Mengenal Tabiat Jiwa

Membahas hakikat jiwa manusia amatlah penting karena seluruh penyakit kalbu timbul dari sana. Dari jiwalah, benih-benih yang rusak menjalar ke seluruh anggota tubuh. Yang pertama kali terkena adalah kalbu.

Oleh karenanya, dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sering meminta kepada Allah subhanahu wa ta’ala agar melindunginya dari kejahatan jiwa manusia:

إِنَّ الْحَمْدَ لِلهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا

“Sesungguhnya pujian itu milik Allah. Kami memuji-Nya, memohon pertolongan dari-Nya, dan memohon ampunan dari-Nya, serta kami berlindung kepada Allah dari kejahatan jiwa-jiwa kami.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berlindung dari sifat dan amal jiwa itu. Telah disepakati bahwa jiwa dapat memutus hubungan perjalanan kalbu menuju Allah subhanahu wa ta’ala.

Dalam menghadapi jiwa ini, manusia terbagi menjadi dua kelompok. Satu kelompok dari mereka telah berhasil mengalahkan jiwanya dan menundukkannya sehingga selalu taat terhadap perintah agama. Tapi sekelompok yang lain justru jiwanya yang menguasai sehingga ia selalu tunduk kepada semua titah jiwanya yang akhirnya membinasakannya.

Sebagian ahli hikmah mengatakan, “Perjalanan para penuntut ridha Allah berakhir dengan menundukkan jiwa mereka. Maka barang siapa yang menang atas jiwanya, ia telah menang dan berhasil. Barang siapa yang jiwanya menguasainya, ia rugi dan binasa. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

فَأَمَّا مَن طَغَىٰ ٣٧ وَءَاثَرَ ٱلۡحَيَوٰةَ ٱلدُّنۡيَا ٣٨  فَإِنَّ ٱلۡجَحِيمَ هِيَ ٱلۡمَأۡوَىٰ ٣٩ وَأَمَّا مَنۡ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِۦ وَنَهَى ٱلنَّفۡسَ عَنِ ٱلۡهَوَىٰ ٤٠ فَإِنَّ ٱلۡجَنَّةَ هِيَ ٱلۡمَأۡوَىٰ ٤١

“Adapun orang yang melampaui batas dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).” (an-Nazi’at: 37—41)

Jiwa mengajak untuk melampaui batas dan mengutamakan kehidupan dunia. Sedangkan Allah subhanahu wa ta’ala mengajak untuk takut kepada-Nya dan menahan jiwa dari keinginan-keinginannya. Maka kalbu berada di antara dua penyeru. Terkadang cenderung kepada yang satu dan terkadang cenderung kepada yang lainnya. Inilah tempat cobaan dan ujian.

Allah subhanahu wa ta’ala telah menyifati jiwa dalam Al-Qur’an dengan tiga sifat: al-muthmainnah, al-ammarah bis-suu’, dan al-lawwamah.

Nafsu muthmainnah (jiwa yang tenang) yaitu yang tenteram menuju Allah subhanahu wa ta’ala, tenang dengan berzikir kepada-Nya, kembali kepada-Nya, merindukan pertemuan dengan-Nya, dan tenteram dengan kedekatan-Nya. Jiwa itulah yang akan diberi kabar gembira ketika wafatnya, seperti dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala:

يَٰٓأَيَّتُهَا ٱلنَّفۡسُ ٱلۡمُطۡمَئِنَّةُ ٢٧  ٱرۡجِعِيٓ إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةٗ مَّرۡضِيَّةٗ ٢٨

“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Rabbmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.” (al-Fajr: 27—28)

Yaitu seorang mukmin yang jiwanya tenang terhadap apa yang Allah subhanahu wa ta’ala janjikan, demikian ditafsirkan oleh Qatadah rahimahullah. Al-Hasan rahimahullah menafsirkan, yaitu yang merasa tenang dengan apa yang Allah subhanahu wa ta’ala firmankan dan membenarkannya. Mujahid rahimahullah mengatakan, yaitu jiwa yang kembali dan tunduk (kepada Allah subhanahu wa ta’ala) yang yakin bahwa Allah subhanahu wa ta’ala adalah Rabbnya. Hatinya tunduk kepada perintah-Nya dan taat kepada-Nya, serta yakin dengan pertemuan dengan-Nya.

Jadi hakikat thuma’ninah jiwa adalah ketenteraman dan ketenangan. Tenteram bersama Allah subhanahu wa ta’ala, ketaatan-Nya, dan dengan mengingat-Nya, serta tidak tenteram kepada selain-Nya. Tenang dengan cinta-Nya, peribadatan-Nya, dan berzikir kepada-Nya. Juga tenteram kepada perintah-Nya, larangan-Nya, dan berita-Nya. Tenteram dengan membenarkan hakikat asma dan sifat-Nya, dan ridha akan Allah subhanahu wa ta’ala sebagai Rabbnya, Islam sebagai agamanya, dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai Rasulnya. Tenteram dengan qadha dan qadar-Nya. Tenteram dengan perlindungan dan jaminan-Nya. Tenteram dengan Allah subhanahu wa ta’ala sebagai Rabbnya, ilahnya, sesembahannya, yang memiliki dirinya, dan segala urusannya, serta bahwa kembalinya hanya kepada-Nya, dan ia tidak pernah bisa lepas darinya sekejap mata pun.

Jika sebuah jiwa memiliki lawan dari sifat-sifat di atas, maka itu adalah jiwa ammarah bis-suu’ (suka memerintahkan kepada kejelekan). Yang menitahkan kepada jiwa untuk mengikuti apa yang diinginkannya, yang melenceng, dan mengekor kepada kebatilan. Maka jiwa semacam itu adalah sarang segala kejelekan. Jika ditaati, akan menyeretnya pada segala kejelekan.

Ammarah artinya selalu memerintahkan. Maksudnya, telah menjadi kebiasaan dan adatnya karena sifat kebodohan dan kezaliman yang ada padanya. Ia terus akan seperti itu kecuali jika dirahmati Allah subhanahu wa ta’ala. Kalaulah tidak karena Allah subhanahu wa ta’ala, maka tidak satu jiwa pun akan suci dari sifat-sifat tercela itu.

Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma ditanya apakah nafsu lawwamah itu? Jawabnya, “Yaitu yang suka mencela (dirinya).” Al-Hasan rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya seorang mukmin—demi Allah—tidak engkau lihat kecuali mencela dirinya dalam segala keadaannya. Ia merasa kurang dalam segala apa yang ia lakukan sehingga menyesali dan mencelanya. Adapun orang yang jahat, ia akan terus melaju tanpa mencela dirinya.”

Mujahid rahimahullah mengatakan, yaitu yang menyesali atas apa yang terlewatkan dan mencela dirinya.

Nafsu lawwamah karena seringnya bimbang maka ia mencela dirinya.

Kesimpulannya, sebuah jiwa terkadang menjadi nafsu ammarah, terkadang menjadi nafsu lawwamah, dan terkadang menjadi nafsu muthmainnah. Bahkan dalam satu hari atau satu saat, terkadang jadi seperti ini atau seperti itu. Yang akan menguasai adalah yang banyak mendominasi keadaannya.

Sifat muthmainnah adalah sifat yang terpuji. Sifat ammarah adalah sifat tercela baginya. Sedangkan sifat lawwamah bisa jadi pujian dan bisa jadi celaan, tergantung pada apa yang ia sesali.

(Diterjemahkan dan diringkas dari Ighatsatul Lahafan, hlm. 82—86 karya Ibnul Qayyim)

Ditulis oleh al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc.

Wanita Suci dari Haid Setelah Waktu Shalat

Benarkah apabila wanita haid suci setelah Ashar, maka diharuskan shalat Dzuhur dan Ashar? Dan bila suci setelah shalat ‘Isya, maka harus shalat Maghrib dan ‘Isya? Apakah ada hadits sahih yang menunjukkan hal tersebut?
Ukhti Zahrah


Dijawab oleh al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad Sarbini

 

Alhamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala rasulillah wa ‘ala alihi waman walah.

Sesungguhnya apa yang ditanyakan di sini adalah permasalahan khilafiyyah yang diperselisihkan oleh para ulama:

  1. Mazhab al-Imam Ahmad, asy-Syafi’i, tujuh fuqaha Madinah (al-fuqaha as-sab’ah), dan lainnya adalah sebagaimana yang dituturkan dalam pertanyaan. Dengan dalil, bahwa waktu shalat Ashar merupakan waktu untuk shalat Dzuhur, begitu pula waktu shalat ‘Isya merupakan waktu untuk shalat maghrib bagi orang yang menjama’ shalat karena udzur safar. Maka wanita haid yang suci di waktu Ashar kehilangan waktu Dzuhur karena udzur, yaitu haid. Sehingga, wajib baginya untuk shalat Dzuhur dan Ashar. Demikian pula bagi yang suci di waktu ‘Isya. Hadits khusus yang menunjukkan hal itu sendiri tidak ada. Yang ada adalah atsar yang diriwayatkan oleh al-Baihaqi, bahwa Ibnu ‘Abbas dan Abdurrahman bin ‘Auf radhiallahu ‘anhuma berfatwa demikian.
  2. Mazhab al-Hasan al-Bashri, ats-Tsauri, Abu Hanifah, al-Imam Malik, Dawud adz-Dzahiri, dan yang lainnya, bahwa dia hanya diwajibkan shalat Ashar saja apabila suci pada waktu Ashar atau shalat ‘Isya saja apabila suci pada waktu ‘Isya. Berdasarkan hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, muttafaqun ‘alaihi bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

مَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنَ الصَّلاَةِ فَقَدْ أَدْرَكَ الصَّلاَةَ

“Barang siapa yang mendapati satu rakaat dari waktu shalat berarti dia telah mendapati shalat tersebut.”

Hadits ini menunjukkan bahwa apabila wanita yang suci dari haidnya mendapati waktu suatu shalat yang memungkinkan dia untuk melaksanakan satu rakaat dari shalat tersebut, maka wajib baginya untuk melaksanakan shalat tersebut. Adapun shalat yang sebelumnya maka tidak diwajibkan atasnya, karena dia tidak mendapati waktunya sedikit pun dan shalat tersebut telah berlalu waktunya. Dia lalui waktu tersebut dalam keadaan tidak terbebani untuk melaksanakan shalat tersebut karena haid yang dialaminya. Maka bagaimana mungkin kita mewajibkan atasnya untuk melaksanakan suatu shalat yang dia lalui waktunya dalam keadaan tidak terbebani dengannya?

Oleh karena itu, kami memandang bahwa yang rajih adalah pendapat kedua, dan pendapat ini adalah tarjih (yang dikuatkan oleh) asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah. (al-Majmu’, 3/70, al-Mughni, 1/95, asy-Syarhul Mumti’, 2/129—131)

Kemudian berdasarkan hadits di atas, maka yang rajih (kuat) bahwa wanita yang baru suci dari haid, yang wajib melaksanakan shalat adalah yang dia dapati waktunya. Dipersyaratkan minimal dia mendapati sisa waktu untuk menunaikan satu rakaat. Ini adalah salah satu pendapat al-Imam asy-Syafi’i dan al-Imam Ahmad, yang di-tarjih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahumullah. Adapun jika dia suci dari haid dan tidak tersisa dari waktunya untuk bisa menunaikan satu rakaat maka tidak wajib atasnya untuk melaksanakan shalat tersebut. (al-Mughni, 1/273, asy-Syarhul Mumti’, 2/ 117)

Satu rakaat yang dimaksud berupa takbiratul ihram, membaca al-Fatihah, ruku’, i’tidal (bangkit dari ruku’), sujud dua kali yang diselai duduk di antara dua sujud, sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Hajar, dan asy-Syaukani. (Fathul Bari, 2/56, Nailul Authar, 2/22)

Namun apakah dipersyaratkan bersama satu rakaat tersebut waktu yang digunakan untuk bersuci atau tidak?

Ada dua pendapat di kalangan ulama, namun al-Imam an-Nawawi rahimahullah mengatakan bahwa dzahir hadits (yang tampak dari hadits) adalah tidak dipersyaratkan. Wallahu a’lam. (al-Majmu’, 3/69)

Dua Sifat Yang Dibenci Para Pencari Kebenaran

Perbedaan sifat/ tabiat di antara manusia memang hal lumrah karena itu merupakan bagian dari ketentuan Allah subhanahu wa ta’ala. Namun tentu saja, sebagai makhluk-Nya kita dituntut berikhtiar dengan menjauhi akhlak dan tabiat yang jelek. Di antaranya adalah rakus dunia dan tidak mau rujuk kepada ulama.

Lanjutkan membaca Dua Sifat Yang Dibenci Para Pencari Kebenaran

Hikmah Dakwah Nabi Ibrahim; Bagian ke-2

Karena menghancurkan seluruh berhala milik kaumnya—hanya menyisakan patung yang paling besar—Nabi Ibrahim ‘alaihissalam pun ditangkap dan dibawa ke tengah lapangan. Namun sesungguhnya inilah yang diharapkan beliau agar dirinya bisa menegakkan hujjah (keterangan) di depan orang banyak.

Lanjutkan membaca Hikmah Dakwah Nabi Ibrahim; Bagian ke-2

Hukum Meminta Jabatan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menasihatkan kepada Abdurrahman bin Samurah radhiallahu ‘anhu:

يَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ سَمُرَةَ، لاَ تَسْأَلُ الْإِمَارَةَ، فَإِنَّكَ إِنْ أُعْطِيْتَهَا عَنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ أُعِنْتَ عَلَيْهَا وَإِنْ أُعْطِيْتَهَا عَنْ مَسْأَلَةٍ وُكِلْتَ إِلَيْهَا

“Wahai Abdurrahman bin Samurah, janganlah engkau meminta kepemimpinan. Karena jika engkau diberi tanpa memintanya niscaya engkau akan ditolong (oleh Allah subhanahu wa ta’ala dengan diberi taufik kepada kebenaran). Namun jika diserahkan kepadamu karena permintaanmu niscaya akan dibebankan kepadamu (tidak akan ditolong).”

Lanjutkan membaca Hukum Meminta Jabatan

Shalawat Nabi Antara Sunnah dan Bid’ah

إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا ٥٦

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya!” (al-Ahzab: 56)

Lanjutkan membaca Shalawat Nabi Antara Sunnah dan Bid’ah

Istilah Hadits

Berikut ini beberapa istilah hadits yang sering dipakai dalam Asy-Syariah:

  1. Mutawatir

Hadits yang diriwayatkan dari banyak jalan (sanad) yang lazimnya dengan jumlah dan sifatnya itu, para rawinya mustahil bersepakat untuk berdusta atau kebetulan bersama-sama berdusta. Perkara yang mereka bawa adalah perkara yang indrawi yakni dapat dilihat atau didengar. Hadits mutawatir memberi faedah ilmu yang harus diyakini tanpa perlu membahas benar atau salahnya terlebih dahulu.

  1. Ahad

Hadits yang tidak mencapai derajat mutawatir.

  1. Sahih (sehat)

Hadits yang dinukilkan oleh orang yang adil (muslim, baligh, berakal, bebas dari kefasiqan yaitu melakukan dosa besar atau selalu melakukan dosa kecil, dan bebas dari sesuatu yang menjatuhkan muru’ah/kewibawaan) dan sempurna hafalan/penjagaan kitabnya terhadap hadits itu, dari orang yang semacam itu juga dengan sanad yang bersambung, tidak memiliki ‘illah (penyakit/kelemahan) dan tidak menyelisihi yang lebih kuat. Hadits sahih hukumnya diterima dan berfungsi sebagai hujjah.

  1. Hasan (baik)

Hadits yang sama dengan hadits sahih kecuali pada sifat rawinya di mana hafalan/penjagaan kitabnya terhadap hadits tidak sempurna, yakni lebih rendah. Hadits hasan hukumnya diterima.

  1. Dha’if

Hadits yang tidak memenuhi syarat-syarat hadits sahih atau hasan. Hadits dha’if hukumnya ditolak.

  1. Maudhu’ (palsu)

Hadits yang didustakan atas nama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam padahal beliau tidak pernah mengatakannya, hukumnya ditolak.

  1. Mursal

Yaitu seorang tabi’in menyandarkan suatu ucapan atau perbuatan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hukumnya tertolak karena ada rawi yang hilang antara tabi’in tersebut dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan mungkin yang hilang itu adalah rawi yang lemah.

  1. Syadz

Hadits yang sanadnya sahih atau hasan namun isinya menyelisihi riwayat yang lebih kuat dari hadits itu sendiri, hukumnya tertolak.

  1. Mungkar

Hadits yang sanadnya dha’if dan isinya menyelisihi riwayat yang sahih atau hasan dari hadits itu sendiri, hukumnya juga tertolak.

  1. Munqathi’

Hadits yang terputus sanadnya secara umum, artinya hilang salah satu rawinya atau lebih dalam sanad, bukan di awalnya dan bukan di akhirnya dan tidak pula hilangnya secara berurutan. Hukumnya tertolak.

  1. Sanad

Rangkaian para rawi yang berakhir dengan matan.

  1. Matan

Ucapan rawi atau redaksi hadits yang terakhir dalam sanad.

  1. Rawi

Orang yang meriwayatkan atau membawakan hadits.

  1. Atsar

Suatu ucapan atau perbuatan yang disandarkan kepada selain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yakni kepada para sahabat dan tabi’in.

  1. Marfu’

Suatu ucapan, perbuatan, atau persetujuan yang disandarkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

  1. Mauquf

Suatu ucapan atau perbuatan yang disandarkan kepada sahabat.

  1. Jayyid (bagus)

Suatu istilah lain untuk sahih.

  1. Muhaddits

Orang yang menyibukkan diri dengan ilmu hadits secara riwayat dan dirayat (fiqih hadits), serta banyak mengetahui para rawi dan keadaan mereka.

  1. Al-Hafizh

Orang yang kedudukannya lebih tinggi dari muhaddits, yang ia lebih banyak mengetahui rawi di setiap tingkatan sanad.

  1. Majhul

(Rawi yang) tidak dikenal, artinya tidak ada yang menganggapnya cacat sebagaimana tidak ada yang men-ta’dil-nya (lihat istilah ta’dil di poin 23, red.), dan yang meriwayatkan darinya cenderung sedikit. Bila yang meriwayatkan darinya hanya satu orang maka disebut majhul al-‘ain, dan bila lebih dari satu maka disebut majhul al-hal. Hukum haditsnya termasuk hadits yang lemah.

  1. Tsiqah

(Rawi yang) tepercaya, artinya tepercaya kejujuran dan keadilannya serta kuat hafalan dan penjagaannya terhadap hadits.

  1. Jarh

Cacat, dan majruh artinya tercacat.

  1. Ta’dil

Menilai adil.

  1. Muttafaqun ‘alaih

Maksudnya hadits yang disepakati oleh al-Bukhari dan Muslim rahimahumallah dalam kitab Shahih mereka.

  1. Mu’allaq/ta’liq

Hadits yang terputus sanadnya dari bawah, satu rawi atau lebih.

Ditulis oleh al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc

Tata Cara Wudhu; bagian ke-3

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin rahimahullah ketika ditanya tentang tata cara wudhu, beliau berkata, “Tata cara wudhu yang syar’i itu ada dua sisi:

Sisi pertama: Tata cara wajib di mana tidak sah wudhu tanpanya, yakni yang disebutkan dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِذَا قُمۡتُمۡ إِلَى ٱلصَّلَوٰةِ فَٱغۡسِلُواْ وُجُوهَكُمۡ وَأَيۡدِيَكُمۡ إِلَى ٱلۡمَرَافِقِ وَٱمۡسَحُواْ بِرُءُوسِكُمۡ وَأَرۡجُلَكُمۡ إِلَى ٱلۡكَعۡبَيۡنِۚ

“Wahai orang-orang yang beriman, apabila kalian hendak mengerjakan shalat, basuhlah wajah-wajah kalian dan tangan-tangan kalian sampai siku. Usaplah kepala-kepala kalian dan cucilah kaki-kaki kalian sampai mata kaki….” (al-Maidah: 6)

Mencuci wajah sekali, termasuk madhmadhah (berkumur) dan istinsyaq (menghirup air ke hidung), mencuci dua tangan dari ujung-ujung jari sampai siku sekali. Ketika mencuci lengan ini, orang yang berwudhu hendaknya memerhatikan kedua telapak tangannya dengan turut mencucinya bersamaan dengan mencuci tangan. Karena sebagian manusia melalaikan hal ini hingga tidak mencucinya, namun hanya mencuci lengannya. Ini jelas satu kesalahan.

Setelah itu ia mengusap kepala sekali termasuk mengusap kedua telinga karena kedua telinga merupakan bagian dari kepala. Sebagai penutup wudhunya, ia mencuci kedua kakinya termasuk mata kaki sekali. Demikian tata cara wudhu yang wajib dan tidak boleh ditinggalkan.

Sisi kedua: tata cara yang mustahab (sunnah) yang akan kami sebutkan berikut ini dengan memohon pertolongan kepada Allah subhanahu wa ta’ala:

  • Membaca basmallah ketika seseorang hendak berwudhu
  • Mencuci kedua telapak tangan tiga kali
  • Madhmadhah dan istinsyaq tiga kali dengan tiga kali cidukan
  • Mencuci wajah tiga kali
  • Mencuci kedua lengan sampai siku masing-masing tiga kali, dimulai dari lengan kanan kemudian dilanjutkan lengan kiri
  • Mengusap kepala sekali, dengan membasahi kedua telapak tangannya kemudian menjalankan kedua tangannya tersebut dari depan kepalanya sampai ke belakang kepala kemudian dari belakang kepala ia jalankan kembali ke depan.
  • Mengusap telinga dengan memasukkan kedua telunjuknya ke dalam lubang telinga sementara kedua ibu jarinya mengusap bagian luar telinga
  • Mencuci kedua kaki sampai mata kaki masing-masingnya tiga kali, dimulai dari kaki kanan kemudian kaki kiri.
  • Setelah itu ia berdoa:

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اللَّهُمَّ اجْعَلْنِيْ مِنَ التَّوَّابِيْنَ وَاجْعَلْنِيْ مِنَ الْمُتَطَهِّرِيْنَ

“Aku bersaksi tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah sendiri-Nya, tidak ada sekutu bagi-Nya dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya. Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bertaubat dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang membersihkan/menyucikan dirinya.”

(Majmu’ Fatawa wa Rasail Fadhilatusy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, 4/150—151)