Surat Pembaca Edisi 117

Sampul Sering Melengkung

Assalamu’alaikum. Sampul Asy Syariah kok seringnya melengkung ya? Sekadar usul, mungkin bisa diperbaiki kualitasnya.

Kemudian untuk Asy Syariah edisi 116 pada “Rubrik Akidah” seharusnya bersambung ke hlm. 57, tetapi ternyata sambungannya ada di hlm. 64.

Begitu juga pada “Rubrik Problema Anda” seharusnya bersambung ke hlm 78, tetapi ternyata sambungan ada di hlm. 76. Barakallahu fikum.

085647xxxxxx

——————————————————————————————————————————————-

Halaman Sambungan Keliru

Afwan, saya membaca Asy Syariah edisi 116 hlm. 5 pada kata “materi kaji pun”, seharusnya mungkin “materi kajian pun”.

Kemudian pada “Rubrik Tanya Jawab Ringkas”, jawaban pertanyaan Doa Selesai Baca Al-Qu’ran mungkin maksudnya “tidak ada sunnahnya”.

Kemudian hlm. 42 sambungannya tertulis hlm. 57, padahal sambungannya pada hlm. 64. Mohon diteliti kembali sehingga pembaca tidak bingung.

Jazakumullah khairan.

082324xxxxxx

 Jawaban Redaksi:

Wa’alaikumus salam warahmatullah. Tentang kualitas sampul, kami ucapkan jazakumullah khairan atas saran dan perhatian Anda. Semoga Allah memudahkan kami mewujudkannya.

 Tentang halaman bersambung yang tidak sesuai dan kesalahan cetak, Redaksi memohon maaf yang sebesar-besarnya atas kekeliruan dan keteledoran kami. Semoga Allah memberikan taufik kepada kami sehingga bisa lebih teliti.

 ——————————————————————————————————————————————-

Tulisan Tidak Sinkron?

Pada Asy Syariah edisi 116 tentang Calon Markas Pasukan Dajjal, hlm. 25 tertulis “selama hampir 9 abad… (alinea 4). Kemudian Raja ash-Shafawi pada tahun 906 H menguasai Iran dan memaksakan akidah Itsna ‘Asyariah (alinea 5).

Kedua alinea ini tidak sinkron/menguatkan. Kapan Islam/Ahlussunnah mulai menguasai Persia dan kapan ash-Shafawi mulai hidupkan kembali Itsna Asyariah? Apa rentangnya sembilan abad???

08111xxxxxx

 Jawaban Redaksi:

Jika kita hitung sejak kaum muslimin menaklukkan Persia pada masa Khalifah Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu (sekitar tahun 16 H), hingga Ismail ash-Shafawi menguasai wilayah Iran pada tahun 906 H, terdapat rentang waktu kira-kira 890 tahun, hampir sembilan abad.

Jadi, yang tertulis pada halaman tersebut sudah benar, insya Allah. Barakallahu fikum.

 —————————————————————————————————————————————

Tangan Allah ‘azza wa jalla

Pada Asy Syariah edisi 112 hlm. 71, terjemahan hadits riwayat Muslim tertulis, “… kemudian Dia melipat bumi dengan kiri-Nya….” Bukankah seharusnya dengan kanan-Nya? Mohon diperhatikan!

085696xxxxxx

 Jawaban Redaksi:

Jazakallah khairan. Penjelasan tentang apa yang Anda tanyakan bisa dibaca pada Rubrik “Problema Anda” edisi ini. Barakallahu fikum.

Menepis Bayang-Bayang Isis

 السلام عليكم ورحمة الله و بركاته

ISIS memang lagi eksis. Setiap ada aksi radikalisme sedikit-sedikit langsung dihubungkan dengan ISIS. Kalau dahulu, sedikit-sedikit al-Qaeda atau Jamaah Islamiyah, sekarang “kiblat” itu beralih ke ISIS.

Sejatinya ISIS atau al-Qaeda, atau gerakan radikal yang lain, tetaplah 11-12. Sebagai organisasi menyimpang, yang pijakan akidah dan prinsip syar’inya rapuh, mereka juga gontok-gontokan, dan main kafir-kafiran juga. Geli sekaligus miris.

Gerakan radikal, apa dan di mana pun, dipastikan berakar dari paham Khawarij di masa lalu, yang merupakan kelompok sempalan pertama dalam Islam. Walaupun di sisi lain, sejarah juga mencatat, betapa gerakan radikal juga selalu ditumpangi oleh kepentingan musuh-musuh Islam.

Sebutlah peristiwa pembunuhan Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu, yang diotaki oleh “Mossad” kala itu, yaitu Abdullah bin Saba’. Paham Khawarij yang waktu itu tumbuh subur di Irak dan Mesir, seperti gayung bersambut bagi tokoh Yahudi asal Yaman ini. Terjadilah apa yang terjadi, seorang manusia terbaik setelah para nabi dan rasul meninggal akibat provokasi si Yahudi.

Demikian juga dengan pembunuhan atas Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu. Lagi-lagi paham Khawarij menjadi motor penggerak peristiwa ini. Benarlah apa yang disabdakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang Khawarij, kelompok ini membiarkan para penyembah berhala, namun membunuhi kaum muslimin, termasuk orang-orang terbaiknya. Na’udzubillah.

ISIS menjadi fenomenal karena banyaknya rekaman kekejamannya yang beredar di internet. Walaupun masih jadi pertanyaan apakah segala perilaku kejamnya benar-benar dilakukan ISIS atau sekadar stigmatisasi, memang muncul beberapa anomali. ISIS belum pernah berkonfrontasi dengan Syiah, yang notabene musuh ideologis ISIS. ISIS juga belum pernah terlibat pertempuran dengan Israel yang seharusnya juga menjadi musuh nyata ISIS.

Tak mengherankan, jika ada analisis intelijen yang menyebutkan bahwa pemimpin ISIS, Abu Bakar al-Baghdadi, sesungguhnya adalah agen Mossad. Serangan koalisi Rusia dan AS, dkk, yang berburu ISIS dikhawatirkan juga tidak pernah menyasar ke tempat-tempat yang terduga markas ISIS, tetapi justru kaum muslimin.

Jadi, ISIS seperti sebuah entitas yang sengaja diciptakan untuk menjadi magnet kalangan Islam radikal. Dengan menjadikan ISIS sebagai magnet, musuh-musuh Islam akan menjadi lebih mudah kala memetakan afiliasi gerakan Islam radikal di negara-negara lain. Lebih diharapkan lagi, ada yang mau berdatangan ke wilayah ISIS, kemudian ditumpas dengan sekali pukul.

ISIS sebagai boneka atau benar-benar sebuah gerakan murni dari kelompok militan, akhirnya menjadi pembenar pihak Barat untuk membantai umat Islam. Jadi, Barat (nonmuslim) dengan sekali dayung bisa melampaui lebih dari dua pulau, bahkan lebih. Islam kian dikesankan sebagai agama yang horor, Barat pun bisa dengan leluasa memilih sasaran serangan yang tak ada hubungannya dengan ISIS. Belum lagi keuntungan ekonomi yang didapat sebagai konsesi atas peran militer mereka.

Maka dari, kita perlu lebih cerdas bersikap. Apa yang tampak di atas panggung, tidak melulu sama dengan skenarionya. Semangat keislaman tak lantas membuat kita melontarkan puja-puji setinggi langit terhadap ISIS. Di lain pihak, kita pun tak perlu berkata nyinyir, menuduh setiap paham yang berbeda dengan ormas yang dia anut secara fanatik, sebagai Islam radikal, lantas dengan membabi buta dan asal pukul rata, menghubung-hubungkannya dengan ISIS.

Kita anti-ISIS tetapi kita juga perlu kritis.

 

والسلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Contoh Rendah Hati di Kalangan Salaf

  • Dari Muhammad bin Ishaq, dia mengatakan,

Seorang Arab badui menemui al-Qasim bin Muhammad dan bertanya, “Engkau lebih berilmu ataukah Salim?”

Al-Qasim bin Muhammad menjawab, “Itu rumah Salim.”

Beliau tidak menambahi jawaban tersebut hingga si Arab badui pergi. Beliau tidak suka mengatakan bahwa Salim lebih berilmu dari beliau sehingga jatuh dalam kedustaan. Beliau tidak suka pula mengatakan bahwa beliau lebih berilmu dari Salim sehingga memberi rekomendasi untuk diri sendiri.

  • Dari Sufyan,

Sekelompok orang berkumpul di kediaman al-Qasim bin Muhammad yang hendak membagi-bagikan sedekah. Beliau saat itu sedang shalat, mereka lalu berbincang-bincang.

Putra beliau berkata, “Kalian berkumpul di hadapan seseorang yang—demi Allah—tidak mengambil sedekah meski satu dirham atau satu daniq (seperenam dirham).”

Al-Qasim kemudian memperingkas shalat dan berkata, “Wahai anakku, katakanlah, ‘Sebatas yang aku ketahui’.”

Putra beliau berkata jujur, tetapi beliau ingin menjaga dan mendidiknya dalam hal berucap.

(Shifatush Shafwah hlm. 322)

 

 

Memohon Kesucian Jiwa

اللَّهُمَّ آتِ نَفْسِي تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا

أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا

 “Ya Allah, berilah ketakwaan kepada jiwaku, sucikanlah jiwaku. Engkaulah sebaik-baik Dzat yang dapat menyucikannya. Engkaulah yang menguasai dan yang menjaganya.”

(HR. Muslim no. 6844 dari sahabat Zaid bin Arqam radhiallahu ‘anhu)

 

An-Nawawi rahimahullah berkata,

“Makna ‘sucikanlah jiwaku’ adalah ‘bersihkanlah’. Adapun lafadz ‘Engkaulah sebaik-baik Dzat yang dapat menyucikannya’ maksudnya bukanlah untuk membandingkan (bahwa ada yang dapat menyucikan jiwa selain Allah). Akan tetapi, maknanya adalah ‘tidak ada yang dapat menyucikan jiwa kecuali Engkau’.”

(al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin al-Hajjaj, 17/44, cetakan Darul Ma’rifah Beirut)

Sebab Terjaganya Keimanan

Khutbah Pertama

 

الْحَمْدُ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَكَفَى بِاللهِ شَهِيداً، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ إِقْرَارًا بِهِ وَتَوْحِيدًا، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيماً مَزِيداً.

أَمَّا بَعْدُ؛

فَأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ وَآمِنُوا بِهِ إِيمَانًا صَحِيحًا

 

Maasyiral muslimin rahimakumullah,

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah subhanahu wa ta’ala yang telah mengaruniakan iman dan takwa kepada siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan kita termasuk yang mendapat karunia yang amat mulia ini. Amin, ya Rabbal ‘alamin.

Sebab, kalau bukan karena hidayah dan karunia dari-Nya, niscaya kita termasuk orang-orang yang merugi. Na’udzubillah min dzalik.

          فَلَوۡلَا فَضۡلُ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ وَرَحۡمَتُهُۥ لَكُنتُم مِّنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ ٦٤

“Seandainya bukan karena karunia dan rahmat Allah atas kalian, niscaya kalian akan tergolong orang-orang yang merugi.” (al-Baqarah: 64)

 

Di dalam surah al-‘Ashr, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          وَٱلۡعَصۡرِ ١  إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَفِي خُسۡرٍ ٢  إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ ٣

“Demi masa, sesungguhnya manusia itu berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” (al-‘Ashr: 1—3)

 

Di antara yang dilantunkan para sahabat ketika menggali parit Khandaq bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah,

وَاللهِ لَوْلاَ اللهُ مَا اهْتَدَيْنَا وَ تَصَدَّقْنَا وَلاَ صَلَّيْنَا

        “Demi Allah, kalau bukan karena karunia Allah, tidaklah kami mendapat hidayah, niscaya kami tidak bersedekah, tidak pula kami mengerjakan shalat.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

 

Hadirin sidang jumat rahimakumullah!

Sudah menjadi kewajiban bagi setiap muslim untuk menjaga anugerah iman dan takwa ini. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ ١٠٢

        “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan takwa yang sebenarnya, dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan Islam.” (Ali Imran: 102)

 

Ketika salah seorang sahabat bertanya kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang ucapan dalam Islam, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya menjawab,

قُلْ: آمَنْتُ بِاللهِ؛ ثُمَّ اسْتَقِمْ

        Katakanlah, “Aku beriman kepada Allah,” kemudian istiqamahlah. (HR. Muslim dari sahabat Sufyan bin Abdullah ats-Tsaqafi radhiallahu ‘anhu)

 

Jawaban singkat ini menunjukkan betapa pentingnya menjaga keistiqamahan iman.

 

Hadirin rahimakumullah!

Perhatikanlah janji Allah subhanahu wa ta’ala bagi hamba-hamba-Nya yang berhasil memelihara keistiqamahan iman. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُواْ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسۡتَقَٰمُواْ فَلَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ ١٣

        Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Rabb kami adalah Allah,” kemudian mereka tetap istiqamah, niscaya tidak akan ada rasa khawatir pada mereka, tidak pula mereka bersedih hati. (al-Ahqaf: 13)

 

          إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُواْ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسۡتَقَٰمُواْ تَتَنَزَّلُ عَلَيۡهِمُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ أَلَّا تَخَافُواْ وَلَا تَحۡزَنُواْ وَأَبۡشِرُواْ بِٱلۡجَنَّةِ ٱلَّتِي كُنتُمۡ تُوعَدُونَ ٣٠

        Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, “Rabb kami ialah Allah,” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan), “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” (Fushshilat: 30)

 

Maasyiral muslimin rahimakumullah!

Dalam majelis ini perlu untuk kita ketahui bersama beberapa sebab terjaganya keimanan.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          وَإِذۡ تَأَذَّنَ رَبُّكُمۡ لَئِن شَكَرۡتُمۡ لَأَزِيدَنَّكُمۡۖ وَلَئِن كَفَرۡتُمۡ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٞ ٧

        “Sesungguhnya jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepada kalian. Akan tetapi, jika kalian mengingkari (nikmat-Ku), pasti azab-Ku sangat berat.” (Ibrahim: 7)

 

Jamaah jumat rahimakumullah!

Tersirat dari ayat di atas bahwa di antara penyebab terjaganya keimanan adalah:

  1. Bersyukur

Kalbu seseorang mengakui bahwa kenikmatan iman maupun kenikmatan yang lainnya berasal hanya dari Allah subhanahu wa ta’ala. Lisannya selalu memuji Allah atas kenikmatan-Nya tersebut. Dia juga menggunakan kenikmatan-kenikmatan tersebut dalam ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan tidak menggunakannya untuk bermaksiat.

 

Yang tidak kalah pentingnya daripada bersyukur adalah:

  1. Bersabar

Bersabar di sini meliputi tiga jenis kesabaran: (1) bersabar di atas ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, (2) bersabar untuk menahan diri dari bermaksiat kepada-Nya, dan (3) bersabar menghadapi musibah.

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَلِكَ لِأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh, mengagumkan urusan seorang muslim. Segala urusan mendatangkan kebaikan baginya dan yang demikian hanya ada pada seorang mukmin. Manakala mengalami kesenangan, dia akan bersyukur, itu adalah kebaikan baginya. Manakala ditimpa musibah, dia bersabar, itu pun kebaikan baginya.” (HR. Muslim dari sahabat Suhaib bin Sinan radhiallahu ‘anhu)

 

  1. Kesungguhan menjaga keistiqamahan iman dan takwa.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          وَٱلَّذِينَ جَٰهَدُواْ فِينَا لَنَهۡدِيَنَّهُمۡ سُبُلَنَاۚ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَمَعَ ٱلۡمُحۡسِنِينَ ٦٩

        “Orang-orang yang bersungguh-sungguh di (jalan) Kami, niscaya benar-benar Kami akan menunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (al-‘Ankabut: 69)

 

  1. Berusaha mengikhlaskan niat dalam semua urusan agama.

Sebab, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          وَمَآ أُمِرُوٓاْ إِلَّا لِيَعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ

        “Dan tidaklah mereka diperintahkan melainkan agar mereka beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan agama ini hanya untuk-Nya.” (al-Bayyinah: 5)

 

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Sesungguhnya, amalan-amalan tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang mendapatkan sesuai dengan niatnya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu)

 

  1. Berpegang teguh dengan al-Qur’an dan Sunnah.

Hal ini sebagaimana sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِنِّي تَارِكٌ فِيكُمْ مَا إِنْ تَمَسَّكْتُمْ بِهِ لَنْ تَضِلُّوا: كِتَابَ اللهِ وَسُنَّتِي

“Sesungguhnya aku tinggalkan untuk kalian yang kalian tidak akan tersesat selama kalian berpegang teguh dengannya, yaitu Kitab Allah dan Sunnahku.” (HR. al-Imam Malik dari sahabat Zaid bin Arqam radhiallahu ‘anhu, dan dihukumi sahih oleh asy-Syaikh al-Albani rahimahullah)

 

Maksudnya, dengan menjadikan keduanya sebagai pedoman dan tidak melakukan hal-hal yang bertentangan dengan keduanya.


 

  1. Berusaha selalu jujur dalam segala urusan.

Kejujuran sangat berpengaruh terhadap keistiqamahan iman seseorang. Sebab, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ، وَلاَ يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدِّيقًا

“Hendaknya kalian bersikap jujur karena kejujuran membawa kepada kebaikan dan kebaikan akan membawa ke surga. Manakala seseorang selalu jujur dan menekuninya, niscaya akan ditulis di sisi Allah sebagai seorang shiddiq (tepercaya).”

 

Sebaliknya, perbuatan dusta sangat berbahaya terhadap keistiqamahan iman seseorang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan,

إِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ، وَ يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كَذَّابًا

“Berhati-hatilah kalian dari berbuat dusta karena dusta akan membawa kepada kejahatan, dan kejahatan akan membawa ke neraka. Manakala seseorang selalu berdusta dan menekuninya, dia akan ditulis di sisi Allah subhanahu wa ta’ala sebagai pendusta.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu)

 

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَكُونُواْ مَعَ ٱلصَّٰدِقِينَ ١١٩

        “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan jadilah kalian bersama orang-orang yang jujur.” (at-Taubah: 119)

 

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمِ

 

Khutbah Kedua

 

الْحَمْدُ الَّذِي مَنَّ عَلَيْنَا بِنِعْمَةِ الْإِسْلَامِ، وَأَمَرَنَا بِالتَّمَسُّكِ بِهِ لِيُوْصِلَنَا بِهِ إِلَى دَارِ السَّلاَمِ، وَالصَّلَاة وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ الْأَنَامِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحَابَتِهِ الْبَرَرَةِ الْكِرَامِ، أَمَّا بَعْدُ: فَأَيُّهَا النَّاسُ عِبَادَ اللهِ الْكِرَامَ رَحِمَكُمُ اللهُ

 

Hadirin rahimakumullah,

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

يَرۡفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ دَرَجَٰتٖۚ

“Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu dengan beberapa derajat.” (al-Mujadalah: 11)

 

Ayat ini mengandung beberapa penyebab terjaganya keimanan:

  1. Mempelajari ilmu agama

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِهْهُ فِي الدِّينِ

        “Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, niscaya Allah akan menjadikannya paham agama.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Muawiyah radhiallahu ‘anhuma)

 

Maasyiral muslimin rahimakumullah,

Dalam sebuah hadits qudsi Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ ضَالٌّ إِ مَنْ هَدَيْتُهٌ، فَاسْتَهْدُونِي أَهْدِكُمْ

“Wahai hamba-hamba-Ku, sungguh kalian semua tersesat kecuali siapa yang Aku beri hidayah. Maka dari itu, mintalah hidayah kepada-Ku, niscaya kalian Aku beri hidayah.” (HR. Muslim dari sahabat Abu Dzar al-Ghifari radhiallahu ‘anhu)

Hadits di atas menyiratkan makna bahwa di antara penyebab terjaganya keimanan adalah:

 

  1. Doa

Sebab, iman dan takwa merupakan taufik dan hidayah dari Allah subhanahu wa ta’ala. Sampaisampai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saja selalu berdoa dengan doa berikut ini.

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

“Wahai Dzat yang membolak-balikkan kalbu, kokohkanlah kalbuku di atas agama-Mu.”

 

رَبَّنَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكِ، وَيَا مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا فِي طَاعَتِكَ .

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى. اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

 

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ وَالْحَمْدُ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

 

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Ishaq Abdullah Nahar

Takwa & Tawakal Cara Menghadapi Makar Musuh

Berbagai tuduhan, tudingan, dan hujatan dicurahkan kepada para dai tauhid dan sunnah. Demikian pula kepada negara tauhid dan sunnah, Kerajaan Arab Saudi, bahwa mereka adalah wahabi dan kerajaan yang menebarkan ajaran/doktrin wahabiyah.

Bahkan, tuduhan tersebut tidak sampai pada tahapan itu saja. Mereka menyatakan bahwa radikalisme dan terorisme di dunia ini sumbernya adalah wahabi, salafi, dan para tokohnya, seperti Ibnu Taimiyah, Muhammad bin Abdul Wahhab, dll.

Kalau kita perhatikan dengan saksama, tuduhan-tuduhan yang disebarkan oleh Sufi, Syiah, kaum liberal, komunis, dan paham menyimpang lainnya melalui berbagai media ternyata memiliki tujuan yang sama, yaitu menanamkan kebencian dan permusuhan terhadap para dai tauhid yang berjalan di atas Kitabullah dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demikian pula Kerajaan Arab Saudi yang berjalan membelanya.

Berikut ini beberapa penjelasan tentang hakikat makar mereka dan cara menghadapinya. Mudah-mudahan Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa memberikan hidayah dan taufik untuk memahami dan berjalan di atasnya.

 

Pergulatan Antara Kebenaran dan Kebatilan

Pergulatan antara orang-orang yang mengikuti kebenaran (ahlul haq) dan orang-orang yang mengikuti kebatilan (ahlul batil) merupakan sunnatullah (ketetapan dari Allah subhanahu wa ta’ala) yang pasti terjadi. Hal itu tidak bisa dihindari. Ia merupakan ujian dan cobaan dari Allah subhanahu wa ta’ala terhadap para hamba-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          وَلَوۡ يَشَآءُ ٱللَّهُ لَٱنتَصَرَ مِنۡهُمۡ وَلَٰكِن لِّيَبۡلُوَاْ بَعۡضَكُم بِبَعۡضٖۗ

        “Demikianlah, apabila Allah menghendaki, niscaya Allah akan membinasakan mereka. Akan tetapi, Allah hendak menguji sebagian kamu dengan sebagian yang lain.” (Muhammad: 4)

Asy-Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di rahimahullah menafsirkan ayat di atas,

“Hukum-hukum yang disebutkan terkait dengan diujinya orang beriman dengan orang kafir, silih bergantinya kemenangan di antara mereka, dan tertolongnya sebagian mereka menghadapi sebagian lainnya; jika Allah subhanahu wa ta’ala berkehendak, sungguh Dia akan menolong orang-orang yang beriman.

Sebab, Dia adalah Dzat yang Mahakuasa melakukan segala sesuatu. Dia Mahakuasa untuk tidak menakdirkan kemenangan bagi orang-orang kafir di satu tempat pun selama-lamanya sehingga orang-orang beriman berhasil membinasakan kebun-kebun mereka.

Akan tetapi, sungguh Allah subhanahu wa ta’ala akan menguji sebagian kalian dengan yang lainnya agar terjadi jihad fi sabilillah. Dengan ujian itu, tampak jelas keadaan para hamba-Nya, mana yang jujur dan mana yang dusta.

Dengan demikian, orang yang beriman bisa beriman dengan yang benar berlandaskan bashirah (ilmu dan keyakinan), bukan iman yang dibangun karena mengikuti kelompok yang menang. Sebab, iman yang seperti itu lemah sekali. Iman yang seperti itu tidak akan bertahan saat pemiliknya menghadapi ujian dan cobaan.” (Taisir al-Karim ar-Rahman, hlm. 785)

Para nabi dan rasul r adalah golongan hamba-Nya yang paling mulia. Mereka juga dibenturkan dengan para musuhnya. Demikian berita Allah subhanahu wa ta’ala dalam kitab-Nya,

وَكَذَٰلِكَ جَعَلۡنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوّٗا شَيَٰطِينَ ٱلۡإِنسِ وَٱلۡجِنِّ يُوحِي بَعۡضُهُمۡ إِلَىٰ بَعۡضٖ زُخۡرُفَ ٱلۡقَوۡلِ غُرُورٗاۚ وَلَوۡ شَآءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُۖ فَذَرۡهُمۡ وَمَا يَفۡتَرُونَ ١١٢ وَلِتَصۡغَىٰٓ إِلَيۡهِ أَفۡ‍ِٔدَةُ ٱلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ بِٱلۡأٓخِرَةِ وَلِيَرۡضَوۡهُ وَلِيَقۡتَرِفُواْ مَا هُم مُّقۡتَرِفُونَ ١١٣

        “Dan demikianlah, Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jika Rabbmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.

Dan (juga) agar hati kecil orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat cenderung kepada bisikan itu, mereka merasa senang kepadanya dan supaya mereka mengerjakan apa yang mereka (setan) kerjakan.” (al-An’am: 112—113)

Asy-Syaikh Abdur Rahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata menafsirkan ayat di atas,

“Allah subhanahu wa ta’ala menghibur Rasul-Nya, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan menyatakan bahwa sebagaimana Kami menjadikan bagimu musuh-musuh yang menolak dakwahmu, memerangimu, dan dengki terhadapmu—ini adalah sunnah (ketentuan)-Ku—demikian pula Aku menjadikan musuh bagi setiap nabi yang Aku utus kepada makhluk. Musuh-musuh mereka adalah setan-setan dari golongan jin dan manusia. Mereka menghadang dan menentang dakwah para rasul.

Sebagian mereka menghias-hiasi perkara batil yang mereka serukan kepada yang lain. Mereka kemas dengan ungkapan yang menarik hingga menampilkannya dalam bentuk yang terbaik. Tujuannya adalah menipu orang-orang bodoh. Orang dungu yang tidak memahami hakikatnya dan makna sebenarnya akan menerimanya. Slogan yang dikemas dan dihias tersebut membuat takjub orang yang bodoh. Mereka pun meyakini bahwa yang benar adalah batil, sedangkan yang batil dianggap sebagai kebenaran.

Oleh karena itulah, Allah subhanahu wa ta’ala menjelaskan bahwa hati orang yang tidak beriman terhadap akhirat akan condong terhadap slogan/ucapan kosong itu. Sebab, ketiadaan iman terhadap hari akhir dan ketiadaan akal yang bermanfaat di hati mereka, telah mendorong mereka (untuk condong terhadapnya).

 

Penyebaran Opini Dusta, Makar Mereka

Di antara makar-makar ahlul batil dalam rangka menanamkan kebencian dan permusuhan terhadap ahlul haq dan para dai yang mengajak kepada kebenaran adalah menyebarkan opini-opini yang buruk terhadap seluruh umat manusia melalui seluruh media massa. Bahkan, opini itu mereka sebarkan melalui kajian, pelajaran di sekolah, dan sebagainya.

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.

Makar mereka ini bukanlah hal yang baru. Ini sudah dilakukan oleh pendahulu mereka terhadap para nabi dan para rasul r. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          كَذَٰلِكَ مَآ أَتَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِم مِّن رَّسُولٍ إِلَّا قَالُواْ سَاحِرٌ أَوۡ مَجۡنُونٌ ٥٢  أَتَوَاصَوۡاْ بِهِۦۚ بَلۡ هُمۡ قَوۡمٞ طَاغُونَ ٥٣

        Demikianlah, tidak seorang rasul pun yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka, melainkan mereka mengatakan, “Ia adalah seorang tukang sihir atau orang gila.”

Apakah mereka saling berpesan tentang apa yang dikatakan itu? Sebenarnya mereka adalah kaum yang melampaui batas. (adz-Dzariyat: 52—53)

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala menghibur Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Apa yang dikatakan orang musyrik kepadamu, wahai Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dahulu juga diucapkan kepada para rasul ‘alaihimussalam. Seperti itulah. Tidaklah datang seorang rasul pun kepada mereka (para pendusta) kecuali mereka akan berkata terhadap rasul itu sebagai tukang sihir atau orang gila. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, ‘Apakah mereka saling mewasiatkan ucapan itu? Bahkan, mereka adalah kaum yang melampaui batas (zalim).’

Maknanya, mereka adalah kaum yang melampaui batas. Hati mereka serupa sehingga apa yang diucapkan oleh generasi belakangan sama dengan yang dikatakan oleh para pendahulunya. Maka dari itu, wahai Muhammad, berpalinglah dari mereka. Kami tidaklah mencelamu dengan sikapmu tersebut.” (Tafsir al- Qur’an al-‘Azhim, 4/201)

Bahkan, Fir’aun la’natullah ‘alaihi mengelabui kaumnya dengan opini dusta kepada kaumnya tentang Nabi Musa ‘alaihissalam dan dakwahnya. Allah subhanahu wa ta’ala mengabarkan dalam kitab-Nya,

          وَقَالَ فِرۡعَوۡنُ ذَرُونِيٓ أَقۡتُلۡ مُوسَىٰ وَلۡيَدۡعُ رَبَّهُۥٓۖ إِنِّيٓ أَخَافُ أَن يُبَدِّلَ دِينَكُمۡ أَوۡ أَن يُظۡهِرَ فِي ٱلۡأَرۡضِ ٱلۡفَسَادَ ٢٦

        Dan berkata Firaun (kepada pembesar-pembesarnya), “Biarkanlah aku membunuh Musa dan hendaklah ia memohon kepada Rabbnya, karena sesungguhnya aku khawatir dia akan menukar agamamu atau menimbulkan kerusakan di muka bumi.” (Ghafir: 26)

Asy-Syaikh Abdur Rahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah menjelaskan bahwa ucapan Fir’aun ini adalah kalimat yang paling mengherankan. Orang yang paling jahat menasihati rakyatnya supaya tidak mengikuti orang terbaik (Musa ‘alaihissalam). Itu adalah penipuan dan pemutarbalikan fakta.

Pada zaman sekarang ini, kaum Sufi, demikian pula Syiah, kaum liberalis, sosialis, komunis, dan lainnya, melalui berbagai media menyematkan julukan “wahabi”, “salafi wahabi” kepada orang yang berpegang teguh dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka menyebarkan opini tersebut dalam rangka menjauhkan kaum muslimin dari para dai sunnah.

Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah mengatakan, “Julukan tersebut bertujuan menanamkan kebencian dan menjauhkan umat dari sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, kalian wajib teliti dalam urusan tersebut dan memerhatikan maknanya.

Penamaan ‘wahabi’ adalah penisbatan kepada seorang alim ulama, bukan penisbatan kepada Marx atau Lenin, bukan kepada Amerika atau Rusia, bukan pula kepada salah seorang pemimpin yang memusuhi Islam. Meski demikian, kita tidak boleh menisbatkan diri kecuali kepada Islam dan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (al-Mushara’ah, hlm. 294—295)

Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah juga berkata, “Apabila engkau mendengar seseorang berkata, ‘Orang ini wahabi,’ ketahuilah bahwa orang tersebut memiliki dua kemungkinan:

  1. Orang jelek yang berbuat kejelekan,
  2. Orang bodoh yang tidak bisa membedakan.

Semua ini adalah kedustaan besar yang dituduhkan kepada seorang dai yang mengajak umat untuk mentauhidkan Allah subhanahu wa ta’ala.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          إِنَّ ٱلَّذِينَ يُحِبُّونَ أَن تَشِيعَ ٱلۡفَٰحِشَةُ فِي ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٞ فِي ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةِۚ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ وَأَنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ ١٩

        “Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (an-Nur: 19)

Saudara-saudaraku di jalan Allah subhanahu wa ta’ala, Allah subhanahu wa ta’ala menamai kita muslimin. Kita adalah umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kita tidak rela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diganti oleh yang lain. Kita tidak rela dinisbatkan kepada al-Imam asy-Syafi’i, Zaidi, Wahabi, atau yang lainnya.

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah adalah seorang alim yang mulia. Dengan menisbatkan seseorang kepada beliau, mereka menganggap bisa berbuat buruk (menjauhkan umat darinya).

Aku nasihatkan kepada saudaraku di jalan Allah subhanahu wa ta’ala untuk membaca Kitab at-Tauhid. Niscaya akan kalian lihat di dalamnya ayat al-Qur’an dan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Itu adalah sebuah kitab yang mulia. Walaupun ada beberapa hadits dhaif di dalamnya, tetapi tidak berbahaya. Sungguh, aku telah menjelaskannya di dalam kitabku an-Nahju Sadid. Bacalah!

Janganlah engkau menjadi pembebek kejelekan dengan menyatakan, ‘Apabila orang-orang berbuat baik kepadaku, aku akan berbuat baik kepadanya. Apabila mereka berbuat buruk, akupun akan berbuat buruk kepada mereka.’

(Jangan seperti itu,) perhatikan diri-diri kalian. Apabila orang-orang berbuat baik kepadamu, berbuat baiklah kepada mereka. Apabila mereka berbuat buruk, janganlah engkau menzalimi mereka. Wallahu a’lam.” (al-Mushara’ah, hlm. 398)

 

Intimidasi dan Provokasi

Musuh-musuh dakwah ini, seperti kaum Sufi, Syiah, liberalis, sosialis, komunis, dll., tidak segan melakukan intimidasi dan provokasi terhadap para dai yang mengajak kepada tauhid dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Modus ini pun bukan makar yang baru.

Allah subhanahu wa ta’ala memberitakan intimidasi yang dilakukan oleh orang-orang munafik terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat beliau radhiallahu ‘anhum,

ٱلَّذِينَ قَالَ لَهُمُ ٱلنَّاسُ إِنَّ ٱلنَّاسَ قَدۡ جَمَعُواْ لَكُمۡ فَٱخۡشَوۡهُمۡ فَزَادَهُمۡ إِيمَٰنٗا وَقَالُواْ حَسۡبُنَا ٱللَّهُ وَنِعۡمَ ٱلۡوَكِيلُ ١٧٣

فَٱنقَلَبُواْ بِنِعۡمَةٖ مِّنَ ٱللَّهِ وَفَضۡلٖ لَّمۡ يَمۡسَسۡهُمۡ سُوٓءٞ وَٱتَّبَعُواْ رِضۡوَٰنَ ٱللَّهِۗ وَٱللَّهُ ذُو فَضۡلٍ عَظِيمٍ ١٧٤

إِنَّمَا ذَٰلِكُمُ ٱلشَّيۡطَٰنُ يُخَوِّفُ أَوۡلِيَآءَهُۥ فَلَا تَخَافُوهُمۡ وَخَافُونِ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ ١٧٥

(Yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan, “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka.”

Perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.”

Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa, mereka mengikuti keridaan Allah. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.

Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah setan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman. (Ali Imran: 173—175)

Asy-Syaikh Abdur Rahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah menjelaskan, intimidasi yang dilakukan oleh salah seorang musyrikin dengan ucapannya, “Sesungguhnya mereka (musuh-musuh kalian) telah bersatu untuk melibas kalian,” sebenarnya dia adalah salah seorang dai setan yang menakut-nakuti (mengintimidasi) para walinya yang tidak beriman dan orang yang imannya lemah.

“Oleh karena itu, janganlah kalian (wahai orang yang beriman) takut terhadap mereka. Namun, takutlah kalian kepada-Ku. Jika kalian adalah orang-orang yang beriman.”

Maksudnya, kata as-Sa’di rahimahullah, “Janganlah kalian takut terhadap kaum musyrikin yang menjadi wali setan, karena ubun-ubun mereka di tangan Allah subhanahu wa ta’ala. Mereka tidak akan mampu berbuat apa pun kecuali dengan takdir-Nya. Akan tetapi, takutlah kalian kepada Allah subhanahu wa ta’ala yang akan menolong para wali-Nya yang takut kepada-Nya dan yang menyambut seruan-Nya.”

Ketika mereka tidak memiliki hujah dan kalah dalam berargumentasi, mereka melakukan provokasi terhadap massa untuk membendung dan memberangus dakwah tauhid dan sunnah ini. Allah subhanahu wa ta’ala mengabarkan niat jahat mereka dalam firman-Nya,

          يُرِيدُونَ لِيُطۡفِ‍ُٔواْ نُورَ ٱللَّهِ بِأَفۡوَٰهِهِمۡ وَٱللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِۦ وَلَوۡ كَرِهَ ٱلۡكَٰفِرُونَ ٨

        “Mereka ingin hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci.” (ash-Shaf: 8)

Makar jahat ini juga bukan sesuatu yang baru. Ia hanyalah warisan dari para pendahulu mereka yang menentang dakwah para nabi dan rasul r.

Perhatikanlah provokasi Fir’aun untuk menghalangi dakwah Nabi Musa ‘alaihissalam,

          وَقَالَ فِرۡعَوۡنُ ذَرُونِيٓ أَقۡتُلۡ مُوسَىٰ وَلۡيَدۡعُ رَبَّهُۥٓۖ إِنِّيٓ أَخَافُ أَن يُبَدِّلَ دِينَكُمۡ أَوۡ أَن يُظۡهِرَ فِي ٱلۡأَرۡضِ ٱلۡفَسَادَ ٢٦

وَقَالَ مُوسَىٰٓ إِنِّي عُذۡتُ بِرَبِّي وَرَبِّكُم مِّن كُلِّ مُتَكَبِّرٖ لَّا يُؤۡمِنُ بِيَوۡمِ ٱلۡحِسَابِ ٢٧

وَقَالَ رَجُلٞ مُّؤۡمِنٞ مِّنۡ ءَالِ فِرۡعَوۡنَ يَكۡتُمُ إِيمَٰنَهُۥٓ أَتَقۡتُلُونَ رَجُلًا أَن يَقُولَ رَبِّيَ ٱللَّهُ وَقَدۡ جَآءَكُم بِٱلۡبَيِّنَٰتِ مِن رَّبِّكُمۡۖ وَإِن يَكُ كَٰذِبٗا فَعَلَيۡهِ كَذِبُهُۥۖ وَإِن يَكُ صَادِقٗا يُصِبۡكُم بَعۡضُ ٱلَّذِي يَعِدُكُمۡۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهۡدِي مَنۡ هُوَ مُسۡرِفٞ كَذَّابٞ ٢٨

Dan berkata Firaun (kepada pembesar-pembesarnya), “Biarkanlah aku membunuh Musa dan hendaklah ia memohon kepada Rabbnya, karena sesungguhnya aku khawatir dia akan menukar agamamu atau menimbulkan kerusakan di muka bumi.”

Musa berkata, “Sesungguhnya aku berlindung kepada Rabbku dan Rabbmu dari setiap orang yang menyombongkan diri yang tidak beriman kepada hari berhisab.”

Seorang laki-laki yang beriman di antara pengikut-pengikut Firaun yang menyembunyikan imannya berkata, “Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena dia menyatakan, ‘Rabbku ialah Allah,’ padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Rabbmu. Jika ia seorang pendusta, dialah yang menanggung (dosa) dustanya itu; dan jika ia seorang yang benar, niscaya sebagian (bencana) yang diancamkannya kepadamu akan menimpamu.” Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta. (Ghafir: 26—28)

 

Demikian pula sikap mereka terhadap Nabi Ibrahim ‘alaihissalam setelah kalah hujah. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

قَالُواْ حَرِّقُوهُ وَٱنصُرُوٓاْ ءَالِهَتَكُمۡ إِن كُنتُمۡ فَٰعِلِينَ ٦٨ قُلۡنَا يَٰنَارُ كُونِي بَرۡدٗا وَسَلَٰمًا عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ ٦٩ وَأَرَادُواْ بِهِۦ كَيۡدٗا فَجَعَلۡنَٰهُمُ ٱلۡأَخۡسَرِينَ ٧٠

        Mereka berkata, “Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak.”

Kami berfirman, “Hai api, jadilah dingin, dan jadilah keselamatan bagi Ibrahim.”

Mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi. (al-Anbiya: 68—70)

 

Asy-Syaikh Abdur Rahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah menjelaskan bahwa orang-orang musyrikin berkata, “Bunuhlah dia dengan cara yang paling jahat (dibakar),” karena mereka marah terhadap Ibrahim ‘alaihissalam dalam rangka membela sesembahan mereka.

Orang-orang musyrikin itu betul-betul celaka. Mereka beribadah kepada sesembahan yang mereka akui sendiri bahwa ia membutuhkan pertolongan mereka, tetapi justru mereka jadikan sesembahan. Allah subhanahu wa ta’ala menolong kekasih-Nya ketika para musuh melemparkannya ke dalam api.

 

Kemenangan Bagi yang Bertakwa dan Bertawakal kepada Allah subhanahu wa ta’ala

Berbagai makar mereka lakukan terhadap para dai yang mengajak untuk beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala semata dengan tuntunan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun, makar itu akan kembali kepada diri mereka dengan kekuasaan Allah subhanahu wa ta’ala.

          وَمَكَرُواْ وَمَكَرَ ٱللَّهُۖ وَٱللَّهُ خَيۡرُ ٱلۡمَٰكِرِينَ ٥٤

        “Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.” (Ali Imran: 54)

Kemenangan itu pasti akan berakhir bagi hamba yang bertakwa dan bertawakal kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

          تِلۡكَ ٱلدَّارُ ٱلۡأٓخِرَةُ نَجۡعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوّٗا فِي ٱلۡأَرۡضِ وَلَا فَسَادٗاۚ وَٱلۡعَٰقِبَةُ لِلۡمُتَّقِينَ ٨٣

        “Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan  (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (al-Qashash: 83)

Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah berkata, “Wahai sekalian kaum muslimin, kita semua wajib bertakwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Kita wajib kembali kepada kitab Allah dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, menggantungkan serta menyandarkan diri kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala semata.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجۡعَل لَّهُۥ مَخۡرَجٗا ٢

“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan berikan baginya jalan keluar.” (ath-Thalaq: 2)

Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman,

          وَمَن يَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسۡبُهُۥ

“Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (ath-Thalaq: 3)

Dialah yang akan memberi kecukupan, Dia pula sebaik-baik pelindung dan penolong.

Engkau bersandar kepada Allah subhanahu wa ta’ala dalam seluruh urusanmu. Makna tawakal tidaklah sebagaimana yang dipahami oleh orang Sufi yang menyimpang, yaitu tidak mau menjalani sebab atau tidak mau berusaha.

Akan tetapi, makna tawakal yang dijelaskan oleh para ulama adalah ‘bersandar kepada sebab adalah syirik, sedangkan tidak mau menjalani sebab adalah mencela syariat’ (Maknanya, lakukan sebab/usaha diiringi dengan doa dalam keadaan engkau menyerahkan hasilnya kepada Allah subhanahu wa ta’ala semata). (al-Mushara’ah, hlm. 12)

Tentang firman Allah subhanahu wa ta’ala pada surah ath-Thalaq ayat 3 di atas, asy-Syaikh as-Sa’di rahimahullah menerangkan, “Barang siapa bertawakal kepada Allah subhanahu wa ta’ala dalam urusan agama dan dunianya, dengan menyandarkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala ketika ingin mendapatkan kemanfaatan dan menolak madarat, dengan yakin kepada Allah subhanahu wa ta’ala untuk mendapatkan kemudahan dari-Nya, Allah subhanahu wa ta’ala akan memberinya kecukupan.

Apabila suatu urasan itu berada dalam jaminan Dzat yang Mahakaya, Mahakuasa, Mahaperkasa, dan Maha Penyayang, urusan itu adalah yang paling dekat dengannya. Akan tetapi, terkadang hikmah Allah subhanahu wa ta’ala menuntut urusan tersebut ditunda sampai waktu yang tepat bagi si hamba.”

Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi rahimahullah berkata, “Sikap orang mukmin adalah menyerahkan seluruh urusannya kepada Allah subhanahu wa ta’ala semata. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          قُل لَّن يُصِيبَنَآ إِلَّا مَا كَتَبَ ٱللَّهُ لَنَا هُوَ مَوۡلَىٰنَاۚ وَعَلَى ٱللَّهِ فَلۡيَتَوَكَّلِ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٥١

        Katakanlah, “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.” (at-Taubah: 51)

Apabila tawakalmu benar/lurus kepada Allah subhanahu wa ta’ala, engkau tidak usah memedulikan orang yang menyelisihi petunjuk Allah subhanahu wa ta’ala, tidak usah memedulikan orang yang menyelisihi Kitabullah dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Beliau rahimahullah katakan pula, “Apabila hati seorang muslim dipenuhi dengan kekhawatiran karena bid’ah dan khurafat, atau hatinya dipenuhi keraguan, dia akan terus-menerus goncang. Seperti keadaan orang munafik, akan memikirkan setiap komentar terhadap mereka.” (al-Mushara’ah, hlm. 11)

Mudah-mudahan Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa mengokohkan hati kaum muslimin, terkhusus para dai dan ulama yang berada di atas tauhid dan sunnah, dalam menghadapi berbagai ujian dan cobaan.

Amin.

Ditulis oleh al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan

Akidah Syiah Meruntuhkan Tauhid

Kaum muslimin sepakat bahwa fondasi Islam adalah dua kalimat syahadat sebagai rukun Islam pertama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskannya dalam hadits Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma,

        بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ وَإِقَامِ الصَّلَا ةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَ الْحَجِّ وَصَوْمِ رَمَضَانَ

“Islam dibangun di atas lima dasar: (1) bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah subhanahu wa ta’ala dan Muhammad adalah utusan Allah subhanahu wa ta’ala, (2) mendirikan shalat, (3) menunaikan zakat, (4) berhaji, dan (5) berpuasa pada bulan Ramadhan.” (HR. al-Bukhari no. 8 dan Muslim no. 16)

Saat fondasi rusak atau runtuh, niscaya segala yang dibangun di atasnya akan runtuh pula. Barang siapa berupaya atau telah berupaya merusak atau meruntuhkannya, dia adalah seseorang yang telah keluar dari Islam.

Dua kalimat syahadat sebagai fondasi Islam mengandung makna yang besar dan agung. La ilaha illallah mengandung makna tauhidullah dan Muhammad rasulullah mengandung makna tauhidurrasul. Tauhidullah maknanya mentauhidkan Allah subhanahu wa ta’ala dalam segala bentuk peribadahan. Adapun makna tauhidurrasul adalah menjadikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai satu-satunya anutan dan teladan dalam menjalankan tauhidullah.

Di atas dua kalimat inilah dakwah kepada Allah subhanahu wa ta’ala dijalankan, bendera jihad dikibarkan, amar ma’ruf dan nahi mungkar ditegakkan. Di atas dasar ini pula dibangun dan dinilai semua bentuk ibadah, ketaatan, serta segala bentuk pendekatan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala, seperti shalat, zakat, puasa, berhaji, berdoa, berzikir, membaca al-Qur’an, berinfak, dan bentuk ketaatan lainnya.

Tauhidullah merupakan fondasi dakwah para rasul. Ia menjadi asas untuk memperbaiki segala bentuk perusakan dan kerusakan di muka bumi ini. Untuk tauhidullah, Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan jin dan manusia, seluruh makhluk, langit dan bumi, adanya pahala dan dosa, adanya surga dan neraka.

Sekali lagi, sebagai fondasi dan dasar berislam, kapan saja ia runtuh dan tumbang, segala amalan yang dibangun di atasnya akan ikut runtuh. Pelaku perusakan fondasi tersebut menjadi kafir, keluar dari koridor Islam.

Contohnya, para ulama sepakat bahwa apabila seseorang mengucapkan dua kalimat syahadat, shalat, berzakat, berpuasa, namun menentang ibadah haji, berarti dia telah keluar dari Islam.

Contoh lain, apabila dia mengakui semua rukun Islam, namun mengingkari adanya azab di dalam kubur atau mengingkari adanya hari kebangkitan, dia telah kafir dan keluar dari Islam.

Misal yang lain, para sahabat bersepakat memerangi Bani Hanifah. Bani Hanifah adalah murid-murid para sahabat dan belajar agama dari mereka. Bani Hanifah mengucapkan dua kalimat syahadat, shalat, berpuasa, berhaji, bahkan berjihad bersama, beriman pada semua yang terkait dengan kehidupan akhirat. Akan tetapi, mereka diperangi karena mengangkat Musailamah al-Kadzdzab setara dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Keyakinan ini menyebabkan darah mereka halal untuk ditumpahkan, harta mereka halal untuk dirampas, dan kehormatan mereka direnggut.

Dengan gambaran di atas, jelaslah bahwa murtad (keluar dari Islam) bukan hanya pindah agama menjadi Yahudi, Nasrani, Majusi, Budha, Hindu, atau agama yang lain. Para ulama setiap mazhab menyebutkan pembahasan fikih tentang “Hukum Orang Murtad”, murtad adalah seorang muslim yang keluar dari agamanya menjadi kafir. Para ulama setiap mazhab juga menyebutkan sekian perkara yang akan mengeluarkan seseorang dari Islam.

Di antara sebab kemurtadan adalah ucapan yang mengandung kekufuran dan kesyirikan, baik secara serius (karena keyakinan) maupun secara senda gurau dan main-main belaka. Simak ayat di bawah ini.

وَلَئِن سَأَلۡتَهُمۡ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلۡعَبُۚ قُلۡ أَبِٱللَّهِ وَءَايَٰتِهِۦ وَرَسُولِهِۦ كُنتُمۡ تَسۡتَهۡزِءُونَ ٦٥ لَا تَعۡتَذِرُواْ قَدۡ كَفَرۡتُم بَعۡدَ إِيمَٰنِكُمۡۚ إِن نَّعۡفُ عَن طَآئِفَةٖ مِّنكُمۡ نُعَذِّبۡ طَآئِفَةَۢ بِأَنَّهُمۡ كَانُواْ مُجۡرِمِينَ ٦٦

“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja”. Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja, katakan (Muhammad) apakah kepada Allah dan ayat-ayat-Nya serta rasul-Nya kalian mengolok-olok? Tidak ada maaf bagi kalian, sungguh kalian telah kafir setelah berimannya kalian.” (at-Taubah: 65—66)

Ayat ini turun terkait dengan kaum yang berangkat berjihad bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat beliau, lantas lisan mereka mengucapkan kalimat yang mengandung olokan dan ejekan terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Mereka pun menjadi kafir karenanya.

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam kitab Nawaqidhu al- Islam, setelah menyebutkan sepuluh dari pembatal-pembatal keislaman yang besar menjelaskan, “Tidak ada perbedaan dalam pembatal-pembatal keislaman ini antara orang yang bermain-main, bersungguh-sungguh, dan takut; kecuali orang dipaksa. Semua ini adalah pembatal keislaman yang paling berbahaya dan paling sering terjadi. Sepantasnya setiap muslim berhati-hati, merasa takut akan ditimpa pembatal-pembatal tersebut. Kita berlindung kepada Allah subhanahu wa ta’ala dari murka-Nya yang pasti dan azab-Nya yang pedih.” (Lihat Nawaqidhu al-Islam dan Kasyfu asy-Syubhat karya asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, dan al-Aqidah ash-Shahihah wama Yudhadduha wa Nawaqidhu al-Islam karya asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz)

Seseorang akan menjadi kafir-murtad karena menentang satu bagian dari agama Allah subhanahu wa ta’ala. Dua kalimat syahadat yang telah diucapkannya menjadi tidak berguna, apabila yang ditentang adalah dua kalimat syahadat itu sendiri. Padahal kedua kalimat ini adalah bagian agama yang paling besar dan agung. Bukankah dia lebih pantas untuk dikafirkan dan menjadi murtad?

Contoh pelanggaran terbesar terhadap tauhidullah ialah mengangkat seorang manusia setara dengan Allah subhanahu wa ta’ala; meminta-minta di kuburan; menggantungkan nasib dan hidup di tangan para dukun dan paranormal; beristighatsah kepada ruh-ruh leluhur; menyembelih untuk selain Allah subhanahu wa ta’ala, baik untuk jin, tempat keramat, maupun kuburan tertentu;bernadzar untuk selain Allah subhanahu wa ta’ala seperti bernadzar untuk kuburan tertentu; mengangkat para wali sebagai perantara dirinya dengan Allah subhanahu wa ta’ala atau menjadikannya sebagai tujuan dalam berdoa, berharap, dan takut.

 

Propaganda Para Perusak Tauhidullah

Muncullah nama dan tokoh “pujaan” yang berbaju muslim di panggung dunia. Mereka menampilkan diri sebagai pejuang Islam, penyelamat kaum muslimin, penentang segala bentuk kezaliman, penegak keadilan, pembela hak kaum muslimin, dan menyuarakan permusuhan terhadap kaum non-Islam.

Slogan-slogannya yang penuh polesan seringkali menipu kaum muslimin sehingga para tokoh itu dianggap sejalan dengan apa yang diucapkannya. Padahal mereka adalah serigala berbulu domba yang siap menerkam mangsanya.

Siapakah mangsa mereka? Kaum muslimin yang tidak bergabung dalam lingkaran mereka secara umum dan Ahlus Sunnah secara khusus. Mereka siap melakukan pembantaian kapan dan di mana pun saat ada peluang.

Sebutlah sejarah berdarah pada 312 H. Jamaah haji yang berangkat pulang dibantai, kaum lelakinya dibunuh, kaum wanitanya ditawan, dan harta benda mereka lebih dari 1 juta dinar dirampas.

Pada 317 H terulang peristiwa berdarah, yaitu pembantaian orang-orang yang sedang menunaikan ibadah haji pada 8 Dzulhijjah (hari Tarwiyah). Mayat-mayat mereka dibuang ke sumur Zamzam.

Siapakah dalangnya? Pasukan Qaramithah, sekte Syiah, yang dipimpin Abu Thahir al-Qirmithi, yang mendengungkan slogan cinta keluarga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka berlagak sebagai pejuang hak kerabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akan tetapi, justru kaum muslimin yang menjadi mangsa dan incaran mereka.

Jangan kita menganggap bahwa kampanye mereka dengan mengangkat slogan-slogan yang gagah seolah membela Islam itu tidak mendulang hasil dan memetik buah. Mereka telah berhasil mengikat akal pikiran kaum muslimin dan menancapkan kesesatan mereka di dalam sanubari orang-orang Islam.

Ini semua karena kaum muslimin tidak memiliki standar penilaian yang akurat dan benar karena jauhnya mereka dari ilmu agama. Ini adalah dampak dari sikap pembodohan yang ditanamkan oleh para tokoh-tokoh tersebut dengan penuh manipulasi dan dusta.

Propaganda para perusak tauhidullah itu sesungguhnya akhlak dan penampilan yang kotor, walaupun para tokoh kekafiran itu menampilkan diri kepada para pengikutnya sebagai penyelamat. Sementara itu, para rasul yang diutus oleh Allah subhanahu wa ta’ala untuk menyelamatkan hamba-hamba-Nya dituduh sebagai juru perusak dan penukar keyakinan yang benar.

Tidak ada yang menerima cara kotor seperti ini kecuali orang-orang yang telah disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala sebagai orang fasik. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

فَٱسۡتَخَفَّ قَوۡمَهُۥ فَأَطَاعُوهُۚ إِنَّهُمۡ كَانُواْ قَوۡمٗا فَٰسِقِينَ ٥٤

        “Lalu Fir’aun memengaruhi kaumnya (dengan perkataan itu) lalu mereka patuh kepadanya. karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik.” (az-Zukhruf: 54)

Bukankah Fir’aun yang telah mengatakan,

وَقَالَ فِرۡعَوۡنُ ذَرُونِيٓ أَقۡتُلۡ مُوسَىٰ وَلۡيَدۡعُ رَبَّهُۥٓۖ إِنِّيٓ أَخَافُ أَن يُبَدِّلَ دِينَكُمۡ أَوۡ أَن يُظۡهِرَ فِي ٱلۡأَرۡضِ ٱلۡفَسَادَ ٢٦

Dan berkata Fir’aun (kepada pembesar-pembesarnya), “Biarkanlah aku membunuh Musa dan hendaklah ia memohon kepada Rabbnya, karena sesungguhnya aku khawatir Dia akan menukar agama kalian atau menimbulkan kerusakan di muka bumi.” (Ghafir: 26)

Dia mengaku dengan penuh kedustaan,

قَالَ فِرۡعَوۡنُ مَآ أُرِيكُمۡ إِلَّا مَآ أَرَىٰ وَمَآ أَهۡدِيكُمۡ إِلَّا سَبِيلَ ٱلرَّشَادِ ٢٩

Fir’aun berkata,“Aku tidak mengemukakan kepada kalian melainkan apa yang aku pandang baik, dan aku tiada menunjukkan kepada kalian selain jalan yang benar.” (Ghafir: 29)

Kaum munafik yang hidup sebagai kaum perusak di muka bumi juga memproklamirkan dirinya sebagai ahli perbaikan.

وَإِذَا قِيلَ لَهُمۡ لَا تُفۡسِدُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ قَالُوٓاْ إِنَّمَا نَحۡنُ مُصۡلِحُونَ ١١ أَلَآ إِنَّهُمۡ هُمُ ٱلۡمُفۡسِدُونَ وَلَٰكِن لَّا يَشۡعُرُونَ ١٢

        Dan apabila dikatakan kepada mereka, jangan kalian melakukan pengrusakan di muka bumi, mereka menjawab,“Sesungguhnya kami hanya melakukan perbaikan. Ketahuilah bahwa mereka adalah para perusak namun mereka tidak menyadari.” (al-Baqarah: 11—12)

Saudaraku, ini adalah propaganda lama yang diikuti oleh kaum perusak tauhidullah di masa sekarang. Mereka menempuh cara kotor seperti ini dengan tujuan-tujuan berikut.

  1. Ingin mendapatkan dukungan dari semua pihak.
  2. Ketakutan dan kekhawatiran apabila para pengikutnya lari meninggalkan dirinya.

radhiallahu ‘anhuma. Menyingkirkan dan melenyapkan siapapun yang dianggap menghalangi segala keinginan dan tujuan jahatnya, baik muslim maupun kafir.

Langkah seperti ini, menurut as-Sa’di, adalah memutarbalikkan fakta kebenaran. Jika dia sekadar mengajak orang lain untuk mengikutinya dalam kekafiran dan kesesatannya, kejahatan itu akan lebih ringan. Namun, dia mengajak untuk mengikutinya sekaligus menanamkan bahwa dengan mengikuti dirinya berarti pengikutnya telah mengikuti kebenaran, padahal sejatinya mengikuti kesesatan. (Lihat Tafsir as-Sa’di hlm. 43)

Beliau mengatakan juga, “Ini adalah hal yang paling aneh terjadi. Bagaimana bisa manusia yang paling jahat menasihati orang yang mengikuti hamba terbaik? Ini termasuk langkah pengaburan dan sikap melariskan (kekufuran dan kesesatan). Tidak ada yang terpikat selain akal orang-orang yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam firman-Nya, ‘Maka Fir’aun memengaruhi kaumnya (dengan perkataan itu) lalu mereka patuh kepadanya, karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik’.” (Lihat Tafsir as-Sa’di)

 

Keyakinan Kaum Elite Iran Meruntuhkan Tauhidullah

Iran adalah negara yang identik dengan ajaran Syiah, pengikut Abdullah bin Saba’ al-Yahudi. Sekte Syiah yang ada di Iran adalah Syiah Rafidhah yang telah dikafirkan oleh para ulama sunnah.

Kerusakan yang mereka perbuat terhadap kaum muslimin melebihi kerusakan yang diperbuat oleh Yahudi dan Nasrani. Mereka menghalalkan darah kaum muslimin, lebih-lebih Ahlus Sunnah wal Jamaah. Kebencian mereka sangat mengakar dan mendalam. Kebencian mereka bukan seumur jagung, tetapi sudah ada sejak para sahabat masih hidup menemani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Prinsip yang fundamen dalam ajaran mereka adalah “Tidak ada cinta kecuali dengan kebencian”. Yang mereka maksud dengan kata “benci” adalah membenci Abu Bakr dan Umar. Loyalitas dalam agama mereka adalah dengan membenci sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, padahal membenci mereka adalah kekafiran.

Siapakah di umat ini yang pertama kali mengikuti jejak ‘Amr bin Luhai al-Khuza’i, pencetus pertama kesyirikan di jazirah kelahiran Rasulullah?

Jawabannya adalah kaum Rafidhah.

Asy-Syaikh al-‘Allamah Abdur Rahman bin Hasan alu Syaikh mengatakan, “Yang pertama kali mengadakan kesyirikan di umat adalah kelompok ini (Syiah Rafidhah). Mereka meyakini bahwa Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib memiliki sifat uluhiyah (ketuhanan).” (Lihat Mulakhkhash Minhajus Sunnah karya asy-Syaikh Abdur Rahman bin Hasan hlm. 153)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Kesyirikan dan semua kebid’ahan dibangun di atas dusta dan mengada-ada. Karena itu, siapa yang jauh dari tauhid dan sunnah, dia akan lebih dekat kepada kesyirikan, kebid’ahan, dan sikap mengada-ada.

Contohnya, Syiah Rafidhah. Mereka adalah para pengikut hawa nafsu yang paling pendusta dan yang paling besar tingkat kesyirikannya. Tidak ada para pengekor hawa nafsu yang paling pendusta dan paling jauh dari tauhid dibandingkan dengan mereka.

Mereka keluar dari rumah-rumah Allah subhanahu wa ta’ala (masjid-masjid), tempat yang disebut nama Allah subhanahu wa ta’ala padanya. Mereka kosongkan masjid dari shalat jum’at dan shalat berjamaah, lalu meramaikan bangunan-bangunan yang berada di atas kuburan-kuburan, sebuah perbuatan yang telah dilarang oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya.” (Lihat Iqtidha’ ash-Shirathil Mustaqim hlm. 501)

Beliau rahimahullah menjelaskan pula (hlm. 545), “Sungguh, Umar telah datang ke negeri Syam lebih dari satu kali, sejumlah sahabat juga telah tinggal (di negeri tersebut). Tidak ada seorangpun dari kaum muslimin yang melakukan hal itu (mengagungkan kuburan). Kaum muslimin tidak pernah membangun sebuah masjid pun di atas kuburan.

Namun, kaum Nasrani bisa berkuasa di semua tempat pada akhir abad ke-4 dengan merampas Baitul Maqdis. Ini disebabkan berkuasanya kaum Rafidhah di Syam dan Mesir.

Rafidhah adalah umat yang terhina, tidak memiliki akal yang jelas, dalil yang sahih, agama yang diterima, dan tidak memiliki dunia yang terjaga. Kaum Nasrani menjadi kuat dan merampas daerah-daerah pantai dan selainnya dari kaum Syiah Rafidhah.

Mereka berulah dengan melubangi kamar al-Khalil ‘alaihissalam lalu membuat pintu—dan bekas lubang tersebut tampak di pintunya—dan menjadikannya tempat beribadah. Penampilan ini adalah sebuah rekayasa kaum Nasrani, bukan perbuatan salaf umat ini dan orang terbaik mereka.”

Dari uraian singkat ini jelaslah bahwa keyakinan kaum elite Iran adalah meruntuhkan tauhidullah demi menyembah dan mengagungkan kuburan-kuburan.

Wallahu a’lam.

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Usamah Abdur Rahman

Negeri Para Pengikut Dajjal

Dari sahabat Anas bin Malik al-Anshari radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَتْبَعُ الدَّجَّالَ مِنْ يَهُودِ أَصْفَهَانَ سَبْعُونَ أَلْفًا عَلَيْهِمُ الطَّيَالِسَةُ

        “Akan mengikuti Dajjal tujuh puluh ribu orang Yahudi Asfahan, mereka memakai jubah-jubah.”

 

Takhrij Hadits

Hadits yang mulia ini dikeluarkan oleh al-Imam Muslim rahimahullah dalam ash-Shahih, Kitabul Fitan (4/2266 no. 2944) melalui jalan Manshur bin Abi Muzahim, dari Yahya bin Hamzah, dari al-Auza’I, dari Ishaq bin Abdillah, dari pamannya, Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu.

 

Makna Hadits

Di antara ujian besar yang menimpa umat manusia adalah fitnah (ujian) al-Masih ad-Dajjal.

Di antara kasih sayang Allah subhanahu wa ta’ala, seluruh para nabi dan rasul memperingatkan umatnya dari ujian ad-Dajjal, termasuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan beliau telah memberikan keterangan-keterangan yang lebih lengkap dan gamblang ketimbang nabi-nabi sebelum beliau.

Dalam hadits Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa di antara para pengikut al-Masih ad-Dajjal adalah orang-orang Yahudi Asbahan.

Asbahan atau Asfahan adalah salah satu provinsi di Republik Iran, negara yang dibangun di atas agama Syiah Rafidhah. Asbahan sekarang lebih dikenal dengan Isfahan atau Esfahan.

Berita Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam semakin membuka mata kita tentang hakikat negara Iran. Iran bukan kiblat kaum muslimin. Revolusi Iran yang digembar-gemborkan Khomeini yang keji dan kotor bukanlah revolusi Islam, melainkan revolusi Syiah Rafidhah.

Sejak dahulu hingga kini Iran adalah negeri cobaan. Iran adalah negeri sumber kejelekan. Di negara Iran inilah para pengikut Dajjal berdiam, menanti kedatangan Dajjal, kemudian mengikutinya.

Cepat atau lambat, Yahudi akan berkumpul di Asbahan, Iran. Bahkan, saat ini, komunitas Yahudi telah terbentuk di Iran. Yahudi tinggal di Iran, terutama Isfahan, Hadan, dan Teheran. Mereka mendapatkan pengakuan—berbeda dengan Ahlus Sunnah yang terus menjadi sasaran intimidasi dan pembantaian.

Jangan heran apabila Yahudi tinggal nyaman di Iran. Hubungan mesra antara Iran (Syiah Rafidhah) dan Yahudi kasatmata. Keduanya, Syiah Rafidhah (Iran) dan Yahudi ibarat saudara kembar, hanya saja Rafidhah menisbatkan dirinya kepada Islam padahal Islam berlepas diri dari mereka, sementara Yahudi tetap di atas keyahudiannya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa nanti di akhir zaman, tujuh puluh ribu Yahudi Asbahan akan mengikuti Dajjal. Apa yang beliau kabarkan akan terjadi dan pasti terjadi.

 

Di Antara Prinsip Salaf: Mengimani Keluarnya Dajjal

Keluarnya al-Masih ad-Dajjal di akhir zaman adalah salah satu keyakinan Ahlus Sunnah wal Jamaah yang membedakan dari ahlul ahwa’ wal bida’. Hadits-hadits tentang keluarnya Dajjal sangat banyak, bahkan mencapai derajat mutawatir.

Al-Imam Ahmad bin Hambal dalam kitabnya, Ushulus Sunnah, berkata, “Wajib mengimani bahwa al-Masih ad-Dajjal akan keluar, tertulis di antara dua matanya ‘Kafir’, demikian pula mengimani semua hadits-hadits tentang Dajjal, dan mengimani bahwa semua itu akan terjadi.”

Sangat disayangkan, perkara yang sesungguhnya telah disepakati salaf ini diingkari oleh sebagian kaum muslimin, bahkan orang yang ditokohkan, seperti Muhammad Abduh, Abul A’la al-Maududi, Muhammad Farid Wajdi, dan Muhammad Rasyid Ridha.

Abul A’la Al-Maududi mengatakan bahwa Dajjal itu hanyalah simbol, bukan sosok manusia yang berwujud.

Pernyataan ini tentu saja bertentangan dengan sabda-sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang secara tegas menyatakan bahwa al-Masih ad-Dajjal bersosok manusia.

Tokoh lainnya, Muhammad Farid Wajdi, menyatakan bahwa hadits-hadits Dajjal semuanya palsu dan lemah.

Sebuah statemen yang menunjukkan jauhnya orang ini dari hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hadits tentang al-Masih ad-Dajjal mencapai derajat mutawatir dan dikeluarkan dalam kitab-kitab Shahih, seperti Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim, dan lainnya.

Serupa dengan Abul A’la al-Maududi, Muhammad Rasyid Ridha berkata, “Sesungguhnya keluarnya Dajjal adalah simbol bermunculannya berbagai kebatilan. Adapun turunnya Isa dan berita bahwa Isa akan membunuh Dajjal adalah simbol kemenangan kebenaran atas kebatilan.”

Keluarnya Dajjal adalah ujian yang sangat besar hingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintah kita untuk selalu berlindung kepada Allah dari fitnah al-Masih ad-Dajjal. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

        إِذَا تَشَهَّدَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللهِ مِنْ أَرْبَعٍ، يَقُولُ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ

Jika kalian bertasyahud, mintalah perlindungan kepada Allah dari empat perkara, “Ya Allah, sungguh aku berlindung kepada-Mu dari azab Jahannam, dari azab kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian, serta aku berlindung dari kejelekan fitnah al-Masih ad-Dajjal.” (HR. Muslim)

Di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Dajjal sudah ada. Dia terbelenggu di sebuah pulau sebagaimana disebutkan dalam riwayat yang sahih. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengabarkan bahwasanya Dajjal akan keluar dari arah timur, dari Khurasan.

Bisa jadi, muncul pertanyaan, bukankah hadits sahih mengabarkan bahwa Dajjal berada di sebuah pulau? Mengapa dikatakan Dajjal keluar dari Khurasan? Bukankah Khurasan bukan sebuah pulau?

Hadits-hadits sahih tidak bertentangan satu dengan yang lain. Semua datang dari Allah subhanahu wa ta’ala. Dajjal memang akan keluar dari sebuah pulau di arah timur. Setelah keluar, dia menuju Khurasan. Dari Khurasan inilah kemudian Dajjal mengelilingi bumi, timur dan barat.

Setelah muncul, Dajjal berkeliling di muka bumi selama empat puluh hari. Hari pertama berumur satu tahun, hari kedua berumur satu bulan, hari ketiga berumur satu minggu, dan selebihnya seperti hari-hari biasa.

 

Melalui Asfahan dan Diikuti Yahudi Asfahan

Ketika Dajjal keluar, tujuh puluh ribu Yahudi Asfahan mengikuti Dajjal, sebagaimana tertera dalam hadits Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu. Mereka bertekad memerangi kaum muslimin.

Apa yang dikabarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pasti akan terjadi. Sungguh, saat ini orang-orang Yahudi hidup terhormat dan terlindungi di Asfahan bersama orangorang Syiah Rafidhah Iran. Demikian pula di tempat-tempat lain di seluruh penjuru Iran.

Sungguh mengherankan, bersama Yahudi, kaum Syiah Rafidhah hidup dengan mesra, sedangkan terhadap muslimin Ahlus Sunnah, Syiah Rafidhah terus melakukan teror.

Iran adalah negeri sumber fitnah dan kejelekan. Tidak samar pula bagi kita bahwa Iran adalah sebuah negara yang berasas Syiah Rafidhah. Dari asas mereka ini saja, kita sudah mengerti kejelekan yang tersimpan pada diri mereka.

Dalam Undang-Undang Dasar Iran, Bab I, Pasal ke-12, disebutkan asas tunggal negeri tersebut.

The official religion of Iran is Islam and the Twelver Ja’fari school [in usual al-Din and fiqh], and this principle will remain eternally immutable.”

“Agama resmi Iran adalah Islam di atas mazhab Imamiyah Itsna Asyariyah Ja’fari (dalam akidah dan fikih), dan prinsip ini akan tetap abadi selamanya.”

Dengan tegas, tanpa tedeng aling-aling, mereka menyatakan asas tunggal negara mereka adalah mazhab Itsna ‘Asyariah atau Rafidhah. Ini adalah asas kafir, sebuah agama yang bertentangan dengan Islam. Wal ‘iyadzubillah.

Lebih-lebih ketika kita melihat kiprah dan reputasi buruk mereka dalam kancah pergaulan dunia. Niscaya dengan penuh keyakinan kita akan katakan bahwa mereka adalah sebab kejelekan dan sumber fitnah.

 

Ke Mana Dajjal dan Bala Tentaranya Berjalan?

Bersama para pengikutnya, Dajjal menuju Madinah. Alhamdulillah, Allah subhanahu wa ta’ala menjaga kota Madinah. Semua celah menuju Madinah dijaga oleh malaikat dengan pedang-pedang terhunus.

Dalam riwayat Muslim disebutkan,

        وَعَنْ أَنَسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَيْسَ مِنْ بَلَدٍ إلاَّ سَيَطَؤُهُ الدَّجَّالُ إلاَّ مَكَّةَ وَالمَدِينَةَ؛ وَلَيْسَ نَقْبٌ مِنْ أَنْقَابِهِمَا إلاَّ عَلَيْهِ الْمَلاَئِكَةُ صَافِّينَ تَحْرُسُهُمَا، فَيَنْزِلُ بالسَّبَخَةِ، فَتَرْجُفُ الْمَدِينَةُ ثَلاَثَ رَجَفَاتٍ، يُخْرِجُ اللهُ مِنْهَا كُلَّ كَافِرٍ وَمُنَافِقٍ

Dari Anas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada sebuah negeri pun melainkan Dajjal akan menguasainya, kecuali Makkah dan Madinah. Tidak ada satu celah pun di Makkah dan Madinah kecuali para malaikat bershaf-shaf menjaga keduanya. Singgahlah ad-Dajjal di sebuah tempat (di pinggir Madinah), Madinah pun bergoncang tiga kali. Allah subhanahu wa ta’ala keluarkan dari Madinah semua orang yang kafir dan munafik.”

Ibnul Atsir berkata, “Kata السَّبَخَةِ adalah jenis tanah yang tinggi kadar garamnya hingga tidak tumbuh padanya kecuali tanaman tertentu.” (an-Nihayah 2/333)

Dalam hadits lain, al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah meriwayatkan,

عَنْ عَائِشَةَ أَخْبَرَتْهُ قَالَتْ: دَخَلَ عَلَيَّ رَسُولُ ا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا أَبْكِي فَقَالَ لِي: مَا يُبْكِيكِ؟ قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، ذَكَرْتَ الدَّجَّالَ فَبَكَيْتُ. فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنْ يَخْرُجِ الدَّجَّالُ وَأَنَا حَيٌّ كَفَيْتُكُمُوهُ، وَإِنْ يَخْرُجِ الدَّجَّالُ بَعْدِي فَإِنَّ رَبَّكُمْ عَزَّ وَجَلَّ لَيْسَ بِأَعْوَرَ وَإِنَّهُ يَخْرُجُ فِي يَهُودِيَّةِ أَصْبَهَانَ حَتَّى يَأْتِيَ الْمَدِينَةَ فَيَنْزِلَ نَاحِيَتَهَا وَلَهَا يَوْمَئِذٍ سَبْعَةُ أَبْوَابٍ عَلَى كُلِّ نَقْبٍ مِنْهَا مَلَكَانِ، فَيَخْرُجَ إِلَيْهِ شِرَارُ أَهْلِهَا حَتَّى الشَّامِ مَدِينَةٍ بِفِلَسْطِينَ بِبَابِ لُدٍّ.

وَقَالَ أَبُو دَاوُدَ مَرَّةً: حَتَّى يَأْتِيَ فِلَسْطِينَ بَابَ لُدٍّ فَيَنْزِلَ عِيسَى عَلَيْهِ السَّ مَالُ فَيَقْتُلَهُ ثُمَّ يَمْكُثَ عِيسَى عَلَيْهِ السَّ مَالُ فِي الْأَرْضِ أَرْبَعِينَ سَنَةً إِمَامًا عَدْ وَحَكَمًا مُقْسِطًا

Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, beliau berkata, Suatu saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengunjungiku saat aku sedang menangis. Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Apa yang membuatmu menangis?”

Aku jawab, “Wahai Rasulullah, engkau telah menceritakan tentang Dajjal. Itu yang membuatku menangis.”

Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seandainya Dajjal keluar dan aku masih hidup, cukup aku bagi kalian. Seandainya Dajjal keluar sepeninggalku, ketahuilah sesesungguhnya Rabb kalian tidak buta (sebagaimana Dajjal buta).”

Dajjal akan keluar di tengah-tengah Yahudi Asbahan menuju Madinah. Dajjal hanya singgah di perbatasan Madinah (tidak bisa masuk ke dalamnya –pen.). Saat itu Madinah memiliki tujuh pintu, pada setiap pintu masuk ada dua malaikat. Lalu orang-orang jelek dari penduduk Madinah keluar menuju Dajjal.”

Kemudian tibalah di Palestina di Bab Ludd. Turunlah Isa bin Maryam lalu membunuh Dajjal. Nabi Isa tinggal selama 40 tahun di bumi sebagai imam dan penguasa yang adil.”

 

Nasib Yahudi Para Pengikut Dajjal

Bukan hanya Dajjal yang dibunuh dan dihinakan. Para pengikutnya juga dihinakan dan diperangi oleh kaum mukminin. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُقَاتِلَ الْمُسْلِمُونَ الْيَهُودَ فَيَقْتُلُهُمْ الْمُسْلِمُونَ حَتَّى يَخْتَبِئَ الْيَهُودِيُّ مِنْ وَرَاءِ الْحَجَرِ وَالشَّجَرِ فَيَقُولُ الْحَجَرُ أَوْ الشَّجَرُ : يَا مُسْلِمُ يَا عَبْدَ ا هَذَا يَهُودِيٌّ خَلْفِي فَتَعَالَ فَاقْتُلْهُ ! إِ الْغَرْقَدَ فَإِنَّهُ مِنْ شَجَرِ الْيَهُودِ

“Tidak akan terjadi kiamat hingga kaum muslimin memerangi Yahudi dan membunuhi mereka. Sampai ketika ada Yahudi bersembunyi di balik batu atau pohon, batu dan pohon berkata, “Wahai muslim, wahai hamba Allah, Yahudi ada di belakangku. Kemari dan bunuhlah dia!” Kecuali pohon gharqad, (dia tidak berbicara) karena dia termasuk pohon Yahudi.” (HR. al-Bukhari dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Peperangan yang disebutkan dalam hadits di atas saat kaum muslimin membunuh orang-orang Yahudi, adalah perang di zaman Dajjal. Dajjal dibunuh oleh Isa bin Maryam. Adapun Yahudi para pengikut Dajjal diperangi oleh kaum muslimin. Allahu a’lam.

Al-Imam Ibnu Majah rahimahullah meriwayatkan sebuah hadits panjang dari Abu Umamah al-Bahili dalam as-Sunan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَبَيْنَمَا إِمَامُهُمْ قَدْ تَقَدَّمَ يُصَلِّي بِهِمُ الصُّبْحَ إِذْ نَزَلَ عَلَيْهِمْ عِيسَى بْنُ مَرْيَمَ الصُّبْحَ، فَرَجَعَ ذَلِكَ الْإِمَامُ يَنْكُصُ يَمْشِي الْقَهْقَرِي لِيَتَقَدَّمَ عِيَسى يُصَلِّي بِالنَّاسِ، فَيَضَعُ عِيسَى يَدَهُ بَيْنَ كَتِفَيْهِ ثُمَّ يَقُولُ لَهُ: تَقَدَّمْ فَصَلِّ، فَإِنَّهَا لَكَ أُقِيمَتْ. فَيُصَلِّي بِهِمْ إِمَامُهُمْ فَإِذَا انْصَرَفَ قَالَ عِيسَى عَلَيْهِ السَّ مَالُ: افْتَحُوا الْبَابَ. فَيَفْتَحُ وَوَرَاءَهُ الدَّجَّالُ مَعَهُ سَبْعُونَ أَلْفَ يَهُودِيٍّ كُلُّهُمْ ذُو سَيْفٍ مُحَلَّى وَسَاجٍ،

فَإِذَا نَظَرَ إِلَيْهِ الدَّجَّالُ ذَابَ كَمَا يَذُوبُ الْمِلْحُ فِي الْمَاءِ وَيَنْطَلِقُ هَارِبًا وَيَقُولُ عِيسَى عَلَيْهِ السَّ مَالُ: إِنَّ لِي فِيكَ ضَرْبَةً لَنْ تَسْبِقَنِي بِهَا. فَيُدْرِكُهُ عِنْدَ بَابِ اللُّدِّ الشَّرْقِيِّ فَيَقْتُلُهُ فَيَهْزَمُ اللهُ الْيَهُودَ فَ يَبْقَى شَيْءٌ مِمَّا خَلَقَ اللهُ يَتَوَارَى بِهِ يَهُودِيٌّ إِلاَّ أَنْطَقَ اللهُ ذَلِكَ الشَّيْءُ لاَ حَجَرٌ وَ شَجَرٌ وَ حَائِطٌ وَ دَابَّةٌ إ الْغَرْقَدَةَ فَإِنَّهَا مِنْ شَجَرِهِمْ تَنْطِقُ إِلاَّ قَالَ: يَا عَبْدَ اللهِ الْمُسْلِمَ، هَذَا يَهُودِيٌّ فَتَعَالَ اقْتُلْهُ

Tatkala imam mereka (al-Mahdi) maju untuk mengimami shalat subuh, tiba-tiba turun kepada mereka ‘Isa bin Maryam ‘alaihissalam. Bergegaslah Imam Mahdi mundur ke belakang agar Nabi ‘Isa ‘alaihissalam mengimami manusia. Nabi ‘Isa q pun meletakkan tangan beliau di antara pundak al-Mahdi seraya berkata,

“Maju dan shalatlah, karena untukmu shalat ini ditegakkan.”

Seusai shalat, Isa ‘alaihissalam berkata, “Bukalah pintu!”

        Dibukalah pintu, ternyata di baliknya ada Dajjal bersama 70.000 orang Yahudi, semuanya menenteng pedang dan memakai jubah. Ketika Dajjal menatap Isa ‘alaihissalam, ia meleleh sebagaimana melelehnya garam dalam air. Larilah Dajjal.

Nabi Isa berkata, “Sungguh, aku memiliki sebuah pukulan yang engkau tidak akan mendahului aku dengannya.”

Isa mendapatkan Dajjal di Bab Lud sebelah timur dan membunuhnya. Ketika itu Allah kalahkan Yahudi hingga tidak ada satu makhluk pun yang Yahudi bersembunyi padanya kecuali Allah subhanahu wa ta’ala menjadikannya berbicara; batu, pohon, tembok, atau hewan—semua berbicara— kecuali pohon gharqad, sesungguhnya ia adalah pohon Yahudi—semua berbicara,

“Wahai hamba Allah yang muslim, ini Yahudi, kemari dan bunuhlah dia…!”

Hadits Abu Umamah radhiallahu ‘anhu di dalam sanadnya ada kelemahan, tetapi riwayat yang menunjukkan bahwa peperangan ini terjadi di masa Imam Mahdi dikuatkan dengan syawahid (penguat-penguat dari hadits lain).

Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Hadits (Abu Umamah radhiallahu ‘anhu) dikeluarkan oleh Ibnu Majah dengan panjang, dan asal hadits ini ada pada Abu Dawud. Ada yang serupa dengan hadits ini, yaitu hadits Samurah radhiallahu ‘anhu pada riwayat al-Imam Ahmad (dalam al-Musnad) dengan sanad hasan, dan dikeluarkan Ibnu Mandah dalam ‘Kitab al-Iman’ dari hadits Hudzaifah radhiallahu ‘anhu dengan sanad sahih. (Fathul Bari, 6/610)

Walhamdulillah.

 

Al-Masih versi Yahudi adalah Dajjal

Yahudi meyakini akan kemunculan seseorang yang diklaim bakal mengembalikan kejayaan mereka. Mereka menyebutnya al-Masih al-Muntazhar, yakni al-Masih yang dinanti.

Dalam keyakinan mereka, orang tersebut berasal dari keluarga Nabi Dawud, yang nantinya akan menundukkan umat, memperbudak mereka, dan mengembalikan kejayaan Yahudi. Masih ada berbagai keyakinan dan harapan yang dibumbui bermacam-macam kedustaan, sebagaimana tertera dalam kitab Talmud

mereka. Akidah ini terus mereka yakini hingga saat ini, terbukti dengan tercantumnya hal itu dalam Protokolat Yahudi Zionis. (Dirasat fil Adyan, hlm. 265)

Yahudi tidak mengakui bahwa al-Masih al-Muntazhar adalah Isa bin Maryam. Mereka mengkufurinya. mengingkarinya, dan melontarkan tuduhan-tuduhan keji, serta tuduhan kekafiran kepada Isa dan kepada ibunya, Maryam, sebagaimana termaktub dalam kitab Talmud mereka.

Karena itu, tidak heran ketika Nabi Isa ‘alaihissalam turun di akhir zaman, mereka menjadi musuh-musuh utama beliau. Mereka bersama barisan Dajjal.

Ya, al-Masih ad-Dajjal itulah sejatinya al-Masih Muntazhar menurut keyakinan Yahudi. Nabi Isa ‘alaihissalam akan membunuh Dajjal di Bab Lud, demikian pula Yahudi akan diperangi kaum muslimin.

Pembaca rahimakumullah, inilahsekelumit kejadian di akhir zaman. Dajjal akan muncul dan diikuti Yahudi Asfahan, di negeri Iran, Mereka menyangka bahwa bersama Dajjal, kejayaan akan dicapai, namun hakikatnya mereka menuju kebinasaan.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Ditulis oleh al-Ustadz Muhammad Rijal, Lc

Sekilas Tentang Iran

Iran mempunyai nama resmi Islamic Republic of Iran (Jomhori-e Islami-e Iran). Republik Iran berdiri secara resmi pada 1 April 1979. Teheran menjadi ibukota untuk Iran, negara yang berpenduduk 70,4 juta jiwa menurut sensus tahun 2007. Agama resmi yang dianut adalah ajaran Syiah Itsna Asyariah. (Website Kemenlu RI)

Pada zaman dahulu, seluruh wilayah Iran berada di bawah kekuasaan Kekaisaran Persia. Persia sendiri adalah imperium adikuasa yang telah berdiri 1.000 tahun lebih. Hanya dalam 10 tahun setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, imperium Persia runtuh dan lenyap. Kekaisaran Persia berhasil ditaklukkan oleh para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Di dalam referensi sejarah, surat yang dikirim oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Kaisar Persia, malah dirobek-robek. Surat tersebut berisikan ajakan untuk masuk Islam. Kaisar Persia merasa terhina dengan hal itu. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian mendoakan supaya Kekaisaran Persia menjadi hancur lebur, sebagaimana surat beliau dirobek-robek. Akhirnya Kekaisaran Persia memang benar-benar hancur.

Sejak itu, agama Islam yang murni masuk dan diterima oleh penduduk Persia. Selama hampir 9 abad, Islam yang dianut oleh penduduk Iran adalah Islam dengan akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah. Bahkan tidak sedikit ulama-ulama Islam berasal dari wilayah Iran.

Masa berganti masa, sebagaimana wilayah lain, Iran pun mengalami berbagai peristiwa besar. Peristiwa yang kemudian cukup memengaruhi masa depan Iran adalah kekuasaan Raja Ismail ash-Shafawi atas Iran. Pada 906 H (1500 M), Ismail ash-Shafawi menguasai Iran dan memaksakan keyakinan Syiah Itsna Asyariyah (Imam 12) sebagai ideologi negara.

Setiap orang yang tidak meyakini ideologi tersebut akan dibunuh. Akhirnya, terjadilah pembantaian kaum muslimin secara besar-besaran. Ismail ash-Shafawi mengaku bahwa tindakan tersebut dilakukan atas perintah dari 12 Imam. Penduduk Iran dipaksa untuk mendengar cercaan dan cacian terhadap tiga khalifah, yaitu Abu Bakr, Umar, dan Utsman.

Pada masa Ismail ash-Shafawi, sekolah-sekolah berpemahaman Syiah didirikan secara masif. Masjid-masjid Sunni dihancurkan dan diubah fungsinya. Setiap khatib dan penceramah diharuskan untuk mencaci-maki para sahabat; Abu Bakr, Umar, dan Utsman karena dianggap telah merampas hak kekhalifahan Ali bin Abi Thalib.

Sejak saat itulah, Syiah menjadi agama resmi di Iran dan mayoritas penduduknya beragama Syiah.

 

Dendam Persia Terhadap Islam

Cobalah bayangkan! Persia adalah sebuah imperium yang berdiri dan berkuasa secara turun-temurun selama lebih dari 1.000 tahun. Persia dengan agama Majusinya dan kitab Zoroaster-nya, tentu telah melekat kuat pada jutaan penduduknya. Hal itu tentu akan menyisakan pengikut fanatik yang memendam dendam terhadap Islam, Arab, dan para pemimpinnya.

Ambil contoh adalah panglima Islam bernama Khalid bin Walid. Beliau adalah panglima terdepan yang ditunjuk oleh Khalifah Abu Bakar untuk menaklukan Persia. Pasukan Persia yang lebih banyak dalam jumlah selalu dapat dikalahkan oleh pasukan Islam di bawah komando Khalid bin Walid. Lebih dari 100.000 tentara Persia tewas disebabkan peperangan melawan pasukan Khalid. Artinya, berapa banyak anak, istri, dan keluarga yang mendendam?

Persia dalam menjalankan dendam, berpikir dengan keras. Jika melalui pertempuran secara langsung, sejarah tentu tidak dapat mereka lupakan, yakni pasti kalah. Karena itu, cara yang ditempuh adalah dengan merusak Islam dari dalam. Mereka menggunakan isu cinta kepada Ahlul Bait untuk menciptakan kekacauan di dalam Islam. Mengenai hal ini, Pembaca dapat menelaah kembali kajian-kajian tentang Syiah pada Majalah Asy Syariah yang telah terbit sebelumnya.

Setelah Raja Ismail ash-Shafawi berkuasa, ajaran Syiah yang diciptakan oleh bangsa Persia sebagai alat untuk melampiaskan dendam, menjadi ideologi resmi negara.

Namun, pengaruh Ismail ash-Shafawi juga tidak bertahan selamanya. Gerakan-gerakan kekacauan tidak bisa dikatakan padam. Berturut-turut yang menguasai Iran setelah Dinasti Shafawi adalah Dinasti Ashfar, Dinasti Zand, dan Dinasti Qajar. Pada 1921, terjadi kudeta militer yang dipimpin oleh Reza Shah Pahlevi.

Revolusi Iran pada 1979 adalah Revolusi Syiah, walaupun dinamakan Revolusi Islam. Khomeini menjadi pelopor revolusi Syiah. Keberhasilan Revolusi Syiah pada 1979 adalah upaya untuk mengokohkan kembali ajaran-ajaran Syiah yang sempat menjadi besar dan ideologi resmi pada masa dinasti Shafawiyah.

Kita bisa menemukan banyak kesamaan antara ajaran Syiah—yang ditetapkan sebagai ideologi resmi negara Iran—dan keyakinan kaum Majusi Persia. Berikut ini adalah beberapa contohnya.

  1. Kultur agama Majusi Persia adalah memosisikan kaisar dan keturunannya sebagai dewa atau tuhan.
  • Ajaran Syiah Itsna Asyariah (12 Imam) pun demikian. Kaum Syiah memosisikan para imam mereka layaknya Rabb. Mereka meyakini para imam mempunyai dan mampu melakukan hal-hal yang hanya mampu dilakukan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. (Lihat Majalah Asy Syariah edisi 092)

 

  1. Kaum Majusi Persia sangat membenci Abu Bakr, Umar, dan Utsman. Sebab, pada masa beliau bertiga, Kekaisaran Persia runtuh dan tumbang. Kebencian itu lebih kuat lagi terhadap sahabat Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu. Sebab, di masa kekhalifahan Umar, Kekaisaran Persia benar-benar hilang dari percaturan dunia.
  • Kaum Syiah juga membenci Abu Bakr, Umar, dan Utsman. Walaupun mereka beralasan karena beliau bertiga telah merampas hak kekhalifahan dari Ali bin Abi Thalib, namun alasan tersebut hanya dibuat-buat saja.

 

  1. Kaum Majusi Persia sangat mengagungkan Abu Lu’luah al-Majusi, orang yang telah membunuh Khalifah Umar dengan menggunakan pisau beracun.
  • Kaum Syiah juga menghormati dan memuliakan Abu Lu’luah tersebut. Kaum Syiah membangun sebuah kuburan untuk Abu Lu’luah di kota Kasyan, Iran. Kuburan tersebut dibangun, direnovasi menjadi megah, dan diagung-agungkan oleh kaum Syiah. Bahkan, sebagian kaum Syiah menetapkan hari kematiannya sebagai salah satu hari besar yang patut dirayakan.

 

  1. Kaum Majusi sangat menghormati dan mengagungkan api, bahkan mereka menuhankan api.
  • Kaum Syiah dalam beberapa kegiatan mereka, seperti hari raya Ghadir, juga menggunakan api sebagai rangkaian perayaan tersebut.

 

Selain hal di atas, warisan kultur budaya kaum Majusi Persia juga terus dipertahankan. Misalnya, bahasa resmi Iran adalah bahasa Persia; penanggalan yang digunakan juga penanggalan Persia; Iran juga menjadi pihak yang paling ngotot untuk menamakan teluk yang memisahkan antara Persia dan Arab dengan Teluk Persia.

Bahkan, Hari Nairuz yang merupakan hari raya kaum Majusi masih dipertahankan sebagai hari besar di Iran.

Oleh sebab itu, tidak salah jika kita menyimpulkan bahwa banyak kesamaan antara negara Iran dan Kekaisaran Persia di masa lalu.

Wallahul musta’an.

 Ditulis oleh al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar bin Rifa’i

Jejak Iran di Balik Tragedi Haji

Tanggal 10 Dzulhijah 1436 H bertepatan dengan 24 September 2015, kurang lebih setahun yang lalu adalah sejarah pahit bagi umat Islam dunia. Hari itu, sebuah peristiwa duka terjadi di tengah-tengah pelaksanaan ibadah haji. Peristiwa ini kemudian dikenal sebagai Tragedi Mina 1436 H.

Tragedi itu bermula ketika serombongan jamaah haji dari Iran melakukan pelanggaran dengan menerobos dan melewati rute jamaah dari negara lain. Jamaah haji Iran juga meneriakkan yel-yel mengenai Revolusi Iran. Petugas haji yang mencoba untuk mengatur, justru ditolak dan ditentang. Padahal petugas haji telah berusahameminta mereka untuk kembali ke rute yang seharusnya.

Sekian banyak saksi mata melaporkan bahwa jamaah haji Iran berjalan pulang dari lokasi jamarat dengan mengambil rute berangkat jamaah dari negara lain. Hal ini mengakibatkan tabrakan disebabkan bertemunya dua gelombang jamaah dari arah yang berlawanan. Apalagi jamaah haji Iran memang terbukti telah bermaksud untuk melakukan provokasi dan kekacauan. Terjadilah Tragedi Mina 1436 H.

Dalam grand scenario Iran, cara paling mudah untuk membuat malu Arab Saudi adalah dengan merusak dan mengacaukan kegiatan haji. Saat seluruh mata kaum muslimin sedang tertuju ke Arab Saudi, kekacauan dan kerusuhan dilakukan oleh Iran untuk kemudian menyalahkan Arab Saudi serta menjatuhkan nama baik Arab Saudi sebagai pihak yang melayani ibadah haji.

 

Sikap Iran

Terkait dengan Tragedi Mina 1436 H, Iran adalah satu-satunya pihak yang mengecam dan menuduh Arab Saudi sebagai pihak yang paling bertanggung jawab. Berbagai fitnah keji ditujukan Iran kepada Arab Saudi. Berikut ini beberapa contoh dari pernyataan yang dilontarkan Iran.

 

  1. Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Syiah Iran
  • Dia menyatakan bahwa Kerajaan Saudi melakukan politisasi dalam ibadah haji. Ali menuduh bahwa Kerajaan Saudi menjadi setan kecil yang lemah dan takut terhadap kepentingan setan besar, yaitu Amerika Serikat.
  • Ali Khamenei menuduh Arab Saudi sebagai pihak yang paling bertanggung jawab atas kematian ratusan jamaah haji Iran. Petugas haji, menurut Ali, sengaja mengunci korban yang masih hidup di dalam ruang tertutup dan menganiaya mereka.
  • Ali Khamenei menyerukan revolusi dan kudeta haji yang selama ini dipegang oleh Arab Saudi.

 

  1. Presiden Iran, Ayatullah Rauhani

Dia menuntut Arab Saudi untuk bertanggung jawab atas Tragedi Mina.

 

  1. Muhammad Imam Kasani, seorang ulama sentral Iran

Dia menyatakan bahwa dunia tidak menerima alasan-alasan semacam cuaca panas atau jamaan haji yang sulit diatur.

 

  1. Jaksa Agung Iran, Ibrahim Raisi

Dia meminta pengadilan internasional untuk mengadili Arab Saudi dengan tuduhan telah melakukan tindak kejahatan terhadap jamaah haji.

Media-media Iran dan yang pro-Iran secara gencar memosisikan Arab Saudi sebagai pihak yang bersalah. Hal itu merupakan kelanjutan dari usaha Iran di dekade 80-an yang ingin mengangkat isu internasionalisasi Makkah dan Madinah. Iran mendesak agar pelaksanaan haji dibawah kendali Komite Islam Internasional, dan tidak dipegang oleh Arab Saudi. Dari sana, Iran ingin melakukan intervensi di dalam pengaturan haji. Dengan tujuan akhir, hendak menguasai dua kota suci, yakni Makkah dan Madinah.

 

Jejak Iran Sejak Dahulu

Mufti Kerajaan Saudi Arabia, asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Alu asy-Syaikh menegaskan bahwa sejak 30 tahun sebelumnya, pemerintah Iran selalu bersikap buruk dan negatif terhadap pelaksanaan ibadah haji.

Mufti menjelaskan bahwa pemerintah Iran terlibat dalam banyak peristiwa kekacauan di musim haji. Beliau mengatakan, “Mereka sering terlibat dalam berbagai peristiwa dan kejadian, berbagai kesalahan dan tindakan melampaui batas di Baitullah al-Haram. Yang terbesar adalah peristiwa pada 1407 H, demonstrasi dan kekacauan yang mereka lakukan mengancam para jamaah yang telah dijamin keamanannya. Akhirnya rencana jahat mereka berhasil digagalkan.”

Yang dimaksud oleh Mufti adalah tragedi haji pada 1987 M. Ketika itu Garda Revolusi Iran melakukan kerja sama dengan milisi Hizbullah dan didukung oleh jamaah haji asal Iran mengadakan demonstrasi besar-besaran di kota Makkah.

Para demonstran membawa poster dan gambar Khomeini sambil meneriakkan yel-yel yang berisikan cacian dan ancaman terhadap Arab Saudi. Selain itu, mereka juga terang-terangan mengafirkan pemerintah Arab Saudi.

Demonstrasi tersebut berujung dengan kerusuhan dan kekacauan besar. Tercatat 402 orang meninggal dunia dengan 85 orang dari jumlah tersebut adalah petugas keamanan Arab Saudi. Selain itu, puluhan bangunan hancur, ratusan anak, lanjut usia, dan kaum wanita terluka, serta ratusan ribu jamaah haji terhambat untuk melaksanakan ibadah haji.

 

Tanpa Iran

Tahun ini, 1437 H/2016 M, adalah tahun pelaksanaan haji tanpa keberadaan jamaah haji Iran. Apa yang dirasakan oleh jamaah haji?

Pelaksanaan haji tahun ini berjalan lancar dan tertib. Tidak ada kendala dan problem yang berarti. Dalam banyak kesempatan, jamaah haji memberikan pujian dan ucapan terima kasih kepada para petugas haji. Pemerintah Arab Saudi semakin menambah dan meningkatkan kualitas pelayanan haji. Jamaah haji merasakan kenyamanan dan ketenangan di dalam pelaksanaan ibadah haji.

Pangeran Khalid bin Faishal, yang juga menjabat Ketua Panitia Pengurusan Haji, dalam keterangan pers menyatakan bahwa aman dan tertibnya pelaksanaan ibadah haji tahun ini adalah jawaban untuk segala kebohongan dan fitnah yang dituduhkan oleh Iran kepada Arab Saudi.

Dengan demikian, setelah melihat perbandingan pelaksanaan haji saat ada jamaah haji Iran dengan pelaksanaan ibadah haji tanpa mereka, kita pasti mampu menyimpulkan bahwa selama ini jamaah haji Iran menjadi pihak yang menimbulkan ketidaktenangan dan kekurangnyamanan dalam beribadah haji.

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar bin Rifa’i