Tips Aman dan Nyaman Berkendara

Seiring dengan tingginya angka kecelakaan yang menimpa saudara-saudara kita kaum muslimin, Redaksi terpanggil untuk menyuguhkan tips aman dan nyaman berkendara, khususnya bagi kendaraan roda dua.

  1. Berdoa sebelum memulai perjalanan.
  2. Taati peraturan, alat pemberi isyarat lalu lintas, rambu-rambu lalu lintas, marka jalan, dan petunjuk petugas/polisi. Ingat, ini bagian dari kewajiban setiap muslim untuk taat kepada pemerintah.
  3. Pastikan kelengkapan surat motor Anda berupa STNK dan SIM.
  4. Pastikan kendaraan Anda memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan yang meliputi kaca spion, klakson, lampu utama berikut arah dan daya pancarnya, rem dan lampu rem, lampu penunjuk arah (lampu sein), alat pemantul cahaya, alat pengukur kecepatan (speedometer), knalpot, kedalaman alur ban, dan spakbor.

Jika ada yang harus diperbaiki jangan tunda, segera diperbaiki. Jika ada suku cadang yang memang harus diganti, segera diganti. Ingat, ketaklaikan motor Anda bisa membahayakan keselamatan diri dan orang lain.

  1. Jangan mengganti suku cadang yang tidak standar, seperti warna lampu dan ukuran ban karena bisa memengaruhi keselamatan atau kenyamanan berkendara.
  2. Gunakan semua kelengkapan kendaraan sebagaimana fungsinya. Seperti menyalakan lampu sein saat hendak berbelok atau berbalik arah, atau—sesuai UU No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, pasal 107 (2)—menyalakan lampu utama di siang hari.
  3. Gunakan alat keselamatan berkendara (safety riding) atau pelindung, seperti helm Standar Nasional Indonesia (SNI), baik untuk pengemudi maupun pembonceng. Jika Anda sering bepergian jarak jauh, selain helm SNI—disarankan yang fullface—gunakan juga jaket yang tahan terhadap terpaan angin, sepatu yang menutup tumit, sarung tangan yang ada pelindung kerasnya, pelindung dada, masker/penutup hidung, serta—jika perlu—pelindung lutut dan pelindung lengan/siku. Selain berfungsi mengurangi cedera, juga untuk menjaga kesehatan. Disarankan menggunakan perlengkapan dengan warna yang mudah terlihat, lebih baik lagi yang bisa merefleksikan cahaya (fluorescent,) seperti rompi pemantul cahaya, terutama jika berkendara di malam hari.
  4. Kendalikan emosi, kendarai kendaraan dengan tenang dan senyaman mungkin. Jangan terpancing oleh kendaraan lain yang menyalip Anda atau pengendara lain yang ugal-ugalan. Ingat, jika Anda berbalapan dengan kendaraan lain, menang atau kalah, tidak membawa manfaat apa pun. Demikian juga, seyogianya kita bisa memupuk kesabaran ketika menghadapi kendaraan dari arah berlawanan yang memakan jalur kita atau “ngeblong” sebagaimana hal itu sering kita jumpai pada bus, truk, dan sebagian mobil pribadi.Salah satu hal yang juga mesti dikedepankan adalah kesiapan menghadapi kemungkinan terburuk. Sikap ini akan menumbuhkan kehati-hatian dalam berkendara.
  1. Selalu waspada dan jangan melamun, konsentrasikan pikiran pada jalan dan kendaraan di depan Anda. Jangan terlalu mengandalkan insting, pastikan keadaan aman tersebut. Jika mengantuk atau lelah, segera istirahat di rest area, masjid, atau SPBU terdekat.
  2. Hindari berkendara ketika masih di bawah pengaruh obat, terutama yang membuat mengantuk/pusing.
  3. Bersikap sopan dalam berkendara, seperti tidak menyalakan klakson secara berlebihan atau tidak menggunakan jenis klakson yang mengganggu pemakai jalan lain.
    12. Jika kita berkendaraan secara berombongan, jangan memenuhi badan jalan.Termasuk dalam hal ini, jika Anda berkendara dengan teman pengendara lain, jangan mengobrol di jalan raya sehingga mengurangi kelapangan pengendara lain.
  1. Memberi kesempatan kepada penyeberang jalan, terutama penyandang cacat atau manusia berusia lanjut. Ini termasuk adab Islam yang mesti kita pupuk.
  2. Wajib mengutamakan keselamatan pejalan kaki dan pesepeda (UU No. 22/2009 pasal 106).
  3. Pada kecepatan rendah menggunakan lajur kiri.
  4. Pacu kendaraan Anda dalam kecepatan normal, meskipun normal itu sangat relatif. Di dalam kota atau permukiman, kecepatan 60 km/jam bisa jadi termasuk kecepatan tinggi. Namun di jalan raya antarkota atau lingkar luar yang sepi, kecepatan 80 km/jam bisa jadi sesuatu yang normal.
  5. Kendaraan roda dua pada prinsipnya hanya dinaiki oleh dua orang. Oleh karena itu, untuk keselamatan bersama, hindari mengikutkan banyak anggota keluarga seperti anak lebih dari satu atau anak yang masih bayi. Hindari juga membawa barang secara berlebihan yang dapat mengganggu kenyamanan berkendara.
  6. Kurangi risiko sebanyak mungkin.
  7. Selalu jaga jarak aman dengan kendaraan di depannya.
  8. Hindari bepergian di malam hari dan saat hujan deras jika tidak mendesak. Bagi sebagian orang, risiko kecelakaan lebih tinggi karena keterbatasan jarak pandang.
  9. Perhatikan pakaian Anda, terutama untuk Anda muslimah. Jika Anda membonceng, selalu jaga pakaian Anda agar tidak tersangkut rantai atau masuk jeruji ban. Sangat dianjurkan menggunakan perlengkapan tambahan, seperti tutup rantai.
  10. Lintasi jalur alternatif—jika memang ada—, untuk menghindari jalan yang padat, jalan rusak dan berlubang, atau jalan yang rawan kejahatan.
  11. Menyalip secara aman.
  12. Selalu perhatikan spion dan jangan lupa menyalakan lampu sein, lebih bagus lagi menyalakan klakson.
  13. Jangan memaksa diri menyalip kendaraan yang juga tengah menyalip.
  14. Jangan mendahului pada posisi yang tidak memungkinkan kita melihat kondisi lalu lintas di depan, seperti menyalip di tikungan, puncak tanjakan, terowongan tanpa pembatas jalur, dekat persimpangan jalan, kompleks perumahan, atau dekat sekolah yang anak-anak banyak bermain.
  15. Berhati-hati jika hendak melintas dekat mobil yang berhenti/parkir, bisa jadi mobil tersebut berhenti karena ada orang/kendaraan yang hendak menyeberang atau kemungkinan pintu mobil dibuka secara tiba-tiba.
  16. Jangan berhenti mendadak setelah menyalip, pastikan jarak aman dengan kendaraan di belakangnya. Jangan zig-zag di jalan, bisa jadi di belakang kita ada kendaraan yang juga bermaksud menyalip.
  17. Hindari menyalip dari kiri, terutama dari sisi dalam tikungan ketika hendak menyalip mobil/bus.
  18. Menyalakan klakson saat melintasi deretan mobil dalam antrean di siang hari atau menyalakan lampu jauh ketika malam hari sesering mungkin untuk memberikan perhatian dan jangkauan penglihatan kaca spion bagi kedua jalur mobil yang kita lintasi sehingga pengendara mobil mengetahui keberadaan kita.
  19. Pengemudi yang berpapasan dengan kendaraan lain dari arah berlawanan pada jalan dua arah yang tidak dipisahkan secara jelas, wajib memberikan ruang gerak yang cukup di sebelah kanan kendaraan. Pengemudi sebagaimana dimaksud jika terhalang oleh suatu rintangan atau pengguna jalan lain di depannya, wajib mendahulukan kendaraan yang datang dari arah berlawanan. (UU No. 22/2009 pasal 110)
  20. Pada jalan yang menanjak yang tidak memungkinkan berpapasan, pengemudi kendaraan yang arahnya menurun wajib memberi kesempatan jalan kepada pengemudi kendaraan yang arahnya mendaki. (UU No. 22/2009 pasal 111)
  21. Perhatikan situasi lalu lintas jika hendak berpindah jalur. Walaupun sudah menyalakan lampu sein, jangan langsung memotong jalan jika hendak berpindah jalur, terutama dari kanan ke kiri. Jika Anda dari kiri hendak ke kanan, pastikan Anda telah berada di lajur kanan terlebih dahulu dengan tetap memantau arus lalu lintas melalui spion.
  22. Jika Anda dari gang, jalan kecil, bahu/pinggir jalan, atau dari jalur lambat kemudian bemaksud memasuki jalan raya/jalur cepat, perhatikan kendaraan yang hendak melintas. Lebih baik berhenti dengan memerhatikan arus kendaraan terlebih dahulu daripada langsung masuk menikung yang seringnya mengagetkan sekaligus membahayakan pengendara lain.Sebaliknya, jika hendak masuk jalan kecil atau berbelok ke kiri, selalu menyalakan lampu sein atau dengan isyarat tangan dengan jarak aman—tidak mendadak.
  1. Saat di traffic light.
  2. Fokus pada lampu lalu lintas. Pastikan Anda jalan setelah lampu benar-benar menyala hijau, bukan karena lampu menyala merah tinggal beberapa detik.
    b. Countdown timer (penghitung waktu mundur) hanya bersifat membantu, bukan patokan apalagi jadi alat untuk “nge-track”.
  3. Jika dari kejauhan lampu lalu lintas sudah menyala kuning atau countdown timer warna hijau telah menunjuk angka di bawah lima detik, lebih baik memilih berhenti daripada memaksa diri untuk memacu kendaraan.
  4. Jangan menggunakan ponsel ketika berkendara.

Hindari ber-SMS, telepon, mengambil gambar, dan sebagainya saat berkendara. Pemakaian handsfree tidak disarankan karena tetap mengurangi konsentrasi berkendara.

  1. Sedia mantel sebelum hujan. Ini bukan pepatah, tapi merupakan bagian dari kesiapan berkendara. Spakbor harus selalu terpasang di motor Anda. Ketiadaan spakbor kala hujan dan saat melintas di jalan yang dipenuhi banyak genangan, bisa mengganggu bahkan merugikan orang lain. Bagi pengendara jarak jauh, mantel/jas hujan yang disarankan adalah yang terpisah bagian atas dan bawahnya. Wallahu a’lam.

Uraian di atas hanyalah beberapa tips sederhana yang dapat kami sajikan kepada Anda, tentunya masih banyak yang lainnya.

Di sini, kami juga mengingatkan bahwa segala takdir telah ditentukan Allah subhanahu wa ta’ala. Sehati-hati kita berkendara, namun jika pengendara atau pengguna jalan lain tidak berhati-hati, kecelakaan lalu lintas tetap tidak terhindarkan. Jalan di Indonesia termasuk berbahaya, terlebih tidak didukung oleh kedisplinan pengguna jalan. Kita hanya bisa berdoa memohon diberi keselamatan, namun ketika kita ditimpa musibah, kita pun harus siap bersabar dalam menjalaninya. Sebagai manusia kita hanya bisa berusaha, selebihnya Allah subhanahu wa ta’ala yang menentukan.

Semoga bermanfaat. (Redaksi, dari berbagai sumber)

 

Adab Diri pada Lisan, Tetangga dan Tamu

Rasul yang mulia  shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan banyak pelajaran, nasihat, dan pesan kebaikan kepada umat beliau dalam hadits-haditsnya yang agung. Tentang adab Islami kerap pula beliau sampaikan. Di antara hadits yang berbicara tentang adab Islami ini adalah hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu yang dikeluarkan oleh al-Imam al-Bukhari rahimahullah (no. 6018) dan al-Imam Muslim rahimahullah (no. 171 & 172) dalam kitab Shahih keduanya. Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu menyampaikan dari Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau ia diam. Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tetangganya. Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya.”

Wahai muslimah, bacalah dan renungkan hadits di atas, niscaya engkau dapati faedah yang besar. Engkau akan menyadari, betapa banyak orang yang tidak menjalankan tuntunan Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal ini. Engkau dapatkan banyak lisan yang digunakan untuk berucap jelek, dusta, ghibah, namimah, mengumpat, mencela, dan melaknat. Kita sadari, para wanita banyak yang jatuh dalam penyakit lisan ini. Kita pun bertanya, tertuju pertama kali kepada diri kita sendiri, “Di manakah pengamalan hadits:

‘Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berucap yang baik atau ia diam’.”

Engkau dapati buruknya hubungan bertetangga di masyarakat, apalagi di kota-kota besar. Banyak orang bersikap individualis. Seseorang tidak mau peduli dengan tetangga di sebelahnya. Jangankan menyampaikan kebaikan, justru kejelekan yang “dipersembahkan” untuk tetangga, dengan berkata buruk kepada tetangga, mengganggu istirahatnya dengan suara berisik, menyempitkan jalannya, dan perbuatan lain yang membuat tetangga tidak nyaman dan merasa terganggu. Padahal Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

“Demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman.” Ketika ditanya, “Siapakah yang Anda maksudkan, wahai Rasulullah?”
Beliau menjawab, “Orang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya.” (HR. al-Bukhari no. 6016 dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Ya, bukankah termasuk tuntutan iman yang sempurna adalah memuliakan tetangga, seperti sabda Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang sedang menjadi pembicaraan kita?

Satu lagi adab yang disebutkan dalam hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu di atas, yaitu memuliakan tamu. Ini pun tidak dijalankan dengan semestinya seperti yang dimaukan oleh syariat.

Untuk beroleh faedah dari hadits yang mulia di atas, kita coba menukil secara ringkas pembahasan dari seorang alim yang mulia, Fadhilatusy Syaikh Muhammad ibnu Shalih al-Utsaimin rahimahullah, terhadap hadits ini sebagai salah satu hadits yang termuat dalam al-Arba’in an-Nawawiyah (hadits ke-15). Semoga kita dimudahkan dan diberi taufik untuk mengamalkannya.

Berkata Baik atau Diam

Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berucap yang baik atau ia diam.”

Beliau  shallallahu ‘alaihi wa sallam mempersyaratkan iman dengan berucap baik atau diam. Maksudnya adalah memberikan anjuran dan dorongan untuk berucap baik atau paling tidak diam.

Perlu diketahui bahwa kebaikan dalam berucap itu terbagi dua.

  1. Kebaikan pada apa yang diucapkan

Contohnya adalah berzikir kepada Allah subhanahu wa ta’ala, bertasbih, bertahmid, membaca Al-Qur’an, mengajarkan ilmu, dan amar ma’ruf nahi mungkar.

  1. Kebaikan pada apa yang dimaksud/dituju.

Misalnya, seseorang mengucapkan ucapan untuk memberikan kegembiraan kepada teman duduk. Ini adalah kebaikan, melihat dampak yang dihasilkannya berupa kedekatan antarteman, hilangnya kekakuan, dan hilangnya perasaan asing.
Jika kita duduk bersama sekelompok orang dan kita tidak mendapati ucapan kebaikan yang bisa kita ketengahkan kepada mereka (jenis kebaikan yang pertama), namun kita terus diam dari awal sampai akhir, niscaya hal ini menimbulkan kekakuan. Akan timbul perasaan asing antara satu orang dan yang lain, tidak merasa dekat. Akan tetapi, jika kita berbicara dengan mereka—walaupun bukan ucapan yang disebutkan dalam jenis kebaikan yang pertama—guna menyenangkan teman duduk, seperti menanyakan keadaan keluarga dan anak-anaknya, ini merupakan kebaikan dalam hal maksud/tujuan.

Memuliakan Tetangga

“Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tetangganya.”
Tetangga memiliki hak. Semakin dekat rumahnya dengan rumah kita maka haknya pun semakin besar.

Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita memuliakan tetangga tanpa membatasi bentuk pemuliaan, apakah dengan memberi uang, sedekah, pakaian, ataukah yang lain. Yang menjadi patokan, segala sesuatu yang dalam syariat disebutkan secara mutlak, tidak dibatasi, maka perkaranya kembali kepada ‘urf atau kebiasaan yang ada di masyarakat Islam, sebagaimana hal ini disebutkan oleh kaidah fiqih. Dengan demikian, memuliakan tetangga itu tidak dibatasi dan tidak ditentukan.

Apa saja yang dianggap oleh orang-orang sebagai bentuk pemuliaan, berarti hal itu termasuk di dalamnya. Tentu saja pemuliaan ini bisa berbeda antara tetangga yang satu dan yang lain. Pemuliaan kepada tetangga yang fakir mungkin dilakukan dengan memberinya sepotong roti. Adapun tetangga yang kaya, tentu sepotong roti tidak mencukupi, malah bisa dianggap menghinanya. Orang biasa yang menjadi tetangga kita mungkin merasa cukup dengan pemberian berupa sesuatu yang sederhana. Namun, orang yang mulia dan dipandang manusia tentu butuh lebih dari itu untuk memuliakannya.

Batasan Tetangga

Apakah yang disebut sebagai tetangga harus bersebelahan dengan rumah kita, berhadapan, atau dalam jarak tertentu, atau bagaimana? Hal ini kembali pula kepada ‘urf (adat).

Ada riwayat dari al-Hasan al-Bashri rahimahullah, ia pernah ditanya tentang tetangga. Beliau menjawab bahwa tetangga adalah empat puluh rumah di depannya, empat puluh rumah di belakangnya, empat puluh rumah di sebelah kanannya dan empat puluh rumah di sebelah kirinya. (Diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari rahimahullah dalam al-Adabul Mufrad hadits no. 109, disahihkan sanadnya oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahih al-Adabil Mufrad)

Di waktu sekarang, jumlah tersebut mungkin menyulitkan. Adapun di zaman beliau rahimahullah jarak empat puluh rumah adalah jarak yang bisa jadi sedikit/kecil. Adapun di zaman kita ini, mungkin empat puluh rumah adalah jarak satu kampung. Jika kita katakan tetangga itu adalah empat puluh rumah dari kita, padahal rumah-rumah yang ada seperti istana, besar dan luas, niscaya jumlah empat puluh ini sulit. Karena sebab inilah kemungkinan al-Imam al-Bukhari rahimahullah memberi judul atsar ini dengan Bab al-Adna Fal Adna Minal Jiran (Bab Tetangga yang paling dekat lalu yang paling dekat) karena banyaknya jumlah tetangga dengan bilangan empat puluh ini sehingga yang harus diperhatikan dan dikedepankan adalah yang paling dekat dengan rumah kita lalu yang berikutnya.

Ketika Aisyah radhiallahu ‘anha bertanya kepada Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Aku memiliki dua tetangga. Manakah di antara keduanya yang semestinya aku berikan hadiah?” Rasulullah menjawab, “Engkau berikan kepada tetangga yang paling dekat pintu rumahnya dari rumahmu.” (HR. al-Bukhari dalam Shahih-nya)

Memuliakan Tamu

“Dan siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya.”
Tamu adalah orang yang singgah di tempat Anda. Misalnya, ada seorang musafir mampir di rumah Anda, ini adalah tamu yang wajib dimuliakan.
Sebagian ahlul ilmi berkata, “Perjamuan untuk tamu itu hanya wajib jika tempat tersebut berupa kampung atau kota kecil. Adapun di kota besar, perjamuan tidak wajib karena di kota bisa dijumpai rumah makan dan penginapan/hotel yang musafir bisa singgah ke sana. Adapun di kampung, musafir yang lewat membutuhkan tempat bernaung/singgah.”

Akan tetapi, zahir (lahiriah) hadits bersifat umum, tidak membedakan kota atau kampung. Tamu tetap harus diberi jamuan.

Faedah Hadits

Hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu yang sedang kita bicarakan ini memiliki beberapa faedah.

  1. Seseorang wajib diam selain dalam kebaikan.

Demikian pemahaman dari zahir hadits. Akan tetapi, ada tiga keadaan berkaitan dengan ucapan manusia.

a. Perkataan yang baik, ini yang dituntut untuk diucapkan oleh lisan.
b. Ucapan yang buruk.

Hukumnya haram. Seseorang harus menahan diri darinya, wajib diam tidak mengucapkannya. Sama saja, baik kejelekannya ada pada ucapan itu sendiri maupun pada dampak yang ditimbulkan.

c. Ucapan sia-sia (laghwi), yaitu ucapan yang tidak mengandung kebaikan dan kejelekan.

Seseorang tidak diharamkan berucap yang laghwi, namun yang lebih utama adalah ia diam dari berucap yang laghwi.

  1. Anjuran menjaga lisan.

Ketika Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya oleh Mu’adz ibnu Jabal radhiallahu ‘anhu tentang amalan yang dapat memasukkannya ke dalam surga dan menjauhkannya dari neraka, Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memberikan penjelasan kepadanya dan mengajarinya beberapa hal. Setelahnya, Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Mu’adz radhiallahu ‘anhu:

“Maukah aku beritahukan kepadamu tentang sesuatu yang menguasai seluruh perkara itu?” “Tentu, wahai Rasulullah,” kata Mu’adz. Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian memegang lisannya sendiri seraya berkata, “Tahan ini.”

Mu’adz bertanya,” Wahai Rasulullah, apakah kita akan disiksa karena ucapan yang kita ucapkan?”

Rasulullah menjawab, “Ibumu kehilangan kamu[1], wahai Mu’adz. Bukankah orang yang disungkurkan/ditelungkupkan di atas wajah-wajah mereka—atau beliau berkata: di atas hidung-hidung mereka—ke dalam api neraka, melainkan karena ulah lisan-lisan mereka?” (HR. at-Tirmidzi no. 2616, disahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahih at-Tirmidzi)

  1. Wajib memuliakan tetangga.

Bentuk pemuliaan ini kembali kepada ‘urf. Bisa dengan mengunjungi, mengucapkan salam, atau duduk di sisinya. Pada kesempatan yang lain, ia bisa mengundang tentangganya ke rumah dan memberi jamuan kepadanya. Bisa pula dengan memberinya hadiah.

  1. Agama Islam adalah agama yang menginginkan kedekatan dan saling kenal antara satu dan yang lain.
  2. Wajib memuliakan tamu dengan sesuatu yang dianggap pemuliaan, misalnya berwajah cerah, berseri-seri, memberi senyum, dan menampakkan kegembiraan saat menyambut atau menemuinya, seraya mengatakan misalnya, “Silakan masuk. Saya senang sekali dengan kedatangan Anda.”

Wallahu ta’ala a’lam.

(Dinukil dengan beberapa perubahan dan tambahan oleh Ummu Ishaq al-Atsariyah dari Syarhul Arba’in an-Nawawiyah, karya asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, hlm. 200—204)

[1] Makna kalimat ini tidaklah seperti zahirnya, yaitu sang ibu kehilangan putranya. Namun, kalimat ini diucapkan oleh orang Arab untuk memberikan dorongan.

 

Anak Lahir di Atas Fitrah

Saya ingin memperoleh perincian dan keterangan serta apa perbedaan kedua hadits ini. Hadits yang mulia menyatakan:

كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ

“Setiap anak yang lahir dilahirkan di atas fitrah, maka kedua orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi, Majusi, atau Nasrani.”

Hadits lain berbunyi:

يُكْتَبُ رِزْقُهُ وَ عَمَلُهُ وَ شَقِيٌّ أَوْ سَعِيْد

“(Untuk janin yang ditiupkan ruhnya padanya, Allah subhanahu wa ta’ala perintahkan kepada malaikat penjaga janin agar) janin tersebut dicatat rezekinya, amalnya, dan apakah ia orang yang sengsara ataukah orang yang berbahagia.”

Jawab:
Pertama, hadits:

كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، حَتَّى يُعْرِبَ عَنْهُ لِسَانُهُ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

“Setiap anak yang lahir dilahirkan di atas fitrah hingga ia fasih (berbicara), maka kedua orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”

Hadits ini diriwayatkan oleh al-Baihaqi dan ath-Thabarani dalam al-Mu’jamul Kabir. Al-Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan dengan lafadz:

كُلُّ إِنْسَانٍ تَلِدُهُ أُمُّهُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

“Setiap manusia dilahirkan ibunya di atas fitrah. Kedua orang tuanya yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”

Adapun al-Imam al-Bukhari rahimahullah meriwayatkan dengan lafadz:

كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ، كَمَثَلِ الْبَهِيْمَةِ تَنْتِجُ الْبَهِيْمَةَ، هَلْ تَرَى فِيْهَا مِنْ جَدْعَاءَ؟

“Setiap anak dilahirkan di atas fitrah. Kedua orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Sebagaimana permisalan hewan yang dilahirkan oleh hewan, apakah kalian melihat pada anaknya ada yang terpotong telinganya? (Anaknya lahir dalam keadaan telinganya tidak cacat, namun pemiliknya lah yang kemudian memotong telinganya, -pen.).”

Makna hadits di atas adalah manusia difitrahkan (memiliki sifat pembawaan sejak lahir) dengan kuat di atas Islam. Akan tetapi, tentu harus ada pembelajaran Islam dengan perbuatan/tindakan. Siapa yang Allah subhanahu wa ta’ala takdirkan termasuk golongan orang-orang yang berbahagia, niscaya Allah subhanahu wa ta’ala akan menyiapkan untuknya orang yang akan mengajarinya jalan petunjuk sehingga jadilah dia dipersiapkan untuk berbuat (kebaikan).

Sebaliknya, siapa yang Allah subhanahu wa ta’ala ingin menghinakannya dan mencelakakannya, Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan sebab yang akan mengubahnya dari fitrahnya dan membengkokkan kelurusannya. Hal ini sebagaimana keterangan yang ada dalam hadits tentang pengaruh yang dilakukan kedua orang tua terhadap anaknya yang menjadikan si anak beragama Yahudi, Nasrani, atau Majusi.

Kedua dalam Shahihain dari Abdullah ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu, ia berkata:

“Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menceritakan kepada kami, dan beliau adalah orang yang benar lagi dibenarkan. Beliau bersabda, “Sesungguhnya salah seorang dari kalian dikumpulkan penciptaannya dalam perut ibunya selama 40 hari sebagai setetes mani/nuthfah. Kemudian nuthfah tadi menjadi segumpal darah selama 40 hari, kemudian menjadi segumpal daging selama 40 hari. Lalu diutuslah malaikat kepada janin tersebut dan diitiupkanlah ruh kepadanya. Malaikat lalu diperintah untuk menulis empat perkara: ditulis rezeki si janin, ajalnya, amalnya, dan apakah ia orang yang sengsara ataukah orang yang berbahagia. Maka demi Allah yang tidak ada sesembahan yang patut disembah selain-Nya, sungguh salah seorang dari kalian melakukan amalan ahlul jannah hingga tidaklah antara dia dan surga melainkan tinggal sehasta, namun catatannya telah mendahuluinya (bahwa dia bukanlah ahlul jannah) lalu ia berbuat dengan perbuatan ahlul nar/neraka maka ia pun masuk neraka. Ada pula salah seorang dari kalian melakukan perbuatan ahlul nar hingga tidaklah jarak dia dengan neraka kecuali tinggal sehasta namun catatannya telah mendahuluinya (bahwa dia bukanlah ahlun nar tapi ahlul jannah) maka pada akhirnya ia beramal dengan amalannya ahlul jannah lalu ia pun masuk jannah.”

Kesengsaraan dan kebahagiaan yang telah dicatat tersebut adalah penulisan azali (sejak dahulu, sebelum makhluk diciptakan) dengan tinjauan ilmu Allah subhanahu wa ta’ala yang azali (yakni Allah subhanahu wa ta’ala sudah mengetahui dan menetapkan bahwa si hamba termasuk orang yang bahagia dengan beroleh surga atau termasuk orang yang celaka dengan masuk neraka, jauh sebelum si hamba diciptakan bahkan sebelum semua makhluk diciptakan, -pen.) dan akhir amalan seorang hamba sesuai dengan ilmu Allah subhanahu wa ta’ala yang azali (sengsarakah dia ataukah bahagia?)

Ketiga, melihat pertanyaan yang ada (seolah-olah menganggap kedua hadits di atas bertentangan), dengan merenungkan makna hadits yang pertama dan kedua akan jelas keduanya tidak bertentangan.

Hal ini karena manusia terfitrah dengan kuat di atas kebaikan. Jika dalam ilmu Allah subhanahu wa ta’ala, ia termasuk golongan orang-orang yang berbahagia dan kebahagiaan inilah yang ditetapkan pada akhir hidupnya, Allah subhanahu wa ta’ala akan menyiapkan orang yang akan menunjukinya kepada jalan kebaikan. Namun, jika dalam ilmu Allah subhanahu wa ta’ala ia termasuk golongan orang-orang yang celaka, Allah subhanahu wa ta’ala akan menggiring untuknya orang yang akan memalingkannya dari jalan kebaikan dan menyertainya pada jalan kejelekan, mendorongnya di atas kejelekan dan terus-menerus mendampinginya hingga ditutup umurnya dengan penutup yang jelek.

Sungguh, banyak nash menyebutkan adanya penulisan takdir yang telah terdahulu yang berisi ketentuan golongan yang berbahagia dan yang sengsara.

Di dalam ash-Shahihain dari Ali radhiallahu ‘anhu, dari Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

“Tidak ada satu jiwa pun melainkan Allah subhanahu wa ta’ala telah menetapkan tempatnya di surga atau di neraka dan telah dicatat baginya kesengsaraan atau kebahagiaannya. Seseorang berkata, “Wahai Rasulullah, apakah tidak sebaiknya kita pasrah saja dengan apa yang telah ditulis untuk kita dan tidak perlu beramal?” Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Beramallah kalian karena setiap orang akan dimudahkan kepada apa yang dia diciptakan untuknya. Golongan yang berbahagia akan dimudahkan untuk beramal dengan amalan orang-orang yang berbahagia. Adapun golongan yang celaka akan dimudahkan untuk beramal dengan amalan orang-orang yang celaka.”

Kemudian Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat:

“Adapun orang-orang yang suka memberi lagi bertakwa. Dia juga membenarkan surga/pahala yang baik…” (al-Lail: 5—6).”

Hadits ini menunjukkan bahwa kebahagiaan dan kecelakaan telah tercatat dalam kitab/catatan takdir. Diperolehnya kebahagiaan dan kesengsaraan itu sesuai dengan amalan. Masing-masing orang akan dimudahkan melakukan amalan yang telah ditentukan/diciptakan untuknya, yang hal itu merupakan sebab kebahagiaan dan kesengsaraannya. Wabillahi at-taufiq. (Fatwa no. 6334, 3/525—527)
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

 

Hukum Perayaan Ulang Tahun

Al-Lajnah ad-Daimah lil Buhuts al-Ilmiyyah wal Ifta’ yang saat itu diketuai[1] oleh Samahatusy Syaikh Abdul Aziz ibnu Abdillah ibnu Baz rahimahullah menjawab beberapa pertanyaan berikut ini.

Ada saudara-saudara kami, kaum muslimin, yang menyelenggarakan perayaan ulang tahun untuk diri mereka dan anak-anak mereka. Apa sebenarnya pandangan Islam dalam masalah “ulang tahun” ini?

Jawab:
Asal dalam perkara ibadah adalah tauqif/berhenti di atas nash (dalil Al-Qur’an dan as-Sunnah). Oleh karena itu, seseorang tidak boleh melakukan ibadah yang tidak disyariatkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, berdasar sabda Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang sahih:

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Siapa yang mengada-adakan sesuatu dalam perkara kami ini padahal bukan bagian darinya maka amalan yang diada-adakan itu tertolak.”

Demikian pula sabdanya  shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ علَيْهَا أمرنا فَهُوَ رَدٌّ

“Siapa yang mengamalkan satu amalan yang tidak di atas perintah kami maka amalan tersebut tertolak.”

Perayaan ulang tahun adalah satu macam ibadah yang diada-adakan dalam agama Allah subhanahu wa ta’ala. Dengan demikian, memperingati ulang tahun siapa pun tidak boleh dilakukan, bagaimanapun kedudukan atau perannya dalam kehidupan ini. Makhluk yang paling mulia dan rasul yang paling afdhal yaitu Muhammad ibnu Abdillah  shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak pernah dihafal berita dari beliau  shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyatakan bahwa beliau  shallallahu ‘alaihi wa sallam mengadakan perayaan hari kelahirannya. Tidak pula beliau  shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi arahan kepada umatnya untuk merayakan dan memperingati ulang tahun beliau  shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kemudian, orang-orang yang paling afdhal dari umat ini setelah Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu para khalifah umat ini dan para sahabat Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak ada berita bahwa mereka memperingati ulang tahunnya atau ulang tahun salah seorang dari mereka, semoga Allah subhanahu wa ta’ala meridhai mereka semuanya.

Perlu selalu dicamkan bahwa kebaikan adalah dengan mengikuti petunjuk mereka dan mengikuti urusan yang lurus/tegak yang diperoleh dari madrasah Nabi mereka. Ditambah lagi, dalam bid’ah yang satu ini ada unsur tasyabbuh (meniru/menyerupai) perbuatan Yahudi dan Nasrani, serta orang-orang kafir selain mereka dalam hal perayaan-perayaan yang mereka ada-adakan. Wallahul musta’an.
(Fatwa no. 2008, kitab Fatawa al-Lajnah ad-Daimah lil Buhuts al-Ilmiyyah wal Ifta’, 3/83—84)

Istri saya biasa mengadakan acara tahunan untuk putra saya bertepatan dengan hari kelahirannya yang diistilahkan hari ulang tahun. Dalam acara ini disediakan beraneka makanan dan diletakkan lilin (di atas kue tart) sejumlah umur si anak. Di awal acara, si anak diminta meniup semua lilin yang dinyalakan tersebut, setelahnya barulah acara dimulai. Apa hukum syariat dalam perbuatan semacam ini?

Jawab:
Tidak boleh membuat acara ulang tahun untuk seorang pun karena hal itu bid’ah, padahal telah pasti sabda Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Siapa yang mengada-adakan dalam urusan/perintah/perkara kami ini apa yang bukan bagiannya maka yang diada-adakan itu tertolak.”

Juga karena acara ulang tahun itu tasyabbuh terhadap orang-orang kafir, padahal Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Siapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk golongan mereka.”
Wabillahi at-taufiq.
(Fatwa no. 5289)

[1] Wakil Ketua: asy-Syaikh Abdurrazzaq Afifi. Anggota: asy-Syaikh Abdullah ibnu Ghudayyan dan asy-Syaikh  Abdullah ibnu Qu’ud.

 

Arti Penting Wanita dalam Kehidupan

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi dan Rasul yang paling mulia, keluarga, dan para sahabat beliau, serta orang-orang yang berjalan mengikuti jejak mereka sampai hari kiamat.

Di dalam Islam, wanita muslimah memiliki kedudukan yang tinggi dan pengaruh yang besar bagi kehidupan setiap muslim. Dia merupakan madrasah atau sekolah yang pertama dalam membangun masyarakat yang saleh, jika si wanita berjalan di atas petunjuk Kitabullah dan Sunnah Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Karena berpegang dengan keduanya akan menjauhkan setiap muslim dan muslimah dari kesesatan dalam segala hal. Kesesatan umat dan penyimpangannya tidak akan terjadi melainkan dengan menjauhkan wanita dari bimbingan Allah subhanahu wa ta’ala serta dari wahyu yang dibawa oleh para nabi dan rasul. Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا إِنْ تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا؛ كِتَابُ اللهِ وَسُنَّتِي

“Aku tinggalkan di tengah kalian dua hal yang kalian tidak akan sesat selama kalian berpegang teguh dengan keduanya: Kitabullah dan sunnahku.”

Al-Qur’anul Karim menyebutkan arti penting seorang wanita, baik sebagai ibu, istri, saudara perempuan, maupun anak perempuan. Di samping menyebutkan hak dan kewajiban mereka, As-Sunnah yang suci juga merinci hal tersebut.

Kepayahan dan beban yang mereka tanggung sebagiannya melebihi beban lelaki. Oleh karena itu, kewajiban yang paling penting bagi seseorang (setelah menunaikan kewajiban kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya) adalah bersyukur kepada ibu, berbakti, dan berbuat baik kepadanya. Kewajiban kepada ibu ini didahulukan daripada kepada ayah. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Dan Kami perintahkan kepada manusia untuk berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (Luqman: 14)
Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman:

Dan kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua ibu bapaknya. Ibunya mengandungnya dengan susah payah dan melahirkannya dengan susah payah pula. Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya mencapai empat puluh tahun, ia berdoa, “Duhai Rabbku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku, serta supaya aku dapat beramal saleh yang Engkau ridhai. Berilah kebaikan kepadaku dengan memberi kebaikan kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sungguh aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (al-Ahqaf: 15)

Seseorang datang kepada Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata:

“Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak untuk aku berlaku baik kepadanya?” Beliau menjawab, “Ibumu.” “Kemudian siapa ?” tanya si lelaki. “Ibumu,” jawab Rasulullah. “Lalu siapa lagi?” tanya orang itu lagi. “Ibumu,” jawab Rasulullah untuk ketiga kalinya. Saat orang itu bertanya lagi, “Lalu siapa?” Rasulullah mengatakan, “Ayahmu.”

Berdasar hadits di atas, hak ibu untuk mendapatkan kebaikan dari anaknya tiga kali lipat daripada hak ayah.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman menyinggung peran seorang istri dalam kehidupan seorang lelaki.

”Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untuk kalian istri-istri dari jenis kalian sendiri, supaya kalian cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antara kalian ada rasa kasih dan sayang (mawaddah wa rahmah). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (ar-Rum: 21)

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan firman Allah subhanahu wa ta’ala di atas, “Mawaddah adalah mahabbah (cinta), sedangkan rahmah adalah kasih sayang. Hal ini karena seorang lelaki menahan seorang wanita (untuk tetap hidup bersamanya sebagai istri) mungkin karena ia mencintai si wanita atau ia menyayanginya karena mendapatkan anak dari si wanita.” (Tafsir Ibni Katsir)

Sungguh, peran tiada banding telah dilakukan seorang istri yang namanya harum sepanjang sejarah perjalanan anak manusia, Khadijah bintu Khuwailid, semoga Allah subhanahu wa ta’ala meridhainya. Sosok istri yang terus dikenang oleh Khairul Anam, Muhammad  shallallahu ‘alaihi wa sallam. Khadijah telah memberikan pengaruh yang sangat besar dalam menenangkan rasa takut yang sempat menyergap Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala Jibril turun membawa wahyu pertama kali kepada beliau di Gua Hira. Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam menemui istrinya dalam keadaan gemetar seraya memerintahkan, “Selimuti aku, selimuti aku! Sungguh aku mengkhawatirkan diriku.”

Mengalirlah tutur kata penuh kebaikan dari lisan Khadijah, membiaskan ketenangan dalam dada suaminya, “Tidak, demi Allah! Allah tidak akan merendahkanmu selama-lamanya. Sesungguhnya engkau adalah orang yang suka menyambung kekerabatan, menanggung beban orang yang kesusahan, memberi harta kepada orang yang tidak memiliki, menjamu tamu, dan membantu orang yang membela kebenaran.”

Dalam bidang ilmu dan dakwah, kita tidak lupa dengan peran ash-Shiddiqah Aisyah bintu ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhuma, istri tercinta Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang tokoh-tokoh sahabat banyak mengambil hadits darinya. Demikian pula kebanyakan wanita mengambil hukum-hukum yang berkaitan dengan diri mereka dari Aisyah radhiallahu ‘anha.

Pada masa lalu yang tidak terlalu jauh dari kita, di zaman al-Imam Muhammad ibnu Su’ud rahimahullah, istrinya menasihatinya agar menerima dakwah al-Imam al-Mujaddid Muhammad ibnu Abdil Wahhab rahimahullah, tatkala beliau menawarkan dakwahnya kepada Ibnu Su’ud[1]. Nasihat sang istri kepada sang suami ini sungguh berpengaruh besar dalam terjalinnya kesepakatan antara keduanya untuk memperbarui dakwah dan menyebarkannya. Sekarang kita bisa merasakan, alhamdulillah, pengaruh dakwah tersebut dengan tertancapnya akidah tauhid pada anak-anak jazirah ini.

Tidak pula saya sangsikan bahwa ibu saya memiliki keutamaan yang besar dan pengaruh yang tidak kecil dalam mendorong saya untuk belajar dan membantu saya dalam menuntut ilmu. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala melipatgandakan pahala bagi beliau atas kebaikan yang diberikannya kepada saya.

Sebagai akhir, tidak pula kita ragukan bahwa rumah yang dipenuhi dengan mawaddah, mahabbah, kasih sayang, dan tarbiyah Islamiah akan memberikan pengaruh bagi seseorang. Dengan izin Allah subhanahu wa ta’ala, orang tersebut akan diberi taufik dalam urusannya, sukses dalam pekerjaan apa saja yang dia upayakan, baik dalam menuntut ilmu, usaha perdagangan, perkebunan, maupun pekerjaan lainnya.

Hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala saya memohon agar memberi taufik kepada semuanya kepada apa yang dicintai dan diridhai-Nya. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad, segenap keluarga, dan para sahabatnya.

Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.

(Disusun kembali dengan sedikit perubahan/tambahan dari Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, Syaikh Ibnu Baz, 3/348—350, oleh Ummu Ishaq al-Atsariyah)

Ditulis oleh:  Samahatul Walid al-Imam Abdul Aziz ibnu Abdillah ibnu Baz rahimahullah

[1] Dikisahkan, tatkala asy-Syaikh al-Mujaddid Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullah meninggalkan negeri Uyainah atas permintaan penguasanya karena tak kuasa memberikan pembelaan kepada beliau dan dakwah tauhid yang beliau serukan, beliau menuju ke negeri Dir’iyah, tempat tinggal salah seorang murid terbaiknya, Ibnu Suwailim. Menerima kedatangan sang guru, Ibnu Suwailim merasa takut dan gelisah. Ia mengkhawatirkan keselamatan diri dan gurunya dari ancaman penduduk negeri yang tidak senang dengan dakwah tauhid yang beliau tegakkan. Namun, asy-Syaikh menenangkan si murid, mengajaknya bertawakal kepada Allah subhanahu wa ta’ala, dan menjanjikan pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala bagi orang yang mau menolong agama-Nya. Dalam keadaan demikian, sampai kabar tentang asy-Syaikh kepada istri penguasa Dir’iyah, Muhammad ibnu Su’ud. Wanita salehah ini menawari suaminya untuk memberikan bantuan kepada asy-Syaikh. Ia juga mengingatkan suaminya bahwa kedatangan asy-Syaikh ke negeri mereka adalah nikmat dari Allah subhanahu wa ta’ala yang digiring oleh Allah subhanahu wa ta’ala untuknya sehingga sepatutnya bersegera merangkulnya. Si istri ini menyusupkan ketenangan kepada suaminya, membuat suaminya mencintai dakwah asy-Syaikh sekaligus pribadi beliau. Sang suami yang menjabat penguasa ini akhirnya berkata, “Biar dia yang datang kepadaku.”

Istrinya berkata, “Justru hendaknya engkau yang pergi menemuinya. Kalau engkau mengirim orang untuk menyuruhnya mendatangimu, bisa jadi orang-orang akan berkata bahwa amir mencarinya untuk menangkap dan menghukumnya. Namun, kalau engkau yang pergi menemuinya, hal itu merupakan kemuliaan baginya dan bagimu.” Akhirnya, pergilah sang amir menemui asy-Syaikh di rumah muridnya.

 

Saat Terjadi Pertikaian

Hidup berumah tangga tak selamanya berjalan mulus tanpa masalah. Bahkan, masalah pasti muncul saat dua insan telah mengikat perjanjian suci yang dinyatakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam Al-Qur’an sebagai mitsaqan ghalizha1. Sudah menjadi kemestian bahwa menikah dan hidup bersama, seatap, bahkan satu selimut dengan anak manusia yang memiliki sifat banyak kesalahan dan khilaf, pasti suatu saat memunculkan persoalan, kecil atau besar, remeh atau berat. Hanya di surga kelak barulah didapatkan rumah tangga tanpa problem, selalu seia sekata dalam limpahan nikmat yang tiada berkesudahan dari Sang Pemberi kenikmatan, Allah subhanahu wa ta’ala. Adapun rumah tangga di dunia sebagaimana yang kita maklumi….

Namun, sebenarnya jika pihak suami dan istri menunaikan dengan semestinya kewajiban yang dituntut darinya dan tidak berlebihan menuntut haknya, niscaya tidak ada kesempatan munculnya perselisihan yang membahayakan keutuhan rumah tangga. Yang ada hanyalah kebersamaan sepasang insan, suami istri, yang bahagia dengan sedikit riak-riak kehidupan sebagai bumbu pernikahan. Akan tetapi, sekali lagi, hidup mesti tak lepas dari masalah karena kesempurnaan hanya milik Allah subhanahu wa ta’ala. Bagaimanapun seorang suami atau seorang istri berupaya agar tidak timbul persoalan dalam kebersamaan mereka, terkadang tetap saja ada permasalahan. Demikianlah manusia dengan sifat lemah dan kurang yang dimilikinya.

Lalu bagaimana cara kita bersikap saat muncul persoalan, pertikaian, atau percekcokan?
Ada beberapa hal yang sebaiknya ditempuh saat terjadi permasalahan/pertikaian dalam rumah tangga, sebagaimana dinasihatkan oleh ahlul ilmi. Berikut ini kami paparkan sebagiannya kepada pembaca yang mulia.

  1. Setiap pihak—dalam hal ini suami dan istri—harus berhias dengan kesabaran, tabah menahan diri, dan tidak serampangan/tergesa-gesa bertindak ketika sedang marah dan emosi.

Terlebih seorang istri, hendaknya ia tidak membantah/menjawab seluruh kalimat yang dilemparkan suaminya kepadanya saat marah. Demikian pula suami, ia harus bisa menahan diri sehingga tidak mengucapkan kalimat yang menyakiti hati istrinya, atau melontarkan cacian dan celaan yang dapat menorehkan luka.

  1. Suami hendaknya meninggalkan kamar/ruangan tempat terjadinya perselisihan atau pertengkaran.

Jika memang terpaksa ia harus keluar rumah, itu lebih baik hingga urat sarafnya yang tegang kembali tenang dan marahnya reda. Urusan pun kembali berjalan pada posisinya yang normal. Jika si suami kembali ke rumahnya, hendaknya ia tidak lupa menunaikan hak seorang muslim terhadap muslim yang lain,2 apalagi si muslim itu adalah istrinya sendiri. Di samping itu, ia juga menjalankan adab ketika masuk rumah, yaitu mengucapkan salam, “Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.” Mendapatkan ucapan salam demikian, maka seorang istri hendaklah mengingat kewajibannya kepada saudaranya sebagaimana disebutkan dalam hadits:

“Lima hal yang wajib ditunaikan oleh seorang muslim terhadap saudaranya, yaitu menjawab salam, mendoakan, “Yarhamukallah” kepada orang yang bersin (yang memuji Allah ketika bersinnya), memenuhi undangan, menjenguk orang yang sakit, dan mengikuti jenazah.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Jadi, ia tetap menjawab salam suaminya walaupun sedang marahan dengannya. Tentu sebagai penyerta ucapan salam, hendaknya keduanya saling memberikan senyuman kecil, karena tidak mungkin kalimat yang berisi doa dan salam kedamaian ini diucapkan dengan wajah cemberut. Semestinya senyuman yang tersungging dari keduanya ini dapat mengetuk hati yang terkunci karena emosi, meredam marah, bahkan menghilangkannya, dan berujung dengan berakhirnya percekcokan. Ini adalah langkah awal untuk menyelesaikan permasalahan.

Mungkin kita masih ingat akan kisah yang pernah terjadi di zaman nubuwwah, pada rumah tangga putri Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia, Fathimah az-Zahra radhiallahu ‘anhu dan suaminya yang mulia, Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu. Ketika ada percekcokan antara keduanya, Ali radhiallahu ‘anhu keluar dari rumahnya, meninggalkan istrinya. Untuk lebih lengkapnya kita baca haditsnya.

Sahl ibnu Sa’d as-Sa’idi radhiallahu ‘anhu berkata:

“Nama yang paling dicintai oleh Ali radhiallahu ‘anhu adalah Abu Turab, dia senang jika dipanggil dengan sebutan itu. Yang menyebutnya dengan Abu Turab tidak lain adalah Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam. Suatu hari Ali saling bermarahan dengan istrinya Fathimah. Ali pun keluar dari rumahnya lalu pergi ke masjid dan berbaring di dekat dindingnya. Datanglah Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam menyusul Ali setelah beliau tidak mendapatinya di rumahnya. Ketika beliau menanyakan keberadaan Ali, orang pun menunjukkan, “Dia sedang berbaring dekat dinding.” Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam datang mendekat kepada Ali sementara punggung Ali penuh dengan debu atau tanah. Mulailah Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusap debu tersebut dari punggung Ali seraya berkata, “Duduklah, wahai Abu Turab!” (HR. al-Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya)

  1. Saat terjadi perselisihan dan kemarahan, seorang suami tidak boleh berpikir untuk bercerai.

Keinginan bercerai ini harus dijauhkan dari benaknya karena setan bisa mengambil kesempatan dalam keadaan si insan labil akibat kemarahan seperti ini. Jika bisikan setan dituruti, dilakukanlah tindakan dan dijatuhkanlah keputusan yang tidak akan diambil saat hati itu tenang dan keadaan stabil. Akhirnya, sesal datang kemudian, ketika penyesalan tidak lagi berguna.

Perceraian adalah jalan keluar terakhir yang diberikan oleh Islam saat hidup bersama sebagai sepasang suami istri tidak mungkin lagi diteruskan dan mustahil tetap dipertahankan. Perceraian bukanlah pedang atau cambuk yang dilecutkan kepada istri setiap kali si suami marah. Bahkan, termasuk kedunguan jika ada orang yang menyangka bahwa perceraian adalah solusi dari problemnya, padahal masih mungkin ditempuh cara-cara lain yang positif.

  1. Seorang istri yang dijatuhi talak satu atau dua oleh suaminya, hendaknya tidak berkeinginan keluar dari rumah suaminya lalu tinggal di rumah orang tua/keluarganya selama masih dalam masa iddah, walaupun suami yang menyuruhnya pergi/mengusirnya dalam keadaan marah.

Tuntutan suami itu tidaklah benar. Akan tetapi, emosi dan kemarahan telah membutakan dan menghilangkan kesadarannya3.

Oleh sebab itu, si istri tidak boleh terpengaruh oleh emosi suami. Tetaplah ia diam di rumah suaminya dan tidak keluar darinya. Keluar meninggalkan rumah suami adalah urusan yang mudah dilakukan. Keputusannya ada di tangan istri. Akan tetapi, kembali ke rumah suami, bersatu kembali dalam kedamaian setelah meninggalkannya adalah urusan yang sulit karena keputusannya bukan di tangan istri, tetapi di tangan suami. Jika sebuah urusan berada di tangan orang lain, tentu tidak mudah bertindak-tanduk di dalamnya.

Di sisi lain, diimbau kepada istri untuk tidak bermudah-mudah meminta cerai dari suami ketika ada percekcokan.

  1. Ketika seorang suami melihat kekurangan istrinya dalam menunaikan kewajibannya dan memenuhi kebutuhan suaminya, seharusnya suami menyadari bahwa istri yang sempurna tidak ada di dunia, hanya ada di akhirat saja.
    Bagaimanapun sempurnanya seorang wanita, pasti ia memiliki kekurangan. Oleh karena itu, suami hendaklah melihat sisi-sisi positif yang ada pada istrinya dan memandang celah-celah kebaikan pada istrinya. Inilah makna bimbingan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia:

“Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah. Jika ia membenci satu perangai dari si mukminah, niscaya ia akan ridha dengan perangainya yang lain.” (HR. al-Imam Muslim dalam Shahih-nya)

Suami hendaknya mengingat bahwa wanita itu diciptakan dari tulang rusuk, padahal sifat tulang rusuk itu bengkok. Maka dari itu, mau tidak mau, suami bernikmat-nikmat dan bersenang-senang dengan istrinya di atas kebengkokan yang merupakan tabiatnya. Jika suami menuntut, hal itu akan mematahkannya. Patahnya adalah menalaknya4. Padahal menalaknya akan memberi mudarat bagi suami dan istri sekaligus, di samping mudarat bagi masyarakat. Namun, jika ada kebutuhan darurat yang syar’i, barulah ditempuh jalan perpisahan.

  1. Seorang istri tidak boleh menceritakan masalah yang terjadi antara dia dan suaminya kepada ayahnya, ibunya, salah seorang kerabatnya, atau kerabat suami.
    Hal ini akan memperluas/memperuncing masalah dan membuat keluarga istri tidak suka kepada si suami. Di sisi lain, istri juga tidak beroleh faedah apapun selain pandangan kebencian keluarganya kepada suaminya. Perselisihan yang ada juga akan terus diingat, tidak bisa dilupakan.

Beda halnya jika pertikaian dijaga hanya berputar di dalam rumah, tidak diketahui pihak luar, niscaya akan berakhir dan terlupakan bersama dengan terjadinya perdamaian antara keduanya atau saat tersungging senyuman dari salah satunya kepada yang lain.

Dengan demikian, tidak sepantasnya istri menceritakan persoalan/percekcokannya dengan suaminya kepada keluarganya, apa pun bentuk masalahnya, selama si istri ingin tetap hidup bersama suaminya. Bahkan, sampaipun hidup bersama tidak mungkin lagi diharapkan, bahtera tidak mungkin lagi diselamatkan, dan jatuh keputusan akhir harus bercerai dengan sang suami, si istri tetap tidak boleh menceritakannya. Maka dari itu, tidak sepantasnya seorang istri menyebarkan keburukan mantan suaminya, berbuat jelek kepadanya, dan membongkar aib/cacat/celanya sehingga menjatuhkan nama baiknya. Perbuatan seperti ini berarti merobek tabir yang ditutupkan Allah subhanahu wa ta’ala kepada keduanya. Di samping itu, seorang muslim juga diperintah untuk menutup aib saudaranya. Perbuatan ini juga merupakan sikap penentangan terhadap ikatan kuat yang pernah terjalin di antara keduanya, padahal Allah subhanahu wa ta’ala mengingatkan:

“Janganlah kalian melupakan keutamaan di antara kalian.” (al-Baqarah: 237)
Maksudnya, janganlah kalian melupakan kebaikan di antara kalian. (Tafsir Ibnu Katsir, 2/378)

  1. Tidak sepantasnya suami memberitakan kepada keluarganya atau kepada keluarga istrinya tentang apa yang terjadi antara dia dan istrinya. Ia juga tidak boleh mengadukan istri kepada pihak keluarga istri.

Problem yang ada adalah problemnya, dan dia sendiri yang harus menghadapinya. Tidak boleh ia melibatkan orang lain ke dalam masalahnya.

  1. Ketika seorang istri melihat atau menangkap satu tanda dari suaminya yang menunjukkan si suami ingin berdamai atau baikan kembali, hendaknya istri saat itu juga dengan segera menyambut ajakan atau isyarat damai tersebut. Istri hendaknya bersyukur dengan baiknya tabiat suaminya.

Demikian pula, seorang suami seharusnya menerima upaya apa pun yang dilakukan oleh istri guna mencari keridhaannya, selama tidak melanggar keridhaan Allah subhanahu wa ta’ala, atau selama upaya tersebut merupakan hal yang ma’ruf (baik), bukan yang mungkar. Suami hendaknya juga mensyukuri upaya sang istri tersebut.

Demikian sedikit bimbingan saat terjadi pertikaian…

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberkahi kalian berdua dan mengumpulkan kalian selalu dalam kebaikan. Wallahu a’lam bish-shawab. (Disarikan dari Risalah ilal ‘Arusin wa Nashihah liz Zaujain)

Ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq alAtsariyah

 

Imam Shalat ditempat yang Lebih Tinggi

Bagaimana kedudukan hadits tentang larangan imam lebih tinggi dari makmum di terjemahan Nailul Authar? Ana benar-benar ingin tahu. Syukran.

Sugeng—Surabaya (0317708xxxx)

Jawab:
Posisi imam yang berada di tempat yang lebih tinggi dari makmum telah dilarang oleh Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam hal ini terdapat beberapa hadits Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam, di antaranya:

Dari Hammam bahwasanya sahabat Hudzaifah radhiallahu ‘anhuma mengimami orang-orang di kota Mada’in di atas tempat yang lebih tinggi. Sahabat Abu Mas’ud radhiallahu ‘anhu lalu memegang bajunya dan menariknya. Ketika selesai dari shalatnya Abu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata, “Tidakkah kamu tahu bahwa mereka melarang dari perbuatan itu?” Hudzaifah menjawab, “Ya, aku baru ingat ketika engkau menarikku.” (Sahih, HR. Abu Dawud 1/163 no. 597 dan disahihkan oleh al-Albani)

Dari Adi bin Tsabit al-Anshari, seseorang telah memberitahukan kepadaku bahwa ia bersama ‘Ammar bin Yasir radhiallahu ‘anhu di kota Mada’in. Kemudian dikumandangkan iqamat. Lalu ‘Ammar maju dan berdiri di atas tempat yang lebih tinggi melakukan shalat, sementara orang-orang di bawah. Hudzaifah radhiallahu ‘anhu pun maju lalu menarik dua tangannya hingga ‘Ammar mengikutinya sampai Hudzaifah menurunkannya. Ketika ‘Ammar selesai dari shalatnya Hudzaifah berkata, “Tidakkah kamu mendengar Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Bilamana seseorang mengimami sebuah kaum, janganlah ia berdiri di tempat yang lebih tinggi dari tempat mereka atau semakna dengan itu.’ Ammar pun berkata, ‘Karena itulah saya menuruti engkau ketika kamu memegang tanganku’.” (Hasan, HR. Abu Dawud, 1/163 no. 598, dihasankan oleh al-Albani dengan dukungan riwayat sebelumnya secara global)

Dari Abu Mas’ud al-Anshari radhiallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah melarang imam untuk berdiri di atas sesuatu sementara orang-orang di belakangnya lebih rendah darinya.” (Hasan, HR. ad-Daruquthni, dihasankan oleh al-Albani dalam Tamamul Minnah no. 281)

Berdasarkan riwayat-riwayat tersebut, seorang imam tidak diperbolehkan berada pada tempat yang lebih tinggi dari tempat makmum. Inilah yang kemudian dipegangi oleh beberapa ulama, di antaranya sahabat Ibnu Mas’ud, an-Nakha’i, ats-Tsauri, Malik, Abu Hanifah, al-Auza’i, dan Ahmad dalam salah satu riwayat dari beliau sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Rajab1 dalam kitab Fathul Bari.

Ini juga merupakan pendapat al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah dalam kitab al-Umm (hlm. 310, cet. Qutaibah). Beliau rahimahullah berkata, “Kalau imam pernah mengajari orang shalat (yakni dengan berdiri di tempat yang tinggi) satu kali, saya menyukai baginya (setelah itu) untuk shalat sejajar dengan makmum. Hal ini karena tidak pernah diriwayatkan dari Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau shalat di atas mimbarnya2, melainkan hanya satu kali. Tempat beliau selain waktu itu adalah di atas tanah bersama para makmum. Oleh karena itu, yang dipilih adalah imam sejajar dengan makmum. Seandainya lebih tinggi atau lebih rendah, shalatnya dan shalat mereka tidak rusak (tetap sah).”

Adapun kadar ketinggian yang dimaksud adalah, “Setiap tempat yang sah untuk dikatakan—menurut bahasa dan kebiasaan—bahwa yang demikian lebih tinggi dari tempat makmum maka itu terlarang.” Demikian penjelasan asy-Syaikh al-Albani rahimahullah dalam kitab ats-Tsamarul Mustathab.

Sebagian ulama berpendapat bahwa ukuran yang terlarang adalah jika melebihi tinggi postur tubuh menusia. Jika kurang dari itu diperbolehkan. Kembali asy-Syaikh al-Albani rahimahullah mengatakan bahwa perincian yang semacam itu tidak ada dalilnya dalam hadits. Itu hanya sekadar pendapat akal. Oleh karena itu, asy-Syaukani rahimahullah mengatakan setelah menyebutkan pendapat-pendapat ulama dalam hal perbedaan kadar tinggi tersebut bahwa kesimpulan dari dalil-dalil tersebut adalah dilarangnya imam lebih tinggi dari makmum tanpa adanya perbedaan antara di masjid dan di tempat lain, tanpa perbedaan antara setinggi postur tubuh manusia, kurang atau lebih dari itu.

Sebagian ulama belakangan berfatwa bahwa jika lebih tinggi sedikit diperbolehkan, sebagaimana pendapat mazhab Hanbali dan Maliki. (Majmu Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, Liqa Bab Maftuh dan Fiqh Islami wa Adillatuhu)

Namun, fatwa dan pendapat ini juga lemah jika kita menengok keterangan di atas.
Bilamana bersama imam pada tempat yang tinggi tersebut ada sebagian shaf makmum, hal ini diperbolehkan karena imam saat itu tidak menyendiri di tempat tersebut. Ini semakna dengan yang disebutkan dalam kitab al-Inshaf karya al-Mirdawi rahimahullah dan kemudian difatwakan oleh asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahullah dan Ibnu Utsaimin rahimahullah. (al-Imamah fish Shalah, al-Qahthani, Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, Ibnu Baz, dan Majmu’ Fatawa wa Rasail, Ibnu Utsaimin)

Hukum di atas berlaku bilamana tidak ada maslahat dan kepentingan saat imam berposisi lebih tinggi dari makmum. Adapun jika ada maslahat untuk mengajari orang shalat dengan praktik langsung, hal ini diperbolehkan. Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah shalat di atas mimbar sebagaimana dalam hadits berikut.

Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus (seseorang) kepada Fulanah—seorang wanita yang telah disebut namanya oleh Sahl (bin Sa’d) radhiallahu ‘anhu—, “Perintahlah budakmu yang tukang kayu untuk membuatkan bangunan kayu untuk aku duduk di atasnya ketika aku berceramah di hadapan manusia.” Kemudian wanita itu memerintahkannya sehingga ia membuatnya dari tharfa’ (sejenis pohon cemara) di daerah al-Ghabah lalu dia bawa. Wanita itu mengutus seseorang untuk membawanya kepada Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu memerintahkan agar mimbar tersebut diletakkan di sini. Setelah itu, aku melihat beliau shalat di atas mimbar tersebut. Beliau bertakbir di atasnya, kemudian ruku’ di atasnya, kemudian turun mundur lalu sujud di dasar mimbar. Setelah itu beliau kembali lagi. Setelah selesai, beliau menghadap kepada manusia lalu berkata, “Wahai manusia, aku melakukan hal ini hanya agar kalian mengikuti aku dan kalian mempelajari shalatku.” (Shahih, Muttafaqun ‘alaihi dari sahabat Sahl bin Sa’d radhiallahu ‘anhu)

Ibnu Hibban rahimahullah berkata, “Jika seseorang menjadi imam lalu dia shalat sebagai imam orang-orang yang baru masuk Islam sehingga ia berdiri di tempat yang lebih tinggi dari makmum untuk mengajari mereka hukum-hukum shalat yang langsung dilihat mata, hal itu diperbolehkan sesuai dengan hadits sahabat Sahl bin Sa’d radhiallahu ‘anhu. Tetapi, kalau alasan ini tidak ada, janganlah ia shalat di tempat yang lebih tinggi dari tempat makmum, sesuai dengan hadits dari sahabat Abu Mas’ud radhiallahu ‘anhu. Dengan demikian, kedua hadits itu tidak bertentangan dan saling membantah. (Shahih Ibnu Hibban)

Pendapat lain dalam masalah ini adalah membolehkan imam lebih tinggi dari makmum secara mutlak. Ini adalah salah satu riwayat dari al-Imam Ahmad, Ibnu Hazm, dan ad-Darimi (Shahih al-Bukhari, Fathul Bari karya Ibnu Rajab, dan ats-Tsamarul Mustathab).

Ibnu Rajab rahimahullah berkomentar, “Pendapat ini sangat aneh dari al-Imam Ahmad. Tidak dikenal pendapat ini dari beliau selain melalui jalur ini, dan Ibnu Hazm rahimahullah bersandar padanya. Mereka menukilkan dari Ahmad bolehnya seorang imam di tempat yang lebih tinggi dari makmum. Hal ini bertentangan dengan mazhab beliau yang sudah tersebar (dalam hal ini), yang telah dinukil oleh para pengikut mazhab beliau di kitab-kitab mereka, serta disebutkan oleh al-Khiraqi dan yang setelahnya. Demikian juga, Hanbal dan Ya’qub bin Bakhtan menukilkan dari Ahmad bahwa beliau berkata, ‘Janganlah tempat imam lebih tinggi dari tempat orang yang di belakangnya. Akan tetapi, tidak mengapa yang di belakangnya lebih tinggi’.” (Fathul Bari)

Dalam kitab bermazhab Hanbali pula, al-Inshaf, disebutkan bahwa yang benar dalam mazhab Hanbali adalah tidak boleh.

Asy-Syaikh al-Albani rahimahullah mengatakan tentang pendalilan mereka dengan hadits Sahl bin Sa’d radhiallahu ‘anhu tentang shalat Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas mimbar untuk mendasari pendapat mereka, “Hal ini adalah pendalilan yang aneh dari para imam tersebut. Keherananku hampir-hampir tidak habis. Bagaimana bisa mereka berdalil untuk membolehkan hal itu secara mutlak, padahal perbuatan beliau itu (jelas-jelas) terkait dengan pengajaran, sebagaimana ucapan Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri.” (ats-Tsamarul Mustathab)

Ibnu Daqiqil Ied rahimahullah pun sebelumnya telah membantah pendapat tersebut, sebagaimana dinukil oleh Ibnu Hajar rahimahullah dalam kitab Fathul Bari.

Tempat Makmum Boleh Lebih Tinggi dari Imam

Secara ringkas tempat makmum boleh lebih tinggi dari imam. Hal itu pernah dilakukan oleh Abu Hurairah dan Anas bin Malik radhiallahu ‘anhuma.

“Abu Hurairah shalat di lantai atas masjid dengan shalatnya imam (mengikuti imam).” (Riwayat al-Bukhari secara mu’allaq dan dikuatkan oleh Ibnu Hajar rahimahullah dalam Fathul Bari)

Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, beliau melakukan shalat Jum’at di rumah Abu Nafi’ radhiallahu ‘anhu di sebelah kanan masjid, di sebuah ruangan setinggi postur tubuh manusia. Ruangan yang pintunya mengarah ke masjid, di kota Bashrah. Anas radhiallahu ‘anhu mengikuti shalat Jum’at di tempat tersebut dan menjadi makmum. (Riwayat Sa’id bin Manshur sebagaimana dalam kitab al-Muntaqa, dan al-Imam Ahmad berdalil dengannya sebagaimana kata Ibnu Rajab dalam Fathul Bari)

Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Shalat pada tempat yang dibangun di atas tanah semacam sebuah ruangan di masjid atau di atas loteng masjid, semuanya boleh dan tidak ada kemakruhan dalam hal ini tanpa ada perbedaan, kecuali pada beberapa permasalahan yang diperselisihkan.” (Fathul Bari)

Asy-Syaukani rahimahullah berkata, “Adapun tinggi (tempat) makmum jika berlebihan yang lebih dari 300 hasta sehingga makmum tidak mungkin mengetahui gerakan imam, hal itu dilarang menurut kesepakatan ulama, tanpa ada perbedaan antara masjid dan yang lain. Adapun kurang dari ukuran tersebut, pada asalnya boleh, sampai adanya dalil yang melarang. Hal yang mendukung hukum asal ini adalah perbuatan Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu tersebut dan tidak ada yang mengingkarinya.”

Namun, apakah kebolehan ini secara mutlak atau saat keadaan menuntut demikian dengan tetap memerhatikan aturan-aturan shaf/barisan shalat?

Di sini terjadi perbedaan pendapat. Yang kuat/rajih dari dua pendapat yang ada adalah yang kedua.

Al-Imam Ahmad rahimahullah ditanya, “Seseorang shalat di atas loteng bermakmum dengan imam?”

Beliau menjawab, “Jika antara dia dengan imamnya ada jalan atau sungai, tidak boleh.”
Beliau ditanya lagi, “Anas (bin Malik) shalat Jum’at di loteng.”

Beliau menjawab, “Pada hari Jum’at tidak ada jalan orang-orang.”
Beliau memaksudkan bahwa pada hari Jumat jalan-jalan penuh dengan orang-orang sehingga shaf-shaf bersambung. Demikian penjelasan Ibnu Rajab rahimahullah dalam kitab Fathul Bari.

Asy-Syaikh al-Albani rahimahullah berkata, “Atsar-atsar yang lain dari Umar, asy-Sya’bi, dan Ibrahim an-Nakha’i dalam kitab Ibnu Abi Syaibah (2/223) dan Abdurrazzaq (3/81—82), menyebutkan hal itu tidak boleh jika antara dia dengan imam ada jalan dan yang semacamnya.

Bisa jadi, apa yang terdapat dalam riwayat-riwayat yang pertama (semacam perbuatan Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu) dipahami bahwa itu saat ada uzur/alasan, seperti penuhnya masjid, sebagaimana ucapan Hisyam bin Urwah, “Suatu saat aku bersama ayahku datang (ke masjid). Ternyata kami dapati masjid telah penuh. Kami pun tetap shalat bersama imam di sebuah rumah di sisi masjid, dan antara keduanya ada jalan (Riwayat Abdurrazzaq, 3/82 dengan sanad yang sahih dari beliau).” (Tamamul Minnah)

Beliau juga mengatakan bahwa jika makmum shalat di tempat yang tinggi, ada kemungkinan karena keadaan darurat seperti tempat yang sempit dan selainnya, atau tidak ada darurat. Jika kemungkinan yang pertama, tidak ada pembicaraan karena hal darurat menyebabkan bolehnya sesuatu yang terlarang. Tetapi kalau tidak, mengakibatkan terputusnya shaf/barisan dan menyendiri dari barisan yang ada, sebagaimana yang dilakukan banyak muadzin atau yang lain, juga orang yang shalat di halaman padahal di depan mereka masih kosong dan cukup untuk banyak shaf, hal yang semacam ini tidak boleh. (ats-Tsamarul Mustathab)

Pendapat lain dalam hal ini adalah boleh secara mutlak tanpa perincian di atas. Ini adalah riwayat lain dari pendapat al-Imam Ahmad rahimahullah (Fathul Bari karya Ibnu Rajab), tetapi pendapat ini lemah. Wallahu a’lam.

Dijawab oleh al-Ustadz Qomar Suaidi

 

As-Salam

Di antara al-Asma’ul Husna adalah as-Salam (السَّلامُ). Nama Allah subhanahu wa ta’ala ini tersebut dalam firman-Nya:

”Dia-lah Allah yang tiada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia, Raja, Yang Mahasuci, Yang Mahasejahtera, Yang Mengaruniakan keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Mahaperkasa, Yang Mahakuasa, Yang Memiliki segala keagungan. Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (al-Hasyr: 23)

Nama ini juga tersebut dalam sebuah hadits Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam dari sahabat Tsauban radhiallahu ‘anhu:

Dahulu Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam jika selesai dari shalatnya beristighfar tiga kali dan mengucapkan, “Ya Allah, Engkau-lah as-Salam dan dari-Mu-lah keselamatan. Mahabesar Engkau, wahai Dzat yang memiliki keagungan dan kemuliaan!”

Al-Walid (salah satu perawi hadits ini) bertanya kepada al-Auza’i (gurunya), “Bagaimanakah cara beristighfar?” Ia berkata, “Engkau mengucapkan, ‘Astaghfirullah, astaghfirullah! (Aku mohon ampun kepada Allah subhanahu wa ta’ala, aku mohon ampun kepada Allah subhanahu wa ta’ala!)’.” (Sahih, HR. Muslim)

 

Makna as-Salam

Ibnu Qutaibah rahimahullah mengatakan, “Dia menamai Diri-Nya dengan as-Salam karena Dia selamat dan bebas dari aib, kekurangan, kehancuran, serta kematian yang mengenai makhluk-Nya.” (Gharibul Qur’an)

Al-Khaththabi rahimahullah mengatakan, “As-Salam adalah sifat Allah subhanahu wa ta’ala, yaitu yang selamat dari segala aib, serta bebas dari segala kejelekan dan kekurangan yang dapat menimpa makhluk.” (Sya’nud Du’a)

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan ketika menjelaskan ayat di atas, “As-Salam yakni yang selamat dari segala cacat dan kekurangan karena kesempurnaan-Nya dalam Dzat, sifat, dan perbuatan-Nya.”

As-Sa’di rahimahullah mengatakan, “Al-Quddus, as-Salam yakni yang diagungkan, yang suci dari seluruh kekurangan dan keserupaan makhluk terhadap-Nya, serta yang suci dari siapa pun yang akan mendekati atau menyamainya pada salah satu sisi kesempurnaan-Nya.”

Jadi, nama Allah al-Quddus dan as-Salam berarti kesucian Allah subhanahu wa ta’ala dari kekurangan pada segala sisi. Keduanya mengandung kesempurnaan yang paripurna dari segala sisi karena jika kekurangan itu tidak ada, berarti tetaplah kesempurnaan seluruhnya. Dengan demikian, Dialah yang Mahasuci, Mahabesar, yang suci dari segala kejelekan serta yang terbebas dari penyerupaan dengan makhluk, kekurangan, dan segala yang bertolak belakang dengan kesempurnaan-Nya. Inilah patokan tentang apa yang Allah subhanahu wa ta’ala suci darinya. Ia suci dari segala kekurangan dari sisi mana pun. Ia suci dan agung dari adanya penyerupaan, tandingan, atau lawan bagi-Nya. Ia suci pula dari kekurangan dalam hal sifat-sifat-Nya yang merupakan sifat yang paling sempurna, paling agung, dan paling luas.

Di antara kesempurnaan penyucian-Nya adalah penetapan sifat kesombongan dan keagungan bagi-Nya karena penyucian tersebut dimaksudkan untuk hal yang lain. Penetapan sifat kesombongan dan keagungan bagi Allah subhanahu wa ta’ala dimaksudkan untuk menjaga kesempurnaan-Nya dari berbagai sangkaan yang jelek, semacam sangkaan jahiliah yang mengalamatkan kepada diri-Nya sangkaan-sangkaan jelek yang tidak pantas bagi kebesaran-Nya. Jika seorang hamba mengucapkan pujian kepada Allah subhanahu wa ta’ala, “Subhanallah” (Mahasuci Allah), “Taqaddasallah” (Mahasuci Allah), atau “Ta’alallah” (Mahatinggi Allah) berarti dia sedang memuji-Nya dengan kesucian-Nya dari segala kekurangan, dengan segala kesempurnaan. (Tafsir Asma’illah)

 

Buah Mengimani Nama Allah as-Salam
Dengan mengimani nama Allah as-Salam, kita mengetahui kebesaran Allah subhanahu wa ta’ala dan kesucian-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala suci dari segala kekurangan dan cacat, sebagaimana halnya Ia suci dari serikat dan tandingan. Keyakinan ini membuat kita semakin mantap dalam beribadah kepada-Nya karena Rabb yang kita ibadahi adalah Rabb Yang Mahasempurna, tiada kekurangan-Nya sedikit pun.

Dengan demikian, segala pinta dan harapan kita dalam tawakal dan doa tidak akan sia-sia. Dia pasti memenuhi janji-Nya dan Mahakuasa untuk memenuhinya karena Dia Mahakaya dan Mahamampu. Maka dari itu, ibadahilah Dia satu-satu-Nya, tentu ibadah kita takkan sia-sia. Tinggalkan semua sesembahan selain-Nya, karena selain-Nya tidak ada yang memiliki kesempurnaan seperti yang dimiliki-Nya, yang ada justru berbagai kekurangan.

ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc)

Buah Keimanan

Keimanan yang benar memiliki banyak faedah dan buah terhadap kalbu, badan, ketenteraman, dan kehidupan yang baik di dunia serta akhirat, baik dalam waktu yang dekat maupun yang akan datang.

  1. Buah keimanan yang paling besar adalah mendapatkan kebahagiaan sebagai wali Allah subhanahu wa ta’ala yang khusus.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.” (Yunus: 62—63)

Setiap mukmin yang bertakwa adalah wali Allah subhanahu wa ta’ala yang khusus. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman tentang mereka:

“Allah adalah wali orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman).” (al-Baqarah: 257)

Maksudnya, Allah akan mengeluarkan mereka dari kegelapan kekafiran menuju cahaya keimanan, dari kegelapan kebodohan menuju cahaya ilmu, dari kegelapan maksiat menuju cahaya ketaatan, dan dari kegelapan kelalaian menuju cahaya kesadaran dan ingat.

Ringkasnya, Allah subhanahu wa ta’ala akan mengeluarkan mereka dari kegelapan berbagai kejelekan menuju cahaya-cahaya kebaikan, dalam waktu yang dekat atau yang akan datang. Sesungguhnya mereka mendapatkan anugerah yang besar ini karena mereka memiliki keimanan yang benar dan mewujudkannya dengan ketakwaan. Sungguh, takwa merupakan kesempurnaan iman.

  1. Berbahagia karena mendapatkan keridhaan Allah subhanahu wa ta’ala dan jannah (surga)-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Allah menjanjikan kepada orang-orang yang mukmin lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga Adn. Dan keridhaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar.” (at-Taubah: 71—72)

Mereka mendapatkan ridha Rabb mereka dan rahmat-Nya serta keberuntungan berupa tempat tinggal yang baik karena keimanan mereka. Dengan keimanan itu pula mereka menyempurnakan diri mereka dan orang lain dengan cara menegakkan ketaatan kepada Allah dan Rasul-nya serta beramar ma’ruf nahi mungkar.

  1. Iman yang sempurna akan menghalangi mereka dari masuk neraka. Adapun iman, walaupun sedikit, akan menghalanginya dari kekekalan di dalam neraka.
  2. Allah subhanahu wa ta’ala akan menolong orang-orang mukmin dari segala hal yang tidak disukai dan akan menyelamatkan mereka (memberi jalan keluar) dari segala kesulitan.
    Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang telah beriman.” (al-Hajj: 38)

Artinya, Allah subhanahu wa ta’ala akan membela mereka dari setiap hal yang tidak mereka sukai, kejelekan setan dari kalangan jin dan manusia, musuh-musuh, dan hal-hal yang tidak disukai, sebelum menimpa mereka atau meringankannya setelah menimpa mereka.

Allah menyebutkan keadaan Nabi Yunus ‘alaihissalam:

Maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap bahwa “Tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Engkau. Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.” Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman. (al-Anbiya: 87—88)

Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman dalam surah ath-Thalaq ayat 2:

“Barang siapa bertakwa kepada Allah…”, dengan menjalankan keimanan dan konsekuensinya, maka: “Allah akan menjadikan baginya jalan keluar.”

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman pula:

“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (ath-Thalaq: 4)

Wallahu a’lam.

Sumber bacaan: Syajaratul Iman karya asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’di hlm. 43—46 dengan sedikit perubahan. At-Taudhih wal Bayan li Syajaratil Iman

Ditulis oleh: Al-Ustadz Abdul Jabbar

Sifat Shalat Nabi (4)

Telah kita lewati pembicaraan tentang qiraah (membaca Al-Qur’an) di dalam shalat. Termasuk hal yang perlu diperhatikan dalam membaca Al-Qur’an adalah membacanya dengan tartil, karena Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam diperintahkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala untuk membaca Al-Qur’an dengan tartil, tidak tergesa-gesa atau cepat-cepat. Al-Qur’an dibaca huruf demi huruf, kata demi kata. Membaca Al-Qur’an dengan cara seperti ini juga berlaku di dalam shalat. Maka dari itu, orang yang shalat harus memerhatikan bacaannya. Ia tidak boleh tergesa-gesa ingin segera menyelesaikan bacaannya.

Ulama berbeda pendapat dalam menentukan mana yang lebih utama atau afdhal, apakah mentartil Al-Qur’an dalam keadaan surat/ayat yang dibaca pendek/sedikit atau cepat dalam membaca Al-Qur’an namun banyak ayat yang bisa dibaca. Pendapat yang pertama dipegangi oleh Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, semoga Allah subhanahu wa ta’ala meridhai mereka, dan dipilih oleh Ibnu Sirin rahimahullah. Adapun pendapat kedua dipegangi oleh pengikut Syafi’iyah dengan berdalil sabda Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Siapa yang membaca satu huruf dari Kitabullah maka ia memperoleh satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali.” (HR. at-Tirmidzi no. 2910, disahihkan dalam al-Misykat no. 2137 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir no. 6469) (al-Ashl, 2/562)

Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Zadul Ma’ad (1/125) menggabungkan dua pendapat ini dan al-Hafizh rahimahullah mengikutinya dalam Fathul Bari (9/73). Dinyatakan bahwa masing-masing memiliki keutamaan, baik yang cepat maupun yang tartil. Namun, dengan syarat orang yang membaca dengan cepat tidak terluputkan darinya satu huruf pun, harakat atau sukun yang wajib. Salah satunya bisa lebih utama daripada yang lain dan bisa pula sama. Orang yang mentartil dan memerhatikan apa yang dibacanya, meresapi dan merenungkannya, ibarat orang yang bersedekah dengan satu permata yang sangat mahal. Sementara itu, orang yang membaca dengan cepat, ibarat orang yang bersedekah dengan sejumlah permata, tetapi nilai semua permata tersebut sama dengan satu permata yang mahal. Terkadang satu permata lebih bernilai dari sejumlah permata, namun terkadang pula sebaliknya, sejumlah permata lebih mahal daripada satu permata. Wallahu a’lam.

Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Pada hari kiamat nanti dikatakan kepada pembaca Al-Qur’an, “Bacalah dan naiklah! Bacalah dengan tartil sebagaimana engkau mentartilnya di dunia. Sungguh, kedudukanmu (derajat di surga) menurut akhir ayat yang engkau baca.” (HR. Abu Daud no. 1464, at-Tirmidzi no. 2914, dll. Hadits ini hasan sebagaimana dalam al-Misykat no. 2134 dan ash-Shahihah no. 2240)

Isti’adzah dan Meludah Kecil dalam Shalat

Utsman ibnu Abil Ash radhiallahu ‘anhu berkata kepada Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Wahai Rasulullah, sungguh setan menghalangi antara aku dan shalatku serta bacaanku. Ia membuatku kacau dan ragu-ragu saat membaca Al-Qur’an (dalam shalat).”

Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Itu adalah setan yang disebut Khinzib. Jika engkau merasakan gangguannya, berta’awudzlah (mintalah perlindungan) kepada Allah darinya dan meludah kecillah ke arah kirimu tiga kali.” Utsman berkata, “Aku pun melakukan bimbingan Rasul tersebut maka Allah menghilangkan gangguan setan itu dariku.” (HR. Muslim no. 5702)

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “Hadits ini menunjukkan disunnahkannya berta’awwudz kepada Allah subhanahu wa ta’ala ketika ditimpa waswas, disertai dengan meludah kecil ke arah kiri tiga kali[1].” (al-Minhaj 14/411)

Ruku’

Selesai membaca Al-Qur’an saat berdiri dalam shalat, Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam diam sejenak. Demikianlah yang beliau  shallallahu ‘alaihi wa sallam lakukan setiap selesai membaca satu ayat. Setelah itu, beliau  shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua tangan untuk bertakbir, sebagaimana mengangkat tangan saat takbiratul ihram, lalu ruku’. Tentang mengangkat tangan sebelum ruku’ ini beritanya mutawatir dari Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini adalah mazhab imam yang tiga dan selain mereka dari kalangan jumhur ahli hadits dan fuqaha. (Mausu’ah ash-Shalah ash-Shahihah, 2/868)

 

Tata Cara Ruku’

Pada awalnya Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan tathbiq dalam ruku’, yaitu mengumpulkan jari-jemari kedua telapak tangannya, dengan menempelkan bagian dalam telapak tangan satu dengan yang lain, lalu diletakkan di antara dua paha atau dua lutut beliau sebagaimana yang ditunjukkan dalam hadits Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh al-Imam Muslim rahimahullah dalam Shahih-nya (no. 1191, “Kitabul Masajid”, bab an-Nadb ila wadh’il aydi ‘alar rukab fir ruku’ wa naskhut tathbiq)
Cara ruku’ seperti ini kemudian ditinggalkan Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan beliau melarangnya. Yang kemudian beliau lakukan saat ruku’ adalah:

  1. Meletakkan dua telapak tangan beliau di atas kedua lutut beliau.
    Cara seperti inilah yang belakangan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam perintahkan, sebagaimana ditunjukkan oleh hadits Sa’d ibnu Abi Waqqash radhiallahu ‘anhu. Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajari kami shalat. Beliau bertakbir dan mengangkat kedua tangannya. Kemudian ruku’ dan mengumpulkan jari-jemari kedua tangannya dengan menempelkan bagian dalam telapak tangan satu dengan yang lain lalu meletakkannya di antara dua lututnya.”

Hal ini sampai kepada Sa’d, maka ia berkata, “Benar saudaraku itu. Dahulu kami memang melakukan cara seperti itu. Kemudian Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami dengan cara seperti ini.” Sa’d memegang kedua lututnya (dengan kedua telapak tangannya). (HR. al-Bukhari dalam Raf’ul Yadain hlm. 12, dll. Al-Imam ad-Daraquthni rahimahullah berkata, “Isnadnya tsabit sahih.” Al-Imam al-Albani rahimahullah berkata, “Hadits ini di atas syarat Muslim.” Lihat al-Ashl, 2/628)

Mush’ab ibnu Sa’d berkata, “Aku shalat di samping ayahku. Aku mengumpulkan jari-jemari telapak tanganku dengan menempelkan bagian dalam telapak tangan satu dengan yang lain dan aku letakkan di antara kedua pahaku. Ayahku melarangku ruku’ dengan cara demikian. Ia menyatakan, ‘Dahulu kami melakukan cara seperti yang kau lakukan, lalu kami dilarang. Kemudian kami diperintah untuk meletakkan tangan-tangan kami di atas lutut’.” (HR. al-Bukhari no. 790 dan Muslim no. 1197)

Umar ibnul Khaththab radhiallahu ‘anhu berkata, “Sungguh, termasuk sunnah (ajaran/petunjuk Nabi) adalah memegang lutut saat ruku’.” (HR. at-Tirmidzi no. 258 dan an-Nasa’i no. 1035, sanadnya sahih sebagaimana dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi dan Shahih Sunan an-Nasa’i)

Al-Imam at-Tirmidzi rahimahullah berkata setelah membawakan hadits di atas, “Ini yang diamalkan oleh ahlul ilmi dari kalangan sahabat Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam, tabi’in, dan orang-orang setelah mereka. Tidak ada perselisihan di antara mereka dalam hal ini, selain yang diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud dan sebagian muridnya. Mereka mengumpulkan jari-jemari mereka (saat ruku). Cara tathbiq (yang mereka lakukan) ini mansukh menurut ahlul ilmi.” (Sunan at-Tirmidzi, 1/162—163)

  1. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan kedua telapak tangan beliau di atas kedua lutut, beliau seakan menggenggam keduanya.

Hal ini sebagaimana ditunjukkan dalam tambahan hadits Abu Humaid as-Sa’idi[2] radhiallahu ‘anhu yang dikeluarkan oleh at-Tirmidzi no. 260:

“Rasulullah ruku’ dan meletakkan dua telapak tangan di atas kedua lutut. Beliau mengokohkan kedua tangan tersebut pada kedua lututnya seakan-akan menggenggam keduanya.” (Disahihkan dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi)

Hadits Umar radhiallahu ‘anhu di atas juga menunjukkan hal demikian.

  1. Jari-jemari direnggangkan (dijauhkan satu dari yang lain) ketika menggenggam lutut.
    Hal ini pernah diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada orang yang salah shalatnya. Dalam hadits Rifa’ah ibnu Rafi’ radhiallahu ‘anhu yang dikeluarkan oleh al-Imam Ahmad (al-Musnad, 4/340) disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada orang yang salah shalatnya:

“Apabila engkau ruku’, letakkanlah dua telapak tanganmu di atas kedua lututmu, kemudian renggangkanlah jari-jemarimu satu dari yang lain, lalu diam/tenanglah hingga seluruh anggota mengambil bagian/posisinya.” (“Sanadnya hasan,” kata al-Imam al-Albani rahimahullah dalam al-Ashl, 2/633)

Hadits di atas memiliki syahid dari hadits Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma. Ia menyebutkan bahwa Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada seorang A’rabi:

“Jika engkau ruku’, letakkanlah kedua telapak tanganmu di atas kedua lututmu, kemudian renggangkanlah jari-jemarimu, lalu diam/tenanglah hingga setiap anggota mengambil tempat/posisinya.” (HR. Ibnu Hibban dalam Shahih-nya)
Posisi jari-jemari ini ke arah yang lebih rendah di atas kedua betis, seperti ditunjukkan oleh hadits Abu Mas’ud Uqbah bin Amr al-Badri radhiallahu ‘anhu, yang dibawakan oleh Atha’ ibnus Saib, dari Salim al-Barad, ia berkata, “Kami mendatangi Abu Mas’ud Uqbah ibnu Amr al-Anshari. Kami mengatakan kepadanya, ‘Sebutkan kepada kami tentang shalat Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Abu Mas’ud pun berdiri di hadapan kami di dalam masjid. Ia bertakbir. Tatkala ruku’, ia meletakkan kedua tangannya di atas kedua lututnya dan ia menjadikan jari-jemari lebih rendah dari lututnya, serta menjauhkan kedua sikunya dari rusuknya, hingga segala sesuatu tenang/menetap pada tempat/posisinya…’.”

Setelah menyelesaikan shalatnya, Abu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata, “Demikianlah kami melihat Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat.” (HR. Abu Dawud no. 863, disahihkan dalam Shahih Sunan Abi Dawud)

  1. Dari hadits Abu Mas’ud radhiallahu ‘anhu di atas kita dapati pula tata cara ruku’ yang berikutnya, yaitu menjauhkan kedua siku dari rusuk.

Hal ini ditunjukkan pula oleh hadits dari sejumlah sahabat. Di antaranya adalah hadits Abu Humaid radhiallahu ‘anhu dengan lafadz, “Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan kedua telapak tangannya di atas kedua lututnya seakan-akan memegangi kedua lututnya. Beliau juga menjauhkan kedua tangannya dari kedua rusuknya.” (HR. at-Tirmidzi no. 260, disahihkan dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi)

At-Tirmidzi rahimahullah berkata, “Inilah yang dipilih oleh ahlul ilmi, yaitu seseorang yang shalat hendaknya menjauhkan kedua tangannya dari kedua rusuknya ketika ruku’ dan sujud.” (Sunan at-Tirmidzi, 1/163)

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “Kami tidak mengetahui ada perbedaan pendapat dari seorang ulama pun tentang sunnahnya hal ini. Hikmah dilakukannya cara seperti ini adalah lebih sempurna dalam penampakan dan bentuk shalat.”

Catatan
Sunnah menjauhkan kedua tangan dari kedua rusuk ini dilakukan dengan syarat tidak mengganggu orang lain yang shalat di sampingnya dalam shalat berjamaah. Yang wajib dalam ruku’, kata sebagian ulama (sebagaimana dalam al-Inshaf 3/480), ia membengkokkan punggungnya di mana keberadaannya lebih dekat kepada ruku’ yang sempurna daripada berdiri sempurna. Artinya, orang yang melihatnya mengetahui bahwa ia sedang ruku’, tidak sedang berdiri. (asy-Syarhul Mumti’, 3/91)

Insya Allah bersambung

 Ditulis oleh: Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq

[1] Ia sedikit mengarahkan kepalanya ke arah kiri tubuhnya, bukan ke arah orang lain yang ada di sebelah kirinya apabila ia shalat berjamaah, karena hal tersebut akan mengganggu orang lain.

[2]  Al-Imam al-Bukhari meriwayatkan hadits Abu Humaid tanpa tambahan yang disebutkan.