Karamah Wali Bagian dari Mukjizat Nabi

وَعَنْ أَبِي مُحَمَّدٍ عَبْدِ الرَحْمَنِ بْنِ أَبِي بَكْرٍ الصِدِّيقِ أَنَّ أَصْحَابَ الصُّفَّةِ كَانُوا أُنَاسًا فُقَرَاءَ، وَأَنَّ النَّبِيَّ قَالَ مَرَّةً: مَنْ كَانَ عِنْدَهُ طَعَامُ اثْنَيْنِ فَلْيَذْهَبْ بِثَالِثٍ، وَمَنْ كَانَ عِنْدَهُ طَعَامُ أَرْبَعَةٍ فَلْيَذْهَبْ بِخَامِسٍ بِسَادِسٍ-أَوْ كَمَا قَالَ. وَأَنَّ أَبَا بَكْرٍ جَاءَ بِثَلَاثَةٍ، وَانْطَلَقَ النَّبِيُّ بِعَشْرَةٍ، وَأَنَّ أَبَا بَكْرٍ تَعَشَّى عِنْدَ النَّبِيِّ ثُمَّ لَبِثَ حَتَّى صَلَّى الْعِشَاءَ، ثُمَّ رَجَعَ، فَجَاءَ بَعْدَ مَا مَضَى مِنَ اللَّيْلِ مَا شَاءَ اللهُ. قَالَتْ لَهُ امْرَأَتُهُ: مَا حَبَسَكَ عَنْ أَضْيَافِكَ؟ قَالَ: أَوَ مَا عَشَيْتِهِمْ؟ قَالَتْ: أَبَوْا حَتَّى تَجِيءَ وَقَدْ عُرِضُوا عَلَيْهِمْ. قَالَ: فَذَهَبْتُُ أَنَا فَاخْتَبَأْتُ، فَقَالَ: يَا غُنْثَرُ، فَجَدَعَ وَسَبَّ، وَقَالَ: كُلُوْا لاَ هَنِيئًا، وَاللهِ لاَ أَطْعَمُهُ أَبَدًا. قَالَ: وَاَيْمُ اللهِ مَا كُنَّا نَأْخُذُ مِنْ لُقْمَةٍ إِلاَّ رَبَا مِنْ أَسْفَلِهَا أَكْثَرُ مِنْهَا حَتَّى شَبِعُوا، وَصَارَتْ أَكْثَرَ مِمَّا كَانَتْ قَبْلَ ذَلِكَ. فَنَظَرَ إِلَيْهَا أَبُو بَكْرٍ فَقَالَ مِالْرَأَتِهِ: يَا أُخْتَ بَنِي فِرَاسٍ مَا هَذَا؟ قَالَتْ: لاَ وَقُرَّةِ عَيْنِي لَهِيَ الْآنَ أَكْثَرُ مِنْهَا قَبْلَ ذَلِكَ بِثَلَاثِ مَرَّاتٍ! فَأَكَلَ مِنْهَا أَبُو بَكْرٍ وَقَالَ: إِنَّمَا كَانَ ذَلِكَ مِنَ الشَّيْطَانِ,يَعْنِي يَمِيْنَهُ.ثُمَّ أَكَلَ مِنْهَا لُقْمَةً، ثُمَّ حَمَلَهَا إِلَى النَّبِيِّ فَأَصْبَحْتُ عِنْدَهُ، وَكَانَ بَيْنَنَا وَبَيْنَ  قَوْمٍ عَهْدٌ، فَمَضَى الْأَجَلُ، فَتَفَرَّقْنَا اثْنَيْ عَشَرَ رَجُلًا، مَعَ كُلِّ رَجُلٍ مِنْهُمْ أُنَاسٌ، اللهُ أَعْلَمُ كَمْ مَعَ كُلِّ رَجُلٍ، فَأَكَلُوا مِنْهَا أَجْمَعُونَ

Dari Abu Muhammad Abdurrahman bin Abu Bakr ash-Shiddiq, ia berkata bahwa sesungguhnya ahli Shuffah adalah kaum yang fakir. Suatu saat Nabi n bersabda, “Siapa yang memiliki makanan untuk dua orang hendaknya membawa orang yang ketiga. Dan siapa yang memiliki makanan untuk empat orang hendaknya membawa orang kelima atau keenam—demikian kurang lebih sabda be liau.” Selanjutnya Abdurrahman berkata bahwa Abu Bakr (ketika itu) membawa tiga orang, sedangkan Nabi membawa sepuluh orang. Abu Bakr makan malam bersama Rasulullah n kemudian tetap tinggal hingga shalat isya, dan kembali setelah berlalu malam sesuai yang Allah kehendaki. Istri Abu Bakr bertanya, “Apa yang menahanmu pulang untuk makan bersama tamu-tamumu?” Abu Bakr berkata, “Bukankah kalian sudah memberi mereka makan malam?” Istrinya menjawab, “Mereka menolak makan sampai engkau datang, padahal makanan sudah dihidangkan.” Abdurrahman berkata, “Aku pun pergi dan bersembunyi. Ayahku (Abu Bakr) berkata kepadaku, ‘Wahai bodoh!’ Abu Bakr mencela dan memaki. Kemudian ia berkata kepada keluarganya, ‘Makanlah kalian dengan tidak nikmat! Demi Allah, aku tidak akan memakannya selamanya’.” Abdurrahman berkata, “Demi Allah, tidaklah kami mengambil sesuap hidangan kecuali muncul dari bawah makanan lebih banyak dari sesuap yang diambil, hingga semua kenyang sementara hidangan lebih banyak dari sebelumnya. Abu Bakr pun melihat hidangan. Lalu berkata kepada istrinya, ‘Wahai saudara perempuan bani Firas, apa ini?’ Istri Abu Bakr berkata, ‘Betapa sejuknya mataku (yakni demi Allah), sungguh makanan ini tiga kali lipat lebih banyak.’ Abu Bakr pun makan, (padahal sebelumnya telah bersumpah untuk tidak makan, –pen.), kemudian berkata, ‘Sesungguhnya hal itu—yakni sumpahnya—dari setan.’ Lalu Abu Bakr memakannya satu suapan dan dibawanya kepada Nabi n, hingga hidangan itu pada pagi harinya di sisi Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam.” Abdurrahman berkata, “Sebelumnya kami memiliki janji dengan sebuah kaum. Tibalah waktu bertemu. Kami pun berpencar menjadi dua belas orang, masing-masing bersama serombongan—Allah Yang Mahatahu berapa orang bersama mereka. Semua makan dari hidangan Abu Bakr.

 

Takhrij Hadits

Hadits dengan lafadz di atas disepakati oleh al-Bukhari dan Muslim rahimahumallah. Al-Bukhari meriwayatkannya dalam Shahih-nya, Kitab Mawaqit ash-Shalah (Waktu-Waktu Shalat) bab “Begadang Bersama Tamu”, dari gurunya, Abu an- Nu’man, dari Mu’tamir bin Sulaiman, dari ayahnya, Sulaiman, dari Abu Utsman, dari Abdurrahman bin Abu Bakr. Diriwayatkan pula oleh al-Imam Muslim rahimahullah dalam Shahih-nya, Kitab al-Asyribah (3/1627 no. 2057) dari tiga guru beliau, Ubaidullah bin Muadz al-Anbari, Hamid bin Umar al- Bakrawi, dan Muhammad bin Abdul A’la al-Qaisi, dari Mu’tamir, dari Sulaiman, dari Abdurrahman bin Abi Bakr. Dalam sebagian riwayat al-Bukhari (10/443) disebutkan, Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu berkata kepada putranya,

دُونَكَ أَضْيَافَكَ فَإِنِّي مُنْطَلِقٌ إِلَى النَّبِيِّ فَافْرَغْ مِنْ قُرَاهُمْ قَبْلَ أَنْ أَجِيءَ. فَانْطَلَقَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ فَأَتَاهُمْ بِمَا عِنْدَهُ، فَقَالَ: اطْعَمُوا. فَقَالُوا :  أَيْنَ رَبُّ مَنْزِلِنَا؟ قَالَ: اطْعَمُوا.قَالُوا:  مَا نَحْنُ بِآكِلِينَ حَتَّى يَجِيءَ رُبُّ مَنْزِلِنَا. قَالَ: اقْبَلُوا عَنَّا قُرَاكُمْ فَإِنَّهُ إِنْ جَاءَ وَلَمْ تَطْعَمُوا لَنَلْقِيَنَّ مِنْهُ. فَأَبَوْا فَعَرَفْتُ أَنَّهُ يَجِدُ عَلَيَّ، فَلَمَّا جَاءَ تَنَحَّيْتُ عَنْهَ، فَقَالَ: مَا صَنَعْتُمْ فَأَخْبِرُوهُ. فَقاَلَ: يَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ. فَسَكَتُّ، ثُمَّ قَالَ: يَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ. فَسَكَتُّ، فَقَالَ: يَا غُثَرُ، أَقْسَمْتُ عَلَيْكَ  إِنْ كُنْتَ تَسْمَعُ صَوْتِي لَمَا جِئْتَ. فَخَرَجْتُ فَقُلْتُ: سَلْ أَضْيَافَكَ. فَقَالُوا: صَدَقَ، أَتَانَا بِهِ. فَقَال: إِنَّمَا انْتَظَرْتُمُونِي، وَاللهِ لاَ أَطْعَمُهُ اللَّيْلَة. فَقَالَ : الْآخَرُونَ: وَاللهِ، لاَ نَطْعَمُهُ حَتَّى تَطْعَمَ قَالَ: وَيْلَكُمْ مَا لَكُمْ تَقْبَلُونَ عَنَّا قُرَاكُمْ, هَاتِ طَعَامَكَ. فَجَاءَ بِهِ فَوَضَعَ يَدَهُ فَقَالَ: بِسْم اللهِ، الْأُوْلَى مِنَ الشَّيْطَانِ، فَأَكَلَ وَأَكَلُو

Abu Bakr berkata kepada Abdurrahman, “Muliakan tamumu, karena aku akan pergi ke tempat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Suguhkanlah jamuan untuk mereka sebelum aku pulang.” Abdurrahman bergegas menyuguhkan makanan yang ia miliki dan berkata, “Silakan kalian memakannya.” Mereka berkata, “Di mana tuan rumah kita?” Abdurrahman berkata, “Ayolah kalian makan!” Mereka menjawab, “Kami tidak akan memakannya sampai tuan rumah kita datang.” Abdurrahman berkata, “Terimalah jamuan kami. Jika ia pulang dan kalian belum memakannya, ia akan marah kepada kami.” Mereka tetap enggan memakannya. Saya tahu bahwa Abu Bakr akan marah kepadaku. Ketika Abu Bakr datang, aku bersembunyi. Abu Bakr berkata, “Apa yang kalian perbuat?” Para tamu pun memberi tahu Abu Bakr. (Tahulah Abu Bakr bahwa tamunya belum makan malam, -pen.) Abu Bakr berkata, “Wahai Abdurrahman!” Abdurrahman diam (ketakutan). Abu Bakr mengulangi, “Wahai Abdurrahman!” Abdurrahman tetap diam. Abu Bakr lalu berkata, “Wahai orang bodoh! Aku bersumpah, jika kamu mendengar suaraku ketika aku datang, kamu harus keluar.” Aku (Abdurrahman) keluar dan berkata, “Tanyakan kepada tamumu (apa yang terjadi).” Mereka berkata, “Ia benar. Ia telah menghidangkan kepada kami jamuan (namun kami menolaknya hingga engkau datang, –pen.). Abu Bakr berkata, “Kalian hanya menungguku? Demi Allah, aku tidak akan memakannya malam ini.” Para tamu mengatakan, “Demi Allah, kami tidak akan memakannya sampai engkau (wahai Abu Bakr) memakannya.” Abu Bakr berkata, “Betapa terlalu kalian ini. Mengapa kalian tidak mau menerima jamuan kami? Hidangkan segera jamuannya!” Kemudian dibawalah makanan, lalu Abu Bakr letakkan tangannya pada makanan lantas berkata, “Bismillah. Yang pertama tadi (yakni sumpah untuk tidak makan, -pen.) dari setan.” Abu Bakr memakannya dan mereka pun memakannya.

Dalam riwayat lain dalam Shahih Bukhari (6/442) dikatakan: Abu Bakr bersumpah tidak akan memakan jamuan. Istrinya juga bersumpah tidak memakannya. Salah seorang tamu atau para tamu bersumpah mereka tidak akan makan kecuali jika Abu Bakr memakan hidangan. (Karena dihadapkan kepada sumpah para tamu) berkatalah Abu Bakr, “(Sumpahku) ini dari setan.” Abu Bakr meminta hidangan dikeluarkan lalu memakannya. Para tamu juga memakannya. Ketika mereka makan, tidaklah satu suap yang diangkat kecuali muncul dari bawahnya makanan yang lebih banyak dari yang diambil. Abu Bakr berseru kepada istrinya, “Wahai saudari bani Faras, apa ini?” Istrinya menjawab, “Betapa sejuknya mataku, hidangan itu sekarang sungguh lebih banyak daripada sebelum kita memakannya.” Kemudian mereka memakannya. Dibawalah makanan (yang bertambah banyak tersebut keesokan hari) kepada Nabi n. Ia sebutkan bahwa Nabi n pun ikut memakannya.

Abu Bakr ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, Wali Allah Termulia setelah Para Nabi & Rasul

Ahlus Sunnah wal Jamaah meyakini bahwa Abu Bakr ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu adalah manusia paling mulia setelah nabi dan rasul. Al-Imam Ahmad bin Hanbal t (241 H) berkata, “Sebaik-baik umat ini setelah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Abu Bakr ash-Shiddiq z, (kemudian) Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu, lalu Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu. Ketiganya didahulukan sebagaimana para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah mendahulukan mereka, tanpa berselisih tentangnya.” (Ushul as-Sunnah, al-Imam Ahmad) Berbeda halnya dengan agama Syiah (Rafidhah). Agama yang satu ini justru menyelisihi kesepakatan umat. Mereka merendahkan Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu, bahkan mengafirkannya. Abu Bakr lahir di tengah keluarga terhormat di kota Makkah pada 573 M, dua tahun enam bulan setelah tahun gajah. Namanya Abdullah bin Utsman bin ‘Amir al-Qurasyi at-Taimi. Lebih terkenal dengan kuniahnya, Abu Bakr, meskipun tidak memiliki putra bernama Bakr.

Di masa jahiliah, beliau adalah orang yang sangat terpandang di tengah kaumnya. Sebelum kenabian, beliau telah bersahabat dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam diutus oleh Allah Subhanahu wata’ala, beliaulah laki-laki dewasa pertama yang beriman. Beliau mendapat gelar ash- Shiddiq karena keimanannya yang sangat tinggi dan kepercayaan kepada Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam yang tidak tercampuri oleh keraguan. Di antara kemuliaan Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu, ia selalu menyertai kekasih Allah Subhanahu wata’ala dalam suka dan duka, baik di Makkah maupun sesudahnya. Dalam perjalanan hijrah, Allah Subhanahu wata’ala memilihnya menyertai Nabi dan kekasih-Nya. Semua peperangan bersama Rasul dia ikuti, termasuk Perang Badar, hingga akhir peperangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, Perang Tabuk. Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu adalah sahabat yang paling beliau cintai, sebagaimana halnya Aisyah radhiyallahu ‘anhuma, putri Abu Bakr ash-Shiddiq adalah wanita yang paling beliau cintai.

Saat sakit menjelang wafat, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyerahkan keimaman shalat kepada Abu Bakr, sebagai isyarat bahwa beliaulah sahabat termulia. Demikianlah sahabat memahaminya. Sepeninggal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, kaum muslimin bersepakat membaiat beliau sebagai khalifah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Kehidupan beliau dihiasi dengan perjuangan, pengorbanan, dan pembelaan terhadap Islam hingga wafat pada 13 H. Allah Subhanahu wata’ala memuliakan Abu Bakr dengan dimakamkan di samping Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, dan akan bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam serta para nabi di jannah-Nya, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang sahih.

Karamah Wali

Kisah hidangan Abu Bakr yang bertambah banyak adalah salah satu dalil yang menetapkan adanya karamah para wali. Makanan Abu Bakr bertambah setiap kali diambil, bahkan lebih banyak dari suapan yang diangkat. Allahu Akbar! Karamah adalah kejadian luar biasa yang diberikan oleh Allah Subhanahu wata’ala kepada para wali-Nya, seperti mukjizat. Hanya saja, karamah tidak diiringi oleh pengakuan kenabian, tidak pula diiringi tantangan kepada manusia. Karamah wali-wali Allah Subhanahu wata’ala ditetapkan berdasarkan al-Qur’an, as Sunnah, dan ijma’. Kisah Ashabul Kahfi adalah salah satu dalil al-Qur’an tentang adanya karamah. Ashabul Kahfi adalah tujuh pemuda beriman yang berjuang untuk selalu istiqamah di atas iman. Ketika mereka jujur dalam keimanan, Allah Subhanahu wata’ala memberikan sekian banyak kemuliaan. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

نَّحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَأَهُم بِالْحَقِّ ۚ إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى

“Kami ceritakan kisah mereka kepadamu (Muhammad) dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Rabb mereka dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk.” (al-Kahfi: 13)

Allah Subhanahu wata’ala menjaga mereka dengan kejadian yang sungguh luar biasa. Inilah karamah Ashabul Kahfi. Mereka tidur di dalam gua selama 309 tahun. Tidak makan, tidak minum, rambut dan kuku tidak bertambah panjang, tubuh segar sehat wal afiat. Allah Subhanahu wata’ala menjaga mata mereka dengan selalu berkedip sehingga orang yang melihatnya menyangka mereka terjaga padahal tidur. Allah Subhanahu wata’ala menjaga pula tubuh mereka dari kerusakan.

Allah Subhanahu wata’ala membolak-balikkan ke kanan dan kiri. Tubuh mereka utuh seperti sedia kala, sehingga ketika mereka bangun—setelah tidur panjang selama tiga abad—tidak melihat ada satu keanehan dan kejanggalan pun pada tubuh mereka. Mereka menyangka hanya tidur sesaat. Kisah Dzulqarnain juga menjadi dalil lain adanya karamah. Hamba Allah Subhanahu wata’ala yang saleh ini diberi karamah, di antaranya dimudahkan membuat benteng yang menghalangi Ya’juj dan Ma’juj hingga menjelang hari kiamat. Adapun dalil adanya karamah dalam hadits bisa kita baca dalam banyak riwayat sahih, termasuk kisah Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu yang baru kita lalui. Karamah, Bagian dari Mukjizat Ketika membahas mukjizat para nabi dalam kitab-kitab Dalail an-Nubuwah, para ulama tidak lupa menyebutkan hadits-hadits tentang karamah waliwali Allah Subhanahu wata’ala. Al-Imam Abu Bakr Ja’far bin Muhammad al-Firyabi t (301 H) misalnya, memasukkan kisah hidangan Abu Bakr yang sedang kita bahas ini dalam kitabnya, Dalail an-Nubuwah.

Para ulama memasukkan karamah dalam kitab Dalail an-Nubuwah karena karamah wali-wali Allah Subhanahu wata’ala adalah bagian dari mukjizat nabi, yakni bukti kenabian. Mengapa demikian? Sebab, seseorang tidaklah mungkin menjadi wali Allah Subhanahu wata’ala dan mendapatkan karamah serta kemuliaan-kemuliaan di sisi-Nya, kecuali jika mengikuti jejak nabi dan rasul. Bukankah Allah Subhanahu wata’ala berfirman tentang hal ini dalam al-Qur’an? Perhatikan firman Allah Subhanahu wata’ala berikut,

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Katakanlah, “Jika kamu (benarbenar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Ali ‘Imran: 31)

Ayat ini tegas menunjukkan bahwasanya kecintaan Allah Subhanahu wata’ala, tidaklah diperoleh kecuali dengan mengikuti jalan Rasulullah n. Dalam sebuah hadits Qudsi, Allah Subhanahu wata’ala berfirman, “Barang siapa memusuhi wali-Ku, Aku umumkan perang terhadapnya. Tidaklah hamba- Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa-apa yang Aku wajibkan kepadanya. Senantiasa hamba-Ku itu mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya. Apabila Aku mencintainya, Aku akan menjadi pendengaran yang ia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, menjadi tangannya yang ia gunakan untuk memukul, dan menjadi kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia meminta pasti Aku beri, jika ia meminta perlindungan, niscaya Aku lindungi.” (HR . al-Bukhari)

Pelajaran dari Kisah Hidangan Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu

1. Hadits ini memuat dalil tentang keutamaan Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu dan bahwasanya beliau termasuk wali Allah Subhanahu wata’ala. Bahkan, beliau adalah wali Allah Subhanahu wata’ala yang paling afdal setelah para nabi, sebagaimana yang disepakati oleh Ahlus Sunnah wal Jamaah.

2. Anjuran untuk memberi makan kepada fuqara, walaupun dengan menyertakan mereka untuk makan bersama. Memberi makan fuqara adalah salah satu amalan ahlul jannah ketika mereka di dunia. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan.” (al-Insan: 8)

3. Seorang yang mengajak kepada kebaikan hendaknya bersemangat untuk menerapkan lebih dahulu pada dirinya, sebagai teladan yang baik. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam membawa sepuluh ahli shuffah untuk menghadiri hidangan beliau.

4. Hadits ini memberikan gambaran keadaan sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dari kalangan ahli shuffah yang sangat bersahaja dan sabar dalam kemiskinan mereka.

5. Anjuran untuk memerhatikan keadaan orang-orang miskin.

6. Abu Bakr memiliki hidangan di rumah, namun beliau lebih memilih makan bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Ini menunjukkan kebersamaan beliau dengan Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam dan semangatnya untuk menghadiri hidangan orang-orang yang mulia dan memiliki keutamaan.

7. Bolehnya mengundang orang miskin untuk makan walaupun tidak menyertai makan bersama mereka, dengan syarat ada orang yang menggantikan kedudukannya sebagai pengundang untuk berkhidmat kepada tamu undangan. Hal ini seperti yang dilakukan oleh Abu Bakr ash-Shiddiq yang mewakilkan kepada putranya, Abdurrahman dan keluarganya.

8. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam terkadang makan malam selepas shalat isya.

9. Bolehnya begadang bersama keluarga atau tamu jika ada keperluan, seperti membahas ilmu.

10. Di balik kelembutan Abu Bakr, beliau seorang yang sangat berwibawa dan tegas memimpin keluarga serta mendidik putra-putrinya.

11. Di antara sebab berkah Allah Subhanahu wata’ala dalam makanan adalah berjamaah ketika makan dan mengucapkan basmalah sebelumnya.

12. Seorang anak menceritakan kisah ayahnya dengan hanya menyebut nama atau kuniah, seperti yang dilakukan oleh Abdurrahman bin Abu Bakr saat mengisahkan ayahnya, bukanlah bentuk kedurhakaan.

13. Bolehnya makan hingga kenyang.

14. Bolehnya menyimpan hidangan malam hingga pagi hari. Wallahu alam.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal

Akidah Salaf tentang Al-Qur’an

Al-Qur’anul Karim adalah kitab Allah yang paling mulia. Allah Subhanahu wata’ala menguatkan Rasul-Nya yang mulia, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, dengan mukjizat teragung, yakni al-Qur’anul Karim. Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Mukjizat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam —yang merupakan tanda/bukti bahwa beliau adalah Rasul Allah yang haq—banyak sekali. Mukjizat teragung yang ada pada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah al-Qur’anul Karim. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَقَالُوا لَوْلَا أُنزِلَ عَلَيْهِ آيَاتٌ مِّن رَّبِّهِ ۖ قُلْ إِنَّمَا الْآيَاتُ عِندَ اللَّهِ وَإِنَّمَا أَنَا نَذِيرٌ مُّبِينٌ () أَوَلَمْ يَكْفِهِمْ أَنَّا أَنزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ يُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَرَحْمَةً وَذِكْرَىٰ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

Dan orang-orang kafir Makkah berkata, “Mengapa tidak diturunkan kepadanya mukjizat-mukjizat dari Rabbnya?” Katakanlah, “Sesungguhnya mukjizat-mukjizat itu terserah kepada Allah. Dan sesungguhnya aku hanya seorang pemberi peringatan yang nyata.” Apakah tidak cukup bagi mereka bahwasanya Kami telah menurunkan kepadamu al-Kitab (al-Qur’an) yang sedang dibacakan kepada mereka? Sesungguhnya dalam (al-Qur’an) itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman. (al- Ankabut: 50—51)

Al-Qur’anul Azhim adalah mukjizat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang terbesar dan paling bermanfaat bagi orang yang mau mentadaburi dan mengikutinya, karena al-Qur’an adalah mukjizat yang akan terus ada sampai hari kiamat.” (al-Muntaqa) Allah Subhanahu wata’ala telah menantang bangsa Arab—padahal mereka adalah orang  yang paling fasih berbahasa—untuk mendatangkan yang semisal al-Qur’an dan mereka tidak mampu melakukannya. Allah Subhanahu wata’ala mengabadikan tantangan-Nya dalam firman-Nya,

قُل لَّئِنِ اجْتَمَعَتِ الْإِنسُ وَالْجِنُّ عَلَىٰ أَن يَأْتُوا بِمِثْلِ هَٰذَا الْقُرْآنِ لَا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا

Katakanlah, “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa al-Qur’an ini, niscaya mereka tidak akan dapat mendatangkan yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain.” (al-Isra’: 88)

Ada beberapa masalah akidah yang penting dan harus diyakini seorang muslim terkait dengan al-Qur’an. Seorang muslim haruslah mengetahui masalah-masalah tersebut sehingga memiliki keyakinan yang benar dalam keimanannya kepada al-Qur’an. Di antara masalah-masalah tersebut adalah sebagai berikut.

Kedudukan Al-Qur’an di Antara Kitab- Kitab Lain yang Allah Subhanahu wata’ala Turunkan

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Seluruh kitab-kitab yang terdahulu mansukh (terhapus hukumnya) oleh al-Qur’anul Azhim. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَأَنزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ ۖ

‘Kami turunkan kepadamu kitab (yakni al-Qur’an) dengan haq membenarkan kitab-kitab yang mendahuluinya dan sebagai hakim atasnya.’ (al-Maidah: 48)

Maksudnya, sebagai hakim atasnya. Oleh karena itu, tidak boleh mengamalkan hukum apa pun yang ada dalam kitab terdahulu kecuali yang sahih dan dibenarkan oleh al-Qur’an.” (Syarah Tsalatsatil Ushul)

Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim rahimahullah berkata, “Al-Qur’an adalah kitab samawi yang paling akhir, penutup kitab-kitab yang diturunkan, kitab yang paling panjang, paling mencakup, dan sebagai hakim bagi kitab-kitab lainnya.

وَمَا كَانَ هَٰذَا الْقُرْآنُ أَن يُفْتَرَىٰ مِن دُونِ اللَّهِ وَلَٰكِن تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ الْكِتَابِ لَا رَيْبَ فِيهِ مِن رَّبِّ الْعَالَمِينَ

‘Tidaklah mungkin al-Qur’an ini dibuat oleh selain Allah; tetapi (al-Qur’an itu) membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan menjelaskan hukumhukum yang telah ditetapkannya.Tidak ada keraguan di dalamnya, (diturunkan) dari Rabb semesta alam.(Yunus: 37)

مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَىٰ وَلَٰكِن تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

‘Al-Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, melainkan sebagai pembenar (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman’ (Yusuf: 111).”

Kemudian beliau berkata, “Al-Qur’an adalah risalah Allah Subhanahu wata’ala kepada seluruh makhluk. Allah Subhanahu wata’ala telah menjamin penjagaannya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

‘Kamilah yang menurunkan al- Qur’an dan Kami yang akan menjaganya. (al-Hijr: 9)

Allah Subhanahu wata’ala tak akan menerima dari siapa pun agama selain yang dibawa oleh al-Qur’an.”

Allah Subhanahu wata’ala Menjaga Al-Qur’an

Allah Subhanahu wata’ala telah menjaga al-Qur’an yang agung ini. Allah Subhanahu wata’ala menjaganya dari perubahan, penambahan, pengurangan, dan penggantian. Allah Subhanahu wata’ala telah menjamin penjagaannya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

“Kamilah yang menurunkan al- Qur’an dan Kami yang akan menjaganya.” (al-Hijr: 9)

Penjagaan Allah Subhanahu wata’ala mencakup penjagaan terhadap sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebab, Allah Subhanahu wata’ala menjaga al-Qur’an lafadz dan maknanya, sedangkan makna al- Qur’an dijelaskan oleh sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَأَنزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan Kami turunkan al-Qur’an kepadamu agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.” (an-Nahl: 44)

Asy-Syaikh as-Sa’di rahimahullah berkata, “Al-Qur’an dijaga ketika diturunkan dan setelahnya. Ketika diturunkan, ia dijaga dari pencurian semua setan yang terkutuk. Setelah turun, dijaga dengan cara Allah Subhanahu wata’ala masukkan ke dalam kalbu Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam sehingga terjaga di dalam kalbu Rasul-Nya dan umatnya. Allah Subhanahu wata’ala menjaga lafadz-lafadznya dari perubahan, penambahan, dan pengurangan. Allah Subhanahu wata’ala menjaga maknamaknanya dari penggantian. Tidak ada orang yang mencoba menyelewengkan maknanya dari makna yang benar kecuali Allah Subhanahu wata’ala akan memunculkan orang yang menjelaskan kebenaran yang jelas.

Ini termasuk tanda-tanda kekuasaan Allah Subhanahu wata’ala yang agung dan nikmat-Nya yang terbesar bagi hamba-Nya yang beriman. Di antara bentuk penjagaan-Nya kepada al-Qur’an, Allah Subhanahu wata’ala menjaga ahlul Qur’an dari musuh-musuh mereka. Allah Subhanahu wata’ala tidak akan menguasakan musuh mereka untuk menguasai mereka.” (Taisir al-Karimirrahman) Isi Al-Qur’an Semua Tentang Tauhid Ibnul Qayim rahimahullah berkata, “Mayoritas surat dalam al-Qur’an, bahkan semuanya, mengandung dua macam tauhid ini, mempersaksikan dan menyeru kepadanya. Sebab, al-Qur’an bisa jadi:

• Berupa berita tentang Allah Subhanahu wata’ala, tentang nama, sifat, perbuatan, dan ucapan Allah Subhanahu wata’ala. Itu adalah tauhid ilmi khabari.

• Berupa seruan untuk beribadah kepada-Nya saja, tidak ada sekutu bagi- Nya, dan berlepas diri dari sesuatu yang dijadikan sesembahan selain Allah Subhanahu wata’ala. Ini adalah tauhid iradi thalabi.

• Berupa perintah dan larangan, mengharuskan untuk taat kepada-Nya, mengikuti perintah dan larangan-Nya. Ini adalah penyempurna tauhid.

• Berupa berita tentang kemuliaan bagi orang bertauhid, bagaimana mereka diperlakukan di dunia dan di akhirat kelak. Ini adalah balasan bagi orang yang mentauhidkan-Nya.

• Berupa berita tentang orang yang berbuat syirik dan bagaimana mereka diperlakukan di dunia dengan bencana dan di akhirat kelak dengan azab. Ini adalah balasan bagi orang yang keluar dari mentauhidkan-Nya. Al-Qur’an seluruhnya berisi tentang tauhid, hak serta balasannya, tentang syirik, dan pelakunya serta balasan bagi mereka.” (Madariju as-Salikin)

Al-Qur’an Akan Diangkat di Akhir Zaman

Menjelang terjadinya hari kiamat, Allah Subhanahu wata’ala mengangkat al-Qur’an dari dada-dada manusia. Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Perkara pertama yang akan hilang dari agama kalian adalah amanat dan yang paling akhir adalah shalat. Akan ada satu kaum yang shalat dalam keadaan mereka tidak memiliki agama. Al-Qur’an yang ada di antara kalian sebentar lagi akan diangkat.” Seorang muridnya berkata, “Wahai Abu Abdirahman, bagaimana diangkatnya? Allah Subhanahu wata’ala telah menetapkannya di hatiNo. hati kami dan dalam mushaf kami.” Ibnu Masud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Akan diangkat dalam satu malam, tidak akan ada lagi yang tertinggal di dada ataupun mushaf.” Di dalam Sunan ad-Darimi juga, dari Ibnu Masud radhiyallahu ‘anhu, “Al-Qur’an akan diangkat pada suatu malam. Tidak ada lagi satu ayat pun di mushaf atau dada manusia kecuali akan diangkat.” Al-Qur’an adalah Firman Allah Subhanahu wata’ala, Bukan Makhluk Di antara prinsip akidah Ahlus Sunnah yang terpenting dalam masalah ini adalah keyakinan bahwa al-Qur’an adalah firman Allah Subhanahu wata’ala, bukan makhluk. Allah Subhanahu wata’alaberfirman,

وَإِنْ أَحَدٌ مِّنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّىٰ يَسْمَعَ كَلَامَ اللَّهِ

“Dan jika seorang di antara orangorang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah.” (at-Taubah: 6)

Asy-Syaikh Abdurahman as-Sa’di rahimahullah berkata, “Dalam firman Allah Subhanahu wata’ala ini, ada hujah yang kokoh bagi mazhab Ahlus Sunnah wal Jamaah yang menegaskan bahwasanya al-Qur’an adalah firman Allah Subhanahu wata’ala, bukan makhluk.” Al-Imam Ahmad rahimahullah berkata, “Al- Qur’an adalah kalamullah dan bukanlah makhluk. Janganlah kamu lemah untuk menyatakan, ‘Al-Qur’an bukan makhluk.’ Sesungguhnya kalamullah (al-Qur’an) itu datang dari Allah Subhanahu wata’ala. Sesuatu yang berasal dari Dzat-Nya itu bukanlah makhluk. Jauhilah berdebat dengan orang rendahan dalam masalah ini dan dengan orang lafdziyah (ahlul bid’ah yang mengatakan, ‘Lafadzku ketika membaca al-Qur’an adalah makhluk’) dan orang lainnya; atau dengan orang yang tawaquf (abstain) dalam masalah ini yang berkata, ‘Aku tidak tahu, al- Qur’an itu makhluk atau bukan, yang jelas al-Qur’an itu adalah kalamullah.’ Ketahuilah (bahwasanya keyakinan Ahlus Sunnah adalah), al-Qur’an adalah kalamullah, bukan makhluk.” Jaminan Bagi yang Berpegang Teguh dengan Al-Qur’an Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Allah Subhanahu wata’ala menjamin seorang yang membaca al-Qur’an dan mengamalkannya tidak akan tersesat di dunia dan tidak akan celaka di akhirat.” Kemudian beliau radhiyallahu ‘anhu membaca,

وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ() قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَىٰ وَقَدْ كُنتُ بَصِيرًا () قَالَ كَذَٰلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا ۖ وَكَذَٰلِكَ الْيَوْمَ تُنسَىٰ

Barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. Berkatalah ia, “Ya Rabbku, mengapa Engkau mengumpulkanku dalam keadaan buta, padahal aku dahulu adalah seorang yang melihat?” Allah berfirman, “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamu pun dilupakan.” (Thaha: 124—126)

Demikian sebagian masalah akidah yang terkait dengan al-Qur’anul Karim. Mudah-mudahan kita senantiasa bisa memahami perkara agama ini sesuai dengan pemahaman salafus shalih dan mendapatkan taufik dari Allah Subhanahu wata’ala untuk beramal sebagaimana salafus shalih beramal. Amin.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abdurrahman Mubarak

Berlindung kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dari Empat Hal

Mengenal kebaikan lalu mengamalkannya dan mengetahui kejelekan kemudian waspada darinya adalah jalan yang terang menuju keridhaan Allah Subhanahu wata’ala. Akan tetapi, sebagai makhluk yang lemah tentu kita sangat membutuhkan bantuan dari Allah Subhanahu wata’ala, Dzat Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Tanpa bimbingan dari Allah Subhanahu wata’ala niscaya kita tidak tahu hal-hal yang bermanfaat untuk kemudian diambilnya serta tidak akan tahu kejelekan lalu menghindar darinya. Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berlindung kepada Allah Subhanahu wata’ala dari empat hal yang berdampak sangat jelek baik dalam kehidupan di dunia ini, lebih-lebih di akhirat nanti. Empat kejelekan itu seperti tersebut dalam doa beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam,

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُبِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ وَمِنْ دَعْوَةٍ لَا يُسْتَجَابُ لَهَا

 “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyuk, jiwa yang tidak merasa kenyang (puas), dan dari doa yang tidak dikabulkan.” (HR . Muslim no. 2722 dari Zaid bin Arqam radhiyallahu ‘anhu)

Dalam hadits ini ada empat kejelekan yang harus kita waspadai.

1. Ilmu yang Tidak Bermanfaat

Ketahuilah, yang diinginkan dari ilmu adalah untuk diyakini dan diamalkan. Apabila ilmu sebatas kliping pengetahuan yang menumpuk di benak seseorang dan tidak keluar sebagai amal nyata dalam kehidupan sehari-hari, ini jenis ilmu yang membawa petaka bagi pemiliknya. Kelak pada hari kiamat kaki seorang hamba tidak akan bergeser dari sisi Rabbnya sampai ditanyai tentang beberapa perkara, di antaranya tentang ilmunya, apa yang telah ia amalkan. Mengamalkan ilmu juga menjadi perkara terbaik untuk menjaga ilmu tersebut agar mengakar pada kalbu.

Ada beberapa hal yang termasuk ilmu yang tidak bermanfaat, di antaranya:

a. Ilmu yang dicari untuk mendebati para ulama dan untuk menyombongkan diri di hadapan orang-orang bodoh. Orang yang seperti ini tergolong orang yang bodoh karena dia tidak tahu tujuan menimba ilmu ialah untuk menghilangkan kebodohan dari dirinya dan beribadah kepada Allah Subhanahu wata’ala di atas petunjuk.

b. Menimba ilmu untuk mendapatkan kegemerlapan duniawi dan mencari popularitas. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ يَتَعَلَّمَهُ إِ لِيُصِيْبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barang siapa mempelajari ilmu yang (seharusnya) dicari dengannya wajah Allah Subhanahu wata’ala, (namun) ia tidaklah mempelajarinya kecuali untuk mendapatkan harta benda dunia, ia tidak akan mendapatkan bau surga pada hari kiamat.” (HR . Abu Dawud dan dinyatakan sahih sanadnya oleh an-Nawawi)

c. Ilmu yang tidak ditebarkan kepada orang lain, apalagi sampai menyembunyikan ilmu dari orang yang sangat membutuhkan. Apabila ia menebarkannya lalu diamalkan oleh orang lain, niscaya akan menjadi amal jariyah baginya. Pahalanya terus mengalir kepadanya sekalipun ia telah mati.

d. Ilmu yang menjurus kepada kemaksiatan dan kekufuran seperti ilmu sihir. Ilmu seperti ini haram untuk dipelajari dan dipraktikkan.

2. Hati yang Tidak Khusyuk

Ini adalah jenis hati yang tidak tenteram dengan mengingat Allah Subhanahu wata’ala. Padahal hati hanyalah dicipta untuk tunduk kepada yang menciptakannya (Allah Subhanahu wata’ala) sehingga dada menjadi lapang karenanya dan siap diberi cahaya petunjuk. Jika kondisi hati tidak seperti itu, berarti ia adalah hati yang kaku dan gersang. Kita berlindung kepada Allah Subhanahu wata’ala darinya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

فَوَيْلٌ لِّلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُم مِّن ذِكْرِ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ فِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ

“Kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.” (az-Zumar: 22)

Kekhusyukan hati sumbernya adalah pengetahuan yang mendalam tentang Allah Subhanahu wata’ala dan kebesaran-Nya. Oleh karena itu, ada yang khusyuk hatinya karena mengetahui bahwa Allah Subhanahu wata’ala dekat dengan hamba-Nya dan mengetahui gerak-geriknya sehingga ia malu jika Allah Subhanahu wata’ala melihatnya dalamipenentangan terhadap aturan-Nya. Ada juga yang khusyuk karena memandang dahsyatnya hukuman Allah Subhanahu wata’ala kepada orang yang bermaksiat kepada-Nya. Ada pula yang khusyuk karena melihat kepada sempurnanya kekuasaan Allah Subhanahu wata’ala dan besarnya anugerah dari- Nya yang tidak bisa dihitung. Allah Subhanahu wata’ala telah memuji orang-orang yang khusyuk dan mempersiapkan surga bagi mereka. Ketika meyebutkan para lelaki dan perempuan yang khusyuk, Allah Subhanahu wata’ala menyatakan,

أَعَدَّ اللَّهُ لَهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

“Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (al-Ahzab: 35)

Seorang yang khusyuk saat melaksanakan ibadah, niscaya akan merasakan lezatnya berbisik-bisik dan memohon kepada Sang Khalik. Hatinya menjadi damai dan selalu tenteram mengingat-Nya. Khusyuk dalam shalat menjadi ruh shalat tersebut, dan shalat seorang hamba dinilai dengannya. Ada beberapa hal yang bisa membantu hamba untuk mewujudkan kekhusyukan dalam shalat, di antaranya:

a. Mendatangi shalat dengan tenang dan tidak terburu-buru meskipun iqamat telah dikumandangkan dan shalat sebentar lagi akan ditegakkan.

b. Mendahulukan menyantap hidangan apabila hidangan makanan telah disuguhkan. Hal ini bukan berarti mendahulukan hak diri sendiri di atas hak Allah Subhanahu wata’ala. Sebab, kekhusyukan adalah hak Allah Subhanahu wata’ala yang akan terwujud dengan segera menyantap hidangan makanan yang telah disuguhkan. Nabi n bersabda,“Apabila makan malam telah dihidangkan, mulailah makan malam sebelum shalat maghrib.” (HR . al-Bukhari dan Muslim)

c. Berusaha memahami apa yang dibaca dalam shalatnya. Dahulu apabila melewati ayat yang menyebutkan azab, Rasulullah n berlindung kepada AllahSubhanahu wata’ala darinya; apabila melewati ayat yang menyebutkan rahmat Allah Subhanahu wata’ala, beliau memohon rahmat; dan apabila melewati ayat yang mengandung bentuk penyucian kepada Allah Subhanahu wata’ala, beliau pun bertasbih.” (HR . Ahmad, Muslim dan Sunan yang empat dari Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu)

d. Tidak menahan buang air besar dan buang air kecil.

e. Menyingkirkan segala yang bisa mengganggu kekhusyukan dalam shalat.

f. Pandangan diarahkan ke tempat sujud dan tidak menoleh, apalagi mengangkat pandangan ke atas. Sebab, dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menundukkan kepala dan mengarahkan pandangannya ke tanah ketika shalat.

Demikian di antara kiat-kiat untuk khusyuk di dalam shalat. Apabila seorang menjalankan shalat dengan khusyuk, niscaya shalat yang dilakukannya akan bisa mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Sesuai dengan tenteramnya hati hamba dengan Allah Subhanahu wata’ala, setingkat itulah manusia sejuk memandangnya. Khusyuk dalam shalat menjadi sebab diampuninya dosa, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam,

مَا مِنِ امْرِئٍ تَحْضُرُهُ صَلَاةٌ مَكْتُوْبَةٌ فَيُحْسِنُ وُضُوْءَهَا وَخُشُوْعَهَا وَرُكُوْعَهَا إِ كَانَتْ كَفَّارَةً لِمَا قَبْلَهَا مِنَ الذُّنُوْبِ مَا لَمْ يُؤْتَ كَبِيْرَةٌ

“Tiada seseorang yang telah sampai kepadanya (waktu) shalat wajib lalu dia membaguskan wudhunya, khusyuk, dan rukuknya, kecuali shalat itu akan menghapus dosa yang dilakukan sebelum shalat itu, selama dosa besar tidak dilakukan.” (HR . Muslim)

3. Jiwa yang Tidak Pernah Puas

Tenteram dan puasnya jiwa adalah kebahagiaan hidup yang tak ternilai. Namun, sayangnya tidak semua orang mendapatkan kepuasan jiwa dan kehidupan yang bahagia. Harta yang melimpah ruah\ dan jabatan yang terpandang terkadang tidak mampu mengantarkan seorang kepada kebahagiaan hidup. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah menjelaskan hakikat kaya dan tenteramnya jiwa dalam sabdanya,

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

“Kekayaan bukanlah karena banyaknya harta, melainkan kayanya jiwa.” (Muttafaqun ‘alaih)

Andaikata seorang ingin menuruti nafsu serakahnya terhadap dunia, niscaya habis umurnya untuk sesuatu yang siasia. Kematian akan datang kepadanya padahal keinginan nafsunya belum tercapai seluruhnya. Ketidakpuasan terhadap pemberian Allah Subhanahu wata’ala akan melahirkan beberapa problem hidup yang berdampak serius bagi kelangsungan hidup di dunia ini. Seorang yang rakus terhadap harta akan berusaha mengumpulkan harta tanpa peduli dari jalan apa ia mendapatkannya. Dia akan berani menabrak norma-norma agama dan melepaskan adab-adab kesopanan di tengah-tengah masyarakat. Dia juga akan bakhil terhadap harta yang telah didapat sehingga tidak mau berderma dan menyantuni orang yang papa dan menderita. Orang yang seperti ini dibenci oleh Allah Subhanahu wata’ala dan tidak disukai oleh manusia. Di antara bentuk ketidakpuasan jiwa adalah tidak ada kepuasan dalam hal makan, minum, dan berpakaian. Untuk mengejar kepuasan semu tersebut, terkadang seorang melampaui batas menggunakannya. Ia berusaha memenuhi kepuasan jiwanya meski harus melanggar aturan agama dan menyelisihi akal sehat. Sikap menerima pemberian Allah Subhanahu wata’ala dan merasa cukup dengan anugerahnya adalah ladang kesuksesan. Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam,

فَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللهُ بِمَا آتَاهُ

“Telah sukses orang yang masuk Islam dan diberi rezeki yang cukup serta merasa puas dengan pemberian Allah l.” (HR . Muslim dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma)

Agar seorang bisa merasa puas dengan pemberian Allah Subhanahu wata’ala, ada beberapa faktor yang melandasinya.

a. Melihat dari sisi takdir. Tatkala seorang telah berusaha menggapai cita-cita dengan sepenuh semangat, dibarengi tawakal, kemudian mendapatkan hasil tidak seperti yang dicita-citakan, hendaklah ia yakin bahwa itu adalah suratan takdir sehingga dia ridha dengan keputusan Allah Subhanahu wata’ala. Dia hendaknya berbaik sangka kepada Allah Subhanahu wata’ala bahwa itulah yang terbaik baginya. Sebab, bisa jadi jika Allah Subhanahu wata’ala melimpahkan rezeki kepadanya sesuai dengan cita-citanya, dia akan lupa kepada Allah Subhanahu wata’ala, sombong, dan menggunakan nikmat itu untuk bermaksiat.

b. Melihat besarnya tanggung jawab. Besarnya nikmat menuntut banyaknya rasa syukur. Jika diberi rezeki melimpah, belum tentu dia bisa mengungkapkan rasa syukur kepada Allah Subhanahu wata’ala sehingga nikmat itu justru menjadi beban baginya.

c. Melihat orang-orang yang di bawahnya dalam hal harta dan yang semisalnya.

Dengan demikian, dia akan mensyukuri pemberian Allah. Sebab, ternyata masih banyak orang-orang yang lebih mengenaskan kondisinya dibandingkan dengan dirinya. Nabi n bersabda, “Lihatlah orang yang lebih rendah dari kalian dan jangan melihat yang lebih tinggi dari kalian. Sebab, hal itu lebih pantas untuk kalian agar tidak meremehkan nikmat Allah Subhanahu wata’ala yang diberikan kepada kalian.” (Muttafaqun ‘alaih)

Maksud “melihat yang lebih rendah” adalah dari sisi harta dan kondisi keduniaan.

4. Doa yang Tidak Didengar dan Tidak Dikabulkan oleh Allah Subhanahu wata’ala

Ini tentu suatu kerugian besar. Sebab, hamba tidaklah mampu mendatangkan maslahat bagi dirinya tanpa bantuan Allah Subhanahu wata’ala. Bagaimana tidak merugi, padahal Allah Subhanahu wata’ala telah menjanjikan akan mengabulkan permohonan hamba-Nya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ

“Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” (Ghafir: 60)

Tidak dikabulkannya doa tidak berarti Allah l ingkar janji, tetapi hamba itu sendiri yang belum memenuhi persyaratan diterimanya doa. Ibrahim bin Adham rahimahullah pernah ditanya tentang ayat di atas, bahwa seseorang telah berdoa kepada Allah Subhanahu wata’ala tetapi belum dikabulkan. Beliau menjawab, “Engkau kenal Allah Subhanahu wata’ala, tetapi tidak mau menaati-Nya. Engkau membaca al-Qur’an, tetapi tidak mengamalkannya. Engkau mengetahui setan, tetapi justru mencocokinya. Engkau mengaku cinta kepada Rasul, namun meninggalkan sunnahnya. Kau mengaku cinta kepada surga, tetapi tidak beramal untuknya. Kau mengaku takut neraka, tetapi tidak berhenti dari dosa. Kau mengatakan bahwa kematian itu benar adanya, tetapi tidak bersiap-siap menghadapinya. Engkau sibuk dengan kesalahan orang dan tidak melihat kesalahan sendiri. Engkau memakan rezeki Allah Subhanahu wata’ala, tetapi tidak bersyukur. Engkau pun mengubur orang yang mati, tetapi tidak mau mengambil pelajaran.” (al-Khusyu’ fi ash-Shalah hlm. 39 karya Ibnu Rajab rahimahullah)

Tiada yang lebih bermanfaat bagi kita dari bermuhasabah (introspeksi diri). Barangkali kita belum tulus ketika memohon kepada Allah Subhanahu wata’ala. Bisa jadi, kita memohon dengan hati yang lalai dan bermain-main, jauh dari keseriusan, atau tergesa-gesa ingin dikabulkan. Karena tidak kunjung dikabulkan, kemudian kita meninggalkan doa. Hal-hal di atas adalah faktor utama tertundanya jawaban atas permohonan kita. Jangan lupa pula, makanan, minuman, dan pakaian yang haram juga menjadi faktor utama ditolaknya doa. Oleh karena itu, koreksilah diri kita dan ajaklah untuk memenuhi persyaratan doa. Semoga jawaban dari Allah Subhanahu wata’ala atas doa kita menjadi kenyataan. Jangan pernah kecewa ketika berdoa dan tidak kunjung dikabulkan. Sebab, doa itu sendiri adalah ibadah yang tentu ada nilainya di sisi Allah Subhanahu wata’ala. Bisa jadi, karena Allah Subhanahu wata’ala suka dengan rintihan hamba kepada-Nya. Seandainya segera dikabulkan doanya, bisa jadi dia tidak lagi merintih di hadapan Rabbnya. Akhirulkalam, semoga Allah Subhanahu wata’ala senantiasa membimbing kita kepada hal yang bermanfaat untuk dunia dan akhirat kita, dan selalu menjauhkan kita dari segala kejelekan.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abdul Mu’thi Sutarman, Lc.

Al-Faruq Umar bin al-Khaththab (4) : Menjadi Penasehat Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu

Mendampingi Abu Bakr

Berita wafatnya Rasulullah n benarbenar menggoncang Madinah. Kota itu seakan berubah demikian gelap kehilangan cahayanya. Rintihan pilu terdengar dari setiap rumah kaum muslimin. Mereka benar-benar kehilangan seorang ayah, pemimpin, guru, sekaligus sahabat dan saudara yang lebih mereka cintai daripada jiwa raga mereka. Kaum muslimin seakan tidak percaya menerima kenyataan itu. Bahkan, salah seorang dari mereka yang dikenal tegar dan tegas serta berani, yaitu ‘Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu, juga terpukul akibat rasa kehilangan ini. Dengan pedang terhunus, ‘Umar memasuki Masjid Nabawi, berdiri di sisi mimbar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan berseru lantang, “Beberapa orang munafik mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah wafat.

Beliau tidak mati, tetapi menemui Rabbnya seperti Nabi Musa, yang meninggalkan kaumnya empat puluh malam lalu kembali kepada mereka. Demi Allah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pasti kembali sebagaimana Nabi Musa kembali dan pasti akan memotongmotong tangan dan kaki mereka yang mengatakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah meninggal dunia.” Itulah yang sempat dicatat sebagian ahli sejarah. Tiba-tiba, Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu memasuki masjid. Di wajahnya yang keriput tetapi bercahaya, masih tersisa tetes air mata.

Abu Bakr memang baru saja dari rumah putrinya, ‘Aisyah, tempat jasad suci manusia agung Shallallahu ‘alaihi wasallam terbaring. Dia masih sempat mencium Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang telah diselimuti sehelai kain. “Alangkah harumnya engkau ketika hidup dan setelah meninggal dunia,” katanya. “Bapak ibuku tebusanmu. Demi Allah, Allah tidak mengumpulkan untukmu dua kematian. Adapun kematian yang sudah ditetapkan bagimu telah engkau alami.” Setelah itu, Abu Bakr keluar rumah dan berjalan mendekati ‘Umar lalu menegurnya, “Duduklah, hai ‘Umar.” ‘Umar seperti tuli.

Dia enggan duduk dan masih mengangkat pedangnya di hadapan para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Melihat sikap ‘Umar, Abu Bakr tidak memaksanya lebih lanjut, tetapi terus melangkah menaiki mimbar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Melihat Abu Bakr berdiri di atas mimbar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, kaum muslimin segera meninggalkan ‘Umar yang tetap berdiri gagah. Abu Bakr memulai pujian dan sanjungan kepada Allah Subhanahu wata’ala dan berpidato, yang di antara ucapannya yang terkenal ialah, “Siapa yang menyembah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, maka sesungguhnya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam sudah wafat. Akan tetapi, siapa yang menyembah Rabb (Yang Mencipta, Menguasai, Memberi Rezeki dan Mengatur) Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, maka sesungguhnya Allah Mahahidup dan tidak akan mati. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِهِ الرُّسُلُ ۚ أَفَإِن مَّاتَ أَوْ قُتِلَ انقَلَبْتُمْ عَلَىٰ أَعْقَابِكُمْ ۚ وَمَن يَنقَلِبْ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ فَلَن يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا ۗ وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ

‘Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika Dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa berbalik ke belakang, ia tidak dapat mendatangkan mudarat kepada Allah sedikit pun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.’1 (Ali ‘Imran: 144)

Begitu mendengar Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu membacakan ayat tersebut, pedang di tangan ‘Umar terlepas dan dia pun jatuh terduduk. Seketika itu juga terdengarlah isak tangis para sahabat yang ada di masjid. Mereka benar-benar yakin bahwa Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam sang junjungan telah pergi mendahului mereka menemui Rabbnya. Mereka pun kembali ke rumah masingmasing sambil tetap menangis, lebih dari sekadar kehilangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Yang mereka sedihkan adalah terhentinya wahyu dari langit. Kesedihan itu tidak berlangsung lama. Para sahabat Anshar mulai membicarakan siapa yang akan memegang kendali urusan Islam dan kaum muslimin sepeninggal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Mereka berkumpul di Saqifah bani Sa’idah. ‘Umar segera mengajak Abu Bakr agar segera menemui sahabat-sahabat Anshar di Saqifah tersebut. Ternyata beberapa Muhajirin juga sudah ada di sana, tetapi majelis itu didominasi oleh Aus dan Khazraj. Terjadi dialog yang cukup seru, setiap pihak mengemukakan pendapatnya. Ada yang berpendapat bahwa kendali urusan ini dipegang oleh Anshar karena Madinah adalah tanah air mereka. Yang lain mengusulkan agar Muhajirinlah yang menjadi pemimpin. Keributan sempat terjadi di antara mereka, namun setelah Abu Bakr menyebutkan hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa pemimpin itu dari Quraisy, para sahabat lain menerimanya.

Setelah mereka menerima, Abu Bakr menggenggam tangan ‘Umar mencalonkannya sebagai pengganti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, tetapi dengan sigap ‘Umar membalikkan tangan dan berkata, “Demi Allah, andaikata leherku dipenggal tanpa dosa, lebih aku sukai daripada menjadi pemimpin rakyat yang di situ ada Abu Bakr.” Kemudian, ‘Umar meminta Abu Bakr membentangkan tangannya. Tanpa curiga Abu Bakr membentangkan tangannya. Dengan segera ‘Umar menggenggam tangan itu lalu membaiatnya. Orang-orang Muhajirin yang ada segera mengikuti ‘Umar, demikian pula orang-orang Anshar.

Semoga Allah Subhanahu wata’ala meridhai mereka. Sejak saat itu, Abu Bakr telah resmi menjadi khalifah menggantikan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memimpin kaum muslimin. Beliau lebih suka dipanggil sebagai Khalifah Rasulullah n. Selama kepemimpinan Abu Bakr, ‘Umar adalah penasihat andalannya di samping beberapa sahabat senior lainnya, seperti ‘Utsman, ‘Ali, ‘Abdurrahman bin ‘Auf, dan Abu ‘Ubaidah . Pada awal kepemimpinannya, kaum muslimin disentakkan oleh berita murtadnya sebagian saudara mereka di beberapa tempat di Jazirah Arab. Beberapa kabilah dengan lantang menyatakan lepas dari Madinah. Mereka menolak zakat yang dahulu pernah mereka serahkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Menurut mereka, setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, tidak ada yang berhak menarik zakat dari mereka. Lebih mengerikan lagi, orangorang bani Hanifah dengan berani mengangkat Musailamah al-Kadzdzab sebagai nabi sepeninggal Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Sementara itu, beberapa kabilah di sekeliling Madinah, juga sudah mulai bergabung dengan Musailamah al- Kadzdzab. Jauh di sana, di sebelah utara Jazirah Arab, imperium Romawi dan beberapa jajahannya yang ada di wilayah Syam, seperti raja-raja Ghassan telah pula merencanakan serangan besar-besaran untuk memadamkan cahaya Allah Subhanahu wata’ala.

Menurut mereka, pemimpin kaum muslimin sudah meninggal dunia, tentu mereka masih dalam keadaan lemah dan belum memikirkan siapa yang diangkat sebagai pengganti. Kalaupun ada, belum tentu seperti nabi mereka Shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka melakukan tipu daya, tetapi Allah Subhanahu wata’ala sebaik-baik yang membalas tipu daya. Iman yang ada di hati orang-orang yang ditinggalkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam keadaan beliau ridha, bukan iman yang mentah, karena ikut-ikutan atau karena terpaksa. Iman mereka adalah iman yang telah matang dengan berbagai ujian dan tempaan. Seperti kata pepatah Arab yang menyebutkan bahwa ujian itu menampakkan kecemerlangan seseorang. Ibarat emas, yang semakin berkilau dengan ditempa. Iman mereka lebih tegar dari sebuah gunung batu yang tinggi menjulang. Iman, yang bagi sebagian mereka, memindahkan sebuah gunung dari tempatnya lebih mudah daripada mengerjakan sesuatu yang tidak pernah diperintahkan atau dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Subhanallah. Ya Allah, hati seperti apa yang Engkau letakkan di dadadada mereka sehingga mereka memiliki keyakinan demikian kuat. Iman seperti apa yang Engkau tanamkan di hatihati mereka hingga ketika mereka tidak mempunyai perahu menyeberangi sebuah sungai, mereka shalat dan berdoa kepada Allah l, kemudian mereka bawa untaunta dan kuda-kuda perang mereka menyeberangi sungai yang dalam itu. Ternyata kaki-kaki kuda mereka tidak basah, bahkan tidak tenggelam. Ya Allah, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dalam beriman. Janganlah Engkau letakkan dendam dan kedengkian di dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Sesungguhnya Engkau Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Sebelum Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam wafat, beliau menyiapkan sebuah pasukan di bawah pemuda yang disayang oleh beliau, putra orang yang disayang oleh beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam. Belum ada 20 tahun usia anak muda itu. Kulitnya hitam, mungkin karena ibunya berkulit hitam. Dia adalah putra maula Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, Zaid bin Haritsah dari istrinya yang pernah menjadi inang pengasuh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, Ummu Aiman . Pemuda gagah berkulit hitam itu adalah Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma. Sama seperti ketika ayahnya diangkat sebagai panglima kaum muslimin, mengundang tanda tanya dari beberapa sahabat, mengapa bukan dari Quraisy atau yang sederajat? Kepemimpinan Usamah juga demikian.

Akan tetapi, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam hanya mengatakan bahwa Usamah sangat layak menjadi panglima, sebagaimana ayahnya juga layak menjadi panglima. Jawaban ini sudah cukup menenteramkan hati para sahabat. Tepat di hari-hari menjelang sakit beliau n, pasukan Usamah sudah siap meninggalkan Madinah. Di dalam pasukan tersebut terdapat sejumlah sahabat senior dari Muhajirin dan Anshar. Berbaris pula di dalamnya para tokoh pemuka masyarakat sejumlah kabilah di Tanah Arab. Itulah mungkin yang jadi tanda tanya para sahabat. Akan tetapi, iman yang ada di dalam hati mereka yang jujur dan lurus, langsung berhadapan dengan jawaban Rasulullah n yang tidak mungkin mengucapkan sesuatu yang batil.

Mendengar jawaban Rasulullah n, keraguan dalam hati mereka segera lenyap bagai debu yang menempel di batu cadas yang licin lalu disiram oleh hujan yang deras. Mereka yakin, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mungkin salah pilih, lebih-lebih dalam keadaan seperti ini. Mereka pun berangkat. Tepat ketika sakit Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bertambah parah, pasukan ini sudah berada di perbatasan Madinah. Begitu mendengar keadaan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam cukup parah, pasukan itu berhenti dan berkemah sambil menunggu perkembangan. Setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berangkat menemui Allah Subhanahu wata’ala, pasukan itu tidak jadi berangkat, bahkan kembali ke Madinah. Kini, kekhalifahan ada di tangan Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu. Kaum muslimin telah sepakat menerima dan mengakui kekhalifahannya.

Begitu pula keluarga bani Hasyim yang sempat tertunda memberikan baiat. Abu Bakr bukan tidak mendengar berita tentang kabilah Arab yang murtad di sekeliling Madinah. Abu Bakr bukan tidak mengerti bahwa pihak Romawi tidak akan tinggal diam dan pasti mengambil kesempatan seperti keadaan genting saat ini. Beberapa sahabat dimintai pendapat, termasuk ‘Umar al-Faruq. Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu sudah bertekad tetap akan melepas pasukan Usamah menghadapi Romawi di tempat gugurnya Zaid bin Haritsah ayah Usamah. Tetapi, para sahabat lain memberi pertimbangan lain. “Lebih baik pasukan Usamah tetap di Madinah,” kata sebagian di antara mereka. Mungkin mereka bermaksud agar pasukan itu dapat dimanfaatkan untuk menjaga stabilitas keamanan di kota Madinah. Yang lain ada yang memberi saran, jangan Usamah yang dijadikan panglima.

Hampir semua sahabat yang dimintai pendapat berusaha menahan tekad kuat sang Khalifah radhiyallahu ‘anhu. Pertimbangan yang mereka ajukan sangat manusiawi dan masuk akal. Tetapi, tidak demikian menurut Abu Bakr yang pandangannya sering bersesuaian dengan pandangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Ketajaman firasat beliau yang sering menerima taufik dari Allah Subhanahu wata’ala mementahkan semua pendapat yang disodorkan kepadanya. Dengan tegas Abu Bakr menyatakan, “Demi Yang jiwaku di tangan-Nya (Allah), seandainya aku yakin bahwa binatang buas pasti menyergapku, niscaya aku tetap akan melepaskan pasukan Usamah, sebagaimana yang diperintahkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Seandainya tidak ada yang tersisa di negeri ini selainku, maka pasti aku tetap melepasnya.” Usamah sendiri pernah meminta ‘Umar agar memintakan izin kepada Khalifah agar dia kembali ke Madinah.

Akan tetapi, Abu Bakr berkata, “Seandainya anjing-anjing dan serigala menerkamku, aku tidak akan membantah keputusan yang telah dibuat oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.” ‘Umar juga pernah diminta oleh sebagian pemuka Anshar agar memberi pertimbangan kepada Khalifah tentang kepemimpinan Usamah. Kata beliau, “Beberapa tokoh Anshar memintaku menyampaikan bahwa mereka meminta Anda mengangkat panglima yang lebih senior daripada Usamah.” Abu Bakr yang sedang duduk segera melompat ke arah ‘Umar dan menarik janggutnya, “Sedihnya ibumu, hai putra al-Khaththab. Usamah itu diangkat oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, sementara engkau menyuruhku mencopotnya?” Setelah mendengar ketegasan Abu Bakr, ‘Umar menemui orang-orang yang mengutusnya. Kata mereka, “Apa yang engkau lakukan?” “Sedihnya ibu kalian, pergilah.

Disebabkan oleh kalian, aku tidak menerima sesuatu yang baik dari Khalifah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.” Pasukan Usamah mulai berangkat diiringi oleh Khalifah yang berjalan kaki mengantar ke gerbang kota. Sebelum berpisah, Khalifah meminta izin Panglima muda itu agar ‘Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu tinggal di Madinah menemaninya. Panglima muda Usamah memberi izin. Akhirnya, ‘Umar tidak jadi berangkat dan tetap di Madinah sebagai pembantu dan teman diskusi Khalifah Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu. Ketajaman berpikir ‘Umar telah terlihat sejak beliau diminta mendampingi Khalifah. Suatu ketika, datang dua orang dari sebuah desa, mengadu kepada Khalifah bahwa di desa mereka ada sebidang tanah yang berair, tidak ada rumput dan manfaatnya.

Mereka ingin Khalifah memberi mereka tanah itu untuk ditanami dan diolah, dengan harapan semoga sesudah hari itu Allah Subhanahu wata’ala memberikan keuntungan dengan tanah itu. Abu Bakr meminta pendapat sahabat yang ada ketika itu, sementara ‘Umar sedang mengurus untanya. Para sahabat menyarankan agar tanah itu diserahkan kepada mereka dengan harapan Allah Subhanahu wata’ala memberi mereka manfaat sesudah itu. Abu Bakr menerima saran mereka dan menuliskan sebuah surat lalu menyuruh mereka menemui ‘Umar untuk menjadi saksi. Kedua orang itu segera menemui ‘Umar dan membacakan isi surat tersebut.

Setelah selesai dibacakan, ‘Umar meminta surat itu lalu menghapus isinya dan mengembalikannya kepada mereka. Kedua orang itu segera kembali sambil menahan jengkel. Begitu berhadapan dengan Khalifah, mereka berkata, “Yang jadi Khalifah itu Anda atau ‘Umar?” “Sebetulnya dia, kalau dia mau.” ‘Umar datang sambil menahan marah lalu berdiri di depan Khalifah, “Terangkan kepadaku tentang tanah yang Anda serahkan kepada dua orang ini, apakah tanah itu milik Anda sendiri, ataukah milik seluruh kaum muslimin?” “Milik kaum muslimin.” ‘Umar mencecar, “Apa yang mendorong Anda mengistimewakan dua orang ini di luar kaum muslimin lain?” “Saya sudah meminta pendapat mereka yang ada di sini dan mereka menyarankan hal itu kepada saya.” “Kalau Anda sudah bermusyawarah dengan mereka yang ada di sekeliling Anda ini, maka seluruh kaum muslimin harus menerima dan meridhainya.”

Kata ‘Abu Bakr, “Saya sudah pernah mengatakan bahwa dalam urusan ini engkau lebih kuat/pantas daripada saya, tetapi engkau mengalahkan saya.” Terakhir, tentu kita masih ingat saat terjadinya Perang Yamamah. Prajurit muslimin banyak yang gugur, khususnya para penghafal al-Qur’an. ‘Umar melihat keadaan ini membahayakan. Untuk itu, ‘Umar segera menemui Khalifah dan memberi saran agar segera diadakan pengumpulan ayat-ayat suci al-Qur’anul Karim. Jangan sampai kaum muslimin tidak mempunyai pegangan di dalam mempelajari dan mengamalkan agama mereka. Sebab, jika semakin banyak prajurit muslim yang gugur, khususnya para penghafal al-Qur’an, dikhawatirkan al-Qur’an akan ikut lenyap.

Mulanya Khalifah menolak, bahkan mengingkari saran ‘Umar dengan alasan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah berbuat demikian. Namun, Abu Bakr menerima juga saran ‘Umar dan menyerahkan pengerjaan proyek ini kepada Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu. Zaid yang pada awalnya menolak, akhirnya menerima tugas berat tetapi mulia ini. Itulah salah satu jasa besar ‘Umar bagi Islam dan kaum muslimin. Benarlah kata Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, “Islamnya ‘Umar adalah kemuliaan, hijrahnya adalah kemenangan, dan kepemimpinannya adalah rahmat.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Harits

Nikmat Berganti Petaka

Asal Usul Saba’

Ribuan tahun sebelum Masehi, berdiri sebuah kerajaan Arab kuno di bagian selatan Semenanjung Arab. Kerajaan yang makmur, aman, dan sentosa itu adalah Saba’. Saba’ adalah nama gelar salah seorang raja Yaman kuno, yaitu Saba’ bin Yasyjub. Dia digelari Saba’ karena dialah orang Arab yang pertama kali menjadikan musuh-musuh yang telah ditaklukkannya sebagai sabaya (tawanan). Dia dijuluki juga ar-Raisy, karena dialah yang pertama mengambil rampasan perang (ghanimah) lalu membagi-bagikannya kepada bangsanya. Bangsawan-bangsawan Tubba’ juga berasal dari keturunan Saba’, demikian pula Ratu Saba’ yang terkenal dan diceritakan bertemu dengan Nabi Sulaiman ‘Alaihissalam, yaitu Bilqis.

Nama asli Saba’ sendiri ialah ‘Abd Syams bin Yasyjub bin Ya’rub bin Qahthan. Tetapi, ahli sejarah dan nasab berselisih tentang Qahthan ini, keturunan siapakah dia? Ada yang berpendapat bahwa dia adalah anak cucu Iram bin Sam bin Nuh. Yang lain mengatakan dia keturunan ‘Abir, yaitu Hud ‘Alaihissalam, dan ada pula yang berpendapat dia adalah keturunan Nabi Isma’il bin Ibrahim ‘Alaihissalam. Yang terakhir ini, disimpulkan dari riwayat yang ada di dalam Shahih al- Bukhari, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melewati salah satu suku Anshar, yaitu Aslam, yang sedang berlomba memanah. Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

ارْمُوا يَا بَنِي إِسْمَاعِيلَ، ارْمُوا فَإِنَّ أَبَاكُمْ كَانَ رَامِيًا

“Panahlah, hai bani Isma’il, karena bapak kalian dahulu seorang pemanah.”

Hal ini karena orang-orang Anshar, baik Aus maupun Khazraj, berasal dari suku Azdi. Suku Azdi ini adalah keturunan Saba’ yang dahulu melakukan migrasi dari Yaman ke daerah sekitarnya, bahkan sampai ke Syam, Irak, dan Hijaz. Wallahu a’lam.

Kebanyakan peneliti menyebutkan bahwa kerajaan Saba’ adalah kerajaan tertua di Semenanjung Arab, dan telah berdiri di tanah Arab sejak 1300 SM. Ada juga yang berpendapat lebih tua dari itu (sekitar 2500 SM). Ibu kota pertama negeri ini adalah Shirwah, kemudian pindah ke Ma’rib yang akhirnya menjadi pusat perdagangan penting saat itu. Kerajaan Saba’ sudah dikenal di kalangan umat-umat terdahulu sebelum Islam. Di dalam Taurat, demikian pula dalam prasasti di zaman Raja Asyiria (720—705 SM), termaktub cerita yang menerangkan bahwa Kerajaan Saba’ pernah mengirimkan hadiah berupa emas, wangi-wangian, dan kayu a’syab kepada Raja Asyiria.  Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma pernah mengatakan bahwa ada seseorang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tentang Saba’, nama apakah itu, apakah seorang laki-laki ataukah perempuan, ataukah sebuah negeri?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

بَلْ هُوَ رَجُلٌ وَلَدَ عَشَرَةً فَسَكَنَ الْيَمَنَ مِنْهُمْ سِتَّةٌ وَبِالشَّامِ مِنْهُمْ أَرْبَعَةٌ فَأَمَّا الْيَمَانِيُّونَ فَمَذْحِجٌ وَكِنْدَةُ وَالْأَزْدُ وَالْأَشْعَرِيُّونَ وَأَنْمَارٌ وَحِمْيَرُ، عَرَبًا كُلَّهَا، وَأَمَّا الشَّامِيَّةُ فَلَخْمٌ وَجُذَامُ وَعَامِلَةُ وَغَسَّانُ

“Dia adalah (nama) seorang lakilaki yang mempunyai sepuluh orang anak. Enam di antara mereka menetap di Yaman, sedangkan yang empat lagi bermukim di Syam. Yang menetap di Yaman ialah Madzhij, Kindah, Azdi, Asy’ari, Anmar, dan Himyar. Semua adalah bangsa Arab. Adapun yang menetap di Syam ialah Lakhm, Judzam, ‘Amilah, dan Ghassan.”

Jadi, Saba’ adalah nama orang yang kemudian diabadikan sebagai nama sebuah kerajaan besar masa itu. Dialah yang pertama kali membangun kota Ma’rib (tiga marhalah5 dari ibu kota Shan’a). Sebagian ulama mengatakan bahwa dia seorang muslim. Dia mempunyai beberapa bait syair yang menerangkan berita gembira tentang kedatangan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, Akan menguasai kerajaan besar sepeninggal kami Seorang nabi yang tidak memberi keringanan terhadap yang haram Penduduk Saba’ bertempat tinggal di Yaman, sebagian mereka mendiami kota-kota besar dengan bentengbentengnya yang kokoh. Sisa-sisa peninggalan bangunan tersebut masih dapat kita lihat di zaman kita ini, meskipun kebanyakannya berupa puing-puing. Bekas-bekas tersebut menjadi bukti ‘kemajuan’ mereka saat itu dalam bidang arsitektur. Sebagaimana di atas, Saba’ di zaman itu adalah negeri yang subur dan makmur. Curah hujan yang tinggi adalah salah satu sebabnya, dan itu semua adalah anugerah Allah Subhanahu wata’ala bagi mereka. Kebun kurma dan anggur tumbuh dengan subur. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ آيَةٌ ۖ جَنَّتَانِ عَن يَمِينٍ وَشِمَالٍ

“Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Allah) di tempat kediaman mereka, yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri.” (Saba’: 15)

Kebun-kebun itu berada di kanan kiri wadi yang luas (biasanya dilalui air jika hujan turun). Begitu luasnya, diceritakan bahwa siapa saja yang berjalan di kebun-kebun itu tidak akan keluar dari naungan pepohonannya, karena subur dan lebatnya. Bahkan, para wanita yang ingin memetik hasil kebun mereka, cukup hanya membawa sebuah keranjang yang dijunjung di atas kepalanya dan berjalan di bawah rimbunan pohon di kebun mereka. Begitu mereka keluar, keranjang itu sudah penuh dengan buah-buahan. Sistem pemerintahan mereka juga lebih maju, angkatan perang negeri itu terkenal kuat. Seperti diceritakan di dalam al-Qur’an, betapa besar percaya diri para pembesar istana Ratu Saba’ ketika dimintai pendapat mereka oleh sang Ratu sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala

نَحْنُ أُولُو قُوَّةٍ وَأُولُو بَأْسٍ شَدِيدٍ

“Kita adalah orang-orang yang memiliki kekuatan dan (juga) memiliki keberanian yang sangat (dalam peperangan).” (an-Naml: 33)

Allah Subhanahu wata’ala benar-benar melimpahkan berbagai kesenangan hidup kepada mereka. Ibnu Katsir rahimahullah menukil cerita sebagian ahli bahwa di negeri itu dahulunya tidak terdapat serangga berbisa, nyamuk, dan kutu, karena iklim yang stabil. Semua itu adalah agar mereka beribadah hanya kepada Allah Subhanahu wata’ala satu-satu-Nya, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Penduduk Saba’ benar-benar menikmati kesenangan yang berlimpah di negeri mereka. Kemudian, Allah Subhanahu wata’ala mengutus para rasul yang memerintahkan mereka memakan sebagian rezeki yang Allah Subhanahu wata’ala berikan dan bersyukur kepada Allah Subhanahu wata’ala. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

لُوا مِن رِّزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ ۚ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ

“Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Rabbmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Rabbmu) adalah Rabb Yang Maha Pengampun.” (Saba’: 15)

Ibnu Ishaq menukilkan bahwa Allah Subhanahu wata’ala mengutus tiga belas orang nabi kepada penduduk Saba’, sementara as-Suddi mengatakan ada sekitar 12.000 nabi yang diutus kepada mereka. Demikian dinukil oleh Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya tentang surat ini.

Bendungan (Sadd) Ma’rib

Mulanya, air sungai mengalir begitu saja dari tempat yang sangat jauh tanpa mereka manfaatkan. Ada yang menyebutkan hampir tujuh puluh cabang anak sungai yang mengalir di sekeliling mereka. Penguasa Himyar yang memerintah saat itu menawarkan kepada rakyatnya untuk membuat bendungan sebagai tempat yang menampung dan mengatur sirkulasi air tersebut. Rakyat menerima dan mulai bekerja sama membuat bendungan tersebut dengan batu dan besi.

Di beberapa tempat mereka membuat saluran untuk mengatur sirkulasi air ke sawah ladang mereka, sehingga air itu benar-benar tersebar merata. Tinggi bendungan ini ada yang mengatakan 16 meter, sedangkan lebarnya 60 meter dan panjangnya 620 meter. Tetapi, melihat keadaan yang senantiasa menyenangkan itu, tumbuhlah dalam hati mereka keyakinan seakanakan kerajaan mereka tidak mungkin ada yang dapat menghancurkannya. Sedikit demi sedikit, mereka mulai menyembah matahari. Mereka merasa, mataharilah yang memberi kehidupan bagi mereka. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

فَأَعْرَضُوا

“Tetapi mereka berpaling,” (Saba’: 16)

dari beribadah dan mensyukuri Allah Subhanahu wata’ala atas nikmat yang telah dilimpahkan- Nya kepada mereka. Setan menggiring mereka agar beribadah kepada matahari. Kebiasaan baru yang buruk dan keji ini terus berlanjut turun-temurun, bahkan sampai pada masa pemerintahan Ratu Saba’, yang merupakan penguasa generasi ke-17 di kerajaan itu. Mereka merasa aman, yakin bahwa apa yang mereka lakukan adalah budaya leluhur dan adat-istiadat yang baik. Para rasul yang diutus kepada mereka justru diingkari dan dimusuhi. Setelah Ratu Saba’ beriman kepada Nabi Sulaiman ‘Alaihissalam, rakyatnya ikut pula beriman. Sampai beberapa kurun, mereka tetap beribadah kepada Allah Subhanahu wata’ala satu-satunya, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Namun, lama kelamaan, semakin jauh dari masa nubuwah, kehidupan yang serbanyaman, membuat mereka sombong.

Kesenangan yang mereka rasakan diakui sebagai milik mereka dan diperoleh karena usaha keras mereka. Sedikit demi sedikit, mereka kembali kepada budaya leluhur mereka yang salah jalan, menyembah matahari. Keadaan itu berlanjut sampai memasuki abad setelah masehi. Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma dan yang lain menyebutkan, ketika Allah Subhanahu wata’ala hendak menimpakan hukuman-Nya atas kekafiran mereka, dengan mengirimkan banjir besar kepada mereka, Dia mengirimkan seekor binatang sebangsa tikus yang menggerogoti bendungan itu. Menurut Ibnu Munabbih rahimahullah, penduduk Saba’ telah mendapati dalam kitab mereka bahwa bendungan itu akan dihancurkan oleh binatang sebangsa tikus, maka mereka menyiapkan kucing untuk menangkap tikus tersebut.

Tetapi, ketika waktu datangnya bencana itu sudah tiba, kucing yang mereka persiapkan tidak mampu menangkap tikus yang lari memasuki celah bendungan lalu menggerogoti bendungan itu. Tidak lama setelah itu, air pun menjebol dinding bendungan lalu menelan semua yang dilaluinya. Kebun-kebun yang hijau dengan buah-buahan yang rimbun hancur luluh. Pohon-pohon di kiri kanan wadi itu menjadi kering, mati. Kebun-kebun itu akhirnya ditumbuhi pohon atsl yang rasanya pahit dan sedikit pohon sidr (bidara). Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

فَأَعْرَضُوا فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ سَيْلَ الْعَرِمِ وَبَدَّلْنَاهُم بِجَنَّتَيْهِمْ جَنَّتَيْنِ ذَوَاتَيْ أُكُلٍ خَمْطٍ وَأَثْلٍ وَشَيْءٍ مِّن سِدْرٍ قَلِيلٍ () ذَٰلِكَ جَزَيْنَاهُم بِمَا كَفَرُوا ۖ وَهَلْ نُجَازِي إِلَّا الْكَفُورَ

“Maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun-kebun mereka dengan duakebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl, dan sedikit dari pohon Sidr. Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran mereka, dan Kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian itu), melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir.” (Saba’: 16—17)

Negeri Saba’ hancur. Bendungan itu pun akhirnya tinggal puing-puing yang tidak berguna. Sawah, ladang, manusia, dan ternak binasa. Ayah kehilangan anaknya, atau sebaliknya, dan istri kehilangan suaminya, demikian sebaliknya. Penduduk Saba’ pun pindah mencari tempat tinggal yang lain. Mereka menyebar ke negeri-negeri lain. Kebanyakan mereka pindah ke utara semenanjung Arab dan pantai timurnya serta wilayah Syam dan Irak. Termasuk yang eksodus ialah Aus dan Khazraj yang menetap di Yatsrib (sekarang Madinah), Ghassan yang mendirikan kerajaan di Syam, juga Lakhm yang mendirikan kerajaan di Irak, dan bani ‘Abd Qais yang mendirikan daulah ‘Amman.Menurut sebagian ahli sejarah, penyebaran itu terjadi 400 tahun sebelum Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam diutus. Kini, Yaman termasuk negara paling miskin di Semenanjung Arab. Wallahu a’lam.

Beberapa Faedah Kisah

Dari kisah yang ringkas ini, ada beberapa faedah yang dapat dipetik, antara lain:

1. Kesenangan yang diberikan Allah Subhanahu wata’ala kepada penduduk Saba’ tidak hanya bersifat jasmani berupa kesuburan tanah atau hasil panen yang berlimpah dan berkualitas, tetapi juga janji ampunan dan maaf atas kekurangan dan kesalahan. Tetapi Saba’ berpaling dari syukur kepada Allah Subhanahu wata’ala, tidak pula mengerjakan apa yang diperintahkan Allah Subhanahu wata’ala.

2. Kemaksiatan menjadi sebab turunnya azab dan hilangnya kenikmatan. Kehancuran umat-umat sebelum kita adalah karena mereka mengingkari nikmat yang dilimpahkan kepada mereka, kufur kepada Allah Subhanahu wata’ala dan jauh dari agama.

3. Semua kesenangan yang dirasakan oleh manusia adalah pemberian Allah Subhanahu wata’ala. Manusia tidak memiliki apa-apa ketika keluar dari rahim ibunya. Mata, telinga, dan akalnya belum berfungsi. Beranjak dewasa, Allah Subhanahu wata’ala memberikan fungsi bagi alat-alat tersebut sehingga seorang manusia dapat mengupayakan manfaat untuk dirinya, atau menolak mudarat dari dirinya.

4. Tidak ada yang melepaskan seseorang atau masyarakat dari kehancuran dan murka Allah Subhanahu wata’ala selain kembali bertobat kepada Allah Subhanahu wata’ala dan mmemperbaiki dirinya di jalan Allah Subhanahu wata’ala. Wallahul muwaffiq.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Harits

Al-Qahir

Di antara al-Asma’ul Husna adalah al-Qahir ( الْقَاهِرُ ) dan al-Qahhar ( الْقَهّ) ).Nama Allah Subhanahu wata’ala al-Qahir tersebut dalam firman-Nya,

وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ ۚ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْخَبِيرُ

“Dan Dialah yang berkuasa atas sekalian hamba-hamba-Nya. Dan Dialah Yang Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui.” (al-An’am: 18)

وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ ۖ وَيُرْسِلُ عَلَيْكُمْ حَفَظَةً حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ تَوَفَّتْهُ رُسُلُنَا وَهُمْ لَا يُفَرِّطُونَ

“Dan Dialah yang mempunyai kekuasaan tertinggi di atas semua hamba- Nya, dan diutus-Nya kepadamu malaikatmalaikat penjaga, sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh malaikatmalaikat Kami, dan malaikat-malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajibannya.” (al-An’am: 61)

Adapun al-Qahhar disebutkan pada enam tempat di dalam al-Qur’anul Karim, di antaranya,

قُلْ مَن رَّبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ قُلِ اللَّهُ ۚ قُلْ أَفَاتَّخَذْتُم مِّن دُونِهِ أَوْلِيَاءَ لَا يَمْلِكُونَ لِأَنفُسِهِمْ نَفْعًا وَلَا ضَرًّا ۚ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الْأَعْمَىٰ وَالْبَصِيرُ أَمْ هَلْ تَسْتَوِي الظُّلُمَاتُ وَالنُّورُ ۗ أَمْ جَعَلُوا لِلَّهِ شُرَكَاءَ خَلَقُوا كَخَلْقِهِ فَتَشَابَهَ الْخَلْقُ عَلَيْهِمْ ۚ قُلِ اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ

Katakanlah, “Siapakah Rabb langit dan bumi?” Jawabnya, “Allah.” Katakanlah, “Maka patutkah kamu mengambil pelindung-pelindungmu dari selain Allah, padahal mereka tidak menguasai kemanfaatan dan tidak (pula) kemudaratan atas diri mereka sendiri?” Katakanlah, “Adakah sama orang buta dan yang dapat melihat, atau samakah gelap gulita dan terang benderang; apakah mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah yang dapat menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka?” Katakanlah, “Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia-lah Rabb Yang Maha Esa lagi Mahaperkasa.” (ar-Ra’d: 16)

Jadi, Allah Subhanahu wata’ala memiliki sifat al- Qahr yang berarti menundukkan, mengalahkan, dan punya makna mengazab dari atas. Ibnu Jarir rahimahullah mengatakan, “Hanyalah Allah Subhanahu wata’ala mengatakan dalam ayat ( فَوْقَ عِبَادِهِ ) ‘di atas hamba-hamba- Nya’ karena Allah Subhanahu wata’ala menyifati diri-Nya bahwa Ia menundukkan mereka. Di antara sifat sesuatu yang menundukkan yang lain adalah dia berada di atasnya. Karena itu, makna firman-Nya adalah ‘Dan Allah-lah yang mengalahkan hamba-hamba-Nya dan menundukkan mereka’.”

Adapun al – Qahhar adalah bentuk mubalaghah dari kata al-Qahir, bentuk kata yang memberi arti yang lebih dalam pada sifat tersebut. As-Sa’di t menjelaskan, “Al-mQahhar, Yang Maha Menundukkan seluruh alam semesta baik yang atas maupun yang bawah, yang menundukkan segala sesuatu, yang tunduk kepada- Nya seluruh makhluk. Hal itu karena keperkasaan-Nya dan kesempurnaan kemampuan-Nya. Tidaklah sesuatu terjadi, dan tidaklah msesuatu tergerak selain dengan seizin- Nya. Apa yang Dia kehendaki pasti terjadi dan yang tidak Dia kehendaki maka tidak terjadi. Semua makhluk membutuhkan-Nya. Semuanya lemah, tidak memiliki kekuasaan untuk memberi dirinya manfaat ataupun mudharat, kebaikan ataupun kejelekan.

Sifat qahr pada-Nya menunjukkan bahwa Allah Subhanahu wata’ala memiliki sifat hidup, perkasa, dan mampu. Tidak sempurna penundukan-Nya terhadap semua makhluk, kecuali dengan kesempurnaan sifat hidup-Nya, keperkasaan-Nya, dan kemampuan-Nya.” Nama Allah Subhanahu wata’ala al-Qahhar yang terdapat dalam al-Qur’an selalu beriringan dengan nama Allah al-Wahid, Yang Maha Esa. As-Sa’di rahimahullah menjelaskan mhikmahnya, “Sesungguhnya tidak terdapat keesaan bersama dengan sifat menundukkan kecuali hanya milik Allah Subhanahu wata’ala satu-satu-Nya. Sebab, setiap makhluk pasti di atasnya ada makhluk lain yang menundukkannya. Di atas makhluk yang menundukkan itu ada makhluk lain lagi yang menundukkannya dan lebih tinggi darinya.

Penundukan itu berakhir pada Yang Maha Esa lagi Maha Menundukkan. Maha Menundukkan dan Maha Esa adalah dua sifat yang saling terkait dan mesti ada pada Allah Subhanahu wata’ala satu-satu-Nya. Jelaslah dengan dalil aqli bahwa semua yang disembah selain Allah Subhanahu wata’ala tidak punya kemampuan untuk menciptakan makhluk sedikit pun. Karena itu, tidak benar dia diibadahi. (Tafsir Surat ar-Ra’d: 16)

Ibnul Qayyim t juga mengatakan, Al-Qahhar tidak mungkin melainkan hanya satu. Sebab, apabila Dia memiliki tandingan yang sepadan lantas tidak mampu menundukkannya, dia tidak disebut Qahhar (yang menundukkan) secara mutlak. Apabila Dia bisa menundukkannya, tidak ada yang sepadan dengan-Nya, berarti al-Qahhar tidak lain kecuali hanya satu.” (ash-Shawa’iq al-Mursalah, 3/1032 dinukil dari Fiqh al-Asma’ul Husna)

Buah Mengimani Nama al-Qahir dan al-Qahhar

Di antara buahnya adalah ketundukan kita kepada Allah Subhanahu wata’ala. Kita harus menyadari kelemahan kita di hadapan- Nya. Hilangkan kesombongan, sifat congkak, dan takabbur, yang akan membuahkan penentangan terhadap syariat Allah Subhanahu wata’ala dan menolak aturan agama-Nya. Sadari kekurangan dan keterbatasan kemampuan kita, lalu tundukkan diri kita di hadapan-Nya dengan mematuhi segala aturan-Nya. Haturkan penghambaan diri kita kepada-Nya penuh ketundukan dengan menjalankan syariat-Nya. Sifat ini juga menunjukkan bahwa segala sembahan selain Allah Subhanahu wata’ala tidak berhak diibadahi. Sebab, semuanya tunduk di hadapan Allah Yang Mahaperkasa, Yang Mahamulia, dan Yang Maha Menundukkan. Mahatinggi Allah, al- Qahhar.

Ditulis oleh Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc

Saat Anda Dalam Kebatilan : 10 Bahan Renungan

Renungan Kelima
Renungkan, anggaplah bahwa Anda tumbuh dalam kebatilan. Itu tidak lepas dari (dua keadaan): didahului oleh sikap menyepelekan dan tidak. Pada kondisi yang pertama, apabila dia terus melakukan kekurangan tersebut dan tidak meninggalkannya, itu berarti kehancurannya. Jika ia kemudian belajar dan kebenaran menjadi jelas baginya, lalu kembali kepada kebenaran, berarti ia memperoleh kesempurnaan. Hilanglah darinya kekurangan yang ada sebelumnya. Sebab, tobat menghilangkan kekurangan yang sebelumnya. Orang yang bertobat dari dosa seperti halnya orang yang tidak pernah berdosa. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertobat dan menyucikan diri.” (al-Baqarah: 222)

Dalam hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam,

كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُونَ

“Semua anak Adam sering salah dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang senantiasa bertobat.” (HR . at-Tirmidzi, Ibnu Majah, ad-Darimi, dan Ahmad)

Kondisi kedua, seseorang tumbuh dalam kebatilan tanpa didahului oleh sikap menyepelekan. Pada kondisi ini, ia tidak tercela sama sekali dengan sebab kekurangan yang lalu. Penilaian itu berlaku terhadap kondisinya setelah dia diingatkan. Kalau setelah diingatkan, ia berpikir dan sadar, lalu mengetahui yang benar dan mengikutinya, ia beruntung. Demikian pula jika dia mengalami ketidakjelasan, lalu bersikap hati-hati (ia juga termasuk yang beruntung). Namun, apabila saat diingatkan dia berpaling dan menjauh, itulah kebinasaannya.

Ditulis oleh Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc

Posisi Kedua Tangan Saat Tasyahud

Di saat duduk dalam tasyahud ini, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam meletakkan telapak tangan kanannya di atas paha kanan dan telapak tangan kiri di atas paha kiri. Ini sebagaimana disbutkan oleh hadits Abdullah ibnu az-Zubair radhiyallahu ‘anhuma,

وَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى فَخِذِهِ الْيُمْنَى وَيَدَهُ الْيُسْرَى عَلَى فَخِذِهِ الْيُسْرَى

“Beliau meletakkan tangan kanannya di atas paha kanan dan tangan kirinya di atas paha kiri.” (HR . Muslim no. 1308)

Demikian pula disebutkan oleh hadits Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma. (HR . Muslim no. 1311) Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam meletakkan lengan bawahnya di atas pahanya dan tidak menjauhkannya, hingga ujung siku beliau berada di akhir pahanya. Adapun lengan kiri dalam keadaan jari-jemarinya dibentangkan di atas paha kiri.” (Zadul Ma’ad, 1/256) Atau telapak tangan tersebut diletakkan di atas lutut, sebagaimana dalam riwayat yang lain,

وَضَعَ يَدَهُ الْيُسْرَى عَلَى رُكْبَتِهِ الْيُسْرَى وَوَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى رُكْبَتِهِ الْيُمْنَى

“Beliau meletakkan tangan kirinya di atas lutut kiri dan tangan kanannya di atas lutut kanan.” (HR . Muslim no. 1310)

Ujung siku kanan beliau letakkan di atas paha kanan, sementara jari telunjuk kanan beliau berisyarat dengan menunjuk. Adapun jari kelingking kanan dan jari manis dilipat. Ibu jari dan jari tengah beliau membuat lingkaran, sebagaimana dalam hadits Wail bin Hujr radhiyallahu ‘anhu yang menyebutkan sifat duduk tasyahud ini, di antaranya,

وَحَدَّ مِرْفَقَهُ الْأَيْمَنَ عَلَى فَخِذِهِ الْيُمْنَى، وَقَبَضَ ثِنْتَيْنِ وَحَلَقَ، وَرَأَيْتُهُ يَقُوْلُ هَكَذَا

“Beliau meletakkan ujung siku beliau yang kanan di atas paha kanan. Dua jari beliau lipat/genggam (kelingking dan jari manis) dan beliau membentuk lingkaran (dengan dua jari beliau). Aku melihat beliau melakukan seperti ini.” Bisyr ibnul Mufadhdhal (seorang rawi yang meriwayatkan hadits ini mencontohkan) mengisyaratkan jari telunjuk (meluruskannya seperti menunjuk), sedangkan jari tengah dan ibu jari membentuk lingkaran. (HR . Abu Daud no. 726, 957, dinyatakan sahih dalam Shahih Abi Dawud)

Berisyarat dengan Telunjuk Saat Tasyahud

Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma memberitakan bahwa ketika duduk untuk tasyahud, Rasulullah n meletakkan telapak tangan kirinya terbentang di atas lutut kirinya, sedangkan telapak tangan kanan yang berada di atas lutut kanan beliau genggam seluruh jari-jemarinya dan memberi isyarat ke kiblat dengan jari telunjuknya dan pandangan beliau diarahkan ke telunjuk tersebut. (HR . Malik 1/111—112, Muslim no. 1311)

Dikeluarkan oleh al-Imam Ahmad t (2/119) dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَهِيَ أَشَدُّ عَلَى الشَّيْطَانِ مِنَ الْحَدِيْدِ

“Jari telunjuk itu lebih keras bagi setan daripada besi.”

Al-Imam al-Albani rahimahullah menerangkan tentang hadits ini, “Sanadnya hasan atau mendekati hasan, karena rijalnya semua tsiqah, perawi kutubus sittah, selain Katsir ibnu Zaid, dia shaduq yukhthi’, seperti dalam at-Taqrib.” (al-Ashl, 3/839) Al-Imam at-Tirmidzi t berkata, “Berisyarat dengan jari telunjuk dalam tasyahud ini merupakan perkara yang diamalkan oleh sebagian ahlul ilmi dari kalangan sahabat Nabi n dan tabi’in. Ini pula pendapat yang dipegangi oleh teman-teman kami (ahlul hadits).” (Sunan at-Tirmidzi, kitab ash-Shalah, bab “Ma Ja’a fil Isyarah fit Tasyahud”)

Al-Imam Muhammad ibnul Hasan rahimahullah berkata dalam Muwaththa’nya, “Kami berqudwah dengan perbuatan Rasulullah n dan ini adalah pendapat Abu Hanifah1.” (sebagaimana dalam al-Ashl, 3/841) Al-Imam ‘Ali al-Qari al-Hanafi t mengatakan, “Demikian pendapat Malik, asy-Syafi’i, dan Ahmad, dan tidak diketahui ada perselisihan dari ulama salaf dalam masalah ini. Yang ada hanyalah penyelisihan sebagian fuqaha khalaf dari kalangan mazhab kami.” (sebagaimana dalam Tuhfah al-Ahwadzi, bab “Ma Ja’a fil Isyarah fit Tasyahud”)

Setelah membawakan sejumlah hadits tentang isyarat dengan jari telunjuk, al-Imam Ali al-Qari al-Hanafi rahimahullah dalam risalah Tazyin al-Ibarah li Tahsin al-Isyarah menyatakan, “Ini adalah hadits-hadits yang banyak, dengan jalur-jalur yang banyak, yang masyhur, dan tidak diragukan karenanya, yang menunjukkan sahihnya asal isyarat, karena sebagian sanad hadits-hadits ini ada dalam Shahih Muslim. Amalan yang satu ini bisa dikatakan mencapai mutawatir secara makna.

Karena itu, tidak boleh bagi orang yang beriman kepada Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya enggan mengamalkannya. Adapun ucapan mereka yang menolak berisyarat dengan telunjuk beralasan bahwa mengangkat telunjuk adalah perbuatan yang tidak dibutuhkan sehingga meninggalkannya lebih utama karena shalat dibangun di atas ketenangan, alasan ini tertolak. Sebab, andai meninggalkannya lebih utama, niscaya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak akan melakukannya, karena beliau memiliki sifat kewibawaan dan ketenangan yang paling tinggi, tidak ada yang menyamai.” (Sebagaimana dinukil dalam al-Ashl, 3/842)

 

Tata Cara Isyarah dalam Tasyahud

Tata cara isyarah dalam tasyahud ada dua, sebagaimana yang datang dalam riwayat yang kuat.

1. Jari kelingking dan jari manis dilipat ke bagian dalam telapak tangan, demikian pula jari tengah dan ibu jari. Hanya saja, ibu jari diletakkan di atas jari tengah, sedangkan jari telunjuk diluruskan (menunjuk), sebagaimana riwayat Ibnu Umar radhiallahu ‘anhu yang telah lalu.

2. Terkadang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam membuat lingkaran dengan jari tengah dan ibu jari, sebagaimana riwayat Wail ibnu Hujr z yang juga telah disebutkan di atas. Kedua cara di atas adaakeragaman beribadah dalam hal tata cara isyarah. Para ulama menyatakannya dengan istilah tanawwu’at fil ibadah, sehingga bisa diamalkan salah satu di antara keduanya. Terkadang mengamalkan yang ini, di waktu lain yang itu. Al-Imam Ali al-Qari t berkata, “Hal ini memberikan faedah bahwa kita diberi pilihan dua cara berisyarat, yang kedua-duanya sama-sama datang dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Ini adalah pendapat dan pengumpulan yang bagus. Karena itu, orang yang berjalan di atas sunnah sepantasnya terkadang melakukan yang satu dan di lain waktu yang lainnya.” (al-Ashl, 3/851—852)

 

Kapan Mulai Isyarah?

Penulis Tuhfah al-Ahwadzi, al- Mubarakfuri berkata, “Secara zahir (yang tampak), hadits-hadits isyarah semuanya menunjukkan bahwa isyarah dengan jari telunjuk dimulai dari awal duduk tasyahud. Saya tidak melihat satu pun dalil yang sahih yang menunjukkan apa yang dikatakan oleh para ulama mazhab Syafi’i dan Hanafi2.”

 

Duduk yang Dilarang saat Tasyahud

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melarang seseorang duduk dalam keadaan bersandar di atas tangan kirinya saat duduk dalam shalat. Beliau katakan, “Itu merupakan shalatnya Yahudi.” Dalam satu lafadz,

لاَ تَجْلِسْ هَكَذَا: إِنَّمَا هَذِهِ جِلْسَةُ الَّذِيْنَ يُعَذَّبُوْنَ

“Jangan kamu duduk seperti itu, karena hal itu hanyalah duduknya orangorang yang diazab.” ( HR . al-Hakim 1/272, dinyatakan sahih dalam al-Irwa no. 380)

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Ishaq Muslim al-Atsari

Menghilangkan Jari Yang Berlebih

Telah sampai sebuah surat dari seorang anak muda dari Republik Arab Mesir, Amin Taufik, yang bekerja di Kerajaan Saudi Arabia di kota Zulfi. Ia mengatakan bahwa dirinya telah dikaruniai seorang anak—walhamdulillah—tetapi di tangan kanannya ada jari yang lebih. Apakah dosa apabila dia hilangkan jari ini? Apakah terkandung dosa dalam pandangan Anda menurut syariat ini?

Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah menjawab sebagai berikut. Tidak ada dosa menghilangkan  jari yang lebih tersebut karena hal itu tergolong menghilangkan aib (cacat), dan yang tergolong menghilangkan aib itu tidak mengapa. Oleh karena itu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam membolehkan seseorang yang terpotong hidungnya untuk membuat hidung palsu dari perak. Namun, ketika ternyata menimbulkan bau, beliau mengganti dengan bahan dari emas dan Nabi membolehkan hal itu. Di sini wajib kita ketahui perbedaan antara operasi yang tujuannya menghilangkan aib dan operasi yang tujuannya adalah menambah keindahan (kecantikan atau ketampanan).

Kami katakan, operasi yang tujuannya untuk menghilangkan aib diperbolehkan karena maksudnya adalah membebaskan dari sesuatu yang membuat jelek, sebagaimana yang ditunjukkan oleh riwayat yang lalu. Adapun operasi yang tujuannya memperindah hukumnya haram. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam melarang pencabutan bulu/rambut wajah, bahkan melaknat orang yang melakukannya, melarang membuat tato, dan melarang mengikir gigi demi memperindah. Nabi n juga melarang menyambung rambut karena dengan itu akan menambah kecantikan bagi wanita.

Oleh karena itu, semua operasi yang tujuannya adalah memperindah maka itu haram karena dikiaskan (dianalogikan) dengan larangan mencabut bulu wajah, membuat tato. Semua operasi yang tujuannya menghilangkan aib diperbolehkan karena dikiaskan dengan perbuatan sahabat tersebut yang membuat hidung palsu dari emas dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menyetujuinya. Atas dasar ini, menghilangkan jari yang lebih, menghilangkan tsalul (semacam benjolan di kulit) dan sejenisnya yang tergolong aib serta membuat jelek hukumnya tidak mengapa. Akan tetapi, disyaratkan berkonsultasi dengan dokter spesialis sehingga seseorang tidak menjerumuskan dirinya ke dalam bahaya. (Fatawa Nurun ‘Alad-Darb)

 

Allah Subhanahu wata’ala mengaruniakan kepadaku dua anak. Setiap anak memiliki 24 jari, lebih dari umumnya. Apa pendapat Anda kalau saya hilangkan dengan bantuan dokter?

Jawab:

Para ulama (dahulu) menyebutkan dalam masalah ini bahwa tidak boleh memotong jari yang lebih. Namun, yang tampak, hal ini tidak diperbolehkan karena berbahaya bagi orang tersebut apabila jari itu dipotong. Di zaman sekarang ini, bahayanya—walhamdulillah—kecil, dan jauh dari mudarat. Maka dari itu, menurut kami dalam kondisi semacam ini tidak mengapa memotong jari yang lebih yang membuat jelek anggota tub uh. Adapun jika jari yang lebih tadi tidak membuat jelek anggota tu buh, yang semestinya dibiarkan apa adanya. (Fatwa al-Lajnah ad-Daimah)

 

Saya punya sepupu dan menikahi saudara perempuan saya, lalu melahirkan satu anak laki laki dan satu anak perempuan. Anak perempuan tersebut memiliki enam jari, dan jari yang keenam kecil. Apakah boleh dihilangkan dengan cara operasi?

Jawab:

Ya, diperbolehkan menghilangkan jari dari tangan atau kaki deng an operasi dengan syarat aman dari risiko pada orang tersebut, dem ikian juga bila ada yang lebih pada selain jari. Terkadang tambahan itu pada te linga, keluar sedikit darinya. Terkadang di kepala ada sesuatu yang turun dari kepalanya. Yang penting, segala yang menjadi aib dan membuat jelek bagian tubuh, tidak mengapa dihilangkan dengan operasi dan diperbagus tempat tersebut dengan syarat aman dari mudarat. (Fatwa al-Lajnah ad-Daimah)

 

Saya dikaruniai seorang anak perempuan, dan pada telapak tangan kirinya ada yang seperti jari keenam. Sebagian orang menyarankan agar jari yang lebih itu dihilangkan, karena hanya tergantung. Jari tersebut bergerak setiap kali tangannya bergerak. Kami mengharapkan penjelasan tentang hukum Islam terhadap operasi ini. Kami mohon kepada Allah Subhanahu wata’ala agar Anda mendapatkan taufik.

Jawab:

Tidak mengapa menghilangkan jari yang lebih dari telapak tangan anak wanita tersebut, apabila tidak mengandung risiko (bahaya). Allah Subhanahu wata’ala lah yang memberi taufik. Washallallahu ala nabiyyina Muhammad wa aalihi wa shahbihi wa sallam. (Ketua: Asy-Syaikh Abdul Aziz Ibnu Baz; Wakil: Asy-Syaikh Abdurrazzaq Afifi; Anggota: Asy-Syaikh Abdullah bin Ghudayyan)

Dijawab oleh al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc