Doa Ketika Sedih dan Gelisah

اللَّهُمَّ إِنِّيْ عَبْدُكَ، وَابْنُ عَبْدِكَ، وَابْنُ أَمَتِكَ، نَاصِيَتِيْ بِيَدِكَ، مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ، عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ، أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ، سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِيْ كِتَابِكَ، أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِيْ عِلْم الْغَيْبِ عِنْدَكَ، أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيْعَ قَلْبِيْ، وَنُوْرَ صَدْرِيْ، وَجِلاَءَ حُزْنِيْ، وَذَهَابَ هَمِّيْ

“Ya Allah, sungguh aku hamba-Mu, anak hamba-Mu, anak hamba-Mu (yang perempuan), ubun-ubunku di tangan-Mu, telah lewat bagiku hukum-Mu, adil takdir-Mu bagiku. Aku meminta kepada-Mu dengan semua nama yang Engkau miliki, yang Engkau namakan diri-Mu sendiri, atau Engkau ajarkan kepada seorang dari hamba-Mu, atau Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau yang Engkau khususkan dalam ilmu gaib di sisi-Mu, agar Engkau jadikan al-Qur’an sebagai penyejuk hatiku, cahaya dadaku, pelapang kesedihanku, dan penghilang kegundahanku.”

(HR. Ahmad, 1/391 no. 3527, dan dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani)

Ayah Tiri Mahram bagi Istri Anak Tiri?

Ana mau tanya kepada Ustadzah barakallahu fikum, siapa sajakah wanita yang haram dinikahi oleh seorang lelaki karena hubungan mahram? Apakah istri anak tiri merupakan mahram bagi ayah tirinya? Jazakumullah khairan atas jawaban yang diberikan.

(Ummu Fulan, Cilacap, Jateng)

Lanjutkan membaca Ayah Tiri Mahram bagi Istri Anak Tiri?

Adakah Mahram Sementara?

Asy-Syaikh Muhammad Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah pernah ditanya, Ada seorang wanita tinggal bersama saudara perempuannya yang telah menikah, dan ia tidak berhijab dari iparnya. Bila ditegur karena perbuatannya itu, ia menjawab bahwa iparnya adalah mahram sementara baginya. Karena selama saudara perempuannya masih berstatus sebagai istri dari iparnya, maka tidak boleh iparnya menikahinya. Bagaimana tanggapan Syaikh terhadap hal ini?

Lanjutkan membaca Adakah Mahram Sementara?

Mahram, Perkara yang Diabaikan

Perselingkuhan dengan ipar, perzinaan dengan saudara sepupu, adalah sebagian peristiwa yang sudah banyak terjadi di sekitar kita. Mengapa terjadi demikian? Ini tak lain dikarenakan hukum syariat telah dilanggar dan diabaikan. Berduaan dengan kerabat nonmahram, menampakkan aurat di depannya, dsb, merupakan perbuatan-perbuatan yang tanpa sadar sering dilakukan dengan menjadikan hubungan kekerabatan sebagai tameng.

Lanjutkan membaca Mahram, Perkara yang Diabaikan

Zainab Bintu Khuzaimah Sebuah Kisah dalam Sepenggal Masa

Dalam perjalanan hidup Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia, tercatat tentang seorang wanita yang begitu pemurah dan dermawan. Namun, siapa gerangan yang dapat menolak keputusan Rabb semesta alam? Hingga wanita itu hanya sejenak menemani hari-hari Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia.

  Lanjutkan membaca Zainab Bintu Khuzaimah Sebuah Kisah dalam Sepenggal Masa

Bagimu Ayah dan Ibu …

Sebuah kebahagiaan yang mungkin tak bisa diungkapkan dengan kata-kata manakala orang tua mendapati di hari tuanya perlakuan yang demikian istimewa dari anak-anaknya. Ketika ia mulai lemah dan mungkin sakit-sakitan, anak-anaknya dengan sabar dan penuh perhatian memberikan perawatan kepadanya. Ini semua tentu tidak didapat begitu saja, namun melalui pendidikan dan perjuangan yang panjang dari orang tua tersebut agar anak-anaknya tumbuh menjadi anak yang saleh dan berbakti pada orang tuanya.

  Lanjutkan membaca Bagimu Ayah dan Ibu …

Sedekah yang Paling Utama

Sering kita mendengar, seorang wanita yang mengadu nasib ke negeri orang pulang dalam keadaan tinggal jasad, pulang dalam keadaan tubuh penuh luka karena disiksa majikannya, dan berbagai kisah pilu lainnya yang entah kapan berakhir. Kepergian para wanita itu adalah untuk mencari nafkah bagi keluarganya. Lantas di manakah suaminya? Haruskah seorang wanita menempuh risiko demikian besar untuk mencari nafkah? Tulisan berikut mencoba menguraikan bagaimana Islam mengatur permasalahan nafkah dalam keluarga.

Lanjutkan membaca Sedekah yang Paling Utama

Ayah Bunda Terimalah Baktiku

Di masa sekarang, anak yang benar-benar mau berbakti kepada orang tua jumlahnya sungguh sedikit. Yang sering dijumpai adalah sebaliknya, anak yang tidak tahu berterima kasih kepada orang yang telah membesarkannya. Ketika orang tua berusia lanjut dan sakit-sakitan, sang anak bukannya memberikan perawatan tapi malah memasukkan mereka ke panti jompo. Inilah realita yang banyak terjadi di sekitar kita.

Lanjutkan membaca Ayah Bunda Terimalah Baktiku

Kisah Nabi Syu’aib

Perbuatan maksiat yang dilakukan oleh seseorang yang sebenarnya tidak terdesak untuk melakukan perbuatan tersebut dosanya lebih besar daripada orang yang berbuat maksiat karena memang ia terdesak untuk berbuat demikian. Seperti umat Nabi Syu’aib ‘alaihissalam yang telah dikaruniai harta yang berlimpah namun mereka masih berbuat dosa dengan melakukan kecurangan dalam timbangan. Allah subhanahu wa ta’ala pun mengazab mereka dengan azab yang pedih.

Lanjutkan membaca Kisah Nabi Syu’aib

Pengadilan Terbuka Bagi Penghujat Allah dan RasulNya

Ali radhiallahu ‘anhu berkata,

لَوْ كَانَ الدِّيْنُ بِالرَّأْيِ لَكَانَ أَسْفَلُ الْخُفِّ أَوْلَى بِالْمَسْحِ مِنْ أَعْلاَهُ وَقَدْ رَأَيْتُ رَسُوْلَ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ يَمْسَحُ عَلَى ظَاهِرِ خُفَّيْهِ

“Seandainya yang menjadi tolok ukur di dalam agama ini adalah akal pikiran, niscaya bagian bawah khuf lebih pantas untuk diusap daripada bagian atasnya. Sungguh aku pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusap bagian atas dua khufnya.”

  Lanjutkan membaca Pengadilan Terbuka Bagi Penghujat Allah dan RasulNya

Akal Bukanlah Segalanya

وَيَسۡ‍َٔلُونَكَ عَنِ ٱلرُّوحِۖ قُلِ ٱلرُّوحُ مِنۡ أَمۡرِ رَبِّي وَمَآ أُوتِيتُم مِّنَ ٱلۡعِلۡمِ إِلَّا قَلِيلٗا ٨٥

“Mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah, ‘Ruh itu termasuk urusan Rabbku dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit’.” (al-Isra: 85)

  Lanjutkan membaca Akal Bukanlah Segalanya

Sihir Melenyapkan Aqidah

Sihir dan segala bentuknya adalah amalan yang sangat berbahaya bagi keutuhan akidah seorang muslim. Bahkan pada keadaan tertentu, ia bisa menyebabkan pelakunya keluar dari Islam (kafir). Ironisnya, sangat sedikit yang menyadari bahaya perbuatan ini. Bahkan akhir-akhir ini, dengan dukungan berbagai media massa, makin banyak orang yang menyukai perbuatan ini. Laa haula walaa quwwata illa billah.

  Lanjutkan membaca Sihir Melenyapkan Aqidah

Kedudukan Akal dalam Islam

Dalam Islam, akal memiliki posisi yang sangat mulia. Meski demikian, bukan berarti akal diberi kebebasan tanpa batas dalam memahami agama. Islam memiliki aturan untuk menempatkan akal sebagaimana mestinya. Bagaimanapun, akal yang sehat akan selalu cocok dengan syariat Allah subhanahu wa ta’ala, dalam permasalahan apa pun.

Lanjutkan membaca Kedudukan Akal dalam Islam

Penyembah Akal adalah pengikut Iblis

Ketika Nabi Adam ‘alaihissalam baru diciptakan, Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan malaikat dan Iblis untuk bersujud kepadanya. Malaikat mematuhi perintah Allah subhanahu wa ta’ala itu namun tidak demikian dengan Iblis. Dengan pemahaman akalnya, dia yang diciptakan Allah subhanahu wa ta’ala dari api merasa lebih mulia daripada Adam ‘alaihissalam yang diciptakan dari tanah. Allah subhanahu wa ta’ala pun murka dengan sikap Iblis tersebut. Inilah awal mula kesesatan akibat lebih mengedepankan akal dibanding nash. Dan perbuatan Iblis ini masih diikuti oleh sekelompok manusia sampai sekarang.

Lanjutkan membaca Penyembah Akal adalah pengikut Iblis

Mu’tazilah, Kelompok Sesat Pemuja Akal

Suatu ketika, Nurcholis Madjid pernah melontarkan gagasan untuk memaknai kalimat Laa ilaha illallah dengan ‘tidak ada tuhan selain Tuhan’. Sontak ide itu membuat geger muslimin Indonesia. Betapa tidak. Dengan idenya itu, dia telah memasukkan orang-orang kafir yang percaya dengan keberadaan Tuhan sebagai seorang muslim. Ini hanya satu contoh dari berbagai gagasan kontroversial para pemuja akal di Indonesia. Mereka tak lebih dari para pengekor ajaran Mu’tazilah, yang sudah muncul di masa al-Imam al-Hasan al-Bashri rahimahullah.

  Lanjutkan membaca Mu’tazilah, Kelompok Sesat Pemuja Akal

Gerakan Mengakali Syariat

Di penghujung tahun 2002, sebuah ormas Islam yang berpusat di Bandung mengeluarkan “fatwa” mati bagi seorang aktivis Jaringan Islam Liberal (JIL) yang dinilai telah melecahkan agama Islam, melecehkan kaum muslimin, dan melecehkan Allah. Siapa gerangan orang yang telah membuat kaum muslimin Indonesia begitu marah dan merasa dihinakan sedemikian rupa? Dialah Ulil Abshar Abdalla, tokoh utama JIL, kelompok yang suka mengkritisi syariat Islam tapi tidak pernah melakukan hal yang sama terhadap agama lain. Anak muda ini sekarang bisa dikatakan telah menjadi penerus tahta “mafia” gerakan penisbian (pengkaburan) syariat Islam di Indonesia.

Lanjutkan membaca Gerakan Mengakali Syariat

Dosa

Umar bin ‘Abdul Aziz rahimahullah berkata, “Aku tidak pernah berdusta saat aku mengetahui bahwa kedustaan merugikan pelakunya.” (Siyar A’lam an-Nubala, 5/121)

 

Ibn Syubrumah rahimahullah berkata,  “Aku heran terhadap orang yang memerhatikan makanannya dalam keadaan takut terhadap penyakit, akan tetapi dia tidak menjaga dari perbuatan dosa dalam keadaan takut ancaman neraka.” (Siyar A’lam an-Nubala, 6/348)

 

Thalq bin Habib rahimahullah berkata, “Sesungguhnya hak-hak Allah l itu lebih besar dari yang bisa hamba tunaikan dan nikmat Allah l itu lebih banyak dari yang bisa dihitung. Hendaknya seseorang itu bertobat di pagi dan sore hari.” (Siyar A’lam an-Nubala’, 4/602)

 

Syaqiq bin Ibrahim rahimahullah berkata, “Tanda tobat ialah menangis (menyesal) atas perbuatan (dosa) yang telah dilakukan dan takut akan terjatuh kembali ke dalam dosa (tersebut), tidak bergaul dengan orang-orang yang jahat, dan senantiasa bersama dengan orang-orang yang baik.” (Siyar A’lam an-Nubala, 9/315)