Kewajibanmu dalam Keluarga

Dalam Islam, peran domestik kaum istri memiliki kedudukan yang sangat mulia. Namun musuh-musuh Islam terus berusaha meruntuhkan sendi dasar rumah tangga ini dengan menggalang berbagai opini menyesatkan. “Pemberdayaan perempuan”, “kesetaraan gender”, “kungkungan budaya patriarkhi” adalah sebagian propaganda yang tiada henti dijejalkan di benak wanita-wanita Islam.

Lanjutkan membaca Kewajibanmu dalam Keluarga

Dua Kalimat yang Berfaedah

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ كَلِمَتَانِ خَفِيْفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ :ثَقِيلَتَانِ فِي الْمِيْزَانِ حَبِيْبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ: سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيم

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dua kalimat yang ringan di lisan, berat dalam timbangan dan dicintai oleh Ar-Rahman (adalah): Subhanallahi wabihamdihi, subhanallahil ‘adzim.” (Shahih al-Bukhari hadits no. 7008; Shahih Muslim hadits no. 4860)

Ar-Radha’ (Hukum Persusuan)

Hubungan mahram bisa terjalin dengan tiga sebab: hubungan nasab, penyusuan, dan karena pernikahan. Kajian mahram karena hubungan nasab dan pernikahan telah dibahas dalam edisi sebelumnya. Edisi kali ini akan mengulas hubungan mahram karena sebab kedua, yaitu karena penyusuan. Namun sebelumnya kami bawakan hukum penyusuan ini secara umum untuk tambahan faedah ilmu bagi kita semua, wabillahi taufik.

Lanjutkan membaca Ar-Radha’ (Hukum Persusuan)

Wujudkan Anganmu dengan Bimbingan Ilmu

Suatu ketika Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu melihat dua orang laki-laki. Bertanyalah beliau pada salah seorang dari mereka, “Siapa orang ini?”

Orang itu menjawab, “Dia ayahku.”

Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu kemudian berpesan, “Jangan engkau panggil dia dengan menyebut namanya, jangan berjalan di depannya, dan jangan engkau duduk sebelum dia duduk.”

Lanjutkan membaca Wujudkan Anganmu dengan Bimbingan Ilmu

Kisah Nabi Musa dan Nabi Harun

Siapakah yang mampu menolak ketetapan Allah ketika Ia menakdirkan lahirnya seorang nabi yang kemudian dibesarkan di lingkungan musuh besarnya. Dialah Musa ‘alaihissalam, nabi yang sempat mengenyam asuhan dari istri sang angkara murka, Fir’aun. Kisahnya yang agung banyak menghiasi lembar al-Qur’an serta memberikan banyak pelajaran berharga bagi umat nabi lain di kemudian hari.

Lanjutkan membaca Kisah Nabi Musa dan Nabi Harun

Membungkam Lolongan Para Thaghut Penyeru Pluralisme dan Inkluvisme

MEMBUNGKAM LOLONGAN PARA THAGHUT PENYERU PLURALISME DAN INKLUSIVISME[1]

Abu Hurairah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwasanya beliau bersabda,

وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لاَ يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الأُمَّةِ يَهُوْدِيٌّ وَلاَ نَصْرَانِيٌّ، ثُمَّ يَمُوْتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ إِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

“Demi Dzat yang jiwa Muhammad di tangan-Nya! Tidaklah mendengar dariku seseorang dari umat ini[2] baik orang Yahudi maupun orang Nasrani, kemudian ia mati dalam keadaan ia tidak beriman dengan risalah yang aku bawa, kecuali ia menjadi penghuni neraka.”

Lanjutkan membaca Membungkam Lolongan Para Thaghut Penyeru Pluralisme dan Inkluvisme

Bila Kuburan Diagungkan

Suatu ketika mungkin kita pernah menyaksikan sebuah bus besar membawa rombongan yang di sampingnya terdapat sebuah tulisan “Rombongan Ziarah Makam Sunan Fulan”. Mereka terkadang datang dari tempat yang jaraknya ratusan kilometer, semata hanya ingin berdoa di sisi kuburan Sunan Fulan karena memiliki keyakinan bahwa doanya akan lebih terkabul. Pemandangan seperti ini dan yang sejenisnya banyak dijumpai di sekitar kita. Padahal kalau kita mau menelaah, praktik demikian merupakan perbuatan yang dilarang oleh Islam. Lebih jauh lagi ia merupakan bagian dari perilaku jahiliah, yaitu amalan orang-orang sebelum Islam datang.

Lanjutkan membaca Bila Kuburan Diagungkan