Seperti Menggenggam Bara Api

Pernahkan Anda mendengar sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini?

يَأْتِي عَلى النَّاسِ زَمَانٌ اَلصَّابِرُ فِيْهِمْ عَلى دِيْنِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ

“Akan datang pada manusia suatu zaman,saat orang yang bersabar di antara mereka di atas agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.”

Hadits di atas tersampaikan kepada kita lewat sahabat yang mulia Anas bin Malik al-Anshari radhiallahu ‘anhu. Hadits ini dikeluarkan oleh al-Imam at-Tirmidzi rahimahullah dalam Sunannya (no. 2260). Namun, dalam sanadnya ada Umar ibnu Syakir (perawi yang meriwayatkan dari Anas bin Malik), seorang rawi yang dhaif/lemah sebagaimana disebutkan dalam at-Taqrib.

Kata al-Imam at-Tirmidzi, “Hadits ini gharib dari sisi ini….”

Namun, alhamdulillah, hadits ini memiliki syawahid yang menguatkannya sehingga kedudukannya menjadi sahih sebagaimana dijelaskan dalam ash-Shahihah (no. 957)[1].

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan bahwa di suatu masa, orang yang bersabar menjaga agamanya dengan meninggalkan dunia seperti sabarnya orang yang menggenggam bara api dalam hal kesulitan dan puncak ujian. Demikian diterangkan dalam Tuhfah al-Ahwadzi (2/1822).

Ath-Thibi berkata, “Maknanya adalah sebagaimana tidak sanggupnya orang yang menggenggam bara api untuk bersabar karena bara api tersebut akan membakar tangannya, demikian pula orang yang beragama pada waktu tersebut. Dia tidak mampu kokoh di atas agamanya karena dominannya orang-orang yang bermaksiat dan kemaksiatan, tersebarnya kefasikan, dan kelemahan iman.”

Al-Qari berkata, “Yang tampak, makna hadits ini adalah sebagaimana tidak mungkinnya orang yang menggenggam bara api kecuali harus bersabar dengan sangat dan siap beroleh kesulitan, demikian pula di zaman tersebut. Tidaklah tergambar orang yang menjaga agamanya dan cahaya imannya kecuali dengan kesabaran yang besar.” (Tuhfah al-Ahwadzi, 2/1822)

Mungkinkah zaman yang dimaksud adalah zaman kita sekarang?

Sebab, betapa susahnya berpegang dengan agama yang haq dan menetapi sunnah al-Mushthafa shallallahu ‘alaihi wa sallam di zaman kita ini! Betapa beratnya bersabar dalam keterasingan memegang al-haq di tengah manusia yang menyelisihi!

Apapun dan bagaimana pun keadaan di zaman kita ini, yang jelas hadits di atas terkandung di dalamnya berita dan bimbingan.

 

Berita yang terkandung ialah sebagai berikut.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa di akhir zaman yang namanya kebaikan dan sebab kebaikan itu sedikit. Sebaliknya, kejelekan dan sebabnya banyak. Ketika itu, orang-orang yang berpegang dengan agama Islam yang haq sangat sedikit, dalam keadaan mereka harus menanggung keadaan yang payah dan kesulitan yang besar, seperti orang yang menggenggam bara api, karena kuatnya orang-orang yang berpaling atau menentang mereka, banyaknya fitnah yang menyesatkan, baik fitnah syubhat, keraguan dan penyimpangan, maupun fitnah syahwat. Manusia mencari dunia. Manusia menceburkan diri ke dalamnya, tenggelam jauh ke dasar jurangnya, baik zahir maupun batin, sementara iman demikian lemah.

Orang-orang yang berpegang dengan agama ketika itu demikian terasing, sendiri di tengah kebanyakan manusia, atau sedikit di kumpulan manusia yang banyak, sedikit yang mau menolong dan membantu mereka.

Akan tetapi, orang yang tetap teguh berpegang dengan agama di masa tersebut, yang tetap berdiri kokoh menolak setiap yang menentang dan menghalau segala rintangan, mereka itu tidak lain adalah orang yang memiliki bashirah, ilmu, dan keyakinan, orang yang beriman dengan kokoh, orang yang paling utama, paling tinggi derajatnya di sisi Allah subhanahu wa ta’ala dan paling agung kadarnya. Tidak ada yang bisa kokoh di atas agama dalam keadaan demikian kecuali mereka yang disebutkan ini.

 

Adapun bimbingan yang termuat, berikut ini penjelasannya.

Hadits ini merupakan bimbingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umat beliau agar mempersiapkan diri menghadapi keadaan yang demikian dahsyat. Mereka harus tahu bahwa masa itu pasti akan terjadi. Siapa yang menghadapi segala aral melintang di masa tersebut, tetap sabar di atas agama dan imannya walau demikian dahsyat keadaannya, dia akan beroleh derajat yang tinggi di sisi Allah subhanahu wa ta’ala. Allah subhanahu wa ta’ala akan menolongnya kepada apa yang dicintai dan diridhai-Nya. Sebab, pertolongan itu sesuai dengan kadar kesabaran menghadapi kesulitan.

Demikian yang diterangkan oleh al-Allamah Abdurrahman Ibnu Nashir Sa’di rahimahullah tentang hadits di atas (Bahjah Qulub al-Abrar hlm. 234).

Beliau berkata tentang keadaan di zaman beliau[2], “Alangkah miripnya keadaan yang disebutkan (dalam hadits) dengan zaman kita ini. Kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak ada yang tersisa dari Islam kecuali namanya, tidak pula al-Qur’an kecuali simbolnya, iman yang lemah, hati yang bercerai-berai, permusuhan dan kebencian di antara kaum muslimin, serta musuh yang lahir dan batin. “

“Para musuh melakukan makar rahasia dan terang-terangan untuk menghancurkan agama Islam. Adanya penyimpangan dan pandangan materialisme, propaganda, dan seruan menuju kerusakan akhlak, kemudian manusia menghadapkan diri kepada perhiasan dunia.“

“Dunia telah menjadi puncak ilmu mereka, cita-cita mereka yang terbesar. Mereka ridha dan marah karena dunia. Seruan untuk zuhud/tidak butuh kepada akhirat, sikap totalitas untuk memakmurkan dunia, menghancurkan agama, menghina dan mengolokolok orang yang berpegang dengan agamanya,… dst.”

Ucapan al-Allamah as-Sa’di rahimahullah di atas menggambarkan kerusakan di zaman beliau. Kalau semua itu sudah terjadi di zaman beliau, lantas bagaimana halnya dengan zaman kita sekarang? Sungguh kita dapati kebenaran hadits di atas! Ya Allah, selamatkan kami!

Akan tetapi, bagaimana pun “kengerian zaman”, seorang mukmin tidak boleh putus asa dari rahmat Allah subhanahu wa ta’ala. Dia tidak patah arang mengharapkan pertolongan-Nya. Pandangan seorang mukmin tidak hanya dibatasinya pada sebab-sebab yang zahir.

Akan tetapi, kalbunya di sepanjang waktu senantiasa bergantung kepada Zat yang menciptakan sebab, Zat Yang Maha Pemurah lagi Pemberi anugerah. Dengan demikian, dia dapati kelapangan dan jalan keluar ada di hadapan kedua matanya. Janji Rabb yang tidak pernah mengingkari janji diingatnya, bahwa Dia subhanahu wa ta’ala akan menjadikan setelah kesulitan ada kemudahan, kelapangan ada bersama kesulitan, serta lepas dari marabahaya ada bersama dahsyatnya marabahaya.

Ketika menghadapi kesulitan dan masa yang genting, tetap kokoh di atas agamanya, seorang mukmin berucap,

لاَ حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلاَّ باِللهِ

“Tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah.”

حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

“Cukuplah bagi kami Allah dan Dialah sebaik-baik Zat yang diserahkan urusan.”

عَلَى اللهِ تَوَكَّلْنَا

“Hanya kepada Allah kami bertawakal.”

اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ، وَإِلَيْكَ الْمُشْتَكَى، وَأَنْتَ الْمُسْتَعَانُ، وَبِكَ الْمُسَتَغَاثُ، وَلَا حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ

“Ya Allah, hanya untuk-Mu lah segala pujian dan hanya kepada-Mu kami mengadu. Engkau-lah Zat yang dimintai pertolongan. Hanya Engkau-lah tempat kami meminta bantuan dari kesulitan. Tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah Yang Mahatinggi lagi Mahaagung.”

Seorang mukmin akan tegar dengan keimanannya. Ia berusaha sekuat kemampuan untuk memberikan nasihat dan mengajak manusia kepada kebaikan. Dia merasa cukup dengan yang sedikit, apabila tidak mungkin mendapatkan yang banyak. Dia merasa bersyukur dengan hilangnya sebagian kejelekan dan berkurangnya sedikit kejelekan, apabila dia tidak mampu melakukan lebih dari itu. Bukankah

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجۡعَل لَّهُۥ مَخۡرَجٗا ٢

“Siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar.” (ath-Thalaq: 2)

وَمَن يَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسۡبُهُۥٓۚ

“Siapa yang bertawakkal kepada Allah, Allah akan mencukupinya.” (ath-Thalaq: 3)

وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجۡعَل لَّهُۥ مِنۡ أَمۡرِهِۦ يُسۡرٗا ٤

“Siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah akan menjadikan kemudahan untuknya dalam urusannya.” (ath-Thalaq: 4) (Bahjah Qulub al-Abrar, hlm. 235)

Kesimpulannya, kita harus sadar sepenuhnya bahwa berpegang dengan al-haq itu tidak mudah. Karena tidak mudah, pemegang al-haq yang tetap kokoh itu sedikit dari masa ke masa, apalagi di akhir zaman. Ya Allah, selamatkan kami! Semoga Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan kita termasuk golongan itu. Allahumma amin.

Wallahu a’lam bish-shawab.

 

Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah


[1] Kata al-Imam al-Albani rahimahullah, “Hadits ini dengan syawahidnya shahih tsabit/pasti/kokoh, karena tidak ada satu pun dari jalur-jalur haditsnya seorang rawi yang muttaham (tertuduh berdusta), lebih-lebih lagi sebagian jalurnya dinyatakan hasan oleh at-Tirmidzi dan selainnya. Wallahu a’lam.” (ash-Shahihah, 2/647)

[2] Al-Allamah Abdurrahman ibnu Nashir Sa’di rahimahullah wafat sebelum fajar hari Kamis, 22 Jumadal Akhirah, 1376 H.

Perhatikan Pergaulan Anak Kita

asy-Syaikh Abdul Qadir bin Muhammad bin Abdur Rahman al-Junaid

Sebagian orang tua—semoga Allah meluruskan mereka—ketika melihat anak mereka bergaul dengan orang yang tampak baik dan istiqamah—apalagi melihat perubahan keadaan anaknya yang semula malas dan meremehkan urusan shalat, puasa, haji, umrah, sedekah, menghafal al-Qur’an, dan mengamalkan kebaikan—mereka pun lalai mengikuti dan memerhatikan anak mereka.

Orang tua tidak lagi menganggap penting untuk tahu:

  • buku apa yang dipelajari oleh anaknya, siapa guru yang mengajarinya buku tersebut,
  • kaset dan CD apa yang didengarnya,
  • apa yang dia dengar dan lihat kutipan suara melalui internet,
  • siapa dai dan penasihat yang dia dengarkan,
  • asupan apa yang didapat dari internet, dan situs mana yang diikuti oleh anak,
  • apa saja kicauan anak di Twitter, siapa saja yang menjadi followernya, dan siapa saja yang membalas kicauannya.

Anda dapat pula mengatakan seluruh hal di atas atau sebagiannya untuk anak perempuan.

Tidak diragukan lagi bahwa ini tindakan yang salah, menganggap enteng masalah, pembiaran, penyia-nyiaan, tidak menjaga dan merawat, serta lari dari tanggung jawab.

Hal ini akan menjadi jelas dengan mengetahui beberapa hal berikut, merenunginya secara mendalam, dengan melibatkan akal sehat dan rasa kasih sayang.

Ayah dan ibu—semoga Allah memberi keduanya keselamatan—adalah orang yang pertama kali terkena kewajiban dan keharusan mendidik anak lelaki dan perempuan, baik menurut syariat, akal, maupun kebiasaan masyarakat.

Tanggung jawab perhatian dan pendidikan orang tua ini tidak gugur, hilang, atau berkurang dengan adanya teman si anak atau murabbi (pendidik) yang istiqamah dan saleh.

Ketika mewajibkan seseorang menjaga keluarganya dari api neraka, Allah menujukan kewajiban tersebut kepada seorang mukmin terhadap dirinya sendiri dan keluarganya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ قُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ وَأَهۡلِيكُمۡ نَارٗا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُ عَلَيۡهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٞ شِدَادٞ لَّا يَعۡصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمۡ وَيَفۡعَلُونَ مَا يُؤۡمَرُونَ ٦

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (at-Tahrim: 6)

Di samping itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga membebankan tanggung jawab terbesar dalam hal mendidik anak dan mewajibkannya kepada ayah dan ibu. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّكُمْ رَاعٍ فَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ، وَالعَبْدُ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ، أَلاَ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap kalian adalah pemimpin dan akan ditanya tentang yang dipimpinnya. Pemerintah yang menguasai manusia adalah pemimpin dan akan ditanya tentang mereka. Seorang lelaki adalah pemimpin terhadap keluarganya dan akan ditanya tentang mereka. Seorang wanita adalah pemimpin terhadap rumah suaminya dan anak-anaknya, dan akan ditanya tentang mereka. Seorang budak adalah pemimpin terhadap harta tuannya dan akan ditanya tentangnya. Ingatlah, setiap kalian adalah pemimpin, dan masing-masing akan ditanya tentang yang dipimpinnya.” (HR. al-Bukhari no. 2554 dan Muslim no. 1829)

Orang yang dengan baik menjaga anak lelaki dan anak perempuannya, ketika mendapatkan pihak lain yang membantunya untuk memperbaiki anaknya, dia tetap bersungguh-sungguh, dan tidak lantas menyepelekan urusan anaknya. Dia justru akan tetap bersemangat, tidak bermalas-malasan. Dia akan mendukung dan saling membantu dengan pihak lain tersebut, tidak lantas diam. Dia akan terus mengikuti perkembangan anaknya, tidak lantas lalai.

Ketika anaknya berubah ke arah yang lebih utama dan lebih bagus, sesuai dengan naluri dan kasih sayang seorang ayah, dia ingin agar anaknya meraih kedudukan yang tertinggi, keadaan yang terbaik, dan orientasi yang paling selamat.

Dia tidak ingin dirinya bertindak berlebih-lebihan yang justru akan mengantarkan dirinya bertindak melampaui batas dan zalim terhadap keluarganya, sehingga dia mencelakakan mereka dan dirinya sendiri. Atau sebaliknya; bersikap meremehkan yang akan melemahkan dirinya (dalam hal mendidik anak) seiring dengan berlalunya waktu, sehingga anaknya kembali ke keadaan semula atau lebih jelek dari itu.

Beberapa orang yang penampilan lahiriahnya seperti orang yang baik dan istiqamah ternyata bukanlah orang saleh dan istiqamah pada urusan tertentu.

Bisa jadi, dia terlumuri kesyirikan tertentu, kebid’ahan, atau kesesatan dalam keadaan manusia tidak mengetahui dan menyadarinya. Bisa jadi pula, dia terpengaruh pemikiran yang bertentangan dengan Islam, seperti pengkafiran tanpa hak.

Hal-hal tersebut akan dia tularkan kepada anak Anda, dan disusupkan ke dalam rumah Anda. Kemudian saudara lelaki atau saudara perempuannya akan terpengaruh dengan pemikiran yang sama. Bisa jadi pula orang tersebut ternyata bersimpati terhadap kelompok yang menyimpang, yang lantas mengajak anak Anda bergabung dengannya dalam organisasi tersebut, atau bahkan dia sudah menjadi anggota, bahkan tokoh dan dai kelompok menyimpang tersebut.

  • Bukankah kita telah melihat ada anak-anak yang terpengaruh pemikiran takfir, pengikutnya, dan dainya?

Selanjutnya, mereka berbuat jahat terhadap diri mereka sendiri dan kaum muslimin (dengan aksi bom bunuh diri -red.), di masjid-masjid muslimin, tempat perdagangan muslimin,bangunan, kantor, dan tempat kerja kaum muslimin.

Mereka melakukan kejahatan terhadap para pegawai negara, pekerja, orang yang sedang melintas, para wanita, dan anak-anak. Mereka melakukan kejahatan pula terhadap orang kafir musta’man[1] dan mu’ahad[2], di negeri yang orang kafir itu masuk dengan perjanjian dan jaminan (pemerintah kaum muslimin).

Mereka menyangka bahwa apa yang mereka lakukan adalah jihad. Mereka saling memberi kabar gembira sesama mereka dengan surga, bersenang-senang dengan berbagai kenikmatannya dan bidadarinya.

Sungguh, demi Allah, kita telah melihat, mengetahui, dan mendengar hal seperti itu. Sejarah dan realita kita penuh oleh bukti-bukti hal tersebut.

  • Bukankah kita juga melihat beberapa orang yang penampilan lahiriahnya seperti orang saleh dan istiqamah ternyata biasa melakukan kesyirikan?

Kita melihat dan mendengar dia berdoa dan beristighatsah kepada para wali dan orang saleh. Dia meminta pertolongan dan dilepaskan dari kesulitan kepada mereka. Dia katakan, “Beri kami jalan keluar, wahai Rasulullah,”

“Lepaskanlah kami dari kesusahan, wahai (Abdul Qadir) al-Jailani,”

“Tolonglah kami, wahai Badawi.”

Sungguh, demi Allah, kita melihat, mengetahui dan mendengarnya. Sejarah dan realita kita penuh oleh bukti-bukti akan hal tersebut.

  • Bukankah kita melihat orang yang lahiriahnya saleh dan istiqamah ternyata tidak beriman terhadap ajaran yang ada dalam al-Qur’an dan Sunnah yang sahih, yang salafush shalih dari kalangan generasi terdahulu telah bersepakat atasnya, bahwa Allah k ber-istiwa’ di atas Arsy-Nya di atas langit; lantas ia berkata bahwa Allah subhanahu wa ta’ala ada di mana-mana atau ada di hati para hamba yang beriman?

Sungguh, demi Allah, kita melihat, mengetahui dan mendengarnya. Sejarah dan realita kita penuh oleh bukti-bukti akan hal tersebut.

  • Bukankah kita melihat orang yang lahiriahnya seperti orang saleh dan istiqamah, ternyata biasa melakukan bid’ah dan kesesatan, saat hari raya, kelahiran, pemakaman, di kuburan, dalam wirid, shalat, haji, dan selainnya?

Sungguh, demi Allah, kita melihat, mengetahui dan mendengarnya. Sejarah dan realita kita penuh oleh bukti-bukti akan hal tersebut.

  • Bukankah kita melihat ada orang yang sifat dan penampilannya seperti orang saleh dan istiqamah, ternyata bersimpati kepada partai, kelompok sempalan, organisasi, dan lembaga yang menisbatkan dirinya kepada agama dan Islam?

Padahal telah diketahui para pemimpin, pembesar, dai, dan tokohtokohnya, dikenal pula buku, pemikiran, jalan, metode, dan pengajaran mereka yang menyelisihi al-Qur’an dan Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, akidah, amalan, jalan, dan metode salafush shalih.

Sungguh, demi Allah, kita melihat, mengetahui dan mendengarnya. Sejarah dan realita kita penuh oleh bukti-bukti akan hal tersebut.

Apabila anak-anak lelaki dan perempuan ditimpa kejelekan yang bersumber dari berbagai jenis orang, organisasi, lembaga, pusat dakwah,  kelompok sempalan, partai, dan mazhab tersebut, lantas mereka:

  • melakukan hal yang dilarang,
  • menggabungkan diri kepada sesuatu yang tidak halal,
  • meyakini akidah yang menyelisihi kebenaran,
  • bersikap ghuluw dan keras,
  • memisahkan diri dari tauhid menuju kesyirikan,
  • memisahkan diri dari sunnah menuju bid’ah,
  • memisahkan diri dari persatuan menuju perpecahan dan kesendirian, dari keluarga menuju orang-orang yang serupa dan kolega;

yang pertama kali dan palingberhak dicela dan dikoreksi, dituduh bersikap meremehkan, menganggap enteng urusan, menggampangkan masalah, ditimpa rasa sempit dada, risau, duka, dan sedih, menderita, sakit, serta menyesal, ialah kedua orang tua. Sebab, keduanyalah yang diperintah untuk menjaga dan merawat mereka, bukan orang lain.

Semoga Allah merahmati seorang imam yang mengadakan perbaikan dan tulus memberi nasihat, yakni Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah saat berkata dalam kitabnya, Tuhfatul Maudud bi Ahkamil Maulud (hlm. 337, dan 351—352) ,

“Barang siapa tidak mengajari anaknya, dia tidak akan mendapat manfaat dari anak tersebut. Siapa yang membiarkan anaknya (tidak diajari dan dididik), sungguh telah berbuat hal yang terburuk terhadap anaknya. Kerusakan mayoritas anak disebabkan oleh orang tua dan kelalaian mereka terhadap anak. Mereka tidak mengajari urusan agama yang wajib dan yang sunnah.”

“Mereka menyia-nyiakan anak semasa kecilnya. Anak pun tidak bermanfaat bagi diri sendiri dan tidak bermanfaat bagi orang tuanya ketika lanjut usia. Ketika sebagian mereka mencela anaknya karena durhaka, anaknya akan menjawab, ‘Wahai ayahku, engkau telah mendurhakaiku semasa aku kecil. Sekarang aku mendurhakaimu ketika engkau lanjut usia. Engkau menyia-nyiakanku sewaktu anak-anak, sekarang aku menyianyiakanmu saat engkau tua renta’.”

“Betapa banyak orang yang mencelakakan anaknya, belahan jiwanya, di dunia dan di akhirat, karena tidak memberi anak pendidikan adab. Ia justru membantu anak mewujudkan segala keinginan syahwatnya. “

“Dia menyangka bahwa dengan demikian berarti dia telah memuliakan si anak, padahal justru menghinakannya. Dia sangka bahwa dia telah memberi kasih sayang kepada anak, padahal justru menzaliminya. Akibatnya, dia pun tidak bisa mengambil manfaat dari keberadaan anak. Dia pun menyebabkan sang anak tidak mendapat bagian di dunia dan di akhirat.”

“Apabila engkau memerhatikan kerusakan yang terjadi pada anak-anak, engkau akan melihat bahwa mayoritas penyebabnya berasal dari orang tua.”

“Tidak ada sesuatu yang lebih merusak diri anak daripada kelalaian orang tua, pembiaran mereka, dan anggapan enteng mereka terhadap jahatnya api di antara pakaian.”

 

(diterjemahkan dari http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=146943 dengan beberapa penyesuaian)


[1] Orang kafir yang meminta perlindungan kepada kaum muslimin.

[2] Orang kafir yang memiliki perjanjian keamanan dengan pihak muslimin.

Melanggar Kodrat

Banci, wadam, dan waria adalah sebutan yang membuat kita bergidik. Bukan karena mereka menyeramkan, melainkan karena mereka yang menyengaja berbuat demikian jelas abnormal, berperilaku menyimpang. Memalukan rasanya bila ada kerabat kita yang mengalami problem demikian. Ejekan, cibiran, jangan ditanya lagi. Bahkan, tak jarang menjadi tontonan yang menggelikan.

Allah subhanahu wa ta’ala, Sang pencipta, menciptakan jenis lelaki di atas tabiatnya. Dia pun menciptakan jenis wanita di atas tabiatnya. Dia memiliki hikmah yang agung dalam membedakan antara lelaki dan wanita, agar masing-masingnya menunaikan tugas yang sesuai dengan tabiatnya dalam kehidupan ini.

Bila ada lelaki yang mengubah diri menjadi wanita atau berperilaku khas wanita, dan sebaliknya wanita mengubah diri menjadi lelaki, atau berperilaku khas lelaki, tentu melanggar tabiat yang telah ditetapkan-Nya.

Nah, perilaku jenis manusia yang disebut di atas (baca, menjadi banci dengan sengaja) bukan hanya penyimpangan dalam kehidupan sosial masyarakat, tak sekadar memalukan, tetapi lebih penting dari itu melanggar syariat.

Ada hadits yang disampaikan sahabat yang mulia, Abdullah ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma tentang mereka yang berperilaku menyimpang tersebut,

لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ الْمُتَشَبِّهِبْنَ مِنَ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ وَالْمُتَشَبِّهَاتِ مِنَ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat lelaki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai lelaki.” (HR.al- Bukhari no. 5885)

Abdullah ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma juga menyampaikan hadits berikut ini,

لَعَنَ النَّبّيُ الْمُخَنِّثِيْنَ مِنَ الرِّجَالِ وَالْمُتَرَجِّلاَتِ مِنَ النِّسَاءِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat lelaki yang keperempuan-perempuanan dan wanita yang kelelaki-lelakian.” (HR. al-Bukhari no. 5886)

Abdullah ibnu Amr ibnul Ash radhiallahu ‘anhuma pernah melihat Ummu Said bintu Abi Jahl menyandang busur panah dan berjalan seperti jalannya lelaki. Ibnu Amr menegur dengan ucapannya, “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَشَبَّهَ بِالرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ وَلاَ مَنْ تَشَبَّهَ بِالنِّسَاءِ مِنَ الرِّجَالِ.

‘Bukan termasuk golongan kami wanita yang menyerupai lelaki dan lelaki yang menyerupai wanita’.” (HR. Ahmad 2/201, dinyatakan hasan sanadnya oleh asy-Syaikh Ahmad Syakir)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat lelaki yang menyerupai wanita dan melaknat wanita yang menyerupai lelaki. Sebab, Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan setiap jenis makhluk hidup dan menjadikan kebaikan serta kesempurnaannya pada urusan yang berserikat di antara satu jenis dan jenis yang lain, dan pada urusan yang menjadi kekhususan masing-masing. Urusan yang mereka berserikat (boleh dilakukan oleh semuanya, yang berjenis lelaki ataupun wanita –pen.) tidak menjadi kekhususan bagi satu jenis saja. Karena itulah, hal seperti ini tidak dilarang. Yang dilarang hanyalah yang bersangkutan dengan hal yang khusus. Apabila sesuatu telah menjadi kekhususan bagi kaum wanita, tidaklah boleh kaum lelaki melakukannya sehingga menyerupai wanita. Sebaliknya, yang menjadi kekhususan kaum lelaki, tidaklah boleh kaum wanita menyerupainya.” (Majmu’ Fatawa, 32/259—260)

Selain itu, menyerupai lawan jenis menunjukkan ketidakridhaan terhadap ketetapan Allah subhanahu wa ta’ala dalam penciptaan-Nya. Seakan-akan si pelaku berjenis lelaki protes, tidak terima dengan kelelakiannya sehingga mengubah diri menjadi wanita, atau tetap tampil sebagai lelaki namun berperilaku seperti wanita. Sebaliknya, ada wanita yang berperilaku seperti lelaki, tomboi, atau mengubah diri menjadi lelaki, seakanakan dia protes dan menganggap pilihannya lebih baik dari ketetapan Allah subhanahu wa ta’ala dalam penciptaan-Nya.

Berperilaku menyimpang seperti ini, lelaki menyerupai wanita atau wanita memiripkan dirinya dengan lelaki, juga menunjukkan adanya kelainan pada diri si pelaku, Dia mengubah dirinya kepada sesuatu yang bukan asal penciptaannya. Semua ini merupakan kezaliman yang melampaui batas. Karena itu, pantaslah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat mereka.

Al-Imam asy-Syaukani rahimahullah berkata, “Hadits ini menunjukkan haramnya lelaki menyerupai wanita dan sebaliknya wanita menyerupai lelaki, baik dalam hal ucapan (cara atau gaya berbicara), pakaian, cara berjalan, maupun selainnya.” (Nailul Authar, 4/529)

Laknat sendiri maknanya adalah terusir dan dijauhkan dari rahmat ataupun kebaikan. Kalimat laknat jelas mengandung celaan. Di samping itu, laknat menunjukkan keharaman yang ditekankan. Sebab, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah melaknat kecuali terhadap pelaku dosa yang besar.

Dengan demikian, laknat yang disebutkan dalam hadits di atas menunjukkan perbuatan menyerupai lawan jenis dalam hal yang menjadi kekhususan jenis masing-masing, bukan dalam urusan yang berserikat, termasuk keharaman yang besar atau dosa besar.

Sebab dilaknatnya pelaku perbuatan demikian adalah karena dia telah mengeluarkan atau menyimpangkan sesuatu dari sifat yang diletakkan oleh Ahkamul Hakimin (Allah subhanahu wa ta’ala Dzat Yang Mahahakim/Memiliki hikmah). (Fathul Bari, 10/410)

Penyerupaan yang dilarang seperti yang telah disinggung adalah dalam hal pakaian khas, sebagian sifat, gerakan, dan semisalnya. Adapun lelaki menyerupai wanita dan sebaliknya dalam hal kebaikan, tentunya tidak masuk dalam pelarangan. (Fathul Bari, 10/409)

Karena menyerupai lawan jenis itu diharamkan, ada beberapa hal yang tidaklah dilarang kecuali karena alasan menyerupai lawan jenis. Contohnya berikut ini.

  • Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada para sahabat beliau tentang tashfiq[1] (tepuk tangan) di dalam shalat,

التَّسْبِيْحُ لِلرِّجَالِ وَالتَّصْفِيْقُ للنِّسَاءِ

“Tasbih (mengucapkan ‘subhanallah’) untuk lelaki dan tashfiq untuk wanita.” (HR. al-Bukhari no. 1203 dan Muslim)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membedakan bagi lelaki dan wanita dalam hal cara menegur atau mengingatkan imam dalam shalat. Lelaki mengucapkan tasbih, sedangkan wanita melakukan tashfiq. Lelaki tidak boleh melakukan tashfiq karena hal itu menyerupai wanita.

  • Abdullah ibnu ‘Amr ibnul Ash radhiallahu ‘anhuma berkata,

رَأَى النَّبِيُّ عَلَيَّ ثَوْبَيْنِ مُعَصْفَرَيْنِ. فَقَال  :أَأُمُّكَ أَمَرَتْكَ بِهَذَا؟ قُلْتُ: أَغْسِلُهُمَا. قَالَ: بَلْ أَحْرِقْهُمَا.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihatku mengenakan dua pakaian mu’ashfar[2]. Beliau pun bersabda, “Apakah ibumu yang menyuruhmu untuk memakainya?”

Aku menjawab, “Apakah saya cuci saja dua pakaian ini[3]?”

Beliau bersabda, “Bahkan, bakarlah dua pakaian tersebut!” (HR. Muslim no. 5401)

An-Nawawi rahimahullah berkata, “Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Apakah ibumu yang menyuruhmu untuk memakainya?’, maknanya adalah pakaian yang kamu kenakan ini termasuk pakaian kaum wanita, pakaian khas mereka dan akhlak mereka.” (al-Minhaj, 13/280)

  • Abu Musa al-Asy’ari radhiallahu ‘anhu menyampaikan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

حُرِّمَ لِبَاسُ الْحَرِيْرِ وَالذَّهَبِ عَلَى ذُكُوْرِ أُمَّتِي وَأُحِلَّ لِإِنَاثِهِمْ.

“Diharamkan memakai sutra dan emas bagi kalangan lelaki dari umatku dan dihalalkan bagi kaum wanitanya.(HR. at-Tirmidzi no. 1720, an-Nasa’i no. 5148, dinyatakan sahih dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi)

Di antara hikmah pelarangan lelaki memakai sutra adalah karena sutra menjadi pakaian perhiasan khas wanita, sesuai dengan kehalusan dan kelembutan wanita. Karena itu, sutra tidak cocok dipakai oleh lelaki karena menyelisihi kejantanan dan keperwiraannya.

Apabila lelaki dibolehkan memakai sutra, niscaya akan timbul mafsadat berupa menyerupai wanita. Bisa jadi, akhirnya akan berefek si lelaki menjadi ‘keperempuan-perempuanan’, gemulai seperti gaya wanita. Padahal lelaki dituntut menjadi seorang yang kuat, gagah, dan tidak lembek, karena harus menghadapi kerasnya hidup dan beratnya pekerjaan di luar sana.

  • Ya’la bin Murrah radhiallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat seorang lelaki memakai khaluq, maka beliau bersabda,

اذْهَبْ فَاغْسِلْهُ، ثُمَّ اغْسِلْهُ، ثُمَّ لاَ تَعُدْ.

“Pergilah untuk mencuci bekas khaluq ini, lalu cuci lagi, kemudian jangan kamu ulangi.” (HR. an-Nasa’i, dan at-Tirmidzi, dinyatakan dha’if oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Dha’if Sunan at-Tirmidzi)

Wewangian khaluq dilarang bagi lelaki karena merupakan wewangian khas wanita.

  • Pensyariatan membiarkan jenggot bagi lelaki juga termasuk dalam bab ini, ‘agar tidak seperti wanita’ dan masih banyak lagi.

Para ulama pun berfatwa melarang beberapa hal dengan alasan ‘tasyabbuh’ (menyerupai lawan jenis). Seperti kata al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah, “Tidaklah aku membenci lelaki memakai mutiara kecuali karena mutiara adalah perhiasan khas wanita.” (Fathul Bari, 10/410)

Tasyabbuh yang Dicela

Telah disebutkan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang laknat bagi lelaki yang menyerupai wanita dan sebaliknya. Laknat yang ditujukan pada suatu perbuatan menunjukkan bahwa perbuatan tersebut tercela.

        Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah menyebutkan bahwa laknat tersebut khusus bagi orang yang bersengaja melakukannya. Artinya, si lelaki memang sengaja menyerupai wanita dan si wanita sengaja menyerupai lelaki.

Adapun seseorang yang asal tabiatnya memang demikian, dia terlahir sebagai lelaki tetapi memiliki kelainan berupa tampaknya sifat kewanita-wanitaan, atau sebaliknya terlahir sebagai wanita tetapi punya sifat kelelaki-lelakian, dia diperintah untuk mengubah kelainan sifat tersebut, memaksa dirinya dan melatihnya secara bertahap.

Apabila dia tidak melakukannya dan terus ‘memelihara’ kelainan tersebut, orang ini pun masuk dalam celaan. Terlebih lagi apabila tampak darinya tanda yang menunjukkan dia senang dengan kelainan yang ada padanya. (Fathul Bari, 10/409)

Nah, apabila seseorang yang asalnya memang mengidap kelainan saja diperintah untuk berusaha mengobati kelainannya walau secara berlahan dan bertahap, lantas bagaimana halnya dengan seseorang yang lahir normal sebagai lelaki dengan sifat-sifat lelaki atau lahir sebagai wanita dengan sifat-sifat wanita, namun karena pengaruh lingkungan atau salah asuh, dia berubah; ‘lelaki tetapi seperti wanita’, ‘wanita tetapi seperti lelaki’? Bagaimana pula dengan seseorang yang mengubah penampilannya karena tuntutan profesi atau pekerjaan?

Apabila karena salah asuh, dia harus memiliki kesadaran diri untuk berubah sebagaimana asal penciptaannya.

Apabila dia terlahir sebagai lelaki, dia harus sadar untuk menjadi lelaki yang sebenarnya dan ridha dengan penciptaan Allah subhanahu wa ta’ala. Apabila dia terlahir sebagai wanita, dia harus sadar untuk menjadi wanita dan ridha pula. Tentu Allah subhanahu wa ta’ala melihat usahanya dan tidak membebaninya selain yang dia mampu setelah mencurahkan segala upaya.

Bagaimana halnya dengan orang yang mengubah dirinya karena tuntunan profesi atau pekerjaan? Dia lelaki tulen, tetapi karena harus berlakon sebagai wanita, dia mengubah penampilan sebagai wanita, atau tetap berpenampilan lelaki namun bergaya banci. Tentu yang seperti ini tidak pantas, dan sangat tepat dia diancam dengan hadits-hadits di atas.

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

 

(Insya Allah bersambung)

Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah


[1] Bedakan dengan tepuk tangan yang dilakukan oleh orang-orang jahil yang meniru orang-orang kafir.

[2] Pakaian yang dicelup dengan ushfur, sejenis tumbuhan yang tumbuh di Jazirah Arab, sehingga warnanya berubah menjadi kuning atau merah yang khas.

[3] Sehingga warna celupannya luntur.

Untuk Pendamba Bahagia

Siapa gerangan yang tak ingin berbahagia dalam hidup ini? Tentu kita sepakat menjawab, “Tidak ada seorang pun.” Ya, semua pasti mendamba yang namanya bahagia.

Insan yang menjalin rumah tangga pun ingin meraih bahagia. Pengantin barukah atau pengantin lama, tidak ada beda dalam keinginan yang satu ini. Namun kenyataan yang ada walau semua ingin beroleh bahagia, ada yang berhasil meraihnya dan banyak pula yang gagal. Dalam kehidupan rumah tangga pula, tidak semua sukses meraih bahagianya. Awalnya saja bahagia, setelah waktu berlalu, entah ke mana raibnya bahagia itu….?

Ambisi meraih bahagia dalam hidup ini tidaklah tercela dan tidak pula seseorang disalahkan ketika menempuh sebab-sebab bahagia, karena hal tersebut merupakan sesuatu yang bermanfaat. Sahabat yang mulia, Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, menyampaikan hadits yang agung dari sang junjungan shallallahu ‘alaihi wa sallam,

اَلْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ، وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ. اِحْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ باِللهِ وَلاَ تَعْجَزْ. وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلاَ تَقُلْ: لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا، وَ لكِنْ قُلْ: قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ، فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ.

Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah subhanahu wa ta’ala daripada mukmin yang lemah. Pada semuanya ada kebaikan. Berambisilah untuk beroleh apa yang bermanfaat bagimu dan mohonlah pertolongan kepada Allah subhanahu wa ta’ala serta jangan kamu merasa lemah.

Jika menimpamu sesuatu, janganlah kamu berkata, “Seandainya aku melakukan ini dan itu niscaya akan begini dan begitu.” Akan tetapi katakanlah, “Qadarullah wa masya’a fa’ala (Ini adalah ketetapan takdir Allah subhanahu wa ta’ala dan apa yang Dia kehendaki, Dia lakukan),” karena kalimat ‘lau’ (seandainya) itu membuka perbuatan setan. (HR. Muslim)

Yang tercela hanyalah bila seseorang berambisi terhadap sesuatu yang bermudarat dengan kebodohannya dan buruk sangkanya, sementara dia yakin upayanya itu merupakan kebahagiaan. Padahal sejatinya merupakan kesengsaraan walaupun ada nikmat sesaat yang dirasa. Seperti seseorang yang mencari kebahagiaan dengan menghisap obat-obat terlarang. Disangkanya apa yang dihisapnya adalah obat bahagia padahal racun yang membunuh bahagianya.

Banyak manusia yang keadaannya seperti itu. Mereka mencari kebahagiaan namun tidak mengetahui jalan yang harus ditempuh dan tidak mengerti pintu mana yang harus diketuk. Jadilah mereka berdiri dalam keadaan bimbang, ke sana kemari, atau berjalan serampangan menuju kebahagiaan semu, hingga datanglah suatu hari yang mereka meratap di dalamnya:

قَالُواْ رَبَّنَا غَلَبَتۡ عَلَيۡنَا شِقۡوَتُنَا وَكُنَّا قَوۡمٗا ضَآلِّينَ ١٠٦

Mereka berkata, “Wahai Rabb kami, kami telah dikuasai oleh kesengsaraan kami dan adalah kami orang-orang yang sesat.” (al-Mukminun: 106)

Ada manusia yang menganggap kebahagiaan itu terletak pada materi. Mereka pun berlomba-lomba mengumpulkannya karena disangka sumber bahagia. Ada yang mencari bahagia dalam jabatan, kedudukan, dan kekuasaan hingga mereka rakus untuk menggapainya. Segala cara ditempuh tanpa peduli halal atau haram. Ada yang memandang kebahagiaan itu dengan memuaskan syahwat perut dan kemaluan. Apa saja yang dituntut oleh perut dan kemaluan diturutinya karena disangkanya kebahagiaan ada di situ. Semua yang telah disebutkan tidak lain hanyalah kesenangan dalam kehidupan dunia. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ ٱلشَّهَوَٰتِ مِنَ ٱلنِّسَآءِ وَٱلۡبَنِينَ وَٱلۡقَنَٰطِيرِ ٱلۡمُقَنطَرَةِ مِنَ ٱلذَّهَبِ وَٱلۡفِضَّةِ وَٱلۡخَيۡلِ ٱلۡمُسَوَّمَةِ وَٱلۡأَنۡعَٰمِ وَٱلۡحَرۡثِۗ ذَٰلِكَ مَتَٰعُ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۖ وَٱللَّهُ عِندَهُۥ حُسۡنُ ٱلۡمَ‍َٔابِ ١٤

“Dijadikan indah pada pandangan manusia kecintaan kepada syahwat yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, hewan-hewan ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.” (Ali Imran: 14)

Lalu apa sebenarnya bahagia itu? Benarkah kebahagiaan hanya dimiliki orang berduit, berkedudukan, dan terkenal serta bisa mendapatkan apa saja yang dimaui? Bagaimana dengan orang-orang miskin, tidak punya apaapa, tidak kedudukan, tidak pula jabatan, apakah mereka tidak bisa berbahagia?

Anda, wahai pendamba bahagia dalam rumah tangga, kebahagiaan apakah yang Anda cari dalam kehidupan rumah tangga?

Seperti yang telah disinggung di atas, Anda jangan mematok kebahagiaan itu hanya dalam pandangan materi. Namun, lihatlah bahagia itu dengan makna yang lain yang lebih mendalam dan jauh ke depan, kebahagiaan yang sebenarnya! Jadi, walaupun rumah tangga Anda sulit ekonominya misalnya, Anda dan pasangan bisa tetap berbahagia.

Anda belum dapat keturunan dalam kebersamaan Anda dengan pasangan sehingga Anda tidak merasa bahagia?

Oh… jangan demikian. Anda tetap bisa berbahagia bila Anda menyadari tentang keadilan Allah subhanahu wa ta’ala dalam ketetapan takdir-Nya.

Anda tidak berbahagia karena tidak dicintai atau tidak bisa mencintai pasangan Anda? Rumah tangga Anda banyak masalah sehingga jauh dari kebahagiaan?

Semua ini telah diberikan solusinya oleh Islam, tinggal Anda mau mencarinya atau tidak, mau mempelajarinya ataukah tidak. Sungguh, dengan belajar Islam yang haq kemudian diamalkan, hati menjadi lapang. Persoalan dapat dicarikan solusinya hingga kebahagiaan pun lebih dekat.

وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجۡعَل لَّهُۥ مَخۡرَجٗا ٢ وَيَرۡزُقۡهُ مِنۡ حَيۡثُ لَا يَحۡتَسِبُۚ

“Siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar baginya. Dan memberinya rezki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” (ath-Thalaq: 2—3)

وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجۡعَل لَّهُۥ مِنۡ أَمۡرِهِۦ يُسۡرٗا ٤

“Siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan kemudahan baginya dalam urusannya.” (ath-Thalaq: 4)

Apabila Anda ingin mengetahui tanda-tanda seseorang telah benar langkahnya dalam menempuh jalan orang-orang yang berbahagia, renungkanlah ucapan al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah dalam kitabnya al-Fawaid (hlm. 400) berikut.

“Di antara tanda kebahagiaan, keberuntungan, dan kesuksesan seorang hamba adalah semakin bertambah ilmunya, bertambah pula sifat tawadhu (rendah hati kepada sesama), dan kasih sayangnya. Semakin bertambah umurnya, berkuranglah ambisi dunianya. Semakin bertambah hartanya, bertambah pula kedermawanannya, dan kegemarannya untuk memberi. Semakin bertambah kedudukan dan kemuliaannya, bertambah pula kedekatannya dengan orang-orang, semakin bersemangat memenuhi kebutuhan mereka dan rendah hati terhadap mereka.

Sementara itu, di antara tanda kesengsaraan dan kecelakaan seorang hamba adalah semakin bertambah ilmunya, bertambah pula sifat sombongnya. Semakin bertambah amalnya, bertambah congkaknya, merendahkan manusia, dan berbaik sangka kepada dirinya sendiri. Semakin bertambah umurnya, bertambah pula ambisi dunianya. Semakin bertambah hartanya, bertambah pula kikirnya dan keengganannya untuk memberi. Semakin bertambah kedudukan dan kemuliaannya, bertambah pula kesombongannya.

Ini merupakan ujian dan cobaan dari Allah subhanahu wa ta’ala yang Dia timpakan atas para hamba, maka ada orang-orang yang berbahagia dengannya dan ada yang sengsara karenanya.”

Kesimpulan dari apa yang disebutkan Ibnul Qayyim rahimahullah adalah orang yang berbahagia adalah orang yang mana kala ditambah nikmat untuknya, maka dihadapinya nikmat tadi dengan amalan kebaikan.

Dalam kitab lain, al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Jika Allah subhanahu wa ta’ala memberikan kenikmatan kepadanya, maka dia bersyukur. Jika dia diberikan ujian, dia pun bersabar. Jika dia berbuat dosa, dia memohon ampun. Tiga perkara ini (syukur, sabar, dan istighfar) merupakan alamat kebahagiaan hamba dan tanda kesuksesannya di dunia dan di akhirat. Tidak bisa seorang hamba terlepas darinya selama-lamanya. Senantiasa dia berbolak-balik di antara tiga tingkatan ini.” (al-Wabil ash-Shayib, hlm. 11)

Kesimpulannya, orang yang benar-benar bahagia adalah yang bersyukur ketika mendapat tambahan nikmat dan bersabar saat hilang nikmat. Dia menggunakan nikmat tersebut dalam perkara yang Allah subhanahu wa ta’ala ridhai sebagai bentuk rasa syukur dan enggan menggunakan nikmat dalam urusan maksiat kepada Sang Pemberi nikmat.

Dia adalah orang yang suka kembali kepada Allah subhanahu wa ta’ala (inabah), bertobat dari seluruh dosa, enggan menceburkan diri dalam maksiat walaupun di dalamnya ada kenikmatan dan kelezatan sesaat.

Karena itu, Anda yang mendamba kebahagiaan sejati dalam rumah tangga, jadikanlah kehidupan rumah tangga Anda beredar di antara syukur dan sabar, inabah (selalu kembali kepada Allah subhanahu wa ta’ala) tobat dan istighfar, niscaya Anda akan dapati bahagia itu dengan izin Allah subhanahu wa ta’ala.

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

 

Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah

Memakmurkan Masjid

KHUTBAH PERTAMA:

 

الْحَمْدَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ ١٠٢

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُواْ رَبَّكُمُ ٱلَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفۡسٖ وَٰحِدَةٖ وَخَلَقَ مِنۡهَا زَوۡجَهَا وَبَثَّ مِنۡهُمَا رِجَالٗا كَثِيرٗا وَنِسَآءٗۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ ٱلَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِۦ وَٱلۡأَرۡحَامَۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَيۡكُمۡ رَقِيبٗا ١

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَقُولُواْ قَوۡلٗا سَدِيدٗا ٧٠ يُصۡلِحۡ لَكُمۡ أَعۡمَٰلَكُمۡ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡۗ وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدۡ فَازَ فَوۡزًا عَظِيمًا ٧١

أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كَلَامُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ وَشَرَّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ. أَمَّا بَعْدُ؛

Segala puji hanya milik Allah subhanahu wa ta’ala. Shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya, dan para sahabatnya, serta yang mengikuti jejak mereka dengan baik.

 

Sidang jum’at yang semoga diberkahi oleh Allah,

Marilah kita bersama-sama meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Sebab, sungguh telah beruntung orang-orang yang bertakwa. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ ١٠٢

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenarbenar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (Ali Imran: 102)

 

Ma’asyiral muslimin rahimani warahimakumullah,

Perlu kita semua ketahui bahwa di antara bentuk ketakwaan seseorang ialah mengagungkan serta memuliakan syiar-syiar Islam. Hal ini sebagaimana yang difirmankan oleh Allah subhanahu wa ta’ala,

ذَٰلِكَۖ وَمَن يُعَظِّمۡ شَعَٰٓئِرَ ٱللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقۡوَى ٱلۡقُلُوبِ ٣٢

“Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (al-Hajj: 32)

 

Kaum muslimin rahimakumullah,

Masjid merupakan salah satu syiar Islam yang wajib dimakmurkan oleh kaum muslimin. Oleh karena itu, Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan perbuatan memakmurkan masjid sebagai salah satu tanda dari tanda kesempurnaan iman seorang hamba. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّمَا يَعۡمُرُ مَسَٰجِدَ ٱللَّهِ مَنۡ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ وَأَقَامَ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَى ٱلزَّكَوٰةَ وَلَمۡ يَخۡشَ إِلَّا ٱللَّهَۖ فَعَسَىٰٓ أُوْلَٰٓئِكَ أَن يَكُونُواْ مِنَ ٱلۡمُهۡتَدِينَ ١٨

“Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan salat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapa pun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (at-Taubah: 18)

 

‘Ibadallah, kaum mukminin rahimakumullah,

Tinggal sekarang bagaimana cara kita memakmurkan masjid. Secara umum, memakmurkan masjid terdiri dari dua bentuk.

Pertama, memakmurkan bangunan masjid. Misalnya, ikut seseorang ikut berpartisipasi dalam kegiatan membangun dan mendirikan masjid. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ بَنَى بَيْتًا بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ

“Barang siapa membangun masjid karena Allah, niscaya Allah akan mendirikan rumah untuknya di surga.” (HR. Muslim dari Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu)

 

Ma’asyiral muslimin rahimani warahimakumullah,

Akan tetapi, perlu kita ketahui bersama, tidaklah termasuk memakmurkan masjid bermegah-megahan dan berlomba-lomba menghiasi masjid. Hal itu justru termasuk yang dilarang. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلَا تُسۡرِفُوٓاْۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلۡمُسۡرِفِينَ ١٤١

“Dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (al-An’am: 141)

وَلَا تُبَذِّرۡ تَبۡذِيرًا ٢٦ إِنَّ ٱلۡمُبَذِّرِينَ كَانُوٓاْ إِخۡوَٰنَ ٱلشَّيَٰطِينِۖ

“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan.” (al-Isra: 26—27)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَتَبَاهَى النَّاسُ فِي الْمَسَاجِدِ

“Tidaklah terjadi hari kiamat hingga manusia berlomba-lomba memegahkan masjid-masjid.” (HR. Abu Dawud dan an-Nasai dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu dengan sanad yang sahih)

Sahabat yang mulia, Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, berkata,

لَتُزَخْرِفُنَّهَا كَمَا زَخْرَفَتِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى

“Sungguh, benar-benar kalian akan menghias-hiasi masjid sebagaimana halnya Yahudi dan Nasrani menghias-hiasinya.”

Termasuk memakmurkan bangunan masjid ialah menjaga kebersihannya. Ini juga salah satu bentuk memakmurkan masjid. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ هَذَا الْمَسَاجِدَ لاَ تَصْلُحُ لِشَيْءٍ مِنْ هَذَا الْبَوْلِ وَلاَ الْقَذَرِ إِنَّمَا هِيَ لِذِكْرِ اللهِ وَالصَّلاَةِ وَقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ

“Sesungguhnya masjid-masjid ini tidaklah layak ada di dalamnya air seni dan kotoran. Masjid hanyalah untuk berzikir kepada Allah, shalat, dan membaca al-Qur’an.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu)

Bahkan, ketika mendapati bau yang tidak sedap dari sebagian sahabat yang memakan bawang mentah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَكَلَ ثُومًا أَوْ بَصَ فَلْيَعْتَزِلْ مَسْجِدَنَا فَإِنَّ الْمَ ئَالِكَةَ تَتَأَذَّى بِمَا يَتَأَذَّى مِنْهُ الْإِنْسُ

“Barang siapa memakan bawang putih atau bawang merah, janganlah ia datang ke masjid kita. Sebab, para malaikat terganggu dengan sesuatu yang mengganggu manusia.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Jabir radhiallahu ‘anhu)

Demikian pula ketika beliau mendapati air ludah atau dahak di bagian kiblat masjid. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pun membersihkannya dengan menggosoknya dengan tongkat beliau.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat menghargai sahabat beliau yang sehari-hari membersihkan masjid. Suatu ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam merasa kehilangan wanita yang biasa menyapu masjid. Setelah diberitakan bahwa ternyata wanita tersebut telah meninggal dunia, beliau minta ditunjukkan letak kuburannya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian menyalatinya di atas kuburan wanita tersebut.

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberi kemudahan bagi kita untuk memakmurkan masjid-masjid-Nya.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرآنِ الْكَرِيم،ِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتَ وَالذِّكْرِ الْحَكِيم .أَقُولُ قَوْلِي

هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمِ.


KHUTBAH KEDUA:

 

الْحَمْدُ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّ مَالُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ. أَمَّا بَعْدُ؛

 

Kaum muslimin rahimakumullah,

Adapun bentuk kedua dalam hal memakmurkan masjid ialah memakmurkannya secara maknawi, yaitu dengan memanfaatkan masjid tersebut untuk beribadah kepada Allah, seperti shalat berjamaah, membaca al-Qur’an, berzikir, dan majelis ilmu.

Hal ini sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala,

إِنَّمَا يَعۡمُرُ مَسَٰجِدَ ٱللَّهِ مَنۡ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ وَأَقَامَ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَى ٱلزَّكَوٰةَ وَلَمۡ يَخۡشَ إِلَّا ٱللَّهَۖ فَعَسَىٰٓ أُوْلَٰٓئِكَ أَن يَكُونُواْ مِنَ ٱلۡمُهۡتَدِينَ ١٨

“Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan salat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapa pun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (at-Taubah: 18)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا هِيَ لِذِكْرِ اللهِ وَالصَّلاَةِ وَقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ

“Masjid hanyalah untuk berzikir kepada Allah, shalat, dan membaca al-Qur’an.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu)

Inilah sesungguhnya tujuan utama didirikannya masjid yang besar sekali keutamaannya di sisi Allah subhanahu wa ta’ala. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,

أَحَبُّ الْبِ دَالِ إِلَى اللهِ مَسَاجِدُهَا وَأَبْغَضُ الْبِ دَالِ إِلَى اللهِ أَسْوَاقُهَا

“Tempat yang paling dicintai oleh Allah adalah masjid-masjidnya, sedangkan yang paling dibenci oleh Allah dalah pasar-pasarnya.” (HR. Muslim no. 671 dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللهِ تَعَالَى يَتْلُونَ كِتَابَ اللهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِ نَزَلَتْ عَلَيْهِمْ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمْ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمْ الْمَ ئَالِكَةُ وَذَكَرَهُمْ اللهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ

“Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah (yaitu masjid) dalam rangka membaca al-Qur’an dan mempelajarinya kecuali akan turun kepada mereka sakinah (ketenangan), mendapatkan rahmat, dikelilingi oleh malaikat, dan disebut-sebut oleh Allah (memuji mereka) di hadapan makhluk yang di sisi-Nya.” (HR. Abu Dawud no. 1455 dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

“Ya Allah, mudahkanlah kami dalam berzikir, bersyukur, dan beribadah kepada-Mu dengan baik.”

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ، وَالْحَمْدُ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Kalbu yang Selamat

Kalbu yang selamat yang terbebas dari azab Allah subhanahu wa ta’ala adalah kalbu yang pasrah kepada Rabbnya, yang tunduk kepada perintah-Nya dan tidak ada padanya rasa penentangan terhadap perintah-Nya; tidak pula ada pengingkaran terhadap kabar yang datang dari-Nya. Dialah kalbu yang selamat dari selain Allah subhanahu wa ta’ala.

Tidak ada yang ia inginkan selain Allah subhanahu wa ta’ala. Tidaklah dia berbuat kecuali apa yang Allah subhanahu wa ta’ala perintahkan. Allahlah satu-satunya yang ia tuju. Perintah dan syariat-Nya ia jadikan sebagai wasilah dan jalan hidupnya. Tidak ada sedikit keraguan yang mejadi penghalang baginya untuk membenarkan berita yang datang dari-Nya. Tidaklah keraguan datang kecuali hanya terlintas sejenak saja. Kemudian ia tahu bahwa ia tidak bisa menetap di kalbu tersebut. Demikian pula hawa nafsu, ia tidak mampu menghalangi kalbu tersebut dari mengikuti keridhaan Allah.

Tatkala kalbu itu demikian keadaannya, ia akan selamat dari kesyirikan, kebid’ahan, penyimpangan, dan kebatilan. Seluruh pendapat yang menafsirkan makna qalbun salim tercakup dalam penjelasan di atas.

Pada hakikatnya, kalbu yang selamat adalah kalbu yang tunduk dan pasrah untuk beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan penuh rasa malu, takut, dan harap. Ia mencukupkan diri dengan kecintaan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dari kecintaan kepada selain-Nya, dengan rasa takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala dari takut kepada selain-Nya, dan dengan rasa harap kepada Allah subhanahu wa ta’ala dari berharap kepada selain-Nya.

Ia menerima segala perintah-Nya dan perintah Rasul-Nya sebagai bentuk keimanan dan ketaatannya. Ia menerima segala takdir dan ketetapan-Nya sehingga ia tidak berprasangka buruk, tidak menentang atau marah terhadap segala ketetapan-Nya. Ia senantiasa berserah diri kepada Allah dengan penuh ketaatan, kerendahan diri, kehinaan, dan penghambaan.

Ia menyerahkan setiap keadaan, perkataan, perbuatan, perasaan, dan daya-upayanya, baik lahir maupun batin, kepada tuntunan Rasul-Nya dan menolak segala sesuatu yang datang dari selainnya. Yang sesuai dengan tuntunan Rasulnya ia terima, dan apa yang menyelisihinya ia tolak. Adapun sesuatu yang belum jelas baginya apakah itu sejalan dengan tuntunan Rasulnya ataukah bertentangan, ia menunda dan mengakhirkannya sampai hal itu menjadi jelas.

Ia senantiasa sejalan dengan wali-wali Allah dan golongan-Nya yang beruntung, yang senantiasa membela agama-Nya dan sunnah Nabi-Nya serta menegakkannya.

Ia pun memusuhi musuh-musuh Allah yang selalu menyelisihi kitab-Nya dan sunnah Nabi-Nya, yang keluar dari bimbingan keduanya, bahkan menyeru manusia untuk menyelisihi keduanya.

 

(Diambil dari kitab Miftah Daris Sa’adah, karya al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah, hlm. 54, cet. Darul Hadits, Kairo)

 

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Abdul Jabbar

Al-Mujib

Al-Mujib adalah salah satu nama Allah al-Husna yang Mahaindah. Nama ini terdapat dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala,

وَإِلَىٰ ثَمُودَ أَخَاهُمۡ صَٰلِحٗاۚ قَالَ يَٰقَوۡمِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَٰهٍ غَيۡرُهُۥۖ هُوَ أَنشَأَكُم مِّنَ ٱلۡأَرۡضِ وَٱسۡتَعۡمَرَكُمۡ فِيهَا فَٱسۡتَغۡفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوٓاْ إِلَيۡهِۚ إِنَّ رَبِّي قَرِيبٞ مُّجِيبٞ ٦١

Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Saleh. Saleh berkata, “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Rabb selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Rabbku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya).” (Hud: 61)

Al-Mujib bermakna yang menjawab, yang mengabulkan, atau yang mengijabahi doa hamba yang berdoa kepada-Nya.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Dialahal-Mujib. Dia mengatakan, ‘Siapa yang berdoa,’ ‘Akulah yang menjawab setiap orang yang memanggil-Ku.’ Dialah yang mengabulkan doa orang yang terhimpit ketika memohon kepada-Nya, dalam keadaan tersembunyi atau terang terangan.”

As-Sa’di rahimahullah berkata, “Dialah yang mengabulkan secara umum terhadap doa orang yang berdoa, bagaimanapun keadaan mereka dan dalam kondisi apapun, sebagaimana janji-Nya secara mutlak. Dialah pula yang mengabulkan secara khusus bagi orang-orang yang menyambut seruan Allah subhanahu wa ta’ala dan tunduk kepada syariat-Nya. Dia jugalah yang mengijabahi doa orang yang terhimpit dan telah putus harapan mereka dari makhluk, lantas menguatlah ketergantungan mereka kepada Allah dengan penuh harapan dan rasa takut kepada-Nya.”

Asy-Syaikh Muhammad Khalil Harras berkata, “Di antara nama Allah adalah al-Mujib. Kata ini adalah bentuk isim fail dari kata masdar ‘ijabah’ (bermakna mengabulkan atau menjawab). Pengabulan Allah subhanahu wa ta’ala ada dua macam.

 

  1. Pengabulan secara umum bagi tiap yang berdoa kepada-Nya dengan doa ibadah atau doa mas’alah.

Doa ibadah adalah suatu ucapan yang bertujuan memuji Allah subhanahu wa ta’ala dengan menyebut nama-nama-Nya yang Mahaindah dan sifat-sifat-Nya yang Mahatinggi tanpa diiringi oleh permintaan keperluan tertentu.

Adapun doa mas’alah adalah seorang hamba berkata, ‘Ya Allah, berikan kepadaku sesuatu, atau hindarkan dariku sesuatu.’ Hal ini dilakukan oleh manusia yang baik maupun yang jahat.

Allah subhanahu wa ta’ala akan mengabulkan bagi siapa yang Allah subhanahu wa ta’ala kehendaki dari hamba yang berdoa kepada-Nya sesuai dengan hikmah-Nya. Pengabulan doa tidak khusus bagi orang yang ikhlas dan bertakwa, karena kebaikan Allah subhanahu wa ta’ala mencakup orang yang baik dan orang yang jahat sekalipun, sedangkan rahmat-Nya meliputi segala sesuatu.

Oleh karena itu, pengabulan doa semacam ini tidak menunjukkan baiknya keadaan orang yang berdoa dan terkabul doanya selama tidak ada padanya tanda kejujuran dan kebenaran, seperti doa para Nabi, doa mereka untuk kebaikan kaumnya, atau doa untuk kecelakaan kaum yang membangkang terhadap mereka, lantas Allah mengabulkan doanya. Ketika itu, pengabulan doa Allah subhanahu wa ta’ala terhadap mereka menunjukkan kejujuran mereka dalam hal berita yang sampaikan dan kemuliaan mereka di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala.

 

  1. Pengabulan doa secara khusus

Jenis pengabulan doa yang ini memiliki sebab yang banyak. Di antaranya, seseorang telah berada pada keadaan yang sangat sempit dan terjatuh pada kesulitan yang sangat dahsyat, lalu dia berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Allah mengabulkan doanya dan menghilangkan kesulitannya sebagaimana firman-Nya,

وَإِذَا مَسَّكُمُ ٱلضُّرُّ فِي ٱلۡبَحۡرِ ضَلَّ مَن تَدۡعُونَ إِلَّآ إِيَّاهُۖ فَلَمَّا نَجَّىٰكُمۡ إِلَى ٱلۡبَرِّ أَعۡرَضۡتُمۡۚ وَكَانَ ٱلۡإِنسَٰنُ كَفُورًا ٦٧

“Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah siapa yang kamu seru kecuali Dia. Maka tatkala Dia menyelamatkan Kamu ke daratan, kamu berpaling. Dan manusia adalah selalu tidak berterima kasih.” (al-Isra’: 67)

أَمَّن يُجِيبُ ٱلۡمُضۡطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكۡشِفُ ٱلسُّوٓءَ وَيَجۡعَلُكُمۡ خُلَفَآءَ ٱلۡأَرۡضِۗ أَءِلَٰهٞ مَّعَ ٱللَّهِۚ قَلِيلٗا مَّا تَذَكَّرُونَ ٦٢

“Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati (Nya).” (an-Naml: 62)

Hal itu karena dia merasa sangat membutuhkan pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala dan merasa sangat hancur kalbunya di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala serta terlepas ketergantungannya dari makhluk.

Di antara sebab terkabulnya doa pula adalah panjangnya perjalanan safar, mencari perantara dengan perantara yang paling Allah subhanahu wa ta’ala cintai dengan menyebut asma Allah saat berdoa, doa orang sakit, terzalimi, dan yang berpuasa.

Demikian pula pada waktu dan keadaan yang mulia, seperti pada akhir tiap shalat, waktu akhir malam, saat azan, saat turun hujan, saat gentingnya peperangan, dan kesempatan lain sebagaimana yang terdapat dalam hadits.” (Syarah Nuniyyah, 2/94—95 dengan sedikit diringkas)

 

Buah Mengimani Nama Allah Al-Mujib

Tentu saja, hamba yang beriman dengan nama Allah al-Mujib tidak akan merasa rugi, apalagi resah. Mengapa? Karena dia punya harapan besar dari Rabbnya yang Maha mengabulkan permintaan.

Apa saja yang dia minta dari kebaikan dunia dan akhirat akan Allah subhanahu wa ta’ala kabulkan. Betul-betul kalbu ini merasa lega, tenang, dan senantiasa optimis menghadapi kehidupan ini; apapun keadaannya. Saya yakin, setiap kita telah benar-benar merasakan berbagai doa yang diijabahi oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan berbagai permintaan yang dikabulkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Allah subhanahu wa ta’ala pasti mengabulkan doa kita selama tidak ada penghalang terkabulnya doa. Hanya saja yang perlu kita pahami, terkadang terkabulnya doa itu dalam bentuk langsung terkait dengan apa yang kita minta, atau dalam bentuk tabungan bagi kita di akhirat, atau dalam bentuk diselamatkan dari kejelekan yang senilai dengan doa yang diminta.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ أَحَدٍ يَدْعُو بِدُعَاءٍ إِلاَّ آتَاهُ اللهُ مَا سَأَلَ أَوْ كَفَّ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهُ مَا لَمْ يَدْعُ بِإِثْمٍ أَوْ قَطِيعَةِ رَحِمٍ.

“Tidaklah seseorang yang berdoa dengan sebuah doa kecuali Allah akan berikan apa yang dia minta, atau Allah hindarkan dia dari keburukan yang senilai dengannya, selama dia tidak meminta sesuatu yang mengandung dosa atau pemutusan silaturahmi.” (HR. at-Tirmidzi, dinyatakan hasan oleh asy-Syaikh al-Albani)

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ لَهُ فِيهَا إِثْمٌ أَوْ قَطِيعَةُ رَحِمٍ إِلاَّ أَعْطَاهُ اللهُ بِهَا إِحْدَى ثَلاَثٍ: إِمَّا أنْ يُعجِّلَ لَهُ دَعْوَتَهُ، وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ، وَإِمَّا أَنْ يَكْشِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا. قَالُوا: إِذاً نُكْثِرُ؟ قَالَ: اللهُ أَكْثَرُ

“Tidaklah seorang muslim berdoa dengan sebuah doa yang tidak mengandung dosa atau pemutusan silaturahmi kecuali Allah akan kabulkan dengan salah satu dari tiga hal: Allah akan segerakan pengabulan doanya, Allah akan tabung untuknya di akhirat, atau Allah akan hindarkan dia dari kejelekan yang senilai dengannya.”

Para sahabat lantas berkata, “Wahai Rasulullah, kalau begitu kita memperbanyak doa?!”

Beliau menjawab, “Allah akan lebih banyak.” (HR. at-Tirmidzi, dinyatakan hasan oleh al-Albani dalam Shahih at-Targhib)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

أَمَّن يُجِيبُ ٱلۡمُضۡطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكۡشِفُ ٱلسُّوٓءَ وَيَجۡعَلُكُمۡ خُلَفَآءَ ٱلۡأَرۡضِۗ أَءِلَٰهٞ مَّعَ ٱللَّهِۚ قَلِيلٗا مَّا تَذَكَّرُونَ ٦٢

        “Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati (Nya).” (an-Naml: 62)

وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدۡعُونِيٓ أَسۡتَجِبۡ لَكُمۡۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسۡتَكۡبِرُونَ عَنۡ عِبَادَتِي سَيَدۡخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ ٦٠

Dan Rabbmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.” (Ghafir: 60)

Ibnu Katsir rahimahullah menceritakan bahwa Ibnu Asakir menyebutkan dalam kitab beliau tentang biografi seseorang yang menceritakan kisahnya tentang pengabulan doanya.

“Aku menyewakan seekor baghal (hewan hasil persilangan antara kuda dan keledai) untuk perjalanan dari Damaskus ke negeri Zabadani. Suatu saat seseorang menaikinya bersamaku sehingga kami melewati jalan yang tidak pernah dilalui.

Dia berkata, ‘Lewatlah jalan ini, karena jalan ini lebih dekat.’

Aku menjawab, ‘Aku tidak punya pengalaman melalui jalan itu.’

‘Itu lebih dekat,’ jawabnya.

Kami kemudian melaluinya. Sampailah kami pada suatu tempat berlumpur dan lembah dalam yang terdapat banyak mayat. Dia berkata, ‘Tahanlah baghal ini, biarkan aku turun.’

Dia turun dan menyingsingkan bajunya lalu mencabut pisau dan pergi menuju diriku. Aku lari dari hadapannya, namun dia mengejarku. Aku ingatkan dia terhadap Allah dan kukatakan, ‘Ambillah baghal itu dengan semua yang ada padanya.’

Dia menjawab, ‘Ya, itu untukku, tetapi aku juga ingin membunuhmu.’

Akupun mengingatkan dia agar takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan mengingatkan hukuman dari-Nya. Namun, dia tidak menerimanya. Akhirnya, aku pasrah di hadapannya dan aku katakan, ‘Kalau boleh, biarkan aku shalat dua rakaat terlebih dahulu.’

Dia berkata, ‘Shalatlah, dan cepat!’

Aku pun shalat dengan sangat gemetar ketika hendak membaca al-Qur’an sehingga tidak ingat satu huruf pun. Aku hanya berdiri bingung.

Dia berkata, ‘Ayo cepat selesaikan!’

Lalu Allah subhanahu wa ta’ala mengalirkan pada lisanku bacaan ayat,

أَمَّن يُجِيبُ ٱلۡمُضۡطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكۡشِفُ ٱلسُّوٓءَ

“Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan….” (an-Naml: 62)

Tiba-tiba, aku melihat seorang penunggang kuda datang dari ujung lembah, membawa sebuah tombak. Lantas dia lemparkan tombak itu ke tubuh si perampok dan tidak meleset sedikit pun dari jantungnya. Tumbanglah ia, tersungkur.

Segeralah aku memegangi penunggang kuda itu dan kukatakan, ‘Demi Allah, siapa engkau?’

Ia menjawab, ‘Aku adalah utusan Allah yang mengabulkan permintaan hamba-Nya yang sedang terjepit apabila dia berdoa. Dialah yang menghilangkan keburukan.’

Aku kemudian mengambil kembali baghal itu dan bawaannya. Akhirnya, aku kembali dengan selamat.”

Ditulis oleh Al-Ustadz Qomar Suaidi doa

Aplikasi Mushaf Pada Ponsel Pintar

Apa hukumnya kita membaca al-Qur’an lewat handphone? Apakah sama pahalanya dengan membaca al-Qur’an dalam bentuk mushaf? Bolehkah kita membuka aplikasi al-Qur’an yg ada di HP kita dalam keadaan berhadats kecil/besar? Mohon penjelasannya.

imam********@gmail.com

 

Dijawab oleh al-Ustadz Qomar Suaidi

Para ulama telah berbeda pendapat tentang pemasangan aplikasi mushaf al-Qur’an pada perangkat elektronik. Sebagian ulama, di antaranya al-Lajnah ad-Daimah (Dewan Fatwa) Saudi Arabia yang diketuai oleh asy-Syaikh Abdul Aziz Alu Syaikh dengan salah satu anggotanya ialah asy-Syaikh al-Fauzan, membolehkan hal tersebut. Hanya saja untuk menyentuhnya, seseorang tidak perlu dalam keadaan suci dari hadats. Sebab, aplikasi mushaf berbeda dengan mushaf kertas dalam beberapa sisi.

Asy-Syaikh Muhammad Ali Firkous hafizhahullah, salah seorang ulama Aljazair, menjelaskannya ketika menjawab pertanyaan berikut ini.

Smartphone (telefon pintar) telah tersebar di masyarakat muslim dan mengandung beberapa aplikasi islami, seperti mushaf elektronik secara lengkap. Apabila seseorang membuka mushaf dari smartphonenya, dia layaknya membuka mushaf kertas. Apakah orang yang membacanya mendapat pahala seperti yang membaca mushaf kertas? Apakah boleh membawanya ke WC (toilet), dan apakah boleh bagi orang yang berhadats menyentuhnya?

 

Berikut ini jawaban beliau.

Bisa jadi, definisi mushaf masa kini ialah semua sarana yang mencakup al-Qur’anul Karim dengan urutan ayat dan surat yang sesuai dengan tulisan al-Qur’an yang telah disepakati oleh umat pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu.

Tampak dari definisi di atas bahwa mushaf mencakup semua macam mushaf, sama saja baik itu mushaf kertas model terdahulu yang terdiri dari kertas dan huruf yang mencakup al-Qur’an di antara dua sampul yang menjaganya, maupun mushaf elektronik yang tersimpan dalam kartu elektronik maupun kepingan CD. Demikian pula ekstrusi yang digunakan dengan jarum braille pada kertas khusus bagi tuna netra.

Karena mushaf elektronik memiliki beberapa sifat yang berbeda dengan mushaf kertas dalam hal susunan dan hurufnya, tidak berlaku padanya hukum mushaf kertas kecuali setelah perangkat elektronik dihidupkan dan menampilkan ayat al-Qur’an yang tersimpan pada memori mushaf elektronik.

Apabila mushaf elektronik tampil dengan modelnya yang dapat dibaca, orang yang membacanya mendapatkan pahala seperti membaca mushaf kertas, sebagaimana yang disebutkan hadits Ibnu Mas’ud yang sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، أَقُولُ الم حَرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَ مَالٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ

Barang siapa membaca satu huruf dari Kitabullah, dengan itu dia mendapatkan satu kebaikan. Kebaikan itu dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf. Akan tetapi, alif itu satu huruf, huruf lam satu huruf, dan mim satu huruf.” (HR. at-Tirmidzi no. 2910)

Demikian pula hadits Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu,

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُحِبَّ اللهَ وَرَسُولَهُ فَلْيَقْرَأْ فِي الْمُصْحَفِ

“Barang siapa suka untuk mencintai Allah dan Rasul-Nya, hendaknya dia membaca dari mushaf.”

Selain itu, banyak hadits sahih yang menunjukkan keutamaan membaca al- Qur’an dan memperbanyaknya.

Perangkat tersebut memiliki hukum sama dengan mushaf kertas dari sisi tidak boleh dibawa masuk ke dalam wc (toilet) tanpa ada kebutuhan atau keperluan darurat. Hal itu dilarang selama perangkat tersebut hidup dan menampilkan ayat al-Qur’an.

Termasuk hal yang dilarang pula ialah menempelkan, meletakkan, atau mengotori mushaf dengan benda najis. Hal itu karena kehormatan al-Qur’an yang ada padanya dengan aktifnya perangkat tersebut dan tampilnya ayat dan surat al-Qur’an.

Hanya saja larangan di atas tidak berlaku saat apllikasi tidak aktif dan saat ayat tidak tampak dengan hilangnya tampilan huruf tersebut pada layar. Dalam kondisi tidak aktif dan mushaf tidak tampak padanya, tidaklah diperlakukan seperti mushaf kertas.

Dari sisi lain, orang yang berhadats kecil maupun besar diperbolehkan menyentuh bagian tertentu ponsel atau perangkat elektronik lain yang terdapat aplikasi mushaf, baik saat mati atau hidup. Sebab, huruf dalam mushaf elektronik yang tampak pada layar tidak lain adalah getaran elektronik yang diolah dan ditata serta tidak bisa tampak dan memantul pada layar kecuali dengan program elektronik. Atas dasar itu, menyentuh layar tidak dianggap menyentuh mushaf elektronik secara hakiki. Tidak tergambar penyentuhan secara langsung berdasarkan keterangan yang lalu.

Berbeda halnya dengan mushaf kertas, menyentuh kertas dan hurufnya tergolong penyentuhan secara langsung dan hakiki. Oleh karena itu, orang yang menyentuh mushaf elektronik tidak diperintah untuk berwudhu terlebih kecuali dalam rangka hati-hati.

Ilmu yang sesungguhnya di sisi Allah subhanahu wa ta’ala. Akhir ucapan kami, alhamdulillahi Rabbil alamin. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberikan shalawat-Nya kepada Nabi- Nya, keluarganya, para sahabatnya sampai hari kiamat; serta memberikan salam- Nya kepadanya. -selesai jawaban asy-Syaikh Muhammad Ali Firkous-

Sebagian ulama yang lain, di antaranya asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi, sebagaimana dinukilkan oleh asy-Syaikh Abdullah al-Bukhari, tidak membolehkannya. Inti alasannya, demi menghormati al-Qur’an supaya tidak terhinakan karena perangkat elektronik terkadang diletakkan di sembarang tempat.

Atas dasar itu, kami sarankan bagi yang memasang aplikasi al-Qur’an elektronik agar berusaha selalu menjaga kehormatan HP tersebut.

Wallahu a’lam.

Nabi Sulaiman Wafat

(bagian ke-3)

 

Telah dikisahkan tentang keistimewaan Nabi Sulaiman ‘alaihissalam, sebagai seorang hamba Allah subhanahu wa ta’ala, sekaligus Nabi dan Raja Bani Israil. Sebaik-baik hamba dan memiliki kedudukan mulia di sisi Allah subhanahu wa ta’ala.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلِسُلَيۡمَٰنَ ٱلرِّيحَ غُدُوُّهَا شَهۡرٞ وَرَوَاحُهَا شَهۡرٞۖ وَأَسَلۡنَا لَهُۥ عَيۡنَ ٱلۡقِطۡرِۖ وَمِنَ ٱلۡجِنِّ مَن يَعۡمَلُ بَيۡنَ يَدَيۡهِ بِإِذۡنِ رَبِّهِۦۖ وَمَن يَزِغۡ مِنۡهُمۡ عَنۡ أَمۡرِنَا نُذِقۡهُ مِنۡ عَذَابِ ٱلسَّعِيرِ ١٢

يَعۡمَلُونَ لَهُۥ مَا يَشَآءُ مِن مَّحَٰرِيبَ وَتَمَٰثِيلَ وَجِفَانٖ كَٱلۡجَوَابِ وَقُدُورٖ رَّاسِيَٰتٍۚ ٱعۡمَلُوٓاْ ءَالَ دَاوُۥدَ شُكۡرٗاۚ وَقَلِيلٞ مِّنۡ عِبَادِيَ ٱلشَّكُورُ ١٣

فَلَمَّا قَضَيۡنَا عَلَيۡهِ ٱلۡمَوۡتَ مَا دَلَّهُمۡ عَلَىٰ مَوۡتِهِۦٓ إِلَّا دَآبَّةُ ٱلۡأَرۡضِ تَأۡكُلُ مِنسَأَتَهُۥۖ فَلَمَّا خَرَّ تَبَيَّنَتِ ٱلۡجِنُّ أَن لَّوۡ كَانُواْ يَعۡلَمُونَ ٱلۡغَيۡبَ مَا لَبِثُواْ فِي ٱلۡعَذَابِ ٱلۡمُهِينِ ١٤

“Dan Kami (tundukkan) angin bagi Sulaiman, yang perjalanannya di waktu pagi sama dengan perjalanan sebulan dan perjalanannya di waktu sore sama dengan perjalanan sebulan (pula) dan Kami alirkan cairan tembaga baginya. Dan sebagian dari jin ada yang bekerja di hadapannya (di bawah kekuasaannya) dengan izin Rabbnya. Dan siapa yang menyimpang di antara mereka dari perintah Kami, Kami rasakan kepadanya azab neraka yang apinya menyala-nyala.

Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah, hai keluarga Dawud, untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih.

Maka tatkala Kami telah menetapkan kematian Sulaiman, tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka tatkala ia telah tersungkur, tahulah jin itu bahwa kalau sekiranya mereka mengetahui yang gaib tentulah mereka tidak akan tetap dalam siksa yang menghinakan.” (Saba: 12—14)

Asy-Syaikh as-Sa’di rahimahullah menerangkan dalam tafsirnya sebagai berikut.

Setelah menerangkan karunia-Nya kepada Dawud ‘alaihissalam, Allah menerangkan pula karunia-Nya kepada Sulaiman putra Dawud ‘alaihissalam. Bahwa Allah subhanahu wa ta’ala menundukkan angin baginya agar bertiup sesuai dengan perintahnya, agar membawanya dan apa saja yang menyertainya, melintasi jarak yang sangat jauh dalam waktu yang sangat singkat, dalam satu hari menempuh jarak yang seharusnya ditempuh selama satu bulan.

Allah subhanahu wa ta’ala menundukkan pula untuk beliau cairan tembaga dan memudahkan berbagai sarana untuk mengeluarkan apa yang dapat dihasilkan dari tembaga itu, berupa bejana-bejana dan sebagainya.

Allah subhanahu wa ta’ala menundukkan pula para jin dan setan serta Ifrit, yang melakukan pekerjaan besar menurut keinginan beliau. Di antara jin dan setan itu ada yang diperintah oleh beliau agar menyelam dan mengeluarkan berbagai kekayaan alam yang ada di dasar laut, seperti mutiara dan permata berharga lainnya. Ada pula yang melakukan pekerjaan yang lain dan tidak ada satupun yang keluar dari perintah beliau. Siapa saja di antara mereka yang berani melanggar, niscaya terkena azab yang bernyala-nyala dari Allah subhanahu wa ta’ala.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَمَن يَزِغۡ مِنۡهُمۡ عَنۡ أَمۡرِنَا نُذِقۡهُ مِنۡ عَذَابِ ٱلسَّعِيرِ

“Dan siapa yang menyimpang di antara mereka dari perintah Kami, Kami rasakan kepadanya azab neraka yang apinya menyala-nyala.”

Apa saja yang dikehendaki oleh Nabi Sulaiman ‘alaihissalam, pasti mereka kerjakan. Mereka membuat bangunan yang kokoh dan megah, patung-patung dalam berbagai bentuk. Mereka juga membuatkan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk-periuk yang tidak bergeser dari tempatnya, karena sangat besar ukurannya.

Akan tetapi, sebagai sebuah ketetapan Allah subhanahu wa ta’ala yang tidak akan berubah, bahwa segala sesuatu di alam ini adalah fana. Yang kekal hanya Allah Yang Mahamulia.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

           كُلُّ مَنۡ عَلَيۡهَا فَانٖ ٢٦ وَيَبۡقَىٰ وَجۡهُ رَبِّكَ ذُو ٱلۡجَلَٰلِ وَٱلۡإِكۡرَامِ ٢٧

“Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Dzat Rabbmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (ar-Rahman: 26—27)

Dalam ayat lainnya, Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman,

وَمَا جَعَلۡنَا لِبَشَرٖ مِّن قَبۡلِكَ ٱلۡخُلۡدَۖ أَفَإِيْن مِّتَّ فَهُمُ ٱلۡخَٰلِدُونَ ٣٤

“Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu (Muhammad); maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal?” (al-Anbiya: 34)

Demikianlah kematian itu, apabila sudah tiba waktunya tidak mungkin dapat dipercepat ataupun ditunda, meskipun sesaat. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٞۖ فَإِذَا جَآءَ أَجَلُهُمۡ لَا يَسۡتَأۡخِرُونَ سَاعَةٗ وَلَا يَسۡتَقۡدِمُونَ ٣٤

“Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu, maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya.” (al-A’raf: 34)

Akhirnya, setiap orang pasti akan merasakannya, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala,

كُلُّ نَفۡسٖ ذَآئِقَةُ ٱلۡمَوۡتِۗ

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.” (Ali Imran: 185)

Nabi Sulaiman ‘alaihissalam pun wafat.

Dinukil oleh para ulama dari sebagian riwayat Israiliyat bahwa di antara kebiasaan Nabi Sulaiman adalah senang i’tikaf di Baitil Maqdis. Kadang beliau beribadah di dalamnya selama setahun, kadang dua tahun, atau satu sampai dua bulan. Beliau menetap di sana membawa makanan dan minumannya. Seperti biasa, beliau masuk ke dalam masjid pada hari beliau wafat. Adapun sebabnya, setiap pagi selalu tumbuh satu tanaman di mihrab beliau. Kemudian beliau menanyai tanaman itu, “Tanaman apa kamu ini?”

“Aku tanaman anu,” jawab tumbuhan itu.

“Untuk apa kamu diciptakan?” Kalau dia menjawab untuk ditanam (dipanen), beliau memerintahkan dicabut dan ditanam di tempat lain. Kalau untuk obat, beliau menuliskan keterangan untuk apa tanaman tersebut. Akhirnya tumbuh tanaman kharubah.

Beliau menanyai tanaman itu, “Untuk apa kamu tumbuh?”

“Untuk meruntuhkan masjidmu ini.”

Kata Nabi Sulaiman ‘alaihissalam, “Tidak mungkin Allah subhanahu wa ta’ala meruntuhkannya sedangkan aku masih hidup. Engkaulah tanda kematianku dan runtuhnya Baitul Maqdis.”

Kemudian beliau mencabutnya dan menanamnya di salah satu dinding, seraya berdoa, “Ya Allah, butakan mata jin itu tentang kematianku (jangan sampai mereka tahu), sampai manusia menyadari bahwa jin-jin itu sama sekali tidak mengetahui perkara gaib.”

Dahulu, para setan dan jin-jin kafir itu selalu menyebut-nyebut kepada manusia bahwa mereka mengetahui hal-hal yang gaib dan mengerti rahasia alam ini. Mereka sesumbar bahwa mereka tahu apa yang akan terjadi esok hari. Karena itu, Allah subhanahu wa ta’ala ingin menampakkan kebohongan ucapan mereka kepada para hamba-Nya.

Pada hari yang telah ditetapkan, Nabi Sulaiman ‘alaihissalam memasuki mihrabnya. Di depan dan belakang beliau dalam mihrab itu ada semacam ventilasi, sehingga apa yang terjadi dalam mihrab itu jelas dapat dilihat dari luar. Nabi Sulaiman mulai shalat sambil berdiri dengan bertelekan di atas tongkat beliau. Masih sambil berdiri, Malaikat Maut datang mencabut ruh suci beliau, dan beliau pun wafat dalam keadaan masih berdiri.

Di luar mihrab, seperti biasanya, jin-jin itu melaksanakan pekerjaan berat yang diperintahkan oleh Nabi Sulaiman ‘alaihissalam. Sambil bekerja, mereka mengintip ke arah mihrab, ternyata Nabi Sulaiman ‘alaihissalam masih berdiri dalam shalatnya. Sama sekali mereka tidak menyadari bahwa Nabi Sulaiman sudah sejak tadi meninggal. Mereka tidak merasa aneh, karena memang demikian kebiasaan Nabi Sulaiman jika sudah larut dalam shalatnya.

Itu adalah pekerjaan yang menyusahkan mereka. Seandainya mereka mengetahui yang gaib, pasti mereka mengetahui kematian Nabi Sulaiman ‘alaihissalam yang mereka nanti-nantikan, agar terbebas dari keadaan mereka saat itu. Setelah itu, setiap kali melewati beliau yang sedang bertelekan di atas tongkatnya, mereka mengira beliau masih hidup, sehingga mereka merasa takut. Mereka pun tetap melaksanakan tugas mereka seperti biasa. Hal itu berlangsung selama setahun penuh.

Kemudian, Allah subhanahu wa ta’ala mengirimkan rayap memakan tongkat beliau ‘alaihissalam. Akhirnya, tongkat itu rapuh dan jasad Nabi Sulaiman ‘alaihissalam tersungkur. Demi mengetahui hal ini, para setan itu melarikan diri. Barulah mereka menyadari ternyata Nabi Sulaiman ‘alaihissalam telah lama wafat. Para jin itu sangat berterima kasih kepada rayap-rayap tersebut, karena telah memberitahukan mereka kematian Nabi Sulaiman ‘alaihissalam.

Akhirnya jelaslah bagi manusia bahwa jin-jin itu membohongi mereka, dan sebagaimana (firman Allah subhanahu wa ta’ala),

لَّوۡ كَانُواْ يَعۡلَمُونَ ٱلۡغَيۡبَ مَا لَبِثُواْ فِي ٱلۡعَذَابِ ٱلۡمُهِينِ ١٤

“Sekiranya mereka mengetahui yang gaib tentulah mereka tidak akan tetap dalam siksa yang menghinakan.”

Maksudnya, tidak mungkin mereka merasakan kepayahan dan ditundukkan untuk Nabi Sulaiman ‘alaihissalam.

 

Faedah

  1. Nabi Sulaiman ‘alaihissalam, sebagaimana nabi lainnya, adalah manusia biasa yang pasti merasakan kematian.
  2. Yang menundukkan para jin agar bekerja menurut perintah Nabi Sulaiman ‘alaihissalam adalah Allah subhanahu wa ta’ala yang telah menciptakan mereka.

Dinukil dari Ibnu ‘Abbas c, Allah subhanahu wa ta’ala menugaskan malaikat untuk mencambuk mereka dengan pecut api, jika mereka menentang perintah Nabi Sulaiman ‘alaihissalam.

  1. Para jin yang sampai saat ini masih saja ada manusia yang meyakini mereka mengetahui hal yang gaib, sebetulnya tidak mengetahui yang gaib. Mereka juga tidak bisa mendatangkan manfaat dan mudarat untuk diri mereka atau orang lain.
  2. Siapa yang mengaku-aku mengetahui perkara gaib, dia kafir, bahkan termasuk salah satu dari lima pimpinan thaghut. Mengetahui perkara gaib adalah salah satu kekhususan rububiyah Allah subhanahu wa ta’ala. Tidak ada yang mengetahui perkara gaib di langit dan di bumi melainkan Allah subhanahu wa ta’ala.
  3. Tunduknya para jin mematuhi perintah Nabi Sulaiman ‘alaihissalam, menunjukkan bahwa para jin itu adalah makhluk yang lemah sehingga tidak layak seorang manusia—yang lebih mulia daripada jin—meminta perlindungan dan bantuan kepada mereka.

Wallahu a’lam.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Harits

Runtuhnya Dinasti Sasanid

Runtuhnya Dinasti Sasanid

Ketika menerima tugas ketentaraan itu, Sa’d menyadari bahwa dengan pasukannya yang serbakekurangan baik bekal dan perlengkapan, dia harus menghadapi pasukan Persia yang berjumlah besar, kuat, dan terlatih, serta bersenjata lengkap. Akan tetapi, Sa’d sangat yakin, janji Allah subhanahu wa ta’ala yang diberitakan oleh Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, pasti terlaksana.

Ya, Allah subhanahu wa ta’ala akan menyerahkan perbendarahan Persia dan Romawi kepada Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kerajaan Bizantium Romawi telah dipatahkan oleh kaum muslimin di Yarmuk. Kini, Istana Putih Persia, pasti di ambang kehancurannya.

Pasukan al-Mutsanna bin Haritsah telah memulai penaklukan di sekitar tanah Persia.

Ketika hendak melepas Sa’d, ‘Umar memberi pesan, “Hai Sa’d, putra Ibu Sa’d. Janganlah kamu tertipu karena dipanggil khali (paman dari pihak ibu)[1] Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena Allah subhanahu wa ta’ala tidak menghapus kejelekan dengan kejelekan, tetapi Dia menghapus kejelekan dengan kebaikan. Tidak ada antara Allah subhanahu wa ta’ala dan siapa pun hubungan, kecuali dengan menaati-Nya.

Manusia di dalam agama Allah subhanahu wa ta’ala ini, sama. Allah Rabb (Pencipta, Pengatur, Pemberi rezeki, dan Pemelihara) mereka, dan mereka adalah hamba-hamba-Nya. Mereka berbeda-beda dalam hal kesejahteraan dan mendapatkan apa yang ada di sisi-Nya dengan ketaatan. Karena itu, perhatikanlah urusan yang kalian lihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu mengerjakannya, maka tekunilah dan bersabarlah.”

Sebelum berpisah, ‘Umar berkata lagi, “Kamu akan menghadapi urusan berat, maka bersabarlah menerima semuanya. Pusatkan rasa takutmu hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala, dan ketahuilah rasa takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala itu berpangkal pada dua hal, yaitu menaati-Nya dan menjauhi maksiat terhadap-Nya. Ketaatan orang yang menaati-Nya adalah dengan membenci dunia dan mencintai akhirat, sedangkan kedurhakaan orang yang mendurhakai-Nya adalah karena mencintai dunia dan membenci akhirat.”

Setelah itu, bergeraklah rombongan pasukan yang berjumlah empat ribu orang itu menuju Irak (Persia).

Berturut-turut, untuk memperkuat pasukan kaum muslimin yang dipimpin Sa’d, Amirul Mukminin ‘Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu mengirim Ba’ashmah bin ‘Abdullah dengan sepasukan tentara, menugaskan pula al-Mutsanna bin Haritsah yang sudah berada di tanah Persia sejak masa Khalid Saifullah, agar bergabung dengan Sa’d. Bahkan, al-‘Ala’ bin al-Hadhrami yang sedang bertugas di Bahrain juga diperintahkan bergerak menuju Babil.

Al-‘Ala’ berangkat setelah menunjuk Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu menggantikannya di Bahrain. Tetapi, dalam perjalanan, al-‘Ala meninggal dunia.

Al-Mutsanna bin Haritsah juga sudah bertolak. Namun, takdir Allah subhanahu wa ta’ala berlaku lain. Luka yang dideritanya dalam peristiwa jembatan (al-Jusr) yang heroik, pecah kembali hingga membawa kematiannya. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala merahmatinya.

 

Mengatur Barisan Muslimin

Muharram tahun empat belas hijriah. Pasukan Persia sudah mempersiapkan diri untuk menghancurkan orang-orang Arab. Tujuh belas ekor gajah diikutsertakan dalam pasukan Persia diiringi dua puluh prajurit khusus. Di atas gajah-gajah itu diberi tutup dari besi. Gading-gadingnya dibungkus sutra berhias dan setiap gajah dikawal oleh pasukan berkuda.

Setelah keberangkatan Sa’d, beberapa kekuatan prajurit tiba di Madinah memenuhi panggilan jihad dari Amirul Mukminin. Tanpa menunggu waktu, ‘Umar mengirim mereka menyusul Sa’d bin Abi Waqqash. Dengan demikian, kekuatan pasukan Sa’d semakin bertambah.

Berturut-turut, para pahlawan Islam di Tanah Arab mulai bergabung dalam pasukan yang dipimpin Sa’d. Para pahlawan itu sendiri tidak hanya jago dalam memainkan pedang dan tombak, tetapi juga ahli dalam berpidato dan bersyair. Mereka mempunyai kedudukan di kabilah dan negeri mereka masing-masing. Di antara mereka ada Asy’ats bin Qais, Thulaihah al-Asadi, dan ‘Amr bin Ma’dikariba, serta yang lainnya.

Mendekati Zamrud, kekuatan pasukan muslimin sudah bertambah menjadi 20.000 orang. Setelah pasukan al-Mutsanna dan beberapa kabilah berdekatan bergabung, demikian pula yang akan datang dari Syam, jumlah pasukan menjadi 36.000 orang.

Sambil menunggu pasukan yang datang dari Syam, Sa’d berhenti di Syaraf. Menunggu kedatangan sahabatnya al-Mutsanna. Akan tetapi, yang muncul adalah saudara al-Mutsanna, Mu’anna bin Haritsah bersama Salma, istri al-Mutsanna.

Setelah bertemu dengan Sa’d, Mu’anna menyampaikan pesan-pesan al-Mutsanna, di antaranya agar tidak menyerang Persia di dalam wilayah mereka sendiri, tetapi seranglah mereka di perbatasan yang dekat tanah Arab, tetapi tidak jauh dari perkotaan. Sebab, jika kaum muslimin menang, semua yang dibawa bangsa Persia akan menjadi milik kaum muslimin dan bila kebalikannya, orang-orang Majusi itu lebih tahu menyelamatkan diri dan lebih berani di negeri mereka sendiri.

Sa’d memahami pendapat dan pesan al-Mutsanna yang disampaikan Mu’anna. Hal ini membuat Sa’d semakin sedih, maka dia pun mendoakan al-Mutsanna. Sebetulnya, jarak pertemuan antara Sa’d dan al-Mutsanna sudah dekat, tetapi kematian lebih dahulu menjemput al-Mutsanna. Pahlawan besar itu pun berangkat memenuhi janjinya.

Al-Mutsanna memang bukan sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akan tetapi, keimanan dan keberaniannya serta keahliannya dalam peperangan telah mengantarkannya menjadi panglima kaum muslimin sesudah Khalid, untuk memimpin pasukan menaklukkan Persia. Selain itu, sebagaimana telah diceritakan, al-Mutsanna sangat mengenal keadaan di wilayah tersebut.

Beberapa waktu kemudian, Sa’d melamar Salma dan menikahinya. Inilah salah satu kebiasaan orang Arab sebagai penghargaan dan mengenang jasa serta kemuliaan pemimpin yang sudah meninggal dunia, sekaligus penghormatan terhadap jandanya, agar dengan demikian wanita yang mulia itu tetap berstatus mulia sebagaimana bersama suaminya dahulu.

Qadisiyah, di zaman jahiliah adalah gerbang menuju tanah Persia. Daerah ini pintu masuk berbagai bahan keperluan bangsa ini. Pelabuhan-pelabuhannya luas, tanahnya subur dan diperkuat dengan benteng-benteng yang kokoh serta jembatan penyeberangan yang melengkung dengan sungai-sungai yang jarang ada.

Sa’d juga melaporkan keadaan di setiap tempat yang disinggahi pasukannya. Dia menceritakan keadaan Qadisiyah yang hijau membentang panjang ke Hirah. Dia melaporkan bagaimana penduduk Sawad yang pernah berdamai dengan pasukan muslimin sekarang bergabung dengan Persia.

Amirul Mukminin tetap memantau dan meminta Sa’d agar tetap di tempatnya, dan baru betul-betul menyerang setelah berada di Madain. Sebab, menurut beliau di situlah kehancuran mereka, Insya Allah. Keyakinan Amirul Mukminin bukan karena meremehkan bangsa Persia, melainkan janji yang sudah ditetapkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala kepada Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Itu pun, bukan karena Allah subhanahu wa ta’ala menzalimi bangsa Persia, melainkan merekalah yang menzalimi diri sendiri dengan kesyirikan dan kekejaman serta keingkaran yang mereka perbuat. Wallahu a’lam.

Setelah menerima perintah dari Amirul Mukminin melalui surat-menyurat yang terus berlangsung sampai peperangan berlangsung, Sa’d pun bergerak menuju Qadisiyah sesudah mengatur pasukannya sedemikian rupa.

Sa’d mulai menunjuk beberapa komandan pasukan dan memecahnya menjadi beberapa regu. Kemudian, Sa’d menetapkan posisi masing-masing regu dengan komandannya.

Di barisan depan, beliau tempatkan para sahabat senior yang pernah menyertai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berperang. Tujuh puluh orang di antara mereka adalah veteran Perang Badr. Sekitar 300-an sisanya adalah orang-orang yang pernah ikut dalam Sumpah Setia di Hudaibiyah (Bai’atur Ridhwan).

Sa’d membawa mereka ke ‘Uzaib dan menetap beberapa lama sebelum melanjutkan perjalanan menuju Qadisiyah. ‘Uzaib adalah sebuah gudang senjata bangsa Persia yang dijaga ketat. Di setiap benteng ada orang yang mengawasi. Pasukan muslimin yang bertindak sebagai perintis sudah tiba di waktu subuh. Mereka tidak segera maju sampai datang satu regu pasukan yang akan menyerang benteng itu.

Setelah mendekat ke arah benteng, mereka melihat ada orang yang memacu kudanya menuju Qadisiyah. Ternyata orang-orang yang mereka lihat adalah bagian taktik Persia untuk mengintai kekuatan pasukan muslimin yang datang ke negeri mereka. Begitu kaum muslimin memasuki benteng, orang-orang itu sudah tidak ada di sana. Kaum muslimin hanya menemukan sejumlah tombak dan panah.

Sa’d tetap di ‘Uzaib walaupun pasukan Persia sudah tidak ada di sana. Kesempatan itu digunakan Sa’d menanamkan rasa takut di hati penduduk di sekitar ‘Uzaib dengan serangkaian serangan kecil. Ketika mereka tiba di ibu kota Bani Lakhm, mereka menyergap iring-iringan pengantin putri yang akan diserahkan kepada seorang pejabat di Sinnain.

Barang-barang berharga berikut pengiring rombongan itu ditawan dan diserahkan kepada Sa’d. Kemudian, Sa’d membagi-bagikannya kepada pasukan muslimin.

Demi mengetahui kejadian tersebut, penduduk Irak semakin ketakutan. Mereka tidak lagi mampu membangkang terhadap pasukan muslimin.

Sa’d semakin kuat di ‘Uzaib dan mulai membuat markas di Qudais.

(Insya Allah bersambung)

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Harits


[1] Sa’d dari Bani Zuhrah, kabilah Ibunda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Doa Orang Tua untuk Anak

Allah subhanahu wa ta’ala dengan hikmah dan keadilan-Nya yang sempurna menjadikan dunia yang fana ini sebagai ujian dan cobaan bagi seluruh hamba-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

أَفَحَسِبۡتُمۡ أَنَّمَا خَلَقۡنَٰكُمۡ عَبَثٗا وَأَنَّكُمۡ إِلَيۡنَا لَا تُرۡجَعُونَ ١١٥ فَتَعَٰلَى ٱللَّهُ ٱلۡمَلِكُ ٱلۡحَقُّۖ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ رَبُّ ٱلۡعَرۡشِ ٱلۡكَرِيمِ ١١٦

“Apakah kamu mengira bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? Maka Mahatinggi Allah, Raja Yang Sebenarnya; tidak ada Rabb (yang berhak disembah) selain Dia, Rabb (Yang mempunyai) Arsy yang mulia.” (al-Mu’minun: 115—116)

Asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah berkata, “Apakah kalian, wahai manusia, mengira bahwa Kami menciptakan kalian di dunia yang fana ini dengan sia-sia (tanpa tujuan yang mulia)? Kalian makan, minum, Al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan bersenang-senang, dan bernikmat-nikmat dengan kelezatan dunia lantas Kami biarkan begitu saja tanpa Kami perintah dan Kami larang? Apakah Kami tidak membalas dan menghukum (perbuatan kalian) sehingga kalian menganggap tidak akan kembali kepada Kami (untuk mempertanggungjawabkan amalan kalian)? Jangan sampai anggapan hal seperti ini terlintas pada hati-hati kalian! Sebab, Mahatinggi dan Mahasuci Allah dari anggapan seperti ini; karena hal ini tidak sesuai dengan hikmah-Nya.”

Di antara ujian dan cobaan yang dihadapkan kepada para hamba-Nya adalah orang tua diuji dengan anak-anak mereka. Allah subhanahu wa ta’ala mengabarkan hal ini dalam firman-Nya,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِنَّ مِنۡ أَزۡوَٰجِكُمۡ وَأَوۡلَٰدِكُمۡ عَدُوّٗا لَّكُمۡ فَٱحۡذَرُوهُمۡۚ وَإِن تَعۡفُواْ وَتَصۡفَحُواْ وَتَغۡفِرُواْ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٞ رَّحِيمٌ ١٤ إِنَّمَآ أَمۡوَٰلُكُمۡ وَأَوۡلَٰدُكُمۡ فِتۡنَةٞۚ وَٱللَّهُ عِندَهُۥٓ أَجۡرٌ عَظِيمٞ ١٥

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka), sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu): di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (at-Taghabun: 14—15)

Tatkala orang tua menghadapi berbagai problem tarbiyah (mendidik dan mengasuh) anak-anak, apa yang harus dilakukan? Siapakah yang berkuasa untuk mengubah berbagai penyimpangan dan kenakalan yang terjadi pada mereka? Berikut ini sebagian prinsip yang harus kita pahami. Mudah-mudahan Allah subhanahu wa ta’ala memberi hidayah taufik agar kita berjalan di atasnya.

 

Pemberi Petunjuk Hanyalah Allah subhanahu wa ta’ala

Dalam upaya memperbaiki dan membenahi tarbiyah orang tua terhadap anak, hal yang paling mendasar yang harus diyakini oleh para orang tua adalah bahwa pemberi petunjuk (hidayah taufik) itu adalah Allah subhanahu wa ta’ala semata.

Dialah satu-satunya Dzat yang berkuasa untuk menjadikan saleh atau tidaknya kita dan anak-anak kita, bahkan muslim atau kafirnya kita semua. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

هُوَ ٱلَّذِي خَلَقَكُمۡ فَمِنكُمۡ كَافِرٞ وَمِنكُم مُّؤۡمِنٞۚ

“Dialah yang menciptakan kamu, maka di antara kamu ada yang kafir dan di antaramu ada yang beriman.” (at-Taghabun: 2)

مَن يَهۡدِ ٱللَّهُ فَهُوَ ٱلۡمُهۡتَدِيۖ وَمَن يُضۡلِلۡ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡخَٰسِرُونَ ١٧٨

“Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, dialah yang mendapat petunjuk; dan barang siapa disesatkan oleh Allah, merekalah orang-orang yang merugi.” (al-A’raf: 178)

Dalam pembukaan khutbah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia berkata,

مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ

“Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, tidak ada yang bisa menyesatkannya; dan barang siapa disesatkan oleh Allah, tidak ada yang bisa memberinya petunjuk.”

Masih banyak ayat dan hadits sahih yang semakna dengan ayat dan hadits di atas.

Para nabi ‘alaihim as salam adalah hamba Allah subhanahu wa ta’ala yang paling mulia. Akan tetapi, mereka tidak mampu memberikan hidayah taufik kepada orang yang mereka cintai. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّكَ لَا تَهۡدِي مَنۡ أَحۡبَبۡتَ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يَهۡدِي مَن يَشَآءُۚ وَهُوَ أَعۡلَمُ بِٱلۡمُهۡتَدِينَ ٥٦

“Sesungguhnya kamu (wahai Rasulullah) tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (al-Qashash: 56)

Nabiyullah Nuh ‘alaihissallam pun tidak mampu memberi petunjuk kepada anak dan istrinya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَهِيَ تَجۡرِي بِهِمۡ فِي مَوۡجٖ كَٱلۡجِبَالِ وَنَادَىٰ نُوحٌ ٱبۡنَهُۥ وَكَانَ فِي مَعۡزِلٖ يَٰبُنَيَّ ٱرۡكَب مَّعَنَا وَلَا تَكُن مَّعَ ٱلۡكَٰفِرِينَ ٤٢

قَالَ سَ‍َٔاوِيٓ إِلَىٰ جَبَلٖ يَعۡصِمُنِي مِنَ ٱلۡمَآءِۚ قَالَ لَا عَاصِمَ ٱلۡيَوۡمَ مِنۡ أَمۡرِ ٱللَّهِ إِلَّا مَن رَّحِمَۚ وَحَالَ بَيۡنَهُمَا ٱلۡمَوۡجُ فَكَانَ مِنَ ٱلۡمُغۡرَقِينَ ٤٣

Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. Dan Nuh memanggil anaknya, sedangkan anak itu berada di tempat yang jauh terpencil, “Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir.”

Anaknya menjawab, “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!” Nuh berkata, “Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang.” Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orangorang yang ditenggelamkan. (Hud: 42—43)

Tatkala Allah telah menakdirkan kekafiran anak laki-laki Nabi Nuh ‘alaihissallam, berbagai upaya beliau agar anaknya beriman tidak bermanfaat. Hal ini sebagaimana ucapan beliau ‘alaihissallam, yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam firman-Nya,

وَلَا يَنفَعُكُمۡ نُصۡحِيٓ إِنۡ أَرَدتُّ أَنۡ أَنصَحَ لَكُمۡ إِن كَانَ ٱللَّهُ يُرِيدُ أَن يُغۡوِيَكُمۡۚ هُوَ رَبُّكُمۡ وَإِلَيۡهِ تُرۡجَعُونَ ٣٤

“Dan tidaklah bermanfaat kepadamu nasihatku jika aku hendak memberi nasihat kepada kamu, sekiranya Allah hendak menyesatkan kamu, Dia adalah Rabbmu dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.” (Hud: 34)

Asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah menjelaskan, “Sesungguhnya, kehendak (takdir) Allah subhanahu wa ta’ala yang menang. Apabila Dia subhanahu wa ta’ala berkehendak menyesatkan kalian karena kalian menolak kebenaran—walaupun aku bersemangat mencurahkan seluruh kemampuanku (demi kebaikanmu), menasihatimu dengan nasihat yang paling bagus, (dan beliau ‘alaihissallam sungguh telah menunaikan hal ini)—hal itu tidak bermanfaat bagi kalian sedikit pun. Sebab, Dia subhanahu wa ta’ala adalah Rabb kalian yang melakukan (menakdirkan) apa saja yang Dia kehendaki pada kalian. Dia pula yang menghukumi segala sesuatu yang terjadi pada kalian dengan apa yang Dia kehendaki. Hanya saja, kalian akan kembali kepada Allah subhanahu wa ta’ala lalu Dia akan membalas kalian sesuai dengan amalan kalian.”

Demikian pula keturunan para nabi dan rasul ‘alaihim as salam, tidak ada jaminan menjadi orang yang saleh. Jika demikian, terlebih lagi golongan hamba Allah yang berada di bawah mereka. Di antara dalil yang menunjukkan hal ini adalah kisah Nabiyullah Nuh ‘alaihissallam dengan anaknya di atas. Demikian pula firman Allah subhanahu wa ta’ala tentang keturunan Nabiyullah Ibrahim dan Ishaq ‘alaihimassalam,

وَبَٰرَكۡنَا عَلَيۡهِ وَعَلَىٰٓ إِسۡحَٰقَۚ وَمِن ذُرِّيَّتِهِمَا مُحۡسِنٞ وَظَالِمٞ لِّنَفۡسِهِۦ مُبِينٞ ١١٣

“Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq. Dan di antara anak cucunya ada yang berbuat baik dan ada (pula) yang zalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata.” (ash-Shaffat: 113)

Asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah menjelaskan, “Kami turunkan barakah kepada mereka berdua. Maksudnya adalah tumbuh dan bertambah ilmu, amal, dan keturunan mereka berdua. Allah subhanahu wa ta’ala menumbuhkembangkan keturunan mereka menjadi tiga umat yang besar. Bangsa Arab adalah keturunan Nabi Ismail ‘alaihissallam, sedangkan bani Israil dan bangsa Romawi adalah keturunan Nabi Ishaq ‘alaihissallam. Di antara keturunan mereka, ada yang saleh dan ada pula yang tidak saleh; ada yang adil dan ada yang zalim yang sangat jelas kezalimannya dengan kekafiran dan kemusyrikannya.

Boleh jadi, firman Allah subhanahu wa ta’ala ini bertujuan menghilangkan kesalahpahaman terhadap firman-Nya, ‘Dan Kami turunkan barakah kepada Ibrahim dan Ismail.’ Sebab, konsekuensi barakah yang Allah subhanahu wa ta’ala turunkan kepada keturunan mereka ialah keturunan mereka semua bagus. Oleh karena itu, Allah subhanahu wa ta’ala mengabarkan bahwa keturunan mereka ada yang bagus dan ada yang zalim. Wallahu a’lam.”

Dengan penjelasan di atas, kita bisa mengambil faedah bahwa penentu kebaikan bagi kita dan anak-anak kita adalah Allah subhanahu wa ta’ala semata. Tidak boleh bagi kita untuk bersandar kepada keturunan, kemampuan, kesungguhan, fasilitas pendidikan, kurikulum sekolah, dan sebagainya. Ketahuilah bahwa itu semua hanyalah upaya dan usaha, sedangkan penentunya adalah Allah subhanahu wa ta’ala.

 

Doa Orang Tua Demi Kebaikan Anak-Anaknya

Kunci kebaikan itu berada di tangan Allah subhanahu wa ta’ala. Tidak ada jalan untuk mendapatkan hidayah taufik bagi kita dan anak-anak kita selain dengan terus meminta dan berdoa kepada pemiliknya, yaitu Allah subhanahu wa ta’ala. Allah subhanahu wa ta’ala memerintah para hamba-Nya untuk senantiasa memohon hidayah taufik-Nya dalam setiap rakaat kita, demi kebaikan kita pula.

ٱهۡدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ ٦ صِرَٰطَ ٱلَّذِينَ أَنۡعَمۡتَ عَلَيۡهِمۡ

“Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka.” (al-Fatihah: 6—7)

Dalam sebuah hadits qudsi, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ ضَالٌّ إِلَّا مَنْ هَدَيْتُهُ فَاسْتَهْدُونِي أَهْدِكُمْ

“Wahai hamba-hamba-Ku, setiap kalian adalah orang yang sesat, kecuali orang yang Aku beri hidayah. Karena itu, mintalah hidayah kepada-Ku, Aku pasti memberi hidayah kepada kalian.” (HR. Muslim dari Abu Dzar radhiallahu ‘anhu no. 2577)

Dalam masalah tarbiyah, orang tua memiliki peran penentu yang sangat besar dan menjadi salah satu sebab keselamatan, kebaikan, dan kebahagiaan bagi anak-anaknya, dengan izin Allah subhanahu wa ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ

“Ada tiga macam doa yang tidak diragukan bahwa doa itu mustajabah (akan terkabulkan): doa orang yang dizalimi, doa orang safar, dan doa orang tua atas anaknya.” (HR. at-Tirmidzi dan Ibnu Majah, dinyatakan sahih oleh oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahih al-Adabul Mufrad no. 372)

Terlebih lagi Allah subhanahu wa ta’ala memerintah para hamba-Nya untuk senantiasa berdoa dan meminta segala hajat mereka, baik urusan dunia maupun agama. Allah subhanahu wa ta’ala berjanji untuk mengabulkannya. Allah subhanahu wa ta’ala memberi perintah,

ٱدۡعُونِيٓ أَسۡتَجِبۡ لَكُمۡۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسۡتَكۡبِرُونَ عَنۡ عِبَادَتِي سَيَدۡخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ ٦٠

“Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.” (Ghafir: 60)

Oleh karena itu, jangan biarkan kesempatan mulia ini berlalu begitu saja!

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan perbedaan antara harapan dan angan-angan dalam ad-Da’u wa ad-Dawa’ (hlm. 60), “Termasuk hal yang harus diketahui, siapa saja yang mengharapkan sesuatu, harapan/citacita itu berkonsekuensi tiga hal:

  1. Mencintai hal yang diharapkan itu,
  2. Mengkhawatirkan hal itu akan lepas/hilang,
  3. Berusaha mendapatkan hal itu dengan berbagai cara (yang dihalalkan).

Adapun harapan yang tidak diiringi oleh hal-hal yang telah disebutkan di atas, berarti itu hanya angan-angan (bukan harapan). Harapan adalah suatu urusan, sedangkan angan-angan adalah urusan yang lain.

Setiap orang yang mengharapkan sesuatu, akan khawatir apabila yang dia harapkan hilang. Misalnya, orang yang berjalan di jalanan, apabila dia takut/khawatir, dia akan mempercepat jalannya karena khawatir harapan/cita-citanya lepas.”

Berpijak dari perkataan al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah di atas, tatkala orang tua mengharapkan anak-anaknya menjadi saleh dan salehah, maka harapannya menuntut tiga hal yang disebutkan di atas. Ketiga hal di atas menjadi bukti akan harapannya. Jika tidak diiringi dengan usaha, upaya, dan doa secara terus-menerus dengan segenap kemampuannya, ketahuilah bahwa itu hanya angan-angan, bukan harapan.

Di antara upaya dan usaha yang terus bisa dilakukan oleh orang tua adalah doa. Adapun doa orang tua untuk kebaikan anaknya terbagi menjadi dua.

 

  1. Doa sebelum anak dilahirkan

Contohnya ialah doa Nabiyullah Zakaria ‘alaihissallam. Dengan sebab doa tersebut, Allah subhanahu wa ta’ala mengaruniakan Yahya ‘alaihissallam kepada beliau ‘alaihissallam.

هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهُۥۖ قَالَ رَبِّ هَبۡ لِي مِن لَّدُنكَ ذُرِّيَّةٗ طَيِّبَةًۖ إِنَّكَ سَمِيعُ ٱلدُّعَآءِ ٣٨ فَنَادَتۡهُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ وَهُوَ قَآئِمٞ يُصَلِّي فِي ٱلۡمِحۡرَابِ أَنَّ ٱللَّهَ يُبَشِّرُكَ بِيَحۡيَىٰ مُصَدِّقَۢا بِكَلِمَةٖ مِّنَ ٱللَّهِ وَسَيِّدٗا وَحَصُورٗا وَنَبِيّٗا مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ٣٩

Di sanalah Zakaria mendoa kepada Rabbnya seraya berkata, “Ya Rabbku, berilah aku dari sisi-Mu seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa.” Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakaria, ketika ia tengah berdiri melakukan salat di mihrab. (Katanya), “Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang putramu) Yahya, yang membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi termasuk keturunan orang-orang saleh.” (Ali Imran: 38—39)

Contoh lain ialah doa yang diajarkan oleh Rasullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saat seorang suami hendak menggauli istrinya,

Jika salah seorang di antara kalian ingin menggauli istrinya, berdoalah,

بِسْمِ اللهِ اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبْ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا

“Dengan nama Allah, ya Allah, jauhkanlah kami dari setan dan jauhkan setan dari yang Engkau karuniakan kepada kami.”

Apabila dari hubungan mereka berdua ditakdirkan tercipta seorang anak, niscaya setan tidak akan mampu membahayakannya selamanya. (Muttafaqun alaih)

Asy-Syaikh Abdullah al-Bukhari hafizhahullah menjelaskan, “Ini adalah suatu hal yang jelas. Pengikut sunnah dalam urusan ini termasuk hal yang agung, karena merupakan realisasi terhadap peribadatan dan memurnikan ittiba’/mengikuti Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak ada keraguan bahwa seorang hamba tentu benar-benar bersemangat untuk menjauh dari setan, dan dirinya dia serta anak-anaknya dijauhkan dari berbagai tipu daya setan. Dia memohon perlindungan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dari setan dan tipu dayanya. Sampai-sampai dia memohon kepada Allah subhanahu wa ta’ala agar menjauhkan anak yang dikaruniakan kepadanya dari tipu daya setan.

Perhatikanlah bimbingan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia ini. Sudah selayaknya seorang hamba mengikuti sunnah sampai pun dalam hal seperti ini. Mengikuti sunnah adalah kebaikan.” (Huququl Aulad, hlm. 19)

 

  1. Doa kebaikan bagi anak setelah dilahirkan

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَأَصۡلِحۡ لِي فِي ذُرِّيَّتِيٓۖ إِنِّي تُبۡتُ إِلَيۡكَ

“Berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada-Mu.” (al-Ahqaf: 15)

Doa kebaikan bagi anak kita adalah sebaik-baik sedekah yang bisa kita berikan kepada mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَالْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ

“Ucapan yang baik adalah sedekah.” (HR. Muslim no. 1009)

Demikian pula, itu adalah salah satu bukti kecintaan kita kepada mereka karena Allah subhanahu wa ta’ala. Kita menginginkan keselamatan dan kebahagiaan.

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لَِأخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Tidak beriman salah seorang dari kalian hingga dia mencintai untuk saudaranya apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri.” (HR. al-Bukhari dari Anas radhiallahu ‘anhu no. 13)

 

Peringatan: Orang tua tidak boleh mendoakan kejelekan bagi anak-anaknya dalam kondisi apa pun, baik senang maupun susah, taat maupun maksiat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لا تَدْعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ وَلَا تَدْعُوا عَلَى أَوْلَادِكُمْ وَلَا تَدْعُوا عَلَى أَمْوَالِكُمْ لَا تُوَافِقُوا مِنْ اللهِ سَاعَةً يُسْأَلُ فِيهَا عَطَاءٌ فَيَسْتَجِيبُ لَكُمْ

“Jangan kalian mendoakan kejelekan atas diri kalian. Jangan kalian mendoakan kejelekan atas anak-anak kalian. Jangan kalian mendoakan kejelekan atas harta kalian. Jangan sampai kalian menepati suatu waktu yang pada waktu itu Allah subhanahu wa ta’ala diminta sesuatu lantas Dia kabulkan bagi kalian.” (HR. Muslim no. 3014)

Dikisahkan, ada seseorang yang datang kepada Abdullah bin al-Mubarak rahimahullah. Dia mengeluhkan kelakuan sebagian anak-anaknya kepada beliau. Beliau rahimahullah balik bertanya, “Apakah kamu pernah mendoakan kejelekan atasnya?”

Dia menjawab, “Ya.”

Beliau rahimahullah berkata, “Engkau telah merusaknya (dengan doamu).”

 

Adab Berdoa dan Sebab Terkabulnya Doa

Dalam hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh al-Imam Muslim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan empat adab berdoa dan sebab terkabulnya doa.

 

  1. Bepergian jauh (safar)

Al-Hafizh Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Tatkala menempuh safar, hal itu akan lebih mendekatkan terkabulnya doa. Sebab, keadaan yang seperti itu akan menjadikan jiwa dan hati seseorang hancur karena jauh dari kampung halamannya. Dia menanggung berbagai kesusahan dalam safarnya. Remuknya hati merupakan sebab yang paling besar akan terkabulnya doa.” (Jami’ul Ulum wal Hikam, 1/269)

 

  1. Penampilan dan pakaian yang lusuh, kusut, serta berdebu

Hal ini diterangkan oleh hadits,

رُبَّ أَشْعَثَ أَغَبْرَ مَدْفُوعٍ بِالَأبْوَابِ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللهِ لَأبَرَّهُ

“Boleh jadi, orang yang kusut rambutnya, berdebu (pakaiannya), ditolak di pintu-pintu, seandainya dia bersumpah atas nama Allah subhanahu wa ta’ala, sungguh Allah subhanahu wa ta’ala akan mengabulkannya.” (HR. Muslim)

 

  1. Menengadahkan kedua tangan ke langit

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda di dalam hadits Salman radhiallahu ‘anhu,

إِنَّ اللهَ حَيِيٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِي إِذَا رَفَعَ الرَّجُلُ إِلَيْهِ يَدَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا خَائِبَتَيْنِ

            “Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala Mahamalu dan Mahamulia. Dia subhanahu wa ta’ala malu apabila seorang hamba mengangkat kedua tangannya dan meminta kepada-Nya, lalu dia mengembalikan kedua tangannya dalam keadaan kosong lagi kecewa (tidak dikabulkan).” (HR. Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

 

  1. Mengulang-ulangi doa dengan menyebut Rabbnya

Hal ini menunjukkan seorang hamba sangat berharap terkabulkan doa-doanya, sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

وَكَانَ إِذَا دَعَا دَعَا ثَلَاثًا، وَإِذَا سَأَلَ سَأَلَ ثَلَاثًا

“Apabila berdoa, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengulanginya sampai tiga kali. Apabila meminta, beliau n mengulangi permintaannya tiga kali.” (HR. Muslim)

 

Peringatan: Sungguh, makanan, minuman, dan pakaian yang haram bisa menjadi penghalang terkabulnya doa, sebagaimana disebutkan oleh hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh al-Imam Muslim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Sa’d radhiallahu ‘anhu, “Perbaguslah makananmu (dengan makanan yang halal), niscaya doamu terkabulkan.”

Oleh karena itu, hendaknya para orang tua tidak merasa bosan dan putus asa untuk mengharapkan kebaikan dan perbaikan bagi anak-anaknya. Mudah-mudahan Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa mengabulkan doa-doa kita demi kebaikan kita dan mereka. Amin.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan

Anakku, Kokohkan Fondasi Hidupmu

Anakku…

Hidup di dunia hanya satu kali. Yang telah berlalu tidak mungkin akan terulang kembali. Yang telah luput pun sulit untuk bisa diraih lagi. Ingat bahwa ujian hidup selalu ada,  kian hari kian bertambah. Waspadalah kalian, karena di belakang ujian itu ada kelulusan dan kegagalan. Bercita-citalah engkau menjadi orang yang lulus dan berhasil.

Anakku… Sungguh, terlalu banyak anak yang sebaya denganmu telah hancur masa depannya, rusak moral dan akhlaknya, terjatuh ke dalam jurang kehancuran dan kehinaan. Masa depanmu adalah masa yang sangat berharga, terlebih masa depan di akhiratmu. Masa depanmu di akhirat tidak akan didapatkan selain dengan kelurusan di dunia ini.

Anakku… Ingatlah, kelulusan itu adalah sebuah perjuangan dan pengorbanan. Perjuangan yang berujung kalah atau menang, dan pengorbanan yang berakhir dengan untung atau merugi. Tidak sedikit orang yang kalah dan menyerah dalam perjuangannya; tidak sedikit pula yang rugi besar dalam pengorbanannya. Dengarkan pesan Allah subhanahu wa ta’ala di dalam kitab suci-Nya,

قُلۡ هَلۡ نُنَبِّئُكُم بِٱلۡأَخۡسَرِينَ أَعۡمَٰلًا ١٠٣ ٱلَّذِينَ ضَلَّ سَعۡيُهُمۡ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَهُمۡ يَحۡسَبُونَ أَنَّهُمۡ يُحۡسِنُونَ صُنۡعًا ١٠٤

Katakanlah, “Maukah kami beri tahukan kepada kalian tentang orang-orang yang merugi amalnya? Yaitu orang-orang yang tersesat amalnya di dunia dan mereka menyangka telah melakukan yang terbaik.” (al-Kahfi: 103—104)

          وَقَدِمۡنَآ إِلَىٰ مَا عَمِلُواْ مِنۡ عَمَلٖ فَجَعَلۡنَٰهُ هَبَآءٗ مَّنثُورًا ٢٣

“Dan kami hadirkan apa yang mereka telah kerjakan dari amal-amal dan kami menjadikannya bagaikan debu yang beterbangan.” (al-Furqan: 23)

Korbankanlah segala yang engkau miliki untuk menyelamatkan diri dan agamamu dan. Engkau tidak akan bisa bangkit berjuang dan mau berkorban apabila tidak memiliki mesin penggerak. Mesin penggerakmu tidak akan berarti besar apabila tidak ditopang dengan penyangga yang kokoh, kuat, dan handal.

Ada empat hal yang harus engkau perhatikan sebagai dasar melangkah yang akan menjadi pelitamu dalam kegelapan dan menjadi senjatamu ketika berjuang dan berkorban.

  1. Engkau harus berilmu tentang Rabbmu, tentang Nabimu, dan agamamu dengan dalil-dalilnya.
  2. Engkau harus berani dan kuat untuk mengamalkan ilmu yang telah engkau ketahui.
  3. Engkau harus berani menyuarakan kebenaran yang telah engkau ilmui dan amalkan.
  4. Engkau harus berhias dengan kesabaran baik ketika mendalami ilmu atau saat beramal dan menyuarakan kebenaran.

Empat pilar inilah yang akan menjadi pelita hidupmu dan senjatamu saat bertarung. Pada akhirnya engkau termasuk orang yang berhasil dan lulus dengan, izin Allah subhanahu wa ta’ala. Empat pilar ini telah dirangkum oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam kitab suci-Nya dalam satu surat, yaitu surat al-‘Ashr.

وَٱلۡعَصۡرِ ١  إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَفِي خُسۡرٍ ٢  إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ ٣

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.” (al-‘Ashr: 1—3)

Al-Imam Ibnu Qayyim rahimahullah dalam kitabnya, Zadul Ma’ad (4/38), menyebutkan, “Berjuang ada empat tingkatan: (1) berjuang melawan diri sendiri, (2) berjuang melawan setan, (3) berjuang melawan orang kafir, dan (4) berjuang melawan kaum munafik.” Adapun berjuang melawan diri sendiri ada empat tingkatan pula.

 

  1. Berjuang agar dirinya mau belajar petunjuk dan agama yang benar.

Tidak ada kemenangan dan kebahagiaan dalam kehidupan dunia dan akhirat selain dengannya. Jika ini luput darinya, dia akan celaka di dua negeri tersebut.

 

  1. Berjuang agar dirinya tunduk beramal setelah mengetahui ilmu.

Sebab, sebatas berilmu tanpa amal, jika tidak mendatangkan mudarat, minimalnya akan menjadi tidak berguna.

 

3 . Berjuang agar dirinya mendakwahkan ilmu tersebut dan mengajari orang yang tidak mengetahuinya.

Jika dia tidak melakukannya, niscaya dia tergolong orang yang menyembunyikan petunjuk dan keterangan yang diturunkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

 

  1. Berjuang agar dirinya bersabar menanggung beban ketika berdakwah kepada Allah subhanahu wa ta’ala, bersabar dari gangguan manusia serta menanggung semuanya karena Allah subhanahu wa ta’ala.

Apabila telah menyempurnakan keempat tingkatan ini, dia tergolong rabbaniyyin. Telah ijma’ (sepakat) ulama salaf umat ini bahwa seorang alim tidak dikatakan sebagai rabbani sampai dia mengetahui kebenaran, mengamalkannya, dan mengajarkannya. Barang siapa mengilmui kebenaran, mengamalkan, dan mengajarkannya, dia dipuji dalam kehidupan penduduk langit.

Anakku…

Engkau hidup di dunia ini akan berhadapan dengan kenyataan yang pahit dan manis, yang kamu sukai dan kamu benci. Jadilah engkau orang yang memiliki hati dan dada yang lapang untuk menerimanya. Ketentuan yang engkau akan hadapi itu adalah pasti dan tidak akan berubah dan tersalah. Sebab, semua itu telah ada dalam suratan takdirmu sejak 50 ribu tahun sebelum Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan langit dan bumi.

Anakku…

Di sinilah engkau membutuhkan fondasi hidup yang kokoh dan kuat sehingga tidak bimbang dan goyah saat berhadapan dengan kenyataan pahit yang dibenci. Fondasi hidup itu adalah akidah yang kokoh dan kuat.

Bagaimanapun badai ujian mengempas, duri-duri hidup menusuk, kerikil-kerikil tajam merintangi; apabila memiliki fondasi hidup yang kuat, engkau bagaikan karang di laut, tidak akan goyah dengan ombak yang besar. Engkau bagaikan gunung yang tinggi menjulang yang tidak akan oleng oleh badai topan. Engkau bergembira saat orang-orang dirundung kesedihan. Engkau tenang dan tenteram saat kebanyakan orang gundah gulana. Engkau selalu tersenyum saat orang banyak dirundung kesedihan dan meneteskan air mata. Engkau pun tegar dan tabah ketika kebanyakan orang dihantui ketakutan.

Anakku…

Pentingnya membangun hidup di atas fondasi akidah ini tecermin dalam beberapa nuansa sejarah yang besar.

 

Pengutusan Para Nabi dan Rasul

Saat dunia ini berada dalam krisis kerusakan dan kehancuran, Allah subhanahu wa ta’ala mengutus para nabi dan rasul untuk menjawab segala kerusakan tersebut dan melakukan perombakan dan perbaikan. Tugas besar disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam al-Qur’an,

وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِي كُلِّ أُمَّةٖ رَّسُولًا أَنِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُواْ ٱلطَّٰغُوتَۖ

“Sesungguhnya Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul (yang bertugas) menyerukan mereka agar beribadah kepada Allah dan menjauhi segala sesembahan selain Allah.” (an-Nahl: 36)

Ayat ini menjelaskan kepada kita bahwa agama para rasul adalah satu, tugas yang mereka emban pun sama. Tugas mereka yang besar tersebut adalah mengajak umat untuk beribadah hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan menjauhi segala bentuk penyembahan kepada selain-Nya.

Jika ada yang lebih penting dari persoalan tauhid dan akidah, niscaya Allah subhanahu wa ta’ala akan menjadikannya mandat pertama dan utama kepada para rasul yang diutus. Saat kita tidak menemukan hal itu, berarti masalah tauhid dan akidah menjadi persoalan yang inti dan fundamental.

Kejahatan besar dalam hidup ini adalah saat sebagian kaum muslimin menganggap persoalan akidah dan tauhid sebagai qusyur (kulit agama); meremehkan dan mengentengkan permasalahannya. Padahal Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya menjadikannya perkara yang sangat besar dalam agama.

Sungguh, betapa jahat ucapan ini dan betapa jelek sikap tersebut. Ucapan yang akan menyebabkan seseorang kafir kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

 

Lantunan Doa Nabi Ibrahim

وَإِذۡ قَالَ إِبۡرَٰهِيمُ رَبِّ ٱجۡعَلۡ هَٰذَا ٱلۡبَلَدَ ءَامِنٗا وَٱجۡنُبۡنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعۡبُدَ ٱلۡأَصۡنَامَ ٣٥

“Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata, ‘Wahai Rabbku, jadikanlah negeri ini adalah negeri yang aman, dan jauhkanlah diriku serta anak keturunanku dari menyembah patung-patung’.” (Ibrahim: 35)

Nabi Ibrahim ‘alaihissallam adalah bapak orang-orang yang bertauhid. Semua kehidupan beliau digunakan untuk berdakwah kepada tauhidullah.

Beliau harus berhadapan dengan bapak yang kufur dan ingkar kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Beliau juga menghadapi penguasa yang menobatkan dirinya menjadi tuhan selain Allah subhanahu wa ta’ala. Amanat yang besar dan tugas yang berisiko tinggi beliau hadapi dengan penuh keberanian dan ketegaran, ketabahan, dan kesabaran. Karena itu, Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan beliau sebagai qudwah hasanah dalam kehidupan manusia.

قَدۡ كَانَتۡ لَكُمۡ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ فِيٓ إِبۡرَٰهِيمَ وَٱلَّذِينَ مَعَهُۥٓ إِذۡ قَالُواْ لِقَوۡمِهِمۡ إِنَّا بُرَءَٰٓؤُاْ مِنكُمۡ وَمِمَّا تَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ كَفَرۡنَا بِكُمۡ وَبَدَا بَيۡنَنَا وَبَيۡنَكُمُ ٱلۡعَدَٰوَةُ وَٱلۡبَغۡضَآءُ أَبَدًا حَتَّىٰ تُؤۡمِنُواْ بِٱللَّهِ وَحۡدَهُۥٓ

Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka, “Sesungguhnya Kami berlepas diri dari kalian dan apa yang kalian sembah selain Allah, Kami ingkari (kekafiran) kalian dan telah nyata antara Kami dan kalian permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kalian beriman kepada Allah saja.” (al-Mumtahanah: 4)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Ibrahim adalah imam sebagaimana dijelaskan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam surat al-Baqarah (Sesungguhnya Aku menjadikanmu pemimpin atas manusia). Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan nubuwwah, menurunkan kitab-kitab, dan risalah pada anak keturunan beliau. Mereka semua dari keluarga beliau, yaitu keluarga yang telah diberkahi oleh Allah subhanahu wa ta’ala.” (Amradhul Qulub, hlm. 61)

Kendati demikian. beliau tetap mendoakan anak keturunannya agar terpelihara dan terlindungi dari perbuatan menyekutukan Allah subhanahu wa ta’ala.

 

Wasiat Luqman Al-Hakim kepada Anaknya

وَإِذۡ قَالَ لُقۡمَٰنُ لِٱبۡنِهِۦ وَهُوَ يَعِظُهُۥ يَٰبُنَيَّ لَا تُشۡرِكۡ بِٱللَّهِۖ إِنَّ ٱلشِّرۡكَ لَظُلۡمٌ عَظِيمٞ ١٣

“Dan ingatlah tatkala Luqman berkata kepada anaknya dan dia menasihatinya, ‘Wahai anakku, jangan kamu menyekutukan Allah, sesungguhnya menyekutukan Allah itu adalah kezaliman yang besar’.” (Luqman: 13)

 

Warisan Ya’qub kepada Putra-Putranya

أَمۡ كُنتُمۡ شُهَدَآءَ إِذۡ حَضَرَ يَعۡقُوبَ ٱلۡمَوۡتُ إِذۡ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعۡبُدُونَ مِنۢ بَعۡدِيۖ قَالُواْ نَعۡبُدُ إِلَٰهَكَ وَإِلَٰهَ ءَابَآئِكَ إِبۡرَٰهِ‍ۧمَ وَإِسۡمَٰعِيلَ وَإِسۡحَٰقَ إِلَٰهٗا وَٰحِدٗا وَنَحۡنُ لَهُۥ مُسۡلِمُونَ ١٣٣

“Apakah kalian menyaksikan saat kematian mendatangi Ya’qub, saat dia berkata kepada anak-anaknya, ‘Apa yang kalian sembah sepeninggalku?’

Mereka menjawab, ‘Kami akan menyembah Ilahmu dan Ilah bapak-bapakmu, yaitu Ibrahim, Isma’il, dan Ishaq, yaitu Ilah yang satu, dan kami kepada-Nya berserah diri.” (al-Baqarah: 133)

As-Sa’di rahimahullah menjelaskan, “Saat orang-orang Yahudi mengaku berada di atas agama Nabi Ibrahim dan Ya’qub, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman mengingkari mereka, ‘Apakah kalian menghadiri saat tanda-tanda kematian datang kepada Nabi Ya’qub ‘alaihissallam, ketika itu beliau menguji anak-anaknya agar menyejukkan matanya saat masih hidup dalam melaksanakan wasiat-wasiatnya.’

Mereka memberikan jawaban yang menyejukkan mata beliau yaitu, ‘Menyembah kepada Ilahmu dan Ilah bapakmu, Ibrahim, Isma’il, dan Ishaq, yaitu Ilah yang satu, kami tidak menyekutukan- Nya dan tidak meninggalkan-Nya.’

Mereka menghimpun antara tauhid dan amal.” (Tafsir as-Sa’di, hlm. 49)

 

Wasiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma

Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma,

كُنْتُ خَلْفَ رَسُولِ اللهِ يَوْمًا فَقَالَ: يَا غُلَامُ إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ؛ احْفَظْ اللهَ يَحْفَظْكَ احْفَظْ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ؛ إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلْ اللهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ؛ وَاعْلَمْ أَنَّ الْأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ؛ وَلَوِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ؛ رُفِعَتْ الْأَقْلَامُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ.

Suatu hari saat saya berada di belakang Rasulullah, beliau berkata, “Wahai anak, aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat. (Yaitu) jagalah Allah subhanahu wa ta’ala, niscaya Allah subhanahu wa ta’ala akan menjagamu. Jagalah Allah, subhanahu wa ta’ala niscaya kamu akan menjumpai-Nya di hadapanmu. Apabila kamu meminta, mintalah kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Jika kamu meminta tolong, minta tolonglah kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Ketahuilah, jika umat ini bersatu untuk memberikan manfaat kepadamu, niscaya mereka tidak akan sanggup kecuali apa yang telah dituliskan oleh Allah subhanahu wa ta’ala untukmu. Jika mereka bersatu untuk memudaratkanmu, mereka tidak akan mampu kecuali apa yang telah ditulis oleh Allah subhanahu wa ta’ala atasmu. Telah terangkat pena dan telah kering lembaran.” (HR. at-Tirmidzi no. 2440)

Pendidikan yang agung nan mulia dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma dan sahabat yang lain serta umatnya. Ini adalah penanaman fondasi hidup yang agung dan mulia pada diri Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma yang akan menjadi cikal bakal imam dalam agama setelah itu.

Ada beberapa pelajaran berharga buat kita melalui pendidikan nabawi yang langsung dilakoni oleh imam para nabi dan rasul, Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

Pelajaran pertama

احْفَظْ اللهَ يَحْفَظْكَ احْفَظْ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ

“Jagalah Allah subhanahu wa ta’ala, niscaya Allah subhanahu wa ta’ala akan menjagamu, dan jagalah Allah subhanahu wa ta’ala niscaya kamu akan menemukannya di depanmu.”

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “Jagalah perintah-perintah Allah subhanahu wa ta’ala dengan mengerjakannya dan tinggalkan segala larangan-larangan-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala akan menjagamu dalam semua keadaan dan menjagamu di dunia dan di akhirat.”

Ibnu Daqiq al-‘Id rahimahullah berkata, “Jadilah kamu taat kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya.”

Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, “Jagalah hukum-hukum dan syariat Allah subhanahu wa ta’ala dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala akan menjaga agamamu, keluargamu, hartamu, dan dirimu. Sebab, Allah subhanahu wa ta’ala akan menjaga orang yang berbuat baik dengan sebab kebaikannya. Dari sini diketahui bahwa siapa saja yang tidak menjaga Allah subhanahu wa ta’ala, dia tidak berhak mendapatkan pemeliharaan dari Allah subhanahu wa ta’ala. Di sini juga terdapat dorongan untuk menjaga hukum-hukum Allah subhanahu wa ta’ala. (Syarah Arbain Nawawiyah, Majmu’ah Ulama, hlm. 224)

Tentu saja ini adalah nasihat besar bagi kita sebagai orang tua dan bagi para pendidik anak kaum muslimin, agar kita melindungi putra, putri, serta anak didik kita untuk tidak melanggar hukum-hukum Allah subhanahu wa ta’ala sekecil apa pun. Jangan meremehkan dosa dan pelanggaran tersebut. Jangan suka memberi atau membuat-buat alasan untuk mereka. Misalnya, anak masih kecil dan belum dikenai dosa, anak tidak boleh dipaksa dan terlalu ditekan, atau alasan-alasan yang lain.

Saudaraku, dosa adalah masalah besar, kita tidak boleh berkompromi dengannya. Kita wajib melakukan pengingkaran terhadap dosa siapa pun yang mengerjakannya dan bagaimana pun bentuk dosa tersebut, besar atau kecil.

 

Pelajaran kedua

 إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلْ اللهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ

“Apabila kamu meminta, mintalah kepada Allah subhanahu wa ta’ala; dan apabila kamu minta tolong, minta tolonglah kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Hadits ini mengisyaratkan bahwa manusia selalu memiliki berbagai kebutuhan dalam hidupnya di dunia. Di sinilah letak pendidikan akidah, yaitu menggantungkan tawakal kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala semata, dalam urusan kecil dan yang besar, sebagaimana firman-Nya subhanahu wa ta’ala,

وَمَن يَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسۡبُهُۥٓۚ

“Barang siapa bertawakal kepada Allah subhanahu wa ta’ala, Dialah yang akan memberikan kecukupan kepadanya.” (ath-Thalaq: 3)

Apabila seseorang cenderung kepada selain Allah subhanahu wa ta’ala ketika membutuhkan sesuatu walaupun kecenderungan itu hanya dalam hati dan angan-angannya, seukuran itu pula dia berpaling dari Rabbnya kepada makhluk yang tidak mampu memberi mudharat dan manfaat.

Apabila engkau menginginkan bantuan, janganlah kamu memintanya kepada selain Allah subhanahu wa ta’ala. Sebab, di Tangan-Nya segala yang ada di langit dan di bumi. Dialah yang menolongmu apabila Dia menghendaki. Apabila engkau mengikhlaskan diri dalam meminta pertolongan kepada-Nya dan berserah diri kepada-Nya, niscaya Dia akan menolongmu. Apabila engkau meminta pertolongan kepada makhluk dan dia mampu, yakinilah bahwa itu semua sebagai sebab, dan Allah subhanahu wa ta’ala sajalah yang telah menundukkannya untukmu. (Syarah Arbain Nawawiyah, Majmu’ah Ulama, hlm. 225)

 

Pelajaran ketiga

وَاعْلَمْ أَنَّ الْأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ؛ وَلَوِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ

“Ketahuilah jika umat ini bersatu atau sepakat untuk memberikan manfaat kepadamu, niscaya mereka tidak akan sanggup memberikan manfaat kecuali apa yang telah dituliskan oleh Allah untukmu. Apabila mereka bersepakat untuk mencelakakanmu, niscaya mereka tidak sanggup melakukannya kecuali apa yang telah ditentukan oleh Allah atasmu.

Dari sini kita ketahui bahwa manfaat yang kita rasakan dari uluran tangan makhluk sesungguhnya bersumber dari Allah subhanahu wa ta’ala. Sebab, Dialah yang telah menentukan hal itu untukmu. Selain itu, kita dianjurkan menyandarkan semua urusan kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Kita tahu bahwa manusia tidak akan bisa memberikan satu kebaikan kecuali dengan izin Allah subhanahu wa ta’ala.

Demikian pula, apabila engkau mendapatkan suatu bahaya dari seseorang, sadarilah bahwa itu adalah sesuatu yang telah ditentukan oleh Allah subhanahu wa ta’ala atasmu. Oleh karena itu, hendaknya engkau ridha dengan ketentuan Allah subhanahu wa ta’ala dan keputusan-Nya.

Tidak mengapa pula engkau menolak sesuatu yang membahayakanmu, karena Allah subhanahu wa ta’ala menjelaskan,

“Imbalan kejelakan itu adalah kejelekan yang serupa.” (Syarah Arbain Nawawiyyah, Majmu’ah Ulama, hlm. 228)

 

Pelajaran keempat

رُفِعَتْ الْأَقْلَامُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ

“Telah terangkat pena dan dan telah kering lembaran-lembaran.

Segala ketentuan dalam hidup ini sudah terangkum dalam catatan takdir dan telah selesai ditulis. Lembaran catatan sudah mengering dan tidak akan ada lagi perubahan dan kesalahan setelahnya. Semuanya berjalan di atas kepastian dan apa yang telah dicatat.

Beruntunglah orang-orang yang beriman dengan takdir sebagai rukun iman yang keenam. Merugilah orang-orang yang menentangnya dan tidak memercayainya.

Wallahul Muwaffiq.

 

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Usamah Abdur Rahman

Tanya Jawab Ringkas Edisi 104

Berikut ini kami muat beberapa jawaban dari al-Ustadz Muhammad Afifuddin.

Tanya Jawab Ringkas

Bolehkah Akikah Sekaligus Kurban?

Apakah boleh jika seekor kambing yang diniatkan untuk akikah anak perempuan sekaligus diniatkan menjadi hewan kurban?

  • Jawaban:

Kurban adalah ibadah tersendiri, sedangkan akikah juga amalan tersendiri dengan sebab yang berbeda. Keduanya tidak bisa digabungkan.

 

Berkurban dengan Sapi Betina

Apakah boleh berkurban dengan sapi betina? Sebab, dana kami tidak cukup untuk membeli sapi jantan.

  • Jawaban:

Yang afdal dengan sapi jantan. Akan tetapi, sah pula dengan jenis betina, baik kambing maupun sapi.

 

Uang Pembelian Kurban dari Istri

Jika suami tidak mampu untuk berkurban,sedangkan istrinya mampu dan ingin berkurban, apakah kurban tersebut atas nama istri? Jika atas nama istri, apakah suami terkena kewajiban tidak mencukur dan memotong kuku ataukah istri yang terkena kewajiban tersebut dengan alasan uang pembelian hewan kurban dari istri)?

  • Jawaban:

Jika atas nama istri, dialah yang terkena larangan memotong kuku dan sebagainya. Apabila istri memberi uang kepada suami untuk berkurban, bisa atas nama suami dan segenap keluarga. Pada kondisi tersebut, yang terkena larangan adalah suami saja. Dalam Islam diperbolehkan memberi uang kepada seseorang untuk berkurban. Dia mendapat pahala atas sedekah uang, sedangkan yang berkurban mendapat pahala atas kurbannya.

 

Mahar Terpakai untuk Beli Kambing Akikah

Jika mahar nikah digunakan untuk membeli kambing akikah anak, apakah sang suami wajib mengganti mahar tersebut?

  • Jawaban:

Ya, karena mahar merupakan hak istri.

 

Lima Orang Berkurban Seekor Sapi

Apakah boleh seekor sapi digunakan oleh lima orang untuk berkurban?

  • Jawaban:

Boleh, bahkan seekor sapi untuk satu orang lebih afdal. Batas maksimal dalam syariat adalah seekor sapi digunakan berkurban oleh tujuh orang.

 

Kurban bagi Ibu yang Sudah Meninggal

Ibu saya sudah meninggal. Apa boleh jika membelikan kambing untuk berkurban atas nama beliau?

  • Jawaban:

Jika kurban untuk orang yang masih hidup, tidak masalah. Hukum asalnya tidak ada kurban bagi orang yang sudah mati, kecuali:

  1. Jika dia pernah bernazar untuk kurban, ahli waris harus menunaikannya.
  2. Jika dia berwasiat, dilaksanakan pula selama harga hewan kurban tidak lebih dari sepertiga harta peninggalan.
  3. Dia diikutkan dengan orang yang berkurban yang masih hidup. Misalkan ada orang yang berkurban dengan seekor kambing dengan niat untuk dirinya dan seluruh keluarganya, baik yang masih hidup atau yang sudah meninggal.

 

Kupon Sembako dari Bank Konvensional

Apakah boleh mendapatkan sembako dari kupon yang diberikan oleh bank konvensional?

  • Jawaban:

Kupon dari bank ribawi sebaiknya tidak diambil. Bisa jadi, Anda termasuk nasabah sehingga kupon tersebut adalah bentuk riba dari uang yang Anda tabung. Bisa jadi pula, Anda bukan nasabah sehingga termasuk syubhat, karena berasal dari lembaga riba. Bentuk sikap wara’ kita adalah sebaiknya tidak diambil.

 

Undian Produk

Kita biasa menggunakan produk tertentu dalam keseharian. Suatu ketika, produsen mengadakan program undian dengan cara pembeli mengirimkan bungkus produk. Bagaimana hukumnya baik tentang pelaksanaan undian dan hadiahnya?

  • Jawaban:

Undian tersebut tidak boleh diikuti jika:

  1. Harga produk dinaikkan dari harga biasanya, sebab termasuk perjudian. Ini yang umum terjadi.
  2. Harga tidak naik, tetapi kita membeli di luar batas kebutuhan biasanya. Itu berarti kita membeli karena hadiah, bukan karena kebutuhan.

 

Kaos Kaki/Tangan Menyerupai Warna Kulit

Bolehkah wanita memakai kaos kaki atau kaos tangan yang menyerupai warna kulit?

  • Jawaban:

Jika tidak tampak, tidak masalah. Namun, jika terlihat oleh lelaki nonmahram, ini tidak boleh; sebab warna kaos sama dengan kulit atau bahkan bisa lebih indah.

 

Larangan Memotong Kuku dan Rambut bagi yang Akan Berkurban

Dalam rubrik Tanya Jawab Ringkas vol. IX no. 102/1435H/2014 disebutkan bahwa jika telah niat berkurban, seseorang tidak boleh memotong kuku atau rambut. Bagaimana halnya dengan orang yang menabung dengan niat akan berkurban jika uangnya sudah terkumpul dan cukup untuk membeli hewan kurban; apakah orang tersebut juga terkena larangan memotong kuku dan rambut?

  • Jawaban:

Larangan memotong kuku, kulit, dan rambut berlaku sejak 1 Dzulhijjah hingga hewan tersebut disembelih, bukan semenjak dia niat berkurban dan menabung.

 

Meremehkan Ulama

Saya mau tanya, kalau seseorang meremehkan ulama, apakah termasuk penyimpangan manhaj dan prinsip Ahlus Sunnah wal Jamaah (salafi)?

  • Jawaban:

Apabila yang dimaksud adalah ulama suu’, meremehkan dan merendahkannya adalah prinsip utama Ahlus Sunnah. Akan tetapi, apabila yang diremehkan adalah ulama Sunnah, ini adalah ciri khas ahli bid’ah. Pada zaman ini, yang sangat getol merendahkan ulama terutama yang dikenal tegas terhadap hizbiyyin adalah Sururiyyun dan Halabiyyun, ahli tamyi’.

 

Darah Haid Tersendat karena KB

Seorang wanita melakukan KB suntik tiga bulan sekali. Dia sudah disuntik selama sepuluh bulan dan tidak pernah haid. Didapati hari ini keluar darah merah segar tanpa bau dan tanpa rasa sakit. Darah yang keluar tersendat-sendat sejak pagi sampai sore. Bagaimana hukum puasa wanita tersebut?

  • Jawaban:

Ada dua cara yang bisa ditempuh.

  1. Lihat sifat darahnya. Jika sifatnya seperti darah haid, dihukumi haid. Jika tidak, dianggap darah biasa dan suci. Dari sifat yang disebutkan, itu bukan darah haid.
  2. Kebiasaan (jadwal) haid. Jika dia tahu kebiasaan haidnya selama ini dan darah tersebut keluar pada waktu normal, itu dihukumi sebagai haid. Jika dia tidak mengetahui kebiasaannya atau tahu tetapi darah tersebut keluar bukan pada waktu kebiasaan, tidak dihukumi haid.

Wallahul muwaffiq.

 

Transfer Dahulu, Barang Baru Dikirm

Apakah diperbolehkan secara syariat, transfer uang terlebih dahulu, kemudian barang baru dikirim?

  • Jawaban:

Transfer uang dahulu baru barang dikirim, diperbolehkan pada sistem jual beli salam, yaitu harga dibayar di muka untuk membayar barang tertentu yang telah disepakati sifatnya, ukurannya, takarannya, timbangannya, dan waktu pelaksanaannya.

 

Berikut ini adalah beberapa jawaban dari al-Ustadz Qomar Suaidi.

 

Menikah dengan Sayyid/Syarifah

  1. Apakah benar sayyid dan syarifah itu keturunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?
  2. Apakah boleh orang lain menikahi syarifah?
  3. Kalau tidak boleh, jika sudah menikah dan memiliki anak, bagaimana yang bisa dilakukan?
  • Jawaban:
  1. Orang yang mengaku sayyid dan syarifah, maka dilihat nasabnya.
  2. Diperbolehkan menikahi syarifah.

 

Catatan Amalan Diserahkan pada Hari Jumat

Apa benar ketika hari Jumat buku catatan amalan kita diserahkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala? Apabila amalan kita jelek, orang tua kita yang sudah wafat akan mendapat dosa dan sebaliknya?

  • Jawaban:

Sepengetahuan kami, hal itu tidak benar. Yang benar, amalan kita dihadapkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala pada hari Senin dan Kamis. Adapun orang tua tidak menanggung dosa anak.

 

Menghadiri Akikah pada Selapanan

Bolehkah kita menghadiri undangan akikah pada hari selapanannya?

  • Jawaban:

Boleh menghadiri undangan akikah walaupun setelah hari ke-7, selama tidak ada unsur kebid’ahan dan kemungkaran dalam acara tersebut.

 

Silaturahmi Saat Idul Fitri

Apakah bukan termasuk bid’ah pada hari raya Idul Fitri dengan kita berkunjung/silaturahmi ke tempat karib kerabat yang sudah menjadi tradisi masyarakat?

  • Jawaban:

Silaturahmi saat Idul Fitri diperbolehkan, sebagaimana fatwa para ulama.

 

Doa Minta Khusnul Khatimah

Apakah ada doa khusus agar kita diberi khusnul khatimah dan dilindungi dari su’ul khatimah?

  • Jawaban:

Setahu kami, tidak ada doa khusus. Namun, boleh bagi kita untuk meminta langsung hal tersebut kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

 

Usaha Pemancingan Ikan

Seseorang memiliki usaha pemancingan ikan. Ikan di dalam kolam dijual dengan cara pembeli membayar sejumlah uang kepada pemilik dan memancing ikan di dalam kolam. Jika ikan yang didapat banyak, pemancing untung; begitu pula sebaliknya. Apakah hal ini termasuk judi?

  • Jawaban:

Ya, yang seperti itu termasuk judi.

 

Bidan Memberikan Pelayanan KB

Apa hukum memberikan pelayanan kontrasepsi (KB) pada pasien yang ingin tidak memiliki anak, atau hanya mengatur jarak kehamilan lebih dari dua tahun?

  • Jawaban:

Jika tujuannya tidak memiliki anak lagi, dilihat sebabnya. Jika alasannya ialah hamil akan membahayakan ibu atau janinnya berdasarkan keterangan dokter ahli yang amanah, kita boleh membantunya. Jika tidak demikian keadaannya, kita tidak boleh membantunya. Adapun untuk mengatur jarak kehamilan selama dua atau tiga tahun, insya Allah diperbolehkan.

 

Doa Dimudahkan Mendapat Jodoh

Adakah doa khusus agar dimudahkan atau didekatkan dengan jodoh?

  • Jawaban:

Setahu kami tidak ada doa khusus untuk hal tersebut. Ada doa yang umum seperti, “Rabbana hab lana min azwajina wa dzurriyyatina …dst.” Selain itu, boleh pula kita berdoa dengan bahasa yang kita bisa dan sesuai dengan keinginan kita.

41

Kirim SMS/WA Pertanyaan ke Redaksi 081328078414 atau via email ke tanyajawabringkas@gmail.com

Jika pertanyaan Anda cukup dijawab secara ringkas, akan kami muat di rubrik ini. Namun, jika membutuhkan jawaban yang panjang lebar, akan kami muat di rubrik Problema Anda, insya Allah.

Seluruh materi rubrik Tanya Jawab Ringkas (Asy-Syariah) dapat di akses di www.tanyajawab.asysyariah.com

 

Pemuda, Dalam Bidikan Musuh Islam

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللهُ تَعَالَى فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: إِمَامٌ عَدْلٌ، وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللهِ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ، وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ، وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ: إِنِّي أَخَافُ اللهَ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

“Ada tujuh golongan yang akan mendapat naungan Allah subhanahu wa ta’ala dengan naungan Arsy-Nya pada hari tidak ada naungan di hari tersebut kecuali naungan-Nya: (1) Pemimpin yang adil, (2) Pemuda yang senantiasa tumbuh dalam beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala, (3) Orang yang senantiasa hatinya tertambat dengan masjid ketika ia keluar darinya hingga kembali lagi kepadanya, (4) Dua orang yang saling mencintai karena Allah subhanahu wa ta’ala, keduanya berkumpul karena Allah subhanahu wa ta’ala, dan berpisah karena-Nya, (5) Orang yang mengeluarkan sedekah kemudian merahasiakannya sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya, (6) Seorang laki-laki yang dirayu berbuat keji oleh wanita bangsawan lagi rupawan, lalu menjawab, ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allah’, (7) dan Seseorang yang ingat (berzikir) kepada Allah subhanahu wa ta’ala di tempat yang sunyi kemudian kedua matanya meneteskan air mata.”

  Lanjutkan membaca Pemuda, Dalam Bidikan Musuh Islam

Ashabul Kahfi, Para Pemuda Mukmin

نَّحۡنُ نَقُصُّ عَلَيۡكَ نَبَأَهُم بِٱلۡحَقِّۚ إِنَّهُمۡ فِتۡيَةٌ ءَامَنُواْ بِرَبِّهِمۡ وَزِدۡنَٰهُمۡ هُدٗى ١٣

وَرَبَطۡنَا عَلَىٰ قُلُوبِهِمۡ إِذۡ قَامُواْ فَقَالُواْ رَبُّنَا رَبُّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ لَن نَّدۡعُوَاْ مِن دُونِهِۦٓ إِلَٰهٗاۖ لَّقَدۡ قُلۡنَآ إِذٗا شَطَطًا ١٤

هَٰٓؤُلَآءِ قَوۡمُنَا ٱتَّخَذُواْ مِن دُونِهِۦٓ ءَالِهَةٗۖ لَّوۡلَا يَأۡتُونَ عَلَيۡهِم بِسُلۡطَٰنِۢ بَيِّنٖۖ فَمَنۡ أَظۡلَمُ مِمَّنِ ٱفۡتَرَىٰ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبٗا ١٥

Kami ceritakan kisah mereka kepadamu (Muhammad) dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Rabb mereka dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk; dan Kami telah meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdiri lalu mereka berkata, “Rabb kami adalah Rabb langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Rabb selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran. Kaum kami ini telah menjadikan selain Dia sebagai tuhan-tuhan (untuk disembah). Mengapa mereka tidak mengemukakan alasan yang terang (tentang kepercayaan mereka?) Siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah?” (al-Kahfi: 13—15)

 

Tafsir Ayat

نَّحۡنُ نَقُصُّ عَلَيۡكَ نَبَأَهُم بِٱلۡحَقِّۚ

“Kami mengisahkan kepadamu berita mereka dengan benar.”

Ayat ini merupakan awal penjelasan rinci tentang kisah Ashabul Kahfi yang telah disebutkan sebelumnya, yang Allah ‘azza wa jalla mengisahkan kepada nabinya dengan kebenaran apa yang mereka alami, yang tidak ada keraguan dalam kisah tersebut.

Pada ayat sebelumnya, Allah ‘azza wa jalla berfirman,

إِذۡ أَوَى ٱلۡفِتۡيَةُ إِلَى ٱلۡكَهۡفِ فَقَالُواْ رَبَّنَآ ءَاتِنَا مِن لَّدُنكَ رَحۡمَةٗ وَهَيِّئۡ لَنَا مِنۡ أَمۡرِنَا رَشَدٗا ١٠ فَضَرَبۡنَا عَلَىٰٓ ءَاذَانِهِمۡ فِي ٱلۡكَهۡفِ سِنِينَ عَدَدٗا ١١ ثُمَّ بَعَثۡنَٰهُمۡ لِنَعۡلَمَ أَيُّ ٱلۡحِزۡبَيۡنِ أَحۡصَىٰ لِمَا لَبِثُوٓاْ أَمَدٗا ١٢

(Ingatlah) tatkala pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua lalu mereka berdoa, “Wahai Rabb, kami berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini). Maka Kami tutup telinga mereka beberapa tahun dalam gua itu, kemudian Kami bangunkan mereka, agar Kami mengetahui manakah di antara kedua golongan itu yang lebih tepat dalam menghitung berapa lamanya mereka tinggal (dalam gua itu).” (al-Kahfi: 10—12)

Sebagian mengatakan bahwa mereka adalah kaum yang berasal dari keturunan bangsawan kota Diqyus, dari seorang raja kafir yang bernama Daqinus. Mereka berasal dari bangsa Romawi yang mengikuti ajaran Nabiyullah Isa q. Ada pula yang mengatakan bahwa mereka hidup sebelum zaman Isa q. Wallahu a’lam. (Tafsir al-Qurthubi 214/13)

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Yang tampak, mereka hidup sebelum munculnya agama Nasrani secara umum. Sebab, seandainya mereka berkeyakinan Nasrani, tentu para pendeta Yahudi tidak terlalu perhatian untuk menjaga kisah mereka dan memerintahkan untuk menjauhinya.

Telah disebutkan dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma bahwa kaum Quraisy mengutus kepada para pendeta Yahudi untuk meminta mereka menguji Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka pun mengutus untuk menanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kisah mereka ini (Ashabul Kahfi -pen.), tentang kisah Dzulqarnain, dan tentang ruh.

Ini menunjukkan bahwa kisah ini telah disebutkan dalam kitab-kitab ahli kitab, dan lebih dahulu dari kemunculan agama Nasrani. Wallahu a’lam.” (Tafsir Ibnu Katsir, 9/109)

Al-Allamah asy-Syinqithi rahimahullah berkata, “Perlu diketahui bahwa kisah Ashabul Kahfi, siapa nama-nama mereka, dan negeri tempat tinggal mereka, semua itu tidak sahih datangnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ada penjelasan tambahan dari apa yang telah disebutkan dalam al-Qur’an, dan yang menafsirkan hal itu banyak berasal dari berita israiliyat.

Kami sengaja tidak menyebutkannya karena tidak adanya kevalidan berita tentangnya.” (Adhwa’ul Bayan, 4/27)

 

Makna Al-Fata/Al-Fityah

إِنَّهُمۡ فِتۡيَةٌ ءَامَنُواْ بِرَبِّهِمۡ وَزِدۡنَٰهُمۡ هُدٗى ١٣

“Sesungguhnya mereka adalah para pemuda yang beriman kepada Rabb mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk.”

Al-Fityah adalah bentuk jamak taksir dari al-fata.

Fityah bermakna para remaja/pemuda. Akan tetapi, terkadang yang dimaksud dengan istilah al-fata adalah budak sahaya, seperti firman Allah ‘azza wa jalla,

مِّن فَتَيَٰتِكُمُ ٱلۡمُؤۡمِنَٰتِۚ

“… dari budak-budak wanita kalian yang mukminah….” (an-Nisa: 25)

Tatkala seorang pemuda memiliki tabiat yang lebih lembut, memiliki kedermawanan dan kemuliaan yang tidak ditemukan pada banyak orang tua, mereka menyematkan julukan al-fata bagi seorang yang dermawan dan mulia. Penggunaan istilah al-fata untuk menyebut orang yang memiliki sifat mulia, banyak ditemukan pada kebanyakan ucapan para ulama.

Di antaranya adalah perkataan ahli bahasa, “Inti al-futuwwah (kepemudaan) adalah keimanan.”

Junaid berkata, “Al-futuwwah (kepemudaan) adalah menginfakkan harta, menghilangkan gangguan, dan meninggalkan keluhan.”

Ada pula yang berkata, al-Futuwwah adalah menjauhi hal-hal yang diharamkan dan bersegera melakukan hal-hal yang mulia.

Al-Qurthubi rahimahullah berkata tentang makna yang terakhir, “Pendapat ini bagus sekali karena bersifat umum, mencakup semua yang disebutkan tentang makna futuwwah.” (Tafsir al-Qurthubi, 13/223, Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam, 11/83)

Di antaranya pula perkataan Abu Ismail al-Anshari rahimahullah, “Al-futuwwah adalah engkau mendekati orang yang mendatangimu, engkau memuliakan orang yang menyakitimu, berbuat baik kepada yang berbuat buruk kepadamu, sebagai bentuk pemberiaan maaf, bukan menahan amarah; bentuk rasa cinta, bukan kesabaran.”

Dinukil dari Ahmad bin Hambal rahimahullah bahwa beliau berkata, “Al-futuwwah adalah meninggalkan sesuatu yang engkau inginkan karena ada sesuatu yang engkau khawatirkan.”

Ini sebagaimana firman Allah ‘azza wa jalla,

وَأَمَّا مَنۡ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِۦ وَنَهَى ٱلنَّفۡسَ عَنِ ٱلۡهَوَىٰ ٤٠

“Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya.” (an-Nazi’at: 40)

Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Siapa yang mengajak kepada sesuatu yang Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya mengajak kepadanya, berupa akhlak yang mulia, dialah orang yang telah berbuat kebaikan, baik hal itu dinamakan futuwwah maupun tidak. Siapa yang mengada-ada di dalam agama Allah ‘azza wa jalla sesuatu yang bukan berasal darinya, ia tertolak.” (Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah, 11/84)

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Allah ‘azza wa jalla menyebutkan bahwa mereka adalah para pemuda. Mereka lebih mudah menerima kebenaran dan hidayah untuk menempuh jalan Allah subhanahu wa ta’ala dibandingkan dengan orang-orang tua yang telah lama tenggelam dalam keyakinan yang batil. Oleh karena itu, kebanyakan orang yang menerima ajakan agama Allah ‘azza wa jalla dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah para pemuda. Adapun mayoritas orang tua dari Quraisy bersikukuh mempertahankan keyakinan mereka.Tidak ada yang selamat dari mereka kecuali sedikit. Demikian pula Allah ‘azza wa jalla memberitakan tentang Ashabul Kahfi bahwa mereka adalah para pemuda yang masih remaja.” (Tafsir Ibnu Katsir, 9/109)

          وَزِدۡنَٰهُمۡ هُدٗى

“dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk.”

Maknanya, Kami memudahkan mereka untuk beramal saleh, dengan mengkhususkan diri beribadah kepada Allah ‘azza wa jalla, menjauhkan diri dari manusia, dan bersikap zuhud dalam kehidupan dunia. Ini merupakan tambahan dari keimanan yang telah ada.(Tafsir al-Qurthubi, 13/ 223)

Ayat ini merupakan salah satu dalil yang dijadikan hujah oleh para ulama bahwa keimanan itu bisa bertambah dan bertingkat-tingkat, sebagaimana bisa berkurang. Hal ini dikuatkan lagi dengan firman Allah ‘azza wa jalla,

وَٱلَّذِينَ ٱهۡتَدَوۡاْ زَادَهُمۡ هُدٗى وَءَاتَىٰهُمۡ تَقۡوَىٰهُمۡ ١٧

“Dan orang-orang yang mendapat petunjuk Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan kepada mereka (balasan) ketakwaannya.” (Muhammad: 17)

هُوَ ٱلَّذِيٓ أَنزَلَ ٱلسَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ لِيَزۡدَادُوٓاْ إِيمَٰنٗا مَّعَ إِيمَٰنِهِمۡۗ

“Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada).” (al-Fath: 4)

dan ayat-ayat Allah ‘azza wa jalla yang lain.

Al-Allamah asy-Syinqithi rahimahullah berkata setelah menyebutkan ayat-ayat tentang bertambahnya keimanan, “Ayat-ayat yang disebutkan ini adalah nash-nash yang jelas menunjukkan bahwa iman itu bertambah. Maka dari itu, dipahami bahwa iman juga dapat berkurang. Hal ini sebagaimana al-Imam al-Bukhari rahimahullah menjadikannya sebagai dalil tentang hal tersebut. Ini menunjukkan dengan sangat jelas tanpa keraguan. Jadi, tidak ada alasan untuk berselisih tentang bertambahnya iman dan berkurangnya sebagaimana yang Anda lihat.” (Adhwaul Bayan, 4/39)

وَرَبَطۡنَا عَلَىٰ قُلُوبِهِمۡ إِذۡ قَامُواْ فَقَالُواْ رَبُّنَا رَبُّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ

Dan Kami meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdiri, lalu mereka pun berkata, “Rabb kami adalah Rabb seluruh langit dan bumi.”

Kata “rabth” dalam ayat ini menunjukkan kekuatan tekad kesabaran yang tinggi, yang Allah ‘azza wa jalla berikan kepada mereka, sehingga mereka mampu berkata di hadapan orang-orang kafir, “Rabb Kami adalah Rabb pemilik seluruh langit dan bumi.”

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan makna ayat ini, “Kami memberi kesabaran kepada mereka untuk menyelisihi kaum dan masyarakatnya, dan meninggalkan kehidupan yang lapang, bahagia, serta kenikmatan yang mereka rasakan sebelumnya. Telah disebutkan oleh banyak ahli tafsir dari kalangan salaf maupun khalaf, mereka adalah anak-anak raja Romawi dan pembesarnya.

Pada suatu hari, mereka keluar menuju perayaan sebagian kaumnya. Mereka memiliki hari berkumpul dalam setahun. Mereka berkumpul di lapangan negeri tersebut, melakukan penyembahan kepada patung-patung dan thaghut, dan menyembelih untuknya. Mereka memiliki seorang penguasa angkuh dan penentang kebenaran yang bernama Diqyanus. Dia memerintah manusia untuk melakukan penyembahan tersebut, menganjurkannya, dan menyerukannya.

Tatkala manusia keluar menuju tempat perkumpulan itu, para pemuda ini juga turut keluar bersama ayah-ayah mereka dan kaumnya. Mereka menyaksikan dengan mata kepala mereka sendiri apa yang dilakukan oleh kaumnya. Mereka pun meyakini bahwa apa yang dilakukan kaumnya tersebut,yaitu sujud kepada berhala dan melakukan penyembelihan kepadanya, tidak sepantasnya dilakukan kecuali hanya untuk Allah ‘azza wa jalla yang menciptakan langit dan bumi.

Alhasil, masing-masing memisahkan diri dari kaumnya dan menjauhkan diri dari mereka. Para pemuda tersebut mendatangi satu bagian daerah itu. Orang pertama dari mereka duduk di bawah sebuah pohon, lalu seorang lagi datang dan duduk di dekatnya, lalu datang lagi yang lainnya dan duduk di dekatnya pula, begitu seterusnya. Tidak seorang pun di antara mereka yang saling mengenal. Yang mengumpulkan mereka di tempat tersebut adalah bersatunya mereka di atas keimanan.

Hal ini sebagaimana yang diriwayatkan dari Aisyah radhiallahu ‘anha bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْأَرْوَاحُ جُنُودٌ مُجَنَّدَةٌ فَمَا تَعَارَفَ مِنْهَا ائْتَلَفَ، وَمَا تَنَاكَرَ مِنْهَا اخْتَلَفَ

“Ruh-ruh manusia itu berkelompok sesuai dengan sifatnya. Jika saling mengenal sifatnya, ia akan saling mencintai, dan jika berbeda sifatnya, ia akan berselisih.” (Muttafaq alaihi)

Manusia mengatakan, “Sejenis adalah sebab menyatu.”

Yang jelas, masing-masing berusaha menyembunyikan ihwalnya dari sahabatnya karena khawatir. Mereka tidak tahu bahwa mereka memiliki kesamaan prinsip. Hingga salah seorang dari mereka berkata, “Kalian mengetahui—demi Allah—bahwa tidak ada yang mengeluarkan kalian dari kaum kalian, dan kalian menjauh dari mereka melainkan ada sesuatu. Maka dari itu, hendaknya setiap orang dari kalian menjelaskan tujuannya.”

Seseorang berkata, “Adapun saya, demi Allah, sesungguhnya aku melihat apa yang dilakukan oleh kaumku. Aku meyakini bahwa itu adalah kebatilan. Sesungguhnya yang berhak disembah hanyalah Allah ‘azza wa jalla semata, tiada sekutu baginya. Dialah Allah ‘azza wa jalla yang menciptakan segala sesuatu, langit, bumi dan yang di antara keduanya.”

Yang lain berkata, “Demi Allah demikian pula yang aku alami.”

Yang lain juga mengatakan hal yang sama. Akhirnya, mereka semua sepakat di atas satu kalimat. Mereka pun menyatu dan menjadi saudara yang dibangun di atas kejujuran. Mereka pun membuat tempat ibadah yang di dalamnya mereka menyembah hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Ketika diketahui oleh kaumnya, orang-orang melaporkan perbuatan para pemuda kepada raja mereka. Sang raja pun meminta untuk menghadirkan mereka di hadapannya. Sang raja bertanya kepada mereka tentang apa yang mereka lakukan. Para pemuda itu menjawabnya dengan kejujuran dan mengajaknya kepada jalan Allah ‘azza wa jalla.

Oleh karena itu, Allah ‘azza wa jalla mengabarkan tentang mereka,

وَرَبَطۡنَا عَلَىٰ قُلُوبِهِمۡ إِذۡ قَامُواْ فَقَالُواْ رَبُّنَا رَبُّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ

Dan Kami meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdiri, lalu mereka pun berkata, “Rabb kami adalah Pemilik seluruh langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Rabb selain Dia.” (Tafsir Ibnu Katsir, 9/110—111)

Namun kisah rinci yang disebutkan tentang kejadian ini merupakan berita israiliyat. Asy-Syinqithi rahimahullah berkata, “Kisah mereka disebutkan dalam semua kitab-kitab tafsir. Kami sengaja tidak menyebutkannya karena beritanya israiliyat.” (Adhwaul Bayan, 4/40)

Asy-Syinqithi rahimahullah berkata, “Dipahami dari ayat yang mulia ini bahwa siapa yang berada dalam ketaatan kepada Allah ‘azza wa jalla, Dia akan menguatkan hatinya, meneguhkannya untuk memikul beban yang berat, dan memberinya kesabaran yang tinggi.

Allah ‘azza wa jalla telah mengisyaratkan hal ini pada beberapa kejadian dalam ayat-ayat yang lain. Di antaranya firman Allah ‘azza wa jalla tentang mereka yang mengikuti Perang Badr. Allah ‘azza wa jalla mengatakan kepada Nabi-Nya dan para sahabatnya,

إِذۡ يُغَشِّيكُمُ ٱلنُّعَاسَ أَمَنَةٗ مِّنۡهُ وَيُنَزِّلُ عَلَيۡكُم مِّنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءٗ لِّيُطَهِّرَكُم بِهِۦ وَيُذۡهِبَ عَنكُمۡ رِجۡزَ ٱلشَّيۡطَٰنِ وَلِيَرۡبِطَ عَلَىٰ قُلُوبِكُمۡ وَيُثَبِّتَ بِهِ ٱلۡأَقۡدَامَ ١١

إِذۡ يُوحِي رَبُّكَ إِلَى ٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ أَنِّي مَعَكُمۡ فَثَبِّتُواْ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْۚ سَأُلۡقِي فِي قُلُوبِ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ ٱلرُّعۡبَ فَٱضۡرِبُواْ فَوۡقَ ٱلۡأَعۡنَاقِ وَٱضۡرِبُواْ مِنۡهُمۡ كُلَّ بَنَانٖ ١٢

(Ingatlah), ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penenteraman dari-Nya, dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk menyucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu gangguangangguan setan dan untuk menguatkan hatimu dan memperteguh dengannya telapak kaki (mu).

(Ingatlah), ketika Rabbmu mewahyukan kepada para malaikat, “Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkanlah (pendirian) orang-orang yang telah beriman.” Kelak akan Aku susupkan rasa takut ke dalam hati orang-orang kafir, maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka. (al-Anfal: 11—12)

Demikian pula firman Allah ‘azza wa jalla kepada ibu Musa ‘alaihissalam,

وَأَصۡبَحَ فُؤَادُ أُمِّ مُوسَىٰ فَٰرِغًاۖ إِن كَادَتۡ لَتُبۡدِي بِهِۦ لَوۡلَآ أَن رَّبَطۡنَا عَلَىٰ قَلۡبِهَا لِتَكُونَ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ١٠

“Dan menjadi kosonglah hati ibu Musa. Sesungguhnya hampir saja ia menyatakan rahasia tentang Musa, seandainya tidak Kami teguhkan hatinya, supaya ia termasuk orang-orang yang percaya (kepada janji Allah).” (al-Qashash: 10) (Adhwaul Bayan, 4/39)

 

لَّقَدۡ قُلۡنَآ إِذٗا شَطَطًا ١٤

            “Sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran.”

Syathath maknanya penyimpangan yang jauh dari kebenaran, dan jalan yang sangat jauh dari kebenaran.

Jadi, makna ayat di atas ialah, jika kami menyembah bersama Allah subhanahu wa ta’ala sembahan-sembahan yang lain setelah kami mengetahui bahwa Dia-lah Rabb yang merupakan sembahan yang tidak sepantasnya diibadahi kecuali hanya Dia, berarti kami mengucapkan kalimat yang batil dan sangat menyimpang dari kebenaran.

          هَٰٓؤُلَآءِ قَوۡمُنَا ٱتَّخَذُواْ مِن دُونِهِۦٓ ءَالِهَةٗۖ لَّوۡلَا يَأۡتُونَ عَلَيۡهِم بِسُلۡطَٰنِۢ بَيِّنٖۖ فَمَنۡ أَظۡلَمُ مِمَّنِ ٱفۡتَرَىٰ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبٗا ١٥

“Kaum kami ini telah menjadikan selain Dia sebagai tuhan-tuhan (untuk disembah). Mengapa mereka tidak mengemukakan alasan yang terang (tentang kepercayaan mereka)? Siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah?”

Al-Allamah Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini, “Tatkala para pemuda ini mengingat anugerah yang Allah ‘azza wa jalla berikan kepada mereka, berupa keimanan, hidayah, dan ketakwaan, mereka pun memerhatikan apa yang dilakukan oleh kaumnya yang membuat sembahan-sembahan selain Allah ‘azza wa jalla. Mereka pun membencinya. Para pemuda itu menjelaskan bahwa sesungguhnya kaumnya tidak berjalan di atas keyakinan dalam urusan mereka. Kaumnya justru benar-benar berada dalam kejahilan dan kesesatan.

Oleh karena itu, para pemuda itu berkata, “Tidakkah mereka mendatangkan hujah dan bukti atas kebatilan yang mereka perbuat—dan tidak mungkin mereka mampu melakukannya? Sesungguhnya, itu hanyalah kebohongan terhadap Allah ‘azza wa jalla dan kedustaan atas-Nya. Ini adalah kezaliman yang paling besar.”

Oleh karena itu, Allah ‘azza wa jalla menyatakan,

فَمَنۡ أَظۡلَمُ مِمَّنِ ٱفۡتَرَىٰ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبٗا

“Siapakah yang paling besar kezalimannya dari orang-orang yang mengada-ada terhadap Allah?” (Tafsir al-Karim ar-Rahman, hlm. 950)

Wallahul Muwaffiq.

Bila Anak Beranjak Remaja

Jika kita mencermati tumbuh kembang yang terjadi dalam fase remaja, akan terlihat beberapa ciri yang menonjol. Dari ciri yang tampak tersebut, kiranya orang tua atau pendidik bisa berbuat sesuatu sehingga bisa memberi manfaat secara maksimal kepada remaja. Di antara ciri dalam fase ini ialah sebagai berikut.

  Lanjutkan membaca Bila Anak Beranjak Remaja

Jangan Sia-siakan Mereka!

Kenakalan remaja dan perilaku menyimpang yang terjadi pada sebagian mereka umumnya merupakan akumulasi dari sekian banyak masalah. Semua itu terjadi melalui proses waktu. Tekanan hidup yang terus menumpuk, terpendam, dan pada saat tertentu meledak. Remaja memberontak, melakukan perlawanan.

Bentuk pemberontakan dan perlawanan tentu berbeda antara satu remaja dan remaja lainnya. Bisa dengan cara bullying kepada teman sebaya atau yang lebih muda. Bisa pula dengan menarik diri; mogok belajar, enggan mondok, malas, acuh tak acuh dengan lingkungan rumah, keluarga, atau sosial. Bisa pula dengan mencari perlindungan atau “menata hati” dengan teman sebaya, lari dan bergabung dengan temantemannya.

Beberapa sikap dan tindakan orang tua atau pengasuh yang tidak tepat kerap menjadi pemicu berkelanjutan yang akan mengarah pada pembentukan perilaku tidak sehat pada remaja. Apa bentuk sikap tak tepat tersebut?

Di antaranya ialah sikap abai orang tua, tindak kekerasan emosional, dan kekerasan fisik yang terpupuk semenjak kanak-kanak. Apabila keadaan ini terbawa hingga anak memasuki usia remaja, bisa menjadi dasar berkembangnya perilaku tak sehat pada remaja.

 

Pengabaian

Banyak orang tua yang sibuk lantas mengabaikan anak. Sesibuk apa pun, tidak selayaknya orang tua menelantarkan anak. Termasuk kesibukan mencari nafkah bukan alasan untuk mengabaikan kehadiran anak. Bagaimana pun, anak adalah sosok hamba Allah subhanahu wa ta’ala yang memiliki perasaan, yang memerlukan sapa sayang, yang ingin diperhatikan, dan diajak bercakap. Anak bukan seonggok benda mati yang bisa disikapi secara abai.

Kisah anak remaja yang lebih suka banyak bermain, menginap, mangkal di luar rumah, satu di antara sebabnya ialah karena diabaikan orang tua. Mereka tidak mendapat perhatian yang memadai. Mereka tak pernah ditanya mau pergi ke mana, dari mana, siapa temannya, dan kata-kata semakna yang menunjukkan perhatian orang tua. Tak ada nasihat, teguran, atau bimbingan.

Mereka sudah terpisah dengan orang tua secara emosional walau secara fisik orang tua ada di dekat mereka. Tiada jalinan komunikasi nan hangat yang bisa dirasakannya. Sebab, saat orang tua di rumah ternyata tidak bercengkrama dengan dirinya. Tablet, laptop, dan HP telah menyita waktu yang semestinya diberikan padanya. Hak anak pun terampas. Keberadaan mereka di rumah ternyata tidak membuahkan kebersamaan lahir batin. Kehadiran perangkat teknologi di rumah justru menjadikan mereka memasuki alam buaian masing-masing. Mereka secara fisik dalam satu tempat, namun secara pikiran dan hati, mereka terbang menembus batas angannya masing-masing.

Sebuah anggapan salah, kala orang tua telah memenuhi segenap kebutuhan materi pada anak lantas merasa telah memberikan segalanya. Sebab, betapapun materi telah terpenuhi, namun hati sang anak belum tentu telah terpenuhi. Banyak keluarga yang telah terpenuhi secara materi, namun keadaan hati mereka gersang. Kegalauan demi kegalauan harus mereka telan bulat.

Materi saja tak mencukupi. Sirami mereka dengan al-Qur’an, hadits, dan nasihat para ulama salaf. Hidupkan hati mereka sebagaimana kaum salaf dahulu telah menghidupkan keadaan hati mereka.

Faktor pengabaian bisa menjadi sebab terkuburnya kerekatan emosional anak dengan orang tuanya. Dalam masa yang panjang, kondisi emosional anak menjadi tumpul. Tak memiliki kepedulian terhadap anggota keluarga, terkhusus orang tua.

Dalam konteks yang lebih spesifik, seorang anak akan mengalami kesulitan dalam merealisasikan bimbingan-bimbingan Islam terkait berbuat baik kepada kedua orang tua. Sebab, berbuat baik kepada kedua orang tua adalah bentuk amal yang memerlukan pola pembiasaan. Bisa jadi, secara kognitif seorang anak telah memahami bagaimana harus berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Namun, secara amaliah bisa mengalami hambatan karena tidak adanya kerekatan emosional.

Jika demikian, pengabaian bisa menumpulkan sikap sosial remaja. Tentu, dampak buruk itu tidak secara instan. Akan tetapi, melalui proses yang panjang yang bermula dari pola asuh yang mengabaikan keberadaan anak. Pola asuh yang menyia-nyiakan karunia Allah subhanahu wa ta’ala.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam begitu peduli dengan anak-anak. Tak bersikap abai. Beliau begitu bersedih kala putranya wafat. Beliau pernah membisikkan seuntai kalimat kepada putrinya, Fathimah radhiallahu ‘anha. Sebuah sikap kedekatan antara beliau dengan putrinya. Beliau pun meringkas shalat—yang awalnya shalat itu hendak ditunaikan lama—saat terdengar tangis seorang anak karena beliau tak mau menyusahkan ibu anak tersebut. Beliau berziarah mengunjungi permukiman kaum Anshar lalu menyapa, memberi salam, mengusap kepala anak-anak Anshar dan mendoakannya.

Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu,

كاَنَ رَسُولُ اللهِ يَزُورُ الْأَنْصَارَ وَيُسَلِّمُ  عَلَى الصِّبْيَانِ وَيَمْسَحُ رُؤُوسَهُمْ. وَفِي رِوَايَةٍ: وَيَدْعُولَهُمْ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkunjung ke kalangan kaum Anshar. Beliau memberi salam kepada anak-anak, mengusap kepala-kepala mereka.” (Shahih al-Jami’ ash-Shaghir, no. 4947)

Dalam riwayat lain, “mendoakan mereka.” (HR. an-Nasa’i dari Tsabit radhiallahu ‘anhu)

Dalam Shahih al-Bukhari (no. 5993) disebutkan hadits dari Ummu Khalid bin Khalid bin Sa’id radhiallahu ‘anha yang bercerita sebagai berikut.

Saya bertamu ke tempat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama ayahku. Saya mengenakan pakaian berwarna kuning. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Sanah. Sanah.’ Abdullah menyebutkan, “Dalam bahasa Habasyah berarti bagus, bagus.” Saya pun mempermainkan cincin (kenabian) beliau. Ayahku lantas melarangku.

Namun, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Biarkan.” Kemudian lanjut beliau, “Pakailah sampai rusak (pakaianmu). Pakailah sampai rusak. Pakailah sampai rusak.”

Abdullah, perawi, mengungkapkan, “Pakaian itu terus dia pakai hingga berubah warna.”

Ibnu Hajar al-‘Asqalani rahimahullah menyebutkan terkait hadits tersebut, “Bercanda dengan anak kecil melalui kata-kata dan perbuatan, tujuannya untuk membangun kedekatan. Termasuk dalam hal ini ialah mencium.” (Fathu al-Bari, 10/493—494)

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mencandai Zainab binti Abi Salamah dengan memanggilnya, “Hai Zuwainib. Hai Zuwainib.” Berkali-kali. (Hadits dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu. Lihat Shahih al-Jami’ ash-Shagir, no. 5025)

Inti dari kisah di atas, membangun kelekatan antara orang tua dan anak telah diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Menelantarkan, mengabaikan, dan tiada memberi perhatian kepada anak merupakan tindak tak terpuji. Tindakan seperti ini bakal memancing malapetaka dalam kehidupan keluarga.

 

Tindak Kekerasan

Apabila pengabaian bisa melahirkan keburukan. Begitu pun dengan tindak kekerasan emosional dan kekerasan fisik bisa menimbulkan kemudaratan. Tekanan yang datang bertubi saat masa kanak-kanak, bisa memunculkan perilaku menyimpang saat remaja.

Ketika masa kanak-kanak mendapat tekanan, bisa jadi seorang anak merespon hanya dengan tangisan. Namun, keadaan akan berbeda saat anak itu telah tumbuh remaja. Dirinya akan merespon dengan segala kemampuan yang ada.

Apabila dirinya tak mampu, remaja akan lari dari dunianya untuk menemukan dunia lainnya. Terjatuhlah sang remaja pada lembah miras, terbang melayang bersama narkoba, menyusuri dunia hitam, dan menikam zaman dengan tindak kriminal.

Kekerasan melahirkan agresivitas. Kekerasan melahirkan sesuatu yang buruk bagi sang remaja, keluarga, dan lingkungannya. Manakala kelembutan itu sirna, yang ada cuma keburukan. Keadaan ini mencemaskan setiap insan yang masih memiliki akal budi.

 

Mencegah Itu Lebih Baik

Mencegah kerusakan tentu lebih baik daripada harus memperbaiki keadaan yang sudah karut-marut.

Bermula dari rumah, tanamkan kebaikan. Bermula dari rumah, tebarkan kelembutan dan kasih sayang. Rumah adalah madrasah, sebuah tempat membiasakan perilaku terpuji. Orang tua adalah pendidiknya. Anak-anak adalah amanat yang harus mendapat pendidikan. Setiap saat di madrasah itu terjadi proses pembelajaran. Anak didik tak semata diajari, namun juga dibiasakan untuk mengamalkan adab yang baik.

Madrasah yang baik senantiasa memberi nasihat, menegur, dan membimbing anak didiknya yang keluar dari jalur kebenaran. Madrasah yang baik tak bermudah-mudah menjatuhkan sanksi, kecuali setelah adanya proses penelusuran yang bisa dipertanggungjawabkan sehingga membawa bukti kuat untuk turunnya sebuah sanksi.

Karena itu, sebagai seorang pendidik, orang tua tak boleh mudah tersulut emosi untuk langsung memukul atau melakukan tindak kekerasan. Pendekatan dengan penuh kasih sayang lebih dikedepankan. Tentu saja, seraya mempelajari “mengapa sang anak berbuat tidak patut?”

Setelah itu, orang tua berupaya untuk terus menasihati sang buah hati beriring dengan memohon kepada Yang Mahakuasa untuk memberi taufik padanya. Sebuah upaya yang memerlukan keikhlasan, kesungguhan hati, kesabaran, dan ketawakalan.

Di antara upaya menekan beragam penyimpangan perilaku remaja, yaitu:

 

  1. Menciptakan suasana rumah yang harmonis

Keluarga yang kondusif, berjalan di atas rambu-rambu syariat, akan menjadi tempat yang baik untuk menyemai pribadi saleh. Dari keadaan keluarga yang disinari oleh kemilau cahaya al-Qur’an dan as-Sunnah dengan pemahaman salaf, diharapkan beragam penyimpangan itu tak mencuat.

Dengan demikian, rumah menjadi benteng nan kokoh yang menangkal setiap bentuk penyimpangan. Dari dalam rumah itu pula asupan nutrisi bagi jiwa penghuninya terus disajikan. Setiap penghuni memiliki daya imun terhadap berbagai syubhat dan syahwat yang merambat cepat.

Jadi, untuk menumbuhkan kepribadian yang baik pada remaja, hendaknya kondisi di dalam rumah diperbagus. Demikian pula apabila penyimpangan itu telah menimpa sang remaja, keadaan rumah tak bisa diremehkan perannya. Kebersamaan, dukungan untuk memulihkan mental, doa, serta bantuan lainnya merupakan sumbangsih tiada ternilai. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلَا تَعَاوَنُواْ عَلَى ٱلۡإِثۡمِ وَٱلۡعُدۡوَٰنِۚ

“Dan janganlah kalian tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.” (al-Maidah: 2)

 

  1. Mencari bi’ah (lingkungan) yang baik

Sebagaimana disebutkan oleh asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah, di antara sebab terjadinya penyimpangan perilaku anak muda adalah bi’ah (lingkungan).

Oleh karena itu, memilih tempat untuk anak usia masih belia harus penuh kecermatan. Tempatkan anak di lingkungan yang baik. Kisah pembunuh seratus jiwa yang hendak bertobat bisa menjadi pelajaran berharga, betapa lingkungan berperan besar dalam membentuk perilaku seseorang. Dalam hadits dari Abu Sa’id Sa’d bin Malik bin Sinan al-Khudri radhiallahu ‘anhu disebutkan,

انْطَلِقْ إِلَى أَرْضِ كَذَا وَكَذَا، فَإِنَّ بِهَا أُنَاسٌ يَعْبُدُونَ اللهَ تَعَالَى فَاعْبُدِ اللهَ مَعَهُمْ وَ تَرْجِعْ إِلَى أَرْضِكَ فَإِنَّهَا أَرْضٌ سُوءٌ

Beralihlah ke daerah begini dan begini. Sesungguhnya, masyarakat di daerah tersebut beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Hendaklah engkau beribadah bersama mereka. Kemudian, janganlah dirimu kembali ke daerahmu karena daerahmu itu buruk.” (HR. al-Bukhari no. 3470 dan Muslim no. 46)

Lihatlah, keadaan tempat yang kondusif memberi sokongan guna membentuk kepribadian yang baik.

Di antara bentuk memilih bi’ah yang baik adalah memilih tempat belajar bagi sang anak yang menginjak belia. Banyak orang beranggapan bahwa memasukkan anak ke tempat pendidikan berlabel Islam akan menjamin kebaikan bagi anaknya.

Padahal, apabila ditelisik lebih cermat, justru lembaga pendidikan yang berlabel Islam tersebut tak jauh berbeda dengan lembaga pendidikan umum lainnya. Kalau pun materi agama lebih banyak jam mata pelajarannya, belum tentu materi pelajarannya selaras dengan pemahaman Islam yang benar sebagaimana diajarkan oleh para ulama salaf. Apalagi apabila dilihat para pengajarnya tidak mencerminkan sosok pengajar yang memberi teladan dalam penerapan Islam.

Jika keadaannya seperti itu, tentu sangat berbahaya bagi pembentukan kepribadian sang remaja. Lembaga pendidikan semacam itu hanya akan menanamkan syubhat yang membahayakan bagi agama yang dipeluk sang remaja.

 

  1. Bekali dengan ilmu bermanfaat

Tugas orang tua atau pendidik di antaranya membekali remaja dengan ilmu yang bermanfaat. Pemahaman mereka tentang Islam harus tertanam kokoh.

Ilmu yang bermanfaat, yang telah diwariskan oleh para ulama salaf, akan menjadi petunjuk dalam menapaki kehidupannya, terkhusus pada saat usia mereka masih belia. Diharapkan dengan ilmu tersebut para remaja memiliki prinsip hidup yang terbimbing. Tak tergoyahkan oleh beragam godaan yang akan melumatkan masa depannya. Tak mudah terombang-ambingkan oleh beragam fitnah kehidupan serta berbagai kesesatan.

Dengan ilmu, prinsip hidup remaja menjadi jelas terarah. Dirinya menjadi remaja yang tumbuh dalam ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Remaja yang menjadikan dunia ini hanya sebagai titian menuju kehidupan akhirat. Kehidupan yang senyatanya.

Dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu disebutkan tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah subhanahu wa ta’ala pada satu naungan di Hari Kiamat, yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya. Salah satu di antara ketujuh golongan tersebut,

وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللهِ

Pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala.” (HR. al-Bukhari no. 1423 dan Muslim no. 91)

 

  1. Pilih pendidik yang baik

Termasuk yang disebutkan oleh asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah, terkait penyebab perilaku menyimpang pada anak muda, yaitu keterbatasan sumber daya manusia yang mampu mendidik dan memberi penjelasan tentang hakikat dan keindahan Islam.

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah, dalam risalahnya, al-Qaulu al-Mufid ‘ala Kitabi at-Tauhid menyebutkan bahwa seseorang yang menyampaikan Islam, selain berilmu syar’i, hendaknya memiliki pula pengetahuan tentang keadaan orang yang didakwahi. Saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak mengutus sahabat untuk berdakwah ke Yaman, beliau berpesan bahwa kaum yang akan didatangi adalah dari kalangan ahli kitab. Ini menunjukkan bahwa seorang pendidik harus mengetahui keadaan orang yang akan diajari. Demikian pula sosok pendidik yang baik, hendaknya mengenal secara dekat setiap anak didiknya.

Kedekatan pendidik—dalam batas tertentu—terhadap anak didiknya akan sangat membantu dalam mengarahkan dan membimbing ke jalan yang benar. Terutama saat anak didik menghadapi masalah. Kedekatan yang terjalin bisa membuka jalur komunikasi sehingga permasalahan bisa ditangani, bi idznillah.

Menempatkan remaja bersama pendidik yang baik akan menepis perilaku penyimpangan remaja, bi idznillah. Ini menjadi salah satu solusi guna meredam laju penyimpangan perilaku remaja yang dari waktu ke waktu sangat memprihatinkan.

Kisah seorang alim yang mengarahkan pembunuh seratus jiwa untuk bertobat merupakan kisah yang memberi inspirasi. Dengan bekal ilmu yang ada padanya, seorang alim mampu menuntun seseorang yang tengah menghadapi gejolak hidup.

فَدَلَّ عَلَى رَجُلٍ عَالِمٍ فَقَالَ: إِنَّهُ قَتَلَ مِئَةَ نَفْسٍ فَهَلْ لَهُ مِنْ تَوْبَةٍ؟ فَقَالَ: نَعَمْ، وَمَنْ يَحُولُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ التَّوْبَةِ؟

Seorang penduduk mengarahkan (sang pembunuh) kepada seorang alim. Lantas ditanyakan pada seorang alim, “Sungguh, ia telah melenyapkan nyawa seratus orang, apakah bagi dirinya masih ada kesempatan bertobat?”

Seorang alim pun menjawab, “Ya, masih. Siapakah yang bisa menghalangi antara dirinya dengan tobat?”

Betapa penting kehadiran seorang pendidik yang alim, yang perbuatannya senantiasa selaras dengan ilmu yang dimilikinya. Seorang alim, memutuskan sesuatu tidak gegabah. Namun, ditimbang dari berbagai sudut atas dasar bashirah (keilmuan) yang ada padanya. Betapa urgen keberadaan seorang alim.

 

  1. Bersama teman yang baik

Memilihkan teman adalah solusi untuk memupuk nilai kebaikan. Teman yang baik akan menularkan kebaikan dan begitu pula sebaliknya. Seseorang yang ingin perilakunya baik, hendaklah bergaul dengan orang yang baik.

Tradisikan mengunjungi orang-orang saleh. Ambil faedah ilmu darinya. Ambil pula pelajaran adab dari perilaku kesehariannya. Apabila ingin baik, bersamalah teman yang baik. Agama seseorang bisa dilihat dari teman dekatnya.

Karena itu, lihatlah siapakah yang ia jadikan teman dekatnya. Orang yang baik tentu bercengkrama bersama orang baik pula. Sebab, sungguh kecenderungan hati tak mungkin diingkari. Seorang penyair berkata,

وَفِي السَّمَاءِ طُيُورٌ اسْمُهَا الْبُقْعُ           

إِنَّ الطُّيُورَ عَلَى أَشْكَالِهَا تَقَعُ                     

“Di langit ada burung-burung namanya al-buq’u

Sungguh, burung-burung itu akan hinggap bersama yang sejenis.” (Ni’matu al-Ukhuwah, Faishal bin Abduh Qaid al-Hasyidi, hlm. 30)

 

  1. Hindari berbagai media yang merusak

Telah banyak korban akibat bergumul dengan media. Akibat tak mampu mengendalikan diri, banyak anak remaja terjatuh pada kemaksiatan. Waktu mereka dihabiskan untuk hal yang tiada guna.

Akibat dari media, perilaku mereka pun berubah. Tak menunjukkan pada kebaikan. Bagi jiwa muda yang belum mampu mengendalikan diri secara matang, pengaruh media (cetak ataupun elektronik) sangat kuat. Banyak perilaku negatif anak remaja dipicu oleh media.

 

Bagaimana pun, anak adalah sosok hamba Allah subhanahu wa ta’ala yang memiliki perasaan, yang memerlukan sapa sayang, yang ingin diperhatikan, dan diajak bercakap.

 

  1. Beri kesempatan mengaktualisasikan diri

Sudah menjadi tabiat remaja, senang pada aktivitas yang beraroma menantang. Beladiri, berpetualang menyisir alam, keterampilan berkendara, adalah beberapa contoh kegiatan remaja. Masih banyak lagi kegiatan positif yang bisa dijadikan wahana untuk mengaktualisasikan diri, menyalurkan jiwa energik, dan semangat muda. Kegiatan-kegiatan semacam itu apabila terbimbing akan memberikan manfaat yang besar bagi remaja. Di antara manfaat yang bisa dipetik: memperkuat fisik, membangun mental pemberani, melatih kemampuan bersabar dan bertahan menghadapi kesulitan, melatih kerjasama kelompok, memupuk percaya diri dan lainnya.

Dalam sebuah hadits sahih terungkap, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melewati beberapa anak muda yang tengah memanah. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ارْمُوا يَا بَنِي إِسْمَاعِيلَ، فَإِنَّ أَبَاكُمْ كَانَ رَامِيًا

Panahlah, wahai anak cucu Ismail. Sesungguhnya, orang-orang tua kalian dulu adalah pemanah.” (Shahih al-Jami’ ash-Shaghir no. 3520)

Demikian pula, hendaknya para remaja putri diberi kesempatan untuk mengaktualisasikan diri melalui kegiatan-kegiatan keputrian. Kegiatan yang kelak bisa membawa manfaat manakala mereka berkeluarga seperti: menjahit, memasak, menulis, dan lainnya. Seiring tentunya dibekali pula bimbingan keagamaan yang kelak bisa menjadi pedoman dalam menjalani kehidupan. Semua itu berlangsung sebagai bagian membimbing remaja ke arah yang benar.

Allahu a’lam.

 

Ditulis oleh Al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafruddin

Jangan Biarkan Dia Sendiri!

Kau tak perlu kecil hati. Harus tetap semangat,” kata seorang ayah menyemangati anaknya yang kini menanjak remaja. Seraya mendekap, sang ayah membisikkan kata-kata sarat harapan. Kata-kata yang membesarkan jiwa anak remajanya.

Kegagalan, keterpurukan, atau ketidaknyamanan yang dialami anak usia remaja kadang bisa menjadi pemicu menumbuhkan perilaku tak sehat. Lanjutkan membaca Jangan Biarkan Dia Sendiri!

Perilaku Menyimpang Remaja

Sabar, satu sikap yang sangat urgen kala mendidik remaja. Kesabaran mutlak diperlukan mengingat banyak onak duri saat menyelami ritme kehidupannya. Sikap remaja yang sarat kelabilan menjadi pernik masalah tersendiri. Lebih-lebih lingkungan yang begitu kuat menyeret sang remaja untuk menyelisihi jalan kebenaran. Semua ini tentu bisa memperberat upaya orang tua atau pendidik dalam membimbing anak usia baru baligh ini.

Lanjutkan membaca Perilaku Menyimpang Remaja

Mengenal Usia Baligh

Muhammad, apakah kau pernah bermimpi?”

Pertanyaan itu memecah keheningan. Anak-anak pun tertawa renyah mendengar pertanyaan yang tiada terduga. Malam itu, beberapa anak yang baru menapak belasan tahun berkumpul. Mereka saling pandang. Ada yang tersipu. Ada pula yang masih menyisakan sedikit tawanya. Pertanyaan itu cukup mengusik mereka. Pertanyaan itu mengingatkan betapa mereka telah beranjak baligh.

Anak-anak usia baligh sangat perlu mendapat perhatian. Masa baligh adalah masa seseorang melepas masa kanak-kanak namun belum menjangkau dewasa. Pada masa baligh seseorang telah taklif, yaitu memiliki kewajiban untuk menunaikan perintah agama. Setiap perbuatannya telah dicatat. Karena itu, sangat penting membimbing mereka.

Memasuki usia baligh, fisik banyak mengalami perubahan. Tentunya, diiringi pula perubahan secara psikis. Pada laki-laki perubahan fisik bisa dilihat dari tumbuhnya rambut di beberapa bagian tubuh. Suara yang membesar. Tubuh meninggi dan berat badan bertambah. Keadaan otot lebih kuat dan kencang. Kulit muka yang dahulu halus, bisa berubah ditumbuhi jerawat. Pada wanita, ditandai suara yang lembut serta pertumbuhan tubuh yang feminin. Perubahan ini diikuti dengan mulai matangnya organ seksual. Selain usia mencapai lima belas tahun, pada umumnya usia baligh ditandai dengan ihtilam (mimpi basah) pada laki-laki dan haid pada wanita.

Adapun secara psikis, anak usia baligh merasa diri telah dewasa. Namun, secara kepribadian dia belum matang. Begitu pula pola pikir, belum terbilang mapan. Kadang letupan emosi lebih mengedepan. Karena itu, pada masa usia baligh ini, sering dijumpai anak remaja yang mudah tersinggung, rentan rasa frustrasi (putus asa), suka menentang atau melakukan perlawanan.

Secara sosial, pada masa ini seseorang mulai menyukai relasi dengan lawan jenis. Di samping itu, mulai menguat jiwa solidaritas kepada teman seusianya.

Saat mengupas hadits tentang tujuh golongan yang akan mendapat naungan Allah subhanahu wa ta’ala di akhirat, saat tak ada naungan selain naungan-Nya, asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata,

شَابٌّ نَشَأَ فِي طَاعَةِ اللهِ

“Anak muda yang tumbuh kembang dalam ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala,”

lantaran galibnya anak muda sarat dengan kecenderungan untuk melakukan penyimpangan. (HR. al-Bukhari no. 1423 dan Muslim no. 91 dalam Syarhu Riyadhi ash-Shalihin, 1/951)

Ucapan asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah tersebut menyiratkan sinyal yang sedemikian kuat, betapa masa usia baligh adalah masa transisi (peralihan masa kanak-kanak ke masa dewasa) dan ketidakpastian sikap. Masa yang penuh topan dan badai. Sangat rentan untuk tergelincir kepada perilaku yang tidak baik.

Segaris dengan ini, asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menyebutkan bahwa di antara sebab terbanyak yang menjatuhkan anak muda pada penyimpangan dan enggan dengan sesuatu yang terkait agama adalah lantaran sedikitnya ilmu dan ketidaktahuan mereka (jahil) akan hakikat Islam dan keindahannya. Selain itu, tak adanya perhatian terhadap al-Qur’an dan minimnya para pembimbing yang memiliki kemampuan menyampaikan hakikat Islam kepada mereka. Ditambah lagi, munculnya penyebab lain, yaitu: lingkungan masyarakat (yang buruk), media televisi, bepergian ke luar negeri (negeri kafir), ikhtilath, serta adanya sosok figur yang memiliki keyakinan yang batil dan buruk akhlak. (Min Qadhaya asy-Syabab, hlm. 57)

Ketika perubahan fisik disertai oleh perubahan perilaku dan sikap, saat seperti inilah anak perlu mendapat perhatian orang-orang di sekitarnya, terkhusus orang tua, guru, pengasuh, untuk lebih menyelami keadaan mereka.

Sebagaimana disebutkan asy-Syaikh Bin Baz rahimahullah, minimnya pembimbing yang bisa menjelaskan hakikat Islam menjadi salah satu sebab ketergelinciran anak muda kepada sesuatu yang negatif. Banyak perilaku mereka yang sulit diduga, tidak terukur, yang ujungnya pelanggaran norma yang ada. Nas’alullaha as-salamah.

Keluarga yang harmonis menjadi modal sangat penting bagi tumbuh kembang anak pada usia baligh. Keluarga yang harmonis sangat mendukung pembentukan kepribadian yang sehat bagi anak yang menapak baligh. Fungsi dasar keluarga ialah memberi rasa aman, kasih sayang, perhatian, dan membangun hubungan emosional yang baik antaranggota keluarga. Dari sini, akan terbentuk anggota keluarga yang berkepribadian tangguh dan baik. Bi idznillah.

Kehangatan hubungan orang tua dengan anak (khususnya anak usia baligh) sangat membantu mengatasi masalah yang timbul pada usia baligh. Hubungan yang hangat akan membuka komunikasi yang baik antara orang tua dan anak. Ini penting.

Ketika seorang ayah bertanya kepada anak laki-lakinya yang memasuki usia baligh, “Nak, kau pernah bermimpi?” Tentu bukan sekadar bertanya tanpa maksud. Bagi orang tua yang mengerti Islam, pertanyaan itu terkait dengan seberapa jauh sang anak memahami liku-liku usia baligh.

Orang tua tentu layak untuk tahu karena hal itu terkait dengan pelaksanaan syariat Islam saat memasuki usia baligh. Pelaksanaan syariat itu, seperti sudahkah anaknya mengetahui tata cara mandi janabah, mengetahui perbedaan madzi dengan mani, dan lainnya.

Hal-hal di atas, terkadang seorang anak merasa malu apabila ia yang memulai bertanya kepada orang tuanya. Ia cenderung untuk mencari informasi di luar dengan caranya sendiri. Keadaan semacam ini tentu bisa membahayakan dirinya karena tidak terbimbing. Oleh karena itu, orang tua atau pendidik kiranya bisa lebih proaktif menghadapi anak usia baligh. Wallahu a’lam.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafruddin