Surat Pembaca Edisi 105

Bahas Tuntas Imunisasi

Mohon dibahas tentang imunisasi untuk bayi, wanita hamil, atau sebelum menikah. Bagaimana sikap yang benar bagi salafiyyin untuk menyikapi hal itu? Padahal pemerintah telah mencanangkan program imunisasi dasar. Apakah hal itu berarti wajib bagi WNI untuk patuh imunisasi? Ataukah pemerintah hanya menganjurkan saja?

08573xxxxxxx

  • Jawaban Redaksi:

Insya Allah kami akan mengangkat beberapa masalah fikih aktual dalam Rubrik Kajian Utama pada edisi 112. Semoga Allah memudahkan urusan kita semua.

 

Kesalahan Teks Hadits

Ralat, pada Majalah Asy Syariah edisi 104 hlm. 105 terdapat dalil, “Ya’ti ‘ala at-tasi.” seharusnya, “Ya’ti ‘ala an-nasi.”

08571xxxxxxx

  • Jawaban Redaksi:

Anda benar, ada kesalahan penulisan teks hadits. Jazakumullah khairan atas koreksi Anda. Hal ini sekaligus sebagai ralat atas kesalahan tersebut.

 

Makna Zuhud

Pada majalah Asy Syariah edisi 104 hlm. 106 terdapat kalimat zuhud bermakna tidak butuh kepada akhirat? Bukankah zuhud bermakna tidak butuh kepada dunia? Mohon penjelasannya.

08529xxxxxxx

  • Jawaban Redaksi:

Zuhud yang dimaksud di sini ialah arti secara bahasa, yaitu merasa tidak perlu. Artinya, di antara makar musuh-musuh Islam ialah membuat kaum muslimin lupa dan merasa tidak memerlukan urusan akhirat. Barakallahu fikum.

 

Adil Terhadap Anak

Pada edisi 104 hlm. 100 terdapat pembahasan Masalah Adil Terhadap Anak. Yang dimaksud dengan adil pada masalah apa dan apa hukumnya?

08572xxxxxxx

  • Jawaban Redaksi:

Insya Allah sudah jelas, yang dimaksud adalah adil dalam hal pemberian. Hukumnya juga sudah dijelaskan oleh asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah pada jawaban tersebut. Barakallahu fikum.

 

Rubrik Cerminan Shalihah

Mengapa Majalah Asy Syariah sudah tidak menampilkan rubrik Cerminan Shalihah?

08572xxxxxxx

  • Jawaban Redaksi:

Karena beberapa kendala, kami belum bisa menampilkan kembali Rubrik Cerminan Shalihah. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memudahkan kami untuk kembali menayangkannya.

Media: Pisau Bermata Dua

السلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Media memang pisau bermata dua. Di satu sisi ia bisa multiguna, di sisi lain, juga bisa membawa petaka.

Sisi manfaat media memang tak terhitung. Banyak hal-hal keduniawian bahkan akhirat yang bisa ditunjang dengan media. Usaha, berita terkini, hingga dakwah, bisa demikian berkembang dengan adanya media, biidznillah.

Sisi lain, dampak negatif yang ditimbulkan media juga tak terbendung. Media sering dijadikan alat propaganda, dari soal politik hingga soal agama. Banyak kesesatan yang tumbuh subur dan dengan cepat dianut masyarakat karena dilariskan media. Banyak kemaksiatan yang mudah diakses hanya dengan memainkan jari-jemari kita di rumah.

Lebih-lebih dengan menjamurnya media sosial di dunia maya. Ruang-ruang pribadi yang tercipta membuat manusia lupa. Perselingkuhan pun menjadi muaranya. Sebaliknya, media sosial juga menciptakan ruang publik yang seluas-luasnya. Di sini, manusia pun lupa. Pamer kekayaan dan kesuksesan dipertontonkan. Masalah pribadi dan rumah tangga diumbar. Foto-foto narsis bahkan yang memamerkan aurat dipajang seakan media sosial adalah kamar pribadinya.

Tak cukup sampai di sini sisi negatif media yang kita tuai. Islam sebagai agama yang haq, sering menjadi bulan-bulanan media. Pengusaha media yang mayoritas orang-orang non-Islam atau muslim tetapi tidak paham Islam, menjadikan media sebagai alat untuk menyudutkan Islam dan kaum muslimin. Dari yang halus, yakni mencitrakan kemaksiatan sebagai sesuatu yang lumrah, hingga yang sudah “menabuh genderang perang” yakni menghina Islam secara terang-terangan.

Opini demi opini terus diciptakan demi mengesankan bahwa Islam adalah agama yang kolot dan horor. Ajaran Islam yang demikian melindungi wanita dianggap sudah tak relevan. Adapun terorisme dan anarkisme terkesan dilakukan oleh muslim yang “lahiriahnya” taat. Sekian juta umat pun termakan. Opini media mampu membolak-balik penilaian seseorang.

Masyarakat juga latah mengekor media yang menjelma menjadi hakim. Kasus apa saja, karena sudah menjadi konsumsi media, dengan mudahnya masyarakat memutuskan siapa yang benar dan siapa yang salah. Hanya dengan bermodal baca koran atau menonton berita televisi, masyarakat dengan strata apa pun telah demikian “pintar” menghakimi. Kebenaran menjadi demikian sempit, sebatas apa yang dibaca, apa yang ditonton, dan apa yang (mau) disimpulkan.

Padahal, disadari atau tidak, media massa lebih sering mengajarkan buruk sangka, utamanya jika sasarannya adalah pemerintah. Di mata media, pemerintah berkuasa seakan tidak pernah ada benarnya, kebijakannya seakan 100% cacat dan cela. Seakan-akan jika kita duduk di pemerintahan, kita mampu mengemban amanat yang demikian besar dengan mudahnya. Kita bahkan lupa bahwa kita sendiri juga manusia biasa.

Menjadi amat aneh, jika media sekarang mengaku tidak memihak, objektif, dan independen. Berita kecelakaan yang nyaris tanpa tendensi saja, bisa berbeda versi antara satu dengan yang lainnya. Bagaimana jadinya jika berita itu sudah masuk ranah politik? Bukankah orang-orang di balik media juga memiliki keberpihakan? Jika satu media mendukung dan satunya menentang lantas mana yang benar? Mana yang harus kita ikuti?

Namun layaknya senjata, media akan kembali pada siapa yang memegangnya. Senjata bisa mencelakai diri bahkan orang lain, namun bisa memberi manfaat jika digunakan sebagaimana mestinya.

Maka dari itu, dengan keadaan diri kita yang banyak dosa, yang mudah terjerumus ke dalamnya, kita juga hidup di tengah masyarakat yang lebih banyak maksiat daripada yang taat, sudah semestinya kita menjauhi media-media yang lebih banyak mudaratnya ketimbang manfaatnya.

Wallahu a’lam.

والسلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Amalan Semata Tidak Menyebabkan Masuk Surga

Al-Imam Abu Utsman Ismail bin Abdur Rahman ash-Shabuni rahimahullah mengatakan,

“Mereka (ashabul hadits) meyakini dan mempersaksikan bahwa seseorang tidaklah mesti masuk surga meski amalnya bagus, (ibadahnya paling ikhlas, ketaatannya paling murni), jalan hidupnya diridhai, kecuali karena Allah subhanahau wa ta’ala memberi kemuliaan kepadanya dengan anugerah dan keutamaan-Nya sehingga memasukkan dirinya ke dalam surga.

Sebab, amal kebaikan yang dia kerjakan tidaklah mudah dia kerjakan kecuali dengan kemudahan yang diberikan oleh Allah yang Mahamulia nama-Nya. Jika Allah tidak memudahkan, tentu dia tidak bisa dengan mudah mengamalkannya. Jika Allah tidak memberi hidayah untuk mengerjakannya, tentu dia tidak diberi taufik untuk mengamalkannya hanya berbekal dengan semata-mata kesungguhan dan semangatnya.

Allah ázza wa jalla berfirman,

وَلَوۡلَا فَضۡلُ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ وَرَحۡمَتُهُۥ مَا زَكَىٰ مِنكُم مِّنۡ أَحَدٍ أَبَدٗا وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يُزَكِّي مَن يَشَآءُۗ

        “Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya.” (an-Nur: 21)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman tentang (ucapan) penghuni surga,

وَقَالُواْ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ ٱلَّذِي هَدَىٰنَا لِهَٰذَا وَمَا كُنَّا لِنَهۡتَدِيَ لَوۡلَآ أَنۡ هَدَىٰنَا ٱللَّهُۖ

“Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini. Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk.” (al-A’raf: 43)

(‘Aqidatus Salaf Ash-habil Hadits, hlm. 108, poin ke-145)