Membiasakan Anak Shalat

Batasan Taklif Seorang Anak untuk Menunaikan Shalat

Fadhilatusy Syaikh Ibnu Baz rahimahullah pernah ditanya, “Apakah balighnya seorang anak dianggap sebagai batasan dia harus dibebani untuk mengganti shalat yang terluput darinya karena tertidur ataupun yang dia tinggalkan?”

Beliau rahimahullah menjawab, “Ketika seorang anak—baik laki-laki maupun perempuan—telah baligh, maka dia harus melaksanakan shalat, puasa Ramadhan, haji dan umrah apabila dia mampu. Dia berdosa jika meninggalkan itu semua dan berdosa pula jika dia berbuat maksiat. Ini berdasarkan keumuman dalil-dalil syar’i.

Taklif (pembebanan syari’at) terjadi jika anak telah mencapai usia lima belas tahun, atau keluar mani dengan syahwat—baik dalam keadaan tidur ataupun terjaga, tumbuhnya rambut di sekitar qubul. Pada anak perempuan ditambah satu lagi, yaitu haid. Selama anak laki-laki ataupun perempuan belum mengalami salah satu dari perkara-perkara ini tadi, maka dia belum mukallaf.

Namun, dia diperintahkan untuk shalat sejak umur tujuh tahun, dan dipukul karena meninggalkan shalat ketika berumur sepuluh tahun. Begitu pula dia diperintah untuk puasa Ramadhan dan disemangati untuk melakukan berbagai kebaikan, seperti membaca al-Qur’an, shalat nafilah, haji, umrah, memperbanyak tasbih, tahlil, takbir, dan tahmid. Di samping itu, dia juga dilarang melakukan segala bentuk kemaksiatan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مُرُوا أَوْ دَالَكُمْ بِالصَّ ةَالِ لِسَبْعٍ وَاضْرِبُوا عَلَيْهَا لِعَشْرٍ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِ الْمَضَاجِعِ

“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk shalat ketika mencapai usia tujuh tahun, pukullah mereka karena meninggalkan shalat ketika berumur sepuluh tahun, dan pisahkan mereka di tempat tidur mereka.”

Demikian pula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingkari perbuatan al-Hasan bin ‘Ali radhiallahu ‘anhuma tatkala makan kurma sedekah. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan kepada al-Hasan,

أَمَا عَلِمْتَ أَنَّهُ تَحِلُّ لَنَا الصَّدَقَةُ ؟

“Tidakkah kamu tahu bahwa tidak halal bagi kita sedekah?”

Beliau menyuruh al-Hasan untuk membuang kurma yang telah diambilnya. Padahal, al-Hasan baru berumur tujuh tahun lebih beberapa bulan ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat.” (Majmu’ Fatawa Samahatusy Syaikh Ibn Baaz, 10/371)

Mengajak Anak-Anak Hadir di Masjid

Fadhilatusy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah pernah ditanya tentang hukum mengajak anak-anak kecil hadir di masjid, namun anak-anak ini mengganggu orang-orang yang shalat.

Beliau rahimahullah menjawab, “Tidak boleh mengajak anak-anak ke masjid apabila mereka mengganggu orang-orang yang shalat. Sebab, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah keluar menemui para sahabat ketika mereka shalat dan saling melantangkan suaranya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menegur,

يَجْهَرْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ فِي الْقُرْآنِأَوْ قَالَ: فِي الْقِرَاءَةِ

“Janganlah sebagian kalian melantangkan suara terhadap sebagian yang lainnya dalam bacaan Qur’annya!” atau beliau mengatakan, “Dalam bacaannya.”

Kalau mengganggu itu dilarang, padahal itu adalah bacaan al-Qur’an, bagaimana kiranya dengan anak-anak yang bermain-main? Adapun jika tidak mengganggu, mengajak mereka ke masjid itu merupakan suatu kebaikan. Sebab, hal itu akan membiasakan mereka menghadiri shalat jamaah, menjadikan mereka cinta dan akrab dengan masjid.” (Majmu’ Fatawa Fadhilatusy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, 12/397)

Tidak boleh Melarang Anak-anak Berada di Shaf Pertama

Fadhilatusy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah pernah ditanya tentang hukum melarang anak-anak duduk di shaf pertama.

Beliau rahimahullah menjawab, “ Tidak boleh dilarang anak-anak untuk shalat di shaf pertama di masjid, kecuali apabila mengganggu. Selama mereka beradab, tidak boleh mengeluarkan mereka dari shaf pertama. Sebab, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,

مَنْ سَبَقَ إِلَى مَا لَمْ يَسْبَقْ إِلَيْهِ مُسْلِمٌ فَهُوَ أَحَقُّ بِهِ

“Barang siapa lebih dahulu mendapatkan apa yang belum didahului oleh seorang muslim, dia lebih berhak atasnya.”

Mereka lebih dahulu mendapatkan apa yang tidak didahului orang lain, maka mereka lebih berhak atasnya daripada orang lain.

Kalau ada yang mengatakan, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,

لِيَلِيْنِي مِنْكُمْ أُولُوا الْأَحْ مَالِ وَالنُّهَى

“Hendaknya yang shalat di belakangku adalah orang-orang yang telah baligh dan berakal.”

maka jawabannya, yang dimaksud oleh hadits tersebut adalah dorongan kepada orang-orang yang telah baligh dan berakal untuk maju. Ya, seandainya Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,

يَلِيْنِي مِنْكُمْ إِ أُولُوا الأَحْ مَالِ وَالنُّهَى

“Tidaklah boleh shalat di belakangku kecuali orang-orang yang telah baligh dan berakal.”

tentu ini merupakan larangan bagi anak-anak maju ke shaf pertama. Namun, ketika beliau mengatakan,

لِيَلِينِي مِنْكُمْ أُولُوا الْأَحْ مَالِ وَالنُّهَى

maka maknanya adalah anjuran bagi orang-orang yang telah baligh dan berakal untuk maju, agar mereka menjadi orang-orang yang shalat di belakang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Selain itu, jika kita undurkan anak-anak itu dari shaf pertama, mereka semua akan berada di shaf kedua, sehingga mereka akan bermain-main. Hal ini tidak akan terjadi jika mereka berada di shaf pertama namun kita pisah-pisahkan mereka. Ini adalah perkara yang jelas. Wallahul muwaffiq.” (Majmu’ Fatawa Fadhilatusy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, 12/397)

Apabila Anak-Anak Mendahului Orang Dewasa di Shaf Pertama

Fadhilatusy Syaikh Ibnu Baz rahimahullah pernah ditanya, “Ada anak-anak yang datang lebih awal pada hari Jum’at. Kemudian ada beberapa orang dewasa datang, menyuruh anak-anak itu bangkit, lalu menduduki tempat duduk mereka. Mereka beralasan dengan ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لِيَلِيْنِي مِنْكُمْ أُولُوا الْأَحْ مَالِ وَالنُّهَى

‘Hendaknya yang shalat di belakangku adalah orang-orang yang telah baligh dan berakal.’

Apakah hal ini boleh dilakukan?”

Beliau menjawab, “Dikatakan oleh sebagian ahlul ilmi dan mereka berpendapat bahwa yang lebih utama, anak-anak dibariskan di belakang shaf laki-laki dewasa. Namun, pendapat ini perlu tinjauan. Yang lebih sahih, jika anak-anak datang terlebih dahulu, tidak boleh dikebelakangkan.

Jika mereka mendapatkan shaf pertama atau kedua, tidak boleh orang yang datang setelah mereka menyuruh mereka bangkit dari tempat duduknya, karena anak-anak itu telah mendahului mendapatkan suatu hak yang tidak didahului oleh orang lain.

Karena itu, tidak boleh menyuruh mereka mundur, berdasarkan keumuman hadits-hadits tentang hal ini.

Jika mereka disuruh mundur, ini akan membuat mereka lari dari shalat dan dari berlomba-lomba datang untuk shalat. Jadi, tidak layak hal ini dilakukan.

Namun, jika orang-orang datang shalat bersamaan, dalam safar atau karena suatu sebab, maka laki-laki dewasa berada di shaf terdepan, yang kedua anak-anak, kemudian setelah itu para wanita. Ini jika terjadi yang seperti itu, dan mereka datang bersamaan.

Adapun menyuruh anak-anak menyingkir dari shafnya kemudian tempat mereka ditempati oleh orang-orang dewasa yang datang belakangan, ini tidak boleh dilakukan dengan alasan yang telah kami sebutkan.

Adapun sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لِيَلِيَنِي مِنْكُمْ أُولُوا الْأَحْ مَالِ وَالنُّهَى

“Hendaknya yang shalat di belakangku adalah orang-orang yang telah baligh dan berakal di antara kalian.”

Yang dimaksudkan di sini adalah dorongan agar orang-orang yang telah baligh dan berakal bersegera untuk shalat, sehingga mereka menjadi orang-orang yang terdepan. Maknanya bukanlah menyuruh mundur orang yang telah mendahului mereka, karena ini menyelisihi dalil-dalil syar’i yang telah kami sebutkan.” (Majmu’ Fatawa Ibni Baz , 12/399)

Memerintah Anak di Bawah Sepuluh Tahun untuk Shalat

Fadhilatusy Syaikh Ibnu Baz rahimahullah pernah ditanya, “Berkaitan dengan shalat anak-anak di bawah usia sepuluh tahun, apakah orang tua berdosa jika tidak mengharuskan mereka shalat?”

Beliau rahimahullah menjawab, “Orang tua hanya sebatas memerintah saja, dan mereka tidak berdosa. Ketika anak telah berusia sepuluh tahun, orang tua wajib memerintah mereka dan menta’dib (memberi hukuman/sanksi berupa pukulan) hingga mereka mau melaksanakan shalat.

Adapun umur 7—10 tahun, yang disyariatkan adalah memerintah saja. Apabila sudah berumur tujuh tahun, mereka diperintah untuk shalat dan tidak dipukul (jika meninggalkannya -pen). Setelah sepuluh tahun atau lebih, barulah si anak dipukul jika meninggalkan shalat.” (Fatawa Nur ‘alad Darb , kaset no. 435)

Tidak Semangat Mengajak Anak Menunaikan Shalat

Fadhilatusy Syaikh Ibnu Baz rahimahullah pernah ditanya, “Banyak orang tua/wali anak—semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberi mereka petunjuk—tidak bersemangat mengajak anak-anak mereka menunaikan shalat fardhu. Mereka amat bermudah-mudahan dalam hal ini. Apa nasihat Samahatusy Syaikh seputar masalah ini? Apakah mereka berdosa dalam hal ini?”

Beliau rahimahullah menjawab, “Ya. Yang wajib atas seluruh kaum muslimin adalah memerhatikan urusan shalat dan membimbing anak-anak mereka untuk menunaikannya. Yang wajib atas setiap ayah dan ibu serta saudara adalah memerhatikan hal ini.

Seorang ayah harus mengarahkan anak-anaknya, begitu pula ibu, kakak laki-laki, dan paman. Semua harus saling menolong di atas kebaikan dan takwa, karena Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَتَعَاوَنُواْ عَلَى ٱلۡبِرِّ وَٱلتَّقۡوَىٰۖ

“Dan tolong-menolonglah kalian di atas kebaikan dan takwa.” (al-Maidah: 2)

Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman,

وَٱلۡمُؤۡمِنُونَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتُ بَعۡضُهُمۡ أَوۡلِيَآءُ بَعۡضٖۚ يَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ

“Dan laki-laki yang beriman dan wanita-wanita yang beriman, sebagian mereka adalah penolong bagi yang lain, mereka saling memerintahkan pada kebaikan dan melarang dari kemungkaran.” (at-Taubah: 71)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman pula,

وَٱلۡعَصۡرِ ١  إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَفِي خُسۡرٍ ٢  إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ ٣

“Demi masa. Sesungguhnya setiap manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh, saling menasihati di atas kebenaran, dan saling menasihati di atas kesabaran.” (al-’Ashr: 1—3)

Apabila orang tua bermudah-mudah dalam urusan ini, ia berdosa. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَأۡمُرۡ أَهۡلَكَ بِٱلصَّلَوٰةِ وَٱصۡطَبِرۡ عَلَيۡهَاۖ

“Dan perintahkanlah keluargamu untuk menegakkan shalat dan bersabarlah untuk menunaikannya.” (Thaha: 132)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman pula,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ قُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ وَأَهۡلِيكُمۡ نَارٗا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُ عَلَيۡهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٞ شِدَادٞ لَّا يَعۡصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمۡ وَيَفۡعَلُونَ مَا يُؤۡمَرُونَ ٦

“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, padanya ada malaikat-malaikat yang kasar dan keras, yang tidak pernah mendurhakai Allah pada segala sesuatu yang Dia perintahkan dan senantiasa melaksanakan segala yang diperintahkan kepada mereka.” (at-Tahrim: 6)

Begitu pula, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

كُنتُمۡ خَيۡرَ أُمَّةٍ أُخۡرِجَتۡ لِلنَّاسِ تَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَتَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَتُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِۗ

“Kalian adalah sebaik-baik umat yang dikeluarkan bagi manusia, kalian memerintahkan kepada perkara yang ma’ruf dan melarang dari kemungkaran, serta beriman kepada Allah.”

Karena itu, ayah, ibu, saudara laki-laki dan yang lainnya wajib saling menolong dalam hal ini dan tetap beristiqamah di atas kebenaran, serta mengharuskan anak-anak mereka untuk menunaikan dan menjaga shalatnya dan memberikan ta’dib kepada yang meninggalkannya.” (Fatawa Nur ‘alad Darb, kaset no.391)

Hukum Mengajak Anak-Anak ke Masjid

Fadhilatusy Syaikh Ibnu Baz rahimahullah pernah ditanya, “Bagaimana pandangan Anda tentang mengajak anak-anak ke masjid? Apakah hal ini haram, makruh, atau boleh? Mengingat, saya pernah mendengar dari banyak orang adanya suatu hadits.

Mereka mengatakan bahwa diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

جَنِّبُوا مَسَاجِدَكُمْ صِبْيَانَكُمْ وَمَجَانِيْنَكُمْ

“Jauhkanlah masjid-masjid kalian dari anak-anak dan orang-orang gila dari kalangan kalian.”

Beliau rahimahullah menjawab, “Ini hal yang disenangi (mustahab). Bahkan, disyariatkan membawa anak-anak ke masjid ketika telah berumur tujuh tahun lebih, dan memukul mereka jika enggan ketika sudah berumur sepuluh tahun.

Dengan demikian, anak akan terbiasa shalat dan diajari urusan shalat. Ketika baligh nanti dia sudah mengetahui dan terbiasa menunaikan shalat bersama saudara-saudara mereka kaum muslimin.

Adapun anak-anak kecil di bawah usia tujuh tahun, yang lebih utama tidak mengajak mereka. Sebab, mereka hanya akan menyempitkan dan mengganggu jamaah serta bermain-main. Maka dari itu, yang lebih utama adalah tidak mengajak mereka ke masjid, karena mereka belum disyariatkan menunaikan shalat.

Adapun hadits,

جَنِّبُوا مَسَاجِدَكُمْ صِبْيَانَكُمْ وَمَجَانِيْنَكُمْ

adalah hadits yang dha’if, tidak sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Anak-anak justru diperintah untuk menghadiri shalat jika telah berusia tujuh tahun lebih sehingga dia terbiasa menunaikan shalat. Hal ini sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مُرُوا أَبْنَاءَكُمْ بِالصَّ ةَالِ لِسَبْعٍ وَاضْرِبُوا عَلَيْهَا لِعَشْرٍ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ

“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk shalat ketika mencapai usia tujuh tahun, dan pukullah mereka karena meninggalkan shalat ketika berumur sepuluh tahun, dan pisahkan mereka di tempat tidur mereka.”

Dalam hadits ini terdapat pensyariatan bagi kaum mukminin untuk mengajak anak-anak mereka sehingga mereka terbiasa menunaikan shalat. Ketika baligh kelak mereka sudah terbiasa shalat dan menghadirinya bersama kaum muslimin. Hal ini akan lebih memudahkan dan mendekatkan mereka untuk menjaga shalatnya.” (Fatawa Nur ‘alad Darb, kaset no.169)

Mengajak Anak-Anak ke Masjid

Fadhilatusy Syaikh Ibnu Baz rahimahullah pernah ditanya, “Bagaimana pandangan Anda tentang orang-orang yang mengajak anak-anaknya ke masjid untuk menunaikan shalat? Mengingat anak-anak itu belum bisa membaca atau menghafal al-Qur’an walaupun al-Fatihah? Berikanlah fatwa kepada kami, jazakumullahu khairan.”

Beliau menjawab, “Apabila memungkinkan mereka tetap ada di rumah, ini lebih baik, sehingga mereka tidak mengganggu siapa pun.

Namun, jika tidak memungkinkan, karena anak atau ayah senang untuk shalat bersama jamaah, atau mendengarkan pelajaran, penyampaian faedah atau khutbah, tidak mengapa (hadir di masjid –pen.) walaupun membawa anak-anak kecil.

Sebab, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan dalam hadits yang sahih bahwa beliau memulai shalat dan ingin memperlamanya. Kemudian beliau mendengar tangisan anak kecil. Beliau pun meringankan shalat agar tidak menyusahkan ibunya. Ini menunjukkan bahwa mereka shalat sambil membawa anak-anak. Beliau tidak melarang mereka membawa anak-anak kecil.

Demikian pula di dalam sebuah hadits yang shahih, ketika beliau pada beberapa malam mengakhirkan pelaksanaan shalat isya’. ‘Umar radhiallahu ‘anhu mengatakan, “Wahai Rasulullah, para wanita dan anak-anak telah tertidur….” Ini menunjukkan bahwa anak-anak juga hadir.

Kesimpulannya, hadirnya anak-anak bersama ibu atau ayah mereka diperbolehkan. Jika si anak belum masanya untuk shalat dan dia dibawa oleh ibunya dan sang ibu bisa menenangkannya sehingga bisa menunaikan shalat berjamaah, serta mendengar khutbah dan penyampaian faedah, ini tidak mengapa.

Jika memungkinkan untuk menjaga si anak di rumah sehingga si anak tidak mengganggu, sang ibu juga tidak mengganggu siapa pun dengan anaknya ini, ini lebih utama dan lebih baik, jika memungkinkan.” (Fatawa Nur ‘alad Darb, kaset no.229)

(Dinukil dan diterjemahkan dengan sedikit perubahan dari Fatawa Tarbiyatil Aulad, al-Qismu al-‘Ilmi Dar al-Ikhlash wa ash-Shawab, cet. 2, 1435H/2014M, hlm. 22—23, 28—35 oleh Ummu ‘Abdirrahman bintu ‘Imran)

Posisi Kedua Tangan Saat Tasyahud

Di saat duduk dalam tasyahud ini, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam meletakkan telapak tangan kanannya di atas paha kanan dan telapak tangan kiri di atas paha kiri. Ini sebagaimana disbutkan oleh hadits Abdullah ibnu az-Zubair radhiyallahu ‘anhuma,

وَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى فَخِذِهِ الْيُمْنَى وَيَدَهُ الْيُسْرَى عَلَى فَخِذِهِ الْيُسْرَى

“Beliau meletakkan tangan kanannya di atas paha kanan dan tangan kirinya di atas paha kiri.” (HR . Muslim no. 1308)

Demikian pula disebutkan oleh hadits Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma. (HR . Muslim no. 1311) Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam meletakkan lengan bawahnya di atas pahanya dan tidak menjauhkannya, hingga ujung siku beliau berada di akhir pahanya. Adapun lengan kiri dalam keadaan jari-jemarinya dibentangkan di atas paha kiri.” (Zadul Ma’ad, 1/256) Atau telapak tangan tersebut diletakkan di atas lutut, sebagaimana dalam riwayat yang lain,

وَضَعَ يَدَهُ الْيُسْرَى عَلَى رُكْبَتِهِ الْيُسْرَى وَوَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى رُكْبَتِهِ الْيُمْنَى

“Beliau meletakkan tangan kirinya di atas lutut kiri dan tangan kanannya di atas lutut kanan.” (HR . Muslim no. 1310)

Ujung siku kanan beliau letakkan di atas paha kanan, sementara jari telunjuk kanan beliau berisyarat dengan menunjuk. Adapun jari kelingking kanan dan jari manis dilipat. Ibu jari dan jari tengah beliau membuat lingkaran, sebagaimana dalam hadits Wail bin Hujr radhiyallahu ‘anhu yang menyebutkan sifat duduk tasyahud ini, di antaranya,

وَحَدَّ مِرْفَقَهُ الْأَيْمَنَ عَلَى فَخِذِهِ الْيُمْنَى، وَقَبَضَ ثِنْتَيْنِ وَحَلَقَ، وَرَأَيْتُهُ يَقُوْلُ هَكَذَا

“Beliau meletakkan ujung siku beliau yang kanan di atas paha kanan. Dua jari beliau lipat/genggam (kelingking dan jari manis) dan beliau membentuk lingkaran (dengan dua jari beliau). Aku melihat beliau melakukan seperti ini.” Bisyr ibnul Mufadhdhal (seorang rawi yang meriwayatkan hadits ini mencontohkan) mengisyaratkan jari telunjuk (meluruskannya seperti menunjuk), sedangkan jari tengah dan ibu jari membentuk lingkaran. (HR . Abu Daud no. 726, 957, dinyatakan sahih dalam Shahih Abi Dawud)

Berisyarat dengan Telunjuk Saat Tasyahud

Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma memberitakan bahwa ketika duduk untuk tasyahud, Rasulullah n meletakkan telapak tangan kirinya terbentang di atas lutut kirinya, sedangkan telapak tangan kanan yang berada di atas lutut kanan beliau genggam seluruh jari-jemarinya dan memberi isyarat ke kiblat dengan jari telunjuknya dan pandangan beliau diarahkan ke telunjuk tersebut. (HR . Malik 1/111—112, Muslim no. 1311)

Dikeluarkan oleh al-Imam Ahmad t (2/119) dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَهِيَ أَشَدُّ عَلَى الشَّيْطَانِ مِنَ الْحَدِيْدِ

“Jari telunjuk itu lebih keras bagi setan daripada besi.”

Al-Imam al-Albani rahimahullah menerangkan tentang hadits ini, “Sanadnya hasan atau mendekati hasan, karena rijalnya semua tsiqah, perawi kutubus sittah, selain Katsir ibnu Zaid, dia shaduq yukhthi’, seperti dalam at-Taqrib.” (al-Ashl, 3/839) Al-Imam at-Tirmidzi t berkata, “Berisyarat dengan jari telunjuk dalam tasyahud ini merupakan perkara yang diamalkan oleh sebagian ahlul ilmi dari kalangan sahabat Nabi n dan tabi’in. Ini pula pendapat yang dipegangi oleh teman-teman kami (ahlul hadits).” (Sunan at-Tirmidzi, kitab ash-Shalah, bab “Ma Ja’a fil Isyarah fit Tasyahud”)

Al-Imam Muhammad ibnul Hasan rahimahullah berkata dalam Muwaththa’nya, “Kami berqudwah dengan perbuatan Rasulullah n dan ini adalah pendapat Abu Hanifah1.” (sebagaimana dalam al-Ashl, 3/841) Al-Imam ‘Ali al-Qari al-Hanafi t mengatakan, “Demikian pendapat Malik, asy-Syafi’i, dan Ahmad, dan tidak diketahui ada perselisihan dari ulama salaf dalam masalah ini. Yang ada hanyalah penyelisihan sebagian fuqaha khalaf dari kalangan mazhab kami.” (sebagaimana dalam Tuhfah al-Ahwadzi, bab “Ma Ja’a fil Isyarah fit Tasyahud”)

Setelah membawakan sejumlah hadits tentang isyarat dengan jari telunjuk, al-Imam Ali al-Qari al-Hanafi rahimahullah dalam risalah Tazyin al-Ibarah li Tahsin al-Isyarah menyatakan, “Ini adalah hadits-hadits yang banyak, dengan jalur-jalur yang banyak, yang masyhur, dan tidak diragukan karenanya, yang menunjukkan sahihnya asal isyarat, karena sebagian sanad hadits-hadits ini ada dalam Shahih Muslim. Amalan yang satu ini bisa dikatakan mencapai mutawatir secara makna.

Karena itu, tidak boleh bagi orang yang beriman kepada Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya enggan mengamalkannya. Adapun ucapan mereka yang menolak berisyarat dengan telunjuk beralasan bahwa mengangkat telunjuk adalah perbuatan yang tidak dibutuhkan sehingga meninggalkannya lebih utama karena shalat dibangun di atas ketenangan, alasan ini tertolak. Sebab, andai meninggalkannya lebih utama, niscaya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak akan melakukannya, karena beliau memiliki sifat kewibawaan dan ketenangan yang paling tinggi, tidak ada yang menyamai.” (Sebagaimana dinukil dalam al-Ashl, 3/842)

 

Tata Cara Isyarah dalam Tasyahud

Tata cara isyarah dalam tasyahud ada dua, sebagaimana yang datang dalam riwayat yang kuat.

1. Jari kelingking dan jari manis dilipat ke bagian dalam telapak tangan, demikian pula jari tengah dan ibu jari. Hanya saja, ibu jari diletakkan di atas jari tengah, sedangkan jari telunjuk diluruskan (menunjuk), sebagaimana riwayat Ibnu Umar radhiallahu ‘anhu yang telah lalu.

2. Terkadang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam membuat lingkaran dengan jari tengah dan ibu jari, sebagaimana riwayat Wail ibnu Hujr z yang juga telah disebutkan di atas. Kedua cara di atas adaakeragaman beribadah dalam hal tata cara isyarah. Para ulama menyatakannya dengan istilah tanawwu’at fil ibadah, sehingga bisa diamalkan salah satu di antara keduanya. Terkadang mengamalkan yang ini, di waktu lain yang itu. Al-Imam Ali al-Qari t berkata, “Hal ini memberikan faedah bahwa kita diberi pilihan dua cara berisyarat, yang kedua-duanya sama-sama datang dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Ini adalah pendapat dan pengumpulan yang bagus. Karena itu, orang yang berjalan di atas sunnah sepantasnya terkadang melakukan yang satu dan di lain waktu yang lainnya.” (al-Ashl, 3/851—852)

 

Kapan Mulai Isyarah?

Penulis Tuhfah al-Ahwadzi, al- Mubarakfuri berkata, “Secara zahir (yang tampak), hadits-hadits isyarah semuanya menunjukkan bahwa isyarah dengan jari telunjuk dimulai dari awal duduk tasyahud. Saya tidak melihat satu pun dalil yang sahih yang menunjukkan apa yang dikatakan oleh para ulama mazhab Syafi’i dan Hanafi2.”

 

Duduk yang Dilarang saat Tasyahud

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melarang seseorang duduk dalam keadaan bersandar di atas tangan kirinya saat duduk dalam shalat. Beliau katakan, “Itu merupakan shalatnya Yahudi.” Dalam satu lafadz,

لاَ تَجْلِسْ هَكَذَا: إِنَّمَا هَذِهِ جِلْسَةُ الَّذِيْنَ يُعَذَّبُوْنَ

“Jangan kamu duduk seperti itu, karena hal itu hanyalah duduknya orangorang yang diazab.” ( HR . al-Hakim 1/272, dinyatakan sahih dalam al-Irwa no. 380)

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Ishaq Muslim al-Atsari

Tanya Jawab Ringkas Edisi 92

Pada rubrik Tanya Jawab Ringkas edisi ini, kami muat beberapa jawaban dari al- Ustadz Muhammad as-Sarbini.

Tata Cara Mengganti Kekurangan Rakaat Shalat

Bagaimana cara mengganti kekurangan rakaat shalat? Apakah rakaat yang didapat sebagai rakaat pertama atau sesuai rakaatnya? Apa yang dibaca pada tiap rakaat? 081392XXXXXX

Rakaat yang Anda dapatkan bersama imam adalah rakaat pertama Anda, kemudian rakaat berikutnya adalah rakaat kedua Anda. Demikian seterusnya hingga imam salam lalu Anda menyempurnakan rakaat yang tersisa.

 

Meminta Cerai Lantaran Suami Tidak Bekerja

Jika suami tidak bekerja atau berusaha untuk memenuhi kebutuhan, bolehkah meminta cerai? 0813XXXXXXXX

Jika suami tidak menjalankan kewajiban mencari nafkah untuk mencukupi istrinya, padahal dia mampu bekerja, boleh bagi istri meminta fasakh (pembatalan akad) dengan cara khulu’.

 

Menikah Setelah Ditalak Tiga

Apakah wanita yang sudah 3 kali ditalak (ba’in kubra) boleh langsung meminta dicarikan suami baru, lewat perantara, dan tidak menunggu masa iddah? Jazakumullahu khairan. 08586XXXXXXX

Harus menunggu sampai masa iddah berakhir.

 

Keringanan Mandi Wajib

Bagaimana mandi wajibnya seseorang yang tidak memungkinkan untuk mandi (misal karena sakit yang tidak boleh terkena air)? 08562XXXXXX

Wajib bersuci dari hadats besar dengan mandi menggunakan air hangat jika tidak khawatir memudaratkan dirinya (menambah parah sakit atau memperlambat kesembuhan). Jika khawatir termudaratkan oleh air hangat sekalipun, wajib bersuci dengan tayamum sebagai pengganti mandi. Begitu pula halnya dengan wudhu, jika termudaratkan oleh penggunaan air.

 

Bagaimana cara mandi junub orang yang terluka dan tidak boleh terkena air?

08587XXXXXXX

Dalam mandi janabah, wajib membasuh seluruh tubuh dengan air selain luka tersebut, tetapi luka itu wajib diusap selama tidak termudaratkan oleh usapan. Jika usapan pun akan memperparah/ memperlambat kesembuhan luka itu, bagian luka tersebut disucikan dengan tayammum. Alhasil, bagian tubuh yang tidak luka wajib dibasuh, sedangkan yang luka wajib disucikan dengan diusap (jika tidak termudaratkan) atau ditayammumkan (jika termudaratkan oleh usapan). Wallahu a’lam.

Jamak Qashar Shalat Saat Safar

Berapa hari rukhsah musafir untuk menjamak dan mengqashar shalatnya karena waktu safar yang tidak dapat dia tentukan? 089604XXXXXX

Orang yang safar untuk suatu hajat dalam jangka waktu yang tidak jelas adalah musafir yang mendapat rukshah mengqashar dan menjamak shalat selama dalam safarnya itu.

 

Qadha Shalat Isya Saat Shubuh

Bagaimana cara mengqadha shalat isya karena ketiduran pada waktu subuh? 08990XXXXXX

Yang benar, wajib mengqadha shalat isya’ tersebut langsung ketika bangun, kemudian melaksanakan shalat subuh. Barakallahu fik.

 

Bersetubuh di Luar Nikah

Apa yang harus dilakukan untuk menghapus dosanya jika seseorang

berzina dengan pacarnya? 628572XXXXXXX

Zina adalah dosa besar dan kenistaan. Bertobatlah kepada Allah l disertai meninggalkan pergaulan bebas dan pacaran yang merupakan wasilah yang telah menyeret Anda kepada zina. Perbanyaklah beribadah dan beramal saleh untuk mengimbangi kesalahan besar itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun. Wallahul musta’an.

 

Hak Waris

Budhe (kakak perempuan ibu atau bapak) meninggal. Dia tidak mempunyai anak dan suami. Hanya ibu saya masih hidup sebagai ahli waris, hak waris kepada siapa? 08213XXXXXXX

Harta seluruhnya untuk saudara perempuan mayat (ibu Anda).

 

Apakah keponakan (kami) mendapat bagian, berapa jatahnya? 08213XXXXXXX

Yang kami pahami dari pertanyaan, Budhe Anda hanya meninggalkan saudara perempuannya sekandung (ibu Anda). Jadi, dialah satu-satunya ahli waris. Bagiannya adalah setengah harta, sisanya juga diberikan kepadanya secara

radd (pengembalian harta waris yang tersisa kepada ahli waris yang ada dari kalangan kerabat). Adapun Anda selaku keponakannya, bukan ahli waris yang

berhak, istilahnya adalah dzawul arham. Adapun jika ada keponakan lainnya,

terangkan kepada kami hubungan kekerabatannya dengan mayat secara lengkap agar kami terangkan hukumnya.

 

Makanan dari Acara Bid’ah

Bolehkah memakan makanan (daging sembelihan) dari acara 40 hari orang yang meninggal? 08529XXXXXXX

Ingkari/tolak hal itu dengan hikmah (bijak) semampunya dan jangan dimakan.

 

Zakat Harta Curian

Apakah harta hasil dari korupsi atau mencuri juga wajib dizakati bila telah mencapai nishab dan haulnya? 08574XXXXXXX

Harta hasil curian atau korupsi tidak terkena zakat, karena harta itu bukan milik koruptor atau pencurinya. Kewajibannya adalah mengembalikan harta itu kepada pemiliknya yang berhak.

 

Rokok

Apakah merokok itu haram bagi seorang muslim? Karena saya bimbang tentang masalah rokok ini. Ada yang mengatakan halal, tetapi ada yang mengatakan haram? 0898XXXXXXX

Jangan bimbang lagi, ketahuilah bahwa rokok haram menurut pendapat yang benar berdasarkan dalil-dalil dengan sisi pendalilan yang benar. Lihat secara lengkap pada rubrik Problema Anda, majalah Asy-Syariah edisi 48.

 

Zakat Padi

Bagaimana cara penghitungan zakat padi? 08526XXXXXXX

Zakat padi diperselisihkan ulama, karena tidak ada dalil khusus. Kami condong pada pendapat yang tidak mewajibkan zakat padi. Bagi yang meyakini wajibnya, nishabnya sebesar 300 sha’ nabawi = 300 x 3 kg bersih (tanpa kulit) dengan rincian zakat: a) 10 %, jika tadah hujan dan semisalnya. b) 5 %, jika diairi dengan biaya besar berupa mesin, kincir air, atau semisalnya. Jika sawah disewakan, maka yang terkena kewajiban adalah pemilik hasil panen (penyewa), bukan pemilik sawah. Zakat dikeluarkan saat panen setelah pembersihan dari keseluruhan hasil panen tanpa dikurangi untuk bayar sewanya. Pada asalnya wajib dibayarkan dengan beras, bukan dengan uang. Untuk lebih rinci dan lengkap, lihat Kajian Utama pada Majalah Asy-Syari’ah edisi 54.

 

Rukun Shalat Jenazah

Rukun shalat jenazah apa saja dan berapa? 08583XXXXXXX

Rukun shalat jenazah adalah:

1. Niat

2. Berdiri

3. Empat kali takbir (takbiratul ihram dan 3 takbir setelahnya)

4. Membaca al-Fatihah pada takbir pertama.

5. Mendoakan mayat.

6. Mengucapkan salam. Adapun bershalawat setelah takbir ketiga hanya sunnah menurut pendapat yang rajih. Disunnahkan pula mendoakan

mayat pada takbir keempat menurut pendapat yang rajih. Simak secara lengkap nukilan mazhab dan dalil-dalilnya pada buku kami Panduan Mudah Mengurus Jenazah.

Isyarat Telunjuk Saat Tasyahud

Saat duduk dalam tasyahud ini, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam meletakkan telapak tangan kanannya di atas paha kanan, dan telapak tangan kiri di atas paha kiri. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh hadits Abdullah ibnu az-Zubair radhiyallahu ‘anhuma,

وَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى فَخِذِهِ الْيُمْنَى وَيَدَهُ الْيُسْرَى عَلَى فَخِذِهِ الْيُسْرَى

“Beliau meletakkan tangan kanannya di atas paha kanan dan tangan kirinya di atas paha kiri.” (HR. Muslim no. 1308)

Demikian pula disebutkan oleh hadits Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma. (HR. Muslim no. 1311) Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menjulurkan lengan bawahnya di atas pahanya dan tidak menjauhkannya, hingga ujung siku beliau berada di pangkal pahanya. Adapun lengan kiri dalam keadaan jari-jemarinya terjulur di atas paha kiri.” (Zadul Ma’ad, 1/256)

Atau telapak tangan tersebut diletakkan di atas lutut, sebagaimana dalam riwayat yang lain,

وَضَعَ يَدَهُ الْيُسْرَى عَلَى رُكْبَتِهِ الْيُسْرَى وَوَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى رُكْبَتِهِ الْيُمْنَى

“Beliau meletakkan tangan kirinya di atas lutut kiri dan tangan kanannya di atas lutut kanan.” (HR. Muslim no. 1310)

Ujung siku kanan, beliau letakkan di atas paha kanan, sementara jari telunjuk kanan beliau berisyarat dengan menunjuk. Adapun jari kelingking kanan dan jari manis dilipat. Ibu jari beliau dengan jari tengah membuat lingkaran, sebagaimana disebutkan oleh hadits Wail bin Hujr radhiyallahu ‘anhu yang menyebutkan sifat duduk tasyahud ini, di antaranya,

وَحَدَّ مِرْفَقَهُ الْأَيْمَن عَلَى فَخِذِهِ الْيُمْنَى, وَقَبَضَ ثِنْتَيْنِ وَحَلَقَ، وَرَأَيْتُهُ يَقُوْلُ هَكَذَا

“Beliau meletakkan ujung siku beliau yang kanan di atas paha kanan. Dua jari beliau lipat/genggam (kelingking dan jari manis) dan beliau membentuk lingkaran (dengan dua jari beliau). Aku melihat beliau melakukan seperti ini.”

Bisyr ibn al-Mufadhdhal (seorang rawi yang meriwayatkan hadits ini mencontohkan) mengisyaratkan jari telunjuk (meluruskannya seperti menunjuk), sedangkan jari tengah dan ibu jari membentuk lingkaran. (HR. Abu Dawud no. 726 & 957, dinyatakan sahih dalam Shahih Abi Dawud)

 

Berisyarat dengan Telunjuk Saat Tasyahud

Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma memberitakan bahwa apabila duduk untuk tasyahud, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam meletakkan telapak tangan kirinya dengan terbentang di atas lutut kirinya, sedangkan telapak tangan kanan yang berada di atas lutut kanan menggenggam jari-jemarinya seluruhnya dan memberi isyarat ke kiblat dengan jari telunjuknya dalam keadaan pandangan beliau diarahkan ke telunjuk tersebut. (HR. Malik 1/111—112, Muslim no. 1311) Al-Imam Ahmad rahimahullah meriwayatkan (2/119) dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَهِيَ أَشَدُّ عَلَى الشَّيْطَانِ مِنَ الْحَدِيْدِ

“Jari telunjuk itu lebih keras bagi setan daripada besi.”

Al-Imam al-Albani rahimahullah menerangkan hadits ini, “Sanadnya hasan atau mendekati hasan, karena semua rawinya tsiqah, rijal kutubus sittah, selain Katsir ibnu Zaid, dia shaduq yukhthi’, seperti dalam at-Taqrib.” (al- Ashl, 3/839) Al-Imam at-Tirmidzi rahimahullah berkata, “Berisyarat dengan jari telunjuk dalam tasyahud ini diamalkan oleh sebagian ahlul ilmi dari kalangan sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan tabi’in. Ini juga pendapat yang dipegangi oleh teman-teman kami (ahlul hadits).” (Sunan at-Tirmidzi, “Kitab ash-Shalah”, bab “Ma Ja’a fil Isyarah fit Tasyahud”)

Al-Imam Muhammad ibnul Hasan rahimahullah berkata dalam Muwaththa’nya, “Kami mengambil teladan dari perbuatan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, dan ini adalah pendapat Abu Hanifah1.” (al-Ashl, 3/841) Al-Imam ‘Ali al-Qari al-Hanafi rahimahullah mengatakan, “Demikian pendapat Malik, Syafi’i, dan Ahmad, serta tidak diketahui ada perselisihan ulama salaf dalam masalah ini. Yang ada hanyalah penyelisihan sebagian fuqaha masa belakangan dari kalangan mazhab kami.” (Tuhfah al-Ahwadzi, bab “Ma Ja’a fil Isyarah fit Tasyahud”)

Setelah membawakan sejumlah hadits tentang isyarat dengan jari telunjuk, al-Imam Ali al-Qari al-Hanafi rahimahullah pada risalah Tazyin al-Ibarah li Tahsin al-Isyarah menyatakan, “Ini adalah hadits-hadits yang banyak dengan jalurjalur yang banyak, yang masyhur, dan karenanya tidak diragukan. Hadits-hadits ini menunjukkan sahihnya hukum asal isyarat, karena sebagian sanadnya ada dalam Shahih Muslim. Amalan ini bisa dikatakan mencapai mutawatir secara makna. Dengan demikian, orang yang beriman kepada Allah  Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya tidak boleh enggan mengamalkannya. Adapun pendapat yang menolak berisyarat dengan telunjuk beralasan bahwa mengangkat telunjuk adalah perbuatan yang tidak perlu sehingga meninggalkannya lebih utama—karena shalat dibangun di atas ketenangan— alasan ini tertolak. Sebab, seandainya lebih utama tidak melakukannya, niscaya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak akan melakukannya. Padahal beliau memiliki sifat kewibawaan dan ketenangan yang paling tinggi, tidak ada yang menyamai.” (Sebagaimanadinukil dalam al-Ashl, 3/842) 

 

Tata cara isyarah saat tasyahud ada dua, sebagaimana yang datang dalam riwayat yang kuat.

1. Jari kelingking dan jari manis dilipat ke bagian dalam telapak tangan, demikian pula jari tengah dan ibu jari. Hanya saja, ibu jari diletakkan di atas jari tengah, sedangkan jari telunjuk diluruskan (menunjuk), sebagaimana riwayat Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu di atas.

2. Terkadang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam membuat lingkaran dengan jari tengah dan ibu jari, sebagaimana riwayat Wail ibnu Hujr radhiallahu ‘anhu yang juga telah disebutkan. Kedua sifat di atas adalah keragaman beribadah dalam masalah tata cara isyarah. Para ulama menyebutnya tanawwu’at fil ibadah. Jadi, bisa diamalkan salah satu di antara keduanya, kadang yang ini, di waktu lain yang itu. Al-Imam Ali al-Qari rahimahullah berkata,“Hal ini memberikan faedah diberikannya  pilihan bagi kita di antara dua cara berisyarat, yang keduanya dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Ini adalah pendapat dan pengumpulan yang bagus. Jadi, sepantasnya orang yang berjalan di atas sunnah terkadang melakukan yang satu dan di lain waktu yang lainnya.” (al- Ashl, 3/851—852)

 

Kapan Isyarah Dimulai?

Penulis Tuhfah al-Ahwadzi, al-Mubarakfuri, berkata, “Secara zahir, hadits-hadits isyarah semuanya menunjukkan bahwa isyarah dengan jari telunjuk dimulai dari awal duduk tasyahud. Saya tidak melihat satu pun dalil sahih yang menunjukkan seperti apa yang dikatakan oleh para ulama mazhab Syafi’i dan mazhab Hanafi.” Duduk yang dilarang saat tasyahud Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melarang seseorang duduk bersandar (bertopang) di atas tangan kirinya saat duduk dalam shalat. Beliau katakan, “Itu adalah shalat orang Yahudi.” Dalam satu lafadz,

لاَ تَجْلِسْ هَكَذَا: إِنَّمَا هَذِهِ جِلْسَةُ الَّذِيْنَ يُعَذَّبُوْنَ

“Jangan kalian duduk seperti itu, karena hanyalah yang demikian itu duduknya orang-orang yang diazab.” (HR. al-Hakim 1/272, dinyatakan sahih dalam al-Irwa no. 380) Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Ishaq Muslim al-Atsari

Kepada Siapa Shalat Berjamaah Diwajibkan

Diwajibkan shalat berjamaah hanya bagi kaum lelaki yang sudah baligh, terbebas dari halangan seperti sakit dan alasan lain yang dibenarkan oleh syariat seperti terdorong oleh hadats. Termasuk dalam hal ini adalah budak, menurut pendapat sebagian ulama. Hal ini berdasarkan keumuman dalil dan tidak ada pengecualian bagi para budak. Di samping itu, hak Allah k lebih dikedepankan ketimbang hak manusia.

Namun, sebagian ulama berpendapat, budak wajib shalat berjamaah dengan izin tuannya. Pendapat inilah yang dikuatkan oleh asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah. Adapun anak laki-laki yang belum baligh belum diwajibkan atasnya. Al- Imam an-Nawawi rahimahullah menyebutkan dalam syarah Shahih Muslim, pada bab “Bolehnya Berjamaah dalam Shalat Sunnah”, jika seorang anak yang sudah mumayyiz ikut berjamaah, shalatnya sah. Dibenarkan baginya untuk berdiri dalam barisan shaf menurut jumhur (mayoritas) ulama.

Demikian pula khuntsa (ambiguous genetalia atau pseudohermaphrodite), yaitu yang tidak diketahui apakah dia lelaki atau perempuan, tidak diwajibkan atasnya berjamaah. Termasuk yang tidak diwajibkan shalat berjamaah adalah kaum wanita. Sebab, mereka bukan orang-orang yang dianjurkan berkumpul dan menampakkan syiar Islam, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,

وَبُيُوتُهُنَّ خَيْرٌ لَهُنَّ

“Rumah-rumah mereka itu lebih baik bagi mereka.” (HR. Abu Dawud)

Namun, para ulama berselisih pendapat saat para wanita mendirikan shalat berjamaah tidak bersama kaum lelaki.

1. Sunnah.

Mereka berdalil bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan Ummu Rauqah radhiyallahu ‘anha untuk mengimami keluarganya.

2. Makruh.

Mereka menganggap hadits Ummu Rauqah radhiyallahu ‘anha lemah. Wanita bukan kaum yang dituntut untuk berkumpul dan menampakkan syiar Islam sehingga tidak disukai bagi wanita untuk mendirikan shalat berjamaah di rumahnya. Selain itu, hal ini tidak dikenal di kalangan ummul mukminin (para istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam) ataupun dari selain mereka (para istri sahabat dan yang lain).

3. Mubah.

Mereka berpendapat, secara umum wanita termasuk yang diperbolehkan untuk berkumpul. Oleh karena itu, mereka boleh hadir di masjid dalam rangka melaksanakan shalat berjamaah, dengan tetap menjaga diri, aurat, dan suara.

Pendapat ini tidak mengapa untuk diambil, dan jika terkadang dilakukan tidak mengapa. An-Nawawi rahimahullah berkata, bab “Khurujin Nisa ilal Masjid Idza Lam Yatarattab Alaihi Fitnah wa Annaha La Takhruj Muthayyabah” (“Keluarnya Wanita ke Masjid Apabila Tidak Menimbulkan Fitnah dan Tidak Boleh Keluar Menggunakan Wewangian”).

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَا تَمْنَعُوا نِسَاءَكُمْ الْمَسَاجِدَ إِذَا اسْتَأْذَنَّكُمْ إِلَيْهَا

Janganlah kalian menghalangi wanita pergi ke masjid, jika mereka telah meminta izin kepada kalian.’ (HR. Muslim)

Pada riwayat yang lain,

لَا تَمْنَعُوا إِمَاءَ اللهِ مَسَاجِدَ اللهِ

Janganlah kalian menghalangi hamba-hamba (wanita) Allah Subhanahu wata’ala dari masjid Allah Subhanahu wata’ala.” (HR. Muslim)

Dari Zainab ats-Tsaqafiyyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِذَا شَهِدَتْ إِحْدَاكُنَّ الْعِشَاءَ فَلَا تَطَيَّبْ تِلْكَ اللَّيْلَةَ

Apabila salah seorang dari kalian menghadiri shalat isya, janganlah menggunakan wewangian pada malam itu.” (HR. Muslim)

Para ulama berpendapat bolehnya wanita menghadiri shalat berjamaah di masjid dengan syarat tidak menggunakan wewangian, tidak bersolek, tidak bergelang kaki hingga terdengar gemerincing suaranya, tidak berpakaian mewah, tidak bercampur laki-laki dan perempuan, bukan wanita muda yang dikhawatirkan menimbulkan godaan bagi lawan jenis, serta tidak ada suatu sebab kerusakan dan kejelekan yang membahayakan di jalan. (asy-Syarh al-Mumti’, 2/369—371, Syarh an-Nawawi, 2/396—399)

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Ubaidah Syafrudin

Shalat Berjamah, Syarat Sahnya Shalat?

Meskipun yang kuat adalah pendapat yang menyatakan bahwa shalat berjamaah lima waktu hukumnya fardhu ‘ain, namun shalat berjamaah bukan syarat sahnya shalat. Andaikata seorang shalat sendirian— tanpa ada uzur untuk tidak menghadiri shalat berjamaah—shalatnya sah, hanya saja ia berdosa. Inilah pendapat yang kuat dalam masalah ini, menurut jumhur (mayoritas) ulama.

Sebagian ulama berpendapat, shalat berjamaah menjadi syarat sahnya shalat. Pendapat ini dianut oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Ibnu ‘Aqil, yang keduanya bermazhab Hanbali, serta sebuah riwayat dari al-Imam Ahmad rahimahumullah. Menurut pendapat ini, jika seseorang shalat sendirian tanpa uzur yang syar’i (untuk tidak menghadiri shalat berjamaah), shalatnya tidak sahm(batal). Keadaan ini dimisalkan seperti seorang yang shalat tanpa wudhu. Pendapat ini lemah berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam,

صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً

“Shalat berjamaah lebih utama daripada shalat sendirian dengan perbandingan 27 derajat.

Adanya unsur pengutamaan (antara shalat berjamaah dengan shalat sendirian), menunjukkan adanya keutamaan pada sesuatu yang diutamakan (shalat sendirian). Hal ini menjadi suatu keharusan bahwa shalatnya sah. Sebab, sesuatu yang tidak sah tentu tidak memiliki keutamaan, dan yang ada adalah dosa. (asy-Syarhu al-Mumti’, 2/373—374)

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Ubaidah Syafrudin

Haruskah Berjamaah Di masjid

Para ulama berselisih dalam hal ini.

1 . Sebagian ulama berpendapat, shalat berjamaah di masjid hukumnya fardhu kifayah.

Maknanya, apabila ada sebagian orang yang dianggap cukup telah menunaikannya, gugurlah kewajiban tersebut atas yang lain. Selain mereka (yang tidak hadir berjamaah di masjid) boleh shalat berjamaah di rumahnya. Mereka berpendapat, shalat berjamaah di masjid adalah salah satu syiar Islam. Sementara itu, kaum muslimin masih tetap menjalankannya di sekian banyak masjid. Kalau saja masjid-masjid yang ada (di suatu negeri) tidak dipakai untuk shalat berjamaah, tidak akan tampak bahwa negeri tersebut adalah negeri Islam.

Jawaban atas pendapat ini, untuk mencapai kesempurnaan, setiap individu wajib ikut shalat di masjid. Sebab, dengan pendapat di atas, setiap orang akan memilih tinggal di rumahnya dan ia berprasangka barangkali di masjid sudah ada yang shalat berjamaah.

2. Pendapat kedua mengatakan, shalat berjamaah boleh di rumah masing – masing dan boleh meninggalkan masjid, sekalipun jaraknya dekat, meskipun masjid lebih utama.

Menurut pendapat ini, apabila seorang berpendapat bahwa mengadakan shalat berjamaah bisa dengan dua orang, meskipun salah satunya adalah wanita, seorang suami bisa shalat berjamaah bersama istrinya di rumah dan tidak harus ke masjid. Mereka berdalil dengan hadits,

وَجُعِلَتْ لِي الْأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا

Dijadikan untukku bumi, semuanya sebagai tempat shalat dan suci.” (HR. al-Bukhari)

Hadits ini dipahami bahwa bumi semuanya sebagai tempat shalat, sehingga meskipun di rumah sudah teranggap berjamaah meskipun di masjid lebih utama. Jawaban atas pendapat ini, hadits ini sama sekali tidak bisa menjadi dalil atas pendapat mereka. Sebab, hadits ini berisi penjelasan bahwa bumi semuanya adalah tempat ibadah. Ini adalah kekhususan bagi umat ini, berbeda halnya dengan umat yang lain. Mereka tidak beribadah selain di gereja, kuil, atau tempat peribadahan yang khusus.

Dengan demikian, hadits ini hanya menjelaskan bolehnya mengerjakan shalat di mana pun, dan tidak menjelaskan shalat berjamaah sah dikerjakan di mana pun. Selain itu, hadits di atas bersifat umum yang telah dikhususkan dengan beberapa dalil yang mewajibkan shalat berjamaah di masjid.

3. Ulama yang lain berpendapat, kewajiban shalat berjamaah di masjid hanya bagi yang diwajibkan. Dalilnya adalah hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,

لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِالصَّلَاةِ فَتُقَامَ ثُمَّ آمُرَ رَجُلًا فَيُصَلِّيَ بِالنَّاسِ ثُمَّ أَنْطَلِقَ بِرِجَالٍ مَعَهُمْ حُزَمٌ مِنْ حَطَبٍ إِلَى قَوْمٍ لَا يَشْهَدُونَ الصَّلَاةَ فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوتَهُمْ بِالنَّارِ

Sungguh aku berkeinginan kuat untuk memerintahkan supaya ditegakkan shalat, lalu aku perintahkan seorang untuk mengimami manusia, kemudian aku akan mendatangi kaum yang tidak menghadiri shalat berjamaah, kemudian aku bakar rumah mereka dengan api.”

Kata “kaum” pada hadits ini berarti sejumlah orang yang memenuhi syarat untuk dikatakan berjamaah. Kalau saja diperbolehkan bagi mereka untuk shalat berjamaah di rumah, beliau tentu akan mengecualikan orang yang shalat di rumahnya. Dari sini diketahui, berjamaah di masjid menjadi sebuah keharusan. Inilah pendapat yang benar. Jika dilaksanakan selain di masjid, mereka berdosa meskipun sah shalatnya. (asy-Syarhul Mumti’ 2/374—378)

Ditulis oleh  Al-Ustadz Abu Ubaidah Syafrudin

Masjid Yang Di Utamakan

Yang paling utama, seseorang hendaknya shalat berjamaah di masjid yang ada di sekitar tempat tinggalnya, baik jamaahnya banyak maupun sedikit. Hal ini berdasarkan kebaikan dan kemaslahatan yang ditimbulkan. Di antaranya, ia telah ikut memakmurkan masjid tersebut, menumbuhkan kedekatan dengan imam, menjauhkan prasangka buruk yang ada pada hati seorang imam, lebih-lebih jika dirinya termasuk seorang yang dianggap oleh imam.

Berbeda halnya apabila terdapat sebuah masjid yang memiliki keutamaan daripada masjid yang lain. Misalnya, seseorang yang tinggal di Madinah atau di Makkah. Yang utama baginya adalah shalat di Masjidil Haram jika ia tinggal di Makkah; atau di Masjid Nabawi jika ia tinggal di Madinah. Berikutnya adalah masjid yang lebih banyak jamaahnya. Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,

وَإِنَّ صَلَاةَ الرَّجُلِ مَعَ الرَّجُلِ أَزْكَى مِنْ صَلَاتِهِ وَحْدَهُ، وَصَلَاتُهُ مَعَ الرَّجُلَيْنِ أَزْكَى مِنْ صَلَاتِهِ مَعَ الرَّجُلِ، وَمَا كَثُرَ فَهُوَ أَحَبُّ إِلَى اللهِ تَعَالَى

Shalat seseorang bersama satu orang lebih baik daripada shalat sendirian. Shalatnya bersama dua orang lebih baik daripada shalatnya bersama satu orang, dan apabila yang bersamanya lebih banyak, lebih Allah Subhanahu wata’ala cintai.” (HR. Abu Dawud, Shahih al-Jami no. 2242)

Selanjutnya, masjid yang semakin jauh, berdasarkan hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,

فَلَمْ يَخْطُ خَطْوَةً إِلَّا رُفِعَ لَهُ بِهَا دَرَجَةٌ وَحُطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةٌ

Tidaklah dia mengayunkan satu langkahnya kecuali dengannya Allah Subhanahu wata’ala mengangkatnya satu derajat dan menghapus satu kesalahannya.”

Demikian pula hadits,

أَعْظَمُ النَّاسِ أَجْرًا فِي الصَّلَاةِ أَبْعَدُهُمْ فَأَبْعَدُهُمْ مَمْشًى

Sesungguhnya manusia yang paling agung pahalanya dalam shalat adalah orang yang paling jauh berjalan menuju padanya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu)

Semakin jauh jarak masjid, semakin utama baginya karena lebih melelahkan. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kepada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhuma,

إِنَّ لَكِ مِنَ الْأَجْرِ عَلَى قَدْرِ نَصَبِكِ

Sesungguhnya pahalamu sesuai dengan kelelahanmu.” Urutan berikutnya adalah masjid yang lebih dahulu didirikan karena ketaatan lebih dahulu dikerjakan padanya. (asy-Syarh al-Mumti’ 2/377—378)

Mendulang Pahala Dengan Shalat Berjamah

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ

“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah bersama orangorang yang rukuk.” (al Baqarah: 43)

Tafsir Ayat

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ

“Dan dirikanlah shalat.”

Berasal dari kata ) قَامَ ( yang bermakna tetap dan kokoh. Jadi, yang dimaksud ) أَقَامَ ( adalah menetapkan dan mengokohkan. Dengan demikian, menegakkan shalat maknanya adalah menunaikannya dengan melakukan rukunrukunnya, sunnah-sunnahnya, dan tata caranya yang dilakukan pada waktunya. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa beliau radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Menegakkan shalat adalah menyempurnakan rukuk dan sujud, bacaan, kekhusyukan, dan konsentrasi.”

Qatadah  rahimahullah berkata, “Makna menegakkan shalat adalah menjaga waktu-waktunya, wudhu, rukuk, dan sujudnya.”

Makna ini pula yang dipakai oleh Umar radhiyallahu ‘anhu tatkala menulis surat kepada para pegawainya,

إِنَّ أَهَمَّ أَمْرِكُمْ عِنْدِي الصَّلاَةُ، فَمَنْ حَفِظَهَا وَحَافَظَ عَلَيْهَا حَفِظَ دِينَهُ وَمَنْ ضَيَّعَهَا فَهُوَ لِمَا سِوَاهَا أَضْيَعُ

“Sesungguhnya urusan kalian yang terpenting bagiku adalah shalat. Barang siapa menjaga dan memeliharanya, berarti dia memelihara agamanya, dan siapa yang menelantarkannya, berarti dia lebih menelantarkan yang lainnya.” (Riwayat al-Imam Malik dalam al-Muwaththa’, no. 6, al-Baihaqi, 1/445) (Lihat Tafsir al-Qurthubi, 1/253, Fathul Qadir, 1/114, Tafsir ath-Thabari, 1/248)

Adapun shalat secara bahasa bermakna doa. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِم بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ ۖ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَّهُمْ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka, serta mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (at-Taubah: 103)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إذا دُعِيَ أَحَدُكُمْ فَلْيُجِبْ فَإِنْ كَانَ صَائِمًا فَلْيُصَلِّ وَإِنْ كَانَ مُفْطِرًا فَلْيَطْعَمْ

“Jika salah seorang kalian diundang, hendaklah ia menjawabnya (memenuhi undangannya). Jika dia berpuasa, hendaklah ia mendoakannya, dan jika ia tidak berpuasa, hendaknya ia makan.” (HR. Muslim no. 1431)

Adapun secara istilah syariat, shalat adalah ibadah yang terdiri dari perkataan dan perbuatan tertentu, yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam. Para ulama berbeda pendapat tentang shalat yang dimaksud dalam ayat ini, apakah shalat wajib atau mencakup seluruh shalat, yang wajib dan yang sunnah. Pendapat kedua dikuatkan oleh al-Qurthubi rahimahullah. Beliau berkata setelah menyebutkan pendapat kedua, “Inilah pendapat yang benar karena lafadznya umum, dan orang yang bertakwa mengamalkan kedua jenis shalat tersebut.” (Tafsir al-Qurthubi, 1/261)

وَآتُوا

“Aatuu” berasal dari kata “aliitaa” ) الْإِيْتَاءُ (, maknanya memberikan dan menunaikan. Adapun “zakaah” berasal dari kata “zaka–yazku” ) زَكَا – يَزْكُو ( yang bermakna bertambah dan berkembang. Dinamakan zakat karena mengeluarkan zakat akan menyebabkan harta semakin berkah atau orang yang menunaikannya akan semakin bertambah pahala dan keutamaannya. Ada pula yang berkata bahwa zakat berasal dari “zaka” yang bermakna suci dan bersih. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِم بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ ۖ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَّهُمْ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka.” (at-Taubah: 103)

Terjadi silang pendapat di kalangan para ulama tentang zakat yang dimaksud dalam ayat ini:

1. Ada pendapat yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah zakat mal yang wajib. Ini adalah pendapat mayoritas ulama.

2. Pendapat kedua mengatakan bahwa yang dimaksud adalah zakat fithr. Pendapat ini diriwayatkan dari al-Imam Malik rahimahullah.

Yang kuat dari dua pendapat di atas adalah pendapat pertama, dengan beberapa alasan:

• Perintah menunaikan zakat di sini digandengkan dengan perintah menegakkan shalat, yaitu shalat lima waktu.

• Zakat fithr biasanya dihubungkan dengan Ramadhan, sebagaimana yang diriwayatkan dalam hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, sedangkan ayat ini menyebutkan zakat secara mutlak. (lihat Tafsir al-Qurtubi, 2/24, Fathul Qadir, 1/178)

وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ

“Dan rukuklah bersama orang-orang yang rukuk.”

Rukuk secara bahasa bermakna membungkuk. Setiap orang yang membungkuk kepada yang lain maka ia disebut melakukan rukuk kepada orang tersebut. Rukuk adalah salah satu perbuatan yang tidak boleh dilakukan kepada selain Allah Subhanahu wata’ala, sebab hal itu termasuk jenis ibadah, seperti halnya sujud. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, rukuklah kalian, sujudlah kalian, sembahlah Rabb kalian, dan perbuatlah kebajikan supaya kalian mendapat kemenangan.” (al-Hajj: 77)

Ada beberapa faedah dikhususkannya penyebutan rukuk di dalam ayat ini:

1. Untuk membedakan antara shalat kaum muslimin dan shalat kaum Yahudi (yang menyimpang) yang tidak ada rukuk di dalamnya.

2. Untuk menjelaskan bahwa rukuk adalah salah satu rukun shalat yang tidak sah ibadah seseorang

kecuali dengan melakukan rukuk dan menyempurnakannya. Mengungkapkan sebuah ibadah dengan menyebut salah satu amalannya, menunjukkan wajibnya amalan yang disebutkan tersebut. Seperti halnya hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam,

الْحَجُّ عَرَفَةُ

“Haji itu adalah wukuf di Arafah.” (HR. Ahmad, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, ad-Daraquthni, al-Hakim, dan yang lainnya dari Abdurrahman bin Ya’mar radhiyallahu ‘anhu) (Lihat Fathul Qadir, asy-Syaukani; Taisir al-Karim ar-Rahman, al-Allamah as-Sa’di)

Adapun cara melakukan rukuk yang syar’i adalah membungkukkan tulang punggung, membentangkan punggung dan lehernya, serta membuka jari-jemari kedua tangannya sambil menggenggam kedua lututnya. Kemudian melakukannya dengan thuma’ninah dan membaca zikir zikir yang berasal dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. (Silakan lihat hadits-hadits tentang sifat rukuk Nabi n dalam Shifat Shalat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, karya al-Allamah al-Albani rahimahullah) Ayat di atas dijadikan dalil oleh para ulama tentang disyariatkannya shalat berjamaah. Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah menerangkan, “Banyak dari kalangan ulama yang menjadikan ayat ini sebagai dalil tentang wajibnya shalat berjamaah.”

Terdapat perselisihan tentang hukum shalat berjamaah.

1. Pendapat pertama, tidak boleh ditegakkan shalat berjamaah kecuali jika imamnya seorang nabi atau shiddiq. Ibnu Abdil Bar  rahimahullah menyebutkan pendapat ini dalam kitabnya, at-Tamhid, dan beliau berkata bahwa ini pendapat bid’ah yang berasal dari kaum Khawarij yang menyelisihi jamaah kaum muslimin. (at-Tamhid, 14/140)

2. Shalat berjamaah adalah syarat sahnya shalat wajib, hukumnya fardhu ‘ain, dan tidak sah shalat seseorang jika ia mengerjakannya sendirian tanpa uzur. Pendapat ini dikuatkan oleh Dawud azh-Zhahiri dan Ibnu Hazm rahimahumallah.

3. Shalat berjamaah hukumnya fardhu ‘ain, wajib bagi yang tidak mempunyai uzur, namun bukan syarat sahnya shalat. Jika seseorang mengerjakannya sendirian tanpa uzur, shalatnya sah, namun dia berdosa karena meninggalkan kewajibannya. Pendapat ini diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud dan Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhuma. Ini juga merupakan pendapat Atha’, al-Auza’i, Abu Tsaur, Ahmad, dan sekelompok ulama dari mazhab Syafi’i, seperti Ibnu Khuzaimah, Ibnul Mundzir, dan Ibnu Hibban rahimahumullah.

4. Shalat berjamaah hukumnya fardhu kifayah. Ini adalah pendapat al-Imam asy- Syafi’i  rahimahullah dan mayoritas pengikut mazhabnya, serta pendapat ulama mazhab Maliki dan Hanafi. An-Nawawi rahimahullah menguatkan pendapat ini dalam al Majmu’.

5. Shalat berjamaah hukumnya sunnah mu’akkadah, tidak sepantasnya ditinggalkan tanpa uzur syar’i. Ini adalah pendapat mayoritas fuqaha Hijaz, Irak, dan Syam, serta dikuatkan oleh asy-Syaukani dan Ibnu Abdil Bar. (Lihat perbedaan pendapat ulama tentang masalah ini dalam at-Tamhid, 14/140; al-Majmu’ karya an-Nawawi, 4/160; al-Mughni, 2/3, Nailul Authar, asy- Syaukani, 3/151, dan yang lainnya)

Selain pendapat pertama, setiap pendapat yang disebutkan di atas memiliki hujah dan argumen yang kuat, namun yang tampak lebih kuat—wallahu a’lam— adalah pendapat yang ketiga, berdasarkan dalil-dalil berikut.

1. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَإِذَا كُنتَ فِيهِمْ فَأَقَمْتَ لَهُمُ الصَّلَاةَ فَلْتَقُمْ طَائِفَةٌ مِّنْهُم مَّعَكَ وَلْيَأْخُذُوا أَسْلِحَتَهُمْ فَإِذَا سَجَدُوا فَلْيَكُونُوا مِن وَرَائِكُمْ وَلْتَأْتِ طَائِفَةٌ أُخْرَىٰ لَمْ يُصَلُّوا فَلْيُصَلُّوا مَعَكَ وَلْيَأْخُذُوا حِذْرَهُمْ وَأَسْلِحَتَهُمْ ۗ وَدَّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ تَغْفُلُونَ عَنْ أَسْلِحَتِكُمْ وَأَمْتِعَتِكُمْ فَيَمِيلُونَ عَلَيْكُم مَّيْلَةً وَاحِدَةً ۚ وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِن كَانَ بِكُمْ أَذًى مِّن مَّطَرٍ أَوْ كُنتُم مَّرْضَىٰ أَن تَضَعُوا أَسْلِحَتَكُمْ ۖ وَخُذُوا حِذْرَكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ أَعَدَّ لِلْكَافِرِينَ عَذَابًا مُّهِينًا

“Dan apabila kamu berada di tengah tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) bersamamu dan menyandang senjata. Kemudian apabila mereka (yang shalat bersamamu) sujud (telah menyempurnakan satu rakaat), maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh). Hendaklah datang golongan yang kedua yang belum shalat, lalu shalatlah mereka denganmu, dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata. Orang orang kafir ingin supaya kamu lengah terhadap senjata dan harta bendamu, lalu mereka menyerbu kamu dengan sekaligus. Dan tidak ada dosa atasmu meletakkan senjata-senjatamu, jika kamu mendapat sesuatu kesusahan karena hujan atau karena kamu memang sakit; dan siap siagalah kamu. Sesungguhnya Allah telah menyediakan azab yang menghinakan bagi orang-orang kafir itu.” (an-Nisa: 102)

Al-Allamah as-Sa’di  rahimahullah berkata ketika menjelaskan ayat ini, “Ayat ini menunjukkan bahwa shalat berjamaah hukumnya fardhu ‘ain, dari dua sisi:

a. Allah Subhanahu wata’ala memerintahkannya dalam kondisi sulit seperti ini, di waktu yang sangat dikhawatirkan akan kedatangan musuh dan serangan mereka. Jika Allah Subhanahu wata’ala mewajibkannya dalam kondisi sulit ini, tentu diwajibkannya shalat dalam kondisi tenang dan aman, lebih utama.

b. Orang yang mengerjakan shalat khauf meninggalkan banyak syarat dan kewajiban shalat, dan dimaafkan padanya kebanyakan perbuatan (gerakan) yang hakikatnya membatalkan shalat jika dikerjakan tidak dalam kondisi khauf (takut). Tentu tidaklah hal ini diperbolehkan kecuali untuk lebih menguatkan kewajiban berjamaah. Sebab, tidak bertentangan antara yang wajib dan yang mustahab, kalaulah tidak ada kewajiban berjamaah, tidak boleh ditinggalkan hal-hal yang wajib ini karenanya.” (Taisir al-Karim ar-Rahman)

2. Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِحَطَبٍ فَيُحْطَبَ ثُمَّ آمُرَ بِالصَّ ةَالِ فَيُؤَذَّنَ لَهَا ثُمَّ آمُرَ رَجُ فَيَؤُمَّ النَّاسَ ثُمَّ أُخَالِفَ إِلَى رِجَالٍ فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوتَهُمْ

“ Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh aku berkeinginan untuk memerintahkan dikumpulkannya kayu bakar, kemudian aku perintahkan untuk ditegakkan shalat, lalu dikumandangkan azan untuknya. Lantas aku perintahkan seseorang untuk mengimami manusia, kemudian aku akan mendatangi beberapa orang dan membakar rumah-rumah mereka.” Dalam riwayat lain, “Yaitu mereka tidak menghadiri shalat, maka aku akan membakar mereka.” (Muttafaq ‘alaihi)

3. Dari Abu Hurairahradhiyallahu ‘anhu, dia berkata bahwa ada seorang buta datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku tidak memiliki penuntun yang menuntun aku datang ke masjid.” Ia pun meminta keringanan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam untuk shalat di rumahnya. Awalnya Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam mengizinkannya. Tatkala dia hendak pulang, Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam memanggilnya dan bertanya kepadanya, “Apakah engkau mendengar panggilan untuk shalat (azan)?” Ia menjawab, “Ya.” Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Penuhilah (panggilan tersebut)!” (HR. Muslim no. 653)

4. Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَلْقَى اللهَ غَدًا مُسْلِمًا فَلْيُحَافِظْ عَلَى هَؤُلَاءِ الصَّلَوَاتِ حَيْثُ يُنَادَى بِهِنَّ، فَإِنَّ اللهَ شَرَعَ لِنَبِيِّكُمْ سُنَنَ الْهُدَى وَإِنَّهُنَّ مِنْ سُنَنِ الْهُدَى  ، وَلَوْ أَنَّكُمْ صَلَّيْتُمْ فِي بُيُوتِكُمْ كَمَا يُصَلِّي هَذَا الْمُتَخَلِّفُ فِي بَيْتِهِ لَتَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ، وَلَوْ تَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ لَضَلَلْتُمْ، وَمَا مِنْ رَجُلٍ يَتَطَهَّرُ فَيُحْسِنُ الطُّهُورَ ثُمَّ يَعْمِدُ إِلَى مَسْجِدٍ مِنْ هَذِهِ الْمَسَاجِدِ إِلَّا كَتَبَ اللهُ لَهُ بِكُلِّ خَطْوَةٍ يَخْطُوهَا حَسَنَةً وَيَرْفَعُهُ بِهَا دَرَجَةً وَيَحُطُّ عَنْهُ بِهَا سَيِّئَةً، وَلَقَدْ رَأَيْتُنَا وَمَا يَتَخَلَّفُ عَنْهَا إِلاَّ مُنَافِقٌ مَعْلُومُ النِّفَاقِ، وَلَقَدْ كَانَ الرَّجُلُ يُؤْتَى بِهِ يُهَادَى بَيْنَ الرَّجُلَيْنِ حَتَّى يُقَامَ فِي الصَّفِّ

“Barang siapa yang senang bertemu Allah Subhanahu wata’ala kelak dalam keadaan muslim, hendaklah ia memelihara shalat-shalat ini dengan menunaikannya di tempat dipanggilnya, karena sesungguhnya Allah Subhanahu wata’ala telah mensyariatkan kepada Nabi kalian sunnah-sunnah petunjuk. Dan sesungguhnya shalat-shalat ini termasuk sunnah-sunnah petunjuk. Seandainya kalian shalat di rumah rumah kalian sebagaimana orang yang tidak ke masjid ini shalat di rumahnya, berarti kalian telah meninggalkan sunnah Nabi kalian. Jika kalian meninggalkan sunnah Nabi kalian, berarti kalian telah tersesat. Tidaklah seorang lelaki bersuci dan menyempurnakan bersucinya, lalu dia berangkat ke sebuah masjid kecuali Allah Subhanahu wata’ala mencatat baginya setiap langkah yang ia langkahkan dengan satu kebaikan, mengangkat satu derajat baginya, dan menghapuskan darinya satu kesalahan. Sungguh kami melihat bahwa tidak ada yang meninggalkannya selain seorang munafik yang jelas kemunafikannya. Dahulu seseorang didatangkan untuk menghadiri jamaah, hingga dipapah oleh dua orang untuk didirikan di dalam shaf.” (HR. Muslim no. 654)

Dalil-dalil ini zahirnya menunjukkan wajibnya menegakkan shalat jamaah di masjid. Wallahul muwaffiq.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muawiyah Askari bin Jamal al-Bugisi

Shalat, Antara Diterima Dan Tidak

Tidak ada jalan menuju kebahagiaan setiap hamba, baik di dunia maupun di akhirat melainkan Allah Subhanahu wata’ala telah membentangkan jalan untuk mencapainya dan membimbing ke arah jalan tersebut. Sebaliknya, tidak ada sesuatu yang membahayakan dan memudaratkan mereka, melainkan Allah Subhanahu wata’ala telah menurunkan wahyu-Nya serta mengutus utusan-Nya untuk menjelaskan dan memperingatkan darinya. Salah satu jalan kebaikan yang sangat besar dan bernilai tinggi dalam hidup mereka adalah ketaatan dalam bentuk penghambaan dan penghinaan diri yang tinggi, serta bentuk kedekatan hamba yang paling dekat dengan Allah Subhanahu wata’ala yaitu shalat lima waktu sehari semalam. Ini semua sebagai bukti bahwa Allah Subhanahu wata’ala memuliakan setiap hamba dan tidak menciptakan mereka secara sia-sia, tanpa arti.

أَيَحْسَبُ الْإِنسَانُ أَن يُتْرَكَ سُدًى

“Apakah manusia mengira bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?” (al-Qiyamah: 36)

Ketaatan dengan Pertolongan Allah Subhanahu wata’ala

Setiap hamba semestinya mengetahui dengan diperintahkannya mereka untuk melaksanakan sesuatu atau dilarangnya mereka dari sesuatu semata-mata untuk hamba itu sendiri dan tidak ada kepentingannya bagi Allah Subhanahu wata’ala sedikit pun. Hamba itu pun harus mengetahui bahwa kemampuan dia untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya serta kemampuan dia untuk menjauh dari segala larangan, sesungguhnya itu merupakan bantuan dari Allah Subhanahu wata’ala semata. Tanpa hal itu, manusia tidak akan sanggup untuk melaksanakannya karena,

Pertama: Adanya hawa nafsu yang sangat berlawanan dengan niatan niatan baik setiap manusia serta selalu mendorong untuk menyelisihi segala perintah dan larangan Allah Subhanahu wata’ala. Dia akan mengundang siapa pun untuk menjadi orang yang berani meninggalkan perintah dan menjadi orang yang tidak punya malu melanggar larangan. Jika perintah dan larangan itu diserahkan pelaksanaannya semata mata pada kemampuan manusia dan tidak ada bantuan dari Allah Subhanahu wata’ala, niscaya semuanya akan menjadi tersesat. Tentu saja Allah Subhanahu wata’ala menolong hamba-hamba yang dikehendaki-Nya karena karunia- Nya, dan tidak menolong yang lain karena keadilan.

وَلَوِ اتَّبَعَ الْحَقُّ أَهْوَاءَهُمْ لَفَسَدَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ وَمَن فِيهِنَّ ۚ بَلْ أَتَيْنَاهُم بِذِكْرِهِمْ فَهُمْ عَن ذِكْرِهِم مُّعْرِضُونَ

“Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka peringatan (al-Qur’an) tetapi mereka berpaling darinya.” (al-Mu’minun: 71)

فَإِن لَّمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءَهُمْ ۚ وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِّنَ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Maka jika mereka tidak memenuhi seruanmu, ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikit pun. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orangorang yang zalim.” (al-Qashash: 50)

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata, “Hawa nafsu menghalangi dari kebenaran.” (al- Ibanah ash-Shugra hlm. 122)

Al-Hasan rahimahullah mengatakan, “Tidak ada sebuah penyakit yang lebih dahsyat daripada penyakit hawa nafsu yang mengenai hati.” (al-Ibanah ash-Shugra hlm. 124)

Abdullah bin ‘Aun al-Bashri rahimahullah berkata, “Bila hawa nafsu telah berkuasa di dalam hati, niscaya dia akan menganggap baik segala apa yang dahulunya dipandang jelek.” (al-Ibanah as-Shugra 131) (Lihat kitab Sallus Suyuf wal Asinnah secara ringkas hlm. 24—26)

Kedua: Setan dari luar manusia yang setiap saat mengintai mereka untuk kemudian menyerunya menuju penyelisihan terhadap perintah Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya. Setan telah menjadikan diri sebagai lawan atas siapa saja yang menaati Allah Subhanahu wata’ala, serta kawan bagi siapa yang melanggar perintah dan larangan Allah Subhanahu wata’ala. Dialah yang mengatakan di hadapan Allah Subhanahu wata’ala sebagaimana firman-Nya,

قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ () ثُمَّ لَآتِيَنَّهُم مِّن بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَن شَمَائِلِهِمْ ۖ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ

Iblis menjawab, “Karena Engkau telah menghukum aku tersesat, aku benar benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian aku akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka, dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” (al-A’raf: 16—17)

Firman-Nya pula,

قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ

Iblis berkata, “Ya Rabbku, karena Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya.” (al- Hijr: 39)

Dengan semuanya ini, sudah sepantasnya bagi seorang hamba bila dia menemukan dirinya menjadi orang yang mendapatkan kemudahan untuk melaksanakan ketaatan dan ringan dalam menjauhi larangan agar selalu bersyukur kepada Allah Subhanahu wata’ala, karena semuanya dengan bantuan-Nya. Bila seorang hamba menemukan dirinya sangat mudah untuk melanggar ketentuan Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya, hendaklah dia mencela dirinya sendiri. Setelah itu, dia harus berjuang untuk menundukkan hawa nafsunya di atas syariat Allah Subhanahu wata’ala dan melawan setan sebagai teman yang mengajak dia bermaksiat.

Setiap hamba semestinya mengetahui bahwa jalan kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat adalah dalam ketaatan kepada Allah Subhanahu wata’ala dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam serta menjalankan segala aturan Allah Subhanahu wata’ala di dalam wahyu-Nya. Karena tanpa itu semua, jangan bermimpi akan menang dalam setiap perjuangan, jangan berkhayal kejayaan, kemuliaan, kewibawaan Islam dan kaum muslimin akan kembali, serta jangan berharap akan meraih kebahagiaan dan kesenangan yang hakiki. Yang ada adalah kegagalan, kekalahan, kerendahan dan kehinaan, serta kehancuran dan kebinasaan. Cukuplah berita ilahi di dalam al-Qur’an dan as-Sunnah yang sahih sebagai berita yang akurat yang tidak ada kedustaan di dalamnya.

Jalan-Jalan Ketaatan dan Keikhlasan

Pintu-pintu kebaikan yang begitu banyak sungguh telah dijelaskan secara rinci dalam syariat Allah Subhanahu wata’ala dan tidak ada sesuatu yang masih tersisa. Kesempurnaan syariat-Nya juga membuktikan bahwa Allah Subhanahu wata’ala menginginkan kemuliaan atas setiap hamba-Nya. Sebuah kebajikan yang besar tentunya untuk meraih nilai yang besar pula di sisi Allah Subhanahu wata’ala. Nilai nilai yang besar tersebut tidak akan didapatkan melainkan pelaksanaannya harus berada di atas koridor agama.

Dengan kata lain, harus berada di atas syarat-syarat diterimanya amal. Di antara ketentuan yang harus ada dalam pengabdian setiap hamba kepada Allah Subhanahu wata’ala adalah dua hal yaitu ikhlas dan mutaba’ah (mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam). Barang siapa yang tidak ada pada amalnya kedua syarat tersebut atau salah satu di antaranya, maka jelas ditolak dan masuk dalam firman Allah Subhanahu wata’ala,

وَقَدِمْنَا إِلَىٰ مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَّنثُورًا

“Dan Kami sodorkan segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan.” (al-Furqan: 23)

Kedua sifat tersebut, ikhlas dan mutaba’ah (mencontoh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam) telah dihimpun oleh Allah Subhanahu wata’ala di dalam firman-Nya,

وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِّمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَاتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا ۗ وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا

“Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedangkan dia pun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kekasih-Nya.” (an-Nisa: 125)

بَلَىٰ مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهُ أَجْرُهُ عِندَ رَبِّهِ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

“(Tidak demikian) bahkan barang siapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedangkan ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Rabbnya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (al-Baqarah: 112) (Lihat kitab Bahjatu Qulubul Abrar hlm. 14 karya al-Imam as-Sa’di rahimahullah)

Shalat, Amalan Besar yang Butuh Keikhlasan dan Mutaba’ah

Di antara sederetan kewajiban yang besar serta bernilai agung dan tinggi adalah shalat lima waktu sehari semalam. Amal besar yang tidak ada seorang muslim pun meragukannya karena dalil yang menjelaskannya sangat terang layaknya matahari di siang bolong. Oleh karena itu, jika ada orang yang mengaku muslim mengingkari dan tidak mengerjakan shalat berarti dia telah menanggalkan pakaian keislamannya, dia sadari atau tidak. Sebab, dia telah menentang hujah yang sangat terang dan jelas. Contoh perintahnya,

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ

“Dan dirikanlah shalat, tunaikan zakat, dan rukuklah bersama orangorang yang rukuk.” (al-Baqarah: 43)

Adakah dari kaum muslimin yang memahami perintah shalat di dalam ayat ini dengan makna bukan sebenarnya yaitu shalat yang telah dituntunkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam? Jika ada, berarti jelas bahwa dia adalah orang yang sesat dan jika dia tidak melaksanakannya akan bisa menjadikan dia kafir, keluar dari Islam. Karena shalat adalah amal ibadah besar kepada Allah Subhanahu wata’ala, seharusnya tidak dicari di baliknya selain wajah Allah Subhanahu wata’ala dan ridha-Nya. Itulah keikhlasan, sebab:

1. Jika melaksanakannya dan ingin semata-mata pujian dari manusia, ingin terpandang, atau ingin memiliki kedudukan di hati banyak orang, ini adalah sebuah kesyirikan, walaupun dia mengerjakannya dengan penuh ketaatan. Allah Subhanahu wata’ala bercerita tentang ibadah shalat orang-orang munafik yaitu nifak akbar (besar),

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَىٰ يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah dan Allah akan membalas tipuan mereka. Apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia, dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (an-Nisa: 142)

2. Jika melaksanakannya karena Allah Subhanahu wata’ala dan ingin mendapatkan sanjungan dari manusia, ini adalah bentuk kesyirikan kepada Allah Subhanahu wata’ala. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, (Allah Subhanahu wata’ala berfirman,)

أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ، مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ

“Aku tidak butuh kepada sekutu sekutu dalam kesyirikan. Barang siapa yang melakukan amalan dan dia menyekutukan Aku dengan selain-Ku, niscaya Aku akan biarkan dia bersama sekutunya.” (HR. Muslim) Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu secara marfu’, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِمَا هُوَ أَخْوَفُ عَلَيْكُمْ عِنْدِي مِنَ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ؟ قَالُوا : بَلَى. قَالَ: الشِّرْكُ الْخَفِيُّ، يَقُومُ الرَّجُلُ فَيُصَلِّي فَيَزِينُ صَلَاتَهُ لَمَّا يَرَى مِنْ نَظَرِ رَجُلٍ

“Maukah aku beri tahukan kepada kalian sesuatu yang lebih aku khawatirkan daripada fitnah Dajjal?” Mereka berkata, “Ya.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Syirik tersembunyi, yaitu seseorang melaksanakan shalat dan memperindahnya karena ada yang melihatnya.” (HR. Ahmad)

Keikhlasan adalah dia tidak mengharapkan dalam segala jenis ibadahnya, termasuk shalat, selain ridha dan wajah Allah Subhanahu wata’ala semata. Jika seseorang telah mengerjakannya dengan landasan keikhlasan, Allah Subhanahu wata’ala akan mengganjarnya di dunia sebelum di akhirat, mengangkat namanya, berkedudukan di hadapan manusia tanpa dia mencari dan mengejarnya. Itulah ganjaran setiap kebaikan di dunia sebelum akhirat. Dari penjelasan di atas, jelaslah bahwa tidak akan merugi, baik dunia maupun akhirat, seseorang yang melaksanakan ketaatan kepada Allah Subhanahu wata’ala dengan landasan keikhlasan.

Banyak amal kecil dan ringan karena niatnya yang baik menjadi amalan yang bernilai besar dan berat. Amalan yang besar menjadi ringan bahkan nihil dari nilai, karena niatnya. Sungguh ini adalah kerugian yang nyata dan kesia-siaan yang besar. Perlu diketahui pula bahwa kebenaran niat seseorang dalam sebuah ibadahnya tidak menjamin amalnya tersebut diterima. Hal ini karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah menjelaskan hal ini dalam sebuah sabda beliau,

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barang siapa melakukan amalan dan tidak ada perintahnya dari kami, niscaya amal tersebut tertolak.”

Manthuq (makna lahiriah) hadits ini adalah setiap perkara bid’ah yang dibuat-buat dalam urusan agama yang tidak memiliki landasan di dalam al- Qur’an dan as-Sunnah—baik bid’ah ucapan dan keyakinan, seperti bid’ah Jahmiyah, Rafidhah, Mu’tazilah, serta selainnya, maupun bid’ah perbuatan, seperti beribadah kepada Allah Subhanahu wata’ala dengan ibadah-ibadah yang tidak ada syariatnya dari Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya— maka semua amalan tersebut tertolak. Pelakunya tercela dan ketercelaannya sesuai dengan tingkat kebid’ahan dan jauhnya dia dari agama.

Barang siapa memberitakan tidak seperti berita Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya atau dia beribadah dengan sesuatu yang tidak ada izin dari Allah Subhanahu wata’ala dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam maka dia adalah seorang mubtadi’. Barang siapa mengharamkan perkara-perkara yang dibolehkan atau beribadah tanpa ada syariatnya, maka dia juga seorang mubtadi’. Mafhum hadits ini, barang siapa melaksanakan sebuah amalan yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul- Nya, yaitu beribadah kepada Allah Subhanahu wata’ala dengan keyakinan yang benar dan amal saleh, baik yang bersifat wajib maupun mustahab (sunnah), maka segala pengabdiannya diterima dan usahanya patut disyukuri.

Hadits ini menjelaskan pula bahwa setiap ibadah yang dikerjakan dalam bentuk yang dilarang maka ibadah tersebut menjadi rusak karena tidak ada perintah dari Allah Subhanahu wata’ala dan adanya larangan tersebut. Konsekuensinya adalah rusak, dan setiap bentuk muamalah yang syariat melarangnya adalah ibadah yang sia-sia dan tidak tergolong dalam kategori ibadah. (Lihat Bahjatul Qulubul Abrar hlm. 17)

Mereguk Nilai di Balik Keikhlasan

Tidak ada satu bentuk pengorbanan dalam sebuah peribadahan kepada Allah Subhanahu wata’ala melainkan telah dipersiapkan ganjaran yang lebih besar dari apa yang telah dia korbankan. Itulah janji Allah Subhanahu wata’ala di dalam al-Qur’an dan melalui lisan Rasul-Nya di dalam as-Sunnah. Bahkan, Allah Subhanahu wata’ala telah menetapkan secara umum jaminan nilai yang akan didapatkan pada semua bentuk peribadahan kepada Allah Subhanahu wata’ala seperti dalam firman-Nya,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai manusia, sembahlah Rabbmu yang telah menciptakanmu dan orang orang yang sebelummu, agar kalian bertakwa.” (al-Baqarah: 21)

Dari sinilah, orang yang beriman mengetahui bahwa siapa saja mengharapkan urusannya yang sulit segera terselesaikan, problem hidupnya yang berat diringankan, dimudahkan urusan rezekinya, mulia dan bahagia, hendaklah dia mencarinya melalui jalur ibadah. Adapun tentang ibadah shalat, Allah Subhanahu wata’ala telah menyebutkan nilai khusus padanya yaitu di samping akan menjadikan seseorang bertakwa kepada Allah Subhanahu wata’ala, juga akan menjadi benteng dari bermaksiat kepada Allah Subhanahu wata’ala dan dari perbuatan-perbuatan yang keji. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ ۗ

“Sesungguhnya shalat dapat mencegah dari kejelekan dan kemungkaran.” (al-‘Ankabut: 45)

As-Sa’di rahimahullah menjelaskan, “Shalat itu tidak cukup bila mendatanginya hanya dalam bentuk pelaksanaan lahiriah semata. Namun, shalat itu adalah menegakkannya baik secara lahiriah dengan menyempurnakan rukun-rukunnya, wajib-wajibnya, dan menegakkan syarat-syarat-Nya. Menegakkan secara batin artinya menegakkan ruhnya, yaitu hadirnya hati di dalam shalat tersebut, memahami apa yang diucapkan dan dilakukannya. Inilah shalat yang dimaksudkan oleh Allah Subhanahu wata’ala di dalam firman-Nya,

إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ ۗ

“Sesungguhnya shalat dapat mencegah dari kejelekan dan kemungkaran.” (al-‘Ankabut: 45) (Tafsir as-Sa’di hlm. 24)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya, apabila dikerjakan sesuai dengan perintah, niscaya shalat akan mencegah dari kejelekan dan kemungkaran. Jika shalat tersebut tidak mencegah dia dari kejelekan dan kemungkaran, ini pertanda bahwa dia telah menyia-nyiakan hak-hak shalat itu kendatipun dia dalam kondisi taat.”

Beliau rahimahullah juga menjelaskan, “Sesungguhnya shalat itu akan menolak adanya perkara yang dibenci yaitu kejelekan dan kemungkaran, dan sekaligus karenanya, juga akan meraih kecintaan yaitu zikrullah; dan terwujudnya kecintaan melalui (shalat) itu lebih besar dibandingkan dengan tertolaknya kejelekan. Hal ini karena zikir kepada Allah Subhanahu wata’ala adalah ibadah, dan ibadah hati sebagai tujuan dari semua bentuk peribadatan tersebut. Adapun tertahannya dia dari kejelekan sebagai tujuan yang lain.”

Beliau rahimahullah berkata, “Yang benar, makna ayat itu adalah shalat memiliki dua tujuan dan satu tujuan dari keduanya itu lebih besar daripada yang lain. Sesungguhnya shalat dapat mencegah dari kejelekan dan kemungkaran. Shalat itu sendiri mengandung makna zikir, dan shalat berikut zikir-zikirnya itu lebih besar dibandingkan keberadaannya yang dapat mencegah dari kekejian dan kemungkaran.

Ibnu Abi Dunia rahimahullah telah menyebutkan dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa beliau ditanya tentang amalan yang paling utama. Beliau rahimahullah berkata, ‘Berzikir kepada Allah Subhanahu wata’ala.’ Di dalam as-Sunan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata,

‘Dan dijadikannya thawaf di baitullah, sa’i antara Shafa’ dan Marwa, serta melempar jumrah, semuanya untuk mengingat Allah Subhanahu wata’ala’.” (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi, dan beliau berkata bahwa hadits ini hasan dan sahih). (Lihat Majmu’ Fatawa 10/188)

Adapun hadits yang mengatakan,

كُلُّ صَلَاةٍ لَمْ تَنْهَ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ لَمْ يَزْدَدْ صَاحِبُهَا مِنَ اللهِ إلَّا بُعْدًا

“Setiap shalat yang tidak mencegah pelakunya dari perbuatan keji dan mungkar, tidak akan menambah bagi pelakunya selain kejauhan dari Allah Subhanahu wata’ala.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjelaskan, “Hadits ini tidak sahih dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.” Lihat penjelasan tentang kelemahan haditsnya di dalam kitab Silsilah Ahadits adh-Dha’ifah wal Maudhu’ah jilid 1 hadits ke-2. Wallahu a’lam.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman