Tanya Jawab Ringkas Edisi 101

Pada rubrik Tanya Jawab Ringkas edisi ini, kami muat beberapa jawaban dari al-Ustadz Muhammad Afifuddin.

Tanya Jawab Ringkas

Zikir Pagi dan Petang

Kapan zikir pagi dan petang? Apakah shalat subuh ketika duduk tahiyat seperti duduk tahiyat pertama/terakhir?

082155XXXXXX

Jawaban:

Zikir pagi dibaca setelah selesai zikir ba’da shalat subuh sampai terbit matahari. Zikir petang yang rajih dilakukan setelah Ashar. Pendapat yang rajih, shalat yang hanya ada satu tasyahud duduk iftirasy seperti tasyahud awal.

 

Melihat Petasan Tahun Baru

Apakah kita melihat petasan saat tahun baru berarti kita ikut merayakannya?

081360XXXXXX

Jawaban:

Jika perbuatan tersebut diiringi dengan perasaan suka, ridha, dan dukungan; maka jelas tidak boleh. Namun, jika melihat karena kita lewat atau tampak dari kejauhan tanpa rasa ridha, maka tidak masalah.

 

Membeli Barang Saat Diskon Tahun Baru

Bolehkah memanfaatkan waktu tahun baru untuk membeli barang yang mendapat potongan harga karena momen tersebut?

085646XXXXXX

Jawaban:

Jika beli barang karena diskon, tidak masalah. Namun, jika karena momen tahun baru, natal, atau ulang tahun sebuah kota; tidak boleh.

Yang saya tanyakan jika barang tersebut didiskon karena tahun baru? Jadi, hari biasa tidak didiskon, sedangkan saat tahun baru didiskon 25%.

085646XXXXXX

Jawaban:

Pihak penjual biasa melakukan promo barang pada momen tertentu: musim liburan, tahun baru, natal, hari besar Islam, dan awal pemasaran. Semua terkait dengan penjual.

Pihak pembeli dikaitkan dengan niatnya. Jika beli dengan niat mencari harga murah tanpa mementingkan momen diskon, tidak masalah. Jika membeli karena menyemarakkan momen yang melanggar syar’i, tidak boleh.

 

Rentang Waktu Haid

Beberapa hari usai nifas, saya haid. Setelah itu, saya pasang KB susuk. Beberapa hari kemudian keluar darah lagi. Bidan menyatakan bahwa itu haid yang disebabkan gejala normal efek awal dari hormon yang dimasukkan. Apakah darah tersebut termasuk haid?

085229XXXXXX

Jawaban:

Haid tidak ada batas waktu minimal maupun maksimal. Yang dianggap adalah wujud darah. Jika memang darah yang keluar bersifat haid, maka dihukumi haid.

 

Berjualan di Area Kemaksiatan

Bagaimana hukum berjualan makanan/minuman di tepi jalan menuju ke tempat lokalisasi atau makam yang dianggap para wali. Apakah hal ini tidak sama seperti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil uang dari sesajen orang musyrikin?

081231XXXXXX

Jawaban:

Jika tempat berjualan itu sudah kita gunakan sebelum adanya kemungkaran tersebut, boleh; meski diutamakan untuk pindah. Namun, jika tempat berjualan kita baru ada setelah ada kemungkaran tersebut, tidak boleh; karena termasuk meramaikan tempat tersebut.

 

Bayar Utang dengan Uang Riba

Apakah uang riba bisa dimanfaatkan untuk membayar utang? Misal si A memberi si B sejumlah uang riba, kemudian si B melunasi utangnya kepada si C dengan uang riba tersebut.

085250XXXXXX

Jawaban:

Jika uang riba sudah diberikan kepada pihak lain yang miskin (sebagian ulama membolehkan alokasi uang riba untuk fakir-miskin), penggunaan sudah menjadi hak mereka. Jika diberikan kepada orang yang tidak miskin untuk membayar utang secara khusus, tidak boleh; karena termasuk mukil ar-riba  (memberi makan orang lain dengan riba).

 

Barang Bermerek Termasuk Tasyabuh?

Apakah dengan membeli produk bermerk terkenal (Sh*pi* M*rt*, H*rm*s, dll) yang dipilih karena kualitasnya termasuk perbuatan tasyabuh?

085747XXXXXX

Jawaban:

Membeli barang yang sifatnya mubah dengan merek terkenal di kalangan orang kafir karena kualitas, tidak termasuk tasyabuh, selama barang tersebut bukan ciri khas/ikon orang-orang kafir.

 

MLM Bersertifikat MUI

Apa hukum MLM yang sudah mendapatkan sertifikat MUI?

089660XXXXXX

Jawaban:

Sejauh yang kami ketahui, sampai saat ini belum ada sistem MLM yang sesuai syariat.

 

Memutihkan Gigi Kuning

Bolehkah memutihkan gigi yang kuning?

081392XXXXXX

Jawaban:

Memutihkan gigi yang kuning diperbolehkan karena mengembalikan sesuatu pada asal ciptaannya; bisa dengan menyikat gigi yang teratur atau periksa ke dokter gigi.

 

Merasa Durhaka kepada Orang Tua

Saya telah melakukzn dosa besar, yaitu durhaka kepada orang tua. Mereka sudah meninggal dan sekarang saya menyesal. Apa yang harus saya lakukan?

085330XXXXXX

Jawaban:

Alhamdulillah jika sudah insyaf dan menyesal dari tindakan durhaka kepada orang tua. Sekarang, berbaktilah kepada beliau yang telah wafat dengan cara: perbanyak doa kebaikan untuk beliau, menyambung hubungan baik dengan karib kerabat orang tua, dan menyambung hubungan baik dengan teman akrab orang tua.

 

Hukum Berdoa setelah Shalat

Bagaimana hukum berdoa setelah shalat?

085261XXXXXX

Jawaban:

Yang disyariatkan setelah shalat adalah berzikir seperti yang dicontohkan dalam sunnah. Tidak ada syariat doa secara khusus setelah shalat. Namun, jika seseorang ingin berdoa tanpa niat mengkhususkan waktu setelah shalat, tidak masalah.

 

Suap

Apa boleh jika seseorang untuk memperoleh pekerjaan harus membayar uang kepada oknum di instansi tertentu?

081542XXXXXX

Jawaban:

Membayar sejumlah uang kepada oknum di perusahaan atau semisal agar diterima sebagai karyawan merupakan risywah (suap) yang diharamkan.

 

Cara Shalat Musafir

Bagaimana hukum safar pada hari Jumat? Bagaimana cara shalat seorang musafir yang tidak berniat mukim?

085XXXXXX

Jawaban:

Safar diperbolehkan pada hari apa pun walau Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa safar pada hari Kamis pagi. Jenis musafir ada dua.

  • Sair (yang sudah menempuh perjalanan), shalatnya qashar dan jamak; bisa taqdim atau ta’khir.
  • Nazil (yang singgah di sebuah tempat), shalatnya qashar pada waktunya masing-masing; ini lebih afdal. Diperbolehkan juga dijamak; kecuali jika shalat berjamaah di belakang imam yang mukim, dia shalat sempurna seperti orang yang mukim.

 

Gadai Riba

Si A memiliki kebun cengkeh yang digadaikan kepada si B seharga tiga puluh juta rupiah dalam jangka waktu sepuluh tahun. Hasil cengkeh selama masa gadai diambil oleh si B. Setelah sepuluh tahun, uang sejumlah tiga puluh juta rupiah dikembalikan utuh kepada si B. Apakah gadai semacam ini diperbolehkan?

081936XXXXXX

Jawaban:

Termasuk gadai yang riba. Hakikatnya, Si A meminjam uang 30 juta kemudian mengembalikannya sejumlah 30 juta ditambah hasil panen selama sepuluh tahun.

 

Antara Memberi Utang dan Kurban

Mana yang lebih didahulukan antara meminjamkan uang kepada kakak yang sedang membutuhkan uang (melanjutkan pendidikan yang bukan agama) atau berkurban?

085260XXXXXX

Jawaban:

Selama pembayaran utangnya masih bisa ditangguhkan dan ada dana lain yang diupayakan untuk membantu saudara, lebih utama untuk berkurban.

 

Penyakit Tiba-Tiba Muncul

Misal ada bagian tubuh tiba-tiba cacat yang diduga karena penyakit ‘ain atau rasa sombong (merasa memiliki kelebihan dibandingkan dengan yang lain) lalu tersadar bahwa bisa jadi akibat kesombongan yang dia lakukan. Apakah ada obat untuk penyakit semacam ini?

085233XXXXXX

Jawaban:

Perubahan kulit umumnya karena masalah medis atau sebab lain. Jika ternyata sebab tersebut tidak ada dan ada indikasi seperti dalam pertanyaan, harus memperbanyak istighfar dan mencoba diruqyah.

 

Hikmah Amalan

Apakah ada dalil yang menjelaskan tentang: 1. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjalankan shalat Subuh dua rakaat, maghrib tiga rakaat, dst. 2. Pada shalat Subuh, Maghrib, Isya’ berjamaah suara imam dijahrkan (dilantangkan)?

081331XXXXXX

Jawaban:

Jumlah rakaat shalat lima waktu sudah dinashkan dalam banyak riwayat sahih. Itu adalah syariat yang harus dijalankan dan tidak dijelaskan apa hikmahnya. Begitu banyak bimbingan Islam yang belum kita ketahui hikmahnya, karena hanya Allah ‘azza wa jalla yang tahu. Hal itu menunjukkan dangkalnya ilmu kita sekaligus sebagai ujian ketaatan bagi kita.

 

Jual Beli Tanah

Jika si A hendak membeli tanah milik si B melalui perantara si C. Kemudian si C mengambil keuntungan dari jual beli tersebut. Akan tetapi, dalam hal ini si A telah ridha jika si C mengambil keuntungan tersebut. Apa hal ini diperbolehkan?

085780XXXXXX

Jawaban:

Si C dalam kasus ini adalah makelar. Dia boleh minta upah kepada si A yang menjadikannya perantara atau ambil keuntungan dari pembelian bila sudah ada kesepakatan sebelumnya dengan si A.

 

Ruqyah Diri Sendiri

Bisakah kita meruqyah diri sendiri? Bagaimana caranya?

082393XXXXXX

Jawaban:

Kita bisa meruqyah diri sendiri. Caranya dengan membaca ayat ruqyah atau doa yang disyariatkan dengan memegang bagian tubuh yang sakit atau mengusapkannya ke sekujur tubuh.

 

Pelaku Syirik

Apakah orang Islam yang berbuat syirik besar dengan orang kafir yang tidak mengenal Allah ‘azza wa jalla dan tidak pernah berbuat syirik besar kekal berada di neraka Jahanam?

085747XXXXXX

Jawaban:

Orang kafir umumnya jatuh ke dalam syirik besar. Jika mati di atas kekufurannya, kekal di dalam neraka. Muslim yang jatuh ke dalam syirik besar tidak bisa langsung divonis kafir. Harus terpenuhi syarat pengkafiran dan telah hilang faktor penghalang. Jika ulama sudah memvonis kafir dan dia mati di atasnya, juga kekal dalam neraka.

 

Menafkahi Orang Tua

Apakah menafkahi kedua orang tua yang masih mampu bekerja termasuk sedekah? Sementara dia tidak mampu untuk bersedekah selain jalan itu.

085866XXXXXX

Jawaban:

Nafkah dia untuk orang tua adalah sedekah; dan birrul walidain adalah hal yang utama. Namun, dia juga berusaha sebisa mungkin ta’awun fi sabilillah walau tidak banyak jumlahnya.

 

Alokasi Sedekah

Bagaimana dan ke mana arah sedekah yang syar’i? Sebab, selama ini kita hanya fokus kepada pengemis.

085641XXXXXX

Jawaban:

Sedekah ada yang bersifat jariyah (manfaatnya untuk muslimin dan berlangsung lama) seperti membangun masjid, pondok pesantren, sumur, dll. Adapula sedekah yang mu’aqqat seperti: bantuan kepada fakir miskin, dhuafa, yatim, dll.

 

Mendiamkan Pelaku Bid’ah

Apakah perbuatan tidak tegur sapa dengan pelaku bid’ah/hizbi termasuk memutuskan tali persaudaraan seorang muslim?

085242XXXXXX

Jawaban:

Tidak berbicara atau memberi salam kepada seorang hizbi adalah prinsip salaf. Hal ini termasuk sikap berlepas diri karena Allah ‘azza wa jalla, bukan memutus persaudaraan atau merusak ukhuwah. Justru yang merusak ukhuwah adalah kehizbiyahan pelaku bid’ah/hizbi tersebut.

 

Mengikuti Acara Bid’ah di Sekolah

Bagaimana sikap kita jika kita bersekolah di sekolah umum yang mengajarkan sesuatu yang dilarang (misalkan maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam). Jika kita tidak mengikuti acara tersebut, maka kita tidak mendapatkan nilai?

082331XXXXXX

Jawaban:

Hal itu sedikit dari sekian banyak mudarat sekolah umum. Jelas tidak boleh dilakukan dan bukan termasuk kondisi darurat. Nilai jelek adalah risiko kita jika lebih mementingkan akidah dan prinsip. Lebih baik lagi bila kita berusaha keluar dari sekolah umum.

 

Mendiamkan Saudara Muslim

Bagaimana hukumnya jika kita tidak berbicara dengan seorang muslim lebih dari tiga hari? Sebab, jika berbicara dikhawatirkan mendapat masalah lagi.

087840XXXXXX

Jawaban:

Tidak mau berbicara dengan muslim karena masalah pribadi atau duniawi lebih dari tiga hari hukumnya haram dengan nash hadits. Yang terbaik adalah yang lebih dahulu memberi salam. Boleh pula mendiamkan selamanya karena alasan masalah prinsip agama dan manhaj, apabila seseorang menyimpang tidak kunjung bertobat.

 

Jual Beli Lewat Toko Online

Bagaimana hukum jual beli lewat toko online? Karena praktik ini bisa menjerumuskan pada jual beli yang tidak jelas akadnya.

085747XXXXXX

Jawaban:

Pada dasarnya boleh, dengan syarat umum: akadnya sesuai syariat dan tidak ada hal yang melanggar syariat. Karena itu, bagi yang terjun dalam dunia usaha terutama dengan cara masa kini harus belajar hukum-hukum syariat tentang jual beli.

 

Wanita yang Bekerja dengan Ikhtilath

Apa hukum wanita yang memiliki pekerjaan yang mengharuskan berkomunikasi dengan laki-laki, meski jabat tangan sudah dihindari, sedangkan suami ridha?

085293XXXXXX

Jawaban:

Wanita boleh bekerja dengan syarat:

  • Tidak ada yang memberi nafkah atau untuk menambah penghasilan,
  • Tempat bekerja di rumah atau di tempat khusus wanita,
  • Pekerjaan halal,
  • Aman dari fitnah/gangguan,
  • Jika sampai jarak safar, harus dengan mahram,
  • Tidak mengganggu tugas rumah.

Adapun kasus yang ditanyakan, jelas tidak boleh, karena ada ikhtilat dan pelanggaran syariat lain.

 

Biaya Walimah

Apakah wali/orang tua berdosa jika tidak mau membiayai pernikahan putrinya dan hanya cukup mengharapkan uang lamaran dari calon suami?

085799XXXXXX

Jawaban:

Kewajiban walimah sesungguhnya dibebankan kepada pihak laki-laki sebagaimana nash hadits. Namun, alangkah baiknya orang tua turut membantu acara pernikahan putrinya, karena hal itu termasuk perbuatan ihsan kepadanya. Selain itu, menurut kebiasaan masyarakat juga termasuk kebaikan. Seandainya orang tua mencukupkan dengan biaya dari pihak laki-laki, insya Allah bukan termasuk tindakan dosa.

 

Syafaat bagi Ibu Sang Anak

Apakah wanita yang keguguran sampai empat kali kelak anak-anaknya bisa memberinya syafaat?

08217XXXXXXX

Jawaban:

Jika keguguran sebelum ditiupkan ruh, tidak termasuk pembahasan karena belum bernyawa. Namun, jika keguguran setelah ditiupkan ruh, hal itu seperti bayi yang wafat. Mereka bisa memberi syafaat dan menjadi hijab (penghalang) dari neraka. Dalam riwayat disebutkan dua atau tiga anak.

 

Lomba dengan Uang Pendaftaran

Jika mengikuti pertandingan olah raga dengan dipungut uang pendaftaran yang digunakan konsumsi peserta, sedangkan hadiah uang sudah disiapkan oleh panitia, apakah diperbolehkan ikut?

089693XXXXXX

Jawaban:

Perlombaan ada beberapa keadaan.

  • Perlombaan dalam hal haram. Hukumnya haram secara mutlak, baik dengan atau tanpa membayar, berhadiah atau tidak.
  • Perlombaan dalam hal mubah tanpa membayar. Hukumnya boleh selama tidak melupakan yang wajib atau menerjang yang haram.
  • Perlombaan dalam hal mubah dengan yang membayar dari kedua pihak atau salah satunya. Hukumnya haram, karena termasuk judi, kecuali dalam tiga hal berdasarkan nash hadits: memanah, balap kuda, dan balap unta (lihat an-Nihayah, -ed.); karena bermanfaat dalam jihad.
  • Perlombaan dalam hal mubah dengan hadiah dari pihak ketiga, baik pemerintah atau swasta. Jenis ini diperbolehkan pada tiga hal di atas dengan dalil nash hadits. Diperbolehkan pula dalam hal lain dengan ketentuan seperti poin pertama.

Kasus yang ditanyakan kondisinya sama dengan poin terakhir. Wallahu a’lam.

 

Kasus Waris

Ada harta warisan yang ditinggal ayah sebesar 150 juta rupiah. Ahli waris yang ditinggal: ibu, tiga anak perempuan, dan satu anak laki-laki. Berapa hak masing-masing?

085206XXXXXX

Jawaban:

Ibu mendapat 1/6 bagian. Sisanya dibagi untuk anak-anaknya, laki-laki mendapat dua bagian dan perempuan mendapat satu bagian.

43

Mengucapkan Hamdalah untuk Anak Kecil

Bolehkan saat anak kecil bersin, orang tua mengucapkan hamdalah?

085230XXXXXX

Jawaban:

Kita ucapkan hamdalah dalam rangka mengajari si kecil.

 

Zikir Setelah Shalat Witir

Saya membaca Majalah Asy Syariah edisi 97/1435 hlm. 32 rubrik “Tanya Jawab Ringkas” dan menemui kejanggalan. Disebutkan bahwa zikir khusus setelah witir tidak ada. Jadi zikir, “Subhanal malikil quddus…dst, apakah bukan zikir?

08126XXXXXX

Jawaban:

Benar, zikir tersebut disunnahkan setelah witir dan hanya itu yang disunnahkan. Adapun membaca zikir setelah witir seperti zikir setelah shalat fardhu, tidak ada sunnahnya. Pertanyaan Anda sebagai tambahan penjelasan dari jawaban yang tampil sebelumnya. Jawaban yang lengkap, “Yang disunnahkan adalah zikir khusus setelah shalat fardhu. Adapun shalat sunnah, tidak ada zikir khusus kecuali setelah shalat witir.” Jazakumullah khairan atas koreksi Anda.

 

Beda Infak dengan Sedekah

Apa perbedaan antara infak dan sedekah?

085246XXXXXX

Jawaban:

Infak dan sedekah sunnah sama mustahiqnya. Sedekah wajib adalah zakat mal dan zakat fitrah telah diatur mustahiq, nishab, dan haulnya dalam Kitab az-Zakat dari karya-karya para ulama.

Infak wajib adalah nafkah yang wajib dikeluarkan untuk orang/pihak yang kita tanggung, seperti anak, istri, orang tua, pembantu, kendaraan, dll., tanpa ada ketentuan nishab dan haul; namun sesuai dengan kemampuan.

 

Niqab Model Butterfly

Apakah boleh menggunakan niqab model butterfly? Apakah tidak termasuk tasyabuh dengan biarawati, karena niqab tersebut mirip dengan penutup kepala yang biasa digunakan oleh biarawati?

083863XXXXXX

Jawaban:

Niqab butterfly insya Allah tidak mengapa karena:

  • Tertutup, lebih panjang dan lebih bagus supaya tidak mudah tersingkap,
  • Tidak ada unsur tasyabbuh dengan biarawati dari beberapa sisi:
  1. model tersebut diaplikasikan pada niqob, sementara biarawati pada kerudung tanpa niqob (umumnya),
  2. tasyabbuh hanya pada hal khusus dan ciri khas orang kafir, sementara pada kasus ini tidak ada kekhususan. Artinya, bila ada muslimah yang memakai niqab model tersebut, kita tidak bisa secara spontan mengatakan bahwa dia biarawati.

Wallahu a’lam.

Kirim SMS Pertanyaan ke Redaksi 081328078414 atau via email ke tanyajawabringkas@gmail.com
Jika pertanyaan Anda cukup dijawab secara ringkas, akan kami muat di rubrik ini. Namun, jika membutuhkan jawaban yang panjang lebar, akan kami muat di rubrik Problema Anda, insya Allah.
Seluruh materi rubrik Tanya Jawab Ringkas (Asy-Syariah) dapat di akses di www.tanyajawab.asysyariah.com

Benarkah Syafaat Diminta Kepada Selain Allah?

Banyak hal tentang syafaat yang disalahpahami oleh umat. Bahasan lanjutan ini akan mengupas lebih dalam bagaimana sesungguhnya hakikat syafaat.

        Para ulama memasukkan masalah syafaat dalam pembahasan akidah. Orang-orang yang menyelewengkannya dengan cara menyimpangkan hakikat syafaat, bakal disikapi dengan keras. Di antara mereka yang menyelewengkannya, ada yang ifrath (berlebihan) dalam memaknainya hingga terjatuh dalam syirik besar. Ada juga yang menempuh jalan tafrith (meremehkan permasalahan), bahkan menyimpangkannya hingga terjatuh dalam sikap menolak beberapa bentuk syafaat.

        Berdasarkan hal ini, para ulama menyebutkan kaidah-kaidah yang terkait dengan syafaat di dalam kitab mereka. Di antaranya:

  • Al-Imam Ahmad rahimahullah mengatakan,

“Beriman dengan syafaat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan beriman dengan adanya satu kaum yang telah masuk neraka dan terbakar hingga menjadi arang, kemudian mereka diperintah menuju sebuah sungai yang berada di pintu surga—seperti yang disebutkan dalam riwayat tentang hal ini—dan (kita mengimani) bagaimana dan kapan terjadinya. Tentang urusan ini, kita hanya beriman dan mempercayai.” (Ushulus Sunnah karya al-Imam Ahmad hlm. 32)

  • Abu Ja’far ath-Thahawi rahimahullah mengatakan,

“Syafaat yang dipersiapkan untuk mereka kelak adalah haq (benar adanya), sebagaimana halnya disebutkan oleh hadits-hadits.” (Lihat matan al-’Aqidah ath-Thahawiyah, masalah ke-41)

  • Abu Utsman Ismail bin Abdur Rahman ash-Shabuni rahimahullah berkata,

“Ahli agama dan Ahlus Sunnah mengimani syafaat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk pelaku dosa dari kalangan orang-orang yang bertauhid dan pelaku dosa besar (lainnya), sebagaimana telah diberitakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits yang sahih.” (Lihat ‘Aqidatus Salaf Ashabil Hadits hlm. 76)

  • Ibnu Qudamah al-Maqdisi rahimahullah mengatakan,

“Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam akan memberikan syafaat kepada para pelaku dosa besar yang telah masuk neraka agar mereka bisa keluar setelah mereka terbakar dan menjadi arang, kemudian masuk ke dalam surga. Para nabi, orang-orang yang beriman, dan malaikat juga akan memberikan syafaat (dengan seizin Allah). Allah subhanahu wata’ala berfirman,

          وَلَا يَشۡفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ٱرۡتَضَىٰ وَهُم مِّنۡ خَشۡيَتِهِۦ مُشۡفِقُونَ ٢٨

        Dan mereka tidak akan sanggup memberikan syafaat melainkan untuk orang yang Allah ridhai; dan mereka selalu berhati-hati karena takut kepada Allah.” (al-Anbiya: 28)

        Adapun orang-orang kafir tidak akan bisa merasakan syafaat pemberi    syafaat.” (Syarah Lum’atil I’tiqad, hlm. 128)

        Para ulama Ahlus Sunnah mengimani bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam akan memberikan syafaat untuk seluruh umat pada hari kiamat nanti dalam bentuk syafaat yang menyeluruh. Beliau juga akan memberikan syafaat untuk pelaku dosa di antara umat beliau hingga mengeluarkan mereka dari neraka setelah menjadi arang. (Lihat ‘Aqa`id A`immatis Salaf, hlm. 113)

        Mengapa ketika berbicara tentang syafaat, para ulama menitikberatkan pembahasan pada masalah syafaat untuk pelaku dosa besar?

        Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah menjawabnya dengan mengatakan, “Ibnu Katsir dan pensyarah kitab ath-Thahawiyah mengatakan bahwa maksud ulama salaf meringkas pembahasan masalah syafaat terbatas pada syafaat untuk pelaku dosa besar adalah untuk membantah Khawarij dan Mu’tazilah yang mengikuti konsep mereka (karena dua kelompok ini mengingkari syafaat tersebut, -ed.)’.” (Syarah Lum’atil I’tiqad hlm. 129)

Milik Siapakah Syafaat?

        Syafaat adalah milik Allah semata. Semua urusan tentang syafaat kembali kepada Allah. Dialah yang akan memberikan izin kepada siapa yang dikehendaki-Nya untuk mendapatkan syafaat dan memberikannya. Allah subhanahu wata’ala berfirman,

        قُلْ لِلَّهِ الشَّفَاعَةُ جَمِيعًا

        “Katakan bahwa syafaat itu semuanya milik Allah.” (az-Zumar: 44)

        Ibnul Jauzi rahimahullah mengatakan, “Seseorang tidak akan sanggup memilikinya kecuali dengan kehendak-Nya. Seseorang juga tidak bisa memberikan syafaat kecuali dengan izin-Nya.” (Zadul Masir hlm. 1232)

        Berdasarkan hal ini, meminta syafaat kepada selain pemiliknya merupakan kesyirikan yang sangat besar. Orang yang memintanya kepada selain Allah kelak akan terhalangi mendapatkannya di sisi-Nya. Sebab, yang mendapatkan syafaat adalah orang yang bersih dari kesyirikan dan diridhai oleh Allah.

Apakah Hamba Akan Bisa Memberikan Syafaat?

        Telah dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam Sunnahnya bahwa syafaat bisa diberikan oleh selain Allah, namun tetap tidak terlepas dari kehendak Allah dan harus memenuhi syaratnya. Mereka adalah para nabi, malaikat, orang-orang yang beriman, dan anak-anak terhadap kedua orang tuanya.

        Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

        فَيَقُولُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: شَفَعَتِ الْمَلاَئِكَةُ وَشَفَعَ النَّبِيُّونَ وَشَفَعَ الْمُؤْمِنُونَ وَلَمْ يَبْقَ إِلاَّ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ

        Allah ‘azza wa jalla berfirman, “Malaikat akan memberikan syafaat, para nabi memberikan syafaat, dan kaum mukminin akan memberikan syafaat, dan tidak tersisa kecuali milik Dzat yang paling penyayang.”[1]

        Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

        إِنَّ مِنْ أُمَّتِي مَنْ يَشْفَعُ لِلْفِئَامِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَشْفَعُ لِلْقَبِيْلَةِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَشْفَعُ لِلْعُصْبَةِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَشْفَعُ لِلرَّجُلِ حَتَّى يَدْخُلُوا الْجَنَّةَ

        “Sesungguhnya di antara umatku ada yang akan memberikan syafaat kepada sekelompok orang. Di antara mereka ada juga yang akan memberikan syafaat kepada sebuah kabilah. Di antara mereka ada yang memberikan syafaat kepada al-‘ushbah[2]. Di antara mereka ada yang akan memberikan syafaat kepada satu orang, sehingga mereka masuk surga.”[3]

        Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

        مَا مِنَ النَّاسِ مِنْ مُسْلِمٍ يُتَوَفَّى لَهُ ثَلاَثٌ لَمْ يَبْلُغْنَ الْحنث إِلاَّ أَدْخَلَهُ اللهُ الْجَنَّةَ بِفَضْلِ رَحْمَتِهِ إِيَّاهُمْ

        “Tidaklah seorang muslim ditinggal mati oleh tiga anaknya yang belum balig kecuali Allah akan memasukkannya ke dalam surga dengan sebab keutamaan rahmat-Nya terhadap mereka.”[4]

        Semua hadits yang menjelaskan tentang syafaat memperkuat bahwa di antara hamba-hamba Allah ada yang akan memberikan syafaat di sisi-Nya.

Syarat Mendapatkan Syafaat

        Syafaat dibutuhkan oleh setiap hamba ketika menghadapi kegentingan hidup di dunia maupun di akhirat nanti. Kebutuhan terhadap syafaat menyebabkan sebagian manusia terjatuh dalam kesyirikan, yakni ketika mereka memintanya kepada selain Allah. Mereka tidak mengetahui bahwa perbuatan yang mereka lakukan itu justru akan menjadi penghalang mendapatkan syafaat.

        Ada dua syarat bagi seseorang untuk mendapatkan syafaat dan memberikan syafaat di sisi Allah.

  1. Orang yang akan memberikan syafaat mendapatkan izin dari Allah.

        Tanpa izin-Nya, tidak ada seorang pun yang sanggup memberikan syafaat di sisi Allah. Allah subhanahu wata’ala berfirman,

          مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ

        “Tidak ada seorang pun yang memberikan syafaat di sisi-Nya kecuali dengan seizin-Nya.” (al-Baqarah: 255)

        Syafaat di sisi Allah tidaklah seperti syafaat satu makhluk kepada makhluk lain yang bisa diberikan meski tidak diizinkan.

  1. Orang yang akan mendapatkan syafaat diridhai oleh Allah.

        Allah tidak meridhai kekufuran dan kesyirikan, tetapu meridhai keimanan dan ketauhidan.

        Allah subhanahu wata’ala berfirman,

          وَلاَ يَشْفَعُونَ إِلاَّ لِمَنِ ارْتَضَى

        “Dan mereka tidak akan memberikan syafaat melainkan kepada orang yang telah Allah ridhai.” (al-Anbiya: 28)

          وَلاَ يَرْضَى لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ

        “Dan Allah tidak meridhai kekufuran bagi hamba-hamba-Nya.” (az-Zumar: 7)

        Allah subhanahu wata’ala telah menghimpun kedua syarat ini dalam firman-Nya,

          وَكَمْ مِنْ مَلَكٍ فِي السَّمَوَاتِ لاَ تُغْنِي شَفَاعَتُهُمْ شَيْئًا إِلاَّ مِنْ بَعْدِ أَنْ يَأْذَنَ اللهُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَرْضَى

        “Betapa banyak malaikat yang ada di langit, syafaat mereka tidak berguna sedikit pun kecuali setelah Allah mengizinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridhai.” (an-Najm: 36)

        (lihat Syarah al-‘Aqidah ath-Thahawiyah karya asy-Syaikh Shalih Fauzan [hlm. 21], al-Qaulul Mufid Syarah Kitab at-Tauhid karya asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin [1/437], Kasyfus Syubhat karya asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, Qurratu ‘Uyunil Muwahhidin karya asy-Syaikh Abdur Rahman bin Hasan [hlm. 154], Syarah Lum’atul I’tiqad [hlm. 130])

Manusia dan Syafaat

Dalam urusan syafaat manusia digolongkan menjadi tiga kelompok:

  1. Kaum yang ghuluw (berlebihan) dalam menetapkan adanya syafaat.

        Sehingga mereka memintanya dari orang yang telah mati, kuburan, patung, batu, dan pepohonan.

Allah subhanahu wata’ala berfirman,

          وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللهِ مَا لاَ يَضُرُّهُمْ وَلاَ يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلاَءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللهِ

       “Dan mereka menyembah selain Allah sesuatu yang tidak bisa memberikan mudarat dan manfaat kepada mereka, dan mereka mengatakan, “Mereka (yang disembah itu) adalah pensyafaat kami di sisi Allah.” (Yunus: 18)

          مَا نَعْبُدُهُمْ إِلاَّ لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللهِ زُلْفَى

“Kami tidak menyembah mereka melainkan agar mereka mendekatkan diri kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” (az-Zumar: 3)

 

  1. Kaum yang berlebihan menafikan syafaat, seperti Mu’tazilah dan Khawarij.

        Mereka menafikan adanya syafaat untuk para pelaku dosa besar. Mereka berani menyelisihi sesuatu yang dalilnya telah mutawatir dari al-Qur’an dan as-Sunnah.

  1. Kaum yang berada di tengah-tengah.

        Mereka menetapkan adanya syafaat sesuai dengan ketentuan Allah dan Rasul-Nya, tanpa tafrith dan ifrath. Mereka adalah Ahlus Sunnah. (lihat Syarah al-’Aqidah ath-Thahawiyah karya asy-Syaikh Shalih Fauzan, hlm. 21)

Ibnu Abil ‘Izzi menjelaskan bahwa dalam urusan syafaat, manusia terbagi menjadi tiga (golongan) pendapat:

  1. Musyrikin, Nasrani, Sufi yang ghuluw (berlebih-lebihan) terhadap guru-guru mereka, dan selainnya.

Mereka meyakini bahwa syafaat orang yang mereka agungkan di sisi Allah bagaikan syafaat di dunia.[5]

  1. Mu’tazilah dan Khawarij.

Mereka mengingkari syafaat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan selainnya untuk pelaku dosa besar.

  1. Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Mereka menetapkan adanya syafaat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan selain beliau untuk pelaku dosa besar. Mereka juga menetapkan bahwa tidak ada yang bisa memberikan syafaat kecuali dengan izin Allah. (Syarah al-‘Aqidah ath-Thahawiyah hlm. 235)

Macam-Macam Syafaat

Para ulama menyebutkan bahwa syafaat secara umum ada dua macam:

  1. Syafaat manfiyah, syafaat yang ditiadakan oleh al-Qur’an, yaitu syafaat yang mengandung kesyirikan.

        Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan, “Allah telah meniadakan segala hal yang dijadikan tempat bergantung kaum musyrikin selain-Nya. Allah meniada-kan dari selain-Nya, segala bentuk kepemi-likan, bagian atau bantuan untuk Allah. Sehingga tidak tersisa lagi melainkan syafaat.

        Allah menjelaskan bahwa syafaat tidak bermanfaat kecuali yang mendapat izin-Nya. Firman Allah,

        وَلاَ يَشْفَعُونَ إِلاَّ لِمَنِ ارْتَضَى

 “Mereka tidak bisa memberikan manfaat kecuali kepada siapa yang diridhai-Nya.”

        Syafaat jenis inilah yang disangka oleh kaum musyrikin (bahwa mereka akan mendapatkannya). Padahal mereka tidak akan mendapatkannya pada hari kiamat, sebagaimana telah ditiadakan oleh al-Qur’an.

        Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memberitakan bahwa beliau datang menghadap Allah kemudian bersujud dan bertahmid. Beliau tidak memulai dengan (meminta) syafaat. Kemudian dikatakan kepada beliau, “Angkat kepalamu. Katakanlah, engkau akan didengar. Mintalah, engkau akan diberi. Mintalah syafaat, engkau akan diberikan.”

        Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata, “Siapakah yang paling berbahagia dengan syafaatmu?”

        Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Orang yang mengucapkan La ilaha illallah dengan penuh keikhlasan dari dalam hatinya.”

        Itulah syafaat untuk orang yang ikhlas dengan izin Allah. Syafaat itu tidak akan diberikan untuk orang yang menyekutukan Allah. Hakikatnya, Allah sajalah yang akan memberikan keutamaan kepada orang yang ikhlas. Allah akan mengampuni mereka melalui doa orang yang telah diizinkan untuk memberikan syafaat yang bertujuan untuk memuliakannya dan mendapatkan kedudukan yang terpuji.

        Jadi, syafaat yang ditiadakan oleh al-Qur’an adalah syafaat mengandung kesyirikan. Oleh karena itu, Allah menetapkan adanya syafaat dalam banyak ayat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga telah menjelaskan bahwa syafaat tidak akan didapat melainkan untuk orang yang bertauhid dan ikhlas.” (Lihat Majmu’ Fatawa [1/116] dan al-Kalam ‘ala Haqiqatil Islam hlm. 116—121)

  1. Syafaat mutsbatah, yaitu syafaat yang ditetapkan adanya oleh al-Qur’an untuk orang-orang yang bertauhid.

Syafaat ini ada dua bentuk, umum dan khusus.

  1. Syafaat yang bersifat khusus

        Khusus di sini artinya hanya dimiliki oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan tidak dimiliki oleh para nabi dan rasul selain beliau.

  • Syafaat al-‘Uzhma atau al-Kubra, yaitu syafaat untuk seluruh manusia pada hari mahsyar.

        Hadits tentangnya diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dan Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu. Dalam syafaat ini, para rasul (selain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam) berlepas diri dan tidak sanggup memberikannya. Itulah maqaman mahmuda (kedudukan yang terpuji) bagi imam para rasul sebagaimana yang telah dijanjikan oleh Allah dalam al-Qur’an. Tidak ada sedikit pun yang menentang masalah ini, baik Khawarij maupun Mu’tazilah.

  • Syafaat untuk penduduk surga agar masuk ke dalamnya.

        Setelah melewati shirath (titian) dan sampai ke surga, mereka menemukannya dalam keadaan tertutup. Mereka mencari siapa yang akan memberikan syafaat agar pintu surga dibuka. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meminta kepada Allah untuk memberikan syafaat kepada mereka. (lihat al-Qaulul Mufid Syarah Kitab at-Tauhid 1/426)

  1. Syafaat yang bersifat umum

        Makna umum di sini adalah dimiliki oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, para nabi dan rasul selain beliau, serta kaum mukminin.

  • Syafaat untuk para pelaku maksiat dari umat beliau yang berhak masuk neraka agar tidak memasukinya.
  • Syafaat beliau untuk ahli tauhid yang bermaksiat dan telah masuk ke dalam neraka agar bisa keluar darinya.

        Hadits yang menjelaskan syafaat ini mutawatir dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sungguh, para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersepakat (ijma) tentang hal tersebut. Demikian pula pula seluruh Ahlus Sunnah. Setiap orang yang mengingkarinya akan dicap sebagai pelaku bid’ah dan disikapi dengan keras lagi tegas. Syafaat inilah yang ditentang oleh Khawarij dan Mu’tazilah, serta ahli bid’ah yang mengikuti langkah mereka.

  • Syafaat untuk mengangkat derajat kaum mukminin di dalam surga.

        Syafaat ini tidak ditentang oleh Mu’tazilah dan Khawarij.

        Yang jelas, semua jenis syafaat di atas hanya akan diberikan kepada orang-orang yang bertauhid, yang tidak menjadikan selain Allah sebagai wali (penolong) dan syafi’ (pembela). Allah subhanahu wata’ala berfirman,

        وَأَنْذِرْ بِهِ الَّذِينَ يَخَافُونَ أَنْ يُحْشَرُوا إِلَى رَبِّهِمْ لَيْسَ لَهُمْ مِنْ دُونِهِ وَلِيٌّ وَلاَ شَفِيعٌ

        “Dan berikanlah peringatan kepada orang yang takut untuk dibangkitkan ke hadapan Rabb mereka, yang mereka tidak memiliki penolong dan pembela selain Allah.” (al-An’am: 51)

        (Lihat Fathul Majid [hlm. 244—252], Syarah al-’Aqidah ath-Thahawiyah karya Ibnu Abil ‘Izzi [hlm. 232], al-Qaulul Mufid [1/426], ‘Aqaid Aimmatis Salaf [hlm. 113])

Syafaat di Sisi Allah Tidak Sama dengan Syafaat di Antara Makhluk

        Dari keterangan di atas, jelaslah bahwa syafaat di sisi Allah memiliki tujuan dan syarat. Apabila syarat tersebut tidak dipenuhi, seseorang tidak akan mendapatkan syafaat dan tidak bisa memberikannya kepada orang lain. Kedua syarat tersebut adalah:

  1. Orang tersebut diridhai oleh Allah untuk mendapatkannya.

Yang akan mendapatkan keridhaan Allah adalah orang yang beriman dan bertauhid.

  1. Mendapatkan izin Allah

Yang mendapat izin Allah untuk memberikan syafaat hanyalah orang yang beriman dan bertauhid.

        Adapun syafaat di kalangan manusia bisa dilakukan oleh siapa pun, ada izin atau tidak, diridhai atau tidak. Berdasarkan hal ini, tidak diperbolehkan mengkiaskan syafaat di sisi Allah dengan syafaat di antara makhluk. Syafaat yang ada di sisi Allah tidak boleh diminta kepada makhluk manapun, seagung apapun kedudukan dan tingkatannya: malaikat, nabi, wali, kuburan-kuburan, dan sebagainya.

        Syafaat di antara makhluk kepada makhluk yang lain ada dua macam:

  1. Syafaat yang baik, yaitu syafaat dalam hal-hal yang baik, bermanfaat, dan diperbolehkan (mubah).

        Syafaat ini terwujud dengan cara menjadikan seseorang sebagai perantara untuk menyampaikan kebutuhannya kepada orang tertentu. Bolehnya hal ini telah dijelaskan oleh Allah subhanahu wata’ala dalam firman-Nya,

          مَنْ يَشْفَعْ شَفَاعَةً حَسَنَةً يَكُنْ لَهُ نَصِيبٌ مِنْهَا

        “Barang siapa memberikan pembelaan yang baik, dia akan mendapatkan bagian (pahala) darinya.” (an-Nisa: 85)

        Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

        اشْفَعُوا تُؤْجَرُوا وَيَقْضِي اللهُ عَلَى لِسَانِ رَسُولِهِ مَا شَاءَ

        “Berikanlah pembelaan kalian (yang baik), kalian akan diberikan pahala dan Allah akan memutuskan melalui lisan Rasul-Nya apa yang dikehendaki-Nya.” (HR. al-Bukhari no. 1432 dan Muslim no. 2627)

        Ini adalah bentuk syafaat yang baik, berpahala, dan bermanfaat bagi kaum muslimin agar hajat mereka tertunaikan dan apa yang mereka cari terwujudkan, tanpa ada unsur menzalimi dan melampaui batas hak orang lain.

  1. Syafaat yang jelek, yaitu menjadi perantara dalam hal-hal yang diharamkan oleh

        Misalnya, syafaat untuk menggugurkan hukuman bagi orang yang berhak menerimanya. Orang yang melakukan pembelaan seperti ini mendapatkan laknat dari Allah, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,

        لَعَنَ اللهُ مَنْ آوَى مُحْدِثَاً

    “Allah melaknat orang-orang yang melindungi pelaku kejahatan.” (HR. Muslim no. 1566)

        Termasuk syafaat yang jelek adalah syafaat dalam hal mengambil hak orang lain untuk kemudian diberikan kepada yang tidak berhak. Allah subhanahu wata’ala berfirman,

          مَنْ يَشْفَعْ شَفَاعَةً سَيِّئَةً يَكُنْ لَهُ كِفْلٌ مِنْهَا

   “Barang siapa memberikan syafaat (pembelaan) yang jelek, dia akan mendapatkan bagian (dosa) atasnya.” (an-Nisa: 85) (Syarah al-’Aqidah ath-Thahawiyah karya asy-Syaikh Shalih Fauzan [hlm. 21])

Makna Hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu

        Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,

        يَا رَسُولَ اللهِ، مَنْ أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِكَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ؟

        “Ya Rasulullah, siapakah yang paling beruntung dengan syafaat engkau kelak pada hari kiamat?”

        قَالَ: لَقَدْ ظَنَنْتُ أَنْ لاَ يَسْأَلُنِي عَنْ هَذَا الْحَدِيثِ أَحَدٌ أَوْلَى مِنْكَ لِحِرْصِكَ عَلَى الْحَدِيثِ

   Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sungguh, aku telah menyangka bahwa tidak ada seseorang yang lebih dahulu bertanya tentang ini kecuali engkau, karena semangatmu mencari hadits.”

        قَالَ: إِنَّ أَسْعَدَ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ: لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ؛ خَالِصًا مِنْ قَلْبِ نَفْسِهِ

    Beliau bersabda, “Orang yang paling beruntung dengan syafaatku kelak adalah yang mengucapkan La ilaha illallah dengan penuh keikhlasan dari dalam hatinya.” (HR. al-Bukhari no. 99 dan 6570)

        Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan, “Ucapan beliau ‘Orang yang mengucapkan La ilaha illallah’ mengecualikan orang yang menyekutukan Allah; dan ucapan beliau ‘dengan penuh keikhlasan’ mengecualikan orang-orang yang munafik dalam mengucapkannya.” (Lihat Fathul Bari 1/236)

        Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan, “Kaum musyrikin tidak mendapatkan syafaat sedikitpun, karena mereka tidak mengucapkan La ilaha illallah

        (Sabda beliau ‘dengan penuh keikhlasan’) mengecualikan orang yang mengucapkan kalimat La ilaha illallah karena kemunafikan, mereka tidak mendapatkan syafaat sedikitpun…

        Sabda beliau ‘dengan penuh keikhlasan’ artinya selamat (akidahnya) tanpa dikotori sedikitpun oleh sifat riya (ingin pamer dalam beramal) dan sum’ah (memperdengarkan amalnya dengan harapan mendapatkan pujian dari orang lain). Ini adalah gambaran persaksian (terhadap La ilaha illallah) dengan penuh keyakinan.” (Lihat al-Qaulul Mufid 1/440)

        Wallahu a‘lam.

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Usamah Abdur Rahman bin Rawiyah

 

 


            [1] HR. Muslim no. 183 dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu dalam hadits yang panjang tentang ru’yatullah.

          [2] Al-‘ushbah adalah satu kelompok yang berjumlah 10—40 orang. (an-Nihayah, -ed.)

          [3] HR. at-Tirmidzi dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu dan dihukumi hasan oleh asy-Syaikh Muqbil dalam kitab asy-Syafa’ah (hlm. 195).

          [4] HR. al-Bukhari dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu no. 1248.

Hadits ini diriwayatkan juga dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu oleh al-Bukhari (no. 1251) dan Muslim (no. 2632).

Hadits ini diriwayatkan pula dari Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhu oleh al-Bukhari (no. 1249) dan Muslim (no. 2633).

          [5] Maksudnya, semacam perantara di dunia. Misalnya, orang yang ingin bertemu raja membutuhkan perantara yang dekat dengan raja tersebut. Demikian pula kepada Allah subhanahu wata’ala, menurut mereka. Wallahu a’lam. (-ed.)