Adab Menggunakan HP

Di zaman modern ini, telah banyak teknologi yang memberi kemudahan bagi manusia dalam menjalankan aktivitasnya. Salah satu di antaranya adalah handphone (HP/Arab: jawwal), dimana dengan peranti tersebut, komunikasi bisa dilakukan dengan sangat mudah dan cepat. Seseorang yang berada di ujung dunia bisa menghubungi orang lain yang ada di belahan dunia lain dengan sangat mudah serta kapan pun ia mau. Kejadian yang terjadi di suatu daerah, bisa diinformasikan dengan cepat ke benua lainnya saat itu juga.

Tidak diragukan, keberadaan HP merupakan salah satu di antara sekian banyak nikmat Allah l. Maka agar nikmat tersebut bisa tetap terjaga dan benar-benar menjadi karunia bagi kita, perlu kita mensyukuri nikmat tersebut. Di antara bentuk syukur adalah menggunakan nikmat tersebut pada tempatnya serta menjadikannya sebagai sarana yang bisa membantu untuk kita menjalankan ketaatan kepada Allah l.

Namun, terkait dengan penggunaan HP ini, banyak hal yang justru bertentangan dengan nilai-nilai syukur. Yaitu tatkala teknologi seluler yang memberikan banyak kemudahan ini digunakan tidak pada tempatnya, bahkan dijadikan sebagai sarana baru untuk berbuat maksiat. Maka perlu kiranya kita menengok bagaimana bimbingan syariat Islam dalam memberikan rambu-rambu untuk bersikap dan berakhlak, serta mengetahui mana hal-hal yang boleh dan mana yang dilarang oleh Islam, untuk kemudian seorang muslim menerapkannya dalam penggunaan teknologi seluler tersebut.

 

Ini adalah risalah yang ditulis oleh Al-Akh Abu Ibrahim ‘Abdullah bin Ahmad bin Muqbil hafizhahullah, dengan mendapat taqrizh (pujian) dari Asy-Syaikh Al-’Allamah Muhammad bin ‘Abdil Wahhab Al-Wushabi Al-‘Abdali hafizhahullah.

Risalah ini berisi tentang pembahasan 24 pedoman dan bimbingan syar’i dalam menggunakan HP. Saya mencukupkan untuk langsung menyebutkan pedoman-pedoman tersebut saja tanpa menyebutkan pujian Asy-Syaikh Al-Wushabi dan muqaddimah penulis.

Kami memulai dengan memuji Allah l.

 

Bimbingan pertama: Jagalah selalu ucapan salam yang Islami

Sebagian manusia telah terbiasa ketika membuka percakapan dalam telepon (salam pembuka) dengan kata ‘Hallo‘. Asal kata ini adalah dari bahasa Inggris, sehingga dari sini mereka telah terjatuh kepada sikap taklid kepada dunia Barat.

Sebagian yang lain menjadikan salam pembuka di antara mereka dalam bentuk celaan, caci makian, dan saling melaknat. Mereka tidaklah menempuh kecuali kebiasaan seperti ini. Kemudian jika telah selesai dari percakapannya ditutup dengan kalimat ‘sampai jumpa ‘ atau ‘bye bye‘.

Ini semua merupakan bentuk penyelisihan terhadap tuntunan yang diajarkan oleh Islam, yaitu mengucapkan salam dan senantiasa menjaganya, baik ketika memulai (berjumpa) maupun mengakhirinya (berpisah).

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memasuki rumah yang bukan rumah kalian sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagi kalian, agar kalian (selalu) ingat.” (An-Nur: 27)

Allah l juga berfirman:

“Maka apabila kalian memasuki (suatu rumah dari) rumah-rumah (ini) hendaklah kalian memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam) kepada diri kalian sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi barakah lagi baik.” (An-Nur: 61)

Dari Abu Hurairah z, beliau berkata: Rasulullah n bersabda:

حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ. قِيْلَ: مَا هُنَّ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ، وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ، وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ، وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللهَ فَشَمِّتْهُ، وإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ، وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ

“Hak seorang muslim terhadap muslim yang lainnya ada enam.” Ditanyakan kepada beliau: “Apa saja itu, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda: “Jika berjumpa ucapkan salam kepadanya, jika dia mengundangmu penuhilah undangannya, jika dia meminta nasihat kepadamu nasihatilah dia, jika dia bersin dan mengucapkan alhamdulillah maka ucapkan yarhamukallah, jika dia sakit jenguklah dia, jika dia meninggal maka iringilah jenazahnya.” (HR. Al-Bukhari no. 1183, Muslim no. 2162, dan ini adalah lafadz Al-Imam Muslim t)

Dari Imran bin Hushain z, dia berkata:

جَاءَ رَجُلٌ عَلَى النَّبِيِّ n فَقَالَ: السَّلَامُ عَلَيْكُمْ. فَرَدَّ عَلَيْهِ السَّلَامَ، ثُمَّ جَلَسَ فَقَالَ النَّبِيُّ n: عَشْرٌ. ثُمَّ جَاءَ آخَرُ، فَقَالَ: السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ. فَرَدَّ النَّبِيُّ n عَلَيْهِ فَجَلَسَ، فَقَالَ: عِشْرُونَ. ثُمَّ جَاءَ آخَرُ فَقَالَ: السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ. فَرَدَّ النَّبِيُّ n عَلَيِهِ فَجَلَسَ فَقَالَ: ثَلَاثُونَ

Seseorang datang kepada Nabi n kemudian mengucapkan: “Assalamu ‘alaikum.” Nabi n pun menjawab salamnya. Kemudian orang tadi duduk dan Nabi n pun mengatakan: “Sepuluh.” Kemudian datang orang yang berikutnya dan mengucapkan: “Assalamu ‘alaikum warahmatullah.” Maka Nabi pun menjawab salamnya. Orang tadi lalu duduk dan Nabi n pun mengatakan: “Dua puluh.” Kemudian datang orang yang berikutnya dan mengucapkan: “Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.” Nabi pun menjawab salamnya. Kemudian orang tadi duduk dan Nabi n pun mengatakan: “Tiga puluh.” (HR. Ahmad no. 19109, Abu Dawud no. 5195, At-Tirmidzi no. 2689, dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Abi Dawud no. 5195 dan Shahih At-Tirmidzi no. 2689)

Dari Abu Hurairah z, dia berkata: Rasulullah n bersabda:

إِذَا انْتَهَى أَحَدُكُمْ إِلَى مَجْلِسٍ فَلْيُسَلِّمْ فَإِنْ بَدَا لَهُ أَنْ يَجْلِسَ فَلْيَجْلِسْ، ثُمَّ إِذَا قَامَ فَلْيُسَلِّمْ، فَلَيْسَتِ الْأُولَى أَحَقُّ مِنَ الْآخِرَةِ

“Jika salah seorang dari kalian sampai di suatu majelis, maka ucakanlah salam. Jika dipersilakan baginya untuk duduk, maka duduklah. Kemudian jika hendak berdiri (pergi) dari majelis tersebut, ucapkanlah salam. Yang pertama tadi tidaklah lebih berhak daripada yang terakhir.” (HR. Ahmad, Abu Dawud no. 5208, Ibnu Hibban, Al-Hakim. Asy-Syaikh Al-Albani berkata dalam Ash-Shahihul Jami’ hadits no. 400: “Shahih.” Demikian juga dalam As-Silsilah Ash-Shahihah pada hadits no. 183)

 

Bimbingan kedua: yang memulai salam

Siapakah yang memulai salam? Si penelpon ataukah yang ditelpon?

Yang memulai salam hendaknya si penelepon, karena dia seperti orang yang mengetuk pintu rumah orang lain dan meminta izin untuk masuk. Sehingga dia harus memulai pembicaraannya dengan ucapan: ‘Assalamu ‘alaikum‘ atau ‘Assalamu ‘alaikum warahmatullah‘ atau Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh‘.

Yang ditelepon pun hendaknya menjawab dengan mengucapkan: ‘Wa’alaikummussalam warahmatullahi wabarakatuh‘ atau dengan jawaban yang sama persis diucapkan oleh yang memberi salam.

Allah l berfirman:

“Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik daripadanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa).” (An-Nisa’: 86)

Kemudian, si penelpon hendaknya mengenalkan identitas dirinya dengan menyebut nama atau julukan/panggilannya kepada orang yang ditelepon tersebut, agar yang ditelepon tidak merasa kebingungan dengan siapa dia berbicara dan apa tujuannya.

(Insya Allah bersambung)

 

(diterjemahkan oleh Al-Ustadz Abu ‘Abdillah Kediri, dari http://www.sahab.net/forums/showthread.php?t=368419, diambil dari http://www.assalafy.org dengan sedikit perubahan)

Tanya Jawab Seputar Haid

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al Atsariyyah)

 

“Ibarat lautan yang tiada bertepi,” kalimat ini diucapkan Fadhilatusy Syaikh Muhammad ibnu Shalih Al-Utsaimin t dalam fatwa beliau saat menggambarkan banyaknya permasalahan wanita berkenaan dengan haid1. Walaupun haid ini perkara yang umum dialami wanita dan selalu berulang, namun tetap saja menyisakan pertanyaan (bagi sebagian orang), karena memang hukum-hukum yang berkaitan dengannya tidaklah terhitung, kata Al-Imam An-Nawawi t. Seperti hukum thaharah, shalat, membaca Al-Qur’an, puasa, i’tikaf, haji, baligh, jima, talak, khulu’, ila’, kafarah membunuh dan selainnya, ‘iddah, istibra’, dan lain-lain. Perkara yang demikian keadaannya, wajib diperhatikan. (Al-Majmu’, 2/381)

Kata Al-Khathib Al-’Allamah Asy-Syarbini t, “Wajib bagi wanita untuk mengetahui/ mempelajari hukum-hukum haid, istihadhah, dan nifas, yang dibutuhkannya. Bila suaminya seorang yang berilmu, dia (suami) wajib mengajari istrinya. Bila tidak, si wanita boleh keluar dari rumahnya untuk bertanya kepada para ulama, bahkan wajib dilakukannya dan haram bagi suaminya melarang istrinya, terkecuali bila si suami mau menanyakan perkaranya kemudian disampaikan kepada istrinya hingga si istri mendapatkan kecukupan dengannya.” (Mughnil Muhtaj, 1/246)

Berpijak dengan kenyataan yang demikian, kami terpanggil untuk kembali berbicara tentang haid yang biasa dialami setiap wanita normal2. Untuk materi kali ini, pembicaraan kami pusatkan tentang thaharah (bersucinya) wanita yang haid.

Seorang wanita dihadapkan dengan dua keadaan; terkadang ia suci dan di waktu lain ia tidak suci. Ketika suci, ia tidak mengalami hadats besar berupa haid, nifas, ataupun janabah. Sehingga halal baginya melakukan berbagai ibadah termasuk tentunya shalat, puasa, dan thawaf di Baitullah. Ia pun halal berhubungan dengan suaminya bila ia telah bersuami. Sebaliknya, saat ia tidak suci karena keluarnya darah haid dan nifas, tidak halal baginya shalat, puasa, thawaf dan jima’, sampai selesai hadatsnya dan dia mandi.

Mandi suci, sebagian wanita menyebut demikian ketika mengistilahkan mandi karena suci dari haid atau nifas. Bersuci dari haid inilah yang hendak kita bicarakan di sini.

 

 

MANDI HAID

 

Hukumnya

Ulama sepakat wanita yang telah selesai dari haidnya wajib mandi sebagaimana ditunjukkan dalam firman Allah l:

Mereka bertanya kepadamu (wahai Muhammad) tentang haid. Katakanlah, “(Darah) haid itu merupakan kotoran (najis) maka jauhilah para istri (pada kemaluannya) ketika mereka sedang haid. Janganlah kalian mendekati (menjima’i) mereka sampai mereka suci. Apabila mereka telah suci (telah mandi) silakan kalian datangi mereka dari tempat yang Allah perintahkan kepada kalian. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang menyucikan diri.” (Al-Baqarah: 222)

Dalam ayat di atas, Allah l memperkenankan seorang suami menggauli istrinya yang telah suci dari haid bila si istri telah mandi. Sementara ada kaidah, sesuatu yang tidak sempurna kewajiban terkecuali dengan keberadaannya, maka sesuatu itu juga wajib hukumnya3. (Al-Majmu’, 2/168)

Dari hadits Rasulullah n, kita dapati beliau pernah bersabda kepada Fathimah bintu Abi Hubaisy x:

فَإِذَا أَقبَلَتِ الْحَيضَةُ فَدَعِي الصَّلاَةَ، وَإِذَا أَدْبَرَتْ فَاغْسِلِي عَنْكِ الدَّمَ وَصَلِّي

“Apabila datang haidmu, tinggalkanlah shalat. Bila telah berlalu haidmu, cucilah darah darimu dan shalatlah.” (HR. Al-Bukhari no. 228 dan Muslim no. 751)

Hadits di atas menunjukkan wajibnya mandi bagi wanita yang telah suci dari haid, karena ia wajib mengerjakan shalat, sementara ia tidak bisa shalat kecuali bila sebelumnya telah mandi suci.

Al-Imam An-Nawawi t menyatakan bahwa ulama sepakat akan wajibnya mandi karena suci dari haid dan nifas. Di antara yang menukilkan ijma’ ini adalah Ibnul Mundzir, Ibnu Jarir Ath-Thabari, dan selain keduanya rahimahumullah. (Al-Majmu’, 2/168)

 

Tata cara mandi

Mandi haid memiliki dua cara:

1. Cara yang sempurna

2. Cara yang mencukupi (Asy-Syarhul Mumti’, 1/356)

 

Pertama: Cara sempurna

Mandi suci yang sempurna terdiri dari niat, mengucapkan basmalah, mencuci kedua telapak tangan tiga kali sebelum memasukkannya ke dalam gayung/wadah air, menuangkan air dengan telapak tangan kanan ke telapak tangan kiri yang digunakan untuk mencuci kemaluan, menggosokkan telapak tangan kiri dengan kuat ke tanah setelah mencuci kemaluan ataupun ke dinding/tembok dan setelahnya dicuci, berwudhu (untuk kedua kaki boleh ditunda pencuciannya pada akhir mandi), membasahi kepala dengan menyela-nyelai pangkal-pangkal rambut menggunakan jari-jemari yang basah sampai seluruhnya terkena air, memulai dari anggota yang kanan lalu yang kiri, mencurahkan air ke kepala tiga kali, kemudian menuangkan air ke seluruh tubuh dan mencuci kedua kaki.

Tata cara yang disebutkan di atas merupakan cara mandi janabah Rasulullah n sebagaimana ditunjukkan dalam hadits Aisyah x:

أَنَّ النَّبِيَّ n كَانَ إِذَا اغْتَسَلَ مِنَ الْجَنَابَةِ بَدَأَ فَغَسَلَ يَدَيهِ، ثُمَّ يَتَوَضَّأُ كَمَا يَتَوَضَّأُ لِلصَّلاَةِ، ثُمَّ يُدْخِلُ أَصَابِعَهُ فِي الْماَءِ فَيُخَلِّلُ بِهَا أُصُولَ شَعْرِهِ، ثُمَّ يَصُبُّ عَلَى رَأْسِهِ ثَلاَثَ غُرَفٍ بِيَدَيهِ، ثُمَّ يُفِيضُ عَلَى جِلْدِهِ كُلِّهِ

“Adalah Nabi n bila mandi dari janabah, beliau mengawali dengan mencuci kedua tangan beliau, setelahnya berwudhu seperti wudhu untuk shalat. Kemudian beliau memasukkan jari jemari beliau ke dalam air lalu menyela-nyelai pangkal rambutnya (dekat kulit kepala) dengan jari-jari tersebut. Setelah itu beliau menuangkan air ke atas kepala beliau sebanyak tiga kali, kemudian beliau mengalirkan air ke atas kulit beliau seluruhnya. (HR. Al-Bukhari no. 248)

Dalam riwayat Muslim (no. 716) disebutkan:

كَانَ رَسُولُ اللهِ n إِذَا اغْتَسَلَ مِنَ الْجَنَابَةِ، يَبْدَأُ فَيَغْسِلُ يَدَيْهِ ثُمَّ يُفْرِغُ بِيَمِينِهِ عَلَى شِمَالِهِ، فَيَغْسِلُ فَرْجَهُ، ثُمَّ يَتَوَضَّأُ وُضُوءَهُُ لِلصَّلاَةِ، ثُمَّ يَأْخُذُ الْماَءَ، فَيُدْخِلُ أَصَابِعَهُ فِي أُصُولِ الشَّعْرِ، حَتَّى إِذَا رَأَى أَن قَدِ اسْتَبْرَأَ، حَفَنَ عَلَى رَأْسِهِ ثَلاَثَ حَفَناَتٍ، ثُمَّ أَفَاضَ عَلَى سَائِرِ جَسَدِهِ، ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَيهِ

“Adalah Rasulullah n bila mandi dari janabah, beliau mengawali dengan mencuci kedua tangan beliau, setelahnya dengan tangan kanannya beliau menuangkan air ke tangan kirinya guna mencuci kemaluannya. Kemudian beliau berwudhu seperti wudhu untuk shalat. Lalu beliau mengambil air untuk membasahi jari-jemari beliau yang kemudian beliau masukkan ke pangkal rambutnya, hingga ketika beliau pandang telah membasahi seluruh kepala beliau, beliau tuangkan air ke atas kepala beliau sebanyak tiga kali. Setelahnya beliau mengalirkan air ke seluruh tubuh beliau dan terakhir beliau mencuci kedua kakinya.”

Mencuci kedua telapak tangan di awal mandi dilakukan Rasulullah n sebanyak tiga kali sebagaimana ditunjukkan dalam lafadz lain dari riwayat Muslim (no. 718). Bisa pula dua kali sebagaimana hadits Maimaunah x (no. 720). Adapun menggosok tangan kiri ke tanah/lantai atau ke dinding/tembok setelah mencuci kemaluan disebutkan dalam hadits Maimunah x yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari (no. 260) dan Al-Imam Muslim (no. 720) dalam Shahih keduanya.

Walaupun hadits di atas berkenaan dengan tata cara mandi janabah, namun kata sebagian ahlul ilmi, “Mandi haid itu seperti mandi karena janabah.”

Kata Al-Imam Al-Mawardi t, “Mandi seorang wanita dari haid dan nifasnya seperti mandinya dari janabahnya.” (Al-Hawil Kabir, 1/226)

Demikian pula pernyataan Al-Imam Ibnu Qudamah t dalam Al-Mughni (Kitab Ath-Thaharah, fashl Ghaslul Haidh Kaghuslil Janabah).

Disenangi bagi si wanita untuk mandi dengan air yang dicampur daun bidara. Sebagaimana mustahab (disunnahkan) baginya mengambil kain ataupun kapas yang diberi misk atau wewangian lain lalu diusapkannya pada sekitar daerah mengalirnya darah, untuk menghilangkan sisa-sisa bau darah yang tidak sedap. (Al-Mughni, Kitab Ath-Thaharah, fashl Ghaslul Haidh Kaghuslil Janabah, Al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim, 3/238-239)

Apa yang kita sebutkan ini ditunjukkan dalam hadits Aisyah x pula. Ia berkata, “Asma’4 pernah bertanya kepada Nabi n tentang mandi haid, maka beliau memberi arahan:

تَأخُذُ إِحْدَاكُنَّ مَاءَهَا وَسِدْرَتَهَا فَتَطَهَّرُ، فَتُحْسِنُ الطُّهُورَ، ثُمَّ تَصُبُّ عَلَى رَأْسِهَا فَتَدْلُكُهُ دَلْكًا شَدِيدًا، حَتَّى تَبْلُغَ شُؤُنَ رَأْسِهَا، ثُمَّ تَصُبُّ عَلَيهَا الْماَءَ، ثُمَّ تَأْخُذُ فِرْصَةً مُمَسَّكَةً فَتَطَهَّرُ بِهَا. فَقَالَتْ أَسمَاءُ: وَكَيفَ تَطَهَّرُ بِهَا؟ فَقاَلَ: سُبحَانَ اللهِ، تَطَهَّرِينَ بِهَا. فَقَالَتْ عَائِشَةُ –كَأَنَّهَا تُخْفِي ذَلِكَ– تَتَّبِعِينَ أَثَرَ الدَّمِ

“Hendaknya salah seorang dari kalian mengambil air dan daun bidaranya, lalu ia bersuci dengan membaguskan bersucinya (berwudhu). Kemudian ia menuangkan air ke atas kepalanya lalu digosoknya dengan sungguh-sungguh sampai mencapai pangkal-pangkal rambutnya. Setelahnya ia tuangkan air ke tubuhnya. Lalu ia mengambil kain/kapas yang diberi misk dan bersuci dengannya.” Asma’ bertanya, “Bagaimana cara ia bersuci dengannya?” “Subhanallah, engkau bersuci dengannya,” tegas Rasulullah. Aisyah berkata seakan-akan ia berbisik (berbicara perlahan hingga hanya didengar oleh orang yang diajak bicara dan tidak didengar yang lainnya), “Dengan kain tersebut engkau ikuti bekas-bekas darah (mengusap daerah kemaluan dan sekitarnya yang terkena darah).” (HR. Muslim no. 748)

 

Tambahan faedah: Dalam hadits Aisyah x di atas ada beberapa faedah yang bisa dipetik sebagaimana disebutkan oleh ahlul ilmi. Di antara faedah tersebut:

1. Bertasbih ketika merasa heran, sebagaimana Rasulullah n bertasbih saat ditanya Asma’ tentang cara bersuci dengan kapas/kain yang diberi misik. Maknanya Rasulullah n merasa heran bagaimana perkara yang demikian jelas tersembunyi bagi Asma’.

2. Disenanginya memakai kata kiasan dan isyarat dalam perkara yang berhubungan dengan aurat.

3. Bolehnya wanita yang mengetahui tentang keadaan dirinya untuk menanyakan perkara yang sebenarnya malu untuk ia tanyakan.

4. Wanita menutup aib/cacatnya sampaipun dari suaminya dan sekalipun aib tersebut didapatkan dari sesuatu yang memang fithrahnya. Dalam hal ini, wanita diberi bimbingan untuk memberi wangi-wangian di sekitar kemaluannya saat mandi haid guna menghilangkan bau yang tidak sedap (aroma darah haid) sehingga suaminya tidak mencium sedikitpun bau darahnya5.

5. Dalam hadits ini menunjukkan adanya pengajaran sebagian wanita terhadap wanita yang lain tentang perkara yang memalukan bila disebut di hadapan lelaki, di mana Aisyah mengajari Asma’ tentang perkara yang Rasulullah n merasa malu menyebutkannya.

6. Hadits ini juga menunjukkan baiknya akhlak Rasulullah n, besarnya kesabaran dan rasa malu beliau. (Fathul Bari, 1/539-540)

 

Mewangikan daerah yang terkena darah adalah perkara yang ditekankan

Ummu Athiyah x berkata:

كُنَّا نُنْهَى أَنْ نُحِدَّ عَلَى مَيِّتٍ فَوْقَ ثَلاَثٍ إِلاَّ عَلَى زَوْجٍ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَعَشْرًا، وَلاَ نَكْتَحِلَ وَلاَ نَتَطَيَّبَ وَلاَ نَلْبَسَ ثَوْبًا مَصْبُوغًا إِلاَّ ثَوبَ عَصْبٍ. وَقَدْ رُخِّصَ لَنَا عِنْدَ الطُّهْرِ إِذَا اغْتَسَلَتْ إِحْدَانَا مِنْ مَحِيضِهَا فِي نُبْذَةٍ مِنْ كُسْتِ أَظفَارٍ…

“Kami dilarang berihdad6 terhadap mayit lebih dari tiga hari terkecuali bila suami yang meninggal maka istri harus berihdad selama empat bulan sepuluh hari. Selama masa ihdad tersebut kami tidak boleh memakai celak, tidak boleh memakai wangi-wangian, dan tidak boleh memakai pakaian yang dicelup kecuali pakaian ashb7. Dan sungguh kami diberi keringanan ketika seorang dari kami mandi suci dari haidnya untuk memakai sepotong kusti azhfar8…” (HR. Al-Bukhari no. 313)

Al-Imam Al-Bukhari t memberi judul hadits di atas: Bab Ath-Thib lil Mar’ati Inda Ghusliha minal Mahidh, artinya wangi-wangian bagi wanita saat mandi dari haid. Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani t berkata, “Yang dimaukan dengan judul bab ini adalah pemakaian wangi-wangian bagi wanita saat mandi suci dari haid merupakan perkara yang ditekankan, dimana wanita yang berihdad yang pada asalnya diharamkan menggunakan wangi-wangian diberi keringanan oleh Rasulullah n untuk memakai sedikit dari wewangian tersebut (saat mandi dari haid).” (Fathul Bari, 1/536)

Keringanan memakai wangi-wangian bagi wanita yang berihdad saat mandi suci dari haid ini tujuannya adalah menghilangkan aroma yang tidak sedap. (Fathul Bari, 1/537)

Al-Imam An-Nawawi t menegaskan, makruh bila sampai wanita yang mandi haid itu meninggalkan memakai wangi-wangian pada daerah mengalirnya darah padahal memungkinkan baginya untuk memakainya. Namun bila tidak memungkinkan baginya memakai wangi-wangian tersebut (berudzur) maka tidak ada karahah (kemakruhan) bagi dirinya. (Al-Minhaj, 3/239)

 

Kedua: Cara mandi haid yang cukup bagi wanita, dengan mengguyurkan air ke seluruh tubuhnya sehingga air tersebut mengalir di atas anggota-anggotanya, mencapai seluruh rambut dan kulitnya. (Al-Hawi, 1/227, Al-Mughni, Kitab Ath-Thaharah, bab Al-Ghusl minal Janabah)

Al-Imam Al-Hafizh Ibnu Abdil Bar Al-Andalusi t berkata, “Orang yang mandi janabah bila ia tidak berwudhu namun ia meratakan air ke seluruh tubuhnya, kepalanya, kedua tangannya, kedua kakinya dan seluruh tubuhnya, serta lebih sempurna lagi bila ia menjalankan kedua tangannya di atas tubuhnya, berarti ia telah menunaikan kewajibannya bila memang ia bermaksud dan berniat mandi.” Beliau melanjutkan, “Ini merupakan ijma’ yang tidak ada perselisihan di dalamnya di kalangan ulama.” (At-Tamhid lima fil Muwaththa’ minal Ma’ani wal Asanid, 1/275)

 

Haruskah mengurai rambut saat mandi?

Bila mandi yang dilakukan seorang wanita adalah mandi janabah maka imam yang empat sepakat tidak wajib bagi si wanita melepas ikatan rambutnya. (Al-Mughni)

Apatah lagi ada hadits yang jelas dari Ummu Salamah x yang pernah bertanya kepada Rasulullah n, “Aku adalah seorang wanita yang kuat ikatan/gelungan rambutnya, apakah aku harus melepas gelungan tersebut saat mandi janabah9?” Rasulullah n menjawab:

لاَ، إِنَّمَا يَكْفِيكِ أَنْ تَحْثِي عَلَى رَأْسِكِ ثَلاَثَ حَثَيَاتٍ، ثُمَّ تُفِيضِينَ عَلَيكِ فَتَطْهُرِينَ

“Tidak. Hanyalah cukup bagimu menuangkan ke atas kepalamu tiga tuangan, kemudian engkau curahkan air ke atas tubuhmu maka dengan begitu engkau suci.” (HR. Muslim no. 742)

Adapun untuk mandi suci dari haid, ulama berbeda pandangan tentang hukum melepas ikatan rambut atau gelungan/kepangan rambut tersebut. Mereka terbagi dalam dua pendapat:

Pertama: Wajib melepasnya/mengurainya

Demikian pendapat Al-Hasan Al-Bashri, Thawus, An-Nakha’i, Waki’, Ahmad, dan yang lainnya rahimahumullah. (Fathul Bari, Ibnu Rajab Al-Hambali, 1/479)

Pendapat ini pula yang dikuatkan oleh Ibnu Hazm t dalam kitabnya Al-Muhalla (1/285). Dalilnya adalah hadits Anas bin Malik z secara marfu’:

إِذَا اغْتَسَلَتِ الْمَرْأَةُ مِنْ حَيْضِهَا نَقَضَتْ شَعْرَهَا نَقْضًا وَغَسَلَتْهُ بِخَطِمِي وَأَشنَانٍ، فَإِذَا اغْتَسَلَتْ مِنَ الْجَنَابَةِ صَبَّتْ عَلَى رَأْسِهَا الْمَاءَ وَعَصَرَتْ

“Apabila wanita mandi dari haidnya, ia melepas ikatan rambutnya dan membasuhnya dengan khathmi dan asynan (jenis wewangian). Dan bila ia mandi janabah, ia tuangkan air ke atas kepalanya dan diperasnya.” (HR. Ad-Daraquthni dalam Al-Afrad, Al-Khathib dalam At-Talkhish, Ath-Thabarani dalam Al-Kabir, dan Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubra)

Namun hadits ini lemah, karena pada sanadnya ada Muslim ibnu Shubh Al-Yahmadi yang bersendiri dalam periwayatannya, sementara ia rawi yang majhul, kata Al-Imam Asy-Syaukani t10. Disamping itu, digandengkannya melepas ikatan rambut dengan mencuci rambut, memakai khathmi dan asynan, menunjukkan tidak wajibnya melepas rambut karena tidak ada seorang pun yang mengatakan wajibnya memakai khathmi dan asynan. (As-Sailul Jarrar, 1/291)

Dalil kedua adalah hadits Aisyah x, ketika berhaji bersama Nabi n, Aisyah ditimpa haid maka diadukannya perkaranya kepada Nabi n. Beliau pun bersabda kepada sang istri:

وَانْقُضِي رَأْسَكِ وَامْتَشِطِي…

“Lepaskanlah ikatan rambutmu dan sisirlah…” (HR. Al-Bukhari no. 316 dan 317, Muslim no. 2902)

Dalam titah Nabi n di atas tidak ada perintah mandi. Namun didapatkan dalam riwayat Ibnu Majah (no. 641), Nabi n mengatakan kepada Aisyah dalam keadaan Aisyah haid:

انْقُضِي شَعْرَكِ وَاغْتَسِلِي…

“Lepaskanlah ikatan rambutmu dan mandilah…”

Hadits ini dishahihkan sanadnya di atas syarat syaikhain oleh Al-Imam Al-Albani t dalam Ash-Shahihah no. 18811.

Hadits Aisyah x yang diriwayatkan Al-Imam Al-Bukhari dan Muslim di atas diberi judul oleh Al-Imam Al-Bukhari t dalam Shahihnya: bab Naqdhi Al-Mar’ati Sya’raha ‘inda Ghuslil Mahidh artinya bab wanita melepas ikatan/gelungan rambutnya saat mandi haid. Namun berargumen dengan hadits di atas untuk mewajibkan wanita haid mengurai rambutnya saat mandi suci masih menyisakan permasalahan12, di mana titah Nabi n ini bukan berkaitan dengan mandi suci dari haid namun titah untuk mandi dalam keadaan Aisyah sedang haid, sama sekali belum melihat dirinya suci, guna berihram haji13.

Yang juga menunjukkan tidak wajibnya adalah perintah Nabi n kepada Aisyah untuk menyisir rambutnya sementara menyisir ini tentunya tidak ada yang mengatakan wajib. (Al-Mughni Mas’alah Qala: Wa Tanqudhu Al-Mar’atu Sya’raha li Ghusliha minal Haidh…, Subulus Salam 1/344, As-Sailul Jarar, 1/292)

Pendapat kedua: mustahab tidak wajib.

Demikian pendapat jumhur ahlul ilmi, di antaranya imam yang tiga dan mayoritas fuqaha. Pendapat ini juga merupakan satu riwayat dari Al-Imam Ahmad dan pendapat yang dipilih oleh Al-Muwaffaq, Al-Majd Ibnu Taimiyah, dan selain mereka rahimahumullah. (Al-Mughni Mas’alah Qala: Wa Tanqudhu Al-Mar’atu Sya’raha li Ghusliha minal Haidh…, Taudhihul Ahkam, 1/400)

Al-Hafizh Ibnu Rajab Al-Hambali t dalam Fathul Bari (1/481) karya beliau menyatakan bahwa kebanyakan ulama menyamakan mandi janabah dan mandi haid, tidak wajib melepas ikatan/gelungan rambut pada salah satu dari keduanya.14

Dalil pendapat ini adalah riwayat Asma’ x yang bertanya kepada Rasulullah n tentang mandi haid sebagaimana telah lewat penyebutannya. Dalam hadits tersebut tidak disebutkan melepas ikatan rambut. Kalau hal itu wajib niscaya Rasulullah n akan menyebutkannya, karena tidak boleh menunda penjelasan pada saat dibutuhkan. (Al-Mughni Mas’alah Qala: Wa Tanqudhu Al-Mar’atu Sya’raha li Ghusliha minal Haidh…)

Melihat dalil yang ada dari masing-masing pendapat maka kata penulis Taudhihul Ahkam (1/401), madzhab Al-Imam Ahmad kuat dalam masalah ini. Namun yang bagus adalah membawa hukum melepas ikatan/gelungan rambut kepada mustahab.

Kata Asy-Syaikh Muhammad ibnu Ibrahim t, “Yang rajih dalam dalil adalah tidak wajib melepas ikatan rambut saat mandi haid sebagaimana tidak wajib dalam mandi janabah.  Hanya saja melepas ikatan rambut dalam mandi haid disyariatkan berdasar dalil-dalil yang ada, namun perintah yang ada bukanlah perintah yang menunjukkan wajib, dengan dalil hadits Ummu Salamah. Inilah pendapat yang dipilih oleh penulis Al-Inshaf. Adapun untuk mandi janabah, tidaklah mustahab melepas ikatan rambut. Melepas ikatan rambut ini hanyalah ditekankan saat mandi haid.” (Taudhihul Ahkam, 1/401)

Al-Imam Asy-Syafi’i t berkata, “Bila si wanita memiliki rambut yang diikat/ dipilin/digelung maka tidaklah wajib baginya melepas ikatan/gelungan tersebut saat mandi janabah. Dan mandi suci dari haid sama dengan mandinya dari janabah, tidak berbeda.” (Al-Umm, 1/227)

 

Tayammum

Apabila wanita haid telah suci dari haidnya, sementara ia tidak beroleh air untuk mandi atau tidak mampu menggunakan air, maka ia boleh bertayammum. (Al-Majmu’ 2/340, Al-Muhalla 1/367)

Dalilnya adalah firman Allah l:

“Dan jika kalian sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan (jima’) lalu kalian tidak mendapatkan air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih), usaplah wajah dan tangan kalian dengan tanah tersebut.” (Al-Maidah: 6)

Dalam ayat di atas disebutkan orang junub (karena menyentuh perempuan/jima’) boleh tayammum bila tidak mendapatkan air, maka wanita haid juga semisalnya.

Dalil dari As-Sunnah adalah sabda Nabi z:

وَجُعِلَتْ لِيَ الْأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا

“Dijadikan bumi untukku sebagai masjid dan tanahnya sebagai penyuci.” (HR. Al-Bukhari no. 335 dan 438, Muslim no. 1163)

Dengan demikian seluruh perkara yang mana diperintahkan untuk bersuci bila ia tidak mendapatkan air, maka bersucinya dengan tanah/debu berdasarkan keumuman hadits di atas. (Al-Muhalla, 1/368)

Demikian pula hadits-hadits yang menyebutkan tayammumnya orang yang junub seperti hadits ‘Imran ibnu Hushain z yang panjang, yang menyebutkan tentang seorang lelaki yang menyendiri dari orang-orang dan tidak ikut shalat bersama jamaah karena janabah yang menimpanya sementara tidak ada air, maka Rasulullah n bersabda kepadanya, “Engkau bisa bersuci dengan tanah/debu, itu mencukupimu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Pembolehan bertayammum ini pun berlaku bagi wanita yang haid, karena tidak ada pembedaan dalam hal ini.

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab. (insya Allah berlanjut)


1 Majmu Fatawa wa Rasa’il Fadhilatusy Syaikh Muhammad ibnu Shalih Al-’Utsaimin, 11/281.

2 Karena masalah haid sudah pernah kami muat dalam edisi perdana majalah yang semoga diberkahi Allah l ini, juga dalam edisi no. 25.

3 Karena jima’ tidak dapat terwujud kecuali bila si istri yang semula haid telah suci dan telah mandi, maka mandi dari haid pun menjadi wajib hukumnya.

4 Asma’ bintu Syakal, sebagaimana disebutkan namanya dalam riwayat Muslim (no. 750). Namun Al-Khathib Al-Hafizh Abu Bakr Al-Baghdadi t dalam kitabnya Al-Asma’ Al-Mubhamah menyatakan bahwa nama wanita yang bertanya dalam hadits Aisyah tersebut adalah Asma’ bintu Yazid ibnus Sakan yang digelari khathibatun nisa’ (juru bicara para wanita). Al-Khathib juga meriwayatkan sebuah hadits yang di situ disebutkan nama penanyanya adalah Asma’ bintu Yazid, wallahu a’lam (Al-Minhaj, 3/241).

Faedah:

Para wanita sahabiyah g tidak malu bertanya tentang perkara agama mereka guna memupus kejahilan yang ada pada diri mereka. Aisyah x pernah memberikan pujian kepada para wanita dari kalangan sahabat Anshar:

نِعْمَ النِّسَاءُ نِسَاءُ الْأَنْصَارِ، لَمْ يَكُنْ يَمْنَعُهُنَّ الْحَيَاءُ أَنْ يَتَفَقَّهْنَ فِي الدِّينِ

“Sebaik-baik wanita adalah wanita Anshar! Rasa malu tidaklah menahan mereka untuk tafaqquh fid din (mencari pengetahuan/mendalami agama).” (HR. Muslim no. 748)

5 Mewangikan bagian tubuh yang merupakan tempat mengalirnya darah ini tidak hanya berlaku bagi wanita yang memiliki suami, namun mustahab bagi setiap wanita yang mandi haid ataupun nifas, sama saja apakah ia memiliki suami atau tidak, dan ia memakai wangi-wangian tadi setelah mandi. Bila ia tidak beroleh misik, ia boleh menggunakan minyak wangi lain yang bisa didapatkannya. (Al-Minhaj, 3/239)

6 Meninggalkan berhias karena berduka cita atas kematian seseorang.

7 Semacam kain bergaris dari Yaman yang diikat/dikumpulkan benang tenunnya kemudian dicelup lalu ditenun.

8 Sejenis wangi-wangian/dupa.

9 Adapun tambahan lafadz: “… mandi haid”, kata Al-Imam Al-Albani t, merupakan tambahan yang syadz (ganjil). Al-Imam Ibnul Qayyim t dalam At-Tahdzib (1/167) telah mendahului beliau dalam menetapkan syadznya tambahan tersebut. (Lihat Ash-Shahihah hadits no. 189)

10 Hadits ini didhaifkan oleh Al-Imam Al-Albani t dalam Adh-Dha’ifah no. 937.
11 Beliau termasuk yang berpendapat wanita yang mandi haid wajib melepas ikatan rambutnya.
12 Kata Al-Hafizh Ibnu Rajab t, apa yang diinginkan Al-Bukhari t dengan judul bab di atas bisa saja dibawa kepada sisi yang benar, yaitu Nabi n memerintahkan Aisyah untuk melepas ikatan rambutnya dan menyisirnya saat mandi untuk ihram. Karena mandi untuk ihram ini jarang dilakukan (tidak berulang) maka tidak menjadi sesuatu yang sulit bila rambut itu digerai. Pada mandi haid dan nifas didapatkan makna ini (yaitu haid dan nifas yang dialami wanita jarak waktunya berjauhan, seperti haid hanya dialami pada hari-hari berbilang dalam sebulan setelah itu mandi. Nifas paling tidak dialami setahun sekali sehingga mandi suci hanya sekali dalam setahun). Karenanya tidak menjadi kesulitan bagi si wanita bila ia diperintah untuk melepas ikatan rambutnya saat mandi haid atau nifas. Beda halnya dengan mandi janabah karena bisa terjadi berulang-ulang (khususnya bagi yang telah berkeluarga) dan menimbulkan masalah/kesulitan bila harus mengurai rambut. Karenanya Nabi n tidak memerintahkan para wanita untuk melepas ikatan rambutnya. Wallahu a’lam. (lihat Fathul Bari karya Ibnu Rajab, 1/477)
13 Mandi ini termasuk perkara yang disunnahkan ketika berihram, termasuk bagi wanita haid dan nifas. Mandi seorang wanita dalam keadaan haid dan nifas tersebut adalah untuk kebersihan, bukan untuk mengerjakan shalat karena ia belum suci. Sementara yang menjadi perdebatan adalah kalau si wanita haid/nifas tersebut mandi suci, apakah harus melepas ikatan rambutnya ataukah tidak? (Nailul Authar, 1/352)
14 Pendapat inilah yang dipilih oleh Samahatusy Syaikh Ibnu Baz t, Fadhilatusy Syaikh Ibnu Utsaimin t, dan selainnya.

Ummu Darda’ Ash-Shughra

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu ‘Abdirrahman bintu ‘Imran)

 

Seorang anak perempuan yatim diasuh oleh Abud Darda’ ‘Uwaimir Al-Anshari z. Hujaimah bintu Huyai Al-Washshabiyah rahimahallah namanya, berasal dari Washshab, salah satu kabilah di Himyar.

Selama dalam asuhan Abud Darda’ z, Hujaimah kecil biasa diajak oleh Abud Darda’ menghadiri shalat berjamaah di tengah shaf laki-laki dengan mengenakan burnus, sejenis pakaian yang mempunyai penutup kepala, dan duduk bersamanya di halaqah-halaqah  para pembaca Al-Qur’an untuk mempelajari Al-Qur’an. Ketika mulai beranjak besar, Abud Darda’ menyuruh Hujaimah untuk bergabung dengan shaf para wanita.

Tumbuh dalam asuhan seorang sahabat yang mulia, dengan keutamaan Allah l, Hujaimah menjadi seorang wanita yang berilmu. Kemudian Abud Darda’ z meminang Hujaimah kepada keluarganya kemudian menikahinya. Berkunyahlah Hujaimah dengan nama Ummud Darda’ Ash-Shughra.1

Dalam perjalanannya menempuh rumah tangga bersama Ummud Darda’ Ash-Shughra rahimahallah, Abud Darda’ z pernah berpesan, “Bila kau marah, aku membuatmu ridha kembali. Karena itu, bila aku marah buatlah aku ridha. Kalau tidak demikian, betapa cepatnya kita akan berpisah.”

Ummud Darda’ semakin banyak mengambil ilmu dari suaminya. Selain dari Abud Darda’, Ummud Darda’ Ash-Shughra juga mengambil riwayat dari Fadhalah bin ‘Ubaid Al-Anshari, Salman Al-Farisi, Ka’b bin ‘Ashim Al-Asy’ari, Ummul Mukminin ‘Aisyah, Abu Hurairah, serta para sahabat yang lain g.

Menjelang Abud Darda’ z wafat, Ummud Darda’ pernah mengatakan kepadanya, “Dulu kau pinang diriku pada keluargaku di dunia, lalu mereka menikahkanku denganmu. Sekarang kupinang engkau kepada dirimu untuk nanti di akhirat.”

“Kalau begitu, jangan engkau menikah lagi sepeninggalku,” ujar Abud Darda’.

Ummud Darda’ benar-benar memenuhi permintaan Abud Darda’. Setelah meninggalnya Abud Darda’, Mu’awiyah bin Abi Sufyan z datang menyampaikan pinangan. Saat itu Ummud Darda’ masih muda dan dikenal kecantikannya. Ummud Darda’ menolak. “Tidak,” katanya, “Aku tidak akan menikah lagi dengan seorang pun di dunia sampai aku menikah dengan Abud Darda’ di dalam surga, insya Allah.”

“Kalau demikian, hendaknya engkau memperbanyak puasa,” kata Mu’awiyah.

Ummud Darda’ rahimahallah dikenal dengan ilmu, amal, dan zuhudnya. Sekian banyak orang yang mengambil ilmu dan riwayat darinya. Banyak pujian yang menunjukkan kemuliaannya sebagai seorang faqih. Banyak pula nasihat yang dia tinggalkan.

‘Abdur Rabbih bin Sulaiman bin ‘Umair bin Zaitun mengatakan, “Ummud Darda’ pernah menuliskan untukku di lembaran catatanku tentang hikmah yang diajarkannya kepadaku, ‘Pelajarilah hikmah semasa mudamu, niscaya nanti akan kau amalkan di masa tuamu, karena setiap orang yang menanam pasti kelak akan menuai hasilnya, baik berupa kebaikan ataupun kejelekan’.”

‘Utsman bin Hayyan, maula Ummud Darda’ mengisahkan: Aku pernah mendengar Ummud Darda’ mengatakan, “Bagaimana kiranya keadaan salah seorang di antara kalian yang mengatakan: ‘Ya Allah, berilah aku rezeki’, sementara dia tahu bahwa Allah l tidaklah menurunkan hujan dinar ataupun dirham dari langit. Namun Allah l berikan rezeki sebagian dari sebagian yang lain. Karena itu, barangsiapa yang diberi, hendaknya menerima pemberian itu. Barangsiapa berkecukupan, hendaknya memberi saudaranya yang memiliki kebutuhan. Dan jika dia fakir, hendaknya meminta tolong kepadanya untuk memenuhi kebutuhannya, dan janganlah dia menolak rezeki yang telah Allah l berikan kepadanya’.”

Ummud Darda’ rahimahallah pernah pula memberikan nasihat, “Sungguh berzikir kepada Allah l itu adalah perkara yang paling besar. Kalau engkau shalat, maka itu termasuk zikrullah. Kalau engkau puasa, maka itu juga termasuk zikrullah. Segala kebaikan yang kaulakukan, itu pun termasuk zikrullah. Setiap kejelekan yang kaujauhi, maka itu termasuk zikrullah. Dan yang paling utama adalah bertasbih kepada Allah k.”

‘Utsman bin Hayyan menceritakan pula, “Kami pernah makan bersama Ummud Darda’, lalu kami lupa memuji Allah l. Ummud Darda’ pun mengatakan, ‘Nak, jangan kalian lupa membumbui makanan kalian dengan zikrullah. Makan disertai memuji Allah l itu lebih baik daripada makan sambil diam saja (tidak memuji Allah l, pen.)’.”

Ummud Darda’ rahimahallah sempat menunaikan ibadah haji pada tahun 81 H. Ummud Darda’ Ash-Shughra rahimahallah, sebuah permisalan kehidupan seorang wanita yang sarat dengan kebaikan. Semoga Allah l meridhainya….

 

Sumber bacaan:

Siyar A’lamin Nubala’, Al-Imam Adz-Dzahabi (4/277-279)

Tahdzibul Kamal, Al-Imam Al-Mizzi (35/352-358)


1 Ummud Darda’ Ash-Shughra seorang tabi’iyah. Sebelum menikah dengan Ummud Darda’ Ash-Shughra, Abud Darda’ z pernah menikah dengan Khairah bintu Abi Hadrad yang berkunyah Ummud Darda’ pula. Ummud Darda’ Al-Kubra ini seorang shahabiyah. Dia bertemu dengan Rasulullah n. Dialah yang memiliki kisah yang termuat dalam Shahih Al-Bukhari no.1968. Dalam hadits itu dikisahkan bahwa Salman Al-Farisi z yang dipersaudarakan dengan Abud Darda’ oleh Nabi n melihat Ummud Darda’ berpakaian lusuh dan usang. Ummud Darda’ pun mengatakan bahwa Abud Darda’ tidak membutuhkan dunia. Maka Salman pun mengajarkan pada Abud Darda’ untuk menunaikan hak setiap yang memiliki hak, dan hal ini dibenarkan oleh Nabi n.

Membentengi Rumah dari Setan

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah)

Setiap keluarga muslim pasti mendambakan ketenteraman dan ketenangan dalam rumah yang mereka huni, baik dia seorang suami, seorang istri, ataupun sebagai seorang anak. Semua ingin rumah mereka seperti kata orang: Baiti jannati, rumahku adalah surgaku. Bukan karena rumah itu mewah dilengkapi perabotannya yang wah, namun karena semua merasa tentram ketika masuk dan berada di dalamnya.

Seorang suami pulang ke rumah usai aktivitasnya di luar rumah, baik untuk mencari penghidupan ataupun untuk berdakwah. Ia masuk ke rumahnya, didapatinya rahah (lapang). Lelah dan kepenatannya serasa hilang saat bertemu dengan istri dan anak-anaknya. Ketenangan menyelimutinya.

Seorang istri merasa betah berdiam dalam rumahnya. Karena memang seperti titah Allah k kepada kaum hawa:

“Tetaplah kalian tinggal di rumah kalian.” (Al-Ahzab: 33)

Juga karena suasana dalam rumah turut mendukung timbulnya rasa betah tersebut.

Anak-anak pun merasa senang dalam rumah mereka walaupun rumahnya kecil dan sederhana.

Kerukunan dan kasih sayang senantiasa terjalin di antara anggotanya.

Gambaran seperti yang kita ungkapkan tentunya menjadi keinginan setiap insan. Lalu, apa rahasianya untuk mewujudkan baiti jannati tersebut? Di antara faktor yang sangat penting adalah menjauhkan rumah dari para setan. Kenapa demikian? Karena setan merupakan musuh anak Adam, sebagaimana firman Allah k:

“Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagi kalian maka jadikanlah dia sebagai musuh.” (Fathir: 6)

Yang namanya musuh tentu selalu berupaya mencari celah untuk mencelakakan orang yang dimusuhinya. Yang disebut musuh pasti ingin menghancurkan orang yang dimusuhinya. Salah satu target utama setan adalah merusak sebuah keluarga, menghancurkan ikatan di antara anggota-anggotanya.

Iblis, gembong para setan, demikian bergembira bila anak buahnya berhasil memisahkan seorang istri dari suaminya. Sebagaimana kabar dari Rasulullah n:

إِنَّ إِبلِيسَ يَضَعُ عَرْشَهُ عَلَى الْماَءِ ثُمَّ يَبْعَثُ سَرَايَاهُ فَأَدْنَاهُمْ مِنهُ مَنْزِلَةً أَعْظَمُهُمْ فِتْنَةً، يَجِيءُ أَحَدُهُم فَيَقُولُ: فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا. قَالَ: مَا صَنَعْتَ شَيْئًا. ثُمَّ يَجِيْءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُولُ: مَا تَرَكْتُهُ حَتَّى فَرَّقْتُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ. قَالَ: فَيُدْنِيهِ مِنْهُ وَيَقُولُ: نِعْمَ أَنْتَ

Sesungguhnya iblis meletakkan singgasananya di atas air lantas ia mengirim kan tentara-tentaranya. Maka yang paling dekat di antara mereka dengan iblis adalah yang paling besar fitnah yang ditimbulkannya. Datang salah seorang dari anak buah iblis menghadap iblis seraya berkata, “Aku telah melakukan ini dan itu.” Iblis menjawab, “Engkau belum melakukan apa-apa.” Lalu datang setan yang lain melaporkan, “Tidaklah aku meninggalkan dia (anak Adam yang diganggunya) hingga aku berhasil memisahkan dia dengan istrinya.” Maka iblis pun mendekatkan anak buahnya tersebut dengan dirinya dan memujinya, “Engkaulah yang terbaik.” (HR. Muslim no. 7037)

Al-Imam An-Nawawi t menerangkan bahwa iblis bermarkas di lautan, dan dari situlah ia mengirim tentara-tentaranya ke penjuru bumi. Iblis memuji anak buahnya yang berhasil memisahkan suami dengan istrinya, karena kagum dengan apa yang dilakukan si anak buah dan ia dapat mencapai puncak tujuan yang dikehendaki iblis. Iblis pun merangkulnya. (Al-Minhaj, 17/154-155)

Kata Al-Imam Al-Qadhi Iyadh t, hadits ini menunjukkan besarnya perkara firaq (perpisahan suami dengan istrinya) dan talak, serta besarnya kemadharatan dan fitnahnya. Selain itu juga menunjukkan besarnya dosa orang yang berupaya memisahkan suami dari istrinya. Karena dengan berbuat demikian berarti memutuskan hubungan yang Allah l perintahkan untuk disambung, menceraiberaikan rahmah dan mawaddah yang Allah l jadikan di dalamnya, serta merobohkan rumah yang dibangun dalam Islam. (Ikmalul Mu’lim bi Fawa’id Muslim, 8/349)

Iblis berikut bala tentaranya ini berambisi menghancurkan hubungan suami dengan istrinya. Sementara suami dan istri ini tentunya bernaung dalam sebuah rumah. Nah, tentunya setan tidak akan tenang bila tidak bisa masuk ke rumah tersebut. Bila setan telah berhasil mendiami sebuah rumah, niscaya ia akan menebarkan kerusakan di dalamnya, sehingga terjadilah perselisihan di antara anak-anak dan perpisahan antara suami dengan istrinya. Berubahlah mawaddah (kasih sayang) menjadi ‘adawah (permusuhan), rahmah menjadi azab.

Dengan penjelasan yang telah lewat, pahamlah kita kenapa kita harus membentengi rumah kita dari setan yang terkutuk.

Di antara perkara yang bisa kita lakukan untuk membentengi rumah kita adalah:

 

1. Meng-ucapkan salam ketika masuk rumah dan banyak berzikir, baik di rumah ada orang atau tidak.

Al-Imam An-Nawawi t berkata, “Disenangi seseorang mengucapkan bismillah dan banyak berzikir kepada Allah l serta mengucapkan salam, sama saja apakah dalam rumah itu ada manusia atau tidak, berdasarkan firman Allah l:

“Apabila kalian masuk ke rumah-rumah maka ucapkanlah salam (kepada penghuninya yang berarti memberi salam) kepada diri-diri kalian sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberkahi lagi baik.” (An-Nur: 61) [Al-Adzkar, hal. 25]

Ahli tafsir berbeda pendapat tentang rumah yang dimaukan dalam ayat di atas. Ada yang berpendapat masjid. Ada yang berpendapat rumah yang dihuni. Adapula yang berpendapat rumah yang tidak ada seseorang di dalamnya. Ada yang mengatakan rumah orang lain, dan ada pula yang berpendapat rumah sendiri. (Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, 12/209)

Ibnul ‘Arabi t menetapkan bahwa pendapat yang menyatakan rumah secara umum merupakan pendapat yang shahih, karena tidak ada dalil yang menunjukkan pengkhususan. Kalau rumah itu adalah rumah orang lain, maka ia ucapkan salam dan meminta izin kepada tuan rumah sebelum masuk ke dalamnya. Bila rumah itu kosong ia ucapkan, “As-salamu ‘alaina wa ‘ala ‘ibadillahish shalihin” (Semoga keselamatan untuk kami dan untuk para hamba Allah l yang shalih). Demikian kata Ibnu Umar c. Namun bila dalam rumah itu ada keluarganya, anak-anaknya dan pembantunya, ia ucapkan “Assalamu ‘alaikum.”

Namun kata Ibnul Arabi t, bila rumah itu kosong maka tidak diharuskan seseorang mengucapkan salam ketika hendak masuk. Adapun bila engkau masuk rumahmu sendiri disenangi bagimu untuk berzikir kepada Allah l dengan mengatakan: “Masya Allah la quwwata illa billah.” (Ahkamul Qur’an, 3/1408-1409)

Ketika memberikan penjelasan terhadap surah Al-Kahfi ayat 39, Ibnul Arabi t menyatakan disenanginya berzikir kepada Allah l bila salah seorang dari kita masuk rumah atau masjid dengan mengucapkan: “Masya Allah la quwwata illa billah.” Asyhab berkata, “Al-Imam Malik  t mengatakan, ‘Sepantasnya setiap orang yang masuk ke rumahnya mengucapkan zikir ini’.” (Ahkamul Qur’an, 3/1240)

Abu Umamah Al-Bahili z, seorang sahabat Rasulullah n membawakan hadits dari Rasulullah n:

ثَلاَثَةٌ كُلُّهُمْ ضَامِنٌ عَلَى اللهِ k: رَجُلٌ خَرَجَ غَازِيًا فِي سَبِيْلِ اللهِ k، فَهُوَ ضَامِنٌ عَلَى اللهِ حَتَّى يَتَوَّفَاهُ فَيُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ، أَوْ يَرُدَّهُ بِمَا نَالَ مِنْ أَجْرٍ وَغَنِيْمَةٍ؛ وَرَجُلٌ رَاحَ إِلَى الْمَسْجِدِ فَهُوَ ضَامِنٌ عَلَى اللهِ حَتَّى يَتَوَفَّاهُ فَيُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ، أَوْ يَرُدَّهُ بِمَا نَالَ مِنْ أَجْرٍ وَغَنِيْمَةٍ، وَرَجُلٌ دَخَلَ بَيْتَهُ بِسَلاَمٍ فَهُوَ ضَامِنٌ عَلَى اللهِ k

Ada tiga golongan yang mereka seluruhnya berada dalam jaminan Allah k: (Pertama) seseorang yang keluar berperang di jalan Allah k maka ia berada dalam jaminan Allah k hingga Allah k mewafatkannya lalu memasukkannya ke dalam surga, atau mengembalikannya (ke keluarganya) dengan pahala dan ghanimah yang diperolehnya. (Kedua) seseorang berangkat ke masjid maka ia berada dalam jaminan Allah k hingga Allah k mewafatkannya lalu memasukkannya ke dalam surga, atau mengembalikannya dengan pahala dan ghanimah yang diperolehnya. (Ketiga) seseorang masuk ke rumahnya dengan mengucapkan salam maka ia berada dalam jaminan Allah k.” (HR. Abu Dawud no. 2494)

Makna jaminan Allah l adalah berada dalam penjagaan Allah k. (Al-Adzkar, hal. 26)

 

2. Berzikir kepada Allah l ketika makan dan minum.

Jabir bin Abdillah c berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah n bersabda:

إِذَا دَخَلَ الرَّجُلُ بَيْتَهُ فَذَكَرَ اللهَ عِنْدَ دُخُوْلِهِ وَعِنْدَ طَعَامِهِ قَالَ الشَّيْطَانُ: لاَ مَبِيْتَ لَكُمْ وَلاَ عَشَاءَ. وَإِذَا دَخَلَ فَلَمْ يَذْكُرِ اللهَ عِنْدَ دُخُوْلِهِ قَالَ الشَّيْطَانُ: أَدْرَكْتُمُ الْمَبِيْتَ. وَإِذَا لَمْ يَذْكُرِ اللهَ عِنْدَ طَعَامِهِ قَالَ: أَدْرَكْتُمُ الْمَبِيْتَ وَالْعَشَاءَُ

Apabila seseorang masuk ke rumahnya lalu ia berzikir kepada Allah saat masuknya dan ketika hendak menyantap makanannya, berkatalah setan, “Tidak ada tempat bermalam bagi kalian dan tidak ada makan malam.” Bila ia masuk rumah dalam keadaan tidak berzikir kepada Allah ketika masuknya, berkatalah setan, “Kalian mendapatkan tempat bermalam.” Bila ia tidak berzikir kepada Allah ketika makannya, berkatalah setan, “Kalian mendapatkan tempat bermalam sekaligus makan malam.” (HR. Muslim no. 5230)

Berzikir kepada Allah l akan mengusir setan dari rumah kita sehingga setan tidak dapat menyertai kita saat makan dan tidur. Sementara, lalai dari zikrullah akan memberikan kesempatan emas bagi setan karena ia mendapati tempat menginap plus makan malamnya. Tentunya setan ini tidak sendirian. Bersamanya ada kawan-kawannya, gerombolan setan, karena setan mengucapkan ucapan demikian kepada teman-teman, pembantu-pembantu, dan sahabatnya. (Al-Minhaj, 11/191)

Sehingga mereka menyesakkan rumah dan bersenang-senang di dalamnya, na’udzu billah. Maka berhati-hatilah, jangan sampai kita lalai dari berzikir karena zikir merupakan hishnul muslim, benteng bagi seorang muslim.

 

3. Banyak membaca Al-Qur’an dalam rumah

Al-Qur’anul Karim akan mengharumkan rumah seorang muslim dan akan mengusir para setan. Abu Musa Al-Asy’ari z mengabarkan dari Nabi n:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِيْ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ مَثَلُ الْأَتْرُجَّةِ، رِيْحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا طَيِّبٌ. وَمَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي لاَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ مَثَلُ التَّمْرَةِ، لاَ رِيْحَ لَهَا وَطَعْمُهَا حُلْوٌ. وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِيْ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ مَثَلُ الرَّيْحَانَةِ، رِيْحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ. وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِيْ لاَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ الْحَنْظَلَةِ، لَيْسَ لَهَا رِيْحٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ

“Permisalan seorang mukmin yang membaca Al-Qur’an adalah seperti buah atrujah, baunya harum dan rasanya enak. Permisalan seorang mukmin yang tidak membaca Al-Qur’an seperti buah kurma, tidak ada baunya namun rasanya manis. Adapun orang munafik yang membaca Al-Qur’an permisalannya seperti buah raihanah, baunya wangi tapi rasanya pahit. Sementara orang munafik yang tidak membaca Al-Qur’an seperti buah hanzhalah, tidak ada baunya, rasanya pun pahit.” (HR. Al-Bukhari no. 5020 dan Muslim no. 1857)

Apa persangkaan anda bila seorang mukmin sering menghiasi rumahnya dengan membaca dan mentartilkan kalamullah? Tidak lain tentunya kebaikan.

Disamping itu, membaca Al-Qur’an di rumah dengan penuh kekhusyukan menjadikan para malaikat akan mendekat. Seperti kejadian yang pernah dialami seorang sahabat Rasulullah n yang bernama Usaid ibnu Hudhair z. Suatu malam Usaid tengah membaca Al-Qur’an di tempat pengeringan kurma miliknya. Tiba-tiba kudanya melompat. Ia membaca lagi, kudanya melompat lagi. Ia terus melanjutkan bacaannya dan kudanya juga melompat. Usaid berkata, “Aku pun khawatir bila sampai kuda itu menginjak Yahya (putra Usaid, pen.), hingga aku bangkit menuju kuda tersebut. Ternyata aku dapati di atas kepalaku ada semacam naungan. Di dalamnya seperti lentera-lentera yang terus naik ke udara sampai aku tidak melihatnya lagi (hilang dari pandanganku). Di pagi harinya aku menemui Rasulullah n.” Usaid kemudian menceritakan apa yang dialaminya, setelahnya Rasulullah n menjelaskan:

تِلْكَ الْمَلاَئِكَةُ كَانَتْ تَسْتَمِعُ لَكَ، وَلَوْ قَرَأْتَ لَأَصْبَحَتْ يَرَاهَا النَّاسُ، مَا تَسْتَتِرُ مِنْهُمْ

“Itu adalah para malaikat yang mendengarkan bacaanmu. Seandainya engkau terus membaca Al-Qur’an niscaya di pagi harinya manusia akan dapat melihat naungan tersebut, tidak tertutup dari mereka. “ (HR. Muslim no. 1856

Dalam riwayat Al-Bukhari (no. 5011) dari Al-Bara’ z, ia berkata, “Ada seorang lelaki membaca surah Al-Kahfi sementara di sisinya ada seekor kuda yang diikat dengan dua tali. Lalu orang tersebut diliputi oleh awan yang mendekat dan mendekat. Mulailah kudanya lari karena terkejut. Ketika di pagi harinya ia mendatangi Nabi n, lalu diceritakannya kejadian yang dialaminya maka Nabi n bersabda:

تِلْكَ السَّكِيْنَةُ تَنَزَّلَتْ بِالْقُرْآنِ

“Itu adalah as-sakinah yang turun dengan Al-Qur’an.”

Diperbincangkan oleh para ulama seperti apa as-sakinah tersebut. Namun pendapat yang terpilih, kata Al-Imam An-Nawawi t, as-sakinah adalah sesuatu dari makhluk-makhluk yang di dalamnya ada thuma’ninah (ketenangan), rahmah (kasih sayang), dan bersamanya ada para malaikat. (Fathul Bari, 9/73)

 

4. Membaca surah Al-Baqarah dalam rumah

Bila engkau merasa di rumahmu demikian banyak masalah, tampak banyak penyimpangan dan anggota-anggotanya saling berselisih, maka ketahuilah setan hadir di rumahmu, maka bersungguh-sungguhlah mengusirnya. Bagaimanakah cara mengusirnya? Rasulullah n memberikan jawabannya dengan sabda beliau:

إِنَّ لِكُلِّ شَيْءٍ سَنَامًا، وَسَنَامُ الْقُرْآنِ سُوْرَةُ الْبَقَرَةِ وَإِنَّ الشَّيْطَانَ إِذَا سَمِعَ سُوْرَةَ الْبَقَرَةِ تُقْرَأُ خَرَجَ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِي يُقْرُأُ فِيْهِ سُوْرَةُ الْبَقَرَةِ

“Sesungguhnya segala sesuatu ada puncaknya (punuknya) dan puncak dari Al-Qur’an adalah surah Al-Baqarah. Sungguh setan bila mendengar dibacakannya surah Al-Baqarah, ia akan keluar dari rumah yang di dalamnya dibacakan surat Al-Baqarah tersebut.” (HR. Al-Hakim, dihasankan Al-Albani t dalam Ash-Shahihah no. 588)

Abu Hurairah z mengabarkan dari Rasulullah n, beliau bersabda:

لاَ تَجْعَلُوْا بُيُوْتَكُمْ مَقَابِرَ، إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيْهِ سُوْرَةُ الْبَقَرَةِ

“Janganlah kalian menjadikan rumah-rumah kalian sebagai kuburan. Sesungguhnya setan akan lari dari rumah yang di dalamnya dibacakan surah Al-Baqarah.” (HR. Muslim no. 1821)

 

5. Banyak melakukan shalat nafilah/sunnah di rumah

Ibnu Umar c menyampaikan bahwa Nabi n bersabda:

اجْعَلُوْا مِنْ صَلاَتِكُمْ فِي بُيُوْتِكُمْ وَلاَ تَتَّخِذُوْهَا قُبُوْرًا

“Jadikanlah bagian dari shalat kalian di rumah-rumah kalian, dan jangan kalian jadikan rumah kalian seperti kuburan.” (HR. Al-Bukhari no. 432 dan Muslim no. 1817)

Dalam syariat disebutkan pelarangan shalat di kuburan. Karenanya, Rasulullah n melarang kita menjadikan rumah kita seperti kuburan, dengan tidak pernah dilakukan ibadah di dalamnya. Beliau menghasung kita agar memberi bagian shalat sunnah untuk dikerjakan di dalam rumah.

Al-Imam An-Nawawi t berkata, “Rasulullah n memberikan hasungan untuk mengerjakan shalat nafilah (sunnah) di rumah, karena hal itu lebih ringan dan lebih jauh dari riya, lebih menjaga dari perkara yang dapat membatalkannya. Juga dengan mengerjakan shalat nafilah di rumah akan memberi keberkahan bagi rumah tersebut. Akan turun rahmah di dalamnya, demikian pula para malaikat. Sementara setan akan lari dari rumah tersebut.” (Al-Minhaj, 6/309)

Dalam hadits yang lain Rasulullah n memerintahkan:

فَعَلَيْكُمْ بِالصَّلاَةِ فِي بُيُوْتِكُمْ فَإِنَّ خَيْرَ صَلاَةِ الْمَرْءِ فِي بَيْتِهِ إِلاَّ الصَّلاَةَ الْمَكْتُوْبَةَ

“Seharusnya bagi kalian untuk mengerjakan shalat di rumah-rumah kalian karena sebaik-baik shalat seseorang adalah di rumahnya terkecuali shalat wajib.” (HR. Al-Bukhari no. 731 dan Muslim no. 1822 )

Abu Musa Al-Asy’ari z menyampaikan sabda Rasulullah n:

مَثَلُ الْبَيْتِ الَّذِي يُذْكَرُ اللهُ فِيْهِ وَالْبَيْتِ الَّذِيْ لاَ يُذْكَرُ اللهُ فِيْهِ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ

“Permisalan rumah yang disebut nama Allah di dalamnya dan rumah yang tidak disebut nama Allah di dalamnya seperti permisalan orang yang hidup dan orang yang mati.” (HR. Muslim no. 1820)

(insya Allah bersambung)

Bisakah Kirim Pahala

Pertanyaan dari orang Sudan yang tinggal di Kuwait, ia mengatakan: “Apa hukumnya membaca Al-Fatihah untuk dihadiahkan kepada mayit, juga menyembelih hewan untuknya, demikian pula memberikan uang untuk keluarga mayit?”

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz t menjawab:

Mendekatkan diri kepada mayit dengan sembelihan, uang, nadzar, dan ibadah-ibadah lainnya, semacam meminta kesembuhan darinya, pertolongan, atau bantuan, ini merupakan syirik akbar (menyekutukan Allah l). Tidak boleh bagi seorang pun untuk melakukannya, karena syirik adalah dosa dan kejahatan terbesar. Berdasarkan firman Allah l:

“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (An-Nisa: 116)

“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya jannah (surga), dan tempatnya ialah neraka. Tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun.” (Al-Maidah: 72)

“Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” (Al-An’am: 88)

Dan banyak ayat yang semakna dengannya. Maka yang wajib dilakukan adalah mengikhlaskan/meniatkan ibadah hanya kepada Allah l satu-satunya, baik itu berupa sembelihan, nadzar, doa, shalat, puasa, atau ibadah-ibadah selainnya. Di antara syirik juga adalah mendekatkan diri kepada para penghuni kuburan dengan nadzar atau makanan (sesajen), berdasarkan ayat-ayat yang lalu. Juga berdasarkan firman Allah l:

Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya. Dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).” (Al-An’am: 162-163)

Adapun menghadiahkan Al-Fatihah atau selainnya dari Al-Qur’an kepada mayit, hal itu tidak ada dalilnya (landasan hukumnya dari Al-Qur’an atau Hadits). Maka yang wajib dilakukan adalah meninggalkan hal tersebut. Karena tidak pernah dinukilkan dari Nabi n atau para sahabatnya, sesuatu yang menunjukkan bolehnya hal tersebut. Yang disyariatkan adalah mendoakan untuk mayit dan menshadaqahkan untuk mereka dengan cara berbuat baik kepada para fakir miskin. Dengan itu, seorang hamba mendekatkan kepada Allah l dan memohon kepada-Nya agar pahalanya dijadikan untuk ayah atau ibunya, atau orang yang mati atau masih hidup selain keduanya. Hal ini berdasarkan sabda Nabi n:

إذا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Bila anak Adam meninggal maka amalnya terputus kecuali dari tiga hal: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya.”

Telah shahih bahwa seseorang berkata:

يَا رَسُوْلَ اللهِ، إِنَّ أُمِّي مَاتَتْ وَلَمْ ْتُوْصِ وَأَظُنُّهَا لَوْ تَكَلَّمَتْ لَتَصَدَّقَتْ، أَفَلَهَا أَجْرٌ إِنْ تَصَدَّقْتُ عَنْهَا؟ قَالَ: نَعَمْ.

“Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku meninggal dan belum sempat berwasiat, dan aku kira kalau dia sempat bicara ia akan bersedekah, apakah dia dapat pahala jika aku bersedekah atas namanya?” Beliau menjawab: “Ya.” (Muttafaqun ‘alaih)

Demikian pula halnya menghajikan mayit serta mengumrahkannya juga membayarkan utangnya. Semuanya itu bisa memberi manfaat bagi mayit sesuai dengan keterangan yang datang dalam dalil-dalil syariat.

Adapun jika yang dimaksud penanya dengan pertanyaannya adalah untuk berbuat baik kepada keluarga mayit serta bersedekah dengan uang dan sembelihan, maka itu boleh bila mereka itu orang-orang fakir. Yang utama adalah tetangga dan kerabat membuatkan makanan di rumah mereka masing-masing lalu menghadiahkannya kepada keluarga mayit. Karena telah shahih dari Nabi n bahwa ketika sampai kepada Nabi n berita kematian Ja’far bin Abi Thalib z dalam peperangan Mu’tah, beliau n memerintahkan kerabatnya untuk membuatkan makanan untuk keluarga Ja’far dan beliau mengatakan: “Karena telah datang kepada mereka perkara yang menyibukkan mereka.”

Adapun bila keluarga mayit yang membuat makanan untuk orang-orang  (masyarakat) karena kematian (semacam peringatan tujuh hari, red.) maka itu tidak boleh. Hal itu termasuk amalan jahiliah, baik itu pada hari kematian, hari keempatnya atau kesepuluh atau setelah genap setahun. Semua itu tidak boleh. Ini berdasarkan riwayat yang shahih dari sahabat Jarir bin Abdillah Al-Bajali z, salah seorang sahabat Nabi n, bahwa beliau berkata:

كُنَّا نَعُدُّ الْاِجْتِمَاعَ إِلَى أَهْلِ الْمَيِّتِ وَصَنِيْعَهُ الطَّعَامَ بَعْدَ دَفْنِهِ مِنَ النِّيَاحَةِ

“Kami menganggap bahwa berkumpul-kumpul ke keluarga mayit dan membuat makanan setelah pemakaman adalah termasuk niyahah1(meratapi mayit).”

Adapun jika ada tamu mendatangi keluarga mayit pada hari-hari berkabung (saat takziyah) maka tidak mengapa keluarga mayit membuat makanan untuk mereka sebagai suguhan untuk tamu. Sebagaimana tidak mengapa bagi keluarga mayit untuk mengundang siapa yang mereka kehendaki dari tetangga atau kerabat untuk makan bersama mereka dari makanan yang dihadiahkan kepada mereka. Allah l lah yang memberi taufiq.

Bolehkah bagi saya untuk mengkhatamkan Al-Qur’an dan saya hadiahkan untuk ayah ibu saya, untuk diketahui bahwa keduanya ummi (tidak bisa baca tulis). Dan bolehkah saya khatamkan Al-Qur’an untuk saya hadiahkan kepada orang yang bisa baca tulis tapi saya (memang) bermaksud menghadiahkannya kepadanya? Juga apakah boleh bagi saya untuk mengkhatamkan Al-Qur’an untuk saya hadiahkan kepada lebih dari satu orang?

Jawab:

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz t menjawab:

Tidak terdapat dalam Al-Qur’an yang mulia ataupun dalam hadits yang suci dari Nabi n, tidak pula dari para sahabatnya yang mulia, sesuatu yang menunjukkan disyariatkannya menghadiahkan bacaan Al-Qur’an Al-Karim untuk kedua orangtua atau untuk yang lain. Allah l mensyariatkan membaca Al-Qur’an untuk diambil manfaat darinya, diambil faedah darinya serta untuk dipahami maknanya lalu diamalkan. Allah l berfirman:

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memerhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang berakal.” (Shad: 29)

“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus.” (Al-Isra’: 9)

Katakanlah: “Al-Qur’an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang mukmin.” (Fushshilat: 44)

Nabi n bersabda:

اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِيْ شَفِيْعًا لِأَصْحَابِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Bacalah Al-Qur’an karena sesungguhnya (amalan baca) Al-Qur’an itu nanti akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi para pembacanya.” (Shahih, HR. Muslim no. 804)

Beliau n juga bersabda (maknanya): “Bahwa nanti akan didatangkan (amalan baca) Al-Qur’an pada hari kiamat dan para ahli Al-Qur’an yang mengamalkannya, akan datang kepadanya surat Al-Baqarah, Ali Imran, keduanya akan membela para pembacanya.” (Shahih, HR. Muslim no. 804 dengan makna itu)

Jadi tujuan diturunkannya Al-Qur’an adalah untuk diamalkan, dipahami, dan dipakai untuk ibadah dengan membacanya, serta memperbanyak membacanya. Bukan untuk menghadiahkannya kepada orang-orang yang telah wafat atau yang lain. Aku tidak mengetahui ada dasar yang bisa dijadikan sandaran dalam hal menghadiahkan bacaan Al-Qur’an untuk kedua orangtua atau yang selain mereka. Padahal Nabi n bersabda:

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa yang mengamalkan suatu amalan yang bukan atas dasar ajaran kami maka itu tertolak.” (Shahih, HR. Muslim)

Sebagian ulama membolehkan hal itu dan mengatakan: “Tidak mengapa menghadiahkan pahala Al-Qur’an dan amalan shalih yang lain.”

Mereka mengkiaskan (menganalogikan) nya dengan shadaqah dan doa untuk mayit. Akan tetapi yang benar adalah pendapat yang pertama (tidak boleh), berdasarkan hadits yang telah disebutkan dan yang semakna dengannya. Seandainya menghadiahkan bacaan itu sesuatu yang disyariatkan, tentu akan dilakukan oleh as-salafush shalih (pendahulu kita yang baik). Juga, dalam hal ibadah tidak boleh digunakan qiyas (kias/analogi), karena ibadah itu berhenti pada tuntunan Nabi n. Tidak boleh ditetapkan kecuali dengan nash dari kalamullah atau hadits Nabi n, berdasarkan hadits yang lalu dan yang semakna dengannya.

Adapun menyedekahkan untuk orang yang sudah mati dan yang lain, demikian pula mendoakan mereka, menghajikan orang lain oleh yang sudah haji untuk dirinya sendiri, juga mengumrahkan oleh yang sudah umrah untuk dirinya sendiri, juga membayarkan utang puasa bagi yang telah wafat dan punya utang, maka semua ibadah ini (boleh), telah shahih hadits-hadits dari Rasulullah n… Allah l lah yang memberikan taufiq. (Majmu’ Fatawa Wa Maqalat Al-Mutanawwi’ah)

 

Pendapat Al-Imam Syafi’i t

Apa yang dipaparkan di atas juga merupakan pendapat Al-Imam Asy-Syafi’i t, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Katsir t sebagai salah seorang ulama bermadzhab Syafi’i dalam tafsirnya. Beliau katakan, firman-Nya:

“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” (An-Najm: 39)

Yakni, sebagaimana tidak dibebankan padanya dosa orang lain, demikian pula ia tidak mendapatkan ganjaran kecuali dari apa yang dia usahakan sendiri.

Dari ayat ini, Al-Imam Asy-Syafi’i t dan yang mengikuti beliau mengambil kesimpulan, bahwa menghadiahkan pahala bacaan Al-Qur’an tidak sampai kepada mayit. Karena dia bukan dari amalan mayit dan usahanya. Oleh karenanya, Nabi n tidak menganjurkan dan memotivasi umatnya untuk itu. Tidak pula membimbing ke arah tersebut, baik dengan nash (teks) yang jelas atau dengan isyarat. Tidak pula dinukilkan hal itu dari seorang pun dari kalangan sahabat. Seandainya memang baik, tentu mereka akan mendahului kita dalam hal itu. Sedangkan dalam perkara ibadah, kita harus membatasinya pada nash (ayat dan hadits), tidak boleh diberlakukan padanya berbagai macam analogi (qiyas) dan pendapat akal.

Adapun shadaqah dan doa, hal ini telah disepakati bahwa bisa sampai. Dan telah disebutkan (bolehnya) oleh yang menetapkan syariat.

Adapun hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah z, ia berkata, Rasulullah n bersabda:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلَاثَةٍ؛ إِلَّا مِنْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ، أَوْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ

“Bila anak Adam meninggal maka amalnya terputus kecuali dari tiga hal, anak shalih yang mendoakannya, shadaqah jariyah, dan ilmu yang bermanfaat.”

Tiga perkara ini pada hakikatnya adalah bagian dari usahanya, jerih payah dan amalnya. Sebagaimana terdapat dalam hadits:

إِنَّ أَطْيَبَ مَا أَكَلَ الرَّجُلُ مِنْ كَسْبِهِ، وَإِنَّ وَلَدَهُ مِن كَسْبِهِ

“Di antara yang terbaik dari apa yang dimakan oleh seseorang adalah dari hasil usahanya dan sungguh anaknya adalah termasuk dari usahanya.”

Shadaqah jariyah juga seperti wakaf dan sejenisnya, termasuk bagian dari amalnya. Allah l berfirman:

“Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan.” (Yasin: 12)

Juga ilmu yang dia sebarkan di tengah manusia sehingga orang-orang mengikutinya setelah dia meninggal, itu juga termasuk dari usahanya. Dalam sebuah hadits di kitab shahih disebutkan:

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا

“Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk maka dia akan mendapat pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun.” (Tafsir Ibnu Katsir, surat An-Najm: 39)


1 HR. Ahmad dan Ibnu Majah, lafadz di atas adalah lafadz Ahmad. Niyahah atau meratapi mayit, telah dilarang oleh Rasulullah n dengan larangan keras dan termasuk dosa besar, karena pelakunya telah diancam dengan ancaman keras sebagaimana dalam hadits:
النَّائِحَةُ إِذَا لَمْ تَتُبْ قَبْلَ مَوْتِهَا تُقَامُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَعَلَيْهَا سِرْبَالٌ مِنْ قَطِرَانٍ وَدِرْعٌ مِنْ جَرَبٍ
“Seorang wanita yang niyahah (meratapi mayit) bila tidak bertaubat sebelum matinya maka akan dibangkitkan pada hari kiamat dalam keadaan memakai pakaian yang menutupi tubuhnya dari tembaga yang meleleh dan kulitnya terkena penyakit kudis (secara merata).” (Shahih, HR. Muslim)

Sifat Shalat Nabi (1)

Alhamdulillah pada edisi ini dan selanjutnya, insya Allah kita akan melihat beberapa penjelasan berkenaan dengan sifat shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagian besar pembahasan di sini sengaja penulis nukil dari kitab yang mubarak, Shifat Shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan “Asal-nya” (Ashlu Shifati Shalatin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), yang ditulis oleh Asy-Syaikh yang mulia, Muhammad ibnu Nuh, Nashiruddin Al-Albani rahimahullah.

Karena kitab yang beliau susun tersebut merupakan karya yang paling lengkap memuat sifat shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam babnya, sebagaimana hal ini dikatakan oleh guru besar kami, Syaikh yang mulia, Muqbil ibnu Hadi Al-Wadi’i rahimahullah. Disamping itu, penulis juga berupaya menukil dan menambahkan dari beberapa referensi lainnya sebagai tambahan faedah berkenaan dengan pembahasan ini. ‘Tak ada gading yang tak retak’, mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua. Wallahul muwaffiq ilash shawab.

  1. Niat

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Hanyalah amal itu dengan niat dan setiap orang hanyalah beroleh apa yang ia niatkan.” (HR. Al-Bukhari no. 54 dan Muslim no. 4904)

Al-Imam An-Nawawi Asy-Syafi’i rahimahullah berkata: “Niat adalah maksud. Maka orang yang hendak shalat menghadirkan dalam benaknya shalat yang hendak dikerjakan dan sifat shalat yang wajib ditunaikannya, seperti shalat zhuhur sebagai shalat fardhu dan selainnya, kemudian ia menggandengkan maksud tersebut dengan awal takbir.” (Raudhatuth Thalibin, 1/243-244)

Sudah berulang kali disebutkan bahwa niat tidak boleh dilafadzkan. Sehingga seseorang tidak boleh menyatakan sebelum shalatnya, “Nawaitu an ushalliya lillahi ta’ala kadza raka’atin mustaqbilal qiblah…” (Aku berniat mengerjakan shalat karena Allah subhanahu wa ta’ala sebanyak sekian rakaat dalam keadaan menghadap kiblat…).

Melafadzkan niat tidak ada asalnya dalam As-Sunnah. Tidak ada seorang pun sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang membolehkan melafadzkan niat. Tidak ada pula seorang tabi’in pun yang menganggapnya baik. Demikian pula para imam yang empat. Sementara kita maklumi bahwa yang namanya kebaikan adalah mengikuti bimbingan As-Salafush Shalih.

Ada kesalahpahaman dari sebagian pengikut Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah terhadap ucapan beliau, dalam masalah haji, “Apabila seseorang berihram dan telah berniat dengan hatinya, maka ia tidak diharuskan menyebut niat itu dengan lisannya. Haji itu tidak seperti shalat, di mana tidak shahih penunaiannya terkecuali dengan nathq (pelafadzan dengan lisan).”

Maka hal ini dijelaskan oleh Al-Imam Ar-Rafi’i Asy-Syafi’i rahimahullah dalam kitab Al-’Aziz Syarhul Wajiz yang dikenal dengan nama Syarhul Kabir (1/470): “Jumhur ulama kalangan Syafi’iyyah berkata: ‘Al-Imam Asy-Syafi’i –semoga Allah subhanahu wa ta’ala meridhainya– tidaklah memaksudkan dengan ucapannya tersebut adanya pelafadzan niat dengan lisan (tatkala hendak mengerjakan shalat). Yang beliau maksudkan adalah takbir (yaitu takbiratul ihram,-pen.), karena dengan takbir tersebut sahlah shalat yang dikerjakan. Sementara dalam haji, seseorang menjadi muhrim walaupun tanpa ada pelafadzan.”

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Bila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri untuk shalat, beliau langsung mengucapkan takbiratul ihram dan tidak mengucapkan apa pun sebelumnya, juga tidak melafadzkan niat sama sekali. Beliau juga tidak mengatakan, ‘Aku tunaikan untuk Allah subhanahu wa ta’ala shalat ini dengan menghadap kiblat empat rakaat sebagai imam atau makmum’. Demikian pula ucapan ada’an atau qadha’an ataupun fardhal waqti.

Melafadzkan niat ini termasuk perbuatan yang diada-adakan dalam agama (bid’ah). Tidak ada seorang pun yang menukilkan hal tersebut dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik dengan sanad yang shahih, dhaif, musnad (bersambung sanadnya), ataupun mursal (tidak bersambung). Bahkan tidak ada nukilan dari para sahabat, demikian pula tabi’in maupun imam yang empat, tak seorang pun dari mereka yang menganggap baik hal ini.

Hanya saja sebagian mutaakhirin (orang-orang belakangan) keliru memahami ucapan Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah–semoga Allah subhanahu wa ta’ala meridhainya–tentang shalat. Al-Imam Asy-Syafi’i berkata, “Shalat itu tidak seperti zakat. Tidak boleh seorang pun memasuki shalat ini kecuali dengan zikir.”

Mereka menyangka bahwa zikir yang dimaksud adalah ucapan niat seseorang yang hendak shalat. Padahal yang dimaksudkan Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah dengan zikir ini tidak lain adalah takbiratul ihram. Bagaimana mungkin Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah menyukai perkara yang tidak dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam satu shalat pun, begitu pula para khalifah beliau dan para sahabat yang lain? Inilah petunjuk dan jalan hidup mereka. Kalau ada seseorang yang bisa menunjukkan kepada kita satu huruf saja dari mereka tentang perkara ini, maka kita akan menerimanya dan menyambutnya dengan penuh ketundukan dan penerimaan. Karena, tidak ada petunjuk yang lebih sempurna daripada petunjuk mereka dan tidak ada sunnah kecuali yang diambil dari sang pembawa syariat shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Zaadul Ma’ad, 1/201)

  1. Takbiratul ihram

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membuka shalat beliau dengan mengucapkan: Allahu Akbar, sebagaimana ditunjukkan dalam hadits Aisyah radhiallahu ‘anha berikut ini:

“Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membuka shalat beliau dengan takbir dan membaca Alhamdulillahi Rabbil Alamin. Apabila ruku’, beliau tidak mengangkat kepalanya dan tidak pula menundukkannya, akan tetapi di antara keduanya. Apabila bangkit dari ruku’, beliau tidak sujud sampai beliau berdiri lurus. Dan ketika mengangkat kepalanya dari sujud, beliau tidak sujud kembali hingga beliau tegak duduknya. Pada setiap dua rakaat beliau membaca tahiyat. Beliau membentangkan kakinya yang kiri dan menegakkan (telapak) kakinya yang kanan. Beliau melarang duduk seperti duduknya setan, dan melarang seseorang membentangkan kedua lengan bawahnya seperti binatang buas membentangkannya (yakni meletakkan lengan di lantai ketika sujud). Dan beliau menutup shalat dengan salam.” (HR. Muslim no. 1110)

Hadits ini memiliki jalan lain, diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dari Yusuf bin Ya’qub, ia berkata: Abu Ar-Rabi’ telah menceritakan kepada kami, ia berkata: Hammad telah menceritakan kepada kami, ia berkata: Budail telah menceritakan kepada kami, dari Abdullah ibnu Syaqiq, dari Aisyah radhiallahu ‘anha:

“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membuka shalat beliau dengan takbir dan membaca Alhamdulillahi rabbil ‘alamin.”

Hadits lain yang menunjukkan amalan ini adalah hadits Abu Humaid As-Sa’idi radhiallahu ‘anhu, ia berkata:

“Bila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bangkit untuk mengerjakan shalat, beliau menghadap kiblat dan mengangkat kedua tangannya dan berkata: ‘Allahu Akbar’.” (HR. Ibnu Majah no. 803 dan dishahihkan dalam Shahih Sunan Ibnu Majah)

Takbiratul ihram ini merupakan salah satu rukun shalat menurut pendapat jumhur[1]. Adapun Hanafiyyah berpandangan takbir ini merupakan syarat, demikian pula satu sisi dari pendapat Syafi’iyyah. Sementara Az-Zuhri bersendirian dalam memandang sunnahnya, sebagaimana dinukilkan oleh Al-Imam Ibnul Mundzir. (Al-Isyraf ‘ala Madzahibil ‘Ulama 2/7, Fathul Bari 2/282)

Namun yang rajih adalah pendapat jumhur ulama, sebagaimana telah disebutkan sebagian nashnya. Dengan demikian, tidak sah shalat bila takbir ini sampai terluputkan/ditinggalkan. Karena itulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada seseorang yang salah shalatnya untuk melakukan takbir ini.

Hadits yang kami maksudkan adalah hadits yang masyhur dengan sebutan hadits al-musi’ shalatuhu, dari hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, disebutkan bahwa ada seseorang yang bernama Khallad ibnu Rafi’radhiallahu ‘anhu, masuk masjid untuk mengerjakan shalat, sementara Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di salah satu sudut masjid. Seselesainya dari shalat, Khallad ini mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya mengucapkan salam. Beliau pun menjawab salamnya lalu bersabda kepadanya:

“Kembalilah lalu shalatlah, karena sesungguhnya engkau belum shalat.” Orang itu pun kembali lalu mengerjakan shalat sebagaimana shalatnya yang sebelumnya. Setelahnya ia datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu mengucapkan salam, maka beliau menjawab, “Wa ‘alaikas salam.” Kemudian beliau melanjutkan, “Kembalilah lalu shalatlah, karena sesungguhnya engkau belum shalat.” Demikian Rasulullah memerintahkan sampai orang itu mengulangi shalatnya sebanyak tiga kali. Pada akhirnya orang itu berkata, “Demi Dzat yang mengutusmu dengan al-haq, aku tidak bisa mengerjakan shalat lebih bagus daripada apa yang telah kukerjakan. Kalau begitu ajari aku (bagaimana shalat yang benar).” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian memberi bimbingan, “Bila engkau hendak berdiri untuk shalat, maka bertakbirlah. Setelahnya, bacalah apa yang mudah bagimu dari Al-Qur’an. Kemudian ruku’lah hingga engkau thuma’ninah dalam keadaan ruku’. Lalu angkat kepalamu hingga engkau berdiri lurus. Setelahnya sujudlah hingga engkau thuma’ninah dalam keadaan sujud. Setelah itu angkatlah kepalamu hingga engkau lurus dan thuma’ninah dalam keadaan duduk. Kemudian lakukanlah apa yang telah disebutkan tadi dalam shalatmu seluruhnya.” (HR. Al-Bukhari no. 757 dan Muslim no. 883)

Perhatian

Semua amalan shalat yang disebutkan dalam hadits al-musi’ shalatuhu (hadits di atas) ini merupakan rukun, tidak sah shalat tanpanya. (Asy-Syarhul Mumti’, 3/19)

Faedah

Bagi makmum yang shalat di belakang imam dan orang yang shalat sendiri (munfarid) hendaklah memerhatikan bahwa takbir ini diucapkan dengan lisan, dengan menggerakkannya, sehingga tidak cukup bila hanya diucapkan dalam hati. Namun, bilamana seseorang itu bisu, tidak bisa berbicara, maka ia meniatkan takbir dalam hatinya tanpa perlu menggerakkan bibir dan lisannya, karena hal itu perbuatan sia-sia dan melakukan gerakan tanpa hajat. Toh dengan kebisuannya, suaranya tidak akan keluar.

Ketika bertakbir ini tidak diharuskan seseorang mengeluarkan suara yang dapat didengar oleh kedua telinganya[2], walaupun dalam masalah ini ada khilaf. Namun yang rajih adalah sebagaimana yang kami sebutkan. Karena mengharuskan suara takbir itu terdengar oleh telinga pengucapnya merupakan amrun zaid (perkara yang lebih) dari ucapan dan lafadz. Sementara, apa yang lebih dari keterangan As-Sunnah harus ada dalilnya. (Asy-Syarhul Mumti’, 3/19-21)

Dengan diucapkannya takbiratul ihram berarti haram seseorang melakukan pekerjaan selain amalan shalat, berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Kunci shalat adalah bersuci/wudhu, pengharamannya adalah takbir dan penghalalannya adalah salam.” (HR. Abu Dawud no. 61, 618, At-Tirmidzi no. 3, 238 dan selainnya. Kata Al-Imam Al-Albani rahimahullah dalam Shahih Sunan Abu Dawud: “Hasan shahih.”)

Dalam hadits ini ada dalil bahwa shalat hanya bisa dibuka dengan takbir Allahu akbar, tidak sah dengan zikir-zikir yang lain. Hal ini merupakan pendapat jumhur. Adapun pendapat Abu Hanifah “Shalat bisa dibuka dengan setiap lafadz yang menunjukkan pengagungan (kepada Allah subhanahu wa ta’ala),” adalah pendapat yang marjuh (lemah). (Al-Isyraf ‘ala Madzahibil ‘Ulama’ 2/7, Nailul Authar 2/6)

Mengeraskan suara ketika bertakbir

Ketika bertakbir, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengeraskan suaranya hingga dapat didengar oleh orang di belakang beliau, sebagaimana ditunjukkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Hakim (1/223), Ahmad (3/18), dan lainnya, dari Fulaih ibnu Sulaiman, dari Sa’id ibnul Harits, ia berkata, “Suatu ketika Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu yang biasa mengimami orang-orang jatuh sakit atau sedang pergi, maka Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu pun menggantikan posisi imam. Beliau mengeraskan suara ketika bertakbiratul ihram, demikian pula ketika hendak ruku’, ketika mengatakan sami’allahu liman hamidah, ketika mengangkat kepalanya dari sujud, ketika hendak sujud, ketika mengangkat kepala dan ketika bangkit dari dua rakaat, sampai akhirnya beliau menyelesaikan shalat. Ternyata ada yang menyampaikan kepada beliau bahwa orang-orang berselisih dalam perkara shalat beliau tadi. Abu Sa’id pun naik mimbar dan berkata, “Wahai manusia! Demi Allah, aku tidak peduli apakah shalat kalian berbeda ataupun tidak dengan shalatku. Yang penting demikianlah aku dulunya melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat.” (Al-Hakim menshahihkannya menurut syarat Al-Bukhari dan Muslim, serta disepakati oleh Adz-Dzahabi rahimahullah)

Al-Imam Al-Albani rahimahullah berkata: “Hadits ini menunjukkan disenangi bagi imam untuk mengeraskan suaranya saat bertakbir agar makmum tahu perpindahan gerakan imam. Bila si imam suaranya lemah (tidak bisa keras) karena sakit atau alasan lainnya, maka sunnah bagi muadzdzin atau selainnya dari kalangan makmum untuk menjahrkan/mengeraskannya dalam kadar yang dapat didengar oleh manusia. Sebagaimana hal ini pernah dilakukan Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengimami manusia dalam keadaan suara beliau lemah karena sakit[3]

Adapun menyampaikan takbir imam yang dilakukan makmum tanpa ada kebutuhan, sebagaimana biasa dilakukan oleh kebanyakan orang di zaman kita ini dalam bulan Ramadhan, sampaipun di masjid yang kecil, tidaklah disyariatkan menurut kesepakatan ulama, sebagaimana dihikayatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam Al-Fatawa (1/69-70 dan 107). Dulunya, Bilal radhiallahu ‘anhu ataupun selainnya tidak pernah meneruskan takbir Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para makmum di belakang beliau. Begitu pula di masa Al-Khulafa’ Ar-Rasyidun, tidak ada yang menyampaikan takbir mereka di belakang mereka. Karena itulah mayoritas ulama terang-terangan menyatakannya makruh. Bahkan ada yang mengatakan batal shalat pelakunya tersebut. Ini ada dalam madzhab Malik, Ahmad, dan selain keduanya…

Syaikhul Islam rahimahullah berkata: ‘Tidaklah diragukan bahwa tabligh (menyampaikan takbir imam kepada makmum) tanpa ada kebutuhan merupakan bid’ah. Siapa yang meyakininya sebagai amalan qurbah secara mutlak maka tidak diragukan dia adalah imam yang jahil, atau memang ia seorang yang menentang dan bersengaja dengan penyelisihannya. Karena permasalahan ini telah dinyatakan oleh para ulama dari berbagai madzhab dalam kitab-kitab mereka, sampaipun dalam kitab-kitab yang ringkas. Mereka semua menyatakan, ‘Tidak boleh ada satu pun takbir yang dikeraskan di dalam shalat, terkecuali bila ia seorang imam. Siapa yang terus-menerus meyakini perbuatan seperti ini merupakan qurbah maka ia diberi hukuman karena menyelisihi ijma’.’ Wallahu a’lam.” (Al-Ashl, 1/187-188)

Takbir dalam setiap gerakan

Hadits Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu di atas juga menunjukkan disyariatkannya takbir dalam setiap gerakan turun dan bangkit dalam shalat. Ini merupakan pendapat keumuman fuqaha dan para ulama. Al-Imam At-Tirmidzi rahimahullah dalam Sunan-nya (1/160) menyatakan bahwa bertakbir ketika ruku’ dan sujud diamalkan oleh para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, di antaranya Abu Bakr, Umar, ‘Utsman, ‘Ali, dan selain mereka g, serta orang-orang setelah mereka dari kalangan tabi’in rahimahumullah. Dan inilah yang dipegangi oleh keumuman fuqaha dan ulama.

Pendapat ini dikuatkan pula dengan hadits yang lainnya, di antaranya hadits Imran bin Hushain radhiallahu ‘anhu yang menyebutkan bahwa ia pernah shalat bersama Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu di Bashrah, ia berkata, “Orang ini mengingatkan kami dengan shalat yang dulunya kami kerjakan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Imran menyebutkan bahwa dalam shalatnya itu, Ali bertakbir setiap kalian mengangkat tubuhnya (naik) dan setiap kali meletakkannya (turun). (HR. Al-Bukhari no. 784 dan selainnya)

 Faedah

Ulama berbeda pendapat tentang hukum takbir selain takbiratul ihram. Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah berkata: “Jumhur berpendapat sunnah. Sedang Al-Imam Ahmad rahimahullah dan sebagian ahlu zhahir menyatakan wajibnya seluruh takbir.” (Fathul Bari, 2/349)

Hujjah mereka yang menghukumi wajib adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.” (HR. Al-Bukhari no. 628, 7246 dan Muslim no. 1533)

Samahatusy Syaikh Al-Imam Abdul Aziz ibnu Abdillah ibnu Baz rahimahullah dalam ta’liq beliau terhadap kitab Fathul Bari berkata: “Inilah pendapat yang lebih zhahir dari sisi dalil. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjaga amalan ini (terus melakukannya) serta memerintahkan umatnya untuk mengerjakannya, sementara asal perintah adalah wajib. Sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: ‘Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.’

Adapun riwayat dari Utsman dan Mu’awiyah radhiallahu ‘anhuma, yang menyebutkan bahwa keduanya tidak menyempurnakan takbir maka dibawa kepada pemahaman bahwa keduanya tidak mengeraskan takbir, bukan keduanya meninggalkan takbir. Riwayat tersebut harus dipahami seperti ini, dalam rangka berbaik sangka kepada keduanya. Kalaupun mau diterima keduanya meninggalkan takbir, maka hujjah lebih dikedepankan daripada pendapat keduanya. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala merahmati keduanya dan seluruh sahabat. Wallahu a’lam.”

(insya Allah bersambung)

Ditulis oleh  Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Al-Atsari

 

[1] Rukun adalah suatu amalan yang bila ditinggalkan sengaja ataupun tidak maka ibadah itu tidak sah. Untuk ibadah shalat, amalan itu tidak bisa diganti dengan sekadar sujud sahwi tapi harus ditunaikan sesuai aturan yang ada.

[2] Suara tersebut tidak terdengar bisa jadi karena ada suara-suara bising di sekitar tempat tersebut, atau karena lemahnya pendengaran, atau alasan lainnya.

[3] Dalam hadits Jabir radhiallahu ‘anhu, ia menyebutkan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan sakit saat kami shalat di belakang beliau, dan beliau shalat dalam keadaan duduk. Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu pun memperdengarkan kepada manusia takbir beliau. Beliau lalu menoleh kepada kami, ternyata beliau melihat kami shalat dalam keadaan berdiri, maka beliau memberi isyarat kepada kami agar kami duduk. Kami pun duduk dan kami shalat diimami oleh beliau dalam keadaan duduk. Tatkala beliau mengucapkan salam pertanda selesainya shalat, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Kalian tadi hampir-hampir berbuat seperti perbuatannya orang-orang Persia dan Romawi. Mereka berdiri di hadapan raja-raja mereka sementara raja-raja ini duduk. Maka janganlah kalian lakukan. Contohlah imam kalian, jika ia shalat dalam keadaan berdiri maka shalatlah kalian dalam keadaan berdiri. Namun bila ia shalat dalam keadaan duduk maka shalatlah dengan duduk.” (HR. Muslim no. 927)

 

Nabi Yusuf dan Istri Pembesar (bagian 1)

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Harits)

Surat Yusuf termasuk di antara surat-surat yang nyata-nyata mengandung sejumlah kisah ujian dan cobaan. Di dalam surat ini pula kita melihat sejelas-jelasnya bahwa di balik setiap kesulitan pasti ada kemudahan. Di dalam perjalanan kisah Nabi Yusuf q terdapat pula berbagai pelajaran dan tanda-tanda keesaan Allah l, bagi mereka yang mau bertanya serta mencari petunjuk dan bimbingan.

Allah l berfirman:

“Sesungguhnya ada beberapa tanda kekuasaan Allah pada (kisah) Yusuf dan saudara-saudaranya bagi orang-orang yang bertanya.” (Yusuf: 7)

Awal kisah ini bermula dari sejak Nabi Yusuf q menjejakkan kakinya di bumi Mesir, jauh dari kampung halamannya, jauh dari ayah, ibu, dan saudara-saudaranya. Diperjualbelikan sebagai budak belian, hingga jatuh ke tangan seorang pembesar Mesir.

Allah l berfirman:

Dan orang Mesir yang membelinya berkata kepada istrinya: “Berikanlah kepadanya tempat (dan layanan) yang baik, boleh jadi dia bermanfaat kepada kita atau kita pungut dia sebagai anak.” Dan demikian pulalah Kami memberikan kedudukan yang baik kepada Yusuf di muka bumi (Mesir), dan agar Kami ajarkan kepadanya ta’bir mimpi. Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya. Dan tatkala dia cukup dewasa, Kami berikan kepadanya hikmah dan ilmu. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata: “Marilah ke sini.” Yusuf berkata: “Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukanku dengan baik.” Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung. Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tiada melihat tanda (dari) Rabbnya. Demikianlah, agar Kami memalingkan darinya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih. Dan keduanya berlomba-lomba menuju pintu dan wanita itu menarik baju gamis Yusuf dari belakang hingga koyak dan kedua-duanya mendapati suami wanita itu di muka pintu. Wanita itu berkata: “Apakah pembalasan terhadap orang yang bermaksud berbuat serong dengan istrimu, selain dipenjarakan atau (dihukum) dengan azab yang pedih?” Yusuf berkata: “Dia menggodaku untuk menundukkan diriku (kepadanya)”, dan seorang saksi dari keluarga wanita itu memberikan kesaksiannya: “Jika baju gamisnya koyak di muka, maka wanita itu benar dan Yusuf termasuk orang-orang yang dusta. Dan jika baju gamisnya koyak di belakang, maka wanita itulah yang dusta, dan Yusuf termasuk orang-orang yang benar.” Maka tatkala suami wanita itu melihat baju gamis Yusuf koyak di belakang berkatalah dia: “Sesungguhnya (kejadian) itu adalah di antara tipu daya kamu, sesungguhnya tipu daya kamu adalah besar.” (Hai) Yusuf: “Berpalinglah dari ini dan (kamu hai istriku) mohon ampunlah atas dosamu itu, karena kamu sesungguhnya termasuk orang-orang yang berbuat salah.” Dan wanita-wanita di kota berkata: “Istri Al-Aziz menggoda bujangnya untuk menundukkan dirinya (kepadanya), sesungguhnya cintanya kepada bujangnya itu adalah sangat mendalam. Sesungguhnya kami memandangnya dalam kesesatan yang nyata.” Maka tatkala wanita itu (Zulaikha) mendengar cercaan mereka, diundangnyalah wanita-wanita itu dan disediakannya bagi mereka tempat duduk, dan diberikannya kepada masing-masing mereka sebuah pisau (untuk memotong jamuan), kemudian dia berkata (kepada Yusuf): “Keluarlah (nampakkanlah dirimu) kepada mereka.” Maka tatkala wanita-wanita itu melihatnya, mereka kagum kepada (keelokan rupa)nya dan mereka melukai (jari) tangannya dan berkata: “Maha sempurna Allah, ini bukanlah manusia. Sesungguhnya ini tidak lain hanyalah malaikat yang mulia.” Wanita itu berkata: “Itulah dia orang yang kamu cela aku karena (tertarik) kepadanya, dan sesungguhnya aku telah menggoda dia untuk menundukkan dirinya (kepadaku) akan tetapi dia menolak. Dan sesungguhnya jika dia tidak menaati apa yang aku perintahkan kepadanya, niscaya dia akan dipenjarakan dan dia akan termasuk golongan orang-orang yang hina.” Yusuf berkata: “Wahai Rabbku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan dariku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh.” Maka Rabbnya memperkenankan doa Yusuf, dan Dia menghindarkan Yusuf dari tipu daya mereka. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha mendengar lagi Maha mengetahui. Kemudian timbul pikiran pada mereka setelah melihat tanda-tanda (kebenaran Yusuf) bahwa mereka harus memenjarakannya sampai suatu waktu.”

Sebagian ulama menceritakan bahwa pembesar itu adalah salah seorang menteri raja yang tidak mempunyai anak. Sebagian lagi mengatakan bahwa dia seorang kebiri (kasim, sida-sida), tidak menyentuh wanita. Pembesar tersebut membeli Nabi Yusuf q untuk istrinya agar menjadi pelayannya. Inilah salah satu alasan dia membeli Nabi Yusuf q untuk istrinya. Adapun alasan lainnya, karena ketika itu usia Nabi Yusuf q masih kecil, sehingga perlu perhatian. Sementara tidak ada yang dapat memberi perhatian dan asuhan selayaknya untuk anak seusia itu kecuali seorang wanita (ibu).

Sesungguhnya godaan wanita yang dialami Nabi Yusuf q adalah cobaan paling besar yang beliau hadapi dalam hidup beliau. Hal itu karena banyaknya faktor yang mendukung untuk terjadinya kekejian antara seorang laki-laki dengan perempuan. Padahal satu saja dari beberapa faktor tersebut sudah cukup untuk menjerumuskan sepasang pria dan wanita ke dalam kehinaan tersebut. Sementara faktor yang ada di sekitar Nabi Yusuf dan istri pembesar itu sendiri justru sangat banyak.

Semua itu, berangkat dari ketertarikan kepada rupa atau bentuk (shuurah). Sementara di dalamnya terdapat berbagai kerusakan yang dapat terjadi saat itu juga atau pada suatu ketika. Karena sesungguhnya ketertarikan kepada rupa atau bentuk itu dapat merusak hati. Dan apabila hati sudah rusak, maka rusak pula kehendak (niat), ucapan dan perbuatan. Selanjutnya, rusak pula pos-pos tauhid.

Allah l telah mengisahkan kepada kita tentang ketertarikan istri pembesar itu kepada Nabi Yusuf q, rayuan berikut tipu dayanya. Allah l juga menceritakan tentang keadaan yang dialami oleh Nabi Yusuf q karena sifat ‘iffah, kesabaran, dan ketakwaannya. Padahal cobaan yang dihadapi oleh beliau ini, adalah keadaan yang tidak seorang pun dapat bersabar menghadapinya kecuali orang yang diberi kesabaran oleh Allah l. Apalagi terjadinya sebuah perbuatan sesuai dengan kuatnya dorongan dan tidak adanya penghalang untuk bertindak. Sedangkan keadaan yang dialami beliau sangat kuat pendorongnya, yaitu:

1. Naluri laki-laki yang suka kepada wanita, seperti orang yang sedang kehausan membutuhkan air dan orang kelaparan yang ingin makan. Bahkan kebanyakan laki-laki, mampu bersabar untuk tidak makan dan minum, tetapi tidak sabar dari kaum wanita. Namun, naluri ini tidaklah tercela, apabila diletakkan pada tempat yang halal, bahkan dipuji.

2. Kondisi Nabi Yusuf q sebagai seorang pemuda gagah yang rupawan, sedangkan syahwat seorang pemuda sangat kuat.

3. Keadaan beliau yang masih jejaka, belum pernah menikah, dan tidak pula mempunyai budak perempuan untuk menyalurkan hasratnya.

4. Beliau berada di negeri asing, yang memungkinkan seseorang yang jauh dari negeri asalnya melampiaskan sesuatu yang tidak mungkin dilakukannya di tanah kelahirannya, di antara sanak keluarganya dan orang-orang yang mengenalnya.

5. Wanita yang merayunya itu memiliki kedudukan dan kecantikan. Padahal salah satunya saja, sudah cukup mengundang laki-laki untuk menggaulinya.

6. Wanita itu tidak mencegah dan menolak. Biasanya, banyak laki-laki yang padam keinginannya karena ada penolakan dan ketidaksukaan dari si wanita, karena dia merasa hina dan tunduk serta mengemis kepada wanita itu. Meski banyak pula dengan adanya ketidaksukaan dan penolakan dari wanita itu justru semakin menambah syahwat dan keinginannya. Seperti diungkapkan:

وَزَادَنِي كَلَفًا فِي الْحُبِّ إِن ْمُنِعْتُ

أَحَبُّ شَيْءٍ إِلَى الْإِنْسَانِ مَا مُنِعَا

Semakin besar cintaku kalau aku dihalangi

Yang paling dicintai seseorang adalah apa yang terhalang

7. Wanita itu meminta, menginginkan, dan membujuk serta mengusahakan dengan sungguh-sungguh. Sedangkan Nabi Yusuf q tidak demikian. Beliau justru dalam keadaan mulia serta diharapkan.

8. Nabi Yusuf q tinggal di rumah wanita itu, di bawah kekuasaannya dan ada kekhawatiran akan disiksa bila tidak menuruti kemauannya. Sehingga terkumpullah pada beliau dorongan keinginan sekaligus adanya rasa takut.

9. Beliau tidak khawatir wanita itu akan menceritakan perbuatannya, bahkan tidak satu pun dari pihak wanita itu, sebab wanita itulah yang memiliki keinginan dan tuntutan. Bahkan dia telah mengunci semua pintu, serta pengawas pun tidak ada.

10. Secara lahiriah Nabi Yusuf q adalah budak yang dimiliki oleh wanita itu. Beliau keluar-masuk rumah bersama wanita itu, tak seorang pun mengingkarinya. Apalagi kedekatan serta kebersamaan adalah awal sebuah keinginan, dan ini termasuk pendorong yang sangat kuat.

Sebagaimana pernah ditanyakan kepada seorang wanita Arab bangsawan, mengapa dia berzina? Kata wanita itu: “Dekatnya jarak dan panjangnya malam.” Artinya, karena dekatnya laki-laki itu kepadaku dan panjangnya malam yang kami lalui.

11. Wanita itu mengancam Nabi Yusuf q akan dipenjarakan dan dihinakan. Ini termasuk pemaksaan. Karena hal tersebut adalah ancaman dari orang yang besar kemungkinannya melaksanakan ancaman tersebut, sehingga menyatu dalam diri Nabi Yusuf q dorongan syahwat dan keinginan selamat dari penjara serta kehinaan.

12. Suami wanita itu tidak menampakkan rasa cemburu dan kejantanan yang mendorongnya memisahkan wanita itu dan Nabi Yusuf q. Bahkan perkataannya yang paling tinggi ditujukan kepada Nabi Yusuf q hanyalah sebagaimana dalam firman Allah l:

“Berpalinglah dari ini.”

Sedangkan kepada istrinya dia mengatakan sebagaimana dalam ayat:

“Dan (kamu hai istriku) mohon ampunlah atas dosamu itu, karena kamu sesungguhnya termasuk orang-orang yang berbuat salah.”

Padahal, besarnya kecemburuan seorang suami termasuk penghalang paling besar terjadinya penyelewengan seorang istri, namun ternyata hal itu tidak terlihat dari suami wanita tersebut.

Akan tetapi, dengan segala faktor pendorong ini, ternyata Nabi Yusuf q lebih mengutamakan keridhaan Allah l dan rasa takut kepada-Nya. Cintanya kepada Allah l mendorong beliau untuk memilih penjara daripada zina. Allah l berfirman:

Yusuf berkata: “Wahai Rabbku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku.”

Semua ini mendekatkan kepada kita bentuk kesabaran yang dijalani oleh Nabi Yusuf q dan memberikan bekal serta pelajaran dasar kepada kita dimana beliau terdidik di atasnya. Bahkan itu semua menjadi salah satu alasan ketegaran beliau. Sebab, tidak mungkin akan dapat menahan diri dalam situasi seperti ini mereka yang terbiasa membiarkan dirinya berkecimpung di mana saja dia mau lalu baru berangan-angan untuk tabah (menahan diri).

Dengan semua faktor tersebut, Nabi Yusuf q lebih memilih kemuliaan di sisi Allah l dan bersabar sehingga beliau memperoleh kebahagiaan, kemuliaan di dunia dan surga di akhirat. Kesabaran yang beliau rasakan menghadapi godaan wanita ini jauh lebih berat daripada kesabaran yang beliau alami ketika berada dalam sumur. Beliau lebih memilih penjara daripada menuruti keinginan istri pembesar itu demi mengharap pahala di sisi Allah l dan takut akan siksa-Nya.

Karena itu pula betapa agung kedudukan mereka yang mampu menahan dirinya dari kehinaan karena takut kepada Allah l. Rasulullah n bersabda tentang salah satu dari tujuh golongan yang dinaungi Allah l dalam naungan yang tidak ada lagi naungan pada hari itu selain naungan-Nya:

رَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتَ مَنْصَبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ: إِنِّي أَخَافَ اللهُ

“Laki-laki yang diajak oleh seorang wanita bangsawan dan cantik, tapi dia berkata: ‘Aku takut kepada Allah’.”

Akhirnya beliau menjadi pembesar negara, sedangkan istri pembesar itu menjadi seperti budak di sisi beliau. Karena itu, orang yang cerdik hendaknya jeli memandang setiap persoalan dan tidak mengedepankan kesenangan sesaat daripada kesenangan abadi.

Siapa yang sabar memelihara farji-nya, niscaya tidak akan digunakannya kecuali pada tempat-tempat yang dihalalkan oleh Allah l demi mengamalkan firman Allah l:

“Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.” (Al-Mu’minun: 5-6)

Karena dengan cara itu dia akan selamat dari zina dan liwath (homo) serta terjamin pula selamatnya kehormatan dirinya dari kesia-siaan.

Dalam kisah ini, Nabi Yusuf q sama sekali tidak melakukan dosa apapun. Dan Allah l tidaklah menyebutkan satu dosa dari salah seorang Nabi-Nya melainkan Dia sertakan pula istighfar Nabi tersebut. Dalam surat ini, Allah l tidak menyebutkan adanya istighfar dari Nabi Yusuf q, tidak pula menceritakannya di awal terjadinya peristiwa tersebut bersama istri pembesar. Dari sini jelaslah bahwa beliau tidak pernah berbuat dosa. Bahkan yang ada hanyalah sekadar keinginan yang beliau tinggalkan karena Allah l sehingga beliau memperoleh pahala karenanya.

Di dalam kisah istri pembesar ini terdapat pelajaran berharga, di antaranya:

1. Apabila cinta melampaui batasan syariat, niscaya menimbulkan mudharat, baik terhadap yang mencinta maupun yang dicintai.

2. Bagi yang mencinta, maka cinta seperti itu akan menghilangkan akalnya sehingga muncul berbagai tindakan yang tidak benar; resah, gelisah, lalai, seolah-olah dia tidak hidup di atas dunia ini. Demikianlah yang pernah dinukil, bahwa cinta itu kalau bukan sihir maka dia adalah sekelumit kegilaan. Sementara kegilaan itu beraneka ragam bentuknya. Wallahul musta’an.

Dalam sebuah hadits disebutkan pula:

أحْبِبْ حَبِيبَكَ هَوْناً مَا، عَسَى أَنْ يَكُونَ بَغِيضَكَ يَوْماً مَا. وَأَبْغِضْ بَغِيضَكَ هَوْناً مَا، عَسَى أَنْ يَكُونَ حَبِيبَكَ يَوْماً مَا

“Cintailah orang yang kau cintai sedang-sedang saja, boleh jadi suatu ketika dia menjadi yang paling kau benci. Bencilah orang yang kau benci sedang-sedang saja, karena bisa jadi suatu ketika dia menjadi yang paling kau cintai.”1

3. Di dalam kisah ini kita lihat betapa berbahayanya berduaan (khalwat) dengan wanita yang bukan mahram. Karena itu pula Rasulullah n mengingatkan:

إِيَّاكُمْ وَالدُّخُولَ عَلَى النِّسَاءِ. فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ الْأَنْصَارِ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَفَرَأَيْتَ الْحَمْوَ؟ قَالَ: الْحَمْوُ الْمَوْتُ

Janganlah kamu masuk kepada kaum wanita (yang bukan mahram/istri). Seorang sahabat Anshar bertanya: “Bagaimana pendapat anda tentang al-hamwu (kerabat suami, anak paman, dan sebagainya).”

Rasulullah n bersabda: “Al-Hamwu adalah maut (kematian).” (Muttafaqun ‘alaihi)

Ibnu Hajar Al-’Asqalani t ketika menukil keterangan tentang hadits ini, mengatakan: “Yang dimaksud adalah bahwa berdua dengan al-hamwu ini, akan menggiring pada kehancuran agama kalau terjadi maksiat. Dan membawa kepada kematian kalau terjadi maksiat yang mengharuskan adanya rajam. Atau kehancuran bagi si wanita karena dicerai oleh suaminya, apabila dia terdorong oleh kecemburuannya.”

Al-Imam An-Nawawi t mengatakan, “Sebenarnya yang dimaksud adalah bahwa berduaan dengan kerabat suami lebih sering terjadi daripada dengan yang lainnya, dan kejahatan yang mungkin terjadi pun lebih sering daripada dengan yang lain. Bahkan fitnah juga demikian. Semua itu karena adanya kesempatan dan kemungkinan dia berhubungan dan berduaan dengan wanita tersebut tanpa ada pengingkaran dari orang lain. Berbeda halnya dengan ajnabi (bukan mahram, bukan suami).” Wallahu a’lam.

Keadaan seperti inilah yang dialami oleh Nabi Yusuf q. Tidak ada orang yang mengingkari, karena status beliau adalah budak bagi keluarga tersebut. Atau anak angkat mereka. Sehingga apa yang hendak dilakukan wanita itu kepada Nabi Yusuf q, juga tidak dipedulikan orang. Namun, keimanan dan ketakwaan yang ada di dalam diri Nabi Yusuf q, memelihara beliau untuk tidak menuruti keinginan wanita tersebut.

Lantas, setelah Nabi Yusuf q siapakah lagi yang selamat dari fitnah wanita dan mampu menahan diri (bersabar) dari perbuatan keji (zina)? Apalagi dengan kondisi seperti yang dialami oleh Nabi Yusuf q? Terlebih di zaman yang banyak terjadi perbuatan keji yang dikemas dengan label agama? Wallahul Musta’an.

Berbagai buku cerita tentang kisah “kasih” sepasang anak manusia begitu laris digelar. Dengan berbagai versi, lakon, dan latar belakang. Bahkan tidak segan-segan pula dipenuhi dengan berbagai dalil dari ayat Al-Qur’an atau hadits Nabi n. Akhirnya, tertipulah orang-orang yang tertipu dan senantiasa mementingkan syahwat dunianya. Mereka anggap itulah ajaran Islam. Wallahul Musta’an.

(Insya Allah bersambung)


1 HR. At-Tirmidzi dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 178 dari ‘Ali bin Abi Thalib z.

Al Hayiy

(ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc)

 

Di antara Al-Asma’ul Husna adalah Al-Hayiy. Artinya, yang memiliki sifat Al-Hayaa’, yang berarti malu. Sehingga makna Al-Hayiy adalah Yang Maha pemalu. Dalam hadits dari Salman Al-Farisi z, dari Nabi n, bahwa beliau n bersabda:

إِنَّ اللهَ حَيِيٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحِي إِذَا رَفَعَ الرَّجُلُ إِلَيْهِ يَدَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا خَائِبَتَيْنِ

“Sesungguhnya Allah Maha pemalu dan pemurah. Dia malu bila seorang lelaki mengangkat kedua tangannya kepada-Nya lalu Dia mengembalikannya dalam keadaan kosong dan hampa.” (Shahih, HR. Abu Dawud no. 1488 dan At-Tirmidzi no. 3556 dan beliau mengatakan hasan gharib. Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud dan At-Tirmidzi)

Dari Ya’la z, bahwa Rasulullah n melihat seseorang mandi di tempat terbuka tanpa memakai sarung. Maka Nabi n naik mimbar dan mengucapkan pujian serta sanjungan kepada Allah l, kemudian berkata:

إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ حَيِيٌّ سِتِّيرٌ يُحِبُّ الْحَيَاءَ وَالسَّتْرَ، فَإِذَا اغْتَسَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَتِرْ

“Sesungguhnya Allah k Maha pemalu dan Maha menutupi. Dia mencintai sifat malu dan sifat menutupi, maka bila seseorang dari kalian mandi hendaklah dia menutup diri.” (Shahih, HR. Abu Dawud no. 4012 dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud. Lihat juga Al-Irwa’ no. 2335)

Ibnu Qayyim t mengatakan:

Dan Dialah Yang Maha pemalu, maka Dia tidak akan membeberkan aib hamba-Nya

Saat dia terang-terangan melakukan kemaksiatan,

Namun justru Dia lontarkan tirai menutupinya

Memang Dia Maha menutupi dan pemberi ampunan

Asy-Syaikh Muhammad Khalil Al-Harras menjelaskan: “Dalam hadits Nabi n terdapat penyebutan sifat malu bagi Allah l, seperti dalam hadits (Salman Al-Farisi z di atas). Juga seperti dalam ucapan Nabi n tentang tiga orang yang mendapati majelis Nabi n:

أَمَّا أَحَدُهُمْ فَآوَى إِلَى اللهِ فَآوَاهُ اللهُ، وَأَمَّا الْآخَرُ فَاسْتَحْيَا فَاسْتَحْيَا اللهُ مِنْهُ، وَأَمَّا الْآخَرُ فَأَعْرَضَ فَأَعْرَضَ اللهُ عَنْهُ

“Salah seorang dari mereka berlindung kepada Allah l, maka Allah l pun melindunginya. Yang lain, dia malu sehingga Allah l pun malu darinya. Adapun yang lainnya lagi, dia berpaling sehingga Allah l berpaling darinya.”1

Sifat malu Allah l adalah sifat yang pantas bagi Allah l, tidak seperti sifat makhluk. Di mana sifat malu pada makhluk mengandung perubahan dan kelemahan yang memengaruhinya yaitu ketika dia merasa khawatir dari sesuatu yang aib atau tercela. Bahkan sifat malu Allah l artinya meninggalkan sesuatu yang tidak sesuai dengan keluasan rahmat-Nya dan kesempurnaan kedermawanan-Nya, kemurahan-Nya serta keagungan ampunan dan kelembutan-Nya.

Sementara seorang hamba terang-terangan bermaksiat kepada-Nya padahal dia sangat butuh kepada-Nya dan paling lemah di hadapan-Nya. Bahkan dia memakai nikmat-nikmat-Nya untuk bermaksiat kepada-Nya. Akan tetapi Allah l dengan kesempurnaan sifat ketidakbutuhan-Nya kepada makhluk dan kesempurnaan sifat kemampuan-Nya, Dia malu untuk menyingkap tabir aib hamba-Nya. Bahkan Allah l menutupinya dengan sebab-sebab yang Allah l persiapkan untuk menutupinya. Lalu setelah itu Allah l memaafkan dan mengampuninya seperti dalam hadits Ibnu Umar c:

إِنَّ اللهَ يُدْنِي الْمُؤْمِنَ فَيَضَعُ عَلَيْهِ كَنَفَهُ وَيَسْتُرُهُ فَيَقُولُ: أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا؟ أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا؟ فَيَقُولُ: نَعَمْ أَيْ رَبِّ. حَتَّى إِذَا قَرَّرَهُ بِذُنُوبِهِ وَرَأَى فِي نَفْسِهِ أَنَّهُ هَلَكَ قَالَ: سَتَرْتُهَا عَلَيْكَ فِي الدُّنْيَا وَأَنَا أَغْفِرُهَا لَكَ الْيَوْمَ

Sesungguhnya Allah l mendekatkan kepada-Nya seorang mukmin lalu Allah l menutupkan pada dirinya penutupnya. Kemudian Allah l bertanya kepadanya: “Apakah kamu tahu dosa ini? Apakah kamu tahu dosa ini?” Maka hamba itu pun mengatakan: “Ya, wahai Rabbku.” Sehingga ketika Allah l meminta dia mengakui dosanya lalu dia pun yakin bakal hancur, Allah l mengatakan kepadanya: “Aku telah tutup dosa itu padamu di dunia. Dan pada hari ini aku ampuni kamu.”2

Demikian pula Dia malu untuk menyiksa seorang yang berada dalam agama Islam sampai beruban, dan malu dari hamba-Nya yang berdoa menengadahkan dua tangannya, lalu mengembalikannya dalam keadaan hampa. Karena Allah Maha pemalu dan menutupi, maka Dia menyukai pada diri hamba-Nya sifat malu dan tidak mengumbar aib. Maka barangsiapa menutupi aib seorang muslim, Allah l akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat. Allah l juga membenci orang yang terang-terangan dengan kefasikan (maksiat)nya serta terang-terangan dengan kekejiannya.

Di antara orang yang paling Allah l benci adalah orang yang bermalam melakukan maksiat dan Allah l menutupinya, lalu dia sendiri yang membuka tutup aib itu di pagi harinya. Allah l juga mengancam orang-orang yang suka tersebarnya kekejian di tengah-tengah kaum muslimin, bahwa mereka akan mendapatkan siksa yang pedih di dunia dan di akhirat. Dalam hadits disebutkan:

كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلَّا الْمُجَاهِرِينَ

“Semua umatku diberi maaf kecuali orang-orang yang terang-terangan (dengan dosanya).”

 

Buah mengimani nama Allah Al-Hayiy

Dengan mengimani nama Allah Al-Hayiy maka kita mengetahui keluasan ampunan Allah l dan kemurahan-Nya. Sementara hamba-hamba-Nya justru terus berbuat maksiat tanpa rasa malu kepada Dzat Yang Maha pemalu, tentu yang demikian sangat dibenci Allah l.

Dengan mengimaninya, kita mengetahui bahwa sifat malu adalah sifat yang terpuji dan dicintai Allah l. Oleh karena itu, hendaknya kita juga menjaga sifat itu pada diri kita, dan senantiasa kita tumbuhkan pada diri kita serta anak keturunan kita juga anak didik kita. Terlebih di masa ini, di mana sifat malu tersebut hampir punah pada diri kawula muda baik perempuannya terlebih laki-lakinya. Suatu hal yang teramat dibenci Allah Yang Maha pemalu. Sehingga dengan hilangnya rasa malu, tak ada beban lagi bagi mereka untuk bergaul bebas dengan lawan jenis, bercanda ria, berjalan bersama, dan lebih dari itu. Malu rasanya mengungkapkannya…

Sungguh hal yang sangat memprihatinkan kita bersama. Inikah sebagian hasil pendidikan umum? Cobalah para guru dan para pendidik mengkaji ulang metode dan lingkungan pendidikan mereka, demi meraih ridha Allah Yang Maha pemalu serta demi masa depan moral dan agama anak-anak muslimin.


1 Shahih, HR. Al-Bukhari no. 66 dan Muslim. Hadits di atas adalah lafadz Al-Bukhari. Asy-Syaikh Al-Harras menyebutkan dengan lafadz yang sedikit berbeda.

2 Shahih, HR. Al-Bukhari no. 183 dengan lafadz Al-Bukhari, Asy-Syaikh Al-Harras menyebutkan dengan lafadz yang sedikit berbeda.

Sebab-sebab Penghapus Dosa

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Abdul Jabbar)

 

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t mengatakan:

“Dosa-dosa itu akan mengurangi keimanan. Jika seorang hamba bertaubat, Allah k akan mencintainya. Derajatnya akan diangkat disebabkan taubatnya.

Sebagian salaf mengatakan: ‘Dahulu setelah Nabi Dawud q bertaubat, keadaannya lebih baik dibandingkan sebelum terjatuh dalam kesalahan. Barangsiapa yang ditakdirkan untuk bertaubat maka dirinya seperti yang dikatakan Sa’id ibnu Jubair z, “Sesungguhnya seorang hamba yang melakukan amalan kebaikan, bisa jadi dengan sebab amalan kebaikannya itu akan memasukkannya ke dalam neraka. Bisa jadi pula seorang hamba melakukan amalan kejelekan akan tetapi membawa dirinya masuk ke dalam surga. Hal itu karena ia membanggakan amalan kebaikannya. Sebaliknya, hamba yang terjatuh ke dalam kejelekan membawa dirinya untuk meminta ampun kepada Allah l, kemudian Allah l mengampuni kesalahan-kesalahannya.”

Telah disebutkan dalam hadits yang shahih bahwa Nabi n telah bersabda:

الْأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِمِ

“Amal-amal (seorang hamba) tergantung amalan-amalan yang dikerjakan pada akhir kehidupannya.”

Sesungguhnya kesalahan/dosa seorang mukmin akan dihapuskan dengan sepuluh sebab, sebagai berikut:

1. Bertaubat kepada Allah l kemudian Allah l mengampuninya. Karena seseorang yang bertaubat dari sebuah dosa seperti orang yang tidak memiliki dosa.

2. Meminta ampun kepada Allah l kemudian Allah l mengampuninya.

3. Mengerjakan amalan-amalan kebaikan, karena amalan-amalan kebaikan akan menghapuskan amalan-amalan kejelekan.

4. Mendapatkan doa dari saudara-saudaranya yang beriman. Mereka memberikan syafaat kepadanya ketika masih hidup dan sesudah meninggal.

5. Mendapatkan hadiah pahala dari amalan-amalan saudara-saudaranya yang beriman agar Allah l memberikan manfaat kepadanya dari hadiah tersebut.

6. Mendapatkan syafaat dari Nabi n.

7. Mendapatkan musibah-musibah di dunia ini yang akan menghapuskan dosa-dosanya.

8. Mendapatkan ujian-ujian di alam barzakh yang akan menghapus dosa-dosanya.

9. Mendapatkan ujian-ujian di padang Mahsyar pada hari kiamat yang akan menghapuskan dosa-dosanya.

10. Mendapatkan rahmat dari Arhamur Rahimin, Allah l.

 

Barangsiapa yang tidak memiliki salah satu sebab dari sebab-sebab yang bisa menghapuskan dosa-dosa ini, janganlah ia mencela kecuali kepada dirinya sendiri. Sebagaimana Allah l berfirman:

يَا عِبَادِي إِنَّمَا هِيَ أَعْمَالُكُمْ أُحْصِيهَا لَكُمْ ثُمَّ أُوَفِّيكُمْ إِيَّاهَا فَمَنْ وَجَدَ خَيْرًا فَلْيَحْمَدِ اللهَ وَمَنْ وَجَدَ غَيْرَ ذَلِكَ فَلَا يَلُومَنَّ إِلَّا نَفْسَهُ

“Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya ini adalah amalan-amalanmu. Aku menghitungnya untukmu kemudian Aku membalasinya untukmu. Maka barangsiapa yang mendapatkan kebaikan hendaklah ia memuji Allah, dan barangsiapa yang mendapatkan selain daripada itu maka janganlah ia mencela kecuali kepada dirinya sendiri.”

(Diambil dari Risalah Tuhfatul ‘Iraqiyah fi A’malil Qalbiyyah hal. 32-33, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t)

Perang Hunain (bagian satu)

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Harits)

 

Dengan dibebaskannya kota Makkah, jatuhlah sudah kerajaan berhala di ranah Hijaz. Bangsa ‘Arab mulai tunduk kepada Islam, dan mereka berduyun-duyun masuk ke dalamnya. Suku Hawazin yang mendengar peristiwa itu, merasa khawatir Rasulullah n akan mengerahkan pasukan kepada mereka. Mereka pun bersatu untuk menyerang beliau. Peristiwa ini pun meletus di Hunain, sebuah lembah yang terletak antara Makkah dan Thaif, pada bulan Syawwal tahun ke-8 Hijrah.

Sebab-sebab Peperangan
Setelah Allah l memberi kemenangan kepada Rasulullah n dan kaum mukminin dengan takluknya Makkah, serta tunduknya masyarakat Quraisy, penduduk Tsaqif dan Hawazin pun ketakutan. Mereka yakin bahwa Rasulullah n tentu akan menyiapkan pasukan menyerang mereka. Maka sebelum itu terjadi, mereka bertekad untuk mendahului serangan.
Akhirnya mereka bersepakat untuk itu dan mengangkat Malik bin ‘Auf An-Nashri sebagai panglima perang. Dia seorang pemuda berusia sekitar 30 tahun dan dikenal sebagai ahli (strategi) perang. Maka  berkumpullah suku Hawazin, Tsaqif, Bani Hilal, Bani Jusyam, dan lain-lain. Di antara mereka ada Duraid bin Ash-Shimmah yang terkenal sangat ahli dalam peperangan, pendapat dan taktiknya sangat jitu. Tetapi dia buta dan sudah sangat tua, sehingga hanya dapat memberikan saran dan arahan.
Adapun strategi yang diatur oleh Malik, sangat berbeda dengan keinginan Duraid. Malik berpendapat agar mereka membawa serta semua anak dan istri mereka berikut harta benda mereka. Menurut Malik, apabila seorang prajurit mengetahui sesuatu yang berharga dalam hidupnya (keluarga dan harta) ada di belakangnya, kalaupun terjadi kekalahan, dia tidak akan mungkin meninggalkan mereka jatuh ke tangan musuh. Sehingga dia akan berjuang sampai mati mempertahankan harta dan keluarganya.
Ketika hal ini didengar oleh Duraid, dia bertanya kepada Malik: ”Ada apa ini, aku mendengar suara anak-anak, kaum wanita, dan binatang ternak dalam pasukanmu?”
Kata Malik: ”Aku ingin menempatkan di belakang setiap laki-laki ada anak, istri, dan harta mereka agar dia berperang mempertahankannya.”
Duraid berkata mencemooh: ”(Itulah) penggembala kambing, demi Allah. Bukan untuk perang. Apakah itu akan dapat membela orang yang kalah? Sungguh, kalau kau menang itu semua tidak berguna bagimu selain laki-laki dan senjata. Kalau kau kalah, berarti kau telah mempermalukan keluarga dan hartamu.”
Tapi Malik tetap dengan pendiriannya. Bahkan mengancam: ”Wahai masyarakat Hawazin, kalau kalian tidak menaatiku, aku akan bunuh diri di depan kalian.”
Orang-orang Hawazin terkejut, mereka berbisik satu sama lain: ”Kalau kita tinggalkan Malik, dia bunuh diri padahal dia masih muda. Tapi kalau kita ikuti Duraid, dia sudah tua, tidak ada lagi perang bersama dia.”
Akhirnya mereka memilih Malik. Kemudian Malik berorasi membakar semangat pasukannya: ”Sungguh, Muhammad (n) belum pernah berperang sama sekali sebelum ini. Selama ini dia hanya melawan orang-orang yang tidak mengerti bagaimana berperang, sehingga bisa mengalahkan mereka. Maka jika kalian bertemu mereka, pecahkan sarung pedang kalian serta seranglah mereka secara serentak dan tiba-tiba!!”
Akhirnya mereka pun berangkat membawa serta puluhan ribu ekor unta. Malik memerintahkan agar kaum wanita dan anak-anak diletakkan di atas unta-unta tersebut. Dengan cara ini, Malik sudah menjatuhkan mental lawan yang melihatnya karena mereka akan mengira di belakangnya ada ratusan ribu pasukan. Taktik ini adalah salah satu sebab kemenangan Hawazin pada awal pertempuran.
Malik membawa pasukannya hingga tiba di lembah Hunain. Daerah ini sudah sangat dikenal oleh Malik sehingga dia dengan mudah menempatkan pasukannya untuk memusnahkan kaum muslimin dengan sekali serangan.
Malik mulai membagi pasukannya. Lembah dan bukit-bukit di sekitarnya menjadi tempat persembunyian dan jebakan yang sangat kuat. Apabila lawan terpancing masuk ke perut lembah, maka pasukannya yang ada di kanan kiri bukit akan menghujani mereka dengan panah dan batu. Apalagi prajurit Hawazin memang dikenal sebagai ahli panah dan tombak.
Persiapan kaum Muslimin
Sebelum berangkat, Rasulullah n menunjuk ‘Attab bin Usaid bin Abil ‘Uaish bin Umayyah z yang ketika itu berusia sekitar 20 tahun tinggal di kota Makkah sebagai kepala pemerintahan dan Mu’adz bin Jabal z sebagai pengajar bagi penduduk Makkah.
Setelah Rasulullah n mendengar rencana penyerangan Hawazin ini, beliau mengirim ‘Abdullah bin Abi Hadrad z sebagai mata-mata mengintai sejauh mana kesiapan orang-orang kafir tersebut. Lalu berangkatlah ‘Abdullah dan tinggal di tengah-tengah mereka sehari semalam atau lebih.
Tak lama, ‘Abdullah kembali menemui Rasulullah n dan menceritakan apa yang dilihatnya. Tetapi bisa jadi informasi yang disampaikannya tidak lengkap. Ada beberapa hal yang tidak tersampaikan oleh ‘Abdullah kepada Rasulullah n termasuk taktik perang yang akan dilancarkan oleh Malik. Sehingga ketidaktahuan akan hal ini menjadi salah satu sebab mundurnya pasukan muslimin pada awal pertempuran.
Rasulullah n mulai menyiapkan pasukan. Terkumpullah 10.000 orang yang sebelumnya ikut bersama beliau dari Madinah untuk membebaskan Makkah. Kemudian ditambah dua ribu orang dari penduduk Makkah yang baru masuk Islam.
Beliau juga meminjam beberapa puluh baju besi dan senjata kepada Shafwan bin Umayyah dan Naufal bin Al-Harits yang ketika itu masih musyrik (lihat kisahnya di Jejak Vol. V/No. 52/1430 H/2009, red.).
Kisah Dzatu Anwath
Dahulu, orang-orang kafir Quraisy dan bangsa ‘Arab lainnya mempunyai sebatang pohon sidr (bidara) yang sangat besar bernama Dzatu Anwath. Kebiasaan mereka dahulu, selalu menziarahinya setiap tahun dan menggantungkan senjata mereka di atas pohon itu, mengharapkan berkahnya. Mereka juga melakukan penyembelihan hewan korban dan tirakat selama satu hari di bawah pohon itu.
أَنَّ رَسُولَ اللهِ n لَمَّا خَرَجَ إِلَى حُنَيْنٍ مَرَّ بِشَجَرَةٍ لِلْمُشْرِكِينَ يُقَالُ لَهَا ذَاتُ أَنْوَاطٍ يُعَلِّقُونَ عَلَيْهَا أَسْلِحَتَهُمْ فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، اجْعَلْ لَنَا ذَاتَ أَنْوَاطٍ كَمَا لَهُمْ ذَاتُ أَنْوَاطٍ. فَقَالَ النَّبِيُّ :n سُبْحَانَ اللهِ هَذَا كَمَا قَالَ قَوْمُ مُوسَى: اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ؛ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتَرْكَبُنَّ سُنَّةَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ
Ketika Rasulullah n berangkat menuju Hunain, mereka melewati sebatang pohon yang dipuja oleh kaum musyrikin bernama Dzatu Anwath. Mereka menggantungkan di atasnya senjata-senjata mereka.
Maka mereka pun berkata: ”Ya Rasulullah, buatkanlah untuk kami Dzatu Anwath sebagaimana mereka punya Dzatu Anwath.”
Mendengar perkataan ini, Nabi n berseru: ”Subhanallah (Maha Suci Allah). Ini adalah ucapan yang sama seperti diucapkan Bani Israil: ’Buatkanlah untuk kami sebuah sesembahan sebagaimana mereka mempunyai beberapa sesembahan.’ Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, jalian sungguh-sungguh akan mengikuti sunnah (jalan hidup) orang-orang sebelum kalian.”1
Riwayat ini menunjukkan bahwa orang yang selama ini hidup di lingkungan yang rusak, lalu berpindah dari lingkungan tersebut, masih tersisa dalam dirinya sebagian dari lingkungan buruk itu. Apalagi yang belum lama meninggalkan lingkungan buruk tersebut. Dan kita mesti ingat, kalau para sahabat yang baru masuk Islam saja demikian keadaannya, padahal mereka langsung di bawah bimbingan Rasulullah n. Maka bagaimana dengan orang-orang yang datang sesudah mereka, yang lebih jahil dan lemah dari mereka.
Kenyataan ini juga menunjukkan kepada kita betapa jeleknya kejahilan (terhadap ilmu agama). Seseorang dapat saja terjerumus ke dalam kesyirikan karena kejahilannya.
Pernyataan Rasulullah n bahwa perkataan mereka itu adalah sunnah yang pernah dijalani oleh umat sebelumnya, memberi pengertian pula bahwa sebab yang menjerumuskan mereka dalam perbuatan syirik ini adalah tasyabbuh (meniru) kepada apa yang dianut oleh orang banyak (ketika itu).
Dari kisah ini pula kita pahami batilnya tabarruk (meminta berkah) kepada pohon-pohon kayu dan batu, karena itu semua adalah kesyirikan. Apalagi Nabi Musa q berkata, sebagaimana firman Allah l:
“Patutkah aku mencarikan sesembahan untuk kamu yang selain daripada Allah.” (Al-A’raf: 140)
Demikian pula ungkapan yang diucapkan oleh Rasulullah n. Beliau menyamakan ucapan sebagian sahabat yang baru masuk Islam itu sama seperti perkataan Bani Israil kepada Nabi Musa q; karena itulah hakikat kesyirikan meski lafadznya berbeda.
Seperti ini juga yang dilakukan oleh para penyembah kubur. Yaitu orang-orang yang meminta syafaat, berkah, rezeki, jabatan, dan sebagainya kepada para penghuni kubur. Mereka mengatakan bahwa perbuatan mereka adalah tawassul dan mencintai wali, bukan syirik. Padahal sesungguhnya, para wali Allah l tidak ridha diperlakukan demikian oleh mereka.
Dari kisah ini juga kita lihat para sahabat dan Bani Israil tidak dikafirkan. Sebab, mereka segera berhenti dan tidak mewujudkan apa yang mereka minta kepada dua rasul yang mulia ini. Seandainya mereka tetap melanjutkan apa yang mereka minta, niscaya mereka jatuh kepada kekafiran.
(Bersambung, Insya Allah)