Sebutan ‘Almarhum’

Apakah boleh mengatakan ketika menyebut orang mati   الْمَرْحُومُ فُلَانٌ (Almarhum Fulan) atau غَمَّدَهُ اللهُ بِرَحْمَتِهِ (Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memenuhinya dengan rahmat-Nya) atau انْتَقَلَ إِلَى رَحْمَةِ اللهِ (Dia telah berpindah kepada rahmat Allah subhanahu wa ta’ala)?

Lanjutkan membaca Sebutan ‘Almarhum’

Kemuliaan Akhlak Muslimah (2)

Mencurahkan Segala yang Ma’ruf

Yang dimaksud dengan al-ma’ruf adalah semua yang dianggap baik oleh syariat. (at-Ta’rifat hlm. 215, al-Jurjani)

Kata Fadhilatusy Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah, ma’ruf adalah urusan yang dikenali manusia sebagai kebaikan atau yang dikenali sebagai kebaikan menurut syariat. Apabila hal tersebut terkait dengan ibadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala, ma’ruf adalah urusan yang dikenali kebaikannya dalam syariat. Apabila terkait dengan muamalah bersama manusia, ma’ruf berarti urusan yang dikenali kebaikannya oleh manusia.” (Syarh Riyadhish Shalihin, 1/541) Lanjutkan membaca Kemuliaan Akhlak Muslimah (2)

Nasihat Ulama Seputar Pendidikan Anak

Orang Tua Tidak Memerhatikan Anaknya

Fadhilatusy Syaikh Ibnu Baaz rahimahullah pernah ditanya, “Sebagian orang tua tidak memerhatikan urusan agama anak-anaknya, seperti tidak menyuruh mereka untuk shalat, membaca al-Qur’an, atau berteman dengan orang-orang yang baik. Akan tetapi, dia amat memerhatikan sisi pendidikan sekolah, bahkan bisa marah apabila anaknya membolos. Apa nasihat Anda, wahai Samahatusy Syaikh?” Lanjutkan membaca Nasihat Ulama Seputar Pendidikan Anak

Di Balik Rumah Tangga Rasul

Kisah-kisah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di luar rumah beliau, sebagai pengajar dan pembimbing umat, pemimpin kaum muslimin dan panglima tertinggi dalam jihad fi sabilillah, sangat sering dibicarakan. Sementara itu, ada sisi lain kehidupan manusia paling mulia tersebut yang tidak kalah pentingnya. Apakah sisi lain tersebut?

Lanjutkan membaca Di Balik Rumah Tangga Rasul

Makna Syahadat Muhammad Rasulullah

KHUTBAH PERTAMA:

 

إِنَّ الْحَمْدَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ ١٠٢

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُواْ رَبَّكُمُ ٱلَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفۡسٖ وَٰحِدَةٖ وَخَلَقَ مِنۡهَا زَوۡجَهَا وَبَثَّ مِنۡهُمَا رِجَالٗا كَثِيرٗا وَنِسَآءٗۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ ٱلَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِۦ وَٱلۡأَرۡحَامَۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَيۡكُمۡ رَقِيبٗا ١

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَقُولُواْ قَوۡلٗا سَدِيدٗا ٧٠ يُصۡلِحۡ لَكُمۡ أَعۡمَٰلَكُمۡ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡۗ وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدۡ فَازَ فَوۡزًا عَظِيمًا ٧١

أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كَلَامُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ وَشَرَّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ. أَمَّا بَعْدُ؛

  Lanjutkan membaca Makna Syahadat Muhammad Rasulullah

Agar Sabar Menghadapi Gangguan (1)

Buah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah

Ada beberapa hal yang bisa membantu seorang hamba untuk bersabar jenis yang ini.

  1. Menyadari bahwa Allah subhanahu wa ta’ala yang menciptakan perbuatan para hamba

Perbuatan hamba, baik gerak, diam, maupun keinginannya, semua adalah ciptaan Allah subhanahu wa ta’ala. Apa yang Allah subhanahu wa ta’ala kehendaki pasti terjadi, sedangkan yang tidak Dia kehendaki tidak akan terjadi. Tidak ada hal sekecil apa pun yang bergerak, di alam yang tinggi dan yang rendah, kecuali dengan izin Allah subhanahu wa ta’ala dan kehendak-Nya. Para hamba adalah alat.

Karena itu, pandanglah kepada Dzat yang menguasakan mereka atas diri Anda, jangan Anda lihat perbuatan mereka terhadap Anda. Dengan demikian, Anda akan bisa terlepas dari kecemasan dan kesedihan.

  Lanjutkan membaca Agar Sabar Menghadapi Gangguan (1)

Al-Mushawwir

Al-Mushawwir adalah salah satu dari al-Asma’ul Husna. Nama ini tersebut dalam ayat al-Qur’an.

هُوَ ٱللَّهُ ٱلۡخَٰلِقُ ٱلۡبَارِئُ ٱلۡمُصَوِّرُۖ لَهُ ٱلۡأَسۡمَآءُ ٱلۡحُسۡنَىٰۚ يُسَبِّحُ لَهُۥ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۖ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ ٢٤

“Dia-lah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Nama-Nama Yang Paling baik. Bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (al-Hasyr: 24)

Lanjutkan membaca Al-Mushawwir

Amirul Mukminin Umar Bin Al-Khaththab (15): Hari-hari Berdarah di Qadisiyah

Setelah gagal menangkap panglima Sa’d di markasnya, Rustum semakin marah sekaligus cemas. Bayang-bayang kekalahan semakin menghantuinya. Dengan setengah hati dia mengatur pasukannya. Semua kekuatan dikerahkan untuk menghadapi pasukan muslimin. Tiga puluh tiga ekor gajah dikerahkan bersama pawangnya. Puluhan ribu pasukan berjalan kaki diperintahkan memasang rantai di kaki-kaki mereka, agar mereka bertempur sampai mati. Lanjutkan membaca Amirul Mukminin Umar Bin Al-Khaththab (15): Hari-hari Berdarah di Qadisiyah

Menyoal Urusan Gaib

Di antara hal yang penting dalam akidah Islam adalah beriman terhadap urusan gaib.

Telah banyak orang tersesat dalam masalah ini. Sebagian mereka terjatuh dalam kekufuran karena mengaku tahu ilmu gaib. Sebagian orang membenarkan pengakuan orang yang mengaku tahu ilmu gaib tersebut.

Tidak sedikit pula orang-orang yang tidak meyakini sebagian urusan gaib, mengingkari masalah-masalah akidah, seperti azab kubur, telaga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan lainnya.

  Lanjutkan membaca Menyoal Urusan Gaib

Belajar Mencintai Ilmu Hadits dari Asy-Syaikh Muqbil

لَا يُؤْمِنُ عَبْدٌ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

“Seorang hamba, belumlah sempurna imannya, sampai aku (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) lebih ia cintai dibandingkan keluarganya, harta, dan seluruh manusia”

 

Lanjutkan membaca Belajar Mencintai Ilmu Hadits dari Asy-Syaikh Muqbil

Wafat Asy-Syaikh Muqbil

Sungguh, beliau memiliki ketabahan yang luar biasa saat menghadapi sakit dan kepayahan. Dalam kondisi sakit, beliau tetap berakhlak mulia, mengajar, mengulang pelajaran, dan tetap bersenyum. Orang yang melihatnya akan menyangka bahwa beliau sehat-sehat saja.

Jika ditanya tentang keadaannya yang sedang sakit, beliau berkata, “Segala puji hanya bagi Allah. Kami tidak dapat menghitung pujian terhadap Allah.” Lanjutkan membaca Wafat Asy-Syaikh Muqbil

Nasihat dan Pengarahan Asy-Syaikh Muqbil

Di antara nasihat dan pengarahan beliau rahimahullah adalah sebagai berikut.

  1. Beliau sering menasihatkan agar betul-betul memerhatikan masalah akidah (iman, keyakinan).

Beliau rahimahullah pernah berkata, “Memerhatikan masalah akidah sangat penting. Tanpa akidah, seorang muslim tidak akan mampu berhadapan dengan musuhnya. Bahkan, tidak mungkin dia melakukan suatu tindakan atau aktivitas Islami. Oleh sebab itulah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai dakwahnya dari akidah. Hidup Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seluruhnya adalah dakwah kepada akidah dan hukum yang disertai dengan praktik pengalamannya.”

Lanjutkan membaca Nasihat dan Pengarahan Asy-Syaikh Muqbil

Dakwah harus Memiliki Keistimewaan

Asy-Syaikh Muqbil Merintis Dakwah

Seperti yang dikatakan, asy-Syaikh Muqbil adalah mujaddid di negeri Yaman. Belum pernah ada sejak zaman Abdur Razzaq ash-Shan’ani sampai hari ini, seseorang yang menjalankan dakwah dan memperbaruinya seperti yang dilakukan oleh beliau.

Yaman adalah negeri yang keumuman penduduknya berpemahaman Syiah, Sufi, dan komunis. Membaca dan mempelajari kitab-kitab Sunnah (karya para ulama Ahlus Sunnah) terhitung sebagai dosa dan kesalahan yang tidak diampuni dan tidak dimaafkan. Bahkan, kalau ada yang berani menampakkan sunnah, mereka akan menghalalkan darahnya. Lanjutkan membaca Dakwah harus Memiliki Keistimewaan

Kepribadian asy-Syaikh Muqbil, Akhlak dan Perangai Beliau yang Mulia

Tawakal dan Kedermawanan

Kuatnya rasa tsiqah (percaya penuh) kepada Allah subhanahu wa ta’ala yang ada pada diri asy-Syaikh Muqbil menyebabkan beliau selalu menyandarkan segala urusan hanya kepada-Nya. Suatu kalimat yang sering beliau ucapkan adalah, “Kemudahan itu di tangan Allah.” Lanjutkan membaca Kepribadian asy-Syaikh Muqbil, Akhlak dan Perangai Beliau yang Mulia

Kecintaan dan Perhatian asy-Syaikh Muqbil terhadap Ilmu yang Bermanfaat

”Alangkah indahnya ilmu. Jauh lebih indah daripada emas dan perak, lebih indah daripada wanita cantik, serta lebih indah daripada kekuasaan.”

Kecintaan terhadap ulama dan ilmu yang bermanfaat telah muncul pada diri Asy-Syaikh Muqbil sejak beliau masih kanak-kanak. Kecintaan tersebut menyatu dengan darah daging dan merasuk sampai ke tulang sumsum, sebagaimana beliau ceritakan sendiri kepada keluarganya.

Senin, akhir Shafar1420 H, saat mengajar, beliau pernah mengungkapkan kecintaannya terhadap ilmu seraya berkata, ”Alangkah indahnya ilmu. Jauh lebih indah daripada emas dan perak, lebih indah daripada wanita cantik, serta lebih indah daripada kekuasaan.”

Beliau juga berkata, “Insya Allah kami akan menuntut ilmu sampai mati.”

Segala puji bagi Allah, beliau meninggal dan tergolong sebagai ulama besar yang mulia.

  Lanjutkan membaca Kecintaan dan Perhatian asy-Syaikh Muqbil terhadap Ilmu yang Bermanfaat

Mujaddid Dakwah Salafiyah Negeri Yaman

Sesungguhnya kematian para ulama adalah salah satu tanda nubuwwah Nabi kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa salam. Beliau pernah bersabda,

إِنَّ اللهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا

Sesungguhnya Allah tidaklah mencabut ilmu dengan sekaligus dari hamba-hamba-Nya. Akan tetapi, Dia mencabut ilmu ini dengan mematikan para ulama, hingga setelah tidak menyisakan lagi seorang ulama pun, manusia mengangkat orang-orang jahil sebagai pemimpin. Lalu mereka ditanya kemudian berfatwa tanpa ilmu. Akhirnya mereka sesat dan menyesatkan.” (HR. al-Bukhari dan Muslim, dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash radhiallahu ‘anhuma) Lanjutkan membaca Mujaddid Dakwah Salafiyah Negeri Yaman