.

2 Sebagaimana Allah l nyatakan dalam firman-Nya:

“Kepada para suami yang meng-ilaa’ istri mereka diberi tangguh empat bulan (lamanya). Kemudian jika setelah itu mereka kembali (menggauli istri mereka) maka sesungguhnya Allah Maha pengampun lagi Maha penyayang. Dan jika mereka berketetapan hati untuk talak maka sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.” (Al-Baqarah: 226-227)

Hukum Berpuasa Bagi Penderita Sakit

Ana seorang muslimah 33 tahun. Pada bulan Ramadhan 1429 H kemarin, ana tidak bisa menjalankan ibadah puasa karena baru menjalani operasi saluran pencernaan. Berhubung sekarang sudah sehat, ana bermaksud mengqadha puasa yang ana tinggalkan. Hari pertama dan kedua ana tidak kuat. Hari ketiga ana konsultasi ke dokter yang menangani, akhirnya ana diberi obat dan disuruh minum setelah makan sahur. Akhirnya ana bisa puasa sampai lima hari. Setelah buka puasa hari kelima, bagian perut ana ke atas hingga kerongkongan bahkan kepala bagian belakang menderita sakit yang sangat, akhirnya ana jatuh sakit.
Yang ingin ana tanyakan: Apa yang harus ana lakukan? Apakah ana tetap punya kewajiban mengqadha puasa, atau ada rukhshah lain? Mohon dijawab sebelum Ramadhan 1430 H. Jazakumullah khairan atas jawabannya.
Shafiyyah
Dijawab oleh Al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad As-Sarbini:
Perlu diketahui bahwa mengqadha puasa bagi yang memiliki utang puasa karena sakit hukumnya adalah wajib apabila dia telah sembuh dari penyakitnya, sehat kembali, dan telah mampu untuk mengqadha puasanya. Adapun selama dia masih sakit dan belum sembuh dari sakitnya, maka selama itu pula belum terkena kewajiban untuk mengqadha. Inilah makna firman Allah l:
“Maka barangsiapa di antara kalian menderita sakit atau dalam safar ada rukhsah (keringanan) baginya untuk berbuka dan wajib atasnya untuk mengqadhanya di hari-hari lain (di luar bulan Ramadhan).” (Al-Baqarah: 184)
Terpahami dari kejadian yang anda alami bahwa anda belum benar-benar sembuh dan belum mampu untuk mengqadha. Bahkan anda telah memudharatkan diri anda dengan memaksakan diri berpuasa dalam keadaan belum mampu untuk itu, hingga menderita sakit (kembali). Janganlah mengulangi hal yang sama, karena seseorang yang menderita sakit sampai pada tahap puasa memudharatkannya, maka haram atasnya untuk berpuasa dan bukan kebaikan baginya, melainkan maksiat dan dosa. Adapun apabila puasa memberatkannya dan tidak sampai memudharatkannya, maka puasa makruh atasnya. Hal ini ditegaskan oleh Al-Imam Al-’Utsaimin t dalam Asy-Syarhul Mumti’ (6/352-353).
Hendaklah anda memeriksakan diri dan berkonsultasi dengan dokter spesialis terpercaya yang ahli di bidangnya untuk mengetahui apakah sakit yang anda derita ada harapan sembuh (menurut perhitungan ilmu medis) atau tidak. Apabila penyakit yang anda derita divonis oleh ahlinya sebagai penyakit yang diharapkan dan ditunggu kesembuhannya, hendaklah anda bersabar menunggu kesembuhan penyakit yang diderita hingga benar-benar dianggap sembuh dan sehat. Setelah itu, wajib bagi anda untuk mengqadha utang puasa yang anda tinggalkan selama masa sakit, meskipun melewati sekian kali Ramadhan. Karena selama sakit, anda mempunyai udzur untuk meninggalkan puasa dan tidak berkewajiban berpuasa di bulan Ramadhan serta mengqadha di luar bulan Ramadhan hingga udzur sakit anda berakhir, sebagaimana telah diterangkan di atas.
Namun apabila ahlinya menvonis penyakit anda tidak ada harapan untuk sembuh, maka jangan menanti hingga anda sembuh. Kewajiban anda adalah membayar fidyah yang diberikan kepada fakir miskin sebagai pengganti setiap puasa yang anda tinggalkan. Seperti halnya orang tua yang belum pikun, yang sudah tidak mampu berpuasa atau sudah sangat berat baginya. Karena penderita sakit yang tidak ada harapan sembuh, tidak ada harapan untuk kembali sehat dan mengqadha puasa. Sebagaimana halnya orang tua yang sudah tidak mampu berpuasa atau sangat berat baginya, tidak ada harapan untuk kembali muda dan mengqadha puasa.
Adalah dulu pada awal syariat ditetapkan bagi yang mampu berpuasa untuk memilih antara berpuasa atau membayar fidyah sebagai gantinya. Lalu hukum ini mansukh (terhapus) dan diwajibkan bagi yang mampu untuk berpuasa tanpa ada pilihan lain, kecuali yang memiliki udzur. Hal ini menunjukkan bahwa puasa tidak gugur begitu saja, melainkan memiliki pengganti berupa fidyah. Maka orang tua yang tidak mampu berpuasa atau sangat berat baginya, berkewajiban untuk menggantinya dengan membayar fidyah. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu ‘Abbas c dalam atsar yang diriwayatkan dari beliau oleh Al-Bukhari t dalam Shahih Al-Bukhari pada Kitabut Tafsir. Dan diqiyaskan dengannya adalah seorang yang menderita penyakit yang tidak ada harapan untuk sembuh. Hal ini yang difatwakan oleh Al-’Utsaimin dalam Asy-Syarhul Mumti’ (6/333-334, 347-349), Al-Wadi’i, Al-Albani dalam Irwa’ Al-Ghalil (4/22), dan Al-Lajnah Ad-Da’imah dalam Fatawa Al-Lajnah (10/160-161).
Namun perlu diingat bahwa vonis seorang dokter spesialis terpercaya yang ahli di bidangnya adalah semata-mata hasil ijtihad darinya yang bersifat dugaan kuat yang beralasan menurut kemampuan ilmu medis yang dimilikinya, karena dia tidak tahu ilmu ghaib. Berarti mungkin saja ijtihadnya meleset. Apalagi dengan mengingat kemajuan ilmu medis yang begitu cepat perkembangannya. Sehingga suatu penyakit yang sekarang tidak bisa ditangani dan diobati mungkin saja di kemudian hari ditemukan obat dan cara penanganannya, sehingga bisa sembuh dengan izin Allah l. Hanya saja yang diperhitungkan adalah hukum yang ditetapkan oleh ahli medis untuk saat sekarang.
Oleh karenanya, timbul permasalahan jika seseorang telah divonis tidak ada harapan sembuh dan dia pun membayar fidyah, lalu ternyata Allah l takdirkan sembuh: Apakah dia harus mengqadha kembali puasa yang telah dibayarnya dengan fidyah?
Jawabannya: Ibnu Qudamah t menyebutkan dua kemungkinan dalam Al-Mughni. Yang benar –insya Allah– dia tidak berkewajiban mengqadhanya kembali setelah sembuh, karena dia telah melaksanakan kewajiban sesuai dengan ajaran syariat, dan tanggung jawabnya telah lepas dengan itu. Sebagaimana halnya seseorang yang memiliki harta yang cukup untuk berhaji, namun dia menderita sakit yang tidak ada harapan sembuh, maka dia berkewajiban memperwakilkan hajinya kepada orang lain dengan biaya darinya dan dia (yang mewakili) pun melakukannya. Apabila setelahnya ternyata dia ditakdirkan sembuh, maka tanggung jawabnya telah lepas dengan itu dan tidak diwajibkan untuk berhaji sendiri setelahnya. Hal ini yang difatwakan oleh Al-’Utsaimin dalam Majmu’ Rasa’il (19/127) dan Al-Lajnah Ad-Daimah dalam Fatawa Al-Lajnah (10/195-196).
Wallahu a’lam bish-shawab.
Saya mempunyai penyakit yang menurut dokter susah sembuhnya dan akan makin parah apabila saya berpuasa. Apakah saya diperbolehkan menggantinya dengan fidyah, dan apakah fidyah tersebut bisa diganti dengan uang seharga makanan yang diberikan kepada fakir miskin?
Ibnu ‘Abdillah Fahruddin bin Sukri

Jawab:
Jika penyakit anda divonis oleh dokter spesialis terpercaya di bidangnya susah sembuh dan akan makin parah apabila dibawa berpuasa, dalam arti penyakit yang anda derita membutuhkan pengobatan yang lama dan istirahat yang cukup, namun tidak sampai divonis tidak ada harapan sembuh, hendaklah anda bersabar menanti hingga sembuh dan kuat untuk berpuasa, meskipun melewati sekian kali Ramadhan. Anda tidak dianjurkan berpuasa dalam pandangan syariat selama menderita sakit, terlebih jika puasa akan menambah parah penyakit yang anda derita. Bahkan menurut pendapat yang dipilih oleh Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin t  dalam Asy-Syarhul Mumti’ (6/352-353) haram atas seseorang yang menderita sakit untuk berpuasa jika puasa memudharatkannya, baik menambah parah penyakitnya atau memperlambat kesembuhannya. Berdasarkan pendapat ini, haram atas anda untuk memaksakan diri berpuasa, dan puasa bukanlah kebaikan bagi anda, melainkan maksiat yang tercela. Jika anda telah sembuh dan kuat berpuasa, maka anda berkewajiban mengqadha sekian puasa Ramadhan yang anda tinggalkan selama sakit. Allah l berfirman:
“Maka barangsiapa di antara kalian menderita sakit atau dalam safar ada rukhsah (keringanan) baginya untuk berbuka dan wajib atasnya untuk mengqadhanya di hari-hari lain (di luar bulan Ramadhan).” (Al-Baqarah: 184)
Adapun jika divonis susah sembuh dalam arti tidak ada harapan sembuh menurut perhitungan ilmu medis yang dimilikinya, maka tidak perlu menanti kesembuhan dan anda tidak terkena kewajiban puasa. Namun anda berkewajiban membayar fidyah dengan memberi makan seorang fakir/miskin sebagai pengganti setiap puasa yang anda tinggalkan.
Fidyah harus dibayarkan dalam bentuk makanan pokok daerah setempat sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah l:
“Dan atas orang-orang yang mampu berpuasa ada pilihan untuk tidak berpuasa dengan membayar fidyah berupa makanan yang diberikan kepada fakir/miskin sebagai penggantinya.” (Al-Baqarah: 184)1
Oleh karena itu Al-Lajnah Ad-Da’imah dalam Fatawa Al-Lajnah (10/163-164) dan Al-’Utsaimin dalam Majmu’ Ar-Rasa’il (19/116-117) menegaskan tidak sah menggantinya dengan uang. Karena Allah l mewajibkan fidyah berupa makanan dan Allah l menamakannya sebagai fidyah (memberi makan), maka wajib dibayarkan sesuai yang diperintahkan. Namun tidak mengapa mewakilkannya kepada seseorang yang anda percaya dengan memberinya uang senilai fidyah yang hendak dibayarkan, lalu dia membelikannya makanan untuk diberikan kepada yang berhak, atau mengajak orang fakir/miskin tersebut ke warung makan dan memakannya (sebagai fidyah) di tempat itu. Wallahu a’lam.

1 Pada awal syariat ditetapkan bagi yang mampu berpuasa untuk memilih antara berpuasa atau membayar fidyah sebagai gantinya, lalu hukum ini mansukh (terhapus) dan diwajibkan bagi yang mampu untuk berpuasa tanpa ada pilihan lain, kecuali yang memiliki udzur. Namun hukum membayar fidyah berlaku bagi orang tua yang sudah tidak mampu atau sangat berat untuk berpuasa dan penderita sakit yang tidak ada harapan sembuh. –pen

Qalbu Yang Selalu Mengingat Allah

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Abdul Jabbar)

 

Ibnu Umar c berkata: Rasulullah n bersabda sambil memegang kedua pundakku:

كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ

“Tinggallah di dunia ini seakan-akan kamu sebagai orang asing atau orang yang numpang lewat.”

Ibnu Umar c kemudian menyatakan:

إِذَا أَمْسَيْتَ فَلَا تَنْتَظِرْ الصَّبَاحَ وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلَا تَنْتَظِرْ الْمَسَاءَ وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ

“Apabila kamu berada di waktu sore maka janganlah engkau tunda (untuk beramal) sampai waktu pagi. Dan apabila kamu berada di waktu pagi maka jangan engkau tunda (untuk beramal) sampai waktu sore. Pergunakan waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu. Pergunakan masa hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Al-Bukhari)

Al-Imam Ibnul Qayyim t berkata:

Ketika seorang hamba memulai menapakkan kakinya di dunia ini, dirinya telah memulai perjalanan menuju Rabbnya. Sedangkan waktu perjalanannya adalah umur yang telah ditetapkan oleh Allah k untuknya. Setiap siang dan malam yang ia lalui merupakan jarak tempuh dalam rangka menuju Rabbnya l.

Seorang hamba akan menjalani hari-harinya sampai selesai perjalanan hidupnya. Maka, seorang hamba yang cerdas akan menyambut hari-harinya agar dapat melewatinya dengan selamat dan membawa keberuntungan. Demikianlah, ia selalu melewati hari-harinya. Tidaklah waktu berlalu dalam keadaan hatinya lalai/keras, memiliki angan-angan yang panjang, dan suka menunda-nunda amalan. Akan tetapi ia khawatir umurnya tinggal hari itu sehingga ia bersungguh-sungguh menjalaninya dengan sebaik-baiknya.

Karena sesungguhnya jika seorang hamba meyakini bahwa hari-harinya sangat sempit dan akan berlalu dengan cepat, maka akan membuat dirinya ringan dan segera beramal. Jiwanya selalu tunduk untuk bersiap diri menghadap Rabbnya. Apabila datang waktu dan hari, ia berusaha menyongsong dan menyambutnya. Keadaan seperti inilah yang senantiasa ia lalui, hingga akhir perjalanan hidupnya.

Usahanya akan mendapatkan pujian. Ia akan bergembira dengan apa yang telah ia persiapkan untuk suatu hari yang ia membutuhkan amalannya. Maka apabila telah datang terangnya hari akhirat dan berlalu kegelapan dunia, perjalanan hidupnya akan mendapatkan pujian. Usahanya akan mendapatkan balasan.

Alangkah bagusnya usaha untuk menyambut hari akhirat, hingga kebahagiaan nampak jelas di hadapannya.

(Diambil dari kitab Thariqul Hijratain wa Babus Sa’adatain, hal. 185-186, dengan sedikit perubahan)

Al-Hayyu

(ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc)

 

Di antara Al-Asma’ul Husna adalah ﮨ  (Al-Hayyu), Yang Maha Hidup. Nama Allah Al-Hayyu ini telah disebutkan dalam beberapa ayat di antaranya:

“Allah, tidak ada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia yang hidup kekal lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya), tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (Al-Baqarah: 255)

“Allah, tidak ada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia. Yang Hidup kekal lagi terus-menerus mengurus makhluk-Nya.” (Ali ‘Imran: 2)

“Dan bertawakkallah kepada Allah yang hidup (kekal) yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya. Dan cukuplah Dia Maha mengetahui dosa-dosa hamba-hamba-Nya.” (Al-Furqan: 58)

“Dialah yang hidup kekal, tiada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia; maka sembahlah Dia dengan memurnikan ibadah kepada-Nya. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.” (Ghafir: 65)

Disebutkan pula dalam hadits Abdullah bin Abbas c, bahwa Rasulullah n dahulu pernah berdoa:

اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ وَبِكَ خَاصَمْتُ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِعِزَّتِكَ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَنْ تُضِلَّنِي أَنْتَ الْحَيُّ الَّذِي لَا يَمُوتُ وَالْجِنُّ وَالْإِنْسُ يَمُوتُونَ

“Ya Allah, kepada-Mulah aku berserah diri, kepada-Mulah aku beriman, kepada-Mulah aku bertawakkal, kepada-Mulah aku kembali, dan dengan kekuatan dari-Mulah aku bertikai dengan musuh. Ya Allah, aku berlindung dengan kemuliaan-Mu -tiada sesembahan yang benar melainkan Engkau- dari Engkau sesatkan aku, Engkaulah Yang Maha Hidup, yang tidak akan mati sementara jin dan manusia mati semua.” (Shahih, HR. Muslim)

Asy-Syaikh Muhammad Khalil Al-Harras mengatakan:

“Makna Al-Hayyu adalah yang memiliki sifat hidup dengan kehidupan yang sempurna dan abadi, di mana tidak menimpainya kematian ataupun fana, karena sifat hidup bagi-Nya merupakan sifat Dzat Allah l yang Maha Suci. Sebagaimana sifat Al-Qayyum mengharuskan adanya seluruh sifat fi’liyyah Allah l (yang terkait dengan perbuatan-Nya) yang sempurna, maka demikian pula sifat hidup-Nya mengharuskan adanya seluruh sifat dzatiyyah (yang terkait dengan Dzat-Nya) yang sempurna, baik itu sifat ilmu, kemampuan, keinginan, pendengaran, penglihatan, kemuliaan, kesombongan, keagungan, dan semacamnya.” (Syarh Nuniyyah, 2/112 lihat juga hal. 66)

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin t mengatakan:

“Yakni yang memiliki kehidupan yang sempurna yang mengandung seluruh sifat kesempurnaan, tidak didahului oleh ketiadaan, dan tidak disudahi dengan kelenyapan, serta tidak tertimpa kekurangan pada sisi manapun.” (Syarh Al-Wasithiyyah hal. 134)

Iqamah (bagian dua)

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Ishaq Muslim)

 

Menyelai iqamah dan shalat dengan pembicaraan atau perbuatan karena kebutuhan

Al-Imam Al-Bukhari t meriwayatkan dari jalur Humaid, ia berkata, “Aku pernah bertanya kepada Tsabit Al-Bunani tentang seseorang yang berbicara setelah diserukan iqamah shalat. Maka ia menyampaikan kepadaku bahwa Anas bin Malik z berkata, ‘Pernah diserukan iqamah shalat, lalu ada seorang lelaki menghadang Nabi n, kemudian ia menahan beliau dari shalat (karena mengajak beliau bicara) setelah diserukan iqamah’.” (HR. Al-Bukhari no. 643)

Pernah pula saat iqamah shalat Isya telah diserukan, didapati Nabi n sedang berbicang-bincang dengan seorang lelaki di satu sisi masjid. Beliau tidak bangkit untuk mengerjakan shalat sampai orang-orang tertidur.” (HR. Al-Bukhari no. 642)

Tentunya, pembicaraan yang dibolehkan tersebut bila ada kebutuhan. Adapun bila tanpa kebutuhan, maka makruh. Al-Hafizh t berkata, “Hadits di atas menunjukkan bolehnya memisah iqamah dengan takbiratul ihram, bila memang ada kebutuhan.” (Fathul Bari, 2/163)

Ini juga merupakan pendapat Ibnu Hazm t dalam Al-Muhalla (2/196). Bahkan beliau menyatakan tidak didapati perbedaan pendapat dari seorang pun di kalangan ulama/imam tentang tidak perlunya mengulangi iqamah bagi orang yang berbicara antara iqamah dengan shalat atau ia berhadats, kemudian ia keluar berwudhu (karena hadatsnya tersebut).

Kebolehan menyela antara iqamah dengan takbiratul ihram/shalat ini juga ditunjukkan dalam hadits Abu Hurairah z berikut ini:

أُقِيْمَتِ الصَّلاَةُ، فَسَوَّى النَّاسُ صُفُوْفَهُمْ، فَخَرَجَ رَسُوْلُ اللهِ n فَتَقَدَّمَ وَهُوَ جُنُبٌ، ثُمَّ قَالَ: عَلَى مَكَانَتِكُمْ. فَرَجَعَ فَاغْتَسَلَ، ثُمَّ خَرَجَ وَرَأْسُهُ يَقْطُرُ ماَءً، فَصَلَّى بِهِمْ

Telah diserukan iqamah shalat, lalu orang-orang meluruskan shaf-shaf mereka. Keluarlah Nabi n1, beliau maju ke depan shaf dalam keadaan junub (beliau lupa sehingga belum mandi janabah, pen.). Kemudian beliau berkata, “Tetaplah kalian di tempat kalian.” Beliau lalu kembali ke rumah beliau untuk mandi janabah. Setelahnya, beliau keluar dari rumah memasuki masjid dalam keadaan rambut beliau masih meneteskan air. Beliau lalu shalat mengimami mereka. (HR. Al-Bukhari no. 640)

Hadits ini juga menunjukkan bolehnya keluar dari masjid setelah iqamah bila ada kebutuhan darurat. Al-Imam Al-Bukhari t membuat satu bab khusus untuk hadits ini dengan memberinya judul “Apakah seseorang boleh keluar dari masjid (setelah iqamah) karena satu alasan?” Al-Hafizh t menerangkan maksud Al-Imam Bukhari, bahwa judul bab ini mengisyaratkan pengkhususan dari hadits Abu Hurairah z yang diriwayatkan Al-Imam Muslim dan selainnya: ketika itu Abu Hurairah melihat seseorang keluar dari masjid setelah muadzin menyerukan adzan, maka Abu Hurairah berkata, “Orang ini, sungguh ia telah bermaksiat kepada Abul Qasim (Nabi Muhammad n).” Karena hadits ini khusus ditujukan kepada orang yang keluar dari masjid setelah adzan atau iqamah tanpa ada kebutuhan darurat. Adapun orang yang junub atau berhadats, orang yang mengalami mimisan dan semisalnya, atau dia adalah imam di masjid yang lain, mereka perlu keluar dari masjid guna membersihkan diri, misalnya. Kemudian Al-Hafizh juga menyatakan bahwa Ath-Thabarani meriwayatkan dalam Al-Ausath dari jalan Sa’id ibnul Musayyab t, dari Abu Hurairah z secara marfu’:

لاَ يَسْمَعُ النِّدَاءَ فِي مَسْجِدٍ ثُمَّ يَخْرُجُ مِنْهُ إِلاَّ لِحَاجَةٍ ثُمَّ لاَ يَرْجِعُ إِلَيْهِ إِلاَّ مُنَافِقٌ

“Tidaklah seseorang mendengar adzan di dalam masjid kemudian ia keluar meninggalkan masjid tersebut (sebelum melaksanakan shalat) terkecuali karena suatu hajat/kebutuhan, lalu setelah keluarnya ia tidak kembali lagi ke masjid, tidak lain kecuali orang itu munafik.” (Fathul Bari, 2/159)

Al-Imam Ibnu Qudamah t menyatakan, keluar masjid (setelah adzan/iqamah) karena adanya udzur dibolehkan. Demikian pula orang yang keluar namun ia meniatkan untuk kembali. (Al-Mughni, kitab Ash-Shalah, fashl Hukmul Khuruj minal Masjid Ba’dal Adzan)

 

Iqamah untuk lebih dari satu shalat dan untuk shalat yang tertinggal

Siapa yang mengerjakan dua shalat dengan jamak taqdim atau jamak ta’khir maka ia iqamah untuk masing-masing shalat, sebagaimana ditunjukkan dalam beberapa hadits. Di antaranya hadits Jabir bin Abdillah z yang panjang tentang haji, “Adalah Rasulullah n menyuruh muadzinnya untuk iqamah shalat zhuhur. Kemudian (setelah mengerjakan shalat zhuhur) iqamah lagi untuk shalat ashar. Ini beliau lakukan di Arafah. Kemudian beliau mendatangi Muzdalifah, lalu mengerjakan shalat maghrib dan isya di sana dengan satu adzan dan dua iqamah.” (HR. Muslim no. 2492)

Demikian pula bila seseorang mengerjakan beberapa shalat yang luput dikerjakan pada waktunya, maka untuk masing-masing shalat diserukan iqamah sebagaimana dilakukan Rasulullah n dalam perang Khandaq. Abu Sa’id Al-Khudri z berkata, “Kami tertahan dari mengerjakan shalat fardhu pada hari perang Khandaq sampai hilang sebagian malam hingga akhirnya kami dicukupkan. Yang demikian itu adalah firman Allah l:

“Dan Allah mencukupkan peperangan dari kaum mukminin2 dan adalah Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (Al-Ahzab: 25)

Rasulullah n lalu memanggil Bilal untuk menyuruhnya mengumandangkan iqamah. Kemudian beliau mengerjakan shalat zhuhur sebaik yang beliau lakukan bila mengerjakannya pada waktunya. Setelah itu Bilal iqamah lagi untuk shalat ashar, lalu beliau mengerjakan ashar dengan baik. Kemudian iqamah lagi untuk shalat maghrib, setelahnya beliau shalat maghrib. Terakhir, diserukan iqamah untuk shalat isya, beliau pun mengerjakan shalat isya. Ini dilakukan sebelum turun ayat tentang shalat khauf:

“Maka kalau kalian takut, kerjakanlah shalat dalam keadaan berjalan atau berkendaraan.” (Al-Baqarah: 239) [HR. Ahmad 3/25, 49, 67-68. Al-Imam Al-Albani t berkata: “Sanadnya shahih dengan syarat Muslim.” Lihat Ats-Tsamar, 1/109]

Apabila seseorang selesai mengerjakan shalat dan telah keluar dari masjid, padahal ia lupa satu rakaat dari shalatnya yang membuat shalatnya tidak sempurna, setelah itu ia ingat dan ingin melengkapi kekurangan shalatnya, maka ia mengulangi iqamah. Karena Nabi n suatu hari selesai dari shalat, beliau mengucapkan salam dan bangkit meninggalkan tempatnya padahal ada satu rakaat yang tertinggal. Beliau lupa. Lalu ada seseorang berkata, “Anda lupa mengerjakan satu rakaat.” Beliau pun kembali masuk ke masjid dan memerintahkan Bilal untuk iqamah. Lalu beliau shalat mengimami manusia menambah kekurangan satu rakaat tadi.” (HR. An-Nasa’i no. 663, hadits ini dishahihkan oleh Al-Imam Al-Albani dalam Shahih Sunan An-Nasa’i)

Al-Imam An-Nasa’i t memberi judul terhadap hadits ini: “(Ditegakkannya) iqamah bagi orang yang lupa satu rakaat dari shalatnya.”

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.


1 Catatan: Hadits ini tidaklah bertentangan dengan hadits Abu Qatadah Al-Anshari z:

إِذَا أُقِيْمَتِ الصَّلاَةُ فَلاَ تَقُوْمُوْا حَتَّى تَرَوْنِي (قَدْ خَرَجْتُ)

“Apabila telah diserukan iqamah untuk shalat maka janganlah kalian berdiri sampai kalian melihatku (telah keluar dari rumah menuju masjid).”

Keduanya bisa dijamak (dikumpulkan) dengan penjelasan bahwa terkadang hal itu terjadi untuk menunjukkan boleh iqamah dan berdiri bagi makmum meskipun belum ada imam, sekaligus penjelasan bahwa perbuatan mereka dalam hadits Abu Hurairah z bisa jadi merupakan sebab larangan yang ada dalam hadits Abu Qatadah, di mana mereka berdiri saat diserukan iqamah walaupun Nabi n belum keluar dari rumahnya. Beliau melarang mereka melakukan hal tersebut karena mungkin beliau masih punya kesibukan/pekerjaan yang memperlambat beliau untuk keluar mengimami mereka, sehingga dikhawatirkan penantian tersebut akan memberatkan mereka. Keterangan ini tidak pula bertentangan dengan hadits Anas z yang telah disebutkan di atas tentang Nabi n berbicang-bincang cukup lama dengan seorang lelaki di satu sisi masjid sampai orang-orang yang hadir untuk shalat tertidur, karena dimungkinkan hal ini jarang terjadi atau perbuatan beliau ini hendak menunjukkan bolehnya perkara tersebut. (Fathul Bari, 2/158)

2 Kaum mukminin tidak perlu berperang secara fisik menghadapi orang-orang musyrik dan kafir ketika itu karena Allah l sendiri yang menghalau dan membinasakan mereka dengan tentaranya berupa angin dan para malaikat.