Surat Pembaca Edisi 107

Koreksi I

Asy Syariah edisi 106, halaman 83, tentang cara melindungi anak perempuan pada masa kini. Ada 8 hal, tetapi yang no. 2 tidak ada dan untuk no. 8 ada 2, yang benar yang mana? Syukran.

08564xxxxxxx

  • Jawaban Redaksi:

Alhamdulillah, isi artikel tidak terkurangi dari aslinya. Akan tetapi, ada kesalahan dari kami sehingga terjadi kekeliruan penomoran poin sebagaimana yang Anda sebutkan. Jazakumullah khairan atas koreksi Anda.

 

Koreksi II

Afwan, ada sedikit koreksi untuk Majalah Asy Syariah edisi 106, hlm. 65, at-Taghabun: 14, di bawahnya tercantum: (HR. at-Tirmidzi dan beliau berkata, “Hasan sahih,” dan dinyatakan hasan oleh asy-Syaikh al-Albani.)

08783xxxxxxx

  • Jawaban Redaksi:

Penjelasan riwayat yang tercetak dalam kurung tersebut tidak hanya terkait dengan surat dan ayat yang Anda sebutkan, tetapi terkait dengan jawaban Ibnu Abbas tentang sebab turunnya ayat ini. Kami memohon maaf atas kekurangan yang terjadi sehingga timbul kesalahpahaman. Jazakumullah khairan atas koreksi Anda.

 

Koreksi III

Saya menemukan beberapa ganjalan pada Majalah Asy Syariah edisi 105, Vol. IX/1436 H/2014 M. Di antaranya:

  1. Pada hlm. 25, bagian kanan tengah, di situ tertulis “imagi”. Yang betul “image” atau seperti yang disebutkan?
  2. Pada hlm. 37, disebutkan firman Allah l dalam surat an-Nur ayat 19. Ayat tersebut diakhiri dengan lafdzul jalalah, padahal lanjutan ayat tidak demikian. Demikian pula pada halaman 42.
  3. Pada hlm. 41, tentang lafadz li’an, tertulis ‘alaihi inkunta. Kalau mengikuti terjemahan, maka seharusnya ‘alayya inkuntu.
  4. Masih pada halaman yang sama, tentang ucapan li’an bagi istri, disebutkan ‘alaiha. Kalau mengikuti terjemahan, seharusnya ‘alayya.
  5. Pada hlm. 52, bagian tengah, tidak disebutkan perawi haditsnya.

08232xxxxxxx

  • Jawaban Redaksi:
  1. Penulisan yang benar menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah “imaji”.
  2. Anda benar, seharusnya tidak ada lafdzul jalalah di belakang ayat tersebut.

3 & 4. Lafadz yang benar dengan dhammah, inkuntu.

Adapun lafadz ‘alaihi dan ‘alaiha, asy-Syaikh Ibnu Utsaimin dalam asy-Syarhul Mumti’ (7/323-324, Kitabul Li’an) menjelaskan, dhamir (kata ganti) yang digunakan seharusnya untuk mutakallim (orang pertama). Akan tetapi, dalam rangka adab, lafadz tersebut diucapkan menggunakan dhamir ghaibah (orang ketiga), agar pembicara tidak menyandarkan laknat kepada dirinya sendiri.

  1. Diriwayatkan oleh Ahmad, Malik, dan al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad, dan dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam ash-Shahihah (1/75).

Kami memohon maaf atas berbagai kekurangan tersebut, seraya mengucapkan terima kasih atas perhatian dan koreksi yang bermanfaat ini. Jazakumullah khairan.

Tahdzir, Syariat yang Dicibir

السلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Islam menyuguhkan keseimbangan. Agama ini mengajarkan kebaikan sekaligus memperingatkan dari keburukan. Islam mengajak kepada tauhid, juga menyeru untuk meninggalkan segala bentuk kesyirikan. Islam mendekatkan umatnya ke jalan yang lurus, di sisi lain juga menjauhkan umatnya dari jalan kesesatan. Lanjutkan membaca Tahdzir, Syariat yang Dicibir

Kristenisasi Tiada Henti

السلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Sebuah ironi baru saja dipertontonkan di negeri ini. Gempita natal begitu meriah, seolah negeri ini mayoritas dihuni oleh Nasrani. Mal, pusat perbelanjaan, supermarket, hotel, rumah makan dan restoran, tempat wisata atau rekreasi, dipenuhi pernak-pernik natal. Pohon natal dan patung sinterklas raksasa, miniatur Bethlehem, topi sinterklas yang menghiasi kepala karyawan sampai yang berkerudung sekalipun, menjadi potret buram di negara dengan populasi muslim terbesar di dunia ini.

Lanjutkan membaca Kristenisasi Tiada Henti

Media: Pisau Bermata Dua

السلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Media memang pisau bermata dua. Di satu sisi ia bisa multiguna, di sisi lain, juga bisa membawa petaka.

Sisi manfaat media memang tak terhitung. Banyak hal-hal keduniawian bahkan akhirat yang bisa ditunjang dengan media. Usaha, berita terkini, hingga dakwah, bisa demikian berkembang dengan adanya media, biidznillah.

Sisi lain, dampak negatif yang ditimbulkan media juga tak terbendung. Media sering dijadikan alat propaganda, dari soal politik hingga soal agama. Banyak kesesatan yang tumbuh subur dan dengan cepat dianut masyarakat karena dilariskan media. Banyak kemaksiatan yang mudah diakses hanya dengan memainkan jari-jemari kita di rumah.

Lebih-lebih dengan menjamurnya media sosial di dunia maya. Ruang-ruang pribadi yang tercipta membuat manusia lupa. Perselingkuhan pun menjadi muaranya. Sebaliknya, media sosial juga menciptakan ruang publik yang seluas-luasnya. Di sini, manusia pun lupa. Pamer kekayaan dan kesuksesan dipertontonkan. Masalah pribadi dan rumah tangga diumbar. Foto-foto narsis bahkan yang memamerkan aurat dipajang seakan media sosial adalah kamar pribadinya.

Tak cukup sampai di sini sisi negatif media yang kita tuai. Islam sebagai agama yang haq, sering menjadi bulan-bulanan media. Pengusaha media yang mayoritas orang-orang non-Islam atau muslim tetapi tidak paham Islam, menjadikan media sebagai alat untuk menyudutkan Islam dan kaum muslimin. Dari yang halus, yakni mencitrakan kemaksiatan sebagai sesuatu yang lumrah, hingga yang sudah “menabuh genderang perang” yakni menghina Islam secara terang-terangan.

Opini demi opini terus diciptakan demi mengesankan bahwa Islam adalah agama yang kolot dan horor. Ajaran Islam yang demikian melindungi wanita dianggap sudah tak relevan. Adapun terorisme dan anarkisme terkesan dilakukan oleh muslim yang “lahiriahnya” taat. Sekian juta umat pun termakan. Opini media mampu membolak-balik penilaian seseorang.

Masyarakat juga latah mengekor media yang menjelma menjadi hakim. Kasus apa saja, karena sudah menjadi konsumsi media, dengan mudahnya masyarakat memutuskan siapa yang benar dan siapa yang salah. Hanya dengan bermodal baca koran atau menonton berita televisi, masyarakat dengan strata apa pun telah demikian “pintar” menghakimi. Kebenaran menjadi demikian sempit, sebatas apa yang dibaca, apa yang ditonton, dan apa yang (mau) disimpulkan.

Padahal, disadari atau tidak, media massa lebih sering mengajarkan buruk sangka, utamanya jika sasarannya adalah pemerintah. Di mata media, pemerintah berkuasa seakan tidak pernah ada benarnya, kebijakannya seakan 100% cacat dan cela. Seakan-akan jika kita duduk di pemerintahan, kita mampu mengemban amanat yang demikian besar dengan mudahnya. Kita bahkan lupa bahwa kita sendiri juga manusia biasa.

Menjadi amat aneh, jika media sekarang mengaku tidak memihak, objektif, dan independen. Berita kecelakaan yang nyaris tanpa tendensi saja, bisa berbeda versi antara satu dengan yang lainnya. Bagaimana jadinya jika berita itu sudah masuk ranah politik? Bukankah orang-orang di balik media juga memiliki keberpihakan? Jika satu media mendukung dan satunya menentang lantas mana yang benar? Mana yang harus kita ikuti?

Namun layaknya senjata, media akan kembali pada siapa yang memegangnya. Senjata bisa mencelakai diri bahkan orang lain, namun bisa memberi manfaat jika digunakan sebagaimana mestinya.

Maka dari itu, dengan keadaan diri kita yang banyak dosa, yang mudah terjerumus ke dalamnya, kita juga hidup di tengah masyarakat yang lebih banyak maksiat daripada yang taat, sudah semestinya kita menjauhi media-media yang lebih banyak mudaratnya ketimbang manfaatnya.

Wallahu a’lam.

والسلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Mendidik dengan Hati

السلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Perlu disadari, pendidikan tidak hanya di ruang kelas atau lembaga pendidikan, tetapi dimulai dari keluarga. Keluarga menjadi madrasah pertama bagi anak untuk mengenal kebaikan dan keburukan.

Ketika anak sudah mulai belajar tentang kehidupan yang diikuti dengan keteladanan orang tuanya, maka anak akan merasakan bahwa keluarga adalah rumah pertama dan lembaga pendidikan adalah rumah kedua yang membantu dirinya menemukan kesejatian hidup.

Maka dari itu, peran orang tua menjadi demikian penting karena nyaris tidak tergantikan oleh siapa pun. Lebih-lebih kebaikan seseorang itu dimulai dari apa yang paling ditekankan orang tua kala masih belia.

Karena itu, pendidikan agama menjadi tanggung jawab utama yang ada di pundak orang tua. Orang tua dengan segala kebaikan dan keburukannya, akan menjadi guru bagi anak-anaknya. Jika orang tua cara mendidiknya baik yang diiringi dengan keteladanan yang baik pula, dengan izin dan hidayah Allah subhanahu wa ta’ala, anak akan tumbuh dalam kebaikan, yang mewujud dalam watak dan karakter mereka yang baik.

Salah kaprah jika orang tua zaman sekarang justru menggantungkan harapan yang demikian besar kepada lembaga pendidikan semata. Sefavorit apa pun lembaga pendidikan, seislami apa pun sekolah anak, bukanlah alasan untuk abai terhadap anak, termasuk alasan sibuk mencari nafkah sekalipun.

Menjadi ironi, dengan keterbatasan waktu—dan tentunya ikatan batin antara orang tua dan anak—banyak orang tua malah memaksakan anaknya agar berprestasi di lembaga pendidikan.

Mindset orang tua saat ini faktanya masih jalan di tempat, yakni ketakutan tentang masa depan duniawi mereka. Sudah saatnya orang tua mengubah pola pikir yang selama ini dimiliki. Pendidikan agama adalah yang terpenting bagi masa depan anak.

Yang perlu dikhawatirkan orang tua terhadap anak bukan soal profesi atau pekerjaannya di masa depan. Lebih dari itu adalah agama dan kemanfaatan mereka bagi masyarakat dan umat.

Mendidik butuh keikhlasan. Keikhlasan akan membuat sesuatu yang berat menjadi lebih ringan. Sesuatu yang sulit menjadi lebih mudah. Lebih-lebih jika kita senantiasa mendoakan mereka serta berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala agar diberi kemudahan dan kesabaran dalam mendidik buah hati kita.

Kita memang tidak bisa melihat masa depan, tetapi masa kini mereka terpampang di depan kita. Mendidik dan mengasuh anak merupakan sebuah investasi masa depan. Apa yang kita tanam saat ini akan kita tuai juga nantinya.

Saatnya kita berbenah. Mari didik buah hati kita dengan hati, meneladani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sang pendidik umat yang tiada duanya.

والسلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Mencari Tafsir yang Benar

السلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Sebagai produk intepretasi, tafsir niscaya akan beragam. Walaupun objek tafsirnya sama, namun keilmuan penafsir, serta pemikiran dan kultur yang memengaruhi, akan membedakan hasilnya.

Benar memang jika dikatakan bahwa al-Qur’an bagaikan permata, dipandang dari sudut mana pun akan tetap memancarkan cahaya. Namun, bukan berarti semua “sudut pandang” ini lantas dikatakan benar semua.

Objektivitas tetaplah dibutuhkan. Secara akal sehat, tafsir yang benar adalah tafsir yang penafsirnya tidak menaruh pemikirannya di dalamnya. Ketika tafsir sudah dirancukan oleh pemikiran penafsir atau menitikberatkan pada paham tertentu, produk tafsirnya jelas akan berkurang nilainya.

Tafsir yang dalam memahami kandungan ayat al-Qur’an lebih menitikberatkan pada ayat al-Qur’an dan riwayat hadits, tentunya akan lebih selamat. Karena tafsir sejatinya menjelaskan makna ayat-ayat al-Qur’an dari berbagai sisi, baik konteks historisnya maupun sebab turunnya, dengan menggunakan penjelasan yang dapat menunjuk kepada makna yang dimaukan.

Sebagai hasil penalaran, kajian, dan ijtihad para mufassir (baca: manusia) yang terbatas, tafsir memang bisa saja salah. Para sahabat yang secara umum menyaksikan turunnya wahyu, memahami konteksnya, serta mengerti struktur bahasa dan makna kosa katanya, bisa berbeda pendapat dalam memahaminya, tentu kita yang ilmunya dangkal dan dipisahkan oleh rentang waktu yang panjang dari turunnya wahyu, sangat mungkin salah.

Oleh karena itu, seseorang yang mengaku ahli tafsir atau suka menafsirkan ayat tapi tidak paham ilmu bahasa Arab, ilmu nahwu, ilmu sharaf, ilmu ma’any, ilmu bayan, ilmu badi’, ilmu qiraah, asbabun nuzul, nasikh dan mansukh, musthalah hadits, dan ilmu lain yang dipersyaratkan dimiliki oleh seorang mufassir, dijamin dia akan gegabah dalam menafsirkannya.

Maka menjadi aneh jika muncul metode-metode tafsir kontemporer seperti: hermeneutik, tematik, dan semiotik, yang tidak berpijak pada ilmu-ilmu tersebut, bahkan tidak menggunakan sumber penafsiran yang jelas: yakni al-Qur’an sendiri, hadits-hadits Nabi n yang berkaitan dengan topik penafsiran, riwayat para sahabat dan tabi’in, kaidah-kaidah bahasa Arab, pendapat salafush shalih, dan lain sebagainya. Bisa dibayangkan, produk tafsir macam apa yang dihasilkannya.

Wajar jika tafsir berlabel “kontekstualisasi” yang kuat bersentuhan dengan pemikiran Barat ini, tidaklah dianggap sama sekali. Di saat Rasulullah masih hidup, umat memang tidak menemukan kesulitan dalam memahami “petunjuk” karena mereka memiliki tempat untuk bertanya. Namun, sepeninggal Rasulullah n, umat Islam banyak menemukan kesulitan. Meskipun ada yang mengerti bahasa Arab al-Qur’an, namun dalam kenyataannya, tidak semua orang bisa dengan mudah memahami al-Qur’an.

Oleh sebab itu, mereka membutuhkan tafsir yang bisa membimbing dan mengantarkan mereka untuk memahami kandungan yang terpendam di dalamnya.

Maka dari itu, ulama tafsir memegang posisi yang sentral. Melalui produk tafsirnya, mereka banyak memberikan kemaslahatan bagi umat. Tinggal kita sebagai umat sekaligus masyarakat pembacanya, bisa memilih dan memilah produk tafsir yang benar dan selamat.

والسلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Indonesia Waspada Syiah

السلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Pascareformasi, aliran-aliran sesat kian menggeliat. Arus keterbukaan yang kebablasan membuat mereka kian berani menampakkan keyakinannya. Lebih-lebih, dengan kedok kebebasan beragama dan berkeyakinan, lembaga-lembaga pengecer “HAM” siap pasang badan membela mereka. Setidaknya adalah apa yang telah kita lihat, kelompok-kelompok ini telah membentuk organisasi resmi untuk mewadahi pengikutnya. Tidak ketinggalan, adalah agama Syiah.

Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI) adalah organisasi penganut Syiah yang diklaim telah tersebar di 33 provinsi di Indonesia dengan keanggotaan lebih dari tiga juta orang. Jika klaim ini benar, maka tentunya ini menjadi catatan bagi umat Islam, bahwa Syiah telah demikian berkembang di negara kita.

Ada banyak kondisi mengapa Syiah bisa sedemikian pesat. Selain banyaknya anggapan bahwa Syiah dianggap mazhab kelima, ada ajaran Syiah yang selaras dengan syahwat. Yaitu nikah (baca: zina) mut’ah. Tak heran, jika “dakwah” Syiah getol menyasar ke mahasiswi atau orang-orang yang memiliki anak perempuan. Karena jika objek dakwahnya sudah menjadi Syiah, otomatis pintu untuk melakukan zina mut’ah terbuka lebar. Melalui ajaran ini, yang memberi kemudahan untuk menyalurkan syahwat, membuat para pendakwah Syiah kian mudah menjerat masyarakat.

Pernyataan tokoh-tokoh “Islam” yang mengamini Syiah, menutup mata atas kesesatan Syiah, menyamakannya dengan Islam, atau menyerukan persatuan Islam dan Syiah, juga memberi angin segar bagi tumbuh dan berkembangnya Syiah. Lebih ironi lagi, Jalaludin Rakhmat yang merupakan pentolan Syiah, karena dibesarkan media, telah dianggap sebagai cendekiawan “muslim” di negeri ini.

Melalui tulisan, dakwah Syiah juga sudah lama membanjiri media, lebih-lebih pasca-Revolusi Iran. Tak hanya majalah atau buletin, Mizan, corong Syiah yang kini telah menjadi penerbit terkemuka di negeri ini telah memenuhi toko-toko buku dengan buku-buku berbau Syiah.

Tak cukup di dunia nyata, di dunia maya, Syiah terus menabuh genderang perang. Website atau blog para penganut Syiah Indonesia menjamur dan demikian mudah diakses oleh siapa pun. Ini tentu sangat miris. Apalagi kaderisasi Syiah terus berjalan. Ratusan mahasiswa Indonesia yang belajar di Iran dengan beasiswa pemerintah setempat, tentu menjadi bahaya laten di kemudian hari. Lebih-lebih kader-kader lama sudah tersebar ke mana-mana karena di bidang pendidikan, Syiah sudah lama menancapkan kukunya di tanah air, yakni Pesantren YAPI (Yayasan Pesantren Islam) yang sudah berdiri di Bangil, Jawa Timur, sejak tahun 1970-an.

Perkembangan demi perkembangan Syiah Indonesia ini memang patut diwaspadai. Tidak menutup kemungkinan, na’udzubillah, kalau Syiah telah menjadi besar di negeri kita ini, muslim (Ahlus Sunnah) akan menjadi sasaran kekejaman Syiah, seperti muslim Yaman yang diserang pasukan al-Hutsi dan muslim Irak yang dibantai pasukan al-Mahdi.

Maka dari itu, tidak ada kata lain, terhadap Syiah kita harus terus memasang status waspada.

والسلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Syiah Berlumur Darah

السلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Kebencian Nasrani dan Yahudi telah mengitari tembok-tembok sejarah Islam. Sebagaimana dinyatakan al-Qur’an, denyut kebencian ini tak akan pernah berhenti, hingga kita mau mengikuti agama mereka. Di antara makar mereka, adalah menciptakan pelbagai agama atau isme-isme baru yang sekilas mirip Islam namun sejatinya teramat menyimpang. Muaranya jelas, merusak Islam dari dalam dan memecah barisan muslimin.

Salah satu agama imitasi itu adalah Syiah Rafidhah. Agama ini sebenarnya tidak berbeda dengan agama-agama yang muncul belakangan seperti Ahmadiyah, Baha’i, dan Kristen Ortodoks Syria yang sudah mengglobal atau al-Qiyadah al-Islamiyah dalam lingkup lokal. Namun, karena sejarahnya yang tua—sudah muncul di zaman sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam—tidak heran jika agama ini telah berakar di sebagian orang dan mempunyai jutaan pengikut.

Syiah sendiri berakar dari akidah Majusi, agama resmi Kerajaan Persia yang pernah berdiri di wilayah Iran dan Irak sekarang—yang warga negaranya mayoritas Syiah. Rafidhah juga berakar dari kepercayaan Yahudi. Jika kebanyakan agama-agama palsu adalah gabungan Islam dengan Kristen, Syiah Rafidhah adalah gabungan tiga agama sekaligus yakni: Islam, Yahudi, dan Majusi. Jadi, dendam Persia dan kebencian Yahudi bahu-membahu melahirkan “musuh dalam selimut” bernama Syiah ini.

Karena itu, perbedaan-perbedaan mendasar antara Islam dan Syiah mesti dipahami oleh setiap muslim, agar kita tidak terbutakan dari kesesatan mereka. Syiah bukanlah mazhab di dalam Islam  tetapi agama yang berdiri sendiri. Masih kurangkah fatwa sahabat Nabi dan ulama yang menyatakan kekafiran mereka?

Atau lupakah kita dengan sejarah? Siapa dalang di balik terbunuhnya Utsman bin Affan dan Husain bin Ali radhiallahu ‘anhum? Siapakah yang membantu tentara Nasrani dalam merebut al-Quds? Siapakah pengkhianat Daulah Bani Abbasiyah, yang memberi kemudahan invasi bangsa Tartar ke Baghdad hingga menyebabkan runtuhnya daulah tersebut yang diikuti pembantaian besarbesaran terhadap umat Islam? Siapakah rezim Suriah dan Iran sekarang yang membantai umat Islam yang minoritas?

Didasari keyakinan bahwa di luar Syiah Rafidhah adalah kafir; Ahlus Sunnah itu najis sehingga harus dilenyapkan; harta kaum muslimin dianggap harta rampasan perang; dan vonis Ahlus Sunnah sebagai penghuni neraka, menyebabkan mereka memenuhi lembaran sejarah dengan menumpahkan darah kaum muslimin yang tidak sejalan dengan kesesatan dan penyimpangan mereka.

Keyakinan berdarah-darah Syiah tak berhenti hingga di sini. Syiah meyakini bahwa saat Imam Mahdi mereka muncul, yang pertama kali ia lakukan adalah mengeluarkan dua khalifah Rasul, Abu Bakr dan Umar radhiallahu ‘anhuma dari kuburnya lalu menyiksa keduanya. Imam Mahdi ala mereka juga akan membantai bangsa Arab dan kaum Quraisy, serta akan menghancurkan Ka’bah dan Masjidil Haram.

Di panggung media, Syiah seolah berseberangan politik dengan Yahudi. Bahkan menjadi simbol perlawanan “Islam” terhadap hegemoni Barat di Timur Tengah. Tak heran jika banyak yang mengelu-elukan Syiah (baca: Iran) dan tokoh-tokohnya seperti Khomeini, Ahmadinejad, dan sebagainya. Namun, soal goreng-menggoreng opini, Yahudi memang jagonya. Demonstrasi besarbesaran dan krisis politik dalam beberapa tahun terakhir yang berhasil menumbangkan sejumlah penguasa di Afrika dan Timur Tengah—diistilahkan media sebagai Arab Spring—tak lepas dari campur tangan dan kolaborasi Yahudi dan Syiah.

Itulah Syiah, bersenyawa dengan Yahudi, mereka akan terus melukis sejarah dengan tinta darah. Waspadalah!

والسلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Menungu Hancurnya Demokrasi

السلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Hajatan politik bernama Pemilu benar-benar menguras energi bangsa ini. Tak hanya soal anggaran pemerintah atau dana yang dirogoh dari kantong pribadi partisipan, tetapi Juga hampir seluruh sumber daya yang ada all out dikerahkan. Semuanya demi sebuah prestise kekuasaan mengatasnamakan rakyat. Lebih-lebih persiapannya sudah dilakukan beberapa tahun sebelumnya. Pileg dan pilpres berakhir, pemilukada di depan mata. Belum pemilihan dalam lingkup lokal seperti pilkades. Ini terus berlangsung dalam siklus lima tahunan. Jadi dari tahun ke tahun, kekuasaan selalu menjadi fokus dan tema panas.

Jika sudah pernah duduk di legislatif sebelumnya, periode berikutnya pun berupaya “eksis” lagi. Demikian juga dengan jabatan kepala daerah, andaikan tidak dibatasi aturan, sangat mungkin sampai seumur hidup jabatan itu akan terus dikejar. Dahulu pernah jadi menteri, “turun pangkat” jadi gubernur/wakil gubernur atau walikota pun tak masalah, yang penting kekuasaan itu dalam genggaman. Alhasil, kutu loncat politik pun bermunculan. Idealisme atau garis ideologi partai menjadi omong kosong. Yang penting terpilih, yang penting bisa kembali duduk di lingkaran kekuasaan. Membela rakyat yang acap jadi jargon pun terbang entah ke mana.

Demokrasi menjadi kian tidak jelas, kala demi menjaring suara sebanyak-banyaknya, artis-artis dengan akhlak yang juga tidak jelas malah dimunculkan. Tidak sedikit pula caleg dengan latar belakang ekonomi lemah, nekat “maju” dengan terlilit utang besar. Tidak heran, jika segala cara kemudian dilakukan: politik uang, kampanye hitam, obral janji, hingga mendatangi dukun. Maka menjadi aneh, jika kita banyak berharap dengan orang-orang aneh semacam ini.

Itulah politik yang penuh intrik. “Wakil rakyat” akhirnya tak lebih jadi jembatan untuk memperkaya diri. Padahal ada anomali demokrasi yang jauh lebih besar dari semua itu. Demokrasi yang berakar dari filosofi Yunani, telah menuhankan suara terbanyak sebagai standar untuk mengambil keputusan “terbaik”. Suara mayoritas dan minoritas seakan-akan menjadi Rabb yang membuat syariat atau menakar sebuah kebenaran.

Prinsip-prinsip demokrasi juga memberi celah yang lebar kepada kalangan non-Islam untuk duduk di kursi pemerintahan, karena al-wala’ wal bara’ yang menjadi dasar akidah setiap muslim, dikaburkan. Tak heran, deal-deal politik atau koalisi antara partai (yang mengaku) Islam dan partai/tokoh sekular atau non-Islam menjadi biasa. Partai (yang mengaku) Islam yang memiliki caleg nonmuslim justru merasa bangga, partainya adalah partai terbuka, inklusif, dan berwawasan kebangsaan. Akhirnya, umat lagi yang jadi korban. Selain terkotak-kotak pada partai dan arus politik, sebagian umat Islam “dipaksa” menyumbang suara demi kandidat nonmuslim. Na’udzubillah.

Jangan pernah berasumsi bahwa demokrasi adalah satu-satunya sistem yang paling bisa diterima dan paling dekat dengan Islam. Jauh sekali. Kita semestinya meyakini, tujuan dan hasil yang baik harus ditempuh dengan cara/sistem yang baik pula.

Betapa banyak sistem di dunia yang akhirnya hancur luluh tertepikan zaman, gagal eksis, karena dianggap tidak bisa memberikan sesuatu yang baik. Seperti itulah nasib yang akan dialami sistem-sistem buatan manusia. Jadi, jangan pernah berharap kebaikan dari sistem yang rusak. Sembari kita terus berdoa kepada Allah ‘azza wa jalla, agar Ia memberikan jalan yang terbaik, yakinlah demokrasi pun sebentar lagi akan terlumat oleh waktu.

والسلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Pengantar Redaksi Edisi 99

 السلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Di antara rahmat Allah ‘azza wa jalla, Dia mengutus para nabi dan rasul agar memberi peringatan dan kabar gembira kepada manusia. Allah ‘azza wa jalla juga menurunkan kitab-kitab-Nya bersama mereka sebagai petunjuk jalan bagi manusia di tengah kegelapan. Ini tentu menjadi nikmat yang sangat besar. Namun, sadarkah kita akan nikmat ini? Sadarkah manusia bahwasanya sebelum diutusnya nabi dan diturunkannya kitab, mereka dalam kesesatan yang nyata?

Oleh karena itu, menjadi kewajiban kita untuk mengimani semua kitab yang Allah

‘azza wa jalla turunkan, baik yang Allah ‘azza wa jalla sebutkan namanya maupun tidak, sebagai kalam Allah ‘azza wa jalla yang wajib dipegang teguh oleh setiap nabi dan kaumnya. Hingga datang syariat al-Qur’an yang wajib dipegang oleh seluruh manusia di sepanjang masa dan tempat, membenarkan apa yang sudah dijelaskan pada kitab-kitab sebelumnya, memperbarui serta mengoreksi ajaran-ajaran sebelumnya yang telah diubah dan dirusak oleh kaumnya.

Maka, mengimani kitab-kitab Allah ‘azza wa jalla adalah perkara yang sangat pokok dalam kehidupan. Dalam banyak ayat al-Qur’an Allah ‘azza wa jalla menyebutkan azab dan kebinasaan yang menimpa umat terdahulu sebagai akibat pendustaan mereka terhadap kitab-kitab Allah ‘azza wa jalla. Demikian pula azab akhirat. Allah ‘azza wa jalla kabarkan bahwa orangorang yang kufur terhadap al-Qur’an dan merendahkannya dengan perkataan, “Al- Qur’an hanyalah ucapan manusia” akan Allah ‘azza wa jalla campakkan ia ke dalam neraka Saqar, setelah kehinaan yang dia sandang di kehidupan dunia.

Namun, keimanan terhadap kitab-kitab Allah ‘azza wa jalla tentu bukan sekadar mengatakan, “Saya telah mengimani kitab-kitab-Nya.” Ada beberapa perkara yang harus kita imani dan amalkan sebagai bukti keimanan kepada kitab-kitab Allah ‘azza wa jalla, di antaranya: meyakini dengan pasti tanpa sedikit pun keraguan bahwa kitab-kitab Allah ‘azza wa jalla semuanya turun dari sisi Allah ‘azza wa jalla. Juga meyakini bahwa kitab-kitab tersebut, adalah kalam (firman) Allah ‘azza wa jalla, bukan makhluk. Allah ‘azza wa jalla berbicara (berfirman) secara hakiki sesuai dengan kehendak-Nya. Jadi, apa yang tertulis dalam mushaf, dihafalkan dalam dada, dilafadzkan dengan lisan, direkam dalam kaset-kaset, ataupun diperdengarkan dalam siaran-siaran radio, semua itu kalam Allah ‘azza wa jalla bukan perkataan Jibril bukan pula perkataan Nabi Muhammad n. Masih banyak lagi konsekuensi dari keimanan kita terhadap al-Qur’an.

Al-Qur’an juga bersifat universal, berlaku untuk jin dan manusia, dari segala ras dan suku bangsa. Al-Qur’an juga Allah ‘azza wa jalla tetapkan sebagai kitab yang berlaku dan menjadi pedoman hingga akhir zaman. Oleh karena itu, Allah ‘azza wa jalla menjamin penjagaannya dari segala macam perubahan hingga akhir zaman, baik perubahan lafadz maupun makna.

Kini, dari masa ke masa al-Qur’an terus dihafal jutaan umat Islam, al-Qur’an masih diambil dengan cara talaqqi dan ‘ardh sehingga sanadnya masih bersambung hingga kepada Rasulullah n. Tidak ada satu pun kesalahan pasti diluruskan, dan tidak ada satu pun upaya mengubah al-Qur’an pasti terbongkar makarnya.

Inilah yang menjadikan teolog kristiani dan Yahudi merasa geram dan hasad menyaksikan penjagaan al-Qur’an yang luar biasa, yang tidak mereka dapatkan pada Taurat dan Injil. Kedua “kitab” yang bertabur kontradiksi itu menjadi salah satu bukti nyata bahwa di dalamnya terdapat banyak perubahan. Mungkin ini adalah salah satu alasan mengapa kalangan awam Nasrani dilarang mempelajari kitab mereka dengan serius. Pembacaan al-Kitab dibatasi pada para penginjil.

Demikianlah al-Qur’an yang begitu istimewa, yang akan terus dijaga Allah lhingga hari akhir. Maka dari itu, di tengah maraknya kitab-kitab palsu, masihkah kita ragu akan kebenaran al-Qur’an?

والسلام عليكم ورحمة الله و بركاته