Untaian Doa yang Agung

Anda pernah mendengar atau bahkan mungkin telah menghapal dan mengamalkan doa berikut?

اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا يَحُوْلُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيْكَ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ، وَمِنَ الْيَقِيْنِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مُصِيبَاتِ الدُّنْيَا، وَمَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا، وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا، وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا، وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيْبَتَنَا فِي دِيْنِنَا، وَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا

Ya Allah! Jadikanlah untuk kami rasa takut kepada-Mu yang dengannya dapat menghalangi dan mencegah kami untuk berbuat berbagai maksiat kepada-Mu.

Anugerahkanlah kepada kami ketaatan kepada-Mu yang dengannya dapat menyampaikan kami kepada surga-Mu.

Berikan pula keyakinan yang dengannya terasa ringan bagi kami segala musibah yang menimpa kami.

Berilah kenikmatan dan manfaat kepada kami dengan pendengaran, penglihatan, dan kekuatan kami selama Engkau menghidupkan kami.

Jadikanlah semua itu sebagai pewaris dari kami.

Jadikan pula balasan kami kepada orang yang menzalimi kami dengan balasan yang sesuai untuknya (tidak melampaui batas).

Tolonglah kami terhadap orang-orang yang memusuhi kami.

Jangan Engkau jadikan musibah kami menimpa agama kami.

Jangan pula Engkau jadikan dunia menjadi tujuan dan keinginan kami yang terbesar.

Jangan sampai dunia menjadi puncak dari ilmu kami.

Jangan jadikan orang yang tidak menyayangi kami dapat menguasai kami.”

Untaian doa yang bermakna luar biasa, bukan? Coba Anda cermati baik-baik artinya. Sebuah doa ma’tsur (ada atsarnya) yang pernah dilantunkan dan diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di antara sekian banyak doa yang lainnya.

Sahabat yang mulia, Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, menyampaikan kepada kita tentang pengamalan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap doa di atas,

قَلَّمَا كَانَ رَسُوْلُ اللهِ يَقُوْمُ مِنْ مَجْلِسٍ، حَتَّى يَدْعُوَ بِهَؤُلآءِ الدَّعَوَاتِ لِأَصْحَابِهِ

“Jarang sekali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bangkit dari majelis sampai beliau berdoa dengan doa-doa ini untuk para sahabat beliau.”

Hadits ini diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (no. 3502) dan al-Hakim (1/258).

At-Tirmidzi berkata tentang hadits ini, “Hasan gharib”.

Al-Hakim menyatakan sahih dan disepakati oleh adz-Dzahabi.

Hadits ini derajatnya sahih menurut al-Albani rahimahullah sebagaimana dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi, Shahih al-Jami’, dan al-Misykat.

Maksud ucapan Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma di atas adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kerap mengucapkan doa-doa di atas sebelum beliau berdiri meninggalkan majelis. Hanya sesekali beliau tidak membaca doa-doa tersebut.

Kandungan Doa

Coba kita tengok kalimat yang terkandung dalam doa di atas.

  1. Rasa takut yang menghalangi untuk berbuat maksiat

Dalam senandung doa yang agung di atas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memohon dianugerahi khasyah, rasa takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Sebab, kalbu yang berperan sebagai pimpinan bagi tubuh[1] itu bila dipenuhi dengan khasyah. Kalbu akan mengekang anggota tubuh yang lain dari berbuat maksiat. “Jadikanlah untuk kami rasa takut kepada-Mu yang dengannya dapat menghalangi dan mencegah kami untuk berbuat berbagai maksiat kepada-Mu.”

Sebaliknya, kalbu yang kosong dari khasyah akan berselancar dalam maksiat. Tiada rasa takut yang mengekang dan tidak pula khawatir akan akibat yang akan diperoleh. Yang ada di benak hanyalah bagaimana memuaskan jiwa dengan hawa nafsu syahwatnya.

 

  1. Ketaatan yang bisa menyampaikan ke surga

Berikutnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memohon dalam untaian doa indahnya, “Anugerahkanlah kepada kami ketaatan kepada-Mu yang dengannya dapat menyampaikan kami kepada surga-Mu.”

Surga adalah cita-cita tertinggi dan teragung setiap insan yang mengaku beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Dialah negeri asal yang dirindukan, tempat tinggal awal bapak manusia, Adam ‘alaihissalam.

Surga dengan segala kenikmatannya tidaklah bisa dicapai dengan amalan ketaatan semata, karena amalan kita tidak sebanding dengan nikmatnya surga. Amal kita terlalu sedikit nilainya untuk membeli surga. Bayangkan, kita beramal sedikit lagi ringan, sementara ganjaran yang disiapkan di surga demikian besar.

Satu contohnya adalah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini,

رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا

“Shalat dua rakaat fajar lebih baik daripada dunia seisinya.” (HR Muslim no. 1685)

Karena pahalanya yang sangat besar bersamaan dengan ringannya shalat ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai menyatakan,

لَهُمَا أَحَبُّ إِلَيَّ مِنَ الدُّنْيَا جَمِيْعًا

“Dua rakaat tersebut lebih aku cintai daripada (perhiasan) dunia seluruhnya.” (HR. Muslim no. 1686)

Contoh lain adalah hadits tentang dilipatgandakannya amalan kebaikan sebagaimana disampaikan lewat sahabat yang mulia, Abdullah ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antaranya beliau menyatakan,

فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً، وَإِنْ هَمَّ فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِمَائَةِ ضِعْفٍ إِلَى أَضْعَافٍ كَثِيْرَةٍ

“Barang siapa berkeinginan untuk berbuat satu kebaikan namun dia tidak melakukannya, niscaya Allah akan mencatat keinginan baik tersebut sebagai satu kebaikan yang sempurna di sisi-Nya. Jika dia berkeinginan berbuat satu kebaikan lalu dia melakukannya, niscaya Allah akan mencatatnya sebagai sepuluh kebaikan di sisi-Nya, (dan Allah akan melipatgandakannya) sampai tujuh ratus kali lipat, bahkan sampai berlipat-lipat yang sangat banyak… (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Amal ketaatan hanyalah sebab, adapun masuk surga bisa tercapai berkat rahmat Allah subhanahu wa ta’ala kepada si hamba. Allah subhanahu wa ta’ala merahmati si hamba karena dia telah menempuh sebab untuk masuk ke surga-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala pun memasukkannya ke dalam surga.

Karena surga itu hanya dicapai dengan rahmat Allah subhanahu wa ta’ala , seorang hamba tentu tidak layak merasa telah berbuat sesuatu yang besar dengan amalannya dan merasa pantas masuk surga karena telah beramal ini dan itu.

Sungguh, apa pun yang kita lakukan dan bagaimana pun besarnya amalan ketaatan kita, tetap saja tidak sebanding dengan ganjaran yang diperoleh di surga. Allah subhanahu wa ta’ala memberi lebih banyak dan sangat banyak daripada apa yang kita lakukan.

 

  1. Keyakinan yang menjadikan semua musibah terasa ringan

Yang diminta selanjutnya adalah ‘keyakinan’. Yakinlah bahwa tidak ada yang dapat menolak ketetapan Allah subhanahu wa ta’ala. Yakinlah bahwa tidaklah menimpa kita suatu musibah kecuali telah ditetapkan-Nya dalam takdir-Nya.

Apa yang ditakdirkan-Nya tidak lepas dari hikmah dan maslahat bersamaan dengan adanya tambahan pahala untuk si hamba yang terkena musibah.

Dengan keyakinan seperti ini terasa mudahlah semua musibah dunia, dikarenakan yakin adanya balasan pahala. Si hamba yang yakin tidak menjadi gundah-gulana dengan apa yang menimpanya dan tidak pula terlalu bersedih.

Yang terucap dari lisannya saat menimpanya sesuatu yang tidak mengenakkan adalah kalimat yang syar’i ,

قَدَّرَ اللهُ وَمَا شَاءَ فَعَلَ

“Allah telah menakdirkan dan apa saja yang Dia kehendaki Dia lakukan.”

Sebagaimana bimbingan Sang Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang sahih riwayat al-Imam Muslim dari sahabat yang mulia, Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu,

وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فلَاَ تَقُلْ: لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَذَا لَكَانَ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ : قَدَّرَ اللهُ وَمَا شَاءَ فَعَلَ

Jika sesuatu menimpamu (yang tidak kamu sukai atau tidak sesuai dengan keinginanmu), janganlah kamu katakan, “Seandainya aku melakukan itu, niscaya hasilnya akan begitu dan begitu.” Akan tetapi, katakanlah, “Qaddarullah wa masya’a fa’ala…”

 

  1. Indra dan kekuatan digunakan untuk taat kepada Allah subhanahu wa ta’ala

Pendengaran dan penglihatan dengan alatnya masing-masing merupakan nikmat yang besar yang dianugerahkan Allah subhanahu wa ta’ala untuk para hamba. Demikian pula kekuatan tubuh, apalagi bila digunakan untuk menaati Allah subhanahu wa ta’ala.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa untuk pendengaran, penglihatan, dan kekuatan tersebut,

وَمَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا

“Berikanlah kenikmatan dan manfaat kepada kami dengan pendengaran, penglihatan, dan kekuatan kami selama Engkau menghidupkan kami.”

Indra yang Allah subhanahu wa ta’ala berikan tidak hanya telinga dan mata, tetapi dalam permohonan di atas keduanya disebutkan secara khusus tanpa menyebut indera yang lain, karena memang petunjuk-petunjuk yang menyampaikan kepada ma’rifatullah (mengenal Allah subhanahu wa ta’ala) dan mentauhidkan-Nya hanyalah dicapai lewat jalan keduanya (mata dan telinga).

Burhan/bukti yang nyata diperoleh dari ayat-ayat sam’iyah (wahyu berupa al-Qur’an dan as-Sunnah) dan dilakukan lewat jalan mendengar. Ayat-ayat yang dipancangkan di ufuk dan di jiwa-jiwa (ayat-ayat kauniyah berupa makhluk-makhluk ciptaan Allah subhanahu wa ta’ala) diperoleh lewat penglihatan.

Menurut Ibnul Malik, permohonan tamattu’ (beroleh kenikmatan) dengan pendengaran dan penglihatan juga bermakna meminta agar keduanya tetap sehat (tidak rusak/mengalami cacat) sampai meninggal dunia.

Seorang hamba memohon tamattu’ dengan keduanya karena khawatir dirinya terjatuh pada jalan orang-orang yang Allah subhanahu wa ta’ala tutup kalbu mereka dan Allah subhanahu wa ta’ala jadikan di atas pendengaran dan penglihatan mereka terdapat ghisyawah/penutup sebagaimana dalam ayat,

وَلَقَدۡ ذَرَأۡنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلۡجِنِّ وَٱلۡإِنسِۖ لَهُمۡ قُلُوبٞ لَّا يَفۡقَهُونَ بِهَا وَلَهُمۡ أَعۡيُنٞ لَّا يُبۡصِرُونَ بِهَا وَلَهُمۡ ءَاذَانٞ لَّا يَسۡمَعُونَ بِهَآۚ أُوْلَٰٓئِكَ كَٱلۡأَنۡعَٰمِ بَلۡ هُمۡ أَضَلُّۚ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡغَٰفِلُونَ ١٧٩

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai kalbu tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah), dan mereka mempunyai mata tetapi tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah) dan mereka pun punya telinga tetapi tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (al-Araf : 179)

Ketika dicapai ma’rifatullah lewat mata yang melihat dan telinga yang mendengar, tentu berkonsekuensi si hamba harus menegakkan ibadah kepada sang Rabb. Dia pun harus memohon kekuatan kepada sang Rabb agar memungkinkan baginya melaksanakan ibadah kepada-Nya, karena ‘tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah’.

Ath-Thibi berkata, “Yang dimaukan dengan kekuatan adalah kekuatan seluruh anggota tubuh dan indra, atau seluruhnya.”

Selanjutnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memohon,

وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا

“Jadikan (semua itu) pewaris bagi kami,yakni tetap ada pada kami sampai meninggal.

Kisah Al-Imam Al-Albani rahimahullah

Al-Imam al-Albani rahimahullah setelah membawakan hadits,

أَعْمَارُ أُمَّتِي مَا بَيْنَ السِّتِّيْنَ إِلَى السَّبْعِيْنَ وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ

“Umur umatku antara 60 tahun sampai 70 tahun, sedikit di antara mereka yang melampaui umur tersebut.”[2]

Ibnu Arafah berkata, “Aku termasuk yang sedikit tersebut.”

Beliau rahimahullah memberikan komentar terhadap ucapan Ibnu Arafah di atas, “Aku juga termasuk yang sedikit tersebut. Umurku telah melebih 84 tahun. Aku memohon kepada al-Maula (yakni Allah subhanahu wa ta’ala) agar termasuk orang yang panjang umurnya dan baik amalannya.

Namun, sungguh. bersamaan dengan itu hampir-hampir aku mengangankan kematian, tatkala melihat kaum muslimin ditimpa musibah berupa penyimpangan dalam hal agama dan kehinaan yang turun kepada mereka sehingga mereka termasuk orang-orang yang rendah.

Akan tetapi, tentu amat jauh bagiku untuk mengangankan hal tersebut, sementara hadits Anas radhiallahu ‘anhu ada di hadapanku sejak aku masih muda remaja. Tidak pantas bagiku untuk mengatakan kecuali sebagaimana yang diperintah oleh Nabiku shallallahu ‘alaihi wa sallam,

اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مَا كاَنَتِ الْحَيَاةُ خَيْرًا لِي وَتَوَفَّنِي إِذَا كَانَتِ الْوَفَاةُ خَيْرًا لِي

‘Ya Allah, hidupkanlah aku selama kehidupan ini baik bagiku dan wafatkanlah aku bila kematian lebih baik bagiku.’[3]

Seraya berdoa dengan doa yang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam ajarkan kepadaku,

اللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا

Sungguh, Allah subhanahu wa ta’ala memberikan keutamaan dengan mengabulkan permohonanku dan memberiku kenikmatan serta manfaat dengan seluruhnya (pendengaran, penglihatan dan kekuatan).

Sampai saat ini (sebelum beliau meninggal dunia –pent.) aku terus menerus diberi kemampuan untuk meneliti, mentahqiq, dan menulis dengan penuh semangat yang jarang ada yang menandinginya.

Aku tetap bisa mengerjakan shalat nafilah dengan berdiri. Aku menyetir mobil sendiri dengan jarak tempuh yang jauh, dengan laju kecepatan yang membuat sebagian orang-orang tercinta[4] menasihatiku untuk menguranginya.

Aku sampaikan hal ini sebagai bentuk pengamalan ayat,

وَأَمَّا بِنِعۡمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثۡ ١١

(bukan untuk menyombongkan diri–pent.).

Aku berharap kepada al-Maula subhanahu wa ta’ala agar menambahkan kepadaku keutamaan-Nya; dan menjadikan semua itu sebagai pewaris dariku; mewafatkan aku dalam keadaan muslim, di atas sunnah yang aku telah menazarkan hidupku untuk sunnah dalam bentuk berdakwah dan menulis; agar menggabungkan aku bersama para syuhada dan shalihin. Mereka itulah adalah sebaik-baik teman. Sungguh, Allah Maha Mendengar lagi Mengabulkan doa.” (Dinukil dari Fawaid wa ‘Ibar min Hayah al-Imam al-Albani, hlm. 287)

  1.  Tidak berbuat melampaui batas walau kepada orang yang menzalimi

Sebab, apabila melampaui batas berarti dia berpindah dari keadaan terzalimi menjadi orang yang zalim. Sementara itu, ada peringatan dalam hadits,

اتَّقُوْا الظًّلْمَ فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Berhati-hatilah kalian dari kezaliman, karena kezaliman itu adalah kegelapan demi kegelapan pada hari kiamat.” (HR. Muslim)

 

  1. Ditolong dari musuh

Apa jadinya apabila Allah subhanahu wa ta’ala membiarkan kita dengan musuh kita, tidak menolong kita?

Jika Allah subhanahu wa ta’ala menolong kita, tidak akan ada yang dapat mengalahkan, sebagaimana firman-Nya,

إِن يَنصُرۡكُمُ ٱللَّهُ فَلَا غَالِبَ لَكُمۡۖ وَإِن يَخۡذُلۡكُمۡ فَمَن ذَا ٱلَّذِي يَنصُرُكُم مِّنۢ بَعۡدِهِۦۗ وَعَلَى ٱللَّهِ فَلۡيَتَوَكَّلِ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ١٦٠

“Jika Allah menolong kalian, tidak ada yang dapat mengalahkan kalian. Namun, apabila Allah menghinakan kalian (tidak menolong bahkan membiarkan kalian), siapa lagi yang dapat menolong kalian setelah-Nya? Karena itu, hendaknya hanya kepada Allah-lah orang-orang beriman itu bertawakal.” (Ali ‘Imran: 160)

 

  1. Musibah tidak menimpa agama

Kebaikan agama adalah modal keselamatan di akhirat. Apa jadinya apabila modal tersebut rusak karena musibah yang menimpanya?

Karena itu, kita diajari untuk memohon kepada Rabb agar yang menimpa kita bukan musibah yang mengenai agama sehingga mengurangi, melunturkan, atau merusaknya. Di antara musibah dalam hal agama ialah penyimpangan dari al-haq, keyakinan yang buruk, memakan makanan yang haram, malas beribadah, dan semisalnya.

 

  1. Dunia tidak menjadi tujuan utama, prioritas tertinggi, dan puncak ilmu

Dunia dinamakan dunia karena dua sebab.

  • Karena keberadaan dunia mendahului akhirat

Firman Allah subhanahu wa ta’ala,

وَلَلۡأٓخِرَةُ خَيۡرٞ لَّكَ مِنَ ٱلۡأُولَىٰ ٤

“Akhirat itu lebih baik bagimu daripada yang awal (dunia).” (adh-Dhuha: 4)

  • Karena dunia itu rendah, bukan apa-apa apabila dibandingkan dengan akhirat

Hal ini digambarkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh al-Imam Ahmad rahimahullah dari al-Mustaurid ibnu Syaddad radhiallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَمَوْضِعُ سَوْطِ أَحدِكُمْ فِي الْجَنَّةِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا

“Tempat cambuk salah seorang dari kalian di surga lebih baik daripada dunia berikut isinya.”

Tempat cambuk, tempat tongkat yang pendek lagi kecil, di surga nanti lebih baik daripada dunia berikut isinya dari awal sampai akhirnya. Itulah nilai dunia (tidak ada apa-apanya). (Syarhu Riyadhish Shalihin, Ibnu Utsaimin, 2/249)

Demikian rendahnya nilai dunia. Tidak sepantasnya dunia menjadi tujuan hidup, target utama, prioritas tertinggi, dan yang dipikirkan siang malam.

Karena itu, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam memohon pertolongan Sang Khaliq agar mencari harta dan kedudukan tidak menjadi tujuan yang terbesar dalam kehidupan. Yang diminta ialah agar amalan akhirat dan mengejar keutamaannya menjadi tujuan yang utama dan terbesar.

Jangan pula, ya Allah, Engkau jadikan puncak ilmu kami adalah urusan dunia sehingga tidak ada yang kami tahu dan kami pikirkan kecuali urusan dunia. Justru yang kami mohon adalah Engkau jadikan kami memikirkan keadaan akhirat, mempelajari ilmu yang terkait dengan-Mu dan negeri akhirat.

 

  1. Tidak dikuasai oleh orang-orang kafir dan zalim

Jangan sampai kami dikuasai oleh orang-orang kafir dan zalim; atau jangan jadikan orang zalim sebagai pemimpin kami, karena seorang yang zalim tidak akan menyayangi rakyatnya.

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

(Nukilan dari Tuhfah al-Ahwazi, kitab ad-Da’wah, bab 80 disertai tambahan yang banyak dari beberapa rujukan)

Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah


[1] Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang kalbu (jantung),

ألآ إِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلآ وَ هِيَ الْقَلْبُ

“Sesungguhnya di dalam tubuh itu adalah segumpal daging. Jika baik daging tersebut, baik pula seluruh tubuh. Sebaliknya jika rusak, rusak pula seluruh tubuh. Ketahuilah, segumpal daging tersebut adalah kalbu. (HR. al-Bukhari dan Muslim, dari sahabat yang mulia an-Nu’man ibnu Basyir radhiallahu ‘anhu)

[2] HR. at-Tirmidzi dalam Sunannya, al-Bazzar dalam Musnadnya, Ibnu Hibban dalam Shahihnya, dari sahabat yang mulia, Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu.

[3] Muttafaqun ‘alaih.

[4] Di antaranya ialah asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah (-ed.)

Buku Pendidikan Tulisan Orang Kafir

Tentang buku-buku pendidikan dan kesehatan yang ditulis oleh orang kafir, dan tidak menyelisihi syariat kita, apakah boleh kita mengambil faedah dari buku-buku tersebut dalam hal mendidik anak-anak kita dan memerhatikan kesehatan selama tidak menyelisihi syariat yang lurus ini?

Asy-Syaikh Abdullah al-Bukhari hafizhahullah menjawab:

Buku-buku atau artikel-artikel yang ditulis dalam bab ini—tentang pendidikan—ada dua macam. Ada yang bermanfaat, ada yang bermadarat.

Tidak diragukan lagi, yang bermadarat tentu saja dijauhi. Bisa jadi, madaratnya ada pada tulisan, bisa jadi pula pada penulisnya. Maksudnya, penulisnya diketahui memiliki penyimpangan atau kesesatan. Apabila demikian, tentu tidak dirasa aman bahwa dalam tulisannya yang tampak baik dia menyusupkan ungkapan-ungkapan yang membekas, lantas bercokol dalam kalbu seorang mukmin. Akhirnya hal itu menjadi syubhat, kemudian berubah menjadi pemikiran atau akidah. Oleh karena itu, kami katakan bahwa jenis yang ini dijauhi sama sekali.

Jenis yang kedua adalah (tulisan) yang bermanfaat, yaitu yang mengandung kebaikan dan bisa dibaca oleh manusia. Akan tetapi, pertanyaannya adalah hal apa yang ada pada orang kafir dan tidak dimiliki oleh pemeluk kebenaran?

Pertanyaan ini wajib dilontarkan, atau sebagaimana dikatakan: terlontar dengan sendirinya. Kebenaran mana yang mereka miliki dan tidak kita punyai?

Sungguh, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak meninggalkan sebuah solusi dan jalan (melainkan telah beliau jelaskan). Sejak dahulu, para ulama pun telah menyusun berbagai tulisan terkait dengan anak-anak dan tarbiyah mereka. Bahkan, karena agungnya urusan anak, sebagian ulama menulis kitab untuk menyabarkan para orang tua ketika anak mereka tiada karena meninggal atau yang semacamnya.

Ibnul Jauzi rahimahullah menulis kitab Laftul Kabid ‘inda Faqdil Walad. Ibnu Nashiruddin ad-Dimasyqi rahimahullah menulis kitab Bardul Akbad ‘inda Faqdil Aulad. Demikian pula ulama selain mereka berdua.

Apabila pada buku tersebut ada hal-hal yang tidak ada di sisi pemeluk kebenaran, dilihat. Jika yang mereka tulis tidak menyelisihi syariat kita dan pokok-pokoknya, tidak mengapa mengambil faedah darinya. Bahkan, terkadang harus, apabila ada kebutuhan yang mendesak. Hanya saja, untuk menentukan harus atau tidaknya, dikembalikan kepada para ulama. Wallahu a’lam.

(Huququl Aulad ‘ala Aba wal Ummahat, hlm. 53—54)

Membiasakan Anak Shalat

Batasan Taklif Seorang Anak untuk Menunaikan Shalat

Fadhilatusy Syaikh Ibnu Baz rahimahullah pernah ditanya, “Apakah balighnya seorang anak dianggap sebagai batasan dia harus dibebani untuk mengganti shalat yang terluput darinya karena tertidur ataupun yang dia tinggalkan?”

Beliau rahimahullah menjawab, “Ketika seorang anak—baik laki-laki maupun perempuan—telah baligh, maka dia harus melaksanakan shalat, puasa Ramadhan, haji dan umrah apabila dia mampu. Dia berdosa jika meninggalkan itu semua dan berdosa pula jika dia berbuat maksiat. Ini berdasarkan keumuman dalil-dalil syar’i.

Taklif (pembebanan syari’at) terjadi jika anak telah mencapai usia lima belas tahun, atau keluar mani dengan syahwat—baik dalam keadaan tidur ataupun terjaga, tumbuhnya rambut di sekitar qubul. Pada anak perempuan ditambah satu lagi, yaitu haid. Selama anak laki-laki ataupun perempuan belum mengalami salah satu dari perkara-perkara ini tadi, maka dia belum mukallaf.

Namun, dia diperintahkan untuk shalat sejak umur tujuh tahun, dan dipukul karena meninggalkan shalat ketika berumur sepuluh tahun. Begitu pula dia diperintah untuk puasa Ramadhan dan disemangati untuk melakukan berbagai kebaikan, seperti membaca al-Qur’an, shalat nafilah, haji, umrah, memperbanyak tasbih, tahlil, takbir, dan tahmid. Di samping itu, dia juga dilarang melakukan segala bentuk kemaksiatan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مُرُوا أَوْ دَالَكُمْ بِالصَّ ةَالِ لِسَبْعٍ وَاضْرِبُوا عَلَيْهَا لِعَشْرٍ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِ الْمَضَاجِعِ

“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk shalat ketika mencapai usia tujuh tahun, pukullah mereka karena meninggalkan shalat ketika berumur sepuluh tahun, dan pisahkan mereka di tempat tidur mereka.”

Demikian pula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingkari perbuatan al-Hasan bin ‘Ali radhiallahu ‘anhuma tatkala makan kurma sedekah. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan kepada al-Hasan,

أَمَا عَلِمْتَ أَنَّهُ تَحِلُّ لَنَا الصَّدَقَةُ ؟

“Tidakkah kamu tahu bahwa tidak halal bagi kita sedekah?”

Beliau menyuruh al-Hasan untuk membuang kurma yang telah diambilnya. Padahal, al-Hasan baru berumur tujuh tahun lebih beberapa bulan ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat.” (Majmu’ Fatawa Samahatusy Syaikh Ibn Baaz, 10/371)

Mengajak Anak-Anak Hadir di Masjid

Fadhilatusy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah pernah ditanya tentang hukum mengajak anak-anak kecil hadir di masjid, namun anak-anak ini mengganggu orang-orang yang shalat.

Beliau rahimahullah menjawab, “Tidak boleh mengajak anak-anak ke masjid apabila mereka mengganggu orang-orang yang shalat. Sebab, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah keluar menemui para sahabat ketika mereka shalat dan saling melantangkan suaranya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menegur,

يَجْهَرْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ فِي الْقُرْآنِأَوْ قَالَ: فِي الْقِرَاءَةِ

“Janganlah sebagian kalian melantangkan suara terhadap sebagian yang lainnya dalam bacaan Qur’annya!” atau beliau mengatakan, “Dalam bacaannya.”

Kalau mengganggu itu dilarang, padahal itu adalah bacaan al-Qur’an, bagaimana kiranya dengan anak-anak yang bermain-main? Adapun jika tidak mengganggu, mengajak mereka ke masjid itu merupakan suatu kebaikan. Sebab, hal itu akan membiasakan mereka menghadiri shalat jamaah, menjadikan mereka cinta dan akrab dengan masjid.” (Majmu’ Fatawa Fadhilatusy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, 12/397)

Tidak boleh Melarang Anak-anak Berada di Shaf Pertama

Fadhilatusy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah pernah ditanya tentang hukum melarang anak-anak duduk di shaf pertama.

Beliau rahimahullah menjawab, “ Tidak boleh dilarang anak-anak untuk shalat di shaf pertama di masjid, kecuali apabila mengganggu. Selama mereka beradab, tidak boleh mengeluarkan mereka dari shaf pertama. Sebab, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,

مَنْ سَبَقَ إِلَى مَا لَمْ يَسْبَقْ إِلَيْهِ مُسْلِمٌ فَهُوَ أَحَقُّ بِهِ

“Barang siapa lebih dahulu mendapatkan apa yang belum didahului oleh seorang muslim, dia lebih berhak atasnya.”

Mereka lebih dahulu mendapatkan apa yang tidak didahului orang lain, maka mereka lebih berhak atasnya daripada orang lain.

Kalau ada yang mengatakan, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,

لِيَلِيْنِي مِنْكُمْ أُولُوا الْأَحْ مَالِ وَالنُّهَى

“Hendaknya yang shalat di belakangku adalah orang-orang yang telah baligh dan berakal.”

maka jawabannya, yang dimaksud oleh hadits tersebut adalah dorongan kepada orang-orang yang telah baligh dan berakal untuk maju. Ya, seandainya Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,

يَلِيْنِي مِنْكُمْ إِ أُولُوا الأَحْ مَالِ وَالنُّهَى

“Tidaklah boleh shalat di belakangku kecuali orang-orang yang telah baligh dan berakal.”

tentu ini merupakan larangan bagi anak-anak maju ke shaf pertama. Namun, ketika beliau mengatakan,

لِيَلِينِي مِنْكُمْ أُولُوا الْأَحْ مَالِ وَالنُّهَى

maka maknanya adalah anjuran bagi orang-orang yang telah baligh dan berakal untuk maju, agar mereka menjadi orang-orang yang shalat di belakang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Selain itu, jika kita undurkan anak-anak itu dari shaf pertama, mereka semua akan berada di shaf kedua, sehingga mereka akan bermain-main. Hal ini tidak akan terjadi jika mereka berada di shaf pertama namun kita pisah-pisahkan mereka. Ini adalah perkara yang jelas. Wallahul muwaffiq.” (Majmu’ Fatawa Fadhilatusy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, 12/397)

Apabila Anak-Anak Mendahului Orang Dewasa di Shaf Pertama

Fadhilatusy Syaikh Ibnu Baz rahimahullah pernah ditanya, “Ada anak-anak yang datang lebih awal pada hari Jum’at. Kemudian ada beberapa orang dewasa datang, menyuruh anak-anak itu bangkit, lalu menduduki tempat duduk mereka. Mereka beralasan dengan ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لِيَلِيْنِي مِنْكُمْ أُولُوا الْأَحْ مَالِ وَالنُّهَى

‘Hendaknya yang shalat di belakangku adalah orang-orang yang telah baligh dan berakal.’

Apakah hal ini boleh dilakukan?”

Beliau menjawab, “Dikatakan oleh sebagian ahlul ilmi dan mereka berpendapat bahwa yang lebih utama, anak-anak dibariskan di belakang shaf laki-laki dewasa. Namun, pendapat ini perlu tinjauan. Yang lebih sahih, jika anak-anak datang terlebih dahulu, tidak boleh dikebelakangkan.

Jika mereka mendapatkan shaf pertama atau kedua, tidak boleh orang yang datang setelah mereka menyuruh mereka bangkit dari tempat duduknya, karena anak-anak itu telah mendahului mendapatkan suatu hak yang tidak didahului oleh orang lain.

Karena itu, tidak boleh menyuruh mereka mundur, berdasarkan keumuman hadits-hadits tentang hal ini.

Jika mereka disuruh mundur, ini akan membuat mereka lari dari shalat dan dari berlomba-lomba datang untuk shalat. Jadi, tidak layak hal ini dilakukan.

Namun, jika orang-orang datang shalat bersamaan, dalam safar atau karena suatu sebab, maka laki-laki dewasa berada di shaf terdepan, yang kedua anak-anak, kemudian setelah itu para wanita. Ini jika terjadi yang seperti itu, dan mereka datang bersamaan.

Adapun menyuruh anak-anak menyingkir dari shafnya kemudian tempat mereka ditempati oleh orang-orang dewasa yang datang belakangan, ini tidak boleh dilakukan dengan alasan yang telah kami sebutkan.

Adapun sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لِيَلِيَنِي مِنْكُمْ أُولُوا الْأَحْ مَالِ وَالنُّهَى

“Hendaknya yang shalat di belakangku adalah orang-orang yang telah baligh dan berakal di antara kalian.”

Yang dimaksudkan di sini adalah dorongan agar orang-orang yang telah baligh dan berakal bersegera untuk shalat, sehingga mereka menjadi orang-orang yang terdepan. Maknanya bukanlah menyuruh mundur orang yang telah mendahului mereka, karena ini menyelisihi dalil-dalil syar’i yang telah kami sebutkan.” (Majmu’ Fatawa Ibni Baz , 12/399)

Memerintah Anak di Bawah Sepuluh Tahun untuk Shalat

Fadhilatusy Syaikh Ibnu Baz rahimahullah pernah ditanya, “Berkaitan dengan shalat anak-anak di bawah usia sepuluh tahun, apakah orang tua berdosa jika tidak mengharuskan mereka shalat?”

Beliau rahimahullah menjawab, “Orang tua hanya sebatas memerintah saja, dan mereka tidak berdosa. Ketika anak telah berusia sepuluh tahun, orang tua wajib memerintah mereka dan menta’dib (memberi hukuman/sanksi berupa pukulan) hingga mereka mau melaksanakan shalat.

Adapun umur 7—10 tahun, yang disyariatkan adalah memerintah saja. Apabila sudah berumur tujuh tahun, mereka diperintah untuk shalat dan tidak dipukul (jika meninggalkannya -pen). Setelah sepuluh tahun atau lebih, barulah si anak dipukul jika meninggalkan shalat.” (Fatawa Nur ‘alad Darb , kaset no. 435)

Tidak Semangat Mengajak Anak Menunaikan Shalat

Fadhilatusy Syaikh Ibnu Baz rahimahullah pernah ditanya, “Banyak orang tua/wali anak—semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberi mereka petunjuk—tidak bersemangat mengajak anak-anak mereka menunaikan shalat fardhu. Mereka amat bermudah-mudahan dalam hal ini. Apa nasihat Samahatusy Syaikh seputar masalah ini? Apakah mereka berdosa dalam hal ini?”

Beliau rahimahullah menjawab, “Ya. Yang wajib atas seluruh kaum muslimin adalah memerhatikan urusan shalat dan membimbing anak-anak mereka untuk menunaikannya. Yang wajib atas setiap ayah dan ibu serta saudara adalah memerhatikan hal ini.

Seorang ayah harus mengarahkan anak-anaknya, begitu pula ibu, kakak laki-laki, dan paman. Semua harus saling menolong di atas kebaikan dan takwa, karena Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَتَعَاوَنُواْ عَلَى ٱلۡبِرِّ وَٱلتَّقۡوَىٰۖ

“Dan tolong-menolonglah kalian di atas kebaikan dan takwa.” (al-Maidah: 2)

Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman,

وَٱلۡمُؤۡمِنُونَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتُ بَعۡضُهُمۡ أَوۡلِيَآءُ بَعۡضٖۚ يَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ

“Dan laki-laki yang beriman dan wanita-wanita yang beriman, sebagian mereka adalah penolong bagi yang lain, mereka saling memerintahkan pada kebaikan dan melarang dari kemungkaran.” (at-Taubah: 71)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman pula,

وَٱلۡعَصۡرِ ١  إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَفِي خُسۡرٍ ٢  إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ ٣

“Demi masa. Sesungguhnya setiap manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh, saling menasihati di atas kebenaran, dan saling menasihati di atas kesabaran.” (al-’Ashr: 1—3)

Apabila orang tua bermudah-mudah dalam urusan ini, ia berdosa. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَأۡمُرۡ أَهۡلَكَ بِٱلصَّلَوٰةِ وَٱصۡطَبِرۡ عَلَيۡهَاۖ

“Dan perintahkanlah keluargamu untuk menegakkan shalat dan bersabarlah untuk menunaikannya.” (Thaha: 132)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman pula,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ قُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ وَأَهۡلِيكُمۡ نَارٗا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُ عَلَيۡهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٞ شِدَادٞ لَّا يَعۡصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمۡ وَيَفۡعَلُونَ مَا يُؤۡمَرُونَ ٦

“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, padanya ada malaikat-malaikat yang kasar dan keras, yang tidak pernah mendurhakai Allah pada segala sesuatu yang Dia perintahkan dan senantiasa melaksanakan segala yang diperintahkan kepada mereka.” (at-Tahrim: 6)

Begitu pula, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

كُنتُمۡ خَيۡرَ أُمَّةٍ أُخۡرِجَتۡ لِلنَّاسِ تَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَتَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَتُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِۗ

“Kalian adalah sebaik-baik umat yang dikeluarkan bagi manusia, kalian memerintahkan kepada perkara yang ma’ruf dan melarang dari kemungkaran, serta beriman kepada Allah.”

Karena itu, ayah, ibu, saudara laki-laki dan yang lainnya wajib saling menolong dalam hal ini dan tetap beristiqamah di atas kebenaran, serta mengharuskan anak-anak mereka untuk menunaikan dan menjaga shalatnya dan memberikan ta’dib kepada yang meninggalkannya.” (Fatawa Nur ‘alad Darb, kaset no.391)

Hukum Mengajak Anak-Anak ke Masjid

Fadhilatusy Syaikh Ibnu Baz rahimahullah pernah ditanya, “Bagaimana pandangan Anda tentang mengajak anak-anak ke masjid? Apakah hal ini haram, makruh, atau boleh? Mengingat, saya pernah mendengar dari banyak orang adanya suatu hadits.

Mereka mengatakan bahwa diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

جَنِّبُوا مَسَاجِدَكُمْ صِبْيَانَكُمْ وَمَجَانِيْنَكُمْ

“Jauhkanlah masjid-masjid kalian dari anak-anak dan orang-orang gila dari kalangan kalian.”

Beliau rahimahullah menjawab, “Ini hal yang disenangi (mustahab). Bahkan, disyariatkan membawa anak-anak ke masjid ketika telah berumur tujuh tahun lebih, dan memukul mereka jika enggan ketika sudah berumur sepuluh tahun.

Dengan demikian, anak akan terbiasa shalat dan diajari urusan shalat. Ketika baligh nanti dia sudah mengetahui dan terbiasa menunaikan shalat bersama saudara-saudara mereka kaum muslimin.

Adapun anak-anak kecil di bawah usia tujuh tahun, yang lebih utama tidak mengajak mereka. Sebab, mereka hanya akan menyempitkan dan mengganggu jamaah serta bermain-main. Maka dari itu, yang lebih utama adalah tidak mengajak mereka ke masjid, karena mereka belum disyariatkan menunaikan shalat.

Adapun hadits,

جَنِّبُوا مَسَاجِدَكُمْ صِبْيَانَكُمْ وَمَجَانِيْنَكُمْ

adalah hadits yang dha’if, tidak sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Anak-anak justru diperintah untuk menghadiri shalat jika telah berusia tujuh tahun lebih sehingga dia terbiasa menunaikan shalat. Hal ini sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مُرُوا أَبْنَاءَكُمْ بِالصَّ ةَالِ لِسَبْعٍ وَاضْرِبُوا عَلَيْهَا لِعَشْرٍ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ

“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk shalat ketika mencapai usia tujuh tahun, dan pukullah mereka karena meninggalkan shalat ketika berumur sepuluh tahun, dan pisahkan mereka di tempat tidur mereka.”

Dalam hadits ini terdapat pensyariatan bagi kaum mukminin untuk mengajak anak-anak mereka sehingga mereka terbiasa menunaikan shalat. Ketika baligh kelak mereka sudah terbiasa shalat dan menghadirinya bersama kaum muslimin. Hal ini akan lebih memudahkan dan mendekatkan mereka untuk menjaga shalatnya.” (Fatawa Nur ‘alad Darb, kaset no.169)

Mengajak Anak-Anak ke Masjid

Fadhilatusy Syaikh Ibnu Baz rahimahullah pernah ditanya, “Bagaimana pandangan Anda tentang orang-orang yang mengajak anak-anaknya ke masjid untuk menunaikan shalat? Mengingat anak-anak itu belum bisa membaca atau menghafal al-Qur’an walaupun al-Fatihah? Berikanlah fatwa kepada kami, jazakumullahu khairan.”

Beliau menjawab, “Apabila memungkinkan mereka tetap ada di rumah, ini lebih baik, sehingga mereka tidak mengganggu siapa pun.

Namun, jika tidak memungkinkan, karena anak atau ayah senang untuk shalat bersama jamaah, atau mendengarkan pelajaran, penyampaian faedah atau khutbah, tidak mengapa (hadir di masjid –pen.) walaupun membawa anak-anak kecil.

Sebab, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan dalam hadits yang sahih bahwa beliau memulai shalat dan ingin memperlamanya. Kemudian beliau mendengar tangisan anak kecil. Beliau pun meringankan shalat agar tidak menyusahkan ibunya. Ini menunjukkan bahwa mereka shalat sambil membawa anak-anak. Beliau tidak melarang mereka membawa anak-anak kecil.

Demikian pula di dalam sebuah hadits yang shahih, ketika beliau pada beberapa malam mengakhirkan pelaksanaan shalat isya’. ‘Umar radhiallahu ‘anhu mengatakan, “Wahai Rasulullah, para wanita dan anak-anak telah tertidur….” Ini menunjukkan bahwa anak-anak juga hadir.

Kesimpulannya, hadirnya anak-anak bersama ibu atau ayah mereka diperbolehkan. Jika si anak belum masanya untuk shalat dan dia dibawa oleh ibunya dan sang ibu bisa menenangkannya sehingga bisa menunaikan shalat berjamaah, serta mendengar khutbah dan penyampaian faedah, ini tidak mengapa.

Jika memungkinkan untuk menjaga si anak di rumah sehingga si anak tidak mengganggu, sang ibu juga tidak mengganggu siapa pun dengan anaknya ini, ini lebih utama dan lebih baik, jika memungkinkan.” (Fatawa Nur ‘alad Darb, kaset no.229)

(Dinukil dan diterjemahkan dengan sedikit perubahan dari Fatawa Tarbiyatil Aulad, al-Qismu al-‘Ilmi Dar al-Ikhlash wa ash-Shawab, cet. 2, 1435H/2014M, hlm. 22—23, 28—35 oleh Ummu ‘Abdirrahman bintu ‘Imran)

Di Balik Rumah Tangga Rasul (2)

Kesabaran yang luar biasa menghadapi tingkah istri, kelembutan tiada tara, tiada membalas kejelekan dengan kejelekan, keadilan, kesetiaan, tidak melupakan cinta dan kebaikan, dan sebagainya dari sifat-sifat keutamaan adalah perangai yang melekat erat pada diri Sang Rasul dalam posisi beliau sebagai seorang suami.

Alangkah indahnya penggambaran diri beliau sebagai pendamping hidup para wanita.

Kesabaran Menghadapi Istri

Tidak pernah diketahui ada suami yang paling sabar dan paling menahan diri dalam menghadapi kelakuan istri yang tidak semestinya daripada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Padahal beliau adalah manusia yang paling tinggi kedudukannya dan paling mulia derajatnya di sisi al-Khaliq dan di sisi para hamba.

Banyak kisah yang menjadi bukti akan hal ini, di antaranya berikut.

  1. Umar ibnul Khaththab radhiallahu ‘anhu berkisah dengan panjang yang penggalannya sebagai berikut.

“Kami orang- orang Quraisy menguasai istri-istri kami[1]. Namun, ketika kami datang (ke Madinah) dan tinggal di kalangan orang-orang Anshar, kami dapatkan mereka itu dikalahkan istri-istri mereka. Mulailah istri-istri kami mengambil adab/kebiasaan wanita-wanita Anshar. Suatu hari, aku menghardik istriku dan bersuara keras padanya, ia pun menjawab dan membantahku. Aku mengingkari perbuatannya yang demikian.

“Mengapa engkau mengingkari apa yang kulakukan, sementara demi Allah, istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri mendebat beliau, sampai-sampai salah seorang dari mereka memboikot beliau dari siang sampai malam,” kata istriku membela diri.

Berita itu mengejutkan aku, “Sungguh merugi orang yang melakukan hal itu dari mereka,” kataku kepada istriku. Lalu kukenakan pakaian lengkapku dan turun menemui Hafshah, putriku.

“Wahai Hafshah, apakah benar salah seorang kalian ada yang marah kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari siang sampai malam?” tanyaku.

“Ya,” jawab Hafshah.

“Sungguh merugi yang melakukan hal itu,” tanggapku. “Apakah kalian merasa aman dari kemurkaan Allah subhanahu wa ta’ala karena kemarahan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga kamu pun binasa? Jangan kamu banyak menuntut kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam . Jangan kamu mendebat beliau dalam satu perkara pun dan jangan memboikotnya. Minta saja kepadaku apa yang ingin kamu minta. Jangan tertipu dengan keberadaan madumu yang lebih cantik darimu dan lebih dicintai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Yang dimaksud Umar radhiallahu ‘anhu adalah Aisyah radhiallahu ‘anhu…. (HR. al-Bukhari no. 4913, 5191 dan Muslim)

Lihatlah bagaimana Umar radhiallahu ‘anhu tersentak dengan berubahnya keadaan istrinya yang sekarang berani membantahnya. Namun, ternyata Umar radhiallahu ‘anhu dapati berita yang lebih membuatnya terkejut bahwa Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima sikap demikian dari istri-istri beliau.

Bagaimana halnya dengan diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri?

Ternyata beliau bersabar menghadapi sikap istri-istri beliau, menanggung kemarahan mereka, sampai-sampai mereka mendiamkan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Masya Allah! Padahal siapakah beliau? Beliau bukan orang biasa, tapi seorang nabi yang sangat mulia dan imam yang agung.

Tidaklah beliau bersikap demikian kecuali karena besarnya sifat hilm[2] beliau dan kuatnya kesabaran beliau.

  1. Yang lebih mengagumkan lagi dari diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, walaupun istrinya menunjukkan kejengkelan terhadap beliau, namun beliau tetap lemah lembut kepada mereka. Seakan-akan mereka tidak berbuat salah. Aisyah radhiallahu ‘anha memberitakan,

قَالَ لِي رَسُوْلُ اللهِ: إِنِّي لَأَعْلَمُ إِذَا كُنْتِ عَنِّي رَاضِيَةٌ , وَ إِذَا كُنْتِ عَلَيَّ غَضْبَى.قَالَتْ: فَقُلْتُ: مِنْ أَيْنَ تَعْرِفُ ذلِكَ؟ فَقَالَ: أَمَا إِذَا كُنْتِ عَنِّي رَاضِيَةٌ فَإِنَّكِ تَقُوْلِيْنَ: لاَ وَرَبِّ مُحَمَّدٍ. وَإِذَا كًنْتِ غَضْبَى قُلْتِ: لاَ وَرَبِّ إِبْرَاهِيْمَ. قَالَتْ: قُلْتُ: أَجَلْ وَاللهِ يَا رَسُوْلَ اللهِ، مَا أَهْجُرُ إِلاَّ اسْمَكَ.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadaku, “Aku sungguh mengetahui kapan engkau ridha kepadaku dan kapan engkau marah kepadaku.”

Aisyah berkata, “Aku katakan, ‘Dari mana Anda tahu hal itu?’

“Jika engkau sedang ridha kepadaku, engkau akan berkata, ‘Tidak! Demi Rabb Muhammad.’ Namun, jika engkau sedang marah kepadaku, engkau berkata, ‘Tidak! Demi Rabb Ibrahim,” jelas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kata Aisyah, “Benar, demi Allah, wahai Rasulullah! Yang aku tinggalkan tidak lain hanyalah sebutan namamu[3].” (HR. al-Bukhari no. 5228)

  1. Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu mengisahkan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berada di rumah salah seorang istri beliau. Lalu salah seorang ummahatul mukminin (istri beliau yang lain) mengirimkan sepiring makanan untuk beliau dengan diantar oleh seorang pelayan.

Istri yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berada di rumahnya tersebut memukul tangan si pelayan hingga jatuhlah piring yang berada di tangannya. Akibatnya piring tersebut pecah dan makanan yang ada di atasnya berceceran.

Mulailah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengumpulkan pecahan piring tersebut berikut makanan yang berceceran. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ibu kalian sedang cemburu.”

Kemudian beliau menahan pelayan tersebut agar tidak kembali hingga didatangkan kepadanya piring milik istri yang rumahnya sedang didiami Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Piring yang masih bagus (utuh tidak pecah) tersebut diserahkan lewat si pelayan untuk istri yang piringnya dipecahkan sebagai ganti rugi. Piring yang pecah ditahan di rumah istri yang memecahkan.” (HR. al-Bukhari no. 5225) .

Lihatlah lagi sifat hilm Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada istri-istri beliau. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam diboikot seharian, tidak disebut namanya, salah seorang istrinya dengan sengaja memecahkan piring milik istri yang lain di hadapannya lantaran cemburu, lalu beliau sendiri yang mengumpulkan pecahan piring dan makanan yang berceceran, luar biasa!

Beliau hadapi semua itu dengan menahan diri, bersabar dan memaafkan, sementara beliau sangat bisa memarahi istri-istri beliau bahkan menceraikan mereka hingga Allah subhanahu wa ta’ala menggantikan untuk beliau dengan istri-istri yang lebih baik, seperti yang Allah subhanahu wa ta’ala janjikan dalam ayat,

عَسَىٰ رَبُّهُۥٓ إِن طَلَّقَكُنَّ أَن يُبۡدِلَهُۥٓ أَزۡوَٰجًا خَيۡرٗا مِّنكُنَّ مُسۡلِمَٰتٖ مُّؤۡمِنَٰتٖ قَٰنِتَٰتٖ تَٰٓئِبَٰتٍ عَٰبِدَٰتٖ سَٰٓئِحَٰتٖ ثَيِّبَٰتٖ وَأَبۡكَارٗا ٥

“Jika Nabi menceraikan kalian, Allah akan memberi ganti kepada beliau dengan istri-istri yang lebih baik daripada kalian; yang patuh tunduk berserah diri (kepada Allah), yang beriman, yang taat, yang bertobat, yang ahli ibadah, yang gemar berpuasa, yang janda ataupun yang perawan.”[4] (at-Tahrim: 5)

Namun, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang yang sangat pengasih dan penyayang, suka memaafkan dan melupakan kesalahan yang diperbuat kepadanya. Tidak ada perbuatan tidak pantas yang ditujukan kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam kecuali menambah pada diri beliau sifat al-hilm.

Kesetiaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Kepada Cintanya

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah suami yang setia dengan cintanya kepada istri-istrinya, tidak melupakan kebaikan mereka, terutama kepada Khadijah radhiallahu ‘anha, sampai-sampai membuat Aisyah radhiallahu ‘anha cemburu. Padahal Khadijah radhiallahu ‘anha telah wafat dan keduanya pun sebelumnya tidak pernah bersua. Aisyah radhiallahu ‘anha berkata,

مَا غِرْتُ عَلَى امْرَأَةٍ لِرَسُوْلِ اللهِ كَمَا غِرْتُ عَلَى خَدِيْجَةَ، لِكَثْرَةِ ذِكْرِ رَسُوْلِ اللهِ إِيَّاهَا وَثَنَائِهِ عَلَيْهِ.

“Tidak pernah aku cemburu kepada seorang pun dari istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana terhadap Khadijah, karena beliau sering sekali menyebut dan memujinya.” (HR. al-Bukhari no. 5229 dan Muslim no. 6228, 6230)

Dengarkan ungkapan kecemburuan Aisyah radhiallahu ‘anha kepada Khadijah radhiallahu ‘anha,

كَأَنَّهَ لَمْ يَكُنْ فِي الدُّنْيَا امْرَأَةٌ إِلاَّ خَدِيْجَةُ؟ فَيَقُوْلُ: إِنَّهَا كَانَتْ وَكَانَتْ وَكَانَ لِي مِنْهَا وَلَدٌ.

“Seakan-akan di dunia ini tidak ada wanita kecuali Khadijah?”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Khadijah itu begini dan begitu[5], dan aku mendapat anak darinya.” (HR. al-Bukhari no. 3818)

Sampai pun Khadijah radhiallahu ‘anha telah wafat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap terkenang kepadanya, kepada cinta dan pengorbanannya yang besar. Untuk menyambung ‘rasa’ tersebut, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berbuat baik kepada sahabat-sahabat sang istri. Seperti kabar dari Aisyah radhiallahu ‘anha,

وَرُبَّمَا ذَبَحَ الشَّاةَ ثُمَّ يُقَطِّعُهَا أَعْضَاءً ثُمَّ يَبْعَثُهَا فِي صَدَائِقِ خَدِيْجَةَ

“Terkadang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyembelih kambing kemudian memotongnya menjadi beberapa bagian, lalu mengirimnya kepada teman-teman Khadijah.” (HR. al-Bukhari no. 3818)

Dalam riwayat Muslim, disebutkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menitahkan,

أَرْسِلُوْا بِهَا إِلَى أَصْدِقَاءِ خَدِيْجَةَ. قَالَتْ: فَأَغْضَبْتُهُ يَوْمًا فَقُلْتُ: خَدِيْجَة؟ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ :إِنِّي قَدْ رُزِقْتُ حُبَّهَا

“Kirimkanlah daging-daging ini kepada para sahabat Khadijah.”

Kata Aisyah, “Suatu hari aku marah kepada Rasulullah, aku berkata, “(Lagi-lagi) Khadijah?”

Rasulullah menjawab, “Sungguh, aku dianugerahi cintanya.” (HR. Muslim no. 6228)

Kenangan terhadap Khadijah radhiallahu ‘anha pun sempat tergugah manakala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar suara Halah radhiallahu ‘anha saudari Khadijah. Lagi-lagi Aisyah radhiallahu ‘anha sebagai penyampai ilmunya[6], “Halah bintu Khuwailid, saudari Khadijah, minta izin masuk ke kediaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam teringat dengan suara Khadijah saat minta izin (dahulu).

Beliau pun bergembira dengan kedatangan Halah. ‘Ya Allah, Halah bintu Khuwailid,’ seru beliau.” (HR. Muslim no. 6232)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam senang dengan kunjungan Halah ke tempat beliau karena membuka kembali kenangan bersama Khadijah dan hari-hari indah yang dahulu dilalui bersamanya. Hal ini merupakan bukti penjagaan cinta (kesetiaan). Demikian keterangan an-Nawawi rahimahullah. (al-Minhaj, 15/198)

Contoh bukti kesetiaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berikutnya. Ketika Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan ayat takhyir,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِيُّ قُل لِّأَزۡوَٰجِكَ إِن كُنتُنَّ تُرِدۡنَ ٱلۡحَيَوٰةَ ٱلدُّنۡيَا وَزِينَتَهَا فَتَعَالَيۡنَ أُمَتِّعۡكُنَّ وَأُسَرِّحۡكُنَّ سَرَاحٗا جَمِيلٗا ٢٨ وَإِن كُنتُنَّ تُرِدۡنَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَٱلدَّارَ ٱلۡأٓخِرَةَ فَإِنَّ ٱللَّهَ أَعَدَّ لِلۡمُحۡسِنَٰتِ مِنكُنَّ أَجۡرًا عَظِيمٗا ٢٩

Wahai Nabi, Katakanlah kepada istri-istrimu, “Jika kalian menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya, marilah aku berikan mut’ah[7] untuk kalian dan aku ceraikan kalian dengan cara baik-baik. Dan jika kalian menghendaki keridhaan Allah dan Rasul-Nya serta kesenangan di negeri akhirat, sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat baik di antara kalian pahala yang besar.” (al-Ahzab: 28—29)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi Aisyah radhiallahu ‘anha untuk menawarkan pilihan yang disebutkan dalam ayat di atas. Aisyah radhiallahu ‘anha-lah istri beliau yang paling awal beliau berikan pilihan. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Aisyah radhiallahu ‘anha,

إِنِّي ذَاكِرٌ لَكِ أَمْرًا فَلاَ عَلَيْكِ أَنْ لاَ تَسْتَعْجِلِي حَتَّى تَسْتَأْمِرِي أَبَوَيكِ

“Aku akan menyebutkan kepadamu satu urusan. Namun, janganlah engkau terburu-buru memutuskan sampaikan engkau mengajak musyawarah kedua orang tuamu.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyarankan Aisyah radhiallahu ‘anha untuk bermusyawarah dengan kedua orang tuanya, Abu Bakr ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu dan Ummu Ruman radhiallahu ‘anha, karena beliau meyakini bahwa kedua orang tua Aisyah radhiallahu ‘anha tidak mungkin menyuruh putrinya untuk memilih berpisah (bercerai) dari beliau. (HR. al-Bukhari, kitab ath-Thalaq, bab ke-6)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan sabdanya kepada sang istri,

إِنَّ اللهَ قَالَ: يآ أَيُّهَا النَّبِيُّ قلْ لِأَزْوَاجِكَإِلَى تَمَامِ الْآيَتَيْنِ. فَقُلْتُ لَهُ: فَفِي أَي هذا أَسْتَأْمر أَبَوَيَّ؟ فَإِنِّي أُرِيْدُ اللهَ وَ رَسُوْلَهُ وَ الدَّارَ الآخِرَةَ

Sungguh Allah telah menurunkan firman-Nya, “Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu….” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan dua ayat sampai sempurna.

Aku (Aisyah) katakan kepada beliau, “Apakah dalam urusan seperti ini aku perlu mengajak musyawarah kedua orang tuaku? Sungguh, aku menginginkan (memilih) Allah, Rasul-Nya, dan negeri akhirat.” (HR. al-Bukhari no. 4785) (Tafsir al-Qur’an al-Azhim, 6/243, karya al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah dan ash-Shahihul Musnad min Asbab an-Nuzul, hlm. 164, karya asy-Syaikh Muqbil al-Wadi’i rahimahullah)

Ternyata Aisyah radhiallahu ‘anha bukanlah wanita yang mengejar kesenangan yang fana. Lihatlah pilihannya, “Allah, Rasul-Nya, dan negeri akhirat.”

Setelah beroleh keputusan Aisyah radhiallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan pilihan kepada istri-istri beliau yang lain. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan kepada mereka,

إِنَّ عَائِشَةَ قَالَتْ: كَذَا وَكَذَا. فَقُلْنَ: وَنَحْنُ نَقُوْلُ مِثْلَ مَا قَالَتْ عَائِشَةُ كُلُهُنَّ

“Sungguh, Aisyah mengatakan ini dan itu….”

Para istri yang lain semuanya mengatakan kepada beliau, “Kami mengucapkan sebagaimana ucapan Aisyah.”

Padahal sebelumnya Aisyah radhiallahu ‘anha berpesan kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,

يَا رَسُوْلَ اللهِ، لاَ تُخْبِرْ أَزْوَاجَكَ أَنِّي اخْتَرْتُكَ

“Wahai Rasulullah, jangan beri tahu kepada istri-istrimu bahwa aku memilihmu.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

إِنَّمَا بَعَثَنِيَ اللهُ مُبَلِّغًا وَلَمْ يَبْعَثْنِي مُتَعَنِّتًا

“Aku diutus Allah subhanahu wa ta’ala hanyalah sebagai muballigh (penyampai) dan tidaklah aku diutus sebagai orang yang menyengsarakan.” (HR. al-Bukhari no. 5191 dan Muslim)

Semua istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa kecuali memilih Allah, Rasul-Nya, dan negeri akhirat. Hal ini menunjukkan bahwa didikan akhlak nubuwwah telah tertanam dalam sanubari mereka.

Mereka memilih sebagaimana pilihan sang Rasul untuk hidup zuhud dalam kehidupan dunia dan hanya berambisi meraih kebahagiaan di negeri yang kekal abadi. (Taisir al-Karim ar-Rahman, karya al-Imam as-Sa’di rahimahullah, hlm. 663)

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah


[1] Istri-istri mereka tidak berani melawan atau membantah suami.

[2] Hilm, kurang lebihnya kita maknakan sangat penyabar, tidak bertindak dengan emosi dan serampangan, namun tetap tenang dalam bersikap dan dalam mengambil keputusan atau tindakan. Dalam at-Ta’rifat, karya al-Jurjani al-Hanafi, disebutkan makna al-hilm adalah tetap tenang saat bergejolaknya kemarahan. Disebut pula bahwa al-hilm adalah menunda memberi balasan orang yang berbuat zalim. (hlm. 96)

[3] Kata Ibnul Munayyir, “Yang dimaukan Aisyah radhiallahu ‘anha adalah dia meninggalkan penyebutan nama beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam secara lafadz (tidak mau menyebut nama beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam karena sedang marah, namun kalbu Aisyah radhiallahu ‘anha tetap saja dipenuhi cinta kepada beliau radhiallahu ‘anha) dan tidak mengosongkan kalbunya dari rasa cinta dan kasih kepada diri beliau yang mulia.” (Fathul Bari, 9/405)

[4] Tatkala istri-istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar ancaman dan peringatan dalam ayat ini, mereka bersegera membuat ridha Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga sifat-sifat yang disebutkan dalam ayat cocok diterapkan pada diri mereka. Jadilah mereka wanita-wanita mukmin yang paling utama. Ini merupakan dalil bahwa Allah subhanahu wa ta’ala tidaklah memilihkan untuk Rasul-Nya kecuali keadaan yang paling sempurna dan perkara yang paling tinggi. Ketika Allah subhanahu wa ta’ala memilih untuk Rasul-Nya agar tetap menahan istri-istri beliau yang disebutkan dalam ayat (tidak menceraikan mereka), hal ini menunjukkan mereka adalah sebaik-baik wanita dan paling sempurna. (Taisir al-Karim ar-Rahman, hlm. 874)

[5] Yakni Khadijah radhiallahu ‘anha itu wanita yang memiliki keutamaan, wanita yang cerdas dan semisalnya. Dalam riwayat al-Imam Ahmad dari hadits Masruq dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,”Dia beriman kepadaku ketika semua manusia mengkufuriku. Dia membenarkan aku ketika semua manusia mendustakanku. Dia mendukungku dengan hartanya ketika manusia menahannya dariku, dan Allah subhanahu wa ta’ala memberi rezeki kepadaku berupa anak darinya ketika aku tidak mendapatkan anak dari istri-istriku yang lain.” (Fathul Bari, 7/170)

[6] Aisyah radhiallahu ‘anha adalah wanita cerdas yang faqih yang terlahir dari madrasah nubuwah. Beliau banyak mendengarkan hadits dan meriwayatkannya dari suaminya yang mulia, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hidup berdampingan sebagai istri sang Rasul benar-benar digunakan Aisyah radhiallahu ‘anha dengan sebaik-baiknya untuk menimba ilmu dari beliau. Aisyah radhiallahu ‘anha terdepan dalam hal keilmuan dibanding para istri beliau yang lain, semoga Allah subhanahu wa ta’ala meridhai mereka semuanya. Lebih dari itu, Aisyah radhiallahu ‘anha bahkan termasuk dari kalangan sahabat Rasul yang banyak menyampaikan hadits beliau.

Tentu untuk urusan dalam rumah sang Rasul, urusan beliau dengan istri-istrinya, kita dapati kabarnya dari orang dalam rumah beliau, yakni para istri beliau. Aisyah yang paling banyak menyampaikan ilmunya kepada kita. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala meridhai al-Humaira radhiallahu ‘anha.

[7] Mut’ah adalah pemberian sesuatu atau materi untuk menyenangkan istri yang dicerai.

Kemuliaan Bulan-Bulan Haram

KHUTBAH PERTAMA:

 

إِنَّ الْحَمْدَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ ١٠٢

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُواْ رَبَّكُمُ ٱلَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفۡسٖ وَٰحِدَةٖ وَخَلَقَ مِنۡهَا زَوۡجَهَا وَبَثَّ مِنۡهُمَا رِجَالٗا كَثِيرٗا وَنِسَآءٗۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ ٱلَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِۦ وَٱلۡأَرۡحَامَۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَيۡكُمۡ رَقِيبٗا ١

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَقُولُواْ قَوۡلٗا سَدِيدٗا ٧٠ يُصۡلِحۡ لَكُمۡ أَعۡمَٰلَكُمۡ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡۗ وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدۡ فَازَ فَوۡزًا عَظِيمًا ٧١

أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كَلَامُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ وَشَرَّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ. أَمَّا بَعْدُ؛

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah subhanahu wa ta’ala yang telah mencurahkan segala bentuk karunia dan kenikmatan, baik secara lahir maupun batin.

وَإِن تَعُدُّواْ نِعۡمَةَ ٱللَّهِ لَا تُحۡصُوهَآۗ

“Seandainya kalian ingin menghitung-hitung nikmat Allah, maka kalian tidak akan mampu menghitungnya.” (an-Nahl: 18)

وَأَسۡبَغَ عَلَيۡكُمۡ نِعَمَهُۥ ظَٰهِرَةٗ وَبَاطِنَةٗۗ

“Dan Dia (Allah) yang telah mencurahkan untuk kalian kenikmatan-kenikmatan-Nya secara lahir dan batin.” (Luqman: 20)

وَمَا بِكُم مِّن نِّعۡمَةٖ فَمِنَ ٱللَّهِۖ

“Dan segala apa pun yang ada bersama kalian berupa kenikmatan, maka sesungguhnya itu datangnya dari Allah.” (an-Nahl: 53)

Oleh karena itu, marilah kita bersyukur atas nikmat Islam, iman, hidayah, keamanan, kesehatan, dan semua nikmat yang Allah subhanahu wa ta’ala curahkan untuk kita.

لَئِن شَكَرۡتُمۡ لَأَزِيدَنَّكُمۡۖ وَلَئِن كَفَرۡتُمۡ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٞ ٧

“Jika kalian mensyukurinya, niscaya akan Kutambahkan (kenikmatan-Ku) kepada kalian. Namun, jika kalian mengkufuri nikmat-Ku, maka sesungguhnya azab-Ku amatlah pedih.” (Ibrahim: 7)

 

Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah,

Di antara kenikmatan yang Allah subhanahu wa ta’ala karuniakan kepada kita adalah waktu dan tempat. Allah subhanahu wa ta’ala telah menjadikan sebagian tempat di muka bumi ini lebih utama dan mulia daripada keumuman tempat lain; seperti tanah haram Makkah, Madinah, dan masjid-masjid.

Tempat tersebut dijadikan tempat beribadah bagi para hamba Allah subhanahu wa ta’ala yang lebih afdal dan banyak pahalanya dibandingkan dengan tempat lain.

Demikian pula keutamaan waktu-waktu tertentu. Ada waktu yang lebih utama, mulia, dan berkah, dibandingkan dengan waktu lain, seperti bulan Ramadhan, sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, dan hari Jumat.

Seorang hamba yang beribadah dengan ibadah yang disyariatkan pada waktu tersebut lebih afdal, lebih banyak pahalanya di sisi Allah subhanahu wa ta’ala, dan merupakan bagian dari ketakwaan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَمَن يُعَظِّمۡ حُرُمَٰتِ ٱللَّهِ فَهُوَ خَيۡرٞ لَّهُۥ عِندَ رَبِّهِۦۗ

“Dan barang siapa mengagungkan kehormatan-kehormatan Allah, maka baginya kebaikan di sisi Rabbnya.” (al-Hajj: 30)

 وَمَن يُعَظِّمۡ شَعَٰٓئِرَ ٱللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقۡوَى ٱلۡقُلُوبِ ٣٢

“Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, sesungguhnya yang demikian itu bagian dari ketakwaan hati.” (al-Hajj: 32)

Bentuk pengagungan syiar Allah subhanahu wa ta’ala adalah dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

 

Para hadirin rahimakumullah,

Di antara syiar dan kehormatan Allah subhanahu wa ta’ala yang diperintahkan kepada kaum muslimin adalah agar menjaga dan mengagungkan bulan-bulan haram (suci), karena bulan haram (suci) termasuk bulan yang diberkahi oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثۡنَا عَشَرَ شَهۡرٗا فِي كِتَٰبِ ٱللَّهِ يَوۡمَ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ مِنۡهَآ أَرۡبَعَةٌ حُرُمٞۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلۡقَيِّمُۚ فَلَا تَظۡلِمُواْ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمۡۚ

“Sesungguhnya jumlah bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan. Sebagaimana dalam ketetapan Allah saat menciptakan langit-langit dan bumi, di antara (dua belas bulan tersebut) ada empat bulan haram (suci). Itulah ketetapan agama yang lurus ini. Maka janganlah kalian menzalimi diri kalian dalam bulan yang empat tersebut.” (at-Taubah: 36)

Empat bulan suci yang dimaksud adalah:

  1. Dzulqa’dah
  2. Dzulhijjah
  3. Muharram
  4. Rajab

Abdullah ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata, “Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan keempat bulan tersebut suci dan lebih terhormat. Dosa pada bulan tersebut lebih buruk. Sebaliknya, amal saleh pada bulan tersebut lebih mulia.”

 

Kaum muslimin yang semoga kita semua dirahmati oleh Allah subhanahu wa ta’ala,

Perhatikanlah firman Allah pada ayat di atas,

فَلَا تَظۡلِمُواْ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمۡۚ

“Janganlah kalian menzalimi diri-diri kalian pada bulan suci tersebut.”

Meskipun perbuatan zalim pada waktu kapan pun hukumnya haram, sebagaimana sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam,

وَاتَّقُو الظُّلْمَ فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Berhati-hatilah dengan kezaliman, karena kezaliman merupakan kegelapan di hari kiamat kelak.” (HR. Muslim, dari Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu)

Akan tetapi, kezaliman yang dilakukan pada bulan suci lebih buruk dan lebih besar dosanya. Al-Imam Qatadah rahimahullah berkata, “Sesungguhnya kezaliman pada bulan suci tersebut dosanya lebih berat dibandingkan dengan bulan lain. Meski kezaliman pada setiap situasi dan kondisi tetaplah berbahaya, tetapi Allah subhanahu wa ta’ala mengagungkan urusan-Nya sebagaimana yang Dia subhanahu wa ta’ala kehendaki.”

Oleh karena itu, Allah subhanahu wa ta’ala melarang kaum muslimin untuk berperang ketika

يَسۡ‍َٔلُونَكَ عَنِ ٱلشَّهۡرِ ٱلۡحَرَامِ قِتَالٖ فِيهِۖ قُلۡ قِتَالٞ فِيهِ كَبِيرٞۚ

“Mereka bertanya kepada-Mu tentang berperang pada bulan haram. Katakanlah, ‘Berperang dalam bulan haram adalah dosa besar’.” (al-Baqarah: 217)

 

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Mari kita bersama-sama menjaga kehormatan bulan-bulan haram ini. Di antara penjagaan bulan haram ini adalah dengan berusaha menjauhi segala bentuk kezaliman; baik kezaliman terhadap hak Allah subhanahu wa ta’ala, sesama makhluk, maupun diri sendiri. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman pada hadits Qudsi,

إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِي وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُم مُحَرَّمًا فَلَا تَظَالَمُوا

“Sesungguhnya Aku telah mengharamkan kezaliman atas diri-Ku. Aku telah menjadikan kezaliman di antara kalian sebagai perkara yang diharamkan. Janganlah kalian saling menzalimi.” (HR. Muslim, dari Abi Dzar al-Ghifari radhiallahu ‘anhu)

 

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، أَقُولُ مَا تَسْمَعُونَ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوهُ وَتُوبُوا إِلَيْهِ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمِ

 


 KHUTBAH KEDUA

 

الْحَمْدُ عَلَى فَضْلِهِ وَإِحْسَانِهِ، وَأَشْكُرُهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا، أَمَّا بَعْدُ:

 

Hadirin rahimakumullah,

Di sela-sela bulan-bulan haram ada hari-hari beramal saleh yang sangat besar pahalanya dan sangat dianjurkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam; di antaranya sebagai berikut.

Pertama, bulan Dzulhijjah, bulan saat ditunaikan manasik haji.

Kedua, sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah yang disebut “Ayyamul Ma’lumat” dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala,

وَيَذۡكُرُواْ ٱسۡمَ ٱللَّهِ فِيٓ أَيَّامٖ مَّعۡلُومَٰتٍ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُم مِّنۢ بَهِيمَةِ ٱلۡأَنۡعَٰمِۖ

“… Supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak.” (al-Hajj: 28)

Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata, “Hari-hariyang ditentukan itu adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا الْعَمَلُ فِي أَيَّامٍ أَفْضَلُ مِنْهَا فِي هَذِهِ (أَيَّامِ الْعَشْرِ)

“Tidak ada amalan yang lebih utama daripada beramal pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah ini.”

Sampai-sampai para sahabat bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Meskipun berjihad di jalan Allah subhanahu wa ta’ala, tidakkah lebih utama darinya?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Berjihad di jalan Allah subhanahu wa ta’ala tidak lebih utama darinya. Kecuali jika seseorang keluar berjihad dengan mengorbankan jiwa raga dan hartanya kemudian tidak kembali sedikit pun.” ( HR. al-Bukhari, dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma)

Ketiga, memperbanyak amal saleh, tahlil, takbir, dan tahmid pada hari-hari tersebut sebagaimana yang diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma yang diriwayatkan oleh al-Imam Ahmad.

Keempat, pada 9 Dzulhijjah yang dikenal dengan hari Arafah, kaum muslimin disyariatkan untuk berpuasa sunnah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang keutamaan puasa hari Arafah, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ

“Puasa Arafah akan menghapus dosa setahun yang berlalu dan setahun yang akan datang.” (HR. Muslim, dari Abu Qatadah radhiallahu ‘anhu)

Kelima, pada tanggal 10 Dzulhijjah, hari raya Idul Adha. Kaum muslimin disyariatkan melaksanakan shalat ‘Id dan berkurban. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

 فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَٱنۡحَرۡ ٢

“Maka shalatlah untuk Rabbmu dan berkurbanlah.” (al-Kautsar: 3)

Keenam, kemudian tiga hari setelahnya secara berturut-turut (11, 12, dan 13 Dzulhijjah) yang dikenal dengan hari tasyriq, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala tentang hari tasyriq,

وَٱذۡكُرُواْ ٱللَّهَ فِيٓ أَيَّامٖ مَّعۡدُودَٰتٖۚ

“Dan berzikirlah pada hari-hari (ma’dudat) yang telah ditentukan.” (al-Baqarah: 203)

Maksudnya adalah hari tasyriq sebagaimana yang ditafsirkan oleh Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ وَذِكْرِ اللهِ

“Hari-hari tasyriq adalah hari makan, minum, dan berzikir.” (HR. Muslim, dari Nubaisyah al-Hudzali radhiallahu ‘anhu)

Ketujuh, hari Arafah, hari kurban, dan hari tasyriq merupakan hari-hari ‘Id kaum muslimin.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَوْمُ عَرَفَةَ وَيَوْمُ النَّحْرِ وَأَيَّامُ التَّشْرِيقِ عِيْدُنَا أَهْلِ الْإِسْلَامِ وَهِيَ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ

“Hari arafah, hari kurban, dan hari tasyriq adalah hari raya kaum Islam, yaitu hari makan dan minum.” (HR. Ahmad, dari ‘Uqbah bin Amir radhiallahu ‘anhu)

 

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Demikian pula pada bulan Muharam, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللهِ الْمَحَرَّمِ

“Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa bulan Allah subhanahu wa ta’ala, Muharam.” (HR. Muslim, dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Kedelapan, pada tanggal 10 Muharam terdapat hari Asyura. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang keutamaan berpuasa pada hari itu. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ

“Menghapus dosa tahun lalu.” (HR. Muslim, dari Abu Qatadah radhiallahu ‘anhu)

Demikian pula pada tanggal 9 Muharam, kaum muslimin disunnahkan berpuasa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَإِنْ بَقَيْتُ إِلَى قَابِلٍ لَأَصُومَنَّ التَّاسِعَ

“Jika aku masih hidup tahun depan, sungguh aku akan berpuasa pada tanggal 9 (Muharam).” (HR. Muslim, dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma)

Sekian banyak amal saleh yang Allah subhanahu wa ta’ala lipatgandakan pahalanya pada bulan-bulan haram bagi segenap kaum muslimin.

وَفَّقَنَا اللهُ وَإِيَّاكُمْ لِمَا يُحِبُّ وَيَرْضَى وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ صَالِحَ الْأَعْمَالِ

 اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ وَتَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ وَتُبْ عَلَيْنَا وَاغْفِرْ لَنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

 رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ وَالْحَمْدُ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Ishaq Abdullah Nahar

Ziarah Makam Wali

Ustadz, bagaimana hukumnya berziarah ke makam para wali?

085273xxxxxx

 

Dijawab oleh al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad as-Sarbini

Alhamdulillah, ziarah kubur memang ada yang bersifat syar’i, ada yang bersifat bid’ah, dan ada yang bersifat syirik. Namun pada umumnya, ziarah kubur banyak mengandung bid’ah, bahkan kesyirikan, terkhusus ziarah kubur tertentu yang diklaim sebagai wali-wali Allah subhanahu wa ta’ala.

Maka dari itu, seorang muslim wajib mengetahui syariat Islam dalam masalah ziarah kubur agar beramal dengan benar dan terjaga dari kebid’ahan serta kesyirikan.

Menilik sejarah Islam, di awal mula datangnya Islam, ziarah kubur dilarang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai keislaman dan keimanan kaum mukiminin benar-benar kokoh lantas kemudian disyariatkan.

Buraidah bin al-Hushaib radhiallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا

“Aku pernah melarang kalian dari ziarah kubur, maka ziarahlah (sekarang).” (HR. Muslim)

Pada riwayat at-Nasa’i dengan lafadz,

نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَمَنْ أَرَادَ أَنْ يَزُورَ فَلْيَزُرْ وَلَا تَقُولُوا هُجْرًا

“Aku pernah melarang kalian dari ziarah kubur. (Sekarang) barang siapa ingin ziarah kubur, hendaknya melakukannya dan jangan mengucapkan ucapan yang batil.” (Dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam Ahkam al-Jana’iz hlm. 227)

An-Nawawi rahimahullah mengatakan dalam kitab al-Majmu’ (5/285), “Mulanya kaum mukminin dilarang ziarah kubur karena masa keislaman mereka masih dekat dengan masa jahiliah, sehingga terkadang mereka mengucapkan ucapan jahiliah yang batil.

Ketika telah kokoh kaidah-kaidah Islam dan telah terbentang hukum-hukumnya serta telah masyhur lambang-lambangnya, saat itulah diizinkan dilakukan ziarah kubur. Namun, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berhati-hati dengan bersabda, ‘Dan jangan mengucapkan ucapan yang batil’.”

Keterangan an-Nawawi rahimahullah ini dinukil dan dibenarkan oleh al-Albani dalam Ahkam al-Jana’iz (hlm. 227).

Al-‘Utsaimin rahimahullah menerangkan dalam asy-Syarh al-Mumti’ (5/379), “Pada awalnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang ziarah kubur, karena kaum muslimin baru saja lepas dari kekufuran dan kesyirikan, sehingga beliau khawatir ziarah kubur akan menjadi wasilah (sarana) terjadinya kesyirikan. Oleh karena itu, tatkala keimanan telah mengakar dalam kalbu-kalbu kaum muslimin, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkan ziarah kubur.”

Menurut pendapat yang rajih (kuat), ziarah kubur disunnahkan bagi kaum lelaki dan wanita, tetapi bagi kaum wanita tidak boleh sering melakukannya.

 

Ziarah Kubur yang Bersifat Syar’i

Ziarah kubur yang syar’i ialah ziarah kubur yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sunnahnya yang suci nan mulia.

Sifat-sifatnya adalah:

  1. Tujuan ziarah kubur.

Ziarah kubur disyariatkan dengan dua tujuan, yaitu:

  1. Untuk memberi manfaat dan kebaikan kepada jenazah muslim yang diziarahi dengan mengucapkan salam, mendoakannya, dan beristighfar (memohon ampunan Allah subhanahu wa ta’ala) untuknya. Telah datang hadits-hadits sahih yang mengajarkan hal ini. Di antaranya hadits Buraidah radhiallahu ‘anhu,

كَانَ رَسُولُ اللهِ يُعَلِّمُهُمْ إِذَا خَرَجُوا إِلَى الْمَقَابِرِ: السَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ لَلَاحِقُونَ، أَسْأَلُ اللهَ لَنَا وَلَكُمْ الْعَافِيَةَ

“Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajari mereka apabila keluar ziarah ke perkuburan (agar membaca), ‘Semoga keselamatan tercurah atas kalian wahai para penghuni kuburan dari kalangan kaum mukminin dan muslimin, sesungguhnya kami akan menyusul kalian, insya Allah, aku memohon keselamatan buat kami dan kalian’.” (HR. Muslim)

Demikian pula hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anha,

كَانَ رَسُولُ اللهِ كُلَّمَا كَانَ لَيْلَتُهَا مِنْ رَسُولِ اللهِ يَخْرُجُ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ إِلَى الْبَقِيعِ، فَيَقُولُ: السَّلَامُ عَلَيْكُمْ دَارَ قَوْمٍ مُؤْمِنِينَ، وَأَتَاكُمْ مَا تُوعَدُونَ، غَدًا مُؤَجَّلُونَ، وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لَاحِقُونَ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِأَهْلِ بَقِيعِ الْغَرْقَدِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam setiap kali di malam giliran ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, biasa keluar di akhir malam ke perkuburan Baqi’, kemudian membaca, ‘Semoga keselamatan tercurah atas kalian, wahai para penghuni kuburan kaum mukminin. Telah datang kepada kalian apa yang dijanjikan buat kalian. Kalian ditunda sampai esok di akhirat (pemberian pahala kalian secara sempurna). Sesungguhnya kami akan menyusul kalian, insya Allah. Ya Allah, ampunilah para penghuni perkuburan Baqi’ al-Gharqad’.” (HR. Muslim)

  1. Untuk mengingat kematian dan orang-orang yang telah mati bahwasanya mereka akan masuk jannah (surga) atau masuk neraka, agar menyiapkan bekal sebanyak-banyaknya menyambut kematian dengan amal-amal saleh. Dalilnya adalah hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu,

زَارَ النَّبِيُّ قَبْرَ أُمِّهِ فَبَكَى وَأَبْكَى مَنْ حَوْلَهُ، فَقَالَ: اسْتَأْذَنْتُ رَبِّي فِي أَنْ أَسْتَغْفِرَ لَهَا فَلَمْ يُؤْذَنْ لِي، وَاسْتَأْذَنْتُهُ فِي أَنْ أَزُورَ قَبْرَهَا فَأُذِنَ لِي، فَزُورُوا الْقُبُورَ فَإِنَّهَا تُذَكِّرُ الْمَوْتَ

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menziarahi kuburan ibunya lantas beliau menangis dan membuat menangis orang-orang di sekelilingnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku minta izin kepada Rabbku untuk memohonkan ampunan buat ibuku, tetapi tidak diizinkan. Aku meminta izin pula untuk menziarahi kuburannya, dan aku diizinkan. Oleh karena itu, ziarahlah kalian ke kuburan, sebab kuburan-kuburan itu akan mengingatkan kematian.” (HR. Muslim)

 

  1. Klasifikasi ziarah kubur yang syar’i.

Ziarah kubur yang syar’i ada dua macam:

  • Ziarah perkuburan kaum mukminin secara umum

Hal ini seperti yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hadits Buraidah radhiallahu ‘anhu dan hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anha di atas, pada sifat yang pertama.

Caranya adalah mendatangi perkuburan lantas berdiri di depan perkuburan, kemudian mengucapkan salam kepada mereka dan berdoa untuk kebaikan mereka sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

  • Ziarah khusus ke kuburan tertentu,

seperti yang ditunjukkan hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu di atas, pada sifat yang pertama.

Hanya saja Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak diizinkan berdoa dan beristighfar untuk ibunya karena ia meninggal dalam keadaan kafir. Caranya adalah mendatangi kuburan yang dituju lantas berdiri atau duduk di sisi kuburan bagian kepalanya dengan menghadap ke kuburan, kemudian mengucapkan salam dan berdoa untuknya,

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ، وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ

“Ya Allah, ampuni dan rahmati dia, beri dia keselamatan dan maafkan dia.”

Peziarah mendoakan untuk yang dikubur doa apa saja yang diinginkan, kemudian meninggalkan kuburan itu.[1]

baqi 

  1. Waktu ziarah kubur.

Ziarah kubur disyariatkan dilakukan setiap saat tanpa ada pembatasan waktu tertentu. Sebab, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkannya secara mutlak tanpa pembatasan waktu tertentu.

Dengan demikian, tidak boleh mengkhususkan waktu tertentu untuk melakukan ziarah kubur. Penentuan waktu khusus dalam melakukan ziarah kubur tergolong bid’ah yang tercela.

Al-Imam Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan dalam kitab Majmu’ Fatawa war Rasa’il (17/288), “Ziarah kubur tidak terbatas hanya di waktu-waktu tertentu, tetapi disunnahkan dilakukan kapan saja dari hari-hari yang ada dalam sepekan, siang atau malam.”

Al-Imam Ibnu Baz rahimahullah mengatakan dalam kitab Majmu’ al-Fatawa (13/336), “Yang disyariatkan adalah ziarah kubur kapan saja ada kesempatan, baik siang hari atau malam hari. Adapun pengkhususan waktu tertentu untuk ziarah kubur, hal itu tergolong bid’ah yang tidak ada dasarnya.”

Di antara kebid’ahan yang terjadi dalam hal ini adalah pengkhususan ziarah kubur di hari Jum’at, sebagaimana ditegaskan oleh Ibnu Baz. Begitu pula, pengkhususan ziarah kubur di Hari Raya (hari ‘Id), sebagaimana ditegaskan oleh Ibnu Baz dan Ibnu ‘Utsaimin.[2]

Al-‘Utsaimin juga berkata dalam kitab Syarhu Riyadh ash-Shalihin, Bab “Istihbab Ziyarah al-Qubur”, “Intinya, semestinya seseorang melakukan ziarah kubur setiap saat, di malam dan siang hari, di pagi dan sore hari, di hari Jum’at dan hari lainnya, tidak ada waktu khusus.

Setiap kali kalbumu lalai dan jiwamu larut dengan kehidupan dunia, ziarahlah ke kuburan dan renungkanlah nasib mereka yang telah mati itu. Kemarin mereka seperti kalian, masih makan, minum, dan bersenang-senang di muka bumi. Sekarang, ke mana mereka pergi? Mereka tergadaikan dengan amalan-amalan mereka.

Tidak ada yang bermanfaat buat mereka selain amalan-amalan yang telah mereka persembahkan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلَاثَةٌ فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى مَعَهُ وَاحِدٌ، يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ، فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَيَبْقَى عَمَلُهُ

“Ada tiga yang mengiringi mayat (ke kuburan), dua di antaranya akan kembali dan hanya satu yang akan tinggal bersamanya. Yang mengiringinya adalah keluarga, harta, dan amalannya. Keluarga dan hartanya akan kembali, hanya amalannya yang akan tinggal bersamanya.”[3]

Maka dari itu, renungkan nasib orang-orang mati itu, kemudian ucapkan salam atas mereka, kemudian doakan mereka sebagaimana yang telah diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika kamu tidak mengetahui doa yang diajarkan tersebut, berdoa saja dengan apa yang mudah bagimu.”

 

  1. Jenis kuburan yang diziarahi.

Syariat ziarah kubur bersifat umum meliputi seluruh kuburan kaum muslimin. Tidak ada pengkhususan terhadap kuburan tertentu yang diistilahkan sebagai kuburan wali.

Al-Imam Ibnu Baz menerangkan dalam kitab Majmu’ al-Fatawa (7/422), “Wajib bagi kaum muslimin mengikat diri dengan syariat yang suci dan waspada dari bid’ah dalam hal ziarah kubur dan selainnya. Ziarah kubur disyariatkan terhadap seluruh kuburan kaum muslimin, baik yang dinamakan sebagai wali maupun tidak. Sebenarnya, setiap orang beriman, pria atau wanita, adalah wali Allah subhanahu wa ta’ala.”

Bahkan, boleh ziarah kuburan orang kafir dengan tujuan untuk mengambil pelajaran (‘ibrah), yaitu mengingat kematian. Hal ini berdasarkan hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ziarah kuburan ibunya yang kafir. Namun, tidak boleh mengucapkan salam dan mendoakannya.[4]

 

  1. Lokasi kuburan yang diziarahi.

Ziarah kubur disyariatkan terhadap kuburan yang berlokasi di daerah setempat tanpa memerlukan safar. Tidak boleh dilakukan safar secara khusus untuk ziarah kubur. Sebab, safar untuk ziarah kubur adalah bid’ah tercela yang tidak pernah diamalkan oleh kaum salaf.

Terdapat larangan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal ini, yaitu sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لاَ تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلاَّ إِلَى ثَلاَثَةِ مَسَاجِدَ: الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ، وَمَسْجِدِي هَذَا، وَالْمَسْجِدِ اْلأَقْصَى

“Tidaklah diikat (dipasang) pelana-pelana unta itu untuk safar (kunjungan ibadah) selain menuju tiga masjid: Masjidil Haram, masjidku ini (Masjid Nabawi), dan Masjidil Aqsha.” (Muttafaq ‘alaih dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dan Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhu)

Makna hadits ini adalah tidak diperbolehkan melakukan safar menuju masjid mana pun atau tempat mana pun yang diyakini memiliki keistimewaan (keutamaan) dengan tujuan melakukan ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala padanya, selain tiga masjid ini.[5]

Makna hadits ini umum meliputi tempat permakaman (kuburan) siapa pun, termasuk makam Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sekalipun.

Hanya saja, saat seseorang berkunjung ke Madinah dengan niat mengunjungi Masjid Nabawi karena keutamaannya, lantas dia manfaatkan pula untuk ziarah kuburan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dua sahabat terdekatnya (kuburan Abu Bakr radhiallahu ‘anhu dan ‘Umar radhiallahu ‘anhu), perkuburan Baqi’, perkuburan syuhada’ Uhud, dan Masjid Quba.

Artinya, tujuan inti yang diniatkan adalah ziarah (mengunjungi) Masjid Nabawi, sedangkan ziarah ke Masjid Quba dan kuburan-kuburan tersebut mengikut secara hukum lantaran sedang berada di tempat itu.

Ini pendapat terkuat dalam masalah ini yang telah dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, Ibnu Baz, Ibnu ‘Utsaimin, al-Albani, dan Muqbil al-Wadi’i.[6]

Dengan demikian, jika kuburan kerabat terdekat kita, seperti ayah dan ibu, berada di tempat lain yang membutuhkan safar, tidak boleh safar untuk menziarahinya. Cukup dengan mendoakannya dari jauh, dan sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala Mahadekat lagi Maha Mengabulkan doa. Demikian fatwa Ibnu ‘Utsaimin.[7]

jalan-tanah 

Ziarah Kubur yang Bersifat Bid’ah & Menjadi Wasilah/Sarana Kesyirikan

Ini adalah ziarah kubur dengan tujuan untuk beribadah di sisi kuburan, seperti membaca al-Qur’an, berdoa kepada Allah, shalat, menyembelih di sisi kuburan, atau semisalnya. Tidaklah hal itu dilakukan kecuali karena adanya keyakinan bahwa beribadah di tempat itu punya keutamaan.

Ini adalah wasilah/sarana yang akan menyeret kepada penyembahan terhadap penghuni kuburan itu, yang merupakan syirik besar.

 

Ziarah Kubur yang Bersifat Syirik Besar yang Membatalkan Keislaman

Yaitu ziarah kubur dengan tujuan untuk menyembahnya, seperti mengusap kuburan untuk mencari barakah dari penghuninya, dengan berdoa meminta sesuatu kepada penghuni kubur, memohon kelapangan rezeki, memohon pertolongan agar diselamatkan dari marabahaya yang mengancam, memohon kemenangan atas musuh, menyembelih untuk penghuni kubur, bernazar untuk penghuni kubur, mendekatkan diri kepada penghuni kubur, atau semisalnya.

Ini semisal dengan amalan kaum musyrik di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap Lata, ‘Uzza, dan Manat, serta berhala-berhala lainnya yang dipertuhankan selain Allah subhanahu wa ta’ala dan disembah untuk mendekatkan diri kepadanya selain Allah subhanahu wa ta’ala.[8]

Ibnu Baz rahimahullah berkata dalam Majmu’ al-Fatawa (13/291—292), “Haram atas seseorang mencari barakah dari orang mati atau kuburannya, berdoa kepadanya selain Allah subhanahu wa ta’ala, memohon kepadanya agar dipenuhi kebutuhannya, minta kepadanya kesembuhan bagi yang sakit, atau semacamnya.

Sebab, ibadah adalah murni hak Allah subhanahu wa ta’ala saja, sedangkan meminta barakah termasuk salah satu ibadah. Allah subhanahu wa ta’ala adalah satu-satunya Dzat yang memberi barakah, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala,

تَبَارَكَ ٱلَّذِي نَزَّلَ ٱلۡفُرۡقَانَ عَلَىٰ عَبۡدِهِۦ لِيَكُونَ لِلۡعَٰلَمِينَ نَذِيرًا ١

“Mahaagung lagi Mahabarakah Dia yang telah menurunkan atas hamba-Nya agar menjadi pemberi peringatan bagi alam semesta.” (al-Furqan: 1)

تَبَٰرَكَ ٱلَّذِي بِيَدِهِ ٱلۡمُلۡكُ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٌ ١

“Mahaagung lagi Mahabarakah Dia yang di Tangannya seluruh kekuasaan dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.” (al-Mulk: 1)

Maknanya, Allah subhanahu wa ta’ala mencapai puncak keagungan dan keberkahan. Adapun hamba Allah subhanahu wa ta’ala, dia berbarakah jika Allah subhanahu wa ta’ala menunjukinya, memberinya kesalehan, dan menjadikannya bermanfaat kepada hamba-hamba Allah subhanahu wa ta’ala lainnya. Hal ini sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala tentang hamba dan rasul-Nya, Nabi ‘Isa bin Maryam ‘alaihissalam,

قَالَ إِنِّي عَبۡدُ ٱللَّهِ ءَاتَىٰنِيَ ٱلۡكِتَٰبَ وَجَعَلَنِي نَبِيّٗا ٣٠ وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيۡنَ مَا كُنتُ وَأَوۡصَٰنِي بِٱلصَّلَوٰةِ وَٱلزَّكَوٰةِ مَا دُمۡتُ حَيّٗا ٣١

“Nabi ‘Isa berkata, ‘Sesungguhnya aku adalah hamba Allah yang diberi kitab oleh-Nya dan Dia menjadikanku sebagai nabi. Dia menjadikanku berbarakah di mana saja aku berada’.” (Maryam: 30—31)

Demikian Ibnu Baz menerangkan masalah ini. Hal ini semakin jelas dengan hadits Abu Waqid al-Laitsi radhiallahu ‘anhu,

خَرَجْنَا مَعَ رَسُوْلِ اللهِ إِلَى حُنَيْنٍ وَنَحْنُ حَدِيْثُوْ عَهْدٍ بِكُفْرٍ وَكَانُوْا أَسْلَمُوْا يَوْمَ الْفَتْحِ، فَمَرَرْنَا بِشَجَرَةٍ، فَقُلْنَا: يَا رَسُولَ اللهِ، اجْعَلْ لَنَا ذَاتَ أَنْوَاطٍ كَمَا لَهُمْ ذَاتُ أَنْوَاطٍ وَكَانَ لِلْكُفَّارِ سِدْرَةٌ يَعْكُفُوْنَ حَوْلَهَا وَيُعَلِّقُوْنِ بِهَا أَسْلِحَتَهُمْ يَدْعُوْنَهَا ذَاتَ أَنْوَاطٍ. فَلَمَّا قُلْنَا ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ قَالَ: اللهُ أَكْبَرُ) وَفِيْ رِوَايَةِ التِّرْمِذِيِّ: سُبْحَانَ اللهِ (وَقُلْتُمْ وَالذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ، كَمَا قَالَتْ بَنُو إِسْرَائِيْلَ لِمُوْسَى} : ٱجۡعَل لَّنَآ إِلَٰهٗا كَمَا لَهُمۡ ءَالِهَةٞۚ قَالَ إِنَّكُمۡ قَوۡمٞ تَجۡهَلُونَ {  لَتَرْكَبُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ.

Kami keluar bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ke Hunain sedangkan kami baru saja masuk Islam—mereka masuk Islam pada Fathu Makkah. Kemudian kami melewati sebuah pohon, lantas berkata, “Wahai Rasulullah, buatkan untuk kami Dzatu Anwath sebagaimana mereka punya Dzatu Anwath!”

Adalah orang kafir memiliki pohon bidara yang mereka berdiam di sekelilingnya dan menggantungkan senjata-senajata mereka padanya. Mereka menyebutnya Dzatu Anwath.

Tatkala kami mengatakan demikian kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Allah Mahabesar (pada riwayat at-Tirmidzi: Mahasuci Allah), kalian telah mengatakan—Demi Dzat yang jiwaku berada di Tangan-Nya—sebagaimana kata Bani Israil kepada Nabi Musa, ‘Buatkan untuk kami Tuhan sebagaimana mereka punya tuhan-tuhan. Musa menjawab, ‘Sesungguhnya kalian kaum yang jahil.’ (al-A’raf: 138)

Sungguh, kalian akan menempuh jalan umat-umat sebelum kalian.” (HR. at-Tirmidzi dan Ibnu Abi ‘Ashim dalam as-Sunnah—dan lafadz ini adalah riwayatnya—dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam Zhilal al-Jannah no. 76)

Al-‘Allamah Shalih al-Fauzan mengatakan dalam kitab I’anah al-Mustafid Syarh Kitab at-Tauhid (1/216), “Dengan demikian, barang siapa mencari barakah dari sebuah batu, pohon, atau kuburan, berarti dia telah menjadikannya sebagai tuhan yang disembah Allah subhanahu wa ta’ala, meskipun pelakunya beranggapan itu bukan tuhan.

Istilah yang dibuat tidak bisa mengubah hakikat sebenarnya. Jika suatu perbuatan syirik diberi istilah tawasul, cinta orang saleh, menunaikan hak orang saleh, kami katakan bahwa istilah-istilah itu tidak bisa mengubah hakikat yang sebenarnya.”

Wallahul muwaffiq ila sawa’is sabil. Wallahu a’lam.


[1]  Lihat kitab Majmu’ Fatawa wa Rasa’il Ibni ‘Utsaimin (17/288—289) dan Majmu’ Fatawa Ibni Baz (13/339).

[2]  Lihat kitab Majmu’Fatawa Ibni Baz (13/336, 337) dan Majmu’ Fatawa wa Rasa’il Ibni ‘Utsaimin (17/287).

[3]  Muttafaq ‘alaih dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu.

[4]  Lihat kitab Syarhu Muslim li an-Nawawi (7/Kitab al-Jana’iz, bab “Isti’dzan an-Nabiyyi shallallahu ‘alaihi wa sallam”), Iqtidha’ ash-Shirath al-Mustaqim (hlm. 454), Ahkam al-Jana’iz (hlm. 2237—239), dan Majmu’ Fatawa Ibni Baz (13/298 & 337).

[5] Lihat pada kitab FathulBari (Kitab al-Jum’ah pada bab “Fadhl ash-Shalah fi Masjid Makkah wal Madinah”) dan Fath Dzil Jalali wal Ikram (pada syarah hadits ini).

[6] Lihat kitab Iqtidha’ ash-Shirath al-Mustaqim (hlm. 455—457) dengan ta’liq al-‘Utsaimin, Ahkam al-Jana’iz (hlm. 285—293), Manasik al-Hajj wal ‘Umrah li al-Albani (hlm. 56), Majmu’ Fatawa Ibni Baz (13/327), Majmu’ Fatawa wa Rasa’il Ibni ‘Utsaimin (17/293—294), al-Manhaj li Murid al-‘Umrah wal Hajj li Ibni ‘Utsaimin (hlm. 31—34), dan Ijabatus Sa’il (hlm. 145).

[7]  Lihat kitab Majmu’ Fatawa wa Rasa’il Ibni ‘Utsaimin (17/290).

[8]  Lihat keterangan tentang ziarah bid’ah dan ziarah syirik tersebut dalam kitab Majmu’ Fatawa Ibnu Baz (13/287—288, 301) dan Majmu’ Fatawa wa Rasa’il Ibni ‘Utsaimin (17/291).

Umar Ibnul Khathtab (1): Hari-hari Berdarah di Qadasiyah

Pertempuran hari kedua sudah berhenti, korban bertambah banyak dari kedua pasukan.

Pada hari ketiga, kaum muslimin dan pasukan Persia kembali berhadapan. Jarak antara kedua pasukan ini tidak berubah, hampir satu mil. Di pihak kaum muslimin telah gugur hampir dua ribu orang, sementara di pihak lawan sudah terbunuh sepuluh ribu orang.

Kata Sa’d, “Siapa yang mau memandikan para syuhada silakan, dan siapa yang mau menguburkan mereka, segeralah kubur dengan sisa-sisa darah di tubuh mereka.”

Kemudian kaum muslimin menguburkan saudara-saudara mereka di belakang barisan muslimin.

 al-qadisiyah

Yaumu ‘Imas

Malam itu, Qa’qa’ bin ‘Amr berjaga sambil mengawasi pasukannya yang ditinggalkannya kemarin. Kemudian dia memerintah mereka, apabila matahari terbit, hendaklah maju seratus orang disusul seratus orang berikutnya. Kalau datang Hisyam dari Syam, itulah yang diharapkan. Kalau belum, mereka harus memperbarui harapan kaum muslimin. Pasukan menjalankan perintah, yang tanpa mereka sadari, ternyata itulah yang Allah subhanahu wa ta’ala tetapkan untuk mereka.

Setelah matahari muncul di hari ketiga itu, Qa’qa’ kembali mengawasi dari kejauhan. Matanya yang tajam melihat kepala-kepala kuda bergerak-gerak di kejauhan. Qa’qa’ bertakbir, diikuti oleh kaum muslimin, “Bala bantuan datang.”

Sementara itu, pasukan Persia sudah memperbaiki keadaan gajah-gajah mereka sehingga di hari ‘Imas itu kembali menimbulkan bencana bagi pasukan muslimin.

Pada hari ‘Imas, seorang prajurit musuh maju ke tengah-tengah lapangan di antara kedua pasukan tersebut. Dia menantang agar satu prajurit muslim maju untuk bertanding satu lawan satu dengannya.

Dari barisan muslimin, seorang laki-laki bernama Syibr bin ‘Alqamah maju menyambut tantangannya. Laki-laki ini berwajah buruk dan tubuhnya pendek. Dia berkata, “Wahai kaum muslimin, dia telah berbuat adil menantang satu lawan satu!”

Akan tetapi, tidak ada satu pun dari barisan muslimin yang maju menghadapi orang ajam itu.

“Demi Allah, seandainya kamu tidak merendahkanku, pasti aku maju menerima tantangannya.”

Ketika dia melihat tidak seorang pun yang menghalanginya, dia segera menghunus pedangnya dan melangkah maju.

Melihat laki-laki ini, orang Persia itu segera maju dan turun menghadapinya. Orang Persia itu mengangkat dan membanting prajurit muslim itu kemudian menindihnya dan mulai mencabut pedangnya untuk menyembelih si muslim. Tidak disadari oleh prajurit Persia itu bahwa kakinya terbelit tali kekang kudanya.

Ketika si Persia itu menghunus pedangnya untuk menyembelih Syibr, tiba-tiba kuda itu mengangkat kedua kakinya. Akibatnya, tali kekang itu menarik kaki prajurit Persia tersebut dan membuatnya terjatuh. Prajurit muslim itu berdiri di dada si Persia. Terdengar teriakan dari barisan muslimin, membuat Syibr semakin berani, “Bersoraklah sekehendak kamu, demi Allah, saya tidak akan membiarkannya sampai berhasil membunuhnya lalu merampas perlengkapannya.”

Akhirnya dia berhasil membunuh prajurit Persia itu dan membawa semua barang perlengkapan si Persia yang sudah tewas kepada Panglima Sa’d. Kemudian, Sa’d menyerahkan barang-barang itu kepadanya. Kemudian prajurit itu menjualnya seharga dua belas ribu dirham.

Ketika Sa’d melihat jalannya pertempuran, ternyata gajah-gajah itu kembali mencerai-beraikan barisan muslimin dan berbuat seperti kemarin. Dia bertanya, “Apa yang bisa membunuh gajah itu?”

Ada yang menjawab, “Mata dan belalai, kalau sudah hilang, gajah-gajah itu tidak ada gunanya.”

Kemudian dia memanggil Qa’qa’ dan ‘Ashim, “Selesaikan gajah putih itu oleh kamu berdua.”

Setelah itu, Sa’d memanggil Hammal dan Rubayyil dari Bani Asad, “Kamu berdua, selesaikan gajah yang abu-abu itu,” perintah Sa’d.

Qa’qa’ dan ‘Amr segera menyiapkan tombak mereka dan mendekat bersama beberapa prajurit berkuda dan jalan kaki, “Dekati gajah putih itu.”

Akhirnya, gajah putih itu berhasil mereka bunuh dan yang abu-abu berhasil dilukai. Kedua gajah itu menjerit seperti jeritan babi. Gajah putih itu mati, sedangkan yang abu-abu lari dan menceburkan diri ke dalam sungai ‘Atiq.

Melihat gajah putih itu mati, sedangkan yang abu-abu lari, gajah-gajah lain segera mengikuti gajah abu-abu itu. Gajah-gajah itu menerobos pasukan Persia hingga pasukan itu kocar-kacir. Mereka terus berlari membawa peti-peti tempat para sais yang sudah tewas semuanya, sampai tiba di Madain.

Setelah gajah-gajah itu pergi, tinggallah pasukan Persia berhadapan dengan kaum muslimin dengan apa yang ada pada mereka. Pedang-pedang dan tombak serta desingan panah berkecamuk lagi.

Pertempuran masih berlangsung seru sampai hari mulai gelap. Kedua pasukan tetap saling menyerang, tidak seperti kemarin. Malam itu, selesai shalat Isya, pasukan muslimin maju kembali menyerang pasukan Persia. Saking hebatnya suasana pertempuran, tidak ada yang bersuara kecuali seperti bergumam, sehingga malam itu dinamakan lailatul hariri.

Kaum muslimin bertempur hebat dengan pedang di tangan mereka dari permulaan malam sampai menjelang subuh. Mereka benar-benar menumpahkan kesabaran mereka menghadapi musuh, menang atau syahid. Malam itu juga dikenal sebagai lailatul qadisiyah. Tidak terjadi pertempuran di malam hari kecuali malam itu (lailatul hariri).

Malam itu kaum muslimin membagi pasukan mereka menjadi tiga barisan, yaitu barisan pasukan jalan kaki, tombak dan pedang, barisan pemanah dan barisan berkuda yang berada di depan pasukan jalan kaki. Semua pasukan menyerang, dan bertambah hebat serangan itu di waktu subuh. Malam itu tidak kurang dari sepuluh ribu dari pasukan musuh yang terbunuh, selain yang sudah tewas hari-hari sebelumnya.

Begitu sengitnya pertempuran, hingga berita tentang jalannya pertempuran terputus, tidak sampai kepada Sa’d dan Rustum.

Malam itu, Sa’d menghabiskan malamnya dengan gelisah, menunggu berita pasukannya, bagaimana keadaan mereka? Berapa yang terluka, atau syahid, ataukah berhasil mengalahkan musuh? Akhirnya, beliau habiskan malam itu dengan shalat dan doa, memohon pertolongan dan petunjuk dari Allah subhanahu wa ta’ala, sampai subuh.

 

Hari Keempat (Yaumul Qadisiyah)

Pagi hari keempat itu, pertempuran sengit bukan semakin berkurang, melainkan bertambah hebat. Kaum muslimin semakin tinggi semangat tempur mereka. Yang mereka cari hanya ridha Allah subhanahu wa ta’ala, menang atau syahid. Sayatan pedang, tusukan tombak dan panah, serta luka yang menganga di sekujur tubuh, seakan-akan menjadi obat kuat yang menambah tenaga mereka berlipat ganda.

Persenjataan dan bekal yang jauh di bawah pasukan Persia, keterampilan dan seni tempur yang tidak pernah mereka pelajari seperti halnya pasukan musyrik ini, tidak membuat mereka jeri terhadap ‘nama besar’ Persia yang pernah mengalahkan Romawi dan mencuri Salib besar milik Kerajaan Bizantium itu.

Menang atau mati sebagai syuhada dan meraih surga, itulah tekad mereka. Didorong niat mengharap ridha Allah subhanahu wa ta’ala dan membuktikan janji-Nya yang pasti benar, lewat lisan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang benar lagi dibenarkan, mereka semakin gigih menyerang.

Lebih dari dua ratus ribu kekuatan musyrik Persia seakan-akan tidak ada artinya di hadapan mereka. Teknik perang dan persenjataan yang lengkap lawan tidak menyurutkan keberanian mereka, tetapi justru menambah kekuatan mereka.

Apalagi yang mereka cari? Tidak ada lain, menang dan Islam tersebar atau mati sebagai syahid dan ditunggu bidadari surga.

Inilah yang tidak ada di hati budak-budak api itu. Inilah yang tidak pernah terbetik dalam benak para pecinta dunia. Mereka menganggap materi adalah segalanya, yang akan membuat mereka dan kekuasaan mereka abadi. Ternyata tidak.

Kekuatan tubuh mereka, perlengkapan dan jumlah pasukan yang jauh lebih banyak dari pasukan muslimin, ternyata tidak ada artinya. Sebab, yang mereka lawan bukanlah kekuatan manusia biasa. Yang mereka lawan adalah kekuatan iman yang ada di dalam dada kaum muslimin, yang lebih kokoh dari gunung yang tinggi menjulang. Allah subhanahu wa ta’ala yang menggerakkan tangan, kaki dan tubuh mereka mengayunkan pedang, mengejar dan menerjang musuh mereka.

Pedang-pedang Allah subhanahu wa ta’ala itu semakin kuat mendesak musuh mereka. Serangan mereka semakin sengit, lebih-lebih gempuran para komandan pasukan muslimin. Semua punya cita-cita dan tujuan yang sama, menang dan Islam tersebar, atau mati sebagai syuhada.

Qa’qa’ dan saudaranya, ‘Ashim, Khalid bin ‘Urfuthah yang mewakili panglima Sa’d, Dhirar bin al-Azwar, Jarir bin ‘Abdillah al-Bajali, dan Thulaihah al-Asadi—yang sempat murtad lalu kembali ke dalam Islam—serta ‘Amr bin Ma’dikarib, punya peran yang sangat penting dalam pertempuran hari itu. Mereka menjadi bintang pertempuran sengit siang hari keempat tersebut.

debu

Di tengah-tengah pasukan itu banyak sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang-orang yang pernah mendengar janji pasti dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang benar lagi dibenarkan. Memang tidak ada wahyu yang turun, atau Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjadi panglima di depan mereka. Akan tetapi, janji yang pernah diucapkan oleh beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pasti terbukti. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ يَغْزُونَ فَيُقَالُ لَهُمْ: فِيكُمْ مَنْ صَحِبَ الرَّسُولَ؟ فَيَقُولُونَ: نَعَمْ؛ فَيُفْتَحُ عَلَيْهِمْ، ثُمَّ يَغْزُونَ فَيُقَالُ لَهُمْ: هَلْ فِيكُمْ مَنْ صَحِبَ مَنْ صَحِبَ الرَّسُولَ؟ فَيَقُولُونَ: نَعَمْ؛ فَيُفْتَحُ لَهُمْ

Akan datang kepada manusia suatu masa, mereka akan berperang. Lalu dikatakan kepada mereka, “Apakah di tengah-tengah kalian ada yang pernah menyertai (bersahabat dengan) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?”

Mereka berkata, “Ya,” maka diberilah mereka kemenangan.

Kemudian mereka berperang, lalu dikatakan kepada mereka, “Adakah di tengah-tengah kalian orang yang pernah menyertai sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?”

Mereka menjawab, “Ya,” maka mereka juga diberi kemenangan. (HR. al-Bukhari (359) dan Muslim (2532) dari Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhu.)

Dalam pasukan muslimin, masih banyak sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, demikian pula murid-murid mereka dari kalangan tabi’in.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah menyatakan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala akan menyerahkan perbendaharaan Kerajaan Persia kepada kaum muslimin untuk mereka nafkahkan di jalan Allah subhanahu wa ta’ala.

Itu semua sudah ditakdirkan dan disiapkan oleh Allah ‘azza wa jalla bagi orang-orang yang beriman. Allah subhanahu wa ta’ala akan mewariskan bumi ini untuk orang-orang yang senantiasa tunduk dan menaati-Nya.

Kemenangan itu menyertai kesabaran, dengan semua jenis kesabaran. Inilah yang selalu terpatri dalam hati orang-orang yang beriman. Inilah yang tidak ada dalam hati orang-orang musyrik Persia.

Pagi itu, setelah semalaman mereka tidak tidur sekejap pun, Qa’qa’ mengingatkan pasukannya, “Sungguh, kekalahan adalah sesudah waktu ini, bagi yang memulai (menyerang) pada hari ini. Maka dari itu, bersabarlah dan bertahanlah, karena kemenangan itu bersama kesabaran.”

Saat itu juga mendekatlah Hilal bin ‘Ulaffah, Malik bin Rabi’ah, al-Kalih bin adh-Dhabbi, Dhirar bin al-Khaththab dan Dhirah bin al-Hudzail, Ghalib, Thulaihah, dan ‘Ashim kepada Qa’qa’. Kemudian mereka bersama-sama bergerak menyerbu ke arah pengawal Rustum.

Beberapa kabilah lain melihat kejadian ini, berseru, “Jangan sampai mereka lebih berani mati daripada kalian dan jiwa mereka lebih tidak peduli akan urusan dunia daripada kalian. Karena itu, berlombalah dengan mereka.”

Mereka pun bergerak menyerang pasukan lawan di hadapan mereka. ‘Utbah bin Nahhas, Furat bin Hayyan, Mu’anna bin Haritsah, dan Sa’id bin Murrah bangkit memompa semangat orang-orang suku Rabi’ah, “Kalian lebih tahu tentang Persia dan lebih berani di masa lalu. Apa yang menghalangi kalian untuk tidak berani seperti dahulu?”

Mereka segera bangkit menyerbu lebih semangat.

Kedua pasukan betul-betul mengerahkan seluruh kekuatan mereka. Kaum muslimin sudah menetapkan pilihan, menang dan Islam tersebar, atau mati syahid. Karena itu, mereka bertempur seakan-akan telah mati rasa sakit di tubuh mereka.

Pertempuran saat itu benar-benar dahsyat dan mengerikan. Jantung orang-orang musyrik seakan-akan pecah karena ketakutan melihat semangat kaum muslimin. Hilang akal mereka. Tidak berguna keterampilan dan persenjataan mereka.

Mana Jalenus, Rustum, Hurmuzan, yang kata mereka satu saja di antara panglima ini sama kekuatannya dengan seribu prajurit?

Siang itu bumi seolah-olah terpanggang panas matahari. Angin kencang bertiup menerbangkan debu pasir dan rumputan kering ke arah pasukan Persia. Kemah besar Rustum diterjang angin hingga menjungkirbalikkan singgasananya. Rustum yang sudah dihantui ketakutan dan dugaan akan kekalahan pasukannya semakin bertambah kalut. Melihat kemahnya hancur, dia segera menuju bighalnya yang datang dengan sejumlah harta.

Akan tetapi, sebelum melarikan diri, Rustum mencoba mengelabui pasukan muslimin dengan bersembunyi di balik bighal.

Hilal bin ‘Ulaffah mendekati bighal dan memotong tandu yang ada di atas bighal. Rustum bersembunyi di bawah tandu itu, tetapi tidak terlihat dan disadari oleh Hilal. Kemudian Hilal memotong tandu itu. Rustum segera berlari menuju sungai ‘Atiq dan menceburkan diri ke dalamnya.

Hilal segera mengejarnya dan melompat ke dalam sungai, bahkan berhasil menangkap kaki Rustum yang sudah berenang. Hilal menyeret Rustum ke tepi sungai dan memukul kening Rustum sampai Rustum mati.

Kemudian Rustum yang sudah mati diseret oleh Hilal dan dilemparkannya ke bawah kaki bighal. Kemudian Hilal menaiki singgasana Rustum dan berseru, “Demi Rabb Ka’bah, aku sudah membunuh Rustum. Kemarilah.”

Kaum muslimin berlari mendekatinya dan mengelilinginya, lalu bertakbir. Semakin pecah hati kaum musyrikin ketika mengetahui panglima mereka sudah terbunuh. Kegoncangan merasuki jiwa mereka yang sudah semakin kalut ketakutan.

Jalenus memerintahkan mundur, tetapi tetap dikejar oleh pasukan muslimin. Ketika sampai di sebuah tempat dan merasa aman dari kejaran kaum muslimin, mereka berpesta. Saat itulah mereka diserbu oleh kaum muslimin. Jalenus akhirnya dibunuh oleh Zuhrah bin Hawiyah.

Hurmuzan dan Mahran ar-Razi serta komandan perang Persia lainnya juga tewas di tangan pasukan muslimin. Tiga puluh ribu prajurit yang tergabung dalam pasukan rantai, mencoba melarikan diri ke sungai, tetapi tidak satu pun dari mereka yang selamat, karena kaum muslimin segera menyergap mereka. Semua pasukan rantai tewas.

Pasukan Persia lainnya segera lari meninggalkan gelanggang pertempuran, tetapi dikejar oleh pasukan muslimin. Hari itu, tidak kurang dari seratus ribu prajurit Persia terbunuh. Belum lagi yang tewas tadi malam, hampir sepuluh ribu orang. Sementara itu, di barisan muslimin, yang gugur sebagai syuhada hampir tiga ribu orang, semoga Allah subhanahu wa ta’ala merahmati mereka.

Di siang hari, mereka lebih ganas dari singa-singa padang pasir. Di malam hari terdengar dengungan suara mereka membaca al-Qur’an seperti dengungan lebah.

Menjelang usai pertempuran, Sa’d menemui Hilal dan bertanya, “Di mana lawanmu itu?”

“Aku lemparkan di bawah bighal,” katanya.

“Bawalah kemari dan ambil mana yang kamu mau dari perlengkapannya.”

Hilal mengambil semuanya dan diceritakan bahwa kemudian dia menjualnya seharga tujuh puluh ribu dirham. Dia tidak menemukan kopiah Rustum yang nilainya hampir seratus ribu dirham.

 Pasukan Persia kalah total. Yang masih hidup digiring oleh pasukan muslimin menuju Jalula dan terus masuk ke Kotaraja Madain, tempat istana Kisra Persia.

Kemenangan itu sangat mengesankan kaum muslimin. Akan tetapi, tidak bagi para pemuja api setan itu. Mereka benar-benar terpukul.

Betapa tidak?

Bangsa yang dianggap terbelakang, tidak berbudaya, dan tidak mengenal peradaban seperti mereka yang sudah maju, ternyata berhasil meluluhlantakkan pasukan mereka dengan memberikan kekalahan yang memalukan?

Ya. Kekalahan yang memalukan dalam sejarah Persia (Iran). Di tangan bangsa yang tidak terkenal dalam sejarah saat itu.

Mereka tidak begitu kecewa ketika dikalahkan Romawi dan Salib besar berhasil direbut kembali oleh orang-orang Nasrani. Akan tetapi, bangsa Arab, yang hampir tidak diperhitungkan dalam sejarah dunia ketika itu? Berhasil menundukkan dua kerajaan besar dunia dalam waktu yang singkat?

Dari mana kekuatan mereka?

Tentu saja, dari hati mereka yang terisi iman yang lurus dan kokoh, sehingga menimbulkan kekuatan dahsyat bagai gugur gunung. Bagaimana mungkin mampu ditahan oleh budak-budak api yang memiliki hati yang rapuh, kosong dari keimanan?

Kekalahan ini akhirnya menimbulkan dendam berkarat dalam dada bangsa Persia, sampai hari ini.

(insya Allah bersambung, Faedah Kemenangan Qadisiyah, Perang Jalula)

 

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Muhammad Harits

Meraih Keberkahan Hidup dengan Tawakal

Di antara keistimewaan Nabi Isa adalah beliau dianugerahi keberkahan di mana pun berada. Hal ini disebutkan dalam surat Maryam ayat: 31,

وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيۡنَ مَا كُنتُ

“Dan Dia (Allah) menjadikan aku seorang yang diberkahi di mana saja aku berada.”

Lanjutkan membaca Meraih Keberkahan Hidup dengan Tawakal

Bertabarruk Dengan Jejak dan Peninggalan Orang Saleh, Ghuluw Dalam Agama

Sesungguhnya setan menempuh dua jalan untuk menyesatkan setiap muslim. Jika dia termasuk pelaku dosa dan fasik, setan menempuh jalur syahwat dan menjatuhkannya ke dalam perangkapnya. Akibatnya, dia bertambah jauh dari jalan kebenaran dan petunjuk.

Akan tetapi, apabila dia kokoh berpegang dengan kebenaran niscaya dia akan menjadi orang selamat. Sebaliknya, apabila dia menyimpang dari kebenaran, kebinasaanlah yang menganga di hadapannya.

Lanjutkan membaca Bertabarruk Dengan Jejak dan Peninggalan Orang Saleh, Ghuluw Dalam Agama

Beda Tawaf dan Mencium Hajar Aswad dengan Amalan Musyrikin

وَ عَنْ عَابِسِ بْنِ رَبِيعَةَ قَالَ: رَأَيتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ يُقَبِّلُ الْحَجَرَ – يَعْنِي الْأَسْوَدَ – وَ يَقُولُ: إِنِّي لَأَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ لَا تَنْفَعُ وَ لَا تَضُرُّ, وَ لَوْلَا أَنِّي رَأَيتُ رَسُولَ اللهِ يُقَبِّلُكَ مَا قَبَّلْتُكَ.

Dari ‘Abis bin Rabi’ah, dia berkata, “Aku melihat Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu mencium Hajar Aswad, lalu berkata, ‘Sungguh, aku tahu engkau adalah batu yang tidak memberikan manfaat dan madarat. Kalau bukan karena aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menciummu, aku tidak akan menciummu.”

 

Takhrij Atsar

Atsar Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu ini muttafaqun ‘alaihi. Al-Bukhari meriwayatkannya dalam ash-Shahih, Kitab al-Hajj bab “ar-Raml fil Hajj” no. 1605.

Demikian pula Muslim meriwayatkan dalam Kitab al-Hajj, bab “Istihbab Taqbil al-Hajar al-Aswad” no. 1270.

Diriwayatkan pula oleh Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasai, dan al-Hakim an-Naisaburi.

Asy-Syaikh al-Allamah al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin al-Albani menyatakan sahih dalam Shahih at-Targhib wat Tarhib.

 

Makna Atsar

Perkataan Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu disampaikan di hadapan banyak orang. Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhu berkata sebagaimana dalam Mustadrak al-Hakim,

حَجَجْنَا مَعَ عُمَرِ بْنِ الْخَطَّابِ، فَلَمَّا دَخَلَ الطَّوَافَ اسْتَقْبَلَ الْحَجَرَ فَقَالَ: إِنِّي أَعْلَمُ أَنَّك حَجَرٌ لَا تَضُرُّ وَلَا تَنْفَعُ، وَلَوْلَا أَنِّي رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ ) قَبَّلَكَ ( مَا قَبَّلْتُكَ؛ ثُمَّ قَبَّلَهُ

Kami haji bersama Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu. Ketika beliau mulai thawaf, beliau menghadap Hajar Aswad seraya berkata, “Sungguh, aku tahu engkau adalah batu yang tidak memberikan mudarat, tidak pula manfaat. Kalau bukan karena aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menciummu, aku tidak akan menciummu.” Kemudian beliau menciumnya.

Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu adalah sosok yang sangat gigih menjaga tauhid sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau mengucapkan kalimat ini di tengah keramaian agar didengar ucapannya dan tersebar di tengah-tengah manusia.

Ketika itu, banyak orang yang baru saja keluar dari peribadatan dan pengagungan terhadap batu-batu (berhala). Mereka baru keluar dari keyakinan bahwa bebatuan memberikan manfaat dan mudarat.

Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu khawatir sebagian mereka yang baru masuk Islam itu tidak memahami (maksud dari mencium hajar Aswad –pen.). Karena itu, beliau mengucapkan kalimat tersebut.[1]

Umar al-Faruq radhiallahu ‘anhu mengingatkan bahwa mencium Hajar Aswad tidak sama dengan perbuatan para penyembah batu yang mengusap dan mencium berhala-berhala mereka. Mencium Hajar Aswad bukan untuk menyembahnya atau meyakini bahwa dia memberikan manfaat atau mudarat, melainkan semata-mata mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana diperintahkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala,

وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمۡ عَنۡهُ فَٱنتَهُواْۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ ٧

“Apa yang diberikan oleh Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya.” (al-Hasyr: 7)

 kabah

Thawaf dan Mencium Batu Hanya di Ka’bah

Di seluruh belahan bumi pasti ada kaum muslimin yang melakukan shalat, zakat, puasa, atau ibadah lainnya. Namun, tidak di setiap tempat ada orang yang beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan melakukan thawaf atau mencium dan mengusap batu (Hajar Aswad).

Ibadah thawaf, mengelilingi Ka’bah tujuh putaran, hanya dilakukan di Ka’bah dan tidak akan dijumpai di mana pun di muka bumi ini.

Allah subhanahu wa ta’ala lah yang memerintah kita menuju Ka’bah. Allah subhanahu wa ta’ala pula yang menjadikan Ka’bah sebagai tempat ibadah dan kiblat bagi kaum muslimin. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلۡيَطَّوَّفُواْ بِٱلۡبَيۡتِ ٱلۡعَتِيقِ ٢

“… dan hendaklah mereka melakukan tawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah).” (al-Hajj: 29)

Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman,

جَعَلَ ٱللَّهُ ٱلۡكَعۡبَةَ ٱلۡبَيۡتَ ٱلۡحَرَامَ قِيَٰمٗا لِّلنَّاسِ

“Allah menjadikan Ka’bah, rumah suci itu sebagai pusat (peribadatan dan urusan dunia) bagi manusia….” (al-Maa’idah: 97)

Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman,

فَوَلِّ وَجۡهَكَ شَطۡرَ ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡحَرَامِۚ

“Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram.” (al-Baqarah: 144)

Demikian pula mengusap dan mencium, tidaklah dilakukan kecuali di Ka’bah. Hajar Aswad disunnahkan untuk dicium dan diusap. Adapun rukun Yamani disyariatkan untuk diusap saja.

Sekali lagi, ibadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan cara thawaf atau mengusap dan mencium hanya dilakukan di Ka’bah. Apabila dijumpai sekelompok manusia yang mengelilingi sebuah tempat dengan niat taqarrub kepada Allah subhanahu wa ta’ala atau mencium suatu benda dengan niat ibadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala, sungguh perbuatan ini adalah kebid’ahan, dan tertolak di sisi Allah subhanahu wa ta’ala. Bahkan, itu adalah kesyirikan atau jalan yang mengantarkan kepada kesyirikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

Barang siapa melakukan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka itu tertolak.”

 

Apa yang Membedakan?

Di sebuah majelis, salah seorang hadirin bertanya, “Ada orang yang mengatakan bahwa agama Islam dan agama musyrikin sama saja. Buktinya, kaum musyrikin menyembah berhala-berhala dari batu, sementara kaum muslimin juga mengelilingi batu (Ka’bah) dan menciumnya (Hajar Aswad).”

Pertanyaan yang muncul dari seorang muslim ini sangat menyedihkan. Inilah kenyataan pahit. Kebodohan melanda umat. Banyak kaum muslimin tidak bisa membedakan antara dua amalan yang secara lahiriah sama, yaitu mencium, mengusap, atau mengelilingi.

Seorang pendeta Nasrani berkata dalam sebuah bukunya untuk menghujat Islam, “Pada kenyataannya sebagian besar pengikut agama bangsa Arab (yakni Islam –pen.) tidak mengetahui dan tidak menyadari bahwa yang disembah dan dipuja pada hakikatnya batu hitam Hajar Aswad. Penyembahan pada batu Hajar Aswad ini baru disadari pada waktu pengikut agama bangsa Arab ini melakukan rukun Islam yang kelima yaitu pergi ke Ka’bah di Makkah dan harus menyembah dan mencium batu hitam Hajar Aswad tersebut. Pada saat mencium batu hitam Hajar Aswad ini barulah orang tersadar bahwa yang dilakukan tidak lain adalah pekerjaan syirik, yaitu mempersekutukan Allah dengan batu hitam tersebut.”

Wajar ketika seorang pendeta, musuh Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya menganggap sama antara mencium Hajar Aswad dan mencium berhala. Demikian pula menganggap sama antara thawaf di kuburan dan thawaf di Ka’bah. Akan tetapi, menjadi tidak wajar ketika seorang muslim tidak bisa membedakan antara mencium Hajar Aswad dan mencium kuburan para wali.

Perbedaan antara keduanya sebenarnya sangat jelas. Mengelilingi Ka’bah dan mencium Hajar Aswad diperintahkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya. Adapun mengelilingi kuburan para wali sama sekali tidak diperintahkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya.

Mengelilingi Ka’bah dan mencium Hajar Aswad tidak diiringi dengan keyakinan bahwa kedua makhluk ini memberikan manfaat atau mudarat. Berbeda halnya dengan mereka yang mengelilingi kuburan para wali.

Mengelilingi Ka’bah dan mencium Hajar Aswad bukan kesyirikan, melainkan bentuk pengagungan dan peribadatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Apa pendapat Anda ketika Allah subhanahu wa ta’ala memerintah kita untuk menempelkan tujuh anggota sujud[2] ke tanah saat kita sujud? Apa niat kita ketika bersujud dan menempelkan muka ke tanah? Menyembah tanah yang kita cium atau mengagungkan Allah subhanahu wa ta’ala dengan melaksanakan perintah-Nya?!

Siapakah yang dikatakan beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala, orang yang tunduk pada perintah Allah subhanahu wa ta’ala untuk menempelkan mukanya ke tanah dalam shalat ataukah yang enggan melaksanakan perintah tersebut?

Sama halnya dengan thawaf dan mencium Hajar Aswad. Tidak untuk menyembah Ka’bah dan Hajar Aswad, tetapi semata-mata melaksanakan perintah Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya. Seandainya kita mengingkari perintah tersebut, niscaya kita tergolong orang yang kafir kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Sungguh, Allah subhanahu wa ta’ala telah mewajibkan kita menunaikan Haji ke Ka’bah. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّ أَوَّلَ بَيۡتٖ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكٗا وَهُدٗى لِّلۡعَٰلَمِينَ ٩٦ فِيهِ ءَايَٰتُۢ بَيِّنَٰتٞ مَّقَامُ إِبۡرَٰهِيمَۖ وَمَن دَخَلَهُۥ كَانَ ءَامِنٗاۗ وَلِلَّهِ عَلَى ٱلنَّاسِ حِجُّ ٱلۡبَيۡتِ مَنِ ٱسۡتَطَاعَ إِلَيۡهِ سَبِيلٗاۚ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ ٱلۡعَٰلَمِينَ ٩٧

“Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim. Barang siapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia. Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barang siapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (Ali Imran: 96—97)

Allah subhanahu wa ta’ala pula yang memerintahkan kita untuk mengelilingi Ka’bah. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

  وَلۡيَطَّوَّفُواْ بِٱلۡبَيۡتِ ٱلۡعَتِيقِ ٢٩

“… dan hendaklah mereka melakukan thawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah).” (al-Hajj: 29)

Perintah dari Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya untuk mengelilingi Ka’bah dan mencium Hajar Aswad demikian jelas. Pantaskah seorang hamba menolak perintah Allah subhanahu wa ta’ala ini?

Kita tentu ingat kisah penciptaan Adam ‘alaihissalam. Allah subhanahu wa ta’ala memerintah para malaikat untuk sujud kepada Adam. Sujud yang dimaksud tentu saja sujud penghormatan. Demikianlah syariat Allah subhanahu wa ta’ala.

Akan tetapi, Iblis enggan memberi sujud penghormatan kepada Adam. Jadilah ia kafir karena tidak melaksanakan perintah Allah subhanahu wa ta’ala. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَإِذۡ قُلۡنَا لِلۡمَلَٰٓئِكَةِ ٱسۡجُدُواْ لِأٓدَمَ فَسَجَدُوٓاْ إِلَّآ إِبۡلِيسَ أَبَىٰ وَٱسۡتَكۡبَرَ وَكَانَ مِنَ ٱلۡكَٰفِرِينَ ٣٤

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir. (al-Baqarah: 34)

Samakah sujudnya malaikat kepada Adam dengan sujudnya para penyembah berhala di hadapan berhala yang mereka sembah?

 hajar-aswad

Bukan Karena Hajar Aswad Memberi Manfaat

Seorang muslim mencium Hajar Aswad dan mengelilingi Ka’bah sematamata karena mengikuti perintah Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya. Itulah hakikat tauhid. Ia tidak menciumnya lantaran meyakini bahwa makhluk yang berupa batu hitam tersebut bisa memberi manfaat atau mudarat. Sama sekali tidak!

Perhatikan ucapan Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu,

إِنِّي لَأَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ لَا تَنْفَعُ وَلاَ تَضُرُّ، وَلَوْلَا أَنِّي رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ يُقَبِّلُكَ مَا قَبَّلْتُكَ

“Sungguh aku tahu engkau adalah batu, yang tidak bisa memberi manfaat dan mudarat. Kalau bukan karena aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menciummu, aku tidak akan menciummu.”

Bahkan, seorang yang masih berada di atas fitrah akan menilai bahwa semua amaliah ibadah haji adalah untuk mentauhidkan Allah subhanahu wa ta’ala, dan mengesakan peribadatan untuk-Nya. Inilah inti ibadah haji.

Di akhir makalah ini, mari kita ikuti perjalanan haji Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang yang mencermatinya akan mengetahui bahwa semua bagian ibadah haji, termasuk thawaf dan mengusap Hajar Aswad, tidaklah dilakukan kecuali untuk mengagungkan Allah subhanahu wa ta’ala.

Dari Madinah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menuju Dzul Hulaifah. Dari miqat inilah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai ihramnya dan memperbanyak talbiyah,

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ

“Aku sambut panggilan-Mu ya Allah, aku sambut panggilan-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu, aku sambut panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji dan nikmat adalah kepunyaan-Mu, demikian pula kekuasaan, tiada sekutu bagi-Mu.”

Inilah syiar yang selalu dikumandangkan oleh orang yang menuju Masjidil Haram untuk menunaikan haji atau umrah. Sebuah kalimat yang demikian agung.

Sesampainya beliau di Ka’bah, beliau mengusap Hajar Aswad, lalu thawaf, mengelilingi Ka’bah dengan berlari kecil tiga putaran, dan berjalan biasa empat putaran.

Maksud dari thawaf adalah mengagungkan Allah subhanahu wa ta’ala dengan melaksanakan perintah-Nya subhanahu wa ta’ala. Saat thawaf, antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala memohon kepada-Nya,

رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِي ٱلدُّنۡيَا حَسَنَةٗ وَفِي ٱلۡأٓخِرَةِ حَسَنَةٗ وَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ ٢٠١

“Wahai Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.” (al-Baqarah: 201)

Inilah syiar seorang muslim saat thawaf, mengagungkan Allah subhanahu wa ta’ala dan memohon kepada-Nya subhanahu wa ta’ala dengan penuh ketundukan; tidak memohon kepada Ka’bah atau Hajar Aswad.

Betapa jauh perbedaan antara seorang muslim saat mengelilingi Ka’bah dan para penyembah kuburan saat menundukkan mata di hadapan kuburan wali. Mereka menangis dengan penuh harap kepada yang dikubur, thawaf mengelilingi kuburan seraya berkata, “Wahai Sayyid Badawi, tolonglah kami!”

Setelah thawaf, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menuju Maqam Ibrahim, lalu menunaikan shalat dua rakaat dengan membaca surat al-Kafirun dan surat al-Ikhlash.

Dua surat yang beliau baca ini menunjukkan kesempurnaan sifat Allah subhanahu wa ta’ala, pengagungan terhadap-Nya subhanahu wa ta’ala, dan pengingkaran kepada peribadatan kepada selain-Nya subhanahu wa ta’ala.

Setelah shalat beliau kembali lagi ke Hajar Aswad dan mengusapnya. Kemudian beliau keluar dari pintu menuju Shafa. Ketika sudah mendekati Shafa, beliau membaca,

  إِنَّ ٱلصَّفَا وَٱلۡمَرۡوَةَ مِن شَعَآئِرِ ٱللَّهِۖ

“Sesungguhnya Shafa dan Marwah termasuk syi’ar-syiar Allah.” (al-Baqarah: 158)

dan mengucapkan,

أَبْدَأُ بِمَا بَدَأَ اللهُ بِهِ

“Aku mulai dengan apa yang Allah subhanahu wa ta’ala mulai dengannya.”

Di bukit Shafa, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menghadap Ka’bah, lalu membaca kalimat tauhid dan takbir, seraya mengucapkan,

لاَ إِلَهَ إِلاَّ للهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ )يُحْيِي وَيُمِيتُ( وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ أَنْجَزَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ

“Tiada ilah yang hak selain Allah, Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya segala kerajaan, bagi-Nya segala puji, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Tiada ilah yang hak selain Allah Yang Esa, yang menepati janji-Nya, menolong hamba-Nya, dan menghancurkan golongan-golongan musuh sendirian.”

Doa seperti itu beliau ulangi tiga kali. Kemudian beliau turun menuju Marwah. Beliau lakukan seperti apa yang beliau lakukan di Shafa.

Di hari Tarwiyah, 8 Dzulhijjah tahun 10 H, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat berangkat menuju Mina. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menunaikan shalat Zhuhur, Ashar, Maghrib, Isya’ dan Subuh.

Setelah subuh di Mina, 9 Dzulhijjah, beliau berhenti sejenak hingga matahari terbit, lalu berangkat menuju Arafah. Dalam semua perjalanan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat terus mengumandangkan talbiyah, kalimat tauhid.

Di Arafah, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam wukuf sejak tergelincir matahari hingga terbenamnya. Selama itu beliau berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala, menengadahkan kedua tangan seraya memperbanyak kalimat tauhid,

لاَ إِلَهَ إِلاَّ للهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Tiada ilah yang hak selain Allah, Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya segala kerajaan, bagi-Nya segala puji, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.”

Dari Arafah beliau menuju Muzdalifah. Selama perjalanan beliau terus mengumandangkan syiar tauhid, talbiyah. Di Mudzalifah, beliau menunaikan shalat Maghrib dan Isya’ dengan sekali azan dan dua kali iqamat. Beliau tidak melakukan shalat apa pun di antara keduanya. Kemudian beliau berbaring hingga fajar terbit dan menunaikan shalat Subuh di Muzdalifah.

Setelah shalat Subuh di Muzdalifah, tepatnya di Masy’aril Haram, beliau berdiri lama menghadap kiblat, berdoa, bertakbir, dan bertahlil. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap berada di tempat itu hingga terang benderang. Setelah itu, beliau bertolak sebelum matahari terbit menuju Mina untuk menunaikan amalan di hari Nahr.

Beliau mengawali amalan hari Nahr dengan melempar Jumrah Aqabah, tujuh kali lemparan dengan batu-batu kecil. Setiap lemparan beliau iringi dengan takbir, mengagungkan Allah subhanahu wa ta’ala.

Selanjutnya beliau menuju tempat penyembelihan. Pada hari itu, beliau menyembelih 100 ekor unta untuk Allah subhanahu wa ta’ala. Sejumlah 63 ekor unta beliau sembelih dengan tangan beliau yang mulia, sedangkan 37 ekor lainnya beliau wakilkan penyembelihannya kepada Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu.

Pembaca, inilah hamba Allah subhanahu wa ta’ala yang paling tunduk di hadapan-Nya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menunaikan semua peribadatan untuk Allah subhanahu wa ta’ala. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menunaikan amalan menyembelih hadyu untuk Allah subhanahu wa ta’ala yang Dia subhanahu wa ta’ala perintahkan,

إِنَّآ أَعۡطَيۡنَٰكَ ٱلۡكَوۡثَرَ ١  فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَٱنۡحَرۡ ٢

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dari itu, dirikanlah shalat karena Rabbmu dan berkurbanlah.” (al-Kautsar: 1—2)

Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menaiki kendaraan menuju Baitullah untuk melakukan thawaf ifadhah dan shalat Zhuhur di Makkah.

Saudaraku, haji adalah sebuah ibadah yang sangat agung untuk Allah subhanahu wa ta’ala. Coba renungkan kembali perjalanan haji Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas.

Adakah orang yang berakal mengatakan bahwa ibadah haji seperti perbuatan kaum musyrikin, karena di dalamnya ada thawaf mengelilingi Ka’bah dan mencium Hajar Aswad? Tidak ada yang mengatakan seperti itu kecuali seorang yang tidak mengerti tauhid.

Allahul musta’an.

وَصَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ وَالْحَمْدُ رَبِّ الْعَالَمِينَ

 

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal Lc.


[1] Badrul Munir (6/192—194)

[2] Muka, dua telapak tangan, dua lutut, dan dua kaki

Mencari Jalan Menuju Kebaikan

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَٱبۡتَغُوٓاْ إِلَيۡهِ ٱلۡوَسِيلَةَ وَجَٰهِدُواْ فِي سَبِيلِهِۦ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ ٣٥

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.(al-Maidah: 35)

 


Tafsir Ayat

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّه

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah….”

Ini merupakan perintah dari Allah ‘azza wa jalla kepada seluruh kaum mukminin untuk senantiasa bertakwa kepada-Nya, dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

وَٱبۡتَغُوٓاْ إِلَيۡهِ ٱلۡوَسِيلَةَ

“Hendaknya kalian mencari wasilah menuju kepada-Nya.”

Para ulama tafsir menyebutkan dua makna tentang makna wasilah di dalam ayat ini.

 

  1. Pendekatan diri (qurbah), yaitu bentuk pendekatan diri (kepada Allah subhanahu wa ta’ala) yang sepantasnya bagi seseorang untuk mencarinya.

Qatadah rahimahullah berkata, “Dekatkanlah diri kalian kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan taat kepada-Nya dan beramal dengan sesuatu yang mendatangkan ridha-Nya.”

Yang semakna dengan ini juga dijelaskan oleh Abu Wail, Hasan al-Bashri, Mujahid, Qatadah, Atha’, as-Suddi, Ibnu Zaid, dan Abdullah bin Katsir.

Semisal dengan ayat ini yang disebutkan Allah ‘azza wa jalla dalam firman-Nya,

قُلِ ٱدۡعُواْ ٱلَّذِينَ زَعَمۡتُم مِّن دُونِهِۦ فَلَا يَمۡلِكُونَ كَشۡفَ ٱلضُّرِّ عَنكُمۡ وَلَا تَحۡوِيلًا ٥٦ أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ يَدۡعُونَ يَبۡتَغُونَ إِلَىٰ رَبِّهِمُ ٱلۡوَسِيلَةَ أَيُّهُمۡ أَقۡرَبُ وَيَرۡجُونَ رَحۡمَتَهُۥ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُۥٓۚ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحۡذُورٗا ٥٧

Katakanlah, “Panggillah mereka yang kamu anggap (tuhan) selain Allah, maka mereka tidak akan mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan bahaya dari padamu dan tidak pula memindahkannya.”

Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Rabb mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; sesungguhnya azab Rabbmu adalah suatu yang (harus) ditakuti. (al-Isra: 56—57)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Al-Wasilah yang diperintahkan oleh Allah ‘azza wa jalla untuk engkau berusaha mencarinya. Allah memberitakan pula tentang para malaikat dan para nabi-Nya bahwa mereka senantiasa mencarinya, adalah sesuatu yang dijadikan sebagai pendekatan diri kepada-Nya berupa amalan yang wajib atau yang mustahab (sunnah).

Wasilah inilah yang diperintahkan oleh Allah ‘azza wa jalla kepada kaum mukminin untuk senantiasa mencarinya, yang mencakup hal yang wajib dan mustahab.

Adapun yang bukan hal wajib dan bukan mustahab, tidak termasuk ke dalamnya, seperti hal yang haram, makruh, atau mubah.

Yang wajib dan mustahab adalah yang disyariatkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan perintahnya yang mencakup perintah wajib dan mustahab. Inti dari semua itu adalah beriman dengan apa yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Inti dari wasilah yang diperintahkan oleh Allah ‘azza wa jalla kepada makhluk-Nya untuk mencarinya adalah menjadikan wasilah menuju kepada-Nya dengan mengikuti apa yang diajarkan oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak ada wasilah yang akan menyampaikan seseorang kepada Allah ‘azza wa jalla kecuali hal tersebut.” (Qa’idah Jalilah fit Tawassul wal Wasilah, hlm. 79, tahqiq al-Allamah Rabi’ bin Hadi)

 tali-terikat

  1. Wasilah bermakna “buktikanlah kecintaanmu kepada Allah”, sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Zaid. (Zadul Masir, karya Ibnul Jauzi)

Di antara makna al-wasilah adalah sebuah kedudukan yang paling mulia di dalam surga yang telah dipersiapkan Allah ‘azza wa jalla untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Hal ini diriwayatkan oleh al-Imam Bukhari rahimahullah dari Jabir bin Abdullah radhiallahu ‘anhuma, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa mengucapkan tatkala mendengarkan panggilan azan,

اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدِّعْوَةِ التَّامَّةِ، وَالصَّلَاةِ الْقَائِمَةِ، آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ، وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ

‘Ya Allah, Rabb seruan yang sempurna ini, dan shalat yang ditegakkan, berikanlah kepada Muhammad al-Wasilah dan keutamaan, dan bangkitkanlah dia pada sebuah kedudukan yang terpuji yang telah Engkau janjikan.’ halal baginya syafaatku pada hari kiamat.” (HR. al-Bukhari)

Al-Wasilah yang disebutkan dalam hadits ini dijelaskan dalam riwayat lainnya dalam Shahih Muslim dari Abdullah bin Amr bin al-Ash radhiallahu ‘anhuma. Ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا سَمِعْتُمُ الْمُؤَذِّنَ، فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ ثُمَّ صَلُّوا عَلَيَّ، فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا، ثُمَّ سَلُوا اللهَ لِيَ الْوَسِيلَةَ، فَإِنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِي الْجَنَّةِ، لَا تَنْبَغِي إِلَّا لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللهِ، وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنَا هُوَ، فَمَنْ سَأَلَ لِي الْوَسِيلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ

“Jika kalian mendengarkan muadzin, ucapkanlah seperti yang diucapkan oleh muadzin kemudian bershalawatlah untukku. Sebab, sesungguhnya siapa yang bershalawat kepadaku sekali, Allah ‘azza wa jalla bershalawat kepadanya sepuluh kali.

Lalu mintalah untukku al-wasilah, karena sesungguhnya ia adalah sebuah kedudukan dalam surga yang tidak sepantasnya diberikan kecuali kepada salah seorang hamba Allah ‘azza wa jalla. Aku berharap akulah yang akan mendapatkannya. Barang siapa memohon untukku al-wasilah, halal baginya syafaatku.” (HR. Muslim)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Wasilah ini merupakan kekhususan bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau telah memerintah kita untuk memohon kepada Allah ‘azza wa jalla agar wasilah ini diberikan kepada beliau. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa kedudukan itu tidak diberikan kecuali kepada seseorang dari hamba Allah ‘azza wa jalla dan berharap agar dialah hamba yang akan meraihnya.

Wasilah inilah yang diperintahkan kepada kita untuk memintanya kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau memberitakan kepada kita bahwa siapa yang memintakan wasilah untuknya, sungguh telah halal syafaat baginya pada hari kiamat. Sebab, balasan itu sesuai dengan jenis amalan yang dikerjakan.

Tatkala mereka berdoa untuk Nabi-Nya, mereka pun berhak mendapatkan balasan dari Rasul, yaitu doa beliau untuk mereka. Sebab, syafaat merupakan salah satu jenis dari doa, seperti sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Barang siapa bershalawat untukku sekali, Allah ‘azza wa jalla akan bershalawat untuknya sepuluh kali’.” (Qa’idatun Jalilah fit Tawassul wal-Wasilah, 84)

 

Makna Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Sebagai Wasilah untuk Mendekatkan Diri kepada Allah ‘azza wa jalla

Dalam bertawassul kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ada dua makna yang sahih dan dibenarkan dalam syariat berdasarkan kesepakatan kaum muslimin, yaitu:

  1. Bertawassul dengan beriman kepada beliau sebagai seorang rasul dan taat kepadanya.

Ini merupakan prinsip iman dan agama Islam. Tidak sempurna keimanan seseorang kecuali dengannya, dan tidak seorang pun dari kaum muslimin yang mengingkarinya.

  1. Bertawassul dengan doa beliau dan syafaatnya.

Kedua hal ini diperbolehkan berdasarkan kesepakatan kaum muslimin.

Rantai

Di antara dalil yang menunjukkan bolehnya hal ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu bahwa saat mereka tertimpa musim paceklik, Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu meminta hujan melalui perantara Abbas bin Abdul Muththalib radhiallahu ‘anhu.

Beliau berkata, “Ya Allah, sesungguhnya kami dahulu bertawassul kepada-Mu dengan perantaraan Nabi kami, lalu Engkau turunkan hujan kepada kami. Sesungguhnya, kami bertawassul kepada-Mu melalui paman Nabi kami, maka turunkanlah hujan kepada kami.”

Hujan pun diturunkan kepada mereka. (HR. al-Bukhari no. 1010)

Yang dimaksud dalam hadits ini adalah bertawassul dengan doa dan syafaat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal, mereka pun bertawassul dengan doa yang dilakukan oleh paman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu Abbas bin Abdul Muththalib radhiallahu ‘anhu.

Jadi, yang dimaksud dalam hadits ini bukan berdoa meminta hujan dengan bertawassul menyebut diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, seperti yang dipahami oleh sebagian orang yang keliru dalam memahami makna hadits ini. Sebab, kalau yang dimaksud dalam hadits ini berdoa meminta hujan dengan bertawassul dalam doa tersebut menyebutkan diri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tentu mereka tidak akan berpaling dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada pamannya, Abbas radhiallahu ‘anhu, setelah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal.

Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah wafat, mereka beralih kepada Abbas radhiallahu ‘anhu. Jelas hal ini menunjukkan bahwa yang dimaksud adalah bertawassul dengan doa Abbas radhiallahu ‘anhu untuk meminta hujan kepada Allah ‘azza wa jalla.

Hal yang seperti ini sering dilakukan oleh para sahabat radhiallahu ‘anhum. Di antara yang menunjukkan hal tersebut adalah hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu. Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berkhutbah di masjid pada hari Jumat, seorang lelaki masuk ke masjid lalu berkata, “Wahai Rasulullah, hewan-hewan ternak binasa, perjalanan terputus (disebabkan khawatir binasanya kendaraan mereka, atau melemahnya karena kurangnya makanan –pen.). Berdoalah kepada Allah subhanahu wa ta’ala agar menurunkan hujan kepada kami.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua tangannya, lalu berdoa, “Ya Allah, turunkan kepada kami hujan, ya Allah, turunkan kepada kami hujan, ya Allah, turunkan kepada kami hujan.” (Muttafaq alaihi)

Tawassul inilah yang dimaksud dalam hadits Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu di atas, yaitu meminta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam semasa hidupnya agar berdoa meminta turunnya hujan. Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal, mereka pun beralih kepada Abbas radhiallahu ‘anhu agar beliau berdoa meminta hujan untuk kaum muslimin.

Hal ini lebih dikuatkan oleh riwayat dari Aisyah radhiallahu ‘anha. Disebutkan dalam riwayat itu, manusia mengeluh kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang tertahannya hujan. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas memerintahkan agar mimbar dikeluarkan dan diletakkan di tanah lapang. Beliau menjanjikan hari tertentu kepada manusia untuk mereka keluar.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar saat dhuha lalu duduk di atas mimbar, bertakbir, memuji Allah ‘azza wa jalla, dan berkata, “Sesungguhnya kalian mengeluhkan kekeringan yang menimpa daerah kalian, dan lambatnya hujan turun kepada kalian, dan sungguh Allah memerintah kalian untuk berdoa kepada-Nya, dan menjanjikan kepada kalian untuk mengabulkannya.” Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa kepada Allah ‘azza wa jalla dan shalat memimpin manusia. Allah ‘azza wa jalla kemudian menurunkan hujan kepada mereka hingga air mengalir. (HR. Abu Dawud, dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam kitabnya, at-Tawassul, hlm. 54)

Adapun bertawassul dengan diri/bagian tubuh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam atau berdoa dengan mengucapkan, “Aku memohon kepada-Mu, ya Allah, melalui hak Nabi-Mu, atau melalui kemuliaan Nabi-Mu,” dan yang semisalnya, hal ini sama sekali tidak disyariatkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak diamalkan oleh para sahabat radhiallahu ‘anhum.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Tawassul dengan bersumpah kepada Allah ‘azza wa jalla dengan berwasilah kepada bagian tubuh Nabi dan meminta dengan berwasilah kepada bagian tubuh beliau tidak pernah dilakukan oleh para sahabat radhiallahu ‘anhum, baik dalam meminta hujan maupun yang semisalnya.

Para sahabat tidak melakukan ini pada masa hidup beliau atau setelah meninggalnya. Tidak di sisi kuburannya dan tidak pula di selain kuburannya. Tidak diketahui hal ini dalam doa-doa yang masyhur di antara mereka.

Yang ada hanyalah penukilan tentang hal tersebut dalam hadits-hadits lemah yang marfu’ dan yang mauquf, atau penukilan dari orang yang ucapannya bukan merupakan hujah.” (Qa’idah Jalilah, hlm. 86)

وَجَٰهِدُواْ فِي سَبِيلِهِۦ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ ٣٥

“Berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.

Di antara sekian banyak ibadah yang mendekatkan hamba kepada-Nya, Allah ‘azza wa jalla mengkhususkan jihad di jalan-Nya.

Berjihad ialah mengerahkan kemampuan untuk memerangi orangorang kafir, dengan harta, jiwa, pikiran dan lisan; serta beramal untuk menolong agama Allah ‘azza wa jalla dengan segala yang mampu dilakukan oleh hamba.

(Allah mengkhususkan jihad) karena ibadah ini termasuk ketaatan yang paling agung dan pendekatan diri yang paling utama. Orang yang mampu menegakkan amalan ini tentu lebih mampu menegakkan amalan lainnya.

لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ ٣٥

“Semoga kalian meraih keberuntungan,”

Jika kalian bertakwa kepada Allah ‘azza wa jalla dengan meninggalkan maksiat, lalu mencari wasilah menuju Allah ‘azza wa jalla dengan mengamalkan ketaatan dan berjihad di jalan-Nya dengan mengharapkan keridhaan-Nya.

Al-Falah (keberuntungan) adalah kemenangan dan keberhasilan dalam segala yang dicari dan yang diinginkan. Adapun an-najah adalah selamat dari hal-hal yang ditakuti. Hakikatnya adalah kebahagiaan abadi dan kenikmatan yang tidak akan sirna.” (Taisir al-Karim ar-Rahman, al-Allamah as-Sa’di rahimahullah)

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Muawiyah Askari

Tanya Jawab Ringkas Edisi 110

Berikut ini adalah jawaban dari al-Ustadz Muhammad as-Sarbini.

Dzunub

Suami Sering Maksiat Via Internet, Istri Minta Khulu’

Bolehkah istri minta khulu’ dengan alasan suami sering bermaksiat melalui media internet? Hal ini menyebabkan istri tidak kuat dan sering tidak memenuhi kewajibannya.

  • Jawaban:

Jika demikian, istri boleh minta khulu’.


Hukum Menghilangkan Tahi Lalat

Apa hukum menghilangkan tahi lalat pada wajah agar terlihat lebih cantik?

  • Jawaban:

Haram mengubah ciptaan Allah. Syukuri apa yang Allah subhanahu wa ta’ala berikan kepada Anda. Sebagian orang justru merasa cantik dengan tahi lalatnya.


 

Anak Perempuan yang Masih Kecil dalam Shaf Laki-Laki

Ada seorang bapak yang mengajak anak perempuan yang masih kecil untuk shalat dan ikut dalam barisan shaf laki-laki. Apakah hal ini diperbolehkan?

  • Jawaban:

Tentu saja tidak boleh. Jika anak wanita itu belum mumayyiz (belum 7 tahun), dia memutus shaf, karena shalatnya tidak sah. Mestinya dia letakkan di depannya untuk menjaganya, tidak masuk shaf. Jika sudah mumayyiz, seharusnya dia shalat di shaf wanita. Wallahu a’lam.


 

Wanita yang Dinikahkan Wali Hakim

Bagaimana hukumnya jika ada seorang wanita yang ingin menikah tanpa menghadirkan wali nikahnya? Sebenarnya, wali wanita itu dapat menghadiri akad nikahnya. Namun, karena alasan tertentu, wanita tersebut hanya menggunakan wali hakim.

  • Jawaban:

Jika alasannya tidak syar’i, pernikahan itu tidak sah. Wali hakim hanya berlaku bagi wanita yang tidak mempunyai wali secara fisik dan makna.


 

Cara Membersihkan Najis & Waktu Shalat Rawatib

  1. Bagaimana cara membersihkan najis akibat percikan air kencing? Sebab, kita tidak tahu bagian tubuh mana yang terkena percikannya. Apakah cukup dengan berwudhu atau harus dibersihkan menggunakan air bersih (bukan wudhu)?
  2. Apakah diperbolehkan jika seseorang shalat rawatib tidak pada waktu shalat? Misal, jika waktu shalat Maghrib pada pukul 18.00, seseorang shalat Maghrib pada pukul 18.15, apakah orang tersebut masih dapat menunaikan shalat rawatib?
  • Jawaban:
  1. Jika demikian, wajib mencuci seluruh bagian tubuh yang diduga terkena percikan air kencing.
  2. Shalat sunnah rawatib mengikuti shalat wajib. Selama belum masuk waktu shalat berikutnya, menunaikan rawatib ba’diyyah hukumnya sah.

Status Anak Susuan

Jika anak susuan perempuan telah minum ASI hingga kenyang sampai lima kali, ia adalah mahram bagi anak lelaki dari ibu yang menyusui. Apakah anak perempuan susuan tersebut juga menjadi mahram bagi suami?

  • Jawaban:

Suami ibu susuannya juga menjadi mahramnya. Statusnya adalah bapak susuan.


 

Pengajian Hari Tertentu

Bolehkah menghadiri pengajian dalam rangka merayakan hari kemerdekaan?

  • Jawaban:

Jika menyakini hal tersebut memiliki keutamaan atau dilakukan dalam peringatan hari kemerdekaan, itu bid’ah, seperti halnya berkumpul untuk pengajian demi memperingati maulid dan Isra’ Mi’raj. Wallahu a’lam.


 

Berhaji Tanpa Mahram

Apa hukum pergi haji tanpa mahram? Bagaimana sikap seorang anak jika orang tuanya bersikeras ingin pergi haji tanpa mahram karena uangnya sudah cukup, sedangkan anaknya ingin menemani tetapi tidak memiliki biaya?

  • Jawaban:

Tidak boleh. Anaknya hendaknya berusaha menahan dan menasihatinya. Semoga orang tua mendapat petunjuk dan mengurungkan niat sampai ada mahramnya.


 

Telat Bangun Shalat Subuh

Jika kita bangun kesiangan saat pukul 06.00, apakah masih boleh shalat subuh?

  • Jawaban:

Jika kesiangan hingga matahari terbit karena tertidur (tidak sengaja), wajib diqadha dengan tata cara shalat yang sama. Jika sengaja menunda waktu shalat, wajib bertobat dan tidak disyariatkan qadha.


 

Menahan Amarah saat Berpuasa

Ketika kita berpuasa dan tidak bisa menahan amarah, apakah kita tidak akan mendapatkan pahala puasa?

  • Jawaban:

Jika Anda marah bukan karena Allah dalam rangka amar ma’ruf nahi mungkar, hal itu akan mengurangi pahala puasa.


 

Mimpi Berkumpul

Saya bermimpi berkumpul dengan seorang wanita. Namun, tidak sampai menyebabkan mani keluar. Apakah saya harus mandi wajib?

  • Jawaban:

Tidak. Lihat secara lengkap rincian masalah mimpi basah dan hukumnya dalam buku kami, “Panduan Syari Cara Bersuci”.


 

Menggugat Cerai Suami

Saya ingin menggugat cerai suami saya yang sudah 13 tahun tidak ada kabar. Apa saja yang perlu saya siapkan?

  • Jawaban:

Adukan kasus Anda ke pihak pengadilan dengan membawa bukti surat nikah dan KK. Hakim akan memutuskan perkaranya setelah itu.

Ngalap Berkah Kiai dengan Dalil dan Analogi Batil

Menyedihkan, negeri yang mayoritas penduduknya muslim, tetapi fenomena kesyirikan dalam soal “tabaruk” sangat banyak dijumpai.

Sebagian komunitas meyakini bahwa mata air tertentu memiliki berkah. Manusia pun berdatangan untuk singgah berendam (kungkum), mandi, atau meminumnya dengan berbagai harapan, untuk dirinya, keluarga, kesembuhan penyakit, kelancaran usaha, dan seterusnya.

Apakah Allah subhanahu wa ta’ala mengabarkan bahwa air tersebut diberkahi? Adakah izin dari Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya bertabaruk dengan air tersebut? Tidak diragukan semua perbuatan dan keyakinan terhadap mata air tersebut adalah bentuk kesyirikan. Lanjutkan membaca Ngalap Berkah Kiai dengan Dalil dan Analogi Batil

Memohon Barakah Hanya Kepada Allah

Betapa indah pengajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Betapa besar semangat beliau menanamkan akidah tauhid kepada umatnya.

Saudaraku, perhatikanlah! Di saat air keluar deras dari jari-jemari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, segera beliau ingatkan umat ini bahwa barakah dari Allah subhanahu wa ta’ala. Adapun beliau, tidak ada sedikit pun mampu memberi manfaat atau mudarat. Lanjutkan membaca Memohon Barakah Hanya Kepada Allah

Barakah & Tabarruk Dalam Tinjauan Syariat

Lafadz “barakah” atau “berkah” dengan berbagai pecahan katanya banyak kita jumpai dalam al-Qur’an al-Karim dan as-Sunnah an-Nabawiyah. Sebuah ayat Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan bahwa iman dan takwa adalah sebab keberkahan sebuah negeri. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلَوۡ أَنَّ أَهۡلَ ٱلۡقُرَىٰٓ ءَامَنُواْ وَٱتَّقَوۡاْ لَفَتَحۡنَا عَلَيۡهِم بَرَكَٰتٖ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِ وَلَٰكِن كَذَّبُواْ فَأَخَذۡنَٰهُم بِمَا كَانُواْ يَكۡسِبُونَ ٩٦

“Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (al-A’raf: 96) Lanjutkan membaca Barakah & Tabarruk Dalam Tinjauan Syariat

Tabarruk, Antara Pelanggaran Agama & Komoditi Bisnis

Roda zaman berputar tiada henti, menorehkan sejarah dan meninggalkan cerita. Manusia selaku aktor, bergelut dan berkiprah pada setiap zamannya. Generasi demi generasi datang silih berganti, mengisi lembar kehidupan. Dengan takdir Ilahi, semuanya pasti meninggalkan dunia yang fana ini. Lanjutkan membaca Tabarruk, Antara Pelanggaran Agama & Komoditi Bisnis

Surat Pembaca Edisi 110

Kambing atau Tongkat?

Dalam Majalah Asy Syariah edisi 109 hlm. 26 tertulis, “Itu adalah tongkat, meskipun bisa terbang.” Padahal lafadz Arabnya “’Anzun wa lau thaarat.”

Bukankah arti yang tepat adalah, “Itu kambing (betina) walaupun bisa terbang”? Wallahu a’lam.

085790xxxxxx

 

  • Jawaban Redaksi:

Anda benar. Tersamarkan bagi kami antara عنز (kambing betina) dan عنزة (tombak pendek berukuran antara tongkat dan tombak, sebagaimana dalam al-Qamus al-Muhith). Jazakallah khairan atas koreksi Anda.

 


Hamba Hanyalah Alat?

Pada Majalah Asy Syariah edisi 109 hlm. 67, dikatakan bahwa para hamba hanyalah alat. Bukankah ini akidah Jahmiyah? Mohon nasihat antum.

081340xxxxxx

 

  • Jawaban Redaksi:

Berikut ini kami nukilkan teks asli dari kitab Jamial-Masail (hlm. 168) karya Ibnu Taimiyah rahimahullah.

فما شاء الله كان وما لم يشأ لم يكن، فلا يتحرك في العالم العلوي والسفلي ذرة إلا بإذنه ومشيئته، فالعباد آلة

Dalam artikel yang telah termuat ada kesalahan penerjemahan dari kami, yaitu kalimat, “Para hamba hanyalah alat.” Yang benar, “Para hamba adalah alat.”

Pernyataan bahwa hamba adalah alat, bukanlah akidah Jahmiyah. Sebab, pernyataan ini tidak meniadakan adanya kehendak pada diri seorang hamba.

Jazakallah khairan wa barakallahu fik.

 


Bahas BPJS

Saya membaca Majalah Asy Syariah edisi 108 Vol. IX/1436 H/2015, berkenaan dengan haramnya asuransi kesehatan (BPJS).

Mohon dijelaskan lebih lanjut tentang hukum asal keharamannya dan syaratsyarat diharamkannya asuransi kesehatan.

085259xxxxxx

 

  • Jawaban Redaksi:

Alhamdulillah, pembahasan tentang asuransi, termasuk asuransi kesehatan secara umum, telah kami angkat pada Rubrik “Kajian Utama” edisi 29. Anda bisa merujuk pada pembahasan tersebut. Anda bisa pula membacanya pada website kami, www.asysyariah.com.

 

Insya Allah pembahasan tentang BPJS secara khusus kami rencanakan akan diangkat pada edisi 111 mendatang. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memudahkan kami untuk mewujudkannya.

 


Makna Hadits Kurang Jelas

Pada Rubrik Kajian Utama edisi 108, hlm. 14, ada terjemahan hadits, “…betapa banyak orang yang membawa fikih, namun tidak faqih….” Apakah tidak ada penjelasan maknanya?

081390xxxxxx

 

  • Jawaban Redaksi:

Berikut ini penjelasan asy-Syaikh as-Sindi tentang hadits tersebut dalam syarahnya terhadap Sunan Ibnu Majah.

Maksud “orang yang membawa fikih” adalah yang menghafal dalil-dalil yang menjadi sumber pengambilan hukum fikih. Akan tetapi, dia “tidak fakih”, yaitu tidak mampu mengambil kesimpulan hukum fikih dari dalil-dalil yang dihafalnya.

Barakallahu fikum.

Cara Salah Cari Berkah

السلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Berkah adalah milik Allah subhanahu wa ta’ala semata. Dialah satu-satunya Dzat yang segala kebaikan dan berkah ada di Tangan-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala adalah satu-satunya Dzat yang memberkahi tempat yang Dia kehendaki, seperti Makkah, Madinah, Baitul Maqdis, masjid-masjid atau tempat mana pun. Ayat-ayat al-Qur’an juga menunjukkan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala adalah satu-satunya Dzat yang memberkahi hamba yang Dia kehendaki, seperti para nabi dan rasul.

Segala sesuatu yang mengandung berkah, semua telah dijelaskan secara gamblang dalam al-Qur’an, hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan riwayat-riwayat para sahabat. Maka dari itu, ketika sesuatu telah dijelaskan oleh nas atau syariat, semestinya kita tidak perlu repot mencari-cari apalagi sibuk mencari pembenaran sesuatu yang tidak dijelaskan oleh syariat. Tak perlu membela diri demi “menghalalkan” air Ponari, tidak perlu galau dengan kotoran kerbau, tidak perlu kurang kerjaan dengan berendam di sebuah petilasan, juga tidak perlu menjadi bodoh karena berebut puntung rokok seorang tokoh.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai utusan Allah subhanahu wa ta’ala yang paling mulia dan kekasih Allah subhanahu wa ta’ala saja tidak mampu mendatangkan sedikit pun kebaikan atau menolak mudarat atas diri beliau, lebih-lebih atas orang lain. Saat air keluar dari jari-jemari Rasulullah yang digunakan untuk berwudhu dan minum oleh ribuan sahabat radhiallahu ‘anhum, Rasulullah tegas mengatakan, “Berkah itu dari Allah.”

Artinya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu mengingatkan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala adalah satusatu- Nya Dzat yang memiliki berkah, dan Dialah satu-satunya Dzat yang memberkahi. Hanya dari Dialah dimohon berkah. Ini juga akidah yang diyakini para sahabat, manusia-manusia terbaik setelah para nabi dan rasul.

Maka dari itu, manusia-manusia selain mereka yang tidak dijamin masuk surga, tapi justru berlumur dosa, lebih tidak bisa untuk memberikan berkah, apalagi memutuskan sesuatu mengandung berkah atau tidak. Dikemanakan ayat atau hadits yang berbicara bahwa yang memberikan berkah adalah hak Allah subhanahu wa ta’ala?

Keyakinan dari mana bahwa para tokoh atau kyai yang kita agungkan setinggi langit itu mempunyai berkah dari jasadnya? Apakah para tokoh yang kita sematkan hak-hak ilahiah memang dijamin masuk surga sehingga kita rela berebut bekas air minumnya? Apakah pantas orang yang melakukan kesyirikan dan kebid’ahan kita agung-agungkan sedemikian rupa?

Sadarkah kita, dosa syirik menganga lebar di depan kita jika kita salah cari berkah?! Kebenaran adalah apa yang berasal dari Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya. Syariat kita yang sempurna tidak memberi celah sedikit pun bagi kita untuk membuat syariat atau “berkah-berkah” baru di luar yang telah digariskan syariat.

Syirik adalah dosa yang tidak terampuni kecuali dengan tobat. Maka dari itu, cari berkah jangan asal. Neraka siap mengancam jika kita salah cari berkah.

والسلام عليكم ورحمة الله و بركاته