Azh-Zhahir

Azh-Zhahir adalah salah satu nama Allah Subhanahu wata’ala. Nama tersebut termaktub dalam surat al-Hadid ayat yang ke-3,

هُوَالْاَوَّلُ وَالْاٰخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ ۚ وَهُوَ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌ۝

Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (al-Hadid: 3)

Demikian pula dalam hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, saat beliau memuji Allah Subhanahu wata’ala, beliau mengatakan,

اللَّهُمَّ أَنْتَ الْأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ ، وَأَنْتَ اخْآلِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْء، وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُونَكَ شَيْءٌ، اقْضِ عَنَّا الدَّيْنَ وَأَغْنِنَا مِنَ الْفَقْرِ

Ya Allah, Engkaulah al-Awwal, tiada sesuatu pun sebelummu. Engkaulah al-Akhir, tiada sesuatupun setelah-Mu. Engkau adalah azh-Zhahir, tiada sesuatu pun di atas-Mu, dan Engkau adalah al-Bathin, tiada sesuatu pun yang lebih dekat dari-Mu. Lunaskanlah utang kami dan cukupkanlah kami dari kefakiran.”

Faedah Mengimani Nama Allah azh-Zhahir

Dengan mengimaninya, kita mengetahui salah satu sifat yang Mahaagung, yaitu ketinggian Allah Subhanahu wata’ala di atas seluruh makhluk-Nya. Ini berarti:

1. Allah Subhanahu wata’ala tidak di mana-mana, sebagaimana anggapan sebagian orang, bahkan Allah Subhanahu wata’ala di atas makhluk-Nya.

 2. Allah Subhanahu wata’ala tidak menyatu dengan makhluk-Nya atau sebagian makhluk-Nya, bahkan Allah Subhanahu wata’ala terpisah dari mereka semuanya.

 3. Tidak benar apa yang dikatakan oleh sebagian firqah (kelompok sempalan) yang terpengaruh oleh ilmu kalam dan filsafat bahwa “Allah Subhanahu wata’ala di atas alam, tidak pula di bawahnya; tidak di sebelah kanan alam, tidak di sebelah kirinya; tidak di sebelah depan atau belakangnya; serta tidak bersatu dengan alam, tidak pula terpisah darinya.

Ahlus Sunnah wal Jamaah berkeyakinan bahwa Allah Subhanahu wata’ala ada di atas alam dan seluruh makhluk-Nya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

ءَاَمِنْتُمْ مَنْ فِى السَّمَآءِ اَنْ يَحْسِفَ بِكُمُ الْاَرْضَ فَاِذَاهِيَ تَمُوْرُ۝ اَمْ اَمِنْتُمْ مَنْ فِى السَّمَآءِ اَنْ يُرْسِلَ عَلَيْكُمْ حَاسِبَا ۗ فَسَتَعْلَمُوْنَ كَيْفَ نَذِيْرِ۝

Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga tiba-tiba bumi itu berguncang? Atau apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu? Kelak kamu akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatan-Ku.” (al-Mulk: 16-17)

Ditulis oleh  : Al-Ustadz Qomar Suaidi

Ath Thayyib

Ath-Thayyib adalah salah satu nama Allah subhanahu wa ta’ala. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyebutkan nama Allah subhanahu wa ta’ala ini dalam salah satu haditsnya,

“Wahai manusia, sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala Mahabaik dan tidak menerima kecuali yang baik dan Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan kaum mukminin dengan apa yang Allah subhanahu wa ta’ala perintahkan dengannya para rasul.

Maka Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (yang artinya), ‘Wahai para rasul, makanlah dari hal-hal yang baik dan lakukan yang baik, Aku mengetahui apa yang kalian lakukan,’ dan berkata (yang artinya), ‘Hai orang-orang yang beriman, makanlah dari hal-hal yang baik yang Kami telah rezekikan pada kalian.’

Lalu beliau menyebutkan seseorang yang menempuh perjalanan panjang, kusut, berdebu, membentangkan tangannya ke langit, ‘Ya Rabb! Ya Rabb!’, sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan diberi gizi yang haram, lalu bagaimana mau dikabulkan karena itu?” (Sahih, HR. Muslim dari sahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Makna ath-Thayyib

Al-Qadhi rahimahullah mengatakan, “Ath-Thayyib dalam sifat Allah subhanahu wa ta’ala bermakna yang suci dari segala kekurangan dan itu bermakna al-Quddus, yang Mahasuci. Asal makna kata ath-Thayyib adalah bersih suci dan bebas dari yang kotor.” (Syarah Shahih Muslim karya an-Nawawi)

Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, “Ath-Thayyib di sini bermakna ath-Thahir, artinya suci dari segala kekurangan dan aib seluruhnya.” (Jami’ al-’Ulum wal Hikam)

Buah Mengimani Nama Allah ath-Thayyib

Buahnya adalah mengetahui kesucian Allah subhanahu wa ta’ala, keagungan-Nya, dan ketinggian-Nya, tiada sesembahan yang seperti-Nya, tidak memiliki kekurangan dan cacat sama sekali dari segala sisi-Nya.

Di samping itu, di antara buahnya sebenarnya telah diterangkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits di atas, yaitu bahwa Allah Yang Mahabaik tidak menerima selain yang baik.

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Allah subhanahu wa ta’ala mencintai sifat-sifat-Nya, seperti disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan mencintai pengampunan’, sabdanya yang lain, ‘Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala indah dan mencintai keindahan’, dan sabda beliau, ‘Sesungguhnya Allah Mahabaik dan tidak menerima melainkan yang baik’.” (ash-Shawa’iqul Mursalah 4/ 1458, dinukil dari kitab Shifatullah al-Waridah hlm. 170)

Jadi, sebuah ucapan tidak akan diterima di sisi-Nya kecuali yang baik, amal perbuatan tidak akan diterima di sisi-Nya selain yang baik, dan keyakinan pun tidak diterima di sisi-Nya melainkan yang baik. Tidak ada seorang pun yang masuk surga selain yang sudah jelas baiknya.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
Dan orang-orang yang bertakwa kepada Allah dibawa ke dalam jannah (surga) berombong-rombongan (pula). Sehingga apabila mereka sampai ke surga itu sedangkan pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya, “Kesejahteraan (dilimpahkan) atas kalian. Kalian telah baik! Maka masukilah surga ini, sedangkan kamu kekal di dalamnya.” (az-Zumar: 73)

Maksudnya, baik kalbu kalian dengan mengenal Allah subhanahu wa ta’ala, mencintai-Nya, maupun takut kepada-Nya, baik lisan kalian dengan berzikir kepada-Nya maupun anggota badan kalian dengan taat kepada-Nya. Dengan sebab kebaikan kalian, “Masuklah kalian ke dalam jannah kekal di dalamnya,” karena surga adalah negeri yang baik tidak pantas masuk ke dalamnya selain mereka yang baik. (Tafsir as-Sa’di)

Dengan ini, dalam hal makanan pun hendaknya selalu menjaga yang baik yakni terutama halal, karena makanan akan berpengaruh pada amalan. Lihatlah bagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bercerita di akhir hadits tersebut tentang seorang yang sudah berbuat baik dengan berdoa, bahkan dalam sebuah perjalanan yang panjang, dalam kondisi sangat butuh kepada Allah subhanahu wa ta’ala, kusut, berdebu, membentangkan tangannya ke langit, lagi meminta-minta kepada Allah subhanahu wa ta’ala sembari merengek dengan menyebut-nyebut nama-Nya. Ini adalah keadaan yang sangat mendukung terkabulnya doa. Namun, Allah subhanahu wa ta’ala tidak menerimanya dan menolak doanya. Mengapa? Karena makanannya haram, dia tidak baik, kotor tubuhnya, tidak suci dari yang haram.

Oleh karena itu, jangankan kita, para rasul pun diperintah untuk memakan dari yang thayyib, baik, halal, seperti dalam hadits tersebut.

Ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc

 

As-Salam

Di antara al-Asma’ul Husna adalah as-Salam (السَّلامُ). Nama Allah subhanahu wa ta’ala ini tersebut dalam firman-Nya:

”Dia-lah Allah yang tiada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia, Raja, Yang Mahasuci, Yang Mahasejahtera, Yang Mengaruniakan keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Mahaperkasa, Yang Mahakuasa, Yang Memiliki segala keagungan. Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (al-Hasyr: 23)

Nama ini juga tersebut dalam sebuah hadits Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam dari sahabat Tsauban radhiallahu ‘anhu:

Dahulu Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam jika selesai dari shalatnya beristighfar tiga kali dan mengucapkan, “Ya Allah, Engkau-lah as-Salam dan dari-Mu-lah keselamatan. Mahabesar Engkau, wahai Dzat yang memiliki keagungan dan kemuliaan!”

Al-Walid (salah satu perawi hadits ini) bertanya kepada al-Auza’i (gurunya), “Bagaimanakah cara beristighfar?” Ia berkata, “Engkau mengucapkan, ‘Astaghfirullah, astaghfirullah! (Aku mohon ampun kepada Allah subhanahu wa ta’ala, aku mohon ampun kepada Allah subhanahu wa ta’ala!)’.” (Sahih, HR. Muslim)

 

Makna as-Salam

Ibnu Qutaibah rahimahullah mengatakan, “Dia menamai Diri-Nya dengan as-Salam karena Dia selamat dan bebas dari aib, kekurangan, kehancuran, serta kematian yang mengenai makhluk-Nya.” (Gharibul Qur’an)

Al-Khaththabi rahimahullah mengatakan, “As-Salam adalah sifat Allah subhanahu wa ta’ala, yaitu yang selamat dari segala aib, serta bebas dari segala kejelekan dan kekurangan yang dapat menimpa makhluk.” (Sya’nud Du’a)

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan ketika menjelaskan ayat di atas, “As-Salam yakni yang selamat dari segala cacat dan kekurangan karena kesempurnaan-Nya dalam Dzat, sifat, dan perbuatan-Nya.”

As-Sa’di rahimahullah mengatakan, “Al-Quddus, as-Salam yakni yang diagungkan, yang suci dari seluruh kekurangan dan keserupaan makhluk terhadap-Nya, serta yang suci dari siapa pun yang akan mendekati atau menyamainya pada salah satu sisi kesempurnaan-Nya.”

Jadi, nama Allah al-Quddus dan as-Salam berarti kesucian Allah subhanahu wa ta’ala dari kekurangan pada segala sisi. Keduanya mengandung kesempurnaan yang paripurna dari segala sisi karena jika kekurangan itu tidak ada, berarti tetaplah kesempurnaan seluruhnya. Dengan demikian, Dialah yang Mahasuci, Mahabesar, yang suci dari segala kejelekan serta yang terbebas dari penyerupaan dengan makhluk, kekurangan, dan segala yang bertolak belakang dengan kesempurnaan-Nya. Inilah patokan tentang apa yang Allah subhanahu wa ta’ala suci darinya. Ia suci dari segala kekurangan dari sisi mana pun. Ia suci dan agung dari adanya penyerupaan, tandingan, atau lawan bagi-Nya. Ia suci pula dari kekurangan dalam hal sifat-sifat-Nya yang merupakan sifat yang paling sempurna, paling agung, dan paling luas.

Di antara kesempurnaan penyucian-Nya adalah penetapan sifat kesombongan dan keagungan bagi-Nya karena penyucian tersebut dimaksudkan untuk hal yang lain. Penetapan sifat kesombongan dan keagungan bagi Allah subhanahu wa ta’ala dimaksudkan untuk menjaga kesempurnaan-Nya dari berbagai sangkaan yang jelek, semacam sangkaan jahiliah yang mengalamatkan kepada diri-Nya sangkaan-sangkaan jelek yang tidak pantas bagi kebesaran-Nya. Jika seorang hamba mengucapkan pujian kepada Allah subhanahu wa ta’ala, “Subhanallah” (Mahasuci Allah), “Taqaddasallah” (Mahasuci Allah), atau “Ta’alallah” (Mahatinggi Allah) berarti dia sedang memuji-Nya dengan kesucian-Nya dari segala kekurangan, dengan segala kesempurnaan. (Tafsir Asma’illah)

 

Buah Mengimani Nama Allah as-Salam
Dengan mengimani nama Allah as-Salam, kita mengetahui kebesaran Allah subhanahu wa ta’ala dan kesucian-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala suci dari segala kekurangan dan cacat, sebagaimana halnya Ia suci dari serikat dan tandingan. Keyakinan ini membuat kita semakin mantap dalam beribadah kepada-Nya karena Rabb yang kita ibadahi adalah Rabb Yang Mahasempurna, tiada kekurangan-Nya sedikit pun.

Dengan demikian, segala pinta dan harapan kita dalam tawakal dan doa tidak akan sia-sia. Dia pasti memenuhi janji-Nya dan Mahakuasa untuk memenuhinya karena Dia Mahakaya dan Mahamampu. Maka dari itu, ibadahilah Dia satu-satu-Nya, tentu ibadah kita takkan sia-sia. Tinggalkan semua sesembahan selain-Nya, karena selain-Nya tidak ada yang memiliki kesempurnaan seperti yang dimiliki-Nya, yang ada justru berbagai kekurangan.

ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc)

Ihsan dan Hidayah

Perintah untuk berbuat ihsan cukup banyak, baik dalam al-Qur’an maupun hadits. Contohnya dalam surat al-Baqarah ayat 195, Allah ‘azza wa jalla berfirman,

          إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُحۡسِنِينَ ١٩٥

“Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu dalam kebinasaan dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (al-Baqarah: 195)

Lanjutkan membaca Ihsan dan Hidayah

Istilah Hadits

Berikut ini beberapa istilah hadits yang sering dipakai dalam Asy-Syariah:

  1. Mutawatir

Hadits yang diriwayatkan dari banyak jalan (sanad) yang lazimnya dengan jumlah dan sifatnya itu, para rawinya mustahil bersepakat untuk berdusta atau kebetulan bersama-sama berdusta. Perkara yang mereka bawa adalah perkara yang indrawi yakni dapat dilihat atau didengar. Hadits mutawatir memberi faedah ilmu yang harus diyakini tanpa perlu membahas benar atau salahnya terlebih dahulu.

  1. Ahad

Hadits yang tidak mencapai derajat mutawatir.

  1. Sahih (sehat)

Hadits yang dinukilkan oleh orang yang adil (muslim, baligh, berakal, bebas dari kefasiqan yaitu melakukan dosa besar atau selalu melakukan dosa kecil, dan bebas dari sesuatu yang menjatuhkan muru’ah/kewibawaan) dan sempurna hafalan/penjagaan kitabnya terhadap hadits itu, dari orang yang semacam itu juga dengan sanad yang bersambung, tidak memiliki ‘illah (penyakit/kelemahan) dan tidak menyelisihi yang lebih kuat. Hadits sahih hukumnya diterima dan berfungsi sebagai hujjah.

  1. Hasan (baik)

Hadits yang sama dengan hadits sahih kecuali pada sifat rawinya di mana hafalan/penjagaan kitabnya terhadap hadits tidak sempurna, yakni lebih rendah. Hadits hasan hukumnya diterima.

  1. Dha’if

Hadits yang tidak memenuhi syarat-syarat hadits sahih atau hasan. Hadits dha’if hukumnya ditolak.

  1. Maudhu’ (palsu)

Hadits yang didustakan atas nama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam padahal beliau tidak pernah mengatakannya, hukumnya ditolak.

  1. Mursal

Yaitu seorang tabi’in menyandarkan suatu ucapan atau perbuatan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hukumnya tertolak karena ada rawi yang hilang antara tabi’in tersebut dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan mungkin yang hilang itu adalah rawi yang lemah.

  1. Syadz

Hadits yang sanadnya sahih atau hasan namun isinya menyelisihi riwayat yang lebih kuat dari hadits itu sendiri, hukumnya tertolak.

  1. Mungkar

Hadits yang sanadnya dha’if dan isinya menyelisihi riwayat yang sahih atau hasan dari hadits itu sendiri, hukumnya juga tertolak.

  1. Munqathi’

Hadits yang terputus sanadnya secara umum, artinya hilang salah satu rawinya atau lebih dalam sanad, bukan di awalnya dan bukan di akhirnya dan tidak pula hilangnya secara berurutan. Hukumnya tertolak.

  1. Sanad

Rangkaian para rawi yang berakhir dengan matan.

  1. Matan

Ucapan rawi atau redaksi hadits yang terakhir dalam sanad.

  1. Rawi

Orang yang meriwayatkan atau membawakan hadits.

  1. Atsar

Suatu ucapan atau perbuatan yang disandarkan kepada selain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yakni kepada para sahabat dan tabi’in.

  1. Marfu’

Suatu ucapan, perbuatan, atau persetujuan yang disandarkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

  1. Mauquf

Suatu ucapan atau perbuatan yang disandarkan kepada sahabat.

  1. Jayyid (bagus)

Suatu istilah lain untuk sahih.

  1. Muhaddits

Orang yang menyibukkan diri dengan ilmu hadits secara riwayat dan dirayat (fiqih hadits), serta banyak mengetahui para rawi dan keadaan mereka.

  1. Al-Hafizh

Orang yang kedudukannya lebih tinggi dari muhaddits, yang ia lebih banyak mengetahui rawi di setiap tingkatan sanad.

  1. Majhul

(Rawi yang) tidak dikenal, artinya tidak ada yang menganggapnya cacat sebagaimana tidak ada yang men-ta’dil-nya (lihat istilah ta’dil di poin 23, red.), dan yang meriwayatkan darinya cenderung sedikit. Bila yang meriwayatkan darinya hanya satu orang maka disebut majhul al-‘ain, dan bila lebih dari satu maka disebut majhul al-hal. Hukum haditsnya termasuk hadits yang lemah.

  1. Tsiqah

(Rawi yang) tepercaya, artinya tepercaya kejujuran dan keadilannya serta kuat hafalan dan penjagaannya terhadap hadits.

  1. Jarh

Cacat, dan majruh artinya tercacat.

  1. Ta’dil

Menilai adil.

  1. Muttafaqun ‘alaih

Maksudnya hadits yang disepakati oleh al-Bukhari dan Muslim rahimahumallah dalam kitab Shahih mereka.

  1. Mu’allaq/ta’liq

Hadits yang terputus sanadnya dari bawah, satu rawi atau lebih.

Ditulis oleh al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc

Nifaq

Nifaq atau kemunafikan berasal dari bahasa Arab (نَافِقَاءُ) yang berarti salah satu liang binatang yarbu’, yaitu semacam tikus yang memiliki lebih dari satu liang, sehingga tatkala dia dikejar melalui satu liang akan lari menuju liang yang lain.

Dalam istilah syariat berarti perbuatan menampakkan keislaman dan kebaikan namun menyembunyikan kekafiran serta kejelekan. Diistilahkan demikian karena pelakunya masuk ke dalam agama Islam dari sebuah pintu dan keluar darinya melalui pintu lain. Dalam istilah bahasa Indonesia, nifaq sering disebut kemunafikan.

diseasecontrol_main

Macam-Macam Nifaq

  1. Nifaq i’tiqadi yakni kemunafikan yang bersifat keyakinan.

Ini merupakan nifaq besar, yaitu seseorang yang menyembunyikan keyakinan kafir lalu menampakkan keislaman, seolah-olah ia beriman padahal dalam hatinya menyimpan keyakinan kafir. Nifaq i’tiqadi ada enam macam:

  • tidak memercayai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
  • tidak memercayai sebagian yang dibawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
  • membenci Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
  • membenci sebagian yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
  • merasa senang saat direndahkannya agama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
  • benci ketika menangnya agama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  1. Nifaq ‘amali yakni kemunafikan yang bersifat amalan.

Bentuknya bisa berupa perbuatan yang biasa dilakukan orang munafik atau salah satu sifat mereka, yang dilakukan orang yang masih beriman dan tidak memiliki keyakinan-keyakinan kekafiran seperti di atas.

Misalnya, berkata dusta, ingkar janji, khianat terhadap yang memberi amanah kepadanya, atau berbuat curang tatkala bertikai. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ كَانَ مُنَافِقًا خَالِصًا وَمَنْ كَانَتْ فِيْهِ خَصْلَةٌ مِنْهُنَّ كَانَتْ فِيْهِ خِصْلَةٌ مِنَ النِّفَاقِ حَتَّى يَدَعَهَا: إِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ، وَإِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ، وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ

“Empat hal yang barang siapa keempatnya ada pada dirinya maka dia seorang munafik yang murni dan barang siapa yang terdapat pada dirinya salah satunya berarti ada pada dirinya sebuah kemunafikan: jika dipercaya berkhianat, jika berbicara berdusta, jika berjanji tidak menepati, dan jika bertikai ia berbuat curang.” (Sahih, HR. al-Bukhari no. 34 dan Muslim no. 207)

 

Kesalahan Memahami Istilah Nifaq

Sebagian orang memahami bahwa kemunafikan hanya ada satu macam yaitu nifaq i’tiqadi saja, sehingga dari sini timbul kesalahan dalam menetapkan sebuah hukum. Misalnya dalam menafsirkan surat an-Nisa’ ayat 145,

إِنَّ ٱلۡمُنَٰفِقِينَ فِي ٱلدَّرۡكِ ٱلۡأَسۡفَلِ مِنَ ٱلنَّارِ وَلَن تَجِدَ لَهُمۡ نَصِيرًا ١٤٥

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari an-naar (neraka). Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapatkan seorang penolong pun bagi mereka.”

Mereka tetapkan hukum ini juga pada orang yang ‘sekadar’ punya sifat kemunafikan padahal dia masih beriman.

 


Sumber Bacaan:

  1. Kitabut Tauhid, asy-Syaikh Shalih al-Fauzan, hlm. 17—19
  2. al-Haqiqatusy Syar’iyah, Muhammad ‘Umar Bazmul, hlm. 165
  3. Tafsir as-Sa’di, edisi revisi cet. ar-Risalah, hlm. 944