Investasi Emas Sistem Online

Investasi emas sistem online merupakan salah satu praktik riba yang ditawarkan kepada publik melalui dunia maya. Seperti keumuman praktik riba, investasi emas sistem online ini cukup menggiurkan para investor. Katanya, dengan media ini, pemodal tidak perlu repot menyimpan fisik emas di brankas, tidak perlu khawatir kehilangan atau kecurian, dan bisa dikelola di mana saja secara instan, praktis, efisien, dan menguntungkan.

Sungguh, amatlah benar apa yang telah disabdakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

حُجِبَتِ الْجَنَّهُ بِالْمَكَارِهِ وَحُجِبَتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ

“Surga ditutupi dengan hal-hal yang tidak disukai, sedangkan neraka ditutupi dengan hal-hal yang sesuai dengan syahwat.” ( HR. al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Riba investasi emas lewat sistem online sama halnya dengan investasi trading forex, karena transaksinya cacat, tidak terjalin serah terima tunai dari tangan ke tangan dalam satu majelis akad antara dua pihak yang bertransaksi.

Produk yang diperjualbelikan adalah logam mulia emas yang merupakan induk dari benda-benda ribawi yang syarat transaksinya harus dengan taqabudh yadan bi yadin (serah terima tunai dari tangan ke tangan dalam satu majelis)

Dijelaskan oleh al-Imam Ibnu Qudamah rahimahullah bahwa serah terima tunai dalam satu majelis merupakan syarat sah (jual beli emas/perak) tanpa ada khilaf (antara para ulama).

Ibnu Mundzir rahimahullah berkata, “Semua ahli ilmu yang kami kenal telah bersepakat (ijma’) bahwa ketika ada dua pihak yang bertransaksi lantas berpisah dari majelis transaksi dalam keadaan belum melakukan serah terima tunai, berarti transaksinya batal.”

Di antara sumber pendalilan hal ini adalah sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam,

الذَّهَبُ بِالْوَرِقِ رِبًا إِلاَّ هَاءَ وَهَاءَ

“Membeli emas dengan perak adalah riba kecuali dengan serah terima secara tunai.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

بِيْعُوا الذَّهَبَ بِالْفِضَّةِ كَيْفَ شِئْتُمْ يَدًا بِيَدٍ

“Silakan kalian ingin membeli emas dengan perak asalkan dengan serah terima dari tangan ke tangan.” ( HR. al-Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

وَنَهَى النَّبِيُّ عَنْ بَيْعِ الذَّهَبِ بِالْوَرِقِ دِينًا

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang membeli emas dengan perak dengan cara utang.”

وَنَهَى أَنْ يُبَاعَ غَائِبٌ بِالنَّاجِزِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual beli emas dan perak yang dibawa dengan yang tidak dibawa.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhu) (al-Mughni 6/112, Ibnu Qudamah rahimahullah)

Para ulama mengatakan bahwa hukum di atas berlaku juga untuk pembelian emas/perak dengan menggunakan mata uang. Dalam sistem online, taqabudh yang bersifat yadan bi yadin (serah terima tunai dari tangan ke tangan) terhitung mustahil.

Sisi lain, serupa dengan trading forex, terkadang uang yang ditransfer oleh investor tidak langsung diproses, tetapi tertunda beberapa saat kemudian. Jual-beli emas seperti ini transaksinya juga cacat, karena salah satu dari kedua belah pihak yang bertransaksi tertunda serah terimanya, sedangkan kedua pihak berada di tempat yang berbeda. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الذَّهَبُ بِالْوَرِقِ رِبًا إِلاَّ هَاءَ وَهَاءَ

“Emas dibeli dengan perak adalah riba, kecuali jika langsung diserahkan dan langsung diterima.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Umar radhiallahu ‘anhu)

Artinya, serah terima antara kedua pihak tidak boleh tertunda kecuali jika masih dalam satu majelis dan belum berpisah.

Sebagaimana yang telah diketahui, tujuan investasi emas adalah memburu keuntungan dari naik turunnya harga emas di pasaran, tanpa bermaksud memiliki fisik/emas batangan. Jadi, emas yang diinvestasikan di pasar emas online bersifat fiktif (semu). Yang ada hanyalah nilai harga emas.

Hal ini jelas bertentangan dengan sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam,

وَ تَبِيعُوا مِنْهَا غَائِبًا بِنَاجِزٍ

“Janganlah kalian berjual beli emas atau perak yang tidak dibawa dengan yang dibawa.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhu)

Dalam prosedur investasi emas sistem online, seseorang tidak bisa bertransaksi dengan pasar emas. Akan tetapi, dia harus bertransaksi melalui perantaraan sebuah perusahaan yang sering disebut dengan broker.

Seperti halnya trading forex, modal yang dipakai oleh investor untuk membeli emas adalah modal milik broker. Modal trader hanya sebagai jaminan. Hak pakai modal broker ini diperoleh dengan cara membagi prosentase keuntungan dalam jumlah tertentu dengan broker. Jadi, transaksi tersebut mengandung unsur pinjaman yang ada imbalannya.

Sebuah kaidah yang telah disepakati para ulama,

كُلُّ قَرْضٍ جَرَّ نَفْعًا فَهُوَ حَرَامٌ أَوْ رِبًا

“Setiap jasa pinjaman yang memiliki syarat berimbalan adalah haram atau riba.”

Wallahu a’lam.

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Ishaq Abdullah Nahar

Jual Beli Mata Uang Sistem Online

Sebagaimana yang telah dipaparkan pada pembahasan sebelumnya, syarat sah transaksi jual beli mata uang adalah taqabudh yadan bi yadin.

Mungkinkah hal tersebut dilakukan melalui media internet secara online? Yang jelas, transaksi serah terimanya tidak dilakukan langsung dari tangan ke tangan dalam satu majelis.

Mungkinkah untuk dikatakan syarat ini bisa terwakili dengan perpindahan uang dari rekening pembeli ke rekening penjual dan uang dari rekening penjual ke rekening pembeli dalam sebuah majelis online?

Permasalahan ini dikaji dalam pembahasan berikut.

 Apakah Semata-mata Perpindahan Uang dari Rekening Penjual ke Rekening Pembeli Terhitung Taqabudh?

Sebagian orang menganggap, masuknya uang ke rekening penjual yang disusul dengan masuknya uang penjual ke rekening pembeli telah dikategorikan transaksi tunai taqabudh, meskipun tidak terjadi tatap muka dan serah terima dari tangan ke tangan. Transaksi seperti ini, jika yang diperjualbelikan bukan berbentuk mata uang, emas, dan perak, transfer uang hanya terjadi dari pihak pembeli ke si penjual, tentu saja sudah dinyatakan taqabudh.

Adapun pembahasan kita adalah transaksi jual beli mata uang yang hukumnya sama dengan jual beli emas dan perak. Di dalam beberapa hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mensyaratkan dengan taqabudh yadan bi yadin.

فَإِذَا اخْتَلَفَ هَذِهِ الْأَصْنَافُ فَبِيعُوا كَيْفَ شِئْتُمْ إِذَا كَانَ يَدًا بِيَدٍ

“Jika berbeda jenisnya, perjualbelikanlah sesuai kehendak kalian asalkan dari tangan ke tangan.” (HR. Muslim, dari Ubadah bin ash-Shamit radhiallahu ‘anhu)

Makna literal (makna asli) lafadz hadits menunjukkan bahwa transaksinya harus dilakukan dengan bertemu langsung dan pembayaran serta serah terimanya harus dari tangan ke tangan. Tidak cukup hanya dengan transfer dari rekening ke rekening, kecuali jika transfernya dilakukan dengan cara bertemu dalam satu majelis atau ruangan.

Ibnu Qudamah rahimahullah berkata, “Serah terima dalam satu majelis merupakan syarat sah transaksi ini (tukar-menukar emas, perak, dan mata uang -pen.).”

Dari beberapa informasi yang pernah kita dapati, terkadang uang yang telah ditransfer oleh si pembeli ke rekening jasa penjual mata uang (broker) tidak langsung diproses kecuali selang beberapa waktu. Jual beli mata uang seperti ini cacat transaksinya, karena taqabudh (serah terima) yang tertunda, sedangkan masing-masing pihak berada di tempat yang berbeda. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الذَّهَبُ بِالْوَرِقِ رِبًا إِلاَّ هَاءَ وَهَاءَ

“Perak ditukar dengan emas adalah riba kecuali secara langsung diserahkan dan langsung diterima.” (HR. al-Bukhari dan Muslim, dari Umar radhiallahu ‘anhu)

Artinya, serah-terima antara kedua pihak tidak boleh tertunda kecuali jika masih dalam satu majelis dan belum berpisah.

Kesimpulan dari uraian singkat ini adalah:

  1. Jual beli uang sistem online adalah transaksi yang cacat.
  2. Transfer uang dari kedua belah pihak yang melakukan jual beli uang ke rekening masing-masing tidak termasuk taqabudh yadan bi yadin, kecuali jika kedua pihak sama-sama hadir dalam satu majelis dan uang telah masuk ke rekening masing-masing sebelum mereka berdua berpisah dari majelis.

Wallahu a’lam.

 Trading Forex Dibangun di Atas Akad Transaksi yang Cacat

Secara sekilas, kita bisa menilai cacatnya transaksi yang dilakukan dalam proses jual beli mata uang dengan sistem ini. Sebab, forex adalah usaha seseorang untuk mendapatkan keuntungan dengan cara jual beli mata uang secara online, yang transaksinya tidak bisa ditempuh dengan cara taqabudh yadan bi yadin dalam satu majelis.

Dari sisi lain, dalam praktik trading forex terdapat unsur الْقَرْضُ جَرَّ مَنْفَعَةً (jasa pinjaman yang ada imbalannya). Sebuah kaidah yang telah disepakati oleh para ulama,

كُلُّ قَرْضٍ جَرَّ مَنْفَعَةً فَهُوَ حَرَامٌ أَوْ رِبًا

“Setiap jasa pinjaman yang memiliki syarat imbalan adalah haram atau riba.”

Disadari atau tidak, modal yang dipakai oleh pemain forex untuk membeli mata uang asing adalah modal broker. Adapun modal si pemain hanya sebagai jaminan saja. Hak pakai modal broker ini diperoleh dengan cara membagi prosentase keuntungan dalam jumlah tertentu dengan pemilik modal (broker).

Perlu diketahui, saat melakukan trading forex, seseorang tidak bisa hanya membeli 1 USD saja, tetapi sistem pembeliannya dalam bentuk satuan lot (1 lot = 100.000 unit). Ketika seseorang membeli dollar Amerika sebesar 1 lot, itu artinya dia membeli 100.000 USD. Normalnya, jika harga dollar Amerika saat ini Rp14.000,00, dibutuhkan uang sejumlah 1,4 miliar rupiah untuk membeli 1 lot dollar Amerika.

Sudah barang tentu, sedikit orang yang mempunyai modal sebanyak itu untuk menjadi pemain forex. Dari sisi inilah para broker forex menawarkan jasanya. Broker inilah yang memfasilitasi para pemodal kecil untuk melakukan transaksi forex. Seseorang bisa mengikuti trading forex walaupun hanya bermodal Rp100.000,00; yang sebenarnya modal itu hanyalah sebagai jaminan. Adapun yang dia pakai untuk transaksi adalah modal milik broker. Pada kondisi seperti inilah terjadinya jasa pinjaman yang ada imbalannya.

Di antara faktor yang menunjukkan bahwa forex ditempuh dengan transaksi yang tidak syar’i adalah pada proses pendaftaran awalnya. Untuk bisa memulai trading forex, calon pemain forex menyetorkan modalnya dengan cara mentransfer rupiah ke rekening broker. Kemudian dia mengkonfirmasikan ke broker. Selanjutnya, broker memprosesnya dengan memasukkan sejumlah dollar (USD) sesuai dengan jumlah setoran ke akun trading calon pemain. Jadi, dana yang ada di dalam akun trading itu berbentuk dollar Amerika. Setelah itu, dia baru bisa melakukan transaksi forex.

Pada proses pendaftaran ini, tampak adanya transaksi tukar menukar uang dari rupiah ke dollar tanpa serah terima tunai dari tangan ke tangan dalam satu majelis. Terdapat pula riba nasi’ah dalam proses tersebut, karena masuknya dollar ke akun tertunda setelah adanya konfirmasi dan proses.

Dari sisi lain, spekulasi dan transaksi berisiko tinggi pada trading forex lebih besar dibandingkan dengan spekulasi yang terjadi pada jual beli mata uang sistem manual. Tidak sepantasnya seorang muslim berkecimpung dalam urusan seperti ini, sebagaimana nasihat asy-Syaikh al-Albani rahimahullah.

Wallahu a’lam.

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Ishaq Abdullah Nahar

Hukum Jual Beli Mata Uang Dan Nasihat Para Ulama

Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah pernah ditanya tentang hukum seseorang yang membeli euro (mata uang Uni Eropa) untuk dijual lagi setelah harga jualnya naik.

Beliau rahimahullah menjawab, “Saya berpandangan bahwa tidak sepantasnya seseorang berniaga dan bertransaksi (jual beli) uang kecuali sebatas keperluan darurat saja, karena transaksi yang demikian spekulatif dan berisiko tinggi.” (Diterjemahkan secara bebas dari transkrip rekaman yang berjudul “ar-Rihlah”, no. 33)

Di antara nasihat beliau rahimahullah ketika menjawab pertanyaan semisal, “Saya tidak menyarankan seorang muslim berprofesi sebagai pelayan jasa jual beli uang dengan dua alasan.

Orang yang berkeinginan membuka jasa ini wajib mengetahui hal-hal yang diperbolehkan dan yang dilarang dalam hal tukar-menukar uang.

Saat ini, orang yang menggeluti profesi ini jauh dari ilmu fikih, khususnya yang berkaitan dengan profesi mereka. Sangat sulit untuk menerapkan hukum syariat pada jasa tukar-menukar mata uang ini.

Kenyataan yang kita saksikan sekarang ini, naik turunnya kurs mata uang secepat naik turunnya speedometer kendaraan. Dalam kondisi seperti ini, muncul persaingan yang tidak sehat antara pelaku bisnis ini, bahkan timbul tindakan spekulasi dan berisiko tinggi. Tidak sedikit orang yang kaya mendadak dalam selang waktu pagi-sore; sebaliknya, tidak sedikit orang yang mengalami bangkrut total dalam kurun waktu yang sama.” (Diterjemahkan secara bebas dan diringkas dari transkrip rekaman yang berjudul “al-Huda wa an-Nur”, 716)

Terlepas dari rajih atau tidaknya pendapat asy-Syaikh al-Albani rahimahullah di atas tentang tidak bolehnya jual beli mata uang, tetapi nasihat beliau sangat berharga. Paling tidak, membuat kita berhati-hati dan tidak bermudah-mudahan dalam jual beli mata uang.

Asy-Syaikh al-Albani rahimahullah menasihati masyarakat agar tidak menukar uang mereka kecuali dalam keadaan kondisi darurat, seperti ketika pergi ke negara lain dan membutuhkan mata uang negara tujuan. (Diterjemahkan secara bebas dan diringkas dari transkrip rekaman yang berjudul “al-Huda wa an-Nur”, 716)

Namun, ada pendapat lain dalam masalah ini. Jumhur ulama masa kini, seperti asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz, asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin, asy-Syaikh Abdul Aziz Alu Syaikh, asy-Syaikh Shalih bin Fauzan, dan lainnya, memperbolehkan seseorang mengembangkan modal dengan usaha jual beli mata uang, dengan syarat adanya taqabudh yadan bi yadin (transaksi tunai dari tangan ke tangan dalam satu majelis).[1]

Jika syarat ini dipenuhi, tidak mengapa seseorang memperjualbelikan mata uang untuk mendapatkan keuntungan atau sengaja membeli mata uang tertentu untuk dijual kembali ketika nilainya naik.

Alasan jumhur sehingga memperbolehkan jual beli mata uang adalah:

  1. Hukum asal jual beli adalah halal.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَأَحَلَّ ٱللَّهُ ٱلۡبَيۡعَ وَحَرَّمَ ٱلرِّبَوٰاْۚ

“Dan Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (al-Baqarah: 275)

  1. Perbedaan kurs mata uang antara satu negara dan negara lain dianggap oleh para ulama sebagai perbedaan jenis, layaknya perbedaan jenis emas dan perak.

Ketika terjadi tukar-menukar mata uang yang berbeda jenis, terjadi perbedaan nilai mata uang (kurs). Akan tetapi, transaksi tersebut wajib taqabudh yadan bi yadin, karena jenis mata uang yang ditukar adalah sesama benda riba yang transaksi tukar-menukarnya harus secara taqabudh; sebagaimana disebutkan dalam hadits,

فَإِذَا اخْتَلَفَ هَذِهِ الْأَصْنَافُ فَبِيعُوا كَيْفَ شِئْتُمْ إِذَا كَانَ يَدًا بِيَدٍ

“Jika jenisnya berbeda, berjual-belilah antara jenis tersebut sesuai kehendak kalian selama dilakukan tunai dari tangan ke tangan.” (HR. Muslim, dari Ubadah bin ash-Shamit radhiallahu ‘anhu)

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah ditanya, “Bolehkah seorang muslim membeli mata uang dollar atau mata uang lain dengan harga rendah, kemudian saat kursnya naik, dia jual kembali?”

Beliau menjawab, “Tidak mengapa seseorang membeli uang dollar atau mata uang lain untuk disimpan lalu dia jual ketika kursnya naik di kemudian hari. Akan tetapi, hendaknya dia membelinya dengan transaksi tunai, yadan bi yadin, dari tangan ke tangan, dan tidak secara kredit atau utang.

Misalnya, mata uang USD (United States Dollar) dibeli dengan mata uang SAR (Saudi Arabian Riyal), dinar Saudi, atau dinar Irak secara tunai. Transaksi mata uang harus dilakukan secara tunai dari tangan ke tangan (dalam satu majelis, pen.). Sama halnya seperti menukarkan emas dengan perak, harus tunai dari tangan ke tangan. Allahul musta’an.” (Majmu’ Fatwa Ibnu Baz, 19/60)

Dari uraian singkat ini, penulis cenderung memilih pendapat yang kedua dengan tetap mempertimbangkan pendapat pertama dan tidak mengenyampingkannya.

Kita katakan bahwa diperbolehkan jual beli mata uang dengan beberapa ketentuan.

  1. Jika mata uang yang akan ditukar sama jenisnya (misal, mata uang yang ditukar adalah sesama rupiah; satu lembar Rp100.000,00 akan ditukar dengan uang sepuluh lembar Rp10.000,00), tidak boleh diambil keuntungan dari transaksi tersebut; harus sama nilainya, dan dilakukan secara tunai, tidak boleh diakhirkan penyerahannya, dan tidak boleh diangsur.

Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

تَبِيعُوا الذَّهَبَ بِالذَّهَبِ إِ مِثْلًا بِمِثْلٍ وَ تُشِفُّوا بَعْضَهَا عَلَى بَعْضٍ وَل تَبِيعُوا الْوَرِقَ بِالْوَرِقِ إِ مِثْلًا بِمِثْلٍ وَ تُشِفُّوا بَعْضَهَا عَلَى بَعْضٍ وَل تَبِيعُوا مِنْهَا غَائِبًا بِنَاجِزٍ

“Jangan kalian jual beli emas dengan emas kecuali harus sama. Jangan kalian jual beli perak dengan perak kecuali harus sama. Jangan menukar (emas/perak) yang tidak dibawa dengan yang ada.” (HR. al-Bukhari dan Muslim, dari Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhu)

  1. Jika jenis mata uangnya berbeda (misal, dollar dengan rupiah), transaksi yang dilakukan harus secara taqabudh yadan bi yadin (serah terima tunai di majelis), baik nilainya sama maupun berbeda, boleh melebihkan nominal mata uang satu dari yang lain.
  2. Menghindari praktik yang bersifat spekulatif, berisiko tinggi, dan persaingan yang tidak sehat.
  3. Tidak memudaratkan kaum muslimin dengan cara menimbun atau memonopoli mata uang tertentu saat kaum muslimin membutuhkan, sebagaimana yang diingatkan oleh asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahullah dalam Majmu’ Fatawa Ibnu Baz (19/172).

Meskipun demikian, kami sarankan kepada kaum muslimin untuk tidak terjun ke dalam dunia bisnis ini sebagai bentuk pengamalan hadits yang kami sebutkan di awal,

دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا ل يَرِيبُكَ

“Tinggalkanlah yang meragukanmu dan pilihlah yang tidak meragukanmu.”

فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ فَقَدِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِي الْحَرَامِ

“Barang siapa menjauhi perkara-perkara yang syubhat (samar), berarti dia telah menjaga agama dan kehormatannya. Barang siapa terjerumus dalam perkara syubhat, dia akan terjerumus dalam perkara yang haram.”

Wallahu a’lam.

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Ishaq Abdullah Nahar

[1] Fatwa para ulama yang menyatakan bolehnya berniaga (jual beli) mata uang jika terpenuhi syarat-syaratnya dapat dirujuk di kumpulan fatwa Ibnu Baz (19/60), al-Muntaqa min Fatawa asy-Syaikh Shalih Fauzan, Fatawa al-Lajnah ad-Daimah no. 3037, rekaman asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin dalam Silsilah Nur ‘ala ad-Darb, dan lainnya.

Hukum Tukar Menukar Mata Uang

Sudah barang tentu, seseorang diperbolehkan menukar mata uang yang dia pegang dengan mata uang lain untuk berbagai keperluannya. Syaratnya ialah harus taqabudh yadan bi yadin (tunai dari tangan ke tangan) secara sempurna dalam satu majelis.

Dalilnya ialah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

بِيعُوا الذَّهَبَ بِالْفِضَّةِ كَيْفَ شِئْتُمْ يَدًا بِيَدٍ

“Tukarlah emas dengan perak sesuai kehendak kalian, asalkan tunai dari tangan ke tangan.” (HR. al-Bukhari dan Muslim, dari Abu Bakrah radhiallahu ‘anhu)

Ibnu Qudamah rahimahullah berkata, “Penerimaan secara tunai dalam satu majelis adalah syarat sahnya tukar-menukar (antara mata uang) yang tidak diperselisihkan oleh para ahli ilmu.” (al-Mughni, 6/112)

Ibnu Mundzir rahimahullah berkata, “Dari kalangan ahli ilmu yang kami tahu, mereka sepakat mengatakan bahwa jika dua orang yang melakukan tukar-menukar mata uang berpisah dari majelisnya sebelum mereka berserah terima (secara tunai), maka transaksinya tidak sah.” (al-Mugni, 6/112)

Transaksi yang tidak tunai dari tangan ke tangan dalam satu majelis termasuk riba. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الذَّهَبُ بِالْوَرِقِ رِبًا إِلاَّ هَاءَ وَهَاءَ

“Jual beli emas dengan perak termasuk riba, kecuali dilakukan dengan serah terima secara tunai.” (HR. al-Bukhari dan Muslim, dari Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu)

Meskipun hadits di atas berkaitan dengan emas dan perak, para ulama menyamakan hukumnya dengan mata uang, karena nilai dari setiap mata uang bersandar pada emas dan perak.

Yang diperselisihkan oleh para ulama adalah hukum jual beli mata uang untuk mendapatkan keuntungan.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Ishaq Abdullah Nahar

Investasi Forex

دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا ل يَرِيبُكَ

“Tinggalkan yang meragukanmu, dan pilihlah yang tidak meragukanmu.” (HR. an-Nasa’i dan at-Tirmidzi, dari Hasan bin Ali radhiallahu ‘anhuma)

Hadits di atas hendaknya dijadikan sebagai bekal untuk menilai berbagai bentuk usaha yang ditawarkan kepada seorang muslim. Alhamdulillah, peluang usaha yang baik dan halal masih banyak. Seseorang seharusnya tidak merasa kesulitan untuk meninggalkan perkara yang samar dan meragukan. Di antara wasiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya,

فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ فَقَدِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِي الْحَرَامِ

“Barang siapa menjauhi perkara-perkara yang syubhat (samar), berarti dia telah menjaga agama dan kehormatannya. Barang siapa terjerumus dalam perkara syubhat, dia akan terjerumus dalam perkara yang haram.” (HR. al-Bukhari dan Muslim, dari Nu’man bin Basyir radhiallahu ‘anhuma)

Beriringan dengan pesatnya perkembangan teknologi, bermunculan pula berbagai usaha untuk mengembangkan modal yang ditawarkan kepada masyarakat. Salah satu model bisnis yang mulai banyak digemari masyarakat internet (netizen) adalah trading forex.

 

Pengertian Trading Forex

Trading forex, biasa disebut forex, adalah transaksi jual beli mata uang secara online di pasar forex melalui mediator (disebut broker) untuk mendapatkan keuntungan yang berwujud uang. Keuntungan diperoleh dari selisih harga jual dengan harga beli.

Artinya, keuntungan trading forex diperoleh dari selisih harga transaksi. Misal, saat ini harga 1 USD = Rp14.000,00. Kemudian si pemain forex membeli uang dollar sebanyak 10 USD. Ini berarti modal yang dia keluarkan sejumlah Rp140.000,00. Kini, dia memiliki uang dollar di rekeningnya sebesar 10 USD. Selang waktu satu hari, harga dollar naik menjadi Rp14.100,00/1 USD.

Melihat harga dollar naik, dia menjual 10 USD yang ada di rekeningnya. Dengan perolehan uang sebesar Rp141.000,00, dia mendapat keuntungan sebesar Rp1.000,00 dari selisih harga selang waktu satu hari.

Sistem bisnis ini tidak bisa dilakukan kecuali dengan cara online via internet. Dengan kata lain, “tukar-menukar mata uang sistem online” yang kemudian dijadikan sebagai ajang mengelola modal.

Kesimpulannya, trading forex itu:

  1. Ada modal yang dikelola
  2. Kegiatan trading forex adalah jual beli mata uang yang disebut “forex
  3. Dilakukan melalui perangkat yang mendukung internet (komputer atau smartphone)
  4. Transaksi yang dilakukan harus melalui broker (mediator bisnis forex)
  5. Bertujuan mendapat keuntungan atau usaha untuk mengembangkan modal.

Untuk menilai syar’i atau tidaknya trading forex, kita harus membahas beberapa masalah.

  1. Hukum tukar-menukar mata uang, karena forex adalah transaksi tukar-menukar mata uang.
  2. Hukum jual beli mata uang, karena trading forex adalah salah satu bentuk jual beli mata uang.
  3. Hukum jual beli mata uang sistem online, karena trading forex hanya bisa dilakukan secara online.
  4. Apakah semata-mata perpindahan uang antarrekening sudah dianggap taqabudh yadan bi yadin (tunai dari tangan ke tangan)? Sebab, serah terima uang dalam transaksi forex dilakukan dengan perpindahan dari satu rekening ke rekening lain.
  5. Kesimpulan hukum syar’i tentang trading forex.

 

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Ishaq Abdullah Nahar

Jual Beli Dalam Sistem Dropship

Dropship adalah sistem berjualan yang Anda tidak perlu memiliki produk untuk dipasarkan, tetapi cukup mempromosikan lewat internet messenger, website, atau media sosial. Jika ada pemesanan, pembeli mentransfer uang ke rekening Anda. Anda menghubungi dan mentransfer uang ke supplier untuk mengirimkan barang ke alamat pembeli Anda.

Ciri khas sistem dropship adalah supplier akan mengirimkan paket dengan identitas pengirim atas nama Anda. Seolah-olah memang Anda yang berjualan dan memiliki barang.

Dari penjelasan tentang sistem jual beli dropship di atas, sekilas kami melihat paling tidak ada dua cacat dari sisi syariat.

  1. Penjual berpenampilan seolah-olah sebagai pemilik barang.

Padahal dia bukan pemiliknya dan bahkan barang tersebut tidak bersamanya. Pembeli menganggapnya sebagai pemilik barang. Transaksi terjadi atas nama pembeli dan penjual tersebut.

Hal ini bertentangan dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang penuh hikmah,

وَلاَ تَبِعْ مَا لَيْسَ عِنْدَكَ

“Jangan kamu jual sesuatu yang bukan milikmu.” (HR. Ahmad)

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ini jelas hikmahnya. Di antaranya untuk menghindari penyebab pertikaian antara penjual dan pembeli. Sebab, ketika seorang menjual barang yang bukan miliknya, bisa jadi barang tidak sesuai yang diinginkan, bahkan ditipu. Bagaimana dia mau menjual kepada orang lain?

  1. Barang langsung dikirimkan oleh pemilik barang atau supplier kepada pembeli, tanpa melalui penjual.

Padahal antara penjual dan pemilik barang hakikatnya juga terjadi transaksi jual beli. Pada kenyataannya, ada dua transaksi. Transaksi pertama adalah antara pemilik barang dan penjual. Transaksi kedua adalah antara penjual dan pembeli.

Dalam kondisi seperti ini, mestinya ketika membeli dari pemilik barang pertama atau produsen, penjual tidak boleh menjualnya lagi sampai dia menguasai terlebih dahulu barang tersebut. Diistilahkan dalam syariat dengan istilah qabdh. Setelah itu, boleh dia kirim ke pembeli. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا ابْتَعْتَ طَعَامًا، فَلاَ تَبِعْهُ حَتَّى تَسْتَوْفِيَهُ

“Apabila kamu membeli makanan, jangan kamu menjualnya sampai kamu menguasainya.” ( HR. Muslim dari Jabir radhiallahu ‘anhu)

Walaupun hadits ini berbicara tentang membeli makanan, secara hukum dan hikmah berlaku pula pada barang lain.

Hikmahnya jelas. Di antaranya demi menjaga hak pembeli dan nama baik si penjual, menghilangkan sebab pertikaian, dan terhindar dari kerugian atau penipuan sehingga terjamin jual beli yang aman dan nyaman.

Penjual tetap terjaga nama baiknya karena dia menjual barang setelah diterima, diperiksa, dan dipastikan kualitasnya. Pembeli juga tidak rugi karena mendapat barang yang kualitasnya terjamin dan sesuai spesifikasi.

Dengan dua cacat pada transaksi dropship, penjualan dengan sistem tersebut tidak diperbolehkan.

 

Solusi

Usulan solusi, “penjual “ mestinya memposisikan dirinya sebagai wakil produsen. Dengan transparan, dia menampilkan dirinya sebagai wakil penjual, bukan pemilik barang. Dia menawarkan berbagai produk sebagai wakil penjual atau wakil pembeli.

Ketika ada pesanan, dia menghubungi pihak pemilik barang untuk mengirimkan ke pembeli. Dia dapat menyepakati komisi penjualan dengan pemilik barang.

Dalam proses semacam ini hanya ada satu transaksi, yaitu antara pemilik barang dan pembeli. “Penjual” hanya sebagai wakil. Dengan demikian, barang dapat langsung dikirimkan kepada pembeli. Dia terlepas dari larangan menjual sesuatu yang bukan miliknya.

Wallahu a’lam.

Ditulis oleh al-Ustadz Qomar Suaidi

Jual Beli Online

Pertumbuhan toko online atau online shop atau lebih jamak disebut olshop seakan sulit terbendung lagi. Kalau dahulu ada yang beranggapan bahwa toko online harus mempunyai website, kini anggapan itu tidak berlaku lagi. Hanya bermodalkan media sosial, bahkan kadang hanya dengan cara memasang display picture (DP) dan status di BBM/WA, seseorang sudah bisa menobatkan dirinya punya olshop. Bahkan, ada yang nyaris tanpa modal, karena adanya sistem dropship.

Apa dan bagaimana syariat memandang toko online itu, simak penjelasan berikut ini.

 Syarat-Syarat Jual Beli

Pasa dasarnya, setiap jual beli yang memenuhi syarat-syaratnya maka hukumnya sah.

Adapun syarat syarat jual beli adalah:

  1. Saling ridha antara penjual dan pembeli.
  2. Penjual dan pembeli adalah orang yang secara syar’i sah akadnya, yaitu merdeka, mukallaf, dan rasyid, yakni mampu membelanjakan (mengelola) harta dengan baik.
  3. Keduanya adalah pemilik objek transaksi atau mewakili pemiliknya.
  4. Barang yang diperjualbelikan adalah barang yang manfaatnya halal.
  5. Yang ditransaksikan adalah sesuatu yang mampu dikuasai.
  6. Yang ditransaksikan adalah sesuatu yang diketahui bersama oleh kedua belah pihak yang bertransaksi. (al-Mulakhkhash al-Fiqhi)

 

Syarat yang pertama insya Allah bisa terpenuhi dengan mudah.

Syarat yang kedua dapat diketahui melalui komunikasi. Melalui komunikasi tersebut, dapat dicari kepastian bahwa penjual dan pembeli adalah pihak yang secara syar’i memenuhi syarat untuk bertransaksi, identitas pun jelas.

Syarat yang ketiga, hendaknya status penjual jelas sebagai pemilik barang yang dijual atau berstatus sebagai wakilnya dalam penjualan. Pihak yang menjadi wakil tidak boleh menampakkan diri sebagai pemilik barang, padahal barang tersebut bukan miliknya. Sebab, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang berjualan sesuatu yang tidak dimiliki.

Syarat yang kelima bermakna bahwa barang yang dijual benar-benar dalam kekuasaan penjual, tidak semacam burung yang lepas atau barang yang masih dalam kekuasaan orang lain.

Syarat yang keenam, tentang sifat atau spesifikasi barang yang dijual, ini dapat diketahui dengan dilihat langsung, disebutkan spesifikasinya secara yang lengkap, atau dilengkapi dengan contoh dalam gambar atau video.

Selama syarat-syarat di atas terpenuhi dan barang sesuai dengan spesifikasi, transaksi boleh dilakukan dengan alat komunikasi masa kini, baik melalui telepon, SMS, dan sejenisnya.

Apabila terjadi ketidaksesuaian antara spesifikasi barang dan kenyataannya, pembeli berhak mengembalikan barang tersebut kepada penjual.

 

Fatwa asy-Syaikh Shalih al-Fauzan

Seseorang bertanya kepada asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah terkait dengan barang dagangan yang dijual di internet. Dia menerima pembayaran melalui internet. Dia juga bekerja sama dengan bank. Apakah jual beli tersebut sah?

Beliau menjawab, “Pada asalnya jual beli itu terjadi dalam satu majelis yang terdiri dari penjual dan pembeli. Akan tetapi, apabila Anda mengetahui penjual dan mendengar suaranya, lalu terjadi ijab dan qabul (transaksi syar’i), dan Anda yakin bahwa orang tersebut Anda kenal, jual belinya sah. Ini disebut majelis hukmi (secara hukum syar’i termasuk kategori ‘majelis’). Adapun meng-qabdh (menerima) uang, bisa Anda lakukan dengan cara apa saja.” (Fatwa asy-Syaikh Shalih al-Fauzan)

 

Ditulis oleh al-Ustadz Qomar Suaidi

Syariat Membawa Nikmat

Satu di antara tanda seorang dai yang lurus dan bermanhaj sahih adalah menyerukan akidah yang benar kepada umat, mengikhlaskan peribadahan hanya tertuju kepada Allah subhanahu wa ta’ala, mencegah beragam kesyirikan, serta menghidupkan sunnah dan menepis bermacam bid’ah. Ia juga memerintahkan shalat, menunaikan segenap yang wajib, dan meninggalkan segala bentuk yang diharamkan.

Dakwah kepada tauhid dengan mengikhlaskan peribadahan hanya tertuju kepada Allah subhanahu wa ta’ala merupakan dakwah para rasul Allah subhanahu wa ta’ala. Ini merupakan asas yang harus ada tatkala seorang hamba hendak membangun amalannya. Tanpa asas satu ini, amalan yang dilakukan seorang hamba akan sia-sia, tak akan terbangun kokoh, bahkan bakal runtuh meluluh. Dari sisi inilah para rasul memulai dakwah kepada kaumnya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِي كُلِّ أُمَّةٖ رَّسُولًا أَنِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُواْ ٱلطَّٰغُوتَۖ

“Dan sungguh Kami telah mengutus pada setiap umat seorang rasul (yang menyerukan), ‘Sembahlah Allah saja dan jauhilah thaghut!’.” (an-Nahl: 36)

وَمَآ أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِيٓ إِلَيۡهِ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ فَٱعۡبُدُونِ ٢٥

“Dan tiadalah Kami mengutus seorang rasul sebelummu kecuali Kami wahyukan kepadanya, sesungguhnya tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Aku. Maka, beribadahlah hanya kepada-Ku.” (al-Anbiya’: 25)

Allah subhanahu wa ta’ala telah menjelaskan pada ayat-ayat-Nya perihal tugas yang diemban oleh seorang rasul di tengah-tengah kaumnya yaitu upaya menanamkan tauhid yang semurni-murninya, mengikhlaskan segenap amal hanya bagi Allah subhanahu wa ta’ala tidak bagi selain-Nya. Itulah dakwah yang lurus. Dakwah yang telah dilalui dan dicontohkan para rasul yang mulia.

Hingga kini, dakwah itu tetap relevan. Tak basi dimakan usia. Tak aus seiring masa berlalu. Dakwah tauhid tetap urgen. Penting dan teramat penting dalam setiap jengkal kurun. Sebab, sesungguhnya kesyirikan beserta para pelakunya senantiasa ada. Mereka tetap bercokol dan selalu menularkan kesyirikan dengan segala ragamnya yang banyak menipu dan menistakan umat.

Islam sebagai satu-satunya agama yang benar di sisi Allah subhanahu wa ta’ala, telah memberikan segala hal bagi umatnya. Semua perangkat aturan, sistem, serta petunjuk mengaplikasikan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari telah secara sempurna dipaparkan. Tinggal manusia menelaah, memahami, meyakini, lalu mengamalkannya dengan penuh ikhlas seraya mengharap diterima oleh Allah subhanahu wa ta’ala sebagai ibadah.

 

Islam Itu Sempurna dan Menyempurnakan

Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus membawa syariat yang sempurna dan menyempurnakan. Setelah Islam hadir, syariat yang dibawa oleh para rasul terdahulu disempurnakan. Islam datang sebagai penyempurna syariat-syariat sebelumnya.

Asy-Syaikh Abdus Salam bin Barjas rahimahullah menuturkan bahwa syariat Islam adalah syariat yang sempurna dari semua sisi. Tidak mengandung unsur kekurangan di dalamnya. Allah subhanahu wa ta’ala telah menyebutkan perihal tersebut,

ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَٰمَ دِينٗاۚ

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, telah Aku cukupkan nikmat-Ku untukmu, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagimu.” (al-Maidah: 3)

Tiada sesuatu pun yang diperlukan umat, baik di era sekarang maupun yang akan datang, kecuali Allah subhanahu wa ta’ala telah menjelaskannya. Umat akan dapati segenap masalah terkait hukum halal dan haramnya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

مَّا فَرَّطۡنَا فِي ٱلۡكِتَٰبِ مِن شَيۡءٖۚ

“Tidak ada sedikit pun yang Kami luputkan di dalam al-Kitab.” (al-An’am: 38)

وَكُلَّ شَيۡءٖ فَصَّلۡنَٰهُ تَفۡصِيلٗا

“Dan segala sesuatu telah Kami terangkan secara jelas.” (al-Isra: 12)

Ayat-ayat yang semakna di atas berjumlah banyak. Dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah, ayat yang semisal itu banyak jumlahnya dalam al-Qur’an. Allah subhanahu wa ta’ala telah menjelaskan bahwa Kitab-Nya telah menjelaskan seluruhnya, menerangkan jalan petunjuk, mencukupi bagi yang mau mengikutinya. Ia tak memerlukan tambahan dari selainnya. Karena itu, wajib untuk mengikutinya dan terlarang mengikuti selainnya. (Dar’u Ta’arudh al-Aql wa an-Naql, 10/304. Lihat al-Hujaju al-Qawiyyah ‘ala Anna Wasail ad-Da’wah Tauqifiyyah, hlm. 19 dan 21)

Betapa sempurna syariat mengatur. Betapa sempurna nilai-nilai Islam menjelaskan setiap masalah yang muncul di tengah umat. Tak ada agama apa pun di muka bumi ini yang sempurna selain Islam. Tak ada sebuah ajaran yang serinci dan seterang Islam dalam menjelaskan permasalahan. Islam adalah satu-satunya agama yang diridhai oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Kesempurnaan syariat Islam mengatur semua sisi kehidupan manusia. Syariat mengatur hubungan suami-istri dalam berumah tangga, mengatur adab bersuci dan buang hajat, mengatur pula muamalah antara manusia terkait bisnis, kehidupan bertetangga, dan bermasyarakat.

Syariat menetapkan pula halal-haram satu barang yang dikonsumsi manusia, serta menetapkan pula kaidah hukum dalam urusan politik, ekonomi, sosial, dan lainnya. Demikian terang benderang Islam memberi tuntunan kepada umatnya.

Karena itu, seorang muslim yang telah mempelajari hakikat Islam akan menemukan kesahajaan dalam beragama. Ia akan temukan ketenangan dalam hidup.

Islam telah memberikan lebih dari cukup bimbingan guna menggapai keselamatan hidup, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Cukuplah Islam baginya, dan tiada selainnya.

 

Islam Rahmat Bagi Alam Semesta

Syariat yang diturunkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membawa muatan kasih sayang bagi segenap alam. Tak semata manusia yang merasakan kasih, namun segenap jin, bebatuan, hewan melata, tumbuhan, ikan di lautan, dan semua makhluk yang ada di alam semesta pun turut merasakannya.

Betapa tidak. Islam mengajari manusia untuk bersikap ramah terhadap alam dan tidak tamak. Sikap ini bisa memberi pengaruh yang bagus terhadap keberadaan makhluk Allah subhanahu wa ta’ala lainnya, dengan izin-Nya.

Bukankah hutan menjadi gundul dan rusak ekosistemnya, di antara sebabnya lantaran sikap tamak dan ketiadaan sikap ramah terhadap lingkungan? Saat ketamakan menggayuti jiwa manusia, pepohonan ditebang habis. Manusia berlomba meraup dunia melalui industri perkayuan. Setelah hutan ditebang habis, tak ada lagi kemauan untuk mengeluarkan dana bagi kelestarian lingkungan.

Tamak. Yang dipikirkan hanya keuntungan diri semata. Adapun hutan dibiarkan gundul merana. Hewan yang biasa hidup di dalam hutan pun entah kemana. Tak ada lagi air yang bisa diserap akar pepohonan. Tak ada lagi mata air yang bisa mengairi sungai. Bila hujan tiba, air yang jatuh ke bumi langsung mengikis tanah. Dengan kehendak Allah subhanahu wa ta’ala, terjadilah tanah longsor.

إِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ كُلُّ شَيْءٍ حَتَّى الْحِيتَانُ فِي الْمَاءِ

“Sungguh, seorang alim akan dimintakan ampun baginya oleh segenap sesuatu hingga ikan yang berada di air sekalipun.”

Kehadiran seorang alim akan memberi manfaat bagi segenap alam. Dengan ilmu yang dimiliki, dirinya bisa memberi pencerahan kepada siapa pun. Seorang alim tidak menabur kerusakan. Seorang alim menyeru manusia agar berbuat kebaikan. Tak semata kebaikan untuk dirinya. Namun, kebaikan untuk pepohonan, hewan melata, gunung dan bukit, dan segenap alam semesta.

Kehadiran seorang alim akan berperan memerangi ketamakan. Kehadiran seorang alim akan menebar kasih sayang kepada siapa pun, termasuk kepada alam semesta. Dengan kehadiran seorang alim, dengan izin Rabbul ’alamin, akan terjaga ekosistem. Ikan-ikan di air pun bisa hidup leluasa tanpa terganggu kelangkaan air.

Ya, seorang alim yang mengamalkan ilmunya. Kata al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah,

لاَ يَزَالُ الرَّجُلُ جَاهِلًا بِمَا عَلِمَ حَتَّى يَعْمَلَ بِهِ فَإِذَا عَمِلَ بِهِ كَانَ عَالِمًا

“Seseorang senantiasa terkungkung dalam kejahilan dengan apa yang ia ketahui hingga ia beramal. Bila telah mengamalkannya, ia menjadi seorang alim.” (Tarikh Madinah Dimasyqi, karya Ibnu Asakir, 48/427 dan Iqtidha’ al-’Ilmi al-Amal, karya al-Khathib al-Baghdadi, 1/37. Lihat Nasha’ih li asy-Syababi as-Sunnah, asy-Syaikh Abdus Salam bin Barjas rahimahullah, hlm. 26 dan 40)

Tepat apabila dinyatakan bahwa seorang alim lebih memiliki keutamaan dibanding dengan seorang ahli ibadah. Kehadiran seorang alim memberi manfaat yang lebih besar kepada makhluk Allah subhanahu wa ta’ala lainnya.

Berbeda halnya dengan seorang ahli ibadah yang beribadah untuk kepentingannya sendiri. Sungguh benar apa yang dinyatakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

فَضْلُ الْعَالِم عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ

Keutamaan seorang alim dibanding seorang ahli ibadah, seperti keutamaan bulan dibanding bintang-bintang.” (idem, hlm. 37)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus membawa rahmah. Tak semata bagi manusia, rahmah ditebar bagi segenap alam semesta. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَمَآ أَرۡسَلۡنَٰكَ إِلَّا رَحۡمَةٗ لِّلۡعَٰلَمِينَ

“Dan tiadalah Kami mengutusmu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi alam semesta.” (al-Anbiya’: 107)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merealisasikan nilai-nilai rahmah tersebut kepada segenap alam. Di antaranya beliau memerintahkan untuk berhemat menggunakan air, adanya larangan buang hajat di tempat bernaung, fasilitas umum, dalam air menggenang, larangan menganiaya hewan, bahkan umatnya didorong menyayanginya, menghormati orang yang lebih tua dan menyayangi kepada yang lebih muda, menjaga keberadaan tetangga, jujur dalam berkata, amanah dalam bermuamalah, serta semua sikap dan perilaku terpuji lainnya dalam balutan akhlak mulia.

Satu hari, Malik bin al-Huwairits radhiallahu ‘anhu mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. “Kami masih berusia belia,” kata Malik. “Saat itu kami telah berada di Madinah selama dua puluh hari,” lanjutnya. Malik meminta izin kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk pulang ke kampung halamannya. Katanya, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang penyayang dan lembut.” (HR. al-Bukhari no. 685)

Itulah prinsip mendasar yang diajarkan syariat. Prinsip yang didasari kasih sayang dan penuh rahmah dipegang kuat oleh para ulama ketika melahirkan fatwafatwa kontemporer. Dengan demikian, fatwa-fatwa yang dikeluarkan selaras dengan tujuan diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menebar kasih sayang.

Betapa syariat ini diliputi sifat rahmah. Orang yang tak mampu untuk menunaikannya diberi keringanan karena alasan yang diterima syariat. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفۡسًا إِلَّا وُسۡعَهَاۚ

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (al-Baqarah: 286)

فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ مَا ٱسۡتَطَعۡتُمۡ

“Bertakwalah kalian kepada Allah berdasar kemampuan yang ada pada kalian.” (at-Taghabun: 16)

Demikian prinsip dasar Islam yang teramat agung. Prinsip dasar ini melahirkan beragam ketetapan hukum yang sangat penting dan relevan dengan zamannya.

  1. Merujuk kepada al-Qur’an dan as-Sunnah berdasar pemahaman salaf dengan bimbingan ulama

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُواْ ٱلرَّسُولَ وَأُوْلِي ٱلۡأَمۡرِ مِنكُمۡۖ فَإِن تَنَٰزَعۡتُمۡ فِي شَيۡءٖ فَرُدُّوهُ إِلَى ٱللَّهِ وَٱلرَّسُولِ إِن كُنتُمۡ تُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِۚ

“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul serta ulil amri (penguasa dan ulama) di antara kalian. Kemudian jika kalian berbeda pendapat tentang sesuatu, kembalikanlah kepada Allah dan Rasul apabila kalian beriman kepada Allah dan Hari Akhir.” (an-Nisa’: 59)

Asy-Syaikh Abdus Salam bin Barjas rahimahullah menyebutkan, Allah subhanahu wa ta’ala telah memerintah hamba-Nya untuk mengembalikan urusan, tatkala terjadi perbedaan pendapat dalam urusan agama mereka, kepada apa yang telah menjadikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus (yaitu al-Qur’an dan as-Sunnah). (Nashaih li Syabab as-Sunnah, hlm. 46)

Para sahabat di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memberi teladan perihal tersebut. Ketika terjadi permasalahan, mereka langsung merujuk kepada ahlul ilmi, yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dalam sebuah riwayat dari Abi Tsa’labah al-Khusyani radhiallahu ‘anhu, ia menuturkan, “Saya bertanya, wahai Rasulullah, sesungguhnya kami berada di bumi kaum Ahlu Kitab. Apakah boleh kami makan menggunakan bejana mereka?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Jangan kalian makan dengan bejana mereka. Kecuali jika kalian tidak mendapati bejana lainnya, cucilah bejana tersebut. Setelah itu, makanlah menggunakan bejana mereka.” (HR. al-Bukhari no.5478 dan Muslim no.1930)

Menurut asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan y, hadits Abi Tsa’labah al-Khusyani radhiallahu ‘anhu di atas menunjukkan disyariatkannya bertanya kepada ahlul ilmi. Sebab, Abi Tsa’labah al-Khusyani mengajukan pertanyaan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika masalah menggayutinya, yaitu terkait menggunakan bejana Ahlu Kitab. Ini menjadi dalil disyariatkannya merujuk (bertanya) kepada ahlul ilmi (para ulama) kala masalah melekat.

Sungguh, Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman,

فَسۡ‍َٔلُوٓاْ أَهۡلَ ٱلذِّكۡرِ إِن كُنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ ٧

“Bertanyalah kalian kepada Ahlu adz-Dzikri jika kalian tidak mengetahui.” (al-Anbiya’: 7) (Tashil al-Ilmam bi Fiqhi al-Ahadits min Bulughi al-Maram, hlm. 85—86)

Prinsip merujuk kepada ahlul ilmi merupakan bagian manhaj Salaf dalam mengurai beragam masalah yang merundung umat. Prinsip ini menjadi sisi unggul dari metode beragama di kalangan salaf sehingga umat mendapat bimbingan langsung dari para ulama.

Berbeda halnya dengan sebagian umat yang terkontaminasi cara pandang pergerakan dan liberal. Mereka tak mengenal metodologi merujuk kepada ahlul ilmi. Pengamalan agama yang melekat padanya berjalan di atas hawa nafsu dan absurd (tak bisa dinalar akal sehat).

Merujuk kepada ulama berarti memohon bimbingan langsung kepada para pewaris nabi yang memiliki otoritas untuk memberi fatwa. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

فَٱحۡكُم بَيۡنَ ٱلنَّاسِ بِٱلۡحَقِّ وَلَا تَتَّبِعِ ٱلۡهَوَىٰ فَيُضِلَّكَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَضِلُّونَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ لَهُمۡ عَذَابٞ شَدِيدُۢ بِمَا نَسُواْ يَوۡمَ ٱلۡحِسَابِ ٢٦

“Berilah keputusan (dalam perkara) di antara manusia dengan haq dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu, karena akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Sungguh orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan Hari Hisab.” (Shad: 26)

 

  1. Syariat Allah subhanahu wa ta’ala seluruhnya senantiasa mendatangkan maslahat dan mencegah mafsadat (kerusakan)

Sebelum Islam datang, keadaan masyarakat Arab masa itu diliputi beragam kebiasaan tak baik. Kegelapan menyelimuti kehidupan masyarakat Arab. Keburukan akhlak, akidah, dan perilaku keseharian lainnya turut mewarnai masyarakat Arab.

Benar-benar sebuah bala yang mengerikan. Bayi perempuan dikubur hidup-hidup, khamr merajalela, wanita direndahkan, perang antarkabilah kerap terjadi, dan berbagai perilaku busuk lainnya melekat dalam struktur masyarakat. Berbagai penyimpangan sosial merebak.

Setelah Islam datang, kegelapan pun sirna. Kehidupan masyarakat berubah. Kemuliaan perilaku menjadi ciri peradaban bangsa Arab. Islam mencelup masyarakat Arab menjadi masyarakat sarat rahmah. Peduli terhadap sesama. Penuh damai dan sahaja. Pancaran tauhid kukuh menyinari setiap pribadi masyarakat Arab. Lahirlah pribadi-pribadi agung hasil didikan manusia teragung, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dari masyarakat Arab yang telah tercelup akidah nan lurus itulah cahaya kemilau Islam merambah ke belahan bumi lainnya. Islam menyentuh setiap relung kehidupan. Roda kehidupan pun menjadi dinamis beradab.

Potret kehidupan masyarakat Arab— dan tentu saja masyarakat lainnya yang telah tersentuh Islam—menjadi bukti otentik sejarah kehidupan umat manusia, bahwa syariat Allah subhanahu wa ta’ala seluruhnya senantiasa mendatangkan maslahat bagi peradaban manusia serta mencegah munculnya mafsadat bagi umat manusia.

Tak bisa dimungkiri peran Islam dalam membangun peradaban dunia. Itulah hasil generasi salaf, dengan izin Rabbnya. Generasi terbaik dan pemilik keutamaan yang telah disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sudah dipastikan, pemberlakuan syariat Allah subhanahu wa ta’ala akan mendatangkan maslahat dan mencegah mafsadat. Sebuah bukti yang tak diragukan lagi, bila syariat Islam ditegakkan—dengan izin Allah subhanahu wa ta’ala—bakal mendatangkan kebaikan. Sebab, agama seluruhnya hendak mendatangkan sesuatu yang membawa maslahat dan mencegah yang mafsadat. Tak satu pun ketentuan di dalam Islam bakal membinasakan manusia. Tak satu pula yang bakal memunculkan kerusakan.

Syariat Islam senantiasa mengarahkan umat untuk selalu melakukan kebaikan dan meninggalkan keburukan. Syariat Islam menghalalkan yang baik dan mengharamkan yang buruk. Allah subhanahu wa ta’ala menegaskan dalam firman-Nya,

وَيُحِلُّ لَهُمُ ٱلطَّيِّبَٰتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيۡهِمُ ٱلۡخَبَٰٓئِثَ

“… dan yang menghalalkan segala yang baik bagi mereka dan mengharamkan segala yang buruk bagi mereka….” (al-A’raf: 157)

Syariat melarang seseorang menjatuhkan diri pada kebinasaan. Di sisi lain, syariat memotivasi seseorang untuk melaksanakan kebaikan. Orang yang menunaikan kebaikan itulah yang kelak dicintai Allah subhanahu wa ta’ala. Firman-Nya,

وَأَنفِقُواْ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ وَلَا تُلۡقُواْ بِأَيۡدِيكُمۡ إِلَى ٱلتَّهۡلُكَةِ وَأَحۡسِنُوٓاْۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُحۡسِنِينَ

“… dan janganlah kamu menjatuhkan diri ke dalam kebinasaan dengan tanganmu sendiri. Sungguh, Allah mencintai orangorang yang berbuat kebaikan.” (al-Baqarah: 195)

Dalam kerangka inilah lahir fatwa, nasihat, bimbingan, dan tahdzir (peringatan) dari para ulama. Tiada lain yang hendak digapai selain mendatangkan maslahat dan mencegah mafsadat.

Selisiklah pelajaran yang teramat bernilai dari firman Allah subhanahu wa ta’ala,

وَلَا تَسُبُّواْ ٱلَّذِينَ يَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ فَيَسُبُّواْ ٱللَّهَ عَدۡوَۢا بِغَيۡرِ عِلۡمٖۗ

“Dan janganlah kalian mencaci maki sesembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan mencaci maki Allah dengan melampaui batas tanpa ilmu.” (al-An’am: 108)

Sesembahan yang mereka sembah selain Allah subhanahu wa ta’ala tentu sesuatu yang batil. Namun, guna meraih maslahat seseorang terlarang untuk mencaci makinya. Sebab, caci maki itu bakal memunculkan mafsadat dalam bentuk tindakan mereka mencaci maki Allah subhanahu wa ta’ala dengan tanpa ilmu dan melampaui batas.

Sebuah gambaran nyata yang pernah terjadi pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Peristiwa yang dituturkan Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu berikut kiranya bisa memberi gambaran tersebut.

Saat para sahabat duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di masjid. Tiba-tiba datang seorang a’rabi (badui) lalu buang air kecil di sudut masjid. Para sahabat pun berupaya mencegahnya. Lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menahan para sahabat. Ketika si badui telah selesai menunaikan hajatnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menasihati badui tersebut. Beliau memerintahkan untuk diambilkan seember air, lalu disiramkan ke tempat air seni. (Terjemah secara makna. Lihat HR. al-Bukhari no. 221 dan Muslim no. 284)

Kisah di atas merupakan contoh yang sangat transparan, jelas, dan terang yang menggambarkan prinsip Islam untuk selalu menebarkan maslahat dan meredam mafsadat. Sikap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menahan para sahabat untuk tidak bertindak terlebih dulu, merupakan sikap yang mengedepankan sisi maslahat dan mencegah munculnya mafsadat. Sebuah tindakan yang penuh hikmah, bijak dan tanpa ketergesa-gesaan.

Inilah salah satu metodologi yang dijadikan prinsip dalam pengambilan sikap di tengah umat. Metodologi ini pula yang dijadikan dasar pijak kala menarik sebuah konklusi fikih. Inilah prinsip yang diajarkan salaf

الدِّينُ كُلُّهُ جَلْبٌ لِلْمَصَالِحِ وَدَفْعٌ لِلْمَفَاسِدِ

Ketentuan agama itu semuanya dalam rangka menggapai yang maslahat dan meredam hal yang menimbulkan mafsadat (kerusakan).

Allahu a’lam.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafruddin

Surat Pembaca Edisi 111

Rubrik Khutbah Jumat Dipisah

Bagaimana jika Rubrik Khutbah Jumat terpisah? Apa ada kumpulan khutbah Jumat berbahasa Jawa yang terbitan Asy Syariah?

081316xxxxxx

 Jawaban Redaksi:

Kami ucapkan terima kasih atas saran Anda. Hingga saat ini, kami belum menerbitkan kumpulan khutbah berbahasa Jawa. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memudahkan pada masa yang akan datang.

 


Jilid Bundel Kurang Bagus

Redaksi Asy Syariah, mohon kualitas jilid Bundel Asy Syariah ditingkatkan. Saya membeli bundel Asy Syariah edisi 6—12 terdapat kekurangan pada lem bendel, sampulnya lepas dari isi. Baru diketahui setelah plastik segel dibuka.  Jazakumullah khairan.

085328xxxxxx

 Jawaban Redaksi:

Kami memohon maaf atas ketidaknyamanan yang Anda alami. Kami sarankan Anda menukarkan Bundel tersebut di tempat Anda membelinya.

Demikian pula apabila mendapati Majalah Asy Syariah yang cacat produksi, kami harap segenap pembaca berkenan menukarnya di tempat Anda membelinya. Barakallahu fikum.


 

Bacaan Al-Qur’an Untuk Mayit

Saran untuk Majalah Asy Syariah, untuk edisi depan tolong dibahas tentang hukum pembacaan al-Qur’an untuk mayit. Barakallahu fikum.

085350xxxxxx

 Jawaban Redaksi:

Alhamdulillah, pembahasan tersebut pernah kami angkat pada Rubrik Problema Anda edisi 55. Bisa juga Anda baca di website kami pada tautan berikut: http://asysyariah.com/bisakah-kirim-pahala/

Wa fikum barakallah.


 

Bahas Penegakan Khilafah

Saya usul agar Majalah Asy Syariah membahas tentang cara syari menuju khilafah Islamiah. Sebab, ada syubhat yang bersumber dari beberapa kelompok dakwah yang mengatakan bahwa salafi tidak pernah membahas & peduli dengan penegakan khilafah. Jazakumullahu khairan.

 Jawaban Redaksi:

Alhamdulillah, pembahasan tentang khilafah Islamiah dan cara penegakannya, demikian pula beberapa kerancuan pemikiran tentangnya, sudah pernah kita angkat pada Rubrik “Kajian Utama” edisi 16. Edisi tersebut sudah diterbitkan kembali bersama beberapa edisi lainnya dalam bentuk Bundel Asy Syariah edisi 13—16.

Selain itu, Anda juga bisa membacanya di website kami. Barakallahu fikum wa antum fajazakumullah khairan.

 


Pembahasan Jual Beli

Mohon dibahas tentang jual beli, baik sistem langsung maupun online. Juga tentang barang temuan, baik hewan peliharaan yang lepas (contoh, burung), uang, ataupun barang lain yang dipandang berharga. Jazakumullah khairan.

  • Jawaban Redaksi:

Pembahasan tentang jual beli online secara ringkas, bisa Anda simak pada edisi ini. Adapun jual beli secara umum, pernah kami bahas pada Rabrik Kajian Utama edisi 25, dan bisa Anda baca di www.asysyariah.com.

Teknologi Dalam Jual Beli

السلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Berkembangnya teknologi informasi juga berimbas pada sistem atau model jual beli. Jika dengan cara konvensional, penjual dan pembeli harus bertatap muka, kini semua itu tak harus dilakukan. Pasar tidak lagi sekadar tempat untuk melakukan kontak langsung antara dua pihak, tapi maknanya sudah meluas.

Melalui website, blog, media sosial, atau forum jual beli, produk yang tengah ditawarkan, bisa menembus pasar yang tak lagi punya sekat wilayah. Siapa pun yang tengah mengakses internet, di belahan dunia mana pun, bisa melihat atau bahkan membelinya.

Itulah salah satu kemudahan yang ditawarkan teknologi. Alasan kepraktisan memang yang paling menonjol. Tanpa harus keluar rumah, kita tidak perlu repot untuk mendapatkan sesuatu yang kita butuhkan. Bahkan pembeli yang berada di daerah terpencil bisa mendapatkan barang yang diinginkan dengan mudah. Barang yang bisa jadi masuk dalam kategori “mustahil” untuk didapatkan di toko offline di mana pembeli berasal.

“Toko” online ini lantas berkembang. Tidak hanya sebatas barang dalam artian umum, kini juga memperdagangkan mata uang asing dan emas. Model online juga memicu jual beli dengan sistem dropship yang penjual hanya memasang gambar atau spesifikasi produk di media sosial atau display picture (DP) tanpa pernah memiliki produk tersebut, karena barang dikirim langsung dari supplier.

Trading forex, investasi emas online, dan dropship, hanyalah sekelumit contoh berkembangnya sistem sebagai efek berantai dari sistem-sistem baru yang tidak dijumpai di masa lalu. Maka perlu telaah atau kajian panjang untuk menyikapi ini semua.

Sebagai agama yang sempurna, Islam punya pijakan atau kaidah yang jelas. Segala sistem itu pada dasarnya tetap punya substansi yang bisa dicerminkan dengan syariat. Hanya nama dan bentuknya saja yang berbeda. Jadi jangan asal berdalil dengan kemudahan yang dihasilkan teknologi, kemudian kita bermudah-mudah untuk melakukan transaksi jual beli.

Pasa dasarnya, setiap jual beli hukumnya sah, selama memenuhi syarat-syarat jual beli. Selama syarat-syaratnya terpenuhi dan barang sesuai dengan spesifikasinya, maka transaksi boleh dilakukan dengan alat komunikasi masa kini, baik melalui telepon, SMS, WA, BBM, chatting, dan sejenisnya. Jika terjadi ketidaksesuaian antara spesifikasi barang dan kenyataannya, pembeli berhak mengembalikan barang tersebut kepada penjual.

Inilah wajah Islam, memberikan kemudahan tapi tetap memiliki rambu-rambu. Sebelum ada lembaga konsumen seperti YLKI, Islam telah bersikap preventif pada segala model jual beli agar tidak ada salah satu pihak, terutama konsumen, yang dirugikan.

Peluang usaha demikian luas, banyak celah rezeki yang bisa kita dapatkan. Tak perlu alergi dengan teknologi, asal kita memanfaatkannya dengan benar dengan berpijak pada kaidah yang sudah ada.

Namun di sisi lain, jangan sampai kita bermudah-mudah berinvestasi dengan berdalih teknologi.

والسلام عليكم ورحمة الله و بركاته