Berdoa Agar Si Fulan Menjadi Jodohnya

Pertanyaan:

Apa hukum seseorang mendoakan agar Fulan atau Fulanah sebagai jodohnya?

Jawaban:

Pada asalnya seseorang boleh berdoa apa saja, selama tidak mengandung unsur dosa dan memutuskan silaturahmi. Hal ini berdasarkan keumuman ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits tentang keutamaan berdoa.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدۡعُونِيٓ أَسۡتَجِبۡ لَكُمۡۚ  

Dan Rabbmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu.” (Ghafir: 60)

Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman,

ٱدۡعُواْ رَبَّكُمۡ تَضَرُّعًا وَخُفۡيَةًۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلۡمُعۡتَدِينَ

“Berdoalah kepada Rabbmu dengan merendahkan diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (al-A’raf: 55)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman pula,

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌۖ أُجِيبُ دَعۡوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِۖ

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, jawablah bahwa Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku.” (al-Baqarah: 186)

Demikian juga dalam hadits tentang bacaan tasyahud, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda

فَلْيَتَخَيَّرْ مِنَ الْمَسْأَلَةِ مَا شَاءَ

“Kemudian, silakan dia memilih permohonan apa yang dia kehendaki.” (HR. al-Bukhari no. 924 dan Muslim no. 402 dari sahabat Ibnu Mas’ud radhiallahu anhu)

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata, “(Di antara faedah hadits di atas ialah) boleh berdoa dalam shalat dengan apa yang dia inginkan, selama tidak mengandung dosa.” (Tanbihul Afham Syarah Umdatul Ahkam pada hadits no. 121)

Baca juga: Berdoalah, Pasti Allah Akan Mengabulkan Doamu

Namun, sebaiknya seseorang berdoa dengan doa yang bersifat umum dan mutlak, tidak dalam bentuk terperinci. Sebab, seseorang tidak tahu apa yang terbaik untuk dunia dan akhiratnya. Demikianlah yang dilakukan dan dianjurkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Dari Ummul Mukminin Aisyah radhiallahu anha, dia berkata,

كَانَ رسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَحِبُّ الْجَوَامِعَ مِنَ الدُّعَاءِ، وَيَدَعُ مَا سِوَى ذَلِكَ

“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menyukai berdoa dengan doa yang mencakup dan umum. Beliau meninggalkan doa yang selainnya.” (HR. Abu Dawud no. 1482 dengan sanad yang bagus; dinyatakan sahih oleh Syaikh al-Albani rahimahullah dalam kitab Shahihul Jami’ no. 4949)

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata,

“Hal itu karena doa yang bersifat umum akan lebih mengena secara umum dan lebih mencakup daripada diperinci. Misalnya, apabila seseorang ingin memohon kepada Rabbnya agar dimasukkan ke dalam surga, dia mengatakan, ‘Allahumma inni as’alukal jannah (Ya Allah, aku memohon kepada-Mu surga.’

Dia tidak perlu menyebutkan secara terperinci sampai mengatakan dalam doanya demikian dan demikian. Sebab, bisa jadi ada perkara-perkara yang tidak dia ketahui. Apabila dia menyebutkan doa secara terperinci, seakan-akan dia membatasinya. Namun, apabila dia berdoa dengan lafaz yang umum, hal itu akan lebih mencakup dan lebih bagus.” (Syarah Riyadhus Shalihin pada hadits no. 1466)

Baca juga: Takut Doa Tertolak Akibat Dosa

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

لَا يَزَالُ يُسْتَجَابُ لِلْعَبْدِ مَا لَمْ يَدْعُ بإثْمٍ، أَوْ قَطِيعَةِ رَحِمٍ، مَا لَمْ يَسْتَعْجِلْ. قِيلَ: يَا رَسُولَ اللهِ، مَا الْاِسْتِعْجَالُ؟ قَالَ: يَقُولُ: قَدْ دَعَوْتُ، وَقَدْ دَعَوْتُ، فَلَمْ أَرَ يَسْتَجِيبُ لِي، فَيَسْتحْسِرُ عِنْدَ ذَلِكَ وَيَدَعُ الدُّعَاءَ

“Senantiasa akan dikabulkan doa seorang hamba, selama tidak berdoa dengan perkara dosa atau memutuskan hubungan silaturahmi; selama ia tidak tegesa-gesa.”

Ditanyakan kepada beliau, “Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud dengan tegesa-gesa?”

Beliau menjawab, “Dia mengatakan, ‘Aku sudah berdoa; aku sudah berdoa; tetapi tidak kunjung dikabulkan.’ Dia merasa menyesal saat itu lantas meninggalkan berdoa.” (HR. Muslim no. 2735 dari sahabat Abu Hurairah radhiallahu anhu)

Sahabat Anas bin Malik radhiallahu anhu berkata, “Doa yang paling sering dipanjatkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam adalah

اللهم رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Ya Allah, ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari siksa neraka.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

وَكَانَ أَنَسٌ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَدْعُوَ بِدَعْوَةٍ دَعَا بِهَا، وَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَدْعُوَ بِدُعَاءٍ دَعَا بِهَا فِيهِ.

“Apabila Anas bin Malik radhiallahu anhu hendak memohon sesuatu, beliau berdoa dengan doa tersebut.” (HR. Muslim)

Baca juga: Hukum Doa Berjamaah

Lagi pula, doa adalah ibadah. Maka dari itu, hendaknya seseorang melakukannya dengan baik dan lebih bermartabat. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ

“Berdoa adalah ibadah.” (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi dari sahabat an-Nu’man bin Basyir radhiallahu anhu. At-Tirmidzi mengatakan, “Hadits hasan sahih.” Syaikh Al-Albani rahimahullah menilai hadits ini sahih dalam kitab Shahihul Jami’ no. 3407).

Sebagai pelengkap dari jawaban pertanyaan ini, Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah pernah ditanya,

Apakah boleh seseorang berdoa untuk dirinya agar diberi taufik untuk menikah dengan seorang gadis sembari menyebutkan dalam hatinya nama gadis yang dimaksud?

Beliau rahimahullah menjawab,

“Ya, seseorang boleh memohon kepada Allah ta’ala agar dimudahkan menikah dengan gadis yang dia tentukan. Tidak mengapa melakukan hal itu. Namun, aku menyarankannya dan orang yang semisal dengannya agar tidak menggantungkan hatinya pada gadis tersebut khawatir terjadi fitnah.” (Fatawa Nur ‘ala ad-Darb 2/24, melalui Maktabah Syamilah)

Wallahu a’lam bish-shawab.

(Ustadz Abu Ishaq Abdullah Nahar)