Misi Duniawi di Balik Gerakan Terorisme

Dari sahabat Jabir bin Abdillah, al-Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan (no. 1063) sebuah peristiwa yang terjadi sepulang kaum muslimin dari pertempuran di Lembah Hunain.

Saat itu, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai-sampai bersabda dengan nada yang agak berbeda dari biasanya. Sabda itu ditujukan kepada seseorang yang menuduh beliau tidak berlaku adil. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَيْلَكَ وَمَنْ يَعْدِلُ إِذَا لَمْ أَكُنْ أَعْدِلُ؟ لَقَدْ خِبْتَ وَخَسِرْتَ إِنْ لَمْ أَكُنْ أَعْدِلُ.

“Celakalah engkau! Lantas siapakah yang akan bersikap adil, jika saya tidak berbuat adil?! Sungguh, engkau celaka dan merugi jika aku tidak dapat bersikap adil!”

  Lanjutkan membaca Misi Duniawi di Balik Gerakan Terorisme

Negeri Para Pengikut Dajjal

Dari sahabat Anas bin Malik al-Anshari radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَتْبَعُ الدَّجَّالَ مِنْ يَهُودِ أَصْفَهَانَ سَبْعُونَ أَلْفًا عَلَيْهِمُ الطَّيَالِسَةُ

        “Akan mengikuti Dajjal tujuh puluh ribu orang Yahudi Asfahan, mereka memakai jubah-jubah.”

 

Takhrij Hadits

Hadits yang mulia ini dikeluarkan oleh al-Imam Muslim rahimahullah dalam ash-Shahih, Kitabul Fitan (4/2266 no. 2944) melalui jalan Manshur bin Abi Muzahim, dari Yahya bin Hamzah, dari al-Auza’I, dari Ishaq bin Abdillah, dari pamannya, Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu.

 

Makna Hadits

Di antara ujian besar yang menimpa umat manusia adalah fitnah (ujian) al-Masih ad-Dajjal.

Di antara kasih sayang Allah subhanahu wa ta’ala, seluruh para nabi dan rasul memperingatkan umatnya dari ujian ad-Dajjal, termasuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan beliau telah memberikan keterangan-keterangan yang lebih lengkap dan gamblang ketimbang nabi-nabi sebelum beliau.

Dalam hadits Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa di antara para pengikut al-Masih ad-Dajjal adalah orang-orang Yahudi Asbahan.

Asbahan atau Asfahan adalah salah satu provinsi di Republik Iran, negara yang dibangun di atas agama Syiah Rafidhah. Asbahan sekarang lebih dikenal dengan Isfahan atau Esfahan.

Berita Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam semakin membuka mata kita tentang hakikat negara Iran. Iran bukan kiblat kaum muslimin. Revolusi Iran yang digembar-gemborkan Khomeini yang keji dan kotor bukanlah revolusi Islam, melainkan revolusi Syiah Rafidhah.

Sejak dahulu hingga kini Iran adalah negeri cobaan. Iran adalah negeri sumber kejelekan. Di negara Iran inilah para pengikut Dajjal berdiam, menanti kedatangan Dajjal, kemudian mengikutinya.

Cepat atau lambat, Yahudi akan berkumpul di Asbahan, Iran. Bahkan, saat ini, komunitas Yahudi telah terbentuk di Iran. Yahudi tinggal di Iran, terutama Isfahan, Hadan, dan Teheran. Mereka mendapatkan pengakuan—berbeda dengan Ahlus Sunnah yang terus menjadi sasaran intimidasi dan pembantaian.

Jangan heran apabila Yahudi tinggal nyaman di Iran. Hubungan mesra antara Iran (Syiah Rafidhah) dan Yahudi kasatmata. Keduanya, Syiah Rafidhah (Iran) dan Yahudi ibarat saudara kembar, hanya saja Rafidhah menisbatkan dirinya kepada Islam padahal Islam berlepas diri dari mereka, sementara Yahudi tetap di atas keyahudiannya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa nanti di akhir zaman, tujuh puluh ribu Yahudi Asbahan akan mengikuti Dajjal. Apa yang beliau kabarkan akan terjadi dan pasti terjadi.

 

Di Antara Prinsip Salaf: Mengimani Keluarnya Dajjal

Keluarnya al-Masih ad-Dajjal di akhir zaman adalah salah satu keyakinan Ahlus Sunnah wal Jamaah yang membedakan dari ahlul ahwa’ wal bida’. Hadits-hadits tentang keluarnya Dajjal sangat banyak, bahkan mencapai derajat mutawatir.

Al-Imam Ahmad bin Hambal dalam kitabnya, Ushulus Sunnah, berkata, “Wajib mengimani bahwa al-Masih ad-Dajjal akan keluar, tertulis di antara dua matanya ‘Kafir’, demikian pula mengimani semua hadits-hadits tentang Dajjal, dan mengimani bahwa semua itu akan terjadi.”

Sangat disayangkan, perkara yang sesungguhnya telah disepakati salaf ini diingkari oleh sebagian kaum muslimin, bahkan orang yang ditokohkan, seperti Muhammad Abduh, Abul A’la al-Maududi, Muhammad Farid Wajdi, dan Muhammad Rasyid Ridha.

Abul A’la Al-Maududi mengatakan bahwa Dajjal itu hanyalah simbol, bukan sosok manusia yang berwujud.

Pernyataan ini tentu saja bertentangan dengan sabda-sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang secara tegas menyatakan bahwa al-Masih ad-Dajjal bersosok manusia.

Tokoh lainnya, Muhammad Farid Wajdi, menyatakan bahwa hadits-hadits Dajjal semuanya palsu dan lemah.

Sebuah statemen yang menunjukkan jauhnya orang ini dari hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hadits tentang al-Masih ad-Dajjal mencapai derajat mutawatir dan dikeluarkan dalam kitab-kitab Shahih, seperti Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim, dan lainnya.

Serupa dengan Abul A’la al-Maududi, Muhammad Rasyid Ridha berkata, “Sesungguhnya keluarnya Dajjal adalah simbol bermunculannya berbagai kebatilan. Adapun turunnya Isa dan berita bahwa Isa akan membunuh Dajjal adalah simbol kemenangan kebenaran atas kebatilan.”

Keluarnya Dajjal adalah ujian yang sangat besar hingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintah kita untuk selalu berlindung kepada Allah dari fitnah al-Masih ad-Dajjal. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

        إِذَا تَشَهَّدَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللهِ مِنْ أَرْبَعٍ، يَقُولُ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ

Jika kalian bertasyahud, mintalah perlindungan kepada Allah dari empat perkara, “Ya Allah, sungguh aku berlindung kepada-Mu dari azab Jahannam, dari azab kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian, serta aku berlindung dari kejelekan fitnah al-Masih ad-Dajjal.” (HR. Muslim)

Di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Dajjal sudah ada. Dia terbelenggu di sebuah pulau sebagaimana disebutkan dalam riwayat yang sahih. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengabarkan bahwasanya Dajjal akan keluar dari arah timur, dari Khurasan.

Bisa jadi, muncul pertanyaan, bukankah hadits sahih mengabarkan bahwa Dajjal berada di sebuah pulau? Mengapa dikatakan Dajjal keluar dari Khurasan? Bukankah Khurasan bukan sebuah pulau?

Hadits-hadits sahih tidak bertentangan satu dengan yang lain. Semua datang dari Allah subhanahu wa ta’ala. Dajjal memang akan keluar dari sebuah pulau di arah timur. Setelah keluar, dia menuju Khurasan. Dari Khurasan inilah kemudian Dajjal mengelilingi bumi, timur dan barat.

Setelah muncul, Dajjal berkeliling di muka bumi selama empat puluh hari. Hari pertama berumur satu tahun, hari kedua berumur satu bulan, hari ketiga berumur satu minggu, dan selebihnya seperti hari-hari biasa.

 

Melalui Asfahan dan Diikuti Yahudi Asfahan

Ketika Dajjal keluar, tujuh puluh ribu Yahudi Asfahan mengikuti Dajjal, sebagaimana tertera dalam hadits Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu. Mereka bertekad memerangi kaum muslimin.

Apa yang dikabarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pasti akan terjadi. Sungguh, saat ini orang-orang Yahudi hidup terhormat dan terlindungi di Asfahan bersama orangorang Syiah Rafidhah Iran. Demikian pula di tempat-tempat lain di seluruh penjuru Iran.

Sungguh mengherankan, bersama Yahudi, kaum Syiah Rafidhah hidup dengan mesra, sedangkan terhadap muslimin Ahlus Sunnah, Syiah Rafidhah terus melakukan teror.

Iran adalah negeri sumber fitnah dan kejelekan. Tidak samar pula bagi kita bahwa Iran adalah sebuah negara yang berasas Syiah Rafidhah. Dari asas mereka ini saja, kita sudah mengerti kejelekan yang tersimpan pada diri mereka.

Dalam Undang-Undang Dasar Iran, Bab I, Pasal ke-12, disebutkan asas tunggal negeri tersebut.

The official religion of Iran is Islam and the Twelver Ja’fari school [in usual al-Din and fiqh], and this principle will remain eternally immutable.”

“Agama resmi Iran adalah Islam di atas mazhab Imamiyah Itsna Asyariyah Ja’fari (dalam akidah dan fikih), dan prinsip ini akan tetap abadi selamanya.”

Dengan tegas, tanpa tedeng aling-aling, mereka menyatakan asas tunggal negara mereka adalah mazhab Itsna ‘Asyariah atau Rafidhah. Ini adalah asas kafir, sebuah agama yang bertentangan dengan Islam. Wal ‘iyadzubillah.

Lebih-lebih ketika kita melihat kiprah dan reputasi buruk mereka dalam kancah pergaulan dunia. Niscaya dengan penuh keyakinan kita akan katakan bahwa mereka adalah sebab kejelekan dan sumber fitnah.

 

Ke Mana Dajjal dan Bala Tentaranya Berjalan?

Bersama para pengikutnya, Dajjal menuju Madinah. Alhamdulillah, Allah subhanahu wa ta’ala menjaga kota Madinah. Semua celah menuju Madinah dijaga oleh malaikat dengan pedang-pedang terhunus.

Dalam riwayat Muslim disebutkan,

        وَعَنْ أَنَسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَيْسَ مِنْ بَلَدٍ إلاَّ سَيَطَؤُهُ الدَّجَّالُ إلاَّ مَكَّةَ وَالمَدِينَةَ؛ وَلَيْسَ نَقْبٌ مِنْ أَنْقَابِهِمَا إلاَّ عَلَيْهِ الْمَلاَئِكَةُ صَافِّينَ تَحْرُسُهُمَا، فَيَنْزِلُ بالسَّبَخَةِ، فَتَرْجُفُ الْمَدِينَةُ ثَلاَثَ رَجَفَاتٍ، يُخْرِجُ اللهُ مِنْهَا كُلَّ كَافِرٍ وَمُنَافِقٍ

Dari Anas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada sebuah negeri pun melainkan Dajjal akan menguasainya, kecuali Makkah dan Madinah. Tidak ada satu celah pun di Makkah dan Madinah kecuali para malaikat bershaf-shaf menjaga keduanya. Singgahlah ad-Dajjal di sebuah tempat (di pinggir Madinah), Madinah pun bergoncang tiga kali. Allah subhanahu wa ta’ala keluarkan dari Madinah semua orang yang kafir dan munafik.”

Ibnul Atsir berkata, “Kata السَّبَخَةِ adalah jenis tanah yang tinggi kadar garamnya hingga tidak tumbuh padanya kecuali tanaman tertentu.” (an-Nihayah 2/333)

Dalam hadits lain, al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah meriwayatkan,

عَنْ عَائِشَةَ أَخْبَرَتْهُ قَالَتْ: دَخَلَ عَلَيَّ رَسُولُ ا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا أَبْكِي فَقَالَ لِي: مَا يُبْكِيكِ؟ قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، ذَكَرْتَ الدَّجَّالَ فَبَكَيْتُ. فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنْ يَخْرُجِ الدَّجَّالُ وَأَنَا حَيٌّ كَفَيْتُكُمُوهُ، وَإِنْ يَخْرُجِ الدَّجَّالُ بَعْدِي فَإِنَّ رَبَّكُمْ عَزَّ وَجَلَّ لَيْسَ بِأَعْوَرَ وَإِنَّهُ يَخْرُجُ فِي يَهُودِيَّةِ أَصْبَهَانَ حَتَّى يَأْتِيَ الْمَدِينَةَ فَيَنْزِلَ نَاحِيَتَهَا وَلَهَا يَوْمَئِذٍ سَبْعَةُ أَبْوَابٍ عَلَى كُلِّ نَقْبٍ مِنْهَا مَلَكَانِ، فَيَخْرُجَ إِلَيْهِ شِرَارُ أَهْلِهَا حَتَّى الشَّامِ مَدِينَةٍ بِفِلَسْطِينَ بِبَابِ لُدٍّ.

وَقَالَ أَبُو دَاوُدَ مَرَّةً: حَتَّى يَأْتِيَ فِلَسْطِينَ بَابَ لُدٍّ فَيَنْزِلَ عِيسَى عَلَيْهِ السَّ مَالُ فَيَقْتُلَهُ ثُمَّ يَمْكُثَ عِيسَى عَلَيْهِ السَّ مَالُ فِي الْأَرْضِ أَرْبَعِينَ سَنَةً إِمَامًا عَدْ وَحَكَمًا مُقْسِطًا

Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, beliau berkata, Suatu saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengunjungiku saat aku sedang menangis. Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Apa yang membuatmu menangis?”

Aku jawab, “Wahai Rasulullah, engkau telah menceritakan tentang Dajjal. Itu yang membuatku menangis.”

Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seandainya Dajjal keluar dan aku masih hidup, cukup aku bagi kalian. Seandainya Dajjal keluar sepeninggalku, ketahuilah sesesungguhnya Rabb kalian tidak buta (sebagaimana Dajjal buta).”

Dajjal akan keluar di tengah-tengah Yahudi Asbahan menuju Madinah. Dajjal hanya singgah di perbatasan Madinah (tidak bisa masuk ke dalamnya –pen.). Saat itu Madinah memiliki tujuh pintu, pada setiap pintu masuk ada dua malaikat. Lalu orang-orang jelek dari penduduk Madinah keluar menuju Dajjal.”

Kemudian tibalah di Palestina di Bab Ludd. Turunlah Isa bin Maryam lalu membunuh Dajjal. Nabi Isa tinggal selama 40 tahun di bumi sebagai imam dan penguasa yang adil.”

 

Nasib Yahudi Para Pengikut Dajjal

Bukan hanya Dajjal yang dibunuh dan dihinakan. Para pengikutnya juga dihinakan dan diperangi oleh kaum mukminin. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُقَاتِلَ الْمُسْلِمُونَ الْيَهُودَ فَيَقْتُلُهُمْ الْمُسْلِمُونَ حَتَّى يَخْتَبِئَ الْيَهُودِيُّ مِنْ وَرَاءِ الْحَجَرِ وَالشَّجَرِ فَيَقُولُ الْحَجَرُ أَوْ الشَّجَرُ : يَا مُسْلِمُ يَا عَبْدَ ا هَذَا يَهُودِيٌّ خَلْفِي فَتَعَالَ فَاقْتُلْهُ ! إِ الْغَرْقَدَ فَإِنَّهُ مِنْ شَجَرِ الْيَهُودِ

“Tidak akan terjadi kiamat hingga kaum muslimin memerangi Yahudi dan membunuhi mereka. Sampai ketika ada Yahudi bersembunyi di balik batu atau pohon, batu dan pohon berkata, “Wahai muslim, wahai hamba Allah, Yahudi ada di belakangku. Kemari dan bunuhlah dia!” Kecuali pohon gharqad, (dia tidak berbicara) karena dia termasuk pohon Yahudi.” (HR. al-Bukhari dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Peperangan yang disebutkan dalam hadits di atas saat kaum muslimin membunuh orang-orang Yahudi, adalah perang di zaman Dajjal. Dajjal dibunuh oleh Isa bin Maryam. Adapun Yahudi para pengikut Dajjal diperangi oleh kaum muslimin. Allahu a’lam.

Al-Imam Ibnu Majah rahimahullah meriwayatkan sebuah hadits panjang dari Abu Umamah al-Bahili dalam as-Sunan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَبَيْنَمَا إِمَامُهُمْ قَدْ تَقَدَّمَ يُصَلِّي بِهِمُ الصُّبْحَ إِذْ نَزَلَ عَلَيْهِمْ عِيسَى بْنُ مَرْيَمَ الصُّبْحَ، فَرَجَعَ ذَلِكَ الْإِمَامُ يَنْكُصُ يَمْشِي الْقَهْقَرِي لِيَتَقَدَّمَ عِيَسى يُصَلِّي بِالنَّاسِ، فَيَضَعُ عِيسَى يَدَهُ بَيْنَ كَتِفَيْهِ ثُمَّ يَقُولُ لَهُ: تَقَدَّمْ فَصَلِّ، فَإِنَّهَا لَكَ أُقِيمَتْ. فَيُصَلِّي بِهِمْ إِمَامُهُمْ فَإِذَا انْصَرَفَ قَالَ عِيسَى عَلَيْهِ السَّ مَالُ: افْتَحُوا الْبَابَ. فَيَفْتَحُ وَوَرَاءَهُ الدَّجَّالُ مَعَهُ سَبْعُونَ أَلْفَ يَهُودِيٍّ كُلُّهُمْ ذُو سَيْفٍ مُحَلَّى وَسَاجٍ،

فَإِذَا نَظَرَ إِلَيْهِ الدَّجَّالُ ذَابَ كَمَا يَذُوبُ الْمِلْحُ فِي الْمَاءِ وَيَنْطَلِقُ هَارِبًا وَيَقُولُ عِيسَى عَلَيْهِ السَّ مَالُ: إِنَّ لِي فِيكَ ضَرْبَةً لَنْ تَسْبِقَنِي بِهَا. فَيُدْرِكُهُ عِنْدَ بَابِ اللُّدِّ الشَّرْقِيِّ فَيَقْتُلُهُ فَيَهْزَمُ اللهُ الْيَهُودَ فَ يَبْقَى شَيْءٌ مِمَّا خَلَقَ اللهُ يَتَوَارَى بِهِ يَهُودِيٌّ إِلاَّ أَنْطَقَ اللهُ ذَلِكَ الشَّيْءُ لاَ حَجَرٌ وَ شَجَرٌ وَ حَائِطٌ وَ دَابَّةٌ إ الْغَرْقَدَةَ فَإِنَّهَا مِنْ شَجَرِهِمْ تَنْطِقُ إِلاَّ قَالَ: يَا عَبْدَ اللهِ الْمُسْلِمَ، هَذَا يَهُودِيٌّ فَتَعَالَ اقْتُلْهُ

Tatkala imam mereka (al-Mahdi) maju untuk mengimami shalat subuh, tiba-tiba turun kepada mereka ‘Isa bin Maryam ‘alaihissalam. Bergegaslah Imam Mahdi mundur ke belakang agar Nabi ‘Isa ‘alaihissalam mengimami manusia. Nabi ‘Isa q pun meletakkan tangan beliau di antara pundak al-Mahdi seraya berkata,

“Maju dan shalatlah, karena untukmu shalat ini ditegakkan.”

Seusai shalat, Isa ‘alaihissalam berkata, “Bukalah pintu!”

        Dibukalah pintu, ternyata di baliknya ada Dajjal bersama 70.000 orang Yahudi, semuanya menenteng pedang dan memakai jubah. Ketika Dajjal menatap Isa ‘alaihissalam, ia meleleh sebagaimana melelehnya garam dalam air. Larilah Dajjal.

Nabi Isa berkata, “Sungguh, aku memiliki sebuah pukulan yang engkau tidak akan mendahului aku dengannya.”

Isa mendapatkan Dajjal di Bab Lud sebelah timur dan membunuhnya. Ketika itu Allah kalahkan Yahudi hingga tidak ada satu makhluk pun yang Yahudi bersembunyi padanya kecuali Allah subhanahu wa ta’ala menjadikannya berbicara; batu, pohon, tembok, atau hewan—semua berbicara— kecuali pohon gharqad, sesungguhnya ia adalah pohon Yahudi—semua berbicara,

“Wahai hamba Allah yang muslim, ini Yahudi, kemari dan bunuhlah dia…!”

Hadits Abu Umamah radhiallahu ‘anhu di dalam sanadnya ada kelemahan, tetapi riwayat yang menunjukkan bahwa peperangan ini terjadi di masa Imam Mahdi dikuatkan dengan syawahid (penguat-penguat dari hadits lain).

Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Hadits (Abu Umamah radhiallahu ‘anhu) dikeluarkan oleh Ibnu Majah dengan panjang, dan asal hadits ini ada pada Abu Dawud. Ada yang serupa dengan hadits ini, yaitu hadits Samurah radhiallahu ‘anhu pada riwayat al-Imam Ahmad (dalam al-Musnad) dengan sanad hasan, dan dikeluarkan Ibnu Mandah dalam ‘Kitab al-Iman’ dari hadits Hudzaifah radhiallahu ‘anhu dengan sanad sahih. (Fathul Bari, 6/610)

Walhamdulillah.

 

Al-Masih versi Yahudi adalah Dajjal

Yahudi meyakini akan kemunculan seseorang yang diklaim bakal mengembalikan kejayaan mereka. Mereka menyebutnya al-Masih al-Muntazhar, yakni al-Masih yang dinanti.

Dalam keyakinan mereka, orang tersebut berasal dari keluarga Nabi Dawud, yang nantinya akan menundukkan umat, memperbudak mereka, dan mengembalikan kejayaan Yahudi. Masih ada berbagai keyakinan dan harapan yang dibumbui bermacam-macam kedustaan, sebagaimana tertera dalam kitab Talmud

mereka. Akidah ini terus mereka yakini hingga saat ini, terbukti dengan tercantumnya hal itu dalam Protokolat Yahudi Zionis. (Dirasat fil Adyan, hlm. 265)

Yahudi tidak mengakui bahwa al-Masih al-Muntazhar adalah Isa bin Maryam. Mereka mengkufurinya. mengingkarinya, dan melontarkan tuduhan-tuduhan keji, serta tuduhan kekafiran kepada Isa dan kepada ibunya, Maryam, sebagaimana termaktub dalam kitab Talmud mereka.

Karena itu, tidak heran ketika Nabi Isa ‘alaihissalam turun di akhir zaman, mereka menjadi musuh-musuh utama beliau. Mereka bersama barisan Dajjal.

Ya, al-Masih ad-Dajjal itulah sejatinya al-Masih Muntazhar menurut keyakinan Yahudi. Nabi Isa ‘alaihissalam akan membunuh Dajjal di Bab Lud, demikian pula Yahudi akan diperangi kaum muslimin.

Pembaca rahimakumullah, inilahsekelumit kejadian di akhir zaman. Dajjal akan muncul dan diikuti Yahudi Asfahan, di negeri Iran, Mereka menyangka bahwa bersama Dajjal, kejayaan akan dicapai, namun hakikatnya mereka menuju kebinasaan.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Ditulis oleh al-Ustadz Muhammad Rijal, Lc

Ruwaibidhah: Fenomena Akhir Zaman

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتٌ؛ يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ.

قِيلَ: وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ؟ قَالَ: الرَّجُلُ التَّافِهُ يَتَكَلَّمُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ

“Sungguh, akan datang kepada manusia tahun-tahun yang sangat menipu. Para pendusta pada zaman itu dianggap sebagai orang yang jujur, sementara orang yang jujur dianggap pendusta. Para pengkhianat pada zaman itu dipercaya, sementara orang-orang yang amanah dianggap pengkhianat. Pada zaman itu pula Ruwaibidhah banyak berbicara.”

Rasulullah pun ditanya, “Siapa Ruwaibidhah, wahai Rasulullah?”

Beliau kemudian menjawab, “Orang dungu yang membicarakan urusan manusia.”

 

Tahkrij Hadits

Hadits dengan lafadz di atas diriwayatkan oleh al-Imam Ibnu Majah dalam as-Sunan no. 4042. Diriwayatkan pula oleh Abu Abdillah al-Hakim dalam al-Mustadrak (4/465, 512), Ahmad bin Hanbal dalam al-Musnad (2/291).

Semuanya melalui jalan Abdul Malik bin Qudamah, dari Ishaq bin Abil Furat, dari al-Maqburi, dari sahabat Abu Hurairah, Abdur Rahman bin Shakhr ad-Dausi radhiallahu ‘anhu.

Sanad ini dha’if (lemah) karena di dalamnya ada Abdul Malik bin Qudamah, seorang yang dha’if (lemah). Demikian adz-Dzahabi dalam Mizanul I’tidal menukilkan perkataan sejumlah ulama yang mendha’ifkannya.

Dalam sanad ini ada illat (cacat) lain, yaitu Ishaq bin Bakr. Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani berkata tentangnya, “Majhul (tidak dikenal).”

 

Meskipun demikian, hadits ini bisa dikuatkan karena diriwayatkan melalui jalan lain.

Al-Imam Ahmad dalam al-Musnad (2/338) meriwayatkan hadits ini melalui jalan dua guru beliau, Yunus dan Suraih. Keduanya meriwayatkan dari Fulaih bin Sa’id, dari Ubaidillah bin Sabbaq, dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قَبْلَ السَّاعَةِ سِنُونَ خَدَّاعَةٌ يُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ

“Sebelum tegak kiamat, akan datang tahun-tahun yang sangat menipu. Pada zaman itu, orang yang jujur didustakan, orang yang pendusta dibenarkan, orang yang tepercaya dianggap berkhianat, dan orang yang berkhianat diberi kepercayaan. Pada masa itu, Ruwaibidhah berbicara.”

Semua perawi dalam sanad ini tsiqat, kecuali Fulaih. Dia adalah Fulaih bin Sulaiman al-Khuza’i, ada pembicaraan tentangnya dari sisi hafalannya. Al- Hafizh Ibnu Hajr berkata, “Shaduq yukhti’u katsiran.”

 

Hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu diperkuat pula oleh adanya syahid (penguat) dari hadits Anas bin Malik yang diriwayatkan al-Imam Ahmad dalam al-Musnad (3/220), Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ أَمَامَ الدَّجَّالِ سِنِينَ خَدَّاعَةً يُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيَتَكَلَّمُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ. قِيلَ: وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ؟ قَالَ: الْفُوَيْسِقُ يَتَكَلَّمُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ

“Sesungguhnya menjelang keluarnya Dajjal, ada tahun-tahun yang menipu. Di zaman itu orang yang jujur didustakan, para pendusta dianggap benar, para pengkhianat dipercaya, sementara orang-orang yang amanah dianggap pengkhianat. Pada zaman itu pula Ruwaibidhah banyak berbicara.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya, “Apa itu Ruwaibidhah, wahai Rasulullah?”

Beliau kemudian menjawab,

الْفُوَيْسِقُ يَتَكَلَّمُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ

“Orang yang sangat fasik (lagi hina), membicarakan perkara publik (masyarakat umum).”

Hadits Anas ini diriwayatkan Ahmad melalui jalan Muhammad bin Ishaq dari Muhammad bin al-Munkadir. Para perawinya tsiqat, hanya saja dalam sanad ini ada ‘an’anah Ibnu Ishaq, dan ia seorang mudallis.

 

Makna Hadits

Dalam hadits ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan akan datangnya tahun-tahun yang disifati beliau dengan (سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتٌ), tahun-tahun yang sangat menipu.

Masa itu disifati demikian karena kondisinya benar-benar terbalik, sebagaimana ditafsirkan oleh beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Saat itu, yang benar tampak batil/salah, sebaliknya kebatilan tampak sebagai kebenaran. Beliau bersabda,

“… Para pendusta di zaman itu dianggap sebagai orang yang jujur, orang yang jujur dianggap pendusta. Para pengkhianat di zaman itu dipercaya, orang-orang yang amanah dianggap pengkhianat….”

 

Inilah empat hal yang akan terjadi pada zaman tersebut. Beliau juga menyebutkan yang kelima,

وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ

“… pada zaman itu Ruwaibidhah banyak berbicara….”

Para sahabat lalu menanyakan tentang siapa Ruwaibidhah. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

الرَّجُلُ التَّافِهُ يَتَكَلَّمُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ

“… Orang dungu yang membicarakan urusan manusia.”

Pada sebagian riwayat hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan tentang siapa

mereka.

الْفُوَيْسِقُ يَتَكَلَّمُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ

“Orang yang sangat fasik (lagi hina), membicarakan urusan publik (umum).”

 

Menjelaskan makna Ruwaibidhah, al-Imam al-Baghawi berkata dalam Syarhus Sunnah (1/12), “Ruwaibidhah secara bahasa adalah bentuk tashghir (pengecilan/perendahan) dari kata ar-Rabidhah. Maknanya adalah penggembala kambing. Rabidh sendiri bermakna kambing/domba.”

 

Tanda Kenabian

Dalam hadits ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan kepada kita berita gaib, yaitu beberapa hal yang akan terjadi di akhir zaman. Kabar beliau ternyata benar-benar terjadi.

Berita-berita seperti ini termasuk tanda dan bukti kenabian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan betapa banyak yang serupa.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memang tidak mengerti perkara gaib. Itulah keyakinan Ahlus Sunnah. Kita meyakini hanya Allah ‘azza wa jalla lah yang mengetahui perkara gaib. Akan tetapi, Allah ‘azza wa jalla mewahyukan sebagian perkara gaib kepada para nabi dan rasul-Nya. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

          عَٰلِمُ ٱلۡغَيۡبِ فَلَا يُظۡهِرُ عَلَىٰ غَيۡبِهِۦٓ أَحَدًا ٢٦ إِلَّا مَنِ ٱرۡتَضَىٰ مِن رَّسُولٖ فَإِنَّهُۥ يَسۡلُكُ مِنۢ بَيۡنِ يَدَيۡهِ وَمِنۡ خَلۡفِهِۦ رَصَدٗا ٢٧

        “(Dia adalah) Yang Mengetahui yang gaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang gaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya.” (al-Jin: 26—27)

 

Perhatikan fenomena di zaman kita. Betapa sesuainya keadaan zaman ini dengan berita Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Betapa banyak orang jujur lagi mulia yang didustakan. Banyak pula para pendusta yang ucapannya dianggap kebenaran. Sebagaimana sabda beliau,

يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ

“… para pendusta di zaman itu dianggap sebagai orang yang jujur, sementara orang yang jujur dianggap pendusta….”

 

Mungkin contoh nyata yang bisa kita saksikan adalah perlakuan ahlul bid’ah kepada ulama-ulama Ahlus Sunnah. Sosok al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah, imam Ahlus Sunnah wal Jamaah, murid terkemuka al-Imam asy Syafi’i rahimahullah, diperlakukan demikian kasar. Beliau disiksa, dipenjara, bahkan hendak dibunuh.

Apa sebab beliau disiksa? Ternyata karena beliau sedemikian gigih mempertahankan kebenaran, mempertahankan akidah Ahlus Sunnah. Beliau mempertahankan keyakinan bahwa al-Qur’an adalah kalamullah (firman Allah ‘azza wa jalla), bukan makhluk.

 

Al-Qur’an adalah kalamullah, sebagaimana ditunjukkan oleh al-Kitab, as-Sunnah, dan ijma’. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

          وَإِنۡ أَحَدٞ مِّنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ ٱسۡتَجَارَكَ فَأَجِرۡهُ حَتَّىٰ يَسۡمَعَ كَلَٰمَ ٱللَّهِ ثُمَّ أَبۡلِغۡهُ مَأۡمَنَهُۥۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمۡ قَوۡمٞ لَّا يَعۡلَمُونَ ٦

        “Dan jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar kalam Allah, kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui.” (at-Taubah: 6)

Kebenaran mana yang melebihi kebenaran al-Qur’an? Kejujuran mana yang melebihi sabda-sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Namun, pada zaman al-Imam Ahmad rahimahullah kebenaran ini didustakan dan ditolak.

 

Demikian pula keadaan ulama Ahlus Sunnah di zaman ini, semisal asy-Syaikh al-Albani, asy-Syaikh Rabi’ al-Madkhali, dan masyayikh Ahlus Sunnah lainnya. Ucapan-ucapan mereka yang penuh hikmah didustakan. Nasihat-nasihat mereka memperingatkan umat dari kesyirikan dan penyerunya, kebid’ahan dan pengusungnya dianggap sebagai kedunguan, ghibah, dan memecah belah umat. Padahal maksud mereka adalah memberi nasihat yang tulus bagi umat.

Mereka, ulama Ahlus Sunnah yang penuh kejujuran dan semangat justru dicela dan dipojokkan dengan tuduhan-tuduhan yang jauh dari kenyataan. Mereka penuh kejujuran, namun didustakan oleh penyeru kesyirikan, pengusung kebid’ahan dan kesesatan.

 

Sebaliknya, banyak para pendusta, tokoh-tokoh penyesat, pembawa panji-panji kesyirikan, kebid’ahan dan pemikiran-pemikiran sesat, ucapan mereka justru dibenarkan.

Melalui berbagai media cetak dan elektronik, tokoh-tokoh pendusta diorbitkan. Dengan seenaknya mereka melecehkan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mengolok-olok agama Islam. Ucapan mereka yang sedemikian keji dianggap sebagai sebuah kebenaran hanya karena dia menyandang gelar profesor doktor. Sejatinya, dia hanyalah pendusta, dajjal yang penuh dengan kehinaan.

Ucapan mereka seakan-akan kebenaran. Sesungguhnya mereka memutarbalikkan fakta. Tersebarlah kedustaan di tengah umat ini dan dianggap sebagai sebuah kebenaran yang harus diterima secara mutlak.

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Sosok Penyayang

Siapa pun yang merenungi hadits ini akan melihat betapa sayang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

          لَقَدۡ جَآءَكُمۡ رَسُولٞ مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ عَزِيزٌ عَلَيۡهِ مَا عَنِتُّمۡ حَرِيصٌ عَلَيۡكُم بِٱلۡمُؤۡمِنِينَ رَءُوفٞ رَّحِيمٞ ١٢٨

“Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (at-Taubah: 128)

 

Bukti kasih sayang beliau sangat banyak. Demi Allah, semua perjalanan hidup Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah bukti kasih sayang beliau.

Mungkin Anda masih ingat, suatu saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat. Sedianya beliau ingin memperlama bacaan, tiba-tiba terdengar tangisan anak kecil. Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menyegerakan shalatnya. Beliau mengurungkan niat untuk memperlama bacaan sebagaimana kebiasaan beliau.

Beliau sangat khawatir ibu sang bocah ikut shalat bersama beliau, sehingga kegelisahan menimpanya di tengah shalat. Beliau tidak ingin kegelisahan menimpa ibu dan sang bocah.

 

Di antara bentuk kasih sayang beliau adalah semangat beliau memperingatkan umat dari segala kejelekan yang beliau ketahui, seperti hadits yang sedang kita telaah.

Beliau mengabarkan keadaan zaman sepeninggal beliau. Beliau menyebutkan suatu zaman yang demikian besar fitnahnya. Semua itu adalah kasih sayang beliau agar umat bersiap menghadapi kejelekan.

 

Hikmah Peringatan Kejelekan Akhir Zaman

Hadits ini bukan satu-satunya hadits yang berbicara tentang kejelekan di akhir zaman.

Alhamdulillah, semua hadits yang dibutuhkan umat untuk mengenal kejelekan akhir zaman terjaga dalam kitab-kitab ahlul hadits, kitab-kitab shahih, sunan, musnad, dan kitab hadits lainnya yang semestinya kita buka dan telaah.

Peringatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari berbagai kejelekan di akhir zaman memiliki faedah-faedah besar, di antaranya:

  1. Menambah keimanan.

Orang yang membaca berita Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang fitnah akhir zaman, kemudian mendapatkan kebenaran sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tentu kebenaran berita tersebut akan menambah keimanannya.

  1. Seorang mukmin akan lebih waspada dari berbagai kejelekan, kemudian segera menyiapkan berbagai upaya untuk menghadapi kejelekan tersebut sesuai bimbingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  2. Seorang mukmin semakin meyakini akan datangnya Hari Kiamat ketika menyaksikan tanda-tandanya bermunculan sebagaimana dikabarkan.
  3. Tanda-tanda hari kiamat akan mengingatkan orang-orang yang lalai untuk bersegera menuju ampunan Allah ‘azza wa jalla dan keridhaan-Nya.

 

Petaka Ruwaibidhah

Ruwaibidhah adalah orang yang fasik lagi hina, pendosa, dan jahil. Namun, dengan lancang mereka memosisikan diri untuk membicarakan masalah umat.

Allahu Akbar! Apa yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kabarkan dalam hadits ini benar-benar terjadi. Ruwaibidhah bermunculan berbicara tentang urusan umat.

Betapa banyak manusia dungu dan jahil dalam urusan agama dengan lancang berbicara dan berfatwa di tengah halayak. Bisa dibayangkan betapa besar kerusakan yang menimpa umat manusia ketika orang seperti mereka membicarakan urusan yang bukan kapasitasnya.

 

Dengan entengnya Ruwaibidhah berbicara tentang agama tanpa ilmu, Dengan seenaknya mereka bicara urusan darah kaum muslimin. Dengan serampangan mereka berbicara jihad. Muncullah berbagai kerusakan yang kita saksikan saat ini seperti fenomena: takfirul hukkam wal muslimin (pengkafiran terhadap penguasa dan kaum muslimin) dan pemikiran lainnya.

Dengan fatwa-fatwa yang tidak bertanggung jawab, Ruwaibidhah mengafirkan para penguasa dan masyarakatnya. Dengan dalih jihad mereka membunuh orang kafir yang tidak boleh dibunuh, bahkan orang muslim pun tidak luput menjadi korban kejahatan mereka.

 

Jangan menengok terlalu jauh, saksikanlah apa yang terjadi di negeri ini. Saat kampanye reformasi digelar. Kekacauan terjadi di seluruh penjuru negeri.

Tokoh-tokoh pengusung reformasi bukanlah ulama, bukan pula orang-orang yang mengerti maslahat dan mafsadah sebagaimana diajarkan dalam agama ini. Mereka tidak lain adalah para pendusta, politikus, dan orang-orang yang gila kekuasaan. Bukan agama yang diperjuangkan, melainkan dunia. Mereka adalah Ruwaibidhah.

Akibatnya, kejelekan terbuka sedemikian lebar. Saat ini, semua kesesatan bisa berkembang bebas meracuni anak-anak bangsa: liberalisme, komunisme, radikalisme, dan terorisme. Pemberontakan, hujatan kepada penguasa, sesuatu yang sudah sangat akrab di telinga kita. Demikian tragis nasib negeri ini, ketika Ruwaibidhah berbicara.

 

Tidak diragukan—wallahu a’lam—bahwa Ruwaibidhah termasuk golongan ashaghir yang disebutkan dalam hadits Abu Umayyah al-Jumahi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُلْتَمَسَ الْعِلْمُ عِنْدَ الْأَصَاغِرِ

“Sesungguhnya di antara tanda-tanda hari kiamat adalah diambilnya ilmu dari ashaghir (orang-orang kecil/muda).” (HR. ath-Thabarani, dinyatakan sahih dalam Shahih al-Jami’)

Para ulama menerangkan, di antara makna ashagir adalah ahlul bid’ah. Ya, ahlul bid’ah, dijadikan sebagai rujukan ilmu.

Jika urusan umat dipegang oleh para ulama, orang-orang yang mumpuni dalam ilmu dan berumur, harapkanlah kebaikan. Sebaliknya, jika yang berbicara dan dijadikan rujukan adalah orang-orang fasik lagi jahil, kejelekan akan menimpa umat ini.

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللهَ تَعَالَى لاَ يَقبِضُ الْعِلمَ انتِزَاعًا يَنتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ، وَلَكِنْ يَقبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ، حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُؤَسَاءَ جُهَّالاً، فَسُئِلُوا فَأَفتَوْا بِغَيرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا

“Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla tidak akan mencabut ilmu dari umat manusia dengan sekali cabut. Akan tetapi, Dia akan mencabut dengan mematikan para ulama (ahlinya). Sampai apabila Dia tidak menyisakan seorang alim, umat manusia akan menjadikan orang-orang yang bodoh sebagai pimpinan-pimpinan mereka. Mereka ditanya (oleh umatnya) lantas menjawab tanpa ilmu, sehingga mereka sesat dan menyesatkan.” (Muttafaqun ‘alaih)

 

Ibnu Qutaibah rahimahullah berkata, “Manusia senantiasa dalam kebaikan, selama yang menjadi ulama (panutan) mereka adalah masyayikh (orang-orang yang tua, baik dalam hal ilmu maupun usia), bukan orang-orang yang masih muda. Sebab, orang yang telah berumur, telah hilang darinya sifat kekasaran, main-main, dan ketergesa-gesaan (yang biasa ada) pada anak muda.

Orang yang tua juga penuh dengan pengalaman dalam urusannya. Karena itu, ilmunya tidak tercampur dengan kerancuan (syubhat), tidak pula hawa nafsu menyimpangkannya, tidak pula mudah dijerumuskan setan.

Adapun kaum muda, seringkali hal-hal tersebut menimpanya—yang kaum tua selamat darinya. Apabila hal itu terjadi, kemudian ia berfatwa, sungguh dia akan binasa dan membinasakan.”

 

Dahulu, salaf kita bersedih ketika melihat orang jahil berbicara memberi fatwa. Lantas apa pendapat Anda jika mereka menyaksikan rusaknya zaman kita ini? Semua orang bebas berbicara, bahkan berfatwa. Sebebas-bebasnya, tanpa batas.

Ibnu Abdil Barr al-Andalusi rahimahullah meriwayatkan dalam Jami Bayani Ilmi fa Fadhluhi melalui jalan Abdullah bin Wahb, dari al-Imam Malik, beliau berkata,

Seorang mengabarkan kepadaku: Suatu saat aku masuk menemui Rabi’ah bin Abdur Rahman. Ketika itu beliau sedang menangis. Aku pun bertanya, “Apa yang membuatmu menangis?”

Rabi’ah bertambah tangisnya. Aku bertanya kembali, “Apakah ada musibah yang menimpamu?”

Rabi’ah menjawab, “Tidak, (bukan karena itu aku menangis). Akan tetapi, saat ini orang yang tidak berilmu dimintai fatwa, dan muncullah perkara besar dalam Islam. Sungguh, sebagian dari mereka yang berfatwa (tanpa ilmu itu) lebih pantas untuk dipenjara daripada para pencuri!”

 

Saudaraku, mari kita kuatkan semangat mendidik diri kita dan generasi kita dengan ilmu al-Kitab dan as-Sunnah. Tuntutlah ilmu al-Kitab dan as-Sunnah sebelum ilmu dicabut dengan wafatnya para ulama.

Bekali generasi kita untuk menghadapi tahun-tahun yang memilukan dengan al-Kitab dan as-Sunnah dengan pemahaman salaf umat ini. Tidak ada benteng yang kokoh kecuali dengan berpegang teguh dengan keduanya.

Allahul musta’an.

Ditulis oleh al-Ustadz Muhammad Rijal, Lc

Menjauhkan Penganut Syiah dari Lingkaran Kekuasaan

Betapa kuat pengaruh teman dekat dan sahabat karib, sampai-sampai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إنَّ الَّهلَ لَم يَبْعَث نَبِياً وَ خَلِيفَةً إِ وَلَهُ بِطَانَتَان: بِطَانَةٌ تَأمُرَهُ بالمَعروفِ وتَنْهَاهُ عَن المُنْكَر، وبِطَانَةٌ تَألُوهُ خَبَا ،ًال وَمن يُوقَ بِطَانَةَ السُّوء فَقَد وُقي

“Sungguh, Allah tidaklah mengutus seorang nabi atau seorang khalifah, kecuali mempunyai dua macam bithanah (orang kepercayaan). Bithanah yang mengarahkan kepada kebaikan dan mencegahnya dari kemunkaran atau bithanah yang selalu mengarahkan kepada keburukan. Siapa saja yang terlindungi dari bithanah yang buruk, sungguh ia telah terjaga. ”

 

Takhrij Hadits

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas, kata per katanya sesuai dengan riwayat al-Imam al-Bukhari dalam karya beliau al-Adabul Mufrad (256).

Hadits di atas juga disebutkan oleh at-Tirmidzi dalam as-Sunan (2/58—59) dan asy-Syama-il al-Muhammadiyah (134), ath-Thahawi dalam Musykilul Atsar (1/195—196) , al-Hakim dalam al-Mustadrak (4/131), dan al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman (2/17/2).

Seluruh ulama hadits di atas meriwayatkan hadits ini dari berbagai jalur riwayat yang berbeda. Namun, semuanya kembali dan bermuara pada jalur riwayat Abdul Malik bin Umair, dari Abu Salamah bin Abdur Rahman, dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu. Beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda demikian. Hadits ini—walhamdulillah—dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Silsilah ash-Shahihah (1641).

Sabda Rasulullah subhanahu wa ta’ala di atas, sebenarnya mempunyai asbabul wurud (kronologi kejadian) yang juga disebutkan dalam riwayat. Saat itu, Rasululllah subhanahu wa ta’ala bertanya kepada sahabat Abul Haitsam, “Apakah engkau mempunyai budak pelayan?”

Ternyata Abul Haitsam tidak memilikinya.

“Apabila tiba nanti rombongan tawanan, silahkan engkau menemui saya,” pesan Rasulullah.

Selanjutnya, ada dua orang tawanan yang dibawa ke hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Abul Haitsam yang mendengar berita tersebut segera menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau memberi kesempatan Abul Haitsam untuk memilih salah satunya. Namun, Abul Haitsam memohon kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berkenan memilihkannya.

“Sungguh, orang yang dimintai pendapatnya adalah orang yang memperoleh amanat. Silakan engkau ambil budak yang ini, karena aku melihatnya mau mengerjakan shalat. Berbuat baiklah engkau kepadanya!” demikian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil keputusan sekaligus berpesan.

Sepulang ke rumah dan setelah bercerita, istri Abul Haitsam menyampaikan, “Sungguh, engkau belum akan bisa melaksanakan pesan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (untuk berbuat baik), kecuali dengan cara memerdekakan budak itu.”

Abul Haitsam lantas memerdekakan budak tersebut.

Mengetahui hal tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan sabda di atas, “Sungguh, Allah subhanahu wa ta’ala tidaklah mengutus seorang nabi atau seorang khalifah, kecuali mempunyai dua macam bithanah (orang kepercayaan). Bithanah yang mengarahkan kepada kebaikan dan mencegahnya dari kemungkaran atau bithanah yang selalu mengarahkan kepada keburukan. Siapa saja yang terlindungi dari bithanah yang buruk, sungguh ia telah terjaga.”

 

Makna Hadits

An-Nawawi rahimahullah dalam karya beliau yang berjudul Riyadhus Shalihin, menuliskan sebuah judul untuk hadits ini, “Bab tentang anjuran bagi penguasa tertinggi, qadhi, atau jajaran pemerintahan untuk mengangkat penasihat yang baik, serta berhati-hati menerima masukan dari para pembisik yang buruk.”

Dalam keterangannya, Ibnu Utsaimin (Syarah Riyadhus Shalihin) menyatakan, “Hal ini merupakan fakta yang nyata. Anda menyaksikan seorang pemimpin, kepribadian aslinya mulia dan mempunyai keinginan yang baik. Namun, Allah subhanahu wa ta’ala mengujinya dengan penasihat-penasihat yang buruk—wal ‘iyadzu billah. Mereka menghalang-halanginya dari keinginan yang baik, dan justru membujuknya untuk melakukan perbuatan buruk.”

Sebaliknya juga, masih keterangan dari Ibnu Utsaimin, “Anda bisa menyaksikan seorang pemimpin yang wataknya kurang baik, tetapi di sekelilingnya berdiri para penasihat yang baik. Mereka mengarahkan kepada kebaikan. Mereka menyarankan dia untuk melakukan program yang melahirkan kecintaan antara dirinya dan rakyat. Akhirnya, dirinya dan keadaannya akan lurus dan baik.”

Kemudian asy-Syaikh Ibnu Utsaimin menasihati kita semua bahwa hal ini tidak hanya berlaku di kalangan penguasa atau di jajaran pemerintahan. Beliau mengatakan, “Oleh sebab itu, silakan introspeksi dirimu sendiri! Jika Anda melihat sahabat-sahabat dekatmu selalu mengarahkan kepada kebaikan, mendukung Anda dalam kebaikan, bila Anda lupa mereka segera mengingatkan, dan kalau Anda tidak mengetahui mereka langsung berbagi ilmu; pegang erat-erat ikat pinggang mereka dan gigitlah dengan gigi geraham!”

Setelah itu, asy-Syaikh Ibnu Utsaimin mengingatkan kita tentang pengaruh negatif dari teman-teman yang buruk. Kita harus menjauh dan menghindar dari mereka karena sedikit banyak pengaruh buruk mereka akan terlihat pada cara berpikir, tingkah laku, dan pola bicara kita.

 

Apakah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun Demikian?

Barangkali hadits di atas sempat dipertanyakan, bagaimana mungkin seorang nabi ada kemungkinan untuk mempunyai bithanah yang buruk?

Al-Munawi rahimahullah dalam Faidhul Qadir menjelaskan bahwa tidak mungkin seorang nabi mengikuti masukan orang yang jahat atau melaksanakan sarannya.

Mengapa? Sebab, nabi adalah hamba yang maksum; terjaga dari dosa.

Buktinya? Bukankah di akhir hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan?

Beliau bersabda, “Siapa saja yang terlindungi dari bithanah yang buruk, sungguh ia telah terjaga.”

Oleh sebab itu, al-Munawi mengingatkan kita bahwa seorang nabi atau seorang khalifah saja mungkin diuji dengan pembisik jahat, apalagi kita sebagai orang biasa. Karena itu, kita harus selalu waspada dan berhati-hati dari pengaruh orang-orang buruk di sekitar kita.

 

Sejarah Kaum Syiah sebagai Bithanah yang Jahat

Memberi akses untuk kaum Syiah dalam berperan di kehidupan bermasyarakat atau bernegara adalah langkah yang tidak boleh diambil. Memberi peluang untuk kaum Syiah sama saja menanam bibit-bibit kehancuran. Kaum Syiah tidak boleh mendapat pintu untuk tampil di hadapan publik. Kaum Syiah mesti ditekan, dilarang, dan diminimalkan.

Kita tidak boleh lupa, pura-pura lupa atau berusaha menutup mata dari sejarah Syiah. Mereka melakukan konsep clandestine di tubuh pemerintahan. Menyusupkan kader-kadernya, menggalang para simpatisan dan mengondisikan hukum perundang-undangan, sudah mereka lakukan sejak zaman dahulu. Tujuannya apalagi kalau bukan untuk menghancurkan Islam.

Sebagai contoh adalah dua tokoh Syiah yang bernama Ibnul Alqami dan at-Thusi (al-Bidayah wan Nihayah). Mereka berdua secara licik masuk menyusup dalam struktur pemerintahan di zaman Kekhalifahan Abbasiyah. Perlahan tapi pasti, mereka menapaki jenjang demi jenjang struktur pemerintahan. Itu semua dilakukan dengan menyembunyikan paham dan ideologi Syiahnya.

Sampai kemudian mereka berdua mencapai kedudukan seorang menteri di masa Khalifah al-Mush’tashim al-Abbasi. Apa yang mereka lakukan?

Mereka mengajukan usulan agar jumlah pasukan Islam dikurangi dengan alasan efisiensi. Terutama pasukan inti yang berada di pusat pemerintahan, di kota Baghdad, pengurangan pasukan terlihat secara besar-besaran. Sampai yang tersisa hanya sekira sepuluh ribu prajurit.

Dalam kesempatan yang sama, kedua menteri yang berideologi Syiah ini bersurat kepada pasukan Tatar untuk menyerang Baghdad. Gambar kota Baghdad dikirimkan, lengkap dengan struktur pertahanan, benteng, dan pos-pos keamanan turut dibocorkan. Titik-titik kelemahan kota Baghdad juga mereka jual kepada pasukan Tatar.

Saat pasukan Tatar benar-benar datang mengepung Baghdad, kedua menteri Syiah ini berusaha meyakinkan kaum muslimin bahwa kedatangan pasukan Tatar tidak untuk berperang. Mereka bertujuan untuk membangun persahabatan, kata kedua menteri Syiah ini.

Mereka berdua juga membujuk Khalifah untuk keluar menemui pasukan Tatar dengan diiringi para penasihat dan orang-orang pentingnya. Sementara itu, kedua menteri beragama Syiah ini meyakinkan pasukan Tatar untuk membunuh Khalifah bersama para pengiringnya. Mereka diminta untuk memerangi penduduk Baghdad dan menguasainya.

Akhirnya, Khalifah dan seluruh pengiringnya pun terbunuh. Bahgdad dikuasai, dihancurkan, dan dijadikan hangus arang. Apa sebenarnya tujuan kedua menteri beragama Syiah ini?

Mereka ingin menggunakan kekuatan Tatar untuk menguasai Baghdad. Harapannya, mereka berdua dianggap berjasa lalu diberi kesempatan untuk memimpin Baghdad. Setelah itu tercapai, mereka bercita-cita untuk membangun Kerajaan Syiah!

Lihat kelicikan dan kejahatan kaum Syiah! Jika diberi peluang, andai diberi angin, mereka akan melakukan tindak pengkhianatan. Demi membangun paham dan kekuasaan Syiah, mereka korbankan nyawa kaum muslimin. Tahukah Anda berapa jumlah korban yang jatuh dalam peristiwa Baghdad? Sekitar dua juta jiwa muslim hilang. Wanita dan anak-anak dalam jumlah besar ditawan dan dijadikan budak.

Hasilnya? Kedua menteri itu pun terbunuh.

Tahukah Anda bahwa kedua menteri di atas, Ibnul Alqami dan ath-Thusi, diagung-agungkan dan dipuja oleh kaum Syiah?

Khomeini dalam tulisannya, al-Hukumah al-Islamiyah (hlm. 133) mengatakan, “Umat merasa sangat rugi dengan kehilangan seorang tokoh agung, yakni Nusharuddin at-Thusi dan al-Alqami serta orang-orang yang semisalnya. Mereka telah memberikan jasa-jasa yang banyak untuk Islam.”

 

Contoh Lain

Pada masa kekhalifahan ar-Rasyid, seorang menteri berpemahaman Syiah yang bernama Ali bin Yaqthin, hanya dalam satu malam memerintahkan untuk membunuh kurang lebih lima ratus orang atas dakwaan menentang keinginannya.

Lima ratus orang tersebut sedang menjalani hukuman penjara. Menteri Ali memerintah pengikutnya untuk meruntuhkan atap penjara sehingga menimpa mereka yang sedang dipenjara dan mengakibatkan kematian.

Apakah bukti-bukti sejarah semacam ini belum cukup?

Lihatlah konflik perang di Suriah dan Yaman dalam beberapa waktu terakhir ini. Suriah misalkan. Dalam kurun waktu dua tahun (1432—1434 H), korban meninggal mencapai lebih dari seratus ribu orang. Belum lagi yang luka atau cacat.

Itu semua terjadi, salah satu sebabnya adalah karena salah memilih penasihat, keliru dalam mengangkat kawan dekat.

Al-Imam Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berpesan, “Orang-orang dekatmu yang engkau ajak musyawarah, hendaknya mereka yang bertakwa, dipercaya, dan mempunyai rasa takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala.”

Mengenai hadits di atas, al-Imam Ibnu Baththal (Syarah Shahih al-Bukhari 8/272) mengatakan, “Mestinya, setiap orang yang mendengar hadits ini untuk bersikap tunduk. Hendaknya dia memohon kepada Allah subhanahu wa ta’ala agar selalu dijaga sehingga terhindar dari bithanah (orang dekat) yang buruk.”

 

Kita dan Penguasa

Salah satu kewajiban kita sebagai warga negara adalah selalu mendoakan kebaikan untuk pemerintah. Kita selalu memohon kepada Allah subhanahu wa ta’ala agar pemerintah kita selalu diberi taufik dan hidayah dalam memimpin dan mengelola negeri Indonesia ini. Kita yakin, apabila ratusan juta kaum muslimin di Indonesia ini selalu mendoakan kebaikan untuk pemerintah, pasti Allah subhanahu wa ta’ala akan mengabulkannya.

Sayangnya, ajaran Islam semacam ini tidak ditegakkan. Yang ada malah mencela dan melaknat pemerintah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda di dalam hadits Abu Darda’,

مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يَدْعُو لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ إِلاَّ قَالَ الْمَلَكُ: وَلَكَ بِمِثْلٍ

“Tidaklah seorang hamba muslim mendoakan (kebaikan) untuk saudaranya dengan tanpa sepengetahuannya kecuali malaikat akan mengatakan, ‘Untukmu seperti (yang engkau doakan untuk saudaramu)’.” (HR. Muslim)

Salah seorang ulama besar Ahlus Sunnah yang bernama Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah pernah menyatakan, “Seandainya aku memiliki doa (yang dikabulkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala), tidaklah aku tujukan doa itu kecuali untuk kebaikan penguasa.”

Bahkan, suatu saat beliau mengemukakan sebuah keinginan mulia, “Seandainya aku memperoleh bagian harta dari Baitul Mal, akan aku ambil lalu aku manfaatkan untuk membuat jamuan makan. Kemudian, aku akan mengundang orang-orang yang saleh dan terpandang.

Setelah selesai, aku akan mengajak mereka, ‘Marilah kita berdoa kepada Rabb kita, agar Dia melimpahkan taufik untuk pemimpin kita dan seluruh (pihak) yang mengatur urusan-urusan kita’.”

Demikianlah bimbingan indah Islam dalam menyikapi pemerintahnya. Semua ini diajarkan oleh Islam, tentu untuk meciptakan stabilitas keamanan dan demi ketertiban hidup bermasyarakat.

Mudah-mudahan Allah subhanahu wa ta’ala melimpahkan taufik dan hidayah untuk para pemimpin kita di dalam pemerintahan agar selalu bersikap adil dan mengedepankan keadilan.

Marilah selalu berdoa agar pemerintah kita didekatkan dengan para penasihat yang baik, para penasihat yang selalu mengarahkan pemerintah dalam kebaikan dan ketakwaan. Marilah selalu berdoa agar pemerintah kita dijauhkan dari para pembisik yang jahat, para pembisik yang berusaha mencari kesempatan untuk menghancurkan Islam dan kaum muslimin. Allahumma amin.

 Ditulis oleh al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar bin Rifai

Mewaspadai Komunisme dan Bisikan Kaum Komunis

Al-Imam al-Bukhari rahimahullah mengatakan,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَأْتِي الشَّيْطَانُ أَحَدَكُمْ فَيَقُولُ: مَنْ خَلَقَ كَذَا؟ مَنْ خَلَقَ كَذَا؟ حَتَّى يَقُولَ: مَنْ خَلَقَ رَبَّكَ؟ فَإِذَا بَلَغَهُ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللهِ وَلْيَنْتَهِ

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setan akan mendatangi salah seorang di antara kalian dan berkata, ‘Siapa yang menciptakan ini? Siapa yang menciptakan itu?’ Hingga ia bertanya, ‘Siapa yang menciptakan Rabbmu?’

Apabila setan telah sampai pada pertanyaan ini, mohonlah perlindungan kepada Allah, dan berhentilah.”

 Takhrij Hadits

Hadits ini muttafaqun ’alaihi. Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahihnya (6/336), Bab “Shifatu Iblis wa Junudihi” (Sifat Iblis dan bala tentaranya) melalui jalan Yahya bin Bukair, dari al-Laits, dari ‘Uqail, dari Ibnu Syihab, dari Urwah bin Zubair, dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu.

Dengan lafadz ini pula al-Imam Muslim meriwayatkan dari Zuhair bin Harb dan ‘Abd bin Humaid; juga melalui jalan Ibnu Syihab, dari Urwah, dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu.

Al-Imam Muslim meriwayatkan pula dengan lafadz,

لَا يَزَالُ النَّاسُ يَتَسَاءَلُونَ حَتَّى يُقَالَ: هَذَا خَلَقَ اللهُ الْخَلْقَ، فَمَنْ خَلَقَ اللهَ؟ فَمَنْ وَجَدَ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا فَلْيَقُلْ: آمَنْتُ بِاللهِ وَرُسُلِهِ

Senantiasa manusia saling bertanya, hingga dikatakan, “Allah-lah yang menciptakan semua makhluk. Siapa yang menciptakan Allah?” Barang siapa mendapatkan sesuatu dari pertanyaan ini, ucapkanlah, “Aku beriman kepada Allah dan para rasul-Nya.”

Hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu ini diriwayatkan pula oleh Abu Dawud (no. 4732) dalam as-Sunan dan Ibnu Sunni (no. 621) dengan lafadz,

يُوْشِكُ النَّاسُ يَتَسَاءَلُوْنَ بَيْنَهُمْ حَتىَّ يَقُوْلَ قَائِلُهُم: هَذَا اللهُ خَلَقَ الْخَلْقَ، فَمَنْ خَلَقَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ؟ فَإِذَا قَالُوْا ذَلِكَ فَقُوْلُوا: ٱللَّهُ ٱلصَّمَدُ ٢  لَمۡ يَلِدۡ وَلَمۡ يُولَدۡ ٣  وَلَمۡ يَكُن لَّهُۥ كُفُوًا أَحَدُۢ ٤

ثُمَّ لْيَتْفُلْ أَحَدُكُمْ عَنْ يَسَارِهِ ثَلاَثًا وَلْيَسْتَعِذْ مِنَ الشَّيْطَانِ

Hampir-hampir manusia saling bertanya di antara mereka hingga ada yang berkata, “Ini Allah menciptakan mahluk, lalu siapakah yang menciptakan Allah?”

Katakanlah, “Allah Maha Esa, Allah adalah Dzat yang bergantung segala sesuatu pada-Nya. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan. Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.”

Kemudian hendaklah dia mengusir (isyarat) meludah ke kiri tiga kali dan memohon perlindungan dari setan.

Hadits serupa diriwayatkan oleh al-Bukhari dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu dalam kitab “al-I’tisham” (13/264). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَنْ يَبْرَحَ النَّاسُ يَتَسَاءَلُونَ حَتَّى يَقُولُوا: هَذَا اللهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ، فَمَنْ خَلَقَ اللهَ؟

Tidak henti-hentinya manusia saling bertanya, hingga mereka mengatakan, “Allah, Dialah pencipta segala sesuatu, lalu siapa yang menciptakan Allah?”

 Permusuhan Iblis dan Bala Tentaranya

Setan-setan dari kalangan manusia dan jin bahu-membahu berupaya menyimpangkan hamba dari jalan Allah. Orang-orang kafir dibisiki agar semakin kokoh dalam kekufuran dan penentangan.

Orang-orang beriman pun tidak lepas dari bisikan-bisikan setan untuk mengeluarkan mereka dari cahaya atau menjadikannya ragu terhadap kebenaran. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَكَذَٰلِكَ جَعَلۡنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوّٗا شَيَٰطِينَ ٱلۡإِنسِ وَٱلۡجِنِّ يُوحِي بَعۡضُهُمۡ إِلَىٰ بَعۡضٖ زُخۡرُفَ ٱلۡقَوۡلِ غُرُورٗاۚ وَلَوۡ شَآءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُۖ فَذَرۡهُمۡ وَمَا يَفۡتَرُونَ ١١٢ وَلِتَصۡغَىٰٓ إِلَيۡهِ أَفۡ‍ِٔدَةُ ٱلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ بِٱلۡأٓخِرَةِ وَلِيَرۡضَوۡهُ وَلِيَقۡتَرِفُواْ مَا هُم مُّقۡتَرِفُونَ ١١٣

“Demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jika Rabbmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.

Dan (juga) agar hati kecil orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat cenderung kepada bisikan itu, mereka merasa senang kepadanya dan supaya mereka mengerjakan apa yang mereka (setan) kerjakan.” (al-An’am: 112—113)

Dalam ayat yang lain, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَإِنَّ ٱلشَّيَٰطِينَ لَيُوحُونَ إِلَىٰٓ أَوۡلِيَآئِهِمۡ لِيُجَٰدِلُوكُمۡۖ وَإِنۡ أَطَعۡتُمُوهُمۡ إِنَّكُمۡ لَمُشۡرِكُونَ ١٢١

“Sesungguhnya setan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantahmu; dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik.” (al-An’am: 121)

Hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menyebutkan beragam upaya setan untuk menyesatkan manusia. Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata,

خَطَّ لَنَا رَسُولُ اللهِ يَوْمًا خَطًّا ثُمَّ قَالَ: هَذِهِ سَبِيلُ اللهِ. ثُمَّ خَطَّ خُطُوطًا عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ ثُمَّ قَالَ: هَذِهِ سُبُلٌ، عَلَى كُلِّ سَبِيلٍ مِنْهَا شَيْطَانٌ يَدْعُو إِلَيْهِ. ثُمَّ تَلاَ   وَأَنَّ هَٰذَا صِرَٰطِي مُسۡتَقِيمٗا فَٱتَّبِعُوهُۖ وَلَا تَتَّبِعُواْ ٱلسُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمۡ عَن سَبِيلِهِۦۚ

Suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggoreskan sebuah garis untuk kami lalu bersabda, “Ini adalah jalan Allah.”

Kemudian beliau membuat garis-garis di sebelah kanan dan kirinya dan bersabda, “Garis-garis ini adalah jalan-jalan, pada setiap jalan ada setan yang mengajak kepadanya.”

Kemudian beliau membacakan firman Allah subhanahu wa ta’ala, “Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalanku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya.” (al-An’am: 153) (HR. ad-Darimi dalam as-Sunan no. 208, cet. Darul Ma’rifah)

Di antara dalil yang menunjukkan bahwa setan terus membisikkan kebatilan adalah hadits Abu Hurairah yang ada di hadapan kita.

Dalam hadits ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa setan akan melemparkan berbagai kerancuan kepada manusia melalui bisikan-bisikan setan dari kalangan jin atau melalui lisan-lisan manusia.

Dalam hadits ini, Rasulullah mengabarkan bahwa setan mendatangi manusia dan bertanya kepadanya, “Siapa yang menciptakan langit? Siapa yang menciptakan bumi? Siapa yang menciptakan ini? Siapa yang menciptakan itu?”

Semua pertanyaan dijawab, “Allah yang menciptakannya.”

Kemudian setan menggiring manusia untuk bertanya, “Siapa yang menciptakan Allah?”

Apa yang disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah salah satu contoh bisikan setan. Pertanyaan-pertanyaan serupa dan syubhat-syubhat batil terus bermunculan.

Manusia pun terbagi menjadi dua. Di antara mereka ada yang menghadapinya dengan keimanan sehingga ia selamat. Akan tetapi, banyak manusia larut dan terbawa arus kerancuan setan sehingga terjerumus dalam kebinasaan.

 

Komunisme, Buah Bisikan Setan

Berbagai kelompok sesat, seperti Khawarij, Rafidhah, Qadariyah, Jabriyah, Mu’tazilah, Murji’ah, demikian pula ideologi batil, semacam liberalisme, komunisme, semua itu sesungguhnya hasil syubhat-syubhat setan yang dia hembuskan.

Sungguh, berbagai syubhat dan pertanyaan kekufuran yang mengarah kepada ideologi batil, seperti komunisme dan ateisme, akan terus bermunculan, baik dari setan manusia maupun setan jin. Persis seperti yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kabarkan dalam hadits di atas.

Dalam al-Qur’an Allah juga menyebutkan beberapa ucapan orang-orang yang kufur, di antaranya,

وَضَرَبَ لَنَا مَثَلٗا وَنَسِيَ خَلۡقَهُۥۖ قَالَ مَن يُحۡيِ ٱلۡعِظَٰمَ وَهِيَ رَمِيمٞ ٧٨

Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadiannya; ia berkata, “Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh?” (Yasin: 78)

Apa yang Allah subhanahu wa ta’ala sebutkan dalam surat Yasin adalah contoh pertanyaan-pertanyaan aneh yang dibisikkan oleh setan untuk mengingkari hari kebangkitan; salah satu keyakinan kaum ateis yang sangat kental dengan paham komunisme.

Pertanyaan pengingkaran mereka, dijawab oleh Allah dengan firman-Nya,

قُلۡ يُحۡيِيهَا ٱلَّذِيٓ أَنشَأَهَآ أَوَّلَ مَرَّةٖۖ وَهُوَ بِكُلِّ خَلۡقٍ عَلِيمٌ ٧٩

Katakanlah, “Ia akan dihidupkan oleh Dzat yang menciptakannya kali yang pertama. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk.” (Yasin: 79)

Telah ada dan akan terus ada manusia yang mengingkari hari kebangkitan. Seraya membawa tulang yang telah lapuk dan remuk, dengan nada pengingkaran, dia bertanya, “Siapa yang dapat menghidupkan tulang belulang yang sudah hancur seperti ini?”

Sungguh aneh pertanyaan ini! Tidakkah kalian sedikit menggunakan akal untuk bertanya tentang penciptaan diri kalian?

Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan manusia dari tanah, lalu menciptakan kalian dari setetes air mani. Apakah Dzat yang telah menciptakan manusia tidak mampu membangkitkan kembali setelah kematiannya?

Tentu hal tersebut sangat mudah bagi Allah.

أَلَمۡ يَكُ نُطۡفَةٗ مِّن مَّنِيّٖ يُمۡنَىٰ ٣٧ ثُمَّ كَانَ عَلَقَةٗ فَخَلَقَ فَسَوَّىٰ ٣٨ فَجَعَلَ مِنۡهُ ٱلزَّوۡجَيۡنِ ٱلذَّكَرَ وَٱلۡأُنثَىٰٓ ٣٩  أَلَيۡسَ ذَٰلِكَ بِقَٰدِرٍ عَلَىٰٓ أَن يُحۡـِۧيَ ٱلۡمَوۡتَىٰ ٤٠

“Bukankah dia dahulu berupa setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim), kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya, dan menyempurnakannya, lalu Allah menjadikan darinya sepasang: laki laki dan perempuan? Bukankah (Allah yang melakukan) demikian berkuasa (pula) menghidupkan orang mati?” (al-Qiyamah: 37—40)

Pertanyaan bisikan setan ini,

  • Siapa yang menciptakan Allah?
  • Apa mungkin tulang yang telah menjadi debu akan dibangkitkan kembali?

apabila diikuti, tidak dihadapi dengan keimanan, bisa jadi membawa manusia kepada kesesatan.

Pertanyaan tersebut mengantarkan mereka menuju keyakinan antituhan, ateisme, komunisme, dan kesesatan lainnya.

 

Bimbingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Menghadapi Bisikan Setan

Sebagai agama yang sempurna, Islam memberikan jalan keluar ketika bisikan setan datang. Dalam hadits yang mulia di atas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membimbing umat agar menempuh tiga hal untuk menolak bisikan-bisikan setan dari kalangan jin atau manusia.

  1. Ta’awudz (memohon perlindungan) kepada Allah subhanahu wa ta’ala dari setan.

Penyebab munculnya bisikan dan syubhat-syubhat batil adalah setan, maka dengan ta’awudz, Allah subhanahu wa ta’ala akan menjauhkan setan dari seorang hamba.

  1. Segera memutus bisikan.

Dengan menghentikan bisikan yang dihembuskan oleh setan jin dalam kalbu atau oleh lisan setan manusia, insya Allah akal berhenti melayani pertanyaan-pertanyaan berikutnya yang menyesatkan. Sebab, Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan akal manusia terbatas sehingga mustahil bisa menjangkau segala sesuatu.

Dua hal ini ditunjukkan oleh sabda beliau,

فَإِذَا بَلَغَهُ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللهِ وَلْيَنْتَهِ

“Jika setan telah sampai pada pertanyaan ini, mohonlah perlindungan kepada Allah, dan berhentilah.”

  1. Iman

Hal ketiga yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menolak bisikanbisikan setan adalah iman. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَمَنْ وَجَدَ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا فَلْيَقُلْ: آمَنْتُ بِاللهِ وَرُسُلِهِ

Barang siapa mendapatkan sesuatu dari pertanyaan ini, ucapkanlah, “Aku beriman kepada Allah dan para rasul-Nya.”

Ketika datang bisikan apapun dari setan, meniupkan kerancuan akidah, tangkal segera dengan keimanan. Sebagai contoh, ketika setan membisikkan bahwa manusia yang telah menjadi tanah, mustahil dibangkitkan. Segeralah hadapi dengan keimanan.

Katakanlah, “Saya beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Saya beriman kepada al-Qur’an dan hadits. Saya beriman kepada kabar dari Allah dan Rasul-Nya bahwa manusia akan dihidupkan kembali oleh Allah untuk mempertanggungjawabkan amalannya.”

Asy-Syaikh al-Albani rahimahullah berkata, “Hadits-hadits yang sahih ini menunjukkan bahwa orang yang digoda oleh setan dan bisikannya, “Siapakah yang menciptakan Allah?” harus menghindari perdebatan. Ia harus menjawabnya dengan mengatakan sebagaimana yang disebutkan oleh hadits-hadits tersebut. Dia katakan,

آمَنْتُ بِاللهِ وَرُسُلِهِ، اللهُ أَحَدٌ اللهُ الصَّمَدُ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلًدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

‘Saya beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Allah Maha Esa. Allah tempat meminta. Tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.’

Setelah itu, hendaklah ia meludah ke kiri tiga kali, dan memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan, serta menepis keragu-raguan itu.

Saya berpendapat, orang yang melakukannya semata-mata karena taat kepada Allah dan Rasul-Nya serta ikhlas, keraguan dan godaan itu akan hilang darinya. Setan pun menjauh darinya. Ingat sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Sesungguhnya godaan itu akan hilang darinya.’

Pelajaran dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ini jelas lebih bermanfaat dan lebih dapat mengusir keraguan daripada terlibat dalam perdebatan logika yang sengit seputar persoalan ini.

Sesungguhnya perdebatan dalam pesoalan ini amatlah sedikit gunanya, bahkan boleh jadi tidak ada gunanya sama sekali. Namun sayang, kebanyakan manusia tidak menghiraukan pelajaran yang amat bagus ini.

Oleh karena itu, ingatlah wahai kaum muslimin, kenalilah sunnah Nabimu dan amalkanlah. Sesungguhnya dalam sunnah itu ada obat dan kemuliaan bagimu.” (ash-Shahihah)

 

Kekhawatiran Seorang Muslim Terhadap Bisikan Setan

Bisikan-bisikan setan dihembuskan kepada siapapun—termasuk orang yang beriman—kecuali yang diselamatkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Ketika mendapat bisikan tersebut, orang yang beriman akan merasa berat dan berusaha menolaknya.

Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata,

جَاءَ نَاسٌ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَأَلُوهُ: إِنَّا نَجِدُ فِي أَنْفُسِنَا مَا يَتَعَاظَمُ أَحَدُنَا أَنْ يَتَكَلَّمَ بِهِ. قَالَ: وَقَدْ وَجَدْتُمُوهُ؟ قَالُوا: نَعَمْ. قَالَ: ذَلِكَ صَرِيحُ الْإِيمَانِ

Beberapa sahabat Rasul datang dan bertanya kepada beliau, “Sungguh, kami mendapatkan dalam diri kami (bisikan setan –pen.) yang kami merasa berat untuk mengucapkannya.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apakah kalian telah mendapatkan bisikan tersebut?”

Para sahabat menjawab, “Ya.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Itulah tanda keimanan yang jelas.” ( HR. Muslim)

Dalam syarah hadits ini, an-Nawawi rahimahullah berkata, “Rasa berat hati kalian untuk mengucapkan bisikan tersebut menunjukkan keimanan kalian yang jelas. Sebab, perasaan berat dan rasa takut mengucapkannya, apalagi meyakini (bisikan setan tersebut), tidaklah muncul kecuali pada orang yang menyempurnakan imannya dan selamat dari kerancuan serta keraguan.”

 

Komunisme, Jalan Setan

Komunisme dan seluruh jenis kesesatan pasti akan runtuh di hadapan al-Kitab dan as-Sunnah. Kebatilan tidak akan mampu tegak di hadapan al-haq. Akan tetapi, pergulatan dan peperangan antara al-haq dan batil tidak akan berakhir hingga dunia berakhir.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, komunisme adalah paham atau ideologi (dalam bidang politik) yang menganut ajaran Karl Marx dan Fredrich Engels, yang hendak menghapuskan hak milik perseorangan dan menggantikannya dengan hak milik bersama yang dikontrol oleh negara.

Dalam masalah kepemilikan, paham komunis menekankan kepemilikan bersama atas alat-alat produksi, seperti tanah, tenaga kerja, dan modal. Menurut paham ini, masyarakat semua sama, tidak ada kelas dan strata. Semua orang sama, segala sesuatu adalah milik bersama. Komunisme tidak mengakui kepemilikan individu.

Dalam masalah kepemilikan ini saja, paham komunis sangat bertentangan dengan akal, fitrah, dan syariat Allah subhanahu wa ta’ala—syariat yang menjamin terwujudnya keadilan dan kemakmuran.

Islam mengakui kepemilikan pribadi. Manusia boleh memiliki tanah, alatalat produksi, pabrik, mesin produksi, perkebunan, peternakan, dan semisalnya. Meski demikian, Islam mengatur agar manusia menggunakan hartanya dalam hal yang bermanfaat dan tidak menimbulkan madarat.

Di sisi lain, Islam mewajibkan umatnya untuk mengeluarkan sebagian kecil dari hartanya, dalam bentuk zakat. Zakat ialah hak fakir miskin. Inilah sepintas konsep kepemilikan dalam Islam, sangat bertolak belakang dengan konsep kepemilikan menurut paham komunisme.

Dalam kehidupan beragama, orang-orang komunis tidak memedulikan

agama. Vladimir Lenin dalam tulisannya  “Sosialisme dan Agama” mengatakan bahwa agama harus dinyatakan sebagai urusan pribadi. Lenin juga menginginkan agar penyebutan agama seseorang dalam dokumen dibatasi.

Menurut ideologi komunisme, agama dianggap berdampak negatif bagi perkembangan manusia. Karena itu, negara-negara sosialis yang menerapkan Marxisme-Leninisme bersikap atheistik dan antiagama. Inilah yang tampak di negara-negara sosialis komunis, seperti Uni Soviet dan Republik Rakyat Tiongkok.

Dalam hal agama, mayoritas kaum komunis adalah ateis, seperti kaum Dahriyun yang Allah sebutkan dalam al-Qur’an. Mereka menganggap bahwa hidup dan mati terjadi karena perputaran masa semata. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَقَالُواْ مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا ٱلدُّنۡيَا نَمُوتُ وَنَحۡيَا وَمَا يُهۡلِكُنَآ إِلَّا ٱلدَّهۡرُۚ وَمَا لَهُم بِذَٰلِكَ مِنۡ عِلۡمٍۖ إِنۡ هُمۡ إِلَّا يَظُنُّونَ ٢٤

Mereka berkata, “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa,” dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja. (al-Jatsiyah: 24 )

Mereka tidak memercayai adanya kebangkitan setelah kematian, tidak pula meyakini hari kiamat.

وَإِذَا تُتۡلَىٰ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتُنَا بَيِّنَٰتٖ مَّا كَانَ حُجَّتَهُمۡ إِلَّآ أَن قَالُواْ ٱئۡتُواْ بِ‍َٔابَآئِنَآ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ ٢٥ قُلِ ٱللَّهُ يُحۡيِيكُمۡ ثُمَّ يُمِيتُكُمۡ ثُمَّ يَجۡمَعُكُمۡ إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلۡقِيَٰمَةِ لَا رَيۡبَ فِيهِ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ ٢٦

Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang jelas, tidak ada bantahan mereka selain dari mengatakan, “Datangkanlah nenek moyang kami jika kamu adalah orang-orang yang benar.”

Katakanlah, “Allah-lah yang menghidupkan kamu kemudian mematikan kamu, setelah itu mengumpulkan kamu pada hari kiamat yang tidak ada keraguan padanya. Akan tetapi, kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (al-Jatsiyah: 25—26)

 

Mewaspadai Komunisme di Indonesia

Di bumi Indonesia, catatan sejarah masih tersimpan rapi bagaimana kaum komunis berupaya menancapkan kukunya di negeri ini.

Mereka berupaya masuk ke seluruh lini kehidupan dan berupaya menjadikan bumi nyiur melambai sebagai negeri komunis, seperti Uni Soviet kala itu. Berbagai upaya mereka lakukan; kekerasan, kudeta, dan pembantaian manusia, terjadi di negeri ini. Tidak berbeda dengan kekejaman tokoh-tokoh komunisme dunia, semacam Vladimir Lenin, Joseph Stalin, Mao Zedong, dan lainnya.

Alam demokrasi Indonesia ternyata cukup sejuk dan subur bagi berbagai kesesatan—termasuk komunisme—untuk terus hidup dan berkembang. Seruanseruan kepada ideologi komunis, terbit dan menyebarnya buku serta tulisan berideologi komunis, bahkan film-film yang sangat kental berpaham komunis juga diproduksi dan dipertontonkan.

Semua ini adalah indikasi tentang gerakan dan perkembangan paham komunisme di Indonesia.

Kondisi ini menuntut kaum muslimin, terlebih Ahlus Sunnah wal Jamaah, segera berupaya membendungnya. Semoga Allah menyelamatkan negeri ini dari segala kejelekan. Amin.

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc.

Mewaspadai Upaya Merusak Islam

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dan Zaid bin Khalid al-Juhani radhiallahu ‘anhu, mereka berkata,

إِنَّ رَجُلًا مِنْ الْأَعْرَابِ أَتَى رَسُولَ اللهِ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَنْشُدُكَ اللهَ إِلَّا قَضَيْتَ لِي بِكِتَابِ اللهِ. فَقَالَ الْخَصْمُ الْآخَرُ وَهُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ: نَعَمْ فَاقْضِ بَيْنَنَا بِكِتَابِ اللهِ وَأْذَنْ لِي. فَقَالَ رَسُولُ اللهِ: قُلْ. قَالَ: إِنَّ ابْنِي كَانَ عَسِيفًا عَلَى هَذَا فَزَنَى بِامْرَأَتِهِ وَإِنِّي أُخْبِرْتُ أَنَّ عَلَى ابْنِي الرَّجْمَ فَافْتَدَيْتُ مِنْهُ بِمِائَةِ شَاةٍ وَوَلِيدَةٍ، فَسَأَلْتُ أَهْلَ الْعِلْمِ فَأَخْبَرُونِي أَنَّمَا عَلَى ابْنِي جَلْدُ مِائَةٍ وَتَغْرِيبُ عَامٍ وَأَنَّ عَلَى امْرَأَةِ هَذَا الرَّجْمَ. فَقَالَ رَسُولُ اللهِ :وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ  لَأَقْضِيَنَّ بَيْنَكُمَا بِكِتَابِ اللهِ، الْوَلِيدَةُ وَالْغَنَمُ رَدٌّ وَعَلَى ابْنِكَ جَلْدُ مِائَةٍ وَتَغْرِيبُ عَامٍ، وَاغْدُ يَا أُنَيْسُ إِلَى امْرَأَةِ هَذَا، فَإِنِ اعْتَرَفَتْ فَارْجُمْهَا. قَالَ: فَغَدَا عَلَيْهَا فَاعْتَرَفَتْ فَأَمَرَ بِهَا رَسُولُ فَرُجِمَتْ

Seorang Arab badui datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Wahai Rasulullah, aku minta kepadamu dengan nama Allah untuk memutuskan perkaraku (dengan saudaraku ini –pen.) sesuai dengan Kitab Allah.”

Lawannya, yang lebih pandai, berkata, “Ya, putuskanlah perkara kami dengan Kitab Allah, dan izinkanlah aku bicara!”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bicaralah!”

Dia pun bertutur, “Sesungguhnya anakku bekerja sebagai pekerja upahan pada orang ini, lalu berzina dengan istrinya. Kemudian aku mendapatkan kabar bahwa anakku harus dirajam. Aku pun menebus anakku dengan seratus ekor kambing dan seorang budak perempuan. Kemudian aku menanyakan masalah ini kepada orang-orang yang berilmu. Ternyata mereka menjawab bahwa hukuman untuk anakku sebenarnya adalah dera seratus kali dan diasingkan selama setahun, sedangkan istri orang inilah yang seharusnya dirajam.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Demi Dzat Yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh aku akan memutuskan perkara kalian dengan Kitab Allah! Budak perempuan dan kambing harus dikembalikan, dan anakmu harus didera seratus kali serta diasingkan selama setahun. Sekarang temui istri orang ini, wahai Unais. Jika ia mengaku, rajamlah ia.”

Unais pergi menemui wanita tersebut. Ternyata ia mengakui perbuatannya. Wanita itu pun dirajam.

 Takhrij Hadits

Hadits ini sahih, muttafaqun ‘alaihi. Al-Bukhari rahimahullah meriwayatkan hadits ini di beberapa tempat dalam Shahihnya melalui jalan guru-guru beliau; Qutaibah bin Sa’id, Ismail, Ali bin Abdillah, Abdullah bin Yusuf, dan Muhammad bin Yusuf. Semua melalui jalan az-Zuhri dari Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah bin Mas’ud dari Abu Hurairah dan Zaid bin Khalid al-Juhani.

Al-Imam Muslim rahimahullah mengeluarkan hadits ini dalam Shahih-nya melalui jalan Qutaibah bin Sa’id dan Muhammad bin Rumh, keduanya dari al-Laits bin Sa’d dari Ibnu Syihab dari Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah bin Mas’ud.

Hadits ini diriwayatkan pula oleh Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasai, dan Ibnu Majah.

 Makna Hadits

Hadits di atas menjelaskan salah satu pokok agung dalam agama ini, yaitu kewajiban beramal sesuai dengan bimbingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dalam berakidah, umat wajib berkeyakinan seperti keyakinan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam beribadah, manusia juga wajib beribadah sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beribadah. Termasuk dalam seorang membuat perdamaian shulh dengan saudaranya pun tidak boleh menyelisihi al-Kitab dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Perhatikan sabda ar-Rasul dalam kisah ini, “Budak perempuan dan kambing dikembalikan padamu.” Sabda ini adalah contoh bahwa shulh (perdamaian) yang dibangun di atas kebatilan dan di atas penyelisihan terhadap al-Kitab dan as-Sunnah, maka perdamaian tersebut batal, tidak berlaku, dan harus disesuaikan dengan syariat. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar seratus kambing dan seorang budak yang telah diserahkan sebagai bentuk perdamaian dikembalikan.

Kisah ini, mengingatkan kita kepada sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Ibunda kaum mukminin, Ummu Abdillah ‘Aisyah binti Abu Bakr ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barang siapa mengada-adakan sesuatu (amalan) dalam urusan (agama) kami yang bukan dari kami, (amalan) itu tertolak.( HR. al-Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat Muslim,

مَنْ عَمِلَ عَمَ لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barang siapa melakukan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka itu tertolak.

Hadits ini menunjukkan kewajiban kita untuk gigih meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Selain itu, hadits ini juga mengingatkan kita agar berupaya sekuat tenaga menjaga syariat dari segala kebid’ahan dan bentuk penyelisihan.

 Menjaga Kemurnian Islam

Di antara pelajaran penting dari hadits Abu Hurairah dan Zaid bin Khalid al-Juhani, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sosok mulia yang setiap kali melihat kemungkaran, beliau segera meluruskan dan mengembalikan manusia kepada sunnah beliau dengan penuh hikmah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah membiarkan manusia tersesat. Segala penyimpangan segera diluruskan, dalam hal akidah, ibadah, muamalah, atau penyimpangan lain.

Dalam hadits ini beliau meluruskan shulh (perdamaian) yang dibangun di atas kezaliman dan penyelisihan terhadap syariat Allah subhanahu wa ta’ala.

Sangat banyak contoh semangat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjaga syariat dari penyimpangan. Diriwayatkan bahwa ketika melihat seseorang menjadikan gelang sebagai sebab datangnya manfaat dan tertolaknya mudarat, beliau segera mengingkari kesyirikan tersebut. Dari ‘Imran bin Hushain radhiallahu ‘anhu,

أَنَّ النَّبِيَّ رَأَى رَجُلًا فِي يَدِهِ حِلْقَةً مِنْ صُفْرٍ، فَقَالَ: مَا هَذِهِ؟ قَالَ: مِنَ الْوَاهِنَةِ. فَقَالَ:انْزِعْهَا، فَإِنَّهَا لاَ تُزِيدُكَ إِ وَهْنًا، فَإِنَّكَ لَوْ مُتَّ وَهِيَ عَلَيْكَ، مَا أَفْلَحْتَ أَبَدًا

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat seorang pria memakai gelang dari tembaga di tangannya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Apa ini?”

Pria tersebut menjawab, “(Aku memakainya) karena (tertimpa) penyakit wahinah.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Lepaskanlah! Sesungguhnya (jimat) itu tidak akan menambahkanmu selain penyakit. Jika engkau mati dan jimat itu masih berada pada dirimu, engkau tidak akan bahagia selamanya!”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak hanya mengingkari kemungkaran yang sedang atau telah terjadi. Kemungkaran yang masih berbentuk keinginan juga beliau ingkari, sebagaimana yang dikisahkan Abu Umamah radhiallahu ‘anhu,

إِنَّ فَتًى شَابًّا أَتَى النَّبِيَّ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، ائْذَنْ لِي بِالزِّنَا فَأَقْبَلَ الْقَوْمُ عَلَيْهِ فَزَجَرُوهُ. قَالُوا: مَهْ مَهْ. فَقَالَ: ادْنُهْ. فَدَنَا مِنْهُ قَرِيبًا، قَالَ: فَجَلَسَ. قَالَ: أَتُحِبُّهُ لِأُمِّكَ؟ قَالَ: لَا وَاللهِ، جَعَلَنِيَ اللهُ فِدَاءَكَ. قَالَ: وَلَا النَّاسُ يُحِبُّونَهُ لِأُمَّهَاتِهِمْ. قَالَ: أَفَتُحِبُّهُ لِابْنَتِكَ؟ قَالَ: لَا وَاللهِ، يَا رَسُولَ اللهِ، جَعَلَنِيَ اللهُ فِدَاءَكَ. قَالَ: وَلَا النَّاسُ يُحِبُّونَهُ لِبَنَاتِهِمْ. قَالَ: أَفَتُحِبُّهُ لِأُخْتِكَ؟ قَالَ: لَا وَاللهِ جَعَلَنِيَ اللهُ فِدَاءَكَ. قَالَ: وَلَا النَّاسُ يُحِبُّونَهُ لِأَخَوَاتِهِمْ؟ قَالَ: أَفَتُحِبُّهُ لِعَمَّتِكَ؟ قَالَ: لَا وَاللهِ جَعَلَنِيَ اللهُ فِدَاءَكَ. قَالَ: وَلَا النَّاسُ يُحِبُّونَهُ لِعَمَّاتِهِمْ. قَالَ: أَفَتُحِبُّهُ لِخَالَتِكَ؟ قَالَ: لَا وَاللهِ جَعَلَنِيَ اللهُ فِدَاءَكَ. قَالَ: وَلَا النَّاسُ يُحِبُّونَهُ لِخَالَاتِهِمْ. قَالَ: فَوَضَعَ يَدَهُ عَلَيْهِ وَقَالَ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ ذَنْبَهُ وَطَهِّرْ قَلْبَهُ وَحَصِّنْ فَرْجَهُ. فَلَمْ يَكُنْ بَعْدُ ذَلِكَ الْفَتَى يَلْتَفِتُ إِلَى شَيْءٍ.

Suatu hari seorang pemuda yang mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, izinkan aku berzina!”

Orang-orang pun bergegas mendatanginya dan menghardiknya, “Diam kamu! Diam kamu!”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Mendekatlah.”

Pemuda itu pun mendekat lalu duduk. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Relakah engkau jika ibumu dizinai orang lain?”

“Tidak, demi Allah, wahai Rasul!sahut pemuda itu.

“Begitu pula orang lain, tidak rela kalau ibu mereka dizinai.

Lanjut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Relakah engkau jika putrimu dizinai orang?”

“Tidak, demi Allah, wahai Rasul!” jawab pemuda itu kembali.

“Begitu pula orang lain, tidak rela jika putri mereka dizinai.”

“Relakah engkau jika saudari kandungmu dizinai?”

“Tidak, demi Allah, wahai Rasul!”

“Begitu pula orang lain, tidak rela jika saudara perempuan mereka dizinai.”

“Relakah engkau jika bibimu—dari jalur bapak—dizinai?”

“Tidak, demi Allah, wahai Rasul!”

“Begitu pula orang lain, tidak rela jika bibi mereka dizinai.”

“Relakah engkau jika bibi—dari jalur ibumu—dizinai?”

“Tidak, demi Allah, wahai Rasul!”

“Begitu pula orang lain, tidak rela jika bibi mereka dizinai.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan tangannya di dada pemuda tersebut sembari berkata, “Ya Allah, ampunilah kekhilafannya, sucikanlah hatinya, dan jagalah kemaluannya.”

Demikian sebagian perjalanan hidup Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dihiasi oleh amar ma’ruf nahi munkar hingga beliau wafat dan Allah telah menyempurnakan agama ini.

Mewaspadai Upaya Merusak Islam

Islam telah disempurnakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan akan terus tegak hingga akhir zaman. Akan tetapi, di akhir zaman, fitnah (keburukan dan musibah) sangat besar. Berbagai penyimpangan bermunculan hendak mencerai-beraikan umat.

Keadaan ini sesungguhnya telah dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau juga telah memberikan jalan keluar dari fitnah tersebut, yaitu dengan kembali kepada sunnah Rasul dan al-Khulafa ar-Rasyidin. Beliau bersabda,

“Barang siapa di antara kalian yang panjang umur, niscaya akan melihat banyak perpecahan (penyimpangan agama). Berpeganglah dengan sunnahku dan sunnah al-Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk dan hidayah (sesudahku). Gigitlah kuat-kuat dengan gigi geraham kalian. Tinggalkanlah urusan-urusan yang muhdats (baru) dalam agama, sesungguhnya setiap kebid’ahan adalah kesesatan.” (HR. at-Tirmidzi)

Di antara fenomena menyedihkan yang sedang kita alami adalah disebarkannya berbagai seruan dan propaganda untuk mengubah atau menolak sunnah (ajaran) Rasul. Upaya-upaya perusakan Islam amat terasa. Makar mereka guna menjauhkan umat dari sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga sangat nyata.

Wanita-wanita yang berhijab dicela dengan ucapan, “Budaya Arab jangan dibawa ke Indonesia.” Muslimat dilecehkan hanya karena mereka menutup auratnya dengan pakaian syar’i semata-mata mengharap ridha Allah subhanahu wa ta’ala. Sementara itu, wanita-wanita telanjang disanjung dan dipuja.

Tidak kalah lancangnya, sebagian mereka menghina sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti jenggot, memakai pakaian “cungklang” di atas mata kaki, atau sunnah lainnya.

Di antara mereka ada yang dengan keji berkata, “Orang yang berjenggot adalah orang yang dungu, semakin panjang jenggot semakin goblok.”

Saudaraku, sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berjenggot sangat lebat. Kita yakin, seorang muslim yang baik tidak akan rela mengatakan kalimat sekotor dan sebusuk itu. Ya Allah, Rasul-Mu memelihara jenggot. Rasul-Mu memerintah kami memelihara jenggot, kami pun memeliharanya. Cintailah kami dan kumpulkanlah kami bersama Nabi-Mu.

Sebagian lagi menyeru agar Islam disesuaikan dengan budaya lokal dan adat istiadat yang berlaku. Islam Nusantara dianggap bentuk Islam yang cocok bagi bangsa Indonesia. Akal kotor mereka berkata bahwa Indonesia sebagai negara yang memiliki adat dan budaya yang sangat beragam memiliki kesempatan untuk mewarnai Islam dengan meleburkan budaya Nusantara kepada syariat Islam.

Sebelumnya, Jaringan Islam Liberal (JIL) dengan terang – terangan mengampanyekan berbagai penyimpangan, bahkan kekufuran, dari ajaran Islam. Penghinaan dan pelecehan syariat sangat kental dalam kehidupan pengikut JIL.

Ucapan-ucapan mereka sangat banyak, tetapi intinya satu, yaitu kebencian terhadap ajaran yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan keengganan untuk berpegang dengan sunnah.

Islam Bukan Budaya Arab, Islam untuk Seluruh Umat Manusia

Yahudi pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam enggan beriman kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya karena beliau dari bangsa Arab, bukan Bani Israil. Dengan entengnya, Yahudi menolak Islam dengan ucapan mereka, “Kami meyakini bahwa Muhammad adalah Rasul Allah, tetapi risalahnya khusus untuk orang Arab.”

Jaringan Islam Nusantara enggan melaksanakan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebelum dimodifikasi dengan budaya Nusantara. Sadar atau tidak sadar, mereka sesungguhnya sedang mengikuti langkah Yahudi yang menolak ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sebagian mereka meremehkan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata dengan nada sinis, “Itu kan budaya Arab.”

Ada pula yang berkata, “Kita hidup di Indonesia, bukan di tanah Arab.”

“Kami tahu ini sabda Rasulullah, tetapi Islam harus disesuaikan dengan perkembangan zaman, Islam harus disesuaikan dengan budaya Nusantara.”

Sungguh, sebuah fenomena yang sangat menyedihkan. Benarkah Islam diturunkan khusus untuk bangsa Arab? Benarkah Islam adalah budaya Arab? Benarkah Islam tidak sesuai untuk penduduk di bumi Nusantara sehingga harus dinusantarakan?

Ketahuilah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak hanya diutus untuk bangsa Arab, tidak pula diutus hanya kepada manusia di masa beliau. Yang wajib kita yakini, beliau diutus untuk seluruh manusia sepanjang masa hingga hari kiamat. Bukan hanya untuk orang Arab, beliau pun diutus untuk orang non-Arab. Bukan hanya untuk manusia beliau diutus. Bahkan, Allah mengutus beliau untuk kalangan jin. Al-Bukhari rahimahullah meriwayatkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَكَانَ النَّبِيُّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِهِ خَاصَّةً، وَبُعِثْتُ إِلَى النَّاسِ عَامَّةً

Setiap nabi hanya diutus kepada umatnya saja, sedangkan aku diutus kepada seluruh umat manusia.

Ayat-ayat al-Qur’an menunjukkan bahwa syariat beliau bersifat universal, berlaku untuk seluruh alam hingga hari kiamat. Di antaranya firman Allah subhanahu wa ta’ala,

تَبَارَكَ ٱلَّذِي نَزَّلَ ٱلۡفُرۡقَانَ عَلَىٰ عَبۡدِهِۦ لِيَكُونَ لِلۡعَٰلَمِينَ نَذِيرًا ١

“Mahasuci Allah yang telah menurunkan al-Furqan (al-Qur’an) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.” (al-Furqan: 1)

وَمَآ أَرۡسَلۡنَٰكَ إِلَّا رَحۡمَةٗ لِّلۡعَٰلَمِينَ ١٠٧

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (al-Anbiya’:107 )

وَمَآ أَرۡسَلۡنَٰكَ إِلَّا كَآفَّةٗ لِّلنَّاسِ بَشِيرٗا وَنَذِيرٗا وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ ٢٨

“Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.” (Saba’: 28)

Siapa yang melihat sejarah akan menyaksikan dengan penuh keyakinan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdakwah untuk seluruh manusia. Beliau mengajak Raja Romawi untuk masuk Islam. Beliau juga mengirim utusan untuk Raja Persia agar beriman. Beliau juga mendakwahi Raja Habasyah dan seluruh manusia. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

قُلۡ يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنِّي رَسُولُ ٱللَّهِ إِلَيۡكُمۡ جَمِيعًا

“Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua.” (al-A’raf : 158)

Bahkan, seandainya para nabi masih hidup, niscaya mereka akan mengikuti syariat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sahabat yang mulia, Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu, berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَوْ أَنَّ مُوسَى حَيًّا الْيَوْمَ مَا وَسِعَهُ إِ أَنْ يَتَّبِعَنِي

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya Musa masih hidup, adalah keharusan baginya mengikutiku.”[1]

Kembali kepada Agama, Menuju Kejayaan Umat

Perpecahan, penyimpangan, dan berbagai kebid’ahan, serta jauhnya umat dari ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sebab berbagai kejelekan yang menimpa.

Karena itulah, Allah subhanahu wa ta’ala memerintah kita untuk segera kembali kepada sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan istiqamah dalam memegang tali Allah subhanahu wa ta’ala. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَٱعۡتَصِمُواْ بِحَبۡلِ ٱللَّهِ جَمِيعٗا وَلَا تَفَرَّقُواْۚ

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.” (Ali Imran: 103)

Hanya dengan kembali kepada agama yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meninggalkan segala kebid’ahan dan penyimpangan, umat ini akan meraih kejayaan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ، وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيْتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللهُ عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَ يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِيْنِكُمْ

“Jika kalian berjual beli dengan cara ‘inah, dan kalian mengambil ekor-ekor sapi (beternak) serta kalian senang dengan bercocok tanam dan kalian meninggalkan jihad[2], Allah akan mencampakkan kehinaan pada diri kalian.

Dia (Allah) tidak akan mencabut kehinaan itu sampai kalian kembali kepada agama kalian.”[3]

Tidak ada jalan bagi umat Islam untuk meraih kemuliaan kecuali dengan bersegera mempelajari dan mangamalkan al-Kitab dan as-Sunnah dengan pemahaman yang lurus, pemahaman salaf umat ini, para sahabat, tabi’in, atbaut tabi’in, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik; dan bahu-membahu memerangi segala upaya setan untuk menjauhkan syariat Islam dari manusia.

Nasihat bagi Para Pendusta Sunnah Rasul

Di akhir tulisan ini, kepada orang-orang yang membenci sebagian ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, atau para pendusta ajaran Rasul dan yang gemar melecehkan sunnah Rasul, kita ingatkan bahwa di hadapan kalian benar-benar ada kehinaan dan azab yang pedih.

Bertakwalah kalian kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Tidaklah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus kecuali untuk dicintai dan ditaati. Jangan kalian benci ajaran Rasul, jangan pula kalian hina sunnah Rasul. Jangan sampai kalian ditimpa apa yang telah menimpa semua penentang Rasul.

Allah subhanahu wa ta’ala shallallahu ‘alaihi wa sallam berfirman,

إِنَّآ أَرۡسَلۡنَآ إِلَيۡكُمۡ رَسُولٗا شَٰهِدًا عَلَيۡكُمۡ كَمَآ أَرۡسَلۡنَآ إِلَىٰ فِرۡعَوۡنَ رَسُولٗا ١٥ فَعَصَىٰ فِرۡعَوۡنُ ٱلرَّسُولَ فَأَخَذۡنَٰهُ أَخۡذٗا وَبِيلٗا ١٦

“Sesungguhnya Kami telah mengutus kepada kamu (hai orang kafir Makkah) seorang Rasul, yang menjadi saksi terhadapmu, sebagaimana Kami telah mengutus (dahulu) seorang Rasul kepada Firaun. Firaun mendurhakai Rasul itu, lalu Kami siksa dia dengan siksaan yang berat.(al-Muzzammil: 15—16)

Sejarah hidup Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hendaknya selalu kita baca dan renungkan. Semua penentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memetik buah kejelekannyanya di dunia, seperti janji Allah subhanahu wa ta’ala dalam firman-Nya,

إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ ٱلۡأَبۡتَرُ ٣

“Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu, dialah yang terputus.” (al-Kautsar: 3)

Dalam Perang Badar, Allah subhanahu wa ta’ala memenangkan kaum mukminin dan membinasakan musuh-musuh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mayat-mayat najis dari barisan kufar Quraisy bergelimpangan. Dedengkot-dedengkot Quraisy pun diseret ke Sumur Badar dengan penuh kehinaan….

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc.

[1] HR. Ahmad dalam Musnad-nya 3/387, ad-Darimi dalam mukadimah kitab Sunan-nya no. 436, Ibnu Abi ‘Ashim asy-Syaibani dalam kitabnya, as-Sunnah no. 50. Hadits ini dinyatakan hasan oleh imam ahlul hadits pada zaman ini, asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah dalam Zhilalul Jannah fi Takhrij as-Sunnah dan Irwa’ul Ghalil no. 1589.

[2] Jihad yang dimaksud adalah jihad di jalan Allah, yaitu jihad yang syar’i, bukan jihad di bawah bendera Syi’ah, khurafat, atau jihad yang muhdats semisal jihad kaum Khawarij.

[3] HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya 3/740, dari Ibnu Umar dan lainnya, dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam ash-Shahihah no. 11.

Berfikih Sebelum Berdagang

Dalam sebuah hadits mauquf, sahabat Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu pernah menyampaikan,

لَا يَبِعْ فِي سُوقِنَا إِلَّا مَنْ قَدْ تَفَقَّهَ فِي الدِّينِ

“Tidak boleh melakukan aktivitas jual beli di pasar kita kecuali seseorang yang telah memahami fikih dalam beragama. ”

 Takhrij

Pembaca, jika sebelumnya hadits yang dikaji adalah hadits marfu’, yakni hadits yang dinisbatkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak ada salahnya apabila kali ini kajian yang dipilih adalah hadits mauquf.

Hadits mauquf adalah riwayat yang dinisbatkan kepada seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Istilah mauquf juga dapat diberikan untuk selain sahabat, misalnya tabi’in. Hanya saja, harus diberi keterangan tambahan. Contohnya, hadits ini mauquf dari Atha’, Thawus, atau Said bin al-Musayyab.

Jika sebuah riwayat dinyatakan mauquf tanpa keterangan apapun, itu artinya riwayat tersebut dinisbatkan kepada seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di dalam Muqaddimah Ibnu Shalah (hlm. 27), hadits mauquf didefinisikan sebagai, “Semua yang diriwayatkan dari sahabat, baik ucapan, perbuatan, maupun taqrir (persetujuan) mereka; diriwayatkan secara muttashil (sanad yang bersambung) maupun munqathi’ (sanadnya terputus).”

Artinya, istilah mauquf yang disematkan pada sebuah riwayat tidaklah menentukan nilai sahih atau dhaifnya. Mauquf hanya istilah tentang kepada siapa riwayat tersebut dinisbatkan. Lantas bagaimana halnya dengan riwayat Umar bin al-Khaththab yang akan kita bahas?

At-Tirmidzi di dalam Sunan-nya (no. 487) menilai riwayat di atas dengan “hasan gharib”. Sanad yang dibawakan melalui gurunya, yaitu Abbas bin Abdul ‘Azhim al-‘Anbari, sampai pada Umar bin al-Khaththab adalah Abbas bin Abdul  ‘Azhim al-‘Anbari, Abdur Rahman bin Mahdi, Malik bin Anas, al-‘Alaa’ bin Abdur Rahman bin Ya’qub, dari ayahnya, dari kakeknya.

Ahli hadits abad ini, asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani menyatakan riwayat di atas dengan “hasanul isnad”. Jadi, sanad hadits ini hasan. Walhamdulillah.

Apakah hadits mauquf dapat dijadikan sebagai dasar hukum?

Pada dasarnya, hadits mauquf bukanlah alat berhujah. Akan tetapi, ada beberapa bentuk hadits mauquf yang disebutkan oleh ahli hadits mempunyai kekuatan hukum seperti hadits marfu’ . Misalnya berita mengenai umat zaman dahulu, kejadian pada hari kiamat, atau tentang sesuatu yang tidak ada celah berijtihad di sana.

Secara rinci dan detail, pembahasan hadits mauquf tentu dapat diperoleh dari kitab-kitab hadits.

 

Luasnya Fikih Umar bin al-Khaththab

Keputusan yang diambil menjadi bukti luasnya fikih Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu. Kebijakan tersebut sangatlah diperlukan, sesuai dengan kedudukan dan kewenangan Umar radhiallahu ‘anhu selaku pimpinan tertinggi.

Selain sangat memerhatikan akidah dan praktik ibadah, Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu tidak lupa untuk mengambil langkah-langkah seperlunya untuk maslahat perekonomian umat Islam. Mengapa Umar radhiallahu ‘anhu memutuskan demikian?

Beberapa riwayat menunjuk maslahat kaum miskin sebagai salah satu alasan. Sebab, ketidaktahuan tentang fikih akan membuat para pedagang kurang memerhatikan hak-hak kaum yang lemah. Selain itu, beberapa riwayat juga menyebutkan kekhawatiran praktik riba telah membuat Umar radhiallahu ‘anhu meletakkan aturan dasar seperti itu.

“Tidak boleh melakukan aktivitas jual beli di pasar kita kecuali seseorang yang telah memahami fikih dalam beragama.”

Ucapan Umar radhiallahu ‘anhu ini mestinya mendorong kita untuk selalu mendoakan beliau radhiallahu ‘anhu. Kata-kata ini jelas membuktikan kapasitas ilmu salah seorang dari empat al-Khulafa’ ar-Rasyidun.

Jika kita berandai kebijakan Umar bin al-Khaththab diterapkan, tentu akan menciptakan kondisi ekonomi yang kuat dan mapan. Hanya saja, praktik penetapannya memang di tangan pihak berwenang. Walaupun demikian, sebagai rakyat muslim, kita yang hendak terlibat dalam aktivitas jual beli, baik di pasar secara langsung maupun secara online, harusnya selalu mengingat kata-kata Umar bin al-Khaththab di atas.

Jangan sekali-kali berdagang atau menjadi pembeli, jika belum memahami fikih jual beli yang terkait secara benar!

 Jual Beli pada Masa Rasulullah

Al-Imam Muslim (no. 102) menyebutkan sebuah riwayat dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu yang menjelaskan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berjalan melintasi seorang pedagang bahan makanan. Pada tumpukan bahan makanan itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memasukan tangan sampai ke dasar. Ternyata beliau menemukan basah.

Beliau bertanya ke pemilik bahan makanan, ”Basah apa ini, wahai pemilik bahan makanan?”

Ia menjawab, ”Terkena air hujan, wahai Rasulullah.”

Setelah itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَفَلَا جَعَلْتَهُ فَوْقَ الطَّعَامِ كَيْ يَرَاهُ النَّاسُ؟ مَنْ غَشَّ فَلَيْسَ مِنِّي

“Mengapa engkau tidak meletakkan yang basah itu di bagian atas agar dapat dilihat orang? Barang siapa menipu, ia bukan bagian dariku.”

Kejujuran dalam berjual-beli memang sangat ditekankan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kejujuran adalah landasan utama untuk mewujudkan pasar yang kondusif, ekonomi yang kuat, dan perdagangan yang sehat. Baik sebagai produsen, distributor, maupun konsumen, setiap pihak diharuskan selalu mengedepankan sikap jujur. Menipu, berbohong, atau menutupi-nutupi, akan merusak keseimbangan pasar.

Si pedagang bahan makanan yang ditegur oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas tidak bermaksud menutup-nutupi. Basah yang terletak di bagian dasar bahan makanan merupakan efek dari curahan hujan. Itupun diingatkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan nada yang cukup keras. Lantas bagaimana halnya dengan mereka yang jelas-jelas menipu dan sengaja berbohong dalam praktik jual belinya?

Asy-Syaikh al-Albani dalam Silsilah ash-Shahihah (no. 366) menyebutkan sebuah riwayat Ahmad, ath-Thahawi, dan al-Hakim bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Sungguh, para pedagang (kebanyakan mereka) adalah orang-orang jahat.”

Para sahabat bertanya, ”Bukankah Allah telah menghalalkan jual beli?”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

بَلَى، وَلَكِنَّهُمْ يُحَدِّثُونَ فَيَكْذِبُونَ، وَيَحْلِفُونَ وَيَأْثَمُونَ

“Benar demikian. Hanya saja, mereka berbicara namun berdusta, bahkan bersumpah sehingga mereka berdosa.”

Siapa saja di antara kita yang pernah atau bahkan sering bahkan memerhatikan perilaku para pedagang di pasar-pasar umum, pasti menemukan kenyataan seperti yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Berbohong adalah sebuah kebiasaan yang sulit dihilangkan. Berdusta menjadi bumbu penyedap jual beli. Untuk keuntungan dan laba yang sedikit, cacat atau aib pada barang akan ditutup-tutupi sedemikian rapat.

Asy-Syaikh al-Albani dalam Silsilah ash-Shahihah (no. 1458) menyebutkan sebuah riwayat al-Baihaqi dari sahabat al-Bara’ bin ‘Azib[1]. Saat itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berjalan menuju Baqi’. Para pedagang yang ditemui oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diminta untuk berkumpul. Setelah itu, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan,

إِنَّ التُّجَّارَ يُبْعَثُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فُجَّارًا، إِلَّا مَنِ اتَّقَى اللهَ وَبَرَّ وَصَدَقَ

“Sungguh, pada hari kiamat nanti, para pedagang akan dikumpulkan sebagai orang-orang yang jahat. Kecuali mereka yang bertakwa kepada Allah, berbuat baik, dan jujur.”

Terus terang saja, bukankah semakin sulit untuk menemukan seorang pedagang yang jujur dan tepercaya? Sekalipun ada, dan katakanlah banyak, berapakah prosentasenya bila dibandingkan dengan mereka yang tidak atau kurang jujur? Cobalah hitung, berapakah jumlah pedagang yang bertakwa kepada Allah dan berbuat baik?!

Sekian banyak pedagang begitu jauh dari sikap takwa. Ada yang menggunakan jimat dan rajah, ada yang memakai pengasihan, ada yang menggantungkan harapan dengan fengshui, ada yang berjual beli barang-barang haram, ada yang menjual dengan cara riba, dan sederet bentuk jual beli yang tidak mencerminkan ketakwaan kepada Allah.

Sangat sedikit pedagang yang benar-benar memerhatikan shalat wajib yang lima wajib pada waktunya. Sangat sedikit pedagang yang betul-betul perhatian dengan sedekah dan zakat. Padahal, dengan memperbanyak sedekah, mempersering berinfak, selalu memberi hadiah untuk karyawan, dan selalu mengeluarkan zakat wajib tepat waktunya, akan menutup celah-celah dosa yang diakibatkan aktivitas jual beli.

Sebuah hadits dari sahabat Qais bin Abi Gharazah radhiallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Ashabus Sunan dan dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam al-Misykah (no. 2798) menyebutkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

يَا مَعْشَرَ التُّجَّارِ، إِنَّ الْبَيْعَ يَحْضُرُهُ اللَّغْوُ وَالْحَلِفُ فَشُوبُوهُ بِالصَّدَقَةِ

“Wahai para pedagang, sungguh, jual beli itu kerap kali diikuti oleh perbuatan sia-sia dan sumpah. Oleh sebab itu, tutupilah dengan sedekah.”

Ringkasnya, sikap jujur dalam berjual beli akan menjadi sebab turunnya rahmat Allah subhanahu wa ta’ala dan menjadi sebab tercurahnya berkah dari Allah subhanahu wa ta’ala. Bukankah berkah Allah subhanahu wa ta’ala yang hendak dicari? Laba dan keuntungan yang diberkahi akan membuat si pedagang merasakan kenyamanan, qana’ah, dan hidupnya penuh dengan kebahagiaan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْبَيِّعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا، فَإِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَا بُورِكَ لَهُمَا فِي بَيْعِهِمَا، وَإِنْ كَذَبَا وَكَتَمَا مُحِقَ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا

“Selama belum berpisah, penjual dan pembeli masih mempunyai hak khiyar (melanjutkan atau membatalkan proses jual beli). Jika keduanya sama-sama jujur dan berterus terang, jual beli mereka akan diberkahi. Sebaliknya, jika keduanya berbohong dan menutup-nutupi, berkah jual beli mereka akan terhapus.” (HR. al-Bukhari no. 2114 dan Muslim no. 1532 dari Hakim bin Hizam radhiallahu ‘anhu)

An-Nawawi rahimahullah menjelaskan maksud hadits di atas, masing-masing menjelaskan segala sesuatu yang diperlukan oleh pihak yang lain, seperti cacat atau semisalnya, baik pada barang maupun harga.

Di dalam karyanya yang berjudul Bahjat Qulubil Abrar, saat menyebutkan hadits di atas, asy-Syaikh as-Sa’di rahimahullah menerangkan, ”Siapa saja yang berdusta dan secara sengaja menutup-nutupi cacat barang atau sifat-sifat lain saat melakukan akad jual beli, selain berdosa, jual beli yang dilakukan akan terjauhkan dari berkah. Muamalah apa pun yang tidak diberkahi, pelakunya pasti merugi di dunia dan di akhirat.” Na’udzu billah.

 Marilah Belajar Fikih Jual Beli!

Seiring perkembangan zaman, semakin bertambahnya masa yang dibarengi dengan kemajuan teknologi dan alat komunikasi serta kemudahan transportasi, sangat sering kita dihadapkan dengan berbagai hal yang “baru” dalam aktivitas jual beli. Belum lagi dalam skala besar, seperti ekspor impor.

Macam-macam jenis transaksi juga terus berganti bentuk. Alat tukar pun demikian. Setelah terjun langsung di dunia usaha, banyak sistem dan metode jual beli yang kita hadapi. Nah, ikhtiar mencari nafkah dan memenuhi kebutuhan hidup, haruslah ditopang dengan pengetahuan fikih jual beli yang cukup. Supaya ikhtiar kita dengan berjual beli tidak terasa kering dan tidak gersang, tetapi sejuk dan menyenangkan, majelis-majelis ilmu mestinya diramaikan dan dimakmurkan.

Tanpa ilmu, akan banyak konflik dan masalah yang bermunculan. Sudah cukup banyak tali persahabatan yang dikorbankan, eratnya persaudaraan yang terurai, dan kasih sayang yang berganti kebencian. Mengapa? Salah paham ketika bertransaksi. Kejahilan tentang fikih jual beli. Tidak memahami adab-adab Islami dalam bermuamalah.

Hasad dan dengki tumbuh subur. Persaingan yang tidak sehat pun terlahir. Saling menjatuhkan antara satu dan yang lain pun terjadi. Muncul pula sikap menghindar dan lari dari kewajiban jual beli. Mengapa sampai terjadi? Di antara sebabnya adalah tidak menuruti nasihat Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu yang meminta kita untuk benar-benar memahami fikih beragama, khususnya jual beli.

Seorang tabi’in bernama Atha’ rahimahullah menyatakan bahwa majelis dzikir adalah majelis halal dan haram. Majelis yang menerangkan tentang bagaimana seharusnya engkau berjual beli. Majelis yang menjelaskan tentang tata cara engkau shalat, puasa, menikah, menalak, berhaji, dan yang semisalnya. (al-Adzkar, karya an-Nawawi)

Artinya? Semangat Anda berjual beli harus diiringi semangat thalabul ilmi (menuntut ilmu). Tekad Anda berbisnis mestinya disertai tekad memahami fikih jual beli. Cita-cita Anda untuk membangun usaha, tentu lebih baik jika dibangun di atas ilmu syar’i.

Sebagai penutup, marilah merenungkan sepatah nasihat dari al-Imam Ibnu Rajab rahimahullah berikut ini. “Sungguh, setiap muslim wajib memahami semua hal yang ia perlukan dalam praktik beragama, seperti tentang tata cara bersuci, shalat, dan puasa. Bagi yang memiliki harta, ia wajib memahami tentang zakat, nafkah, haji, dan jihad. Demikian pula bagi yang melakukan aktivitas jual beli, ia wajib mempelajari jual beli yang dihalalkan dan yang diharamkan.” (Majmu’ Rasail Ibni Rajab 1/22)

Kemudian, beliau rahimahullah menyebutkan riwayat Umar di atas!

لَا يَبِعْ فِي سُوقِنَا إِلَّا مَنْ قَدْ تَفَقَّهَ فِي الدِّينِ

“Tidak boleh melakukan aktivitas jual beli di pasar kita kecuali seseorang yang telah memahami fikih dalam beragama.” Wallahul muwaffiq ila ahdas sabil.

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar Iben Rifai

[1] Sebelumnya, dalam al-Misykah (no. 2799) asy-Syaikh al-Albani tidak menyebutkan penilaian sahih. Setelah membaca riwayat al-Bara’ di atas, beliau lantas menghukuminya sahih. Bahkan, beliau rahimahullah menyampaikan,

“Hendaknya penilaian sahih ini dinukilkan juga di sana (al-Misykah).”

Beda Tawaf dan Mencium Hajar Aswad dengan Amalan Musyrikin

وَ عَنْ عَابِسِ بْنِ رَبِيعَةَ قَالَ: رَأَيتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ يُقَبِّلُ الْحَجَرَ – يَعْنِي الْأَسْوَدَ – وَ يَقُولُ: إِنِّي لَأَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ لَا تَنْفَعُ وَ لَا تَضُرُّ, وَ لَوْلَا أَنِّي رَأَيتُ رَسُولَ اللهِ يُقَبِّلُكَ مَا قَبَّلْتُكَ.

Dari ‘Abis bin Rabi’ah, dia berkata, “Aku melihat Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu mencium Hajar Aswad, lalu berkata, ‘Sungguh, aku tahu engkau adalah batu yang tidak memberikan manfaat dan madarat. Kalau bukan karena aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menciummu, aku tidak akan menciummu.”

 

Takhrij Atsar

Atsar Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu ini muttafaqun ‘alaihi. Al-Bukhari meriwayatkannya dalam ash-Shahih, Kitab al-Hajj bab “ar-Raml fil Hajj” no. 1605.

Demikian pula Muslim meriwayatkan dalam Kitab al-Hajj, bab “Istihbab Taqbil al-Hajar al-Aswad” no. 1270.

Diriwayatkan pula oleh Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasai, dan al-Hakim an-Naisaburi.

Asy-Syaikh al-Allamah al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin al-Albani menyatakan sahih dalam Shahih at-Targhib wat Tarhib.

 

Makna Atsar

Perkataan Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu disampaikan di hadapan banyak orang. Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhu berkata sebagaimana dalam Mustadrak al-Hakim,

حَجَجْنَا مَعَ عُمَرِ بْنِ الْخَطَّابِ، فَلَمَّا دَخَلَ الطَّوَافَ اسْتَقْبَلَ الْحَجَرَ فَقَالَ: إِنِّي أَعْلَمُ أَنَّك حَجَرٌ لَا تَضُرُّ وَلَا تَنْفَعُ، وَلَوْلَا أَنِّي رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ ) قَبَّلَكَ ( مَا قَبَّلْتُكَ؛ ثُمَّ قَبَّلَهُ

Kami haji bersama Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu. Ketika beliau mulai thawaf, beliau menghadap Hajar Aswad seraya berkata, “Sungguh, aku tahu engkau adalah batu yang tidak memberikan mudarat, tidak pula manfaat. Kalau bukan karena aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menciummu, aku tidak akan menciummu.” Kemudian beliau menciumnya.

Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu adalah sosok yang sangat gigih menjaga tauhid sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau mengucapkan kalimat ini di tengah keramaian agar didengar ucapannya dan tersebar di tengah-tengah manusia.

Ketika itu, banyak orang yang baru saja keluar dari peribadatan dan pengagungan terhadap batu-batu (berhala). Mereka baru keluar dari keyakinan bahwa bebatuan memberikan manfaat dan mudarat.

Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu khawatir sebagian mereka yang baru masuk Islam itu tidak memahami (maksud dari mencium hajar Aswad –pen.). Karena itu, beliau mengucapkan kalimat tersebut.[1]

Umar al-Faruq radhiallahu ‘anhu mengingatkan bahwa mencium Hajar Aswad tidak sama dengan perbuatan para penyembah batu yang mengusap dan mencium berhala-berhala mereka. Mencium Hajar Aswad bukan untuk menyembahnya atau meyakini bahwa dia memberikan manfaat atau mudarat, melainkan semata-mata mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana diperintahkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala,

وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمۡ عَنۡهُ فَٱنتَهُواْۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ ٧

“Apa yang diberikan oleh Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya.” (al-Hasyr: 7)

 kabah

Thawaf dan Mencium Batu Hanya di Ka’bah

Di seluruh belahan bumi pasti ada kaum muslimin yang melakukan shalat, zakat, puasa, atau ibadah lainnya. Namun, tidak di setiap tempat ada orang yang beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan melakukan thawaf atau mencium dan mengusap batu (Hajar Aswad).

Ibadah thawaf, mengelilingi Ka’bah tujuh putaran, hanya dilakukan di Ka’bah dan tidak akan dijumpai di mana pun di muka bumi ini.

Allah subhanahu wa ta’ala lah yang memerintah kita menuju Ka’bah. Allah subhanahu wa ta’ala pula yang menjadikan Ka’bah sebagai tempat ibadah dan kiblat bagi kaum muslimin. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلۡيَطَّوَّفُواْ بِٱلۡبَيۡتِ ٱلۡعَتِيقِ ٢

“… dan hendaklah mereka melakukan tawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah).” (al-Hajj: 29)

Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman,

جَعَلَ ٱللَّهُ ٱلۡكَعۡبَةَ ٱلۡبَيۡتَ ٱلۡحَرَامَ قِيَٰمٗا لِّلنَّاسِ

“Allah menjadikan Ka’bah, rumah suci itu sebagai pusat (peribadatan dan urusan dunia) bagi manusia….” (al-Maa’idah: 97)

Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman,

فَوَلِّ وَجۡهَكَ شَطۡرَ ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡحَرَامِۚ

“Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram.” (al-Baqarah: 144)

Demikian pula mengusap dan mencium, tidaklah dilakukan kecuali di Ka’bah. Hajar Aswad disunnahkan untuk dicium dan diusap. Adapun rukun Yamani disyariatkan untuk diusap saja.

Sekali lagi, ibadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan cara thawaf atau mengusap dan mencium hanya dilakukan di Ka’bah. Apabila dijumpai sekelompok manusia yang mengelilingi sebuah tempat dengan niat taqarrub kepada Allah subhanahu wa ta’ala atau mencium suatu benda dengan niat ibadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala, sungguh perbuatan ini adalah kebid’ahan, dan tertolak di sisi Allah subhanahu wa ta’ala. Bahkan, itu adalah kesyirikan atau jalan yang mengantarkan kepada kesyirikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

Barang siapa melakukan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka itu tertolak.”

 

Apa yang Membedakan?

Di sebuah majelis, salah seorang hadirin bertanya, “Ada orang yang mengatakan bahwa agama Islam dan agama musyrikin sama saja. Buktinya, kaum musyrikin menyembah berhala-berhala dari batu, sementara kaum muslimin juga mengelilingi batu (Ka’bah) dan menciumnya (Hajar Aswad).”

Pertanyaan yang muncul dari seorang muslim ini sangat menyedihkan. Inilah kenyataan pahit. Kebodohan melanda umat. Banyak kaum muslimin tidak bisa membedakan antara dua amalan yang secara lahiriah sama, yaitu mencium, mengusap, atau mengelilingi.

Seorang pendeta Nasrani berkata dalam sebuah bukunya untuk menghujat Islam, “Pada kenyataannya sebagian besar pengikut agama bangsa Arab (yakni Islam –pen.) tidak mengetahui dan tidak menyadari bahwa yang disembah dan dipuja pada hakikatnya batu hitam Hajar Aswad. Penyembahan pada batu Hajar Aswad ini baru disadari pada waktu pengikut agama bangsa Arab ini melakukan rukun Islam yang kelima yaitu pergi ke Ka’bah di Makkah dan harus menyembah dan mencium batu hitam Hajar Aswad tersebut. Pada saat mencium batu hitam Hajar Aswad ini barulah orang tersadar bahwa yang dilakukan tidak lain adalah pekerjaan syirik, yaitu mempersekutukan Allah dengan batu hitam tersebut.”

Wajar ketika seorang pendeta, musuh Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya menganggap sama antara mencium Hajar Aswad dan mencium berhala. Demikian pula menganggap sama antara thawaf di kuburan dan thawaf di Ka’bah. Akan tetapi, menjadi tidak wajar ketika seorang muslim tidak bisa membedakan antara mencium Hajar Aswad dan mencium kuburan para wali.

Perbedaan antara keduanya sebenarnya sangat jelas. Mengelilingi Ka’bah dan mencium Hajar Aswad diperintahkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya. Adapun mengelilingi kuburan para wali sama sekali tidak diperintahkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya.

Mengelilingi Ka’bah dan mencium Hajar Aswad tidak diiringi dengan keyakinan bahwa kedua makhluk ini memberikan manfaat atau mudarat. Berbeda halnya dengan mereka yang mengelilingi kuburan para wali.

Mengelilingi Ka’bah dan mencium Hajar Aswad bukan kesyirikan, melainkan bentuk pengagungan dan peribadatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Apa pendapat Anda ketika Allah subhanahu wa ta’ala memerintah kita untuk menempelkan tujuh anggota sujud[2] ke tanah saat kita sujud? Apa niat kita ketika bersujud dan menempelkan muka ke tanah? Menyembah tanah yang kita cium atau mengagungkan Allah subhanahu wa ta’ala dengan melaksanakan perintah-Nya?!

Siapakah yang dikatakan beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala, orang yang tunduk pada perintah Allah subhanahu wa ta’ala untuk menempelkan mukanya ke tanah dalam shalat ataukah yang enggan melaksanakan perintah tersebut?

Sama halnya dengan thawaf dan mencium Hajar Aswad. Tidak untuk menyembah Ka’bah dan Hajar Aswad, tetapi semata-mata melaksanakan perintah Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya. Seandainya kita mengingkari perintah tersebut, niscaya kita tergolong orang yang kafir kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Sungguh, Allah subhanahu wa ta’ala telah mewajibkan kita menunaikan Haji ke Ka’bah. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّ أَوَّلَ بَيۡتٖ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكٗا وَهُدٗى لِّلۡعَٰلَمِينَ ٩٦ فِيهِ ءَايَٰتُۢ بَيِّنَٰتٞ مَّقَامُ إِبۡرَٰهِيمَۖ وَمَن دَخَلَهُۥ كَانَ ءَامِنٗاۗ وَلِلَّهِ عَلَى ٱلنَّاسِ حِجُّ ٱلۡبَيۡتِ مَنِ ٱسۡتَطَاعَ إِلَيۡهِ سَبِيلٗاۚ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ ٱلۡعَٰلَمِينَ ٩٧

“Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim. Barang siapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia. Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barang siapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (Ali Imran: 96—97)

Allah subhanahu wa ta’ala pula yang memerintahkan kita untuk mengelilingi Ka’bah. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

  وَلۡيَطَّوَّفُواْ بِٱلۡبَيۡتِ ٱلۡعَتِيقِ ٢٩

“… dan hendaklah mereka melakukan thawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah).” (al-Hajj: 29)

Perintah dari Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya untuk mengelilingi Ka’bah dan mencium Hajar Aswad demikian jelas. Pantaskah seorang hamba menolak perintah Allah subhanahu wa ta’ala ini?

Kita tentu ingat kisah penciptaan Adam ‘alaihissalam. Allah subhanahu wa ta’ala memerintah para malaikat untuk sujud kepada Adam. Sujud yang dimaksud tentu saja sujud penghormatan. Demikianlah syariat Allah subhanahu wa ta’ala.

Akan tetapi, Iblis enggan memberi sujud penghormatan kepada Adam. Jadilah ia kafir karena tidak melaksanakan perintah Allah subhanahu wa ta’ala. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَإِذۡ قُلۡنَا لِلۡمَلَٰٓئِكَةِ ٱسۡجُدُواْ لِأٓدَمَ فَسَجَدُوٓاْ إِلَّآ إِبۡلِيسَ أَبَىٰ وَٱسۡتَكۡبَرَ وَكَانَ مِنَ ٱلۡكَٰفِرِينَ ٣٤

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir. (al-Baqarah: 34)

Samakah sujudnya malaikat kepada Adam dengan sujudnya para penyembah berhala di hadapan berhala yang mereka sembah?

 hajar-aswad

Bukan Karena Hajar Aswad Memberi Manfaat

Seorang muslim mencium Hajar Aswad dan mengelilingi Ka’bah sematamata karena mengikuti perintah Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya. Itulah hakikat tauhid. Ia tidak menciumnya lantaran meyakini bahwa makhluk yang berupa batu hitam tersebut bisa memberi manfaat atau mudarat. Sama sekali tidak!

Perhatikan ucapan Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu,

إِنِّي لَأَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ لَا تَنْفَعُ وَلاَ تَضُرُّ، وَلَوْلَا أَنِّي رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ يُقَبِّلُكَ مَا قَبَّلْتُكَ

“Sungguh aku tahu engkau adalah batu, yang tidak bisa memberi manfaat dan mudarat. Kalau bukan karena aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menciummu, aku tidak akan menciummu.”

Bahkan, seorang yang masih berada di atas fitrah akan menilai bahwa semua amaliah ibadah haji adalah untuk mentauhidkan Allah subhanahu wa ta’ala, dan mengesakan peribadatan untuk-Nya. Inilah inti ibadah haji.

Di akhir makalah ini, mari kita ikuti perjalanan haji Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang yang mencermatinya akan mengetahui bahwa semua bagian ibadah haji, termasuk thawaf dan mengusap Hajar Aswad, tidaklah dilakukan kecuali untuk mengagungkan Allah subhanahu wa ta’ala.

Dari Madinah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menuju Dzul Hulaifah. Dari miqat inilah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai ihramnya dan memperbanyak talbiyah,

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ

“Aku sambut panggilan-Mu ya Allah, aku sambut panggilan-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu, aku sambut panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji dan nikmat adalah kepunyaan-Mu, demikian pula kekuasaan, tiada sekutu bagi-Mu.”

Inilah syiar yang selalu dikumandangkan oleh orang yang menuju Masjidil Haram untuk menunaikan haji atau umrah. Sebuah kalimat yang demikian agung.

Sesampainya beliau di Ka’bah, beliau mengusap Hajar Aswad, lalu thawaf, mengelilingi Ka’bah dengan berlari kecil tiga putaran, dan berjalan biasa empat putaran.

Maksud dari thawaf adalah mengagungkan Allah subhanahu wa ta’ala dengan melaksanakan perintah-Nya subhanahu wa ta’ala. Saat thawaf, antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala memohon kepada-Nya,

رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِي ٱلدُّنۡيَا حَسَنَةٗ وَفِي ٱلۡأٓخِرَةِ حَسَنَةٗ وَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ ٢٠١

“Wahai Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.” (al-Baqarah: 201)

Inilah syiar seorang muslim saat thawaf, mengagungkan Allah subhanahu wa ta’ala dan memohon kepada-Nya subhanahu wa ta’ala dengan penuh ketundukan; tidak memohon kepada Ka’bah atau Hajar Aswad.

Betapa jauh perbedaan antara seorang muslim saat mengelilingi Ka’bah dan para penyembah kuburan saat menundukkan mata di hadapan kuburan wali. Mereka menangis dengan penuh harap kepada yang dikubur, thawaf mengelilingi kuburan seraya berkata, “Wahai Sayyid Badawi, tolonglah kami!”

Setelah thawaf, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menuju Maqam Ibrahim, lalu menunaikan shalat dua rakaat dengan membaca surat al-Kafirun dan surat al-Ikhlash.

Dua surat yang beliau baca ini menunjukkan kesempurnaan sifat Allah subhanahu wa ta’ala, pengagungan terhadap-Nya subhanahu wa ta’ala, dan pengingkaran kepada peribadatan kepada selain-Nya subhanahu wa ta’ala.

Setelah shalat beliau kembali lagi ke Hajar Aswad dan mengusapnya. Kemudian beliau keluar dari pintu menuju Shafa. Ketika sudah mendekati Shafa, beliau membaca,

  إِنَّ ٱلصَّفَا وَٱلۡمَرۡوَةَ مِن شَعَآئِرِ ٱللَّهِۖ

“Sesungguhnya Shafa dan Marwah termasuk syi’ar-syiar Allah.” (al-Baqarah: 158)

dan mengucapkan,

أَبْدَأُ بِمَا بَدَأَ اللهُ بِهِ

“Aku mulai dengan apa yang Allah subhanahu wa ta’ala mulai dengannya.”

Di bukit Shafa, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menghadap Ka’bah, lalu membaca kalimat tauhid dan takbir, seraya mengucapkan,

لاَ إِلَهَ إِلاَّ للهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ )يُحْيِي وَيُمِيتُ( وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ أَنْجَزَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ

“Tiada ilah yang hak selain Allah, Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya segala kerajaan, bagi-Nya segala puji, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Tiada ilah yang hak selain Allah Yang Esa, yang menepati janji-Nya, menolong hamba-Nya, dan menghancurkan golongan-golongan musuh sendirian.”

Doa seperti itu beliau ulangi tiga kali. Kemudian beliau turun menuju Marwah. Beliau lakukan seperti apa yang beliau lakukan di Shafa.

Di hari Tarwiyah, 8 Dzulhijjah tahun 10 H, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat berangkat menuju Mina. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menunaikan shalat Zhuhur, Ashar, Maghrib, Isya’ dan Subuh.

Setelah subuh di Mina, 9 Dzulhijjah, beliau berhenti sejenak hingga matahari terbit, lalu berangkat menuju Arafah. Dalam semua perjalanan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat terus mengumandangkan talbiyah, kalimat tauhid.

Di Arafah, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam wukuf sejak tergelincir matahari hingga terbenamnya. Selama itu beliau berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala, menengadahkan kedua tangan seraya memperbanyak kalimat tauhid,

لاَ إِلَهَ إِلاَّ للهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Tiada ilah yang hak selain Allah, Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya segala kerajaan, bagi-Nya segala puji, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.”

Dari Arafah beliau menuju Muzdalifah. Selama perjalanan beliau terus mengumandangkan syiar tauhid, talbiyah. Di Mudzalifah, beliau menunaikan shalat Maghrib dan Isya’ dengan sekali azan dan dua kali iqamat. Beliau tidak melakukan shalat apa pun di antara keduanya. Kemudian beliau berbaring hingga fajar terbit dan menunaikan shalat Subuh di Muzdalifah.

Setelah shalat Subuh di Muzdalifah, tepatnya di Masy’aril Haram, beliau berdiri lama menghadap kiblat, berdoa, bertakbir, dan bertahlil. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap berada di tempat itu hingga terang benderang. Setelah itu, beliau bertolak sebelum matahari terbit menuju Mina untuk menunaikan amalan di hari Nahr.

Beliau mengawali amalan hari Nahr dengan melempar Jumrah Aqabah, tujuh kali lemparan dengan batu-batu kecil. Setiap lemparan beliau iringi dengan takbir, mengagungkan Allah subhanahu wa ta’ala.

Selanjutnya beliau menuju tempat penyembelihan. Pada hari itu, beliau menyembelih 100 ekor unta untuk Allah subhanahu wa ta’ala. Sejumlah 63 ekor unta beliau sembelih dengan tangan beliau yang mulia, sedangkan 37 ekor lainnya beliau wakilkan penyembelihannya kepada Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu.

Pembaca, inilah hamba Allah subhanahu wa ta’ala yang paling tunduk di hadapan-Nya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menunaikan semua peribadatan untuk Allah subhanahu wa ta’ala. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menunaikan amalan menyembelih hadyu untuk Allah subhanahu wa ta’ala yang Dia subhanahu wa ta’ala perintahkan,

إِنَّآ أَعۡطَيۡنَٰكَ ٱلۡكَوۡثَرَ ١  فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَٱنۡحَرۡ ٢

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dari itu, dirikanlah shalat karena Rabbmu dan berkurbanlah.” (al-Kautsar: 1—2)

Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menaiki kendaraan menuju Baitullah untuk melakukan thawaf ifadhah dan shalat Zhuhur di Makkah.

Saudaraku, haji adalah sebuah ibadah yang sangat agung untuk Allah subhanahu wa ta’ala. Coba renungkan kembali perjalanan haji Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas.

Adakah orang yang berakal mengatakan bahwa ibadah haji seperti perbuatan kaum musyrikin, karena di dalamnya ada thawaf mengelilingi Ka’bah dan mencium Hajar Aswad? Tidak ada yang mengatakan seperti itu kecuali seorang yang tidak mengerti tauhid.

Allahul musta’an.

وَصَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ وَالْحَمْدُ رَبِّ الْعَالَمِينَ

 

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal Lc.


[1] Badrul Munir (6/192—194)

[2] Muka, dua telapak tangan, dua lutut, dan dua kaki

Belajar Mencintai Ilmu Hadits dari Asy-Syaikh Muqbil

لَا يُؤْمِنُ عَبْدٌ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

“Seorang hamba, belumlah sempurna imannya, sampai aku (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) lebih ia cintai dibandingkan keluarganya, harta, dan seluruh manusia”

 

Lanjutkan membaca Belajar Mencintai Ilmu Hadits dari Asy-Syaikh Muqbil

Mengoreksi Perilaku Para Dai

Al-Imam al-Bukhari rahimahullah berkata,

عَنْ أَبيْ مَسْعُودٍ أَنَّ رَجُلًا قَالَ: وَا يَا رَسُولَ ا إِنِّي لَأَتَأَخَّرُ عَنْ صَلَاةِ الْغَدَاةِ مِنْ أَجْلِ فُلَانٍ مِمَّا يُطِيلُ بِنَا

فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ ا فِي مَوْعِظَةٍ أَشَدَّ غَضَبًا مِنْهُ يَوْمَئِذٍ ثُمَّ قَالَ: إِنَّ مِنْكُمْ مُنَفِّرِينَ فَأَيُّكُمْ  مَا صَلَّى بِالنَّاسِ فَلْيَتَجَوَّزْ فَإِنَّ فِيهِمْ الضَّعِيفَ وَالْكَبِيرَ وَذَا الْحَاجَةِ

Dari Abu Mas’ud radhiallahu ‘anhu, seseorang datang mengadu, “Wahai Rasulullah, demi Allah, aku sengaja mengakhirkan shalat subuh karena perbuatan fulan. Ia memanjangkan (bacaan shalat) saat mengimami kami.”

Abu Mas’ud berkata, “Sungguh, aku belum pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat marah ketika menyampaikan peringatan melebihi kemarahan beliau pada hari tersebut.”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh, di antara kalian ada ,lorang yang membuat manusia lari! Siapa pun di antara kalian mengimami manusia, ringankanlah! Sebab, di antara mereka ada orang yang lemah, tua renta, atau memiliki keperluan.”

  Lanjutkan membaca Mengoreksi Perilaku Para Dai