Allah Ada di Mana-Mana?

Pertanyaan:

Bagaimana membantah orang-orang yang mengatakan bahwa Allah ada di mana-mana? Mahatinggi Allah dari hal itu. Apa hukum orang yang mengatakannya?

Jawaban:

Ahlus Sunnah wal Jamaah berkeyakinan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala berada di atas Arsy (singgasana)-Nya. Tidak di dalam alam, tetapi terpisah darinya. Dia mengetahui dan melihat segala sesuatu. Tiada yang tersembunyi baginya sesuatu pun, yang di bumi maupun yang di langit.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّ رَبَّكُمُ ٱللَّهُ ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ ٱسۡتَوَىٰ عَلَى ٱلۡعَرۡشِۖ يُغۡشِي ٱلَّيۡلَ ٱلنَّهَارَ يَطۡلُبُهُۥ حَثِيثًا وَٱلشَّمۡسَ وَٱلۡقَمَرَ وَٱلنُّجُومَ مُسَخَّرَٰتِۢ بِأَمۡرِهِۦٓۗ أَلَا لَهُ ٱلۡخَلۡقُ وَٱلۡأَمۡرُۗ تَبَارَكَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلۡعَٰلَمِينَ

“Sesungguhnya Rabb kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia ber-istiwa (berada/naik) di atas Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Mahasuci Allah, Rabb semesta alam.” (al-A’raf: 54)

ٱلرَّحۡمَٰنُ عَلَى ٱلۡعَرۡشِ ٱسۡتَوَىٰ

“(Yaitu) Rabb Yang Maha Pemurah, Yang ber-istiwa di atas Arsy.” (Thaha: 5)

ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ وَمَا بَيۡنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ ٱسۡتَوَىٰ عَلَى ٱلۡعَرۡشِۖ ٱلرَّحۡمَٰنُ فَسۡ‍َٔلۡ بِهِۦ خَبِيرًا

“Yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia ber-istiwa di atas Arsy, (Dialah) Yang Maha Pemurah, maka tanyakanlah (tentang Allah) kepada yang lebih mengetahui (Muhammad) tentang Dia.” (al-Furqan: 59)

Baca juga: Arti Nama Allah: Ar-Rahman & Ar-Rahim

ٱللَّهُ ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ وَمَا بَيۡنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ ٱسۡتَوَىٰ عَلَى ٱلۡعَرۡشِۖ مَا لَكُم مِّن دُونِهِۦ مِن وَلِيٍّ وَلَا شَفِيعٍۚ أَفَلَا تَتَذَكَّرُونَ

“Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia ber-istiwa di atas Arsy. Tidak ada bagi kamu selain dari-Nya seorang penolong pun dan tidak (pula) seorang pemberi syafaat. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (as-Sajdah: 4)

وَهُوَ ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَكَانَ عَرۡشُهُۥ عَلَى ٱلۡمَآءِ

“Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah Arsy-Nya di atas air.” (Hud: 7)

Di antara yang menunjukkan ketinggian Allah di atas makhluk-Nya adalah turunnya Al-Qur’an dari-Nya. Tidaklah sesuatu dikatakan turun kecuali dari atas ke bawah. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَأَنزَلۡنَآ إِلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ بِٱلۡحَقِّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيۡنَ يَدَيۡهِ مِنَ ٱلۡكِتَٰبِ وَمُهَيۡمِنًا عَلَيۡهِۖ

“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al-Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu.” (al-Maidah: 48)

حمٓ ١ تَنزِيلُ ٱلۡكِتَٰبِ مِنَ ٱللَّهِ ٱلۡعَزِيزِ ٱلۡعَلِيمِ ٢

“Haa Miim. Diturunkan Kitab ini (Al-Qur’an) dari Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui.” (Ghafir: 1—2)

حمٓ ١ تَنزِيلٌ مِّنَ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ ٢

“Haa Miim. Diturunkan dari Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (Fushshilat: 1—2)

Dan ayat-ayat yang lain yang menunjukkan ketinggian Allah subhanahu wa ta’ala di atas makhluk-Nya.

Baca juga: Arti Nama Allah: Al-A’la

Dalam hadits Muawiyah bin al-Hakam as-Sulami radhiallahu anhu, ia mengatakan,

Aku memiliki seorang budak wanita yang menggembalakan kambingku di daerah Uhud dan al-Jawaniyah. Pada suatu hari, aku melihat seekor serigala telah membawa seekor kambing yang digembalanya. Aku adalah seorang manusia dari bani Adam, yang bisa marah sebagaimana orang-orang marah. Aku pun menamparnya satu kali.

Lalu aku datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Beliau menilainya sebagai suatu perkara besar atasku. Aku lalu mengatakan, “Tidakkah kubebaskan saja dia?”

Beliau menjawab, “Bawa dia kemari.”

Aku pun membawanya kepada beliau. Beliau lalu bertanya kepadanya, “Di manakah Allah?”

“Di atas langit,” jawabnya.

“Siapakah aku?” tanya Rasulullah.

“Engkau adalah Rasulullah,” jawabnya.

Lantas beliau mengatakan, “Bebaskan dia. Sebab, sesungguhnya dia adalah wanita mukminah.” (HR. Muslim, Abu Dawud, an-Nasai, dan yang lain.)

Dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim dari Abu Said al-Khudri radhiallahu anhu, ia mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ دَخَلَأَلَا تَأْمَنُونِي وَأَنَا أَمِينُ مَنْ فِي السَّمَاءِ، يَأْتِينِي خَبَرُ السَّمَاءِ صَبَاحًا وَمَسَاءً

“Tidakkah kalian percaya kepadaku, sementara aku adalah kepercayaan Yang di atas langit? Datang kepadaku berita langit pada pagi dan petang hari.”

Baca juga: Bersyukur atas Cahaya yang Allah Turunkan

Kedua, barang siapa meyakini bahwa Allah subhanahu wa ta’ala berada di mana-mana, dia tergolong aliran Hululiyah (yang meyakini bahwa Allah bersatu dengan makhluk-Nya, -red.).

Orang yang seperti itu dibantah dengan dalil-dalil yang telah disebutkan, yang menunjukkan bahwa Allah berada pada ketinggian dan berada di atas Arsy-Nya, terpisah dari makhluk-Nya. Kalau dia tunduk kepada apa yang telah ditunjukkan oleh Al-Qur’an, As-Sunnah, dan ijmak, (itu yang seharusnya, -red.). Kalau tidak tunduk, dia kafir, murtad dari agama Islam.

Adapun firman Allah subhanahu wa ta’ala,

وَهُوَ مَعَكُمۡ أَيۡنَ مَا كُنتُمۡۚ

“Dan dia bersama kalian di mana pun kalian berada.” (al-Hadid: 4)

Menurut Ahlus Sunnah wal Jamaah, maknanya ialah bahwa Allah subhanahu wa ta’ala bersama mereka dengan ilmu-Nya, Dia mengetahui keadaan mereka.

Baca juga: Arti Nama Allah: Al-Alim

Adapun firman Allah subhanahu wa ta’ala,

وَهُوَ ٱللَّهُ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَفِي ٱلۡأَرۡضِ يَعۡلَمُ سِرَّكُمۡ وَجَهۡرَكُمۡ وَيَعۡلَمُ مَا تَكۡسِبُونَ

“Dan Dialah Allah (Yang disembah), baik di langit maupun di bumi; Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan dan mengetahui (pula) apa yang kamu usahakan.” (al-An’am: 3)

Maknanya, Allah subhanahu wa ta’ala adalah Dzat yang diibadahi oleh penghuni langit dan bumi.

Adapun firman Allah subhanahu wa ta’ala,

وَهُوَ ٱلَّذِي فِي ٱلسَّمَآءِ إِلَٰهٌ وَفِي ٱلۡأَرۡضِ إِلَٰهٌۚ وَهُوَ ٱلۡحَكِيمُ ٱلۡعَلِيمُ

“Dan Dia-lah Ilah (Yang disembah) di langit dan Ilah (Yang disembah) di bumi dan Dia-lah Yang Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui.” (az-Zukhruf: 84)

Maknanya, Allah subhanahu wa ta’ala adalah sembahan penduduk langit dan penduduk bumi. Tiada yang diibadahi dengan benar selain Dia.

Demikianlah penggabungan antara ayat-ayat dan hadits-hadits dalam masalah ini, menurut pemeluk kebenaran.

Wa billahit taufiq, washallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad, wa alihi wa shahbihi wa sallam.

Ditandatangani oleh

Ketua: Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

Anggota: Abdurrazzaq Afifi, Abdullah Ghudayyan, dan Abdullah bin Qu’ud

(Fatawa al-Lajnah ad-Daimah, 3/218)