‘Iffah sebuah Kehormatan diri

Persaingan hidup yang semakin tinggi dan keras banyak memunculkan perilaku umat yang melanggar batasan syariat. Bila perbuatan suka meminta-minta sudah bisa menyebabkan kemuliaan seseorang jatuh, maka yang lebih berat dari sekedar meminta-minta—seperti korupsi, mencuri, merampok, dsb.—lebih menghinakan pelakunya. Namun toh perbuatan tersebut semakin banyak dilakukan. Termasuk maraknya perilaku kaum wanita, hanya demi menginginkan enaknya hidup, mereka rela melakukan perbuatan yang menghilangkan kemuliaan mereka. Padahal agama ini telah menuntunkan agar mereka senantiasa menjaga kemuliaan diri mereka.

Lanjutkan membaca ‘Iffah sebuah Kehormatan diri

Mahram Susuan

Pada edisi terdahulu kita telah ketahui bila seorang bayi disusui oleh wanita selain ibunya (ibu susu) terjalinlah hubungan mahram antara keduanya berikut pihak-pihak tertentu yang terkait dengan keduanya. Namun hubungan mahram tersebut tidak dapat terjalin bila tidak menetapi ketentuan-ketentuan yang ada, yaitu kapan/pada usia berapa penyusuan itu terjadi dan berapa kali terjadinya penyusuan (kadar penyusuan).

  Lanjutkan membaca Mahram Susuan

Ruqayyah dan Ummu Kultsum, Kisah Perjalanan Dua Cahaya

Tumbuh beriringan bak dua kuntum bunga, berhias keindahan. Lepas dari belenggu ikatan, bertabur kemuliaan. Berlabuh di sisi kekasih nan dermawan, sang pemilik dua cahaya.

  Lanjutkan membaca Ruqayyah dan Ummu Kultsum, Kisah Perjalanan Dua Cahaya

Dia yang Selalu Bersamamu

Salah satu bekal yang penting diberikan para orang tua kepada anak-anaknya adalah upaya menumbuhkan rasa optimis pada diri anak dalam menghadapi kehidupan yang sarat dengan problema. Cara terbaik untuk mencapai hal tersebut adalah dengan mengenalkan pada anak akan pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala yang diberikan kepada setiap hamba-Nya yang beriman. Anak perlu dipahamkan bahwa bila Allah telah memberikan pertolongan-Nya, maka permasalahan seberat apa pun akan bisa diselesaikan.

  Lanjutkan membaca Dia yang Selalu Bersamamu

Jangan Terlalu Membenci Istri

Suami yang bijak adalah orang yang mau menerima segala kekurangan yang ada pada istrinya. Ia menyadari bahwa tidak ada wanita yang sempurna, yang bisa memenuhi semua harapannya. Inilah salah satu kunci terciptanya keharmonisan rumah tangga, yang selayaknya dimiliki oleh setiap suami.

Lanjutkan membaca Jangan Terlalu Membenci Istri

Kisah Nabi Musa dan Nabi Harun (bagian 2)

Kisah Nabi Musa dan Nabi Harun ‘alaihimassalam banyak memberikan pelajaran berharga bagi umat sesudahnya. Allah subhanahu wa ta’ala menceritakan kisah tersebut di dalam Al-Qur’an juga agar umat Islam bisa mengambil pelajaran tersebut. Berikut ini beberapa pelajaran yang bisa dipetik.

Lanjutkan membaca Kisah Nabi Musa dan Nabi Harun (bagian 2)

Islam Diantara Hantaman Badai Peradaban Kuffar

Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

        لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ، حَتَّى لَوْ سَلَكُوْا جُحْرَ ضَبٍّ لَسَلَكْتُمُوْهُ. قُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، الْيَهُوْدَ وَالنَّصَارَى؟ قَالَ: فَمَنْ؟

Kalian sungguh-sungguh akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sampai seandainya mereka masuk ke lubang dhabb (binatang sejenis biawak), niscaya kalian akan masuk pula ke dalamnya.

Kami tanyakan, “Wahai Rasulullah, apakah mereka yang dimaksud itu adalah Yahudi dan Nasrani?”

Beliau berkata, “Siapa lagi kalau bukan mereka?”

Hadits yang mulia di atas diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya, kitab Ahaditsul Anbiya, bab “Ma Dzukira ‘an Bani Israil” (no. 3456) dan Kitab al-I‘tisham bil Kitab was-Sunnah, bab “Qaulin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ‘Latattabi‘unna sanana man kana qablakum’.” (no. 7320) dan al-Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab al-‘Ilmi (no. 2669) dan diberi judul bab oleh al-Imam an-Nawawi dalam kitab syarahnya terhadap Shahih Muslim, bab “Ittiba‘u Sananil Yahudi

wan Nasrani”.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda yang senada dengan hadits di atas dalam hadits yang dibawakan oleh Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu,

لاَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتَّى تَأْخُذَ أُمَّتِي بِأَخْذِ الْقُرُوْنِ قَبْلَهَا شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ. فَقِيْلَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ كَفَارِسَ وَالرُّوْمِ؟ فَقَالَ: وَمَنِ النَّاسِ إِلاَّ أُولَئِكَ؟

“Tidak akan tegak hari kiamat sampai umatku mengambil jalan hidup umat sebelumnya sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta.”

Ditanyakan kepada beliau, “Wahai Rasulullah, seperti Persia dan Romawi?[1]

Beliau menjawab, “Siapa lagi dari manusia kalau bukan mereka?” (HR. al-Bukhari no. 7319)

Pengabaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam dua hadits yang mulia di atas merupakan tanda dan bukti tentang kebenaran nubuwwah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta merupakan mukjizat beliau yang dzahir karena telah tampak dan telah terjadi apa yang beliau beritakan tersebut. (Syarah Shahih Muslim, 16/219, Kitabut Tauhid, hlm. 26, asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab)

Lebih khusus lagi bila kita menyaksikan keadaan kaum muslimin di zaman kita ini, kebiasaan menyerupai dan meniru orang Barat yang notabene mereka itu adalah orang-orang kafir dari kalangan Yahudi dan Nasrani, merupakan fenomena yang biasa namun menyakitkan dan menyedihkan. Dengan budaya penjajah ini, kalangan muda maupun orang-orang tua dari kaum muslimin seakan merasa minder dan rendah derajatnya bila tidak sama dengan gaya hidup, model, dan budaya orang-orang kafir (peradaban kuffar). Sebaliknya, mereka merasa bangga dan sangat percaya diri bila mana mereka dapat “tampil sama” atau paling tidak sekedar mirip dengan orang-orang kafir.

Budaya “yang penting dari Barat” dan “asal sama dengan Barat” ini telah mencengkeram kehidupan kaum muslimin dari kalangan orang-orang metropolitan, merambah sampai ke pedesaan dan pedusunan yang terpencil bagaikan sebuah revolusi peradaban yang telah disiapkan oleh orang-orang kafir sehingga semua yang datang dari Barat mereka anggap baik dan diterima dengan penuh ketundukan. Ibaratnya mereka berkata sami’na wa atha’na (kami mendengar dan kami taat), baik itu cara berpakaian, cara bergaul, cara makan, cara berbicara, gaya hidup, dan sebagainya.

Budaya-budaya impor yang diobral orang-orang Barat lewat media massa baik di televisi yang merupakan da’i yang paling berhasil di sisi mereka ataupun lewat ekspos kehidupan artis-artis mereka yang laku keras diterima oleh kaum muslimin yang maghru (tertipu) dan buta mata hatinya dari semua lapisan. Jangankan mereka yang dikatakan bodoh terhadap agamanya, orang yang dianggap tahu agama pun ikut jadi korban.

Sufyan Ibnu ‘Uyainah rahimahullah dan yang lainnya dari kalangan salaf berkata, “Sungguh orang yang rusak dari kalangan ulama kita, karena penyerupaannya dengan Yahudi. Orang yang rusak dari kalangan ahli ibadah kita, karena penyerupaannya dengan Nasrani.” (Iqtidha’ ash-Shirathil Mustaqim, hlm. 23—23)

Gelombang badai yang besar ini menghantam segala apa yang ada di hadapannya dan membawa korban yang besar. Wallahu al-Musta‘an wa ilallahi al-Musytaka (Hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala kita meminta tolong dan mengadu).

Sungguh benar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menyatakan umat beliau akan meniru dan menyerupai umat terdahulu, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Karena saking ingin sama dan serupanya dengan peradaban kafirin, bila diibaratkan umat terdahulu masuk ke lubang dhabb yang sedemikian sempit, maka umat ini pun akan masuk pula ke dalamnya. Nas’alullah as-Salamah wal ‘Afiyah (hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala kita memohon keselamatan).

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah menyatakan, “Dalam hadits di atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhususkan penyebutan lubang dhabb karena lubangnya sangat sempit. Namun bersamaan dengan itu umat beliau akan mengambil jejak umat terdahulu dan mengikuti jalan mereka, walaupun seandainya mereka masuk ke lubang yang sesempit itu niscaya umat ini akan tetap mengikutinya.” (Fathul Bari, 6/602)

Yang dimaksud dengan sejengkal, sehasta dan penyebutan lubang dhabb dalam hadits ini adalah untuk menggambarkan betapa semangatnya umat ini mencocoki umat terdahulu dalam penyelisihan dan maksiat, mencontoh mereka dalam segala sesuatu yang dilarang dan dicela oleh syariat. (Syarah Shahih Muslim, 16/219, Fathul Bari, 13/313)

Ibnu Baththal rahimahullah berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitahukan bahwa umat beliau akan mengikuti perkara-perkara baru (yang diada-adakan), bid’ah, dan hawa nafsu, sebagaimana terjadi pada umat-umat sebelum mereka. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan hal ini dalam hadits yang banyak bahwasanya di akhir zaman akan ada kejelekan. Hari kiamat tidak akan datang kecuali pada sejelek-sejelek manusia dan agama ini hanya tetap tegak di sisi orang-orang yang khusus.”[2] (Fathul Bari, 13/314)

Dalam hadits Abu Said al-Khudri radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut Yahudi dan Nasrani, sedangkan dalam hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut Persia dan Romawi. Karena memang Romawi identik dengan Nasrani, sementara di kalangan bangsa Persia ada orang Yahudi. Namun dimungkinkan pula Rasulullah memberikan jawaban sesuai dengan tempatnya, yakni dalam perkara yang berkaitan dengan hukum di antara manusia dan politik kemasyarakatan, umat ini akan mengikuti Persia dan Romawi. Dalam perkara yang berkaitan dengan agama yang pokok maupun yang cabangnya, umat ini akan mencontoh Yahudi dan Nasrani. (Fathul Bari, 13/314)

Keharusan Menyelisihi Kuffar dan Tercelanya Tasyabbuh

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam nyatakan dalam sabda beliau,

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ

“Kalian sungguh-sungguh akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian.”

Tidaklah dimaksudkan beliau memberikan pengesahan dan penetapan tentang bolehnya hal tersebut, namun justru yang beliau inginkan adalah memberi tahdzir (peringatan) dari mengikuti orang kafir dalam perkara kesesatan dan penyimpangan. (al- Qaulul Mufid, 1/202, I’anatul Mustafid, 1/224)

Ketika para sahabat radhiallahu ‘anhum yang baru masuk Islam ketika Fathu Makkah ingin ber-tabarruk (mencari berkah) dengan pohon, beliau mengingkari dengan keras dan menyatakan bahwa ucapan mereka menyerupai dan persis dengan ucapan bani Israil yang minta sesembahan (ilaah) kepada Nabi Musa ‘alaihissalam. Setelah itu, beliau mengabarkan bahwa umat beliau akan mengikuti jalannya umat terdahulu.

Abu Waqid al-Laitsi radhiallahu ‘anhu berkata, “Kami keluar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menuju Hunain sementara kami ketika itu baru saja meninggalkan kekufuran—mereka baru berislam ketika Fathu Makkah.”

Abu Waqid berkata setelah itu, “Lalu kami melewati sebuah pohon, kami pun berkata, ‘Wahai Rasulullah, buatkanlah untuk kami Dzatu Anwath[3] sebagaimana mereka (orang-orang kafir musyrikin) memiliki Dzatu Anwath yang berupa sebuah pohon, tempat mereka beri’tikaf (berdiam) di sekitarnya dan menggantungkan senjata-senjata mereka pada pohon tersebut.’ Mendengar permintaan kami seperti itu, bersabdalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

اللهُ أَكْبَرُ وَقُلْتُمْ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِكَمَا قَالَتْ بَنُو إِسْرَائِيْلَ لِمُوْسَى: اِجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُم آلِهَةٌ. قَالَ: إِنَّكُم قَوْمٌ تَجْهَلُوْنَ لَتَرْكَبُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ

‘Allah Mahabesar![4] Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kalian telah berucap sebagaimana ucapan bani Israil kepada Musa: (‘Buatkanlah untuk kami ilaah sebagaimana mereka memiliki ilaah-ilaah.’ Musa pun berkata, ‘Sesungguhnya kalian ini adalah orang-orang yang bodoh.’)[5]. Sungguh-sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian.’ (HR. Ahmad dalam Musnad-nya, 5/218, at-Tirmidzi, 6/343, Ibnu Abi ‘Ashim dalam as- Sunnah, no. 76, berkata asy-Syaikh al-Albani dalam Zhilalul Jannah fi Takhrijis Sunnah, “Isnadnya hasan.”)

Dalam kisah di atas jelas sekali bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan demikian dalam rangka peringatan dan pengingkaran beliau bila umat beliau mengikuti umat terdahulu. Asy-Syaikh Sulaiman bin Abdillah rahimahullah berkata, “Di sini ada larangan dari perbuatan tasyabbuh dengan orang-orang jahiliah dari kalangan ahlul kitab dan musyrikin.” (Taisir al-‘Azizil Hamid, hlm. 143)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “(Hadits) ini merupakan pengabaran tentang akan terjadinya perkara tersebut dan celaan bagi orang yang melakukannya. Hal ini seperti pengabaran beliau tentang apa yang akan dilakukan manusia menjelang datangnya hari kiamat sebagai tanda-tanda kiamat dan perbuatan-perbuatan mereka nantinya berupa perkara-perkara yang diharamkan.

Dengan demikian diketahui, penyerupaan (tasyabbuh) umat ini dengan Yahudi dan Nasrani serta Persia dan Romawi termasuk perkara yang dicela oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya.” (Iqtidha’ Ash-Shirathil Mustaqim, hlm. 77)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah bersabda sebagai peringatan dari menyerupai suatu kaum,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Siapa yang tasyabbuh (menyerupai) suatu kaum maka ia termasuk dari kaum tersebut.” (HR. Abu Dawud no. 3012, dinyatakan hasan oleh asy-Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Hijabul Mar’ah hlm. 104 dan al-Irwa no. 1269)

Al-Qari rahimahullah berkata, “Siapa yang menyerupai orang-orang kafir, fasik, fajir (jahat), pengikut tashawwuf, atau menyerupai orang yang berbuat kebaikan semisal dalam berpakaian dan selainnya, (maka ia termasuk mereka) yakni dalam dosa ataupun dalam kebaikan.” (‘Aunul Ma’bud, 11/51)

Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Apa yang menimpa sebagian kaum muslimin berupa perkara-perkara yang jelek lagi mengerikan, mayoritas terjadi dikarenakan tasyabbuh dengan kuffar. Semisal kesyirikan yang terjadi di Makkah, awalnya disebabkan karena tasyabbuh dengan kuffar.” (I’anatul Mustafid, 1/220)

Merupakan sifat beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengubah kemungkaran apabila beliau melihatnya dan menyerukan kepada yang ma‘ruf dan menganjurkannya apabila beliau mengetahuinya. Ketika ada perkara mungkar baik itu maksiat, kesyirikan, ataupun kekufuran, beliau pasti mengingkarinya. Di antara pengingkaran itu adalah, beliau paling tidak suka bila ada satu perkara yang dilakukan oleh kaum muslimin menyepakati atau menyerupai orang-orang kafir. Hal tersebut salah satunya bisa kita lihat dalam peristiwa disyariatkannya adzan.

Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma berkata, “Kaum muslimin ketika telah menetap di Madinah, mereka berkumpul dan memperkirakan datangnya waktu shalat dan ketika itu belum ada seruan untuk shalat (belum ada azan). Suatu hari mereka membicarakan hal tersebut. Sebagian mereka berkata, ‘Ambillah lonceng (dibunyikan sebagai tanda seruan untuk shalat) seperti loncengnya Nasrani.’ Yang lain berkata, ‘Gunakan terompet seperti terompetnya Yahudi.’

‘Umar berkata, ‘Apakah tidak sebaiknya kalian mengutus seseorang untuk memanggil manusia agar berkumpul untuk shalat?’

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Wahai Bilal, bangkitlah, serukan azan untuk shalat’.” (HR. al-Bukhari no. 604 dan Muslim no. 277)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyukai terompet Yahudi yang ditiup dengan mulut dan lonceng Nasrani yang dipukul dengan tangan, karena meniup terompet dan membunyikan lonceng itu merupakan perbuatan orang Yahudi dan Nasrani. Hal ini menunjukkan larangan beliau dari seluruh perkara yang merupakan kebiasaan Yahudi dan Nasrani. (Iqtidha ash-Shirathil Mustaqim, hlm. 189)

 

Faedah

Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Adapun dalam perkara-perkara yang mubah maka tidak masalah mengambilnya (dari selain muslimin). Kita boleh mengambil pengetahuan-pengetahuan yang bermanfaat dari musyrikin. Demikian juga barang-barang dagangan dan persenjataan. Perkara-perkara ini sebetulnya asalnya untuk kita. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

قُلۡ مَنۡ حَرَّمَ زِينَةَ ٱللَّهِ ٱلَّتِيٓ أَخۡرَجَ لِعِبَادِهِۦ وَٱلطَّيِّبَٰتِ مِنَ ٱلرِّزۡقِۚ قُلۡ هِيَ لِلَّذِينَ ءَامَنُواْ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا خَالِصَةٗ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِۗ

Katakanlah, ‘Siapakah yang mengharamkan perhiasan Allah yang Dia keluarkan untuk hamba-hamba-Nya dan (siapakah yang mengharamkan) yang baik-baik dari rezeki?’ Katakanlah, ‘Perhiasan dan yang baik-baik dari rezeki ini diperuntukkan bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan khusus bagi mereka nantinya pada hari kiamat.’ (al-A’raf: 32)

Perkara-perkara yang bermanfaat asalnya diperuntukkan bagi kaum muslimin. Namun ketika kaum muslimin bermalas-malasan dan bermusuh-musuhan, mereka pun mengambil bagiannya. Dengan begitu tidak ada penghalang bagi kaum muslimin untuk mengambil perkara-perkara yang bermanfaat tersebut, dan ini bukanlah termasuk tasyabbuh. Karena yang dinamakan tasyabbuh hanyalah mengikuti mereka dalam perkara-perkara yang tidak ada faedahnya dan tidak ada nilainya, atau mengikuti mereka dalam perkara-perkara yang termasuk dalam ibadah, akidah, dan agama.” (I‘anatul Mustafid, 1/224)

 

Kekokohan Islam

Islam bagaikan mercusuar yang menerangi dan memberi petunjuk kepada kapal-kapal di tengah samudra di malam yang kelam dan pekat sehingga kapal-kapal tersebut bisa terarahkan dan terbimbing di dalam pelayarannya. Kapal yang mau mengambil penerangan dan petunjuknya, akan selamat berlayar di tengah lautan. Namun bagi yang enggan akan memperoleh hasil kebinasaannya.

Walaupun dengan keberadaannya di tengah samudra, mercusuar tidak luput dari hantaman badai dan gelombang samudra yang begitu keras dan dasyhat, namun ia tetap kokoh berdiri, memberikan cahayanya untuk kemanfaatan. Demikian juga gambaran Islam, walaupun ia terus dihantam badai dan gelombang yang dahsyat dari musuh-musuhnya dengan segala makar yang ditujukan untuk meruntuhkannya, namun ia tetap kokoh berdiri dengan sinarnya yang tetap menerangi. Hal ini tentunya karena Allah subhanahu wa ta’ala lah yang menyempurnakan cahaya Islam tersebut.

        يُرِيدُونَ لِيُطۡفِ‍ُٔواْ نُورَ ٱللَّهِ بِأَفۡوَٰهِهِمۡ وَٱللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِۦ وَلَوۡ كَرِهَ ٱلۡكَٰفِرُونَ ٨

“Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut-mulut mereka namun Allah terus menyempurnakan cahaya-Nya walaupun orang-orang kafir itu benci (tidak menyukainya).” (ash-Shaff: 8)

Sungguh, siapa yang mengambil petunjuk Islam, ia akan selamat. Sebaliknya, siapa yang meninggalkan dan tidak memerhatikan Islam, ia akan celaka dan binasa. Namun, mengambil petunjuk Islam itu haruslah secara keseluruhan, tidak hanya mengambil sebagian dan meninggalkan sebagian yang lain. Hal ini tidak akan menyelamatkan. Oleh karena itu, Allah subhanahu wa ta’ala menyatakan,

ٱدۡخُلُواْ فِي ٱلسِّلۡمِ كَآفَّةٗ

“Masukkanlah kalian ke dalam Islam secara kaffah (keseluruhan).” (al-Baqarah: 208)

Islam pun tetap akan berdiri kokoh selamanya hingga akhir zaman, tidak akan runtuh dengan perjalanan waktu, yang demikian ini karena Allah subhanahu wa ta’ala yang memberikan jaminan terhadap penjagaannya yang sejalan dengan penjagaan Allah subhanahu wa ta’ala terhadap kitab suci agama ini (al-Qur’an) sebagaimana firman-Nya:

إِنَّا نَحۡنُ نَزَّلۡنَا ٱلذِّكۡرَ وَإِنَّا لَهُۥ لَحَٰفِظُونَ ٩

“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan adz-Dzikra dan Kami pula yang akan menjaganya.” (al-Hijr: 9)

Demikian pula Allah subhanahu wa ta’ala memberikan jaminan terhadapnya dengan mendatangkan dan memilih para penjaga agama-Nya dari kalangan hamba-hamba- Nya yang saleh yang selalu membela agama-Nya, sebagaimana Dia Yang Mahasuci berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَن يَرۡتَدَّ مِنكُمۡ عَن دِينِهِۦ فَسَوۡفَ يَأۡتِي ٱللَّهُ بِقَوۡمٖ يُحِبُّهُمۡ وَيُحِبُّونَهُۥٓ أَذِلَّةٍ عَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى ٱلۡكَٰفِرِينَ يُجَٰهِدُونَ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوۡمَةَ لَآئِمٖۚ

“Wahai orang-orang yang beriman, siapa yang murtad dari agamanya di antara kalian, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Dia cintai dan mereka pun mencintai-Nya. Mereka itu merendahkan diri dan lemah lembut terhadap kaum mukminin dan bersikap keras terhadap orang-orang kafir. Mereka berjihad di jalan Allah dan tidak takut celaan si pencela.” (al-Maidah: 54)

Demikian pula Rasul-Nya yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan dalam sabdanya.

لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي عَلَى الْحَقِّ ظَاهِرِيْنَ لا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالىَ وَهُمْ كذَلِكَ

“Akan terus-menerus ada sekelompok dari umatku yang mendzahirkan (menampakkan) alhaq, tidak bermudarat bagi mereka orang yang menyelisihi mereka hingga datang perkara Allah tabaraka wa ta’ala sementara mereka dalam keadaan demikian.” (HR. al-Bukhari no. 7459 dan Muslim no. 1920)

Syaikhuna Muqbil bin Hadi al-Wadi‘i rahimahullah berkata, “Thaifah (kelompok) yang ditolong ini dikatakan oleh al-Imam al-Bukhari rahimahullah bahwasanya mereka adalah ahlul ilmi. Sementara itu, al-Imam Ahmad rahimahullah menyatakan, ‘Bila mereka itu bukan ahlul hadits maka aku tidak tahu lagi siapa yang dimaksud dengan mereka.’ Hadits ini walaupun tidak secara lafadz menunjukkan terhadap perkataan al-Imam al-Bukhari dan al-Imam Ahmad rahimahumallah, namun sesungguhnya Ahlul Hadits-lah yang seharusnya dimasukkan paling awal dalam thaifah ini karena kekokohan mereka di atas al-haq, pengabdian mereka dan pembelaan mereka terhadap Islam. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala membalas mereka dengan kebaikan yang banyak atas apa yang mereka sumbangkan terhadap Islam dan muslimin.” (al- Jami‘us Shahih, 1/11)

Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah berkata, “Yang diinginkan al-Imam Ahmad rahimahullah (dengan thaifah ini) adalah Ahlus Sunnah wal Jamaah dan orang yang meyakini mazhab ahlul hadits.” Al-Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “Dimungkinkan kelompok ini tersebar di berbagai kalangan kaum muslimin. Sehingga ada di antara mereka orang-orang pemberani yang berperang (di jalan Allah subhanahu wa ta’ala), ada fuqaha (ahli fiqih/orang yang faqih), ada muhadditsun (ahlul hadits), ada orang-orang yang zuhud, ada orang-orang yang memerintahkan kepada yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar dan dari kalangan orang-orang yang berbuat kebaikan yang lainnya. Tidak mesti terkumpul/ terkonsentrasi (di suatu tempat/negara), bahkan yang terjadi, mereka terkadang terpencar dan tersebar di berbagai penjuru bumi.

Hadits ini merupakan mukjizat yang jelas (dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) karena thaifah yang bersifat seperti ini terus-menerus ada, alhamdulillah, sejak zaman beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai sekarang. Terus-menerus mereka ada sampai datang perkara Allah subhanahu wa ta’ala yang disebutkan dalam hadits.” (Syarah Shahih Muslim, 13/67)

Mudah-mudahan Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan kita dari kalangan mereka. Taqabbal da’wana ya Mujibas sailin.

Wallahu ta‘ala a’lam bish-shawab.

 

Ditulis oleh al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Al-Atsari


[1] Persia dengan raja mereka Kisra, dan Romawi dengan raja mereka Qaishar, merupakan dua bangsa yang terkenal (adi daya) di waktu itu. Dua negeri ini merupakan kerajaan terbesar di muka bumi, paling banyak penduduknya dan paling luas wilayahnya. (Fathul Bari, 13/313)

[2] Mereka inilah yang dinyatakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau,

لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي عَلَى الْحَقِّ ظَاهِرِيْنَ لا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالىَ وَهُمْ كذَلِكَ

“Akan terus menerus ada sekelompok dari umatku yang mendzahirkan al-haq, tidak bermudharat bagi mereka orang yang menyelisihi mereka hingga datang perkara Allah tabaraka wa ta’ala, sementara mereka dalam keadaan demikian.” (HR. al-Bukhari no.7459 dan Muslim no.1920)-pen.

[3] Mereka ingin menggantungkan senjata-senjata mereka pada pohon tersebut karena mengharapkan barakah dari pohon tersebut. (al-Qaulul Mufid, 1/201)

[4] Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertakbir karena menganggap besar permintaan tersebut dan merasa heran, bukan bertakbir karena senang. Beliau heran, bagaimana bisa mereka mengatakan ucapan seperti itu dalam keadaan mereka beriman bahwasanya tiada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah saja. (al-Qaulul Mufid, 1/201)

[5] Surat al-A‘raf ayat 138.

Larangan Tasyabbuh dengan Orang Kafir

وَلَن تَرۡضَىٰ عَنكَ ٱلۡيَهُودُ وَلَا ٱلنَّصَٰرَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمۡۗ قُلۡ إِنَّ هُدَى ٱللَّهِ هُوَ ٱلۡهُدَىٰۗ وَلَئِنِ ٱتَّبَعۡتَ أَهۡوَآءَهُم بَعۡدَ ٱلَّذِي جَآءَكَ مِنَ ٱلۡعِلۡمِ مَا لَكَ مِنَ ٱللَّهِ مِن وَلِيّٖ وَلَا نَصِيرٍ ١٢٠

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah, sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar). Sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (al-Baqarah: 120)

  Lanjutkan membaca Larangan Tasyabbuh dengan Orang Kafir

Ad-Din

Secara bahasa, ad-Din artinya taat, tunduk, dan berserah diri. Adapun secara istilah berarti sesuatu yang dijadikan jalan oleh manusia dan diikuti (ditaati) baik berupa keyakinan, aturan, ibadah, maupun yang semacamnya, benar maupun salah. Sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala,

لَكُمۡ دِينُكُمۡ وَلِيَ دِينِ ٦

“Untukmulah agama (terjemahan din, red)-mu dan untukkulah agamaku.” (al-Kafirun: 6)

Ad-Din yang benar adalah Islam, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala,

إِنَّ ٱلدِّينَ عِندَ ٱللَّهِ ٱلۡإِسۡلَٰمُۗ

“Sesungguhnya din (yang diridhai) di sisi Allah, hanyalah Islam….” (Ali ‘Imran: 19)

Dinul Islam mencakup akidah (keyakinan), ibadah, muamalah, dan akhlak sebagaimana dalam hadits Jibril yang menyebutkan tentang rukun Islam, rukun iman, dan ihsan. Dikatakan pada akhir hadits tersebut, “Ini Jibril, datang kepada kalian mengajari din kalian.”

 

Salah Paham

Sebagian orang memahami kata ad-Din hanya berkutat pada hukum-hukum yang berkaitan dengan muamalah dan ibadah. Mereka memilah-milah bahwa perkara ini adalah perkara din, adapun perkara itu adalah perkara akhlak, dan seterusnya. Pemahaman semacam ini salah. Yang benar adalah sebagaimana telah diterangkan di atas.

 

Al-Islam

Secara bahasa berarti berserah diri, pasrah, tunduk, dan merendah. Diambil dari kata yang berarti berdamai. Secara istilah artinya berserah, patuh kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan mentauhidkan-Nya, tunduk dengan menaati-Nya, serta berlepas diri dari perbuatan syirik dan dari para pelakunya.

 

Asy-Syariah

Dilihat dari asal bahasanya berarti jalan menuju tempat pengambilan air. Jadi asy-syariah artinya jalan yang terang, jelas, dan lurus. Sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala,

ثُمَّ جَعَلۡنَٰكَ عَلَىٰ شَرِيعَةٖ مِّنَ ٱلۡأَمۡرِ فَٱتَّبِعۡهَا وَلَا تَتَّبِعۡ أَهۡوَآءَ ٱلَّذِينَ لَا يَعۡلَمُونَ ١٨

“Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat dari urusan (agama) itu. Maka ikutilah syariat itudan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.” (al-Jatsiyah: 18)

yaitu di atas (jalan, sunnah, dan minhaj).

Dalam istilah diartikan sebagai agama, yaitu apa yang Allah subhanahu wa ta’ala jelaskan atau syariatkan untuk hamba-hamba-Nya. Termasuk dalam pengertian ini yang berkaitan dengan akidah (keyakinan) atau amal.

Terkadang orang menyebut kata asy-Syariah untuk hal-hal yang berkaitan dengan fikih seperti ibadah dan muamalah. Terkadang juga menyebutnya untuk hal yang berkaitan dengan akidah saja. Namun bila dipahami atau dibatasi bahwa asy-Syariah hanya terbatas pada fikih saja atau akidah saja, tentu hal ini salah.

Wallahu a’lam.

 

Ditulis oleh al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc.

 


Sumber Bacaan:

  1. Al-Haqiqah asy-Syar’iyyah, hlm. 92 dan 110
  2. Al-‘Aqidah wal Adyan, hlm. 3
  3. Mukadimah tahqiq kitab Asy-Syari’ah, 1/172
  4. Al-Qamus al-Muhith, hlm. 946
  5. Al-Mishbahul Munir, hlm. 310
  6. Hasyiyah Tsalatsatil Ushul, hlm. 46—47

Hadits Tentang Menyelisihi Kuffar

عَنْ أَبِي عُمَيْرٍ ابْنِ أَنَسٍ عَنْ عُمُوْمَةٍ لَهُ مِنَ اْلأَنْصَارِ قَالَ: اهْتَمَّ النَّبِيُّ لِلصَّلاَةِ كَيْفَ يَجْمَعُ النَّاسَ لَهَا فَقِيْلَ لَهُ: انْصِبْ رَايَةً عِنْدَ حُضُوْرِ الصَّلاَةِ فَإِذَا رَأَوْهَا أَذَّنَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا. فَلَمْ يُعْجِبْهُ ذَلِكَ. قَالَ: فَذُكِرَ لَهُ الْقُنْعُ، يَعْنِي الشَّبُّوْرَوَفِي رِوَايَةٍ: شَبُّوُرُ الْيَهُوْدِ( فَلَمْ يُعْجِبْهُ ذَلِكَ، وَقَالَ: هُوَ مِنْ أَمْرِ الْيَهُوْدِ. قَالَ: فَذُكِرَ لَهُ. النَّاقُوْسُ. فَقَالَ: هُوَ مِنْ أَمْرِ النَّصَارَى. فَانْصَرَفَ عَبْدُ اللهِ بْنُ زَيْدٍ بْنِ عَبْدِ رَبِّهِ، وَهُوَ مُهْتَمٌ لِهَمِّ رَسُوْلِ اللهِ فَأُرِيَ اْلأَذَانَ فِي مَنَامِهِ

Dari Abu ‘Umair bin Anas dari paman-pamannya dari kalangan Anshar berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memikirkan tentang shalat, yaitu bagaimana cara mengumpulkan manusia untuk shalat. Dikatakan kepada beliau, “Kibarkan bendera saat tiba waktu shalat. Jika kaum muslimin melihatnya, maka sebagian menyeru (memberi tahu) kepada yang lain.”Namun beliau tidak menyukai hal itu.

Kemudian Abu ‘Umair berkata, “Lantas disebutkan kepada beliau tentang al-Qun’u yaitu terompet (dalam satu riwayat: terompet Yahudi) dan beliau tetap tidak menyukainya dan bersabda, ‘Terompet itu dari Yahudi’.”

Abu ‘Umair berkata, “Disebutkan kepada beliau tentang lonceng. Maka beliau bersabda, ‘Lonceng itu dari Nasrani’.”

Pulanglah Abdullah bin Zaid bin Abdi Rabbihi, dan dia adalah orang yang perhatian terhadap apa yang dipikirkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam maka dia diperlihatkan adzan dalam tidurnya.” (Ini adalah hadits sahih yang kami riwayatkan dalam kitab kami Shahih Sunan Abu Dawud no. 511 dan kami sebutkan di dalam kitab itu para imam yang menyatakan sahih)

عَنْ جُنْدُبٍ وَهُوَ ابْنُ عَبْدِ اللهِ الْبَجَلِي قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ قَبْلَ أَنْ يَمُوْتَ بِخَمْسٍ وَهُوَ يَقُوْلُ ….. :أَلاَ وَإِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ كَانُوْا يَتَّخِذُوْنَ قُبُوْرَ أَنْبِيَائِهِمْ وَصَالِحِيْهِمْ مَسَاجِدَ، أَلاَ فَلاَ تَتَّخِذُوْا الْقُبُوْرَ مَسَاجِدَ، إِنِّي أَنْهَاكُمْ عَنْ ذَلِكَ

Dari Jundub bin Abdillah al-Bajali radhiallahu ‘anhu berkata, Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda lima hari sebelum wafat beliau, beliau mengatakan, “… Ketahuilah bahwa sesungguhnya orang-orang sebelum kalian menjadikan kubur nabinabi dan orang saleh mereka sebagai masjid-masjid. Perhatikanlah, janganlah kalian menjadikan kuburan-kuburan sebagai masjid, sesungguhnya aku melarang kalian dari perbuatan seperti itu.” (HR. Muslim 2/67—68, Abu ‘Awanah, 1/401 di dalam Shahih keduanya, dan Ibnu Sa’d, 2/2/35)

عَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ قَالَ:قَالَ رَسُوْلُ اللهِ :خَالِفُوا الْيَهُوْدَ، فَإِنَّهُمْ لاَ يُصَلُّوْنَ فِي نِعَالِهِمْ، وَلاَ فِي خِفَافِهِمْ

Dari Syaddad bin Aus radhiallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Selisihilah Yahudi. Karena mereka tidak shalat di atas sendalnya dan tidak dalam khuf mereka.” (Kami riwayatkan hadits ini di dalam Shahih Sunan Abu Dawud no. 659 dan kami sebutkan di sana para imam yang menyatakan sahih)

Tidak Menyerupai Orang Kafir

Fenomena perilaku menyerupai orang kafir dalam berbagai bentuknya di kalangan kaum muslimin, saat ini telah sampai pada keadaan yang memprihatinkan. Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah menyinggung hal ini dalam salah satu bab dalam kitab Jilbab al-Mar’ah al-Muslimah yang kami nukil sebagiannya.

Lanjutkan membaca Tidak Menyerupai Orang Kafir

Al-Wala’ dan Al-Bara’ terhadap Orang Kafir

Sikap wala’ dan bara’ merupakan prinsip dalam akidah yang harus dimiliki oleh setiap muslim. Berikut adalah tulisan yang berisi tanya jawab dengan asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah kaitannya dengan perkara tersebut.

  Lanjutkan membaca Al-Wala’ dan Al-Bara’ terhadap Orang Kafir

Tasyabbuh Bahaya Laten Ditengah Umat

Oleh Barat (baca: musuh-musuh Islam), selama ini masyarakat Islam dikesankan sebagai sebuah gambaran keterbelakangan, kemiskinan, kebodohan, dan sebagainya. Begitu kuatnya kesan itu, sehingga umat Islam pun berhasil dibuat alergi dengan segala atribut dan nilai yang berbau Islam. Alhasil, umat merasa lebih nyaman dan lebih percaya diri jika berbusana ala Barat, atau menjadi bagian dari produk-produk budaya Barat.

  Lanjutkan membaca Tasyabbuh Bahaya Laten Ditengah Umat

Surat Pembaca edisi 11

Artikel Jihad

Semoga Allah selalu memberikan kita hidayah dan kekuatan untuk selalu taat kepada-Nya. Ana ingin tanya mengenai makna jihad secara benar dan metode atau cara yang benar untuk melaksanakannya pada zaman ini sesuai yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jazakallahu khairan katsiran.

Sigit
sigit_m…@yahoo.com

Ana mau usul sedikit. Bagaimana kalau redaksi juga mengkritisi bukunya Imam Samudra (Aku Melawan Teroris). Supaya tidak ada syubhat dan ada pencerahan kitab-kitab/ulama-ulama salaf yang bisa dijadikan rujukan jihad. Jazakumullah khairan.

Fajar W
fw_a…@yahoo.com

  • Jawaban Redaksi:

Insya Allah kami akan membahas tentang permasalahan jihad pada edisi-edisi mendatang. Kami menyadari permasalahan ini memang sangat penting untuk diangkat agar masyarakat lebih mengerti dan bisa membedakan mana jihad yang syar’i dan tidak, serta bagaimana menyikapi ‘jihad’ ala Imam Samudra dan kelompoknya. Harap sabar menunggu. Jazakumullahu khairan katsiran.

Tentang Alam Ghaib

Sekarang ini di televisi banyak ditayangkan kisah-kisah mistis tentang fenomena alam ghaib. Saya usul agar Majalah Asy-Syariah pada edisi berikutnya membahas tentang Alam Jin dan hubungannya dengan manusia.

Ade
Eretan-Indramayu

  • Jawaban Redaksi:

Masukan anda bagus. Insya Allah ada saatnya nanti kami angkat.

Tulisan yang Diterima Redaksi

Yang saya hormati dewan redaksi majalah Asy Syariah, mudah-mudahan majalah ini tetap eksis memperjuangkan sunnah dan manhaj yang lurus. Saya selaku thalib yang juga sama ingin sekali bersama memperjuangkan manhaj yang lurus, maka dari itu saya ingin mengajukan satu pertanyaan, apakah redaksi menerima tulisan? Sebelumnya terima kasih atas jawabannya.

  1. Abdurrahman Hidayat
    abu_el…@yahoo.com

  • Jawaban Redaksi:

Barakallahu fikum. Redaksi membatasi penerimaan naskah/tulisan hanya pada rubrik info praktis saja. Adapun untuk rubrik yang lain telah diampu oleh redaktur ahli, di mana silabus materi yang akan ditulis telah ditentukan sebelumnya. Atas perhatiannya kami ucapkan jazakumullahu khairan katsira.

Bahan-Bahan Kajian

Mohon kiranya dibuatkan suatu kolom yang menyediakan bahan-bahan untuk kajian Islam yang dapat kami gunakan sebagai syi’ar Islam dalam lingkungan kami. Terima kasih.

Ardi
ard…@yahoo.com

  • Jawaban Redaksi:

Maaf, kami sementara ini belum menyediakan kolom khusus seperti yang anda inginkan, namun  artikel yang ada di majalah/ situs kami boleh disalin dengan ketentuan:

  1. Artikel dikutip utuh, tidak ditambah atau dikurangi, dan tidak pula digabungkan dengan sumber yang lain.
  2. Menyebutkan sumbernya.

Semoga apa yang kami sajikan bisa bermanfaat bagi Anda dan lingkungan tempat anda tinggal. Jazakumullahu khairan.

Terima Kasih

Saya berterima kasih karena mendapatkan informasi yang saya butuhkan di sini. Semoga Allah memberikan pahala yang berlipat dalam ibadah menyebarkan ilmu agama.

Ernita Diansari
roy…@indo.net.id

 

  • Jawaban Redaksi:

Barakallahu fikum. Kami hanyalah menyampaikan ilmu dari apa yang kami ketahui. Keluasan ilmu dan keistiqamahan -setelah hidayah dari Allah- berpulang kepada kesungguhan anda pembaca dalam menuntut ilmu. Tidak hanya dari majalah ini juga dari majelis-majelis taklim yang di dalamnya dibahas tentang sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sesuai dengan pemahaman shahabat radhiallahu ‘anhum.

Meniru Perilaku Kafir

السلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Setiap mengawali pergantian tahun (Masehi), akan kita jumpai bagaimana meriahnya  masyarakat dalam merayakannya. Fenomena tahun baru berikut ritus yang dilakukan masyarakat itu hanyalah secuil fakta betapa produk budaya Barat telah menjadi bagian dari ritme kehidupan umat. Di tempat lain, “dengan niat baik”, sebagian umat Islam menggelar “ritual tahun baru” guna menandingi maraknya acara-acara yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam.

Paling akhir, menjamurnya acara reality show di televisi semacam AFI dan Indonesian Idol juga “menggugah” sebagian umat Islam untuk  menggelar acara serupa. Lahirlah kemudian kontes Nasyid.

Dua fenomena di atas seolah merupakan dua sisi dari sekeping uang logam. Namun jika ditelusuri lebih dalam, keduanya sama-sama cermin dari sikap latah umat ini meski niat yang melatarinya berbeda.

Lembar sejarah telah lama mencatat, lahirnya peringatan Maulid Nabi beberapa abad sepeninggal generasi terbaik umat ini, juga lahir dari “niat baik” semata. Teladan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya seolah diabaikan begitu saja.

Tanpa sadar, umat Islam telah mempunyai “hari natal tandingan” sendiri. Yang miris, melihat faktanya, peringatan Maulud Nabi dan semacamnya pada prakteknya juga sangat jauh dari nilai-nilai Islam. Bahkan boleh dikatakan menyentuh pun tidak. Setelah hari-hari yang dirayakan itu berlalu, masyarakat yang merayakannya pun tak memperoleh nilai tambah. Mereka masih awam tentang sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terlebih untuk mengamalkannya.

Masih soal latah. Dalam hal pemahaman agama, para ‘pakar’ Islam juga lebih percaya diri menggunakan konsep-konsep yang ditawarkan tokoh-tokoh Barat. Dalil mereka bukan lagi Al Qur’an dan As Sunnah, tetapi pendapat para orientalis. Pemahaman Islam yang masih murni justru ditempeli segudang julukan negatif seperti puritan, tekstual, jumud, ekstrim, dan kaku. Sementara pemahaman yang merupakan hasil olah pikir pemikir Barat merupakan langkah maju dan sikap kritis yang demokratis.

Di bidang eknomomi, para pakar kita jugalah yang paling bersemangat membela sistem ekonomi Barat. Meski terbukti, konsep ekonomi mereka tak mampu mengentaskan permasalahan yang membelit negeri ini.

Sekali lagi, itulah fenomena keminderan umat ini. Kesan bahwa apa-apa yang dari Barat (baca: Nashrani) lebih maju demikian kuat. Segala yang berbau Barat, baik berupa busana, pola hidup, maupun pemikiran ditelan mentah-mentah oleh umat. Celana jeans tentu lebih dipilih kawula muda ketimbang sirwal atau sarung. Jas lengkap dengan dasi juga menjadi prioritas utama dibandingkan dengan gamis misalnya. Para ABG barangkali juga lebih mengenal artis-artis Hollywood ketimbang shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Semua ini adalah gambaran betapa umat ini tanpa sadar telah menjadi pengekor budaya kaum kafir. Sikap menyerupai orang kafir dalam pemikiran, budaya, pola hidup, terbukti demikian kronis menjangkiti umat ini.

Tema tasyabbuh inilah yang kami angkat untuk kajian utama edisi kita kali ini. Mengingat, tasyabbuh merupakan perilaku umat yang sering dilakukan namun tidak pernah disadari bahayanya bagi aqidah. Lebih detil, pembaca dapat menyimak beberapa rubrik lain yang juga membahas tema di atas.

Di lembar Sakinah, tepatnya dalam rubrik Mengayuh Biduk, pembaca akan disuguhi artikel tentang sikap sabar dalam melihat kekurangan pasangan (suami/ istri) masing-masing. Sebuah sikap yang barangkali sulit dijumpai di tengah kehidupan rumah tangga saat ini. Juga masih ada kajian tentang mahram susuan, sebagai kelanjutan dari artikel edisi-edisi sebelumnya. Tanpa berpanjang kata, kami dari redaksi, mempersilahkan anda untuk menyimak lembar demi lembar majalah ini.

Selamat mengkaji!

والسلام عليكم ورحمة الله و بركاته