Rumahmu Tetap Istanamu

Rumah yang dihuni satu keluarga yang bisa jadi terdiri dari ayah, ibu, kakek, nenek, dan anak-anak, atau dihuni lebih dari itu atau kurang, dalam lebih dari satu ayat al-Qur’an disandarkan (diidhafahkan –bhs. Arab) kepada wanita.

Salah satunya ayat ke-33 dari surah al-Ahzab,

وَقَرۡنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجۡنَ تَبَرُّجَ ٱلۡجَٰهِلِيَّةِ ٱلۡأُولَىٰۖ

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu…” (al-Ahzab: 33) Lanjutkan membaca Rumahmu Tetap Istanamu

Cadar Menurut Ulama Mazhab Syafi’i

Awal era 90-an, apalagi sebelum 1990, muslimah yang bercadar di nusantara sangat jarang dijumpai. Di mata masyarakat, muslimah yang bercadar tersebut dianggap sangat aneh. Dia menjadi tontonan saat keluar rumah, bahkan sering menjadi bahan cercaan, makian, olokan, dan ejekan.

Tidak jarang pula yang merasa ketakutan. Seakan-akan yang dilihat tersebut bukan manusia, melainkan hantu yang gentayangan. Apalagi anak-anak kecil, lebih seru lagi reaksinya.

Itu era 90-an… Bagaimana hari-hari sekarang setelah berlalu hitungan lebih dari seperempat abad?

Di beberapa daerah, pakaian cadar berlanjut keterasingannya dan masih saja dianggap aneh. Namun, alhamdulillah, di banyak daerah masyarakat sudah “terbiasa” melihat pemandangan muslimah yang menutup wajahnya dengan cadar. Jumlah pemakainya pun sangat banyak.

Akan tetapi, sangatlah disayangkan masih tersebar anggapan bahwa cadar adalah simbol bahwa pemakainya pengikut aliran sesat, bagian dari kelompok radikal dan golongan ekstrem. Memang didapati di antara istri para pelaku bom teror di negeri ini ternyata mengenakan cadar. Jadilah cap bahwa muslimah bercadar adalah bagian dari para teroris, wallahul musta’an.

Belum lama, istri seorang pimpinan teroris di Poso yang tertembak mati oleh pasukan keamanan dalam Operasi Tinombala, tertangkap setelah pelariannya selama 5 hari, dalam keadaan mengenakan penutup wajah. Nah, bertambah lagi fitnah bagi muslimah yang bercadar.

Ada juga orang-orang yang tidak memberikan cap buruk kepada cadar. Namun, mereka beranggapan bahwa cadar adalah budaya Arab yang ditiru oleh muslimah di negeri ini. Jadi, menurut mereka, sebenarnya cadar tidak cocok dengan budaya Indonesia.

Karena itulah, ada yang sinis ketika melihat muslimah bercadar, “Tuh yang cadaran merasa berada di negeri Arab. Kok nggak sekalian naik unta aja ke mana-mana.”

Ada juga yang berkata, “Wanita Arab aja banyak yang lepas cadar, kok perempuan Indonesia malah bergaya cadaran.”

Atau kalimat-kalimat cemoohan lain yang intinya menunjukkan ketidaksukaan mereka terhadap muslimah bercadar.

Yang lebih parah, ada yang menganggap bahwa cadar itu bid’ah, perkara yang dibuat-buat dan yang tidak dikenal dalam Islam. Kalaupun ada cadar, itu hanya zaman dahulu, khusus untuk istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Bagaimanakah duduk permasalahan yang sebenarnya? Bagaimana hukum

cadar dalam Islam? Apa kata ulama Islam yang terkenal tentang cadar?

Benarkah pemakai cadar dipastikan pengikut aliran sesat, kelompok teroris, membebek budaya Arab, dan mengikuti bid’ah?

Betul bahwa ada di antara kelompok aliran sesat yang wanitanya bercadar. Kelompok teroris juga demikian, ada yang wanitanya bercadar. Akan tetapi, cadar bukanlah ciri khas mereka. Artinya, kalau ada wanita yang bercadar belum tentu dia pengikut aliran sesat, belum tentu dia wanita teroris.

Intinya, jangan mudah memvonis dan menuduh tanpa mengerti hukum dan duduk perkara yang sebenarnya. Jangan pula menyamaratakan. Semua perlu kejelasan dan kepastian.

Yang kita inginkan adalah ilmu yang benar terkait masalah cadar ini agar tidak ada lagi tuduhan dan kecurigaan kepada pemakainya. Tidak pula muncul sikap memukul rata bahwa mereka semua dari aliran atau kelompok yang sama.

Karena di Indonesia banyak kaum muslimin yang mengikuti mazhab al-Imam Muhammad bin Idris asy-Syafi’i rahimahullah, kami hanya akan membawakan ucapan beberapa ulama terkenal dari mazhab Syafi’i. Kami berharap kaum muslimin di negeri ini memiliki ilmu tentang masalah cadar dari mazhab yang mereka percayai dan mereka peluk.

Semoga tulisan ini membuka mata dan hati kaum muslimin di negeri tercinta ini agar tidak salah menilai dan berbuat. Wallahul musta’an.

 

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah

Siapa yang tidak kenal dengan al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah[1], seorang tokoh terdepan dalam mazhab Syafi’i.

Ketika membahas boleh tidaknya seorang wanita melihat ke lelaki ajnabi (bukan mahram), beliau rahimahullah menyatakan,

“Yang menguatkan pendapat ‘boleh’ adalah kaum wanita terus diperkenankan untuk keluar ke masjid, ke pasar, dan melakukan safar (bersama mahramnya –pen.) dalam keadaan mereka berniqab (bercadar) agar para lelaki tidak melihat (wajah) mereka.

Sementara itu, para lelaki sama sekali tidak diperintah untuk memakai niqab agar tidak terlihat oleh kaum wanita. Ini menunjukkan perbedaan hukum antara kedua golongan (laki-laki dan wanita).”

Dengan alasan ini pula al-Ghazali berargumen membolehkan wanita melihat lelaki ajnabi. Dia mengatakan,

“Tidaklah kita mengatakan bahwa wajah lelaki adalah aurat yang tidak boleh dilihat oleh wanita, sebagaimana wajah wanita adalah aurat yang tidak boleh dilihat oleh lelaki.

Wajah wanita itu seperti wajah amrad (anak lelaki yang belum tumbuh jenggotnya sehingga wajahnya tampak manis seperti perempuan –pen.) pada lelaki sehingga diharamkan memandang si amrad. Hanya saja, pengharaman (memandang amrad) ini ketika dikhawatirkan adanya godaan. Apabila tidak timbul fitnah[2], tidak haram.

(Bukti bahwa wajah lelaki bukan aurat, tidak seperti wajah wanita) adalah kaum lelaki sepanjang masa senantiasa terbuka wajahnya (tidak dicadari). Adapun kaum wanita, apabila keluar rumah mereka mengenakan niqab.

Seandainya lelaki dan wanita itu sama dalam hal ini, niscaya kaum lelaki akan diperintah untuk berniqab atau kaum wanita dilarang keluar rumah (agar tidak melihat wajah lelaki yang terbuka).” (Fathul Bari, 9/337)

Ketika menyebutkan ucapan Aisyah radhiallahu ‘anhuma,

        يَرْحَمُ اللهُ نِسَاءَ الْمُهَاجِرَاتِ الْأُوَلِ، لَمَّا أَنْزَلَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى} وَلۡيَضۡرِبۡنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّۖ { شَقَقْنَ مُرُوْطَهُنَّ فَاخْتَمَرْنَ بِهَا.

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala merahmati kaum wanita Muhajirat (yang berhijrah meninggalkan negerinya menuju Madinah –pen.). Tatkala Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan ayat (artinya), “Hendaklah mereka mengulurkan kerudung-kerudung mereka di atas dada-dada mereka,”[3] mereka memotong-motong muruth, lalu ikhtimar dengannya.

Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan, “Ucapan Aisyah radhiallahu ‘anha مُرُوْطَهُنَّ , muruth adalah jamak dari murth, maknanya izar/sarung/kain.... Ucapan Aisyah radhiallahu ‘anha فَاخْتَمَرْنَ maksudnya mereka menutupi wajah mereka (dengan potongan muruth).” (Fathul Bari, 8/490)

Alangkah bagusnya ucapan Ibnu Hajar rahimahullah, “Termasuk hal yang dimaklumi, seorang lelaki yang berakal tentu merasa keberatan apabila lelaki ajnabi melihat wajah istrinya, putrinya, dan semisalnya.” (Fathul Bari, 12/240)

 

Jalaluddin al-Muhalli rahimahullah

Saat menafsirkan firman Allah subhanahu wa ta’ala,

          يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِيُّ قُل لِّأَزۡوَٰجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَآءِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ يُدۡنِينَ عَلَيۡهِنَّ مِن جَلَٰبِيبِهِنَّۚ ذَٰلِكَ أَدۡنَىٰٓ أَن يُعۡرَفۡنَ فَلَا يُؤۡذَيۡنَۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورٗا رَّحِيمٗا ٥٩

        “Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, putri-putrimu, dan wanitanya orang-orang beriman agar mereka mengulurkan jalabib (jilbab-jilbab) mereka di atas tubuh mereka. Hal itu lebih pantas untuk mereka dikenali sehingga mereka tidak diganggu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (al-Ahzab: 59)

 

seorang tokoh ulama mazhab Syafi’i yang terkemuka, Jalaluddin al-Muhalli rahimahullah[4] mengatakan, “Jalabib adalah bentuk jamak dari jilbab, yaitu mala’ah (pakaian panjang) yang menutupi seluruh tubuh wanita.

Ayat di atas memerintahkan agar mereka mengulurkan sebagian jilbab tersebut menutupi wajah, saat mereka keluar rumah untuk memenuhi kebutuhan mereka (tidak ada yang terlihat dari mereka) kecuali satu mata.

Firman-Nya,ذَٰلِكَ أَدۡنَىٰٓ  “hal itu” lebih pantas untuk أَن يُعۡرَفۡنَ “mereka dikenali” bahwa mereka adalah wanita merdeka (bukan budak), فَلَا يُؤۡذَيۡنَۗ “sehingga mereka tidak diganggu”, dengan dihadang (digoda) di jalan.

Berbeda halnya dengan wanita yang berstatus budak, mereka tidak menutupi wajah sehingga orang-orang munafik menghadang mereka (di jalan).

Firman-Nya, وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورٗا“dan adalah Allah Maha Pengampun” terhadap perbuatan mereka tidak berhijab pada masa yang lalu (sebelum turunnya perintah); dan رَّحِيمٗا “Allah Maha Penyayang”, terhadap mereka saat mereka berhijab.” (Tafsir al-Jalalain, hlm. 559, cetakan Darul Hadits)

 

Al-Hafizh Jalaluddin as-Suyuthi[5] rahimahullah

Nama beliau sering kita dengar. Orang-orang yang menisbatkan diri pada mazhab Syafi’i sudah tentu mengenalnya. Sebab, as-Suyuthi rahimahullah termasuk tokoh besar dalam mazhab Syafi’i . Apa gerangan pendapat beliau tentang cadar atau penutup wajah bagi wanita?

Saat menafsirkan firman Allah subhanahu wa ta’ala surat al-Ahzab ayat 59 di atas, beliau berkata, “Ayat di atas adalah ayat hijab yang berlaku untuk seluruh wanita. Di dalamnya ada kewajiban menghijabi kepala dan wajah. Ini tidaklah diwajibkan kepada para budak perempuan.”

Ibnu Abi Hatim rahimahullah mengeluarkan riwayat dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma terkait dengan ayat di atas. Kata Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, “Allah subhanahu wa ta’ala memerintah para wanita mukminah apabila keluar rumah untuk suatu kebutuhan, hendaknya menutupkan jilbab dari atas kepala mereka (hingga menutupi seluruh tubuh mereka –pen.) dan mereka menampakkan (hanya) satu mata (untuk kebutuhan melihat jalan –pent.).” (al-Iklil fi Istimbath at-Tanzil, hlm. 214, karya as-Suyuthi)

 

Ibnu Hajar al-Haitami rahimahullah

Pernah ada yang bertanya kepada Ibnu Hajar al-Haitami[6] rahimahullah kurang lebih sebagai berikut,

“Di zaman ini banyak kaum wanita keluar rumah menuju ke pasar (untuk berbelanja –pen.) dan masjid untuk mendengar nasihat, mengerjakan thawaf, dan keperluan selainnya di masjid Makkah (Masjidil Haram –pen.).

Namun, para wanita ini keluar dengan penampilan yang aneh (yang tidak dikenal dalam Islam karena Islam tidak mengajar demikian –pen.). Penampilan tersebut secara pasti dapat menggoda kaum lelaki.

Mereka keluar dalam keadaan berhias semaksimal yang mereka sanggupi, dengan berbagai dandanan, bermacam perhiasan dan pakaian, seperti gelang kaki, gelang tangan, dan perhiasan emas yang terlihat pada lengan-lengan mereka, ditambah lagi aroma bukhur (dupa yang semerbak) dan parfum.

Bersamaan dengan itu, mereka menampakkan banyak bagian tubuh mereka, seperti wajah, tangan, dan selainnya. Mereka berjalan berlenggak-lenggok/gemulai yang jelas terlihat bagi orang yang sengaja melihat ke arah mereka ataupun tidak.

Apabila penampilannya demikian, apakah pemimpin negeri dan kalangan yang memiliki kekuasaan serta kemampuan wajib melarang para wanita tersebut keluar rumah? Bahkan, melarang mereka datang ke masjid, sampaipun itu Masjid al-Haram?”[7]

Beliau rahimahullah memberikan jawaban yang panjang. Intinya, beliau menyatakan haramnya pelanggaran syariat yang disebutkan. Beliau juga menetapkan, wajib melarang wanita keluar rumah dalam keadaan yang disebutkan karena dapat menjerumuskan ke dalam godaan.

Di antara ucapan beliau rahimahullah, “Dalam Mansak Ibnu Jama’ah al-Kabir disebutkan, termasuk kemungkaran terbesar yang dilakukan oleh orang-orang awam yang jahil saat thawaf adalah para lelaki berdesak-desakan dengan istri-istri mereka yang dalam keadaan membuka wajah (tidak menutup wajah)….” (al-Fatawa al-Fiqhiyah al-Kubra, 1/201—202)

Demikianlah ucapan alim ulama mazhab Syafi’i. Mereka berbicara didasari oleh ilmu dan ketakwaan, bukan hawa nafsu.

Karena terbatasnya tempat kami hanya bawakan pandangan empat orang di antara mereka sebagai perwakilan. Ini baru ulama mazhab Syafi’i, belum ucapan ulama mazhab yang lain: mazhab Hanafi yang mengikuti pendapat Abu Hanifah rahimahullah, mazhab Maliki yang mengikuti al-Imam Malik rahimahullah, ataupun mazhab Hambali yang mengikuti pendapat al-Imam Ahmad ibnu Hambal rahimahullah.

Sungguh, tidak ada satu pun dari mereka yang mengatakan cadar itu haram, bid’ah, atau tidak dikenal dalam Islam.

Kalaupun ada di antara mereka yang berpendapat hukum cadar tidak wajib, hanya afdhaliyah atau sunnah, tidak ada seorang dari mereka yang mengatakan ‘terlarang bagi muslimah mengenakan cadar’ atau ‘cadar harus ditanggalkan’.

Nah, apabila demikian pendapat para ulama, sekarang apa yang kita permasalahkan saat melihat seorang muslimah bercadar?

Bukankah dia hanya ingin menjalankan perintah agama yang diyakininya? Bukankah dia ingin menjaga kehormatan dirinya dengan menutup tubuhnya secara sempurna?

Bukankah dia ingin menjaga dirinya dari godaan dan mencegah agar dirinya tidak menggoda orang lain?

Apa salahnya seorang muslimah yang bercadar? Bukankah tidak ada dosa yang dilakukannya terkait pakaiannya?

Namun, tentu saja si muslimah harus belajar cara berhijab yang syar’i, cadar yang sesuai syariat, sehingga tidak asal-asalan dalam berhijab.

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

 

 

 

[1] Beliau adalah al-Imam al-Hafizh Syihabuddin Abu al-Fadhl Ahmad bin Ali bin Hajar al-Asqalani. Beliau lahir dan tumbuh di negeri Mesir, tepatnya di bulan Sya’ban tahun 773 H. Ayah ibu beliau telah wafat saat beliau masik kanak-kanak, sehingga tumbuhlah Ahmad kecil dalam keadaan yatim.

Al-Qur’anul Karim telah selesai beliau hafalkan ketika berusia 9 tahun. Setelah itu rihlah/perjalanan menuntut ilmu agama dimulai. Beliau menuju ke banyak negeri. Dalam banyak bidang ilmu, Ibnu Hajar mencapai kekokohan (mutqin). Mengajar dan menyampaikan khutbah di al-Jami’ al-Azhar termasuk rutinitas beliau.

Karya-karya tulis yang besar manfaatnya banyak beliau hasilkan. Di antara karya monumental beliau adalah kitab Fathul Bari Syarhu Shahih al-Bukhari. Ibnu Hajar wafat di Mesir pada 8 Dzulhijjah 852 H.

[2] Fitnah yang dimaksud, misalnya, ketika seorang lelaki remaja/dewasa memandang wajah anak lelaki yang manis yang belum tumbuh jenggotnya, tergerak syahwatnya sebagaimana tergerak saat memandang wanita.

Apabila terjadi yang seperti ini, si lelaki diharamkan memandang wajah amrad.

[3] an-Nur: 31

[4] Beliau adalah Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Ibrahim al-Muhalli asy-Syafi’i, termasuk tokoh ulama ahli ushul, alim dalam bidang tafsir dan fikih.

Karya-karya beliau memberikan manfaat kepada orang banyak. Di antara karyanya adalah Tafsir al-Jalalain yang disempurnakan oleh Jalaluddin as-Suyuthi dan kitab Kanzu ar-Raghibin fi Syarh al-Minhaj.

Beliau lahir di Kairo pada 791 H dan wafat pada 864 H.

 

[5] Julukan beliau ialah Jalaluddin, nama beliau adalah Abdur Rahman bin Abi Bakr bin Muhammad bin Sabiquddin al-Khudhairi as-Suyuthi asy-Syafi`i. Beliau lahir di Kairo pada 849 H.

Beliau mengkhatamkan al-Qur’an pada usia 8 tahun. Menuntut ilmu ke banyak negeri, beliau tempuh. Dalam rihlah ilmiah tersebut beliau mempelajari ilmu nahwu, bahasa, fikih, hadits, dan ilmu-ilmu syar`i lainnya.

Saat mencapai usia 40 tahun, beliau fokus beribadah dan menyusun karya tulis. Murid-murid Jami’ al-Azhar berguru kepada beliau. Karya-karya beliau menjadi pegangan di Jami’ tersebut.

Di antara karya beliau adalah al-Itqan fi ‘Ulumil Qur’an, ad-Durr al-Mantsur fit Tafsir bil Ma’tsur, ad-Dibaj ‘ala Shahih Muslim ibnul Hajjaj, dll.

Beliau wafat di Kairo pada 911 H.

 

[6] Beliau digelari Syihabuddin. Nama beliau Ahmad bin Muhammad al-Haitami. Lahir pada 909 H di sebuah daerah di negeri Mesir.

Beliau seorang yang faqih, muhaddits, dan mencapai imamah, yakni ketokohan, keteladanan, dan panutan dalam mazhab al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah.

Beliau memiliki banyak karya tulis, di antaranya Mablagh al-Arabi fi Fadhail ‘Arab, Tuhfah al-Muhtaj li Syarh al-Minhaj.

Beliau wafat pada 974 H.

[7] Pertanyaan di atas terkait dengan masa 500 tahun yang lalu. Tergambar dalam pertanyaan tersebut kondisi wanita sudah sedemikian parah.

Wahyu Turun Menjawab Masalah Seorang Wanita

Betapa dimuliakannya wanita dalam Islam. Bagaimana pun upaya musuh-musuh agama ini untuk mengaburkan kemuliaan tersebut, mereka tidak akan berhasil. Hanya orang-orang bodoh dan suka mengikuti hawa nafsu yang bisa mereka tipu, hingga ikut menuduh seperti tuduhan mereka.

Ayat Allah ‘azza wa jalla berikut ini pasti membuat orang-orang kafir putus asa dari makar mereka.

يُرِيدُونَ لِيُطۡفِ‍ُٔواْ نُورَ ٱللَّهِ بِأَفۡوَٰهِهِمۡ وَٱللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِۦ وَلَوۡ كَرِهَ ٱلۡكَٰفِرُونَ ٨

        “Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut-mulut mereka sementara Allah menyempurnakan cahaya-Nya walaupun orang-orang kafir itu benci.” (ash-Shaf: 8)

Ada lima pendapat mufassirin, kata al-Imam al-Qurthubi rahimahullah, tentang maksud ‘cahaya (nur) Allah’:

1 . Al-Qur’an, mereka ingin membatilkannya dan mendustakannya dengan perkataan. Demikian pendapat Ibnu Abbas dan Ibnu Zaid radhiallahu ‘anhuma.

  1. Islam, mereka ingin menolaknya dengan ucapan-ucapan. Demikian kata as-Suddi rahimahullah.
  2. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam , mereka ingin membinasakan beliau dengan goncangan-goncangan. Demikian pendapat adh-Dhahhak rahimahullah.
  3. Hujah-hujah dan bukti-bukti dari Allah ‘azza wa jalla, mereka ingin membatilkannya dengan pengingkaran dan pendustaan mereka. Demikian kata Ibnu Bahr rahimahullah.
  4. Permisalan yang dibuat, yaitu siapa yang ingin memadamkan cahaya matahari dengan mulutnya, niscaya dia dapati itu mustahil, tidak akan sanggup dia lakukan, demikian pula bagi siapa yang ingin membatilkan al-haq. Ini dihikayatkan dari Ibnu Isa rahimahullah.

 

Menurut Atha rahimahullah , menuki ‘azza wa jalla keterangan dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, sebab turunnya (sabab an-nuzul) ayat ini adalah wahyu dari langit pernah terlambat turun kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai 40 hari.

Seorang Yahudi, Ka’b ibnul Asyraf, berkata, “Wahai sekalian orang Yahudi, bergembiralah kalian! Sungguh, Allah telah memadamkan cahaya Muhammad dalam apa yang Dia turunkan kepada Muhammad. Allah tidak akan menyempurnakan urusan Muhammad.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersedih. Allah ‘azza wa jalla lalu menurunkan ayat ini. Setelah itu, turunlah wahyu secara berkesinambungan (tidak terputus).

Allah ‘azza wa jalla menyempurnakan cahaya-Nya dengan memenangkannya di berbagai penjuru ufuk. (al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, 18/56)

Banyak bukti yang menunjukkan pemuliaan dan perhatian Islam terhadap wanita. Salah satunya adalah pernah turun wahyu dari langit untuk menjawab keluhan seorang wanita dan memberikan solusi atas masalahnya.

Anda pernah membaca surah al-Mujadilah, kan? Itulah wahyu yang kita maksudkan di sini.

Ummul Mukminin Aisyah radhiallahu ‘anha, menyampaikan,

تَبَارَكَ الَّذِي أَوْعَى سَمْعهُ كُلّ شَيْءٍ إِنِّي لَأَسْمَعُ كَلاَمَ خَوْلَةَ بِنْتِ ثَعْلَبةَ وَيَخْفَى عَلَيَّ بَعْضُهُ وَهِيَ تَشْتَكِي زَوْجَهَا إِلَى رَسُوْلِ اللهِ وَهِيَ تَقُوْلُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، أَكَلَ مَالِيْ، وَأَفْنَى شَبَابِي، وَنَثَرْتُ لَهُ بَطْنِي، حَتَّى إِذَا كَبُرَتْ سِنّيِ وَانْقَطَعَ وَلَدِي ظَاهَرَ مِنّيِ. اللَّهُمَّ إِنِّي أَشْكُوْ إِلَيْكَ.

قَالَتْ: فَمَا بَرِحَتْ حَتَّى جَاءَ جِبْرِيْلُ بِهَذِهِ ا يْآلَةِ:

قَدۡ سَمِعَ ٱللَّهُ قَوۡلَ ٱلَّتِي تُجَٰدِلُكَ فِي زَوۡجِهَا وَتَشۡتَكِيٓ إِلَى ٱللَّهِ وَٱللَّهُ يَسۡمَعُ تَحَاوُرَكُمَآۚ إِنَّ ٱللَّهَ سَمِيعُۢ بَصِيرٌ ١

Mahasuci Dzat yang pendengaran-Nya meliputi segala sesuatu. Sungguh, aku mendengar ucapan Khaulah bintu Tsa’labah dan sebagiannya tidak terdengar olehku.

Dia mengeluhkan suaminya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan berkata, “Wahai Rasulullah, dia telah memakan hartaku, menghabiskan masa mudaku, dan aku telah melahirkan banyak anak untuknya. Ketika usiaku telah tua dan tidak bisa melahirkan lagi, dia menzhiharku. Ya Allah, aku adukan hal ini kepada-Mu.”

Kata Aisyah, “Tidaklah berapa lama hingga datang Jibril dengan ayat ini (yang artinya), ‘Sungguh, Allah telah mendengar ucapan seorang wanita yang mendebatmu dalam urusan suaminya dan mengadu kepada Allah. Allah mendengar percakapan antara kalian berdua (Rasul dan wanita tersebut). Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat’.” (HR. Ibnu Abi Hatim, dibawakan oleh al-Imam ath-Thabari rahimahullah dalam tafsirnya, 23/226)

Dalam riwayat al-Imam Ahmad rahimahullah (6/46), disebutkan bahwa Aisyah radhiallahu ‘anha berkata,

“Mahasuci Allah yang pendengaran-Nya luas meliputi semua suara. Sungguh, pernah datang seorang wanita kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia berbicara kepada Nabi sedangkan aku berada di satu sisi rumah. Aku tidak mendengar apa yang diucapkan wanita tersebut.

 

Allah ‘azza wa jalla pun menurunkan ayat,

قَدۡ سَمِعَ ٱللَّهُ قَوۡلَ ٱلَّتِي تُجَٰدِلُكَ فِي زَوۡجِهَا وَتَشۡتَكِيٓ إِلَى ٱللَّهِ وَٱللَّهُ يَسۡمَعُ تَحَاوُرَكُمَآۚ إِنَّ ٱللَّهَ سَمِيعُۢ بَصِيرٌ ١

        “Sungguh, Allah telah mendengar ucapan seorang wanita yang mendebatmu dalam urusan suaminya dan mengadu kepada Allah. Allah mendengar percakapan antara kalian berdua (Rasul dan wanita tersebut). Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (al-Mujadilah: 1)

Diriwayatkan pula oleh al-Imam al-Bukhari rahimahullah dalam Shahih-nya, pada “Kitab at-Tauhid”, secara mu’allaq (tanpa membawakan sanad), an-Nasa’i, Ibnu Majah, dll. (ash-Shahihul Musnad min Asbab an-Nuzul, asy-Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i rahimahullah, hlm. 235)

Wahyu di atas turun dari atas langit sebagai jawaban atas keluhan Khaulah bintu Tsa’labah radhiallahu ‘anha, seorang wanita salihah, yang mengadukan perkaranya kepada Allah ‘azza wa jalla dan mendebat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terkait urusannya dengan suaminya, Aus bin ash-Shamit radhiallahu ‘anhu.

Disebutkan bahwa Aus menzhihar[1] istrinya, kemudian pergi begitu saja. Khaulah, sang istri, datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta fatwa tentang masalahnya dan mengadukan urusannya kepada Allah ‘azza wa jalla.

Riwayat al-Imam Ahmad rahimahullah (6/410) berikut ini lebih menjelaskan kisahnya.

Khuwailah[2] bintu Tsa’labah berkata,

“Demi Allah, tentang aku dan Aus bin ash-Shamit lah, Allah ‘azza wa jalla menurunkan awal ayat surat al-Mujadilah.” Khuwailah lalu berkisah….

Aku adalah istri Aus. Dia sudah tua renta, telah buruk perilakunya. Suatu hari dia menemuiku, aku menjawab (membantah) ucapannya dalam suatu urusan. Dia marah hingga berkata, ‘Kamu bagiku seperti punggung ibuku[3].’

Lalu dia keluar rumah. Dia duduk di tempat perkumpulan kaumnya beberapa waktu.

Aus masuk lagi ke rumah menemuiku, ternyata dia “menginginkan” diriku.

Aku katakan, “Jangan, demi Dzat yang jiwa Khuwailah berada di tangan-Nya. Janganlah kamu menggauliku karena kamu telah mengatakan apa yang kamu katakan, sampai Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya memutuskan urusan kita ini dengan hukum-Nya.”

Aus pun melompat untuk menguasaiku, namun aku menolaknya dan bisa mengalahkannya dengan kemampuan seorang wanita saat menghadapi lelaki tua yang lemah. Aku pun mendorongnya dariku.

Aku lalu keluar rumah menuju seorang tetanggaku. Aku pinjam darinya sebuah pakaian, lalu pergi menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku duduk di hadapan beliau. Aku ceritakan kepada beliau apa yang aku dapati dari Aus. Mulailah aku mengadu kepada beliau atas buruknya perilaku Aus yang aku dapati.

Namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai Khuwailah, anak pamanmu itu (suamimu) adalah lelaki yang sudah tua. Bertakwalah engkau kepada Allah ‘azza wa jalla terkait dengan urusannya.”

“Demi Allah!” lanjut Khuwailah, “Aku terus-menerus mengadukan urusanku hingga turun ayat tentangku.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengalami apa yang biasa dialami manakala wahyu sedang turun. Setelah selesai, hilanglah apa yang tampak berat bagi beliau. Beliau lalu berkata kepadaku, “Wahai Khuwailah, Allah ‘azza wa jalla telah menurunkan ayat tentang urusanmu dan suamimu.”

Kemudian beliau membacakan kepadaku ayat,

قَدۡ سَمِعَ ٱللَّهُ قَوۡلَ ٱلَّتِي تُجَٰدِلُكَ فِي زَوۡجِهَا وَتَشۡتَكِيٓ إِلَى ٱللَّهِ وَٱللَّهُ يَسۡمَعُ تَحَاوُرَكُمَآۚ إِنَّ ٱللَّهَ سَمِيعُۢ بَصِيرٌ ١

sampai firman-Nya,

وَلِلۡكَٰفِرِينَ عَذَابٌ أَلِيمٌ ٤

 

“Suruhlah Aus untuk memerdekakan seorang budak,” kata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepadaku.

“Wahai Rasulullah, dia tidak punya apa-apa yang bisa digunakan untuk memerdekakan budak,” jawab Khuwailah.

“Kalau begitu, suruh dia puasa dua bulan berturut-turut,” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan solusi berikutnya.

“Demi Allah, dia lelaki tua yang sudah tidak mampu puasa,” jawab Khuwailah.

“Jika demikian, hendaknya dia memberi makan 60 orang miskin dengan satu wasaq[4] kurma,” titah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Demi Allah, wahai Rasulullah, dia tidak punya makanan tersebut,” jawab Khuwailah mengisyaratkan kemiskinan suaminya.

“Kami akan bantu dia dengan satu ‘araq[5] kurma,” kata Rasulullah.

“Wahai Rasulullah, saya juga akan membantunya dengan satu ‘araq.”

Rasulullah menanggapi, “Kamu benar dan telah berbuat baik. Pergilah lalu bersedekahlah dengan kurma tersebut untuk melepaskan suamimu dari masalahnya. Kemudian berbuat baiklah terhadap anak pamanmu itu.”

Kata Khuwailah, “Aku pun melakukan pesan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Diriwayatkan pula oleh Abu Dawud no. 2214 dengan sanad yang dinilai hasan oleh al-Imam al-Albani rahimahullah dalam Shahih Abi Dawud)

 

Hukum Zhihar

Terkait kasus Khaulah inilah ditetapkan hukum zhihar dan solusi untuk lepas darinya.

Hukum seorang suami menzhihar istrinya adalah haram berdasar al-Qur ’an, as-Sunnah, dan ijma’ (kesepakatan kaum muslimin).

Dari al-Qur’an, dalil pengharamannya adalah ayat,

          وَإِنَّهُمۡ لَيَقُولُونَ مُنكَرٗا مِّنَ ٱلۡقَوۡلِ وَزُورٗاۚ

“Sungguh mereka mengucapkan ucapan yang mungkar dan dusta.” (al-Mujadilah: 2)

Berucap mungkar dan dusta termasuk dosa besar. Sebab, makna ucapan suami yang menzhihar istrinya, “Engkau seperti punggung ibuku” adalah istrinya haram dia gauli sebagaimana ibunya haram baginya. Padahal Allah ‘azza wa jalla berfirman,

مَّا هُنَّ أُمَّهَٰتِهِمۡۖ إِنۡ أُمَّهَٰتُهُمۡ إِلَّا ٱلَّٰٓـِٔي وَلَدۡنَهُمۡۚ

“Istri-istri (para suami yang melakukan zhihar) bukanlah ibu-ibu mereka. Karena ibu-ibu mereka tidak lain kecuali perempuan-perempuan yang telah melahirkan mereka.” (al-Mujadilah: 2)

Dari as-Sunnah, dalilnya hadits Khaulah di atas.

Adapun ijma’ pengharaman zhihar dinyatakan oleh Ibnul Mundzir rahimahullah. (Taudhihul Ahkam, 5/534)

Bagaimana apabila ada suami yang mengucapkan kalimat zhihar dengan bercanda, apakah berlaku ketentuan zhihar terhadapnya?

Jawabannya bisa didapatkan dari penjelasan al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah terhadap akhir ayat ke-2 surah al- Mujadilah. Allah ‘azza wa jalla menutup ayat ke-2 dengan firman-Nya,

وَإِنَّ ٱللَّهَ لَعَفُوٌّ غَفُورٞ ٢

“Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.”

Kata beliau rahimahullah, “Sungguh, Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun terhadap apa yang kalian lakukan dalam keadaan jahiliah. Demikian pula Allah ‘azza wa jalla memaafkan dan mengampuni ucapan yang keluar dari lisan tanpa sengaja, si pengucap tidak memaksudkan hal tersebut sama sekali. Namun, apabila si pengucap memang memaksudkan demikian, istrinya haram ‘digauli’[6]. (al-Mishbah al-Munir fi Tahdzib Tafsir Ibni Katsir, hlm. 1373)

 

Pelajaran dari Ayat Zhihar

  1. Kelembutan Allah ‘azza wa jalla kepada para hamba-Nya dan perhatian-Nya

terhadap mereka

Perhatikanlah, Allah ‘azza wa jalla menyebutkan keluhan si wanita yang sedang dibelit problem, kemudian Allah ‘azza wa jalla menghilangkan kesulitannya. Bahkan, Allah ‘azza wa jalla menurunkan hukum yang bersifat umum bagi siapa saja yang mengalami masalah sepertinya.

  1. Zhihar diharamkan karena Allah ‘azza wa jalla menyebutnya sebagai ucapan mungkar.
  2. Kafarah zhihar ditunaikan manakala si suami ingin ‘aud (kembali). Tentang makna ‘aud, ada yang mengatakan bahwa maksudnya adalah suami berkeinginan untuk menggauli istrinya yang semula dizhihar. Ada pula yang berpendapat maknanya jima’ itu sendiri.
  3. Hikmah diwajibkannya kafarah sebelum jima’ adalah lebih mendorong si suami untuk menunaikan kafarahnya. Sebab, saat dia “berkeinginan” dan tidak mungkin terwujud keinginannya kecuali setelah menunaikan kafarah, mau tidak mau dia akan bersegera mengeluarkannya. (Taisir al-Karim ar-Rahman, hlm. 845)
  4. Kafarah zhihar itu berurutan, jika tidak mampu yang pertama baru beralih ke yang berikutnya sebagaimana tersebut di dalam ayat.

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah

[1] Akan datang penjelasan tentang zhihar ini.

[2] Disebutkan nama Khaulah dengan tashghir dalam riwayat ini, Khuwailah.

[3] Aus menyamakan istrinya dengan ibunya, ‘sebagaimana ibu haram digauli, maka demikian pula kamu, haram bagiku’. Inilah yang dimaksud dengan zhihar. Dengan kalimat tersebut seorang suami ingin mengharamkan menggauli istrinya.

Ucapan zhihar tidak sebatas menyebut punggung, tetapi juga anggota tubuh yang lain. Tidak pula sebatas menyamakan dengan ibu, tetapi juga penyamaan dengan seluruh perempuan mahram yang haram digauli oleh si suami. Misalnya, si suami berkata, “Engkau seperti punggung adik perempuanku.”

Di masa jahiliah, zhihar ini dianggap talak. Jadi, apabila seorang suami menzhihar istrinya, berarti dia telah menalaknya. Namun, Allah ‘azza wa jalla memberikan keringanan bagi umat ini dengan menetapkan bahwa zhihar bukanlah talak, melainkan ucapan yang mungkar lagi dusta. Karena itu, suami yang menzhihar istrinya harus membayar kafarah manakala hendak kembali menggauli istrinya. Demikian yang dikatakan oleh lebih dari seorang dari kalangan salaf. (Tafsir Ibni Katsir, 8/39)

Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata, “Apabila seorang suami di masa jahiliah bila berkata kepada istrinya, ‘Kamu seperti punggung ibuku’, maka si istri menjadi haram baginya. Orang pertama yang melakukan zhihar setelah datangnya Islam adalah Aus bin ash-Shamit radhiallahu ‘anhu. Istrinya adalah putri pamannya (saudari sepupunya) bernama Khaulah bintu Tsa’labah radhiallahu ‘anha.” (Tafsir ath-Thabari)

[4] Satu wasaq = 60 sha’, setara kurang lebih 122,4 kg.

[5] Satu ‘araq = 15 sha’, setara kurang lebih 30,6 kg.

Hadits ini menunjukkan bahwa Khaulah membayarkan kafarah suaminya tanpa meminta pendapat atau disuruh suaminya. Demikian kata Abu Dawud rahimahullah dalam Sunannya.

[6] Suami haram menggauli istri yang dizhihar sampai ditunaikan kafarah zhihar. Ini adalah kesepakatan ulama. (Taudhihul Ahkam, 5/536)

Syiah Menistakan Kaum Hawa

Jika ingin tahu di mana ajaran yang ‘aneh tapi nyata’, jawabannya ada di agama Syiah. Kalau mau tahu ajaran sesat-menyesatkan, semuanya ada di Syiah.

Bagaimana tidak? Syiah mengoleksi demikian banyak keanehan, kejanggalan, sesuatu yang tidak bisa diterima oleh akal sehat, penyimpangan akidah, moral dan akhlak, serta menyelisihi fitrah manusia. Pun begitu, Syiah dianggap bagian dari Islam padahal Islam berlepas diri dari Syiah.

Berikut ini beberapa daftar kejahatan kaum yang rendah tersebut.

Dalam agama Syiah, kesyirikan bukanlah sesuatu yang dimungkiri. Seruan “Ya Husain!” biasa mereka ucapkan dalam perkumpulan mereka, dalam acara Husainiyat misalnya, seraya menepuk-nepuk dada. Lebih ngeri lagi syiriknya, mereka mengatakan bahwa Ali bin Abi Thalib, ayahanda Husain, adalah Rabb mereka pada hari kiamat.

Dalam agama Syiah ada pengagungan terhadap kuburan. Bahkan, beribadah dan sujud kepada kuburan tokoh-tokoh mereka adalah sesuatu yang biasa.

Dalam agama Syiah ada tuduhan bahwa al-Qur’an yang di tangan kaum muslimin itu kurang, tidak lengkap. Dalam agama Syiah ada penghinaan terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ahlul bait beliau.

Dalam agama Syiah ada pengafiran terhadap orang-orang terbaik dari umat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu para sahabat yang mulia radhiallahu ‘anhum, kecuali sedikit dari mereka.

Dalam agama Syiah ada legalisasi dusta dengan nama taqiyah. Bahkan, barang siapa tidak bertaqiyah, dia tidaklah beragama. Demikian anggapan mereka.

Dalam agama Syiah ada penghalalan darah orang-orang yang tidak mengikuti agama mereka, terutama darah Sunni (Ahlus sunnah) musuh besar Syiah.

Dalam agama Syiah ada kecintaan kepada Yahudi karena Syiah memang terlahir dari rahim Yahudi.

Dalam agama Syiah ada tindakan memakan harta manusia dengan cara batil yang dilakukan oleh tokoh agama mereka. Mereka menyebutnya khumus.

Dalam agama Syiah, shalat Jum’at tidak disyariatkan kecuali sekadar taqiyah, berpura-pura saja tanpa keyakinan. Bahkan, shalat lima waktu dikurangi menjadi tiga waktu. Yang lebih ngeri lagi, shalat dilakukan dengan menghadap foto atau poster tokoh agama mereka.

Dalam agama Syiah ada ritual menyantap najis, yaitu makan dan minum “kotoran” imam mereka. Mereka menganggap, barang siapa memakannya, ia akan selamat dari api neraka.

Dalam agama Syiah ada ritual sadis dengan memukul-mukul dahi dan punggung dengan benda tajam dalam peringatan Asyura.

Dalam agama Syiah ada kejahatan dan kezaliman yang diatasnamakan agama terhadap anak-anak kecil dengan menjadikan mereka berdarah-darah akibat pukulan pedang di dahi mereka. Anehnya, ini dilakukan sendiri oleh orang tua mereka dalam ritual acara Asyura.

Dalam agama Syiah dibolehkan sodomi, perbuatan kaum Luth (homoseks) juga dianggap halal.

Dalam agama Syiah ada penghalalan zina, penistaan terhadap perempuan atas nama mut’ah. Yang terakhir inilah yang ingin kita bicarakan secara khusus.

 

Nasib Perempuan Sebelum dan Setelah Islam

Islam dibawa oleh Sang Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam ke tengah manusia dalam keadaan nasib perempuan demikian terpuruk. Terkhusus di kalangan bangsa Arab pada masa jahiliah. Mereka membenci kelahiran bayi perempuan. Ada yang mengubur bayi perempuannya hidup-hidup. Ada pula yang membiarkannya hidup tetapi dalam keadaan terhina.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُم بِٱلۡأُنثَىٰ ظَلَّ وَجۡهُهُۥ مُسۡوَدّٗا وَهُوَ كَظِيمٞ ٥٨ يَتَوَٰرَىٰ مِنَ ٱلۡقَوۡمِ مِن سُوٓءِ مَا بُشِّرَ بِهِۦٓۚ أَيُمۡسِكُهُۥ عَلَىٰ هُونٍ أَمۡ يَدُسُّهُۥ فِي ٱلتُّرَابِۗ أَلَا سَآءَ مَا يَحۡكُمُونَ ٥٩

“Dan apabila salah seorang dari mereka diberi kabar dengan kelahiran anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) wajahnya dan dia sangat marah.

Dia menyembunyikan dirinya dari orang banyak disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memelihara anak perempuan tersebut dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup). Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.” (an-Nahl: 58—59)

Kalau ada bayi perempuan yang selamat dari penguburan hidup-hidup, dia tidak dipelihara dengan baik. Dia dibiarkan tumbuh dalam keadaan sengsara dan tersia-siakan.

Dia tidak berhak beroleh warisan dari kerabatnya yang meninggal walaupun kerabatnya tersebut kaya raya dan si perempuan fakir. Sebab, yang berhak mendapat warisan hanyalah kaum lelaki . Bahkan, apabila suaminya meninggal, si perempuan dan hartanya (apabila punya harta) menjadi warisan yang akan diambil oleh ahli waris suaminya. Mereka akan berbuat sesuka hati mereka kepadanya.

Di masa sebelum datangnya Islam, seorang lelaki bisa semaunya menikahi perempuan tanpa pembatasan dan tanpa peduli dengan keadaan istri-istri; kesempitan dan kezaliman, tidak ada mahar yang bisa dimiliki, tidak ada hak dan tidak ada pergaulan yang baik.

Keadaan pun berganti. Tatkala cahaya Islam bersinar menerangi bumi yang gulita, diangkatlah kezaliman terhadap perempuan. Islam menetapkan bahwa perempuan adalah manusia sebagaimana lelaki, keduanya berserikat dalam membentuk keturunan bangsa manusia.

          يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقۡنَٰكُم مِّن ذَكَرٖ وَأُنثَىٰ

“Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang lelaki dan seorang perempuan….” (al-Hujurat: 13)

Keduanya pun berserikat dalam hal mendapatkan pahala atau hukuman atas perbuatan yang dilakukan.

مَنۡ عَمِلَ صَٰلِحٗا مِّن ذَكَرٍ أَوۡ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤۡمِنٞ فَلَنُحۡيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةٗ طَيِّبَةٗۖ وَلَنَجۡزِيَنَّهُمۡ أَجۡرَهُم بِأَحۡسَنِ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ٩٧

“Barang siapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, dalam keadaan beriman, sungguh akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sungguh akan Kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (an-Nahl: 97)

          لِّيُعَذِّبَ ٱللَّهُ ٱلۡمُنَٰفِقِينَ وَٱلۡمُنَٰفِقَٰتِ وَٱلۡمُشۡرِكِينَ وَٱلۡمُشۡرِكَ

“…sehingga Allah mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan….” (al-Ahzab: 73)

Allah subhanahu wa ta’ala mengharamkan perempuan dijadikan barang warisan.

          يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا يَحِلُّ لَكُمۡ أَن تَرِثُواْ ٱلنِّسَآءَ كَرۡهٗاۖ

“Wahai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kalian mewarisi perempuan dengan cara paksa….” (an-Nisa: 19)

        Bahkan, perempuan menjadi ahli waris atas harta yang ditinggalkan oleh kerabatnya yang wafat sebagaimana halnya kaum lelaki.

          لِّلرِّجَالِ نَصِيبٞ مِّمَّا تَرَكَ ٱلۡوَٰلِدَانِ وَٱلۡأَقۡرَبُونَ وَلِلنِّسَآءِ نَصِيبٞ مِّمَّا تَرَكَ ٱلۡوَٰلِدَانِ وَٱلۡأَقۡرَبُونَ مِمَّا قَلَّ مِنۡهُ أَوۡ كَثُرَۚ نَصِيبٗا مَّفۡرُوضٗا ٧

“Bagi para lelaki ada bagian dari harta peninggalan kedua orang tua dan karib kerabat. Dan bagi perempuan ada pula bagian dari harta peninggalan kedua orang tua dan karib kerabat, baik sedikit ataupun banyak menurut bagian yang telah ditetapkan.” (an-Nisa: 7)

        Dalam urusan nikah, Allah subhanahu wa ta’ala membatasi seorang lelaki untuk mengumpulkan maksimal empat orang istri, dengan syarat suami bisa berlaku adil di antara istri-istrinya dan bisa bergaul dengan baik dengan mereka.

          وَعَاشِرُوهُنَّ بِٱلۡمَعۡرُوفِۚ

        “Dan bergaullah kalian (para suami) dengan mereka (para istri) secara patut.” (an-Nisa: 19)

Diwajibkan bagi seorang lelaki untuk menyerahkan mahar kepada perempuan yang dinikahinya.

          وَءَاتُواْ ٱلنِّسَآءَ صَدُقَٰتِهِنَّ نِحۡلَةٗۚ

“Berikanlah mahar kepada perempuan yang kalian nikahi sebagai pemberian dengan penuh kerelaan….” (an-Nisa: 4)

Selain itu, suami diwajibkan memberi makan dan pakaian kepada istrinya, menurut penjelasan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hak istri dalam hadits beliau yang agung. (Tanbihat ‘ala Ahkam Takhtashshu bil Mu’minat, Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah, hlm. 5—6)

 

Perempuan dalam Ajaran Syiah

Lain perempuan dalam ajaran Islam, lain pula dalam ajaran Syiah. Syiah memperlakukan perempuan tidak seperti nilai-nilai yang ditanamkan oleh Islam. Mereka menjadikan perempuan sebagai budak nafsu mereka yang kotor. Namun, mereka menyembunyikan kebusukan tersebut dengan mengatasnamakan agama. Mut’ah namanya. Dibuatlah riwayat-riwayat yang palsu oleh para zindiq tentang keutamaan mut ’ah, lalu mereka sandarkan secara dusta kepada para imam ahlul bait yang mulia.

Dengan mut’ah, seorang lelaki dalam agama Syiah—apalagi sekelas Sayyid atau Ayatullah—bisa sesukanya “menikahi” perempuan, tidak harus ada wali dan tanpa harus ada saksi. Ketemuan berdua di jalan, suka sama suka, si lelaki berkata, “Aku ingin mut’ah denganmu.”

Jika si perempuan setuju, disepakatilah maharnya (baca: sewanya) dan bisa ditentukan berapa lama ingin menjalani mut’ah tersebut, hanya satu jam, semalam, atau lebih dari itu.

Disebutkan riwayat dari kitabrujukan utama mereka “al-Kafi[1], Khalaf bin Hammad berkata, “Aku mengutus seseorang untuk bertanya kepada Abu Hasan tentang batas minimal waktu mut’ah. Apakah diperbolehkan mut’ah dengan kesepakatan jangka waktu satu kali hubungan badan?” Jawabnya, “Ya, boleh.” (al-Kafi, 5/460)

Perempuan yang dinikahi secara mut’ah memang tidak layak disebut istri, tetapi perempuan sewaan (lantas apa bedanya dengan pelacur?). Mereka meriwayatkan secara jahat dan dusta lalu mereka sandarkan kepada Abu Abdillah al-Husain bin Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhuma. Kata riwayat dusta itu, Abu Abdillah berkata, “Menikahlah dengan seribu perempuan, karena perempuan yang dimut’ah adalah perempuan sewaan.” (al-Kafi, 5/452)

Setelah kontrak mut’ah habis, terus bagaimana? Ya, bubar begitu saja. Tidak ada hak dan kewajiban, tidak ada hubungan waris-mewarisi. Demikian pernyataan Ayatullah mereka, Ali as-Sistani, dalam bukunya, Minhaj as-Salihin (3/80, masalah ke-255).

Bagaimana kalau ternyata si perempuan yang dimut’ah hamil akibat hubungan tersebut, apakah si lelaki bertanggung jawab menafkahi anak yang dikandung?

Kata Ali as-Sistani dalam masalah ke-256 di kitab yang sama, “Laki-laki yang nikah mu’tah dengan seorang perempuan tidaklah wajib untuk menafkahi istri mut’ahnya, walaupun sedang hamil dari bibitnya.”

Bahkan, banyak kejadian di negeri Syiah sana, tidak diketahui siapa lelaki yang berhasil menanamkan benih di rahim si perempuan karena si perempuan berulang kali melakukan mut’ah dengan banyak lelaki dalam sebulan. Na’udzu billah.

Yang lucu, untuk mengobati hati perempuan pelaku mut’ah yang mungkin ‘hancur lebur’ karena hamil tanpa suami yang sah/permanen, dibuatlah ‘riwayat’ bahwa anak yang terlahir dari nikah mut’ah lebih utama daripada anak yang lahir dari pernikahan yang sah. Imam Ja’far versi mereka di kitab mereka berkata, “Dan anak hasil mut’ah lebih utama daripada anak dari istri da’im (dari nikah permanen).” (Tafsir Minhajus Shadiqin, al-Mulla al-Kasyani, 2/495)

Di negeri pengekspor ajaran Syiah atau yang mayoritas penduduknya beragama Syiah, anak-anak perempuan yang terlahir dari hasil mut’ah dibuatkan perkumpulan yang dinamakan Zainabiyat. Para perempuan Zainabiyat ini kelak siap dan suka hati menjadi “istri-istri” mut’ah.

Di sisi lain, para suami sah-sah saja menjadi dayyuts yang telah kehilangan akal sehatnya. Telah hilang rasa cemburu kepada istri-istri mereka. Mereka rela meminjamkan istrinya kepada tetangga, sahabat, atau siapa pun laki-laki yang dititipi selama si suami safar. Terserah yang dititipi mau berbuat apa saja terhadap istrinya.

Ini terjadi karena adanya fatwa ulama mereka tentang bolehnya i’aratul farj (menyewakan kemaluan). Ketika lelaki yang dititipi tersebut menggauli si istri, perbuatannya tidak dianggap zina, tetapi menikah sementara alias mut’ah selama suaminya safar. Na’udzu billah.

Lebih jauh lagi, mut’ah tidak hanya dilakukan dengan seorang gadis atau perempuan yang tidak memiliki suami sah. Mut’ah boleh dilakukan dengan istri orang lain, walau tanpa sepengetahuan dan ridha suaminya. Tidak hanya perempuan baligh yang menjadi korban ganasnya mut’ah, bahkan gadis kecil berusia kurang dari sepuluh tahun pun boleh dimut’ah, menurut fatwa ulama mereka.

Bahkan dikisahkan oleh Husain al-Musawi[2], Khomeini—imam Syiah yang sangat jahat dan Allah subhanahu wa ta’ala cukupkan kita dari kejahatannya dengan kematiannya—pernah melakukan mut’ah dengan bocah perempuan berusia 4 atau 5 tahun. (Lillahi Tsumma lit Tarikh, as-Sayyid Husain al-Musawi, hlm. 35—37)

Melengkapi kejahatannya, Khomeini memandang bolehnya mut’ah dengan bayi perempuan yang masih menyusu sekalipun, sebagaimana dalam bukunya Tahrir al-Wasilah (2/241, masalah no. 12).

Apa yang kita simpulkan dari pemaparan di atas?

Perempuan, dari bayi sampai yang dewasa, tidak memiliki kehormatan di sisi Syiah. Perempuan dihinakan, hanya menjadi objek pemuas nafsu setan. Kalau si lelaki masih suka, dia tahan dalam hubungan mut’ah. Apabila sudah bosan, ditinggalkan begitu saja. Sungguh sengsara!

Betapa banyak lelaki yang melakukan mut’ah dengan seorang perempuan dan dengan ibunya. Dia melakukan mut’ah dengan si ibu dan dengan putri si ibu. Terjadi juga perempuan bersaudara dimut’ah oleh lelaki yang sama. Bahkan, ada seorang perempuan dimut’ah oleh seorang lelaki. Di belakang hari, si lelaki memut’ah putrinya sendiri dari hasil mut’ah sekian tahun sebelumnya. (Lillahi Tsumma lit Tarikh, hlm. 44)

Husain al-Musawi memberikan persaksian, “Pernah datang kepadaku[3] seorang ibu, meminta penjelasan dariku tentang kejadian yang menimpa dirinya. Dia beritakan kepadaku bahwa seorang tokoh agama Syiah, yaitu Sayyid Husain ash-Shadr, pernah mut’ah dengannya lebih dari 20 tahun yang lalu. Dia hamil dari hasil hubungan tersebut. Ketika Sayyid Husain ash-Shadr sudah tidak menginginkan dirinya, dia pun ditinggalkan.

Beberapa waktu kemudian dia melahirkan seorang anak perempuan. Dia bersumpah bahwa anak itu adalah hasil hubungannya dengan Sayyid Husain ash-Shadr karena waktu itu tidak ada seorang lelaki pun yang melakukan mut’ah dengannya selain Sayyid Husain.

Setelah si anak perempuan tumbuh besar, menjadi seorang remaja putri yang cantik dan siap menikah, ternyata si ibu mengetahui bahwa putrinya telah hamil. Saat ditanya sebab hamilnya, putrinya memberitakan bahwa Sayyid Husain ash-Shadr telah melakukan mut’ah dengannya hingga hamil. Si ibu bingung, apa yang semestinya dia lakukan?”

Kemudian al-Musawi mengatakan bahwa kejadian seperti di atas sering sekali terjadi. Ada yang melakukan mut’ah dengan seorang remaja putri yang ternyata adalah saudari perempuannya dari hasil mut’ah. Ada yang melakukan mut’ah dengan istri ayahnya. Di Iran, kejadian seperti ini tidak mampu dihitung karena banyaknya. (Lillahi Tsumma lit Tarikh, hlm. 44)

Demikian gambaran penistaan kaum Syiah terhadap kaum wanita. Maka dari itu, wahai kaum Hawa, jagalah dirimu jangan sampai mengikuti ajaran sesat Syiah! Jangan sampai engkau tertipu oleh mulut manis saudara setan dengan dalih agama.

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah

[1] Merupakan kitab hadits dan riwayat. Al-Kafi ini kedudukannya seperti Shahih al-Bukhari dalam agama Syiah. Penulisnya, Muhammad bin Ya’qub al-Kulaini, digelari Tsiqatul Islam.

[2] Beliau mantan ulama Syiah yang sudah bertobat. Beliau menulis buku berjudul Lillahi Tsumma lit Tarikh, yang membeberkan kebobrokan Syiah.

[3] Saat beliau masih bergabung dengan Syiah.

Tak Ingin Menjadi yang Mayoritas…

Jumlah yang banyak sering kali menjadi tujuan dan kebanggaan. Akan tetapi, menurut syariat agama ini jumlah yang banyak bukanlah standar kebaikan, justru sebaliknya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          وَإِن تُطِعۡ أَكۡثَرَ مَن فِي ٱلۡأَرۡضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِۚ

“Jika engkau menaati kebanyakan orang yang ada di muka bumi niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (al-An’am: 116)

وَمَآ أَكۡثَرُ ٱلنَّاسِ وَلَوۡ حَرَصۡتَ بِمُؤۡمِنِينَ ١٠٣

“Tidaklah kebanyakan manusia itu beriman walau engkau sangat menginginkan (mereka beriman).” (Yusuf: 103)

          وَقَلِيلٞ مِّنۡ عِبَادِيَ ٱلشَّكُورُ ١٣

“Sedikit dari hamba-hamba-Ku yang mau bersyukur.” (Saba: 13)

Apalagi untuk berita yang satu ini, tentu semua akan berkata, “Aku tak ingin menjadi yang mayoritas.”

Berita apakah gerangan?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan berita besar bahwa penghuni neraka kebanyakannya adalah para wanita. Artinya, mayoritas kaum hawa adalah calon penghuni neraka. Duhai, karena dosa apakah? Silakan baca dan renungkan hadits-hadits berikut ini.

  1. Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhu berkata,

خَرَجَ رَسُوْلُ اللهِ إِلَى الْمُصَلَّى فِي أَضْحَى أَوْ فِطْرٍ، فَمَرَّ عَلَى النِّسَاءِ فَقَالَ: يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ، تَصَدَّقْنَ فَإِنِّي أُرِيْتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ. فَقُلْنَ: وَبِمَا يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: تُكْثِرْنَ الْلَّعْنَ، وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيْرَ، مَا رَأَيْتُ مِنْ ناَقِصَاتِ عَقْلٍ وَدِيْنٍ أَذْهَبَ لِلُبِّ الرَّجُلِ الْحَازِمِ مِنْ إِحْدَاكُنَّ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar menuju tanah lapang pada hari Idul Adha atau Idul Fithri. Beliau melewati para wanita. Beliau bersabda, “Wahai sekalian kaum wanita, bersedekahlah kalian, karena aku melihat mayoritas kalian adalah penghuni neraka.”

Para wanita pun bertanya, “Kenapa demikian, wahai Rasulullah?”

Beliau menjawab, “Kalian banyak melaknat dan mengingkari kebaikansuami. Aku belum pernah melihat orang yang kurang akal dan agamanya yang dapat menghilangkan akal lelaki yang kokoh daripada kalian.” (HR. al-Bukhari no. 304 dan Muslim no. 79)

  1. Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أُرِيْتُ النَّارَ فَإِذَا أَكْثَرُ أَهْلِهَا النِّسَاءُ يَكْفُرْنَ. قِيْلَ: أَيَكْفُرْنَ باِللهِ؟ قَالَ: يَكْفُرْنَ الْعَشِيْرَ وَيَكْفُرْنَ الْإِحْسَانَ، لَوْ أَحْسَنْتَ إِلَى إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا، قَالَتْ: مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ

Diperlihatkan kepadaku neraka, ternyata mayoritas penghuninya adalah para perempuan yang kufur.

Ada yang bertanya, “Apakah mereka kufur kepada Allah ?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Mereka mengkufuri suami dan mengkufuri kebaikannya. Seandainya kamu berbuat baik kepada salah seorang dari mereka sepanjang masa, kemudian dia melihat darimu sesuatu (yang tidak disukainya), dia akan berkata, ‘Aku sama sekali tidak pernah melihat kebaikan darimu’.” (HR. al-Bukhari no. 29)

  1. Usamah bin Zaid radhiallahu ‘anhuma menyampaikan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

قُمْتُ عَلَى بَابِ الْجَنَّةِ فَكَانَ عَامَّةَ مَنْ دَخَلَهُ الْمَسَاكِيْنُ وَأَصْحَابُ الْجَدِّ مَحْبُوسُوْنَ غَيْرَ أَنَّ أَصْحَابَ النَّارِ قَدْ أُمِرَ بِهِمْ إِلَى النَّارِ، فَإِذَا عَامَّةُ مَنْ دَخَلَهَا النِّسَاءُ

“Aku berdiri di pintu surga. Ternyata keumuman yang masuk ke dalamnya adalah orang-orang miskin. Adapun orang-orang kaya masih tertahan. Hanya saja, penghuni neraka telah diperintahkan masuk ke dalam neraka, dan teryata keumuman penghuni neraka adalah para perempuan.” (HR. al-Bukhari no. 5196 dan Muslim no. 6872)

  1. Imran radhiallahu ‘anhu menyampaikan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

اِطَّلَعْتُ فِي الْجَنَّةِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا الْفُقَرَاءَ، وَاطَّلَعْتُ فِي النَّارِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاءَ

“Aku melongok ke dalam surga, ternyata aku lihat kebanyakan penghuninya adalah orang-orang miskin. Aku melongok ke dalam neraka, ternyata mayoritas penghuninya adalah para perempuan.” (HR. al-Bukhari no. 5198 dan Muslim no. 6873)

  1. Mutharrif ibnu Abdillah memiliki dua istri. Suatu ketika Mutharrif pulang dari tempat salah seorang istrinya.

Istri yang lain bertanya (dengan cemburu), “Apakah engkau baru kembali dari tempat si Fulanah?”

Mutharrif menjawab, “Aku baru kembali dari tempat Imran bin Hushain. Dia menceritakan kepada kami bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ أَقَلَّ ساَكِنِي الْجَنَّةَ النِّسَاءُ

“Sesungguhnya minoritas penduduk surga adalah kaum perempuan.” (HR. Muslim no. 6877)

  1. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَشَرُّ نِسَائِكُمُ الْمُتَبَرِّجَاتُ الْمُتَخَيِّلاَتُ وَهُنَّ الْمُنَافِقَاتُ، لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مِنْهُنَّ إِلاَّ مِثْلُ الْغُرَابِ الْأَعْصَمِ

“Seburuk-buruk istri kalian adalah yang senang bertabarruj dan angkuh. Mereka adalah perempuan-perempuan munafik. Tidak akan masuk surga dari kalangan mereka kecuali semisal burung gagak yang paruh dan kedua kakinya berwarna merah.” (HR. al-Baihaqi dalam Sunannya no. 13478, dinyatakan sahih dalam ash-Shahihah no. 1849)

  1. ‘Ammarah bin Khuzaimah berkisah,

كُنَّا مَعَ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ فِي حَجٍّ أَوْ عُمْرَةٍ. فَلَمَّا كُنَّا بِمَرِّ الظَّهْرَانِ إِذَا نَحْنُ بِامْرَأَةٍ فِي هَوْدَجِهَا وَاضِعَةً يَدَهَا عَلَى هَوْدَجِهَا. فَلَمَّا نَزَلَ دَخَلَ الشِّعْبَ وَدَخَلْنَا مَعَهُ، فَقَالَ: كُنَّا مَعَ رَسُوْلِ اللهِ فِي هَذَا الْمَكَانِ، فَإِذَا نَحْنُ بِغِرْبَانٍ كَثِيْرٍ، فِيْهَا غُرَابٌ أَعْصَمُ أَحْمَرُ الْمِنْقَارِ وَالرِّجْلَيْنِ . فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ :لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مِنَ النِّسَاءِ إِلاَّ كَقَدْرِ هَذَا الْغُرَابِ مَعَ هَذَا الْغِرْبَانِ

Kami pernah bersama ‘Amr ibnul ‘Ash radhiallahu ‘anhu dalam perjalanan haji atau umrah. Tatkala di Marru azh-Zhahran, kami berpapasan dengan seorang perempuan di dalam sekedupnya yang meletakkan tangannya di atas sekedupnya.

Saat kami singgah, ‘Amr masuk ke lembah. Kami pun masuk bersamanya. ‘Amr berkata, “Kami pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di tempat ini. Tiba-tiba, kami berada mendapati sekumpulan burung gagak. Di antaranya ada seekor burung gagak yang paruh dan dua kakinya berwarna merah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kaum perempuan tidak akan masuk surga, kecuali semisal burung gagak ini di antara burung-burung gagak yang lain.” (HR. an-Nasa’i dalam as-Sunan al-Kubra no. 9223)

Al-Hakim meriwayatkan dalam Mustadraknya, perawi hadits ini berkata,

وَاضِعَةٌ يَدَهَا عَلَى هَوْدَجِهَا فِيْهَا خَوَاتِيْمُ

“Si perempuan meletakkan tangannya di atas sekedupnya dalam keadaan cincin-cincin melingkar pada jari-jemarinya.”

Abu Ya’la dalam Musnadnya menyebutkan dengan lafadz,

فَإِذَا نَحْنُ باِمْرَأَةٍ عَلَيْهَا جَبَائِرَأَيْ أَسَاوِرَ فِ مِعْصَمِهَا مِنْ ذَهَبٍ أَوْ فِضَّةٍلَهاَ وَخَوَاتِيْم وَقَدْ بَسَطَتْ يَدَهَا إِلَى الْهَوْدَجِ

“Tiba-tiba kami berpapasan dengan seorang perempuan yang pergelangan tangannya mengenakan gelang-gelang dari emas atau perak, begitu pula pada jemarinya ada cincin-cincin. Si perempuan membentangkan tangannya ke sekedupnya.” (Hadits di atas dinyatakan sahih sanadnya dalam ash-Shahihah no. 1850)

Burung gagak dengan sifat yang disebutkan dalam hadits yaitu ala’sham, sangat jarang ditemukan. Paruhnya berwarna merah, demikian pula kedua kakinya, langka ditemukan pada kumpulan burung gagak. Ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits di atas merupakan kiasan untuk menunjukkan sedikitnya perempuan yang masuk surga. (an-Nihayah fi Gharibil Hadits)

Apabila tidak masuk ke surga, berarti di mana tempatnya?

Wanita menghuni surga karena perbuatan mereka sendiri. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلَا يَظۡلِمُ رَبُّكَ أَحَدٗا ٤٩

“Dan Rabbmu tidaklah menzalimi seorang pun.” (al-Kahfi: 49)

Hadits-hadits di atas tidaklah dimaksudkan untuk membuat kaum perempuan putus asa dari rahmat Allah subhanahu wa ta’ala . Namun, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikannya sebagai nasihat dan peringatan kepada mereka dari berbagai hal yang bisa mendatangkan kemurkaan Allah subhanahu wa ta’ala dan hukuman-Nya.

Alangkah pantasnya seorang perempuan yang mengaku beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan hari akhir merenungi hadits-hadits di atas, lalu menjauh dari sebab-sebab datangnya siksa.

Seharusnya seorang muslimah menjaga diri dari perbuatan mencaci maki, tidak bersyukur kepada suami, melupakan kebaikannya, bertabarruj, bersikap angkuh, melakukan tindakan yang meenimbulkan godaan bagi lelaki. Sampai-sampai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا رَأَيْتُ مِنْ ناَقِصَاتِ عَقْلٍ وَدِيْنٍ أَذْهَبَ لِلُبِّ الرَّجُلِ الْحَازِمِ مِنْ إِحْدَاكُنَّ

“Aku belum pernah melihat orang yang kurang akal dan agamanya yang dapat menghilangkan akal lelaki yang kokoh daripada kalian.”

Ketika sahabat yang mulia, ‘Amr ibnul Ash radhiallahu ‘anhu, melihat seorang perempuan yang membiarkan tangannya terbuka, terlihat dari luar sekedupnya, dengan tangan dihiasi gelang dan cincin emas, beliau teringat dengan titah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas.

Kira-kira,bagaimana reaksi beliau bila melihat banyak perempuan di masa ini yang tampil keluar rumah dengan bertabarruj, mempertontonkan keindahan tubuh dan perhiasannya, bersolek dengan aneka hiasan, dengan harum semerbak, dan lenggak-lenggok tubuh yang menggoda? Wallahul musta’an.

Tidakkah para perempuan itu bertakwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala? Tidakkah mereka takut saat nanti berdiri di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala untuk mempertanggungjawabkan perbuatan mereka saat hidup di dunia?

Perempuan yang cerdas tentu akan menjauh dari perbuatan yang terlarang tersebut karena rasa takut kepada Allah Rabbul Alamin subhanahu wa ta’ala dan semangat untuk menaati serta meraih ridha-Nya.

Cobalah perempuan yang salihah memerhatikan hadits yang diriwayatkan al-Imam Ahmad rahimahullah dalam Musnadnya dari Abdurrahman bin Auf radhiallahu ‘anhu berikut ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا، قِيْلَ لَهَا: اُدْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ

Jika seorang perempuan menegakkan shalat lima waktu, berpuasa di bulan puasa (Ramadhan), menjaga kemaluannya, dan menaati suaminya, dikatakan kepadanya (pada hari kiamat kelak), “Masuklah engkau ke dalam surga dari pintu mana saja yang engkau mau.”

Berbahagialah perempuan muslimah dengan janji yang mulia dan keutamaan yang agung ini. Dia selalu membingkai cerita hidupnya dalam ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, berpegang teguh dengan Kitabullah, melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Bergembiralah dia pada hari kiamat kelak dengan keridhaan Rabbnya, pahala yang besar, selamat dari azab neraka; tidak menjadi yang mayoritas, bahkan sukses memasuki Darussalam nan penuh kenikmatan.

وَٱلَّذِينَ يُمَسِّكُونَ بِٱلۡكِتَٰبِ وَأَقَامُواْ ٱلصَّلَوٰةَ إِنَّا لَا نُضِيعُ أَجۡرَ ٱلۡمُصۡلِحِينَ ١٧٠

“Orang-orang yang berpegang teguh dengan Kitabullah dan mereka menegakkan shalat, sungguh Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat islah (melakukan perbaikan di muka bumi dengan amal ketaatan).” (al-A’raf: 170)

Wallahul Musta’an.

Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah

Pelajaran dari Kisah Qailah

Saat itu di kota Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, fajar shadiq baru saja menyingsing. Suara azan pun menyambutnya, menggema menembus setiap sudut kota Madinah yang sarat dengan keimanan. Rasul yang agung shallallahu ‘alaihi wa sallam, setelah menunaikan qabliyah fajar di rumah, beliau keluar untuk memimpin shalat subuh. Di belakang beliau, berbaris rapi insan-insan mulia.

Ketika hari masih pekat itulah, Qailah bintu Makhramah radhiallahu ‘anha, seorang wanita dari Bani Tamim yang baru saja menanggalkan keimanannya kepada berhala menuju kepada penyembahan kepada Rabbul Alamin semata, masuk dalam shaf untuk turut menjalankan ibadah shalat berjamaah. Namun, terjadi kesalahan karena ketidaktahuannya.

Qailah menuturkan kisahnya. “Aku datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saat beliau shalat subuh mengimami manusia. Shalat ditegakkan di awal waktu, saat fajar baru membelah kegelapan malam. Bintang-bintang masih terlihat banyak di langit sana.

Karena masih tersisa gelapnya malam, hampir-hampir orang-orang yang ikut shalat berjamaah tidak saling mengenal satu sama lain. Aku bergabung dalam shaf jamaah lelaki karena ketidaktahuanku tentang hukumnya karena aku baru saja meninggalkan masa jahiliah.”[1]

Selanjutnya Qailah berkisah, Lelaki yang berada di sebelahku dalam barisan shaf bertanya, “Kamu perempuan atau lelaki?”

“Aku bukan lelaki, melainkan perempuan,” jawabku.

Lelaki itu berkata, “Hampir-hampir kamu menjadi fitnah bagiku. Jangan shalat di sini, shalatlah di shaf perempuan di belakangmu.”

Qailah akhirnya mengetahui kekeliruannya. Dia pun menuju shaf perempuan. Katanya, “Ternyata shaf perempuan berada di sisi kamar-kamar. Saat masuk masjid aku tidak melihatnya. Aku pun bergabung dalam shaf perempuan.”

Kisah Qailah ini panjang, dibawakan secara lengkap oleh ath-Thabarani dalam kitabnya, al-Mu’jam al-Kabir no. 20525. Adapun kisah di atas hanyalah penggalannya.

Perhatikanlah kisah Qailah di atas. Dia keliru masuk ke shaf lelaki karena ketidaktahuannya bahwa hal tersebut tidak diperbolehkan. Dia meminta uzur atas kealpaannya dengan menyatakan bahwa dia baru saja meninggalkan agama kekafiran, lalu masuk Islam. Dia belum mengerti tentang Islam, rinciannya, hukum-hukumnya, dan bimbingannya.

Peristiwa itu terjadi di tempat yang mulia, yaitu Masjid Nabawi, saat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup, pada waktu yang memiliki keutamaan, yaitu waktu dilaksanakannya shalat subuh. Bersamaan dengan itu semua, lelaki yang menegur Qailah berkata dengan khawatir, “Hampir-hampir kamu menjadi fitnah bagiku.”

Apa maksudnya? Silakan cermati sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Usamah bin Zaid radhiallahu ‘anhuma berikut ini,

مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً هِيَ أَضَرُّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

“Tidaklah aku tinggalkan setelahku godaan yang lebih berbahaya bagi lelaki selain godaan wanita.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Dalam hadits Abu Said al-Khudri radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَاتَّقُوْا الدُّنْيَا وَاتَّقُوْا النِّسَاءَ، فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيْلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ

“Berhati-hatilah kalian dari dunia dan berhati-hatilah kalian dari wanita, karena awal bencana yang menimpa Bani Israil adalah pada wanitanya.” (HR. Muslim)

Wanita merupakan godaan syahwat yang bisa mengguncang seorang lelaki. Seorang lelaki bisa terbius oleh kecantikan seorang perempuan, keindahan tubuh, perhiasan, dandanan, aroma yang harum semerbak, tutur kata yang lembut manja lagi menggoda, atau terpesona memandang gerak-gerik tubuhnya.

Dia bisa lupa diri sehingga dia bisa terjerumus ke dalam dosa dan maksiat. Imannya goyah! Jarang lelaki yang selamat saat berhadapan dengan godaan wanita.

Sahabat yang mulia, dalam kisah di atas, khawatir terhadap Qailah sebagai seorang perempuan. Padahal dia berada di dalam Masjid Nabawi, sedang shalat di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, pada waktu yang masih tersaput sisa gelapnya malam, tidak jelas terlihat siapa di sebelahnya. Akan tetapi, dia tetap bertanya, “Lelaki atau perempuankah engkau?”

Lantas bagaimana halnya ketika perempuan bercampur baur dengan lelaki dalam keadaan bisa saling melihat dengan jelas?

Ditambah lagi, ini terjadi bukan di tempat yang mulia, melainkan di ranah publik: jalan, pasar, pertokoan atau pusat perbelanjaan, perkantoran, perkumpulan atau komunitas, tempat-tempat pesta, dan sebagainya. Lebih parah lagi, si perempuan berhias sempurna, mengenakan aksesoris lengkap dan parfumnya harum semerbak.

Tentu sangat mengerikan akibat yang akan timbul, seperti yang dikhawatirkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Bani Israil menjadi hina, moral dan akhlak mereka hancur karena wanita mereka “dibebaskan” bercampur baur dengan para lelakinya. Para wanita dibiarkan tampil bersolek di hadapan lelaki ajnabi hingga menggoda para lelaki. Terjadilah kerusakan!

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan umat beliau dari bahaya godaan perempuan sebagaimana yang telah menimpa Bani Israil. Namun, apa yang dilakukan oleh sebagian umat beliau? Peringatan sang Rasul mereka tabrak! Nas’alullah assalamah wal ‘afiyah….

Di masjid saja, salah satu tempat yang mulia di kolong langit ini, tempat ketenteraman, keimanan, dan tempat menghadap dengan tulus kepada ar-Rahman, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjauhkan lelaki dari wanita. Hal ini dipahami dari sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,

خَيْرُ صُفُوْفِ الرِّجَالِ أَوَّلُهَا وَشَرُّهَا آخِرُهَا، وَخَيْرُ صُفُوْفِ النِّسَاءِ آخِرُهَا وَشَرُّهَا أَوَّلُهَا

“Sebaik-baik shaf lelaki adalah yang paling depan dan sejelek-jeleknya adalah yang paling akhir. Sebaik-baik shaf perempuan adalah yang paling akhir dan sejelek-jeleknya adalah yang paling depan.” (HR. Muslim)

Shaf terdepan lelaki jauh dari jamaah perempuan. Sebaliknya, shaf terakhirnya dekat dengan jamaah perempuan. Sebab, setelah shaf terakhir jamaah lelaki adalah shaf pertamanya jamaah perempuan.

Dipahami dari hadits di atas, sekalipun dalam masjid, manakala kaum perempuan terpisah jauh dari lelaki, keadaan itu paling baik dan paling utama bagi kaum perempuan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mendorong kaum perempuan untuk mengerjakan shalat fardhu di rumah mereka. Dengan demikian, mereka tidak harus keluar ke masjid yang memungkinkan mereka bercampur dengan lelaki. Mereka melihat lelaki, lelaki melihat mereka.

Ummu Humaid as-Sa’diyah radhiallahu ‘anha berkata,

أَتَيْتُ النَّبِيَّ وَقُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، إِنِّي أُحِبُّ أَنْ أُصَلِّيَ مَعَكَ فِي مَسْجِدِكَ هَذَا. قَالَ :قَدْ عَلِمْتُ أَنَّكِ تُحِبِّيْنَ الصَّلاَةَ مَعِيْ،  وَصَلاَتُكِ فِي بَيْتِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلاَتِكِ فِي حُجْرَتِكِ، وَصَلاَتُكِ فِي حُجْرَتِكِ خَيْرٌ مِنْ صَلاَتِكِ فِي دَارِكِ، وَصَلاَتُكِ فِي دَارِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلاَتِكِ فِي مَسْجِدِ قَوْمِكِ، وَصَلاَتُكِ فِي مَسْجدِ قَوْمِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلاَتِكِ فِي مَسْجِدِيْ

Aku mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kunyatakan kepada beliau, “Wahai Rasulullah, sungguh aku suka shalat bersamamu di masjidmu ini.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh, aku tahu bahwa engkau suka shalat bersamaku. Akan tetapi, shalatmu di dalam rumahmu lebih baik bagimu daripada shalatmu di hujrah (teras rumah)mu. Shalatmu di hujrahmu lebih baik daripada shalatmu di daar (halaman rumah)mu. Shalatmu di daarmu lebih baik daripada shalatmu di masjid kaummu. Shalatmu di masjid kaummu lebih baik daripada shalatmu di masjidku ini.” (HR. Ahmad, Ibnu Khuzaimah, dll, dinyatakan hasan oleh asy-Syaikh Albani rahimahullah dalam Jilbab al-Mar’ah al-Muslimah, hlm. 155)

Ummu Salamah radhiallahu ‘anha memberitakan,

أَنَّ النِّسَاءَ فِي عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ كُنَّ إِذَا سَلَّمْنَ مِنَ الْمَكْتُوْبَةِ قُمْنَ وَثَبَتَ رَسُوْلُ اللهِ وَمَنْ صَلَّى مِنَ الرِّجَالِ مَا شَاءَ اللهُ. فَإِذَا قَامَ رَسُوْلُ اللهِ قَامَ الرِّجَالُ

“Para wanita pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila telah salam dari shalat wajib, mereka bangkit. Sementara itu, Rasulullah dan jamaah lelaki tetap di tempat mereka sekadar waktu yang Allah subhanahu wa ta’ala inginkan. Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bangkit, bangkit pula para lelaki.” (HR. al-Bukhari)

Dalam riwayat lain,

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ إِذَا سَلَّمَ قَامَ النِّسَاءُ حِيْنَ يَقْضِي تَسْلِيْمَهُ وَيَمْكُثُ هُوَ فِي مَقَامِهِ يَسِيْرًا قَبْلَ أَنْ يَقُوْمَ

“Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah salam dari shalat, bangkitlah para wanita (meninggalkan masjid) saat selesai salamnya beliau. Sementara itu, beliau tetap diam sebentar di tempatnya sebelum bangkit berdiri.”

Az-Zuhri rahimahullah, perawi hadits di atas, berkata, “Kami memandang, wallahu a’lam, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan hal tersebut agar wanita (yang ikut shalat berjamaah) pulang ke rumah mereka sebelum seorang lelaki pun sempat berpapasan dengan mereka.” (HR. al-Bukhari)

Menghindari ikhtilath, campur baur lelaki dan perempuan yang bukan mahram, ternyata telah dilakukan oleh umat terdahulu.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman tentang pelarian Nabi Musa ‘alaihissalam ke negeri Madyan,

وَلَمَّا وَرَدَ مَآءَ مَدۡيَنَ وَجَدَ عَلَيۡهِ أُمَّةٗ مِّنَ ٱلنَّاسِ يَسۡقُونَ وَوَجَدَ مِن دُونِهِمُ ٱمۡرَأَتَيۡنِ تَذُودَانِۖ قَالَ مَا خَطۡبُكُمَاۖ قَالَتَا لَا نَسۡقِي حَتَّىٰ يُصۡدِرَ ٱلرِّعَآءُۖ وَأَبُونَا شَيۡخٞ كَبِيرٞ ٢٣ فَسَقَىٰ لَهُمَا ثُمَّ تَوَلَّىٰٓ إِلَى ٱلظِّلِّ فَقَالَ رَبِّ إِنِّي لِمَآ أَنزَلۡتَ إِلَيَّ مِنۡ خَيۡرٖ فَقِيرٞ ٢٤

Ketika Musa sampai di sumber air negeri Madyan, dia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang memberi minum kepada ternak-ternak mereka. Musa mendapati di belakang mereka ada dua perempuan yang sedang menghambat ternak-ternaknya agar tidak bercampur dengan ternak-ternak yang lain.

Musa bertanya kepada kedua perempuan tersebut, “Mengapa kalian berdua melakukan hal ini?”

Keduanya menjawab, “Kami tidak bisa memberi minum ternak-ternak kami sampai para penggembala itu memulangkan ternak mereka. Sementara itu, ayah kami sudah tua renta (tidak memungkinkan melakukan pekerjaan ini).”

Musa pun membantu memberikan minum untuk ternak-ternak keduanya. (al-Qashash: 23—24)

Lihat dua perempuan putri seorang yang saleh dari negeri Madyan pada ayat di atas. Keduanya enggan dan merasa malu untuk bercampur baur dengan penggembala—yang semuanya lelaki—untuk memberi minum hewan-hewan gembalaan mereka.

Keduanya memilih menunggu dengan sabar, walau hewan-hewannya sudah tidak sabar. Keduanya menunggu para penggembala yang lain selesai meminumkan hewan gembalaan mereka dan berlalu dari tempat tersebut.

Mengapa keduanya memaksakan diri keluar rumah untuk memberi minum hewan gembalaan mereka, sementara mereka berdua tahu bahwa sumber air dipenuhi oleh para lelaki?

Keduanya memberi jawaban tatkala ditanya Nabi Musa ‘alaihissalam, “Ayah kami sudah tua renta.” Itulah alasan mereka berdua.

Engkau, wahai muslimah, hendaknya memerhatikan bimbingan agamamu untuk menghindari ikhtilath. Engkau tidak boleh meremehkan hal ini. Kelak engkau akan ditanya di akhirat tentang pengamalanmu terhadap Kitabullah dan Sunnah Rasul, maka siapkanlah jawaban yang tepat!

Jawaban itu hanyalah dengan engkau bertakwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala, menjalankan syariat-Nya, berpegang dengan ajaran agama-Nya, dan adab agama ini. Hal itu adalah kemuliaan, kesuksesan, dan kebahagiaanmu di dunia dan di akhirat.

Wallahu a’lam bish-shawab

 Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah

[1] Pada zaman itu belum ada penerangan seperti sekarang.

Nasihat Agung untuk Berpegang dengan Agama

Saudariku muslimah…

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala membaikkan hidupmu dengan ilmu dan iman, memakmurkan waktumu dengan ketaatan kepada-Nya, dan mengindahkan dirimu dengan hijab dan rasa malu.

Hendaknyalah engkau menyadari bahwa nikmat Allah subhanahu wa ta’ala kepadamu berupa agama ini sangatlah agung, anugerah-Nya atasmu dengan hidayah kepada agama ini amatlah besar.

Sebab, agama yang engkau anut adalah satu-satunya agama yang Dia ridhai untuk para hamba-Nya, Dia sempurnakan untuk mereka, dan Dia tidak menerima dari para hamba satu agama pun selain agamamu. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّ ٱلدِّينَ عِندَ ٱللَّهِ ٱلۡإِسۡلَٰمُۗ

“Sesungguhnya agama di sisi Allah adalah Islam.” (Ali ‘Imran: 19)

وَمَن يَبۡتَغِ غَيۡرَ ٱلۡإِسۡلَٰمِ دِينٗا فَلَن يُقۡبَلَ مِنۡهُ وَهُوَ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ ٨٥

“Siapa yang mencari agama selain Islam maka tidak diterima agama tersebut darinya dan di akhirat kelak dia termasuk orang-orang yang merugi.” (Ali ‘Imran: 85)

ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَٰمَ دِينٗاۚ

“Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kalian agama kalian, telah pula Ku-sempurnakan nikmat-Ku untuk kalian dan Aku ridhai Islam sebagai agama bagi kalian.” (al-Maidah: 3)

Islam adalah agama yang dengannya Allah subhanahu wa ta’ala memperbaiki keyakinan dan akhlak. Dengan Islam, Allah subhanahu wa ta’ala memperbaiki kehidupan dunia dan akhirat. Allah subhanahu wa ta’ala memperindah lahir dan batin seseorang dengan Islam. Allah subhanahu wa ta’ala memurnikan orang yang memeluknya dan berpegang teguh dengannya dari kotoran kebatilan, penyimpangan, dan kesesatan.

Islam agama yang diberkahi. Kebaikan, keberkahan, dan kemanfaatannya kembali kepada orang yang berpegang dengannya, baik di dunia maupun di akhirat.

Engkau perlu mengetahui beberapa urusan agung yang dapat membantumu berpegang dengan bimbingan agamamu dan arahan-arahannya yang bernilai tinggi. Dengan mengetahui urusan tersebut, engkau bisa menerima agamamu dengan penuh penerimaan, dada yang lapang, dan penuh ridha.

 

  1. Yakinilah bahwa hukum yang paling baik, paling lurus, paling sempurna, dan paling indah adalah hukum Rabbul Alamin, Sang Pencipta segenap alam.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَمَنۡ أَحۡسَنُ مِنَ ٱللَّهِ حُكۡمٗا لِّقَوۡمٖ يُوقِنُونَ ٥٠

“Siapakah yang paling baik hukumnya daripada Allah bagi orang-orang yang yakin?” (al-Maidah: 50)

أَلَيۡسَ ٱللَّهُ بِأَحۡكَمِ ٱلۡحَٰكِمِينَ ٨

“Bukankah Allah adalah sebaik-baik hakim?!” (at-Tin: 8)

وَهُوَ خَيۡرُ ٱلۡحَٰكِمِينَ ٨٧

“Dan Dia adalah sebaik-baik hakim.” (al-A’raf: 87)

Apabila engkau yakin akan hal ini, tentu engkau tidak akan ragu menerima hukum apa pun yang Dia subhanahu wa ta’ala tetapkan dan perintahkan.

 

  1. Ketahuilah, kebahagiaan dan kemuliaanmu sangat tergantung pada kekokohanmu dalam agama ini dan ketaatanmu kepada Rabbul Alamin serta kekuatanmu berpegang dengan hukum-Nya.

Seberapa bahagia dirimu, itu sesuai dengan sejauh mana ketaatanmu dan iltizam-mu. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِن تَجۡتَنِبُواْ كَبَآئِرَ مَا تُنۡهَوۡنَ عَنۡهُ نُكَفِّرۡ عَنكُمۡ سَيِّ‍َٔاتِكُمۡ وَنُدۡخِلۡكُم مُّدۡخَلٗا كَرِيمٗا ٣١

“Jika kalian menjauhi dosa-dosa besar yang kalian dilarang darinya, niscaya Kami akan menghapus kesalahan-kesalahan kalian dan Kami masukkan kalian ke tempat masuk yang mulia.” (an-Nisa: 31)

قَدۡ أَفۡلَحَ مَن زَكَّىٰهَا ٩ وَقَدۡ خَابَ مَن دَسَّىٰهَا ١٠

“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya. Dan sungguh merugi orang yang mengotorinya.” (asy-Syams: 9—10)

 

  1. Sadarilah, ada banyak musuh yang dihadapi muslimah dalam hidup.

Mereka berusaha mencabik-cabik kemuliaannya, menyimpangkannya dari jalan kemuliaan dan kebahagiaan, lalu mencampakkannya dalam kubangan kehinaan dan kerusakan.

Musuh-musuh tersebut melakukan segala upaya yang mereka sanggupi untuk mewujudkan ambisi mereka. Tampil terdepan dari kalangan musuh tersebut adalah setan, musuh Allah subhanahu wa ta’ala, musuh agama, dan musuh orang-orang yang beriman. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّ ٱلشَّيۡطَٰنَ لَكُمۡ عَدُوّٞ فَٱتَّخِذُوهُ عَدُوًّاۚ إِنَّمَا يَدۡعُواْ حِزۡبَهُۥ لِيَكُونُواْ مِنۡ أَصۡحَٰبِ ٱلسَّعِيرِ ٦

“Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagi kalian, maka jadikanlah dia sebagai musuh. Dia hanyalah menyeru golongannya agar mereka termasuk penghuni neraka yang menyala-nyala.” (Fathir: 6)

Karena itu, engkau wajib waspada dan sangat berhati-hati dari musuhmusuh tersebut.

 

  1. Imanilah dengan kokoh bahwa taufik, kesalehan, istiqamah, kebaikan, keberkahan, dan kemuliaan, hanyalah di tangan Allah subhanahu wa ta’ala.

Siapa yang Allah subhanahu wa ta’ala muliakan maka dia mulia. Sebaliknya, siapa yang Allah subhanahu wa ta’ala hinakan maka dia pasti hina. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَمَن يُهِنِ ٱللَّهُ فَمَا لَهُۥ مِن مُّكۡرِمٍۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَفۡعَلُ مَا يَشَآءُ۩ ١٨

“Siapa yang Allah hinakan maka sama sekali tidak ada baginya seorang pun yang dapat menjadikannya mulia, sesungguhnya Allah melakukan apa yang Dia inginkan.” (al-Hajj: 18)

Karena itu, kuatkanlah hubunganmu dengan Allah subhanahu wa ta’ala. Berlindunglah selalu dan mohonlah kepada-Nya hidayah, taufik, dan tsabat/kekokohan di atas agama ini. Mintalah kepada-Nya subhanahu wa ta’ala agar menyelamatkanmu dari berbagai ujian, membaikkan untukmu agamamu, melindungimu dari berbagai kejelekan, dan menjauhkanmu dari tempat-tempat yang hina.

Siapa yang menghadap kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan jujur, bersungguh-sungguh dalam berdoa kepada-Nya, dan berharap kepada-Nya, Allah subhanahu wa ta’ala pasti akan mengabulkan apa yang dia inginkan. Allah subhanahu wa ta’ala akan memudahkan baginya apa yang dicarinya.

Termasuk doa yang agung adalah doa yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini,

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لِي دِيْنِي الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِيْ، وَأَصْلِحْ لِي دُنْيَايَ الَّتِي فِيْهَا مَعَاشِي، وَأَصْلِحْ لِي آخِرَتِي الَّتِي فِيْهَا مَعَادِيْ، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لِي فِي كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لِي مِنْ كُلِّ شَرٍّ

“Ya Allah, perbaikilah untukku agamaku yang merupakan penjagaan urusanku . Perbaikilah bagiku duniaku yang di dalamnya adalah penghidupanku. Perbaikilah akhiratku yang merupakan tempat kembaliku. Jadikanlah kehidupan ini sebagai tambahan bagiku dalam seluruh kebaikan, dan jadikanlah kematian sebagai istirahat bagiku dari seluruh kejelekan.” (HR. Muslim no. 7078)

 

  1. Jadikanlah perhatian terbesarmu dalam kehidupan ini adalah bagaimana engkau bisa mencapai kemuliaan di sisi Allah subhanahu wa ta’ala, sukses dengan kebahagiaan meraih ridha Allah subhanahu wa ta’ala, dan berbahagia dengan apa yang Dia siapkan untuk para hamba-Nya yang dimuliakan-Nya.

Hal ini sebagaimana yang Allah subhanahu wa ta’ala katakan tentang mereka,

 أُوْلَٰٓئِكَ فِي جَنَّٰتٖ مُّكۡرَمُونَ ٣٥

“Mereka itu dimuliakan dalam surga-surga.” (al-Ma’arij: 35)

Itulah kemuliaan yang hakiki. Kemuliaan itu diraih dengan takwa sebagaimana firman-Nya,

إِنَّ أَكۡرَمَكُمۡ عِندَ ٱللَّهِ أَتۡقَىٰكُمۡۚ

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa di antara kalian.” (al-Hujurat: 13)

Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata,

قِيْلَ لِلنَّبِيِّ: مَنْ أَكْرَمُ النَّاسِ؟ قَالَ: أَكْرَمُهُمْ أَتْقَاهُمْ

Ditanyakan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam , “Siapakah manusia yang paling mulia?”

“Yang paling mulia dari mereka adalah yang paling bertakwa,” jawab beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. (HR. al-Bukhari, no. 3374)

Barang siapa mencari kemuliaan selain kemuliaan di atas, sungguh hakikatnya dia berputar dalam fatamorgana dan mengupayakan sesuatu yang sia-sia lagi rugi.

 

  1. Ketahuilah, hukum syariat yang terkait dengan wanita adalah hukum yang berada di puncak kesempurnaan.

Sebagaimana hukum syariat yang lain, tidak ada cacat dan cela di dalamnya, tidak pula kezaliman.

Mengapa? Karena hal itu adalah hukum Dzat sebaik-baik penetap hukum, diturunkan dari Rabbul alamin, yang Mahahikmah dalam pengaturan-Nya, Yang Maha Mengetahui apa yang dibutuhkan para hamba-Nya, Mahatahu apa yang dapat mendatangkan kebahagiaan mereka, kesuksesan, dan keberuntungan di dunia dan di akhirat.

Oleh karena itu, merupakan permusuhan terbesar, dosa yang besar, serta kehinaan yang paling rendah apabila dikatakan bahwa ada hukum Allah subhanahu wa ta’ala terkait dengan wanita atau selainnya yang mengandung kezaliman atau ketimpangan di dalamnya.

Siapa yang berucap demikian, sungguh dia tidaklah memuliakan Allah subhanahu wa ta’ala dengan sebenar-benar pengagungan. Padahal Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

مَّا لَكُمۡ لَا تَرۡجُونَ لِلَّهِ وَقَارٗا ١٣

“Mengapa kalian tidak mengagungkan Allah dengan sebenar-benar pengagungan (dengan kalian tidak takut terhadap hukuman dan siksa-Nya)[1].” (Nuh: 13)

Termasuk bentuk pengagungan kepada-Nya subhanahu wa ta’ala adalah berpegang dengan hukum-Nya, menaati perintah-Nya, dan meyakini padanya ada keselamatan, kesempurnaan, dan ketinggian.

Siapa yang meyakini sebaliknya, maka amatlah jauh orang tersebut dari sikap mengagungkan Allah subhanahu wa ta’ala! Alangkah pantasnya dia di dunia ini dan di akhirat kelak beroleh kehinaan. Hendaknya engkau bertakwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan mengagungkan hukum-hukum-Nya.

ذَٰلِكَۖ وَمَن يُعَظِّمۡ شَعَٰٓئِرَ ٱللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقۡوَى ٱلۡقُلُوبِ ٣٢

        “Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah maka sesungguhnya hal tersebut muncul dari ketakwaan hati.” (al-Hajj: 32)

Demikianlah beberapa urusan agung yang perlu selalu kita ingat agar hati ini menjadi lunak. Hendaknya kita menerima semua hukum Allah subhanahu wa ta’ala dengan dada yang lapang, jiwa yang tenang, dan menghadap penuh kepada hukum-Nya. Itulah sebab kebahagiaan dan jalan kesuksesan di dunia dan di akhirat.

Adapun tuduhan bahwa aturan agama ini, terkhusus untuk wanita, amat menyempitkan, memberikan madarat bagi wanita, dan menyusahkan mereka; semua itu adalah kesalahan besar dan ucapan tanpa ilmu terhadap Allah subhanahu wa ta’ala dan kalam-Nya, wahyu, dan hukum-Nya.

Perbuatan tersebut termasuk keharaman yang paling berat dan dosa yang paling besar. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman tentang perbuatan yang diharamkan-Nya, yang paling besar adalah,

وَأَن تَقُولُواْ عَلَى ٱللَّهِ مَا لَا تَعۡلَمُونَ ٣٣

“Dan (Dia mengharamkan) kalian berucap/mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kalian ketahui.” (al-A’raf: 33)

Wahai saudariku muslimah, tatkala engkau membaca satu ayat dari Kitabullah dan satu hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berisi arahan secara khusus bagi wanita, dengarkanlah ayat tersebut dengan penuh tadabbur, tenang, dan menerima dengan dada yang lapang.

Sebab, ucapan yang engkau dengar adalah ucapan Dzat yang menciptakanmu, menjadikanmu, dan memberimu anugerah berupa pendengaran, penglihatan, kekuatan, dan segala kenikmatan. Perbedaan antara ucapan-Nya dan ucapan makhluk-Nya tentu seperti perbedaan antara Dia subhanahu wa ta’ala dengan makhluk-Nya.

Berhati-hatilah apabila sampai terbetik dalam jiwamu perasaan enggan, tidak menerima, dan tidak suka dengan bimbingan/arahan Rabbul Alamin. Demikian pula terkait dengan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sahih dan tsabit dari beliau. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤۡمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيۡنَهُمۡ ثُمَّ لَا يَجِدُواْ فِيٓ أَنفُسِهِمۡ حَرَجٗا مِّمَّا قَضَيۡتَ وَيُسَلِّمُواْ تَسۡلِيمٗا ٦٥

“Maka demi Rabbmu, mereka pada hakikatnya tidak beriman hingga mereka menjadikanmu sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (an-Nisa: 65)

Mengamalkan hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berarti mengamalkan al-Qur’an, karena Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمۡ عَنۡهُ فَٱنتَهُواْ

        “Apa saja yang Rasulullah berikan kepada kalian, maka terimalah; dan apa saja yang beliau larang kalian darinya, maka tinggalkan (jangan dilakukan).” (al-Hasyr: 7)

Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata, “Allah subhanahu wa ta’ala melaknat wanita yang membuat tato dan minta ditato, wanita yang mencabut rambut alis, dan mengikir gigi untuk keindahan, wanita-wanita yang mengubah ciptaan Allah subhanahu wa ta’ala.”

Ucapan ini sampai kepada seorang wanita dari Bani Asad yang bernama Ummu Ya’qub. Dia datang menemui Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu seraya berkata, “Sampai kepadaku ucapan Anda bahwa Anda melaknat wanita yang begini dan begitu?”

Kata Ibnu Masud radhiallahu ‘anhu, “Mengapa aku tidak melaknat orang yang dilaknat oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dilaknat dalam Kitabullah?”

Kata si wanita, “Sungguh, aku telah membaca al-Qur’an dari awal sampai akhir, namun aku tidak mendapati apa yang Anda katakan.”

Kata Ibnu Masud radhiallahu ‘anhu, “Jika engkau benar membacanya niscaya engkau akan dapatkan. Tidakkah engkau pernah membaca ayat,

وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمۡ عَنۡهُ فَٱنتَهُواْ

‘Apa saja yang Rasulullah datangkan/berikan kepada kalian, maka ambil/terimalah dan apa saja yang beliau larang kalian darinya, maka tinggalkan (jangan dilakukan).’

Si wanita menjawab, “Ya.”

Kata Ibnu Masud radhiallahu ‘anhu, “Sungguh, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang perbuatan tersebut.” (HR. al-Bukhari no. 4886)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman kepada ummahatul mukminin,

وَٱذۡكُرۡنَ مَا يُتۡلَىٰ فِي بُيُوتِكُنَّ مِنۡ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ وَٱلۡحِكۡمَةِۚ

        “Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumah-rumah kalian dari ayat-ayat Allah dan hikmah.” (al-Ahzab: 34)

Hikmah adalah sunnah yang datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia.

Saudariku muslimah… Apabila engkau mencari keindahan yang hakiki dan perhiasan yang sempurna, ketahuilah bahwa Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلِبَاسُ ٱلتَّقۡوَىٰ ذَٰلِكَ خَيۡرٞۚ

“Dan pakaian takwa itulah yang paling baik.” (al-A’raf: 26)

Dalam doa yang ma’tsur,

اللَّهُمَّ زَيِّنَا بِزِيْنَةِ الْإِيْمَانِ

“Ya Allah, hiasilah kami dengan perhiasan iman.” (HR. an-Nasai dari Ammar bin Yasir radhiallahu ‘anhu, dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahih al-Jami’)

Keimanan, ketakwaan, berpegang dengan syariat Allah subhanahu wa ta’ala, hukum, dan bimbingan-Nya adalah perhiasan hakiki yang akan menjadikan kebahagiaan, keberuntungan, dan kesuksesan bagi wanita di dunia dan akhirat.

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah

[1] Sebagaimana tafsir Ibnu Abbas terhadap ayat ini. (Tafsir Ibni Katsir, 8/183)

Kemuliaan Akhlak Muslimah (2)

Mencurahkan Segala yang Ma’ruf

Yang dimaksud dengan al-ma’ruf adalah semua yang dianggap baik oleh syariat. (at-Ta’rifat hlm. 215, al-Jurjani)

Kata Fadhilatusy Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah, ma’ruf adalah urusan yang dikenali manusia sebagai kebaikan atau yang dikenali sebagai kebaikan menurut syariat. Apabila hal tersebut terkait dengan ibadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala, ma’ruf adalah urusan yang dikenali kebaikannya dalam syariat. Apabila terkait dengan muamalah bersama manusia, ma’ruf berarti urusan yang dikenali kebaikannya oleh manusia.” (Syarh Riyadhish Shalihin, 1/541) Lanjutkan membaca Kemuliaan Akhlak Muslimah (2)

Kemuliaan Akhlak Muslimah

Dalam sebuah hadits yang agung, tersebut sabda Khairul Anam shallallahu ‘alaihi wa salam,

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلاَقِ

“Hanyalah aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad, dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, dinyatakan sahih dalam ash-Shahihah no. 45) Lanjutkan membaca Kemuliaan Akhlak Muslimah

Meniru yang Terlarang

Lelaki meniru atau menyerupakan diri dengan wanita dalam hal yang khusus atau sebaliknya wanita menyerupai lelaki dalam sesuatu yang menjadi kekhususan laki-laki adalah perilaku yang terlarang. Dalilnya telah kita baca pada edisi sebelum ini. Berikut ini kita akan melihat sisi-sisi penyerupaan yang dilarang tersebut.

Tasyabbuh (Penyerupaan) dalam Berbusana

Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata,

لَعَنَ رَسُوْلُ الله الرجُلَ يَلْبَسُ لبْسَةَ الْمَرْأَة وَ الْمَرْأَةَ تَلْبَسُ لبْسَةَ الرجُل.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat lelaki yang mengenakan pakaian wanita dan melaknat wanita yang mengenakan pakaian lelaki.” (HR. Abu Dawud no. 4098, dinyatakan sahih dalam Shahih Abi Dawud)

Larangan menyerupai pakaian lawan jenis ini mencakup macam atau jenis pakaiannya, tata cara, dan modelnya. Bahan sutra, misalnya, tidak boleh dipakai lelaki karena sutra adalah jenis pakaian khusus wanita. Abu Musa al-Asy’ari radhiallahu ‘anhu menyampaikan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

حُرِّمَ لِبَاسُ الْحَريْرِ وَالذَّهَبِ عَلَى ذُكُوْرِ أُمَّتِي وَأُحِلَّ لِإنَاثِهِمْ

“Diharamkan pakaian sutra dan emas bagi lelaki dari kalangan umatku dan dihalalkan untuk kaum wanita mereka.” (HR. at-Tirmidzi no. 1720, an-Nasa’i no. 5148, dinyatakan sahih dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi)

Jenis pakaian yang dicelup dengan ushfur (mu’ashfar) tidak boleh dipakai oleh lelaki karena merupakan pakaian khas wanita. Abdullah ibnu ‘Amr ibnul Ash radhiallahu ‘anhuma berkata,

رَأَى النَّبِيُّ عَلَيَّ ثَوْبَينِ مُعَصْفَرَيْنِ فَقَالَ  :أَأُمُّكَ أَمَرَتْكَ بِهَذَا؟ قُلْتُ: أَغْسِلُهُمَا؟ قَالَ: بَلْ أَحْرِقْهُمَا

        Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihatku mengenakan dua pakaian mu’ashfar[1]. Beliau pun bersabda, “Apakah ibumu yang menyuruhmu untuk memakainya?”

Aku menjawab, “Apakah saya cuci saja dua pakaian ini[2]?”

Beliau bersabda, “Bahkan bakarlah dua pakaian tersebut!”[3] (HR. Muslim no. 5401)

Dalam satu riwayat Abu Dawud disebutkan oleh Abdullah radhiallahu ‘anhuma,

هَبَطْنَا مَعَ رَسُوْلِ الله مِنْ ثَنِيَّةٍ فَالْتَفَتَ إلَيَّ وَعَلَيَّ رَيْطَةٌ مُضَرَّجَةٌ بالْعُصْفُورِ، فَقَالَ: مَا هَذِهِ الرَّيْطَةُ عَلَيْكَ؟ فَعَرَفْتُ مَا كَرِهَ فَأَتَيْتُ أَهْلِي وَهُمْ يَسْجُرُونَ تَنُّورًا لَهُمْ فَقَذَفْتُهَا فِيهِ ثُمَّ أَتَيْتُهُ مِنَ الْغَدِ فَقاَلَ: يَا عَبْدَ اللهِ، مَا فَعَلَتِ الرَّيْطَةُ؟ فَأَخْبَرْتُهُ فَقَال: أَلاَ كَسَوْتَهَا بَعْضَ أَهْلِكَ، فَإنَّهُ لاَ بَأْسَ بِهِ لِلنِّسَاءِ

Kami turun bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Tsaniyah (dataran tinggi), beliau lalu menoleh kepadaku sementara aku mengenakan pakaian yang dicelup dengan ushfur. Beliau pun bersabda, “Pakaian apa yang kamu kenakan ini?”

Aku melihat ketidaksukaan beliau, aku pun mendatangi keluargaku yang saat itu tengah menyalakan tungku api mereka. Pakaian yang dicelup ushfur itu pun (setelah kutanggalkan) aku lemparkan ke dalam tungku api. Keesokan harinya aku mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Beliau bersabda, “Wahai Abdullah, apa yang diperbuat pakaianmu (yang kemarin)[4]?”

Aku pun memberitahukan kepada beliau apa yang telah kuperbuat terhadap pakaian tersebut.

Setelah mendengar penuturanku beliau bersabda, “Mengapa tidak kau pakaikan saja kepada istrimu, karena pakaian demikian tidak apa-apa dipakai oleh kaum wanita.” (HR. Abu Dawud no. 4066, dinyatakan hasan dalam Shahih Abi Dawud)

Kaum wanita ketika keluar rumah atau di hadapan lelaki ajnabi dilarang memakai pakaian yang menampakkan wajah[5], kepala, atau lehernya, atau menampakkan bagian tubuhnya yang diperintahkan untuk ditutup di hadapan nonmahram. Selain karena semua itu merupakan aurat bagi kaum wanita, juga agar mereka berbeda dengan lelaki.

Kalaupun ada model pakaian yang menutup tubuh tetapi model yang khusus bagi lelaki, si wanita tetap tidak boleh memakainya.

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah berkata menukilkan ucapan al-Imam ath-Thabari rahimahullah, “Maknanya, tidak boleh kaum lelaki bertasyabbuh dengan kaum wanita dalam hal pakaian dan perhiasan yang merupakan kekhususan wanita. Demikian pula sebaliknya.”

Al-Hafizh rahimahullah menambahkan, “Demikian pula dalam cara berbicara dan cara berjalan. Adapun model pakaian maka berbeda-beda sesuai dengan kebiasaan setiap negeri. Bisa jadi, ada kaum (di satu negeri) tidak membedakan pakaian khas wanita dari pakaian khas lelaki. Akan tetapi, untuk wanita ditambah dengan hijab dan menutup tubuh.” (Fathul Bari, 10/409)

 

Tasyabbuh dalam Cara Berjalan

Abdullah ibnu ‘Amr ibnul Ash radhiallahu ‘anhuma pernah melihat Ummu Said putri Abu Jahl berselempang busur dan berjalan seperti cara berjalan kaum lelaki. Berkatalah Abdullah, “Siapa perempuan ini?”

Dijawab, “Ini Ummu Said bintu Abi Jahl.”

Abdullah berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَشَبَّهَ بِالرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ وَلاَ مَنْ تَشَبَّهَ بِالنِّسَاءِ مِنَ الرِّجَالِ

        ‘Bukan termasuk golongan kami wanita yang menyerupai lelaki dan lelaki yang menyerupai wanita’.” (HR. Ahmad 2/199—200, lihat penjelasan panjang lebar tentang hadits ini dalam catatan kaki kitab Jilbab al-Mar’ah al-Muslimah, karya al-Imam al-Albani, hlm. 142—144)

Ini adalah peringatan keras dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan bahwa pelaku tasyabbuh dengan lawan jenis tersebut ‘bukan termasuk golongan kami’, yakni bukan orang yang mengikuti sunnah kami atau bukan orang yang berjalan di atas jalan kami, jalan Islam.

Tasyabbuh dalam Suara

Di antara wanita ada yang memberat-beratkan suaranya meniru suara lelaki sebagaimana ada lelaki yang melembut-lembutkan suaranya, dibuat mendayu-dayu meniru suara wanita. Keinginan agar seperti lawan jenis ini menunjukkan terbaliknya fitrah mereka dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri telah melaknat lelaki yang menyerupai wanita ataupun sebaliknya.

        Bagaimana bila ada wanita yang memang dari asalnya bersuara berat, bukan karena dibuat-buat, apalagi bermaksud meniru lelaki?

        Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah memberikan pencerahan terhadap pertanyaan semisal ini. Kata al-Hafizh, “Celaan tasyabbuh (dengan lawan jenis) dalam hal ucapan dan cara jalan dikhususkan bagi orang yang bersengaja melakukannya. Adapun seseorang yang asal tabiatnya memang demikian, maka dia diperintah untuk memaksakan dirinya meninggalkan kelainan perilaku tersebut dan terus berupaya meninggalkannya walau secara bertahap. Apabila tidak melakukannya dan terus ‘memelihara kelainan’ tersebut, dia pun masuk dalam celaan. Lebih-lebih lagi apabila tampak darinya hal-hal yang menunjukkan dia senang dengan kelainan yang ada padanya.” (Fathul Bari, 10/409)

Tasyabbuh dalam Berhias

Contohnya memakai hena/pacar di tangan dan kaki, yang merupakan cara berhias kaum wanita. Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu memberitakan, pernah didatangkan ke hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seorang banci yang mewarnai kedua tangan dan kedua kakinya dengan hena/daun pacar. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya,

        مَا بَالُ هَذَا؟ قَالُوا: يَتَشَبَّهُ بِالنِّسَاءِ. فَأُمِرَ بِهِ فَنُقِّيَ إِلَى النَّقِيعِ. فَقِيلَ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَ نَقْتُلُهُ؟ فَقَالَ: إِنِّي نُهِيتُ عَنْ قَتْلِ الْمُصَلِّيْنَ

“Ada apa dengan orang ini?”

Dijawab, “Wahai Rasulullah, orang ini menyerupai wanita.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memerintahkan orang tersebut diasingkan ke an-Naqi’.

Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, tidakkah kita membunuhnya saja?”

“Aku dilarang membunuh orang__ orang yang shalat,” jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

(HR. Abu Dawud no. kitab al-Adab, dinyatakan sahih oleh al-Imam al-Albani dalam al-Misykat no. 4481)

Dari hadits di atas dipahami bahwa mewarnai tangan dan kaki merupakan kekhususan kaum wanita, tidak boleh dilakukan kaum lelaki. Buktinya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menghukum lelaki banci yang melakukannya.

Adapun mewarnai rambut dengan hena untuk mengubah uban boleh dilakukan, bahkan disyariatkan bagi wanita dan lelaki, sebagaimana hal ini ditunjukkan oleh as-Sunnah.

Diperkenankan pula menggunakan hena untuk pengobatan. Abu ‘Amr ibnu Shalah rahimahullah mengatakan, “Memacari jenggot guna mengubah uban dibolehkan dan merupakan ajaran sunnah. Adapun menggunakan hena bagi lelaki untuk selain mengubah uban rambut/jenggot, maka dilihat. Kalau si lelaki memakainya untuk pengobatan, hukumnya boleh. Jika maksudnya untuk berhias dan semisal dengan maksud wanita memakainya, hukumnya tidak boleh.” (Adab al-Mufti wa al-Mustafti, 2/502)

Penyembuhan dan Hukuman bagi Pelaku

Telah dijelaskan di atas bahwa seseorang yang terkena penyakit penyimpangan perilaku dengan menyerupai lawan jenis, dia harus berusaha “sembuh” dari kelainan tersebut, bila tidak maka dia akan jatuh ke dalam laknat. Lalu bagaimana bila kelainan tersebut bawaan sejak lahir?

Menurut an-Naawi rahimahullah, mukhannats khalqi (seseorang yang terlahir banci) tidaklah ditujukan kepadanya celaan (karena di luar kuasanya, alias bukan kesengajaan)[6].

Akan tetapi, kata al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah, apa yang dinyatakan oleh an-Nawawi dan yang sependapat dengannya di atas berlaku ketika seorang banci tersebut sama sekali tidak mampu lagi meninggalkan sifat keperempuan-perempuanannya, sulit meninggalkan gemulainya saat berjalan dan berbicara, setelah dia melakukan upaya penyembuhan untuk bisa meninggalkan kelainan tersebut. Sebab, hal itu masih mungkin dihilangkan walaupun dengan bertahap, dia harus mengupayakannya. Jika dia tidak berupaya menghilangkannya tanpa ada uzur padahal dia bisa sembuh, dia pun terkena celaan. (Fathul Bari, 10/409)

Al-Imam adz-Dzahabi rahimahullah dalam kitabnya, al-Kabair, menyebutkan dosa tasyabbuh dengan lawan jenis ini sebagai salah satu dari dosa besar. Beliau menyatakan bahwa apabila wanita memakai pakaian khusus lelaki, berarti si wanita telah menyerupai lelaki dalam hal pakaian, sehingga dia masuk dalam laknat Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya.

Suami si wanita menanggung pula dosanya apabila si suami memberi kelapangan bagi istrinya untuk melakukannya atau dia menyenanginya dan tidak melarangnya. Suami turut menanggung dosanya karena dia diperintah untuk meluruskan istrinya di atas ketaatan kepada Allah ‘azza wa jalla dan melarangnya berbuat maksiat. Hal ini berdasar firman Allah ‘azza wa jalla,

قُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ وَأَهۡلِيكُمۡ نَارٗا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُ

“Jagalah diri-diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (at-Tahrim: 6)

Dan berdasar sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، الرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَمَسْؤُولٌ عَنْهُمْ يَوْمَ الْقيَامَةِ

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya tentang rakyatnya (yang dipimpinnya). Seorang lelaki adalah pemimpin di keluarganya dan dia akan ditanya/dimintai pertanggungjawaban tentang mereka pada hari kiamat.” (Muttafaqun ‘alaihi) (al-Kabair, hlm. 129)

Al-Imam al-Haitsami rahimahullah dalam az-Zawajir (1/126) berkata, “Perbuatan tasyabbuh dengan lawan jenis terhitung dalam dosa besar adalah merupakan hal yang jelas berdasarkan hadits-hadits yang Anda ketahui dan ancaman keras yang di dalamnya.

Yang aku lihat dalam tasyabbuh ini, para imam (ulama) kita memiliki dua pendapat: satu pendapat mengatakan haram. Pendapat ini yang dinyatakan sahih oleh an-Nawawi, bahkan beliau benarkan. Pendapat kedua mengatakan makruh dan ini dinyatakan sahih oleh ar-Rafi’i dalam satu tempat.

Namun, yang sahih, bahkan yang benar, adalah pendapat yang dinyatakan oleh an-Nawawi bahwa hal tersebut haram, bahkan termasuk dosa besar—sebagaimana telah aku kemukakan.

Aku juga melihat sebagian orang yang membahas tentang dosa-dosa besar menggolongkan tasyabbuh dengan lawan jenis sebagai dosa besar, dan inilah pendapat yang zahir.” (Sebagaimana dinukil dalam Jilbab al-Mar’ah al-Muslimah, hlm. 148—149)

Ibnu at-Tin rahimahullah berkata, “Pihak yang mendapat laknat dalam hadits ini adalah para lelaki yang bertasyabbuh dengan para wanita atau para wanita bertasyabbuh dengan para lelaki dalam hal pakaian khusus (masing-masing).

Adapun para lelaki yang perbuatan tasyabbuhnya dengan para wanita (si lelaki telah menjelmakan dirinya atau memosisikan dirinya sebagai wanita) sampai pada taraf berhubungan badan dengan sesama lelaki pada duburnya (melakukan liwath/sodomi sebagaimana perbuatan kaum Luth ‘alaihissalam), atau tasyabbuh para wanita dengan lelaki (si wanita telah menjelma menjadi lelaki) sampai pada taraf dia “mendatangi” sesama wanita dengan melakukan sahq (dimaklumi dari perbuatan para lesbian), na’udzubillah, kedua macam penyimpangan moral ini sangat pantas beroleh celaan dan hukuman lebih keras[7] daripada pelaku yang belum sampai pada taraf demikian.” (Fathul Bari, 10/409)

Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menitahkan (dalam urusan orang banci dan lesbian),

أَخْرِجُوْهُمْ مِنْ بُيُوْتِكُمْ

“Keluarkan (usirlah) mereka dari rumah-rumah kalian.” (HR. al-Bukhari no. 5886)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusir Fulan (seorang banci) dan Umar ibnul Khaththab radhiallahu ‘anhu mengusir Fulanah (seorang wanita yang menyerupai lelaki).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan mengusir mukhannats (banci) dan mutarajjilah (lesbian) dengan maksud agar tasyabbuh yang mereka lakukan dengan lawan jenis tidak sampai pada taraf melakukan perbuatan mungkar di atas (melakuan liwath dan sahq). (Fathul Bari, 10/409)

Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saja mengusir mereka dan memerintahkan mengusir mereka, mengapa ada orang-orang yang sok berteriak-teriak agar para banci dan para lesbian ini diberi tempat dan diakui keberadaannya, lalu menganggap sah-sah saja adanya transgender? Wallahul musta’an.

Sebagai penutup, kita bawakan sebuah hadits yang apabila dibaca oleh orang-orang yang berperilaku menyimpang tersebut, semoga mereka mau segera bertobat dan memaksimalkan pengobatan penyakit ‘kelainan’nya. Mereka yang belum terkena, jangan coba-coba mendekati penyakit tersebut.

Abdullah ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلاَثٌ لاَ يَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَنْظُرُ اللهُ إلَيْهِمْ يَوْمَ الْقْيَامَةِ: الْعَاقُّ وَالِدَيْهِ، وَالْمَرْأَةُ الْمُتَرَجِّلَةُ الْمُتَشَبِّهَةُ بِالرِّجَالِ، وَالدَّيُّوثُ

“Ada tiga golongan yang tidak akan masuk surga dan Allah ‘azza wa jalla tidak akan melihat mereka pada hari kiamat kelak,

  • anak yang durhaka kepada kedua orang tuanya,
  • wanita mutarajjilah (kelelaki-lelakian) yang menyerupai kaum lelaki, dan
  • dayyuts.”[8]

(HR. an-Nasa’i, kata al-Imam al-Hakim rahimahullah, “Shahihul isnad,” dan disepakati oleh adz-Dzahabi rahimahullah. Kata al-Imam al-Albani rahimahullah, “Hadits ini sebagaimana yang dikatakan keduanya, insya Allah.” Catatan kaki Jilbab al-Mar’ah al-Muslimah, hlm. 145)

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah


[1] Pakaian yang dicelup dengan ‘ushfur, sejenis tumbuhan yang tumbuh di Jazirah Arab, sehingga warna pakaian yang dicelup tersebut berubah menjadi kuning atau merah yang khas.

[2] Sehingga warna celupannya luntur.

[3] Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan demikian sebagai peringatan keras bagi lelaki yang memakai pakaian mu’ashfar.

[4] Yakni bagaimana kabarnya.

[5] Menurut pendapat yang mewajibkan menutup wajah bagi wanita. Dalam masalah ini ada perbedaan pendapat.

[6] Al-Imam ath-Thabari rahimahullah berdalil untuk pendapat ini dengan perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tidak melarang seorang banci masuk ke tempat para wanita sampai beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar si banci tersebut menyebutkan secara rinci sifat seorang wanita. Ketika itu barulah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang si banci masuk ke tempat para wanita. Dikabarkan oleh Ummu Salamah radhiallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berada di sisinya saat di rumahnya ada seorang banci. Si banci berkata kepada Abdullah saudara lelaki Ummu Salamah, “Wahai Abdullah, apabila besok Allah ‘azza wa jalla memberikan kemenangan kepada kalian atas negeri Thaif, aku akan menunjukkan kepadamu putri Ghailan, karena dia menghadap dengan empat dan membelakang dengan delapan.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jangan sekali-kali mereka ini masuk ke tempat kalian.”

Hal ini menunjukkan tidak ada celaan bagi seorang banci yang memang asal penciptaannya demikian. (Fathul Bari, 10/409)

[7] Ada sebuah hadits yang menyebutkan tentang hukuman bagi pelaku liwath/sodomi, disampaikan oleh Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ وَجَدْتُمُوْهُ يَعْمَلُ عَمَلَ قَوْمِ لُوْطٍ فَاقْتُلُوْا الْفَاعِلَ وَالْمَفْعُوْلَ بِهِ

“Siapa yang kalian dapati melakukan perbuatan kaum Luth, maka bunuhlah (pelaku) dan yang menjadi obyek).”

(HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, dll. Al-Imam Ahmad berargumen dengan hadits ini. Sanad haditsnya menurut syarat al-Bukhari, kata al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam ad-Da’u wa ad-Dawa’ [hlm. 262—263]. Beliau juga menyatakannya sahih dalam Zadul Ma’ad.)

[8] Suami/kepala keluarga yang tidak memiliki kecemburuan terhadap keluarganya dengan membiarkan kemungkaran di tengah-tengah mereka.

Melanggar Kodrat

Banci, wadam, dan waria adalah sebutan yang membuat kita bergidik. Bukan karena mereka menyeramkan, melainkan karena mereka yang menyengaja berbuat demikian jelas abnormal, berperilaku menyimpang. Memalukan rasanya bila ada kerabat kita yang mengalami problem demikian. Ejekan, cibiran, jangan ditanya lagi. Bahkan, tak jarang menjadi tontonan yang menggelikan.

Allah subhanahu wa ta’ala, Sang pencipta, menciptakan jenis lelaki di atas tabiatnya. Dia pun menciptakan jenis wanita di atas tabiatnya. Dia memiliki hikmah yang agung dalam membedakan antara lelaki dan wanita, agar masing-masingnya menunaikan tugas yang sesuai dengan tabiatnya dalam kehidupan ini.

Bila ada lelaki yang mengubah diri menjadi wanita atau berperilaku khas wanita, dan sebaliknya wanita mengubah diri menjadi lelaki, atau berperilaku khas lelaki, tentu melanggar tabiat yang telah ditetapkan-Nya.

Nah, perilaku jenis manusia yang disebut di atas (baca, menjadi banci dengan sengaja) bukan hanya penyimpangan dalam kehidupan sosial masyarakat, tak sekadar memalukan, tetapi lebih penting dari itu melanggar syariat.

Ada hadits yang disampaikan sahabat yang mulia, Abdullah ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma tentang mereka yang berperilaku menyimpang tersebut,

لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ الْمُتَشَبِّهِبْنَ مِنَ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ وَالْمُتَشَبِّهَاتِ مِنَ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat lelaki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai lelaki.” (HR.al- Bukhari no. 5885)

Abdullah ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma juga menyampaikan hadits berikut ini,

لَعَنَ النَّبّيُ الْمُخَنِّثِيْنَ مِنَ الرِّجَالِ وَالْمُتَرَجِّلاَتِ مِنَ النِّسَاءِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat lelaki yang keperempuan-perempuanan dan wanita yang kelelaki-lelakian.” (HR. al-Bukhari no. 5886)

Abdullah ibnu Amr ibnul Ash radhiallahu ‘anhuma pernah melihat Ummu Said bintu Abi Jahl menyandang busur panah dan berjalan seperti jalannya lelaki. Ibnu Amr menegur dengan ucapannya, “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَشَبَّهَ بِالرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ وَلاَ مَنْ تَشَبَّهَ بِالنِّسَاءِ مِنَ الرِّجَالِ.

‘Bukan termasuk golongan kami wanita yang menyerupai lelaki dan lelaki yang menyerupai wanita’.” (HR. Ahmad 2/201, dinyatakan hasan sanadnya oleh asy-Syaikh Ahmad Syakir)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat lelaki yang menyerupai wanita dan melaknat wanita yang menyerupai lelaki. Sebab, Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan setiap jenis makhluk hidup dan menjadikan kebaikan serta kesempurnaannya pada urusan yang berserikat di antara satu jenis dan jenis yang lain, dan pada urusan yang menjadi kekhususan masing-masing. Urusan yang mereka berserikat (boleh dilakukan oleh semuanya, yang berjenis lelaki ataupun wanita –pen.) tidak menjadi kekhususan bagi satu jenis saja. Karena itulah, hal seperti ini tidak dilarang. Yang dilarang hanyalah yang bersangkutan dengan hal yang khusus. Apabila sesuatu telah menjadi kekhususan bagi kaum wanita, tidaklah boleh kaum lelaki melakukannya sehingga menyerupai wanita. Sebaliknya, yang menjadi kekhususan kaum lelaki, tidaklah boleh kaum wanita menyerupainya.” (Majmu’ Fatawa, 32/259—260)

Selain itu, menyerupai lawan jenis menunjukkan ketidakridhaan terhadap ketetapan Allah subhanahu wa ta’ala dalam penciptaan-Nya. Seakan-akan si pelaku berjenis lelaki protes, tidak terima dengan kelelakiannya sehingga mengubah diri menjadi wanita, atau tetap tampil sebagai lelaki namun berperilaku seperti wanita. Sebaliknya, ada wanita yang berperilaku seperti lelaki, tomboi, atau mengubah diri menjadi lelaki, seakanakan dia protes dan menganggap pilihannya lebih baik dari ketetapan Allah subhanahu wa ta’ala dalam penciptaan-Nya.

Berperilaku menyimpang seperti ini, lelaki menyerupai wanita atau wanita memiripkan dirinya dengan lelaki, juga menunjukkan adanya kelainan pada diri si pelaku, Dia mengubah dirinya kepada sesuatu yang bukan asal penciptaannya. Semua ini merupakan kezaliman yang melampaui batas. Karena itu, pantaslah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat mereka.

Al-Imam asy-Syaukani rahimahullah berkata, “Hadits ini menunjukkan haramnya lelaki menyerupai wanita dan sebaliknya wanita menyerupai lelaki, baik dalam hal ucapan (cara atau gaya berbicara), pakaian, cara berjalan, maupun selainnya.” (Nailul Authar, 4/529)

Laknat sendiri maknanya adalah terusir dan dijauhkan dari rahmat ataupun kebaikan. Kalimat laknat jelas mengandung celaan. Di samping itu, laknat menunjukkan keharaman yang ditekankan. Sebab, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah melaknat kecuali terhadap pelaku dosa yang besar.

Dengan demikian, laknat yang disebutkan dalam hadits di atas menunjukkan perbuatan menyerupai lawan jenis dalam hal yang menjadi kekhususan jenis masing-masing, bukan dalam urusan yang berserikat, termasuk keharaman yang besar atau dosa besar.

Sebab dilaknatnya pelaku perbuatan demikian adalah karena dia telah mengeluarkan atau menyimpangkan sesuatu dari sifat yang diletakkan oleh Ahkamul Hakimin (Allah subhanahu wa ta’ala Dzat Yang Mahahakim/Memiliki hikmah). (Fathul Bari, 10/410)

Penyerupaan yang dilarang seperti yang telah disinggung adalah dalam hal pakaian khas, sebagian sifat, gerakan, dan semisalnya. Adapun lelaki menyerupai wanita dan sebaliknya dalam hal kebaikan, tentunya tidak masuk dalam pelarangan. (Fathul Bari, 10/409)

Karena menyerupai lawan jenis itu diharamkan, ada beberapa hal yang tidaklah dilarang kecuali karena alasan menyerupai lawan jenis. Contohnya berikut ini.

  • Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada para sahabat beliau tentang tashfiq[1] (tepuk tangan) di dalam shalat,

التَّسْبِيْحُ لِلرِّجَالِ وَالتَّصْفِيْقُ للنِّسَاءِ

“Tasbih (mengucapkan ‘subhanallah’) untuk lelaki dan tashfiq untuk wanita.” (HR. al-Bukhari no. 1203 dan Muslim)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membedakan bagi lelaki dan wanita dalam hal cara menegur atau mengingatkan imam dalam shalat. Lelaki mengucapkan tasbih, sedangkan wanita melakukan tashfiq. Lelaki tidak boleh melakukan tashfiq karena hal itu menyerupai wanita.

  • Abdullah ibnu ‘Amr ibnul Ash radhiallahu ‘anhuma berkata,

رَأَى النَّبِيُّ عَلَيَّ ثَوْبَيْنِ مُعَصْفَرَيْنِ. فَقَال  :أَأُمُّكَ أَمَرَتْكَ بِهَذَا؟ قُلْتُ: أَغْسِلُهُمَا. قَالَ: بَلْ أَحْرِقْهُمَا.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihatku mengenakan dua pakaian mu’ashfar[2]. Beliau pun bersabda, “Apakah ibumu yang menyuruhmu untuk memakainya?”

Aku menjawab, “Apakah saya cuci saja dua pakaian ini[3]?”

Beliau bersabda, “Bahkan, bakarlah dua pakaian tersebut!” (HR. Muslim no. 5401)

An-Nawawi rahimahullah berkata, “Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Apakah ibumu yang menyuruhmu untuk memakainya?’, maknanya adalah pakaian yang kamu kenakan ini termasuk pakaian kaum wanita, pakaian khas mereka dan akhlak mereka.” (al-Minhaj, 13/280)

  • Abu Musa al-Asy’ari radhiallahu ‘anhu menyampaikan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

حُرِّمَ لِبَاسُ الْحَرِيْرِ وَالذَّهَبِ عَلَى ذُكُوْرِ أُمَّتِي وَأُحِلَّ لِإِنَاثِهِمْ.

“Diharamkan memakai sutra dan emas bagi kalangan lelaki dari umatku dan dihalalkan bagi kaum wanitanya.(HR. at-Tirmidzi no. 1720, an-Nasa’i no. 5148, dinyatakan sahih dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi)

Di antara hikmah pelarangan lelaki memakai sutra adalah karena sutra menjadi pakaian perhiasan khas wanita, sesuai dengan kehalusan dan kelembutan wanita. Karena itu, sutra tidak cocok dipakai oleh lelaki karena menyelisihi kejantanan dan keperwiraannya.

Apabila lelaki dibolehkan memakai sutra, niscaya akan timbul mafsadat berupa menyerupai wanita. Bisa jadi, akhirnya akan berefek si lelaki menjadi ‘keperempuan-perempuanan’, gemulai seperti gaya wanita. Padahal lelaki dituntut menjadi seorang yang kuat, gagah, dan tidak lembek, karena harus menghadapi kerasnya hidup dan beratnya pekerjaan di luar sana.

  • Ya’la bin Murrah radhiallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat seorang lelaki memakai khaluq, maka beliau bersabda,

اذْهَبْ فَاغْسِلْهُ، ثُمَّ اغْسِلْهُ، ثُمَّ لاَ تَعُدْ.

“Pergilah untuk mencuci bekas khaluq ini, lalu cuci lagi, kemudian jangan kamu ulangi.” (HR. an-Nasa’i, dan at-Tirmidzi, dinyatakan dha’if oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Dha’if Sunan at-Tirmidzi)

Wewangian khaluq dilarang bagi lelaki karena merupakan wewangian khas wanita.

  • Pensyariatan membiarkan jenggot bagi lelaki juga termasuk dalam bab ini, ‘agar tidak seperti wanita’ dan masih banyak lagi.

Para ulama pun berfatwa melarang beberapa hal dengan alasan ‘tasyabbuh’ (menyerupai lawan jenis). Seperti kata al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah, “Tidaklah aku membenci lelaki memakai mutiara kecuali karena mutiara adalah perhiasan khas wanita.” (Fathul Bari, 10/410)

Tasyabbuh yang Dicela

Telah disebutkan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang laknat bagi lelaki yang menyerupai wanita dan sebaliknya. Laknat yang ditujukan pada suatu perbuatan menunjukkan bahwa perbuatan tersebut tercela.

        Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah menyebutkan bahwa laknat tersebut khusus bagi orang yang bersengaja melakukannya. Artinya, si lelaki memang sengaja menyerupai wanita dan si wanita sengaja menyerupai lelaki.

Adapun seseorang yang asal tabiatnya memang demikian, dia terlahir sebagai lelaki tetapi memiliki kelainan berupa tampaknya sifat kewanita-wanitaan, atau sebaliknya terlahir sebagai wanita tetapi punya sifat kelelaki-lelakian, dia diperintah untuk mengubah kelainan sifat tersebut, memaksa dirinya dan melatihnya secara bertahap.

Apabila dia tidak melakukannya dan terus ‘memelihara’ kelainan tersebut, orang ini pun masuk dalam celaan. Terlebih lagi apabila tampak darinya tanda yang menunjukkan dia senang dengan kelainan yang ada padanya. (Fathul Bari, 10/409)

Nah, apabila seseorang yang asalnya memang mengidap kelainan saja diperintah untuk berusaha mengobati kelainannya walau secara berlahan dan bertahap, lantas bagaimana halnya dengan seseorang yang lahir normal sebagai lelaki dengan sifat-sifat lelaki atau lahir sebagai wanita dengan sifat-sifat wanita, namun karena pengaruh lingkungan atau salah asuh, dia berubah; ‘lelaki tetapi seperti wanita’, ‘wanita tetapi seperti lelaki’? Bagaimana pula dengan seseorang yang mengubah penampilannya karena tuntutan profesi atau pekerjaan?

Apabila karena salah asuh, dia harus memiliki kesadaran diri untuk berubah sebagaimana asal penciptaannya.

Apabila dia terlahir sebagai lelaki, dia harus sadar untuk menjadi lelaki yang sebenarnya dan ridha dengan penciptaan Allah subhanahu wa ta’ala. Apabila dia terlahir sebagai wanita, dia harus sadar untuk menjadi wanita dan ridha pula. Tentu Allah subhanahu wa ta’ala melihat usahanya dan tidak membebaninya selain yang dia mampu setelah mencurahkan segala upaya.

Bagaimana halnya dengan orang yang mengubah dirinya karena tuntunan profesi atau pekerjaan? Dia lelaki tulen, tetapi karena harus berlakon sebagai wanita, dia mengubah penampilan sebagai wanita, atau tetap berpenampilan lelaki namun bergaya banci. Tentu yang seperti ini tidak pantas, dan sangat tepat dia diancam dengan hadits-hadits di atas.

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

 

(Insya Allah bersambung)

Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah


[1] Bedakan dengan tepuk tangan yang dilakukan oleh orang-orang jahil yang meniru orang-orang kafir.

[2] Pakaian yang dicelup dengan ushfur, sejenis tumbuhan yang tumbuh di Jazirah Arab, sehingga warnanya berubah menjadi kuning atau merah yang khas.

[3] Sehingga warna celupannya luntur.

Untuk yang Diundang Walimah

Saudari muslimah….

Ketika Anda diundang sanak famili, tetangga, atau teman untuk suatu acara pernikahan atau walimah al-urs, selama tidak ada penghalang syar’i, Anda harus menghadiri undangan tersebut. Hal ini berpijak dengan hadits berikut,

إِذَا دُعِيَ أَحَدُكُمْ إِلَى الْوَلِيْمَةِ فَلْيَأْتِهَا

“Apabila salah seorang dari kalian diundang acara walimah, hendaknya dia menghadirinya.” (HR . al-Bukhari no. 5173 dan Muslim no. 3495, dari Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma)

Dalam riwayat Muslim (no. 3499) ada lafadz,

عُرْسًا كَانَ أَوْ نَحْوَهُ

“(Sama saja) apakah undangan walimah urs atau semisalnya.”

Dalam riwayat al-Bukhari (no. 5177) dan Muslim (no. 3511) dari hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan,

وَمَنْ تَرَكَ (وَفِي لَفْظٍ لِمُسْلِمٍ: وَمَنْ لم يُجِبِ) الدَّعْوَةَ فَقَدْ عَصَى اللهَ وَرَسُوْلَهُ

“Siapa yang meninggalkan (dalam lafadz al-Imam Muslim: tidak memenuhi) undangan, dia telah bermaksiat kepada Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya.”

Hadits ini adalah dalil wajibnya memenuhi undangan. Sebab, maksiat tidaklah disematkan pada diri seseorang melainkan karena dia telah meninggalkan kewajiban. Sebagaimana hal ini dinyatakan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah. (Fathul Bari, 9/305)

Janur Kuning

Bagaimana Apabila Bertepatan Anda Sedang Berpuasa?

Ada hadits yang menjawab masalah ini. Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu menyampaikan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا دُعِيَ أَحَدُكُمْ فَلْيُجِبْ. فَإِنْ كَانَ صَائِمًا فَلْيُصَلِّ، وَ نْ كَانَ مُفْطِرًا فَلْيَطْعَمْ

“Apabila salah seorang dari kalian diundang, hendaknya dia memenuhinya. Apabila dia sedang berpuasa, hendaknya dia mendoakan. Namun, jika dia tidak berpuasa, hendaknya dia makan.” (HR . Muslim no. 3506)

Tentang makna ‘mendoakan’ dalam hadits di atas, kata jumhur ulama adalah mendoakan yang menyajikan makanan dengan ampunan, berkah, dan semisalnya. (al-Minhaj, 9/237)

Apabila puasa yang sedang dilakukan adalah puasa sunnah, boleh bagi yang diundang membatalkan puasanya. Lebih-lebih lagi apabila tuan rumah memintanya terus-menerus untuk makan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا دُعِيَ أَحَدُكُمْ إِلَى طَعَامٍ فَلْيُجِبْ. فَإِنْ شَاءَ طَعِمَ وَإِنْ شَاءَ تَرَكَ

“Apabila salah seorang dari kalian diundang makan, hendaknya dia memenuhinya. Kalau mau, dia makan. Kalau dia mau pula, dia tidak makan.” (HR . Muslim no. 3504 dari Jabir radhiallahu ‘anhu)

Kata al-Imam an-Nawawi rahimahullah, “Jika puasanya adalah puasa sunnah dan yang menyajikan makanan (si pengundang) merasa berat dengan puasanya (kecewa karena dia tidak makan), yang afdal dia berbuka.” (al-Minhaj, 9/237)

Ummu Hani radhiallahu ‘anha menyampaikan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

الصَّائِمُ الْمُتَطَوِّعُ أَمِيْرُ نَفْسِهِ، إِنْ شَاءَ صَامَ وَإِنْ شَاءَ أَفْطَرَ

“Orang yang berpuasa sunnah adalah pimpinan bagi dirinya. Jika mau, dia tetap puasa; dan jika mau, dia berbuka.” (HR . an-Nasa’i, menurut al-Hakim sanadnya sahih dan disepakati oleh adz-Dzahabi. Hadits ini memang sebagaimana yang dikatakan keduanya, kata al-Imam Albani rahimahullah dalam kitabnya Adab az-Zafaf, catatan kaki hlm. 156)

Ummul Mukminin Aisyah radhiallahu ‘anha mengabarkan, “Suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk ke rumahku lalu bertanya, ‘Apakah kalian punya makanan?’

‘Tidak,’ jawabku.

‘Kalau begitu aku berpuasa,’ ujar beliau.

Di hari yang lain, ada yang mengirimiku makanan hais sebagai hadiah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyukai hais. Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah kita dihadiahi hais.’

‘Sajikan untukku,’ jawab beliau, ‘Sebenarnya sejak tadi pagi saya berpuasa.’

Beliau menyantap hais tersebut, kemudian berkata,

إِنَّمَا مَثَلُ صَوْمِ الْمُتَطَوِّعِ مِثْلُ الرَّجُلِ يُخْرِجُ مِنْ مَالِهِ الصَّدَقَةَ، فَإِنْ شَاءَ أَمْضَاهَا وَإِنْ شَاءَ حَبَسَهَا

‘Permisalan seseorang yang berpuasa sunnah hanyalah seperti seorang lelaki yang mengeluarkan sedekah dari hartanya. Kalau dia mau dia berikan sedekah tersebut dan kalau mau dia tahan (tidak memberikannya).’ (HR . an-Nasa’i dengan sanad yang sahih. Lihat al-Irwa 4/136)

 

Bagaimana Apabila Ada Maksiat?

Apabila di tempat undangan tersebut ada perbuatan maksiat, Anda jangan menghadirinya, kecuali apabila Anda ingin melakukan amar ma’ruf dan nahi mungkar. Kalau berhasil, itulah yang diinginkan. Jika tidak, Anda harus meninggalkan tempat acara tersebut.

Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu berkata, “Aku pernah membuat makanan lalu kuundang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menyantapnya. Beliau pun datang lalu melihat di dalam rumah ada gambar-gambar (makhluk bernyawa). Beliau pun kembali. Ketika ditanya alasan beliau kembali, beliau bersabda,

إِنَّ فِي الْبَيْتِ سِتْرًا فِيْهِ تَصَاوِيْرُ، وَإِنَّ الْمَلاَئِكَةَ لاَ تَدْخُلُ بَيْتًا فِيْهِ تَصَاوِيْرُ

“Di dalam rumah itu ada satir yang bergambar. Sungguh malaikat tidak masuk ke dalam rumah yang ada gambar-gambar di dalamnya.” (HR . Ibnu Majah dengan sanad yang sahih. Lihat kitab Adab az-Zafaf, catatan kaki hlm. 161)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ، فَلاَ يَقْعَدَنَّ عَلىَ مَائِدَةٍ يُدَارُ عَلَيْهَا بِالْخَمْرِ

“Siapa yang beriman kepada Allah ‘azza wa jalla dan hari akhir, janganlah sekali-kali dia duduk di meja hidangan yang di atasnya diedarkan khamr.” (HR . Ahmad, lihat al-Irwa no. 1949)

Al-Imam al-Auza’i rahimahullah pernah berkata, “Kami tidak masuk ke tempat walimah yang di dalamnya ada gendang dan alat musik.” (Adab az-Zafaf, hlm. 166)

 

Yang Sunnah Dilakukan oleh Tamu Undangan

Ada dua hal yang disenangi untuk Anda lakukan saat menghadiri undangan, yaitu:

  1. Mendoakan si pengundang setelah selesai menyantap hidangannya.

Dalam hal ini ada beberapa doa yang dicontohkan.

  1. Abdullah bin Busr menyatakan bahwa ayahnya membuatkan makanan untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu mengundang beliau. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memenuhi undangan tersebut. Selesai menyantap hidangan beliau berdoa,

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُمْ وَارْحَمْهُمْ وَباَرِكْ لَهُمْ فِيْمَا رَزَقْتَهُمْ

“Ya Allah, ampuni mereka, rahmatilah mereka, dan berkahilah mereka dalam apa yang Engkau rezekikan kepada mereka.” (HR . Muslim)

  1. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selesai menikmati hidangan yang disajikan Sa’d bin Ubadah radhiallahu ‘anhu di rumahnya, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa,

أَكَلَ طَعَامَكُمُ الْأَبْرَارُ وَصَلَّتْ عَلَيْكُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَأَفْطَرَ عِنْدَكُمُ الصَّائِمُوْنَ

“Telah makan makanan kalian orang-orang baik dan para malaikat bershalawat atas kalian. Orang-orang yang berpuasa berbuka puasa di sisi kalian.” (HR . Ahmad 3/138, dll. Sanadnya sahih, lihat catatan kaki adab az-Zafaf, hlm. 170)

 

  1. Mendoakan pengantin dengan doa kebaikan dan keberkahan

Berikut ini doa yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

  1. Saat mendoakan Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu,

بَارَكَ اللهُ لَكَ

“Semoga Allah memberkahimu.” (HR . al-Bukhari dan Muslim)

  1. Ketika mendoakan Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu saat menikahi putri beliau, Fathimah, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan,

اللَّهُمَّ بَارِكْ فِيْهِمَا وَبَارِكْ لَهُمَا فِي بِنَائِهِمَا

“Ya Allah, berkahilah dalam pernikahan keduanya dan berkahilah keduanya dalam malam pengantin keduanya.” (HR . Ahmad 3/359, dll. Kata al-Imam al-Albani rahimahullah dalam catatan kaki Adabuz Zafaf hlm. 145, Niswah “Rijalnya tsiqat, rijal al-Imam Muslim, selain Abdul Karim. Sejumlah orang tsiqat meriwayatkan darinya. Kata al-Hafizh dalam at-Taqrib, “Dia maqbul/ diterima.”)

  1. Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu menyampaikan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan pengantin dengan ucapan,

بَارَكَ اللهُ لَكَ وَبَارَكَ عَلَيْكَ وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِي خَيْرٍ

(HR . Abu Dawud, Tirmidzi, dll. Dinyatakan sahih dalam Shahih Abi Daud)

 

Tidak diperkenankan kita mengucapkan ucapan selamat seperti yang biasa diucapkan orang-orang jahiliah, misalnya,

بِالرّفَاءِ وَالْبَنِيْنَ

“Semoga dianugerahi kerukunan dan banyak anak.”

Ketika Uqail bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu menikah dengan seorang wanita dari Jusyam, orang-orang mengucapkan selamat dengan ucapan بِالرّفَاءِ وَالْبَنِيْن . Uqail berkata, “Jangan kalian mengucapkan demikian, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarangnya.”

Mereka bertanya, “Lantas apa yang harus kami ucapkan, wahai Abu Zaid?”

“Ucapkanlah,

بَارَكَ اللهُ لَكُمْ وَبَارَكَ عَلَيْكُمْ

Sungguh, dengan itu kami diperintah.” (HR . Ibnu Abi Syaibah, Abdur Razzaq, dll. Lihat Adab az-Zafaf, catatan kaki hlm. 176)

Demikian bimbingan dalam as-Sunnah.

 

Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah

Si Tumit Tinggi

al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah

 hak-tinggi

Berbusana modis ala zaman ‘sesuai anggapan mereka’ lengkap dengan sepatu berhak tinggi merupakan pemandangan yang terlalu sering dan sangat biasa terlihat di luar sana. Seakan-akan semua itu merupakan penampilan yang harus diikuti oleh perempuan modern.

Sepatu berhak tinggi yang dianggap kelayakan dari sebuah penampilan ini sungguh merupakan musibah, karena terlalu banyak perempuan (baca: muslimah) yang tergoda untuk memakainya. Padahal kalau mau dirunut, budaya memakai alas kaki “kelebihan hak” ini bukanlah dari Islam. Lantas, budaya dari mana? Kita pun teringat dengan perempuan Bani Israil atau Yahudi, bagaimana mereka mengada-ada dalam berhias sehingga terjatuh dalam pelanggaran syariat.

Sebagai contoh, akan kita bawakan beberapa kabar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan atsar sahabat tentang hal tersebut.

Sahabat yang mulia, Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhu, menyampaikan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkisah,

كَانَتِ امْرَأَةٌ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيْلَ قَصِيْرَةٌ تَمْشِي مَعَ امْرَأَتَيْنِ طَوِيْلَتَيْنِ، فَاتَّخَذَتْ رِجْلَيْنِ مِنْ خَشَبٍ وَخَاتَمًا مِنْ ذَهَبٍ مُغْلَقٍ مُطْبَقٍ، ثُمَّ حَشَتْهُ مِسْكًا وَهُوَ أَطْيَبُ الطِّيْبِ، فَمَرَّتْ بَيْنَ الْمَرْأَتَيْنِ فَلَمْ يَعْرِفُوْهَا

“Ada seorang wanita bertubuh pendek dari kalangan Bani Israil berjalan bersama dua wanita yang berpostur tinggi. Yang bertubuh pendek memakai dua kaki dari kayu (semacam sandal atau sepatu untuk menambah tingginya) dan mengenakan cincin dari emas yang digantung, yang ditutup. Kemudian dia memenuhinya dengan misik yang merupakan minyak wangi paling harum. Lalu dia lewat di antara dua wanita yang tinggi sementara mereka tidak mengenalinya.” (HR. Muslim, kitab al-Alfazh, no. 5842)

Said ibnul Musayyab rahimahullah, tokoh ulama tabi’in, berkata, “Muawiyah radhiallahu ‘anhu datang ke Madinah, lalu berkhutbah dan mengeluarkan gelungan rambut[1].

Beliau pun berkata,

مَا كُنْتُ أَرَى أَنَّ أَحَدًا يَفْعَلُهُ إِلاَّ الْيَهُوْدُ، إِنَّ رَسُوْلَ اللهِ بَلَغَهُ فَسَمَّاهُ الزُّوْرَ

‘Semula aku tidak mengira bahwa ada seseorang yang melakukannya[2] selain Yahudi. Sesungguhnya telah sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (berita) tentang menyambung rambut, maka beliau menamakannya dengan kedustaan’.” (HR. Muslim, kitab al-Libas, no. 5545)

Abdur Razzaq ash-Shan’ani rahimahullah, alim dari negeri Yaman pada masanya, membawakan riwayat Aisyah radhiallahu ‘anha yang berkata,

كَانَ نِسَاءُ بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ يَتَّخِذْنَ أَرْجُلاً مِنْ خَشَبٍ يَتَشَرَّفْنَ لِلرِّجَالِ فِي الْمَسَاجِدِ، فَحَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِنَّ الْمَسَاجِدَ وَسُلِّطَتْ عَلَيِهْنَّ الْحَيْضَةُ

“Dahulu para perempuan Bani Israil mengenakan kaki-kaki dari kayu agar mereka terlihat lebih tinggi oleh para lelaki di masjid-masjid. Allah subhanahu wa ta’ala kemudian mengharamkan bagi mereka mendatangi masjid dan ditimpakan kepada mereka haid.” (Mushannaf Abdur Razzaq 3/149)

Kata Ibnu Hajar rahimahullah, “Sanadnya sahih.”

Beliau rahimahullah juga berkata, “Walaupun hadits ini mauquf (ucapan sahabat, yaitu Aisyah radhiallahu ‘anha), tetapi hukumnya marfu’ (sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam). Sebab, urusan seperti ini tidak bisa dikatakan bersumber dari pendapat sendiri atau akal-akalan. Maksud ‘ditimpakan kepada mereka haid’ dalam hadits di atas adalah masa haid perempuan Bani Israil panjang. Mereka harus menjalani waktu yang lama untuk sampai kepada masa suci. Hal ini termasuk hukuman yang ditimpakan akibat perbuatan mereka yang disebutkan dalam hadits.” (Fathul Bari, 2/407)

Maksud ‘kaki-kaki dari kayu’ menjadi lebih jelas dengan atsar dari sahabat yang mulia, Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, yang diriwayatkan oleh Ishaq ibnu Rahuyah rahimahullah dalam Musnadnya (2/147),

كَانَ نِسَاءُ بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ يَتَّخِذْنَ قَوَالِبَ

Kata قَوَالِب adalah bentuk jamak dari قاَلِبٌ , artinya ‘sandal dari kayu’. (Lisanul ‘Arab, maddah qalaba, 1/689)

Berita tentang perbuatan perempuan Yahudi dan kerusakan yang mereka adaadakan adalah bukti bahwa sumber mayoritas kejelekan dan kerusakan di muka bumi ini adalah mereka, bangsa Yahudi.

Kita tidak heran dengan ulah bangsa yang dimurkai[3] dan dilaknat ini[4] karena mereka memang cinta kerusakan dan membenci perbaikan, cinta kekafiran dan benci kepada keimanan berikut ahlul iman[5], kecuali mereka yang Allah subhanahu wa ta’ala muliakan dengan mendapat petunjuk.[6]

Karena ulah kaum perempuan Yahudi tersebut, kaum lelaki mereka tergoda. Kita pun teringat dengan hadits yang menyatakan bahwa bencana pertama yang menimpa Bani Israil bersumber dari kaum perempuannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَاتَّقُوْا الدُّنْيَا وَاتَّقُوْا النِّسَاءَ، فَإِنَّ أوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيِلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ

“Hati-hatilah kalian dari dunia dan hati-hatilah dari wanita[7], karena sesungguhnya awal bencana yang menimpa Bani Israil adalah pada godaan wanita.” (HR. Muslim, kitab adz-Dzikr wa ad-Du’a, no. 6883)

Nah, sepatu tinggi ternyata diadopsi dari kaki kayu yang dibuat oleh perempuan Yahudi untuk mengesankan tubuhnya lebih tinggi dari yang sebenarnya. Kita katakan seperti ini karena merekalah yang pertama kali berhias dan tampil di hadapan lelaki dengan model seperti itu, sebagaimana tersebut dalam hadits.

Jadi, memakai sandal atau sepatu tinggi berarti bertasyabbuh (menyerupai atau meniru) dengan Yahudi, padahal mereka adalah orang-orang kafir penghuni neraka. Tasyabbuh dengan ashabun nar (penghuni neraka) dalam hal yang merupakan kekhususan mereka adalah terlarang.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan dalam haditsnya,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Siapa yang menyerupai suatu kaum maka dia bagian dari mereka.” (HR. Abu Dawud, kitab al-Libas, no. 4031. Dinyatakan sahih dalam Shahih al-Jami’, 2/1059)

Menyerupai orang kafir secara lahiriah akan mengantarkan kepada penyerupaan secara batin. Tasyabbuh dengan orang yang buruk adalah keburukan dan sebaliknya tasyabbuh dengan orang yang baik adalah kebaikan.

Apabila ada yang bertanya, “Bagaimana apabila perempuan yang mengenakan sepatu tinggi tersebut tidak berniat tasyabbuh sama sekali?”

Ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam kitabnya, al-Iqtidha’, berikut ini adalah jawabannya. Beliau rahimahullah menyatakan bahwa termasuk tasyabbuh dengan orang kafir ialah melakukan sesuatu yang asalnya merupakan perbuatan mereka.

Berdasarkan hal ini, wanita yang memakai sepatu tinggi berarti ber-tasyabbuh dengan wanita kafir, walaupun tujuannya bukan meniru mereka. Hanya saja, karena asal perbuatan tersebut diambil dari mereka, jadilah yang berbuat terjatuh dalam tasyabbuh.

Ternyata, bukan hanya kerusakan tasyabbuh yang dihindari dari pemakaian sepatu berhak tinggi ini. Namun, ada kerusakan atau pelanggaran lain pada pemakaiannya. Apakah itu? Perempuan yang keluar rumah memakai sepatu atau sandal bertumit tinggi telah melanggar salah satu adab syar’i bagi muslimah saat keluar rumah.

Adab yang dimaksud adalah tidak bersengaja memperdengarkan suara langkah kaki atau apa yang tersembunyi di baliknya dari perhiasan yang dikenakan, seperti suara gelang kaki. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Dan janganlah mereka memukulkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan….” (an-Nur: 31)

Apabila perempuan bersepatu tinggi melangkah, satu, dua, tiga langkah, dan seterusnya…. Apakah Anda mendengar suara sepatunya? Ya…. tuk…tuk…tuk atau suara semacam itu. Belum lagi apabila dia mengenakan gelang kaki, tentu lebih ramai lagi suaranya.

Kata Ummu Abdillah al-Wadi’iyah hafizhahallah, seorang penuntut ilmu senior dari negeri Yaman, putri al-Muhaddits asy-Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’I rahimahullah, “Kita ditimpa bencana di zaman ini dengan al-ka’bul ‘ali (alas kaki bertumit tinggi). Kita dapati perempuan mengenakannya. Saking tingginya sandal tersebut, sampai memiliki suara (saat dipakai melangkah). Kadang si perempuan bertingkah genit ketika berjalan.[8]

Sungguh benar sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ فَإِذَا خَرَجَتِ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ

“Wanita itu aurat. Jika dia keluar rumah, setan memerhatikannya dan menghiasinya (dalam pandangan lelaki[9]).” (HR. at-Tirmidzi, kitab ar-Radha’, no. 1173, dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani rahimahullah dalam al-Misykat no. 3109 dan al-Irwa’ no. 273.  Lihat Nashihati lin Nisa’, hlm. 99)

Ada lagi satu madarat ketika perempuan mengenakan alas kaki yang tinggi. Si perempuan menghadapkan dirinya kepada bahaya, yaitu bisa saja terpeleset jatuh saat berjalan karena hak tinggi yang dikenakannya. Apalagi ketika dia berjalan terburu-buru.

Al-Lajnah ad-Daimah lil Buhuts al-Ilmiyah wa al-Ifta’ ketika ditanya tentang hukum memakai sepatu hak tinggi bagi wanita memberikan jawaban sebagai berikut.

“Memakai sepatu hak tinggi tidak diperbolehkan. Sebab, perempuan yang memakainya bisa terjatuh. Sementara itu, syariat ini memerintah manusia untuk menjauhi segala yang berbahaya, semisal keumuman firman Allah subhanahu wa ta’ala,

“Janganlah kalian menjatuhkan diri-diri kalian kepada kebinasaan.” (al- Baqarah: 195)

“Janganlah kalian membunuh diri-diri kalian.” (an-Nisa: 29)

Selain itu, sepatu ini menampakkan perawakan si perempuan lebih dari yang semestinya (tampak lebih tinggi) sehingga ada unsur tadlis (menipu, menampakkan kepalsuan).

Di samping itu, mengenakan sepatu tinggi berarti memperlihatkan sebagian perhiasaan perempuan mukminah (di hadapan lelaki yang tidak halal melihatnya)[10]. Hal ini dilarang berdasar firman Allah subhanahu wa ta’ala,

“Janganlah mereka (para perempuan) menampakkan perhiasan mereka kecuali kepada suami-suami mereka, ayah-ayah mereka, mertua lelaki mereka, anak-anak lelaki mereka, anak-anak lelaki dari suami mereka, saudara-saudara lelaki mereka, anak-anak lelaki dari saudara-saudara lelaki mereka (keponakan), anak-anak lelaki dari saudara-saudara perempuan mereka, atau perempuan-perempuan mereka.” (an-Nur: 31) (Fatawa al-Mar’ah al-Muslimah, hlm. 475)

Yang jelas, seorang muslimah yang taat bukanlah pengikut setiap gaya dan mode yang ditawarkan di luar sana. Seorang muslimah sejati bukanlah seseorang yang latah atau ikut-ikutan dengan manusia di sekitarnya.

Dia adalah seseorang yang selalu berpegang dan terikat dengan aturan agamanya. Dia selalu memerhatikan, apakah sesuatu itu sesuai dengan ketentuan agamanya atau tidak? Adakah pelanggaran ataukah tidak? Apabila ternyata melanggar dan berbahaya, dia tidak merasa berat untuk meninggalkannya.

Nasihat untuk muslimah, jadilah seorang yang memerhatikan perhiasan untuk negeri akhiratmu, beroleh keridhaan sang Rabb. Sebab, sebentar lagi akan tiba hari perjumpaan dengan-Nya.

Janganlah perhatian diri hanya tertuang untuk berhias di negeri dunia hingga tidak peduli, apakah melanggar aturan Rabb atau tidak. Agama kita tidak melarang berhias dan berpenampilan, namun tentu dengan sesuatu yang tidak melanggar syariat dan mengandung dosa.

Wallahu a’lam bish-shawab.


[1] Rambut palsu ini biasa dipakai oleh wanita untuk disambungkan dengan rambut aslinya.

[2] Menyambung rambut.

[3] Allah subhanahu wa ta’ala berfirman menyebutkan doa orang-orang beriman yang memohon kepada-Nya ash-shirathal mustaqim dan berlindung dari jalan Yahudi,

… bukan jalan orang-orang yang Engkau murkai….(al-Fatihah)

[4] Allah subhanahu wa ta’ala berfirman tentang Yahudi,

Telah dilaknat orang-orang kafir dari Bani Israil lewat lisan Dawud dan Isa putra Maryam. Hal itu karena mereka durhaka dan selalu melampaui batas.

Mereka tidak saling melarang terhadap perbuatan mungkar yang mereka lakukan. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu. Kamu lihat kebanyakan dari mereka berloyalitas dengan orang-orang kafir. Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka dan mereka akan kekal dalam azab.(al-Maidah: 7880)

[5] Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

 “Sungguh-sungguh kamu akan mendapati manusia yang paling sengit permusuhannya terhadap orang-orang

yang beriman adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik.(al-Maidah: 82)

[6] Di antara orang-orang Yahudi yang beroleh kemuliaan dengan petunjuk tersebut ialah Ummul Mukminin Shafiyyah bintu Huyai radhiallahu ‘anha dan sahabat yang mulia, Abdullah bin Salam radhiallahu ‘anhu. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala meridhai mereka semuanya.

[7] Maknanya, hindarilah, jangan sampai kalian para lelaki tergoda dengan perempuan. (al-Minhaj, 17/58)

[8] Karena sepatu yang tinggi mendorong pemakainya berlenggak-lenggok ketika berjalan, dan ini bisa kita buktikan.

[9] Akibatnya lelaki tergoda dengannya.

[10] Dalam hal ini sepatu tinggi tersebut merupakan perhiasan si perempuan yang sengaja dipakainya untuk memberi nilai lebih atau menambah indah penampilannya.

Melepas Ikatan Rambut Saat Mandi

Al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah

Bersuci

Mandi menjadi rutinitas kita sehari-hari. Paling tidak dua kali sehari kita melakukannya, pagi dan sore. Mandi seperti ini tidak ditentukan oleh syariat. Artinya, urusannya mubah saja, mau dikerjakan, ‘silakan’; ditinggalkan pun tidak berdosa, walau sebenarnya mengerjakan yang mubah bisa mendatangkan pahala kalau disertai niat kebaikan.

Ada mandi yang diatur oleh syariat karena mengiringi urusan ibadah. Apabila mandi itu tidak dilakukan, seseorang tidak bisa menjalankan ibadah shalat dan beberapa ibadah lainnya. Mandi yang dimaksud adalah mandi selesai dari haid, nifas, dan mandi janabah.

Di sini kita tidak membicarakan secara lengkap tata cara mandi yang disebutkan. Kita membatasi satu permasalahan terkait dengan mandi-mandi tersebut, yaitu apa hukumnya wanita melepas ikatan atau gelungan rambutnya saat mandi suci dari haid, nifas, dan janabah?

Ummu Salamah radhiallahu ‘anha pernah bertanya kepada suaminya yang mulia, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

يَا رَسُوْلَ اللهِ، إِنِّي امْرَأَةٌ أَشُدُّ ضُفْرَ رَأْسِي، أَفَأَنْقُضُهُ لِغُسْلِ الْجَنَابَةِ؟ قَالَ: لاَ، إِنَّماَ يَكْفِيْكِ أَنْ تَحِثِّي عَلَى رَأْسِكِ ثَلاَثَ حَثَيَاتٍ، ثُمَّ تُفِيْضِيْنَ عَلَيْكِ الْمَاءَ، فَتَطْهُرِيْنَ

“Wahai Rasulullah, saya adalah wanita yang menjalin rambut dengan kuat. Apakah saya harus melepaskan jalinan rambut tersebut saat mandi janabah?”

Rasulullah menjawab, “Tidak. Cukuplah bagimu menuangkan (air) di atas kepalamu tiga tuangan[1], lalu engkau siramkan air di atas tubuhmu, maka engkau pun suci.” (HR. Muslim no. 742)

Aisyah radhiallahu ‘anha mengisahkan bahwa Asma bintu Syakal[2] radhiallahu ‘anha pernah bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang tata cara mandi suci dari haid. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تَأْخُذُ إِحْدَاكُنَّ مَاءَهَا وَسِدْرَتَهَا فَتَطَهَّرُ فَتُحْسِنُ الطُّهُوْرَ، ثُمَّ تَصُبُّ عَلَى رَأْسِهَا فَتَدْلُكُهَا دَلْكًا شَدِيْدًا حَتَّى تَبْلُغَ شُؤُوْنَ رَأْسِهَا

“Hendaknya salah seorang dari kalian mengambil air mandi dan sidr[3], lalu bersuci dengan sebaik-baiknya[4], kemudian dia tuangkan air di atas kepalanya, lalu digosok-gosoknya dengan kuat hingga mencapai pokok rambutnya[5]….” (HR. Muslim no. 748)

Pembaca yang mulia, perhatikanlah dua hadits di atas, hadits dua ibunda kita Ummu Salamah radhiallahu ‘anha dan Aisyah radhiallahu ‘anha. Yang satu berbicara tentang mandi janabah seorang wanita dan yang satu lagi tentang mandi haid.

Dalam hadits Ummu Salamah radhiallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memerintah Ummu Salamah radhiallahu ‘anha menggerai rambutnya saat mandi. Artinya, Ummu Salamah radhiallahu ‘anha boleh mandi dalam keadaan rambutnya tetap terjalin, terkepang, atau terikat.

Adapun dalam hadits Aisyah radhiallahu ‘anha, saat menyiram air ke kepala, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintah wanita yang mandi haid untuk menggosok-gosokkan air tersebut dengan sangat ke kepalanya agar air sampai ke pangkal rambut.

Dari sinilah muncul perbedaan pendapat tentang hukum melepas ikatan atau jalinan rambut saat mandi janabah dan mandi haid/nifas, apakah wajib atau tidak?

 

Perbedaan Pendapat Ulama

Penulis kitab asy-Syarhul Kabir (1/189—190), al-Imam ar-Rafi’ rahimahullah, menyatakan bahwa wanita tidak wajib melepas ikatan rambutnya saat mandi janabah, dan tidak ada perselisihan dalam hal ini, kecuali dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma dan an-Nakha’i rahimahullah. Tidak ada yang menyepakati keduanya menurut pengetahuan beliau. Dalilnya adalah hadits Ummu Salamah radhiallahu ‘anha di atas.

Al-Imam Ibnu Qudamah rahimahullah, menyatakan adanya kesepakatan imam yang empat tentang tidak wajibnya hal ini. (al-Mughni, “Kitab ath-Thaharah”)

Al-Imam at-Tirmidzi rahimahullah berkata setelah membawakan hadits Ummu Salamah radhiallahu ‘anha, “Yang diamalkan oleh para ulama ialah apabila seorang wanita mandi janabah tanpa melepaskan ikatan rambutnya, maka hal itu mencukupinya setelah dia mencurahkan air ke atas kepalanya.“ (Jami’ at-Tirmidzi, 1/71)

Adapun untuk mandi haid dan nifas, ulama berselisih pendapat, apakah wajib atau tidak melepas ikatan rambut saat mandi suci.

  1. Wajib melepas ikatan rambut.

Demikian pendapat yang masyhur dari ulama mazhab Hanbali (al-Mughni), Zhahiri (al-Muhalla, 2/53) dan sebagian ulama Maliki (al-Muntaqa, 1/96). Pendapat ini dipegangi oleh al-Hasan, Thawus, dan an-Nakha’i.

  1. Mustahab, tidak wajib.

Demikian pendapat jumhur ulama, di antara mereka ialah ulama mazhab Hanafi (Fath al-Qadir, 1/59I), ulama mazhab Maliki (al-Maunah, 1/132), ulama mazhab Syafi’i ( al-Majmu, 2/187), dan satu pendapat dalam mazhab Hanbali (satu riwayat dari al-Imam Ahmad rahimahullah yang dipilih oleh al-Muwaffaq, al-Majd, pensyarahnya, dan asy-Syaikh Taqiyuddin, serta selain mereka). Demikian pendapat yang dipegangi oleh Atha, al-Hakam, dan az-Zuhri. (al-Mughni, Fathul Bari, 1/542)

Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alusy Syaikh rahimahullah, Mufti Kerajaan Saudi Arabia pada masanya, berpendapat (sebagaimana dinukil dalam Taudhihul Ahkam) bahwa yang kuat secara dalil adalah pendapat yang menyatakan tidak wajib melepas ikatan rambut saat mandi haid, sebagaimana tidak wajib dalam mandi janabah. Hanya saja, saat mandi haid disunnahkan melepaskannya berdasarkan dalil-dalil yang ada, namun hal ini tidak wajib, dengan dalil hadits Ummu Sa lamah radhiallahu ‘anha . Pendapat ini yang dipilih oleh penulis kitab al-Inshaf. Adapun dalam mandi janabah, maka melepas ikatan rambut tidak disunnahkan sebagaimana disunnahkan dalam mandi haid.

Dalil mereka yang tidak mewajibkan adalah hadits Ummu Salamah radhiallahu ‘anha yang menyebutkan haid dan janabah[6]. Namun, kata al-Imam Ibnu Qayyim al- Jauziyah rahimahullah, yang sahih dalam hadits Ummu Salamah radhiallahu ‘anha hanyalah penyebutan janabah tanpa ada penyebutan haid, sedangkan melepas ikatan rambut untuk wanita yang mandi haid, maka tidak ada riwayat yang mahfuzh.

Al-Imam al-Albani rahimahullah berkata bahwa riwayatnya syadz. Dengan demikian, kata asy-Syaikh Alu Bassam, penulis Taudhihul Ahkam, mazhab al-Imam Ahmad rahimahullah dalam masalah ini kuat, dan memaknai dua hadits di atas dengan istihbab (hukumnya disunnahkan) adalah bagus. (Taudhihul Ahkam, 1/400—401)

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah menyatakan, mazhab jumhur tentang ikatan rambut wanita yang mandi adalah jika memungkinkan sampainya air ke seluruh rambut, baik bagian luar maupun bagian dalam, tanpa harus melepas ikatan rambut tersebut (mengurai rambut) maka mengurainya tidaklah wajib.

Namun, ketika tidak memungkinkan menyampaikan air ke seluruh rambut kecuali dengan mengurai, maka mengurainya wajib, tanpa membedakan mandi janabah dengan mandi haid dan nifas.

Adapun hadits Ummu Salamah radhiallahu ‘anha dipahami bahwa air bisa sampai ke seluruh bagian kepala dan rambut tanpa harus mengurai rambut tersebut. An-Nakha’i berpendapat wajibnya melepas ikatan rambut dalam seluruh keadaan. Al-Hasan dan Thawus berpendapat wajib ketika mandi haid dan tidak wajib saat mandi janabah dengan dalil hadits Ummu Salamahradhiallahu ‘anha. (al-Minhaj, 4/237)

Al-Imam al-Albani rahimahullah dalam kitabnya, Tamamul Minnah fi Ta’liq ‘ala Fiqhis Sunnah (hlm. 125), menyebutkan adanya perbedaan mandi janabah seorang wanita dengan mandi haidnya. Ketika mandi haid, si wanita harus menggosok-gosokkan air dengan kuat ke kepalanya, sedangkan saat mandi janabah tidak diharuskan demikian, sebagaimana hadits Ummu Salamah radhiallahu ‘anha menunjukkan tidak wajib mengurai rambut yang terikat saat mandi janabah.

Itulah sebabnya Aisyah radhiallahu ‘anha menyatakan pengingkaran terhadap Abdullah bin Amr radhiallahu ‘anhuma ketika sampai kabar kepada Aisyah radhiallahu ‘anha bahwa Abdullah bin Amr radhiallahu ‘anhuma menyuruh kaum wanita agar melepaskan ikatan rambut mereka saat mandi. Aisyah radhiallahu ‘anha berkata,

يَا عَجَبًا بِالْنِ عَمْرٍو هَذَا! يَأْمُرُ النِّسَاءَ إِذَا اغْتَسَلْنَ أَنْ يَنْقُضْنَ رُؤُوسَهُنَّ، أَفَلاَ يَأْمُرُهُنَّ أَنْ يَحْلِقْنَ رُؤُوسَهُنَّ؟ لَقَدْ أَغْتَسِلُ أَناَ وَرَسُوْلُ اللهِ مِنْ إِنَاءٍ وَاحِدٍ، فَمَا أَزِيْدُ عَلَى أَنْ أُفْرِغَ  عَلَى رَأْسِي ثَلاَثَ إِفْرَغَاتٍ

“Aneh sekali Ibnu Amr itu! Dia memerintah para wanita melepaskan ikatan rambut mereka saat mandi. Mengapa dia tidak menyuruh mereka mencukur rambut sekalian? Dahulu aku pernah mandi bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari satu bejana[7], dan aku tidak lebih dari sekadar menuangkan ke atas kepalaku tiga tuangan.” (HR. Muslim no. 745)

Dengan demikian kata al-Imam rahimahullah, tidak ada pertentangan di antara hadits-hadits tersebut berdasarkan perincian ini, yaitu saat mandi haid diwajibkan melepas ikatan rambut, sedangkan ketika mandi janabah tidak wajib. Di antara yang berpendapat dengan perincian ini adalah al-Imam Ahmad rahimahullah dan pendapat ini dinyatakan benar oleh Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Tahdzib as-Sunan (91/165—168). Ini juga pendapat Ibnu Hazm rahimahullah dalam al-Muhalla (2/37—40).

Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan rahimahullah dalam syarahnya terhadap Bulughul Maram, yaitu Tashil al-Ilmam (1/282—284) menyatakan tidak wajib melepas ikatan rambut saat mandi janabah karena hal itu akan menyulitkan. Sebab, mandi ini bisa berulang-ulang dilakukan sehingga apabila si wanita harus mengurai rambutnya setiap kali mandi tentu akan menyulitkannya. Sementara itu, agama ini datang memberikan keringanan dan menghilangkan segala kesulitan dari pemeluknya. Adapun untuk mandi haid ada tiga pendapat ulama:

  1. Rambut harus diurai karena mandi haid dan nifas tidak berulang-ulang dilakukan sehingga tidak mendatangkan kesulitan apabila harus melepas ikatan rambut.

Selain itu, ada perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam agar Aisyah radhiallahu ‘anha melepas ikatan rambutnya saat mandi haid[8]. Ini adalah pendapat al-Imam Ahmad dan al-Imam Malik. (al-Mughni dan al-Mudawwanah 1/28)

  1. Tidak wajib mengurai rambut saat mandi janabah, demikian pula mandi haid dan nifas, tetapi cukup menuangkan air tiga tuangan sebagaimana disebutkan dalam hadits[9].

Ini adalah pendapat mazhab Syafi’i dan Hanafi[10] (lihat al-Umm dan al-Bahru ar-Raiq 1/54)

  1. Melepas ikatan rambut saat mandi haid dan nifas hukumnya sunnah, tidak wajib.

Pendapat ini diriwayatkan dari al- Imam Ahmad dan sekelompok ulama. (Kasysyaf al-Qana’ 1/367)

Al-Lajnah ad-Daimah lil Buhuts al-Ilmiyah yang saat itu diketuai oleh Samahatusy Syaikh Ibnu Baz rahimahullah mengeluarkan fatwa bernomor no. 1191 menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut.

  • Apakah ada perbedaan antara mandi janabah lelaki dan wanita?
  • Apakah wanita harus melepas ikatan rambutnya atau cukup baginya menuangkan air ke atas kepalanya sebanyak tiga kali berdasar hadits yang ada?
  • Apa perbedaan mandi janabah dengan mandi haid?

Al-Lajnah menjawab, tidak ada perbedaan tata cara mandi janabah lelaki dan wanita. Masing-masing tidak wajib melepas ikatan rambut saat mandi. Dia cukup menuangkan air di atas kepalanya sebanyak tiga kali, kemudian menuangkan air di atas seluruh tubuhnya, berdasarkan hadits Ummu Salamah radhiallahu ‘anha.

Apabila rambut lelaki atau wanita itu dilumuri daun bidara, daun inai, atau semisalnya yang dapat menghalangi sampainya air ke kulit kepala, wajib dihilangkan. Akan tetap, apabila lumuran tersebut tipis sehingga tidak menghalangi sampainya air ke kulit kepala, tidak wajib dihilangkan[11].

Adapun tentang mandi haid wanita, ada perselisihan masalah wajib tidaknya ikatan rambut dilepas saat mandi. Pendapat yang benar ialah tidak wajib, berdasarkan sebagian riwayat hadits Ummu Salamah radhiallahu ‘anha[12]. Namun, afdalnya dilepas dalam rangka kehatihatian dan keluar dari perselisihan serta mengumpulkan dalil-dalil yang ada.

Kesimpulan masalah ini, untuk mandi janabah tidak ada kewajiban ikatan rambut dilepas sebagaimana dipahami dengan jelas dari hadits Ummu Salamah radhiallahu ‘anha. Yang menjadi pembahasan panjang adalah mandi haid dan nifas, antara yang mengatakan wajib dan mustahab/sunnah[13]. Wallahu a’lam.

 

Faedah Hadits Ummu Salamah

Sebelum menutup pembicaraan, kami ingin berbagi dengan pembaca yang mulia beberapa faedah hadits Ummu Salamah radhiallahu ‘anha yang disebutkan oleh dua syaikh yang mulia, Fadhilatusy Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah dan Fadhilatusy Syaikh Shalih al-Fauzan rahimahullah berikut ini.

  1. Rasa malu tidak menghalangi para wanita sahabiyah untuk bertanya tentang masalah agama mereka.
  2. Merujuk kepada ulama dan bertanya kepada mereka ketika ada urusan agama yang tidak dipahami. Sebab, seseorang tidak boleh diam dalam kebodohannya, tidak boleh pula sekadar menebak-nebak dan menduga-duga. Dia harus bertanya, namun tidak kepada orang-orang bodoh, tetapi kepada ulama. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Bertanyalah kepada ahlu adz-dzikr jika memang kalian tidak mengetahui.” (an-Nahl: 42)

Yang dimaksud ahlu adz-dzikr adalah ulama.

  1. Wanita boleh mengikat rambut, mengepang, atau mengurainya.

Yang terlarang ialah mengumpulkan rambut di atas kepala karena bisa menjadi sebab dia menjadikan kepalanya seperti punuk unta yang miring. Sementara itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا: قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُوْنَ بِهَا النَّاسَ، وَنِسَاءٌ كاَسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيْلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُؤُوْسُهُنَّ كَأَسْنَمَةِ الْبُخْتِ الْمَائلَةِ، لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيْحَهَا، وَإِنَّ رِيْحَهَا لَيُوْجَدُ مِنْ مَسِيْرَةِ كَذَا وَكَذَا

“Ada dua golongan penduduk neraka yang belum pernah aku lihat keduanya:

(1) orang-orang yang membawa cemeti seperti ekor-ekor sapi yang dengannya mereka memukul manusia, dan

(2) para wanita yang berpakaian tetapi telanjang, mereka miring dan memiringkan orang lain. Kepala mereka seperti punuk unta al-bukht yang miring.

Mereka tidak akan masuk surga dan tidak mencium wanginya, padahal wanginya surga bisa dicium dari jarak perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim no. 5547)

Al-Bukht dalam hadits di atas ialah unta-unta dari timur yang memiliki dua punuk. Jadi, wanita yang mengumpulkan rambutnya di atas kepala lantas mengikatnya hingga rambutnya tampak besar, seakan-akan dia memiliki dua kepala, yaitu kepalanya yang sebenarnya dan kepala palsu dari rambutnya.

  1. Hadits ini menunjukkan bahwa istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memanjangkan rambut sehingga bisa diikat atau dijalin. Sebab, rambut yang panjang ialah perhiasan keindahan bagi wanita sebagaimana jenggot menjadi ketampanan bagi lelaki. Maka dari itu, biarkanlah rambut itu tumbuh panjang terkecuali karena suatu kebutuhan yang tidak dapat dielakkan.
  2. Hadits ini menjadi dalil kaidah raf’ul haraj (dihilangkannya keberatan atau kesulitan) dalam syariat Islam. Ini tersirat dari tidak diwajibkannya melepas ikatan rambut saat mandi karena adanya kesulitan sebagaimana disinggung di atas. Cukup menuangkan air ke rambut kepala sebanyak tiga kali.

Bisa jadi, akan timbul pertanyaan, apakah boleh kurang dari tiga tuangan? Fadhilatusy Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah mengatakan boleh, tetapi kepala yang memiliki rambut tentu perlu dibersihkan dengan sungguh-sungguh sehingga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menuntunkan agar dituangkan air tiga kali ke atasnya. Akan tetapi, apabila satu tuangan kita yakini dapat mencapai pokok rambut, maka tidak harus menambah lebih darinya, karena Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Jika kalian junub maka bersucilah (mandilah)….” (al-Maidah: 6)

(Fathu Dzil Jalal wal Ikram bi Syarhi Bulughil Maram, hlm. 612—613; Tashil al-Ilmam, 1/282—284)

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.


[1] Sepenuh dua telapak tangan.

[2] Demikian kabar yang masyhur, kata al-Imam an-Nawawi rahimahullah. Adapun menurut al-Khathib al-Baghdadi rahimahullah dalam kitabnya, al-Asma’ al-Mubhamah, dan ulama yang lain, si penanya adalah Asma bintu Yazid ibnus Sakan radhiallahu ‘anha yang digelari khathibah an-nisa’, artinya kurang lebih juru bicara para wanita. Wallahu a’lam.

[3] Daun bidara dalam bahasa kita. Fungsinya sebagai pembersih seperti sabun.

[4] Menurut al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah, bersuci di sini maksudnya adalah membersihkan diri dari darah haid dan bagian tubuh yang terkena darah tersebut. Namun, yang tampak, kata al-Imam an-Nawawi rahimahullah, yang dimaksud dengan bersuci di sini adalah berwudhu sebagaimana disebutkan dalam hadits yang tentang tata cara mandi janabah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sementara itu, tata cara mandi janabah sama dengan mandi haid dan nifas. Yang membedakan hanyalah ketika mandi haid dan nifas disunnahkan mengusap bagian sekitar kemaluan yang terkena darah dengan kain atau kapas yang telah diberi misik, sebagaimana ditunjukkan oleh hadits Aisyah radhiallahu ‘anha (HR. al-Bukhari no. 314 dan Muslim no. 746)

Makna membaguskan atau membaikkan wudhu ialah menyempurnakan tata caranya. (al-Minhaj, 4/238—240)

[5] Bagian rambut yang paling bawah.

[6] Dari jalur Abdur Razzaq disebutkan dengan lafadz,

أَفَأَنْقُضُهُ لِلْحَيْضَةِ وَالْجَنَابَةِ؟

(HR. Muslim dalam Shahih-nya no. 743)

Namun, tambahan lafadz لِلْحَيْضَةِ ini bermasalah, sebagaimana akan disebutkan.

[7] Yang tampak, mandi Aisyah bersama Rasulullah adalah mandi janabah, sebagaimana ditunjukkan oleh hadits berikut ini. Aisyah radhiallahu ‘anha berkata,

كُنْتُ أَغْتَسِلُ أَنَا وَالنَّبِيُّ مِنْ إِنَاءٍ وَاحِدٍ، كِلاَنَا جُنُبٌ

Aku pernah mandi bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari satu bejana. Kami berdua dalam keadaan junub.(HR. a-Bukhari no. 299)

[8] Namun, ada yang mengatakan bahwa mandi Aisyah radhiallahu ‘anha di saat itu bukanlah mandi suci dari haid, melainkan mandi untuk ihram. Sebab, semula Aisyah ingin melaksanakan haji dan berihram untuk umrah, kemudian beliau ditimpa haid sebelum sampai ke Baitullah sehingga hal tersebut menyedihkannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berkata kepadanya, “Lakukanlah semua yang dilakukan oleh orang yang berhaji selain thawaf, sampai engkau suci dari haid.” (HR. al-Bukhari no. 294 dan Muslim no. 1411)

Ketika datang hari Arafah, Aisyah radhiallahu ‘anha masih dalam keadaan haid. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memerintahnya berihram untuk haji dan memasukkan amalan haji ke umrah, sehingga hajinya adalah haji qiran sebagai pengganti haji tamattu’.

Dengan demikian, tujuan dari perintah melepas ikatan rambut saat itu ialah membersihkan diri dalam rangka ihram, bukan bersuci dari haid karena Aisyah radhiallahu ‘anha belum selesai dari haidnya. (Tashil al-Ilmam, 1/282—284)

[9] Berdalil dengan tambahan lafadz haid dalam hadits Ummu Salamah radhiallahu ‘anha.

[10] Pendapat ini dipegangi oleh ash-Shan’ani dan asy-Syaukani (Subulus Salam dan Nailul Authar).

[11] Ada hadits yang menyebutkan masalah ini. Abu Dawud rahimahullah meriwayatkan dalam Sunannya dari Aisyah radhiallahu ‘anha, beliau menyatakan, “Kami mandi dalam keadaan di kepala kami ada balutan, dalam keadaan kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saat kami halal (tidak berihram) dan saat kami muhrim (berihram). “ (dinyatakan sahih oleh al-Imam Muqbil bin Hadi al-Wadi’i rahimahullah dalam al-Jami’ ash-Shahih, 1/547—548)

Diterangkan dalam Aunul Ma’bud yang dinukil oleh al-Imam al-Wadi`i dalam al-Jami’ ash-Shahih di atas, makna hadits ini ialah kami melumuri jalinan-jalinan rambut kami dengan wewangian, daun-daun yang berbau wangi dan selainnya, setelah itu kami mandi dalam keadaan apa yang kami lumurkan di atas rambut kami tidak hilang, tetap ada sebagaimana semula karena ikatan/jalinan rambut tersebut tidak dilepas.

[12] Namun, sudah diterangkan bahwa riwayat dengan tambahan ini adalah syadz.

[13] Kami (penyusun) sendiri lebih condong kepada pendapat jumhur yang mengatakan mustahab. Wallahu a’lam wal ‘ilmu ‘indallah. Namun, untuk keluar dari perselisihan serta kehati-hatian, ikatan/jalinan rambut dilepas agar bisa dipastikan air sampai ke kulit kepala, sebagaimana dinyatakan oleh fatwa al-Lajnah ad-Daimah di atas.

Belajar Tanpa Campur Baur

Al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah

kitab-fikih

Serombongan wanita sahabiyah pernah menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menurut kabar Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhu dan Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu. Mereka datang untuk mengadu kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dan memohon jalan keluarnya.

غَلَبَنَا عَلَيْكَ الرِّجَالُ فَاجْعَلْ لَنَا يَوْمًا مِنْ نَفْسِكَ. فَوَعَدَهُنَّ يَوْمًا لَقِيَهُنَّ فِيْهِ فَوَعَظَهُنَّ وَأَمَرَهُنَّ. فَكاَنَ فِيْمَا قَالَ لَهُنَّ: مَا مِنْكُمُ امْرَأَةٌ تُقَدِّمُ ثَلاَثَةً مِنْ وَلَدِهَا إِلاَّ كَانَ لَهَا حِجَابًا مِنَ النَّارِ. فَقَالَتِ امْرَأَةٌ: وَاثْنَيْنِ؟ فَقَالَ: وَاثْنَيْنِ

“Kaum lelaki mengalahkan kami untuk mendapatkan ilmu darimu (karena banyaknya lelaki di majelismu). Oleh karena itu, mohon tentukanlah untuk kami satu hari yang engkau khususkan untuk kami belajar darimu.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyambut baik keinginan dan harapan mereka dengan menjanjikan satu hari yang khusus. Beliau akan menemui mereka di hari tersebut guna menasihati dan memberi perintah kepada mereka (dari urusan agama ini). Di antara yang beliau sampaikan kepada mereka di majelis khusus tersebut adalah, “Tidak ada satu wanita pun yang meninggal tiga anaknya[1] (lalu dia bersabar dan mengharapkan pahala atas musibah tersebut), melainkan anak itu akan menjadi penghalang baginya dari api neraka.”

Mendengar sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ini, berkatalah seorang wanita di antara mereka, “Bagaimana kalau yang meninggal itu dua anak?” Beliau menjawab, “Ya, dua anak juga.”

Dalam riwayat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu disebutkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjanjikan tempat taklim mereka,

مَوْعِدُكُنَّ بَيْتُ فُلاَنَةَ. فَأَتَاهُنَّ فَحَدَّثَهُنَّ

“Tempat pertemuan dengan kalian adalah rumah Fulanah.” Beliau lalu mendatangi mereka di rumah tersebut dan menyampaikan ilmu kepada mereka.

Hadits di atas dikeluarkan oleh al-Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab al-‘Ilmi, bab “Hal Yuj’al Lin-Nisa’ Yaumun ‘ala Hiddah fil ‘Ilm” (no. 101 dan 102).

Pembaca yang mulia, semoga Allah ‘azza wa jalla merahmati Anda…

Dalam hal kewajiban mencari ilmu syar’i dan mengamalkannya, wanita memang sama dengan pria. Jadi, seorang wanita dituntut sebagaimana yang dituntut dari seorang pria terkait dengan ilmu yang wajib dia amalkan dalam kesehariannya[2].

Majelis ilmu di kota Madinah, di mana Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan wahyu dari langit, disesaki oleh kaum pria. Mereka ini—para sahabat yang mulia radhiallahu ‘anhum—sangat bersemangat mendapatkan ilmu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga mereka berlomba-lomba mendatangi majelis beliau dan duduk dekat dengan beliau.

Mereka menyadari bahwa yang mereka cari adalah ilmu yang merupakan kebahagiaan, keselamatan, dan kesuksesan mereka di dunia, lebih-lebih lagi di akhirat kelak. Karena banyaknya lelaki yang hadir, kaum wanita dari kalangan sahabiyah tidak mungkin menembus kerumunan tersebut karena rasa malu bercampur baur dengan lelaki. Apalagi telah datang larangan ikhtilath (campur baur) dengan lawan jenis. Para wanita terpaksa harus puas mendengarkan sedikit ilmu karena mayoritas majelis Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam didominasi oleh kaum lelaki.

Namun, sebagian mereka tidak menginginkan hal itu terus berlarut. Sebab, mereka juga haus akan ilmu dan ingin meminumnya dari sumbernya yang asli. Permintaan majelis khusus mereka utarakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang disambut baik oleh beliau. Terjadilah kesepakatan waktu dan tempat antara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mereka. Berlangsunglah majelis khusus tersebut….

Pesan yang tersampaikan lewat hadits di atas demikian jelas, yaitu tidak boleh wanita bercampur baur dengan lelaki, walaupun untuk belajar ilmu agama yang menjadi kewajiban setiap muslim—sebagaimana hadits dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu dan beberapa sahabat yang lain,

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

“Menuntut ilmu (agama) wajib bagi setiap muslim.”[3]

Apabila belajar agama saja tidak boleh ikhtilath, lantas bagaimana gerangan jika yang dipelajari itu bukan ilmu agama? Tentu lebih tidak boleh! Seandainya bercampur baur dalam taklim dibolehkan, niscaya para wanita sahabiyah akan memaksakan diri hadir di majelis umum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam walaupun harus menembus kumpulan lelaki yang banyak. Bukankah ilmu agama wajib dipelajari?! Akan tetapi, karena ikhtilath tidak diperbolehkan, mereka pun tidak melakukannya.

Namun, bukan berarti ketidakbolehan ikhtilath dijadikan dalil untuk meninggalkan belajar agama di majelis taklim. Sebab, ada solusi yang diberikan oleh hadits di atas, yaitu disiapkan waktu dan tempat yang khusus bagi para wanita yang ingin belajar. Dengan demikian, diharapkan akan diperoleh maslahat yang murni, tidak bercampur dengan mafsadat.

Apabila sulit atau tidak memungkinkan pengkhususan waktu bagi wanita, maka bisa dengan cara memisahkan tempat belajar antara kedua jenis. Lelaki di tempat tersendiri, terpisah dari wanita, demikian pula sebaliknya.

Hal ini dicontohkan di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saat pelaksanaan shalat Id. Setelah menyampaikan khutbah umum di hadapan jamaah laki-laki, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditemani oleh Bilal radhiallahu ‘anhu menuju tempat kaum wanita dan menyampaikan nasihat khusus untuk mereka karena khawatir nasihat umum yang telah beliau sampaikan sebelumnya tidak terdengar disebabkan tempat mereka yang terpisah. Di antara yang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam nasihatkan adalah agar mereka banyak bersedekah karena mayoritas penghuni neraka adalah kalangan wanita. (HR. al-Bukhari dan Muslim dari hadits Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu)

Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah menyebutkan beberapa faedah dari hadits tentang shalat Id ini. Di antaranya ialah disenangi memberikan nasihat kepada kaum wanita, mengajari mereka hukum-hukum Islam, dan mengingatkan kewajiban mereka. Disenangi pula mendorong mereka untuk bersedekah dan mengkhususkan pemberian taklim bagi mereka di majelis yang terpisah. Hal itu dilakukan apabila aman dari godaan dan mafsadat[4]. (Fathul Bari, 2/603)

Kembali kepada hadits Abu Said al-Khudri radhiallahu ‘anhu dan Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu yang menjadi pokok pembicaraan kita. Hadits ini adalah dalil larangan belajar dalam keadaan ikhtilath, yaitu pelajar putri berada dalam satu ruangan dengan pelajar putra tanpa pemisah di antara keduanya. Apalagi bila pelajar putri tidak memakai hijab yang syar’i, dan justru ber-tabarruj (bersolek menampakkan kecantikannya), hal ini adalah kerusakan tersendiri. Jadilah kerusakan di atas kerusakan. Kita bisa mengambil beberapa poin yang dipahami dari hadits ini[5]:

  1. Larangan bercampur baur antara pria dan wanita walaupun dalam belajar ilmu agama.
  2. Seorang lelaki atau seorang ustadz yang bersifat amanah[6] boleh memberikan taklim kepada sekelompok wanita, tetapi tidak boleh berdua-duaan dengan salah seorang dari mereka.
  3. Apabila lelaki/ustadz yang memberikan pengajaran tersebut bersamanya ada satu atau dua orang lelaki yang lain (yang bukan sebagai pengajar), hendaknya yang hadir itu memang dibutuhkan. Apabila tidak diperlukan, tidak sepantasnya dia hadir di majelis khusus wanita.

Hal ini ditunjukkan oleh hadits yang menjadi pembicaraan kita. Abu Said radhiallahu ‘anhu dan Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bisa menyebutkan ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para wanita di tempat taklim mereka yang khusus dan bisa menyebutkan pertanyaan si wanita kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Secara zahir, ini menunjukkan bahwa keduanya hadir di situ hingga bisa menceritakan apa yang berlangsung di majelis tersebut.

Contoh lainnya adalah saat mendatangi tempat para wanita dalam shalat Id, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditemani oleh Bilal radhiallahu ‘anhu yang bertugas mengumpulkan sedekah dari para wanita dengan membentangkan bajunya hingga mereka melemparkan perhiasan yang mereka kenakan ke baju tersebut.

Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Di dalamnya ada adab mengajak bicara para wanita untuk memberikan nasihat atau hukum, yaitu hendaknya tidak ada lelaki yang hadir selain orang yang memang dibutuhkan kehadirannya, baik sebagai saksi maupun yang semisalnya.” (Fathul Bari, 2/600)

  1. Keberadaan seorang lelaki di tempat yang di situ ada sekumpulan wanita tidaklah dianggap khalwat (besepi-sepi/berduaan), karena khalwat adalah berdua-duaannya seorang pria dengan seorang wanita.
  2. Ketakwaan para wanita sahabiyah dan jauhnya mereka dari bercampur baur dengan para lelaki dalam keadaan mereka sangat ingin beroleh ilmu.
  3. Anak-anak kaum muslimin yang meninggal saat masih kecil adalah penghuni surga.
  4. Orang tua yang kehilangan tiga atau dua anaknya yang masih kecil, dalam keadaan dia bersabar dan mengharapkan pahala, akan dijauhkan dari api neraka serta dimasukkan ke dalam surga, setelah dia beriman dan bertauhid tentunya. Terlebih lagi apabila anaknya yang meninggal lebih dari tiga.
  5. Musibah yang menimpa seorang mukmin akan menghapuskan dosanya dan mengangkat derajatnya.
  6. Wanita boleh keluar rumah untuk menuntut ilmu agama dan memenuhi kebutuhannya yang lain dengan memerhatikan adab ketika keluar rumah.

fsadat.

  1. Wanita boleh berbicara dengan pria untuk menyampaikan kebutuhannya—tentu saja bicara seperlunya tanpa berpanjang kata—atau bertanya tentang masalah agamanya, dengan memerhatikan adab berbicara dengan lawan jenis, di antaranya berbicara dengan baik, tidak mendayu-dayu atau bersuara manja dan tidak melembutkan suara sebagaimana ucapan seorang istri kepada suaminya.
  2. Dengan adanya perintah hijab, maka pengajaran yang disampaikan seorang lelaki kepada sekelompok wanita dianjurkan dari balik tabir dalam rangka menjaga kesucian hati masing-masing. Dan tidak boleh bermudah-mudah dalam hal ini dengan memasang tabir yang pendek sehingga kepala sang ustadz bisa terlihat ketika dia berdiri, atau tipis transparan sehingga gerak-gerik jamaah wanita yang hadir bisa terlihat oleh sang ustadz.

Jangan pula hijab hanya saat taklim. Adapun setelah bubar taklim, saat jamuan makan yang disediakan tuan rumah, misalnya, sang ustadz tiba-tiba saja sudah berada di tengah-tengah para wanita.

Dari negeri Yaman, putri al-’Allamah asy-Syaikh al-Muhaddits Muqbil ibnu Hadi al-Wadi’i rahimahullah, Ummu Abdillah al-Wadi’iyyah hafizhahallah pernah mengirim surat kepada kami sebagai balasan surat yang dikirimkan kepada beliau. Beliau adalah seorang mustafidah (seorang yang memberikan faedah ilmu kepada sesamanya) yang dipuji oleh sang ayah[7].

Di antara isi suratnya, beliau memberikan arahan kepada wanita yang menuntut ilmu agama untuk belajar dari seorang guru (tidak belajar sendiri/otodidak). Beliau juga menyebutkan, tidak mengapa belajar ilmu agama melalui tangan seorang syaikh (guru laki-laki atau ustadz), dengan syarat aman dari godaan dan dilakukan dari belakang hijab/tabir pemisah, karena selamatnya kalbu tidak bisa diimbangi oleh apa pun.[8]

Beliau juga mengatakan bahwa apabila ada guru/pengajar wanita yang berpegang dengan sunnah (sunni) yang mengajarkan al-Qur’an dan as-Sunnah, belajar kepada mereka lebih baik….

Demikian penggalan surat yang bertanggal Sabtu, 20 Ramadhan 1418 H, 16 tahun yang lalu….

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.


[1] Dalam riwayat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan pembatasan,

ثَلاَثَةً لَمْ يَبْلُغُوا الْحِنْثَ

“Tiga anak yang belum mencapai usia baligh.

[2] Al-Imam Ahmad rahimahullah ditanya tentang ilmu agama yang seperti apa yang wajib dipelajari. Beliau menjawab,

“Ilmu yang seseorang tidak boleh tidak tahu tentangnya, terkait dengan urusan shalatnya, puasanya, dan semisalnya. “ (Hasyiyah Tsalatsah al-Ushul, hlm. 10)

Asy-Syaikh Abdur Rahman bin Muhammad bin Qasim al-Hambali an-Najdi rahimahullah—seorang alim yang hidup dalam rentang 1312—1392 H, dalam penjelasannya terhadap kitab al-Ushul ats-Tsalatsah karya Syaikhul Islam Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullah—mengatakan, “Apa yang wajib diamalkan oleh seseorang, seperti pokok-pokok keimanan, syariat-syariat Islam, perkara-perkara haram yang wajib dihindari, perkara yang dibutuhkan dalam muamalah dan semisalnya yang sebuah kewajiban tidak akan sempurna terkecuali dengannya, maka semua itu wajib dipelajari.” (Hasyiyah Tsalatsah al-Ushul, hlm. 10)

[3] Hadits hasan dengan syawahidnya. Lihat tahqiq Abu al-Asybal az-Zuhairi terhadap kitab Jami’ Bayan al-‘Ilmi wa Fadhlihi, 1/69 dst.

[4] Sebab, yang mengajari mereka adalah lelaki, sehingga dikaitkan dengan aman dari godaan.

[5] Ditambahkan dari kitab Lin Nisa’ Ahkam wa Adab, Syarhu al-Arba’in an-Nisa’iyah, Muhammad ibnu Syakir asy-Syarif, hlm. 118—119.

[6] Seorang lelaki yang amanah dan menjaga agamanya tentu tidak akan bermudah-mudah berhubungan dengan wanita, walaupun dia adalah orang yang didakwahi atau muridnya, baik dalam bentuk menggampangkan berbicara via telepon, SMS, maupun sarana lainnya. Wallahul musta’an.

[7] Di antara ucapan asy-Syaikh Muqbil rahimahullah tentang putrinya, “Allah ‘azza wa jalla lah yang memberi taufik kepada Ummu Abdillah untuk menuntut ilmu, kemudian menjadikannya cinta untuk meneliti permasalahan ilmu dan menulis.

Dia—semoga Allah ‘azza wa jalla menjaganya—memberikan pengajaran kepada saudari-saudarinya fillah dalam bidang hadits, tajwid, mushthalah, dan nahwu. Allah ‘azza wa jalla menjadikannya berfaedah bagi sesama, dalam bentuk pengajaran kepada saudari-saudarinya fillah dan penelitiannya yang berkesinambungan terhadap kitab-kitab ulama.

Aku pernah berkata kepadanya (karena melihatnya terus menyibukkan diri dengan penelitian ilmiahnya), ‘Kasihanilah dirimu wahai putriku!’

Dia menjawab, ‘Sungguh, jika kami melihat perjalanan hidup para ulama kita, kami dapati diri kami bukanlah apa-apa (belum berbuat apa-apa terhadap agama Allah ‘azza wa jalla yang agung).’

Ucapannya ini membuatku terdiam. Ummu Abdillah tidak pernah belajar di bangku sekolah, apakah ibtidaiyah (SD), terlebih lagi mutawassithah (SMP) dan tsanawiyah (SMU). Dia tidak pernah duduk di bangku kuliah, tidak bergelar magister ataupun doktor. Namun, saya memandang penelitiannya lebih bagus daripada penelitian yang dilakukan oleh para peneliti. Ini adalah keutamaan yang diberikan oleh Allah ‘azza wa jalla kepada siapa yang dikehendaki-Nya.” (Mukaddimah kitab ash-Shahih al-Musnad min asy-Syamail al-Muhammadiyyah, 1/9, karya Ummu Abdillah)

[8] Selamatnya kalbu itu penting, wahai saudariku! Maka dari itu, janganlah Anda semua bermudah-mudah berhubungan dengan ajnabi, walaupun itu ustadz Anda!

Perhiasan yang Sempurna

Sudah menjadi tabiat wanita senang berperhiasan sebagaimana halnya ini dinyatakan dalam al-Qur’an. Namun, tahukah Anda, hampir-hampir tidak ada wanita yang tahu bentuk perhiasan yang paling sempurna, selain orang yang dirahmati oleh Allah subhanahu wa ta’ala dengan diberi ilmu dan pemahaman tentangnya.

Yang jamak, kaum wanita berlomba-lomba menghiasi dirinya dengan berbagai bentuk, model, dan macam perhiasan yang lazim kita ketahui. Adapun perhiasan yang paling sempurna dan paling bernilai, jumlah wanita yang memerhatikannya bisa dihitung dengan jari.

Bagaimana halnya dengan diri Anda? Apakah Anda termasuk wanita yang memiliki pengetahuan tentangnya? Sukakah Anda mengenakan perhiasan yang paling sempurna sehingga setiap orang yang melihat akan menyenangi dan mengagumimu?

Sudah pasti jawaban Anda, ya.

Jika demikian, Anda harus berpegang dengan ash-shirath al-mustaqim (jalan yang lurus).

Herankah Anda dengan pernyataan ini? “Lho, apa hubungannya perhiasan dengan ash-shirath al-mustaqim?” Bisajadi, itu pertanyaan yang terucap.

Ketahuilah, sungguh tidak ada di dunia ini yang lebih indah daripada seseorang berjalan di atas ash-shirath al-mustaqim, yaitu taat kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Dengannya, seseorang akan meraih cinta Allah subhanahu wa ta’ala, cinta Jibril q, cinta penduduk langit dan penduduk bumi, termasuk di antara mereka adalah karib kerabat dan suami. Inilah yang dipahami dari firman Allah subhanahu wa ta’ala,

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menjadikan rasa cinta untuk mereka.” (Maryam: 96)

Menurut al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah, hamba-hamba yang beriman dan mengerjakan amal saleh yang diridhai dan mengikuti syariat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Allah subhanahu wa ta’ala akan menanamkan rasa cinta dan kasih sayang untuk mereka dalam kalbu para hamba-Nya yang saleh. Hal ini pasti, tidak mungkin tidak, sebagaimana ditekankan oleh sebuah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini. Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu menyebutkan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ عَبْدًا دَعَا جِبْرِيلَ فَقَالَ: يَا جِبْرِيْلُ، إِنِّي أُحِبُّ فُلاَنًا فَأَحِبَّهُ. قَالَ: فَيُحِبُّهُ جِبْرِيْلُ. قَالَ: ثُمَّ يُنَادِي فِي أَهْلِ الْسَّمَاءِ: إِنَّ اللهَ يُحِبُّ فُلاَنًا فَأَحِبُّوْهُ. قَالَ: فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ، ثُمَّ يُوْضَعُ لَهُ الْقَبُوْلُ فِي الْأَرْضِ

 Sungguh, apabila Allah subhanahu wa ta’ala mencintai seorang hamba, Allah subhanahu wa ta’ala memanggil Jibril lalu berkata, “Wahai Jibril, sungguh aku mencintai Fulan, maka cintailah dia.” Jibril pun mencintai si Fulan. Kemudian Jibril menyeru penduduk langit, “Sungguh Allah mencintai Fulan, maka cintailah dia.” Penduduk langit pun mencintainya. Kemudian diletakkanlah penerimaan (rasa cinta) penghuni bumi terhadap si Fulan. (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Al-Imam Mujahid rahimahullah berkata bahwa Allah subhanahu wa ta’ala akan menjadikan si hamba dicintai oleh manusia di muka bumi. Said bin Jubair, adh-Dhahak, dan selainnya rahimahumullah juga mengatakan yang senada, yakni si hamba mencintai mereka dan Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan para hamba-Nya yang beriman mencintainya.

Harram bin Hayyan rahimahullah menerangkan, “Tidaklah seorang hamba menghadapkan kalbunya kepada Allah subhanahu wa ta’ala kecuali Allah subhanahu wa ta’ala akan menghadapkan kalbu orang-orang beriman kepadanya, hingga Allah subhanahu wa ta’ala memberikan rezeki berupa rasa cinta dan kasih sayang mereka kepadanya.” (Tafsir al-Qur’an al-Azhim, 5/198—199)

Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan orang-orang yang mengumpulkan keimanan dan amal saleh ini mendapatkan cinta karena mereka mencintai-Nya, maka balasannya Dia jadikan mereka dicintai oleh para wali-Nya dan kekasih-kekasih-Nya. (Taisir al-Karim ar-Rahman, hlm. 501)

Jadi, tidaklah berlebihan apabila kita katakan bahwa ketaatan seorang wanita kepada Allah subhanahu wa ta’ala —dengan menjalankan apa yang diperintahkan dan menahan diri dari apa yang dilarang dan diperingatkan-Nya— merupakan kecantikan, kebagusan, dan perhiasan bagi si wanita. Hal ini akan menarik kecintaan orang lain kepadanya. Bukankah tujuan berhias, mempercantik, dan memperindah diri adalah agar orang lain cinta kepada kita, tertarik, memberi perhatian dan senang ketika melihat kita? Demikian pula keinginan agar mereka senang duduk-duduk atau berdekatan dengan kita.

Semua tujuan ini bisa didapatkan apabila kita dicintai oleh Allah subhanahu wa ta’ala berdasarkan hadits di atas. Karena itulah, kita perlu mengetahui bagaimana cara mendapatkan cinta Alah subhanahu wa ta’ala, selanjutnya cinta Jibril ‘alaihissalam dan para malaikat lainnya di atas langit sana, serta seluruh orang yang kita inginkan cintanya.

Ya, tidak perlu merogoh saku dalam-dalam alias mengeluarkan banyak duit. Tidak perlu bercapek-capek keluar masuk mall untuk mencarinya. Caranya mudah bagi orang yang dimudahkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, dan tentu saja sulit bagi orang yang Allah subhanahu wa ta’ala tidak ingin memberinya hidayah-Nya. Mari kita simak caranya berikut ini.

 

  1. Berperilaku dengan sifat-sifat orang yang Allah subhanahu wa ta’ala cintai

Siapakah mereka? Mereka adalah orang-orang yang muhsin (berbuat baik), yang bertobat, dan yang menyucikan diri. Mereka adalah yang bertakwa, yang bersabar, yang bertawakal, yang adil, yang berlaku lembut terhadap orangorang beriman dan penuh kasih kepada mereka, serta banyak melakukan ibadah sunnah.

Inilah sifat-sifat wali Allah subhanahu wa ta’ala yang dinyatakan dalam hadits qudsi,

مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِيْ بِشَيْءٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا افْتُرِضَ عَلَيْهِ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِيْ يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ

“Siapa yang memusuhi wali-Ku, sungguh Aku telah mengumumkan perang terhadapnya. Dan tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu amalan yang lebih Aku cintai daripada amalan yang diwajibkan kepadanya. Terus menerus hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan nafilah (sunnah) hingga Aku mencintainya.” (HR. al-Bukhari)

Termasuk sifat yang pemiliknya dicintai oleh Allah subhanahu wa ta’ala adalah malu dan menutup aib (cacat dan cela) diri sendiri dan aib orang lain yang memang tidak pantas dibeberkan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللهَ حَيِيٌّ سِتِّيْرٌ يُحِبُّ الْحَيَاءَ وَالسِّتْرَ

“Sesungguhnya Allah Mahamalu lagi Maha Menutup. Dia menyukai sifat malu dan menutup[1].” (HR. Abu Dawud, dinyatakan sahih dalam Shahih Abi Dawud)

 

  1. Menjauhi perangai yang pelakunya dibenci oleh Allah subhanahu wa ta’ala

Termasuk yang dibenci adalah orang-orang yang melampaui batas, suka ingkar lagi pendosa, orangorang zalim, sombong, suka berbuat fajir, berkhianat, gemar melakukan kejahatan, suka merusak, menghamburhamburkan uang, takabur, dan sifat-sifat buruk lainnya yang diperingatkan dalam al-Qur’an dan as-Sunnah.

Karena itu, wahai saudariku seiman, berpeganglah Anda dengan sifat yang dicintai oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya. Menjauhlah dari seluruh sifat yang dibenci oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya. Dengan demikian, Anda akan meraih ridha Rabb, kemudian mendapatkan cinta semua orang baik yang Anda harapkan.

 

Malu, Perhiasan yang Paling Bercahaya

Malu adalah salah satu cabang iman sebagaimana dalam hadits,

الْإِيْمَانُ بِضْعٌ وَسِتُّوْنَ شُعْبَةً، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْإِيْمَانِِ

“Iman itu ada tujuh puluh lebih cabangnya, dan malu adalah satu cabang dari keimanan.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Malu merupakan perhiasan dan keindahan, sebagaimana sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَا كَانَ الْفُحشُ فِي شَيْءٍ إِلاَّ شَانَهُ، وَ كَانَ الْحَيَاءُ فِي شَيْءٍ قَطُّ إِلاَّ زَانَهُ

“Tidaklah kekejian (tidak punya malu dalam hal ucapan dan perbuatan) ada pada sesuatu kecuali akan membuatnya jelek, dan tidaklah sifat malu ada pada sesuatu kecuali akan membuatnya indah.” (HR. Ibnu Majah, dinyatakan sahih dalam Shahih Ibnu Majah)

Apabila benda mati bisa memiliki rasa malu, niscaya rasa malu akan memperindahnya. Lebih-lebih lagi ketika anak Adam (manusia) yang berhias dengannya. Bagaimana pula halnya apabila putri Hawa (wanita) yang berhias dengannya?

Apabila lelaki saja membutuhkan bersifat malu, tentu para wanita lebih membutuhkan dan lebih pantas memiliki rasa malu karena sesuai dengan tabiatnya. Ketika para sahabat menyebutkan sifat malu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka membandingkannya dengan sifat malu wanita. Kata Abu Said al- Khudri radhiallahu ‘anhu,

“Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih kuat rasa malunya daripada gadis perawan dalam pingitannya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Malu dan kecantikan wanita adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Alangkah manisnya ‘rona merah’ malu pada seorang wanita yang menghindar dari bercampur baur dengan lelaki ajnabi, tidak mau bersenda gurau dengan lelaki yang bukan mahramnya, enggan pula mengucapkan atau mendengarkan ucapan-ucapan yang menghilangkanrasa malunya.

Tidaklah mungkin Anda beroleh kecantikan dan keindahan yang sejati tanpa menyandang sifat malu yang merupakan perhiasan paling bersinar bagi wanita. Andai rasa malu ini telah tercabut dari seorang wanita, apa lagi yang tersisa pada dirinya? Betapa banyak wanita yang cantik rupawan, namun kecantikannya tiada bermakna dan tanpa ruh tatkala telah tercabut darinya sifat malu. Sebaliknya, betapa banyak wanita yang bertambah-tambah kecantikannya karena sifat malunya.

Wanita yang paling cantik sekalipun, andai hilang darinya rasa malu, sungguh Anda tidak dapati ada orang yang menoleh kepadanya, kecuali wanita yang juga sedikit rasa malunya. Lelaki baik-baik yang ingin menikah untuk membantu dirinya taat kepada Allah subhanahu wa ta’ala, pastilah akan mengamalkan sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam,

فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّيْنِ تَرِبَتْ يَدَاكَ

“Utamakan wanita yang memiliki agama, (jika tidak) dirimu merugi.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Semakin bertambah rasa malu seorang wanita, semakin bertambah pula bagiannya dari sifat yang disebutkan dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘memiliki agama’, karena malu itu bagian dari iman. Selain itu, malu adalah akhlak Islam sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِنَّ لِكُلِّ الدِّينِ خُلُقًا، وَخُلُقُ الْإِسْلاَمِ الْحَيَاءُ

“Sesungguhnya setiap agama memiliki akhlak, dan akhlak agama Islam adalah malu.” (HR. Ibnu Majah, dinyatakan sahih dalam Shahih Ibnu Majah)

Wanita yang menjaga rasa malu ketika berucap dan berbuat berarti telah menempuh salah satu sebab mendapatkan kecintaan Allah subhanahu wa ta’ala, kemudian kecintaan manusia. Wanita yang malu menampakkan perhiasannya kepada selain mahramnya dan menutup dirinya dari pandangan ajnabi, dia telah menempuh salah satu sebab mendapatkan mahabbah sang Khaliq, kemudian cinta makhluk.

Sementara itu, wanita yang tidak tahu malu ketika berucap dan berbuat, suka memamerkan perhiasannya kepada selain mahramnya, dan tidak menutup dirinya dari pandangan ajnabi, dia telah menjauh dari sifat malu, dan paling jauh dari perhiasan yang sempurna.

Ketahuilah, malu itu ada dua macam. Ada yang merupakan sifat bawaan dan ada pula yang diupayakan. Orang yang tidak dianugerahi sifat malu bawaan, dia masih berkesempatan menyempurnakan dirinya dan imannya dengan malu yang diupayakan.

Apakah malu bisa diupayakan? Jawabannya pasti ya. Sebab, apabila malu tidak bisa diupayakan, bagaimana kita dituntut untuk memiliki sifat malu? Bagaimana bisa malu menjadi salah satu cabang keimanan?

Cara mengupayakannya adalah dengan latihan dan usaha berperangai dengannya dalam keadaan-keadaan yang memang menuntut, tanpa berputus asa mengupayakannya. Termasuk cara mengupayakannya adalah bermajelis dengan orang-orang yang memiliki sifat yang indah ini dan sering bergaul dengan mereka. Sebaliknya, harus dihindari sejauh-jauhnya orang yang tidak punya rasa malu, suka berbuat keji, tidak malu kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan kepada hamba-hamba Allah yang saleh.

Hal lain yang bisa kita lakukan adalah membaca kisah perjalanan hidup orangorang yang punya sifat malu, menelisik berita mereka, dan mempelajari perilaku mereka. Selain itu, tentu saja membaca atau mendengarkan keutamaan sifat malu, kedudukannya, faedahnya dan maknanya yang hakiki, serta agungnya pahala yang didapatkan pemiliknya.

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

(Sumber: Asrar al- Jamal wa az- Zinah li al -Mar ’ah al -Muslimah, penyusun Ummu Nurani dan lainnya)

Ditulis oleh Al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah


[1] Maksudnya adalah menutupi aurat. Sebab, hadits ini diucapkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkaitan dengan seseorang yang mandi tanpa menutup auratnya dari pandangan orang lain yang tidak halal melihatnya. Termasuk dalam hal ini ialah menutupi kesalahan orang yang tidak sepantasnya dibeberkan kesalahan atau kealpaannya karena dia adalah seorang mukmin yang menjaga kehormatan dirinya, bukan orang yang terangterangan berbuat dosa dan maksiat. (Lihat Aunul Ma’bud Syarah Sunan Abi Dawud)

Untukmu Muslimah, Nasihat Penuh Hikmah dari ‘Alim Rabbani (2)

Wanita adalah bagian penting dari masyarakat manusia. Baiknya wanita akan membaikkan masyarakat dan sebaliknya. Bila wanita rusak, maka masyarakatnya pun akan menemui kehancuran. Karena itulah wanita harus terus beroleh bimbingan dan arahan sepanjang perjalanan kehidupan. Upaya ulama yang dahulu dan belakangan tidak kurang-kurang dalam hal ini, termasuk salah seorang alim rabbani yang walhamdulillah masih ada di tengah kita, Fadhilatusy Syaikh Shalih ibnu Fauzan al-Fauzan, semoga Allah ‘azza wa jalla memanjangkan umur beliau dalam kebaikan dan memberkahinya. Berikut ini kelanjutan dari wejangan beliau.

Islam mengharamkan terjadinya khalwat/bersepi-sepi atau berduaannya lelaki dengan wanita yang bukan mahramnya. Sebab, hal itu akan mendorong keduanya jatuh ke dalam perbuatan keji. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan,

“Hati-hati kalian dari masuk ke tempat para wanita (ajnabiyah).” Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana menurut Anda dengan alhamwu[1]?”

Rasulullah menjawb, “Al-Hamwu adalah maut.”( HR. al-Bukhari dan Muslim dari Uqbah ibnu Amir radhiallahu ‘anhu)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutnya dengan kematian karena bahayanya lebih besar. Mengapa demikian? Karena karib kerabat suami dengan mudah keluar masuk ke rumah kita tanpa ada pengingkaran. Berbeda halnya apabila yang keluar masuk itu lelaki lain yang bukan kerabat.

Dengan demikian, kebiasaan membebaskan saudara dan paman suami serta kerabat suami untuk berduaan, bersalaman, dan berjabat tangan dengan istri adalah perbuatan yang batil dan mungkar.

Yang diajarkan oleh syariat justru lelaki ajnabi tidak boleh masuk ke dalam rumah yang di situ hanya ada seorang wanita, tidak ada bersamanya orang lain yang bisa menghilangkan makna berkhalwat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia telah memperingatkan,

“Tidakkah seorang lelaki bersepi-sepi dengan seorang wanita (ajnabiyah) terkecuali yang ketiganya adalah setan.” (HR. at-Tirmidzi dari Umar ibnul Khaththab radhiallahu ‘anhu. Dinyatakan sahih dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi.)

Termasuk khalwat yang diharamkan yang terjadi di zaman kita ini adalah wanita bepergian dalam mobil hanya berduaan dengan sopirnya yang duduk di belakang setir, apakah si wanita diantar ke pasar, ke sekolah, ataupun untuk ibadah ke masjid.

Khalwat yang diharamkan ini, sama saja apakah yang terjadi di rumah, di dalam mobil atau di mana saja, harus diperingatkan kepada para wanita muslimah secara khusus di masa kita sekarang ini di mana banyak didapatkan wanita keluar dari rumahnya untuk bekerja, untuk belanja, ziarah ke tempat karib kerabatnya, atau kepentingan yang selainnya.

Wanita muslimah memang tidak sepantasnya sering keluar rumah kecuali karena ada kebutuhan yang mengharuskannya keluar rumah. Kalaupun dia keluar maka harus mengenakan hijabnya yang sempurna dan tidak memakai wangi-wangian.

Allah ‘azza wa jalla memerintahkan kepada wanita-wanita terbaik, istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang merupakan qudwah hasanah dengan perintah berikut ini,

Tetaplah kalian tinggal di rumah-rumah kalian.” (al-Ahzab: 33)

Tinggal di rumah akan lebih menjaga si wanita. Sampai-sampai wanita lebih disenangi mengerjakan shalat di rumahnya, tidak keluar ke masjid, padahal masjid merupakan rumah ibadah dan tempat yang suci, tetapi keluar menujunya memperhadapkan si wanita kepada keburukan. Karena itulah, shalatnya wanita di rumahnya lebih utama daripada shalatnya di masjid. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Janganlah kalian mencegah hamba-hamba perempuan Allah ‘azza wa jalla dari masjid-masjid Allah.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhu.)

Dalam riwayat Abu Dawud ada tambahan, “… namun rumah-rumah mereka lebih baik bagi mereka.” (Dinyatakan sahih dalam Shahih Abi Dawud dan al-Misykat no. 1062.)

Maksudnya shalat mereka di rumah mereka lebih baik daripada shalat di masjid. Kalaupun mereka hendak keluar ke masjid, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menitahkan,

“Akan tetapi hendaknya mereka keluar dalam keadaan nafilat.” (HR. Ahmad (2/438), Abu Dawud, dll., dinyatakan hasan sahih dalam Shahih Abi Dawud.)

Nafilat maksudnya tidak berhias dan tidak memakai wangi-wangian. Banyak wanita pada hari ini suka keluar rumah tanpa ada kebutuhan kecuali sekadar jalan-jalan di pasar dengan berdandan, harum semerbak, dan memamerkan kecantikan wajahnya. Yang ngobrol bebas dengan lelaki, bergurau, dan tertawa. Entah di mana rasa malumu, wahai wanita muslimah? Tidakkah Anda bertakwa kepada Allah ‘azza wa jalla?

Bila wanita hendak keluar dari rumahnya, dia harus mengenakan pakaian yang menutupi auratnya, lebar dan lapang, tanpa ada hiasan padanya, tidak membentuk lekuk tubuhnya atau menampakkan apa yang ada di balik pakaiannya.

Wanita muslimah hendaknya berhati-hati dari apa yang diberitakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Dua golongan dari penduduk neraka, yang aku belum melihat keduanya (sekarang), yaitu satu kaum yang bersama mereka ada cemeti seperti ekor-ekor sapi yang dengannya mereka memukul manusia. (Yang kedua) para wanita yang berpakaian tetapi hakikatnya telanjang, mumilat, mailat[2]. Kepala-kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Mereka tidak akan masuk surga, dan tidak akan mencium wangi surga, padahal wangi surga didapatkan dari jarak sekian dan sekian.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Para wanita yang berpakaian tapi hakikatnya telanjang,” maksudnya mereka memakai pakaian namun tidak menutupi tubuh. Bisa jadi karena pendeknya sehingga tubuhnya ada yang terbuka, atau pakaian itu panjang namun tipis sehingga tidak menutupi apa yang ada di baliknya. Hal ini bisa disaksikan di negeri-negeri yang tidak berpegang dengan adab Islam. Ini merupakan kebiasaan jahiliah yang jauh dari bimbingan Islam.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Janganlah kalian bertabarruj seperti tabarrujnya orang-orang jahiliah yang terdahulu.” (al-Ahzab: 33)

Tabarruj adalah wanita menampakkan perhiasannya di hadapan lelaki ajnabi. Yang dituntut dari wanita saat keluar rumah adalah tidak tabarruj, walaupun dia wanita yang sudah tua. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Dan wanita-wanita tua yang telah terhenti dari haid dan mengandung (menopause) yang tidak ada lagi keinginan untuk menikah, maka tidak ada dosa atas mereka untuk menanggalkan pakaian luar mereka[3] tanpa bermasud tabarruj/ mempertontonkan perhiasan.” (an-Nur: 60)

Bila wanita tua yang sudah tidak memiliki keinginan untuk menikah saja dilarang bertabarruj, lantas bagaimana halnya dengan wanita yang masih muda? Bagaimana pula dengan wanita yang berparas rupawan, yang lelaki pasti tertarik bila melihatnya? Bagaimana kiranya kalau wanita-wanita ini yang bertabarruj?

Karena itu, wanita yang takut kepada Allah ‘azza wa jalla dan berharap negeri akhirat hendaknya tidak bermudah-mudah dalam masalah hijab dan bergampang-gampang mengenakan pakaian yang ada hiasannya saat keluar rumah, sebagaimana yang dilakukan oleh banyak wanita pada hari ini. Demikian pula memakai wangi-wangian, bercampur baur dengan lelaki, dan bersenda gurau dengan mereka. Allah ‘azza wa jalla berfirman kepada istri-istri Nabi-Nya,

“Janganlah kalian melembutkan suara ketika berbicara (dengan ajnabi) sehingga berkeinginan buruklah orang yang di hatinya ada penyakit.” (al-Ahzab: 32)

Bila wanita terpaksa harus berbicara dengan lelaki yang bukan mahramnya, hendaknya dia berkata dengan ucapan yang biasa, tidak mendayu-dayu, dengan bergurau, dan tertawa.

Yang keluar dari lisannya hanya suara yang datar, ucapan sebatas keperluan, baik bertanya maupun menjawab, tidak bertele-tele, dengan suara yang dilemahlembutkan, berirama, dan dimerdukan, hingga orang yang di hatinya ada penyakit syahwat punya keinginan jelek padanya. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

Dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (al-Ahzab: 32)

Wanita muslimah pada hari ini harus bertakwa kepada Allah ‘azza wa jalla dalam urusan diri mereka dan urusan masyarakat mereka. Mereka wajib memberikan perhatian terhadap tarbiyah anak-anak mereka, putra ataupun putri, karena merekalah yang bertanggung jawab di hadapan Allah ‘azza wa jalla untuk memberikan perhatian kepada anak-anak.

Mereka harus mendidik putri-putri mereka agar berakhlak mulia, beradab yang baik, menutup aurat, dan menjaga kehormatan diri.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan akan ditanyai tentang apa yang dipimpinnya.”( HR. al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma)

Sebagaimana yang kita maklumi, dalam syariat Islam ini selain ada perintah juga ada larangan. Termasuk perkara yang dilarang oleh Allah ‘azza wa jalla adalah mengubah-ubah ciptaan Allah ‘azza wa jalla. Hal ini memang diinginkan oleh setan sebagaimana yang diikrarkannya di hadapan Rabbul ‘Alamin,

“Dan akan aku suruh mereka mengubah ciptaan Allah, lalu benar-benar mereka akan mengubahnya.” (an-Nisa:119)

Dalam tafsir ayat di atas disebutkan bahwa yang dimaukan dengan merubah ciptaan Allah ‘azza wa jalla di antaranya adalah perbuatan namsh[4], wasym[5], wasyr[6], dan washl[7].

Dalam hadits dinyatakan,

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat perempuan yang menyambung rambut dan perempuan yang minta disambungkan rambutnya, serta melaknat perempuan yang membuat tato dan perempuan yang minta dibuatkan tato.” (HR. al-Bukhari dari ‘Abdullah bin ‘Umar ibnul Khaththab radhiallahu ‘anhuma)

Alqamah rahimahullah berkata,

‘“Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu melaknat perempuan yang mentato dan minta ditato, perempuan yang mencabut rambut pada wajahnya (alisnya), perempuan yang minta dicabut rambut pada wajahnya (alisnya), dan perempuan yang mengikir giginya[8] agar terlihat bagus; para perempuan yang mengubah ciptaan Allah ‘azza wa jalla.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu memberitakan bahwa wanita-wanita tersebut dilaknatnya karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melaknat mereka yang melakukannya untuk dirinya sendiri dan mereka yang melakukannya terhadap wanita lain.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga melaknat wanita yang melakukan niyahah/meratapi mayat dengan ucapan ataupun perbuatan dan orang yang sengaja mendengarkannya[9]. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat wanita yang berteriak-teriak ketika ditimpa musibah (shaliqah), merobek bajunya (syaqah), dan memotong rambutnya (haliqah) sebagai tanda berdukacita[10].

Perbuatan seperti ini termasuk dosa besar. Buktinya ialah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyebutkan azab yang akan diterima oleh wanita yang berbuat demikian, bila dia tidak bertobat. Kata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Wanita yang melakukan niyahah bila tidak bertobat sebelum matinya, akan dibangkitkan pada hari kiamat dengan mengenakan gamis dari ter dan pakaian dari kudis.”( HR. Muslim dari Abu Malik al-Asy’ari radhiallahu ‘anhu)

Dahulu orang-orang jahiliah ketika ada musibah kematian biasa mengupah wanita-wanita yang melakukan niyahah ini. Yang seperti ini jelas keharamannya. Lalu, apakah tidak boleh menangis saat ditimpa musibah? Jawabannya, boleh asalkan menangis biasa tidak dengan suara keras. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri pernah menangis ketika mendapat musibah kematian dan beliau mengatakan,

“Ini adalah kasih sayang yang Allah ‘azza wa jalla jadikan di kalbu para hamba-Nya.”( HR. al-Bukhari dan Muslim dari hadits Usamah bin Zaid radhiallahu ‘anhu)

Adapun berkeluh kesah, marah, menyesali, dan meratap, justru memudaratkan mayat di dalam kuburnya, sebagaimana dalam hadits,

“Mayat itu diazab di kuburnya karena niyahah yang dilakukan kepadanya.[11]”( HR. al-Bukhari dan Muslim dari hadits Umar ibnul Khaththab radhiallahu ‘anhu.)

Yang dituntut kala ada musibah justru sabar dan mengharapkan pahala. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.” Mereka itulah yang beroleh shalawat dan rahmat dari Rabb mereka. Dan mereka itulah orang-orang yang mendapatkan petunjuk. (al-Baqarah: 155-157)

Sebagai akhir, kita simpulkan bahwa wanita memiliki tanggung jawab dan tuntutan dalam kehidupan di dunia ini. Dia diberi beban, diperintah, dilarang, diberi pahala, dan diberi hukuman. Di pundaknya ada tanggung jawab yang besar. Tidaklah umat terdahulu ataupun yang belakangan binasa kecuali karena sebab para wanita secara umum (ketika mereka melanggar syariat).

Wanita menjadi perantara paling berbahaya yang dimanfaatkan oleh setan untuk merusak umat manusia, apabila ia tidak menjaga dirinya baik-baik dan tidak dijaga oleh masyarakatnya. Pembicaraan tentang wanita sebenarnya masih panjang, namun cukuplah apa yang telah kami sampaikan di sini.

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

(Dinukil Ummu Ishaq al-Atsariyah dari kitab Muhadharat fil Aqidah wad Da’wah, 3/290-299, dengan ringkasan dan sedikit perubahan)


[1] Al-Laits ibnu Sa’d mengatakan al-hamwu adalah saudara ipar/adik ataupun kakak laki-laki suami, dan yang serupa mereka dari kalangan kerabat suami (yang bukan mahram istri) seperti sepupu (anak paman suami) dan semisalnya. (Ucapan ini dibawakan al-Imam Muslim rahimahullah dalam Shahihnya)

Adapun ayah-ayah suami dan anak-anak suami tidak termasuk di dalamnya sehingga mereka boleh berduaan dengan istri. (al-Minhaj, 14/378)

 [2] Mailat maknanya wanita-wanita yang meninggalkan ketaatan kepada Allah ‘azza wa jalla dan apa yang semestinya mereka jaga. Mumilat adalah mengajarkan orang lain perbuatan mereka yang tercela. Ada pula yang mengatakan makna mailat adalah wanita-wanita yang berjalan dengan congkak, mumilat adalah memiringkan/menggerak-gerakkan pundak mereka (ketika berjalan).

Makna yang lain, mailat adalah wanita-wanita yang menyisir rambut mereka dengan model sisiran miring/belah samping sebagaimana model sisiran wanita pelacur (pada zaman dahulu, -ed.). Mumilat adalah wanita-wanita yang menyisiri orang lain dengan model sisiran demikian. (al-Minhaj, 14/336)

 [3] Pakaian luar yang kalau dibuka tidak sampai menampakkan aurat.

[4] Namsh adalah menghilangkan rambut pada wajah/alis apakah dengan gunting, dicukur atau dengan cara apa pun yang dengannya bisa menghilangkan rambut tersebut.

[5] Wasym adalah membuat tato.

[6] Wasyr adalah mengikir gigi agar terlihat bagus padahal sebenarnya tidak bermasalah, tidak ada cacat padanya, dan tidak ada penyakit.

[7] Washl adalah menyambung rambut dengan rambut palsu sehingga orang menyangka itu rambut aslinya.

[8] Adapun memperbaiki gigi yang penampakannya buruk tidak apa-apa karena termasuk pengobatan atau menghilangkan cacat, bukan untuk menambah kecantikan.

[9] HR. Ahmad (3/65) dan Abu Dawud, dari hadits Abu Said al-Khudri radhiallahu ‘anhu. Namun, hadits ini dinyatakan lemah sanadnya dalam Dhaif Abi Dawud.

[10] Dalam hadits disebutkan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berlepas diri dari shaliqah, haliqah, dan syaqah.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Abu Musa radhiallahu ‘anhu)

[11] Tentang makna hadits ini ada beberapa pendapat, namun yang paling dekat kepada kebenaran ada dua:

Pertama: pendapat jumhur ulama, yaitu hadits ini dibawa pemahamannya kepada orang yang memang berpesan agar nantinya bila dia mati mayatnya diratapi. Atau dia tidak berpesan kepada karib kerabatnya untuk tidak diratapi saat mati padahal dia tahu kebiasaan manusia di tempatnya melakukan niyahah ketika ada musibah kematian. Adapun bila dia sudah berpesan namun tetap dilakukan niyahah maka dia tidak menanggung hukuman apa-apa.

Kedua: Makna diazab di dalam kubur adalah dia merasa sakit mendengarkan tangisan keluarganya, merasa kasihan dan sedih. Ini terjadi di alam barzakh, bukan pada hari kiamat. Demikian pendapat yang dipegangi ath-Thabari dan selainnya. Pendapat ini yang didukung oleh Ibnu Taimiyah dan murid beliau, Ibnul Qayyim. Kata al-Imam al-Albani, yang rajih/lebih kuat adalah pendapat jumhur. (lihat Ahkamul Janaiz, hlm. 41—42)

Arti Penting Wanita dalam Kehidupan

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi dan Rasul yang paling mulia, keluarga, dan para sahabat beliau, serta orang-orang yang berjalan mengikuti jejak mereka sampai hari kiamat.

Di dalam Islam, wanita muslimah memiliki kedudukan yang tinggi dan pengaruh yang besar bagi kehidupan setiap muslim. Dia merupakan madrasah atau sekolah yang pertama dalam membangun masyarakat yang saleh, jika si wanita berjalan di atas petunjuk Kitabullah dan Sunnah Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Karena berpegang dengan keduanya akan menjauhkan setiap muslim dan muslimah dari kesesatan dalam segala hal. Kesesatan umat dan penyimpangannya tidak akan terjadi melainkan dengan menjauhkan wanita dari bimbingan Allah subhanahu wa ta’ala serta dari wahyu yang dibawa oleh para nabi dan rasul. Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا إِنْ تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا؛ كِتَابُ اللهِ وَسُنَّتِي

“Aku tinggalkan di tengah kalian dua hal yang kalian tidak akan sesat selama kalian berpegang teguh dengan keduanya: Kitabullah dan sunnahku.”

Al-Qur’anul Karim menyebutkan arti penting seorang wanita, baik sebagai ibu, istri, saudara perempuan, maupun anak perempuan. Di samping menyebutkan hak dan kewajiban mereka, As-Sunnah yang suci juga merinci hal tersebut.

Kepayahan dan beban yang mereka tanggung sebagiannya melebihi beban lelaki. Oleh karena itu, kewajiban yang paling penting bagi seseorang (setelah menunaikan kewajiban kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya) adalah bersyukur kepada ibu, berbakti, dan berbuat baik kepadanya. Kewajiban kepada ibu ini didahulukan daripada kepada ayah. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Dan Kami perintahkan kepada manusia untuk berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (Luqman: 14)
Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman:

Dan kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua ibu bapaknya. Ibunya mengandungnya dengan susah payah dan melahirkannya dengan susah payah pula. Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya mencapai empat puluh tahun, ia berdoa, “Duhai Rabbku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku, serta supaya aku dapat beramal saleh yang Engkau ridhai. Berilah kebaikan kepadaku dengan memberi kebaikan kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sungguh aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (al-Ahqaf: 15)

Seseorang datang kepada Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata:

“Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak untuk aku berlaku baik kepadanya?” Beliau menjawab, “Ibumu.” “Kemudian siapa ?” tanya si lelaki. “Ibumu,” jawab Rasulullah. “Lalu siapa lagi?” tanya orang itu lagi. “Ibumu,” jawab Rasulullah untuk ketiga kalinya. Saat orang itu bertanya lagi, “Lalu siapa?” Rasulullah mengatakan, “Ayahmu.”

Berdasar hadits di atas, hak ibu untuk mendapatkan kebaikan dari anaknya tiga kali lipat daripada hak ayah.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman menyinggung peran seorang istri dalam kehidupan seorang lelaki.

”Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untuk kalian istri-istri dari jenis kalian sendiri, supaya kalian cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antara kalian ada rasa kasih dan sayang (mawaddah wa rahmah). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (ar-Rum: 21)

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan firman Allah subhanahu wa ta’ala di atas, “Mawaddah adalah mahabbah (cinta), sedangkan rahmah adalah kasih sayang. Hal ini karena seorang lelaki menahan seorang wanita (untuk tetap hidup bersamanya sebagai istri) mungkin karena ia mencintai si wanita atau ia menyayanginya karena mendapatkan anak dari si wanita.” (Tafsir Ibni Katsir)

Sungguh, peran tiada banding telah dilakukan seorang istri yang namanya harum sepanjang sejarah perjalanan anak manusia, Khadijah bintu Khuwailid, semoga Allah subhanahu wa ta’ala meridhainya. Sosok istri yang terus dikenang oleh Khairul Anam, Muhammad  shallallahu ‘alaihi wa sallam. Khadijah telah memberikan pengaruh yang sangat besar dalam menenangkan rasa takut yang sempat menyergap Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala Jibril turun membawa wahyu pertama kali kepada beliau di Gua Hira. Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam menemui istrinya dalam keadaan gemetar seraya memerintahkan, “Selimuti aku, selimuti aku! Sungguh aku mengkhawatirkan diriku.”

Mengalirlah tutur kata penuh kebaikan dari lisan Khadijah, membiaskan ketenangan dalam dada suaminya, “Tidak, demi Allah! Allah tidak akan merendahkanmu selama-lamanya. Sesungguhnya engkau adalah orang yang suka menyambung kekerabatan, menanggung beban orang yang kesusahan, memberi harta kepada orang yang tidak memiliki, menjamu tamu, dan membantu orang yang membela kebenaran.”

Dalam bidang ilmu dan dakwah, kita tidak lupa dengan peran ash-Shiddiqah Aisyah bintu ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhuma, istri tercinta Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang tokoh-tokoh sahabat banyak mengambil hadits darinya. Demikian pula kebanyakan wanita mengambil hukum-hukum yang berkaitan dengan diri mereka dari Aisyah radhiallahu ‘anha.

Pada masa lalu yang tidak terlalu jauh dari kita, di zaman al-Imam Muhammad ibnu Su’ud rahimahullah, istrinya menasihatinya agar menerima dakwah al-Imam al-Mujaddid Muhammad ibnu Abdil Wahhab rahimahullah, tatkala beliau menawarkan dakwahnya kepada Ibnu Su’ud[1]. Nasihat sang istri kepada sang suami ini sungguh berpengaruh besar dalam terjalinnya kesepakatan antara keduanya untuk memperbarui dakwah dan menyebarkannya. Sekarang kita bisa merasakan, alhamdulillah, pengaruh dakwah tersebut dengan tertancapnya akidah tauhid pada anak-anak jazirah ini.

Tidak pula saya sangsikan bahwa ibu saya memiliki keutamaan yang besar dan pengaruh yang tidak kecil dalam mendorong saya untuk belajar dan membantu saya dalam menuntut ilmu. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala melipatgandakan pahala bagi beliau atas kebaikan yang diberikannya kepada saya.

Sebagai akhir, tidak pula kita ragukan bahwa rumah yang dipenuhi dengan mawaddah, mahabbah, kasih sayang, dan tarbiyah Islamiah akan memberikan pengaruh bagi seseorang. Dengan izin Allah subhanahu wa ta’ala, orang tersebut akan diberi taufik dalam urusannya, sukses dalam pekerjaan apa saja yang dia upayakan, baik dalam menuntut ilmu, usaha perdagangan, perkebunan, maupun pekerjaan lainnya.

Hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala saya memohon agar memberi taufik kepada semuanya kepada apa yang dicintai dan diridhai-Nya. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad, segenap keluarga, dan para sahabatnya.

Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.

(Disusun kembali dengan sedikit perubahan/tambahan dari Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, Syaikh Ibnu Baz, 3/348—350, oleh Ummu Ishaq al-Atsariyah)

Ditulis oleh:  Samahatul Walid al-Imam Abdul Aziz ibnu Abdillah ibnu Baz rahimahullah

[1] Dikisahkan, tatkala asy-Syaikh al-Mujaddid Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullah meninggalkan negeri Uyainah atas permintaan penguasanya karena tak kuasa memberikan pembelaan kepada beliau dan dakwah tauhid yang beliau serukan, beliau menuju ke negeri Dir’iyah, tempat tinggal salah seorang murid terbaiknya, Ibnu Suwailim. Menerima kedatangan sang guru, Ibnu Suwailim merasa takut dan gelisah. Ia mengkhawatirkan keselamatan diri dan gurunya dari ancaman penduduk negeri yang tidak senang dengan dakwah tauhid yang beliau tegakkan. Namun, asy-Syaikh menenangkan si murid, mengajaknya bertawakal kepada Allah subhanahu wa ta’ala, dan menjanjikan pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala bagi orang yang mau menolong agama-Nya. Dalam keadaan demikian, sampai kabar tentang asy-Syaikh kepada istri penguasa Dir’iyah, Muhammad ibnu Su’ud. Wanita salehah ini menawari suaminya untuk memberikan bantuan kepada asy-Syaikh. Ia juga mengingatkan suaminya bahwa kedatangan asy-Syaikh ke negeri mereka adalah nikmat dari Allah subhanahu wa ta’ala yang digiring oleh Allah subhanahu wa ta’ala untuknya sehingga sepatutnya bersegera merangkulnya. Si istri ini menyusupkan ketenangan kepada suaminya, membuat suaminya mencintai dakwah asy-Syaikh sekaligus pribadi beliau. Sang suami yang menjabat penguasa ini akhirnya berkata, “Biar dia yang datang kepadaku.”

Istrinya berkata, “Justru hendaknya engkau yang pergi menemuinya. Kalau engkau mengirim orang untuk menyuruhnya mendatangimu, bisa jadi orang-orang akan berkata bahwa amir mencarinya untuk menangkap dan menghukumnya. Namun, kalau engkau yang pergi menemuinya, hal itu merupakan kemuliaan baginya dan bagimu.” Akhirnya, pergilah sang amir menemui asy-Syaikh di rumah muridnya.

 

Istihadhah (1)

(Bagian ke-1)

Tak seperti haid, tidak semua wanita mengalami istihadhah karena haid merupakan kebiasaan rutin yang dialami wanita yang normal/sehat, sedangkan istihadhah adalah darah yang tidak biasa. Ia keluar karena ada gangguan pada urat yang diistilahkan ‘adzil (al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim, 3/242).

Singkatnya, ada ketidaknormalan/penyakit pada wanita yang mengalaminya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Fathimah bintu Abi Hubaisy radhiallahu ‘anha tentang darah istihadhah ini:

إِنَّمّا ذَلِكَ عِرْقٌ وَلَيْسَ بِالْحَيْضَةِ

“Apa yang kamu alami itu hanyalah darah dari urat bukan haid.” (HR. al- Bukhari no. 228 dan Muslim no. 751)

Istihadhah ini telah dialami oleh wanita sejak dahulu. Kalangan sahabiyah pun mengalaminya. Dalam hitungan ulama mencapai sepuluh orang, kata al-Imam ash-Shan’ani rahimahullah. Tiga orang putri Jahsyin: Zainab Ummul Mukminin, Ummu Habibah istri Abdurrahman ibn Auf, dan Hamnah istri Thalhah bin Ubaidillah, radhiallahu ‘anhum, semuanya mengalami istihadhah. (Subulus Salam, 1/377)

Bahkan, Ummu Habibah radhiallahu ‘anha mengalaminya sampai tujuh tahun sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut.

عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ : أَنَّ أُمَّ حَبِيْبَةَ بِنْتَ جَحْشٍ خَنَتَةَ رَسُوْلِ اللهِ وَتَحْتَ عَبْدِ الرَّحْمنِ بْنِ عَوْفٍ اسْتُحِيْضَتْ سَبْعَ سِنِيْنَ

Dari Aisyah radhiallahu ‘anha istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia mengabarkan bahwasanya Ummu Habibah bintu Jahsyin—ipar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan istri Abdurrahman ibn Auf— mengalami istihadhah selama tujuh tahun…. (HR. al-Bukhari no. 327 dan Muslim no. 754)

Ada pula di antara sahabiyah yang keluar darah istihadhah dengan deras dan sangat banyak seperti Hamnah bintu Jahsyin radhiallahu ‘anha. Ia pernah datang mengadukan keadaannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

كُنْتُ أُسْتَحَاضُ حَيْضَةً كَثِيْرَةً شَدِيْدَةً ….

“Aku ditimpa istihadhah yang sangat banyak dan deras…” (HR. Ahmad, Abu Dawud no. 287, dan at-Tirmidzi no. 128, dihasankan al-Imam al-Albani rahimahullah dalam Irwa’ul Ghalil no. 188)

Adapun istihadhah yang dialami istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ditunjukkan dalam hadits berikut ini:

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: اعْتَكَفَتْ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ امْرَأَةٌ مُسْتَحَاضَةٌ مِنْ أَزْوَاجِهِ، فَكَانَتْ تَرَى الْحُمْرَةَ وَالصُّفْرَةَ، فَرُبَّماَ وَضَعْنَا الطَّسْتَ تَحْتَهَا وَهِيَ تُصَلِّي

Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, ia berkata, “Salah seorang istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mengalami istihadhah beri’tikaf bersama beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia melihat darahnya yang keluar berwarna kemerahan dan kekuningan. Terkadang kami meletakkan bejana di bawahnya saat ia shalat.” (HR. al-Bukhari no. 2037)

Demikian gambaran istihadhah yang dialami wanita sahabiyah. Berikut ini kita akan melihat beberapa tinjauan hukum berkenaan dengan wanita yang mengalami istihadhah[1].

 payung-merah-di-tengah-salju

Darah Haid Tidak Sama dengan Darah Istihadhah

        Menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah, keberadaan darah istihadhah bersama darah haid merupakan suatu masalah yang rumit, sering membuat rancu sehingga keduanya harus dibedakan.

Cara membedakan keduanya bisa dengan ‘adat (kebiasaan haid), dengan tamyiz (membedakan sifat darah), atau dengan melihat kebiasaan umumnya wanita[2]. Demikian yang ditunjukkan dalam As-Sunnah. (Majmu’atul Fatawa, 21/630—631)

Tentang ‘adat (kebiasaan) haid ditunjukkan dalam hadits Aisyah radhiallahu ‘anha, ia berkata, “Fathimah bintu Abi Hubaisy radhiallahu ‘anha datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu menyampaikan masalahnya. ‘Wahai Rasulullah, saya seorang wanita yang mengalami istihadhah sehingga saya tak pernah suci. Apakah saya harus meninggalkan shalat saat mengalaminya?’.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:

لاَ إِنَّمَّا ذَلِكَ عِرْقٌ وَلَيْسَ بِالْحَيْضَةِ، فَإِذَا أَقْبَلَتِ الْحَيْضَةُ فَدَعِي الصَّلاَةَ، فَإِذَا أَدْبَرَتْ فَاغْسِلِي عَنْكِ الدَّمَ وَصَلِّي

“Kamu tidak boleh meninggalkan shalat, (karena) apa yang kamu alami itu hanyalah darah dari urat bukan haid. Apabila datang haidmu, tinggalkanlah shalat. Jika haidmu telah berlalu, cucilah darah darimu (mandilah) dan shalatlah.” (HR. al-Bukhari no. 228 dan Muslim no. 751)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengatakan kepada Ummu Habibah bintu Jahsyin radhiallahu ‘anha yang mengeluhkan istihadhah yang menimpanya:

اُمْكُثِيْ قَدْرَ مَا كَانَتْ تَحْبِسُكِ حَيْضَتُكِ ثُمَّ اغْتَسِلِيْ

“Tinggalkanlah shalat sekadar hari-hari haidmu, kemudian (setelah berlalu hari-hari tersebut) mandilah.” (HR. Muslim no. 758)

Jumhur ulama mengambil hadits ini untuk wanita yang tertimpa istihadhah yang memiliki kebiasaan haid yang tertentu setiap bulannya sebelum ditimpa istihadhah. Ketika keluar darah dari kemaluannya, untuk mengetahui apakah ia haid atau istihadhah, ia kembali kepada kebiasaan haidnya[3]. Demikian mazhab Abu Hanifah, asy-Syafi’i, dan Ahmad. (Majmu’atul Fatawa, 21/628)

Adapun tamyiz ditunjukkan dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Fathimah bintu Abi Hubaisy radhiallahu ‘anha:

إِنَّ دَمَ الْحَيْضِ دَمٌ أَسْوَدُ يُعْرَفُ، فَإِذَا كَانَتْ ذَلِكِ فَامْسِكِي عَنِ الصَّلاَةِ. فَإِذَا كَانَ الْآخَرُ فَتَوَضَّئِيْ وَصَلِّيْ

“Apabila darah itu darah haid, dia berwarna hitam yang dikenal. Apabila demikian darah yang keluar darimu, tinggalkanlah shalat. Namun apabila bukan, berwudhulah dan shalatlah.” (HR. Abu Dawud no. 286, an-Nasa’i no. 363, dan selain keduanya. Disahihkan dalam Irwa’ul Ghalil no. 204)

Tamyiz dilakukan oleh wanita yang tidak memiliki kebiasaan haid yang tetap ataupun ia lupa ‘adatnya, sebelum ditimpa istihadhah, dan ia bisa membedakan darah[4].

Perbedaan darah haid dan darah istihadhah bisa disimpulkan sebagai berikut.

  1. Darah haid umumnya berwarna hitam, sedangkan darah istihadhah umumnya berwarna merah.
  2. Darah haid sifatnya kental, sedangkan darah istihadhah encer.
  3. Aroma darah haid tidak sedap/berbau busuk, sedangkan darah istihadhah tidak berbau busuk.
  4. Darah haid tidak bisa membeku karena telah membeku di dalam rahim kemudian terpancar dan mengalir, sedangkan darah istihadhah bisa membeku karena merupakan darah urat. (asy-Syarhul Mumti’, 1/487—488)

Apabila si wanita mustahadhah (yang tertimpa istihadhah) mempunyai ‘adat dan bisa melakukan tamyiz, ulama berbeda pendapat, mana yang didahulukan, ‘adat ataukah tamyiz? Yang lebih kuat dalam masalah ini, kata Fadhilatusy Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah, si wanita kembali kepada ‘adatnya, dengan alasan:

  1. Hadits yang menyebutkan tamyiz diperselisihkan kesahihannya[5].
  2. Kembali kepada ‘adat lebih mudah dan lebih meyakinkan bagi si wanita, karena sifat darah itu bisa berubah-ubah atau keluarnya bergeser ke akhir bulan atau ke awal bulan, atau keluarnya terputus-putus sehari berwarna hitam, di hari lainnya berwarna merah. (asy-Syarhul Mumti’, 1/492)

Adapun wanita yang tidak memiliki ‘adat dan tidak bisa melakukan tamyiz, ia mengamalkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Hamnah bintu Jahsyin radhiallahu ‘anha:

إِنَّمَا هَذِهِ رَكْضَةٌ مِنَ الشَّيْطَانِ، فَتَحَيَّضِيْ سِتَّةَ أَيَّامٍ أَوْ سَبْعَةَ أَيَّامٍ فيِ عِلْمِ اللهِ تَعَالَى ذِكْرُهُ، ثُمَّ اغْتَسِلِيْ. حَتَّى إِذَا رَأَيْتِ أَنَّكِ قَدْ طَهُرْتِ وَاسْتَنْقَأْتِ، فَصَلِّيْ ثَلاَثًا وَعِشْرِيْنَ لَيْلَةً أَوْ أَرْبَعًا وَعِشْرِيْنَ لَيْلَةً وَأَيَّامَهَا وَصُوْمِيْ، فَإِنَّ ذَلِكَ يُجْزِئُكِ، وَكَذَلِكِ فَافْعَلِي كُلَّ شَهْرٍ كَمَا تَحِيْضُ النِّسَاءُ وَكَمَا يَطْهُرْنَ

“Hal itu hanyalah sebuah gangguan dari setan. Anggaplah dirimu haid selama enam atau tujuh hari dalam ilmu Allah yang Mahatinggi sebutan-Nya. Setelah lewat dari itu mandilah. Ketika engkau melihat dirimu telah bersih dan suci, shalatlah selama 23 atau 24 malam berikut siangnya dan berpuasalah. Hal ini mencukupimu. Demikianlah yang engkau lakukan setiap bulannya sebagaimana para wanita biasa berhaid dan biasa suci.” (HR. Ahmad, Abu Dawud no. 287, at-Tirmidzi no. 128, dihasankan al-Imam al-Albani rahimahullah dalam Irwa’ul Ghalil no. 188)

Caranya, melihat kebiasaan haid dan suci para wanita yang dekat kekerabatannya dengannya, lalu kebiasaan itu ia terapkan pada dirinya (ia samakan dirinya dengan mereka).

 

Hukum Wanita Mustahadhah Sama Dengan Wanita yang Suci

Mayoritas ahlul ilmi berpendapat bahwa wanita mustahadhah dalam kebanyakan hukumnya sama dengan wanita yang suci. (al-Minhaj, 3/242)

Berbeda halnya dengan wanita haid, wanita mustahadhah diperintah untuk tetap mengerjakan shalat dan puasa. Demikian ijma’/kesepakatan ulama. (al- Iqna’ fi Masa’il al-Ijma’, al-Imam Ibnul Qaththan, 1/106)

Ia juga diperintah/dibolehkan mengerjakan ibadah-ibadah yang lain, seperti kata al-Imam an-Nawawi rahimahullah, “Adapun shalat, puasa, i’tikaf, membaca Al-Qur’an, menyentuh mushaf, membawanya, sujud tilawah, sujud syukur, dan ibadah-ibadah yang wajib, hukumnya sama dengan orang yang suci. Ini merupakan masalah yang disepakati.” (al-Minhaj, 3/242)

 

Cara Bersuci Wanita Mustahadhah untuk Shalat

Apabila wanita mustahadhah hendak bersuci untuk mengerjakan shalat, ia harus membersihkan tempat keluarnya darah kemudian menyumpal/menutupnya dengan pembalut atau semisalnya untuk menahan darah agar tidak tembus keluar. Dalilnya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Hamnah bintu Jahsyin radhiallahu ‘anha yang telah disinggung di atas ketika ia mengeluhkan banyaknya darah yang keluar:

أَنْعَتُ لَكِ الْكُرْسُفَ فَإِنَّهُ يُذْهِبُ الدَّمَ

“Aku terangkan kepadamu, pakailah kapas[6], karena kapas bisa menghilangkan darah.”

Dalam hadits Ummu Salamah radhiallahu ‘anha disebutkan:

لِتَسْتَثْفِرَ بِثَوْبٍ

“Hendaklah ia istitsfar[7] dengan kain.” (HR. Abu Dawud no. 274, disahihkan dalam Shahih Abi Dawud)

Ahlul ilmi menyatakan, jika ia sudah melakukan hal tersebut, namun darah tetap keluar/tembus hingga keluar dari pembalut/kain/handuk yang dipakai sebagai penutup darah, karena longgarnya ikatan penyumpal darah tersebut maka dikuatkan lagi dan ia kembali bersuci dengan membersihkan darah[8]. Apabila darah tembus keluar dari sumpalan karena derasnya dan sudah diupayakan menyumpalnya dengan kuat, namun tetap tidak dapat mencegah darah, si wanita tetap melanjutkan shalat walaupun darahnya menetes keluar, karena tidak memungkinkan lagi baginya menghindari hal tersebut. Hal ini berdasarkan hadits Aisyah radhiallahu ‘anha yang telah dibawakan di atas tentang istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang shalat dalam keadaan di bawahnya ada bejana guna menampung darah yang menetes keluar. (al-Mughni, “Kitab ath-Tharahah, Mas’alah: al-Mubtala bi Salasil Baul wa Katsratil Madzi….”, al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab 2/551—552)

ditulis oleh Al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyyah


[1] Masalah istihadhah ini sebenarnya sudah pernah kami bahas dalam majalah ini, dalam edisi no. 04 tahun perdana Juli 2003/1424 H, pada rubrik “Wanita dalam Sorotan”.

[2] Dalam hal ini, ia melihat kerabatnya dari kalangan wanita seperti ibunya atau saudara perempuannya. Kesamaan seorang wanita dengan kerabat-kerabatnya lebih dekat daripada kesamaannya dengan keumuman wanita yang bukan kerabatnya. (asy-Syarhul Mumti’, 1/489)

[3] Kapan ia biasa mengalami haid dan berapa hari lamanya. Misalnya, ia biasa haid di awal bulan selama tujuh hari, berarti itulah ‘adatnya.

[4] Misalnya, ia keluar darah selama sebulan. Pada sepuluh hari yang awal, darah yang keluar berwarna hitam dan beraroma khas darah haid, sedangkan selebihnya darahnya berwarna merah. Berdasarkan hal ini, sepuluh hari yang awal itu dihitung sebagai hari haidnya, selebihnya dianggap istihadhah.

[5] Sementara hadits yang menyebutkan ‘adat lebih kuat karena diriwayatkan dalam Shahihain.

[6] Disumbat dengan kapas.

[7] Makna istitsfar adalah menutup/menyumpal tempat keluarnya darah dengan kain yang dapat menahan keluarnya darah tersebut.

[8] Ini merupakan pendapat mazhab Hanafiyah, Syafi’iyah, dan Hanabilah yang memandang keluarnya darah merupakan hadats bagi wanita mustahadhah. Sementara al-Imam Malik, Rabi’ah dan jama’ahnya dari kalangan ahlul ilmi berpendapat wanita mustahadhah tidak wajib wudhu dengan keluarnya darah, maka tidak wajib baginya berwudhu setiap kali hendak shalat selama tidak menimpanya perkara yang membatalkan wudhu.