Tips Aman dan Nyaman Berkendara

Seiring dengan tingginya angka kecelakaan yang menimpa saudara-saudara kita kaum muslimin, Redaksi terpanggil untuk menyuguhkan tips aman dan nyaman berkendara, khususnya bagi kendaraan roda dua.

  1. Berdoa sebelum memulai perjalanan.
  2. Taati peraturan, alat pemberi isyarat lalu lintas, rambu-rambu lalu lintas, marka jalan, dan petunjuk petugas/polisi. Ingat, ini bagian dari kewajiban setiap muslim untuk taat kepada pemerintah.
  3. Pastikan kelengkapan surat motor Anda berupa STNK dan SIM.
  4. Pastikan kendaraan Anda memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan yang meliputi kaca spion, klakson, lampu utama berikut arah dan daya pancarnya, rem dan lampu rem, lampu penunjuk arah (lampu sein), alat pemantul cahaya, alat pengukur kecepatan (speedometer), knalpot, kedalaman alur ban, dan spakbor.

Jika ada yang harus diperbaiki jangan tunda, segera diperbaiki. Jika ada suku cadang yang memang harus diganti, segera diganti. Ingat, ketaklaikan motor Anda bisa membahayakan keselamatan diri dan orang lain.

  1. Jangan mengganti suku cadang yang tidak standar, seperti warna lampu dan ukuran ban karena bisa memengaruhi keselamatan atau kenyamanan berkendara.
  2. Gunakan semua kelengkapan kendaraan sebagaimana fungsinya. Seperti menyalakan lampu sein saat hendak berbelok atau berbalik arah, atau—sesuai UU No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, pasal 107 (2)—menyalakan lampu utama di siang hari.
  3. Gunakan alat keselamatan berkendara (safety riding) atau pelindung, seperti helm Standar Nasional Indonesia (SNI), baik untuk pengemudi maupun pembonceng. Jika Anda sering bepergian jarak jauh, selain helm SNI—disarankan yang fullface—gunakan juga jaket yang tahan terhadap terpaan angin, sepatu yang menutup tumit, sarung tangan yang ada pelindung kerasnya, pelindung dada, masker/penutup hidung, serta—jika perlu—pelindung lutut dan pelindung lengan/siku. Selain berfungsi mengurangi cedera, juga untuk menjaga kesehatan. Disarankan menggunakan perlengkapan dengan warna yang mudah terlihat, lebih baik lagi yang bisa merefleksikan cahaya (fluorescent,) seperti rompi pemantul cahaya, terutama jika berkendara di malam hari.
  4. Kendalikan emosi, kendarai kendaraan dengan tenang dan senyaman mungkin. Jangan terpancing oleh kendaraan lain yang menyalip Anda atau pengendara lain yang ugal-ugalan. Ingat, jika Anda berbalapan dengan kendaraan lain, menang atau kalah, tidak membawa manfaat apa pun. Demikian juga, seyogianya kita bisa memupuk kesabaran ketika menghadapi kendaraan dari arah berlawanan yang memakan jalur kita atau “ngeblong” sebagaimana hal itu sering kita jumpai pada bus, truk, dan sebagian mobil pribadi.Salah satu hal yang juga mesti dikedepankan adalah kesiapan menghadapi kemungkinan terburuk. Sikap ini akan menumbuhkan kehati-hatian dalam berkendara.
  1. Selalu waspada dan jangan melamun, konsentrasikan pikiran pada jalan dan kendaraan di depan Anda. Jangan terlalu mengandalkan insting, pastikan keadaan aman tersebut. Jika mengantuk atau lelah, segera istirahat di rest area, masjid, atau SPBU terdekat.
  2. Hindari berkendara ketika masih di bawah pengaruh obat, terutama yang membuat mengantuk/pusing.
  3. Bersikap sopan dalam berkendara, seperti tidak menyalakan klakson secara berlebihan atau tidak menggunakan jenis klakson yang mengganggu pemakai jalan lain.
    12. Jika kita berkendaraan secara berombongan, jangan memenuhi badan jalan.Termasuk dalam hal ini, jika Anda berkendara dengan teman pengendara lain, jangan mengobrol di jalan raya sehingga mengurangi kelapangan pengendara lain.
  1. Memberi kesempatan kepada penyeberang jalan, terutama penyandang cacat atau manusia berusia lanjut. Ini termasuk adab Islam yang mesti kita pupuk.
  2. Wajib mengutamakan keselamatan pejalan kaki dan pesepeda (UU No. 22/2009 pasal 106).
  3. Pada kecepatan rendah menggunakan lajur kiri.
  4. Pacu kendaraan Anda dalam kecepatan normal, meskipun normal itu sangat relatif. Di dalam kota atau permukiman, kecepatan 60 km/jam bisa jadi termasuk kecepatan tinggi. Namun di jalan raya antarkota atau lingkar luar yang sepi, kecepatan 80 km/jam bisa jadi sesuatu yang normal.
  5. Kendaraan roda dua pada prinsipnya hanya dinaiki oleh dua orang. Oleh karena itu, untuk keselamatan bersama, hindari mengikutkan banyak anggota keluarga seperti anak lebih dari satu atau anak yang masih bayi. Hindari juga membawa barang secara berlebihan yang dapat mengganggu kenyamanan berkendara.
  6. Kurangi risiko sebanyak mungkin.
  7. Selalu jaga jarak aman dengan kendaraan di depannya.
  8. Hindari bepergian di malam hari dan saat hujan deras jika tidak mendesak. Bagi sebagian orang, risiko kecelakaan lebih tinggi karena keterbatasan jarak pandang.
  9. Perhatikan pakaian Anda, terutama untuk Anda muslimah. Jika Anda membonceng, selalu jaga pakaian Anda agar tidak tersangkut rantai atau masuk jeruji ban. Sangat dianjurkan menggunakan perlengkapan tambahan, seperti tutup rantai.
  10. Lintasi jalur alternatif—jika memang ada—, untuk menghindari jalan yang padat, jalan rusak dan berlubang, atau jalan yang rawan kejahatan.
  11. Menyalip secara aman.
  12. Selalu perhatikan spion dan jangan lupa menyalakan lampu sein, lebih bagus lagi menyalakan klakson.
  13. Jangan memaksa diri menyalip kendaraan yang juga tengah menyalip.
  14. Jangan mendahului pada posisi yang tidak memungkinkan kita melihat kondisi lalu lintas di depan, seperti menyalip di tikungan, puncak tanjakan, terowongan tanpa pembatas jalur, dekat persimpangan jalan, kompleks perumahan, atau dekat sekolah yang anak-anak banyak bermain.
  15. Berhati-hati jika hendak melintas dekat mobil yang berhenti/parkir, bisa jadi mobil tersebut berhenti karena ada orang/kendaraan yang hendak menyeberang atau kemungkinan pintu mobil dibuka secara tiba-tiba.
  16. Jangan berhenti mendadak setelah menyalip, pastikan jarak aman dengan kendaraan di belakangnya. Jangan zig-zag di jalan, bisa jadi di belakang kita ada kendaraan yang juga bermaksud menyalip.
  17. Hindari menyalip dari kiri, terutama dari sisi dalam tikungan ketika hendak menyalip mobil/bus.
  18. Menyalakan klakson saat melintasi deretan mobil dalam antrean di siang hari atau menyalakan lampu jauh ketika malam hari sesering mungkin untuk memberikan perhatian dan jangkauan penglihatan kaca spion bagi kedua jalur mobil yang kita lintasi sehingga pengendara mobil mengetahui keberadaan kita.
  19. Pengemudi yang berpapasan dengan kendaraan lain dari arah berlawanan pada jalan dua arah yang tidak dipisahkan secara jelas, wajib memberikan ruang gerak yang cukup di sebelah kanan kendaraan. Pengemudi sebagaimana dimaksud jika terhalang oleh suatu rintangan atau pengguna jalan lain di depannya, wajib mendahulukan kendaraan yang datang dari arah berlawanan. (UU No. 22/2009 pasal 110)
  20. Pada jalan yang menanjak yang tidak memungkinkan berpapasan, pengemudi kendaraan yang arahnya menurun wajib memberi kesempatan jalan kepada pengemudi kendaraan yang arahnya mendaki. (UU No. 22/2009 pasal 111)
  21. Perhatikan situasi lalu lintas jika hendak berpindah jalur. Walaupun sudah menyalakan lampu sein, jangan langsung memotong jalan jika hendak berpindah jalur, terutama dari kanan ke kiri. Jika Anda dari kiri hendak ke kanan, pastikan Anda telah berada di lajur kanan terlebih dahulu dengan tetap memantau arus lalu lintas melalui spion.
  22. Jika Anda dari gang, jalan kecil, bahu/pinggir jalan, atau dari jalur lambat kemudian bemaksud memasuki jalan raya/jalur cepat, perhatikan kendaraan yang hendak melintas. Lebih baik berhenti dengan memerhatikan arus kendaraan terlebih dahulu daripada langsung masuk menikung yang seringnya mengagetkan sekaligus membahayakan pengendara lain.Sebaliknya, jika hendak masuk jalan kecil atau berbelok ke kiri, selalu menyalakan lampu sein atau dengan isyarat tangan dengan jarak aman—tidak mendadak.
  1. Saat di traffic light.
  2. Fokus pada lampu lalu lintas. Pastikan Anda jalan setelah lampu benar-benar menyala hijau, bukan karena lampu menyala merah tinggal beberapa detik.
    b. Countdown timer (penghitung waktu mundur) hanya bersifat membantu, bukan patokan apalagi jadi alat untuk “nge-track”.
  3. Jika dari kejauhan lampu lalu lintas sudah menyala kuning atau countdown timer warna hijau telah menunjuk angka di bawah lima detik, lebih baik memilih berhenti daripada memaksa diri untuk memacu kendaraan.
  4. Jangan menggunakan ponsel ketika berkendara.

Hindari ber-SMS, telepon, mengambil gambar, dan sebagainya saat berkendara. Pemakaian handsfree tidak disarankan karena tetap mengurangi konsentrasi berkendara.

  1. Sedia mantel sebelum hujan. Ini bukan pepatah, tapi merupakan bagian dari kesiapan berkendara. Spakbor harus selalu terpasang di motor Anda. Ketiadaan spakbor kala hujan dan saat melintas di jalan yang dipenuhi banyak genangan, bisa mengganggu bahkan merugikan orang lain. Bagi pengendara jarak jauh, mantel/jas hujan yang disarankan adalah yang terpisah bagian atas dan bawahnya. Wallahu a’lam.

Uraian di atas hanyalah beberapa tips sederhana yang dapat kami sajikan kepada Anda, tentunya masih banyak yang lainnya.

Di sini, kami juga mengingatkan bahwa segala takdir telah ditentukan Allah subhanahu wa ta’ala. Sehati-hati kita berkendara, namun jika pengendara atau pengguna jalan lain tidak berhati-hati, kecelakaan lalu lintas tetap tidak terhindarkan. Jalan di Indonesia termasuk berbahaya, terlebih tidak didukung oleh kedisplinan pengguna jalan. Kita hanya bisa berdoa memohon diberi keselamatan, namun ketika kita ditimpa musibah, kita pun harus siap bersabar dalam menjalaninya. Sebagai manusia kita hanya bisa berusaha, selebihnya Allah subhanahu wa ta’ala yang menentukan.

Semoga bermanfaat. (Redaksi, dari berbagai sumber)

 

Adab Diri pada Lisan, Tetangga dan Tamu

Rasul yang mulia  shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan banyak pelajaran, nasihat, dan pesan kebaikan kepada umat beliau dalam hadits-haditsnya yang agung. Tentang adab Islami kerap pula beliau sampaikan. Di antara hadits yang berbicara tentang adab Islami ini adalah hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu yang dikeluarkan oleh al-Imam al-Bukhari rahimahullah (no. 6018) dan al-Imam Muslim rahimahullah (no. 171 & 172) dalam kitab Shahih keduanya. Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu menyampaikan dari Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau ia diam. Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tetangganya. Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya.”

Wahai muslimah, bacalah dan renungkan hadits di atas, niscaya engkau dapati faedah yang besar. Engkau akan menyadari, betapa banyak orang yang tidak menjalankan tuntunan Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal ini. Engkau dapatkan banyak lisan yang digunakan untuk berucap jelek, dusta, ghibah, namimah, mengumpat, mencela, dan melaknat. Kita sadari, para wanita banyak yang jatuh dalam penyakit lisan ini. Kita pun bertanya, tertuju pertama kali kepada diri kita sendiri, “Di manakah pengamalan hadits:

‘Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berucap yang baik atau ia diam’.”

Engkau dapati buruknya hubungan bertetangga di masyarakat, apalagi di kota-kota besar. Banyak orang bersikap individualis. Seseorang tidak mau peduli dengan tetangga di sebelahnya. Jangankan menyampaikan kebaikan, justru kejelekan yang “dipersembahkan” untuk tetangga, dengan berkata buruk kepada tetangga, mengganggu istirahatnya dengan suara berisik, menyempitkan jalannya, dan perbuatan lain yang membuat tetangga tidak nyaman dan merasa terganggu. Padahal Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

“Demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman.” Ketika ditanya, “Siapakah yang Anda maksudkan, wahai Rasulullah?”
Beliau menjawab, “Orang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya.” (HR. al-Bukhari no. 6016 dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Ya, bukankah termasuk tuntutan iman yang sempurna adalah memuliakan tetangga, seperti sabda Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang sedang menjadi pembicaraan kita?

Satu lagi adab yang disebutkan dalam hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu di atas, yaitu memuliakan tamu. Ini pun tidak dijalankan dengan semestinya seperti yang dimaukan oleh syariat.

Untuk beroleh faedah dari hadits yang mulia di atas, kita coba menukil secara ringkas pembahasan dari seorang alim yang mulia, Fadhilatusy Syaikh Muhammad ibnu Shalih al-Utsaimin rahimahullah, terhadap hadits ini sebagai salah satu hadits yang termuat dalam al-Arba’in an-Nawawiyah (hadits ke-15). Semoga kita dimudahkan dan diberi taufik untuk mengamalkannya.

Berkata Baik atau Diam

Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berucap yang baik atau ia diam.”

Beliau  shallallahu ‘alaihi wa sallam mempersyaratkan iman dengan berucap baik atau diam. Maksudnya adalah memberikan anjuran dan dorongan untuk berucap baik atau paling tidak diam.

Perlu diketahui bahwa kebaikan dalam berucap itu terbagi dua.

  1. Kebaikan pada apa yang diucapkan

Contohnya adalah berzikir kepada Allah subhanahu wa ta’ala, bertasbih, bertahmid, membaca Al-Qur’an, mengajarkan ilmu, dan amar ma’ruf nahi mungkar.

  1. Kebaikan pada apa yang dimaksud/dituju.

Misalnya, seseorang mengucapkan ucapan untuk memberikan kegembiraan kepada teman duduk. Ini adalah kebaikan, melihat dampak yang dihasilkannya berupa kedekatan antarteman, hilangnya kekakuan, dan hilangnya perasaan asing.
Jika kita duduk bersama sekelompok orang dan kita tidak mendapati ucapan kebaikan yang bisa kita ketengahkan kepada mereka (jenis kebaikan yang pertama), namun kita terus diam dari awal sampai akhir, niscaya hal ini menimbulkan kekakuan. Akan timbul perasaan asing antara satu orang dan yang lain, tidak merasa dekat. Akan tetapi, jika kita berbicara dengan mereka—walaupun bukan ucapan yang disebutkan dalam jenis kebaikan yang pertama—guna menyenangkan teman duduk, seperti menanyakan keadaan keluarga dan anak-anaknya, ini merupakan kebaikan dalam hal maksud/tujuan.

Memuliakan Tetangga

“Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tetangganya.”
Tetangga memiliki hak. Semakin dekat rumahnya dengan rumah kita maka haknya pun semakin besar.

Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita memuliakan tetangga tanpa membatasi bentuk pemuliaan, apakah dengan memberi uang, sedekah, pakaian, ataukah yang lain. Yang menjadi patokan, segala sesuatu yang dalam syariat disebutkan secara mutlak, tidak dibatasi, maka perkaranya kembali kepada ‘urf atau kebiasaan yang ada di masyarakat Islam, sebagaimana hal ini disebutkan oleh kaidah fiqih. Dengan demikian, memuliakan tetangga itu tidak dibatasi dan tidak ditentukan.

Apa saja yang dianggap oleh orang-orang sebagai bentuk pemuliaan, berarti hal itu termasuk di dalamnya. Tentu saja pemuliaan ini bisa berbeda antara tetangga yang satu dan yang lain. Pemuliaan kepada tetangga yang fakir mungkin dilakukan dengan memberinya sepotong roti. Adapun tetangga yang kaya, tentu sepotong roti tidak mencukupi, malah bisa dianggap menghinanya. Orang biasa yang menjadi tetangga kita mungkin merasa cukup dengan pemberian berupa sesuatu yang sederhana. Namun, orang yang mulia dan dipandang manusia tentu butuh lebih dari itu untuk memuliakannya.

Batasan Tetangga

Apakah yang disebut sebagai tetangga harus bersebelahan dengan rumah kita, berhadapan, atau dalam jarak tertentu, atau bagaimana? Hal ini kembali pula kepada ‘urf (adat).

Ada riwayat dari al-Hasan al-Bashri rahimahullah, ia pernah ditanya tentang tetangga. Beliau menjawab bahwa tetangga adalah empat puluh rumah di depannya, empat puluh rumah di belakangnya, empat puluh rumah di sebelah kanannya dan empat puluh rumah di sebelah kirinya. (Diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari rahimahullah dalam al-Adabul Mufrad hadits no. 109, disahihkan sanadnya oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahih al-Adabil Mufrad)

Di waktu sekarang, jumlah tersebut mungkin menyulitkan. Adapun di zaman beliau rahimahullah jarak empat puluh rumah adalah jarak yang bisa jadi sedikit/kecil. Adapun di zaman kita ini, mungkin empat puluh rumah adalah jarak satu kampung. Jika kita katakan tetangga itu adalah empat puluh rumah dari kita, padahal rumah-rumah yang ada seperti istana, besar dan luas, niscaya jumlah empat puluh ini sulit. Karena sebab inilah kemungkinan al-Imam al-Bukhari rahimahullah memberi judul atsar ini dengan Bab al-Adna Fal Adna Minal Jiran (Bab Tetangga yang paling dekat lalu yang paling dekat) karena banyaknya jumlah tetangga dengan bilangan empat puluh ini sehingga yang harus diperhatikan dan dikedepankan adalah yang paling dekat dengan rumah kita lalu yang berikutnya.

Ketika Aisyah radhiallahu ‘anha bertanya kepada Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Aku memiliki dua tetangga. Manakah di antara keduanya yang semestinya aku berikan hadiah?” Rasulullah menjawab, “Engkau berikan kepada tetangga yang paling dekat pintu rumahnya dari rumahmu.” (HR. al-Bukhari dalam Shahih-nya)

Memuliakan Tamu

“Dan siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya.”
Tamu adalah orang yang singgah di tempat Anda. Misalnya, ada seorang musafir mampir di rumah Anda, ini adalah tamu yang wajib dimuliakan.
Sebagian ahlul ilmi berkata, “Perjamuan untuk tamu itu hanya wajib jika tempat tersebut berupa kampung atau kota kecil. Adapun di kota besar, perjamuan tidak wajib karena di kota bisa dijumpai rumah makan dan penginapan/hotel yang musafir bisa singgah ke sana. Adapun di kampung, musafir yang lewat membutuhkan tempat bernaung/singgah.”

Akan tetapi, zahir (lahiriah) hadits bersifat umum, tidak membedakan kota atau kampung. Tamu tetap harus diberi jamuan.

Faedah Hadits

Hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu yang sedang kita bicarakan ini memiliki beberapa faedah.

  1. Seseorang wajib diam selain dalam kebaikan.

Demikian pemahaman dari zahir hadits. Akan tetapi, ada tiga keadaan berkaitan dengan ucapan manusia.

a. Perkataan yang baik, ini yang dituntut untuk diucapkan oleh lisan.
b. Ucapan yang buruk.

Hukumnya haram. Seseorang harus menahan diri darinya, wajib diam tidak mengucapkannya. Sama saja, baik kejelekannya ada pada ucapan itu sendiri maupun pada dampak yang ditimbulkan.

c. Ucapan sia-sia (laghwi), yaitu ucapan yang tidak mengandung kebaikan dan kejelekan.

Seseorang tidak diharamkan berucap yang laghwi, namun yang lebih utama adalah ia diam dari berucap yang laghwi.

  1. Anjuran menjaga lisan.

Ketika Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya oleh Mu’adz ibnu Jabal radhiallahu ‘anhu tentang amalan yang dapat memasukkannya ke dalam surga dan menjauhkannya dari neraka, Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memberikan penjelasan kepadanya dan mengajarinya beberapa hal. Setelahnya, Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Mu’adz radhiallahu ‘anhu:

“Maukah aku beritahukan kepadamu tentang sesuatu yang menguasai seluruh perkara itu?” “Tentu, wahai Rasulullah,” kata Mu’adz. Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian memegang lisannya sendiri seraya berkata, “Tahan ini.”

Mu’adz bertanya,” Wahai Rasulullah, apakah kita akan disiksa karena ucapan yang kita ucapkan?”

Rasulullah menjawab, “Ibumu kehilangan kamu[1], wahai Mu’adz. Bukankah orang yang disungkurkan/ditelungkupkan di atas wajah-wajah mereka—atau beliau berkata: di atas hidung-hidung mereka—ke dalam api neraka, melainkan karena ulah lisan-lisan mereka?” (HR. at-Tirmidzi no. 2616, disahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahih at-Tirmidzi)

  1. Wajib memuliakan tetangga.

Bentuk pemuliaan ini kembali kepada ‘urf. Bisa dengan mengunjungi, mengucapkan salam, atau duduk di sisinya. Pada kesempatan yang lain, ia bisa mengundang tentangganya ke rumah dan memberi jamuan kepadanya. Bisa pula dengan memberinya hadiah.

  1. Agama Islam adalah agama yang menginginkan kedekatan dan saling kenal antara satu dan yang lain.
  2. Wajib memuliakan tamu dengan sesuatu yang dianggap pemuliaan, misalnya berwajah cerah, berseri-seri, memberi senyum, dan menampakkan kegembiraan saat menyambut atau menemuinya, seraya mengatakan misalnya, “Silakan masuk. Saya senang sekali dengan kedatangan Anda.”

Wallahu ta’ala a’lam.

(Dinukil dengan beberapa perubahan dan tambahan oleh Ummu Ishaq al-Atsariyah dari Syarhul Arba’in an-Nawawiyah, karya asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, hlm. 200—204)

[1] Makna kalimat ini tidaklah seperti zahirnya, yaitu sang ibu kehilangan putranya. Namun, kalimat ini diucapkan oleh orang Arab untuk memberikan dorongan.

 

Anak Lahir di Atas Fitrah

Saya ingin memperoleh perincian dan keterangan serta apa perbedaan kedua hadits ini. Hadits yang mulia menyatakan:

كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ

“Setiap anak yang lahir dilahirkan di atas fitrah, maka kedua orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi, Majusi, atau Nasrani.”

Hadits lain berbunyi:

يُكْتَبُ رِزْقُهُ وَ عَمَلُهُ وَ شَقِيٌّ أَوْ سَعِيْد

“(Untuk janin yang ditiupkan ruhnya padanya, Allah subhanahu wa ta’ala perintahkan kepada malaikat penjaga janin agar) janin tersebut dicatat rezekinya, amalnya, dan apakah ia orang yang sengsara ataukah orang yang berbahagia.”

Jawab:
Pertama, hadits:

كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، حَتَّى يُعْرِبَ عَنْهُ لِسَانُهُ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

“Setiap anak yang lahir dilahirkan di atas fitrah hingga ia fasih (berbicara), maka kedua orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”

Hadits ini diriwayatkan oleh al-Baihaqi dan ath-Thabarani dalam al-Mu’jamul Kabir. Al-Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan dengan lafadz:

كُلُّ إِنْسَانٍ تَلِدُهُ أُمُّهُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

“Setiap manusia dilahirkan ibunya di atas fitrah. Kedua orang tuanya yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”

Adapun al-Imam al-Bukhari rahimahullah meriwayatkan dengan lafadz:

كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ، كَمَثَلِ الْبَهِيْمَةِ تَنْتِجُ الْبَهِيْمَةَ، هَلْ تَرَى فِيْهَا مِنْ جَدْعَاءَ؟

“Setiap anak dilahirkan di atas fitrah. Kedua orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Sebagaimana permisalan hewan yang dilahirkan oleh hewan, apakah kalian melihat pada anaknya ada yang terpotong telinganya? (Anaknya lahir dalam keadaan telinganya tidak cacat, namun pemiliknya lah yang kemudian memotong telinganya, -pen.).”

Makna hadits di atas adalah manusia difitrahkan (memiliki sifat pembawaan sejak lahir) dengan kuat di atas Islam. Akan tetapi, tentu harus ada pembelajaran Islam dengan perbuatan/tindakan. Siapa yang Allah subhanahu wa ta’ala takdirkan termasuk golongan orang-orang yang berbahagia, niscaya Allah subhanahu wa ta’ala akan menyiapkan untuknya orang yang akan mengajarinya jalan petunjuk sehingga jadilah dia dipersiapkan untuk berbuat (kebaikan).

Sebaliknya, siapa yang Allah subhanahu wa ta’ala ingin menghinakannya dan mencelakakannya, Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan sebab yang akan mengubahnya dari fitrahnya dan membengkokkan kelurusannya. Hal ini sebagaimana keterangan yang ada dalam hadits tentang pengaruh yang dilakukan kedua orang tua terhadap anaknya yang menjadikan si anak beragama Yahudi, Nasrani, atau Majusi.

Kedua dalam Shahihain dari Abdullah ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu, ia berkata:

“Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menceritakan kepada kami, dan beliau adalah orang yang benar lagi dibenarkan. Beliau bersabda, “Sesungguhnya salah seorang dari kalian dikumpulkan penciptaannya dalam perut ibunya selama 40 hari sebagai setetes mani/nuthfah. Kemudian nuthfah tadi menjadi segumpal darah selama 40 hari, kemudian menjadi segumpal daging selama 40 hari. Lalu diutuslah malaikat kepada janin tersebut dan diitiupkanlah ruh kepadanya. Malaikat lalu diperintah untuk menulis empat perkara: ditulis rezeki si janin, ajalnya, amalnya, dan apakah ia orang yang sengsara ataukah orang yang berbahagia. Maka demi Allah yang tidak ada sesembahan yang patut disembah selain-Nya, sungguh salah seorang dari kalian melakukan amalan ahlul jannah hingga tidaklah antara dia dan surga melainkan tinggal sehasta, namun catatannya telah mendahuluinya (bahwa dia bukanlah ahlul jannah) lalu ia berbuat dengan perbuatan ahlul nar/neraka maka ia pun masuk neraka. Ada pula salah seorang dari kalian melakukan perbuatan ahlul nar hingga tidaklah jarak dia dengan neraka kecuali tinggal sehasta namun catatannya telah mendahuluinya (bahwa dia bukanlah ahlun nar tapi ahlul jannah) maka pada akhirnya ia beramal dengan amalannya ahlul jannah lalu ia pun masuk jannah.”

Kesengsaraan dan kebahagiaan yang telah dicatat tersebut adalah penulisan azali (sejak dahulu, sebelum makhluk diciptakan) dengan tinjauan ilmu Allah subhanahu wa ta’ala yang azali (yakni Allah subhanahu wa ta’ala sudah mengetahui dan menetapkan bahwa si hamba termasuk orang yang bahagia dengan beroleh surga atau termasuk orang yang celaka dengan masuk neraka, jauh sebelum si hamba diciptakan bahkan sebelum semua makhluk diciptakan, -pen.) dan akhir amalan seorang hamba sesuai dengan ilmu Allah subhanahu wa ta’ala yang azali (sengsarakah dia ataukah bahagia?)

Ketiga, melihat pertanyaan yang ada (seolah-olah menganggap kedua hadits di atas bertentangan), dengan merenungkan makna hadits yang pertama dan kedua akan jelas keduanya tidak bertentangan.

Hal ini karena manusia terfitrah dengan kuat di atas kebaikan. Jika dalam ilmu Allah subhanahu wa ta’ala, ia termasuk golongan orang-orang yang berbahagia dan kebahagiaan inilah yang ditetapkan pada akhir hidupnya, Allah subhanahu wa ta’ala akan menyiapkan orang yang akan menunjukinya kepada jalan kebaikan. Namun, jika dalam ilmu Allah subhanahu wa ta’ala ia termasuk golongan orang-orang yang celaka, Allah subhanahu wa ta’ala akan menggiring untuknya orang yang akan memalingkannya dari jalan kebaikan dan menyertainya pada jalan kejelekan, mendorongnya di atas kejelekan dan terus-menerus mendampinginya hingga ditutup umurnya dengan penutup yang jelek.

Sungguh, banyak nash menyebutkan adanya penulisan takdir yang telah terdahulu yang berisi ketentuan golongan yang berbahagia dan yang sengsara.

Di dalam ash-Shahihain dari Ali radhiallahu ‘anhu, dari Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

“Tidak ada satu jiwa pun melainkan Allah subhanahu wa ta’ala telah menetapkan tempatnya di surga atau di neraka dan telah dicatat baginya kesengsaraan atau kebahagiaannya. Seseorang berkata, “Wahai Rasulullah, apakah tidak sebaiknya kita pasrah saja dengan apa yang telah ditulis untuk kita dan tidak perlu beramal?” Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Beramallah kalian karena setiap orang akan dimudahkan kepada apa yang dia diciptakan untuknya. Golongan yang berbahagia akan dimudahkan untuk beramal dengan amalan orang-orang yang berbahagia. Adapun golongan yang celaka akan dimudahkan untuk beramal dengan amalan orang-orang yang celaka.”

Kemudian Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat:

“Adapun orang-orang yang suka memberi lagi bertakwa. Dia juga membenarkan surga/pahala yang baik…” (al-Lail: 5—6).”

Hadits ini menunjukkan bahwa kebahagiaan dan kecelakaan telah tercatat dalam kitab/catatan takdir. Diperolehnya kebahagiaan dan kesengsaraan itu sesuai dengan amalan. Masing-masing orang akan dimudahkan melakukan amalan yang telah ditentukan/diciptakan untuknya, yang hal itu merupakan sebab kebahagiaan dan kesengsaraannya. Wabillahi at-taufiq. (Fatwa no. 6334, 3/525—527)
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

 

Hukum Perayaan Ulang Tahun

Al-Lajnah ad-Daimah lil Buhuts al-Ilmiyyah wal Ifta’ yang saat itu diketuai[1] oleh Samahatusy Syaikh Abdul Aziz ibnu Abdillah ibnu Baz rahimahullah menjawab beberapa pertanyaan berikut ini.

Ada saudara-saudara kami, kaum muslimin, yang menyelenggarakan perayaan ulang tahun untuk diri mereka dan anak-anak mereka. Apa sebenarnya pandangan Islam dalam masalah “ulang tahun” ini?

Jawab:
Asal dalam perkara ibadah adalah tauqif/berhenti di atas nash (dalil Al-Qur’an dan as-Sunnah). Oleh karena itu, seseorang tidak boleh melakukan ibadah yang tidak disyariatkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, berdasar sabda Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang sahih:

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Siapa yang mengada-adakan sesuatu dalam perkara kami ini padahal bukan bagian darinya maka amalan yang diada-adakan itu tertolak.”

Demikian pula sabdanya  shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ علَيْهَا أمرنا فَهُوَ رَدٌّ

“Siapa yang mengamalkan satu amalan yang tidak di atas perintah kami maka amalan tersebut tertolak.”

Perayaan ulang tahun adalah satu macam ibadah yang diada-adakan dalam agama Allah subhanahu wa ta’ala. Dengan demikian, memperingati ulang tahun siapa pun tidak boleh dilakukan, bagaimanapun kedudukan atau perannya dalam kehidupan ini. Makhluk yang paling mulia dan rasul yang paling afdhal yaitu Muhammad ibnu Abdillah  shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak pernah dihafal berita dari beliau  shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyatakan bahwa beliau  shallallahu ‘alaihi wa sallam mengadakan perayaan hari kelahirannya. Tidak pula beliau  shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi arahan kepada umatnya untuk merayakan dan memperingati ulang tahun beliau  shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kemudian, orang-orang yang paling afdhal dari umat ini setelah Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu para khalifah umat ini dan para sahabat Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak ada berita bahwa mereka memperingati ulang tahunnya atau ulang tahun salah seorang dari mereka, semoga Allah subhanahu wa ta’ala meridhai mereka semuanya.

Perlu selalu dicamkan bahwa kebaikan adalah dengan mengikuti petunjuk mereka dan mengikuti urusan yang lurus/tegak yang diperoleh dari madrasah Nabi mereka. Ditambah lagi, dalam bid’ah yang satu ini ada unsur tasyabbuh (meniru/menyerupai) perbuatan Yahudi dan Nasrani, serta orang-orang kafir selain mereka dalam hal perayaan-perayaan yang mereka ada-adakan. Wallahul musta’an.
(Fatwa no. 2008, kitab Fatawa al-Lajnah ad-Daimah lil Buhuts al-Ilmiyyah wal Ifta’, 3/83—84)

Istri saya biasa mengadakan acara tahunan untuk putra saya bertepatan dengan hari kelahirannya yang diistilahkan hari ulang tahun. Dalam acara ini disediakan beraneka makanan dan diletakkan lilin (di atas kue tart) sejumlah umur si anak. Di awal acara, si anak diminta meniup semua lilin yang dinyalakan tersebut, setelahnya barulah acara dimulai. Apa hukum syariat dalam perbuatan semacam ini?

Jawab:
Tidak boleh membuat acara ulang tahun untuk seorang pun karena hal itu bid’ah, padahal telah pasti sabda Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Siapa yang mengada-adakan dalam urusan/perintah/perkara kami ini apa yang bukan bagiannya maka yang diada-adakan itu tertolak.”

Juga karena acara ulang tahun itu tasyabbuh terhadap orang-orang kafir, padahal Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Siapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk golongan mereka.”
Wabillahi at-taufiq.
(Fatwa no. 5289)

[1] Wakil Ketua: asy-Syaikh Abdurrazzaq Afifi. Anggota: asy-Syaikh Abdullah ibnu Ghudayyan dan asy-Syaikh  Abdullah ibnu Qu’ud.

 

Arti Penting Wanita dalam Kehidupan

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi dan Rasul yang paling mulia, keluarga, dan para sahabat beliau, serta orang-orang yang berjalan mengikuti jejak mereka sampai hari kiamat.

Di dalam Islam, wanita muslimah memiliki kedudukan yang tinggi dan pengaruh yang besar bagi kehidupan setiap muslim. Dia merupakan madrasah atau sekolah yang pertama dalam membangun masyarakat yang saleh, jika si wanita berjalan di atas petunjuk Kitabullah dan Sunnah Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Karena berpegang dengan keduanya akan menjauhkan setiap muslim dan muslimah dari kesesatan dalam segala hal. Kesesatan umat dan penyimpangannya tidak akan terjadi melainkan dengan menjauhkan wanita dari bimbingan Allah subhanahu wa ta’ala serta dari wahyu yang dibawa oleh para nabi dan rasul. Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا إِنْ تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا؛ كِتَابُ اللهِ وَسُنَّتِي

“Aku tinggalkan di tengah kalian dua hal yang kalian tidak akan sesat selama kalian berpegang teguh dengan keduanya: Kitabullah dan sunnahku.”

Al-Qur’anul Karim menyebutkan arti penting seorang wanita, baik sebagai ibu, istri, saudara perempuan, maupun anak perempuan. Di samping menyebutkan hak dan kewajiban mereka, As-Sunnah yang suci juga merinci hal tersebut.

Kepayahan dan beban yang mereka tanggung sebagiannya melebihi beban lelaki. Oleh karena itu, kewajiban yang paling penting bagi seseorang (setelah menunaikan kewajiban kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya) adalah bersyukur kepada ibu, berbakti, dan berbuat baik kepadanya. Kewajiban kepada ibu ini didahulukan daripada kepada ayah. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Dan Kami perintahkan kepada manusia untuk berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (Luqman: 14)
Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman:

Dan kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua ibu bapaknya. Ibunya mengandungnya dengan susah payah dan melahirkannya dengan susah payah pula. Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya mencapai empat puluh tahun, ia berdoa, “Duhai Rabbku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku, serta supaya aku dapat beramal saleh yang Engkau ridhai. Berilah kebaikan kepadaku dengan memberi kebaikan kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sungguh aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (al-Ahqaf: 15)

Seseorang datang kepada Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata:

“Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak untuk aku berlaku baik kepadanya?” Beliau menjawab, “Ibumu.” “Kemudian siapa ?” tanya si lelaki. “Ibumu,” jawab Rasulullah. “Lalu siapa lagi?” tanya orang itu lagi. “Ibumu,” jawab Rasulullah untuk ketiga kalinya. Saat orang itu bertanya lagi, “Lalu siapa?” Rasulullah mengatakan, “Ayahmu.”

Berdasar hadits di atas, hak ibu untuk mendapatkan kebaikan dari anaknya tiga kali lipat daripada hak ayah.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman menyinggung peran seorang istri dalam kehidupan seorang lelaki.

”Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untuk kalian istri-istri dari jenis kalian sendiri, supaya kalian cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antara kalian ada rasa kasih dan sayang (mawaddah wa rahmah). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (ar-Rum: 21)

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan firman Allah subhanahu wa ta’ala di atas, “Mawaddah adalah mahabbah (cinta), sedangkan rahmah adalah kasih sayang. Hal ini karena seorang lelaki menahan seorang wanita (untuk tetap hidup bersamanya sebagai istri) mungkin karena ia mencintai si wanita atau ia menyayanginya karena mendapatkan anak dari si wanita.” (Tafsir Ibni Katsir)

Sungguh, peran tiada banding telah dilakukan seorang istri yang namanya harum sepanjang sejarah perjalanan anak manusia, Khadijah bintu Khuwailid, semoga Allah subhanahu wa ta’ala meridhainya. Sosok istri yang terus dikenang oleh Khairul Anam, Muhammad  shallallahu ‘alaihi wa sallam. Khadijah telah memberikan pengaruh yang sangat besar dalam menenangkan rasa takut yang sempat menyergap Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala Jibril turun membawa wahyu pertama kali kepada beliau di Gua Hira. Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam menemui istrinya dalam keadaan gemetar seraya memerintahkan, “Selimuti aku, selimuti aku! Sungguh aku mengkhawatirkan diriku.”

Mengalirlah tutur kata penuh kebaikan dari lisan Khadijah, membiaskan ketenangan dalam dada suaminya, “Tidak, demi Allah! Allah tidak akan merendahkanmu selama-lamanya. Sesungguhnya engkau adalah orang yang suka menyambung kekerabatan, menanggung beban orang yang kesusahan, memberi harta kepada orang yang tidak memiliki, menjamu tamu, dan membantu orang yang membela kebenaran.”

Dalam bidang ilmu dan dakwah, kita tidak lupa dengan peran ash-Shiddiqah Aisyah bintu ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhuma, istri tercinta Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang tokoh-tokoh sahabat banyak mengambil hadits darinya. Demikian pula kebanyakan wanita mengambil hukum-hukum yang berkaitan dengan diri mereka dari Aisyah radhiallahu ‘anha.

Pada masa lalu yang tidak terlalu jauh dari kita, di zaman al-Imam Muhammad ibnu Su’ud rahimahullah, istrinya menasihatinya agar menerima dakwah al-Imam al-Mujaddid Muhammad ibnu Abdil Wahhab rahimahullah, tatkala beliau menawarkan dakwahnya kepada Ibnu Su’ud[1]. Nasihat sang istri kepada sang suami ini sungguh berpengaruh besar dalam terjalinnya kesepakatan antara keduanya untuk memperbarui dakwah dan menyebarkannya. Sekarang kita bisa merasakan, alhamdulillah, pengaruh dakwah tersebut dengan tertancapnya akidah tauhid pada anak-anak jazirah ini.

Tidak pula saya sangsikan bahwa ibu saya memiliki keutamaan yang besar dan pengaruh yang tidak kecil dalam mendorong saya untuk belajar dan membantu saya dalam menuntut ilmu. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala melipatgandakan pahala bagi beliau atas kebaikan yang diberikannya kepada saya.

Sebagai akhir, tidak pula kita ragukan bahwa rumah yang dipenuhi dengan mawaddah, mahabbah, kasih sayang, dan tarbiyah Islamiah akan memberikan pengaruh bagi seseorang. Dengan izin Allah subhanahu wa ta’ala, orang tersebut akan diberi taufik dalam urusannya, sukses dalam pekerjaan apa saja yang dia upayakan, baik dalam menuntut ilmu, usaha perdagangan, perkebunan, maupun pekerjaan lainnya.

Hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala saya memohon agar memberi taufik kepada semuanya kepada apa yang dicintai dan diridhai-Nya. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad, segenap keluarga, dan para sahabatnya.

Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.

(Disusun kembali dengan sedikit perubahan/tambahan dari Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, Syaikh Ibnu Baz, 3/348—350, oleh Ummu Ishaq al-Atsariyah)

Ditulis oleh:  Samahatul Walid al-Imam Abdul Aziz ibnu Abdillah ibnu Baz rahimahullah

[1] Dikisahkan, tatkala asy-Syaikh al-Mujaddid Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullah meninggalkan negeri Uyainah atas permintaan penguasanya karena tak kuasa memberikan pembelaan kepada beliau dan dakwah tauhid yang beliau serukan, beliau menuju ke negeri Dir’iyah, tempat tinggal salah seorang murid terbaiknya, Ibnu Suwailim. Menerima kedatangan sang guru, Ibnu Suwailim merasa takut dan gelisah. Ia mengkhawatirkan keselamatan diri dan gurunya dari ancaman penduduk negeri yang tidak senang dengan dakwah tauhid yang beliau tegakkan. Namun, asy-Syaikh menenangkan si murid, mengajaknya bertawakal kepada Allah subhanahu wa ta’ala, dan menjanjikan pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala bagi orang yang mau menolong agama-Nya. Dalam keadaan demikian, sampai kabar tentang asy-Syaikh kepada istri penguasa Dir’iyah, Muhammad ibnu Su’ud. Wanita salehah ini menawari suaminya untuk memberikan bantuan kepada asy-Syaikh. Ia juga mengingatkan suaminya bahwa kedatangan asy-Syaikh ke negeri mereka adalah nikmat dari Allah subhanahu wa ta’ala yang digiring oleh Allah subhanahu wa ta’ala untuknya sehingga sepatutnya bersegera merangkulnya. Si istri ini menyusupkan ketenangan kepada suaminya, membuat suaminya mencintai dakwah asy-Syaikh sekaligus pribadi beliau. Sang suami yang menjabat penguasa ini akhirnya berkata, “Biar dia yang datang kepadaku.”

Istrinya berkata, “Justru hendaknya engkau yang pergi menemuinya. Kalau engkau mengirim orang untuk menyuruhnya mendatangimu, bisa jadi orang-orang akan berkata bahwa amir mencarinya untuk menangkap dan menghukumnya. Namun, kalau engkau yang pergi menemuinya, hal itu merupakan kemuliaan baginya dan bagimu.” Akhirnya, pergilah sang amir menemui asy-Syaikh di rumah muridnya.

 

Saat Terjadi Pertikaian

Hidup berumah tangga tak selamanya berjalan mulus tanpa masalah. Bahkan, masalah pasti muncul saat dua insan telah mengikat perjanjian suci yang dinyatakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam Al-Qur’an sebagai mitsaqan ghalizha1. Sudah menjadi kemestian bahwa menikah dan hidup bersama, seatap, bahkan satu selimut dengan anak manusia yang memiliki sifat banyak kesalahan dan khilaf, pasti suatu saat memunculkan persoalan, kecil atau besar, remeh atau berat. Hanya di surga kelak barulah didapatkan rumah tangga tanpa problem, selalu seia sekata dalam limpahan nikmat yang tiada berkesudahan dari Sang Pemberi kenikmatan, Allah subhanahu wa ta’ala. Adapun rumah tangga di dunia sebagaimana yang kita maklumi….

Namun, sebenarnya jika pihak suami dan istri menunaikan dengan semestinya kewajiban yang dituntut darinya dan tidak berlebihan menuntut haknya, niscaya tidak ada kesempatan munculnya perselisihan yang membahayakan keutuhan rumah tangga. Yang ada hanyalah kebersamaan sepasang insan, suami istri, yang bahagia dengan sedikit riak-riak kehidupan sebagai bumbu pernikahan. Akan tetapi, sekali lagi, hidup mesti tak lepas dari masalah karena kesempurnaan hanya milik Allah subhanahu wa ta’ala. Bagaimanapun seorang suami atau seorang istri berupaya agar tidak timbul persoalan dalam kebersamaan mereka, terkadang tetap saja ada permasalahan. Demikianlah manusia dengan sifat lemah dan kurang yang dimilikinya.

Lalu bagaimana cara kita bersikap saat muncul persoalan, pertikaian, atau percekcokan?
Ada beberapa hal yang sebaiknya ditempuh saat terjadi permasalahan/pertikaian dalam rumah tangga, sebagaimana dinasihatkan oleh ahlul ilmi. Berikut ini kami paparkan sebagiannya kepada pembaca yang mulia.

  1. Setiap pihak—dalam hal ini suami dan istri—harus berhias dengan kesabaran, tabah menahan diri, dan tidak serampangan/tergesa-gesa bertindak ketika sedang marah dan emosi.

Terlebih seorang istri, hendaknya ia tidak membantah/menjawab seluruh kalimat yang dilemparkan suaminya kepadanya saat marah. Demikian pula suami, ia harus bisa menahan diri sehingga tidak mengucapkan kalimat yang menyakiti hati istrinya, atau melontarkan cacian dan celaan yang dapat menorehkan luka.

  1. Suami hendaknya meninggalkan kamar/ruangan tempat terjadinya perselisihan atau pertengkaran.

Jika memang terpaksa ia harus keluar rumah, itu lebih baik hingga urat sarafnya yang tegang kembali tenang dan marahnya reda. Urusan pun kembali berjalan pada posisinya yang normal. Jika si suami kembali ke rumahnya, hendaknya ia tidak lupa menunaikan hak seorang muslim terhadap muslim yang lain,2 apalagi si muslim itu adalah istrinya sendiri. Di samping itu, ia juga menjalankan adab ketika masuk rumah, yaitu mengucapkan salam, “Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.” Mendapatkan ucapan salam demikian, maka seorang istri hendaklah mengingat kewajibannya kepada saudaranya sebagaimana disebutkan dalam hadits:

“Lima hal yang wajib ditunaikan oleh seorang muslim terhadap saudaranya, yaitu menjawab salam, mendoakan, “Yarhamukallah” kepada orang yang bersin (yang memuji Allah ketika bersinnya), memenuhi undangan, menjenguk orang yang sakit, dan mengikuti jenazah.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Jadi, ia tetap menjawab salam suaminya walaupun sedang marahan dengannya. Tentu sebagai penyerta ucapan salam, hendaknya keduanya saling memberikan senyuman kecil, karena tidak mungkin kalimat yang berisi doa dan salam kedamaian ini diucapkan dengan wajah cemberut. Semestinya senyuman yang tersungging dari keduanya ini dapat mengetuk hati yang terkunci karena emosi, meredam marah, bahkan menghilangkannya, dan berujung dengan berakhirnya percekcokan. Ini adalah langkah awal untuk menyelesaikan permasalahan.

Mungkin kita masih ingat akan kisah yang pernah terjadi di zaman nubuwwah, pada rumah tangga putri Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia, Fathimah az-Zahra radhiallahu ‘anhu dan suaminya yang mulia, Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu. Ketika ada percekcokan antara keduanya, Ali radhiallahu ‘anhu keluar dari rumahnya, meninggalkan istrinya. Untuk lebih lengkapnya kita baca haditsnya.

Sahl ibnu Sa’d as-Sa’idi radhiallahu ‘anhu berkata:

“Nama yang paling dicintai oleh Ali radhiallahu ‘anhu adalah Abu Turab, dia senang jika dipanggil dengan sebutan itu. Yang menyebutnya dengan Abu Turab tidak lain adalah Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam. Suatu hari Ali saling bermarahan dengan istrinya Fathimah. Ali pun keluar dari rumahnya lalu pergi ke masjid dan berbaring di dekat dindingnya. Datanglah Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam menyusul Ali setelah beliau tidak mendapatinya di rumahnya. Ketika beliau menanyakan keberadaan Ali, orang pun menunjukkan, “Dia sedang berbaring dekat dinding.” Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam datang mendekat kepada Ali sementara punggung Ali penuh dengan debu atau tanah. Mulailah Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusap debu tersebut dari punggung Ali seraya berkata, “Duduklah, wahai Abu Turab!” (HR. al-Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya)

  1. Saat terjadi perselisihan dan kemarahan, seorang suami tidak boleh berpikir untuk bercerai.

Keinginan bercerai ini harus dijauhkan dari benaknya karena setan bisa mengambil kesempatan dalam keadaan si insan labil akibat kemarahan seperti ini. Jika bisikan setan dituruti, dilakukanlah tindakan dan dijatuhkanlah keputusan yang tidak akan diambil saat hati itu tenang dan keadaan stabil. Akhirnya, sesal datang kemudian, ketika penyesalan tidak lagi berguna.

Perceraian adalah jalan keluar terakhir yang diberikan oleh Islam saat hidup bersama sebagai sepasang suami istri tidak mungkin lagi diteruskan dan mustahil tetap dipertahankan. Perceraian bukanlah pedang atau cambuk yang dilecutkan kepada istri setiap kali si suami marah. Bahkan, termasuk kedunguan jika ada orang yang menyangka bahwa perceraian adalah solusi dari problemnya, padahal masih mungkin ditempuh cara-cara lain yang positif.

  1. Seorang istri yang dijatuhi talak satu atau dua oleh suaminya, hendaknya tidak berkeinginan keluar dari rumah suaminya lalu tinggal di rumah orang tua/keluarganya selama masih dalam masa iddah, walaupun suami yang menyuruhnya pergi/mengusirnya dalam keadaan marah.

Tuntutan suami itu tidaklah benar. Akan tetapi, emosi dan kemarahan telah membutakan dan menghilangkan kesadarannya3.

Oleh sebab itu, si istri tidak boleh terpengaruh oleh emosi suami. Tetaplah ia diam di rumah suaminya dan tidak keluar darinya. Keluar meninggalkan rumah suami adalah urusan yang mudah dilakukan. Keputusannya ada di tangan istri. Akan tetapi, kembali ke rumah suami, bersatu kembali dalam kedamaian setelah meninggalkannya adalah urusan yang sulit karena keputusannya bukan di tangan istri, tetapi di tangan suami. Jika sebuah urusan berada di tangan orang lain, tentu tidak mudah bertindak-tanduk di dalamnya.

Di sisi lain, diimbau kepada istri untuk tidak bermudah-mudah meminta cerai dari suami ketika ada percekcokan.

  1. Ketika seorang suami melihat kekurangan istrinya dalam menunaikan kewajibannya dan memenuhi kebutuhan suaminya, seharusnya suami menyadari bahwa istri yang sempurna tidak ada di dunia, hanya ada di akhirat saja.
    Bagaimanapun sempurnanya seorang wanita, pasti ia memiliki kekurangan. Oleh karena itu, suami hendaklah melihat sisi-sisi positif yang ada pada istrinya dan memandang celah-celah kebaikan pada istrinya. Inilah makna bimbingan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia:

“Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah. Jika ia membenci satu perangai dari si mukminah, niscaya ia akan ridha dengan perangainya yang lain.” (HR. al-Imam Muslim dalam Shahih-nya)

Suami hendaknya mengingat bahwa wanita itu diciptakan dari tulang rusuk, padahal sifat tulang rusuk itu bengkok. Maka dari itu, mau tidak mau, suami bernikmat-nikmat dan bersenang-senang dengan istrinya di atas kebengkokan yang merupakan tabiatnya. Jika suami menuntut, hal itu akan mematahkannya. Patahnya adalah menalaknya4. Padahal menalaknya akan memberi mudarat bagi suami dan istri sekaligus, di samping mudarat bagi masyarakat. Namun, jika ada kebutuhan darurat yang syar’i, barulah ditempuh jalan perpisahan.

  1. Seorang istri tidak boleh menceritakan masalah yang terjadi antara dia dan suaminya kepada ayahnya, ibunya, salah seorang kerabatnya, atau kerabat suami.
    Hal ini akan memperluas/memperuncing masalah dan membuat keluarga istri tidak suka kepada si suami. Di sisi lain, istri juga tidak beroleh faedah apapun selain pandangan kebencian keluarganya kepada suaminya. Perselisihan yang ada juga akan terus diingat, tidak bisa dilupakan.

Beda halnya jika pertikaian dijaga hanya berputar di dalam rumah, tidak diketahui pihak luar, niscaya akan berakhir dan terlupakan bersama dengan terjadinya perdamaian antara keduanya atau saat tersungging senyuman dari salah satunya kepada yang lain.

Dengan demikian, tidak sepantasnya istri menceritakan persoalan/percekcokannya dengan suaminya kepada keluarganya, apa pun bentuk masalahnya, selama si istri ingin tetap hidup bersama suaminya. Bahkan, sampaipun hidup bersama tidak mungkin lagi diharapkan, bahtera tidak mungkin lagi diselamatkan, dan jatuh keputusan akhir harus bercerai dengan sang suami, si istri tetap tidak boleh menceritakannya. Maka dari itu, tidak sepantasnya seorang istri menyebarkan keburukan mantan suaminya, berbuat jelek kepadanya, dan membongkar aib/cacat/celanya sehingga menjatuhkan nama baiknya. Perbuatan seperti ini berarti merobek tabir yang ditutupkan Allah subhanahu wa ta’ala kepada keduanya. Di samping itu, seorang muslim juga diperintah untuk menutup aib saudaranya. Perbuatan ini juga merupakan sikap penentangan terhadap ikatan kuat yang pernah terjalin di antara keduanya, padahal Allah subhanahu wa ta’ala mengingatkan:

“Janganlah kalian melupakan keutamaan di antara kalian.” (al-Baqarah: 237)
Maksudnya, janganlah kalian melupakan kebaikan di antara kalian. (Tafsir Ibnu Katsir, 2/378)

  1. Tidak sepantasnya suami memberitakan kepada keluarganya atau kepada keluarga istrinya tentang apa yang terjadi antara dia dan istrinya. Ia juga tidak boleh mengadukan istri kepada pihak keluarga istri.

Problem yang ada adalah problemnya, dan dia sendiri yang harus menghadapinya. Tidak boleh ia melibatkan orang lain ke dalam masalahnya.

  1. Ketika seorang istri melihat atau menangkap satu tanda dari suaminya yang menunjukkan si suami ingin berdamai atau baikan kembali, hendaknya istri saat itu juga dengan segera menyambut ajakan atau isyarat damai tersebut. Istri hendaknya bersyukur dengan baiknya tabiat suaminya.

Demikian pula, seorang suami seharusnya menerima upaya apa pun yang dilakukan oleh istri guna mencari keridhaannya, selama tidak melanggar keridhaan Allah subhanahu wa ta’ala, atau selama upaya tersebut merupakan hal yang ma’ruf (baik), bukan yang mungkar. Suami hendaknya juga mensyukuri upaya sang istri tersebut.

Demikian sedikit bimbingan saat terjadi pertikaian…

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberkahi kalian berdua dan mengumpulkan kalian selalu dalam kebaikan. Wallahu a’lam bish-shawab. (Disarikan dari Risalah ilal ‘Arusin wa Nashihah liz Zaujain)

Ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq alAtsariyah

 

Imam Shalat ditempat yang Lebih Tinggi

Bagaimana kedudukan hadits tentang larangan imam lebih tinggi dari makmum di terjemahan Nailul Authar? Ana benar-benar ingin tahu. Syukran.

Sugeng—Surabaya (0317708xxxx)

Jawab:
Posisi imam yang berada di tempat yang lebih tinggi dari makmum telah dilarang oleh Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam hal ini terdapat beberapa hadits Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam, di antaranya:

Dari Hammam bahwasanya sahabat Hudzaifah radhiallahu ‘anhuma mengimami orang-orang di kota Mada’in di atas tempat yang lebih tinggi. Sahabat Abu Mas’ud radhiallahu ‘anhu lalu memegang bajunya dan menariknya. Ketika selesai dari shalatnya Abu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata, “Tidakkah kamu tahu bahwa mereka melarang dari perbuatan itu?” Hudzaifah menjawab, “Ya, aku baru ingat ketika engkau menarikku.” (Sahih, HR. Abu Dawud 1/163 no. 597 dan disahihkan oleh al-Albani)

Dari Adi bin Tsabit al-Anshari, seseorang telah memberitahukan kepadaku bahwa ia bersama ‘Ammar bin Yasir radhiallahu ‘anhu di kota Mada’in. Kemudian dikumandangkan iqamat. Lalu ‘Ammar maju dan berdiri di atas tempat yang lebih tinggi melakukan shalat, sementara orang-orang di bawah. Hudzaifah radhiallahu ‘anhu pun maju lalu menarik dua tangannya hingga ‘Ammar mengikutinya sampai Hudzaifah menurunkannya. Ketika ‘Ammar selesai dari shalatnya Hudzaifah berkata, “Tidakkah kamu mendengar Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Bilamana seseorang mengimami sebuah kaum, janganlah ia berdiri di tempat yang lebih tinggi dari tempat mereka atau semakna dengan itu.’ Ammar pun berkata, ‘Karena itulah saya menuruti engkau ketika kamu memegang tanganku’.” (Hasan, HR. Abu Dawud, 1/163 no. 598, dihasankan oleh al-Albani dengan dukungan riwayat sebelumnya secara global)

Dari Abu Mas’ud al-Anshari radhiallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah melarang imam untuk berdiri di atas sesuatu sementara orang-orang di belakangnya lebih rendah darinya.” (Hasan, HR. ad-Daruquthni, dihasankan oleh al-Albani dalam Tamamul Minnah no. 281)

Berdasarkan riwayat-riwayat tersebut, seorang imam tidak diperbolehkan berada pada tempat yang lebih tinggi dari tempat makmum. Inilah yang kemudian dipegangi oleh beberapa ulama, di antaranya sahabat Ibnu Mas’ud, an-Nakha’i, ats-Tsauri, Malik, Abu Hanifah, al-Auza’i, dan Ahmad dalam salah satu riwayat dari beliau sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Rajab1 dalam kitab Fathul Bari.

Ini juga merupakan pendapat al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah dalam kitab al-Umm (hlm. 310, cet. Qutaibah). Beliau rahimahullah berkata, “Kalau imam pernah mengajari orang shalat (yakni dengan berdiri di tempat yang tinggi) satu kali, saya menyukai baginya (setelah itu) untuk shalat sejajar dengan makmum. Hal ini karena tidak pernah diriwayatkan dari Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau shalat di atas mimbarnya2, melainkan hanya satu kali. Tempat beliau selain waktu itu adalah di atas tanah bersama para makmum. Oleh karena itu, yang dipilih adalah imam sejajar dengan makmum. Seandainya lebih tinggi atau lebih rendah, shalatnya dan shalat mereka tidak rusak (tetap sah).”

Adapun kadar ketinggian yang dimaksud adalah, “Setiap tempat yang sah untuk dikatakan—menurut bahasa dan kebiasaan—bahwa yang demikian lebih tinggi dari tempat makmum maka itu terlarang.” Demikian penjelasan asy-Syaikh al-Albani rahimahullah dalam kitab ats-Tsamarul Mustathab.

Sebagian ulama berpendapat bahwa ukuran yang terlarang adalah jika melebihi tinggi postur tubuh menusia. Jika kurang dari itu diperbolehkan. Kembali asy-Syaikh al-Albani rahimahullah mengatakan bahwa perincian yang semacam itu tidak ada dalilnya dalam hadits. Itu hanya sekadar pendapat akal. Oleh karena itu, asy-Syaukani rahimahullah mengatakan setelah menyebutkan pendapat-pendapat ulama dalam hal perbedaan kadar tinggi tersebut bahwa kesimpulan dari dalil-dalil tersebut adalah dilarangnya imam lebih tinggi dari makmum tanpa adanya perbedaan antara di masjid dan di tempat lain, tanpa perbedaan antara setinggi postur tubuh manusia, kurang atau lebih dari itu.

Sebagian ulama belakangan berfatwa bahwa jika lebih tinggi sedikit diperbolehkan, sebagaimana pendapat mazhab Hanbali dan Maliki. (Majmu Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, Liqa Bab Maftuh dan Fiqh Islami wa Adillatuhu)

Namun, fatwa dan pendapat ini juga lemah jika kita menengok keterangan di atas.
Bilamana bersama imam pada tempat yang tinggi tersebut ada sebagian shaf makmum, hal ini diperbolehkan karena imam saat itu tidak menyendiri di tempat tersebut. Ini semakna dengan yang disebutkan dalam kitab al-Inshaf karya al-Mirdawi rahimahullah dan kemudian difatwakan oleh asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahullah dan Ibnu Utsaimin rahimahullah. (al-Imamah fish Shalah, al-Qahthani, Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, Ibnu Baz, dan Majmu’ Fatawa wa Rasail, Ibnu Utsaimin)

Hukum di atas berlaku bilamana tidak ada maslahat dan kepentingan saat imam berposisi lebih tinggi dari makmum. Adapun jika ada maslahat untuk mengajari orang shalat dengan praktik langsung, hal ini diperbolehkan. Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah shalat di atas mimbar sebagaimana dalam hadits berikut.

Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus (seseorang) kepada Fulanah—seorang wanita yang telah disebut namanya oleh Sahl (bin Sa’d) radhiallahu ‘anhu—, “Perintahlah budakmu yang tukang kayu untuk membuatkan bangunan kayu untuk aku duduk di atasnya ketika aku berceramah di hadapan manusia.” Kemudian wanita itu memerintahkannya sehingga ia membuatnya dari tharfa’ (sejenis pohon cemara) di daerah al-Ghabah lalu dia bawa. Wanita itu mengutus seseorang untuk membawanya kepada Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu memerintahkan agar mimbar tersebut diletakkan di sini. Setelah itu, aku melihat beliau shalat di atas mimbar tersebut. Beliau bertakbir di atasnya, kemudian ruku’ di atasnya, kemudian turun mundur lalu sujud di dasar mimbar. Setelah itu beliau kembali lagi. Setelah selesai, beliau menghadap kepada manusia lalu berkata, “Wahai manusia, aku melakukan hal ini hanya agar kalian mengikuti aku dan kalian mempelajari shalatku.” (Shahih, Muttafaqun ‘alaihi dari sahabat Sahl bin Sa’d radhiallahu ‘anhu)

Ibnu Hibban rahimahullah berkata, “Jika seseorang menjadi imam lalu dia shalat sebagai imam orang-orang yang baru masuk Islam sehingga ia berdiri di tempat yang lebih tinggi dari makmum untuk mengajari mereka hukum-hukum shalat yang langsung dilihat mata, hal itu diperbolehkan sesuai dengan hadits sahabat Sahl bin Sa’d radhiallahu ‘anhu. Tetapi, kalau alasan ini tidak ada, janganlah ia shalat di tempat yang lebih tinggi dari tempat makmum, sesuai dengan hadits dari sahabat Abu Mas’ud radhiallahu ‘anhu. Dengan demikian, kedua hadits itu tidak bertentangan dan saling membantah. (Shahih Ibnu Hibban)

Pendapat lain dalam masalah ini adalah membolehkan imam lebih tinggi dari makmum secara mutlak. Ini adalah salah satu riwayat dari al-Imam Ahmad, Ibnu Hazm, dan ad-Darimi (Shahih al-Bukhari, Fathul Bari karya Ibnu Rajab, dan ats-Tsamarul Mustathab).

Ibnu Rajab rahimahullah berkomentar, “Pendapat ini sangat aneh dari al-Imam Ahmad. Tidak dikenal pendapat ini dari beliau selain melalui jalur ini, dan Ibnu Hazm rahimahullah bersandar padanya. Mereka menukilkan dari Ahmad bolehnya seorang imam di tempat yang lebih tinggi dari makmum. Hal ini bertentangan dengan mazhab beliau yang sudah tersebar (dalam hal ini), yang telah dinukil oleh para pengikut mazhab beliau di kitab-kitab mereka, serta disebutkan oleh al-Khiraqi dan yang setelahnya. Demikian juga, Hanbal dan Ya’qub bin Bakhtan menukilkan dari Ahmad bahwa beliau berkata, ‘Janganlah tempat imam lebih tinggi dari tempat orang yang di belakangnya. Akan tetapi, tidak mengapa yang di belakangnya lebih tinggi’.” (Fathul Bari)

Dalam kitab bermazhab Hanbali pula, al-Inshaf, disebutkan bahwa yang benar dalam mazhab Hanbali adalah tidak boleh.

Asy-Syaikh al-Albani rahimahullah mengatakan tentang pendalilan mereka dengan hadits Sahl bin Sa’d radhiallahu ‘anhu tentang shalat Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas mimbar untuk mendasari pendapat mereka, “Hal ini adalah pendalilan yang aneh dari para imam tersebut. Keherananku hampir-hampir tidak habis. Bagaimana bisa mereka berdalil untuk membolehkan hal itu secara mutlak, padahal perbuatan beliau itu (jelas-jelas) terkait dengan pengajaran, sebagaimana ucapan Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri.” (ats-Tsamarul Mustathab)

Ibnu Daqiqil Ied rahimahullah pun sebelumnya telah membantah pendapat tersebut, sebagaimana dinukil oleh Ibnu Hajar rahimahullah dalam kitab Fathul Bari.

Tempat Makmum Boleh Lebih Tinggi dari Imam

Secara ringkas tempat makmum boleh lebih tinggi dari imam. Hal itu pernah dilakukan oleh Abu Hurairah dan Anas bin Malik radhiallahu ‘anhuma.

“Abu Hurairah shalat di lantai atas masjid dengan shalatnya imam (mengikuti imam).” (Riwayat al-Bukhari secara mu’allaq dan dikuatkan oleh Ibnu Hajar rahimahullah dalam Fathul Bari)

Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, beliau melakukan shalat Jum’at di rumah Abu Nafi’ radhiallahu ‘anhu di sebelah kanan masjid, di sebuah ruangan setinggi postur tubuh manusia. Ruangan yang pintunya mengarah ke masjid, di kota Bashrah. Anas radhiallahu ‘anhu mengikuti shalat Jum’at di tempat tersebut dan menjadi makmum. (Riwayat Sa’id bin Manshur sebagaimana dalam kitab al-Muntaqa, dan al-Imam Ahmad berdalil dengannya sebagaimana kata Ibnu Rajab dalam Fathul Bari)

Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Shalat pada tempat yang dibangun di atas tanah semacam sebuah ruangan di masjid atau di atas loteng masjid, semuanya boleh dan tidak ada kemakruhan dalam hal ini tanpa ada perbedaan, kecuali pada beberapa permasalahan yang diperselisihkan.” (Fathul Bari)

Asy-Syaukani rahimahullah berkata, “Adapun tinggi (tempat) makmum jika berlebihan yang lebih dari 300 hasta sehingga makmum tidak mungkin mengetahui gerakan imam, hal itu dilarang menurut kesepakatan ulama, tanpa ada perbedaan antara masjid dan yang lain. Adapun kurang dari ukuran tersebut, pada asalnya boleh, sampai adanya dalil yang melarang. Hal yang mendukung hukum asal ini adalah perbuatan Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu tersebut dan tidak ada yang mengingkarinya.”

Namun, apakah kebolehan ini secara mutlak atau saat keadaan menuntut demikian dengan tetap memerhatikan aturan-aturan shaf/barisan shalat?

Di sini terjadi perbedaan pendapat. Yang kuat/rajih dari dua pendapat yang ada adalah yang kedua.

Al-Imam Ahmad rahimahullah ditanya, “Seseorang shalat di atas loteng bermakmum dengan imam?”

Beliau menjawab, “Jika antara dia dengan imamnya ada jalan atau sungai, tidak boleh.”
Beliau ditanya lagi, “Anas (bin Malik) shalat Jum’at di loteng.”

Beliau menjawab, “Pada hari Jum’at tidak ada jalan orang-orang.”
Beliau memaksudkan bahwa pada hari Jumat jalan-jalan penuh dengan orang-orang sehingga shaf-shaf bersambung. Demikian penjelasan Ibnu Rajab rahimahullah dalam kitab Fathul Bari.

Asy-Syaikh al-Albani rahimahullah berkata, “Atsar-atsar yang lain dari Umar, asy-Sya’bi, dan Ibrahim an-Nakha’i dalam kitab Ibnu Abi Syaibah (2/223) dan Abdurrazzaq (3/81—82), menyebutkan hal itu tidak boleh jika antara dia dengan imam ada jalan dan yang semacamnya.

Bisa jadi, apa yang terdapat dalam riwayat-riwayat yang pertama (semacam perbuatan Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu) dipahami bahwa itu saat ada uzur/alasan, seperti penuhnya masjid, sebagaimana ucapan Hisyam bin Urwah, “Suatu saat aku bersama ayahku datang (ke masjid). Ternyata kami dapati masjid telah penuh. Kami pun tetap shalat bersama imam di sebuah rumah di sisi masjid, dan antara keduanya ada jalan (Riwayat Abdurrazzaq, 3/82 dengan sanad yang sahih dari beliau).” (Tamamul Minnah)

Beliau juga mengatakan bahwa jika makmum shalat di tempat yang tinggi, ada kemungkinan karena keadaan darurat seperti tempat yang sempit dan selainnya, atau tidak ada darurat. Jika kemungkinan yang pertama, tidak ada pembicaraan karena hal darurat menyebabkan bolehnya sesuatu yang terlarang. Tetapi kalau tidak, mengakibatkan terputusnya shaf/barisan dan menyendiri dari barisan yang ada, sebagaimana yang dilakukan banyak muadzin atau yang lain, juga orang yang shalat di halaman padahal di depan mereka masih kosong dan cukup untuk banyak shaf, hal yang semacam ini tidak boleh. (ats-Tsamarul Mustathab)

Pendapat lain dalam hal ini adalah boleh secara mutlak tanpa perincian di atas. Ini adalah riwayat lain dari pendapat al-Imam Ahmad rahimahullah (Fathul Bari karya Ibnu Rajab), tetapi pendapat ini lemah. Wallahu a’lam.

Dijawab oleh al-Ustadz Qomar Suaidi

 

As-Salam

Di antara al-Asma’ul Husna adalah as-Salam (السَّلامُ). Nama Allah subhanahu wa ta’ala ini tersebut dalam firman-Nya:

”Dia-lah Allah yang tiada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia, Raja, Yang Mahasuci, Yang Mahasejahtera, Yang Mengaruniakan keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Mahaperkasa, Yang Mahakuasa, Yang Memiliki segala keagungan. Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (al-Hasyr: 23)

Nama ini juga tersebut dalam sebuah hadits Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam dari sahabat Tsauban radhiallahu ‘anhu:

Dahulu Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam jika selesai dari shalatnya beristighfar tiga kali dan mengucapkan, “Ya Allah, Engkau-lah as-Salam dan dari-Mu-lah keselamatan. Mahabesar Engkau, wahai Dzat yang memiliki keagungan dan kemuliaan!”

Al-Walid (salah satu perawi hadits ini) bertanya kepada al-Auza’i (gurunya), “Bagaimanakah cara beristighfar?” Ia berkata, “Engkau mengucapkan, ‘Astaghfirullah, astaghfirullah! (Aku mohon ampun kepada Allah subhanahu wa ta’ala, aku mohon ampun kepada Allah subhanahu wa ta’ala!)’.” (Sahih, HR. Muslim)

 

Makna as-Salam

Ibnu Qutaibah rahimahullah mengatakan, “Dia menamai Diri-Nya dengan as-Salam karena Dia selamat dan bebas dari aib, kekurangan, kehancuran, serta kematian yang mengenai makhluk-Nya.” (Gharibul Qur’an)

Al-Khaththabi rahimahullah mengatakan, “As-Salam adalah sifat Allah subhanahu wa ta’ala, yaitu yang selamat dari segala aib, serta bebas dari segala kejelekan dan kekurangan yang dapat menimpa makhluk.” (Sya’nud Du’a)

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan ketika menjelaskan ayat di atas, “As-Salam yakni yang selamat dari segala cacat dan kekurangan karena kesempurnaan-Nya dalam Dzat, sifat, dan perbuatan-Nya.”

As-Sa’di rahimahullah mengatakan, “Al-Quddus, as-Salam yakni yang diagungkan, yang suci dari seluruh kekurangan dan keserupaan makhluk terhadap-Nya, serta yang suci dari siapa pun yang akan mendekati atau menyamainya pada salah satu sisi kesempurnaan-Nya.”

Jadi, nama Allah al-Quddus dan as-Salam berarti kesucian Allah subhanahu wa ta’ala dari kekurangan pada segala sisi. Keduanya mengandung kesempurnaan yang paripurna dari segala sisi karena jika kekurangan itu tidak ada, berarti tetaplah kesempurnaan seluruhnya. Dengan demikian, Dialah yang Mahasuci, Mahabesar, yang suci dari segala kejelekan serta yang terbebas dari penyerupaan dengan makhluk, kekurangan, dan segala yang bertolak belakang dengan kesempurnaan-Nya. Inilah patokan tentang apa yang Allah subhanahu wa ta’ala suci darinya. Ia suci dari segala kekurangan dari sisi mana pun. Ia suci dan agung dari adanya penyerupaan, tandingan, atau lawan bagi-Nya. Ia suci pula dari kekurangan dalam hal sifat-sifat-Nya yang merupakan sifat yang paling sempurna, paling agung, dan paling luas.

Di antara kesempurnaan penyucian-Nya adalah penetapan sifat kesombongan dan keagungan bagi-Nya karena penyucian tersebut dimaksudkan untuk hal yang lain. Penetapan sifat kesombongan dan keagungan bagi Allah subhanahu wa ta’ala dimaksudkan untuk menjaga kesempurnaan-Nya dari berbagai sangkaan yang jelek, semacam sangkaan jahiliah yang mengalamatkan kepada diri-Nya sangkaan-sangkaan jelek yang tidak pantas bagi kebesaran-Nya. Jika seorang hamba mengucapkan pujian kepada Allah subhanahu wa ta’ala, “Subhanallah” (Mahasuci Allah), “Taqaddasallah” (Mahasuci Allah), atau “Ta’alallah” (Mahatinggi Allah) berarti dia sedang memuji-Nya dengan kesucian-Nya dari segala kekurangan, dengan segala kesempurnaan. (Tafsir Asma’illah)

 

Buah Mengimani Nama Allah as-Salam
Dengan mengimani nama Allah as-Salam, kita mengetahui kebesaran Allah subhanahu wa ta’ala dan kesucian-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala suci dari segala kekurangan dan cacat, sebagaimana halnya Ia suci dari serikat dan tandingan. Keyakinan ini membuat kita semakin mantap dalam beribadah kepada-Nya karena Rabb yang kita ibadahi adalah Rabb Yang Mahasempurna, tiada kekurangan-Nya sedikit pun.

Dengan demikian, segala pinta dan harapan kita dalam tawakal dan doa tidak akan sia-sia. Dia pasti memenuhi janji-Nya dan Mahakuasa untuk memenuhinya karena Dia Mahakaya dan Mahamampu. Maka dari itu, ibadahilah Dia satu-satu-Nya, tentu ibadah kita takkan sia-sia. Tinggalkan semua sesembahan selain-Nya, karena selain-Nya tidak ada yang memiliki kesempurnaan seperti yang dimiliki-Nya, yang ada justru berbagai kekurangan.

ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc)

Buah Keimanan

Keimanan yang benar memiliki banyak faedah dan buah terhadap kalbu, badan, ketenteraman, dan kehidupan yang baik di dunia serta akhirat, baik dalam waktu yang dekat maupun yang akan datang.

  1. Buah keimanan yang paling besar adalah mendapatkan kebahagiaan sebagai wali Allah subhanahu wa ta’ala yang khusus.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.” (Yunus: 62—63)

Setiap mukmin yang bertakwa adalah wali Allah subhanahu wa ta’ala yang khusus. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman tentang mereka:

“Allah adalah wali orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman).” (al-Baqarah: 257)

Maksudnya, Allah akan mengeluarkan mereka dari kegelapan kekafiran menuju cahaya keimanan, dari kegelapan kebodohan menuju cahaya ilmu, dari kegelapan maksiat menuju cahaya ketaatan, dan dari kegelapan kelalaian menuju cahaya kesadaran dan ingat.

Ringkasnya, Allah subhanahu wa ta’ala akan mengeluarkan mereka dari kegelapan berbagai kejelekan menuju cahaya-cahaya kebaikan, dalam waktu yang dekat atau yang akan datang. Sesungguhnya mereka mendapatkan anugerah yang besar ini karena mereka memiliki keimanan yang benar dan mewujudkannya dengan ketakwaan. Sungguh, takwa merupakan kesempurnaan iman.

  1. Berbahagia karena mendapatkan keridhaan Allah subhanahu wa ta’ala dan jannah (surga)-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Allah menjanjikan kepada orang-orang yang mukmin lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga Adn. Dan keridhaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar.” (at-Taubah: 71—72)

Mereka mendapatkan ridha Rabb mereka dan rahmat-Nya serta keberuntungan berupa tempat tinggal yang baik karena keimanan mereka. Dengan keimanan itu pula mereka menyempurnakan diri mereka dan orang lain dengan cara menegakkan ketaatan kepada Allah dan Rasul-nya serta beramar ma’ruf nahi mungkar.

  1. Iman yang sempurna akan menghalangi mereka dari masuk neraka. Adapun iman, walaupun sedikit, akan menghalanginya dari kekekalan di dalam neraka.
  2. Allah subhanahu wa ta’ala akan menolong orang-orang mukmin dari segala hal yang tidak disukai dan akan menyelamatkan mereka (memberi jalan keluar) dari segala kesulitan.
    Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang telah beriman.” (al-Hajj: 38)

Artinya, Allah subhanahu wa ta’ala akan membela mereka dari setiap hal yang tidak mereka sukai, kejelekan setan dari kalangan jin dan manusia, musuh-musuh, dan hal-hal yang tidak disukai, sebelum menimpa mereka atau meringankannya setelah menimpa mereka.

Allah menyebutkan keadaan Nabi Yunus ‘alaihissalam:

Maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap bahwa “Tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Engkau. Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.” Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman. (al-Anbiya: 87—88)

Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman dalam surah ath-Thalaq ayat 2:

“Barang siapa bertakwa kepada Allah…”, dengan menjalankan keimanan dan konsekuensinya, maka: “Allah akan menjadikan baginya jalan keluar.”

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman pula:

“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (ath-Thalaq: 4)

Wallahu a’lam.

Sumber bacaan: Syajaratul Iman karya asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’di hlm. 43—46 dengan sedikit perubahan. At-Taudhih wal Bayan li Syajaratil Iman

Ditulis oleh: Al-Ustadz Abdul Jabbar

Sifat Shalat Nabi (4)

Telah kita lewati pembicaraan tentang qiraah (membaca Al-Qur’an) di dalam shalat. Termasuk hal yang perlu diperhatikan dalam membaca Al-Qur’an adalah membacanya dengan tartil, karena Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam diperintahkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala untuk membaca Al-Qur’an dengan tartil, tidak tergesa-gesa atau cepat-cepat. Al-Qur’an dibaca huruf demi huruf, kata demi kata. Membaca Al-Qur’an dengan cara seperti ini juga berlaku di dalam shalat. Maka dari itu, orang yang shalat harus memerhatikan bacaannya. Ia tidak boleh tergesa-gesa ingin segera menyelesaikan bacaannya.

Ulama berbeda pendapat dalam menentukan mana yang lebih utama atau afdhal, apakah mentartil Al-Qur’an dalam keadaan surat/ayat yang dibaca pendek/sedikit atau cepat dalam membaca Al-Qur’an namun banyak ayat yang bisa dibaca. Pendapat yang pertama dipegangi oleh Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, semoga Allah subhanahu wa ta’ala meridhai mereka, dan dipilih oleh Ibnu Sirin rahimahullah. Adapun pendapat kedua dipegangi oleh pengikut Syafi’iyah dengan berdalil sabda Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Siapa yang membaca satu huruf dari Kitabullah maka ia memperoleh satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali.” (HR. at-Tirmidzi no. 2910, disahihkan dalam al-Misykat no. 2137 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir no. 6469) (al-Ashl, 2/562)

Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Zadul Ma’ad (1/125) menggabungkan dua pendapat ini dan al-Hafizh rahimahullah mengikutinya dalam Fathul Bari (9/73). Dinyatakan bahwa masing-masing memiliki keutamaan, baik yang cepat maupun yang tartil. Namun, dengan syarat orang yang membaca dengan cepat tidak terluputkan darinya satu huruf pun, harakat atau sukun yang wajib. Salah satunya bisa lebih utama daripada yang lain dan bisa pula sama. Orang yang mentartil dan memerhatikan apa yang dibacanya, meresapi dan merenungkannya, ibarat orang yang bersedekah dengan satu permata yang sangat mahal. Sementara itu, orang yang membaca dengan cepat, ibarat orang yang bersedekah dengan sejumlah permata, tetapi nilai semua permata tersebut sama dengan satu permata yang mahal. Terkadang satu permata lebih bernilai dari sejumlah permata, namun terkadang pula sebaliknya, sejumlah permata lebih mahal daripada satu permata. Wallahu a’lam.

Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Pada hari kiamat nanti dikatakan kepada pembaca Al-Qur’an, “Bacalah dan naiklah! Bacalah dengan tartil sebagaimana engkau mentartilnya di dunia. Sungguh, kedudukanmu (derajat di surga) menurut akhir ayat yang engkau baca.” (HR. Abu Daud no. 1464, at-Tirmidzi no. 2914, dll. Hadits ini hasan sebagaimana dalam al-Misykat no. 2134 dan ash-Shahihah no. 2240)

Isti’adzah dan Meludah Kecil dalam Shalat

Utsman ibnu Abil Ash radhiallahu ‘anhu berkata kepada Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Wahai Rasulullah, sungguh setan menghalangi antara aku dan shalatku serta bacaanku. Ia membuatku kacau dan ragu-ragu saat membaca Al-Qur’an (dalam shalat).”

Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Itu adalah setan yang disebut Khinzib. Jika engkau merasakan gangguannya, berta’awudzlah (mintalah perlindungan) kepada Allah darinya dan meludah kecillah ke arah kirimu tiga kali.” Utsman berkata, “Aku pun melakukan bimbingan Rasul tersebut maka Allah menghilangkan gangguan setan itu dariku.” (HR. Muslim no. 5702)

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “Hadits ini menunjukkan disunnahkannya berta’awwudz kepada Allah subhanahu wa ta’ala ketika ditimpa waswas, disertai dengan meludah kecil ke arah kiri tiga kali[1].” (al-Minhaj 14/411)

Ruku’

Selesai membaca Al-Qur’an saat berdiri dalam shalat, Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam diam sejenak. Demikianlah yang beliau  shallallahu ‘alaihi wa sallam lakukan setiap selesai membaca satu ayat. Setelah itu, beliau  shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua tangan untuk bertakbir, sebagaimana mengangkat tangan saat takbiratul ihram, lalu ruku’. Tentang mengangkat tangan sebelum ruku’ ini beritanya mutawatir dari Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini adalah mazhab imam yang tiga dan selain mereka dari kalangan jumhur ahli hadits dan fuqaha. (Mausu’ah ash-Shalah ash-Shahihah, 2/868)

 

Tata Cara Ruku’

Pada awalnya Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan tathbiq dalam ruku’, yaitu mengumpulkan jari-jemari kedua telapak tangannya, dengan menempelkan bagian dalam telapak tangan satu dengan yang lain, lalu diletakkan di antara dua paha atau dua lutut beliau sebagaimana yang ditunjukkan dalam hadits Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh al-Imam Muslim rahimahullah dalam Shahih-nya (no. 1191, “Kitabul Masajid”, bab an-Nadb ila wadh’il aydi ‘alar rukab fir ruku’ wa naskhut tathbiq)
Cara ruku’ seperti ini kemudian ditinggalkan Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan beliau melarangnya. Yang kemudian beliau lakukan saat ruku’ adalah:

  1. Meletakkan dua telapak tangan beliau di atas kedua lutut beliau.
    Cara seperti inilah yang belakangan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam perintahkan, sebagaimana ditunjukkan oleh hadits Sa’d ibnu Abi Waqqash radhiallahu ‘anhu. Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajari kami shalat. Beliau bertakbir dan mengangkat kedua tangannya. Kemudian ruku’ dan mengumpulkan jari-jemari kedua tangannya dengan menempelkan bagian dalam telapak tangan satu dengan yang lain lalu meletakkannya di antara dua lututnya.”

Hal ini sampai kepada Sa’d, maka ia berkata, “Benar saudaraku itu. Dahulu kami memang melakukan cara seperti itu. Kemudian Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami dengan cara seperti ini.” Sa’d memegang kedua lututnya (dengan kedua telapak tangannya). (HR. al-Bukhari dalam Raf’ul Yadain hlm. 12, dll. Al-Imam ad-Daraquthni rahimahullah berkata, “Isnadnya tsabit sahih.” Al-Imam al-Albani rahimahullah berkata, “Hadits ini di atas syarat Muslim.” Lihat al-Ashl, 2/628)

Mush’ab ibnu Sa’d berkata, “Aku shalat di samping ayahku. Aku mengumpulkan jari-jemari telapak tanganku dengan menempelkan bagian dalam telapak tangan satu dengan yang lain dan aku letakkan di antara kedua pahaku. Ayahku melarangku ruku’ dengan cara demikian. Ia menyatakan, ‘Dahulu kami melakukan cara seperti yang kau lakukan, lalu kami dilarang. Kemudian kami diperintah untuk meletakkan tangan-tangan kami di atas lutut’.” (HR. al-Bukhari no. 790 dan Muslim no. 1197)

Umar ibnul Khaththab radhiallahu ‘anhu berkata, “Sungguh, termasuk sunnah (ajaran/petunjuk Nabi) adalah memegang lutut saat ruku’.” (HR. at-Tirmidzi no. 258 dan an-Nasa’i no. 1035, sanadnya sahih sebagaimana dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi dan Shahih Sunan an-Nasa’i)

Al-Imam at-Tirmidzi rahimahullah berkata setelah membawakan hadits di atas, “Ini yang diamalkan oleh ahlul ilmi dari kalangan sahabat Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam, tabi’in, dan orang-orang setelah mereka. Tidak ada perselisihan di antara mereka dalam hal ini, selain yang diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud dan sebagian muridnya. Mereka mengumpulkan jari-jemari mereka (saat ruku). Cara tathbiq (yang mereka lakukan) ini mansukh menurut ahlul ilmi.” (Sunan at-Tirmidzi, 1/162—163)

  1. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan kedua telapak tangan beliau di atas kedua lutut, beliau seakan menggenggam keduanya.

Hal ini sebagaimana ditunjukkan dalam tambahan hadits Abu Humaid as-Sa’idi[2] radhiallahu ‘anhu yang dikeluarkan oleh at-Tirmidzi no. 260:

“Rasulullah ruku’ dan meletakkan dua telapak tangan di atas kedua lutut. Beliau mengokohkan kedua tangan tersebut pada kedua lututnya seakan-akan menggenggam keduanya.” (Disahihkan dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi)

Hadits Umar radhiallahu ‘anhu di atas juga menunjukkan hal demikian.

  1. Jari-jemari direnggangkan (dijauhkan satu dari yang lain) ketika menggenggam lutut.
    Hal ini pernah diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada orang yang salah shalatnya. Dalam hadits Rifa’ah ibnu Rafi’ radhiallahu ‘anhu yang dikeluarkan oleh al-Imam Ahmad (al-Musnad, 4/340) disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada orang yang salah shalatnya:

“Apabila engkau ruku’, letakkanlah dua telapak tanganmu di atas kedua lututmu, kemudian renggangkanlah jari-jemarimu satu dari yang lain, lalu diam/tenanglah hingga seluruh anggota mengambil bagian/posisinya.” (“Sanadnya hasan,” kata al-Imam al-Albani rahimahullah dalam al-Ashl, 2/633)

Hadits di atas memiliki syahid dari hadits Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma. Ia menyebutkan bahwa Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada seorang A’rabi:

“Jika engkau ruku’, letakkanlah kedua telapak tanganmu di atas kedua lututmu, kemudian renggangkanlah jari-jemarimu, lalu diam/tenanglah hingga setiap anggota mengambil tempat/posisinya.” (HR. Ibnu Hibban dalam Shahih-nya)
Posisi jari-jemari ini ke arah yang lebih rendah di atas kedua betis, seperti ditunjukkan oleh hadits Abu Mas’ud Uqbah bin Amr al-Badri radhiallahu ‘anhu, yang dibawakan oleh Atha’ ibnus Saib, dari Salim al-Barad, ia berkata, “Kami mendatangi Abu Mas’ud Uqbah ibnu Amr al-Anshari. Kami mengatakan kepadanya, ‘Sebutkan kepada kami tentang shalat Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Abu Mas’ud pun berdiri di hadapan kami di dalam masjid. Ia bertakbir. Tatkala ruku’, ia meletakkan kedua tangannya di atas kedua lututnya dan ia menjadikan jari-jemari lebih rendah dari lututnya, serta menjauhkan kedua sikunya dari rusuknya, hingga segala sesuatu tenang/menetap pada tempat/posisinya…’.”

Setelah menyelesaikan shalatnya, Abu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata, “Demikianlah kami melihat Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat.” (HR. Abu Dawud no. 863, disahihkan dalam Shahih Sunan Abi Dawud)

  1. Dari hadits Abu Mas’ud radhiallahu ‘anhu di atas kita dapati pula tata cara ruku’ yang berikutnya, yaitu menjauhkan kedua siku dari rusuk.

Hal ini ditunjukkan pula oleh hadits dari sejumlah sahabat. Di antaranya adalah hadits Abu Humaid radhiallahu ‘anhu dengan lafadz, “Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan kedua telapak tangannya di atas kedua lututnya seakan-akan memegangi kedua lututnya. Beliau juga menjauhkan kedua tangannya dari kedua rusuknya.” (HR. at-Tirmidzi no. 260, disahihkan dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi)

At-Tirmidzi rahimahullah berkata, “Inilah yang dipilih oleh ahlul ilmi, yaitu seseorang yang shalat hendaknya menjauhkan kedua tangannya dari kedua rusuknya ketika ruku’ dan sujud.” (Sunan at-Tirmidzi, 1/163)

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “Kami tidak mengetahui ada perbedaan pendapat dari seorang ulama pun tentang sunnahnya hal ini. Hikmah dilakukannya cara seperti ini adalah lebih sempurna dalam penampakan dan bentuk shalat.”

Catatan
Sunnah menjauhkan kedua tangan dari kedua rusuk ini dilakukan dengan syarat tidak mengganggu orang lain yang shalat di sampingnya dalam shalat berjamaah. Yang wajib dalam ruku’, kata sebagian ulama (sebagaimana dalam al-Inshaf 3/480), ia membengkokkan punggungnya di mana keberadaannya lebih dekat kepada ruku’ yang sempurna daripada berdiri sempurna. Artinya, orang yang melihatnya mengetahui bahwa ia sedang ruku’, tidak sedang berdiri. (asy-Syarhul Mumti’, 3/91)

Insya Allah bersambung

 Ditulis oleh: Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq

[1] Ia sedikit mengarahkan kepalanya ke arah kiri tubuhnya, bukan ke arah orang lain yang ada di sebelah kirinya apabila ia shalat berjamaah, karena hal tersebut akan mengganggu orang lain.

[2]  Al-Imam al-Bukhari meriwayatkan hadits Abu Humaid tanpa tambahan yang disebutkan.

 

Hakim yang Adil dan Bijaksana

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Dan (ingatlah kisah) Dawud dan Sulaiman, di waktu keduanya memberikan keputusan mengenai tanaman, karena tanaman itu dirusak oleh kambing-kambing kepunyaan kaumnya, dan Kami menyaksikan keputusan yang diberikan oleh mereka itu. Maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat); dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan hikmah dan ilmu, dan telah Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Dawud. Dan Kami lah yang melakukannya. Dan telah Kami ajarkan kepada Dawud membuat baju besi untuk kamu, guna memelihara kamu dalam peperanganmu. Maka hendaklah kamu bersyukur (kepada Allah). Dan (telah Kami tundukkan) untuk Sulaiman angin yang sangat kencang tiupannya yang berembus dengan perintahnya ke negeri yang Kami telah memberkahinya. dan adalah Kami Maha Mengetahui segala sesuatu. Dan Kami telah tundukkan (pula kepada Sulaiman) segolongan setan yang menyelam (ke dalam laut) untuknya dan mengerjakan pekerjaan selain daripada itu, dan adalah Kami memelihara mereka itu.” (al-Anbiya: 78—82)

Dalam ayat-ayat yang mulia ini, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman mengisahkan bagaimana keadilan dan kebijakan Nabi Dawud dan putranya, Sulaiman ‘alaihissalam, ketika keduanya memberi keputusan tentang sebidang kebun anggur yang dirusak oleh kambing milik kaumnya, yang tercerai-berai di malam hari tanpa ada seorang pun yang mengawasinya hingga merusak anggur-anggur tersebut.

Ibnu Katsir rahimahullah menukil dari Abu Ishaq, dari Murrah, dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu, tentang firman Allah subhanahu wa ta’ala ini. Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu mengatakan, “(Yaitu) kebun anggur yang mulai tumbuh, lalu dirusak oleh kambing-kambing tersebut.”

Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu melanjutkan, “Kemudian, Nabi Dawud ‘alaihissalam memutuskan agar kambing-kambing itu diserahkan kepada pemilik kebun anggur tersebut.”

Nabi Sulaiman ‘alaihissalam yang melihat peristiwa itu, berkata, “Bukan demikian, wahai Nabi Allah.”

“(Kalau begitu), bagaimana?” tanya Nabi Dawud.

Nabi Sulaiman ‘alaihissalam berkata, “Anda serahkan kebun anggur itu kepada pemilik kambing agar dia mengurusi kebun tersebut hingga kembali seperti semula, dan Anda serahkan kambing-kambing itu kepada pemilik kebun anggur ini agar dia memperoleh sesuatu dari kambing tersebut. Apabila anggur-anggur itu sudah kembali seperti semula, Anda serahkan kembali kebun anggur kepada pemiliknya, dan kambing-kambing itu kepada pemiliknya.”

Inilah maksud firman Allah subhanahu wa ta’ala:

“Maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat).”

Selain itu, agar kita tidak salah memahami—melalui ungkapan ini—seolah-olah ada bentuk merendahkan derajat Nabi Dawud ‘alaihissalam, Allah subhanahu wa ta’ala melanjutkan firman-Nya:

“Dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan hikmah dan ilmu.”

Bahkan, pada ayat-ayat selanjutnya, Allah subhanahu wa ta’ala menerangkan keutamaan yang dimiliki oleh kedua nabi Allah subhanahu wa ta’ala yang mulia ini.

Jadi, Nabi Dawud ‘alaihissalam memutuskan perkara dengan keadilan, sedangkan Nabi Sulaiman ‘alaihissalam memutuskannya dengan fadhl (karunia, keutamaan). Allah subhanahu wa ta’ala memberi pujian kepada Nabi Sulaiman ‘alaihissalam atas keputusan beliau yang sangat tepat, sebagai taufik dari Allah subhanahu wa ta’ala, karena Allah mencintai rifq (kelemahlembutan) dalam segala hal. Hal ini sebagaimana diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, beliau berkata, “Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

‘Sesungguhnya Allah Mahalembut, dan mencintai kelemahlembutan dalam segala hal’.”[1]

Kita pun tidak boleh lupa bahwa Nabi Sulaiman adalah putra Nabi Dawud ‘alaihissalam, sehingga setiap keutamaan yang diperoleh oleh Nabi Sulaiman ‘alaihissalam, tentu saja itu adalah keutamaan pula bagi Nabi Dawud ‘alaihissalam.

Seorang hakim, jika dia berijtihad, kemudian keliru dalam keputusannya, dia memperoleh satu pahala. Kalau dia benar, dia menerima dua pahala. Ini dijelaskan dalam hadits Abdullah bin Amr bin al-’Ash radhiallahu ‘anhuma, dari Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda:

“Apabila seorang hakim berijtihad, lalu dia benar, dia memperoleh dua pahala. Dan jika seorang hakim berijtihad, dan ternyata keliru, dia mendapat satu pahala.”[2]

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, dia mendengar Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Dahulu ada dua orang wanita bersama anak mereka masing-masing. Tiba-tiba datanglah seekor serigala membawa anak salah seorang dari mereka. Berkatalah seorang dari wanita itu kepada temannya, “Yang dibawa lari serigala adalah putramu.”

Yang lain membantah, “(Bukan). Yang dibawa serigala itu adalah putramu.”
Akhirnya, keduanya mengajukan perkara mereka kepada Nabi Dawud ‘alaihissalam. Lalu, beliau pun memutuskan perkara itu dengan memenangkan wanita yang lebih tua.

Kedua wanita itu keluar menemui Nabi Sulaiman bin Dawud ‘alaihissalam, lalu menceritakan perihal mereka. Setelah itu, Nabi Sulaiman ‘alaihissalam berkata kepada orang-orang, “Ambilkan untuk saya pisau agar saya bisa membagi dua anak ini untuk mereka.”

Tiba-tiba, wanita yang lebih muda berkata, “Jangan lakukan, semoga Allah merahmati Anda. Ini putranya.”

Nabi Sulaiman pun memenangkan perkara untuk wanita yang lebih muda ini.3
Akhirnya, Nabi Sulaiman ‘alaihissalam memutuskan bahwa anak itu adalah milik wanita yang lebih muda. Nabi Sulaiman ‘alaihissalam sama sekali tidak bermaksud sungguh-sungguh ingin membelah bayi itu. Akan tetapi, beliau ingin mengetahui lebih jelas. Ibu bayi yang sesungguhnya tentu tidak rela bayi itu mati. Dia lebih suka bayi itu tetap hidup terpelihara walaupun tidak berada di sisinya. Adapun yang bukan ibu si bayi, tentu tidak keberatan bayi itu dibelah dua, sebab dengan demikian, mereka berdua sama-sama kehilangan bayi.

Oleh sebab itulah, ketika menerima keputusan ini, wanita yang lebih tua dengan gembira menyetujui agar bayi itu dibelah dua, sedangkan yang lebih muda tidak. Naluri keibuan dan kasih sayangnya kepada sang putra mendorongnya untuk merelakan, biarlah bayi itu jauh dari sisinya, yang penting dia tetap hidup dan terawat, walaupun bukan di pangkuan ibu kandungnya.

Sambil meratap iba, wanita muda itu berkata, “Jangan, wahai Nabi Allah. Jangan lakukan, semoga Allah merahmati Anda, biarlah. Itu putranya, serahkanlah kepadanya!”

Perhatikanlah keputusan Nabi Sulaiman ‘alaihissalam, yang mengakui bahwa bayi itu anak wanita yang lebih muda. Dari sini dapat disimpulkan bahwa jika tanda-tanda sebuah kebohongan terlihat jelas, tidak dapat dijadikan dasar hukum terhadap orang yang mengakuinya. Ada tidaknya pengakuan itu sama saja. Artinya, perkataan si wanita yang lebih muda bahwa bayi itu milik wanita yang lebih tua, tidak dapat diterima, sehingga Nabi Sulaiman ‘alaihissalam justru memutuskan yang lebih mudalah yang benar.

Jadi, wanita yang lebih tua ini tidak menolak andaikata bayi itu memang dibelah dua, karena dia kini sebatang kara, kehilangan anak. Kemudian, dia pun ingin wanita muda itu juga sama seperti dia, kehilangan anaknya.
Akan tetapi, melihat kekhawatiran dan kasih sayang wanita muda itu kepada bayi tersebut, permohonannya agar bayi itu tetap hidup—walaupun di tangan ibu yang lain—daripada mati, justru memperkuat kesimpulan Nabi Sulaiman ‘alaihissalam, bahwa adanya kasih sayang kepada bayi itu merupakan salah satu bukti bahwa wanita muda ini adalah ibu si bayi. Beliau pun yakin, melalui sikap menggampangkan dari wanita yang lebih tua, bahkan sangat mendukung agar bayi itu dibelah dua, bahwa wanita yang lebih tua ini bukanlah ibu si bayi.

Oleh sebab itu, beliau pun mengambil bayi tersebut dan menyerahkannya kepada wanita yang lebih muda.

Jadi, keputusan yang dibuat Nabi Dawud ‘alaihissalam dengan memenangkan perkara wanita yang lebih tua adalah berdasarkan data-data yang terlihat (lahiriah), karena bayi itu ada di tangan wanita yang lebih tua.

Kadang-kadang, ujian yang diberikan, seperti yang dilakukan Nabi Sulaiman ‘alaihissalam itu amat diperlukan. Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memerintahkan ‘Ali radhiallahu ‘anhu untuk membunuh seorang laki-laki yang dikebiri (buah pelirnya) dengan tujuan hendak menampakkan kebersihan orang tersebut dari tuduhan dan menampakkan bahwa tuduhan yang muncul dari sekadar melihat tidaklah sepenuhnya benar.

Seperti itu pula yang terjadi dalam kisah penyembelihan Nabi Ismail oleh ayahandanya, Ibrahim ‘alaihissalam. Dikatakan bahwa dalam peristiwa ini, Allah subhanahu wa ta’ala ingin menguji Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, sejauh mana beliau menyambut dan siap melaksanakan perintah Allah ‘alaihissalam itu walaupun melalui mimpi. Wallahu a’lam.

Dalam kisah ini terlihat betapa tajam firasat Nabi Sulaiman ‘alaihissalam, dan alangkah jeniusnya beliau dalam menyimpulkan satu keputusan hukum melalui indikasi dan tanda-tandanya.

Di balik itu semua, yang harus diyakini adalah bahwa para nabi itu juga manusia biasa, seperti kita. Kadang, mereka memutuskan persoalan sebagaimana yang terlihat oleh mereka dengan ijtihad yang khusus dan bukan wahyu. Dari sinilah, pernah diriwayatkan oleh Ummu Salamah radhiallahu ‘anhu, beliau mengatakan, “Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّمَا أنا بَشَرٌ، وَإنَّكُمْ تَخْتَصِمُونَ إلَيَّ، وَلَعَلَّ بَعْضَكُمْ أَنْ يَكُونَ أَلْحَنَ بِحُجّتِهِ مِنْ بَعْضٍ، فَأَقْضِيَ لَهُ بِنَحْوِ مَا أَسْمَعُ، فَمَنْ قَضَيتُ لَهُ بِحَقِّ أَخِيهِ فَإِنَّما أَقْطَعُ لَهُ قِطْعَةً مِنَ النَّارِ

‘Saya hanya seorang manusia biasa, sementara kalian mengajukan perkara kalian kepada saya. Bisa jadi, sebagian kalian lebih pandai mengemukakan alasannya daripada yang lain, lalu saya memenangkan perkaranya sesuai dengan apa yang saya dengar. Oleh sebab itu, siapa yang saya menangkan perkaranya, dengan membawa hak saudaranya, berarti saya telah memberinya sepotong api neraka’.”4

Ibnu Daqiqil ‘Ied rahimahullah berkata, “Ini adalah dalil untuk memberlakukan hukum sesuai dengan data yang terlihat (lahiriah) sekaligus memperlihatkan kepada manusia bahwa Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sama seperti manusia lainnya. Meskipun ada perbedaan antara beliau dengan manusia biasa dalam hal penampakan terhadap perkara gaib yang diberikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala kepada beliau. Itu pun dalam hal-hal yang khusus, bukan hukum-hukum yang umum….”5

Artinya, bisa saja seorang nabi keliru dalam memutuskan sesuatu di antara umatnya. Akan tetapi, jika ijtihad itu keliru, Allah subhanahu wa ta’ala akan meluruskannya. Adapun dalam hal penyampaian ajaran, seorang nabi tidak akan keliru. Dengan demikian, hal ini tidak menggugurkan kemaksuman mereka sama sekali.
Alangkah jauhnya kita dibandingkan mereka, padahal kita mengaku mengikuti jalan mereka r. Sering, tanpa periksa, hanya dengan mengandalkan kepercayaan kita kepada yang membawa berita atau keterangan, kita memutuskan sebuah perkara, padahal masalahnya tidaklah demikian. Akhirnya, timbul perselisihan di antara sesama muslimin.

Satu hal yang dapat kita ambil pula dari kisah dua wanita ini ialah bahwa rasa dengki membuat hati menjadi mati. Karena dengki, wanita yang lebih tua kehilangan naluri keibuannya, sehingga rela mengorbankan bayi ‘tak berdosa’ demi memuaskan keinginan dirinya. Karena dengki pula setan yang terkutuk berusaha sekuat tenaganya menyeret manusia agar menemaninya di neraka. Karena dengki pula orang-orang Yahudi berusaha menghancurkan kaum muslimin, di antaranya dengan melepaskan kaum muslimin dari keyakinan mereka.
Semoga kisah ini bermanfaat.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Harits

[1] HR. al-Bukhari (5678).

[2] HR. al-Bukhari (7352) dan Muslim (1716).

 

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam Wafat

Jamaah haji yang mulia itu telah tiba di Madinah, namun bukan untuk beristirahat dan santai, melainkan melanjutkan jihad di jalan Allah subhanahu wa ta’ala.

Kapankah seorang mukmin dapat merasakan santai? Musuh-musuhnya, baik yang terlihat maupun tidak, setiap saat mengintai dan berusaha membinasakannya. Terlebih lagi junjungan kita, Nabi Muhammad  shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejak Allah subhanahu wa ta’ala mengangkat beliau menjadi nabi dan rasul, kapankah beliau merasakan istirahat dan santai? Mata beliau terpejam dalam tidurnya, tetapi hatinya terjaga dan senantiasa menunggu wahyu yang datang.

Alangkah tepat untuk direnungkan pernyataan al-Imam al-Hasan al-Bashri rahimahullah ini, “Sesungguhnya, Allah subhanahu wa ta’ala tidak menjadikan rehat (ketenangan, kesantaian) seorang mukmin melainkan di dalam jannah (surga).”

Terlebih lagi, Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri pernah mengatakan, “Dunia adalah penjara bagi seorang mukmin.”

Artinya, perjuangan memang belum usai. Peperangan ini baru berhenti setelah al-haq kokoh di dalam hati seorang mukmin saat dia menghadap Rabbnya.
Diceritakan dalam Syu’abul Iman karya al-Imam al-Baihaqi rahimahullah, dan beliau menukilnya dari putra al-Imam Ahmad yang bernama Saleh rahimahumullah, bahwa pada saat al-Imam Ahmad terbaring sakit yang membawa ajalnya, tiba-tiba al-Imam Ahmad menggerakkan tangannya memberi isyarat (seolah-olah mengatakan), “Tidak (belum).”

Ketika hal ini ditanyakan kepada al-Imam Ahmad, beliau mengatakan, “Iblis menampakkan diri kepadaku dan berkata, ‘Sekarang engkau selamat dariku, wahai Ahmad’.”
Aku pun menjawab, “Belum.”1

Demikianlah. Alangkah minimnya kesempatan bagi seorang mukmin ‘menikmati’ dunianya. Apalagi jika dia adalah seorang da’i yang mengajak manusia ke jalan Allah subhanahu wa ta’ala.

Lebih-lebih lagi junjungan kita Nabi Muhammad  shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kasih sayangnya kepada umat manusia, mendorong beliau berusaha bagaimana caranya agar mereka selamat dari azab dan kemurkaan Allah subhanahu wa ta’ala.

Mahabenar Allah subhanahu wa ta’ala yang berfirman:

“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (at-Taubah: 128)

Nun jauh di sana, di sebelah utara. Imperium Romawi dengan segenap keangkuhannya, mulai dihinggapi kekhawatiran melihat beberapa kerajaan kecil jajahan mereka sudah ada yang memeluk Islam. Mereka memandang bahwa hal ini akan membahayakan keutuhan dan kewibawaan Bizantium dengan “salib agung”-nya.

Akhirnya, mulailah mereka menyerang raja-raja kecil yang telah memeluk Islam itu, seperti yang mereka lakukan terhadap Farwah bin ‘Amr al-Judzami di Ma’an. Demi mengetahui kejahatan tersebut, Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam segera menyiapkan pasukan besar untuk menghentikannya.

Senin, beberapa hari menjelang berakhirnya bulan Shafar tahun 11 H, Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kaum muslimin agar bersiap-siap menyerang Romawi. Esok paginya, Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil Usamah bin Zaid radhiallahu ‘anhuma agar membawa pasukan tersebut menuju tempat gugurnya Zaid bin Haritsah radhiallahu ‘anhu, ayah Usamah, lalu melintasi Balqa’ dan Darum, di Palestina.

Persiapan pasukan ini, terutama pengangkatan Usamah sebagai panglima perang, mulai mendapat sorotan dari sebagian kaum muslimin. Mengapa harus Usamah? Bukankah masih ada para sahabat senior yang ahli dan berpengalaman di medan tempur? Di sana ada Khalid bin al-Walid, Si Pedang Allah, ada Ikrimah bin Abi Jahl, keduanya adalah pahlawan pilih tanding dari Bani Makhzum. Ada pula Abu Bakr, ‘Umar, ‘Utsman, ‘Ali, dan Muhajirin lain yang senior dan tangguh.
Usamah yang masih belia, baru berumur 18 atau 19 tahun, sudah diserahi tugas sebagai panglima perang? Itulah keputusan Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Melihat para sahabat masih berlambat-lambat melepas pasukan Usamah, Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam berbicara di hadapan mereka, “Kalau kalian mengkritik kepemimpinan Usamah, sungguh kalian juga pernah mengkritik kepemimpinan ayahandanya sebelum ini. Demi Allah, ayahanda Usamah (Zaid bin Haritsah) memang pantas menjadi panglima, dan dia termasuk orang yang paling aku cintai. Sungguh, Usamah juga termasuk orang yang paling aku cintai sesudah ayahandanya.”2

Akhirnya, kaum muslimin bergabung dalam pasukan Usamah bin Zaid. Dalam keadaan menahan sakit, Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar melepas pasukan Usamah.

Pasukan mulai bertolak meninggalkan kota Madinah dengan setengah hati karena mendengar berita sakitnya Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setelah berjalan beberapa mil dari Madinah, mereka pun singgah di Jurf sambil menanti-nanti berita tentang keadaan Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Tanggal 28 atau 29 Shafar tahun 11 H, Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam masih sempat turut serta menyalatkan jenazah di Baqi’. Dalam perjalanan pulang, beliau mulai merasakan sakit kepala yang berat, demam yang tinggi.

Setiba di rumah, ‘Aisyah radhiallahu ‘anha berkata, “Duh, kepalaku (sakitnya)….”

Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam menimpali, “Bahkan akulah… kepalaku sangat sakit…”

Beliau  shallallahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan, “Tidak rugilah engkau. Andaikata engkau meninggal dunia sebelumku, tentu aku akan memandikanmu, mengafanimu, dan menyalatkan jenazahmu.”

“Kalau begitu, demi Allah, pasti setelah itu engkau akan kembali berpengantinan dengan istri-istrimu yang lain,” kata ‘Aisyah radhiallahu ‘anha.

Mendengar ini, Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam tersenyum. Sejak itu, mulailah beliau merasakan sakit yang sangat berat.

Biasanya, secara bergiliran, istri-istri beliau yang tercinta selalu menjaga dan merawat beliau, jika beliau sakit. Sampai pada suatu ketika, sekitar sepekan sebelum wafat, beliau mulai bertanya-tanya, “Di mana saya besok? Di mana saya besok?” Beliau terlihat sangat antusias dirawat di rumah istri tercinta ‘Aisyah radhiallahu ‘anha.

Para istri beliau yang lain pun mengizinkan beliau dirawat di rumah ‘Aisyah.
Ibunda ‘Aisyah menuturkan, “Setelah mereka mengizinkan, Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar ditemani dua orang lelaki dari keluarganya, salah satunya adalah al-Fadhl bin ‘Abbas.”

Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam berjalan keluar perlahan-lahan berpegangan dengan dua sahabat tersebut dengan kepala yang dibelit sehelai kain untuk menahan sakit. Setelah berada di rumah ‘Aisyah, mulailah beliau terlihat tenang.

Beberapa kali Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak sadarkan diri karena beratnya sakit yang beliau derita. Dua kali lebih berat dari yang dirasakan orang biasa. Itulah kemuliaan yang diberikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala kepada beliau. Semoga shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala atas beliau.

Setelah siuman, Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta dimandikan dengan air tujuh qirbah dari beberapa sumur. Kemudian, beliau keluar menuju mimbar menemui para sahabatnya.

Setelah memanjatkan puji-pujian untuk Allah subhanahu wa ta’ala, yang pertama beliau ucapkan adalah mendoakan dan memintakan ampunan buat para sahabat.
Setelah itu, beliau berkata, “Sesungguhnya, ada salah seorang di antara hamba-hamba Allah subhanahu wa ta’ala, diberi pilihan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, apakah dia mau memilih dunia atau apa yang ada di sisi Allah subhanahu wa ta’ala. Lalu hamba tersebut memilih apa yang ada di sisi Allah subhanahu wa ta’ala.”

Mendengar perkataan ini, Abu Bakr ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu tak dapat menahan isak tangisnya, sambil berlinang air mata, beliau berkata, “Kami tebus Anda dengan jiwa raga kami dan anak-anak kami, wahai Rasulullah!”
Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam tersenyum menanggapi, “Tenanglah, wahai Abu Bakr. Janganlah engkau menangis!”

Para sahabat yang lain terheran-heran mendengar perkataan Abu Bakr tadi. Ada apa dengan orang tua ini, Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan keadaan seorang hamba, tetapi dia malah mengucapkan kata-kata seperti ini? Aneh. Bukankah sudah sewajarnya, seorang hamba yang mukmin lebih mencintai apa yang ada di sisi Allah?

Itulah Abu Bakr. Pengenalannya yang utuh terhadap Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya membuat hatinya demikian peka. Beliau paham bahwa hamba itu adalah Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri, dan itu berarti Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih suka bertemu dengan Allah subhanahu wa ta’ala daripada berlama-lama hidup bersama mereka. Inilah yang menyedihkan Abu Bakr. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala meridhainya dan para sahabat lainnya.

Kemudian Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan, “Tidak ada yang paling bermanfaat dalam persahabatan dan hartanya bagi saya selain Abu Bakr. Sungguh, saya berlepas diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala untuk mengambil khalil dari kalangan kalian. Karena sesungguhnya, Allah telah menjadikan saya sebagai khalil. Seandainya saya mau mengambil kekasih yang sangat disayang (khalil) dari kalangan manusia, pasti aku jadikan Abu Bakr sebagai khalil. Akan tetapi, dia adalah saudara saya seiman dan sahabat saya. Tidak boleh ada celah atau pintu yang tersisa selain pintu Abu Bakr.”

“Wahai manusia,” lanjut beliau, “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya orang-orang sebelum kalian terbiasa menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai masjid (tempat beribadah), maka janganlah kalian menjadikan kuburan itu sebagai masjid. Sungguh, saya melarang kalian melakukannya.”

Larangan ini, beliau  shallallahu ‘alaihi wa sallam ulangi lagi pada saat beliau menghadapi maut. Setelah menyingkap kain yang menutup wajahnya yang mulia, beliau bersabda, “Semoga Allah subhanahu wa ta’ala melaknat orang-orang Yahudi dan Nasrani, (karena) mereka menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai masjid.”3

“Siapa yang selama ini pernah saya cambuk punggungnya, maka inilah punggung saya. Silakan membalas! Dan siapa yang dulu pernah saya nodai kehormatannya, maka inilah kehormatan saya. Silakan membalas!”

Setelah itu, beliau turun dari mimbar, shalat zhuhur, dan kembali duduk di mimbar mengulang perkataannya tadi. Tiba-tiba seorang sahabat berkata, “Anda masih punya utang kepada saya tiga dirham.”

Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam segera berkata, “Lunasilah, wahai Fadhl!”

Kemudian, Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam berpesan tentang orang-orang Anshar, “Saya ingatkan kalian tentang kaum Anshar. Mereka adalah tempat saya menyimpan rahasia dan mereka telah menunaikan kewajiban mereka, sementara hak mereka belum mereka peroleh. Oleh karena itu, terimalah dari orang-orang yang baik di kalangan mereka dan maafkanlah yang salah di antara mereka.”
Dalam riwayat lain, beliau  shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Orang-orang bertambah banyak, sementara kaum Anshar semakin sedikit jumlahnya, seperti garam dalam makanan. Oleh sebab itu, siapa yang diangkat menjadi penguasa di antara kalian, hendaklah menerima dari orang yang baik di kalangan Anshar dan memaafkan yang salah di antara mereka.”

Setelah itu, beliau kembali ke rumah dengan rasa sakit memuncak.
Sejak saat itu, Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah tidak sanggup keluar untuk shalat berjamaah. Sementara itu, para sahabat menunggu-nunggu, mungkin mereka masih menikmati suara Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan Kalam Ilahi, mengimami mereka.

Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada ‘Aisyah, “Apakah kaum muslimin sudah shalat?”

“Belum, ya Rasulullah. Mereka menunggu Anda,” kata ‘Aisyah.

“Ambilkan air untukku,” kata Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Setelah air itu diberikan kepada beliau, beliau pun mandi. Tetapi, beliau kembali tidak sadarkan diri. Akhirnya Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar Abu Bakr menjadi imam.

‘Aisyah radhiallahu ‘anha berkata, “Umar saja. Jangan Abu Bakr, karena dia terlalu perasa, gampang menangis. Bisa jadi, dia tidak sanggup mengimami kaum muslimin.”
Kemudian ibunda ‘Aisyah meminta Hafshah radhiallahu ‘anha agar memanggil ‘Umar menjadi imam. Tetapi, Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak suka dan tetap menyuruh agar Abu Bakr menjadi imam. Akhirnya, Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak senang dan berkata, “Kalian seperti perempuan di zaman Nabi Yusuf, pergilah!”

Hafshah berkata kepada ‘Aisyah, “Belum pernah saya mendapatkan yang baik darimu.”

Sejak saat itu para sahabat meminta Abu Bakr agar menjadi imam shalat mereka. Ketika Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam merasa agak ringan, beliau keluar sambil dipapah dua orang kerabatnya, lalu duduk di sebelah kiri Abu Bakr. Melihat hal ini, Abu Bakr mundur. Tetapi Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi isyarat agar Abu Bakr tetap di tempatnya.

Akhirnya, Abu Bakr shalat mengikuti shalat Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan para sahabat tetap berimam kepada Abu Bakr.4

Para sahabat tidak menduga apa-apa ketika Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam masih tersenyum membuka tabir rumahnya, memandang ke arah mereka yang sedang shalat shubuh. Abu Bakr pun mundur, mengira Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam akan keluar mengimami mereka. Bahkan, para sahabat hampir memutus shalat mereka karena gembira melihat keadaan Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulai membaik.

Namun, itu tak lama. Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk kembali ke rumah dan menutupkan tirainya.

Ketika matahari mulai sepenggalan, Fathimah datang menjenguk. Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam menyambut dengan gembira sebagaimana biasa, lalu berbisik. Tiba-tiba Fathimah radhiallahu ‘anha menangis. Setelah itu Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam berbisik sekali lagi, dan Fathimah tertawa.
Akan tetapi, kesedihan tetap menggayut di wajah Fathimah, melihat penderitaan ayahandanya. “Duhai, ayahanda. Alangkah beratnya penderitaanmu.”

“Tidak ada lagi penderitaan bagi ayahmu sesudah hari ini,” kata beliau  shallallahu ‘alaihi wa sallam.5

Sambil menudingkan tangan ke langit, beliau berkata, “Bersama teman yang tertinggi.”

Pada saat seperti itu, masuklah Abdurrahman bin ‘Abu Bakr sambil bersiwak. Pandangan Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam terpaku pada siwak yang di tangannya. ‘Aisyah segera bertanya, “Saya ambilkan untukmu, wahai Rasulullah?”

Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi isyarat, “Ya.”

‘Aisyah meminta siwak itu dari Abdurrahman dan melembutkannya, lalu menyerahkannya kepada Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sambil tetap bersandar di pangkuan ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam menggosok mulutnya dengan siwak yang sudah dilembutkan oleh ‘Aisyah radhiallahu ‘anha.

Kejadian ini tidak pernah lekang dari ingatan ‘Aisyah radhiallahu ‘anha. Air liurnya bercampur dengan liur Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam di saat-saat perjalanan terakhir Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggalkan dunia, dan awal perjalanan menuju akhirat. Terlebih lagi, Allah subhanahu wa ta’ala mengambil ruh Khalil-Nya yang paling mulia di atas pangkuan ‘Aisyah, dalam pelukan beliau radhiallahu ‘anha.

Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam mulai mencelupkan tangannya ke dalam air yang ada di hadapannya. Kemudian beliau mengusapkan air itu ke wajahnya sambil berkata, “Saya bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq melainkan Allah. Sungguh, kematian itu ada rasa sakitnya.”6

Setelah itu beliau mengangkat tangannya dan berkata, “Bersama teman yang tertinggi.” Kalimat ini beliau ulang-ulang sampai beliau mengembuskan nafas yang terakhir. Ucapan ini menunjukkan betapa rindunya beliau bertemu dengan Kekasihnya, Allah subhanahu wa ta’ala.

Tangan yang mulia itu pun terkulai. Ruh suci itu telah kembali kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Fathimah radhiallahu ‘anha yang turut melepas keberangkatan ayahanda tercinta tak dapat membendung tangisnya. Sambil berurai air mata, beliau radhiallahu ‘anha berseru lirih, “Duhai Ayahanda, kepada Jibril kusampaikan berita duka ini. Duhai Ayahanda, alangkah dekatnya kepada Rabbnya. Duhai Ayahanda, surga Firdaus tempat kembalinya. Duhai Ayahanda, dia sambut panggilan Rabbnya.”7

Senin, di bulan Rabi’ul Awwal tahun 11 H, Manusia Agung telah pergi. Mewariskan landasan hidup yang kekal abadi, bagi para pencari kebahagiaan yang sejati.

Tangis pun meledak. Hujan air mata di kamar ‘Aisyah radhiallahu ‘anha. Tak ada ratapan, dan tak ada kata yang terucap selain yang diserukan Fathimah radhiallahu ‘anha. Semua yang ada di dalam rumah itu tak kuasa menahan duka. Bagaimana mungkin? Tidak ada musibah yang lebih hebat daripada kehilangan kekasih yang sangat dicintai. Oleh sebab itu, menangislah wahai kaum muslimin, wahai umat Muhammad  shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akan tetapi, ingatlah, musibah di atas musibah, adalah jika kita tidak bertemu juga dengan beliau di telaga al-Haudh. Tidak pula menjadi tetangga beliau di dalam jannah (surga). Na’udzu billah min dzalik.

Gelap. Kota Madinah seakan gelap gulita. Kekasih mulia telah pergi memenuhi janji bertemu Rabbnya di tempat yang tertinggi. Mimbar Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam seakan-akan turut merasakan kesedihan yang melanda para sahabat.
Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu berkata, “Aku tidak pernah melihat keadaan yang lebih indah dan cerah dibandingkan ketika masuknya Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam ke kota Madinah. Dan (sekarang) aku tidak pernah melihat keadaan yang lebih buruk dan pekat dibandingkan saat wafatnya Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam.”8

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Selamat jalan, wahai junjungan! Semoga Allah subhanahu wa ta’ala membalasimu dengan kebaikan atas jasamu terhadap umatmu. Shalawat dan salam semoga senantiasa Dia limpahkan atasmu, keluarga, dan para sahabatmu, serta orang-orang yang mengikutimu dengan baik hingga hari pembalasan.

(Insya Allah bersambung)

 Ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Harits

Catatan Kaki:

1 Syu’abul Iman karya al-Imam al-Baihaqi (1/81). Kata beliau, “Al-Imam Ahmad mempunyai salaf (pendahulu) yang benar dalam masalah ini.” Diriwayatkan yang seperti itu juga dari Atha’ bin Yasar rahimahullah.

2 HR. al-Bukhari (2/612).

3 HR. al-Bukhari (1/408) dan Muslim (1/376).

4 HR. Ibnu Majah (1/389), disahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani.

5 HR. al-Bukhari (2/641).

6 HR. al-Bukhari (2/640).

7 HR. Ibnu Majah (1630), disahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani.

8 HR. At-Tirmidzi (5/588).

 

Nasehat Untuk Pelaku Amar Ma’ruf Nahi Mungkar

Segala puji bagi Allah subhanahu wa ta’ala yang telah menjadikan umat ini sebaik-baik umat yang dimunculkan untuk manusia. Predikat mulia ini mereka raih karena menegakkan ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan memperjuangkan agama-Nya. Di antaranya adalah menjalankan amar ma’ruf nahi mungkar, yaitu mengajak manusia untuk menjalankan kebaikan dan melarang mereka dari kemungkaran.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, serta beriman kepada Allah.” (Ali Imran: 110)

Amar ma’ruf nahi mungkar adalah urusan pokok dalam agama ini. Jika perkara ini dijalankan dengan tulus dan benar niscaya kebaikan akan merata, kejahatan akan menyempit dan mereda, serta kehidupan manusia akan lurus lagi terbimbing.

Penyakit yang Harus Diobati

Sungguh, tidak akan beres kehidupan manusia tanpa adanya amar ma’ruf nahi mungkar karena tabiat manusia adalah suka melampaui batas dan berbuat zalim, kecuali yang memang dirahmati oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Tabiat jelek ini memiliki faktor yang melandasinya, di antaranya: jiwa yang jelek, setan dari golongan jin dan manusia yang memperindah perbuatan jelek untuk menipu. Belum lagi beragam bujuk rayu syahwat yang diharamkan dan berbagai syubhat yang ditebarkan. Inilah di antara perkara-perkara yang menjerumuskan seseorang ke dalam jurang kemaksiatan sehingga tersendat derap langkah hatinya menuju negeri kedamaian di sisi Allah subhanahu wa ta’ala.

Seseorang yang telah terjangkiti penyakit syahwat yang diharamkan dan penyakit syubhat (pemikiran yang menyimpang dari kebenaran) hendaknya segera diobati. Jika tidak, hati akan mati atau setidaknya berpenyakit.

Jika di tengah-tengah manusia berdiri sekian rumah sakit untuk mengobati beragam penyakit badan berikut beragam dokter spesialis, tentu penyakit syahwat dan syubhat lebih berhak mendapatkan penanganan yang serius, karena jika tidak segera diobati akan membahayakan kalbu dan agama. Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَلَا إِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ

Ketahuilah, sesungguhnya dalam tubuh manusia ada segumpal daging. Apabila baik, akan baik pula seluruh tubuh, dan bila rusak akan rusak seluruh tubuh. Ketahuilah, ia adalah kalbu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Agar Terhindar dari Azab Allah subhanahu wa ta’ala

Kita meyakini bahwa segala perintah Allah subhanahu wa ta’ala, larangan dan aturan-Nya, adalah semata-mata maslahat bagi manusia. Apabila dilanggar, kesemrawutan hidup tidak bisa dihindarkan. Bahkan, jika kemaksiatan telah merajalela, laknat dan azab Allah subhanahu wa ta’ala tidak bisa ditangkal. Hal ini seperti yang dialami oleh bani Israil, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:

“Telah dilaknati orang-orang kafir dari bani Israil dengan lisan Dawud dan ‘Isa putra Maryam. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan mungkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.” (al-Maidah: 78—79)

Oleh karena itu, amar ma’ruf nahi mungkar harus kita tegakkan agar terhindar dari ancaman Allah subhanahu wa ta’ala, tentu sebatas kemampuan kita masing-masing.

Sifat-Sifat yang Harus Disandang oleh Pelaku Amar Ma’ruf Nahi Mungkar

Ketahuilah bahwa amar ma’ruf nahi mungkar adalah amalan yang paling mulia dan memiliki tujuan yang sangat utama. Oleh karena itu, amalan ini tidak bisa dilakukan serampangan dan hanya bermodalkan semangat. Ada hal-hal yang semestinya diperhatikan dan rambu-rambu yang harus dipatuhi oleh orang yang terjun di kancah dakwah ini. Di antaranya:

  1. Berilmu tentang hal yang ma’ruf (baik) dari yang mungkar (jelek)
    Hal ini harus ada karena amar ma’ruf nahi mungkar adalah bagian dari dakwah yang menuntut adanya bashirah (pengetahuan) tentang perkara yang akan disampaikan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Katakanlah, ‘Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata. Mahasuci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik’.” (Yusuf: 108)

Tanpa mengenal yang ma’ruf dan yang mungkar, seseorang tidak akan mungkin menjalankan amalan yang mulia ini. Pepatah arab mengatakan:

فَاقِدُ الشَّيءِ لَا يُعْطِيهِ

“Orang yang tidak punya sesuatu pun, tidak bisa memberi.”

Amar ma’ruf nahi mungkar tanpa ilmu tidak akan membuahkan perbaikan apa pun, justru akan lebih banyak mendatangkan mudarat. Hal ini seperti yang dilakukan oleh sebagian da’i yang suka menyampaikan hadits-hadits lemah atau palsu tentang keutamaan-keutamaan amalan. Tanpa terasa, dengan ini mereka telah menebarkan kebid’ahan dalam amalan, sementara mereka menyangka sedang mengajak kepada Sunnah Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Perlu diketahui bahwa timbangan untuk mengukur yang baik dan yang buruk adalah Al-Qur’an dan as-Sunnah yang kuat (sahih) sesuai dengan yang dipahami oleh generasi salaf umat ini.

Tak lupa pula kita ingatkan bahwa ada masalah-masalah khilafiyah (yang masih diperselisihkan oleh ulama). Ada perkara khilafiyah yang menyisakan ruang bagi ulama untuk berijtihad dan tidak ada bentuk penyelisihan terhadap dalil Al-Qur’an, hadits yang kuat, dan kesepakatan ulama. Pada jenis khilafiyah yang seperti ini, seseorang harus berlapang dada jika ada yang menyelisihinya serta tidak boleh melakukan pengingkaran terhadap yang menyelisihi pendapatnya. Al-Imam Ibnu Muflih rahimahullah berkata, “Seseorang tidak boleh mengingkari orang yang berijtihad dalam hal yang diperbolehkan berbeda pendapat dalam masalah cabang (bukan pokok agama).” Sufyan ats-Tsauri berkata, “Jika kamu melihat seseorang melakukan suatu amalan yang masih diperselisihkan sedangkan kamu berpendapat lain, engkau tidak boleh melarangnya.” (Lihat Adabul Khilaf karya Dr. Shalih bin Abdillah bin Humaid hlm. 39)

  1. Ikhlas

Jika keikhlasan menyertai amalan yang mulia ini niscaya akan membuahkan kebaikan bagi semua pihak. Orang yang mengajak kepada kebaikan akan mendapat pahala sedangkan orang yang diajak sangat besar kemungkinannya menerima dakwah. Bisa jadi, satu kalimat yang diucapkan oleh seseorang yang berasal dari hati yang tulus memiliki pengaruh yang hebat. Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin berkata, “Akan tetapi, ketahuilah bahwa apabila kamu mengatakan yang haq (kebenaran) dengan mengharap wajah Allah subhanahu wa ta’ala pasti akan ada pengaruh (yang baik), meskipun kebenaran itu (pada awalnya) ditolak di hadapanmu.”
Kalimat yang haq pasti akan membekas, cepat atau lambat. (Syarah al-Arba’in hlm. 154)

Keikhlasan dalam amar ma’ruf nahi mungkar bisa muncul jika hati seseorang merasa terpanggil untuk menegakkan agama Allah subhanahu wa ta’ala dan memperjuangkannya. Demikian pula, beragam penyelewengan yang ia saksikan di tengah-tengah umat mendorongnya melakukan langkah perbaikan. Rasa tanggung jawabnya yang besar terhadap umat menjadikan hatinya tidak rela jika umat jauh dari kebaikan dan terjerumus dalam jurang kenistaan. Memang tidak sama orang yang menangis karena ditinggal mati oleh kekasihnya dengan orang yang menangis karena bayaran.

  1. Mengamalkan apa yang disampaikan

Sangat tercela jika engkau melarang sesuatu padahal engkau sendiri terjatuh di dalamnya. Kapan kata-kata nasihatmu akan bernilai jika ucapan tidak selaras dengan perbuatan? Allah subhanahu wa ta’ala menceritakan Nabi Syu’aib q dengan firman-Nya:

“(Patutkah aku menyalahi perintah-Nya)? Dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larang.” (Hud: 88)

Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Perumpamaan orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia namun melupakan dirinya sendiri, seperti sumbu (lampu) yang menyinari manusia sedangkan dirinya sendiri terbakar.” (HR. ath-Thabarani dalam al-Kabir, lihat Shahih al-Jami’ no. 5837)

  1. Lemah lembut, bijak, dan tidak terburu-buru

Tidaklah kelemahlembutan melekat pada sesuatu melainkan menjadikannya indah. Adapun kekakuan merupakan kebodohan, dan sikap terburu-buru termasuk dari setan.
Amar ma’ruf nahi mungkar hendaknya menggunakan metode yang baik sehingga mudah berterima. Perkara ini memerlukan bimbingan dan penjelasan tentang yang baik dan yang buruk. Selain itu, perlu diingat bahwa seseorang yang meninggalkan kewajiban atau melakukan yang dilarang bisa jadi karena ketidaktahuannya akan hal yang diwajibkan dan yang dilarang, sehingga memerlukan bimbingan.

Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan berkata, “Termasuk kelemahlembutan dan hikmah adalah memerhatikan kondisi seorang yang akan diperintah dan dilarang (karena) orang yang terjatuh dalam maksiat memiliki tiga keadaan:

  1. Orang yang tidak tahu bahwa yang ia lakukan itu adalah maksiat dan diharamkan.
    Terhadap orang yang seperti ini Anda cukup menjelaskan, “Wahai fulan, kamu telah melakukan perbuatan maksiat dan hal yang diharamkan.” Jika memang orang ini terjerumus ke dalam maksiat karena kebodohan, (dengan penjelasan ini) dia akan meninggalkannya.
  2. Orang yang mengetahui apa yang dilakukannya itu maksiat, ia diberi nasihat dan ditakut-takuti dengan hukuman.
  3. Orang yang suka membantah dan menebarkan syubhat.
    Orang yang seperti ini dibantah dengan cara yang lebih baik, sehingga syubhat (pemikiran yang menyimpang dari kebenaran) itu runtuh. (Muhadharah fil Aqidah wad Da’wah, 2/315—316)

Termasuk bentuk kelemahlembutan dan bijak adalah bertahap dalam menyampaikan kebaikan. Hal ini seperti pesan Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Mu’adz bin Jabal radhiallahu ‘anhu ketika beliau mengutusnya ke negeri Yaman. Beliau  shallallahu ‘alaihi wa sallam berpesan agar Mu’adz memulai dakwahnya dengan ajakan untuk mengesakan Allah subhanahu wa ta’ala, kemudian shalat lima waktu, lalu yang berikutnya, dan yang berikutnya. Dengan adanya tahapan, seorang yang diajak akan mudah menyerapnya lalu mengamalkannya.

Demikian pula, termasuk bijak dalam berdakwah adalah mengetahui kondisi orang yang diajak dan menggunakan kalimat-kalimat yang mudah dipahami sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman. Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu berkata, “Ajak bicaralah orang dengan yang mereka pahami. Apakah kamu mau Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya didustakan?” (Shahih al-Bukhari, “Kitabul Ilmi” bab ke-49)

  1. Bersabar

Dalam hal kebaikan, manusia terbagi menjadi dua: ada yang menerima dan ada yang menolak. Seperti itu pula jalan dakwah, bukan jalan yang sunyi dari aral yang menghadang. Akan ada orang yang menolak ajakan, bahkan ada yang mengajak berkonfrontasi. Namun, tidak perlu berkecil hati, karena Allah subhanahu wa ta’ala akan menolong kita. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Dan sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Mahakuat lagi Mahaperkasa. (Yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang ma’ruf, dan mencegah dari perbuatan yang mungkar dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.” (al-Hajj: 40—41)

Segala makar jahat tidak akan ada pengaruhnya jika Allah subhanahu wa ta’ala tidak menghendaki.

  1. Sayang kepada kaum muslimin

Melengkapi penjelasan di atas, sikap sayang terhadap kaum muslimin adalah hal yang mendorong seseorang untuk menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar. Seorang mukmin akan ikut senang dengan kesenangan mereka dan ikut prihatin dengan kondisi buruk yang ada di tengah-tengah mereka. Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اْلمُؤْمِنُ مِرْآةُ الْمُؤْمِن

“Seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin lainnya.” (HR. ath-Thabarani dalam al-Ausath dan disahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahih al-Jami’)

Sikap sayang ini akan melahirkan ketulusan, kelemahlembutan, dan selalu menginginkan kebaikan bagi kaum muslimin. Nasihat yang diberikan adalah untuk memperbaiki dan membangun, tidak membeberkan cacat dan menumbangkan (kepribadian seseorang). Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berbicara tentang ciri-ciri Ahlus Sunnah, “Para imam Ahlus Sunnah wal Jamaah dan ahlul ilmi, mereka memiliki ilmu, keadilan, dan kasih sayang. Mereka mengenali kebenaran yang dengannya mereka mencocoki sunnah dan terhindar dari bid’ah.

Mereka (juga) berbuat adil terhadap orang yang keluar dari sunnah, bahkan walaupun menzalimi Ahlus Sunnah. Mereka menyayangi manusia, menginginkan kebaikan, petunjuk, dan ilmu bagi manusia. Tidak ada dari awal niat untuk berbuat jelek terhadap manusia. Bahkan, apabila Ahlus Sunnah membalas (kejelekan) manusia dan menjelaskan kesalahan, kebodohan, dan kezaliman mereka, tujuannya adalah menjelaskan yang benar, menyayangi manusia, amar ma’ruf nahi mungkar, serta bertujuan agar agama ini hanya milik Allah subhanahu wa ta’ala dan supaya kalimat Allah subhanahu wa ta’ala itu yang paling mulia.” (al-Ibanah karya asy-Syaikh Muhammad al-Imam hlm. 26—27)

Berita Gembira

Kabar baik bagi Anda yang tengah menjalankan amar ma’ruf nahi mungkar. Anda telah berusaha menyelamatkan akidah umat, ibadah, akhlak, dan muamalah mereka dari berbagai penyimpangan. Semoga dengan usaha Anda ini, Allah subhanahu wa ta’ala memalingkan azab dari umat ini serta menurunkan berkah-Nya untuk kita semua. Anda termasuk orang yang terbaik ucapannya, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata, “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?” (Fushshilat: 33)

Anda sedang mengikuti jejak para nabi dan rasul. Terimalah hadiah yang mulia berikut ini. Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

 “Barang siapa menunjukkan kepada kebaikan, baginya pahala seperti yang melakukan kebaikan.” (Sahih, HR. al-Imam Muslim, Ahmad, dll dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu)

Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُوْرِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْئاً

“Barang siapa mengajak kepada petunjuk, ia mendapat pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun.” (HR. Muslim dan Ahmad dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Sebagai penutup, mari kita senantiasa menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar pada diri, keluarga, masyarakat, dan bangsa kita, bahkan seluruh manusia. Sungguh, inilah jalan keselamatan dan pintu menuju keberkahan. Namun, jangan lupa untuk meluruskan niat serta meningkatkan kualitas ilmu dan amal.

Curahkanlah kebaikan kepada seluruh manusia dengan penuh kasih sayang. Berteladanlah kepada Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam dan generasi terbaik umat ini dalam menjalankan tugas dakwah yang mulia ini serta bersabarlah atas segala rintangan karena Allah subhanahu wa ta’ala bersama orang-orang yang sabar.

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ أَجْمَعِينَ وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Wallahu a’lam.

Ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Abdul Mu’thi, Lc

 

Mengingkari Kemungkaran Mendulang Berkah dalam Meneladani Para Rasul

Selalu Salah, Tabiat Manusia

Allah subhanahu wa ta’ala telah menciptakan manusia dalam sebaik-baik bentuk. Allah subhanahu wa ta’ala pula yang menyusun tubuh manusia beserta organ-organ yang saling menopang dalam kesempurnaan penciptaan tersebut. Setiap organ memiliki tugas yang berbeda. Organ yang selalu saling menolong, bahu-membahu tanpa pamrih, tidak ada keluhan, atau menolak permintaan organ yang lain. Itulah salah satu sisi kesempurnaan penciptaan manusia.

Di sisi lain, Allah subhanahu wa ta’ala telah membedakan manusia dengan makhluk yang lain, yaitu manusia dianugerahi akal. Dengannya, mereka mengetahui segala kemaslahatan hidup dan yang membahayakan mereka. Allah subhanahu wa ta’ala menuntut mereka untuk menjaga, melindungi, dan berusaha ke arah yang bermanfaat serta meninggalkan hal yang bermudarat. Karena dengan akal, Allah subhanahu wa ta’ala telah memberikan pengajaran wahyu dan membebankan pengamalan syariat kepada mereka. Allah subhanahu wa ta’ala telah memberikan kebebasan kepada mereka untuk memilih kebaikan atau keburukan, jalan kebenaran atau kebatilan, serta petunjuk atau kesesatan.

Kebebasan yang diberikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala kepada mereka penuh dengan kasih sayang-Nya. Mereka tidak lepas dari bimbingan Allah subhanahu wa ta’ala. Dia subhanahu wa ta’ala mengutus hamba-hamba pilihan-Nya kepada manusia untuk melakukan perbaikan terhadap segala bentuk kerusakan. Namun, ada manusia yang dikhawatirkan oleh malaikat di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan ingatlah ketika Rabb-mu berfirman kepada para malaikat, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata, “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?” Rabb berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang kalian tidak ketahui.” (al-Baqarah: 30)

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Ucapan malaikat ini bukan penentangan terhadap kehendak Allah subhanahu wa ta’ala. Bukan pula wujud hasad terhadap bani Adam sebagaimana yang dipahami oleh sebagian ahli tafsir. Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan sifat para malaikat bahwa mereka ‘tidak akan mendahului Allah subhanahu wa ta’ala dengan ucapan apa pun.’ Artinya, mereka tidak meminta sesuatu yang tidak diizinkan tatkala Allah subhanahu wa ta’ala memberitahukan kepada mereka bahwa Dia akan menciptakan makhluk yang akan menghuni dunia ini. Qatadah rahimahullah berkata, ‘Telah ada dalam ilmu mereka bahwa manusia akan melakukan perusakan di muka bumi. Oleh karena itu, mereka berkata, ‘Engkau akan menjadikan mereka (khalifah) di muka bumi?’ Ini adalah sebuah pertanyaan untuk mengetahui hikmah apa di balik semua ini.
Mereka berkata, ‘Wahai Rabb kami, apa hikmah penciptaan mereka? Padahal sebagian mereka ada yang melakukan perusakan dan pertumpahan darah. Jika hikmahnya adalah agar mereka beribadah kepada-Mu, kami pun telah bertasbih kepada-Mu dan menyucikan-Mu. Kami shalat menghadap-Mu dan tidak pernah terjadi sedikit pun (perusakan dan pertumpahan darah) seperti itu. Apakah kekurangan diri kami?’

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman menjawab pertanyaan mereka, ‘Aku lebih mengetahui apa yang tidak kalian ketahui.’ Maknanya, Allah subhanahu wa ta’ala mengetahui maslahat yang kuat dalam penciptaan makhluk ini meskipun memiliki sifat merusak sebagaimana yang disebutkan oleh malaikat. Sebuah hikmah yang malaikat tidak mengetahuinya. Allah subhanahu wa ta’ala akan menjadikan sebagian mereka sebagai nabi, lalu mengutus para rasul ke tengah-tengah mereka, dan di kalangan mereka juga ada shiddiqun (orang-orang yang jujur), para syuhada, orang-orang saleh, ahli ibadah, ahli zuhud, orang-orang baik, orang-orang yang didekatkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, ulama, orang-orang yang beramal, orang-orang yang khusyuk, orang-orang yang mencintai Allah subhanahu wa ta’ala, dan orang-orang yang mengikuti para rasul. Shalawat dan salam atas mereka.” (Tafsir Ibnu Katsir, 1/216)

Kerusakan yang dilakukan oleh mereka di muka bumi ini bermacam-macam bentuknya. Semuanya kembali kepada satu arah, yaitu bermaksiat kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Abu Aliyah rahimahullah berkata, “Setiap orang yang bermaksiat kepada Allah subhanahu wa ta’ala berarti melakukan kerusakan karena kebaikan dunia dan langit ini adalah dengan ketaatan.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menafsirkan firman Allah subhanahu wa ta’ala, ‘Jangan kalian melakukan kerusakan di muka bumi setelah diperbaiki’, menurut kebanyakan ahli tafsir, maknanya adalah jangan kalian melakukan kerusakan padanya dengan kemaksiatan-kemaksiatan.”

Kemudian beliau mengatakan, “Kesimpulannya, kesyirikan dan berdoa kepada selain Allah subhanahu wa ta’ala, beribadah kepada selain-Nya, atau menaati selain Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah kerusakan yang paling besar di muka bumi.” (Majmu’ Fatawa 15/24)

Di samping kerusakan yang akan diperbuat, manusia juga banyak melakukan kesalahan dan kekeliruan. Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyebutkan di dalam haditsnya:

كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ

“Setiap bani Adam banyak melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang salah adalah yang banyak bertaubat.” (HR. at-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan ad-Darimi, dihasankan oleh asy-Syaikh al-Albani di dalam al-Misykat no. 2341)

Perbaikan Setelah Kerusakan

Perusakan di muka bumi terus bergulir dengan bermacam-macam bentuk dan model. Semuanya bermuara pada satu hal, yaitu menolak segala bentuk perbaikan, dengan nama apa pun. Artinya, menolak diutusnya para rasul dan menolak undang-undang hidup yang dibawa oleh para rasul tersebut. Menurut mereka, Al-Qur’an dan as-Sunnah yang menjadi rujukan tidak perlu dihiraukan. Semua ini tentu akan berdampak pada kehidupan yang celaka dan kebinasaan jika tidak segera kembali kepada kebenaran yang dibawa. Allah subhanahu wa ta’ala telah memperbaiki dunia ini dengan diutusnya para rasul yang ditutup oleh nabi kita, Muhammad  shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta menurunkan kitab-kitab dan shuhuf (lembaran-lembaran) yang ditutup oleh kitab Al-Qur’an.

Syaikhul Islam rahimahullah berkata, “Menyeru untuk taat kepada selain Allah subhanahu wa ta’ala setelah Dia memperbaiki dunia ini dengan mengutus para rasul, menjelaskan syariat dan seruan menuju ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, adalah salah satu sifat orang yang merusak.” Kemudian beliau berkata, “Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala telah memperbaiki dunia ini dengan Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam, agamanya, dan perintah untuk mentauhidkan-Nya, serta melarang untuk merusak dunia ini dengan menyekutukan-Nya dan menyelisihi Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam. Barang siapa yang mempelajari kondisi alam ini, dia akan menemukan bahwa sebab segala bentuk kebaikan di muka bumi adalah mentauhidkan Allah subhanahu wa ta’ala, menaati-Nya, dan menaati Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam. Adapun segala kejahatan di alam ini: fitnah, bala, paceklik, dikuasai musuh, dan sebagainya, sebabnya adalah penyelisihan terhadap Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam dan seruan kepada selain Allah subhanahu wa ta’ala. Barang siapa mendalaminya secara benar niscaya dia akan menemukan semua hal ini, baik pada dirinya maupun orang lain. Tidak ada daya, upaya, dan kekuatan melainkan milik Allah subhanahu wa ta’ala.” (Majmu’ Fatawa 15/24)

Penolakan hamba terhadap upaya perbaikan dunia ini oleh Allah subhanahu wa ta’ala benar-benar nyata dan jelas. Bahkan, orang-orang yang diutus melakukan perbaikan dituduh sebagai perusak. Ironinya, di antara mereka ada yang dibunuh, seperti Nabi Yahya ‘alaihissalam dan Nabi Zakariya ‘alaihissalam. Tindakan anarki yang dilakukan oleh umat dengan membunuh utusan Allah subhanahu wa ta’ala tersebut sesungguhnya termasuk gerakan cinta kemungkaran dan benci kebaikan kendatipun mereka mengistilahkannya sebagai upaya mempertahankan kebudayaan/ajaran nenek moyang.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman mengisahkan ucapan kaum Nabi Nuh kepada beliau ‘alaihissalam:

Pemuka-pemuka dari kaumnya berkata, “Sesungguhnya kami memandang kamu berada dalam kesesatan yang nyata.” Nuh menjawab, “Wahai kaumku, tidak ada padaku kesesatan sedikit pun, aku hanyalah utusan dari Rabb semesta alam.” (al-A’raf: 60—61)

Allah subhanahu wa ta’ala mengisahkan pula ucapan kaum ‘Ad kepada Nabi Hud ‘alaihissalam:

Pemuka-pemuka yang kafir dari kaumnya berkata, “Sesungguhnya kami benar-benar memandang kamu dalam keadaan kurang akal dan sesungguhnya kami menganggap kamu termasuk orang orang yang berdusta.” Hud berkata, “Wahai kaumku, tidak ada padaku kekurangan akal sedikit pun, tetapi aku ini adalah utusan dari Rabb semesta alam.” (al-A’raf: 66—67)

Allah subhanahu wa ta’ala juga mengisahkan ucapan kaum Nabi Shalih ‘alaihissalam:

Pemuka-pemuka yang menyombongkan diri di antara kaumnya berkata kepada orang-orang yang dianggap lemah yang telah beriman di antara mereka, “Tahukah kamu bahwa Shalih diutus (menjadi rasul) oleh Rabb-nya?” (al-A’raf: 75)

Demikian pula, Allah subhanahu wa ta’ala mengisahkan ucapan kaum Nabi Luth ‘alaihissalam:

Dan jawab kaumnya tidak lain hanya mengatakan, “Usirlah mereka (Luth dan pengikut-pengikutnya) dari kotamu ini. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura menyucikan diri.” (al-A’raf: 82)

Allah subhanahu wa ta’ala pun mengisahkan ucapan penduduk Madyan kepada Nabi Syu’aib ‘alaihissalam:

Pemuka-pemuka dan kaum Syu’aib yang menyombongkan diri berkata, “Sesungguhnya kami akan mengusir kamu, wahai Syu’aib, dan orang-orang yang beriman bersamamu dari kota kami, atau kamu kembali kepada agama kami.” (al-A’raf: 88)

Allah subhanahu wa ta’ala menceritakan ucapan Fira’un tentang Nabi Musa ‘alaihissalam:

Pemuka-pemuka kaum Fir’aun berkata, “Sesungguhnya Musa adalah ahli sihir yang pandai, yang bermaksud hendak mengeluarkan kamu dari negerimu.” (Fir’aun berkata), “Maka apakah yang kamu anjurkan?” Pemuka-pemuka itu menjawab, “Beri tangguhlah dia dan saudaranya serta kirimlah ke kota-kota beberapa orang yang akan mengumpulkan (ahli-ahli sihir).” (al-A’raf: 109—111)

Dan pembesar-pembesar dari kaum Fir’aun (kepada Fir’aun) berkata, “Apakah kamu membiarkan Musa dan kaumnya untuk membuat kerusakan di negeri ini (Mesir) dan meninggalkan kamu serta tuhan-tuhanmu?” Fir’aun menjawab, “Akan kita bunuh anak-anak lelaki mereka dan kita biarkan hidup perempuan-perempuan mereka. Sesungguhnya kita berkuasa penuh di atas mereka.” (al-A’raf: 127)

Kemungkaran yang Dihadapi oleh Para Nabi dan Rasul

Perjalanan hidup setiap hamba ada di tangan Allah subhanahu wa ta’ala. Allah subhanahu wa ta’ala lah yang telah mengatur ragam kehidupan mereka. Ada yang baik dan ada yang jelek. Ada yang mendapatkan petunjuk dan ada yang tidak mendapatkannya. Ada yang beriman dan ada yang kafir. Ada yang memperbaiki dan ada pula yang merusak. Semua ini ada di tangan Allah subhanahu wa ta’ala.

“Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat (saja), tetapi Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan.” (an-Nahl: 93)

Allah subhanahu wa ta’ala telah mengutus para rasul ke tengah kaum yang membuat kerusakan untuk memperbaiki perbuatan mereka. Tidak ada tingkat dan bentuk kerusakan terbesar yang mereka hadapi selain menyekutukan Allah subhanahu wa ta’ala. Inilah muara segala bentuk kerusakan. Bahkan, bermunculannya para penguasa yang diktator pun tidak luput darinya, sampai pun dia mengaku diri sebagai Rabb semesta alam. Semua ini menunjukkan besarnya kerusakan syirik yang tidak hanya menimpa rakyat jelata, namun juga para penguasa. Pengutusan para rasul ke tengah mereka memiliki misi yang sama yaitu:

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah (saja) dan jauhilah thaghut itu!” Di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul). (an-Nahl: 36)

Para Rasul Memulai Dakwah

Dari ayat di atas, jelas bahwa para rasul memulai pemberantasan dan pengingkaran terhadap yang mungkar dari yang terbesar kemungkarannya, yaitu kesyirikan kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah dalam kitab beliau al-Ushulu ats-Tsalatsah menjelaskan, “Perkara terbesar yang diperintahkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala adalah mentauhidkan-Nya, yaitu mengesakan Allah subhanahu wa ta’ala dalam peribadahan. Larangan Allah subhanahu wa ta’ala yang terbesar adalah menyekutukan-Nya, yaitu berdoa kepada selain Allah subhanahu wa ta’ala.”

Mendulang Berkah dari Para Rasul Menjadi Keberkahan di Masa Kini
Para nabi dan rasul diutus oleh Allah subhanahu wa ta’ala ke tengah-tengah kaum yang tatanan kehidupan mereka telah hancur. Allah Maha Mengetahui apa yang mereka butuhkan. Siang malam, para utusan Allah subhanahu wa ta’ala tersebut menyampaikan amanat risalah tanpa dihinggapi rasa bosan dan putus asa. Mereka yakin bahwa hidayah ada di tangan Dzat yang mengutus mereka. Mereka hanya diperintahkan untuk berusaha menyampaikan segala apa yang dari Allah subhanahu wa ta’ala. Mereka bersabar menghadapi segala gangguan di jalan dakwah.

“Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul yang telah bersabar dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) atas mereka.” (al-Ahqaf: 35)

Setiap langkah yang mereka lakukan dalam menepis kemungkaran tidak keluar dari koridor dan jalan yang telah dipancangkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Mereka menjalani dakwah di atas wahyu ilahi sehingga berhasil mengubah dan menyelamatkan hamba-hamba Allah subhanahu wa ta’ala. Setelah tugas besar tersebut mereka emban, jelaslah siapa yang berada dalam kecelakaan dan yang selamat.

Mendulang keberkahan dari usaha mereka itu tergambar dalam beberapa hal ketika melawan kemungkaran, di antaranya: mengikhlaskan niat semata-mata mencari wajah Allah subhanahu wa ta’ala, menegakkannya di atas ilmu, meneladani para rasul, bersabar di jalannya, tidak bosan melaksanakannya, bersemangat ketika memikulnya, percaya akan bantuan dan pertolongan dari Allah subhanahu wa ta’ala, serta tidak berputus asa.

Wallahu a’lam.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman

 

Kesan Indah dalam Teguran

Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, beliau berkisah:

جَاءَ أَعْرَابِيٌّ فَبَالَ فِي طَائِفَةِ الْمَسْجِدِ فَزَجَرَهُ النَّاسُ فَنَهَاهُمْ النَّبِيُّ فَلَمَّا قَضَى بَوْلَهُ أَمَرَ النَّبِيُّ بِذَنُوبٍ مِنْ مَاءٍ فَأُهْرِيقَ عَلَيْهِ

“Seorang Arab badui datang. Ia lantas buang air kecil di salah satu sudut masjid. Orang-orang berusaha untuk menghalangi, namun Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam justru melarang mereka. Setelah ia selesai dari hajatnya, Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk menyediakan seember air. Kemudian, air tersebut diguyurkan ke tempat (buang air kecil) tersebut.”

Derajat Hadits

Hadits di atas diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari (no. 221) dan Muslim (no. 284 & 285).

Dalam riwayat Abu Dawud (ash-Shahihah, 380) ditambahkan lafadz yang menyebutkan, “Lalu orang badui tersebut berdoa, ‘Ya Allah, berikanlah rahmat untuk diriku dan Muhammad. Janganlah engkau merahmati orang lain selain kami.’ Nabi Muhammad menyatakan, ‘Sungguh, engkau telah mempersempit sesuatu yang luas’.”

Makna Hadits

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata menjelaskan hadits ini, “Pada umumnya, watak asli orang-orang Arab dari pedalaman (badui) adalah kaku dan jahil terhadap hukum-hukum Allah subhanahu wa ta’ala. Apa yang ada di dalam hadits Anas radhiallahu ‘anhu ini adalah salah satu contohnya. Seorang Arab badui masuk ke Masjid Nabi di kota Madinah. Saat itu, Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat sedang berada di dalam masjid. Orang badui tersebut lalu berjalan menuju salah satu sudut masjid, kemudian duduk dan buang air kecil. Perbuatan itu dianggap sebagai kesalahan besar oleh para sahabat. Mereka pun berteriak ingin menghalanginya. Akan tetapi, Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam malah melarang mereka, karena kelemahlembutan dan perhatian beliau terhadap orang jahil. Dengan hal ini, beliau sekaligus memberi pengajaran kepada umat agar mereka menyelesaikan berbagai persoalan dengan cara hikmah dan lemah lembut. Bisa jadi, jika orang badui tersebut dilarang, ia akan bangkit berdiri (sebelum selesai hajatnya) dan benda najis justru akan mengenai pakaian dan badannya, serta tercecer pada beberapa tempat di dalam masjid. Bahkan, ia akan mengalami gangguan karena menghentikan hajatnya secara terpaksa.

Setelah menyelesaikan hajatnya dan hilanglah hal-hal yang dikhawatirkan di atas, Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintah para sahabat menghilangkan bekas kencingnya dengan membersihkan tempat tersebut. Beliau  shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan tempat itu diguyur dengan menggunakan seember air.

Al-Imam Muslim rahimahullah menambahkan riwayat, “Setelah itu Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada orang badui tersebut, ‘Sesungguhnya, masjid tidaklah pantas untuk membuang air atau kotoran. Masjid hanyalah untuk berzikir kepada Allah subhanahu wa ta’ala, shalat, dan membaca Al-Qur’an.’ Atau sebagaimana yang disabdakan beliau.

Di dalam Shahih al-Bukhari, dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintah para sahabat untuk membiarkannya. Setelah itu, beliau  shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya, kalian diutus untuk memberi kemudahan. Kalian tidaklah diutus untuk menimbulkan kesusahan.” (Tanbihul Afham 1/87—88)

Asy-Syaikh Alu Bassam menerangkan alasan sikap lemah lembut Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap orang badui tersebut, yaitu agar nasihat dan pelajaran lebih mudah diterima saat beliau sampaikan. (Taisirul ‘Allam 1/88)

Menumbuhkan Mental Seorang Penasihat

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Ketahuilah, sesungguhnya pembahasan ini, yaitu amar ma’ruf nahi mungkar, telah sering diabaikan semenjak dahulu. Hanya sedikit yang tersisa. Kewajiban ini adalah urusan besar. Dengannya, urusan menjadi tegak dan kokoh, karena jika keburukan telah banyak menyebar, siksa akan dirasakan oleh orang baik dan orang jahat. Apabila mereka tidak mencegah perbuatan zalim, telah dekat masanya Allah subhanahu wa ta’ala akan menurunkan siksa secara merata. Hendaknya orang-orang yang menyelisihi perintah-Nya berhati-hati akan ditimpakan kepada mereka ujian atau azab yang pedih. Semestinya, para pencari akhirat dan pengejar ridha Allah subhanahu wa ta’ala memerhatikan kewajiban ini karena manfaatnya sangat besar. Lebih-lebih saat sebagian besar amar ma’ruf nahi mungkar telah hilang. Hendaknya ia mengikhlaskan niat dan tidak merasa takut terhadap orang yang ia ingkari karena kedudukannya amat tinggi.

Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Dan sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya.” (al-Hajj: 40)

Dan barang siapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (Ali Imran: 101)

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (al-Ankabut: 69)

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, “Kami telah beriman”, dan mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (al-Ankabut: 2—3)

Ketahuilah, pahala yang diperoleh itu sesuai dengan kadar kesulitan. Hendaknya, ia tidak meninggalkan kewajiban ini dengan alasan persahabatan, hubungan kasih sayang, sengaja mengelak, mencari muka, atau mempertahankan kedudukan. Sebab, persahabatan dan hubungan kasih sayang menghadirkan kehormatan dan hak. Sebagai bentuk haknya, ia memberinya nasihat, membimbingnya kepada kemaslahatan akhirat, dan menyelamatkan dirinya dari mudarat.

Teman dan kekasih adalah orang yang berusaha memperbaiki urusan akhiratnya meskipun menyebabkan dunianya berkurang. Adapun musuh adalah orang yang berupaya melenyapkan atau mengurangi urusan akhiratnya meskipun dengan itu ia memperoleh gambaran manfaat di dunia. Sesungguhnya, Iblis lah musuh kita, sedangkan para nabi adalah kekasih kaum mukminin karena usaha mereka untuk kemaslahatan akhirat dan hidayah mereka.

Kita memohon, agar Allah Yang Mahamulia mencurahkan taufik kepada kita, orang-orang tercinta, dan kaum muslimin secara keseluruhan sehingga memperoleh keridhaan-Nya. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala mencurahkan kedermawanan dan rahmat-Nya untuk kita. Wallahu a’lam.

Pelaksana amar ma’ruf nahi mungkar sendiri semestinya bersikap lemah lembut agar lebih memungkinkan meraih tujuan. Al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah pernah berpetuah, “Barang siapa menegur saudaranya secara diam-diam, ia telah memberikan untuknya nasihat dan menghiasi dirinya. Adapun seseorang yang menegur saudaranya secara terbuka (di muka umum), ia telah membuat saudaranya malu dan merasa buruk.”

Di antara bentuk amar ma’ruf nahi mungkar yang diremehkan oleh sebagian besar kaum muslimin adalah ketika seseorang menyaksikan orang lain menjual barang dagangan yang memiliki cacat atau semisalnya. Ia tidak mengingkarinya, tidak juga memberitahu si pembeli tentang cacat tersebut. Ini adalah kesalahan fatal. Para ulama telah menjelaskan bahwa orang yang mengetahuinya wajib mengingkari si penjual dan memberitahu si pembeli. Wallahu a’lam. (Syarah Shahih Muslim 2/24)

Agar Teguran Dirasakan Indah

Seorang muslim, pelaku dakwah, mesti mempertimbangkan banyak sisi dalam menjalani kehidupan pribadi seorang muslim, terutama dalam mengajak atau menegur. Berikut ini beberapa hal yang dapat kami sajikan.

  1. Teguran dan nasihat harus dilandasi asas kelembutan. Dengan demikian, pihak yang dinasihati atau ditegur akan benar-benar merasakan niat baik dari pihak yang memberi nasihat. Dengan asas kelembutan dan kasih sayang, nasihat dan teguran akan mudah diterima, mengena dalam hati, dan membuahkan berkah.
    Abu Umamah radhiallahu ‘anhu meriwayatkan, “Ada seorang pemuda menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, apakah Anda mengizinkan saya untuk berbuat zina?’ Para sahabat pun spontan bersuara. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bersabda, ‘Mendekatlah kemari!’ Pemuda itu lalu mendekat dan duduk di hadapan Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian bertanya, ‘Relakah engkau jika hal itu terjadi pada ibumu?’ Ia menjawab, ‘Tentu tidak, Allah menjadikan saya sebagai tebusanmu.’ Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Tentu demikian juga orang lain. Mereka tidak rela hal itu terjadi pada ibu mereka. Relakah engkau jika perbuatan tersebut terjadi pada putrimu?’ Ia menjawab, ‘Tentu tidak, Allah menjadikan saya sebagai tebusanmu.’ Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Tentu demikian juga orang lain. Mereka tidak rela hal itu terjadi pada putri mereka. Relakah engkau jika perbuatan tersebut terjadi pada saudara perempuanmu?’

(Ibnu Auf menambahkan, Rasulullah juga menyebut bibi [dari ayah dan ibu])
Pemuda itu selalu menjawab, ‘Tentu tidak, Allah menjadikan saya untuk tebusanmu.’
Kemudian Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan telapak tangan beliau di atas dada si pemuda, lalu mendoakannya:

اللَّهُمَّ طَهِّرْ قَلْبَهُ وَاغْفِرْ ذَنْبَهُ وَحَصِّنْ فَرْجَهُ

‘Ya Allah, sucikanlah hatinya, ampunilah dosanya, dan jagalah kemaluannya.’
Setelah itu, tidak ada sesuatu yang lebih ia benci daripada perbuatan zina.”
(HR. Ahmad 3/285, lihat ash-Shahihah, 1/645 no. 370)

Perhatikanlah! Kita dapat menyaksikan cara yang ditempuh oleh Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mengobati “penyakit” sang pemuda. Beliau  shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukannya dengan penuh kelembutan, kasih sayang, dan cinta. Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengambil sikap kasar, tidak pula menghadapinya dengan hati keras. Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam justru berbicara melalui akal sehat si pemuda, berusaha menguatkan ruh kebaikan pada dirinya, dan memadamkan api syahwat darinya.

Pembaca…
Pada kesempatan lain, seseorang datang menemui Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam sambil berkata, “Wahai Rasulullah, binasalah aku!” Rasulullah bertanya, “Apakah yang membuat dirimu binasa?” Ia menjawab, “Aku telah menggauli istriku pada siang hari bulan Ramadhan, padahal aku sedang berpuasa.” Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu memerintahkan agar ia memerdekakan seorang budak. Orang itu berkata, “Aku tidak punya.” Lantas, Rasulullah memerintahkannya untuk berpuasa selama dua bulan berturut-turut. Ia mengatakan, “Aku tidak akan mampu.” Kemudian, Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkannya untuk memberi makan enam puluh orang miskin. Ia berkata, “Aku tidak mampu.” Orang itu lalu duduk. Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu datang membawa sekeranjang kurma lalu bersabda, “Terimalah ini dan bersedekahlah dengannya!”

Ia berkata,

أَعَلَى أَفْقَرَ مِنِّي يَا رَسُولَ اللهِ؟ وَاللهِ مَا بَيْنَ لَابَتَيْهَا أَهْلُ بَيْتٍ أَفْقَرُ مِنِّي

“Apakah untuk orang yang lebih fakir dariku, wahai Rasulullah? Demi Allah, di antara dua gunung ini tidak ada keluarga yang lebih fakir daripada kami.”

Rasulullah pun tertawa hingga terlihat geraham beliau. Beliau  shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Berikanlah untuk makan keluargamu sendiri!”

Hadits di atas, yang diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 1936) dan Muslim (no. 1111), hendaknya menjadi pegangan setiap muslim dalam hidupnya. Dalam kelembutan, ada samudra kebaikan. Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam pun tertawa, bukan tertawa biasa. Sebab, geraham beliau pun terlihat. Mengapa? Orang itu datang sambil mengatakan, “Binasalah aku!” Akan tetapi, ia pulang membawa keberuntungan. Bagaimana, jika salah seorang dari kita yang mengalaminya? Mungkin dengan mudah kita menyalahkan orang tersebut. Mungkin dengan ringan kita akan memperolok-olok dirinya. Atau bahkan, kita akan menghinanya hanya karena ia terjatuh dalam kesalahan. Hendaknya seorang muslim tidak merasa senang ketika saudaranya terjatuh dalam kesalahan. Sebaliknya, ia justru berusaha memperbaiki saudaranya sebagaimana halnya ia ingin dirinya baik.

Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Seseorang tidak boleh menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar melainkan jika ia memiliki tiga perangai: lemah lembut dalam mengajak dan melarang, bersikap adil dalam mengajak dan melarang, serta berilmu tentang apa yang diajak dan dilarangnya.” (al-Wara’, al-Imam Ahmad hlm. 166)

Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِي الْأَمْرِ كُلِّهِ وَيُعْطِي عَلَيْهِ مَا لَا يُعْطِي عَلَى الْعُنْفِ

“Sesungguhnya Allah adalah Dzat Yang Mahalembut. Ia mencintai kelembutan dalam setiap hal. Ia akan memberikan (kebaikan) pada kelembutan sesuatu yang tidak Ia berikan pada kekerasan.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Sebagai bentuk kelembutan, ia menjaga harga diri dan kehormatan saudaranya yang muslim dengan memberi nasihat atau teguran secara baik dan tidak menceritakan kesalahannya ke sana-kemari. Al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah pernah memberikan petuah, “Barang siapa menegur saudaranya secara diam-diam, ia telah memberinya nasihat dan menghiasi dirinya. Adapun seseorang yang menegur saudaranya secara terbuka, ia telah membuat saudaranya malu dan merasa buruk.” (Syarah Shahih Muslim, an-Nawawi 2/24)

Lain halnya jika saudaranya melakukan kesalahan secara terang-terangan, merasa bangga, mengulanginya setelah ditegur, dan memberikan dampak buruk yang besar, ia dapat menegurnya secara terbuka agar khalayak umum dapat berhati-hati dan menghindarinya. Wallahu a’lam.

  1. Yang harus diperhatikan juga dalam amar ma’ruf nahi mungkar adalah penguasaan tentang kondisi orang, tabiat, watak masyarakat, dan waktu. Dengan demikian, cara penyampaian dan metode pelaksanaan akan sesuai dengan kadar dan kemampuan. Cara penyampaian kepada orang awam tentu berbeda dengan cara penyampaian kepada orang yang terpelajar. Demikian juga antara orang pandai dan orang jahil.

Abbas al-Anbari berkisah, “Aku pernah berjalan bersama Abu Abdillah (al-Imam Ahmad) di kota Basrah. Lalu aku mendengar seseorang berkata kepada orang lain, ‘Wahai anak zina!’ Orang itu pun membalas, ‘Apa anak zina!?’ Aku pun berhenti, sementara Abu Abdillah terus berjalan. Lalu, al-Imam Ahmad menoleh ke arahku, ‘Wahai Abul Fadhl, ayo terus jalan!’ Aku mengatakan, ‘Kita telah mendengar (apa yang mereka ucapkan), kita wajib (mengingatkan).’ Al-Imam Ahmad segera menjawab, ‘Peristiwa tadi tidak termasuk’.” (al-Amru bil Ma’ruf, al-Khallal hlm. 114)

Saat itu, al-Imam Ahmad tidak mengingatkan pelaku (yang mengucapkan kata-kata kotor) karena orang itu berasal dari kalangan rendahan.

  1. Saat menegur atau menyampaikan nasihat, pertimbangkanlah baik buruknya, maslahat dan mafsadahnya. Akankah memunculkan kebaikan, ataukah justru melahirkan kemungkaran yang lebih parah?

Ibnul Qayyim rahimahullah (I’lamul Muwaqqi’in 3/4) menjelaskan, “Sesungguhnya, Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menetapkan syariat untuk umatnya dalam hal mengingkari kemungkaran, dengan tujuan munculnya kebaikan yang dicintai oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya. Apabila konsekuensi dari mengingkari satu bentuk kemungkaran adalah menimbulkan kemungkaran yang lebih besar lagi dan lebih dimurkai oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya, tidak diperkenankan untuk mengingkarinya meskipun Allah subhanahu wa ta’ala membencinya dan membenci pelakunya. Siapa saja yang memerhatikan berbagai peristiwa yang pernah terjadi dalam Islam, baik besar maupun kecil, ia pasti menemukan bahwa ajaran semacam ini telah diabaikan.

Demikian juga kurangnya kesabaran dalam mengingkari kemungkaran sehingga ia berusaha menghilangkannya dengan tergesa-gesa. Akhirnya, usahanya justru menimbulkan kemungkaran yang jauh lebih parah. Sungguh, Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyaksikan kemungkaran terbesar di Makkah, namun beliau  shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak dapat mengubahnya.

Bahkan, sekalipun Makkah telah dibukakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala untuk beliau dan menjadi negeri Islam, ditambah keinginan kuat beliau untuk mengubah letak Ka’bah dengan mengembalikannya pada posisi fondasi Ibrahim. Akan tetapi, itu semua beliau  shallallahu ‘alaihi wa sallam urungkan, padahal beliau mampu. Beliau  shallallahu ‘alaihi wa sallam khawatir hal itu akan menimbulkan kemungkaran yang lebih parah, yaitu penolakan dari Quraisy, sementara mereka baru saja masuk ke dalam Islam dan baru beberapa saat terlepas dari kekafiran.”

Faedah Hadits

Hadits ini mengandung beberapa faedah. Kami menukilkannya dari penjelasan asy-Syaikh Muhammad al-Utsaimin rahimahullah dalam kitab Syarah Bulughul Maram, dengan beberapa perubahan.

  1. Orang jahil tidak dapat diajak berbicara sebagaimana orang pandai, namun mereka disikapi dengan kelembutan. Orang Arab badui tersebut menyangka bahwa sudut masjid yang lapang itu seperti tempat lapang biasa, dapat digunakan untuk buang air kecil.
  2. Keumuman watak masyarakat pedalaman adalah kejahilan. Sama halnya dengan masyarakat pedalaman, orang yang tidak aktif menghadiri majelis ilmu dan majelis ulama, seringnya akan mengalami kejahilan.
  3. Bertindak segera dalam mencegah kemungkaran. Sebab, para sahabat cepat-cepat mencegah kemungkaran dan melarang orang badui tersebut.
  4. Apabila satu bentuk kemungkaran tidak hilang melainkan dengan memunculkan kemungkaran yang lebih besar, untuk sementara boleh tidak diingkari. Artinya, kemungkaran itu didiamkan hingga tiba waktu yang tepat. Dalilnya adalah sikap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang para sahabat yang hendak menghentikan hajat orang badui tersebut. Penjelasannya telah diterangkan di atas.
  5. Tanah akan menjadi suci dengan menuangkan air di atasnya, tidak perlu menggalinya, seperti yang dikerjakan oleh sebagian orang. Cukup dengan menuangkan air pada tempat yang terkena najis, tanah pun menjadi suci. Namun, jika najis itu berbentuk benda, seperti tinja, benda najis tersebut dihilangkan baru kemudian dituangkan air pada tempatnya.
  6. Untuk menyucikan najis yang mengenai tanah tidak ditentukan jumlah tuangan air atasnya.
  7. Air seni manusia hukumnya najis. Oleh sebab itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan perintah untuk menyucikannya. Ada riwayat yang menjelaskan ancaman siksa untuk orang yang tidak membersihkan atau menyucikan diri dari air seni.
  8. Salah satu syarat sah shalat adalah kesucian tempat. Masjid adalah tempat melaksanakan shalat. Jika kesucian tempat bukan termasuk syarat shalat, tentu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan memerintah para sahabat untuk menuangkan air pada tempat tersebut.
  9. Tidak diperbolehkan meletakkan benda najis dalam masjid. Demikian juga membuang sampah di masjid meskipun sampah tersebut benda yang suci karena masjid harus dibersihkan dari kotoran dan sampah.
  10. Menjaga kesucian masjid adalah wajib hukumnya.
  11. Indahnya akhlak, metode pengajaran, dan hikmah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  12. Bagusnya cara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi penjelasan. Beliau membimbing, tidak pantas benda kotor dan najis berada di dalam masjid. Masjid dibangun untuk melaksanakan ibadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala, seperti shalat, zikir, dan yang semisalnya.
  13. Aktivitas keduniaan tidak seharusnya dilakukan di dalam masjid. Masjid tidak boleh digunakan untuk kegiatan jual beli, mengumumkan kehilangan barang, atau melakukan profesi usaha. Contoh mudahnya, seorang penjahit diharamkan bekerja menjahit di dalam masjid karena masjid dibangun hanyalah untuk mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Semoga ringkasnya pembahasan ini tidak mengurangi manfaat yang diperoleh. Mudah-mudahan semakin bertambahnya ilmu dan pengalaman, beriring dengan perjalanan waktu, Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan kita sebagai hamba yang selalu berhias dengan sifat hikmah dan kelembutan. Sesungguhnya Allah Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Wallahu a’lam.

Ditulis oleh Al-Ustadz Mukhtar Ibnu Rifai

Pelanggaran Amar Ma’ruf Nahi Mungkar

Di sini, penulis tidak bermaksud menyebutkan satu per satu pelanggaran yang terjadi ketika beramar ma’ruf nahi mungkar yang dilakukan oleh seseorang, sekelompok orang, atau organisasi.

Sebenarnya, dari semua tulisan tentang masalah ini sudah sangat jelas mana langkah yang benar dan tepat yang bisa menjadi pegangan, serta mana langkah yang keliru dan tidak sesuai syariat untuk kemudian dihindari.

Tentu, siapa pun yang menempuh cara-cara yang keliru dan tidak sesuai syariat berati telah melakukan sebuah pelanggaran. Namun, yang penulis maksud dengan pelanggaran di sini lebih ke arah adanya sebagian orang, kelompok, atau organisasi yang lantang menyuarakan amar ma’ruf nahi mungkar, tetapi di sisi lain mereka jauh dari yang ma’ruf, tidak mengamalkannya, justru dekat kepada kemungkaran, bahkan melakukan kemungkaran. Adakah pelanggaran amar ma’ruf nahi mungkar yang lebih besar dari ini?!

Yang wajib bagi setiap muslim, baik yang memerintah maupun yang diperintah, adalah mengikuti kebenaran.

Sungguh banyak ancaman yang keras dan teguran yang tegas bagi siapa saja yang ucapannya menyelisihi perbuatannya, terutama orang yang melakukan amar ma’ruf nahi mungkar. Di antaranya adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Mengapa kamu suruh orang lain mengerjakan kebajikan, sedangkan kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca Al-Kitab (Taurat)? Maka, tidakkah kamu berpikir?” (al-Baqarah: 44)

Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman:

Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang kamu tidak perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan.” (ash-Shaff: 2—3)

Firman Allah subhanahu wa ta’ala lainnya:

Syu’aib berkata, “Wahai kaumku, bagaimana pikiranmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Rabbku dan dianugerahi-Nya aku dari-Nya rezeki yang baik (patutkah aku menyalahi perintah-Nya)? Dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larang. Aku tidak bermaksud selain (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.” (Hud: 88)

Di dalam banyak hadits yang sahih, Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa orang yang beramar ma’ruf namun tidak melakukan yang ma’ruf dan bernahi mungkar tetapi justru melakukan yang mungkar, ia bagaikan keledai Jahannam yang isi perutnya keluar terburai.

Sahabat Usamah bin Zaid radhiallahu ‘anhu berkata, “Aku mendengar Rasulullah bersabda, ‘Pada hari kiamat, akan dihadirkan seseorang yang kemudian dia dilemparkan ke dalam neraka. Isi perutnya keluar dan terburai hingga dia berputar-putar bagaikan seekor keledai yang berputar-putar menarik mesin gilingannya. Lalu penduduk neraka berkumpul mengelilinginya seraya berkata, ‘Wahai fulan, apa yang terjadi denganmu? Bukankah kamu dahulu orang yang memerintah kami berbuat ma’ruf dan melarang kami berbuat mungkar?’ Orang itu berkata, ‘Aku memang memerintah kalian agar berbuat ma’ruf tapi aku sendiri tidak melaksanakannya dan melarang kalian berbuat mungkar, namun aku malah mengerjakannya’.” (HR. al-Bukhari no. 3027 bab “Sifatun Nar wa Annaha Makhluqah” dan Muslim no. 5305 bab “‘Uqubatu man Ya’mur bil Ma’ruf wala Yaf’aluhu…”)

Begitu juga orang yang diperintah kepada yang ma’ruf. Apabila ia tidak menghiraukannya dan berpaling dari peringatan, keadaannya pun sama bagaikan keledai. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Maka mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan (Allah subhanahu wa ta’ala)? Seakan-akan mereka itu keledai liar yang lari terkejut, lari dari singa.” (al-Mudatstsir: 49—51)

Dari sahabat Anas, Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ketika malam Isra’, aku melewati suatu kaum yang lidahnya dipotong dengan gunting dari api. Aku (Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam) bertanya, ‘Kenapa mereka dihukum seperti itu?’ (Malaikat) berkata, ‘Mereka adalah umatmu di dunia, mereka memerintahkan kebaikan kepada orang-orang namun melupakan diri mereka sendiri padahal mereka membaca Al-Qur’an. Mengapakah mereka tidak menggunakan akal sehatnya?!’.” (HR. Ahmad no. 12391)

Ancaman keras yang tertera, baik dalam Al-Qur’an maupun Sunnah yang ditujukan kepada para penegak amar ma’ruf nahi mungkar, seperti isi perut yang keluar terburai, lidah yang dipotong dengan api, dan kemurkaan Allah subhanahu wa ta’ala, bukan karena beramar ma’ruf nahi mungkar. Akan tetapi, karena melakukan kemungkaran dalam keadaan mengetahuinya dan menasihati manusia untuk menjauh darinya, serta meninggalkan yang ma’ruf dalam keadaan mengetahuinya dan memotivasi manusia untuk melakukannya. Jadi, ancaman itu disebabkan oleh kemaksiatan, bukan lantaran beramar ma’ruf nahi mungkar, karena pada dasarnya amalan tersebut (amar ma’ruf nahi mungkar) adalah baik.

Dari sini, jelas bahwa amar ma’ruf nahi mungkar tidak gugur (kewajibannya) sekalipun bagi yang tidak saleh, apalagi yang saleh. Untuk itu, seorang muslim memikul dua kewajiban sekaligus: kewajiban beramar ma’ruf nahi mungkar dan kewajiban mengamalkan yang ma’ruf yang telah diperintahkannya kepada manusia. Kemudian kewajiban mencegah kemungkaran (nahi mungkar) dan kewajiban meninggalkan kemungkaran.

Jika salah satunya saja yang dilakukan dan mengabaikan kewajiban lainnya, atau bahkan meninggalkan kedua-duanya, dia mendapat ancaman. Wallahu a’lam.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf al-Atsari

 

Akibat Meninggalkan Amar Ma’ruf Nahi Mungkar

Di awal pembahasan ini telah dijelaskan tentang kewajiban amar ma’ruf nahi mungkar. Tidak sedikit di dalam Al-Qur’an, sanjungan dan pujian kepada yang menunaikannya dengan baik, seperti firman Allah subhanahu wa ta’ala:

“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barang siapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.” (an-Nisa: 114)

Kemudian, apa akibat yang akan diperoleh oleh orang yang mengabaikan dan meninggalkan amar ma’ruf nahi mungkar? Al-Qur’an dan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam secara detail memberitahukan kepada kita sebagai berikut.

Pertama: Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

“Mengapa orang-orang alim mereka, pendeta-pendeta mereka tidak melarang mereka mengucapkan perkataan bohong dan memakan yang haram? Sesungguhnya amat buruk apa yang telah mereka kerjakan.” (al-Maidah: 63)

Al-Qurthubi rahimahullah dalam tafsirnya mengatakan, “Ayat ini menegaskan bahwa orang yang tidak mencegah kemungkaran sama halnya dengan pelaku kemungkaran itu sendiri. Ayat ini juga sekaligus sebagai celaan bagi para ulama yang tidak beramar ma’ruf nahi mungkar.” (al-Jami’ li Ahkamil Qur’an)

Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya mengutip riwayat dari sahabat Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma tentang ayat ini. Beliau (Ibnu Abbas) berkata, “Tidak ada dalam Al-Qur’an celaan sekeras (celaan) yang ada di ayat ini.” (Tafsir al-Qur’anul ‘Azhim)

Kedua: Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

“Telah dilaknat orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Dawud dan ‘Isa putra Maryam. Hal itu disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan mungkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.” (al-Maidah: 78—79)

Inilah akibat tidak saling mengingatkan dan mencegah kemungkaran yang dilakukan. Allah subhanahu wa ta’ala mencela mereka, agar (siapa pun) berhati-hati dari melakukan hal yang sama. (lihat Tafsir al-Qur’anul ‘Azhim, Ibnu Katsir)

Ibnu ‘Athiyah rahimahullah berkata, “Ijma’ sudah ditetapkan bahwa mencegah kemungkaran adalah wajib bagi yang mampu dan aman dari bahaya yang mengancam diri serta kaum muslimin secara umum. Namun, jika dikhawatirkan ada bahaya (mudarat), mengingkarinya adalah dengan hati dan menjauh dari kemungkaran tersebut.” (al-Jami’ li Ahkamil Qur’an)

Ayat di atas juga terkait dengan orang yang mendiamkan kemungkaran padahal mampu dan berwenang mencegahnya. (lihat Tafsir Taisir Karimirrahman, as-Sa’di)

Ketiga: Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

“Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat serta Kami timpakan kepada orang-orang yang zalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik.” (al-‘Araf: 165)

Tentang ayat ini, Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Allah subhanahu wa ta’ala telah memastikan akan selamatnya orang-orang yang mengingkari kemungkaran serta binasanya orang-orang yang zalim dan yang mendiamkannya, karena balasan yang akan diperoleh itu akan setimpal dengan perbuatan yang dilakukan.” (Tafsir al-Qur’anul ‘Azhim)

Keempat: Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar dan membunuh orang-orang yang menyuruh manusia berbuat adil, maka gembirakanlah mereka bahwa mereka akan menerima siksa yang pedih.” (Ali Imran: 21)

Ayat ini, menurut al-Imam al-Qurthubi rahimahullah, menunjukkan bahwa amar ma’ruf nahi mungkar juga wajib atas umat terdahulu. Beliau juga mengatakan, “Seperti yang telah disinggung oleh Ibnu Abdil Bar, kemungkaran itu wajib dicegah oleh siapa pun yang mampu.” (al-Jami’ li Ahkamil Qur’an)

Di dalam Shahih al-Bukhari dari Nu’man bin Basyir radhiallahu ‘anhuma dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perumpamaan orang yang menegakkan hukum Allah subhanahu wa ta’ala dan yang diam terhadapnya seperti sekelompok orang yang berlayar dengan sebuah kapal, yang sebagian dari mereka ada yang mendapat tempat di atas dan sebagian lagi di bagian bawah. Jika mereka (yang di bawah) mencari air untuk minum mereka, mereka harus melewati orang-orang yang berada di bagian atas. Mereka pun berkata, ‘Seandainya boleh, kami lubangi saja perahu ini untuk mendapatkan bagian kami, sehingga kami tidak mengganggu orang yang berada di atas kami.’ Jika orang yang berada di atas membiarkan saja apa yang diinginkan orang-orang yang di bawah itu, mereka akan binasa semuanya. Namun, jika mereka mencegah dengan tangan mereka, maka mereka akan selamat semuanya.” (HR. al-Bukhari no 2313, 2489, at-Tirmidzi no. 2099, Ahmad no. 17638, 17653 )

Hadits yang mulia ini memberikan keterangan yang penting bahwa kaum muslimin berserikat dalam urusan agama yang akan menyelamatkan mereka di akhirat. Ini persis seperti berserikatnya manusia pada umumnya dalam manfaat berlayar menggunakan sebuah kapal untuk keselamatannya di dunia.

Apabila semua orang yang berserikat menggunakan kendaraannya berupa kapal tadi mendiamkan salah seorang mereka yang akan merusak keseimbangan perahu, hal itu akan menjadi penyebab celakanya mereka semua.

Demikian juga, diamnya kaum muslimin terhadap orang yang melakukan kefasikan dan tidak mengingkari kemungkarannya akan menjadi sebab celakanya mereka semua di akhirat bahkan juga di dunia.

Diriwayatkan dari sahabat Hudzaifah bin al-Yaman radhiallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda, “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, hendaknya kalian beramar ma’ruf dan nahi mungkar. Jika tidak, niscaya Allah subhanahu wa ta’ala akan mengirimkan siksa-Nya dari sisi-Nya kepada kalian, kemudian kalian memohon kepada-Nya, namun doa kalian tidak lagi dikabulkan.” (HR. at-Tirmidzi no. 2095)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah seorang nabi yang diutus oleh Allah subhanahu wa ta’ala pada suatu umat sebelumnya melainkan dia memiliki pembela dan sahabat yang memegang teguh sunnah-sunnah dan perintah-perintahnya. Kemudian datanglah setelah mereka suatu kaum yang mengatakan sesuatu yang tidak mereka lakukan dan melakukan sesuatu yang tidak diperintahkan. Barang siapa yang berjihad dengan tangan melawan mereka, maka dia seorang mukmin. Barang siapa yang berjihad melawan mereka dengan lisan, maka dia seorang mukmin. Barang siapa yang berjihad dengan hati melawan mereka, maka dia seorang mukmin, dan setelah itu tidak ada keimanan (sebesar) biji sawi pun.” (HR. Muslim no. 71 bab “Bayan Kauni Nahyi ‘anil Mungkar minal Iman”)

Wal ’ilmu indallah.

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf al-Atsari

 

Mengubah Kemungkaran dengan Kekuatan

Telah dijelaskan sebelumnya bahwa setiap muslim mempunyai kewajiban untuk mengingatkan dan memerintahkan yang ma’ruf serta mengingatkan dan mencegah dari yang mungkar sesuai dengan tuntunan syariat.

Persoalannya, jika dalam menjalankan itu semua menggunakan kekuatan, seperti yang kerap dilakukan oleh sekelompok orang, apakah syariat membolehkannya? Apakah hal tersebut menjadi kewenangan tiap orang, ataukah menjadi kewenangan penguasa dan pemerintah?

Al-Imam al-Qurthubi rahimahullah mengatakan, “Para ulama menjelaskan, amar ma’ruf nahi mungkar bagi para umara adalah dengan tangan, bagi para ulama dengan lisan, kemudian bagi mereka yang lemah dan keumuman orang adalah dengan hati.”

Al-Qadhi Iyadh rahimahullah berkata, “Apabila diperkirakan mengubah kemungkaran dengan tangan akan menyebabkan timbulnya kemungkaran yang lebih besar, seperti terbunuhnya (si pelaku kemungkaran) atau terbunuhnya pihak lain, hendaknya seseorang menahan tangannya dan cukup menyampaikan nasihat secara lisan.

Jika penyampaian nasihat secara lisan juga dikhawatirkan menimbulkan hal yang sama, hendaknya ia mengubah kemungkaran dengan hatinya. Inilah yang dimaksud oleh hadits.

Kemudian, kalau ada yang meminta bantuan untuk mengubah suatu kemungkaran, hendaknya diberi bantuan selama proses tersebut tidak mengarah pada penggunaan senjata tajam dan penyerangan (karena ini mengandung kemungkaran dari sisi yang lain). Jika terjadi demikian, sebaiknya hal itu diserahkan kepada yang mempunyai wewenang, atau sebaiknya mengingkari kemungkaran dengan hati.

Inilah duduk persoalan yang sesungguhnya dan penerapan yang benar menurut para ulama. Berbeda dengan pandangan (keliru) yang membolehkan pengubahan kemungkaran secara terang-terangan pada setiap keadaan, meski menyebabkan banyak korban jiwa dan luka-luka, serta memunculkan banyak pertentangan.” (dikutip dari Syarh Shahih Muslim)

Pihak penguasa atau pemerintah yang memiliki kekuasaan dan kekuatan, wajib menegakkan yang ma’ruf dan menghilangkan yang mungkar dengan kekuatan. Demikian pula, para ulama dapat menunaikan kewajibannya, yaitu mengarahkan dan menciptakan perbaikan. Kewajiban ulama adalah memotivasi manusia untuk melakukan yang ma’ruf dan menerangkan tentang keburukan, bahaya, dan akibat kemungkaran.

Adapun yang tidak berkemampuan untuk itu, tak ada jalan lain bagi mereka selain mencintai yang ma’ruf dan membenci segala kemungkaran dengan hatinya.
Apa yang telah disampaikan di atas tadi, tidak berarti bahwa siapa yang melihat suatu kemaksiatan dan mendekatinya berdalih tidak punya wewenang dan hukum, lantas mendiamkannya tanpa ada kesungguhan usaha untuk mencegah dan menghilangkannya.

Islam menuntut siapa saja yang melihat kemungkaran agar mencegah dan mengubahnya dengan ucapan yang lembut. Jika tidak berhasil dan ia mempunyai kemampuan untuk mengubahnya dengan kekuatan, ubahlah menggunakan kekuatan.

Ada baiknya, jika pihak pemerintah memiliki lembaga khusus amar ma’ruf nahi mungkar—semacam membentuk Densus 88 untuk memburu dan membasmi para teroris—, sehingga setiap orang, kelompok, atau organisasi tidak semaunya mengubah kemungkaran dengan kekuatan menurut caranya sendiri.

Tentu sangat dikhawatirkan jika semua pihak mengubah kemungkaran dengan kekuatannya. Hal itu hanya akan memunculkan fitnah, keresahan, dan kekacauan. Bahkan, sangat mungkin menjadi pemicu munculnya kemungkaran baru yang lebih besar.

Tidak dimungkiri, mungkin saja ada yang melakukan itu semua dengan niat yang baik. Akan tetapi, juga tidak menutup kemungkinan para aktornya malah orang-orang yang tidak bertanggung jawab, yang hanya bertujuan membuat kericuhan, keonaran, dan menebar kejelekan.

Melarang Kemungkaran Berbeda dengan Mengubahnya

Masalah yang sangat penting untuk diketahui dalam pembahasan amar ma’ruf nahi mungkar adalah mengetahui perbedaan antara mengubah kemungkaran dan mencegah/melarangnya. Ternyata, banyak orang yang masih tidak memahami persoalan ini dengan baik. Akibatnya, tak sedikit yang justru terjatuh dalam kesalahan yang fatal. Perbedaan-perbedaan tersebut di antaranya sebagai berikut.

  1. Mengubah kemungkaran pada hakikatnya adalah menghilangkan dan melenyapkan wujudnya, seperti menumpahkan miras, menghancurkan sarana perjudian, dan lain-lain. Adapun mealrang kemungkaran berarti menyampaikan nasihat, peringatan, dan ancaman.
  2. Mengubah kemungkaran dilakukan pada saat kemungkaran itu terjadi. Adapun hukuman bagi si pelaku kemungkaran menjadi wewenang penguasa atau pemerintah.

Berbeda halnya dengan mencegah/melarang. Hal ini dapat dilakukan sebelum, saat, dan setelah kemungkaran itu terjadi. Tidak terkait waktu sama sekali.

  1. Mengubah kemungkaran membutuhkan kekuasaan dan kekuatan, terutama dalam hal menghentikannya. Adapun melarang, setiap orang memiliki kemampuan, baik dengan nasihat yang menyentuh maupun dengan dialog yang bijak.
  2. Mengubah kemungkaran adalah fardhu kifayah menurut pendapat mayoritas ahli fikih, dan dapat menjadi fardhu ‘ain bagi yang mengetahuinya dan memiliki kemampuan.

Adapun mencegah/melarang kemungkaran, karena ada kemudahan dan kemungkinan tidak ada fitnah saat melakukannya, maka menjadi wajib ‘ain bagi setiap muslim, dalam setiap keadaan, sesuai dengan kemampuannya. (al-Amru bil Ma’ruf wa an-Nahyu ‘anil Munkar).

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat sebuah cincin emas di tangan seorang lelaki. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu melepas dan melemparnya sembari berkata, “Salah seorang dari kalian pergi menuju bara api neraka lalu dia memakainya di tangannya.” Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pergi, dikatakan kepada lelaki itu, “Ambillah cincinmu, manfaatkanlah!” Dia menjawab, “Tidak, demi Allah. Aku tidak akan mengambilnya selamanya padahal cincin itu telah dilempar oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Muslim)

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menyebutkan beberapa faedah hadits ini dalam Syarh Riyadhish Shalihin (1/225). Di antara yang beliau sebutkan berkaitan dengan pembahasan amar ma’ruf nahi mungkar. Berikut ini petikannya.

“Hadits ini menunjukkan pemakaian cara keras dalam hal mengubah kemungkaran ketika dibutuhkan. (Dalam hadits di atas) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengatakan kepada lelaki tersebut, ‘Emas itu haram (bagi lelaki), engkau jangan memakainya’, atau ‘maka lepaslah’. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam justru melepas dan melemparnya ke tanah. Telah diketahui bahwa amar ma’ruf nahi mungkar (memerintahkan yang ma’ruf dan melarang yang mungkar) itu berbeda dengan mengubah kemungkaran. Mengubah kemungkaran dilakukan oleh pihak yang memiliki kekuasaan dan mampu melaksanakannya, seperti penguasa atau yang ditunjuk mewakilinya, atau seperti seorang kepala rumah tangga terhadap keluarganya, atau seperti seorang wanita terhadap urusan rumahnya, atau yang semisalnya. Pihak-pihak seperti ini memiliki kekuasaan untuk mengubah kemungkaran dengan tangannya. Jika tidak mampu, dengan lisannya. Jika masih tidak mampu, dengan hatinya. Adapun memerintahkan yang baik dan melarang yang mungkar hukumnya wajib dalam segala keadaan karena di dalamnya tidak ada pengubahan, hanya perintah kepada kebaikan dan larangan dari kemungkaran.”

Selain itu, asy-Syaikh Ibnu Utsaimin juga menyatakan, “Faedah lainnya, seseorang hendaknya berlaku hikmah dalam hal mengubah kemungkaran. Lelaki ini disikapi keras oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun, seorang A’rabi (penduduk pedalaman) yang kencing di masjid tidak disikapi demikian. Kemungkinan, lelaki yang mengenakan cincin emas tersebut sudah mengetahui hukumnya dan keharamannya, tetapi dia bermudah-mudahan. Berbeda halnya dengan A’rabi yang kencing di masjid, dia jahil, tidak mengetahui hukumnya. Dia datang dan melihat ada tempat yang kosong di masjid, lalu kencing di situ. Dia menganggap dirinya berada di padang pasir yang luas …. Demikian pula, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersikap lemah lembut terhadap Mu’awiyah bin al-Hakam as-Sulami radhiallahu ‘anhu yang berbicara ketika sedang shalat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersikap lembut terhadap seorang lelaki yang menggauli istrinya pada siang hari bulan Ramadhan. Keadaan yang berbeda membutuhkan sikap yang berbeda pula. Oleh karena itu, saudaraku muslim, hendaknya engkau menerapkan hikmah pada setiap ucapan dan perbuatanmu….

Kita memohon kepada Allah subhanahu wa ta’ala agar menjadikan kita sebagai orang-orang yang dianugerahi hikmah dan mendapat kebaikan yang banyak dengan sebab itu.”

Wal ‘ilmu ‘indallah.

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf al-Atsari

 

Tingkatan Amar Ma’ruf Nahi Mungkar

Mengingkari Kemungkaran dengan Tangan

Mengingkari kemungkaran dengan tangan adalah tingkat pengingkaran yang paling tinggi, seperti menumpahkan miras, menghancurkan patung yang disembah, melarang orang dari berbuat jahat, dan lain-lain.

Pengingkaran dengan tangan dilakukan oleh pihak yang mempunyai kewenangan terhadap pelaku kemungkaran, seperti pemerintah atau yang mewakilinya, seperti satgas amar ma’ruf nahi mungkar (yang ditunjuk langsung). Semua sesuai dengan bidangnya masing-masing.

Begitu pun seorang muslim terhadap keluarga dan anak-anaknya. Ia menyuruh mereka menjalankan perintah Allah subhanahu wa ta’ala dan mencegahnya dari hal-hal yang diharamkan-Nya dengan tangan apabila tidak mempan dengan ucapan, sesuai dengan kelapangan dan kemampuan.

Di dalam Al-Qur’an, Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan pengingkaran terhadap kemungkaran yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Dan demi Allah, sungguh, aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu setelah kamu pergi meninggalkannya. Maka dia (Ibrahim) menghancurkan (semua berhala itu) berkeping-keping, kecuali yang terbesar (induknya), agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya.” (al-Anbiya: 57—58)
Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman:

Dia (Musa) berkata, “Pergilah kau! Maka sesungguhnya di dalam kehidupan (di dunia) engkau (hanya dapat) mengatakan, ‘Janganlah menyentuh (aku)!’ Dan engkau pasti mendapat (hukuman) yang telah dijanjikan (di akhirat) yang tidak akan dapat engkau hindari, dan lihatlah tuhanmu itu yang engkau tetap menyembahnya. Kami pasti akan membakarnya, kemudian sungguh kami akan menghamburkannya (abunya) ke dalam laut (berserakan).” (Thaha: 97)

Dalam ayat ini, Allah subhanahu wa ta’ala memberitakan tentang Nabi Musa ‘alaihissalam yang membakar seekor anak lembu yang disembah di samping Allah subhanahu wa ta’ala.

Sahabat Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu meriwayatkan sebuah hadits, beliau berkata:

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk ke Makkah dalam keadaan di sekeliling Ka’bah ada 360 patung. Lalu beliau menusuknya menggunakan tongkat yang ada di tangan beliau, seraya membaca (firman Allah subhanahu wa ta’ala), ‘Telah datang kebenaran dan sirnalah kebatilan’.” (HR. al-Bukhari no. 2298)

Dari sahabat Anas radhiallahu ‘anhu, beliau berkata “Aku pernah menjamu suatu kaum dengan minuman di rumah Abu Thalhah. Saat itu, khamr (minuman keras) mereka adalah al-fadhikh (arak yang terbuat dari buah kurma). Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintah seorang penyeru untuk mengumumkan bahwa khamr telah diharamkan.” Anas berkata, “Abu Thalhah lalu berkata kepadaku, ‘Keluar dan tumpahkanlah!’ Aku pun keluar dan menumpahkannya. Khamr pun mengaliri jalan-jalan kota Madinah.” (HR. al-Bukhari no. 2284)

Sahabat Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma juga meriwayatkan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melihat sebuah cincin emas di tangan seorang laki-laki lalu beliau mencopot cincin tersebut dan langsung melemparkannya….” (HR. al-Bukhari no. 3897)

Dalil-dalil yang semisal di atas sangat banyak. Semuanya menunjukkan pencegahan kemungkaran dengan tangan.

Akan tetapi, mencegah kemungkaran dengan tangan menjadi tidak tepat jika dilakukan oleh setiap orang dalam setiap kemungkaran. Hal tersebut bisa berdampak kerusakan dan bahaya yang besar.

Semestinya, kewenangan untuk mengubah/mencegah kemungkaran dengan tangan itu ada pada pemerintah atau wakilnya yang ditunjuk langsung sebagai penegak amar ma’ruf nahi mungkar.

Bisa jadi, kewenangan itu ada dalam wilayah setiap orang. Seperti di dalam rumah, setiap kepala keluarga mencegah kemungkaran yang dilakukan anak, istri, atau pembantunya. Jadi, setiap orang memiliki wilayah kewenangan mencegah kemungkaran dengan tangan, dengan cara-cara yang bijak dan disyariatkan.

Syaikhul Islam rahimahullah berkata, “Tidak dibolehkan bagi siapa pun untuk menghilangkan kemungkaran dengan sesuatu yang justru lebih mungkar. Seperti, seseorang yang berkeinginan untuk memotong tangan pencuri, mencambuk peminum arak, atau menegakkan hukuman-hukuman lainnya. Kalau sampai dia melakukannya, tentu akan menyebabkan pertumpahan darah dan berbagai kerusakan. Karena setiap orang akan berusaha melayangkan pukulan kepada yang lainnya dan mengklaim orang lain lebih berhak mendapatkan (hukuman). Hal ini seharusnya dikembalikan pada kewenangan pemerintah.” (Mukhtashar Fatawa Mishriyyah)

Apa yang dikemukakan oleh Syaikhul Islam tadi, mengingatkan penulis kepada maraknya berbagai wacana saat ini untuk melokalisasi kemungkaran. Salah satu tujuannya, agar kemungkaran yang dimaksud tidak menyebar luas. Misalnya, menampung para pelacur atau Pekerja Seks Komersial (PSK) di sebuah tempat, yang akhirnya tempat tersebut menjadi tempat yang bebas untuk melakukan kemungkaran tadi. Ini sudah menjadi rahasia umum terjadi di kota-kota besar di wilayah negeri ini, yang sampai sekarang tetap eksis, seperti di Jakarta, Bandung, Solo, Semarang, Surabaya, dan kota lainnya.

Belum lagi perjudian, yang sekarang ini sedang marak diperbincangkan, apakah melokalisasi perjudian sebagai wujud pelegalan kemungkaran tersebut atau tidak. Memang, dahulu sekitar tahun 2006 pernah ada wacana untuk menjadikan kasino di Kepulauan Seribu, namun, walhamdulillah, masyarakat menolak keras wacana tersebut.

Namun, asal tahu saja, penjudi asal Indonesia tercatat menempati peringkat tiga besar di Singapura. Oleh karena itu, Musni Umar seorang Sosiolog UI, menilai secara sosiologis masyarakat Indonesia memang tidak menerima perjudian. Namun, perlu juga dilihat keuntungan dari kasino-kasino itu. Menurutnya, daripada uangnya lari ke luar negeri, lebih baik digunakan untuk pembangunan di dalam negeri. Subhanallah!

Intinya, kemungkaran tetaplah kemungkaran meskipun wujud dan sifatnya berbeda. Kemungkaran tidak boleh dicegah dengan kemungkaran lainnya meskipun bentuknya berbeda.

Mengingkari dengan Lisan

Setidaknya ada empat langkah yang harus ditempuh dalam mengingkari kemungkaran dengan lisan.

Pertama: Mengenalkan (bahaya dan jeleknya) kemungkaran dengan tenang dan lemah lembut.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala mencintai sikap lemah lembut pada setiap perkara.” (HR. al-Bukhari no. 5565)

Sekelompok Yahudi datang lalu mereka berkata, “As-samu ‘alaikum, wahai Muhammad! (Mereka maksudkan doa kematian).” ‘Aisyah mendengar ucapan mereka, ia pun berkata, “Alaikum as-samu wal la’nah’ (untuk kalian hal yang serupa dan laknat).” Dalam riwayat lain ‘Aisyah berkata, “La’anakumullah wa ghadiba ‘alaikum’ (semoga laknat dan kemurkaan Allah subhanahu wa ta’ala atas kalian).” Rasulullah bersabda, “Wahai ‘Aisyah, sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala mencintai sikap lemah lembut pada setiap perkara.” ‘Aisyah menjawab, “Bukankah engkau mendengar apa kata mereka?” Rasulullah menjawab, “Tidakkah engkau mendengar apa yang aku katakan kepada mereka?” Yaitu ‘wa ‘alaikum’ (Bagi kalian juga yang semisal). Sesungguhnya doa kita akan dikabulkan, sedangkan doa mereka tidak. (HR. al-Bukhari no. 5570)

Lihatlah bagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menampakkan sikap lembut kepada mereka, padahal mereka Yahudi, dengan harapan mereka mendapat hidayah dan tunduk pada kebenaran. Lalu, bagaimana kiranya sikap beliau terhadap orang-orang yang beriman?!

Dengan demikian, yang lurus dalam beramar ma’ruf nahi mungkar akan selalu berusaha untuk menampakkan sikap lembut dan menggunakan ungkapan-ungkapan yang cocok, kata-kata yang baik, dan nasihat yang bijak di dalam sebuah majelis, di jalan atau di tempat mana pun.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, serta berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Rabbmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.” (an-Nahl: 125)

Inilah metode yang ditempuh para pendahulu yang saleh (salaf) dalam beramar ma’ruf nahi mungkar: menampilkan sikap lembut, tenang dibarengi oleh ilmu, pemahaman terhadap situasi, kondisi, dan amal.

Kedua: Mencegah kemungkaran, yang dikemas dalam bentuk nasihat dan wejangan serta menanamkan rasa takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
Langkah ini ditujukan kepada pelaku kemungkaran yang mengetahui hukum syariat terkait dengan perbuatannya.

Langkah ini berbeda dengan yang pertama, yang umumnya diterapkan kepada pelaku kemungkaran yang tidak mengetahui hukum syariat.

Ibaratnya, langkah kedua ini untuk mengingatkan kembali pelaku akan hukum syariat yang sudah diketahuinya. misalnya tentang janji Allah subhanahu wa ta’ala bagi orang-orang yang taat kepada-Nya dengan metode yang hikmah dan arahan yang baik. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.” (adz-Dzariyat: 55)

Ketiga: Teguran yang keras.

Langkah ini ditempuh ketika pelaku kemungkaran tidak jera dengan metode/langkah sebelumnya. Terapkan teguran yang keras dengan memerhatikan etika dan kaidah syar’i, tidak menyampaikan sesuatu melainkan dengan jujur, dan tidak melebar kesana-kemari jika tidak perlu.

Nabi Ibrahim ‘alaihissalam sebagai bapak para nabi menempuh langkah ini, seperti firman Allah subhanahu wa ta’ala :

“(Ibrahim berkata), ‘Celakalah kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah! Tidakkah kamu mengerti?’.” (al-Anbiya: 67)

Keempat: Ancaman dan menakut-nakuti.

Langkah keempat ini adalah langkah terakhir yang bisa ditempuh dalam melakukan pengingkaran kemungkaran dengan lisan. Caranya, menyampaikan kepada pelaku kemungkaran, “Kalau engkau tidak menghentikan perbuatanmu, aku akan bertindak!” atau “Aku akan melaporkanmu kepada pihak berwajib agar menghukum dan memenjarakanmu.”

Tetapi, ancaman yang disampaikan harus benar-benar wajar dan masuk akal, supaya si pelaku memercayai ancaman dan tindakan yang akan diambil oleh pihak yang mengingkarinya.

Mengingkari dengan Hati

Para pembaca, sampailah kita pada tingkatan mengingkari kemungkaran dengan hati, yaitu bagi seorang mukmin yang tidak memiliki kemampuan untuk mengingkari dengan tangan dan lisannya.

Tidak ada jalan lain bagi siapa yang keadaannya demikian, selain membenci dan menampakkan ketidaksukaan kepada kemungkaran dan pelakunya dengan hatinya—dan Allah Maha Mengetahui hal tersebut.

Kewajiban ini tidak bisa gugur dari seorang mukmin, siapa pun dia, karena tidak ada halangan apa pun yang mencegahnya. Tidak ada lagi cara lain untuk mengingkari kemungkaran. Bahkan, pengingkaran dengan hati adalah akhir batas keimanan. Seperti sabda Nabi, “Dan mencegah dengan hati itu adalah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim no. 70)

Sahabat Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu ditanya, “Siapakah yang disebut mayat hidup itu?” Beliau menjawab, “Orang yang tidak mengenal yang ma’ruf dan tidak mengingkari yang mungkar.”

Sebagai penutup pembahasan ini, saya (penulis) ingin menegaskan kembali bahwa amar ma’ruf nahi mungkar wajib bagi laki-laki dan wanita.

Bagi para wanita, ada kewajiban untuk mengingkari kemungkaran yang dilakukan oleh sesamanya dan oleh kerabatnya dari kaum lelaki.

Diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, ia pernah melihat seorang wanita di antara Shafa dan Marwah mengenakan pakaian yang ada garis (berbentuk) salib. Beliau segera menegurnya dan berkata, “Lepaskan (jangan dipakai) pakaian ini!

Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat yang seperti ini di pakaian, beliau langsung memotongnya.” (HR. Ahmad, at-Tirmidzi, lihat Shahih al-Bukhari no. 5496)

Suatu ketika ‘Aisyah radhiallahu ‘anha pun pernah melihat saudara laki-lakinya (Abdurrahman) tampak tergesa-gesa ketika berwudhu supaya tidak tertinggal menyalati jenazah Sa’ad bin Abi Waqqas. ‘Aisyah pun menegurnya, “Wahai Abdurrahman, sempurnakan jika berwudhu, karena aku mendengar Rasulullah bersabda, ‘Celakalah bagi tumit-tumit (yang tidak terbasuh dengan air wudhu) dengan (ancaman) api neraka’.” (HR. Muslim no. 353 dan seterusnya)

Di dalam kitab Jami’ul ‘Uluum wal Hikam, al-Imam Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Seluruh hadits ini (tentang amar ma’ruf nahi mungkar) menunjukkan wajibnya mengingkari kemungkaran sesuai dengan kemampuan. Adapun mengingkarinya dengan hati adalah suatu keharusan (dalam setiap keadaan).

Siapa yang hatinya tidak mengingkari kemungkaran, berarti telah hilang keimanan dari hatinya.” (Qawa’id Muhimmah fi al-Amri bil Ma’ruf wa an-Nahyi ‘anil Munkar)

Wal ’ilmu indallah.

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf al-Atsari

 

 

Penerapan Amar Ma’ruf Nahi Mungkar

Penerapan Amar Ma’ruf Nahi Mungkar

Sesungguhnya, dalam membangun serta membina akidah dan akhlak seorang muslim, Islam tidak sekadar menjadikannya sebagai pribadi yang saleh. Akan tetapi, juga mendorongnya untuk menjadi pribadi yang mushlih (selalu mengupayakan terciptanya perbaikan), saleh bagi dirinya dan mengupayakan kesalehan bagi selainnya.

Prinsip amar ma’ruf nahi mungkar mengajarkan kepada setiap muslim untuk menjadi pribadi yang saleh dan mushlih. Untuk itu, menerapkan amar ma’ruf nahi mungkar haruslah mengetahui tahapan-tahapannya, dari mana memulainya dan apa yang mesti diperhatikannya.

Memulai dari yang Paling Penting Kemudian yang Penting Berikutnya
Mendahulukan yang terpenting dari yang penting adalah bagian dari kaidah penerapan amar ma’ruf nahi mungkar. Seseorang yang akan menerapkannya hendaknya memulai langkahnya dengan memperbaiki dasar-dasar keyakinan, yaitu memerintahkan tauhid dan mengikhlaskan ibadah hanya kepada-Nya, serta mencegah kesyirikan, kebid’ahan, dan hal-hal yang berbau sihir.

Kemudian ia memerintahkan menegakkan shalat, menunaikan zakat, serta kewajiban-kewajiban lainnya. Lalu ia memerintahkan meninggalkan perkara-perkara haram. Berikutnya, ia memerintahkan perkara-perkara yang sunnah, diikuti dengan meninggalkan hal-hal yang makruh.

Demikianlah metode dakwah dan amar ma’ruf nahi mungkar yang diterapkan oleh seluruh rasul Allah subhanahu wa ta’ala. Mereka memberikan porsi yang lebih terhadap pembenahan akidah tanpa mengesampingkan perkara-perkara penting lainnya, karena pada dasarnya tidak ada masalah yang tidak penting dalam Islam.

Melihat Maslahat dan Mafsadah

Ada satu kaidah yang tidak boleh diabaikan oleh orang yang hendak menerapkan amar ma’ruf nahi mungkar, yaitu ‘menolak mafsadah (kerusakan) lebih diutamakan daripada mengambil maslahat’. Oleh karena itu, menjadi keharusan mengetahui maslahat yang dihasilkan dan mafsadah yang ditimbulkan dari penerapan amar ma’ruf nahi mungkar. Adapun rinciannya adalah sebagai berikut.

Pertama: Apabila kemaslahatan yang dihasilkan lebih besar dibandingkan mafsadahnya, wajib beramar ma’ruf nahi mungkar.

Kedua: Apabila yang terjadi kebalikannya, yakni mafsadahnya lebih besar dari maslahatnya, menjadi tidak wajib menegakkannya bahkan diharamkan.

Ketiga: Jika keadaannya seimbang antara maslahat dan mafsadahnya, atau yang ma’ruf dan yang mungkar sama-sama dilakukan, maka tidak boleh memerintah kepada yang ma’ruf, tidak pula mencegah yang mungkar. Artinya, dalam kondisi ini, menghindari terjadinya mafsadah yang lebih besar diutamakan daripada mengambil maslahat.

Keempat: Apabila bercampur antara yang ma’ruf dengan yang mungkar, langkah yang diambil adalah menyampaikan seruan/dakwah secara khusus kepada yang ma’ruf dan menyampaikan ajakan secara khusus agar menjauh dari segala hal yang mungkar.

Sebenarnya, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah telah menjelaskan kaidah ini dengan gamblang. Beliau mengatakan, “Apabila maslahat dan mafsadah, kebaikan dan kejelekan, sama-sama mencuat atau sama-sama menguat, yang wajib adalah mendahulukan mana yang lebih dominan. Hal ini karena amar ma’ruf nahi mungkar, sekalipun membawa misi untuk mewujudkan maslahat dan menolak mafsadah, tetap harus mempertimbangkan apa yang menjadi rintangannya.

Jika maslahat yang hendak dicapai tidak sebesar mafsadah yang akan muncul, tidak boleh menerapkan amar ma’ruf nahi mungkar, bahkan menjadi haram dalam kondisi tersebut.

Tetapi, mengukur maslahat dan mafsadah itu harus dengan timbangan syariat. Artinya, kapan seseorang itu punya kemampuan untuk mengikuti dalil, maka tidak boleh berpaling darinya. Kalau tidak, maka berijtihad dengan pendapatnya jika ia termasuk ahli ijtihad. Namun, sangat sedikit orang yang berkemampuan seperti di atas. Intinya, ini adalah bagian yang dikembalikan kepada ahlul ilmi dan ulama.
Dengan demikian, apabila seseorang atau suatu kelompok mencampuradukkan antara yang ma’ruf dan yang mungkar, serta tidak lagi membedakan keduanya (bisa jadi kedua-duanya dilakukan atau ditinggalkan), tidak diperkenankan memerintah mereka kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, akan tetapi hendaknya mempertimbangkan hal berikut.

Apabila jumlah yang ma’rufnya lebih banyak dilakukan, maka sampaikan perintah kepada (yang ma’ruf). Meskipun masih terjadi kemungkaran yang jumlahnya lebih sedikit, tidak boleh dicegah dari melakukannya (nahi mungkar), karena hal tersebut justru akan menyebabkan hilangnya yang ma’ruf yang secara kuantitas jauh lebih banyak.

Bahkan, mencegahnya (nahi mungkar) ketika itu sama saja dengan menghalang-halangi dari jalan Allah subhanahu wa ta’ala, mengusahakan hilangnya ketaatan kepada-Nya dan kepada rasul-Nya, serta dianggap menghilangkan perbuatan baik.
Sebaliknya, apabila kemungkaran yang dilakukannya lebih banyak, maka harus dicegah (nahi mungkar) meskipun mengakibatkan ditinggalkannya kebaikan yang jumlahnya lebih sedikit. Ini karena memerintahkan kepada yang ma’ruf yang lebih sedikit dilakukan hanya akan menyebabkan bertambahnya kemungkaran, sehingga hal itu (amar ma’ruf) justru masuk dalam kategori mengupayakan terjadinya kemaksiatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya.

Kemudian, kalau kedua-duanya sama-sama dilakukan, baik yang ma’ruf maupun yang mungkar dan keduanya saling terkait, maka tidak boleh menerapkan amar ma’ruf, tidak pula nahi mungkar. Kadang-kadang amar ma’ruf lebih tepat, tapi kadang juga sebaliknya nahi mungkar yang lebih tepat. Atau justru lebih tepat untuk tidak menerapkan (menahan dulu) amar ma’ruf nahi mungkar. Hal ini bisa terjadi dalam perkara tertentu yang nyata.”

Meneliti dan Memastikan Kemungkaran

Di antara yang membawa keberhasilan dalam menerapkan amar ma’ruf nahi mungkar adalah meneliti dan memastikan kemungkaran yang hendak diubah dan ditiadakan. Karena itu, memiliki ilmu tentang yang ma’ruf dan yang mungkar menurut kacamata syariat adalah penting. (lihat kembali pembahasan ini di rubrik ”Manhaji” edisi ini)

Oleh sebab itu, pastikanlah bahwa kemungkaran yang akan dicegah benar-benar perkara mungkar yang diingkari oleh Kitabullah dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ketika sebagian orang melihat suatu perbuatan atau mendengar suatu ucapan, terkadang dianggapnya sebagai suatu kemungkaran karena berpatokan kepada kebiasaan yang berlaku dan adat istiadat manusia pada umumnya. Ternyata menurut syariat Islam ternyata bukan sesuatu yang mungkar, bahkan boleh jadi malah sesuatu yang ma’ruf. Atau bahkan sebaliknya, melihat sesuatu yang sebenarnya ma’ruf menurut syariat, tetapi dianggapnya sebagai sesuatu yang mungkar.

Inilah fenomena yang sering terjadi dan tampak di sebagian wilayah Islam. Semua itu terjadi semata-mata karena kebodohan yang melekat dalam diri umat Islam.
Jadi, langkah kroscek (memastikan) dari suatu kemungkaran adalah hal yang dituntut dari siapa saja yang hendak mengingkari kemungkaran, termasuk kita pastikanlah bahwa itu adalah kemungkaran dan benar-benar dilakukan.

Hal lain yang wajib diperhatikan adalah jangan tergesa-gesa untuk mencegah seseorang atau sekelompok orang dari suatu kemungkaran, jika dasarnya hanya prasangka tanpa melalui proses mencari kepastian (tabayyun dan tatsabbut).
Mungkin saja seseorang dihinggapi perasaan ingin melakukan yang baik atau bahkan yang buruk, atau berpikir untuk melakukan kemungkaran namun ternyata tidak jadi melakukannya.

Apabila seseorang mendapatkan informasi tentang adanya kemungkaran, maka hendaknya ia mencari kepastian tentang keadaan si pembawa informasi. Mungkin saja ia seorang munafik, orang yang fasik, penyebar fitnah, atau tukang ghibah yang ingin menciptakan kerusakan dan tidak membuat perbaikan.
Boleh jadi, ada sekelompok orang yang sebenarnya tidak punya tujuan untuk mencegah dan menghilangkan kemungkaran, yang mereka inginkan hanya sekadar mengacaukan dan memalingkan konsentrasi.

Allah subhanahu wa ta’ala memberitahukan kepada kita tentang orang-orang munafik, penyebar fitnah dan tukang ghibah, serta orang-orang fasik dalam firman-Nya:
Apabila orang-orang munafik datang kepadamu (Muhammad), mereka berkata, “Kami mengakui bahwa engkau adalah rasul Allah.” Dan Allah mengetahui bahwa engkau benar-benar Rasul-Nya; dan Allah menyaksikan bahwa orang-orang munafik itu benar-benar pendusta.” (al-Munafiqun: 1)

“Dan janganlah engkau patuhi setiap orang yang suka bersumpah dan suka menghina, suka mencela, yang kian kemari menyebarkan fitnah.” (al-Qalam: 10—11)

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatan kamu itu.” (al-Hujurat: 6)

“Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar perbuatan yang sangat keji itu (berita bohong) tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, mereka mendapat azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (an-Nur: 19)

(al-Amru bil Ma’ruf wan Nahi ‘anil Mungkar fi Dha’ui Kitabillah)

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf al-Atsari