Wanita Non Muslimah Memandang Wanita Muslimah

Telah kita pahami dari pembahasan terdahulu bahwa ulama berbeda pendapat tentang hukum wanita muslimah menampakkan sesuatu dari bagian tubuhnya di hadapan wanita nonmuslimah tanpa keperluan. Dan tidak mengapa sebagai tambahan faedah, kami memaparkan kembali permasalahan ini, dengan rujukan dari Kitab an-Nazhar fi Ahkamin Nazhar bi Hassatil Bashar, karya al-Imam al-Hafizh Abul Hasan Ali bin Muhammad bin al-Qaththan al-Fasi dan kitab Fiqhun Nazhar, karya Mushthafa Abul Ghaith.

Lanjutkan membaca Wanita Non Muslimah Memandang Wanita Muslimah

Hukum Membuka Hijab Dihadapan Laki-Laki Banci

Keberadaan wanita setengah pria (waria) adalah fenomena yang tak terelakkan dalam kehidupan masyarakat kita saat ini. Lepas dari sifat pembawaan, mereka sesungguhnya juga tumbuh dari lingkungan pergaulan yang memang jauh dari nilai-nilai Islam. Oleh karena itu, tuntunan agama menjadi modal penting bagi kita untuk dapat menghadapi derasnya arus penyesatan. Lalu bagaimana tuntunan berhijab bagi wanita di hadapan waria?

Lanjutkan membaca Hukum Membuka Hijab Dihadapan Laki-Laki Banci

Secercah Harapan Dalam Sepenggal Pesan

Anak berbeda dengan orang dewasa. Daya pikir dan imajinasinya yang masih sederhana terkadang menimbulkan kesulitan bagi orang tua untuk mengajarkan nilai-nilai kebaikan yang sifatnya abstrak. Di antaranya, bagaimana mengajari anak untuk senang mengajak kepada kebaikan dan mencegah kejelekan. Namun sesulit apa pun, di sana akan selalu ada jalan. Berikut ini bimbingan Islam dalam mengajari anak beramar ma›ruf nahi munkar.

Lanjutkan membaca Secercah Harapan Dalam Sepenggal Pesan

Berkhidmat Pada Suami

Pulang dari bekerja, semestinya adalah waktu untuk beristirahat bagi suami selaku kepala rumah tangga. Namun, banyak kita jumpai fenomena di mana mereka justru masih disibukkan dengan segala macam pekerjaan rumah tangga sementara sang istri malah ngerumpi di rumah tetangga. Bagaimana istri salihah menyikapi hal ini?

Lanjutkan membaca Berkhidmat Pada Suami

Menjaga Kesucian Fitrah Manusia

Akhir perjalanan hidup manusia tidak ada yang bisa mengetahuinya meski saat dilahirkan diciptakan dalam keadaan memiliki fitrah yang sama. Berbagai faktor bisa menjadi penyebab seseorang keluar dari fitrahnya yang suci. Perubahan itu bisa terjadi secara perlahan-lahan bisa pula secara cepat. Salah satu faktor yang kini makin banyak membawa manusia tergelincir ke lembah kehancuran adalah harta. Untuk urusan satu ini, mayoritas manusia kini telah “menunjukkan” watak asli mereka: tidak akan pernah puas, berapa pun harta yang telah dimiliki. Sehingga untuk menghentikan nafsu mereka ini, hanya kematian yang bisa melakukannya.

Lanjutkan membaca Menjaga Kesucian Fitrah Manusia

Jimat, Benarkah dalam Agama?

Jimat sepertinya telah menjadi ‘teknologi’ yang mengiringi kehidupan manusia di zaman yang konon telah sangat rasional ini. Batu akik, ikat pinggang, liontin, koin, tasbih, istambul, dan semacamnya, kini tidak sekadar benda mati tapi telah ‘naik kelas’ karena diyakini mampu menjadi pelindung, mendatangkan rezeki, atau pemikat lawan jenis. Parahnya, benda-benda semacam itu kini juga menjadi komoditas dagang yang laris diperjualbelikan lewat media.

Lanjutkan membaca Jimat, Benarkah dalam Agama?

‘Ulama Al-Jarh Wa At Ta’dil, Sosok Penjaga dan Pembela Agama Allah

Abu Ghalib berkata, “Ketika didatangkan kepala orang-orang Azariqah[1] dan dipancangkan di atas tangga Damaskus, datanglah Abu Umamah al-Bahili radhiallahu ‘anhu. Ketika melihat mereka, air matanya pun mengalir dari kedua pelupuknya.

كِلاَبُ النَّارِ، كِلاَبُ النَّارِ، كِلاَبُ النَّارِ. هَؤُلاَءِ شَرَّ قَتْلَى قُتِلُوْا تَحْتَ أَدِيْم السَّمَاءِ وَخَ قَتْلَى قُتِلُوا تَحْتَ أَدِيْم السَّمَاءِ الَّذِيْنَ قَتَلَهُمْ هَؤُلاَءِ.

“Anjing-anjing neraka, anjing-anjing neraka, anjing-anjing neraka!” kata Abu Umamah. “Mereka ini sejelek-jelek orang yang dibunuh di bawah naungan langit ini. Dan sebaik-baik orang yang terbunuh di bawah naungan langit ini adalah orang-orang yang mereka bunuh,” lanjutnya.

Lanjutkan membaca ‘Ulama Al-Jarh Wa At Ta’dil, Sosok Penjaga dan Pembela Agama Allah

Al-Qur’an Berbicara Tentang Al-Jarh dan At-Ta’dil

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِن جَآءَكُمۡ فَاسِقُۢ بِنَبَإٖ فَتَبَيَّنُوٓاْ أَن تُصِيبُواْ قَوۡمَۢا بِجَهَٰلَةٖ فَتُصۡبِحُواْ عَلَىٰ مَا فَعَلۡتُمۡ نَٰدِمِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal dengan perbuatannya itu.” (al-Hujurat: 6)

  Lanjutkan membaca Al-Qur’an Berbicara Tentang Al-Jarh dan At-Ta’dil

Al-Jarh wa At-Ta’dil dalam Al-Qur’an

Sebagai sebuah prinsip yang agung, al-jarh wat-ta’dil tentu tidak dibangun di atas hasil pemikiran seseorang atau bahkan anggapan baik seseorang. Namun ia dibangun di atas fondasi yang kuat, yang tidak mungkin dirobohkan oleh siapa pun. Allah subhanahu wa ta’ala sendiri yang telah meletakkan fondasi tersebut di dalam Al-Qur’an, menjelaskan kepada manusia tentang prinsip memuji dan mencela ini, demi sebuah kemaslahatan yang besar yaitu selamatnya umat manusia di dunia dan akhirat.

Lanjutkan membaca Al-Jarh wa At-Ta’dil dalam Al-Qur’an

Ketika Nasehat Dianggap Celaan

Menerangkan penyimpangan seseorang agar umat tidak ikut terjatuh dalam penyimpangan yang dilakukannya adalah termasuk amar ma’ruf nahi munkar yang besar. al-Imam Ahmad rahimahullah bahkan menganggapnya lebih afdal (lebih utama) dibanding puasa atau shalat (sunnah). Namun bagi orang-orang yang tidak memahami permasalahan ini, mereka menganggap perbuatan tersebut sebagai kezaliman, bahkan ghibah. Bagaimana duduk permasalahan yang sebenarnya?

Lanjutkan membaca Ketika Nasehat Dianggap Celaan

Al-Jarh Wa At-Ta’dil, Upaya Menjaga Kemurnian Syariat

Al-jarh wat-ta’dil adalah sebuah metode yang dipakai para ulama Ahlus Sunnah untuk menjaga kemurnian ajaran Islam. Pada intinya, ia berisi pujian terhadap segala yang bersesuaian dengan al-Qur’an dan as-Sunnah serta celaan terhadap segala yang berlawanan dengan keduanya. Prinsip ini telah menjadi pedang Ahlus Sunnah bagi segenap ahlul bid’ah yang ingin melakukan perusakan terhadap agama. Tak heran banyak pengikut hawa nafsu mencoba meruntuhkan prinsip ini agar kebid’ahan mereka bisa dianggap sebagai agama. Namun sampai hari kiamat, mereka tak akan pernah mampu melakukannya.

Lanjutkan membaca Al-Jarh Wa At-Ta’dil, Upaya Menjaga Kemurnian Syariat

Kritik terhadap Kebatilan dan Para Perilakunya, Prinsip Islam yang Kian Ditinggalkan

Sikap kritis tampaknya memang tidak mudah dibudayakan di tengah masyarakat yang tenggelam dalam kultus individu dan fanatisme golongan. Yang muncul justru sikap kritis yang kebablasan: kebenaran yang telah pasti justru diotak-atik, sementara yang nyata-nyata menyimpang justru dibiarkan tanpa dikritisi dengan dalih ukhuwah Islam ataupun demi persatuan umat. Lanjutkan membaca Kritik terhadap Kebatilan dan Para Perilakunya, Prinsip Islam yang Kian Ditinggalkan

Surat Pembaca edisi 14

Pembahasan Shaf

Afwan bagaimana kalau redaksi majalah Asy Syariah menerbitkan artikel tentang masalah fiqh khususnya bab shaf disertai fatwa ulama. Karena ana merasa masalah ini masih banyak yang belum mengerti termasuk ana sendiri dan juga dari ikhwan Salafi, terutama di kalangan masyarakat awam. Jazakallahu khairan.

Abu Malik

biagy…@yahoo.com

 

  • Jawaban Redaksi:

Pembahasan fiqh kami rencanakan untuk dilakukan secara berurutan mulai dari berwudhu, shalat, dan seterusnya. Insya Allah apa yang anda inginkan suatu saat akan kami muat.

Warna Jangan Gelap

Usahakan warna majalah Asy Syariah jangan yang warna gelap, karena kalau dikopi nggak kelihatan. Jazakumullah khairan katsiran

Sunny
Sf…@plasa.com

  • Jawaban Redaksi:

Kualitas hasil cetakan tergantung oleh banyak faktor. Bisa dari bagian desain maupun dari pihak percetakan. Kami sedang mencari format terbaik agar hasil cetakan majalah kita ini tidak buram atau gelap. Masukan antum Insya Allah sangat membantu kami dalam mencari format terbaik tersebut.

Senang dengan Asy Syariah

Berkenaan dengan keberadaan majalah Asy Syariah, ana sungguh senang karena bahasannya sangat bagus. Penyajiaannya singkat tapi padat, lugas dan mudah dipahami, dan tidak sungkan untuk menyatakan yang haq adalah haq dan yang batil adalah batil. Tak ketinggalan pula memuat bahasan tentang problem kekinian yang sedang marak dan memang sangat dibutuhkan oleh para thalibul ‘ilmi pemula seperti ana, guna menyikapi keadaan sekarang yang membuat banyak orang terpedaya. Dan yang lebih penting adalah tiadalah yang dibahas melainkan Qaalallah dan Qaala Rasulullah dengan pemahaman shalafus shalih. Walhasil dengan membaca Asy Syariah akan diperoleh manfaat yang banyak, baik itu berkenaan dengan aqidah, dan lain-lain.

Habidin
manang….@yahoo.com

Sumber Tulisan

Saya sering mengkopi artikel dari situs majalah ini untuk bahan buletin masjid kami. Selama ini mendapatkan tanggapan hangat dari masyarakat yang haus kajian Salaf. Yang menjadi pemikiran kami, bagaimana kami harus mencantumkan credit title? Apakah cukup ditulis alamat website situs ini saja ataukah beserta nama penulisnya??

Iman…@yahoo.com

  • Jawaban Redaksi:

Sebaiknya nama penulis juga dicantumkan, untuk menjaga keilmiahan materi.

 

Dalil Lengkap

Alhamdulillah, semoga Asy Syariah selalu komit dan eksis dalam membela Al-Haq ini di atas dakwah ilallah.

Ana sedikit usul yah, kalau bisa dalam penyajian topik seperti di Manhaji dan lain-lain diberikan lebih lengkap seperti dalilnya baik dari Al Qur`an dan Al-Hadits supaya kami dapat memperkaya khazanah yang dimiliki termasuk juga penjelasannya.

Barangkali itu saja dari ana. Walhasil Asy Syariah telah memberikan manfaat yang besar bagi ana dan kaum muslimin. Jazakumullahu khairan.

jultam…@salafy.cjb.net

 

  • Jawaban Redaksi:

Alhamdulillah, sampai saat ini kami tetap berkomitmen untuk senantiasa menyajikan materi secara ilmiah, sehingga dalil dari Al Qur`an, As Sunnah maupun atsar salafus shalih menjadi “menu wajib” dalam penyusunan mayoritas artikel di majalah ini.

Al-Jarh wa At-Ta’dil

السلام عليكم و رحمة الله و بركاته

“Konon”, “kabarnya”, “menurut sumber terpercaya”, “berdasarkan informasi yang masuk ke redaksi” adalah istilah-istilah yang jamak dipakai oleh media penyebar informasi kita saat ini. Di sini, kita tentu tak hendak mengulas itu semua dari perspektif kelayakan bahasa. Namun kita hendak menunjukkan betapa berita, kabar, atau apapun yang bersifat informatif yang beredar di masyarakat kita, sesungguhnya memiliki akurasi yang diragukan.

Selama ini, media banyak dicitrakan sebagai pengontrol kebijakan pemerintah, agen perubahan, penyambung lidah masyarakat, dan sebagainya.  Namun kita sering lupa, bahwa yang namanya media sulit untuk bisa bersikap objektif dan independen. Media yang anti pemerintah atau TNI/Polri misalnya, di balik ‘keindahan’ redaksionalnya, tentu akan menebar amunisi –sekecil apapun– untuk menyerang ‘musuh’-nya. Demikian juga media yang ditunggangi (kepentingan) sekelompok LSM, dipastikan bakal mendewakan penggiatnya sebagai sosok yang bersih dan tanpa cela.

Berbeda dengan Islam. Sebagai agama ilmiah, Islam –bukan oknum pemeluknya– mengedepankan sikap kehati-hatian yang tinggi dalam menyebarkan informasi kepada umatnya. Hadits, atsar shahabat, perkataan ulama, tarikh (sejarah) dan sebagainya, semuanya merupakan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah kepada publik. Sehingga dalam Islam tidak dikenal istilah “legenda rakyat” atau “cerita mitos”, karena Islam memang bukan rekaan atau karya sastra.

Namun demikian bukan berarti Islam menihilkan perbedaan. Perbedaan dalam mengukur kesahihan informasi memang terkadang muncul tanpa bisa dielakkan. Tapi perbedaan yang ditolerir Islam di sini adalah perbedaan yang dilatari dalil-dalil ilmiah. Bukan dalil yang dibangun di atas fanatisme madzhab atau golongan. Bukan pula pembenaran yang dibangun di atas logika yang dangkal.
Nah, al-jarh wat ta’dil adalah bagian dari proses keilmiahan Islam ini. Dengan metode ini, kesahihan informasi didasarkan atas integritas dan kapabilitas penyampainya. Bukan laiknya media agitator di mana mata rantai informasinya berdasarkan katanya dan katanya. Siapa sesungguhnya pembawa informasi tidak begitu menjadi soal. Yang penting bombastis, layak jual, syukur-syukur bisa melahirkan polemik.

Selain sebagai dasar ilmu hadits, al-jarh wat ta’dil juga diterapkan sebagai benteng bagi tersebarnya pemikiran atau isme-isme menyimpang yang banyak dikumandangkan sejumlah ‘intelektual’ Islam, orientalis, para ‘penjaja’ dan pengekor ideologi Barat. Lebih jauh tentang apa dan bagaimana al-jarh wat ta’dil ini dapat anda simak dalam Kajian Utama.

Lembar Sakinah, masih menghadirkan kajian-kajian menarik seputar kewanitaan dan keluarga. Di rubrik Mengayuh Biduk, giliran “khidmat” menjadi tema ulasan. Sikap khidmat (bakti) istri kepada suami, secara teori, sepertinya memang bukan hal yang sulit dilakukan oleh seorang istri. Namun prakteknya justru jauh panggang dari api. Banyak kita jumpai fenomena rumah tangga di mana istri cenderung bermalas-malasan dan menyerahkan segalanya kepada pembantu. Padahal bagi suami, nilai ketulusan istri, meski itu hanya menyajikan secangkir teh setiap pagi bisa menjadi penyemai cinta suami kepada sang istri. Repotnya, jika sang suamilah yang selama ini justru melakukan rutinitas rumah tangga setelah seharian lelah bekerja. Sementara sang istri justru asyik ngrumpi di rumah tetangga. Bahkan, bagi yang sibuk meniti karir, sekedar berbincang dengan suami hanya bisa dilakukan saat sarapan dan akhir pekan.

Lanjutan dari edisi sebelumnya, Wanita dalam Sorotan kali ini masih mengulas hukum berhijab. Kali ini yang diulas adalah Hukum Berhijab di hadapan Pria Banci atau lazim disebut waria. Detilnya, pembaca dapat menyimaknya di halaman 68.

Nah pembaca, langsung saja anda buka majalah kesayangan anda ini, simak kajian menarik dan temukan lautan ilmu di dalamnya, karena ilmu adalah ciri khas kami!

والسلام عليكم و رحمة الله و بركاته

Kewajiban Mengikuti Sunnah Nabi

Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata, “Sederhana dalam as-Sunnah lebih baik daripada bersungguh-sungguh di dalam bid’ah.” (Ibnu Nashr, 30, al-Lalikai 1/88 no. 114, dan al-Ibanah 1/320 no. 161)

 

Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata, “Tetaplah kamu beristiqamah dan berpegang dengan atsar serta jauhilah bid’ah.” (al-I’tisham, 1/112)

 

Al-Imam az-Zuhri rahimahullah berkata bahwa ulama kita yang terdahulu selalu mengatakan, “Berpegang dengan as-Sunnah adalah keselamatan. Ilmu itu tercabut dengan segera, maka tegaknya ilmu adalah kekokohan Islam sedangkan dengan perginya para ulama akan hilang pula semua itu (ilmu dan agama).” (al-Lalikai 1/94 no. 136 dan ad-Darimi, 1/58 no. 16)

 

Al-Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah berkata, “Berhati-hatilah kamu, jangan sampai menulis masalah apa pun dari ahli ahwa’, sedikit ataupun banyak. Berpeganglah dengan Ahlul Atsar dan Ahlus Sunnah.” (as-Siyar, 11/231)

 

Al-Imam al-Auza’i rahimahullah berkata, “Berpeganglah dengan atsar Salafus Saleh meskipun seluruh manusia menolakmu dan jauhilah pendapat orang-orang (selain mereka) meskipun mereka menghiasi perkataannya terhadapmu.” (asy-Syari’ah hlm. 63)

 

(Lammuddurril Mantsur minal Qaulil Ma’tsur, karya Abu Abdillah Jamal bin Furaihan al-Haritsi)