Mandi Janabah Bagi Wanita Haid

Apa hukum mandi janabah bagi wanita yang sedang haid?

Masalah ini mungkin terjadi dalam dua bentuk:

• Seorang wanita sedang haid, kemudian ia junub di tengah berlangsungnya haid karena bercumbu dengan suaminya atau mimpi basah. Adapun senggama saat haid diharamkan.

• Seorang wanita sedang junub, kemudian keluar darah haid sebelum sempat mandi junub.

 

Adapun masalah mandinya meliputi dua pembahasan:

1. Ia tidak berkewajiban mandi dari junubnya hingga haidnya berhenti.

Kata al-Imam Ibnu Qudamah rahimahullah dalam kitab al-Mughni (1/278, terbitan Darul ‘Alam al-Kutub), “Pasal, jika ada seorang wanita haid berjunub, ia tidak diwajibkan mandi hingga haidnya berhenti.

Hal ini telah ditegaskan langsung oleh Ahmad rahimahullah, dan merupakan pendapat Ishaq bin Rahawaih rahimahullah. Sebab, mandi yang dilakukan pada saat haid berlangsung tidak memberi manfaat hukum apa pun

(karena ia masih berhadats besar dengan haidnya, -pen.).” Hal ini juga telah ditegaskan oleh al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah dalam al- Umm (Kitab ath-Thaharah, pada Bab “’Illah Man Yajibu alaihi al-Ghuslu wal Wudhu) (2/95) terbitan Dar al-Wafa’.

 

2. Terdapat silang pendapat apakah sah jika ia mandi junub saat haidnya masih berlangsung.

Pendapat pertama, sah dengan alasan haid yang berlangsung tidak menghalangi terangkatnya janabah yang dialami. Hal itu berfaedah meringankan hadats besar yang dialaminya. Ini mazhab Ahmad. Apakah disukai baginya agar melakukannya? Terdapat dua riwayat yang berbeda dari al-Imam Ahmad rahimahullah. Yang menjadi mazhab bagi fuqaha Hanabilah, hal itu disukai (mustahab). Kata Ibnu Qudamah rahimahullah selanjutnya dalam al-Mughni (1/278), “Jika ia mandi junub pada masa berlangsungnya haid, mandinya sah dan hukum junub hilang darinya (ia suci dari janabahnya).

Hal ini telah ditegaskan langsung oleh Ahmad. Kata al-Imam Ahmad rahimahullah, ‘Janabahnya hilang, sedangkan haidnya tetap ada sampai darahnya berhenti.’ Al-Imam Ahmad rahimahullah juga berkata, ‘Aku tidak mengetahui ada yang berpendapat mandi junubnya tidak sah selain ‘Atha’ rahimahullah. Ia mengatakan bahwa haid yang sedang dialaminya lebih besar daripada hadatsnya, kemudian ia meralat ucapannya lantas berpendapat boleh mandi.’ Sebab, keberadaan salah satu dari dua hadats yang sedang dialami tidak menghalangi terangkatnya hadats yang lain, sebagaimana halnya jika orang yang juga berhadats kecil melakukan mandi (untuk mengangkat hadats besarnya).” Kata Ibnu Muflih rahimahullahdalam kitab al-Furu (1/260, terbitan Muassasah ar- Risalah),

“Mengenai masalah disukainya wanita yang sedang haid agar mandi janabah sebelum haidnya berhenti terdapat dua riwayat dari al-Imam Ahmad, dan hal itu sah.” Kata al-Mardawi rahimahullah dalam kitab al-Inshaf (1/240, tahqiq Muhammad Hamid al-Faqi), “Mandi junubnya sah menurut pendapat yang benar dalam mazhab Hanbali. Al-Imam Ahmad telah menegaskan langsung hal ini.

Ditegaskan kebenarannya oleh Ibnu Qudamah dalam al-Mughni dan asy-Syarh al-Kabir serta Ibnu Tamim.” Al-Mardawi juga menyebutkan bahwa Ibnu Muflih mendahulukannya dalam al- Furu. Kemudian al-Mardawi berkata, “Demikian juga, disukai (mustahab) baginya agar mandi untuk mengangkat janabahnya menurut mazhab Hanbali. Ini didahulukan oleh Ibnu Tamim. Kata penulis kitab Majma al-Bahrain, ‘Disukai baginya agar mandi junub menurut jumhur (fuqaha Hanabilah, pen) dan dipilih oleh Majduddin’.”

Pendapat kedua, tidak sah karena terhalangi oleh haid yang sedang berlangsung. Ini adalah mazhab Syafi’I dan Maliki. Al-Imam an-Nawawi rahimahullah telah menukil mazhab Syafi’i dalam al-Majmu bahwa hal itu tidak sah. An-Nawawi berkata dalam al-Majmu (2/171), “Jika seorang wanita haid kemudian mengalami junub atau ia junub kemudian datang haid, tidak sah mandi junub saat haidnya masih berlangsung lantaran hal itu tidak ada gunanya.” Mazhab Maliki telah dinukil oleh ad-Dasuqi dalam kitab Hasyiah ad- Dasuqi ala asy-Syarh al-Kabir (pada “Mawani’ al-Haidh”, 2/147, program al-Maktabah asy-Syamilah).

Ini juga adalah pendapat lain pada mazhab Hanbali yang dinukil sebagai riwayat lain dari al-Imam Ahmad. Alhasil, tampaknya pendapat yang mengatakan sah lebih kuat. Hal itu berfaedah meringankan hadats besarnya lantaran yang tersisa setelah itu hanya hadats besar dari haidnya yang wajib ia angkat sesucinya dari haid. Yang jelas, sebenarnya ia tidak diwajibkan mandi dari janabah yang dialaminya hingga haidnya berhenti lantas ia berkewajiban mandi suci dari hadats besar yang dialaminya karena junub dan haid. Wallahu alam.

Masalah ini telah dibahas oleh alim ulama dalam kitab-kitab fikih pada masalah “Jika terkumpul beberapa hadats yang mewajibkan wudhu atau mandi”. Ketentuan hukumnya sama antara wudhu dari beberapa faktor penyebab hadats kecil dan mandi dari beberapa faktor penyebab hadats besar. Masalah ini meliputi dua pembahasan.

 ______________________________________________________________________________________

Seorang wanita haid mengeluarkan mani karena bercumbu dengan suami. Apakah ketika suci cukup sekali mandi janabah? (08xxxxxxx)

1. Mandi suci dengan salah satu niat berikut:

a. Berniat untuk bersuci dari seluruh hadatsnya.

b. Berniat untuk bisa melaksanakan ibadah yang dispersyaratkan suci dari hadats, seperti shalat.

Kata Ibnu Qudamah rahimahullah dalam al-Mughni (1/292, terbitan Darul  ‘Alam al-Kutub), “Jika terkumpul dua faktor penyebab mandi dalam waktu bersamaan, seperti haid dan junub, bertemunya dua khitan (senggama) dan ejakulasi, lantas mandi dengan niat bersuci dari kedua hadats itu sekaligus, sah. Ini pendapat jumhur (mayoritas) ulama. Di antaranya adalah ‘Atha, Abu az-Zinad, Rabi’ah, Malik, asy-Syafi’i, Ishaq, dan penganut rayu/logika (yaitu fuqaha mazhab Hanafi, -pen.).

Telah diriwayatkan dari al-Hasan (yaitu al-Bashri, pen) dan an-Nakha’I tentang wanita yang haid sekaligus junub bahwa ia wajib mandi dua kali.Dalil kami (yakni mazhab Hanbali yang sejalan dengan jumhur, -pen.) adalah bahwa Nabi n tidak pernah mandi dari senggama (jima’) yang dilakukannya kecuali satu kali saja. Padahal senggama yang dilakukannya mengandung dua hal lantaran senggama itu biasanya berkonsekuensi terjadinya ejakulasi, sedangkan senggama dan ejakulasi keduanya adalah faktor penyebab diwajibkannya mandi suci. Kenyataannya, satu mandi sah untuk mengangkat kedua hadats besar tersebut, seperti halnya hadats dan najis dapat terangkat sekaligus dengan sekali basuh (cuci).

Demikian pula hukumnya jika terkumpul beberapa hadats yang mewajibkan wudhu, seperti tidur, keluarnya najis, dan menyentuh wanita1, lantas ia bersuci dengan niat bersuci dari seluruh hadats itu, mengangkat hadats kecilnya, atau berniat untuk bisa melaksanakan shalat, hal itu sah.” Ini pula yang difatwakan oleh al- Lajnah ad-Da’imah yang diketuai oleh al-Imam Ibnu Baz. Al-Lajnah berfatwa dalam Fatawa al-Lajnah (5/328-329), “Barang siapa terkena kewajiban satu mandi atau lebih, cukup baginya satu kali mandi jika ia meniatkan dengannya untuk mengangkat seluruh faktor-faktor penyebab mandinya atau meniatkan untuk bisa shalat dan ibadah semacamnya, seperti meniatkan untuk bisa melakukan tawaf. Hal ini berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam,

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امرِئٍ مَا نَوَى

Sesungguhnya setiap amalan itu hanyalah dikerjakan dengan niat, dan setiap orang akan mendapatkan balasan dari apa yang diniatkannya. (Muttafaq alaih)

Al-‘Utsaimin rahimahullah juga merajihkan hal ini, bahkan meskipun hanya meniatkan bersuci dari salah satunya atau mengangkat salah satu hadatsnya yang merupakan mazhab Hanbali dan Syafi’i sebagaimana akan diterangkan pada masalah kedua.

2. Mandi suci dengan niat bersuci dari salah satu hadatsnya atau mengangkat salah satu hadatsnya.

Hal itu sah dan menyucikannya dari seluruh hadats yang ada padanya. Ini mazhab Hanbali dan Syafi’i, yang dirajihkan Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah. Berikut keterangan mazhab Hanbali. Kata Ibnu Qudamah rahimahullah selanjutnya dalam al-Mughni (1/292), “Apabila mandi dengan meniatkan salah satunya saja atau seorang wanita mandi dengan hanya meniatkan bersuci dari haid tanpa meniatkan bersuci dari janabahnya, apakah mandi itu menyucikannya pula dari hadats besar lainnya yang tidak diniatkannya? Terdapat dua pendapat kuat (pada mazhab Hanbali). Salah satunya menyatakan mandi itu menyucikannya pula dari hadats besar lainnya, karena yang dikerjakannya adalah mandi yang sah dengan niat untuk mengerjakan mandi suci yang wajib, seperti halnya jika meniatkan untuk bisa melaksanakan shalat. Pendapat kedua menyatakan menyucikannya dari apa yang diniatkan tanpa selainnya (yang tidak diniatkan), berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam,

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امرِئٍ مَا نَوَى.

Sesungguhnya setiap amalan itu hanyalah dikerjakan dengan niat, dan setiap orang akan mendapatkan balasan dari apa yang diniatkannya.2

Al-Mardawirahimahullah menukil dalam al-Inshaf (1/148—149) bahwa yang menjadi mazhab Hanbali (pegangan fuqaha Hanabilah) adalah pendapat yang mengatakan seluruh hadats besarnya terangkat. Begitu pula halnya dengan wudhu yang hanya diniatkan untuk mengangkat salah satu hadats kecil yang ada, hal itu menyucikan dari seluruh hadats kecil yang ada. Akan tetapi, jika disertai niat agar hadats lainnya tidak terangkat, kata al-Mardawi, “Yang benar adalah tidak terangkat dari dirinya selain yang diniatkan, dan ini lahiriah ucapan sahabat kami.”

Maksudnya, fuqaha Hanabilah. Berikut keterangan mazhab Syafi’i. Kata al-Imam an-Nawawi rahimahullah dalam al-Majmu (1/369), “Jika seorang wanita terkena kewajiban mandi suci dari janabah dan haid lantas ia mandi dengan meniatkan salah satunya, mandinya sah dan menghasilkan keduanya tanpa ada perbedaan pendapat (yakni di antara fuqaha Syafi’iyah).” Masalah ini dikupas oleh an-Nawawi rahimahullah dalam masalah wudhu dengan berbagai faktor penyebab hadats yang dialami, karena hukumnya sama. Hanya saja, dalam masalah wudhu terdapat perbedaan pendapat di antara fuqaha Syafi’i dan an-Nawawi menukil lima pendapat yang ada di antara mereka. Tetapi, yang paling benar menurut jumhur fuqaha Syafi’iyah adalah pendapat yang mengatakan wudhu sah meskipun sekiranya disertai niat agar hadats lainnya (selain yang diniatkan) tidak terangkat. Inilah yang dirajihkan oleh Ibnu ‘Utsaimin. Al-Imam Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah dalam kitab asy-Syarh al-Mumti (pada Bab Furudh al-Wudhui wa Shifatihi, 1/165—166, cet. Muassasah Asam).

Beliau juga menukil perbedaan pendapat yang ada di antara ulama dalam masalah wudhu dengan berbagai faktor penyebab hadats yang ada, lantas beliau merajihkan pendapat yang sama dengan pendapat jumhur Syafi’iyah tersebut. Beliau menerangkan bahwa jika diniatkan untuk mengangkat salah satu faktor hadats yang dialami atau bersuci dari salah satunya, seluruh hadatsnya otomatis terangkat walaupun hanya ia berniat agar hadats lainnya (selain yang yang diniatkan) tidak terangkat. Sebab, hadats itu adalah satu sifat yang sama yang dialami tubuh kendati faktor penyebabnya berbilang. Hal ini tidak kontradiksi dengan hadits,

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امرِئٍ مَا نَوَى.

“Sesungguhnya setiap amalan itu hanyalah dikerjakan dengan niat, dan setiap orang akan mendapatkan balasan dari apa yang diniatkannya.”

Sebab, bagaimana pun juga hadats yang dialami tubuh adalah satu sifat (keadaan) yang sama dengan berbagai faktor penyebab hadats yang beragam. Hadats sebagai sifat (keadaan) yang dialami tubuh bukanlah hal yang berbilang secara terpisah dengan berbilangnya faktor penyebabnya.

Dengan demikian, jelaslah bahwa satu wudhu meskipun dengan niat bersuci dari salah satu faktor hadats saja sudah cukup untuk mewakili dari seluruh faktor hadats yang ada, karena dengan itu tubuh menjadi suci dari hadats yang dialami dengan berbagai faktor hadats yang ada.

Kemudian pada masalah mandi, beliau menegaskan hal yang sama dengan mengatakan bahwa apa yang dikatakan pada hadats kecil itu juga dikatakan pada hadats besar.

Wallahu a’lam.

Dijawab oleh al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad as-Sarbini

Mandi Janabah (3)

Masih ada beberapa hal yang perlu menjadi perhatian kita ketika mandi. Di antaranya:

Menjaga Aurat dari Pandangan Mata Orang Lain

Ya‘la rahimahullah bercerita:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melihat seorang laki-laki mandi di tempat terbuka. Maka beliau pun naik mimbar, lalu memuji dan menyanjung Allah, kemudian bersabda:“Sesungguhnya Allah itu Maha Malu, Menutup (aib/cacat/cela dan keburukan). Dia menyukai sifat malu dan menutup, maka apabila salah seorang dari kalian mandi hendaklah ia menutupi dirinya.”1

Menutup aurat ketika mandi wajib dilakukan bila di tempat tersebut ada orang lain yang diharamkan melihat auratnya, atau dikhawatirkan auratnya akan terlihat oleh orang yang tidak halal untuk melihatnya2. Dan hukumnya bisa menjadi sunnah bila tidak ada kekhawatiran tersebut. (‘Aunul Ma‘bud, kitab Al-Hammam, bab An-Nahyu ‘anit Ta’ariy). Dan ketika seseorang mandi sendirian di mana tidak ada orang yang akan melihat auratnya, atau mandi di tempat tertutup seperti di kamar mandi, maka tidak wajib menutup auratnya. Bahkan diperbolehkan mandi tanpa busana,  sebagaimana ditunjukkan dalam hadits berikut:

“Bani Israil biasa mandi bersama-sama dalam keadaan telanjang, sebagian mereka melihat aurat sebagian yang lain. Sementara Nabi Musa u, beliau mandi sendirian (dengan tanpa busana,–pent.).  Mereka berkata: ‘Demi Allah! Tidak ada yang mencegah Musa untuk mandi bersama-sama kita kecuali karena dia memiliki biji pelir yang besar (bengkak).’

Suatu kali Musa pergi mandi. Ia meletakkan pakaiannya di atas sebuah batu. Ternyata batu itu lari membawa pakaian Musa. Musa pun berlari mengejar batu tersebut seraya berkata: ‘Wahai batu, pakaianku! Wahai batu, pakaianku!’  Hingga Bani Israil dapat melihat aurat Musa, mereka pun berkata: ‘Demi Allah! Ternyata Musa tidak memiliki cacat apa-apa (pada kemaluannya,–pent).’ Batu itu tegak hingga dapat dilihat, lalu Musa pun mengambil pakaiannya dan mulailah ia memukul batu tersebut.” (HR. Al-Bukhari no. 278 dan Muslim no. 768)

Hadits ini diberi judul oleh Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah: Bab Man Ightasala ‘Uryanan Wahdahu fil Khulwah wa Man Tasattar Fat Tasattur Afdhal (Seseorang yang mandi sendirian dalam keadaan telanjang tanpa kehadiran orang lain dan yang menutup diri, maka menutup diri itu lebih utama). Sedangkan Al-Imam An-Nawawi  rahimahullah dalam syarahnya terhadap Shahih Muslim memberi judul: Bab Jawazul Ightisal ‘Uryanan fil Khulwah (bolehnya mandi dalam keadaan telanjang ketika sendirian/tidak ada orang lain).

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata: “Boleh membuka aurat ketika dibutuhkan dalam keadaan sendiri, tidak ada orang lain. Seperti ketika mandi, buang air kecil, berhubungan dengan istri, dan semisalnya. Semua keadaan ini dibolehkan membuka aurat ketika sendirian. Adapun bila di hadapan orang lain (selain suami/istri,–pent.) maka haram membuka aurat dalam seluruh keadaan tersebut.” (Al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim, 4/255)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri mencontohkan menutup diri ketika mandi di hadapan orang lain, seperti ketika peristiwa Fathu Makkah. Ummu Hani bintu Abi Thalib radhiallahu ‘anha berkisah:

Aku pergi menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada tahun Fathu Makkah. Aku dapati beliau sedang mandi sementara Fathimah menutupi beliau. Beliau bertanya: “Siapa yang datang ini?”. “Saya Ummu Hani`,” jawabku.3

Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah  membawakan hadits di atas dalam Shahih-nya dengan judul bab Menutup Diri ketika Mandi di Hadapan Manusia.

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata tentang hadits di atas: “Dalam hadits ini terdapat dalil bolehnya seseorang mandi di hadapan seorang wanita yang merupakan mahramnya (sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mandi dengan ditutupi Fathimah radhiallahu ‘anha putri beliau,–pent.), apabila antara dia dengan wanita tersebut ada penutup dari kain atau lainnya.” (Al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim, 4/252)

 

Suami Istri Boleh Mandi Janabah Bersama-sama

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada kita untuk menjaga aurat, kecuali di hadapan istri dan budak wanita yang dimiliki, sebagaimana dalam hadits:

“Jagalah auratmu kecuali dari istrimu dan budak wanita yang engkau miliki.”4

Dari hadits di atas dapat kita pahami bahwa tidak ada batasan aurat antara suami dengan istrinya. Demikian pula sebaliknya. Sehingga suami istri boleh mandi bersama, baik mandi biasa maupun mandi janabah, sebagaimana ditunjukkan dalam hadits Aisyah radhiallahu ‘anha berikut ini:

Aku dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mandi dari satu bejana. Tangan kami bergantian menciduk air di dalam bejana tersebut.”5

Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma juga mengabarkan dari bibinya, Maimunah radhiallahu ‘anha, istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

Bahwasanya ia pernah mandi bersama Nabi (dengan menggunakan air) dari satu bejana.”6

Ad-Dawudi berdalil dengan hadits yang semakna dengan hadits Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiallahu ‘anha di atas7 untuk menyatakan bolehnya seorang suami melihat aurat istrinya dan sebaliknya.

Yang lebih memperkuat pendapat Ad-Dawudi ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dari jalan Sulaiman bin Musa. Ia pernah ditanya tentang boleh tidaknya seorang suami melihat kemaluan istrinya. Sulaiman berkata: “Aku tanyakan hal itu kepada ‘Atha`, maka ia berkata: ‘Aku pernah menanyakannya kepada ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, lalu beliau menyebutkan hadits ini secara makna. Dan ini merupakan nash/dalil dalam masalah ini’.” (Fathul Bari, 1/473)

 

Bolehkah Seorang Lelaki Memakai Sisa Air Mandi Seorang Wanita dan Sebaliknya?

Humaid Al-Himyari rahimahullah berkata: Aku bertemu dengan seseorang yang bersahabat dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selama empat tahun sebagaimana Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bersahabat dengan beliau. Shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut berkata:

 

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seorang wanita mandi dari sisa laki-laki atau laki-laki mandi dari sisa wanita.” Musaddad menambahkan: “Hendaknya keduanya menciduknya bersama-sama.”8

Hadits di atas menunjukkan dilarangnya seorang wanita mandi menggunakan sisa air mandi seorang lelaki, baik mandinya dilakukan secara bersama-sama (bila keduanya suami istri) atau setelah selesainya lelaki tersebut. Demikian pula sebaliknya.

Makna : hendaklah seorang lelaki dan seorang wanita mengambil cidukan demi cidukan dari air tersebut ketika keduanya mandi. Keduanya menciduk bersama-sama, bukan saling bergantian, yang satu baru kemudian yang lain.

Dzahir hadits di atas menunjukkan bahwa lelaki ataupun wanita dilarang untuk mandi suci (janabah) menggunakan sisa air yang lainnya, baik keduanya mandi bersama-sama dari satu bejana, masing-masing menggunakan sisa air pasangannya, atau mandinya satu demi satu, yang lelaki terlebih dahulu atau si wanita. Namun boleh bagi keduanya untuk mandi bersama-sama dari satu bejana dengan menciduk air dari bejana tersebut secara bersamaan, bukannya bergantian mengambil air di dalam bejana.

Demikian salah satu pendapat kalangan ahlul ilmi. Memang dalam masalah menggunakan sisa air laki-laki atau sisa air wanita ada beberapa pendapat:

Pendapat pertama: laki-laki boleh bersuci dengan menggunakan sisa air wanita. Demikian pula sebaliknya, baik mandinya bersama-sama atau sendiri-sendiri.
Pendapat kedua: laki-laki makruh menggunakan sisa air mandi wanita dan sebaliknya.
Pendapat ketiga: masing-masing boleh bersuci/mandi dengan menggunakan sisa air pasangannya, bila keduanya menciduknya secara bersama-sama.
Pendapat keempat: boleh bersuci dengan menggunakan sisa air tersebut, bila si wanita tidak dalam keadaan haid dan si lelaki tidak dalam keadaan junub.
Pendapat kelima: wanita boleh menggunakan sisa air laki-laki, namun laki-laki makruh menggunakan sisa air wanita.

Pendapat keenam: masing-masing boleh menggunakan air yang ada bila keduanya mandi bersama-sama dari satu bejana, baik menciduknya secara bersama-sama ataupun tidak. (‘Aunul Ma‘bud, kitab Ath-Thaharah, bab An-Nahyu ‘an Dzalik)

Dari beberapa pendapat di atas, yang penulis pandang kuat adalah pendapat yang membolehkan, karena adanya hadits berikut ini:

Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma mengabarkan:

Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mandi dari air sisa Maimunah.”9

Dalam riwayat Ashabus Sunan disebutkan bahwa Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma  menyatakan:

Salah seorang istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selesai mandi dari satu bejana yang besar. Lalu datanglah Nabi untuk mandi menggunakan air yang masih ada dalam bejana besar tersebut. Istri beliau berkata:“Tadi aku mandi junub (dengan menggunakan air tersebut).” Nabi bersabda:“Sesungguhnya air tidak membuat junub.”10

Penulis Tuhfatul Ahwadzi berkata:“Hadits Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma menunjukkan bolehnya bersuci/mandi menggunakan sisa air mandi wanita. Sementara hadits Al-Hakam bin ‘Amr Al-Ghifari yang telah lewat dalam bab terdahulu11 menunjukkan larangan dari hal tersebut.

Dua hadits tersebut digabungkan dengan pernyataan bahwa larangan yang ada adalah bila air yang digunakan merupakan air yang berjatuhan dari anggota-anggota tubuh si wanita, karena air tersebut telah menjadi air musta‘mal. Sementara air yang masih tersisa di ember/bejana atau tempat air lainnya boleh digunakan (tidak dilarang). Demikian penggabungan yang dilakukan oleh Al-Khaththabi.

(Dan cara lain menggabungkan dua hadits yang secara dzahir nampak bertentangan tersebut adalah) bahwa larangan yang ada dibawa kepada larangan tanzih (yakni makruh, bukan larangan yang menunjukkan keharaman/tahrim), dengan adanya hadits-hadits yang membolehkan (laki-laki menggunakan sisa air wanita).

Adapula yang berpendapat bahwa ucapan sebagian istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: ‘Tadi aku mandi junub (dengan menggunakan air tersebut)’, dia nyatakan ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin berwudhu dengan sisa air mandi istrinya. Ini menunjukkan bahwa larangan menggunakan sisa air wanita itu telah ada lebih dahulu, lalu datanglah hadits yang menunjukkan kebolehan sebagai penghapus hadits yang melarang, wallahu a‘lam.”

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah telah menjelaskan permasalahan ini pula dalam kitab beliau Al-Majmu’ Syar-hul Muhadzdzab (2/220-222).

Al-Imam Al-Hafizh Ibnul ‘Arabi Al-Maliki rahimahullah dalam syarahnya terhadap Sunan At-Tirmidzi (‘Aridhatul Ahwadzi, 1/72) berkata tentang permasalahan ini: “Dari sisi sanad, hadits yang membolehkan berwudhu dengan sisa wudhu wanita, seluruhnya shahih. Adapun hadits Al-Hakami, kata Al-Bukhari: ‘Abu Hajib Sawadah bin ‘Ashim Al-Ghanawi12 –demikian disebutkan Al-Imam Ahmad dan selainnya– termasuk kalangan orang-orang Mesir (Mishriyyun).’ Al-Ghifari berkata: ‘Aku tidak memandangnya shahih dari Al-Hakam bin ‘Amr.’

Adapun hukum dari permasalahan ini, jumhur ulama berkata: ‘Seorang laki-laki boleh berwudhu dengan sisa air wudhu dan mandi seorang wanita.’

Sedangkan Al-Imam Ahmad bin Hambal berkata: ‘Hal itu tidak boleh, bila si wanita telah menggunakan air tersebut sendirian (tidak menggunakannya bersama-sama)’.

Al-Hasan, Ibnul Musayyib, dan Ishaq memakruhkannya. Dan diriwayatkan kemakruhannya dari Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma, bila si wanita menggunakan air tersebut dalam keadaan ia sedang haid, junub, atau bersendiri menggunakannya. Yang menjadi sandaran mereka adalah hadits Al-Hakam yang telah lewat.

Namun hadits kami (yang membolehkan) lebih utama dari dua sisi:
Pertama: haditsnya lebih shahih.

Kedua: haditsnya lebih belakangan daripada hadits yang melarang. Dengan dalil bahwa ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak mandi dari bejana, Maimunah berkata kepada beliau: ‘Sungguh aku telah berwudhu menggunakan air tersebut’.

(Ucapan Maimunah ini) menunjukkan bahwa larangan itu telah ada sebelumnya, lalu Nabi menerangkan bahwa air itu tidak membuat junub. Berarti terangkatlah larangan yang terdahulu (sehingga hukumnya menjadi boleh,–pent.)”. Wallahu a’lam.

Sebagai kesimpulan, mandi orang yang junub atau wudhu seseorang dari satu bejana tidaklah mempengaruhi kesucian air, karena air (dalam bejana) tersebut tetap dalam keadaan suci. Sehingga laki-laki boleh mandi menggunakan sisa air wanita walaupun wanita tersebut junub. Adapun larangan yang ada, bukanlah larangan yang menunjukkan keharaman, namun larangan lit tanzih. (Taudhihul Ahkam 1/133, Subulus Salam 1/37)

Perselisihan yang ada ini khusus dalam masalah bersucinya seorang lelaki menggunakan sisa air wanita. Adapun bersucinya wanita dengan sisa air mandi laki-laki, kata Al-Imam An-Nawawi rahimahullah: “Boleh dengan kesepakatan yang ada.” Namun Al-Hafizh memberi komentar bahwa Ath-Thahawi telah menetapkan adanya perselisihan pendapat pula dalam permasalahan ini. (Tuhfatul Ahwadzi, kitab Ath-Thaharah, bab Ma Ja`a fir Rukhshah fi Dzalik).

 

Catatan
Tata cara mandi janabah bagi wanita sama dengan laki-laki. Dan tidak ada kewajiban bagi wanita untuk memasukkan air ke dalam kemaluannya ketika mandi janabah ataupun mandi haid, karena tidak adanya perintah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.  Seandainya hal tersebut wajib dilakukan, niscaya akan ada keterangannya dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Wallahu a’lam.

Bila seorang suami menggauli istrinya pada selain kemaluan si istri, dengan kata lain mencumbui istri tanpa melakukan jima’ –tentu juga bukan pada duburnya karena itu haram dan terlaknat–, apakah si suami tetap wajib mandi?

Bila seorang suami menggauli istrinya pada selain kemaluannya, yakni sama sekali tidak memasukkan zakarnya ke dalam farji istrinya, namun si suami mengeluarkan mani pada selain kemaluan istrinya, maka telah kita ketahui dari penjelasan-penjelasan yang telah lewat bahwa ia tetap wajib mandi. Dengan dalil hadits:

“Hanyalah air itu dicurahkan karena keluar air (yakni mandi itu hanyalah diwajibkan karena keluar mani,–pent).” (HR. Muslim no. 343)

Juga dengan adanya kesepakatan ulama akan wajibnya mandi karena keluar mani.
Bagaimana dengan si istri, apakah ia juga wajib mandi?

Dalam hal ini perlu perincian. Bila si istri juga mengeluarkan mani maka ia wajib mandi. Namun bila ia tidak mengeluarkan mani, dan khitannya sama sekali tidak bersentuhan (dimasuki) oleh khitan suaminya13 maka tidak ada kewajiban mandi baginya.

Ibrahim An-Nakha’i rahimahullah berkata tentang seorang suami yang menggauli istrinya pada selain kemaluan si istri lalu si suami keluar mani:

Si suami mandi, sedangkan istrinya tidak, akan tetapi ia membasuh/mencuci bagian tubuhnya yang terkena.” (Riwayat Abdurrazzaq dalam Al-Mushannaf no. 981)

Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata:

Bila si istri juga mengeluarkan mani maka ia mandi. Namun bila tidak, maka ia cukup berwudhu dan mencuci bagian tubuhnya yang terkena mani suaminya.” (Riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf 1/93).

Wallahu ta’ala a’lam bishshawab. Untuk selanjutnya dalam edisi mendatang kita akan membahas tentang mandi yang diperselisihkan kewajibannya dan mandi yang sunnah, Insya Allah.

Wallahu al-muwaffiq.

Ditulis oleh: Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Al-Atsari

 

Catatan Kaki:

1 HR. Ahmad 4/224, Abu Dawud no. 4012, An-Nasa`i no. 406. Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Abi Dawud, Shahih An-Nasa`i, Al-Irwa` 2335 dan Al-Misykat 447.

2 Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Seorang lelaki tidak boleh melihat aurat laki-laki yang lain dan seorang wanita tidak boleh melihat aurat wanita lain.” (HR. Muslim no. 766, kitab Al-Haidh, bab Tahrimun Nazhar ilal ‘Aurat)

3 HR. Al-Bukhari no. 280 dan Muslim no. 762.

4 HR. Abu Dawud no. 4017, At-Tirmidzi no. 2769 dan yang lainnya. Dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Abu Dawud, Shahih At-Tirmidzi.

5 HR. Al-Bukhari no. 261 dan Muslim no. 729.

6 HR. Muslim no. 731

7 Yaitu hadits:

“Aku dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mandi (dengan menggunakan air) dari satu bejana, dari bejana yang disebut al-faraq.”  (HR. Al-Bukhari no. 250 dan Muslim no. 725)

Kata Qutaibah: Berkata Sufyan: “Al-faraq adalah (bejana yang isinya) tiga sha’.”
8 HR. Abu Dawud no. 81 dan An-Nasa`i no. 238. Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Abi Dawud, Shahih An-Nasa`i. Dishahihkan pula oleh Asy-Syaikh Muqbil dalam Al-Jami’ush Shahih (1/547) dari riwayat yang dikeluarkan oleh Al-Imam Ahmad dalam Musnad-nya, 4/110.

9  HR. Muslim no. 732

10  HR. Abu Dawud no. 68 dan Ashabus Sunan lainnya. Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Abi Dawud dan selainnya.

11  Yaitu hadits:

“Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seorang lelaki berwudhu menggunakan sisa air wanita.”

12 Nama perawi yang meriwayatkan hadits tentang larangan laki-laki berwudhu menggunakan sisa air wanita dari Al-Hakam bin ‘Amr Al-Ghifari.

13 Sementara dalam hadits disebutkan:

“Apabila seorang laki-laki telah duduk di antara empat cabang seorang wanita kemudian ia memasukkan khitan (nya,–pent.) ke khitan (istrinya,–pent.) maka sungguh telah wajib mandi.” (Sunan Abi Dawud no.216,dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud)

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah menyatakan bahwa pewajiban mandi karena jima‘ tidak tergantung dengan keluarnya mani bahkan kapan hasyafah (pucuk dzakar) masuk ke dalam farji hingga tersembunyi, telah wajib mandi bagi laki-laki dan wanita tersebut. (Syarhu Shahih Muslim 4/41)

 

Mandi Janabah (2)

Melanjutkan pembahasan tentang mandi janabah edisi lalu, simak penjelasan berikut!

Seorang Wanita Tidak Harus Melepas Jalinan atau Kepangan Rambutnya

Tidak ada perbedaan cara mandi janabah antara laki-laki dan wanita1. Namun dalam hal ini, ada permasalahan yang berkaitan dengan rambut wanita. Bila si wanita sebelum mandi janabah menggelung atau menjalin rambutnya, apakah ia wajib melepas kepangan atau jalinannya ketika hendak mandi? Tentang ini, Ummul Mukminin Ummu Salamah radhiallahu ‘anha pernah meminta fatwa kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata:

“Ya Rasulullah, aku adalah wanita yang sangat kuat kepangan/jalinan rambutku, apakah aku harus melepaskannya saat mandi janabah?” Beliau menjawab: “Tidak perlu, namun cukup bagimu untuk menuangkan air tiga tuangan ke atas kepalamu, kemudian engkau curahkan air ke tubuhmu, maka engkau suci.”2

‘Aisyah radhiallahu ‘anha juga pernah mengingkari Abdullah bin ‘Amr radhiallahu ‘anhuma ketika sampai berita kepadanya bahwa Abdullah memerintahkan para wanita untuk melepaskan kepangan atau jalinan rambut mereka ketika mandi. ‘Aisyah radhiallahu ‘anha berkata: “Alangkah mengherankan Ibnu ‘Amr itu. Ia memerintahkan para wanita apabila mereka mandi agar melepaskan kepangan atau jalinan rambut mereka. Mengapa ia tidak perintahkan saja mereka agar mencukur rambut-rambut mereka? Sungguh dulu aku dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mandi dari satu bejana, ketika mandi itu aku tidak menambah dari sekedar menuangkan ke atas kepalaku tiga tuangan. (HR. Muslim no. 331)

Al-Imam Ahmad rahimahullah pernah ditanya, apakah wanita yang mandi janabah harus melepaskan jalinan atau kepangan rambutnya? Beliau menjawab, tidak wajib dengan dalil hadits Ummu Salamah radhiallahu ‘anha. (Al-Mughni, kitab Ath-Thaharah, masalah Wa Tanqudhul Mar`ah Sya’raha li Ghusliha minal Haidh wa Laisa ‘alaiha Naqdhuhu minal Janabah Idza Arwat Ushulaha)

Apakah Wajib Menggosok Anggota Tubuh ketika Mandi?

Menggosok anggota tubuh saat mandi diperselisihkan kewajibannya oleh ulama3. Dinukilkan wajibnya menggosok ini dari Al-Imam Malik4 dan mayoritas pengikutnya, Al-Muzani dari pengikut/murid Al-Imam Asy-Syafi’i.5 Mereka berdalil dengan hadits ‘Aisyah ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepadanya untuk mandi janabah. Kemudian beliau berkata di akhir perintah beliau tersebut:

“Wahai ‘Aisyah, basuh bagian kepalamu yang tersisa, lalu gosoklah kulitmu, dan ratakanlah.”
Mereka juga berdalilkan dengan hadits Abu Hurairah  radhiallahu ‘anhu:

“Sesungguhnya di bawah setiap rambut itu ada janabah, maka basuhlah rambut dan bersihkanlah kulit.”

Juga hadits yang berisi perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada wanita yang mandi haid untuk menggosok kepalanya dengan gosokan yang kuat, dengan membawa hadits ini kepada permasalahan menggosok tubuh saat mandi janabah.

Sementara pendapat kedua yang tidak mewajibkan penggosokan tubuh dipegangi oleh mayoritas ulama. Dan pendapat ini yang penulis kuatkan, wallahu ta’ala a’lamu bishshawab. Pendapat ini didasari dalil hadits Ummu Salamah radhiallahu ‘anha tentang tidak dibukanya kepangan rambut, di mana beliau menyampaikan bahwa cukup untuk dituangkan air saja sebanyak tiga kali tuangan pada waktu mandi janabah.

Dan hadits ini merupakan dalil yang kuat dalam permasalahan ini.
Sementara dalil yang dibawakan oleh pihak yang mewajibkan, yakni hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anha adalah hadits mursal, di mana pada sanadnya ada Abdullah bin ‘Ubaid bin ‘Umair. Dia tidak bertemu ‘Aisyah radhiallahu ‘anha. Sedangkan hadits Abu Hurairah  radhiallahu ‘anhu pada sanadnya ada Al-Harits bin Wajih, dan dia ini dha’if. Adapun hadits tentang menggosok kepala bagi wanita yang mandi haid hanyalah berlaku untuk mandi haid saja. Dan mengkiaskan mandi janabah terhadap pembersihan najis adalah kias yang amat jauh, sebagaimana pengkiasan tersebut juga menjadi hujjah bagi mereka yang mewajibkannya.

Ibnu Hazm rahimahullah mengatakan: “Tidak wajib bagi orang yang mandi (janabah) untuk menggosok anggota tubuhnya. Ini merupakan pendapat Sufyan Ats-Tsauri, Al-Auza’i, Ahmad bin Hanbal, Dawud, Abu Hanifah, dan Asy-Syafi’i.” (Al-Muhalla, 1/276)

Al-Imam Ash-Shan’ani rahimahullah berkata: “Ucapan ‘Aisyah: (kemudian beliau mencurahkan air), maknanya mengucurkan/mengalirkan/mencurahkan. Ini dijadikan dalil atas tidak wajibnya menggosok. Di samping memang istilah (ghusl/mandi) tidaklah masuk di dalamnya menggosok. Karena Maimunah menyatakannya dengan , sedangkan ‘Aisyah menyatakannya dengan , sedangkan maknanya satu. itu tidak masuk di dalamnya penggosokan, maka demikian pula …” (Subulus Salam, 1/141)

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata: “Madzhab kami menyatakan bahwa menggosok anggota badan saat mandi dan wudhu itu sunnah, tidak wajib. Seandainya seseorang menuangkan air ke atas tubuhnya hingga air itu sampai ke tubuhnya walaupun ia tidak menyentuh air dengan kedua tangannya, ia mencelupkan dirinya ke dalam air6 yang banyak, ia berdiri di bawah pancuran, atau di bawah curah hujan, dengan niat mandi janabah hingga air membasahi rambut dan kulitnya, maka hal itu mencukupi wudhu dan mandinya.

Demikian pendapat ulama seluruhnya kecuali Al-Imam Malik dan Al-Muzani. Karena keduanya mensyaratkan sahnya mandi dan wudhu bila disertai menggosok anggota tubuh yang dibasuh. Juga dengan alasan bahwa mandi itu adalah menjalan-kan tangan di atas tubuh sehingga orang yang berdiri di bawah curah hujan tidaklah ia dikatakan mandi. Al-Muzani berkata: “Karena dalam tayammum itu disyaratkan menjalankan tangan7, maka demikian pula dalam mandi dan wudhu.” (Al-Majmu’, 2/214)

Al-Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi rahimahullah berkata: “Tidaklah wajib menjalankan/mengedarkan tangan di atas tubuh ketika wudhu dan mandi, bila memang diyakini atau diduga kuat air sampai ke seluruh tubuh. Ini pendapat Al-Hasan, An-Nakha’i, Asy-Sya’bi, Hammad, Ats-Tsauri, Al-Auza’i, Asy-Syafi’i, Ishaq, dan Ashabur Ra`yi.” (Al-Mughni, kitab Ath-Tharahah, bab La Yajibu `alaihi Imraru Yadihi `ala Jasadihi fil Ghusl)

Hemat dalam Pemakaian Air

Umat sepakat bahwa tidak ada persyaratan kadar banyaknya air untuk wudhu dan mandi.8 Namun disenangi bagi seseorang untuk hemat dan tidak berlebih-lebihan dalam menggunakan air ketika wudhu dan mandinya. Anas bin Malik  radhiallahu ‘anhu berkata:

“Adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu dengan satu mud9 dan mandi dengan satu sha’ sampai lima mud.”10

Boleh Mandi Hanya Sekali Setelah Men-jima’i Beberapa Istri
Anas bin Malik  radhiallahu ‘anhu berkata:

“Adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengelilingi istri-istrinya (menjima’i mereka secara bergantian-pent.) dengan satu kali mandi.”11

Al-Imam Al-Hafizh Ibnul Qaththan menukilkan adanya ijma’ tentang suami yang menjima’i seorang istrinya secara berulang-ulang, atau menjima’i beberapa istrinya, boleh baginya untuk mandi sekali saja. (Al-Iqna’ fi Masa`ilil Ijma’, 1/99)

Namun berwudhu ketika akan mengulangi jima’ merupakan hal yang disenangi untuk diamalkan, sebagaimana telah dijelaskan pada edisi yang lalu. Dan demikian pula halnya mengulang mandi setelah menjima’i masing-masing istri, hal ini lebih baik dan lebih mensucikan. Sebagaimana ditunjukkan hadits Abu Rafi’ shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata:

“Sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam suatu hari mengelilingi istrinya (menggauli mereka satu persatu secara bergantian,-pent.), beliau mandi setelah menjima’i istri yang ini, dan mandi lagi setelah menjima’i istri yang satunya. Aku bertanya: “Wahai Rasulullah, tidakkah engkau mencukupkan dengan satu kali mandi (setelah menjima’i semua istri-pent.)?” Beliau menjawab:

“Yang demikian ini lebih suci, lebih baik, dan lebih mensucikan.”12

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Ditulis oleh: Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Al-Atsari

—————————————————————————————————————————–

Catatan Kaki:

1 Al-Hawil Kabir 1/225, Al-Majmu’ 2/215

2 HR. Muslim no. 330

3 Al Iqna’ fi Masa`ilil Ijma’, 1/99

4 Al-Mudawwanah Al-Kubra 1/133, Adz-Dzakhirah 1/309

5 Bidayatul Mujtahid, hal. 41

6 Asy-Sya’bi, An-Nakha’i dan Al-Hasan berpendapat bila seseorang yang junub menyeburkan dirinya ke dalam air maka mencukupinya dari mandi janabah. (Al-Muhalla 1/277)

7 Namun pendapat yang benar, menjalankan tangan bukanlah syarat dalam tayammum (Al-Majmu’ 2/214).

8 Al-Majmu’ 2/219, Al Iqna’ fi Masa`ilil Ijma’, 1/100.

9 1 mud adalah ukuran sepenuh dua telapak tangan laki-laki yang sedang, sementara 1 sha sama dengan 4 mud.

10 HR. Al-Bukhari no. 201 dan Muslim no. 735

11 HR. Muslim no. 706 dan mandinya disini dilakukan ketika selesai jima yang akhir.

12 HR. Abu Dawud no. 219, dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Abu Dawud

 

Mandi Janabah (1)

Mandi janabah tentu bukan hal yang asing bagi orang yang sudah dewasa (baligh). Namun bagaimana mengamalkan mandi janabah seperti yang dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tentu masih sedikit yang tahu. Amat disayangkan bila amalan yang termasuk sering dilakukan ini ternyata dilakukan secara asal-asalan, tanpa dilandasi ilmu yang benar. Berikut ini penjelasan bagaimana tata cara mandi janabah seperti yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Tata Cara Mandi Janabah

Ada dua tata cara dalam mandi janabah.

Pertama: Tata cara minimal yang hanya meliputi perkara yang wajib saja

Kedua: Tata cara sempurna yang mencakup kewajiban dan sunnah-sunnah mandi.1

Yang mencukupi untuk dilakukan dalam mandi janabah adalah membasuh seluruh anggota badan, menyampaikan air ke kulit dan rambut. Dan ini merupakan perkara wajib dalam mandi janabah2. Demikian kesepakatan yang ada.3 Al-Imam Asy-Syaukani rahimahullah berkata: “Mandi tidaklah sempurna kecuali dengan meratakan air ke seluruh tubuh.” (As-Sailul Jarrar, 1/287)

Adapun mandi janabah seperti tata cara yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hukumnya sunnah4 dan “Sepantasnya seseorang yang mandi melakukan mandinya menurut tata cara yang dinukilkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dengan bentuk yang diriwayatkan dari beliau dalam hadits-hadits yang shahih tsabit dalam Ash-Shahihain dan selain keduanya. Yang di dalamnya terkandung pendahuluan anggota wudhu, kemudian menuangkan air ke atas kepala, lalu mencuci bagian kanan kemudian yang kiri. Yang demikian ini adalah sunnah yang shahih.” (As-Sailul Jarrar, 1/292-293)

Ada beberapa hadits yang menyebutkan tata cara mandi janabah yang pernah dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, antara lain hadits yang disampaikan oleh dua istri beliau ‘Aisyah dan Maimunah radhiallahu ‘anhuma yang diriwayatkan dalam Ash-Shahihain. Ulama bersepakat, tata cara mandi yang disebutkan dalam hadits keduanya ini merupakan tata cara yang paling sempurna.5

Aisyah radhiallahu ‘anha berkata:

“Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bila hendak mandi janabah, beliau mulai dengan mencuci kedua tangannya, kemudian berwudhu sebagaimana wudhu untuk shalat, lalu beliau memasukkan jari-jemarinya ke dalam air dan menyela-nyela pangkal rambutnya dengan jari-jemari yang telah dibasahi air tersebut. Setelahnya beliau menuangkan air ke kepala beliau sebanyak tiga tuangan dengan kedua tangan beliau (menciduknya), kemudian barulah menuangkan air ke seluruh tubuh beliau.”6

Dalam riwayat yang dikeluarkan Al-Imam Muslim,7 disebutkan dengan lafadz:

“Beliau mulai dengan mencuci kedua tangannya –dalam satu riwayat: sebelum memasukkannya ke dalam bejana (tempat air untuk mandi) –kemudian dengan tangan kanannya beliau menuangkan air ke tangan kirinya, lalu mencuci kemaluannya, kemudian berwudhu seperti wudhu beliau untuk mengerjakan shalat.”

Dalam hadits Maimunah radhiallahu ‘anha disebutkan:

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan air untuk mandi janabah. Beliau menuangkan air dengan tangan kanannya ke atas tangan kirinya dua atau tiga kali. Kemudian mencuci kemaluannya. Setelahnya beliau menggosokkan tangannya ke bumi/tanah –atau dinding/tembok– dua atau tiga kali. Lalu beliau madhmadhah (berkumur-kumur) dan istinsyaq (memasukkan air ke hidung lalu istinsyar yakni mengeluarkannya kembali–pent.) Beliau mencuci wajahnya dan dua lengannya. Kemudian menuangkan air ke atas kepalanya. Lalu membasuh tubuhnya. Setelahnya beliau menyingkir/berpindah dari tempatnya, lalu mencuci kedua kakinya. Maimunah berkata: Aku pun memberikan kain/handuk kepada beliau (untuk mengusap/mengelap tubuh beliau) namun beliau tidak menginginkannya. Maka mulailah beliau mengibaskan air dengan tangannya.”8

Dari berita yang disampaikan kedua Ummul Mukminin di atas, dapat kita simpulkan bahwa tata cara mandi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam perinciannya adalah sebagai berikut:

  1.  Mencuci kedua tangan sebelum dimasukkan/dicelupkan ke dalam bejana/tempat air.
  2.  Menuangkan air dengan tangan kanan ke tangan kiri, lalu digunakan untuk mencuci kemaluan. Ini dilakukan sebanyak dua atau tiga kali.
  3.  Tangan kiri yang digunakan untuk mencuci kemaluan digosokkan/ diusapkan ke bumi/tanah atau ke tembok sebanyak dua atau tiga kali. Dan pengusapan ini dilakukan dengan sungguh-sungguh sebagaimana ditunjukkan dalam hadits:

“Kemudian beliau mengusap tanah dengan tangan kirinya lalu menggosoknya dengan gosokan yang sungguh-sungguh….”9

  1.  Berwudhu sebagaimana wudhu untuk mengerjakan shalat, yang berarti melakukan madhmadhah (berkumur-kumur), istinsyaq (memasukkan air ke hidung) dan istintsar (mengeluarkan air dari hidung), mencuci wajah, dua lengan, mengusap kepala dan telinga.
  2.  Kemudian beliau memasukkan jari-jemarinya ke dalam air lalu menyela-nyela pangkal rambutnya. Faidah penyela-nyelaan ini adalah menyampaikan air ke rambut dan kulit kepala.10 Hal ini dilakukan sampai dipastikan kulit kepala terkena air. Setelah itu beliau menuangkan air ke kepala sebanyak tiga kali sebagaimana disebutkan dalam hadits:

“Kemudian beliau menyela-nyela rambutnya dengan tangannya hingga ketika beliau memastikan telah membasahi kulit kepalanya, beliau pun menuangkan air ke kepalanya tiga kali.”11

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkata:

“Adapun aku, aku menuangkan air ke kepalaku tiga kali.” Dan beliau mengisyaratkan dengan kedua tangannya.12

Ketika membasuh kepala dimulai dari belahan rambut bagian kanan kemudian bagian kiri13 sebagaimana ditunjukkan dalam hadits:

“Rasulullah mengambil air dengan telapak tangannya lalu mulai menuang-kannya ke belahan kepalanya yang kanan kemudian yang kiri.”14

  1.  Membasuh seluruh tubuh
  2.  Mengakhirkan mencuci kaki, sebagaimana ditunjukkan dalam hadits Maimunah radhiallahu ‘anha:

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu seperti wudhu untuk mengerjakan shalat hanya saja beliau tidak mencuci kakinya. Dan (sebelumnya) beliau telah mencuci kemaluannya dan kotoran yang mengenainya. Kemudian beliau menuangkan air ke atas tubuhnya, setelahnya beliau memindahkan kedua kakinya (berpindah dari tempat semula), lalu mencuci keduanya.”15

Ulama berbeda pendapat tentang hukum mengakhirkan mencuci kaki dalam    mandi janabah ini. Jumhur ulama berpandangan mustahab hukumnya. Al-Imam Malik rahimahullah berpendapat bila tempatnya tidak bersih maka mustahab mengakhirkannya, bila bersih (tidak kotor) maka didahulukan (ketika wudhu dalam mandi janabah).

Al-Imam Ahmad rahimahullah memiliki beberapa pendapat dalam masalah ini.

Dalam  satu riwayat beliau mengatakan: “Lebih menyenangkan bagiku untuk mencuci     kedua kaki setelah mandi dengan dalil hadits Maimunah radhiallahu ‘anha.” Dalam riwayat lain beliau menyatakan: “Yang diamalkan adalah hadits ‘Aisyah16 yang di dalamnya menunjukkan bahwa sebelum mandi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu seperti wudhunya untuk mengerjakan shalat.”

Pada tempat lain Al-Imam Ahmad mengatakan: “Mencuci kedua kaki pada tempatnya, setelah mandi dan sebelum mandi sama saja.” (Al-Mughni, kitab Ath-Thaharah, pasal Al-Ghusli minal Janabah)

Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah berkata mengomentari hadits Maimunah: “Hadits ini merupakan nash yang menunjukkan bolehnya mengakhirkan pencucian kedua kaki dalam mandi janabah, berbeda dengan hadits ‘Aisyah. Dalam perkara ini bisa saja Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan keduanya, sehingga terkadang beliau mencuci kedua kakinya setelah mencuci anggota wudhu yang lain (mengawalkan) dan terkadang beliau mengakhirkan mencuci keduanya ketika telah selesai mandi, wallahua’lam.” (Al-Irwa’, 1/362)

Wallahu ta’ala ‘alamu bishshawab, dan pendapat ini yang penulis kuatkan.
Adapun hikmah diakhirkannya mencuci kedua kaki, Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullah berkata: “Hikmah diakhirkannya mencuci kedua kaki agar dalam mandi janabah itu diawali dan diakhiri dengan membasuh anggota wudhu.” (Fathul Bari, 1/470)

  1. Tidak berwudhu lagi setelah mandi. ‘Aisyah radhiallahu ‘anha mengabarkan:

“Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mandi dan setelahnya shalat dua rakaat (qabliyyah subuh) dan shalat shubuh dan aku tidak melihat beliau memperbaharui wudhu setelah mandi.”17

Dalam riwayat At-Tirmidzi disebutkan oleh ‘Aisyah radhiallahu ‘anha:

“Adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau tidak lagi berwudhu setelah mandi”.18

Al-’Allamah Al-’Azhim Abadi rahimahullah berkata dalam syarahnya terhadap Sunan Abi Dawud: “Tidak diragukan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan wudhu saat mandinya. Berwudhu sebelum menyempurnakan mandi (janabah) merupakan sunnah yang tsabitah (shahih) dari beliau. Adapun berwudhu setelah selesai mandi, perbuatan demikian tidak dikenal dan tidaklah shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (‘Aunul Ma’bud, kitab Ath-Thaharah, bab Fil Wudhu Ba’dal Ghusl)

Al-Imam Al-Hafizh Ibnul Qaththan rahimahullah berkata: “Ahlul ilmi sepakat sunnahnya wudhu sebelum mandi dalam rangka mencontoh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Adapun setelah mandi maka tidaklah disunnahkan” (Al-Iqna’ fi Masa`ilil Ijma’, 1/99-100). Demikian pula disebutkan dalam Adz-Dzakhirah lil Al-Imam Al-Qarafi (1/310).

Dengan demikian bila seseorang hendak mengerjakan shalat setelah mandi janabah maka wudhu yang dilakukan saat mandi janabah mencukupinya selama wudhu tersebut belum batal, sehingga ia tidak perlu mengulangi wudhu nya setelah mandi.

  1. Mengeringkan air dari tubuh dengan mengeringkan/mengibaskan air dengan tangannya. Dari Ucapan Maimunah radhiallahu ‘anha tentang perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika selesai mandi:

(Mulailah beliau melakukan begini terhadap air yang menempel di tubuhnya) yakni  (mengibaskannya)19 ada dalil tidak terlarangnya mengibaskan atau menepiskan air dengan tangan dari anggota tubuh setelah wudhu dan mandi. (Subulus Salam, 1/141).

Adapun menyekanya dengan menggunakan kain, handuk atau yang selainnya maka kita dapati ulama berselisih pendapat dalam hal ini. Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata: “Para shahabat dan orang-orang selain mereka berbeda pendapat tentang tansyif (menyeka tubuh dengan kain/handuk setelah mandi) menjadi tiga madzhab/pendapat:

Pertama: Tidak mengapa melakukannya setelah berwudhu dan mandi, demikian pendapat Anas bin Malik dan Ats-Tsauri.

Kedua: Makruh untuk dilakukan setelah wudhu dan mandi, sebagaimana pendapat Ibnu ‘Umar dan Ibnu Abi Laila.

Ketiga: Dimakruhkan dalam wudhu namun tidak makruh bila dilakukan setelah mandi, demikian pandangan Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma. (Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim, 3/222)

Dalam hal ini kami, penulis, lebih memilih pendapat yang pertama karena tidak adanya dalil yang melarang dalam masalah ini. Adapun penolakan beliau bukan berarti larangan, namun beliau lebih menyenangi mengibaskannya dengan tangan beliau atau karena perkara yang lainnya. Sehingga apabila mengibaskan dengan tangan dibolehkan (mubah) berarti tansyif semisalnya juga dibolehkan, karena mengibaskan dengan tangan dan menyeka dengan handuk sama-sama bertujuan menghilangkan air yang menempel di tubuh, wallahu a’lam.

Al-Imam Ibnu Daqiqil ‘Ied menyatakan seandainya tansyif itu makruh niscaya dimakruhkan pula menepiskan air dengan tangan karena akan menghilangkan air dari anggota tubuh. Adapun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menolak kain/ handuk yang ditawarkan bukan karena beliau memakruhkan tansyif namun karena perkara lain, bisa jadi karena keadaan kain/handuk yang ditawarkan atau selainnya. (Ihkamul Ahkam, kitab Ath-Thaharah, bab Al-Janabah, hadits ke-30)

Demikian tata cara mandi janabah yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari awal sampai akhir yang mustahab/sunnah yang dapat kami kumpulkan untuk dilakukan oleh seseorang yang hendak mandi janabah.

(Insya Allah bersambung)

Ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Ishaq Muslim Al-Atsari

Catatan Kaki:

1 Al-Mughni, kitab Ath-Thaharah, Pasal Al-Ghusli minal Janabah, Ar-Raudhul Murbi’ 1/61, Asy-Syarhul Mumti’ 1/ 230.

2 Al-Hawil Kabir 1/220, Al-Majmu’ 2/212, Al-Iqna’ fi Masa`ilil Ijma’ 1/99, At-Ta’liqat Ar-Radhiyyah ‘ala Ar-Raudhatun Nadiyyah 1/189, As-Sailul Jarar 1/292, Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Muyassarah fi Fiqhil Kitab
was Sunnah Al-Muthahharah, 1/198

3 Al-Iqna’ fi Masa`ilil Ijma’, 1/99

4 Al-Hawil Kabir 1/227, Al-Majmu’ 2/213, Al- Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Muyassarah, 1/199

5 Bidayatul Mujtahid, hal. 41

6 HR. Al-Bukhari no. 248 dan Muslim no. 716

7 No. 716, 719

8 HR. Al-Bukhari no. 274 dan Muslim no. 720

9 HR. Muslim no. 720

10 Fathul Bari, 1/469

11 HR. Al-Bukhari no. 272dan Muslim no. 716

12 HR. Al-Bukhari no. 254 dan Muslim no. 738

13 Ini menunjukkan disenanginya mendahulukan anggota tubuh yang kanan dalam mandi janabah. (At-Ta’liqat Ar-Radhiyyah ‘ala Ar-Raudhatun Nadiyyah, 1/192)

14 HR. Al-Bukhari no. 258 dan Muslim no. 723

15 HR. Al-Bukhari no. 249 dan Muslim no. 720

16Hadits ‘Aisyah menunjukkan ketika berwudhu dalam mandi janabah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukannya secara sempurna dengan mencuci kedua kaki beliau sehingga pencucian kaki ini dilakukan di awal mandi bukan pada akhirnya, wallahu a’lam.
17 HR. Abu Dawud no. 250, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud

18 HR. At-Tirmidzi no. 107, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi

19 HR. Muslim no. 722

 

Mandi Janabah (2)

Edisi lalu telah membahas sebagian hal yang berkaitan dengan orang junub. Berikut ini beberapa permasalahan yang masih tersisa tentang janabah.

  1. Membaca Al-Qur`an

Ahlul ilmi berselisih pendapat tentang boleh tidaknya seorang yang junub membaca al-Qur`an. Mayoritas ulama dari empat madzhab (jumhur ulama) berpendapat tidak boleh. Pendapat ini diriwayatkan dari ‘Umar ibnul Khaththab, ‘Ali bin Abi Thalib dan selain keduanya. Diriwayatkan pula pendapat ini dari Al-Hasan Al-Bashri, Qatadah, An-Nakha’i dan selain mereka. Al-Imam Malik berpendapat, wanita haid boleh membaca al-Qur`an sesuai keinginannya, dan orang yang junub dibolehkan membaca dua ayat dan semisalnya. Sementara Abu Hanifah berpandangan hanya dibolehkan bila membacanya tidak sempurna satu ayat.1 (Al-Muhalla, 1/95, Al-Majmu’ 2/182, Al-Mughni kitab Ath-Thaharah Fashl Yuhramu ‘alal Junub Qira‘ah Ayah, Nailul Authar 1/317, Fatwa Lajnah Ad-Da‘imah 4/106-108, Majmu’ Fatawa Asy-Syaikh Ibnu Baz 10/208-211)

Adapun mereka yang melarang sama sekali bagi orang junub untuk membaca al-Qur`an berdalil dengan hadits ‘Ali radhiallahu ‘anhu, ia berkata:

“Rasulullah n keluar dari WC, lalu beliau membaca al-Qur`an dan makan bersama kami. Dan tidak ada sesuatu yang menghalangi beliau dari al-Qur`an kecuali janabah.”2

Namun hadits ini dhaif (lemah). Al-Imam Asy-Syaukani menyatakan hadits ini diperbincangkan keshahihannya (mutakallam fihi), dan juga dari sisi marfu’ atau mauqufnya (Nailul Authar 1/317). Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah mendhaifkannya dalam Dha’if Kutubus Sunan dan Irwa`ul Ghalil no. 485.

Mereka yang melarang juga berdalil dengan hadits:

“Orang yang haid dan junub tidak boleh membaca sedikit pun dari al-Qur`an.”3

Ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Ishaq Muslim Al-Atsari

——————————————————————————————————————————–

Catatan kaki

1 Al-Imam Ibnu Hazm menyatakan bahwa semua pendapat ini salah, karena tidak didukung oleh dalil dari al-Qur`an, tidak pula dari as-Sunnah baik yang shahih ataupun dhaif, tidak ada pula ijma’, ataupun ucapan shahabat ataupun dari qiyas. Karena sebagian ataupun satu ayat adalah bagian dari al-Qur`an juga tanpa diragukan, lalu mengapa ada pembedaan satu ayat boleh sedangkan lebih dari satu ayat tidak boleh? Demikian pula pembedaan yang mereka lakukan antara wanita haid dengan orang junub. Wanita haid boleh membaca al-Qur`an dengan alasan masa haid itu panjang. Perkara ini mustahil karena bila baca al-Qur`an itu haram bagi wanita haid maka tidak dibolehkan baginya membacanya sepanjang masa haidnya. Sedangkan bila baca al-Qur`an halal baginya maka tidak ada maknanya berhujjah dengan panjangnya masa haid. (Al-Muhalla 1/95)

2 HR. An-Nasa`i no. 260, Abu Dawud no. 229 dan yang lainnya.

3 HR. At-Tirmidzi no. 131 dan Ibnu Majah no. 595, 596.

4 HR. Abu Dawud no. 17. Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani, Ash-Shahihah no. 834

5 Telah disebutkan haditsnya secara lengkap.

6 HR. Al-Atsram dan Ad-Daraquthni secara muttashil, dan Al-Imam Malik dalam Al-Muwaththa` secara mursal. Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Al-Irwa` no. 122.

7 HR. Al-Bukhari no. 2990 dan Muslim no. 4816.

8 HR. Al-Bukhari no. 290 dan Muslim no. 702

9 HR. Muslim no. 689.

10 HR. Muslim no. 705.

11 Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 263

 

 

Mandi Janabah

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Ishaq Muslim Al-Atsari)

 

Bolehkah seseorang yang tengah junub membaca Al Qur’an, masuk masjid, dan berdzikir? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini bisa jadi sering muncul di tengah masyarakat kita. Lalu apa jawabnya? Simak kajian berikut!

Dalam edisi yang lalu telah kita ketahui bahwa di antara hal-hal yang mewajibkan mandi adalah keluar mani, baik karena jima’ atau selainnya (ihtilam), dalam keadaan jaga ataupun tidur, dan bertemunya khitan seorang lelaki dan khitan seorang wanita, baik keluar mani (inzal) ataupun tidak. Pada pembahasan kali ini kita akan membahas permasalahan yang berkaitan dengan janabah ataupun junub.
Junub secara bahasa merupakan lawan dari qurb dan qarabah yang bermakna dekat, sehingga junub artinya jauh. Istilah junub secara syar’i, diberikan kepada orang yang mengeluarkan mani atau orang yang telah melakukan jima’. Orang yang demikian dikatakan junub dikarenakan menjauhi dan meninggalkan apa yang dilarang pelaksanaannya oleh syariat dalam keadaan junub tersebut. (Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah, 16/47)
Dalam pembicaraan tentang janabah dan seorang yang junub, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, di antaranya:

Perkara yang Tidak Dibolehkan bagi Seorang yang Junub
1.    Shalat
Haram bagi seorang yang junub untuk melakukan shalat, baik shalat wajib ataukah shalat sunnah/ nafilah. Karena thaharah merupakan syarat sahnya shalat, sedangkan orang yang junub tidak dalam keadaan suci. Oleh karena itu, Allah I memerintahkan orang yang junub untuk bersuci dalam firman-Nya:

“Jika kalian junub maka bersucilah.” (Al-Maidah: 6)
Rasulullah r juga telah bersabda:

“Tidak diterima shalat tanpa bersuci.”1
Demikian ijma’ ahlul ilmi. Al-Imam Ibnul Qaththan t berkata: “Ahlul ilmi tidak berbeda pendapat tentang tidak sahnya shalat seseorang yang junub, sampai ia bersuci.” (Al-Iqna’ fi Masa`ilil Ijma’, 1/97)

2.    Thawaf di Baitullah
Orang yang sedang junub tidak boleh melakukan thawaf di Baitullah, baik thawaf yang wajib atau nafilah. Karena thawaf itu semakna dengan shalat, sebagaimana sabda Rasulullah r:

“Thawaf di Baitullah itu shalat maka hendaklah kalian mempersedikit berbicara saat thawaf.”2
Dalam riwayat At-Tirmidzi:

“Thawaf di sekitar Baitullah itu seperti shalat, hanya saja kalian dibolehkan berbicara saat thawaf. Siapa yang berbicara saat thawaf, maka janganlah ia berbicara kecuali kebaikan.”3

Sehingga bila ada seseorang thawaf dalam keadaan junub, thawafnya tersebut tidaklah sah. Demikian pendapat madzhab Malikiyyah, Syafi’iyyah dan Hanabilah. Adapun menurut madzhab Hanafiyyah, thawafnya tersebut sah namun ia wajib menyembelih badanah (unta atau sapi), karena thaharah dalam thawaf menurut mereka bukanlah syarat tapi hanyalah kewajiban. (Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah 16/52, Al-Majmu’ 2/178, Adz-Dzakhirah, karya Al-Imam Al-Qarafi 3/339, Jami’ Fiqhil Imam Ibni Qayyim Al-Jauziyyah 1/303)

3.    Berdiam di masjid
Ulama terbagi dalam tiga pendapat tentang hukum orang yang junub masuk ke dalam masjid:
1. Melarang sama sekali, walau hanya sekedar lewat. Demikian pendapat Al-Imam Malik, Abu Hanifah dan pengikutnya (Al-Mudawwanah Al-Kubra 1/137, Adz Dzakhirah 1/314, Nailul Authar 1/321). Namun, wallahu a’lam, kami tidak mengetahui adanya dalil yang melarang secara mutlak bagi orang junub untuk masuk ke dalam masjid walau hanya sekedar lewat, kecuali hadits:

“Aku tidak menghalalkan masjid bagi wanita haid dan tidak pula bagi orang yang junub.”4
Dan hadits ini didhaifkan oleh sekelompok ulama, di antaranya Al-Imam Al-Baihaqi, Ibnu Hazm dan Abdul Haq Al-Asybili. Bahkan Ibnu Hazm berkata: “Hadits ini batil.” (Irwa`ul Ghalil 1/162)

2. Melarang, namun dibolehkan bila hanya sekedar lewat, tidak berdiam di dalam masjid. Demikian pendapat Al-Imam Asy-Syafi’i dan jumhur ahlul ilmi, baik ia punya kebutuhan untuk lewat atau tidak. Sedangkan Al-Imam Ahmad mensyaratkan boleh lewat bila ada kebutuhan. Kebolehan lewat ini dinukilkan pula dari Ibnu Mas’ud, Ibnu ‘Abbas, Ibnul Musayyib, Ibnu Jubair dan Al-Hasan. (Al-Umm, kitab Ath-Thaharah, bab Mamarril Junub wal Musyrik ‘alal Ardhi wa Masyihima ‘alaihima, Al-Majmu’ 2/178,184, Al-Mughni pasal Hukmi Labtsil Junub wal Haidh fil Masjid, Ar-Raudhul Murbi’ 1/60, Asy-Syarhul Mumti’ 1/227, Nailul Authar 1/320)

3. Membolehkan secara mutlak, lewat ataupun berdiam di masjid. Demikian pendapat Dawud Azh-Zhahiri, Ahmad, Al-Muzani dan Asy-Syaikh Al-Albani dari kalangan mutaakhirin. (Syarhus Sunnah 2/46, Subulus Salam 1/142, Nailul Authar 1/322, Tamamul Minnah hal. 119)
Perbedaan pendapat antara pendapat yang kedua dengan pendapat yang ketiga disebabkan perbedaan dalam memahami ayat Allah I:

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mendekati/ mengerjakan shalat sedangkan kalian dalam keadaan mabuk sampai kalian mengerti apa yang kalian ucapkan, (dan jangan pula) orang yang junub terkecuali sekedar berlalu saja hingga kalian mandi.” (An-Nisa`: 43)

Mereka yang berpendapat bolehnya orang junub masuk masjid bila hanya sekedar lewat (seperti pendapatnya Al-Imam Asy-Syafi’i dan yang lainnya) memahami bahwa kata ash-shalah yang tersebut di dalam ayat (jangan kalian mendekati ash-shalah) adalah majaz (bukan makna yang sebenarnya). Sehingga di sana ada kata yang mahdzuf muqaddar (dihapus/dihilangkan yang kata tersebut bisa ditaqdirkan/ diperkirakan), yaitu (tempat shalat) sehingga yang dimaksud dalam ayat ini adalah (jangan kalian mendekati tempat shalat). Namun bila orang yang junub sekedar lewat di tempat shalat tersebut/ masjid, maka diperkenankan karena adanya pengecualian dalam ayat: (kecuali hanya sekedar lewat). Dan pendapat inilah yang kami pilih, wal ‘ilmu ‘indallah.

Adapun mereka yang membolehkan secara mutlak seperti pendapat madzhab Zhahiriyyah, memahami ayat tersebut sesuai dengan hakikatnya, tidak ada yang majaz dan tidak ada yang mahdzuf. Sehingga ayat maknanya adalah (jangan kalian mengerjakan shalat). Adapun yang dikecualikan dalam pelarangan adalah musafir yang tidak mendapatkan air sementara ia sedang junub, maka dibolehkan baginya menger-jakan shalat walaupun ia belum mandi janabah (karena tidak ada air) dengan bertayammum. (Al-Umm, kitab Ath-Thaharah, bab Mamarril Junub wal Musyrik ‘alal Ardhi wa Masyihima ‘alaihima, Jami’ul Bayan fi Ta`wilil Qur`an 4/99-102, An-Nukat wal ‘Uyun Tafsir Al-Mawardi 1/489-490, Tafsir Al-Qur`anil ‘Azhim 2/224-226, Fathul Qadir 1/625-627)

Faidah
Adapun bila orang yang junub itu telah berwudhu maka dibolehkan baginya berdiam di masjid. ‘Atha` t berkata: “Aku melihat orang-orang dari kalangan shahabat Rasulullah duduk di masjid dalam keadaan mereka junub. (Hal itu mereka lakukan) bila mereka telah berwudhu seperti wudhu untuk shalat.” Karena wudhu yang dilakukan akan meringankan janabah. Demikian pendapat dalam madzhab Al-Imam Ahmad dan selainnya. (Al-Mulakhkhash Al-Fiqhi 1/26, Jami’ Fiqhil Imam Ibni Qayyim Al-Jauziyyah 1/230, Al-Mughni fashl Idza Tawadha`a Junub falahu Al-Lubts fil Masjid, Nailul Authar 1/322)

Perkara yang Dibolehkan bagi Seorang yang Junub
1.    Berdzikir pada Allah I
Boleh bagi orang yang junub untuk berdzikir kepada Allah I, karena Ummul Mukminin ‘Aisyah x mengatakan:

“Adalah Nabi n berdzikir kepada Allah U pada setiap keadaannya.”5

Al-Imam An-Nawawi t berkata: “Hadits ini merupakan dasar dibolehkannya berdzikir kepada Allah I dengan bertasbih, bertahlil, bertakbir, bertahmid dan semisalnya dzikir-dzikir. Hal ini boleh menurut kesepakatan kaum muslimin.” (Al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim, 3/290)

Dalam Al-Majmu’ (2/189), beliau juga menyatakan adanya kesepakatan kaum muslimin tentang bolehnya orang junub dan haid untuk bertasbih, bertahlil, bertakbir, bertahmid, bershalawat atas Rasulullah r dan mengucapkan dzikir-dzikir yang lainnya selain Al-Qur`an6.
Rasulullah r telah menuntunkan:

“Siapa yang terbangun di waktu malam lalu berucap: Tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah saja, tidak ada sekutu bagi-Nya, hanya milik-Nyalah kerajaan dan hanya milik-Nya lah segala pujian dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Segala puji bagi Allah, Maha Suci Allah, tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah, Allah Maha Besar, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah. Kemudian ia berkata: Ya Allah, ampunilah aku. Atau ia berdoa, niscaya akan dikabulkan doanya tersebut. Bila ia berwudhu dan shalat niscaya diterima shalatnya.”7

Dari tuntunan Rasulullah r ini, kita pahami bahwa bila seseorang hendak berdzikir kepada Allah I tidaklah disya-ratkan harus berwudhu terlebih dahulu. Dan tidaklah disyaratkan ia harus suci dari hadats kecil ataupun hadats besar, karena orang yang tidur kemudian terbangun bisa jadi ia dalam keadaan junub karena sebelum tidur ia jima’ dengan istrinya atau ia telah ihtilam.

2.    Berjalan di jalan umum dan berjabat tangan
Tidak mengapa bagi orang junub untuk keluar dari rumahnya, berjalan di jalan umum, duduk bersama orang-orang dan berbincang-bincang dengan mereka, sebagaimana yang pernah terjadi pada Abu Hurairah z. Ia keluar dari rumahnya dalam keadaan junub dan berjalan bersama Rasulullah r di jalanan. Abu Hurairah berkata:

“Rasulullah r bertemu denganku ketika aku dalam keadaan junub. Beliau memegang tanganku, akupun berjalan bersama beliau sampai beliau duduk. Setelah itu aku menyelinap dengan sembunyi-sembunyi dan pulang ke rumah, lalu aku mandi, kemudian datang lagi menemui beliau yang ketika itu sedang duduk. Beliau bertanya: “Dari mana engkau tadi, wahai Aba Hirr (yakni Abu Hurairah)?” Aku menceritakan apa yang kualami. Beliau bersabda: “Subhanallah, wahai Aba Hirr!! Sungguh mukmin itu tidaklah najis.”8

Demikian halnya Hudzaifah z memiliki kisah yang hampir sama dengan Abu Hurairah z. Nabi r berjumpa dengannya, kemudian beliau mengulurkan tangan beliau kepadanya (mengajak berjabat tangan, –pent.). Hudzaifah z berkata: “Aku sedang junub.” Beliau r menjawab:

“Sungguh seorang muslim itu tidaklah najis.”9

3.    Mengakhirkan mandi janabah
Boleh bagi orang yang junub mengakhirkan mandinya (Nailul Authar 1/305). Hal ini karena adanya riwayat Ghudhaif ibnul Harits, ia berkata: “Aku pernah bertanya kepada Aisyah x: “Apakah engkau melihat Rasulullah r mandi janabah di awal atau di akhir malam?” Aisyah x menjawab: “Terkadang beliau mandi di awal malam dan terkadang beliau mandi di akhir malam.” Ghudhaif berkata: “Allahu Akbar! Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan kelapangan dalam perkara ini.”10
Ketika men-syarah (menerangkan) hadits Abu Hurairah z yang telah disebutkan di atas, Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-’Asqalani t berkata: “Hadits ini menunjukkan bolehnya meng-akhirkan mandi dari awal waktu diwajib-kannya mandi tersebut.” (Fathul Bari 1/507)

(bersambung insya Allah)


1 HR. Muslim no. 534
2 HR. An-Nasa`i no. 2922. Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan An-Nasa‘i dan Shahihul Jami‘ no. 3954-3956
3 Riwayat At-Tirmidzi no. 960. Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi dan Irwa‘ul Ghalil no. 1102
4 HR. Abu Dawud no. 232. Didhaifkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Irwa‘ul Ghalil no. 124, Dha’if Al-Jami‘ush Shaghir no. 6117 dan Dha’if Sunan Abi Dawud.
5 HR. Al-Bukhari secara mu’allaq dalam kitab Al-Adzan, bab Hal Yatatabba’ul Muadzdzin Fahu Hahuna wa Hahuna dan Muslim no. 824.
6 Karena masalah boleh tidaknya membaca Al-Qur`an bagi wanita haid dan orang yang junub diperselisihkan oleh ahlul ilmi.
7 HR. Al-Bukhari no. 1154.
8 HR. Al-Bukhari no. 285 dan Muslim no. 822.
9 HR. Abu Dawud no. 230. Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Abi Dawud
10 HR. Abu Dawud no. 226. Dihasankan Asy-Syaikh Muqbil dalam Al-Jami’ush Shahih, 1/542.