Misi Duniawi di Balik Gerakan Terorisme

Dari sahabat Jabir bin Abdillah, al-Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan (no. 1063) sebuah peristiwa yang terjadi sepulang kaum muslimin dari pertempuran di Lembah Hunain.

Saat itu, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai-sampai bersabda dengan nada yang agak berbeda dari biasanya. Sabda itu ditujukan kepada seseorang yang menuduh beliau tidak berlaku adil. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَيْلَكَ وَمَنْ يَعْدِلُ إِذَا لَمْ أَكُنْ أَعْدِلُ؟ لَقَدْ خِبْتَ وَخَسِرْتَ إِنْ لَمْ أَكُنْ أَعْدِلُ.

“Celakalah engkau! Lantas siapakah yang akan bersikap adil, jika saya tidak berbuat adil?! Sungguh, engkau celaka dan merugi jika aku tidak dapat bersikap adil!”

  Lanjutkan membaca Misi Duniawi di Balik Gerakan Terorisme

Negeri Para Pengikut Dajjal

Dari sahabat Anas bin Malik al-Anshari radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَتْبَعُ الدَّجَّالَ مِنْ يَهُودِ أَصْفَهَانَ سَبْعُونَ أَلْفًا عَلَيْهِمُ الطَّيَالِسَةُ

        “Akan mengikuti Dajjal tujuh puluh ribu orang Yahudi Asfahan, mereka memakai jubah-jubah.”

 

Takhrij Hadits

Hadits yang mulia ini dikeluarkan oleh al-Imam Muslim rahimahullah dalam ash-Shahih, Kitabul Fitan (4/2266 no. 2944) melalui jalan Manshur bin Abi Muzahim, dari Yahya bin Hamzah, dari al-Auza’I, dari Ishaq bin Abdillah, dari pamannya, Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu.

 

Makna Hadits

Di antara ujian besar yang menimpa umat manusia adalah fitnah (ujian) al-Masih ad-Dajjal.

Di antara kasih sayang Allah subhanahu wa ta’ala, seluruh para nabi dan rasul memperingatkan umatnya dari ujian ad-Dajjal, termasuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan beliau telah memberikan keterangan-keterangan yang lebih lengkap dan gamblang ketimbang nabi-nabi sebelum beliau.

Dalam hadits Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa di antara para pengikut al-Masih ad-Dajjal adalah orang-orang Yahudi Asbahan.

Asbahan atau Asfahan adalah salah satu provinsi di Republik Iran, negara yang dibangun di atas agama Syiah Rafidhah. Asbahan sekarang lebih dikenal dengan Isfahan atau Esfahan.

Berita Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam semakin membuka mata kita tentang hakikat negara Iran. Iran bukan kiblat kaum muslimin. Revolusi Iran yang digembar-gemborkan Khomeini yang keji dan kotor bukanlah revolusi Islam, melainkan revolusi Syiah Rafidhah.

Sejak dahulu hingga kini Iran adalah negeri cobaan. Iran adalah negeri sumber kejelekan. Di negara Iran inilah para pengikut Dajjal berdiam, menanti kedatangan Dajjal, kemudian mengikutinya.

Cepat atau lambat, Yahudi akan berkumpul di Asbahan, Iran. Bahkan, saat ini, komunitas Yahudi telah terbentuk di Iran. Yahudi tinggal di Iran, terutama Isfahan, Hadan, dan Teheran. Mereka mendapatkan pengakuan—berbeda dengan Ahlus Sunnah yang terus menjadi sasaran intimidasi dan pembantaian.

Jangan heran apabila Yahudi tinggal nyaman di Iran. Hubungan mesra antara Iran (Syiah Rafidhah) dan Yahudi kasatmata. Keduanya, Syiah Rafidhah (Iran) dan Yahudi ibarat saudara kembar, hanya saja Rafidhah menisbatkan dirinya kepada Islam padahal Islam berlepas diri dari mereka, sementara Yahudi tetap di atas keyahudiannya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa nanti di akhir zaman, tujuh puluh ribu Yahudi Asbahan akan mengikuti Dajjal. Apa yang beliau kabarkan akan terjadi dan pasti terjadi.

 

Di Antara Prinsip Salaf: Mengimani Keluarnya Dajjal

Keluarnya al-Masih ad-Dajjal di akhir zaman adalah salah satu keyakinan Ahlus Sunnah wal Jamaah yang membedakan dari ahlul ahwa’ wal bida’. Hadits-hadits tentang keluarnya Dajjal sangat banyak, bahkan mencapai derajat mutawatir.

Al-Imam Ahmad bin Hambal dalam kitabnya, Ushulus Sunnah, berkata, “Wajib mengimani bahwa al-Masih ad-Dajjal akan keluar, tertulis di antara dua matanya ‘Kafir’, demikian pula mengimani semua hadits-hadits tentang Dajjal, dan mengimani bahwa semua itu akan terjadi.”

Sangat disayangkan, perkara yang sesungguhnya telah disepakati salaf ini diingkari oleh sebagian kaum muslimin, bahkan orang yang ditokohkan, seperti Muhammad Abduh, Abul A’la al-Maududi, Muhammad Farid Wajdi, dan Muhammad Rasyid Ridha.

Abul A’la Al-Maududi mengatakan bahwa Dajjal itu hanyalah simbol, bukan sosok manusia yang berwujud.

Pernyataan ini tentu saja bertentangan dengan sabda-sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang secara tegas menyatakan bahwa al-Masih ad-Dajjal bersosok manusia.

Tokoh lainnya, Muhammad Farid Wajdi, menyatakan bahwa hadits-hadits Dajjal semuanya palsu dan lemah.

Sebuah statemen yang menunjukkan jauhnya orang ini dari hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hadits tentang al-Masih ad-Dajjal mencapai derajat mutawatir dan dikeluarkan dalam kitab-kitab Shahih, seperti Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim, dan lainnya.

Serupa dengan Abul A’la al-Maududi, Muhammad Rasyid Ridha berkata, “Sesungguhnya keluarnya Dajjal adalah simbol bermunculannya berbagai kebatilan. Adapun turunnya Isa dan berita bahwa Isa akan membunuh Dajjal adalah simbol kemenangan kebenaran atas kebatilan.”

Keluarnya Dajjal adalah ujian yang sangat besar hingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintah kita untuk selalu berlindung kepada Allah dari fitnah al-Masih ad-Dajjal. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

        إِذَا تَشَهَّدَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللهِ مِنْ أَرْبَعٍ، يَقُولُ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ

Jika kalian bertasyahud, mintalah perlindungan kepada Allah dari empat perkara, “Ya Allah, sungguh aku berlindung kepada-Mu dari azab Jahannam, dari azab kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian, serta aku berlindung dari kejelekan fitnah al-Masih ad-Dajjal.” (HR. Muslim)

Di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Dajjal sudah ada. Dia terbelenggu di sebuah pulau sebagaimana disebutkan dalam riwayat yang sahih. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengabarkan bahwasanya Dajjal akan keluar dari arah timur, dari Khurasan.

Bisa jadi, muncul pertanyaan, bukankah hadits sahih mengabarkan bahwa Dajjal berada di sebuah pulau? Mengapa dikatakan Dajjal keluar dari Khurasan? Bukankah Khurasan bukan sebuah pulau?

Hadits-hadits sahih tidak bertentangan satu dengan yang lain. Semua datang dari Allah subhanahu wa ta’ala. Dajjal memang akan keluar dari sebuah pulau di arah timur. Setelah keluar, dia menuju Khurasan. Dari Khurasan inilah kemudian Dajjal mengelilingi bumi, timur dan barat.

Setelah muncul, Dajjal berkeliling di muka bumi selama empat puluh hari. Hari pertama berumur satu tahun, hari kedua berumur satu bulan, hari ketiga berumur satu minggu, dan selebihnya seperti hari-hari biasa.

 

Melalui Asfahan dan Diikuti Yahudi Asfahan

Ketika Dajjal keluar, tujuh puluh ribu Yahudi Asfahan mengikuti Dajjal, sebagaimana tertera dalam hadits Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu. Mereka bertekad memerangi kaum muslimin.

Apa yang dikabarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pasti akan terjadi. Sungguh, saat ini orang-orang Yahudi hidup terhormat dan terlindungi di Asfahan bersama orangorang Syiah Rafidhah Iran. Demikian pula di tempat-tempat lain di seluruh penjuru Iran.

Sungguh mengherankan, bersama Yahudi, kaum Syiah Rafidhah hidup dengan mesra, sedangkan terhadap muslimin Ahlus Sunnah, Syiah Rafidhah terus melakukan teror.

Iran adalah negeri sumber fitnah dan kejelekan. Tidak samar pula bagi kita bahwa Iran adalah sebuah negara yang berasas Syiah Rafidhah. Dari asas mereka ini saja, kita sudah mengerti kejelekan yang tersimpan pada diri mereka.

Dalam Undang-Undang Dasar Iran, Bab I, Pasal ke-12, disebutkan asas tunggal negeri tersebut.

The official religion of Iran is Islam and the Twelver Ja’fari school [in usual al-Din and fiqh], and this principle will remain eternally immutable.”

“Agama resmi Iran adalah Islam di atas mazhab Imamiyah Itsna Asyariyah Ja’fari (dalam akidah dan fikih), dan prinsip ini akan tetap abadi selamanya.”

Dengan tegas, tanpa tedeng aling-aling, mereka menyatakan asas tunggal negara mereka adalah mazhab Itsna ‘Asyariah atau Rafidhah. Ini adalah asas kafir, sebuah agama yang bertentangan dengan Islam. Wal ‘iyadzubillah.

Lebih-lebih ketika kita melihat kiprah dan reputasi buruk mereka dalam kancah pergaulan dunia. Niscaya dengan penuh keyakinan kita akan katakan bahwa mereka adalah sebab kejelekan dan sumber fitnah.

 

Ke Mana Dajjal dan Bala Tentaranya Berjalan?

Bersama para pengikutnya, Dajjal menuju Madinah. Alhamdulillah, Allah subhanahu wa ta’ala menjaga kota Madinah. Semua celah menuju Madinah dijaga oleh malaikat dengan pedang-pedang terhunus.

Dalam riwayat Muslim disebutkan,

        وَعَنْ أَنَسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَيْسَ مِنْ بَلَدٍ إلاَّ سَيَطَؤُهُ الدَّجَّالُ إلاَّ مَكَّةَ وَالمَدِينَةَ؛ وَلَيْسَ نَقْبٌ مِنْ أَنْقَابِهِمَا إلاَّ عَلَيْهِ الْمَلاَئِكَةُ صَافِّينَ تَحْرُسُهُمَا، فَيَنْزِلُ بالسَّبَخَةِ، فَتَرْجُفُ الْمَدِينَةُ ثَلاَثَ رَجَفَاتٍ، يُخْرِجُ اللهُ مِنْهَا كُلَّ كَافِرٍ وَمُنَافِقٍ

Dari Anas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada sebuah negeri pun melainkan Dajjal akan menguasainya, kecuali Makkah dan Madinah. Tidak ada satu celah pun di Makkah dan Madinah kecuali para malaikat bershaf-shaf menjaga keduanya. Singgahlah ad-Dajjal di sebuah tempat (di pinggir Madinah), Madinah pun bergoncang tiga kali. Allah subhanahu wa ta’ala keluarkan dari Madinah semua orang yang kafir dan munafik.”

Ibnul Atsir berkata, “Kata السَّبَخَةِ adalah jenis tanah yang tinggi kadar garamnya hingga tidak tumbuh padanya kecuali tanaman tertentu.” (an-Nihayah 2/333)

Dalam hadits lain, al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah meriwayatkan,

عَنْ عَائِشَةَ أَخْبَرَتْهُ قَالَتْ: دَخَلَ عَلَيَّ رَسُولُ ا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا أَبْكِي فَقَالَ لِي: مَا يُبْكِيكِ؟ قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، ذَكَرْتَ الدَّجَّالَ فَبَكَيْتُ. فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنْ يَخْرُجِ الدَّجَّالُ وَأَنَا حَيٌّ كَفَيْتُكُمُوهُ، وَإِنْ يَخْرُجِ الدَّجَّالُ بَعْدِي فَإِنَّ رَبَّكُمْ عَزَّ وَجَلَّ لَيْسَ بِأَعْوَرَ وَإِنَّهُ يَخْرُجُ فِي يَهُودِيَّةِ أَصْبَهَانَ حَتَّى يَأْتِيَ الْمَدِينَةَ فَيَنْزِلَ نَاحِيَتَهَا وَلَهَا يَوْمَئِذٍ سَبْعَةُ أَبْوَابٍ عَلَى كُلِّ نَقْبٍ مِنْهَا مَلَكَانِ، فَيَخْرُجَ إِلَيْهِ شِرَارُ أَهْلِهَا حَتَّى الشَّامِ مَدِينَةٍ بِفِلَسْطِينَ بِبَابِ لُدٍّ.

وَقَالَ أَبُو دَاوُدَ مَرَّةً: حَتَّى يَأْتِيَ فِلَسْطِينَ بَابَ لُدٍّ فَيَنْزِلَ عِيسَى عَلَيْهِ السَّ مَالُ فَيَقْتُلَهُ ثُمَّ يَمْكُثَ عِيسَى عَلَيْهِ السَّ مَالُ فِي الْأَرْضِ أَرْبَعِينَ سَنَةً إِمَامًا عَدْ وَحَكَمًا مُقْسِطًا

Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, beliau berkata, Suatu saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengunjungiku saat aku sedang menangis. Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Apa yang membuatmu menangis?”

Aku jawab, “Wahai Rasulullah, engkau telah menceritakan tentang Dajjal. Itu yang membuatku menangis.”

Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seandainya Dajjal keluar dan aku masih hidup, cukup aku bagi kalian. Seandainya Dajjal keluar sepeninggalku, ketahuilah sesesungguhnya Rabb kalian tidak buta (sebagaimana Dajjal buta).”

Dajjal akan keluar di tengah-tengah Yahudi Asbahan menuju Madinah. Dajjal hanya singgah di perbatasan Madinah (tidak bisa masuk ke dalamnya –pen.). Saat itu Madinah memiliki tujuh pintu, pada setiap pintu masuk ada dua malaikat. Lalu orang-orang jelek dari penduduk Madinah keluar menuju Dajjal.”

Kemudian tibalah di Palestina di Bab Ludd. Turunlah Isa bin Maryam lalu membunuh Dajjal. Nabi Isa tinggal selama 40 tahun di bumi sebagai imam dan penguasa yang adil.”

 

Nasib Yahudi Para Pengikut Dajjal

Bukan hanya Dajjal yang dibunuh dan dihinakan. Para pengikutnya juga dihinakan dan diperangi oleh kaum mukminin. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُقَاتِلَ الْمُسْلِمُونَ الْيَهُودَ فَيَقْتُلُهُمْ الْمُسْلِمُونَ حَتَّى يَخْتَبِئَ الْيَهُودِيُّ مِنْ وَرَاءِ الْحَجَرِ وَالشَّجَرِ فَيَقُولُ الْحَجَرُ أَوْ الشَّجَرُ : يَا مُسْلِمُ يَا عَبْدَ ا هَذَا يَهُودِيٌّ خَلْفِي فَتَعَالَ فَاقْتُلْهُ ! إِ الْغَرْقَدَ فَإِنَّهُ مِنْ شَجَرِ الْيَهُودِ

“Tidak akan terjadi kiamat hingga kaum muslimin memerangi Yahudi dan membunuhi mereka. Sampai ketika ada Yahudi bersembunyi di balik batu atau pohon, batu dan pohon berkata, “Wahai muslim, wahai hamba Allah, Yahudi ada di belakangku. Kemari dan bunuhlah dia!” Kecuali pohon gharqad, (dia tidak berbicara) karena dia termasuk pohon Yahudi.” (HR. al-Bukhari dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Peperangan yang disebutkan dalam hadits di atas saat kaum muslimin membunuh orang-orang Yahudi, adalah perang di zaman Dajjal. Dajjal dibunuh oleh Isa bin Maryam. Adapun Yahudi para pengikut Dajjal diperangi oleh kaum muslimin. Allahu a’lam.

Al-Imam Ibnu Majah rahimahullah meriwayatkan sebuah hadits panjang dari Abu Umamah al-Bahili dalam as-Sunan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَبَيْنَمَا إِمَامُهُمْ قَدْ تَقَدَّمَ يُصَلِّي بِهِمُ الصُّبْحَ إِذْ نَزَلَ عَلَيْهِمْ عِيسَى بْنُ مَرْيَمَ الصُّبْحَ، فَرَجَعَ ذَلِكَ الْإِمَامُ يَنْكُصُ يَمْشِي الْقَهْقَرِي لِيَتَقَدَّمَ عِيَسى يُصَلِّي بِالنَّاسِ، فَيَضَعُ عِيسَى يَدَهُ بَيْنَ كَتِفَيْهِ ثُمَّ يَقُولُ لَهُ: تَقَدَّمْ فَصَلِّ، فَإِنَّهَا لَكَ أُقِيمَتْ. فَيُصَلِّي بِهِمْ إِمَامُهُمْ فَإِذَا انْصَرَفَ قَالَ عِيسَى عَلَيْهِ السَّ مَالُ: افْتَحُوا الْبَابَ. فَيَفْتَحُ وَوَرَاءَهُ الدَّجَّالُ مَعَهُ سَبْعُونَ أَلْفَ يَهُودِيٍّ كُلُّهُمْ ذُو سَيْفٍ مُحَلَّى وَسَاجٍ،

فَإِذَا نَظَرَ إِلَيْهِ الدَّجَّالُ ذَابَ كَمَا يَذُوبُ الْمِلْحُ فِي الْمَاءِ وَيَنْطَلِقُ هَارِبًا وَيَقُولُ عِيسَى عَلَيْهِ السَّ مَالُ: إِنَّ لِي فِيكَ ضَرْبَةً لَنْ تَسْبِقَنِي بِهَا. فَيُدْرِكُهُ عِنْدَ بَابِ اللُّدِّ الشَّرْقِيِّ فَيَقْتُلُهُ فَيَهْزَمُ اللهُ الْيَهُودَ فَ يَبْقَى شَيْءٌ مِمَّا خَلَقَ اللهُ يَتَوَارَى بِهِ يَهُودِيٌّ إِلاَّ أَنْطَقَ اللهُ ذَلِكَ الشَّيْءُ لاَ حَجَرٌ وَ شَجَرٌ وَ حَائِطٌ وَ دَابَّةٌ إ الْغَرْقَدَةَ فَإِنَّهَا مِنْ شَجَرِهِمْ تَنْطِقُ إِلاَّ قَالَ: يَا عَبْدَ اللهِ الْمُسْلِمَ، هَذَا يَهُودِيٌّ فَتَعَالَ اقْتُلْهُ

Tatkala imam mereka (al-Mahdi) maju untuk mengimami shalat subuh, tiba-tiba turun kepada mereka ‘Isa bin Maryam ‘alaihissalam. Bergegaslah Imam Mahdi mundur ke belakang agar Nabi ‘Isa ‘alaihissalam mengimami manusia. Nabi ‘Isa q pun meletakkan tangan beliau di antara pundak al-Mahdi seraya berkata,

“Maju dan shalatlah, karena untukmu shalat ini ditegakkan.”

Seusai shalat, Isa ‘alaihissalam berkata, “Bukalah pintu!”

        Dibukalah pintu, ternyata di baliknya ada Dajjal bersama 70.000 orang Yahudi, semuanya menenteng pedang dan memakai jubah. Ketika Dajjal menatap Isa ‘alaihissalam, ia meleleh sebagaimana melelehnya garam dalam air. Larilah Dajjal.

Nabi Isa berkata, “Sungguh, aku memiliki sebuah pukulan yang engkau tidak akan mendahului aku dengannya.”

Isa mendapatkan Dajjal di Bab Lud sebelah timur dan membunuhnya. Ketika itu Allah kalahkan Yahudi hingga tidak ada satu makhluk pun yang Yahudi bersembunyi padanya kecuali Allah subhanahu wa ta’ala menjadikannya berbicara; batu, pohon, tembok, atau hewan—semua berbicara— kecuali pohon gharqad, sesungguhnya ia adalah pohon Yahudi—semua berbicara,

“Wahai hamba Allah yang muslim, ini Yahudi, kemari dan bunuhlah dia…!”

Hadits Abu Umamah radhiallahu ‘anhu di dalam sanadnya ada kelemahan, tetapi riwayat yang menunjukkan bahwa peperangan ini terjadi di masa Imam Mahdi dikuatkan dengan syawahid (penguat-penguat dari hadits lain).

Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Hadits (Abu Umamah radhiallahu ‘anhu) dikeluarkan oleh Ibnu Majah dengan panjang, dan asal hadits ini ada pada Abu Dawud. Ada yang serupa dengan hadits ini, yaitu hadits Samurah radhiallahu ‘anhu pada riwayat al-Imam Ahmad (dalam al-Musnad) dengan sanad hasan, dan dikeluarkan Ibnu Mandah dalam ‘Kitab al-Iman’ dari hadits Hudzaifah radhiallahu ‘anhu dengan sanad sahih. (Fathul Bari, 6/610)

Walhamdulillah.

 

Al-Masih versi Yahudi adalah Dajjal

Yahudi meyakini akan kemunculan seseorang yang diklaim bakal mengembalikan kejayaan mereka. Mereka menyebutnya al-Masih al-Muntazhar, yakni al-Masih yang dinanti.

Dalam keyakinan mereka, orang tersebut berasal dari keluarga Nabi Dawud, yang nantinya akan menundukkan umat, memperbudak mereka, dan mengembalikan kejayaan Yahudi. Masih ada berbagai keyakinan dan harapan yang dibumbui bermacam-macam kedustaan, sebagaimana tertera dalam kitab Talmud

mereka. Akidah ini terus mereka yakini hingga saat ini, terbukti dengan tercantumnya hal itu dalam Protokolat Yahudi Zionis. (Dirasat fil Adyan, hlm. 265)

Yahudi tidak mengakui bahwa al-Masih al-Muntazhar adalah Isa bin Maryam. Mereka mengkufurinya. mengingkarinya, dan melontarkan tuduhan-tuduhan keji, serta tuduhan kekafiran kepada Isa dan kepada ibunya, Maryam, sebagaimana termaktub dalam kitab Talmud mereka.

Karena itu, tidak heran ketika Nabi Isa ‘alaihissalam turun di akhir zaman, mereka menjadi musuh-musuh utama beliau. Mereka bersama barisan Dajjal.

Ya, al-Masih ad-Dajjal itulah sejatinya al-Masih Muntazhar menurut keyakinan Yahudi. Nabi Isa ‘alaihissalam akan membunuh Dajjal di Bab Lud, demikian pula Yahudi akan diperangi kaum muslimin.

Pembaca rahimakumullah, inilahsekelumit kejadian di akhir zaman. Dajjal akan muncul dan diikuti Yahudi Asfahan, di negeri Iran, Mereka menyangka bahwa bersama Dajjal, kejayaan akan dicapai, namun hakikatnya mereka menuju kebinasaan.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Ditulis oleh al-Ustadz Muhammad Rijal, Lc

Ruwaibidhah: Fenomena Akhir Zaman

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتٌ؛ يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ.

قِيلَ: وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ؟ قَالَ: الرَّجُلُ التَّافِهُ يَتَكَلَّمُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ

“Sungguh, akan datang kepada manusia tahun-tahun yang sangat menipu. Para pendusta pada zaman itu dianggap sebagai orang yang jujur, sementara orang yang jujur dianggap pendusta. Para pengkhianat pada zaman itu dipercaya, sementara orang-orang yang amanah dianggap pengkhianat. Pada zaman itu pula Ruwaibidhah banyak berbicara.”

Rasulullah pun ditanya, “Siapa Ruwaibidhah, wahai Rasulullah?”

Beliau kemudian menjawab, “Orang dungu yang membicarakan urusan manusia.”

 

Tahkrij Hadits

Hadits dengan lafadz di atas diriwayatkan oleh al-Imam Ibnu Majah dalam as-Sunan no. 4042. Diriwayatkan pula oleh Abu Abdillah al-Hakim dalam al-Mustadrak (4/465, 512), Ahmad bin Hanbal dalam al-Musnad (2/291).

Semuanya melalui jalan Abdul Malik bin Qudamah, dari Ishaq bin Abil Furat, dari al-Maqburi, dari sahabat Abu Hurairah, Abdur Rahman bin Shakhr ad-Dausi radhiallahu ‘anhu.

Sanad ini dha’if (lemah) karena di dalamnya ada Abdul Malik bin Qudamah, seorang yang dha’if (lemah). Demikian adz-Dzahabi dalam Mizanul I’tidal menukilkan perkataan sejumlah ulama yang mendha’ifkannya.

Dalam sanad ini ada illat (cacat) lain, yaitu Ishaq bin Bakr. Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani berkata tentangnya, “Majhul (tidak dikenal).”

 

Meskipun demikian, hadits ini bisa dikuatkan karena diriwayatkan melalui jalan lain.

Al-Imam Ahmad dalam al-Musnad (2/338) meriwayatkan hadits ini melalui jalan dua guru beliau, Yunus dan Suraih. Keduanya meriwayatkan dari Fulaih bin Sa’id, dari Ubaidillah bin Sabbaq, dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قَبْلَ السَّاعَةِ سِنُونَ خَدَّاعَةٌ يُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ

“Sebelum tegak kiamat, akan datang tahun-tahun yang sangat menipu. Pada zaman itu, orang yang jujur didustakan, orang yang pendusta dibenarkan, orang yang tepercaya dianggap berkhianat, dan orang yang berkhianat diberi kepercayaan. Pada masa itu, Ruwaibidhah berbicara.”

Semua perawi dalam sanad ini tsiqat, kecuali Fulaih. Dia adalah Fulaih bin Sulaiman al-Khuza’i, ada pembicaraan tentangnya dari sisi hafalannya. Al- Hafizh Ibnu Hajr berkata, “Shaduq yukhti’u katsiran.”

 

Hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu diperkuat pula oleh adanya syahid (penguat) dari hadits Anas bin Malik yang diriwayatkan al-Imam Ahmad dalam al-Musnad (3/220), Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ أَمَامَ الدَّجَّالِ سِنِينَ خَدَّاعَةً يُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيَتَكَلَّمُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ. قِيلَ: وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ؟ قَالَ: الْفُوَيْسِقُ يَتَكَلَّمُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ

“Sesungguhnya menjelang keluarnya Dajjal, ada tahun-tahun yang menipu. Di zaman itu orang yang jujur didustakan, para pendusta dianggap benar, para pengkhianat dipercaya, sementara orang-orang yang amanah dianggap pengkhianat. Pada zaman itu pula Ruwaibidhah banyak berbicara.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya, “Apa itu Ruwaibidhah, wahai Rasulullah?”

Beliau kemudian menjawab,

الْفُوَيْسِقُ يَتَكَلَّمُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ

“Orang yang sangat fasik (lagi hina), membicarakan perkara publik (masyarakat umum).”

Hadits Anas ini diriwayatkan Ahmad melalui jalan Muhammad bin Ishaq dari Muhammad bin al-Munkadir. Para perawinya tsiqat, hanya saja dalam sanad ini ada ‘an’anah Ibnu Ishaq, dan ia seorang mudallis.

 

Makna Hadits

Dalam hadits ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan akan datangnya tahun-tahun yang disifati beliau dengan (سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتٌ), tahun-tahun yang sangat menipu.

Masa itu disifati demikian karena kondisinya benar-benar terbalik, sebagaimana ditafsirkan oleh beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Saat itu, yang benar tampak batil/salah, sebaliknya kebatilan tampak sebagai kebenaran. Beliau bersabda,

“… Para pendusta di zaman itu dianggap sebagai orang yang jujur, orang yang jujur dianggap pendusta. Para pengkhianat di zaman itu dipercaya, orang-orang yang amanah dianggap pengkhianat….”

 

Inilah empat hal yang akan terjadi pada zaman tersebut. Beliau juga menyebutkan yang kelima,

وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ

“… pada zaman itu Ruwaibidhah banyak berbicara….”

Para sahabat lalu menanyakan tentang siapa Ruwaibidhah. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

الرَّجُلُ التَّافِهُ يَتَكَلَّمُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ

“… Orang dungu yang membicarakan urusan manusia.”

Pada sebagian riwayat hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan tentang siapa

mereka.

الْفُوَيْسِقُ يَتَكَلَّمُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ

“Orang yang sangat fasik (lagi hina), membicarakan urusan publik (umum).”

 

Menjelaskan makna Ruwaibidhah, al-Imam al-Baghawi berkata dalam Syarhus Sunnah (1/12), “Ruwaibidhah secara bahasa adalah bentuk tashghir (pengecilan/perendahan) dari kata ar-Rabidhah. Maknanya adalah penggembala kambing. Rabidh sendiri bermakna kambing/domba.”

 

Tanda Kenabian

Dalam hadits ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan kepada kita berita gaib, yaitu beberapa hal yang akan terjadi di akhir zaman. Kabar beliau ternyata benar-benar terjadi.

Berita-berita seperti ini termasuk tanda dan bukti kenabian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan betapa banyak yang serupa.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memang tidak mengerti perkara gaib. Itulah keyakinan Ahlus Sunnah. Kita meyakini hanya Allah ‘azza wa jalla lah yang mengetahui perkara gaib. Akan tetapi, Allah ‘azza wa jalla mewahyukan sebagian perkara gaib kepada para nabi dan rasul-Nya. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

          عَٰلِمُ ٱلۡغَيۡبِ فَلَا يُظۡهِرُ عَلَىٰ غَيۡبِهِۦٓ أَحَدًا ٢٦ إِلَّا مَنِ ٱرۡتَضَىٰ مِن رَّسُولٖ فَإِنَّهُۥ يَسۡلُكُ مِنۢ بَيۡنِ يَدَيۡهِ وَمِنۡ خَلۡفِهِۦ رَصَدٗا ٢٧

        “(Dia adalah) Yang Mengetahui yang gaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang gaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya.” (al-Jin: 26—27)

 

Perhatikan fenomena di zaman kita. Betapa sesuainya keadaan zaman ini dengan berita Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Betapa banyak orang jujur lagi mulia yang didustakan. Banyak pula para pendusta yang ucapannya dianggap kebenaran. Sebagaimana sabda beliau,

يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ

“… para pendusta di zaman itu dianggap sebagai orang yang jujur, sementara orang yang jujur dianggap pendusta….”

 

Mungkin contoh nyata yang bisa kita saksikan adalah perlakuan ahlul bid’ah kepada ulama-ulama Ahlus Sunnah. Sosok al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah, imam Ahlus Sunnah wal Jamaah, murid terkemuka al-Imam asy Syafi’i rahimahullah, diperlakukan demikian kasar. Beliau disiksa, dipenjara, bahkan hendak dibunuh.

Apa sebab beliau disiksa? Ternyata karena beliau sedemikian gigih mempertahankan kebenaran, mempertahankan akidah Ahlus Sunnah. Beliau mempertahankan keyakinan bahwa al-Qur’an adalah kalamullah (firman Allah ‘azza wa jalla), bukan makhluk.

 

Al-Qur’an adalah kalamullah, sebagaimana ditunjukkan oleh al-Kitab, as-Sunnah, dan ijma’. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

          وَإِنۡ أَحَدٞ مِّنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ ٱسۡتَجَارَكَ فَأَجِرۡهُ حَتَّىٰ يَسۡمَعَ كَلَٰمَ ٱللَّهِ ثُمَّ أَبۡلِغۡهُ مَأۡمَنَهُۥۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمۡ قَوۡمٞ لَّا يَعۡلَمُونَ ٦

        “Dan jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar kalam Allah, kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui.” (at-Taubah: 6)

Kebenaran mana yang melebihi kebenaran al-Qur’an? Kejujuran mana yang melebihi sabda-sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Namun, pada zaman al-Imam Ahmad rahimahullah kebenaran ini didustakan dan ditolak.

 

Demikian pula keadaan ulama Ahlus Sunnah di zaman ini, semisal asy-Syaikh al-Albani, asy-Syaikh Rabi’ al-Madkhali, dan masyayikh Ahlus Sunnah lainnya. Ucapan-ucapan mereka yang penuh hikmah didustakan. Nasihat-nasihat mereka memperingatkan umat dari kesyirikan dan penyerunya, kebid’ahan dan pengusungnya dianggap sebagai kedunguan, ghibah, dan memecah belah umat. Padahal maksud mereka adalah memberi nasihat yang tulus bagi umat.

Mereka, ulama Ahlus Sunnah yang penuh kejujuran dan semangat justru dicela dan dipojokkan dengan tuduhan-tuduhan yang jauh dari kenyataan. Mereka penuh kejujuran, namun didustakan oleh penyeru kesyirikan, pengusung kebid’ahan dan kesesatan.

 

Sebaliknya, banyak para pendusta, tokoh-tokoh penyesat, pembawa panji-panji kesyirikan, kebid’ahan dan pemikiran-pemikiran sesat, ucapan mereka justru dibenarkan.

Melalui berbagai media cetak dan elektronik, tokoh-tokoh pendusta diorbitkan. Dengan seenaknya mereka melecehkan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mengolok-olok agama Islam. Ucapan mereka yang sedemikian keji dianggap sebagai sebuah kebenaran hanya karena dia menyandang gelar profesor doktor. Sejatinya, dia hanyalah pendusta, dajjal yang penuh dengan kehinaan.

Ucapan mereka seakan-akan kebenaran. Sesungguhnya mereka memutarbalikkan fakta. Tersebarlah kedustaan di tengah umat ini dan dianggap sebagai sebuah kebenaran yang harus diterima secara mutlak.

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Sosok Penyayang

Siapa pun yang merenungi hadits ini akan melihat betapa sayang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

          لَقَدۡ جَآءَكُمۡ رَسُولٞ مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ عَزِيزٌ عَلَيۡهِ مَا عَنِتُّمۡ حَرِيصٌ عَلَيۡكُم بِٱلۡمُؤۡمِنِينَ رَءُوفٞ رَّحِيمٞ ١٢٨

“Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (at-Taubah: 128)

 

Bukti kasih sayang beliau sangat banyak. Demi Allah, semua perjalanan hidup Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah bukti kasih sayang beliau.

Mungkin Anda masih ingat, suatu saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat. Sedianya beliau ingin memperlama bacaan, tiba-tiba terdengar tangisan anak kecil. Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menyegerakan shalatnya. Beliau mengurungkan niat untuk memperlama bacaan sebagaimana kebiasaan beliau.

Beliau sangat khawatir ibu sang bocah ikut shalat bersama beliau, sehingga kegelisahan menimpanya di tengah shalat. Beliau tidak ingin kegelisahan menimpa ibu dan sang bocah.

 

Di antara bentuk kasih sayang beliau adalah semangat beliau memperingatkan umat dari segala kejelekan yang beliau ketahui, seperti hadits yang sedang kita telaah.

Beliau mengabarkan keadaan zaman sepeninggal beliau. Beliau menyebutkan suatu zaman yang demikian besar fitnahnya. Semua itu adalah kasih sayang beliau agar umat bersiap menghadapi kejelekan.

 

Hikmah Peringatan Kejelekan Akhir Zaman

Hadits ini bukan satu-satunya hadits yang berbicara tentang kejelekan di akhir zaman.

Alhamdulillah, semua hadits yang dibutuhkan umat untuk mengenal kejelekan akhir zaman terjaga dalam kitab-kitab ahlul hadits, kitab-kitab shahih, sunan, musnad, dan kitab hadits lainnya yang semestinya kita buka dan telaah.

Peringatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari berbagai kejelekan di akhir zaman memiliki faedah-faedah besar, di antaranya:

  1. Menambah keimanan.

Orang yang membaca berita Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang fitnah akhir zaman, kemudian mendapatkan kebenaran sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tentu kebenaran berita tersebut akan menambah keimanannya.

  1. Seorang mukmin akan lebih waspada dari berbagai kejelekan, kemudian segera menyiapkan berbagai upaya untuk menghadapi kejelekan tersebut sesuai bimbingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  2. Seorang mukmin semakin meyakini akan datangnya Hari Kiamat ketika menyaksikan tanda-tandanya bermunculan sebagaimana dikabarkan.
  3. Tanda-tanda hari kiamat akan mengingatkan orang-orang yang lalai untuk bersegera menuju ampunan Allah ‘azza wa jalla dan keridhaan-Nya.

 

Petaka Ruwaibidhah

Ruwaibidhah adalah orang yang fasik lagi hina, pendosa, dan jahil. Namun, dengan lancang mereka memosisikan diri untuk membicarakan masalah umat.

Allahu Akbar! Apa yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kabarkan dalam hadits ini benar-benar terjadi. Ruwaibidhah bermunculan berbicara tentang urusan umat.

Betapa banyak manusia dungu dan jahil dalam urusan agama dengan lancang berbicara dan berfatwa di tengah halayak. Bisa dibayangkan betapa besar kerusakan yang menimpa umat manusia ketika orang seperti mereka membicarakan urusan yang bukan kapasitasnya.

 

Dengan entengnya Ruwaibidhah berbicara tentang agama tanpa ilmu, Dengan seenaknya mereka bicara urusan darah kaum muslimin. Dengan serampangan mereka berbicara jihad. Muncullah berbagai kerusakan yang kita saksikan saat ini seperti fenomena: takfirul hukkam wal muslimin (pengkafiran terhadap penguasa dan kaum muslimin) dan pemikiran lainnya.

Dengan fatwa-fatwa yang tidak bertanggung jawab, Ruwaibidhah mengafirkan para penguasa dan masyarakatnya. Dengan dalih jihad mereka membunuh orang kafir yang tidak boleh dibunuh, bahkan orang muslim pun tidak luput menjadi korban kejahatan mereka.

 

Jangan menengok terlalu jauh, saksikanlah apa yang terjadi di negeri ini. Saat kampanye reformasi digelar. Kekacauan terjadi di seluruh penjuru negeri.

Tokoh-tokoh pengusung reformasi bukanlah ulama, bukan pula orang-orang yang mengerti maslahat dan mafsadah sebagaimana diajarkan dalam agama ini. Mereka tidak lain adalah para pendusta, politikus, dan orang-orang yang gila kekuasaan. Bukan agama yang diperjuangkan, melainkan dunia. Mereka adalah Ruwaibidhah.

Akibatnya, kejelekan terbuka sedemikian lebar. Saat ini, semua kesesatan bisa berkembang bebas meracuni anak-anak bangsa: liberalisme, komunisme, radikalisme, dan terorisme. Pemberontakan, hujatan kepada penguasa, sesuatu yang sudah sangat akrab di telinga kita. Demikian tragis nasib negeri ini, ketika Ruwaibidhah berbicara.

 

Tidak diragukan—wallahu a’lam—bahwa Ruwaibidhah termasuk golongan ashaghir yang disebutkan dalam hadits Abu Umayyah al-Jumahi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُلْتَمَسَ الْعِلْمُ عِنْدَ الْأَصَاغِرِ

“Sesungguhnya di antara tanda-tanda hari kiamat adalah diambilnya ilmu dari ashaghir (orang-orang kecil/muda).” (HR. ath-Thabarani, dinyatakan sahih dalam Shahih al-Jami’)

Para ulama menerangkan, di antara makna ashagir adalah ahlul bid’ah. Ya, ahlul bid’ah, dijadikan sebagai rujukan ilmu.

Jika urusan umat dipegang oleh para ulama, orang-orang yang mumpuni dalam ilmu dan berumur, harapkanlah kebaikan. Sebaliknya, jika yang berbicara dan dijadikan rujukan adalah orang-orang fasik lagi jahil, kejelekan akan menimpa umat ini.

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللهَ تَعَالَى لاَ يَقبِضُ الْعِلمَ انتِزَاعًا يَنتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ، وَلَكِنْ يَقبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ، حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُؤَسَاءَ جُهَّالاً، فَسُئِلُوا فَأَفتَوْا بِغَيرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا

“Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla tidak akan mencabut ilmu dari umat manusia dengan sekali cabut. Akan tetapi, Dia akan mencabut dengan mematikan para ulama (ahlinya). Sampai apabila Dia tidak menyisakan seorang alim, umat manusia akan menjadikan orang-orang yang bodoh sebagai pimpinan-pimpinan mereka. Mereka ditanya (oleh umatnya) lantas menjawab tanpa ilmu, sehingga mereka sesat dan menyesatkan.” (Muttafaqun ‘alaih)

 

Ibnu Qutaibah rahimahullah berkata, “Manusia senantiasa dalam kebaikan, selama yang menjadi ulama (panutan) mereka adalah masyayikh (orang-orang yang tua, baik dalam hal ilmu maupun usia), bukan orang-orang yang masih muda. Sebab, orang yang telah berumur, telah hilang darinya sifat kekasaran, main-main, dan ketergesa-gesaan (yang biasa ada) pada anak muda.

Orang yang tua juga penuh dengan pengalaman dalam urusannya. Karena itu, ilmunya tidak tercampur dengan kerancuan (syubhat), tidak pula hawa nafsu menyimpangkannya, tidak pula mudah dijerumuskan setan.

Adapun kaum muda, seringkali hal-hal tersebut menimpanya—yang kaum tua selamat darinya. Apabila hal itu terjadi, kemudian ia berfatwa, sungguh dia akan binasa dan membinasakan.”

 

Dahulu, salaf kita bersedih ketika melihat orang jahil berbicara memberi fatwa. Lantas apa pendapat Anda jika mereka menyaksikan rusaknya zaman kita ini? Semua orang bebas berbicara, bahkan berfatwa. Sebebas-bebasnya, tanpa batas.

Ibnu Abdil Barr al-Andalusi rahimahullah meriwayatkan dalam Jami Bayani Ilmi fa Fadhluhi melalui jalan Abdullah bin Wahb, dari al-Imam Malik, beliau berkata,

Seorang mengabarkan kepadaku: Suatu saat aku masuk menemui Rabi’ah bin Abdur Rahman. Ketika itu beliau sedang menangis. Aku pun bertanya, “Apa yang membuatmu menangis?”

Rabi’ah bertambah tangisnya. Aku bertanya kembali, “Apakah ada musibah yang menimpamu?”

Rabi’ah menjawab, “Tidak, (bukan karena itu aku menangis). Akan tetapi, saat ini orang yang tidak berilmu dimintai fatwa, dan muncullah perkara besar dalam Islam. Sungguh, sebagian dari mereka yang berfatwa (tanpa ilmu itu) lebih pantas untuk dipenjara daripada para pencuri!”

 

Saudaraku, mari kita kuatkan semangat mendidik diri kita dan generasi kita dengan ilmu al-Kitab dan as-Sunnah. Tuntutlah ilmu al-Kitab dan as-Sunnah sebelum ilmu dicabut dengan wafatnya para ulama.

Bekali generasi kita untuk menghadapi tahun-tahun yang memilukan dengan al-Kitab dan as-Sunnah dengan pemahaman salaf umat ini. Tidak ada benteng yang kokoh kecuali dengan berpegang teguh dengan keduanya.

Allahul musta’an.

Ditulis oleh al-Ustadz Muhammad Rijal, Lc

Menjauhkan Penganut Syiah dari Lingkaran Kekuasaan

Betapa kuat pengaruh teman dekat dan sahabat karib, sampai-sampai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إنَّ الَّهلَ لَم يَبْعَث نَبِياً وَ خَلِيفَةً إِ وَلَهُ بِطَانَتَان: بِطَانَةٌ تَأمُرَهُ بالمَعروفِ وتَنْهَاهُ عَن المُنْكَر، وبِطَانَةٌ تَألُوهُ خَبَا ،ًال وَمن يُوقَ بِطَانَةَ السُّوء فَقَد وُقي

“Sungguh, Allah tidaklah mengutus seorang nabi atau seorang khalifah, kecuali mempunyai dua macam bithanah (orang kepercayaan). Bithanah yang mengarahkan kepada kebaikan dan mencegahnya dari kemunkaran atau bithanah yang selalu mengarahkan kepada keburukan. Siapa saja yang terlindungi dari bithanah yang buruk, sungguh ia telah terjaga. ”

 

Takhrij Hadits

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas, kata per katanya sesuai dengan riwayat al-Imam al-Bukhari dalam karya beliau al-Adabul Mufrad (256).

Hadits di atas juga disebutkan oleh at-Tirmidzi dalam as-Sunan (2/58—59) dan asy-Syama-il al-Muhammadiyah (134), ath-Thahawi dalam Musykilul Atsar (1/195—196) , al-Hakim dalam al-Mustadrak (4/131), dan al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman (2/17/2).

Seluruh ulama hadits di atas meriwayatkan hadits ini dari berbagai jalur riwayat yang berbeda. Namun, semuanya kembali dan bermuara pada jalur riwayat Abdul Malik bin Umair, dari Abu Salamah bin Abdur Rahman, dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu. Beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda demikian. Hadits ini—walhamdulillah—dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Silsilah ash-Shahihah (1641).

Sabda Rasulullah subhanahu wa ta’ala di atas, sebenarnya mempunyai asbabul wurud (kronologi kejadian) yang juga disebutkan dalam riwayat. Saat itu, Rasululllah subhanahu wa ta’ala bertanya kepada sahabat Abul Haitsam, “Apakah engkau mempunyai budak pelayan?”

Ternyata Abul Haitsam tidak memilikinya.

“Apabila tiba nanti rombongan tawanan, silahkan engkau menemui saya,” pesan Rasulullah.

Selanjutnya, ada dua orang tawanan yang dibawa ke hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Abul Haitsam yang mendengar berita tersebut segera menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau memberi kesempatan Abul Haitsam untuk memilih salah satunya. Namun, Abul Haitsam memohon kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berkenan memilihkannya.

“Sungguh, orang yang dimintai pendapatnya adalah orang yang memperoleh amanat. Silakan engkau ambil budak yang ini, karena aku melihatnya mau mengerjakan shalat. Berbuat baiklah engkau kepadanya!” demikian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil keputusan sekaligus berpesan.

Sepulang ke rumah dan setelah bercerita, istri Abul Haitsam menyampaikan, “Sungguh, engkau belum akan bisa melaksanakan pesan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (untuk berbuat baik), kecuali dengan cara memerdekakan budak itu.”

Abul Haitsam lantas memerdekakan budak tersebut.

Mengetahui hal tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan sabda di atas, “Sungguh, Allah subhanahu wa ta’ala tidaklah mengutus seorang nabi atau seorang khalifah, kecuali mempunyai dua macam bithanah (orang kepercayaan). Bithanah yang mengarahkan kepada kebaikan dan mencegahnya dari kemungkaran atau bithanah yang selalu mengarahkan kepada keburukan. Siapa saja yang terlindungi dari bithanah yang buruk, sungguh ia telah terjaga.”

 

Makna Hadits

An-Nawawi rahimahullah dalam karya beliau yang berjudul Riyadhus Shalihin, menuliskan sebuah judul untuk hadits ini, “Bab tentang anjuran bagi penguasa tertinggi, qadhi, atau jajaran pemerintahan untuk mengangkat penasihat yang baik, serta berhati-hati menerima masukan dari para pembisik yang buruk.”

Dalam keterangannya, Ibnu Utsaimin (Syarah Riyadhus Shalihin) menyatakan, “Hal ini merupakan fakta yang nyata. Anda menyaksikan seorang pemimpin, kepribadian aslinya mulia dan mempunyai keinginan yang baik. Namun, Allah subhanahu wa ta’ala mengujinya dengan penasihat-penasihat yang buruk—wal ‘iyadzu billah. Mereka menghalang-halanginya dari keinginan yang baik, dan justru membujuknya untuk melakukan perbuatan buruk.”

Sebaliknya juga, masih keterangan dari Ibnu Utsaimin, “Anda bisa menyaksikan seorang pemimpin yang wataknya kurang baik, tetapi di sekelilingnya berdiri para penasihat yang baik. Mereka mengarahkan kepada kebaikan. Mereka menyarankan dia untuk melakukan program yang melahirkan kecintaan antara dirinya dan rakyat. Akhirnya, dirinya dan keadaannya akan lurus dan baik.”

Kemudian asy-Syaikh Ibnu Utsaimin menasihati kita semua bahwa hal ini tidak hanya berlaku di kalangan penguasa atau di jajaran pemerintahan. Beliau mengatakan, “Oleh sebab itu, silakan introspeksi dirimu sendiri! Jika Anda melihat sahabat-sahabat dekatmu selalu mengarahkan kepada kebaikan, mendukung Anda dalam kebaikan, bila Anda lupa mereka segera mengingatkan, dan kalau Anda tidak mengetahui mereka langsung berbagi ilmu; pegang erat-erat ikat pinggang mereka dan gigitlah dengan gigi geraham!”

Setelah itu, asy-Syaikh Ibnu Utsaimin mengingatkan kita tentang pengaruh negatif dari teman-teman yang buruk. Kita harus menjauh dan menghindar dari mereka karena sedikit banyak pengaruh buruk mereka akan terlihat pada cara berpikir, tingkah laku, dan pola bicara kita.

 

Apakah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun Demikian?

Barangkali hadits di atas sempat dipertanyakan, bagaimana mungkin seorang nabi ada kemungkinan untuk mempunyai bithanah yang buruk?

Al-Munawi rahimahullah dalam Faidhul Qadir menjelaskan bahwa tidak mungkin seorang nabi mengikuti masukan orang yang jahat atau melaksanakan sarannya.

Mengapa? Sebab, nabi adalah hamba yang maksum; terjaga dari dosa.

Buktinya? Bukankah di akhir hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan?

Beliau bersabda, “Siapa saja yang terlindungi dari bithanah yang buruk, sungguh ia telah terjaga.”

Oleh sebab itu, al-Munawi mengingatkan kita bahwa seorang nabi atau seorang khalifah saja mungkin diuji dengan pembisik jahat, apalagi kita sebagai orang biasa. Karena itu, kita harus selalu waspada dan berhati-hati dari pengaruh orang-orang buruk di sekitar kita.

 

Sejarah Kaum Syiah sebagai Bithanah yang Jahat

Memberi akses untuk kaum Syiah dalam berperan di kehidupan bermasyarakat atau bernegara adalah langkah yang tidak boleh diambil. Memberi peluang untuk kaum Syiah sama saja menanam bibit-bibit kehancuran. Kaum Syiah tidak boleh mendapat pintu untuk tampil di hadapan publik. Kaum Syiah mesti ditekan, dilarang, dan diminimalkan.

Kita tidak boleh lupa, pura-pura lupa atau berusaha menutup mata dari sejarah Syiah. Mereka melakukan konsep clandestine di tubuh pemerintahan. Menyusupkan kader-kadernya, menggalang para simpatisan dan mengondisikan hukum perundang-undangan, sudah mereka lakukan sejak zaman dahulu. Tujuannya apalagi kalau bukan untuk menghancurkan Islam.

Sebagai contoh adalah dua tokoh Syiah yang bernama Ibnul Alqami dan at-Thusi (al-Bidayah wan Nihayah). Mereka berdua secara licik masuk menyusup dalam struktur pemerintahan di zaman Kekhalifahan Abbasiyah. Perlahan tapi pasti, mereka menapaki jenjang demi jenjang struktur pemerintahan. Itu semua dilakukan dengan menyembunyikan paham dan ideologi Syiahnya.

Sampai kemudian mereka berdua mencapai kedudukan seorang menteri di masa Khalifah al-Mush’tashim al-Abbasi. Apa yang mereka lakukan?

Mereka mengajukan usulan agar jumlah pasukan Islam dikurangi dengan alasan efisiensi. Terutama pasukan inti yang berada di pusat pemerintahan, di kota Baghdad, pengurangan pasukan terlihat secara besar-besaran. Sampai yang tersisa hanya sekira sepuluh ribu prajurit.

Dalam kesempatan yang sama, kedua menteri yang berideologi Syiah ini bersurat kepada pasukan Tatar untuk menyerang Baghdad. Gambar kota Baghdad dikirimkan, lengkap dengan struktur pertahanan, benteng, dan pos-pos keamanan turut dibocorkan. Titik-titik kelemahan kota Baghdad juga mereka jual kepada pasukan Tatar.

Saat pasukan Tatar benar-benar datang mengepung Baghdad, kedua menteri Syiah ini berusaha meyakinkan kaum muslimin bahwa kedatangan pasukan Tatar tidak untuk berperang. Mereka bertujuan untuk membangun persahabatan, kata kedua menteri Syiah ini.

Mereka berdua juga membujuk Khalifah untuk keluar menemui pasukan Tatar dengan diiringi para penasihat dan orang-orang pentingnya. Sementara itu, kedua menteri beragama Syiah ini meyakinkan pasukan Tatar untuk membunuh Khalifah bersama para pengiringnya. Mereka diminta untuk memerangi penduduk Baghdad dan menguasainya.

Akhirnya, Khalifah dan seluruh pengiringnya pun terbunuh. Bahgdad dikuasai, dihancurkan, dan dijadikan hangus arang. Apa sebenarnya tujuan kedua menteri beragama Syiah ini?

Mereka ingin menggunakan kekuatan Tatar untuk menguasai Baghdad. Harapannya, mereka berdua dianggap berjasa lalu diberi kesempatan untuk memimpin Baghdad. Setelah itu tercapai, mereka bercita-cita untuk membangun Kerajaan Syiah!

Lihat kelicikan dan kejahatan kaum Syiah! Jika diberi peluang, andai diberi angin, mereka akan melakukan tindak pengkhianatan. Demi membangun paham dan kekuasaan Syiah, mereka korbankan nyawa kaum muslimin. Tahukah Anda berapa jumlah korban yang jatuh dalam peristiwa Baghdad? Sekitar dua juta jiwa muslim hilang. Wanita dan anak-anak dalam jumlah besar ditawan dan dijadikan budak.

Hasilnya? Kedua menteri itu pun terbunuh.

Tahukah Anda bahwa kedua menteri di atas, Ibnul Alqami dan ath-Thusi, diagung-agungkan dan dipuja oleh kaum Syiah?

Khomeini dalam tulisannya, al-Hukumah al-Islamiyah (hlm. 133) mengatakan, “Umat merasa sangat rugi dengan kehilangan seorang tokoh agung, yakni Nusharuddin at-Thusi dan al-Alqami serta orang-orang yang semisalnya. Mereka telah memberikan jasa-jasa yang banyak untuk Islam.”

 

Contoh Lain

Pada masa kekhalifahan ar-Rasyid, seorang menteri berpemahaman Syiah yang bernama Ali bin Yaqthin, hanya dalam satu malam memerintahkan untuk membunuh kurang lebih lima ratus orang atas dakwaan menentang keinginannya.

Lima ratus orang tersebut sedang menjalani hukuman penjara. Menteri Ali memerintah pengikutnya untuk meruntuhkan atap penjara sehingga menimpa mereka yang sedang dipenjara dan mengakibatkan kematian.

Apakah bukti-bukti sejarah semacam ini belum cukup?

Lihatlah konflik perang di Suriah dan Yaman dalam beberapa waktu terakhir ini. Suriah misalkan. Dalam kurun waktu dua tahun (1432—1434 H), korban meninggal mencapai lebih dari seratus ribu orang. Belum lagi yang luka atau cacat.

Itu semua terjadi, salah satu sebabnya adalah karena salah memilih penasihat, keliru dalam mengangkat kawan dekat.

Al-Imam Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berpesan, “Orang-orang dekatmu yang engkau ajak musyawarah, hendaknya mereka yang bertakwa, dipercaya, dan mempunyai rasa takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala.”

Mengenai hadits di atas, al-Imam Ibnu Baththal (Syarah Shahih al-Bukhari 8/272) mengatakan, “Mestinya, setiap orang yang mendengar hadits ini untuk bersikap tunduk. Hendaknya dia memohon kepada Allah subhanahu wa ta’ala agar selalu dijaga sehingga terhindar dari bithanah (orang dekat) yang buruk.”

 

Kita dan Penguasa

Salah satu kewajiban kita sebagai warga negara adalah selalu mendoakan kebaikan untuk pemerintah. Kita selalu memohon kepada Allah subhanahu wa ta’ala agar pemerintah kita selalu diberi taufik dan hidayah dalam memimpin dan mengelola negeri Indonesia ini. Kita yakin, apabila ratusan juta kaum muslimin di Indonesia ini selalu mendoakan kebaikan untuk pemerintah, pasti Allah subhanahu wa ta’ala akan mengabulkannya.

Sayangnya, ajaran Islam semacam ini tidak ditegakkan. Yang ada malah mencela dan melaknat pemerintah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda di dalam hadits Abu Darda’,

مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يَدْعُو لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ إِلاَّ قَالَ الْمَلَكُ: وَلَكَ بِمِثْلٍ

“Tidaklah seorang hamba muslim mendoakan (kebaikan) untuk saudaranya dengan tanpa sepengetahuannya kecuali malaikat akan mengatakan, ‘Untukmu seperti (yang engkau doakan untuk saudaramu)’.” (HR. Muslim)

Salah seorang ulama besar Ahlus Sunnah yang bernama Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah pernah menyatakan, “Seandainya aku memiliki doa (yang dikabulkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala), tidaklah aku tujukan doa itu kecuali untuk kebaikan penguasa.”

Bahkan, suatu saat beliau mengemukakan sebuah keinginan mulia, “Seandainya aku memperoleh bagian harta dari Baitul Mal, akan aku ambil lalu aku manfaatkan untuk membuat jamuan makan. Kemudian, aku akan mengundang orang-orang yang saleh dan terpandang.

Setelah selesai, aku akan mengajak mereka, ‘Marilah kita berdoa kepada Rabb kita, agar Dia melimpahkan taufik untuk pemimpin kita dan seluruh (pihak) yang mengatur urusan-urusan kita’.”

Demikianlah bimbingan indah Islam dalam menyikapi pemerintahnya. Semua ini diajarkan oleh Islam, tentu untuk meciptakan stabilitas keamanan dan demi ketertiban hidup bermasyarakat.

Mudah-mudahan Allah subhanahu wa ta’ala melimpahkan taufik dan hidayah untuk para pemimpin kita di dalam pemerintahan agar selalu bersikap adil dan mengedepankan keadilan.

Marilah selalu berdoa agar pemerintah kita didekatkan dengan para penasihat yang baik, para penasihat yang selalu mengarahkan pemerintah dalam kebaikan dan ketakwaan. Marilah selalu berdoa agar pemerintah kita dijauhkan dari para pembisik yang jahat, para pembisik yang berusaha mencari kesempatan untuk menghancurkan Islam dan kaum muslimin. Allahumma amin.

 Ditulis oleh al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar bin Rifai

Mewaspadai Komunisme dan Bisikan Kaum Komunis

Al-Imam al-Bukhari rahimahullah mengatakan,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَأْتِي الشَّيْطَانُ أَحَدَكُمْ فَيَقُولُ: مَنْ خَلَقَ كَذَا؟ مَنْ خَلَقَ كَذَا؟ حَتَّى يَقُولَ: مَنْ خَلَقَ رَبَّكَ؟ فَإِذَا بَلَغَهُ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللهِ وَلْيَنْتَهِ

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setan akan mendatangi salah seorang di antara kalian dan berkata, ‘Siapa yang menciptakan ini? Siapa yang menciptakan itu?’ Hingga ia bertanya, ‘Siapa yang menciptakan Rabbmu?’

Apabila setan telah sampai pada pertanyaan ini, mohonlah perlindungan kepada Allah, dan berhentilah.”

 Takhrij Hadits

Hadits ini muttafaqun ’alaihi. Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahihnya (6/336), Bab “Shifatu Iblis wa Junudihi” (Sifat Iblis dan bala tentaranya) melalui jalan Yahya bin Bukair, dari al-Laits, dari ‘Uqail, dari Ibnu Syihab, dari Urwah bin Zubair, dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu.

Dengan lafadz ini pula al-Imam Muslim meriwayatkan dari Zuhair bin Harb dan ‘Abd bin Humaid; juga melalui jalan Ibnu Syihab, dari Urwah, dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu.

Al-Imam Muslim meriwayatkan pula dengan lafadz,

لَا يَزَالُ النَّاسُ يَتَسَاءَلُونَ حَتَّى يُقَالَ: هَذَا خَلَقَ اللهُ الْخَلْقَ، فَمَنْ خَلَقَ اللهَ؟ فَمَنْ وَجَدَ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا فَلْيَقُلْ: آمَنْتُ بِاللهِ وَرُسُلِهِ

Senantiasa manusia saling bertanya, hingga dikatakan, “Allah-lah yang menciptakan semua makhluk. Siapa yang menciptakan Allah?” Barang siapa mendapatkan sesuatu dari pertanyaan ini, ucapkanlah, “Aku beriman kepada Allah dan para rasul-Nya.”

Hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu ini diriwayatkan pula oleh Abu Dawud (no. 4732) dalam as-Sunan dan Ibnu Sunni (no. 621) dengan lafadz,

يُوْشِكُ النَّاسُ يَتَسَاءَلُوْنَ بَيْنَهُمْ حَتىَّ يَقُوْلَ قَائِلُهُم: هَذَا اللهُ خَلَقَ الْخَلْقَ، فَمَنْ خَلَقَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ؟ فَإِذَا قَالُوْا ذَلِكَ فَقُوْلُوا: ٱللَّهُ ٱلصَّمَدُ ٢  لَمۡ يَلِدۡ وَلَمۡ يُولَدۡ ٣  وَلَمۡ يَكُن لَّهُۥ كُفُوًا أَحَدُۢ ٤

ثُمَّ لْيَتْفُلْ أَحَدُكُمْ عَنْ يَسَارِهِ ثَلاَثًا وَلْيَسْتَعِذْ مِنَ الشَّيْطَانِ

Hampir-hampir manusia saling bertanya di antara mereka hingga ada yang berkata, “Ini Allah menciptakan mahluk, lalu siapakah yang menciptakan Allah?”

Katakanlah, “Allah Maha Esa, Allah adalah Dzat yang bergantung segala sesuatu pada-Nya. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan. Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.”

Kemudian hendaklah dia mengusir (isyarat) meludah ke kiri tiga kali dan memohon perlindungan dari setan.

Hadits serupa diriwayatkan oleh al-Bukhari dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu dalam kitab “al-I’tisham” (13/264). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَنْ يَبْرَحَ النَّاسُ يَتَسَاءَلُونَ حَتَّى يَقُولُوا: هَذَا اللهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ، فَمَنْ خَلَقَ اللهَ؟

Tidak henti-hentinya manusia saling bertanya, hingga mereka mengatakan, “Allah, Dialah pencipta segala sesuatu, lalu siapa yang menciptakan Allah?”

 Permusuhan Iblis dan Bala Tentaranya

Setan-setan dari kalangan manusia dan jin bahu-membahu berupaya menyimpangkan hamba dari jalan Allah. Orang-orang kafir dibisiki agar semakin kokoh dalam kekufuran dan penentangan.

Orang-orang beriman pun tidak lepas dari bisikan-bisikan setan untuk mengeluarkan mereka dari cahaya atau menjadikannya ragu terhadap kebenaran. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَكَذَٰلِكَ جَعَلۡنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوّٗا شَيَٰطِينَ ٱلۡإِنسِ وَٱلۡجِنِّ يُوحِي بَعۡضُهُمۡ إِلَىٰ بَعۡضٖ زُخۡرُفَ ٱلۡقَوۡلِ غُرُورٗاۚ وَلَوۡ شَآءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُۖ فَذَرۡهُمۡ وَمَا يَفۡتَرُونَ ١١٢ وَلِتَصۡغَىٰٓ إِلَيۡهِ أَفۡ‍ِٔدَةُ ٱلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ بِٱلۡأٓخِرَةِ وَلِيَرۡضَوۡهُ وَلِيَقۡتَرِفُواْ مَا هُم مُّقۡتَرِفُونَ ١١٣

“Demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jika Rabbmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.

Dan (juga) agar hati kecil orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat cenderung kepada bisikan itu, mereka merasa senang kepadanya dan supaya mereka mengerjakan apa yang mereka (setan) kerjakan.” (al-An’am: 112—113)

Dalam ayat yang lain, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَإِنَّ ٱلشَّيَٰطِينَ لَيُوحُونَ إِلَىٰٓ أَوۡلِيَآئِهِمۡ لِيُجَٰدِلُوكُمۡۖ وَإِنۡ أَطَعۡتُمُوهُمۡ إِنَّكُمۡ لَمُشۡرِكُونَ ١٢١

“Sesungguhnya setan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantahmu; dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik.” (al-An’am: 121)

Hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menyebutkan beragam upaya setan untuk menyesatkan manusia. Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata,

خَطَّ لَنَا رَسُولُ اللهِ يَوْمًا خَطًّا ثُمَّ قَالَ: هَذِهِ سَبِيلُ اللهِ. ثُمَّ خَطَّ خُطُوطًا عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ ثُمَّ قَالَ: هَذِهِ سُبُلٌ، عَلَى كُلِّ سَبِيلٍ مِنْهَا شَيْطَانٌ يَدْعُو إِلَيْهِ. ثُمَّ تَلاَ   وَأَنَّ هَٰذَا صِرَٰطِي مُسۡتَقِيمٗا فَٱتَّبِعُوهُۖ وَلَا تَتَّبِعُواْ ٱلسُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمۡ عَن سَبِيلِهِۦۚ

Suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggoreskan sebuah garis untuk kami lalu bersabda, “Ini adalah jalan Allah.”

Kemudian beliau membuat garis-garis di sebelah kanan dan kirinya dan bersabda, “Garis-garis ini adalah jalan-jalan, pada setiap jalan ada setan yang mengajak kepadanya.”

Kemudian beliau membacakan firman Allah subhanahu wa ta’ala, “Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalanku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya.” (al-An’am: 153) (HR. ad-Darimi dalam as-Sunan no. 208, cet. Darul Ma’rifah)

Di antara dalil yang menunjukkan bahwa setan terus membisikkan kebatilan adalah hadits Abu Hurairah yang ada di hadapan kita.

Dalam hadits ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa setan akan melemparkan berbagai kerancuan kepada manusia melalui bisikan-bisikan setan dari kalangan jin atau melalui lisan-lisan manusia.

Dalam hadits ini, Rasulullah mengabarkan bahwa setan mendatangi manusia dan bertanya kepadanya, “Siapa yang menciptakan langit? Siapa yang menciptakan bumi? Siapa yang menciptakan ini? Siapa yang menciptakan itu?”

Semua pertanyaan dijawab, “Allah yang menciptakannya.”

Kemudian setan menggiring manusia untuk bertanya, “Siapa yang menciptakan Allah?”

Apa yang disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah salah satu contoh bisikan setan. Pertanyaan-pertanyaan serupa dan syubhat-syubhat batil terus bermunculan.

Manusia pun terbagi menjadi dua. Di antara mereka ada yang menghadapinya dengan keimanan sehingga ia selamat. Akan tetapi, banyak manusia larut dan terbawa arus kerancuan setan sehingga terjerumus dalam kebinasaan.

 

Komunisme, Buah Bisikan Setan

Berbagai kelompok sesat, seperti Khawarij, Rafidhah, Qadariyah, Jabriyah, Mu’tazilah, Murji’ah, demikian pula ideologi batil, semacam liberalisme, komunisme, semua itu sesungguhnya hasil syubhat-syubhat setan yang dia hembuskan.

Sungguh, berbagai syubhat dan pertanyaan kekufuran yang mengarah kepada ideologi batil, seperti komunisme dan ateisme, akan terus bermunculan, baik dari setan manusia maupun setan jin. Persis seperti yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kabarkan dalam hadits di atas.

Dalam al-Qur’an Allah juga menyebutkan beberapa ucapan orang-orang yang kufur, di antaranya,

وَضَرَبَ لَنَا مَثَلٗا وَنَسِيَ خَلۡقَهُۥۖ قَالَ مَن يُحۡيِ ٱلۡعِظَٰمَ وَهِيَ رَمِيمٞ ٧٨

Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadiannya; ia berkata, “Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh?” (Yasin: 78)

Apa yang Allah subhanahu wa ta’ala sebutkan dalam surat Yasin adalah contoh pertanyaan-pertanyaan aneh yang dibisikkan oleh setan untuk mengingkari hari kebangkitan; salah satu keyakinan kaum ateis yang sangat kental dengan paham komunisme.

Pertanyaan pengingkaran mereka, dijawab oleh Allah dengan firman-Nya,

قُلۡ يُحۡيِيهَا ٱلَّذِيٓ أَنشَأَهَآ أَوَّلَ مَرَّةٖۖ وَهُوَ بِكُلِّ خَلۡقٍ عَلِيمٌ ٧٩

Katakanlah, “Ia akan dihidupkan oleh Dzat yang menciptakannya kali yang pertama. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk.” (Yasin: 79)

Telah ada dan akan terus ada manusia yang mengingkari hari kebangkitan. Seraya membawa tulang yang telah lapuk dan remuk, dengan nada pengingkaran, dia bertanya, “Siapa yang dapat menghidupkan tulang belulang yang sudah hancur seperti ini?”

Sungguh aneh pertanyaan ini! Tidakkah kalian sedikit menggunakan akal untuk bertanya tentang penciptaan diri kalian?

Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan manusia dari tanah, lalu menciptakan kalian dari setetes air mani. Apakah Dzat yang telah menciptakan manusia tidak mampu membangkitkan kembali setelah kematiannya?

Tentu hal tersebut sangat mudah bagi Allah.

أَلَمۡ يَكُ نُطۡفَةٗ مِّن مَّنِيّٖ يُمۡنَىٰ ٣٧ ثُمَّ كَانَ عَلَقَةٗ فَخَلَقَ فَسَوَّىٰ ٣٨ فَجَعَلَ مِنۡهُ ٱلزَّوۡجَيۡنِ ٱلذَّكَرَ وَٱلۡأُنثَىٰٓ ٣٩  أَلَيۡسَ ذَٰلِكَ بِقَٰدِرٍ عَلَىٰٓ أَن يُحۡـِۧيَ ٱلۡمَوۡتَىٰ ٤٠

“Bukankah dia dahulu berupa setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim), kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya, dan menyempurnakannya, lalu Allah menjadikan darinya sepasang: laki laki dan perempuan? Bukankah (Allah yang melakukan) demikian berkuasa (pula) menghidupkan orang mati?” (al-Qiyamah: 37—40)

Pertanyaan bisikan setan ini,

  • Siapa yang menciptakan Allah?
  • Apa mungkin tulang yang telah menjadi debu akan dibangkitkan kembali?

apabila diikuti, tidak dihadapi dengan keimanan, bisa jadi membawa manusia kepada kesesatan.

Pertanyaan tersebut mengantarkan mereka menuju keyakinan antituhan, ateisme, komunisme, dan kesesatan lainnya.

 

Bimbingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Menghadapi Bisikan Setan

Sebagai agama yang sempurna, Islam memberikan jalan keluar ketika bisikan setan datang. Dalam hadits yang mulia di atas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membimbing umat agar menempuh tiga hal untuk menolak bisikan-bisikan setan dari kalangan jin atau manusia.

  1. Ta’awudz (memohon perlindungan) kepada Allah subhanahu wa ta’ala dari setan.

Penyebab munculnya bisikan dan syubhat-syubhat batil adalah setan, maka dengan ta’awudz, Allah subhanahu wa ta’ala akan menjauhkan setan dari seorang hamba.

  1. Segera memutus bisikan.

Dengan menghentikan bisikan yang dihembuskan oleh setan jin dalam kalbu atau oleh lisan setan manusia, insya Allah akal berhenti melayani pertanyaan-pertanyaan berikutnya yang menyesatkan. Sebab, Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan akal manusia terbatas sehingga mustahil bisa menjangkau segala sesuatu.

Dua hal ini ditunjukkan oleh sabda beliau,

فَإِذَا بَلَغَهُ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللهِ وَلْيَنْتَهِ

“Jika setan telah sampai pada pertanyaan ini, mohonlah perlindungan kepada Allah, dan berhentilah.”

  1. Iman

Hal ketiga yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menolak bisikanbisikan setan adalah iman. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَمَنْ وَجَدَ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا فَلْيَقُلْ: آمَنْتُ بِاللهِ وَرُسُلِهِ

Barang siapa mendapatkan sesuatu dari pertanyaan ini, ucapkanlah, “Aku beriman kepada Allah dan para rasul-Nya.”

Ketika datang bisikan apapun dari setan, meniupkan kerancuan akidah, tangkal segera dengan keimanan. Sebagai contoh, ketika setan membisikkan bahwa manusia yang telah menjadi tanah, mustahil dibangkitkan. Segeralah hadapi dengan keimanan.

Katakanlah, “Saya beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Saya beriman kepada al-Qur’an dan hadits. Saya beriman kepada kabar dari Allah dan Rasul-Nya bahwa manusia akan dihidupkan kembali oleh Allah untuk mempertanggungjawabkan amalannya.”

Asy-Syaikh al-Albani rahimahullah berkata, “Hadits-hadits yang sahih ini menunjukkan bahwa orang yang digoda oleh setan dan bisikannya, “Siapakah yang menciptakan Allah?” harus menghindari perdebatan. Ia harus menjawabnya dengan mengatakan sebagaimana yang disebutkan oleh hadits-hadits tersebut. Dia katakan,

آمَنْتُ بِاللهِ وَرُسُلِهِ، اللهُ أَحَدٌ اللهُ الصَّمَدُ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلًدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

‘Saya beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Allah Maha Esa. Allah tempat meminta. Tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.’

Setelah itu, hendaklah ia meludah ke kiri tiga kali, dan memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan, serta menepis keragu-raguan itu.

Saya berpendapat, orang yang melakukannya semata-mata karena taat kepada Allah dan Rasul-Nya serta ikhlas, keraguan dan godaan itu akan hilang darinya. Setan pun menjauh darinya. Ingat sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Sesungguhnya godaan itu akan hilang darinya.’

Pelajaran dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ini jelas lebih bermanfaat dan lebih dapat mengusir keraguan daripada terlibat dalam perdebatan logika yang sengit seputar persoalan ini.

Sesungguhnya perdebatan dalam pesoalan ini amatlah sedikit gunanya, bahkan boleh jadi tidak ada gunanya sama sekali. Namun sayang, kebanyakan manusia tidak menghiraukan pelajaran yang amat bagus ini.

Oleh karena itu, ingatlah wahai kaum muslimin, kenalilah sunnah Nabimu dan amalkanlah. Sesungguhnya dalam sunnah itu ada obat dan kemuliaan bagimu.” (ash-Shahihah)

 

Kekhawatiran Seorang Muslim Terhadap Bisikan Setan

Bisikan-bisikan setan dihembuskan kepada siapapun—termasuk orang yang beriman—kecuali yang diselamatkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Ketika mendapat bisikan tersebut, orang yang beriman akan merasa berat dan berusaha menolaknya.

Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata,

جَاءَ نَاسٌ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَأَلُوهُ: إِنَّا نَجِدُ فِي أَنْفُسِنَا مَا يَتَعَاظَمُ أَحَدُنَا أَنْ يَتَكَلَّمَ بِهِ. قَالَ: وَقَدْ وَجَدْتُمُوهُ؟ قَالُوا: نَعَمْ. قَالَ: ذَلِكَ صَرِيحُ الْإِيمَانِ

Beberapa sahabat Rasul datang dan bertanya kepada beliau, “Sungguh, kami mendapatkan dalam diri kami (bisikan setan –pen.) yang kami merasa berat untuk mengucapkannya.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apakah kalian telah mendapatkan bisikan tersebut?”

Para sahabat menjawab, “Ya.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Itulah tanda keimanan yang jelas.” ( HR. Muslim)

Dalam syarah hadits ini, an-Nawawi rahimahullah berkata, “Rasa berat hati kalian untuk mengucapkan bisikan tersebut menunjukkan keimanan kalian yang jelas. Sebab, perasaan berat dan rasa takut mengucapkannya, apalagi meyakini (bisikan setan tersebut), tidaklah muncul kecuali pada orang yang menyempurnakan imannya dan selamat dari kerancuan serta keraguan.”

 

Komunisme, Jalan Setan

Komunisme dan seluruh jenis kesesatan pasti akan runtuh di hadapan al-Kitab dan as-Sunnah. Kebatilan tidak akan mampu tegak di hadapan al-haq. Akan tetapi, pergulatan dan peperangan antara al-haq dan batil tidak akan berakhir hingga dunia berakhir.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, komunisme adalah paham atau ideologi (dalam bidang politik) yang menganut ajaran Karl Marx dan Fredrich Engels, yang hendak menghapuskan hak milik perseorangan dan menggantikannya dengan hak milik bersama yang dikontrol oleh negara.

Dalam masalah kepemilikan, paham komunis menekankan kepemilikan bersama atas alat-alat produksi, seperti tanah, tenaga kerja, dan modal. Menurut paham ini, masyarakat semua sama, tidak ada kelas dan strata. Semua orang sama, segala sesuatu adalah milik bersama. Komunisme tidak mengakui kepemilikan individu.

Dalam masalah kepemilikan ini saja, paham komunis sangat bertentangan dengan akal, fitrah, dan syariat Allah subhanahu wa ta’ala—syariat yang menjamin terwujudnya keadilan dan kemakmuran.

Islam mengakui kepemilikan pribadi. Manusia boleh memiliki tanah, alatalat produksi, pabrik, mesin produksi, perkebunan, peternakan, dan semisalnya. Meski demikian, Islam mengatur agar manusia menggunakan hartanya dalam hal yang bermanfaat dan tidak menimbulkan madarat.

Di sisi lain, Islam mewajibkan umatnya untuk mengeluarkan sebagian kecil dari hartanya, dalam bentuk zakat. Zakat ialah hak fakir miskin. Inilah sepintas konsep kepemilikan dalam Islam, sangat bertolak belakang dengan konsep kepemilikan menurut paham komunisme.

Dalam kehidupan beragama, orang-orang komunis tidak memedulikan

agama. Vladimir Lenin dalam tulisannya  “Sosialisme dan Agama” mengatakan bahwa agama harus dinyatakan sebagai urusan pribadi. Lenin juga menginginkan agar penyebutan agama seseorang dalam dokumen dibatasi.

Menurut ideologi komunisme, agama dianggap berdampak negatif bagi perkembangan manusia. Karena itu, negara-negara sosialis yang menerapkan Marxisme-Leninisme bersikap atheistik dan antiagama. Inilah yang tampak di negara-negara sosialis komunis, seperti Uni Soviet dan Republik Rakyat Tiongkok.

Dalam hal agama, mayoritas kaum komunis adalah ateis, seperti kaum Dahriyun yang Allah sebutkan dalam al-Qur’an. Mereka menganggap bahwa hidup dan mati terjadi karena perputaran masa semata. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَقَالُواْ مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا ٱلدُّنۡيَا نَمُوتُ وَنَحۡيَا وَمَا يُهۡلِكُنَآ إِلَّا ٱلدَّهۡرُۚ وَمَا لَهُم بِذَٰلِكَ مِنۡ عِلۡمٍۖ إِنۡ هُمۡ إِلَّا يَظُنُّونَ ٢٤

Mereka berkata, “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa,” dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja. (al-Jatsiyah: 24 )

Mereka tidak memercayai adanya kebangkitan setelah kematian, tidak pula meyakini hari kiamat.

وَإِذَا تُتۡلَىٰ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتُنَا بَيِّنَٰتٖ مَّا كَانَ حُجَّتَهُمۡ إِلَّآ أَن قَالُواْ ٱئۡتُواْ بِ‍َٔابَآئِنَآ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ ٢٥ قُلِ ٱللَّهُ يُحۡيِيكُمۡ ثُمَّ يُمِيتُكُمۡ ثُمَّ يَجۡمَعُكُمۡ إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلۡقِيَٰمَةِ لَا رَيۡبَ فِيهِ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ ٢٦

Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang jelas, tidak ada bantahan mereka selain dari mengatakan, “Datangkanlah nenek moyang kami jika kamu adalah orang-orang yang benar.”

Katakanlah, “Allah-lah yang menghidupkan kamu kemudian mematikan kamu, setelah itu mengumpulkan kamu pada hari kiamat yang tidak ada keraguan padanya. Akan tetapi, kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (al-Jatsiyah: 25—26)

 

Mewaspadai Komunisme di Indonesia

Di bumi Indonesia, catatan sejarah masih tersimpan rapi bagaimana kaum komunis berupaya menancapkan kukunya di negeri ini.

Mereka berupaya masuk ke seluruh lini kehidupan dan berupaya menjadikan bumi nyiur melambai sebagai negeri komunis, seperti Uni Soviet kala itu. Berbagai upaya mereka lakukan; kekerasan, kudeta, dan pembantaian manusia, terjadi di negeri ini. Tidak berbeda dengan kekejaman tokoh-tokoh komunisme dunia, semacam Vladimir Lenin, Joseph Stalin, Mao Zedong, dan lainnya.

Alam demokrasi Indonesia ternyata cukup sejuk dan subur bagi berbagai kesesatan—termasuk komunisme—untuk terus hidup dan berkembang. Seruanseruan kepada ideologi komunis, terbit dan menyebarnya buku serta tulisan berideologi komunis, bahkan film-film yang sangat kental berpaham komunis juga diproduksi dan dipertontonkan.

Semua ini adalah indikasi tentang gerakan dan perkembangan paham komunisme di Indonesia.

Kondisi ini menuntut kaum muslimin, terlebih Ahlus Sunnah wal Jamaah, segera berupaya membendungnya. Semoga Allah menyelamatkan negeri ini dari segala kejelekan. Amin.

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc.

Mewaspadai Upaya Merusak Islam

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dan Zaid bin Khalid al-Juhani radhiallahu ‘anhu, mereka berkata,

إِنَّ رَجُلًا مِنْ الْأَعْرَابِ أَتَى رَسُولَ اللهِ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَنْشُدُكَ اللهَ إِلَّا قَضَيْتَ لِي بِكِتَابِ اللهِ. فَقَالَ الْخَصْمُ الْآخَرُ وَهُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ: نَعَمْ فَاقْضِ بَيْنَنَا بِكِتَابِ اللهِ وَأْذَنْ لِي. فَقَالَ رَسُولُ اللهِ: قُلْ. قَالَ: إِنَّ ابْنِي كَانَ عَسِيفًا عَلَى هَذَا فَزَنَى بِامْرَأَتِهِ وَإِنِّي أُخْبِرْتُ أَنَّ عَلَى ابْنِي الرَّجْمَ فَافْتَدَيْتُ مِنْهُ بِمِائَةِ شَاةٍ وَوَلِيدَةٍ، فَسَأَلْتُ أَهْلَ الْعِلْمِ فَأَخْبَرُونِي أَنَّمَا عَلَى ابْنِي جَلْدُ مِائَةٍ وَتَغْرِيبُ عَامٍ وَأَنَّ عَلَى امْرَأَةِ هَذَا الرَّجْمَ. فَقَالَ رَسُولُ اللهِ :وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ  لَأَقْضِيَنَّ بَيْنَكُمَا بِكِتَابِ اللهِ، الْوَلِيدَةُ وَالْغَنَمُ رَدٌّ وَعَلَى ابْنِكَ جَلْدُ مِائَةٍ وَتَغْرِيبُ عَامٍ، وَاغْدُ يَا أُنَيْسُ إِلَى امْرَأَةِ هَذَا، فَإِنِ اعْتَرَفَتْ فَارْجُمْهَا. قَالَ: فَغَدَا عَلَيْهَا فَاعْتَرَفَتْ فَأَمَرَ بِهَا رَسُولُ فَرُجِمَتْ

Seorang Arab badui datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Wahai Rasulullah, aku minta kepadamu dengan nama Allah untuk memutuskan perkaraku (dengan saudaraku ini –pen.) sesuai dengan Kitab Allah.”

Lawannya, yang lebih pandai, berkata, “Ya, putuskanlah perkara kami dengan Kitab Allah, dan izinkanlah aku bicara!”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bicaralah!”

Dia pun bertutur, “Sesungguhnya anakku bekerja sebagai pekerja upahan pada orang ini, lalu berzina dengan istrinya. Kemudian aku mendapatkan kabar bahwa anakku harus dirajam. Aku pun menebus anakku dengan seratus ekor kambing dan seorang budak perempuan. Kemudian aku menanyakan masalah ini kepada orang-orang yang berilmu. Ternyata mereka menjawab bahwa hukuman untuk anakku sebenarnya adalah dera seratus kali dan diasingkan selama setahun, sedangkan istri orang inilah yang seharusnya dirajam.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Demi Dzat Yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh aku akan memutuskan perkara kalian dengan Kitab Allah! Budak perempuan dan kambing harus dikembalikan, dan anakmu harus didera seratus kali serta diasingkan selama setahun. Sekarang temui istri orang ini, wahai Unais. Jika ia mengaku, rajamlah ia.”

Unais pergi menemui wanita tersebut. Ternyata ia mengakui perbuatannya. Wanita itu pun dirajam.

 Takhrij Hadits

Hadits ini sahih, muttafaqun ‘alaihi. Al-Bukhari rahimahullah meriwayatkan hadits ini di beberapa tempat dalam Shahihnya melalui jalan guru-guru beliau; Qutaibah bin Sa’id, Ismail, Ali bin Abdillah, Abdullah bin Yusuf, dan Muhammad bin Yusuf. Semua melalui jalan az-Zuhri dari Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah bin Mas’ud dari Abu Hurairah dan Zaid bin Khalid al-Juhani.

Al-Imam Muslim rahimahullah mengeluarkan hadits ini dalam Shahih-nya melalui jalan Qutaibah bin Sa’id dan Muhammad bin Rumh, keduanya dari al-Laits bin Sa’d dari Ibnu Syihab dari Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah bin Mas’ud.

Hadits ini diriwayatkan pula oleh Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasai, dan Ibnu Majah.

 Makna Hadits

Hadits di atas menjelaskan salah satu pokok agung dalam agama ini, yaitu kewajiban beramal sesuai dengan bimbingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dalam berakidah, umat wajib berkeyakinan seperti keyakinan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam beribadah, manusia juga wajib beribadah sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beribadah. Termasuk dalam seorang membuat perdamaian shulh dengan saudaranya pun tidak boleh menyelisihi al-Kitab dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Perhatikan sabda ar-Rasul dalam kisah ini, “Budak perempuan dan kambing dikembalikan padamu.” Sabda ini adalah contoh bahwa shulh (perdamaian) yang dibangun di atas kebatilan dan di atas penyelisihan terhadap al-Kitab dan as-Sunnah, maka perdamaian tersebut batal, tidak berlaku, dan harus disesuaikan dengan syariat. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar seratus kambing dan seorang budak yang telah diserahkan sebagai bentuk perdamaian dikembalikan.

Kisah ini, mengingatkan kita kepada sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Ibunda kaum mukminin, Ummu Abdillah ‘Aisyah binti Abu Bakr ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barang siapa mengada-adakan sesuatu (amalan) dalam urusan (agama) kami yang bukan dari kami, (amalan) itu tertolak.( HR. al-Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat Muslim,

مَنْ عَمِلَ عَمَ لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barang siapa melakukan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka itu tertolak.

Hadits ini menunjukkan kewajiban kita untuk gigih meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Selain itu, hadits ini juga mengingatkan kita agar berupaya sekuat tenaga menjaga syariat dari segala kebid’ahan dan bentuk penyelisihan.

 Menjaga Kemurnian Islam

Di antara pelajaran penting dari hadits Abu Hurairah dan Zaid bin Khalid al-Juhani, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sosok mulia yang setiap kali melihat kemungkaran, beliau segera meluruskan dan mengembalikan manusia kepada sunnah beliau dengan penuh hikmah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah membiarkan manusia tersesat. Segala penyimpangan segera diluruskan, dalam hal akidah, ibadah, muamalah, atau penyimpangan lain.

Dalam hadits ini beliau meluruskan shulh (perdamaian) yang dibangun di atas kezaliman dan penyelisihan terhadap syariat Allah subhanahu wa ta’ala.

Sangat banyak contoh semangat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjaga syariat dari penyimpangan. Diriwayatkan bahwa ketika melihat seseorang menjadikan gelang sebagai sebab datangnya manfaat dan tertolaknya mudarat, beliau segera mengingkari kesyirikan tersebut. Dari ‘Imran bin Hushain radhiallahu ‘anhu,

أَنَّ النَّبِيَّ رَأَى رَجُلًا فِي يَدِهِ حِلْقَةً مِنْ صُفْرٍ، فَقَالَ: مَا هَذِهِ؟ قَالَ: مِنَ الْوَاهِنَةِ. فَقَالَ:انْزِعْهَا، فَإِنَّهَا لاَ تُزِيدُكَ إِ وَهْنًا، فَإِنَّكَ لَوْ مُتَّ وَهِيَ عَلَيْكَ، مَا أَفْلَحْتَ أَبَدًا

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat seorang pria memakai gelang dari tembaga di tangannya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Apa ini?”

Pria tersebut menjawab, “(Aku memakainya) karena (tertimpa) penyakit wahinah.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Lepaskanlah! Sesungguhnya (jimat) itu tidak akan menambahkanmu selain penyakit. Jika engkau mati dan jimat itu masih berada pada dirimu, engkau tidak akan bahagia selamanya!”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak hanya mengingkari kemungkaran yang sedang atau telah terjadi. Kemungkaran yang masih berbentuk keinginan juga beliau ingkari, sebagaimana yang dikisahkan Abu Umamah radhiallahu ‘anhu,

إِنَّ فَتًى شَابًّا أَتَى النَّبِيَّ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، ائْذَنْ لِي بِالزِّنَا فَأَقْبَلَ الْقَوْمُ عَلَيْهِ فَزَجَرُوهُ. قَالُوا: مَهْ مَهْ. فَقَالَ: ادْنُهْ. فَدَنَا مِنْهُ قَرِيبًا، قَالَ: فَجَلَسَ. قَالَ: أَتُحِبُّهُ لِأُمِّكَ؟ قَالَ: لَا وَاللهِ، جَعَلَنِيَ اللهُ فِدَاءَكَ. قَالَ: وَلَا النَّاسُ يُحِبُّونَهُ لِأُمَّهَاتِهِمْ. قَالَ: أَفَتُحِبُّهُ لِابْنَتِكَ؟ قَالَ: لَا وَاللهِ، يَا رَسُولَ اللهِ، جَعَلَنِيَ اللهُ فِدَاءَكَ. قَالَ: وَلَا النَّاسُ يُحِبُّونَهُ لِبَنَاتِهِمْ. قَالَ: أَفَتُحِبُّهُ لِأُخْتِكَ؟ قَالَ: لَا وَاللهِ جَعَلَنِيَ اللهُ فِدَاءَكَ. قَالَ: وَلَا النَّاسُ يُحِبُّونَهُ لِأَخَوَاتِهِمْ؟ قَالَ: أَفَتُحِبُّهُ لِعَمَّتِكَ؟ قَالَ: لَا وَاللهِ جَعَلَنِيَ اللهُ فِدَاءَكَ. قَالَ: وَلَا النَّاسُ يُحِبُّونَهُ لِعَمَّاتِهِمْ. قَالَ: أَفَتُحِبُّهُ لِخَالَتِكَ؟ قَالَ: لَا وَاللهِ جَعَلَنِيَ اللهُ فِدَاءَكَ. قَالَ: وَلَا النَّاسُ يُحِبُّونَهُ لِخَالَاتِهِمْ. قَالَ: فَوَضَعَ يَدَهُ عَلَيْهِ وَقَالَ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ ذَنْبَهُ وَطَهِّرْ قَلْبَهُ وَحَصِّنْ فَرْجَهُ. فَلَمْ يَكُنْ بَعْدُ ذَلِكَ الْفَتَى يَلْتَفِتُ إِلَى شَيْءٍ.

Suatu hari seorang pemuda yang mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, izinkan aku berzina!”

Orang-orang pun bergegas mendatanginya dan menghardiknya, “Diam kamu! Diam kamu!”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Mendekatlah.”

Pemuda itu pun mendekat lalu duduk. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Relakah engkau jika ibumu dizinai orang lain?”

“Tidak, demi Allah, wahai Rasul!sahut pemuda itu.

“Begitu pula orang lain, tidak rela kalau ibu mereka dizinai.

Lanjut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Relakah engkau jika putrimu dizinai orang?”

“Tidak, demi Allah, wahai Rasul!” jawab pemuda itu kembali.

“Begitu pula orang lain, tidak rela jika putri mereka dizinai.”

“Relakah engkau jika saudari kandungmu dizinai?”

“Tidak, demi Allah, wahai Rasul!”

“Begitu pula orang lain, tidak rela jika saudara perempuan mereka dizinai.”

“Relakah engkau jika bibimu—dari jalur bapak—dizinai?”

“Tidak, demi Allah, wahai Rasul!”

“Begitu pula orang lain, tidak rela jika bibi mereka dizinai.”

“Relakah engkau jika bibi—dari jalur ibumu—dizinai?”

“Tidak, demi Allah, wahai Rasul!”

“Begitu pula orang lain, tidak rela jika bibi mereka dizinai.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan tangannya di dada pemuda tersebut sembari berkata, “Ya Allah, ampunilah kekhilafannya, sucikanlah hatinya, dan jagalah kemaluannya.”

Demikian sebagian perjalanan hidup Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dihiasi oleh amar ma’ruf nahi munkar hingga beliau wafat dan Allah telah menyempurnakan agama ini.

Mewaspadai Upaya Merusak Islam

Islam telah disempurnakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan akan terus tegak hingga akhir zaman. Akan tetapi, di akhir zaman, fitnah (keburukan dan musibah) sangat besar. Berbagai penyimpangan bermunculan hendak mencerai-beraikan umat.

Keadaan ini sesungguhnya telah dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau juga telah memberikan jalan keluar dari fitnah tersebut, yaitu dengan kembali kepada sunnah Rasul dan al-Khulafa ar-Rasyidin. Beliau bersabda,

“Barang siapa di antara kalian yang panjang umur, niscaya akan melihat banyak perpecahan (penyimpangan agama). Berpeganglah dengan sunnahku dan sunnah al-Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk dan hidayah (sesudahku). Gigitlah kuat-kuat dengan gigi geraham kalian. Tinggalkanlah urusan-urusan yang muhdats (baru) dalam agama, sesungguhnya setiap kebid’ahan adalah kesesatan.” (HR. at-Tirmidzi)

Di antara fenomena menyedihkan yang sedang kita alami adalah disebarkannya berbagai seruan dan propaganda untuk mengubah atau menolak sunnah (ajaran) Rasul. Upaya-upaya perusakan Islam amat terasa. Makar mereka guna menjauhkan umat dari sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga sangat nyata.

Wanita-wanita yang berhijab dicela dengan ucapan, “Budaya Arab jangan dibawa ke Indonesia.” Muslimat dilecehkan hanya karena mereka menutup auratnya dengan pakaian syar’i semata-mata mengharap ridha Allah subhanahu wa ta’ala. Sementara itu, wanita-wanita telanjang disanjung dan dipuja.

Tidak kalah lancangnya, sebagian mereka menghina sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti jenggot, memakai pakaian “cungklang” di atas mata kaki, atau sunnah lainnya.

Di antara mereka ada yang dengan keji berkata, “Orang yang berjenggot adalah orang yang dungu, semakin panjang jenggot semakin goblok.”

Saudaraku, sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berjenggot sangat lebat. Kita yakin, seorang muslim yang baik tidak akan rela mengatakan kalimat sekotor dan sebusuk itu. Ya Allah, Rasul-Mu memelihara jenggot. Rasul-Mu memerintah kami memelihara jenggot, kami pun memeliharanya. Cintailah kami dan kumpulkanlah kami bersama Nabi-Mu.

Sebagian lagi menyeru agar Islam disesuaikan dengan budaya lokal dan adat istiadat yang berlaku. Islam Nusantara dianggap bentuk Islam yang cocok bagi bangsa Indonesia. Akal kotor mereka berkata bahwa Indonesia sebagai negara yang memiliki adat dan budaya yang sangat beragam memiliki kesempatan untuk mewarnai Islam dengan meleburkan budaya Nusantara kepada syariat Islam.

Sebelumnya, Jaringan Islam Liberal (JIL) dengan terang – terangan mengampanyekan berbagai penyimpangan, bahkan kekufuran, dari ajaran Islam. Penghinaan dan pelecehan syariat sangat kental dalam kehidupan pengikut JIL.

Ucapan-ucapan mereka sangat banyak, tetapi intinya satu, yaitu kebencian terhadap ajaran yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan keengganan untuk berpegang dengan sunnah.

Islam Bukan Budaya Arab, Islam untuk Seluruh Umat Manusia

Yahudi pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam enggan beriman kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya karena beliau dari bangsa Arab, bukan Bani Israil. Dengan entengnya, Yahudi menolak Islam dengan ucapan mereka, “Kami meyakini bahwa Muhammad adalah Rasul Allah, tetapi risalahnya khusus untuk orang Arab.”

Jaringan Islam Nusantara enggan melaksanakan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebelum dimodifikasi dengan budaya Nusantara. Sadar atau tidak sadar, mereka sesungguhnya sedang mengikuti langkah Yahudi yang menolak ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sebagian mereka meremehkan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata dengan nada sinis, “Itu kan budaya Arab.”

Ada pula yang berkata, “Kita hidup di Indonesia, bukan di tanah Arab.”

“Kami tahu ini sabda Rasulullah, tetapi Islam harus disesuaikan dengan perkembangan zaman, Islam harus disesuaikan dengan budaya Nusantara.”

Sungguh, sebuah fenomena yang sangat menyedihkan. Benarkah Islam diturunkan khusus untuk bangsa Arab? Benarkah Islam adalah budaya Arab? Benarkah Islam tidak sesuai untuk penduduk di bumi Nusantara sehingga harus dinusantarakan?

Ketahuilah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak hanya diutus untuk bangsa Arab, tidak pula diutus hanya kepada manusia di masa beliau. Yang wajib kita yakini, beliau diutus untuk seluruh manusia sepanjang masa hingga hari kiamat. Bukan hanya untuk orang Arab, beliau pun diutus untuk orang non-Arab. Bukan hanya untuk manusia beliau diutus. Bahkan, Allah mengutus beliau untuk kalangan jin. Al-Bukhari rahimahullah meriwayatkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَكَانَ النَّبِيُّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِهِ خَاصَّةً، وَبُعِثْتُ إِلَى النَّاسِ عَامَّةً

Setiap nabi hanya diutus kepada umatnya saja, sedangkan aku diutus kepada seluruh umat manusia.

Ayat-ayat al-Qur’an menunjukkan bahwa syariat beliau bersifat universal, berlaku untuk seluruh alam hingga hari kiamat. Di antaranya firman Allah subhanahu wa ta’ala,

تَبَارَكَ ٱلَّذِي نَزَّلَ ٱلۡفُرۡقَانَ عَلَىٰ عَبۡدِهِۦ لِيَكُونَ لِلۡعَٰلَمِينَ نَذِيرًا ١

“Mahasuci Allah yang telah menurunkan al-Furqan (al-Qur’an) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.” (al-Furqan: 1)

وَمَآ أَرۡسَلۡنَٰكَ إِلَّا رَحۡمَةٗ لِّلۡعَٰلَمِينَ ١٠٧

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (al-Anbiya’:107 )

وَمَآ أَرۡسَلۡنَٰكَ إِلَّا كَآفَّةٗ لِّلنَّاسِ بَشِيرٗا وَنَذِيرٗا وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ ٢٨

“Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.” (Saba’: 28)

Siapa yang melihat sejarah akan menyaksikan dengan penuh keyakinan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdakwah untuk seluruh manusia. Beliau mengajak Raja Romawi untuk masuk Islam. Beliau juga mengirim utusan untuk Raja Persia agar beriman. Beliau juga mendakwahi Raja Habasyah dan seluruh manusia. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

قُلۡ يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنِّي رَسُولُ ٱللَّهِ إِلَيۡكُمۡ جَمِيعًا

“Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua.” (al-A’raf : 158)

Bahkan, seandainya para nabi masih hidup, niscaya mereka akan mengikuti syariat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sahabat yang mulia, Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu, berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَوْ أَنَّ مُوسَى حَيًّا الْيَوْمَ مَا وَسِعَهُ إِ أَنْ يَتَّبِعَنِي

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya Musa masih hidup, adalah keharusan baginya mengikutiku.”[1]

Kembali kepada Agama, Menuju Kejayaan Umat

Perpecahan, penyimpangan, dan berbagai kebid’ahan, serta jauhnya umat dari ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sebab berbagai kejelekan yang menimpa.

Karena itulah, Allah subhanahu wa ta’ala memerintah kita untuk segera kembali kepada sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan istiqamah dalam memegang tali Allah subhanahu wa ta’ala. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَٱعۡتَصِمُواْ بِحَبۡلِ ٱللَّهِ جَمِيعٗا وَلَا تَفَرَّقُواْۚ

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.” (Ali Imran: 103)

Hanya dengan kembali kepada agama yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meninggalkan segala kebid’ahan dan penyimpangan, umat ini akan meraih kejayaan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ، وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيْتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللهُ عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَ يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِيْنِكُمْ

“Jika kalian berjual beli dengan cara ‘inah, dan kalian mengambil ekor-ekor sapi (beternak) serta kalian senang dengan bercocok tanam dan kalian meninggalkan jihad[2], Allah akan mencampakkan kehinaan pada diri kalian.

Dia (Allah) tidak akan mencabut kehinaan itu sampai kalian kembali kepada agama kalian.”[3]

Tidak ada jalan bagi umat Islam untuk meraih kemuliaan kecuali dengan bersegera mempelajari dan mangamalkan al-Kitab dan as-Sunnah dengan pemahaman yang lurus, pemahaman salaf umat ini, para sahabat, tabi’in, atbaut tabi’in, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik; dan bahu-membahu memerangi segala upaya setan untuk menjauhkan syariat Islam dari manusia.

Nasihat bagi Para Pendusta Sunnah Rasul

Di akhir tulisan ini, kepada orang-orang yang membenci sebagian ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, atau para pendusta ajaran Rasul dan yang gemar melecehkan sunnah Rasul, kita ingatkan bahwa di hadapan kalian benar-benar ada kehinaan dan azab yang pedih.

Bertakwalah kalian kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Tidaklah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus kecuali untuk dicintai dan ditaati. Jangan kalian benci ajaran Rasul, jangan pula kalian hina sunnah Rasul. Jangan sampai kalian ditimpa apa yang telah menimpa semua penentang Rasul.

Allah subhanahu wa ta’ala shallallahu ‘alaihi wa sallam berfirman,

إِنَّآ أَرۡسَلۡنَآ إِلَيۡكُمۡ رَسُولٗا شَٰهِدًا عَلَيۡكُمۡ كَمَآ أَرۡسَلۡنَآ إِلَىٰ فِرۡعَوۡنَ رَسُولٗا ١٥ فَعَصَىٰ فِرۡعَوۡنُ ٱلرَّسُولَ فَأَخَذۡنَٰهُ أَخۡذٗا وَبِيلٗا ١٦

“Sesungguhnya Kami telah mengutus kepada kamu (hai orang kafir Makkah) seorang Rasul, yang menjadi saksi terhadapmu, sebagaimana Kami telah mengutus (dahulu) seorang Rasul kepada Firaun. Firaun mendurhakai Rasul itu, lalu Kami siksa dia dengan siksaan yang berat.(al-Muzzammil: 15—16)

Sejarah hidup Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hendaknya selalu kita baca dan renungkan. Semua penentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memetik buah kejelekannyanya di dunia, seperti janji Allah subhanahu wa ta’ala dalam firman-Nya,

إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ ٱلۡأَبۡتَرُ ٣

“Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu, dialah yang terputus.” (al-Kautsar: 3)

Dalam Perang Badar, Allah subhanahu wa ta’ala memenangkan kaum mukminin dan membinasakan musuh-musuh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mayat-mayat najis dari barisan kufar Quraisy bergelimpangan. Dedengkot-dedengkot Quraisy pun diseret ke Sumur Badar dengan penuh kehinaan….

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc.

[1] HR. Ahmad dalam Musnad-nya 3/387, ad-Darimi dalam mukadimah kitab Sunan-nya no. 436, Ibnu Abi ‘Ashim asy-Syaibani dalam kitabnya, as-Sunnah no. 50. Hadits ini dinyatakan hasan oleh imam ahlul hadits pada zaman ini, asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah dalam Zhilalul Jannah fi Takhrij as-Sunnah dan Irwa’ul Ghalil no. 1589.

[2] Jihad yang dimaksud adalah jihad di jalan Allah, yaitu jihad yang syar’i, bukan jihad di bawah bendera Syi’ah, khurafat, atau jihad yang muhdats semisal jihad kaum Khawarij.

[3] HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya 3/740, dari Ibnu Umar dan lainnya, dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam ash-Shahihah no. 11.

Berfikih Sebelum Berdagang

Dalam sebuah hadits mauquf, sahabat Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu pernah menyampaikan,

لَا يَبِعْ فِي سُوقِنَا إِلَّا مَنْ قَدْ تَفَقَّهَ فِي الدِّينِ

“Tidak boleh melakukan aktivitas jual beli di pasar kita kecuali seseorang yang telah memahami fikih dalam beragama. ”

 Takhrij

Pembaca, jika sebelumnya hadits yang dikaji adalah hadits marfu’, yakni hadits yang dinisbatkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak ada salahnya apabila kali ini kajian yang dipilih adalah hadits mauquf.

Hadits mauquf adalah riwayat yang dinisbatkan kepada seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Istilah mauquf juga dapat diberikan untuk selain sahabat, misalnya tabi’in. Hanya saja, harus diberi keterangan tambahan. Contohnya, hadits ini mauquf dari Atha’, Thawus, atau Said bin al-Musayyab.

Jika sebuah riwayat dinyatakan mauquf tanpa keterangan apapun, itu artinya riwayat tersebut dinisbatkan kepada seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di dalam Muqaddimah Ibnu Shalah (hlm. 27), hadits mauquf didefinisikan sebagai, “Semua yang diriwayatkan dari sahabat, baik ucapan, perbuatan, maupun taqrir (persetujuan) mereka; diriwayatkan secara muttashil (sanad yang bersambung) maupun munqathi’ (sanadnya terputus).”

Artinya, istilah mauquf yang disematkan pada sebuah riwayat tidaklah menentukan nilai sahih atau dhaifnya. Mauquf hanya istilah tentang kepada siapa riwayat tersebut dinisbatkan. Lantas bagaimana halnya dengan riwayat Umar bin al-Khaththab yang akan kita bahas?

At-Tirmidzi di dalam Sunan-nya (no. 487) menilai riwayat di atas dengan “hasan gharib”. Sanad yang dibawakan melalui gurunya, yaitu Abbas bin Abdul ‘Azhim al-‘Anbari, sampai pada Umar bin al-Khaththab adalah Abbas bin Abdul  ‘Azhim al-‘Anbari, Abdur Rahman bin Mahdi, Malik bin Anas, al-‘Alaa’ bin Abdur Rahman bin Ya’qub, dari ayahnya, dari kakeknya.

Ahli hadits abad ini, asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani menyatakan riwayat di atas dengan “hasanul isnad”. Jadi, sanad hadits ini hasan. Walhamdulillah.

Apakah hadits mauquf dapat dijadikan sebagai dasar hukum?

Pada dasarnya, hadits mauquf bukanlah alat berhujah. Akan tetapi, ada beberapa bentuk hadits mauquf yang disebutkan oleh ahli hadits mempunyai kekuatan hukum seperti hadits marfu’ . Misalnya berita mengenai umat zaman dahulu, kejadian pada hari kiamat, atau tentang sesuatu yang tidak ada celah berijtihad di sana.

Secara rinci dan detail, pembahasan hadits mauquf tentu dapat diperoleh dari kitab-kitab hadits.

 

Luasnya Fikih Umar bin al-Khaththab

Keputusan yang diambil menjadi bukti luasnya fikih Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu. Kebijakan tersebut sangatlah diperlukan, sesuai dengan kedudukan dan kewenangan Umar radhiallahu ‘anhu selaku pimpinan tertinggi.

Selain sangat memerhatikan akidah dan praktik ibadah, Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu tidak lupa untuk mengambil langkah-langkah seperlunya untuk maslahat perekonomian umat Islam. Mengapa Umar radhiallahu ‘anhu memutuskan demikian?

Beberapa riwayat menunjuk maslahat kaum miskin sebagai salah satu alasan. Sebab, ketidaktahuan tentang fikih akan membuat para pedagang kurang memerhatikan hak-hak kaum yang lemah. Selain itu, beberapa riwayat juga menyebutkan kekhawatiran praktik riba telah membuat Umar radhiallahu ‘anhu meletakkan aturan dasar seperti itu.

“Tidak boleh melakukan aktivitas jual beli di pasar kita kecuali seseorang yang telah memahami fikih dalam beragama.”

Ucapan Umar radhiallahu ‘anhu ini mestinya mendorong kita untuk selalu mendoakan beliau radhiallahu ‘anhu. Kata-kata ini jelas membuktikan kapasitas ilmu salah seorang dari empat al-Khulafa’ ar-Rasyidun.

Jika kita berandai kebijakan Umar bin al-Khaththab diterapkan, tentu akan menciptakan kondisi ekonomi yang kuat dan mapan. Hanya saja, praktik penetapannya memang di tangan pihak berwenang. Walaupun demikian, sebagai rakyat muslim, kita yang hendak terlibat dalam aktivitas jual beli, baik di pasar secara langsung maupun secara online, harusnya selalu mengingat kata-kata Umar bin al-Khaththab di atas.

Jangan sekali-kali berdagang atau menjadi pembeli, jika belum memahami fikih jual beli yang terkait secara benar!

 Jual Beli pada Masa Rasulullah

Al-Imam Muslim (no. 102) menyebutkan sebuah riwayat dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu yang menjelaskan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berjalan melintasi seorang pedagang bahan makanan. Pada tumpukan bahan makanan itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memasukan tangan sampai ke dasar. Ternyata beliau menemukan basah.

Beliau bertanya ke pemilik bahan makanan, ”Basah apa ini, wahai pemilik bahan makanan?”

Ia menjawab, ”Terkena air hujan, wahai Rasulullah.”

Setelah itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَفَلَا جَعَلْتَهُ فَوْقَ الطَّعَامِ كَيْ يَرَاهُ النَّاسُ؟ مَنْ غَشَّ فَلَيْسَ مِنِّي

“Mengapa engkau tidak meletakkan yang basah itu di bagian atas agar dapat dilihat orang? Barang siapa menipu, ia bukan bagian dariku.”

Kejujuran dalam berjual-beli memang sangat ditekankan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kejujuran adalah landasan utama untuk mewujudkan pasar yang kondusif, ekonomi yang kuat, dan perdagangan yang sehat. Baik sebagai produsen, distributor, maupun konsumen, setiap pihak diharuskan selalu mengedepankan sikap jujur. Menipu, berbohong, atau menutupi-nutupi, akan merusak keseimbangan pasar.

Si pedagang bahan makanan yang ditegur oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas tidak bermaksud menutup-nutupi. Basah yang terletak di bagian dasar bahan makanan merupakan efek dari curahan hujan. Itupun diingatkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan nada yang cukup keras. Lantas bagaimana halnya dengan mereka yang jelas-jelas menipu dan sengaja berbohong dalam praktik jual belinya?

Asy-Syaikh al-Albani dalam Silsilah ash-Shahihah (no. 366) menyebutkan sebuah riwayat Ahmad, ath-Thahawi, dan al-Hakim bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Sungguh, para pedagang (kebanyakan mereka) adalah orang-orang jahat.”

Para sahabat bertanya, ”Bukankah Allah telah menghalalkan jual beli?”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

بَلَى، وَلَكِنَّهُمْ يُحَدِّثُونَ فَيَكْذِبُونَ، وَيَحْلِفُونَ وَيَأْثَمُونَ

“Benar demikian. Hanya saja, mereka berbicara namun berdusta, bahkan bersumpah sehingga mereka berdosa.”

Siapa saja di antara kita yang pernah atau bahkan sering bahkan memerhatikan perilaku para pedagang di pasar-pasar umum, pasti menemukan kenyataan seperti yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Berbohong adalah sebuah kebiasaan yang sulit dihilangkan. Berdusta menjadi bumbu penyedap jual beli. Untuk keuntungan dan laba yang sedikit, cacat atau aib pada barang akan ditutup-tutupi sedemikian rapat.

Asy-Syaikh al-Albani dalam Silsilah ash-Shahihah (no. 1458) menyebutkan sebuah riwayat al-Baihaqi dari sahabat al-Bara’ bin ‘Azib[1]. Saat itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berjalan menuju Baqi’. Para pedagang yang ditemui oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diminta untuk berkumpul. Setelah itu, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan,

إِنَّ التُّجَّارَ يُبْعَثُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فُجَّارًا، إِلَّا مَنِ اتَّقَى اللهَ وَبَرَّ وَصَدَقَ

“Sungguh, pada hari kiamat nanti, para pedagang akan dikumpulkan sebagai orang-orang yang jahat. Kecuali mereka yang bertakwa kepada Allah, berbuat baik, dan jujur.”

Terus terang saja, bukankah semakin sulit untuk menemukan seorang pedagang yang jujur dan tepercaya? Sekalipun ada, dan katakanlah banyak, berapakah prosentasenya bila dibandingkan dengan mereka yang tidak atau kurang jujur? Cobalah hitung, berapakah jumlah pedagang yang bertakwa kepada Allah dan berbuat baik?!

Sekian banyak pedagang begitu jauh dari sikap takwa. Ada yang menggunakan jimat dan rajah, ada yang memakai pengasihan, ada yang menggantungkan harapan dengan fengshui, ada yang berjual beli barang-barang haram, ada yang menjual dengan cara riba, dan sederet bentuk jual beli yang tidak mencerminkan ketakwaan kepada Allah.

Sangat sedikit pedagang yang benar-benar memerhatikan shalat wajib yang lima wajib pada waktunya. Sangat sedikit pedagang yang betul-betul perhatian dengan sedekah dan zakat. Padahal, dengan memperbanyak sedekah, mempersering berinfak, selalu memberi hadiah untuk karyawan, dan selalu mengeluarkan zakat wajib tepat waktunya, akan menutup celah-celah dosa yang diakibatkan aktivitas jual beli.

Sebuah hadits dari sahabat Qais bin Abi Gharazah radhiallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Ashabus Sunan dan dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam al-Misykah (no. 2798) menyebutkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

يَا مَعْشَرَ التُّجَّارِ، إِنَّ الْبَيْعَ يَحْضُرُهُ اللَّغْوُ وَالْحَلِفُ فَشُوبُوهُ بِالصَّدَقَةِ

“Wahai para pedagang, sungguh, jual beli itu kerap kali diikuti oleh perbuatan sia-sia dan sumpah. Oleh sebab itu, tutupilah dengan sedekah.”

Ringkasnya, sikap jujur dalam berjual beli akan menjadi sebab turunnya rahmat Allah subhanahu wa ta’ala dan menjadi sebab tercurahnya berkah dari Allah subhanahu wa ta’ala. Bukankah berkah Allah subhanahu wa ta’ala yang hendak dicari? Laba dan keuntungan yang diberkahi akan membuat si pedagang merasakan kenyamanan, qana’ah, dan hidupnya penuh dengan kebahagiaan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْبَيِّعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا، فَإِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَا بُورِكَ لَهُمَا فِي بَيْعِهِمَا، وَإِنْ كَذَبَا وَكَتَمَا مُحِقَ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا

“Selama belum berpisah, penjual dan pembeli masih mempunyai hak khiyar (melanjutkan atau membatalkan proses jual beli). Jika keduanya sama-sama jujur dan berterus terang, jual beli mereka akan diberkahi. Sebaliknya, jika keduanya berbohong dan menutup-nutupi, berkah jual beli mereka akan terhapus.” (HR. al-Bukhari no. 2114 dan Muslim no. 1532 dari Hakim bin Hizam radhiallahu ‘anhu)

An-Nawawi rahimahullah menjelaskan maksud hadits di atas, masing-masing menjelaskan segala sesuatu yang diperlukan oleh pihak yang lain, seperti cacat atau semisalnya, baik pada barang maupun harga.

Di dalam karyanya yang berjudul Bahjat Qulubil Abrar, saat menyebutkan hadits di atas, asy-Syaikh as-Sa’di rahimahullah menerangkan, ”Siapa saja yang berdusta dan secara sengaja menutup-nutupi cacat barang atau sifat-sifat lain saat melakukan akad jual beli, selain berdosa, jual beli yang dilakukan akan terjauhkan dari berkah. Muamalah apa pun yang tidak diberkahi, pelakunya pasti merugi di dunia dan di akhirat.” Na’udzu billah.

 Marilah Belajar Fikih Jual Beli!

Seiring perkembangan zaman, semakin bertambahnya masa yang dibarengi dengan kemajuan teknologi dan alat komunikasi serta kemudahan transportasi, sangat sering kita dihadapkan dengan berbagai hal yang “baru” dalam aktivitas jual beli. Belum lagi dalam skala besar, seperti ekspor impor.

Macam-macam jenis transaksi juga terus berganti bentuk. Alat tukar pun demikian. Setelah terjun langsung di dunia usaha, banyak sistem dan metode jual beli yang kita hadapi. Nah, ikhtiar mencari nafkah dan memenuhi kebutuhan hidup, haruslah ditopang dengan pengetahuan fikih jual beli yang cukup. Supaya ikhtiar kita dengan berjual beli tidak terasa kering dan tidak gersang, tetapi sejuk dan menyenangkan, majelis-majelis ilmu mestinya diramaikan dan dimakmurkan.

Tanpa ilmu, akan banyak konflik dan masalah yang bermunculan. Sudah cukup banyak tali persahabatan yang dikorbankan, eratnya persaudaraan yang terurai, dan kasih sayang yang berganti kebencian. Mengapa? Salah paham ketika bertransaksi. Kejahilan tentang fikih jual beli. Tidak memahami adab-adab Islami dalam bermuamalah.

Hasad dan dengki tumbuh subur. Persaingan yang tidak sehat pun terlahir. Saling menjatuhkan antara satu dan yang lain pun terjadi. Muncul pula sikap menghindar dan lari dari kewajiban jual beli. Mengapa sampai terjadi? Di antara sebabnya adalah tidak menuruti nasihat Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu yang meminta kita untuk benar-benar memahami fikih beragama, khususnya jual beli.

Seorang tabi’in bernama Atha’ rahimahullah menyatakan bahwa majelis dzikir adalah majelis halal dan haram. Majelis yang menerangkan tentang bagaimana seharusnya engkau berjual beli. Majelis yang menjelaskan tentang tata cara engkau shalat, puasa, menikah, menalak, berhaji, dan yang semisalnya. (al-Adzkar, karya an-Nawawi)

Artinya? Semangat Anda berjual beli harus diiringi semangat thalabul ilmi (menuntut ilmu). Tekad Anda berbisnis mestinya disertai tekad memahami fikih jual beli. Cita-cita Anda untuk membangun usaha, tentu lebih baik jika dibangun di atas ilmu syar’i.

Sebagai penutup, marilah merenungkan sepatah nasihat dari al-Imam Ibnu Rajab rahimahullah berikut ini. “Sungguh, setiap muslim wajib memahami semua hal yang ia perlukan dalam praktik beragama, seperti tentang tata cara bersuci, shalat, dan puasa. Bagi yang memiliki harta, ia wajib memahami tentang zakat, nafkah, haji, dan jihad. Demikian pula bagi yang melakukan aktivitas jual beli, ia wajib mempelajari jual beli yang dihalalkan dan yang diharamkan.” (Majmu’ Rasail Ibni Rajab 1/22)

Kemudian, beliau rahimahullah menyebutkan riwayat Umar di atas!

لَا يَبِعْ فِي سُوقِنَا إِلَّا مَنْ قَدْ تَفَقَّهَ فِي الدِّينِ

“Tidak boleh melakukan aktivitas jual beli di pasar kita kecuali seseorang yang telah memahami fikih dalam beragama.” Wallahul muwaffiq ila ahdas sabil.

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar Iben Rifai

[1] Sebelumnya, dalam al-Misykah (no. 2799) asy-Syaikh al-Albani tidak menyebutkan penilaian sahih. Setelah membaca riwayat al-Bara’ di atas, beliau lantas menghukuminya sahih. Bahkan, beliau rahimahullah menyampaikan,

“Hendaknya penilaian sahih ini dinukilkan juga di sana (al-Misykah).”

Beda Tawaf dan Mencium Hajar Aswad dengan Amalan Musyrikin

وَ عَنْ عَابِسِ بْنِ رَبِيعَةَ قَالَ: رَأَيتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ يُقَبِّلُ الْحَجَرَ – يَعْنِي الْأَسْوَدَ – وَ يَقُولُ: إِنِّي لَأَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ لَا تَنْفَعُ وَ لَا تَضُرُّ, وَ لَوْلَا أَنِّي رَأَيتُ رَسُولَ اللهِ يُقَبِّلُكَ مَا قَبَّلْتُكَ.

Dari ‘Abis bin Rabi’ah, dia berkata, “Aku melihat Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu mencium Hajar Aswad, lalu berkata, ‘Sungguh, aku tahu engkau adalah batu yang tidak memberikan manfaat dan madarat. Kalau bukan karena aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menciummu, aku tidak akan menciummu.”

 

Takhrij Atsar

Atsar Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu ini muttafaqun ‘alaihi. Al-Bukhari meriwayatkannya dalam ash-Shahih, Kitab al-Hajj bab “ar-Raml fil Hajj” no. 1605.

Demikian pula Muslim meriwayatkan dalam Kitab al-Hajj, bab “Istihbab Taqbil al-Hajar al-Aswad” no. 1270.

Diriwayatkan pula oleh Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasai, dan al-Hakim an-Naisaburi.

Asy-Syaikh al-Allamah al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin al-Albani menyatakan sahih dalam Shahih at-Targhib wat Tarhib.

 

Makna Atsar

Perkataan Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu disampaikan di hadapan banyak orang. Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhu berkata sebagaimana dalam Mustadrak al-Hakim,

حَجَجْنَا مَعَ عُمَرِ بْنِ الْخَطَّابِ، فَلَمَّا دَخَلَ الطَّوَافَ اسْتَقْبَلَ الْحَجَرَ فَقَالَ: إِنِّي أَعْلَمُ أَنَّك حَجَرٌ لَا تَضُرُّ وَلَا تَنْفَعُ، وَلَوْلَا أَنِّي رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ ) قَبَّلَكَ ( مَا قَبَّلْتُكَ؛ ثُمَّ قَبَّلَهُ

Kami haji bersama Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu. Ketika beliau mulai thawaf, beliau menghadap Hajar Aswad seraya berkata, “Sungguh, aku tahu engkau adalah batu yang tidak memberikan mudarat, tidak pula manfaat. Kalau bukan karena aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menciummu, aku tidak akan menciummu.” Kemudian beliau menciumnya.

Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu adalah sosok yang sangat gigih menjaga tauhid sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau mengucapkan kalimat ini di tengah keramaian agar didengar ucapannya dan tersebar di tengah-tengah manusia.

Ketika itu, banyak orang yang baru saja keluar dari peribadatan dan pengagungan terhadap batu-batu (berhala). Mereka baru keluar dari keyakinan bahwa bebatuan memberikan manfaat dan mudarat.

Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu khawatir sebagian mereka yang baru masuk Islam itu tidak memahami (maksud dari mencium hajar Aswad –pen.). Karena itu, beliau mengucapkan kalimat tersebut.[1]

Umar al-Faruq radhiallahu ‘anhu mengingatkan bahwa mencium Hajar Aswad tidak sama dengan perbuatan para penyembah batu yang mengusap dan mencium berhala-berhala mereka. Mencium Hajar Aswad bukan untuk menyembahnya atau meyakini bahwa dia memberikan manfaat atau mudarat, melainkan semata-mata mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana diperintahkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala,

وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمۡ عَنۡهُ فَٱنتَهُواْۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ ٧

“Apa yang diberikan oleh Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya.” (al-Hasyr: 7)

 kabah

Thawaf dan Mencium Batu Hanya di Ka’bah

Di seluruh belahan bumi pasti ada kaum muslimin yang melakukan shalat, zakat, puasa, atau ibadah lainnya. Namun, tidak di setiap tempat ada orang yang beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan melakukan thawaf atau mencium dan mengusap batu (Hajar Aswad).

Ibadah thawaf, mengelilingi Ka’bah tujuh putaran, hanya dilakukan di Ka’bah dan tidak akan dijumpai di mana pun di muka bumi ini.

Allah subhanahu wa ta’ala lah yang memerintah kita menuju Ka’bah. Allah subhanahu wa ta’ala pula yang menjadikan Ka’bah sebagai tempat ibadah dan kiblat bagi kaum muslimin. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلۡيَطَّوَّفُواْ بِٱلۡبَيۡتِ ٱلۡعَتِيقِ ٢

“… dan hendaklah mereka melakukan tawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah).” (al-Hajj: 29)

Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman,

جَعَلَ ٱللَّهُ ٱلۡكَعۡبَةَ ٱلۡبَيۡتَ ٱلۡحَرَامَ قِيَٰمٗا لِّلنَّاسِ

“Allah menjadikan Ka’bah, rumah suci itu sebagai pusat (peribadatan dan urusan dunia) bagi manusia….” (al-Maa’idah: 97)

Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman,

فَوَلِّ وَجۡهَكَ شَطۡرَ ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡحَرَامِۚ

“Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram.” (al-Baqarah: 144)

Demikian pula mengusap dan mencium, tidaklah dilakukan kecuali di Ka’bah. Hajar Aswad disunnahkan untuk dicium dan diusap. Adapun rukun Yamani disyariatkan untuk diusap saja.

Sekali lagi, ibadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan cara thawaf atau mengusap dan mencium hanya dilakukan di Ka’bah. Apabila dijumpai sekelompok manusia yang mengelilingi sebuah tempat dengan niat taqarrub kepada Allah subhanahu wa ta’ala atau mencium suatu benda dengan niat ibadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala, sungguh perbuatan ini adalah kebid’ahan, dan tertolak di sisi Allah subhanahu wa ta’ala. Bahkan, itu adalah kesyirikan atau jalan yang mengantarkan kepada kesyirikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

Barang siapa melakukan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka itu tertolak.”

 

Apa yang Membedakan?

Di sebuah majelis, salah seorang hadirin bertanya, “Ada orang yang mengatakan bahwa agama Islam dan agama musyrikin sama saja. Buktinya, kaum musyrikin menyembah berhala-berhala dari batu, sementara kaum muslimin juga mengelilingi batu (Ka’bah) dan menciumnya (Hajar Aswad).”

Pertanyaan yang muncul dari seorang muslim ini sangat menyedihkan. Inilah kenyataan pahit. Kebodohan melanda umat. Banyak kaum muslimin tidak bisa membedakan antara dua amalan yang secara lahiriah sama, yaitu mencium, mengusap, atau mengelilingi.

Seorang pendeta Nasrani berkata dalam sebuah bukunya untuk menghujat Islam, “Pada kenyataannya sebagian besar pengikut agama bangsa Arab (yakni Islam –pen.) tidak mengetahui dan tidak menyadari bahwa yang disembah dan dipuja pada hakikatnya batu hitam Hajar Aswad. Penyembahan pada batu Hajar Aswad ini baru disadari pada waktu pengikut agama bangsa Arab ini melakukan rukun Islam yang kelima yaitu pergi ke Ka’bah di Makkah dan harus menyembah dan mencium batu hitam Hajar Aswad tersebut. Pada saat mencium batu hitam Hajar Aswad ini barulah orang tersadar bahwa yang dilakukan tidak lain adalah pekerjaan syirik, yaitu mempersekutukan Allah dengan batu hitam tersebut.”

Wajar ketika seorang pendeta, musuh Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya menganggap sama antara mencium Hajar Aswad dan mencium berhala. Demikian pula menganggap sama antara thawaf di kuburan dan thawaf di Ka’bah. Akan tetapi, menjadi tidak wajar ketika seorang muslim tidak bisa membedakan antara mencium Hajar Aswad dan mencium kuburan para wali.

Perbedaan antara keduanya sebenarnya sangat jelas. Mengelilingi Ka’bah dan mencium Hajar Aswad diperintahkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya. Adapun mengelilingi kuburan para wali sama sekali tidak diperintahkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya.

Mengelilingi Ka’bah dan mencium Hajar Aswad tidak diiringi dengan keyakinan bahwa kedua makhluk ini memberikan manfaat atau mudarat. Berbeda halnya dengan mereka yang mengelilingi kuburan para wali.

Mengelilingi Ka’bah dan mencium Hajar Aswad bukan kesyirikan, melainkan bentuk pengagungan dan peribadatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Apa pendapat Anda ketika Allah subhanahu wa ta’ala memerintah kita untuk menempelkan tujuh anggota sujud[2] ke tanah saat kita sujud? Apa niat kita ketika bersujud dan menempelkan muka ke tanah? Menyembah tanah yang kita cium atau mengagungkan Allah subhanahu wa ta’ala dengan melaksanakan perintah-Nya?!

Siapakah yang dikatakan beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala, orang yang tunduk pada perintah Allah subhanahu wa ta’ala untuk menempelkan mukanya ke tanah dalam shalat ataukah yang enggan melaksanakan perintah tersebut?

Sama halnya dengan thawaf dan mencium Hajar Aswad. Tidak untuk menyembah Ka’bah dan Hajar Aswad, tetapi semata-mata melaksanakan perintah Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya. Seandainya kita mengingkari perintah tersebut, niscaya kita tergolong orang yang kafir kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Sungguh, Allah subhanahu wa ta’ala telah mewajibkan kita menunaikan Haji ke Ka’bah. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّ أَوَّلَ بَيۡتٖ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكٗا وَهُدٗى لِّلۡعَٰلَمِينَ ٩٦ فِيهِ ءَايَٰتُۢ بَيِّنَٰتٞ مَّقَامُ إِبۡرَٰهِيمَۖ وَمَن دَخَلَهُۥ كَانَ ءَامِنٗاۗ وَلِلَّهِ عَلَى ٱلنَّاسِ حِجُّ ٱلۡبَيۡتِ مَنِ ٱسۡتَطَاعَ إِلَيۡهِ سَبِيلٗاۚ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ ٱلۡعَٰلَمِينَ ٩٧

“Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim. Barang siapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia. Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barang siapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (Ali Imran: 96—97)

Allah subhanahu wa ta’ala pula yang memerintahkan kita untuk mengelilingi Ka’bah. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

  وَلۡيَطَّوَّفُواْ بِٱلۡبَيۡتِ ٱلۡعَتِيقِ ٢٩

“… dan hendaklah mereka melakukan thawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah).” (al-Hajj: 29)

Perintah dari Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya untuk mengelilingi Ka’bah dan mencium Hajar Aswad demikian jelas. Pantaskah seorang hamba menolak perintah Allah subhanahu wa ta’ala ini?

Kita tentu ingat kisah penciptaan Adam ‘alaihissalam. Allah subhanahu wa ta’ala memerintah para malaikat untuk sujud kepada Adam. Sujud yang dimaksud tentu saja sujud penghormatan. Demikianlah syariat Allah subhanahu wa ta’ala.

Akan tetapi, Iblis enggan memberi sujud penghormatan kepada Adam. Jadilah ia kafir karena tidak melaksanakan perintah Allah subhanahu wa ta’ala. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَإِذۡ قُلۡنَا لِلۡمَلَٰٓئِكَةِ ٱسۡجُدُواْ لِأٓدَمَ فَسَجَدُوٓاْ إِلَّآ إِبۡلِيسَ أَبَىٰ وَٱسۡتَكۡبَرَ وَكَانَ مِنَ ٱلۡكَٰفِرِينَ ٣٤

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir. (al-Baqarah: 34)

Samakah sujudnya malaikat kepada Adam dengan sujudnya para penyembah berhala di hadapan berhala yang mereka sembah?

 hajar-aswad

Bukan Karena Hajar Aswad Memberi Manfaat

Seorang muslim mencium Hajar Aswad dan mengelilingi Ka’bah sematamata karena mengikuti perintah Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya. Itulah hakikat tauhid. Ia tidak menciumnya lantaran meyakini bahwa makhluk yang berupa batu hitam tersebut bisa memberi manfaat atau mudarat. Sama sekali tidak!

Perhatikan ucapan Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu,

إِنِّي لَأَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ لَا تَنْفَعُ وَلاَ تَضُرُّ، وَلَوْلَا أَنِّي رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ يُقَبِّلُكَ مَا قَبَّلْتُكَ

“Sungguh aku tahu engkau adalah batu, yang tidak bisa memberi manfaat dan mudarat. Kalau bukan karena aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menciummu, aku tidak akan menciummu.”

Bahkan, seorang yang masih berada di atas fitrah akan menilai bahwa semua amaliah ibadah haji adalah untuk mentauhidkan Allah subhanahu wa ta’ala, dan mengesakan peribadatan untuk-Nya. Inilah inti ibadah haji.

Di akhir makalah ini, mari kita ikuti perjalanan haji Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang yang mencermatinya akan mengetahui bahwa semua bagian ibadah haji, termasuk thawaf dan mengusap Hajar Aswad, tidaklah dilakukan kecuali untuk mengagungkan Allah subhanahu wa ta’ala.

Dari Madinah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menuju Dzul Hulaifah. Dari miqat inilah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai ihramnya dan memperbanyak talbiyah,

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ

“Aku sambut panggilan-Mu ya Allah, aku sambut panggilan-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu, aku sambut panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji dan nikmat adalah kepunyaan-Mu, demikian pula kekuasaan, tiada sekutu bagi-Mu.”

Inilah syiar yang selalu dikumandangkan oleh orang yang menuju Masjidil Haram untuk menunaikan haji atau umrah. Sebuah kalimat yang demikian agung.

Sesampainya beliau di Ka’bah, beliau mengusap Hajar Aswad, lalu thawaf, mengelilingi Ka’bah dengan berlari kecil tiga putaran, dan berjalan biasa empat putaran.

Maksud dari thawaf adalah mengagungkan Allah subhanahu wa ta’ala dengan melaksanakan perintah-Nya subhanahu wa ta’ala. Saat thawaf, antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala memohon kepada-Nya,

رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِي ٱلدُّنۡيَا حَسَنَةٗ وَفِي ٱلۡأٓخِرَةِ حَسَنَةٗ وَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ ٢٠١

“Wahai Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.” (al-Baqarah: 201)

Inilah syiar seorang muslim saat thawaf, mengagungkan Allah subhanahu wa ta’ala dan memohon kepada-Nya subhanahu wa ta’ala dengan penuh ketundukan; tidak memohon kepada Ka’bah atau Hajar Aswad.

Betapa jauh perbedaan antara seorang muslim saat mengelilingi Ka’bah dan para penyembah kuburan saat menundukkan mata di hadapan kuburan wali. Mereka menangis dengan penuh harap kepada yang dikubur, thawaf mengelilingi kuburan seraya berkata, “Wahai Sayyid Badawi, tolonglah kami!”

Setelah thawaf, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menuju Maqam Ibrahim, lalu menunaikan shalat dua rakaat dengan membaca surat al-Kafirun dan surat al-Ikhlash.

Dua surat yang beliau baca ini menunjukkan kesempurnaan sifat Allah subhanahu wa ta’ala, pengagungan terhadap-Nya subhanahu wa ta’ala, dan pengingkaran kepada peribadatan kepada selain-Nya subhanahu wa ta’ala.

Setelah shalat beliau kembali lagi ke Hajar Aswad dan mengusapnya. Kemudian beliau keluar dari pintu menuju Shafa. Ketika sudah mendekati Shafa, beliau membaca,

  إِنَّ ٱلصَّفَا وَٱلۡمَرۡوَةَ مِن شَعَآئِرِ ٱللَّهِۖ

“Sesungguhnya Shafa dan Marwah termasuk syi’ar-syiar Allah.” (al-Baqarah: 158)

dan mengucapkan,

أَبْدَأُ بِمَا بَدَأَ اللهُ بِهِ

“Aku mulai dengan apa yang Allah subhanahu wa ta’ala mulai dengannya.”

Di bukit Shafa, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menghadap Ka’bah, lalu membaca kalimat tauhid dan takbir, seraya mengucapkan,

لاَ إِلَهَ إِلاَّ للهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ )يُحْيِي وَيُمِيتُ( وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ أَنْجَزَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ

“Tiada ilah yang hak selain Allah, Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya segala kerajaan, bagi-Nya segala puji, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Tiada ilah yang hak selain Allah Yang Esa, yang menepati janji-Nya, menolong hamba-Nya, dan menghancurkan golongan-golongan musuh sendirian.”

Doa seperti itu beliau ulangi tiga kali. Kemudian beliau turun menuju Marwah. Beliau lakukan seperti apa yang beliau lakukan di Shafa.

Di hari Tarwiyah, 8 Dzulhijjah tahun 10 H, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat berangkat menuju Mina. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menunaikan shalat Zhuhur, Ashar, Maghrib, Isya’ dan Subuh.

Setelah subuh di Mina, 9 Dzulhijjah, beliau berhenti sejenak hingga matahari terbit, lalu berangkat menuju Arafah. Dalam semua perjalanan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat terus mengumandangkan talbiyah, kalimat tauhid.

Di Arafah, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam wukuf sejak tergelincir matahari hingga terbenamnya. Selama itu beliau berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala, menengadahkan kedua tangan seraya memperbanyak kalimat tauhid,

لاَ إِلَهَ إِلاَّ للهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Tiada ilah yang hak selain Allah, Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya segala kerajaan, bagi-Nya segala puji, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.”

Dari Arafah beliau menuju Muzdalifah. Selama perjalanan beliau terus mengumandangkan syiar tauhid, talbiyah. Di Mudzalifah, beliau menunaikan shalat Maghrib dan Isya’ dengan sekali azan dan dua kali iqamat. Beliau tidak melakukan shalat apa pun di antara keduanya. Kemudian beliau berbaring hingga fajar terbit dan menunaikan shalat Subuh di Muzdalifah.

Setelah shalat Subuh di Muzdalifah, tepatnya di Masy’aril Haram, beliau berdiri lama menghadap kiblat, berdoa, bertakbir, dan bertahlil. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap berada di tempat itu hingga terang benderang. Setelah itu, beliau bertolak sebelum matahari terbit menuju Mina untuk menunaikan amalan di hari Nahr.

Beliau mengawali amalan hari Nahr dengan melempar Jumrah Aqabah, tujuh kali lemparan dengan batu-batu kecil. Setiap lemparan beliau iringi dengan takbir, mengagungkan Allah subhanahu wa ta’ala.

Selanjutnya beliau menuju tempat penyembelihan. Pada hari itu, beliau menyembelih 100 ekor unta untuk Allah subhanahu wa ta’ala. Sejumlah 63 ekor unta beliau sembelih dengan tangan beliau yang mulia, sedangkan 37 ekor lainnya beliau wakilkan penyembelihannya kepada Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu.

Pembaca, inilah hamba Allah subhanahu wa ta’ala yang paling tunduk di hadapan-Nya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menunaikan semua peribadatan untuk Allah subhanahu wa ta’ala. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menunaikan amalan menyembelih hadyu untuk Allah subhanahu wa ta’ala yang Dia subhanahu wa ta’ala perintahkan,

إِنَّآ أَعۡطَيۡنَٰكَ ٱلۡكَوۡثَرَ ١  فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَٱنۡحَرۡ ٢

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dari itu, dirikanlah shalat karena Rabbmu dan berkurbanlah.” (al-Kautsar: 1—2)

Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menaiki kendaraan menuju Baitullah untuk melakukan thawaf ifadhah dan shalat Zhuhur di Makkah.

Saudaraku, haji adalah sebuah ibadah yang sangat agung untuk Allah subhanahu wa ta’ala. Coba renungkan kembali perjalanan haji Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas.

Adakah orang yang berakal mengatakan bahwa ibadah haji seperti perbuatan kaum musyrikin, karena di dalamnya ada thawaf mengelilingi Ka’bah dan mencium Hajar Aswad? Tidak ada yang mengatakan seperti itu kecuali seorang yang tidak mengerti tauhid.

Allahul musta’an.

وَصَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ وَالْحَمْدُ رَبِّ الْعَالَمِينَ

 

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal Lc.


[1] Badrul Munir (6/192—194)

[2] Muka, dua telapak tangan, dua lutut, dan dua kaki

Belajar Mencintai Ilmu Hadits dari Asy-Syaikh Muqbil

لَا يُؤْمِنُ عَبْدٌ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

“Seorang hamba, belumlah sempurna imannya, sampai aku (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) lebih ia cintai dibandingkan keluarganya, harta, dan seluruh manusia”

 

Lanjutkan membaca Belajar Mencintai Ilmu Hadits dari Asy-Syaikh Muqbil

Mengoreksi Perilaku Para Dai

Al-Imam al-Bukhari rahimahullah berkata,

عَنْ أَبيْ مَسْعُودٍ أَنَّ رَجُلًا قَالَ: وَا يَا رَسُولَ ا إِنِّي لَأَتَأَخَّرُ عَنْ صَلَاةِ الْغَدَاةِ مِنْ أَجْلِ فُلَانٍ مِمَّا يُطِيلُ بِنَا

فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ ا فِي مَوْعِظَةٍ أَشَدَّ غَضَبًا مِنْهُ يَوْمَئِذٍ ثُمَّ قَالَ: إِنَّ مِنْكُمْ مُنَفِّرِينَ فَأَيُّكُمْ  مَا صَلَّى بِالنَّاسِ فَلْيَتَجَوَّزْ فَإِنَّ فِيهِمْ الضَّعِيفَ وَالْكَبِيرَ وَذَا الْحَاجَةِ

Dari Abu Mas’ud radhiallahu ‘anhu, seseorang datang mengadu, “Wahai Rasulullah, demi Allah, aku sengaja mengakhirkan shalat subuh karena perbuatan fulan. Ia memanjangkan (bacaan shalat) saat mengimami kami.”

Abu Mas’ud berkata, “Sungguh, aku belum pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat marah ketika menyampaikan peringatan melebihi kemarahan beliau pada hari tersebut.”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh, di antara kalian ada ,lorang yang membuat manusia lari! Siapa pun di antara kalian mengimami manusia, ringankanlah! Sebab, di antara mereka ada orang yang lemah, tua renta, atau memiliki keperluan.”

  Lanjutkan membaca Mengoreksi Perilaku Para Dai

Kemurnian Agama Terjaga dengan Peringatan Ulama

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: تَلَا رَسُولُ اللهِ :

هُوَ ٱلَّذِيٓ أَنزَلَ عَلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ مِنۡهُ ءَايَٰتٞ مُّحۡكَمَٰتٌ هُنَّ أُمُّ ٱلۡكِتَٰبِ وَأُخَرُ مُتَشَٰبِهَٰتٞۖ فَأَمَّا ٱلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمۡ زَيۡغٞ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَٰبَهَ مِنۡهُ ٱبۡتِغَآءَ ٱلۡفِتۡنَةِ وَٱبۡتِغَآءَ تَأۡوِيلِهِۦۖ وَمَا يَعۡلَمُ تَأۡوِيلَهُۥٓ إِلَّا ٱللَّهُۗ وَٱلرَّٰسِخُونَ فِي ٱلۡعِلۡمِ يَقُولُونَ ءَامَنَّا بِهِۦ كُلّٞ مِّنۡ عِندِ رَبِّنَاۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّآ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَٰبِ ٧

قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللهِ: فَإِذَا رَأَيْت الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ، فَأُولَئِكَ الَّذِينَ سَمَّى اللهُ فَاحْذَرُوهُمْ

Lanjutkan membaca Kemurnian Agama Terjaga dengan Peringatan Ulama

Samakah Islam dan Kristen? Tidak!

Sahabat yang mulia, Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, pernah menyampaikan sebuah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk kita. Sabda yang harus terus diingat dan diulang-ulang agar akidah tidak tergerus, iman tidak ternoda. Sebuah sabda yang mematrikan di dalam dada bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang sah. Sebuah sabda yang mengingatkan bahwa inilah prinsip kita, Islam telah menghapus semua ajaran agama yang pernah ada!

Lanjutkan membaca Samakah Islam dan Kristen? Tidak!

Berita di Sekitar Kita

…عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ حِينَ قَالَ لَهَا أَهْلُ الإِفْكِ مَا قَالُوا، فَبَرَّأَهَا اللهُ مِنْهُ

“Dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, istri terkasih Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tentang isu yang disebarkan oleh ahlul ifki (para penyebar dusta) mengenai kehormatan beliau. Isu yang kemudian Allah menyucikan diri beliau darinya

 

Takhrij Haditsul Ifki

Kisah yang disebut dengan haditsul ifki ini secara lengkap diriwayatkan oleh al-Bukhari di dalam Shahihnya (no. 4750) dan beberapa tempat lain.

Al-Imam Muslim juga meriwayatkan kisah ini di dalam Shahih-nya (17/102).

Selain beliau berdua, yang meriwayatkan kisah ini adalah at-Tirmidzi (4/155), Ahmad (6/59), Abdur Razzaq (5/410) Ibnu Jarir (18/90) dan lainnya.

Hadits di atas sering dipilih oleh ahli hadits sebagai bukti kejelian, puncak kemampuan, dan kekuatan ilmu al-Imam az-Zuhri rahimahullah. Betapa tidak? Beliau memperoleh alur kisah di atas dari empat orang guru, yaitu Urwah bin Zubair, Said bin al-Musayyab, ‘Alqamah bin Waqqash dan Ubaidullah bin Abdillah. Apa yang telah dilakukan?

Az-Zuhri mengulang kembali haditsul ifki dalam satu alur saja. Sebuah kisah yang tersaji dengan menghimpun seluruh alur cerita yang disampaikan oleh guru-gurunya.

Al-Jam’u baina asy-syuyukh (menghimpun beberapa riwayat lantas disampaikan dalam satu alur) yang dilakukan oleh az-Zuhri bisa diterima oleh ulama. Sebab, beliau adalah seorang perawi yang hafizh lagi mutqin. Selain itu, az-Zuhri menguasai betul letak persamaan dan titik perbedaan riwayat-riwayat tersebut.

Perawi yang tingkatannya tidak seperti az-Zuhri, jika melakukan al-jam’u baina asy-syuyukh, tidak dapat diterima. Oleh sebab itu, ulama mengingkari riwayat semacam ini dari al-Waqidi, Atha’ bin as-Sa’ib, Jabir al-Ju’fi, ‘Auf al-A’rabi, dan lainnya. Sebab, mereka semua tidak memenuhi kriteria untuk melakukannya. (Syarh ‘Ilal at-Tirmidzi, 2/672—677)

 

Berita Dusta

Ada sekian berita dusta yang pernah tercatat dalam sejarah Islam. Isu-isu tidak berdasar, tuduhan keji, kabar palsu, dan informasi bohong, menjadi pilihan utama untuk memerangi Islam dan kaum muslimin. Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diisukan sebagai seorang dukun, tukang sihir, dan penyair? Bahkan, beliau dikatakan sebagai orang gila. Subhanallah!

Masihkah kita akan terseret dalam arus kesedihan? Apakah kita terus terjebak pada belenggu kecewa? Sedih dan kecewa dengan kadar sewajarnya masihlah disebut manusiawi. Ya, menghadapi atau mendengar isu dusta dan berita bohong memang amat mengganggu. Apalagi kita yang menjadi obyeknya. Masya Allah!

Jangan terjebak dalam belenggu kecewa! Tak usahlah terseret dalam arus kesedihan! Saat isu dusta diembuskan walau perlahan, ketika berita bohong disebarkan meski terang-terangan, marilah kita mengingat kembali sepotong cerita tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan rumah tangganya. Cerita yang amat menyayat hati. Cerita yang menyadarkan bahwa kita bukanlah apa-apa.

 

Ujian di Bulan Sya’ban

Tahun tersebut menjadi tahun kelima Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di bumi Madinah. Kisahnya bermula dari kebiasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan undian untuk memilih, siapakah di antara istri-istri beliau yang akan menemani, melayani, dan berkhidmat selama perjalanan ke luar kota. Ibunda Aisyah radhiallahu ‘anha menjadi nama yang terpilih saat itu.

Dalam perjalanan pulang, rombongan berkemah untuk beristirahat di malam hari. Walaupun telah memberi izin, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta Ibunda Aisyah radhiallahu ‘anha untuk menunaikan hajat di penghujung malam saja. Benar saja, Ibunda Aisyah pun mencari lokasi sepi, meninggalkan letak perkemahan, sendirian dan di akhir malam.

Hampir bersamaan, Rasulullah radhiallahu ‘anha mengeluarkan perintah kepada rombongan untuk berangkat melanjutkan perjalanan.

Khusus untuk kaum wanita, ketika dalam perjalanan dibuatkan rumah-rumahan kecil semacam tandu untuk kemudian dipanggul. Tak terkecuali Ibunda Aisyah radhiallahu ‘anha saat itu. Rombongan berangkat. Mereka yang bertugas untuk mengangkat tandu, tidak merasa apabila Ibunda Aisyah tidak berada di dalamnya. Ringannya badan Ibunda Aisyah radhiallahu ‘anha ketika itu membuat mereka tidak dapat membedakan antara ada dan tidak adanya beliau di atas tandu. Mereka mengira, Ibunda Aisyah radhiallahu ‘anha ada di dalamnya. Perjalanan terus dilanjutkan.

Sungguh! Semua urusan di atas muka bumi ini telah diatur sedemikian sempurna. Ada Dzat yang Mahasempurna di atas sana. Dialah yang menentukan, memastikan, dan berkuasa atas seluruh peristiwa. Kita yakin ada sejuta hikmah di balik satu kisah atau sepotong musibah. Terutama untuk menyadarkan bahwa kita hanyalah makhluk yang lemah sehingga harus selalu berpulang, pasrah, dan menyerahkan segala-galanya kepada Allah ‘azza wa jalla.

Sekembalinya ke lokasi perkemahan, Ibunda Aisyah radhiallahu ‘anha terkejut karena tempat telah kosong dan sepi. Berbekal kecerdasan dan ketenangan, beliau memutuskan untuk menunggu di tempat itu saja, tanpa harus panik atau bingung. Katanya, “Tentu mereka akan merasa kehilangan dan akan kembali ke tempatku ini.”

Cukup lama Ibunda Aisyah radhiallahu ‘anha menunggu sampai akhirnya beliau tertidur. Ibunda Aisyah radhiallahu ‘anha terbangun saat mendengar istirja’ sahabat Shafwan bin Mu’aththal radhiallahu ‘anhu, “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.”

Ternyata Shafwan yang berkemah di bagian belakang rombongan pun tertidur pulas sehingga tertinggal. Shafwan yang melihat sosok seseorang lalu mendekati. Segera Shafwan mengenalinya sebagai Ibunda Aisyah radhiallahu ‘anha, apalagi dia pernah melihatnya sebelum ayat hijab diturunkan. Langsung saja Shafwan radhiallahu ‘anhu mengucapkan istirja’, memanggil dan menderumkan untanya, lalu mendekatkannya ke arah Ibunda Aisyah radhiallahu ‘anha.

Tidak ada satu patah kata pun yang terucap dari Shafwan radhiallahu ‘anhu. Jangankan satu patah kata, satu huruf pun tidak. Shafwan radhiallahu ‘anhu sangat mengerti adab dan etika. Tidak mungkin dia berbicara kepada keluarga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sementara beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak ada di sana. Shafwan radhiallahu ‘anhu begitu besar sikap hormatnya kepada Aisyah radhiallahu ‘anha, istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semoga Allah ‘azza wa jalla meridhainya.

Pun demikian Aisyah radhiallahu ‘anha. Tidak ada satu huruf pun yang terucap, apalagi sampai satu kata. Beliau adalah wanita suci lagi disucikan. Beliau adalah istri seorang hamba yang suci. Tidak mungkin Allah ‘azza wa jalla memilihkan seorang pendamping hidup untuk Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam kecuali wanita yang terbaik. Itu pasti! Semoga Allah ‘azza wa jalla meridhainya.

Ibunda Aisyah radhiallahu ‘anha kemudian naik ke atas unta karena memahami maksud dari Shafwan radhiallahu ‘anhu. Mereka berjalan mengejar rombongan. Shafwan radhiallahu ‘anhu berjalan di depan unta dan menggiringnya, tanpa pernah sekali pun memandang atau menoleh ke belakang. Akhirnya mereka berhasil menyusul saat matahari beranjak naik, di waktu dhuha.

 

Kacamata Berita

Kesempatan. Ya, peristiwa itu digunakan oleh orang-orang munafik untuk menyebarkan isu, berita bohong, dan kabar palsu. Mereka menyebarkan bahwa seorang sahabat Nabi telah berselingkuh dengan salah seorang istri beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Digembar-gemborkan, digemparkan, dan di-blow-up sedemikian rupa.

Lihatlah! Jangankan berita yang murni bohong, jelas-jelas palsu, kaum munafikin juga memelintir, merekayasa, dan memotong-motong sebuah cerita sehingga tersebar tidak seperti aslinya. Peristiwa yang sebenarnya terjadi sebagaimana dipaparkan di atas, bukan semacam yang disebarluaskan oleh kaum munafikin!

Seperti itulah liciknya musuh-musuh Islam. Maka dari itu, janganlah heran atau terkejut apabila ada sekian banyak isu-isu murahan atau berita dusta yang disematkan pada Islam, dakwah tauhid, dakwah sunnah, terlebih lagi pada pribadi para pengampunya. Bukankah dakwah salaf sering dituduh sebagai dakwah keras, takfiri, teroris, jumud, tertutup, merasa benar sendiri, dan seabreg tuduhan lainnya?

Ada duka di kota Madinah. Orang-orang sama bertanya, “Ada apa ini? Mengapa bisa terjadi?

Ketika kaum munafikin gembira dan tertawa, kaum mukminin bersedih. Mereka bersedih karena ikut merasakan kesedihan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pada saat yang sama, kaum mukminin sangatlah yakin bahwa kabar itu adalah dusta semata. Mereka menyatakan dengan penuh keyakinan,

مَّا يَكُونُ لَنَآ أَن نَّتَكَلَّمَ بِهَٰذَا سُبۡحَٰنَكَ هَٰذَا بُهۡتَٰنٌ عَظِيمٞ ١٦

Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita untuk memperbincangkan hal ini. Mahasuci Engkau (wahai Rabb kami),ini adalah dusta yang besar.” (al-Nur: 16)

Di sinilah terletak pelajaran penting dalam hal menyikapi berita di seputar kita. Contohlah kaum mukminin di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berusaha untuk tidak terlarut dalam isu-isu yang diembuskan. Apalagi terkait dengan kemaslahatan Islam dan kaum muslimin. Bersikaplah teliti, bekali diri dengan filter untuk menyaring, dan bertanyalah kepada orang-orang tepercaya dalam hal menanggapi berita.

Orang mukmin tidaklah mudah menerima isu atau kabar burung. Berita yang tidak jelas sumbernya, referensinya entah dari mana, janganlah langsung diterima. Apalagi terkait dengan harga diri, kehormatan, dan nama baik seorang muslim. Haruslah lebih berhati-hati!

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits Sa’id bin Zaid radhiallahu ‘anhu,

إِنَّ مِنْ أَرْبَى الرِّبَا الْاِسْتِطَالَةُ فِيْ عِرْضِ الْمُسْلِم بغَيْرِ حَقٍّ

“Sungguh, perbuatan riba yang paling besar adalah berbicara tentang kehormatan seorang muslim secara tidak benar.” (HR. Abu Dawud dan dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh Muqbil dalam ash-Shahihul Musnad 1/313)

Pada saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berisra’ dan mi’raj, diperlihatkan kepada beliau orang-orang yang berada di dalam neraka. Mereka memiliki kuku-kuku panjang terbuat dari tembaga. Mereka mencakar-cakar wajahnya sendiri. Saat ditanyakan, Malaikat Jibril menjawab,

هَؤُلاَءِ الَّذِيْنَ يَأْكُلُوْنَ لُحُوْمَ النَّاسِ وَيَقَعُوْنَ فِيْ أَعْرَاضِهِمْ

        “Mereka adalah orang-orang yang memakan daging orang lain (berbuat ghibah) dan menjatuhkan kehormatan orang lain.” (HR. Abu Dawud dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh Muqbil dalam ash-Shahihul Musnad 1/508)

Demikianlah ajaran Islam! Berhati-hati dalam berbicara, bersikap teliti saat menukil berita.

 

Menjadi Obyek Berita?

Apabila menjadi obyek sebuah isu, apa yang harus dilakukan? Contohlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam! Tirulah Ibunda Aisyah radhiallahu ‘anha! Hayatilah secara saksama sikap-sikap beliau saat menghadapi gencarnya isu sesat yang disebarkan oleh kaum munafikin. Beliau berdua tidak terburu-buru, tidak pula tergesa-gesa.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam , hamba yang memperoleh petunjuk ilahi dari atas langit ketujuh, tidaklah mengambil keputusan sendiri. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diam dan tidak berbicara. Yang beliau lakukan adalah menunggu dan menanti turunnya wahyu dari Allah ‘azza wa jalla. Biarlah Allah ‘azza wa jalla yang memutuskan.

Nah, inilah yang mesti kita lakukan saat menjadi obyek isu. Kembalilah kepada Allah dengan memperbanyak tobat, istighfar, dan zikir. Mengeluh dan mengadulah kepada-Nya. Mohonlah petunjuk dan kesabaran dari-Nya. Bacalah kalam Allah ‘azza wa jalla agar hati menjadi sejuk, jiwa bertambah tenang. Seperti itu pula yang dilakukan oleh Ibunda Aisyah radhiallahu ‘anha.

Dalam salah satu perbincangan kecil dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Ibunda Aisyah radhiallahu ‘anha mengakui dirinya adalah seorang perempuan muda yang tidak banyak menghafal al-Qur’an. Akan tetapi, beliau menyatakan, “Demi Allah! Tidak ada permisalan yang dapat aku sampaikan kepada kalian kecuali ucapan ayah Nabi Yusuf,

فَصَبۡرٞ جَمِيلٞۖ وَٱللَّهُ ٱلۡمُسۡتَعَانُ عَلَىٰ مَا تَصِفُونَ ١٨

“Maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan.” (Yusuf: 18)

Begitulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Ibunda Aisyah radhiallahu ‘anha! Kembali kepada Allah ‘azza wa jalla saat isu dan berita dusta tiba menyapa. Berikutnya adalah memohon masukan dan saran dari orang-orang dekat dan dapat dipercaya.

Selama masa penantian wahyu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bermusyawarah dengan Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu dan Usamah bin Zaid radhiallahu ‘anhu. Subhaanallah! Kepada yang jauh lebih muda, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta saran. Berapakah usia Usamah saat itu? Masih sangat belia, muda sekali. Hanya beberapa belas tahun umurnya. Bayangkan, tentang urusan rumah tangga yang bersifat privasi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap meminta saran dari orang lain.

Lantas bagaimana halnya dengan kita? Mestinya tidak perlu sungkan atau malu hati untuk meminta saran dan masukan dari orang lain saat menghadapi isu atau berita tidak mengenakkan. Asalkan orang itu dapat dipercaya dan bersifat amanah. Tirulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam!

Seperti itu juga yang dilakukan oleh Ibunda Aisyah radhiallahu ‘anha. Saat pertama kali mendengar berita dusta tersebut, Ibunda Aisyah meminta izin kepada Rasulullah radhiallahu ‘anha agar diperbolehkan menemui kedua orangtuanya.Kepada kedua orangtuanya, Abu Bakr ash-Shiddiq dan Ummu Ruman istrinya, Aisyah radhiallahu ‘anha meminta masukan. Sang ibu menyatakan, “Wahai putriku, anggap ringan saja masalah ini bagimu!”

Ingat-ingatlah pula bahwa tentu ada yang terpengaruh akibat isu atau berita dusta yang beredar. Jika sungguh-sungguh bertobat dan meminta maaf, berikanlah maaf untuknya. Hal ini seperti yang dilakukan oleh Abu Bakr ash-Shiddiq yang memaafkan Misthah radhiallahu ‘anhu, padahal ia pun terlibat dalam berita dusta yang disebarkan oleh kaum munafikin.

Ringkasnya, hidup di dunia ini tentu tidak akan lepas dan terbebas dari isu miring atau berita dusta. Alhamdulillah, Islam telah mengatur dan membimbing langkah terbaik untuk menghadapinya.

Dengan membaca kisah haditsul ifki, semoga Allah ‘azza wa jalla meringankan beban pikiran kita. Amin.

Wallahul Muwaffiq.

 

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar

Pemuda, Dalam Bidikan Musuh Islam

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللهُ تَعَالَى فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: إِمَامٌ عَدْلٌ، وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللهِ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ، وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ، وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ: إِنِّي أَخَافُ اللهَ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

“Ada tujuh golongan yang akan mendapat naungan Allah subhanahu wa ta’ala dengan naungan Arsy-Nya pada hari tidak ada naungan di hari tersebut kecuali naungan-Nya: (1) Pemimpin yang adil, (2) Pemuda yang senantiasa tumbuh dalam beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala, (3) Orang yang senantiasa hatinya tertambat dengan masjid ketika ia keluar darinya hingga kembali lagi kepadanya, (4) Dua orang yang saling mencintai karena Allah subhanahu wa ta’ala, keduanya berkumpul karena Allah subhanahu wa ta’ala, dan berpisah karena-Nya, (5) Orang yang mengeluarkan sedekah kemudian merahasiakannya sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya, (6) Seorang laki-laki yang dirayu berbuat keji oleh wanita bangsawan lagi rupawan, lalu menjawab, ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allah’, (7) dan Seseorang yang ingat (berzikir) kepada Allah subhanahu wa ta’ala di tempat yang sunyi kemudian kedua matanya meneteskan air mata.”

  Lanjutkan membaca Pemuda, Dalam Bidikan Musuh Islam

Menjadi Ahli Hadits – Sebuah Doa Untuk Anak

Dikisahkan bahwa Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma di masa kecilnya pernah menginap di rumah Maimunah bintu al-Harits radhiallahu ‘anha, bibinya. Maimunah sendiri adalah salah satu istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ibunda kaum muslimin. Saat itu Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma menyiapkan air untuk wudhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setelah mendengar jawaban Maimunah bahwa Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma lah yang melakukannya, beliau pun berdoa untuk Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma,

اللَّهُمَّ فَقِّهْهُ فِيْ الدِّيْنِ وَعَلِّمْهُ التَّأْوِيْلَ

“Ya Allah, buatlah dia menjadi faqih di dalam agama ini, dan ajarilah dia ilmu ta’wil (ilmu tafsir al-Qur’an).”

 

Takhrij Hadits

Apabila dicermati, doa Rasulullah untuk Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma ada dalam dua permohonan; menjadi faqih di dalam agama Islam dan menguasai ilmu tafsir. Sebagian orang menyangka bahwa kedua doa Rasulullah di atas diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari dan Muslim. Apakah memang demikian?

Hadits dengan lafadz di atas, dengan menyebutkan dua permohoan doa sekaligus, diriwayatkan oleh at-Thabarani (3/164/2), Abu Ali ash-Shawwaf dalam kitab al-Fawaid (3/166—167), ad-Dhiya’ dalam al-Mukhtarah (2/226) dengan dua sanad, dari Syibl bin Abbad, dari Sulaiman al-Ahwal, dari Said bin Jubair, dari Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma.

Sementara itu, al-Imam al-Bukhari (no. 75) dan Muslim (no. 2477) hanya meriwayatkan lafadz pertama, yakni permohonan menjadi faqih di dalam agama. Adh-Dhiya’ menyatakan, “Al-Bukhari dan Muslim tidak meriwayatkan lafadz wa ‘allimhu at ta’wiil. Tambahan lafadz ini adalah tambahan yang hasan.”

Al-Albani menambahkan, “Al-Hakim menyatakan sahih (3/534) dan disepakati oleh adz-Dzahabi.”

Setelah menyebutkan beberapa bentuk lafadz lain, asy-Syaikh al-Albani menyimpulkan (Silsilah ash-Shahihah no. 2589), “Secara umum, dengan lafadz demikian hadits ini sahih. Di dalam syarah ath-Thahawiyah hlm. 234, penulis menyandarkan lafadz ini kepada al-Bukhari. Ini adalah wahm (kekeliruan), sebagaimana telah saya ingatkan dalam takhrij hadits di sana.”

 Doa

Mendoakan Anak

Satu hal penting yang sering dilupakan oleh orang tua adalah mendoakan kebaikan untuk anaknya. Sekian banyak dalil menyebutkan pentingnya orang tua sering mendoakan kebaikan untuk anak. Selain sebagai tanda kasih orang tua dan hak seorang anak, doa kebaikan menjadi salah satu sebab kebahagiaan anak di dunia dan akhirat kelak.

Selain itu, Islam juga melarang orang tua mendoakan kejelekan untuk anaknya. Apapun alasannya hal tersebut tidak boleh dilakukan. Senyatanya, dalam kehidupan sehari-hari, tidak jarang kita menemui orang tua yang saat emosi dan marah melaknat atau mendoakan kejelekan untuk anaknya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا تَدْعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ، وَلَا تَدْعُوا عَلَى أَوْلَادِكُمْ، وَلَا تَدْعُوا عَلَى أَمْوَالِكُمْ، لَا تُوَافِقُوا مِنَ اللهِ سَاعَةً يُسْأَلُ فِيهَا عَطَاءٌ، فَيَسْتَجِيبُ لَكُم

“Janganlah kalian mendoakan kejelekan untuk diri sendiri! Janganlah mendoakan kejelekan untuk anak-anak kalian! Janganlah mendoakan kejelekan untuk harta milik kalian! Jangan sampai kalian (berdoa) dan tepat pada waktu yang ditentukan Allah ‘azza wa jalla untuk dikabulkan doa padanya, lantas doa kalian diwujudkan.” (HR . Muslim no. 3009, dari Jabir bin Abdillah)

Di dalam syarah Riyadhus Shalihin, asy-Syaikh Muhammad bin al-Utsaimin menyatakan, “Seandainya engkau menegur anakmu dengan mengatakan, ‘Kemari! Mengapa engkau melakukan perbuatan ini?! Semoga Allah ‘azza wa jalla tidak melimpahkan taufik untukmu! Semoga Satu hal penting yang sering dilupakan oleh orang tua adalah mendoakan kebaikan untuk anaknya.

Allah ‘azza wa jalla tidak membuatmu beruntung! Semoga Allah ‘azza wa jalla tidak menjadikanmu baik!’, dikhawatirkan bertepatan dengan waktu istijabah (dikabulkannya doa). Semua hal ini haram, tidak boleh!”

Alangkah lebih baiknya jika orang tua, pengajar atau siapa pun, ketika melihat dan bergaul dengan anak-anak untuk sering-sering mendoakan kebaikan. Barangkali saja tepat pada waktu istijabah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri sering mendoakan kebaikan untuk anak-anak kecil semasa hidupnya. Salah satu contohnya adalah doa beliau untuk Abdullah bin Abbas di dalam hadits kita ini.

 

Doa Rasulullah Terkabul?

Doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas pada waktunya benar-benar terkabul. Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma dikenal dan diakui sebagai ahli tafsir terkemuka di kalangan sahabat. Referensi-referensi Islam dipenuhi dengan riwayat, pendapat, dan fatwa Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma. Untuk menggambarkan profil Ibnu Abbas, kami akan menukilkan sedikit biografi beliau dari karya monumental al-Imam adz-Dzahabi yang berjudul Siyar A’lam an-Nubala.

Nama lengkap beliau adalah Abul Abbas Abdullah bin Abbas bin Abdul Muthalib al-Hasyimi. Adz-Dzahabi menyebutnya dengan Habrul Ummah (Tinta Umat)[1], Faqiihul ‘Ashr (Tokoh Fiqih di Masanya), dan Imam at-Tafsir (Pemuka Utama dalam Tafsir). Secara garis nasab, Ibnu Abbas merupakan sepupu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ibnu Abbas dilahirkan di sebuah lembah bernama Syi’b Abu Yusuf, sebuah daerah milik bani Hasyim. Syi’ib adalah lembah yang pernah digunakan oleh Rasulullah dan bani Hasyim untuk menetap ketika kaum kafir Quraisy melakukan blokade. Menurut pendapat yang dikuatkan oleh Ibnu Abdil Barr dan al-Hafizh Ibnu Hajar, Ibnu Abbas lahir tiga tahun sebelum hijrah. Oleh sebab itu, ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, Ibnu Abbas telah berusia 13 tahun.

Secara fisik, Ibnu Abbas memiliki perawakan yang tegap, dada bidang, berwibawa, gagah rupawan, cerdas , berkulit putih, dan berpostur tinggi. Apabila Ibnu Abbas berjalan dan melewati rumah-rumah, orang dapat mengenalnya hanya dengan mencium harum wangi yang berasal dari tubuhnya.

Walaupun hanya sekitar tiga puluh bulan bermulazamah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, riwayat hadits Ibnu Abbas menyentuh bilangan 1.660 hadits. Di dalam ash-Shahihain ada 75 hadits; 120 hadits hanya diriwayatkan oleh al-Bukhari, sementara al-Imam Muslim ada 9 hadits yang hanya beliau yang meriwayatkan.

Selain meriwayatkan hadits langsung dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Ibnu Abbas juga berguru dari Umar bin Khaththab, Ali bin Abi Thalib, Muadz bin Jabal, al-Abbas ayahnya, Abdurrahman bin Auf, Abu Sufyan, Abu Dzar, dan sahabat-sahabat lainnya g. Secara lebih khusus, Ibnu Abbas belajar al-Qur’an beserta ilmu-ilmu terapannya dari sahabat Ubai bin Ka’b dan Zaid bin Tsabit radhiallahu ‘anhuma.

Melihat nama-nama besar sahabat tempat Ibnu Abbas berguru dan menimba ilmu, maka tidaklah heran jika sahabat Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu menyanjung, “Andai Ibnu Abbas berusia seperti kami (sezaman sahabat senior), tentu tidak ada seorang pun yang mampu menyainginya.” Dalam kesempatan lain, Ibnu Mas’ud memuji, “Sebaik-baik penafsir al-Qur’an adalah Ibnu Abbas.”

Siapakah sahabat yang paling mengerti dan memahami tentang al-Qur’an berikut kandungan maknanya? Di antara mereka adalah Ibnu Abbas. Sahabat Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma mengakuinya dengan mengatakan, “Ibnu Abbas adalah orang yang paling mengerti tentang ayat-ayat al-Qur’an yang diturunkan oleh Allah ‘azza wa jalla untuk Nabi Muhammad.”

Pengakuan akan keilmuan Ibnu Abbas juga datang dari gurunya sendiri, Ubai bin Ka’b radhiallahu ‘anhu. Ubai pernah berkata, “Anak muda ini kelak akan menjadi tinta umat ini. Aku menyaksikan kecerdasan dan kepintaran terpancar dari dirinya. Sungguh, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berdoa kepada Allah ‘azza wa jalla agar menjadikannya faqih di dalam agama.”

Amirul Mukminin Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiallahu ‘anhuma juga mengakui taraf keilmuan Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma yang amat tinggi. Suatu saat Mu’awiyah berbicara kepada Ikrimah rahimahullah, mantan budak milik Ibnu Abbas sekaligus muridnya, “Demi Allah! Maula-mu (mantan majikanmu) adalah orang yang paling faqih di antara orang-orang yang telah meninggal, juga dibandingkan dengan orang-orang yang masih hidup.”

Demikianlah para sahabat memuji, menyanjung, dan mengakui keilmuan Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma. Kemampuannya di dalam bidang tafsir, kefaqihannya dalam banyak masalah agama telah menempatkan beliau pada posisi istimewa di kalangan sahabat. Hal ini merupakan bukti bahwa doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk beliau sungguh-sungguh dikabulkan oleh Allah ‘azza wa jalla.

Sebagai salah satu indikator keluasan ilmu Ibnu Abbas adalah sebuah keterangan dari Ibnu Hazm di dalam kitabnya, al-Ihkam. Di sana Ibnu Hazm mengatakan, “Abu Bakr Muhammad bin Musa bin Ya’qub bin al-Makmun, seorang ulama besar Islam, mengumpulkan fatwa-fatwa Ibnu Abbas dalam dua puluh jilid kitab.”

Subhanallah! Fatwa Ibnu Abbas terhimpun dalam dua puluh jilid kitab? Sungguh, telah dikabulkan doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam! Fatwa-fatwa Ibnu Abbas yang dibangun di atas ayat al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan bukti kuat akan keluasan dan kedalaman ilmu beliau. Semoga Allah ‘azza wa jalla meridhai beliau.

 

Menuju Ahli Tafsir

Usia Ibnu Abbas masih 13 tahun ketika Rasulullah wafat. Akan tetapi, semangat juangnya untuk menimba dan mencari ilmu tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Ibnu Abbas sempat mengajak seorang kawannya dari kaum Anshar untuk berkeliling belajar dari seorang sahabat ke sahabat lainnya. Namun, ajakan itu ditolak. Katanya, buat apa belajar sementara sahabat-sahabat Nabi g masih banyak yang hidup. Apakah orang-orang akan bertanya kepada kita?

Namun, semangat Ibnu Abbas selalu bergelora. Digambarkan oleh beliau sendiri, untuk bisa memperoleh sebuah riwayat, beliau terkadang harus rela menunggu sampai tertidur di depan rumah sahabat yang dituju. Usia muda, semangat tinggi, kecerdasan yang luar biasa ditambah lisan yang selalu bertanya, pada akhirnya membuat Ibnu Abbas menjadi salah satu sumber rujukan utama dalam masalah agama.

Bagaimana tidak menjadi seorang pemuka agama yang mumpuni, ilmu yang dihimpun dan dikumpulkan oleh Ibnu Abbas benar-benar berkualitas. Buktinya? Ibnu Abbas pernah menyatakan, “Sungguh! Untuk satu masalah saja, terkadang saya menanyakan jawabannya kepada tiga puluh orang sahabat Nabi.”

Kawannya yang sempat menolak ajakan Ibnu Abbas lalu berkomentar, “Anak muda yang satu ini memang lebih cerdas daripada saya.”

Dari beberapa hal di atas, seharusnya membuka harapan baru untuk anak-anak kita kelak. Kesempatan untuk menjadi seorang ahli tafsir, seseorang yang memahami makna dan kandungan al-Qur’an secara luas masih selalu ada. Asalkan kita sebagai orangtua atau pengajar selalu menanamkan semangat dan menaburkan benih motivasi dalam dada mereka. Menjadi seorang ahli tafsir? Mengapa tidak?

 

Warisan Ahli Tafsir, Murid-Murid Ahli Tafsir

Keilmuan Ibnu Abbas dalam hal menafsirkan al-Qur’an kemudian diwarisi oleh murid-muridnya. Oleh sebab itu, mayoritas tokoh dan pemuka ahli tafsir di kalangan tabi’in adalah murid-murid Ibnu Abbas. Tidak ada satu pun ayat al-Qur’an yang ditafsirkan lalu dituliskan di dalam karya-karya tafsir kecuali pasti tersebut salah satu dari nama murid-murid Ibnu Abbas.

Siapa yang tidak mengenal Mujahid bin Jabr? Seorang ahli tafsir yang disebut oleh ats-Tsauri, “Jika datang tafsir dari Mujahid, peganglah kuat-kuat!”

Siapa yang tidak mengenal Sa’id bin Jubair? Muhammad bin Sirin, Ikrimah, Thawus, Atha’ bin Yasar, asy-Sya’bi, Amr bin Dinar, Urwah bin az-Zubair, dan Arbadah at-Tamimi Shahibut Tafsir? Mereka semua adalah murid-murid utama Ibnu Abbas yang dikenal sebagai ahli tafsir juga.

Bagaimanakah Ibnu Abbas dalam pandangan murid-muridnya? Abu Wa’il bercerita, “Ibnu Abbas pernah menyampaikan khutbah untuk kami. Saat itu, beliau menjadi Amirul Hajj. Beliau membacakan surat an-Nur dan menafsirkannya. Sampai-sampai aku berkata, ‘Aku tidak pernah mendengar khutbah seindah ini. Andai khutbah ini didengar oleh orang-orang Persia, Romawi, dan Turki, niscaya mereka akan masuk Islam’.”

Mujahid memuji, “Aku tidak pernah melihat orang semacam Ibnu Abbas. Beliau adalah tinta umat ini.” Di waktu lain Mujahid menjelaskan, “Ibnu Abbas digelari dengan al-Bahr (Samudra) karena banyaknya ilmu yang dimiliki.”

Pujian yang sama juga dilayangkan oleh Ikrimah, murid beliau yang lain. Katanya, “Ibnu Abbas benar-benar samudra ilmu.”

Thawus menggambarkan untuk kita tentang keilmuan Ibnu Abbas di tengahtengah para sahabat. Kata Thawus, “Aku pernah bertemu sekitar lima ratus orang sahabat Nabi. Jika mereka berbeda pendapat, Ibnu Abbas selalu berusaha untuk meyakinkan mereka pada satu pendapat sampai akhirnya mereka pun sepakat dengan pendapat Ibnu Abbas.”

 

Ibnu Abbas di Mata Khalifah Umar bin al-Khaththab

Kefaqihan dan keluasan ilmu tafsir yang dimiliki Ibnu Abbas adalah alasan yang membuat Khalifah Umar bin al-Khaththab menunjuk beliau sebagai salah satu anggota Syura. Semula, sebagian sahabat kurang bisa menerima keputusan Umar. “Kalau anak muda ini bisa masuk dalam Syura, anak-anak kita yang seumur dengannya pun seharusnya bisa,” kata mereka.

Suatu saat, Khalifah Umar hendak menunjukkan bukti di hadapan seluruh anggota Syura bahwa Ibnu Abbas memang layak berada di sana. Umar lalu bertanya tentang makna firman Allah ‘azza wa jalla dalam surat an-Nashr. Sebagian sahabat diam, meski ada juga yang berusaha menjawab.

Di akhir diskusi, Umar bin al-Khaththab mempersilakan Ibnu Abbas untuk menjawab. Kata Ibnu Abbas, “Yang dimaksud adalah ajal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah ‘azza wa jalla memberitahukannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Setelah mendengar jawaban Ibnu Abbas, Umar menanggapi, “Aku pun tidak memahami ayat tersebut kecuali seperti yang engkau pahami!”

Dalam waktu yang berbeda, seorang utusan dari daerah datang bertemu dengan Khalifah Umar. Di dalam laporannya, utusan tersebut menceritakan semangat kaum muslimin di daerahnya yang begitu cepat mempelajari dan menghafal al-Qur’an. Ibnu Abbas secara terus terang menyatakan tidak senang dengan fenomena tersebut. Namun, Umar tidak menerima keberatan yang dinyatakan oleh Ibnu Abbas.

Ibnu Abbas kemudian pulang ke rumah dalam keadaan sedih atas sikap Umar. Beliau berbaring sampai disangka jatuh sakit oleh sebagian anggota keluarganya. Akhirnya datang panggilan dari Umar untuk Ibnu Abbas agar datang menghadap. Berbicara berdua, Umar menanyakan tentang pernyataan Ibnu Abbas di hadapan utusan tersebut. Apa alasannya?

Ibnu Abbas lalu menjelaskan, “Jika orang-orang terlalu cepat mempelajari dan menghafal al-Qur’an, mereka akan mengklaim saling benar. Apabila hal itu terjadi, mereka akan berdebat. Setelah itu mereka akan berselisih. Pada akhirnya mereka akan saling membunuh.”

Kata Umar menilai keterangan Ibnu Abbas, “Sungguh menakjubkan pikiranmu! Sungguh, selama ini aku menyembunyikan perasaan semacam itu dari orang-orang, sampai akhirnya engkau pun mengutarakannya.”

 

Doakanlah Kebaikan!

Kekhawatiran Ibnu Abbas akhirnya benar-benar nyata terjadi. Akibat dari berbicara tentang al-Qur’an tanpa landasan ilmiah hanya akan menimbulkan kekacauan dalam beragama. Menafsirkan al-Qur’an sesuai dengan hawa nafsu, kepentingan kelompok, atau kesenangan pribadi terlihat jelas pada kelompok-kelompok sempalan Islam. Serahkan

tafsir al-Qur’an pada ahlinya!

Sungguh benar ucapan sahabat Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu yang pernah menggambarkan semacam ini. Sebagian muridnya bertanya, kapankah hal itu terjadi?

Ibnu Mas’ud menjawab,

إِذَا كَثُرَ قُرَّاؤُكُمْ وَقَلَّ فُقَهَاؤُكُمْ، وَكَثُرَ أُمَرَاؤُكُمْ وَقَلَّ أُمَنَاؤُكُمْ، وَالْتُمِسَتِ الدُّنْيَا بِعَمَلِ الْآخِرَةِ، وَتُفُقِّهَ لِغَيْرِ الدِّينِ

“Apabila ahli membaca al-Qur’an banyak jumlahnya, tetapi yang mengerti tentang fiqihnya hanya sedikit. Banyak pemimpin bermunculan, namun yang bersikap amanah amat jarang. Dunia dicari dengan mengorbankan agama, dan orang belajar tetapi tidak tulus demi agama.” (Riwayat al-Hakim 4/514 dan ad-Darimi 1/64)

Mudah-mudahan Allah ‘azza wa jalla memberikan taufik dan hidayah-Nya agar kaum muslimin kembali kepada paham Salafus Shalih dalam hal menafsirkan al-Qur’an. Semoga kita dan anak-anak kita kelak selalu istiqamah mempelajari al-Qur’an, mencintai, mengamalkan, mengajarkan, dan mendakwahkannya.

Seperti Ibnu Abbas! Walaupun telah buta di masa tuanya, Ibnu Abbas tetap mengajarkan al-Qur’an beserta tafsirnya. Ibnu Abbas adalah figur panutan kita dalam ilmu tafsir. Semoga Allah meridhai beliau dan orang tuanya.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar bin Rifai


[1] Kata hibr dengan meng-kasrah huruf ha, maknanya tinta atau ulama. Adapun dengan habr maknanya ialah ulama. (Mishbahul Munir, al-Fayyumi)

Kedustaan di Balik Kedok Cinta

Al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: سُئِلَ النَّبِيُّ عَنِ الْكَلِمَاتِ الَّتِي تَلَقَّاهَا آدَمُ مِنْ رَبِّهِ فَتَابَ عَلَيْهِ، قَالَ:

سَأَلَهُ بِحَقِّ مُحَمَّدٍ وَعَلِيٍّ وَفَاطِمَةَ وَالْحَسَنِ وَالْحُسَيْنِ فَتَابَ عَلَيْهِ وَغُفِرَ لَهُ

Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang kalimat-kalimat yang diterima Adam dari Rabbnya sehingga Allah mengampuninya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘(Kalimat-kalimat itu adalah), ‘Adam memohon kepada Allah dengan hak Muhammad, Ali, Fathimah, Hasan, dan Husain, lalu Allah mengampuni Adam’.”

 hadits-palsu

Derajat Hadits

Hadits ini maudhu’ (palsu), hasil kedustaan Syiah Rafidhah atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Abul Faraj Ibnul Jauzi menyebutkan hadits di atas dalam al-Maudhu’at (1/316) melalui jalan ad-Daruquthni, beliau berkata,

تَفَرَّدَ بِهِ حُسِيْنٌ الْاَشْقَرُ رَوَى الْمَوْضُوعَاتِ عَنِ الْأَثْبَاتِ، عَنْ عَمْرِو بْنِ ثَابِتٍ وَلَيْسَ بِثِقَةٍ وَلَا مَأْمُون

“Husain al-Asyqar bersendiri dari ‘Amr bin Tsabit. Husain biasa meriwayatkan hadits-hadits palsu dari orang-orang tsiqah, sementara ‘Amr tidak tsiqah dan tidak tepercaya.”

Yahya bin Ma’in berkata, “Amr bin Tsabit bukan orang yang bisa dipercaya.”

Ibnu Hibban al-Busti berkata, “Dia memalsukan hadits-hadits dari perawi-perawi yang tsiqah.”

Ibnu Katsir rahimahullah, ketika menafsirkan surat asy-Syura ayat 23 mengatakan tentang ‘Amr bin Tsabit, “Dia seorang Syi’ah pendusta.”

Hadits Ibnu Abbas disebutkan pula oleh Ibnu ‘Araq al-Kinani dalam kitabnya, Tanzih asy-Syari’ah (1/413), dan beliau sandarkan riwayatnya kepada ad-Daruquthni.

As-Suyuthi membawakan hadits ini dalam kitabnya ad-Dur al-Mantsur  (1/147), hanya saja beliau mendiamkan hadits dan tidak memberikan komentar. Beliau menyebutkan pula hadits ini dalam kitabnya, al-La’ali’ al-Mashnu’ah (1/44) dan menghukuminya sebagai hadits maudhu’ (palsu).

Al-Kinani menyebutkan jalan lain untuk hadits ini dalam Tanzih asy-Syariah (1/395) melalui jalan Muhammad bin ‘Ali bin Khalaf al-‘Aththar, dari Husain al-Asyqar. Beliau nisbatkan jalan ini kepada Ibnu an-Najjar. Sayang, jalan ini tidak berfaedah. Sebab, Ibnu Adi menyatakan tentang Muhammad bin Ali bin Khalaf al-Aththar, “Dia muttaham bil kadzib (Tertuduh berdusta atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam).”

Walhasil, hadits di atas maudhu’, dipalsukan oleh orang-orang Syiah.

 

Makna Hadits

Di balik hadits-hadits palsu berisi pujian kepada Ahlul Bait inilah, Rafidhah menyembunyikan kesesatan dan kekufuran mereka. Hadits ini juga mengandung kemungkaran dan penyelisihan terhadap al-Qur’an dan as-Sunnah.

Lahiriah hadits ini berisi pujian kepada Ali, Fathimah, al-Hasan, dan al-Husain. Rafidhah memalsukannya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Hadits ini menunjukkan bahwa Adam telah mengenal Ali, Fathimah, Hasan, dan Husain, bahkan beliau bertawasul dengan hak mereka untuk mendapatkan ampunan Allah subhanahu wa ta’ala.

Sungguh, tidak ada satu hadits sahih pun mengajarkan kita bertawasul dengan orang-orang saleh ketika berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Hadits di atas, di samping palsu juga mengantarkan kepada kesyirikan. Sebab, doa ini berisi tawasul dengan orang-orang yang gaib (tidak ada); Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Ali, Hasan, Husain, dan Fathimah belum Allah subhanahu wa ta’ala ciptakan.

Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi rahimahullah berkata, “Hadits ini dan yang semisalnya adalah hadits palsu yang dipakai oleh tukang khurafat untuk dijadikan landasan dalam membolehkan berdoa kepada orang-orang yang telah mati.” (ath-Thali’ah, hlm. 230)

Di antara perkara yang menunjukkan kedustaan hadits ini, al-Qur’an telah menafsirkan kalimat-kalimat yang Allah subhanahu wa ta’ala wahyukan kepada Adam, yang dengannya beliau berdoa dan Allah subhanahu wa ta’ala ampuni dosa beliau.

Allah subhanahu wa ta’ala mengisahkan Adam dalam al-Qur’an bagaimana beliau berdosa kemudian Allah subhanahu wa ta’ala mengajarinya kalimat yang dengannya Allah subhanahu wa ta’ala mengampuni beliau. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam surat al-Baqarah,

Lalu keduanya digelincirkan oleh setan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman, “Turunlah kamu, sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan.” Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Rabbnya, maka Allah menerima tobatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang. (al-Baqarah: 36—37)

Menurut hadits Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma di atas, kalimat yang Adam terima adalah tawassul kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan ahli bait Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam yang belum Allah subhanahu wa ta’ala ciptakan! Hal ini menyelisihi al-Qur’an.

Syaikhul Islam berkata, “Adapun kalimat-kalimat (yang diucapkan Adam) telah disebutkan penafsirannya dalam al-Qur’an, yaitu firman Allah subhanahu wa ta’ala,

Keduanya berkata, “Wahai Rabb kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” (al-A’raf: 23)

Dimaklumi bahwa orang yang lebih rendah dari Adam (kedudukannya), baik dari kalangan orang kafir maupun fasik, jika bertobat kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan tobat nashuha, Allah subhanahu wa ta’ala akan menerima tobatnya tanpa harus bertawassul kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan siapa pun. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kita tidak pernah memerintah seorang pun bertobat dengan semisal doa ini.” (al-Muntaqa, hlm. 459)

Menjadi teranglah, di samping hadits di atas terdapat rawi pendusta dari orang Rafidhah, juga menyelisihi al-Qur’an dan petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam berdoa.

 

Ahlus Sunnah berlepas diri dari jalan Rafidhah yang membangun agama mereka di atas kedustaan. Mereka mengangkat sebagian ahlul bai setinggi-tingginya melebihi derajat para nabi dan rasul, sementara sebagian ahli bait Rasulullah n, mereka hinakan dan kafirkan.

 

Syiah dan Pemalsuan Hadits

Sekte sesat dan aliran sempalan dalam Islam tidak sekadar menawarkan dagangannya begitu saja.

Untuk menjual kesesatan dan melariskannya, mereka hiasi semua kebatilan dengan ayat al-Qur’an atau hadits sahih yang mereka simpangkan pemahamannya. Bahkan, dengan lancang mereka berani berdusta atas nama Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak ketinggalan Syiah Rafidhah. Mereka termasuk kelompok yang terdepan dalam hal memalsukan sabda-sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Pemalsuan hadits yang dilakukan oleh Rafidhah merupakan perkara yang disepakati ahlul hadits, sebagaimana tampak dalam beberapa ucapan ulama berikut.

Abdullah ibnul Mubarak al-Marwazi berkata bahwa Abu ‘Ishmah pernah bertanya kepada Abu Hanifah, “Dari siapakah engkau izinkan aku mendengar (mengambil) hadits?”

Beliau berkata, “Dari semua orang yang adil dalam hawa nafsunya, kecuali Syi’ah, karena prinsip mereka adalah menganggap sesat semua sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (al-Kifayah, hlm. 203)

Dari Yunus bin Abdul A’la berkata, dari Asyhab, al-Imam Malik ditanya tentang Rafidhah, maka beliau berkata, “Jangan kamu ajak bicara, jangan pula kamu riwayatkan dari mereka karena mereka selalu melakukan kedustaan.” (al-Muntaqa, hlm. 21)

Dari Harmalah bin Yahya, al-Imam asy-Syafi’i berkata, “Aku tidak pernah melihat seorang pun dari pengikut hawa nafsu yang lebih dusta dalam persaksian selain Rafidhah.” (al-Kifayah, hlm. 202)

Yazid bin Harun berkata, “Semua mubtadi’, selama tidak menyerukan kebid’ahannya, masih boleh ditulis haditsnya, kecuali Rafidhah, karena mereka sungguh selalu berdusta.” (al-Muntaqa, hlm. 22)

Demikianlah di antara upaya Syiah Rafidhah menghancurkan Islam. Mereka menebarkan pemikiran kufur dan sesat serta memalsukan hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai dalil atas kesesatan mereka.

Akan tetapi, alhamdulillah, rahmat Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa meliputi kaum mukminin. Allah subhanahu wa ta’ala membangkitkan para ulama Ahlus Sunnah yang sangat mendalam ilmunya. Mereka pun berjihad dengan menerangkan kepada umat tentang hadits yang didustakan atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

Benarkah Rafidhah Mencintai Ahlul Bait?

Dusta! Pengakuan Rafidhah mencintai ahlul bait hanyalah kedustaan. Menurut versi mereka, yang termasuk ahlul bait adalah Ali, Fatimah, Hasan, Husain, dan keturunannya. Sebatas itu saja ahlul bait.

Adapun istri-istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang pada hakikatnya termasuk ahlu bait Rasul, istri-istri Rasul di dunia dan di surga, mereka keluarkan dari barisan ahlul bait. Mereka mencela para istri Rasul, bahkan mereka kafirkan. Terlebih lagi Aisyah dan Hafshah, putri dua sahabat yang paling mereka benci: Abu Bakr dan Umar.

Ruqayyah dan Ummu Kultsum, dua putri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang beliau nikahkan dengan Utsman pun dikeluarkan dari ahlul bait lantaran menjadi istri Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu—yang sangat mereka benci dan kafirkan. Di antara merekaada yang berkata bahwa Ruqayyah dan Ummu Kultsum bukan anak Khadijah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun dari suami sebelumnya.

Inilah kedustaan pertama mereka dalam hal pengakuan kecintaan kepada ahlul bait. Mereka membenci bahkan mengafirkan sebagian ahlul bait, namun mencintai sebagian yang lain. Adapun Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah kaum yang mencintai seluruh ahli bait Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kedustaan kedua, Rafidhah telah melampaui batas dalam hal menyanjung ahlul bait. Mereka agungkan ahlul bait setinggi-tingginya, bahkan hingga mengangkat derajat ahlul bait melebihi derajat para nabi dan rasul. Mereka sekutukan Allah subhanahu wa ta’ala dengan ahlul bait versi mereka. Hal ini sebagaimana mereka melampaui batas terhadap imam mereka.

Semua kebatilan mereka didasari kedustaan. Mereka berdalil hadits dha’if, bahkan maudhu’ (palsu). Demikianlah Syi’ah Rafidhah, pengikut Abdullah bin Saba’ al-Yahudi, mengaku-aku cinta kepada ahlul bait Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun, semua itu hanyalah topeng untuk menutupi kebusukan mereka.

Mereka berani berdusta atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena memang syiar agama Rafidhah adalah kedustaan yang dilapisi dengan kemunafikan.[1]

 

Hadits-Hadits Palsu Tentang Ahlul Bait

Banyak sendi Islam mereka robohkan dalam kehidupan.

Hampir seluruh sahabat Rasul mereka kafirkan. Abu Bakr dan Umar mereka sebut dua berhala Quraisy. Demikian pula sahabat-sahabat lain, mereka hina dan caci maki[2]. Padahal hanya melalui jalan para sahabat, Islam disampaikan kepada umat.

Apa artinya? Artinya, semua riwayat sahabat tertolak karena mereka orang kafir.

Al-Qur’an mereka nyatakan telah dikhianati oleh para sahabat. Al-Qur’an yang ada saat ini, yang berada di tangan-tangan kaum muslimin, mereka anggap bukan lagi firman Allah subhanahu wa ta’ala yang diturunkan kepada manusia.

Untuk menutup kebusukan makar mereka terhadap Islam, Rafidhah bersembunyi di balik topeng kecintaan kepada ahlul bait. Mereka menyanjung dan memuji ahlul bait. Mereka bangun opini bahwa merekalah pembela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan keluarganya, merekalah pemegang estafet agama Rasul. Padahal yang ada adalah kekafiran dan jauhnya mereka dari Islam.

Hadits Ibnu Abbas di atas adalah contoh pertama dari hadits-hadits yang dibuat Rafidhah demi kepentingan mereka. Berikut ini kami tampilkan beberapa hadits palsu buatan agama Syiah Rafidhah yang sering mereka munculkan. Semoga apa yang kami paparkan dapat menjadi bekal bagi kaum muslimin untuk lebih berhati-hati dari makar Rafidhah.

 

Hadits Kedua

أَنَا مَدِينَةُ الْعِلْم،ِ وَعَلِيٌّ بَابُهَا، فَمَنْ أَرَادَ الْعِلْمَ فَلْيَأْتِهِ مِنْ بَابِهِ

“Aku adalah kota ilmu, sedangkan ‘Ali adalah pintunya. Barang siapa menginginkan ilmu, hendaknya dia mendatangi dari pintunya.”

Ini adalah hadits yang batil, karena tidak bersumber dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik sanad maupun matannya. Para imam ahli hadits menolak hadits tersebut. Di antara mereka ialah al-Imam al-Bukhari, Abu Zur’ah, at-Tirmidzi, al-Uqaili, Ibnu Hibban, ad-Daruquthni, Ibnul Adi, Ibnul Jauzi, al-Baghawi, an-Nawawi, Ibnu Daqiqil Ied, dan Ibnu Taimiyah.

Hadits ini palsu. Adz-Dzahabi menyatakan maudhu’ (palsu). Al-Albani menjelaskan kepalsuan hadits ini dalam adh-Dha’ifah (6/518, no. 2955) dan dalam Dha’iful Jami’ (no. 13220).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Hadits ‘Aku adalah kota ilmu dan Ali adalah pintunya….’ Tergolong maudhu’ (palsu). (Hadits ini) disebutkan oleh Ibnul Jauzi (dalam kitabnya al-Maudhu’at –pen.). Beliau kemudian menerangkan bahwa seluruh sanadnya palsu. Selain itu, kedustaan juga tampak dari matan hadits itu sendiri. Sebab, apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah kota ilmu dan tidak ada pintunya kecuali satu, dan tidak ada yang menyampaikan ilmu dari beliau (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam –pen.) kecuali satu orang (yakni Ali –pen), tentu urusan Islam akan rusak….” (Minhajus Sunnah, 4/138—139, dinukil dari adh-Dha’ifah)

Di samping itu, hadits ini juga bermakna bahwa semua riwayat sahabat diingkari, kecuali melalui jalan Ali bin Abi Thalib. Hal ini tentu merupakan makar lain di balik pemalsuan hadits ini, Allahul Musta’an.

 

Hadits Ketiga

السُّبَّقُ ثَلَاثَةٌ : فَالسَّابِقُ إِلَى مُوسَى يُوشَعُ بْنُ نُونٍ، وَالسَّابِقُ إِلَى عِيسَى صَاحِبُ يَاسِينَ، وَالسَّابِقُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلِيٌّ

“Pendahulu ada tiga. Pendahulu yang memenuhi panggilan (seruan) Musa adalah Yusya’ bin Nun. Pendahulu yang memenuhi seruan Isa adalah orang yang disebutkan dalam surat Yasin. Pendahulu yang memenuhi seruan Muhammad adalah Ali bin Abi Thalib.”

Al-‘Uqaili meriwayatkan hadits ini dalam kitabnya, adh-Dhu’afa al-Kabir, demikian pula ath-Thabarani (2/111), melalui jalan al-Husain bin Abi as-Sirri al-Asqallani, dari Husain al-Asyqar, dari Sufyan bin Uyainah, dari Ibnu Abi Najih, dari Mujahid, dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma.

Sanad riwayat ini sangat dha’if, bahkan al-Uqaili menempatkan hadits di atas dalam deretan hadits maudhu’ (palsu).

Dalam sanadnya terdapat Husain al-Asyqar. Dia adalah Ibnu Hasan al-Kufi, pengikut Syiah yang sesat. Telah lalu beberapa ucapan ulama tentang Husain al-Asyqar.

Al-Imam al-Bukhari rahimahullah berkata dalam kitab Tarikh ash-Shaghir (hlm. 2300, “Ia telah meriwayatkan hadits-hadits mungkar.”

Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya (3/570) berkata, “Ini adalah hadits mungkar yang tidak diketahui sanadnya kecuali dari jalan Husain al-Aysqar, yang telah dikenal oleh kalangan muhadditsin sebagai pengikut Syiah. Karena itu, ditinggalkan riwayatnya.”

 

Hadits Keempat

عَنْ أَبِي ذَرٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ مَرْفُوعاًخُلِقْتُ أَنَا وَعَلِيٌّ مِنْ نُورٍ، وَكُنَّا عَنْ يَمِينِ الْعَرْشِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ اللهُ آدَمَ بِأَلْفَيْ عَامٍ، ثُمَّ خَلَقَ اللهُ آدَمَ فَانْقَلَبْنَا فِي أَصْلَابِ الرِّجَالِ، ثُمَّ جَعَلْنَا فِي صُلْبِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ، ثُمَّ شَقَّ اسْمَيْنَا مِنَ اسْمِهِ؛ فَاللهُ الْمَحْمُودُ وَأَنَا مُحَمَّدٌ، وَاللهُ الْأَعْلَى وَعَلِيٌّ عَلِيًّا

Dari Abu Dzar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku dan Ali diciptakan dari cahaya. Dahulu kami berdua berada di sebelah kanan al-‘Arsy dua ribu tahun sebelum Allah subhanahu wa ta’ala ciptakan Adam. Lalu Allah subhanahu wa ta’ala ciptakan Adam kami pun berpindah pada sulbi manusia, diletakkanlah kami pada sulbi Abdul Muththalib. Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan nama kami dari nama-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala adalah al-Mahmud dan aku bernama Muhammad, Allah bernama al-A’la maka ‘Ali bernama Ali.

Hadits ini di antara hadits palsu yang dibuat kaum Rafidhah. Dalam sanad hadits ini terdapat seorang Rafidhah, Ja’far bin Ahmad bin Ali bin Bayan al-Ghafiqi.

Ibnul Jauzi berkata dalam kitabnya al-Maudhu’at, “Hadits ini dipalsukan oleh Ja’far bin Ammad, dia seorang Rafidhah tukang pemalsu hadits.”

Hadits ini disebutkan juga oleh asy-Syaukani dalam al-Fawaid al-Majmu’ah (343 no. 40). Beliau berkata, “Hadits ini maudhu’, dipalsukan oleh Ja’far bin Ahmad bin Ali bin Bayan, seorang Rafidhah, pemalsu hadits.”

Ibnu ‘Adi berkata, “Huwa kadzdzab yadha’ul hadits (Dia tukang dusta dan pemalsu hadits).” (Su’alat Hamzah as-Sahmi, 190)

Ibnu Hajar berkata, “Ibnu Yunus menyebutkan rawi ini dan berkata, ‘Dia seorang Rafidhah tukang pemalsu hadits.” (Lisanul Mizan, 2/108)

 

Hadits Kelima

          وَعَنِ بْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ حُبُّ عَلِيٍّ يَأْكُلُ الذُّنُوبَ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ

Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Mencintai Ali akan memakan (menghapuskan) dosa-dosa sebagaimana api melahap kayu bakar.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Asakir. (Tarikh Dimasyq, 52/13 no.131)

Hadits ini juga disebutkan dalam Kanzul ‘Ummal.

Asy-Syaukani mengatakan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh al-Khatib dari Ibnu Abbas dengan marfu’, hadits ini batil. (al-Fawaid al-Majmu’ah, 367 no. 58)

Asy-Syaikh al-Albani juga mengatakan dalam Silsilah adh-Dhaifah no. 1206, “Hadits ini batil.”

 

Hadits Keenam

وَعَنْ أَبِي بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ : إِنَّ اللهَ أَمَرَنِي بِحُبِّ أَرْبَعَةً :  وَأَخْبَرَنِي أَنَّهُ يُحِبُّهُمْ قِيلَ: يَا رَسُولَ اللهِ مَنْ هُمْ؟ قَالَ: عَلِيٌّ مِنْهُمْ يَقُولُ ذَلِكَ ثَلَاثاً وَأَبُو ذَرٍّ، وَسَلْمَانُ، وَالْمِقْدَادُ

Dari Abu Buraidah dari ayahnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan aku mencintai empat orang, dan mengabarkan kepadaku bahwa Dia mencintai mereka.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya, “Siapakah mereka, wahai

Rasulullah?” Beliau bersabda, “Ali termasuk mereka, Ali termasuk mereka, Ali termasuk mereka; juga Abu Dzar, Salman, dan al-Miqdad.” (Diriwayatkan Ibnu Majah no. 149, at-Tirmidzi no. 3718, dan al-Hakim 4649).

Di dalam sanadnya ada Sulaiman bin Isa bin Najih as-Sijzi.

Ibnul Jauzi rahimahullah menukil dari Abu Hatim ar-Razi yang berkata, “Dia kadzdzab (pendusta hadits Rasul).”

Ibnu ‘Adi berkata, “Yadha’ul Hadits (Dia biasa memalsukan hadits).”

 

Hadits Ketujuh

وَعَنْ حُجْرِ بْنِ عَنْبَسٍ قَالَوَقَدْ كَانَ أَكَلَ الدَّمَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ وَشَهِدَ مَعَ عَلِيٍّ الْجَمَلَ وَصِفِّينَ، قَالَ: خَطَبَ أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ فَاطِمَةَ إِلَى رَسُولِ اللهِ : فَقَالَ النَّبِيُّ هِيَ لَكَ يَا عَلِيُّ، لَسْتَ بِدَجَّالٍ

“Dari Hujr bin ‘Anbas—dahulu dia pemakan darah di masa jahiliah, dan ia menyertai Ali dalam Perang Jamal dan Shiffin, berkata, Abu Bakr dan Umarmeminang Fatimah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam namun Rasulullah bersabda, Fathimah untukmu wahai Ali, karena engkau bukan dajjal (pendusta).”

Hadits ini maudhu’ (palsu), diriwayatkan oleh Muhammad bin Sa’d dalam ath-Thabaqat al-Kubra (8/19). Di dalam sanadnya ada Musa bin Qais Abu Muhammad al-Farra’ al-Kufi.

Ibnu Hajar berkata, “Dia memiliki laqab (julukan) ‘ushfur al-jannah, dia jujur namun tertuduh berpemahaman Syiah’.” (at-Taqrib)

Al-Uqaili berkata tentangnya, “Minal ghulat fi ar-rafdh (Dia termasuk yang sangat ekstrem dalam agama Rafidhah).” (adh-Dhu’afa, 4/164)

Ibnul Jauzi menyebutkan hadits ini dalam kitabnya al-Maudhu’at. Beliau berkata, “Hadits ini palsu, dipalsukan oleh Musa bin Qais, seorang Rafidhah ekstrem. Ia berjuluk ushfur al-jannah (burung pipit surga). Namun, ia—insya Allah—(lebih tepat dijuluki) himar annar (keledai neraka). Sungguh, dalam pujiannya kepada Ali dalam hadits ini, dia menyembunyikan celaan terhadap Abu Bakr dan Umar.”

Benar ucapan Ibnul Jauzi. Rafidhah terus mencela Abu Bakr, Umar, dan para sahabat, bahkan mengafirkan mereka. Karena itu, mereka bersembunyi di balik pengakuan dusta mencintai ahlul bait.

Dalam hadits ini mereka memuji Ali. Namun, terselip di dalamnya celaan kepada Abu Bakr dan Umar, dengan menuduh keduanya sebagai dajjal. Allahul Musta’an.


[1] Mizanul I’tidal (1/ 6)

[2] Di antara sahabat yang mereka hujat adalah Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiallahu ‘anhuma. Pembelaan terhadap beliau dari hujatan Rafidhah dapat dilihat kembali pada Majalah Asy-Syariah edisi 78.

Dusta Syiah Dalam Riwayat

Al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar Ibnu Rifa’i

 

لاَ تَكْذِبُوا عَلَيَّ، فَإِنَّهُ مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ فَلْيَلِجِ النَّار

“Jangan berdusta atas namaku. Sungguh, siapa saja berdusta atas namaku, silakan masuk dalam neraka!”

Ucapan di atas adalah sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hadits ini diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari (no. 106), Muslim di dalam Muqaddimah Shahih-nya (Bab “Taghlizhul Kadzib” no. 1), at-Tirmidzi (no. 2660), dan Ibnu Majah (no. 31).

 151528_bola-api-dari-ledakan-matahari_663_382

Tentang Hadits

Madar (sumber) inti hadits di atas terletak pada perawi bernama Manshur bin al-Mu’tamir, dari Rib’i bin Hirasy, dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu. Tentang Ali radhiallahu ‘anhu, lembaran kertas dalam tulisan ini tidak akan cukup untuk berkisah tentang kelebihan, keistimewaan, dan keutamaan beliau. Perlu karya tersendiri untuk bercerita tentang figur Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu sebagaimana yang telah dilakukan oleh para ulama, jazahumullahu khairan.

Murid Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, yang meriwayatkan hadits dari beliau adalah Rib’i bin Hirasy. Siapakah beliau? Ahli hadits dari Kufah ini tercatat sebagai seorang tabi’in mulia yang tidak pernah berdusta walau sekali dalam hidupnya. Beliau pernah bersumpah untuk tidak tertawa sebelum mengetahui, di surga atau neraka tempatnya kelak?

Salah seorang yang memandikan jenazah Rib’i mengatakan, “Rib’i terus terlihat dalam senyum di atas ranjangnya, sampai kami selesai memandikannya.”

Beliau wafat pada 101 H di masa kekuasaan al-Hajjaj bin Yusuf. Sebagai madar hadits, Manshur bin al-Mu’tamir memang termasuk perawi di dalam kutubus sittah (kitab hadits yang enam). Banyak ulama menyebut beliau sebagai atsbatu ahli Kufah, perawi paling kuat di kota Kufah. Karena sering menangis, beliau mengalami gangguan penglihatan. Manshur wafat pada 132 H, semoga Allah ‘azza wa jalla merahmati beliau.

Dalam kalangan Syiah tidak dikenal istilah yang cukup populer di bidang ilmu hadits. Tidak ada pembahasan hadits sahih, hasan, ataupun dha’if, menurut keyakinan mereka. Jika pun ditemukan dalam beberapa kitab rujukan mereka, hal itu dilakukan demi prinsip taqiyyah (dusta demi keyakinan).

 

Makna Hadits

Sebagian ulama pensyarah hadits (Syarah Shahih Muslim karya an-Nawawi) menyatakan bahwa riwayat di atas termasuk dalam kategori mutawatir. Artinya, pada setiap tingkatan sanad hadits, ada banyak perawi yang meriwayatkan hadits ini.

Abu Bakr al-Bazzar menyebutkan ada sekitar 40 orang sahabat yang meriwayatkan hadits ini dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan, ada yang mengatakan 62 sahabat, termasuk sepuluh orang sahabat yang dijamin masuk surga.

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di akhir hadits (النَّار فَلْيَلِجِ) diterangkan oleh ulama menyimpan dua makna.

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas dimaknai, “Semoga kelak ia masuk ke dalam neraka.”

  • Khabar bi lafdzi amr (kalimat berita dalam konteks perintah).

Dengan demikian, sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas berarti, “Kelak ia akan masuk neraka, maka bersiap-siaplah.”

Makna mana pun dari kedua kemungkinan tersebut, seharusnya hal tersebut menjadi sebuah rambu hidup untuk tidak bermain-main ketika berbicara atas nama Islam, agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Berdusta adalah menyampaikan sesuatu yang bertolak belakang dengan fakta. Hal ini bisa terjadi secara disengaja maupun tidak, lupa atau karena tidak tahu. Akan tetapi, di dalam hadits ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan ancaman siksa bagi mereka yang secara sengaja melakukan tindak dusta atas nama beliau. Apa pun alasan dan tujuannya!

Apakah pelakunya dapat dikafirkan?

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah mengatakan bahwa dusta termasuk perbuatan dosa yang keji dan kesalahan yang membinasakan. Akan tetapi, dikafirkan atau tidak, menurut pendapat yang masyhur dari mayoritas ulama di berbagai mazhab, pelakunya tidak dikafirkan, kecuali jika ia meyakini hal tersebut halal dilakukan.

Bagaimana pun, ancaman yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas harusnya menjadi garis pengingat untuk kita agar berhati-hati jika berbicara atas nama agama. Tanpa ilmu syar’i sebagai landasan dan sikap ilmiah dalam bertindak, seorang muslim dilarang berucap atau berpendapat lantas mengatasnamakannya sebagai ajaran Islam.

Allah ‘azza wa jalla berfirman dalam al-Qur’an, Katakanlah, “Rabbku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujah untuk itu, dan (mengharamkan) mengadaadakan terhadap Allah apa saja yang tidak kamu ketahui.” (al-A’raf: 33)

 

Putar Balik Fakta Ala Syiah

Kalangan Syiah dengan berbagai sektenya, sangat tepat untuk dijadikan contoh nyata dalam pembahasan kita. Sengaja kami memilih riwayat hadits dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu—bukan dari sahabat lain—, karena pengakuan kalangan Syiah yang menghormati dan mengagungkan beliau.

Adapun kenyataannya? Silakan Anda menelaah tulisan ringkas ini.

Dalam kalangan Syiah tidak dikenal istilah yang cukup populer di bidang ilmu hadits. Tidak ada pembahasan hadits sahih, hasan, ataupun dha’if, menurut keyakinan mereka. Jika pun ditemukan dalam beberapa kitab rujukan mereka, hal itu dilakukan demi prinsip taqiyyah (dusta demi keyakinan).

Hal ini dinyatakan sendiri oleh salah satu tokoh besar mereka yang bernama al-Faidh al-Kasyani. Selain itu, al-Faidh menyebut pembagian hadits menjadi sahih, hasan, dan dhaif, hanyalah mustahdats. Artinya, sesuatu yang dibuatbuat oleh Ahlus Sunnah. Pernyataannya ini dimuat di dalam kitab al-Wafi pada mukadimah keduanya (1/11).

Bukankah hal ini menyelisihi prinsip utama kaum muslimin? Bukankah hal ini akan membuka lebar pintu berbicara dan bersikap tanpa dasar ilmiah? Bukankah hal ini secara tidak langsung telah membuktikan bahwa kalangan Syiah tidak peduli dengan sahih atau tidaknya riwayat dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?

Buku-buku referensi utama mereka penuh dengan riwayat palsu dan dusta. Bagaimana tidak, para perawi andalan kaum Syiah adalah kumpulan para pendusta. Sebut saja Zurarah bin A’yan, Jabir al-Ju’fi, Abu Bashir al-Laits, Barid al-‘Ijli, Humran bin A’yan, dan yang semisalnya.

Zurarah bin A’yan disebut ulama sebagai tokoh ekstrem kaum Syiah, terutama sebagai tokoh pendiri sekte Zurariyah (al-A’lam karya az-Zirikli 3/43).

Akan tetapi, apa pendapat Abu Abdillah, seorang ulama yang ditokohkan oleh kaum Syiah tentangnya? Kata Abu Abdillah Ja’far ash-Shadiq (Rijalul Kusysyi hlm. 149—151), “Zurarah lebih jahat dibandingkan dengan kaum Yahudi dan Nasrani!”

Seorang perawi yang telah dicacat oleh tokohnya sendiri, mengapa kemudian dijadikan sebagai salah satu sumber utama riwayat kaum Syiah?

Tidak perlu kaget atau heran! Kaum Syiah pada dasarnya memang tidak mengakui disiplin ilmu hadits, apalagi ilmu al-jarh wat ta’dil!

Sekalipun ditemukan sejenis ilmu al-jarh wat ta’dil di kalangan Syiah, pasti diiringi oleh kontradiksi, pertentangan, dan pendapat yang saling berlawanan.

Buktinya?

Adalah pengakuan dari seorang tokoh mereka yang dikenal dengan sebutan al-Kasyani. Dalam mukadimah kedua dari kitab al-Wafi (1/11/12), ia mengatakan, “Di dalam al-jarh wat ta’dil serta syarat yang berlaku, terdapat kontradiksi, pertentangan, dan pendapat yang saling berlawanan. Hampir-hampir hal ini membuat hati tidak tenang, sebagaimana hal ini tidak tersembunyi bagi orang yang mengetahuinya.”

 

Sikap Syiah Terhadap Referensi Islam

Kejahatan kaum Syiah ternyata tidak cukup sampai di situ. Selain membuat dan bersandar pada riwayat palsu dan dusta, mereka tidak menerima kitab hadits yang telah disepakati oleh kaum muslimin sebagai rujukan utama di dalam riwayat hadits.

Apa sikap mereka terhadap Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim? Dua referensi hadits yang disepakati ulama, bahkan kaum muslimin secara umum, sebagai dua kitab yang paling sahih setelah al-Qur’an?

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah menyatakan dalam Syarah Shahih Muslim, “Para ulama rahimahumullah telah bersepakat bahwa kitab paling sahih setelah al-Qur’an al-Aziz adalah ash-Shahihain; al-Bukhari dan Muslim. Bahkan, seluruh umat dapat menerimanya.”

Namun, bagaimanakah sikap Syiah? Mereka tidak dapat menerima riwayat hadits di dalam kedua kitab tersebut. Sebab, mereka meyakini bahwa para sahabat telah murtad setelah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, kecuali tiga orang, yaitu Abu Dzar, al-Miqdad, dan Salman al-Farisi radhiallahu ‘anhum.

Bukankah ini bentuk pelecehan terhadap sahabat? Bukankah hal ini bentuk cela mereka terhadap sahabat? Jika demikian, dari mana ajaran Islam dapat sampai kepada umat jika para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dicerca?

Mereka menuduh para sahabat masuk Islam karena paksaan, faktor ekonomi, penuh keraguan, munafik, dan celaan lainnya. Hal ini seperti yang dinyatakan oleh tokoh mereka, Husain bin Abdus Shamad dalam Musthalah Hadits-nya. Lihatlah pernyataan tokoh besar mereka, Alu Kasyif al-Ghitha’ (Ushulus Syiah, hlm. 79) yang berkata, “Kaum Syiah tidak menganggap sunnah kecuali riwayat dari ahlu bait yang dinilai sahih. Adapun seperti riwayat Abu Hurairah dan Samurah bin Jundub, tidak berharga bagi kalangan Imamiyah walau senilai sayap nyamuk.”

Pantas saja apabila Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dicela dan dijatuhkan kredibilitasnya! Sebab, riwayat Abu Hurairah banyak membongkar kesesatan dan kedustaan kaum Syiah. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda dalam hadits Abu Sa’id radhiallahu ‘anhu riwayat al-Bukhari dan Muslim,

لاَ تَسُبُّوا أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِي، فَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَوْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا، مَا أَدْرَكَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَ نَصِيفَه

“Janganlah kalian mencela seorang pun dari sahabat-sahabatku! Sungguh, jika salah salah seorang di antara kalian berinfak emas sebesar Gunung Uhud, tidak akan bisa menyamai infak satu mud mereka, bahkan setengahnya.”

Parahnya lagi, kaum Syiah mencela imam kaum muslimin yang empat: Abu Hanifah, Malik, Syafi’i, dan Ahmad. Bahkan, dalam kitab asy-Syiah Hum Ahlus Sunnah (hlm. 109), sang penulis mengatakan, “… Empat mazhab yang diakui oleh Ahlus Sunnah hanyalah mazhab yang direkayasa oleh kaum politikus.”

Astaghfirullah! Sungguh keji dan dusta tuduhan mereka! Akidah Syiah semacam itu, apakah seorang muslim memakai perasaan dan empati untuk menganggap Syiah sebagai saudaranya?

Apakah ia ingin memaksakan kehendak, dengan pura-pura buta dari fakta, untuk menyatukan antara Sunnah dan Syiah?!

 

Kontradiksi Riwayat-Riwayat Syiah

Setelah membaca keterangan ringkas di atas, kita dapat mengukur keakuratan dan kevalidan sistem riwayat di kalangan Syiah. Oleh sebab itu, jangan heran apabila riwayat-riwayat kaum Syiah memiliki banyak kontradiksi dan pertentangan. Tidak ada satu pun riwayat kecuali pasti ditemukan riwayat lain yang bertentangan.

Fakta ini diakui sendiri oleh mereka, seperti oleh as-Sayyid Dildar as-Syi’i dalam kitab Asasul Ushul (hlm. 5), Husain bin Syihabudin al-Kurki dalam kitab Hidayatul Abrar (hlm. 264), dan as-Sayyid Hasyim Ma’ruf al-Husaini dalam kitab al-Maudhu’at (hlm. 165 cetakan pertama).

Simak saja pernyataan seorang tokoh terkemuka Syiah di dalam sebuah referensi utama mereka. Di dalam mukadimah kitab Tahdzibul Ahkam, Abu Ja’far Muhammad bin al-Hasan at-Thusi mengatakan, “… Sampai-sampai setiap kabar yang ada, pasti di sana ada yang bertentangan dengannya. Tidak ada satu pun hadits yang selamat kecuali di sisi lain ada yang menafikannya. Hal ini menjadi salah satu kritikan terbesar dari orang yang menyelisihi mazhab kita.”

 

Jangan Mudah Tertipu oleh Syiah!

Setelah sedikit mengenal metode periwayatan hadits yang berlaku di kalangan Syiah, semestinya kita berhatihati dan tidak mudah terpengaruh oleh riwayat-riwayat mereka. Kita justru harus mengubur rasa penasaran atau rasa ingin tahu tentang riwayat-riwayat Syiah. Khawatirnya, riwayat mereka yang kita baca kemudian menimbulkan syak dan syubhat (kerancuan pemikiran) di hati.

Nukilan tentang Syiah di atas kiranya cukup. Nukilan tersebut penulis ambil dari dua buah kitab, yaitu Haqiqatus Syiah karya Abdullah al-Maushili, dan Aqa’idus Syiah karya Abdurrahman as-Syatsri.

Mudah-mudahan kaum muslimin memperoleh pencerahan dan hidayah dari Allah ‘azza wa jalla sehingga semakin memahami tentang hakikat gerakan Syiah.

Amin ya Arham ar-Rahimin.

Perjalanan Panjang Meraih Ilmu

Al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc.

Long Straight Road

Dari Abdullah bin Muhammad bin ‘Aqil, dia mendengar Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu berkata,

بَلَغَنِي حَدِيثٌ عَنْ رَجُلٍ سَمِعَهُ مِنْ رَسُولِ اللهِفَاشْتَرَيْتُ بَعِيرًا ثُمَّ شَدَدْتُ عليه  رَحْلِي فَسِرْتُ إِلَيْهِ شَهْرًا حَتَّى قَدِمْتُ عَلَيْهِ الشَّامَ، فَإِذَا عَبْدُ اللهِ بْنُ أُنَيْسٍ فَقُلْتُ لِلْبَوَّابِ: قُلْ لَهُ جَابِرٌ عَلَى الْبَابِ. فَقَالَ: ابْنُ عَبْدِ اللهِ؟ قُلْتُ: نَعَمْ. فَخَرَجَ يَطَأُ ثَوْبَهُ فَاعْتَنَقَنِي وَاعْتَنَقْتُهُ  فَقُلْتُ: حَدِيثًا بَلَغَنِي عَنْكَ أَنَّكَ سَمِعْتَهُ مِنْ رَسُولِ اللهِ فِي الْقِصَاصِ فَخَشِيتُ أَنْ تَمُوتَ أَوْ أَمُوتَ قَبْلَ أَنْ أَسْمَعَهُ. قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ يَقُولُ: يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَوْقَالَ الْعِبَادُ عُرَاةً غُرْلًا بُهْمًا. قَالَ: قُلْنَا: وَمَا بُهْمًا؟ قَالَ: لَيْسَ مَعَهُمْ شَيْءٌ، ثُمَّ يُنَادِيهِمْ بِصَوْتٍيَسْمَعُهُ مِنْ قُرْبٍ: أَنَا الْمَلِكُ أَنَا الدَّيَّانُ وَلَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ مِنْ أَهْلِ النَّارِ أَنْ يَدْخُلَ النَّارَ وَلَهُ عِنْدَ أَحَدٍ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَقٌّ حَتَّى أَقُصَّهُ مِنْهُ، وَلَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ أَنْ يَدْخُلَ الْجَنَّةَ وَلِأَحَدٍ مِنْ أَهْلِ النَّارِ عِنْدَهُ حَقٌّ حَتَّى أَقُصَّهُ مِنْهُ حَتَّى اللَّطْمَةُ. قَالَ: قُلْنَا: كَيْفَ وَإِنَّا إِنَّمَا نَأْتِي اللهَ عَزَّ وَجَلَّ عُرَاةً غُرْلًا بُهْمًا؟ قَالَ: بِالْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ

“Telah sampai kepadaku sebuah hadits dari seseorang yang langsung mendengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (sedangkan aku tidak mendengar dari Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, –pen).”

Jabir berkata, “Aku pun bersegera membeli seekor unta. Aku persiapkan bekal perjalananku dan aku tempuh perjalanan satu bulan untuk menemuinya, hingga sampailah aku ke Syam. Ternyata orang tersebut adalah Abdullah bin Unais.”

Aku berkata kepada penjaga pintu rumahnya, “Sampaikan kepada tuanmu bahwa Jabir sedang menunggu di pintu.”

Penjaga itu masuk dan menyampaikan pesan itu kepada Abdullah bin Unais. Abdullah bertanya, “Jabir bin Abdillah?”

Aku menjawab, “Ya, benar!”

(Begitu tahu kedatanganku), Abdullah bin Unais bergegas keluar, lalu dia merangkulku dan aku pun merangkulnya.”

Aku berkata kepadanya, “Telah sampai kepadaku sebuah hadits, dikabarkan bahwa engkau mendengarnya langsung dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang qishash (pembalasan atas kezaliman di hari kiamat, –pen.). Saya khawatir engkau meninggal terlebih dahulu atau aku yang lebih dahulu meninggal sementara aku belum sempat mendengarnya.”

Abdullah bin Unais berkata, “Saya telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Seluruh manusia atau hamba nanti akan dikumpulkan di hari kiamat dalam keadaan telanjang, tidak berkhitan, dan buhma.’

Kami bertanya, ‘Apa itu buhma?’

Beliau menjawab, ‘Tidak membawa apa pun.

Kemudian Allah ‘azza wa jalla menyeru mereka dengan suara yang semua mendengar, ‘Aku adalah al-Malik (Maharaja)! Aku adalah ad-Dayyan (Yang Maha Membalas amalan hamba)! Tidaklah pantas bagi siapa pun dari kalangan penghuni neraka untuk masuk ke dalam neraka sementara masih ada hak penghuni surga pada dirinya hingga Aku mengqishashnya (yakni diselesaikan hak penghuni surga itu darinya). Tidak pantas pula bagi siapa pun dari kalangan penghuni surga untuk masuk ke dalam surga sementara masih ada hak penghuni neraka pada dirinya hingga Ku-selesaikan hak penghuni neraka itu darinya, meskipun hanya sebuah tamparan.”

Kami bertanya, “Bagaimana caranya menunaikan hak mereka sedangkan kita menemui Allah k dalam keadaan tidak berpakaian, tidak berkhitan, dan tidak memiliki apa pun?”

Nabi menjawab, “Diselesaikan dengan kebaikan dan kejelekan yang kita miliki.”

 

Takhrij Hadits

Kisah perjalanan Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu dari Madinah menuju Abdullah bin Unais radhiallahu ‘anhu di negeri Syam, diriwayatkan oleh al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah dalam al-Musnad (3/495), al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad (No. 970), al-Hakim dalam al-Mustadrak (4/574), demikian pula al-Baihaqi dalam al-Asma hlm. 78—79.

Semua meriwayatkan kisah ini melalui jalan Hammam bin Yahya, dari al-Qasim bin Abdul Wahid al-Makki, dari Abdullah bin Muhammad bin Aqil, dari Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu.

Ibnu ‘Aqil seorang yang hasan haditsnya.

Al-Qasim bin Abdul Wahid dihukumi tsiqah hanya oleh Ibnu Hibban. Sementara itu, Abu Hatim ar-Razi mengatakan tentangnya, “Yuktabu haditsuhu.”

Al-Hakim berkata tentang hadits ini, “Shahihul isnad (sanadnya sahih),” dan disepakati oleh Adz-Dzahabi.

Al-Hafizh al-Mundziri berkata tentang hadits ini, “Diriwayatkan oleh Ahmad dengan sanad hasan.”

Hadits perjalanan Jabir mengunjungi Abdullah bin Unais diriwayatkan oleh al-Bukhari secara mu’allaq[1] dalam Shahih-nya dengan jazm. Ibnu Hajar rahimahullah mengomentari dalam al-Fath (1/159), “(Diriwayatkan dengan shigat jazm, -pen) karena hadits ini hasan, dan hadits ini dikuatkan).”

Ibnu Hajar rahimahullah kemudian menyebutkan jalan-jalan hadits ini, “Hadits ini memiliki jalan lain yang dikeluarkan oleh ath-Thabarani dalam Musnad Syamiyyin, dan (diriwayatkan pula oleh) Tamam dalam Fawaid-nya melalui jalan al-Hajjaj bin Dinar, dari Muhammad bin al-Munkadir, dari Jabir…, sanadnya shalih.

Hadits ini memiliki jalan ketiga yang dikeluarkan oleh al-Khathib dalam kitabnya, ar-Rihlah, dari jalan al-Jarud al-’Ansi dari Jabir, namun dalam sanadnya ada kelemahan.

Hadits di atas dengan semua jalannya sahih insya Allah, sebagaimana disimpulkan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Zhilalil Jannah fi Takhrij as-Sunnah, hlm. 237. Wallahu a’lam.

 

Perjalanan yang Menakjubkan

Perjalanan panjang yang sangat menakjubkan! Satu bulan perjalanan ditempuh hanya untuk sebuah hadits yang bisa dibaca tidak lebih dari lima menit. Subhanallah.

Demi mendengarkan hadits ini secara lengkap dan utuh melalui sumber yang langsung mendengar dari lisan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Jabir mengencangkan ikat pinggang, menembus panas sahara meninggalkan kota Madinah menuju negeri Syam. Ia menjumpai Abdullah bin Unais radhiallahu ‘anhu, sang pemilik hadits.

Demikian agung nilai sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di mata generasi terbaik umat ini. Para sahabat benar-benar memandang bahwa satu kalimat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih baik dari dunia dan seisinya, bahkan tidak bisa dibandingkan. Demikian pula seharusnya cara pandang seorang muslim terhadap sabda-sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Karena besarnya nilai ilmu itulah, sudah sepantasnya jalan-jalan yang panjang ditempuh demi meraihnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda tentang keutamaan menempuh jalan menuntut ilmu,

وَمَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ طَرِيْقًا إِلَى الجَنَّةِ

“Barang siapa menempuh jalan meraih ilmu (al-Kitab dan as-Sunnah) niscaya akan Allah ‘azza wa jalla mudahkan jalan baginya menuju jannah.” (HR. Muslim no. 1390)

Melakukan rihlah (perjalanan jauh) menuntut ilmu telah menjadi kebiasaan ulama pendahulu umat ini baik dari kalangan sahabat maupun sesudahnya. Salaf (pendahulu) umat ini memahami benar bahwa ilmu itu harus dicari dan didatangi, tidak datang dengan sendirinya! Ilmu dicapai dengan upaya, bukan ditunggu dengan berleha-leha. Perjalanan panjang menuntut ilmu telah dicontohkan oleh Nabi Musa ‘alaihissalaam dalam perjalanan panjangnya bersama Khidhir yang diabadikan dalam surat al-Kahfi. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya, “Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun.” (al-Kahfi: 60)

Dalam riwayat-riwayat sirah (sejarah) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun kita dapatkan contoh yang sangat banyak. Para sahabat yang berdatangan dari segala penjuru menuju kota Madinah untuk belajar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam atau menanyakan problem yang mereka hadapi, kemudian kembali ke kampung halaman masing-masing mendakwahkan ilmu yang telah ditimba.

Sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat terus bersemangat melakukan perjalanan menimba ilmu, sebagaimana semangat mereka menyebarkannya kepada umat. Hal ini bisa dilihat pada kisah Jabir bin Abdullah bersama Abdullah bin Unais radhiallahu ‘anhuma di atas.

Jejak generasi terbaik diikuti oleh para tabi’in, atbaut tabi’in, dan ulama setelah mereka. Tidak sedikit dari mereka yang menempuh perjalanan yang begitu jauh untuk menuntut ilmu.

Al-Imam Abu Hatim ar-Razi rahimahullah mengatakan bahwa dirinya pernah berjalan kaki lebih dari 1.000 farsakh. Padahal satu farsakh lebih dari 5 km, belum lagi perjalanan beliau menaiki kendaraan.

Setiap kali membaca biografi ulama, kita dapatkan sejarah perjalanan mereka menuntut ilmu, baik berjalan kaki maupun berkendaraan, menuju Makkah, Madinah, Baghdad, Yaman, Mesir, Damaskus, dan negeri-negeri lain yang menjadi pusat ilmu kala itu.

Baqi bin Makhlad al-Andalusi rahimahullah melakukan perjalanan dari Andalusia ke Afrika lalu menuju Baghdad untuk belajar kepada al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah.

Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah sendiri telah melakukan perjalanan yang begitu jauh. Ibnu Jauzi rahimahullah mengatakan, “Al-Imam Ahmad pernah mengelilingi dunia dua kali sampai ia menyusun kitab al-Musnad.”

Ilmu al-Kitab dan as-Sunnah memang demikian mahal. Sungguh, untuk meraihnya harus ditempuh jalanjalannya, baik jalan yang bersifat indrawi seperti berjalan menuju masjid dan menghadiri majelis-majelis ilmu, maupun jalan yang sifatnya maknawi seperti duduk membaca kitab-kitab ulama dan berusaha memahaminya.

Barang siapa menempuh jalan tersebut, Allah ‘azza wa jalla akan mudahkan baginya jalan menuju jannah. Sebab, hanya dengan ilmu syar’i itulah seorang mengenal hak-hak Allah ‘azza wa jalla, mengenal nama-nama Allah ‘azza wa jalla dan sifat-sifat-Nya Yang Mahaagung, serta mengerti tauhid dan kesyirikan.

Dengan ilmu syar’i itu pula Anda akan mengerti hukum-hukum Allah ‘azza wa jalla yang terkait dengan diri Anda atau orang lain. Anda akan mengetahui cara bersuci, shalat, dan seterusnya. Anda akan mengerti pula apa yang diperintahkan dan yang dilarang-Nya. Anda akan mampu membedakan antara yang haq dan yang batil.

Dengan menuntut ilmu syariat, jalan pun menjadi terang dan segala kebaikan akan diraih. Hal ini dijanjikan oleh sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

“Siapa yang Allah ‘azza wa jalla kehendaki kebaikan atasnya, Allah ‘azza wa jalla akan pahamkan dia dalam agama.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Jika seorang telah mengetahui betapa agungnya ilmu syar’i, sudah sepantasnya ia bersegera mempergunakan kesempatan. Lebih-lebih masa muda, saat segala kemampuan dimiliki dan belum datang kesibukan serta masa tua.

 

Rihlah untuk Membela Hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Kedustaan

Bukan hanya rihlah menuntut hadits yang sahih, para ulama pun rela menempuh perjalanan jauh untuk meneliti keabsahan suatu hadits. Makar-makar musuh Islam pun terbongkar, pintalanpintalannya terurai.

Ibnul Jauzi rahimahullah menyebutkan sebuah riwayat dalam kitabnya, al-Maudhu’at, tentang terbongkarnya kepalsuan hadits Ubai bin Ka’b tentang fadhail al-Qur’an. Beliau berkata, “… Dari Mahmud bin Ghailan[2] dia berkata, Aku mendengar Muammal berkata, Seorang syaikh menyampaikan kepadaku (hadits) fadhail surat-surat al-Qur’an yang diriwayatkan dari Ubai bin Ka’b radhiallahu ‘anhu. Aku bertanya kepadanya, ‘Siapa yang menyampaikan kepadamu?’ Dia berkata, ‘Seorang syaikh di negeri Mada’in, dia masih hidup.’

(Muammal berkata,) aku pun pergi kepadanya dan bertanya, ‘Siapa yang menyampaikan kepadamu?’ Dia menjawab, ‘Seorang syaikh di negeri Wasith dan dia masih hidup.’

Aku pun pergi kepadanya dan bertanya, ‘Siapa yang menyampaikan kepadamu?’ Dia menjawab, ‘Seorang syaikh di negeri Bashrah.’

Aku pergi kepadanya. Dia berkata, ‘Yang menyampaikan kepadaku adalah seorang syaikh dari negeri Ba’adan.’

Aku pun menjumpai syaikh tersebut. (Ketika aku telah bertemu dengannya di Ba’adan, aku tanyakan, siapa yang menyampaikan hadits ini?) Dia pun meraih tanganku dan membawaku masuk ke dalam sebuah rumah yang ternyata terdapat sejumlah penganut sufi beserta seorang syaikh. Dia berkata, ‘Syaikh inilah yang menyampaikan hadits (Ubai bin Ka’b radhiallahu ‘anhu kepadaku).’

Aku (Muammal) bertanya pada syaikh (sufi), ‘Siapa yang menyampaikan hadits ini?’ Dia berkata, ‘Tidak ada seorang pun menyampaikannya kepadaku. Akan tetapi, kami menyaksikan manusia lari darial-Qur’an, maka kami membuat (baca: memalsukan) hadits untuk (kebaikan) manusia agar mereka mau kembali pada al-Qur’an’.” (al-Maudhu’at [1/239—241])

Perhatikanlah kesungguhan ahlul hadits memperjuangkan agama Allah ‘azza wa jalla dan membela sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan cara membersihkan hadits Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dari kepalsuan. Seorang dari mereka bersedia berjalan jauh, berkeliling ke berbagai negeri, hanya untuk meneliti kebenaran sebuah hadits. Semoga Allah ‘azza wa jalla mengumpulkan kita bersama mereka dalam jannah-Nya yang penuh kenikmatan.

 

Keadaan Umat yang Menyedihkan

Apa yang kita kisahkan di atas demikian indah. Namun, keadaannya terbalik dengan kebanyakan kaum muslimin di akhir zaman, termasuk di negeri kita.

Saat ini, jarang terlihat sosok muslim duduk bersimpuh di hadapan Allah ‘azza wa jalla membaca kalam-Nya. Sangat sukar didapatkan pemandangan seorang muslim membaca hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, menghafalkannya, dan mentadaburi makna yang terkandung di dalamnya.

Lihatlah para pemuda generasi Islam di sekitar kita. Apakah mereka menekuni shalat lima waktu yang Allah ‘azza wa jalla wajibkan atas manusia? Betapa banyak pemudapemudi menyia-nyiakan shalat. Jarang ada pemuda yang mengisi shaf-shaf shalat lima waktu di masjid.

Lihat pula generasi muda umat ini, kesibukan apa yang sering mereka tekuni? Ternyata banyak di antara mereka disibukkan dengan pergaulan bebas dan dunia maya. Bukan masjid-masjid Allah ‘azza wa jalla yang didatangi, melainkan tempat hiburan, keramaian, dan kemaksiatan yang mereka gandrungi. Pemandangan yang sangat menyesakkan dan berat untuk diceritakan. Nasalullah as-salamah wal ‘afiyah.

Di sisi lain, kaum muslimin bercerai-berai. Umat dikotak-kotakkan dalam banyak partai politik setelah terpecah-pecah dalam aliran dan sekte-sekte Islam.

Mendengar ayat-ayat al-Qur’an dan hadits, mereka menghindar atau pura-pura tidak tahu. Duduk menuntut ilmu seakan-akan tidak mendatangkan apa yang mereka inginkan! Dalam kancah politik, yang ada dalam benak mereka adalah bagaimana mengumpulkan suara sebanyak-banyaknya dan menggapai kursi kedudukan.

Walhasil, banyak kaum muslimin menjadi korban pesta demokrasi. Harta, pikiran, dan tenaga, terkuras habis. Waktu pun terbuang sia-sia tanpa satu ayat atau satu hadits pun dibaca dan ditadaburi.

Wahai kaum muslimin, tidakkah kita sadar, berpaling dari al-Qur’an dan as-Sunnah serta menjauh dari jalan generasi terbaik umat ini (yakni sahabat), adalah salah satu target makar musuh-musuh Islam?

 

Akibat Berpaling dari al-Kitab dan as-Sunnah

Berpaling dari al-Qur’an dan as-Sunnah bukan urusan yang sepele. Masalah ini sangat besar. Akibat yang buruk benar-benar akan dituai oleh mereka yang berpaling dari peringatan Allah ‘azza wa jalla.

Di antara akibat buruknya ialah apa yang Allah ‘azza wa jalla sebutkan,

Barang siapa berpaling dari pengajaran Yang Maha Pemurah (al-Qur’an), Kami adakan baginya setan (yang menyesatkan) maka setan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. Dan sesungguhnya setan-setan itu benarbenar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk. Apabila orang-orang yang berpaling itu datang kepada Kami (di hari kiamat), dia berkata, “Aduhai, semoga (jarak) antaraku dan kamu seperti jarak antara timur dan barat, maka setan itu adalah sejahat-jahat teman (yang menyertai manusia).” (Harapanmu itu) sekali-kali tidak akan memberi manfaat kepadamu di hari itu karena kamu telah menganiaya (dirimu sendiri). Sesungguhnya kamu bersekutu dalam azab itu. (az-Zukhruf: 36—39)

Ya, Allah ‘azza wa jalla menguasakan setan atas orang yang berpaling dari al-Qur’an dan as-Sunnah. Allah ‘azza wa jalla menjadikan setan sebagai teman dekatnya yang selalu mengiringinya. Dalam ayat lain,

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” Berkatalah ia, “Ya Rabbku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulu adalah seorang yang melihat?” Allah berfirman, “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu(pula) pada hari ini kamu pun dilupakan.” (Thaha: 124—126)

Jangan engkau sangka mereka yang sibuk dengan dunia, sibuk memburu kursi dalam ajang pesta demokrasi merasakan kebahagiaan. Tidak, demi Allah! Perjalanan pencari dunia akan terputus, diakhiri dengan kekecewaan dan kebinasaan.

Layaknya seorang yang berjudi, para pencari kekuasaan mempertaruhkan seluruh sumber daya yang dimiliki hanya demi sebuah kursi.

Segala cara ditempuh: berdusta, mengumbar janji, praktik suap, menghidupkan premanisme, mencela dan menjatuhkan lawan politik, menebarkan kecurigaan dan kebencian kepada saudara seiman, dan akibat-akibat buruk lain yang tidak samar bagi setiap yang berakal. Lebih menyedihkan lagi ketika praktik-praktik perdukunan juga makin merebak seiring trend mencalonkan diri sebagai calon anggota legislatif. Agama tidak lagi dijaga, bahkan kini dijual semurah-murahnya demi sebuah kata: Kursi!

 

Oleh-Oleh Perjalanan Sahabat Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu

Berbeda halnya dengan perjalanan Jabir radhiallahu ‘anhu menuntut ilmu. Perjuangan beliau dikenang sepanjang masa. Ilmu yang beliau cari di negeri Syam dengan perjalanan panjangnya sungguh tidak sia-sia, sebagaimana sia-sianya harta para pencari dunia dan kekuasaan.Setiap langkah menuju ilmu dicatat sebagai amalan kebaikan. Hadits yang diperoleh Jabir radhiallahu ‘anhu dalam perjalanan itu pun terus dikenang dan dibaca kaum muslimin yang tidak terhingga jumlahnya hingga hari kiamat, terus diambil manfaatnya, diriwayatkan para ulama…

Pahala pun terus mengalir kepada sahabat Jabir bin Abdillah dan Abdullah bin Unais radhiallahu ‘anhuma, insya Allah. Hal ini sebagaimana janji Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau,

إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُوْ لَهُ

“Jika anak Adam mati maka terputuslah semua amalannya kecuali tiga hal: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim no. 1389 dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Berkatalah ia, “Ya Rabbku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulu adalah seorang yang melihat?” Allah berfirman, “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka

kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada

hari ini kamu pun dilupakan.”

Sungguh, keadaan kaum muslimin secara umum dan negeri ini secara  khusus akan terus menyedihkan jika tidak bersegera kembali kepada al-Kitab dan as-Sunnah, serta meniti jejak sahabat dalam memahami keduanya.

Wahai kaum muslimin, marilah kita kembali kepada kejayaan Islam dengan kembali mempelajari al-Kitab dan as-Sunnah. Kembali meniti jalan para sahabat dalam memahami dan mengamalkan Islam.

Kaum muslimin harus segera bangun dari tidur yang lelap. Mereka harus menyadari betapa besar makar musuh-musuh Islam menjauhkan kaum muslimin dari agamanya.

Di akhir majelis, kita ingatkan sebuah sabda yang sangat agung tentang jalan kejayaan bagi umat. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللهُ عَلَيْكُمْ ذُلًّا يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِيْنِكُمْ

“Apabila kalian telah berjual beli dengan cara al-’inah (jenis jual beli riba, -pen), telah mengambil ekor-ekor sapi, telah ridha dengan perkebunan, dan meninggalkan jihad, Allah akan menimpakan kehinaan kepada kalian. Allah ‘azza wa jalla tidak akan mencabutnya sampai kalian kembali kepada agama kalian.” (HR. Abu Dawud dan lain-lainnya dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam ash-Shahihah no. 11)

Itulah jalan kejayaan. Menempuh jalan-jalan meraih ilmu al-Kitab dan as-Sunnah, sebagaimana halnya Jabir radhiallahu ‘anhu menempuhnya.

 

Beberapa Faedah

  1. 1. Hadits ini menunjukkan keutamaan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai kaum yang sangat bersemangat menuntut ilmu, menyebarkannya, dan sangat mengagungkan al-Qur’an dan as-Sunnah.
  2. 2. Di antara adab menuntut ilmu adalah mencurahkan segala potensi dan kemampuan, harta, tenaga, dan waktu untuk menimba ilmu, seperti halnya yang dicontohkan oleh Jabir bin Abdilah radhiallahu ‘anhu.

Al-Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan dalam Shahih-nya ucapan indah dari Yahya bin Abi Katsir rahimahullah,

لاَ يُسْتَطَاعُ الْعِلْمُ بِرَاحَةِ الْجِسْمِ

“Ilmu tidak akan dicapai dengan santainya badan.” (HR. Muslim)

  1. Pentingnya tatsabbut (meneliti) berita-berita yang datang, lebih-lebih jika berita tersebut terkait dengan agama, terkait dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  2. Hadits ini menerangkan salah satu adab bertamu, yaitu al-isti’dzan (meminta izin).

Di antara hikmah disyariatkannya meminta izin sebelum masuk ke rumah orang lain adalah menjaga pandangan mata dari hal-hal yang tidak baik atau tidak pantas untuk dilihat.

  1. 5. Hadits di atas merupakan salah satu contoh riwayat sahabat dari sahabat yang lain.
  2. 6. Mengingat kematian menjadi penyemangat seorang muslim untuk bersegera melakukan amalan saleh dan meninggalkan kemaksiatan kepada Allah ‘azza wa jalla.

Dalam kisah di atas, Jabir radhiallahu ‘anhu berkata kepada Abdullah bin Unais radhiallahu ‘anhu,

فَخَشِيتُ أَنْ تَمُوتَ أَوْ أَمُوتَ قَبْلَ أَنْ أَسْمَعَهُ

“Saya khawatir engkau meninggal terlebih dahulu atau aku yang lebih dulu meninggal, sementara itu aku belum sempat mendengarnya.”

  1. Hadits ini menetapkan nama Allah ‘azza wa jalla al-Malik dan ad-Dayyan. Al-Malik artinya adalah Yang Maha Menguasai (Maharaja) dan ad-Dayyan artinya adalah Yang Maha memberikan balasan.
  2. Hadits ini menetapkan sifat “kalam” (berbicara) bagi Allah ‘azza wa jalla.
  3. Penduduk mahsyar mendengar firman Allah ‘azza wa jalla.
  4. Hadits di atas menetapkan adanya qishash di hari kiamat yang menunjukkan kemahaadilan Allah ‘azza wa jalla. Tidak ada sedikit pun perkara kezaliman kecuali akan diselesaikan oleh Allah ‘azza wa jalla di hari kiamat walaupun kezaliman tersebut dilakukan seorang penduduk jannah kepada seorang penduduk neraka, Allah ‘azza wa jalla akan menyelesaikannya.
  5. Haramnya segala bentuk kezaliman terhadap siapa pun, termasuk kepada orang-orang kafir.
  6. Kezaliman dan ketidakadilan yang dilakukan oleh seseorang terhadap orang lain, akan dibayar pada hari kiamat dengan pahala yang dia miliki, diberikan kepada orang yang terzalimi.

Apabila tidak ada pahala padanya sementara kezaliman belum terbayar, dosa dari orang yang terzalimi ditimpakan kepada orang yang menzalimi.

Bisa jadi pada awalnya seseorang membawa sekian banyak amalan kebaikan. Namun, karena kezaliman-kezalimannya, kebaikannya habis, kemudian ditimpakan atasnya dosa-dosa orang yang ia zalimi. Ini sebagaimana yang ditunjukkan oleh hadits dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ؟ قَالُوا: الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لاَ دِرْهَمَ لَهُ وَ مَتَاعَ. فَقَالَ: إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاَةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا، فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ

“Tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut itu?”

Mereka menjawab, “Orang yang bangkrut di kalangan kami adalah yang tidak memiliki dirham dan tidak pula memiliki harta/barang.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa, dan zakat. Namun, ia juga datang membawa dosa kezaliman. Ia pernah mencerca si fulan, menuduh (zina dan lainnya, -pen) tanpa bukti terhadap si fulan, memakan harta si fulan, menumpahkan darah si fulan, dan memukul fulan. Sebagai tebusan atas kezalimannya, diberikanlah sebagian kebaikannya kepada fulan, demikian pula kepada fulan dan fulan. Apabila kebaikannya telah habis dibagi-bagikan kepada orang-orang yang dizaliminya sementara belum semua kezalimannya tertebus, diambillah kejelekan/kesalahan yang dimiliki oleh orang yang dizaliminya lalu ditimpakan kepadanya, kemudian ia dicampakkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim no. 6522)

  1. Manusia kelak akan dibangkitkan lalu dikumpulkan di Padang Mahsyar dalam keadaan tidak berpakaian, tidak berkhitan, dan tidak membawa apa pun.
  2. Pertanyaan murid kepada sang guru mengenai perkara yang belum dipahami dari pembicaraan.

Dalam hadits ini, sahabat bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang makna buhma.

  1. Bolehnya menyambut tamu yang datang dari safar dengan merangkul atau memeluknya.

Al-Imam al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad memberi judul kisah Jabir radhiallahu ‘anhu di atas dengan bab “Mu’anaqah”.


[1] Hadits mu’allaq adalah hadits yang dibuang satu orang perawi atau lebih pada bagian awal sanadnya. Dalam Shahih al-Bukhari, banyak hadits mu’allaq yang disebutkan dalam judul-judul bab yang dibuat al-Bukhari.

[2] Dia adalah Abu Ahmad Mahmud bin Ghailan al-‘Adawi al-Marwazi, tsiqah, meninggal 239 H.

Hukum Menelaah Taurat dan Injil

Al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc.

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ الَّله أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ أَتَى النَّبِيَّ بِكِتَابٍ أَصَابَهُ مِنْ بَعْضِ أَهْلِ الْكُتُبِ فَقَرَأَهُ النَّبِيُّ فَغَضِبَ فَقَالَ: أَمُتَهَوِّكُونَ فِيهَا يَا ابْنَ الْخَطَّابِ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ  لَقَدْ جِئْتُكُمْ بِهَا بَيْضَاءَ نَقِيَّةً لَا تَسْأَلُوهُمْ عَنْ شَيْءٍ فَيُخْبِرُوكُمْ بِحَقٍّ فَتُكَذِّبُوا بِهِ أَوْ بِبَاطِلٍ فَتُصَدِّقُوا بِهِ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ مُوسَى كَانَ حَيًّا مَا وَسِعَهُ إِلَّا أَنْ يَتَّبِعَنِي

Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiallahu ‘anhuma, Suatu saat ‘Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan membawa sebuah kitab yang ia dapatkan dari sebagian Ahli Kitab. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membacanya. Beliau kemudian marah dan bersabda, “Apakah engkau termasuk orang yang bingung, wahai Ibnul Khaththab? Demi Dzat yang jiwaku berada di Tangan-Nya sungguh aku telah datang kepada kalian dengan membawa agama yang putih bersih. Jangan kalian bertanya sesuatu kepada mereka (Ahlul Kitab) karena (boleh jadi) mereka mengabarkan al-haq kepada kalian namun kalian mendustakan al-haq tersebut, atau mereka mengabarkan satu kebatilan lalu kalian membenarkan kebatilan tersebut. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya Musa ‘alaihissalam masih hidup niscaya tidak diperkenan baginya melainkan dia harus mengikutiku.”

 

Horizontal Road

Takhrij Hadits

Hadits yang mulia ini hasan. Diriwayatkan al-Imam Ahmad bin Hanbal dalam Musnad-nya (3/387 no. 14623), melalui jalan guru beliau Suraij bin an-Nu’man dari Husyaim dari Mujalid dari asy-Sya’bi dari Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhuma.

Diriwayatkan pula oleh Ibnu Abi ‘Ashim dalam as-Sunnah (10/27), ad-Darimi (1/115), Ibnu Abdil Barr dalam Jami’ Bayan al-Ilm hlm. 339, al-Baghawi dalam Tafsir-nya, Ma’alim at-Tanzil (1/197), dan dalam Syarhus Sunnah (1/270).

Dalam riwayat al-Baghawi, Umar radhiallahu ‘anhu berkata,

إِنَّا نَسْمَعُ أَحَادِيثَ مِنْ يَهُودٍ تَعَجَّبْنَا، أَفَتَرَى أَنْ نَكْتُبَ بَعْضَهَا؟

“Sesungguhnya kami mendengar beberapa ucapan orang Yahudi yang kami kagum padanya, apakah menurutmu boleh kami mencatat sebagiannya?”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

أَمُتَهَوِّكُونَ أَنْتُمْ كَمَا تَهَوَّكَتِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى؟ لَقَدْ جِئْتُكُمْ بِهَا بَيْضَاءَ نَقِيَّةً، وَلَوْ كَانَ مُوسَى حَيًّا مَا وَسِعَهُ إِلاَّ اتِّبَاعِي

“Apakah kalian adalah orang-orang yang bingung seperti bingungnya Yahudi dan Nasrani? Sungguh, aku telah membawa untuk kalian syariat yang putih dan bersih. Seandainya Musa ‘alaihissalam hidup sekarang ini, maka tidak diperkenankan baginya kecuali harus mengikutiku.”

Sanad hadits Jabir radhiallahu ‘anhu di atas dha’if (lemah) dengan sebab Mujalid. Al-Haitsami berkata, “Dalam hadits ini ada Mujalid bin Sa’id, dia dilemahkan oleh Ahmad, Yahya bin Sa’id, dan selainnya.” (Majma’ Zawaid, 1/174)

Hadits ini memiliki banyak syawahid (penguat) di antaranya riwayat dalam Musnad Abu Ya’la al-Mushili (2/426—427), dan dinyatakan hasan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Irwaul Ghalil (6/338—340 no. 1589; 6/34—38 no. 1589).

 

Makna Hadits

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah semulia-mulianya pendidik, sebagaimana sahabatsahabat beliau adalah seutama-utamanya generasi.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam demikian bersemangat dalam menanamkan akidah kepada umatnya. Beliau dorong mereka untuk memusatkan perhatian dan mencurahkan segala upaya dalam mempelajari al-Qur’an dan Sunnah Rasul sebagai rujukan utama agama.

Beliau juga memberikan peringatan keras dari perkara-perkara yang bisa memalingkan manusia dari al-Qur’an. Termasuk apa yang ada dalam hadits Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhuma.

Inilah salah satu pilar terjaganya syariat Islam, terjaganya al-Qur’an dan as-Sunnah; semangat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebarkan risalah dan semangat para sahabat dalam mempelajari juga menyebarkan al-Qur’an dan as-Sunnah ke seluruh penjuru dunia.

Hadits Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhuma juga mengandung larangan bagi seorang muslim untuk membaca, menelaah, atau mencatat berita-berita Ahlul Kitab, Yahudi, dan Nasrani.

Ya, hadits di atas lahiriahnya larangan dari membaca dan mempelajari Taurat dan Injil, agar seseorang tidak dipalingkan dari mempelajari al-Qur’an dan agar selamat dari kebatilan yang telah disisipkan dalam Injil dan Taurat, yang sudah tidak murni lagi seperti di zaman Nabi Musa dan Isa ‘alihima assalam.[1]

 Tarbiyah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam benar-benar membekas pada diri-diri sahabat. Segenap waktu dan tenaga mereka curahkan untuk mempelajari al-Qur’an dari segala sisinya, dan mereka tidak disibukkan oleh membaca kitab-kitab dan berita Ahlul Kitab.

Pesan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga diajarkan sahabat kepada murid-murid mereka, para tabiin. Dalam sebuah atsar disebutkan,

أَنَّ أَباَ قُرَّةٍ الْكِنْدِي أَتَى ابْنَ مَسْعُودٍ بِكِتَابٍ، فَقَالَ: إِنِّي قَرَأْتُ هَذَا بِالشَّامِ فَأَعْجَبَنِي، فَإِذَا هُوَ كِتَابٌ مِنْ كُتُبِ أَهْلِ الْكِتَابِ، فَقَالَ ابْنُ مَسْعُودٍ: إِنَّمَا أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِاتِّبَاعِهِمْ الْكُتُبَ وَتَرْكِهِمْ كِتَابَ اللهِ. فَدَعاَ بِطَسْتٍ وَمَاءٍ فَوَضَعَهُ فِيهِ وَأَمَاثَهُ بِيَدِهِ حَتَّى رَأَيْتُ سَوَادَ الْمِدَادِ

Abu Qurrah al-Kindi menjumpai Ibnu Mas’ud dengan membawa sebuah kitab. Abu Qurrah berkata, “Aku membaca kitab ini di Syam, aku pun terkagum, ternyata ini salah satu kitab dari kitabkitab Yahudi dan Nasrani!”

Ibnu Mas’ud berkata, “Sungguh umat-umat sebelum kalian binasa karena sibuk dengan kitab-kitab (yang telah bercampur dengan kebatilan, -pen.) dan meninggalkan Kitab Allah!”

Kemudian Ibnu Mas’ud minta didatangkan baskom berisi air dan beliau rendam kitab itu di dalamnya, beliau remas-remas hingga aku lihat air menghitam karena tinta.

 

Bukan Berarti Semua yang datang dari Ahlul Kitab Batil

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang Umar radhiallahu ‘anhu dan umatnya membaca atau menukil sebagian dari isi kitab yang datang dari ahli kitab tersebut, bukan karena beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingkari kebenaran yang kadang mereka sampaikan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang karena beliau telah membawa syariat yang sempurna yang telah cukup bagi umatnya sehingga tidak perlu mengambil alternatif lainnya.

Sebagai penutup para rasul, Allah ‘azza wa jalla menjadikan syariat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai penutup seluruh syariat. Sudah menjadi sebuah kepastian bahwasanya Allah ‘azza wa jalla menurunkan al-Qur’an sebagai kitab yang sempurna, menerangkan segala yang dibutuhkan, cocok di setiap zaman dan keadaan, dan dijaga kemurniannya hingga kiamat kelak.

Segala sesuatu dalam syariat nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah Allah ‘azza wa jalla terangkan dengan jelas dan terang seperti yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sabdakan dalam hadits di atas,

لَقَدْ جِئْتُكُمْ بِهَا بَيْضَاءَ نَقِيَّةً

“Sungguh aku telah datang kepada kalian dengan membawa agama yang putih bersih.”

Demikianlah al-Qur’an, tidak ada satu kebaikan pun kecuali al-Qur’an telah menyebutkannya, menjelaskannya, dan mendorong manusia untuk mencapainya. Tidak pula ada kejelekan kecuali al-Qur’an telah memperingatkan darinya dan menjelaskan tentang kejelekannya.

Semua kebaikan yang ada dalam kitab-kitab atau syariat yang telah lalu pun telah termuat dalam al-Qur’an sebagaimana ditunjukkan dalam firman Allah ‘azza wa jalla,

“Dan Kami telah turunkan kepadamu al-Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu. Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang….(al-Maidah: 48)

Alasan lain beliau melarang umat membaca buku-buku ahlul kitab, kekhawatiran beliau akan terjatuhnya umat ini dalam penyimpangan, menganggap kebenaran yang mereka bawa sebagai kebatilan, dan menganggap kebatilan yang mereka bawa sebagai kebenaran.

Pembaca rahimakumullah, hadits Jabir radhiallahu ‘anhu dalam majelis kali ini adalah salah satu dalil yang menunjukkan tidak diperbolehkanmya seorang membaca kitab Taurat dan Injil yang saat ini telah berubah jauh dari aslinya dan memuat kebatilan yang bersumber dari tangantangan manusia.

Secara lebih rinci, dalam masalah ini sesungguhnya ada dalil lain yang secara lahiriah menunjukkan bolehnya membaca Taurat dan Injil. Tentu saja sepintas dalil tersebut bertolak belakang dengan hadits Jabir. Oleh karena itu, ada baiknya kita ketengahkan dua kelompok dalil tersebut kemudian kita melihat cara mengompromikannya, wa billahit taufiq.

 

Dalil-Dalil yang Secara Lahiriah berisi Larangan Membaca Taurat dan Injil

Dalil pertama adalah hadits Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhuma tentang kisah Umar radhiallahu ‘anhu yang telah kita jelaskan takhrij haditsnya.

Dalil kedua,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: كَانَ أَهْلُ الْكِتَابِ يَقْرَءُونَ التَّوْرَاةَ بِالْعِبْرَانِيَّةِ وَيُفَسِّرُونَهَا بِالْعَرَبِيَّةِ لِأَهْلِ الْإِسْلَامِ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ: لَا تُصِدِّقُوا أَهْلَ  الْكِتَابَ وَلَا تُكَذِّبُوهُمْ، وَقُولُوا: آمَنَّا بِاللهِ وَمَا أُنْزِلَ الْآيَةُ

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhuma beliau berkata, “Dahulu Ahlul kitab membaca Taurat dengan bahasa Ibrani dan mereka tafsirkan dengan bahasa Arab kepada ahlul Islam (muslimin).” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jangan kalian percayai mereka jangan pula kalian dustakan namun katakanlah (seperti dalam ayat):

Katakanlah (hai orang-orang mukmin), ‘Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Ya’kub, dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Rabbnya. Kami tidakmembeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.’ (al-Baqarah: 136)

Hadits ini sahih, diriwayatkan oleh al-Bukhari melalui jalan Yahya bin Abi Katsir dari Abu Salamah dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu. (Fathul Bari 5/291 dan 8/170) Diriwayatkan pula oleh al-Baihaqi dalam Sunan al-Kubra (10/163).

Dalil ketiga,

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: يَا مَعْشَرَ الْمُسْلِمِينَ، كَيْفَ تَسْأَلُونَ أَهْلَ الْكِتَابِ وَكِتَابُكُمُ الَّذِي أُنْزِلَ عَلَى نَبِيِّهِ أَحْدَثُ الْأَخْبَارِ باِللهِ تَقْرَءُونَهُ لَمْ يشب وَقَدْ حَدَّثَكُمُ اللهُ أَنَّ أَهْلَ الْكِتَابِ بَدَّلُوا مَا كَتَبَ اللهُ وَغَيَّرُوا بِأَيْدِيهِمُ الْكِتَابَ، فَقَالُوا: هُوَ مِنْ عِنْدِ اللهِ، لِيَشْتَرُوا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا؛ أَفَلَا يَنْهَاكُمْ مَا جَاءَكُمْ مِنَ الْعِلْم عَنْ مُسَاءَلَتِهِمْ وَلاَ وَاللهِ مَا رَأَيْنَا مِنْهُمْ رَجُلًا قَطُّ يَسْأَلُكُمْ عَنِ الَّذِي أُنْزِلَ عَلَيْكُمْ

Dari Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma beliau berkata, “Wahai sekalian kaum muslimin, mengapa kalian bertanya kepada Ahlul Kitab sementara Kitab kalian (al-Qur’an) yang Allah turunkan kepada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah kitab yang terbaru (terakhir turun) dari sisi Allah, dan kalian membacanya, bukankah Allah telah mengabarkan bahwa Ahlul Kitab telah mengubahrubah syariat yang Allah wajibkan atas mereka, dan mereka ubah kitab Allah dengan tangan-tangan mereka kemudian mereka berkata (seperti yang Allah ‘azza wa jalla kabarkan). Apakah tidak ada ilmu yang datang kepada kalian yang melarang kalian dari bertanya-tanya kepada Ahlul Kitab? Tidak! Demi Allah, aku tidak pernah melihat salah satu dari mereka (Ahlul Kitab) bertanya kepada kalian tentang al-Qur’an! (Mengapa kalian justru bertanya kepada mereka? –pen)

Atsar Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma ini diriwayatkan al-Bukhari (Fathul Bari 5/291), dari guru beliau Yahya bin Bukair, diriwayatkan pula oleh Ibnu Abdil Barr dalam Jami Bayan al-‘Ilm (2/41).

Dalil keempat,

لَا تَسْأَلُوا أَهْلَ الْكِتَابِ فَإِنَّهُمْ لَنْ يَهْدُوكُمْ وَقَدْ ضَلُّوا

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu, beliau berkata, “Jangan kalian bertanya kepada Ahlul Kitab karena mereka tidak akan membimbing kalian bahkan mereka telah sesat.”

Atsar Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu ini diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Barr dalam Jami Bayan al-Ilm (2/41). Berkata Ibnu Hajar al-Asqalani, “Diriwayatkan oleh Abdur Razaq melalui jalan Huraits bin Dhahir, dan diriwayatkan pula oleh Sufyan ats-Tsauri melalui jalan ini dan sanad haditsnya hasan.” (Fathul Bari 6/334)

Atsar Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu ini sebenarnya diriwayatkan secara marfu’ dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam namun yang benar riwayatnya mauquf, Allahu a’lam.

 

Dalil-Dalil yang Secara Lahiriah Menunjukkan Bolehnya Membaca Taurat dan Injil

“Maka jika kamu (Muhammad) berada dalam keragu-raguan tentang apa yang Kami turunkan kepadamu, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca kitab sebelum kamu. Sesungguhnya telah datang kebenaran kepadamu dari Rabbmu, sebab itu janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu.” (Yunus: 94)

Berkatalah orang-orang kafir, “Kamu bukan seorang yang dijadikan Rasul.”  Katakanlah, “Cukuplah Allah menjadi saksi antaraku dan kamu dan antara orang yang mempunyai ilmu al-Kitab.” (ar-Ra’d: 43)

عَنْ أَبِي كَبْشَةَ السَّلُولِي، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو قَال: قَالَ رَسُولُ اللهِ : بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آَيَةً، وَحَدِّثُوا عَن بَنِي إِسْرَائِيلَ وَلَا حَرَجَ، وَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

Dari Abu Kabsyah as-Saluli dari Abdullah bin ‘Amr radhiallahu ‘anhuma beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sampaikan dariku walaupun satu ayat, sampaikan berita dari Bani Israil, tidak mengapa. Barang siapa berdusta atasku dengan sengaja, hendaknya dia menempatkan dirinya dalam neraka.” (HR. at-Tirmidzi, beliau katakan, “Hadits hasan sahih.”)

عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ قَالَ: لَقِيتُ عَبْدَ اللهِ بْنَ عَمْرِو بْنَ الْعَاصِ قُلْتُ: أَخْبِرْنِي عَنْ صِفَةِ رَسُولِ اللهِ فِي التَّوْرَاةِ. قَالَ: أَجَلْ، وَاللهِ، إِنَّهُ لَمَوصُوفٌ فِي التَّوْرَاةِ بِبَعْضِ صِفَتِهِ فِي الْقُرْآنِ: يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا، وَحِرْزًا لِلْأُمِّيِّيْنَ، أَنْتَ عَبْدِي وَرَسُولِي، سَمَّيْتُكَ الْمُتَوَكِّلَ، لَيْسَ بِفَظٍّ وَلَا غَلِيظٍ وَلاَ صَخَّابٍ فِي الْأَسْوَاقِ، وَلَا يَدْفَعُ بِالسَّيِّئَةِ السَّيِّئَةَ وَلَكِنْ يَعْفُو وَيَغْفِرُ، وَلَنْ يَقْبِضَهُ اللهُ حَتَّى يُقِيمَ بِهِ الْمِلَّةَ الْعَوْجَاءَ بِأَنْ يَقُولُوا: لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَيَفْتَحُ بِهَا أَعْيُنًا عُمْيًا وَأَذَانًا صُمًّا وَقُلُوبًا غُلْفًا.

Dari Atha’ bin Yasar, Aku bertemu dengan Abdullah bin Amr bin al-Ash radhiallahu ‘anhuma, aku bertanya, “Kabarkan kepadaku tentang sifat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam Taurat.”

Kata Abdullah bin Amr, “Baiklah, demi Allah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam disebut sifatnya dalam at-Taurat dengan sebagian sifat yang telah tersebut dalam al-Qur’an,  ‘Wahai nabi, sesungguhnya kami utus engkau sebagai saksi, pemberi kabar gembira, dan peringatan.’ (al- Ahzab: 45)

‘Juga sebagai pelindung bagi kaum yang ummi. Engkau adalah hamba-Ku dan Rasul-Ku. Aku beri nama engkau al-Mutawakkil, bukan seorang yang keras dan kasar, tidak pula berkata kotor di pasar-pasar, tidak membalas kejelekan dengan kejelekan tetapi memaafkan, dan Allah ‘azza wa jalla tidak mewafatkannya hingga Allah ‘azza wa jalla tegakkan dengan beliau agama dan manusia mengucapkan kalimat: Laa ilaahailallah… dengan diutusnya ia, Allah ‘azza wa jalla bukakan mata-mata yang buta, telinga telinga yang tuli dan hati-hati yang terkunci…’.”

Atsar ini diriwayatkan al-Bukhari di dua tempat dalam Shahih-nya, pertama dalam Kitab al-Buyu’ (Perdagangan) Bab “Dibencinya Sakhab/Membuat Kegaduhan/Berteriak dalam Pasar”; kedua dalam kitab at-Tafsir no. 4838 no. 2125. Lihat Fathul Bari (4/343), beliau keluarkan pula dalam al-Adabul Mufrad. Diriwayatkan pula oleh al-Imam Ahmad dalam al-Musnad (2/174 no. 6622).

 

Bagaimana Memahami Dalil-Dalil yang Sepertinya Berlawanan?

Dalil-dalil di atas secara lahiriah mengandung kontradiksi, walaupun pada hakikatnya tidak. Sebagian dalil menunjukkan dilarangnya membaca, mendengar berita-berita dari Bani Israil, dan apa yang ada dalam kitab mereka; sementara dalil-dalil lainnya secara lahiriah menunjukkan boleh.

Sebaik-baik jalan dalam memahami dalil-dalil di atas adalah menjamak (menggabungkan) semua dalil yang ada sehingga dengan demikian akan terkumpullah semua dalil.

Hukum membaca kitab yang ada pada ahlul kitab sangat tergantung dengan tiga perkara: kondisi sang pembaca, maksud dan tujuan sang pembaca, serta jenis berita yang ada pada ahlul kitab.

Ditinjau dari keadaan orang yang membaca, hukumnya berbeda antara orang yang memiliki ilmu yang kokoh dan orang yang jahil atau penuntut ilmu biasa.

Orang-orang yang rasikh (kokoh) dalam ilmunya, sangat mendalam dalam ilmu al-Qur’an dan as-Sunnah, serta mengerti syubhat (kerancuan) yang ada pada ahlul kitab; golongan inilah yang dikatakan boleh bagi mereka untuk menelaah Taurat dan Injil dari tinjauan pembacanya. Itu pun masih harus melihat tujuan dari dia membaca. Adapun mereka yang tidak tergolong sebagai ulama tidak diperbolehkan untuk membaca Taurat dan Injil.

Adapun ditinjau dari maksud atau tujuan membaca Taurat dan Injil, bagi mereka yang membacanya dengan tujuan mengagungkan apa yang ada dalam Taurat dan Injil (padahal di dalamnya mengandung kebatilan yang disisipkan manusia), atau hanya sekadar mengisi waktu sehingga menyibukkannya dari mempelajari al-Kitab dan as-Sunnah yang seperti ini haram atasnya membaca Taurat dan Injil.

Adapun mereka yang membaca dari kalangan ulama dengan maksud mengetahui kebatilan yang ada dalam kitab Taurat dan Injil yang telah diubah, memberikan peringatan kepada manusia dari kebatilan yang ada di dalamnya, atau untuk membantah Ahlul Kitab dalam rangka mendakwahi mereka untuk beriman kepada al-Qur’an, maka yang seperti ini diperbolehkan insya Allah, sebagaimana dilakukan sebagian ulama Islam seperti Ibnu Hazm, Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, dan lainnya.

Adapun dari sisi berita yang ada pada ahlul kitab, sesungguhnya berita Ahlul Kitab ada tiga jenis.

  1. Berita yang boleh dibenarkan dan boleh diriwayatkan, yaitu berita-berita yang ada pada kitab-kitab mereka dan sesuai dengan apa yang ada dalam syariat kita.
  2. Berita yang haram diriwayatkan kecuali dengan syarat penjelasan kebatilan dan kedustaannya, yaitu apa yang menyelisihi syariat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seperti ayat-ayat Taurat dan Injil yang berisi pelecehan dan celaan kepada para nabi dan rasul, serta semua berita yang didustakan al-Qur’an.
  3. Berita yang kita tawaqquf, yaitu berita yang didiamkan oleh syariat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jenis ketiga ini tidak dibenarkan dan tidak didustakan, boleh diriwayatkan dan disebut, hanya saja tidak untuk diyakini, tetapi sekadar sebagai pelengkap.

Dengan rincian tersebut tidak lagi ada pertentangan antara dalil-dalil dalam masalah ini. Walhamdulillah.

 

Fatwa Asy-Syaikh Shalih Al-Utsaimin tentang Hukum Membaca Injil

Asy-Syaikh Utsaimin ditanya, “Bolehkah seorang muslim menekuni (mempelajari) Injil agar dia bisa mengetahui firman Allah ‘azza wa jalla kepada hamba dan Rasul-Nya Isa alaihis sholatu wassalam?”

Beliau menjawab, “Tidak boleh menekuni (mempelajari) sesuatu pun dari kitab-kitab yang mendahului al-Qur’an, berupa Injil atau Taurat atau selain keduanya karena dua sebab:

  1. Sesungguhnya semua hal yang bermanfaat dalam (kitab-kitab terdahulu) telah Allah ‘azza wa jalla jelaskan dalam al-Qur’anul Karim.
  2. Sesungguhnya di dalam al-Qur’an telah terdapat perkara yang mencukupi dari semua kitab ini, berdasarkan firman-Nya,

“Dia menurunkan al-Kitab (al-Qur’an) kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya.” (Ali ‘Imran: 3)

Allah ‘azza wa jalla juga berfirman, “Dan Kami telah turunkan kepadamual-Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan.” (al-Ma’idah: 48)

Karena sesungguhnya semua yang ada dalam kitab-kitab terdahulu berupa kebaikan pasti ada dalam al-Qur’an. Adapun perkataan penanya bahwa dia ingin untuk mengetahui firman Allah ‘azza wa jalla kepada hamba dan Rasul-Nya ‘Isa, maka yang bermanfaat bagi kita darinya telah dikisahkan oleh Allah ‘azza wa jalla dalam al-Qur’an sehingga tidak perlu lagi untuk mencari selainnya.

Lebih-lebih Injil yang ada sekarang telah berubah, dan di antara bukti akan perubahan itu adalah bahwa dia (sekarang) ada empat Injil yang satu dengan yang lainnya saling bertentangan, bukan satu Injil sehingga tidak dapat dijadikan sandaran.

Adapun seorang penuntut ilmu yang memiliki ilmu yang dengannya dia bisa mengetahui yang benar dari kebatilan, maka tidak ada larangan (baginya) untuk mengetahuinya (Injil) untuk membantah apa yang terdapat di dalamnya berupa kebatilan dan untuk menegakkan hujah atas para penganutnya. (Majmu’ al-Fatawa)

Beberapa Faedah Hadits

  1. Hadits di atas menunjukkan kesempurnaan syariat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu al-Qur’an sebagai kitab terakhir dan Sunnah beliau, semua kebaikan telah ada dalam syariat yang beliau bawa.
  2. Bantahan sekaligus peringatan kepada mereka yang suka merujuk atau meneaah kitab-kitab ahlul bid’ah dan berpaling dari al-Qur’an dan as-Sunnah.

“Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (an-Nisa’: 65)

  1. Kewajiban bagi seluruh manusia beriman dan mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan seandainya Nabi Musa ‘alaihissalam masih hidup beliau harus mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  2. Ahlul kitab tidak beriman (kafir) hingga mau mengikuti Kitab al-Qur’an dan as-Sunnah, berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa seandainya Nabi Musa ‘alaihissalam masih hidup niscaya beliau mengikuti syariat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam hadits lain beliau bersabda,

وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لاَ يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ وَلَا نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ إِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

“Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya. Tidak ada seorang pun dari umat ini yang telah mendengar keberadaanku, baik Yahudi maupun Nasrani, yang mereka meninggal namun tidak beriman dengan apa yang aku sampaikan dengannya kecuali ia termasuk penghuni neraka.” (HR. Muslim no. 153 dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

  1. Bantahan bagi agama Syiah Rafidhah yang mengatakan adanya kitab baru selain al-Qur’an yang akan diterapkan di akhir zaman. Secara tegas Syi’ah Rafidhah meyakini bahwa Mahdi versi mereka akan berhukum dengan hukum baru bukan hukum Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dengan kitab yang baru.

Dalam kitab Biharul Anwar—salah satu referensi Rafidhah karya al-Majlisi (52/354) diriwayatkan sebuah berita palsu,

عَنْ أَبِي بَصِيرٍ قَالَ: قَالَ أَبُو جَعْفَرٍ: يَقُومُ الْقَّائِمُ بِأَمْرٍ جَدِيدٍ وَكِتَابٍ جَدِيدٍ وَقَضَاءٍ جَدِيدٍ عَلَى الْعَرَبِ ….

Dari Abu Bashir, telah berkata Abu Ja’far ‘alaihissalam, “Al-Qaaim (al-Mahdi) akan muncul dengan perkara yang baru, dengan kitab baru, dan dengan hukum/keputusan yang baru atas orang-orang ‘Arab….” (Biharul Anwar)

Tidak diragukan bahwa keyakinan Syiah seperti ini adalah keyakinan yang kufur. Jangankan Imam Mahdi, Nabi Musa ‘alaihissalam saja seandainya beliau masih hidup harus mengikuti syariat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan Nabi Isa yang turun di akhir zaman akan menegakkan hukum al-Qur’an dan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

  1. Hadits ini menunjukkan keutamaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena semua nabi dan rasul harus mengikuti syariat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan membela beliau.
  2. Menegaskan salah satu kaidah dalam menerima berita israiliat (berita yang berasal dari ahlul kitab) untuk tawaqquf dalam berita yang tidak ada kejelasan dalam syariat ini kedustaan atau kebenarannya.

Jika seorang dengan mudah menerima berita kemudian membenarkan atau menyalahkan, bisa jadi dia membenarkan yang salah atau mendustakan yang benar.

  1. Hadits ini mengandung perintah agar kita berhati-hati dari teman duduk yang tidak baik, demikian pula dalam memilih bacaan dan referensi-referensi ilmu syariat mengajarkan untuk kita selektif, lebih-lebih di zaman ini.
  2. Di antara bahaya membaca kitab-kitab terdahulu, Taurat dan Injil: bisa jadi di sana ada kebenaran kemudian kita dustakan atau sebaliknya ada kedustaan lalu kita benarkan, yang demikian itu karena kitab terdahulu telah terjadi banyak perubahan oleh tangan-tangan manusia sebagaimana Allah ‘azza wa jalla
  3. Peringatan bagi orang-orang yang bermudah-mudah melakukan studi perbandingan agama dengan menelaah kitab-kitab terdahulu yang sudah banyak penyimpangan, padahal dia tidak memiliki bekal ilmu yang cukup.
  4. Niat yang baik tidak cukup untuk menjadikan suatu amalan menjadi baik. Di samping niat yang baik, harus disertai dengan kesesuaian dengan bimbingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  5. Bersumpah dalam menyampaikan ilmu, memberikan fatwa atau nasihat-nasihat penting.
  6. Amar ma’ruf nahi munkar.
  7. Marah karena Allah ‘azza wa jalla dalam menyampaikan peringatan.
  8. Menggabungkan shalawat dan salam untuk selain Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana dalam hadits ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggabungkan shalawat dan salam untuk Nabi Musa ‘alaihissalam.
  9. Kaidah saddu adz-dzarai’, menutup celah-celah yang bisa mengantarkan kepada kejelekan.
  10. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengingkari bahwa ahli kitab terkadang menyampaikan sesuatu yang benar sebagaimana dalam sabda beliau,

فَيُخْبِرُوكُمْ بِحَقٍّ

“Mereka mengabarkan kepada kalian berupa kebenaran.”

Jadi, tidak ada persangkaan sama sekali bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menolak kebenaran yang dibawa oleh ahli kitab, hanya karena beliau melarang Umar bin Khaththab radhiallahu ‘anhu menukil sebagian yang datang dari mereka. Harus dibedakan antara masalah “menerima kebenaran”, dan masalah “dari siapa ilmu itu diambil atau dinukil.”

Sejelek apa pun ahlul bid’ah, masih mungkin ada kebaikan padanya. Namun, apakah kemudian kita duduk bermajelis dengan mereka untuk mencari kebenaran yang ada pada mereka? Tentu tidak!

Semua kebaikan telah ada pada Ahlus Sunnah wal Jamaah, dan kita diperintahkan untuk tidak duduk dengan ahlul bid’ah karena mafsadahnya lebih besar dari manfaatnya. Sahabat Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata,

لاَ تُجَالِسْ أَهْلَ الْأَهْوَاءِ فَإِنَّ مُجَالَسَتَهُمْ مُمْرِضَةٌ لِلْقَلْبِ

“Janganlah kalian bermajelis, bergaul dengan ahli bid’ah (para pengikut hawa nafsu) karena bermajelis dengan mereka membuat hati berpenyakit.”[2]

 

وَصَلّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ وَالْحَمْدُ رَبِّ الْعَالَمِينَ


[1] Sebagaimana telah kita bahas dalam “Kajian Utama” tentang perubahan yang terjadi dalam Taurat dan Injil.

[2] al-Ibanah al-Kubra, karya Ibnu Baththah (2/438 no. 371)

Siapakah ath-Thaifah al-Manshurah?

Al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar

 desert-rain

Al-Imam al-Bukhari rahimahullah (no. 7311) meriwayatkan sebuah hadits dari al-Mughirah bin Syu’bah radhiallahu ‘anhu, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

لا يَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِينَ، حَتَّى يَأْتِيَهُمْ أَمْرُ ا وَهُمْ ظَاهِرُونَ

“Pasti akan selalu ada sekelompok orang dari umatku yang senantiasa meraih kemenangan, sampai ketetapan dari Allah ‘azza wa jalla datang menghampiri mereka. Dan mereka pun tetap di atas kemenangannya.”

 

Hadits di atas juga diriwayatkan oleh al-Imam Muslim rahimahullah (no. 1921) dengan lafadz yang sedikit berbeda. Sebagian ulama hadits (Fathul Bari hadits no. 7311) menilai riwayat di atas termasuk tsulatsiyat (hanya dipisahkan oleh tiga perawi sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) di dalam Shahih al-Imam al-Bukhari. Mengapa dinilai tsulatsiyat, sementara jumlah perawi antara al-Bukhari dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ada empat?

Hadits ini didengar oleh al-Bukhari dari guru beliau yang bernama Ubaidullah bin Musa al-‘Absi al-Kufi rahimahullah. Ternyata beliau terhitung sebagai guru al-Bukhari yang telah berusia lanjut dan termasuk dalam generasi tabi’ut tabi’in.

Ubaidullah bin Musa mendengar hadits di atas dari seorang ulama tabi’in yang bernama Ismail bin Abi Khalid rahimahullah. Guru Ismail pun seorang kibar tabi’in bernama Qais bin Abi Hazim. Qais sendiri dinyatakan oleh ulama hadits sebagai seorang mukhadram, karena pernah merasakan masa jahiliah. Ketika beliau berangkat ke Madinah untuk berbaiat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, di tengah perjalanan beliau mendengar berita wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Al-Mughirah bin Syu’bah radhiallahu ‘anhu, sahabat yang meriwayatkan hadits ini, adalah salah seorang guru Qais bin Abi Hazim. Karena faktor kedekatan sanad inilah, sebagian ulama hadits menilai riwayat ini sebanding dan sejajar dengan riwayat tingkat tsulatsiyat.

Uniknya, seluruh perawi di dalam sanad al-Bukhari seluruhnya berasal dari kota Kufah. Wallahu a’lam.

 

Kedudukan Hadits

Hadits Thaifah di atas tidak hanya diriwayatkan oleh al-Mughirah radhiallahu ‘anhu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Selain beliau, sejumlah sahabat juga meriwayatkannya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Asy-Syaikh al-Muhaddits al-Albani rahimahullah (as-Silsilah ash-Shahihah nomer 270) menyebutkannya secara ringkas,

  1. Imran bin Hushain radhiallahu ‘anhu (ar-Ramahurmuzi dalam al-Muhaddits al-Fashil 1/6)
  2. Muawiyah bin Abi Sufyan radhiallahu ‘anhuma (al-Bukhari, Muslim, dan Ahmad)
  3. Tsauban radhiallahu ‘anhu Maula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (Muslim, Tirmidzi, Ahmad, Ibnu Majah, Abu Dawud, dan al-Hakim)
  4. Uqbah bin ‘Amir radhiallahu ‘anhu (Muslim)
  5. Qurrah al-Muzani radhiallahu ‘anhu (Ahmad)
  6. Abu Umamah radhiallahu ‘anhu (Ahmad)
  7. Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu (al-Hakim)

Walaupun ditemukan beberapa perbedaan lafadz, hadits di atas tetaplah mempunyai satu makna. Beberapa tambahan lafadz juga sangat membantu untuk memahami hadits tersebut secara lebih sempurna. Mudah-mudahan dengan memadukan seluruh lafadz dan beberapa hadits yang terkait, kita akan memperoleh gambaran nyata, siapakah yang layak disebut sebagai Thaifah Manshurah?

 

Makna Hadits

Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas adalah jaminan, kabar gembira, sekaligus hiburan. Kata-kata beliau adalah jaminan pasti bahwa siapa pun orangnya yang bertekad, bercita-cita, dan memiliki kesungguhan untuk memperjuangkan agama Allah ‘azza wa jalla, pertolongan-Nya akan selalu menyertai.

Hal ini sekaligus kabar gembira dan hiburan bagi mereka yang terkadang merasa terasing, dianggap aneh, bahkan merasa “sedikit” dalam jumlah, bahwa pengikut kebenaran memanglah demikian. Mereka pun selalu optimis, sebagai ath-Thaifah al-Manshurah (kelompok yang ditolong Allah ‘azza wa jalla) sekaligus al-Firqatun Najiyah (kelompok yang selamat).

Ya, ath-Thaifah al-Manshurah memang hanya segelintir orang, komunitasnya sedikit, dan sangat kecil apabila dibandingkan dengan jumlah kaum muslimin secara keseluruhan. Namun, kenyataan ini tentu tidak perlu membuat mereka bersedih, apalagi putus asa. Ingat-ingatlah selalu, janji Allah ‘azza wa jalla adalah benar. Dia akan selalu menolong dan membela. Lebih-lebih lagi, ath-Thaifah al-Manshurah akan tetap eksis sampai hari kiamat!

Ada pertanyaan yang terselip ketika membahas hadits ini. Beberapa riwayat sahih menyebutkan bahwa hari kiamat tidak akan terjadi sampai kondisi orang-orang yang tersisa adalah orang-orang yang jahat. Bahkan, sebuah riwayat mengatakan pada saat itu, tidak ada lagi orang yang menyebut-sebut nama Allah ‘azza wa jalla. Padahal di dalam hadits ini, ath-Thaifah al-Manshurah keberadaannya akan tetap bertahan sampai hari kiamat. Bagaimana ini?

Para ulama hadits, di antaranya adalah al-Imam an-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim, mencoba memadukan riwayat-riwayat tersebut. Hasilnya?

Ath-Thaifah al-Manshurah sebagai sekelompok orang yang memperjuangkan kebenaran akan terus eksis di setiap masa. Namun, mendekati kebangkitan kiamat, Allah ‘azza wa jalla akan mengirimkan angin lembut yang bertiup melewati ketiak setiap orang. Angin itu akan mencabut ruh mukmin dan mukminah sehingga tidak ada lagi yang tersisa hidup kecuali orang-orang jahat. Ringkasnya, keberadaan ath-Thaifah al-Manshurah yang disebut sampai hari kiamat berbangkit maksudnya adalah sampai menjelang datangnya kiamat.

Keterangan ini didukung oleh sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam riwayat Muslim (no. 2937) dari sahabat an-Nawwas bin Sam’an radhiallahu ‘anhu. Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

فَبَيْنَمَا هُمْ كَذَلِكَ إِذْ بَعَثَ اللهُ رِيحًا طَيِّبَةً، فَتَأْخُذُهُمْ تَحْتَ آبَاطِهِمْ، فَتَقْبِضُ رُوحَ كُلِّ مُؤْمِنٍ وَكُلِّ مُسْلِمٍ، وَيَبْقَى شِرَارُ النَّاسِ، يَتَهَارَجُونَ فِيهَا تَهَارُجَ الْحُمُرِ، فَعَلَيْهِمْ تَقُومُ السَّاعَةُ.

“Ketika manusia dalam kondisi semacam itu, Allah ‘azza wa jalla mengirimkan angin lembut yang bertiup di bawah ketiak mereka. Lalu angin tersebut mencabut ruh setiap mukmin dan mukminah. Kemudian yang tersisa hidup hanyalah orang-orang jahat. Mereka melakukan hubungan badan di hadapan orang lain, persis yang dilakukan keledai. Kepada orang-orang semacam itulah, hari kiamat akan dibangkitkan.”

 

Ath-Thaifah Al-Manshurah adalah Ahlul Hadits

Siapakah yang lebih mengerti dan memahami hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Jawabannya secara pasti dan tegas adalah para ulama hadits. Bukankah merekalah yang meriwayatkannya untuk kita? Bukankah merekalah yang menjadi mata rantai antara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai kepada kita? Apakah kita akan menyerahkan kepada orang-orang yang tidak berkompeten dan berwenang sama sekali, untuk memahami hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?

Marilah kita membaca dan merenungkan pernyataan para ulama besar di bawah ini tentang siapakah ath-Thaifah al-Manshurah itu.

Al-Imam al-Khatib al-Baghdadi rahimahullah menyebutkan beberapa keterangan ulama tentang mereka di dalam kitab beliau, Syaraf Ashabil Hadits (hlm. 59—62).

Al-Imam al-Bukhari rahimahullah menjelaskan, “Mereka adalah para ulama!”

Di lain kesempatan beliau menyatakan, “Mereka adalah Ashabul Hadits.”

Al-Imam Yazid bin Harun, Abdullah bin al-Mubarak, Ali bin Abdillah al-Madini, Ahmad bin Sinan, dan sejumlah ulama lainnya rahimahumullah mengatakan, “Mereka adalah Ashabul Hadits.”

Bahkan, secara tegas al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah mengatakan, “Seandainya yang dimaksud dengan ath-Thaifah al-Manshurah bukan Ashabul Hadits, aku tidak tahu lagi, siapakah mereka sesungguhnya?”

Kemudian, siapakah Ashabul Hadits itu?

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah (Syarah Shahih Muslim) menerangkan bahwa mereka memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Ada yang gagah berani berperang, kaum fuqaha, orang-orang yang menekuni bidang hadits, ahli-ahli zuhud, penegak amar ma’ruf nahi munkar, atau pelaku-pelaku kebaikan lainnya. Bisa saja mereka berada di dalam satu wilayah atau menyebar di berbagai penjuru bumi.

Barangkali kita bisa menyimpulkannya dengan mengutip ucapan al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah, “Yang dimaksud oleh al-Imam Ahmad rahimahullah di atas, ath-Thaifah al-Manshurah adalah Ahlus Sunnah wal Jamaah serta orang-orang yang berakidah dengan akidah ahlul hadits.”

Dengan demikian, apakah bisa diterima, jika orang yang mengejek dan menghina para ulama yang menekuni bidang hadits, mengaku sebagai bagian dari ath-Thaifah al-Manshurah? Apakah pantas seseorang mengaku sebagai ath-Thaifah al-Manshurah sementara ia menyebut ulama Ahlus Sunnah dengan “ulama buatan pemerintah”, “ulama haid dan nifas”, “ilama yang tidak mengerti fiqhul waqi (fikih kekinian)”, “ulama yang kerjaannya hanya di masjid dengan haddatsana (telah menyampaikan kepada kami) dan akhbarana (telah mengabarkan kepada kami)”, dan “ulama yang tidak menghargai dan tidak peduli dengan darah kaum muslimin”?

Apakah pantas orang yang mencela ulama seperti ini untuk disebut sebagai ath-Thaifah al-Manshurah, kelompok yang ditolong Allah ‘azza wa jalla?

 

Ath-Thaifah Al-Manshurah dan Jihad Fi Sabilillah

Hadits-hadits ath-Thaifah al-Manshurah diangkat sebagai isu panas oleh kaum jihadiyin takfiriyin (sejumlah orang yang melakukan aksi kekerasan, anarki, brutal, dan membabi buta dengan mengatasnamakan jihad fi sabilillah) untuk melegitimasi dan membenarkan aksi-aksi “jihad”. Mereka menukil hadits-hadits tentang ath-Thaifah al-Manshurah.

Namun, apakah mereka benar-benar mengamalkan hadits-hadits tersebut secara kaffah? Ataukah hanya sepenggalsepenggal saja?

Memang benar! Beberapa lafadz dan riwayat hadits menyebutkan bahwa salah satu ciri ath-Thaifah al-Manshurah adalah berperang dan berjihad di jalan Allah ‘azza wa jalla. Hal ini memang benar. Salah satunya adalah hadits Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu riwayat Muslim (no. 156). Akan tetapi, kita perlu secara tenang, cermat, dan jujur, mengajukan beberapa pertanyaan sederhana berikut ini.

Salah satu ciri ath-Thaifah al-Manshurah adalah berperang dan berjihad. Namun, jihad dengan pemahaman siapa? Jihad di bawah bendera siapa? Di setiap saat ataukah pada kondisi-kondisi tertentu? Siapakah yang menjadi objek atau sasaran perang dan jihad? Di setiap tempat ataukah di lokasi-lokasi tertentu saja? Masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang mesti terjawab sebelum berteriak-teriak “jihad”.

Jihad fi sabilillah adalah ibadah suci. Maka dari itu, pantas saja jika ciri ini disematkan untuk ath-Thaifah al-Manshurah. Namun, ingatlah kembali arahan dan bimbingan para ulama. Jihad fi sabilillah pun mesti dilandasi dengan ilmu, berdasarkan pemahaman Ahlus Sunnah dan Ahlul Hadits. Lihat saja sejarah Ahlul Hadits! Mereka pun tercatat sebagai kaum mujahidin. Mereka mengalirkan tinta dan darah demi agama Islam.

Jihad fi sabilillah tidak dilakukan dengan sembarangan, serampangan, asal-asalan, emosional, dan ngawur. Jihad fi sabilillah memiliki syarat-syarat yang harus dipenuhi. Wallahi wa billahi wa tallahi, seandainya jihad syar’i ditegakkan, engkau wahai para pencela Salafiyyin, akan menyaksikan betapa kecil dan kerdilnya dirimu. Engkau akan melihat singa-singa Allah ‘azza wa jalla berada di barisan terdepan. Engkau baru akan tersadar, ternyata dirimu tak bisa dibandingkan sedikit pun dengan Salafiyyin. Sebab, mereka tegak berdiri di atas ilmu. (Tentang jihad fi sabilillah, silahkan Anda membaca kembali Asy-Syari’ah pada edisi-edisi sebelumnya)

 

Pembuktian, Bukan Pengakuan!

Pasukan Panji Hitam, kelompok al-Jihad, organisasi al-Qaeda, atau apa pun namanya, bisa saja mereka menganggap dirinya sebagai bagian dari ath-Thaifah al-Manshurah. Untuk urusan mengaku-aku, siapa pun bisa melakukannya. Klaim dan mengklaim juga dapat dilakukan oleh setiap orang. Akan tetapi, apakah cukup sampai di situ saja?

Tidak! Semuanya menuntut pembuktian!

Kaum Yahudi dan Nasrani juga mengklaim bahwa merekalah penduduk surga. Benarkah demikian? Allah ‘azza wa jalla berfirman,

Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata, “Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi dan Nasrani.” Demikian itu (hanya) angan-angan mereka yang kosong belaka. Katakanlah, “Tunjukkan kebenaranmu jika kamu adalah orang-orang yang benar.” (al-Baqarah: 111)

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah ketika menjelaskan hadits Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma riwayat al-Bukhari dan Muslim, “Seandainya setiap orang diiyakan sesuai dengan pengakuannya, tentu setiap orang akan mengklaim darah dan harta orang lain. Akan tetapi, sumpah merupakan hak orang yang diklaim.”

“Hadits ini adalah kaidah besar di dalam kaidah-kaidah hukum syar’i. Kaidah ini menyebutkan bahwa klaim seseorang tidak bisa diterima begitu saja. Akan tetapi, butuh pembuktian atau pembenaran dari pihak yang diklaim.”

Bagi siapa saja yang mengaku dirinya sebagai bagian dari ath-Thaifah al-Manshurah, marilah mengukur dan menakar dirinya dengan sebuah jawaban dari asy-Syaikh Shalih al-Fauzan berikut ini (Irsyadul Bariyyah hlm. 34—35), “As-Salafiyyah adalah al-Firqatun Najiyah. Mereka adalah Ahlus Sunnah wal Jamaah. Mereka bukanlah hizb seperti yang sekarang ini terjadi dan disebut dengan hizb. Mereka adalah jamaah. Bersama-sama di atas as-Sunnah dan agama. Mereka adalah Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Pasti akan selalu ada, sekelompok orang dari umatku yang senantiasa meraih kemenangan di atas kebenaran. Tidak akan bermudarat atas mereka setiap usaha dari orang-orang yang menghina dan menyelisihi mereka.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, ‘Umat ini akan terpecah menjadi 73 kelompok. Semuanya di dalam neraka kecuali satu.’ Para sahabat bertanya, ‘Siapakah mereka, wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Orang-orang yang mengikuti aku dan para sahabatku seperti saat ini’.”

Asy-Syaikh al-Fauzan melanjutkan, “As-Salafiyyah adalah sejumlah orang yang berada di atas mazhab Salaf, sebagaimana ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat. Jadi, as-Salafiyyah bukanlah hizb seperti hizb-hizb zaman ini. As-Salafiyyah adalah jamaah yang telah ada sejak zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, turun-temurun dan akan selalu hidup. Mereka akan terus berada di atas alhaq, meraih kemenangan sampai hari kiamat sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Benarkah Anda telah mencontoh dan meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta para sahabat beliau dalam segala hal? Buktikanlah!

Wallahul Muwaffiq.