Al-Imam al-Bukhari rahimahullah mengatakan,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَأْتِي الشَّيْطَانُ أَحَدَكُمْ فَيَقُولُ: مَنْ خَلَقَ كَذَا؟ مَنْ خَلَقَ كَذَا؟ حَتَّى يَقُولَ: مَنْ خَلَقَ رَبَّكَ؟ فَإِذَا بَلَغَهُ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللهِ وَلْيَنْتَهِ

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setan akan mendatangi salah seorang di antara kalian dan berkata, ‘Siapa yang menciptakan ini? Siapa yang menciptakan itu?’ Hingga ia bertanya, ‘Siapa yang menciptakan Rabbmu?’

Apabila setan telah sampai pada pertanyaan ini, mohonlah perlindungan kepada Allah, dan berhentilah.”

 Takhrij Hadits

Hadits ini muttafaqun ’alaihi. Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahihnya (6/336), Bab “Shifatu Iblis wa Junudihi” (Sifat Iblis dan bala tentaranya) melalui jalan Yahya bin Bukair, dari al-Laits, dari ‘Uqail, dari Ibnu Syihab, dari Urwah bin Zubair, dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu.

Dengan lafadz ini pula al-Imam Muslim meriwayatkan dari Zuhair bin Harb dan ‘Abd bin Humaid; juga melalui jalan Ibnu Syihab, dari Urwah, dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu.

Al-Imam Muslim meriwayatkan pula dengan lafadz,

لَا يَزَالُ النَّاسُ يَتَسَاءَلُونَ حَتَّى يُقَالَ: هَذَا خَلَقَ اللهُ الْخَلْقَ، فَمَنْ خَلَقَ اللهَ؟ فَمَنْ وَجَدَ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا فَلْيَقُلْ: آمَنْتُ بِاللهِ وَرُسُلِهِ

Senantiasa manusia saling bertanya, hingga dikatakan, “Allah-lah yang menciptakan semua makhluk. Siapa yang menciptakan Allah?” Barang siapa mendapatkan sesuatu dari pertanyaan ini, ucapkanlah, “Aku beriman kepada Allah dan para rasul-Nya.”

Hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu ini diriwayatkan pula oleh Abu Dawud (no. 4732) dalam as-Sunan dan Ibnu Sunni (no. 621) dengan lafadz,

يُوْشِكُ النَّاسُ يَتَسَاءَلُوْنَ بَيْنَهُمْ حَتىَّ يَقُوْلَ قَائِلُهُم: هَذَا اللهُ خَلَقَ الْخَلْقَ، فَمَنْ خَلَقَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ؟ فَإِذَا قَالُوْا ذَلِكَ فَقُوْلُوا: ٱللَّهُ ٱلصَّمَدُ ٢  لَمۡ يَلِدۡ وَلَمۡ يُولَدۡ ٣  وَلَمۡ يَكُن لَّهُۥ كُفُوًا أَحَدُۢ ٤

ثُمَّ لْيَتْفُلْ أَحَدُكُمْ عَنْ يَسَارِهِ ثَلاَثًا وَلْيَسْتَعِذْ مِنَ الشَّيْطَانِ

Hampir-hampir manusia saling bertanya di antara mereka hingga ada yang berkata, “Ini Allah menciptakan mahluk, lalu siapakah yang menciptakan Allah?”

Katakanlah, “Allah Maha Esa, Allah adalah Dzat yang bergantung segala sesuatu pada-Nya. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan. Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.”

Kemudian hendaklah dia mengusir (isyarat) meludah ke kiri tiga kali dan memohon perlindungan dari setan.

Hadits serupa diriwayatkan oleh al-Bukhari dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu dalam kitab “al-I’tisham” (13/264). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَنْ يَبْرَحَ النَّاسُ يَتَسَاءَلُونَ حَتَّى يَقُولُوا: هَذَا اللهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ، فَمَنْ خَلَقَ اللهَ؟

Tidak henti-hentinya manusia saling bertanya, hingga mereka mengatakan, “Allah, Dialah pencipta segala sesuatu, lalu siapa yang menciptakan Allah?”

 Permusuhan Iblis dan Bala Tentaranya

Setan-setan dari kalangan manusia dan jin bahu-membahu berupaya menyimpangkan hamba dari jalan Allah. Orang-orang kafir dibisiki agar semakin kokoh dalam kekufuran dan penentangan.

Orang-orang beriman pun tidak lepas dari bisikan-bisikan setan untuk mengeluarkan mereka dari cahaya atau menjadikannya ragu terhadap kebenaran. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَكَذَٰلِكَ جَعَلۡنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوّٗا شَيَٰطِينَ ٱلۡإِنسِ وَٱلۡجِنِّ يُوحِي بَعۡضُهُمۡ إِلَىٰ بَعۡضٖ زُخۡرُفَ ٱلۡقَوۡلِ غُرُورٗاۚ وَلَوۡ شَآءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُۖ فَذَرۡهُمۡ وَمَا يَفۡتَرُونَ ١١٢ وَلِتَصۡغَىٰٓ إِلَيۡهِ أَفۡ‍ِٔدَةُ ٱلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ بِٱلۡأٓخِرَةِ وَلِيَرۡضَوۡهُ وَلِيَقۡتَرِفُواْ مَا هُم مُّقۡتَرِفُونَ ١١٣

“Demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jika Rabbmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.

Dan (juga) agar hati kecil orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat cenderung kepada bisikan itu, mereka merasa senang kepadanya dan supaya mereka mengerjakan apa yang mereka (setan) kerjakan.” (al-An’am: 112—113)

Dalam ayat yang lain, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَإِنَّ ٱلشَّيَٰطِينَ لَيُوحُونَ إِلَىٰٓ أَوۡلِيَآئِهِمۡ لِيُجَٰدِلُوكُمۡۖ وَإِنۡ أَطَعۡتُمُوهُمۡ إِنَّكُمۡ لَمُشۡرِكُونَ ١٢١

“Sesungguhnya setan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantahmu; dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik.” (al-An’am: 121)

Hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menyebutkan beragam upaya setan untuk menyesatkan manusia. Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata,

خَطَّ لَنَا رَسُولُ اللهِ يَوْمًا خَطًّا ثُمَّ قَالَ: هَذِهِ سَبِيلُ اللهِ. ثُمَّ خَطَّ خُطُوطًا عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ ثُمَّ قَالَ: هَذِهِ سُبُلٌ، عَلَى كُلِّ سَبِيلٍ مِنْهَا شَيْطَانٌ يَدْعُو إِلَيْهِ. ثُمَّ تَلاَ   وَأَنَّ هَٰذَا صِرَٰطِي مُسۡتَقِيمٗا فَٱتَّبِعُوهُۖ وَلَا تَتَّبِعُواْ ٱلسُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمۡ عَن سَبِيلِهِۦۚ

Suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggoreskan sebuah garis untuk kami lalu bersabda, “Ini adalah jalan Allah.”

Kemudian beliau membuat garis-garis di sebelah kanan dan kirinya dan bersabda, “Garis-garis ini adalah jalan-jalan, pada setiap jalan ada setan yang mengajak kepadanya.”

Kemudian beliau membacakan firman Allah subhanahu wa ta’ala, “Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalanku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya.” (al-An’am: 153) (HR. ad-Darimi dalam as-Sunan no. 208, cet. Darul Ma’rifah)

Di antara dalil yang menunjukkan bahwa setan terus membisikkan kebatilan adalah hadits Abu Hurairah yang ada di hadapan kita.

Dalam hadits ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa setan akan melemparkan berbagai kerancuan kepada manusia melalui bisikan-bisikan setan dari kalangan jin atau melalui lisan-lisan manusia.

Dalam hadits ini, Rasulullah mengabarkan bahwa setan mendatangi manusia dan bertanya kepadanya, “Siapa yang menciptakan langit? Siapa yang menciptakan bumi? Siapa yang menciptakan ini? Siapa yang menciptakan itu?”

Semua pertanyaan dijawab, “Allah yang menciptakannya.”

Kemudian setan menggiring manusia untuk bertanya, “Siapa yang menciptakan Allah?”

Apa yang disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah salah satu contoh bisikan setan. Pertanyaan-pertanyaan serupa dan syubhat-syubhat batil terus bermunculan.

Manusia pun terbagi menjadi dua. Di antara mereka ada yang menghadapinya dengan keimanan sehingga ia selamat. Akan tetapi, banyak manusia larut dan terbawa arus kerancuan setan sehingga terjerumus dalam kebinasaan.

 

Komunisme, Buah Bisikan Setan

Berbagai kelompok sesat, seperti Khawarij, Rafidhah, Qadariyah, Jabriyah, Mu’tazilah, Murji’ah, demikian pula ideologi batil, semacam liberalisme, komunisme, semua itu sesungguhnya hasil syubhat-syubhat setan yang dia hembuskan.

Sungguh, berbagai syubhat dan pertanyaan kekufuran yang mengarah kepada ideologi batil, seperti komunisme dan ateisme, akan terus bermunculan, baik dari setan manusia maupun setan jin. Persis seperti yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kabarkan dalam hadits di atas.

Dalam al-Qur’an Allah juga menyebutkan beberapa ucapan orang-orang yang kufur, di antaranya,

وَضَرَبَ لَنَا مَثَلٗا وَنَسِيَ خَلۡقَهُۥۖ قَالَ مَن يُحۡيِ ٱلۡعِظَٰمَ وَهِيَ رَمِيمٞ ٧٨

Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadiannya; ia berkata, “Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh?” (Yasin: 78)

Apa yang Allah subhanahu wa ta’ala sebutkan dalam surat Yasin adalah contoh pertanyaan-pertanyaan aneh yang dibisikkan oleh setan untuk mengingkari hari kebangkitan; salah satu keyakinan kaum ateis yang sangat kental dengan paham komunisme.

Pertanyaan pengingkaran mereka, dijawab oleh Allah dengan firman-Nya,

قُلۡ يُحۡيِيهَا ٱلَّذِيٓ أَنشَأَهَآ أَوَّلَ مَرَّةٖۖ وَهُوَ بِكُلِّ خَلۡقٍ عَلِيمٌ ٧٩

Katakanlah, “Ia akan dihidupkan oleh Dzat yang menciptakannya kali yang pertama. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk.” (Yasin: 79)

Telah ada dan akan terus ada manusia yang mengingkari hari kebangkitan. Seraya membawa tulang yang telah lapuk dan remuk, dengan nada pengingkaran, dia bertanya, “Siapa yang dapat menghidupkan tulang belulang yang sudah hancur seperti ini?”

Sungguh aneh pertanyaan ini! Tidakkah kalian sedikit menggunakan akal untuk bertanya tentang penciptaan diri kalian?

Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan manusia dari tanah, lalu menciptakan kalian dari setetes air mani. Apakah Dzat yang telah menciptakan manusia tidak mampu membangkitkan kembali setelah kematiannya?

Tentu hal tersebut sangat mudah bagi Allah.

أَلَمۡ يَكُ نُطۡفَةٗ مِّن مَّنِيّٖ يُمۡنَىٰ ٣٧ ثُمَّ كَانَ عَلَقَةٗ فَخَلَقَ فَسَوَّىٰ ٣٨ فَجَعَلَ مِنۡهُ ٱلزَّوۡجَيۡنِ ٱلذَّكَرَ وَٱلۡأُنثَىٰٓ ٣٩  أَلَيۡسَ ذَٰلِكَ بِقَٰدِرٍ عَلَىٰٓ أَن يُحۡـِۧيَ ٱلۡمَوۡتَىٰ ٤٠

“Bukankah dia dahulu berupa setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim), kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya, dan menyempurnakannya, lalu Allah menjadikan darinya sepasang: laki laki dan perempuan? Bukankah (Allah yang melakukan) demikian berkuasa (pula) menghidupkan orang mati?” (al-Qiyamah: 37—40)

Pertanyaan bisikan setan ini,

  • Siapa yang menciptakan Allah?
  • Apa mungkin tulang yang telah menjadi debu akan dibangkitkan kembali?

apabila diikuti, tidak dihadapi dengan keimanan, bisa jadi membawa manusia kepada kesesatan.

Pertanyaan tersebut mengantarkan mereka menuju keyakinan antituhan, ateisme, komunisme, dan kesesatan lainnya.

 

Bimbingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Menghadapi Bisikan Setan

Sebagai agama yang sempurna, Islam memberikan jalan keluar ketika bisikan setan datang. Dalam hadits yang mulia di atas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membimbing umat agar menempuh tiga hal untuk menolak bisikan-bisikan setan dari kalangan jin atau manusia.

  1. Ta’awudz (memohon perlindungan) kepada Allah subhanahu wa ta’ala dari setan.

Penyebab munculnya bisikan dan syubhat-syubhat batil adalah setan, maka dengan ta’awudz, Allah subhanahu wa ta’ala akan menjauhkan setan dari seorang hamba.

  1. Segera memutus bisikan.

Dengan menghentikan bisikan yang dihembuskan oleh setan jin dalam kalbu atau oleh lisan setan manusia, insya Allah akal berhenti melayani pertanyaan-pertanyaan berikutnya yang menyesatkan. Sebab, Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan akal manusia terbatas sehingga mustahil bisa menjangkau segala sesuatu.

Dua hal ini ditunjukkan oleh sabda beliau,

فَإِذَا بَلَغَهُ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللهِ وَلْيَنْتَهِ

“Jika setan telah sampai pada pertanyaan ini, mohonlah perlindungan kepada Allah, dan berhentilah.”

  1. Iman

Hal ketiga yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menolak bisikanbisikan setan adalah iman. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَمَنْ وَجَدَ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا فَلْيَقُلْ: آمَنْتُ بِاللهِ وَرُسُلِهِ

Barang siapa mendapatkan sesuatu dari pertanyaan ini, ucapkanlah, “Aku beriman kepada Allah dan para rasul-Nya.”

Ketika datang bisikan apapun dari setan, meniupkan kerancuan akidah, tangkal segera dengan keimanan. Sebagai contoh, ketika setan membisikkan bahwa manusia yang telah menjadi tanah, mustahil dibangkitkan. Segeralah hadapi dengan keimanan.

Katakanlah, “Saya beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Saya beriman kepada al-Qur’an dan hadits. Saya beriman kepada kabar dari Allah dan Rasul-Nya bahwa manusia akan dihidupkan kembali oleh Allah untuk mempertanggungjawabkan amalannya.”

Asy-Syaikh al-Albani rahimahullah berkata, “Hadits-hadits yang sahih ini menunjukkan bahwa orang yang digoda oleh setan dan bisikannya, “Siapakah yang menciptakan Allah?” harus menghindari perdebatan. Ia harus menjawabnya dengan mengatakan sebagaimana yang disebutkan oleh hadits-hadits tersebut. Dia katakan,

آمَنْتُ بِاللهِ وَرُسُلِهِ، اللهُ أَحَدٌ اللهُ الصَّمَدُ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلًدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

‘Saya beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Allah Maha Esa. Allah tempat meminta. Tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.’

Setelah itu, hendaklah ia meludah ke kiri tiga kali, dan memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan, serta menepis keragu-raguan itu.

Saya berpendapat, orang yang melakukannya semata-mata karena taat kepada Allah dan Rasul-Nya serta ikhlas, keraguan dan godaan itu akan hilang darinya. Setan pun menjauh darinya. Ingat sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Sesungguhnya godaan itu akan hilang darinya.’

Pelajaran dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ini jelas lebih bermanfaat dan lebih dapat mengusir keraguan daripada terlibat dalam perdebatan logika yang sengit seputar persoalan ini.

Sesungguhnya perdebatan dalam pesoalan ini amatlah sedikit gunanya, bahkan boleh jadi tidak ada gunanya sama sekali. Namun sayang, kebanyakan manusia tidak menghiraukan pelajaran yang amat bagus ini.

Oleh karena itu, ingatlah wahai kaum muslimin, kenalilah sunnah Nabimu dan amalkanlah. Sesungguhnya dalam sunnah itu ada obat dan kemuliaan bagimu.” (ash-Shahihah)

 

Kekhawatiran Seorang Muslim Terhadap Bisikan Setan

Bisikan-bisikan setan dihembuskan kepada siapapun—termasuk orang yang beriman—kecuali yang diselamatkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Ketika mendapat bisikan tersebut, orang yang beriman akan merasa berat dan berusaha menolaknya.

Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata,

جَاءَ نَاسٌ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَأَلُوهُ: إِنَّا نَجِدُ فِي أَنْفُسِنَا مَا يَتَعَاظَمُ أَحَدُنَا أَنْ يَتَكَلَّمَ بِهِ. قَالَ: وَقَدْ وَجَدْتُمُوهُ؟ قَالُوا: نَعَمْ. قَالَ: ذَلِكَ صَرِيحُ الْإِيمَانِ

Beberapa sahabat Rasul datang dan bertanya kepada beliau, “Sungguh, kami mendapatkan dalam diri kami (bisikan setan –pen.) yang kami merasa berat untuk mengucapkannya.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apakah kalian telah mendapatkan bisikan tersebut?”

Para sahabat menjawab, “Ya.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Itulah tanda keimanan yang jelas.” ( HR. Muslim)

Dalam syarah hadits ini, an-Nawawi rahimahullah berkata, “Rasa berat hati kalian untuk mengucapkan bisikan tersebut menunjukkan keimanan kalian yang jelas. Sebab, perasaan berat dan rasa takut mengucapkannya, apalagi meyakini (bisikan setan tersebut), tidaklah muncul kecuali pada orang yang menyempurnakan imannya dan selamat dari kerancuan serta keraguan.”

 

Komunisme, Jalan Setan

Komunisme dan seluruh jenis kesesatan pasti akan runtuh di hadapan al-Kitab dan as-Sunnah. Kebatilan tidak akan mampu tegak di hadapan al-haq. Akan tetapi, pergulatan dan peperangan antara al-haq dan batil tidak akan berakhir hingga dunia berakhir.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, komunisme adalah paham atau ideologi (dalam bidang politik) yang menganut ajaran Karl Marx dan Fredrich Engels, yang hendak menghapuskan hak milik perseorangan dan menggantikannya dengan hak milik bersama yang dikontrol oleh negara.

Dalam masalah kepemilikan, paham komunis menekankan kepemilikan bersama atas alat-alat produksi, seperti tanah, tenaga kerja, dan modal. Menurut paham ini, masyarakat semua sama, tidak ada kelas dan strata. Semua orang sama, segala sesuatu adalah milik bersama. Komunisme tidak mengakui kepemilikan individu.

Dalam masalah kepemilikan ini saja, paham komunis sangat bertentangan dengan akal, fitrah, dan syariat Allah subhanahu wa ta’ala—syariat yang menjamin terwujudnya keadilan dan kemakmuran.

Islam mengakui kepemilikan pribadi. Manusia boleh memiliki tanah, alatalat produksi, pabrik, mesin produksi, perkebunan, peternakan, dan semisalnya. Meski demikian, Islam mengatur agar manusia menggunakan hartanya dalam hal yang bermanfaat dan tidak menimbulkan madarat.

Di sisi lain, Islam mewajibkan umatnya untuk mengeluarkan sebagian kecil dari hartanya, dalam bentuk zakat. Zakat ialah hak fakir miskin. Inilah sepintas konsep kepemilikan dalam Islam, sangat bertolak belakang dengan konsep kepemilikan menurut paham komunisme.

Dalam kehidupan beragama, orang-orang komunis tidak memedulikan

agama. Vladimir Lenin dalam tulisannya  “Sosialisme dan Agama” mengatakan bahwa agama harus dinyatakan sebagai urusan pribadi. Lenin juga menginginkan agar penyebutan agama seseorang dalam dokumen dibatasi.

Menurut ideologi komunisme, agama dianggap berdampak negatif bagi perkembangan manusia. Karena itu, negara-negara sosialis yang menerapkan Marxisme-Leninisme bersikap atheistik dan antiagama. Inilah yang tampak di negara-negara sosialis komunis, seperti Uni Soviet dan Republik Rakyat Tiongkok.

Dalam hal agama, mayoritas kaum komunis adalah ateis, seperti kaum Dahriyun yang Allah sebutkan dalam al-Qur’an. Mereka menganggap bahwa hidup dan mati terjadi karena perputaran masa semata. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَقَالُواْ مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا ٱلدُّنۡيَا نَمُوتُ وَنَحۡيَا وَمَا يُهۡلِكُنَآ إِلَّا ٱلدَّهۡرُۚ وَمَا لَهُم بِذَٰلِكَ مِنۡ عِلۡمٍۖ إِنۡ هُمۡ إِلَّا يَظُنُّونَ ٢٤

Mereka berkata, “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa,” dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja. (al-Jatsiyah: 24 )

Mereka tidak memercayai adanya kebangkitan setelah kematian, tidak pula meyakini hari kiamat.

وَإِذَا تُتۡلَىٰ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتُنَا بَيِّنَٰتٖ مَّا كَانَ حُجَّتَهُمۡ إِلَّآ أَن قَالُواْ ٱئۡتُواْ بِ‍َٔابَآئِنَآ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ ٢٥ قُلِ ٱللَّهُ يُحۡيِيكُمۡ ثُمَّ يُمِيتُكُمۡ ثُمَّ يَجۡمَعُكُمۡ إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلۡقِيَٰمَةِ لَا رَيۡبَ فِيهِ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ ٢٦

Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang jelas, tidak ada bantahan mereka selain dari mengatakan, “Datangkanlah nenek moyang kami jika kamu adalah orang-orang yang benar.”

Katakanlah, “Allah-lah yang menghidupkan kamu kemudian mematikan kamu, setelah itu mengumpulkan kamu pada hari kiamat yang tidak ada keraguan padanya. Akan tetapi, kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (al-Jatsiyah: 25—26)

 

Mewaspadai Komunisme di Indonesia

Di bumi Indonesia, catatan sejarah masih tersimpan rapi bagaimana kaum komunis berupaya menancapkan kukunya di negeri ini.

Mereka berupaya masuk ke seluruh lini kehidupan dan berupaya menjadikan bumi nyiur melambai sebagai negeri komunis, seperti Uni Soviet kala itu. Berbagai upaya mereka lakukan; kekerasan, kudeta, dan pembantaian manusia, terjadi di negeri ini. Tidak berbeda dengan kekejaman tokoh-tokoh komunisme dunia, semacam Vladimir Lenin, Joseph Stalin, Mao Zedong, dan lainnya.

Alam demokrasi Indonesia ternyata cukup sejuk dan subur bagi berbagai kesesatan—termasuk komunisme—untuk terus hidup dan berkembang. Seruanseruan kepada ideologi komunis, terbit dan menyebarnya buku serta tulisan berideologi komunis, bahkan film-film yang sangat kental berpaham komunis juga diproduksi dan dipertontonkan.

Semua ini adalah indikasi tentang gerakan dan perkembangan paham komunisme di Indonesia.

Kondisi ini menuntut kaum muslimin, terlebih Ahlus Sunnah wal Jamaah, segera berupaya membendungnya. Semoga Allah menyelamatkan negeri ini dari segala kejelekan. Amin.

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc.