Kehidupan Dunia Menurut Generasi Salaf

Al-Hasan al-Bashri rahimahumallah mengatakan,

“Semoga Allah merahmati seseorang yang mencari harta dengan cara yang baik, membelanjakannya dengan sederhana, dan memberikan sisanya.

Arahkanlah sisa harta ini sesuai dengan yang diarahkan oleh Allah. Letakkanlah di tempat yang diperintahkan oleh Allah. Sungguh, generasi sebelum kalian mengambil dunia sebatas yang mereka perlukan. Adapun yang lebih dari itu, mereka mendahulukan orang lain.

Ketahuilah, sesungguhnya kematian amat dekat dengan dunia hingga memperlihatkan berbagai keburukannya. Demi Allah, tidak seorang berakal pun yang merasa senang di dunia. Karena itu, berhati-hatilah kalian dari jalan-jalan yang bercabang ini, yang muaranya adalah kesesatan dan janjinya adalah neraka.

Aku menjumpai sekumpulan orang dari generasi awal umat ini. Apabila malam telah menurunkan tirai kegelapannya, mereka berdiri, lalu (bersujud) menghamparkan wajah mereka. Air mata mereka berlinangan di pipi. Mereka bermunajat kepada Maula (yakni Rabb) mereka agar memerdekakan hamba-Nya (dari neraka).
Apabila melakukan amal saleh, mereka gembira dan memohon kepada Allah agar menerima amalan tersebut. Sebaliknya, apabila melakukan kejelekan, mereka bersedih dan memohon kepada Allah agar mengampuni kesalahan tersebut.”

(Mawa’izh al-Hasan al-Bashri, hlm. 41—42)

Segalanya Mudah dengan Sabar

السلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Hidup tak selamanya mulus. Setiap saat, kesulitan atau ujian hidup bisa datang menghampiri, baik itu berupa musibah maupun godaan berbuat maksiat. Lebih-lebih, di zaman yang konon katanya serbasulit, godaan untuk menempuh jalan pintas dalam mencari rezeki demikian kuat. Demikian pula di zaman yang penyalahgunaan teknologi sudah mengepung, kemaksiatan pun seakan dalam genggaman.

Tinggal mencet keypad handphone atau keyboard komputer, kerusakan dengan mudah kita akses. Bahkan, saking rusaknya manusia dan jauhnya umat dari ajaran Islam, menjalankan ketaatan pun butuh kesabaran ekstra. Yang menjalankan ketaatan siap-siap dituding sesat, eksklusif, tekstual, tidak berjiwa kebangsaan, dianggap suka benar sendiri, dan sebagainya.

Itulah di antara saat-saat kesabaran kita diasah. Betapa sabar laksana memegang bara api. Dipegang panas, tidak dipegang akan membakar semuanya. Akan tetapi, sabar juga ibarat matahari, bersifat panas namun mampu menumbuhkan tanaman di muka bumi. Oleh karena itu, muncullah anekdot, orang yang sabar jiwanya akan subur, dan orang yang tidak sabaran akan cepat masuk kubur.

Lepas dari itu, orang yang beriman memang harus meyakini bahwa manusia pasti diuji. Dia pun harus bersedia menerima ujian dari Allah Subhanahu wata’ala dan memupuk kekuatan untuk bersabar. Kita juga perlu merenungi, ujian yang kita terima belum ada apa-apanya dibandingkan dengan orang-orang sebelum kita. Betapa banyak contoh ujian berat yang dialami para nabi. Bagaimana pula dengan kisah para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang disiksa karena keimanan mereka?

Seberat apa pun ujian itu, sesungguhnya Allah adalah Dzat Yang Mahasabar kepada hamba-Nya. Walaupun hamba-Nya bergelut kemaksiatan, namun Allah Subhanahu wata’ala masih saja memberikan kita banyak kenikmatan. Kalau toh ada sekelompok manusia yang diberi azab, itu lebih karena manusianya yang sudah bertindak melampaui batas. Memang, sabar mudah diucapkan, namun tidak mudah dipraktikkan. Saking sulitnya bersikap sabar, Allah Subhanahu wata’ala pun menjanjikan banyak ganjaran bagi orangorang yang bersabar, di antaranya janji surga dan ampunan dosa.

Adapun di dunia, banyak hal yang bisa kita petik kala kita bisa bersabar. Orang yang bersabar tidak akan mudah putus asa dengan suatu masalah yang sedang dihadapi, bahkan masalah lebih bisa teratasi dengan baik. Selanjutnya, dia akan lebih hati-hati dan tetap semangat dalam menghadapi masalah hidup. Dengan sabar, kita juga bisa menumbuhkan empati atau merasakan penderitaan orang lain, sehingga tumbuh rasa syukur bahwa ternyata kita masih lebih beruntung daripada orang lain. Konflik rumah tangga yang biasanya “diselesaikan” dengan kekerasan dan sikap tidak mau kalah pun, bisa dicairkan dengan sikap sabar.

Intinya, sebagaimana dalam hadits, tiada pemberian yang Allah Subhanahu wata’ala berikan kepada seseorang yang lebih baik dan lebih luas manfaatnya daripada kesabaran. Dengan kesabaran, jiwa seseorang akan tenang dan tidak akan goyah saat mendapat cobaan. Sabar juga menjadi ukuran iman dan takwa seseorang. Semakin tinggi keimanan seseorang, semakin tinggi pula tingkatan masalah yang dihadapi, dan semakin besar pula kesabaran yang dibutuhkan. Oleh karena itu, jangan sekali-kali “mencari masalah”. Namun, apabila ada masalah, kita harus siap menghadapinya. Yakin dan percayalah, dengan bersabar, kitaakan mendapat pemecahan dan kemudahan.Di sinilah letak kesabaran itu diuji,sehingga kita berharap dapat menjadi pribadi yang kokoh dan tangguh, serta tidak mudah tergiur dengan hal-hal yang memupus kesabaran yang telah kita pupuk.

والسلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Surat Pembaca Edisi 94

Tema Teroris

Masyarakat sering salah paham dengan cara berpakaian dan penampilan Ahlus Sunnah yang katanya identik dengan teroris (memakai gamis panjang, berjanggut, celana di atas mata kaki, dll). Mohon dalam edisi berikutnya membahas tentang teroris di negara kita dan menjelaskan siapa sebenarnya kelompok tersebut agar masyarakat umum bisa membedakan paham Ahlus Sunnah dengan teroris. Teguh-085293xxxxxx

Tema teroris sudah beberapa

kali kami angkat sebagai tema utama dalam beberapa edisi yang telah lalu, di antaranya edisi 8, 13, dan 86. Namun, insya Allah, dalam kesempatankesempatan mendatang, dalam artikel atau tema-tema yang masih terkait, kami akan selalu menekankan perbedaan ajaran Islam yang benar dengan ajaran teroris. Jazakumullahu khairan.

Tentang Bunga Bank

Mohon dikupas tuntas tentang haramnya bunga bank karena masih banyak saudara-saudara yang belum tahu manfaat dan mudaratnya uang riba sehingga mereka masih berbisnis dengan uang riba dan diulas pula fatwa MUI tentang hal tersebut. 081235xxxxxx

Masalah seputar perbankan pernah kami angkat sebagai tema utama pada edisi 28, 29, dan 53. Namun, tidak menutup kemungkinan tema bunga bank akan kembali diangkat dengan sudut pandang yang berbeda dengan edisi-edisi tersebut, insya Allah.

Salah Ketik

Asy-Syariah edisi terbaru halaman 62 salah ketik, harusnya “qod aflakha” bukan “fad aflakha”. Hlm. 1 “Permata Salaf” ada salah letak dalam penulisan rahimahumallah. 089670xxxxxx

Anda benar, jawaban ini sekaligus sebagai ralat. Jazakumullahu khairan.

Dimuat Ulang?

Pada rubrik SHI vol. 8 no. 93 Posisi Kedua Tangan Saat Tasyahud isinya sama dengan Asy-Syariah vol. 8 no. 91 Isyarat Telunjuk Saat Tasyahud. Apakah memang demikian, ataukah ada kesalahan cetak? 085743xxxxxx

Anda benar, terjadi kesalahan fatal pada edisi 93 sebagaimana dimaksud. Kami dari Redaksi memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada para Pembaca atas kesalahan ini. Barakallahu fikum.

Meraih Pahala Dengan Bersabar

Tak ada seorang pun yang menginginkan hidup dalam keadaan sulit. Tidak ada seorang pun menginginkan musibah terjadi atas dirinya. Namun, kenyataan hidup berbeda dengan apa yang diinginkan oleh setiap manusia. Hidup manusia tak selalu diwarnai dengan kebahagiaan dan kesenangan. Tidak pula hidup selalu diliputi kesuksesan. Terkadang manusia harus jatuh bangun menghadapi kehidupan. Ia harus menghadapi sekian banyak cobaan. Beruntunglah orangorang yang sabar.

Apa itu Sabar?

Secara bahasa sabar adalah

الْحَبْسُ وَالْمَنْعُ

Artinya, menahan atau mencegah.

Adapun secara istilah dimaknai:

حَبْسُ اللِّسَانِ عَنِ التَّشَكِّي وَالتَّسَخُّطِ وَالنَّفْسِ عَنِ الْجَزَعِ وَالْجَوَارِحِ عَنْ لَطْم الْخُدُودِ وَشَقِّ الْجُيُوبِ

Artinya, kemampuan seseorang untuk menahan lisan, mengendalikan diri (jiwa), serta menahan anggota tubuh dari memukul wajah dan merobek kerah baju (pakaian). (It-hafu al-’Uqul bi Syarhi Tsalati al-Ushul, asy-Syaikh Ubaid al-Jabiri)

Penyebutan “memukul wajah dan merobek kerah baju (pakaian)” dalam definisi di atas, terkait dengan kebiasaan orang-orang Arab jahiliah (sebelum Islam datang) ketika ditimpa musibah kematian orang yang dicintai. Mereka menunjukkan perilaku memukul-mukul wajah dan merobek kerah baju. Ini dilakukan sebagai wujud kesedihan yang mendalam.

Berdasar definisi di atas, sabar memiliki tiga unsur pokok: pengendalian diri (jiwa), pengendalian lisan, dan pengendalian anggota tubuh. Kesabaran seseorang akan tecermin dari sejauh mana tingkat dan kemampuan dirinya melakukan pengendalian diri, lisan, dan anggota tubuhnya.

Seseorang belum dikatakan bersabar manakala tangan atau kakinya melakukan aksi perusakan saat dirinya emosi menghadapi ketidakpuasan. Dia melakukan tindakan agresif secara membabi buta. Seseorang belum juga dikatakan bersabar manakala dirinya ditimpa musibah lantas lisannya mengeluarkan kata-kata kekufuran atau kesyirikan, kata-kata tidak terpuji, umpatan atau sumpah serapah, caci maki, dan yang sejenis.

Seseorang juga belum bisa dikatakan bersabar saat dirinya didera musibah lantas jiwanya goncang dan hilang kontrol diri. Dia tidak bisa mengendalikan diri, dan justru menampakkan kemarahan dan sikap emosi. Lebih dari itu, dalam keadaan goncang, dirinya terjatuh pada perbuatan syirik atau bid’ah. Dirinya tak sabar menghadapi kesulitan hidup lantas mendatangi dan meminta-minta kepada yang ada di dalam kubur atau mendatangi dukun, wal ’iyadzu billah. Maka dari itu, seseorang bisa dikatakan bersabar manakala dirinya mampu mengendalikan dan mengontrol emosi, lisan, dan segenap anggota badannya saat menghadapi musibah atau situasi tidak menyenangkan yang menimpanya. Ia tetap dalam garis ketaatan seraya tawakal (berserah diri) dan memohon pertolongan-Nya.

Macam Kesabaran

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahumallah menyebutkan bahwa kesabaran itu meliputi tiga macam.

1. Bersabar dalam rangka menaati Allah Subhanahu wata’ala. Ini sebagaimana difirmankan Allah Subhanahu wata’ala,

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ

“Perintahlah keluargamu untuk menegakkan shalat dan bersabarlah dalam menunaikannya.” (Thaha: 132)

Firman-Nya pula,

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآنَ تَنزِيلًا () فَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ

“Sesungguhnya Kamilah yang telah menurunkan al-Qur’an kepadamu secara bertahap, maka bersabarlah dalam menetapi hukum Rabb-mu.” (al-Insan: 23—24)

Sabar dalam menaati Allah Subhanahu wata’ala  ialah bentuk kesabaran merealisasikan perintah-perintah Allah Subhanahu wata’ala.

2. Bersabar dari berbuat maksiat kepada Allah Subhanahu wata’ala

Bentuk kesabaran ini sebagaimana telah dicontohkan oleh Nabi Yusuf ‘Alaihissalam. Saat seorang wanita berkedudukan dan terpandang mengajaknya melakukan perbuatan maksiat, Nabi Yusuf ‘Alaihissalam justru menghindar. Nabi Yusuf ‘Alaihissalam bersabar (menahan) diri untuk tidak terseret pada perilaku durhaka. Dia memilih untuk mendekam dalam penjara daripada harus melakukan kedurhakaan kepada Allah Subhanahu wata’ala. Allah Subhanahu wata’ala berfirman mengungkapkan kisah itu,

قَالَ رَبِّ السِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدْعُونَنِي إِلَيْهِ ۖ وَإِلَّا تَصْرِفْ عَنِّي كَيْدَهُنَّ أَصْبُ إِلَيْهِنَّ وَأَكُن مِّنَ الْجَاهِلِينَ

“Yusuf berkata, ‘Wahai Rabbku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka. Jika aku tidak Engkau hindarkan dari tipu daya mereka, niscaya aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentu aku termasuk orang yang bodoh’.” (Yusuf: 33)

3. Bersabar atas segala takdir Allah Subhanahu wata’ala.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ أُولُو الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ وَلَا تَسْتَعْجِل لَّهُمْ

“Bersabarlah engkau (Muhammad) sebagaimana kesabaran para rasul yang memiliki keteguhan hati, dan janganlah engkau meminta agar azab disegerakan untuk mereka.” (al-Ahqaf: 35)

Termasuk kesabaran ini ialah kesabaran ketika menyampaikan risalah dan menghadapi berbagai gangguan yang dilancarkan oleh anggota masyarakat.

Ujian Hidup Pasti Ada

Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ () الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ () أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. Yaitu, orangorang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan ‘inna lillahi wa inna ilaihi raji’un’ (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami akan kembali). Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Rabbnya (yaitu, Allah Subhanahu wata’ala) dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (al-Baqarah: 155—157)

Di dalam ayat di atas, Allah Subhanahu wata’ala menegaskan bahwa setiap manusia akan mendapat ujian di dalam kehidupannya. Ujian tersebut bisa dalam bentuk gagal panen, kehilangan modal usaha (harta), kehilangan orang yang dicintai (kematian), atau hilangnya rasa aman (ketakutan), dan lainnya. Meski demikian, orang-orang yang beriman, akan menyikapi semua ujian hidup tersebut dengan penuh kesabaran. Orang yang beriman memiliki keyakinan bahwa musibah yang menimpanya akan memberikan kebaikan pada dirinya.

Betapa tidak, dengan musibah itu dia harus bersabar. Manakala dirinya bisa bersabar, maka Allah Subhanahu wata’ala akan memberikan pahala. Misal, seseorang yang diuji oleh Allah Subhanahu wata’ala dengan rasa sakit. Jika dirinya bersabar dengan apa yang menimpanya, niscaya dia akan mendapat ganjaran. Dia akan mendapat ampunan, yaitu dosa-dosanya dihapus dan mendapat rahmat dari Allah Subhanahu wata’ala Dalam sebuah hadits dari Abu Sa’id dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasullullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَاهَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tiadalah seorang muslim yang ditimpa kepayahan, sakit (yang berkepanjangan/lama), kecemasan (gundah), kesedihan, kesakitan, dan dukacita hingga (ditimpa musibah) tertusuk duri, kecuali Allah l akan menghapuskan dosa-dosanya.” ( HR. al-Bukhari, no. 5642 dan Muslim, no. 52, 2573)

Demikianlah, ujian hidup itu pasti ada. Dari Sa’d bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

سَأَلْتُ رَسُولَ اللهِ  أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلَاءً؟  فَقَالَ: الْأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ، فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَإِنْ كَانَ رَقِيقَ الدِّينِ ابْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ ذَاكَ، وَإِنْ كَانَ صُلْبَ الدِّينِ ابْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ ذَاكَ. قَالَ: فَمَا تَزَالُ الْبَلَايَا بِالرَّجُلِ حَتَّى يَمْشِيَ فِي الْأَرْضِ وَمَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ

“Saya bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, siapakah manusia yang paling berat mendapat ujian?” Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallampun lantas menjawab, “Para nabi lalu yang semisal dengan mereka kemudian yang semisal dengan mereka. Seseorang akan mendapat ujian sesuai dengan keadaan agamanya. Jika agamanya kokoh, keras pula ujiannya. Bila keadaan agamanya lemah, ia akan diuji sebanding dengan keadaan agamanya. Ujian itu tak akan terlepas dari seseorang hingga dirinya berjalan di muka bumi dengan tanpa dosa.” ( HR. Ahmad, at-Tirmidzi, dan selainnya. Dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam as-Silsilah ash-Shahihah, no. 143)

Sabar Menghadapi Ujian dalam Dakwah

Saat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berupaya mengembangkan dakwah ke wilayah Thaif, yang beliau temui bukanlah sambutan yang baik. Beliau bersama seorang sahabat mendapat cercaan, hinaan, dan kekerasan fisik. Beliau dilempari batu. Tubuh beliau yang mulia terluka. Dari wajah beliau mengucur darah. Mengajak manusia menuju kebaikan malah dibalas kejelekan.

Betapa kejahilan yang begitu akut telah melekat pada masyarakat Thaif kala itu. Kejahiliahan yang ada pada mereka sedemikian menggulita sehingga tak mampu mencerna isi ajakan yang disampaikan manusia pilihan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Hati mereka buta dan tuli, tiada mampu membedakan kebaikan dan keburukan.

Meski demikian, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. tetap bersabar. Lisan beliau terjaga, tidak membalas umpatan dan caci maki dengan yang semisal. Demikian pula anggota tubuh beliau tak membalas dengan balasan yang semisal. Jiwa beliau tetap kokoh, tak lantas goncang, dan berputus asa dari menebar kebaikan. Kesabaran terhunjam kukuh pada diri beliau. Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu pernah bertutur bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bercerita,

“Ada seorang nabi dari kalangan nabi-nabi shalawatullah wa salamuhu ‘alaihim dipukul oleh kaumnya. Lantas mengucurlah darahnya. Nabi itu pun mengusap darah dari wajahnya seraya berdoa,

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِقَوْمِي فَإِنَّهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

‘Ya Allah, ampunilah kaumku. Sesungguhnya mereka tidak mengetahui.’ (HR. al-Bukhari, no. 3477 dan Muslim, no. 1792).”

Dikisahkan pula dari Abu Abdillah Khabbab bin al-Aratt radhiyallahu ‘anhu. Katanya,

أَتَيْنَا رَسُولَ اللهِ  وَهُوَ مُتَوَسِّدٌ بُرْدَةً فِي ظِلِّ  الْكَعْبَةِ فَشَكَوْنَا إِلَيْهِ فَقُلْنَا: أَلَا تَسْتَنْصِرُ لَنَا أَلَا تَدْعُو اللهَ لَنَا؟ فَجَلَسَ مُحْمَرًّا وَجْهُهُ فَقَالَ قَدْ كَانَ مَنْ قَبْلَكُمْ يُؤْخَذُ الرَّجُلُ فَيُحْفَرُ لَهُ فِي الْأَرْضِ ثُمَّ يُؤْتَى بِالْمِنْشَارِ فَيُجْعَلُ عَلَى رَأْسِهِ فَيُجْعَلُ فِرْقَتَيْنِ مَا يَصْرِفُهُ ذَلِكَ عَنْ دِينِهِ وَيُمْشَطُ بِأَمْشَاطِ الْحَدِيدِ مَا دُونَ عَظْمِهِ مِنْ لَحْمٍ وَعَصَبٍ مَا يَصْرِفُهُ ذَلِكَ عَنْ دِينِه وَاللهِ لَيُتِمَّنَّ اللهُ هَذَا الْأَمْرَ حَتَّى يَسِيرَ الرَّاكِبُ مَا بَيْنَ صَنْعَاءَ وَحَضْرَمُوتَ مَا يَخَافُ إِلَّا اللهَ تَعَالَى وَالذِّئْبَ عَلَى غَنَمِهِ وَلَكِنَّكُمْ تَعْجَلُونَ

“Kami mengeluh kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang kala itu tengah berbantal dengan kain burdahnya di bawah Ka’bah. Kami sampaikan, ‘Mengapa engkau tidak memintakan tolong dan mendoakan kami?’ Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Ada seorang laki-laki yang hidup sebelum kalian ditangkap dan ditanam di dalam tanah. Kemudian gergaji diletakkan di kepalanya sehingga terbelahlah kepala laki-laki itu menjadi dua. Dengan sisir dari besi, kepala itu pun disisir sehingga terkelupas daging dan tulangnya. Semua itu tak lantas memalingkan dirinya dari agamanya. Demi Allah, sungguh Allah Subhanahu wata’ala akan menyempurnakan perkara ini (Islam) hingga orang yang berkendara dari Shan’a ke Hadramaut tidak ada yang ditakuti kecuali hanya Allah Subhanahu wata’ala dan serigala yang mengancam kambingnya. Akan tetapi, kalian begitu tergesa-gesa’.” (HR. al-Bukhari, no. 2943, 3852)

Demikianlah ujian itu akan senantiasa ada. Telah menjadi tabiat dalam dakwah adanya beragam tantangan menghadang. Terkhusus, bagi para da’i yang menyerukan dakwah salafiyah. Beragam upaya untuk meruntuhkan sendi-sendi dakwah akan senantiasa dilakukan. Mulai dari upaya melakukan taqrib, upaya mendekatkan antarjamaah, hingga upaya pengaburan pemahaman dengan melalui berbagai media yang ada. Mereka bersinergi untuk mengoyak dakwah nan mulia ini. Mereka tuduh orang-orang yang bersikukuh di atas manhaj yang haq sebagai kelompok garis keras atau pernyataan yang semisal. Selama hawa nafsu mereka belum tercapai, mereka akan terus menggerogoti dakwah ini dengan berbagai syubhat dan syahwat. Nas’alullahu as-salamah (Kita memohon keselamatan kepada Allah Subhanahu wata’ala).

Terkait adanya ujian ini, Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ () وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan ‘Kami telah beriman’ sedangkan mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orangorang yang dusta.” (al-Ankabut: 2—3)

Dalam berbagai keadaan, kesabaran harus senantiasa ada. Saat menghadapi masalah, apabila tidak disertai kesabaran, niscaya akan bisa mengarah pada keadaan yang lebih buruk. Dengan sikap sabar, seseorang akan mampu mengendalikan diri dan mengambil tindakan yang lebih baik (dengan izin Allah Subhanahu wata’ala). Sikap sabar akan mengantarkan seseorang pada kebaikan. Disebutkan dari Abi Yahya Shuhaib bin Sinan radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Menakjubkan untuk urusan yang menimpa seorang mukmin. Sungguh, seluruh urusannya membawa kebaikan. Tidaklah yang demikian itu bisa diperoleh seseorang kecuali hanya oleh seorang mukmin. Jika dirinya mendapatkan kesenangan lantas bersyukur, sikap syukurnya itu membawa kebaikan baginya. Jika dirinya ditimpa musibah lantas bersabar, sikap sabarnya itu membawa kebaikan baginya.” (HR. Muslim)

Dengan sikap sabar seseorang bisa meraup pahala nan tak terkira. Wallahu a’lam.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafruddin

Rahasia Di Balik Kata Sabar

Sabar merupakan sebuah kata yang ringan diucapkan, namun sangat bermakna dalam kehidupan. Dengannya, perjalanan hidup seseorang akan selalu terbimbing di atas kebenaran. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

وَالصَّبْرُ ضِيَاءٌ

“Kesabaran itu adalah cahaya.” (HR. Muslim no. 223, dari sahabat Abu Malik al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu)

Al-Hafizh an-Nawawi rahimahumallah berkata, “Sesungguhnya kesabaran adalah amalan yang terpuji dan pelakunya akan selalu terbimbing di atas kebenaran.” (Syarh Shahih Muslim 3/101)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahumallah berkata, “Sebuah petunjuk (al-huda) tidak akan diraih melainkan dengan ilmu, sedangkan kemudahan untuk beramal dengan ilmu (ar-rasyad) tidak akan diraih melainkan dengan kesabaran.” (Majmu’ Fatawa 10/40)

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahumallah berkata, “Sesungguhnya Allah l menjadikan sabar sebagai kuda tunggangan yang tak kenal lelah, pedang yang tak pernah tumpul, prajurit yang pantang menyerah, benteng kokoh yang tak bisa dihancurkan dan ditembus. Sabar merupakan saudara kandung kemenangan. Di mana ada kesabaran, di situ ada kemenangan.” (Uddatush Shabirin, hlm. 4)

Secara etimologis, sabar mempunyai arti menahan. Maksudnya, menahan kalbu dari rasa kesal terhadap ketentuan Allah Subhanahu wata’ala (takdir), menahan lisan dari berkeluh kesah, dan menahan anggota badan dari perbuatan maksiat, seperti menampar-nampar pipi, merobekrobek baju, mencabut-cabut rambut, dan yang semisalnya. Di atas tiga asas itulah kesabaran dibangun. (al-Wabilush Shayyib karya al-Imam Ibnul Qayyim, hlm. 5)

Adapun hakikat sabar itu sendiri adalah sebuah budi pekerti luhur yang dapat menahan seseorang dari perbuatan yang tidak baik. Sabar termasuk salah satu dari kekuatan batin (psikis) yang dapat menstabilkan jiwa seseorang sehingga menjadi baik dan lurus. (Uddatush Shabirin, hlm. 11)

Di dalam al-Qur’an dan as-Sunnah, sabar disebutkan dalam beberapa bentuk lafadz yang mempunyai kandungan makna berbeda-beda;

1. Shabr ( صَبْرٌ ): kesabaran yang dilakukan dengan mudah.

2. Tashabbur ( تَصَبُّرٌ ): kesabaran yang dilakukan dengan upaya dan perjuangan.

3. Ishthibar ( اِصْطِبَارٌ ): puncak dari tashabbur ( تَصَبُّرٌ ). Maksudnya, puncak dari kesabaran yang dilakukan dengan upaya dan perjuangan.

4. Mushabarah ( مُصَابَرَةٌ ): kesabaran yang dilakukan di medan laga saat berhadapan dengan musuh. (Lihat Uddatush Shabirin, hlm. 15—16)

Ditinjau dari sisi keterkaitannya dengan Allah Subhanahu wata’ala, sabar terbagi menjadi tiga,

1. Sabar dengan Allah Subhanahu wata’ala ( ashshabru billah). Maksudnya, memohon pertolongan kepada Allah Subhanahu wata’ala dan meyakini bahwa Dia-lah Dzat yang menjadikan seorang hamba bersabar. Betapa pun seseorang mampu bersabar maka semua itu berkat pertolongan dari Allah Subhanahu wata’ala, bukan kemampuan dirinya semata. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلَّا بِاللَّهِ

“Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah.” (an-Nahl: 127)

Makna ayat di atas, jika Allah Subhanahu wata’ala tidak memberikan pertolongan kepadamu untuk bersabar, niscaya engkau tidak akan mampu bersabar.

2. Sabar karena Allah Subhanahu wata’ala( ashshabru lillah). Maksudnya, kesabaran yang dilakukan karena kecintaan kepada Allah Subhanahu wata’ala, menginginkan wajah-Nya, dan taqarub kepada-Nya. Bukan untuk menonjolkan diri, ingin dipuji orang, dan tujuan buruk lainnya.

3. Sabar bersama Allah Subhanahu wata’ala (ashshabru ma’allah).

Artinya, kesabaran seorang hamba bersama syariat Allah l dan segala ketentuan hukum-Nya secara berkesinambungan, berteguh diri di atas syariat dan hukum tersebut, berjalan di atasnya, serta menjalankan segala konsekuensinya. Hidupnya selalu dikendalikan oleh syariat dan hukum tersebut, kapan saja dan di mana saja ia berada.

Demikianlah kondisi seseorang yang bersabar bersama Allah Subhanahu wata’ala. Ia senantiasa menjadikan dirinya berada di atas segala yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu wata’ala dan dicintai-Nya. Kesabaran yang seperti ini adalah jenis kesabaran yang paling berat dan sulit. Itulah kesabaran yang ada pada diri ash-shiddiqin (orangorang yang sangat kuat keyakinannya kepada Allah Subhanahu wata’ala). (Madarijus Salikin karya al-Imam Ibnul Qayyim, 2/157)

Dalam ranah kehidupan beragama, para ulama mengklasifikasi sabar menjadi tiga,

1. Sabar di atas ketaatan kepada Allah Subhanahu wata’ala, dengan selalu mengerjakan segala perintah-Nya Subhanahu wata’ala.

2. Sabar dari perbuatan maksiat,  selalu menahan diri dari segala yang dilarang oleh Allah Subhanahu wata’ala.

3. Sabar atas segala musibah yang menimpa. (Lihat Qaidah fish Shabr karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah hlm. 90—91, Syarh Shahih Muslim karya al-Hafizh an-Nawawi 3/101, Madarijus Salikin 2/156, dll.)

Perbuatan apa sajakah yang dapat meniadakan (menafikan) kesabaran? Menurut al-Imam Ibnul Qayyim rahimahumallah dalam Uddatush Shabirin (hlm. 228), hal-hal yang menafikan kesabaran adalah rasa kesal dalam kalbu, berkeluh kesah dengan lisan kepada selain Allah Subhanahu wata’ala, dan melakukan perbuatan maksiat, seperti menampar-nampar pipi, merobek-robek baju, mencabut-cabut rambut, dan yang semisalnya.

Bagaimana halnya dengan berkeluh kesah kepada Allah Subhanahu wata’ala, apakah menafikan kesabaran? Berkeluh kesah kepada Allah Subhanahu wata’ala, tidak menafikan kesabaran. Hal ini sebagaimana yang terjadi pada diri Nabi Ya’qub q yang berkeluh kesah kepada Allah Subhanahu wata’ala,

قَالَ إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ وَأَعْلَمُ مِنَ اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

“Ya’qub menjawab, ‘Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kalian tiada mengetahuinya’.” (Yusuf: 86)

Meski demikian, Allah Subhanahu wata’ala menyitir ucapan Nabi Ya’qub ‘Alaihissalam yang lainnya,

فَصَبْرٌ جَمِيلٌ ۖ عَسَى اللَّهُ أَن يَأْتِيَنِي بِهِمْ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ

“Maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Mudah-mudahan Allah mendatangkan mereka semuanya kepadaku. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.” (Yusuf: 83)

Adapun menyampaikan kesulitan yang dihadapi (curhat) kepada makhluk, jika untuk meminta bimbingan dan bantuan untuk menghilangkan kesulitan tersebut, tidak menafikan kesabaran. Misalnya, keluhan pasien kepada dokter,  orang yang dizalimi kepada seseorang yang dapat membelanya, atau curhat seseorang yang sedang mengalami problem kepada orang lain yang diharapkan bisa memberikan solusinya.

Bagaimanakah dengan rintihan di kala sakit? Menurut al-Imam Ibnul Qayyim rahimahumallah dalam Uddatush Shabirin (hlm. 229), rintihan di kala sakit ada dua macam; rintihan yang mengandung keluh kesah maka hukumnya makruh, sedangkan rintihan untuk melepas kegundahan dan menghibur diri maka tidak mengapa.

Wallahu a’lam.

Ditulis oleh Al-Ustadz Ruwaifi bin Sulaimi

Mendulang Kesabaran dari Kitab Suci Al-Qur’an

Sabar merupakan budi pekerti luhur yang sering disebut dalam Kitab Suci al-Qur’an. Lebih dari sembilan puluh kali perihal sabar diangkat dalam kitab suci yang mulia itu. Demikianlah penuturan al-Imam Ahmad bin Hambal rahimahumallah. Sabar merupakan setengah dari iman. Setengah berikutnya adalah syukur. Umat Islam sepakat bahwa sabar merupakan kewajiban bagi setiap insan. Di dalam Kitab Suci al-Qur’an, ada enam belas bentuk pemaparan tentang sabar.

1. Perintah untuk bersabar.

Firman Allah Subhanahu wata’ala,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kalian dan kuatkanlah kesabaran kalian dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negeri kalian) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kalian beruntung.” (Ali Imran: 200)

2. Larangan melakukan lawan dari kesabaran.

Firman Allah Subhanahu wata’ala,

فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ أُولُو الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ وَلَا تَسْتَعْجِل لَّهُمْ

“Maka bersabarlah kamu seperti kesabaran orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari kalangan rasul-rasul dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka.” (al-Ahqaf: 35)

3. Pujian Allah Subhanahu wata’ala terhadap pelaku kesabaran.

Firman Allah Subhanahu wata’ala,

وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ ۗ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ

“Dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan, dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (al-Baqarah: 177)

4. Kecintaan Allah Subhanahu wata’ala kepada orang-orang yang bersabar.

Firman Allah Subhanahu wata’ala,

وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ

“Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar.” (Ali Imran: 146)

5. Meraih kebersamaan Allah Subhanahu wata’ala yang bersifat khusus, berupa pertolongan-Nya, pembelaan-Nya, dan penjagaan-Nya.

Firman Allah Subhanahu wata’ala,

وَاصْبِرُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“ Dan bersabarlah kalian , sesungguhnya Allah bersama orangorang yang sabar.” (al-Anfal: 46)

6. Berita dari Allah Subhanahu wata’ala bahwa kesabaran itu lebih baik bagi para pelakunya.

Firman Allah Subhanahu wata’ala,

وَلَئِن صَبَرْتُمْ لَهُوَ خَيْرٌ لِّلصَّابِرِينَ

“Akan tetapi, jika kalian bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar.” (an- Nahl: 126)

7. Pemberian balasan pahala yang terbaik kepada para pelaku kesabaran.

Firman Allah Subhanahu wata’ala,

وَلَنَجْزِيَنَّ الَّذِينَ صَبَرُوا أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (an- Nahl: 96)

8. Mendapat balasan pahala tanpa batas.

Firman Allah Subhanahu wata’ala,

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (az-Zumar: 10)

9. Adanya kabar gembira bagi orang-orang yang sabar.

Firman Allah Subhanahu wata’ala

وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (al-Baqarah: 155)

10. Jaminan pertolongan dan bantuan dari Allah Subhanahu wata’ala untuk orangorang yang bersabar.

Firman Allah Subhanahu wata’ala,

بَلَىٰ ۚ إِن تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا وَيَأْتُوكُم مِّن فَوْرِهِمْ هَٰذَا يُمْدِدْكُمْ رَبُّكُم بِخَمْسَةِ آلَافٍ مِّنَ الْمَلَائِكَةِ مُسَوِّمِينَ

“Ya (cukup), jika kalian bersabar dan bersiap siaga, dan mereka datang menyerang kalian dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kalian dengan lima ribu malaikat yang memakai tanda.” (Ali Imran: 125)

11. Penegasan dari Allah Subhanahu wata’ala bahwa para pelaku kesabaran adalah orang-orang yang mempunyai keutamaan besar.

Firman Allah Subhanahu wata’ala

وَلَمَن صَبَرَ وَغَفَرَ إِنَّ ذَٰلِكَ لَمِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

“Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.” (asy-Syura: 43)

12. Penegasan dari Allah Subhanahu wata’ala bahwa tidak ada yang mampu melakukan amalan saleh dan meraih balasan yang tinggi serta keutamaan yang agung melainkan orang-orang yang sabar.

Firman Allah Subhanahu wata’ala

وَيْلَكُمْ ثَوَابُ اللَّهِ خَيْرٌ لِّمَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا وَلَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الصَّابِرُونَ

“Kecelakaan yang besarlah bagi kalian, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu kecuali oleh orang- orang yang sabar.” (al-Qashash: 80)

13. Penegasan dari Allah Subhanahu wata’ala bahwa orang-orang yang mampu meresapi ayat-ayat Allah Subhanahu wata’ala dan mengambil pengajaran darinya adalah para pelaku kesabaran.

Firman Allah Subhanahu wata’ala,

فَقَالُوا رَبَّنَا بَاعِدْ بَيْنَ أَسْفَارِنَا وَظَلَمُوا أَنفُسَهُمْ فَجَعَلْنَاهُمْ أَحَادِيثَ وَمَزَّقْنَاهُمْ كُلَّ مُمَزَّقٍ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ

“Mereka berkata, ‘Ya Rabb kami, jauhkanlah jarak perjalanan kami’, dan mereka menganiaya diri mereka sendiri; maka Kami jadikan mereka buah bibir dan Kami hancurkan mereka sehancurhancurnya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tandatanda kekuasaan Allah bagi setiap orang yang sabar lagi bersyukur.” (Saba’: 19)

14. Penegasan dari Allah Subhanahu wata’ala bahwa kesuksesan yang dicari, keselamatan dari marabahaya, dan masuk ke dalam al-jannah (surga), tidaklah diraih melainkan dengan kesabaran.

Firman Allah Subhanahu wata’ala

جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا وَمَن صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ ۖ وَالْمَلَائِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِم مِّن كُلِّ بَابٍ () سَلَامٌ عَلَيْكُم بِمَا صَبَرْتُمْ ۚ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ

“(Yaitu) Surga Aden yang mereka masuk ke dalamnya bersama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapak mereka, istri-istri mereka dan anak cucu mereka, sedangkan malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu. (Sambil mengucapkan), ‘Salamun ‘alaikum bima shabartum (keselamatan atas kalian berkat kesabaran kalian).’ Alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” (ar-Ra’ad: 23—24)

15. Kesabaran mewariskan kepemimpinan bagi pelakunya.

Firman Allah Subhanahu wata’ala,

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا ۖ وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ

“Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar, dan mereka meyakini ayat-ayat Kami.” (as-Sajdah: 24)

16. Sabar sering disebutkan secara beriringan dengan amalanamalan yang mulia dalam Islam. Di antaranya sebagai berikut,

• Beriringan dengan keyakinan yang teguh, sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala,

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا ۖ وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ

“Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar, dan mereka meyakini ayat-ayat Kami.” (as-Sajdah: 24)

• Beriringan dengan ketakwaan, sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala,

وَإِن تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا ۗ

“Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikit pun tidak mendatangkan kemudaratan kepadamu.” (Ali Imran: 120)

• Beriringan dengan tawakal, sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala,

نِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ () الَّذِينَ صَبَرُوا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

“Itulah sebaik-baik pembalasan bagi orang-orang yang beramal. (Yaitu) yang bersabar dan bertawakal kepada Rabb mereka.” (al-Ankabut: 58—59)

• Beriringan dengan syukur, sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala,

إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ

“Sesungguhnya pada hal itu benar benar terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi setiap orang yang sabar lagi

bersyukur.” (Saba: 19)

• Beriringan dengan amal saleh, sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala,

إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَٰئِكَ لَهُم مَّغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌ

“Kecuali orang-orang yang sabar (terhadap bencana) dan mengerjakan amal-amal saleh; mereka itu mendapatkan ampunan dan pahala yang besar.” (Hud: 11)

• Beriringan dengan kasih sayang, sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala,

ثُمَّ كَانَ مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ وَتَوَاصَوْا بِالْمَرْحَمَةِ

ﯨ ﯩ

“Dia (tidak pula) termasuk orangorang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih-sayang.” (al-Balad: 17)

(Diringkas dari kitab Madarijus Salikin karya al-Imam Ibnul Qayyim 2/152— 155, dengan beberapa tambahan)

Ditulis oleh Al-Ustadz Ruwaifi bin Sulaimi

Memupuk Diri di Atas Kesabaran

Sabar adalah anugerah besar dari Allah Subhanahu wata’ala. Siapa yang meraihnya berarti telah mendapatkan sesuatu yang besar dalam hidupnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ مِنْ عَطَاءٍ خَيْرٌ وَأَوْسَعُ مِنَ الصَّبْرِ

“Tidak ada sebuah anugerah yang lebih baik dan lebih besar bagi seseorang daripada kesabaran.” (HR. Muslim no. 1053, dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu)

Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata, “Dengan kesabaran, kami dapat merasakan nikmatnya kehidupan.” (Shahih al-Bukhari, bab “Ash-Shabru ‘an Maharimillah”)

Betapa mulianya orang-orang yang bersabar manakala Allah Subhanahu wata’ala berseru untuk mereka,

وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

“Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang bersabar.” (al-Baqarah: 155)

أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

“Mereka itulah orang-orang yang mendapatkan berkah yang sempurna dan rahmat dari Rabb mereka (Allah), dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk (dari Allah, pen.).” (al-Baqarah: 157)

Tak mengherankan apabila Allah Subhanahu wata’ala memerintah Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam yang mulia dan segenap kaum mukminin untuk senantiasa bersabar. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ ۖ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَن ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا

“Dan bersabarlah kamu bersama- Meraih Kebahagian dengan Kesabaran sama dengan orang-orang yang menyeru Rabb mereka di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (al-Kahfi: 28)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kalian, kuatkanlah kesabaran kalian, tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negeri kalian), dan bertakwalah kepada Allah, supaya kalian beruntung.” (Ali Imran: 200)

Dengan demikian, memupuk diri di atas kesabaran merupakan kewajiban bagi kita semua. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahumallah, seorang imam besar yang hidupnya diliputi kesabaran, meninggalkan mutiara kata untuk kita tentang titian menuju kesabaran dalam kitab beliau yang indah, Qaidah fish Shabri (hlm. 94—103).

Mutiara kata yang sangat berharga sebagai bekal untuk memupuk diri di atas kesabaran. Berikut ini ringkasan dan intisari dari mutiara kata tersebut, semoga benarbenar menjadi titian indah bagi diri kita untuk menuju kesabaran.

1. Meyakini bahwa segala musibah yang menimpa adalah kehendak Allah Subhanahu wata’ala  Pencipta alam semesta, sedangkan diri ini hanyalah hamba-Nya yang berada dalam kehendak dan ketentuan-Nya.

2. Meyakini bahwa musibah yang menimpa adalah akibat dari perbuatan dosa yang dilakukan. Dengan demikian, dirinya akan terpalingkan dari kesedihan (terhibur) dengan bertobat dan  memperbanyak istighfar.

3. Meyakini bahwa pahala yang besar akan diberikan oleh Allah Subhanahu wata’ala kepada hamba-Nya yang bersabar dan berlapang dada.

4. Meyakini bahwa sikap memaafkan dan berbuat baik kepada orang lain akan mewariskan jiwa yang bersih, menghilangkan sifat curang, licik, dendam, dan keinginan untuk berbuat jelek.

5. Meyakini bahwa tidaklah seseorang melakukan balas dendam untuk dirinya melainkan Allah Subhanahu wata’ala akan menghinakannya, dan tidaklah seseorang memaafkan orang lain melainkan Allah Subhanahu wata’ala akan memuliakannya.

6. Meyakini bahwa kejelekan yang menimpanya adalah balasan atas kezaliman yang pernah dilakukan, dan meyakini pula bahwa siapa yang memaafkan orang lain niscaya Allah Subhanahu wata’ala  akan memaafkannya dan siapa yang memohon ampun kepada Allah Subhanahu wata’ala maka Dia Subhanahu wata’ala  akan mengampuninya.

7. Menyadari bahwa seseorang yang tersibukkan dengan membalas kejelekan yang ditujukan kepadanya akan habis waktu dan pikirannya untuk itu. Bahkan, banyak kemaslahatan yang terlewatkan darinya karenanya.

8. Meneladani Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam  yang tidak pernah membalas dendam untuk diri beliau.

9. Meyakini bahwa siapa yang disakiti karena menjalankan ketaatan kepada Allah Subhanahu wata’ala dan meninggalkan perbuatan maksiat, lantas bersabar dan tidak membalasnya, ia akan mendapatkan pahala yang besar dari Allah Subhanahu wata’ala.

10. Meyakini bahwa kebersamaan AllahS ubhanahu wata’ala yang bersifat khusus (pertolongan dan pembelaan-Nya), kecintaan-Nya, dan keridhaan-Nya, akan selalu menyertai hamba-Nya yang bersabar.

11. Meyakini bahwa sabar adalah setengah dari keimanan, sehingga ia tidak rela apabila setengah dari keimanannya menjadi korban untuk membela dirinya. Justru dengan bersabar, keutuhan imannya akan senantiasa terpelihara.

12. Meyakini bahwa kesabaran yang dilakukan merupakan pendidikan dan pelatihan terhadap jiwa.

13. Meyakini bahwa siapa yang bersabar pasti akan ditolong oleh Allah Subhanahu wata’ala.

14. Meyakini bahwa sikap sabar yang dilakukan terhadap orang yang berbuat zalim justru akan menghentikan kezaliman tersebut. Berikutnya, akan muncul celaan dari orang-orang terhadap si pelaku kezaliman tadi, sehingga membuatnya malu dan menyesali perbuatannya. Bahkan, bisa jadi dia akan menjadi kawan dekat di kemudian hari.

15. Membalas kezaliman yang ada terkadang dapat membuat lawan semakin semena-mena. Dalam kondisi semacam ini, yang diutamakan adalah bersabar dan tidak membalasnya. Betapa banyak pembalasan yang dilakukan justru mengakibatkan kerugian besar pada jiwa, harta, dan kedudukan.

16. Orang yang selalu berambisi untuk membalas kejelekan yang ditujukan kepadanya dan tak bisa bersabar darinya pasti akan terjatuh pula ke dalam perbuatan zalim. Sebab, jiwa manusia seringkali berlebihan sehingga melampaui batas-batas keadilan dan tidak dapat menimbang dengan baik haknya yang harus didapatkan.

17. Meyakini bahwa bersabar terhadap kezaliman menjadi sebab diampuninya kesalahan dan diangkatnya derajat.

18. Sikap memaafkan dan sabar merupakan bala tentara seseorang yang paling tangguh untuk menundukkan lawannya. Seorang yang memaafkan dan bersabar akan disegani dan ditakuti oleh musuhnya. Lebih dari itu, orang lain akan membelanya walaupun dia berdiam diri.

19. Ketika seseorang memaafkan lawannya, akan tertanam keyakinan pada diri lawan tersebut bahwa dia (orang yang memaafkannya itu) berada pada sebuah tingkatan yang lebih tinggi darinya.

20. Sikap memaafkan adalah amal kebaikan yang akan mewariskan kebaikan-kebaikan lainnya. Demikianlah beberapa titian menuju kesabaran, semoga menjadi bekal utama bagi kita untuk memupuk diri di atas kesabaran.

رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَتَوَفَّنَا مُسْلِمِينَ

“Wahai Rabb kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri (kepada-Mu).” (al-A’raf: 126)

Ditulis oleh Al-Ustadz Ruwaifi bin Sulaimi

Bersabar di Atas Kebenaran Kewajiban Insan yang Beriman

Kebenaran adalah mutiara kehidupan yang sangat berharga bagi setiap insan. Titian jalannya mengantarkan kepada kebahagiaan. Keberadaannya di tengah kehidupan, laksana pelita dalam kegelapan. Cahayanya terang-benderang menerangi loronglorong kehidupan sepanjang zaman. Berpegang teguh dengannya adalah kemuliaan, sedangkan mengabaikannya adalah kebinasaan. Kebenaran adalah anugerah agung dari Allah Subhanahu wata’ala untuk para hamba-Nya yang beriman. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

الْحَقُّ مِن رَّبِّكَ ۖ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ

“Kebenaran itu (datang) dari Rabbmu, karena itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.” (al-Baqarah: 147)

Kebenaran yang datang dari Allah Subhanahu wata’ala  itu tercermin pada agama Islam yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan diterapkan oleh para sahabat yang mulia. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ

“Dialah (Allah Subhanahu wata’ala) yang telah mengutus Rasul-Nya dengan (membawa) petunjuk dan agama yang benar, agar Allah memenangkan agama tersebut atas semua agama yang ada, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukainya.” (ash-Shaff: 9)

وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

Barang siapa menentang Rasul setelah jelas baginya petunjuk, dan mengikuti selain jalan orang-orang yang beriman1, Kami biarkan ia leluasa bergelimang dalam kesesatan dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.”(an-Nisa’: 115)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam  bersabda,

سَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلاَثَةٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً، كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلاَّ وَاحِدَةً. قِيلَ: مَنْ هِيَ يَا رَسُولَ الَّهلِ؟ قَالَ: مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِيْ

“Umatku akan terpecah belah menjadi 73 golongan. Semuanya masuk neraka, kecuali satu golongan. Beliau ditanya, ‘Siapakah dia wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘(Golongan) yang berada di atas jalan hidup (manhaj) yang aku dan para sahabatku berada’.” (HR. at-Tirmidzi dalam Sunan-nya; “Kitabul Iman”, bab “Iftiraqul Hadzihil Ummah”, dari ‘Abdullah bin Amr bin al-’Ash radhiyallahu ‘anhu)

Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam  juga bersabda,

فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيْرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِيْنَ، عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ

Sesungguhnya siapa saja di antara kalian yang hidup sepeninggalku nanti, niscaya akan melihat perselisihan yang banyak (dalam memahami agama ini). Maka dari itu, kalian wajib berpegang teguh dengan sunnah (bimbingan)ku dan sunnah al-Khulafa ar-Rasyidin yang terbimbing. Gigitlah ia dengan gigi-gigi geraham kalian (maksudnya, berpeganglah erat-erat dengannya, –pen.)… (HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi, ad-Darimi, Ibnu Majah, dan yang lainnya dari al- ‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu. Lihat Irwaul Ghalil, hadits no. 2455)

Maka dari itu, Allah Subhanahu wata’ala menyeru seluruh umat manusia untuk mengikuti kebenaran tersebut dengan sebaikbaiknya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَكُمُ الرَّسُولُ بِالْحَقِّ مِن رَّبِّكُمْ فَآمِنُوا خَيْرًا لَّكُمْ ۚ وَإِن تَكْفُرُوا فَإِنَّ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا

“Wahai manusia, sesungguhnya telah datang Rasul (Muhammad) itu kepada kalian dengan (membawa) kebenaran dari Rabb kalian maka berimanlah kalian, itulah yang lebih baik bagi kalian. Jika kalian kafir, (kekafiran itu tidak merugikan Allah sedikit pun) karena sesungguhnya apa yang di langit dan di bumi itu adalah kepunyaan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.” (an-Nisa’: 170)

Tak terlewatkan Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani), Allah Subhanahu wata’ala menyeru mereka kepada kebenaran tersebut yang sekaligus sebagai peringatan bahwa jalan hidup yang mereka tempuh selama ini adalah batil. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ قَدْ جَاءَكُمْ رَسُولُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ كَثِيرًا مِّمَّا كُنتُمْ تُخْفُونَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ ۚ قَدْ جَاءَكُم مِّنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُّبِينٌ () يَهْدِي بِهِ اللَّهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهُ سُبُلَ السَّلَامِ وَيُخْرِجُهُم مِّنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِهِ وَيَهْدِيهِمْ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ

“Hai Ahli Kitab, telah datang kepada kalian Rasul kami, menjelaskan kepada kalian banyak dari al-Kitab yang kalian sembunyikan dan banyak pula yang dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepada kalian cahaya dari Allah dan kitab yang menerangkan (al-Qur’an). Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orangyang mengikuti keridhaan-Nya kepada Meraih Kebahagian dengan Kesabaran jalan keselamatan. Dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari kegelapan menuju cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.” (al-Maidah: 15—16)

Dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa kebenaran itu bukan akal, bukan rajutan hawa nafsu, dan bukan pula budaya warisan leluhur. Kebenaran adalah agama Islam yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan diterapkan oleh para sahabat yang mulia. Itulah jalan hidup (manhaj) yang penuh berkah dan diridhai oleh Allah Subhanahu wata’ala. Jalan hidup yang dicatat oleh para ulama dengan sebutan manhaj salaf. Barang siapa mengikuti manhaj tersebut dengan baik kemudian istiqamah di atasnya, niscaya akan beruntung hidupnya di dunia dan di akhirat. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِندَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنجِيلِ يَأْمُرُهُم بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالْأَغْلَالَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ ۚ فَالَّذِينَ آمَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنزِلَ مَعَهُ ۙ أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“(Yaitu) orang-orang yang mengikuti rasul, nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf (baik), melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar (buruk), menghalalkan bagi mereka segala yang baik, mengharamkan bagi mereka segala yang buruk, serta membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya, dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (al-Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (al-A’raf: 157)

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) dari kalangan sahabat Muhajirin dan Anshar, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga (al-Jannah) yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal abadi di dalamnya. Itulah kesuksesan yang agung.” (at-Taubah: 100)

Konsekuensi Kebenaran

Mengetahui kebenaran, mengikutinya, dan istiqamah di atasnya menghadirkan konsekuensi besar dalam kehidupan. Secara sunnatullah, siapa saja yang mengetahui kebenaran, mengikutinya, dan istiqamah di atasnya pasti akan mendapatkan ujian dan cobaan. Allah Shallallahu ‘alaihi wasallam berfirman,

الم () أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُو

Alif Laam Miim. Apakah manusia mengira dibiarkan berkata, “Kami telah beriman’ sedangkan mereka tidak diberi ujian?” (al-‘Ankabut: 1—2)

Ujian dan cobaan itu pun beragam bentuknya. Terkadang dalam bentuk keburukan dan terkadang pula dalam bentuk kebaikan. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya), dan hanya kepada Kamilah kalian dikembalikan.” (al-Anbiya’: 35)

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahumallah berkata, “Maksudnya, Kami (Allah Subhanahu wata’ala) akan menguji kalian, kadang dengan musibah dan kadang dengan kenikmatan, untuk Kami nilai siapa yang bersyukur dan siapa pula yang kufur, siapa yang bersabar dan siapa pula yang berputus asa. Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalhah dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, ‘Maksud dari ayat (yang artinya) [Kami akan menguji kalian] adalah Kami akan menguji kalian dengan kesulitan dan kelapangan, sehat dan sakit, kecukupan dan kemiskinan, halal dan haram, ketaatan dan kemaksiatan, petunjuk dan kesesatan…’.” (Tafsir Ibnu Katsir)

Ketika Ujian & Cobaan Menerpa

Sesungguhnya, ragam ujian dan cobaan dalam kehidupan beragama telah lama ada. Para rasul terdahulu dan umatnya yang beriman benar-benar telah mengalami beragam ujian dan cobaan tersebut. Karena itu, ketika ujian dan cobaan menerpa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya, datanglah berita dari langit menghibur mereka semua. Di antaranya firman Allah Subhanahu wata’ala,

قَدْ نَعْلَمُ إِنَّهُ لَيَحْزُنُكَ الَّذِي يَقُولُونَ ۖ فَإِنَّهُمْ لَا يُكَذِّبُونَكَ وَلَٰكِنَّ الظَّالِمِينَ بِآيَاتِ اللَّهِ يَجْحَدُونَ () وَلَقَدْ كُذِّبَتْ رُسُلٌ مِّن قَبْلِكَ فَصَبَرُوا عَلَىٰ مَا كُذِّبُوا وَأُوذُوا حَتَّىٰ أَتَاهُمْ نَصْرُنَا ۚ وَلَا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِ اللَّهِ ۚ وَلَقَدْ جَاءَكَ مِن نَّبَإِ الْمُرْسَلِينَ

“Sesungguhnya Kami mengetahui bahwa apa yang mereka katakan itu menyedihkan hatimu, (janganlah kamu bersedih hati), karena mereka sebenarnya bukan mendustakan kamu, akan tetapi orang-orang yang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah. Sesungguhnya telah didustakan (pula) rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Allah kepada mereka. Tak ada seorang pun yang dapat mengubah kalimat-kalimat (janjijanji) Allah. Dan sesungguhnya telah datang kepadamu sebagian dari beritan rasul-rasul itu.” (al-An’am: 33—34)

أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُم مَّثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِن قَبْلِكُم ۖ مَّسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّىٰ يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَىٰ نَصْرُ اللَّهِ ۗ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ

“Apakah kalian mengira akan masuk surga, padahal belum datang kepada kalian (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kalian? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah rasul dan orangorang yang beriman bersamanya, ‘Bilakah datangnya pertolongan Allah?’ Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (al-Baqarah: 214)

Tak jarang pula, Allah Subhanahu wata’ala memberitakan tentang ujian dan cobaan yang menerpa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya, sebagai teladan dalam kesabaran sekaligus sebagai hiburan bagi orang-orang yang berteguh diri di atas kebenaran. Allah Subhanahu wata’ala berfirman (yang artinya),

“Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikaruniakan) kepada kalian ketika datang kepada kalian tentara-tentara, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kalian melihatnya, dan adalah Allah Maha Melihat apa yang kalian kerjakan. (Yaitu) ketika mereka datang kepada kalian dari atas dan dari bawah kalian, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan (kalian) dan hati kalian naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kalian menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam prasangka. Di situlah diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan (hati mereka) dengan goncangan yang dahsyat.” (al- Ahzab: 9—11)

الَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِلَّهِ وَالرَّسُولِ مِن بَعْدِ مَا أَصَابَهُمُ الْقَرْحُ ۚ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا مِنْهُمْ وَاتَّقَوْا أَجْرٌ عَظِيمٌ () الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ () فَانقَلَبُوا بِنِعْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ وَفَضْلٍ لَّمْ يَمْسَسْهُمْ سُوءٌ وَاتَّبَعُوا رِضْوَانَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ ذُو فَضْلٍ عَظِيمٍ

“(Yaitu) orang-orang yang menaati perintah Allah dan Rasul-Nya sesudah mereka mendapat luka (dalam Perang Uhud). bagi orang-orang yang berbuat kebaikan di antara mereka dan yang bertakwa ada pahala yang besar. (Yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan, ‘Sesungguhnya manusia (kafir Quraisy) telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kalian, karena itu takutlah kepada mereka.’ Maka perkataan itu justru membuat keimanan mereka bertambah lalu mereka pun menjawab, ‘Cukuplah Allah menjadi penolong Kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.’ Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa, mereka mengikuti keridhaan Allah, dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (Ali Imran: 172—174)

Dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa ragam ujian dan cobaan pasti menerpa kehidupan orang yang beriman. Tiada bimbingan ilahi dalam menghadapi ragam ujian dan cobaan itu kecuali dengan bersabar di atasnya meski sadar sepenuhnya bahwa hal itu sangat berat dilakukan. Goncangan hati dan dentuman urat saraf benar benar menegangkan.

Namun, itulah hikmah kehidupan yang dikehendaki oleh Allah Subhanahu wata’ala Dzat Yang Maha Penyayang. Karena itu, balasan yang mulia Allah Subhanahu wata’ala peruntukkan bagi hamba-Nya yang bersabar di atas kebenaran itu. Allah Subhanahu wata’ala berfirman (yang artinya),

“Dan Dia (Allah) memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka (berupa) surga dan (pakaian) sutra. Di dalamnya mereka duduk bertelakan di atas dipan, mereka tidak merasakan di dalamnya (teriknya) matahari dan tidak pula dingin yang menggigit. Naungan (pohon-pohon surga itu) dekat di atas mereka dan buahnya dimudahkanmemetiknya semudah-mudahnya. Diedarkan kepada mereka bejana-bejana dari perak dan piala-piala yang bening laksana kaca, (yaitu) kaca-kaca (yang terbuat) dari perak yang telah diukur mereka dengan sebaik-baiknya. Di dalam surga itu mereka diberi minum segelas (minuman) yang campurannya adalah jahe, (yang didatangkan dari) sebuah mata air surga yang dinamakan salsabil. Mereka dikelilingi oleh pelayan-pelayan muda yang tetap muda, apabila kamu melihat mereka, kamu akan mengiramereka adalah mutiara yang bertaburan. Apabila kamu melihat di sana (surga), niscaya kamu akan melihat berbagai kenikmatan dan kerajaan yang besar. Mereka memakai pakaian sutra halus yang hijau dan sutra tebal, dan dipakaikann kepada mereka gelang terbuat dari perak, dan Rabb mereka memberikan kepada mereka minuman yang bersih. Sesungguhnya ini adalah balasan untuk kalian, dan usaha kalian adalah disyukuri (diberi balasan).” (al-Insan: 12—22)

Demikianlah buah kesabaran. Buah yang tangkainya dihiasi bunga-bunga yang indah. Tiada seindah kata yang patut diucapkan melainkan lantunan doa,

رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

“Wahai Rabb kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami, kokohkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami dari orang-orang kafir.” (al-Baqarah: 250)

Ditulis oleh Al-Ustadz Ruwaifi bin Sulaimi

Menengok Kesabaran Diri Kala Ujian dan Cobaan Menerpa

Tak ada jalan yang tak berkelok Tak ada lautan yang tak berombak. Tak ada ladang yang tak beronak. Di mana ada kehidupan pasti di situ ada ujian dan cobaan. Demikianlah sekelumit tentang sketsa kehidupan dunia yang fana ini. Allah Subhanahu wata’ala menjadikannya sebagai medan tempaan (darul ibtila’), untuk menguji kualitas kesabaran dan penghambaan segenap hamba-Nya.

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahumallah berkata, “Sesungguhnya Allah Subhanahu wata’ala menguji hamba-Nya yang beriman tidak untuk membinasakannya, tetapi untuk menguji sejauh manakah kesabaran dan penghambaannya. Sebab, sesungguhnya Allah Subhanahu wata’ala wajib diibadahi dalam kondisi sulit dan dalam hal-hal yang tidak disukai (oleh jiwa), sebagaimana pula Dia Subhanahu wata’ala wajib diibadahi dalam hal-hal yang disukai. Kebanyakan orang siap mempersembahkan penghambaannya kepada Allah Subhanahu wata’ala dalam hal-hal yang disukainya. Karena itu, perhatikanlah penghambaan kepada-Nya dalam hal-hal yang tak disukai. Sebab, di situlah letak perbedaan yang membedakan kualitas para hamba. Kedudukan mereka di sisi Allah Subhanahu wata’ala pun sangat bergantung pada perbedaan kualitas tersebut.” (al-Wabil ash-Shayyib, hlm. 5)

Ujian dan Cobaan dalam Ranah Kehidupan Beragama

Setiap muslim sejati tentu menyadari bahwa ragam ujian dan cobaan pasti menerpa kehidupannya. Tiada bimbingan ilahi dalam menghadapi ragam ujian dancobaan itu melainkan dengan bersabar atasnya meski disadari bahwa kesabaran itu sangat berat dilakukan. Namun, itulah hikmah kehidupan yang dikehendaki oleh Allah Subhanahu wata’ala Dzat Yang Maharahman. Dalam ranah kehidupan beragama, ada tiga jenis ujian dan cobaan yang tak mungkin seorang muslim lepas darinya. Bagaimana pun situasi dan kondisinya, pasti dia akan menghadapinya. Tiga jenis ujian dan cobaan itu adalah sebagai berikut,

1. Perintah-perintah Allah Subhanahu wata’ala yang wajib ditaati.

2. Larangan-larangan Allah Subhanahu wata’ala (kemaksiatan) yang wajib dijauhi.

3. Musibah yang menimpa (takdir buruk).

Para ulama sepakat bahwa senjata utama untuk menghadapi tiga jenis ujian dan cobaan itu adalah kesabaran, yaitu;

1. Sabar di atas ketaatan kepada Allah Subhanahu wata’ala, dengan selalu mengerjakan segala perintah-Nya Subhanahu wata’ala.

2. Sabar dari perbuatan maksiat, dengan selalu menahan diri dari segala yang dilarang oleh Allah Subhanahu wata’ala.

3. Sabar atas segala musibah yang menimpa dengan diiringi sikap ikhlas dan ridha terhadap takdir yang ditentukan oleh Allah Subhanahu wata’ala. (Lihat Qa’idah fish Shabr karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah [hlm. 90—91], Syarh Shahih Muslim karya al-Hafizh an-Nawawi [3/101], dan Madarijus Salikin [2/156], dll.)

Sejauh manakah kesabaran dan penghambaan kita kepada Allah Subhanahu wata’ala terkait dengan tiga jenis ujian dan cobaan itu? Sudahkah kita bersabar di atas ketaatan kepada Allah Subhanahu wata’ala  dengan selalu mengerjakan segala perintah-Nya?

Sudahkah kita bersabar dari perbuatan maksiat dengan selalu menahan diri dari segala yang dilarang oleh Allah Subhanahu wata’ala? Sudahkah kita bersabar atas segala musibah yang menimpa dengan ikhlas dan ridha terhadap takdir yang ditentukan oleh Allah Subhanahu wata’ala?

Marilah kita menengok kesabaran diri masing-masing. Semoga Allah Subhanahu wata’ala menutupi segala kekurangan kita dan mengampuni segala kesalahan kita. Wallahul musta’an.

Dalam menjalani kehidupan beragama, setiap muslim tak bisa dipisahkan dengan lingkungan tempat hidupnya. Lingkungan yang bersifat majemuk baik dari sisi karakter, latar belakang keluarga dan pendidikan, maupun pemahaman agama. Di situlah seorang muslim akan diberi ujian dan cobaan oleh Allah Subhanahu wata’ala terkait dengan tiga jenis kesabaran di atas. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

الم () أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُو

“Alif Laam Miim. Apakah manusia mengira dibiarkan berkata, ‘Kami telah beriman’ sedangkan mereka tidak diberi ujian?” (al-‘Ankabut: 1—2)

Ujian dan cobaan itu pun beragam bentuknya. Terkadang dalam bentuk keburukan dan terkadang pula dalam bentuk kebaikan. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan “Alif Laam Miim. Apakah manusia mengira dibiarkan berkata, ‘Kami telah beriman’ sedangkan mereka tidak diberi ujian?” sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya), dan hanya kepada Kamilah kalian dikembalikan.” (al-Anbiya’: 35)

Di antara ujian dan cobaan itu adalah adanya orang-orang jahat yang tidak suka terhadap orang-orang yang istiqamah di atas jalan kebenaran. Mereka mencela, menghina, mencibir, bahkan memusuhi orang-orang yang istiqamah itu. Kondisi semacam ini bahkan telah dialami oleh para nabi terdahulu yang mulia. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا مِّنَ الْمُجْرِمِينَ ۗ وَكَفَىٰ بِرَبِّكَ هَادِيًا وَنَصِيرًا

“Dan seperti itulah, telah Kami adakan bagi tiap-tiap Nabi, musuh dariorang-orang yang berdosa. Cukuplah Rabb-mu sebagai pemberi petunjuk dan penolong.” (al-Furqan: 31)

Maka dari itu, siapa saja dari hamba Allah Subhanahu wata’ala , baik muslim maupun muslimah yang berupaya istiqamah, dengan meniti jejak Rasulullah n dan para sahabatnya (bermanhaj salaf) akan mengalami ujian terkait dengan keistiqamahannya itu. Tudingan sok alim, eksklusif, merasa benar sendiri, bertentangan dengan adat dan tradisi masyarakat, teroris, dan ujung-ujungnya vonis sesat, kerap kali menerpa. Semua itu Allah Subhanahu wata’ala tetapkan untuk menguji kesabaran para hamba- Nya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةً أَتَصْبِرُونَ ۗ وَكَانَ رَبُّكَ بَصِيرًا

“Dan Kami jadikan sebagian kalian cobaan bagi sebagian yang lain, maukah kalian bersabar? Dan adalah Rabb-mu Maha Melihat.” (al-Furqan: 20)

Dengan demikian, tiada jalan keselamatan dari segala ujian itu selain bersabar di atas kebenaran dengan mengedepankan sikap ilmiah, berpijak di atas hikmah, tidak mengedepankan hawa nafsu ataupun perasaan, penuh kehatihatian dalam menilai dan melangkah (ta’anni), tidak mudah bereaksi, dan tidak serampangan bertindak. Tentu saja, tidak lupa memohon pertolongan dari Allah Subhanahu wata’ala Penguasa alam semesta dan berkonsultasi dengan para ulama yang mulia.

Satu hal penting yang patut dicatat, patokan kebenaran bukanlah banyaknya\ jumlah pengikut atau orang yang mengerjakan sebuah amalan. Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Di antara prinsip kaum jahiliah adalah menilai kebenaran dengan jumlah mayoritas dan kesalahan dengan jumlah minoritas. Jadi, segala sesuatu yang diikuti kebanyakan orang berarti benar, sedangkan yang diikuti segelintir orang berarti salah. Inilah patokan mereka dalam hal menilai kebenaran dan kesalahan. Padahal patokan tersebut tidak benar, karena Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَإِن تُطِعْ أَكْثَرَ مَن فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ

“Dan jika kamu menuruti mayoritas orang-orang yang ada di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” (al-An’am: 116)

وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

“Tetapi mayoritas manusia itu tidak mengetahui.” (al-A’raf: 187)

وَمَا وَجَدْنَا لِأَكْثَرِهِم مِّنْ عَهْدٍ ۖ وَإِن وَجَدْنَا أَكْثَرَهُمْ لَفَاسِقِينَ

“Dan Kami tidak mendapati mayoritas mereka memenuhi janji. Sesungguhnya  Kami mendapati mayoritas mereka orangorang yang fasik.” (al-A’raf: 102)

dan sebagainya.” (Syarh Masail al-Jahiliyah, hlm. 60)

Dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa sedikitnya pengikut suatu dakwah, tidak lazimnya cara ibadah yang dilakukan (tidak seperti kebanyakan orang), atau penampilan yang berbeda dengan keumuman, bukanlah alasan untuk memvonis salah atau sesatnya sebuah dakwah, lebih-lebih manakala dakwah tersebut berpijak di atas bimbingan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya. Bukankah dakwah para rasul yang mulia—di awal kemunculannya— tidak umum dan tidak lazim di mata kaumnya?! Bukankah tidak sedikit dari para rasul tersebut yang dimusuhi dan ditentang dakwahnya? Sebagian mereka hanya diikuti oleh segelintir orang, bahkan sebagian lainnya tidak mempunyai pengikut! Namun, itu semua tak mengurangi nilai dakwah yang mereka emban dan tak menjadikan dakwah mereka divonis salah atau sesat. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَمَا آمَنَ مَعَهُ إِلَّا قَلِيلٌ

“Dan tidaklah beriman bersamanya (Nuh) kecuali sedikit.” (Hud: 40)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

عُرِضَتْ عَلَيَّ اْلأُمَمُ، فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ وَمَعَهُ الرَّهْطُ، وَالنَّبِيَّ وَمعَهُ الرَّجُلُ وَالرَّجُلاَنِ وَالنَّبِيَّ وَلَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ

“Telah ditampakkan kepadaku beberapa umat, maka aku melihat seorang nabi yang bersamanya kurang dari 10 orang, seorang nabi yang bersamanya satu atau dua orang, dan seorang nabi yang tidak ada seorang pun yang bersamanya.” (HR. al-Bukhari no. 5705, 5752, dan Muslim no. 220, dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu)

Asy-Syaikh Sulaiman bin Abdullah Alusy Syaikh rahimahumallah berkata, “Dalam hadits ini terdapat bantahan terhadap orang yang berdalil dengan hukum mayoritas dan beranggapan bahwa kebenaran itu selalu bersama jumlah yang banyak. Padahal tidaklah demikian adanya. Yang semestinya adalah seseorang mengikuti al-Qur’an dan as-Sunnah bersama siapa saja dan di mana saja.” (Taisir al-‘Azizil Hamid, hlm.106)

Fenomena Syahwat dan Syubhat

Di era globalisasi modern ini, syahwat dan syubhat menjadi ujian tersendiri bagi setiap muslim yang istiqamah di atas kebenaran. Ragam ujian itu pun benar-benar membutuhkan perjuangan dan kesabaran yang sangat tinggi. Godaan syahwat demikian gencarnya menerpa iman dan jiwa seseorang. Wanita dengan berbagai model dan aksen selalu mengiringi derap langkah manusia sepanjang zaman. Penampilan yang norak dan pakaian serba minim telah merambah putri-putri kaum muslimin.

Tak hanya kawula muda, para ibu rumah tangga sekalipun tak luput darinya. Akibatnya, mental dan rasa malunya setahap demi setahap terkikis seiring dengan lajunya arus modernisasi. Tak mengherankan apabila mereka menjadi ikon utama dalam dunia iklan, baik di media cetak maupun media elektronik. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

“Tidaklah aku tinggalkan setelahku sebuah godaan yang lebih berbahaya bagi kaum lelaki daripada wanita.” (HR. al-Bukhari no. 5096 dan Muslim no. 2741, dari Usamah bin Zaid rahimahumallah)

Betapa banyak para pemuda yang tak bisa bersabar terhadap godaan wanita. Betapa banyak para suami yang tak mampu bersabar di atas ketaatan karena godaan sang istri. Enggan untuk istiqamah karena tak disetujui oleh istri. Tak mau hadir di majelis-majelis taklim karena “takut” dengan istri. Bahkan, terkadang ia siap melakukan perbuatan maksiat; wirausaha dengan cara yang haram, mencuri, merampok, menipu, dan semisalnya demi memenuhi tuntutanistri. Dunia dan akhiratnya rusak akibat godaan wanita. Wallahul musta’an.

Di antara godaan syahwat yang juga berbahaya bagi kehidupan beragama seorang muslim adalah harta. Slogan “waktu adalah uang” menjadi prinsip hidup sebagian orang. Berpegang teguh dengan agama akan mewariskan kemiskinan dan kesengsaraan, dianggap suatu keniscayaan. Tak mengherankan apabila sebagian orang ada yang menjadikan harta sebagai tolok ukur kesuksesan dan keberhasilan. Fenomena ini sungguh telah terjadi pada diri Qarun, seorang konglomerat di masa Nabi Musa ‘Alaihissalam yang dibinasakan oleh Allah Subhanahu wata’ala. Menurut Qarun, limpahan harta yang ada pada dirinya merupakan bukti kesuksesan dan keridhaan Allah Subhanahu wata’ala kepadanya, sedangkan Nabi Musa q dan yang bersamanya tidak mendapatkan keridhaan dari Allah Subhanahu wata’ala karena tak sukses dari sisi harta. Maka dari itu, Allah Subhanahu wata’ala membantah persangkaan Qarun yang batil itu dengan firman-Nya Subhanahu wata’ala,

أَوَلَمْ يَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ أَهْلَكَ مِن قَبْلِهِ مِنَ الْقُرُونِ مَنْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُ قُوَّةً وَأَكْثَرُ جَمْعًا ۚ وَلَا يُسْأَلُ عَن ذُنُوبِهِمُ الْمُجْرِمُونَ

“Apakah dia tidak mengetahui bahwa Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang jahat itu tentang dosa-dosa mereka.” (al-Qashash: 78)

Ujian harta ternyata tidak hanya menerpa orang awam atau anak jalanan semata, tetapi orang berilmu pun nyaris terancam manakala orientasi hidupnya adalah dunia. Di mana ada “lahan basah” dia pun ada di sana, walaupun harus mengikuti keinginan big boss-nya yang kerap kali tak sesuai dengan syariat dan hati nuraninya. Syahdan, ketika hawa nafsu telah membelenggu fitrah sucinya, ayat-ayat Allah Subhanahu wata’ala (agama) dia jual dengan harga yang murah dan manhaj (prinsip agamanya) pun dia korbankan demi meraih kelayakan hidup atau kemapanan ekonomi. Dengan tegas Allah Subhanahu wata’ala memperingatkan orang-orang berilmu dari perbuatan yang tercela itu, sebagaimana firman-Nya,

إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنزَلَ اللَّهُ مِنَ الْكِتَابِ وَيَشْتَرُونَ بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا ۙ أُولَٰئِكَ مَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ إِلَّا النَّارَ وَلَا يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ () أُولَٰئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوُا الضَّلَالَةَ بِالْهُدَىٰ وَالْعَذَابَ بِالْمَغْفِرَةِ ۚ فَمَا أَصْبَرَهُمْ عَلَى النَّارِ

“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu al-Kitab dan menjualnya dengan harga yang sedikit (murah), mereka itu sebenarnya tidak memakan (tidak menelan) ke dalamperutnya melainkan api. Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat, tidak akan mensucikan mereka, dan bagi mereka siksa yang pedih. Mereka itulah orang-orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk dan (membeli) siksa dengan ampunan. Maka alangkah beraninya mereka menghadapi api neraka!” (al-Baqarah: 174—175)

Ada hal penting yang patut diperhatikan. Sikap selektif dan sensitif dalam mendapatkan harta harus selalu dimiliki oleh setiap muslim, baik untuk kehidupan pribadi maupun kepentingan dakwahnya. Tidak asal comot. Tidak pula pakai prinsip “aji mumpung”. Mumpung ada dana, diterima sajalah!? Tanpa mencermati dari mana datangnya dana tersebut, apa latar belakangnya, dan apa pula efek setelah mendapatkannya, baik yang berkaitan dengan dirinya maupun dakwah secara umum.

Langkah-langkah di atas seyogianya ditempuh oleh setiap muslim sekalipun dana tersebut berasal dari lembaga/yayasan yang bergerak di bidang keagamaan atau bahkan yang mengatasnamakan Ahlus Sunnah. Betapa banyak lembaga/yayasan yang bergerak di bidang keagamaan atau yang mengatasnamakan Ahlus Sunnah, realitasnya jauh panggang dari api. Sudahkah kita bersabar menghadapi kondisi yang semacam ini? Marilah kita menengok kesabaran diri, mudahmudahan taufik dan inayah Allah Subhanahu wata’ala selalu bersama kita. Amiin…

Adapun godaan syubhat yang berupa kerancuan berpikir tak kalah dahsyatnya dengan godaan syahwat. Aliran-aliran sesat yang mengatasnamakan Islam bermunculan, kesyirikan dipromosikan tanpa ada halangan, para dukun alias orang pintar dijadikan rujukan, ngalap berkah di kuburan para wali menjadi tren wisata religius (agama), dan praktik bid’ah (sesuatu yang diada-adakan) dalam agama meruak dengan dalih bid’ah hasanah. Semua itu mengingatkan kita akan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,

بَادِرُوا بِا عْألَْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِم،ِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِيْ كَافِرًا وَيُمْسِيْ مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا، يَبِيْعُ دِيْنَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا

“Bergegaslah kalian untuk beramal, (karena akan datang) fitnah-fitnah (ujian dan cobaan) layaknya potongan-potongan malam. Di pagi hari seseorang dalam keadaan beriman dan sore harinya dalam keadaan kafir. Di sore hari dalam keadaan beriman dan keesokan harinya dalam keadaan kafir. Dia menjual agamanya dengan sesuatu dari (gemerlapnya) dunia ini.” (HR. Muslim no.118, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi al- Madkhali hafizhahullah berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam seorang yang jujur lagi tepercaya telah memberitakan kepada kita dalam banyak haditsnya, termasuk hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu (di atas, -pen.) tentang bermunculannya ragam ujian di tengah umat. Sungguh, telah datang berbagai ujian besar yang sangat kuat menghempas akidah dan manhaj (prinsip beragama) umat Islam, mencabik-cabik keutuhan mereka, menyebabkan pertumpahan darah antarmereka, dan menjatuhkan kehormatan mereka. Bahkan, benarbenar telah menjadi kenyataan (pada umat ini) apa yang disabdakan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam,

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ شِبْراً بِشِبْرٍ وَذِرَاعاً بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا جُحْرَ ضَبٍّ لَتَبِعْتُمُوْهُمْ

‘Sungguh kalian akan mengikuti jalan/jejak orang-orang sebelum kalian (Yahudi dan Nasrani, -pen.) sejengkal dengan sejengkal dan sehasta dengan sehasta1. Sampai-sampai jika mereka masuk ke liang binatang dhab (sejenis biawak yang hidup di padang pasir, -pen.) pasti kalian akan mengikutinya’.”

Lebih lanjut, asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah berkata, “Saat ini di banyak negeri kaum muslimin muncul berbagai keburukan, seperti komunis, liberal, sekuler, sosialis, dan demokrasi dengan segala perangkatnya. Kelompok sesat Syiah Rafidhah dan Khawarij pun semakin gencar mengembuskan racun-racun yang dahulu mereka sembunyikan. Sebagaimana pula telah muncul kelompok sesat Qadiyaniah dan Bahaiah.” (Haqiqah al-Manhaj al- Wasi’ ‘Inda Abil Hasan, hlm. 2)

Di era globalisasi modern ini, keberadaan ujian syahwat dan syubhat semakin mengglobal. Terpaannya pun semakin dahsyat terhadap iman dan jiwa seseorang. Bagaimana tidak?! Ragam godaan syahwat dan syubhat dari manca negara dengan mudah dapat disaksikan di berbagai kanal televisi. Terlebih lagi di internet, semuanya dapat diakses secara bebas dan mudah. Bahkan, di dunia maya, semua orang—termasuk “pegiat dakwah”—dapat berkenalan dan bertemandengan siapa saja secara bebas dalam ajang FB (facebook) yang mengerikan itu. Para pencinta syahwat terfasilitasi untuk mengumbar syahwatnya. Demikian pula para penjaja syubhat terfasilitasi untuk menjajakan syubhatnya. Betapa banyak kasus perselingkuhan, perceraian, dan kasus-kasus rumah tangga lainnya terjadi akibat pertemanan bebas di facebook. Betapa banyak pula orangorang yang sebelumnya istiqamah di atas manhaj yang lurus menjadi melenceng akibat pertemanan bebas di facebook itu. Wallahul musta’an.

Akhir kata, semoga Allah Subhanahu wata’ala  menganugerahkan kesabaran diri kepada kita sehingga dimudahkan untuk istiqamah di atas kebenaran kala ujian dan coban menerpa. Amiin, Ya Mujibas sailin….

Ditulis oleh Al-Ustadz Ruwaifi bin Sulaimi

Mereka adalah Teladan dalam Kesabaran

Di antara hamba Allah Subhanahu wata’ala ada orang-orang yang bersabar kala ujian dan cobaan menerpa. Mereka adalah para rasul yang mulia dan orang-orang yang meniti jejak mereka dengan sebaik-baiknya. Kisah-kisah mereka ada yang Allah Subhanahu wata’ala abadikan dalam Kitab Suci al-Qur’an sebagai pengajaran dan teladan terbaik bagi umat manusia. Allah Subhanahu wata’ala  berfirman,

لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِّأُولِي الْأَلْبَابِ ۗ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَىٰ وَلَٰكِن تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

“Sesungguhnya pada kisah-kisahmereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al-Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, melainkan membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (Yusuf: 111)

Dengan merenungi kisah-kisahmereka, akan terhunjam kesabaran dalam jiwa dan bersemi bunga-bunganya dalam kehidupan. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَكُلًّا نَّقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ ۚ وَجَاءَكَ فِي هَٰذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَذِكْرَىٰ لِلْمُؤْمِنِينَ

“Dan semua kisah dari para rasul itu Kami ceritakan kepadamu, ialah kisahkisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran, pengajaran, dan peringatan bagi orang-orang yangberiman.” (Hud: 120)

Di antara para rasul yang menjaditeladan dalam kesabaran adalah yang bergelar Ulul Azmi (orang-orang yang mempunyai keteguhan hati). Tidak hanya teladan bagi kaum muslimin, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pun diperintahkan oleh Allah luntuk meneladani kesabaran mereka. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ أُولُو الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ وَلَا تَسْتَعْجِل لَّهُمْ ۚ

“Maka bersabarlah kamu seperti kesabaran orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari para rasul dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka.” (al-Ahqaf: 35)

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahumallah ketika menafsirkan ayat di atas menyebutkan bahwa pendapat yang paling masyhur tentang para rasul Ulul Azmi itu adalah Nabi Nuh ‘Alaihissalam, Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam, Nabi Musa ‘Alaihissalam, Nabi Isa ‘Alaihissalam, dan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. (Tafsir al-Qur’an al-Azhim)

Terkait kesabaran para rasul Ulul Azmi selain Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, sungguh telah disebutkan secara rinci oleh Allah Subhanahu wata’aladalam banyak ayat al-Qur’an. Simaklah sepenggal dari kisah mereka berikut ini, Nabi Nuh ‘Alaihissalam adalah rasul pertama yang diutus oleh Allah Subhanahu wata’ala di muka bumi ini. Beliau berdakwah di tengah-tengah kaumnya selama 950 tahun. Tiada yang menyambut dakwah beliau itu kecuali sedikit dari mereka. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَمَا آمَنَ مَعَهُ إِلَّا قَلِيلٌ

“Dan tidaklah beriman bersamanya (Nuh) kecuali sedikit.” (Hud: 40)

Mayoritas mereka sangat kuat penentangannya terhadap Nabi Nuh ‘Alaihissalam. Waktu yang sangat panjang, bukti-bukti kebenaran yang cukup banyak, dan pendekatan yang maksimal telah ditempuh oleh beliau. Namun, sambutan mereka hanyalah penentangan dan permusuhan belaka. Dengan sombong mereka mengancam,

لَئِن لَّمْ تَنتَهِ يَا نُوحُ لَتَكُونَنَّ مِنَ الْمَرْجُومِينَ

“Sungguh jika kamu tidak (mau) berhenti, hai Nuh, niscaya benar-benar kamu akan termasuk orang-orang yang dirajam.” (asy-Syu’ara: 116)

Permusuhan mereka yang keras itu dapat pula dilihat dari keluh kesah Nabi Nuh ‘Alaihissalam kepada Allah Subhanahu wata’ala,

قَالَ رَبِّ إِنِّي دَعَوْتُ قَوْمِي لَيْلًا وَنَهَارًا () فَلَمْ يَزِدْهُمْ دُعَائِي إِلَّا فِرَارًا () وَإِنِّي كُلَّمَا دَعَوْتُهُمْ لِتَغْفِرَ لَهُمْ جَعَلُوا أَصَابِعَهُمْ فِي آذَانِهِمْ وَاسْتَغْشَوْا ثِيَابَهُمْ وَأَصَرُّوا وَاسْتَكْبَرُوا اسْتِكْبَارًا

“Wahai Rabb-ku, sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang. Seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran). Sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (ke mukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat.” (Nuh: 5—7)

Meski demikian, Nabi Nuh ‘Alaihissalam tetap bersabar dalam dakwahnya meskipun badai permusuhan dari kaumnya menerpa dengan dahsyat. Karena itu, Allah Subhanahu wata’ala memuliakan beliau dan membinasakan musuh-musuhnya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

فَكَذَّبُوهُ فَنَجَّيْنَاهُ وَمَن مَّعَهُ فِي الْفُلْكِ وَجَعَلْنَاهُمْ خَلَائِفَ وَأَغْرَقْنَا الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا ۖ فَانظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُنذَرِينَ

“Lalu mereka mendustakan Nuh, maka Kami selamatkan Dia dan orangorang yang bersamanya di dalam bahtera, dan Kami jadikan mereka itu pemegang kekuasaan dan Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayatayat Kami. Perhatikanlah bagaimana kesesudahan orang-orang yang diberi peringatan itu.” (Yunus: 73)

Adapun Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam, beliau adalah ayah para nabi setelahnya (abulanbiya’). Beliau benar-benar diberi ujian dan cobaan yang sangat besar. Hampir sepanjang hidupnya dipenuhi oleh ujian dan cobaan yang sangat berat. Namun, beliau dapat menjalaninya dengan penuh kesabaran. Allah Subhanahu wata’ala  berfirman,

وَإِذِ ابْتَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ ۖ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا ۖ قَالَ وَمِن ذُرِّيَّتِي ۖ قَالَ لَا يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِينَ

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji oleh Rabb-nya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman, ‘Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia.’ Ibrahim berkata, ‘(Dan saya mohon juga) dari keturunanku.’ Allah berfirman, ‘Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim’.” (al-Baqarah: 124)

Dalam kehidupan beragama, dakwah tauhid yang beliau lakukan ditentang keras oleh ayah beliau sendiri. Tak luput pula penentangan dari kaumnya yang didukung oleh sang raja, penguasa saat itu. Terjadilah kesepakatan mereka untuk membakar beliau hidup-hidup dengan tumpukan kayu bakar yang menggunung. Beliau ditangkap dan digiring oleh massa menuju tumpukan kayu bakar yang tengah menyala-nyala. Beliau tetap tegar dan bersabar atas semua itu hingga dilemparkanlah tubuh beliau ke dalam kobaran api yang sangat dahsyat itu. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

قَالُوا حَرِّقُوهُ وَانصُرُوا آلِهَتَكُمْ إِن كُنتُمْ فَاعِلِينَ () قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ () وَأَرَادُوا بِهِ كَيْدًا فَجَعَلْنَاهُمُ الْأَخْسَرِينَ () وَنَجَّيْنَاهُ وَلُوطًا إِلَى الْأَرْضِ الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا لِلْعَالَمِينَ

“Mereka berkata, ‘Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kalian, jika kalian benar-benar hendak bertindak.’ Kami berfirman, ‘Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim.’ Mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi. Kami selamatkan Ibrahim dan Luth ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia (negeri Syam, termasuk di dalamnya Palestina, -pen.).” (al-Anbiya’: 68—71)

Dalam kehidupan rumah tangga, beliau diuji dengan hampanya keturunan dalam waktu yang cukup lama. Manakala dikaruniai keturunan seorang anak lelaki dari istri beliau, Hajar , yang dinantikan itu, Allah Subhanahu wata’ala menguji beliau agar menempatkan si buah hati, Ismail, dan ibunya di Makkah, lembah yang kering kerontang dan tak berpenghuni kala itu. Dengan penuh kesabaran, beliau jalani ujian tersebut.

Waktu berjalan, Ismail si buah hati pun tumbuh berkembang menyejukkan siapa saja yang memandangnya. Kemudian datanglah ujian berikutnya dari Allah Subhanahu wata’ala agar menyembelih si buah hati. Subhanallah, dengan penuh kesabaran ujian yang sangat berat itu beliau jalani. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَنَادَيْنَاهُ أَن يَا إِبْرَاهِيمُ () قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا ۚ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ () إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ () وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ () وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآخِرِينَ () سَلَامٌ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ () كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ

“Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Kami panggillah dia, ‘Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu. Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) ‘Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim’.” (ash- Shaffat: 103—109)

Adapun Nabi Musa ‘Alaihissalam, kisah Meraih Kebahagian dengan Kesabaran kesabaran dan ketegaran beliau di atas kebenaran telah diabadikan dalam beberapa surat al-Qur’an. Beliau yang berasal dari bani Israil diutus oleh Allah Subhanahu wata’ala untuk menyampaikan dakwah tauhid kepada Fir’aun, Raja Mesir yang sangat kejam, diktator, dan sangat benci kepada bani Israil.

Para wanita bani Israil diperlakukan secara tak senonoh, bayi-bayi mereka disembelih secara massal, sedangkan kaum lelakinya dijadikan budak. Kendati demikian, beliau jalankan tugas kerasulan dengan penuh kesabaran. Dakwah tauhid beliau sampaikan kepada Fir’aun dengan segala risikonya. Hari-harinya dipenuhi dengan ketegangan, berhadapan dengan Fir’aun dan bala tentaranya. Allah Subhanahu wata’ala  berfirman,

فَلَمَّا تَرَاءَى الْجَمْعَانِ قَالَ أَصْحَابُ مُوسَىٰ إِنَّا لَمُدْرَكُونَ () قَالَ كَلَّا ۖ إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِينِ () فَأَوْحَيْنَا إِلَىٰ مُوسَىٰ أَنِ اضْرِب بِّعَصَاكَ الْبَحْرَ ۖ فَانفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرْقٍ كَالطَّوْدِ الْعَظِيمِ () وَأَزْلَفْنَا ثَمَّ الْآخَرِينَ () وَأَزْلَفْنَا ثَمَّ الْآخَرِينَ () ثُمَّ أَغْرَقْنَا الْآخَرِينَ

“Setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa, ‘Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul.’ Musa menjawab, ‘Sekalikali tidak akan tersusul, sesungguhnya Rabb-ku bersamaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku.’ Lalu Kami wahyukan kepada Musa, ‘Pukullah lautan itu dengan tongkatmu.’ Terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan seperti gunung yang besar. Di sanalah Kami dekatkan golongan yang lain (Fir’aun dan bala tentaranya, -pen.). Kami selamatkan Musa dan orang-orang yang bersamanya semuanya dan Kami tenggelamkan golongan yang lain itu.” (asy-Syu’ara’: 61—66)

Seiring dengan kejamnya musuh yang dihadapi, Nabi Musa ‘Alaihissalam harus menghadapi umatnya yang sangat bandel dan sulit diatur. Berbagai gangguan, ungkapan kekecewaan, dan pembangkangan seringkali mereka tujukan kepada beliau. Namun, semua itu beliau hadapi dengan penuh kesabaran. Di antaranya adalah sebagaimana dalam firman Allah Subhanahu wata’ala,

قَالُوا أُوذِينَا مِن قَبْلِ أَن تَأْتِيَنَا وَمِن بَعْدِ مَا جِئْتَنَا ۚ قَالَ عَسَىٰ رَبُّكُمْ أَن يُهْلِكَ عَدُوَّكُمْ وَيَسْتَخْلِفَكُمْ فِي الْأَرْضِ فَيَنظُرَ كَيْفَ تَعْمَلُونَ

“Kaum Musa berkata, ‘Kami telah ditindas (oleh Fir’aun) sebelum kamu datang kepada kami dan sesudah kamu datang.’ Musa menjawab, ‘Mudahmudahan Allah membinasakan musuh kalian dan menjadikan kalian khalifah di bumi(Nya), maka Allah akan melihat bagaimana perbuatan kalian’.” (al- A’raf: 129)

قَالُوا يَا مُوسَىٰ إِنَّا لَن نَّدْخُلَهَا أَبَدًا مَّا دَامُوا فِيهَا ۖ فَاذْهَبْ أَنتَ وَرَبُّكَ فَقَاتِلَا إِنَّا هَاهُنَا قَاعِدُونَ

“Mereka berkata, ‘Hai Musa, kami sekali-kali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ada di dalamnya. Karena itu, pergilah kamu bersama Rabbmu dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja’.” (al-Maidah: 24)

Kesabaran Nabi Musa ‘Alaihissalam terhadap gangguan dan pembangkangan umatnya telah diakui oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

رَحِمَ اللهُ مُوسَى، قَدْ أُوذِيَ بِأَكْثَرَ مِنْ هَذَا فَصَبَرَ

“Semoga Allah Subhanahu wata’ala merahmati Nabi Musa ‘Alaihissalam, sungguh telah disakiti lebih banyak dari ini, namun beliau bersabar.” (HR. al-Bukhari no. 4336 dan 6059, dari Abdullah bin Mas’ud z)

Adapun Nabi Isa ‘Alaihissalam, beliau diutus oleh Allah Subhanahu wata’ala kepada bani Israil untuk memperingatkan mereka yang telah menyimpang dari agama Nabi Musa ‘Alaihissalam. Mereka telah apriori terhadap keabsahan nasab beliau. Klaim sebagai anak zina pun mereka tujukan kepada beliau. Sudah tentu, seseorang yang tersisihkan dari kaumnya karena sebuah klaim nista (walaupun dusta), amat berat baginya secara psikis untuk tampil sebagai pegiat dakwah yang mengajak mereka kepada kebenaran dan memperingatkan mereka dari segala penyimpangan yang ada. Namun, tugas kerasulan yang mulia itu beliau jalani dengan penuh ketaatan dan kesungguhan. Beliau pun bersabar atas segala permusuhan dan cercaan kaumnya. Dengan itulah, Allah Subhanahu wata’ala mengaruniakan mukjizat dan kenikmatan yang besar kepada beliau. Allah Subhanahu wata’ala  berfirman (yang artinya),

“(Ingatlah), ketika Allah mengatakan, ‘Hai Isa putra Maryam, ingatlah nikmat- Ku kepadamu dan kepada ibumu di waktu aku menguatkan kamu dengan Ruhul Qudus, kamu dapat berbicara dengan manusia di waktu masih dalam buaian dan sesudah dewasa; dan (ingatlah) di waktu aku mengajar kamu menulis, hikmah, Taurat dan Injil, dan (ingatlah pula) di waktu kamu membentuk dari tanah (suatu bentuk) yang berupa burung dengan izin-Ku, kemudian kamu meniup kepadanya, lalu bentuk itu menjadi burung (yang sebenarnya) dengan seizin- Ku. Dan (ingatlah) di waktu kamu menyembuhkan orang yang dilahirkan dalam keadaan buta dan orang yang berpenyakit sopak dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu kamu mengeluarkan orang mati dari kubur (menjadi hidup) dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu aku menghalangi bani Israil (dari keinginan mereka membunuh kamu) di kala kamu mengemukakan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, lalu orang-orang kafir diantara mereka berkata, ‘Ini tidak lain melainkan sihir yang nyata’.” (al-Maidah: 110)

Demikianlah para rasul Ulul Azmi yang mulia. Karena itu, Allah Subhanahu wata’ala mengabadikan nama sebagian mereka sebagai nama surat al-Qur’an, seperti surat Ibrahim dan surat Nuh. Sebagaimana pula Allah Subhanahu wata’ala  mengabadikan nama Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam  untuk sebuah surat al- Qur’an, yaitu surat Muhammad. Sejauh manakah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam meneladani kesabaran para rasul Ulul Azmi sebelum beliau itu, sehingga beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam termasuk dari mereka, bahkan menjadi yang paling mulia di antara mereka?

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahumallah berkata, “Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam pun menjalankan perintah Rabbnya (meneladani kesabaran para rasul Ulul Azmi). Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabar dengan kesabaran yang belum pernah dicapai oleh seorang nabi pun sebelumnya. Ketika para musuh menggalang perlawanan terhadap beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam secara serempak, bersatu padu menghalau dakwah ilallah yang beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam lakukan, serta menjalankan segala aksi permusuhan dan penyerangan yang dimampui oleh mereka, beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam tetap tegar di atas perintah Allah Shallallahu ‘alaihi wasallam, terus maju menghalau musuh-musuh Allah Shallallahu ‘alaihi wasallam, bersabar atas segala gangguanyang mendera, hingga akhirnya Allah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengokohkan beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam di muka bumi ini, memenangkan agamanya atas seluruh agama, dan memenangkan umatnya atas semua umat.” (Taisirul Karimirrahman, hlm. 784)

Dalam kesempatan lain, ketika menafsirkan surat al-Muddatstsir: 1—7, asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahumallah berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersegera menjalankan perintah Rabbnya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam sampaikan peringatan kepada umat manusia. Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam jelaskan kepada mereka semua permasalahan agama dengan ayat-ayat (bukti-bukti) yang nyata. Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam mengagungkan Allah Subhanahu wata’ala dan menyeru umat manusia untuk mengagungkan-Nya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bersihkan segenap amalan yang zahir dan yang batin dari kejelekan. Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam pun berpaling dari segala sesuatu yang dapat menjauhkan diri dari Allah Subhanahu wata’ala; berhala dan para pemujanya, serta kejelekan dan para pelakunya.

Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling berjasa bagi umat manusia—setelah jasa dari Allah Subhanahu wata’ala—tanpa menuntut pamrih dan balasan dari mereka. Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam ikhlas dalam kesabarannya itu dengan kesabaran yang sempurna; bersabar di atas ketaatan kepada Allah Subhanahu wata’ala , bersabar dari perbuatan maksiat, dan bersabar atas segala takdir Allah Subhanahu wata’ala yang buruk. Tak mengherankan apabila beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam akhirnya mengungguli semua Ulul Azmi dari para rasul. Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurahkan kepada mereka semua.” (Taisirul Karimirrahman, hlm. 895)

Di antara para rasul selain Ulul Azmi yang juga menjadi teladan dalam kesabaran adalah:

• Nabi Ismail ‘Alaihissalam, Nabi Idris’ Alaihissalam, dan Nabi Dzulkifli ‘Alaihissalam Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَإِسْمَاعِيلَ وَإِدْرِيسَ وَذَا الْكِفْلِ ۖ كُلٌّ مِّنَ الصَّابِرِينَ

“Dan (ingatlah kisah) Ismail, Idris, dan Dzulkifli. Semua mereka termasuk orang-orang yang bersabar.” (al- Anbiya’: 85)

• Nabi Ayyub ‘Alaihissalam. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَاذْكُرْ عَبْدَنَا أَيُّوبَ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الشَّيْطَانُ بِنُصْبٍ وَعَذَابٍ () ارْكُضْ بِرِجْلِكَ ۖ هَٰذَا مُغْتَسَلٌ بَارِدٌ وَشَرَابٌ () وَوَهَبْنَا لَهُ أَهْلَهُ وَمِثْلَهُم مَّعَهُمْ رَحْمَةً مِّنَّا وَذِكْرَىٰ لِأُولِي الْأَلْبَابِ () وَخُذْ بِيَدِكَ ضِغْثًا فَاضْرِب بِّهِ وَلَا تَحْنَثْ ۗ إِنَّا وَجَدْنَاهُ صَابِرًا ۚ نِّعْمَ الْعَبْدُ ۖ إِنَّهُ أَوَّابٌ

“Dan ingatlah akan hamba Kami Ayyub ketika ia menyeru Rabb-nya, ‘Sesungguhnya aku diganggu setan dengan kepayahan dan siksaan.’ (Allah berfirman), ‘Hantamkanlah kakimu; Inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum.’ Kami anugerahkan kepadanya (dengan mengumpulkan kembali) keluarganya dan (Kami tambahkan) kepada mereka sebanyak mereka pula sebagai rahmat dari Kami dan pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai pikiran. Dan ambillah dengan tanganmu seikat (rumput), maka pukullah dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpah. Sesungguhnya Kami dapati Dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Rabb-nya).” (Shad: 41—44)

• Nabi Yusuf ‘Alaihissalam dan ayah beliau, Nabi Ya’qub ‘Alaihissalam. Surat Yusuf menjadi bukti atas kesabaran mereka. Nabi Yusuf ‘Alaihissalam bersabar atas musibah yang menimpa diri beliau manakala saudara-saudaranya bersepakat untuk membuang beliau ke dalam sumur. Lalu ada sekelompok musafir yang menimba air dari sumur itu dan beliau pun terangkut naik ke atas sumur, hingga dijuallah beliau kepada seorang penguasa negeri Mesir dengan harga yang sangat murah (beberapa dirham saja) layaknya hamba sahaya. Semua itu beliau hadapi dengan penuh kesabaran.

Manakala beliau telah tumbuh dewasa di rumah ayah pungutnya yang penguasa itu, dengan perawakan yang bagus dan wajah yang sangat tampan, ternyata istri sang penguasa itu tergoda dengan kebagusan dan ketampanan beliau. Ketika tak ada orang lain di dalam rumah itu selain mereka berdua, wanita itu pun menutup rapat-rapat semua pintu, kemudian merayu beliau untuk melakukan perbuatan yang tak senonoh. Dengan petunjuk dari Allah Subhanahu wata’ala beliau mampu menahan diri (bersabar) dari perbuatan maksiat. Beliau tetap tegar dan tak luluh dengan rayuan wanita bangsawan lagi rupawan itu.

Bahkan, beliau lari menuju pintu untuk bisa keluar dari rumah tersebut dan lolos dari jeratjerat setan. Wanita yang sedang gelap mata itu pun terus memburu beliau dan berhasil menarik baju beliau dari belakang hingga terkoyak. Di situlah mereka kepergok oleh suami si wanita yang tak lain adalah penguasa negeri Mesir. Namun, berkat kepandaian dan kedudukannya, si wanita berkilah di hadapan suaminya. Ia menyalahkan Nabi Yusuf ‘Alaihissalam dan

membenarkan dirinya. Akhirnya, Nabi Yusuf ‘Alaihissalam dijebloskan ke dalam penjara karenanya. Semua itu beliau hadapi dengan penuh kesabaran seraya mengadukan permasalahannya hanya kepada Allah Subhanahu wata’ala. Firman-Nya,

ۀ ۀ ہ ہ ہ ہ ھ ھ ھ ھ ے

Yusuf berkata, ‘Wahai Rabb-ku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku, dan jika tidak Engkau hindarkan daripadaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh.’ Rabbnya pun mengabulkan doa Yusuf dan Dia menghindarkan Yusuf dari tipu daya mereka. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Kemudian timbul pikiran pada mereka setelah melihat tanda-tanda (kebenaran Yusuf) bahwa mereka harus memenjarakannya sampai waktu tertentu (untuk mengesankan bahwa Yusuflah yang bersalah dalam kasus itu).” (Yusuf: 33—35)

Manakala Nabi Yusuf ‘Alaihissalam keluar dari penjara, Allah Subhanahu wata’ala memuliakan beliau hingga dipercaya menduduki jabatan penting di negeri Mesir. Dalam kondisi demikian , dengan segala hikmah-Nya, Allah Subhanahu wata’ala mempertemukan beliau dengan saudara-saudara beliau yang dahulu berbuat jahat kepada beliau (membuang beliau ke dalam sumur). Apakah beliau membalas kejahatan mereka? Tidak, beliau memaafkan mereka semua dan tak membalasnya sedikit pun. Allah l mengabadikan kisah mulia itu di dalam al-Qur’anul Karim,

قَالَ رَبِّ السِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدْعُونَنِي إِلَيْهِ ۖ وَإِلَّا تَصْرِفْ عَنِّي كَيْدَهُنَّ أَصْبُ إِلَيْهِنَّ وَأَكُن مِّنَ الْجَاهِلِينَ () فَاسْتَجَابَ لَهُ رَبُّهُ فَصَرَفَ عَنْهُ كَيْدَهُنَّ ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ () ثُمَّ بَدَا لَهُم مِّن بَعْدِ مَا رَأَوُا الْآيَاتِ لَيَسْجُنُنَّهُ حَتَّىٰ حِينٍ

“Yusuf berkata, ‘Apakah kalian mengetahui (kejelekan) apa yang telah kalian lakukan terhadap Yusuf dan saudaranya ketika kalian tidak mengetahui (akibat) perbuatan kalian itu?’ Mereka berkata, ‘Apakah kamu ini benar-benar Yusuf?’ Yusuf menjawab, ‘Akulah Yusuf dan ini saudaraku. Sesungguhnya Allah telah melimpahkan karunia-Nya kepada kami.’ Sesungguhnya barang siapa bertakwa dan bersabar, sungguh Allah tidak menyia-nyiakan pahala orangorang yang berbuat baik.’ Mereka berkata, ‘Demi Allah, sesungguhnya Allah telah melebihkan kamu atas kami, dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa).’ Dia (Yusuf) berkata, ‘Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kalian, mudah-mudahan Allah mengampuni (kalian), dan Dia adalah Dzat Yang Maha Penyayang’.” (Yusuf: 89—92)

Adapun Nabi Ya’qub ‘Alaihissalam, beliau adalah teladan yang baik dalam hal bersabar atas segala musibah yang menimpa. Beliau bersabar dan bertawakal manakala seorang putra yang sangat disayanginya, yakni Nabi Yusuf ‘Alaihissalam, hilang tak menentu. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَجَاءُوا عَلَىٰ قَمِيصِهِ بِدَمٍ كَذِبٍ ۚ قَالَ بَلْ سَوَّلَتْ لَكُمْ أَنفُسُكُمْ أَمْرًا ۖ فَصَبْرٌ جَمِيلٌ ۖ وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ عَلَىٰ مَا تَصِفُونَ

“Mereka datang membawa baju gamis Yusuf (yang berlumuran) dengan darah palsu. Ya’qub berkata, ‘Sebenarnya diri kalian sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu. Maka dari itu, kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kalian ceritakan’.” (Yusuf: 18)

Setelah beberapa tahun dari “kepergian” Nabi Yusuf ‘Alaihissalam, disusul kepergian adik kandung Nabi Yusuf ‘Alaihissalam ke negeri Mesir sebagai persyaratan bagi saudara-saudaranya yang lain (anak-anak Nabi Ya’qub ‘Alaihissalam) untuk mendapatkan persediaan bahan makanan dari pemerintah negeri Mesir. Namun, sang adik ternyata harus ditahan di sana dan tak bisa turut pulang bersama yang lain, karena tertuduh mengambil piala (gelas minum) raja. Semua itu dihadapi oleh Nabi Ya’qub ‘Alaihissalam dengan penuh kesabaran. Beliau tiada berkeluh kesah selain hanya kepada Allah Subhanahu wata’ala. Allah Subhanahu wata’ala berfirman (yang artinya),

“Ya’qub berkata, ‘Hanya diri kalian sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu. Maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Mudahmudahan Allah mendatangkan mereka semuanya kepadaku; Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.’ Ya’qub berpaling dari mereka (anak-anaknya) seraya berkata, ‘Aduhai dukacitaku terhadap Yusuf.’ Kedua matanya menjadi putih karena kesedihan dan dia adalah seorang yang menahan amarahnya (terhadap anakanaknya). Mereka berkata, ‘Demi Allah, senantiasa kamu mengingati Yusuf hingga kamu mengidap penyakit yang berat atau termasuk orang-orang yang binasa.’ Ya’qub menjawab, ‘Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kalian tiada tahu’.” (Yusuf: 83—86)

Mahabenar Allah Subhanahu wata’ala dengan segala firman-Nya manakala berfirman,

لَّقَدْ كَانَ فِي يُوسُفَ وَإِخْوَتِهِ آيَاتٌ لِّلسَّائِلِينَ

“Sesungguhnya ada beberapa tandatanda kekuasaan Allah pada (kisah) Yusuf dan saudara-saudaranya bagi orang-orang yang bertanya.” (Yusuf: 7)

Demikianlah secercah cahaya dari kisah kesabaran para teladan yang mulia. Semoga menjadi lentera yang menerangi jalan hidup kita dan menjadi titian emas menuju kesabaran. Amin….

Ditulis oleh Al-Ustadz Ruwaifi bin Sulaimi