Al-Amtsaaal; Perumpamaan-Perumpamaan

Sekilas Tentang Al-Qur’an

Segala puji hanya milik Allah Yang telah menurunkan al-Furqan kepada hamba-Nya, Kitab yang memisahkan yang halal dari yang haram,  memisahkan pula antara orang-orang yang berbahagia dan orang-orang yang celaka, serta antara yang haq dan yang batil.

Dengan rahmat-Nya, Dia menjadikan Kitabnya ini sebagai petunjuk bagi manusia secara umum dan bagi orang-orang yang bertakwa secara khusus. Dia menurunkan Kitab-Nya sebagai obat bagi penyakit yang ada di dalam dada manusia, baik penyakit syahwat maupun penyakit syubhat. Juga sebagai obat bagi penyakit-penyakit yang menimpa tubuh manusia.

Allah subhanahu wa ta’ala menerangkan bahwa Kitab-Nya ini tidak ada keraguan di dalamnya, dari sisi manapun. Hal itu tidak lain adalah karena isinya yang mengandung kebenaran yang agung, baik dalam hal berita maupun perintah dan larangannya.

Allah subhanahu wa ta’ala bersumpah dengan al-Qur’an ini dan menyebutkan sifatnya bahwa dia adalah majid, yaitu yang luas dan agung sifat-sifatnya. Hal itu tidak lain adalah karena luas dan agungnya makna-makna al-Qur’an.

Allah subhanahu wa ta’ala juga menerangkan bahwa Kitab-Nya ini adalah dzu adz-dzikr, yaitu yang dengannya diingat ilmui-lmu Ilahiah, akhlak yang baik, amal saleh, dan orang-orang yang takut akan mendapatkan nasihat.[1]

Allah subhanahu wa ta’ala bahkan telah menjelaskan bahwa Kitab yang sarat dengan kebaikan ini diturunkan tidak lain adalah agar ditadaburi lalu menjadi peringatan bagi orang-orang yang berakal. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

كِتَٰبٌ أَنزَلۡنَٰهُ إِلَيۡكَ مُبَٰرَكٞ لِّيَدَّبَّرُوٓاْ ءَايَٰتِهِۦ وَلِيَتَذَكَّرَ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَٰبِ ٢٩

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.” (Shad: 29)

Untuk tujuan tersebut, Allah subhanahu wa ta’ala menjamin kemudahannya, mudah dibaca huruf-hurufnya dan mudah pula dipahami makna-maknanya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلَقَدۡ يَسَّرۡنَا ٱلۡقُرۡءَانَ لِلذِّكۡرِ فَهَلۡ مِن مُّدَّكِرٖ ١٧

“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan al-Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (al-Qamar: 17)

Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman,

فَإِنَّمَا يَسَّرۡنَٰهُ بِلِسَانِكَ لَعَلَّهُمۡ يَتَذَكَّرُونَ ٥٨

     “Sesungguhnya Kami mudahkan al-Qur’an itu dengan bahasamu supaya mereka mendapat pelajaran.” (ad-Dukhan: 58)

فَإِنَّمَا يَسَّرۡنَٰهُ بِلِسَانِكَ لِتُبَشِّرَ بِهِ ٱلۡمُتَّقِينَ وَتُنذِرَ بِهِۦ قَوۡمٗا لُّدّٗا ٩٧

    “Maka sesungguhnya telah Kami mudahkan al-Qur’an itu dengan bahasamu, agar kamu dapat memberi kabar gembira dengan al-Qur’an itu kepada orang-orang yang bertakwa, dan agar kamu memberi peringatan dengannya kepada kaum yang membangkang.” (Maryam: 97)

Alhasil, al-Qur’anul Karim adalah ayat-ayat yang mudah dan jelas menunjukkan kebenaran, baik dalam bentuk perintah, larangan maupun beritanya. Allah subhanahu wa ta’ala memudahkannya untuk dijaga oleh para ulama dengan menghafal, membaca, dan menafsirkannya.

Kitab ini mudah dicerna oleh akal manusia, membuat hati menjadi lembut, tidak membuat bosan dan jemu orang yang memerhatikan dan mendengarnya, meskipun di dalamnya sarat dengan rahasia dan ilmu-ilmu yang hanya dimengerti oleh orang-orang yang kokoh ilmunya.

Oleh sebab itu, siapa yang ingin menjadi ahli dzikr, hendaklah dia memasukkan dirinya ke dalam golongan orang-orang yang benar-benar membaca Kitab Allah, di masjid, rumah, tempat dia bekerja; dan tidak lalai dari al-Qur’an serta tidak membacanya hanya khusus pada bulan Ramadhan.

Sebagaimana disebutkan dalam surat Shad di atas, al-Qur’anul Karim ini adalah Kitab yang mengandung banyak kebaikan. Ia diturunkan adalah untuk menjadi pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal yang sehat.

Maka dari itu, apabila lafadz-lafadz al-Qur’anul Karim ini tidak bisa dipahami oleh mereka yang membaca atau mendengarnya, tentu tidak ada faedahnya perintah untuk mentadaburinya. Apabila tidak dapat ditadaburi, tentu tidak lagi akan menjadi hidayah bagi manusia.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman tentang Kitab-Nya yang mulia ini,

طه ١  مَآ أَنزَلۡنَا عَلَيۡكَ ٱلۡقُرۡءَانَ لِتَشۡقَىٰٓ ٢  إِلَّا تَذۡكِرَةٗ لِّمَن يَخۡشَىٰ ٣

“Thaha. Kami tidak menurunkan al-Qur’an ini kepadamu agar kamu menjadi susah; tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah).” (Thaha: 1—3)

Tujuan wahyu, diturunkannya al-Qur’an kepadamu (wahai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) dan ditetapkannya syariat bukanlah agar kamu menjadi susah. Di dalam syariat ini tidak pula ada beban yang memberatkan orang-orang yang mukallaf (baligh dan berakal) serta tidak mampu dipikul oleh kekuatan manusia.

Wahyu, al-Qur’an dan syariat ini tidak lain diturunkan oleh Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dia menjadikan al-Qur’an ini sebagai pengantar menuju kebahagiaan, kemenangan, dan keberuntungan. Bahkan, Dia memudahkannya dengan semudah-mudahnya, serta membentangkan pintu-pintu dan jalan-jalannya, juga menjadikannya sebagai gizi bagi hati dan ruhani serta ketenangan jasmani. Karena itu, fitrah-fitrah yang masih bersih menyambutnya, akal-akal yang sehat pun menerimanya dengan penuh ketundukan, karena mengetahui di dalamnya sarat dengan kebaikan dunia dan akhirat.

Oleh sebab itulah, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِلَّا تَذۡكِرَةٗ لِّمَن يَخۡشَىٰ

“Tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah).”

Dikhususkan penyebutan orang yang takut kepada Allah adalah karena selain mereka tidak akan dapat memetik manfaat dari Kitab Suci ini. Tentu saja, bagaimana mungkin orang yang tidak beriman kepada surga dan neraka, tidak pula ada rasa takut—walaupun sebesar biji sawi—dalam hatinya kepada Allah?

Tidak mungkin. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

سَيَذَّكَّرُ مَن يَخۡشَىٰ ١٠ وَيَتَجَنَّبُهَا ٱلۡأَشۡقَى ١١

“Orang yang takut (kepada Allah) akan mendapat pelajaran, orang-orang yang celaka (kafir) akan menjauhinya.” (al-A’la: 10—11)

Orang-orang yang takut kepada Allah ini, apabila disebut nama Allah dan diingatkan tentang Allah, tergetar hatinya. Dia segera ingat kepada Allah, lalu memohon ampunan kepada Allah.

Siapakah mereka?

Orang-orang yang takut kepada Allah adalah orang-orang yang Allah subhanahu wa ta’ala terangkan dalam firman-Nya,

          إِنَّمَا يَخۡشَى ٱللَّهَ مِنۡ عِبَادِهِ ٱلۡعُلَمَٰٓؤُاْۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ ٢٨

    “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Maha Pengampun.” (Fathir: 28)

Kemudian, sebagaimana dipaparkandi atas, al-Qur’anul Karim ini adalah Kitab yang banyak kebaikan di dalamnya. Allah subhanahu wa ta’ala menurunkannya untuk menjadi pedoman bagi manusia secara umum, dan orang-orang yang bertakwa secara khusus.

 

Obat Bagi Semua Penyakit

Di dalam Kitab Suci ini terkandung obat bagi semua penyakit yang diderita oleh manusia, lahir dan batin. Penyakit syahwat dan penyakit syubhat.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          وَنُنَزِّلُ مِنَ ٱلۡقُرۡءَانِ مَا هُوَ شِفَآءٞ وَرَحۡمَةٞ لِّلۡمُؤۡمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ ٱلظَّٰلِمِينَ إِلَّا خَسَارٗا ٨٢

“Dan Kami turunkan dari al-Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan al-Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (al-Isra: 82)

Dalam ayat yang lain, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ قَدۡ جَآءَتۡكُم مَّوۡعِظَةٞ مِّن رَّبِّكُمۡ وَشِفَآءٞ لِّمَا فِي ٱلصُّدُورِ وَهُدٗى وَرَحۡمَةٞ لِّلۡمُؤۡمِنِينَ ٥٧

“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Rabbmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Yunus: 57)

          وَلَوۡ جَعَلۡنَٰهُ قُرۡءَانًا أَعۡجَمِيّٗا لَّقَالُواْ لَوۡلَا فُصِّلَتۡ ءَايَٰتُهُۥٓۖ ءَا۬عۡجَمِيّٞ وَعَرَبِيّٞۗ قُلۡ هُوَ لِلَّذِينَ ءَامَنُواْ هُدٗى وَشِفَآءٞۚ وَٱلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ فِيٓ ءَاذَانِهِمۡ وَقۡرٞ وَهُوَ عَلَيۡهِمۡ عَمًىۚ أُوْلَٰٓئِكَ يُنَادَوۡنَ مِن مَّكَانِۢ بَعِيدٖ ٤٤

Dan jikalau Kami jadikan al-Qur’an itu suatu bacaan dalam selain bahasa Arab tentulah mereka mengatakan, “Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya?”

Apakah (patut al-Qur’an) dalam bahasa asing, sedangkan (rasul adalah orang) Arab?

Katakanlah, “Al-Qur’an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedangkan al-Qur’an itu suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu adalah (seperti) orang-orang yang dipanggil dari tempat yang jauh.” (Fushshilat: 44)

Demikianlah al-Qur’anul Karim ini, dia adalah obat semua penyakit syubhat; yaitu apa saja yang mengotori keyakinan manusia tentang Rabbnya, sekaligus obat bagi penyakit syahwat yang menghalangi manusia untuk tunduk kepada syariat-Nya.

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala merahmati Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah yang menegaskan: Siapa yang mentadaburi al-Qur’an untuk memperoleh petunjuk (hidayah) dari al-Qur’an, tentu jelas baginya jalan kebenaran.[2]

Di dalamnya terkandung berbagai ilmu yang diperlukan oleh manusia untuk meraih kebahagiaannya di dunia dan akhirat. Salah satu ilmu yang bermanfaat bagi manusia di dalam Kitab yang mulia ini adalah ilmu tentang al-amtsaal. Bahkan, dikatakan pula sebagai salah satu ilmu-ilmu al-Qur’an yang paling utama, dan seorang mujtahid harus bisa memahaminya.[3] Wallahu a’lam.

Berbagai hakikat yang tinggi makna dan sasarannya menjadi lebih indah ketika dibuat dalam bentuk konkret yang mendekatkan kepada pemahaman melalui kias yang telah diketahui secara yakin. Tamsil adalah pola yang dapat menonjolkan berbagai pengertian dalam bentuk yang hidup dan mapan di alam pikiran, dengan menyerupakan hal-hal yang gaib atau abstrak dengan sesuatu yang nyata atau konkret, dan mengkiaskan sesuatu dengan yang serupa.

Betapa banyak makna yang indah menjadi lebih menarik karena pemaparannya menggunakan tamsil. Itulah sebabnya jiwa lebih terdorong untuk menerimanya dan akal merasa lebih puas mencernanya. Inilah salah satu uslub al-Qur’anul Karim mengungkapkan penjelasan dan kemukjizatannya.

Al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah memasukkannya dalam bidang yang wajib diketahui oleh setiap mujtahid. Kata beliau, “Kemudian mengetahui perumpamaan-perumpamaan yang menunjukkan kepada ketaatan kepada-Nya….”[4]

Para ulama terdahulu ada yang menulis sebuah kitab khusus tentang tamsil ini, contohnya ialah al-Hasan bin Fadhl. Ada juga yang meletakkannya dalam salah satu bab dalam kitabnya, seperti Ibnul Qayyim rahimahullah.

 

Pengertian Secara Bahasa dan Istilah

Amtsal adalah bentuk jamak dari matsal yang secara harfiah artinya perumpamaan atau tamsil. Dalam bahasa Arab, matsal, mitsil dan matsiil adalah sama dengan syibh, syabah, dan syabiih, baik lafadz maupun maknanya.

Kadang kata matsal dan syabah digunakan untuk mengungkapkan keadaan atau sifat sesuatu. Misalnya firman Allah subhanahu wa ta’ala,

مَّثَلُ ٱلۡجَنَّةِ ٱلَّتِي وُعِدَ ٱلۡمُتَّقُونَۖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُۖ أُكُلُهَا دَآئِمٞ وَظِلُّهَاۚ تِلۡكَ عُقۡبَى ٱلَّذِينَ ٱتَّقَواْۚ وَّعُقۡبَى ٱلۡكَٰفِرِينَ ٱلنَّارُ ٣٥

“Perumpamaan surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang takwa ialah (seperti taman). mengalir sungai-sungai di dalamnya; buahnya tak henti-henti, sedang naungannya (demikian pula). Itulah tempat kesudahan bagi orangorang yang bertakwa; sedang tempat kesudahan bagi orang-orang kafir ialah neraka.” (ar-Ra’d: 35)[5]

Kadang kata mitsl digunakan juga untuk mengungkapkan sesuatu yang serupa dengan yang lainnya dalam salah satu makna, apa saja. Jadi, dia lebih umum untuk menerangkan kesamaan.

Akan tetapi, amtsalul Quran tidak bisa dibawakan kepada asal makna secara bahasa, yaitu keserupaan dan kesamaan. Sebab, matsal al-Qur’an juga bukan perkataan yang digunakan untuk menyerupakan sesuatu dengan isi perkataan tersebut.

Kata Syaikh as-Sa’di, “Ketahuilah bahwa al-Qur’an berisi hal-hal yang sangat tinggi, sempurna, dan bermanfaat yang diperlukan oleh manusia. Di dalamnya terdapat metode pendidikan yang paling baik, penyampaian makna ke dalam hati dengan cara paling mudah dan jelas.

Di antara cara pendidikannya yang tinggi ialah membuat perumpamaan-perumpamaan. Terkait hal ini, disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala yang Maha Menciptakan manusia tentang urusan-urusan yang penting, seperti tauhid, keadaan orang-orang yang bertauhid, tentang syirik dan para pemujanya, serta amalan yang umum dan mulia.

Tujuannya semua itu adalah untuk menjelaskan makna-makna yang bermanfaat, menyerupakannya dengan hal-hal yang dapat ditangkap oleh indra agar pembaca menyaksikannya seakan-akan melihatnya dengan mata kepalanya.

Ada pula ulama yang menyebutkan hakikat tamsil ini ialah mengeluarkan makna yang tersembunyi menjadi lebih terlihat. Tamsil terbagi dua:

  1. Tamsil yang bersifat zahir atau terang-terangan menyebutkan perumpamaan, dan
  2. Tamsil yang bersifat tertutup (kamin), yaitu yang tidak disebutkan padanya perumpamaan dengan tegas, tetapi hukumnya sama seperti amtsal.[6]

Jenis yang pertama sangat banyak terdapat dalam al-Qur’an. Misalnya firman Allah subhanahu wa ta’ala,

مَثَلُهُمۡ كَمَثَلِ ٱلَّذِي ٱسۡتَوۡقَدَ نَارٗا فَلَمَّآ أَضَآءَتۡ مَا حَوۡلَهُۥ ذَهَبَ ٱللَّهُ بِنُورِهِمۡ وَتَرَكَهُمۡ فِي ظُلُمَٰتٖ لَّا يُبۡصِرُونَ ١٧ صُمُّۢ بُكۡمٌ عُمۡيٞ فَهُمۡ لَا يَرۡجِعُونَ ١٨ أَوۡ كَصَيِّبٖ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ فِيهِ ظُلُمَٰتٞ وَرَعۡدٞ وَبَرۡقٞ يَجۡعَلُونَ أَصَٰبِعَهُمۡ فِيٓ ءَاذَانِهِم مِّنَ ٱلصَّوَٰعِقِ حَذَرَ ٱلۡمَوۡتِۚ وَٱللَّهُ مُحِيطُۢ بِٱلۡكَٰفِرِينَ ١٩ يَكَادُ ٱلۡبَرۡقُ يَخۡطَفُ أَبۡصَٰرَهُمۡۖ كُلَّمَآ أَضَآءَ لَهُم مَّشَوۡاْ فِيهِ وَإِذَآ أَظۡلَمَ عَلَيۡهِمۡ قَامُواْۚ وَلَوۡ شَآءَ ٱللَّهُ لَذَهَبَ بِسَمۡعِهِمۡ وَأَبۡصَٰرِهِمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ ٢٠

“Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat.

Mereka tuli, bisu dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar). Atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh dan kilat; mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, karena (mendengar suara) petir, sebab takut akan mati. Dan Allah meliputi orang-orang yang kafir.

Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti. Jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu.” (al-Baqarah: 17—20)

Di dalam ayat-ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala membuat perumpamaan tentang orang-orang munafik dengan dua contoh, yaitu api dan air.

Jenis yang kedua, meskipun tidak terang-terangan menyebutkan perumpamaan, tetapi sudah menunjukkan kepada makna yang menarik meskipun diungkap dengan cara yang ringkas, namun tetap memberikan pengaruh tersendiri jika dipindahkan kepada halhal yang menyerupainya.

Misalnya ayat yang semakna dengan ungkapan

كَمَا تَدِيْنُ تُدَانُ

(sebagaimana kamu berbuat, seperti itu kamu dibalas) ialah firman Allah subhanahu wa ta’ala,

          مَن يَعۡمَلۡ سُوٓءٗا يُجۡزَ بِهِۦ

“Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu.” (an-Nisa: 123)

Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan di dalam Kitab-Nya yang mulia bahwa Dia membuat sejumlah perumpamaan atau amtsal. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          وَلَقَدۡ صَرَّفۡنَا لِلنَّاسِ فِي هَٰذَا ٱلۡقُرۡءَانِ مِن كُلِّ مَثَلٖ فَأَبَىٰٓ أَكۡثَرُ ٱلنَّاسِ إِلَّا كُفُورٗا ٨٩

“Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulang kepada manusia dalam al-Qur’an ini tiap-tiap macam perumpamaan, tetapi kebanyakan manusia tidak menyukai kecuali mengingkari(nya).” (al-Isra: 89)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلَقَدۡ صَرَّفۡنَا فِي هَٰذَا ٱلۡقُرۡءَانِ لِلنَّاسِ مِن كُلِّ مَثَلٖۚ وَكَانَ ٱلۡإِنسَٰنُ أَكۡثَرَ شَيۡءٖ جَدَلٗا ٥٤

“Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulangi bagi manusia dalam al-Qur’an ini bermacam-macam perumpamaan. Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah.” (al-Kahfi: 54)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          وَلَقَدۡ ضَرَبۡنَا لِلنَّاسِ فِي هَٰذَا ٱلۡقُرۡءَانِ مِن كُلِّ مَثَلٖۚ وَلَئِن جِئۡتَهُم بِ‍َٔايَةٖ لَّيَقُولَنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ إِنۡ أَنتُمۡ إِلَّا مُبۡطِلُونَ ٥٨

Dan sesungguhnya telah Kami buat dalam al-Qur’an ini segala macam perumpamaan untuk manusia. Dan sesungguhnya jika kamu membawa kepada mereka suatu ayat, pastilah orang-orang yang kafir itu akan berkata, “Kamu tidak lain hanyalah orang-orang yang membuat kepalsuan belaka.” (ar-Rum: 58)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          وَلَقَدۡ ضَرَبۡنَا لِلنَّاسِ فِي هَٰذَا ٱلۡقُرۡءَانِ مِن كُلِّ مَثَلٖ لَّعَلَّهُمۡ يَتَذَكَّرُونَ ٢٧

“Sesungguhnya telah Kami buatkan bagi manusia dalam al-Qur’an ini setiap macam perumpamaan supaya mereka dapat pelajaran.” (az-Zumar: 27)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          وَتِلۡكَ ٱلۡأَمۡثَٰلُ نَضۡرِبُهَا لِلنَّاسِۖ وَمَا يَعۡقِلُهَآ إِلَّا ٱلۡعَٰلِمُونَ ٤٣

“Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buatkan untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.” (al-‘Ankabut: 43)

Demikian pula dalam hadis-hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, misalnya,

مَثَلُ المُؤْمِنينَ في تَوَادِّهِمْ وتَرَاحُمهم وَتَعَاطُفِهمْ مَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْه عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الجَسَدِ بِالسَّهَرِ والْحُمَّى

“Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal cinta, kasih sayang dan perasaan iba mereka, seperti satu jasad. Apabila satu anggota tubuh itu mengeluh (sakit), tentu seluruh jasad itu saling memanggil, merasakan tidak bisa tidur dan demam.”[7]

Demikianlah al-Qur’anul Karim, di dalamnya terdapat banyak hal yang mendidik dan membina jiwa manusia, meningkatkan pengertiannya untuk tetap istiqamah di atas jalan yang lurus.

 

Hikmah dan Faedah Amtsal

Para ulama menyebutkan beberapa faedah yang dapat dipetik dari pemaparan tamsil ini, baik dari dalam Kitab Suci al-Qur’anul Karim, maupun sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sahih. Di antaranya ialah sebagai peringatan, nasihat, dorongan, sekaligus upaya mencegah dari suatu kejelekan.

Lebih lanjut, faedah adanya perumpamaan ini antara lain ialah:

  1. Menonjolkan makna yang abstrak (yang dipahami oleh akal) dalam bentuk yang tertangkap oleh indra.
  2. Amtsal akan menyingkap berbagai hakikat dan menampakkan sesuatu yang gaib sebagai sebuah keadaan yang nyata.
  3. Amtsal mendorong pihak yang diberi perumpamaan agar berbuat sesuai dengan isi perumpamaan. Misalnya, orang-orang yang beriman diperumpamakan dengan keadaan Maryam yang tidak dirugikan oleh tuduhan orang-orang Yahudi terhadapnya. Ini menjadi hiburan bagi Bunda ‘Aisyah yang menerima tuduhan orang-orang munafik.
  4. Amtsal al-Qur’an juga mencakup penjelasan tentang perbedaan pahala, pujian dan celaan, ganjaran dan siksa.
  5. Amtsal al-Qur’an menjadikan urusan yang dibuat perumpamaannya sebagai sesuatu yang besar dan penting; atau sebaliknya, merendahkan urusan tersebut.
  6. Amtsal al-Qur’an menunjukkan penegasan tentang suatu persoalan atau pembatalannya.
  7. Amtsal membuat orang yang diberi perumpamaan menjauh dari sesuatu yang disebutkan perumpamaannya.

Al-Qur’anul Karim juga mengarahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar memberikan perumpamaan untuk mendekatkan pemahaman mereka kepada tujuan yang baik dan terpuji. Wallahu a’lam.

(insya Allah bersambung)

 Ditulis oleh al-Ustadz Abu Muhammad Harits

[1] Diringkas dari mukadimah Tafsir as-Sa’di rahimahullah.

[2] Lihat al-’Aqidah al-Wasithiyah.

[3] Lihat al-Itqan karya as-Suyuthi.

[4] al-Burhan, al-Imam az-Zarkasyi (1/486).

[5] Bashairu Dzawi Tamyiz, al-Fairuz Abadi (1/1401).

[6] Ibid.

[7] HR. al-Bukhari (no. 6011) dan Muslim (2586) (66)

Tanya Jawab Ringkas Edisi 113

Pernikahan yang Tidak Sah

Setelah berumah tangga 20 tahun, terbukti pernikahan ibu dan bapak tiri saya tidak sah secara agama dan pemerintah. Kami, anak-anak, menerangkan hal tersebut kepada orang tua, juga tentang dosa zina.

Alhamdulillah, ibu telah agak menjaga jarak, sementara bapak tiri tetap tidak merasa menyesal dan bersalah. Belum lagi dengan praktik perdukunan yang dilakukan bapak tiri.

Kami mohon nasihat, langkah apa yang harus kami lakukan? Kami sebagai anak-anak telah bersedia memproseskan pernikahan beliau berdua supaya sah secara agama dan pemerintah, dengan catatan bapak tiri bertobat. Akan tetapi, kenyataannya bapak tiri tetap pada perangai yang dahulu.

 Jawaban:

Urusannya kembali kepada ibu kalian selaku isterinya. Apabila ibu kalian tidak mampu bersabar terhadap suaminya (bapak tiri kalian) dan khawatir akan rusak pula akibat pengaruh akhlak buruk suaminya, sebaiknya minta cerai (khulu’).

Adapun jika dia masih menekuni perdukunan setelah nasihat yang cukup untuk penegakan hujah atasnya, pernikahan itu tidak boleh diteruskan sama sekali.

 


Mengucapkan Selamat Tahun Baru Cina

Bagaimana hukum mengucapkan selamat tahun baru Cina, Imlek, atau sejenis itu? Apakah itu juga menyangkut akidah?

 Jawaban:

Itu adalah hari raya orang kafir, tidak boleh mengucapkan selamat pada hari raya orang kafir.

 


Jumlah Rakaat Kurang

Bagaimana shalatnya orang yang lupa (kurang jumlah rakaat shalatnya). Baru ingat saat mau salam.

 Jawaban:

Segera berdiri dan menyempurnakan rakaat yang kurang, lalu sujud sahwi setelah salam.

Bagaimana jika ini terjadi beberapa hari yang lalu karena sebelumnya tidak tahu? Apa yang harus dilakukan sekarang?

 Jawaban:

Diulang shalatnya dari awal sekarang juga. Ini dikiaskan dengan orang yang lupa dan tertidur. Ini adalah pendapat jumhur ulama.

 Rakaat Kurang, Jamaah Sudah Bubar

Saya mau tanya, apakah sah shalat jamaah dengan imam yang melakukan kesalahan dalam hal jumlah rakaat? Imam shalat isya tiga rakaat. Namun, sampai akhir tidak ada yang mengingatkan. Apakah saya harus sujud sahwi?

 Jawaban:

Kalau rakaatnya kurang, semuanya wajib menambah kekurangannya jika waktunya masih dekat. Akan tetapi, kalau sudah lama selang waktunya, shalat diulang dari awal, tanpa sujud sahwi. Kecuali ketika menyempurnakan kekurangannya tersebut bersama-sama dengan imam, jika imamnya sujud sahwi, kita sujud sahwi bersamanya. Dalam kasus ini, sujud sahwi dilakukan setelah salam.

Jadi, maksudnya kita berdiri menyempurnakan satu rakaat tersebut? Bagaimana kalau jamaahnya tidak tahu ilmunya? Mereka bubar setelah35 shalat itu. Akhirnya saya sendirian menyempurnakannya, tanpa sujud sahwi.

 Jawaban:

Ya, yang Anda lakukan sudah betul. Jamaah lain yang masih mungkin diberitahu, disampaikan ilmunya. Adapun yang tidak memungkinkan, semoga Allah mengampuninya.

 


Dosa Meninggalkan Shalat

Orang yang meninggalkan shalat demi pekerjaan, apakah termasuk dosa terhadap Allah ataukah diri sendiri?

 Jawaban:

Dosa terhadap Allah di satu sisi, dan di sisi lain dia menzalimi diri sendiri, mendekatkan dirinya kepada murka Allah dan siksa-Nya.

 


Tawadhu Saat Salah

Apa bentuk sikap tawadhu yang berhubungan dengan kesalahan pribadi? Tolong dijawab.

 Jawaban:

Banyak minta ampun kepada Allah, istighfar.

 


Zikir Pagi Sore Berjamaah

Afwan apakah zikir pagi dan sore boleh dilakukan dengan berjamaah dalam satu suara? Bagaimana jika untuk anak-anak? Mereka masih butuh dibimbing dan dibiasakan.

 Jawaban:

Zikir tidak boleh dibaca secara bersama-sama. Akan tetapi, apabila dibutuhkan untuk mengajari anak-anak, boleh dilakukan seperti itu. Setelah mereka hafal, setiap anak membaca sendiri.

 


Akikah Anak 7 Tahun, Digundul?

Apakah anak umur 7 tahun harus dibotaki juga kepalanya ketika diakikahi?

 Jawaban:

Kalau sudah 7 tahun tidak perlu dicukur rambutnya. Cukup akikah saja.

 


Bacaan al-Fatihah bagi Makmum

Apakah dalam shalat maghrib & isya pada rakaat pertama dan kedua makmum diwajibkan mendengar bacaan imam dan tidak diwajibkan membaca surat al-Fatihah?

 Jawaban:

Diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Dawud dari Ubadah bin ash-Shamit radhiallahu ‘anhu bahwa suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat subuh mengimami para sahabat. Beliau mendengar ada makmum yang ikut membaca.

Setelah selesai shalat, beliau bertanya, “Sepertinya di antara kalian ada yang ikut membaca. Janganlah kalian lakukan hal tersebut di belakang imam kalian, kecuali untuk membaca al-Fatihah karena tidak ada shalat tanpa membaca al-Fatihah.”

Hadis ini derajatnya hasan. Jadi, makmum tetap membaca al-Fatihah meskipun imam mengeraskan bacaannya seperti pada shalat subuh, dan dua rakaat pertama shalat magrib dan isya. Ini adalah pendapat yang dipilih oleh asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah.

 

Shalat 12 Rakaat Setiap Hari, Dibangun Rumah Untuknya di Surga

Saya mendengar hadits yang artinya, “Barang siapa shalat dua belas rakaat dalam sehari semalam, maka akan dibangunkan rumah di surga baginya.”

Kapan saja waktu yang dimaksud?

Ummu Ashim – Bogor

 Jawaban al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc.

Yang dimaksud oleh hadits tersebut adalah shalat sunnah rawatib, bukan shalat wajib.

Hal ini disebutkan dalam beberapa hadits, di antaranya hadits berikut ini.

  1. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ ثَابَرَ عَلَى اثْنَتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ دَخَلَ الْجَنَّةَ، أَرْبَعًا قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ، وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ

“Barang siapa mengerjakan shalat dua belas rakaat secara terus-menerus pada malam dan siang, dia akan masuk surga. Empat rakaat sebelum zhuhur dan dua rakaat sesudahnya, dua rakaat setelah maghrib, dua rakaat setelah isya, dan dua rakaat sebelum fajar.” (Sahih, HR. at-Tirmidzi, dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani)

  1. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ تَوَضَّأَ فَأَسْبَغَ الْوُضُوءَ ثُمَّ صَلَّى لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ كُلَّ يَوْمٍ ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً إِ بُنِيَ لَهُ بَيْتٌ فِي الْجَنَّةِ. قَالَتْ أُمُّ حَبِيبَةَ: فَمَا زِلْتُ أُصَلِّيهِنَّ بَعْدُ. وقَالَ عَنْبَسَةُ: فَمَا زِلْتُ أُصَلِّيهِنَّ بَعْدُ. وقَالَ عَمْرُو بْنُ أَوْسٍ: فَمَا زِلْتُ أُصَلِّيهِنَّ. قَالَ النُّعْمَانُ: وَأَنَا أَكَادُ أَدَعُهُنَّ. قَالَ ابْنُ جَعْفَرٍ عَنْ عَنْبَسَةَ بْنِ أَبِي سُفْيَانَ عَنْ أُمِّ حَبِيبَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ أَنَّهَا سَمِعَتْ النَّبِيَّ يَقُولُ: مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يُصَلِّي لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ كُلَّ يَوْمٍ ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً تَطَوُّعًا غَيْرَ فَرِيضَةٍفَذَكَرَ نَحْوَهُ

“Tidaklah seorang muslim berwudhu dan menyempurnakan wudhunya lalu shalat (dengan niat ikhlas) karena Allah subhanahu wa ta’ala setiap hari sejumlah dua belas rakaat, kecuali akan dibangunkan sebuah rumah di surga baginya.”

Ummu Habibah radhiallahu ‘anha berkata, “Setelah itu, aku senantiasa mengerjakan shalat tersebut.”

‘Anbasah radhiallahu ‘anhu juga berkata, “Setelah itu aku selalu mengerjakan shalat tersebut.”

Amru bin Aus radhiallahu ‘anhu berkata, “Aku selalu mengerjakannya.”

Nu’man radhiallahu ‘anhu berkata, “Aku hampir tidak pernah meninggalkannya.”

Dari Ibnu Ja’far, dari ‘Anbasah bin Abu Sufyan, dari Ummu Habibah istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah seorang muslim shalat (dengan niat ikhlas) karena Allah ‘azza wa jalla setiap harinya dua belas rakaat shalat sunnah, selain shalat wajib…” kemudian dia menyebutkan seperti itu. (HR. Abu Dawud dan Ahmad dengan lafadz Ahmad, dan dinyatakan sahih oleh al-Albani rahimahullah)

  1. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَلَّى فِي يَوْمٍ ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً سِوَى الْفَرِيضَةِ بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ

“Barang siapa mengerjakan shalat dua belas rakaat dalam sehari selain shalat fardhu, Allah subhanahu wa ta’ala akan membangun untuknya sebuah rumah di surga.” (HR. an-Nasa’i, al-Albani rahimahullah mengatakan bahwa hadits ini shahih li ghairihi)

Dari hadits-hadits di atas, dapat diringkas bahwa 12 rakaat yang dimaksud ialah sebagai berikut.

  1. Empat rakaat sebelum zhuhur.
  2. Dua rakaat setelah zhuhur.
  3. Dua rakaat setelah maghrib.
  4. Dua rakaat setelah isya.
  5. Dua rakaat sebelum subuh.

Wallahu a’lam.

Iblis vs Manusia (6) : Akhir Perseteruan, Kehinaan Tak Bertepi

Tidak ada jalan yang tak berujung. Sejauh apa pun kita berjalan, tentu ada batas untuk kita berhenti. Setelah melalui perjalanan panjang, sejak diturunkan ke dunia, sampailah pada suatu waktu yang tidak pernah tercatat dalam matematika manusia.

Sangkakala yang saat ini sudah ada di mulut Israfil, mengeluarkan suara yang menggoncang seluruh makhluk yang ada. Semua terkapar, mati dan binasa kecuali yang dikehendaki oleh Allah ‘azza wa jalla.

Tinggal Israfil, menanti keputusan al-Malik ad-Dayyaan Tabaraka wa Ta’ala.

Akhirnya, semua binasa, kembali fana (tiada). Yang tinggal hanyalah al-Malik al-Jabbar, lalu Dia melipat langit dan menggenggamnya dengan Kanan-Nya serta berfirman,

أَنَا الْمَلِكُ، أَيْنَ الْجبَّارُونَ؟ أَيْنَ الْمُتَكَبِّرُونَ؟ ثم يَطْوِي الْأَرْضَ بِشِمَالِهِ، ثُمَّ يَقُولُ: أَنَا الْمَلِكُ، أَيْنَ الْجَبَّارُونَ؟ أَيْنَ الْمُتَكَبِّرُونَ؟

“Akulah Maharaja. Di mana para penindas itu? Di mana orang-orang yang takabur (merasa besar dan hebat) itu?” Kemudian Dia melipat bumi dengan Kiri-Nya, lalu berfirman, “Akulah Maharaja. Di mana para penindas itu? Di mana orang-orang yang takabur (merasa besar dan hebat) itu?” (HR. Muslim no. 2788 dari Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma)

Kemudian, Israfil meniup lagi sangkakalanya. Bangkitlah seluruh manusia dari kematian mereka, dan yang pertama kali dibangkitkan adalah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akan tetapi, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan bahwa beliau melihat Nabi Musa ‘alaihissalam berpegangan di tiang ‘Arsy, tanpa diketahui apakah Nabi Musa alaihissalam sudah lebih dahulu bangkit ataukah beliau.

Kemudian manusa digiring menuju Padang Mahsyar. Semua keluar dari kuburnya tanpa berpakaian, tidak beralas kaki, tidak berkhitan, dan tidak membawa sesuatu pun. Adapun yang pertama kali diberi pakaian adalah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.

Itulah hari ketika langit dan bumi diganti dengan langit dan bumi yang lain. Hari itu, pandangan manusia demikian tajamnya. Yang dahulu—di dunia—tidak mampu mereka lihat, hari itu mereka melihatnya.

Matahari didekatkan sejarak satu mil di atas kepala manusia. Persidangan mulai digelar. Hakimnya, Allah ‘azza wa jalla. Para saksi mulai berdiri, yaitu para nabi dan rasul terhadap umatnya masing-masing, kecuali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan umatnya yang menjadi saksi pula terhadap seluruh umat yang lain.

Tangan, kaki, dan kulit tubuh manusia ikut pula menjadi saksi. Tanah yang diinjak oleh kaki-kaki manusia juga turut menjadi saksi.

Tidak ada yang terzalimi, semua menyaksikan kemahaadilan Allah subhanahu wa ta’ala. Mereka yang mati ‘penasaran’, melihat kembali rekaman ulang, mengapa dia dibunuh, atau mengapa orang membunuhnya.

Setelah selesai persidangan, penghuni surga digiring menuju surga tempat tinggal abadi mereka. Hilanglah kepayahan dan kesedihan serta kesusahan yang seakan tiada henti menggayutnya di dunia. Kelegaan dan ketenangan menyelinap cepat dalam hatinya begitu dia menjejakkan kakinya di lantai surga.

Adapun penghuni neraka, mereka diseret dengan paksa, bahkan disungkurkan di atas muka-muka mereka lalu dilemparkan ke neraka. Demi Allah, Allah subhanahu wa ta’ala tidak menzalimi mereka sedikit pun, baik di dunia maupun di akhirat.

Satu demi satu, rombongan demi rombongan penghuni neraka dilemparkan ke neraka. Setiap kali rombongan itu masuk, mereka saling melaknat. Saling menyalahkan, dan saling berlepas diri. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

قَالَ ٱدۡخُلُواْ فِيٓ أُمَمٖ قَدۡ خَلَتۡ مِن قَبۡلِكُم مِّنَ ٱلۡجِنِّ وَٱلۡإِنسِ فِي ٱلنَّارِۖ كُلَّمَا دَخَلَتۡ أُمَّةٞ لَّعَنَتۡ أُخۡتَهَاۖ حَتَّىٰٓ إِذَا ٱدَّارَكُواْ فِيهَا جَمِيعٗا قَالَتۡ أُخۡرَىٰهُمۡ لِأُولَىٰهُمۡ رَبَّنَا هَٰٓؤُلَآءِ أَضَلُّونَا فَ‍َٔاتِهِمۡ عَذَابٗا ضِعۡفٗا مِّنَ ٱلنَّارِۖ قَالَ لِكُلّٖ ضِعۡفٞ وَلَٰكِن لَّا تَعۡلَمُونَ ٣٨

Allah berfirman, “Masuklah kamu sekalian ke dalam neraka bersama umat-umat jin dan manusia yang telah terdahulu sebelum kamu.” Setiap suatu umat masuk (ke dalam neraka), dia mengutuk kawannya (yang menyesatkannya); hingga apabila mereka masuk semuanya berkatalah orang-orang yang masuk kemudian di antara mereka kepada orang-orang yang masuk terdahulu, “Wahai Rabb kami, mereka telah menyesatkan kami, sebab itu datangkanlah kepada mereka siksaan yang berlipat ganda dari neraka.” Allah berfirman, “Masing-masing mendapat (siksaan) yang berlipat ganda, tetapi kamu tidak mengetahui.” (al-A’raf: 38)

Namun, dengan semua itu, Allah subhanahu wa ta’ala tetap Maha Terpuji. Tidak ada yang salah ketika Dia memulai menciptakan segala sesuatu, dari tiada menjadi ada. Maha Terpuji pula ketika Dia melenyapkan semuanya, lalu memutuskan persoalan hamba-hamba-Nya; yang di neraka dikurung di dalamnya dengan selaksa azab. Yang di surga dimuliakan di dalamnya dengan beragam kenikmatan. Semuanya kekal di dalam tempat masing-masing, selama-lamanya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَتَرَى ٱلۡمَلَٰٓئِكَةَ حَآفِّينَ مِنۡ حَوۡلِ ٱلۡعَرۡشِ يُسَبِّحُونَ بِحَمۡدِ رَبِّهِمۡۚ وَقُضِيَ بَيۡنَهُم بِٱلۡحَقِّۚ وَقِيلَ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ٧٥

Dan kamu (Muhammad) akan melihat malaikat-malaikat berlingkar di sekeliling ‘Arsy bertasbih sambil memuji Rabb mereka; dan diberi putusan di antara hamba-hamba Allah dengan adil dan diucapkan, “Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.” (az-Zumar: 75)

Demikianlah, seluruh penghuni neraka mulai mencaci dan mengutuk orang-orang yang dahulu mereka ikuti dan ternyata menyesatkan mereka. Akhirnya, mereka menujukan cercaan dan kutukan itu kepada Iblis. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَقَالَ ٱلشَّيۡطَٰنُ لَمَّا قُضِيَ ٱلۡأَمۡرُ إِنَّ ٱللَّهَ وَعَدَكُمۡ وَعۡدَ ٱلۡحَقِّ وَوَعَدتُّكُمۡ فَأَخۡلَفۡتُكُمۡۖ وَمَا كَانَ لِيَ عَلَيۡكُم مِّن سُلۡطَٰنٍ إِلَّآ أَن دَعَوۡتُكُمۡ فَٱسۡتَجَبۡتُمۡ لِيۖ فَلَا تَلُومُونِي وَلُومُوٓاْ أَنفُسَكُمۖ مَّآ أَنَا۠ بِمُصۡرِخِكُمۡ وَمَآ أَنتُم بِمُصۡرِخِيَّ إِنِّي كَفَرۡتُ بِمَآ أَشۡرَكۡتُمُونِ مِن قَبۡلُۗ إِنَّ ٱلظَّٰلِمِينَ لَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٞ ٢٢

Dan berkatalah setan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan, “Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepada kalian janji yang benar, dan aku pun telah menjanjikan kepada kalian tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadap kalian, melainkan (sekadar) aku menyeru kalian lalu kalian mematuhi seruanku. Oleh sebab itu, janganlah kalian mencercaku, tetapi cercalah diri kalian sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolong kalian dan kalian pun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatan kalian mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu.” Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu mendapat siksaan yang pedih. (Ibrahim: 22)

Al-Imam al-Bukhari rahimahullah meriwayatkan dalam Khalqu ‘Af’alil ‘Ibad dari ‘Uqbah bin ‘Amir al-Juhani radhiallahu ‘anhu bahwa dia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisahkan keadaan manusia di padang mahsyar, hingga orang-orang yang kafir berkata,

هَذَا قَدْ وَجَدَ الْمُؤْمِنُونَ مَنْ يَشْفَعُ، فَمَنْ يَشْفَعْ لَنَا؟ مَا هُوَ إِلاَّ إِبْلِيسُ، هُوَ الَّذِي أَضَلَّنَا. فَيَأْتُونَ إِبْلِيسَ، فَيَقُولُونَ: هَذَا قَدْ وَجَدَ الْمُؤْمِنُونَ مَنْ يَشْفَعُ لَهُمْ، ثُمَّ يَقُولُ الْكَافِرُونَ: فَقُمْ أَنْتَ فَاشْفَعْ لَنَا، فَإِنَّكَ أَضْلَلْتَنَا. فَيَثُورُ مَجْلِسُهُ أَنْتَنَ رِيحٍ شَمَّهَا أَحَدٌ قَطُّ، ثُمَّ يَعْظُمُ لِجَهَنَّمَ، فَيَقُولُ الشَّيْطَانُ لَمَّا قُضِيَ الأَمْرُ  }إِنَّ ٱللَّهَ وَعَدَكُمۡ وَعۡدَ ٱلۡحَقِّ وَوَعَدتُّكُمۡ فَأَخۡلَفۡتُكُمۡۖ  {الآيَة

“Inilah, orang-orang yang mukmin telah mendapatkan orang yang memintakan syafaat buat mereka, maka siapa yang akan memintakan syafaat untuk kita? Tidak lain adalah Iblis, Dialah yang telah menyesatkan kita.”

Lalu mereka mendatangi Iblis dan berkata, “Inilah, kaum mukminin telah mendapatkan orang yang memintakan syafaat buat mereka,” kemudian mereka berkata lagi, “Berdirilah kamu, mintakanlah syafaat buat kami, karena kamu yang telah menyesatkan kami.”

Tiba-tiba tempat duduk Iblis memancarkan bau yang sangat busuk yang pernah dicium oleh seseorang, kemudian tubuhnya diperbesar untuk Jahannam (seperti orang kafir lainnya untuk merasakan azab). Setan pun berkata setelah semua perkara diselesaikan (sebagaimana dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala),

“Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepada kalian janji yang benar, dan aku pun telah menjanjikan kepada kalian tetapi aku menyalahinya.”[1]

Siapa mutakabbir paling besar, paling jahat, dan paling buruk? Setan. Dia pula makhluk pertama yang diikuti dalam kesesatan dan semua penyimpangan. Dialah pemimpin orang-orang yang sesat dan merasa hebat (takabur), sehingga membuatnya dijauhkan dari rahmat Allah subhanahu wa ta’ala sejauh-jauhnya.

Ketika semua perkara sudah diselesaikan, dengan keputusan, penduduk jannah segera masuk ke dalam istana dan tempat tinggal mereka, sedangkan penghuni neraka, segera masuk untuk merasakan azab dan penderitaan abadi. Setan berdiri di mimbar dari neraka di dalam neraka, menjawab semua caci maki dan kutukan yang ditujukan kepadanya.

“Sungguh, Allah Yang Mahasempurna dalam segala hal, telah menjanjikan kepada kalian semua janji yang haq (pasti dan benar), bahwa Dia akan mengutus para rasul kepada kalian, menurunkan bersama mereka bukti-bukti dan kitab-kitab yang di dalamnya Dia menerangkan kepada kalian bahwa Dia adalah Rabb (Yang Mencipta, Memberi rezeki, Mengatur dan Memelihara) kalian, Yang Mahatunggal lagi Mahaperkasa.

Para rasul itu mengajak kalian kembali kepada-Nya setelah kalian diseret oleh para setan. Mereka memberi kabar gembira bagi orang-orang yang menyambut seruan itu dan memperingatkan orang-orang yang menolak. Dan Dia Mahakuasa dengan kekuasaan yang sempurna. Semua yang dikatakan-Nya sesuai dengan kenyataan—sebagaimana yang kalian lihat dan alami—dan Dia menepati janji serta memberi balasan sempurna bagi kalian.

Adapun aku, memang memberi janji kepada kalian dengan membuat kalian memandang indah berbagai maksiat, dengan bisikan-bisikan dan janji-janji yang batil, lalu aku menyelisihi janjiku kepada kalian.

Tidaklah aku mengatakan sesuatu melainkan itu adalah penyelewengan, lalu kalian mengikutiku padahal aku jelas-jelas musuh kalian. Lalu kalian tinggalkan Rabbmu, padahal Dia adalah Rabb dan Wali (Pelindung dan Penolong) bagi kalian semua.”

Setelah menerangkan tipuannya, setan menerangkan pula betapa mudahnya menipu mereka, sehingga menambah penyesalan yang luar biasa dalam diri mereka.

Setan pun melanjutkan,

“Tidak ada sama sekali kekuasaanku terhadap kalian, sekecil apa pun. Aku hanya mengajak kalian dengan bisikan (waswas) yang menjadi sebab yang kuat mendorong kalian kepada kejahatan, lalu kalian menyambut ajakanku dengan antusias sambil menjadikan syahwat sebagai hakim, berpaling dari akal sehat dan seruan orang-orang yang memberi nasihat.

Seandainya kalian jadikan akal kalian sebagai hakim, niscaya kalian mengikuti orang-orang yang memberi petunjuk. Sebab, di jalan mereka ada cahaya yang membawa kepada hidayah.

Oleh sebab itu, janganlah kalian mencelaku, tetapi celalah diri kalian sendiri. Sebab, kalian sendirilah yang dihukum akibat perbuatan kalian. Sebab, sesungguhnya, kalian mempunyai kemampuan dan ikhtiar, tetapi kalian cenderung kepada kejelekan dan meninggalkan yang baik.

Aku tidak bisa menolong kalian dari azab ini, kalian juga tidak bisa menolongku dari azab ini. Sungguh, aku tidak membenarkan perbuatan kalian mempersekutukan aku dengan Allah subhanahu wa ta’ala sejak dahulu. Sungguh, orang-orang yang zalim itu mendapat siksaan yang pedih.

Allahu a’lam.

Dialog ini diceritakan tidak lain adalah agar orang-orang yang mendengar dan membacanya setiap kali melewati ayat ini, benar-benar bersiap dan mempersiapkan diri menghadapi hari yang dahsyat itu. Hari yang tidak ada lagi gunanya hubungan kekerabatan dan kasih sayang sedekat apa pun ketika di dunia. Hari ketika seseorang lari dari saudaranya, dari ibu dan ayahnya, dari kerabat-kerabatnya. Putus semua hubungan kasih sayang, persaudaraan dan ikatan sumpah setia, kecuali pada orang-orang yang bertakwa.

Sudah begitu rupa curang dan liciknya setan, masih juga ada yang terbuai dengan janjinya. Sebagaimana yang telah lalu, kalau boleh dikatakan, di antara janjinya yang batil itu adalah dia membentangkan 70 kebaikan untuk menjerumuskan manusia dalam satu kejahatan.

Lihatlah akibatnya, ketika mereka bermudah-mudahan dengan televisi, dengan alasan untuk dakwah. Apa yang terjadi?

Para suami menjadi dayyuts, membiarkan orang-orang yang di bawah kekuasaannya bermaksiat kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Muncul dari sebagian akhwat mad’u mereka ungkapan kagum kepada ustadz yang mengisi acara. Nasihat atau pelajaran apa yang diperoleh, ketika hati terkotori akibat melepaskan pandangan mata?

Dan itu bukan sekali dua kali. Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah menegaskan bahwa tidak ada fitnah (godaan/ujian) yang beliau tinggalkan yang lebih berbahaya bagi kaum pria dibandingkan dengan fitnah wanita?

Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga sudah mengingatkan bahwa salah satu dari tiga orang yang tidak diajak bicara oleh Allah subhanahu wa ta’ala pada hari kiamat, tidak dilihat oleh Allah subhanahu wa ta’ala, dan dia mendapatkan azab yang pedih adalah para dayyuts?

Berita ini adalah dari Dzat Yang Mahabenar perkataan-Nya. Dia turunkan dalam kitab-Nya yang mulia, yang tidak disentuh kebatilan baik dari depan maupun belakangnya. Semua ini adalah peringatan bagi mereka yang masih mempunyai hati (akal), atau mencurahkan pendengarannya (perhatiannya) dan dia menyaksikan.

Sungguh, al-Qur’an ini hanya akan menjadi petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa, orang-orang yang hatinya takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan takut akan ancaman yang mengerikan di hari kiamat nanti.

Wallahul Muwaffiq

 Ditulis oleh al-Ustadz Abu Muhammad Harits

[1] HR. Abu Ya’la (5/332 no. 2956), ath-Thabarani (17/321 no. 887) dan dalam sanadnya ada ‘Abdurrahman bin Ziyad, dia lemah, sebagaimana juga dalam Khalqu Af’alil ‘Ibad karya al-Imam al-Bukhari. Hadis ini sahih dengan beberapa syawahid-nya (lihat asy-Syafa’ah karya asy-Syaikh Muqbil rahimahullah).

Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu (12) : Perang Jalula

Jatuhnya al-Madain bulan Shafar tahun 16 H, telah meruntuhkan mental bangsa Persia. Lebih-lebih lagi ketika mengetahui bahwa kaum muslimin berhasil memasuki wilayah al-Madain setelah menyeberangi sungai Dajlah (Tigris) dengan selamat, tanpa alat penyeberangan seperti rakit, perahu, atau jembatan. Sebab, semua sarana untuk menyeberang sudah dimusnahkan oleh tentara-tentara Persia itu agar kaum muslimin tidak sampai menyerbu ke dalam ibu kota negara.

Akan tetapi, Allah Mahakuasa. Kehendak-Nya jua yang berlaku. Apa saja yang dikehendaki-Nya pasti terjadi dan semua yang tidak dikehendaki-Nya tidak akan pernah terjadi.

Kemenangan yang sudah dijanjikan-Nya untuk kaum mukminin melalui lisan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah kehendak yang sudah pasti. Oleh karena itu, pasti ada saja jalan untuk mewujudkannya. Dia subhanahu wa ta’ala pula yang memberi taufik kepada pasukan muslimin yang dipimpin oleh Sa’d untuk menyeberangi sungai yang saat itu meluap dan mengalir deras.

Bukankah sungai itu juga salah satu tentara Allah subhanahu wa ta’ala? Ini pula salah satu dari sekian rahasia—sesudah Allah subhanahu wa ta’ala—mengapa kaum muslimin selamat dan tenang berjalan di atas air yang sedang banjir itu.

Itulah sebuah hubungan yang serasi. Ketika manusia-manusianya beriman dan tunduk kepada Allah subhanahu wa ta’ala, semua yang di alam ini menjadi sahabat dan saudaranya. Semua terpanggil untuk membantu saudaranya.

Keadaan ini akan semakin terbukti nanti suatu saat, ketika kaum mukminin menumpas musuh-musuh Allah subhanahu wa ta’ala dari kalangan Yahudi. Semua batu dan pepohonan akan memanggil setiap muslimin dan mengadukan bahwa di belakangnya ada Yahudi yang bersembunyi.

Bukan pula suatu hal yang aneh, pasukan muslimin berjalan dengan santainya di atas air sungai yang sedang meluap dan banjir itu. Sebab, Allah subhanahu wa ta’ala lah yang menahan kaki-kaki kuda mereka agar tidak tenggelam. Dia subhanahu wa ta’ala juga yang memerintahkan sungai itu untuk tidak menenggelamkan tentara-tentara-Nya yang sedang berjihad di jalan-Nya. Itu hanyalah sebagian kecil dari kekuasaan-Nya.

Allah subhanahu wa ta’ala, Dia-lah yang menahan langit agar tidak jatuh menimpa bumi dan membinasakan penghuninya. Dia subhanahu wa ta’ala pula yang menahan burung-burung agar terbang melayang di angkasa. Karena itu, tidak sulit bagi Allah subhanahu wa ta’ala menahan para hamba-Nya yang sedang berjuang menegakkan kalimat-Nya agar tinggi mulia sehingga tidak tenggelam atau terbawa aliran sungai yang sedang meluap itu.

Selain itu, berita gembira yang pernah terucap dari lisan ash-Shadiqul Mashduq shallallahu ‘alaihi wa sallam, Rasul (Utusan) Allah yang tidak berbicara dengan hawa nafsunya. Apa yang disampaikannya adalah wahyu yang diwahyukan kepadanya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menjanjikan bahwa kaum muslimin akan menguras simpanan kekayaan Kisra Persia dan membelanjakannya di jalan Allah subhanahu wa ta’ala.

Semua itu menambah semangat dan keyakinan semua prajurit muslim yang dipimpin Sa’d, lalu mendorong mereka menyambut tawaran Panglima itu untuk menyeberangi sungai dengan kuda-kuda perang mereka.

Demikianlah, sebagaimana telah diceritakan pada edisi lalu, kaum muslimin berhasil menembus jantung ibu kota dan menguras semua kekayaan istana lalu mengirimnya kepada Amirul Mukminin ‘Umar di Kota Madinah.

Melihat kiriman ghanimah yang luar biasa banyaknya, Khalifah ‘Umar bergumam, “Sungguh, orang-orang yang menunaikan ini semua adalah orang-orang yang tepercaya menjaga amanah.”

‘Ali yang mendengar ucapan itu menimpali, “Anda adalah orang yang menjaga kehormatan, maka rakyat Anda juga menjaga kehormatan mereka.”

 Perang Jalula’

Malu, takut, dan putus asa, serta dendam. Itulah yang dibawa lari oleh tentara Persia yang tersisa meninggalkan al-Madain. Mereka terus melarikan diri hingga ke Jalula’. Sebuah daerah kecil di perbatasan Irak dan Iran, sekitar 185 km sebelah tenggara Baghdad sekarang. Daerah ini adalah basis pertahanan terakhir Kerajaan Sasan dalam menghadapi kaum muslimin.

Di saat-saat bangsa Persia tercerai-berai di wilayah itu, tampillah dua perwira tinggi militer Persia yang sudah merasakan pahitnya kekalahan di Qadisiyah. Keduanya adalah Hurmuzan dan Mahran ar-Razi.

Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, berbekal dendam yang bergelora, keduanya menyatukan seluruh prajurit Persia yang masih tersisa dan membuat markas di Jalula’. Sebuah lokasi yang sebetulnya sangat strategis, dengan tembok yang tinggi dan kuat di sekelilingnya.

Kedua perwira itu berusaha menyalakan semangat tempur prajurit Persia yang nyaris padam. “Kalau kalian bercerai berai, niscaya tidak akan pernah lagi bersatu padu selamanya. Inilah lokasi yang menentukan di antara kita. Karena itu, mari bersatu, kita serang orang-orang Arab itu. Kalau kita menang, itulah harapan kita; dan kalau kalah, kita sudah berjuang.”

Kemudian, Mahran meminta kepada Yazdajird tambahan pasukan dan bahan makanan pokok. Dia memerintahkan agar para prajurit membuat parit perlindungan yang besar dan dalam, mengitari tembok kota. Dia juga memerintahkan agar dipasang ranjau besi untuk menghalangi kuda-kuda kaum muslimin memasuki kota.

Sementara itu, Panglima Sa’d radhiallahu ‘anhu masih menunggu perintah dari Khalifah  ‘Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu. Dia sudah memberi laporan tentang keadaan al-Madain dan menyampaikan pula bahwa pasukan Persia sudah berkumpul di Jalula’.

Khalifah memerintahkan agar Sa’d tetap di Qadisiyah dan mengirim pasukan tersendiri ke Jalula’, diperkuat oleh Qa’qa’ bin ‘Amr, ‘Amr bin Ma’dikarib, dan Thulaihah.

Setelah menerima perintah, Sa’d menyuruh putra saudaranya, Hasyim bin ‘Utbah, agar bertolak dengan 12.000 personil menuju Jalula’. Di dalam pasukan itu masih banyak sahabat Muhajirin dan Anshar yang ikut.

Pasukan ini adalah ujung tombak yang diarahkan kepada pasukan Persia di Jalula yang kekuatannya 15 kali lipat pasukan muslimin. Bahkan, Mahran membuat taktik perang baru, yaitu dengan cara maraton. Dia membagi dua pasukan Persia, separuhnya dengan kekuatan penuh akan menyerang kaum muslimin, yang lain istirahat.

Penyerangan akan dilakukan bergantian, kalau pasukan pertama menyerang, yang kedua istirahat. Pada gilirannya, pasukan yang tadi istirahat akan menyerang kaum muslimin, begitu seterusnya sampai kaum muslimin—menurut mereka—kehabisan tenaga dan mudah dilumpuhkan.

Sudah tentu, menurut hitungan manusia, lawan kaum muslimin ini tidak seimbang dengan kaum muslimin. Ditambah lagi, pasukan lawan sudah terlatih. Akan tetapi, itu tidak ada gunanya, dan sudah terbukti.

Begitu tiba di Jalula’, mereka kaget melihat pertahanan yang dibuat pasukan Persia. Mereka hanya mempunyai dua pilihan, menang atau kalah. Mahran betul-betul menjadi harapan terakhir bangsa Persia untuk memukul mundur kaum muslimin.

Persiapan tentara Persia luar biasa. Mereka menyiapkan ransum yang cukup untuk hidup berbulan-bulan di dalam kota itu. Semua persediaan lengkap. Kaum muslimin mengepung kota itu hampir tujuh bulan. Setiap ada kesempatan, tentara Persia dengan kekuatan besar menyerang kaum muslimin kemudian kembali ke balik parit perlindungan. Tentu saja, kaum muslimin semakin lama merasakan tekanan dan kepayahan. Mereka dipaksa untuk selalu siaga penuh menyambut serbuan pasukan Persia yang datang dengan kekuatan besar.

Melihat situasi semakin sulit, Hasyim mengirim utusan kepada Panglima Sa’d meminta bantuan. Segera saja dikirim pasukan baru dengan diperkuat oleh Qa’qa, ‘Amr bin Ma’dikarib, dan Thulaihah al-Asadi serta yang lainnya. Masing-masing sama kekuatannya, yakni dengan seribu orang.

 Pukulan Terakhir

Lambat laun, pasukan Persia juga merasa bosan. Melihat ketabahan kaum muslimin yang luar biasa, Mahran mengajak para perwira lainnya bermusyawarah, langkah apa yang harus dilakukan mengakhiri keadaan ini.

Allah Mahakuasa, Dia takdirkan mereka menyetujui untuk menyerang kaum muslimin dengan kekuatan lengkap. Ahad pagi, 15 Dzulqa’dah tahun 16 H, pasukan Persia keluar dari markas mereka dengan kekuatan penuh. Seakan-akan ini adalah pasukan penentu yang akan memusnahkan pasukan muslimin—menurut mereka.

Hasyim mengingatkan, “Kedudukan hari ini ditentukan oleh yang setelahnya. Berbuatlah karena Allah subhanahu wa ta’ala.”

Ucapan ringkas ini cukup menyulut semangat tempur kaum muslimin.

Keduanya saling mendekat dan mulai menyerang. Saking dahsyatnya pertempuran hari itu, seperti hari terakhir Qadisiyah. Tidak ada yang terdengar kecuali teriakan kesakitan atau jerit kematian, dan denting senjata serta desingan panah dan tombak yang dilemparkan. Begitu hebatnya pertempuran, sampai-sampai kaum muslimin menunaikan shalat zhuhur dengan isyarat.

Tidak ada kesempatan buat menata barisan untuk shalat, musuh betul-betul bertekad melenyapkan kaum muslimin. Namun, itulah keimanan. Dalam situasi genting seperti itu, shalat yang merupakan kewajiban indvidu tidak mereka tinggalkan. Padahal, banyak orang di masa kini yang mengaku dirinya muslim, shalat tidak lagi mereka anggap kewajiban, bahkan sering tidak diperhatikan.

Bagaimana mereka akan sukses, dunia akhirat, apabila shalat disia-siakan? Bagaimana mungkin mereka meraih kebahagiaan, kemenangan dan kejayaan, apabila shalat ditinggalkan? Tidakkah kaum muslimin meniru keadaan generasi awal umat ini? Para pendahulu mereka yang saleh?

Nyawa mereka terancam oleh musuh yang mengepung dan menyerang dari semua penjuru. Jika lengah, kepala mereka bisa lepas dan nyawa mereka melayang. Akan tetapi, shalat untuk mengingat Allah subhanahu wa ta’ala, menunjukkan ketaatan kepada-Nya dan mensyukuri-Nya, tidak mereka lupakan sekejap matapun.

Akan tetapi, memang hanya orang-orang yang masih mempunyai hati yang hidup, sehat, dan bersih serta terisi dengan rasa takut dan harap serta cinta kepada Allah yang akan mampu mengambil pelajaran.

Pertempuran masih berlangsung. Silih berganti pasukan Persia menyerang kaum muslimin. Jika satu kelompok menyerang, yang lain istirahat, dan begitu seterusnya.

Qa’qa’ melihat situasi tersebut dan cepat mengambil keputusan. Kaum muslimin harus bisa memutus jalur balik pasukan Persia menuju benteng perlindungan. Kaum muslimin harus bisa menerobos dan mengambil posisi di belakang pasukan Persia, di antara parit dan tembok benteng.

Dengan lantang, dia berseru, “Seranglah mereka dengan serempak, sampai bisa berbaur dengan mereka.”

Mendengar perintah komandan mereka, kaum muslimin mengerahkan seluruh kemampuan mereka menyerang pasukan Persia. Mereka terus mendesak dan berusaha menerobos agar tiba di pintu parit perlindungan itu.

Dengan mengerahkan segenap kekuatan mereka, Qa’qa’ dan pasukannya mendesak tentara Persia sampai di pintu parit perlindungan di luar tembok kota.

Malam mulai menjulurkan tirainya menyelimuti persada. Bumi mulai gelap dan pasukan saling berjaga karena kegelapan. Qa’qa’ justru ingin perang terus berlanjut agar segera bisa menguasai parit itu dan memutus jalur balik pasukan Persia ke kota.

Dengan lantang Qa’qa’ berseru, “Wahai kaum muslimin, ini Amir (pemimpin) kalian, di pintu parit, segera ke sini. Jangan ada yang menghalangi kalian untuk memasukinya!”

Demi mendengar teriakan itu, kaum muslimin segera membuka jalan dengan menerobos barisan musuh untuk mendekat ke arah Panglima mereka, Hasyim.

Akhirnya, pasukan muslimin berhasil mendekati pintu parit perlindungan itu, dan ternyata mereka melihat Qa’qa’ di sana sudah membuat kocar kacir pasukan Persia. Ranjau-ranjau yang dipasang pasukan Persia justru melumpuhkan kuda-kuda mereka sendiri. Angin kencang bertiup menambah kekacauan di barisan musuh.

Tentara Persia mulai di ambang kekalahan. Mereka melarikan diri tanpa kuda dan dikejar oleh kaum muslimin. Tidak ada yang lolos dari kaum muslimin kecuali yang tidak melarikan diri. Mayat-mayat tentara Persia berserakan di bumi Jalula’, seakan-akan menutupi permukaannya. Karena itulah, ia dinamakan Jalula’.

Kemenangan itu lebih hebat dari Qadisiyah. Rampasan perang yang diperoleh kaum muslimin juga lebih banyak. Semua dikumpulkan kepada Hasyim dan dikirimkan kepada Panglima Sa’d untuk diteruskan ke Madinah.

Mengetahui kekalahan Persia di Jalula’, Yazdajird lari ke Hulwan bersama pengawalnya.

(insya Allah bersambung)

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Muhammad Harits

Tanya Jawab Ringkas Edisi 112

Berikut ini adalah jawaban dari al-Ustadz Muhammad as-Sarbini.

Kosmetika Pemutih Wajah dan Kulit

Bagaimana hukumnya memakai obat pemutih wajah dan kulit?

 Jawaban:

Jika obat itu bersifat membersihkan dan menyegarkan kulit tanpa mengubah warna kulit dari aslinya secara permanen, maka boleh. Jika mengubah warna kulit dari aslinya dan bersifat permanen, maka tidak boleh.

Masalah ini telah kami bahas pada rubrik “Problema Anda” edisi 33.

 


Dilamar Lelaki yang Belum Ngaji

Ada seorang laki-laki yang belum mengenal dakwah salaf ingin melamar saya. Setahu saya, dia orang yang baik dan mau belajar agama. Apakah saya bisa menerimanya dengan alasan saya ingin menjaga diri dan ingin memperoleh pahala dengan menjadi istrinya?

 Jawaban:

Jika Anda sudah menjadi wanita salafiyah yang istiqamah dengan syariat Allah l, kami nasihatkan agar Anda tidak mengambil risiko menikah dengan pria yang belum mengenal dakwah salaf. Coba hubungi ummahat yang bisa membantu Anda agar mencarikan pasangan dari kalangan salafiyin. Kecuali jika Anda khawatir jatuh dalam keburukan karena sudah sangat ingin merasakan menjadi seorang istri. Wallahu a’lam.

 


Wali Tidak Diketahui Keberadaannya

Bagaimana hukum nikah dengan wali hakim, karena wali dari kalangan keluarga pergi sejak dia masih dalam kandungan ibunya. Dia pernah mencari ke alamat sang wali, tetapi tidak ketemu.

 Jawaban:

Jika pencarian sudah maksimal dan tidak ada hasil, tidak pula ada wali berikutnya yang berhak, laporkan ke wali hakim di Kantor Urusan Agama (KUA) agar mereka memutuskan perkara Anda. Jika mereka memutuskan dinikahkan dengan wali hakim, ikuti keputusan mereka. Wallahu a’lam.

 


Mengucapkan Cerai Setiap Kali Marah

Bagaimana hukumnya, setiap kali marah suami selalu berkata cerai kepada istri? Apakah boleh jika baru menikah 4 bulan istri meminta cerai karena sejak awal menikah suami tidak menafkahi dan suka berlaku kasar?

 Jawaban:

Jika ia marah tetapi terkendali, talak telah jatuh. Jika tidak mampu menasihatinya dan tidak mampu lagi bersabar bersamanya, istri boleh meminta pisah yang disebut khulu’, dengan syarat membayar tebusan senilai mahar atau semisalnya menurut kesepakatan kedua belah pihak.

 


Haid Pertama Kali

Seorang perempuan berumur 15 tahun baru pertama kali mengalami haid. Pada hari ke-5 dia melihat qashshatul baidha, lalu mandi dan shalat. Pada hari yang ke-6 dia melihat kembali darah yang sifatnya seperti darah haid selama dua hari. Apakah pada hari yang ke-5 itu dia mengerjakan shalat? Apakah darah yang keluar setelah suci itu termasuk darah haid?

 Jawaban:

Ya. Jika darahnya bersifat darah haid, dihukumi haid. Hukum berputar bersama ‘illat (faktor penyebabnya). Wallahu a’lam.

 


Puasa Asyura pada Hari Jumat

Apabila kita berpuasa pada tanggal 10 Muharram bertepatan pada hari Jumat, bagaimana hukumnya? Soalnya saya pernah membaca hadits tentang larangan berpuasa kalau hanya satu hari pada hari Jumat.

 Jawaban:

Larangan itu berlaku jika niat puasanya karena hari Jumat. Artinya, ia ingin mengagungkan hari Jumat dengan berpuasa.

Adapun berpuasa pada hari Jumat dengan niat puasa Asyura atau lainnya, tidak mengapa. Apalagi jika digandengkan dengan puasa sehari sebelumnya (Tasu’a) atau sehari setelahnya.

 


Antara Puasa Qadha & Puasa Kafarat

Mana yang didahulukan, puasa qadha atau puasa kafarat?

 Jawaban:

Dahulukan puasa kafarat.

 


Haid yang Terputus

Saya biasa haid selama tiga hari. Setelah itu saya mandi dan shalat. Haid berhenti waktu shalat isya. Warna darah sama seperti darah haid. Waktu asar esok harinya keluar lagi cukup banyak tetapi hanya satu kali. Selanjutnya tidak keluar lagi. Apakah itu termasuk darah haid?

 Jawaban:

Ketika keluar lagi dengan sifat yang sama dengan darah haid, berarti Anda haid lagi, sampai keluar tanda suci. Adapun darah berhenti keluar dalam jangka waktu kurang dari 24 jam, hal itu tetap dianggap masa haid.

 


Qashar Shalat Isya

Ketika safar, saya sudah mengqashar shalat isya saat dalam perjalanan. Ketika tiba di rumah, sesaat kemudian masuk waktu isya. Apakah saya berkewajiban shalat berjamaah isya di masjid?

 Jawaban:

Tidak.

 


Pemberian Kampanye Caleg

Bolehkah kita menerima pemberian berupa barang atau uang kampanye calon legislatif?

 Jawaban:

Tidak boleh, karena pemberian itu bermakna suap agar dipilih. Jika Anda mengambilnya dengan niat mendukung, Anda telah bekerja sama dalam kebatilan. Jika tanpa niat mendukungnya, Anda telah menipunya. Wallahu a’lam.

 


Bekerja di Surat Kabar

Apa hukum bekerja di dalam penerbitan surat kabar/koran?

 Jawaban:

Mengingat koran menerbitkan hal-hal yang bertentangan dengan syariat, Anda tidak boleh bekerja sama dengan menjadi karyawan di penerbitan surat kabar seperti itu. Wallahu a’lam.

 

Pekerjaan yang Mengandung Keharaman

Apabila harta yang didapat dari cara yang halal bercampur dengan harta dari jalan yang haram, bagaimana hukumnya? Hal ini terjadi pada transaksi dengan personal dan dengan lembaga negara.

Bagaimana pula hukum menggunakan harta yang saya ketahui berasal dari jalan yang mencurigakan? Saya mengingkarinya di hadapan orang yang membawa harta seperti ini. Bolehkah saya menggunakan harta tersebut?

Bolehkah saya bekerja di perusahaan seperti ini dalam keadaan saya tahu bahwa hal-hal di atas terjadi pada perusahaan tersebut, dan saya tetap mengingkari perbuatan mereka dengan keras?! Sebagai pertimbangan, ayah saya mendesak saya untuk bekerja bersamanya (di perusahaan tersebut) dalam bidang akuntansi.

Apabila ayah saya berkata kepada saya bahwa dia yang akan menanggung dosanya, bolehkah saya memenuhi permintaan ayah saya untuk mengambil pekerjaan tersebut? Apakah boleh saya memakan hasil pekerjaan tersebut? Perlu diketahui, saya mampu untuk bekerja di tempat mana pun, dengan gaji berapa pun, tetapi ayah saya tentu akan marah karena tidak terima.

Bolehkah saya tetap tinggal di rumah dengan keluarga yang seperti ini? Kepergian saya akan mengakibatkan kerusakan yang besar terhadap kondisi keluarga.

Saya mengharap kepada Yang Mulia (Mufti) agar surat saya ini dipelajari dengan saksama, dengan mempertimbangkan kondisi saya dari segala sisi. Agama ini menuntut saya untuk tidak menumbuhkan tubuh saya dalam keharaman—apabila ada sesuatu yang haram (dalam urusan saya ini).

Kondisi saya di dalam rumah cukup berat. Dari satu sisi, saya tidak mampu meninggalkan rumah, demikian pula saudara-saudara saya. Sebab, kami tidak pernah berpikir untuk itu. Justru keberadaan saya di rumah memberi pengaruh, yaitu bisa meniadakan beberapa hal yang tidak diridhai oleh syariat. Jika saya tidak tinggal, bisa jadi hal-hal tersebut tersebar di dalam rumah.

 

Jawab:

  1. Memberi suap dan menerimanya adalah haram, baik bagi yang menyuap, yang disuap, maupun yang menjadi perantaranya.

 

  1. Kami telah mengeluarkan fatwa tentang hukum memanfaatkan harta yang tercampur padanya antara yang halal dan yang haram, dengan nomor 2512, tanggal 28/7/1399 H.

Berikut ini teksnya.

  1. Apabila Anda mengetahui bahwa hadiah yang diberikan kepada Anda atau makanan yang disajikan kepada Anda adalah barang yang haram, Anda tidak boleh menerima atau memakannya.
  2. Apabila tidak terpisahkan antara penghasilan mereka yang halal dan penghasilan yang haram, ada perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang hukum menerima hadiahnya, memakan makanan yang disuguhkan ketika kita bertamu, dan yang semisalnya.
  • Ada yang berpendapat, hukumnya haram secara mutlak.
  • Ada yang menyatakan, apabila yang haram melebihi sepertiga dari penghasilan total, haram memakan suguhannya dan menerima hadiahnya.
  • Ada pula yang menyatakan, apabila penghasilan yang haram lebih banyak daripada yang halal, haram memakan suguhannya dan menerima hadiahnya.
  • Ada juga yang menyatakan, tidak haram secara mutlak sehingga hadiahnya diterima dan makanan pemberiannya boleh dimakan.

Pendapat (yang terakhir) ini yang tampak (kebenarannya). Sebab, dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima pemberian daging kambing bakar dari seorang perempuan Yahudi dan memakan sebagiannya.

Alasan lainnya, karena keumuman firman Allah subhanahu wa ta’ala,

وَطَعَامُ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ حِلّٞ لَّكُمۡ

“Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi al-Kitab itu halal bagimu.” (al-Maidah: 5)

Telah diketahui bahwa orang Yahudi dan Nasrani memakan riba. Mereka tidak memilih penghasilan yang halal. Mereka mendapat penghasilan dari yang haram dan yang halal. Meski demikian, Allah subhanahu wa ta’ala mengizinkan memakan makanan mereka. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri memakan darinya.

Sekelompok ulama meriwayatkan hadits dari Sufyan ats-Tsauri, dari Salamah bin Kuhail, dari Dzar bin Abdillah, dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu; seseorang bertanya kepada beliau radhiallahu ‘anhu, “Aku memiliki tetangga yang makan (dari penghasilan) riba. Dia selalu mengundangku (makan).”

Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu menjawab, “Suguhannya untukmu, dosanya menjadi tanggungannya.”

Akan tetapi, jika seorang muslim membersihkan diri dengan tidak bergaul dengan mereka dan sering saling memberi hadiah dan berkunjung dengan mereka, lantas mencukupkan diri sebatas tuntutan maslahat atau kebutuhan, tentu saja hal ini lebih baik baginya.

  1. Anda tidak boleh bekerja di perusahaan tersebut meski di bagian akuntansi dalam keadaan tahu kondisinya sebagaimana yang disebutkan dalam pertanyaan. Sebab, hal itu termasuk saling menolong dalam hal dosa dan pelanggaran. Padahal Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلَا تَعَاوَنُواْ عَلَى ٱلۡإِثۡمِ وَٱلۡعُدۡوَٰنِۚ

“Dan janganlah kalian tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (al-Maidah: 2)

Berbeda halnya jika Anda memiliki kekuasaan dan kekuatan untuk mengubah hal-hal yang haram yang ada pada perusahaan tersebut. Dalam hal ini, Anda tetap bekerja di situ lebih baik daripada meninggalkannya. Sebab, keberadaan Anda di situ termasuk perbaikan dan mengubah kemungkaran.

  1. Janji ayah Anda untuk menanggung dosa yang terjadi dalam operasional perusahaan adalah kemungkaran. Hal ini tidak bermanfaat bagi Anda, berdasarkan firman Allah subhanahu wa ta’ala,

وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٞ وِزۡرَ أُخۡرَىٰۚ

        “Dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain.” (al-An’am: 164)

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُواْ رَبَّكُمۡ وَٱخۡشَوۡاْ يَوۡمٗا لَّا يَجۡزِي وَالِدٌ عَن وَلَدِهِۦ وَلَا مَوۡلُودٌ هُوَ جَازٍ عَن وَالِدِهِۦ شَيۡ‍ًٔاۚ

“Hai manusia, bertakwalah kepada Rabbmu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikit pun.” (Luqman: 33)

Berdasarkan hal ini, Anda tidak boleh memenuhi permintaannya untuk mengambil pekerjaan itu, meski dia marah. Sebab, tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam hal kemaksiatan kepada al-Khaliq. Ketaatan hanyalah dalam hal yang baik. Kecuali jika Anda mampu mengubah kemungkaran tersebut dan berharap bisa mengubahnya.

  1. Jika Anda tetap tinggal dengan keluarga di rumah diharapkan bisa memperbaiki kondisi keislaman mereka dengan menasihati mereka sehingga mereka berhenti melakukan hal-hal yang menyelisihi syariat, tentu lebih baik Anda tinggal bersama mereka.

Jika tidak demikian, Anda jangan tinggal bersama mereka. Hanya saja, bergaullah dengan mereka dengan baik di dunia dan tetap menyambung silaturahim. Ikutilah jalan orang-orang yang kembali kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Dalam hal ini, Anda lebih tahu, apakah Anda memiliki kekuatan untuk memperbaiki dan mengubah kemungkaran atau tidak.

Allah subhanahu wa ta’ala sajalah yang memberi taufik. Semoga shalawat dan salam terlimpah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, dan para sahabat beliau.

 Komite Tetap untuk Pembahasan Ilmiah dan Pemberian Fatwa

Ketua: Abdul Aziz bin Abdullah bin

Baz; Wakil Ketua: Abdur Razzaq Afifi;

Anggota: Abdullah bin Qu’ud.

(Fatawa al-Lajnah, 26/312—315, fatwa no. 477

 


Komitmen dengan Agama Tidak Menghalangi Mencari Nafkah

Apa yang wajib diperbuat oleh seorang muslim sesuai dengan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, terkait dengan seorang pemuda muslim yang komitmen terhadap Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan membiarkan jenggot? Hal ini mengakibatkan dia kesusahan mencari nafkah, terkadang ditangkap dan mendapatkan berbagai bentuk siksaan. Setiap kali melamar sebuah pekerjaan, hal ini memberatkannya. Dia tidak diterima karena berjenggot.

Berilah kami fatwa, semoga Anda mendapatkan balasan karena memberi perhatian terhadap keadaan kaum muslimin di Republik Mesir.

 

Jawab:

Mencari nafkah tidak hanya dengan bekerja menjadi pegawai pemerintahan. Jalan-jalan mencari nafkah yang tidak mengikat cukup banyak.

Maka dari itu, carilah jalan pekerjaan yang tidak mengikat, tetaplah komitmen dengan agama Anda, jauhilah sumber keburukan dan masalah, dalam rangka mencari keselamatan diri darinya.

Allah subhanahu wa ta’ala sajalah yang memberi taufik. Semoga shalawat dan salam terlimpah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, dan para sahabat beliau.

 

Komite Tetap untuk Pembahasan Ilmiah dan Pemberian Fatwa

Ketua: Abdul Aziz bin Abdullah bin

Baz; Wakil Ketua: Abdur Razzaq Afifi;

Anggota: Abdullah bin Ghudayyan.

(Fatawa al-Lajnah, 15/77—78, fatwa no. 10575, pertanyaan no. 1)


 

Gaji Pekerjaan yang Didapat Dengan Ijazah Hasil Mencontek

Seseorang mendapatkan pekerjaan dengan sebuah ijazah dalam disiplin ilmu tertentu. Dia telah melakukan penipuan ketika menempuh ujian guna mendapatkan ijazah ini. Sekarang, dia telah bekerja dengan baik dengan persaksian dari bawahan. Apa hukum gaji yang dia dapatkan, halal ataukah haram?[1]

 

Jawab:

Insya Allah tidak mengapa. Hanya saja, dia harus bertobat kepada Allah subhanahu wa ta’ala dari penipuan yang dia lakukan. Apabila dia bisa menunaikan tugasnya sebagaimana mestinya, penghasilannya tidak apa-apa. Akan tetapi, dia bersalah dalam hal penipuan yang dilakukannya dahulu. Dia harus bertobat kepada Allah subhanahu wa ta’ala dari perbuatan tersebut.

 

(Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah, 19/31—32)

[1] Pertanyaan ini termuat dalam sekumpulan soal yang diajukan kepada Samahatusy Syaikh Ibnu Baz rahimahullah pada musim haji 1415 H.

Al-Muqaddim & Al-Muakhkhir

Dua nama dari asmaul husna, dalam hadits disebutkan,

أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Engkaulah, al-Muqaddim dan Engkaulah, al-Muakhkhir. Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.” (Muttafaqun alaih)

Asy-Syaikh Muhammad Khalil Harras menerangkan, “Di antara nama Allah subhanahu wa ta’ala adalah al-Muqaddim dan al-Muakhkhir. Keduanya termasuk nama yang saling berpasangan, tidak boleh salah satunya dipisahkan dari yang lain. Jadi, Allah subhanahu wa ta’ala adalah al-Muqaddim yakni yang mendahulukan sebagian sesuatu atas sebagian yang lain, baik pendahuluan dalam penciptaan, seperti pendahuluan sebagian makhluk atas yang lain dalam menciptakannya, maupun dalam hal mendahulukan sebab atas akibatnya, syarat atas yang dipersyaratkan; atau pendahuluan dalam hal maknawi atau dalam hal syariat, seperti diutamakannya sebagian nabi atas seluruh manusia yang lain, diutamakannya nabi atas sebagian nabi yang lain, dan diutamakan sebagian hamba atas hamba yang lain.

Allah subhanahu wa ta’ala juga al-Muakhkhir, yang mengakhirkan sebagian dari sebagian yang lain, baik dalam sisi waktunya maupun dalam sisi syariat. Dua sifat Allah subhanahu wa ta’ala (yang terkandung dalam dua nama ini) termasuk yang disebut dengan sifat fi’il (sifat perbuatan) yang mengikuti kehendak Allah subhanahu wa ta’ala dan hikmah-Nya, (yakni kapan Allah subhanahu wa ta’ala menghendaki, Allah subhanahu wa ta’ala akan melakukannya sesuai dengan hikmah-Nya, pen.). Keduanya juga termasuk yang disebut dengan sifat zat. Keduanya berada pada sebuah zat (yakni tidak berdiri sendiri, pen.).

Demikianlah semua sifat fi’il dari sudut pandang ini termasuk sifat zat. Zat (Allah subhanahu wa ta’ala) bersifat dengannya dan dari sisi keterkaitan sifat itu dengan sumber munculnya, baik berupa perkataan maupun perbuatan yang disebut sifat fi’il.” (Syarah Qashidah Nuniyah, 2/120)

 

Buah Mengimani Nama Allah subhanahu wa ta’ala, al-Muqaddim dan al-Muakhkhir

Dengan mengimani dua nama Allah subhanahu wa ta’ala tersebut, akan bertambah kepasrahan seorang hamba kepada Allah subhanahu wa ta’ala dalam hal kemajuannya atau kemundurannya, keutamaannya atauberkurangnya keutamaan itu. Semuanya Allah subhanahu wa ta’ala yang menentukan.

Meski demikian, maju atau mundur, utama atau tidak, semuanya ada sebabnya yang Allah subhanahu wa ta’ala kaitkan dengannya. Kita mesti melakukan segala sebab keutamaan dan kemajuan serta menghindari sebab kemunduran. Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala -lah yang memutuskan hasilnya.

Sebagai contoh, dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat para sahabatnya lambat dalam maju ke shaf depan. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تَقَدَّمُوا فَأَتِمُّوا بِي، وَلْيَأْتَمَّ بِكُمْ مَنْ بَعْدَكُمْ، لَا يَزَالُ قَوْمٌ يَتَأَخَّرُونَ حَتَّى يُؤَخِّرُهُمُ اللهُ

“Majulah dan ikuti aku. Yang di belakang kalian akan mengikuti kalian. Akan tetap ada orang-orang yang memilih berada di belakang hingga Allah subhanahu wa ta’ala mengakhirkan mereka.” (Sahih, HR. Muslim dari Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhu)

Wallahul Muwaffiq.

Ditulis oleh al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc.

Iblis VS Manusia (5)

Sebagaimana sudah diceritakan bahwa setan menjerumuskan manusia ke jurang kebinasaan sekaligus menyeret mereka kepada kekafiran dan kesyirikan, tidaklah secara langsung. Tetapi berangsur-angsur, selangkah demi selangkah.

Enam pintu yang telah dijelaskan pada edisi sebelumnya adalah cara yang umum digunakan oleh setan menghancurkan manusia. Selain enam pintu ini masih ada jalan-jalan lain yang memperjelas pintu-pintu tersebut.

 

Berlindung dari Setan

Allah subhanahu wa ta’ala Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang tidak membiarkan kita begitu saja melawan musuh yang satu ini. Dengan rahmat-Nya, Dia mengajari manusia cara untuk menghadapi musuh yang paling berat ini.

Satu hal yang harus kita ingat, bagaimanapun banyaknya tipu muslihat setan untuk menghancurkan manusia, semua tipu muslihat itu lemah. Sangat lemah bagi orang-orang yang beriman dan taat kepada Allah subhanahu wa ta’ala, tetap istiqamah di atas jalan yang lurus dan senantiasa istighfar dan bertobat.

Allah subhanahu wa ta’ala dengan kasih sayang-Nya membimbing kita kepada hal-hal yang membuat kita terjaga dari makar dan godaan setan. Yang paling penting di antara upaya berlindung dari gangguan dan tipu daya setan itu adalah bertauhid, bertawakal dan bersandar sepenuhnya kepada Allah subhanahu wa ta’ala serta memurnikan (ikhlas) ibadah hanya karena Allah subhanahu wa ta’ala.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّ عِبَادِي لَيۡسَ لَكَ عَلَيۡهِمۡ سُلۡطَٰنٌ إِلَّا مَنِ ٱتَّبَعَكَ مِنَ ٱلۡغَاوِينَ ٤٢

“Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikut kamu, yaitu orang-orang yang sesat.” (al-Hijr: 42)

Hamba yang dimaksud dalam ayat ini adalah orang-orang yang bertakwa dan ikhlas mengabdi hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Dia menyandarkan mereka kepada-Nya dengan ungkapan عِبَادِي (hamba-hamba-Ku), sehingga tidak termasuk di dalamnya orang-orang yang ghawi (sesat, menyimpang setelah menerima ilmu).

Al-Qurthubi rahimahullah menukil pendapat ulama yang menerangkan bahwa kekuasaan tersebut adalah terhadap hati-hati mereka.

Merekalah yang dikecualikan oleh Iblis dalam sumpahnya, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala,

قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغۡوِيَنَّهُمۡ أَجۡمَعِينَ ٨٢  إِلَّا عِبَادَكَ مِنۡهُمُ ٱلۡمُخۡلَصِينَ ٨٣

Iblis menjawab, “Demi kekuasaan-Mu, aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka.” (Shad: 82—83)

Wallahu a’lam.

Sebagian ulama ada yang berbicara tentang tempat masuk setan ke dalam hati manusia. Beliau menerangkan, “Hati itu seperti sebuah benteng yang tinggi, sedangkan setan adalah musuh yang ingin menyelinap ke dalam benteng itu untuk menguasainya. Benteng itu tidak mungkin dipertahankan kecuali dengan menjaga semua pintu dan celah yang ada. Hal itu juga tidak mungkin kecuali dengan mengenal semua pintu dan celah atau setiap sudut benteng tersebut.

Kita tidak mungkin mampu mengusir setan itu kecuali dengan mengetahui arah dari mana dia biasanya memasuki hati kita. Oleh karena itu, memahami perkara ini menjadi sebuah hal yang wajib, karena melindungi dan menjaga hati dari gangguan setan adalah wajib.

Ulama menyebutkan bahwa pintu-pintu dan tempat jalan masuk setan adalah sifat-sifat yang ada pada manusia itu sendiri. Sifat-sifat itu melekat pada dirinya sejak dia diciptakan. Akan tetapi, sifat-sifat itu adalah sesuatu yang harus dikendalikan, bukan dibiarkan begitu saja. Di antaranya ialah syahwat, marah, sadis, rakus, dsb.

Ada sepuluh jalan yang disebutkan oleh ulama tersebut, yaitu:

 

  1. Dengki dan tamak (rakus) yang merupakan jalan utamanya.

Karena dengki inilah setan dilaknat menjadi makhluk yang terkutuk sampai hari kiamat, dan karena sifat rakus (tamak) ini dia memperoleh apa yang diinginkannya dari Adam ‘alaihissalam.

Dihalalkan semua yang ada di surga untuk Adam ‘alaihissalam kecuali satu pohon, lalu dia menggoda Adam ‘alaihissalam agar memakannya.

 

  1. Jalan yang kedua, syahwat dan hawa marah.

Keduanya adalah muslihat paling besar setan. Seberapa pun marahnya seseorang, setan tentu mempermainkannya, hingga seperti anak kecil memainkan bola yang ada di tangannya.

 

  1. Jalan yang ketiga, menyukai syahwat dan berhias dalam urusan dunia, pakaian, perabotan, rumah, dan kendaraan.

Ketika setan mengetahui bahwa hal itulah yang menguasai hati manusia, dia pun bersukacita. Lalu, dia pun tak henti-hentinya mengajak manusia itu agar meramaikan dunia dan menghiasi atap dan dinding serta meluaskan rumahnya. Atau, memperindah pakaiannya.

Setelah berhasil menenggelamkan manusia itu dalam kesenangan dunia, dia tidak lagi perlu mengulangi, karena sebagian dunia itu akan menyeret kepada yang lain, sampai orang itu mendekati ajal dan mati dalam keadaan berselimut angan-angan.

 

  1. Jalan yang keempat, sikap tamak, loba, atau rakus.

Apabila sifat-sifat ini sudah menguasai hati, setan akan selalu mendorongnya melakukan tindakan membuat-buat satu perilaku agar menarik simpati orang lain yang dia inginkan sesuatu darinya.

 

  1. Jalan yang kelima, sikap tergesa-gesa dalam banyak hal, sembrono, dan apatis.

 

  1. Jalan yang keenam, dinar dan dirham serta segala jenis harta, kendaraan dan tanah yang melebihi batas yang diperlukan.

 

  1. Jalan yang ketujuh, sifat kikir dan takut miskin, karena kikir adalah pangkal semua kesalahan.

 

  1. Jalan yang kedelapan, buruk sangka terhadap kaum muslimin.

Siapa yang memutuskan sesuatu terhadap orang lain dengan sangkaan, setan akan mendatanginya agar melakukan gibah, maka dia pun binasa. Atau, kurang dalam memenuhi hak orang lain atau enggan memuliakannya, atau merendahkannya, atau memandang dirinya lebih baik dari orang itu.

Jika Anda melihat seseorang berburuk sangka terhadap orang lain, mencari-cari aibnya, ketahuilah bahwa orang ini batinnya keji. Sebab, orang yang beriman itu justru mencari-cari uzur buat orang lain, dan orang yang munafik itulah yang suka mencari-cari aib orang lain.

 

  1. Jalan yang kesembilan, kekenyangan dan menyukai makanan mewah, karena kekenyangan akan menguatkan syahwat dan menjadi senjata setan.

 

  1. Jalan kesepuluh, menyeret orang awam memikirkan Dzat Allah subhanahu wa ta’ala.

 

Bagaimana Cara Menolak Gangguan Setan?

Mungkinkah kita bisa mengusir setan setiap kali dia datang?

Ada sebuah perumpamaan diberikanoleh sebagian ulama kepada muridnya. Apabila engkau hendak melewati sebuah ladang gembalaan yang dijaga oleh anjing-anjing yang ganas, apa yang akan engkau lakukan? Sementara itu, tidak ada jalan lain kecuali melewati tempat penggembalaan itu.

Si murid berkata, “Aku akan berusaha mengusirnya dengan tongkat ataupun batu.”

“Dia pasti datang lagi,” kata gurunya.

“Aku akan mengusirnya lagi lebih keras,” kata muridnya.

“Sampai kapan, dan kapan kamu akan sampai tujuan?” tanya gurunya.

“Ada jalan yang lebih cepat, yaitu meminta pemilik anjing itu agar menahan anjingnya supaya tidak menggonggongmu atau mengejarmu.”

Itulah cara yang lebih tepat dan cepat, meminta pertolongan kepada Penguasa dan Pemilik setan tersebut agar menghalanginya untuk mendekati kita, yaitu dengan doa dan isti’adzah (meminta perlindungan).

Sudah tentu, lebih dahulu hati yang diincar oleh setan ini harus dibersihkan sebersih-bersihnya. Semua “makanan” setan yang ada di dalam hati harus benar-benar disingkirkan, sehabis-habisnya jangan sampai tersisa. Jika masih tersisa, bagaimana mungkin setan akan segera pergi ketika kita mengusirnya dengan doa dan isti’adzah karena apa yang diincarnya belum berhasil diraihnya.

Sebagian ulama mengumpamakan setan itu adalah anjingnya manusia. Apabila pada manusia itu ada sesuatu yang disukai oleh seekor anjing, berupa makanan atau apa saja, dia akan selalu berusaha mendekati manusia itu sampai dia memperolehnya. Anda mengusirnya, membentaknya, memukul atau melemparnya dengan batu, dia tetap akan kembali berusaha mendekat sampai Anda menyerahkan apa yang diinginkan anjing itu, atau dia memperolehnya.

Sebuah perumpamaan lain, tentang dua buah rumah. Yang satu berdiri megah, isinya penuh dengan perabotan dan makanan. Yang satu lagi, sudah runtuh atapnya, dindingnya banyak yang berlubang dan kosong, tidak ada barang dan makanan di situ selain sampah, puing-puing reruntuhan.

Manakah yang diincar oleh para perampok dan pencuri? Tentu rumah yang masih berdiri megah dengan isinya yang lengkap. Mereka akan berusaha memasuki rumah itu untuk mendapatkan makanan atau barang yang berharga, dengan sembunyi-sembunyi atau terang-terangan.

Adapun rumah yang sudah tinggal puing-puing dan sampah, tidak lagi diincar oleh mereka, tetapi justru mereka jadikan markas, tempat menetap atau bersembunyi.

Seperti itu pula kalbu kita, yang selalu berdetak di balik tulang-tulang dada kita. Apabila kalbu itu masih hidup, bersih, dan sehat karena terisi keimanan dan keyakinan serta keikhlasan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, tentu akan selalu menjadi incaran setan. Semakin seseorang berusaha membersihkan dan menjaga hatinya, seperti itu pula usaha setan berusaha menggagalkannya. Wallahul Musta’an.

Sebaliknya, jika hati itu sudah rusak, tidak ada lagi kehidupan dan cahayanya, dia menjadi sarang para setan.

Inilah sebabnya dikatakan bahwa shalat orang yang tidak dihinggapi waswas adalah shalat orang-orang Yahudi dan Nasrani.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman menerangkan sebagian sifat hamba-hamba-Nya yang bertakwa,

إِنَّ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَوۡاْ إِذَا مَسَّهُمۡ طَٰٓئِفٞ مِّنَ ٱلشَّيۡطَٰنِ تَذَكَّرُواْ فَإِذَا هُم مُّبۡصِرُونَ ٢٠١

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa apabila ditimpa waswas dari setan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.” (al-A’raf: 201)

Akan tetapi, zikir ini akan tumpul kekuatannya jika kalbu yang menggerakkannya tidak terisi dengan rasa khauf (takut) dan takwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Seperti orang yang meminum obat, tetapi lokasi tempat menguraikan dan mengolah obat itu rusak atau tidak berfungsi, tentu penyakitnya tidak akan sembuh.

Zikir itu diumpamakan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah seperti obat, kemudian takwa adalah upaya menjaga diri. Ketika zikir itu digerakkan oleh kalbu yang selalu terjaga, terusirlah setan dan hilanglah gangguannya.

Wallahul Muwaffiq.

(insya Allah bersambung)

 Ditulis oleh al-Ustadz Abu Muhammad Harits

Umar ibnul Khaththab radhiallahu ‘anhu (17) : Hari-hari berdarah di Qadasiyah

Dengan taufik dan pertolongan Allah ‘azza wa jalla, pertempuran akhirnya berhenti. Siapa yang menang dan yang kalah telah jelas. Sebuah kemenangan gemilang bagi kaum muslimin, dan kekalahan memalukan bagi musuh-musuh Allah ‘azza wa jalla.

Perang Qadisiyah benar-benar sebuah pertempuran yang dahsyat. Tiga hari pertama, pasukan Persia sanggup bertahan menghadang serangan kaum muslimin, bahkan sempat membuat kaum muslimin kewalahan dengan bantuan pasukan gajah mereka.

Belum pernah kaum muslimin menghadapi pertempuran sehebat itu selama berhari-hari. Biasanya, mereka menaklukkan lawan dalam pertempuran hebat sehari saja. Mengapa bangsa Persia begitu kuat dan semangat bertahan? Tidak lain adalah karena Perang Qadisiyah ini merupakan penentu hidup matinya Kerajaan Sasanid. Kalau mereka kalah, lenyaplah Persia, padamlah api suci di kuil-kuil pemujaan mereka. Kalau mereka menang, mereka betul-betul akan memusnahkan dan melenyapkan bangsa Arab dari percaturan dunia.

Selain tekad mempertahankan keangkuhan kekuasaan dan paganisme yang menjadi budaya bangsa, mereka merasa kuat karena dipimpin oleh Rustum. Selain ahli nujum (tukang ramal), dia juga seorang ahli perang tersohor, dengan pengalaman tempur yang luas. Ditambah pula jumlah personil yang besar, lebih dari seratus ribu pasukan inti, dengan persenjataan dan perbekalan yang lengkap. Bahkan, setiap hari dikirimi pula bantuan oleh Yazdajird dari kota raja. Ternyata kekuatan dan persenjataan mereka tidak ada artinya menghadapi tentara-tentara yang sudah mendaftarkan dirinya untuk membeli surga yang dijual oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Ya, Allah subhanahu wa ta’ala memang memberitakan bahwa Dia menjual surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Surga yang berisi kesenangan abadi yang belum pernah terbetik dalam benak manusia, belum pernah pula terlihat ataupun terdengar oleh mereka.

Dengan surga itu, Allah ‘azza wa jalla membeli jiwa raga dan harta orang-orang yang menyatakan dirinya beriman.

Dan…

Orang-orang yang sudah menyatakan keimanannya itu serempak menyambut penawaran tersebut. Dengan pertolongan Allah ‘azza wa jalla, ‘kehebatan’ pasukan Persia harus takluk di hadapan tentara-tentara Allah ‘azza wa jalla. Runtuh sudah kesombongan mereka. Lenyap sudah kekuasaan dinasti Sasanid.

Dan kebatilan itu pasti lenyap, cepat atau lambat.

 Berita dari Qadisiyah

Di Madinah, Amirul Mukminin ‘Umar al-Faruq senantiasa mencari berita tentang keadaan Sa’d dan pasukannya di Qadisiyah.

Suatu hari, seorang penunggang kuda terlihat mendekati gerbang Madinah dengan cepat. ‘Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu segera memapak penunggang kuda itu dan bertanya tentang kaum muslimin di Qadisiyah.

“Allah subhanahu wa ta’ala telah memberi kemenangan kepada kaum muslimin dan mereka memperoleh ghanimah yang sangat banyak,” kata orang itu sambil terus bercerita tanpa mengetahui bahwa lawan bicaranya adalah Amirul Mukminin ‘Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu.

Siapakah ‘Umar hingga setiap orang harus mengenalnya?

Ya, siapakah ‘Umar? Inilah yang selalu dinasihatkannya kepada dirinya sendiri.

Sambil terus bercerita dari atas kudanya, sementara ‘Umar mengiringinya sambil berjalan kaki, mereka memasuki kota Madinah.

Di dalam kota, kaum muslimin memberi salam sambil menyebut kedudukan beliau, “Assalaamu ‘alaika, wahai Amirul Mukminin.”

Penunggang kuda yang baru datang terperangah dan merasa malu, “Semoga Allah subhanahu wa ta’ala merahmati Anda, wahai Amirul Mukminin. Mengapa Anda tidak menerangkan jati diri Anda, wahai Khalifah?”

“Engkau tidak bersalah, wahai saudaraku.”

Subhanallah. ‘Engkau tidak bersalah, wahai saudaraku’, ucapan ini hampir mustahil terdengar spontan keluar dari sebagian pembesar ketika tidak ‘dianggap’ dan tidak menerima penghormatan yang sesuai dengan kedudukannya. Bahkan, tidak jarang mereka yang diperlakukan seperti ini, menyimpan kejengkelan ketika disepelekan dan tidak dihormati sebagaimana layaknya.

Inilah ‘Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu, penguasa sepertiga belahan dunia. Kemudian, ‘Umar radhiallahu ‘anhu menulis surat agar Sa’d tetap di tempatnya.

 Beberapa Hasil Penting

Perang Qadisiyah boleh dikatakan sebagai penentu jalannya sejarah di wilayah timur. Dengan kemenangan pasukan muslimin ini terjadi perubahan total dalam kehidupan baik politik maupun agama penduduk secara umum, dan Persia khususnya.

Kekalahan tentara Persia mengakibatkan lenyapnya kekuasaan dinasti Sasan di Irak yang kemudian menjadi salah satu unit politik dan geografi daulah Islamiyah.

Peristiwa Qadisiyah menggariskan perubahan Irak dan dakwah Islam di sana. Irak akhirnya langsung berada di bawah kekuasaan Khalifah Rasyidah yang membantu kaum muslimin menyebarkan dakwah Islam.

Usai pertempuran, empat ribu prajurit Rustum masuk Islam. Bahkan, beberapa kabilah Arab di tepi sungai Eufrat datang menampakkan keislaman mereka di hadapan Sa’d bin Abi Waqqash. Kemudian, beberapa penduduk Irak dan pembesarnya juga berdatangan masuk Islam.

Kemenangan pasukan muslimin di Qadisiyah adalah awal kemenangan Islam di wilayah tersebut. Yang paling penting adalah jatuhnya ibu kota Persia, Madain. Kemudian perang Jalula dan jatuhnya Hulwan tahun itu juga.

Beberapa wilayah Irak yang ditaklukkan Khalid bin al-Walid dan al-Mutsanna bin Haritsah radhiallahu ‘anhuma melanggar perjanjian, selain penduduk Baniqia, Basma, dan Ulais. Setelah kaum muslimin menang dalam Perang Qadisiyah, mereka kembali kepada kesepakatan perjanjian tersebut. Mereka mengajukan alasan bahwa mereka melanggar perjanjian itu karena tekanan tentara Persia. Kaum muslimin menerima pengakuan mereka untuk melunakkan hati mereka.

Akhirnya, ahlu sawad dan para petani serta yang lainnya menjadi ahli dzimmah. Dengan demikian, keamanan di Irak semakin stabil dan menjadi negara Islam.

Ghanimah yang diperoleh kaum muslimin dari perang Qadisiyah ini berlimpah. Di antaranya adalah bendera perang Persia yang dibuat dari kulit harimau, yang lebarnya kira-kira 24 m per segi (6x4m) dan diikatkan pada tiang yang tinggi bersambung-sambung. Bendera itu dihiasi dengan batu-batu permata dan mutiara.

 Merebut Kotaraja Madain

Sa’d masih tetap di Qadisiyah selama dua bulan, hingga seluruh pasukan bisa memulihkan tenaga dan semangat mereka. Selain itu, tindakan tersebut sangat membantu terjaganya stabilitas keamanan dan kehidupan masyarakat setempat.

Kemudian, Sa’d mulai bertolak menuju wilayah barat Madain dengan arahan dari Amirul Mukminin ‘Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu.

Sa’d mulai membagi pasukannya. Sebagian ditinggalkan untuk menjaga wanita dan anak-anak kaum muslimin serta keamanan pasukan induk dari arah belakang.

Bulan Dzulhijjah 15 H, Sa’d tiba di Bahrasir. Kota itu ternyata memiliki tembok yang tinggi dan pertahanan yang kuat. Sa’d mengirim beberapa pasukan menelusuri wilayah itu. Sama sekali tidak ditemukan jejak-jejak pasukan Persia. Yang ada hanya sekitar seratus ribu petani wilayah tersebut.

Sa’d mengirim surat meminta pendapat Khalifah Umar radhiallahu ‘anhu. Ternyata Khalifah ‘Umar menyerahkan urusan penduduk tersebut kepada Sa’d. Akhirnya Sa’d memaafkan mereka, bersikap lemah lembut kepada mereka, dan bergaul dengan baik bersama mereka. Para petani hanya dikenai pajak. Sawah ladang mereka tetap diakui sebagai milik mereka. Semua gembira dan menerima ketetapan Islam serta merasa damai.

Kemudian, Sa’d mengutus Salman al-Farisi kepada penduduk Bahrasir menawarkan kepada mereka salah satu dari tiga pilihan; Islam, jizyah, atau pedang. Ternyata mereka memilih pedang dan menolak dua tawaran pertama dengan sengit dan marah.

Pasukan Persia segera menyiapkan manjaniq (pelontar peluru) untuk memukul mundur kaum muslimin. Sa’d mulai mengepung Bahrasir dan bersiap menggempur mereka. Dua puluh manjaniq kaum muslimin digelar, begitu pula kendaraan tempur yang terbuat dari kulit, kayu, dan kepingan besi. Kepungan ini menekan penduduk Bahrasir, hingga mereka kehabisan bekal. Akhirnya, mereka melarikan diri menuju Madain timur.

Sa’d berhasil memasuki Bahrasir dan menempatkannya di bawah kekuasaan Daulah Islam. Peristiwa ini terjadi pada bulan Shafar tahun 16 H.

Pasukan muslimin tiba di Ctesifon, Madain timur. Akan tetapi, mereka masih belum bisa memasuki kota itu karena terhalang Sungai Tigris. Ketika Yazdajird mengetahui bahwa pasukan muslimin telah hampir tiba di ibu kota kerajaannya, dia segera menuju Hulwan. Di sana, dia tinggal bersama para pembesar kerajaan dan keluarganya.

Selama beberapa hari, Sa’d berusaha mencari perahu untuk menyeberang. Sebab, orang-orang Persia telah mengangkat titi penyeberangan dan menahan perahu di tepi Sungai Tigris sebelah timur. Sebagian jembatan ada yang dibakar musnah. Hal ini sempat menggelisahkan pasukan muslimin karena mereka tidak mempunyai sarana untuk menyeberang.

Seorang penduduk pribumi menunjukkan jalan tembus ke kota. Akan tetapi, Sa’d ragu-ragu untuk melewati jalan itu. Ketika masih dalam keadaan demikian, kaum muslimin dikejutkan oleh luapan Sungai Tigris yang membawa lumpur dan kotoran.

Sa’d adalah Sa’d, salah seorang murid dari madrasah nubuwah yang langsung dididik oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kesulitan itu tidak membuat Sa’d putus asa dari rahmat Allah subhanahu wa ta’ala dan tidak membuatnya kalah.

Sa’d mulai memikirkan situasi ini dan bermusyawarah dengan pasukannya. Malam hari, Sa’d bermimpi melihat kuda-kuda kaum muslimin melintasi Sungai Tigris, padahal banjir demikian hebatnya.

Sa’d bertekad akan menyeberangi sungai itu bersama pasukannya. Dia menceritakan mimpinya. Ternyata sambutan kaum muslimin demikian semangat, “Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberi keteguhan pada kami dan Anda di atas petunjuk, laksanakan.”

Panglima Sa’d memberi komando agar seluruh pasukan bersiap-siap menyeberang. Beliau mengatur strategi dengan menempatkan pasukan berkuda kaum muslimin di kepala jembatan di timur Sungai Tigris. Mereka harus mampu menghancurkan pasukan musuh yang berjaga di sisi timur itu.

Sa’d memerintahkan agar pasukan pelopor dan pemukul melaksanakan taktik yang direncanakannya. Yang pertama menyeberang adalah 60 prajurit komando ahwal yang dipimpin oleh ‘Ashim bin ‘Amr. Pasukan ini berhasil menerobos rintangan dan menghancurkan pasukan musuh yang berjaga di Furadh lalu menguasai daerah itu.

Kemudian disusul pasukan kharsa yang dipimpin Qa’qa’ bin ‘Amr. Kedua pasukan ini menjadi kepala jembatan di atas dermaga timur Sungai Tigris dan menjadi pengawal penyeberangan pasukan muslimin.

Setelah merasa aman—dengan pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala—dengan berhasilnya taktik tersebut, Sa’d mulai memerintah seluruh pasukan untuk menyeberang dengan aman sambil berdoa, “Kami meminta pertolongan kepada Allah, bertawakal kepada-Nya. Cukuplah Allah bagi kami dan Dia sebaik-baik Pelindung. Tiada daya dan upaya melainkan dengan pertolongan Allah Yang Mahatinggi lagi Mahabesar.”

Kemudian Sa’d memajukan kudanya memasuki sungai Tigris diikuti seluruh kaum muslimin, tidak ada satu pun yang tertinggal. Akhirnya mereka berjalan di Sungai Tigris itu seakan-akan sedang berada di daratan.

Mereka menyeberang sambil berbincang, santai. Tidak ubahnya seperti ketika di daratan. Itulah ketenangan dan rasa aman yang merupakan buah kepercayaan penuh kepada Allah subhanahu wa ta’ala, dan yakin akan janji serta pertolongan-Nya.

Salman al-Farisi berjalan bersama Sa’d radhiallahu ‘anhuma. Dia mendengar Sa’d berkata, “Cukuplah Allah bagi kami dan Dia sebaik-baik Pelindung. Demi Allah, Allah subhanahu wa ta’ala pasti menolong wali-Nya dan pasti Allah subhanahu wa ta’ala akan memenangkan agama-Nya. Pasti Allah subhanahu wa ta’ala mengalahkan musuh-musuh-Nya, jika di dalam pasukan tidak ada kejahatan atau dosa yang mengalahkan kebaikan pemiliknya.”

Sa’d sendiri dikenal sebagai orang yang doanya terkabul. Beliau mendoakan keselamatan dan kemenangan bagi pasukannya.

Pasukan muslimin menyeberang dengan aman dan santai, tidak ada yang kehilangan dan tidak ada yang tenggelam. Sungguh, tidak pernah terbayangkan oleh penduduk Persia, Bahrasir khususnya, bahwa mereka merasa aman dengan benteng alami, yaitu Sungai Tigris. Mereka yakin terlindung dari serangan kaum muslimin. Lebih-lebih lagi, mereka sudah menahan perahu untuk menyeberang, membakar jembatan, dan ditambah pula Sungai Tigris sedang meluap hebat.

Ketika melihat pasukan muslimin ternyata sudah berada di tepian timur sungai itu, mereka terkejut luar biasa. Rasa takut dan bayang-bayang kematian segera menyelinap dan meruntuhkan semangat tempur prajurit api setan itu. Akhirnya mereka lari tanpa membawa sesuatu.

Dua pasukan pemukul yang lebih dahulu tiba segera memasuki kota. Ternyata, kota itu sepi dan hanya ada beberapa orang yang berusaha berlindung di sebuah istana putih. Kedua pasukan itu mengepung istana sampai Sa’d dan pasukan induknya tiba.

Kemudian, Sa’d mengutus Salman kepada mereka yang berlindung di istana putih itu menawarkan salah satu dari tiga pilihan; Islam, jizyah, atau perang. Mereka memilih jizyah dan tunduk di bawah perlindungan kaum muslimin. Sa’d menerima dan berdamai dengan mereka. Akan tetapi, beliau menyisihkan keluarga Kisra dan yang ikut bersama mereka, karena dijadikan sebagai ghanimah untuk kaum muslimin dan Baitul Mal.

Sa’d memasuki istana itu sampai menuju balairung, kemudian membaca firman Allah subhanahu wa ta’ala,

كَمۡ تَرَكُواْ مِن جَنَّٰتٖ وَعُيُونٖ ٢٥  وَزُرُوعٖ وَمَقَامٖ كَرِيمٖ ٢٦ وَنَعۡمَةٖ كَانُواْ فِيهَا فَٰكِهِينَ ٢٧  كَذَٰلِكَۖ وَأَوۡرَثۡنَٰهَا قَوۡمًا ءَاخَرِينَ ٢٨

“Alangkah banyaknya taman dan mata air yang mereka tinggalkan. Dan kebun-kebun serta tempat-tempat yang indah-indah. Dan kesenangan-kesenangan yang mereka menikmatinya. Demikianlah, Kami wariskan semua itu kepada kaum yang lain.” (ad-Dukhan: 25—28)

Kemudian tempat itu dijadikan masjid.

(insya Allah bersambung)

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Muhammad Harits