Duka Cita Para Sahabat

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Harits)

Allah l telah memenuhi janji-Nya dengan memilih Rasulullah n kembali ke sisi-Nya.
Wafatnya Rasulullah n adalah kesedihan, kepedihan, dan kehilangan besar yang dirasakan oleh kaum muslimin. Gunung-gunung seakan-akan runtuh, bumi pun bergoncang, bahkan matahari pun padam karena terputusnya berita langit. Sebuah kehilangan yang tak tergantikan dengan apa pun. Sudut-sudut kota Madinah seakan diselimuti oleh gelap. Hilang sudah cahaya yang menerangi sejak datangnya beliau n pertama kali di kota suci ini.
Siapa pun yang memasuki kota Madinah waktu itu akan mendengar suara pilu kepedihan yang dirasakan oleh penduduk Madinah yang kehilangan kekasih dan junjungan mereka. Isak tangis sayup-sayup terdengar dari balik dinding-dinding rumah kaum mukminin. Sangat pantas keadaan mereka demikian, begitu pula orang-orang yang datang sesudah mereka.
Ketika itu, sebagian sahabat ada yang belum yakin tentang wafatnya Rasulullah n. Umar bin al-Khaththab z berkeliling dengan pedangnya sembari berkata, “Sebagian orang munafik menyatakan bahwa Rasulullah n telah wafat. Sungguh, beliau tidak wafat, tetapi pergi menemui Rabbnya seperti Musa bin ‘Imran q yang meninggalkan Bani Israil selama empat puluh hari, kemudian kembali sesudah beliau diberitakan wafat. Demi Allah, Rasulullah n pasti akan kembali sebagaimana halnya Musa. Pasti akan ditebas kaki dan tangan orang-orang munafik yang mengatakan bahwa Rasulullah n sudah wafat.”
Tak lama, datanglah Abu Bakr ash-Shiddiq z setelah dia mendengar berita wafatnya Rasulullah n. Abu Bakr menuju masjid, sementara Umar masih berbicara di hadapan kaum muslimin. Tanpa menoleh, Abu Bakr menuju kamar putrinya ‘Aisyah x, tempat jasad yang suci itu terbaring.
Abu Bakr langsung menuju jasad Rasulullah n yang sudah diselimuti oleh keluarganya. Tanpa berbicara sepatah pun, Abu Bakr membuka kain penutup wajah Rasulullah n dan menciumnya seraya berkata, “Alangkah harumnya engkau ketika masih hidup dan setelah wafat. Ayah dan ibuku jadi tebusanmu, adapun kematian yang telah Allah tetapkan bagimu, sungguh telah engkau rasakan. Setelah ini engkau tidak akan pernah merasakannya lagi.”
Kemudian, perlahan Abu Bakr menutupkan kain itu ke wajah Rasulullah n lalu melangkah ke masjid dan berkata, “Berhentilah, wahai Umar!” Akan tetapi Umar tetap berbicara, tidak mau berhenti.
Akhirnya, Abu Bakr menuju mimbar Rasulullah n dan berbicara. Serempak kaum muslimin menoleh ke arah Abu Bakr dan meninggalkan Umar yang masih belum mau berhenti.
Setelah memuji Allah l dan menyanjung-Nya, Abu Bakr z berkata, “Wahai sekalian muslimin. Siapa yang menyembah Muhammad (n) maka sungguh, beliau sudah wafat dan siapa yang menyembah Rabb Muhammad (Allah l), maka Dia Mahahidup dan tidak akan mati.”
Abu Bakr z lalu membaca ayat:

“Dan Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudarat kepada Allah sedikit pun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (Ali ‘Imran: 144)
Para sahabat tersentak, seolah-olah baru saat itulah mereka mendengar ayat itu dibacakan. Umar z pun jatuh terduduk dan pedangnya terlepas. Sadarlah ia bahwa memang Rasulullah n sudah wafat.
Seandainya bukan karena Allah l telah menurunkan ketenangan kepada kaum mukminin, menyalakan pelita cahaya dalam hati mereka, dan melapangkan dada mereka untuk memahami Kitab-Nya yang menerangkan, niscaya patahlah punggung-punggung mereka. Sempit pula dada mereka. Pasti mereka ditelan oleh dukacita dalam menghadapi urusan ini.
Barulah terasa dalam hati mereka kehilangan dan kedukaan yang mendalam. Para sahabat kembali ke rumah mereka masing-masing membawa hati yang sarat dengan duka.
Setelah Rasulullah n wafat, beberapa sahabat Anshar berkumpul di Saqifah bani Sa’idah, sementara ‘Ali, Thalhah, dan Zubair berkumpul di rumah Fathimah bintu Rasulullah n. Beberapa sahabat Muhajirin berkumpul bersama Abu Bakr, termasuk Usaid bin Hudhair di perkampungan Bani Abdil Asyhal.
Tak lama, datang seseorang mengabarkan, “Sebagian kaum Anshar sudah berkumpul di Saqifah bani Sa’idah bersama Sa’d bin ‘Ubadah. Susullah mereka sebelum terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, sementara jasad suci Rasulullah n belum diselesaikan dan pintu rumah beliau sudah ditutup oleh keluarganya.”
Umar berkata kepada Abu Bakr, “Marilah kita temui mereka, lalu kita lihat apa yang mereka inginkan.”
Dalam perjalanan itu, mereka bertemu dua orang sahabat yang saleh. Keduanya bertanya, “Mau ke mana kalian, wahai orang-orang Muhajirin?”
“Kami hendak menemui saudara-saudara kami orang-orang Anshar,” jawab Umar.
“Tidak perlu menemui mereka, selesaikan saja urusan kalian,” kata dua orang tadi.
Umar menegaskan, “Demi Allah, kami pasti akan menemui mereka.”
Setibanya di Saqifah bani Sa’idah, sebagian kaum Anshar telah mengelilingi Sa’d bin ‘Ubadah yang sedang sakit.
Kemudian, berdirilah salah seorang juru bicara Anshar lalu memuji Allah, dan berkata, “Kami adalah penolong-penolong Allah, tentara Islam, sedangkan kalian, wahai Muhajirin, adalah lebih sedikit daripada kami….”
Setelah dia berhenti, Umar ingin segera tampil berbicara, tetapi dicegah oleh Abu Bakr, “Tahanlah, wahai Umar.”
Dengan patuh Umar tidak jadi mengeluarkan kata-kata yang dirasakan sangat tepat pada saat itu. Akhirnya, Abu Bakr mulai berbicara. Ternyata kata-kata yang disampaikan Abu Bakr adalah kalimat yang ingin disampaikan Umar, tetapi lebih baik dan tepat.
Setelah itu Abu Bakr melanjutkan, “Adapun kebaikan yang kalian sebutkan tadi, kalian memang layak menerimanya. Tetapi, urusan ini tidak pernah dikenal selain berada di tangan orang-orang Quraisy. Mereka paling mulia nasabnya. Saya ridha, salah satu dari dua orang ini—sambil memegang tangan Umar dan Abu ‘Ubaidah ibnul Jarrah—menjadi pemimpin kalian.”
Umar menarik tangannya sambil berseru, “Demi Allah, leherku ditebas tetapi tidak membawaku kepada dosa lebih aku sukai daripada menjadi pemimpin sementara Abu Bakr ada di situ.”
Salah seorang sahabat Anshar menengahi, “Dari kami seorang amir dan dari kalian juga seorang amir, wahai orang-orang Quraisy.”
Akhirnya, ributlah para sahabat. Masing-masing mengeluarkan dan mempertahankan pendapatnya. Kaum Muhajirin mengingatkan bahwa Rasulullah n berasal dari Muhajirin, tentu saja pengganti beliau adalah dari Muhajirin juga. Kaum Anshar menolak.
Setelah agak reda, Abu Bakr mengatakan, “Saya mendengar Rasulullah n bersabda:
الْإماَمَةُ مِنْ قُرَيْشٍ
“Pemimpin (imam) itu dari Quraisy.”
Mendengar hadits ini, para sahabat pun terdiam. Selesailah perselisihan, hilanglah pertikaian itu dalam sekejap. Semua adalah taufik dan rahmat dari Allah l. Hanya dengan satu hadits, mereka segera menghentikan keributan dan perbedaan pendapat yang terjadi di antara mereka.
Dengan cepat, Umar menyambar tangan Abu Bakr sambil menyatakan baiatnya, lalu disusul oleh beberapa kaum Muhajirin dan Anshar. Akhirnya mereka menjauhi tempat Sa’d bin ‘Ubadah.
Adapun dua orang saleh yang ditemui sahabat Muhajirin ketika menuju Saqifah bani Sa’idah adalah ‘Uwaim bin Sa’idah dan Ma’n ‘Adi c.
Keesokan harinya, setelah proses baiat di Saqifah bani Sa’idah, Abu Bakr duduk di mimbar Rasulullah n. Kemudian Umar berdiri menyampaikan pidatonya, setelah memuji Allah, “Wahai kaum muslimin, saya pernah mengatakan kepada kalian ucapan saya yang lalu, padahal itu tidak ada dalam Kitab Allah dan ketetapan Rasulullah n. Akan tetapi, saya dahulu menyangka bahwa Rasulullah n akan menyempurnakan urusan kita ini….”
Kemudian beliau melanjutkan, “Sungguh Allah telah menyatukan urusan kalian pada orang terbaik di antara kita, yaitu sahabat Rasulullah n yang paling dekat, orang kedua di dalam gua. Berbaiatlah kalian kepadanya.”
Akhirnya, berturut-turut, kaum muslimin secara umum menyatakan baiatnya. Walaupun terlambat, ‘Ali dan Zubair menyatakan pula baiatnya kepada Abu Bakr. Semoga Allah l meridhai mereka semua.
Setelah itu, Abu Bakr berdiri menyampaikan pidatonya. Setelah memuji Allah l, beliau berkata, “Wahai kaum muslimin, sesungguhnya saya telah diangkat menjadi wali kalian, padahal saya bukan yang terbaik di antara kalian. Kalau saya berbuat baik, bantulah saya! Kalau saya berbuat buruk, luruskanlah saya! Kejujuran itu adalah amanah, sedangkan kedustaan itu adalah khianat. Yang lemah di antara kalian adalah kuat di sisi saya sampai saya tenangkan dia dengan menyerahkan haknya, insya Allah. Adapun yang kuat di antara kalian adalah lemah dalam pandangan saya, sampai saya mengambil hak (orang lain) darinya, insya Allah. Tidaklah suatu kaum meninggalkan jihad di jalan Allah l melainkan Allah l akan menimpakan kehinaan kepada mereka. Tidak pula tersebar kekejian di sebuah masyarakat melainkan Allah l akan menimpakan kepada mereka malapetaka secara merata. Taatilah aku selama aku taat kepada Allah l dan Rasul-Nya. Kalau aku mendurhakai Allah l dan Rasul-Nya, maka tidak ada kewajiban kalian taat kepadaku. Dirikanlah shalat! Semoga Allah l merahmati kalian.”
Sejak itu, mulailah keadaan kaum muslimin menjadi tenang dan penduduk Madinah merasa aman. Mereka pun segera menyelenggarakan pengurusan jenazah Rasulullah n yang mulia.
Sesuai dengan pesan Rasulullah n, yang memandikan adalah dari keluarga dekatnya. Yang menggosok tubuh Rasulullah n adalah ‘Ali, dengan menyandarkan tubuh mulia itu ke pangkuannya. Adapun yang membantu membolak-balikkan tubuh Rasulullah n adalah ‘Abbas bersama kedua putranya, Qutsam dan Fadhl, sedangkan yang menyiramkan air adalah Usamah bin Zaid dan Syaqran maula Rasulullah g. Ikut pula bersama mereka Aus bin Khauli dari Bani ‘Auf bin Khazraj, seorang sahabat Anshar.
Mulanya mereka bingung, apakah Rasulullah n dimandikan dengan melepaskan pakaiannya atau bagaimana? Di saat mereka dalam keadaan berbeda pendapat itu, mereka diserang kantuk hingga kepala mereka tertunduk ke dagu mereka. Tiba-tiba, dari sudut rumah itu terdengar suara, tetapi tidak terlihat orangnya, “Mandikanlah beliau n dengan pakaiannya.”
Akhirnya, mereka memandikan beliau dengan pakaian yang masih menutupi tubuh suci beliau. Ali dan yang lain menggosok tubuh beliau dari atas pakaian tersebut. Beliau dimandikan dengan air dari sumur Gharas milik Sa’d bin Khaitsamah di Quba.
Selesai dimandikan, jasad mulia Rasulullah n dikafani dengan kain putih sahuliah (kain produksi desa Sahul, Yaman) dari kapas tanpa gamis dan sorban. Setelah itu mereka ragu-ragu, di mana beliau akan dikebumikan?
Ketika itu Abu Bakr z sudah berada di sana, dia pun berkata, “Saya mendengar Rasulullah n bersabda:
مَا قُبِضَ نَبِيٌّ إِلاَّ دُفِنَ حَيْثُ يُقْبَضُ
‘Tidaklah seorang nabi dicabut ruhnya melainkan dia dikebumikan di tempat itu’.”
Akhirnya, Abu Thalhah mengangkat ranjang Rasulullah n dan mulai menggali tanah di bawahnya. Lalu dibuatlah lahad, lubang kecil di arah kiblat untuk meletakkan jenazah di sana.
Setelah itu, masuklah kaum muslimin ke kamar itu sepuluh-sepuluh untuk menyalatkan beliau. Tidak ada yang menjadi imam, semua shalat sendiri-sendiri.
Yang mula-mula menyalatkan beliau n adalah kerabat dekatnya, kemudian kaum Muhajirin, lalu Anshar, anak-anak, baru kaum wanita.
(insya Allah bersambung)

Adab Mulia Menghadapi Ketentuannya

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan)

Islam adalah agama yang mulia. Islam datang membawa syariat yang sempurna. Tidak ada satu kebaikan pun melainkan Islam pasti telah mensyariatkannya. Demikian pula, tidak ada satu kejelekan pun melainkan Islam telah melarangnya.
Allah l berfirman:

“Telah sempurnalah kalimat Rabbmu.” (al-An’am: 115)
Menurut sebuah penafsiran, maksudnya adalah Al-Qur’an.
Rasulullah n bersabda:
مَا بَقِيَ شَيْءٌ يُقَرِّبُ مِنَ الْجَنَّةِ وَيُبَاعِدُ مِنَ النَّارِ، إِلاَّ وَقَدْ بُيِّنَ لَكُمْ
“Tidak ada sesuatu pun yang mendekatkan ke surga dan menjauhkan dari neraka melainkan telah dijelaskan kepada kalian.” (HR. ath-Thabarani dalam al-Kabir)
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin t berkata, “Hal ini karena Rasulullah n telah menjelaskan kepada seluruh umat manusia segala sesuatu yang telah diturunkan oleh Rabbnya kepadanya, baik hal yang rinci maupun global, urusan yang tampak maupun tidak. Sampai-sampai beliau n juga mengajarkan kepada mereka segala sesuatu yang mereka butuhkan dalam hal makanan, minuman, pernikahan, pakaian, dan tempat tinggal mereka. Beliau n juga mengajari mereka tentang adab-adab makan, minum, bersuci dari buang besar dan air kecil. Beliau n juga mengajarkan adab-adab perkawinan, pakaian, masuk dan keluar rumah. Beliau n juga mengajari mereka segala sesuatu yang dibutuhkan dalam hal beribadah kepada Allah k, seperti thaharah (bersuci), shalat, zakat, puasa, haji, dan lainnya. Beliau n juga mengajari mereka segala sesuatu yang mereka butuhkan dalam hal pergaulan dengan orang lain, seperti birrul walidain (berbakti kepada kedua orang tua), silaturahim, berteman, bertetangga yang baik, dan yang lainnya. Beliau n juga telah mengajari manusia cara bermuamalah di antara mereka, seperti jual beli, gadai, sewa-menyewa, hibah, dan lainnya. Sampai-sampai Abu ad-Darda z berkata, “Sungguh, Rasulullah n telah meninggal dalam keadaaan tidak ada seekor burung pun yang mengepakkan kedua sayapnya di langit, melainkan beliau n telah menyebutkan ilmunya kepada kami.” (HR. Ahmad, ath-Thayalisi, dan Ibnu Majah)
Dalam Shahih Muslim, dari Salman z bahwa beliau n ditanya, “Apakah nabi kalian telah mengajarkan segala sesuatu kepada kalian, sampai-sampai (adab) buang air besar?”
Salman z menjawab, “Tentu. Sungguh, beliau n melarang kami menghadap kiblat ketika waktu buang air besar atau buang air kecil.” (Mukadimah Taqrib at-Tadmuriyah, hlm. 7—8)
Para pembaca, oleh karena itulah, ketika kita menghadapi berbagai ketentuan Allah l, hendaknya kita tidak mempermasalahkan ketentuan yang terjadi. Akan tetapi, hendaknya kita menyikapinya dengan benar sehingga semakin menyempurnakan keimanan dan ketakwaan kita kepada-Nya.
Ada beberapa adab syar’i yang dituntunkan oleh Allah l dan Rasul-Nya n. Berikut ini beberapa adab yang perlu diperhatikan.

1. Beriman kepada takdir-Nya yang sempurna
Tatkala kita menyaksikan suatu kejadian, kita langsung yakin bahwa inilah ketentuan Allah l yang pasti terjadi. Allah l berfirman:

“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (al-Hadid: 22)
Rasulullah n bersabda:
وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ: لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا؛ وَلَكِنْ قُلْ: قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ؛
“Apabila suatu musibah menimpamu, janganlah engkau berkata, ‘Kalau saja aku berbuat demikian, tentu akan terjadi demikian dan demikian.’ Akan tetapi katakanlah, ‘(Ini adalah) ketentuan Allah. Apa saja yang Dia kehendaki pasti terjadi’, karena ucapan ‘seandainya’ akan membuka celah perbuatan setan.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah z)
Apa pun yang kita lakukan dan usahakan, tidak akan bisa menolak ketentuan-Nya. Allah l berfirman:

Orang-orang yang mengatakan kepada saudara-saudaranya dan mereka tidak turut pergi berperang, “Sekiranya mereka mengikuti kita, tentulah mereka tidak terbunuh.” Katakanlah, “Tolaklah kematian itu dari dirimu, jika kamu orang-orang yang benar.” (Ali Imran: 168)
Rasulullah n bersabda:
وَاعْلَمْ أَنَّ الْأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ وَلَوِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ رُفِعَتْ الْأَقْلَامُ وَجَفَّتْ الصُّحُفُ
“Yakinilah, apabila umat ini bersepakat untuk memberikan suatu manfaat kepadamu, niscaya mereka tidak akan mampu memberikannya melainkan sesuatu yang telah ditakdirkan oleh Allah untukmu. Apabila mereka bersekongkol untuk mencelakakanmu dengan sesuatu, niscaya mereka tidak mampu melakukan selain sesuatu yang telah ditakdirkan oleh Allah akan menimpamu. Pena-pena pencatat takdir telah diangkat, dan lembaran-lembaran catatan takdir telah kering.” (HR. at-Tirmidzi dari Ibnu Abbas c)
2. Ridha terhadap ketentuan-Nya dan berserah diri kepada-Nya
Kita adalah makhluk yang lemah, milik Allah l, dan berada di bawah kehendak-Nya. Dengan demikian, ketika ada suatu musibah menimpa kita, sikap yang mulia adalah berserah diri (istislam) kepada Allah l atas ketentuan/takdir tersebut, kemudian meridhainya.
Allah l berfirman:

(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.” (al-Baqarah: 156)
Rasulullah n membimbing putri beliau, Zainab x, dengan bimbingan mulia dan bijaksana dalam hal menghadapi ketentuan Allah l. Beliau n bersabda:
إِنَّ لِلهِ مَا أَخَذَ وَلَهُ مَا أَعْطَى وَكُلٌّ عِنْدَهُ بِأَجَلٍ مُسَمًّى فَلْتَصْبِرْ وَلْتَحْتَسِبْ
“Sesungguhnya, milik Allah sajalah yang Dia ambil. Hanya milik-Nya pula yang Dia berikan. Segala sesuatu sudah ada ketentuan ajalnya di sisi-Nya. Hendaknya dia bersabar dan mengharapkan (balasannya).” (Muttafaqun ‘alaih dari Abu Zaid Usamah bin Zaid c)
Disunnahkan bagi seseorang untuk ber-istrija’ dan berdoa ketika tertimpa musibah. Ummu Salamah x mengatakan, “Aku mendengar Rasulullah n bersabda:
مَا مِنْ عَبْدٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ فَيَقُولُ: إِنَّا لِلهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللَّهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي وَاخْلُفْنِي خَيْرًا مِنْهَا؛ إِلَّا أَجَرَهُ اللهُ فِي مُصِيبَتِهِ وَخَلَفَ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا
“Tidaklah seorang hamba ditimpa oleh suatu musibah lalu ia berdoa, ‘Sesungguhnya kita adalah milik Allah l dan sesungguhnya kita akan kembali kepada-Nya. Ya Allah, karuniailah aku pahala atas musibah yang menimpaku ini. Karuniakanlah pengganti bagi diriku yang lebih baik darinya’, melainkan Allah l akan mengaruniakan pahala kepadanya atas musibah yang menimpanya dan menggantinya dengan yang lebih baik.”
Ummu Salamah x berkata, “Tatkala Abu Salamah z (suaminya) meninggal, aku pun berdoa sebagaimana yang diperintahkan oleh Rasulullah n kepadaku ini. Allah l pun mengaruniaiku pengganti yang lebih baik darinya, yaitu Rasulullah n.” (HR. Muslim)
Rasulullah n bersabda:
إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلَاءِ، وَإِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ
“Sesungguhnya besarnya balasan itu tergantung dengan besarnya ujian. Sesungguhnya, apabila Allah l mencintai satu kaum, Ia akan menguji mereka. Barang siapa ridha (dengan ujian tersebut), dia akan mendapatkan keridhaan (dari Allah l), sedangkan barang siapa yang murka, dia juga akan mendapatkan kemurkaan (dari Allah l).” (HR. at-Tirmidzi dari Anas z)

3. Sabar dan mengharapkan pahalanya
Rasulullah n menasihati putrinya, Zainab x, sebagaimana disebutkan dalam hadits Usamah bin Zaid c:
فَلْتَصْبِرْ وَلْتَحْتَسِبْ
“Hendaknya dia bersabar dan mengharapkan (balasannya).” (Muttafaqun alaih)
Bersabar maknanya adalah tidak marah dan murka terhadap takdir Allah l, baik dalam hati, pada lisan, maupun anggota badan. Rasulullah n bersabda:
لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ
“Orang yang kuat bukanlah orang yang memenangi gulat. Orang yang kuat ialah orang yang mampu mengendalikan dirinya tatkala marah.” (Muttafaqun ‘alaih dari Abu Hurairah z)
Dari Ibnu Umar c, bahwasanya Rasulullah n bersama dengan Abdurrahman bin Auf, Sa’d bin Abi Waqqash, dan Abdullah bin Mas’ud g, menjenguk Sa’d bin Ubadah z. Beliau n menangis. Ketika melihat beliau n menangis, mereka pun ikut menangis. Beliau n lalu berkata, “Tidakkah kalian mendengar? Sesungguhnya Allah l tidak akan mengazab karena air mata dan sedihnya hati, namun Ia akan mengazab atau merahmati karena ini.” Beliau n menunjuk lisannya. (Muttafaqun alaih)
Rasulullah n juga bersabda tatkala putra beliau n, Ibrahim, meninggal dunia:
إِنَّ الْعَيْنَ تَدْمَعُ وَالْقَلْبَ يَحْزَنُ وَلَا نَقُولُ إِلَّا مَا يَرْضَى رَبُّنَا، وَإِنَّا بِفِرَاقِكَ يَا إِبْرَاهِيمُ لَمَحْزُونُونَ
“Sungguh, mata ini menangis, hati pun bersedih, namun kami tidak akan mengucapkan selain yang menjadikan ridha Rabb kami. Sesungguhnya kami, wahai Ibrahim, sedih berpisah denganmu.” (HR. al-Bukhari dari Anas z)
Kita juga tidak boleh melampiaskan kemarahan dan kemurkaan dengan perbuatan, seperti memukul, menampar, menendang, merobek, dan lainnya. Rasulullah n bersabda:
لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَطَمَ الْخُدُودَ وَشَقَّ الْجُيُوبَ وَدَعَا بِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ
“Bukan golongan kami, orang yang menampar-nampar pipi, merobek kerah baju, dan memanggil dengan panggilan jahiliah.” (Muttafaqun alaih dari Ibnu Mas’ud z)
Yang harus senantiasa kita hadirkan adalah perasaan berbaik sangka kepada Allah l, apa pun masalah yang kita hadapi.
Allah l berfirman tentang orang-orang munafik:

Mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliah. Mereka berkata, “Apakah ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini?” Katakanlah, “Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Allah.” (Ali Imran: 154)
Rasulullah n bersabda:
لَا يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلَّا وَهُوَ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ
“Janganlah salah seorang di antara kalian meninggal melainkan ia berbaik sangka kepada Allah k.” (HR. Muslim, al-Baihaqi, dan Ahmad, dari Jabir bin Abdillah c)
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin t mengatakan, “Terkait dengan apa yang Allah l perbuat terhadap alam semesta ini, yang wajib adalah engkau berbaik sangka kepada Allah k dan berkeyakinan bahwa segala sesuatu yang ditakdirkan oleh Allah l hanyalah terjadi dengan hikmah-Nya yang sempurna. Terkadang akal mampu menjangkaunya dan terkadang pula tidak. Dengan inilah akan tampak jelas keagungan dan hikmah Allah l dalam hal ketentuan-Nya. Oleh karena itu, janganlah berprasangka jelek kepada Allah l apabila dia melakukan sesuatu di alam semesta ini.” (al-Qaulul Mufid, 2/382—383)
Selayaknya kita mengharapkan ampunan dan rahmat-Nya dalam ketentuan takdir-Nya karena berbagai takdir yang menyedihkan itu terjadi disebabkan kesalahan dan dosa-dosa kita. Allah l berfirman:

“Dan musibah apa pun yang menimpa kalian maka adalah disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahan kalian).” (asy-Syura: 30)
Berbagai ujian dan cobaan yang menimpa kita akan menjadi penghapus dosa kita, sebagaimana sabda Rasulullah n:
مَا يَزَالُ الْبَلَاءُ بِالْمُؤْمِنِ وَالْمُؤْمِنَةِ فِي نَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَمَالِهِ حَتَّى يَلْقَى اللهَ وَمَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ
“Senantiasa ujian dan cobaan itu menimpa diri, anak, dan harta seorang mukmin dan mukminah, hingga dia bertemu dengan Allah l dalam keadaan bersih dari dosa.” (HR. at-Tirmidzi dari Abu Hurairah z)
Bahkan, balasan yang dijanjikan jauh lebih baik daripada apa yang kita korbankan. Rasulullah n bersabda:
مَا لِعَبْدِي الْمُؤْمِنِ عِنْدِي جَزَاءٌ إِذَا قَبَضْتُ صَفِيَّهُ مِنْ أَهْلِ الدُّنْيَا ثُمَّ احْتَسَبَهُ إِلَّا الْجَنَّةُ
“Allah l berfirman, ‘Tidak ada balasan bagi hamba-Ku yang mukmin ketika Aku mengambil orang yang dicintainya dari kalangan penduduk dunia lalu ia mengharapkan pahalanya, selain al-jannah (surga)’.” (HR. al-Bukhari)
Dari Anas z, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah n bersabda:
إِنَّ اللهَ قَالَ: إِذَا ابْتَلَيْتُ عَبْدِي بِحَبِيبَتَيْهِ فَصَبَرَ عَوَّضْتُهُ مِنْهُمَا الْجَنَّةَ- يُرِيدُ عَيْنَيْهِ
“Sesungguhnya Allah berfirman, ‘Apabila Aku menguji hamba-Ku dengan dua hal yang dicintainya (yaitu kedua matanya menjadi buta) lalu dia bersabar, niscaya Aku akan menggantinya dengan surga untuknya’.” (HR. al-Bukhari)

Pelajaran dari Wanita Calon Penghuni Surga
Ada sebuah pelajaran berharga dari seorang wanita calon penghuni surga. Dikisahkan oleh Atha bin Abi Rabah t, Ibnu Abbas c berkata kepadaku, “Maukah aku tunjukkan seorang wanita calon penghuni surga kepadamu?” Aku jawab, “Tentu.” Beliau lalu berkata, “Ada seorang wanita berkulit hitam yang datang kepada Rasulullah n dan berkata, ‘Saya terkena penyakit ayan (epilepsi). Aurat saya akan tersingkap kalau penyakit saya itu kambuh. Doakanlah saya!’ Nabi n menjawab, ‘Kalau engkau mau bersabar, balasan bagimu adalah surga. Tetapi, jika engkau mau (sembuh), aku akan mendoakanmu agar Allah menyembuhkanmu.’ Wanita itu lalu menjawab, ‘Aku akan bersabar. Namun, auratku akan tersingkap, maka doakan agar tidak tersingkap.’ Beliau n pun mendoakannya.” (Muttafaqun ‘alaih)
Masih ada pelajaran lain, dari wanita yang lain pula.
Anas z bercerita bahwa anak lelaki Abu Thalhah z merintih sakit. Abu Thalhah z lalu pergi (untuk satu keperluan). Anak lelaki tersebut kemudian meninggal.
Ketika pulang, dia bertanya kepada istrinya (Ummu Sulaim x, ibu Anas z), “Bagaimana keadaan anakku?”
Istrinya menjawab, “Dia sangat tenang sebagaimana mestinya.”
Istrinya lantas menyiapkan makan malam. Setelah itu, mereka melewatkan malam itu berdua. Dalam riwayat lain disebutkan sang istri berdandan lebih cantik dari apa yang pernah dia lakukan sebelumnya sehingga Abu Thalhah menggaulinya. Setelah selesai, istrinya berkata, “Makamkanlah anak laki-laki itu!”
Pagi harinya, Abu Thalhah menemui Rasulullah n dan mengabarkan apa yang terjadi malam itu.
Beliau n bertanya, “Apakah kalian tadi malam bersenang-senang?”
Abu Thalhah menjawab, “Benar.”
Rasulullah n berdoa, “Ya Allah, berkahilah keduanya.”
Beberapa waktu kemudian, istrinya mengandung dan melahirkan seorang anak lelaki. Abu Thalhah lalu menyuruh Anas membawanya kepada Rasulullah n. Beliau n bertanya, “Apakah ia membawa sesuatu?”
Anas menjawab, “Ya, ada beberapa butir kurma.”
Rasulullah n mengambil dan mengunyahnya. Beliau n lalu mengambil dari mulutnya dan memasukkannya ke dalam mulut anak itu. Beliau mentahniknya dan menamainya Abdullah.
Kisah di atas diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim.
Dalam riwayat al-Bukhari yang lain disebutkan bahwa Ibnu Uyainah t mengatakan, “Seorang lelaki dari kalangan Anshar mengatakan, ‘Lahirlah sembilan anak lelaki yang semuanya hafal Al-Qur’an’, yakni anak-anak dari Abdullah (bin Abu Thalhah).”
Mengambil Pelajaran dan Peringatan dari Peristiwa yang Terjadi
Seorang mukmin yang cerdas dan pandai akan mengambil pelajaran dan peringatan dari berbagai peristiwa, baik yang terjadi pada dirinya maupun pada orang lain, baik pada umat ini maupun umat terdahulu.
Allah l berfirman:

“Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah. Oleh karena itu, berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul). (Al-Qur’an) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, serta petunjuk dan pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.” (Ali Imran: 137—138)
Rasulullah n bersabda:
لَا يُلْدَغُ الْمُؤْمِنُ مِنْ جُحْرٍ وَاحِدٍ مَرَّتَيْنِ
“Tidak sepantasnya seorang mukmin disengat dua kali dari satu lubang.” (Muttafaqun alaih dari Abu Hurairah z)
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin t mengatakan, “Seorang mukmin tidak akan disengat dua kali dari lubang yang sama karena dia hati-hati, cerdas dan pandai (mengambil pelajaran dari peristiwa yang telah menimpanya).” (Syarh Riyadhish Shalihin, 4/298)
Mudah-mudahan Allah l senantiasa menunjuki kita ke jalan-Nya yang mulia sampai ajal menjemput kita. Amin, ya Rabbal ‘alamin.

4. Tidak beralasan dengan takdir untuk terus-menerus bermaksiat
Allah l memberitakan sekaligus membantah kaum musyrikin yang beralasan dengan takdir dalam hal perbuatan syirik dan penghalalan segala yang Dia l haramkan, dalam firman-Nya:

Orang-orang yang mempersekutukan Allah akan mengatakan, “Jika Allah menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak mempersekutukan-Nya dan tidak (pula) kami mengharamkan barang sesuatu apa pun.” Demikian pulalah orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (para rasul) sampai mereka merasakan siksaan Kami. Katakanlah, “Adakah kalian mempunyai sesuatu pengetahuan sehingga kalian dapat mengemukakannya kepada Kami? Kalian tidak mengikuti selain persangkaan belaka, dan kalian tidak lain hanya berdusta.” Katakanlah, “Allah mempunyai hujjah yang jelas lagi kuat. Jika Dia menghendaki, pasti Dia memberi petunjuk kepada kalian semuanya.” (al-An’am: 148—149)
Asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’di t berkata, “Kalau saja alasan mereka itu benar, sungguh mereka akan selamat dari hukuman dan Allah l tidak akan menimpakan azab kepada mereka. Azab-Nya tidak menimpa selain yang berhak mendapatkannya. Dari sinilah dapat diketahui/diyakini bahwa alasan mereka itu keliru.” (Taisir al-Karimir Rahman, hlm. 278)
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin t berkata, “Seandainya sebuah pengumuman penerimaan pegawai/karyawan termuat di surat kabar yang menyebutkan gaji sekian dan pekerjaan lain gajinya lebih kecil, niscaya Anda akan berusaha mendapatkan pekerjaan yang bergaji paling tinggi. Kalau tidak dapat, Anda akan berusaha mendapatkan yang lainnya. Kala masih tidak berhasil mendapatkannya, Anda akan mencela diri Anda sendiri karena kurangnya usaha Anda.
Kita juga memiliki amalan-amalan agama, seperti shalat lima waktu yang menghapus dosa-dosa yang terjadi di antara waktu-waktu shalat tersebut. Shalat lima waktu ibarat sebuah sungai yang ada di depan pintu rumah kita, kita bisa mandi dari air sungai tersebut lima kali sehari. Shalat berjamaah lebih utama daripada shalat sendirian dengan pahala 25 kali lipat. Mengapa Anda meninggalkan amalan-amalan ini dan berdalil dengan takdir, padahal untuk masalah pekerjaan Anda memilih yang paling tinggi gajinya? Mengapa Anda tidak beralasan dengan takdir pula pada masalah-masalah duniawi, namun beralasan dengan takdir ketika berhadapan dengan masalah akhirat?! Dengan demikian, beralasan dengan takdir untuk tetap bergelimang dalam kemaksiatan adalah ucapan yang batil berdasarkan Al-Qur’an dan as-Sunnah serta logika.” (al-Qaulul Mufid, 2/408)
Wallahu a’lam.

 

Buah Mengimani Takdir

Di antara rukun iman yang wajib kita imani adalah iman kepada takdir. Iman kepada takdir merupakan perkara yang disepakati kaum muslimin, sampai akhirnya muncullah kelompok bid’ah Qadariyah yang menyempal dari akidah kaum muslimin dalam hal takdir.

Dua orang tabi’in pernah menghadap seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abdullah bin Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhuma. Keduanya mengadu kepada beliau tentang munculnya beberapa orang yang memiliki pemikiran bid’ah dalam masalah takdir, yakni menolak takdir.

Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma berkata:

فَإِذَا لَقِيتَ أُولَئِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنِّي بَرِيءٌ مِنْهُمْ وَأَنَّهُمْ بُرَآءُ مِنِّي، وَالَّذِي يَحْلِفُ بِهِ عَبْدُ اللهِ بْنُ عُمَرَ، لَوْ أَنَّ لِأَحَدِهِمْ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا فَأَنْفَقَهُ مَا قَبِلَ اللهُ مِنْهُ حَتَّى يُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ

“Jika engkau bertemu mereka, kabarkan bahwa aku berlepas diri dari mereka dan mereka berlepas diri dariku. Demi Dzat yang Ibnu Umar bersumpah dengan-Nya, jika salah seorang memiliki emas sebesar Gunung Uhud lalu menginfakkannya, tidaklah Allah subhanahu wa ta’ala akan menerimanya sampai ia beriman kepada takdir.” (Lihat Shahih Muslim no. 1)

Karena pentingnya masalah ini, para ulama pun memasukkan masalah ini dalam kitab-kitab akidah. Semua kitab Ahlus Sunnah yang membahas akidah pasti menyebutkan prinsip Ahlus Sunnah dalam masalah takdir dan membantah kelompok yang menyimpang dalam masalah ini, seperti Qadariyah dan Jabriyah serta orang-orang yang sepaham dengan mereka.

Dalil-Dalil Wajibnya Mengimani Takdir

Dalil-dalil yang menunjukkan masalah ini sangatlah banyak. Kami hanya menyebutkan sebagian kecil darinya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam salah satu ayatnya:

“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu dengan takdir.” (al-Qamar: 49)
Dalam ayat lain, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Dan adalah ketetapan Allah itu suatu ketetapan yang pasti berlaku.” (al-Ahzab: 38)
Adapun dalil dari hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, di antaranya hadits Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu yang masyhur ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang iman. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:

أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ

“Engkau beriman kepada Allah, kepada malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, iman kepada hari akhir, dan iman kepada takdir baik buruknya.” (HR. Muslim)

Ucapan Sahabat, Tabi’in, dan Ulama Setelah Mereka

Di antara ucapan sahabat yang telah sampai kepada kita adalah ucapan Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, “Kabarkan kepada mereka (yakni kepada orang-orang yang menolak takdir). Aku berlepas diri dari mereka dan mereka pun berlepas diri dariku.” (Shahih Muslim)

Ubadah bin ash-Shamit radhiallahu ‘anhu berkata kepada anaknya, “Wahai anakku, engkau tidak akan merasakan nikmatnya iman sampai meyakini bahwa apa yang ditakdirkan menimpamu tak akan meleset darimu dan apa yang ditakdirkan meleset darimu tak akan menimpamu.

Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ أَوَّلَ مَا خَلَقَ اللهُ الْقَلَمَ فَقَالَ لَهُ: اكْتُبْ. قَالَ: رَبِّ وَمَاذَا أَكْتُبُ؟ قَالَ: اكْتُبْ مَقَادِيرَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى تَقُومَ السَّاعَةُ

Yang pertama kali diciptakan oleh Allah adalah qalam (pena). Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, ‘Tulislah!’ Dia menjawab, ‘Apa yang aku tulis?’ Allah berfirman, ‘Tulislah takdir segala sesuatu hingga hari kiamat!’.”

Ubadah berkata, “Wahai anakku, aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

مَنْ مَاتَ عَلَى غَيْرِ هَذَا فَلَيْسَ مِنِّي

‘Barang siapa yang meninggal tidak dalam keyakinan seperti ini, dia tidak termasuk golonganku’.” (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi, disahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani)

Demikian pula sahabat yang lain, mereka telah berbicara keras mengancam orang-orang yang tidak mau meyakini takdir. Dari Ibnu Dailami rahimahullah, “Aku pernah mendatangi Ubai bin Ka’b radhiallahu ‘anhu dan aku katakan, ‘Ada satu ganjalan pada diriku tentang masalah qadar. Sampaikanlah kepadaku satu hadits, mudah-mudahan Allah subhanahu wa ta’ala menghilangkan ganjalan tersebut dariku.’

Ubai bin Ka’b radhiallahu ‘anhu berkata, ‘Walaupun engkau berinfak emas sebesar Uhud, niscaya Allah subhanahu wa ta’ala tak akan menerimanya sampai engkau beriman kepada takdir. Engkau meyakini bahwa apa yang ditetapkan menimpamu tak akan meleset dan sesuatu yang ditetapkan meleset maka tiada akan pernah mengenaimu. Jika engkau mati dalam keadaan tidak di atas akidah ini, engkau masuk neraka’.”

Ibnu Dailami rahimahullah berkata, “Kemudian aku menemui para sahabat yang lain: Abdullah bin Mas’ud, Hudzaifah ibnul Yaman, dan Zaid bin Tsabit g. Mereka semua menyampaikan hal yang sama kepadaku dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Abu Dawud dan lainnya, disahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani rahimahullah)

Thawus rahimahullah berkata, “Aku berjumpa dengan tiga ratus sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, semuanya berkata, ‘Segala sesuatu ditakdirkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala’.”

Dalam Shahih Muslim, Thawus rahimahullah berkata, “Aku berjumpa dengan manusia dari kalangan sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, semuanya berkata, ‘Segala sesuatu terjadi dengan takdir’.”

Orang yang Mengingkari Takdir Bukan Orang Bertauhid

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, ”Semua atsar menegaskan masalah ini dan menjelaskan bahwa barang siapa tidak beriman kepada takdir berarti telah lepas dari tauhid dan mengenakan pakaian kesyirikan, bahkan tidak beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan tidak mengenal-Nya.”
(Lihat Tanbihatus Saniyah syarah al-Aqidah al-Wasithiyah)

Tingkatan Mengimani Takdir

Iman kepada takdir ada empat tingkatan.

  1. Ilmu

Mengimani bahwa Allah subhanahu wa ta’ala mengetahui segala sesuatu secara global dan rinci, azali (terdahulu) dan abadi, baik yang berkaitan dengan perbuatan-Nya maupun perbuatan hamba-Nya.

  1. Kitabah (penulisan)

Mengimani bahwa Allah subhanahu wa ta’ala telah mencatat semuanya di Lauhul Mahfuzh.
Dalil dua masalah di atas adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala:

“Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi? Bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah.” (al-Haj: 70)

  1. Masyi’ah (kehendak)

Meyakini bahwa semua yang terjadi, terjadinya dengan masyi’atullah (kehendak Allah subhanahu wa ta’ala), baik yang berkaitan dengan perbuatan-Nya maupun yang berkaitan dengan perbuatan makhluk.

Allah lberfirman tentang perbuatan-Nya:

“Dan kamu tidak pernah mengharap agar Al-Qur’an diturunkan kepadamu, tetapi ia (diturunkan) karena suatu rahmat yang besar dari Rabbmu. Oleh sebab itu, janganlah sekali-kali kamu menjadi penolong bagi orang-orang kafir.” (al-Qashash: 86)

  1. Al-Khalq (penciptaan)

Meyakini bahwa semua yang terjadi adalah makhluk ciptaan Allah subhanahu wa ta’ala: benda (zat), sifat, dan pergerakannya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Allah menciptakan segala sesuatu dan dia memelihara segala sesuatu.” (az-Zumar: 62)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu baginya dalam kekuasaan(Nya), dan dia telah menciptakan segala sesuatu, dan dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.” (al-Furqan: 2)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.”

(ash-Shaffat: 96)

(Lihat Syarah Tsalasatul Ushul, hlm. 111—112)

Buah Iman Kepada Takdir

Faedah yang akan didapat ketika seorang beriman kepada takdir sangatlah banyak. Para ulama Ahlus Sunnah telah menyebutkannya, kami hanya menukilkan sebagian yang mereka sebutkan. Di antara faedah iman kepada takdir adalah:

  1. Menumbuhkan sifat ridha dan yakin dengan apa yang terjadi. Dengan sebab itu pula, dia akan mendapatkan hidayah dari Allah subhanahu wa ta’ala.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah dan barang siapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (at-Taghabun: 11)

  1. Menjadi sebab dihapuskannya dosa.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا أَصَابَ الْمُسْلِمَ مِنْ مَرَضٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا حَزَنٍ حَتَّى الْهَمَّ يُهِمُّهُ إِلَّا يُكَفِّرُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَنْهُ مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidaklah ada sesuatu yang menimpa seorang muslim baik berupa sakit, rasa capai, kesedihan, maupun rasa gundah yang menimpanya melainkan pasti Allah subhanahu wa ta’ala akan menghapus dosanya dengan sebab itu.” (Muttafaq ‘alaih)

  1. Menjadi sebab mendapat balasan yang besar dari Allah subhanahu wa ta’ala.
    Dalil yang menunjukkan masalah ini adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan, serta berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun.”

Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Rabb mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (al-Baqarah: 155—157)

  1. Menjadi seorang yang kaya hati (senantiasa merasa cukup dengan pemberian Allah subhanahu wa ta’ala).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

“Yang namanya kaya bukanlah dengan banyaknya harta, namun kaya yang hakiki adalah kaya hati.”

  1. Tidak sombong ketika mendapatkan kesenangan dan tidak sedih ketika musibah.
    Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam Kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.

(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berdukacita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu, dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (al-Hadid: 22—23)

  1. Menumbuhkan keberanian
  2. Tidak takut terhadap kejahatan manusia

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

وَلَوِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ

“Jika umat manusia berkumpul untuk menimpakan mudarat kepadamu, mereka tidak akan mampu menimpakan mudarat kepadamu sedikit pun melainkan dengan sesuatu yang telah ditetapkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala.” (HR. at-Tirmidzi)

  1. Tidak takut mati

Dia meyakini bahwa umurnya telah ditetapkan sejak ia masih di perut ibunya, sebagaimana disebutkan oleh hadits Abdullah bin Masud radhiallahu ‘anhu.

  1. Tidak bersedih karena sesuatu yang luput darinya

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ، احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَعْجَزْ، وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ: لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا؛ وَلَكِنْ قُلْ: قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ؛ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

“Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah subhanahu wa ta’ala daripada mukmin yang lemah, masing-masing memiliki kebaikan. Bersemangatlah dalam mencapai sesuatu yang bermanfaat bagimu, minta tolonglah kepada Allah dan janganlah kamu lemah. Jika menimpamu satu perkara, janganlah kamu berkata, ‘Kalau aku lakukan ini, niscaya akan terjadi demikian dan demikian’, tetapi ucapkanlah, ‘Qadarullah wa masya’a fa’ala’, karena ucapan (kalau/berandai-andai) akan membuka amalan setan.” (Muttafaq alaih)

  1. Bersandar hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala ketika melakukan sebab (ikhtiar) sehingga tidak bersandar kepada sebab-sebab semata, karena segala sesuatu terjadi dengan takdir Allah subhanahu wa ta’ala.
  2. Mendatangkan ketenteraman dan mendapatkan ketenangan jiwa.
    Ubadah bin ash-Shamit radhiallahu ‘anhu berkata kepada anaknya, “Wahai anakku, engkau tidak akan merasakan nikmatnya iman sampai meyakini bahwa apa yang ditakdirkan menimpamu tak akan meleset darimu dan apa yang ditakdirkan meleset darimu tak akan menimpamu.”

Asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahullah berkata, “Yakni, engkau tak akan mendapatkan dan merasakan tenangnya iman sampai engkau meyakini bahwa apa yang ditakdirkan menimpamu tak akan meleset darimu dan apa yang ditakdirkan meleset darimu tak akan menimpamu. Itulah iman kepada takdir. Jika dia mengimani takdir, akan lapang hatinya dan mengamalkan apa yang disyariatkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. (Syarah Kitabut Tauhid, asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahullah)

Lihat Taujihul Muslimin ila Thariqin Nashr wat Tamkin (hlm. 5—7) dan syarah Tsalatsatul Ushul karya asy-Syaikh Ibnu Utsaimin.

Sebagai penutup, kami ingin mengingatkan satu masalah yang disebutkan oleh asy-Syaikh Hafizh al-Hakami rahimahullah bahwa iman kepada takdir akan sempurna dengan menafikan enam perkara berikut ini, karena enam perkara ini telah dinafikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

  1. Menafikan tathayur

Tathayur adalah beranggapan akan terjadinya kesialan dengan terbangnya burung ke arah tertentu, atau dengan sesuatu yang dilihat atau didengarnya, atau dengan hari dan bulan tertentu.

  1. Menafikan nau’

Nau’ adalah keyakinan jahiliah bahwa bintang mempunyai pengaruh atau menjadi sebab dari peristiwa-peristiwa di bumi.

  1. Menafikan ‘adwa

‘Adwa adalah keyakinan jahiliah tentang adanya penyakit yang menular dengan sendirinya tanpa takdir Allah.

  1. Menafikan ghul

Ghul adalah keyakinan jahiliah tentang adanya jin yang jahat. Yang dinafikan adalah keyakinan jahiliah bahwa jin tersebut berkuasa untuk memberi manfaat dan mudarat, sehingga orang-orang jahiliah sangat menakutinya dan meminta perlindungan kepada mereka (jin).

  1. Menafikan hamah

Hamah adalah keyakinan jahiliah tentang adanya burung yang mendatangkan kesialan.

  1. Menafikan shafar

Ada dua penafsiran tentang shafar. Ada yang mengatakan, maknanya adalah sejenis cacing yang diyakini bisa menular dengan sendiriya. Adapun menurut penafsiran yang lain, shafar adalah beranggapan sial dengan bulan Shafar.
(Lihat Ma’arijul Qabul, Fathul Majid, dan al-Qaulul Mufid)

Seorang muslim hendaknya menjauhkan dirinya dari enam perkara tersebut sehingga menjadi sempurnalah keimanannya kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَلَا هَامَةَ وَلَا صَفَرَ

“Tidak ada penyakit menular (dengan sendirinya), tidak ada tathayur, tidak ada hamah dan shafar.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Dalam lafadz Muslim:

وَلَا نَوْءَ وَلَا غُولَ

“Tidak ada nau’, tidak pula ghul.”

Asy-Syaikh Hafizh al-Hakami berkata, “Menafikan enam perkara ini dan yang semakna dengannya adalah bentuk tawakal kepada Allah subhanahu wa ta’ala, Pencipta kebaikan dan kejelekan, yang hanya di tangan-Nya lah manfaat dan mudarat. Sebaliknya, meyakini satu dari enam perkara tersebut berarti menafikan tauhid atau mengurangi kesempurnaannya serta membatalkan tawakalnya kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Kita berlindung kepada Allah subhanahu wa ta’ala darinya.” (Lihat Ma’arijul Qabul)

Mudah-mudahan apa yang kami tulis ini bermanfaat, bisa menambah iman dan amal kita semua.

Walhamdulillah.

Ditulis oleh al-Ustadz Abdurrahman Mubarak Ata

 

Semua Telah Ditakdirkan

“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran. Dan perintah Kami hanyalah satu perkataan seperti kejapan mata.” (al-Qamar: 49—50)

Penjelasan Beberapa Mufradat Ayat

“Segala sesuatu.”

Mayoritas qurra’ (ahli qiraah) membacanya dengan (كلَّ) yang di-fathah. Adapun Abu Sammal membacanya dengan marfu’/di-dhammah (كلَُ) sebagai mubtada. (Fathul Qadir karya asy-Syaukani, 5/171, Tafsir al-Qurthubi, 20/105)

“Menurut ukuran.”

Ibnu Athiyah berkata, “Yang dimaksud takdir sesuatu adalah membatasi sesuatu dengan tempat, waktu, ukuran, dengan kemaslahatan dan ketelitian.” (Adhwa’ul Bayan, asy-Syinqithi, 6/8)

“Seperti kejapan.”

Asal makna lamh adalah melihat dengan tergesa-gesa dan cepat. Dalam kamus ash-Shihah disebutkan, lamaha artinya melihat dengan pandangan yang ringan. (Tafsir al-Qurthubi)

Sebab Turunnya Ayat

Diriwayatkan oleh al-Imam Muslim (no. 2656) dari hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, ia berkata, “Kaum musyrikin Quraisy datang untuk mendebat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam masalah takdir. Turunlah firman-Nya:

Pada hari mereka diseret dalam neraka di atas muka mereka (dan dikatakan), “Rasakanlah sentuhan api neraka. Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut takdir.” (al-Qamar: 48—49)

Tafsir Ayat

Ayat ini merupakan salah satu ayat yang menetapkan adanya takdir Allah subhanahu wa ta’ala. Ayat-ayat lain yang menetapkan adanya takdir adalah sebagai berikut.

“Yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan (Nya), dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.” (al-Furqan: 2)

“Allah mengetahui apa yang dikandung oleh setiap perempuan, kandungan rahim yang kurang sempurna, dan yang bertambah. Dan segala sesuatu pada sisi-Nya ada ukurannya.” (ar-Ra’d: 8)

“Dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk.” (al-A’la: 3)

Masih banyak lagi ayat-ayat yang menetapkan adanya takdir Allah subhanahu wa ta’ala.
Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Oleh karena itu, para imam Ahlus Sunnah berdalil dengan ayat ini untuk menetapkan takdir Allah subhanahu wa ta’ala yang telah mendahului penciptaannya, yaitu ilmu Allah subhanahu wa ta’ala terhadap segala sesuatu sebelum terjadinya, dan bahwa segala sesuatu telah tertulis (di Lauhul Mahfuzh) sebelum Dia menciptakannya. Mereka menjadikan ayat ini dan ayat-ayat Allah subhanahu wa ta’ala semisalnya yang semakna dengannya serta hadits-hadits yang sahih sebagai bantahan terhadap kelompok Qadariyah yang muncul pertama kali pada masa-masa akhir sahabat g.” (Tafsir Ibnu Katsir, 4/268)

Al-Alusi rahimahullah berkata menjelaskan ayat ini, “Yaitu ditakdirkan dan ditulis Lauhul Mahfuzh sebelum terjadinya, takdir dengan makna yang masyhur, yaitu ketetapan. Memaknai ayat ini dengan pemahaman tersebut telah diriwayatkan dari banyak ulama salaf.” (Ruhul Ma’ani, 27/93)

Hal ini dikuatkan oleh riwayat Ibnu Zurarah, dari ayahnya, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau membaca ayat ini:

“Rasakanlah sentuhan api neraka. Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut takdir.” (al-Qamar: 48—49)

Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

نَزَلَتْ فِي أُنَاسٍ مِنْ أُمَّتِي يَكُونُونِ فِي آخِرِ الزَّمَانِ يُكَذِّبُونَ بِقَدَرِ اللهِ

“(Ayat ini) turun tentang sebagian manusia dari kalangan umatku di akhir zaman yang mendustakan takdir Allah.” (HR. ath-Thabarani 5/276 dan Ibnu Abi Hatim sebagaimana yang disebutkan dalam Tafsir Ibnu Katsir, 4/268. Asy-Syaikh al-Albani mensahihkan hadits ini karena dikuatkan oleh beberapa jalur. Lihat ash-Shahihah 4/1539)

Muhammad bin Ka’b al-Qurazhi berkata, “Tatkala manusia berbicara tentang takdir, aku pun memerhatikan bahwa ternyata ayat-ayat ini turun tentang mereka:

Sesungguhnya orang-orang yang berdosa berada dalam kesesatan (di dunia) dan dalam neraka. Pada hari mereka diseret dalam neraka di atas muka mereka (dan dikatakan), “Rasakanlah sentuhan api neraka. Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut takdir.” (al-Qamar: 47—49)(Tafsir ath-Thabari 22/162)

Adapun makna firman-Nya:

“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut takdir.”
Kata-kata “kulla syai’in (segala sesuatu)” menunjukkan bahwa segala sesuatu telah ditakdirkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, dan semuanya merupakan ciptaan Allah subhanahu wa ta’ala yang telah ditetapkan berdasarkan takdir.

Al-‘Allamah as-Sa’di rahimahullah mengatakan, “Ini mencakup seluruh makhluk dan jagat raya yang atas dan yang bawah. Allah subhanahu wa ta’ala sajalah yang menciptakannya. Tiada pencipta selain-Nya, dan tiada sekutu bagi-Nya dalam menciptakannya. Dia menciptakannya dengan ketetapan yang telah didahului oleh ilmu-Nya dan telah ditulis oleh pena takdir-Nya, berdasarkan waktu dan kadarnya, beserta seluruh sifatnya. Hal itu sangat mudah bagi Allah subhanahu wa ta’ala.” (Taisir al-Karim ar-Rahman)

Termasuk “segala sesuatu” yang telah menjadi ketetapan dan takdir Allah subhanahu wa ta’ala adalah perbuatan-perbuatan manusia, yang baik dan yang buruk. Seorang yang beramal saleh telah ditakdirkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala untuk mengamalkannya. Demikian pula halnya dengan seseorang yang berbuat kekafiran, kemaksiatan, dan perbuatan dosa, juga telah ditakdirkan Allah subhanahu wa ta’ala. Tidak ada satu pun yang keluar dari ketetapan-Nya.

Al-Qurthubi rahimahullah berkata, “Telah menjadi ketetapan Ahlus Sunnah bahwa Allah subhanahu wa ta’ala telah menakdirkan segala sesuatu, yaitu: mengetahui takdirnya, keadaannya, dan zaman sebelum diwujudkannya. Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala mewujudkannya berdasarkan apa yang telah ditetapkan oleh ilmu-Nya bahwa Dia mewujudkannya. Dengan demikian, tidak ada satu pun peristiwa yang terjadi di alam atas dan bawah kecuali bersumber dari ilmu-Nya, kekuasaan-Nya, dan kehendak-Nya, bukan kehendak makhluk-Nya. Makhluk tidak ikut campur padanya selain dalam hal usaha, upaya, dan penisbahan perbuatan kepadanya. Semua itu terjadi pada mereka dengan kemudahan dari Allah subhanahu wa ta’ala, kekuasaan, taufik, dan ilham-Nya. Mahasuci Allah yang tiada sesembahan yang berhak disembah melainkan Dia semata. Tiada pencipta selain Dia, sebagaimana yang telah disebutkan dalam Al-Qur’an dan as-Sunnah.

Bukan seperti anggapan kaum Qadariyah (pengingkar takdir) dan selainnya yang mengatakan, ‘Kamilah yang menciptakan amalan kami sendiri. Adapun ajal tidak berada dalam kekuasaan kami’.” (Tafsir al-Qurthubi)

Hal ini dikuatkan pula oleh firman Allah subhanahu wa ta’ala:

“Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.” (ash-Shaffat: 96)

Kata مَا pada kalimat ada dua kemungkinan:

  1. مَا tersebut adalah mashdariyah, sehingga maknanya adalah Allah subhanahu wa ta’ala yang menciptakan kalian dan perbuatan kalian.
  2. مَا tersebut sebagai isim maushul yang bermakna , sehingga bermakna bahwa Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan kalian dan apa yang kalian buat.

Ibnu Katsir rahimahullah berkata setelah menyebutkan dua makna ini, “Kedua makna ini saling berkaitan, dan yang pertama lebih jelas.” Ini juga yang dikuatkan oleh al-Qurthubi. (Tafsir Ibnu Katsir,12/35—36, Tafsir al-Qurthubi,18/57—58)
Al-Qurthubi rahimahullah berkata, “Ini adalah mazhab Ahlus Sunnah yang menyatakan bahwa perbuatan-perbuatan (hamba) adalah ciptaan Allah subhanahu wa ta’ala juga usaha dari hamba-hamba tersebut. Ini menunjukkan batilnya mazhab Qadariyah dan Jabariyah.” (Tafsir al-Qurthubi, 20/106)

Lalu beliau menyebutkan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِنَّ اللهَ يَصْنَعُ كُلَّ صَانِعٍ وَصَنْعَتِهِ

“Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala yang menciptakan setiap pembuat dan buatannya.” (HR. al-Bukhari dalam Khalqu Af’al al-‘Ibad, Ibnu Abi Ashim dalam as-Sunnah, Ibnu Mandah dalam at-Tauhid, dan lainnya, dari hadits Hudzaifah bin al-Yaman radhiallahu ‘anhu. Lihat ash-Shahihah, 4/1637)

Dari Imran bin Hushain radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya, “Apakah penghuni surga dan penghuni neraka telah diketahui?”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Ya.”

Lalu beliau ditanya lagi, “Lalu bagaimana dengan amalan orang-orang?”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:

كُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ

“Setiap orang akan dimudahkan kepada sesuatu yang dia telah ditakdirkan untuknya.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

كُلُّ شَيْءٍ بِقَدَرٍ حَتَّى الْعَجْزِ وَالْكَيْسِ –أَوْ: الْكَيْسِ وَالْعَجْزِ

“Segala sesuatu berdasarkan takdir, sampai pun kelemahan dan kecerdasan. –Atau kecerdasan dan kelemahan.” (HR. Muslim dari beberapa sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam)

Diriwayatkan pula dari Ali radhiallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Tidak seorang pun dari kalian dan tidak satu jiwa pun kecuali telah ditetapkan tempatnya di surga atau neraka. Telah ditetapkan pula baginya kesengsaraan atau kebahagiaan.” Lalu ada seseorang bertanya, “Mengapa kami tidak cukup bersandar kepada kitab yang telah ditetapkan dan meninggalkan amalan? Siapa di antara kita yang telah ditetapkan menjadi orang yang bahagia maka dia akan menjadi orang yang berbahagia. Siapa di antara kita yang ditetapkan menjadi orang sengsara maka dia akan menjadi orang sengsara?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:

“Orang yang bahagia akan dimudahkan untuk mengamalkan amalan orang yang berbahagia, sedangkan orang yang sengsara akan dimudahkan untuk mengamalkan amalan orang yang sengsara.”

Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca firman-Nya:

“Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar.” (al-Lail: 5—10) (Muttafaqun ‘alaihi)

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

“Dan perintah Kami hanyalah satu perkataan seperti satu kejapan mata.” (al-Qamar: 50)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata menjelaskan makna ayat ini, “(Ayat) ini mengabarkan tentang terlaksananya apa yang menjadi kehendak-Nya terhadap makhluk-Nya, sebagaimana Allah mengabarkan tentang terlaksananya kekuasaan-Nya. Dia berkata, ‘Tidaklah urusan Kami melainkan hanya sekali saja’, yaitu sesungguhnya kami memerintahkan sesuatu hanya sekali, tidak membutuhkan kali kedua untuk menegaskannya. Apa yang Kami perintahkan itu langsung terjadi seperti kejapan mata, tidak terlambat sekejap pun.” (Tafsir Ibnu Katsir)

Dalam ayat yang lain, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya, ‘Jadilah,’ lalu jadilah dia.” (Ali Imran: 47)

Masih banyak lagi ayat yang semakna dengan ini. Wallahu a’lam.

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Muawiyah Askari bin Jamal

 

Iman Kepada Takdir Tidak Meniadakan Ikhtiar

Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma mengisahkan kala Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu melakukan perjalanan menuju Syam. Ketika sampai di Sargh1, beliau ditemui oleh para amir kota-kota wilayah Syam2, Abu Ubaidah dan para sahabatnya3. Mereka mengabarkan bahwa wabah tha’un sedang melanda Syam.

Umar berkata, “Kumpulkan kepadaku sahabat muhajirin yang pertama!”4 Umar memberitahukan kepada mereka bahwa wabah tha’un telah berjangkit di Syam lalu meminta pendapat mereka. Ternyata sahabat Muhajirin berselisih pendapat.

Sebagian mereka berkata, “Engkau pergi untuk suatu urusan dan kami tidak sepakat jika engkau kembali.” Sebagian lain berkata, “Bersama engkau masih banyak rakyat dan para sahabat. Kami tidak sepakat jika engkau membawa mereka menuju wabah tha’un.”

Umar berkata, “Tinggalkanlah aku. Tolong panggilkan sahabat-sahabat Anshar!” Aku pun memanggil mereka. Ketika dimintai pertimbangan, mereka juga bersikap dan berbeda pendapat seperti halnya orang-orang Muhajirin.

Umar berkata, “Tinggalkanlah aku!” Lalu ia berkata, “Panggilkan sesepuh Quraisy yang dahulu hijrah pada waktu penaklukan (Fathu Makkah) dan sekarang berada di sini!” Aku pun memanggil mereka. Mereka ternyata tidak berselisih. Mereka semua berkata, “Menurut kami, sebaiknya engkau kembali bersama orang-orang dan tidak mengajak mereka mendatangi wabah ini.”

(Setelah mendengar berbagai pendapat –pen.) Umar berseru di tengah-tengah manusia (berijtihad memutuskan apa yang beliau anggap mendekati kebenaran –pen.), “Sungguh aku akan mengendarai tungganganku untuk pulang esok pagi. Hendaknya kalian mengikuti!”

Abu Ubaidah bin Jarrah radhiallahu ‘anhu bertanya, “Apakah untuk menghindari takdir Allah?”

Umar menjawab, “Kalau saja bukan engkau yang mengatakan itu, wahai Abu Ubaidah (tentu aku tidak akan heran –pen.). Ya, kita lari dari satu takdir Allah menuju takdir Allah yang lain. Apa pendapatmu seandainya engkau mempunyai seekor unta yang turun di sebuah lembah yang memiliki dua lereng, salah satunya subur dan yang kedua tandus. Jika engkau menggembalakannya di tempat yang subur, bukankah engkau menggembalakannya dengan takdir Allah? Begitu pun sebaliknya. Kalau engkau menggembalakannya di tempat yang tandus, bukankah engkau menggembalakannya juga dengan takdir Allah?” (Demikian pula, apa yang kita putuskan tidak lepas dari takdir Allah, sebagaimana yang dilakukan penggembala yang mengarahkan kambingnya dari tanah yang tandus menuju tanah yang subur tidak lepas dari takdir Allah –pen.)

Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata, “Tiba-tiba datanglah Abdurrahman bin ‘Auf, yang sebelumnya tidak hadir karena keperluannya. Ia berkata, ‘Sungguh aku memiki ilmu tentang masalah ini. Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ بِأَرْضٍ فَلَا تَقْدَمُوا عَلَيْهِ، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلَا تَخْرُجُوا فِرَاراً مِنْهُ

‘Jika engkau mendengar wabah tha’un di sebuah negeri, maka janganlah kalian memasukinya. Dan seandainya wabah tha’un terjadi di negeri yang engkau tinggali, janganlah engkau meninggalkan negerimu karena lari dari tha’un’.”
Ibnu Abbas berkata, “(Begitu mendengar hadits tersebut), Umar memuji Allah lalu meninggalkan majelis.”

Takhrij Hadits

Riwayat Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma dikeluarkan al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab ath-Thib (Pengobatan), “Bab Tentang Penyakit Tha’un” (10/178 no. 5729 dengan Fathul Bari). Lihat pula no. 5730 dan 6973.
Diriwayatkan pula oleh al-Imam Muslim dalam ash-Shahih, Kitab As-Salam (4/1740 no. 2219), Abu Dawud dalam as-Sunan, Kitab Jenazah, “Bab Keluar dari Penyakit Tha’un” (no. 3103), al-Imam Ahmad dalam al-Musnad (1/194), Malik dalam al-Muwaththa’, dan Ibnu Sa’d dalam ath-Thabaqat al-Kubra.

Penjelasan Hadits

Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma mengabarkan kepada kita perjalanan Amirul Mukminin, Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu menuju Syam bersama rombongan sahabat di masa kekhilafahan beliau.

Badruddin Mahmud bin Ahmad al-‘Aini (wafat 855 H) rahimahullah berkata, “Perjalanan tersebut terjadi pada bulan Rabi’ul Akhir tahun 18 H. Adapun Khalifah bin Khayyath (wafat 240 H) menyebutkan bahwa keluarnya Umar menuju Syam kali itu terjadi di tahun 17 H untuk melihat keadaan rakyat dan para gubernur. Sebelumnya, di tahun 16 H, Umar juga pernah pergi ke Syam, yaitu ketika Abu Ubaidah ‘Amir bin al-Jarrah radhiallahu ‘anhu mengepung Baitul Maqdis (hingga dikuasai oleh kaum muslimin). Penduduk Baitul Maqdis menginginkan sulh (perjanjian damai) dilakukan oleh Umar sendiri. Oleh karena itu, pergilah beliau (menuju Syam) untuk tujuan tersebut. (Umdatul Qari, 21/283)5

Di tengah perjalanan, datang berita bahwa tha’un tengah melanda Syam. Umar bin al-Khaththab zdan para sahabat bermusyawarah merumuskan kebijakan menyikapi berita tersebut. Terjadi perbedaan pandangan di antara sahabat. Masing-masing memiliki ijtihad, apakah tetap melanjutkan perjalanan masuk ke Syam atau kembali ke Madinah. Dari musyawarah yang cukup panjang dan dengan segenap pertimbangan, Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu berijtihad memutuskan kembali ke Madinah bersama sahabat. Beliau radhiallahu ‘anhu merajihkan pendapat kebanyakan sahabat yang ternyata mencocoki sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dibawakan oleh Abdurrahman bin Auf radhiallahu ‘anhu.

Saudaraku, semoga Allah subhanahu wa ta’ala merahmati Anda. Tha’un adalah penyakit yang mewabah secara merata, menimpa wilayah tertentu, dengan takdir Allah subhanahu wa ta’ala. Tha’un memakan korban yang sangat banyak.

Tha’un yang terjadi di zaman Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu, yang dikisahkan dalam riwayat Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu terkenal sebagai tha’un ‘Amwas, nama sebuah kota di wilayah Palestina yang berjarak lebih kurang enam mil dari kota Ramallah.6

Menurut pendapat jumhur, Tha’un ‘Amwas terjadi pada tahun 18 H. Akibat wabah tersebut, sekitar 25 hingga 30 ribu muslimin meninggal. Termasuk di antara mereka adalah sahabat Abu Ubaidah ‘Amir bin al-Jarrah radhiallahu ‘anhu, salah seorang dari sepuluh sahabat yang mendapat jaminan jannah (masuk surga) dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tha’un ‘Amwas termasuk salah satu tanda kiamat yang telah dikabarkan sebelumnya oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya:

اعْدَدْ سِتًّا بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ: مَوْتِي، ثُمَّ فَتْحَ بَيْتِ الْمَقْدِسِ، ثُمَّ مَوْتَانِ يَأْخُذُ فِيْكُمْ كَقُعَاصِ الْغَنَمِ …

“Nantikan enam perkara sebelum hari kiamat: Kematianku, kemudian ditaklukkannya Baitul Maqdis, lalu kematian besar menimpa kalian seperti penyakit Qu’ash7 pada kambing ….” (HR. al-Bukhari dalam ash-Shahih, Kitab Jizyah, no. 3176 dari Auf bin Malik radhiallahu ‘anhu)8

Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Tanda kiamat yang disebut dalam hadits ini terwujud pada Tha’un ‘Amwas di masa kekhilafahan Umar, sesudah direbutnya Baitul Maqdis.” (Fathul Bari 6/278)

Iman Kepada Takdir, Pokok Keimanan

Kisah perjalanan Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu kita fokuskan dalam pembahasan ini untuk menunjukkan bagaimana sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beriman kepada takdir. Mereka memahami bahwa iman kepada takdir tidak bermakna putus asa dan lari dari usaha.

Perhatikan kisah di atas. Ketika Abu Ubaidah radhiallahu ‘anhu bertanya kepada Umar, “Apakah engkau akan lari dari takdir Allah subhanahu wa ta’ala dengan kembali ke Madinah?” Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu menjawab dengan sebuah permisalan yang indah tentang seorang penggembala yang selalu berusaha mencari tempat yang paling banyak rumputnya untuk hewan gembalaannya. Jika ia dapatkan dua lahan, yang satu gersang dan yang lain subur, tentu ia akan mengarahkan unta atau kambingnya menuju lahan yang subur. Semua itu tidak luput dari takdir Allah subhanahu wa ta’ala.

Iman kepada takdir adalah salah satu pokok keimanan yang ditunjukkan oleh Al-Qur’an, as-Sunnah, dan kesepakatan kaum mukminin. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu dengan qadar.” (al-Qamar: 49)

Hakikat iman kepada takdir adalah mengimani ilmu Allah subhanahu wa ta’ala yang Mahasempurna. Ilmu Allah subhanahu wa ta’ala meliputi segala sesuatu: yang belum terjadi, yang sedang terjadi, yang telah terjadi, dan yang tidak terjadi. Seandainya sesuatu yang tidak terjadi itu terjadi, Allah Mahatahu bagaimana terjadinya. Dengarlah firman Allah subhanahu wa ta’ala tentang penduduk neraka yang kekal di dalamnya ketika mengharapkan kembali ke alam dunia. Allah Mahatahu apa yang akan mereka lakukan seandainya dikembalikan ke dunia:

Dan jika kamu (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, lalu mereka berkata, “Kiranya kami dikembalikan (ke dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Rabb kami, serta menjadi orang-orang yang beriman”, (tentulah kamu melihat suatu peristiwa yang mengharukan). Tetapi, (sebenarnya) telah nyata bagi mereka kejahatan yang mereka dahulu selalu menyembunyikannya. Sekiranya mereka dikembalikan ke dunia, tentulah mereka kembali kepada apa yang mereka telah dilarang mengerjakannya. Dan sesungguhnya mereka itu adalah pendusta-pendusta belaka. (al-An’am: 27—28)

Demikianlah ilmu Allah subhanahu wa ta’ala. Tidak ada sedikit pun yang luput dari ilmu-Nya. Berdasarkan ilmu yang sempurna itu, Allah subhanahu wa ta’ala menulis segala sesuatu yang akan terjadi di Lauhul Mahfuzh, 50 ribu tahun sebelum Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan langit dan bumi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كَتَبَ اللهُ مَقَادِيرَ الْخَلَائِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ

“Allah mencatat takdir-takdir makhluk-makhluk-Nya 50.000 tahun sebelum Dia ciptakan langit-langit dan bumi.” (HR. Muslim, Kitab al-Qadar, no. 2653 dari Abdullah bin ‘Amr radhiallahu ‘anhuma)

Apa yang telah tercatat dalam Lauhul Mahfuzh terjadi dengan rinci, satu per satu. Semua dengan penciptaan dari Allah subhanahu wa ta’ala dan di bawah kehendak-Nya. Tidak ada satu pun yang terlepas dari ilmu, kehendak, dan penciptaan Allah subhanahu wa ta’ala. Allahu Akbar.

Tidak Beriman, Orang yang Mengingkari Takdir

Pengingkar takdir bukanlah golongan orang yang beriman. Amalan mereka sia-sia dan tidak diterima oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Oleh karena itu, ketika sahabat Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma mendengar berita munculnya Qadariyah—yaitu kaum yang mengingkari takdir, yang ditokohi oleh Ma’bad al-Juhani—di Bashrah, dengan tegas Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma berkata:

فَإِذَا لَقِيتَ أُولَئِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنِّي بَرِيءٌ مِنْهُمْ وَأَنَّهُمْ بُرَآءُ مِنِّي، وَالَّذِي يَحْلِفُ بِهِ عَبْدُ اللهِ بْنُ عُمَرَ، لَوْ أَنَّ لِأَحَدِهِمْ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا فَأَنْفَقَهُ، مَا قَبِلَ اللهُ مِنْهُ حَتَّى يُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ

“Jika engkau berjumpa dengan mereka (Qadariyah), kabarkanlah bahwasanya aku berlepas diri dari mereka dan mereka berlepas diri dariku. Demi Dzat yang Abdullah bin Umar bersumpah dengan-Nya, seandainya salah seorang dari mereka memiliki emas sebesar Gunung Uhud lalu diinfakkan, sungguh Allah tidak akan menerimanya hingga ia beriman kepada takdir.”

Di atas keyakinan inilah para sahabat berpijak. Di atas akidah inilah salafus shalih bersandar. Al-Imam Ibnu Majah rahimahullah meriwayatkan kisah Ibnu Dailami rahimahullah saat ia mengadukan kegelisahan hatinya mengenai takdir kepada para sahabat radhiallahu ‘anhum hingga mendapatkan jawaban yang sangat menyejukkan.

Ibnu Dailami rahimahullah berkata, “Ada sesuatu yang tidak baik dalam diriku tentang takdir. Aku sangat khawatir hal ini merusak agama dan urusanku. Aku pun datang kepada Ubai bin Ka’b radhiallahu ‘anhu dan bertanya, ‘Wahai Abul Mundzir, sungguh dalam diriku ada bisikan yang kurang baik tentang takdir. Aku mengkhawatirkan agamaku dan urusanku. Nasihati aku tentang hal itu, semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberikan manfaat kepadaku dengannya.’

Ubai radhiallahu ‘anhu berkata, ‘(Wahai Ibnu Dailami, janganlah engkau bimbang dengan takdir). Seandainya Allah mengazab penduduk langit-langit dan bumi-Nya, sungguh Ia tidak menzalimi hamba-Nya. Demikian pula, seandainya Allah subhanahu wa ta’ala merahmati mereka (memasukkan mereka ke dalam jannah-Nya), sungguh rahmat-Nya melebihi amalan-amalan mereka.9 Seandainya engkau memiliki emas sejumlah Gunung Uhud yang engkau infakkan fi sabilillah, amalanmu tidak akan diterima hingga engkau beriman kepada takdir. Hingga engkau yakin bahwa apa yang telah ditakdirkan akan menimpamu tidak akan meleset darimu, dan apa yang ditakdirkan tidak menimpamu tidak akan menimpamu. Sungguh, seandainya engkau mati dalam keadaan tidak beriman kepada takdir, engkau akan masuk ke dalam neraka. (Wahai Ibnu Dailami), kalau engkau mau, pergilah kepada saudaraku, Abdullah bin Mas’ud dan bertanyalah.’

Aku pun mendatangi Ibnu Mas’ud dan bertanya kepadanya. Ternyata, ia menjawab seperti jawaban Ubai. Lalu Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata, ‘Coba engkau datangi Hudzaifah!’

Aku pun mendatangi beliau. Aku tanyakan masalahku. Beliau menjawab seperti jawaban Ibnu Mas’ud. Kemudian Hudzaifah berkata, ‘Cobalah engkau datangi Zaid bin Tsabit, tanyakan kepadanya!’

Aku pun bertanya kepada Zaid, lalu beliau berkata, ‘Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَوْ أَنَّ اللهَ عَذَّبَ أَهْلَ سَمَوَاتِهِ وَأَهْلَ أَرْضِهِ لَعَذَّبَهُمْ وَهُوَ غَيْرُ ظَالِمٍ لَهُمْ، وَلَوْ رَحِمَهُمْ لَكَانَتْ رَحْمَتُهُ خَيْرًا لَهُمْ مِنْ أَعْمَالِهِمْ. وَلَوْ كَانَ لَكَ مِثْلُ أُحُدٍ ذَهَبًا أَوْ مِثْلُ جَبَلِ أُحُدٍ تُنْفِقُهُ فِي سَبِيلِ اللهِ مَا قَبِلَهُ مِنْكَ حَتَّى تُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ كُلِّهِ. فَتَعَلَّمْ أَنَّ مَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ. وَمَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَ. وَأَنَّكَ إِنْ مُتَّ عَلَى غَيْرِ هَذَا دَخَلْتَ النَّارَ

“Sungguh, seandainya Allah mengazab penduduk langit-langit-Nya dan bumi-Nya sungguh Dia mengazab tanpa menzalimi hamba-Nya. Demikian pula, seandainya Allah merahmati mereka (memasukkan mereka ke jannah-Nya), sungguh rahmat-Nya melebihi amalan-amalan mereka. Seandainya engkau memiliki emas sebesar Gunung Uhud yang engkau infakkan fi sabilillah, amalanmu tidak akan diterima hingga engkau beriman kepada takdir seluruhnya dan engkau meyakini bahwa apa yang telah ditakdirkan akan menimpamu tidak akan meleset darimu, apa yang ditakdirkan tidak menimpamu tidak akan mengenaimu. Sungguh, seandainya engkau mati tanpa beriman kepada takdir, engkau akan masuk ke dalam neraka.” (Muqaddimah Sunan Ibnu Majah, Bab al-Qadar, no. 77, disahihkan oleh al-Albani rahimahullah)

Renungilah jawaban para sahabat yang mulia saat Ibnu Dailami bertanya tentang takdir! Semua memiliki keyakinan yang sama tentang takdir. Sebuah keyakinan yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Di antara hadits yang menunjukkan takdir Allah subhanahu wa ta’ala adalah hadits Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya, setiap orang di antara kalian dikumpulkan penciptaannya dalam rahim ibunya selama empat puluh hari dalam bentuk nuthfah (air mani), kemudian menjadi ‘alaqah (segumpal darah) selama waktu itu juga, kemudian menjadi mudhghah (segumpal daging) selama itu juga. Setelah itu, diutuslah seorang malaikat kepadanya, kemudian meniupkan ruh kepadanya. Malaikat itu diperintahkan menulis empat kalimat: rezekinya, ajalnya, amalnya, dan nasib celaka atau keberuntungannya. Demi Allah, Dzat yang tiada sesembahan yang haq selain-Nya, sesungguhnya ada di antara kalian yang melakukan amalan penduduk surga hingga antara dirinya dan surga tinggal sejarak satu hasta. Namun, karena takdir yang telah ditetapkan atas dirinya, dia melakukan amalan penduduk neraka sehingga masuk ke dalamnya. Dan sesungguhnya, ada seseorang di antara kalian yang melakukan amalan penduduk neraka, dan amal itu mendekatkannya ke neraka sehingga jarak antara dia dan neraka hanya kurang satu hasta. Namun, karena takdir yang telah ditetapkan atas dirinya, dia melakukan amalan penduduk surga sehingga dia masuk ke dalamnya.”

Iman kepada Takdir Tidak Bermakna Mengabaikan Ikhtiar

Takdir bukan maknanya seseorang malas menempuh usaha. Ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjukkan pokok yang agung ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَعْجِزْ، فَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ: لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا؛ وَلَكِنْ قُلْ: قَدَّرَ اللهُ وَمَا شَاءَ فَعَلَ.

Bersemangatlah kamu menempuh apa yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah, dan jangan sekali-kali kamu malas. Jika sesuatu menimpamu, janganlah kamu katakan, “Seandainya dahulu aku lakukan ini dan itu, niscaya akan demikian dan demikian.” Namun, katakanlah, “Ini adalah takdir Allah, apa yang Ia kehendaki pasti terjadi.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membimbing umatnya untuk bersemangat berikhtiar, menempuh usaha yang bermanfaat dalam urusan dunia dan agama. Perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya untuk berusaha, beliau gabungkan dengan iman kepada takdir. Ini menunjukkan bahwa iman kepada takdir tidak bertentangan dengan usaha.

Benar, penduduk jannah (surga) telah ditetapkan, tidak akan meleset dari apa yang telah ditentukan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Demikian pula, penduduk neraka telah Dia tentukan, dan pasti mereka akan memasukinya. Namun, bersamaan dengan itu Allah subhanahu wa ta’ala memerintah kita untuk beramal. Sungguh, seorang yang jujur dalam beramal akan Dia mudahkan jalan menuju jannah-Nya. Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala adalah Dzat Yang Mahaadil, tidak menzalimi hamba-Nya. Sahabat Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu berkata:

Kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sedang menggores-gores tanah, ketika beliau mengangkat wajah ke langit lalu bersabda, “Tidak ada seorang pun di antara kalian melainkan telah diketahui—dalam riwayat Waki’: telah ditentukan—tempatnya di neraka dan tempatnya di Jannah.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah berarti kita bersandar saja (dengan takdir dan tidak beramal)?” Rasulullah bersabda, “Tidak, beramallah kalian, karena masing-masing akan dimudahkan kepada apa yang telah ditentukan untuknya.”10

Dalam riwayat lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan firman Allah subhanahu wa ta’ala:

“Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar.” (al-Lail: 5—10)

Mengapa Manusia Membedakan Urusan Dunia dan Akhirat?
Orang-orang yang malas beribadah, saat diingatkan tentang surga dan neraka, dengan enteng mengatakan, “Bukankah surga dan neraka sudah ditakdirkan? Apalah artinya beramal? Toh, seandainya aku beramal saleh tetapi neraka telah ditakdirkan untukku, akan sia-sia semua amalan. Sebaliknya, kalau aku malas beribadah namun surga telah ditakdirkan untukku, niscaya surga tidak akan lari dariku”

Saudaraku, ungkapan di atas sesungguhnya bisikan dan was-was setan. Dalam urusan akhirat, manusia dibujuk untuk meninggalkan amalan dan bersandar kepada takdir. Namun, dalam urusan dunia, setan terus mengembuskan syahwat dunia sehingga seorang berambisi terhadapnya dan melupakan negeri akhirat. Siang malam keringat diperas, semua kekuatan dicurahkan untuk mengais emas dan perak.

Sungguh sangat mengherankan! Dalam urusan akhirat, mereka meninggalkan ikhtiar. Namun, dalam urusan dunia, mereka sadar bahwa duduk di rumah dan bersandar kepada takdir tanpa usaha adalah bentuk kebodohan.
Dua sikap yang bertolak belakang ini sungguh mengherankan. Seharusnya manusia tidak membedakan urusan dunia dan akhirat dalam hal beriman terhadap takdir dan menempuh usaha. Sebagaimana ia berusaha mendapatkan rezeki di dunia, yang semuanya telah ditakdirkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, demikian pula seharusnya ia berusaha menempuh amalan yang menyelamatkan dirinya dari neraka dan melakukan amalan saleh demi kebahagiaannya di akhirat, yang semua itu juga telah ditakdirkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Beberapa Faedah Riwayat Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma

Perjalanan Amirul Mukminin, Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu, menyimpan banyak faedah dalam masalah akidah, ushul fiqih, hukum-hukum, dan adab. Berikut ini di antaranya.

  1. Seorang pemimpin hendaknya keluar untuk melihat sendiri keadaan rakyatnya.
  2. Perjalanan Umar radhiallahu ‘anhu adalah teladan dalam ketawadhuan. Beliau termasuk al-Khulafa’ ar-Rasyidin yang mendapat pujian dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan, beliau telah dijamin sebagai ahlul jannah. Namun, kemuliaan itu tidak menghalangi beliau untuk keluar melihat keadaan rakyatnya. Demikianlah seharusnya seorang pemimpin.
  3. Ketika pemimpin melihat sendiri keadaan rakyatnya, hal ini akan membuat takut musuh Allah subhanahu wa ta’ala dan ahlul fasad (pembuat kerusakan) sehingga mereka segera menghentikan kezaliman.
  4. Berkumpul dengan ulama, sebagaimana amir-amir Syam menjumpai Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu.
  5. Pentingnya musyawarah untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi, sebagaimana hal ini diperintahkan oleh Al-Qur’an dan dicontohkan oleh Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  6. Mendahulukan ahlul fadhl (orang-orang yang memiliki keutamaan dalam hal ilmu dan amal) dalam bermusyawarah.
  7. Menempatkan manusia sesuai kedudukan mereka. Kaum Muhajirin lebih mulia daripada kaum Anshar, dan kaum Anshar lebih mulia daripada sahabat yang baru masuk Islam ketika Fathu Makkah.
  8. Disyariatkan munazharah (diskusi ilmiah), sebagaimana yang terjadi antara Umar radhiallahu ‘anhu dan Abu Ubaidah Amir bin al-Jarrah radhiallahu ‘anhu. Melalui diskusi yang penuh adab, akan teranglah perkara yang samar dan tampaklah kebenaran.
  9. Adanya tarjih (menguatkan satu pendapat dari beberapa pendapat yang diperselisihkan, dengan memerhatikan faktor-faktor penguat yang mengitarinya).
    Dalam kisah ini, Umar radhiallahu ‘anhu memilih pendapat kembali ke Madinah, karena pendapat ini disepakati sesepuh Quraisy yang tentu memiliki banyak pengalaman sebagai orang tua, di samping pendapat ini adalah pendapat mayoritas Muhajirin dan Anshar.
  10. Hadits di atas menunjukkan kefaqihan dan keutamaan Umar radhiallahu ‘anhu dalam hal ilmu.

Hal ini dilihat dari sisi bahwa ijtihad beliau sesuai dengan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dibawa oleh Abdurrahman bin Auf radhiallahu ‘anhu setelah berjalannya musyawarah.

  1. Imam (khalifah) memutuskan perselisihan di kalangan umat dalam masalah ijtihadiah, sebagaimana Amirul Mukminin Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu memutuskan untuk kembali ke Madinah setelah adanya perbedaan pendapat dan memerintahkan rakyatnya mengikuti beliau.11
  2. Khilaf (perbedaan pendapat) dalam masalah ijtihadiah tidak menyebabkan terputusnya hubungan (boikot) atau saling mencela dan mengeluarkan pihak yang lain dari lingkaran Ahlus Sunnah, sebagaimana fenomena menyedihkan ini terjadi di sekitar kita. Allahul musta’an.
  3. Di antara sebab terjadinya khilaf di antara ulama adalah tidak sampainya dalil sehingga ulama terpaksa untuk berijtihad.
  4. Bolehnya ijtihad di saat safar atau peperangan.
  5. Boleh jadi suatu ilmu tidak diketahui oleh seorang yang alim.

Lihatlah Umar beserta sahabat Muhajirin dan Anshar. Mereka tidak mendengar hadits yang didengar oleh Abdurrahman ibnu Auf radhiallahu ‘anhu.

  1. Tetap mengambil ilmu meskipun dari orang yang lebih muda atau lebih rendah tingkat keilmuannya.
  2. Hadits ahad adalah hujjah dan wajib diamalkan.

Dalam kisah di atas, seluruh sahabat—yang tidak diragukan adalah ahlul halli wal ‘aqdi—bersepakat menerima berita Abdurrahman bin Auf radhiallahu ‘anhu, padahal beliau meriwayatkan hadits di atas seorang diri. Ini sekaligus bantahan terhadap Mu’tazilah dan sejalan dengan mereka dari kalangan para pengingkar hadits ahad.12

  1. Dipakainya qiyas dalam pengambilan hukum. Tentu saja dengan syarat-syaratnya, di antaranya tidak adanya nash.

Dalam kisah ini Umar mengiaskan masalah yang sedang dihadapi dengan seorang penggembala di hadapan dua lembah, yang satu gersang dan yang lain subur.
19. Semangat untuk kembali kepada al-haq (kebenaran) ketika terjadi perselisihan.

Jika ada nash, tidak ada lagi ijtihad, siapa pun orangnya. Jika telah datang dalil, yang ada hanyalah berserah diri kepada dalil tersebut.

  1. Al-Qur’an dan hadits adalah ilmu.

Hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh Abdurrahman bin Auf radhiallahu ‘anhu, “Aku memiliki ilmu.” Yang beliau maksud adalah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

  1. Menyampaikan ilmu ketika safar.
  2. Hadits ini juga menunjukkan sebuah masalah penting yang diyakini oleh para sahabat dan generasi salaf, yaitu beriman kepada takdir.
  3. Tidak ada sesuatu yang keluar dari takdir Allah subhanahu wa ta’ala. Masuk ke Syam atau tidak, semuanya dengan takdir.
  4. Iman kepada takdir tidak meniadakan usaha, sebagaimana halnya Umar memilih kembali ke Madinah, seperti penggembala unta berusaha menggiring untanya menuju lembah yang subur.
  5. Wali-wali Allah subhanahu wa ta’ala tidaklah ma’shum (terbebas dari kesalahan). Ketika berijtihad, mereka terkadang sesuai dengan al-haq, terkadang pula menyelisihinya.
  6. Wali-wali Allah subhanahu wa ta’ala tidak mengetahui urusan gaib.

Umar bin al-Khaththab, sahabat Muhajirin, dan sahabat Anshar radhiallahu ‘anhum, tidak mengetahui terjadinya tha’un ‘Amwas. Demikian pula, mereka tidak mengetahui ilmu yang diketahui oleh Abdurrahman bin ‘Auf sehingga mereka pun harus berijtihad.

  1. Wali-wali Allah subhanahu wa ta’ala selalu terikat dengan syariat: Al-Kitab dan as-Sunnah.

Lihatlah tiga orang yang dijamin masuk surga,: Umar bin al-Khaththab, Abu Ubaidah ‘Amir bin al-Jarrah, dan Abdurrahman bin ‘Auf, yang disebut namanya dalam hadits ini. Semuanya tunduk kepada hadits Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, demikian pula kaum Muhajirin dan Anshar yang juga merupakan wali-wali Allah subhanahu wa ta’ala.

  1. Terjadinya Tha’un ‘Amwas di masa Umar bin al-Khaththab adalah salah satu tanda kenabian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  2. Tidak memasuki negeri yang terjadi wabah tha’un di sana.
  3. Orang yang berada di dalam negeri yang terjadi tha’un padanya tidak boleh keluar karena lari dari tha’un.
  4. Mafhum dari sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, jika seorang keluar bukan karena lari dari tha’un, hal ini diperbolehkan.
  5. Menjauhkan diri dari sebab-sebab kebinasaan dan menempuh sebab-sebab keselamatan.
    33. Berbahagia dengan nikmat ilmu dan memuji Allah subhanahu wa ta’ala atas nikmat tersebut.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Katakanlah, “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (Yunus: 58)

Wallahu a’lam.

 Ditulis oleh al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc

Catatan Kaki:

1 Sargh adalah daerah di pinggiran Syam, di wadi (lembah) Tabuk.

2 Kota-kota Syam adalah Palestina, Jordania, Himsh, Damaskus, dan Qansirin.

3 Yakni Khalid bin al-Walid, Yazid bin Abi Sufyan, Syarahil bin Hasanah, dan Amr bin al-‘Ash radhiallahu ‘anhum.

4 Sahabat Muhajirin yang pertama adalah mereka yang shalat menghadap dua kiblat, Baitul Maqdis dan Ka’bah.

5 Jumhur ahli sejarah menyebutkan bahwa tahun dibukanya Baitul Maqdis dan kehadiran Umar untuk melakukan sulh adalah tahun 17 H.

6 Lihat Mu’jam al-Buldan (4/157).

7 Qu’ash adalah penyakit yang menimpa hewan, menyebabkan cairan mengalir dari hidung hewan tersebut dan mengakibatkannya mati mendadak. Lihat an-Nihayah (4/88) dan Fathul Bari (6/278).

8 ‘Auf radhiallahu ‘anhu berkata, “Ketika perang Tabuk, aku mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di tenda yang terbuat dari kulit. Beliau bersabda, ‘Nantikan enam perkara….’ dst.”

9 Maksudnya, janganlah engkau bimbang dengan takdir. Penduduk neraka sudah ditakdirkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, demikian pula penduduk jannah. Semua manusia telah Dia takdirkan tempatnya di surga atau neraka. Hendaknya keimananmu kepada takdir tidak membawamu su’uzhan (berburuk sangka) kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Allah subhanahu wa ta’ala tidak menzalimi hamba-Nya.

10 HR. at-Tirmidzi no. 2219 dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu. At-Tirmidzi berkata, “Hadits ini hasan sahih.”

11 Penentuan hilal Ramadhan dan Syawal, misalnya. Hendaknya masyarakat mengikuti keputusan waliyul amr (pemerintah), sehingga persatuan muslimin lebih terwujud dan kokoh, tidak terjadi pertikaian yang menyebabkan kelemahan di tubuh muslimin.

12 Lihat kembali pembahasan “Agungkan Sunnah, Penuhi Seruan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam”, Majalah Asy Syariah Vol. VI/no. 63/1431 H/2010.

 

Tanya Jawab Ringkas Edisi 071

Mulai edisi ini, rubrik “Tanya Jawab Ringkas” menjadi suguhan baru kami. Sesuai namanya, rubrik ini berisi pertanyaan seputar Islam yang berjawab secara ringkas. Rubrik ini dilatarbelakangi banyaknya pertanyaan yang masuk via SMS ke nomor Redaksi, yang tidak memungkinkan kami muat semua dalam rubrik “Problema Anda”. Rubrik “Problema Anda” dengan kekhasan tersendiri tetap kami pertahankan. Semoga bermanfaat.

Dijawab oleh al-Ustadz Muhammad as-Sarbini

Ucapan Suami ketika Marah, “Lebih baik putus saja.”
Bismillah. Afwan ustadz, ana mau tanya. Suami sedang marah lalu berkata, “Lebih baik putus saja.” Apakah sudah termasuk ucapan talak? Jika mau rujuk apakah harus ada saksi?
+6287869xxxxxx

Kalau dia meniatkannya sebagai penjatuhan talak, jatuh sebagai talak dan disyariatkan saat rujuk adanya dua saksi laki-laki yang ‘adl (istiqamah/bukan fasik). Namun kalau dia tidak meniatkannya untuk menjatuhkan talak maka tidak jatuh. Wallahu a’lam.

Rujuk di Masa ‘Iddah
Bismillah. Afwan, ana mau tanya. Apakah rujuk sebelum masa ‘iddah juga dengan dua saksi.
+6287869xxxxxx

Pertama, ada dua orang saksi laki-laki yang ‘adl (istiqamah/bukan fasik).
Kedua, rujuk adalah hak suami di masa ‘iddah, baik istri setuju maupun tidak.

Istri Menolak Rujuk di Masa ‘Iddah
Afwan, ana mau tanya lagi. Apakah ana berdosa karena ana menolak dirujuk walau masih dalam masa ‘iddah, karena ana masih shock. Mohon dijelaskan. Jazakumullahu khair.
+6287869xxxxxx

Perihal kerelaan istri untuk dirujuk, bukanlah syarat. Suami berhak merujuk istrinya pada masa ‘iddah talak satu dan dua, baik istri rela maupun tidak.

Mencabut Gigi Saat Berpuasa
Bagaimana hukumnya mencabut gigi saat puasa? Jazakumullah khairan.
Ummu Luchi (085851xxxxxx)

Cabut gigi saat berpuasa diperbolehkan dengan syarat tidak menelan darah yang keluar akibat pencabutan itu, karena menelan darah yang ada di mulut membatalkan puasa. Jika tertelan tanpa sengaja, tidak mengapa.

Shalat Memakai Parfum Beralkohol
Ustadz, ana mau tanya. Apakah sah shalat memakai parfum yang mengandung alkohol walau sedikit?
+6289637xxxxxx

Sah. Jika alkoholnya banyak dan unsurnya masih ada, yang benar alkohol bukan najis. Jika alkoholnya sedikit sehingga larut dan hilang, perkaranya lebih jelas lagi. Wallahu a’lam.
Namun, perlu diketahui bahwa haram hukumnya menggunakan parfum yang beralkohol dengan kadar alkohol yang tinggi sehingga efeknya masih ada, yang seandainya diminum akan memabukkan, atau masih tampak bau, warna, atau rasa alkoholnya.

Waktu Puasa Asyura
Bismillah. Saya mau tanya. Kapan afdhalnya waktu puasa Asyura, tanggal 9 atau 10 Muharram?
Abu Ihsan (08976xxxxxx)

Disunnahkan berpuasa Asyura (10 Muharram), tetapi sempurnanya dengan berpuasa tanggal 9 dan 10 Muharram. Wallahu a’lam.

Berpuasa Tanggal 11 Muharram Saja
Bismillah. Seseorang berpuasa pada tanggal 11 Muharram saja, tidak dimulai dari 9 Muharram. Apakah diperbolehkan?
08192xxxxxx

Hal ini disunnahkan, dengan keyakinan bahwa berpuasa sunnah di bulan Muharram berdasarkan hadits, “Seutama-utama puasa setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Muharram.” Tetapi, statusnya adalah puasa sunnah mutlak, bukan puasa khusus 11 Muharram, sebagaimana puasa pada hari-hari lainnya di bulan ini. Adapun puasa 10 Muharram, memang disyariatkan secara khusus. Puasa ini lebih sempurna dengan digandeng bersama puasa 9 Muharram. Wallahu a’lam.

Hamil dan Keluar Flek, Tetap Shalat?
Bismillah. Saya sedang hamil tua, hampir sembilan bulan. Tadi pagi keluar flek agak coklat sedikit titik merah. Terus saya mandi besar dan shalat dhuha. Tadi keluar lagi sedikit agak coklat, tetapi belum terasa mulas layaknya mau melahirkan. Sekarang saya mau shalat dhuhur, apakah harus mandi janabah dulu? Atau saya dihukumi tidak boleh shalat?
Ummu Mashluchi, Surabaya
081515xxxxxx

Darah itu dianggap darah fasad (rusak) yang tidak menghalangi shalat dan semacamnya. Hukumnya hanya hadats kecil yang mewajibkan wudhu, tidak mewajibkan mandi. Wallahu a’lam.

Talak Tiga Langsung
Bismillah. Saya salah satu pelanggan majalah Asy-Syariah. Saya punya masalah, yaitu bertengkar dengan istri. Dalam keadaan marah, saya berkata, “Kamu sekarang aku talak tiga.” Bagaimana pandangan Al-Qur’an dan as-Sunnah? Saya minta penjelasannya dan dimuat di majalah Asy-Syariah. Jazakumullah khairan.
Abu Hijroh, Sampang-Madura
081904xxxxxx

Jika Anda menalaknya dalam keadaan marah yang tahapnya masih sadar dan dapat mengendalikan diri, tetapi Anda tetap marah kepadanya dan menalaknya, talak itu jatuh sebagai talak satu. Meskipun Anda menalaknya dengan talak tiga, jatuhnya tetap talak satu, menurut pendapat yang benar sesuai dengan sunnah Rasulullah n. Adapun penjelasan lengkapnya, nantikan dalam rubrik Kajian Utama edisi 72, insya Allah.

Qadariyah dan Jabriyah sebagai Pemikiran

Melalui uraian di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa qadariyah[1] dan jabriyah[2] adalah sebuah pemikiran yang mungkin saja dimiliki individual (orang per orang). Mungkin kita kesulitan untuk menemukan sebuah lembaga atau gerakan resmi yang terang-terangan mengusung paham qadariyah maupun jabriyah. Maka dari itu, setiap muslim dan muslimah haruslah waspada terhadap faktor-faktor penyebab kesesatan.

Faktor Penyebab Kesesatan

Ada beberapa faktor penyebab munculnya pemikiran qadariyah dan jabriyah. Di antaranya adalah:

  1. Mengiaskan perbuatan Allah subhanahu wa ta’ala dengan perbuatan makhluk.

Mereka menganggap perbuatan baik pada makhluk adalah baik pada perbuatan Allah subhanahu wa ta’ala. Mereka juga beranggapan, sesuatu yang tercela pada perbuatan makhluk berarti tercela juga pada perbuatan Allah subhanahu wa ta’ala. Menurut mereka, keadilan adalah terpuji, kezaliman adalah tercela. Lalu, mereka menafsirkan keadilan dan kezaliman yang ada pada makhluk sama berlakunya pada hak Allah subhanahu wa ta’ala.

Misalnya, kemaksiatan dan kekufuran. Menurut mereka, perbuatan Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan kemaksiatan dan kekufuran adalah kezaliman, sebab hal itu adalah kezaliman jika dilakukan oleh manusia.

Syaikh Shalih Alu Syaikh berkata, “Hal ini hakikatnya merupakan faktor terbesar munculnya kesesatan dalam masalah ini (takdir dan qadha).”

  1. Tidak dapat membedakan antara iradah syar’iyah dengan iradah kauniyah.
    Mereka beranggapan, iradah syar’iyah dan iradah kauniyah adalah dua hal yang sama. Mereka mengatakan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala tidak mencintai adanya kekufuran, maka tidak mungkin kekufuran itu dapat terjadi pada makhluknya.
  2. Memberikan ruang bagi akal dalam hal menentukan baik dan buruk.
    Menurut mereka, perbuatan Allah subhanahu wa ta’ala yang dinilai oleh akal baik, maka baik. Jika dinilai buruk oleh akal, perbuatan Allah subhanahu wa ta’ala tersebut pun buruk.
  3. Membahas tentang perbuatan-perbuatan Allah subhanahu wa ta’ala, namun tidak disertai sikap tunduk dan patuh terhadap kemauan Allah subhanahu wa ta’ala.

Mereka selalu bertanya-tanya, “Mengapa Allah subhanahu wa ta’ala berbuat demikian? Mengapa Allah subhanahu wa ta’ala melakukan hal tersebut? Mengapa Allah subhanahu wa ta’ala menentukan seperti ini?”

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya, dan merekalah yang akan ditanyai.” (al-Anbiya’: 23)

Asy-Syaikh Shalih Alu Syaikh mengatakan, “Oleh karena itu, bentuk pertanyaan ‘mengapa’ adalah sebab munculnya kesesatan kalangan jabriyah, qadariyah, serta kelompok yang ragu dan bimbang. Mereka mengingkari syariat, tersesat, dan terjauhkan, karena membahas tentang takdir (secara batil).”
(Syarah al-Aqidah ath-Thahawiyah, Shalih Alu Syaikh, hlm. 541—546)

Hanya dengan mengembalikan kepada Al-Qur’an dan as-Sunnah serta pemahaman ulama salaf, permasalahan takdir akan menjadi terang, jelas, dan mudah. Sesungguhnya, tidak ada kemudahan dan petunjuk melainkan yang dimudahkan dan ditunjukkan Allah subhanahu wa ta’ala, Rabbul alamin.

Wal ‘ilmu ‘indallah.

Ditulis oleh al-Ustadz Mukhtar Ibnu Rifai

[1] Paham yang meyakini manusia berdiri sendiri dalam perbuatannya, tidak ada kaitannya antara perbuatan dia dengan masyi’ah dan khalq Allah subhanahu wa ta’ala, dan mengingkari takdir.

[2] Paham yang mengingkari adanya kehendak dan kemampuan pada hamba; si hamba “dipaksa” dalam perbuatannya karena telah dicatatkan takdir untuknya; si hamba ibarat kapas yang ditiup angin ke sana dan kemari.

 

Menjawab Kejanggalan

  1. Alasan kaum musyrikin

Bagaimana memahami firman Allah subhanahu wa ta’ala:

“Ikutilah apa yang telah diwahyukan kepadamu dari Rabbmu, tidak ada Ilah selain Dia, dan berpalinglah dari orang-orang musyrik. Dan kalau Allah menghendaki niscaya mereka tidak mempersekutukan(Nya). Dan Kami tidak menjadikan kamu pemelihara bagi mereka; dan kamu sekali-kali bukanlah pemelihara bagi mereka.” (al-An’am: 106—107)

Dalam ayat tersebut, Allah subhanahu wa ta’ala menjelaskan bahwa kesyirikan yang diperbuat kaum musyrikin, terjadi dengan masyi’ah (kehendak) Allah subhanahu wa ta’ala.

Akan tetapi, dalam ayat yang lain, Allah mencela kaum musyrikin yang beralasan dengan kehendak Allah atas perbuatan syirik mereka. Allah berfirman:

“Orang-orang yang menyekutukan Allah akan mengatakan, “Jika Allah menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak menyekutukan-Nya dan tidak pula kami mengharamkan barang sesuatu pun.” Demikian pula orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (para rasul) sampai mereka merasakan siksaan Kami. Katakanlah, “Adakah kalian mempunyai suatu pengetahuan sehingga kalian dapat mengemukakannya kepada Kami?” Kalian tidak mengikuti selain persangkaan belaka, dan kalian tidak lain hanyalah berdusta.” (al-An’am: 148)

Jawaban:
Allah subhanahu wa ta’ala mengabarkan dalam ayat ini, kesyirikan mereka terjadi dengan masyi’ah (kehendak) Allah subhanahu wa ta’ala sebagai bentuk hiburan untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukan sebagai pembelaan atau pembenaran atas kesyirikan mereka. Sangat berbeda dengan alasan kaum musyirikin, “Kami melakukannya (kesyirikan) dengan masyi’ah (kehendak) Allah.”

Dengan alasan semacam ini, kaum musyrikin ingin menghindari celaan. Selain itu, alasan ini juga merupakan bentuk pembenaran atas kesyirikan yang terus-menerus mereka perbuat. Oleh karena itu, Allah subhanahu wa ta’ala menolak alasan mereka. Namun, Allah subhanahu wa ta’ala tidak menafikan bahwa kesyirikan itu terjadi atas masyi’ah (kehendak)-Nya. (Taqrib at-Tadmuriyah, Ibnul Utsaimin, hlm. 109—112)

  1. Hadits Adam dan Musa ‘alaihissalam

Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 6614) dan Muslim (no. 2652) dari sahabat Abu Hurairah z menjelaskan bahwa Nabi Adam ‘alaihissalam dan Nabi Musa ‘alaihissalam berdialog.

Nabi Musa berkata, “Wahai Adam, engkau adalah ayah kami. Engkau membuat kami rugi dan menyebabkan kami keluar dari al-Jannah (surga).” Nabi Adam ‘alaihissalam menjawab, “Engkau, wahai Musa, Allah subhanahu wa ta’ala memilihmu menjadi rasul secara langsung dengan Kalam-Nya, Dia menuliskan Taurat untukmu dengan tangan-Nya. Apakah engkau ingin mencela diriku disebabkan sesuatu yang telah ditakdirkan Allah subhanahu wa ta’ala untukku, empat puluh tahun sebelum Allah subhanahu wa ta’ala menciptakanku?” Nabi Adam ‘alaihissalam pun mengalahkan Nabi Musa ‘alaihissalam.

Jawaban:
Untuk memahami hadits di atas dengan benar, diperlukan dua keterangan.
1. Nabi Adam ‘alaihissalam beralasan dengan takdir untuk sebuah musibah yang telah terjadi.

Musibah itu adalah dikeluarkannya beliau dan istrinya dari al-Jannah. Nabi Musa ‘alaihissalam juga tidak bertujuan mencela Nabi Adam ‘alaihissalam karena maksiat yang Nabi Adam ‘alaihissalam telah bertaubat darinya. Dengan taubat itu, Allah subhanahu wa ta’ala memilihnya, memberikan taubat dan hidayah untuknya. Sangat jauh kemungkinannya Nabi Musa ‘alaihissalam mencela dan menyalahkan ayahnya, Nabi Adam ‘alaihissalam, karena maksiat yang diperbuat.

Akan tetapi, Nabi Musa ‘alaihissalam bermaksud membicarakan tentang musibah yang terjadi pada diri Nabi Adam ‘alaihissalam dan anak keturunannya, yaitu dikeluarkannya dari al-Jannah, yang telah ditakdirkan Allah subhanahu wa ta’ala dengan sebab adanya maksiat. Maka dari itu, Nabi Adam ‘alaihissalam pun mengemukakan alasan “takdir”. Jadi, hal ini masuk dalam pembahasan “beralasan dengan takdir atas musibah”, bukan dalam pembahasan “beralasan dengan takdir atas maksiat”.

Ini mirip dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَعْجَزْ، وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ: لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا؛ وَلَكِنْ قُلْ: قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ؛ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

“Bersemangatlah untuk hal-hal yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan dari Allah, dan janganlah merasa lemah. Jika ada sesuatu yang menimpa dirimu, jangan katakan, ‘Andaikata saya melakukan begini, tentu akan begini dan begitu.’ Akan tetapi, katakanlah, ‘Allah subhanahu wa ta’ala telah menakdirkan, apa yang Allah subhanahu wa ta’ala kehendaki pasti Allah subhanahu wa ta’ala lakukan.’ Sebab, kata-kata ‘andaikata’ akan membuka amalan setan.” (HR. Muslim no. 2664)

Dalam hadits di atas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membimbing kita untuk mengembalikan segenap urusan kepada takdir Allah subhanahu wa ta’ala saat tujuan gagal tercapai, setelah berusaha melakukan sebab-sebab terwujudnya.

Sama kejadiannya dengan seseorang yang melakukan sebuah perjalanan jauh. Di tengah perjalanan ia mengalami musibah kecelakaan. Ketika ia ditanya, “Mengapa kamu melakukan perjalanan jauh?” Kemudian ia menjawab, “Ini sesuatu yang telah ditakdirkan. Sesuatu yang telah ditakdirkan, tidak dapat dihindari.”

Pada jawaban di atas, orang tersebut tidak beralasan dengan takdir pada perjalanan jauh yang ia tempuh. Sebab, tidak ada yang memaksanya untuk melakukan perjalanan jauh. Ia juga melakukan perjalanan jauh tidak bertujuan agar mendapat musibah kecelakaan. Akan tetapi, ia beralasan dengan takdir atas musibah kecelakaan yang menimpanya saat melakukan perjalanan jauh.

  1. Beralasan dengan takdir pada kewajiban yang ditinggalkan atau keharaman yang diperbuat, setelah bertaubat, boleh hukumnya dan bisa diterima.
    Akibat perbuatan tersebut telah terhapus dengan taubat. Oleh karena itu, terhapus juga sisi celaan yang disebabkan oleh pelanggaran. Maka dari itu, tidak ada lagi alasan yang tersisa selain semata-mata takdir. Ia tidak beralasan dengan takdir untuk terus dan tetap meninggalkan kewajiban atau melanggar larangan. Namun, ia mengembalikannya (kesalahan yang diperbuat sebelum bertaubat) kepada takdir Allah subhanahu wa ta’ala yang pasti terjadi.

(Taqrib at-Tadmuriyah, Ibnul Utsaimin, hlm. 109—112)

 Ditulis oleh al-Ustadz Mukhtar Ibnu Rifai

 

Takdir untuk Alasan Bermaksiat?

Pernyataan: Saya melakukan perbuatan ini (maksiat/pelanggaran syariat) adalah takdir dari Allah!

Jawaban: Beralasan dengan takdir dalam melanggar hukum Allah subhanahu wa ta’ala, tidak dapat dibenarkan. Mengapa? Ada beberapa alasan.

  1. Tidak sesuai dengan Al-Qur’an.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Orang-orang yang mempersekutukan Allah akan mengatakan, “Jika Allah menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak mempersekutukan-Nya dan tidak (pula) kami mengharamkan barang sesuatu apa pun.” (al-An’am: 148)

Allah subhanahu wa ta’ala menolak alasan mereka dengan berfirman:

Demikian pulalah orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (para rasul) sampai mereka merasakan siksaan Kami. Katakanlah, “Apakah kalian memiliki ilmu sehingga kalian bisa menyampaikannya kepada kami? Kalian tidak mengikuti selain persangkaan belaka, dan kalian tidak lain hanya berdusta.” (al-An’am: 148)

Dalam ayat lain, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“(Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar tidak ada alasan bagi manusia untuk membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (an-Nisa’: 165)

Ayat di atas menjelaskan bahwa hujjah telah ditegakkan dengan diutusnya para rasul untuk umat manusia. Telah tertutup alasan bagi mereka selain itu. Andai saja takdir dapat diterima sebagai alasan, maka tidaklah bermanfaat pengutusan para rasul.

  1. Tidak sesuai dengan as-Sunnah.

Pada sebuah hadits dari Ali bin Abi Thalib z, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا وَقَدْ كُتِبَ مَقْعَدُهُ مِنَ النَّارِ وَمَقْعَدُهُ مِنَ الْجَنَّةِ. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، أَفَلَا نَتَّكِلُ عَلَى كِتَابِنَا وَنَدَعُ الْعَمَلَ؟ قَالَ: اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ، أَمَّا مَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ السَّعَادَةِ فَيُيَسَّرُ لِعَمَلِ أَهْلِ السَّعَادَةِ، وَأَمَّا مَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الشَّقَاءِ فَيُيَسَّرُ لِعَمَلِ أَهْلِ الشَّقَاوَةِ. ثُمَّ قَرَأَ

“Tidak ada seorang pun dari kalian, melainkan telah ditulis untuknya tempat di neraka atau tempat di surga.” Sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, tidakkah kita menggantungkan diri pada catatan tersebut dan tidak perlu kita beramal?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Beramallah kalian, karena masing-masing akan dimudahkan (pada jalan) yang menjadi tujuan penciptaannya. Jika ia termasuk golongan yang beruntung, Allah subhanahu wa ta’ala akan memudahkan baginya untuk melakukan amalan golongan yang beruntung. Jika ia termasuk golongan yang celaka, Allah subhanahu wa ta’ala akan memudahkan baginya untuk melakukan amalan golongan yang celaka.” Setelah itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat, ‘Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar (al-Lail: 5—10).”

  1. Tidak selaras dengan akal sehat.
  • Hamba yang meninggalkan kewajibannya atau melakukan keharaman, ia melakukannya atas pilihannya sendiri. Ia tidak merasakan adanya paksaan dari siapa pun. Ia pun tidak dapat mengetahui bahwa hal itu adalah takdir, sebab takdir adalah rahasia yang tersembunyi. Oleh karena itu, tidak ada seorang pun yang mampu mengetahui takdir Allah subhanahu wa ta’ala melainkan setelah terjadinya. Mana bisa ia beralasan dengan takdir sebelum berbuat kemaksiatan, padahal ia tidak mengetahui tentang takdir?!
  • Menjerumuskan diri dalam dosa, dengan meninggalkan kewajiban atau melanggar keharaman, adalah bentuk kezaliman dan kesalahan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman tentang para pendusta terhadap ajaran rasul:

“Dan Kami tidaklah menganiaya mereka, tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (Hud: 101)

Andai saja orang—yang menjadikan takdir sebagai alasan untuk berbuat dosa—dizalimi (dipukul, disakiti, atau dirugikan), lantas pihak yang menzalimi (yang memukul, menyakiti atau merugikan) juga beralasan “Saya menzalimi kamu karena ditakdirkan Allah”, tentu alasan ini tidak mungkin ia terima. Lalu, kenapa ia tidak bisa menerima alasan tersebut jika ia menjadi pihak yang menzalimi? Kemudian ia menggunakan alasan itu untuk membenarkan dirinya dalam berbuat zalim?!

  • Jika orang semacam ini diberi dua pilihan yang harus ia tentukan, antara pergi menuju:
    – Sebuah negeri yang diliputi keamanan, ketenangan, terpenuhi makanan dan minuman yang lezat, serta penuh dengan kenikmatan.

– Atau pergi ke sebuah negeri yang dipenuhi ketakutan, mencekam, tidak aman, serta penuh dengan kesengsaraan.

Tentu, ia akan memilih yang pertama, negeri yang aman dan makmur. Tidak akan mungkin ia lebih memilih negeri kedua dengan beralasan bahwa hal ini merupakan takdir. Jika demikian, mengapa ia lebih memilih negeri yang baik dalam kehidupan dunia, namun tidak memilih negeri yang baik untuk kehidupan akhiratnya?

Orang yang dibolehkan beralasan dengan takdir adalah seseorang yang telah menyatakan taubat dari dosa. Jika ada orang lain yang mencela dirinya karena dosa yang pernah ia perbuat, dibolehkan dia beralasan dengan takdir. Misalnya, ada orang berkata, “Mengapa engkau melakukan maksiat ini dan itu?” Lalu ia menjawab, “Semua dengan takdir dan qadha dari Allah subhanahu wa ta’ala, saya telah bertaubat dan istighfar.” Alasan ini tentu diterima. (Taqrib at-Tadmuriyah, Ibnu ‘Utsaimin, hlm. 107—109)

Syaikhul Islam berkata, “Orang-orang yang berhujjah dengan takdir (dalam bermaksiat), jika demikian terus keadaan mereka dalam hal berakidah, mereka adalah orang-orang yang lebih kafir dibandingkan dengan Yahudi ataupun Nasrani.” (Majmu’ Fatawa, Ibnu Taimiyah, 8/262)

Syaikhul Islam rahimahullah berkata, “Siapa pun tidak boleh beralasan dengan takdir untuk melakukan perbuatan dosa, menurut kesepakatan kaum muslimin, seluruh pemeluk agama, dan kaum yang berakal. Sebab, jika alasan ini dapat diterima, siapa pun bisa melakukan perbuatan yang membahayakan, seperti menghilangkan nyawa, merampas harta, dan seluruh bentuk kejahatan di atas muka bumi, lalu beralasan dengan takdir.

Orang yang beralasan dengan takdir itu sendiri, jika diganggu lalu si pelaku yang mengganggu beralasan dengan takdir, ia tentu tidak mau menerimanya. Bahkan, ia akan melawan. Ini menunjukkan kerusakan pendapat tersebut. Maka dari itu, beralasan dengan takdir (untuk berbuat dosa) telah diketahui kerusakannya secara langsung oleh akal.” (Majmu’ Fatawa, Ibnu Taimiyah, 8/179)

Kesimpulan
Pada contoh si A berbuat salah lalu bertaubat, dia diperbolehkan beralasan dengan takdir. Adapun si B yang sedang berbuat salah atau si C yang akan berbuat salah, mereka berdua tidak boleh beralasan dengan takdir.

Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan, “Keadaan yang berbahaya jika beralasan dengan takdir adalah pada saat hal (sedang terjadi) dan mustaqbal (akan terjadi). Ia melakukan satu bentuk keharaman atau meninggalkan sebuah kewajiban, lalu ada orang yang mencelanya, kemudian ia beralasan dengan takdir untuk melakukannya dan terus melakukannya. Ia ingin meninggalkan kewajiban dan berbuat keharaman dengan alasan takdir, sebagaimana alasan yang digunakan oleh orang-orang yang terus-menerus dalam kesyirikan dan peribadahan kepada selain Allah subhanahu wa ta’ala. Mereka mengatakan:

Orang-orang yang mempersekutukan Allah, akan mengatakan, “Jika Allah menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak mempersekutukan-Nya dan tidak (pula) kami mengharamkan barang sesuatu apa pun.” Demikian pulalah orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (para rasul) sampai mereka merasakan siksaan Kami. Katakanlah, “Apakah kalian memiliki ilmu sehingga kalian bisa menyampaikannya kepada kami? Kalian tidak mengikuti selain persangkaan belaka, dan kalian tidak lain hanya berdusta.” (al-An’am: 148)

Dan mereka berkata, “Jikalau Allah Yang Maha Pemurah menghendaki tentulah kami tidak menyembah mereka (malaikat).” Mereka tidak mempunyai pengetahuan sedikit pun tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga belaka. (az-Zukhruf: 20)

Mereka beralasan seperti itu untuk membenarkan kesalahan yang ada pada mereka. Mereka menyesali kesalahan, namun tidak ingin meninggalkan kesalahan tersebut, bahkan tidak mengakui kerusakannya. Hal ini berlawanan sekali dengan orang yang beralasan dengan takdir saat tampak kesalahan dari dirinya, lalu menyesal dan bertekad untuk tidak mengulanginya.

Inti permasalahan kita, jika kesalahan yang diperbuat telah dihentikan, dibenarkan untuk beralasan dengan takdir. Akan tetapi, jika kesalahan masih terjadi dan dia perbuat, beralasan dengan takdir menjadi alasan yang batil.” (Syifa’ul ‘Alil, Ibnul Qayyim, hlm. 32—33)

Syaikhul Islam berkata, “Jika ia berbuat baik, ia memuji Allah subhanahu wa ta’ala. Jika ia berbuat buruk, ia beristighfar kepada Allah subhanahu wa ta’ala, dan ia meyakini bahwa semua hal tersebut terjadi dengan takdir dan qadha dari Allah subhanahu wa ta’ala. Hal ini karena sesungguhnya ketika Adam q berbuat dosa, ia bertaubat. Lalu Allah subhanahu wa ta’ala memilih dan memberi hidayah kepadanya. Adapun Iblis justru terus-menerus dalam dosanya, bahkan membela diri. Allah subhanahu wa ta’ala pun melaknat dan mengusirnya. Barang siapa bertaubat, ia adalah pengikut Adam. Adapun yang terus-menerus dalam dosa dan berusaha membela diri, ia menjadi pengikut Iblis. Golongan yang berbahagia tentu mengikuti ayah mereka, sedangkan golongan yang celaka akan mengikuti musuh mereka, Iblis.” (Majmu’ Fatawa, Ibnu Taimiyah, 8/64)

Ditulis oleh al-Ustadz Mukhtar Ibnu Rifai

 

Usaha, Doa, Sebab, dan Takdir

Usaha, Doa, Sebab, dan Takdir

Usaha, Bagian dari Takdir

Usaha adalah bagian dari takdir. Tidak ada kontradiksi antara usaha dan takdir. Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata, “Jika pengejar akhirat mengetahui bahwa akhirat tidak akan digapai melainkan dengan keimanan, amal saleh, dan meninggalkan lawannya (amal buruk), ia akan bersemangat dan bersungguh-sungguh merealisasikan keimanan dan memperbanyak wujud-wujud keimanan yang terperinci. Ia akan bersungguh-sungguh melakukan amalan saleh yang akan mengantarkan dirinya menuju akhirat. Sisi yang lain, ia akan meninggalkan kekufuran dan kemaksiatan. Ia akan segera bertaubat jika terjatuh dalam dosa.

Jika pemilik ladang mengetahui bahwa hasil kerjanya tidak akan berhasil melainkan dengan menanam dan mengairinya disertai dengan pengawasan ketat, ia akan bersemangat dan bersungguh-sungguh melakukan segala cara untuk menumbuhkan tanamannya, memaksimalkannya, dan mencegah hama penyakit.
Jika pelaku produksi mengetahui bahwa hasil-hasil produksi, dengan berbagai ragam jenis dan manfaatnya, tidak akan berhasil didapatnya melainkan dengan mempelajari disiplin ilmu produksi dan menguasainya, lalu mempraktikkannya, ia akan berusaha dan bersungguh-sungguh.

Barang siapa mengharapkan keturunan atau membiakkan hewan ternaknya, tentu ia akan bekerja dan berusaha. Demikianlah pada seluruh urusan.” (ar-Riyadh an-Nadhirah, as-Sa’di, hlm. 125—126)

Adapun dalil yang menjelaskan wajibnya si hamba berusaha sangat banyak. Antara lain:
1. Hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, riwayat Muslim (4/2025).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ، احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَعْجَزْ، وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ: لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا؛ وَلَكِنْ قُلْ: قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ؛ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah dibandingkan mukmin yang lemah, dan masing-masing mempunyai kebaikan. Bersungguh-sungguhlah untuk hal yang bermanfaat untukmu. Mohonlah pertolongan dari Allah dan jangan merasa lemah. Jika ada sesuatu menimpa dirimu, jangan ucapkan, ‘Andai saja saya melakukan begini, tentu akan menjadi begini dan begitu.’ Namun ucapkanlah, ‘Telah ditakdirkan Allah, apa yang Allah subhanahu wa ta’ala kehendaki, Dia pasti melakukannya.’ Sesungguhnya ucapan ‘andai saja’, akan membuka amalan setan.”

  1. Hadits Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, riwayat al-Bukhari (10/179) dan Muslim (4/1740).

Umar bin Khaththab radhiallahu ‘anhu pernah berangkat menuju Syam. Setibanya di wilayah Sargh, beliau disambut oleh para panglima perang, Abu Ubaidah bin al-Jarrah beserta sahabat-sahabat lainnya. Mereka menyampaikan berita kepada Umar bahwa di negeri Syam sedang terjangkiti satu wabah. Umar lalu memerintahkan untuk mengundang para sahabat dalam rangka bermusyawarah. Mulai dari kalangan Muhajirin, lalu kalangan Anshar, kemudian kaum Quraisy. Dari musyawarah tersebut, Umar memutuskan untuk kembali pulang.
Lalu Umar radhiallahu ‘anhu mengumumkan, “Sesungguhnya aku akan kembali besok pagi, bersiap-siaplah besok.” Abu Ubaidah bin al-Jarrah radhiallahu ‘anhu bertanya, “Apakah untuk lari dari takdir Allah?” Umar menjawab,

لَوْ غَيْرُكَ قَالَهَا، يَا أَبَا عُبَيْدَةَ نَعَمْ، نَفِرُّ مِنْ قَدَرِ اللهِ إِلَى قَدَرِ اللهِ، أَرَأَيْتَ لَوْ كَانَتْ لَكَ إِبِلٌ فَهَبَطَتْ وَادِيًا لَهُ عُدْوَتَانِ إِحْدَاهُمَا خَصْبَةٌ وَالْأُخْرَى جَدْبَةٌ، أَلَيْسَ إِنْ رَعَيْتَ الْخَصْبَةَ رَعَيْتَهَا بِقَدَرِ اللهِ وَإِنْ رَعَيْتَ الْجَدْبَةَ رَعَيْتَهَا بِقَدَرِ اللهِ؟

“Andai saja bukan kamu yang mengatakannya, wahai Abu Ubaidah. Ya, kita lari dari takdir Allah subhanahu wa ta’ala menuju takdir Allah subhanahu wa ta’ala yang lain. Apa pendapatmu, jika engkau mempunyai ternak unta lalu singgah di sebuah lembah yang memiliki dua sisi. Satu sisi yang subur, sisi yang lain gersang. Bukankah dengan takdir Allah juga jika engkau menggiringnya ke sisi yang subur? Bukankah dengan takdir Allah juga engkau menggiringnya ke sisi yang gersang?”

Setelah itu, datanglah Abdurrahman bin Auf radhiallahu ‘anhu yang sebelumnya tidak hadir karena ada keperluan. Ia berkata, “Sesungguhnya aku memiliki ilmu tentang masalah ini. Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Jika kalian mendengar terjadi wabah di suatu daerah, janganlah mendatanginya. Jika kalian berada di suatu daerah yang sedang terjangkiti wabah, janganlah meninggalkannya untuk lari’.”

Umar pun memuji Allah subhanahu wa ta’ala, lalu bertolak (kembali ke Madinah).

Orang Cerdas

Orang yang benar-benar cerdas akan berusaha menghindari takdir dengan takdir juga, menghadapi takdir dengan takdir pula. Tidak akan mungkin kita menjalani kehidupan melainkan dengan cara ini. Rasa lapar dan haus, kedinginan, seluruh hal yang menakutkan dan membahayakan, adalah takdir. Seluruh makhluk berusaha untuk terhindar dari hal tersebut dengan takdir juga.

Demikianlah kondisi hamba yang memperoleh taufik dan petunjuk. Ia pasti berusaha untuk terhindar dari “takdir” siksa di akhirat dengan “takdir” taubat, iman, dan amal saleh. (ad-Da’u wad Dawa’, Ibnul Qayyim, hlm. 27)

Perlu diingat, yang mengatakan, “Allah subhanahu wa ta’ala telah mencatat takdir makhluk, lima puluh ribu tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi,” beliau juga yang mengatakan, “Beramallah, karena masing-masing akan dimudahkan untuk apa yang diciptakan untuknya.” Lalu:

“Apakah kamu beriman kepada sebagian dari Al-Kitab dan ingkar terhadap sebagian yang lain?” (al-Baqarah: 85)

(al-Iman bil Qadha, Muhammad bin Ibrahim, hlm. 127—129)

Doa, Bagian dari Takdir

Soal: Sesuatu yang dimohon dalam doa, jika memang telah ditakdirkan untuk terjadi, pasti terjadi. Sama saja, apakah si hamba berdoa ataukah tidak. Jika memang sudah ditakdirkan untuk tidak terjadi, tidak akan mungkin akan terjadi, baik si hamba memohon maupun tidak.

Jawab:
Sekelompok orang memandang benar pernyataan di atas. Mereka kemudian tidak ingin berdoa dan mengatakan, “Tidak ada manfaatnya berdoa!”

Mereka sendiri, dengan kejahilan dan kesesatan, pasti akan mengalami kontradiksi. Menerima pendapat mereka sama saja menghilangkan seluruh bentuk sebab. Coba saja ditanyakan kepada salah seorang dari mereka, “Jika kenyang dan puas dari dahaga memang telah ditakdirkan untukmu, pasti terjadi, apakah engkau makan ataukah tidak? Jika memang sudah ditakdirkan untuk tidak kenyang, tidak akan mungkin terjadi, apakah engkau makan ataukah tidak?”

“Jika memang telah ditakdirkan engkau memiliki anak, pasti terjadi baik engkau berhubungan badan dengan istri maupun tidak. Jika memang sudah ditakdirkan engkau tidak memiliki anak, pasti tidak akan terjadi. Lalu, apa guna menikah?” Demikian juga hal-hal yang lain.

Pertanyaannya, “Apakah hal di atas akan diucapkan oleh seseorang yang berakal? Seorang manusia? Bahkan, hewan ternak sekalipun memiliki fitrah untuk melakukan ‘sebab’ untuk mempertahankan hidupnya. Dengan demikian, hewan lebih berakal dan lebih bisa memahami dibandingkan dengan kelompok ini. Mereka layaknya hewan ternak, bahkan lebih sesat jalannya.”

Ada kelompok lain, sedikit lebih pandai daripada kelompok pertama. Mereka berpendapat, “Berdoa adalah ibadah murni. Allah subhanahu wa ta’ala akan memberikan pahala bagi hamba yang mau berdoa. Berdoa tidak memiliki pengaruh terhadap apa yang diminta, dari sisi mana pun.”

Menurut mereka, berdoa atau tidak adalah sama saja, tidak akan memberikan pengaruh terhadap apa yang diminta. Hubungan doa dan terjadinya keinginan, menurut mereka, sama dengan hubungan diam dengan terjadinya keinginan.

Ada kelompok lain yang berpendapat, “Doa hanyalah murni pertanda, yang ditetapkan Allah subhanahu wa ta’ala sebagai tanda terpenuhinya keinginan. Barang siapa diberi taufik untuk berdoa, hal itu sebagai tanda bahwa keinginannya telah terpenuhi.” Sama halnya dengan awan hitam pekat di musim penghujan yang menjadi tanda bahwa hujan akan turun. Dengan demikian, ketaatan hanyalah pertanda adanya pahala, bukan sebab. Kekufuran dan maksiat hanyalah pertanda siksa, bukan sebab.

Masih menurut kelompok ini, tindakan memecahkan bukanlah “sebab” pecah, tindakan membakar bukan juga “sebab” kebakaran, dan melakukan perbuatan membunuh bukanlah “sebab” kematian. Hanya sebatas pertanda saja.
Pendapat semacam ini berseberangan dengan akal dan daya indra, bertentangan dengan syariat dan fitrah, serta berhadapan dengan segenap pemikir. Orang berakal juga menertawakan mereka.

Yang benar, sesuatu yang ditakdirkan Allah subhanahu wa ta’ala juga memiliki “sebab-sebab” yang juga ditakdirkan. Berdoa termasuk “sebab” sehingga segala sesuatu tidak hanya ditakdirkan tanpa adanya “sebab”. Akan tetapi, ia ditakdirkan beserta “sebabnya”. Pada saat si hamba melaksanakan “sebab”, apa yang ditakdirkan akan terjadi. Namun, jika ia tidak melaksanakan “sebab”, yang ditakdirkan pun tidak terjadi.

Hal ini sama dengan kenyang yang ditakdirkan terjadi dengan sebab makan, puas dari dahaga dengan sebab minum, memiliki anak dengan sebab berhubungan badan, menuai panen dengan sebab menanam benih, dan matinya hewan dengan sebab disembelih. Demikian juga, masuk ke dalam surga ditakdirkan dengan melakukan amalan saleh, dan masuk ke dalam neraka dengan sebab melakukan kejahatan.

Kesimpulannya, berdoa termasuk “sebab” terbesar. Jika sesuatu yang ditakdirkan dapat terjadi dengan “sebab” doa, tidaklah benar untuk dinyatakan, “Tidak ada manfaatnya berdoa!” Sebagaimana tidak dapat dibenarkan untuk mengatakan, “Tidak ada manfaatnya makan dan minum. Tidak ada gunanya seluruh aktivitas dan perbuatan.”

Tidak ada “sebab” lain yang melebihi manfaat doa. Tidak pula ada “sebab” lain yang melebihi doa dalam hal mewujudkan keinginan. Oleh karena itu, para sahabat—sebagai generasi yang paling mengenal Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya serta generasi yang paling mengerti tentang agama—sangat kuat mewujudkan doa sebagai “sebab”, syarat-syarat dan adabnya, jika dibandingkan dengan orang lain.

Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu selalu memohon pertolongan dengan berdoa ketika menghadapi musuh. Doa merupakan bala tentaranya yang terbesar. Beliau radhiallahu ‘anhu sering mengingatkan pasukannya, “Sesungguhnya kalian tidak memperoleh kemenangan dengan jumlah yang banyak. Akan tetapi, kalian mendapat kemenangan hanyalah dengan pertolongan dari langit.”

Beliau juga sering menyampaikan, “Sesungguhnya aku tidak meragukan tentang dikabulkannya doa, namun aku khawatir hilangnya keinginan untuk berdoa. Apabila kalian mendapatkan kemudahan untuk berdoa, sesungguhnya dikabulkannya doa selalu mengiringi doa.”

Barang siapa memperoleh jalan untuk berdoa, doa itu akan dikabulkan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Dan Rabbmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Ku-perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (Ghafir: 60)

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (al-Baqarah: 186) (ad-Da’u wad Dawa’, Ibnul Qayyim, hlm. 22—24)

Asy-Syaikh Muhammad ibnu Shalih al-Utsaimin rahimahullah pernah ditanya, “Apakah doa memiliki pengaruh mengubah catatan takdir manusia yang telah ada sebelum ia diciptakan?”

Beliau menjawab, “Tidak diragukan lagi, doa dapat memberikan pengaruh untuk mengubah catatan takdirnya. Namun, perubahan itu pun telah tercatat juga sebagai takdir dengan sebab doa. Jangan mengira, jika Anda berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala berarti Anda telah meminta sesuatu yang tidak tercatat sebagai takdir! Doa juga telah tercatat sebagai takdir. Demikian juga hasil dari doa tersebut telah tercatat sebagai takdir.

Oleh sebab itu, kita menyaksikan ada orang yang membacakan doa untuk orang sakit, kemudian sembuh. Kisah pasukan perang yang ditugaskan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah dalil akan hal ini. Mereka singgah untuk bertamu di sebuah kampung, namun mereka tidak dijamu sebagai tamu. Lalu, ditakdirkan kepala kampung tersebut digigit oleh ular berbisa. Kemudian mereka memohon orang yang dapat membacakan doa untuk si kepala kampung. Akan tetapi, para sahabat mengajukan syarat, yaitu upah untuk melakukannya. Mereka lalu menyerahkan sekawanan kambing. Salah seorang sahabat lantas berangkat untuk membacakan al-Fatihah.

Setelah itu, si sakit langsung berdiri seolah-olah ia baru saja lepas dari ikatan. Maksudnya, seperti seekor unta yang terlepas tali kekangnya. Benar, bacaan sahabat tersebut memiliki pengaruh untuk kesembuhan si sakit.

Kesimpulannya, doa memang memiliki pengaruh, namun tidak mengubah takdir. Perubahan tersebut pun termasuk bagian dari takdir, yang terjadi dengan sebuah “sebab” yang juga telah ditakdirkan. Demikian juga seluruh “sebab”, ia memiliki pengaruh pada “akibat” dengan izin Allah subhanahu wa ta’ala. Maka dari itu, “sebab” adalah takdir yang tercatat, “akibat” pun takdir yang tercatat. (Fatawa Aqidah, Fahd bin Nashir, hlm. 234)

Keterikatan serta Keterkaitan Takdir dan Sebab

Takdir tidak berbenturan dengan sebab yang syar’i dan qadari. Hal ini karena “sebab” termasuk takdir Allah subhanahu wa ta’ala. Mengaitkan dan mengikatkan antara sebab dan akibat adalah konsekuensi dari hikmah-Nya, sebagai sifat Allah subhanahu wa ta’ala yang paling tinggi, yaitu sifat yang ditetapkan sendiri oleh Allah subhanahu wa ta’ala untuk diri-Nya pada beberapa ayat dalam Al-Qur’an.

Contoh sebab qadari adalah firman-Nya:

“Allah, Dialah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal. Lalu kamu lihat hujan keluar dari celah-celahnya. Maka apabila hujan itu turun mengenai hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya tiba-tiba mereka menjadi gembira. Dan sesungguhnya sebelum hujan diturunkan kepada mereka, mereka benar-benar telah berputus asa. Maka perhatikanlah bekas-bekas rahmat Allah, bagaimana Allah menghidupkan bumi yang sudah mati.

Sesungguhnya (Rabb yang berkuasa seperti) demikian benar-benar (berkuasa) menghidupkan orang-orang yang telah mati. Dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.” (ar-Rum: 48—50)

Contoh sebab syar’i adalah firman-Nya:

“Wahai ahli kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al-Kitab yang kamu sembunyikan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.” (al-Maidah: 15—16)

Seluruh bentuk perbuatan yang ditentukan balasannya oleh Allah subhanahu wa ta’ala, baik pahala maupun siksa, termasuk sebab syar’i, jika dilihat dari sisi bahwa seorang hamba dituntut untuk melaksanakannya. Juga dapat dikatakan sebagai sebab qadari, jika dilihat dari aspek terjadinya berdasarkan takdir dan qadha dari Allah subhanahu wa ta’ala.

Cara Pandang Manusia Terhadap Sebab

Terkait dengan posisi “sebab”, ada tiga cara pandang yang muncul di permukaan.
1. Kelompok nufat (pengingkar).

Mereka mengingkari pengaruh dan peran “sebab”. Mereka menyatakan, “Sebab hanyalah sebatas tanda yang ada pada saat terjadinya sesuatu, bukan sebagai penyebabnya.” Mereka berpendapat, “Pecahnya kaca yang dilempar batu terjadi ketika batu mengenai kaca, bukan disebabkan oleh lemparan batu.”
Kelompok ini menyelisihi dalil dan menentang daya indra. Mereka telah mengingkari hikmah Allah subhanahu wa ta’ala yang menghubungkan antara sebab dan akibat.

  1. Kelompok ghulat (berlebihan).

Mereka menetapkan pengaruh dan peran “sebab”, namun meyakininya secara berlebihan. Mereka menyatakan, “sebab” dapat memberikan pengaruh dengan sendirinya tanpa kehendak Allah.

Kelompok ini tergelincir dan terjatuh dalam dosa kesyirikan. Dengan keyakinan ini, mereka menetapkan adanya “pencipta” selain Allah subhanahu wa ta’ala. Pendapat ini juga berseberangan dengan dalil dan daya indra.

Al-Qur’an, as-Sunnah, dan ijma’ menerangkan bahwa tidak ada pencipta selain Allah subhanahu wa ta’ala.

Secara kenyataan, kita juga menyaksikan dengan jelas, kadang-kadang terjadi “sebab” namun tidak muncul “akibat”nya, seizin Allah subhanahu wa ta’ala tentunya. Contohnya, Nabi Ibrahim q yang tidak terbakar ketika dilemparkan ke dalam kobaran api. Api pun menjadi dingin dan keselamatan, beliau tidak terbakar.

  1. Kelompok wasath (berada pada kebenaran).

Mereka memperoleh petunjuk yang lurus kepada kebenaran. Mereka berada pada posisi di antara kedua kelompok sebelumnya. Mereka mengambil sisi kebenaran dari dua kelompok sebelumnya. Mereka menyatakan, “sebab” memang memiliki pengaruh dan peran pada “akibat”, namun tidak secara sendirinya. Hal itu terjadi dengan kekuatan dan kemampuan yang diberikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala pada “sebab” tersebut.

Kelompok ini adalah kelompok yang adil. Mereka diberi taufik pada kebenaran dengan memadukan antara dalil, akal, dan daya indra. Sebagaimana halnya takdir tidak berbenturan dengan sebab syar’i dan qadari, demikian juga takdir tidak berbenturan dengan kehendak dan kemampuan yang dimiliki oleh seorang hamba untuk melakukan perbuatan. Jadi, setiap makhluk memiliki kehendak dan kemampuan. Ia sendiri yang berbuat. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan di antara kamu ada orang yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kamu dari mereka untuk menguji kamu; dan sesungguhnya Allah telah memaafkan kamu. Dan Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas orang-orang yang beriman.” (Ali Imran: 152)

“Dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka).” (an-Nisa’: 66)

“Barang siapa mengerjakan amal yang saleh maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barang siapa berbuat jahat maka (dosanya) atas dirinya sendiri; dan sekali-sekali tidaklah Rabbmu menganiaya hamba-hamba(Nya).” (Fushshilat: 46)

“Dan berangkatlah mereka di pagi hari dengan niat menghalangi (orang-orang miskin) padahal mereka mampu (menolongnya).” (al-Qalam: 25)

Akan tetapi, sebagai makhluk ia tidak dapat berdiri dan terpisah secara sendirian dalam kehendak, kemampuan, dan perbuatannya. Sama halnya, “sebab” tidak dapat berdiri sendiri dalam menghasilkan “akibat”. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“(Yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) melainkan jika dikehendaki Allah, Rabb semesta alam.” (at-Takwir: 28—29)

Kehendak, kemampuan, dan perbuatan adalah sifat yang melekat pada makhluk. Oleh karena itu, kehendak, kemampuan, dan perbuatannya pun adalah makhluk juga. Hal ini karena sifat mengikuti yang disifati. Maka dari itu, Dzat yang menciptakan makhluk, Dia pula yang menciptakan sifat makhluk. (Taqrib at-Tadmuriyah, Ibnu ‘Utsaimin, hlm. 105—107)

  1. Contoh Perpaduan Antara Takdir dan Kehendak Hamba

Penjelasannya demikian; jika seorang hamba menegakkan shalat, berpuasa, dan melakukan kebajikan, atau ia berbuat kemaksiatan, dialah pelaku kebajikan atau kemaksiatan tersebut. Perbuatannya, tanpa setitik keraguan, terjadi berdasarkan pilihan dan keinginannya sendiri. Secara pasti, ia merasakan dirinya tidak “dipaksa” untuk melakukan atau tidak melakukannya. Ia pun meyakini dengan pasti, jika mau, ia tidak akan melakukannya.

Sebagaimana penjelasan di atas merupakan kenyataan bahwa seperti itulah yang dinashkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam Al-Qur’an dan oleh Rasul-Nya dalam sunnahnya. Dalam Al-Qur’an dan as-Sunnah, amalan kebaikan dan keburukan yang diperbuat oleh hamba dinisbahkan dan dilekatkan pada diri hamba itu sendiri. Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya juga memberitakan, merekalah pelaku perbuatan itu sesungguhnya. Mereka akan memperoleh pujian dan pahala jika yang diperbuat kebaikan. Sebaliknya, mereka akan mendapatkan celaan dan siksa jika yang diperbuat keburukan.

Maka dari itu, telah jelas dan terang, tanpa ada keraguan, seluruh perbuatan hamba dilakukan oleh mereka sendiri, dengan pilihan mereka sendiri. Jika mau, mereka lakukan. Jika mau, mereka tinggalkan. Hal ini dapat dibuktikan secara akal, daya indra, syariat, dan kenyataan. (Tanbihat al-Lathifah, as-Sa’di, hlm. 82—83)

Secara akal, tidaklah mungkin Allah subhanahu wa ta’ala menetapkan siksa atas si hamba karena perbuatan yang ia “dipaksa” melakukannya. Kalau bukan karena pilihan dan kehendak si hamba sendiri, tidak mungkin ia terbebani syariat.

Secara daya indra, si hamba merasakan sendiri pada dirinya secara pasti, ia tidak dalam keadaan “dipaksa” untuk berbuat atau tidak berbuat.

Secara syariat, banyak ayat dan hadits yang menyandarkan perbuatan itu kepada si hamba. Di antaranya adalah:

“Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan yang bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) atas amalan mereka.” (az-Zalzalah: 6)

Secara kenyataan, kita menyaksikan sendiri bahwa orang yang mengerjakan shalat, puasa, dan lainnya adalah si hamba, bukan Rabb. Maka dari itu, hambalah yang secara hakiki langsung berbuat. (Ta’liqat Yasin ‘alal Wasithiyyah, hlm. 231)

Ditulis oleh al-Ustadz Mukhtar Ibnu Rifai