Khomeini Dalang Ataukah Pion Kekacauan?

Terlalu banyak referensi yang menyuguhkan catatan tentang Khomeini. Tiap-tiap referensi memberikan penilaian dengan corak dan warna yang berbeda-beda. Bagi para pemuja dan pengagum Khomeini, referensi-referensi yang mereka tuliskan dipenuhi dengan pujian dan sanjungan.

Begitu tinggi pujian yang diberikan, sampai-sampai mereka menggambarkan Khomeini sebagai sosok suci yang tidak mempunyai sedikit pun cela dan cacat.

Ada lagi referensi yang disusun oleh orang-orang yang sekadar terpengaruh oleh media yang membesar-besarkan Khomeini. Mereka tidak memahami jalan hidup, ideologi, dan pemikiran-pemikiran sesat Khomeini. Imam Besar, tokoh revolusioner Islam, penentang Amerika dan Israel, pendobrak kejumudan dan gelar-gelar lainnya, mereka sematkan pada Khomeini. Apakah benar demikian, mereka tidak peduli. Hanya itu yang mereka ketahui.

Di sisi lain, para ulama Ahlus Sunnah telah berikhtiar sekuat upaya untuk menggambarkan hakikat Khomeini sebagai salah satu dalang di balik sekian banyak kekacauan dan kerusuhan. Jalan hidup, ideologi, dan pemikiran-pemikiran Khomeini telah meracuni umat Islam.

Pembuktian adalah jalan seadil-adilnya untuk menilai Khomeini, benarkah ia seorang yang layak disebut sebagai tokoh pejuang Islam? Ataukah ia justru menjadi dalang dari penodaan ajaran Islam?

 

Kejahatan Khomeini di Dua Tanah Suci

Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i (wafat 1422 H) termasuk ulama yang menyaksikan secara langsung pengaruh pemikiran-pemikiran Khomeini. Asy-Syaikh Muqbil berasal dan bertumbuh kembang di tengah-tengah komunitas Syiah negeri Yaman yang sangat mengelu-elukan Khomeini. Bahkan, gerakan pemberontakan kaum Syiah negeri Yaman yang kemudian lebih dikenal dengan milisi Houthi, bermula dari pengajaran buku ats-Tsaurah al-Iraniyah (Revolusi Iran).

Pada masa selanjutnya, asy-Syaikh Muqbil dapat membebaskan diri—dengan taufik dari Allah subhanahu wa ta’ala—dari pemikiran-pemikiran Khomeini yang dianut oleh mayoritas masyarakatnya saat itu. Bahkan, asy-Syaikh Muqbil termasuk di barisan terdepan dalam memerangi pemikiran-pemikiran Khomeini.

Salah satu bukti adalah sebuah karya tulis beliau yang berjudul al-Ilhadul Khumaini fi Ardhil Haramaini. Buku yang judulnya diterjemahkan dengan Kejahatan Khomeini di Dua Tanah Suci ini ditulis semasa asy-Syaikh Muqbil masih menimba ilmu di Tanah Suci Makkah. Melalui karya beliau di atas, asy-Syaikh Muqbil menerangkan keterlibatan Khomeini dalam banyak tindak kejahatan di kota Makkah dan Madinah.

Awal mulanya, asy-Syaikh Muqbil membaca sebuah buku sejarah yang merunutkan kota Makkah dari tahun ke tahun. Al-‘Aqduts Tsamin, beliau baca dari rentetan peristiwa pada 12 H, saat Abu Bakr ash-Shiddiq memimpin jamaah haji. Sampai pada 829 H, peristiwa haji dari tahun ke tahun diterangkan di dalam kitab tersebut. Apa yang disimpulkan oleh asy-Syaikh Muqbil?

“Setelah membaca bab ini, saya melakukan perbandingan. Alhamdulillah, selama bertahun-tahun saya melaksanakan ibadah haji, jamaah haji dalam suasana tenang dan aman. Jauh berbeda dengan peristiwa-peristiwa haji (kekacauan dan kerusuhan –pen.) yang disebutkan di dalam kitab tersebut,” tutur asy-Syaikh Muqbil.

Beliau melanjutkan, “Oleh sebab itu, saya pun yakin bahwa kaum Syiah Rafidhah memang menginginkan pintu kekacauan terbuka melalui aksi-aksi jahiliah tersebut.”

 

Dusta Khomeini dalam Teriaknya

Banyak kalangan tertipu dengan aksi-aksi yang dilakukan oleh Khomeini dan pendukungnya. Apalagi jika mendengar yel-yel yang diteriakkan dan didengung-dengungkan. Mereka dengan lantang meneriakkan, “Hancurlah Amerika! Hancurlah Israel! Hancurlah Soviet!” Mereka juga menyatakan, ”Negeri Islam, Negeri Islam! Tidak blok barat, tidak blok timur! Hanya Islam!”

Mengenai hal ini asy-Syaikh Muqbil (al-Ilhad al-Khumaini hlm. 66) menyatakan, ”Khomeini adalah dalang kerusuhan. Kita sama sekali tidak ragu bahwa dia hanyalah agen Amerika dan Rusia. Coba perhatikan, dia membangun kekuatan dengan bantuan Amerika dan Rusia. Dia pun agen Yahudi!”

Asy-Syaikh Muqbil melanjutkan, “Tidak ada yang dikhawatirkan oleh Amerika atau Rusia dari teriakan-teriakan Khomeini, ‘Hancurlah Amerika! Hancurlah Rusia!’ Sebab, Khomeini sendiri sedang menjalankan agenda-agenda mereka.”

Bahkan dengan tegas, asy-Syaikh Muqbil menyatakan, “Kita tidak percaya dengan pernyataan Khomeini untuk memboikot Amerika dan Rusia. Kita pun tidak percaya dengan Khomeini yang katanya menahan pendeta-pendeta Amerika. Kita yakin bahwa hal itu hanyalah skenario bersama Amerika. Tujuannya agar ia dinilai sebagai pahlawan oleh umat Islam sehingga mereka benar-benar percaya kepada dirinya.”

“Khomeini berpura-pura membenci musuh-musuh Islam. Setelah ia dapat meraihnya, barulah ia memperlihatkan hakikat permusuhan terhadap umat Islam. Khomeini yang jahat ini pernah mengatakan ingin membebaskan Makkah sebelum membebaskan Palestina,” lanjut asy-Syaikh Muqbil.

Untuk mengetahui hakikat Khomeni, asy-Syaikh Muqbil memberi rekomendasi untuk membaca literatur sejarah yang mencatat tentang Syiah Rafidhah semisal kitab al-Fashl karya Ibnu Hazm, al-Milal wan Nihal karya asy-Syihristani, dan al-Farqu bainal Firaq karya al-Baghdadi.

Secara khusus asy-Syaikh Muqbil menganjurkan setiap sunni salafi untuk membaca karya asy-Syaikh Abdullah Muhammad al-Gahrib yang menyingkap topeng rahasia Khomeini.

 

Karya Khomeini: al-Hukumah al-Islamiyah

Sebagai bukti yang tak bisa terbantahkan, asy-Syaikh Muqbil menyebut karya Khomeini yang berjudul al-Hukumah al-Islamiyah sebagai bahan rujukan akurat mengenai kesesatan berpikir Khomeini. Buku tersebut adalah kumpulan ceramah Khomeini yang telah dicetak atas sepengetahuannya. Buku itu pun menjadi bahan bacaan setiap pengagum dan pendukung Khomeini.

Beberapa contoh kesesatan berpikir Khomeini di dalam karyanya al-Hukumah al-Islamiyah,

  1. Kedudukan imam-imam Syiah lebih tinggi dibandingkan para nabi

Khomeini menyatakan (hlm. 52), “Sungguh, di antara hal yang bersifat prinsip dalam mazhab kami bahwa imam-imam kami mempunyai kedudukan yang tidak mungkin dicapai sekalipun oleh para malaikat yang didekatkan atau para nabi yang diutus.”

Masih di halaman yang sama, Khomeini menukil ucapan para imam Syiah, “Kami mempunyai keadaan-keadaan khusus yang tidak dapat dicapai sekalipun oleh para malaikat yang didekatkan atau para nabi yang diutus.”

Lihat dan saksikanlah sikap ghuluw (ekstrem) yang ditanamkan oleh Khomeini kepada para pengikutnya! Apakah mungkin seseorang yang mempunyai akidah lurus dan iman yang tulus lantas menyatakan bahwa para imam Syiah jauh lebih baik dibandingkan malaikat, para nabi, dan rasul? Sungguh, nyata sesat berpikirnya Khomeini!

 

  1. Pemerintah atau penguasa yang bukan berasal dari kelompok Syiah, adalah penguasa yang zalim

Khomeini menerangkan (hlm. 33), “Di awal Islam, penguasa Bani Umayah dan para pendukungnya berupaya menghalangi Ali bin Abi Thalib untuk memegang kekuasaan. Padahal, kekuasaan Ali adalah kekuasaan yang diridhai oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya.

Melalui upaya Bani Umayah, bentuk dan konsep hukum Islam berubah dan menyimpang. Sebab, agenda mereka adalah untuk menyelisihi konsep-konsep Islam secara keseluruhan.

Penguasa setelah mereka, yaitu Bani Abbasiyah, juga mengikuti langkah yang sama. Kekhalifahan berganti-ganti, menjadi kesultanan dan kerajaan yang diwariskan. Hukum yang berlaku menjadi seperti hukum raja Persia, kaisar Romawi, dan Fir’aun di Mesir. Hal semacam itu terus berlanjut sampai hari ini.”

Setelah membaca dan meneliti pernyataan Khomeini di atas, bagaimana sikapnya terhadap masa al-Khulafa ar-Rasyidun: Kekhalifahan Abu Bakr, Umar, dan Utsman radhiallahu ‘anhum?

Para sahabat mulia semacam mereka sama sekali tidak dihargai dan dihormati oleh Khomeini! Kekhilafahan mereka tidak dianggap oleh Khomeini! Bahkan, Khomeini mencaci-maki kekhalifahan selain Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu.

Penilaian Khomeini terhadap kekhalifahan Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah sangatlah buruk. Tidak ada yang selamat, menurutnya. Padahal, tidak sedikit penguasa yang baik dan adil dari Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah. Silakan lihat di halaman 133 tentang pernyataan Khomeini yang menilai Harun ar-Rasyid sebagai sosok yang jahil dan bodoh. Allahul musta’an.

Bagaimana dengan penilaian Khomeini terhadap pemerintahan muslim di zamannya dan zaman setelahnya?

Sama! Ia menilai bahwa tidak ada satu pun pemerintahan di dunia ini yang menerapkan hukum Islam secara benar. Dia mengatakan di halaman tersebut, “Hal semacam itu terus berlanjut sampai hari ini.”

Hal ini diperkuat oleh pernyataan Khomeini (hlm. 165), “Sungguh, kaum Syiah sejak awal telah berusaha untuk mendirikan negara yang adil dan islami. Negara semacam ini benar-benar telah ada di zaman Nabi dan di masa Imam Ali alaihis salam. Maka dari itu, kita yakin bahwa hal itu dapat diperbarui. Akan tetapi, orang-orang zalim sepanjang sejarah telah menghalang-halangi Islam untuk menjadi terang.”

 

  1. Memuji at-Thusi dan Ali bin Yaqthin

Khomeini menyatakan (hlm. 142), “Umat manusia ikut merasakan kesedihan dengan meninggalnya al-Khawajah (yang mulia) Nushairuddin at-Thusi dan yang semisalnya. Mereka telah menyumbangkan banyak khidmat agung untuk Islam.”

Pada halaman yang sama, Khomeini memuji at-Thusi dan Ali bin Yaqthin. Bahkan, dia mendoakan rahmat untuk mereka berdua.

Padahal, siapa pun yang membaca sejarah Islam, tidak akan terlewatkan baginya tentang kepedihan dan kesedihan kaum muslimin saat kota Baghdad dihancurkan oleh pasukan Tatar. Kota pusat pemerintahan, perekonomian, dan peradaban umat Islam banjir darah oleh sebab pasukan Tatar.

Siapakah tokoh pengkhianatnya?

Siapa lagi kalau bukan ath-Thusi dan Ali bin Yaqthin! Khomeini justru merasa kehilangan dan mendoakan rahmat untuk mereka berdua?!

 

Masihkah Khomeini Dielukan dan Dibanggakan?

Jelas-jelas Khomeini berideologi Syiah Itsna ‘Asyariyah! Ia pun aktif menyebarluaskan pemikiran dan ideologi-ideologi Syiahnya. Kesesatan-kesesatan Syiah yang ia perjuangkan, apakah tidak cukup bagi kita untuk menyatakan bahwa Khomeini adalah orang yang tidak pantas dipahlawankan, tidak layak ditokohkan, justru Khoemeini harus dicela dan dicerca?

Khomeini terbukti menjadi dalang dan aktor di balik banyak kerusuhan di dunia Islam. Pemikiran-pemikirannya telah meracuni banyak pihak. Walaupun ia mengesankan diri sebagai musuh Amerika, musuh Israel, atau musuh Soviet, namun nyatanya itu hanya topeng untuk menutupi hakikat dirinya sebagai agen kaum kafir.

Revolusi Islam sejatinya hanyalah istilah bohong untuk mengelabui umat Islam. Hakikat Revolusi Islam yang diperjuangkan oleh Khomeini adalah revolusi untuk penyebaran ajaran-ajaran Syiah Rafidhah. Padahal, kita sudah sama-sama mengerti, seperti apakah kesesatan-kesesatan Syiah Rafidhah.

Sebagai penutup, asy-Syaikh Muqbil bin Hadi (al-Ilhad al-Khumaini hlm. 139) mengatakan, “Walhamdulillah. Kemarin, Khomeini Si Dajjal mencaci maki Amerika dan Rusia. Sekarang, Khomeini menengadahkan tangannya kepada Amerika dan Israel untuk mengirimkan bantuan militer guna menyerang kaum muslimin. Alhamdulillah, Allah subhanahu wa ta’ala telah mempermalukan Khomeini selagi ia masih hidup agar tidak ada yang tertipu.”

Wallahul musta’an.

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar bin Rifa’i

Menebar Pesona Dakwah

Tahun 1986 geliat dakwah di berbagai perguruan tinggi mulai menyembul. Sebelum tahun itu, di salah satu perguruan tinggi ternama di kota Bandung, dakwah yang menawarkan kajian keislaman mulai semarak.

Tak tanggung-tanggung, dakwah di kampus ternama itu dilengkapi pula buku panduan berisi materi yang dikaji. Sasaran pesertanya para remaja yang tengah duduk di bangku sekolah lanjutan. Setiap Ahad pagi, ratusan anak remaja duduk bersimpuh di hadapan mentor yang membimbingnya. Sistem mentoring, begitulah sebagian orang menyebut acara kajian tersebut.

Melalui acara mentoring banyak anak remaja perkotaan yang tergugah untuk belajar Islam. Apalagi bila kelak para remaja itu berhasil meraih kursi di perguruan tinggi ternama itu, pembinaan pun akan berlanjut. Kampus menjadi basis dakwah.

Geliat dakwah di kampus mengundang perhatian berbagai kalangan. Syiah, Hizbut Tahrir, Ikhwanul Muslimin, Aliran Isa Bugis, dan berbagai pergerakan Islam lainnya, tergiur untuk turut menanam bibit di ladang kampus. Mereka berlomba memberi warna dakwah. Mereka berebut menanam pengaruh. Pertarungan kepentingan begitu menggebu.

Setelah 1986 dakwah di berbagai kampus makin marak. Lebih-lebih setelah munculnya Lembaga Dakwah Kampus (LDK), sebuah lembaga yang mengurusi dakwah di kalangan mahasiswa, yang berhasil masuk dan diakui secara struktural oleh pihak penguasa perguruan tinggi.

Metode mentoring yang sempat “booming” di Bandung lantas meruyak ke berbagai daerah. Materi kajian pun lantas banyak dimodifikasi sesuai alur pemikiran yang merancang di kampus masing-masing. Saat itu, warna pemikiran Ikhwanul Muslimin dan Hizbut Tahrir banyak bercokol di kampus. Tak kalah agresif, Syiah.

 

Syiah Menebar Pesona?

Keberadaan Syiah di berbagai perguruan tinggi sangat ditunjang oleh pantauan aktif pihak kedutaan besar negara Syiah yang ada di Indonesia. Pihak kedutaan aktif menebarkan misi melalui majalah, buku, hingga merekrut anak muda untuk belajar ke Iran.

Walau ingar-bingar revolusi di negeri Syiah Iran mulai redup, karena banyak kaum muslimin di Indonesia mulai sadar bahwa paham Syiah itu sesat, pada periode itu gerakan Syiah terus menusuk ke jantung kampus. Mereka menerbitkan buku-buku (terjemahan) para pemikir Syiah Iran, seperti Ali Syariati, Murtadha Muthahhari, dan lainnya.

Arus deras paham Syiah terus diguyurkan ke tubuh umat. Saat itu banyak kalangan dosen dan mahasiswa yang teracuni pemikiran Syiah. Melalui buku, Syiah mengemas paham sesatnya.

Satu di antara tebar pesona dakwah Syiah yaitu taqrib (mendekatkan paham) Sunni-Syiah. Seakan-akan Sunni dan Syiah itu sama, tak ada perbedaan. Para pengusung dakwah Syiah menyembunyikan taring kesesatan Syiah di hadapan kaum muslimin. Melalui kamuflase taqrib Sunni-Syiah tak sedikit kaum muslimin terkelabui.

Sebagian kaum muslimin larut, bahkan memompakan semangat persatuan antara penganut paham sesat Syiah dan kalangan Ahlus Sunnah. Melalui metodologi taqrib antara Sunni-Syiah, diharapkan tidak ada sikap permusuhan terhadap Syiah dari kalangan Ahlus Sunnah.

Dengan itu, diharapkan tumbuh persatuan antara Sunni-Syiah. Saat persatuan itu terbina, maka kaum Syiah secara bebas mendakwahkan ajaran sesatnya kepada kaum muslimin.

Apa yang dijajakan kaum Syiah sungguh merupakan tipuan memesona. Kaum muslimin yang masih belum mengenal hakikat Syiah bisa tergoda lalu terjerumus ke dalamnya.

Seiring perjalanan waktu, kedok kaum Syiah pun terbuka. Wajah busuk yang selama ini disembunyikan tersingkap. Kaum muslimin pun waspada. Gerakan anti-Syiah berkumandang di mana-mana. Paham pencela para sahabat Nabi ini pun mengubah makarnya. Akhirnya, mereka bergerak terang-terangan. Era baru dalam upaya tebar pesona.

Walau telah terang-terangan, untuk acara peringatan Asyura yang berdarah-darah, belum mereka lakukan di hadapan publik. Kaum Syiah memperingati Asyura dengan melukai tubuh menggunakan senjata tajam. Darah bercucuran mewarnai tubuh dan pakaian mereka. Bahkan, bayi pun mereka lukai pada peringatan Asyura.

Itu sejatinya ajaran Syiah. Termasuk ajaran mut’ah (kawin kontrak) belum dipublikasikan secara masif. Entah, apa reaksi masyarakat bila ajaran Syiah yang dua tadi disebar ke tengah masyarakat.

 

Akankah Syiah bisa terus menebar pesonanya?

Kini, saat berbagai kesesatan ajaran Syiah terbongkar, pendekatan dakwah yang dilakukan pun diubah sesuai dengan situasi yang berkembang. Mereka luaskan makar melalui infiltrasi (penyusupan) ke dalam tubuh berbagai lembaga pemerintahan, partai politik, dan media masa. Strategi memanfaatkan era kebebasan dan demokratisasi pun ditempuh. Dengan senjata kebebasan dan hak asasi manusia, kaum Syiah menuntut pengakuan dari berbagai pihak. Mereka menuntut perlindungan hukum. Mereka meminta kebebasan dalam melaksanakan dan mendakwahkan ajarannya.

Pendekatan inilah yang kini tengah digencarkan kalangan Syiah. Keran kebebasan yang dibuka secara tak terukur menjadikan negeri ini menyemai bom waktu terjadinya konflik horisontal secara terbuka.

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala menyelamatkan kaum muslimin dan negeri ini serta menyadarkan para pemimpinnya dari ancaman bahaya pemahaman sesat Syiah yang mengatasnamakan Islam.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          وَيَمۡكُرُونَ وَيَمۡكُرُ ٱللَّهُۖ وَٱللَّهُ خَيۡرُ ٱلۡمَٰكِرِينَ ٣٠

        “Mereka membuat makar, Allah pun membuat makar. Dan Allah sebaik-baik pembuat makar.” (al-Anfal:30)

 

Jangan Tertipu Dakwah Menyesatkan

Banyak kelompok menawarkan pemahamannya. Banyak pemahaman yang ditawarkan tak sesuai syariat. Pemahaman menyimpang yang dikemas secara apik bisa menjadikan orang teperdaya. Tak bisa berkutik, seakanakan yang dicerna adalah kebenaran. Padahal senyatanya adalah kebatilan.

Ikhwanul Muslimin, al-Qaidah, dan ISIS, menawarkan jihad. Namun, ternyata bukan jihad yang selaras syariat. Namanya jihad, tetapi hakikatnya membetot masyarakat untuk melawan penguasa, menumpahkan darah sesama muslim, dan mengkafirkan kaum muslimin yang tak sehaluan dengan mereka.

Kata-kata jihad dijadikan stempel untuk melegalisasi perbuatan merusak, sesat, dan menyesatkan. Makna jihad pun dibonsai hingga mengandung pengertian yang kerdil, sempit, dan menceng. Bagi mereka jihad cuma angkat senjata melulu. Membunuh atau dibunuh. Jihad identik dengan darah manusia yang mengalir, tubuh yang tercabik-cabik mesiu, dan suara desingan peluru. Padahal dalam sebuah hadits sahih disebutkan,

الْمُجَاهِدُ مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ فِي طَاعَةِ اللهِ

        “Seorang yang berjihad ialah yang bersungguh-sungguh menunaikan ketaatan kepada Allah.” (HR . al-Bazzar dari sahabat Fadhalah bin Ubaid al-Anshari radhiallahu ‘anhu. Lihat Shahih al-Musnad karya asy-Syaikh Muqbil al-Wadi’i)

Karena itu, jangan tertipu dengan tampilan mereka. Bisa jadi, secara lahiriah mereka menampakkan syiar keislaman. Pakaian mereka tampak islamis, ibadah mereka tampak rajin, sehingga orang yang tak benar-benar mengenal akan tersamarkan. Dikira seorang berpemahaman lurus dan benar, ternyata pemikirannya radikal dan gemar teror.

 

Untuk mengenali siapa sesungguhnya mereka, perhatikan hal berikut:

  1. Perhatikan pertemanan yang ada pada mereka.

Relasi berteman akan memberi gambaran peta jaringan yang ada. Semakin intensif seseorang melakukan relasi dengan lainnya, semakin kuat kedekatan orang tersebut dengan lawan relasinya. Seseorang bisa dilihat dari teman dekatnya.

الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

“Seseorang tergantung atas agama teman dekatnya. Maka, perhatikan siapakah yang menjadi teman dekatnya.” (Lihat ash-Shahihah, no. 927)

 

  1. Cermati literatur yang menjadi rujukannya.

Kitab, buku, dokumen dalam bentuk tulisan bisa menjadi acuan awal menilai sosok yang berpenampilan terkesan islami. Apabila sumber bacaan yang sering dicerna adalah karya orang seperti Sayid Quthub, Salman al-Audah, Safar Hawali, Hasan al-Banna, dan yang semisal, akan terpetakan alur pemikiran dan keyakinannya. Mereka adalah orang-orang yang menebar pesona dengan menawarkan pemikiran Khawarij.

Begitu pula apabila literatur yang dijadikan acuan berpikirnya buku-buku atau kitab-kitab dari kalangan yang (di antaranya) mencela para sahabat Rasulullah shalllallahu ‘alaihi wa sallam, berarti mereka adalah kalangan Syiah.

 

  1. Telusuri orang yang dijadikan sumber rujukan, pengampu materi, ustadz, atau instruktur pelatihan.

Orang yang dijadikan rujukan pengambilan ilmu, dialah yang memberi pengaruh dalam pembentukan sikap mental para pengikutnya. Muhammad bin Sirin rahimahullah mengatakan,

إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ

        “Sesungguhnya ilmu ini adalah agama. Maka dari itu, perhatikan dari siapa kalian mengambil agama kalian.” (Lihat Muqaddimah Shahih Muslim)

Dengan dasar di atas, deteksi dini setidaknya bisa dilakukan untuk mengidentifikasi sosok orang yang baru dikenal sehingga kita tidak terkecoh oleh penampilan luar yang penuh tipuan.

 

Merujuk kepada Salafus Shalih

Era kebebasan telah memberi ruang bagi setiap orang menyatakan pikiran, perasaan, dan sikapnya. Termasuk di antaranya mengekspresikan rasa keberagamaannya. Pada era kebebasan yang seakan tanpa batas ini, seseorang diberi kebebasan untuk memiliki keyakinan dengan mengatasnamakan Islam.

Sebut saja fenomena yang mengaku menjadi nabi. Sejak kran kebebasan dibuka lepas tanpa batas, muncul banyak kasus nabi palsu. Walaupun sudah ditindak secara hukum, nyatanya ada yang tak jera. Bahkan, semakin menjadi-jadi dalam menyebarkan ajaran sesatnya.

Kasus kelompok sempalan pun makin mengotori kehidupan beragama. Kelompok sempalan Syiah makin berani untuk unjuk dada. Ajaran Syiah yang secara nyata telah menyimpang dari Islam, masih diposisikan sebagai bagian dari agama Islam. Padahal, Syiah telah menistakan Islam itu sendiri.

Fenomena kelompok sempalan dengan menyeret-nyeret Islam begitu mengemuka. Ahmadiyah, ISIS, al-Qaidah, Islam Liberal, Gafatar, Syiah adalah sederet nama yang telah memberi andil keresahan di tengah umat.

Ketika negara masih melakukan pembiaran, hendaknya kaum muslimin merujuk pada ajaran Islam yang lurus. Ajaran Islam yang telah diwariskan dari Rasulullah shalllallahu ‘alaihi wa sallam kepada para sahabatnya. Dari para sahabat diwariskan kepada para tabi’in (orang-orang setelah para sahabat). Dari generasi tabi’in menurun ke generasi berikutnya, tabi’ut tabi’in (para pengikut generasi tabi’in).

Tiga generasi inilah yang disebut generasi salaf yang saleh. Allah subhanahu wa ta’ala telah menyebutkan generasi yang telah mendapat ridha-Nya. Firman-Nya,

          وَٱلسَّٰبِقُونَ ٱلۡأَوَّلُونَ مِنَ ٱلۡمُهَٰجِرِينَ وَٱلۡأَنصَارِ وَٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُم بِإِحۡسَٰنٖ رَّضِيَ ٱللَّهُ عَنۡهُمۡ وَرَضُواْ عَنۡهُ

        “Dan orang-orang terdahulu yang awal dari kalangan Muhajirin dan Anshar, dan orang-orang yang mengikutinya secara baik, Allah subhanahu wa ta’ala telah meridhainya dan mereka pun telah ridha kepada Allah….” (at-Taubah:100)

Rasulullah shalllallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan hal itu sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits berikut.

Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu menuturkan, Rasulullah shalllallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

“Sebaik-baik manusia adalah semasa kurun saya. Kemudian orang-orang setelahnya, kemudian yang setelahnya.” (HR . al-Bukhari dan Muslim)

Hadits Aisyah radhiallahu ‘anha juga mengisahkan, “Ada seseorang bertanya kepada Nabi shalllallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Siapakah sebaik-sebaik manusia?’

Dijawab oleh beliau shalllallahu ‘alaihi wa sallam,

الْقَرْنُ الَّذِي فِيهَا أَنَا فِيهِ ثُمَّ الثَّانِي ثُمَّ الثَّالِثُ

        “Kurun yang saya berada pada masa itu. Kemudian (generasi) kedua. Lantas  (generasi) ketiga.” (HR . Muslim)

Menurut asy-Syaikh Prof. Dr. Abdullah al-Bukhari hafizhahullah, guru besar di Universitas Islam Madinah, Saudi Arabia, tidak diragukan lagi bahwa generasi salafush shalih yang terdahulu memiliki keutamaan, ilmu, dan keimanan. (Lihat Ma Hiya as-Salafiyyah, hlm.14—15)

Seorang muslim wajib mengikuti jalan yang telah ditempuh oleh Rasulullah shalllallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat beliau.

          وَمَن يُشَاقِقِ ٱلرَّسُولَ مِنۢ بَعۡدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ ٱلۡهُدَىٰ وَيَتَّبِعۡ غَيۡرَ سَبِيلِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ نُوَلِّهِۦ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصۡلِهِۦ جَهَنَّمَۖ وَسَآءَتۡ مَصِيرًا ١١٥

“Barang siapa menentang Rasul setelah petunjuk (kebenaran) itu jelas nyata baginya dan ia mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang yang beriman, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu, kemudian Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburukburuk tempat kembali.” (an-Nisa’:115)

Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan dalam I’lamul Muwaqqi’in tentang kewajiban mengikuti para sahabat Rasulullah shalllallahu ‘alaihi wa sallam. Firman-Nya,

          وَٱتَّبِعۡ سَبِيلَ مَنۡ أَنَابَ إِلَيَّۚ

        “Dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku.” (Luqman:15)

Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan lebih lanjut, setiap sahabat adalah orang yang kembali kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Maka dari itu, wajib hukumnya mengikuti jalan sahabat, perkataan, dan keyakinannya. (Lihat idem hlm. 28)

Kemudian disebutkan pula oleh al-Imam Ahmad rahimahullah,

أُصُولُ السُّنَّةِ عِنْدَنَا التَّمَسُّكُ بِمَا كَانَ عَلَيْهِ أَصْحَابُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْاِقْتِدَاءُ بِهِمْ

“Prinsip-prinsip sunnah menurut kami adalah berpegang teguh (dengan apa) yang para sahabat Rasulullah shalllallahu ‘alaihi wa sallam berada di atasnya dan mengikuti jejak mereka.” (Lihat Ma Hiya as-Salafiyah, hlm. 16)

Keterangan di atas semakin menegaskan prinsip seorang muslim untuk mengikuti generasi terbaik umat ini. Semakin terang benderang jalan yang harus ditempuh oleh seorang muslim dalam kehidupan beragama. Karena itu, tidak sepatutnya seorang muslim mengambil pemahaman agamanya dari kelompok sempalan yang sesat dan menyesatkan.

Pelajari Islam dari narasumber terpercaya. Jangan mengambil sembarang rujukan. Betapa banyak orang menawarkan pemahaman “keislaman”, namun senyatanya merupakan kesesatan. Jangan terpesona dengan berbagai dakwah yang memikat, membangkitkan semangat, dan decak kagum. Hendaknya berhati-hati.

Dakwah salafiyah sangat jelas dan tegas menebarkan tauhid, mengenyahkan kesyirikan. Dakwah salafiyah sangat transparan mengajak hamba Allah subhanahu wa ta’ala untuk mencintai dan menghidupkan sunnah, menepis berbagai penyelisihan terhadap perintah Rasulullah shalllallahu ‘alaihi wa sallam.

Sungguh, para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah, seperti al-Imam az-Zuhri rahimahullah, telah menyebutkan sederet pesan mendalam,

الْاِعْتِصَامُ بِالسُّنَّةِ نَجَاةٌ

        “Berpegang teguh dengan sunnah adalah keselamatan.” (Diriwayatkan oleh ad-Darimi dalam Sunan-nya. Lihat al-Hujajul Qawiyyah, asy-Syaikh Abdus Salam Barjas, hlm. 29)

Allahu a’lam.

Ditulis oleh al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafruddin

Surat Pembaca Edisi 116

Edisi Khusus Deradikalisasi

Assalamu’alaikum. Mohon terbitkan Asy-Syariah edisi khusus tentang deradikalisasi. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberi kemudahan.

085227xxxxxx

 Jawaban Redaksi:

Wa’alaikumus salam warahmatullah wabarakatuh. Usul Anda cukup bagus dan sejalan dengan apa yang kami rencanakan. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memudahkan kami mewujudkannya. Barakallahu fikum.

 ——————————————————————————————————————————————

Buku Fikih Haji

Assalamu’alaikum. Adakah buku fikih haji lengkap?

081342xxxxxx

 Jawaban Redaksi:

Wa’alaikumus salam warahmatullah wabarakatuh. Mohon maaf, kami belum menerbitkan buku yang Anda maksud. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memudahkan bagi kami untuk bisa menerbitkan buku dengan tema tersebut.

 —————————————————————————————————————————————–

Perbedaan Pendapat dalam Masalah Fidyah

Assalamu’alaikum. Saya mau bertanya tentang hukum wanita hamil/menyusui yang tidak berpuasa Ramadhan. Pada Asy Syariah Edisi Khusus Ramadhan tahun 2003 tertulis bahwa wanita hamil/menyusui tidak wajib mengqadha puasa dan hanya berfidyah. Pada Asy Syariah edisi 115 terdapat pertanyaan yang sama tetapi jawabannya wanita hamil/menyusui harus mengqadha puasa. Mana yang benar?

085226xxxxxx

 Jawaban Redaksi:

Wa’alaikumus salam warahmatullah wabarakatuh.

Dalam masalah ini memang terdapat perbedaan pendapat yang cukup kuat di kalangan ulama. Anda bisa memilih salah satu di antara kedua pendapat ulama yang ada, setelah mempelajari kedua pendapat tersebut berikut dalil-dalil dan sisi pendalilannya. Barakallahu fikum.

 ——————————————————————————————————————————————

Lebih Teliti Lagi

Mohon kepada bagian percetakan lebih teliti. Sebagai contoh adalah kata “diwaspadi”, halaman 40 edisi 115. Jazakumullah khairan.

082264xxxxxx

 Jawaban Redaksi:

Jazakallah khairan atas koreksi Anda. Semoga kami bisa lebih teliti lagi.

 ——————————————————————————————————————————————

Terbitkan Bundel 8 Edisi

Saya termasuk pelanggan Asy Syariah. Saya mau usul, kalau bisa Asy Syariah menerbitkan bundel edisi 17—20 atau 17—24 langsung 8 edisi, bagaimana?

0823485xxxxxx

 Jawaban Redaksi:

Alhamdulillah, bundel Asy Syariah edisi 17—20 sedang dalam penyusunan dan insya Allah akan segera dicetak. Adapun usulan Anda tentang penerbitan satu bundel yang berisi 8 edisi sekaligus, menurut hemat kami agak berat diwujudkan. Sebab, akan berkonsekuensi pada harga yang cukup tinggi sehingga memberati para pembaca.

Insya Allah kami tetap berkomitmen untuk menerbitkan bundel Asy Syariah edisi-edisi awal, dengan mempertimbangkan harga yang terjangkau. Barakallahu fikum.

Mengenal Negara Calon Markas Pasukan Dajjal

السلام عليكم ورحمة الله و بركاته

 

Dalam hadits sahih diberitakan bahwa Dajjal akan diikuti oleh pasukan Yahudi berjumlah 70.000 personel dari Isfahan. Isfahan adalah nama kota terbesar ketiga di Iran. Isfahan saat ini menjadi salah satu kota dengan komunitas Yahudi terbesar di Iran. Pertanyaannya, bagaimana bisa komunitas Yahudi tumbuh di negara yang selama ini digembar-gemborkan sebagai anti-Yahudi?

Merunut sejarah, kota-kota di Iran adalah tujuan utama pelarian bangsa Yahudi saat Yerusalem Kuno dibumihanguskan Kerajaan Babilonia sekitar 500 SM. Tak mengherankan, ketika Yahudi berhasil menganeksasi wilayah Palestina untuk mendirikan negara Israel, mayoritas warga Yahudi di wilayah pendudukan berasal dari kota-kota di Iran, terutama Tehran, Isfahan, dan Hamedan. Warga Yahudi yang eksodus dari Iran diperkirakan mencapai 120.000 orang.

Walaupun telah berdiri negara Israel, Iran tidak berarti ditinggalkan. Menurut Komite Yahudi Tehran, saat ini komunitas Yahudi di Iran “tersisa” 25—30 ribu orang. Terbanyak di Tehran sekitar 15 ribu orang. Bagi sebagian Yahudi, Iran memang dianggap tempat suci karena mereka meyakini beberapa nabi dari bani Israil seperti Nabi Daniel ‘alaihimassalam, dimakamkan di Iran.

Kota Isfahan sendiri, bagi Yahudi, punya nilai sejarah yang tinggi. Selain dahulu adalah salah satu kota terbesar di dunia, Isfahan adalah kota pengungsian pertama bangsa Yahudi pasca-pemusnahan kota Yerusalem.

Isfahan, di abad pertengahan, sempat menjadi ibukota negara pada masa Dinasti Shafawiyah (beragama Syiah) dan Dinasti Seljuk. Walaupun jumlah komunitas Yahudi di Iran sekarang “hanya” sekitar 30 ribu orang, tetapi mereka diberi kebebasan beribadah seluas-luasnya oleh Pemerintah Iran, yang sekali lagi, konon katanya anti-Yahudi.

Wikipedia menyebut, ada 36 sinagog di Iran, separuh di antaranya berada di ibu kota Iran, Tehran. Di ranah politik, Yahudi bahkan punya wakil di parlemen Iran sejak lebih dari satu abad lalu.

Bandingkan dengan umat Islam yang mencapai 20% dari jumlah penduduk Iran, namun mendapatkan diskriminasi yang teramat kuat. Sekadar contoh, umat Islam sulit mendapatkan masjid untuk shalat Jumat di hampir seluruh wilayah Iran. Di Ahwaz, yang sejatinya wilayah Arab, pembunuhan dan pemenjaraan atas umat Islam atau ulamanya, sudah menjadi pemandangan umum.

Selama ini kita memang dininabobokan oleh opini yang berkembang bahwa Iran adalah negara anti-Yahudi. Opini yang selama ini kita telan mentah-mentah. Tak banyak yang tahu bahwa sejatinya Iran berkolaborasi dengan Yahudi untuk menghancurkan umat Islam. Munculnya agama Syiah yang merupakan gado-gado “Islam”, Yahudi, dan Majusi, yang diciptakan Abdullah bin Saba’, seorang Yahudi asal Yaman, merupakan salah satu bukti yang menguatkan “chemistry” ini.

Opini yang digoreng media mainstream internasional yang dikuasai Yahudi nyatanya juga tak pernah terbukti. Kegarangan Iran hanyalah gertak sambal. Belum ada sejarahnya, Iran berkonfrontasi dengan Israel. Demikian juga AS dan sekutunya, tak pernah terbukti menyerang Iran yang diopinikan sering menjadi sasaran kecurigaan AS soal senjata nuklirnya.

Iran memang demikian kondusif sebagai “kawah candradimuka” pasukan militan Yahudi akhir zaman. Semoga yang selama ini mengatakan bahwa Islam dan Syiah hanya beda mazhab, segera kembali punya akal, agar tidak menjadi bagian dari pendukung pasukan Dajjal

 

والسلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Bersemangat Menuntut Ilmu Saat Ulama Masih Banyak

Dari Ikrimah rahimahullah, dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, beliau berkisah, Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah wafat, aku berkata kepada seorang lelaki kalangan Anshar, “Mari kita bertanya kepada para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka saat ini masih banyak.”

Dia menjawab, “Engkau mengherankan, wahai Ibnu Abbas. Apakah engkau mengira manusia membutuhkanmu sedangkan di antara mereka masih ada para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?”

Aku lalu meninggalkannya. Aku pun mulai bertanya tentang hadits kepada para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ada sebuah hadits yang sampai kepadaku dari seorang sahabat. Aku datangi pintu rumahnya. Ternyata dia sedang tidur siang. Aku menunggu beralaskan tanah hingga dia keluar dan melihatku.

Sahabat tersebut berkata, “Wahai anak paman Rasulullah, apa yang membawa Anda kemari? Mengapa engkau tidak mengirim utusan sehingga aku yang mendatangi Anda?”

Aku berkata, “Tidak. Aku lebih berhak untuk mendatangimu dan bertanya kepadamu tentang hadits.”

Pemuda Anshar itu masih hidup hingga dia melihat manusia berkumpul di sekelilingku dan bertanya kepadaku. Dia berkata, “Pemuda ini (yaitu Ibnu Abbas) lebih berakal daripada diriku.”

(Shifatush Shafwah hlm. 273)

Saat Ditimpa Kesulitan

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ الْعَظِيمُ الْحَلِيمُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمُ،

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمُ

 “Tidak ada sembahan yang haq kecuali Allah yang Mahaagung lagi Maha Penyayang. Tidak sembahan yang haq kecuali Allah, Rabb ‘Arsy yang Mahaagung. Tidak sembahan yang haq kecuali Allah, Rabb langitlangit dan bumi, Rabb ‘Arsy yang Mahamulia.”

(HR. al-Bukhari no. 6345, “Bab ad-Du’a ‘Inda al-Karb” dan Muslim no. 6858, “Bab ad-Du’a ‘Inda al-Karb” dari sahabat Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma)